ANALISIS PENGGANTIAN 1. PENDAHULUAN
|
|
|
- Inge Tanudjaja
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 ANALISIS PENGGANTIAN 1. PENDAHULUAN Sebuah eputusan yang seringali dihadapi oleh perusahaan maupun organisasi pemerintah adalah apaah aset yang ada saat ini harus dihentian dari penggunaannya, diterusan setelah dilauan perbaian, atau diganti dengan aset baru. Oleh arena itu, masalah penggantian (replacement problem) memerluan analisis eonomi teni yang sangat hati-hati agar dapat diperoleh informasi yang dibutuhan untu membuat eputusan logis yang selanjutnya dapat memperbaii efisiensi operasi serta posisi persaingan perusahaan. Kadang-adang analisis ini berupa pertanyaan mengenai apaah ita harus menghentian penggunaan sebuah aset tanpa dilauan penggantian (abandonment) atau apaah ita tetap mempertahanan aset tersebut sebagai cadangan (bac-up) daripada sebagai penggunaan utama. Keputusan dapat berupa pertanyaan apaah eharusan perubahan tersebut dapat dipenuhi dengan memperbesar apasitas atau emampuan aset yang sudah ada saat ini atau apaah harus mengganti aset yang ada saat ini (aset lama), yang secara desriptif sering disebut sebagai defender, dengan sebuah aset baru. Satu atau lebih alternatif aset pengganti (baru) emudian disebut sebagai penantang (challenger). 2. ALASAN-ALASAN ANALISIS PENGGANTIAN Empat alasan utama yang meringas sebagian besar penyebab penggantian aset adalah sbb: 1. Kerusaan (pemburuan) fisi : adalah perubahan yang terjadi pada ondisi fisi aset. Biasanya, penggunaan berlanjut (penuaan) aan menyebaban pengoperasian sebuah aset menjadi urang efisien. 2. Keperluan perubahan : aset modal (capital aset) digunaan untu memprodusi barang dan jasa yang dapat memenuhi einginan manusia. ategori lain dari eusangan (obsolescence) 3. Tenologi : Dampa perubahan tenologi terhadap berbagai jenis aset aan berbeda-beda. Contoh : peralatan manufatur terotomatisasi. ategori lain dari eusangan (obsolescence) 4. Pendanaan : Fator euangan melibatan perubahan peluang eonomi esternal terhadap operasi fisi atau penggunaan aset dan aan melibatan pertimbangan paja. Contoh : menyewa (mengontra) aset mungin aan lebih menari daripada memilii aset tersebut. dapat dianggap sebagai bentu eusangan (obsolescence) Umur eonomi (economic life) adalah periode watu (tahun) yang menghasilan equivalent uniform annual cost (EUAC) minimum dari epemilian dan pengoperasian sebuah aset. Umur epemilian (ownership life) adalah periode antara tanggal perolehan dan tanggal pembuangan (disposal) oleh seorang pemili. Contoh : sebuah mobil dapat berfungsi sebagai endaraan eluarga utama untu beberapa tahun dan emudian berfungsi sebagai angutan loal untu beberapa tahun emudian. Umur fisi (physical life) adalah periode antara perolehan awal dan pelepasan (pembuangan) ahir sebuah aset selama rangaian epemiliannya. Contoh : mobil yang baru saja digambaran dapat memilii beberapa pemili selama eberadaannya. Masa manfaat (useful life) adalah periode watu (tahun) selama sebuah aset berada dalam masa produtif (bai sebagai aset utama maupun cadangan). Masa manfaat adalah estimasi seberapa lama sebuah aset diharapan dapat dimanfaatan dalam perdagangan atau bisnis untu menghasilan pendapatan. 1
2 3. FAKTOR-FAKTOR YANG HARUS DIPERTIMBANGKAN DALAM ANALISIS PENGGANTIAN Kesalahan hasil analisis aan sangat membahayaan eputusan yang logis, sehingga ada beberapa fator yang harus dipertimbangan dalam analisis penggantian : 1. Kesalahan estimasi masa lalu Setiap esalahan estimasi yang dibuat pada analisis sebelumnya terhadap aset lama tidalah relevan (ecuali terdapat impliasi paja penghasilan). Contoh : etia nilai buu (BV) sebuah aset lebih besar daripada nilai pasar (MV) masa searangnya, perbedaannya seringali dianggap sebagai sebuah esalahan estimasi. Kesalahan tersebut juga timbul etia apasitas tida lagi mencuupi, biaya pemeliharaan lebih tinggi dari yang diantipasi dst. Fatanya adalah bhw erugian tsb telah terjadi, mampu atau tida mampu ditanggung, dan erugian ini tetap timbul tanpa melihat apaah penggantian dilauan atau tida. 2. Perangap Sun Cost (Biaya Tertanam) Jia paja dilibatan, ita harus memasuan sun cost e dalam analisis eonomi teni. Kesalahan serius dapat terjadi dalam prate jia sun cost ditangani secara tida tepat dalam. Sun cost (yaitu MV-BV<0) beraitan dengan mempertahanan aset lama tida harus ditambahan pada harga pembelian alternatif terbai yang ada. Kesalahan ini aan menghasilan hasil ahir yang tida tepat yang menguntungan alternatif mempertahanan aset lama. 3. Nilai investasi aset lama dan pandangan piha luar (outsider viewpoint) Titi pandang piha luar (outsider viewpoint) untu memperiraan jumlah investasi aset lama (defender). Outsider Viewpoint adalah perspetif piha etiga yang netral dalam menetapan MV sebuah aset beas secara wajar (fair). Titi pandang ini mendorong analis untu memfousan pada arus as saat ini dan masa datang, sehingga menghindari godaan untu memiiran biaya masa lalu. MV saat ini yang dapat dicapai (dimodifiasi oleh pengaruh paja penghasilan) adalah jumlah investasi yang tepat untu ditetapan terhadap aset yang ada saat ini dalam analisis penggantian. Salah satu cara membenaran hal ini adalah dengan menggunaan biaya peluang (opportunity cost) atau prinsip peluang yang hilang (opportunity forgone principle). Artinya, jia diputusan untu tetap mempertahanan aset yang ada saat ini, ita melepasan peluang untu memperoleh MV neto yang dapat dicapai pada watu tersebut. Jadi, hal ini menggambaran opportunity cost mempertahanan aset lama (defender). Jia terdapat pengeluaran investasi baru, misalnya untu pemerisaan dan perbaian aset lama sehingga dapat bersaing dengan penantang (aset pengganti), maa dalam analisis penggantian, pengeluaran ini harus ditambahan pada MV yang dapat dicapai saat ini untu menentuan investasi total aset lama. Ketia menggunaan outsider viewpoint, total investasi aset lama adalah opportunity cost dari tida menjual aset yang ada saat ini untu memperoleh MV-nya, plus biaya memperbaiinya sehingga dapat bersaing dengan penantang terbai (semua aset baru yang laya dipertimbangan). MV aset lama tida harus diurangi dari harga pembelian aset pengganti etia menggunaan outsider viewpoint untu menganalisis masalah penggantian. Kesalahan ini aan menggandaan MV aset lama dan membiasan perbandingan yang menguntungan aset pengganti. Contoh 1 : Investasi modal sebuah mesin yang dibeli dua tahun lalu adalah $ Mesin tersebut telah disusutan dengan menggunaan metode MACRS (GDS), dan BVnya saat ini adalah sebesar $ MV mesin tersebut, jia dijual saat ini, adalah $5.000 dan aan memerluan biaya 2
3 $2.000 untu mereparasi mesin agar tetap dapat dipergunaan selama lima tahun lagi. Berapaah (a) total investasi aset lama dan (b) nilai yang tida diamortisasi? Jawaban : Investasi aset lama adalah MVnya saat ini plus setiap pengeluaran yang dibutuhan agar aset masih dapat dipergunaan (dan dapat dibandingan) relatif terhadap mesin baru yang tersedia. (a) Investasi untu mempertahanan mesin searang adalah $ $2.000 = $7.000 (b) Jia mesin ini dijual sebesar $5.000, nilai yang tida diamortisasi aan sebesar $ $5.000 = $ Pentingnya onseuensi paja penghasilan Penggantian aset seringali menimbulan capital gain atau capital loss atau euntungan atau erugian dari penjualan tanah atau properti yang dapat disusutan. Untu memperoleh analisis eonomi yang aurat dalam hal ini, analisis harus dibuat dengan dasar setelah paja (after-tax basis). Pengaruh paja penghasilan pada eputusan penggantian tida dapat diabaian. Kredit paja penghasilan yang hilang beraitan dengan alternatif mempertahanan aset lama aan menjauhan preferensi eonomi dari aset lama, sehingga mendorong aset pengganti sebagai pilihan lebih bai. 5. Umur eonomi aset baru Umur eonomi aset aan meminimasi euivalen biaya tahunan seragam (equivalent uniform annual cost EUAC) epemilian dan pengoperasian aset. Sangat penting untu mengetahui umur eonomi aset baru (penantang) berdasaran prinsip bahwa aset baru dan aset lama harus dibandingan berdasaran umur eonomi (optimum) merea. 6. Umur eonomi aset lama Pembandingan aset baru dengan lama harus dilauan secara hati-hati arena melibatan umur yang berbeda. Aset lama harus dianggap memilii umur lebih lama dibanding umur eonomi sebenarnya sepanjang biaya marginalnya urang dari EUAC minimum aset baru. 4. MASALAH PENGGANTIAN YANG KHAS Contoh dibawah ini diselesaian dengan metode berbasis sebelum paja. Setelah itu dilauan analisis dengan metode berbasis setelah paja dengan menggunaan sistem penyusutan umum (GDS) MACRS untu pompa baru (penantang). Sedangan penyusutan pompa lama dilanjutan berdasaran sistem penyusutan alternatif (ADS) MACRS, yang dipilih pada saat aset tersebut mulai digunaan. Kedua analisis menggunaan Outsider viewpoint untu menentuan investasi dalam pompa lama jia tida diganti dengan pompa baru. Contoh 2 : Manajer sebuah perusahaan pembuat arpet sedang memiiran operasi sebuah pompa utama pada salah satu alur proses pencairan. Setelah membahas masalah ini dengan supervisor plant engineering, merea memutusan untu melauan analisis penggantian. Merea juga memutusan untu menggunaan sembilan tahun periode analisis yang dianggap sangat tepat untu situasi ini. Perusahaan memilii MARR 10% per tahun untu investasi modal proye sebelum paja, dan 6% per tahun setelah paja. Tarif paja penghasilan sebesar 40%. Pompa lama, ataanlah pompa A, termasu motor penggera dengan pengendali terpusat, memerluan biaya $ pada lima tahun lalu. Periode pemulihan ADS pompa ini, jia digunaan pada fasilitas pabri arpet, adalah sembilan tahun. Catatan auntansi memperlihatan bahwa telah dilauan penyusutan berdasaran metode garis lurus dengan etentuan setengah tahun. Beberapa masalah telah terjadi pada pompa A, termasu penggantian terhadap alat pendorong dan bantalan poros, dengan biaya $1.750 per tahun. Biaya operasi dan pemiliharaan (O&M) tahunan telah dirata-rataan sebesar $ Biaya asuransi dan paja properti sebesar 2% dari investasi 3
4 modal awal. Pompa tersebut nampanya masih dapat dipergunaan selama sembilan tahun beriutnya jia pemeliharaan dan reparasi yang dilauan saat ini terus dilanjutan. Jia pompa ini masih dapat terus dipergunaan, maa setelah sembilan tahun nanti MV-nya ira-ira aan sebesar $200. Selain alternatif melanjutan penggunaan pompa lama, terdapat alternatif lain yaitu menjual pompa tersebut secepat mungin dan membeli sebuah pompa jenis baru. Harga pompa baru tersebut, ataanlah B, adalah $ Nilai pasar sebesar $750 dapat diperoleh dari pompa lama. Kelas umur sembilan tahun (elas properti MACRS lima tahun) dapat diterapan pada pompa baru berdasaran GDS. Periraan nilai pasar pada ahir tahun esembilan aan sebesar 20% dari investasi modal awal. Biaya O&M untu pompa baru diperiraan sebesar $3.000 per tahun. Paja tahunan dan asuransi aan berjumlah 2% dari investasi modal awal Jawaban : Pompa lama A Investasi modal etia dibeli 5 tahun lalu -$ Kelas umur (dan periode pemulihan ADS) Biaya tahunan : Penggantian pendorong dan bantalan poros -$1.750 Biaya operasi dan pemeliharaan -$3.250 Paja dan asuransi : $17.000x2% -$ tahun -$ Nilai pasar saat ini $ 750 Periraan nilai pasar ahir tahun e sembilan beriutnya $ 200 Nilai buu saat ini : $ (1-(1/2)(1/9)-4(1/9)) $ Pompa baru B Investasi modal -$ Kelas umur 9 tahun Kelas properti MACRS 5 tahun Periraan nilai pasar pd ahir th e-9 : $16.000x20% $ Biaya tahunan : Operasi dan pemeliharaan -$3.000 Paja dan asuransi : $16.000x2% -$ 320 -$3.320 Tarif paja penghasilan efetif = 40% MARR (sebelum paja) = 10% MARR (setelah paja) = 6% Analisis sebelum paja. Berdasaran outsider viewpoint, jumlah investasi aset lama ini aan sebesar MVnya saat ini yaitu $750; yani opportunity cost dari mempertahanan aset lama. Jumlah investasi pada pompa A mengabaian harga pembelian awal sebesar $ Analisis euivalen nilai tahunan (equivalent annual worth-aw) pompa A dan pompa B Periode studi : 9 tahun Pertahanan Penggantian Pompa A dengan pompa B AW (10%) Biaya -$ $3.320 Biaya pemulihan modal : -($750-$200)(A/P,10%,9) - $200(0,10) -$ 115 -($ $3.200)(A/P,10%,9)-$3.200(0,10) -$
5 -$ $5.862 Karena pompa A memilii nilai AW negatif yang paling ecil (-$5.455>-$5.862), penggantian pompa tida dibenaran, dan aset lama harus tetap dipertahanan setidanya satu tahun lagi. Analisis setelah paja. Perhitungan ATCF aset lama (pompa A): Ahir tahun, (A) BTCF (B) Penyusutan MACRS (ADS) (C)=(A)-(B) Penghasilan ena paja (D)=-0,4(C ) penghasilan 40% (E)=(A)+(D) ATCF 0 (-)$750 MV Tida ada (+)-$7.750 MV-BV (-)+$ ,4(MV-BV) (-)$ ,6MV+0,4BV $ = (1/9) $ =17.000(1/2)(1/9) (*) (*) Keuntungan dari pembuangan aset (terena paja 40%) Perhitungan ATCF aset pengganti (Pompa B) : Ahir tahun, (A) BTCF (B) Penyusutan MACRS (GDS) (C )=(A)-(B) Penghasilan ena paja (D)= -0,4(C ) Paja penghasilan 40% (E)=(A)+(D) ATCF 0 - -$ $ $ $ =16.000x0, =16.000x0, $ =16.000x0, $ =16.000x0, $ =16.000x0, (*) (*) : Keuntungan dari pembuangan aset (terena paja 40%) AW (6%) pompa A = -$3.850(A/P,6%,9) - $2.448(P/A,6%,4)(A/P,6%,9) [$2.826(F/P,6%,4)+$3.204(F/A,6%,4)-120](A/F,6%,9) = -$3.333 AW (6%) pompa B = -$16.000(A/P,6%,9) [$712(P/F,6%,1)-$56(P/F,6%,2) +$763(P/F,6%,3)+$1.255(P/F,6%,4)+$1.255(P/F,6%,5) +$1.623(P/F,6%,6)+$1.992(P/F,6%,7)+$1.992(P/F,6%,8) 5
6 +$1.992(P/F,6%,9)](A/P,6%,9) = -$3.375 Oleh arena AW edua pompa hampir sama, pertimbangan lain, seperti eterandalan pompa baru yang lebih bai, dapat mengurangi preferensi eonomi pompa A. Biaya tahunan setelah paja dari edua alternatif jauh lebih ecil dibandingan dengan biaya tahunan sebelum paja. 6
7 5. ALUR KEPUTUSAN ANALISIS PENGGANTIAN Evaluasi periodi Terhadap semua aset Tida Diperluan Penggantian? (untu setiap analisis penggantian) Ya Analisis pelepasan tida Apaah aset lama Buat eputusan aan diganti? Ya Hitung umur eonomi Ya Apaah aset pengganti Aset lama. Terbai = aset lama? tida Jia umur eonomi Apaah pertimbangan Kemunginan dibutuhan Telah dicapai, ganti aset paja/ perubahan asumsi coterminated Biaya terlibat? Buat eputusan Tida Hitung umur eonomi aset Lama dan biaya tambahan Pada tahun satu, dua, dst. Hitung umur eonomi Dan EUAC minimum Aset pengganti terbai Bandingan EUAC minimum ya Apaah semua aset baru tida Bandingan perubahan Aset baru dengan biaya masa datang identi? EUAC selama beberapa Tambahan aset lama. Silus penggantian oleh Buat Keputusan aset baru dengan biaya Tambahan aset lama. Buat eputusan Gambar. Pengelolaan aset dan alur eputusan analisis penggantian 7
8 6. MENENTUKAN UMUR EKONOMI ASET BARU (PENANTANG) Sangat penting mengetahui umur eonomi, EUAC minimum dan total biaya tahun demi tahun atau biaya tambahan untu aset baru maupun aset lama sehingga eduanya dapat dibandingan berdasaran evaluasi terhadap umur eonomi dan biaya yang paling hemat eduanya. Untu sebuah aset baru, umur eonominya dapat dihitung jia investasi modal,biaya tahunan dan nilai pasar per tahun dietahui atau dapat diestimasi. 1. Analisis sebelum paja PW (i%) = I MV (P/F,i%,) + ΣE j (P/F,i%,j) TC (i%) = MV -1 MV + imv -1 + E Contoh 3 : Sebuah tru forlift baru aan memerluan investasi sebesar $ dan diharapan memilii nilai pasar ahir tahun serta biaya tahunan seperti diperlihatan pada tabel dibawah ini. Jia MARR sebelum paja adalah 10% per tahun, berapa lama aset tersebut harus dipertahanan egunaannya? Jawab : Penentuan umur eonomi N sebelum paja aset baru : (1) Ahir tahun, (2) MV, ahir tahun, Biaya penggunaan pada tahun, (3) (4) (5) Penyusutan atual selama tahun, Biaya modal = 10% dari MV awal tahun Biaya tahunan (E) (6) = (3)+(4)+(5) Total biaya (marginal) tahun (TC) EUAC tahun (7) EUAC=[ΣTCj(P/F,10%,j)] (A/P,10%,) 0 $ $5.000 $2.000 $2.000 $9.000 $9.000 = = x0, = = x0, = =11.250x0, EUAC minimum (N*=3) = =8500x0, = =6.500x0, Asumsi : semua arus as terjadi pada setiap ahir tahun. Kolom 3 : Penyusutan atual untu setiap tahun adalah perbedaan antara nilai pasar awal dan ahir tahun. Penyusutan untu masalah ini tida dihitung berdasaran metode formal namun didasaran pada hasil euatan espetasi pasar. Kolom 4 : Opportunity cost modal pada tahun adalah 10% dari modal yang tida direcover (diinvestasian dalam aset) pada awal masing-masing tahun. Kolom 7 : Equivalent uniform annual cost (EUAC) yang aan timbul setiap tahun jia aset tersebut dipertahanan penggunaannya sampai tahun, dan selanjutnya digantian pada ahir tahun. EUAC minimum terjadi pada ahir tahun N*. Pada aset disini memilii EUAC minimum jia dipertahanan egunaannya hanya selama tiga tahun (yaitu N*=3). EUAC 2 (10%)= $20.000(A/P,10%,2)-$11.250(A/F,10%,2) + [$2.000(P/F,10%,1) + $3.000(P/F,10%,2)](A/P,10%,2) = $ Analisis setelah paja 8
9 PW (i%) = I + Σ[(1-t)E j td j ](P/F,i%,j)-[(1-t)MV + t(bv )](P/F,i%,) Melalui perhitungan ini aan dietahui PW dari ATCF tahun, PW, berdasaran analisis setelah paja dengan : (1) menambahan investasi modal awal (PW besarnya investasi jia terjadi setelah watu nol) dan jumlah PW setelah paja dari biaya tahunan sampai tahun, termasu penyesuaian jumlah penyusutan tahunan (d) (2) Menyesuaian total PW biaya setelah paja dengan euntungan atau erugian setelah paja dari pembuangan aset pada ahir tahun. Total biaya marginal setelah paja pada setiap tahun : TC (i%) = (1-t)(MV -1 MV + imv -1 + E ) + i(t)(bv -1 ) Contoh 4 : Carilah umur eonomi sebuah tru forlift baru berdasaran analisis setelah paja yang dibahas pada contoh 3. Asumsian bahwa forlift baru itu disusutan sebagai aset elas properti tiga tahun MACRS (GDS), tarif paja penghasilan efetif 40% dan MARR setelah paja 6%. Jawaban : Penentuan umur eonomi aset setelah paja. (1) Ahir tahun, (2) MV, Ahir tahun (5) Biaya Tahun an (3) Penyus utan atual selama tahun (4) Biaya modal = 6% dari BOY MV olom (2) =6%(2) -1 (6) Total biaya (marginal) setelah paja tahun (1-t).(ol.3+4+5) 0 $ $5.000 $1.200 $2.000 $ t = paja penghasilan efetif = 40% Ahir tahun, (7) MACRS BV pada Ahir tahun (8) Bunga pada Kredit Paja = 6%.t.BOY BV pada olom(7) =6%.40%.(7) -1 (9) Total biaya (marjinal) setelah paja yang telah disesuaian =(6)+(8) (10) EUAC (setelah paja) sampai tahun EUAC = Σ[(ol.9) j.(p/f,6%,j)](a/p,6%,) 0 $ $480 $5.400 $5.400 = (0,3333) 9
10 = (0,4445) = (0,1481) EUAC minimum (N* AT= 3) = (0,0741) Kolom 7 : Besarnya BV pada ahir masing-masing tahun, berdasaran elas properti tiga tahun untu forlift baru tersebut. 7. MENENTUKAN UMUR EKONOMI ASET LAMA Jia tida ada MV aset lama saat ini atau nanti (dan tida ada pengeluaran untu perbaian) dan jia biaya operasi aset lama diperiraan aan meningat setiap tahun, maa sisa umur eonomi yang menghasilan EUAC paling ecil aan satu tahun. Jia MV lebih besar dari nol dan diharapan menurun dari tahun e tahun, maa perlu dilauan perhitungan sisa umur eonomi. Penundaan (postponement) umumnya diartian sebagai penundaan eputusan mengenai apan aan melauan penggantian, buan mengenai eputusan untu menunda penggantian sampai tanggal masa datang tertentu. Contoh 5 : Misalnya ingin dietahui berapa lama sebuah tru forlift harus dipertahanan egunaannya sebelum diganti dengan tru forlift baru yang data-datanya diberian pada contoh 3. Tru lama dalam asus ini sudah berusia dua tahun, yang dibeli dengan biaya $ dan memilii MV yang dapat dicapai saat ini (realizable MV) sebesar $ Jia dipertahanan, nilai pasar dan biaya tahunannya diperiraan aan seperti beriut : Ahir tahun MV ahir tahun Biaya tahunan, E 1 $4.000 $ Tentuan periode paling eonomis untu tetap mempertahanan aset lama sebelum menggantinya dengan aset pengganti yang ada pada contoh 3. Biaya modal adalah 10% per tahun. Jawaban : Penentuan umur eonomi aset lama (1) Ahir tahun, (2) Penyusutan atual selama tahun (3) Biaya modal = 10% dari MV awal tahun (*) (4) Biaya tahunan (E ) (5) Total biaya (marjinal) atau tahun (TC i ) =(2)+(3)+(4) (6) EUAC sampai tahun 1 $1.000 $500 $5.500 $7.000 $
11 (*) tahun satu berdasaran MV yang dapat dicapai sebesar $5.000 Perhatian bahwa EUAC minimum sebesar $7.000 beraitan dengan mempertahanan aset lama satu tahun lagi. Namun, biaya marjinal mempertahanan tru untu tahun edua adalah sebesar $8.000, yang masih tetap lebih ecil dari EUAC minimum aset pengganti (yaitu $8.600 dari contoh 3). Biaya marjinal untu mempertahanan aset lama pada tahun etiga dan tahun selanjutnya lebih besar dari $8.600 EUAC minimum tru baru. Berdasaran data yang ada saat ini, paling eonomis untu mempertahanan aset lama selama dua tahun lagi dan selanjutnya menggantinya dengan aset baru. 8. PERBANDINGAN KETIKA MASA MANFAAT ASET LAMA BERBEDA DENGAN ASET PENGGANTI Situasi etiga terjadi etia masa manfaat aset pengganti terbai dan aset lama dietahui, atau dapat diestimasi, namun tida memilii nilai yang sama. Ketia asumsi berulangan (repeatability) tida dapat diterapan, asumsi berahir bersamaan (coterminated) dapat digunaan; asumsi ini menggunaan periode studi terbatas untu semua alternatif. Jia pengaruh inflasi aan dilibatan dalam analisis penggantian, dianjuran untu menggunaan asumsi coterminated. Contoh 6: Andaian ita dihadapan pada masalah penggantian yang sama dengan contoh 5, ecuali bahwa periode masa manfaat yang dibutuhan adalah (a) tiga tahun atau (b) empat tahun. Artinya, periode analisis terbatas dengan menggunaan asumsi coterminated digunaan. Untu setiap asus tersebut, alternatif mana yang harus dipilih? Jawaban : (a) Untu perencanaan tiga tahun, secara intuitif ita aan berpiir apaah aset lama harus dipertahanan tiga tahun lagi atauah harus segera diganti dengan aset baru untu digunaan tiga tahun emudian. EUAC aset lama untu tiga tahun adalah $7.966 dan EUAC aset baru untu tiga tahun adalah $ Berdasaran hal ini, aset lama aan dipertahanan selama tiga tahun. Namun, ini tidalah tepat. Dengan memfousan pada olom total biaya (marginal), ita dapat melihat bahwa aset lama memilii biaya paling rendah pada dua tahun pertama, tetapi pada tahun etiga aset lama ini memilii biaya sebesar $9.100; sedangan biaya tahun pertama aset pengganti adalah $ Dengan demiian, aan lebih eonomis untu mengganti aset lama setelah tahun edua. Kesimpulan ini dapat dibutian dengan menghitung semua emunginan penggantian dan biayanya yang terait, untu selanjutnya menghitung EUAC masing-masing. (b) Untu rentang perencanaan empat tahun, alternatif-alternatif tersebut beserta biaya-biayanya yang terait untu masing-masing tahun dan EUACnya ada dalam tabel dibawah ini Penentuan apan untu mengganti aset lama dengan rentang rencana empat tahun Pertah anan aset lama untu Pertaha nan aset baru untu Biaya total (marjinal) untu setiap tahun EUAC pada 10% untu 4 tahun tahun -$ $ $ $ $9.082 tahun
12 negatif terecil Jadi, alternatif paling eonomis adalah mempertahanan aset lama selama dua tahun lagi emudian menggantinya dengan aset baru, untu dipertahanan dua tahun emudian. Jia analisis penggantian melibatan aset lama yang tida dapat lagi digunaan aibat perubahan tenologi, eharusan perbaian, dst, maa pilihan diantara dua atau lebih alternatif harus dibuat. Contoh 7 : Sebuah robot digunaan dalam sebuah laboratorium omersial untu menangani sampel erami yang ditempatan dalam ruang bertemperatur tinggi yang merupaan bagian dari sebuah prosedur pengujian. Karena adanya perubahan ebutuhan onsumen, robot tersebut tida aan dapat memenuhi persyaratan ebutuhan masa datang. Sedangan di masa datang aan diperluan pengujian sampel material erami yang lebih besar, juga dengan temperatur yang main tinggi. Kedua perubahan ini aan melebihi emampuan operasi robot yang ada saat ini. Karena situasi ini, dua robot bertenologi tinggi telah dipilih untu dilauan analisis eonomi dan perbandingan diantara eduanya. Estimasi beriut ini telah diembangan dari informasi yang diberian oleh beberapa pengguna robot-robot tersebut dan data-data yang diperoleh dari pembuat robot tersebut. MARR sebelum paja perusahaan adalah 25% per tahun. Berdasaran informasi ini, robot mana yang secara eonomi lebih dipilih? ROBOT R1 R2 Investasi modal harga -$ $ pembelian Biaya pemasangan Biaya tahunan dalam tahun 1, dan meningat setelahnya pada tingat 8%/tahun pada tahun 1, dan meningat setelahnya pada $150/tahun Masa manfaat (tahun) Nilai pasar -$ $7.000 Jawaban : Asumsi berulangan (repeatability) dengan metode AW digunaan dalam pembandingan edua robot. Kedua robot tersebut, jia terpilih, diharapan dapat memberian jasa yang diinginan selama periode masa manfaat totalnya. Demiian pula edua robot paling mungin aan diganti pada ahir masa hidupnya dengan robot baru pengganti yang lebih bai. Euitas biaya tahunan (annual equivalent cost) sebuah penantang baru pada saat itu harus lebih ecil dari model R1 atau R2 dan harus memberian jasa yang sama atau lebih bai arena perembangan tenologi yang terus berlanjut serta persaingan diantara pembuat robot. Estimasi biaya tahunan R1 adalah urutan as geometris dimulai tahun pertama. Convenience rate yang dibutuhan untu menghitung PW urutan ini adalah icr = (0,25-0,008)/1,08 = 0,1574 atau 15,74%. Nilai sisa (salvage value) negatif (-$1.500) menunjuan biaya neto yang diharapan untu pelepasan aset pada ahir tahun eenam. AW R1 (25%) = -($ $2.000)(A/P,25%,6) ($1.400/1,08)(P/A,15,74%,6) - ($1.500)(A/F,25%,6) = -$
13 Untu model R2, AW selama masa manfaatnya adalah AW (25%) = -($ $5.500)(A/P,25%,10) [$1.000(P/A,25%,10)+$150(P/G,25%,10)](A/P,25%,10) +$7.000(A/F,25%,10) = -$ Robot pengganti R1 secara eonomis lebih dipilih arena AW selama masa manfaatnya memilii nilai negatif paling ecil (-$15.382). 9. PENGHENTIAN TANPA PENGGANTIAN (PEMBEBASAN) Jia biaya peluang modal (opportunity cost of capital) i% per tahun, apaah proye tersebut harus dilauan? Tahun apanah paling bai untu membebasan (abandon) proye jia ita memutusan untu melasanaan proye tersebut? Untu ini dapat diterapan asumsi : 1. Setelah investasi modal dilasanaan, perusahaan aan menunda eputusan untu membebasan proye sepanjang nilai euivalennya (equivalent worth) tida menurun. 2. Proye aan dihentian pada watunya yang paling bai dan tida aan dilauan penggantian. Menyelesaian masalah pembebasan (abandonment) sama dengan menentuan umur eonomi sebuah aset. Namun dalam masalah pembebasan terdapat euntungan tahunan (arus as masu), sedangan analisis umur eonomi lebih didominasi oleh biaya (arus as eluar). Contoh 8 : Sebuah mesin pengepa/pembungus ertas daur ulang sedang dipertimbangan oleh perusahaan XYZ. Pendapatan tahunan setelah paja diurangi biaya-biaya proye telah dihitung. Demiian pula nilai pembebasan setelah paja (after-tax abandoment value) mesin pada ahir masing-masing tahun. Pendapatan tahunan (setelah paja) diurangi biaya Ahir tahun $ a $ $ $ $ $9.000 $6.000 $ Nilai pembebasan mesin b a Investasi modal b Estimasi nilai pasar MARR perusahaan setelah paja adalah 12% per tahun. Kapan watu terbai untu membebasan mesin jia perusahaan telah siap memutusan untu menggunaan mesin tersebut dan menggunaannya tida lebih dari tujuh tahun? Jawaban : Mempertahanan mesin selama satu tahun : AW 1 (12%) = -$50.000(A/P,12%,1)+($ $10.000)(A/F,12%,1) = -$6.000 Mempertahanan mesin selama dua tahun : AW 2 (12%) = [-$ $10.000(P/F,12%,1)+($ $32.000)(P/F,12%,2)] (A/P,12%,2) = -$2.132 Mempertahanan mesin selama tiga tahun : AW 3 (12%) = [-$ $10.000(P/F,12%,1)+$15.000(P/F,12%,2) 13
14 +($ $25.000)(P/F,12%,3)](A/P,12%,3) = $622 Mempertahanan mesin selama empat tahun : AW 4 (12%) = [-$ $10.000(P/F,12%,1)+$15.000(P/F,12%,2) +$18.000(P/F,12%,3)+($ $21.000)(P/F,12%,4)](A/P,12%,4) = $1.747 Mempertahanan mesin selama lima tahun : AW 5 (12%) = [-$ $10.000(P/F,12%,1)+$15.000(P/F,12%,2) +$18.000(P/F,12%,3)+$13.000(P/F,12%,4)+($9.000+$18.000) (P/F,12%,5)](A/P,12%,5) = $2.020 Mempertahanan mesin selama enam tahun : AW 6 (12%) = [-$ $10.000(P/F,12%,1)+$15.000(P/F,12%,2) +$18.000(P/F,12%,3)+ $13.000(P/F,12%,4)+$9.000(P/F,12%,5) +($6.000+$17.000)(P/F,12%,6)] (A/P,12%,6) = $2.121 Mempertahanan mesin selama tujuh tahun : AW 7 (12%) = [-$ $10.000(P/F,12%,1)+$15.000(P/F,12%,2) +$18.000(P/F,12%,3)+ $13.000(P/F,12%,4)+$9.000(P/F,12%,5) +$6.000(P/F,12%,6)+($5.000+$15.000) (P/F,12%,7)](A/P,12%,7) = $2.006 Jadi, nilai AW aan masimum dengan mempertahanan mesin selama enam tahun, yang merupaan watu terbai untu membebasan mesin. Dalam beberapa asus, manajemen memutusan bahwa mesipun penggunaan utamanya aan dihentian, namun aset yang ada saat ini tida aan diganti atau dihapus sama seali dari penggunaannya. Mesipun aset lama secara eonomis tida dapat bersaing lagi, namun tetap aan diinginan bahan lebih eonomis untu tetap dipertahanan sebagai cadangan atau untu penggunaan yang berbeda. Biaya untu mempertahanan aset lama berdasaran ondisi seperti itu aan cuup rendah, arena MVnya yang lebih relatif rendah dan mungin biaya tahunan yang juga rendah. Aset pengganti terbai yang tersedia harus ditentuan. Kegagalan untu melauan hal ini menggambaran prate engineering yang tida dapat diterima. Setiap elebihan apasitas, eterandalan, flesibilitas, eamanan dan seterusnya dari aset pengganti aan memilii nilai bagi pemili dan harus dilaim sebagai euntungan dalam nilai uang jia estimasi dalam nilai uang dapat dilauan. Jia sebalinya, nilai ini aan dianggap sebagai euntungan yang bersifat nonmoneter. 10. SEBUAH CONTOH KOMPREHENSIF Dalam prate, analisis penggantian adang-adang melibatan aset lama yang tida dapat memenuhi ebutuhan di masa datang tanpa memperbesar (augmenting) emampuannya. Jia asus ini terjadi, maa aset lama yang emampuannya telah meningat harus ompetitif dengan pengganti terbainya. Contoh 9 : Sistem pensuplai listri darurat sebuah rumah sait yang dimilii sebuah perusahaan jasa medis saat ini diduung oleh sebuah generator listri diesel 80W yang telah digunaan selama lima tahun lalu [investasi modal =$ ; MACRS (GDS) elas properti tujuh tahun]. Sebuah perusahaan 14
15 engineering sedang mendisain modifiasi terhadap sistem listri dan meani rumah sait sebagai bagian dari proye perluasan. Sistem pensuplai listri darurat yang telah didesain ulang tersebut aan memerluan apasitas 120W untu dapat memenuhi peningatan ebutuhan. Dua desain awal sistem tersebut sedang dipertimbangan. Desain pertama adalah memperbesar generator 80W saat ini dengan sebuah mesin diesel 40W baru (GDS elas properti tujuh tahun). Alternatif desain edua adalah mengganti generator saat ini dengan alternatif terbai (penantang), yaitu sebuah unit bertenaga turbin dengan apasitas 120W. Kedua alternatif aan memberian tingat jasa yang sama terhadap operasi sistem pensuplai listri darurat tersebut. Alternatif edua, jia dipilih, aan disewa oleh rumah sait untu janga watu sepuluh tahun. Pada ahir tahun esepuluh itu, ontra sewa aan dinegosiasi ulang untu mengganti bagian-bagian dari peralatan atau untu mengganti generator dengan apasitas yang sama. Untu tujuan analisis penggantian ini, telah diestimasi beberapa informasi tambahan beriut : Alternatif Aset lama Penantang 80W 40W Investasi modal -$ a -$ $ b Jumlah sewa tahunan 0 0 -$ Jam operasi/tahun Biaya tahunan (tahun nol $) : Biaya operasi dan pemeliharaan (O&M) per jam -$80 -$35 -$85 Biaya-biaya lain -$ $ $2.400 Masa manfaat (tahun) a Biaya oportunitas berdasaran nilai pasar aset lama saat ini (outsider viewpoint) b Simpanan yang disyaratan dalam ontra sewa aset penantang. Nilai ini aan diembalian pada ahir tahun esepuluh. Jumlah sewa tahunan aset penantang tida aan berubah selama 10 tahun periode ontra. Biaya O&M per jam operasi serta biaya-biaya tahunan lainnya diestimasi berdasaran nilai dollar tahun nol dan diharapan aan meningat pada 4% per tahun (asumsian tahun dasar b adalah tahun nol). Estimasi nilai pasar aset lama saat ini adalah $90.000, sedangan nilai pasar ahir tahun esepuluh tambahan, berdasaran dollar tahun nol adalah $ Sementara itu estimasi pasar generator baru 40W, sepuluh tahun dari searang dalam dollar tahun nol, adalah $ Kedua nilai pasar masa datang tersebut diperiraan aan meningat 2% per tahun. MARR perusahaan setelah paja (i) adalah 12% per tahun, sementara tarif paja penghasilan efetifnya adalah 40%. Periode analisis sepuluh tahun dianggap tepat untu situasi eputusan ini (ingat bahwa dengan dilibatannya pertimbangan paja dan perubahan harga dalam analisis, periode analisis berdasaran asumsi coterminated aan digunaan). Berdasaran analisis dolar atual setelah paja, alternatif mana (memperbesar apasitas aset lama atau penyewa aset baru) yang harus dipilih sebagai bagian dari desain modifiasi sistem tenaga listri darurat? (1) Ahir tahun, Jawaban : Analisis setelah paja alternatif pertama, yaitu mempertahanan aset lama dan memperbesar apasitasnya dengan generator 40W Pembesaran aset lama dengan generator baru 40W (2) BTCF (3) 80W Depresiasi (5) (4) 40W =(2)+(3)+ (4) Paja penghasil (6) Paja penghas ilan 40% (7) =(2)-(6) ATCF 15
16 0 -$ =-($ $ ) =-[260($80+$35)+($3.200+$1.000)](1,04) $ =$ x a =-[260($80+$35)+($3.200+$1.000)](1,04) =$ x0, =-[260($80+$35)+($3.200+$1.000)](1,04) =$ x0,044 6 $ =$ x0, =$ x0, =$ x0, =-[260($80+$35)+($3.200+$1.000)](1,04) =$ x0, =-[260($80+$35)+($3.200+$1.000)](1,04) =$ x0, =-[260($80+$35)+($3.200+$1.000)](1,04) =$ x0, =-[260($80+$35)+($3.200+$1.000)](1,04) =$ x0, =-[260($80+$35)+($3.200+$1.000)](1,04) =$ x0,044 6 an -$ c $ $ =-[260($80+$35)+($3.200+$1.000)](1,04) =-[260($80+$35)+($3.200+$1.000)](1,04) (MV) b a [260($80+$35)+($3.200+$1.000)](1,04) 2 =-$ b MV 10 =($ $38.000)(1,02) 10 =$ c Jia aset lama aan dijual searang, euntungan pelepasan = $ $ = $33.772; dimana BV searang, jia dijual, sebesar $ BV pada ahir tahun eempat (BV 4 ) = $ $ (0,1429+0,2449+0,1749+0,1249) = $ Dedusi depresiasi dalam 5 tahun = (0,5)(0,0893)($ ) = $9.376,5 BV pada ahir tahun elima = $ $9.376,5 = $56.227,5 = $ PW setelah paja (MARR=12%/tahun) untu mempertahanan aset lama dan memperbesar apasitasnya adalah : PW (12%) = -$ $5.783(P/F,12%,1)-$914(P/F,12%,2)-$9.474(P/F,12%,3)-.. +($ $30.286)(P/F,12%,10) = -$ Berdasaran ontra sewa aset pengganti, harus diserahan deposit sebesar $ yang secara penuh diembalian pada ahir tahun e-10. Tida terdapat onseuensi paja beraitan dengan transasi deposit ini. Arus as tahunan sebelum paja (BTCF) untu aset pengganti adalah penjumlahan dari (1) sewa tahunan, yang tetap onstan selama sepuluh tahun periode ontra (2) biaya O&M tahunan dan biaya-biaya lainnya, yang aan meningat pada tingat 4% per tahun. BTCF aset pengganti pada tahun satu adalah -$ [$85(260)+$2.400(1,04)] = -$
17 Jumlah BTCF tahunan untu tahun satu sampai sepuluh ini didedusi secara penuh dari pendapatan ena paja, dan terdapat pula pendapatan ena paja untu alternatif (perusahaan tida dapat menglaim penyusutan pada aset pengganti arena aset tersebut tida dimilii sendiri). Dengan demiian, PW setelah paja (MARR=12%/tahun) dengan memilih aset baru (penantang) dengan mengasumsian bahwa aset ini disewa berdasaran persyaratan ontra tersebut, adalah PW(12%) = -$ $10.000(P/F,12%,10)-(1-0,4)($39.200)(P/A,12%,10) (1-0,4)[$85(260)+$2.400](P/A,I cr =7,69%,10) = -$ dimana i cr =(0,12-0,04)/(1,04)=0,0769 dan (P/A,7,69%,10)=6,8049 Berdasaran analisis setelah paja, aset penantang ternyata lebih eonomis untu dipergunaan dalam sistem pensuplai listri darurat sebab PW nya memilii nilai negatif paling ecil (-$ ) 17
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Statisti Inferensia Tujuan statisti pada dasarnya adalah melauan desripsi terhadap data sampel, emudian melauan inferensi terhadap data populasi berdasaran pada informasi yang
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belaang Keadaan dunia usaha yang selalu berubah membutuhan langah-langah untu mengendalian egiatan usaha di suatu perusahaan. Perencanaan adalah salah satu langah yang diperluan
PENGUKURAN PENDAPATAN NASIONAL
PENGUKURAN PENDAPATAN NASIONAL A. PENDEKATAN PRODUKSI (PRODUCTION APPROACH) Menghitung besarnya pendapatan nasional dengan menggunaan pendeatan produsi didasaran atas perhitungan dari jumlah nilai barang-barang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Penelitian yang aan dilauan meruju epada beberapa penelitian terdahulu yang sudah pernah dilauan sebelumnya, diantaranya: 1. I Gst. Bgs. Wisuana (2009)
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belaang Model Loglinier adalah salah satu asus husus dari general linier model untu data yang berdistribusi poisson. Model loglinier juga disebut sebagai suatu model statisti
PENGGANTIAN. Sistem Perawatan
1 PENGGANTIAN Sistem Perawatan PENDAHULUAN 2 SETIAP PERALATAN MEMPUNYAI KETERBATASAN UMUR ATAU MASA PAKAI. APABILA PADA AKHIR MASA PAKAI, ALAT MASIH DIBUTUHKAN MAKA PERLU PENGGANTIAN. PERTIMBANGAN PENGGANTIAN
PENERAPAN DYNAMIC PROGRAMMING DALAM WORD WRAP Wafdan Musa Nursakti ( )
PENERAPAN DYNAMIC PROGRAMMING DALAM WORD WRAP Wafdan Musa Nursati (13507065) Program Studi Teni Informatia, Seolah Teni Eletro dan Informatia, Institut Tenologi Bandung Jalan Ganesha No. 10 Bandung, 40132
BAB III METODE SCHNABEL
BAB III METODE SCHNABEL Uuran populasi tertutup dapat diperiraan dengan teni Capture Mar Release Recapture (CMRR) yaitu menangap dan menandai individu yang diambil pada pengambilan sampel pertama, melepasan
BAB IV PERHITUNGAN HARGA PREMI BERDASARKAN FUNGSI PERMINTAAN PADA TITIK KESETIMBANGAN
BAB IV PERHITUNGAN HARGA PREMI BERDASARKAN FUNGSI PERMINTAAN PADA TITIK KESETIMBANGAN Berdasaran asumsi batasan interval pada bab III, untu simulasi perhitungan harga premi pada titi esetimbangan, maa
BAB 2 TEORI PENUNJANG
BAB EORI PENUNJANG.1 Konsep Dasar odel Predictive ontrol odel Predictive ontrol P atau sistem endali preditif termasu dalam onsep perancangan pengendali berbasis model proses, dimana model proses digunaan
MANAJEMEN DISTRIBUSI MULTI PRODUK BERDASARKAN BOBOT PROSENTASE PENJUALAN DAN EFISIENSI BIAYA DISTRIBUSI (STUDI KASUS DI PT THAMRIN BROTHERS)
Seminar Nasional Apliasi Tenologi Informasi 2011 (SNATI 2011) ISSN: 1907-5022 Yogyaarta, 17-18 Juni 2011 MANAJEMEN DISTRIBUSI MULTI PRODUK BERDASARKAN BOBOT PROSENTASE PENJUALAN DAN EFISIENSI BIAYA DISTRIBUSI
BAB 3 PATTERN MATCHING BERBASIS JARAK EUCLID, PATTERN MATCHING BERBASIS JARAK MAHALANOBIS, DAN JARINGAN SYARAF TIRUAN BERBASIS PROPAGASI BALIK
BAB 3 PATTERN MATCHING BERBASIS JARAK EUCLID, PATTERN MATCHING BERBASIS JARAK MAHALANOBIS, DAN JARINGAN SYARAF TIRUAN BERBASIS PROPAGASI BALIK Proses pengenalan dilauan dengan beberapa metode. Pertama
ANALISA STATIK DAN DINAMIK GEDUNG BERTINGKAT BANYAK AKIBAT GEMPA BERDASARKAN SNI DENGAN VARIASI JUMLAH TINGKAT
Jurnal Sipil Stati Vol. No. Agustus (-) ISSN: - ANALISA STATIK DAN DINAMIK GEDUNG BERTINGKAT BANYAK AKIBAT GEMPA BERDASARKAN SNI - DENGAN VARIASI JUMLAH TINGKAT Revie Orchidentus Francies Wantalangie Jorry
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belaang Masalah untu mencari jalur terpende di dalam graf merupaan salah satu masalah optimisasi. Graf yang digunaan dalam pencarian jalur terpende adalah graf yang setiap sisinya
BAB 3 PRINSIP SANGKAR BURUNG MERPATI
BAB 3 PRINSIP SANGKAR BURUNG MERPATI 3. Pengertian Prinsip Sangar Burung Merpati Sebagai ilustrasi ita misalan terdapat 3 eor burung merpati dan 2 sangar burung merpati. Terdapat beberapa emunginan bagaimana
BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH
BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH 3.1 Penetapan Kriteria Optimasi Gambar 3.1 Bagan Penetapan Kriteria Optimasi Sumber: Peneliti Determinasi Kinerja Operasional BLU Transjaarta Busway Di tahap ini, peneliti
MENGHITUNG PELUANG PERSEBARAN TRUMP DALAM PERMAINAN CONTRACT BRIDGE
MENGHITUNG PELUANG PERSEBARAN TRUMP DALAM PERMAINAN CONTRACT BRIDGE Desfrianta Salmon Barus - 350807 Jurusan Teni Informatia, Institut Tenologi Bandung Bandung e-mail: [email protected] ABSTRAK
BREAK EVEN ANALYSIS PENYUSUTAN (DEPRESIASI)
BREAK EVEN ANALYSIS PENYUSUTAN (DEPRESIASI) 1. Brea Even Analysis Pengertian Langah-langah perhitungan Contoh 2. Penyusutan (Depresiasi) Pengertian Metoe Depresiasi Contoh BREAK EVEN ANALYSIS Paa investasi
MODEL REGRESI INTERVAL DENGAN NEURAL FUZZY UNTUK MEMPREDIKSI TAGIHAN AIR PDAM
MODEL REGRESI INTERVAL DENGAN NEURAL FUZZY UNTUK MEMPREDIKSI TAGIHAN AIR PDAM 1,2 Faultas MIPA, Universitas Tanjungpura e-mail: [email protected], email: [email protected] Abstract
III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan data sekunder bersifat runtun waktu (time series)
III. METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data Penelitian ini menggunaan data seunder bersifat runtun watu (time series) dalam periode tahunan dan data antar ruang (cross section). Data seunder tersebut
Penentuan Nilai Ekivalensi Mobil Penumpang Pada Ruas Jalan Perkotaan Menggunakan Metode Time Headway
Rea Racana Jurnal Online Institut Tenologi Nasional Teni Sipil Itenas No.x Vol. Xx Agustus 2015 Penentuan Nilai Eivalensi Mobil Penumpang Pada Ruas Jalan Perotaan Menggunaan Metode Time Headway ENDI WIRYANA
III DESKRIPSI DAN FORMULASI MASALAH PENGANGKUTAN SAMPAH DI JAKARTA PUSAT
III DESKRIPSI DAN FORMULASI MASALAH PENGANGKUTAN SAMPAH DI JAKARTA PUSAT 3.1 Studi Literatur tentang Pengelolaan Sampah di Beberapa Kota di Dunia Kaian ilmiah dengan metode riset operasi tentang masalah
BAB IV APLIKASI PADA MATRIKS STOKASTIK
BAB IV : ALIKASI ADA MARIKS SOKASIK 56 BAB IV ALIKASI ADA MARIKS SOKASIK Salah satu apliasi dari eori erron-frobenius yang paling terenal adalah penurunan secara alabar untu beberapa sifat yang dimilii
Pengaruh Masuknya Penambahan Pembangkit Baru kedalam Jaringan 150 kv pada Kapasitas Circuit Breaker
Pengaruh Masunya Penambahan Pembangit Baru edalam Jaringan 150 V pada Kapasitas Circuit Breaer Emelia, Dian Yayan Suma Jurusan Teni Eletro Faultas Teni Universitas Riau Kampus Binawidya Km 12,5 Simpang
APLIKASI PREDIKSI HARGA SAHAM MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF RADIAL BASIS FUNCTION DENGAN METODE PEMBELAJARAN HYBRID
APLIKASI PREDIKSI HARGA SAHAM MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF RADIAL BASIS FUNCTION DENGAN METODE PEMBELAJARAN HYBRID Ferry Tan, Giovani Gracianti, Susanti, Steven, Samuel Luas Jurusan Teni Informatia, Faultas
Studi dan Analisis mengenai Hill Cipher, Teknik Kriptanalisis dan Upaya Penanggulangannya
Studi dan Analisis mengenai Hill ipher, Teni Kriptanalisis dan Upaya enanggulangannya Arya Widyanaro rogram Studi Teni Informatia, Institut Tenologi Bandung, Jl. Ganesha 10 Bandung Email: [email protected]
PENCARIAN JALUR TERPENDEK MENGGUNAKAN ALGORITMA SEMUT
Seminar Nasional Apliasi Tenologi Informasi 2007 (SNATI 2007) ISSN: 1907-5022 Yogyaarta, 16 Juni 2007 PENCARIAN JALUR TERPENDEK MENGGUNAKAN ALGORITMA SEMUT I ing Mutahiroh, Indrato, Taufiq Hidayat Laboratorium
Perhitungan Kehilangan Pratekan Total dengan Memakai Teori Kemungkinan ABSTRAK
Jurnal APLIKASI Volume 5, Nomor 1, Agustus 2008 Perhitungan Kehilangan Pratean Total dengan Memaai Teori Kemunginan M. Sigit Darmawan Dosen Jurusan Diploma Teni Sipil, FTSP - ITS Email: [email protected]
Model Pembelajaran Off-Line Menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan Untuk Pengemudian Otomatis pada Kendaraan Beroda Jurusan Teknik Elektronika PENS 2009
Model Pembelaaran Off-Line Menggunaan Jaringan Syaraf Tiruan Untu Pengemudian Otomatis pada Kendaraan Beroda Jurusan Teni Eletronia PENS 2009 Arie Setya Wulandari#, Eru Puspita S.T., M.Kom#2 # Jurusan
3. Sebaran Peluang Diskrit
3. Sebaran Peluang Disrit EL2002-Probabilitas dan Statisti Dosen: Andriyan B. Susmono Isi 1. Sebaran seragam (uniform) 2. Sebaran binomial dan multinomial 3. Sebaran hipergeometri 4. Sebaran Poisson 5.
Makalah Seminar Tugas Akhir
Maalah Seminar ugas Ahir Simulasi Penapisan Kalman Dengan Kendala Persamaan Keadaan Pada Kasus Penelusuran Posisi Kendaraan (Vehicle racing Problem Iput Kasiyanto [], Budi Setiyono, S., M. [], Darjat,
PERTEMUAN 02 PERBEDAAN ANTARA SISTEM DISKRIT DAN SISTEM KONTINU
PERTEMUAN 2 PERBEDAAN ANTARA SISTEM DISKRIT DAN SISTEM KONTINU 2. SISTEM WAKTU DISKRET Sebuah sistem watu-disret, secara abstra, adalah suatu hubungan antara barisan masuan dan barisan eluaran. Sebuah
Optimasi Non-Linier. Metode Numeris
Optimasi Non-inier Metode Numeris Pendahuluan Pembahasan optimasi non-linier sebelumnya analitis: Pertama-tama mencari titi-titi nilai optimal Kemudian, mencari nilai optimal dari fungsi tujuan berdasaran
PENERAPAN FUZZY GOAL PROGRAMMING DALAM PENENTUAN INVESTASI BANK
PENERAPAN FUZZY GOAL PROGRAMMING DALAM PENENTUAN INVESTASI BANK Nurul Khotimah *), Farida Hanum, Toni Bahtiar Departemen Matematia FMIPA, Institut Pertanian Bogor Jl. Meranti, Kampus IPB Darmaga, Bogor
Pemodelan Dan Eksperimen Untuk Menentukan Parameter Tumbukan Non Elastik Antara Benda Dengan Lantai
Pemodelan Dan Esperimen Untu enentuan Parameter Tumbuan Non Elasti Antara Benda Dengan Lantai Puspa onalisa,a), eda Cahya Fitriani,b), Ela Aliyani,c), Rizy aiza,d), Fii Taufi Abar 2,e) agister Pengajaran
OSN 2014 Matematika SMA/MA
Soal 5. Suatu barisan bilangan asli a 1, a 2, a 3,... memenuhi a + a l = a m + a n untu setiap bilangan asli, l, m, n dengan l = mn. Jia m membagi n, butian bahwa a m a n. Solusi. Andaian terdapat bilangan
Penerapan Sistem Persamaan Lanjar untuk Merancang Algoritma Kriptografi Klasik
Penerapan Sistem Persamaan Lanjar untu Merancang Algoritma Kriptografi Klasi Hendra Hadhil Choiri (135 08 041) Program Studi Teni Informatia Seolah Teni Eletro dan Informatia Institut Tenologi Bandung,
BAB III METODE PENELITIAN (BAHAN DAN METODE)
BAB III METODE PENELITIAN (BAHAN DAN METODE) Tahapan-tahapan pengerjaan yang dilauan dalam penelitian ini adalah sebagai beriut : 1. Tahap Persiapan Penelitian Pada tahapan ini aan dilauan studi literatur
Implementasi Algoritma Pencarian k Jalur Sederhana Terpendek dalam Graf
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No., (203) ISSN: 2337-3539 (230-927 Print) Implementasi Algoritma Pencarian Jalur Sederhana Terpende dalam Graf Anggaara Hendra N., Yudhi Purwananto, dan Rully Soelaiman Jurusan
INTEGRAL NUMERIK KUADRATUR ADAPTIF DENGAN KAIDAH SIMPSON. Makalah. Disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Metode Numerik. yang dibimbing oleh
INTEGRAL NUMERIK KUADRATUR ADAPTIF DENGAN KAIDAH SIMPSON Maalah Disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Metode Numeri yang dibimbing oleh Dr. Nur Shofianah Disusun oleh: M. Adib Jauhari Dwi Putra 146090400111001
PENYUSUNAN LAPORAN ARUS KAS UNTUK KOPERASI. Oleh Ni Luh Gede Erni Sulindawati ABSTRAK
ISSN 1412-8683 115 PENYUSUNAN LAPORAN ARUS KAS UNTUK KOPERASI Oleh Ni Luh Gede Erni Sulindawati ABSTRAK Dalam PSAK No. 27 tentang auntansi peroperasian dinyataan bahwa bentu penyajian laporan euangan operasi
STUDI PENYELESAIAN PROBLEMA MIXED INTEGER LINIER PROGRAMMING DENGAN MENGGUNAKAN METODE BRANCH AND CUT OLEH : RISTA RIDA SINURAT
TUGAS AKHIR STUDI PENYELESAIAN PROBLEMA MIXED INTEGER LINIER PROGRAMMING DENGAN MENGGUNAKAN METODE BRANCH AND CUT OLEH : RISTA RIDA SINURAT 040803023 DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU
APLIKASI METODE FUZZY MULTI CRITERIA DECISION MAKING (FMCDM) UNTUK OPTIMALISASI PENENTUAN LOKASI PROMOSI PRODUK
APLIKASI METODE FUZZY MULTI CRITERIA DECISION MAKING (FMCDM) UNTUK OPTIMALISASI PENENTUAN LOKASI PROMOSI PRODUK Novhirtamely Kahar, ST. 1, Nova Fitri, S.Kom. 2 1&2 Program Studi Teni Informatia, STMIK
PEMANFAATAN METODE HEURISTIK DALAM PENCARIAN JALUR TERPENDEK DENGAN ALGORITMA SEMUT DAN ALGORITMA GENETIKA
PEMANFAATAN METODE HEURISTIK DALAM PENCARIAN JALUR TERPENDEK DENGAN ALGORITMA SEMUT DAN ALGORITMA GENETIKA Iing Mutahiroh, Fajar Saptono, Nur Hasanah, Romi Wiryadinata Laboratorium Pemrograman dan Informatia
PEMODELAN OPTIMALISASI PRODUKSI UNTUK MEMAKSIMALKAN KEUNTUNGAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE PEMROGRAMAN LINIER
PEMODELAN OPTIMALISASI PRODUKSI UNTUK MEMAKSIMALKAN KEUNTUNGAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE PEMROGRAMAN LINIER Tantri Windarti Program Studi Sistem Informasi STMIK Surabaya Jl Raya Kedung Baru 98, Surabaya
Penempatan Optimal Phasor Measurement Unit (PMU) dengan Integer Programming
JURAL TEKIK POMITS Vol. 2, o. 2, (2013) ISS: 2337-3539 (2301-9271 Print) B-137 Penempatan Optimal Phasor Measurement Unit (PMU) dengan Integer Programming Yunan Helmy Amrulloh, Rony Seto Wibowo, dan Sjamsjul
FISIKA. Kelas X GETARAN HARMONIS K-13. A. Getaran Harmonis Sederhana
K-13 Kelas X FISIKA GETARAN HARMONIS TUJUAN PEMBELAJARAN Setelah mempelajari materi ini, amu diharapan memilii emampuan sebagai beriut. 1. Memahami onsep getaran harmonis sederhana pada bandul dan pegas
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA 21 Manajemen Polusi Polusi yang diaibatan oleh suatu perusahaan arena tida adanya eteraitan antar area dalam proses produsi yang bai Hasil dari produsi tersebut adalam produ yang
4. 1 Spesifikasi Keadaan dari Sebuah Sistem
Dalam pembahasan terdahulu ita telah mempelajari penerapan onsep dasar probabilitas untu menggambaran sistem dengan jumlah partiel ang cuup besar (N). Pada bab ini, ita aan menggabungan antara statisti
Penggunaan Induksi Matematika untuk Mengubah Deterministic Finite Automata Menjadi Ekspresi Reguler
Penggunaan Indusi Matematia untu Mengubah Deterministic Finite Automata Menjadi Espresi Reguler Husni Munaya - 353022 Program Studi Teni Informatia Seolah Teni Eletro dan Informatia Institut Tenologi Bandung,
Analisis Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Loyalitas Pelanggan Jasa Pengiriman Pos Kilat Khusus
Jurnal Teni Industri, Vol.1, No., Juni 013, pp.96-101 ISSN 30-495X Analisis Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Loyalitas Pelanggan Jasa Pengiriman Pos Kilat Khusus Apriyani 1, Shanti Kirana Anggaraeni,
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENENTU NILAI INTERVAL KADAR LEMAK TUBUH MENGGUNAKAN REGRESI INTERVAL DENGAN NEURAL FUZZY
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENENTU NILAI INTERVAL KADAR LEMAK TUBUH MENGGUNAKAN REGRESI INTERVAL DENGAN NEURAL FUZZY Tedy Rismawan dan Sri Kusumadewi Laboratorium Komputasi dan Sistem Cerdas, Jurusan Teni
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Teori Fuzzy 2.1.1 Dasar-Dasar Teori Fuzzy Secara prinsip, di dalam teori fuzzy set dapat dianggap sebagai estension dari teori onvensional atau crisp set. Di dalam teori crisp
Proses Keputusan Markovian
Proses Keputusan Marovian 1 Pengantar Proses eputusan Marovian adalah proses eputusan stoasti/probabilistidimana banyanya state adalah hingga (finit). Melibatan dua buah matris: matris transisi (P) dan
Kampus Unkris Jatiwaringin 2) Program Studi Akuntasi, Fakultas Ekonomi Universitas Krisnadwipayana
ANALISIS EFEKTIVITAS DAN KONTRIBUSI PAJAK KENDARAAN BERMOTOR DAN BEA BALIK NAMA KENDARAAN BERMOTOR TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH KOTA BEKASI TAHUN 10-14 Juliantia 1) Budi Tri Rahardjo 2), 1) Program
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tabel 2.1 Kelompok Aplikasi Mesin Refrigerasi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 21 Mesin Refrigerasi Refrigerasi adalah suatu proses penyerapan panas dari suatu zat atau produ sehingga temperaturnya berada di bawah temperatur lingungan Mesin refrigerasi atau
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Sistem Kendali Lup [1] Sistem endali dapat diataan sebagai hubungan antara omponen yang membentu sebuah onfigurasi sistem, yang aan menghasilan tanggapan sistem yang diharapan.
PERHITUNGAN KEHILANGAN PRATEKAN (LOSS OF PRESTRESS) AKIBAT SUSUT DAN RANGKAK PADA BETON DENGAN MEMPERHITUNGKAN VARIABILITAS SIFAT-SIFAT BETON
PERHITUNGAN KEHILANGAN PRATEKAN (LOSS OF PRESTRESS) AKIBAT SUSUT DAN RANGKAK PADA BETON DENGAN MEMPERHITUNGKAN VARIABILITAS SIFAT-SIFAT BETON M. Sigit Darmawan Dosen Diploma Teni Sipil ITS Email: [email protected]
BAB III PENENTUAN HARGA PREMI, FUNGSI PERMINTAAN, DAN TITIK KESETIMBANGANNYA
BAB III PENENTUAN HARGA PREMI, FUNGSI PERMINTAAN, DAN TITIK KESETIMBANGANNYA Pada penelitian ini, suatu portfolio memilii seumlah elas risio. Tiap elas terdiri dari n, =,, peserta dengan umlah besar, dan
Penentuan Konduktivitas Termal Logam Tembaga, Kuningan, dan Besi dengan Metode Gandengan
Prosiding Seminar Nasional Fisia dan Pendidian Fisia (SNFPF) Ke-6 205 30 9 Penentuan Kondutivitas Termal ogam Tembaga, Kuningan, dan Besi dengan Metode Gandengan Dwi Astuti Universitas Indraprasta PGRI
Kumpulan soal-soal level seleksi provinsi: solusi:
Kumpulan soal-soal level selesi provinsi: 1. Sebuah bola A berjari-jari r menggelinding tanpa slip e bawah dari punca sebuah bola B berjarijari R. Anggap bola bawah tida bergera sama seali. Hitung ecepatan
BAB III MENYELESAIKAN MASALAH REGRESI YANG TIDAK LINIER DENGAN ANALISIS REGRESI FOURIER
BAB III MENYELESAIKAN MASALAH REGRESI YANG TIAK LINIER ENGAN ANALISIS REGRESI FOURIER 3.1 Pengantar Model ARIMA digunaan untu analisis data deret watu pada ategori data berala tunggal, atau sering diategorian
BAB 3 METODE PENELITIAN
36 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Disain Penelitian Jenis penelitian yang digunaan adalah penelitian desriptif, yaitu penelitian terhadap fenomena atau populasi tertentu yang diperoleh peneliti dari subye
DESAIN SENSOR KECEPATAN BERBASIS DIODE MENGGUNAKAN FILTER KALMAN UNTUK ESTIMASI KECEPATAN DAN POSISI KAPAL
DESAIN SENSOR KECEPAAN BERBASIS DIODE MENGGUNAKAN FILER KALMAN UNUK ESIMASI KECEPAAN DAN POSISI KAPAL Alrijadjis, Bambang Siswanto Program Pascasarjana, Jurusan eni Eletro, Faultas enologi Industri Institut
III. METODOLOGI PENELITIAN
III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Keranga Pemiiran Pemerintah ahir-ahir ini sering dihadapan pada masalah persediaan pupu bersubsidi yang daya serapnya rendah dan asus elangaan di berbagai loasi di Indonesia.
BAB ELASTISITAS. Pertambahan panjang pegas
BAB ELASTISITAS 4. Elastisitas Zat Padat Dibandingan dengan zat cair, zat padat lebih eras dan lebih berat. sifat zat padat yang seperti ini telah anda pelajari di elas SLTP. enapa Zat pada lebih eras?
ANALISIS PENENTUAN JALUR TRANSPORTASI LIMBAH MINYAK PADA AKTIVITAS PELAYARAN LAUT UNTUK MENGHASILKAN TOTAL BIAYA PELAYARAN MINIMUM
ANALISIS PENENTUAN JALUR TRANSPORTASI LIMBAH MINYAK PADA AKTIVITAS PELAYARAN LAUT UNTUK MENGHASILKAN TOTAL BIAYA PELAYARAN MINIMUM Emirul Bahar [email protected] Jurusan Teni Industri, Universitas Gunadarma
HUBUNGAN PENERAPAN KAWASAN TANPA ROKOK (KTR) DENGAN PERILAKU MEROKOK MAHASISWA KESEHATAN MASYARAKAT DI KOTA SEMARANG
Volume, Nomor, Juli 6 (ISSN: 56-6) HUBUNGAN PENERAPAN KAWASAN TANPA ROKOK (KTR) DENGAN PERILAKU MEROKOK MAHASISWA KESEHATAN MASYARAKAT DI KOTA SEMARANG Firnanda Zia Azmi *) Tinu Istiarti **) Kusyogo Cahyo
BAB 5 RUANG VEKTOR UMUM. Dr. Ir. Abdul Wahid Surhim, MT.
BAB 5 RUANG VEKTOR UMUM Dr. Ir. Abdul Wahid Surhim, MT. KERANGKA PEMBAHASAN. Ruang Vetor Nyata. Subruang. Kebebasan Linier 4. Basis dan Dimensi 5. Ruang Baris, Ruang Kolom dan Ruang Nul 6. Ran dan Nulitas
BAB III METODE PENELITIAN (BAHAN DAN METODE)
BAB III METODE PENELITIAN (BAHAN DAN METODE) Tahapan-tahapan pengerjaan yang dilauan dalam penelitian ini adalah sebagai beriut : 1. Tahap Persiapan Penelitian Pada tahapan ini aan dilauan studi literatur
PREDIKSI HARGA SAHAM MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN MULTILAYER FEEDFORWARD NETWORK DENGAN ALGORITMA BACKPROPAGATION
Konferensi Nasional Sistem dan Informatia 2008; Bali, November 5, 2008 PREDIKSI HARGA SAHAM MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN MULTILAYER FEEDFORWARD NETWORK DENGAN ALGORITMA BACKPROPAGATION Wahyudi Setiawan
RINGKASAN SKRIPSI MODUL PERKALIAN
RINGKASAN SKRIPSI MODUL PERKALIAN SAMSUL ARIFIN 04/177414/PA/09899 DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS GADJAH MADA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM YOGYAKARTA 2008 HALAMAN PENGESAHAN
PENENTUAN JENIS PRODUK KOSMETIK PILIHAN BERDASARKAN FAKTOR USIA DAN WARNA KULIT MENGGUNAKAN METODE JARINGAN SYARAF TIRUAN
PENENTUAN JENIS PRODUK KOSMETIK PILIHAN BERDASARKAN FAKTOR USIA DAN WARNA KULIT MENGGUNAKAN METODE JARINGAN SYARAF TIRUAN Amethis Otaorora 1, Bilqis Amaliah 2, Ahmad Saihu 3 Teni Informatia, Faultas Tenologi
BAB III DESAIN DAN APLIKASI METODE FILTERING DALAM SISTEM MULTI RADAR TRACKING
Bab III Desain Dan Apliasi Metode Filtering Dalam Sistem Multi Radar Tracing BAB III DESAIN DAN APLIKASI METODE FILTERING DALAM SISTEM MULTI RADAR TRACKING Bagian pertama dari bab ini aan memberian pemaparan
PENENTUAN FAKTOR KALIBRASI ACCELEROMETER MMA7260Q PADA KETIGA SUMBU
PENENTUAN FAKTOR KALIBRASI ACCELEROMETER MMA7260Q PADA KETIGA SUMBU Wahyudi 1, Adhi Susanto 2, Sasongo P. Hadi 2, Wahyu Widada 3 1 Jurusan Teni Eletro, Faultas Teni, Universitas Diponegoro, Tembalang,
UJI BARTLETT. Elty Sarvia, ST., MT. Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri Universitas Kristen Maranatha Bandung. Scheffe Multiple Contrast Procedure
8/9/01 UJI TUKEY UJI DUNCAN UJI BARTLETT UJI COCHRAN UJI DUNNET Elty Sarvia, ST., MT. Faultas Teni Jurusan Teni Industri Universitas Kristen Maranatha Bandung Macam Metode Post Hoc Analysis The Fisher
Estimasi Harga Saham Dengan Implementasi Metode Kalman Filter
Estimasi Harga Saham Dengan Implementasi Metode Kalman Filter eguh Herlambang 1, Denis Fidita 2, Puspandam Katias 2 1 Program Studi Sistem Informasi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya Unusa Kampus B
PENGEMBANGAN BUKU KOMIK FISIKA POKOK BAHASAN NEWTON BERBASIS KONSTRUKTIVISME UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA
PENGEMBANGAN BUKU KOMIK FISIKA POKOK BAHASAN NEWTON BERBASIS KONSTRUKTIVISME UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA Farida Huriawati 1), Purwandari 1,2), Intan Permatasari 1,3) 1,2,3 Program Studi Pendidian
PENINGKATAN EFISIENSI & EFEKTIFITAS PENGOLAHAN DATA PERCOBAAN PETAK BERJALUR
PENINGKATAN EFISIENSI & EFEKTIFITAS PENGOLAHAN DATA PERCOBAAN PETAK BERJALUR Ngarap Im Mani 1) dan Lim Widya Sanjaya ), 1) & ) Jurs. Matematia Binus University PENGANTAR Perancangan percobaan adalah suatu
Modifikasi ACO untuk Penentuan Rute Terpendek ke Kabupaten/Kota di Jawa
187 Modifiasi ACO untu Penentuan Rute Terpende e Kabupaten/Kota di Jawa Ahmad Jufri, Sunaryo, dan Purnomo Budi Santoso Abstract This research focused on modification ACO algorithm. The purpose of this
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang
BAB PENDAHULUAN. Latar belaang Metode analisis yang telah dibicaraan hingga searang adalah analisis terhadap data mengenai sebuah arateristi atau atribut (jia data itu ualitatif) dan mengenai sebuah variabel,
PENDAHULUAN TINJAUAN PUSTAKA
1 Latar Belaang PENDAHULUAN Sistem biometri adalah suatu sistem pengenalan pola yang melauan identifiasi personal dengan menentuan eotentian dari arateristi fisiologis dari perilau tertentu yang dimilii
ADAPTIVE NOISE CANCELING MENGGUNAKAN ALGORITMA LEAST MEAN SQUARE (LMS) Anita Nardiana, SariSujoko Sumaryono ABSTRACT
Jurnal Teni Eletro Vol. 3 No.1 Januari - Juni 1 6 ADAPTIVE NOISE CANCELING MENGGUNAKAN ALGORITMA LEAST MEAN SQUARE (LMS) Anita Nardiana, SariSujoo Sumaryono ABSTRACT Noise is inevitable in communication
MAT. 12. Barisan dan Deret
MAT.. Barisan dan Deret i Kode MAT. Barisan dan Deret U, U, U3,..., Un,... Un a + (n-)b U + U +..., Un +... n?? Sn? BAGIAN PROYEK PENGEMBANGAN KURIKULUM DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN DIREKTORAT
Kumpulan soal-soal level seleksi Kabupaten: Solusi: a a k
Kumpulan soal-soal level selesi Kabupaten: 1. Sebuah heliopter berusaha menolong seorang orban banjir. Dari suatu etinggian L, heliopter ini menurunan tangga tali bagi sang orban banjir. Karena etautan,
Keputusan Penggantian
Materi #11 TI205 EKOOMI TEKIK Keputusan Penggantian 2 Analisis Dasar Penggantian (Replacement Analysis Fundamentals). Masa Layanan Ekonomi (Economic Service Life). Analisis Penggantian Ketika Layanan Yang
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PERBANDINGAN TINGKAT PELANGGARAN PERLINDUNGAN KEKERASAN PADA ANAK
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PERBANDINGAN TINGKAT PELANGGARAN PERLINDUNGAN KEKERASAN PADA ANAK Airani Elizabeth Mani Program Studi Teni Informatia Jurusan Teni Eletro Faultas Teni Universitas Tanjungpura
KORELASI ANTARA DUA SINYAL SAMA BERBEDA JARAK PEREKAMAN DALAM SISTEM ADAPTIF. Sri Arttini Dwi Prasetyawati 1. Abstrak
KORELASI ANARA DUA SINYAL SAMA BERBEDA JARAK PEREKAMAN DALAM SISEM ADAPIF Sri Arttini Dwi Prasetyawati 1 Abstra Masud pembahasan tentang orelasi dua sinyal adalah orelasi dua sinyal yang sama aan tetapi
Keragaman Struktur Tegakan Hutan Alam Sekunder The Variability of Stand Structure of Logged-over Natural Forest
JMHT Vol. XIV, (2): 81-87, Agustus 28 ISSN: 215-157X Keragaman Strutur Tegaan Hutan Alam Seunder The Variability of Stand Structure of Logged-over Natural Forest Abstract Muhdin 1*, Endang Suhendang 1,
MODEL SISTEM ANTRIAN
BB V MODEL SISTEM TRI ada teori antrian, suatu model antrian digunaan untu memperiraan suatu situasi antrian sesungguhnya, sehingga elauan antrian dapat dianalisa secara matemati. Dengan model sistem antrian
AKURASI MODEL PREDIKSI METODE BACKPROPAGATION MENGGUNAKAN KOMBINASI HIDDEN NEURON DENGAN ALPHA
AKURASI MODEL PREDIKSI METODE BACKPROPAGATION MENGGUNAKAN KOMBINASI HIDDEN NEURON DENGAN ALPHA Aris Puji Widodo, Suhartono 2, Eo Adi Sarwoo 3, dan Zulfia Firdaus 4,2,3,4 Departemen Ilmu Komputer/Informatia,
Analisis Pengaruh Peralatan Laboratorium Terhadap Kualitas Daya Pada Laboratorium Elektroteknika Dasar
3 Analisis Pengaruh Peralatan Laboratorium Terhadap Kualitas Daya Pada Laboratorium Eletrotenia Dasar Jamhir slami Pranata Laboratorium Pendidian (PLP) Ahli Muda Laboratorium Eletrotenia Dasar Faaultas
Aplikasi diagonalisasi matriks pada rantai Markov
J. Sains Dasar 2014 3(1) 20-24 Apliasi diagonalisasi matris pada rantai Marov (Application of matrix diagonalization on Marov chain) Bidayatul hidayah, Rahayu Budhiyati V., dan Putriaji Hendiawati Jurusan
PERENCANAAN JUMLAH TENAGA PERAWAT DI RSUD PAMEKASAN MENGGUNAKAN RANTAI MARKOV
PERENCANAAN JUMLAH TENAGA PERAWAT DI RSUD PAMEKASAN MENGGUNAKAN RANTAI MARKOV Nama Mahasiswa : Husien Haial Fasha NRP : 1207 100 011 Jurusan : Matematia FMIPA-ITS Dosen Pembimbing : Drs. Suharmadi, Dipl.
BAB I BUNGA TUNGGAL DAN DISKONTO TUNGGAL. Terminologi: modal, suku bunga, bunga, dan jangka waktu.
BAB I BUNGA TUNGGAL DAN DISKONTO TUNGGAL Terminologi: modal, suu bunga, bunga, dan janga watu. Modal adalah sejumlah uang yang disiman atau ditabung atau diinjam ada (dari) suatu Ban atau badan lain. Suu-bunga
CATATAN KULIAH RISET OPERASIONAL
CATATAN KULIAH RISET OPERASIONAL Pertemuan minggu pertama ( x 50 menit) Pemrograman Bulat Linear (Integer Linear Programming - ILP) Tuuan Instrusional Umum : Mahasiswa dapat menggunaan algoritma yang
