Weekly Report. 25 June 2018 NEWS HEADLINES JAKARTA COMPOSITE INDEX CHART

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Weekly Report. 25 June 2018 NEWS HEADLINES JAKARTA COMPOSITE INDEX CHART"

Transkripsi

1 Weekly Report Research Department NEWS HEADLINES \ Integrasi PGAS dan Pertagas masih tahap finalisasi Waskita Toll Road tawarkan pengelolaan jalan tol TLKM tanam modal USD 2 juta di Roambee BBCA akan rampungkan akuisisi bank kecil MAYA tingkatkan modal Produksi batu bara DOID pada Mei 2018 naik 12% MoM % 5,7% YoY ARII tingkatkan ekspor batubara 4 kali lipat Penjualan batu bara ARII 5M18 naik 58% YoY, produksi naik 109% ARII targetkan produksi tahun 2018 naik 7,5 kali dari realisasi 2017 PTIS raih kontrak kerja baru Rp 121 miliar selama 3 tahun GDST & JPRS akan merger, rasio 1:1,34 untuk 1 saham JPRS CTTH bukukan pesanan 68% dari target ATIC akan PUT HMETD rasio 1000 : TOWR akan stock split rasio 1:5 RUPS PICO setujui bagi dividen tahun 2017 sebesar Rp 2/saham SCBD incar pendapatan Rp1,15 triliun, cari landbank CDB baru Anak usaha SCBD urus ijin & pembiayaan proyek Signature Tower SCBD kaji ulang pembiayaan proyek Signature Tower SCBD alokasikan capex tahun 2018 sebesar Rp miliar MIDI anggarkan capex tahun 2018 sebesar Rp 500 miliar MIDI prediksi penjualan melonjak hingga akhir pekan ini JAKARTA COMPOSITE INDEX CHART IHSG tengah menguji level support di 5725, yang merupakan tahan solid sejak Mei. Jika level support ini mampu dipertahankan, maka menjadi peluang up reversal bagi IHSG yang akan menguji resistance level di Sebaliknya, perlu untuk di waspadai jika IHSG tembus level 5725, maka akan menguji support level JAKARTA INDICES STATISTICS CLOSE CHANGE VOLUME (Mn) VALUE (Rp Bn) IHSG , , LQ , , MARKET REVIEW Pekan lalu bursa saham Asia dan Eropa cenderung berada dalam tekanan. Isu perang dagang global menurunkan prospek pertumbuhan ekonomi global, sehingga membebani bursa saham dunia. Investor concern pada prospek perdagangan global menyusul eskalasi perang retorika Amerika Serikat (AS) yang mengawali kebijakan proteksionisme dengan negara mitra dagangnya yang dikenai tarif impor AS. Cina, Kanada, Meksiko, Uni Eropa, Rusia, India dan Turki melakukan aksi balas tarif impor terhadap produk AS. Di sisi lain pertemuan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dengan presiden Cina Xi Jinping disebutkan mencapai kesepahaman tentang denuklirisasi. Pada Jumat (22/6) bursa saham Asia mixed. Sebagian bursa Asia melemah, kecuali Cina, Hongkong, Thailand, Malaysia, Korea Selatan. Koreksi di bursa Jepang karena apresiasi Yen, mengabaikan laju inflasi Mei 2018 sebesar 0,7% YoY dari periode sebelumnya 0,6% dan data PMI Manufacturing preliminari Juni yang naik ke level 53,1 dari 52,8. Sedang bursa saham Eropa tentatif menguat Jumat lalu, ditopang data PMI Services Jerman yang lebih tinggi dari ekspektasi analis. Data PMI composite Jerman pada Juni 2018 preliminari naik ke level 54,2 dari 53,4 dan PMI Services naik ke 53,9 dari 52,1. Sentimen lain, pejabat AS mencoba memulai lagi pembicaraan dagang dengan Cina sebelum tarif impor Trump mulai berlaku bulan depan. Investor juga mencermati pertemuan OPEC-non OPEC Juni 2018 yang membahas prospek peningkatan produksi minyak mentah, meski Iran bersikap oposisi. Bursa saham Indonesia pada Rabu (20/6) terkoreksi signifikan setelah libur panjang Lebaran. Pasar tampaknya melakukan penyesuaian atas peristiwa ekonomi dan politik selama libur panjang, yaitu kenaikan Fed Fund Rate (FFR) sebesar 25 bps menjadi 1,75%-2% pada FOMC 13 Juni Sementara rapat European Central Bank (ECB) pada 14 Juni 2018 memutuskan untuk melanjutkan program pembelian aset bulanan sebesar 30 miliar hingga akhir September Bursa saham domestik kehilangan moentum positif KTT AS-Korea Utara 12 Juni Tekanan di bursa domestik berlanjut hingga Jumat (22/6). IHSG ditutup melemah 0,009% ke level 5821,812. Investor asing mencatatkan net sell Rp 969,60 miliar. Selain faktor eksternal, yaitu kenaikan Fed Fund Rate (FFR) dan perang dagang global, investor domestik juga concern pada depresiasi nilai rupiah yang mendekati Rp /USD pada Jumat (22/6) serta Bank Indonesia (BI) yang membuka peluang menaikkan BI 7D RRR lanjutan dari saat ini 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur BI Juni. Tren kenaikan suku bunga dapat menurunkan daya tarik investasi di pasar modal. Pekan lalu IHSG terkoreksi 2,9%. Pekan ini investor akan mencerna hasil pertemuan OPEC - non OPEC dan rilis catatan Dewan Gubernur Bank of Japan (BoJ) dari rapat 15 Juni. Pasar juga mencermati forum diskusi presiden The Fed dari Dallas, Boston dan St. Louis pada pekan ini serta pertemuan Gubernur ECB pada 28 Juni 2018 di Frankfurt. Sementara investor domestik fokus pada RDG BI tentang kebijakan moneter BI yaitu prospek kenaikan BI 7D RRR dan relaksasi Loan To Value (LTV) untuk perumahan. MARKET VIEW Pemerintah menurunkan tarif pajak penghasilan final Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dari 1% menjadi 0,5%. Regulasi tersebut juga mengatur jangka waktu pengenaan tarif pajak penghasilan final di mana wajib pajak orang pribadi selama 7 tahun; wajib pajak badan berbentuk koperasi, persekutuan komanditer atau firma selama 4 tahun; dan wajib pajak badan berbentuk perseroan terbatas selama 3 tahun. Tujuan peraturan ini mendorong pelaku UMKM untuk berperan aktif dalam kegiatan ekonomi formal dengan kemudahan pembayaran pajak dan tarif yang lebih baik. Bank Indonesia (BI) perkirakan tekanan dolar AS terhadap nilai tukar rupiah dan mata uang negara lain diproyeksikan terus terjadi hingga akhir Namun demikian, BI akan menjaga nilai rupiah tidak kembali melemah ke level yang jauh dari nilai fundamentalnya. Sementara, penyebab pelemahan rupiah disebabkan perbaikan data ekonomi AS, kian sengitnya perang dagang antara AS dan Cina, isu stabilitas geopolitik, serta ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Federal Reserve hingga empat kali tahun ini. Dipihak lainnya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai tidak perlu terlalu risau dengan ancaman perang dagang antara negara-negara besar. Menurut Darmin, Indonesia justru perlu fokus untuk membenahi defisit neraca perdagangan yang terjadi sepanjang Perang dagang bisa berimbas positif dan negatif. Indonesia akan lebih banyak menyiapkan urusannya sendiri. Dari AS, Trump menyatakan bahwa Korea Utara masih merupakan bahaya luar biasa bagi Amerika. Trump memperpanjang satu tahun lagi apa yang disebut keadaan darurat nasional sehubungan dengan Korea Utara yang punya senjata nuklir, dan memerintahkan kembali berbagai sanksi ekonomi atas Korea Utara. Karena AS tidak melihat Korea Utara telah mengambil langkah apapun ke arah denuklirisasi, dan bahwa perundingan terinci tentang hal itu belum dimulai. Selain itu, kebijakan Trump yang mengenakan tarif baru ternyata memukul daya beli konsumen dan perusahaan AS. Sengketa perdagangan meningkat pekan ini setelah Trump meminta perwakilan perdagangan AS untuk mengidentifikasi tambahan barang senilai USD200 miliar barang Cina dengan tambahan tarif 10%. Trump mencoba untuk mengurangi defisit perdagangan AS dengan Cina dan meningkatkan perlindungan kekayaan intelektual. Dengan mempertimbangkan faktor di atas, diperkirakan IHSG kembali dibayangi tekanan menyusul kekhawatiran pelemahan rupiah dan kenaikan suku bunga serta sengketa perdagangan AS dan Cina. Namun, demikian pola pergerakan IHSG mixed pada pekan ini. 1

2 Daily News Proses integrasi Perusahaan Gas Negara (PGAS) dan Pertamina Gas masih terus disiapkan sehingga finalisasi transaksi integrasi kedua perusahaan ke dalam sub holding gas BUMN minyak dan gas bumi pada 29 Juni PGAS masih menunggu untuk memutuskan skema proses integrasi dengan Pertagas. Waskita Toll Road, anak usaha Waskita Karya (WSKT), membuka peluang pengelolaan sejumlah konsesi jalan tol miliknya yang akan beroperasi dalam waktu dekat untuk dioperasikan oleh badan usaha lain. Rencana tender pengelolaan jalan tol kepada vendor tersebut lebih efisien untuk kelanjutan bisnis daripada swakelola. Dengan menyerahkan kepada vendor, Waskita selaku pemilik konsesi akan memberi fee kepada vendor dalam bentuk kontrak pengelolaan. Sarana Menara Infrastructure (TOWR) akan melakukan pemecahan nilai saham (stock split) dengan rasio 1:5 dari nilai nominal semula Rp 50 per saham menjadi Rp 10 per saham. Rencana itu telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 9 Mei Perdagangan saham dengan nilai nominal lama yaitu Rp 50 di pasar reguler dan pasar negosiasi berakhir pada 27 Juni Awal perdagangan saham dengan nilai nominal baru yaitu Rp 10 akan dimulai pada 28 Juni 2018 di pasar reguler maupun pasar negosiasi. Sedangkan awal perdagangan saham dengan nilai nominal baru di pasar tunai jatuh pada 3 Juli Bank Central Asia (BBCA) akan segera menyelesaikan rencana akuisisi bank kecil. Kepastian terkait bank yang diakuisisi tersebut akan diumumkan dalam tiga bulan mendatang. BBCA menyiapkan alokasi dana sekitar Rp 4,5 triliun untuk keperluan penambahan modal anak usaha. Selain untuk anak usaha eksisiting, anggaran Rp 4,5 triliun tersebut juga merupakan alokasi kebutuhan rencana akuisisi bank. Bank Mayapada Internasional (MAYA) berencana menerbitkan 910,9 juta saham baru seri B melalui rights issue dalam waktu dekat. Proses penambahan modal tersebut mengambil porsi 14,29% dari jumlah modal disetor dengan nilai nominal Rp 100 per saham. Rencana ini merupakan upaya penguatan struktur permodalan untuk meningkatkan kegiatan usaha, kinerja perseroan, dan daya saing dalam industri perbankan. Dana yang akan diterima melalui rights issue senilai Rp 2 triliun dan tidak akan mengubah susunan pemegang saham eksisting. Produksi batu bara Delta Dunia (DOID) dan anak usaha pada Mei 2018 mencapai 3,7 juta ton atau naik 12% MoM dari bulan April 2018 yang sebanyak 3,3 juta ton. Produksi batu bara bulan Mei 2018 itu naik 5,7% YoY dari bulan Mei 2017 yang sebanyak 3,5 juta ton. Sepanjang Januari-Mei 2018 produksi batu bara mencapai 16,7 juta ton atau turun 2,9% YoY dari 17,2 juta ton pada periode Januari-Mei Overburden removal pada Mei 2018 sebesar 31,4 juta ton batu bara atau lebih tinggi dari bulan April sebesar 29,1 juta meter kubik maupun dari Mei 2017 yang sebesar 38,7 juta meter kubik. Sedangkan stripping ratio pada Mei 2018 sebesar 8,4x dari 8,7x di April 2018 dan 3,5x di Mei Jika iklim mendukung, perseroan mengekspektasikan peningkatan produksi lebih jauh ke depan sesuai dengan peningkatan kapasitas yang direncanakan. Atlas Resources (ARII) berencana memacu ekspor batubara pada 2018 sejumlah ton dari realisasi tahun lalu ton. Penjualan batu bara Atlas Resources (ARII) sepanjang Januari hingga Mei 2018 tumbuh 58% YoY mencapai ton naik dibanding tahun 2017 sebanyak ton. Kontribusi terbesar didominasi penjualan dari Hub Mutara, yakni sebanyak ton dan sisanya sebanyak ton dari penjualan Hub Kukar. Penjualan Hub Mutara naik signifikan sebesar 105% dari sebelumnya ton pada tahun Sedangkan penjualan Hub Kukar menurun dari yang sebelumnya ton per Mei 2017 menjadi ton pada tahun ARII mencatatkan peningkatan produksi sebesar 109% menjadi ton per Mei 2018 dibanding tahun 2016 sebesar ton. Hub Mutara memiliki luas hektar, sedang Hub Kukar seluas ha. Pada periode Januari - Mei 2018, pasar lokal ARII sebesar 65% sedangkan 35% ekspor ke India. Saat ini pasar lokal ARII mencapai 84%, sedangkan ekspor ke Korea dan China masing-masing 8%. Atlas Resources (ARII) menargetkan peningkatan produksi tahun 2018 mencapai 2,2 juta ton batu bara, naik hingga 7,5 kali lipat dibanding realisasi tahun Salah satu langkah peningkatan produksi ialah membuka dan mempercepat lokasi tambang baru PT Banyan Koalindo Lestari (BKL) yang masih dalam kawasan HUB Mutara. Tahun 2017 perseroan fokus pengerjaan infrastruktur dan konsolidasi, supaya tahun 2018 dan 5 tahun ke depan produksinya bisa maksimal. Indo Straits (PTIS) meraih kontrak kerja baru senilai Rp 121 Miliar dari perusahaan minyak dan gas nasional yang berlokasi di Kalimantan. Kontrak kerja baru itu berjangka waktu 3 tahun dimulai sejak 1 Juli Juni Ruang lingkup kontrak kerja yang diterima yaitu untuk pengadaan crane barge untuk dredging, lifting dan additional work. Perusahaan modal ventura milik Telekomunikasi Indonesia (TLKM), MDI Ventures, memberikan pendanaan senilai USD 2 juta kepada Roambee. Roambee adalah perusahaan rintisan yang mengembangkan teknologi internet of things (IoT) dalam bidang logistik yang berkedudukan di Silicon Valley, AS. Roambee didorong berekspansi ke pasar Indonesia dan Asia Tenggara untuk berkolaborasi memperkuat lini bisnis logistik Grup Telkom. Gunawan Dianjaya Steel (GDST) dan Jaya Pari Steel (JPRS) segera melakukan penggabungan usaha (merger). Manajemen GDST dan JRPS bersama-sama akan menggabungkan JRPS ke dalam GDST mulai 16 Agustus Pasca efektifnya merger, GDST selaku perusahaan penerima penggabungan (surviving company) akan tetap berdiri sebagai badan hukum dan JPRS selaku perusahaan yang bergabung (merging company) akan bubar demi hukum. GDST sebagai perusahaan penerima penggabungan akan menerbitkan saham baru yang ada di portepel kepada setiap pemegang saham JPRS yang menggabungkan diri dengan menggunakan rasio konversi saham. Berdasarkan hasil penilaian nilai pasar wajar oleh penilai independen, nilai per saham atau harga wajar GDST dan JPRS masingmasing ialah sebesar Rp 288 dan Rp 385. Rasio konversi saham untuk 1 saham JPRS ditetapkan sebesar 1,34 (rasio 1: 1,34). Pada saat merger efektif, pemegang saham JPRS akan menerima saham dalam perusahaan hasil penggabungan (GDST) sebesar 1,34 saham untuk setiap 1 (satu) saham JPRS yang dimiliki sebelum merger efektif. Setiap pemegang saham yang tidak menyetujui rencana merger tersebut dapat meminta GDST atau JPRS untuk membeli saham sesuai dengan harga wajar. Pemegang saham GDST yang berhak untuk meminta sahamnya dibeli kembali ialah yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham GDST dan JPRS pada 23 Juli 2018, yakni satu hari sebelum tanggal pemanggilan RUPSLB. Merger akan resmi dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan RUPSLB GDST dan JPRS pada 16 Agustus Sementara periode pernyataan kehendak untuk menjual saham bagi pemegang saham publik GDST dan JPRS yang tidak setuju diperkirakan berlangsung mulai 16 Agustus - 30 Agustus Tanggal efektif penggabungan usaha diperkirakan pada 3 September Pembayaran untuk saham publik yang dijual akan dilakukan pada 4 September 2018, bersamaan dengan pencatatan saham tambahan hasil penggabungan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Citatah (CTTH) telah membukukan pesanan senilai Rp 204 miliar hingga Mei 2018 atau sebanyak 68% dari total target yang ditetapkan pada tahun ini. Proyeksi penjualan pada 2018 senilai Rp 300 miliar sedangkan total pesanan hingga Mei 2018 sudah mencapai Rp 204 miliar. Anabatic Technologies (ATIC) akan melakukan Penawaran Umum 2

3 Daily News Terbatas I dalam rangka Penerbitan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). Setiap pemilik saham akan mendapat HMETD (rasio 1000 : ). ATIC juga memberi sweetener, dimana setiap pemegang 1 HMETD berhak untuk membeli 1 unit Obligasi Konversi (1 : 1) dengan harga pelaksanaan Rp 1 setiap unit. ATIC menawarkan harga konversi obligasi sebesar Rp per saham dan memiliki tingkat suku bunga 5% per tahun. Dengan aksi korporasi ini, Anabatic akan memperoleh dana sebanyak Rp 560 miliar. Dana ini akan digunakan untuk membayar utang kepada 6 kreditur yang akan jatuh tempo Juli hingga November Total utang perseroan sebanyak Rp 136,2 miliar. Sedangkan dana hasil PUT I sebesar 20% akan digunakan untuk mengembangkan bisnis atau usaha baru diantaranya menyediakan jasa konsultasi sistem jasa keamanan berbasis desktop dan Android, menyediakan produk pembayaran berbasis QR Core dan bisnis lainnya yang bergerak di bidang teknologi informasi, outsourcing serta pembayaran. Selain itu ATIC akan mengakuisisi perusahaan yang berkaitan dengan sistem pembayaran dan pengiriman uang di dalam negeri maupun di luar negeri. PT Artha Investama Jaya selaku pemegang saham pengendali, tidak akan melaksanakan haknya. Sementara pemilik saham lainnya, yaitu TIS Inc akan melaksanakan haknya secara penuh dengan membeli 72% obligasi konversi atau setara 1,35 juta lembar. Setelah pelaksanaan HMETD, komposisi kepemilikan saham ATIC akan berubah. PT Arha Investama Jaya akan menguasai 29,20% setara sajam dari sebelumnya 35,42% TIS Inc akan menguasai 40,66% saham setara dengan saham dari sebelumnya 28% setara saham. Sisanya dikuasai oleh Handoko Anindya Tanuadji sebanyak 10,40% saham dari sebelumnya hanya 12,62% dan PT Sam Investama sebanyak 5,27%. Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPS) Pelangi Indah Canindo (PICO) menyetujui untuk membagikan dividen sebesar 10% dari laba bersih tahun buku 2017 atau sekitar total Rp 1,68 miliar kepada pemegang saham setara Rp 2 per saham. Nilai dividen itu lebih rendah dari sebelumnya sebesar Rp 5 per saham, sebab sebagian laba akan digunakan untuk ekspansi peningkatan kapasitas produksi. Perusahaan saat ini tengah menuntaskan pembangunan pabrik dan peningkatan kapasitas untuk printing dan drum. Ekspansi ini akan meningkatkan kapasitas produksi mencapai dua kali lipat dari saat ini dan akan beroperasi pada kuartal IV RUPS juga menyetujui penjaminan lebih dari 50% atau seluruh kekayaan bersih perusahaan dan anak perusahaan dalam rangka pinjaman atas fasilitas yang akan diterima oleh perusahaan dari bank, perusahaan modal ventura, perusahaan pembiayaan, lembaga keuangan, pembiayaan infrastruktur atau masyarakat. Danayasa Arthatama (SCBD) menargetkan pendapatan tahun ini dapat meningkat 10,6% YoY menjadi Rp 1,15 triliun. Target untuk masingmasing sektor tahun ini yakni real estate Rp 510,9 miliar, hotel Rp 382,4 miliar, dan jasa telekomunikasi Rp 223,8 miliar. Sementara itu, laba tahun ini diperkirakan cenderung stagnan. Danayasa Arthatama (SCBD) melalui anak usaha yaitu PT Grahamas Adisentosa, pengembang Kawasan Sudirman Central Business District (SCBD), tengah mengurus perizinan dan pembiayaan untuk menggarap proyek gedung tertinggi di Indonesia bertajuk Signature Tower. Saat ini proses perizinan masih terus berjalan sekaligus mengkaji ulang skema pendanaannya. Tahap konstruksi Signature Tower membutuhkan investasi sekitar USD 1,7 miliar untuk bangunan. Awalnya Grahamas berencana memulai tahap konstruksi pada tahun 2018, tapi perlu pengkajian ulang terkait soal pendanaan. Kini tidak hanya sindikasi perbankan, perusahaan juga membuka opsi aksi korporasi di pasar modal maupun skema lainnya. Apabila semuanya berjalan lancar, maka proyek setinggi 638 meter dengan 111 lantai itu akan selesai dalam 5-6 tahun. Selain menuntaskan masalah perizinan dan pembiayaan, SCBD tengah mengincar mitra strategis untuk mengelola proyek yang dirancang oleh Smallwood, Reynolds, Stewart, Stewart and Associates Inc. Keputusan mengkaji ulang mengenai Signature Tower itu agar proyek tersebut lebih feasible secara bisnis. Danayasa Arthatama (SCBD) tengah mencari cadangan lahan (landbank) untuk pengembangan central business district baru untuk dikembangkan menjadi kawasan perkantoran. Perseroan tengah mencari lahan di Jabodetabek yang potensial untuk dikembangkan. Luasnya kurang lebih sama dengan SCBD, yakni sekitar 45 hektar. Tahun 2018 Danayasa Arthatama belum memasukkan dana investasi akuisisi lahan baru ke belanja modal. Pada tahun 2018 alokasi dana belanja modal SCBD sebesar Rp 100 miliar - Rp 160 miliar. Midi Utama Indonesia (MIDI) menganggarkan senilai Rp 500 miliar untuk belanja modal atau capital expenditure (capex). Anggaran tersebut untuk membuka 100 unit gerai Alfamidi dan perpanjangan biaya sewa serta renovasi gedung. MIDI menargetkan penjualan tahun 2018 dobel digit. Pertimbangan sektor ritel yang sedang melambat membuat Midi Utama tidak berani terlalu agresif dalam mengejar target penjualan. Midi Utama Indonesia (MIDI) memprediksi peningkatan penjualan masih akan melonjak sampai akhir pekan ini seiring dengan berakhirnya masa libur Lebaran. Permintaan produk ritel akan menyurut seiring usainya libur Lebaran, sebab tren pembelian produk sudah meningkat sejak awal Ramadan hingga Lebaran. Setelah itu kembali menurun dan normal kembali. Produk yang mengalami lonjakan permintaan cukup tinggi selama Lebaran di wilayah mudik adalah biskuit, sirup, minuman, kurma dan gula. Sedangkan permintaan produk non-food cenderung mengalami stagnasi. Kinerja seluruh gerai MIDI di daerah tujuan mudik sudah meningkat sejak awal puasa dengan pertumbuhan rata-rata sekitar 10%. Perseroan memperkirakan toko-toko di beberapa daerah tujuan mudik seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur mengalami lonjakan tinggi. Gerai-gerai di daerah yang ditinggal mudik memang cenderung sepi, seperti di Jakarta. Sedangkan performa gerai-gerai di daerah yang tidak merayakan Lebaran, seperti Manado cenderung stabil. PT Mahkota Group berencana melakukan Penawaran Umum Perdana Saham (Initial Public Offering/IPO) sebanyak-banyaknya saham Biasa Atas Nama atau sebanyak-banyaknya 20% dari total Modal Ditempatkan Dan Disetor Penuh setelah pelaksanaan IPO. Saham dengan nilai nominal Rp 100 per saham ini akan ditawarkan dengan kisaran harga Rp 200 Rp 250 per saham. Dana hasil IPO ini nantinya sekitar 60% akan digunakan untuk pengembangan industri hilir melalui investasi ke Entitas Anak PT Mutiara Unggul Lestari (MUL Entitas Anak Perseroan), yaitu PT lntan Sejati Andalan (ISA Entitas Anak MUL) yang akan digunakan untuk pembangunan pabrik Refinery dan Kernel Crushing Plant yang berlokasi di jalan Duri Dumai, Desa Bathin Sobanga, Kabupaten Bengkalis, Propinsi Riau. Sisanya sekitar 40% akan digunakan untuk modal kerja ke Entitas Anak, yaitu PT Mutiara Unggul Lestari, PT Berlian lnti Mekar dan PT lntan Sejati Andalan. Pembangunan pabrik Refinery dan Kernel Crushing Plant tersebut membutuhkan waktu 8 bulan, terhitung 3 bulan sejak Perseroan menerima dana hasil Penawaran Umum Perdana Saham. Tujuan pembangunan pabrik Refinery dan Kernel Crushing Plant ini untuk memberi nilai tambah bagi Perseroan, dimana Perseroan dapat melakukan sistem pemumian yang dapat menghasilkan produk turunan olein (minyak makan) dan sterin (bahan baku margarin dan oleochemical) serta produk turunan lainnya. Panin Sekuritas (PANS) bertindak sebagai Penjamin Pelaksana Emisi dalam Penawaran Umum Perdana Saham Perseroan yang akan dilaksanakan pada awal Juli Rencana ini diharapkan akan memperoleh pernyataan efektif pada 29 Juni 2018, sehingga Masa Penawaran Umum dapat dilaksanakan pada 3-9 Juli Saham perusahaan diharapkan dapat dicatatkan di Bursa Efek Indonesia pada 12 Juli

4 Market Data COMMODITIES DUAL LISTING Description (USD) Change Description (USD) (IDR) Change (IDR) Crude Oil (US$)/Barrel TLKM (US) 26 3, Natural Gas (US$)/mmBtu ANTM (GR) Gold (US$)/Ounce Nickel (US$)/MT Tin (US$)/MT Coal (NEWC) (US$)/MT* Coal (RB) (US$)/MT* CPO (ROTH) (US$)/MT CPO (MYR)/MT Rubber (MYR/Kg) Pulp (BHKP) (US$)/per ton *weekly GLOBAL INDICES VALUATION Country Indices Change PER (X) PBV (X) Market Cap %Day %YTD 2018E 2019F 2016E 2017F (USD Bn) USA DOW JONES INDUS ,809.1 USA NASDAQ COMPOSITE ,040.9 ENGLAND FTSE 100 INDEX ,834.8 CHINA SHANGHAI SE A SH ,596.5 CHINA SHENZHEN SE A SH ,107.3 HONG KONG HANG SENG INDEX ,439.3 INDONESIA JAKARTA COMPOSITE JAPAN NIKKEI ,496.2 MALAYSIA KLCI SINGAPORE STRAITS TIMES INDEX FOREIGN EXCHANGE FOREIGN EXCHANGE Description Rate (IDR) Change Description Rate (USD) Change USD/IDR 14, IDR/ USD EUR/IDR 16, EUR / USD JPY/IDR JPY / USD SGD/IDR 10, SGD / USD AUD/IDR 10, AUD / USD GBP/IDR 18, GBP / USD CNY/IDR 2, CNY / USD MYR/IDR 3, MYR / USD KRW/IDR KRW / USD CENTRAL BANK RATE INTERBANK LENDING RATE Description Country Rate (%) Description Country Rate (%) FED Rate (%) US 2.00 JIBOR (IDR) Indonesia 6.86 BI 7-Day Repo Rate (%) Indonesia 4.75 LIBOR (GBP) England 0.51 ECB Rate (%) Euro 0.00 SIBOR (USD) Singapore 0.17 BOJ Rate (%) Japan 0.10 D TIBOR (YEN) Japan 0.05 BOE Rate (%) England 0.50 Z TIBOR (YEN) Japan 0.05 PBOC Rate (%) China 4.35 SHIBOR (RENMINBI) China 4.15 INDONESIAN ECONOMIC INDICATORS IDR AVERAGE DEPOSIT Description May-18 April-18 Description Rate (%) Inflation YTD % M 5.62 Inflation YOY % M 5.78 Inflation MOM % M 5.77 Foreign Reserve (USD) Bn Bn 12M GDP (IDR Bn) 3,505, ,490,

5 Market Data BUSINESS & ECONOMIC CALENDAR Date Agenda Expectation 25 Jun Indonesia Motorcycle Sales Jun Indonesia Local Auto Sales Jun Indonesia Total Imports YoY Jun Indonesia Total Exports YoY Jun Indonesia Trade Balance Jun US New Home Sales Naik menjadi 670 ribu dari 662 ribu 25 Jun US New Home Sales MoM Naik menjadi 1.2% dari -1.5% 27 Jun US Durable Goods Orders Jun US Advance Goods Trade Balance Naik menjadi -$67.3 Bn dari -$68.2 Bn 27 Jun US Retail Inventories MoM Jun US Wholesale Inventories MoM Jun US Pending Home Sales MoM Naik menjadi 1.0% dari -1.3% 27 Jun US Pending Home Sales YoY Jun US GDP Annualized QoQ Tetap 2.2% Ket: (*) US Time (^) Tentative LEADING MOVERS LAGGING MOVERS Stock Change (%) Index pt Stock Change (%) Index pt BBCA IJ INKP IJ BBRI IJ HMSP IJ BDMN IJ ASII IJ DSSA IJ TLKM IJ KLBF IJ ADRO IJ BYAN IJ CPIN IJ BNLI IJ MIKA IJ ICBP IJ INTP IJ BTPN IJ MYOR IJ CTRA IJ GGRM IJ UPCOMING IPO'S Company Business IPO Issued (IDR) Shares (Mn) Offering Date Listing Underwriter Panca Mitra Multiperdana Agriculture May 2018 TBA RHB Sekuritas, Danareksa Sekuritas Jaya Bersama Indo Trade & Service Restaurant Jun 2018 TBA CGS-CIMB Sekuritas, Danareksa Sekuritas, Trimuda Nuansa Citra Courier & Cargo Jun Jun 2018 Jasa Utama Capital Logistic MAP Aktif Adiperkasa Trade & Service Jun Jun 2018 Indo Premier Sekuritas Transcoal Pacific Indonesia Kendaraan Terminal Batavia Prosperindo Trans Logistic & Transportation Jun Jul 2018 Jasa Utama Capital Trade & Service Jul Jul 2018 Bahana Sekuritas Mandiri Sekuritas Transportation Jul Jul 2018 Panin Sekuritas Service 5

6 Corporate Info DIVIDEND Stock DPS (IDR) Status CUM Date EX Date Recording Payment BRAM Cash Dividend 22 Jun Jun Jun Jun 2018 FISH Cash Dividend 22 Jun Jun Jun Jul 2018 GEMA Cash Dividend 22 Jun Jun Jun Jul 2018 IPCM 6.75 Cash Dividend 22 Jun Jun Jun Jul 2018 JKON 5.80 Cash Dividend 25 Jun Jun Jun Jul 2018 JRPT Cash Dividend 25 Jun Jun Jun Jul 2018 MTDL Cash Dividend 25 Jun Jun Jun Jul 2018 SMRA 5.00 Cash Dividend 25 Jun Jun Jun Jul 2018 SSIA Cash Dividend 25 Jun Jun Jun Jul 2018 TIFA 6.00 Cash Dividend 25 Jun Jun Jun Jul 2018 ASDM Cash Dividend 26 Jun Jun Jun Jul 2018 BRPT $0.00 Cash Dividend 26 Jun Jun Jun Jul 2018 DPNS 3.00 Cash Dividend 26 Jun Jun Jun Jul 2018 LPGI Cash Dividend 26 Jun Jun Jun Jul 2018 PBID Cash Dividend 26 Jun Jun Jun Jul 2018 SMMA 1.00 Cash Dividend 26 Jun Jun Jun Jul 2018 CORPORATE ACTIONS Stock Action Ratio EXC. (IDR) CUM Date EX Date Trading Period BKSW Rights Issue : May May Jun 25 Jun 2018 BABP Rights Issue 9 : Jun Jun Jun - 05 Jul 2018 BULL Rights Issue 2 : Jun Jun Jun - 29 Jun 2018 ATIC Rights Issue 1000: Jun Jun Jun - 05 Jul 2018 BLTZ Stock Split 1: Jun Jun Jun 2018 GENERAL MEETING Emiten AGM/EGM Date Agenda AHAP RUPST 25 Jun 2018 CASA RUPST 25 Jun 2018 EMTK RUPST 25 Jun 2018 JTPE RUPST 25 Jun 2018 KONI RUPST 25 Jun 2018 LRNA RUPST 25 Jun 2018 MERK RUPST/LB 25 Jun 2018 MGNA RUPST 25 Jun 2018 SCMA RUPST 25 Jun 2018 SDMU RUPST 25 Jun 2018 STAR RUPST/LB 25 Jun 2018 UNIT RUPST/LB 25 Jun 2018 VICO RUPST 25 Jun 2018 ARGO RUPST 26 Jun 2018 BJTM RUPSLB 26 Jun 2018 BTEL RUPST 26 Jun 2018 GGRM RUPST 26 Jun 2018 INPP RUPST/LB 26 Jun 2018 LION RUPST 26 Jun 2018 LMSH RUPST 26 Jun 2018 MDIA RUPST/LB 26 Jun 2018 MSKY RUPST 26 Jun 2018 PLIN RUPST/LB 26 Jun 2018 PWON RUPST 26 Jun 2018 SRTG RUPST/LB 26 Jun 2018 TARA RUPST/LB 26 Jun

7 Technical Analysis BBRI S R Trend Grafik Major Down Minor Down S R BBRI Do wnward Sloping Channel 4,000 3,800 3,600 Stochastics fast line & slow indikasi positif Candle chart indikasi potensi rebound RSI berada dalam area oversold Harga berada dalam area lower band 3, ,400 3,270 3, , ,200 3, ,070 3,052 3,000 3, ,980 2,980 2,800 2,980 Trading range Rp 2910-Rp 3020 Entry Rp 2980, take Profit Rp 3020 Stochastics Positif MACD Negatif True Strength Index (TSI) Negatif Bollinger Band (Mid) 3037 Negatif MA Negatif BBRI - Stochastic %D(6,3,3) = 22.46, Stochastic %K = 10.21, Overbought Level = 80.00, Oversold Level = BBRI - MACD (5,3) = 31.17, Signal() = BBRI - TSI(3,5,3) = , Volume() = 211,595, Cr BBRI eated with William's AmiBr oker % advanced R(14) charting = 59 and 62 technical Volume() analysis = 211 software amibroker com 2,600 2,400 2, , ,595, ,595, BBCA S R Trend Grafik Major Up Minor Down S R Stochastics fast line & slow indikasi positif Candle chart indikasi sinyal positif RSI berada dalam area oversold Harga berada dalam area lower band Trading range Rp Rp Entry Rp 21925, take Profit Rp Stochastics Positif MACD Negatif True Strength Index (TSI) Positif Bollinger Band (Mid) Negatif MA Negatif BBCA Broadening Wedge BBCA - Stochastic %D(6,3,3) = 22.00, Stochastic %K = 19.25, Overbought Level = 80.00, Oversold Level = BBCA - MACD (5,3) = , Signal() = BBCA - TSI(3,5,3) = , Volume() = 19,301, Cr BBCA eated withwilliam's AmiBr oker advanced % R(14) charting = 59and 76technical Volume() analysis = software http://www amibroker com 24,000 23, , ,150 23,000 23, ,400 22, , ,000 21,960 21,925 21,925 21,925 21, ,000 21, , ,301, ,301,

8 Technical Analysis PTBA S R Trend Grafik Major Up Minor Up S R Stochastics fast line & slow indikasi negatif Candle chart indikasi sinyal positif RSI berada dalam area overbought Harga berada dalam area upper band Trading range Rp 4040-Rp 4200 Entry Rp 4150, take Profit Rp 4200 Stochastics Negatif MACD Negatif True Strength Index (TSI) Positif Bollinger Band (Mid) 3839 Positif MA Positif PT BA Up ward Sloping Channel PT BA - Stochastic %D(6,3,3) = 78.06, Stochastic %K = 72.81, Overbought Level = 80.00, Oversold Level = PT BA - MACD (5,3) = , Signal() = PT BA - TSI(3,5,3) = 39.07, Volume() = 22,123, Cr PTBA eated withwilliam's AmiBr oker advanced % R(14) charting = 20and 31technical Volume() analysis = software http://www amibroker com 4,150 4,150 4,150 4,120 4,100 4,000 4, , , ,839 3,640 3,500 3, ,000 2,500 2, ,123, ,123, INCO S R Trend Grafik Major Up Minor Up S R Stochastics fast line & slow indikasi positif Candle chart indikasi sinyal positif INCO Up ward Sloping Channel 4,550 4,550 4,400 4,300 4,106 4, ,090 4,090 4,000 4,090 3,930 3, , ,855 3,600 RSI berada dalam area netral Harga berada dalam area upper band 3, ,200 Trading range Rp 4030-Rp 4130 Entry Rp 4090, take Profit Rp ,800 Stochastics Positif MACD Negatif True Strength Index (TSI) Positif Bollinger Band (Mid) 3855 Positif MA Negatif INCO - Stochastic %D(6,3,3) = 49.32, Stochastic %K = 34.63, Overbought Level = 80.00, Oversold Level = INCO - MACD (5,3) = -2.65, Signal() = INCO - TSI(3,5,3) = 10.53, Volume() = 9,012, Cr INCO eated withwilliam's AmiBr oker % advanced R(14) charting = 28and 77technical Volume() analysis = software amibroker com ,012, ,012,

9 Technical Analysis ICBP S R Trend Grafik Major Down Minor Down S R ICBP Broadening Wedge 9,200 9, , ,000 Stochastics fast line & slow indikasi negatif Candle chart indikasi sinyal positif RSI mendekati area oversold Harga berada dalam area upper band Trading range Rp 8225-Rp 8575 Entry Rp 8400, take Profit Rp ,800 8,675 8,600 8,620 8, ,400 8,400 8,400 8,200 8, ,000 7,900 7,800 Stochastics Negatif MACD 5.30 Negatif True Strength Index (TSI) Positif Bollinger Band (Mid) 8298 Positif MA Negatif ICBP - Stochastic %D(6,3,3) = 42.51, Stochastic %K = 22.82, Overbought Level = 80.00, Oversold Level = ICBP - MACD (5,3) = 73.90, Signal() = ICBP - TSI(3,5,3) = , Volume() = 6,807, Cr ICBP eated with William's AmiBr oker % advanced R(14) charting = 61 and 54 technical Volume() analysis = 6software amibroker com 7, , ,807, ,807, BBNI S R Trend Grafik Major Down Minor Down S R BBNI Broadening Wedge 10,200 9,600 Stochastics fast line & slow indikasi positif Candle chart indikasi potensi rebound RSI berada dalam area oversold 8, ,000 8, ,800 8,475 8,400 Harga berada dalam area upper band Trading range Rp 7275-Rp 7500 Entry Rp 7400, take Profit Rp 7500 Stochastics Positif MACD Negatif True Strength Index (TSI) Positif Bollinger Band (Mid) 1667 Positif MA Negatif 7, , ,800 7,765 7,400 7,400 7,200 7,400 7,125 7, BBNI - Stochastic %D(6,3,3) = 6.29, Stochastic %K = 3.47, Overbought Level = 80.00, Oversold Level = , BBNI - MACD (5,3) = , Signal() = ,406,00 BBNI - TSI(3,5,3) = , Volume() = 28,406, ,406, Cr BBNI eated with William's AmiBr oker % advanced R(14) charting = 86 and 15 technical Volume() analysis = 28 software 406http://www amibroker com

10 Trading View June June THESE RECOMMENDATIONS ARE BASED ON TECHNICAL AND ONLY INTENDED FOR ONE DAY TRADING Support Resistance Indicators 1 Month Ticker Rec Entry Exit S2 S1 R1 R2 MACD Stoc* MA5* High Low Agriculture AALI Trading Sell Negatif Positif Negatif LSIP Trading Sell Negatif Negatif Negatif SGRO Trading Buy Positif Positif Positif Mining PTBA Trading Buy Negatif Negatif Positif ADRO Trading Sell Negatif Negatif Negatif MEDC Trading Sell Negatif Positif Negatif INCO Trading Buy Negatif Positif Negatif ANTM Trading Buy Negatif Positif Positif TINS Trading Sell Negatif Negatif Negatif Basic Industry and Chemicals WTON Trading Sell Negatif Negatif Negatif SMGR Trading Sell Negatif Negatif Negatif INTP Trading Sell Negatif Negatif Negatif SMCB Trading Sell Negatif Positif Negatif Miscellaneous Industry ASII Trading Sell Negatif Negatif Negatif GJTL Trading Sell Negatif Negatif Negatif Consumer Goods Industry INDF Trading Buy Negatif Negatif Negatif GGRM Trading Sell Negatif Negatif Negatif UNVR Trading Buy Negatif Positif Negatif KLBF Trading Buy Negatif Positif Negatif Property, Real Estate and Building Construction BSDE Trading Buy Negatif Positif Negatif PTPP Trading Sell Negatif Negatif Negatif WIKA Trading Sell Negatif Positif Negatif ADHI Trading Sell Negatif Negatif Negatif WSKT Trading Sell Negatif Negatif Negatif Infrastructure, Utilities and Transportation PGAS Trading Buy Negatif Negatif Negatif JSMR Trading Sell Negatif Negatif Negatif ISAT Trading Sell Negatif Negatif Negatif TLKM Trading Buy Negatif Negatif Negatif Finance BMRI Trading Buy Negatif Negatif Negatif BBRI Trading Buy Negatif Positif Negatif BBNI Trading Buy Negatif Negatif Negatif BBCA Trading Buy Negatif Positif Negatif BBTN Trading Buy Negatif Negatif Negatif Trade, Services and Investment UNTR Trading Buy Negatif Negatif Negatif MPPA Trading Sell Negatif Negatif Negatif

11