Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan"

Transkripsi

1 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Agustus 216 (terbit setiap triwulan) KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN

2 Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain dapat diakses secara online pada: Salinan publikasi ini juga dapat diperoleh dengan menghubungi: Divisi Advisory Ekonomi dan Keuangan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan Jl. Jenderal Sudirman No. 3 Makassar 9113, Indonesia Telepon: / Faksimili:

3 KATA PENGANTAR Kata Pengantar Laporan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) disusun dan disajikan setiap triwulan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, mencakup aspek pertumbuhan ekonomi, keuangan pemerintah, inflasi, stabilitas keuangan daerah dan pengembangan akses keuangan, penyelenggaraan sistem pembayaran dan pengelolaan uang rupiah, ketenagakerjaan dan kesejahteraan masyarakat, serta prospek perekonomian ke depan. Kajian ekonomi dan keuangan regional ini disamping bertujuan untuk memberikan masukan bagi Kantor Pusat Bank Indonesia dalam merumuskan kebijakan moneter, makroprudensial, stabilitas sistem keuangan, serta sistem pembayaran dan pengelolaan uang rupiah, juga diharapkan dapat menjadi salah satu referensi bagi para stakeholders di daerah dalam membuat keputusan. Dengan demikian, keberadaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Sulsel diharapkan dapat semakin berperan sebagai economic advisor dan strategic partner bagi stakeholders di wilayah kerjanya. Ekonomi Sulsel pada triwulan II 216 tumbuh menggembirakan mencapai 8,5% (yoy), lebih tinggi dari pencapaian pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,18% (yoy). Kami mencatat beberapa sektor ekonomi masih tumbuh meningkat, antara lain sektor jasa keuangan, pengadaan listrik dan gas, konstruksi, dan perdagangan. Namun, kondisi eksternal yang belum sepenuhnya membaik masih berimbas pada belum optimalnya kinerja ekspor komoditas unggulan Sulsel di triwulan II 216. Menurut outlook World Bank, harga internasional komoditas unggulan ekspor Sulsel diperkirakan baru akan membaik pada akhir 216. Ekonomi Sulsel pada triwulan III 216 kami perkirakan sedikit melambat dari triwulan sebelumnya. Untuk itu, guna menopang pertumbuhan ekonomi Sulsel, kami berharap realisasi penyerapan anggaran belanja pemerintah terutama belanja modal pada triwulan III dan IV dapat dioptimalkan. Sementara itu, tekanan inflasi di Sulsel saat ini relatif terkendali. Melalui berbagai upaya pengendalian inflasi yang telah dan terus akan dilakukan kedepan, kami optimis inflasi akan semakin menurun sehingga pada akhir tahun berada pada kisaran target yang ditetapkan yaitu 4±1%. Dengan pencapaian inflasi yang semakin rendah, maka daya beli masyarakat Sulsel akan terjaga dengan baik sehingga kesejahteraannya meningkat. Menurut hemat kami, fokus pengendalian harga pada triwulan III 216 sebaiknya lebih diarahkan pada komoditas volatile food dengan cara menjaga ketersediaan pasokannya, mengingat aktivitas masyarakat yang meningkat (Idul Fitri dan Idul Adha) di tengah pasokan bahan pangan yang menurun akibat telah berlalunya musim panen. Dalam penyusunan kajian ini, kami memanfaatkan data sekunder yang diterbitkan atau yang disediakan oleh berbagai institusi. Selain itu kami juga menggunakan data primer dan informasi yang kami peroleh dari hasil survei dan liaisonatau hasil kunjungan ke sejumlah perusahaan besar di Sulsel. Sehubungan dengan hal tersebut, kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada semua pihak, terutama bagi Bapak/Ibu yang telah berkontribusi dalam sharing pemikiran dan membantu dalam penyediaan dataatauinformasi yang lengkap, akurat dan terkini. Saran serta masukan dari para stakeholders sangat kami harapkan agar kedepan kajian yang kami susun menjadi semakin lebih baik. Makassar, Agustus 216 KEPALA PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN ttd Wiwiek Sisto Widayat Direktur Eksekutif Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216 iii

4 VISI BANK INDONESIA Menjadi lembaga bank sentral yang kredibel dan terbaik di regional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang rendah dan nilai tukar yang stabil. MISI BANK INDONESIA 1. Mencapai stabilitas nilai rupiah dan menjaga efektivitas transmisi kebijakan moneter untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. 2. Mendorong sistem keuangan nasional bekerja secara efektif dan efisien serta mampu bertahan terhadap gejolak internal dan eksternal untuk mendukung alokasi sumber pendanaan/pembiayaan dapat berkontribusi pada pertumbuhan dan stabilitas perekonomian nasional. 3. Mewujudkan sistem pembayaran yang aman, efisien, dan lancar yang berkontribusi terhadap perekonomian, stabilitas moneter, dan stabilitas sistem keuangan dengan memperhatikan aspek perluasan akses dan kepentingan nasional. 4. Meningkatkan dan memelihara organisasi dan SDM Bank Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai strategis dan berbasis kinerja, serta melaksanakan tata kelola (governance) yang berkualitas dalam rangka melaksanakan tugas yang diamanatkan UU. NILAI-NILAI STRATEGIS Merupakan nilai-nilai yang menjadi dasar Bank Indonesia, manajemen, dan pegawai untuk bertindak dan atau berperilaku, yang terdiri atas:trust and Integrity Professionalism Excellence Public Interest Coordination and Teamwork. Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216 iv

5 DAFTAR ISI Daftar Isi KATA PENGANTAR DAFTAR ISI III V RINGKASAN EKSEKUTIF 1 TABEL INDIKATOR EKONOMI 5 1. PERTUMBUHAN EKONOMI PERTUMBUHAN EKONOMI SISI PENGELUARAN SISI LAPANGAN USAHA KEUANGAN PEMERINTAH ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED STRUKTUR ANGGARAN PERKEMBANGAN REALISASI ANGGARAN APBD PROVINSI PERKEMBANGAN REALISASI BELANJA APBD KABUPATEN/KOTA SE-SULSEL PERKEMBANGAN REALISASI BELANJA APBN DI SULSEL PERAN REALISASI KEUANGAN PEMERINTAH DALAM PDRB INFLASI DAERAH ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED INFLASI UMUM INFLASI KELOMPOK BARANG DAN JASA INFLASI MENURUT KOTA IHK DISAGREGASI INFLASI KOORDINASI PENGENDALIAN INFLASI SISTEM KEUANGAN DAN PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED KONDISI UMUM PERBANKAN ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED STABILITAS SISTEM KEUANGAN ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED. 5. SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN PENGELOLAAN UANG TUNAI GERAKAN NASIONAL NON TUNAI KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED TENAGA KERJA ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED PENDUDUK MISKIN ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED RASIO GINI ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED. Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216 v

6 DAFTAR ISI 6.4. NILAI TUKAR PETANI ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED. 7. PROSPEK PEREKONOMIANDAN REKOMENDASI KEBIJAKAN ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED PROSPEK PERTUMBUHAN EKONOMI PROSPEK INFLASI REKOMENDASI KEBIJAKAN 1 LAMPIRAN 13 BOKS 1.A. DAFTAR BOKS AGLOMERASI KAWASAN PERKOTAAN MAMMINASATA ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED. BOKS 2.A. FORUM FISKAL-MONETER: PERKUAT EKONOMI REGIONAL ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED. BOKS 3.A. IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR PEMBENTUK HARGA BERAS DI SULSEL DALAM KAITANNYA DENGAN UPAYA PENGENDALIAN INFLASI ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED. BOKS 4.A KEBIJAKAN PELONGGARAN GIRO WAJIB MINIMUM (GWM) PRIMER DALAM RUPIAH ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED. BOKS 5.A SMART CITY (KOTA CERDAS) BERKEMBANG BERSAMA GERAKAN NASIONAL NON TUNAI (GNNT) ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED. BOKS 6.A. BANK INDONESIA IKUT MENINGKATKAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED. vi Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

7 RINGKASAN EKSEKUTIF Ringkasan Eksekutif Gambaran Umum Perekonomian Sulsel triwulan II 216 tumbuh meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya Perekonomian Sulsel triwulan II 216 tumbuh 8,5% (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan triwulan I 216 yang tercatat 7,43% (yoy). Secara sektoral, meningkatnya pertumbuhan disebabkan oleh peningkatan kinerja di sektor primer dan tersier. Pada sektor primer didorong oleh meningkatnya sektor pertanian dan pertambangan, sementara pada sektor tersier yaitu sektor jasa keuangan, perdagangan, jasa pendidikan, dan administrasi pemerintahan. Di sisi pengeluaran, meningkatnya pertumbuhan disebabkan olehmeningkatnya kinerja seluruh komponen, khususnya konsumsi pemerintah dan investasi (PMTB). Sementara itu, kinerja ekspor mengalami perbaikan meski masih dalam fase kontraksi akibat belum pulihnya pasar global. Pada triwulan laporan, kinerja perbankan dalam kondisi baik, sementara transaksi yang tercatat pada sistem pembayaran menunjukkan peningkatan. Peluang peningkatan ekonomi Sulsel pada 216 akan terjadi apabila perkembangan ekonomi global semakin membaik dan terjalin koordinasi yang semakin erat antara pemerintah pusat dan daerah. Tekanan inflasi pada triwulan laporan menurun. Pada akhir triwulan II 216 inflasi Sulsel tercatat 4,3% (yoy). Pencapaian inflasi berada didalam rentang sasaran inflasi nasional 4±1%, dan kami terus menaja inflasi Sulsel berada di rentang sasaran inflasi yang ditargetkan hingga akhir tahun 216. Penurunan inflasi Sulsel terjadi dikarenakan menurunnya tekanan harga pada hampir seluruh kelompok kecuali makanan jadi dan sandang. Menurunnya tekanan kelompok bahan makanan terjadi akibat musim panen yang terjadi di tengah meningkatnya konsumsi masyarakat. Selain itu, penurunan harga BBM dan tarif tenaga listrik (TTL) juga mendorong penurunan inflasi yang lebih rendah Kunci keberhasilan dalam mengendalikan inflasi di Sulsel tersebut tentunya tidak lepas dari peran serta, komunikasi, dan koordinasi yang berjalan baik diantara anggota TPID, terutama dalam kaitannya dengan upaya menjaga ketersediaan dan kelancaran arus distribusi bahan pangan ke berbagai daerah di Sulsel. Pertumbuhan Ekonomi Konsumsi pemerintah dan investasi yang relatif kuat, serta kinerja positif sektor primer dan tersier berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi Sulsel di triwulan II 216 Peningkatan pertumbuhan perekonomian Sulsel terutama disebabkan oleh meningkatnya konsumsi pemerintah dan investasi (PMTB). Pada triwulan II 216, konsumsi pemerintah tumbuh 7,37% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan periode sebelumnya, sementara investasi masih tumbuh 9,63% (yoy). Sedangkan secara sektoral, pertumbuhan ekonomi disebabkan oleh meningkatnya kinerja sektor jasa keuangan, pengadaan listrik dan gas, konstruksi, pertanian, dan perdagangan. Peningkatan kinerja hampir seluruh sektor tersebut mencerminkan daya beli konsumen di Sulsel tetap terjaga dengan baik. Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216 1

8 RINGKASAN EKSEKUTIF Inflasi Tekanan harga-harga meningkat, terutama berasal dari inflasi kelompok volatile food dan administered price. Tekanan harga-harga menurun. Laju inflasi Sulsel pada akhir triwulan II 216 tercatat 4,3% (yoy) lebih rendah dari triwulan I 216 sebesar 5,7% (yoy), yang secara umum disebabkan oleh tekanan harga pada kelompok bahan makanan. Penurunan inflasi pada kelompok bahan makanan disebabkan oleh panen raya sehingga pasokan meningkat di saat tingginya permintaan masyarakat. Selain itu, kelompok transport juga tercatat deflasi, sebagai dampak dari menurunnya harga bensin dan solar. Upaya penanggulangan inflasi terus dilaksanakan dengan meningkatkan koordinasi dan komunikasi TPID. Pelaksanaan koordinasi TPID di sepanjang periode laporan dilakukan dengan melibatkan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota dan instansi lainnya melalui pelaksanaan rapat koordinasi TPID Provinsi Sulsel. Selain itu, Bank Indonesia juga aktif dalam melakukan komunikasi dan program pengembangan UMKM serta klaster komoditas pangan. Keuangan Pemerintah Nominal realisasi belanja APBD Provinsi dan APBN menunjukkan peningkatan. Realisasi penyerapan APBD dan APBN di Sulsel turut mendorong pertumbuhan ekonomi di triwulan II 216. Realisasi belanja hingga akhir semester baru tercatat Rp2,48 triliun atau 34,28% dari yang dianggarkan sebesar Rp7,22 triliun. Sebagian besar penyerapan anggaran direalisasikan untuk belanja operasional (73,79%) dan belanja transfer (22,58%), sementara yang direalisasikan untuk belanja modal masih tergolong minim (3,63%). Kondisi yang hampir sama juga terjadi pada APBD Kabupaten/Kota. Dari Total anggaran sebesar Rp33,42 triliun, hingga akhir semester I 216 diperkirakan baru berhasil direalisasikan sebesar Rp1,1 triliun atau 29,95 %. pencapaian realisasi belanja pada APBN yang dialokasikan di Sulsel terlihat lebih baik. Sampai akhir semester I 216 telah terealisasi sebesar Rp7,37 triliun atau 37,8% dari yang dianggarkan sebesar Rp19,48 triliun. Seluruh komponen belanja memperlihatkan peningkatan kecuali belanja untuk bantuan sosial. Stabilitas Keuangan Daerah, Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM Intermediasi perbankan berjalan dengan baik, dengan kualitas kredit terjaga pada level aman Stabilitas keuangan daerah masih terjaga, terutama ketahanan sektor rumah tangga. Kinerja konsumsi masyarakat yang masih baik, dengan porsi pinjaman perbankan yang normal, dan rasio tabungan yang kuat, menjadikan stabilitas keuangan daerah tetap terjaga.dari sisi korporasi, kinerja korporasi utama masih terpengaruh terhadap kondisi ekonomi global. Namun, masih kuatnya permintaan rumah tangga mengompensasi penurunan yang ada di sektor korporasi sehingga menjaga stabilitas keuangan di Sulsel. Kinerja perbankan secara umum tercatat masih baik. Meskipun terjadi sedikit perlambatan pertumbuhan aset, namun kinerja intermediasi masih sangat baik dengan mencatatkan pertumbuhan yang lebih tinggi di triwulan II 216. Yang lebih utama, peningkatan kinerja intermediasi ini dapat diimbangi dengan perbaikan kualitas kredit. Penyaluran kredit ke sektor UMKM juga terus tumbuh, sehingga pangsa kredit UMKM terhadap total kredit tetap terjaga di atas 3%. 2 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

9 RINGKASAN EKSEKUTIF Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah Sesuai siklus ekonomi, kebutuhan uang kartal pada triwulan II 216 meningkat. Sementara disisi lain, transaksi non tunai khususnya yang dilakukan melalui kliring mengalami lonjakan yang tajam. Perkembangan transaksi keuangan non tunai berjalan dinamis. Nilai transaksi keuangan melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) mengalami peningkatan, seiring dengan diimplementasikannya ketentuan batas minimal transaksi melalui BI-RTGS sebesar Rp5 juta dan diberlakukannya kebijakan penambahan waktupelayanan SKNBI menjadi 5 (lima) kali sehari. Sementara itu, di sisi pengelolaan uang rupiah (PUR) terjadi net outflow sebesar Rp1,4 triliun. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan kebutuhan uang kartal, sejalan dengan siklus tahunan saat bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri. Untuk meningkatkan layanan ketersediaan uang layak edar, Bank Indonesia senantiasaterusmendorongclean money policy melalui kegiatan pengelolaan uang tunai denganmelakukan pembukaan layanan penukaran uang, kas keliling, remise, pemusnahan uang tidak layak edar, dan edukasi ciri-ciri keaslian mata uang rupiah. Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Penyerapan tenaga kerja hingga Februari 216 terdapat sedikit perbaikan yang diharapkan dapat menurunkan angka kemiskinan. Menurut data terakhir per Maret 216 angka kemiskinan Sulsel secara tahunan meningkat. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Sulsel mencapai 5,11% (Februari 216) lebih rendah dibandingkan periode yang sama di tahun 215 (5,1%). Kemudian, tingkat kesejahteraan petani yang diukur dari Nilai Tukar Petani (NTP) hingga triwulan I 216 secara tahunan terpantau membaik dibandingkan triwulan I 215. Sementara itu, jumlah penduduk miskin di Sulsel hingga Maret 216 sedikit meningkat dibanding Maret 215 baik di kota maupun di desa. Persentase penduduk miskin di Sulsel (9,4%), tergolong cukup rendah jika dibandingkan Provinsi lain di Sulawesi maupun Nasional. Prospek Perekonomian Perekonomian Sulsel pada triwulan IV 216 dan keseluruhan 216 diprakirakan tumbuh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional Perekonomian Sulsel pada triwulan IV 216 diperkirakan tumbuh pada kisaran 7,6% - 8,% (yoy). Jika dibandingkan dengan ekonomi nasional, pertumbuhan ekonomi Sulsel triwulan IV 216 diperkirakan tetap lebih tinggi. Di sisi permintaan, diperkirakan masih akan ditopang oleh konsumsi dan investasi, dan ekspor luar negeri. Di sisi lapangan usaha, diperkirakan akan terjadi pada lapangan usaha Pertanian, sektor Pertambangan, sektor Pengadaan Listrik/Gas, sektor Konstruksi, sektor Perdagangan, dan sektor Administrasi Pemerintahan. Dengan demikian, untuk keseluruhan 216 diperkirakan juga tumbuh pada kisaran yang sama 7,6% - 8,% (yoy), atau lebih tinggi dari pencapaian 215 yang tumbuh 7,15%. Faktor risiko yang perlu diwaspadai kedepan adalah berlanjutnya ketidakpastian ekonomi global, rebound-nya harga minyak dunia, pergerakan nilai tukar rupiah, dan optimalisasi kebijakan ekonomi pemerintah pusat dan daerah. Tekanan harga sampai dengan akhir 216 diperkirakan dalam kisaran inflasi nasional 4,%±1,%, didukung oleh harga minyak dunia yang rendah dan stabil, sehingga terjadi penyesuaian harga komoditas administered price. Sementara itu, faktor risiko berasal dari volatile food karena adanya La Nina yang memengaruhi produksi ikan tangkap, serta inflasi inti karena kenaikan harga. Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216 3

10 RINGKASAN EKSEKUTIF Rekomendasi Kebijakan Percepatan infrastruktur, peningkatan nilai tambah, dan optimalisasi belanja pemerintah menjadi kunci pertumbuhan perekonomian Sulsel 216. Selain itu, juga perlu diiringi dengan pengendalian harga terutama untuk komoditas penyumbang inflasi terbesar di Sulsel. Untuk mendorong Sulsel sebagai Pilar Utama Pembangunan Nasional dan Simpul Jejaring Akselerasi Kesejahteraan, berikut ini beberapa kebijakan yang dapat disarankan kepada pemerintah daerah: (a) mengakselerasi realisasi belanja pemerintah daerah, khususnya belanja modal, agar dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Sulsel hingga akhir tahun 216; (b) mengembangkan sistem monitoring realisasi anggaran pendapatan dan belanja pemerintah daerah di seluruh Kabupaten/Kota di Sulsel, sehingga Pemprov Sulsel memiliki informasi dini yang dapat digunakan untuk memacu realisasi anggaran pemerintah daerah di Kabupaten/Kota; (c) realisasi anggaran belanja daerah hendaknya dilakukan secara merata sepanjang tahun, sesuai dengan Rencana Penerimaan dan Pengeluaran Bulanan (RPPB) yang telah ditetapkan; (d) melakukan akselerasi pembangunan infrastruktur kemaritiman, baik infrastuktur fisik maupun infrastruktur pendukung; (e) Untuk mendukung program kemaritiman di Sulsel dan Kawasan Timur Indonesia (KTI), pemerintah pusat dan daerah perlu menyusun roadmap pengembangan industri dasar hingga menengah (low medium technology) di Sulsel. Pembangunan industri dasar tersebut sangat penting agar tidak lagi terjadi defisit neraca perdagangan antar pulau, sebagai akibat dari ketergantungan barang dari luar Sulsel, maupun nilai tambah barang Sulsel yang relatif rendah karena masih berupa barang mentah. Selain itu, dengan semakin bekembangnya industri di Sulsel dan KTI secara umum, diharapkan dapat menekan biaya transportasi barang di wilayah KTI. Sementara itu, rekomendasi kebijakan yang dapat dirumuskan untuk pengendalian harga terutama diarahkan pada komoditas penyumbang inflasi terbesar (beras) yaitu sebagai berikut: (a) perlunya kebijakan pemerintah daerah yang terintegrasi terkait dengan pemenuhan pasokan bahan pangan di daerah perkotaan (khususnya Makassar) yang lebih berkesinambungan, mengingat inflasi Makassar memberikan sumbangan terbesar kepada inflasi Sulsel. Kebijakan ini seyogyanya dikoordinasikan oleh pemerintah provinsi terhadap daerah-daerah sentra produksi bahan pangan dan Kota Makassar; (b) perlunya kebijakan dan langkah-langkah konkrit guna meminimalisir dampak negatif dari market failures. Kebijakan tersebut hendaknya diberlakukan kepada mereka yang selama ini mengambil marjin keuntungan yang paling besar. Kebijakan bisa diimplementasikan dalam bentuk himbauan, hingga sampai ke tingkat yang keras yaitu penghentian sementara/pencabutan izin usaha; (c) memberikan bantuan dengan menyalurkan beras kepada kelompok miskin terutama pada saat operasi pasar Perum BULOG dinilai kurang berjalan efektif; (d) menyiapkan sistem informasi yang simetris dan berkualitas yang mampu menyediakan informasi mengenai data stok dan harga beras di tingkat regional, nasional maupun internasional, yang dapat diakses dengan mudah oleh seluruh pelaku usaha di bidang perberasan, terutama petani; (e) mendorong perbankan atau lembaga pembiayaan lainnya di Susel agar lebih giat dalam melaksanakan program/kegiatan layanan keuangan inklusif, khususnya kepada petani agar lebih mudah dalam mengakses pembiayaan, sehingga mereka tidak lagi tergantung kepada pemodal besar (pengumpul cq. pihak penggiling).. 4 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

11 TABEL INDIKATOR EKONOMI TABEL INDIKATOR EKONOMI Tabel Indikator Ekonomi A. INFLASI DAN PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB) I II III IV I II III IV I II III IV I II III*** MAKRO Indeks Harga Konsumen - Sulawesi Selatan Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat Laju Inflasi Tahunan (%, yoy) - Sulawesi Selatan Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat PDRB Penawaran - Harga Konstan (Rp Miliar) Tahun Dasar 21 & SNA 28 51,268 54,46 57,699 54,217 55,565 57,882 62,159 58,393 58,742 62,488 66,878 62,621 63,15 67,519 - Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 1,729 11,88 14,29 9,89 12,293 13,15 15,191 1,582 12,722 14,526 15,982 1,727 12,823 15,61 - Pertambangan dan Penggalian 3,16 3,292 3,496 3,436 3,45 3,498 3,793 3,971 3,533 3,78 4,251 4,34 3,623 3,98 - Industri Pengolahan 7,322 7,769 7,696 7,758 7,648 8,162 8,577 8,89 8,91 8,773 8,951 9,692 9,154 9,53 - Pengadaan Listrik, Gas Pengadaan Air Konstruksi 6,19 6,343 6,72 6,948 6,494 6,789 7,44 7,34 6,961 7,188 7,689 8,129 7,61 7,964 - Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 7,114 7,645 7,86 7,624 7,775 8,88 8,619 7,881 8,212 8,623 9,45 8,675 8,973 9,539 - Transportasi dan Pergudangan 2,2 2,13 2,166 2,164 2,61 2,94 2,181 2,26 2,15 2,243 2,47 2,389 2,427 2,449 - Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Informasi dan Komunikasi 3,332 3,44 3,485 3,511 3,492 3,592 3,733 3,743 3,749 3,86 4,36 4,69 4,55 4,17 - Jasa Keuangan 1,884 1,944 1,92 1,896 1,95 2,17 2,8 2,9 2,144 2,77 2,194 2,248 2,352 2,438 - Real Estate 1,919 1,969 2,19 2,26 2,68 2,124 2,164 2,29 2,252 2,284 2,32 2,341 2,411 2,442 - Jasa Perusahaan Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 2,471 2,51 2,644 2,667 2,51 2,575 2,698 2,772 2,648 2,758 2,949 3,27 2,864 3,4 - Jasa Pendidikan 2,789 2,781 2,932 3,416 2,916 2,929 3,15 3,523 3,176 3,195 3,42 3,66 3,42 3,488 - Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial ,4 1,131 1,65 1,93 1,17 1,169 1,144 1,177 1,232 1,292 1,253 1,276 - Jasa lainnya ,268 54,46 57,699 54, Konsumsi 32,784 36,21 36,851 4,586 35,255 37,835 38,891 42,129 37,158 39,735 41,45 44,894 39, 42,66-2. Investasi 21,526 24,33 21,15 2,74 2,668 23,151 23,343 22,16 23,68 25,335 26,744 27,333 25,544 26,39-3. Ekspor 13,148 12,827 15,256 11,132 14,947 14,41 15,995 14,45 13,861 13,733 14,663 1,31 8,28 9, Impor 16,191 18,772 15,423 17,575 15,36 17,55 16,69 2,31 15,344 16,315 15,574 19,97 9,647 1,879 - Total PDRB (Rp Miliar) Pertumbuhan PDRB (%, yoy) INDIKATOR PDRB Permintaan - Harga Konstan (Rp Miliar) ** Nilai Ekspor (X) Luar Negeri Non-migas (US$ Juta) Volume Ekspor Luar Negeri Non-migas (Juta Ton) Nilai Impor (M) Luar Negeri Non-migas (US$ Juta) Volume Impor Luar Negeri Non-migas (Juta Ton) Neraca Perdagangan (X - M) Non-migas (US$ Juta) Sumber : BPS & Ditjen Bea Cukai Catatan: *) Angka sementara untuk data PDRB; data IHK menggunakan tahun dasar 27 **) Angka sangat sementara untuk data PDRB; data IHK menggunakan tahun dasar 212 ***) Data hingga Juli ,268 54,46 57,699 54,217 55,565 57,882 62,159 58,393 58,742 62,488 66,878 62,621 63,15 67, (15.43) * 216** Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216 5

12 TABEL INDIKATOR EKONOMI B. PERBANKAN (KREDIT LOKASI BANK, DPK LOKASI BANK PELAPOR) INDIKATOR **** 216**** I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I BANK UMUM : Total Aset (Rp Miliar) 67,573 72,554 74,754 79,37 8,876 86,366 9,288 9,932 9,99 97,572 99,571 11,351 14,945 18,39 113,11 117,572 12, DPK - Lokasi Bank Pelapor (Rp Miliar) 45,734 48,24 49,917 53,717 52,32 53,457 57,359 6,444 58,162 61,42 64,339 66,112 66,42 68,867 72,433 78,467 78,342 Giro 7,471 7,282 7,257 7,345 7,77 8,92 9,221 7,845 7,99 9,73 9,693 7,995 1,154 11,82 12,471 13,165 12,894 Tabungan 25,4 27,26 28,545 31,466 29,321 3,68 32,76 35,7 32,446 33,168 34,828 37,428 34,147 34,881 37,491 42,221 38,589 Deposito 13,259 13,536 14,115 14,97 15,211 15,297 16,62 17,592 17,726 18,54 19,819 2,69 22,118 22,166 22,472 23,91 26, Kredit - Lokasi Bank (Rp Miliar) 54,585 59,35 61,9 66,221 68,371 72,937 75,14 75,388 75,874 79,336 8,463 83,56 85,34 87,563 89,911 94,981 96,31 - Modal Kerja 2,516 22,85 22,385 25,56 25,98 26,659 26,16 27,231 27,257 29,62 29,847 31,442 32,776 34,627 34,876 36,73 37,51 - Investasi 1,25 1,588 1,997 11,38 12,232 14,486 15,769 14,494 14,642 15,467 15,457 16,241 16,482 16,5 17,476 2,538 2,41 - Konsumsi 24,44 25,597 27,77 29,335 3,158 31,793 33,85 33,663 33,974 34,87 35,159 35,877 36,45 36,436 37,558 37,713 38,759 LDR % % % % 13.72% % 13.78% % 13.45% % 125.6% % % % % 121.5% % Kredit - Lokasi Bank (Rp Miliar) 54,585 59,35 61,9 66,221 68,371 72,937 75,14 75,388 75,874 79,336 8,463 83,56 85,34 87,563 89,911 94,981 96,31 - Pertanian 96 1,128 1,171 1,215 1,43 1,396 1,385 1,4 1,45 1,499 1,435 1,56 1,63 1,788 2,33 2,461 2,681 - Pertambangan Industri pengolahan 3,468 3,94 4,8 5,25 5,335 5,579 5,631 4,186 3,918 4,21 4,283 4,747 5,35 5,19 5,34 7,487 7,239 - Listrik, Gas, dan Air Konstruksi 2,65 2,448 2,582 2,674 2,565 2,78 2,966 3,34 3,43 3,666 4,173 4,366 4,746 4,92 5,417 5,491 5,483 - Perdagangan 15,459 17,631 17,741 19,27 19,933 22,957 23,36 24,132 24,334 25,587 25,748 27,33 27,92 29,3 29,373 31,424 31,959 - Pengangkutan 1,744 1,73 1,794 2,321 2,631 2,763 2,864 2,923 2,96 2,95 2,951 2,82 2,782 2,693 2,672 2,781 2,824 - Jasa Dunia Usaha 2,917 3,178 3,131 3,15 3,24 3,433 3,414 3,55 3,747 3,598 3,581 3,662 3,733 4,37 4,24 4,221 4,117 - Jasa Sosial Masyarakat 1,57 1,485 1,372 1,44 1,619 1,65 1,733 1,78 1,828 1,968 2,115 2,34 2,473 2,681 2,388 2,549 2,462 - Lain-lain 26,7 27,45 28,781 3,684 31,65 31,814 33,96 33,794 34,43 35,53 35,48 36,226 36,174 36,547 37,648 37,777 38, Kredit UMKM - Lokasi Bank (Rp Miliar) 18,349 19,582 18,24 2,27 21,818 24,162 24,221 24,684 24,823 26,489 26,768 27,675 27,428 28,31 28,51 3,641 31, Kredit Mikro* (Rp Miliar) 3,533 3,939 3,628 3,672 3,994 4,211 4,412 4,499 4,648 5,114 5,297 5,883 6,221 6,679 6,88 7,892 8,698 - Modal Kerja 3,151 3,489 3,159 3,26 3,484 3,558 3,648 3,768 3,827 4,88 4,249 4,479 4,674 5,38 5,144 5,542 6,329 - Investasi ,27 1,48 1,44 1,548 1,642 1,735 2,351 2,369 - Konsumsi Kredit Kecil ** (Rp Miliar) 8,932 8,933 8,433 8,938 9,29 9,819 9,877 1,37 1,123 1,329 1,885 11,35 1,893 11,161 11,58 12,412 12,433 - Modal Kerja 5,564 5,848 5,455 5,76 5,678 6,492 5,624 5,75 5,862 6,76 6,48 6,683 6,596 6,86 7,39 7,188 7,265 - Investasi 3,369 3,85 2,978 3,178 3,612 3,328 4,253 4,287 4,261 4,253 4,478 4,353 4,296 4,3 4,541 5,224 5,169 - Konsumsi Kredit Menengah *** (Rp Miliar) 5,884 6,71 6,18 7,66 8,534 1,132 9,932 1,148 1,52 11,46 1,586 1,757 1,313 1,461 1,42 1,337 9,979 - Modal Kerja 4,759 5,478 4,833 5,644 6,186 7,25 6,872 7,278 7,79 7,822 7,68 7,82 7,488 7,698 7,272 7,577 7,198 - Investasi 1,125 1,232 1,347 2,16 2,349 2,927 3,6 2,87 2,972 3,224 2,96 2,954 2,825 2,763 2,77 2,76 2,781 - Konsumsi NPL Total gross - Lokasi Bank (%) 3.5% 3.8% 2.87% 2.74% 2.94% 2.83% 2.91% 2.85% 3.14% 3.54% 3.57% 3.13% 3.36% 3.16% 3.85% 3.19% 3.36% NPL UMKM gross - Lokasi Bank (%) 4.12% 4.23% 4.18% 3.96% 4.25% 3.95% 4.57% 4.38% 4.87% 4.98% 5.42% 4.81% 5.21% 5.14% 5.4% 4.26% 4.43% BANK UMUM SYARIAH Total Aset (Rp Miliar) 3,377 3,689 3,977 4,524 4,82 5,85 5,42 5,576 5,586 5,58 5,619 5,96 6, 6,184 6,489 6,975 7, DPK - Lokasi Bank Pelapor (Rp Miliar) 1,578 1,635 1,817 2,63 2,138 2,138 2,594 2,884 2,742 2,795 2,878 2,991 3,187 3,287 3,382 3,853 3,517 Giro Tabungan ,162 1,37 1,261 1,261 1,337 1,479 1,488 1,57 1,667 1,765 1,761 Deposito ,188 1,239 1,26 1,272 1,195 1,132 1,153 1,162 1,36 1,49 1, Pembiayaan - Lokasi Bank (Rp Miliar) 2,759 2,953 3,76 3,52 3,87 4,157 4,265 4,374 4,453 4,869 4,926 5,141 5,239 5,582 5,75 5,684 5,817 - Modal Kerja ,135 1,292 1,535 1,572 1,526 1,659 - Investasi ,15 1,17 1,152 1,143 - Konsumsi 1,887 2,96 2,192 2,544 2,868 3,17 3,255 3,34 3,282 3,423 3,27 3,181 3,81 3,33 3,8 3,6 3,15 FDR 174.8% 18.63% % % 181.4% % % % 162.4% 174.2% % % % % 17.2% % % Catatan: * (<Rp5 juta) ** (Rp5 < X < Rp5 juta) *** (Rp5 juta < X < Rp5 miliar) **** Angka sementara 6 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

13 TABEL INDIKATOR EKONOMI C. SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH I II III IV I II III IV I II III IV I KAS Inflow (Rp Miliar) 4,41 3,236 4,872 4,75 5,299 4,69 5,562 4,34 6,184 3,777 4,815 3,791 6,229 Uang Kertas 4,41 3,236 4,872 4,75 5,299 4,69 5,561 4,34 6,184 3,777 4,815 3,791 6,229 Uang Logam Outflow (Rp Miliar) 1,715 2,885 5,313 4,162 2,346 3,829 5,641 4,98 2,248 3,73 4,93 3,28 1,49 Uang Kertas 1,715 2,885 5,31 4,159 2,343 3,826 5,637 4,96 2,247 3,699 4,927 3,22 1,485 Uang Logam Pemusnahan Uang (Rp Miliar) ,316 TRANSAKSI RTGS From / Outgoing (Rp Miliar) 14,448 17,42 18,77 2,54 15,66 21,374 22,719 25,647 19,951 26,79 19,338 14,217 To / Incoming (Rp Miliar) 32,767 36,12 37,614 41,48 27,887 33,669 38,96 41,348 21,897 31,935 4,378 From - To (Rp Miliar) 4,245 4,921 6,755 7,299 4,748 9,765 1,97 11,845 3,778 4,272 3,478 TRANSAKSI KLIRING Nominal Kliring* (Rp Miliar) 9,737 9,976 1,239 1,67 9,483 9,616 9,716 11,198 9,757 1,492 11,363 13,952 18,226 Volume Kliring* (Lembar) 284,3 285,559 28,922 29,332 26,69 266,25 26,914 28, , , , , ,867 Kliring Kredit Nominal Kliring Kredit (Rp Miliar) , ,27 1,617 4,28 8,917 Volume Kliring Kredit (Lembar) 36,457 34,774 37,895 41,13 29,191 28,625 3,355 32,94 34,547 32,94 53,395 86, ,841 RRH** Nominal Kliring Kredit (Rp Miliar) RRH Nominal Kliring Kredit (Lembar) ,378 2,178 Kliring Debet Penyerahan Nominal Kliring Debet (Rp Miliar) 9,18 9,4 9,365 9,62 8,89 8,978 9,41 1,393 8,87 9,465 9,746 9,673 9,39 Volume Kliring Debet (Lembar) 247,573 25, ,27 249,22 23, ,4 23, ,47 227,93 246, , , ,26 RRH Nominal Kliring Debet (Rp Miliar) RRH Nominal Kliring Debet (Lembar) 4,126 4,18 4,5 4,19 3,848 3,957 3,719 3,876 3,737 4,38 3,993 3,614 3,59 Nominal Kliring Pengembalian (Rp Miliar) Volume Kliring Pengembalian (Lembar) 7,549 7,531 7,92 6,659 7,114 7,119 6,765 6,8 6,48 6,621 6,274 6,3 6,4 RRH Nominal Kliring Pengembalian (Rp Miliar) RRH Nominal Kliring Pengembalian (Lembar) Cek/BG Kosong INDIKATOR Kliring Debet Pengembalian Nominal Kliring Cek/BG Kosong (Rp Miliar) Volume Kliring Cek/BG Kosong (Lembar) 5,94 6,187 5,674 5,411 5,695 5,832 5,313 4,552 4,787 5,31 5,12 4,72 4,686 RRH Nominal Kliring Cek/BG Kosong (Rp Miliar) RRH Nominal Kliring Cek/BG Kosong (Lembar) *) Jumlah transaksi kliring kredit dan kliring debet penyerahan **) Rata-Rata harian: jumlah rata-rata transaksi setiap hari ***) Angka sementara *** Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216 7

14 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III*** TABEL INDIKATOR EKONOMI D. GRAFIK INDIKATOR 15% 13% 11% 9% 7% 5% 3% 1% -1% Rasio PDRB KTI terhadap PDB Nasional 11.69% Rasio PDRB Sulsel terhadap PDB Nasional 3.6% I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II * 216** Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah *) PDRB TD 21 Kontribusi Perekonomian (PDRB ADHK) 11% 1% 9% 8% Pertumbuhan Ekonomi Sulsel (yoy) 8.5% 7% 6% 5% 5.18% 4% Pertumbuhan Ekonomi Nasional (yoy) 3% I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II * 216** Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah Keterangan : PDRB TD 21 Pertumbuhan Ekonomi (PDRB ADHK) Konsumsi Rumah Tangga Konsumi LNPRT Konsumsi Pemerintah PMTB Perubahan Stok Net Ekspor PDRB I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II Pertanian Industri Pengolahan Konstruksi Perdagangan Sektor Lainnya PDRB %yoy I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II * 216** Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah Sumbangan Komponen Penggunaan bagi Pertumbuhan Ekonomi Sulsel Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah Sumbangan SektorEkonomi bagi Pertumbuhan Ekonomi Sulsel 1% 9% 8% 7% 6% 5% 4% 3% 2% 1% % Inflasi Nasional (yoy) BI Rate *) Data Sementara **) Data Sangat Sementara ***) Data Hingga Juli * 216** Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah Inflasi dan BI Rate Inflasi Sulsel (yoy) (Rp Triliun) Aset Kredit Lokasi Bank DPK Lokasi Bank Pelapor LDR - Skala Kanan I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II Sumber: Laporan Bank, diolah Perbankan Sulsel 2% 19% 18% 17% 16% 15% 14% 13% 12% 11% 1% (Ribu Orang) Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) - Skala Kanan Jumlah Penduduk * 215** 216** 1% 9% 8% 7% 6% 5% 4% 3% 2% 1% % % Penduduk Miskin - Skala Kanan (Ribu Orang) 1 95 Jumlah Penduduk Miskin * 216** 14% 12% 1% 8% 6% 4% 2% % *) Data Februari 216 Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah Pengangguran Terbuka *) Data Maret 216 Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah Persentase Penduduk Miskin 8 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

15 1. PERTUMBUHAN EKONOMI Bab 1 Pertumbuhan Ekonomi Perekonomian Sulsel pada triwulan II 216 bila diukur berdasarkan PDRB nilainya mencapai Rp milyar (ADHB) atau Rp milyar (ADHK), tumbuh 8,5% (yoy) lebih tinggi dari pertumbuhan triwulan I 216 (7,43%; yoy). Peningkatan pertumbuhan ekonomi terjadi pada hampir seluruh sektor. Dari sisi eksternal, kegiatan ekspor impor meningkat, meskipun masih dalam fase kontraksi. Secara nominal, volume maupun nilai ekspor menunjukkan kinerja membaik, terutama ekspor barang pertambangan. Sementara itu, dari sisi domestik, daya beli masyarakat masih terjaga baik dan hal ini menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi di triwulan II 216. Secara sektoral, pertumbuhan ekonomi Sulsel didorong dari meningkatnya kinerja sektor jasa keuangan, pengadaan listrik, konstruksi, pertanian, pertambangan, administrasi pemerintah, dan jasa pendidikan. Adapun penahan laju pertumbuhan ekonomi Sulsel berasal dari sektor industri pengolahan. Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216 9

16 1.1. Pertumbuhan Ekonomi Perekonomian Sulawesi Selatan (Sulsel) mengalami peningkatan pertumbuhan di triwulan II 216. Pada triwulan laporan, ekonomi Sulsel tumbuh 8,5% (yoy) lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 7,43% (yoy) pada triwulan I 216. Peningkatan pertumbuhan terutama disebabkan oleh meningkatnya kinerja di beberapa sektor antara lain jasa keuangan dan asuransi; pengadaan listrik dan gas; konstruksi; dan perdagangan besar dan eceran, reparasi motor dan sepeda motor. Selain itu juga disebabkan oleh meningkatnya kegiatan di sektor konstruksi dan pertanian, kehutanan, dan perikanan sebagai sektor utama Sulsel dan sektor lain yaitu pertambangan dan penggalian; pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang; administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib; dan jasa pendidikan. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan disebabkan oleh meningkatnya seluruh komponen, terutama konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah investasi.peningkatan konsumsi rumah tangga terjadi dikarenakan meningkatnya aktivitas masyarakat di bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri.Sementara itu, pertumbuhan konsumsi pemerintah yang tinggi terjadi dikarenakan penyaluran gaji ke-13 dan ke-14 di akhir triwulan laporan. Pertumbuhan ekonomi di triwulan III 216 di perkirakan akan menurun. Penurunan tersebut terjadi akibat perlambatan di sejumlah sektor, yaitu % Sumber: Badan Pusat Statistik *) Angka sementara **) Angka sangat sementara Grafik 1.1. Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II IIIP * 216** yoy Nasional yoy Sulsel 1.2. Sisi Pengeluaran Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi di triwulan II 216 terutama disebabkan oleh meningkatnya konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah. Pada triwulan II 216 konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh 5,61% (yoy), meningkat bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,28% (yoy). Pengeluaran pemerintah mengalami pertumbuhan yang signifikan mencapai 7,27% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 2,8% (yoy). Kelompok pengeluaran lain yang mengalami pertumbuhan yaitu konsumsi LNPRT (5,61%; yoy), investasi (PMTB) (9,63%; yoy). Ekspor dan impor masih mengalami kontraksi. Pada triwulan II 216 ekspor tercatat tumbuh -27,6% (yoy), lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya -4,81% (yoy). Demikian pula impor juga mengalami kontraksi yang relatif stabil, dari sebelumnya tumbuh -37,13% (yoy) menjadi -33,32% (yoy) di triwulan laporan. Selanjutnya, pertumbuhan ekonomi di triwulan III 216 diperkirakan melambat. Konsumsi rumah tangga diperkirakan stabil di kisaran 5,4% - 5,8%. Sementara untuk total ekspor diperkirakan melambat khususnya pada ekspor antar daerah, sehingga net ekspor lebih rendah dari triwulan II 216. Meski terjadi perlambatan, pertumbuhan ekonomi Sulsel masih kuat pada kisaran 7,6% - 8,% di triwulan III 216. Konsumsi pemerintah dan investasi yang meningkat menopang ekonomi Sulsel di triwulan III Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

17 Tabel 1.1. Pertumbuhan (yoy) Ekonomi Menurut Komponen Pengeluaran (triwulanan)* Komponen * 215* 216** I II III IV TOTAL I II III IV TOTAL I II 1. Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Pengeluaran Konsumsi LNPRT Pengeluaran Konsumsi Pemerintah Pembentukan Modal Tetap Bruto Perubahan Inventori (26.91) (125.9) (74.2) (124.47) (579.81) 55.1 (64.5) 6. Ekspor (7.27) (4.64) (8.33) (28.49) (12.4) (4.78) (27.6) 7. Impor.31 (5.47) (6.75) (6.8) (3.8) (1.94) (2.95) (37.13) (33.32) PDRB Sumber: Badan Pusat Statistik *) Angka Sangat Sementara Ekspor, 14.6% Perubahan Inventori, 1.4% PMTB, 37.83% Sumber: Badan Pusat Statistik Grafik 1.2. Pangsa PDRB Sulsel Menurut Pengeluaran (ADHB) Konsumsi Impor, -16.8% Share PDRB Tw II 216 Konsumsi Pemerintah, 9.98% Konsumsi RT, 53.4% Konsumsi LNPRT, 1.23% Apabila dilihat dari andil terhadap PDRB, komponen konsumsi RT dan PMTB masih menjadi penyumbang terbesar baik di triwulan II 216.Pangsa konsumsi RT mencapai di atas 5% dari total PDRB, sementara pangsa PMTB mencapai diatas 3% pada triwulan II 216. Kelompok pengeluaran lain yang memiliki share cukup tinggi (diatas 5%) adalah konsumsi pemerintah. Sementara kelompok pengeluaran yang memiliki pangsa di bawah 5% adalah net ekspor-impor (-3,47%), konsumsi LNPRT (1%) dan perubahan inventori (1%). Secara agregat, pengeluaran konsumsi tumbuh positif, diantaranya didorong oleh konsumsi rumah tangga dan pemerintah. Total konsumsi triwulan II 216 tumbuh 5,87% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya 4,96% (yoy). Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,61% (yoy, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya 5,28% (yoy), sementara konsumsi pemerintah tercatat tumbuh 7,37% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh mencapai 2,8% (yoy). Konsumsi rumah tangga dan pemerintah pada triwulan II 216 menopang pertumbuhan ekonomi. Konsumsi rumah tangga yang meningkat menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi periode laporan.meningkatknya aktivitas masyarakat di bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri menjadi faktor utama terjaganya konsumsi rumah tangga periode laporan.selain itu, harga BBM yang turun pada periode awal laporan turut mendorong konsumsi rumah tangga.selain itu, aktivitas sejumlah proyek multiyearyang meningkatkan, mendorong optimisme dan keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi sehingga gairah masyarakat untuk berkonsumsi meningkat. Hal ini terkonfirmasi dari nilai rata-rata Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada triwulan I 216 yang meningkat (>1) sebesar 124,31 dari sebelumnya 116,44. Sejalan dengan IKK, nilai rata-rata Indeks Penjualan Eceran (IPE) juga mengalami kenaikan menjadi 123,48 dari periode sebelumnya 12,18. Realisasi belanja pemerintah daerah tumbuh signifikan dibandingkan triwulan II 216. Realisasi belanja hingga triwulan II 216 tercatat sebesar Rp2,48 triliun atau 34,28% dari yang ditargetkan sebesar Rp7,22 triliun. Secara nominal realisasi belanja triwulan II 216 realisasi belanja triwulan II 216 lebih tinggi dari triwulan II 215, yang tercatat sebesar Rp2,6 triliun. Di sisi lain, sampai dengan triwulan II 216, realisasi anggaran pendapatan daerah telah terakumulasi hingga mencapai 44,64% dari target, lebih rendah dibandingkan triwulan II 215 yang terealisasi 46,77%. Secara nominal, realisasi anggaran pendapatan daerah pada triwulan laporan mencapai Rp3,43triliun dari total target pendapatan tahunan sebesar Rp7,35 triliun. Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

18 Rp Triliun % (yoy) Rp Triliun % (yoy) Indeks Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Growth yoy (%) - Skala Kanan I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III* *) Data hingga Juli 216 Sumber: Survei Konsumen Grafik 1.3. Indeks Keyakinan Konsumen Indeks YOY I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III* Indeks Penjualan Eceran gindeks - Skala Kanan *) Data hingga Juli 216 Sumber: Survei Penjualan Eceran Grafik 1.4. Indeks Penjualan Eceran 3% 25% 2% 15% 1% 5% % -5% -1% -15% Penyaluran kredit konsumsi meningkat. Kredit konsumsi yang disalurkan perbankan pada triwulan II 216 tumbuh 14,34% (yoy) meningkat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya 9,22% (yoy). Peningkatan pertumbuhan kredit terjadi di kredit peratalatan/perlengkapan rumah tangga dan kredit miltiguna yang masing-masing tumbuh 53,14% (yoy) dan 2,21% (yoy) dari triwulan I 216 yang hanya tumbuh masing-masing 17,45% (yoy) dan 16,47% (yoy). Kredit Pemilikan Rumah/Apartemen (KPR/A) juga tumbuh meski melambat dari 5,65% (yoy) menjadi 5,16% (yoy). Di sisi lain, pertumbuhan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) mengalami kontraksi -15,21% (yoy) Rp Triliun Kredit Konsumsi gkredit Konsumsi - Skala Kanan I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II Sumber: Laporan Bank, lokasi proyek, diolah Grafik 1.5. Penyaluran Kredit Konsumsi %, yoy I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) Pertumbuhan Kredit - Skala Kanan Sumber: Laporan Bank, lokasi proyek, diolah Grafik 1.6. Penyaluran KreditKendaran Bermotor (KKB) I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II Kredit Pemilikan Rumah/Apartemen (KPR/A) Pertumbuhan Kredit - Skala Kanan Sumber: Laporan Bank, lokasi proyek, diolah Grafik 1.7. Penyaluran KPR/A Investasi Investasi tumbuh kuat di triwulan II 216. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang merupakan indikasi dari kegiatan investasi masih tumbuh 9,63% (yoy), meningkat bila dibandingkan triwulan I 216 (9,52%; yoy). Sementara itu, realisasi belanja modal APBD di Sulsel tercatat tumbuh lebih rendah 9,31% atau Rp81,69 miliar pada triwulan II 216 dibandingkan triwulan II 215 yang mencapai 23,8%. Di sisi lain, realisasi belanja modal APBN yang dialokasikan di Sulsel mengalami peningkatan, dengan realisasi mencapai sebesar Rp1,42triliun atau 26,84% dari target triwulan II 216 sebesar Rp5,3triliun.Hal ini berarti lebih tinggi dibanding triwulan II 215 yang terealisasi Rp839,56 miliar atau 1,87% dari target Rp7,72 triliun. Peningkatan realisasi belanja modal APBN didorong oleh percepatan penyerapan anggaran sejumlah proyekdi berbagai satuan kerja. Investasi yang meningkat di triwulan II 216 terkonfirmasi dari kinerja impor barang modal dan penyaluran kredit investasi. Impor barang modal tercatat tumbuh positif 4,77% (yoy) lebih tinggi dibandingkan triwulan I 216 yang 12 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

19 terkontraksi -22,46% (yoy). Impor barang modal dan peralatan transportasi (industri) pada triwulan laporan meningkat signifikan, sehingga menjadi salah satu faktorpendorong pertumbuhan impor barang modal meningkat signifikan. Sementara dari sisi pembiayaan, peningkatan investasi juga tercermin dari penyaluran kredit investasi di periode laporan yang tumbuh 2,53% (yoy) lebih tinggi dari pertumbuhan triwulan sebelumnya 17,72% (yoy) Impor Barang Modal gimpor Barang Modal US$ Juta %, yoy II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II (5) (1) (15) Kredit Investasi gkredit Investasi - Skala Kanan Rp Triliun %, yoy I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II (1) Sumber: Bea Cukai, diolah Grafik 1.8. Impor Barang Modal Sumber: Laporan Bank, diolah Grafik 1.9. Penyaluran Kredit Investasi Selain dari sektor pemerintah, investasi yang dilakukan oleh pihak swasta juga meningkat. Investasi swasta yang meningkat di triwulan II 216 terlihat dari rencana proyek baru yang mengalami peningkatan. Berdasarkan data BCI Asia, jumlah proyek infrastruktur yang dimulai di triwulan II 216 didorong pembangunan gedung baru dan perumahan. Proyek infrastruktur swasta yang dimulai pada triwulan laporan yaitu pembuatan power plant sebesar 62,5 MW di Kab. Jeneponto. Sementara itu, komponen perubahan inventori hasil olahan industri nikel tumbuh melambat. Komponen perubahan inventori di periode pelaporan terkontraksi -32,31% (yoy), lebih rendah dari pertumbuhan posisi inventori nikel sebesar 134,69% (yoy) di triwulan I 216, yang disebabkan harga nikel yang mulai menguat dan mengakibatkan penjualan nikel pada triwulan laporan meningkat, sehingga perusahaan utama nikel di Sulsel mendorong produksi. Rp Milyar 16, 14, 12, 1, 8, 6, 4, 2, - Nilai Proyek Infrastruktur Baru Pertumbuhan Nilai Proyek - Skala Kanan I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II Posisi Stok gperubahan Stok - Skala Kanan US$ Juta %, yoy I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II ,5 2, 1,5 1, 5 (5) Sumber: BCI Asia, diolah Grafik 1.1. Nilai Proyek Investasi Infrastruktur Sulsel Sumber: Produsen, diolah Grafik Perubahan Inventori Produsen Nikel Proyek-proyek multiyears masih akan menjadi motor investasi di Sulsel. Banyaknya proyek infrastruktur berskala besar di Sulsel diperkirakan masih akan menjadi motor pertumbuhan investasi di Sulsel, yang salah satunya adalah pembangunan Makassar New Port(MNP). Menurut informasi anekdotal dan FGD yang dilakukan, perkembangan MNP Tahap 1 A sudah mencapai 3% yaitu pembangunan dermaga, dengan dana mencapai Rp1,8 triliun hingga tahun 218. Selain itu, terdapat beberapa tahapan MNP dengan total investasi mencapai lebih dari Rp8, yaitu: Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

20 Tahap IA Tahap IB dan IC Tahap II Panjang Dermaga 32 m Lapangan Kontainer 16 Ha Kapsitas 5. TEUs Total Investasi Rp. 1,8 T panjang dermaga IB 33 m Panjang Dermaga IC 35 m Kapasitas 1 juta TEUs Total Investasi Rp 7,5 T Panjang Dermaga 1. m Luas 112 ha Kapsitas 2 Juta TEUs Sumber: berbagai sumber, diolah Sampai dengan saat ini, realisasi proyek Kereta Api Makassar Parepare mencapai 2 Km dan masih terkendala pembebasan lahan, sementara pembangunan smelter oleh beberapa perusahaan diperkirakan mulai produksi pada bulan Oktober 216, sedangkan Pembangkit Listrik Tenaga Angin dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap dalam tahap pengembangan. Tabel 1.2. Perkembangan Proyek Multiyears di Sulsel No Nama Proyek Rencana Pengembangan Perkembangan Terakhir 1 Proyek KA Makassar- Parepare Merupakan bagian dari proyek perkeretaapian Trans Sulawesi ditargetkan akan sepanjang 2. km dari Makassar ke Manado. Rencana pembangunan 23 stasiun darim total panjang 145,23 km 2 PLTU Jeneponto tahap II Tahap I telah dioperasikan pada tahun 212 Kapasitas PLTU Jeneponto tahap II 2x135 MW (gross capacity) atau 2x125 (net capacity). Rencana pembangunan 18 bulan Nilai proyek (turn key) sebesar Rp 3 triliun 3 Smelter PT. A Total Investasi : 6 Triliun Rupiah Produk utama : Feronikel. Kapasitas Produksi : 1 Juta metrik ton per tahun 4 Smelter PT. B Total Investasi : USD 13 Juta Produk utama : Feronikel. Kapasitas Produksi : 5. metrik ton per tahun 5 Smelter PT. C Total Investasi : USD 3 Juta Produk utama : Feronikel. Kapasitas Produksi : 3 ribu metrik ton per tahun 6 PLT Tenaga Angin Rencana lokasi di Kab. Jeneponto dan Sidrap. Sumber dan APBD Rencana kapasitas 8-25 KW tenaga listrik 7 Pembangunan Underpass Simpang Mandai 8 Pelebaran Jalan Maros- Watampone 9 Pembangunan Elevated Road Segmen I 1 Pembangunan Jalan dan Jembatan Bypass Mamminasata Total Investasi: Rp175 Miliar Underpass: 1.5 M Total Investasi: 125,52 Milyar / 1,85 T (alokasi/kebutuhan) Total Investasi: 169,745 Milyar / 473,954 Milyar (alokasi/kebutuhan) Total Investasi: 251,249 Milyar / T (alokasi/kebutuhan) Konstruksi telah mencapai 1 Km. Pembebasan lahan tahap I sepanjang 3 Km telah selesai 9%. Alokasi anggaran APBD Rp1 milyar - APBN Rp971 milyar Alokasi anggaran APBN Rp1,3 triliun Progres: pemasangan rel kereta api Groundbreaking pada bulan Maret 215 Progress terakhir : Pematangan Lahan Estimasi selesai pembangunan: Februari 216 Estimasi uji coba: Februari 216 Estimasi produksi: April 216 Progress terakhir : Proses Konstruksi Estimasi selesai pembangunan: Februari 216 Estimasi uji coba: Februari 216 Estimasi produksi: Oktober 216 Progress terakhir : Pembebasan Lahan Estimasi produksi : 216 Studi Kelayakan Target selesai: 218 Progress terakhir : Pengeboran Underpass Estimasi Pembangunan: Progress terakhir :1.5 Km Sudah Teraspal dari Target 15, 84 Km Estimasi Pembangunan: Progress terakhir :Land Clearing dan Persiapan Pemancangan Estimasi Pembangunan: Progress terakhir : penimbunan, dan land clearing Estimasi Pembangunan: Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

21 No Nama Proyek Rencana Pengembangan Perkembangan Terakhir 11 Pembangunan Jalan dan Jembatan Middle Ring Road Total Investasi: 219,836 Milyar / 526,98 Milyar (alokasi/kebutuhan) Progress terakhir : land clearing, pembebasan lahan, dan pemasangan batu dan persiapan pembangunan jembatan Estimasi Pembangunan: Sumber: Pelindo, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VI, dan berbagai sumber lainnya Berbagai proyek yang tengah dan akan terus dikembangkan tersebut diharapkan dapat mendukung upaya penciptaan kawasan pertumbuhan ekonomi baru khususnya di kawasan Mamminasata, guna mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Sulsel kedepan (lihat Boks 1. A). Selain berbagai proyek tersebut di atas, juga terdapat proyek yang terkait dengan ketahanan pangan. Pada dasarnya proyek ini merupakan proyek multiyear yang diperkirakan akan turut mendorong ekonomi Sulsel ke depan, antara lain Bendung Baliase, Bendungan Karalloe, Bendungan Paselloreng, dan Waduk Tunggu Nipa Nipa.Total anggaran proyek multiyear bersumber dari APBN diperkirakan sebesar Rp1,9 triliun. Tabel 1.3. Perkembangan Proyek Multiyears di Sulsel No Nama Proyek Rencana Pengembangan Perkembangan Terakhir 1 Bendung Baliase Lokasi : Kabupaten Luwu Utara Target : Desember 215 Desember 219 APBN : ±2 Miliar Ags 215: Penandatanganan MOU Sept 215 : Pembebasan Lahan Des 215: Persiapan pembangunan (tenaga kerja, peralatan, dan material) 2 Bendungan Karalloe Lokasi : Kabupaten Gowa Target : Desember 213 Desember 217 APBN : ±5 Miliar 3 Bendungan Paselloreng Lokasi : Kabupaten Wajo Target : Juni 215 Desember 219 APBN : ±8 Miliar Groundbreaking pada bulan Maret : Pengadaan lahan (19,32 ha dari 215 ha) Progress terakhir : Pembebasan Lahan Estimasi Pembangunan: Waduk Tunggu Nipa Nipa Lokasi : Kabupaten Maros dan Gowa Target : Desember 215 Desember 217 APBN : ±4 Miliar Sumber: Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang Progress terakhir : Pembebasan Lahan Estimasi Pembangunan: Ekspor dan Impor Ekspor Sulsel di triwulan II 216 mengalami perbaikan meski masih terkontraksi. Nilai ekspor terkontraksi -27,6% (yoy), membaik dibandingkan dengan kontraksi di triwulan I 216 yang tercatat mencapai -4,78% (yoy). Kontraksi ekspor terjadi baik pada ekspor dengan tujuan luar negeri (LN) maupun domestik. Ekspor LN membaik dari triwulan I 216 yang tercatat -32,27% (yoy) menjadi -24,81% (yoy) di triwulan II 216. Sedangkan ekspor dengan tujuan dalam negeri (DN) terkontraksi -28,85% (yoy) membaik dari triwulan I 216 yang terkontraksi lebih dalam -44,5% (yoy). Membaiknya ekspor DN diperkirakan karena pasokan barang yang terjaga di triwulan II 216 sehingga stock diperkirakan masih ada. Hal ini juga terkonfirmasi dari volume muat barang dalam negeri yang tercatat di Pelabuhan Makassar relatif kecil dan masih mengalami kontraksi cukup dalam -16,72% (yoy), dari triwulan I 216 yang tercatat tumbuh 9,21% (yoy). Volume Ekspor gvolume Ekspor - Skala Kanan gnilai Ekspor - Skala Kanan Ribu Ton 6 %; yoy (5) (1) II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II ,6 1,4 1,2 1, Volume Muat Barang Dalam Negeri gvolume Muat - Skala Kanan Ribu Ton %; yoy (1) (2) (3) I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II Sumber: Bea Cukai, diolah Grafik Volume Ekspor Nonmigas Sumber: Kantor Administrasi Pelabuhan Grafik Volume Barang yang Dimuat Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

22 Membaiknya kinerja ekspor (LN) tidak lepas dari meningkatnya kinerja ekspor Nikel. Hal ini dikarenakan pangsa ekspor Nikel menyumbang 53,5% dari total ekspor LN Sulsel di triwulan II 216. Nilai ekspor nikel tercatat mengalami kontraksi - 3,16% (yoy) sedikit membaik dibandingkan dengan kontraksi di periode sebelumnya yang mencapai -48,69% (yoy). Peningkatan nilai ekspor ini tidak terlepas dari membaiknya harga komoditas nikel di pasar internasional. Sepanjang triwulan II 216, harga nikel telah terkoreksi -1,8% (yoy) Ekspor Nikel Matte gekspor - Skala Kanan Juta USD %, yoy I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II (2) (4) (6) (8) 25,. 2,. 15,. 1,. 5,.. Nikel $/mt %, yoy gharga - Skala Kanan I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III* 4% 3% 2% 1% % -1% -2% -3% -4% -5% *) Data Sementara Sumber: Bea Cukai, diolah Grafik Nilai Ekspor Nikel Matte Sumber: World Bank *) Data hingga Juli 216 Grafik Perkembangan Harga Nikel Selain nikel, nilai ekspor beberapa komoditas unggulan Sulsel juga mengalami perbaikan. Nilai ekspor komoditas udang, rumput laut dan biji kakao mengalami peningkatan, meskipun pertumbuhan nilai ekspor rumput laut dan biji kakao masih mengalami kontraksi. Pertumbuhan ekspor udang meningkat dari 6,57% (yoy) di triwulan I 216 menjadi 34,7% (yoy) di triwulan II 216. Sementara pertumbuhan nilai rumput laut dan biji kakao masing-masing menjadi -34,97% (yoy) dan 31,42% (yoy) dari 35,2% (yoy) dan 48,8% (yoy) di triwulan I 216. Membaiknya permintaan dari Negara mitra dagang menjadi salah satu pendorong kinerja ekspor komoditas ini. Kinerja perekonomian negara-negara mitra dagang Sulsel membaik meski masih belum pulihsepenuhnya. Bila mengacu pada Purchasing Manager Index (PMI) yang dirilis oleh Markit Survey, diketahui bahwa negara mitra dagang utama Sulsel seperti Eropa dan Korea Selatan mengalami peningkatan, meskipun Jepang, Amerika Serikat dan Tiongkok menunjukkan penurunan kinerja sektor manufaktur di triwulan II 216. Untuk arah pada awal triwulan III 216, kinerja sektor manufaktur Jepang, Amerika Serikat dan Tiongkok menunjukkan peningkatan. 15% YOY Jepang Tiongkok AS Zona Eropa Korea Selatan 1% 5% Indeks % -5% -1% -15% *) Data Sementara I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II * I II III IV I II III IV I II III IV I II III* Rumput Laut Olahan Kakao Biji Kakao Udang *) Data hingga Juli 216 Sumber: Bea Cukai, diolah Grafik Pertumbuhan Nilai Ekspor Komoditas Unggulan Sumber: Bloomberg Grafik Purchasing Managers Index Di sisi lain, impor Sulsel di triwulan II 216 mengalami sedikit peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya, dan masih dalam fase kontraksi. Impor di triwulan II 216 tercatat mengalami kontraksi -33,32% (yoy) lebih tinggi dibandingkan kondisi di triwulan sebelumnya yang tercatat mengalami kontraksi -37,13% (yoy). Peningkatan impor terkonfirmasi dari peningkatan impor luar negeri (LN) yang didominasi oleh komponen non migas. Nilai impor LN tercatat tumbuh 4,62% (yoy) meningkat cukup signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi -15,72% (yoy). Di sisi lain, impor dalam negeri (DN) tercatat tumbuh negatif -39,35% (yoy) sedikit lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang terkontraksi -39,94%. Impor dalam negeri sebagian besar diperkirakan berasal dari antar daerah melalui 16 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

23 jalur laut, mengingat volume kegiatan bongkar barang dalam negeri di pelabuhan Makassar meningkat. Volume bongkar hingga triwulan I 216 mencapai 1,4 juta ton atau tumbuh 5,9% (yoy) lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan di triwulan sebelumnya -5,8% (yoy) Total Volume Impor Juta Ton gvolume Impor (yoy) - Skala Kanan gnilai Impor (yoy) - Skala Kanan %, yoy II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II (5) (1) 2, 1,8 1,6 1,4 1,2 1, Volume Bongkar Barang Dalam Negeri Ribu Ton gvolume Bongkar - Skala Kanan %; yoy I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II (5) (1) (15) (2) Sumber: Bea Cukai, diolah Grafik Volume Impor Nonmigas Sumber: Kantor Administrasi Pelabuhan Grafik Volume Barang yang Dibongkar Struktur ekspor maupun impor luar negeri Sulsel di triwulan II 216 relatif tidak mengalami perubahan dibandingkan periode sebelumnya. Produk industri pengolahan masih menjadi komoditas yang dominan (73,54%) dalam komposisi barang dari Sulsel yang dijual ke luar negeri, yang kemudian diikuti komoditas pertanian (25,8%). Sementara itu, nilai impor bahan baku tercatat mencapai USD151,6 juta atau 71,98% dari total nilai impor Sulsel di triwulan laporan. Sedangkan impor barang modal dan barang konsumsi memiliki pangsa masing-masing 27,77% dan,24%..66% 25.8% Pangsa Triwulan II 216 Komoditas Pertanian: US$71,3 Juta.24% 27.77% Pangsa Triwulan II 216 Barang Modal: US$58,48 juta Bahan Baku: US$151,6 juta 73.54% Komoditas Industri: US$23,2 Juta Komoditas Pertambangan: US$1,8 Juta 71.98% Barang Konsumsi: US$,52 juta Sumber: Bea Cukai, diolah Grafik 1.2. Pangsa Ekspor Menurut Komoditas Sumber: Bea Cukai, diolah Grafik Pangsa Impor Menurut Kategori Jika dilihat secara lebih rinci, nikel matte masih merupakan komoditas dengan pangsa terbesar dalam struktur ekspor, sedangkan pesawat udara menjadi penyumbang terbesar dalam impor di triwulan II 216.Pangsa nilai ekspor komoditas nikel matte mencapai 53,5% dalam struktur ekspor luar negeri Sulsel,yang kemudian diikuti oleh ganggang laut dan biji coklat dengan pangsa masing-masing 8,69% dan 7,85%. Untuk impor luar negeri, pangsa nilai impor pesawat udara dan bagiannya mencapai 38,86% dari total impor Sulsel di triwulan I 216. Disusul kemudiangandum (14,71%) dan mesin (boilers) penghasil tenaga uap (7,37%). Tabel 1.4. Peringkat Ekspor Menurut Komoditas Nilai Ekspor No Komoditas (HS) Triwulan II 216 Pangsa (USD) 1 NIKEL 45,541, % 2 GANGGANG LAUT 7,462, % 3 BIJI COKLAT 6,736, % 4 IKAN OLAHAN 4,649, % 5 KOPI 4,399, % 6 UDANG SEGAR/BEKU 4,255, % 7 IKAN LAINNYA 2,17, % 8 INDUSTRI LAINNYA 1,888, % 9 KAYU LAPIS 1,836, % 1 BUAH/SAYURAN OLAHAN 1,234, % Sumber: Bea Cukai, diolah Tabel 1.5. Peringkat Impor Menurut Komoditas Nilai Impor No Komoditas (HS) Triwulan II 216 Pangsa (USD) 1 PESAWAT UDARA DAN BAGIANNYA 6,99, 38.86% 2 GANDUM 22,744, % 3 MESIN (BOILERS) PENGHASIL TENAGA UAP 11,393, % 4 KAPAL LAUT DAN SEJENISNYA 1,187, % 5 MAKANAN TERNAK LAINNYA 8,512, % 6 PERALATAN (MESIN) PEMANAS DAN PENDINGIN 8,29, % 7 MESIN LAINNYA UNTUK INDUSTRI TERTENTU 6,62, % 8 BESI/BAJA 4,924, % 9 PRODUK KERAMIK 2,285, % 1 PUPUK 1,159,145.75% Sumber: Bea Cukai, diolah Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

24 Berdasarkan negara tujuan, Jepang merupakan negara tujuan utama ekspor Sulsel, sedangkan Tiongkok merupakan negara yang paling besar penyedia barang-barang yang diimpor Sulsel.Di triwulan II 216, nilai ekspor Sulsel ke Jepang mencapai 53,29% dari total ekspor Sulsel, yang kemudian diikuti oleh Amerika Serikat (1,2%), dan Tiongkok (9,55%). Sementara dari sisi impor, sebagian besar barang yang masuk ke Sulsel berasal dari Tiongkok yang mencapai 32,82% dari total impor Sulsel, yang kemudian diikuti oleh Rusia (28,71%) dan Canada (9,46%). Tabel 1.6. Negara Tujuan Utama Ekspor Total Ekspor No Negara Asal Pangsa FOB (USD) 1 JAPAN 147,252, % 2 UNITED STATES OF AMERICA 28,195, % 3 R.R.C. 26,396, % 4 MALAYSIA 22,614, % 5 VIETNAM 8,166, % 6 NETHERLANDS 8,81, % 7 SOUTH KOREA 4,796, % 8 SINGAPORE 4,663, % 9 HONGKONG 3,246, % 1 TIMOR LESTE 2,114,672.77% Sumber: Bea Cukai, diolah Tabel 1.7. Negara Asal Utama Impor No Negara Asal Total Impor CIF (USD) Pangsa 1 R.R.C. 69,112, % 2 RUSSIA 6,452, % 3 CANADA 19,925, % 4 ARGENTINA 14,891, % 5 UKRAINE 8,434, % 6 AUSTRALIA 7,26, % 7 UNITED STATES OF AMERICA 6,645, % 8 SINGAPORE 4,592, % 9 FRANCE 3,447, % 1 MALAYSIA 3,261, % Sumber: Bea Cukai, diolah Defisit neraca perdagangan Sulsel menurun.defisit neraca perdagangan Sulsel pada triwulan II 216 mencapai Rp3,29 triliun, lebih rendah dari periode sebelumnya yang mencapai Rp3,64triliun. Defisit neraca perdagangan pada triwulan berjalan terjadi dikarenakan tingginya impor barang-barang konsumsi seperti gandum dan makanan ternak dan impor barang modal modal seperti pesawat dan komponennya, sertabarang-barang yang dipersiapkan untuk mendukung proyek pembangunan infrastruktur Sulsel di tahun 216 seperti besi/baja, peralatan sipil dan konstruksi. 25, 2, 15, 1, 5, (5,) (1,) (15,) (2,) (25,) Rp Miliar Ekspor ADHB Impor ADHB Neraca Perdagangan Bersih - Skala Kanan I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II (2,) (4,) (6,) (8,) (1,) (12,) (14,) (16,) Rp Miliar (2) (4) (6) US$ Juta Ekspor Luar Negeri Nonmigas Impor Luar Negeri Nonmigas Neraca Perdagangan Bersih Luar Negeri Nonmigas - Skala Kanan US$ Juta I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II (1) Sumber: BPS Grafik Neraca Perdagangan Bersih Sumber: Bea Cukai, diolah Grafik Neraca Perdagangan Bersih Luar Negeri 1.3. Sisi Lapangan Usaha Peningkatan pertumbuhan di beberapa sektor ekonomi utama Sulsel menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi di triwulan II 216. Tiga sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Sektor jasa keuangan, pengadaan listrik dan gas, dan konstruksi yang tercatat masing-masing tumbuh 17,39% (yoy); 17,24% (yoy); dan 1,8% (yoy). Sektor lain yang tercatat tumbuh meningkat adalah sektor pertanian, kehutanan dan perikanan (3,68%; yoy); pertambangan dan penggalian (5,3%; yoy); perdagangan besar dan eceran, dan reparasi mobil dan sepeda motor (1,61%; yoy); pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah daur ulang (6,77%; yoy); administrasi pemerintahan, dan pertahanan dan jaminan sosial wajib (8,94%; yoy); dan jasa pendidikan (9,19%; yoy). Kinerja sektor industri pengolahan, sebagai salah satu sektor unggulan Sulsel, tumbuh melambat di triwulan II 216. Sektor industri pengolahan tumbuh 8,64% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan di triwulan sebelumnya 13,14% (yoy). Sektor lain yang tumbuh melambat yaitu sektor transportasi dan pergudangan dari 12,86% (yoy) menjadi 9,19% (yoy), penyediaan akomodasi dan makan minum dari 9,55% (yoy) menjadi 8,12% (yoy), informasi dan komunikasi dari 8,18% (yoy) menjadi 8,5% (yoy), real estate dari 7,4% (yoy) menjadi 6,93% (yoy), jasa perusahaan dari 7,89% (yoy) 18 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

25 menjadi 7,73% (yoy), jasa kesehatan dan kegiatan sosial dari 9,55% (yoy) menjadi 8,38% (yoy), dan jasa lainnya dari 9,71% (yoy) menjadi 8,9% (yoy). Selanjutnya, pertumbuhan ekonomi di triwulan III 216 diperkirakan dalam tren menurun.penurunan trentersebut di sebabkan oleh melambatnya sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, dan industri pengolahan. Melambatnya sektor pertanian, kehutanan dan perikanan karena musim tanam yang terjadi pada triwulan III 216 dan fenomena La Nina yang menghambat kinerja sektor perikanan. Sementara itu, industri pengolahan meski tumbuh melambat namun relatif stabil berdasarkan pola historisnya. Meskipun demikian, pertumbuhan ekonomi tetap diperkirakan tumbuh dalam kisaran 7,6%-8,% di triwulan III 216 disebabkan tetap terjaganya sektor perdagangan, transportasi dan penyediaan akomodasi dan makan minum akibat aktivitas yang terjadi di triwulan III 216 seperti Idul Fitri dan Idul Adha. Sektor konstruksi juga diperkirakan meningkat sejalan dengan realisasi belanja modal pemerintah yang tinggi pada triwulan III dan IV 216. Sektor lain yang diperkirakan meningkat adalah pertambangan, pengadaan air, real estate, dan jasa pendidikan. Sumber: Badan Pusat Statistik *) Angka sementara **) Angka sangat sementara Tabel 1.8. Pertumbuhan Ekonomi Menurut Sektor Ekonomi Sektor Berdasarkan Tahun Dasar * 216** I II III IV TOTAL I II III IV TOTAL I II A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan B Pertambangan dan Penggalian C Industri Pengolahan D Pengadaan Listrik dan Gas E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang F Konstruksi G Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor H Transportasi dan Pergudangan I Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum J Informasi dan Komunikasi K Jasa Keuangan dan Asuransi L Real Estate M,N Jasa Perusahaan O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib P Jasa Pendidikan Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial R,S,T,U Jasa lainnya PDRB Lainnya, 36.68% Triwulan II 216 Perdagan gan, 13.28% Konstruksi 12.47% Pertanian, 23.81% Industri Pengolahan 13.76% Apabila dilihat dari andil terhadap PDRB, sektor Pertanian masih menjadi penyumbang terbesar di triwulan II 216. Pangsa Sektor Pertanian terhadap total PDRB di periode pelaporan mencapai 23,81%. Sektor lainnya yang menjadi tumpuan perekonomian Sulsel adalah sektor Industri Pengolahan,Perdagangan, dan Konstruksi, yang masing-masing memiliki pangsa terhadap total PDRB di atas 1%. Sementara untuk sektor non utama merupakan gabungan dari sektor lainnya. Sumber: Badan Pusat Statistik Grafik Pangsa PDRB Sulsel Menurut Lapangan Usaha (ADHB) Lapangan Usaha Pertanian, Kehutananan, dan Perikanan. Panen raya mendorong pertumbuhan di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan.panen raya yang terjadi pada bulan Maret April mendorong pertumbuhan di sektor pertanian.panen yang terjadi di periode awal triwulan II 216 mendorong produksi beras yang dihasilkan Sulsel.Meskipun tumbuh meningkat, kinerja sektor pertanian, kehutanan dan perikanan tertahan di subsektor perikanan. Tertahannya pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan disebabkan oleh perlambatan kinerja di subsektor perkebunan.volume ekspor komoditas kakao sebagai salah satu indikator subsektor perkebunan masih mengalami penurunan dari -38,8% (yoy) di triwulan I 216 menjadi -42,19% (yoy) di triwulan II 216. Secara nilai, total ekspor kakao tercatat USD33,24 juta yang berarti juga masih menunjukkan kontraksi -48,2% (yoy). Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

26 Juta Ton Juta Ton 35 YOY 2% 3 15% 25 1% 2 5% 15 % 1-5% 5-1% - -15% I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II Ekspor Kakao dan Produk Olahannya Pertumbuhan - Skala Kanan Sumber: Bea Cukai, diolah Grafik Volume Ekspor Kakao dan Produk Olahannya Kakao gharga - Skala Kanan 3.5 $/kg %, yoy I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III* *) Data hingga Juli 216 Sumber: World Bank Grafik Harga Internasional Kakao 4% 3% 2% 1% % -1% -2% -3% -4% Di sisi lain, perbaikan kinerja sub sektor perikanan menjadi faktor penahan perlambatan di sektor pertanian. Salah satu indikator yang menunjukkan perbaikan kinerja di subsektor perikanan adalah peningkatan ekspor komoditas perikanan, baik dari sisi volume maupun nilai. Secara volume, ekspor meningkat cukup signifikan 47,74% (yoy) pada triwulan II 216, lebih tinggi dari periode sebelumnya (41,6% yoy), sementara secara nominal nilaiekspor meningkat, dengan pertumbuhan tahunan18,14% (yoy) lebih tinggi dibandingkan triwulan I 216 yang tumbuh 14,97% (yoy). Peningkatan ekspor diperkirakan terjadi akibat dampak positif dari berbagai kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah dan juga pengaruh cuaca yang relatif baik di bulan April-Mei, sehingga hasil tangkapan ikan juga meningkat YOY I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II 6% 5% 4% 3% 2% 1% % -1% -2% -3% Juta USD YOY II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II 3% 2% 1% % -1% -2% -3% -4% Ekspor Ikan Pertumbuhan - Skala Kanan Ekspor Ikan Pertumbuhan - Skala Kanan Sumber: Bea Cukai, diolah Grafik Volume Ekspor Komoditas Ikan Sumber: Bea Cukai, diolah Grafik Nilai Ekspor Komoditas Ikan Pertumbuhan di sektor pertanian Sulsel terkonfirmasi oleh pertumbuhan kredit yang disalurkan perbankan ke sektor ini yang juga meningkat.di triwulan II 216, kredit yang disalurkan ke sektor pertanian tumbuh 47,3% (yoy) atau mencapai Rp2,62 triliun. Angka pertumbuhan ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh 41,37% (yoy) Pertanian gkredit Pertanian Rp Triliun %, yoy I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II Grafik Perkembangan Kredit di Sektor Pertanian 2 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

27 Ribu Ribu Lapangan Usaha Pertambangan dan Penggalian Lapangan usaha pertambangan dan penggalian tumbuh meningkat. Lapangan usaha ini tercatat tumbuh 5,3% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan di triwulan sebelumnya 2,55% (yoy). Meskipun nilai dan volume pertambangan mengalami perbaikan, namun masih tumbuh negatif. Total nilai ekspor pertambangan mencapai USD 1,83 juta atau tumbuh -19,44% (yoy) pada triwulan II 216, dari -5,12% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Sementara volume ekspor pertambangan tumbuh dari -5,37% (yoy) menjadi -15,37% (yoy) pada triwulan II 216 atau sebanyak 13,6 juta ton. Ekspor Pertambangan gekspor - Skala Kanan Ekspor Pertambangan gekspor - Skala Kanan Juta Ton %, yoy I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II (5) (1) (15) Juta USD %, yoy I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II (5) (1) Sumber: Bea Cukai, diolah Grafik 1.3. Volume Ekspor Pertambangan Sumber: Bea Cukai, diolah Grafik Nilai Ekspor Pertambangan Volume produksi hasil tambang masih mengalami perbaikan dibandingkan triwulan sebelumnya.harga komoditasnikel yang membaik menjadi salah satu faktor utama membaiknya kinerja sektor pertambangan. Rata-rata harga komoditas Nikel di triwulan II 216 berada pada level USD8.815 per metrik ton turun -32,48% (yoy) dibandingkan rata-rata harga di triwulan sebelumnya yang turun -4,89% (yoy). Hampir seluruh komoditas tambang termasuk nikel terus mengalami penurunan harga sejak pertengahan tahun 214. Produksi Nikel dalam Matte (Ton Metrik) yoy (%) - Skala Kanan Penjualan Nikel dalam Matte (Ton Metrik) yoy (%) - Skala Kanan I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II Sumber: Industri Pengolahan Nikel Grafik Produksi Nikel dalam Matte Sumber: Industri Pengolahan Nikel Grafik Penjualan Nikel dalam Matte Peningkatan sektor pertambangan dan penggalian terjadi seiring dengan membaiknya kinerja produksi nikel.total produksi Nikel dalam Matte mencapai sekitar metrik ton atau tumbuh,58% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan pada periode sebelumnya yang terkontraksi -3,33% (yoy). Sejalan dengan hasil produksi yang meningkat dan harga nikel di pasar internasional yang membaik, maka nilai perolehan hasil penjualan Nikel dalam matte mencapai 6,52% (yoy) dari sebelumnya terkontraksi -8,94% (yoy). Sejalan dengan kinerja nikel yang membaik, kredit di sektor pertambangan menunjukkan pertumbuhan positif.di periode triwulan II 216, kredit yang disalurkan perbankan ke sektor tambang tumbuh 4,81% (yoy). Pertumbuhan yang meningkat cukup tinggi menjadi sinyal positif dari perkembangan usaha di sektor ini, setelah pada triwulan sebelumnya tumbuh 1,5% (yoy). Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

28 4% 3% 2% 1% % -1% -2% -3% -4% -5% gyoy I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III* Nikel Timah Seng Timah Hitam *) Data hingga Juli Pertambangan gkredit Pertambangan Rp Triliun %, yoy I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II (2) (4) Sumber: World Bank Grafik Harga Komoditas Tambang Lapangan Usaha Industri Pengolahan Sumber: LBU, diolah Grafik Kredit Sektor Pertambangan Lapangan usaha industri pengolahan tumbuh melambat. Sektor industri pengolahan pada triwulan II 216 tumbuh 8,63% (yoy), lebih rendah dari triwulan I 216 yang mencapai 13,14% (yoy). Industri Mikro dan Kecil (IMK) ditengarai penahan pertumbuhan sektor ini. Hal ini terindikasi dari penurunan Indeks Industri Mikro dan Kecil (IMK) yang tumbuh 5,11% (yoy) lebih rendah dari triwulan I 216 yang mencapai 6,24% (yoy). Sektor industri pengolahan yang melambat ditahan oleh kinerja Industri Besar dan Sedang (IBS) yang meningkat di triwulan II 216 menjadi 6,62% (yoy) dari semula tumbuh 2,32% (yoy). IMK IBS Ekspor Industri gekspor - Skala Kanan (5) (1) (15) %, yoy I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II Juta USD %, yoy I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II (2) (4) (6) Sumber: Badan Pusat Statistik Grafik Pertumbuhan Industri Sumber: Bea Cukai, diolah Grafik Nilai Ekspor Hasil Industri Sejalan dengan kinerja industri pengolahan yang menurun, kredit yang disalurkan perbankan ke sektor ini juga melambat. Kredit yang disalurkan ke industri pengolahan tercatat tumbuh 33,71% (yoy) atau Rp8,67 triliun lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 36,95% (yoy). Perlambatan diindikasikan masih tersedianya stok di periode sebelumnya, sehingga perusahaan industri pengolahan belum meningkatkan produksinya di triwulan II 216, dan berdampak pada kebutuhan modal kerjanya juga belum begitu besar Industri Pengolahan gkredit Industri Pengolahan Rp Triliun %, yoy I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II (1) (2) (3) (4) Sumber: LBU Grafik Kredit Industri Pengolahan Ekspor komoditas hasil industri justru mengalami perbaikan. Nilai ekspor hasil industri di triwulan II 216 meningkat meski masih dalam fase terkontraksi dari -35,35% (yoy) pada triwulan I 216 menjadi -29,48% (yoy) atau sebesar USD23,2 juta. 22 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

29 1.3.4 Lapangan Usaha Pengadaan Listrik dan Gas Kinerja lapangan usaha pengadaan listrik dan gas tumbuh positif. Lapangan usaha ini tercatat mengalami peningkatan 17,24% (yoy) pada triwulan laporan. Angka ini lebih baik dibandingkan periode sebelumnya yang tercatat tumbuh 7,69% (yoy). Pertumbuhan sektor ini terkonfirmasi dari informasi anekdotal dimana PT PLN Wilayah Sulselrabar meramalkan pertumbuhan pengguna listrik industri mencapai 1%.Selain itu, sektor industri pengolahan yang tumbuh cukup baik juga menjadi salah satu faktor tetap menguatnya sektor listrik dan gas.meskipun demikian, penyaluran kredit ke sektor Listrik, Gas dan Air (LGA) mengalami perlambatan. Perlambatan dikarenakan pelaksanaan beberapa proyek sektor listrik baru akan dimulai pada triwulan III Rp Triliun Listrik, Gas, dan Air gkredit Listrik, Gas, dan Air %, yoy I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II (5) Sumber: LBU Grafik Kredit Sektor Listrik, Gas, dan Air Lapangan Usaha Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah Daur Ulang Lapangan usaha pengadaan air tercatat mengalami pertumbuhan. Lapangan usaha ini tumbuh 6,77% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,49% (yoy)., Fenomena La Nina yang sudah dirasakan lebih awal 1, bulan Mei-Juni 216, menambah pasokan air. Selain itu, peningkatan ini diperkirakan juga terkait dengan komponen pengelolaan sampah, dimana Kota Makassar telah menerapkan Sistem Pengolahan Sampah dankemudian pengelolaan sampah tersebut akan menjadi pembangkit listrik berbasis sampah Lapangan Usaha Konstruksi Pada triwulan II 216, Lapangan Usaha Konstruksi tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya, seiring dengan siklus belanja pemerintah yang meningkat. Di triwulan laporan, sektor ini tumbuh 1,8% (yoy) lebih tinggi dari pertumbuhan di periode sebelumnya yang mencapai 9,32% (yoy). Meningkatnya sektor konstruksi terkonfirmasi dari realisasi belanja modal pemerintah yang meningkat. Hingga akhir periode triwulan II 216, realisasi belanja APBD mencapai Rp2,47 triliun atau 34,28% dari pagu anggaran. Angka ini lebih tinggi dibandingkan realisasi di periode yang sama tahun lalu yang mencapai 33,55%. Di sisi lain, realisasi belanja APBN meningkat sebesar Rp7,36 triliun, lebih tinggi dari triwulan I 216 sebesar Rp5,49 triliun. Jika dicermati lebih lanjut, realisasi belanja modal APBN dan APBD yang masing-masing mencapai 26,84% (Rp1,42 triliun) dan 9,31% (Rp81,69 miliar) mampu mendorong pertumbuhan sektor ini. 6% % YOY Semen 6% 5% % YOY Bahan Konstruksi dari Logam 5% 4% 3% 2% 4% 3% 2% 1% 1% % -1% I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III* *) Data hingga Juli 216 Sumber: Survei Penjualan Eceran Grafik 1.4. Penjualan Eceran Semen % I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III* *) Data hingga Juli 216 Sumber: Survei Penjualan Eceran Grafik Penjualan Eceran Bahan Konstruksi dari Logam 1 BMKG memperkirakan Fenomena La Nina akan terjadi pada bulan Juli-September, namun sejak akhir Mei-Juli kemarau basah sudah dirasakan di Sulsel Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

30 Peningkatan sektor konstruksi terkonfirmasi oleh hasil Survei Penjualan Eceran (SPE).Indeks Penjualan Eceran (IPE) bahan konstruksi dari logam tumbuh meningkat dari 44,75% (yoy) menjadi 47,74% (yoy) di triwulan laporan. Diperkirakanbahan konstruksi dari logam untuk proyek jalur Kereta Api Makassar-Parepare yang sudah mencapai 2 Km. Di sisi lain, indeks penjualan eceran semen tumbuh 46,34% (yoy), lebih rendah dari pertumbuhan periode sebelumnya 5,84% (yoy). Sejalan dengan IPE Semen, realisasi pengadaan semen di triwulan II 216 mencapai 547 ribu, tumbuh 11,81% (yoy) lebih rendah dibandingkan periode triwulan I 216 yang tumbuh 14,63% (yoy). Sementara penyaluran kredit ke sektor konstruksi tumbuh melambat di angka 1,45% (yoy), dari triwulan I 216 yang tercatat 11,9% (yoy) Ribu Ton Realisasi Pengadaan Semen Sulsel (Ton) grealisasi - Skala Kanan %, yoy I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II (5) Konstruksi gkredit Konstruksi Rp Triliun %, yoy I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II Sumber: Asosiasi Semen Indonesia Grafik Pengadaan Semen Sumber: Laporan Bank, diolah Grafik Kredit kepada Sektor Konstruksi Lapangan Usaha Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor Lapangan usaha perdagangan besar dan eceran tercatat tumbuh meningkat.di triwulan laporan, lapangan usaha ini tumbuh 1,61% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan di periode sebelumnya yang tercatat 9,27% (yoy). Pertumbuhan sektor perdagangan juga terkonfirmasi dari hasil Survei Penjualan Eceran, terutama untuk penjualan produk di kelompok bahan barang budaya dan rekreasi seperti mainan anak-anak dan barang lainnya seperti barang kerajinan, pakaian jadi, alas kaki dan perlengkapannya, tas, dompet, koper dan ransel, dan LPG untuk rumah tangga. Meningkatnya aktivitas masyarakat pada bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri, serta liburan sekolah mendorong sektor ini.meskipun pertumbuhan penyaluran kredit ke sektor ini menunjukkan arah sebaliknya. Kredit ke sektor perdagangan tercatat mencapai Rp32,13 triliun atau tumbuh 12,43% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan di triwulan I 216 yang tumbuh 12,93% (yoy) Perdagangan gkredit Perdagangan Rp Triliun %, yoy I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II Bahan Bakar Kendaraan Bermotor %YOY 4% Barang Lainnya Barang Budaya & Rekreasi 3% 2% 1% % -1% I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III* -2% % -4% *) Data hingga Juli 216 Sumber: Laporan Bank, diolah Grafik Perkembangan Kredit Perdagangan Sumber: Survei Penjualan Eceran Grafik Penjualan Barang Eceran Riil Lapangan Usaha Transportasi dan Penggudangan Lapangan transportasi dan penggudangan tumbuh melambat di triwulan laporan. Lapangan usaha ini tercatat tumbuh 9,19% (yoy), lebih rendah dari triwulan sebelumnya 12,86% (yoy). Hal ini searah dengan penyaluran kredit ke sektor pengangkutan tercatat tumbuh positif 3,87% (yoy), setelah pada periode sebelumnya tumbuh,9% (yoy). Penyaluran kredit pengangkutan juga tumbuh melambat meski relatif stabil mencapai 3,84% (yoy) pada triwulan II 216, lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang mencapai 3,87% (yoy). 24 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

31 Aktivitas pergudangan mengalami perlambatan. Aktivitas penggudangan melambat seiring dengan turunnya volume bongkar muat barang di pelabuhan Makassar. Tingginya permintaan masyarakat memengaruhi aktivitas pergudangan, sehingga diperkirakan barang yang tiba di pelabuhan akan langsung ke tangan pedagang/konsumen. Sepanjang triwulan II 216, angkasa pura dan otoritas pelabuhan Makassar mencatat adanya perbedaan pola pertumbuhan penumpang.lalulintas penumpang pesawat udara menunjukkan perlambatan, berkebalikan dengan pertumbuhan penumpang laut yang justru mengalami peningkatan meski masih terkontraksi Pengangkutan gkredit Pengangkutan Rp Triliun %, yoy I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II (1) (2) Ribu 1,2 1, Penumpang Penerbangan Domestik (Orang) yoy (%) - Axis Kanan I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II Sumber: Laporan Bank, diolah Grafik Perkembangan Kredit Pengangkutan Sumber: PT Angkasa Pura I Grafik Lalu Lintas Penumpang Pesawat Udara 3,5 3, 2,5 2, 1,5 1, 5 Volume Bongkar Barang Dalam Negeri gtotal Bongkar & Muat Ribu Ton Volume Muat Barang Dalam Negeri %, yoy I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II (5) (1) (15) Kedatangan Dalam Negeri Keberangkatan Dalam Negeri gpenumpang - Skala Kanan Ribu Orang %, yoy (1) (2) (3) I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II Sumber: Otoritas Pelabuhan Makassar Grafik Lalu Lintas Barang di Pelabuhan Makassar Sumber: Otoritas Pelabuhan Makassar Grafik Lalu Lintas Penumpang di Pelabuhan Makassar Lapangan Usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh lebih rendah. Di triwulan laporan lapangan usaha ini tumbuh 8,12% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya 9,55% (yoy). Berlangsungnya bulan ramadhan di periode laporan menjadi faktor utama perlambatan di sektor ini. Masyarakat Sulsel cenderung memilih untuk berbuka puasa di rumah dibandingkan dengan restaurant (makan minum).hal ini terkonfirmasi dari Survey Penjualan Eceran (SPE) pada bahan makanan, makanan jadi dan minuman yang tumbuh melambat Indeks Makanan, Minuman & Tembakau Pertumbuhan - Skala Kanan *) Data hingga Juli 216 Sumber: Survei Penjualan Eceran, diolah Grafik 1.5. Perkembangan Penjualan Pada Komoditas Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau YOY I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III* % 25% 2% 15% 1% 5% % -5% -1% -15% -2% Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

32 Perlambatan kinerja lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum tidak tercermin dari kinerja sektor pariwisata yang tumbuh meningkat.pertumbuhan jumlah kedatangan wisatawan manca Negara mengalami peningkatan yang signifikan. Jumlah kedatangan wisatawan manca Negara di Sulsel mencapai 3.17 orang atau tumbuh 13,6% (yoy) dari periode sebelumnya yang tumbuh terkontraksi -6,7% (yoy). Rata-rata tingkat penghunian kamar hotel berbintang juga mengalami peningkatan dari 36,26% menjadi 41,36%. Menurut hasil liaison, jumlah hotel yang semakin meningkat, telah mendorong pihak hotel menjaring konsumen dengan mengadakan promo dan menekan harga jual kamar. Jumlah Kedatangan Wisman gwisman - Skala Kanan 6. % 6, 5, 4, 3, 2, 1, Orang %, yoy I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II (1) (2) (3) (4) TPK Sulsel I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II Sumber: BPS, diolah Grafik Jumlah Wisatawan Mancanegara Sumber: BPS, diolah Grafik Rata-Rata Tingkat Hunian Kamar Hotel Berbintang Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi Lapangan usaha informasi dan komunikasi tumbuh melambat. Lapangan usaha ini tercatat tumbuh 8,5% (yoy) di periode laporan, lebih rendah dari triwulan I 216 yang tumbuh 8,18% (yoy). Hal ini dikonfirmasi dari hasil Survei Konsumen, pada pengeluaran konsumen sektor transport, komunikasi dan jasa keuangan yang menunjukkan perlambatan dari 175,93 pada triwulan I 216 menjadi 151,5 pada triwulan laporan.perlambatan sektor ini diindikasi pengaruh dari traffic layanan SMS dan suara yang melambat akibat tidak terdapat aktivitas atau event yang besar Lapangan Usaha Jasa Keuangan Lapangan usaha jasa keuangan tumbuh 17,39% (yoy), lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya 9,67% (yoy). Peningkatan kinerja sektor jasa keuangan lebih dipengaruhi oleh kinerja positif perbankan di Sulsel, yang mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Indikator utama yang menguat yaitu dana pihak ketiga (DPK) dan kredit/pembiayaan yang disalurkan. Total DPK mencapai Rp81,67 triliun atau tumbuh 19,% (yoy) lebih tinggi dibandingkan dengan totaldpk pada triwulan sebelumnya Rp78, triliun atau tumbuh 17,87% (yoy). Sementara kredit tercatat tumbuh 14,1% (yoy) menjadi Rp17,62 triliun lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 12,68% (yoy) atau sebesar Rp12, Indeks % YOY I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III* Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan Pertumbuhan - Skala Kanan *) Data hingga Juli 216 Sumber: Survei Konsumen, diolah Grafik Perkembangan Pengeluaran Konsumen Pada Sektor Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan 26 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

33 Lapangan Usaha Real Estate Lapangan usaha real estate juga tercatat melambat. Di periode laporan, lapangan usaha ini tumbuh 6,93% (yoy) lebih rendah dibandingkan pertumbuhan di triwulan sebelumnya yang mencapai 7,4% (yoy). Penurunan di sektor ini sejalan dengan Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang dilakukan oleh KPw BI Sulsel.Pertumbuhan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) melambat di jenis rumah pada tipe kecil dan besar, meski rumah tipe menengah mengalami peningkatan. 12 %, qtq I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II* TOTAL KECIL MENENGAH BESAR Sumber: Survei Harga Properti Residensial, diolah Grafik Perkembangan Indeks Harga Properti Residensial Lapangan Usaha Jasa Perusahaan Lapangan usaha jasa perusahaan tumbuh lebih rendah di periode laporan. Lapangan usaha ini tercatat tumbuh 7,73% (yoy) di triwulan II 216, lebih rendah dari periode sebelumnya yang tecatat 7,89% (yoy). Penurunan kinerja ini searah dengan pertumbuhan kredit yang disalurkan ke jasa dunia usaha yang menunjukkan perlambatan menjadi 13,5% (yoy), dari periode sebelumnya yang tumbuh 14,62% (yoy) Jasa Dunia Usaha gkredit Jasa Dunia Usaha Rp Triliun %, yoy I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II (1) (2) Sumber: Laporan Bank, diolah Grafik Perkembangan Kredit Jasa Dunia Usaha Lapangan Usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Sosial Wajib Lapangan usaha administrasi pemerintahan tumbuh meningkat di periode laporan. Searah dengan kinerja keuangan daerah yang stabil pada triwulan laporan, lapangan usaha administrasi pemerintahan tumbuh 8,94% (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan sebelumnya 8,18% (yoy). Keuangan pemerintah sendiri tercatat tumbuh meningkat di triwulan II 216, baik dari sisi realisasi belanja, meskipun pendapatan tumbuh melambat. Hingga triwulan II 216, realisasi anggaran pendapatan daerah telah mencapai 46,64%, menurun jika dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 215 yang mencapai 46,77%. Secara nominal, realisasi anggaran pendapatan daerah hingga triwulan II 216 telah mencapai Rp3,42triliun dari total target pendapatan tahunan sebesar Rp7,34 triliun. Dari sisi belanja, hingga triwulan II 216, realisasi pengeluaran telah mencapai 34,28% atau sebesar Rp2,47 triliun. Secara persentase berarti lebih tinggi jika Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

34 dibandingkan dengan realisasi belanja pada triwulan I 215 yang tercatat 33,55% atau Rp2,7 triliun dari target belanja Rp6,16 triliun Lapangan Usaha Jasa Pendidikan Lapangan usaha jasa pendidikan tumbuh meningkat. Lapangan usaha ini tercatat tumbuh 9,19% (yoy) di triwulan II 216, tumbuh lebih tinggi dibandingkan periode triwulan I 216 yang tumbuh 7,69% (yoy). Peningkatan pertumbuhan sektor jasa pendidikan terjadi seiring dengan ujian yang dilaksanakan pada bulan April untuk tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA/MA), dan Mei untuk tingkat Sekolah Dasar (SD/MI) dan tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP/MTs). Hal ini terkonfirmasi dari hasil Survei Penjualan Eceran, yang menunjukkan penjualan alat tulis yang meningkat. dimulainya tahun ajaran baru pada bulan Januari 216 di beberapa tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah. Hal ini terkonfirmasi dari hasil Survei Penjualan Eceran, yang menunjukkan penjualan kertas, karton dan cetakan, serta alat tulis yang juga meningkat. 25 Indeks YOY I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III* Alat Tulis Pertumbuhan - Skala Kanan *) Data hingga Juli 216 Sumber: Survei Penjualan Eceran, diolah Grafik Perkembangan Penjualan Alat Tulis 6% 5% 4% 3% 2% 1% % -1% -2% 12 Indeks YOY 3% 1 2% 8 1% 6 % 4-1% 2-2% -3% I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III* Kertas, Karton, Cetakan Pertumbuhan - Skala Kanan *) Data hingga Juli 216 Sumber: Survei Penjualan Eceran, diolah Grafik Perkembangan Penjualan Kertas, Karton dan Cetakan Lapangan Usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial Lapangan usaha jasa kesehatan dan kegiatan sosial tumbuh melambat. Lapangan usaha ini tercatat tumbuh 8,38% (yoy) di triwulan II 216, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang tumbuh 9,55% (yoy). Perlambatan diperkirakan berasal dari penurunan jasa tarif dokter terhadap keseluruhan jasa kesehatan. Sementara kegiatan sosial juga mengalami penurunan, yang dikonfirmasi menurunnya kredit yang disalurkan ke sektor jasa sosial masyarakat Jasa Sosial Masyarakat gkredit Jasa Sosial Masyarakat Rp Triliun %, yoy I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II (1) (2) Sumber: Laporan Bank, diolah Grafik Perkembangan Kredit Jasa Sosial Masyarakat 28 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

35 Boks 1.A. Composite Leading Indicator PDRB Provinsi Sulawesi Selatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah salah satu indikator untuk mengukur prestasi perekonomian suatu daerah. Untuk konteks negara, output dari suatu perekonomian, biasa diukur dengan gross domestic product (GDP), yaitu produk nasional yang dihasilkan oleh penduduk dalam suatu negara (Mankiw, 21). Output bisa diposisikan sebagai indikator prestasi kegiatan suatu perekonomian. Pertumbuhan ekonomi di suatu negara bisa disebabkan oleh banyak faktor. Bagi negara-negara maju, mereka bisa mengandalkan hasil produksi barang dan jasa, tapi tidak menutup kemungkinan pula adanya pinjaman yang mereka lakukan serta adanya investasi. Tapi bagi negara-negara yang sedang berkembang tentu saja akan sulit atau bisa dikatakan tidak mudah jika harus mengandalkan faktor produksi barang dan jasa, maka dari itu fakto-faktor lain sangat menentukan, seperti halnya pinjaman dan investasi.menurut Mankiw (21) dalam analisis makro, tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicapai oleh suatu negara diukur dari perkembangan pendapatan nasional riil yang dicapai suatu negara /daerah. Composite Leading Indicator (CLI) adalah gabungan dari indikator-indikator perekonomian yang bisa digunakan untuk melihat perekonomian kedepan.prediksi terhadap pertumbuhan ekonomi, kebanyakan dilakukan dengan cara menyusun indikator-indikator ekonomi yang mampu memberikan sinyal atau tanda-tanda secara dini apabila terdapat kecenderungan perubakan pergerakan siklus, lebih populer dengan sebutan leading indicators. Indikator-indikator ini dapat disusun dalam bentuk gabungan (composite leading indicators atau CLI) dari time series data variabel-variabel makro ekonomi yang juga bergerak fluktuatif mendahului pergerakan siklus. CLI merupakan salah satu dari tiga indikator yang banyak dipergunakan untuk melihat perekonomian kedepan. Tiga alasan CLI menjadi begitu penting menurut Sutomo dan Irawan (24). CLI begitu penting karena memiliki beberapa manfaat. Pertama, CLI dapat digunakan untuk meramalkan turning point dari business cycles, sehingga memungkinkan penyusun kebijakan untuk secara dini mengambil langkah antisipatif terhadap dampak yang tidak diinginkan. Kedua, untuk memenuhi kebutuhan private sector, CLI bisa dipergunakan oleh para pelaku bisnis untuk menyesuaikan strategi penjualan dan investasi mereka, serta realokasi resources di antara berbagai alternatif investasi dalam rangka optimalisasi return. Informasi dari CLI juga sangat diperlukan untuk perencanaan peningkatan produksi, investasi, ekspansi serta diversifikasi aktivitas bisnis. Pertumbuhan ekonomi Sulsel lebih tinggi dari Nasional selama 4 tahun terakhir. Konsumsi rumah tangga dan investasi merupakan komponen permintaan yang secara konsisten memberikan sumbangan pertumbuhan yang besar bagi perekonomian Sulsel. Secara sektoral, share PDRB Sulsel didominasi oleh sektor Pertanian, Industri Pengolahan, Perdagangan dan Konstruksi. Empat sektor tersebut dipengaruhi oleh 8 (delapan) variabel ekonomi. Sektor Perdagangan dipengaruhi oleh CLI 5 Asia (Composite dari 5 negara di Asia yaitu China, India, Indonesia, Japan and Korea), Inflow, Ekspor Ganggang, Ekspor Kakao dan Indeks Penjualan Eceran; Sektor Industri Pengolaan dipengaruhi oleh produksi Semen; Sektor Pertanian dipengaruhi oleh Nilai Tukar Petani (NTP); dan Sektor Konstruksi dipengaruhi oleh Penerbangan Dalam Negeri/Domestik. CLI dapat memperkirakan arah PRDB Provinsi Sulsel dua triwulan kedepan. Dari 8 variabel tersebut di atas, CLI memiliki korelasi sebesar,61, dengan average leading 4,33 bulan. Dengan hasil tersebut, CLI untuk PDRB Sulsel dapat digunakan untuk memperkirakan arah perekonomian Sulsel ke depan, setidaknya dua triwulan selanjutnya. CLI:PDRB Prov. Sulawesi Selatan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

36 Series Name Targeted Missed Extra Av. Lead St. Dev. Lead Median Peak Lead Correl. at Peak CLI 5 Asia Semen NTP Penerbangan DN Inflow Ekspor Ganggang (Jumlah) Ekspor Kakao (Jumlah) Indeks Penjualan Eceran Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

37 Boks 1.B. Pengembangan Industri Maritim Unggulan di Sulawesi Selatan Menjemput Harapan Dengan Membangun Infrastruktur Kemaritiman Indonesia sebagai salah satu negara maritim terbesar di dunia berperan penting pengembangan kekuatan poros maritim dunia. Menurut Alfred Thayer Mahan, Negara yang besar adalah Negara yang dapat menguasai laut. Meskipun Indonesia memiliki wilayah laut yang besar, namun pengembangan kemaritiman kurang diperhatikan. Pengembangan industri kapal, sebagai sarana/alat transportasi tidak terlalu menggembirakan. Berdasarkan World Shipbuilding Statistics tahun 27, Indonesia berada di urutan ke-21 dari 22 negara pembangun kapal di dunia. Di sisi lain, pengembangan hasil laut juga memiliki kondisi serupa dengan industri perkapalan. Produksi ikan tangkap di Indonesia hanya mencapai 6 juta ton/tahun, lebih rendah dibandingkan Cina yang mencapai 14 juta ton/tahun Roadmap Industri Perkapalan Mampu membangun kapal berukuran >2. DWT & perbaikan kapal berukuran > 3. DWT. NasDEC menjadi pusat pengembangan desain dan rekayasa kapal. Pemenuhan komponen kapal melalui produksi dalam negeri. Mampu membangun kapal >15. DWT & perbaikan >2. DWT. Pengembangan kemampuan NasDEC dalam desain dan rekayasa kapal Memperkuat industri pendukung. Mampu membangun kapal >85. DWT. Peningkatan kemampuan NasDEC dalam desain dan rekayasa Special Purpose Vessels. Mampu membangun kapal berbagai tipe sd 5. DWT & perbaikan sampai dengan 15. DWT. Pemberdayaan Desain dan rekayasa melalui National Shipbuilding and Engineering Center (NasDEC) Sumber: Kementerian Perindustrian Pembangunan industri perkapalan dalam 1 tahun terakhir menunjukkan kinerja yang positif.menurut pandangan Menteri Perindustrian, industri perkapalan memiliki beberapa karakter khusus antara lain proses produksi yang kompleks dan simultan, berdasarkan pesanan, struktur organisasi jaringan dengan mengandalkan outsourcing untuk penyediaan komponen dan tenaga kerja, serta aktifitas utamanya adalah pembangunan kapal baru dan reparasi. Dari karakter-karakter tersebut dapat disimpulkan bahwa stakeholder industri terdiri dari berbagai pihak, diantaranya industri pelayaran, industri komponen, pemerintah, biro klasifikasi, perbankan, dan asuransi. Saat ini jumlah galangan kapal di Indonesia mencapai 25 perusahaan, dimana 5 perusahaan berstatus BUMN. Melihat pentingnya industri perkapalan, pemerintah telah menyusun roadmap industri perkapalan, dimana saat ini galangan kapal nasional telah mampu membangun berbagai jenis dan ukuran kapal sampai dengan 5. DWT dan mereparasikapal sampai dengan kapasitas 15. DWT. Diharapkan hingga tahun 225, industri kapal mampu membangun kapal dengan kapasitas hingga diatas 15. DWT, serta dapat memenuhi komponen kapal 3. Pada pengembangan industri perkapalan di Kawasan Timur Indonesia, Sulsel memilik peran penting.pt Industri Kapal Indonesia (IKI) yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang telah berdiri sejak tahun PT IKI melakukan pembuatan kapal, reparasi kapal, alat apung sejenisnya dan produk jasa lain dalam rangka diversifikasi usaha. Perusahaan ini memiliki 2 unit produksi, yaitu galangan Makassar dan Bitung, Sulawesi Utara. Galangan Makassar mampu melayani reparasi kapal barang berukuran sampai dengan 6.5 DWT dan tongkang 1 x 26 meter. Sejauh ini, IKI telah membangun beberapa kapal besar seperti KM Makassar yang merupakan kapal full container 4.18 DWT, Kapal Patroli KRI Andai TNI AL, Ferry Ro-Ro (6GT), Kapal Perintis yang melayani angkutan barang dan penumpang (75 DWT). Galangan Makassar memiliki lokasi yang strategis, yaitu sebagai poros lalu lintas komoditas, logistic, dan penumpang Indonesia barat-timur 4. Pada sektor perikanan, Sulsel memiliki potensi untuk menjadi wilayah sentra industri perikanan terbesar di Kawasan Timur Indonesia. Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan, produksi perikanan tangkap di Sulsel masih dibawah potensi dan masih dapat ditingkatkan. Selain itu, secara geografis, potensi tersebut didukung oleh letak Sulsel yang menjadi pintu gerbang Kawasan Timur Indonesia, dan otomatis akan menjadi pintu gerbang ekspor hasil perdagangan secara umum (Danial 26). Sulsel juga memiliki Sumber Daya Alam dan lingkungan yang mendukung, seperti ketersediaan ikan yang cukup besar, daerah penangkapan ikan yang dekat dengan tempat pendaratan ikan dan kondisi perairan yang baik. Faktor penunjang lain yaitu sebagian besar masyarakat Sulsel bekerja di sektor pertanian, perikanan dan kehutanan mencapai 45,84%, dimana tenaga kerja subsektor perikanan mencapai 5,43% terhadap total tenaga kerja. Meskipun memiliki kontribusi yang besar, rata-rata penghasilan di sektor ini paling rendah, atau hanya sekitar Rp852 ribu/bulan. Rendahnya penghasilan diperkirakan akibat tingkat pendidikan yang rendah di sektor pertanian, kehutanan, perikanan dan peternakan, tercatat 48,28% sektor pertanian berpendidikan Sekolah Dasar. Oleh karena itu, 2 Kementerian Kelautan dan Perikanan 3 Kementerian Perindustrian 4 Informasi anekdotal dan FGD yang dilakukan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

38 SD SMP SMA D1/D2/D3 D4/S1 S2/S3 % pengembangan sektor perikanan membutuhkan perhatian lebih lanjut. Tenaga Kerja Berdasarkan Lapangan Usaha di Sulsel Tahun 214 Rata-rata Penghasalian Tenaga Kerja Berdasarkan Lapangan Usaha di Sulsel Tahun 214 Lain-lain 25% Perdagangan 18% Konstruksi 6% Pertanian, Kehutanan, Perikanan, Peternakan 46% Industri Pengolahan 5% Pertanian 51.4% Peternakan, 9.22% Perikanan, 11.84% Perkebunan, 2.89% Hortikultura, 6.53% Kehutanan,.47% Lapangan Usaha Persentase Rata-Rata Penghasilan Pertanian 45.84% Rp852,227 Industri Pengolahan 5.7% Rp1,453,61 Konstruksi/Bangunan 6.33% Rp2,151,37 Perdagangan 17.64% Rp1,398,59 Lain-lain 25.12% Rp2,16,419 6% 5% 4% 3% 2% 1% % Tingkat Pendidikan Tenaga Kerja di Sulsel Tahun % 19.21% 21.75% 8.19% 2.1%.57% Sumber: Susenas 214, diolah Pada tahun 215, pemerintah semakin menunjukkan perhatiannya pada sektor maritim. Beberapa proyek maritim yang sedang dibangun antara lain Makassar New Port (MNP), pengembangan industri galangan kapal dengan pemberian modal kepada perusahaan, pembangunan kapasitas listrik dimana listrik merupakan sarana penunjang utama dalam industri perkapalan, pengembangan kawasan mina yang terdapat di beberapa daerah seperti Maros, Pangkep, Pinrang dan Takalar. Penguatan Industri Galangan Kapal dengan penambahan modal. Tahun 215, total pemesanan pembuatan kapal : 2 kapal, reparasi ±18 kapal Pengembangan Makassar New Port (MNP) Hingga Tahun 23 Pengembangan Jaringan Jalan Kualitas Baik menuju Pelabuhan Sumber: PT Pelindo IV, PT IKI, PT PLN Wilayah Sulselrabar, informasi anekdotal Pembangunan PLT di Kab. Jeneponto dan Kab. Sidrap hingga tahun Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

39 HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

40 Bab 2 Keuangan Pemerintah Daya dorong APBD Provinsi Sulsel terhadap perekonomian sampai dengan semester I 216 terlihat belum optimal. Realisasi belanja hingga akhir semester baru tercatat Rp2,48 triliun atau 34,28% dari yang dianggarkan sebesar Rp7,22 triliun. Sebagian besar penyerapan anggaran direalisasikan untuk belanja operasional (73,79%) dan belanja transfer (22,58%), sementara yang direalisasikan untuk belanja modal masih tergolong minim (3,63%). Kondisi yang hampir sama juga terjadi pada APBD Kabupaten/Kota. Dari Total anggaran sebesar Rp33,42 triliun, hingga akhir semester I 216 diperkirakan baru berhasil direalisasikan sebesar Rp1,1 triliun atau 29,95 %. Sementara itu, pencapaian realisasi belanja pada APBN yang dialokasikan di Sulsel terlihat lebih baik. Sampai akhir semester I 216 telah terealisasi sebesar Rp7,37 triliun atau 37,8% dari yang dianggarkan sebesar Rp19,48 triliun. Seluruh komponen belanja memperlihatkan peningkatan kecuali belanja untuk bantuan sosial. Kedepan perlu upaya yang lebih keras dalam merealisasikan APBD dan APBN di Sulsel, agar instrumen fiskal ini dapat berperan lebih optimal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Sulsel, mengingat sektor swasta yang merupakan salah satu lokomotif pertumbuhan ekonomi saat ini tengah menghadapi tantangan yang tidak ringan. 34 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

41 2.1 Struktur Anggaran Komponen keuangan pemerintah daerah di Sulsel terdiri dari tiga unsur, yaitu Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Provinsi, APBD Pemerintah Kabupaten/Kota, serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dialokasikan di Sulsel. Dari ketiga unsur tersebut, nilai pagu anggaran belanja yang disediakan untuk pemerintah Kabupaten/Kota memiliki porsi paling tinggi yaitu mencapai Rp33,42 triliun atau 55,6% dari total pagu anggaran belanja sebesar Rp6,13 triliun. Sementara itu, pagu anggaran belanja pada APBN yang dialokasikan di Sulsel menempati urutan kedua sebesar Rp19,48 triliun (32,4%). Disusul kemudian pagu anggaran belanja pada APBD pemerintah Provinsi sebesar Rp7,23 triliun (12,%). Dari total pagu anggaran belanja tersebut, sampai dengan triwulan II 216 baru berhasil direalisasikan sebesar Rp19,85 triliun atau 33,1% (Grafik 2.1 dan 2.2). Melihat realisasi anggaran yang belum optimal, maka kedepan diperlukan upaya yang lebih gigih, agar kebijakan fiskal yang ditempuh melalui instrumen APBD dan APBN dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Sulsel, mengingat sektor swasta yang selama ini sebagai salah satu lokomotif pertumbuhan ekonomi tengah menghadapi tantangan yang tidak ringan. APBD KAB/ KOTA, Rp33,419, 55.6% ANGGARAN 216 (Rp miliar) APBN, Rp19,484, 32.4% APBD KAB/ KOTA; Rp1.8; 5,4% REALISASI TW II-216 (Rp miliar) APBN, Rp7,365, 37.1% APBD PROVINSI, Rp7,225, 12.% APBD PROVINSI, Rp2,477, 12.5% Grafik Struktur Anggaran Belanja Keuangan Pemerintah di Sulsel Tahun 216 Grafik 1.6. Struktur Realisasi Belanja Keuangan Pemerintah di Sulsel Triwulan II 216 (* Angka Realisasi Kab./Kota berdasarkan Historis 5 Tahun Terakhir) Pemerintah Kabupaten/Kota berhasil merealisasikan belanja paling tinggi. Sampai dengan triwulan II 216 nilai realisasi belanja APBD pemerintah Kabupaten/Kota mencapai Rp1,1 triliun atau 5,4% dari total realisasi belanja pemerintah di Sulsel sebesar Rp19,85 triliun, sementara realisasi APBN di Sulsel menempati urutan kedua sebesar Rp7,37 triliun (37,1%) dan disusul kemudian realisasi APBD pemerintah Provinsi sebesar Rp2,48 triliun atau 12,5% (Grafik 2.2). 2.2 Perkembangan Realisasi Anggaran APBD Provinsi Pendapatan Struktur Realisasi Pendapatan Menurut sumbernya, struktur pendapatan Provinsi Sulsel didominasi oleh pendapatan transfer. Sampai dengan triwulan II 216 nilai pendapatan yang bersumber dari transfer pemerintah pusat sebesar Rp1,93 triliun atau 56,27% dari total nilai realisasi pendapatan sebesar Rp3,43 triliun. Sebagian besar dari pendapatan transfer tersebut direalisasikan dalam bentuk Dana Alokasi Umum (DAU) dengan porsi mencapai 42,21%. Selebihnya direalisasikan dalam bentuk Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak. Perolehan nilai pendapatan transfer pada semester I 216 ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan pencapaian pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp847 miliar. Sumber pendapatan kedua berasal dari realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang hingga semester I 216 mencapai Rp1,5 triliun (43,73%), dengan sumber pendapatan utama berasal dari pos Pendapatan Pajak Daerah yang nilainya mencapai Rp1,36 triliun. Sementara itu pendapatan dari sumber lain-lain nilainya relatif kecil sebesar Rp2,36 miliar. Secara umum pencapaian realisasi pendapatan Provinsi Sulsel cukup menggembirakan. Sampai dengan semester II 216 realisasi pendapatan telah mencapai 46,54% dari yang ditargetkan sebesar Rp7,35 triliun. Secara lebih rinci, realisasi pendapatan transfer mencapai 5,4%, PAD mencapai 42,63% dan sumber pendapatan lain-lain 2,1% dari yang ditargetkan. Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

42 Perkembangan Realisasi Pendapatan Rp miliar 1% Rp Rp5 Rp2 9% Rp443 Rp438 8% Rp85 Rp847 7% Rp1,927 Rp717 Rp783 6% 5% 4% 3% Rp1,234 Rp1,432 Rp1,63 2% Rp1,132 Rp1,497 1% % Tw II-212 Tw II-213 Tw II-214 Tw II-215 Tw II-216 Lain-Lain Pendapatan Yang Sah Pendapatan Transfer Pendapatan Asli Daerah Sumber:Badan Pengelola Keuangan dan Aset Provinsi Sulsel, diolah Grafik Proporsi Realisasi Pendapatan APBD Provinsi Sulsel Persentase realisasi pendapatan APBD Provinsi Sulsel sampai dengan triwulan II 216 mencapai 46,64% dari target yang dianggarkan. Persentase realisasi pendapatan ini relatif sama dengan pencapaian triwulan II tahun lalu 46,77%. Namun secara nominal, realisasi pendapatan daerah pada triwulan II 216 sebesar Rp3,43 triliun, lebih besar dari capaian pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp2,89 triliun. Peningkatan pendapatan bersumber dari realisasi PAD dan pendapatan transfer. Komponen PAD yang meningkat antara lain pendapatan pajak daerah, pendapatan retribusi daerah, dan lain-lain PAD yang syah, masing-masing sebesar Rp1,36 triliun; Rp37,74 miliar dan Rp93,43 miliar. Peningkatan PAD terutama berasal dari hasil peningkatan intensifikasi penagihan tunggakan PKB melalui kegiatan penertiban dokumen administrasi kendaraan bermotor, program samsat delivery order, pembebasan (pemutihan) denda sehingga masyarakat tertarik membayar pajak, dan banyaknya pameran otomotif, sehingga menambah penerimaan PAD dari pajak kendaraan. PENDAPATAN U R A I A N Keterangan: angka sementara (APBD Provinsi Sulawesi Selatan Unaudited) Sumber: Badan Pengelola Keuangan dan Aset Provinsi Sulsel Tabel 1.9. Anggaran dan Realisasi Pendapatan APBD Provinsi Sulsel (Rp Miliar) ANGGARAN REALISASI s/d TRIWULAN II 215 ANGGARAN REALISASI s/d TRIWULAN II NOMINAL % REALISASI 216 NOMINAL % REALISASI PENDAPATAN ASLI DAERAH 3.38, ,6 42,34% 3.511, ,9 42,63% - Pendapatan Pajak Daerah 3.44, ,15 41,3% 3.145, ,27 43,37% - Pendapatan Retribusi Daerah 89,85 36,67 4,81% 86,74 37,74 43,51% - Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yg Dipisahkan 8,23 88,53 11,34% 92,58 1,46 1,58% - Lain-lain PAD yang Sah 166,37 57,26 34,41% 186,89 93,43 49,99% PENDAPATAN TRANSFER 1.53,72 847,31 55,35% 3.822, ,66 5,4% - Dana Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak 272,35 115,87 42,55% 281,79 149,26 52,97% - DAU 1.18,1 688,34 58,33% 1.394,15 813,25 58,33% - DAK 78,36 43,1 55,% 43,54 13,14 3,23% - Transfer Pemerintah Pusat-Lainnya 1.248,35 61,64 48,19% 1.716,7 834,1 48,6% LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH 1,12 5,3 49,76% 11,82 2,36 2,1% JUMLAH PENDAPATAN 6.17, ,59 46,77% 7.346, ,93 46,64% Sementara itu, sampai dengan triwulan II 216 realisasi pendapatan dari transfer mencapai Rp1,93 triliun (5,4%), yang berarti lebih besar dari realisasi pendapatan transfer tahun lalu sebesar Rp847,31 miliar (55,35%). Semua komponen pendapatan transfer mengalami peningkatan, baik Dana Bagi Hasil (DBH) pajak dan bukan pajak, Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan transfer pemerintah pusat lainnya. Realisasi DBH sampai dengan triwulan II 216 telah mencapai Rp149,26 miliar (52,97%), lebih tinggi dari realisasi pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp115,87 miliar (42,55%). DAU telah mencapai Rp813,25 miliar (58,33%), meningkat dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp688,34 miliar (58,33%), sementara DAK baru mencapai Rp13,14 miliar (3,23%), meskipun secara nominal lebih besar dari pencapaian realisasi pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp43,1 miliar (55,%). Sedangkan transfer pemerintah pusat lainnya telah mencapai Rp834,1 miliar (48,6%), lebih tinggi dari pencapaian pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp61,64 miliar (48,19%). Untuk penerimaan lain-lain pendapatan yang sah hanya berhasil merealisasikan Rp2,36 miliar (2,1%), lebih rendah dari capaian pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp5,3 miliar (49,76%). 36 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

43 2.2.2 Belanja Struktur Realisasi Belanja Struktur belanja Provinsi Sulsel didominasi belanja operasional. Sampai dengan triwulan II 216, nilai realisasi belanja operasional mencapai Rp1,83 triliun (73,94%) lebih tinggi dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,4 triliun (67,62%). Disusul kemudian realisasi belanja transfer yang juga meningkat menjadi Rp563,73 miliar (22,76%), dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp517,99 miliar (25,4%). Sementara itu, realisasi belanja modal justru hanya mencapai Rp81,69 miliar (3,3%). Pencapaian ini lebih rendah dari realisasi pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp151,98 miliar (7,35%). Persentase realisasi belanja modal yang relatif rendah mengindikasikan bahwa masih terdapat kendala dalam merealisasikan berbagai proyek khususnya pembangunan infrastruktur sebagaimana yang telah direncanakan. Hal demikian tentunya patut menjadi perhatian bersama, karena keberhasilan dalam membangun infrastruktur sangat menentukan keberhasilan pembangunan Sulsel yang berkesinambungan. 1% 8% 6% Rp miliar Rp142 Rp5 Rp316 Rp45 Rp518 Rp564 Rp53 Rp127 Rp152 Rp82 4% Rp1,219 Rp1,35 Rp1,382 Rp1,399 Rp1,832 2% % Tw II-212 Tw II-213 Tw II-214 Tw II-215 Tw II-216 Transfer Belanja Modal Belanja Operasional Sumber: Badan Pengelola Keuangan dan Aset Provinsi Sulsel Grafik Proporsi Realisasi Belanja APBD Provinsi Sulsel Perkembangan Realisasi Belanja Total realisasi belanja APBD Provinsi Sulsel meningkat. Realisasi belanja hingga triwulan II 216 tercatat sebesar Rp2,48 triliun atau 34,28% dari yang ditargetkan sebesar Rp7,22 triliun. Pencapaian nilai realisasi belanja ini sedikit lebih tinggi dari posisi yang sama tahun lalu sebesar Rp2,7 triliun atau 33,55% dari yang ditargetkan sebesar Rp6,17 triliun. Dengan realisasi belanja sebesar tersebut, maka pada akhir triwulan II 216 terdapat surplus pada APBD Provinsi Sulsel sebesar Rp948,95 miliar. Hal demikian perlu dicarikan langkah yang cepat dan cermat untuk meningkatkan serapan anggaran, agar APBD Sulsel dapat lebih mendinamisasi pertumbuhan ekonomi Sulsel. Realisasi belanja operasional lebih tinggi apabila dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama tahun lalu. Peningkatan yang terjadi pada belanja operasional dikarenakan terdapat pembayaran gaji ke-13 dan ke-14 bagi pegawai negeri (termasuk TNI/Polri), adanya penambahan pegawai dan pembayaran kenaikan gaji berkala, serta pembayaran honorarium. Total pos belanja operasional hingga pertengahan 216 terealisasi Rp1,83 triliun (37,8%), meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,4 triliun (33,47%). Persentase realisasi belanja operasional yang lebih tinggi terjadi pada belanja pegawai, barang, dan hibah masing-masing Rp555,8 miliar (44,92%); Rp312,3 miliar (21,53%); dan Rp861,5 miliar (47,49%). Pada periode yang sama tahun lalu masing-masing tercatat sebesar Rp428,17 miliar (36,73%); Rp255,77 miliar (18,5%); dan Rp65,61 miliar (23,32%). Sementara belanja operasional yang cenderung menurun antara lain belanja bunga dan belanja bantuan keuangan masing-masing menjadi Rp11,395 miliar (3,26%) dan Rp91,17 miliar (22,78%). Pada periode yang sama tahun lalu masing-masing tercatat Rp13,65 miliar (34,55%) dan Rp125,85 miliar (25,72%). Sementara itu, realisasi belanja modal justru menurun. Sampai dengan triwulan II 216 realisasi belanja modal baru mencapai Rp81,69 miliar atau 9,31% dari yang ditargetkan sebesar Rp877,61 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan capaian pada triwulan II tahun lalu sebesar Rp151,98 miliar (23,8%). Belanja modal yang telah terealisasi antara lain belanja peralatan/mesin, belanja gedung/bangunan, dan belanja jalan/irigasi/jaringan, dengan nilai realisasi yang masih relatif minimal, masing-masing sebesar Rp25,7 miliar (16,72%), Rp14,76 miliar (1,26%), dan Rp37,6 miliar (6,86%). Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

44 BELANJA Keterangan: angka sementara (APBD Provinsi Sulawesi Selatan Unaudited) Sumber: Badan Pengelola Keuangan dan Aset Provinsi Sulsel Tabel 1.1. Anggaran dan Realisasi Belanja APBD Provinsi Sulsel (Rp Miliar) ANGGARAN REALISASI s/d TRIWULAN II 215 ANGGARAN REALISASI s/d TRIWULAN II NOMINAL % REALISASI 216 NOMINAL % REALISASI BELANJA OPERASIONAL 4.179, ,6 33,47% 4.939, ,55 37,8% - Belanja Pegawai 1.165,82 428,17 36,73% 1.235,59 555,8 44,92% - Belanja Barang 1.22,48 225,77 18,5% 1.45,79 312,3 21,53% - Belanja Bunga 39,5 13,65 34,55% 39,5 11,95 3,26% - Belanja Hibah 1.264,51 65,61 47,89% 1.813,3 861,5 47,49% - Belanja Bantuan Keuangan 489,4 125,85 25,72% 4,22 91,17 22,78% BELANJA MODAL 658,61 151,98 23,8% 877,61 81,69 9,31% - Belanja Tanah 136,52 1,54 1,13% 25,25,3,12% - Belanja Peralatan & Mesin 88,39 13,77 15,58% 149,95 25,7 16,72% - Belanja Gedung dan Bangunan 155,84 6,12 3,93% 143,85 14,76 1,26% - Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan 271,13 128,88 47,54% 54,17 37,6 6,86% - Belanja Aset Tetap Lainnya 1,3,55 54,1% 1,52,21 13,91% - Aset Lainnya 5,71 1,11 19,45% 3,36,29 8,56% BELANJA TIDAK TERDUGA 2, -,% 24,75 -,% JUMLAH BELANJA 4.858, ,4 31,93% 5.841, ,25 32,75% TRANSFER 1.38,8 517,99 39,58% 1.383,43 563,73 4,75% TOTAL BELANJA 6.167, ,3 33,55% 7.224, ,97 34,28% SURPLUS / (DEFISIT) 3,7 816, ,63% 121,1 948,95 783,6% PEMBIAYAAN U R A I A N PENERIMAAN PEMBIAYAAN DAERAH 132,93 39,74 233,1% 64,9 129,96 2,24% PENGELUARAN PEMBIAYAAN DAERAH 136, 68, 5,% 186, 118, 63,44% JUMLAH PEMBIAYAAN (3,7) 241, ,73% (121,1) 11,96-9,87% Disisi lain, realisasi transfer kepada Kabupaten/Kota meningkat. Realisasi transfer sampai dengan triwulan II 216 tercatat Rp563,73 miliar (4,75%), sedikit lebih tinggi dari triwulan II tahun sebelumnya Rp517,99 miliar (39,58%). Peningkatan transfer tersebut diharapkan menambah kapasitas dan dapat direalisasikan dengan baik oleh pemerintah Kabupaten/Kota, sehingga dapat meningkatkan perekonomian di daerah masing-masing. 2.3 Perkembangan Realisasi Belanja APBD Kabupaten/Kota se-sulsel Struktur Realisasi Belanja Secara struktur mayoritas dari pagu anggaran pada APBD Kabupaten/Kota di Sulsel dialokasikan untuk belanja operasional. Dari total pagu anggaran 216 sebesar Rp33,42 triliun, porsi untuk belanja operasional mencapai 74,8%, sementara 25,2% lainnya dialokasikan untuk kebutuhan belanja modal. 5 Data realisasi untuk triwulan I dan II 216 belum tersedia. Untuk keperluan analisis data diproyeksikan dengan menggunakan pendekatan rata-rata persentase realisasi selama 5 tahun terakhir. 38 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

45 Belanja Modal, 8,427.8, 25.2% ANGGARAN 216 (Rp miliar) Belanja Modal, 1,126.77, 11.3% REALISASI TW II-216 (Rp miliar) Belanja Operasi, 24, , 74.8% Belanja Operasi, 8,881.9, 88.7% Grafik Struktur Pagu Anggaran dan Realisasi Belanja APBD Kabupaten/Kota di Sulsel Kota Makassar mendapat pagu anggaran terbesar. Secara lebih rinci, pagu anggaran untuk masing-masing Kabupaten/Kota di Sulsel dapat dilihat dalam Tabel 1.3. Dari total anggaran sebesar Rp33,42 triliun, Kota Makassar mendapat pagu anggaran paling tinggi sebesar Rp3,83 triliun (11,45%). Disusul kemudian Kabupaten Bone (6,47%) dan Kabupaten Gowa (4,92%). Adapun wilayah yang mendapatkan pagu anggaran terendah adalah Kabupaten Toraja Utara (2,81%). Tabel 1.11.Pagu Anggaran APBD Kabupaten dan Kota se-sulsel Anggaran 216 (Rp miliar) Kabupaten/Kota Belanja Operasi Belanja Modal Total Belanja Pangsa (%) Kota Makassar 3.49,5 775, ,22 11,45 Kab. Bone 1.841,95 32, ,9 6,47 Kab. Gowa 1.352,14 291, ,42 4,92 Kab. Luwu Timur 976,63 58, ,89 4,66 Kab. Luwu 1.117,76 4, ,52 4,54 Kab. Wajo 1.117,59 391,9 1.59,49 4,52 Kab. Bulukumba 1.118,24 317, ,55 4,3 Kab. Pangkajene dan Kepulauan 975,86 41, ,88 4,15 Kab. Sidenreng Rappang 891,79 481, ,42 4,11 Kab. Maros 997,39 362, ,78 4,7 Kab. Jeneponto 998,66 348, ,3 4,3 Kab. Pinrang 1.1,87 337, ,98 4,1 Kab. Takalar 925,55 276, ,94 3,6 Kab. Luwu Utara 997,9 2, ,96 3,58 Kab. Soppeng 883,5 281, ,87 3,49 Kab. Sinjai 85,53 3, ,25 3,44 Kab. Enrekang 798,29 351, ,85 3,44 Kab. Tana Toraja 795,96 33, ,93 3,29 Kota Palopo 713,6 339, ,32 3,15 Kota Pare-Pare 668,38 384, ,52 3,15 Kab. Barru 781,26 228,49 1.9,75 3,2 Kab. Bantaeng 699,76 288,13 987,88 2,96 Kab. Kepulauan Selayar 74,77 249,19 953,97 2,85 Kab. Toraja Utara 733,33 24,93 938,25 2,81 Total , , ,86 1, *) Angka perkiraan Sumber: Direktorat Jenderal Perimbangan Daerah Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

46 2.3.2 Perkembangan Realisasi Belanja Realisasi anggaran APBD Kabupaten/Kota diperkirakan masih belum sesuai target. Berdasarkan pencapaian persentase dan nilai realisasi belanja dari masing-masing Kabupaten/Kota dalam 5 tahun terakhir progresnya sangat bervariasi. Dari pagu anggaran belanja operasional sebesar Rp24,99 triliun tersebut, sampai dengan triwulan II 216 diproyeksikan baru terealisasi sebesar Rp8,88 triliun (35,53%). Sementara itu, untuk belanja modal diproyeksikan baru terealisasi sebesar Rp1,13 triliun atau 13,4% dari pagu anggaran belanja modal sebesar Rp8,43 triliun. Hal ini berarti secara total diperkirakan terdapat realisasi belanja sebesar Rp1,1 triliun atau 29,95% dari yang dianggarkan sebesar 33,42 trilun. Salah satu kendala dalam melakukan monitoring dan evaluasi realisasi APBD Kabupaten/Kota di sulsel adalah tidak tersedianya data yang akurat dan terkini. Mengingat pentingnya data realisasi belanja dimaksud, maka agar pelaksanaan realisasi anggaran dapat terpantau dengan lebih baik, perlu segera dibuat sebuah sistem pelaporan realisasi anggaran yang user frendly sehingga dapat diimplementasikan dengan mudah di setiap wilayah Kabupaten/Kota di Sulsel. 2.4 Perkembangan Realisasi Belanja APBN di Sulsel Struktur Realisasi Belanja Struktur realisasi belanja pada APBN Sulsel didominasi realisasi belanja pegawai. Sampai dengan triwulan II 216 realisasi belanja pegawai mencapai Rp3,53 triliun atau 47,91% dari total belanja sebesar Rp7,37 triliun. Secara nominal realisasi pada tahun ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan pencapaian pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp2,71 triliun (49,31%). Disusul kemudian realisasi belanja barang tercatat sebesar Rp2,41 triliun (32,65%), lebih tinggi dari posisi yang sama tahun lalu sebesar Rp1,42 triliun (25,78%). Sementara itu, realisasi belanja modal juga meningkat mencapai Rp1,42 triliun (19,32%), lebih tinggi dari triwulan II tahun lalu sebesar Rp839,56 miliar (15,29%). Sedangkan realisasi belanja untuk bantuan sosial menurun signifikan menjadi Rp8,95 miliar (,12%) dari realisasi triwulan II 215 sebesar Rp528,46,41 miliar (9,62%). Rp miliar 1% 9% 8% 7% 6% 5% 4% 3% 2% 1% Rp1, Sumber: DJPbN Prov. Sulsel, diolah Grafik Proporsi Belanja APBN di Sulsel Perkembangan Realisasi Belanja % Rp Rp Rp498.4 Rp Rp746.3 Rp Rp1, Rp Rp1, Rp2, Rp2, Rp2, Rp Rp1, Rp2,78.4 Rp1, Rp2,45.6 Rp3, Realisasi belanja APBN Sulsel sampai dengan triwulan II 216 lebih tinggi jika dibandingkan dengan triwulan II 215. Pada triwulan II 216, realisasi belanja APBN di Sulsel mencapai 37,8%, lebih tinggi dari pencapaian triwulan II 215 (24,37%). Jika dilihat dari segi nominal, realisasi belanja APBN di Sulsel pada triwulan II 216 tercatat Rp7,37 triliun, naik signifikan dibandingkan realisasi triwulan II tahun lalu sebesar Rp5,49 triliun. Peningkatan nominal penyerapan anggaran belanja APBN di Sulsel ini selain adanya optimalisasi penyerapan untuk belanja rutin sesuai polanya, juga untuk pembayaran gaji ke-13 dan ke-14. Nilai realisasi per jenis belanja APBN di Sulsel masih didominasi untuk keperluan belanja pegawai. Pada triwulan II 216, nominal realisasi belanja pegawai APBN di Sulsel mencapai Rp3,53 triliun atau 5,88% dari pagu anggaran. Realisasi belanja pegawai ini lebih tinggi dibanding pencapaian triwulan II tahun lalu, baik secara persentase (4,63%) maupun secara nominal (Rp2,71 triliun). Demikian pula, realisasi persentase belanja barang dan belanja modal masing-masing 33,42% dan 26,84%, meningkat dibandingkan triwulan II tahun lalu masing-masing 21,58% dan 1,87%. Sedangkan Rp8.95 Tw II Tw II Tw II Tw II Tw II Belanja Bantuan Sosial Belanja Modal Belanja Barang Belanja Pegawai 4 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

47 pencapaian realisasi belanja bantuan sosial mengalami penurunan baik secara persentase maupun nominal yang disalurkan. Dari hasil monitoring dapat dipastikan bahwa pelaksanaan transfer untuk Dana Desa telah terealisasi sesuai tahapan 6. U R A I A N Sumber: DJPbN Prov. Sulsel, diolah Tabel Realisasi Belanja APBN Provinsi Sulsel Triwulan I Per Jenis Belanja ANGGARAN 215 Rp miliar Realisasi s/d Triwulan II 215 ANGGARAN Realisasi s/d Triwulan II 216 Nominal % Realisasi 216 Nominal % Realisasi Belanja Pegawai 6.666, ,4 4,63% 6.934, ,49 5,88% Belanja Barang 6.562, ,19 21,58% 7.196, ,6 33,42% Belanja Modal 7.722,19 839,56 1,87% 5.3, ,95 26,84% Belanja Bantuan Sosial 1.584,6 528,46 33,35% 52,49 8,95 17,5% JUMLAH BELANJA , ,61 24,37% , ,44 37,8% 2.5 Peran Realisasi Keuangan Pemerintah Dalam PDRB Rasio realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) semakin menurun 7. Padaakhir triwulan II 216 tercatat,82% dari triwulan sebelumnya,88%. Sementara rasio realisasi rasio dana perimbangan (transfer) terhadap PDRB ADHB terlihat meningkat dari semula,52% menjadi,6%. Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan pemerintah dalam menggali sumber pendapatan asli daerah cenderung menurun. Hal demikian perlu dicermati lebih lanjut, apakah penurunan kemampuan tersebut disebabkan kewenangannya yang memang semakin terbatas ataukah terdapat ketidakefisienan dalam pelaksanaannya % Tw II-212 Tw II-213 Tw II-214 Tw II-215 Tw II-216 Pendapatan Asli Daerah Dana Perimbangan Grafik Rasio Realisasi Pendapatan APBD Terhadap PDRB ADHB Grafik Rasio Realisasi Belanja APBD Terhadap PDRB ADHB Rasio realisasi belanja APBD dan APBN di Sulsel terhadap PDRB ADHK juga semakin menurun. 8 Rasio belanja operasional terhadap PDRB ADHB sampai dengan triwulan II 216 tercatat 3,26%, lebih rendah dari triwulan II 215 yang tercatat 3,38%. Kecenderungan yang sama juga terjadi pada rasio belanja modal terhadap PDRB ADHB turun menjadi,51% dari sebelumnya,61%. Hal ini mengindikasikan bahwa peran realisasi belanja pemerintah dalam mendinamisasi perekonomian cenderung menurun. Kondisi demikian perlu mendapat perhatian, mengingat dalam situasi perekonomian yang cenderung mengalami kelesuan, peran pemerintah dalam mendorong perekonomian sangat diperlukan. Hal ini dapat dilakukan diantaranya dengan cara meningkatkan realisasi belanjannya terutama belanja modal, guna membiayai berbagai proyek yang dapat membuka lapangan kerja baru dan dapat menciptakan multiplier effect yang besar bagi perekonomian % Tw II-212 Tw II-213 Tw II-214 Tw II-215 Tw II-216 Belanja Operasional Belanja Modal - sisi kanan % Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan RI No. 93/PMK.7/215 tentang Tata Cara Pengalokasian, Penyaluran, Penggunaan, Pemantauan, dan Evaluasi Dana Desa disebutkan bahwa penyaluran Dana Desa dilakukan dalam 3 tahap, yaitu tahap I pada bulan April sebesar 4% (empat puluh per seratus); tahap II pada bulan Agustus sebesar 4% (empat puluh per seratus); dan tahap III pada bulan Oktober sebesar 2% (dua puluh per seratus). 7 Dihitung dengan rumus realisasi komponen pendapatan APBD dibagi dengan PDRB ADHB kumulatif. 8 Dihitung dengan rumus realisasi komponen belanja APBD dibagi dengan PDRB ADHB kumulatif. Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

48 Boks 2.A. Pengampunan pajak (tax amnesty) adalah penghapusan pajak yang seharusnya terutang, tidak dikenai sanksi administrasi perpajakan dan sanksi pidana di bidang perpajakan, dengan cara mengungkap Harta dan membayar Uang Tebusan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Pengampunan Pajak. Tax amnesty diterbitkan berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 216 Tentang Pengampunan Pajak.Tax amnesty berpotensi kepada dua hal, pertama menambah penerimaan APBN (di tahun ini atau tahun-tahun sesudahnya) dan kedua adanya capital inflow jika tax amnesty disertai dengan repatriasi aset. Implikasi pertama berasal dari tambahan pajak, sehingga mendorong APBN lebih sustainable dan dengan demikian kemampuan pemerintah untuk belanja juga semakin besar, yang tentunya akan banyak membantu program-program pembangunan, baik infrastruktur maupun perbaikan kesejahteraan masyarakat. Implikasi kedua berasal dari repatriasi 9 sebagian atau keseluruhan aset orang Indonesia di luar negeri, sehingga berpotensi menambah pasokan valas di pasar domestik, dan dengan demikian akan memperkuat cadangan devisa serta nilai tukar rupiah yang lebih stabil. Hal yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut dari repatriasi adalah jalur (channel) aliran dananya, karena akan memengaruhi neraca pembayaran hingga likuiditas dari perbankan. Adapun prosedur dalam pengajuan tax amnesty adalah; (1) Wajib Pajak (WP) datang ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) tempat WP terdaftar atau tempat lain yang ditentukan oleh menteri untuk meminta penjelasan mengenai pengisian dan pemenuhan kelengkapan dokumen yang harus dilampirkan dalam Surat Pemberitahuan (SP); (2) WP melengkapi dokumen-dokumen yang akan digunakan untuk mengajukan pengampunan pajak melalui SP, termasuk membayar uang tebusan dan pelunasan segala tunggakan dan kewajiban pajak seperti yang tertera dalam lampiran dokumen; (3) WP menyampaikan SP ke KPP tempat WP terdaftar atau tempat lain yang ditentukan Menteri Keuangan; (4) Wajib Pajak akan mendapatkan tanda terima SP; (5) menteri atau pejabat yang ditunjuk atas nama menteri menerbitkan Surat Keterangan (SK) paling lama sepuluh hari kerja, terhitung sejak tanggal diterima SP beserta lampirannya. Kemudian, SK Pengampunan Pajak dikirim kepada WP; (6) jika dalam sepuluh hari kerja menteri atau pejabat yang ditunjuk atas nama menteri belum menerbitkan SK, SP dianggap diterima. Penghapusan pajak (tax amnesty) yang seharusnya terutang, tidak dikenai sanksi administrasi perpajakan dan sanksi pidana di bidang perpajakan dengan cara mengungkap harta dan membayar Uang Tebusan. Besaran tarif untuk setiap periode dan pengalihan dana berbeda-beda. Apabila dana dialihkan ke dan atau berada di Indonesia, untuk periode I hingga III, masing-masing tarif berkisar 2%; 3%; dan 5%. Sementara jika harta di luar negeri dan tidak dialihkan ke Indonesia, untuk periode I hingga III, masing-masing tarif berkisar 4%; 6%; dan 1%. Tabel... Tarif Pengampunan Pajak Pengungkapan Harta yang Periode Penyampaian Permohonan Dialihkan ke dan atau berada di NKRI Luar negeri dan tidak dialihkan ke dalam NKRI Periode I (sejak UU berlaku s.d. akhir bulan ke-3) 2% 4% Periode II (bulan ke-4 UU berlaku s.d. 31 Desember 216) 3% 6% Periode III (1 Januari 217 sampai 31 Maret 217) 5% 1% Potensi dana masuk akan menutup kekurangan penerimaan negara di APBN-P 216. Kementerian Keuangan memperkirakan nilai yang akan pulang kembali ke dalam negeri (repatriasi) diprediksi mencapai Rp1. triliun. Dari angka tersebut, potensi penerimaan negara dalam bentuk tarif tebusan (penerimaan pajak) senilai Rp165 triliun. Sementara Bank Indonesia memperkirakan hanya 6% dari total illicit funds di luar negeri yang eligible untuk ikut program pengampunan pajak. Pendapatan negara dan hibah dalam APBN-P 216 disepakati Rp1.786,22 triliun atau turun Rp36,32 triliun dibandingkan APBN 216. Di sisi lain, defisit anggaran terus dijaga di bawah 3% dari Produk Domestik Bruto, sehingga tax amnesty menjadi salah satu jalan untuk menutup kekurangan (shortfall) tersebut. Program tax amnesty akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan kredit, dan nilai tukar. Dengan asumsi minimal 6% dari target penerimaan pajak maupun repatriasi terpenuhi, secara nasional pada 216 akan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar,3%; kredit meningkat 2,%; dan nilai tukar menguat sekitar 1%. Sementara dari sisi perkembangan harga, inflasi relatif stabil pada 216. Pengaruh tax amnesty dapat berasal dari beberapa jalur antara lain (1) jalur harga asset keuangan (seperti SBN, Corp. bonds, equity) yang akan memengaruhi yield; (2) jalur jumlah uang beredar yang akan memengaruhi inflasi; (3) jalur nilai tukar rupiah karena dana repatriasi akan 9 Kembalinya warga negara dalam hal ini aset dari negara asing yang pernah menjadi tempat tinggal menuju tanah asal kewarganegaraannya. 42 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

49 masuk ke cadangan devisa, sehingga memengaruhi pasokan valas di pasar; (4) jalur beban biaya dana pihak ketiga bagi bank; (5) jalur biaya kebijakan moneter; (6) jalur kesenjangan distribusi pendapatan yang memengaruhi rasio gini. Perlu antisipasi kebijakan di tingkat daerah. Di tingkat Pusat, Pemerintah bersama Bank Indonesia dan otoritas terkait telah membentuk gugus tugas dan tim koordinasi yang bertugas untuk melakukan harmonisasi kebijakan untuk mendukung implementasi tax amnesty, dan untuk memitigasi risiko tax amnesty. Apabila mengacu kepada kegiatan yang dilakukan di tingkat pusat, di tingkat daerah (Sulsel), lebih lanjut perlu ditingkatkan koordinasi dan kerjasama antara Kanwil Pajak, Bank Indonesia, OJK, Pemerintah Daerah, dan pihak terkait lainnya. Terkait dengan hal ini, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulsel telah turut aktif dalam kegiatan sosialisasi tax amnesty di beberapa lokasi bersama-sama dengan instansi terkait. Pada saat sosialisasi tax amnesty kepada jajaran Kepolisian yang diselenggarakan di Kantor Mapolda Sulsel, Kepala Kanwil Pajak Sulsel menyatakan akan segera membentuk satgas tax amnesty yang beranggotakan dari berbagai unsur instansi terkait. Sebagai langkah proaktif dalam mensukseskan kebijakan ini dan sekaligus guna menangkap peluang peningkatan investasi sehubungan dengan potensi aliran dana repatriasi, maka instansi terkait di Sulsel perlu mengidentifikasi sektor-sektor unggulan secara lebih cermat dan meningkatkan upaya promosi investasi di Sulsel. Selain itu, untuk mensukseskan kebijakan ini juga perlu didukung dengan kebijakan yang ramah investasi, diantaranya dengan memberikan kemudahan dalam pemberian ijin investasi di Sulsel. Sementara itu, bagi kalangan Perbankan di Sulsel, kebijakan tax amnesty merupakan peluang positif baik dalam upaya meningkatkan penghimpunan dana maupun pemberian kredit kepada masyarakat guna mendorong perekonomian Sulsel. Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

50 HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN 44 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

51 Bab 3 Inflasi Daerah Laju inflasi Sulsel pada akhir triwulan II 216 tercatat 4,3% (yoy) lebih rendah dari triwulan I 216 sebesar 5,7% (yoy), yang secara umum disebabkan oleh tekanan harga pada kelompok bahan makanan. Penurunan inflasi pada kelompok bahan makanan disebabkan oleh panen raya sehingga pasokan meningkat di saat tingginya permintaan masyarakat. Selain itu, kelompok transport juga tercatat deflasi, sebagai dampak dari menurunnya harga bensin dan solar. Secara umum, perkembangan inflasi hingga awal triwulan III 216 menunjukkan trend yang menurun, yang secara umum disebabkan oleh penurunan tekanan harga pada hampir seluruh kelompok kecuali bahan makanan dan pendidikan. Trend penurunan tekanan inflasi diperkirakan hingga akhir triwulan III 216, sebagai implikasi dari kembalinya permintaan masyarakat pada pola normal. Sebagai upaya pengendalian inflasi, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulsel terus melakukan koordinasi dengan instansi terkait melalui pelaksanaan rapat koordinasi TPID Provinsi Sulsel. Selain itu, juga menyelenggarakan pasar murah, koordinasi dengan alim ulama, inspeksi mendadak untuk menjaga inflasi saat Ramadhan/Idul Fitri tetap stabil, dan pemantauan pasokan bahan pangan di beberapa tempat strategis. Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

52 3.1 Inflasi Umum Laju inflasi Sulsel pada triwulan II 216 mengalami penurunan, sejalan dengan tekanan inflasi Nasional yang juga menurun. Inflasi Sulsel di akhir triwulan II 216 tercatat 4,3% (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi di akhir triwulan I 216 yang tercatat 5,7% (yoy). Angka inflasi Sulsel di triwulan II 216 tercatat lebih tinggi dari inflasi Nasional sebesar 3,45% (yoy). Secara umum, penurunan tekanan inflasi disebabkan oleh penurunan harga di semua kelompok,kecuali Makanan Jadi dan Sandang. Penurunan inflasi pada kelompok Bahan Makanan disebabkan oleh meningkatnya pasokan pangan, sejalan dengan panen raya yang terjadi pada bulan April-Mei di beberapa sentra produksi pangan Sulsel (Kabupaten Pangkep, Wajo, Bone, Soppeng, Takalar, dan Bulukumba). Selain itu, kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas Dan Bahan Bakar; Kesehatan; Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga; dan Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan mengalami penurunan tekanan inflasi, didorong oleh harga bahan bakar minyak yang stabil dan permintaan masyarakat yang normal menjelang Ramadhan. Trendpenurunan tekanan inflasi diperkirakan masih terjadi pada triwulan III 216.Indikasi penurunan inflasi ditandai dengan inflasi pada Juli 216 yang relatif rendah sebesar 4,14% (yoy). Bahkan inflasi bulanan pada Juli 216 sebesar 1,4% (mtm) merupakan yang terendah selama 5 tahun terakhir.penurunan tersebut didorong oleh konsumsi masyarakat yang kembali pada kondisi normal setelah Ramadhan/Idul Fitri, pola tanam komoditas bawang merah yang terjadwal sehingga terdapat pasokan terjaga, serta curah hujan dalam tingkat moderat mendorong tercukupinya pasokan ikan tangkap (2) % Nasional (yoy) Sulawesi Selatan (yoy) Sulawesi Selatan (qtq) I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III* Sumber: Badan Pusat Statistik Grafik Perkembangan Inflasi Sulawesi Selatan 4,3 3,45,3 3.2 Inflasi Kelompok Barang dan Jasa 1 Berdasarkan kelompok komoditas, penurunan tekanan inflasi pada triwulan II 216terjadi di lima kelompok dari tujuh kelompok komoditas. Inflasi kelompok Bahan Makanan tercatat 9,46% (yoy) lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya 12,46% (yoy); dilanjutkan kelompok Perumahan 2,75% (yoy) lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya 3,4% (yoy); kelompok Transpor mengalami deflasi -,76% (yoy) lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya 2,8% (yoy);kelompok Kesehatan3,14% (yoy) lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya 3,87% (yoy);dan kelompok Pendidikan2,1% (yoy) lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya 2,25% (yoy). Sementara itu, kelompok Makanan Jadi dan kelompok Sandang meningkat masing-masing menjadi 5,26% (yoy) dan 6,36% (yoy) dari sebelumnya 4,82% (yoy) dan 5,89% (yoy). 1 Terdapat 7 (tujuh) kelompok barang dan jasa dalam perhitungan inflasi 46 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

53 TAHUN Bahan Makanan Kelompok Bahan Makanan Tabel Inflasi Kelompok Barang dan Jasa Makanan Jadi Perumahan Sandang Kesehatan Pendidikan Transpor UMUM I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV (.99) 4.48 I II (.76) 4.3 III* (.79) 4.14 Keterangan: *) Data hingga Juli 216 Sumber: Badan Pusat Statistik Pada triwulan II 216, inflasi kelompok bahan makanan mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya. Tekanan inflasi menurun dari 12,46% (yoy) pada akhir triwulan I 216 menjadi 9,46% (yoy) di akhir triwulan II 216. Penurunan tekanan inflasi pada 4 subkelompok khususnya pada subkelompok padi-padian, umbi-umbian dan hasilnya, ikan diawetkan, sayur-sayuran, dan bumbu-bumbuan yang mengalami deflasi. Peningkatan andil inflasi tertinggi terjadi di subkelompok daging dan hasil-hasilnya dari,1% (yoy) di triwulan I 216 menjadi,6% (yoy) di triwulan II 216, serta lemak dan minyak dari -,4% (yoy) menjadi,1% (yoy) di triwulan II (5) (1) % *) Data hingga Juli 216 yoy qtq I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III* Sumber: Badan Pusat Statistik Grafik Inflasi Kelompok Bahan Makanan Meningkatnya pasokan bahan pangan pasca panen raya di awal triwulan II 216 menjadi faktor utama turunnya tekanan inflasibeberapa komoditas kelompok bahan makanan. Musim panen komoditas beras terjadi di bulan April Mei dan tanaman hortikultura mendorong pasokan pangan cukup banyak disaat permintaan masyarakat meningkat pada bulan Ramadhan dan jelang Idul Fitri. Andil inflasi komoditas cabe rawit, cabe merah dan beras mengalami deflasi masingmasing -,2% (yoy), -,8% (yoy) dan -,75% (yoy). Ikan teri dan ikan bandeng menjadi komoditas penyumbang inflasi pada triwulan II 216. Ikan teri tercatat inflasi 31,8% (yoy) dan memberikan andil,49% (yoy) dari total inflasi tahunan Sulsel di triwulan II 216. Sementara ikan bandeng tercatat inflasi 9,53% (yoy) dengan andil,42% (yoy). Komoditas bahan makanan lain yang memberikan andil inflasi di triwulan II 216 yaitu daging ayam ras, bawang merah dan pisang masing-masing,39% (yoy),,38% (yoy) dan,24% (yoy). Fenomena La Nina diperkirakan mendorong laju inflasi subkelompok ikan segar. Fenomena La Nina 11 diperkirakan menjadi salah satu penyebab utama kenaikan inflasi subkelompok ikan segar, sehingga mencatatandil inflasi tertinggi yaitu,12% (yoy). Fenomena La Nina memengaruhi gelombang laut dari intensitas rendah ke sedang, sehingga nelayan 11 Fenomena El Nino yang kuat diikuti oleh munculnya La Nina.Fenomena tersebut berdasarkan statistik kejadian dalam 5 tahun terakhir. La Nina diperkirakan terjadi pada bulan Juni September 216 (Sumber: BMKG) Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

54 cenderung enggan untuk melaut sejak akhir Mei 216. Oleh karenanya, pasokan ikan segar rendah, mendorong kenaikan harga komoditas ikan segar di saat permintaan juga meningkat. Perkembangan hingga awal triwulan III 216 menunjukkan bahwa terdapat peningkatan tekanan inflasi di kelompok bahan makanan. Peningkatan tersebut didorong oleh masuknya musim tanam komoditas pangan utama, fenomena La Nina yang mengganggu aktivitas nelayan, serta meningkatnya konsumsi masyarakat pada Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) yaitu Idul Fitri. Inflasi kelompok bahan makanan tercatat meningkat menjadi 1,45% (yoy). Meski demikian, diperkirakan inflasi bahan makanan akan turun di akhir triwulan III 216 karena konsumsi masyarakat kembali pada pola normal pasca Idul Fitri Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau Tekanan inflasi kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau pada akhir triwulan II 216 tercatat meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Kelompok ini mencatat laju inflasi 5,26% (yoy) pada triwulan II 216, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 4,82% (yoy) (Grafik 3.3). Peningkatan tekanan inflasi terjadi di seluruh subkelompok dengan peningkatan tertinggi terjadi di subkelompok minuman non alkohol dari 6,24% (yoy) di triwulan I 216 menjadi 7,86% (yoy) di triwulan II % yoy qtq I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III* *) Data hingga Juli 216 Sumber: Badan Pusat Statistik Grafik Inflasi Kelompok Makanan Jadi Komoditas gula pasir mendorong tekanan inflasi subkelompok minuman non alkohol di triwulan II 216. Tingginya tekanan inflasi diperkirakan akibat dari peningkatan permintaan masyarakat. Budaya masyarakat di bulan Ramadhan mendorong permintaan masyarakat dalam mengonsumsi gula. Komoditas lain yang mengalami kenaikan inflasi yaitu kopi bubuk yang mengalami inflasi 1,74% (yoy) dengan andil inflasi,7% (yoy). Lebih rinci ke tingkat komoditas, sebanyak 2 dari 49 komoditas yang terdapat di kelompok makanan jadi, minuman, dan rokok mengalami peningkatan tekanan inflasi. Komoditasrokok kretek filter, sate, martabak, ayam goreng, dan kue basah tercatat sebagai lima komoditas utama pendorong tekanan inflasi triwulan II 216. Di sisi lain, nasi dengan lauk, mie, ikan goreng, ayam bakar, dan kue kering berminyak tercatat sebagai lima komoditas utama penahan inflasi triwulan II 216. Hingga awal triwulan III 216, inflasi kelompok makanan jadi menunjukkan pola menurun. Penurunan tersebut disebabkan oleh subkelompok minuman tidak beralkohol (es, teh manis, dan jus buah). Inflasi kelompok ini diperkirakan lebih rendah hingga akhir triwulan III 216 dibandingkan triwulan II 216 sebagai dampak dari telah kembali normalnya aktivitas masyarakat pasca bulan Ramadhan Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar Pada akhir triwulan II 216, laju inflasi kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar mengalami penurunan dibandingkan akhir triwulan I tahun 216. Laju inflasi kelompok tersebut tercatat sebesar 2,75% (yoy), lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang tercatat 3,4% (yoy). Penurunan tekanan inflasi terjadi di seluruh subkelompok. Di triwulan II 216, subkelompok bahan bakar, penerangan, dan air dan subkelompok penyelenggaraan rumah tangga mengalami penurunan inflasi cukup signifikan masing-masing -,7% (yoy) dan 4,66% (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi di triwulan sebelumnya yang secara berurutan mengalami inflasi masing-masing 1,38% (yoy) dan 5,47% (yoy). Pada rincian per komoditas, sebanyak 38 dari 65 komoditas komoditas pada kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar mengalami penurunan tekanan inflasi di triwulan II 216. Lima komoditas utama yang mendorong penurunan tekanan inflasi adalah jasa pembuangan sampah, ongkos binatu, piring, biaya keamanan, dan mesin cuci. Inflasi kelima komoditas ini turun signifikan dari masing-masing 21,34%(yoy), 13,3% (yoy), 7,33% (yoy), 1,% (yoy) dan 48 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

55 1,44% (yoy) pada triwulan I 216 menjadi 6,65% (yoy), 7,38% (yoy), 1,73% (yoy), 4,76% (yoy) dan 6,58% (yoy) pada triwulan II 216. Selain itu, terdapat tiga komoditas yang mengalami deflasi yaitu besi beton, tarif listrik, dan batu batatercatat -2,19% (yoy), -1,64% (yoy) dan -1,18% (yoy). Di sisi lain, penurunan tekanan inflasi di kelompok ini tertahan oleh peningkatan tekanan inflasi di 27 komoditas. Lima komoditas yang mengalami peningkatan tekanan inflasi tertinggi adalah lemari pakaian, gelas minuman, kusen, papan, dan lemari hias dengan inflasi masing-masing 9,79% (yoy), 2,51% (yoy), 3,81% (yoy) 1,92% (yoy) dan 13,57% (yoy) pada triwulan I 216 menjadi masing-masing 18,3% (yoy), 4,36% (yoy), 5,5% (yoy) 3,17% (yoy) dan 14,51% (yoy) % yoy qtq I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III* *) Data hingga Juli Indeks %, yoy I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II IHPR gindeks - Skala Kanan Sumber: Badan Pusat Statistik Grafik 1.7. Inflasi Kelompok Perumahan, Air, Gas, dan Bahan Bakar Sumber: Survei Harga Properti Residensial Grafik 1.71.Indeks Harga Properti Residensial Komoditas tarif listrik menjadi penyumbang utama penurunan inflasi di perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar pada periode laporan. Inflasi komoditas tarif listrik pada periode laporan mencapai -1,64% (yoy) lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya,57% (yoy). Tarif tenaga listrik (TTL) yang turun pada golongan Rumah Tangga dengan batas daya VA dan diatas 6.6 VA, Bisnis dengan batas daya 6.6 VA 2 kva dan diatas 2 kva, Industri dengan batas daya diatas 2 kva, diatas 3 kva, dan Pemerintah dengan batas daya 6.6 VA 2 kva dan diatas 2 kva, penerangan jalan dan layanan khusus jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan TTL juga dipengaruhi oleh harga BBM yang turun di awal triwulan II 216, dimana pada perhitungan TTL memerhatikan tiga aspek yaitu harga BBM, nilai tukar dan inflasi. Penurunan tekanan inflasi di kelompok perumahan ini terkonfirmasi juga dari hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang dilaksanakan Bank Indonesia. Hasil SHPR triwulan II 216 menunjukkan terjadinya perlambatan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) dibandingkan periode sebelumnya. IHPR tercatat tumbuh melambat dari 9,37% (yoy) pada triwulan I 216, menjadi 5,66% (yoy) pada triwulan II 216. Inflasi kelompok perumahan, air, gas dan bahan bakar menunjukkan pola menurun di awal triwulan III 216. Penurunan tersebut terjadi di subkelompok perlengkapan rumah tangga (kain gorden, lemari pakaian, dan mesin cuci). Meskipun demikian, inflasi kelompok ini diperkirakan sedikit meningkat hingga akhir triwulan III 216 disebabkan oleh kenaikan tarif listrik yang terjadi pada bulan Juli dan Agustus Kelompok Sandang Inflasi kelompok sandang triwulan II 216 meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Di triwulan II 216, inflasi kelompok ini tercatat6,36% (yoy) lebih tinggi dibandingkan inflasi di akhir triwulan I 216 yang mencapai 5,89% (yoy). Peningkatan tekanan inflasi berasal dari subkelompok barang pribadi dan sandang lainnya yang tercatat meningkat dari 5,18% (yoy) di triwulan I 216 menjadi 8,22% (yoy) di triwulan II 216. Sementara inflasi tiga subkelompok lainnya tercatat menurun, yaitu sandang laki-laki, sandang wanita, dan sandang anak-anak secara berurutan tercatat 5,76% (yoy), 6,13% (yoy), dan 5,76% (yoy) lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya masing-masing 6,2% (yoy), 6,22% (yoy), dan 7,26% (yoy). Komoditas emas perhiasan menjadi penyumbang utama kenaikan inflasi subkelompok barang pribadi dan sandang lainnya. Inflasi emas perhiasan meningkat signifikan dari 1,76% (yoy) di triwulan I 216 menjadi 7,92% (yoy) di triwulan II 216. Peningkatan harga emas perhiasan diperkirakan dipengaruhi oleh pergerakan harga emas internasional, yang mulai Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

56 meningkat dalam 3 triwulan terakhir. Pergerakan harga emas dunia tercatat mengalami peningkatan dari -3,12% (yoy) di triwulan I 216 menjadi 5,6% (yoy) di angka USD1.259/troy oz pada triwulan II 216. Lebih rinci per komoditas, sebanyak 3 dari 69 komoditas pada kelompok sandang mengalami peningkatan tekanan inflasi di triwulan II 216. Lima komoditas utama yang mendorong inflasi adalahemas perhiasan, sarung batik, celana panjang sersin, baju muslim dan baju kaos tanpa kerah/t-shirt. Inflasi kelima komoditas ini naik dari masing-masing 1,76% (yoy), 5,46% (yoy),,6% (yoy), 16,42% (yoy) dan 3,21% (yoy) di triwulan I 216 menjadi masing-masing 7,92% (yoy), 8,14% (yoy), 2,39% (yoy) 17,85% (yoy) dan 4,44% (yoy) di triwulan II 216. Di sisi lain, penurunan tekanan inflasi kelompok sandang terjadi pada 39 komoditas lainnya. Lima komoditas yang mengalami penurunan tekanan inflasi terbesar adalah pakaian bayi, baju anak stelan, tas tangan wanita, ongkos jahit, dan sajadah dari masing-masing 14,77% (yoy, 6,38% (yoy), 24,4% (yoy), 7,41% (yoy) dan 9,49% (yoy) menjadi 7,22% (yoy),,65% (yoy), 19,4% (yoy), 3,57% (yoy) dan 5,71% (yoy). Pada awal triwulan III 216, inflasi kelompok sandang menunjukkan pola menurun. Penurunan tersebut terjadi di seluruh subkelompok yaitu sandang laki-laki, sandang wanita, sandang anak-anak,serta barang pribadi dan sandang lainnya. Inflasi kelompok ini diperkirakan tetap terjaga hingga akhir triwulan III 216. Meskipun demikian, risiko kenaikan harga emas dapat mendorong inflasi kelompok ini yoy qtq (2) *) Data hingga Juli 216 (4) I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III* % Sumber: Badan Pusat Statistik Grafik 1.72 Inflasi Kelompok Sandang 2,. $/troy oz 1,8. Emas %, yoy 1,6. gharga - Skala Kanan 1,4. 1,2. 1, I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III* *) Data hingga Juli 216 Sumber: World Bank Grafik 1.73.Perubahan Harga Emas Internasional 3% 2% 1% % -1% -2% -3% Kelompok Kesehatan Tekanan inflasi kelompok kesehatan juga mengalami penurunan.pada triwulan II 216, kelompok ini tercatat mengalami inflasi 3,14% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 3,87% (yoy). Penurunan tekanan inflasi berasal dari subkelompok jasa kesehatan, subkelompok obat-obatan, dan subkelompok perawatan jasmani. Di periode laporan, ketiga subkelompok ini tercatat mengalami inflasi masing-masing 2,25% (yoy); 1,24% (yoy); dan 6,8% (yoy); lebih rendah dibandingkan inflasi sebelumnya yang tercatat masing-masing 3,58% (yoy); 1,77% (yoy); dan 1,45% (yoy). Penurunan inflasi di kelompok ini tertahan oleh peningkatan tekanan inflasi pada subkelompok perawatan jasmani dan kosmetik dari 3,29% (yoy) di triwulan I 216 menjadi 3,52% (yoy) di akhir triwulan II % yoy I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III* *) Data hingga Juli 216 qtq Sumber: Badan Pusat Statistik Grafik Inflasi Kelompok Kesehatan Jasa dokter spesialis menjadi penyumbang utama penurunan inflasi kelompok ini. Inflasi jasa dokter spesialismenurun signifikan dari 12,67% (yoy) di triwulan I 216 menjadi % (yoy) di triwulan II 216. Penurunan jasa dokter spesialis diperkirakan dipengaruhi oleh Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 59 Tahun 214 Tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan. 5 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

57 Lebih rinci per komoditas, sebanyak 19 dari 4 komoditas pada kelompok kesehatan mengalami penurunan tekanan inflasi di triwulan II 216. Lima komoditas utama yang mendorong penurunan tekanan inflasi di kelompok ini adalah dokter spesialis, creambath, alat kontrasepsi, tarif gunting rambut wanita, dan facial. Kelima komoditas ini mengalami penurunan inflasi dari masing-masing 12,67% (yoy);13,93% (yoy);17,3% (yoy);21,52% (yoy); dan 12,97% (yoy) di triwulan I 216 menjadi masing-masing % (yoy);1,78% (yoy);5,17% (yoy);11,1% (yoy); dan 3,83% (yoy) di triwulan II 216. Di sisi lain, dari 21 komoditas yang mengalami peningkatan inflasi, 5 komoditas yang mengalami peningkatan inflasi terbesar adalah check up, parfum, dokter umum, deodorant, dan obat flu. Kelima komoditas tersebut mengalami peningkatan inflasi dari 12,31% (yoy);1,61% (yoy);12,2% (yoy);1,99% (yoy); dan,87% (yoy) di triwulan I 216 menjadi 21,32% (yoy);3,88% (yoy);14,1% (yoy);3,13% (yoy); dan 1,62% (yoy) pada triwulan II 216. Di awal triwulan III 216, inflasi kelompok kesehatan menunjukkan kecenderungan menurun.penurunan tersebut terjadi di seluruh subkelompok yaitu jasa kesehatan, obat-obatan, jasa perawatan jasmani, dan perawatan jasmani dan kosmetika. Inflasi kelompok ini diperkirakan akan terjaga hingga akhir triwulan III 216 sebagai dampak dari kebijakan pemerintah pusat terkait bidang kesehatan dan nilai tukar rupiah yang terjaga pada kisaran Rp , dimana 6%-7% bahan baku obat-obatan berasal dari impor Kelompok Pendidikan, Rekreasi, dan Olahraga Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga mengalami penurunan tekanan inflasi di triwulan II 216, namun tidak terlalu signifikan. Tekanan inflasi pada triwulan II 216 tercatat 2,1 % (yoy), menurun dari triwulan I 216 sebesar 2,25% (yoy). Penurunan inflasi kelompok ini didorong oleh subkelompok kursus-kursus/pelatihan dan perlengkapan/peralatan pendidikan. Kedua subkelompok tersebut tercatat mengalami penurunan inflasi dari masingmasing 3,23% (yoy) dan,37% (yoy) di triwulan I 216 menjadi masing-masing 2,87% (yoy) dan,25% (yoy) di triwulan II 216. Di sisi lain, penurunan tekanan inflasi di kelompok ini tertahan oleh peningkatan inflasi di subkelompok olahraga dan rekreasi, yang mengalami peningkatan inflasi dari 3,18% (yoy) dan,71% (yoy) pada triwulan I 216 menjadi 4,% (yoy) dan 1,12% (yoy) di triwulan II (.5) % *) Data hingga Juli 216 Sumber: Badan Pusat Statistik Grafik 1.1. Inflasi Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga yoy qtq I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III* Komoditas biaya fotokopi menjadi penyumbang utama penurunan inflasi subkelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga. Inflasi biaya fotokopi menurun signifikan dari 7,33% (yoy) menjadi 2,1% (yoy) di triwulan II 216. Penurunan inflasi biaya fotokopi dipengaruhi oleh penurunan aktivitas sekolah (SD/SMP/SMA) maupun Perguruan Tinggi (D1/D2/D3/D4/S1/S2/S3) pada jadwal libur akhir semester genap yang jatuh pada akhir triwulan II 216. Lebih rinci per komoditas, sebanyak 12 dari 44 komoditas pada kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga mengalami penurunan tekanan inflasi pada triwulan II 216. Lima komoditas utama yang mendorong penurunan tekanan inflasi di kelompok ini adalah biaya fotokopi, majalah berkala, VCD/DVD player, kursus komputer dan televisi berwarna. Kelima komoditas ini mengalami penurunan inflasi dari masing-masing 7,33% (yoy); 4,24% (yoy); 6,51% (yoy); 4,7% (yoy) dan 2,6% (yoy) di triwulan I 216 menjadi masing-masing 2,1% (yoy); %; 3,28% (yoy); 2,2% (yoy) dan,1% (yoy) pada triwulan II 216. Di sisi lain, penurunan tekanan inflasi di kelompok ini tertahan oleh inflasi di 9 komoditas, dimana 5 komoditas dengan peningkatan inflasi terbesar adalah fitness center, kertas HVS, tas sekolah, pulpen, dan sepatu olahraga pria. Kelima komoditas ini mengalami peningkatan inflasi dari masing-masing 7,23% (yoy); 1,18% (yoy);,37% (yoy);,33% (yoy) dan,13% (yoy) di triwulan I 216 menjadi 1,85% (yoy); 1,76% (yoy);,95% (yoy); 12 Data dari 1 Juli Agustus 216 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

58 ,73% (yoy); dan,4% (yoy) di triwulan II 216. Sementara itu, 23 komoditas lainnya tidak mengalami perubahan harga dibandingkan triwulan I 216. Inflasi kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga menunjukkan peningkatan di awal triwulan III 216. Kenaikan tersebut terjadi di hampir seluruh subkelompok kecuali kursus-kursus/pelatihan yang stabil. Kenaikan inflasi kelompok ini didorong oleh peningkatan tarif sekolah (SD/SMP/SMA/Akademi/Perguruan Tinggi) akibat adanya musim ajaran baru. Hingga akhir triwulan III 216, inflasi kelompok ini diperkirakan menurun sebagai dampak dari aktivitas subkelompok pendidikan yang turun di akhir triwulan III Kelompok Transportasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan Pada triwulan II 216, tekanan inflasi kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan juga ikut mengalamipenurunan dibandingkan triwulan sebelumnya. Di triwulan II 216,kelompok ini tercatat deflasi-,76% (yoy) lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat inflasi 2,8% (yoy). Penurunan tekanan inflasi di kelompok ini didorong oleh inflasi di subkelompok transpor serta subkelompok sarana dan penunjang transpor. Inflasi subkelompok transpor tercatatdeflasi pada triwulan I 216 dan triwulan II 216 masing-masing -3,38% (yoy) dan -1,71% (yoy). Adapun subkelompok sarana dan penunjang transpor di triwulan II 216 tercatat 6,12% (yoy), lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang tercatat 7,44% (yoy). Penurunan tekanan inflasi di kelompok ini tertahan oleh peningkatan harga di subkelompok komunikasi dan pengiriman yang mengalami peningkatan tekanan inflasi dari -,4% (yoy) di triwulan I 216 menjadi,3% (yoy) di akhir triwulan II 216. Komoditas bensin menjadi penyumbang utama penurunan inflasi subkelompok ini. Inflasi bensin turun dari,59% (yoy) di triwulan I 216 menjadi -12,25% (yoy) pada triwulan II 216. Penurunan bensin yang signifikan dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah dalam menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) khususnya jenis Premium dan Solar pada 1 April 216. Harga Premium dan Solar turun sebesar Rp5/liter masing-masing dari Rp6.95/liter dan Rp5.65/liter menjadi masing-masing Rp6.45/liter dan Rp5.15/liter. Lebih rinci per komoditas, sebanyak 13 dari 38 komoditas pada kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan mengalami penurunan tekanan inflasi di triwulan II 216. Lima komoditas utama yang mendorong peningkatan inflasi di kelompok ini adalah bensin, solar, cuci kendaraan, tarif sewa becak dan angkutan antar kota. Kelima komoditas tersebut mengalami penurunan inflasi masing-masing dari,59% (yoy); -12,61% (yoy); 29,4% (yoy); 1,22% (yoy); dan 2,2% (yoy) di triwulan I 216 menjadi masing-masing -12,25% (yoy); -25,36% (yoy); 18,84% (yoy); 5,95% (yoy); dan -1,37% (yoy) di triwulan II 216. Di sisi lain, terdapat enam komoditas yang mengalami peningkatan inflasi, dengan tiga komoditas utama yaitu angkutan udara, helm, dan pemeliharaan. Ketiga komoditas tersebut mengalami peningkatan inflasi masing-masing dari 15,22% (yoy); 2,42% (yoy); dan 3,94% (yoy) di triwulan I 216 menjadi 16,57% (yoy); 3,59% (yoy); dan 4,79% (yoy) di triwulan II 216. Sementara itu, 19 komoditas lainnya tidak mengalami perubahan harga dibandingkan periode sebelumnya. Kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan masih menunjukkan deflasi di awal triwulan III 216.Inflasi kelompok ini diperkirakan cenderung stabil hingga akhir triwulan III 216, sebagai dampak dari stabilnya harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Meskipun demikian, risiko penyesuaian harga BBM tetap terus diwaspadai karena harga minyak dunia pada tren yang meningkat hingga awal triwulan III (2) (4) (6) % yoy qtq *) Data hingga Juli 216 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III* Sumber: Badan Pusat Statistik Grafik 1.2. Inflasi Kelompok Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan 52 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

59 3.3 Inflasi Menurut Kota IHK 13 Secara spasial, penurunan inflasi Sulsel di triwulan II 216 disebabkan oleh penurunan tekanan inflasi di 4 dari 5 kabupaten/kota IHK di Sulsel. Empat kabupaten/kota yang mengalami penurunan inflasi di triwulan II 216 yaitu Makassar, Palopo, Parepare, dan Bulukumba.Inflasi keempat kabupaten/kota tersebut pada triwulan II 216 masingmasing 4,63% (yoy);4,5% (yoy); 3,5% (yoy); dan 2,12% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat masing-masing 6,38% (yoy);4,47% (yoy); 3,82% (yoy); dan 2,16% (yoy). Penurunaninflasi Sulsel tertahan oleh Watampone yang mengalami peningkatan tekanan inflasi dari 1,94% (yoy) di akhir triwulan I 216, menjadi 2,67% di akhirtriwulan II 216. Tekanan inflasi di daerah perkotaan (Makassar, Palopo, dan Parepare) yang masih tinggi mencerminkan karakteristik daerah perkotaan yang memiliki permintaan tinggi, namun produksi relatif rendah (excess demand), khususnya untuk komoditas pangan. Kondisi ini menyebabkan daerah perkotaan harus dipasok dari daerah lain dengan jalur distribusi yang relatif panjang, sehingga ongkos untuk pendistribusian barang menjadi relatif mahal. Tabel 1.1. Inflasi Sulawesi Selatan Menurut Kota Kota I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III* Makassar Palopo Parepare Watampone Bulukumba Sulawesi Selatan Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah Tabel 1.2. Sumbangan Inflasi Sulawesi Selatan Menurut Kota Kota I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III* Makassar 3.42% 3.24% 3.77% 3.71% 3.88% 3.68% 6.1% 5.25% 4.27% 4.2% 2.79% 6.65% 5.73% 6.73% 6.99% 4.5% 4.98% 3.62% 3.48% Palopo.22%.21%.25%.24%.25%.24%.4%.34%.4%.47%.26%.57%.44%.44%.46%.22%.29%.26%.25% Parepare.22%.21%.24%.24%.24%.23%.39%.33%.39%.39%.21%.66%.46%.49%.46%.11%.27%.21%.22% Watampone.2%.19%.22%.22%.23%.22%.36%.31%.45%.47%.26%.47%.33%.25%.25%.6%.11%.15%.14% Bulukumba.38%.39%.2%.26%.17%.17%.23%.6%.6%.6%.4% Sulawasi Selatan 4.6% 3.85% 4.48% 4.4% 4.61% 4.36% 7.24% 6.22% 5.88% 5.92% 3.72% 8.61% 7.13% 8.7% 8.39% 4.48% 5.7% 4.3% 4.14% Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah Bulukumba berhasil mempertahankan inflasi di level rendah.semenjak dimasukkan sebagai salah satu kota inflasi di awal tahun 214, Bulukumba secara konsisten berhasil menurunkan tingkat inflasinya. Setelah berhasil menurunkan inflasi dari 13,94% (yoy) di awal 214 menjadi 2,16% (yoy) di triwulan I 216, Bulukumba kembali berhasil mempertahankan inflasi di level yang relatif rendah,yaitu 2,12% (yoy) pada akhir triwulan II 216. Sampai dengan akhir triwulan II 216, angka inflasi tersebut merupakan inflasi Bulukumba terendah sejak tahun 214. Sementara itu, Kota Makassar masih mencatatkan inflasi tertinggi di Sulsel yaitu 4,63% (yoy). Tingginya inflasi di Kota Makassar diperkirakan karena Kota Makassar sebagai daerah konsumen, dimana pasokan bahan pangan tidak diproduksi di daerah tersebut sehingga mengandalkan daerah lain. Oleh karena itu, kerjasama antar daerah sangat diperlukan sebagai salah satu upaya untuk stabilisasi harga di Makassar. 13 Mulai Januari 214, inflasi Sulsel dihitung dari agregasi lima kota/kabupaten, yaitu Makassar, Palopo, Parepare, Watampone (Bone), dan Bulukumba. Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

60 %, yoy Sulawesi Selatan Bulukumba Makassar Palopo Parepare Watampone I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III* *) Data hingga Juli 216 Sumber: Badan Pusat Statistik Grafik 1.3. Inflasi Sulawesi Selatan Menurut Kota Secara umum di kota pemantauan harga, peningkatan tekanan inflasi disebabkan oleh komoditasgula pasir dan daging ayam ras.di empatkabupaten/kota, yaitu Makassar, Parepare, Watampone, dan Bulukumba, komoditas gula pasir termasuk ke dalam komoditas utama penyumbang inflasi 14, sehingga komoditas ini menjadi penyumbang utama inflasi Sulsel. Daging ayam ras juga menjadi komoditas penyumbang utama di tiga kabupaten/kota, yaitu Parepare, Watampone, dan Bulukumba, sehingga komoditas ini juga menjadi penyumbang utama inflasi Sulsel. Meningkatnya konsumsi masyarakat akibat tingginya aktivitas penjualan kue dan minuman tidak beralkohol mendorong penggunaan gula pasir. Selain itu, terbatasnya pasokan day old chick (DOC) disaat tingginya konsumsi masyarakat juga mendorong kenaikan harga daging ayam ras. Meskipun demikian, terdapat beberapa komoditas utama yang menahan inflasi triwulan II 216, antara lain bensin dan beras. Penurunan harga bensin sesuai dengan kebijakan pemerintah, sedangkan penurunan harga beras disebabkan oleh melimpahnya pasokan pasca panen raya yang terjadi di triwulan II 216. Tabel 1.3. Lima Komoditas Utama Penyumbang Inflasi Per Kab/Kota IHK di Sulsel No Makassar Parepare Watampone Bulukumba Palopo Sulsel 1 Gula Pasir Cakalang/Sisik Tomat Sayur Gula Pasir Beras Gula Pasir 2 Teri Layang/Benggol Gula Pasir Daging Ayam Ras Rokok Kretek Filter Emas Perhiasan 3 Emas Perhiasan Daging Ayam Ras Daging Ayam Ras Kue Basah Layang/Benggol Teri 4 Bawang Merah Wortel Ayam Hidup Kelapa Tukang Bukan Mandor Bandeng/Bolu 5 Lemari Pakaian Gula Pasir Cakalang/Sisik Pisang Pasir Daging Ayam Ras Sumber: Badan Pusat Statistik Tabel 1.4. Lima Komoditas Utama Penyumbang Deflasi Per Kab/Kota IHK di Sulsel No Makassar Parepare Watampone Bulukumba Palopo Sulsel 1 Bensin Beras Bensin Beras Tomat Sayur Bensin 2 Cabai Rawit Beras Bensin Angkutan Antar Kota Cabai Rawit 3 Cabai Merah Cabai Rawit Layang/Benggol Bensin Cabai Merah 4 Beras Telur Ayam Ras Cabai Rawit Daging Ayam Ras Beras 5 Tarip Listrik Ikan Diawetkan Cabai Merah Mie Kering Instant Tomat Sayur Sumber: Badan Pusat Statistik 3.4 Disagregasi Inflasi 15 Penurunan inflasi Sulsel di akhir triwulan II 216 terutama bersumber dari penurunan tekanan inflasi di kelompok administered price dan volatile food. Kelompok administered price dan volatile food tercatat mengalami penurunan tekanan inflasi masing-masing dari1,98% (yoy) dan 13,24% (yoy) di triwulan I 216 menjadi -1,71% (yoy) dan 9,85% (yoy)di akhir triwulan II 216. Sementara itu, kelompok inflasi inti (core) tercatat mengalami penurunan namun dalam kondisi stabil, dimana kelompok komoditas ini mencatatkan inflasi 4,15% (yoy) di triwulan II 216 atau lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang %, yoy Inflasi IHK Administered Price Core Volatile Food I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III* ,14 1,83 3,46-1,28 Sumber: Badan Pusat Statistik Grafik 1.4. Inflasi Sulawesi Selatan Menurut Komponen Disagregasi 14 Menggunakan modus: nilai yang sering muncul dalam kelompok data 15 Analisis disagregasi membagi inflasi menjadi inflasi inti (core inflation) dan inflasi noninti (volatile food dan administered prices). Hal ini dilakukan untuk menghasilkan indikator inflasi yang lebih menggambarkan pengaruh dari faktor yang bersifat fundamental. 54 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

61 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III* tercatat 4,32% (yoy). Deflasi kelompok administered price didorong olehpenurunan harga BBM khususnya bensin dan solar. Kebijakan pemerintah dalam menyesuaikan harga BBM bersubsidi seiring dengan menurunnya harga minyak dunia dan relatif stabilnya nilai tukar rupiah pada triwulan II 216. Menurunnya harga BBM bersubsidi berdampak pada penurunan tekanan inflasi di angkutan antar kota dan tarif listrik pada triwulan II 216. Di sisi lain, kenaikan tarif angkutan udara menahan deflasi lebih dalam pada kelompok administered price. Peningkatan tarif angkutan udara terjadi akibat arus mudik lebaran dimana jumlah penumpang tumbuh 28,58% (yoy) atau 1..7 penumpang pada triwulan II 216. Minyak Mentah 14. $/bbl gharga - Skala Kanan %, yoy % 8% 6% 4% 2% % -2% -4% -6% -8% Sumber: Pertamina Grafik 1.5 Perkembangan Harga BBM Jenis Premium dan Solar *) Data hingga Juli 216 Sumber: World Bank Grafik 1.6. Harga Minyak Mentah Global Pada kelompok volatile food, musim panen menahan inflasi harga bahan pangan utama, khususnya beras, cabe rawit dan cabe merah. Musim panen beras, cabe rawit dan cabe merah yang terjadi di awal periode triwulan II 216 mendorong pasokan di tengah meningkatnya konsumsi jelang bulan Ramadhan. Sementara itu, komoditas ikan teri dan ikan bandeng mendorong inflasi volatile food. Kenaikan harga ikan teri dan ikan bandeng diperkirakan terjadi akibat fenomena La Nina dimana curah hujan yang meningkat dari intensitas rendah ke sedang, sehingga menahan nelayan pergi melaut. Hal tersebut mengganggu pasokan ikan laut disaat tingginya aktivitas masyarakat di bulan Ramadhan. Pada inflasi inti (core), tekanan inflasi relatif stabil (4,15%; yoy). Secara umum, inflasi di kelompok ini masih berasal dari subkelompok makanan jadidan sandang akibat meningkatnya permintaan. Komoditas gula pasir dan emas perhiasan mendorong inflasi kelompok ini. Tingginya biaya bahan baku impor juga menjadi salah satu sumber tekanan inflasi di kelompok inti, khususnya komoditas berbahan baku kedelai yang sebagian besar merupakan hasil impor Pada awal triwulan III 216, tekanan inflasi relatif menurun, khususnya pada kelompok inflasi inti.penurunan tekanan inflasi juga terindikasi ekspektasi konsumen hasil dari Survei Konsumen (SK). Berdasarkan rata-rata hasil SK diketahui bahwa perkiraan harga 3 bulan yang akan datang mengalami penurunan dari 181,5 di triwulan II 216 menjadi 177 di triwulan III 216.Penurunan tersebut diperkirakan terjadi akibat telah kembali normalnya permintaan masyarakat terhadap komoditas bahan makanan pasca Idul Fitri. Memperhatikan perkembangan harga hingga bulan Juli 216, laju inflasi Sulsel pada triwulan III 216 diperkirakan akan mengalami penurunan, yaitu pada kisaran 3,2% - 3,6% (yoy). Faktor risiko inflasi triwulan III 216 yang patut diwaspadai berasal dari peningkatan kelompok inflasi administered price dan volatile food.inflasi kelompok volatile food diperkirakan berasal dari komoditas beras dan angkutan udara, yang memberikan andil terbesar. Kelompok inflasi administered price diperkirakan meningkat seiring dengan peningkatan tarif tenaga listrik pada bulan Juli dan Agustus, serta tarif angkutan udara akibat meningkatnya arus balik lebaran dan libur panjang pada Hari Raya Idul Adha. 3.5 Koordinasi Pengendalian Inflasi Koordinasi pengendalian inflasi di Sulsel terus dilakukan secara intensif melalui TPID Provinsi maupun TPID Kabupaten/Kota. Sampai dengan Agustus 216, terdapat beberapa kegiatan yang dimaksudkan untuk penguatan kerjasama dan koordinasi di TPID Provinsi dan TPID Kabupaten/Kota se-sulawesi Selatan (Tabel 3.6). Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

62 Tabel 1.5.Kegiatan TPID Triwulan II 216 NO TPID TEMPAT KEGIATAN TANGGAL KETERANGAN 1 Provinsi Sulawesi Selatan Ruang Rapat Wagub Sulsel 13 Januari Provinsi Sulawesi Selatan 3 Provinsi Sulawesi Selatan 4 Provinsi Sulawesi Selatan Biro Bina Perekonomian Provinsi Sulsel Hotel Grand Clarion Makassar Biro Bina Perekonomian Provinsi Sulsel 18 Januari 216 Penyampaian Laporan Evaluasi Inflasi 215 dan Rencana Kerja TPID Sulsel 216 Rapat Teknis dalam rangka Persiapan High Level Meeting (HLM) TPID Sulsel 3 Maret 216 Rapat Teknis Konsep Roadmap TPID Sulsel 13 Maret Provinsi Sulawesi Selatan Hotel Novotel, Makassar 2 April Provinsi Sulawesi Selatan 7 Provinsi Sulawesi Selatan 8 Kabupaten Gowa 9 Provinsi Sulawesi Selatan 1 Provinsi Sulawesi Selatan Jakarta (Pokjanas TPI), Jawa Barat (TPID Jabar) Rujab Gubernur Sulsel, Makassar Ruang Rapat Kantor Bupati Gowa, Gowa Ruang Rapat Menara Bosowa Lantai 11, Makassar Pembukaan di Paottere, dan terdapat di hampir seluruh Kabupaten/Kota di Sulsel Mei 216 Rapat Teknis Pembahasan Pengembangan Sistem Informasi Harga Pangan (SIGAP) Sulsel Yang Terintergrasi Dengan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Rapat Teknis TPID Prov Sulsel - Persiapan HLM TPID Studi Banding TPID Sulsel ke Pokjanas TPI Nasional dan TPID Jabar 25 Mei 216 HLM TPID Provinsi dan Kab/Kota se-sulsel 31 Mei 216 HLM TPID Kab. Gowa 13 Juni 216 Forum Koordinasi BI dan Alim Ulama se-sulsel Juni 216 Partisipasi dalam Pasar Murah 11 Provinsi Sulawesi Selatan Pasar modern dan pasar tradisional, Makassar 15 Juni 216 Sidak TPID bersama dengan Gubernur D/R menjaga pasokan di bulan Ramadhan 12 Provinsi Sulawesi Selatan Ruang Rapat Menara Bosowa Lantai 11, Makassar 13 Juli 216 Rapat Teknis TPID dan Persiapan Rakornas VII Provinsi/Kabupaten/Kota Jakarta 4 Agustus 216 Rakornas VII 216 Sampai dengan Agustus 216, telah diselenggarakan rapat teknis, High Level Meeting dan kegiatan lain dalam rangka menjaga tekanan inflasi tetap rendah.padatanggal 13 Januari 216, TPID Sulsel bertemu dengan Dewan Pembina dalam hal ini Wakil Gubernur Sulsel untuk melaporkan kinerja TPID 215 dan rencana kerja 216. Persiapan high level meeting (HLM) TPID juga telah dilaksanakan pada awal tahun 216 (18 Januari 216) dengan agenda mendengarkan arahan Pengarah TPID Sulsel (Gubernur Sulsel). Sementara pembahasan konsep roadmap TPID Sulsel dan integrasi Sistem Informasi Harga Pangan (SIGAP) dengan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), telah dilakukan pada 3 Maret 216 dan 13 Maret 216.Pada tanggal 2 April 216, TPID Provinsi Sulsel mengadakan rapat teknis dalam rangka persiapan high level meeting yang akan dilaksanakan mendekati bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Studi banding TPID ke Pokjanas TPI dan TPID Jawa Barat dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas TPID Provinsi Sulsel pada tanggal Mei 216. Lebih lanjut, pada tanggal 25 Mei 215 dilaksanakan High Level Meeting (HLM) dimana Gubernur Sulsel memberikan arahan kepada seluruh TPID Kabupaten/Kota dalam gantisipasi kenaikan harga di bulan Ramadhan dan Idul Fitri, serta diikuti dengan HLM TPID Gowa sebagai salah satu turunan dari HLM Provinsi. Selain itu, dalam rangka antisipasi kenaikan harga di bulan Ramadhan dan Idul Fitri, terdapat forum koordinasi BI dan Alim Ulama se-sulsel dimana diharapkan ulama dapat memberikan arahan kepada umat muslim lain untuk tidak konsumsi berlebihan yang dilaksanakan tanggal 13 Juni 216, partisipasi pasar murah dan inspeksi mendadak yang dilaksanakan pada tanggal Juni 216. Selain itu, tanggal 13 Juli 216, TPID Sulsel mengadakan rapat teknis dalam rangka persiapaln untuk Rakornas VII 216 yang akan diselenggarakan pada tanggal 4 Agustus 216. Rakornas TPID ini diharapkan memperkuat sinergi kebijakan antara pusat dan daerah. 56 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

63 Boks 3.A TEKAN INFLASI PADA BULAN RAMADHAN DAN IDUL FITRI, SULSEL LAKSANAKAN HIGH LEVEL MEETING (HLM) TPID PROVINSI DAN KAB/KOTA SE SULAWESI SELATAN SERTA KOORDINASI DENGAN ALIM ULAMA Kenaikan harga kebutuhan pokok kerap terjadi pada bulan Ramadhan dan Idul Fitri yang pastinya menjadi beban tersendiri bagi masyarakat. Berkaca pada pengalaman tersebut, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sulawesi Selatan pada tanggal 25 Mei 216, melaksanakan langkah pengendalian inflasi dalam sebuah pertemuan bertajuk High Level Meeting (HLM) TPID Provinsi dan Kab/Kota se Sulawesi Selatan yang dipimpin langsung oleh dipimpin Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo. Pertemuan tersebut mengagendakan perumusan kebijakan pengendalian inflasi jelang Ramadhan dan Idul Fitri di Sulsel. Pertemuan yang dihadiri oleh berbagai unsur Muspida, Bank Indonesia, pemerintah daerah (Pemprov Sulsel dan 24 kab/kota se Sulsel), BUMN, Kepolisian, TNI, aparat penegak hukum, hingga masyrakat sipil (terutama pengusaha dan distributor kebutuhan pokok) membahas berbagai hal terkait persiapan menghadapi bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Pengecekan ketersediaan pasokan, hingga rencana distribusi dilakukan langsung oleh Gubernur kepada seluruh pihak terkait. Pada pertemuan tersebut, Gubernur memberikan beberapa instruksi pada seluruh Bupati dan Pimpinan SKPD terkait upaya/langkah yang harus dilakukan untuk menjagakestabilan harga dan ketersediaan pasokan pada bulan ramadhan dan Idul Fitri antara lain: 1. Menjaga ketersediaan pasokan & mempercepat distribusi barang melalui pemantaun pasokan, Sidag, Operasi Pasar, Pasar Murah, prioritas transportasi kebutuhan pokok, memperbaiki infrastuktur pada titik jalur distibusi, penyiapan jalur alternatif, menjamin keamanan penyaluran barang kebutuhan pokok, pengendalian & pengawasan Penggunaan BBM. 2. Memantau ketersediaan, kelancaran distribusi & perkembangan harga. 3. Pertamina, Pemda, FKPD dan instansi terkait lainnya akan melakukan pengawasan terhadap penyaluran, ketersediaan dan stabilitas harga dan ketersediaan LPG serta BBM. 4. Kerjasama dengan dengan aparat penegak hukum untuk menjamin kelancaran dan keamanan distribusi serta menanggulangi kegiatan illegal seperti penimbunan dll. 5. Ketersediaan Beras di Sulsel dijaga dalam level aman untuk antisipasi peningkatan konsumsi masyarakat. Informasi dari Bulog, ketahanan beras di Sulsel mencapai 16,5 bulan. 6. Tarif angkutan dikendalikan dengan langkah-langkah antara lain dalam penetapan tarif angkutan dengan mempertimbangkan kenaikan yang wajar. 7. Gerakan menanam cabai dan bawang merah di beberapa Kab/Kota untuk menjaga ketersediaan pasokan. 8. Gapoktan bekerjasama Lembaga Usaha Pangan Masyarakat (LUPM) akan mensupply Toko Tani Indonesia (TTI) khususnya di Kota Makassar untuk menjaga ketersediaan pasokan. 9. Bank Indonesia dan perbankan akan menjaga kelancaran sistem pembayaran dan ketersediaan uang beradar untuk memenuhi kebutuhan transaksi masyarakat. Dalam rangka menjaga konsumsi masyarakat untuk tidak berlebihan selama bulan Ramadhan, TPID Sulsel juga melakukan langkah koordinasi dan kerjasama dengan alim ulama di Kota Makassar dan sekitarnya yang tergabung dalam Ikatan Masjid Mushalla Indonesia Muttahidah (IMMIM) Kota Makassar. Peran ulama dalam masyarakat adalah sosok yang dipandang dan didengarkan oleh masyarakat di Sulawesi Selatan. Untuk itu, TPID Sulsel bersinergi dengan para alim Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

64 ulama untuk turut berkontribusi menyampaikan pentingnya pengendalian inflasi melalui pengaturan pola konsumsi masyarakat dan penetapan margin yang wajar kepada masyarakat. Hal tersebut didorong oleh fenomena yang terjadi di masyarakat dimana pada bulan Ramadahan seharusnya masyarakat dapat mengendalikan diri untuk tidak konsumtif, namun justru sebaliknya melakukan konsumsi yang berlebihan.alim ulama yang tergabung dalam IMIM diharapkan dapat memberikan pemahaman, penjelasan sekaligus ajakan kepada masyarakat melalui ceramah, tausiyah, kultum, dan media sosialisasi lainnya kepada umat mengenai makna puasa yang sebenarnya, bukan pola konsumsi yang dikedepankan dalam bulan suci Ramadan justru momentum untuk menstabilkan permintaan dan penawaran dan menahan diri dari sesuatu yang berlebihan. 58 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

65 HALAMAN INI SENGAJA DI KOSONGKAN Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

66 4. Stabilitas Keuangan Daerah, Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM Bab 4 Stabilitas Keuangan Daerah, Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM Stabilitas keuangan daerah masih terjaga, terutama ketahanan sektor rumah tangga. Kinerja konsumsi masyarakat yang masih baik, dengan porsi pinjaman perbankan yang normal, dan rasio tabungan yang kuat, menjadikan stabilitas keuangan daerah tetap terjaga. Dari sisi korporasi, kinerja korporasi utama masih terpengaruh terhadap kondisi ekonomi global. Namun, masih kuatnya permintaan rumah tangga mengompensasi penurunan yang ada di sektor korporasi sehingga menjaga stabilitas keuangan di Sulsel. Kinerja perbankan secara umum tercatat masih baik. Meskipun terjadi sedikit perlambatan pertumbuhan aset, namun kinerja intermediasi masih sangat baik dengan mencatatkan pertumbuhan yang lebih tinggi di triwulan II 216. Yang lebih utama, peningkatan kinerja intermediasi ini dapat diimbangi dengan perbaikan kualitas kredit. Penyaluran kredit ke sektor UMKM juga terus tumbuh, sehingga pangsa kredit UMKM terhadap total kredit tetap terjaga di atas 3%. Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216 6

67 4.1 Stabilitas Keuangan Daerah Asesmen Sektor Rumah Tangga Sumber Kerentanan dan Kondisi Sektor Rumah Tangga Secara makro, peningkatan kinerja rumah tangga menjadi salah satu penopang percepatan pertumbuhan ekonomi Sulsel di triwulan II 216.Konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh meningkat, dari 5,28% (yoy) pada triwulan I 216 menjadi 5,61% (yoy) pada triwulan II 216. Namun dari sisi pangsa, terjadi penurunan pangsa konsumsi rumah tangga terhadap total PDRB yaitu dari 56,38% ditriwulan I 216 menjadi 53,4% di triwulan II 216. Bila dilihat secara tren, konsumsi rumah tangga tengah dalam tren meningkat sejak mencapai titik pertumbuhan terendah di triwulan III 215. Sumber: BPS Prov. Sulsel Grafik 4.1. Kontribusi Konsumsi Rumah Tangga Terhadap PDRB Sulsel Sumber: Survei Konsumen KPw BI Sulsel, diolah Grafik 4.2. Indeks Keyakinan Konsumen Rumah Tangga Sulsel Peningkatan konsumsi rumah tangga tersebut sejalan dengan masih optimisnya rumah tangga dalam melakukan kegiatan konsumsi. Hal ini tercermin dari hasil Survei Konsumen (SK) Provinsi Sulsel, dimana Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) di triwulan II 216 berada di tingkat optimis sebesar 125,92. Angka ini lebih tinggi dari IKK di akhir triwulan I 216 yang tercatat 118,75. Peningkatan ini tidak lepas dari adanya kebijakan penurunan harga BBM bersubsidi jenis Solar dan Premium per 1 April 216 yang menjaga tingkat ekspektasi rumah tangga terhadap perekonomian Sulsel. Sumber: Survei Konsumen KPw BI Sulsel, diolah Grafik 4.3. Persepsi RT Sulsel Terhadap Ekonomi Saat Ini Sumber: Survei Konsumen KPw BI Sulsel, diolah Grafik 4.4. Persepsi RT Sulsel Terhadap Ekonomi 6 Bulan Mendatang Perbaikan kinerja ekonomi meningkatkan ekspektasi sektor rumah tangga di Sulsel. Sektor rumah tangga di Sulsel pada triwulan II 216 masih memiliki optimisme yang tinggi terhadap kondisi penghasilan. Begitu pula dengan kondisi 6 bulan kedepan, sektor rumah tangga optimis melihat adanya peningkatan penghasilan dalam 6 bulan kedepan. Optimisme rumah tangga ini didorong oleh terus meningkatnya optimisme ketersediaan lapangan kerja di sepanjang triwulan II 216. Kondisi ini diperkirakan terus membaik, mengingat optimisme ketersediaan lapangan pekerjaan 6 bulan mendatang juga menunjukkan peningkatan di sepanjang triwulan II Di dalam sistem keuangan, Rumah Tangga memiliki dua fungsi yaitu sebagai penyedia dana dan penerima dana dari institusi keuangan. Kondisi keuangan Rumah Tangga berfluktuatif sepanjang waktu dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya adalah tingkat pengangguran, tingkat konsumsi, dan kondisi pembiayaan/kredit yang dilakukan oleh Rumah Tangga. Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

68 Sumber: Survei Konsumen KPw BI Sulsel, diolah Grafik 4.5. Ekspektasi Perubahan Harga Oleh Rumah Tangga 3 Bulan Yang Akan Datang Sumber: Survei Konsumen KPw BI Sulsel, diolah Grafik 4.6. Ekspektasi Perubahan Harga 3 Bulan Mendatang Berdasarkan Komoditi Pada akhir triwulan II 216, tekanan harga meningkat dengan kenaikan permintaan di bulan Ramadhan dan Idul Fitri, namun levelnya masih rendah dibanding tahun sebelumnya.peningkatan harga menjadi sumber kerentanan untuk sektor rumah tangga karena memengaruhi daya beli. Inflasi di bulan Ramadhan tahun ini tercatat,73% (mtm), lebih rendah apabila dibandingkan rata-rata tahun sebelumnya 1,18% (mtm). Salah satu faktor penyebab terkendalinya inflasi di bulan Ramadhan tahun ini adalah terkendalinya ekspektasi harga di sektor rumah tangga. Hasil SurveiKonsumen menunjukkan penurunan ekspektasi perubahan harga di bulan Ramadhan tahun 216 (bulan Juni). Terkendalinya ekspektasi masyarakat merupakan hasil program pengendalian harga yang dilakukan oleh pemerintah di sepanjang Ramadhan 216, mulai dari penetapan target harga daging sapi dikisaran Rp8./kg hingga program intervensi harga melalui kegiatan operasi pasar yang dilakukan secara selektif pada saat terjadi peningkatan harga di luar kewajaran Kinerja Keuangan Sektor Rumah Tangga Pada triwulan II 216, porsi keuangan rumah tangga untuk konsumsi sedikit menurun. Di triwulan II 216, pengeluaran rumah tangga untuk konsumsi mencapai 59,17% sedikit turun dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 59,7%. Peningkatan perekonomian khususnya di sektor Pertanian, Perdagangan, dan Konstruksi, menjadi pendorongrumah tangga untuk melakukan konsumsi, khususnya produk barang tahan lama. Demikian pula, porsi dana yang disisihkan untuk menabung juga sedikit turun dari 23,65% menjadi 23,32%.Di sisi lain, porsi keuangan rumah tangga yang digunakan untuk membayar cicilan relatif naik dari 16,65% menjadi 17,51%. Sumber: Survey Konsumen KPw BI Sulsel, diolah Grafik 4.7. Komposisi Pengeluaran RT Sulawesi Selatan Secara umum, tingkat kerentanan rumah tangga terhadap perbankan relatif rendah, dengan porsi cicilan pinjaman untuk semua tingkat pendapatan cenderung rendah. Di semua kelompok pendapatan, porsi cicilan pinjaman lebih rendah dibandingkan porsi tingkat tabungan(tabel 4.1). Di sisi lain, porsi pengeluaran konsumsi cenderung tinggi,terutama dilakukan oleh kelompok rumah tangga berpendapatan rendah(rp1-2 juta dan Rp2,1-3, juta).kelompok pendapatan rendah tercatat sebagai kelompok rumah tangga dengan porsi pengeluaran konsumsi tertinggi masingmasing 6,92% dan 62,25% (Tabel 4.1). Sebagian besar rumah tangga (9,5%) memiliki porsi cicilan untuk membayar pinjaman kurang dari 3% pendapatan, dan hanya 9,5% rumah tangga yang memiliki rasio cicilan lebih dari 3% pendapatan (Tabel 4.2). 62 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

69 Tabel 4.1.Komposisi Pengeluaran Rumah Tangga Berdasarkan Pendapatan Jenis Pendapatan Penggunaan Rp 1-2 juta Rp 2,1-3 juta Rp 3,1-4 juta Rp 4,1-5 juta > Rp 5 juta Konsumsi 6.92% 62.25% 57.71% 57.3% 58.32% Cicilan/Pinjaman 14.88% 16.83% 19.3% 18.85% 2.56% Tabungan 24.2% 2.92% 22.99% 23.86% 21.12% Total 1.% 1.% 1.% 1.% 1.% Sumber: Survei Konsumen KPw BI Sulsel, diolah Tabel 4.2.Dana Rumah Tangga Untuk Membayar Cicilan Berdasarkan Pendapatan di Triwulan II 216 Tabel 4.3.Dana Rumah Tangga Untuk Menabung Berdasarkan Pendapatan di Triwulan II 216 Sumber: Survei Konsumen KPw BI Sulsel, diolah Sumber: Survei Konsumen KPw BI Sulsel, diolah Sementara itu jika dilihat dari perubahan perilaku berhutang, terjadi peningkatan risiko dari sisi kredit.secara agregat, terjadi peningkatan jumlah rumah tangga yang memiliki debt service ratio(dsr) lebih dari 3% pendapatannya (DSR>3%). Pada triwulan II 216, jumlah rumah tangga dengan DSR>3% meningkat 14,% (qtq)dibandingkan triwulan sebelumnya. Institusi keuangan menilai DSR>3% memiliki risiko yang tinggi dan dapat menjadi penyebab peningkatan rasio kredit bermasalah. Bila dilihat per kelompok pendapatan, peningkatan DSR>3% terjadi di kelompok pendapatan Rp1-2 juta, kelompok pendapatan Rp2,1-3, juta, dan kelompok pendapatan Rp3,1-4, juta. Peningkatan tertinggi terjadi di kelompok pendapatan Rp2,1-3, juta yang mencapai 84,62% (qtq). Perilaku menabung masyarakat juga mengalami peningkatan risiko. Hal ini terlihat dari bertambahnya jumlah rumah tangga yang tidak dapat menabung hingga 22,58% dibandingkan triwulan sebelumnya. Bila dilihat per kelompok pendapatan, peningkatan ketidakmampuan menabung terjadi di kelompok pendapatan Rp2,1-3, juta, kelompok pendapatan Rp3,1-4, juta, kelompok pendapatan Rp4,1-5, juta, dan kelompok pendapatan >Rp5 juta. Peningkatan tertinggi terjadi di kelompok pendapatan >Rp5 juta yang mencapai 3% (qtq). Tabel 4.4.Perubahan Rasio Dana Rumah Tangga Untuk Membayar Cicilan Berdasarkan Pendapatan di Triwulan II 216 Tabel 4.5.Perubahan Rasio Dana Rumah Tangga Untuk MenabungBerdasarkan Pendapatan di Triwulan II 216 *) Perubahan Triwulan II 216 Terhadap Triwulan I 216 *) Perubahan Triwulan II 216 Terhadap Triwulan I 216 Sumber: Survei Konsumen KPw BI Sulsel, diolah Sumber: Survei Konsumen KPw BI Sulsel, diolah Dana Pihak KetigaPerbankan dari Sektor Rumah Tangga Dana Pihak Ketiga (DPK) di perbankan masih didominasi oleh sektor rumah tangga dan cenderung meningkat. Secara keseluruhan, pangsa DPK yang berasal dari dana Perseorangan mencapai 78,84%. Pangsa DPK Perseorangan sedikit meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 78,2%. Pertumbuhan DPK Perseorangan di triwulan II 216 tercatat 18,7% (yoy) lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh 15,45% (yoy). Di sisi lain, terjadi perlambatan pada DPK Bukan Perseorangan yang tercatat tumbuh melambat menjadi 2,12% (yoy) di triwulan II 216dari 27,44% (yoy)di triwulan I 216.Peningkatan DPK Perseorangan tersebut mendorong pertumbuhan DPK secara umum di Sulsel pada triwulan II 216 yang mencapai 19,% (yoy), lebih tinggi dari triwulan sebelumnya 17,87% (yoy). Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

70 Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Proyek), diolah Grafik 4.8. Komposisi DPK Sulsel Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Proyek), diolah Grafik 4.9. Pertumbuhan DPK Perseorangan Preferensi rumah tangga dalam melakukan penempatan dana di perbankan di triwulan II 216 masih didominasi oleh produk tabungan yang mencapai 63,77%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 61,77%. Di sisi lain, pangsa deposito dan giro mengalami penurunan di triwulan II 216. Pangsa deposito tercatat mengalami penurunan dari 34,4% di triwulan I 216 menjadi 32,69% di triwulan II 216. Sementara pangsa giro tercatat turun dari 4,79% di triwulan I 216 menjadi 3,54% di triwulan II 216. Dari sisi pertumbuhan, tabungan dan deposito di kelompok perseorangan mengalami percepatan pertumbuhan di triwulan II 216. Pertumbuhan tabungan perseorangan tercatat meningkat dari 13,55% (yoy) di triwulan I 216 menjadi 21,53% (yoy) di triwulan II 216. Minat masyarakat untuk menyimpan di deposito masih besar, terpantau dari pertumbuhan yang masih tinggi, meskipun suku bunga deposito menurun. Pada triwulan II 216, rata-rata tertimbang suku bunga deposito tercatat 6,87% atau menurun dari 7,21% pada triwulan I 216, namun nominal deposito pada triwulan II 216tercatat tumbuh 19,23% (yoy) lebih tinggi dari pertumbuhan triwulan I 216 sebesar 18,97% (yoy). Di sisi lain, Giro perseorangan tercatat mengalami kontraksi -18,79% (yoy) di triwulan II 216, jauh lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat tumbuh 14,4% (yoy). Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Proyek), diolah Grafik 4.1. Komposisi DPK Perseorangan Sulsel Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Proyek), diolah Grafik Pertumbuhan DPK Perseorangan Tiap Jenis Penempatan Dari sisi jumlah rekening DPK perseorangan, terjadi penambahan jumlah rekening sebesar 3,35%dibandingkan triwulan sebelumnya (Tabel 4.6). Peningkatan jumlah rekening tersebut terjadi hampir di semua kategori simpanan dengan pertumbuhan terbesar terjadi di kategori simpanan Rp1 juta Rp 5 juta yang mencapai 23,16% dibandingkan triwulan sebelumnya. Sementara itu, jumlah rekening simpanan bernilai besar >1 M - 2 M, >5M - 1M, dan >2M tercatat mengalami penurunan masing-masing -,3%, -5,26%, -8,45% dibandingkan triwulan sebelumnya. Kondisi ini terjadi hampir di seluruh kabupaten/kota yang ada di Sulawesi Selatan. Adapun penambahan peningkatan rekening simpanan terbesar terjadi di Kab. Jeneponto sebesar 4,81% dibandingkan triwulan sebelumnya. Sementara itu, terjadi penurunan jumlah rekening di dua daerah yaitu di Kab. Soppeng dan Kab. Toraja Utara masing-masing sebesar -2,61% dan -1,95% dibandingkan triwulan sebelumnya. 64 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

71 Tabel 4.6.Komposisi dan Pertumbuhan Triwulanan Jumlah Rekening Perseorangan Per Nilai Penempatan di Sulsel Kredit Perbankan kepada Sektor Rumah Tangga Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Proyek), diolah Dari sisi kredit perbankan, sektor rumah tangga masih mendominasi porsi penyaluran kredit di Sulawesi Selatan. Hal ini tercermin dari rasio kredit perseorangan yang mencapai 72,73% terhadap total kredit di Sulawesi Selatan pada triwulan II 216. Sebagian besar kredit perseorangan tersebut disalurkan untuk tujuan konsumsi yaitu sebesar 55,1%, sedangkan sisanya digunakan untuk keperluan produktif baik modal kerja maupun investasi. Bila dilihat lebih dalam, kredit konsumsi oleh perseorangan lebih banyak disalurkan dalam bentuk kredit multiguna yang mencapai 41,1%. Sementara porsi kredit konsumsi perseorangan yang disalurkan dalam bentuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) masing-masing mencapai 3,56% dan 9,16%. Di sisi lain, porsi kredit perseorangan yang digunakan untuk keperluan produktif cukup besar, yaitu mencapai 44,89% di triwulan II 216.Besarnya porsi kredit perseorangan untuk keperluan produktif menunjukkan perseoranganyang juga menjalankan UMKM, sehingga belum menggunakan badan usahanya dalam mendapatkan fasilitas pembiayaan dari perbankan. Pada triwulan II 216, jumlah kredit modal kerja yang diakses oleh UMKM mencapai 79,75%, sementara di kredit investasi mencapai 55,8% (Grafik 4.14). Tingginya rasio kredit perseorangan yang diakses oleh UMKM, menjadi salah satu indikasi salah satu sumber risiko yang patut diwaspadai pada stabilitas keuangan di sektor rumah tangga. Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

72 Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Proyek), diolah Grafik Komposisi Kredit Perseorangan Sulsel Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Proyek), diolah Grafik Komposisi Penggunaan Kredit Perseorangan di Sulsel Dari sisi pertumbuhan, kredit perseorangan mengalami percepatan pertumbuhan.pertumbuhan kredit perseorangan meningkat dari 13,81% (yoy) di triwulan I 216 menjadi 16,26% (yoy) di triwulan II 216. Peningkatan tersebut ditopang oleh meningkatnya kredit konsumsi terutama kredit multiguna yang mampu tumbuh 2,19% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan di triwulan sebelumnya yang mencapai 16,43% (yoy). Di sisi lain, Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) tercatat mengalami penurunan di triwulan II 216 sebesar -14,99% (yoy), melanjutkan tren penurunan yang telah berlangsung sejak triwulan II 215. Demikian pula Kredit Pemilikan Rumah (KPR) mengalami perlambatan sebesar 5,21% (yoy) dibandingkan triwulan sebelumnya 5,71% (yoy). Grafik Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Proyek), diolah Komposisi Penggunaan Kredit Produktif Perseorangan oleh UMKM Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Proyek), diolah Grafik 4.15.Pertumbuhan Kredit Perseorangan di Sulsel Dilihat dari sisi suku bunga, suku bunga kredit perseorangan menunjukkan arah yang relatif stabil dan mulai mengarah ke suku bunga yang lebih rendah. Pada triwulan II 216, suku bunga tertimbang kredit perseorangan di Sulsel mencapai 12,9% per tahun, lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 13,21% per tahun. Penurunan ini diikuti oleh penurunan suku bunga rata-rata kredit konsumsi dari 13,9% per tahun di triwulan I 216 menjadi 13,62% per tahun di akhir triwulan II 216. Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Proyek), diolah Grafik NPL dan Suku Bunga Kredit Perseorangan di Sulsel 66 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

73 Di sisi lain, risiko kredit rumah tangga tercatat masih terjaga di level yang aman.hal ini dapat dilihat dari rasio NPL kredit perseorangan di triwulan II 216 sebesar 2,31% lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya 2,34%. Risiko yang jauh lebih terkendali terjadi pada kredit konsumsi perseorangan yang tercermin dari rasio NPL sebesar 1,83%lebih rendah dibandingkan posisi NPL triwulan sebelumnya 1,92%. Secara spasial, penyaluran kredit perseorangan masih terkonsentasi di Kota Makassar.Pangsa kredit perseorangan di Makassar sebesar 44,63%, diikuti oleh Kab. Gowa, Kab. Bone, dan Kota Palopo masing-masing dengan pangsa 5,78%, 4,16%, dan 3,75%. Penyaluran kredit perseorangan ini terdiri dari kredit perseorangan konsumtif dan non konsumtif (produktif). Untuk penyaluran kredit perseorangan konsumtif terkonsentrasi di Makassar dengan pangsa 41,32%, diikuti oleh Kab. Gowa, Kota Palopo, dan Kab. Bone masing-masing dengan pangsa 7,42%, 4,62%, dan 3,97%. Penyaluran kredit perseorangan konsumtif di sebagian besar kabupaten/kota didominasi oleh kredit multiguna, kecuali Kota Makassar dan Kab.Gowa yang lebih didominasi Kredit Pemilikan Rumah (KPR).Hal ini menyebabkan secara keseluruhan kredit perseorangan konsumtif di Sulsel didominasi oleh Kredit Multiguna. Untuk penyaluran kredit perseorangannon konsumtif (produktif), juga terkonsentrasi di Kota Makassar dengan porsi 48,7%, diikuti Kab. Jeneponto, Kab. Bone, dan Kab. Pinrang masing-masing dengan pangsa 5,2%, 4.39%, dan 3,89%. Tabel 4.7.Penyaluran Kredit Perseorangan Secara Spasial Posisi Triwulan II 216 Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Proyek), diolah Penyaluran KPR di triwulan II 216 tercatat 5,21% (yoy) lebih rendah di bandingkan periode sebelumnya 5,71% (yoy).berdasarkan jenisnya, perlambatan pertumbuhan KPR disebabkan oleh KPR/KPA tipe sedang (>21-7 m 2 ) dan KPR/KPA tipe besar (>21-7 m 2 ). Di triwulan II 216, KPR/KPA tipe sedang (>21-7 m 2 ) tumbuh 6,61% (yoy) lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 8,35% (yoy). Sementara KPR tipe besar (>21-7 m 2 ) tumbuh melambat dari 1,57% (yoy) di triwulan I 216 menjadi,54% (yoy) di triwulan II 216. Sementara itu, pertumbuhan KPR/KPA tipe kecil (s.d 21m 2 ) dan KP Ruko tercatat tumbuh lebih tinggi dari triwulan sebelumnya, yaitu masing-masing dari -2,25% (yoy) dan 8,71% (yoy) di triwulan I 216 menjadi,44% (yoy) dan 11,7% (yoy) di triwulan II 216. Dari sisi risiko, terjadi peningkatan risiko kemampuan membayar dari sektor rumah tangga. Meskipun masih dalam tingkat aman, NPL KPR secara keseluruhan sedikit meningkat dari 3,94% menjadi 3,98%. Peningkatan NPL disebabkan oleh memburuknya kualitas kredit KPR/KPA tipe besar (>21-7 m 2 ) dari 3,92% di triwulan I 216 menjadi 4,51% di triwulan II 216. Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

74 Tabel 4.8.Pertumbuhan dan NPL KPR di Sulsel Jenis KPR Pangsa (%) Growth (yoy) NPL % Tw II-216 Tw I-216 Tw II-216 Tw I-216 Tw II-216 KPR/KPA s.d % -2.25%.44% 3.% 2.65% KPR/KPA > % 8.35% 6.61% 3.89% 3.8% KPR/KPA > % 1.57%.54% 3.92% 4.51% KP Ruko 12.65% 8.71% 11.7% 4.96% 4.9% Total KPR 1.% 5.71% 5.21% 3.94% 3.98% Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Proyek), diolah Tabel 4.9.Pertumbuhan dan NPL KKB di Sulsel Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Proyek), diolah Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) KKB kembali mengalami kontraksi di triwulan II 216. Kontraksi KKB di triwulan II 216 tercatat -14,99% (yoy), lebih dalam dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar -1,39% (yoy). Di sisi lain, kredit perseorangan melalui perantara keuangan (leasing) juga mengalami kontraksi -6,96% (yoy) di triwulan II 216. Hal ini menunjukkan perilaku rumah tangga di Sulsel dalam melakukan pembiayaan kendaraan bermotor yang cenderung memillih jalur pembiayaan melalui perbankan dibandingkan jalur leasing. Dilihat dari jenis kendaraan yang dibeli, kontraksi pertumbuhan KKB disebabkan oleh memburuknya kinerja kredit di seluruh jenis KKB. KKB mobil roda empat yang memiliki pangsa 85,26% tercatat mengalami kontraksi -14,61% (yoy) di triwulan II 216, lebih dalam dibandingkan kontraksi pada triwulan sebelumnya -12,62% (yoy). KKB jenis truk, sepeda motor, dan kendaraan lainnya juga tercatat mengalami kontraksi masing-masing -33,97% (yoy), -8,4% (yoy), dan -61,24% (yoy) di triwulan II 216. Selain pertumbuhan yang memburuk, KKB secara agregat juga mengalami penurunan kualitas kredit dari 1,65% menjadi 1,74%. Apabila dilihat lebih dalam, penurunan kualitas kredit jenis KKB ini disebabkan oleh peningkatan NPL di KKB jenis sepeda motor dan kendaraan lainnya dari masing-masing 1,2% dan 1,6% di triwulan I 216 menjadi 6,97% dan 1,72% di triwulan II 216. Kredit Multiguna Kredit multiguna memiliki pangsa terbesar di seluruh kredit konsumsi perseorangan. Besarnya penggunaan kredit konsumsi perseorangan untuk keperluan multiguna menunjukkan bahwa kebutuhan pembiayaan rumah tangga diluar kebutuhan untuk perumahan, kendaraan maupun peralatan rumah tangga masih cukup besar. Salah satu faktor besarnya kredit multiguna adalah proses pengajuan kredit yang cukup mudah.pada triwulan II 216, kredit multiguna tumbuh 2,19% (yoy) lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya 16,43% (yoy).selain itu, pemanfaatan penggunaan kredit multiguna yang fleksibel seperti renovasi rumah, biaya pernikahan, biaya pengobatan, pembelian barang elektronik, maupun sebagai modal usaha, menyebabkan tingginya minat rumah tangga untuk menggunakan produk pembiayaan ini. Tabel 4.1.Komposisi Kredit Multiguna Posisi Triwulan II 216 Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Proyek), diolah Jika dilihat berdasarkan besarnya pinjaman, kredit perseorangan multiguna didominasi oleh kelompok kredit dengan nominal >Rp1 juta 5 juta berjangka waktu >6 bulan. Kelompok tersebut memiliki pangsa 62,5% dari total kredit multiguna perseorangan di triwulan II 216. Berdasarkan jumlah rekening, kelompok ini juga memiliki pangsa terbesar yaitu 31,78% terhadap seluruh rekening kredit multiguna perseorangan. Dari sisi risiko, secara keseluruhan kredit multiguna perseorangan masih dalam kondisi aman. Hal ini tercermin dari tingkat NPL yang masih sangat rendah yaitu,74%. Namun, penyaluran kredit multiguna <Rp1 jutakhususnya yang berjangka waktu >6 bulan perlu mendapat perhatian khusus, mengingat NPL pada kelompok tersebut berada pada level yang tinggi mencapai 2,34% (Tabel 4.11). 68 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

75 Tabel NPL Kredit Multiguna Posisi Triwulan II 216 Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Proyek), diolah Asesmen Sektor Korporasi Sumber Kerentanan dan Kondisi Sektor Korporasi Meskipun ekonomi Sulsel secara agregat mengalami percepatan pertumbuhan di triwulan II 216, namun terjadi perlambatan di beberapa sektor utama. Salah satu sektor yang melambat di triwulan II 216 adalah sektor Industri Pengolahan.Di sisi permintaan, meskipun membaik namun ekspor masih tercatat mengalami kontraksi -12,43% (yoy) di triuwulan II 216. Hal tersebut mengindikasikan sektor korporasi masih cukup rentan, terutama sektor industri nikel yang merupakan industri andalan ekspor di Sulsel. Komoditas nikel masih menjadi tumpuan ekspor Sulsel di triwulan II 216. Namun, nikel yang memiliki pangsa 49,58% terhadap total ekspor Sulsel masih menunjukkan pertumbuhan negatif di triwulan II 216. Ekspor nikel Sulsel di triwulan II 216 tercatat -3,16% (yoy) melanjutkan tren pertumbuhan negatif sejak triwulan I 215. Selain faktor melemahnya permintaan mitra dagang utama komoditas nikel, khususnya Jepang, kontraksi ekspor nikel juga disebabkan oleh masih rendahnya harga nikel di pasar internasional. Rata-rata harga nikel di triwulan II 216 sebesar USD8.823 per metric ton jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama di tahun 215 yang mencapai USD13.56 per metric ton. Sumber: Bea Cukai, diolah Grafik Komposisi Ekspor Sulsel Triwulan II 216 Sumber: World Bank dan Bea Cukai, diolah Grafik Perkembangan Ekspor dan Harga Nikel Internasional Melemahnya permintaan nikel dunia dan harga nikel yang masih rendah,menambah risiko pada korporasi pengolahan nikel dan korporasi penunjang lainnya. Melemahnya permintaan dan harga nikel akan mempengaruhi kinerja korporasi pengolahan nikel di Sulsel. Mengingat korporasi nikel di Sulsel merupakan industri dalam skala yang besar, keberlangsungan korporasi nikel ini akan sangat mempengaruhi korporasi-korporasi pendukung lainnya seperti penyedia jasa pengangkutan hasil pengolahan,selain juga kondisi ketenagakerjaan dan penurunan tingkat penghasilan pekerja di korporasi yang berkaitan langsung maupun tidak langsung. Selain itu, pelemahan nikel dunia dan harga nikel yang masih rendah ini akan memberikan efek yang negatif pada perkembangan pembangunan industri smelter nikel baru di kawasan industri Bantaeng. Jika ini terjadi, maka peluang peningkatan pertumbuhan ekonomi Sulsel dari sektor industri pengolahan akan semakin mengecil. Sumber kerentanan lainnya adalah anomali cuaca dan iklim. Berkaca pada tahun 214 dan 215 yang lalu, El Nino (iklim kering) memberikan dampak yang cukup besar pada sektor pertanian termasuk korporasi yang bergerak di dalamnya. Pada tahun 216, risiko yang muncul adalah LaNina(iklim basah) yang juga akan mengakibatkan pergeseran musim terutama karena curah hujan yang naik drastis disepanjang periode La Nina. Risiko yang muncul adalah cuaca yang dapat Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

76 mengurangi hasil tangkap ikan, yang mengakibatkan korporasi yang bergerak di subsektor perikanan tangkap seperti eksportir ikan tangkap akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan pasokan ikan Kinerja Sektor Korporasi Omset Penjualan Dari hasil liaison kepada pelaku usaha korporasi di Sulsel pada triwulan II 216, yang mengalami penurunan omset penjualan adalah korporasi yang bergerak di sektor Perdagangan Hotel dan Restoran (PHR).Rata-rata skala likert pada sektor Perdagangan Hotel dan Restoran (PHR) berada pada posisi -1,. Angka terebut menunjukkan bahwa penurunan yang terjadi berada pada rata-rata normalnya. Di sektor Industri Pengolahan, rata-rata skala likert di triwulan II 216 berada pada posisi, yang artinya stabil. Namun bila dirinci ke tingkat subsektor, subsektor industri pengolahan cokelat tercatat mengalami penurunan omset penjualan ekspor. Hal ini diakibatkan oleh masih rendahnya permintaan mitra dagang serta harga cokelat internasional yang masih berada pada level yang rendah. Meskipun demikian, korporasi pada sektor Konstruksi, sektor Listrik Air dan Gas (LGA), dan sektor Pengangkutan mengalami peningkatan omset penjualan. Peningkatan penjualan domestik terbesar terjadi di sektor Konstruksi. Skala likert sektor ini berada di posisi 3 pada triwulan II 216, yang menunjukkan bahwa terjadi peningkatan penjualan diatas rata-rata normalnya. Sumber: Liaison KPw BI Sulsel, diolah Grafik Kinerja Korporasi di Sulsel Berdasarkan Liaison Triwulan II 216 Peningkatan penjualan korporasi tersebut terlihat pula dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan KPw BI Sulsel. Kegiatan usaha menunjukkan peningkatan saldo bersih dari 6,5% di triwulan I 216 menjadi 4,22%. Nilai saldo bersih yang positif tersebut menunjukkan bahwa korporasi yang mengalami peningkatan permintaan lebih banyak dibandingkan korporasi yang mengalami penurunan permintaan. Sumber: SKDU KPw BI Sulsel, diolah Grafik 4.2. Kondisi Kegiatan Usaha di Susel 7 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

77 Biaya Pada triwulan II 216, hampir semua korporasi menyatakan mengalami peningkatan biaya produksi kecuali korporasi di sektor Pengangkutan dan Komunikasi. Peningkatan terbesar terjadi di korporasi industri pengolahan dengan skala likert sebesar 1, baik di biaya bahan baku maupun di biaya energi. Selain korporasi di industri pengolahan, korporasi lain yang mengalami peningkatan biaya produksi adalah korporasi di sektor perdagangan dengan skala likert 1, dan korporasi di sektor LGA dengan skala likert,5. Di sisi lain, satu-satunya sektor yang disurvei dan menyatakan mengalami penurunan biaya produksi adalah korporasi di sektor pengangkutan dengan skala likert -1,. Marjin Keuntungan Kinerja korporasi dari sisi perolehan laba atau margin keuntungan secara umum mengalami peningkatan di triwulan II 216. Korporasi yang menyatakan mengalami peningkatan margin keuntungan adalah korporasi di sektor perdagangan, sektor konstruksi, sektor LGA, dan sektor pengangkutan. Peningkatan marjin keuntungan tertinggi terjadi di korporasi sektor konstruksi dengan skala likert 2,. Peningkatan tersebutdisebabkan oleh adanya eventramadhan dan Idul Fitri yang mengakibatkan tingginya permintaan, serta mulainya beberapa proyek pembangunan infrastruktur di Sulsel. Selain itu, peningkatan harga jual juga mengakibatkan peningkatan margin keuntungan yang diterima korporasi di sektor ini. Sementara itu, korporasi pada sektor industri pengolahan menilai marjin keuntungan dalam posisi yang stabil. Hal ini berkaitan dengan pola perdagangan industri besar yang biasanya harga jual sudah disepakati dalam suatu kontrak jangka panjang. Kondisi Likuiditas Keuangan Secara umum, dari hasil SKDU kondisi keuangan korporasi dari sisi likuiditas menunjukkan kondisi yang lebih baik. Pada triwulan II 216, hasil survei menunjukkan 52,2% responden korporasi memiliki keadaan likuiditas yang baik, meningkat dibandingkan periode sebelumnya 34,92%. Selain itu, pangsa korporasi dengan kondisi likuiditas yang buruk juga menurun dari,79% menjadi % di triwulan II 216. Jika dilihat secara sektoral, korporasi yang memiliki kondisi likuiditas yang paling baik adalah korporasi di sektor Hotel dan Restoran. Pangsakorporasi di sektor Hotel dan Restoran yang memiliki kondisi likuiditas baik mencapai 93,31%. Sementara itu, korporasi di sektor Konstruksi memiliki pangsakorporasi dengan kondisi likuiditas baik paling rendah, yaitu sebesar 27,73%. Sumber: SKDU KPw BI Sulsel, diolah Grafik Perkembangan Kondisi Likuiditas Keuangan Korporasi di Sulsel Beban Angsuran Hutang Korporasi Grafik Sumber: SKDU KPw BI Sulsel, diolah Kondisi Likuiditas Keuangan Korporasi Berdasarkan Sektor Ekonomi Di sisi kemampuan membayar hutang, korporasi di Sulsel secara umum memiliki risiko yang relatif terjaga. Kondisi ini tercermin dari hasil SKDU triwulan II 216 yang menunjukkan hanya 5,88% dari seluruh responden korporasi yang menyatakan beban angsuran semakin berat kedepannya. Persepsi tersebut berasal dari beberapa korporasi di sektor pertanian, pertambangan, konstruksi, dan pengangkutan yang sebagian besar berasumsi akanterjadi penurunan permintaan pada 6 bulan yang akan datang. Sementara itu, terdapat 2,94% dari seluruh responden korporasi yang menyatakan beban angsuran akan semakin ringan kedepan. Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

78 Tabel Perkiraan Beban Angsuran Terhadap Pendapatan Korporasi 6 Bulan Mendatang Sumber: SKDU KPw BI Sulsel, diolah Eksposur Perbankan Pada Sektor Korporasi. Untuk menjaga stabilitas keuangan, kerentanan yang terjadi pada sektor korporasi tetap perlu diwaspadai meskipun eksposur kredit korporasi saat ini baru sebesar 27,27% dari total kredit di Sulsel. Hal ini karena kondisi keuangan sektor rumah tangga juga tergantung oleh kinerja sektor korporasi, terutama dari sisi penghasilan dan penyerapan tenaga kerja. Kredit perbankan pada sektor korporasi di triwulan II 216 mencapai Rp25,4 triliun dengan pertumbuhan 45,4% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan periode sebelumnya yang tercatat 12,27% (yoy). Pertumbuhan kredit korporasi ini jauh lebih tinggi dibandingkan kredit perseorangan yang tumbuh 16,26% (yoy) di triwulan II 216. Tingginya pertumbuhan kredit korporasi terutama ditopang oleh kredit investasi yang tumbuh 6,6% (yoy), jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya 7,28% (yoy). Sementara itu, kredit modal kerja sektor korporasi juga mencatat percepatan pertumbuhan dari 14,32% (yoy) di triwulan I 216 menjadi 21,4% (yoy) di triwulan II 216. Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Proyek), diolah Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Proyek), diolah Grafik Pangsa Penggunaan Kredit Korporasi Grafik Kondisi Likuiditas Keuangan Korporasi Berdasarkan Sektor Ekonomi Kredit Modal Kerja Korporasi Kredit modal kerja korporasi pada triwulan II 216 mencapai Rp17,9 triliun, meningkat Rp996 milyar dibandingkan baki debet di triwulan sebelumnya. Kredit modal kerja korporasi di topang oleh tiga sektor utama, yaitu perdagangan (pangsa: 53,37%), konstruksi (pangsa: 23,9%), dan industri pengolahan (pangsa 8,87%). Secara pertumbuhan, kredit modal kerja korporasi tumbuh 39,57% (yoy) yang di dorong oleh pertumbuhan kredit modal kerja di sektor Perdagangan, sektor Konstruksi, dan sektor Jasa Dunia Usaha dengan andil pertumbuhan masing-masing sebesar 5,52% (yoy), 4,8% (yoy), dan 3,95% (yoy) terhadap total pertumbuhan kredit modal kerja di triwulan II 216. Dari sisi kualitas, secara agregat kualitas kredit modal kerja korporasi menunjukkan perbaikan. Hal ini terlihat dari penurunan tingkat NPL dari 7,27% di triwulan I 216 menjadi 6,14% di triwulan II 216. Penurunan NPL tersebut didorong oleh penurunan tingkat NPL dua sektor utama, yaitu perdagangan dan konstruksi. NPL kredit modal kerja korporasi sektor perdagangan turun dari 6,81% di triwulan I 216 menjadi 5,76% di triwulan II 216, sementara NPL kredit modal kerja korporasi sektor Konstruksi turun dari 6,57% di triwulan I 216 menjadi 4,25% di triwulan II Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

79 Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Proyek), diolah Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Proyek), diolah Grafik Pertumbuhan Kredit Modal Kerja Korporasi Sektor Utama Grafik Perkembangan NPL Kredit Modal Kerja Korporasi Sektor Utama Kredit Investasi Korporasi Kredit investasi korporasi pada triwulan II 216 mencapai Rp7,38 triliun, meningkat Rp552 milyar dibandingkan baki debet di triwulan sebelumnya. Kredit investasi korporasi ditopang oleh tiga sektor utama, yaitu sektor Perdagangan, Konstruksi, dan Industri Pengolahan, yang masing-masing memiliki pangsa 42,62%, 13,44%, dan 13,5%. Secara pertumbuhan, kredit investasi korporasi di triwulan II 216 tumbuh 12,57% (yoy) yang didorong oleh pertumbuhan tiga sektor utama tersebut yaitu sektor Perdagangan, Industri Pengolahan, dan Konstruksi, yang masing-masing tumbuh 27,6% (yoy 18,47% (yoy) ), dan 14,26% (yoy). Dari sisi kualitas kredit, secara agregat kredit investasi korporasi menunjukkan perbaikan kualitas meskipun masih sedikit diatas ambang batas 5%. Hal ini terlihat dari penurunan tingkat NPL dari 6,55% di triwulan I 216 menjadi 5,52% di triwulan II 216. Penurunan NPL tersebut disebabkan oleh penurunan tingkat NPL kredit investasi sektor perdagangan dari 2,4% di triwulan I 216 menjadi,82% di triwulan II 216. Sementara itu, meski sedikit mengalami peningkatan, namun NPLkredit investasi korporasi sektor konstruksi masih dalam level aman di angka 3,86%. Di sisi lain, kredit investasi korporasi sektor industri pengolahan perlu mendapatkan perhatian khusus karena jauh di atas level aman,yaitu mencapai 28,5%. Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Proyek), diolah Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Proyek), diolah Grafik Pertumbuhan Kredit Investasi Korporasi Sektor Utama Grafik Perkembangan NPL Kredit Investasi Korporasi Sektor Utama Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

80 4.1.3 Asesmen Sektor Institusi Keuangan (Perbankan) Perkembangan Kelembagaan Dari sisi kelembagaan, pada triwulan II 216, jumlah bank umum di Sulsel tidak berubah dibandingkan triwulan sebelumnya.jumlah bank umum pada triwulan II 216 tercatat sebanyak 52 bank, sedangkan jumlah BPR masih tetap sebanyak 29 bank. Jumlah kantor juga tidak mengalami penambahan. Jumlah kantor keseluruhan mencapai 977 kantor. Tabel Perkembangan Kelembagaan Bank Umum dan BPR Aset Perbankan Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Bank), diolah Pertumbuhan total aset bank umum pada triwulan II 216 mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Aset perbankan tercatat sebesar Rp122,71 triliun, tumbuh 13,3% (yoy) lebih rendah dari pertumbuhan triwulan sebelumnya 15,14% (yoy) (Tabel 4.12). Perlambatan pertumbuhan disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan aset di kelompok bank pemerintah dari 21,85% (yoy) di triwulan I 216 menjadi 18,48% (yoy) di triwulan II 216. Perlambatan juga terjadi pada pertumbuhan total aset bank swasta nasional dari 6,2% (yoy) di triwulan I 216 menjadi 6,17% (yoy) di triwulan II 216. Di sisi lain, total aset bank asing dan bank campuran kembali mengalami kontraksi - 16,716% (yoy), lebih baik dibandingkan kontraksi di triwulan sebelumnya -23,57% (yoy). Tabel Aset Bank Umum Menurut Kelompok Bank Intermediasi Perbankan Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Bank), diolah Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun oleh bank umum pada triwulan II 216 mengalami percepatan pertumbuhan dibandingkan triwulan sebelumnya. Dana yang dihimpun mencapai Rp82,9 triliun atau tumbuh 19,21% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya 17,95% (yoy). Percepatan terjadi di komponen Tabungan dan Deposito yang masing-masing tumbuh dari16,8% (yoy) dan 21,44% (yoy) di triwulan I 216, menjadi 22,16% (yoy) dan 23,9% (yoy) di triwulan II 216. Sementara itu, Giro tercatat mengalami perlambatan pertumbuhan dari 26,98 (yoy) di triwulan I 216 menjadi 3,24% (yoy) di triwulan II Data perbankan lokasi bank 74 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

81 Tabel Penghimpunan Dana dan Penyaluran Kredit Bank Umum Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Bank), diolah Kredit yang disalurkan perbankan juga tercatat mengalami percepatan pertumbuhan pada triwulan II 216. Kredit tercatat tumbuh 16,6% (yoy) menjadi Rp11,62 triliun, lebih tinggi dari pertumbuhan triwulan sebelumnya yang tumbuh 12,5% (yoy). Secara penggunaan, percepatan pertumbuhan didorong oleh percepatan penyaluran kredit di kelompok investasi dan konsumsi. Kelompok kredit investasi tumbuh 26,4% (yoy) lebih tinggi dari pertumbuhan di triwulan sebelumnya yang tercatat 21,59% (yoy). Sementara itu, kredit konsumsi mengalami akselerasi pertumbuhan dari 7,53% (yoy) di triwulan I 216 menjadi 13,35% (yoy) di triwulan II 216. Di sisi lain, kredit modal kerja tercatat sedikit melambat dari 14,44% (yoy) di triwulan I 216 menjadi 14,13% (yoy) di triwulan II 216. Secara sektoral, percepatan pertumbuhan kredit didorong oleh percepatan penyaluran kredit di sektor Industri Pengolahan dan sektor Konstruksi yang masingmasing tumbuh 56,44% (yoy) dan 21,94% (yoy) di triwulan II 216. Dengan pertumbuhan kredit yang rendah dibandingkan pertumbuhan DPK, indikator intermediasi perbankan (LDR) semakin seimbang, sedangkan risiko perbankan (NPL) terlihat semakin membaik. Kedua indikator tersebut tercatat masing-masing 123,78% dan 3,5% pada triwulan II 216, lebihbaik dibandingkan triwulan I 216 yang tercatat masingmasing 122,94% dan 3,36%. Tabel Kredit Bank Umum Menurut Sektor Ekonomi Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Bank), diolah Bank Syariah Aset perbankan syariah mengalami perlambatan pertumbuhan dibandingkan periode sebelumnya. Aset perbankan syariah pada triwulan II 216 tercatat tumbuh 8,13% (yoy) menjadi Rp6,69 triliun, lebih rendah dari triwulan I 216 yang tumbuh 16,96%. Perlambatan pertumbuhan disebabkan oleh perlambatan kinerja Bank Pemerintah dan Bank Swasta Nasional. Aset Bank Pemerintah tercatat tumbuh melambat dari 5,55% (yoy) di triwulan I 216 menjadi 18,32% (yoy) di triwulan II 216. Sementara aset perbankan swasta tumbuh melambat dari 9,42% (yoy) menjadi 5,85% (yoy). Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

82 Penghimpunan DPK menunjukkan peningkatan pertumbuhan di triwulan II 216. DPK mengalami akselerasi pertumbuhan dari 1,33% (yoy) di triwulan I 216 menjadi 1,45% (yoy) di triwulan II 216. Akselerasi DPK syariah di dorong oleh perbaikan kinerja Deposito yang menunjukkan peningkatan pertumbuhan dari 22,9% (yoy) di triwulan I 216 menjadi 24,49% (yoy) di triwulan II 216. Sementara itu, terjadi penurunan kinerja tabungan yang di tunjukan oleh perlambatan pertumbuhan dari 18,36% (yoy) di triwulan I 216 menjadi 14,2% (yoy) di triwulan II 216. Di sisi lain, giro kembali mengalami kontraksi -29,65% (yoy) melanjutkan tren kontraksi diperiode sebelumnya -38,4% (yoy). Pada bagian pembiayaan, terjadi penurunan yang signifikan di triwulan II 216. Total pembiayaan syariah di triwulan II 216 tercatat sebesar Rp5,74 triliun tumbuh 2,9% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat tumbuh 11,5% (yoy). Dengan pertumbuhan DPK yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pembiayaan, mengakibatkan Financing to Deposit Ratio (FDR) mengalami penurunan. Di triwulan II 216, FDR mencapai 158,23% lebih rendah dari triwulan sebelumnya 165,43%. Sementara itu, kualitas pembiayaan terlihat semakin membaik yang tercermin dari penurunan rasio non performing financing (NPF) dari 4,39% di triwulan I 216 menjadi 3,87% pada triwulan II 216. Tabel Perkembangan Indikator Bank Umum Syariah Bank Perkreditan Rakyat Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Bank), diolah Kinerja BPR (termasuk BPR Syariah) juga cenderung meningkat di triwulan II 216. Dari indikator aset, aset BPR di triwulan II 216 tumbuh 21,89% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya 19,1% (yoy). DPK tumbuh 34,23% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya 4,123%% (yoy), sementara Kredit tercatat tumbuh 27,25% (yoy) lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya 2,76% (yoy). Dengan peningkatan kredit tersebut, loan to deposit ratio (LDR) sedikit mengalami peningkatan. Pada triwulan II 216 LDR BPR tercatat 131,67%, sedikit lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya 123,73%. Sumber: LBPR Bank Indonesia (Lokasi Bank), diolah Grafik Perkembangan Aset BPR Sumber: LBPR Bank Indonesia (Lokasi Bank), diolah Grafik 4.3. Perkembangan Intermediasi BPR 76 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

83 Perbankan per Kabupaten/Kota Perbankan di Kabupaten Bantaeng mencatat pertumbuhan aset tertinggi (4,12%; yoy) di triwulan II216. Namun demikian, perbankan di Kota Makassar dengan kepemilikan aset yang paling besar tetap menjadi pendorong utama perekonomian di Sulsel. Total aset perbankan di Makassar pada triwulan II 215 mencapai Rp84,68 triliun atau porsinya 69,1% dari total aset perbankan di Sulsel. Sementara pangsa aset perbankan di 23 kab/kota lainnya terhitung relatif masih sangat kecil, rata-rata kurang dari 5% dari total aset perbankan di Sulsel. Pertumbuhan aset perbankan di Kota Makassar tercatat 11,65% (yoy). Pertumbuhan aset 5 daerah tertinggi lainnya terjadi di Kabupaten Bantaeng (4,12%; yoy), Jeneponto (37,58%; yoy), Luwu Utara (36,44%; yoy), Maros (3,62%; yoy), dan Luwu (29,83%; yoy). Tabel Perkembangan Aset Perbankan per Kabupaten/Kota Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Bank), diolah Kabupaten Luwu merupakan daerah dengan pertumbuhan kredit tertinggi di triwulan II 216. Kredit di Kab. Luwu tumbuh 47,8% (yoy) lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 16,52% (yoy). Namun, bila dilihat dari sisi pangsa kredit, kredit terbesar masih berada di Kota Makassar dengan total portfolio sebesar Rp67,75 triliun atau 66,67% dari total kredit di Sulsel. Di triwulan II 216 ini kredit di Makassar tumbuh 13,34% (yoy) lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya 12,8% (yoy). Hal ini menunjukkan, konsentrasi pertumbuhan ekonomi masih terpusat di Kota Makassar. Tabel Perkembangan Kredit Perbankan per Kabupaten/Kota Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Bank), diolah Kabupaten Takalar merupakan daerah dengan pertumbuhan DPK tertinggi di triwulan II 216. DPK di Kab. Takallar tumbuh 14,3% (yoy) lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 86,72% (yoy). Namun, bila dilihat dari sisi pangsa, DPK terbesar masih berada di Kota Makassar dengan total portfolio sebesar Rp53,11 triliun atau 64,69% Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

84 dari total DPK di Sulsel. Di triwulan II 216 ini DPK di Makassar tumbuh 13,36% (yoy) lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya 12,46% (yoy). Hal ini menunjukkan, konsentrasi pertumbuhan ekonomi masih terpusat di Kota Makassar. Sementara itu, pangsa DPK di 23 kabupaten/kota lainnya masih relatif kecil. Tercatat hanya terdapat 2 kabupaten/kota yang memiliki pangsa DPK di atas 3%, yaitu Parepare (3,2%) dan Palopo (3,49%). Melihat potensi perekonomian yang dimiliki beberapa Kabupaten di Sulsel yang relatif besar, perbankan dapat meningkatkan upaya penghimpunan DPK di luar Kota Makassar, melalui inovasi produk yang semakin menarik atau pengembangan branchless banking. Tabel 4.2. Perkembangan DPK Perbankan per Kabupaten/Kota Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Bank), diolah Kualitas kredit relatif terjaga di seluruh kab/kota, dengan sebagian besar kabupaten/kota merupakan daerah lending (LDR > 1%). Kualitas kredit yang tercermin dari tingkat NPL di seluruh kabupaten/kota masih dalam level aman. Seluruh kab/kota memiliki tingkat NPL di bawah angka psikologis (5%). Sementara dari sisi intermediasi perbankan, lebih dari separuh daerah merupakan daerah lending, yang tercermin dari LDR lebih dari 1%. Terdapat 15 Kabupaten/Kota yang memiliki LDR di atas 1% yaitu Takalar, Parepare, Jeneponto, Bantaeng, Luwu Utara, Maros, Makassar, Sidrap, Sinjai, Pangkep, Pinrang, Palopo, Gowa, Bulukumba, dan Bone. Untuk perbankan yang berlokasi di 13 kabupaten/kota tersebut, masih memiliki potensi untuk penghimpunan DPK, terutama yang berupa dana murah (tabungan). Sementara daerah funding, dengan LDR kurang dari 1%, masih memiliki potensi yang besar untuk mendorong kredit/pembiayaan. Tabel Perkembangan NPL dan Intermediasi Perbankan per Kabupaten/Kota Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Bank), diolah 78 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

85 4.2 Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM Penyaluran kredit bagi UMKM pada triwulan II 216 mengalami peningkatan pertumbuhan dibandingkan triwulan sebelumnya. Kredit UMKM di triwulan II 216 tercatat sebesar Rp32,16 triliun, tumbuh 13,62% (yoy) dibandingkan periode sebelumnya 13,43% (yoy). Pangsa kredit UMKM (produktif) terhadap total kredit adalah 31,64%. Dari nilai tersebut, sekitar 67,62% merupakan kredit UMKM yang digunakan untuk modal kerja sedangkan sisanya digunakan untuk investasi. Angka rasio NPL kredit UMKM masih berada di bawah batas aman (5,%). Pada triwulan II 216 NPL UMKM sebesar 4,14%, menurun dibandingkan rasio NPL pada triwulan lalu 4,43%. Secara sektor ekonomi, UMKM pada sektor konstruksi danjasa dunia usahaperlu mendapatkan perhatian khusus dikarenakan memiliki rasio NPL di atas batas aman. Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Bank), diolah Grafik Pertumbuhan dan NPL Kredit UMKM Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Bank), diolah Grafik Pangsa Kredit UMKM Indikator akses keuangan di Sulsel terutama dari sisi penghimpunan dana mengalami peningkatan. Rasio jumlah rekening DPK terhadap penduduk angkatan kerja di Sulsel menunjukkan tren peningkatan, dimana pada triwulan II 216 rasio tersebut tercatat 157,7%. Rasio yang lebih besar dari 1% menunjukkan bahwa terdapat penduduk angkatan kerja di Sulsel yang memiliki rekening simpanan lebih dari satu. Meskipun memiliki rasio yang tinggi, namun akses keuangan di Sulsel belum merata terlihat dari adanya ketimpangan. Terdapat kabupaten/kota yang memiliki rasio yang tinggi seperti Kota Makassar, Parepare dan Palopo, sementara Luwu, Luwu Timur, Gowa dan Jeneponto merupakan kabupaten yang memiliki rasio yang cukup rendah. Indikator akses keuangan di Sulsel dari sisi kredit cenderung stagnan. Rasio jumlah rekening kredit terhadap penduduk angkatan kerja di Sulsel cenderung tidak mengalami perubahan dan masih rendah di hampir semua Kabupaten/kota terkecuali Parepare, Makassar,dan Palopo. Kondisi tersebut antara lain mengindikasikan masih kurangnya kegiatan usaha/wirausaha baru yang didukung sektor perbankan atau dengan kata lain ekspansi kredit masih terkonsentrasi pada debitur yang sudah ada. Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Bank) dan BPS, diolah Grafik Perkembangan Akses Keuangan Sulsel Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Bank) dan BPS, diolah Grafik Akses Keuangan di Kab/Kota di Sulsel Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

86 5. PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG HALAMAN INI SENGAJA DI KOSONGKAN Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216 8

87 Bab 5 Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah Perkembangan transaksi keuangan non tunai berjalan dinamis. Nilai transaksi keuangan melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) mengalami peningkatan, seiring dengan diimplementasikannyaketentuan batas minimal transaksi melalui BI-RTGS sebesar Rp5 juta dan diberlakukannya kebijakan penambahan waktupelayanan SKNBI menjadi 5 (lima) kali sehari. Sementara itu, disisi pengelolaan uang rupiah (PUR) terjadi net outflow sebesar Rp1,4 triliun. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan kebutuhan uang kartal, sejalan dengan siklus tahunan saat bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri. Untuk meningkatkan layanan ketersediaan uang layak edar, Bank Indonesia senantiasaterusmendorongclean money policy melalui kegiatan pengelolaan uang tunai denganmelakukan pembukaan layanan penukaran uang, kas keliling, remise, pemusnahan uang tidak layak edar, dan edukasi ciri-ciri keaslian mata uang rupiah. Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

88 5.1 Penyelenggaraan Sistem Pembayaran Transaksi nontunai melalui sarana Sistem Kliring Bank Indonesia (SKNBI) dalam trend yang meningkat (Tabel 5.1). Jumlah warkat yang dikliringkan pada triwulan II 216 tercatat sebanyak 361 ribu lembar dengan nominal sebesar Rp19,31 triliun. Nilai kliring pada triwulan II 216 mengalami pertumbuhan yang tinggi mencapai 84,2% (yoy), meskipun sedikit menurun dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang tercatat 86,75% (yoy). Tingginya perputaran transaksi pembayaran melalui SKNBI di Sulsel juga terlihat dari rata-rata perputaran harian transaksi kliring yang tumbuh tinggi mencapai 78,18% (yoy) atau Rp,31 triliun per hari pada triwulan II 216. Tetap kuatnya transaksi kliring sejalan dengan diimplementasikannya ketentuan batas minimal transaksi melalui BI-RTGS sebesar Rp5 juta dan diberlakukannya kebijakan penambahan waktu pelayanan SKNBI menjadi 5 (lima) kali sehari.sementara itu, rasio Penolakan Cek/BG Kosong (terhadap Kliring Debet Penyerahan) menunjukkan sedikit peningkatan pada triwulan II 216 menjadi 2,78% dari triwulan sebelumnya 2,37%. Tabel 5.1. Perputaran Kliring dan Cek/BG Kosong URAIAN I II III IV I II III IV I II III IV I II Total Perputaran Kliring Kredit dan Kliring Debet Penyerahan - Nominal (triliun rupiah) Lembar (ribuan) Rata-rata Harian Total Perputaran Kliring Kredit dan Debet Penyerahan - Nominal (triliun rupiah) Lembar (ribuan) Nisbah Rata-rata Penolakan Cek/BG Kosong (terhadap Kliring Debet Penyerahan) - Nominal (%) Lembar (%) Pengelolaan Uang Rupiah Perkembangan Aliran Uang Kartal Perkembangan aliran uang kartal di Sulsel pada triwulan II 216 menunjukkan net outflow. Aliran uang masuk (inflow) tercatat sebesar Rp3,34 triliun,menurun dari triwulan sebelumnya sebesar Rp6,23 triliun atau secara triwulanan terkontraksi -11,46% (Grafik 5.1.). Meskipun demikian, aliran uang yang keluar (outflow) dari Bank Indonesia mengalami peningkatan dari Rp1,49 triliun pada triwulan I 216 menjadi Rp4,74 triliun pada triwulan II 216, sehingga tercatat net outflow sebesar Rp1,4 triliun (Grafik 5.2 dan Grafik 5.3.). Net outflow diperkirakan terjadi karena peningkatan aktivitas masyarakat di bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri, sehingga kebutuhan uang kartal meningkat.selain itu, adanya pembayaran gaji ke-13 dan ke-14 bagi PNS/TNI/POLRI mendorong peningkatan kebutuhan uang kartal di Sulsel.Untuk meningkatkan kualitas layanan distribusi uang kartal, Bank Indonesia pada akhir Tahun 215 telah membuka kantor layanan Kas Titipan di Kota Parepare. Layanan tersebut turut menunjang pemenuhan kebutuhan uang kartal wilayah Kota Parepare dan sekitarnya setelah sebelumnya Bank Indonesia juga memiliki layanan serupa di Kota Palopo. Untuk tahun 216, Bank Indonesia juga membuka layanan Kas Titipan di Kabupaten Bulukumba yang akan beroperasi mulai akhir triwulan III 216. Pembukaan layanan Kas Titipan di berbagai wilayah di Sulsel bertujuan untuk memperluas jangkauan layanan kepada masyarakat di Sulsel dalam memenuhi kebutuhan uang layak edar yang berkualitas. 7 Rp Triliun Inflow ginflow - Skala Kanan %, yoy 1 7 Rp Triliun Outflow goutflow - Skala Kanan %, yoy (2) (4) I II III IV I II III IV I II III IV I II (2) I II III IV I II III IV I II III IV I II (6) Grafik 5.1. Aliran Uang Kartal Inflow Grafik 5.2. Aliran Uang Kartal Outflow 82 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

89 Lembar (1.) (2.) Rp Triliun I II III IV I II III IV I II III IV I II Grafik 5.3. Selisih Inflow dan Outflow Penyediaan Uang Layak Edar Bank Indonesia senantiasa menyelenggarakan layanan penukaran uang demi menjaga ketersediaan uang layak edar (ULE) di masyarakat. Sejak tanggal 28 April 215, Bank Indonesia membuka pelayanan penukaran uang di luar kantor, yang telah dilakukan secara rutin setiap hari Selasa-Rabu-Kamis dengan jam operasional 9. s.d. 13. WITA di Wisma Bank Indonesia, Jalan Pasar Ikan No. 8, Makassar. Selain itu, kegiatan kas keliling luar Kota Makassar juga telah dilakukan di beberapa daerah yaitukabupaten Jeneponto, Bantaeng, Sinjai, Watampone, Soppeng, Bulukumba, Selayar, Wajo, Enrekang, Luwu Timur, Sinjai Utara, Bone, dan Luwu Utara. Dalam rangka penerapan clean money policy, kegiatan remise ke luar Sulsel juga ditempuh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan. Selama periode triwulan II 216, telah dilakukan sebanyak 11 (lima) kali kegiatan remise ke daerah lain di Kawasan Timur Indonesia (KTI) yaitu ke Provinsi Maluku, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, dan Papua masing-masing sebanyak 1 (satu) kali. Bank Indonesia juga melakukan kegiatan pemusnahan uang tidak layak edar (UTLE). Kegiatan pemusnahan UTLE pada triwulan II 216 tercatat sebesar Rp2,69 triliun, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp1,31 triliun (Grafik 5.4) Perkembangan Temuan Uang Palsu Pecahan besar mendominasi peredaran uang palsu di Sulsel pada triwulan II 216 sebanyak 618 lembar. Pecahan uang palsu yang paling banyak ditemukan pada triwulan II 216 adalah pecahan Rp1. (53,27%), diikuti Rp5. (42,86%), diikuti dan pecahan lainnya sebesar 3,91% (Grafik 5.6). Sebagai upaya untuk mengantisipasi peredaran uang palsu sekaligus memberikan edukasi bagi masyarakat mengenai ciri-ciri keaslian uang rupiah, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan senantiasa melakukan kegiatan sosialisasi ciri-ciri keaslian uang rupiah di berbagai daerah di Sulsel. Selama periode triwulan II 216, KPw BI Sulsel telah melakukan 9 (sembilan) kali kegiatan sosialisasi di Makassar, Palopo, Parepare, dan Maros. Rp Triliun Nominal UTLE gutle - Skala Kanan %, yoy 1.4 2, 1.2 1,6 1. 1, (4) I II III IV I II III IV I II III IV I II Temuan Uang Palsu Y.O.Y. I II III IV I II III IV I II III IV I II % 16% 12% 8% 4% % -4% -8% -12% Grafik 5.4. Pemusnahan Uang Tidak Layak Edar (UTLE) Grafik 5.5. Temuan Uang Palsu Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

90 4% Pecahan 1. 43% 53% Pecahan 5. Pecahan Lainnya Grafik 5.6. Temuan Uang Palsu Per Nominal 5.3 Gerakan Nasional Non Tunai Bank Indonesia senantiasa mendorong peningkatan transaksi non tunai di Sulawesi Selatan. Sejak pencanangan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) pada Agustus 214, KPw BI Provinsi Sulsel bersama stakeholders terkait bekerjasama dalam mengembangkan transaksi non tunai yaitu pengembangan kawasan Less Cash Society (LCS) di Kampus Universitas Negeri Makassar (UNM), Sosialisasi GNNT kepada Para Kepala Sekolah Tingkat SMA/SMK Kota Makassar, hingga memberikan edukasi dan sosialisasi di 12 (dua belas) SMA/SMK di Kota Makassar. Selanjutnya, BI bekerjasama dengan Pemkot Makassar dalam pengembangan Smart City, antara lain melalui elektronifikasi transaksi penerimaan dan pembayaran pemerintah dan pengembangan Layanan Keuangan Digital (LKD) di Pesantren. Bekerjasama dengan Pemerintah Kota Makassar, KPw BI Sulsel terus berupaya mendorong percepatan elektronifikasi. Dalam pelaksanaan percepatan program elektronifikasi di wilayah Kota Makassar, telah dibentuk tim adhoc yang beranggotakan KPw BI Provinsi Sulsel, Pemkot Makassar, Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar, Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Kota Makassar, Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Makassar, dan PT Bank Sulselbar, agar transaksi penerimaan dan pembayaran Pemkot Makassar sudah dilakukan secara non tunai. Rapat Koordinasi telah dilakukan sebanyak 2 (dua) kali pada Triwulan II 216, dengan short term goal yang disepakati yaitu elektronifikasi pembayaran Pajak Bumi Bangunan (PBB) melalui perluasan e-channel. Elektronifikasi pembayaran PBB diperkirakan dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat dengan jumlah sebanyak 33. objek pajak. Sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat merupakan salah satu kegiatan yang akan terus didorong, salah satunya dengan memperkenalkan bahwa struk dari perbankan merupakan bukti sah dalam pembayaran. Kantor Perwakilan BI Provinsi Sulsel juga terus mendorong penggunaan layanan keuangan non tunai kepada segmen masyarakat tertentu, khususnya pesantren. Sebagai negara dengan 87% populasi beragama Islam, Indonesia memiliki pangsa pasar yang besar untuk perbankan syariah. Menurut data Kementerian Agama RI tahun 214, jumlah pesantren di Sulsel adalah 289 pesantren yang tersebar di 2 kabupaten dan 3 kota. Dengan jumlah populasi santri yang cukup besar dan potensi di wilayah sekitarnya, Pondok Pesantren dapat menjadi access point maupun influencer di masyarakat untuk mengetahui hingga melakukan transaksi dengan layanan keuangan non tunai. Terkait dengan hal tersebut, KPw BI Provinsi Sulsel bekerjasama dengan Perbankan Penyelenggara LKD telah melakukan koordinasi dengan beberapa Pondok Pesantren dalam penerapan LKD di Pesantren yang bermanfaat bukan hanya mengembangankan ekosistem non tunai, tetapi juga mendorong pengembangan ekonomi pesantren dan menjangkau sektor riil di kawasan sekitar. Pada tahap awal, BI bekerjasama dengan Bank BNI dalam implementasi LKD di Pondok Pesantren Darul Aman. 84 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

91 HALAMAN INI SENGAJA DI KOSONGKAN Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

92 Bab 6 Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Sulsel mencapai 5,11% (Februari 216) lebih rendah dibandingkan periode yang sama di tahun 215 (5,1%).Kemudian, tingkat kesejahteraan petani yang diukur dari Nilai Tukar Petani (NTP) hingga triwulan I 216 secara tahunan terpantau membaik dibandingkan triwulan I 215. Sementara itu, jumlah penduduk miskin di Sulsel hingga Maret 216sedikit meningkat dibanding Maret 215 baik di kota maupun di desa. Persentase penduduk miskin di Sulsel (9,4%), tergolong cukup rendah jika dibandingkan Provinsi lain di Sulampua maupun Nasional. 86 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

93 6.1 Tenaga Kerja Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Sulsel mencapai 5,11% (Februari ) lebih rendah dibandingkan periode yang sama 215. Secara nominal jumlah pengangguran terbuka Sulsel turun dari 218,31 ribu orang per Februari 215 menjadi 192,96 ribu orang per Februari 216. Penurunan pengangguran diindikasikan terjadi sebagai dampak dari kebijakan pemerintah (dana desa dan paket kebijakan ekonomi). Di sisi lain, jumlah angkatan kerja meningkat sebanyak orang atau naik,51% dibandingkan periode yang sama di tahun 215. Tabel 5.2. Penduduk Usia 15 Tahun Ke Atas Menurut Kegiatan Utama KEGIATAN UTAMA Februari Februari Angkatan Kerja 3,755,87 3,774,926 a. Bekerja 3,537,559 3,581,957 b. Pengangguran 218, ,969 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja 62.2% 61.6% Tingkat Pengangguran Terbuka 5.8% 5.11% Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah Sektor pertanian masih menjadi sektor penyerap tenaga kerja terbanyak. Pada periode Februari 216, sektor pertanian menyerap 4,28% dari total tenaga kerja atau 1,44 juta orang. Angka ini turun -,45% dibandingkan periode yang sama 215. Penurunan tenaga kerja sektor pertanian disebabkan adanya pengaruh penerapan mekanisme alat-alat pertanian modern combine harvester (alat panen gabah) yang menyebabkan pekerja buruh musim panen di awal tahun 216 berkurang. Salah satu perusahaan mesin panen menyatakan bahwa pada tahun 216, pangsa pembelian 6% penjualan didominasi oleh wilayah Sulawesi, dan Sulsel mendominasi 7% wilayah Sulawesi 19. Sementara itu, sektor industri, perdagangan, jasa, dan lainnya mengalami kenaikan jumlah tenaga kerja, masing-masing,54%; 4,78%;,98%, dan 1,63%. Kenaikan jumlah tenaga kerja terkonfirmasi oleh hasil Survei Konsumen Bank Indonesia yang menunjukkan konsumen optimis bahwa terjadi peningkatan ketersediaan lapangan kerja. Rata-rata Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja Saat Ini (IKLK) meningkat sebesar 17,17 dibanding triwulan sebelumnya (98,). Dengan demikian, Indeks Penghasilan Saat Ini Dibanding 6 Bulan Lalu (IPD6) juga mengalami peningkatan optimisme dibandingkan periode sebelumnya dari 97,67 menjadi 112. KEGIATAN UTAMA Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah Tabel 5.3. Persentase Tenaga Kerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama Februari 215 Februari 216 Jumlah Pangsa Pertumbuhan Jumlah Pangsa Pertumbuhan Pertanian 1,449, % 2.91% 1,442, % -.45% Industri 212,82 6.2% -8.26% 213, %.54% Perdagangan 738, % 1.32% 774, % 4.78% Jasa 617, % -4.22% 623, %.98% Lainnya 519, % 15.32% 527, % 1.63% Total 3,537,559 1.% 2.12% 3,581,957 1.% 1.26% Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Sulsel tercatat lebih rendah. TPAK turun dari 62,2% pada Februari 215 menjadi 61,6% pada Februari 216. Di sisi lain, jumlah angkatan kerja pada Februari 216 mencapai 3,77 juta orang, lebih tinggi dari periode yang sama di tahun 215 sejumlah 3,76 juta orang. Secara sektoral, penurunan TPAK diperkirakan terjadi karena penurunan angkatan kerja di sektor pertanian yang memiliki pangsa terbesar di Sulsel. Sementara angkatan kerja pada sektor selain tumbuh positif. 18 BPS mengeluarkan perhitungan tenaga kerja 2 kali dalam setahun, yaitu Februari (yang rilis pada bulan Mei) dan Agustus (yang rilis pada November) 19 Sumber: informasi anekdotal Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

94 Indeks 15 Ketersediaan lapangan kerja Growth yoy (%) - Skala Kanan 4 Indeks 16 Penghasilan saat ini Growth yoy (%) - Skala Kanan I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II Sumber: Survei Konsumen, diolah Grafik 5.7. Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja Saat Ini Sumber: Survei Konsumen, diolah Grafik 5.8. Indeks Penghasilan Saat Ini 6.2 Penduduk Miskin 2 Jumlah dan persentase penduduk miskin di Sulsel hingga Maret menjadi 87 ribu orang atau 9,4% dari total penduduk, sedikit meningkat dibandingkan periode yang sama di tahun 215. Jumlah penduduk miskin di Sulsel sedikit meningkatan dari 797 ribu orang di Maret 215 menjadi 87 ribu orang di Maret 216, atau naik 1,17% (yoy). Persentase tersebut naik seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk miskin di kota maupun di desa. Jumlah penduduk miskin kota mengalami peningkatan 1,85% (yoy) menjadi 149 ribu orang (Grafik 6.3). Hal yang sama juga dialami oleh penduduk pedesaan yang mengalami peningkatan 1,1% (yoy), menjadi 658 ribu orang (Grafik 6.3). Penduduk miskin di pedesaan menyumbang 81,52% dari total penduduk miskin yang ada, sedangkan sisanya 18,48% disumbang oleh penduduk kota. ribu orang 1 1.3% 1.3% 1.3% 1.3% % % % % % 9.4% Mar-11 Sep-11 Sep-12 Mar-13 Sep-13 Mar-14 Sep-14 Mar-15 Sep-15 Mar % 1.2% 1.% 9.8% 9.6% 9.4% 9.2% 9.% 8.8% 1% 9% 8% 7% 6% 5% 4% 3% 2% 1% % Sulut Sulteng Sulsel Sultra Gorontalo Sulbar Desa Kota % Total Penduduk Miskin - kanan Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah Grafik 5.9. Jumlah Penduduk Miskin Sulawesi Selatan Desa Kota % Total Penddk Miskin - kanan Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah Grafik 5.1. Persentase Jumlah Penduduk Miskin Sulawesi Menurut Provinsi Maret 216 Peningkatan kemiskinan yang relatif rendah terjadi baik di kota maupun di desa. Peningkatan yang relatif rendah tersebut sejalan dengan rata-rata angka inflasi yang cukup terkendali pada periode Januari sd. Maret 216 menjadi 5,38%(yoy) dari 7,45% (yoy) pada periode yang sama di tahun 215. Inflasi yang masih tinggi didorong oleh tekanan harga di kelompok bahan pangan. Selain itu, peningkatan harga tersebut diakibatkan oleh mundurnya siklus tanam beras di Indonesia akibat El Nino, mengakibatkan excess demand tidak hanya terjadi di Sulsel namun juga di seluruh provinsi. 2 BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Jadi, penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan. BPS mengeluarkan perhitungan kemiskinan 2 kali dalam setahun, yaitu Maret (yang rilis pada bulan September) dan September (yang rilis pada Januari) 21 BPS mengeluarkan perhitungan kemiskinan 2 kali dalam setahun, yaitu Maret (yang rilis pada bulan Juli) dan September (yang rilis pada Januari) 88 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

95 Grafik Grafik Kemiskinan dan Andil Inflasi Beras Kemiskinan Inflasi Andil Beras - Skala Kanan 14. % yoy % yoy Mar-13 Sep-13 Mar-14 Sep-14 Mar-15 Sep-15 Mar-16 R 2 Kemiskinan - Andil Beras: 71,2% Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah Tingkat kemiskinan dan andil inflasi beras memiliki korelasi positif. Korelasi antara tingkat kemiskinan dan andil inflasi beras mencapai 71,2%. Korelasi positif tersebut menunjukkan bahwa harga beras dan kemiskinan memiliki kecenderungan yang sama. Inflasi merupakan faktor yang berpengaruh dalam menentukan kemiskinan 22. Oleh karena itu, jika inflasi semakin meningkat akan menurunkan daya beli masyarakat, khususnya yang memiliki tingkat pendapatan tetap, dan pada akhirnya akan menurunkan kesejahteraan. Dengan demikian, upaya Pengendalian inflasi perlu ditingkatkan dalam menekan tingkat kemiskinan. Tabel 5.4. Garis Kemiskinan Sulsel Garis Kemiskinan (Rp/kapita/bln) Pertumbuhan YoY Inflasi YoY Mar-14 Sep-14 Mar-15 Sep-15 Mar-16 Mar-15 Sep-15 Mar-16 Mar-15 Sep-15 Mar-16 Kota 24, , , ,14 281, % 11.25% 7.44% 8.61% 8.36% 5.7% Desa 211, ,19 24, , , % 16.16% 9.78% Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah Secara spasial, persentase jumlah penduduk miskin di Sulawesi Selatan relatif cukup rendah jika dibandingkan dengan provinsi lain se-sulawesi. Jumlah penduduk miskin Sulawesi Selatan berada pada urutan kedua terendah (9,4%) setelah Sulawesi Utara (8,34%) (Grafik 6.4). Sedangkan persentase jumlah penduduk miskin tertinggi di Sulawesi tercatat 17,73% dan masih terdapat di Provinsi Gorontalo. Tabel 5.5. Perkembangan Kemiskinan di Pulau Sulawesi Mar-15 Sep-15 Mar-16 Provinsi Jumlah Persentase Jumlah Persentase Jumlah Persentase Kota Desa Total Kota Desa Total Kota Desa Total Kota Desa Total Kota Desa Total Kota Desa Total Sulut Sulsel Sulbar Sultra Sulteng Gorontalo Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah Berdasarkan Kabupaten/Kota di Sulsel, tingkat kemiskinan tertinggi terdapat di Kabupaten Pangkep. Berdasarkan data BPS tahun 214, tingkat kemiskinan di Kab. Pangkep mencapai 16,38% di ikuti oleh Jeneponto (15,31%), dan Toraja Utara (15,1%). Sementara itu, daerah dengan tingkat kemiskinan terendah berada di wilayah Makassar dengan persentase kemiskinan mencapai 4,48% di ikuti oleh Sidrap (5,82%), dan Parepare (5,88%). Secara keseluruhan, hampir di seluruh wilayah terjadi peningkatan kemiskinan. 22 Berdasarkan riset dari Talukdar (212), The Effect of Inflation on Poverty in Developing Countries: A Panel Data Analysis. Texas Tech University. Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

96 Sumber: BPS, diolah Tabel 5.5. Tingkat Kemiskinan Per Kab/Kota se Sulawesi Selatan No Tingkat Kemiskinan (%) Kep. Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Toraja Utara Makassar Pare-pare Palopo Sulawesi Selatan Rasio Gini 23 Gini ratio Provinsi Sulawesi Selatan menurun pada 215. Nilai gini ratio Sulsel tahun 215 sebesar,4 menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai,45. Namun secara tren dari 212, angka ini cenderung mengalami peningkatan. Pada 212, gini ratio Sulsel masih sama dengan nasional yakni,41. Dibandingkan provinsi lain di Sulawesi, nilai gini ratio Sulawesi Selatan termasuk tinggi. Angka gini ratio tertinggi terjadi di Sulsel dan Gorontalo terbesar se Sulawesi. Sementara itu, nilai gini ratio terendah (,36) terjadi di Provinsi Sulawesi Barat. Angka gini ratio yang tinggi diiringi dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi menggambarkan bahwa masih tingginya kesenjangan pendapatan di Sulsel. Tabel 5.6. Nilai Gini Ratio di Pulau Sulawesi Provinsi Gorontalo Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Indonesia Sumber: Booklet Data Sosial Ekonomi, BPS 6.4 Nilai Tukar Petani 24 Pertumbuhan Nilai Tukar Petani (NTP), yang mencerminkan indikator kesejahteraan sektor pertanian, pada triwulan II 216 relatif melemah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Rata-rata NTP Sulsel pada triwulan II 216 menurun menjadi sebesar 14,3, dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 15,95. Penurunan NTP tersebut didorong oleh penurunan indeks harga produsen atas hasil produksi petani. Rata-rata indeks yang diterima petani turun dari 13,51 pada triwulan I 216 menjadi 127,98 pada triwulan laporan (Grafik 6.8). Penurunan indeks tersebut diperkirakan karena turunnya harga sektor tanaman pangan (khususnya padi) pada bulan April dan Mei akibat meningkatnya jumlah pasokan 23 Angka koefisien gini adalah ukuran kemerataan pendapatan yang dihitung berdasarkan kelas pendapatan. Angka koefisien gini terletak antara (nol) dan 1 (satu). Nol mencerminkan kemerataan sempurna dan satu menggambarkan ketidakmeraaan sempurna. 24 NTP merupakan keseimbangan antara indeks harga yang diterima petani (It) dengan yang dibayar petani (Ib). 9 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus 216

97 saat panen raya 25. Indeks yang Dibayar Petani juga mengalami penurunan dari 123,17 pada triwulan I 216 menjadi 123,2 pada triwulan II 216 (Grafik 6.7) Indeks Nilai Tukar Petani g.indeks - sisi kanan yoy I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II 5% 4% 3% 2% 1% % -1% -2% -3% -4% Indeks Indeks yang Dibayar Petani yoy g.indeks - sisi kanan I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II 12% 1% 8% 6% 4% 2% % -2% -4% Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah Grafik 5.6. Perkembangan Rata-rata Nilai Tukar Petani Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah Grafik 5.7. Perkembangan Rata-rata Indeks yang Dibayar Petani Korelasi antara inflasi dan nilai tukar petani memiliki hubungan terbalik yang menunjukkan bahwa petani juga merupakan net consumer. Grafik 6.9 menunjukkan pada tahun negatif dari korelasi tersebut mencapai -,38 dan periode tahun 212 hingga 216 mencapai -,59. Meskipun demikian, gap antara kenaikan inflasi dan perbaikan NTP di tahun 216 semakin menurun, pada saat inflasi kelompok volatile food deflasi di bulan Februari hingga Mei 216 (penurunan harga beras, cabe rawit, dan cabe merah). Selain itu, harga bahan bakar minyak bersubsidi dari Januari 216 Mei 216 cenderung stabil sehingga menurunkan gap antara kenaikan inflasi dan perbaikan NTP. Demikian pula saat kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi di Juli 213 dan November 214, gap antara inflasi dan perkembangan NTP semakin besar Indeks Indeks yang Diterima Petani g.indeks - sisi kanan I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II Sumber: Badan Pusat Statistik Grafik 5.8. Perkembangan Rata-rata Indeks yang Diterima Petani yoy 12% 1% 8% 6% 4% 2% % -2% -4% 1% yoy r = -,38 r = -,59 8% 6% 4% 2% % -2% -4% I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II Inflasi Nilai Tukar Petani Sumber: Badan Pusat Statistik Grafik 5.9. Perkembangan Rata-rata Indeks yang Diterima Petani Namun demikian, secara spasial NTP Sulsel di triwulan II 216 menduduki peringkat ke-8 terbesar dibanding provinsi lainnya. Posisi ini lebih rendah dibandingkan dengan posisi Sulsel di triwulan sebelumnya yang mampu menempati urutan keempat secara Nasional. 25 Harga pangan dapat dilihat di Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Periode Agustus

Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan

Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Agustus 216 (terbit setiap triwulan) KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia

Lebih terperinci

Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan

Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan November 216 (terbit setiap triwulan) KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia

Lebih terperinci

TRIWULAN IV 2015 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN

TRIWULAN IV 2015 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan TRIWULAN IV 215 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain dapat

Lebih terperinci

TRIWULAN I 2016 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN

TRIWULAN I 2016 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan TRIWULAN I 216 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain dapat diakses

Lebih terperinci

TRIWULAN IV 2015 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN

TRIWULAN IV 2015 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan TRIWULAN IV 215 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain dapat

Lebih terperinci

Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan

Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Mei 217 (terbit setiap triwulan) KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia

Lebih terperinci

Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan

Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Februari 217 (terbit setiap triwulan) KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia

Lebih terperinci

Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan

Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Agustus 217 (terbit setiap triwulan) KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia

Lebih terperinci

Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan

Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Februari 218 (terbit setiap triwulan) KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia

Lebih terperinci

TRIWULAN III 2014 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH I SULAWESI MALUKU PAPUA

TRIWULAN III 2014 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH I SULAWESI MALUKU PAPUA Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan TRIWULAN III 214 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH I SULAWESI MALUKU PAPUA Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain

Lebih terperinci

Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan

Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan November 2017 (terbit setiap triwulan) KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia

Lebih terperinci

TRIWULAN I 2016 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN

TRIWULAN I 2016 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan TRIWULAN I 216 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain dapat diakses

Lebih terperinci

TRIWULAN IV 2014 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN

TRIWULAN IV 2014 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan TRIWULAN IV 2014 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain dapat

Lebih terperinci

Publikasi ini dapat diakses secara online pada:

Publikasi ini dapat diakses secara online pada: A FEBRUARI 218 Publikasi ini dapat diakses secara online pada: www.bi.go.id/web/id/publikasi Salinan publikasi dalam bentuk hardcopy dapat diperoleh di: Unit Advisory Ekonomi dan Keuangan Kantor Perwakilan

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI PAPUA

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI PAPUA KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI PAPUA AGUSTUS 2017 Vol. 3 No. 2 Triwulanan April - Jun 2017 (terbit Agustus 2017) Triwulan II 2017 ISSN 2460-490257 e-issn 2460-598212 KATA PENGANTAR RINGKASAN

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI LAMPUNG. Kajian Triwulanan Misi Bank Indonesia. Visi, Misi dan Nilai Strategis Bank Indonesia

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI LAMPUNG. Kajian Triwulanan Misi Bank Indonesia. Visi, Misi dan Nilai Strategis Bank Indonesia Visi, Misi dan Nilai Strategis Bank Indonesia KAJIAN EKONOMI DAN Visi Bank Indonesia KEUANGAN REGIONAL PROVINSI LAMPUNG Menjadi lembaga bank sentral yang kredibel dan terbaik di regional melalui penguatan

Lebih terperinci

TRIWULAN I 2015 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN

TRIWULAN I 2015 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan TRIWULAN I 2015 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain dapat

Lebih terperinci

Kajian. Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Kalimantan Tengah

Kajian. Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Kalimantan Tengah Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Triwulan III 2015 1 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat-nya (KEKR) Provinsi Kalimantan Tengah Triwulan III

Lebih terperinci

Halaman ini sengaja dikosongkan.

Halaman ini sengaja dikosongkan. 2 Halaman ini sengaja dikosongkan. KATA PENGANTAR Puji serta syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan rahmat dan ridha- IV Barat terkini yang berisi mengenai pertumbuhan ekonomi,

Lebih terperinci

Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain dapat diakses secara online pada:

Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain dapat diakses secara online pada: Februari 2018 Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain dapat diakses secara online pada: http://www.bi.go.id/id/publikasi/kajian-ekonomi-regional/ Salinan publikasi ini juga dapat diperoleh

Lebih terperinci

Kajian Ekonomi Regional Banten

Kajian Ekonomi Regional Banten Kajian Ekonomi Regional Banten Triwulan I - 2009 i Kata Pengantar Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah melimpahkan segala rahmat-nya sehingga penyusunan buku Kajian Ekonomi Regional

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI JAWA TENGAH MEI

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI JAWA TENGAH MEI KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI JAWA TENGAH MEI 2017 1 KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia- Ekonomi dan Keuangan Regional

Lebih terperinci

TRIWULAN II 2015 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN

TRIWULAN II 2015 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan TRIWULAN II 2015 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain dapat

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI JAWA TENGAH FEBRUARI 2017

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI JAWA TENGAH FEBRUARI 2017 FEBRUARI 217 KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunianya Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Jawa Tengah Februari 217 dapat dipublikasikan.

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI JAWA TENGAH AGUSTUS

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI JAWA TENGAH AGUSTUS KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI JAWA TENGAH AGUSTUS 2017 1 KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia- Ekonomi dan Keuangan Regional

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI ACEH. Triwulan IV 2015

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI ACEH. Triwulan IV 2015 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI ACEH Triwulan IV 215 VISI Menjadi Kantor Perwakilan yang kredibel dalam pelaksanaan tugas BI dan kontributif bagi pembangunan ekonomi daerah maupun nasional.

Lebih terperinci

BAB 5 : SISTEM PEMBAYARAN

BAB 5 : SISTEM PEMBAYARAN BAB 5 SISTEM PEMBAYARAN BAB 5 : SISTEM PEMBAYARAN Transaksi sistem pembayaran tunai di Gorontalo pada triwulan I-2011 diwarnai oleh net inflow dan peningkatan persediaan uang layak edar. Sementara itu,

Lebih terperinci

Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain dapat diakses secara online pada:

Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain dapat diakses secara online pada: November 2017 Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain dapat diakses secara online pada: http://www.bi.go.id/id/publikasi/kajian-ekonomi-regional/ Salinan publikasi ini juga dapat diperoleh

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI ACEH

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI ACEH KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI ACEH VISI Menjadi Kantor Bank Indonesia yang dapat dipercaya di daerah melalui peningkatan peran dalam menjalankan tugas-tugas Bank Indonesia yang diberikan. MISI Mendukung

Lebih terperinci

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012 Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012 Asesmen Ekonomi Laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau pada triwulan II 2012 tercatat sebesar 7,25%, mengalami perlambatan dibandingkan

Lebih terperinci

Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Barat

Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Barat Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Barat Mei - 2016 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Barat Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain dapat diakses secara

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI KALIMANTAN TIMUR DAN KALIMANTAN UTARA MEI 217 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA Provinsi Kalimantan Timur Publikasi ini dapat diakses secara online pada: www.bi.go.id/web/id/publikasi

Lebih terperinci

TRIWULAN II 2014 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH I SULAWESI MALUKU PAPUA

TRIWULAN II 2014 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH I SULAWESI MALUKU PAPUA Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan TRIWULAN II 214 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH I SULAWESI MALUKU PAPUA Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain

Lebih terperinci

Asesmen Pertumbuhan Ekonomi

Asesmen Pertumbuhan Ekonomi Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Asesmen Pertumbuhan Ekonomi Penurunan momentum pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau di periode ini telah diperkirakan sebelumnya setelah mengalami tingkat pertumbuhan

Lebih terperinci

Publikasi ini dapat diakses secara online pada:

Publikasi ini dapat diakses secara online pada: A NOVEMBER 217 Publikasi ini dapat diakses secara online pada: www.bi.go.id/web/id/publikasi Salinan publikasi dalam bentuk hardcopy dapat diperoleh di: Unit Advisory Ekonomi dan Keuangan Kantor Perwakilan

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI KALIMANTAN UTARA AGUSTUS 217 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA Provinsi Kalimantan Utara Publikasi ini dapat diakses secara online pada: www.bi.go.id/web/id/publikasi

Lebih terperinci

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III 2012 Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI JAWA TENGAH TRIWULAN I

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI JAWA TENGAH TRIWULAN I KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI JAWA TENGAH TRIWULAN I 2016 KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia- Ekonomi Regional Provinsi

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI JAWA TENGAH MEI 2017

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI JAWA TENGAH MEI 2017 MEI KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia-nya Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Jawa Tengah Mei dapat dipublikasikan. Buku ini

Lebih terperinci

Inflasi Bulanan Inflasi Tahunan Disagregasi Inflasi Non Fundamental Fundamental/Inti...

Inflasi Bulanan Inflasi Tahunan Disagregasi Inflasi Non Fundamental Fundamental/Inti... Daftar Isi Daftar Isi... i Daftar Tabel... iv Daftar Grafik... v Kata Pengantar... x Tabel Indikator Ekonomi Provinsi Lampung... xii Ringkasan Eksekutif... xv Bab 1 Perkembangan Ekonomi Makro Daerah...

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI ACEH. Triwulan I 2016

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI ACEH. Triwulan I 2016 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI ACEH Triwulan I 216 VISI Menjadi Kantor Perwakilan yang kredibel dalam pelaksanaan tugas BI dan kontributif bagi pembangunan ekonomi daerah maupun nasional.

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGGARA TRIWULAN I 2015 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI TENGGARA

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGGARA TRIWULAN I 2015 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI TENGGARA KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGGARA TRIWULAN I 2015 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI TENGGARA Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain dapat

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TRIWULAN I 2017

PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TRIWULAN I 2017 No. 31/05/51/Th. XI, 5 Mei 2017 PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TRIWULAN I 2017 EKONOMI BALI TRIWULAN I-2017 TUMBUH SEBESAR 5,75% (Y-ON-Y) NAMUN MENGALAMI KONTRAKSI SEBESAR 1,34% (Q-TO-Q) Total perekonomian Bali

Lebih terperinci

P D R B 7.24% 8.50% 8.63% 8.60% 6.52% 3.05% -0.89% Sumber : BPS Kepulauan Riau *) angka sementara **) angka sangat sementara

P D R B 7.24% 8.50% 8.63% 8.60% 6.52% 3.05% -0.89% Sumber : BPS Kepulauan Riau *) angka sementara **) angka sangat sementara Ringkasan Eksekutif Asesmen Ekonomi Di awal tahun 2009, imbas krisis finansial global terhadap perekonomian Kepulauan Riau dirasakan semakin intens. Laju pertumbuhan ekonomi memasuki zona negatif dengan

Lebih terperinci

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Sulawesi Selatan

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Sulawesi Selatan Kajian Ekonomi Regional Provinsi Sulawesi Selatan Triwulan IV 213 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH I SULAWESI MALUKU PAPUA Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain dapat diakses

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI ACEH. Triwulan III 2015

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI ACEH. Triwulan III 2015 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI ACEH Triwulan III 215 VISI Menjadi Kantor Perwakilan yang kredibel dalam pelaksanaan tugas BI dan kontributif bagi pembangunan ekonomi daerah maupun nasional.

Lebih terperinci

Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2014 Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat

Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2014 Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat Visi Bank Indonesia Menjadi lembaga bank sentral yang kredibel dan terbaik di regional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang rendah dan nilai tukar yang stabil

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGGARA FEBRUARI 2017

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGGARA FEBRUARI 2017 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain dapat diakses secara online pada: www.bi.go.id/web/id/publikasi/ Salinan publikasi ini juga dapat diperoleh

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGGARA NOVEMBER 2016

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGGARA NOVEMBER 2016 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain dapat diakses secara online pada: www.bi.go.id/web/id/publikasi/ Salinan publikasi ini juga dapat diperoleh

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TRIWULAN I 2016

PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TRIWULAN I 2016 No. 32/05/51/Th. X, 4 Mei 2016 PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TRIWULAN I 2016 EKONOMI BALI TRIWULAN I-2016 TUMBUH SEBESAR 6,04% (Y-ON-Y) NAMUN MENGALAMI KONTRAKSI SEBESAR 1,46% (Q-TO-Q) Total perekonomian Bali

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TAHUN 2016

PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TAHUN 2016 No. 12/02/51/Th. XI, 6 Februari 2017 PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TAHUN EKONOMI BALI TAHUN TUMBUH 6,24 PERSEN MENINGKAT JIKA DIBANDINGKAN DENGAN TAHUN SEBELUMNYA. Perekonomian Bali tahun yang diukur berdasarkan

Lebih terperinci

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan I 2013 Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional melalui

Lebih terperinci

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012 Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012 Asesmen Ekonomi Pada triwulan I 2012 pertumbuhan Kepulauan Riau mengalami akselerasi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 6,34% (yoy)

Lebih terperinci

Agustus KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

Agustus KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Agustus KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi KPW BI Provinsi NTT Jl. El Tari No. 39 Kupang

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI UTARA TRIWULAN III-2015

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI UTARA TRIWULAN III-2015 No. 78/11/71/Th. IX, 5 Agustus 2015 PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI UTARA TRIWULAN III-2015 PEREKONOMIAN SULAWESI UTARA TRIWULAN III-2015 TUMBUH 6,28 PERSEN Perekonomian Sulawesi Utara Triwulan III-2015 yang

Lebih terperinci

Publikasi ini dapat diakses secara online pada :

Publikasi ini dapat diakses secara online pada : i TRIWULAN III 2015 Edisi Triwulan III 2015 Buku Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional ini diterbitkan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Jl. Jend. Sudirman No. 51

Lebih terperinci

Provinsi Nusa Tenggara Timur

Provinsi Nusa Tenggara Timur KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Provinsi Nusa Tenggara Timur triwulan I 2015 FOTO : PULAU KOMODO Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur Penerbit : KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI ACEH AGUSTUS 2016

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI ACEH AGUSTUS 2016 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI ACEH AGUSTUS 216 VISI Menjadi Kantor Perwakilan yang kredibel dalam pelaksanaan tugas BI dan kontributif bagi pembangunan ekonomi daerah maupun nasional. MISI

Lebih terperinci

Tim Penulis: Unit Advisory Ekonomi dan Keuangan KPw BI Provinsi Kaltara CP. dan

Tim Penulis: Unit Advisory Ekonomi dan Keuangan KPw BI Provinsi Kaltara CP. dan Edisi Agustus 217 Buku Kajian Ekonomi dan Regional ini Diterbitkan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara Jl. Mulawarman No. 123, Kota Tarakan 77117 No. Telp: 551-38 7777. Fax:

Lebih terperinci

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan II-2013

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan II-2013 Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan II-2013 Asesmen Ekonomi Perekonomian Kepulauan Riau (Kepri) pada triwulan II-2013 mengalami pelemahan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pada

Lebih terperinci

... V... VII... XIII... XIII... XIII... 1 BAB I. PERKEMBANGAN MAKRO EKONOMI REGIONAL... 5 1.1 Perkembangan Makro Ekonomi Provinsi Maluku... 5 1.2. Perkembangan PDRB Sisi Permintaan... 7 1.3. PERKEMBANGAN

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN DI ACEH

PERKEMBANGAN PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN DI ACEH PERKEMBANGAN PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN DI ACEH Perbankan Aceh PERKEMBANGAN PERBANKAN DI ACEH KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. ACEH TRIWULAN 4-2012 45 Perkembangan Perbankan Aceh Kinerja perbankan (Bank

Lebih terperinci

Kajian Ekonomi Regional Triwulan II-2014 Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat

Kajian Ekonomi Regional Triwulan II-2014 Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat Visi Bank Indonesia Menjadi lembaga bank sentral yang kredibel dan terbaik di regional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang rendah dan nilai tukar yang stabil

Lebih terperinci

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA TRIWULAN II Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA TRIWULAN II Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA TRIWULAN II 2013 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL AGUSTUS 216 website : www.bi.go.id email : empekanbaru@bi.go.id VISI BANK INDONESIA : kredibel dan terbaik di regional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL Triwulan IV 2012

KAJIAN EKONOMI REGIONAL Triwulan IV 2012 KAJIAN EKONOMI REGIONAL Triwulan IV 2012 Januari 2013 Kinerja Ekonomi Daerah Cukup Kuat, Inflasi Daerah Terkendali Ditengah perlambatan perekonomian global, pertumbuhan ekonomi berbagai daerah di Indonesia

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL MEI. website :

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL MEI. website : KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL MEI 2017 website : www.bi.go.id VISI BANK INDONESIA : kredibel dan terbaik di regional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang dimiliki serta pencapaian inflasi

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Daftar Isi

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Daftar Isi E E Daftar Isi DAFTAR ISI HALAMAN Kata Pengantar... iii Daftar Isi... iv Daftar Tabel... vii Daftar Grafik... viii Daftar Gambar... xii Tabel Indikator Ekonomi Terpilih... xiii RINGKASAN EKSEKUTIF... 1

Lebih terperinci

No.11/02/63/Th XVII. 5 Februari 2014

No.11/02/63/Th XVII. 5 Februari 2014 No.11/02/63/Th XVII. 5 Februari 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2013 Secara triwulanan, PDRB Kalimantan Selatan triwulan IV-2013 menurun dibandingkan dengan triwulan III-2013 (q-to-q)

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI NUSA TENGGARA BARAT TAHUN 2016

PERTUMBUHAN EKONOMI NUSA TENGGARA BARAT TAHUN 2016 BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI NTB No. 12/02/52/Th.X, 6 Februari 2017 PERTUMBUHAN EKONOMI NUSA TENGGARA BARAT TAHUN 2016 EKONOMI NUSA TENGGARA BARAT TUMBUH 5,82 PERSEN Sampai dengan triwulan IV-2016 perekonomian

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT TRIWULAN II-2008 KANTOR BANK INDONESIA BANDUNG Kantor Bank Indonesia Bandung Jl. Braga No. 108 BANDUNG Telp : 022 4230223 Fax : 022 4214326 Visi Bank Indonesia

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI SELATAN TRIWULAN II-2015

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI SELATAN TRIWULAN II-2015 BADAN PUSAT STATISTIK No. 49/08/73/Th. IX, 5 Agustus 2015 PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI SELATAN TRIWULAN II-2015 EKONOMI SULAWESI SELATAN TRIWULAN II-2015 TUMBUH 7,62 PERSEN MENINGKAT DIBANDING TRIWULAN

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Provinsi Nusa Tenggara Timur Triwulan IV - 2015 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Unit Asesmen

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Kalimantan Selatan Triwulan III - 2011 Kantor Bank Indonesia Banjarmasin Kata Pengantar KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas

Lebih terperinci

Tim Penulis : Unit Asesmen Statistik Survei dan Liaison KPwBI Provinsi Bangka Belitung

Tim Penulis : Unit Asesmen Statistik Survei dan Liaison KPwBI Provinsi Bangka Belitung i Edisi Agustus 2016 Buku Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional ini diterbitkan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Jl. Jend. Sudirman No. 51 Pangkalpinang No. Telp

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI SULAWESI UTARA FEBRUARI 2018

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI SULAWESI UTARA FEBRUARI 2018 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI SULAWESI UTARA FEBRUARI 2018 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara Soekowardojo MHA Ridhwan : Kepala Perwakilan / Direktur : Kepala Divisi

Lebih terperinci

6.1. Kinerja Sistem Pembayaran Transaksi Keuangan Secara Tunai Transaksi Keuangan Secara Non Tunai... 74

6.1. Kinerja Sistem Pembayaran Transaksi Keuangan Secara Tunai Transaksi Keuangan Secara Non Tunai... 74 i ii ii 1.1. Analisis PDRB Dari Sisi Penawaran... 3 1.1.1. Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan... 4 1.1.2. Sektor Pertambangan dan Penggalian... 6 1.1.3. Sektor Industri Pengolahan... 8 1.1.4. Sektor

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGGARA TRIWULAN II 2015 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI TENGGARA

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGGARA TRIWULAN II 2015 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI TENGGARA KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGGARA TRIWULAN II 2015 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI TENGGARA Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain dapat

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGGARA TRIWULAN III 2015 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI TENGGARA

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGGARA TRIWULAN III 2015 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI TENGGARA KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGGARA TRIWULAN III 2015 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI TENGGARA Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain dapat

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI KALIMANTAN TIMUR FEBRUARI 218 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA Provinsi Kalimantan Timur Publikasi ini dapat diakses secara online pada: www.bi.go.id/web/id/publikasi

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKONOMI, KETENAGAKERJAAN, DAN KEMISKINAN

PERKEMBANGAN EKONOMI, KETENAGAKERJAAN, DAN KEMISKINAN PERKEMBANGAN EKONOMI, KETENAGAKERJAAN, DAN KEMISKINAN PERKEMBANGAN EKONOMI, KETENAGAKERJAAN DAN KEMISKINAN Kinerja perekonomian Indonesia masih terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa triwulan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI DI YOGYAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2015

PERTUMBUHAN EKONOMI DI YOGYAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2015 2 BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA No. 29/05/34/Th.XVII, 5 Mei 2015 PERTUMBUHAN EKONOMI DI YOGYAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2015 EKONOMI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TRIWULAN I 2015 TUMBUH 0,16 PERSEN MELAMBAT DIBANDING

Lebih terperinci

Tim Penulis : Unit Asesmen Statistik Survei dan Liaison KPwBI Provinsi Bangka Belitung

Tim Penulis : Unit Asesmen Statistik Survei dan Liaison KPwBI Provinsi Bangka Belitung i Edisi Triwulan II 2016 Buku Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional ini diterbitkan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Jl. Jend. Sudirman No. 51 Pangkalpinang No. Telp

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG TRIWULAN III TAHUN 2015

PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG TRIWULAN III TAHUN 2015 No. 76/11/19/Th.IX, November 01 PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG TRIWULAN III TAHUN 01 EKONOMI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG TRIWULAN III-01 TUMBUH,96 PERSEN MELAMBAT DIBANDING TRIWULAN II-01

Lebih terperinci

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Barat

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Barat Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Barat Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain dapat diakses secara online pada: www.bi.go.id/web/id/publikasi/ Salinan publikasi ini

Lebih terperinci

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III 2010 Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Provinsi Nusa Tenggara Timur Kantor Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur Menyongsong Pembangunan di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang Berkualitas Februari 2017 Untuk

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI JAKARTA TAHUN 2016 EKONOMI JAKARTA TAHUN 2016 TUMBUH 5,85 PERSEN

PERTUMBUHAN EKONOMI JAKARTA TAHUN 2016 EKONOMI JAKARTA TAHUN 2016 TUMBUH 5,85 PERSEN No. 09/02/31/Th.XIX, 6 Februari 2017 PERTUMBUHAN EKONOMI JAKARTA TAHUN 2016 EKONOMI JAKARTA TAHUN 2016 TUMBUH 5,85 PERSEN Perekonomian Jakarta tahun 2016 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGGARA NOVEMBER 2017

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGGARA NOVEMBER 2017 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGGARA NOVEMBER 2017 Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain dapat diakses secara online pada: www.bi.go.id/web/id/publikasi/ Salinan

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT TRIWULAN IV-2009 KANTOR BANK INDONESIA BANDUNG Kantor Bank Indonesia Bandung Jl. Braga No. 108 BANDUNG Telp : 022 4230223 Fax : 022 4214326 Visi Bank Indonesia

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI NUSA TENGGARA BARAT TRIWULAN III-2016

PERTUMBUHAN EKONOMI NUSA TENGGARA BARAT TRIWULAN III-2016 BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI NTB No. 73/11/52/X/2016, 7 November 2016 PERTUMBUHAN EKONOMI NUSA TENGGARA BARAT TRIWULAN III-2016 EKONOMI NUSA TENGGARA BARAT TRIWULAN III-2016 TUMBUH 3,47 PERSEN Perekonomian

Lebih terperinci

Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain dapat diakses secara online pada:

Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain dapat diakses secara online pada: AGUSTUS 2017 Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain dapat diakses secara online pada: http://www.bi.go.id/id/publikasi/kajian-ekonomi-regional/ Salinan publikasi ini juga dapat diperoleh

Lebih terperinci

Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Barat. NOVEMBER Kantor Perwakilan Bank Indonesia

Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Barat. NOVEMBER Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Barat NOVEMBER - 217 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Publikasi ini dapat diakses secara online pada: www.bi.go.id/id/publikasi/kajian-ekonomi-regional/sulbar

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI D.I. YOGYAKARTA TRIWULAN III TAHUN 2016

PERTUMBUHAN EKONOMI D.I. YOGYAKARTA TRIWULAN III TAHUN 2016 BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA No. 63/11/34/Th.XVIII, 7 November PERTUMBUHAN EKONOMI D.I. YOGYAKARTA TRIWULAN III TAHUN EKONOMI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TRIWULAN III TUMBUH SEBESAR 4,68 PERSEN, LEBIH LAMBAT

Lebih terperinci

BADAN PUSAT STATISTIK No. 65/08/21/Th.X, 5 Agustus 2015 PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN RIAU TRIWULAN II-2015 EKONOMI KEPULAUAN RIAU SAMPAI DENGAN TRIWULAN II-2015 TUMBUH 6,35 PERSEN (C-TO-C) Perekonomian

Lebih terperinci

Bank Indonesia adalah Bank Sentral Republik Indonesia. ~UU No. 23 Tahun 1999 Pasal 4 ayat 1~ Visi Bank Indonesia. Misi Bank Indonesia

Bank Indonesia adalah Bank Sentral Republik Indonesia. ~UU No. 23 Tahun 1999 Pasal 4 ayat 1~ Visi Bank Indonesia. Misi Bank Indonesia Dasar Hukum Bank Indonesia Negara memiliki suatu bank sentral yang susunan, kedudukan, kewenangan, tanggung jawab, dan independensinya diatur dengan undang-undang. ~UUD 1945 Pasal 23 D~ Bank Indonesia

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT TRIWULAN IV-28 KANTOR BANK INDONESIA BANDUNG Kantor Bank Indonesia Bandung Jl. Braga No. 18 BANDUNG Telp : 22 423223 Fax : 22 4214326 Visi Bank Indonesia Menjadi

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGGARA

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGGARA BPS PROVINSI SULAWESI TENGGARA No. 45/08/Th. IX, 7 Agustus 2017 PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGGARA EKONOMI SULAWESI TENGGARA TRIW. II-2017 TUMBUH 7,03 PERSEN (YEAR ON YEAR) Perekonomian Sulawesi Tenggara

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI DI YOGYAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2017

PERTUMBUHAN EKONOMI DI YOGYAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2017 2 BPS PROVINSI DI YOGYAKARTA No 46/08/34/ThXIX, 7 Agustus 2017 PERTUMBUHAN EKONOMI DI YOGYAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2017 EKONOMI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TRIWULAN II 2017 TUMBUH 5,17 PERSEN LEBIH LAMBAT

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI PAPUA

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI PAPUA KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI PAPUA MEI 2017 Vol. 3 No. 1 Triwulanan Januari - Maret 2017 (terbit Mei 2017) Triwulan I 2017 ISSN 2460-490165 e-issn 2460-598144 - KATA PENGANTAR RINGKASAN

Lebih terperinci