BAB 2 DASAR TEORI BAB 2 DASAR TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II DASAR TEORI BAB II DASAR TEORI

4. 1 Spesifikasi Keadaan dari Sebuah Sistem

BAB 2 TEORI PENUNJANG

Vektor-vektor Yang Tegak Lurus dan Vektor-vektor Yang Paralel

Dalam setiap sub daerah, pilih suatu titik P k (x k, y k ) dan bentuklah jumlah :

Kumpulan soal-soal level seleksi provinsi: solusi:

Kumpulan soal-soal level seleksi Kabupaten: Solusi: a a k

BAB III DESAIN DAN APLIKASI METODE FILTERING DALAM SISTEM MULTI RADAR TRACKING

Bahan Minggu II, III dan IV Tema : Kerangka acuan inersial dan Transformasi Lorentz Materi :

BAB IV PERHITUNGAN HARGA PREMI BERDASARKAN FUNGSI PERMINTAAN PADA TITIK KESETIMBANGAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Soal-Jawab Fisika OSN x dan = min. Abaikan gesekan udara. v R Tentukan: a) besar kelajuan pelemparan v sebagai fungsi h. b) besar h maks.

BAB ELASTISITAS. Pertambahan panjang pegas

BAB IV APLIKASI PADA MATRIKS STOKASTIK

BAB II KONSEP PERENCANAAN STRUKTUR TAHAN GEMPA

INTEGRAL TENTU. x 3. a=x 1. x 2. c 1. c 2. panjang selang bagian terpanjang dari partisi P. INTEGRAL LIPAT DUA

BAB III PENENTUAN HARGA PREMI, FUNGSI PERMINTAAN, DAN TITIK KESETIMBANGANNYA

Materi. Menggambar Garis. Menggambar Garis 9/26/2008. Menggambar garis Algoritma DDA Algoritma Bressenham

Optimasi Non-Linier. Metode Numeris

MEKANIKA TANAH REMBESAN DAN TEORI JARINGAN MODUL 4. UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevard Bintaro Sektor 7, Bintaro Jaya Tangerang Selatan 15224

BAB 3 PATTERN MATCHING BERBASIS JARAK EUCLID, PATTERN MATCHING BERBASIS JARAK MAHALANOBIS, DAN JARINGAN SYARAF TIRUAN BERBASIS PROPAGASI BALIK

Program Perkuliahan Dasar Umum Sekolah Tinggi Teknologi Telkom [MA1124] KALKULUS II

BAB III. dan menghamburkan

Tanggapan Waktu Alih Orde Tinggi

ANALISA STATIK DAN DINAMIK GEDUNG BERTINGKAT BANYAK AKIBAT GEMPA BERDASARKAN SNI DENGAN VARIASI JUMLAH TINGKAT

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB III METODE SCHNABEL

FISIKA. Kelas X GETARAN HARMONIS K-13. A. Getaran Harmonis Sederhana

VARIASI NILAI BATAS AWAL PADA HASIL ITERASI PERPINDAHAN PANAS METODE GAUSS-SEIDEL

RINGKASAN SKRIPSI MODUL PERKALIAN

a. Integral Lipat Dua atas Daerah Persegi Panjang

SISTEM ADAPTIF PREDIKSI PENGENALAN ISYARAT VOKAL SUARA KARAKTER. Abstrak

SISTEM ADAPTIF PREDIKSI PENGENALAN ISYARAT VOKAL SUARA KARAKTER

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 5 RUANG VEKTOR UMUM. Dr. Ir. Abdul Wahid Surhim, MT.

BAB II LANDASAN TEORI

ALGORITMA PENYELESAIAN PERSAMAAN DINAMIKA LIQUID CRYSTAL ELASTOMER

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

Aplikasi diagonalisasi matriks pada rantai Markov

PENERAPAN DYNAMIC PROGRAMMING DALAM WORD WRAP Wafdan Musa Nursakti ( )

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

( s) PENDAHULUAN tersebut, fungsi intensitas (lokal) LANDASAN TEORI Ruang Contoh, Kejadian dan Peluang

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan data sekunder bersifat runtun waktu (time series)

BAB III METODE PENELITIAN (BAHAN DAN METODE)

Modifikasi ACO untuk Penentuan Rute Terpendek ke Kabupaten/Kota di Jawa

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

3. Sebaran Peluang Diskrit

Variasi Spline Kubik untuk Animasi Model Wajah 3D

ANALISA PERSAMAAN PANAS PADA PROSES STERILISASI MAKANAN KALENG. Heat Equation Analize of Canned Food Sterilization Process

BAB III METODE PENELITIAN (BAHAN DAN METODE)

Deret Pangkat. Ayundyah Kesumawati. June 23, Prodi Statistika FMIPA-UII

Makalah Seminar Tugas Akhir. Aplikasi Kendali Adaptif pada Pengendalian Plant Pengatur Suhu dengan Self Tuning Regulator (STR)

MEKANIKA TANAH HIDROLIKA TANAH DAN PERMEABILITAS MODUL 3

BAB II LANDASAN TEORI

ek SIPIL MESIN ARSITEKTUR ELEKTRO

tidak mempunyai fixed mode terdesentralisasi, dapat dilakukan dengan memberikan kompensator terdesentralisasi. Fixed mode terdesentralisasi pertama

BAB III MODEL KANAL WIRELESS

BEBERAPA SIFAT HIMPUNAN KRITIS PADA PELABELAN AJAIB GRAF BANANA TREE. Triyani dan Irham Taufiq Universitas Jenderal Soedirman

MODUL V PENCACAH BINER ASINKRON (SYNCHRONOUS BINARY COUNTER)

PERHITUNGAN CRITICAL CLEARING TIME MENGGUNAKAN PERSAMAAN SIMULTAN BERBASIS TRAJEKTORI KRITIS TANPA KONTROL YANG TERHUBUNG DENGAN INFINITE BUS

II. TINJAUAN PUSTAKA. sebuah teknik yang baru yang disebut analisis ragam. Anara adalah suatu metode

MODEL REGRESI INTERVAL DENGAN NEURAL FUZZY UNTUK MEMPREDIKSI TAGIHAN AIR PDAM

Studi dan Analisis mengenai Hill Cipher, Teknik Kriptanalisis dan Upaya Penanggulangannya

PENDAHULUAN TINJAUAN PUSTAKA

SOLUSI BAGIAN PERTAMA

PERENCANAAN JUMLAH TENAGA PERAWAT DI RSUD PAMEKASAN MENGGUNAKAN RANTAI MARKOV

Penggunaan Induksi Matematika untuk Mengubah Deterministic Finite Automata Menjadi Ekspresi Reguler

Perhitungan Kehilangan Pratekan Total dengan Memakai Teori Kemungkinan ABSTRAK

PENGARUH GAYA PADA SIFAT ELASTISITAS BAHAN

OPTIMASI KEKUATAN BENDING DAN IMPACT KOMPOSIT BERPENGUAT SERAT RAMIE BERMATRIK POLYESTER BQTN 157 TERHADAP FRAKSI VOLUME DAN TEBAL SKIN

BAB 2 TEORI DASAR. terhadap gaya horizontal yang umumnya tidak mencukupi (Agus, 2002). Muto,

PENGUKURAN PENDAPATAN NASIONAL

Universitas Indonusa Esa Unggul Fakultas Ilmu Komputer Teknik Informatika. Integral Lipat Dua

Geometri Bintang Berotasi Pada Keadaan Ambang

Penentuan Konduktivitas Termal Logam Tembaga, Kuningan, dan Besi dengan Metode Gandengan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

mungkin muncul adalah GA, GG, AG atau AA dengan peluang masing-masing

HUBUNGAN SIKAP DENGAN PRAKTIK PERAWATAN BAYI SEHARI-HARI PADA IBU PRIMIPARA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NGAMPEL PABUPATEN KENDAL ABSTRAK

MODEL MATEMATIKA KONSENTRASI OKSIGEN TERLARUT PADA EKOSISTEM PERAIRAN DANAU

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

TM. II : KONSEP DASAR ANALISIS STRUKTUR

KONTROL MOTOR PID DENGAN KOEFISIEN ADAPTIF MENGGUNAKAN ALGORITMA SIMULTANEOUS PERTURBATION

SATUAN ACARA PERKULIAHAN ( SAP )

BAB II LANDASAN TEORI. Graf adalah kumpulan simpul (nodes) yang dihubungkan satu sama lain

K13 Revisi Antiremed Kelas 11 Kimia

Danang Mursita Sekolah Tinggi Teknologi Telkom Bandung 2002

Keragaman Struktur Tegakan Hutan Alam Sekunder The Variability of Stand Structure of Logged-over Natural Forest

TEORI KINETIKA REAKSI KIMIA

PERHITUNGAN KEHILANGAN PRATEKAN (LOSS OF PRESTRESS) AKIBAT SUSUT DAN RANGKAK PADA BETON DENGAN MEMPERHITUNGKAN VARIABILITAS SIFAT-SIFAT BETON

ADAPTIVE NOISE CANCELING MENGGUNAKAN ALGORITMA LEAST MEAN SQUARE (LMS) Anita Nardiana, SariSujoko Sumaryono ABSTRACT

PENENTUAN FAKTOR KALIBRASI ACCELEROMETER MMA7260Q PADA KETIGA SUMBU

Makalah Seminar Tugas Akhir

BAB VII. RELE JARAK (DISTANCE RELAY)

BAB 3 PRINSIP SANGKAR BURUNG MERPATI

Pertemuan XV X. Tegangan Gabungan

MATA KULIAH METODE RUNTUN WAKTU. Oleh : Entit Puspita Nip

Disain dan Implementasi Kontrol PID Model Reference Adaptive Control untuk Automatic Safe Landing Pada Pesawat UAV Quadcopter

AKURASI MODEL PREDIKSI METODE BACKPROPAGATION MENGGUNAKAN KOMBINASI HIDDEN NEURON DENGAN ALPHA

BAB I PENDAHULUAN. material logam mendominasi dalam bidang industri (Basuki, 2008). Namun,

Transkripsi:

SR TEORI SR TEORI. Umum Pada bab ini aan dibahas mengenai dasar-dasar serat alam, teori strutur sandwich, fenomena etidastabilan strutur ang terjadi, terutama modus overall bucling ang aan dibahas dalam penulisan tugas ahir ini. Karena material face ang digunaan adalah material omposit ang bersifat ortotropi dan isotropi, maa dasar teori meania strutur omposit juga aan dibahas namun hana terbatas pada perhitungan matris.. Sifat-Sifat Serat lam Serat alam bisa dielompoan berdasaran posisina pada tanaman. Serat alam ang didapatan dari bagian batang tanaman (bast fiber) diantarana adalah serat rami, serat enaf, serat jute, dan serat fla. Sedangan serat alam ang didapatan dari bagian daun (leaf fiber) misalna adalah serat sisal, serat nanas, dan serat abaa. Sementara serat elapa didapatan dari buahna (seed fiber). Serat tunggal (single fiber) adalah unit terecil serat ang tida bisa dipisahan lagi secara meani. Pada umumna serat tunggal ini tersusun dari serat-serat ecil (mirofibril). i dalam mirofibril inilah tersusun rantai selulosa ang menjadi penopang utama bahan serat alam. Saat ini, bahan omposit dengan serat sintetis sebagai penguat (carbon, aramid, glass) masih mendominasi bahan-bahan omposit ang digunaan untu omponen-omponen pesawat, otomotif, onstrusi, alat-alat olah raga dll. pabila dilihat dari segi jumlah pemaaian, serat gelas menempati peringat teratas. Hal ini diarenaan hargana ang relatif murah dan memilii sifat meani ang bai. amun demiian, emunculan serat-serat alam mulai menggeser pemaaian serat gelas. Tabel.. beriut ini menggambaran perbandingan secara ualitatif antara serat alam dan serat gelas [4]. 6

SR TEORI Parameter Serat lam Serat Gelas ensitas Harga Rendah Rendah ua ali serat alam Rendah, tetapi lebih mahal dari pada serat alam apat diperbaharui apat didaur ulang Konsumsi Energi CO netral brasif terhadap mesin Resio esehatan etia terhirup Sampah Ya Ya Rendah Ya Tida Tida Terbiodegradasi Tida Ya Tinggi Tida Ya Ya Tida Terbiodegradasi Tabel.. Perbandingan Kualitatif ntara Serat lam dan Serat Gelas Oleh arena itu, dewasa ini mulai bana diembangan berbagai macam pemanfaatan serat alam arena sifatna ang bai dan dapat diperbaharui serta jumlahna ang melimpah di seitar ita... Serat dan Serbu Kelapa Pohon elapa ang disebut juga dengan pohon niur biasana tumbuh pada daerah atau awasan tepi pantai. Sangat bana manfaat ang dapat ita peroleh dari pohon elapa. Mulai dari batang, daun hingga pada bagian buahna dapat dimanfaatan. Salah satu ang cuup penting bagi penelitian ini adalah serat dan serbu (gabus) elapa ang merupaan bagian dari sabut elapa. Sabut elapa merupaan bagian ang cuup besar dari buah elapa, aitu 35 % dari berat eseluruhan buah. Sabut elapa terdiri dari serat dan serbu ang menghubungan satu serat dengan serat lainna. Serat adalah bagian ang berharga dari sabut. Setiap butir elapa mengandung serat 55 gram (75 % dari sabut), dan serbu 75 gram (5 % dari sabut)... Serat Rami Tanaman rami sudah ada seja jaman Jepang pada watu Perang unia II ang merupaan tanaman tahunan ang berbentu rumpun mudah tumbuh dan 7

SR TEORI diembangan di daerah tropis, tahan terhadap penait dan hama, serta dapat menduung pelestarian alam dan lingungan. Tanaman rami ang dienal dengan nama latin oehmeria nivea (L) Goud merupaan tanaman tahunan berbentu rumpun ang dapat menghasilan serat alam nabati dari pita (ribbons) pada ulit auna ang sangat eras dan mengilap. Serat rami mempunai sifat dan arateristi serat apas (cotton) aitu samasama dipintal ataupun dicampur dengan serat ang lainna untu dadian bahan bau testil. alam hal tertentu serat rami mempunai eunggulan dibanding seratserat ang lain seperti euatan tari, daa serap terhadap air, tahan terhadap elembaban dan bateri, tahan terhadap panas, peringat nomor dua setelah sutera dibanding serat alam ang lain, lebih ringan dibanding serat sintetis dan ramah lingungan (tida mengotori lingungan sehingga bai terhadap esehatan). Untu memperoleh serat ang menerupai serat apas membutuhan proses ang cuup panjang dimana sesudah dipanen, emudian dilauan pemotongan guna menghasilan serat pende halus (seuuran dengan serat apas) sehingga menghasilan serat ang menerupai serat apas. pabila proses ang dibuat sampai menerupai serat apas, hal ini menebaban harga serat aan menjadi mahal, namun tida masalah apabila rami disubstitusi dengan apas atau polester sehingga dapat lebih murah dan ualitas lebih bai. Pengolahan serat diperoleh setelah melalui mesin dan proses meanisme serta proses baterisasi / imiawi sebagai beriut : a. Proses eortiasi : Proses pemisahan serat dari batang tanaman, hasilna serat asar disebut China Grass. b. Proses egumisasi : Proses pembersihan serat dari getah pectin, legnin wales dan lain-lain, hasilna serat degum disebut egummed Fiber. c. Proses Softening : Proses pelepasan dan proses penghalusan bai secara imiawi maupun meanis agar serat rami tersebut dapat diproses untu dadian seperti apas. d. Proses Cutting dan Opening : Proses meanisisasi untu memotong serat dan membuana agar serat tersebut menjadi serat individual. Untu serat panjang disebut Top Rami dan untu serat pende disebut Staple Fiber. 8

SR TEORI.3 Meania Strutur Komposit Komposit merupaan salah satu material ang bana digunaan dewasa ini arena beberapa eunggulanna dibandingan dengan bahan logam onvensional ang ada. Secara harafiah, ata omposit memilii pengertian bahan ang terdiri dari dua atau lebih bahan ang berbeda ang digabung atau dicampur secara marosopis. Perbedaan dengan bahan paduan adalah penggabunganna ang dilauan secara marosopis sehingga sifat-sifat bahan pembentuna masih terlihat ang dimana pada jenis paduan (allo) ang digabung secara mirosopis, sifat-sifat pembentuna sudah tida terlihat lagi. Secara umum, bahan omposit dibangun oleh dua unsur aitu serat (fiber) dan matris. Kedua bahan ini memilii tugas masing-masing ang pada ahirna berperan dalam menentuan sifat dari bahan omposit ang terbentu, namun unsur ang paling dominan dalam menentuan arateristi dari bahan omposit adalah serat. Serat inilah ang menahan sebagian besar gaa-gaa ang beerja pada bahan omposit. Sedangan matri memili fungsi untu melindungi dan mengiat serat agar dapat beerja dengan bai. Sesuai dengan fungsina tersebut, maa serat dipilih dari bahan-bahan ang bersifat uat dan getas, sedangan matris dipilih dari bahanbahan ang luna. amun fungsi-fungsi tersebut aan menjadi optimum apabila digabungan menjadi satu esatuan sebagai strutur omposit..3. Lamina Lamina dapat diartian sebagai lapisan omposit tunggal ang hana mempunai satu arah serat. Lamina merupaan elemen pembangun strutur omposit laminat, oleh arena itu pengetahuan tentang sifat-sifat meani lamina ini sangat penting untu mengetahui lebih lanjut mengenai strutur omposit. Salah satu contoh lamina sederhana seperti pada gambar.. dibawah ini. Gambar.. Lamina Pada Sumbu Utama ahan (,,3) 9

SR TEORI Pada lamina ini terdapat dua buah bidang simetri, aitu bidang - dan bidang -3. Selain edua bidang simetri tersebut, terdapat bidang -3 ang merupaan bidang isotrop dimana pada bidang tersebut sifat-sifat material dianggap sama dalam segala arah. Oleh arena itu, material ini termasu dalam jenis material transverserl isotropic. Sumbu-sumbu utama material (,,3) adalah sumbu-sumbu sejajar dan tega lurus serat. Salah satu omponen terpenting dalam perhitungan sifat-sifat bahan lamina adalah hubungan tegangan-regangan dimana terdapat matris eauan bahan omposit. Hubungan tegangan-regangan dari lamina adalah sebagai beriut : 33 33 { C} τ 3 γ 3 τ γ τ 3 γ 3 (.) dimana { C} C C C C C C3 C C3 C C44 C66 C66 (.) dengan harga-harga : C ( υ )/ ( υ ) E Δ 3 C E E / E / Δ C ( υ ) E + υ / Δ 3 ( υ υ ) C E + E / E / Δ C C 3 3 G 44 3 G 66 ( ) Δ υ υ + υ E / E 3 3 (.3)

SR TEORI Persamaan (.), (.), dan (.3) tersebut hana berlau pada sumbu-sumbu utama bahan. pabila sumbu-sumbu utama tersebut membentu sudut θ terhadap sumbu, maa matris eauan tersebut harus ditransformasian pada oordinat (,,z) tersebut. Gambar.. Sumbu (,) Membentu Sudut θ Terhadap Sumbu (,). Sumbu z Merupaan Sumbu Putar Transformasi persamaan (.) dalam sumbu (,,z) adalah sebagai beriut : z z { C} τ z γ z τ γ τ γ z z (.4) dimana { C ' } C' C' C' C' C' C' C' C' C' C' C' C' 3 3 3 3 33 36 C' 44 C' 45 C' 45 C' 55 C' C' C' 36 C' 66 (.5)

SR TEORI dengan harga-harga : ( ) ( ) C' C cos θ + C + C sin θcos θ + C sin θ 4 4 66 C' C cos θ + C + C sin θcos θ + C sin θ C' 4 4 66 C 33 33 C' C cos θ + C sin θ 44 44 55 C' 55 C44 sin θ + C55 cos θ 4 4 C' 66 ( C + C C C66 ) sin θ cos θ + C66 ( sin θ + cos θ) 4 4 ( + ) sin θcos θ + C ( sin θ + cos θ) C' C C 4C 66 C' C cos θ + C sin θ 3 3 3 C' C sin θ + C cos θ 3 3 3 ( ) + ( + ) ( ) + ( + ) θ θ( ) θ θ( C C ) C' C C C sinθ cos θ C C C sin θcosθ 3 3 66 66 C' C C C sin θ cosθ C C C sinθcos θ 3 3 66 66 C' sin cos C C 36 3 3 C' sin cos 45 55 44 (.6).3. Teori Laminat Klasi Laminat adalah dua atau lebih lamina ang digabung bersama membentu elemen strutur ang integral. Laminat dibuat agar elemen strutur tersebut mampu menahan beban multiasial, sesuatu ang tida dapat dicapai dengan lamina tunggal. Laminat hana uat menahan beban dalam arah seratna, tetapi sangat lemah dalam arah tega lurus serat. Oleh arena itu untu menahan beban multiasial, omposit dirancang untu memilii beberapa orientasi serat..3.. Resultan Gaa dan Momen dalam Laminat Resultan gaa dan momen ang beerja pada laminat diperoleh dengan integrasi tegangan-tegangan pada setiap lapisan dalam arah etebalan laminat. Sebagai contoh dalam sumbu : t / dz M zdz (.7) t / t / t / imana dan M adalah gaa dan momen persatuan panjang. esar resultan momen dan gaa dinataan dengan :

SR TEORI 3 (.8) / / t t dz dz τ τ dan (.9) / / t t zdz zdz M M M τ τ dimana - dan didefinisian pada gambar.3 dibawah ini : Gambar.3. Susunan Laminat Karena matris eauan lamina berharga onstan, tida berubah dalam arah etebalan, maa integrasi pada persamaan dan dapat dinataan dalam bentu (.) [ ] + zdz dz C ' γ dan (.) [ ] + dz z zdz C M M M ' γ Karena buan merupaan fungsi dari z, tapi fungsi bidang tengah, suu-suu tersebut dapat dieluaran dari tanda penjumlahan. engan demiian persamaan dapat ditulis menjadi : γ,,,,,

SR TEORI M M M 66 66 + γ + γ 66 66 (.) Persamaan biasana ditulis menjadi : M (.3) imana [ C' ] ( ) 3 [ C' ] ( ) 3 3 [ C' ] ( ) (.4) disebut matris eauan panjang (etensional stiffness matri). disebut matris eauan opel (couple stiffness matri). disebut matris eauan lentur (bending stiffness matri).4 Konsep Kestabilan dan Ketidastabilan Ketidastabilan merupaan fenomena umum ang dapat terjadi pada berbagai jenis material. Konsep dasar dari estabilan dan etidastabilan dapat dabaran sebagai beriut : a. Keadaan (state) suatu sistem adalah umpulan dari nilai-nilai berbagai parameter sistem pada suatu watu tertentu. Sebagai contoh, perpindahan atau regangan material pada sebuah strutur dan temperatur pada titi tersebut menataan eadaan dari suatu sistem tersebut. b. Keadaan suatu sistem bergantung pada parameter sistem dan ondisi lingungan. Contohna pada strutur pelat tipis persegipanjang, geometri dan sifat material merupaan parameter sistem, dan beban ang diberian serta ondisi batasna adalah ondisi lingungan dari sistem tersebut. 4

SR TEORI Untu lebih jelasna mengenai stabilitas esetimbangan suatu sistem dapat dilihat melalui ilustrasi pada gambar.4. di bawah ini Gambar.4. Konsep Stabilitas ari Suatu Kesetimbangan Keterangan: : ondisi tida stabil : Suatu sistem diataan tida stabil, bila ada gangguan ang diberian epada sistem tersebut, maa sistem cenderung untu tida embali e eadaan semula saat gangguan dihilangan. : ondisi netral : Suatu sistem diataan netral, bila ada gangguan ang diberian epada sistem tersebut, maa sistem tersebut aan menuju e eadaan setimbang lainna ang cenderung tida mendeati ataupun menjauhi eadaan setimbang awalna saat gangguan dihilangan. C: ondisi stabil : Suatu sistem diataan stabil, bila ada gangguan ang diberian epada sistem tersebut, maa sistem cenderung embali e eadaan semula saat gangguan dihilangan. alam membangun suatu strutur, salah satu hal ang penting dan perlu mendapatan perhatian husus adalah pada saat strutur mendapatan pembebanan tean. Hal ini perlu diarenaan fenomena ang terjadi lebih rumit dan menari bila dibandingan dengan apabila strutur mendapatan pembebanan tari. Salah satu contoh sederhana adalah strutur olom diberi pembebanan tean seperti pada gambar.5. di bawah ini. Gambar.5. Kondisi Keseimbangan Kolom Pada Pembebanan Tean 5

SR TEORI Terlihat pada gambar diatas bahwa olom aan mengalami etidastabilan dengan adana deformasi pada arah w ang terjadi aibat adana gangguan bai dari luar maupun dari dalam terhadap olom tersebut. pabila hal ini berlangsung, maa strutur aan mengalami collapse. alam estabilan strutur ang dicari adalah P critical (beban teu ritis) ang terjadi pada titi stabil netral. W o merupaan imperfection awal (gangguan awal) aibat proses manufatur seperti geometri ang tida homogen, omposisi material ang tida seragam. dana imperfection awal (gangguan awal) menebaban etia olom menerima beban tean maa Σ. momen ang terjadi tida sama dengan nol. ibatna etia Σ. momen ang beerja tida sama dengan nol selain beban asial ang beerja juga terdapat bending momen ang beerja pada olom tersebut. Hal ini terlihat pada diagram fasa estabilan di bawah ini. Gambar.6. iagram atas Fasa Kestabilan dan Ketidastabilan efinisi dari elauan teu (bucling) itu sendiri adalah modus etidastabilan dari suatu esetimbangan ang terjadi pada strutur ang berdeformasi arena pembebanan tean. Strutur belum mengalami etidastabilan sampai suatu titi pembebanan tertentu ang disebut beban ritis. Saat beban mencapai beban ritis, adana sediit gangguan aan menebaban strutur menjadi tida stabil. eberapa modus ang dapat terjadi pada strutur sandwich aibat pembebanan tean adalah : Overall bucling (global bucling) Wrinling Shear crimping Face dimpling

SR TEORI Gambar.7. dibawah ini menunjuan modus etidastabilan dari strutur sandwich. Karena modus ang aan dianalisis adalah overall bucling, maa pembahasan aan difousan terhadap fenomena tersebut. Gambar.7. Modus Ketidastabilan Strutur Sandwich.4. Overall ucling Seperti halna strutur onvensional, strutur sandwich juga dapat mengalami fenomena teu ang berupa modus overall bucling, bila diberi beban ompresi. Modus ini memilii panjang setengah gelombang sebesar panjang elemen, seperti terlihat pada gambar.8. dibawah ini : Gambar.8. Modus Overall ucling 7