TEORI GAUGE DAN GRUP SIMETRI INTERNAL

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "TEORI GAUGE DAN GRUP SIMETRI INTERNAL"

Transkripsi

1 Seminar Nasional Fisia 1 Jaarta 9 Juni 1 EORI GAUGE DAN GRUP SIMERI INERNAL. B. Prayitno Jurusan Fisia Universitas Negeri Jaarta Jl. Pemuda Rawamangun No. 1 Jaarta imur [email protected] Abstra Pada maalah ini telah diaji ulang mengenai onsep dasar transformasi gauge dan aitannya dengan teori grup. Gagasan mengenai onsep teori gauge yang pertama ali diajuan oleh Hermann Weyl pada tahun 1919 ini mengambil analogi yang sama dengan gagasan yang diajuan oleh Albert Einstein dengan memperenalan besaran connection dalam teori relativitas umum. Besaran ini digunaan oleh Einstein untu mendefinisian eranga oordinat loal dengan menganggap bahwa medan gravitasi bersifat merata/uniform. Selain itu Gagasan ini pada dasarnya diajuan untu menyataan hubungan antara satu pengamat dengan pengamat lainnya dalam meninjau sistem fisia sebagai upaya untu memperluas etida ubahan huum fisia yang dilihat oleh pengamat mana pun juga. Namun demiian connection yang pertama ali diajuan oleh Weyl ternyata merupaan simetri dari persamaan Maxwell di dalam teori eletromagneti mengenai ebebasan memilih potensial salar dan potensial vetor. Selain itu Weyl juga menunjuan bahwa simetri tersebut beraitan dengan simetri dari suatu grup simetri internal yang tergolong grup Lie yaitu grup U(1). Keywords: Gauge Invariance Grup simetri internal Abstract In this paper we have reviewed the basic concept of the gauge transformation and its relation with the group theory. he idea of the gauge theory was initially proposed by Hermann Weyl in 1919 by taing the same analogy with the idea of Albert Einstein by introducing the new quantity namely connection in general relativity. his quantity was used by Einstein in order to define the local coordinate by considering that gravitational field is uniform. In addition this idea is actually proposed to relate the observer and other observers for extension that the law of physics still hold. However the connection which was initially proposed by Weyl is also a symmetry of Maxwell equations in the electromagnetic theory in the case of freedom to choose both scalar potential and vector potential. Moreover Weyl also proved that the symmetry is related by the group of internal symmetry which is Lie group namely U(1) group. Keywords: Gauge Invariance Group of internal symmetry 1. Pendahuluan Istilah simetri gauge yang mengilhami Hermann Weyl [1] untu mengajuan teori gaugenya berawal dari onsep simetri yang diajuan oleh Albert Einstein dalam teori relativitas husus di tahun 195 lalu dilanjutan dengan teori relativitas umum beberapa tahun setelah itu. eori relativitas husus meneanan bahwa semua huum fisia berlau sama apabila diamati oleh semua pengamat inersial. Di samping itu teori ini juga dianggap sebagai pengganti teori meania lasi Newton yang digunaan untu mengaji gera benda yang mempunyai ecepatan mendeati ecepatan cahaya. Keteraitan antara pengamat yang satu dengan yang lainnya dihubungan melalui transformasi Lorentz yang hanya bergantung pada ecepatan relatif pengamat dan tida bergantung pada posisi pengamat berada. Simetri yang demiian dinamaan simetri global atau yang lebih dienal sebagai simetri grup Lorentz dalam teori relativitas husus. Beberapa tahun emudian Einstein mengajuan teori relativitas umumnya yang pada dasarnya untu membuat pernyataan umum bahwa 5

2 Seminar Nasional Fisia 1 Jaarta 9 Juni 1 semua huum fisia haruslah berlau sama untu semua pengamat bai pengamat inersial maupun non inersial. Namun demiian perumusan matematia tersebut tidalah mudah mengingat onsep mengenai percepatan benda pada suatu medan gravitasi haruslah dipertimbangan. Hal demiian terjadi arena secara umum percepatan gravitasi pada semua titi tida sama melainan bergantung pada jara dari sumber gravitasi sesuai dengan perumusan gaya gravitasi yang diajuan pertama ali oleh Newton. Dengan demiian Einstein menyadari bahwa eteraitan antara pengamat yang satu dengan yang lainnya dalam suatu sistem yang dipercepat dalam hal ini adalah medan gravitasi haruslah diungapan melalui eranga loal yang menganggap bahwa dalam eranga tersebut medan gravitasi dianggap merata []. Untu mengatasinya Einstein memperenalan sebuah besaran connection yang menggambaran hubungan antara pengamat yang satu dengan yang lainnya dalam medan gravitasi. Simetri dari teori di atas dinamaan simetri loal dalam teori relativitas umum arena eteraitan antara pengamat yang satu dengan yang lainnya bergantung pada posisi pengamat masingmasing. Secara geometri teori relativitas husus digambaran melalui geometri ruang watu datar/flat sedangan teori relativitas umum digambaran melalui ruang watu lengung. Selain itu edua simetri di atas dienal sebagai simetri esternal dalam teori grup. Pada tahun 1919 seelompo ilmuwan yang dipimpin oleh Sir Arthur Eddington tertari untu membutian ebenaran teori relativitas umum. Salah satu dugaan yang diemuaan oleh Einstein adalah pembeloan cahaya bintang yang merambat deat dengan matahari. Pada tahun itu Eddington memberian hasil pengamatannya bahwa cahaya bintang yang melalui medan gravitasi matahari memang membelo seperti yang diramalan oleh Einstein [3]. Hasil pengamatan tersebut dibutian di Afria etia terjadinya gerhana matahari total. Hasil pembutian di atas mengilhami Weyl untu mengajuan teorinya. Pada tahun itu hanya terdapat dua teori fundamental yang dienal yaitu gravitasi dan eletromagneti. Hal yang menari bagi Weyl adalah bentu matematia yang mirip antara gaya gravitasi Newton dan gaya Coulomb. Oleh sebab itu Weyl memberi dugaan onsep adanya connection yang berlau di dalam teori relativitas umum seharusnya dapat berlau juga di dalam teori eletromagneti walaupun dengan pandangan yang berbeda. Dugaan Weyl ini dituangan dalam onsep simetri internal dengan memperenalan suatu ruang internal berdasaran analogi teori relativitas umum. Weyl beranggapan bahwa connection harus muncul apabila ruang 6 internal tersebut melengung dengan mengajuan suatu onsep bahwa suatu besaran vetor yang menggambaran besaran fisis haruslah mempunyai panjang yang tetap dan tida bergantung pada posisi di dalam ruang dan watu. Berdasaran anggapan ini Weyl berhasil membutian bahwa eletromagneti merupaan salah satu wujud dari simetri internal. eori yang diajuan Weyl ini menjadi cial baal terbentunya teori gauge modern terutama yang beraitan dengan fisia partiel seperti interasi lemah dan uat yang ditemuan beberapa tahun emudian setelah Weyl mengajuan teorinya. Di dalam maalah ini aan dibahas pertama ali bentu matematia yang diajuan oleh Weyl yang beraitan dengan teori gauge dalam eletromagneti di dalam lingup meania uantum. Bentu matematia tersebut memberi interpretasi bahwa interasi eletromagneti dari partiel bermuatan merupaan wujud eberadaan teori gauge loal. Selain itu aan ditunjuan pula bahwa teori gauge di atas dapat diaitan dengan grup internal yang pada dasarnya merupaan grup Lie. Di samping itu aan dibahas pula teori simetri gauge umum yang merupaan perluasan dari simeri gauge yang diajuan oleh Weyl. Menurut sejarah simetri gauge tersebut berhasil menyingap dua interasi fundamental di alam lainnya yaitu interasi lemah dan interasi uat [4]. Perembangan selanjutnya adalah menggabungan eempat interasi fundamental di alam melalui onsep teori gauge namun sayangnya gravitasi belum dapat digabungan dengan etiga interasi lainnya.. ransformasi Gauge Loal dalam Meania Kuantum Perembangan meania uantum yang bersamaan dengan lahirnya teori gauge ini memunculan suatu interpretasi baru. Interpretasi tersebut muncul dengan meninjau transformasi rotasi pada fungsi gelombang dalam meania uantum yang secara umum mempunyai bentu 1 iq r t (1) e dengan variabel merupaan fungsi ruang dan watu. Pada persamaan (1) ita langsung dapat menyimpulan bahwa 1 onstanta q secara umum dienal sebagai onstanta opling (dalam eletromagneti dienal sebagai muatan listri)

3 () yang menunjuan bahwa amplitudo probabilitas tida berubah. Dari hasil di atas Weyl menduga bahwa fasa di atas dalam hal ini dapat dianggap sebagai variabel loal [5]. Dengan demiian Weyl menyimpulan bahwa untu asus ini transformasi gauge loal dapat ditulisan sebagai transformasi fasa atau transformasi rotasi dalam ruang internal. Selain itu Weyl juga memberi argumen bahwa aan terdapat suatu connection yang menyebaban interpretasi di atas tida berubah. Pada bagian ini aan diaji mengenai perumusan persamaan Schrödinger yang invarian/tida berubah bentu terhadap transformasi gauge loal dengan menambahan suatu connection sesuai dengan dugaan yang diajuan oleh Weyl. Kita meninjau dahulu persamaan Schrödinger non relativisti di dalam meania uantum V i. m t (3) langah selanjutnya ita terapan transformasi gauge loal seperti yang tertulis pada persamaan (1). Dengan mudah dibutian bahwa persamaan (3) aan berubah bentu yang terlihat dari hubungan beriut 3 iq iq e iq iq e e t e (4) t. (5) Solusi untu mengatasinya adalah memperluas bentu operator differensial yang di dalamnya terandung connection yang didefinisian sebagai beriut 4 D iqa (6) Dt iq (7) t t dengan A dan adalah connection. Selain itu agar persamaan Schrödinger invarian terhadap apabila tida bergantung pada ruang dan watu transformasinya dienal sebagai transformasi gauge global. 3 transformasi gauge global tida mengubah bentu persamaan Schrödinger Seminar Nasional Fisia 1 Jaarta 9 Juni 1 transformasi gauge loal maa diterapan pula dua syarat batas transformasi yang diambil berdasaran analogi persamaan (4) dan (5) sebagai beriut D (8) D (9) iq iq e e D iq iq e e D. t Apabila transformasi gauge loal diterapan pada persamaan (8) dan (9) maa ita mendapatan transformasi untu connection yang memenuhi transformasi A A A (1). (11) t Persamaan (1) dan (11) adalah transformasi gauge di dalam eletromagneti yang menjamin bahwa medan listri dan magnet tida berubah apabila edua transformasi di atas diterapan [6]. Dengan demiian persamaan Schrödinger yang invarian terhadap transformasi gauge loal mempunyai bentu m iqa V i iq dengan transformasi simultan t t (1) iq e (13) A A A (14). (15) t Oleh sebab itu Weyl memberi tafsiran bahwa potensial salar dan vetor ( A ) pada teori eletromagneti merupaan connection atau yang lebih dienal juga sebagai potensial gauge. Interpretasi lain yang dapat diambil adalah bahwa eberadaan interasi medan eletromagneti dengan partiel bermuatan yang digambaran melalui persamaan (1) adalah wujud adanya esimetrian gauge. 3. ransformasi Gauge Loal Umum dan Grup Simetri Internalnya Pada bagian ini aan diperluas bentu umum transformasi gauge loal dan aitannya dengan grup simetri internal yang bersangutan. Berdasaran ajian sebelumnya fasa dari fungsi gelombang partiel dapat dianggap sebagai derajat 7

4 Seminar Nasional Fisia 1 Jaarta 9 Juni 1 ebebasan yang baru yang bergantung pada posisi di ruang dan watu. Dalam ruang internal fasa tersebut merupaan sudut rotasi dari suatu partiel yang direpresentasian melalui sebuah fungsi gelombang. Perumusan transformasi gauge loal umum ini pada awalnya dilatarbelaangi melalui ide yang diajuan oleh Yuawa pada tahun 1935 dalam upaya untu menjelasan interasi lemah (lebih dienal sebagai interasi nulir). Menurut Yuawa gaya nulir disebaban oleh adanya partiel perantara yang mirip foton seperti di dalam teori eletromagneti namun mempunyai massa mengingat interasi tersebut mempunyai janguan yang sangat pende. Usulan ini berawal dari gagasan Heisenberg beberapa tahun sebelumnya bahwa proton dan neutron dapat dianggap sebagai eadaan up atau down pada suatu spin isotopic abstra (isospin) yang mirip seperti eadaan spin pada eletron. Namun demiian usaha ini baru menemui eberhasilan melalui usaha C. N. Yang dan R. Mills pada tahun 1954 [7] yang mempostulatan bahwa grup isospin tersebut adalah SU() 5. Untu memperluas bentu transformasi gauge secara umum dipostulatan bahwa setiap partiel atau sistem yang berada di dalam suatu daerah yang terloalisasi dan membawa suatu bilangan uantum internal dianggap mempunyai arah di dalam ruang internal. Arah tersebut dapat dipilih sembarang pada setiap titi di ruang watu dan untu membandingan arah yang satu dengan arah yang lainnya dalam ruang internal pada dua titi yang berbeda x dan x dx dibutuhan suatu connection yang menyataan seberapa besar perbedaan arah pada edua titi tersebut. Di samping itu connection tersebut harus juga dapat menghubungan semua arah yang mungin di dalam ruang internal sehingga semua arah yang mungin tersebut haruslah berupa rotasi di dalam ruang internal. Menurut teori grup semua elemen transformasi rotasi aan membentu suatu grup simetri. Sebagai permulaan analisis ita meninjau terlebih dahulu suatu transformasi simetri loal untu sembarang grup 6 [] x iq x F exp (16) dengan dan masing-masing menyataan indes internal dan esternal sedangan parameter transformasi loal itu sendiri dinyataan oleh. Indes internal merupaan indes yang menyataan jumlah generator yang dimilii oleh suatu grup simetri internal ( 1... )/menyataan dimensi ruang internal sedangan indes esternal menyataan dimensi ruang watu ( 1 3) 7. Di samping itu menurut teori grup F merupaan generator dari suatu grup simetri. Secara ualitatif transformasi pada persamaan (16) dapat dibayangan sebagai perpindahan suatu partiel uji dari titi x menuju titi x dx dalam suatu ruang internal yang melengung []. x Melalui gambaran di atas maa suatu fungsi gelombang yang menggambaran partiel haruslah diuraian dalam bagian esternal dan internal yang dapat ditulis [] x u x. (17) Pada persamaan di atas x x dx u merupaan vetor basis di dalam ruang internal sedangan merupaan omponen dari dalam basis u. Dengan perataan lain u merupaan bagian internal sedangan merupaan bagian esternal. Apabila suatu partiel berpindah dari titi x menuju titi x dx dalam ruang internal maa fungsi gelombang partiel mengalami perubahan sebesar [] x dx Gambar 1 : rotasi sudut yang berubah dalam ruang internal aibat partiel yang berpindah dalam ruang watu. 5 Ini adalah awal dari teori gauge modern mengingat grup tersebut bersifat non -Abelian. 6 anda negatif (-) atau positif (+) pada bagian esponensial bergantung epada referensi. 8 7 penjelasan lengap mengenai indes tersebut tedapat pada lampiran.

5 d x du x Pada persamaan (18) dx u du. x (18) du muncul arena adanya connection yang pada dasarnya diidentian sebagai potensial luar dalam ruang internal. Untu menghitung du ita meninjau dahulu operator transformasi rotasi infinitesimal beriut [] dx exp iq d F exp iq dx F x. (19) Langah selanjutnya ita merotasian basis internal ini melalui operator transformasi di atas yang secara umum mempunyai bentu dx u u du Apabila operator dx. () diuraian sampai orde-1 pada ruas anan persamaan (19) lalu disubstitusian pada ruas iri persamaan () maa melalui aljabar matematia dapat dibutian bahwa basis infinitesimalnya mempunyai persamaan [] du a iq dx F u ab b x. (1) Melalui persamaan (1) inilah didefinisan sebuah connection yang ditulisan sebagai beriut [] A F ab ab x. () Dengan mensubstitusian persamaan (1) e persamaan (18) maa didapat dengan D d D b dx ub (3) b A. (4) b b iq b x Seminar Nasional Fisia 1 Jaarta 9 Juni 1 Dalam beberapa referensi suu D dienal sebagai operator turunan ovarian. Untu grup U(1) hanya terdapat satu generator sehingga ruang internalnya berubah menjadi satu dimensi sehingga persamaan (4) teredusi menjadi D iqa. (5) Untu melihat aitan antara grup U(1) dengan eletromagneti ita tinjau dahulu syarat yang diharapan dari transformasi gauge menurut Weyl. Menurut Weyl transformasi dari suatu fungsi gelombang harus mempertahanan arti fisis (dalam hal ini adalah rapat probababilitas) atau secara matematis ditulisan. (6) Dengan demiian Weyl juga memberi usulan tambahan bahwa transformasi dari turunan ovarian juga harus tida berubah [] D D (7) sehingga aturan transformasi dari turunan ovarian haruslah mempunyai bentu yang sama dengan transformasi fungsi gelombang yang ditulisan pada persamaan (1) D D (8) dengan definisi transformasi untu turunan ovarian berbentu D iqa. (9) Persamaan (9) memberian informasi epada ita bahwa connection mempunyai suatu aturan transformasi agar dapat mempertahanan arti fisis. Dengan mensubstitusian persamaan (5) e persamaan (8) aan didapatan bentu transformasi connection berbentu A A iq (3) Untu grup U(1) elemen grup yang bersangutan dapat ditulisan sebagai bentu husus dari operator (jumlah parameternya adalah satu dengan dimensi matris 1x1) seperti yang ditunjuan pada persamaan (16) 9

6 exp iq. (31) Menurut aturan transformasi di dalam meania uantum bentu operator yang dapat mentransformasian fungsi gelombang hanyalah operator yang bersifat Hermitian sehingga 1 (3) dengan menunjuan transpose onjugat. Dengan demiian apabila persamaan (31) disubstitusian e persamaan (3) diiuti dengan aturan yang ditentuan pada persamaan (3) maa aan didapat bentu transformasi untu connection yang mempunyai simetri grup U(1) A A. (33) Persamaan transformasi (33) merupaan transformasi gauge untu eletromagneti pada persamaan (1) dan (11) yang ditulisan dalam bentu tensor. 4. Kesimpulan Pada maalah ini telah ditunjuan aitan antara transformasi gauge pada teori eletromagneti dan teori grup U(1). ransformasi gauge pada eletromagneti tersebut tida lain adalah transformasi potensial salar dan potensial vetor yang dapat dipilih sembarang asalan tida mengubah bentu medan listri dan magnet. Selain itu berdasaran ajian teori grup edua potensial eletromagneti tersebut dianggap sebagai connection atau potensial luar di dalam ruang internal arena adanya perpindahan partiel dari suatu titi e titi lain dalam ruang watu. Bentu connection sendiri bergantung dari jenis grup internalnya. Untu grup dengan dimensi lebih dari satu buah (misalnya SU()) dapat ditunjuan bahwa connection nya secara umum bersifat non-abelian. Hal ini disebaban adanya ebergantungan connection dengan generator dari grup yang bersangutan. Untu grup U(1) sendiri connection bersifat Abelian mengingat generator pada grup tersebut berjumlah satu buah. Ucapan erima Kasih Pada esempatan ini penulis mengucapan terima asih yang sebesar-besarnya epada reanrean dosen di jurusan fisia UNJ atas terwujudnya maalah ini. Seminar Nasional Fisia 1 Jaarta 9 Juni 1 Lampiran A. eori Grup Secara umum sebuah grup G merupaan himpunan yang dilengapi dengan sebuah operasi peralian grup 8 ( ) yang memenuhi syarat-syarat beriut [8] 1. sifat etertutupan/losur a bg a bg. sifat asosiatif a b c G a ( bc) ( a b) c 3. terdapat elemen satuan/identitas G memenuhi aturan e a a e a a G 5. untu setiap a G aan terdapat elemen 1 invers a G sehingga berlau 1 1 a a a a e e yang Berdasaran sifat peralian dari elemenelemen grup grup terbagi menjadi dua bagian 1. grup Abelian/omutatif a b ba a b G. grup non-abelian a b ba a b G Di samping itu berdasaran jumlah elemennya grup dibagi lagi menjadi dua bagian yaitu grup ontinu (jumlah elemennya ta hingga buah) dan grup disrit (jumlah elemennya berhingga). Definisi : Grup Lie merupaan grup ontinu yang setiap elemennya g( 1 r ) merupaan fungsi analiti dari sejumlah parameter ( 1 r ) yang operasi peraliannya berupa hubungan omutasi/omutator 9. eorema Lie : setiap elemen grup Lie g( 1 r ) dapat dihasilan melalui elemen grup infinitesimal melalui operasi esponensial g( 1 r ) exp i aa (34) a dengan indes a menyataan jumlah parameter dari grup yang bersangutan. merupaan generator dari suatu grup Lie 1 yang memenuhi aljabar Lie beriut [9] 8 Operasi peralian grup dapat berupa penjumlah peralian atau operasi lainnya 9 Hubungan ini dienal sebagai aljabar Lie 1 Jumlah parameter sama dengan jumlah generator a 3

7 a b ab ba. (35) Grup uniter merupaan grup yang elemenelemennya berupa matris uniter U( n) g U( n) g 1 g gg 1 e. (36) Jumlah parameter grup uniter secara umum dapat dirumusan sebagai n dengan n merupaan dimensi dari grup yang bersangutan. Dengan demiian grup U(1) hanya mempunyai satu generator dan tergolong grup Abelian. B. Notasi relativisti Menurut teori relativitas husus dua ejadian pada dua titi di ruang watu yang berbeda ( x y z t) dan ( x dx y dy z dz t dt) dapat dihubungan melalui sebuah interval di antara dua titi tersebut 11 ds c dt dx dy dz (37) dengan c adalah ecepatan cahaya. Berdasaran persamaan (37) dapat didefinisian tensor ontravarian ( x ) dan tensor ovarian x ) ( dengan indes adalah indes ruang watu ( 13). Dalam hal ini oordinat ruang watu didefinisian sebagai vetor ontravarian x ( x x 1 x x 3 ) ( ct x y z). Di samping itu ita juga dapat mendefinisian tensor metri g (38) dan invers matris yang bersangutan g. (39) ensor metri beserta inversnya berfungsi untu menaian atau menurunan indes pada setiap tensor x g x 1 3 x g1x gx g3x g (4) Seminar Nasional Fisia 1 Jaarta 9 Juni 1 Dari persamaan (4) terlihat bahwa untu vetor ovarian dapat ditulisan x x x x x ) ( ct x y ) ( 1 3 z. Untu operator differensial aturan penulisan tensornya sebagai beriut x 1 ( 1 3) c t x y z 1 (41) c t dan inversnya 1 g. (4) c t Di dalam teori eletromagneti potensial salar dan vetor dapat ditulisan di dalam notasi relativisti A Ax Ay Az (43) c dan inversnya A Ax Ay Az. (44) c Daftar Acuan [1]. H. Weyl Ann. Physi (1919). []. K. Moriyasu An Elementary Primer for Gauge heory 1 st ed. Singapore: World Scientific 1983 pp [3]. R. D Inverno Introducing Einsteins s Relativity 1 st ed. New Yor: Oxford University Press Inc. 199 pp [4]. G. Kane Modern Elementary Particle Physics 1 st ed. Michigan : Westview Press 1993 pp [5]. H. Weyl Zeit. Physi 5633 (199). [6]. D. J. Griffiths Introduction o Electrodynamics nd ed. New Jersey: Prentice-Hall 1999 pp [7]. C. N. Yang and R. L. Mills Phys. Rev (1954). [8]. H. F. Jones Groups Representations and Phyics nd ed. London : IOP Publishing Ltd 1998 pp [9]. H. Georgi Lie Algebras in Particle Physics nd ed. Michigan : Westview Press 1999 pp [1]. L. H. Ryder Quantum Field heory nd ed. Cambridge : Cambridge University Press 1998 pp Bentu interval ini menyataan geometri ruang watu Minowsi 31

PENYELESAIAN PERSAMAAN LOTKA-VOLTERRA DENGAN METODE TRANSFORMASI DIFERENSIAL SUTRIANI HIDRI

PENYELESAIAN PERSAMAAN LOTKA-VOLTERRA DENGAN METODE TRANSFORMASI DIFERENSIAL SUTRIANI HIDRI PENYELESAIAN PERSAMAAN LOTKA-VOLTERRA DENGAN METODE TRANSFORMASI DIFERENSIAL SUTRIANI HIDRI Jurusan Matematia, FMIPA, Universitas Negeri Maassar Email: [email protected] Abstra. Pada artiel ini dibahas

Lebih terperinci

PELABELAN FUZZY PADA GRAF. Siti Rahmah Nurshiami, Suroto, dan Fajar Hoeruddin Universitas Jenderal Soedirman.

PELABELAN FUZZY PADA GRAF. Siti Rahmah Nurshiami, Suroto, dan Fajar Hoeruddin Universitas Jenderal Soedirman. JMP : Volume 6 Nomor, Juni 04, hal. - PELABELAN FUZZY PADA GRAF Siti Rahmah Nurshiami, Suroto, dan Fajar Hoeruddin Universitas Jenderal Soedirman email : [email protected] ABSTRACT. This paper discusses

Lebih terperinci

PENYELESAIAN PERSAMAAN LOTKA-VOLTERRA DENGAN METODE TRANSFORMASI DIFERENSIAL. Sutriani Hidri. Ja faruddin. Syafruddin Side, ABSTRAK

PENYELESAIAN PERSAMAAN LOTKA-VOLTERRA DENGAN METODE TRANSFORMASI DIFERENSIAL. Sutriani Hidri. Ja faruddin. Syafruddin Side, ABSTRAK PENYELESAIAN PERSAMAAN LOTKA-VOLTERRA DENGAN METODE TRANSFORMASI DIFERENSIAL Syafruddin Side, Jurusan Matematia, FMIPA, Universitas Negeri Maassar email:[email protected] Info: Jurnal MSA Vol. 3

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belaang Model Loglinier adalah salah satu asus husus dari general linier model untu data yang berdistribusi poisson. Model loglinier juga disebut sebagai suatu model statisti

Lebih terperinci

4. 1 Spesifikasi Keadaan dari Sebuah Sistem

4. 1 Spesifikasi Keadaan dari Sebuah Sistem Dalam pembahasan terdahulu ita telah mempelajari penerapan onsep dasar probabilitas untu menggambaran sistem dengan jumlah partiel ang cuup besar (N). Pada bab ini, ita aan menggabungan antara statisti

Lebih terperinci

KAJIAN TEOREMA TITIK TETAP PEMETAAN KONTRAKTIF PADA RUANG METRIK CONE LENGKAP DENGAN JARAK-W

KAJIAN TEOREMA TITIK TETAP PEMETAAN KONTRAKTIF PADA RUANG METRIK CONE LENGKAP DENGAN JARAK-W J. Math. and Its Appl. ISSN: 1829-605X Vol. 8, No. 2, November 2011, 43 49 KAJIAN TEOREMA TITIK TETAP PEMETAAN KONTRAKTIF PADA RUANG METRIK CONE LENGKAP DENGAN JARAK-W Sunarsini. 1, Sadjidon 2 Jurusan

Lebih terperinci

Bahan Minggu II, III dan IV Tema : Kerangka acuan inersial dan Transformasi Lorentz Materi :

Bahan Minggu II, III dan IV Tema : Kerangka acuan inersial dan Transformasi Lorentz Materi : Bahan Minggu II, III dan IV Tema : Keranga auan inersial dan Transformasi Lorent Materi : Terdaat dua endeatan ang digunaan untu menelusuri aedah transformasi antara besaran besaran fisis (transformasi

Lebih terperinci

Aplikasi diagonalisasi matriks pada rantai Markov

Aplikasi diagonalisasi matriks pada rantai Markov J. Sains Dasar 2014 3(1) 20-24 Apliasi diagonalisasi matris pada rantai Marov (Application of matrix diagonalization on Marov chain) Bidayatul hidayah, Rahayu Budhiyati V., dan Putriaji Hendiawati Jurusan

Lebih terperinci

BAB 5 RUANG VEKTOR UMUM. Dr. Ir. Abdul Wahid Surhim, MT.

BAB 5 RUANG VEKTOR UMUM. Dr. Ir. Abdul Wahid Surhim, MT. BAB 5 RUANG VEKTOR UMUM Dr. Ir. Abdul Wahid Surhim, MT. KERANGKA PEMBAHASAN. Ruang Vetor Nyata. Subruang. Kebebasan Linier 4. Basis dan Dimensi 5. Ruang Baris, Ruang Kolom dan Ruang Nul 6. Ran dan Nulitas

Lebih terperinci

BAB IV PERHITUNGAN HARGA PREMI BERDASARKAN FUNGSI PERMINTAAN PADA TITIK KESETIMBANGAN

BAB IV PERHITUNGAN HARGA PREMI BERDASARKAN FUNGSI PERMINTAAN PADA TITIK KESETIMBANGAN BAB IV PERHITUNGAN HARGA PREMI BERDASARKAN FUNGSI PERMINTAAN PADA TITIK KESETIMBANGAN Berdasaran asumsi batasan interval pada bab III, untu simulasi perhitungan harga premi pada titi esetimbangan, maa

Lebih terperinci

BAB III DESAIN DAN APLIKASI METODE FILTERING DALAM SISTEM MULTI RADAR TRACKING

BAB III DESAIN DAN APLIKASI METODE FILTERING DALAM SISTEM MULTI RADAR TRACKING Bab III Desain Dan Apliasi Metode Filtering Dalam Sistem Multi Radar Tracing BAB III DESAIN DAN APLIKASI METODE FILTERING DALAM SISTEM MULTI RADAR TRACKING Bagian pertama dari bab ini aan memberian pemaparan

Lebih terperinci

BAB III PENENTUAN HARGA PREMI, FUNGSI PERMINTAAN, DAN TITIK KESETIMBANGANNYA

BAB III PENENTUAN HARGA PREMI, FUNGSI PERMINTAAN, DAN TITIK KESETIMBANGANNYA BAB III PENENTUAN HARGA PREMI, FUNGSI PERMINTAAN, DAN TITIK KESETIMBANGANNYA Pada penelitian ini, suatu portfolio memilii seumlah elas risio. Tiap elas terdiri dari n, =,, peserta dengan umlah besar, dan

Lebih terperinci

( s) PENDAHULUAN tersebut, fungsi intensitas (lokal) LANDASAN TEORI Ruang Contoh, Kejadian dan Peluang

( s) PENDAHULUAN tersebut, fungsi intensitas (lokal) LANDASAN TEORI Ruang Contoh, Kejadian dan Peluang Latar Belaang Terdapat banya permasalahan atau ejadian dalam ehidupan sehari hari yang dapat dimodelan dengan suatu proses stoasti Proses stoasti merupaan permasalahan yang beraitan dengan suatu aturan-aturan

Lebih terperinci

MATA KULIAH MATEMATIKA TEKNIK 2 [KODE/SKS : KD / 2 SKS] Ruang Vektor

MATA KULIAH MATEMATIKA TEKNIK 2 [KODE/SKS : KD / 2 SKS] Ruang Vektor MATA KULIAH MATEMATIKA TEKNIK [KODE/SKS : KD4 / SKS] Ruang Vetor FIELD: Ruang vetor V atas field salar K adalah himpunan ta osong dengan operasi penjumlahan vetor dan peralian salar. Himpunan ta osong

Lebih terperinci

Kumpulan soal-soal level seleksi Kabupaten: Solusi: a a k

Kumpulan soal-soal level seleksi Kabupaten: Solusi: a a k Kumpulan soal-soal level selesi Kabupaten: 1. Sebuah heliopter berusaha menolong seorang orban banjir. Dari suatu etinggian L, heliopter ini menurunan tangga tali bagi sang orban banjir. Karena etautan,

Lebih terperinci

SUATU KLAS BILANGAN BULAT DAN PERANNYA DALAM MENGKONSTRUKSI BILANGAN PRIMA

SUATU KLAS BILANGAN BULAT DAN PERANNYA DALAM MENGKONSTRUKSI BILANGAN PRIMA SUATU KLAS BILANGAN BULAT DAN PERANNYA DALAM MENGKONSTRUKSI BILANGAN PRIMA I Nengah Suparta dan I. B. Wiasa Jurusan Pendidian MatematiaUniversitas Pendidian Ganesha E-mail: [email protected] ABSTRAK:

Lebih terperinci

ALGORITMA PENYELESAIAN PERSAMAAN DINAMIKA LIQUID CRYSTAL ELASTOMER

ALGORITMA PENYELESAIAN PERSAMAAN DINAMIKA LIQUID CRYSTAL ELASTOMER ALGORITMA PENYELESAIAN PERSAMAAN DINAMIKA LIQUID CRYSTAL ELASTOMER Oleh: Supardi SEKOLAH PASCA SARJANA JURUSAN ILMU FISIKA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2012 1 PENDAHULUAN Liquid Crystal elastomer (LCE

Lebih terperinci

MENYELESAIKAN PERSAMAAN DIFFERENSIAL BILANGAN BULAT DAN BILANGAN RASIONAL

MENYELESAIKAN PERSAMAAN DIFFERENSIAL BILANGAN BULAT DAN BILANGAN RASIONAL MENYELESAIKAN PERSAMAAN DIFFERENSIAL BILANGAN BULAT DAN BILANGAN RASIONAL Sarta Meliana 1, Mashadi 2, Sri Gemawati 2 1 Mahasiswa Program Studi S1 Matematia 2 Dosen Jurusan Matematia Faultas Matematia dan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Tinjauan Pustaa Untu menacapai tujuan penulisan sripsi, diperluan beberapa pengertian dan teori yang relevan dengan pembahasan. Karena itu, dalam subbab ini aan diberian beberapa

Lebih terperinci

Deret Pangkat. Ayundyah Kesumawati. June 23, Prodi Statistika FMIPA-UII

Deret Pangkat. Ayundyah Kesumawati. June 23, Prodi Statistika FMIPA-UII Keonvergenan Kesumawati Prodi Statistia FMIPA-UII June 23, 2015 Keonvergenan Pendahuluan Kalau sebelumnya, suu suu pada deret ta berujung berupa bilangan real maa ali ini ita embangan suu suunya dalam

Lebih terperinci

Penggunaan Induksi Matematika untuk Mengubah Deterministic Finite Automata Menjadi Ekspresi Reguler

Penggunaan Induksi Matematika untuk Mengubah Deterministic Finite Automata Menjadi Ekspresi Reguler Penggunaan Indusi Matematia untu Mengubah Deterministic Finite Automata Menjadi Espresi Reguler Husni Munaya - 353022 Program Studi Teni Informatia Seolah Teni Eletro dan Informatia Institut Tenologi Bandung,

Lebih terperinci

KENNETH CHRISTIAN NATHANAEL

KENNETH CHRISTIAN NATHANAEL KENNETH CHRISTIAN NATHANAEL. Sistem Bilang Real. Fungsi dan Grafi. Limit dan Keontinuan 4. Limit Ta Hingga 5. Turunan Fungsi 6. Turunan Fungsi Trigonometri 7. Teorema Rantai 8. Turunan Tingat Tinggi 9.

Lebih terperinci

Optimasi Non-Linier. Metode Numeris

Optimasi Non-Linier. Metode Numeris Optimasi Non-inier Metode Numeris Pendahuluan Pembahasan optimasi non-linier sebelumnya analitis: Pertama-tama mencari titi-titi nilai optimal Kemudian, mencari nilai optimal dari fungsi tujuan berdasaran

Lebih terperinci

VARIASI NILAI BATAS AWAL PADA HASIL ITERASI PERPINDAHAN PANAS METODE GAUSS-SEIDEL

VARIASI NILAI BATAS AWAL PADA HASIL ITERASI PERPINDAHAN PANAS METODE GAUSS-SEIDEL SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN SAINS Peningatan Kualitas Pembelajaran Sains dan Kompetensi Guru melalui Penelitian & Pengembangan dalam Menghadapi Tantangan Abad-1 Suraarta, Otober 016 VARIASI NILAI BATAS

Lebih terperinci

INTEGRAL NUMERIK KUADRATUR ADAPTIF DENGAN KAIDAH SIMPSON. Makalah. Disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Metode Numerik. yang dibimbing oleh

INTEGRAL NUMERIK KUADRATUR ADAPTIF DENGAN KAIDAH SIMPSON. Makalah. Disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Metode Numerik. yang dibimbing oleh INTEGRAL NUMERIK KUADRATUR ADAPTIF DENGAN KAIDAH SIMPSON Maalah Disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Metode Numeri yang dibimbing oleh Dr. Nur Shofianah Disusun oleh: M. Adib Jauhari Dwi Putra 146090400111001

Lebih terperinci

OSN 2014 Matematika SMA/MA

OSN 2014 Matematika SMA/MA Soal 5. Suatu barisan bilangan asli a 1, a 2, a 3,... memenuhi a + a l = a m + a n untu setiap bilangan asli, l, m, n dengan l = mn. Jia m membagi n, butian bahwa a m a n. Solusi. Andaian terdapat bilangan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Pada bab ini disampaian beberapa pengertian dasar yang diperluan pada bab selanutnya. Selain definisi, diberian pula lemma dan teorema dengan atau tanpa buti. Untu beberapa teorema

Lebih terperinci

BAB IV APLIKASI PADA MATRIKS STOKASTIK

BAB IV APLIKASI PADA MATRIKS STOKASTIK BAB IV : ALIKASI ADA MARIKS SOKASIK 56 BAB IV ALIKASI ADA MARIKS SOKASIK Salah satu apliasi dari eori erron-frobenius yang paling terenal adalah penurunan secara alabar untu beberapa sifat yang dimilii

Lebih terperinci

BAB III METODE SCHNABEL

BAB III METODE SCHNABEL BAB III METODE SCHNABEL Uuran populasi tertutup dapat diperiraan dengan teni Capture Mar Release Recapture (CMRR) yaitu menangap dan menandai individu yang diambil pada pengambilan sampel pertama, melepasan

Lebih terperinci

BAB 3 PATTERN MATCHING BERBASIS JARAK EUCLID, PATTERN MATCHING BERBASIS JARAK MAHALANOBIS, DAN JARINGAN SYARAF TIRUAN BERBASIS PROPAGASI BALIK

BAB 3 PATTERN MATCHING BERBASIS JARAK EUCLID, PATTERN MATCHING BERBASIS JARAK MAHALANOBIS, DAN JARINGAN SYARAF TIRUAN BERBASIS PROPAGASI BALIK BAB 3 PATTERN MATCHING BERBASIS JARAK EUCLID, PATTERN MATCHING BERBASIS JARAK MAHALANOBIS, DAN JARINGAN SYARAF TIRUAN BERBASIS PROPAGASI BALIK Proses pengenalan dilauan dengan beberapa metode. Pertama

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Statisti Inferensia Tujuan statisti pada dasarnya adalah melauan desripsi terhadap data sampel, emudian melauan inferensi terhadap data populasi berdasaran pada informasi yang

Lebih terperinci

BAB ELASTISITAS. Pertambahan panjang pegas

BAB ELASTISITAS. Pertambahan panjang pegas BAB ELASTISITAS 4. Elastisitas Zat Padat Dibandingan dengan zat cair, zat padat lebih eras dan lebih berat. sifat zat padat yang seperti ini telah anda pelajari di elas SLTP. enapa Zat pada lebih eras?

Lebih terperinci

RINGKASAN SKRIPSI MODUL PERKALIAN

RINGKASAN SKRIPSI MODUL PERKALIAN RINGKASAN SKRIPSI MODUL PERKALIAN SAMSUL ARIFIN 04/177414/PA/09899 DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS GADJAH MADA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM YOGYAKARTA 2008 HALAMAN PENGESAHAN

Lebih terperinci

FISIKA. Kelas X GETARAN HARMONIS K-13. A. Getaran Harmonis Sederhana

FISIKA. Kelas X GETARAN HARMONIS K-13. A. Getaran Harmonis Sederhana K-13 Kelas X FISIKA GETARAN HARMONIS TUJUAN PEMBELAJARAN Setelah mempelajari materi ini, amu diharapan memilii emampuan sebagai beriut. 1. Memahami onsep getaran harmonis sederhana pada bandul dan pegas

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB TINJAUAN PUSTAKA.1 Sifat Dasar Neutron Neutron yang dihasilan dari reator nulir biasanya merupaan neutron berenergi rendah. Secara umum, neutron energi rendah dapat dilasifiasian dalam tiga enis yaitu

Lebih terperinci

BEBERAPA SIFAT QUASI-IDEAL MINIMAL PADA RING TRANSFORMASI LINEAR 1

BEBERAPA SIFAT QUASI-IDEAL MINIMAL PADA RING TRANSFORMASI LINEAR 1 BEBERAPA SIFAT QUASI-IDEAL MINIMAL PADA RING TRANSFORMASI LINEAR K a r y a t i Jurusan Pendidian Matematia FMIPA Uniersitas Negeri Yogyaarta e-mail : [email protected] Abstra. Misalan R adalah ring, Q

Lebih terperinci

Sifat-sifat Nilai Eigen dan Vektor Eigen Matriks atas Aljabar Maxplus

Sifat-sifat Nilai Eigen dan Vektor Eigen Matriks atas Aljabar Maxplus J. Sains Dasar () Sifat-sifat Nilai Eigen dan Vetor Eigen Matris atas ljabar Maxplus (The Properties of Eigen Value and Eigen Vector of Matrices Over Maxplus lgebra) Musthofa * dan Nienasih inatari * Jurusan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Teori graf merupakan salah satu bagian ilmu dari matematika dan merupakan

I. PENDAHULUAN. Teori graf merupakan salah satu bagian ilmu dari matematika dan merupakan I. PENDAHULUAN. Latar Belaang Teori graf merupaan salah satu bagian ilmu dari matematia dan merupaan poo bahasan yang relatif muda jia dibandingan dengan cabang ilmu matematia yang lain seperti aljabar

Lebih terperinci

SOLUSI KESTABILAN PADA MASALAH MULTIPLIKATIF PARAMETRIK (STABILITY SOLUTION OF PARAMETRIC MULTIPLICATIVE PROBLEMS)

SOLUSI KESTABILAN PADA MASALAH MULTIPLIKATIF PARAMETRIK (STABILITY SOLUTION OF PARAMETRIC MULTIPLICATIVE PROBLEMS) Prosiding Semirata15 bidang MIPA BKS-PTN Barat Hal 357-36 SOLUSI KESTABILAN PADA MASALAH MULTIPLIKATIF PARAMETRIK STABILITY SOLUTION OF PARAMETRIC MULTIPLICATIVE PROBLEMS) Budi Rudianto 1, Narwen Jurusan

Lebih terperinci

KENDALI OPTIMAL PADA MASALAH INVENTORI YANG MENGALAMI PENINGKATAN

KENDALI OPTIMAL PADA MASALAH INVENTORI YANG MENGALAMI PENINGKATAN KENDALI OPTIMAL PADA MASALAH INVENTORI YANG MENGALAMI PENINGKATAN Pardi Affandi, Faisal, Yuni Yulida Abstra: Banya permasalahan yang melibatan teori sistem dan teori ontrol serta apliasinya. Beberapa referensi

Lebih terperinci

Variasi Spline Kubik untuk Animasi Model Wajah 3D

Variasi Spline Kubik untuk Animasi Model Wajah 3D Variasi Spline Kubi untu Animasi Model Wajah 3D Rachmansyah Budi Setiawan (13507014 1 Program Studi Teni Informatia Seolah Teni Eletro dan Informatia Institut Tenologi Bandung, Jl. Ganesha 10 Bandung 40132,

Lebih terperinci

Soal-Jawab Fisika OSN x dan = min. Abaikan gesekan udara. v R Tentukan: a) besar kelajuan pelemparan v sebagai fungsi h. b) besar h maks.

Soal-Jawab Fisika OSN x dan = min. Abaikan gesekan udara. v R Tentukan: a) besar kelajuan pelemparan v sebagai fungsi h. b) besar h maks. Soal-Jawab Fisia OSN - ( poin) Sebuah pipa silinder yang sangat besar (dengan penampang lintang berbentu lingaran berjarijari R) terleta di atas tanah. Seorang ana ingin melempar sebuah bola tenis dari

Lebih terperinci

BEBERAPA SIFAT HIMPUNAN KRITIS PADA PELABELAN AJAIB GRAF BANANA TREE. Triyani dan Irham Taufiq Universitas Jenderal Soedirman

BEBERAPA SIFAT HIMPUNAN KRITIS PADA PELABELAN AJAIB GRAF BANANA TREE. Triyani dan Irham Taufiq Universitas Jenderal Soedirman JMP : Volume 4 Nomor 2, Desember 2012, hal. 271-278 BEBERAPA SIFAT HIMPUNAN KRITIS PADA PELABELAN AJAIB GRAF BANANA TREE Triyani dan Irham Taufiq Universitas Jenderal Soedirman [email protected] ABSTRACT.

Lebih terperinci

Ruang Barisan Orlicz Selisih Dengan Fungsional Aditif Dan Kontinunya

Ruang Barisan Orlicz Selisih Dengan Fungsional Aditif Dan Kontinunya J. Math. and Its Appl. ISSN: 1829-605X Vol. 2, No. 1, May. 2005, 37 45 Ruang Barisan Orlicz Selisih Dengan Fungsional Aditif Dan Kontinunya Sadjidon Jurusan Matematia Institut Tenologi Sepuluh Nopember,

Lebih terperinci

( x) LANDASAN TEORI. ω Ω ke satu dan hanya satu bilangan real X( ω ) disebut peubah acak. Ρ = Ρ. Ruang Contoh, Kejadian dan Peluang

( x) LANDASAN TEORI. ω Ω ke satu dan hanya satu bilangan real X( ω ) disebut peubah acak. Ρ = Ρ. Ruang Contoh, Kejadian dan Peluang LANDASAN TEORI Ruang Contoh Kejadian dan Peluang Suatu percobaan yang dapat diulang dalam ondisi yang sama yang hasilnya tida dapat dipredisi secara tepat tetapi ita dapat mengetahui semua emunginan hasil

Lebih terperinci

MEKANIKA TANAH HIDROLIKA TANAH DAN PERMEABILITAS MODUL 3

MEKANIKA TANAH HIDROLIKA TANAH DAN PERMEABILITAS MODUL 3 MEKANIKA TANAH MODUL 3 HIDROLIKA TANAH DAN PERMEABILITAS UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevard Bintaro Setor 7, Bintaro Jaya Tangerang Selatan 15224 Silus hidrologi AIR TANAH DEFINISI : air yang terdapat

Lebih terperinci

ESTIMASI TRAJECTORY MOBILE ROBOT MENGGUNAKAN METODE ENSEMBLE KALMAN FILTER SQUARE ROOT (ENKF-SR)

ESTIMASI TRAJECTORY MOBILE ROBOT MENGGUNAKAN METODE ENSEMBLE KALMAN FILTER SQUARE ROOT (ENKF-SR) SEMINAR NASIONAL PASCASARJANA SAL ESIMASI RAJECORY MOBILE ROBO MENGGUNAKAN MEODE ENSEMBLE KALMAN FILER SQUARE ROO (ENKF-SR) eguh Herlambang Zainatul Mufarrioh Firman Yudianto Program Studi Sistem Informasi

Lebih terperinci

BAB 3 PRINSIP SANGKAR BURUNG MERPATI

BAB 3 PRINSIP SANGKAR BURUNG MERPATI BAB 3 PRINSIP SANGKAR BURUNG MERPATI 3. Pengertian Prinsip Sangar Burung Merpati Sebagai ilustrasi ita misalan terdapat 3 eor burung merpati dan 2 sangar burung merpati. Terdapat beberapa emunginan bagaimana

Lebih terperinci

MAT. 12. Barisan dan Deret

MAT. 12. Barisan dan Deret MAT.. Barisan dan Deret i Kode MAT. Barisan dan Deret U, U, U3,..., Un,... Un a + (n-)b U + U +..., Un +... n?? Sn? BAGIAN PROYEK PENGEMBANGAN KURIKULUM DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN DIREKTORAT

Lebih terperinci

Modifikasi ACO untuk Penentuan Rute Terpendek ke Kabupaten/Kota di Jawa

Modifikasi ACO untuk Penentuan Rute Terpendek ke Kabupaten/Kota di Jawa 187 Modifiasi ACO untu Penentuan Rute Terpende e Kabupaten/Kota di Jawa Ahmad Jufri, Sunaryo, dan Purnomo Budi Santoso Abstract This research focused on modification ACO algorithm. The purpose of this

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang BAB PENDAHULUAN. Latar belaang Metode analisis yang telah dibicaraan hingga searang adalah analisis terhadap data mengenai sebuah arateristi atau atribut (jia data itu ualitatif) dan mengenai sebuah variabel,

Lebih terperinci

Geometri Bintang Berotasi Pada Keadaan Ambang

Geometri Bintang Berotasi Pada Keadaan Ambang Geometri Bintang Berotasi Pada Keadaan Ambang Iwan Setiawan dan Muhammad Farchani osyid Kelompo iset Kosmologi, Astrofisia, dan Fisia Matematia Jurusan Fisia Faultas Matematia dan Ilmu Pengetahuan Alam

Lebih terperinci

MODEL REGRESI INTERVAL DENGAN NEURAL FUZZY UNTUK MEMPREDIKSI TAGIHAN AIR PDAM

MODEL REGRESI INTERVAL DENGAN NEURAL FUZZY UNTUK MEMPREDIKSI TAGIHAN AIR PDAM MODEL REGRESI INTERVAL DENGAN NEURAL FUZZY UNTUK MEMPREDIKSI TAGIHAN AIR PDAM 1,2 Faultas MIPA, Universitas Tanjungpura e-mail: [email protected], email: [email protected] Abstract

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Sistem Kendali Lup [1] Sistem endali dapat diataan sebagai hubungan antara omponen yang membentu sebuah onfigurasi sistem, yang aan menghasilan tanggapan sistem yang diharapan.

Lebih terperinci

Y = + x + x x + e, e N(0, ), Residual e=y -Yˆ

Y = + x + x x + e, e N(0, ), Residual e=y -Yˆ Yogyaarta, 26 Noember 206 ISSN : 979 9X eissn : 25 528X ANALISIS PSEUDOINVERS DAN APLIKASINYA PADA REGRESI LINEAR BERGANDA Kris Suryowati Program Studi Statistia, Faultas Sains erapan, Institut Sains dan

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK POHON FUZZY

KARAKTERISTIK POHON FUZZY KARAKTERISTIK POHON FUZZY Yuli Stiawati 1, Dwi Juniati 2, 1 Jurusan Matematia, Faultas Matematia dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Surabaya, 60231 2 Jurusan Matematia, Faultas Matematia dan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN TINJAUAN PUSTAKA

PENDAHULUAN TINJAUAN PUSTAKA 1 Latar Belaang PENDAHULUAN Sistem biometri adalah suatu sistem pengenalan pola yang melauan identifiasi personal dengan menentuan eotentian dari arateristi fisiologis dari perilau tertentu yang dimilii

Lebih terperinci

SISTEM ADAPTIF PREDIKSI PENGENALAN ISYARAT VOKAL SUARA KARAKTER. Abstrak

SISTEM ADAPTIF PREDIKSI PENGENALAN ISYARAT VOKAL SUARA KARAKTER. Abstrak SISTEM ADAPTIF PREDIKSI PENGENALAN ISYARAT VOKAL SUARA KARAKTER Oleh : Pandapotan Siagia, ST, M.Eng (Dosen tetap STIKOM Dinamia Bangsa Jambi) Abstra Sistem pengenal pola suara atau yang lebih dienal dengan

Lebih terperinci

SISTEM ADAPTIF PREDIKSI PENGENALAN ISYARAT VOKAL SUARA KARAKTER

SISTEM ADAPTIF PREDIKSI PENGENALAN ISYARAT VOKAL SUARA KARAKTER SISTEM ADAPTIF PREDIKSI PENGENALAN ISYARAT VOKAL SUARA KARAKTER Pandapotan Siagian, ST, M.Eng Dosen Tetap STIKOM Dinamia Bangsa - Jambi Jalan Sudirman Theoo Jambi Abstra Sistem pengenal pola suara atau

Lebih terperinci

Penggunaan Metode Bagi Dua Terboboti untuk Mencari Akar-akar Suatu Persamaan

Penggunaan Metode Bagi Dua Terboboti untuk Mencari Akar-akar Suatu Persamaan Jurnal Penelitian Sains Volume 16 Nomor 1(A) Januari 013 Penggunaan Metode Bagi Dua Terboboti untu Menari Aar-aar Suatu Persamaan Evi Yuliza Jurusan Matematia, FMIPA, Universitas Sriwijaya, Indonesia Intisari:

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PERKULIAHAN ( SAP )

SATUAN ACARA PERKULIAHAN ( SAP ) SATUAN ACARA PERKULIAHAN ( SAP ) Mata Kuliah : Pengolahan Citra Digital Kode : IES 6323 Semester : VI Watu : 1x 3x 50 Menit Pertemuan : 7 A. Kompetensi 1. Utama Mahasiswa dapat memahami tentang sistem

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Teori Fuzzy 2.1.1 Dasar-Dasar Teori Fuzzy Secara prinsip, di dalam teori fuzzy set dapat dianggap sebagai estension dari teori onvensional atau crisp set. Di dalam teori crisp

Lebih terperinci

Pemodelan Dan Eksperimen Untuk Menentukan Parameter Tumbukan Non Elastik Antara Benda Dengan Lantai

Pemodelan Dan Eksperimen Untuk Menentukan Parameter Tumbukan Non Elastik Antara Benda Dengan Lantai Pemodelan Dan Esperimen Untu enentuan Parameter Tumbuan Non Elasti Antara Benda Dengan Lantai Puspa onalisa,a), eda Cahya Fitriani,b), Ela Aliyani,c), Rizy aiza,d), Fii Taufi Abar 2,e) agister Pengajaran

Lebih terperinci

BAB 2 TEORI PENUNJANG

BAB 2 TEORI PENUNJANG BAB EORI PENUNJANG.1 Konsep Dasar odel Predictive ontrol odel Predictive ontrol P atau sistem endali preditif termasu dalam onsep perancangan pengendali berbasis model proses, dimana model proses digunaan

Lebih terperinci

BEBERAPA MODIFIKASI METODE NEWTON RAPHSON UNTUK MENYELESAIKAN MASALAH AKAR GANDA. Supriadi Putra, M,Si

BEBERAPA MODIFIKASI METODE NEWTON RAPHSON UNTUK MENYELESAIKAN MASALAH AKAR GANDA. Supriadi Putra, M,Si BEBERAPA ODIFIKASI ETODE NEWTON RAPHSON UNTUK ENYELESAIKAN ASALAH AKAR GANDA Suriadi Putra,,Si Laboratorium Komutasi Numeri Jurusan atematia Faultas atematia & Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau Kamus

Lebih terperinci

BAB IV VIBRASI KRISTAL

BAB IV VIBRASI KRISTAL BAB IV VIBRASI KRISTA Dala bab yang lalu, telah dibahas bahwa ristal tersusun oleh ato-ato yang dia pada posisinya di titi isi. Sesungguhnya, ato-ato tersebut tidalah dia, tetapi bergetar pada posisi esetibangannya.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belaang Masalah untu mencari jalur terpende di dalam graf merupaan salah satu masalah optimisasi. Graf yang digunaan dalam pencarian jalur terpende adalah graf yang setiap sisinya

Lebih terperinci

Penempatan Optimal Phasor Measurement Unit (PMU) dengan Integer Programming

Penempatan Optimal Phasor Measurement Unit (PMU) dengan Integer Programming JURAL TEKIK POMITS Vol. 2, o. 2, (2013) ISS: 2337-3539 (2301-9271 Print) B-137 Penempatan Optimal Phasor Measurement Unit (PMU) dengan Integer Programming Yunan Helmy Amrulloh, Rony Seto Wibowo, dan Sjamsjul

Lebih terperinci

3.1 TEOREMA DASAR ARITMATIKA

3.1 TEOREMA DASAR ARITMATIKA 3. TEOREMA DASAR ARITMATIKA Definisi 3. Suatu bilangan bulat > disebut (bilangan) rima, jia embagi ositif bilangan tersebut hanya dan. Jia bilangan bulat lebih dari satu buan bilangan rima disebut (bilangan)

Lebih terperinci

3. Sebaran Peluang Diskrit

3. Sebaran Peluang Diskrit 3. Sebaran Peluang Disrit EL2002-Probabilitas dan Statisti Dosen: Andriyan B. Susmono Isi 1. Sebaran seragam (uniform) 2. Sebaran binomial dan multinomial 3. Sebaran hipergeometri 4. Sebaran Poisson 5.

Lebih terperinci

Studi dan Analisis mengenai Hill Cipher, Teknik Kriptanalisis dan Upaya Penanggulangannya

Studi dan Analisis mengenai Hill Cipher, Teknik Kriptanalisis dan Upaya Penanggulangannya Studi dan Analisis mengenai Hill ipher, Teni Kriptanalisis dan Upaya enanggulangannya Arya Widyanaro rogram Studi Teni Informatia, Institut Tenologi Bandung, Jl. Ganesha 10 Bandung Email: [email protected]

Lebih terperinci

Penentuan Konduktivitas Termal Logam Tembaga, Kuningan, dan Besi dengan Metode Gandengan

Penentuan Konduktivitas Termal Logam Tembaga, Kuningan, dan Besi dengan Metode Gandengan Prosiding Seminar Nasional Fisia dan Pendidian Fisia (SNFPF) Ke-6 205 30 9 Penentuan Kondutivitas Termal ogam Tembaga, Kuningan, dan Besi dengan Metode Gandengan Dwi Astuti Universitas Indraprasta PGRI

Lebih terperinci

BAB III DIMENSI PARTISI GRAF KIPAS DAN GRAF KINCIR

BAB III DIMENSI PARTISI GRAF KIPAS DAN GRAF KINCIR BAB III DIMENSI PARTISI GRAF KIPAS DAN GRAF KINCIR 3. Dimensi Partisi Graf Kipas (F n ) Berdasaran Proposisi dan Proposisi, semua graf G selain graf P n dan K n memilii 3 pd(g) n -. Lebih husus, graf Kipas

Lebih terperinci

PENERAPAN DYNAMIC PROGRAMMING DALAM WORD WRAP Wafdan Musa Nursakti ( )

PENERAPAN DYNAMIC PROGRAMMING DALAM WORD WRAP Wafdan Musa Nursakti ( ) PENERAPAN DYNAMIC PROGRAMMING DALAM WORD WRAP Wafdan Musa Nursati (13507065) Program Studi Teni Informatia, Seolah Teni Eletro dan Informatia, Institut Tenologi Bandung Jalan Ganesha No. 10 Bandung, 40132

Lebih terperinci

GENERALISASI METODE TALI BUSUR UNTUK MENYELESAIKAN PERSAMAAN TAK LINEAR SUNARSIH

GENERALISASI METODE TALI BUSUR UNTUK MENYELESAIKAN PERSAMAAN TAK LINEAR SUNARSIH GENERALISASI METODE TALI BUSUR UNTUK MENYELESAIKAN PERSAMAAN TAK LINEAR SUNARSIH DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011 ABSTRACT SUNARSIH.

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Graf adalah kumpulan simpul (nodes) yang dihubungkan satu sama lain

BAB II LANDASAN TEORI. Graf adalah kumpulan simpul (nodes) yang dihubungkan satu sama lain 8 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Teori Graf 2.1.1 Definisi Graf Graf adalah umpulan simpul (nodes) yang dihubungan satu sama lain melalui sisi/busur (edges) (Zaaria, 2006). Suatu Graf G terdiri dari dua himpunan

Lebih terperinci

PENCARIAN JALUR TERPENDEK MENGGUNAKAN ALGORITMA SEMUT

PENCARIAN JALUR TERPENDEK MENGGUNAKAN ALGORITMA SEMUT Seminar Nasional Apliasi Tenologi Informasi 2007 (SNATI 2007) ISSN: 1907-5022 Yogyaarta, 16 Juni 2007 PENCARIAN JALUR TERPENDEK MENGGUNAKAN ALGORITMA SEMUT I ing Mutahiroh, Indrato, Taufiq Hidayat Laboratorium

Lebih terperinci

PERTEMUAN 02 PERBEDAAN ANTARA SISTEM DISKRIT DAN SISTEM KONTINU

PERTEMUAN 02 PERBEDAAN ANTARA SISTEM DISKRIT DAN SISTEM KONTINU PERTEMUAN 2 PERBEDAAN ANTARA SISTEM DISKRIT DAN SISTEM KONTINU 2. SISTEM WAKTU DISKRET Sebuah sistem watu-disret, secara abstra, adalah suatu hubungan antara barisan masuan dan barisan eluaran. Sebuah

Lebih terperinci

STUDI PENYELESAIAN PROBLEMA MIXED INTEGER LINIER PROGRAMMING DENGAN MENGGUNAKAN METODE BRANCH AND CUT OLEH : RISTA RIDA SINURAT

STUDI PENYELESAIAN PROBLEMA MIXED INTEGER LINIER PROGRAMMING DENGAN MENGGUNAKAN METODE BRANCH AND CUT OLEH : RISTA RIDA SINURAT TUGAS AKHIR STUDI PENYELESAIAN PROBLEMA MIXED INTEGER LINIER PROGRAMMING DENGAN MENGGUNAKAN METODE BRANCH AND CUT OLEH : RISTA RIDA SINURAT 040803023 DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU

Lebih terperinci

ANALISIS PETA KENDALI DEWMA (DOUBLE EXPONENTIALLY WEIGHTED MOVING AVERAGE)

ANALISIS PETA KENDALI DEWMA (DOUBLE EXPONENTIALLY WEIGHTED MOVING AVERAGE) Seminar Nasional Matematia dan Apliasinya, 1 Otober 17 ANALISIS PETA KENDALI DEWMA (DOUBLE EXPONENTIALLY WEIGHTED MOVING AVERAGE) DALAM PENGENDALIAN KUALITAS PRODUKSI FJLB (FINGER JOINT LAMINATING BOARD)

Lebih terperinci

Kumpulan soal-soal level seleksi provinsi: solusi:

Kumpulan soal-soal level seleksi provinsi: solusi: Kumpulan soal-soal level selesi provinsi: 1. Sebuah bola A berjari-jari r menggelinding tanpa slip e bawah dari punca sebuah bola B berjarijari R. Anggap bola bawah tida bergera sama seali. Hitung ecepatan

Lebih terperinci

SOLUSI BAGIAN PERTAMA

SOLUSI BAGIAN PERTAMA SOLUSI BAGIAN PERTAMA 1. 13.. 931 3. 4 9 4. 63 5. 3 13 13 6. 3996 7. 1 03 8. 3 + 9 9. 3 10. 4 11. 6 1. 9 13. 31 14. 383 8 15. 1764 16. 5 17. + 7 18. 51 19. 8 0. 360 1 SOLUSI BAGIAN PERTAMA Soal 1. Misalan

Lebih terperinci

PEBANDINGAN METODE ROBUST MCD-LMS, MCD-LTS, MVE-LMS, DAN MVE-LTS DALAM ANALISIS REGRESI KOMPONEN UTAMA

PEBANDINGAN METODE ROBUST MCD-LMS, MCD-LTS, MVE-LMS, DAN MVE-LTS DALAM ANALISIS REGRESI KOMPONEN UTAMA PEBANDINGAN METODE ROBUST MCD-LMS, MCD-LTS, MVE-LMS, DAN MVE-LTS DALAM ANALISIS REGRESI KOMPONEN UTAMA Sear Wulandari, Nur Salam, dan Dewi Anggraini Program Studi Matematia Universitas Lambung Mangurat

Lebih terperinci

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 15 BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1Relasi Dispersi Pada bagian ini aan dibahas relasi dispersi untu gelombang internal pada fluida dua-lapisan.tinjau lapisan fluida dengan ρ a dan ρ b berturut-turut merupaan

Lebih terperinci

ANALISA STATIK DAN DINAMIK GEDUNG BERTINGKAT BANYAK AKIBAT GEMPA BERDASARKAN SNI DENGAN VARIASI JUMLAH TINGKAT

ANALISA STATIK DAN DINAMIK GEDUNG BERTINGKAT BANYAK AKIBAT GEMPA BERDASARKAN SNI DENGAN VARIASI JUMLAH TINGKAT Jurnal Sipil Stati Vol. No. Agustus (-) ISSN: - ANALISA STATIK DAN DINAMIK GEDUNG BERTINGKAT BANYAK AKIBAT GEMPA BERDASARKAN SNI - DENGAN VARIASI JUMLAH TINGKAT Revie Orchidentus Francies Wantalangie Jorry

Lebih terperinci

Implementasi Algoritma Pencarian k Jalur Sederhana Terpendek dalam Graf

Implementasi Algoritma Pencarian k Jalur Sederhana Terpendek dalam Graf JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No., (203) ISSN: 2337-3539 (230-927 Print) Implementasi Algoritma Pencarian Jalur Sederhana Terpende dalam Graf Anggaara Hendra N., Yudhi Purwananto, dan Rully Soelaiman Jurusan

Lebih terperinci

METODE FUNGSI PENALTI EKSTERIOR. Skripsi. Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sains Program Studi Matematika

METODE FUNGSI PENALTI EKSTERIOR. Skripsi. Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sains Program Studi Matematika METODE FUNGSI PENALTI EKSTERIOR Sripsi Diajuan untu Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sains Program Studi Matematia Disusun Oleh : Maria Martini Leto Kurniawan NIM : 03409 PROGRAM STUDI

Lebih terperinci

Penerapan Sistem Persamaan Lanjar untuk Merancang Algoritma Kriptografi Klasik

Penerapan Sistem Persamaan Lanjar untuk Merancang Algoritma Kriptografi Klasik Penerapan Sistem Persamaan Lanjar untu Merancang Algoritma Kriptografi Klasi Hendra Hadhil Choiri (135 08 041) Program Studi Teni Informatia Seolah Teni Eletro dan Informatia Institut Tenologi Bandung,

Lebih terperinci

Makalah Seminar Tugas Akhir

Makalah Seminar Tugas Akhir Maalah Seminar ugas Ahir Simulasi Penapisan Kalman Dengan Kendala Persamaan Keadaan Pada Kasus Penelusuran Posisi Kendaraan (Vehicle racing Problem Iput Kasiyanto [], Budi Setiyono, S., M. [], Darjat,

Lebih terperinci

PENYELESAIAN PERSAMAAN TELEGRAF DENGAN METODE TRANSFORMASI DIFERENSIAL. (Skripsi) Oleh JEFERY HANDOKO

PENYELESAIAN PERSAMAAN TELEGRAF DENGAN METODE TRANSFORMASI DIFERENSIAL. (Skripsi) Oleh JEFERY HANDOKO PENYELESAIAN PERSAMAAN TELEGRAF DENGAN METODE TRANSFORMASI DIFERENSIAL (Sripsi) Oleh JEFERY HANDOKO JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG 017 ABSTRAK PENYELESAIAN

Lebih terperinci

PENGARUH GAYA PADA SIFAT ELASTISITAS BAHAN

PENGARUH GAYA PADA SIFAT ELASTISITAS BAHAN PENGARUH GAYA PADA SIAT ELASTISITAS BAHAN SMA Kelas XI Semester Standar Kompetensi. Menganalisis gejala alam dan eteraturannya dalam caupan meania benda titi Kompetensi Dasar.3 Menganalisis pengaruh gaya

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN Perkembangan fisika teoritik melalui Teori Relativitas Umum (TRU) yang dikemukakan oleh Albert Einstein sudah sangat pesat dan cukup baik dalam mendeskripsikan ataupun memprediksi fenomena-fenomena

Lebih terperinci

PELABELAN SUPER SISI AJAIB PADA GRAF MULTI STAR

PELABELAN SUPER SISI AJAIB PADA GRAF MULTI STAR LAPORAN PENELITIAN BERSAMA DOSEN-MAHASISWA PELABELAN SUPER SISI AJAIB PADA GRAF MULTI STAR Ketua Tim: ABDUSSAKIR, M.Pd FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

Lebih terperinci

MENENTUKAN TURUNAN DAN SIFAT-SIFAT TURUNAN DARI FUNGSI 1/f(x) DAN h(x)/f(x) ABSTRACT

MENENTUKAN TURUNAN DAN SIFAT-SIFAT TURUNAN DARI FUNGSI 1/f(x) DAN h(x)/f(x) ABSTRACT MENENTUKAN TURUNAN DAN SIFAT-SIFAT TURUNAN DARI FUNGSI 1/(x DAN h(x/(x Yuliana Saitri 1, Sri Gemawati 2, Musraini 2 1 Mahasiswa Program Studi S1 Matematia 2 Dosen Jurusan Matematia Faultas Matematia dan

Lebih terperinci

Vektor-vektor Yang Tegak Lurus dan Vektor-vektor Yang Paralel

Vektor-vektor Yang Tegak Lurus dan Vektor-vektor Yang Paralel Ruang Vetor Vetor-vetor Yang Tega Lurus dan Vetor-vetor Yang Paralel - Dua vetor dan saling tega lurus atau (aitu cos θ 0), ia o 0 atau ia : + + 0 - Dua vetor dan saling paralel ia omponen-omponenna sebanding

Lebih terperinci

APLIKASI METODE FUZZY MULTI CRITERIA DECISION MAKING (FMCDM) UNTUK OPTIMALISASI PENENTUAN LOKASI PROMOSI PRODUK

APLIKASI METODE FUZZY MULTI CRITERIA DECISION MAKING (FMCDM) UNTUK OPTIMALISASI PENENTUAN LOKASI PROMOSI PRODUK APLIKASI METODE FUZZY MULTI CRITERIA DECISION MAKING (FMCDM) UNTUK OPTIMALISASI PENENTUAN LOKASI PROMOSI PRODUK Novhirtamely Kahar, ST. 1, Nova Fitri, S.Kom. 2 1&2 Program Studi Teni Informatia, STMIK

Lebih terperinci

Transformasi Wavelet Diskret Untuk Data Time Series

Transformasi Wavelet Diskret Untuk Data Time Series SEMINAR NASIONAL MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA UNY 015 Transformasi Wavelet Disret Untu Data Time Series S - 11 11 Vemmie Nastiti Lestari, Subanar Jurusan Matematia, Faultas Matematia dan Ilmu Pengetahuan

Lebih terperinci

BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH

BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH 3.1 Penetapan Kriteria Optimasi Gambar 3.1 Bagan Penetapan Kriteria Optimasi Sumber: Peneliti Determinasi Kinerja Operasional BLU Transjaarta Busway Di tahap ini, peneliti

Lebih terperinci

PENERAPAN FUZZY GOAL PROGRAMMING DALAM PENENTUAN INVESTASI BANK

PENERAPAN FUZZY GOAL PROGRAMMING DALAM PENENTUAN INVESTASI BANK PENERAPAN FUZZY GOAL PROGRAMMING DALAM PENENTUAN INVESTASI BANK Nurul Khotimah *), Farida Hanum, Toni Bahtiar Departemen Matematia FMIPA, Institut Pertanian Bogor Jl. Meranti, Kampus IPB Darmaga, Bogor

Lebih terperinci

Estimasi Inflasi Wilayah Kerja KPwBI Malang Menggunakan ARIMA-Filter Kalman dan VAR-Filter Kalman

Estimasi Inflasi Wilayah Kerja KPwBI Malang Menggunakan ARIMA-Filter Kalman dan VAR-Filter Kalman JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 5, No.1, (16) 337-35 (31-98X Print) A-1 Estimasi Inflasi Wilayah Kerja KPwBI Malang Menggunaan ARIMA-Filter Kalman dan VAR-Filter Kalman Popy Febritasari, Erna Apriliani

Lebih terperinci