BAB II DASAR TEORI BAB II DASAR TEORI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II DASAR TEORI BAB II DASAR TEORI"

Transkripsi

1 II SR TEORI II SR TEORI. Serat lam Serat alam bisa dielompoan berdasaran posisina pada tanaman. Serat alam ang didapatan dari bagian batang tanaman (bast fiber) diantarana adalah serat rami, serat enaf, serat jute, dan serat fla. Sedangan serat alam ang didapatan dari bagian daun (leaf fiber) misalna adalah serat sisal, serat nanas, dan serat abaa. Sementara serat elapa didapatan dari buahna (seed fiber). Serat tunggal (single fiber) adalah unit terecil serat ang tida bisa dipisahan lagi secara meani. Pada umumna serat tunggal ini tersusun dari serat-serat ecil (mirofibril). idalam mirofibril inilah tersusun rantai selulosa ang menjadi penopang utama bahan serat alam. Lebih jelasna dapat diperhatian Gambar. beriut ini. Gambar. irosopi Serat lam [] ari Gambar. tersebut dapat diataan bahwa sesungguhna serat alam merupaan bahan omposit alam dengan penguat berupa selulosa serta pengiat (matris) berupa pectin dan hemiselulosa. Rantai selulosa ini merupaan strutur ristalin ang ditopang oleh iatan-iatan ovalen antar unsur-unsurna. 7

2 II SR TEORI Saat ini, bahan omposit dengan serat sintetis sebagai penguat ( carbon, aramid, glass ) masih mendominasi bahan-bahan omposit ang digunaan untu omponen-omponen pesawat, automotif, onstrusi, alat-alat olah raga dll. pabila dilihat dari segi jumlah pemaaian, serat gelas menempati peringat teratas. Hal ini diarenaan hargana ang relatif murah dan memilii sifat meani ang bai. amun demiian, emunculan serat-serat alam mulai menggeser pemaaian serat gelas. Tabel. beriut ini menggambaran perbandingan secara ualitatif antara serat alam dan serat gelas. Tabel. Perbandingan ualitatif antara serat alam dan serat gelas [] Parameter Serat lam Serat Gelas ensitas Rendah ua ali serat alam Harga Rendah Rendah, tetapi lebih mahal dari pada serat alam apat diperbaharui apat didaur ulang Konsumsi Energi CO netral brasif terhadap mesin Resio esehatan etia terhirup Sampah Ya Ya Rendah Ya Tida Tida Terbiodegradasi Tida Ya Tinggi Tida Ya Ya Tida Terbiodegradasi.. Serat dan Serbu Kelapa Pohon elapa ang disebut juga dengan pohon niur biasana tumbuh pada daerah atau awasan tepi pantai. Sangat bana manfaat ang dapat ita peroleh dari pohon elapa. ulai dari batang, daun dan buahna, semua dapat dimanfaatan. Salah satu ang cuup penting bagi penelitian ini adalah serat dan serbu (gabus) elapa ang merupaan bagian dari sabut elapa. Sabut elapa merupaan bagian ang cuup besar dari buah elapa, aitu 35 % dari berat eseluruhan buah. Sabut elapa terdiri dari serat dan gabus ang menghubungan satu serat dengan serat lainna. Serat adalah bagian ang berharga dari sabut. Setiap butir elapa mengandung serat 55 gram (75 % dari sabut), dan gabus 75 gram (5 % dari sabut) []. 8

3 II SR TEORI Keuntungan serat elapa:. merupaan ondutor panas ang buru. Terdapat lapisan ang melawan temperatur dan tingat suara ang estrim.. mudah untu dibersihan dan dicuci. Hal ini membuat serat bertahan lama dan rendah biaa perawatan. 3. mempunai zat anti bateri sendiri sehingga tida terpengaruh oleh jamur, ebusuan ataupun bintang ngengat. Oleh arena itu, mesipun telah digunaan bertahun-tahun, material dari serat ini tida mudah ehilangan bentuna... Serat Rami Tanaman Rami ang sudah ada seja jaman Jepang pada watu Perang unia II ang merupaan tanaman tahunan ang berbentu rumpun mudah tumbuh dan diembangan di daerah tropis, tahan terhadap penait dan hama, serta dapat menduung pelestarian alam dan lingungan. Tanaman Rami ang dienal dengan nama latinna oehmeria nivea (L) Goud merupaan tanaman tahunan berbentu rumpun ang dapat menghasilan serat alam nabati dari pita (ribbons) pada ulit auna ang sangat eras dan mengilap. Serat rami mempunai sifat dan arateristi serat apas (cotton) aitu sama-sama dipintal ataupun dicampur dengan serat ang lainna untu dijadian bahan bau testil. alam hal tertentu serat rami mempunai eunggulan dibanding serat-serat ang lain seperti euatan tari, daa serap terhadap air, tahan terhadap elembaban dan bateri, tahan terhadap panas, peringat nomor setelah sutera dibanding serat alam ang lain, lebih ringan dibanding serat sentetis dan ramah lingungan (tida mengotori lingungan sehingga bai terhadap esehatan). Untu memperoleh serat ang menerupai serat apas membutuhan proses ang aga panjang sesudah dipanen, emudian dilauan pemotongan guna menghasilan serat pende halus (seuuran dengan serat apas) sehingga menghasilan serat ang menerupai serat apas, apabila proses ang dibuat sampai menerupai serat apas hal ini menebaban harga serat aan menjadi mahal, namun tida masalah apabila rami disubstitusi dengan apas atau polester 9

4 II SR TEORI dapat lebih murah dan ualitas lebih bai. Pengolahan serat diperoleh setelah melalui mesin dan proses meanisme serta proses baterisasi/imiawi sebagai beriut : a. Proses eortiasi : Proses pemisahan serat dari batang tanaman, hasilna serat asar disebut China Grass. b. Proses egumisasi : Proses pembersihan serat dari getah pectin, legnin wales dan lain-lain, hasilna serat degum disebut egummed Fiber. c. Proses Softening : Proses pelepasan dan proses penghalusan bai secara imiawi maupun meanis agar serat rami tersebut dapat diproses untu dijadian seperti apas. d. Proses Cutting dan Opening : Proses meanisisasi untu memotong serat dan membuana agar serat tersebut menjadi serat individual untu serat panjang disebut Top Rami dan untu serat pende disebut Staple Fiber.. eania Strutur Komposit Komposit merupaan salah satu material ang bana digunaan dewasa ini arena beberapa eunggulanna dibandingan dengan bahan logam onvensional ang ada. Secara harafiah, ata omposit memilii pengertian bahan ang terdiri dari dua atau lebih bahan ang berbeda ang digabung atau dicampur secara marosopis. Perbedaan dengan bahan paduan adalah penggabunganna ang dilauan secara marosopis sehingga sifat-sifat bahan pembentuna masih terlihat ang dimana pada jenis paduan (allo) ang digabung secara mirosopis, sifat-sifat pembentuna sudah tida nampa lagi. Secara umum, bahan omposit dibangun oleh dua unsur aitu serat (fiber) dan matris. Kedua bahan ini memilii tugas masing-masing ang pada ahirna berperan dalam menentuan sifat dari bahan omposit ang terbentu, namun unsur ang paling dominan dalam menentuan arateristi dari bahan omposit adalah serat. Serat inilah ang menahan sebagian besar gaa-gaa ang beerja pada bahan omposit. Sedangan matri memili fungsi untu melindungi dan mengiat serat agar dapat beerja dengan bai. Sesuai dengan fungsina, maa

5 II SR TEORI serat dipilih bahan-bahan ang bersifat uat dan getas, sedangan matris dipilih bahan-bahan ang luna. amun fungsi-fungsi tersebut aan menjadi optimum apabila digabungan menjadi satu sebagai strutur omposit... Lamina Lamina dapat diartian sebagai lapisan omposit tunggal ang hana mempunai satu arah serat. Lamina merupaan elemen pembangun strutur omposit, oleh arena itu pengetahuan tentang sifat-sifat meani lamina ini sangat penting untu mengetahui lebih lanjut mengenai strutur omposit. Salah satu contoh lamina sederhana seperti pada gambar. dibawah ini. Gambar.. Lamina Pada Sumbu Utama ahan (,,3 )[9] Pada lamina ini terdapat dua buah bidang simetri, aitu bidang - dan bidang - 3. Selain edua bidang simetri tersebut, terdapat bidang -3 ang merupaan bidang isotrop dimana pada bidang tersebut sifat-sifat material dianggap sama dalam segala arah. Oleh arena itu, material ini termasu dalam jenis material transverserl isotropic. Sumbu-sumbu utama material (,,3) adalah sumbusumbu sejajar dan tega lurus serat. Salah satu omponen terpenting dalam perhitungan sifat-sifat bahan lamina adalah hubungan tegangan-regangan dimana terdapat matris eauan bahan omposit. Hubungan tegangan-regangan dari lamina adalah sebagai beriut :

6 II SR TEORI { C} (.) τ 3 γ 3 τ γ τ 3 γ 3 dimana { C} C C C C C C C C C dengan harga-harga : C 3 3 C44 C66 C66 ( υ )/ ( υ ) E Δ 3 C E E / E / Δ C ( υ ) E + υ / Δ 3 ( υ υ ) C E + E / E / Δ C C 3 3 G 44 3 G 66 ( ) Δ υ υ + υ E / E 3 3 (.) (.3) Persamaan (.), (.), dan (.3) tersebut hana berlau pada sumbusumbu utama bahan. pabila sumbu-sumbu utama tersebut membentu sudut θ terhadap sumbu, maa matris eauan tersebut harus ditransformasian pada oordinat (,,z) tersebut. Gambar.3 Sumbu (,) embentu Sudut θ Terhadap Sumbu (,). Sumbu z erupaan Sumbu Putar [9]

7 II SR TEORI Transformasi persamaan (.) dalam sumbu (,,z) adalah sebagi beriut : diamana z z { C} τ z γ z τ γ τ γ z z { C ' ij} dengan harga-harga : C' C' C' C' C' C' C' C' C' C' C' C' C' 44 C' 45 C' 45 C' 55 C' 6 C' 6 C' 36 C' 66 ( ) ( ) C' C cos θ + C + C sin θcos θ + C sin θ C' C cos θ + C + C sin θcos θ + C sin θ C' C C' C cos θ + C sin θ C' C sin θ + C cos θ ( + ) θ θ + ( θ + os θ) 4 4 ( + ) sin θcos θ + C ( sin θ + cos θ) C' C C C C sin cos C sin c C' C C 4C 66 C' C cos θ + C sin θ C' C sin θ + C cos θ ( ) + ( + ) ( ) + ( + ) θ θ( ) θ θ( C C ) C' C C C sinθ cos θ C C C sin θ cosθ C' C C C sin θ cosθ C C C sinθcos θ C' sin cos C C C' sin cos (.4) (.5) (.6).. Teori Laminat Klasi Laminat adalah dua atau lebih lamina ang digabung bersama membentu elemen strutur ang integral. Laminat dibuat agar elemen strutur tersebut mampu menahan beban multiasial, sesuatu ang tida dapat dicapai dengan lamina tunggal. Laminat hana uat menahan beban dalam arah seratna, tetapi 3

8 II SR TEORI sangat lemah dalam arah tega lurus serat. Oleh arena itu untu menahan beban multi asial omposit dirancang untu memilii beberapa orientasi serat.... Resultan Gaa dan omen dalam Laminat Resultan gaa dan momen ang beerja pada laminat diperoleh dengan integrasi tegangan-tegangan pada setiap lapisan dalam arah etebalan laminat. Sebagai contoh dalam sumbu : / / t t dz (.7) / / t t zdz imana dan adalah gaa dan momen persatuan panjang. esar resultan momen dan gaa dinataan dengan : (.8) / / t t dz dz τ τ dan (.9) / / t t zdz zdz τ τ dimana - dan didefinisian pada gambar.4 dibawah ini : Gambar.4 Susunan Laminat [8] Karena matris eauan lamina berharga onstan, tida berubah dalam arah etebalan, maa integrasi pada persamaan dan dapat dinataan dalam bentu (.) [ ] + ij zdz dz C ' γ 4

9 II SR TEORI dan (.) [ ] + ij dz z zdz C ' γ Karena buan merupaan fungsi dari z, tapi fungsi bidang tengah, suu-suu tersebut dapat dieluaran dari tanda penjumlahan. engan demiian persamaan dapat ditulis menjadi : γ,,,,, (.) + + γ γ Persamaan biasana ditulis menjadi : (.3) imana [ ] ( ) [ ] ( ) [ ] ( ) ij ij ij ij ij ij C C C 3 3 ' 3 ' ' (.4) ij disebut matris eauan panjang (etensional stiffness matri). ij disebut matris eauan opel (couple stiffness matri). ij disebut matris eauan lentur (bending stiffness matri)..3 Konsep Kestabilan dan Ketidastabilan Ketidastabilan merupaan fenomena umum ang dapat terjadi pada berbagai jenis material. Konsep dasar dari estabilan dan etidastabilan dapat dijabaran sebagai beriut : 5

10 II SR TEORI a. Keadaan (state) suatu sistem adalah umpulan dari nilai-nilai berbagai parameter sistem pada suatu watu tertentu. Sebagai contoh, perpindahan atau regangan material pada sebuah strutur dan temperatur pada titi tersebut menataan eadaan dari suatu sistem tersebut. b. Keadaan suatu sistem bergantung pada parameter sistem dan ondisi lingungan. Contohna pada strutur pelat tipis persegipanjang, geometri dan sifat material merupaan parameter sistem, dan beban ang diberian serta ondisi batasna adalah ondisi lingungan dari sistem tersebut. Untu lebih jelasna mengenai stabilitas esetimbangan suatu sistem dapat dilihat melalui ilustrasi pada gambar.5 di bawah ini Gambar.5 Konsep stabilitas dari suatu esetimbangan Keterangan: : ondisi tida stabil : Suatu sistem diataan tida stabil, bila ada gangguan ang diberian epada sistem tersebut, maa sistem cenderung untu tida embali e eadaan semula saat gangguan dihilangan. : ondisi netral: Suatu sistem diataan netral, bila ada gangguan ang diberian epada sistem tersebut, maa sistem tersebut aan menuju e eadaan setimbang lainna ang cenderung tida mendeati ataupun menjauhi eadaan setimbang awalna saat gangguan dihilangan. C: ondisi stabil: Suatu sistem diataan stabil, bila ada gangguan ang diberian epada sistem tersebut, maa sistem cenderung embali e eadaan semula saat gangguan dihilangan. alam membangun suatu strutur, salah satu hal ang penting dan perlu mendapatan perhatian husus adalah pada saat strutur mendapatan pembebanan tean. Hal ini perlu diarenaan fenomena ang terjadi lebih rumit dan menari bila dibandingan dengan apabila strutur mendapatan pembebanan 6

11 II SR TEORI tari. Salah satu contoh sederhana adalah strutur olom diberi pembenan tean seperti pada gambar.6 di bawah ini. Gambar.6 Kondisi eseimbangan olom pada pembebanan tean Terlihat pada gambar diatas bahwa olom aan mengalami etidastabilan dengan adana deformasi pada arah w ang terjadi aibat adana gangguan bai dari luar maupun dari luar terhadap olom tersebut. pabila hal ini berlangsung, maa strutur aan mengalami collapse. alam estabilan strutur ang dicari adalah P critical ang terjadi pada titi stabil netral. Wo merupaan imperfection awal (gangguan awal) aibat proses manufatur seperti geometri ang tida homogen, omposisi material ang tida seragam. dana imperfection awal (gangguan awal) menebaban etia olom menerima beban tean maa Σ.momen ang terjadi tida sama dengan nol. ibatna etia Σ.momen ang beerja tida sama dengan nol selain beban asial ang beerja juga terdapat bending momen ang beerja pada olom tersebut. Hal ini terlihat pada diagram fasa estabilan di bawah ini. Gambar.7 iagram batas fasa estabilan dan tida etidastabilan 7

12 II SR TEORI efinisi dari elauan teu (bucling) itu sendiri adalah modus etidastabilan dari suatu esetimbangan ang terjadi pada strutur ang berdeformasi arena pembebanan tean. Strutur belum mengalami etidastabilan sampai suatu titi pembebanan tertentu ang disebut beban ritis. Saat beban mencapai beban ritis, adana sediit gangguan aan menebaban struur menjadi tida stabil. eberapa modus ang dapat terjadi pada strutur sandwich aibat pembebanan tean adalah : Overall bucling (global bucling) Wrinling (local bucling) Shear crimping Face dimpling Gambar.8 dibawah ini menunjuan modus etidastabilan dari strutur sandwich. Karena modus ang aan dianalisis adalah overall bucling dan wrinling, maa pembahasan aan difousan terhadap edua fenomena tersebut. Gambar.8 odus Ketidastabilan Strutur Sandwich [] 8

13 II SR TEORI.3. Overall ucling Overall bucling merupaan peristiwa terteuna strutur sandwich etia mendapat beban tean atau ompresi. odus overall bucling bisa dianggap sebagai modus anti simetri dengan jumlah setengah panjang gelombang (half wavelength) sama dengan satu. odus egagalan ini bersifat atastropi sehingga harus dapat dicegah dengan cara mempredisi titi estabilan netral (neutral stabilit) dari strutur etia mendapat gangguan. Titi estabilan netral merupaan suatu titi dimana jia terjadi gangguan, deformasi out plane ang terjadi masih mendapatan esetimbangan baru. Titi ini merupaan titi ritis, pada titi ini tida dapat ditentuan deformasi strutur dan tegangan. Yang dapat ditentuan adalah beban ritis ani beban sesaat sebelum bucling terjadi. Gambar.9 Strutur sandwich etia mendapat beban uniasial Perhatian strutur sandwich ang mendapat beban uniasial seperti ditunjuan oleh gambar.9 di atas. Strutur tersebut memilii panjang a, etebalan face t, etebalan core t dan ondisi tumpuan simpl sipported pada f c ujungna. Jia diasumsian bahwa core dan facesheet memilii eauan geser ang infinitif pada arah transversal juga modulus elastisitas ang infinitif pada arah etebalan maa perilau dari strutur ini aan sama dengan olom Euler lasi. Pada asus ini strutur mengalami bucling dengan panjang setengah 9

14 II SR TEORI gelombang sama dengan panjang strutur, a. eban ritis untu asus ini dinataan dengan: P cr Kπ EI l (.5) enurut persamaan (.5) tersebut diatas dapat dilihat bahwa harga beban ritis dipengaruhi oleh tiga hal besar aitu material (E), geometri strutur (I dan l) dan ondisi batas strutur (K)..3. Wrinling Fenomena erut (wrinling) adalah bentu etidastabilan ang berhubungan dengan panjang gelombang teu ang pende pada face, ang terjadi arena beban tean. Hal ang sangat penting dalam masalah erut adalah eauan normal core pada arah transversal (arah etebalan) ang mengaibatan egagalan erut dapat terjadi dalam dua modus, aitu modus simetri dan modus antisimetri seperti terlihat pada gambar. dibawah ini : nti Simetri Simetri Gambar. odus Wrinling.4 ucling pada Sandwich dengan elaminasi Pada strutur sandwich, selain terjadi overall bucling dan wrinling dapat juga terjadi delaminasi. engan adana delaminasi, maa harga beban teu ritis ang terjadi juga aan semain ecil. elaminasi adalah cacat aibat tida menempelna lapisan face dengan core maupun lapisan core dengan core (crac). Gambar. menunjuan adana delaminasi ang terjadi pada strutur sandwich (Ref...). elaminasi ini dapat terjadi arena beban impa ang terjadi maupun etidasempurnaan pembuatan strutur sandwich.

15 II SR TEORI Gambar. elaminasi pada Strutur Sandwich [].5 etode Elemen Hingga etode elemen hingga merupaan metode ang umum digunaan untu analisis strutur dengan bantuan omputasi. Pada metode ini, prosedur perhitungan dilauan dengan membagi suatu strutur ontinu menjadi elemenelemen ecil. Elemen-elemen ini saling berhubungan pada titi nodal sehingga membentu suatu rangaian ang secara eseluruhan merupaan model ontinu ang semula. Kesetimbangan gaa antar elemen tersebut diwaili dengan esetimbangan gaa antara nodal ang saling berhubungan. Pendeatan lasi dalam menganalisis suatu benda solid adalah mencari fungsi tegangan dan perpindahan ang memenuhi persamaan diferensial esetimbangan, hubungan tegangan-regangan, dan esesuaian ondisi di setiap titi pada bidang ontinu, termasu di daerah batas. Penelesaianna menghasilan seluruh perpindahan titi nodal, ang nantina dipaai untu menentuan semua tegangan dalam. Tujuan utama dari analisis metode elemen hingga adalah menghitung secara aurat tegangan dan perpindahan pada suatu strutur..5. Elemen idang Segiempat Gambar. menunjuan elemen bidang segiempat.

16 II SR TEORI Gambar. (a) Elemen Segiempat, (b) Elemen Linier dalam Koordinat ξ-η, dan (c) Pemetaan Elemen dalam Koordinat -.[] Kooordinat global dan perpindahan didefinisian sebagai beriut: [ ]{ } (.6) u [ ]{ u v u v u3 v3 u4 v4} v (.7) imana [ ] engan shape function sebagai beriut: (.8) ξ η 4 + η ) 4 ( )( ) ( ξ )( 3 ξ η η ) 4 ( + )( + ) ( ξ )( (.9) Secara umum oordinat - tida parallel terhadap oordinat ξ-η. Untu asus segi-empat dengan sisi parallel terhadap oordinat global -, ξ dan η menjadi oordinat centroidal tanpa dimensi ang didefinisian oleh

17 II SR TEORI c + bξ c + hη dimana c dan c adalah oordiant global pada pusat elemen. (.) Untu mendapatan matri eauan elemen [], matri [] digunaan untu mengespresian ξ dan η. Hal ini membutuhan transformasi oordinat. mbil ø sebagai fungsi dan. untu plane element ang didisusian searang, ø adalah u atau v. φ φ φ + ξ ξ ξ φ φ φ + η η η (.) atau φ, ξ φ, [ J ] φ, η φ, dimana [J] adalah matri Jacobian, ang didefinisian sebagai beriut; (.), ξ, ξ J J [ J ], η, η J J (.3) Invers persamaan (.) adalah φ, φ, ξ Γ [ ] φ, φ, η (.4) dimana [ Γ ] [ ] J untu elemen empat nodal, dari persamaan (.6), J, ξ, ξ+, ξ + 3, ξ3 + 4, ξ 4 (.5) Espresi untu J, J, dan J didapat dengan cara ang sama. Turunan dari shape function didefinisian sebagai: η 4, ξ, ξ Jia ξ dan η, sehingga [J] [Γ] [I]. η dll. (.6) 4 Pada tahap ini, matri [] dapat ditemuan. Pertama, dapat ditulis {} u, u, v, γ v, (.7) 3

18 II SR TEORI u, Γ, Γ u ξ u, u, Γ Γ η v, Γ v, Γ ξ v, Γ v, Γ η (.8) u v u, u ξ, ξ, ξ 3, ξ 4, ξ u, η, η, η 3, η 4, η v v,,, 3, ξ ξ ξ ξ 4, ξ u3 v, η, η, η 3, η 4, η v 3 u4 v 4 (.9) atri [] merupaan hasil dari matri dalam persamaan (.7), (.8), dan (.9). atri eauan elemen [] diberian oleh (.3) T T [ ] [ ] [ E][ ] tdd [ ] [ E][ ] tjdξ dη dimana J adalah determinan dari matri Jacobian. J det[ J] J J J J Integrasi dari persamaan (.3) dilauan secara numeri. (.3).6 SC/astran Permodelan analisis numeri untu asus teu (bucling) pada Tugas hir ini dilauan dengan menggunaan perangat luna berbasis elemen hingga SC.visualastran for Windows 3. Perangat luna ini dapat digunaan untu menganalisis stress, panas (heat transfer), egagalan teu (bucling), dan masalah-masalah dinamia lain. Tahap-tahap penggunaan perangaat luna tersebut ditunjuan oleh sema pada Gambar (.). Geometr Finite odel Element nalzing Result odelling Checing Postprocessing Gambar.3 Sema Tahapan Proses pada SC/astran 4

19 II SR TEORI.6. Geometr odel Proses dimulai dengan membuat model ang aan dianalisis. Pada tahap ini data-data ang diperluan adalah geometri benda / strutur ang aan dianalsis, jenis beserta sifat meani material ang digunaan..6. Finite Element odelling Pada tahap Finite Element odelling, model ang telah dibuat dibagi menjadi beberapa elemen (meshing). Proses meshing dapat dilauan secara manual (jumlah elemen ditentuan oleh pengguna) maupun secara otomatis. Pada SC/STR terdapat beberapa jenis elemen seperti ditujuan pada Gambar (.3). Gambar.4 entu-bentu elemen pada SC/astran [].6.3 nalzing Sebelum dilauan analasis, model ang telah dibuat terlebih dahulu diperisa (checing) untu menghindari adana nodal ang saling bertumpu, sambungan ang terputus, ondisi batas, dan lain-lain. Setelah model lengap dan tida terjadi error etia proses checing, model aan dianalisis sesuai dengan asus ang didefinisian oleh pengguna..6.4 Result Hasil proses analisis dapat diperoleh dalam bentu data postprocessing dan doumentasi. ata postprocessing berupa tampilan grafis maupun animasi menginterpretasian hasil ang diperoleh. Hasil ang lebih lengap dapat dilihat dalam doumentasi (documentation result). 5

BAB 2 DASAR TEORI BAB 2 DASAR TEORI

BAB 2 DASAR TEORI BAB 2 DASAR TEORI SR TEORI SR TEORI. Umum Pada bab ini aan dibahas mengenai dasar-dasar serat alam, teori strutur sandwich, fenomena etidastabilan strutur ang terjadi, terutama modus overall bucling ang aan dibahas dalam

Lebih terperinci

BAB 2 TEORI PENUNJANG

BAB 2 TEORI PENUNJANG BAB EORI PENUNJANG.1 Konsep Dasar odel Predictive ontrol odel Predictive ontrol P atau sistem endali preditif termasu dalam onsep perancangan pengendali berbasis model proses, dimana model proses digunaan

Lebih terperinci

4. 1 Spesifikasi Keadaan dari Sebuah Sistem

4. 1 Spesifikasi Keadaan dari Sebuah Sistem Dalam pembahasan terdahulu ita telah mempelajari penerapan onsep dasar probabilitas untu menggambaran sistem dengan jumlah partiel ang cuup besar (N). Pada bab ini, ita aan menggabungan antara statisti

Lebih terperinci

BAB III DESAIN DAN APLIKASI METODE FILTERING DALAM SISTEM MULTI RADAR TRACKING

BAB III DESAIN DAN APLIKASI METODE FILTERING DALAM SISTEM MULTI RADAR TRACKING Bab III Desain Dan Apliasi Metode Filtering Dalam Sistem Multi Radar Tracing BAB III DESAIN DAN APLIKASI METODE FILTERING DALAM SISTEM MULTI RADAR TRACKING Bagian pertama dari bab ini aan memberian pemaparan

Lebih terperinci

Vektor-vektor Yang Tegak Lurus dan Vektor-vektor Yang Paralel

Vektor-vektor Yang Tegak Lurus dan Vektor-vektor Yang Paralel Ruang Vetor Vetor-vetor Yang Tega Lurus dan Vetor-vetor Yang Paralel - Dua vetor dan saling tega lurus atau (aitu cos θ 0), ia o 0 atau ia : + + 0 - Dua vetor dan saling paralel ia omponen-omponenna sebanding

Lebih terperinci

Optimasi Non-Linier. Metode Numeris

Optimasi Non-Linier. Metode Numeris Optimasi Non-inier Metode Numeris Pendahuluan Pembahasan optimasi non-linier sebelumnya analitis: Pertama-tama mencari titi-titi nilai optimal Kemudian, mencari nilai optimal dari fungsi tujuan berdasaran

Lebih terperinci

Kumpulan soal-soal level seleksi Kabupaten: Solusi: a a k

Kumpulan soal-soal level seleksi Kabupaten: Solusi: a a k Kumpulan soal-soal level selesi Kabupaten: 1. Sebuah heliopter berusaha menolong seorang orban banjir. Dari suatu etinggian L, heliopter ini menurunan tangga tali bagi sang orban banjir. Karena etautan,

Lebih terperinci

Aplikasi diagonalisasi matriks pada rantai Markov

Aplikasi diagonalisasi matriks pada rantai Markov J. Sains Dasar 2014 3(1) 20-24 Apliasi diagonalisasi matris pada rantai Marov (Application of matrix diagonalization on Marov chain) Bidayatul hidayah, Rahayu Budhiyati V., dan Putriaji Hendiawati Jurusan

Lebih terperinci

BAB III. dan menghamburkan

BAB III. dan menghamburkan BAB III MODEL GELOMBANG DAN MODEL ARUS III... Model Numeri Medan Gelombang Untu dapat menggambaran ondisi pola arus di daerah pantai ang diaibatan oleh gelombang maa ita harus dapat mengetahui ondisi medan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Statisti Inferensia Tujuan statisti pada dasarnya adalah melauan desripsi terhadap data sampel, emudian melauan inferensi terhadap data populasi berdasaran pada informasi yang

Lebih terperinci

Dalam setiap sub daerah, pilih suatu titik P k (x k, y k ) dan bentuklah jumlah :

Dalam setiap sub daerah, pilih suatu titik P k (x k, y k ) dan bentuklah jumlah : INTEGAL GANDA Integral untu ungsi satu variable ita membentu suatu partisi dari interval [ab] menjadi interval-interval ang panjangna Δ = 3.n b a d lim n n Dengan cara ang sama Kita deinisian integral

Lebih terperinci

Kumpulan soal-soal level seleksi provinsi: solusi:

Kumpulan soal-soal level seleksi provinsi: solusi: Kumpulan soal-soal level selesi provinsi: 1. Sebuah bola A berjari-jari r menggelinding tanpa slip e bawah dari punca sebuah bola B berjarijari R. Anggap bola bawah tida bergera sama seali. Hitung ecepatan

Lebih terperinci

BAB IV PERHITUNGAN HARGA PREMI BERDASARKAN FUNGSI PERMINTAAN PADA TITIK KESETIMBANGAN

BAB IV PERHITUNGAN HARGA PREMI BERDASARKAN FUNGSI PERMINTAAN PADA TITIK KESETIMBANGAN BAB IV PERHITUNGAN HARGA PREMI BERDASARKAN FUNGSI PERMINTAAN PADA TITIK KESETIMBANGAN Berdasaran asumsi batasan interval pada bab III, untu simulasi perhitungan harga premi pada titi esetimbangan, maa

Lebih terperinci

MEKANIKA TANAH REMBESAN DAN TEORI JARINGAN MODUL 4. UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevard Bintaro Sektor 7, Bintaro Jaya Tangerang Selatan 15224

MEKANIKA TANAH REMBESAN DAN TEORI JARINGAN MODUL 4. UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevard Bintaro Sektor 7, Bintaro Jaya Tangerang Selatan 15224 MEKANIKA TANAH MODUL 4 REMBESAN DAN TEORI JARINGAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevard Bintaro Setor 7, Bintaro Jaya Tangerang Selatan 154 PENDAHULUAN Konsep pemaaian oefisien permeabilitas untu

Lebih terperinci

BAB IV APLIKASI PADA MATRIKS STOKASTIK

BAB IV APLIKASI PADA MATRIKS STOKASTIK BAB IV : ALIKASI ADA MARIKS SOKASIK 56 BAB IV ALIKASI ADA MARIKS SOKASIK Salah satu apliasi dari eori erron-frobenius yang paling terenal adalah penurunan secara alabar untu beberapa sifat yang dimilii

Lebih terperinci

INTEGRAL TENTU. x 3. a=x 1. x 2. c 1. c 2. panjang selang bagian terpanjang dari partisi P. INTEGRAL LIPAT DUA

INTEGRAL TENTU. x 3. a=x 1. x 2. c 1. c 2. panjang selang bagian terpanjang dari partisi P. INTEGRAL LIPAT DUA INTEGAL TENTU Pehatian Gamba beiut: f D D a b a c c. n b Gamba Gamba P : panjang selang bagian tepanjang dai patisi P. Definisi: Misal f fungsi ang tedefinisi pada selang tetutup [a,b]. Jia lim n P i f

Lebih terperinci

BAB II KONSEP PERENCANAAN STRUKTUR TAHAN GEMPA

BAB II KONSEP PERENCANAAN STRUKTUR TAHAN GEMPA BAB II KONSEP PERENCANAAN STRUKTUR TAHAN GEMPA. GEMPA BUMI Gempa bumi adalah suatu geraan tiba-tiba atau suatu rentetetan geraan tiba-tiba dari tanah dan bersifat transient yang berasal dari suatu daerah

Lebih terperinci

VARIASI NILAI BATAS AWAL PADA HASIL ITERASI PERPINDAHAN PANAS METODE GAUSS-SEIDEL

VARIASI NILAI BATAS AWAL PADA HASIL ITERASI PERPINDAHAN PANAS METODE GAUSS-SEIDEL SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN SAINS Peningatan Kualitas Pembelajaran Sains dan Kompetensi Guru melalui Penelitian & Pengembangan dalam Menghadapi Tantangan Abad-1 Suraarta, Otober 016 VARIASI NILAI BATAS

Lebih terperinci

BAB ELASTISITAS. Pertambahan panjang pegas

BAB ELASTISITAS. Pertambahan panjang pegas BAB ELASTISITAS 4. Elastisitas Zat Padat Dibandingan dengan zat cair, zat padat lebih eras dan lebih berat. sifat zat padat yang seperti ini telah anda pelajari di elas SLTP. enapa Zat pada lebih eras?

Lebih terperinci

ALGORITMA PENYELESAIAN PERSAMAAN DINAMIKA LIQUID CRYSTAL ELASTOMER

ALGORITMA PENYELESAIAN PERSAMAAN DINAMIKA LIQUID CRYSTAL ELASTOMER ALGORITMA PENYELESAIAN PERSAMAAN DINAMIKA LIQUID CRYSTAL ELASTOMER Oleh: Supardi SEKOLAH PASCA SARJANA JURUSAN ILMU FISIKA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2012 1 PENDAHULUAN Liquid Crystal elastomer (LCE

Lebih terperinci

BAB III PENENTUAN HARGA PREMI, FUNGSI PERMINTAAN, DAN TITIK KESETIMBANGANNYA

BAB III PENENTUAN HARGA PREMI, FUNGSI PERMINTAAN, DAN TITIK KESETIMBANGANNYA BAB III PENENTUAN HARGA PREMI, FUNGSI PERMINTAAN, DAN TITIK KESETIMBANGANNYA Pada penelitian ini, suatu portfolio memilii seumlah elas risio. Tiap elas terdiri dari n, =,, peserta dengan umlah besar, dan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belaang Model Loglinier adalah salah satu asus husus dari general linier model untu data yang berdistribusi poisson. Model loglinier juga disebut sebagai suatu model statisti

Lebih terperinci

Bahan Minggu II, III dan IV Tema : Kerangka acuan inersial dan Transformasi Lorentz Materi :

Bahan Minggu II, III dan IV Tema : Kerangka acuan inersial dan Transformasi Lorentz Materi : Bahan Minggu II, III dan IV Tema : Keranga auan inersial dan Transformasi Lorent Materi : Terdaat dua endeatan ang digunaan untu menelusuri aedah transformasi antara besaran besaran fisis (transformasi

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Pada bab ini disampaian beberapa pengertian dasar yang diperluan pada bab selanutnya. Selain definisi, diberian pula lemma dan teorema dengan atau tanpa buti. Untu beberapa teorema

Lebih terperinci

BAB 3 PATTERN MATCHING BERBASIS JARAK EUCLID, PATTERN MATCHING BERBASIS JARAK MAHALANOBIS, DAN JARINGAN SYARAF TIRUAN BERBASIS PROPAGASI BALIK

BAB 3 PATTERN MATCHING BERBASIS JARAK EUCLID, PATTERN MATCHING BERBASIS JARAK MAHALANOBIS, DAN JARINGAN SYARAF TIRUAN BERBASIS PROPAGASI BALIK BAB 3 PATTERN MATCHING BERBASIS JARAK EUCLID, PATTERN MATCHING BERBASIS JARAK MAHALANOBIS, DAN JARINGAN SYARAF TIRUAN BERBASIS PROPAGASI BALIK Proses pengenalan dilauan dengan beberapa metode. Pertama

Lebih terperinci

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 15 BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1Relasi Dispersi Pada bagian ini aan dibahas relasi dispersi untu gelombang internal pada fluida dua-lapisan.tinjau lapisan fluida dengan ρ a dan ρ b berturut-turut merupaan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Sistem Kendali Lup [1] Sistem endali dapat diataan sebagai hubungan antara omponen yang membentu sebuah onfigurasi sistem, yang aan menghasilan tanggapan sistem yang diharapan.

Lebih terperinci

PENDAHULUAN TINJAUAN PUSTAKA

PENDAHULUAN TINJAUAN PUSTAKA 1 Latar Belaang PENDAHULUAN Sistem biometri adalah suatu sistem pengenalan pola yang melauan identifiasi personal dengan menentuan eotentian dari arateristi fisiologis dari perilau tertentu yang dimilii

Lebih terperinci

SISTEM ADAPTIF PREDIKSI PENGENALAN ISYARAT VOKAL SUARA KARAKTER. Abstrak

SISTEM ADAPTIF PREDIKSI PENGENALAN ISYARAT VOKAL SUARA KARAKTER. Abstrak SISTEM ADAPTIF PREDIKSI PENGENALAN ISYARAT VOKAL SUARA KARAKTER Oleh : Pandapotan Siagia, ST, M.Eng (Dosen tetap STIKOM Dinamia Bangsa Jambi) Abstra Sistem pengenal pola suara atau yang lebih dienal dengan

Lebih terperinci

ANALISA STATIK DAN DINAMIK GEDUNG BERTINGKAT BANYAK AKIBAT GEMPA BERDASARKAN SNI DENGAN VARIASI JUMLAH TINGKAT

ANALISA STATIK DAN DINAMIK GEDUNG BERTINGKAT BANYAK AKIBAT GEMPA BERDASARKAN SNI DENGAN VARIASI JUMLAH TINGKAT Jurnal Sipil Stati Vol. No. Agustus (-) ISSN: - ANALISA STATIK DAN DINAMIK GEDUNG BERTINGKAT BANYAK AKIBAT GEMPA BERDASARKAN SNI - DENGAN VARIASI JUMLAH TINGKAT Revie Orchidentus Francies Wantalangie Jorry

Lebih terperinci

SISTEM ADAPTIF PREDIKSI PENGENALAN ISYARAT VOKAL SUARA KARAKTER

SISTEM ADAPTIF PREDIKSI PENGENALAN ISYARAT VOKAL SUARA KARAKTER SISTEM ADAPTIF PREDIKSI PENGENALAN ISYARAT VOKAL SUARA KARAKTER Pandapotan Siagian, ST, M.Eng Dosen Tetap STIKOM Dinamia Bangsa - Jambi Jalan Sudirman Theoo Jambi Abstra Sistem pengenal pola suara atau

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belaang Masalah untu mencari jalur terpende di dalam graf merupaan salah satu masalah optimisasi. Graf yang digunaan dalam pencarian jalur terpende adalah graf yang setiap sisinya

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Teori Fuzzy 2.1.1 Dasar-Dasar Teori Fuzzy Secara prinsip, di dalam teori fuzzy set dapat dianggap sebagai estension dari teori onvensional atau crisp set. Di dalam teori crisp

Lebih terperinci

Soal-Jawab Fisika OSN x dan = min. Abaikan gesekan udara. v R Tentukan: a) besar kelajuan pelemparan v sebagai fungsi h. b) besar h maks.

Soal-Jawab Fisika OSN x dan = min. Abaikan gesekan udara. v R Tentukan: a) besar kelajuan pelemparan v sebagai fungsi h. b) besar h maks. Soal-Jawab Fisia OSN - ( poin) Sebuah pipa silinder yang sangat besar (dengan penampang lintang berbentu lingaran berjarijari R) terleta di atas tanah. Seorang ana ingin melempar sebuah bola tenis dari

Lebih terperinci

Penggunaan Induksi Matematika untuk Mengubah Deterministic Finite Automata Menjadi Ekspresi Reguler

Penggunaan Induksi Matematika untuk Mengubah Deterministic Finite Automata Menjadi Ekspresi Reguler Penggunaan Indusi Matematia untu Mengubah Deterministic Finite Automata Menjadi Espresi Reguler Husni Munaya - 353022 Program Studi Teni Informatia Seolah Teni Eletro dan Informatia Institut Tenologi Bandung,

Lebih terperinci

PERHITUNGAN CRITICAL CLEARING TIME MENGGUNAKAN PERSAMAAN SIMULTAN BERBASIS TRAJEKTORI KRITIS TANPA KONTROL YANG TERHUBUNG DENGAN INFINITE BUS

PERHITUNGAN CRITICAL CLEARING TIME MENGGUNAKAN PERSAMAAN SIMULTAN BERBASIS TRAJEKTORI KRITIS TANPA KONTROL YANG TERHUBUNG DENGAN INFINITE BUS PROCEEDIG SEMIAR TUGAS AKHIR ELEKTRO ITS, (4) -6 PERHITUGA CRITICAL CLEARIG TIME MEGGUAKA PERSAMAA SIMULTA BERBASIS TRAJEKTORI KRITIS TAPA KOTROL YAG TERHUBUG DEGA IIITE BUS M. Abdul Aziz Al Haqim, Prof.

Lebih terperinci

MODEL MATEMATIKA KONSENTRASI OKSIGEN TERLARUT PADA EKOSISTEM PERAIRAN DANAU

MODEL MATEMATIKA KONSENTRASI OKSIGEN TERLARUT PADA EKOSISTEM PERAIRAN DANAU MDEL MATEMATIKA KNSENTRASI KSIGEN TERLARUT PADA EKSISTEM PERAIRAN DANAU Sutimin Jurusan Matematia, FMIPA Universitas Diponegoro Jl. Prof. H. Soedarto SH Tembalang, Semarang 5075 E-mail: [email protected]

Lebih terperinci

Program Perkuliahan Dasar Umum Sekolah Tinggi Teknologi Telkom [MA1124] KALKULUS II

Program Perkuliahan Dasar Umum Sekolah Tinggi Teknologi Telkom [MA1124] KALKULUS II Program Peruliahan asar Umum Seolah Tinggi Tenologi Telom Integral Lipat ua [MA4] Integral Lipat ua Misalan z f(,) terdefinisi pada merupaan suatu persegi panjang tertutup, aitu : {(, ) : a b, c d} b a

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. sebuah teknik yang baru yang disebut analisis ragam. Anara adalah suatu metode

II. TINJAUAN PUSTAKA. sebuah teknik yang baru yang disebut analisis ragam. Anara adalah suatu metode 3 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Analisis Ragam (Anara) Untu menguji esamaan dari beberapa nilai tengah secara sealigus diperluan sebuah teni yang baru yang disebut analisis ragam. Anara adalah suatu metode

Lebih terperinci

Makalah Seminar Tugas Akhir. Aplikasi Kendali Adaptif pada Pengendalian Plant Pengatur Suhu dengan Self Tuning Regulator (STR)

Makalah Seminar Tugas Akhir. Aplikasi Kendali Adaptif pada Pengendalian Plant Pengatur Suhu dengan Self Tuning Regulator (STR) Maalah Seminar ugas Ahir Apliasi Kendali Adaptif pada Pengendalian Plant Pengatur Suhu dengan Self uning Regulator (SR) Oleh : Muhammad Fitriyanto e-mail : [email protected] Maalah Seminar ugas Ahir Apliasi

Lebih terperinci

- Persoalan nilai perbatasan (PNP/PNB)

- Persoalan nilai perbatasan (PNP/PNB) PENYELESAIAN NUMERIK PERSAMAAN DIFERENSIAL Persamaan diferensial biasanya digunaan untu pemodelan matematia dalam sains dan reayasa. Seringali tida terdapat selesaian analiti seingga diperluan ampiran

Lebih terperinci

Perhitungan Kehilangan Pratekan Total dengan Memakai Teori Kemungkinan ABSTRAK

Perhitungan Kehilangan Pratekan Total dengan Memakai Teori Kemungkinan ABSTRAK Jurnal APLIKASI Volume 5, Nomor 1, Agustus 2008 Perhitungan Kehilangan Pratean Total dengan Memaai Teori Kemunginan M. Sigit Darmawan Dosen Jurusan Diploma Teni Sipil, FTSP - ITS Email: [email protected]

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PERKULIAHAN ( SAP )

SATUAN ACARA PERKULIAHAN ( SAP ) SATUAN ACARA PERKULIAHAN ( SAP ) Mata Kuliah : Pengolahan Citra Digital Kode : IES 6323 Semester : VI Watu : 1x 3x 50 Menit Pertemuan : 7 A. Kompetensi 1. Utama Mahasiswa dapat memahami tentang sistem

Lebih terperinci

Variasi Spline Kubik untuk Animasi Model Wajah 3D

Variasi Spline Kubik untuk Animasi Model Wajah 3D Variasi Spline Kubi untu Animasi Model Wajah 3D Rachmansyah Budi Setiawan (13507014 1 Program Studi Teni Informatia Seolah Teni Eletro dan Informatia Institut Tenologi Bandung, Jl. Ganesha 10 Bandung 40132,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Indonesia merupaan daerah pertemuan tiga lempeng tetoni besar, yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan lempeng Pasific (gambar 1). Lempeng Indo-Australia bertabraan

Lebih terperinci

FISIKA. Kelas X GETARAN HARMONIS K-13. A. Getaran Harmonis Sederhana

FISIKA. Kelas X GETARAN HARMONIS K-13. A. Getaran Harmonis Sederhana K-13 Kelas X FISIKA GETARAN HARMONIS TUJUAN PEMBELAJARAN Setelah mempelajari materi ini, amu diharapan memilii emampuan sebagai beriut. 1. Memahami onsep getaran harmonis sederhana pada bandul dan pegas

Lebih terperinci

BAB 5 RUANG VEKTOR UMUM. Dr. Ir. Abdul Wahid Surhim, MT.

BAB 5 RUANG VEKTOR UMUM. Dr. Ir. Abdul Wahid Surhim, MT. BAB 5 RUANG VEKTOR UMUM Dr. Ir. Abdul Wahid Surhim, MT. KERANGKA PEMBAHASAN. Ruang Vetor Nyata. Subruang. Kebebasan Linier 4. Basis dan Dimensi 5. Ruang Baris, Ruang Kolom dan Ruang Nul 6. Ran dan Nulitas

Lebih terperinci

Deret Pangkat. Ayundyah Kesumawati. June 23, Prodi Statistika FMIPA-UII

Deret Pangkat. Ayundyah Kesumawati. June 23, Prodi Statistika FMIPA-UII Keonvergenan Kesumawati Prodi Statistia FMIPA-UII June 23, 2015 Keonvergenan Pendahuluan Kalau sebelumnya, suu suu pada deret ta berujung berupa bilangan real maa ali ini ita embangan suu suunya dalam

Lebih terperinci

PEBANDINGAN METODE ROBUST MCD-LMS, MCD-LTS, MVE-LMS, DAN MVE-LTS DALAM ANALISIS REGRESI KOMPONEN UTAMA

PEBANDINGAN METODE ROBUST MCD-LMS, MCD-LTS, MVE-LMS, DAN MVE-LTS DALAM ANALISIS REGRESI KOMPONEN UTAMA PEBANDINGAN METODE ROBUST MCD-LMS, MCD-LTS, MVE-LMS, DAN MVE-LTS DALAM ANALISIS REGRESI KOMPONEN UTAMA Sear Wulandari, Nur Salam, dan Dewi Anggraini Program Studi Matematia Universitas Lambung Mangurat

Lebih terperinci

BAB VII. RELE JARAK (DISTANCE RELAY)

BAB VII. RELE JARAK (DISTANCE RELAY) BAB VII. RELE JARAK (DISTANCE RELAY) 7.1 Pendahuluan. Rele jara merespon terhadap banya inputsebagai fungsi dari rangaian listri yang panjang (jauh) antara loasi rele dengan titi gangguan. Karena impedansi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN (BAHAN DAN METODE)

BAB III METODE PENELITIAN (BAHAN DAN METODE) BAB III METODE PENELITIAN (BAHAN DAN METODE) Tahapan-tahapan pengerjaan yang dilauan dalam penelitian ini adalah sebagai beriut : 1. Tahap Persiapan Penelitian Pada tahapan ini aan dilauan studi literatur

Lebih terperinci

BAB II TEORI DASAR. Sistem struktur yang mengalami problem dinamik mempunyai perbedaan

BAB II TEORI DASAR. Sistem struktur yang mengalami problem dinamik mempunyai perbedaan BAB II TEORI DASAR II. Umum Sistem strutur yang mengalami problem dinami mempunyai perbedaan yang signifian terhadap problem stati. Yaitu sistem strutur pembebanan dinami memerluan sejumlah oordinat bebas

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB TINJAUAN PUSTAKA.. Teori Chaos Penemuan chaos dimulai etia para matematisi dan fisiawan melauan analisis dari suatu sistem dinamis ang berbentu persamaan differensial dan menemuan eganjilan dalam perilauna.

Lebih terperinci

Materi. Menggambar Garis. Menggambar Garis 9/26/2008. Menggambar garis Algoritma DDA Algoritma Bressenham

Materi. Menggambar Garis. Menggambar Garis 9/26/2008. Menggambar garis Algoritma DDA Algoritma Bressenham Materi IF37325P - Grafia Komputer Geometri Primitive Menggambar garis Irfan Malii Jurusan Teni Informatia FTIK - UNIKOM IF27325P Grafia Komputer 2008 IF27325P Grafia Komputer 2008 Halaman 2 Garis adalah

Lebih terperinci

Estimasi Konsentrasi Polutan Sungai Menggunakan Metode Reduksi Kalman Filter dengan Pendekatan Elemen Hingga

Estimasi Konsentrasi Polutan Sungai Menggunakan Metode Reduksi Kalman Filter dengan Pendekatan Elemen Hingga JURNAL SAINS DAN SENI POMITS ol. 2, No.1, (2013) 2337-3520 (2301-928X Print) 1 Estimasi Konsentrasi Polutan Sungai Menggunaan Metode Redusi Kalman Filter dengan Pendeatan Elemen Hingga Muyasaroh, Kamiran,

Lebih terperinci

PENERAPAN DYNAMIC PROGRAMMING DALAM WORD WRAP Wafdan Musa Nursakti ( )

PENERAPAN DYNAMIC PROGRAMMING DALAM WORD WRAP Wafdan Musa Nursakti ( ) PENERAPAN DYNAMIC PROGRAMMING DALAM WORD WRAP Wafdan Musa Nursati (13507065) Program Studi Teni Informatia, Seolah Teni Eletro dan Informatia, Institut Tenologi Bandung Jalan Ganesha No. 10 Bandung, 40132

Lebih terperinci

Studi dan Analisis mengenai Hill Cipher, Teknik Kriptanalisis dan Upaya Penanggulangannya

Studi dan Analisis mengenai Hill Cipher, Teknik Kriptanalisis dan Upaya Penanggulangannya Studi dan Analisis mengenai Hill ipher, Teni Kriptanalisis dan Upaya enanggulangannya Arya Widyanaro rogram Studi Teni Informatia, Institut Tenologi Bandung, Jl. Ganesha 10 Bandung Email: [email protected]

Lebih terperinci

BAB III METODE SCHNABEL

BAB III METODE SCHNABEL BAB III METODE SCHNABEL Uuran populasi tertutup dapat diperiraan dengan teni Capture Mar Release Recapture (CMRR) yaitu menangap dan menandai individu yang diambil pada pengambilan sampel pertama, melepasan

Lebih terperinci

Pemodelan Dan Eksperimen Untuk Menentukan Parameter Tumbukan Non Elastik Antara Benda Dengan Lantai

Pemodelan Dan Eksperimen Untuk Menentukan Parameter Tumbukan Non Elastik Antara Benda Dengan Lantai Pemodelan Dan Esperimen Untu enentuan Parameter Tumbuan Non Elasti Antara Benda Dengan Lantai Puspa onalisa,a), eda Cahya Fitriani,b), Ela Aliyani,c), Rizy aiza,d), Fii Taufi Abar 2,e) agister Pengajaran

Lebih terperinci

PERHITUNGAN KEHILANGAN PRATEKAN (LOSS OF PRESTRESS) AKIBAT SUSUT DAN RANGKAK PADA BETON DENGAN MEMPERHITUNGKAN VARIABILITAS SIFAT-SIFAT BETON

PERHITUNGAN KEHILANGAN PRATEKAN (LOSS OF PRESTRESS) AKIBAT SUSUT DAN RANGKAK PADA BETON DENGAN MEMPERHITUNGKAN VARIABILITAS SIFAT-SIFAT BETON PERHITUNGAN KEHILANGAN PRATEKAN (LOSS OF PRESTRESS) AKIBAT SUSUT DAN RANGKAK PADA BETON DENGAN MEMPERHITUNGKAN VARIABILITAS SIFAT-SIFAT BETON M. Sigit Darmawan Dosen Diploma Teni Sipil ITS Email: [email protected]

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN (BAHAN DAN METODE)

BAB III METODE PENELITIAN (BAHAN DAN METODE) BAB III METODE PENELITIAN (BAHAN DAN METODE) Tahapan-tahapan pengerjaan yang dilauan dalam penelitian ini adalah sebagai beriut : 1. Tahap Persiapan Penelitian Pada tahapan ini aan dilauan studi literatur

Lebih terperinci

BAB 2 TEORI DASAR. terhadap gaya horizontal yang umumnya tidak mencukupi (Agus, 2002). Muto,

BAB 2 TEORI DASAR. terhadap gaya horizontal yang umumnya tidak mencukupi (Agus, 2002). Muto, 5 BAB TEORI DASAR. Umum Peristiwa gempa merupaan salah satu aspe ang sangat menentuan dalam merenanaan strutur. Strutur ang direnanaan harus mempunai etahanan terhadap gempa dengan tingat eamanan ang dapat

Lebih terperinci

PERENCANAAN JUMLAH TENAGA PERAWAT DI RSUD PAMEKASAN MENGGUNAKAN RANTAI MARKOV

PERENCANAAN JUMLAH TENAGA PERAWAT DI RSUD PAMEKASAN MENGGUNAKAN RANTAI MARKOV PERENCANAAN JUMLAH TENAGA PERAWAT DI RSUD PAMEKASAN MENGGUNAKAN RANTAI MARKOV Nama Mahasiswa : Husien Haial Fasha NRP : 1207 100 011 Jurusan : Matematia FMIPA-ITS Dosen Pembimbing : Drs. Suharmadi, Dipl.

Lebih terperinci

3. Sebaran Peluang Diskrit

3. Sebaran Peluang Diskrit 3. Sebaran Peluang Disrit EL2002-Probabilitas dan Statisti Dosen: Andriyan B. Susmono Isi 1. Sebaran seragam (uniform) 2. Sebaran binomial dan multinomial 3. Sebaran hipergeometri 4. Sebaran Poisson 5.

Lebih terperinci

a. Integral Lipat Dua atas Daerah Persegi Panjang

a. Integral Lipat Dua atas Daerah Persegi Panjang a. Integral Lipat ua atas aerah Persegi Panjang Misalan z = f(,) terdefinisi pada merupaan suatu persegi panjang tertutup, aitu : = {(, ) : a b, c d} b a z c d (,) Z=f(,). Bentu partisi [a,b] dan [c,d]

Lebih terperinci

( s) PENDAHULUAN tersebut, fungsi intensitas (lokal) LANDASAN TEORI Ruang Contoh, Kejadian dan Peluang

( s) PENDAHULUAN tersebut, fungsi intensitas (lokal) LANDASAN TEORI Ruang Contoh, Kejadian dan Peluang Latar Belaang Terdapat banya permasalahan atau ejadian dalam ehidupan sehari hari yang dapat dimodelan dengan suatu proses stoasti Proses stoasti merupaan permasalahan yang beraitan dengan suatu aturan-aturan

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengolahan Data Data yang telah berhasil diumpulan oleh penulis di BB BIOGEN diperoleh hasil bobot biji edelai dengan jumlah varietas yang aan diuji terdiri dari 15

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang BAB PENDAHULUAN. Latar belaang Metode analisis yang telah dibicaraan hingga searang adalah analisis terhadap data mengenai sebuah arateristi atau atribut (jia data itu ualitatif) dan mengenai sebuah variabel,

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Graf adalah kumpulan simpul (nodes) yang dihubungkan satu sama lain

BAB II LANDASAN TEORI. Graf adalah kumpulan simpul (nodes) yang dihubungkan satu sama lain 8 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Teori Graf 2.1.1 Definisi Graf Graf adalah umpulan simpul (nodes) yang dihubungan satu sama lain melalui sisi/busur (edges) (Zaaria, 2006). Suatu Graf G terdiri dari dua himpunan

Lebih terperinci

TEORI KINETIKA REAKSI KIMIA

TEORI KINETIKA REAKSI KIMIA TORI KINTIK RKSI KII da (dua) pendeatan teoreti untu menjelasan ecepatan reasi, yaitu: () Teori tumbuan (collision theory) () Teori eadaan transisi (transition-state theory) atau teori omples atif atau

Lebih terperinci

AKURASI MODEL PREDIKSI METODE BACKPROPAGATION MENGGUNAKAN KOMBINASI HIDDEN NEURON DENGAN ALPHA

AKURASI MODEL PREDIKSI METODE BACKPROPAGATION MENGGUNAKAN KOMBINASI HIDDEN NEURON DENGAN ALPHA AKURASI MODEL PREDIKSI METODE BACKPROPAGATION MENGGUNAKAN KOMBINASI HIDDEN NEURON DENGAN ALPHA Aris Puji Widodo, Suhartono 2, Eo Adi Sarwoo 3, dan Zulfia Firdaus 4,2,3,4 Departemen Ilmu Komputer/Informatia,

Lebih terperinci

Tanggapan Waktu Alih Orde Tinggi

Tanggapan Waktu Alih Orde Tinggi Tanggapan Watu Alih Orde Tinggi Sistem Orde-3 : C(s) R(s) ω P ( < ζ (s + ζω s + ω )(s + p) Respons unit stepnya: c(t) βζ n n < n ζωn t e ( β ) + βζ [ ζ + { βζ ( β ) cos ( β ) + ] sin ζ ) ζ ζ ω ω n n t

Lebih terperinci

ek SIPIL MESIN ARSITEKTUR ELEKTRO

ek SIPIL MESIN ARSITEKTUR ELEKTRO e SIPIL MESIN ARSITEKTUR ELEKTRO ANALISIS EKSPERIMENTAL GETARAN BALOK KAYU EBONI DENGAN METODE UNGSI TRANSER Naharuddin * Abstract The aim of the earch is to establish the characteristic of ebony beam

Lebih terperinci

ADAPTIVE NOISE CANCELING MENGGUNAKAN ALGORITMA LEAST MEAN SQUARE (LMS) Anita Nardiana, SariSujoko Sumaryono ABSTRACT

ADAPTIVE NOISE CANCELING MENGGUNAKAN ALGORITMA LEAST MEAN SQUARE (LMS) Anita Nardiana, SariSujoko Sumaryono ABSTRACT Jurnal Teni Eletro Vol. 3 No.1 Januari - Juni 1 6 ADAPTIVE NOISE CANCELING MENGGUNAKAN ALGORITMA LEAST MEAN SQUARE (LMS) Anita Nardiana, SariSujoo Sumaryono ABSTRACT Noise is inevitable in communication

Lebih terperinci

Penentuan Nilai Ekivalensi Mobil Penumpang Pada Ruas Jalan Perkotaan Menggunakan Metode Time Headway

Penentuan Nilai Ekivalensi Mobil Penumpang Pada Ruas Jalan Perkotaan Menggunakan Metode Time Headway Rea Racana Jurnal Online Institut Tenologi Nasional Teni Sipil Itenas No.x Vol. Xx Agustus 2015 Penentuan Nilai Eivalensi Mobil Penumpang Pada Ruas Jalan Perotaan Menggunaan Metode Time Headway ENDI WIRYANA

Lebih terperinci

RINGKASAN SKRIPSI MODUL PERKALIAN

RINGKASAN SKRIPSI MODUL PERKALIAN RINGKASAN SKRIPSI MODUL PERKALIAN SAMSUL ARIFIN 04/177414/PA/09899 DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS GADJAH MADA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM YOGYAKARTA 2008 HALAMAN PENGESAHAN

Lebih terperinci

Makalah Seminar Tugas Akhir

Makalah Seminar Tugas Akhir Maalah Seminar Tugas Ahir PENDETEKSI POSISI MENGGUNAKAN SENSOR ACCELEROMETER MMA7260Q BERBASIS MIKROKONTROLER ATMEGA 32 Muhammad Riyadi Wahyudi, ST., MT. Iwan Setiawan, ST., MT. Abstract Currently, determining

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan data sekunder bersifat runtun waktu (time series)

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan data sekunder bersifat runtun waktu (time series) III. METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data Penelitian ini menggunaan data seunder bersifat runtun watu (time series) dalam periode tahunan dan data antar ruang (cross section). Data seunder tersebut

Lebih terperinci

PENCARIAN JALUR TERPENDEK MENGGUNAKAN ALGORITMA SEMUT

PENCARIAN JALUR TERPENDEK MENGGUNAKAN ALGORITMA SEMUT Seminar Nasional Apliasi Tenologi Informasi 2007 (SNATI 2007) ISSN: 1907-5022 Yogyaarta, 16 Juni 2007 PENCARIAN JALUR TERPENDEK MENGGUNAKAN ALGORITMA SEMUT I ing Mutahiroh, Indrato, Taufiq Hidayat Laboratorium

Lebih terperinci

KENDALI OPTIMAL PADA MASALAH INVENTORI YANG MENGALAMI PENINGKATAN

KENDALI OPTIMAL PADA MASALAH INVENTORI YANG MENGALAMI PENINGKATAN KENDALI OPTIMAL PADA MASALAH INVENTORI YANG MENGALAMI PENINGKATAN Pardi Affandi, Faisal, Yuni Yulida Abstra: Banya permasalahan yang melibatan teori sistem dan teori ontrol serta apliasinya. Beberapa referensi

Lebih terperinci

MEKANIKA TANAH HIDROLIKA TANAH DAN PERMEABILITAS MODUL 3

MEKANIKA TANAH HIDROLIKA TANAH DAN PERMEABILITAS MODUL 3 MEKANIKA TANAH MODUL 3 HIDROLIKA TANAH DAN PERMEABILITAS UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevard Bintaro Setor 7, Bintaro Jaya Tangerang Selatan 15224 Silus hidrologi AIR TANAH DEFINISI : air yang terdapat

Lebih terperinci

ESTIMASI TRAJECTORY MOBILE ROBOT MENGGUNAKAN METODE ENSEMBLE KALMAN FILTER SQUARE ROOT (ENKF-SR)

ESTIMASI TRAJECTORY MOBILE ROBOT MENGGUNAKAN METODE ENSEMBLE KALMAN FILTER SQUARE ROOT (ENKF-SR) SEMINAR NASIONAL PASCASARJANA SAL ESIMASI RAJECORY MOBILE ROBO MENGGUNAKAN MEODE ENSEMBLE KALMAN FILER SQUARE ROO (ENKF-SR) eguh Herlambang Zainatul Mufarrioh Firman Yudianto Program Studi Sistem Informasi

Lebih terperinci

PERTEMUAN 02 PERBEDAAN ANTARA SISTEM DISKRIT DAN SISTEM KONTINU

PERTEMUAN 02 PERBEDAAN ANTARA SISTEM DISKRIT DAN SISTEM KONTINU PERTEMUAN 2 PERBEDAAN ANTARA SISTEM DISKRIT DAN SISTEM KONTINU 2. SISTEM WAKTU DISKRET Sebuah sistem watu-disret, secara abstra, adalah suatu hubungan antara barisan masuan dan barisan eluaran. Sebuah

Lebih terperinci

Ruang Barisan Orlicz Selisih Dengan Fungsional Aditif Dan Kontinunya

Ruang Barisan Orlicz Selisih Dengan Fungsional Aditif Dan Kontinunya J. Math. and Its Appl. ISSN: 1829-605X Vol. 2, No. 1, May. 2005, 37 45 Ruang Barisan Orlicz Selisih Dengan Fungsional Aditif Dan Kontinunya Sadjidon Jurusan Matematia Institut Tenologi Sepuluh Nopember,

Lebih terperinci

Penentuan Konduktivitas Termal Logam Tembaga, Kuningan, dan Besi dengan Metode Gandengan

Penentuan Konduktivitas Termal Logam Tembaga, Kuningan, dan Besi dengan Metode Gandengan Prosiding Seminar Nasional Fisia dan Pendidian Fisia (SNFPF) Ke-6 205 30 9 Penentuan Kondutivitas Termal ogam Tembaga, Kuningan, dan Besi dengan Metode Gandengan Dwi Astuti Universitas Indraprasta PGRI

Lebih terperinci

Pencitraan Tomografi Elektrik dengan Elektroda Planar di Permukaan

Pencitraan Tomografi Elektrik dengan Elektroda Planar di Permukaan Abstra Pencitraan omografi Eletri dengan Eletroda Planar di Permuaan D. Kurniadi, D.A Zein & A. Samsi KK Instrumentasi & Kontrol, Institut enologi Bandung Jl. Ganesa no. 10 Bandung Received date : 22 November2010

Lebih terperinci

PENYELESAIAN PERSAMAAN LOTKA-VOLTERRA DENGAN METODE TRANSFORMASI DIFERENSIAL SUTRIANI HIDRI

PENYELESAIAN PERSAMAAN LOTKA-VOLTERRA DENGAN METODE TRANSFORMASI DIFERENSIAL SUTRIANI HIDRI PENYELESAIAN PERSAMAAN LOTKA-VOLTERRA DENGAN METODE TRANSFORMASI DIFERENSIAL SUTRIANI HIDRI Jurusan Matematia, FMIPA, Universitas Negeri Maassar Email: [email protected] Abstra. Pada artiel ini dibahas

Lebih terperinci

ANALISA PERSAMAAN PANAS PADA PROSES STERILISASI MAKANAN KALENG. Heat Equation Analize of Canned Food Sterilization Process

ANALISA PERSAMAAN PANAS PADA PROSES STERILISASI MAKANAN KALENG. Heat Equation Analize of Canned Food Sterilization Process ANALISA PERSAMAAN PANAS PADA PROSES SERILISASI MAKANAN KALENG Heat Equation Analie of Canned Food Steriliation Process Oleh: DEDIK ARDIAN NRP 10 109 06 Dosen Pembimbing Drs. Luman Hanafi M.Sc Dra. Mardlijah

Lebih terperinci

HUBUNGAN SIKAP DENGAN PRAKTIK PERAWATAN BAYI SEHARI-HARI PADA IBU PRIMIPARA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NGAMPEL PABUPATEN KENDAL ABSTRAK

HUBUNGAN SIKAP DENGAN PRAKTIK PERAWATAN BAYI SEHARI-HARI PADA IBU PRIMIPARA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NGAMPEL PABUPATEN KENDAL ABSTRAK HUBUNGAN SIKAP DENGAN PRAKTIK PERAWATAN BAYI SEHARI-HARI PADA IBU PRIMIPARA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NGAMPEL PABUPATEN KENDAL Afifah *), Indri Subeti **) *) Mahasiswa Abid Unisa **)Dosen Abid Unisa ABSTRAK

Lebih terperinci

Modifikasi ACO untuk Penentuan Rute Terpendek ke Kabupaten/Kota di Jawa

Modifikasi ACO untuk Penentuan Rute Terpendek ke Kabupaten/Kota di Jawa 187 Modifiasi ACO untu Penentuan Rute Terpende e Kabupaten/Kota di Jawa Ahmad Jufri, Sunaryo, dan Purnomo Budi Santoso Abstract This research focused on modification ACO algorithm. The purpose of this

Lebih terperinci

Geometri Bintang Berotasi Pada Keadaan Ambang

Geometri Bintang Berotasi Pada Keadaan Ambang Geometri Bintang Berotasi Pada Keadaan Ambang Iwan Setiawan dan Muhammad Farchani osyid Kelompo iset Kosmologi, Astrofisia, dan Fisia Matematia Jurusan Fisia Faultas Matematia dan Ilmu Pengetahuan Alam

Lebih terperinci

INTEGRAL NUMERIK KUADRATUR ADAPTIF DENGAN KAIDAH SIMPSON. Makalah. Disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Metode Numerik. yang dibimbing oleh

INTEGRAL NUMERIK KUADRATUR ADAPTIF DENGAN KAIDAH SIMPSON. Makalah. Disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Metode Numerik. yang dibimbing oleh INTEGRAL NUMERIK KUADRATUR ADAPTIF DENGAN KAIDAH SIMPSON Maalah Disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Metode Numeri yang dibimbing oleh Dr. Nur Shofianah Disusun oleh: M. Adib Jauhari Dwi Putra 146090400111001

Lebih terperinci

PENENTUAN BATAS WILAYAH LAUT PROVINSI JAWA TENGAH DAN JAWA BARAT MENGGUNAKAN DATUM GEODESI NASIONAL. Sutomo Kahar *)

PENENTUAN BATAS WILAYAH LAUT PROVINSI JAWA TENGAH DAN JAWA BARAT MENGGUNAKAN DATUM GEODESI NASIONAL. Sutomo Kahar *) PENENTUAN BATAS WILAYAH LAUT PROVINSI JAWA TENGAH DAN JAWA BARAT MENGGUNAKAN DATUM GEODESI NASIONAL Sutomo Kahar *) Abstract According to Minister of Internal Affair regulation which is Permendagri No.

Lebih terperinci

PENENTUAN FAKTOR KALIBRASI ACCELEROMETER MMA7260Q PADA KETIGA SUMBU

PENENTUAN FAKTOR KALIBRASI ACCELEROMETER MMA7260Q PADA KETIGA SUMBU PENENTUAN FAKTOR KALIBRASI ACCELEROMETER MMA7260Q PADA KETIGA SUMBU Wahyudi 1, Adhi Susanto 2, Sasongo P. Hadi 2, Wahyu Widada 3 1 Jurusan Teni Eletro, Faultas Teni, Universitas Diponegoro, Tembalang,

Lebih terperinci

MODEL REGRESI INTERVAL DENGAN NEURAL FUZZY UNTUK MEMPREDIKSI TAGIHAN AIR PDAM

MODEL REGRESI INTERVAL DENGAN NEURAL FUZZY UNTUK MEMPREDIKSI TAGIHAN AIR PDAM MODEL REGRESI INTERVAL DENGAN NEURAL FUZZY UNTUK MEMPREDIKSI TAGIHAN AIR PDAM 1,2 Faultas MIPA, Universitas Tanjungpura e-mail: [email protected], email: [email protected] Abstract

Lebih terperinci

KONTROL MOTOR PID DENGAN KOEFISIEN ADAPTIF MENGGUNAKAN ALGORITMA SIMULTANEOUS PERTURBATION

KONTROL MOTOR PID DENGAN KOEFISIEN ADAPTIF MENGGUNAKAN ALGORITMA SIMULTANEOUS PERTURBATION Konferensi Nasional Sistem dan Informatia 29; Bali, November 14, 29 KONTROL MOTOR PID DENGAN KOEFISIEN ADAPTIF MENGGUNAKAN ALGORITMA SIMULTANEOUS PERTURBATION Sofyan Tan, Lie Hian Universitas Pelita Harapan,

Lebih terperinci

PELABELAN FUZZY PADA GRAF. Siti Rahmah Nurshiami, Suroto, dan Fajar Hoeruddin Universitas Jenderal Soedirman.

PELABELAN FUZZY PADA GRAF. Siti Rahmah Nurshiami, Suroto, dan Fajar Hoeruddin Universitas Jenderal Soedirman. JMP : Volume 6 Nomor, Juni 04, hal. - PELABELAN FUZZY PADA GRAF Siti Rahmah Nurshiami, Suroto, dan Fajar Hoeruddin Universitas Jenderal Soedirman email : [email protected] ABSTRACT. This paper discusses

Lebih terperinci

BEBERAPA SIFAT HIMPUNAN KRITIS PADA PELABELAN AJAIB GRAF BANANA TREE. Triyani dan Irham Taufiq Universitas Jenderal Soedirman

BEBERAPA SIFAT HIMPUNAN KRITIS PADA PELABELAN AJAIB GRAF BANANA TREE. Triyani dan Irham Taufiq Universitas Jenderal Soedirman JMP : Volume 4 Nomor 2, Desember 2012, hal. 271-278 BEBERAPA SIFAT HIMPUNAN KRITIS PADA PELABELAN AJAIB GRAF BANANA TREE Triyani dan Irham Taufiq Universitas Jenderal Soedirman [email protected] ABSTRACT.

Lebih terperinci