PELAYANAN HIV/AIDS DI RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PELAYANAN HIV/AIDS DI RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA"

Transkripsi

1 Working Paper Series No. 16 July 2007, Firs Draf PELAYANAN HIV/AIDS DI RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA Andris Purwaningias, Yanri Wijayani Subrono, Mubasysyir Hasanbasri Kaakunci: hospials, HIV/AIDS, healh saff, people living wih HIV/AIDS -Tidak Unuk Disiasi- Program Magiser Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehaan,Universias Gadjah Mada Yogyakara 2007

2 Andris Purwaningias, Yanri Wijayani Subrono, Mubasysyir Hasanbasri; WPS No. 16 July s HIV/AIDS Service a Dr. Sardjio Hospial Andris Purwaningias 1, Yanri Wijayani Subrono 2, Mubasysyir Hasanbasri 3 Background: A hospial is a healh insiuion which has an imporan role in overcoming HIV/AIDS infecion. However, hospials ofen discriminae HIV/AIDS paiens by refusing o provide healh service due o he fac ha hey are unprepared o such service. As providers of comprehensive and susainable HIV/AIDS service, hospials have o be well prepared and provide qualiy service wih he suppor of compeen human resources and supporing faciliies available. Objecive: To find ou he response of Dr. Sardjio Hospial in providing HIV/AIDS service, sraegies of hospial managemen, healh saff's capaciy in service provision and ypes of service available. Mehod: This was an exploraive case sudy wih descripive qualiaive design. Mehods of daa collecion were srucured inerview, documen checking and observaion. Daa were colleced from January o February Resul: HIV/AIDS service a Dr. Sardjio Hospial had developed exensively afer he esablishmen of Edelweiss Clinic as he main gae of HIV/AIDS in The service ranged from healh promoion o rehabiliaion, including volunary counseling and esing (VCT), care suppor and reamen (CST), prevenion of moher o child HIV ransmission (PMTCT), uberculosis-hiv, sexually ransmied infecion and suppor services such as nuriion, laboraory, radiology, recording and reporing. The service was made possible by he financial aid of Global Fund for AIDS, Tuberculosis and Malaria (GFATM) in cooperaion wih inernaional healh insiuions. Healh saff go periodic raining on HIV/AIDS service provision conduced by he Minisry of Healh. Dr. Sardjio Hospial worked in cooperaion wih AIDS prevenion commiee eiher a he naional or local level. GFATM worked across secors wih service unis ouside hospial and non governmen organizaions. The managemen of cases in he hospial was done by each uni under he supervision of HIV/AIDS prevenion commiee. Conclusion and Suggesion: The response of Dr. Sardjio Hospial o HIV/AIDS depended on naional and inernaional sakeholders. Srenghening sakeholders of hospials should become imporan focus of policies in he fuure. 1 Suden of Pos Graduae Program of Public Healh, Gadjah Mada Universiy 2 Deparemen of Inernal Medicine, Faculy of Medicine, Gadjah Mada Universiy 3 Magiser Healh Policy and Service Managemen, Gadjah Mada Universiy Disan Learning Resouce Cener Magiser KMPK UGM hp://lrc-kmpk.ugm.ac.id 2

3 Andris Purwaningias, Yanri Wijayani Subrono, Mubasysyir Hasanbasri; WPS No. 16 July s Laar Belakang Rumahsaki merupakan insansi kesehaan yang berperan pening melawan penyebaran HIV/AIDS, namun seringkali rumahsaki melakukan diskriminasi erhadap pasien HIV/AIDS. Saa ini masih banyak rumahsaki dan doker yang idak menerima pasien-pasien yang erinfeksi HIV/AIDS unuk beroba i. Rumahsaki menganggap kasus HIV/AIDS sanga kompleks dan problemaik dikarenakan bukan hanya sau doker dengan spesialis erenu yang diperlukan unuk merawa pasien HIV/AIDS eapi memerlukan banyak spesialis. Kekhawairan lain pihak rumahsaki bila menerima pasien HIV/AIDS ialah banyak pasien yang keakuan dan idak mau diempakan sau ruangan dengan pasien HIV. Sebaliknya bila menempakan semua pasien HIV/AIDS dalam ruangan erenu juga berari menimbulkan keidak adilan dan diskriminasi ii. Masalah lain yang seringkali muncul ialah pelayanan dibawah sandar, lalai dalam memberikan perawaan, melanggar kerahasiaan pasien, sera melakukan es HIV anpa perseujuan pasien. Prakek ini mencerminkan faka yang buruk bahwa orang-orang yang erinfeksi HIV sering menerima perlakuan medik dibawah sandar yang dieapkan iii. Tidak semua rumahsaki memiliki formulir pelaporan kasus HIV/AIDS, yang dikeluarkan oleh Deparemen Kesehaan, sehingga sisem pelaporan dan pencaaan menjadi belum baik. Rumahsaki idak ahu kemana harus melapor iv. Pada mulanya di Indonesia hanya 25 rumahsaki yang diunjuk pemerinah unuk memberikan perawaan penderia HIV/AIDS. Sekarang jumlahnya sudah mencapai 75 rumahsaki. Rumahsaki yang pernah merawa pasien HIV/AIDS di Yogyakara ialah RS Behesda, RS Pani Rapih, RS PKU Muhammadiyah, dan RSUP Dr. Sardjio. RSUP Dr. Sardjio Yogyakara merupakan salah sau rumahsaki yang memberikan pelayanan kepada para penderia HIV/AIDS berdasarkan SK Menkes RI No. 781/MENKES/SK/VII/2004 enang Peneapan Rumahsaki Rujukan bagi Orang dengan HIV/AIDS. Berdasarkan laar belakang masalah diaas, maka rumusan masalah dalam peneliian ini ialah sebagai beriku. 1. Jenis-jenis pelayanan apa saja yang diberikan oleh RSUP Dr. Sardjio kepada penderia HIV/AIDS? 2. Bagaimana sejarah kronologi pengembangan pelayanan HIV/AIDS di RSUP Dr. Sardjio selama sepuluh ahun erakhir? 3. Bagaimana sisem pencaaan dan pelaporan kasus HIV/AIDS yang dirawa di RSUP Dr. Sardjio? 4. Bagaimana kapasias sumberdaya manusia dalam memberikan pelayanan kepada penderia HIV/AIDS di RSUP Dr. Sardjio? 5. Bagaimana model kerjasama yang dilakukan oleh RSUP Dr. Sardjio dengan kelompok dukungan erhadap ODHA? Disan Learning Resouce Cener Magiser KMPK UGM hp://lrc-kmpk.ugm.ac.id 3

4 Andris Purwaningias, Yanri Wijayani Subrono, Mubasysyir Hasanbasri; WPS No. 16 July s Meode Peneliian Jenis peneliian ini adalah peneliian deskripif kualiaif dengan sudi kasus eksploraif unuk mengeahui bagaimana respon RSUP Dr. Sardjio dalam memberikan pelayanan HIV/AIDS. Responden peneliian erbagi aas responden primer dan responden sekunder. Responden primer berasal dari ingka manager sebagai penenu kebijakan, yaiu keua paniia penanggulangan HIV/AIDS RSUP Dr. Sardjio, sedangkan responden sekunder berasal dari ingka pelaksana kebijakan yaiu para enaga medis yang berugas di klinik perawaan HIV/AIDS dan anggoa paniia penanggulangan HIV/AIDS RSUP Dr. Sardjio. Variabel peneliian erdiri dari variabel erika (dependen variable) yaiu pelayanan HIV/AIDS di RSUP Dr. Sardjio dan variabel bebas (independen variable) berupa kunjungan pasien, lembaga pendukung HIV/AIDS, dan sraegi manajemen rumahsaki. A. Jenis pelayanan Hasil dan Pembahasan RSUP Dr. Sardjio memberikan pelayanan bagi clien HIV/AIDS melipui volunary counseling and esing, care suppor and reamen, infeksi menular seksual, TB-HIV, pencaaan dan pelaporan kasus HIV/AIDS, pelayanan gizi, radiologi, dan laboraorium. 1. Volunary Counseling and Tesing (VCT) VCT merupakan salah sau sraegi kesehaan masyaraka dan sebagai pinu masuk ke seluruh layanan kesehaan HIV/AIDS berkelanjuan. VCT berkualias inggi idak saja membua orang mempunyai akses erhadap layanan, eapi juga efekif bagi pencegahan erhadap HIV. Layanan VCT dapa digunakan unuk mengubah perilaku beresiko dan memberikan informasi enang pencegahan HIV/AIDS. Clien dimungkinkan mendapa pengeahuan enang cara penularan, pencegahan, dan pengobaan erhadap HIV, seperi penggunaan kondom, idak berbagi ala sunik, dan penggunaan ala sunik seril. Di banyak negara pembagian kondom dilakukan di klinik VCT v, namun berdasarkan hasil wawancara dengan responden di Klinik Edelweis, yang merupakan klinik VCT di RSUP Dr. Sardjio, didapakan informasi bahwa idak ada pembagian kondom aau ala peraga seperi kondom, dildo dan ala reproduksi perempuan. Berdasarkan hasil observasi dikeahui bahwa Klinik Edelweis belum memadai bila digunakan sebagai klinik pelayanan HIV/AIDS. Klinik Edelweis belum sepenuhnya dapa menjamin konfidensialias karena ruangan konseling masih dibaasi oleh kain sehingga pembicaraan dapa didengar oleh orang lain, pinu masuk dan pinu keluar yang sama, dan ruang unggu yang masih menjadi sau dengan ruang konseling dan ruang Disan Learning Resouce Cener Magiser KMPK UGM hp://lrc-kmpk.ugm.ac.id 4

5 Andris Purwaningias, Yanri Wijayani Subrono, Mubasysyir Hasanbasri; WPS No. 16 July s pemeriksaan. Layanan VCT yang ada di Klinik Edelweis melipui konseling pra-es dan konseling pasca-es. 2. Care, Suppor, and Treamen (CST) RSUP Dr. Sardjio sudah menyediakan layanan komprehensif bagi ODHA. Layanan perawaan yang ersedia melipui konseling dan es HIV sukarela unuk ujuan screening dan diagnosik, dengan Klinik Edelweis sebagai pinu masuk uama, profilaksis infeksi opporunisik, aalaksana penyaki erkai HIV ermasuk infeksi opporunisik, pengendalian TB di klinik penyaki dalam, aalaksana IMS di klinik kuli dan kelamin, pengobaan paliaif, akses kepada oba-oba HIV ermasuk oba unuk infeksi opporunisik, anireroviral, inervensi erhadap prevenion of moher o child HIV ransmission (PMTCT) yang fokus di klinik kebidanan dan anak, dukungan gizi, sera mengurangi sigma dan diskriminasi dengan mengadakan sosialisasi dan raining enang pelayanan HIV/AIDS kepada peugas kesehaan. Oba-oba yang ersedia unuk pasien masih lini perama. Oba unuk efek samping erapi ARV belum ersedia. Oba-oba ARV yang ersedia seluruhnya disubsidi oleh pemerinah. Oba-oba unuk infeksi opporunisik disediakan oleh Dinas Kesehaan Koa Yogyakara. Ada lima jenis oba yaiu Savudin, Neviral, Duviral, Efaviren, dan Hiviral. Oba-oba unuk infeksi opporunisik yang ersedia yaiu Doksisiklin, Raniidin, Condesain soluion, Cyproflox, Co-rimoxazol, Dimenhydrina, Enzyplex able, Eryhro, INH, Keoconazol, Nisain Vag, Fluconazale, Flucoric, dan Ofloxacin. Oba ani uberculosis juga grais karena disubsidi oleh pemerinah. Unuk keersediaan oba ani uberkulosis berkoordinasi dengan poli TB. Keersediaan anireroviral di rumahsaki sanga pening bagi kelangsungan pelayanan yang komprehensif dan berkesinambungan. Terapi anireroviral sanga diperlukan oleh orang dengan HIV/AIDS (ODHA) unuk memperpanjang usia dan memperbaiki kualias hidup. Keersediaan anireroviral di RSUP Dr. Sardjio cukup unuk memenuhi kebuuhan clien. Bila erjadi kekurangan, maka hal ini anara lain disebabkan oleh kesalahan pelaporan, keerlambaan pengiriman, dan kekurangan keersediaan oba di pusa. Rumahsaki mengharapkan keersediaan oba ini dari program, seperi hasil wawancara beriku. Sok oba kadang ada yang kurang. Hal ini disebabkan karena keerlambaan pengiriman dan keersediaan oba di pusa dan karena kia mengharapkan keersediaan oba ini dari program (Responden 12). Pengadaan oba anireroviral, VCT, dan beberapa pemeriksaan laboraorium awal digraiskan karena ada banuan dana dari Global Fund for AIDS, Tuberculosis, Malaria (GFATM). Oba infeksi opporunisik digraiskan unuk clien karena disubsidi oleh Dinas Kesehaan Koa Yogyakara. Disan Learning Resouce Cener Magiser KMPK UGM hp://lrc-kmpk.ugm.ac.id 5

6 Andris Purwaningias, Yanri Wijayani Subrono, Mubasysyir Hasanbasri; WPS No. 16 July s Anireroviral Theraphy (ART) merupakan komimen jangka panjang dan kepauhan erapi adalah hal yang paling pening dalam menekan replikasi HIV dan menghindari erjadinya resisensi. Dari hasil wawancara dengan responden dikeahui bahwa responden menganjurkan unuk melakukan konseling anireroviral (ARV). Konseling ARV yang erpening adalah fakor adheren aau kepauhan unuk minum oba. Konseling ini berisi enang minum oba epa waku, epa dosis, dan epa penggunaan oba. Clien diajarkan membua penginga unuk minum oba, misalnya membua alarm di elepon selulernya. Clien yang sudah erbuka kepada keluarganya enang sausnya, maka keluarga yang menjadi pendamping minum oba unuk mendukung kepauhan minum oba. Clien diberikan konseling erlebih dahulu sebelum memulai erapi ARV berupa segala sesuau enang ART dan makanan sera gizi yang diperlukan. Konseling ini sanga diperlukan bagi clien karena unuk mengeahui ineraksi oba-makanan berupa efek aau pengaruh makanan erhadap kemanjuran oba, efek oba erhadap penggunaan nurien aau za gizi, efek dari efek samping oba erhadap konsumsi makanan, dan efek samping oba yang idak seha akiba pemakaian oba dan konsumsi jenis makanan erenu. Beberapa ARV menyebabkan efek samping yang berbahaya jika dikombinasikan dengan makanan erenu. Sebagai conoh, mengkonsumsi minuman yang beralkohol bersama didanosin dapa mengakibakan pankreaiis yang sanga berbahaya dan dapa mengakibakan kemaian vi. Diperlukan manajer kasus unuk mendukung pelayanan komprehensif bagi clien HIV/AIDS. Berdasarkan hasil wawancara dikeahui bahwa RSUP Dr. Sardjio mempunyai 2 manajer kasus. Manajer kasus berugas mengkoordinasi im pelayanan HIV/AIDS jika secara klinis clien mempunyai keluhan. Manajer kasus beranggung jawab secara langsung jika harus konsulasi kepada doker, im doker, aau psikolog. Bila clien menghadapi masalah-masalah sosial, peugas sebagai manajer kasus harus mencari solusi yang epa, seperi peikan wawancara beriku. Pokoknya saya secara langsung harus konsulasi ke doker, im doker aau ke psikolog. Ya erganung kepada permasalahan yang dihadapi, karena pasien iu mempunyai masalah yang sanga kompleks, ya sebagai manajer kasus harus mencarikan solusinya. Pokoknya saya bekerja sesuai dengan job descripion nya sebagai case manager (Responden 10). Keamanan dalam memberikan pelayanan sanga pening dilakukan bagi peugas kesehaan yang memberikan pelayanan HIV/AIDS yang menyeluruh dan berkesinambungan karena peugas kesehaan sanga beresiko unuk erpajan. RSUP Dr. Sardjio sudah membua kebijakan enang Kewaspadaan Universal yang eruang dalam Dokumen No yang berbunyi: Disan Learning Resouce Cener Magiser KMPK UGM hp://lrc-kmpk.ugm.ac.id 6

7 Andris Purwaningias, Yanri Wijayani Subrono, Mubasysyir Hasanbasri; WPS No. 16 July s Pasien dengan HIV/AIDS boleh dirawa di bangsal manapun kecuali IRNA III, IRNA V, dan Bangsal Cempaka Mulia, dengan eap mengacu pada Universal Precauion aau Kewaspadaan Universal. Pernyaaan ersebu diperegas kembali dalam poin ke-9 yang berbunyi: Kewaspadaan Universal dierapkan pada semua pasien HIV/AIDS anpa memandang saus serologis aau umur dari yang bersangkuan, dengan ujuan melindungi peugas dari resiko erpajan infeksi HIV/AIDS maupun clien/pasien. Sosialisasi enang Kewaspadaan Universal sudah sering kali dilakukan di RSUP Dr. Sardjio. Sosialisasi Kewaspadaan Universal ini sanga perlu dilakukan secara erus menerus karena merupakan program dari im pengendalian infeksi aau im INOS. Sosialisasi enang Kewaspadaan Universal baru-baru ini diadakan pada bulan Desember 2006 dan Januari 2007 yang mengikukan 100 perawa, 100 pekarya, dan peugas kamar operasi. Pelaksanaan Kewaspadaan Universal dalam memberikan pelayanan HIV/AIDS oleh peugas kesehaan belum maksimal. Hal ini dikarenakan belum ersedianya peralaan unuk melaksanakan Kewaspadaan Universal, eruama di pelayanan rawa jalan. Beberapa kali saya memeriksa anpa sarung angan karena idak ersedia, ini sangalah ironis. Penerapan UP ini di RS Sardjio belum maksimal karena belum ada kerangka yang jelas unuk UP, eruama unuk rawa jalan (Responden 5). Kewaspadaan Universal belum dilaksanakan secara maksimal dikarenakan erbenur masalah biaya. Penerapan Kewaspadaan Universal belum secara maksimal dilakukan karena peralaan unuk penerapannya dibebankan pada clien vii. Bila Kewaspadaan Universal dierapkan secara maksimal maka biaya yang dikeluarkan oleh clien semakin inggi. Peralaan melipui sarung angan, masker, kacamaa pelindung, uup kepala, jas dan celemek, sera sepau pelindung. Keersediaan fasilias ersebu memerlukan biaya yang inggi sehingga penerapan Kewaspadaan Universal dengan beul anpa meliha saus penyakinya masih belum maksimal dilaksanakan. Kewaspadaan Universal dierapkan bila melayani clien dengan saus penyakinya sudah jelas misalnya HIV posiif. Penerapan Universal Precauion secara benar hanya dilakukan unuk clien HIV/AIDS (Responden 7). 3. Infeksi Menular Seksual (IMS) Pelayanan IMS di RSUP Dr. Sardjio elah ada sebelum pelayanan unuk HIV/AIDS. Peugas kesehaan di bagian kuli dan kelamin akan menganjurkan unuk melakukan VCT di Klinik Edelweis apabila ada clien Disan Learning Resouce Cener Magiser KMPK UGM hp://lrc-kmpk.ugm.ac.id 7

8 Andris Purwaningias, Yanri Wijayani Subrono, Mubasysyir Hasanbasri; WPS No. 16 July s dengan kelainan kuli dan kelamin yang parah. Pemilihan oba unuk IMS oleh RSUP Dr. Sardjio sudah sesuai dengan pedoman penaalaksanaan IMS yang dierbikan oleh Depkes RI enang krieria yang digunakan dalam pemilihan oba unuk IMS yaiu angka kesembuhan aau kemanjuran inggi (sekurang-kurangnya 90-95% di wilayahnya), harga murah, oksisias dan oleransi yang masih dapa dierima, diberikan dalam dosis unggal, cara pemberian per oral, dan idak merupakan konra indikasi pada ibu hamil aau ibu menyusui viii. 4. Prevenion of Moher o Child HIV Transmission (PMTCT) Pelayanan PMTCT merupakan salah sau pelayanan yang ersedia di RSUP Dr. Sardjio. Pengembangan pelayanan PMTCT erkai dengan im yang berkompeen. Awal ersedianya pelayanan ersebu dikarenakan clien yang daang ke rumahsaki adalah mereka yang berusia produkif, mempunyai isri aau suami dan kemudian anaknya dirujuk ke rumahsaki. Seelah gencar melakukan sosialisasi dan fungsi Klinik Edelweis sudah berjalan, rumahsaki mampu unuk melakukan pelayanan PMTCT. Tujuan ersedianya pelayanan PMTCT di RSUP Dr. Sardjio adalah unuk mencegah dan mengurangi dampak yang diakibakan HIV kepada ibu dan bayi. Ada iga kelahiran dengan HIV/AIDS yang sudah dipersiapkan di RSUP Dr. Sardjio unuk clien HIV posiif, yaiu keika masih dalam kandungan, kelahiran secara sesarea, dan prookol anireroviral kepada bayi sebagaimana sudah diaur dalam guideline. Keika masih dalam keadaan mengandung, ibu hamil HIV posiif diberikan konseling yang melipui konseling sebelum dan sesudah es HIV, konseling ART, konseling kehamilan dan persalinan, konseling pemberian makan bayi, dan konseling psikologi dan sosial. Hal ini dilakukan karena dengan konseling ibu hamil dapa berkonribusi unuk mencegah bayinya idak beresiko unuk erular. Persalinan yang aman ibu hamil posiif dianjurkan unuk melakukan persalinan per abdominal, eapi ibu hamil HIV posiif perlu mendapakan konseling mengenai kepuusannya unuk memilih cara persalinan per vaginam aau persalinan per abdominal (seksio caesaria). Pemilihan penaalaksanaan persalinan harus memperhaikan kondisi fisik ibu dan berdasarkan penilaian oleh enaga kesehaan yang berkompeen. Pemilihan idak boleh hanya berdasarkan perimbangan sosial saja. Apapun jenis perolongan persalinan yang dipilih eap harus mengikui Kewaspadaan Universal sandar ix. Prookol pemberian anireroviral pada bayi di RSUP Dr. Sardjio harus disesuaikan dengan yang diberikan pada ibunya, sepanjang indikasi pengobaannya sudah jelas dengan dilakukan pemeriksaan CD4. Pemberian makan bayi yang lahir dari ibu HIV posiif di RSUP Dr. Sardjio idak boleh diberikan air susu ibu. Teapi pada prakeknya idak bisa mengabaikan kondisi aau problem yang ada. Misalnya bila clien idak mampu membeli susu formula maka diperbolehkan pemberian air susu Disan Learning Resouce Cener Magiser KMPK UGM hp://lrc-kmpk.ugm.ac.id 8

9 Andris Purwaningias, Yanri Wijayani Subrono, Mubasysyir Hasanbasri; WPS No. 16 July s ibu eksklusif hingga maksimal 3 bulan eapi idak boleh dikombinasi dengan makanan ambahan dan seelah 3 bulan harus berheni oal ASI. RSUP Dr. Sardjio sudah melakukan pemeriksaan viral load pada bayi unuk menenukan diagnosis infeksi HIV. Viral load unuk bayi berbeda dengan orang dewasa karena sampai usia 18 bulan anibodi yang ada dalam ubuh bayi masih milik ibunya sehingga yang paling sensiif unuk memeriksa saus HIV pada bayi adalah dengan dilakukan pemeriksaan viral load. Kendala yang kemudian muncul ialah masalah biaya. Pemeriksaan viral load unuk bayi yang dilahirkan dari ibu HIV posiif biayanya idak murah yakni Rp Meskipun sekarang Sardjio sudah dilengkapi dengan fasilias yang memungkinkan unuk memeriksa viral load, kia idak sera mera bisa melakukannya karena erkendala biaya (Responden 6). Proap pengembangan pelayanan PMTCT di RSUP Dr. Sardjio sudah dibua oleh im. Proap berisi pelaksanaan Universal Precauion, PMTCT di bangsal, ruang bersalin, dan kamar operasi. Saya sudah membua proab enang PMTCT dan proab ini sudah disosialisasikan eapi belum semua karena erganung juga dari rumahsaki iu sendiri responnya gimana (Responden 7). Proap pengembangan pelayanan PMTCT sanga diperlukan unuk memudahkan peugas kesehaan memberikan pelayanan bagi clien HIV/AIDS dan pelayanan HIV/AIDS secara menyeluruh sera berkesinambungan dapa diberikan. B. Kronologi Pengembangan Pelayanan HIV/AIDS RSUP Dr. Sardjio melayani clien HIV/AIDS sejak ahun Pada waku iu belum ersedia ruang perawaan sehingga pihak manajemen mengosongkan ruangan kelas I unuk clien HIV/AIDS. Hal ini disebabkan belum siapnya rumahsaki dalam menyediakan pelayanan bagi clien HIV/AIDS dan keersediaan fasilias yang masih minim. Terjadi kepanikan karena informasi enang HIV/AIDS belum secara maksimal didapa. Semua peralaan medis yang digunakan, dibakar seelah dipakai oleh clien HIV/AIDS. Pelayanan diadakan khusus seelah Klinik Edelweis berdiri. Klinik Edelweis mulai dibuka pada April ahun 2005, eapi sebenarnya sudah direncanakan sejak ahun Klinik Edelweis ada seelah mendapakan banuan dana dari GFATM. Klinik Edelweis resmi dibuka dan akif dalam arian pasiennya cukup banyak mulai bulan April ahun Sebelum April 2005 clien HIV/AIDS sudah diberikan pelayanan eapi idak erkonsenrasi pada sau poli. Sisem operasional klinik Edelweis mengikui poli rawa jalan. Disan Learning Resouce Cener Magiser KMPK UGM hp://lrc-kmpk.ugm.ac.id 9

10 Andris Purwaningias, Yanri Wijayani Subrono, Mubasysyir Hasanbasri; WPS No. 16 July s Menunjang pelayanan HIV/AIDS di RSUP Dr. Sardjio dibenuk komie pelayanan HIV/AIDS. Komie pelayanan HIV/AIDS sudah berdiri 10 ahun yang lalu dan elah disosialisasi kepada karyawan dalam berbagai kesempaan. Srukur organisasinya sudah mengalami perubahan kurang lebih 2 kali. Terakhir berupa paniia HIV/AIDS, kemudian penanggung jawab klinik medik, penanggung jawab keperawaan, dan sebagainya. Paniia HIV/AIDS mulai ada sejak ahun 2002 yang dieapkan dengan Sura Kepuusan Direkur No. OT enang Pembenukan Paniia Penanggulangan AIDS Kelompok Kerja RSUP Dr. Sardjio/Fakulas Kedokeran UGM Yogyakara. Paniia penanggulangan AIDS melakukan reorganisasi iga ahun sekali. Dalam paniia penanggulangan AIDS ini semua personil yang diperahankan unuk duduk lagi dalam kepengurusan adalah yang bermina erhadap pelayanan HIV/AIDS. Kepinaran anggoa paniia idak ada gunanya bila yang bersangkuan idak bermina karena hanya menyebabkan pelayanan HIV/AIDS idak berkembang. Meskipun anggoa paniia erbenur pada kesibukan yang lain, eapi paniia HIV/AIDS lebih banyak advisory-nya daripada acion klinisnya. Paniia HIV/AIDS bersifa komprehensif, yakni dengan semua disiplin ilmu erliba didalamnya. SMF dan layanan penunjang sudah masuk didalam paniia HIV/AIDS anara lain kuli, bedah, syaraf, kebidanan dan kandungan, anak, paologi klinik, radiologi, kamar jenazah, bidang keperawaan, farmasi, dan lain-lain. RSUP Dr. Sardjio Yogyakara sudah memiliki kebijakan enang pengelolaan dan perawaan clien HIV/AIDS yang dieapkan dalam dokumen No yang dierbikan pada anggal 03 Januari 2004 oleh Direkur Uama RSUP. Dr. Sardjio Yogyakara. Paniia HIV/AIDS sudah beberapa kali membua kebijakan sesuai dengan akrediasi rumahsaki, eapi idak dieapkan dengan Sura Kepuusan Direkur dikarenakan dulu rumahsaki menggunakan forma kebijakan yang berbeda. Kebijakan sekarang harus diuangkan dalam benuk sura kepuusan. Kebijakan pengelolaan dan perawaan clien HIV/AIDS ada dua yang sudah disosialisasikan yaiu clien HIV/AIDS boleh dirawa di ruangan mana saja ermasuk ruangan VIP, yakni ampak pada poin 3 dan 4. Pasien dengan HIV/AIDS boleh dirawa di bangsal manapun kecuali IRNA III, IRNA V dan Bangsal Cempaka Mulia, dengan eap mengacu pada Universal Precauion/Kewaspadaan Universal Bila pasien dan keluarganya menginginkan unuk dirawa di ruangan VIP maka pasien dapa dirawa di Ruang Dahlia IRNA I Diagnosis clien hanya menggunakan kode agar erjaga confidenialnya ampak pada poin 11 yang berbunyi: Disan Learning Resouce Cener Magiser KMPK UGM hp://lrc-kmpk.ugm.ac.id 10

11 Andris Purwaningias, Yanri Wijayani Subrono, Mubasysyir Hasanbasri; WPS No. 16 July s Semua Saff RS idak diperkenankan memberikan informasi dalam benuk apapun (erulis &/ lisan) mengenai diagnosis pasien HIV/AIDS kepada pihak manapun, kecuali doker yang berwenang/doker yang merawa unuk alasan yang jelas, seelah ada perminaan yang resmi sesuai prosedur. Pihak manajemen RSUP Dr. Sardjio membua proap alur pasien yang disusun dalam buku panduan ersendiri sehingga memudahkan peugas kesehaan unuk memberikan pelayanan. Sudah ada pegangan unuk inruksi kerja bagi penanggung jawab paniia secara umum, penanggung jawab medik aau klinik, perawa, case manager, konselor dan sebagainya. Pasien dengan HIV 1. Isi form ikhisar perawaan HIV 2. Isi form Asia-link 3. Mina pemeriksaan: darah ruin, CD4, LFT, RFT, Ro dada (aas indikasi) Tenukan apakah perlu aau idak perlu ART Tidak perlu ART Perlu ART Moivasi hidup seha dan CD4 3-6 bulan lagi 1. Isi karu merah 2. Isi form regiser Pra-ART (1 kolom = 1 pasiem) 3. Isi form regiser ART (1 form = 1 pasien) Gambar 1. Alur Pelayanan Pasien HIV/AIDS dan Pengisian Form di Klinik Edelweis RSUP Dr. Sardjio Disan Learning Resouce Cener Magiser KMPK UGM hp://lrc-kmpk.ugm.ac.id 11

12 Andris Purwaningias, Yanri Wijayani Subrono, Mubasysyir Hasanbasri; WPS No. 16 July s C. Pencaaan dan Pelaporan Kasus Pencaaan dan pelaporan kasus diambil dari pencaaan kunjungan clien di Klinik Edelweis dan dari pencaaan clien HIV yang akses anireroviral. Jadi ada beberapa sumber yang saya pakai, yang perama adalah kunjungan regisrasi pasien di Edelweis dan dari clien yang akses ARV (Responden 9). Pencaaan clien HIV/AIDS akses ARV diperoleh dari berbagai sumber. Sumber perama adalah kunjungan harian dari regisrasi pasien di Klinik Edelweis. Pinu akses layanan ARV ada di Klinik Edelweis. Di Klinik Edelweis harus ercaa semua pasien yang membuuhkan ARV baik perawaan kronis aau profilaksis pasca pajanan. Sumber kedua, menggunakan sumber daa dari informasi langsung, jadi kalau pasien iu sudah mendapakan resep di Klinik Edelweis oleh doker yang sudah diberikan wewenang, peugas pencaaan akan konfirmasi ke depo farmasi. Sumber keiga, dari pasien iu sendiri pada iap kali sesudah kunjungan ke Klinik Edelweis. Pencaaan clien HIV/AIDS akses ARV di RSUP Dr. Sardjio erdiri dari dua regiser. Regiser perama adalah regiser pra-art dan yang kedua adalah regiser ART. Regiser pra-art adalah regiser yang dicaa aau yang dimulai penulisannya begiu seseorang erdiagnosis HIV dan membua perjanjian akan akses anireroviral di RSUP Dr. Sardjio. Begiu clien erdiagnosis HIV posiif, dilakukan pelacakan syara-syara unuk erapi anireroviral, misalnya apakah secara klinis WHO aau jumlah CD4 sudah memenuhi syara unuk dilakukan erapi. Jika clien menyaakan akan akses anireroviral di RSUP Dr. Sardjio baru clien ersebu dimasukkan di dalam regiser pra-art. Jika idak maka idak akan dimasukkan ke dalam regiser. Hal ini erliha dari peikan wawancara beriku. Kalo dia menyaakan akan akses oba di Sardjio kia masukkan dia ke regiser pra-art. Tapi kalau dia menyaakan, saya akan daang aau saya akses ke Jakara aau Semarang idak kia masukkan karena bikin penuh buku saja (Responden 9). Regiser ART dimulai begiu clien secara klinis dan laboraoris sudah memenuhi syara unuk krieria ART. Dari pra-art dilakukan konfirmasi, jika clien akan akses di RSUP Dr. Sardjio maka akan dipindahkan ke regiser ART. Clien masuk regiser ART begiu mendapa resep unuk ART dan ambil oba ART. Regiser ersebu akan dipakai seumur hidup unuk meliha follow up erakhir. Regiser ART harus diisi unuk semua pasien yang memulai ART, pada semua kunjungan follow-up bulanan sejak anggal mulai pengobaan sampai akhir follow-up dengan ART. Pelaporan ART di RSUP Dr. Sardjio unuk clien HIV/AIDS dilakukan seiap bulan. Monioring pelaporan ART dilakukan mulai iga bulan perama, Disan Learning Resouce Cener Magiser KMPK UGM hp://lrc-kmpk.ugm.ac.id 12

13 Andris Purwaningias, Yanri Wijayani Subrono, Mubasysyir Hasanbasri; WPS No. 16 July s enam bulan perama, 12 bulan perama dan seerusnya. Pelaporan ART diidenifikasi dari dua sumber yaiu dari regiser di Klinik Edelweis dan regiser di farmasi, kemudian daa dikumpulkan dan dibua buku banu. Daa yang sudah di buku banu kemudian dimasukkan dalam form laporan bulanan yang sudah dibakukan dari Deparemen Kesehaan. RSUP Dr. Sardjio melakukan pelaporan kasus seiap bulan kepada Dijen Pelayanan medik dengan embusan ke Dijen PPM & PL c.q. Subdi AIDS dan PMS, Kepala Dinas Kesehaan Propinsi, dan Kepala Dinas Kesehaan Kabupaen. Direkur medik dan keperawaan, sebagai penanggung jawab, menandaangani dan mengesahkan pelaporan ersebu. D. Kapasias Sumberdaya Manusia dalam Memberikan Pelayanan HIV/AIDS Sumberdaya manusia merupakan salah sau komponen yang paling pening unuk mendukung dan memberikan pelayanan HIV/AIDS yang berkesinambungan. Pengeahuan dan sikap sumberdaya manusia dalam hal ini adalah peugas kesehaan akan mempengaruhi keefekifan penyediaan pelayanan HIV/AIDS. Berdasarkan hasil peneliian diemukan bahwa kapasias SDM dalam memberikan pelayanan sudah cukup baik dan kerampilan klinik para doker yang memberikan pelayanan HIV/AIDS sudah ada perbaikan dari ahun ke ahun. Tidak ada sandar assesmen (penilaian) yang mengaakan bahwa yang bagus melayani HIV/AIDS iu seperi apa, eapi anggap erhadap HIV/AIDS sudah ada pada sebagian doker yang bekerja di rumahsaki eruama doker dan safnya. Pengefekifan penyediaan pelayanan HIV/AIDS peugas kesehaan di RSUP Dr.Sardjio disosialisasikan pelayanan HIV/AIDS dari ahun Sebelum ahun 2005 sudah ada doker dan perawa yang dilaih unuk pelayanan HIV/AIDS eapi karena pasien belum banyak dan informasi belum seberapa banyak didapa, maka pelayanan idak erlalu berkembang pada waku iu. Tabel 1: Disribusi Sumber Daya Manusia di RSUP Dr. Sardjio yang Memberikan Pelayanan HIV/AIDS Sumber Daya Manusia Volume Doker Spesialis 24 Doker Umum 2 Doker Gigi 1 Konselor 12 Case Manager 2 Farmasi 1 Ahli Gizi 1 Jumlah 43 Disan Learning Resouce Cener Magiser KMPK UGM hp://lrc-kmpk.ugm.ac.id 13

14 Andris Purwaningias, Yanri Wijayani Subrono, Mubasysyir Hasanbasri; WPS No. 16 July s Berdasarkan Tabel 1 diaas dapa diliha bahwa SDM yang memberikan pelayanan HIV/AIDS di RSUP Dr. Sardjio sebanyak 43 orang dan yang mempunyai wewenang unuk memberikan erapi anireroviral ada 4 orang. Tahun 2004 seelah ada Sura Kepuusan Meneri Kesehaan Nomor 781/MENKES/SK/VII/2004 enang Penunjukan Rumahsaki Rujukan bagi ODHA, eksisensi pelayanan HIV/AIDS di RSUP Dr. Sardjio semakin berambah. Peugas kesehaan yang memberikan pelayanan HIV/AIDS di RSUP Dr. Sardjio sudah mempunyai kerampilan klinik dengan mengikui raining yang diselenggarakan oleh Depkes aaupun oleh lembaga yang konsen dengan HIV/AIDS sehingga pelayanan kepada clien HIV/AIDS dapa seopimal mungkin diberikan. Tenaga kesehaan yang erliba dalam pelayanan HIV/AIDS harus mendapakan pelaihan yang lebih spesifik dan secara khusus. Pelayanan HIV/AIDS membuuhkan enaga kesehaan yang berdedikasi dan mempunyai kerampilan yang lebih x. E. Model Kerjasama yang Dilakukan oleh RSUP Dr. Sardjio dengan Lembaga Pendukung HIV/AIDS Lembaga yang berkaian dengan pendukungan pelayanan HIV/AIDS di RSUP Dr. Sardjio yaiu Komie Penanggulangan AIDS di pusa maupun di daerah, GFATM, proyek-proyek yang dilakukan oleh Komisi Penanggulangan AIDS Daerah dan Pemerinah, kerjasama linas sekoral dengan uni-uni pelayanan diluar RSUP Dr. Sardjio, kerjasama dengan lembaga swadaya masyaraka, dan kerjasama dengan elevisi swasa. Lembaga swadaya masyaraka yang bekerjasama dengan RSUP Dr. Sardjio anara lain Rajawali, Yayasan Kembang, Vesa, Vicory Plus, dan PKBI wilayah Yogyakara. RSUP Dr. Sardjio belum pernah membua MOU dengan lembaga pendukungan ODHA dan Dinas Kesehaan Yogyakara. Perjanjian kerjasama aau MOU seharusnya dibua unuk memudahkan pihak rumahsaki dan penyedia jasa lainnya membagi deskripsi pekerjaan aau pembagian uraian ugas yang jelas sehingga pelayanan bagi clien HIV/AIDS yang menyeluruh dan berkesinambungan dapa erwujud. Sraegi pemasaran pelayanan HIV/AIDS di RSUP Dr Sardjio lebih banyak bekerja sama dengan uni-uni klinik dukungan yang ada di luar misalnya dengan klinik Gempia di RS PKU Muhammadiyah, Klinik Philia di RS Behesda, dan Ruang 105 di RS Pani Rapih yang didukung oleh Dinas Kesehaan Propinsi Yogyakara, KPAD Yogyakara, dan GFATM. RSUP Dr. Sardjio membangun sisem kemiraan dengan jejaring rumahsaki lain yang dikoordinasi oleh Dinas Kesehaan dan GFATM. Berdasarkan hasil peneliian dikeahui bahwa model kerja sama yang dilakukan oleh RSUP Dr. Sardjio dengan kelompok dukungan ODHA adalah rumahsaki yang memberikan pelayanan klinik, sedangkan kelompok dukungan aau orang-orang yang masuk dalam lay suppor berugas unuk menganar pasien ke rumahsaki baik unuk volunary Disan Learning Resouce Cener Magiser KMPK UGM hp://lrc-kmpk.ugm.ac.id 14

15 Andris Purwaningias, Yanri Wijayani Subrono, Mubasysyir Hasanbasri; WPS No. 16 July s counselling and esing, prevenion of moher o child ransmission, aau unuk care suppor and reamen. Hal ini sudah sesuai dengan pelayanan HIV/AIDS yang menyeluruh dan berkesinambungan dimana rumahsaki sebagai penyedia pelayanan klinik. F. Pembahasan HIV/AIDS merupakan anangan uama dalam sisem pelayanan kesehaan. Rumahsaki selalu memulai dari pengobaan, eapi unuk menyelenggarakan pelayanan HIV/AIDS yang berkesinambungan dan menyeluruh rumahsaki harus menggabungkan anara prevenive dan curaive. Pencegahan harus dijadikan senjaa uama unuk melawan AIDS xi. RSUP Dr. Sardjio sudah melakukan kerjasama linas sekoral dengan uni-uni pelayanan di luar rumahsaki, kerjasama dengan lembaga swadaya masyaraka, dan kerjasama dengan elevisi swasa unuk melakukan upaya pencegahan. HIV/AIDS juga elah mengubah srukur organisasi di dalam pelayanan kesehaan. Organisasi pelayanan kesehaan sedang mencoba unuk berubah benuk secara cepa, anara eknis dan lingkungan kelembagaan. Tekanan dinaikkan aau diingkakan unuk mendapakan muu dan efisiensi yang lebih besar dalam kaiannya dengan nilai yang menyebabkan organisasi pelayanan kesehaan dapa merubah srukur organisasi menjadi lebih mapan. Bila suau organisasi mampu melakukan inovasi erhadap perubahan-perubahan baik menyangku kebijakan manajemen, srukur, saff, sumber daya manusia, dan program kerja, maka organisasi ersebu sudah menjadi berkualias dan professional xii. RSUP Dr. Sardjio sudah mulai melakukan inovasi erhadap perubahanperubahan menyangku kebijakan manajemen dalam memberikan pelayanan HIV/AIDS dengan mengeluarkan kebijakan enang pengelolaan dan perawaan clien HIV/AIDS yang dieapkan dalam Dokumen No yang dierbikan pada anggal 03 Januari 2004 oleh Direkur Uama RSUP. Dr. Sardjio Yogyakara dan kebijakan enang Kewaspadaan Universal yang eruang dalam Dokumen No unuk melindungi enaga kesehaan dari resiko erpajan infeksi HIV. Tenaga kesehaan yang memberikan pelayanan HIV/AIDS diberikan raining ersendiri agar penyelenggaraan pelayanan dapa berjalan lebih opimal. Fungsi manajerial ada empa yaiu fungsi perencanaan, fungsi pengorganisasian, fungsi akuasi, dan fungsi monioring dan evaluasi. Sebagai organisasi rumahsaki harus melaksanakan fungsi manajerial xiii. Hasil peneliian mendapakan bahwa RSUP Dr. Sardjio sudah menerapkan fungsi-fungsi manajerial unuk mengopimalkan pelayanan HIV/AIDS. Fungsi perencanaan sudah dilakukan eapi belum secara opimal dilakukan. Salah sau perencanaan yang sudah dilakukan adalah perencanaan keersediaan oba anirerovirus, eapi kadang kala masih Disan Learning Resouce Cener Magiser KMPK UGM hp://lrc-kmpk.ugm.ac.id 15

16 Andris Purwaningias, Yanri Wijayani Subrono, Mubasysyir Hasanbasri; WPS No. 16 July s erjadi kekurangan oba dikarenakan idak ada monioring dan evaluasi yang dilakukan oleh paniia HIV/AIDS. Pendelegasian wewenang dan pembagian ugas-ugas pokok sebagi fungsi penggorganisasian sudah dilaksanakan, yaiu dengan membua dafar jaga di Klinik Edelweis, eapi pelaksanaannya belum opimal dikarenakan ugas memberikan pelayanan HIV/AIDS hanya sebagai ugas sampingan saja. Apabila ada clien yang daang maka peugas adminisrasi akan mencari doker jaga. Pelayanan HIV/AIDS di RSUP Dr. Sardjio dapa berjalan lebih opimal bila dilakukan perubahan srukur organisasi dari Klinik Edelweis. Klinik Edelweis harus berdiri sendiri sebagai uni organisasi. Sebagai uni organisasi ersendiri, Klinik Edelweis memerlukan manager sebagai penanggungjawab sehingga fungsi-fungsi manajerial dapa berjalan. Selama ini srukur manajerial belum jelas di Klinik Edelweis. Perubahan srukur organisasi pelayanan kesehaan mempengaruhi penyelenggaraan pelayanan HIV/AIDS di rumahsaki xiv. Kesimpulan Kesimpulan dan Saran Berdasarkan analisis erhadap berbagai daa yang didapakan dalam peneliian ini, maka dapa disimpulkan bahwa respon RSUP Dr. Sardjio dalam penanganan clien HIV/AIDS melipui Hardware, Sofware, Brainware, dan Infoware and Neworking. A. Hardware (sarana dan prasarana) Klinik Edelweis sebagai pinu uama pelayanan HIV/AIDS pada ahun 2005, dan keersediaan anireroviral di RSUP Dr. Sardjio yang cukup unuk memenuhi kebuuhan clien. Bila erjadi kekurangan disebabkan oleh kesalahan pelaporan, keerlambaan pengiriman dan keersediaan oba di pusa juga kurang. Rumahsaki mengharapkan keersediaan oba dari program. B. Sofware (perangka lunak) Jenis pelayanan yang diberikan di RSUP Dr. Sardjio sudah sesuai dengan pedoman nasional enang sandar pelayanan bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Jenis pelayanan melipui VCT (Volunary Counseling and Tesing), CST (Care Suppor and Treamen), PMTCT (Perevenion of Moher o Child HIV Transmission), TB-HIV, infeksi menular seksual, dan pelayanan penunjang yang melipui pelayanan gizi, laboraorium, radiologi, dan pencaaan dan pelaporan. 1. Paniia penanggulangan AIDS RSUP Dr. Sardjio elah membua prosedur eap unuk seiap jenis layanan yang diberikan dan membua alur pelayanan sehingga clien HIV/AIDS mudah unuk mengakses. Disan Learning Resouce Cener Magiser KMPK UGM hp://lrc-kmpk.ugm.ac.id 16

17 Andris Purwaningias, Yanri Wijayani Subrono, Mubasysyir Hasanbasri; WPS No. 16 July s 2. Pencaaan dan pelaporan kasus di RSUP Dr. Sardjio masih belum ada kesesuaian daa, karena belum dirinci anara kasus baru dan lama sehingga jumlah kasus yang dicaa pada rekam medis berbeda dengan jumlah yang ada di Klinik Edelweis dan yang ada di bangsal. C. Brainware (sumber daya manusia) 1. Kapasias sumber daya manusia dan kerampilan klinik para doker di RSUP Dr. Sardjio dalam memberikan pelayanan kepada clien HIV/AIDS sudah ada perbaikan dari ahun ke ahun. Peugas kesehaan mengikui raining yang diselenggarakan oleh Depkes enang penyediaan pelayanan HIV/AIDS secara berkala. 2. RSUP Dr. Sardjio sudah membua kebijakan enang Kewaspadaan Universal yang eruang dalam Dokumen No unuk meminimalisir peugas kesehaan erpajan oleh virus HIV. D. Infoware and Neworking (sisem informasi dan jejaring) 1. RSUP Dr. Sardjio bekerjasama dengan komie penanggulangan AIDS di pusa maupun di daerah, GFATM, proyek-proyek yang dilakukan oleh Komisi Penanggulangan AIDS Daerah dan Pemerinah, kerjasama dengan lembaga swadaya masyaraka, dan kerjasama dengan elevisi swasa unuk menyediakan pelayanan HIV/AIDS yang komprehensif dan berkesinambungan. 2. RSUP Dr. Sardjio berjejaring dengan uni-uni klinik dukungan yang ada diluar misalnya dengan klinik Gempia di RS PKU Muhammadiyah, Klinik Philia di RS Behesda, dan Ruang 105 di RS Pani Rapih. Saran Berdasarkan hasil analisis daa, maka dapa disarankan beberapa hal beriku: A. Hardware (sarana dan prasarana). Diperlukan perbaikan aa ruang di Klinik Edelweis. Ruang pelayanan konseling di klinik Edelweis belum sepenuhnya menjamin konfidensialias dan kenyamanan clien. B. Sofware (perangka lunak) Perbaikan kualias pencaaan dan pelaporan. Diperlukan unuk mendapakan gambaran riil jumlah pasien HIV/AIDS sehingga didapakan kebuuhan perawaan pasien secara langsung pada sarana kesehaan, manajemen dan monioring suplai oba, dan daa yang disimpulkan dan dilaporkan unuk memenuhi kebuuhan manajemen program perawaan HIV/AIDS dan ART. Disan Learning Resouce Cener Magiser KMPK UGM hp://lrc-kmpk.ugm.ac.id 17

18 Andris Purwaningias, Yanri Wijayani Subrono, Mubasysyir Hasanbasri; WPS No. 16 July s C. Brainware (sumber daya manusia) Mengirim peugas kesehaan mengikui pelaihan secara berkala, unuk meningkakan pengeahuan dan kerampilan klinik peugas kesehaan dalam menyediakan pelayanan bagi pasien HIV/AIDS. Klinik Edelweis sebaiknya menjadi sau uni organisasi ersendiri dan ada peugas kesehaan yang diugaskan secara penuh di klinik Edelweis agar clien yang akan melakukan VCT dan pemeriksaan idak menunggu erlalu lama. D. Infoware and Neworking (sisem informasi dan jejaring) Dibua MOU anara rumahsaki dengan sakeholder yang lain. Diperlukan MOU anara rumahsaki dengan sakeholder yang lain agar pembagian job descripion nya lebih jelas sehingga pelayanan HIV/AIDS yang menyeluruh dan berkesinambungan dapa erwujud. Disan Learning Resouce Cener Magiser KMPK UGM hp://lrc-kmpk.ugm.ac.id 18

19 Andris Purwaningias, Yanri Wijayani Subrono, Mubasysyir Hasanbasri; WPS No. 16 July s DAFTAR PUSTAKA 1. Djoerban, Z. (1999) Membidik AIDS Ikhiar Memahami HIV dan ODHA. Yogyakara: Galang Press. 2. Coon, D.J. (1988) The Impac of AIDS on he Medical Care Sysem. Journal American Medical Associaion, 260: Jackson, M & Huner, N.D (1992) The Very Fabric of Healh Care. The Duy of Healh Care Providers o Trea People Infeced Wih HIV. New York: The New Press. 4. Wahyuni, C. dan Purbaningsih, W. (2000) Daa kasus HIV/AIDS Indonesia Under Repored. Kompas, November. 5. Deparemen Kesehaan RI (2004a) Modul Pelaihan Konseling dantes Sukarela HIV. Jakara. 6. Maulessy, P.F. (2007) Gizi pada Perawaan dan Pengobaan ODHA. Naskah di presenasikan dalam Peremuan Nasional HIV/AIDS ke-3, Surabaya. 7. Lolok, Lelyana. (2006) Manajemen Resiko Penularan Penyaki HIV/AIDS di RSUP Dr. Sardjio Yogyakara. Thesis, Universias Gadjah Mada. 8. Depkes RI (2004c) Pedoman Nasional Terapi Anireroviral, Jakara. 9. Hermiyani, S. (2007) Kebijakan Nasional Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Bayi. Naskah di presenasikan dalam Peremuan Nasional HIV/AIDS ke-3. Surabaya. 10. Green, J., Singer, M., Winfeld, N., Schulman, K., Passman, L. (1987) Projecing The Impac of AIDS on Hospial. Journal Healh Affairs. Fall, pp Coon, D.J. (1988) The Impac of AIDS on he Medical Care Sysem. Journal American Medical Associaion, 260: Shorell, S. and Kaluzny, A. (1997) Essenials of Healh Care Managemen. Delmar Publisher. 13. Muninjaya, A.A.G, (2004). Manajemen Kesehaan. Jakara. Penerbi Buku Kedokeran ECG. 14. Whie, K.R (2002) Urban U.S Hospials and he Mission o Provide HIV- Relaed Services: Changes and Correlaes. Journal of Healhcare Managemen, Januari/ February 2002, pp Disan Learning Resouce Cener Magiser KMPK UGM hp://lrc-kmpk.ugm.ac.id 19

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengerian Persediaan (Invenory) Persediaan didefinisikan sebagai barang jadi yang disimpan aau digunakan unuk dijual pada periode mendaang, yang dapa berbenuk bahan baku yang

Lebih terperinci

Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Mercu Buana MODUL PERTEMUAN KE 3. MATA KULIAH : FISIKA DASAR (4 sks)

Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Mercu Buana MODUL PERTEMUAN KE 3. MATA KULIAH : FISIKA DASAR (4 sks) MODUL PERTEMUAN KE 3 MATA KULIAH : (4 sks) MATERI KULIAH: Jarak, Kecepaan dan Percepaan; Gerak Lurus Berauran, Percepaan; Gerak Lurus Berauran, Gerak Lurus Berubah Berauran POKOK BAHASAN: GERAK LURUS 3-1

Lebih terperinci

KINEMATIKA. gerak lurus berubah beraturan(glbb) gerak lurus berubah tidak beraturan

KINEMATIKA. gerak lurus berubah beraturan(glbb) gerak lurus berubah tidak beraturan KINEMATIKA Kinemaika adalah mempelajari mengenai gerak benda anpa memperhiungkan penyebab erjadi gerakan iu. Benda diasumsikan sebagai benda iik yaiu ukuran, benuk, roasi dan gearannya diabaikan eapi massanya

Lebih terperinci

MANAJEMEN LABA RIIL DAN BERBASIS AKRUAL: DAPATKAH AUDITOR YANG BERKUALITAS MENDETEKSINYA?

MANAJEMEN LABA RIIL DAN BERBASIS AKRUAL: DAPATKAH AUDITOR YANG BERKUALITAS MENDETEKSINYA? MANAJEMEN LABA RIIL DAN BERBASIS AKRUAL: DAPATKAH AUDITOR YANG BERKUALITAS MENDETEKSINYA? Dwi Ramono Universias Diponegoro Absrac This sudy examines wheher managemen of public companies in Indonesia engage

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN APLIKASI ANDROID UNTUK MENGHITUNG BIAYA LISTRIK RUMAH TANGGA

RANCANG BANGUN APLIKASI ANDROID UNTUK MENGHITUNG BIAYA LISTRIK RUMAH TANGGA RANCANG BANGUN APLIKASI ANDROID UNTUK MENGHITUNG BIAYA LISTRIK RUMAH TANGGA skripsi disajikan sebagai salah sau syara unuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Program Sudi Pendidikan Teknik Elekro oleh

Lebih terperinci

Analisis Gerak Osilator Harmonik Dengan Gaya pemaksa Bebas Menggunakan Metode Elemen Hingga Dewi Sartika junaid 1,*, Tasrief Surungan 1, Eko Juarlin 1

Analisis Gerak Osilator Harmonik Dengan Gaya pemaksa Bebas Menggunakan Metode Elemen Hingga Dewi Sartika junaid 1,*, Tasrief Surungan 1, Eko Juarlin 1 Analisis Gerak Osilaor Harmonik Dengan Gaya pemaksa Bebas Menggunakan Meode Elemen Hingga Dewi Sarika junaid 1,*, Tasrief Surungan 1, Eko Juarlin 1 1 Jurusan Fisika FMIPA Universias Hasanuddin, Makassar

Lebih terperinci

Jawaban Soal Latihan

Jawaban Soal Latihan an Soal Laihan 1. Terangkanlah ari grafik-grafik di bawah ini. dan ulis persamaan geraknya. an: a. Merupakan grafik kecepaan erhadap waku, kecepaan eap. Persamaan v()=v b. Merupakan grafik jarak erhadap

Lebih terperinci

Peranan Bidan dalam Mendukung Program PMTCT Dra Ropina Tarigan, Am-Keb, MM

Peranan Bidan dalam Mendukung Program PMTCT Dra Ropina Tarigan, Am-Keb, MM Peranan Bidan dalam Mendukung Program PMTCT Dra Ropina Tarigan, Am-Keb, MM Kasus HIV/AIDS di Indonesia & Jakarta Jumlah kumulatif kasus HIV / AIDS di Indonesia Tahun 1987 hingga Maret 2012: 82.870 kasus

Lebih terperinci

Indikator Ketercapaian Kompetensi Merumuskan. Alokas i Waktu 8x45. Tingkat Ranah. Tingkat Ranah. Materi Pembelajaran

Indikator Ketercapaian Kompetensi Merumuskan. Alokas i Waktu 8x45. Tingkat Ranah. Tingkat Ranah. Materi Pembelajaran SILABUS Nama Sekolah : SMA N 78 JAKARTA Maa Pelajaran : MATEMATIKA LANJUTAN Beban Belajar : 2 sks STANDAR KOMPETENSI: 1. Menyusun lingkaran dan garis singgungnya. Dasar 1.1 Menyusun lingkaran yang memenuhi

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NILAI TUKAR RUPIAH. Oleh: Tri Wibowo & Hidayat Amir 1. Abstraksi

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NILAI TUKAR RUPIAH. Oleh: Tri Wibowo & Hidayat Amir 1. Abstraksi FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NILAI TUKAR RUPIAH Oleh: Tri Wibowo & Hidaya Amir 1 Absraksi Salah sau indikaor makro pening dalam penyusunan APBN adalah asumsi nilai ukar rupiah erhadap US$. Asumsi besaran

Lebih terperinci

II. Penggunaan Alat Peraga. segitiga, kemudian guru bertanya Berapakah alasnya? (7) Berapakah tingginya? (2), Bagaimanakah cara mendapatkannya?

II. Penggunaan Alat Peraga. segitiga, kemudian guru bertanya Berapakah alasnya? (7) Berapakah tingginya? (2), Bagaimanakah cara mendapatkannya? rumus luas layang-layang dengan pendekaan luas segiiga 1. Memahami konsep luas segiiga 2. Memahami layang-layang dan unsur-unsurnya (pengerian layanglayang dan diagonal-diagonalnya) Langkah 1 Gb. 11.2

Lebih terperinci

PENGUJIAN PEMBERLAKUAN RUMUS SEGITIGA BOLA DALAM PENENTUAN ARAH KIBLAT SHOLAT

PENGUJIAN PEMBERLAKUAN RUMUS SEGITIGA BOLA DALAM PENENTUAN ARAH KIBLAT SHOLAT PENGUJIAN PEMBERLAKUAN RUMUS SEGITIGA BOLA DALAM PENENTUAN ARAH KIBLAT SHOLAT Galuh Kusuma Wardhani, Wahyu Kurniawan, Naalia Dianing Gulia, Wahyu Hari Krisiyano Progdi Fisika dan Pendidikan Fisika, FSM,

Lebih terperinci

VERIFIKASI PERHITUNGAN PERANGKAT HOOK (KAIT) OVERHEAD TRAVELLING CRANE DENGAN KAPASITAS ANGKAT 25 TON PADA PABRIK ELEMEN BAKAR NUKLIR

VERIFIKASI PERHITUNGAN PERANGKAT HOOK (KAIT) OVERHEAD TRAVELLING CRANE DENGAN KAPASITAS ANGKAT 25 TON PADA PABRIK ELEMEN BAKAR NUKLIR PRPN BATAN, 4 November 03 VERIFIKASI PERHITUNGAN PERANGKAT HOOK (KAIT) OVERHEAD TRAVELLING CRANE DENGAN KAPASITAS ANGKAT 5 TON PADA PABRIK ELEMEN BAKAR NUKLIR Syamsurrijal Ramdja dan Perus Zacharias PRPN

Lebih terperinci

PENCEGAHAN PENULARAN HIV PADA PEREMPUAN USIA REPRODUKSI & PENCEGAHAN KEHAMILAN YANG TIDAK DIRENCANAKAN PADA PEREMPUAN DENGAN HIV

PENCEGAHAN PENULARAN HIV PADA PEREMPUAN USIA REPRODUKSI & PENCEGAHAN KEHAMILAN YANG TIDAK DIRENCANAKAN PADA PEREMPUAN DENGAN HIV PENCEGAHAN PENULARAN HIV PADA PEREMPUAN USIA REPRODUKSI & PENCEGAHAN KEHAMILAN YANG TIDAK DIRENCANAKAN PADA PEREMPUAN DENGAN HIV Oleh: Retno Mardhiati, 1 Nanny Harmani, 1 Tellys Corliana 2 Email : retno_m74@yahoo.co.id

Lebih terperinci

Hubungan Karakteristik Perawat Dengan Tingkat Kepatuhan Perawat Melakukan Cuci Tangan di Rumah Sakit Columbia Asia Medan

Hubungan Karakteristik Perawat Dengan Tingkat Kepatuhan Perawat Melakukan Cuci Tangan di Rumah Sakit Columbia Asia Medan ` Hubungan Karaerisi Perawa Dengan Tinga Kepauhan Perawa Melauan Cuci Tangan di Rumah Sai Columbia Asia Medan Rosia Saragih SKM, MKes 1, Naalina Rumapea 2 1 Dosen Faulas Ilmu Keperawaan Universias Darma

Lebih terperinci

PERAMALAN DENGAN MODEL SVAR PADA DATA INFLASI INDONESIA DANNILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP KURS DOLAR AMERIKA

PERAMALAN DENGAN MODEL SVAR PADA DATA INFLASI INDONESIA DANNILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP KURS DOLAR AMERIKA PERAMALAN DENGAN MODEL SVAR PADA DATA INFLASI INDONESIA DANNILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP KURS DOLAR AMERIKA Daivi S. Wardani, Adi Seiawan, Didi B. Nugroho Program Sudi Maemaika Fakulas Sains dan Maemaika,

Lebih terperinci

KAJIAN PENYANDANG MASALAH KESEJAHTERAAN SOSIAL (PMKS)

KAJIAN PENYANDANG MASALAH KESEJAHTERAAN SOSIAL (PMKS) KAJIAN PENYANDANG MASALAH KESEJAHTERAAN SOSIAL (PMKS) Bappeda Kabupaten Temanggung bekerjasama dengan Pusat Kajian Kebijakan dan Studi Pembangunan (PK2SP) FISIP UNDIP Tahun 2013 RINGKASAN I. Pendahuluan

Lebih terperinci

PERATURAN DIREKTUR RSUD TUGUREJO NO NOMOR DOKUMEN NAMA DOKUMEN REV. 00

PERATURAN DIREKTUR RSUD TUGUREJO NO NOMOR DOKUMEN NAMA DOKUMEN REV. 00 DAFTAR INDUK DOKUMEN RSUD TUGUREJO PROVINSI JAWA TENGAH TU & HUMAS PERATURAN DIREKTUR RSUD TUGUREJO NO NOMOR DOKUMEN NAMA DOKUMEN REV. 00 1 No. 1 Tahun 2013 Kebijakan Pelayanan Rumah Sakit RSUD Tugurejo

Lebih terperinci

HIV, Kehamilan dan Kesehatan Perempuan spiritia

HIV, Kehamilan dan Kesehatan Perempuan spiritia SERI BUKU KECIL HIV, Kehamilan dan Kesehatan Perempuan spiritia HIV, Kehamilan dan Kesehatan Perempuan HIV, Kehamilan dan Kesehatan Perempuan Buku ini adalah terjemahan dan penyesuaian dari HIV, Pregnancy

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENANGGULANGAN HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS- ACQUIRED IMMUNO DEFICIENCY SYNDROME

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENANGGULANGAN HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS- ACQUIRED IMMUNO DEFICIENCY SYNDROME SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENANGGULANGAN HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS- ACQUIRED IMMUNO DEFICIENCY SYNDROME DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEBUMEN,

Lebih terperinci

TEMU KEMBALI INFORMASI BERBASIS KLUSTER UNTUK SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI TEKS BAHASA INDONESIA

TEMU KEMBALI INFORMASI BERBASIS KLUSTER UNTUK SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI TEKS BAHASA INDONESIA TEMU KEMBALI INFORMASI BERBASIS KLUSTER UNTUK SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI TEKS BAHASA INDONESIA Amir Hamzah Jurusan Teknik Informaika, Fakulas Teknologi Indusri Insiu Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakara

Lebih terperinci

KONSTRUKSI DAN PENOMORAN BENANG

KONSTRUKSI DAN PENOMORAN BENANG e Geomer : Yarn and wine wine srengh Shape & area of ne locked area e weigh Load disribuion Soal KOSRUKSI DA PEOMORA EAG SIGLE YAR S S - wis PLY Z PLY Z - wis WIE (S-wis) 3 ex X 3 Z x 3 S DIREC UMERIG

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI NOMOR 20 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI NOMOR PER-12/MEN/VI/2007

Lebih terperinci

Daftar Kontributor. 2 Pencegahan Penularan HIV/AIDS dari Ibu Ke Bayi. Prevention Mother to Child HIV/AIDS Transmission (PMTCT) i

Daftar Kontributor. 2 Pencegahan Penularan HIV/AIDS dari Ibu Ke Bayi. Prevention Mother to Child HIV/AIDS Transmission (PMTCT) i Panduan Bagi Petugas Kesehatan Daftar Kontributor 1. Prof. DR. Dr. Sudarto Ronoatmojo, MPH 2. Dr. Pandu Riono, PhD, MPH 3. Dr. Muh. Ilhamy Setyahadi, Sp.OG 4. Dr. Yudianto Budi Saroyo, Sp.OG 5. Dr. Dina

Lebih terperinci

MODEL OSILASI HARMONIK LOGARITMIK PADA GERAK BEBAN DENGAN MASSA YANG BERUBAH SECARA LINIER TERHADAP WAKTU

MODEL OSILASI HARMONIK LOGARITMIK PADA GERAK BEBAN DENGAN MASSA YANG BERUBAH SECARA LINIER TERHADAP WAKTU 1 MODEL OSILASI HARMONIK LOGARITMIK PADA GERAK BEBAN DENGAN MASSA YANG BERUBAH SECARA LINIER TERHADAP WAKTU MODEL OF HARMONIC LOGARITHMIC MOTION OSCILLATION WITH THE MASSCHANGING LINEARLY WITH TIME Kunlesiowai

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 97 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 97 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 97 TAHUN 2014 TENTANG PELAYANAN KESEHATAN MASA SEBELUM HAMIL, MASA HAMIL, PERSALINAN, DAN MASA SESUDAH MELAHIRKAN, PENYELENGGARAAN PELAYANAN KONTRASEPSI,

Lebih terperinci

KEMITRAAN BIDAN DAN DUKUN BAYI DI KAB TRENGGALEK

KEMITRAAN BIDAN DAN DUKUN BAYI DI KAB TRENGGALEK KEMITRAAN BIDAN DAN DUKUN BAYI DI KAB TRENGGALEK Kemitraan Bidan dan Dukun Bayi di Kabupaten Trenggalek merupakan suatu bentuk kerja sama antara bidan dan dukun dengan tujuan meningkatkan akses ibu dan

Lebih terperinci

R E A C H. Program Pengembangan Kebijakan dan Operasional Riset. Kupang, 6 Sept 2013

R E A C H. Program Pengembangan Kebijakan dan Operasional Riset. Kupang, 6 Sept 2013 R E A C H Program Pengembangan Kebijakan dan Operasional Riset Kupang, 6 Sept 2013 Latar Belakang Peningkatan kasus HIV tidak dibarengi dengan peningkatan akses pengobatan ARV Mobilitas masyarakat ke kabupaten

Lebih terperinci

MANAJEMEN KASUS HIV/AIDS. Sebagai Pelayanan Terpadu Bagi Orang dengan HIV/AIDS (Odha)

MANAJEMEN KASUS HIV/AIDS. Sebagai Pelayanan Terpadu Bagi Orang dengan HIV/AIDS (Odha) MANAJEMEN KASUS HIV/AIDS Sebagai Pelayanan Terpadu Bagi Orang dengan HIV/AIDS (Odha) Tujuan Peserta mampu : 1. Menjelaskan dan menerapkan prinsip-prinsip dasar manajemen kasus HIV/AIDS 2. Memahami fungsi/kegiatan

Lebih terperinci

Peringatan Hari AIDS Sedunia 2013: Cegah HIV dan AIDS. Lindungi Pekerja, Keluarga dan Bangsa

Peringatan Hari AIDS Sedunia 2013: Cegah HIV dan AIDS. Lindungi Pekerja, Keluarga dan Bangsa Peringatan Hari AIDS Sedunia 2013: Cegah HIV dan AIDS. Lindungi Pekerja, Keluarga dan Bangsa Menkokesra selaku Ketua KPA Nasional menunjuk IBCA sebagai Sektor Utama Pelaksana Peringatan HAS 2013 Tahun

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa

Lebih terperinci

Pengobatan untuk AIDS: Ingin Mulai?

Pengobatan untuk AIDS: Ingin Mulai? SERI BUKU KECIL Pengobatan untuk AIDS: Ingin Mulai? Oleh Chris W. Green Jl. Johar Baru Utara V No. 17, Johar Baru, Jakarta 10560 Telp: (021) 422 5163, 422 5168, Fax: (021) 4287 1866, E-mail: info@spiritia.or.id,

Lebih terperinci

BUPATI GARUT SAMBUTAN BUPATI GARUT

BUPATI GARUT SAMBUTAN BUPATI GARUT Ip*x w BUPATI GARUT SAMBUTAN BUPATI GARUT DISAM PAI KAN DALAM SOSIALISASI DAMPAK BURUK PENYALAHGUNAANAPZA DAN INFORMASI DASAR HIV/AIDS BAGI PELAJAR DAN MAHASISWA TANGGAL : 2 SEPTEMBER 2009 BISM I LLAAH

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 15 Tahun : 2010 Seri : E PERATURAN BUPATI GUNUNGKIDUL NOMOR 23 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

Lebih terperinci

616. 979.2 Ind p PEDOMAN NASIONAL PENCEGAHAN PENULARAN HIV DARI IBU KE ANAK (PPIA) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 2012 EDISI KEDUA

616. 979.2 Ind p PEDOMAN NASIONAL PENCEGAHAN PENULARAN HIV DARI IBU KE ANAK (PPIA) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 2012 EDISI KEDUA 616. 979.2 Ind p PEDOMAN NASIONAL PENCEGAHAN PENULARAN HIV DARI IBU KE ANAK (PPIA) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 2012 EDISI KEDUA 616.979.2 Ind p Katalog Dalam Terbitan. Kementerian Kesehatan

Lebih terperinci

SISTEM USAHA TANI TERINTEGRASI TANAMAN-TERNAK SEBAGAI RESPONS PETANI TERHADAP FAKTOR RISIKO. Tjeppy D. Soedjana

SISTEM USAHA TANI TERINTEGRASI TANAMAN-TERNAK SEBAGAI RESPONS PETANI TERHADAP FAKTOR RISIKO. Tjeppy D. Soedjana SISTEM USAHA TANI TERINTEGRASI TANAMAN-TERNAK SEBAGAI RESPONS PETANI TERHADAP FAKTOR RISIKO Tjeppy D. Soedjana Pua Peneliian dan Pengembangan Peernakan, Jalan Raya Pajajaran Kav. E. 59, Bogor 16151 ABSTRAK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan (kuratif) dan pemulihan

BAB I PENDAHULUAN. upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan (kuratif) dan pemulihan 7 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Rumah sakit merupakan suatu institusi di mana segenap lapisan masyarakat bisa datang untuk memperoleh upaya penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif). Upaya

Lebih terperinci

PENERAPAN PELAYANAN FARMASI SATU PINTU DI RUMAH SAKIT

PENERAPAN PELAYANAN FARMASI SATU PINTU DI RUMAH SAKIT PENERAPAN PELAYANAN FARMASI SATU PINTU DI RUMAH SAKIT Tugas utama IFRS : pengelolaan mulai dari perencanaan, pengadaan, penyimpanan, penyiapan, peracikan, pelayanan langsung kepada penderita sampai dengan

Lebih terperinci

MANAJEMEN PELAYANAN MEDIK DI RUMAH SAKIT. Henni Djuhaeni

MANAJEMEN PELAYANAN MEDIK DI RUMAH SAKIT. Henni Djuhaeni 1 MANAJEMEN PELAYANAN MEDIK DI RUMAH SAKIT Henni Djuhaeni I. Pendahuluan Pelayanan medik khususnya medik spesialistik merupakan salah satu Ciri dari Rumah Sakit yang membedakan antara Rumah Sakit dengan

Lebih terperinci

Apa itu HIV/AIDS? Apa itu HIV dan jenis jenis apa saja yang. Bagaimana HIV menular?

Apa itu HIV/AIDS? Apa itu HIV dan jenis jenis apa saja yang. Bagaimana HIV menular? Apa itu HIV/AIDS? Apa itu HIV dan jenis jenis apa saja yang HIV berarti virus yang dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia. Ini adalah retrovirus, yang berarti virus yang mengunakan sel tubuhnya sendiri

Lebih terperinci

PEDOMAN PELATIHAN JARAK JAUH (LJJ) KONSELOR HIV

PEDOMAN PELATIHAN JARAK JAUH (LJJ) KONSELOR HIV PEDOMAN PELATIHAN JARAK JAUH (LJJ) KONSELOR HIV KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Prevalensi infeksi HIV di Indonesia dilaporkan terus meningkat dengan jumlah

Lebih terperinci

- 1 - PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN KONSELING DAN TES HIV

- 1 - PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN KONSELING DAN TES HIV - 1 - PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN KONSELING DAN TES HIV DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

KAJIAN PELAKSANAAN REKAM MEDIS GIGI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS KOTA PONTIANAK

KAJIAN PELAKSANAAN REKAM MEDIS GIGI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS KOTA PONTIANAK KAJIAN PELAKSANAAN REKAM MEDIS GIGI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS KOTA PONTIANAK Sri Rezki Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Pontianak ABSTRAK Latar Belakang: Rekam medis merupakan berkas yang berisi catatan

Lebih terperinci

RENCANA INDUK PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT ( RIPPM ) STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG TAHUN 2012-2016

RENCANA INDUK PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT ( RIPPM ) STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG TAHUN 2012-2016 - 0 - RENCANA INDUK PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT ( RIPPM ) STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG TAHUN 2012-2016 Disiapkan, Disetujui, Disahkan, Ketua, Sarwono, SKM Eri Purwati, M.Si Giyatmo, S.Kep., Ns.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Rumah sakit merupakan salah satu unit usaha yang memberikan pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu pelayanan kesehatan yang diberikan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. wanita. Pada proses ini terjadi serangkaian perubahan besar yang terjadi

BAB I PENDAHULUAN. wanita. Pada proses ini terjadi serangkaian perubahan besar yang terjadi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Persalinan merupakan suatu proses fisiologis yang dialami oleh wanita. Pada proses ini terjadi serangkaian perubahan besar yang terjadi pada ibu untuk dapat melahirkan

Lebih terperinci

PENCEGAHAN HIV/AIDS DARI IBU KE BAYI:

PENCEGAHAN HIV/AIDS DARI IBU KE BAYI: PENCEGAHAN HIV/AIDS DARI IBU KE BAYI: Pelayanan Berkesinambungan yang Terpecah Johanna Debora Imelda, et al 1 Pendahuluan Artikel ini adalah ringkasan dari kajian cepat (rapid assessment) mengenai program

Lebih terperinci

BAB 28 PENINGKATAN AKSES MASYARAKAT TERHADAP KESEHATAN

BAB 28 PENINGKATAN AKSES MASYARAKAT TERHADAP KESEHATAN BAB 28 PENINGKATAN AKSES MASYARAKAT TERHADAP KESEHATAN YANG BERKUALITAS Pembangunan kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak dasar rakyat, yaitu hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR GRAFIK...

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR GRAFIK... DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR GRAFIK... I II VII VIII X BAB I PENDAHULUAN BAB II GAMBARAN UMUM KOTA BANDUNG A. GEOGRAFI... 4 B. KEPENDUDUKAN / DEMOGRAFI...

Lebih terperinci

PROFIL Kelompok Penggagas Kasih Plus Jaringan Orang Dengan HIV dan AIDS Kediri - Jawa Timur

PROFIL Kelompok Penggagas Kasih Plus Jaringan Orang Dengan HIV dan AIDS Kediri - Jawa Timur PROFIL Kelompok Penggagas Kasih Plus Jaringan Orang Dengan HIV dan AIDS Kediri - Jawa Timur Kasih Plus... Merupakan sebuah Jaringan Orang Dengan HIV dan AIDS yang menjadi Penggagas untuk Kelompok Dukungan

Lebih terperinci

JENIS METODE KB PASCA PERSALINAN VASEKTOMI

JENIS METODE KB PASCA PERSALINAN VASEKTOMI JENIS METODE KB PASCA PERSALINAN MAL KONDOM AKDR TUBEKTOMI VASEKTOMI PIL INJEKSI IMPLAN JENIS METODE KB PASCA PERSALINAN NON HORMONAL 1. Metode Amenore Laktasi (MAL) 2. Kondom 3. Alat Kontrasepsi Dalam

Lebih terperinci

BUPATI MALANG BUPATI MALANG,

BUPATI MALANG BUPATI MALANG, BUPATI MALANG PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 24 TAHUN 2012 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENYELENGGARAAN PELAYANAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH LAWANG BUPATI MALANG, Menimbang : a. bahwa dengan ditetapkannya

Lebih terperinci

- 1 - GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG

- 1 - GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG - 1 - GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN SISTEM RUJUKAN PELAYANAN KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN STANDAR PELAYANAN KESEHATAN DASAR DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN RI

KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN STANDAR PELAYANAN KESEHATAN DASAR DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN RI KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN STANDAR PELAYANAN KESEHATAN DASAR DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN RI NOMOR 9/SP/SETWAPRES/D-5/TUPEG/11/2011 BAGIAN KESATU PENDAHULUAN

Lebih terperinci

PERAWATAN PALIATIF PASIEN HIV / AIDS

PERAWATAN PALIATIF PASIEN HIV / AIDS PERAWATAN PALIATIF PASIEN HIV / AIDS Agung Nugroho Divisi Peny. Tropik & Infeksi Bag. Peny. Dalam FK-UNSRAT Manado PENDAHULUAN Jumlah pasien HIV/AIDS di Sulut semakin meningkat. Sebagian besar pasien diberobat

Lebih terperinci

Jumlah alat yang dimiliki di UGD dalam rangka penyelamatan jiwa

Jumlah alat yang dimiliki di UGD dalam rangka penyelamatan jiwa LAMPIRAN : URAIAN INDIKATOR. a. Pelayanan gawat Darurat 1. Kemampuan Menangani Life Saving. Kemampuan menangani life saving Dimensi Mutu Keselamatan Operasional Pengumpulan Data Periode Analisa Denominator

Lebih terperinci

Menggunakan alat-alat tradisional yang tidak steril seperti alat tumpul. Makan nanas dan minum sprite secara berlebihan

Menggunakan alat-alat tradisional yang tidak steril seperti alat tumpul. Makan nanas dan minum sprite secara berlebihan Agar terhindar dari berbagai persoalan karena aborsi, maka remaja harus mampu menahan diri untuk tidak melakukan hubungan seks. Untuk itu diperlukan kemampuan berpikir kritis mengenai segala kemungkinan

Lebih terperinci

< < < < ry14 < < < +i- -9 -g. 1. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha

< < < < ry14 < < < +i- -9 -g. 1. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha lha ry rq 9 g rrq hq rr! L, +, : F L ah{ _ L.{ b.{ PRATURAN DRKS PRUSAHAAN UMUM PRUM) JAMNAN KRDTT NDONSA NOMOR : 2 /PerDrp{ll2ml TNTANG STANDARD OPRATNG PROCD,R (SOP) PMAMNAN KRDT UMUM BRBASS RJSKO PRUSAHAAN

Lebih terperinci

- 1 - DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MOJOKERTO,

- 1 - DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MOJOKERTO, - 1 - PERATURAN BUPATI MOJOKERTO NOMOR 32 TAHUN 2014 TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH RA. BASOENI KABUPATEN MOJOKERTO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

Revisi Pedoman Pelaporan dan Pencatatan. Pemutakhiran pedoman pencatatan Monev

Revisi Pedoman Pelaporan dan Pencatatan. Pemutakhiran pedoman pencatatan Monev www.aidsindonesia.or.id MARET 2014 L ayanan komprehensif Berkesinambungan (LKB) merupakan strategi penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia yang tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan No 21 tahun

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. yang dapat diceritakan ke orang lain. Memori melahirkan, peristiwa dan orang-orang

BAB 1 PENDAHULUAN. yang dapat diceritakan ke orang lain. Memori melahirkan, peristiwa dan orang-orang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Persalinan merupakan salah satu peristiwa penting dan senantiasa diingat dalam kehidupan wanita. Setiap wanita memiliki pengalaman melahirkan tersendiri yang dapat

Lebih terperinci

DAFTAR ISI JATIM DALAM ANGKA TERKINI TAHUN 2012-2013 TRIWULAN I

DAFTAR ISI JATIM DALAM ANGKA TERKINI TAHUN 2012-2013 TRIWULAN I DAFTAR ISI JATIM DALAM ANGKA TERKINI TAHUN 2012-2013 TRIWULAN I 1 DERAJAT KESEHATAN (AHH, AKB DAN AKI) 2 STATUS GIZI KURANG DAN GIZI BURUK PADA BALITA 3 JUMLAH RUMAH SAKIT BERDASARKAN KEPEMILIKAN DAN PELAYANAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Republik Indonesia Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 Pasal 1 ayat 3 adalah

BAB I PENDAHULUAN. Republik Indonesia Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 Pasal 1 ayat 3 adalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sarana pelayanan kesehatan menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 Pasal 1 ayat 3 adalah tempat penyelenggaraan upaya pelayanan

Lebih terperinci

Efikasi terhadap penyebab kematian ibu

Efikasi terhadap penyebab kematian ibu 203 Efikasi terhadap penyebab kematian ibu Intervensi Efikasi (%) Perdarahan (ante partum) PONED 90 PONEK 95 Perdarahan (post partum) Manajemen aktif kala tiga 27 PONED 65 PONEK 95 Eklamsi/pre- eklamsi

Lebih terperinci

LILIK SUKESI DIVISI GUNJAL HIPERTENSI DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM R.S. HASAN SADIKIN / FK UNPAD BANDUNG

LILIK SUKESI DIVISI GUNJAL HIPERTENSI DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM R.S. HASAN SADIKIN / FK UNPAD BANDUNG LILIK SUKESI DIVISI GUNJAL HIPERTENSI DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM R.S. HASAN SADIKIN / FK UNPAD BANDUNG OUTLINE PENDAHULUAN TENAGA KESEHATAN MENURUT UNDANG-UNDANG TUGAS & WEWENANG PERAWAT PENDELEGASIAN

Lebih terperinci

PETUNJUK TEKNIS BANTUAN SOSIAL (BANSOS) PROGRAM PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT DIREKTORAT BINA GIZI MASYARAKAT

PETUNJUK TEKNIS BANTUAN SOSIAL (BANSOS) PROGRAM PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT DIREKTORAT BINA GIZI MASYARAKAT PETUNJUK TEKNIS BANTUAN SOSIAL (BANSOS) PROGRAM PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT DIREKTORAT BINA GIZI MASYARAKAT DIREKTORAT JENDERAL BINA KESEHATAN MASYARAKAT DEPARTEMEN KESEHATAN R I TAHUN 2008 BAB I PENDAHULUAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Rumah sakit sebagai institusi penyedia jasa pelayanan kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Rumah sakit sebagai institusi penyedia jasa pelayanan kesehatan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumah sakit merupakan sarana penyedia layanan kesehatan untuk masyarakat. Rumah sakit sebagai institusi penyedia jasa pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.25, 2008 DEPARTEMEN PERTAHANAN. RUMAH SAKIT dr Suyoto. Organisasi. Tata Kerja.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.25, 2008 DEPARTEMEN PERTAHANAN. RUMAH SAKIT dr Suyoto. Organisasi. Tata Kerja. BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.25, 2008 DEPARTEMEN PERTAHANAN. RUMAH SAKIT dr Suyoto. Organisasi. Tata Kerja. PERATURAN MENTERI PERTAHANAN NOMOR: 12 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH

Lebih terperinci

STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN INDONESIA. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN INDONESIA. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN INDONESIA -Tahun 2005- Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Pengurus Pusat PPNI, Sekretariat: Jl.Mandala Raya No.15 Patra Kuningan Jakarta Tlp: 62-21-8315069 Fax: 62-21-8315070

Lebih terperinci

ANALISIS BEDA Fx F.. S u S g u i g y i an a t n o t da d n a Ag A u g s u Su S s u wor o o

ANALISIS BEDA Fx F.. S u S g u i g y i an a t n o t da d n a Ag A u g s u Su S s u wor o o ANALII BEDA Fx. ugiyao da Agus usworo Kosep Peeliia bermaksud meguji keadaa (sesuau) yag erdapa dalam suau kelompok dega kelompok lai Meguji apakah erdapa perbedaa yg Meguji apakah erdapa perbedaa yg sigifika

Lebih terperinci

ANALISIS BEDA. Konsep. Uji t (t-test) Teknik Uji Beda. Agus Susworo Dwi Marhaendro

ANALISIS BEDA. Konsep. Uji t (t-test) Teknik Uji Beda. Agus Susworo Dwi Marhaendro ANALII BEA Agus usworo wi Marhaedro Kosep Peeliia bermaksud meguji keadaa (sesuau) yag erdapa dalam suau kelompok dega kelompok lai Meguji apakah erdapa perbedaa yg sigifika di aara kelompok-kelompok Tekik

Lebih terperinci

Program Rujuk Balik Bagi Peserta JKN

Program Rujuk Balik Bagi Peserta JKN panduan praktis Program Rujuk Balik Bagi Peserta JKN 07 02 panduan praktis Program Rujuk Balik Kata Pengantar Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)

Lebih terperinci

PENGGUNAAN DATA DALAM MENDUKUNG PELAYANAN KESEHATAN. dr. TOGAR SIALLAGAN, MM KEPALA GRUP PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

PENGGUNAAN DATA DALAM MENDUKUNG PELAYANAN KESEHATAN. dr. TOGAR SIALLAGAN, MM KEPALA GRUP PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PENGGUNAAN DATA DALAM MENDUKUNG PELAYANAN KESEHATAN dr. TOGAR SIALLAGAN, MM KEPALA GRUP PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN Latar Belakang PT Askes menjadi BPJS Kesehatan: UU No. 24 BPJS tahun 2011, pasal 12 tentang

Lebih terperinci

Home page:http://www.depnakertrans.go.id KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PEMBINAAN PENGAWASAN KETENAGAKERJAAN NOMOR : KEP.

Home page:http://www.depnakertrans.go.id KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PEMBINAAN PENGAWASAN KETENAGAKERJAAN NOMOR : KEP. KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI RI DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PENGAWASAN KETENAGAKERJAAN Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav.51 - Jakarta Selatan 12950, Kotak Pos 4872 Telp. (021) 5255733, Ext.604-257,

Lebih terperinci

LAPORAN DATA INDIKATOR MUTU PELAYANAN RSUD KABUPATEN PACITAN TAHUN 2015

LAPORAN DATA INDIKATOR MUTU PELAYANAN RSUD KABUPATEN PACITAN TAHUN 2015 A. INDIKATOR KLINIK LAPORAN DATA INDIKATOR MUTU PELAYANAN RSUD KABUPATEN PACITAN TAHUN 25 NO JUDUL INDIKATOR FORMULA DATA. Pengkajian awal Jumlah tindakan pengkajian pasien baru < 24 jam awal yang dilakukan

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2014 TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2014 TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2014 TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI I. UMUM Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang

Lebih terperinci

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA STRATEGIS BISNIS DAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SULTAN IMANUDDIN PANGKALAN BUN DENGAN

Lebih terperinci

JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS JEMBER

JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS JEMBER STATISTIK CUKUP Oleh: Ramayai Rizka M (11810101003), Dey Ardiao (1181010101), Ikfi Ulyawai (1181010103), Falviaa Yulia Dewi (1181010106), Ricki Dio Rosada (11810101034), Nurma Yuia D (11810101035), Wula

Lebih terperinci

PENENTUAN UMUR SIMPAN PADA PRODUK PANGAN. Heny Herawati

PENENTUAN UMUR SIMPAN PADA PRODUK PANGAN. Heny Herawati PENENTUAN UMUR SIMPAN PADA PRODUK PANGAN Heny Herawai Balai Pengkajian Teknologi Peranian Jawa Tengah, Buki Tegalepek, Koak Po 101 Ungaran 50501 ABSTRAK Pengolahan pangan pada induri komerial anara lain

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING... ii HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI... HALAMAN PERNYATAAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI...

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING... ii HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI... HALAMAN PERNYATAAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING... ii HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI...... HALAMAN PERNYATAAN... KATA PENGANTAR..... iii iv vii DAFTAR ISI... ix DAFTAR GAMBAR xi DAFTAR TABEL. xii

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA. NOMOR: KEP. 68/MEN/IV/2004

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA. NOMOR: KEP. 68/MEN/IV/2004 KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA. NOMOR: KEP. 68/MEN/IV/2004 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN HIV/ AIDS DI TEMPAT KERJA Tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS

Lebih terperinci

Hidup Dengan HIV/AIDS

Hidup Dengan HIV/AIDS SERI BUKU KECIL Hidup Dengan HIV/AIDS Jl. Johar Baru Utara V No. 17, Johar Baru, Jakarta 10560 Telp: (021) 422 5163, 422 5168 Fax: (021) 4287 1866 E-mail: info@spiritia.or.id, Situs web: http://spiritia.or.id

Lebih terperinci

OVERVIEW KLB KERACUNAN PANGAN

OVERVIEW KLB KERACUNAN PANGAN OVERVIEW KLB KERACUNAN PANGAN Kejadian Luar Biasa (KLB) Keracunan Pangan adalah suatu kejadian dimana terdapat dua orang atau lebih yang menderita sakit dengan gejala yang sama atau hampir sama setelah

Lebih terperinci

PONED sebagai Strategi untuk Persalinan yang Aman

PONED sebagai Strategi untuk Persalinan yang Aman PONED sebagai Strategi untuk Persalinan yang Aman Oleh: Dewiyana* Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) adalah pelayanan untuk menanggulangi kasus kegawatdaruratan obstetri dan neonatal yang

Lebih terperinci

Alat Bantu Pengambilan Keputusan Ber-KB

Alat Bantu Pengambilan Keputusan Ber-KB ABV 5.1 Alat Bantu Pengambilan Keputusan Ber-KB Alat Bantu Pengambilan Keputusan berkb dan Pedoman bagi Klien dan Bidan Didukung oleh ABV 5.2 TUJUAN PEMBELAJARAN Setelah mempelajari modul ini, peserta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Namun seiring berkembangnya zaman, rumah sakit pada era globalisasi

BAB I PENDAHULUAN. Namun seiring berkembangnya zaman, rumah sakit pada era globalisasi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumah sakit merupakan sebuah institusi perawatan profesional yang pelayanannya disediakan oleh dokter, perawat, dan tenaga ahli kesehatan lainnya. Namun seiring berkembangnya

Lebih terperinci

Abstrak. Ikan nila dapat berkembans biak dcnsan rnudah secara alarni cli kolarn. tantbak. alau pun

Abstrak. Ikan nila dapat berkembans biak dcnsan rnudah secara alarni cli kolarn. tantbak. alau pun M;{alah llmiah sriwijaya, valume XIX, No.I2, iuli 2011 rssn 0r26_468ii Majal, i?i,r;i ls.lrrabec PBNGARUH IIORMON TESTOSTBRON TERIHDAP MASKULIMSASI BENIH IKAN NILA (oreochromis niroicus) DENGAN METODE

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Rumah Sakit adalah suatu institusi pelayanan kesehatan yang kompleks, karena

BAB I PENDAHULUAN. Rumah Sakit adalah suatu institusi pelayanan kesehatan yang kompleks, karena BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Rumah Sakit adalah suatu institusi pelayanan kesehatan yang kompleks, karena selain memiliki fungsi sebagai pelayanan, rumah sakit juga menjalankan fungsi pendidikan,

Lebih terperinci

NILAI DAN STANDAR MERCK

NILAI DAN STANDAR MERCK Be well NILAI DAN SANDAR MERCK DASAR KEBERHASILAN KIA ata ertib Edisi III BANUAN LAIN Sumber Daya untuk Karyawan Supervisor atau Manajer Mulailah dengan berkonsultasi kepada orang yang paling memahami

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1

BAB I PENDAHULUAN I.1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Kehamilan dan persalinan pada primigravida dan atau wanita dengan umur 35 tahun atau lebih, diberi prioritas bersalin di rumah sakit dan diperlakukan pelayanan sama

Lebih terperinci

Dengan key informan dari pihak gereja (Ibu Ninik Sindoro)

Dengan key informan dari pihak gereja (Ibu Ninik Sindoro) 1 Daftar pertanyaan wawancara Dengan key informan dari pihak gereja (Ibu Ninik Sindoro) selaku koordinator kegiatan OperasiKasih 1. Sudah berapa lama bekerja menjadi koordinator kegiatan OperasiKasih?

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.749, 2013 KEMENTERIAN KESEHATAN. Wajib Lapor. Pecandu Narkotika. Tata Cara. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN

Lebih terperinci

panduan praktis Sistem Rujukan Berjenjang

panduan praktis Sistem Rujukan Berjenjang panduan praktis Sistem Rujukan Berjenjang 04 02 panduan praktis Sistem Rujukan Berjenjang Kata Pengantar Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan

Lebih terperinci

NILAI AKUMULASI ANUITAS AKHIR DENGAN ASUMSI DISTRIBUSI UNIFORM UNTUK m KALI PEMBAYARAN

NILAI AKUMULASI ANUITAS AKHIR DENGAN ASUMSI DISTRIBUSI UNIFORM UNTUK m KALI PEMBAYARAN NILAI AKUMULASI ANUITAS AKHIR DENGAN ASUMSI DISTRIBUSI UNIFORM UNTUK m KALI PEMBAYARAN Nomi Kelari *, Hasriai 2, Musraii 2 Mahasiswa Program S Maemaika 2 Dose Jurusa Maemaika Fakulas Maemaika da Ilmu Pegeahua

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia. Hal ini terbukti dengan masih ditemukannya kasus gizi kurang dan gizi

I. PENDAHULUAN. Indonesia. Hal ini terbukti dengan masih ditemukannya kasus gizi kurang dan gizi I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan gizi kurang dan gizi buruk masih menjadi masalah utama di Indonesia. Hal ini terbukti dengan masih ditemukannya kasus gizi kurang dan gizi buruk pada anak

Lebih terperinci

RUANG MENYUSUI/FASILITAS LAKTASI DI MAL RAMAYANA ALUN-ALUN MALANG KERJA SAMA DINAS KESEHATAN KOTA MALANG DENGAN PT RAMAYANA LESTARI SENTOSA

RUANG MENYUSUI/FASILITAS LAKTASI DI MAL RAMAYANA ALUN-ALUN MALANG KERJA SAMA DINAS KESEHATAN KOTA MALANG DENGAN PT RAMAYANA LESTARI SENTOSA RUANG MENYUSUI/FASILITAS LAKTASI DI MAL RAMAYANA ALUN-ALUN MALANG KERJA SAMA DINAS KESEHATAN KOTA MALANG DENGAN PT RAMAYANA LESTARI SENTOSA Salah satu visi Kota Malang adalah terwujudnya Kota Malang yang

Lebih terperinci

JAMINAN MUTU LAYANAN KESEHATAN

JAMINAN MUTU LAYANAN KESEHATAN Mutu Asuhan JAMINAN MUTU LAYANAN KESEHATAN Menurut Jacobalis(1989) Dua pendekatan: 1. Pendekatan kesehatan masyarakat(public healt) 2. Pendekatan Institusional(individu) Pendekatan Kesehatan Masyarakat

Lebih terperinci

MODUL PUSKESMAS 1. SISTEM INFORMASI PUSKESMAS (SIMPUS)

MODUL PUSKESMAS 1. SISTEM INFORMASI PUSKESMAS (SIMPUS) Modul Puskesmas 1. SIMPUS MODUL PUSKESMAS 1. SISTEM INFORMASI PUSKESMAS (SIMPUS) I. DESKRIPSI SINGKAT Sistem informasi merupakan bagian penting dalam suatu organisasi, termasuk puskesmas. Sistem infomasi

Lebih terperinci

Jurnal Kesehatan Kartika 27

Jurnal Kesehatan Kartika 27 HUBUNGAN MOTIVASI KERJA BIDAN DALAM PELAYANAN ANTENATAL DENGAN KEPATUHAN PENDOKUMENTASIAN KARTU IBU HAMIL DI PUSKESMAS UPTD KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2008 Oleh : Yulia Sari dan Rusnadiah STIKES A. Yani Cimahi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang khusus agar ibu dan janin dalam keadaan sehat. Karena itu kehamilan yang

BAB I PENDAHULUAN. yang khusus agar ibu dan janin dalam keadaan sehat. Karena itu kehamilan yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kehamilan merupakan proses reproduksi yang normal, tetapi perlu perawatan diri yang khusus agar ibu dan janin dalam keadaan sehat. Karena itu kehamilan yang normal

Lebih terperinci