BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH 3.1 Penetapan Kriteria Optimasi Gambar 3.1 Bagan Penetapan Kriteria Optimasi Sumber: Peneliti Determinasi Kinerja Operasional BLU Transjaarta Busway Di tahap ini, peneliti aan mencari tahu inerja operasional yang paling menjadi endala dalam proses pengoperasiannya. Dengan menggunaan metode AHP (Analytical Hirarchy Process), dimana pertama-tama aan diberian uesioner 38
39 epada Manajer Operasional, yang nantinya dari hasil uesioner tersebut aan diolah dengan menggunaan software Expert Choice 2000. Analisis dan Determinasi Dampa Kendala Kinerja Operasional BLU Transjaarta Busway Pada tahap ini, aan dibahas lebih dalam hal-hal yang menjadi penyebab inerja operasional tersebut belum memenuhi standar pelayanan publi yang duharapan. Setelah itu aan dianalisis dampa-dampa yang bisa diaibatan apabila hal ini dibiaran terus-menerus. Pengumpulan Data Setelah semua fator penyebab masalah dietahui, maa tahap selanjutnya adalah mengumpulan data-data yang diperluan untu diolah menjadi suatu solusi dari masalah-masalah yang timbul. Data-data yang diumpulan tersebut diambil pada rentang watu tertentu yang telah ditetapan peneliti. Tahap pengumpulan data ini yaitu pengumpulan data secara langsung. Pengumpulan data secara langsung meliputi wawancara dengan manager operasional dan petugas layanan, dan observasi terhadap jumlah edatangan customer. Melalui pengumpulan data secara langsung diperoleh watu pelayanan dan data jumlah edatangan customer. Melalui pengumpulan data secara langsung ini diperoleh watu pelayanan dan data jumlah edatangan untu emudian diolah menjadi rata-rata tingat pelayanan (service rate) dan rata-rata tingat edatangan (arrival rate).
40 Pengolahan Data Awal Tahap beriutnya yang dilauan setelah semua data yang diperluan berhasil diumpulan adalah tahap pengolahan data awal. Tahap ini disebut tahap pengolahan data awal arena pada tahap ini sudah mulai dilauan perhitunganperhitungan yang diperluan agar data tersebut dapat diolah lagi pada tahap selanjutnya. Pengolahan data awal ini sangat penting dilauan untu menjamin hasil penelitian yang aurat dan dapat dipercaya. Langah-langah yang diambil dalam tahap pengolahan data awal ini adalah penghitungan distribusi laju edatangan () dan distribusi laju pelayanan (μ). Laju edatangan ditetapan berdasaran penelitian atas setiap edatangan di setiap halte-halte Transjaarta Busway. Sedangan laju edatangan ditetapan berdasaran 3 watu edatangan bus Transjaarta. Pengolahan Data Ahir Jia semua persyaratan dalam tiap pengolahan data awal telah dipenuhi, maa dapat dilauan pengolahan data tahap selanjutnya. Pengolahan data yang diamsudan disini adalah mengolah data sedemiian rupa dengan menggunaan teni-teni dan formula tertentu sehingga data mentah yang diumpulan dapat berubah menjadi informasi yang berguna dalam pemecahan masalah. Langah-langah yang diambil dalam tahap pengolahan data ini adalah: o Menentuan jenis model antrian yang sesuai dengan hasil pengujian data edatangan dan pelayanan. Kemudian melauan penghitungan evaluasi arateristi operasional dari sistem antrian yang ada. Penghitungan
41 arateristi operasional sistem antrian ini meliputi Po, Pw, Ls, Lq, Ws, dan Wq. Pengendalian Kinerja Operasional Pada tahap ini, setelah melihat permasalahan yang dapat terjadi dalam inerja operasional, maa perusahaan perlu menetapan ebijaan baru untu tetap mempertahanan omitmen yang sudah ditetapan dari awal beroperasinya Transjaarta. Diharapan dengan pengendalian ini, inerja operasional berlangsung semain bai dan dapat mengurangi permasalahan yang terjadi pada proses pengoperasiannya. 3.2 Pengembangan Model Optimasi Pengembangan model optimasi dengan manajemen operasional terutama diduung dengan metode Analytical Hierarchy Process. Beriut ini aan dijelasan penerapannya: Analytical Hierarchy Process (AHP) Analytical Hierarchy Process merupaan metode analisis eputusan dengan riteria majemu yang digunaan untu menurunan sala rasio dari perbandingan berpasangan dari riteria dan alternatif, bai yang disrit maupun sampai pada ontinyu, yang tersusun dalam hirari multilevel. Perbandingan ini bisa diambil dari hasil penguuran atual atau menggunaan sala dasar yang menunjuan epentingan/euatan relatif berdasaran preferensi partisipan. Dalam penelitian ini, AHP digunaan untu mendeterminasian inerja operasional yang paling merupaan permasalahan penting yang dihadapi Perusahaan Transjaarta Busway. Untu itu aan diberian uesioner yang berisi perbandingan 6 (enam) inerja operasional. Enam inerja operasional ditetapan berdasaran standar pelayanan publi yang diharapan dari sistem
42 busway. Beriut adalah gambaran uesioner yang nantinya aan diberian epada Manajer Operasional Perusahaan Transjaarta Busway untu membandingan dan memberi bobot tiap inerja operasional secara berpasangan. Keterangan pengisian : SKALA KETERANGAN 1 Kedua elemen sama pentingnya 3 Elemen yang satu sediit lebih penting etimbang lainnya 5 Elemen yang satu sangat penting etimbanga elemen lainnya 7 Satu elemen jelas lebih penting dari elemen lainnya 9 Satu elemen mutla lebih penting etimbang elemen lainnya 2,4,6,8 Nilai-nilai antara dua pertimbangan berdeatan i 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 j Berarti i sediit lebih penting dari j i = (3) j i 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 j Berarti j sediit lebih penting dari i i = (1/3) j Gambar 3.2 Gambaran uesioner AHP Sumber : http://heru.wordpress.com/2006/09/21/analytic-hierarchy-process-ahp/ Kemudian jawaban dari uesioner tersebut aan diolah menggunaan software Expert Choice 2000. Dan aan langsung ditemuan inerja operasional yang paling menjadi permasalahan yang dihadapi oleh Perusahaan Transjaarta Busway.
43 Beriut adalah gambaran penggunaan software Expert Choice 2000. Gambar 3.3 Gambaran Software Expert Choice 2000 Sumber : Expert Choice 2000 Waiting Line (Sistem Antrian) Antrian merupaan atifitas yang tida lepas dari ehidupan manusia sehari hari. Sua atau tida sua, manusia tetap harus melauan atifitas antrian tersebut. Menurut Taha (1997, p176), fenomena menunggu atau mengantri merupaan hasil langsung dari eacaan dalam operasional pelayanan fasilitas. Secara umum, edatangan pelanggan e dalam suatu sistem dan watu pelayanan untu pelanggan tersebut tida dapat diatur dan dietahui watunya secara tepat, namun sebalinya, fasilitas operasional dapat diatur sehingga dapat mengurangi antrian.
44 Dalam penelitian ini, penghitungan waiting line digunaan untu menghitung sistem antrian pada halte Bus Transjaarta yang merupaan masalah paling omples yang dihadapi oleh BLU Transjaarta Busway. Asumsi dan Rumus Rumus Dalam sripsi ini permasalahan antrian didasaran pada asumsi beriut ; 1. Satu pelayanan dan dua tahap. 2. Jumlah edatangan per unit watu digambaran oleh distribusi Poisson, dengan = rata rata ecepatan edatangan. 3. Watu pelayanan esponensial dengan μ = rata rata ecepatan pelayanan. 4. Disiplin antrian adalah First Come Firs Served (aturan antrian pertama datang, pertama dilayani) seluruh edatangan dalam barisan hingga dilayani. 5. Dimunginan panjang barisan yang ta terhingga. 6. Populasi yang dilayani tida terbatas. 7. Rata-rata edatangan lebih ecil dari rata rata watu pelayanan. 8. Rata-rata tingat edatangan lebih ecil dari tingat pelayanan semua channel (= jumlah channel dialian rata-rata tingat pelayanan per channel). Dari asumsi tersebut dapat diperoleh hasil secara statisti sebagai beriut : Probabilitas terdapat 0 orang dalam sistem Po = 1 n= 0 1 n! μ n 1 1 +! μ,.μ = dimana = jumlah saluran Probabilitas jia sedang sibu
45 1 Pw =! μ Po Jumlah pelanggan rata-rata dalam sistem μ μ Ls = Po + 2 ( 1)!( ) μ Jumlah orang rata-rata yang menunggu dalam antrian Lq = Ls μ Watu rata-rata yang dihabisan pelanggan dalam antrian atau sedang dilayani (dalam sistem) μ( μ) Ws = ( 1)!( ) 2 1 Po + = μ Ls Watu rata-rata yang dihabisan oleh seorang pelanggan untu menunggu dalam antrian Lq Wq =