KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO"

Transkripsi

1 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO Triwulan III 2014 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI GORONTALO

2 Publikasi ini dan publikasi Bank Indonesia yang lain dapat diakses secara online pada : Salinan publikasi ini dapat diperoleh dengan menghubungi : Unit Asesmen Ekonomi dan Keuangan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo Jl. H. Nani Wartabone No. 35 Gorontalo 96115, Indonesia Telepon : Faksimili :

3 Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga bank sentral yang kredibel dan terbaik di regional melalui penguatan nilainilai strategis yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang rendah dan nilai tukar yang stabil. Misi Bank Indonesia : 1. Mencapai stabilitas nilai rupiah dan menjaga efektivitas transmisi kebijakan moneter untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. 2. Mendorong sistem keuangan nasional bekerja secara efektif dan efisien serta mampu bertahan terhadap gejolak internal dan eksternal untuk mendukung alokasi sumber pendanaan/pembiayaan dapat berkontribusi pada pertumbuhan dan stabilitas perekonomian nasional. 3. Mewujudkan sistem pembayaran yang aman, efisien, dan lancar yang berkontribusi terhadap perekonomian, stabilitas moneter dan stabilitas sistem keuangan dengan memperhatikan aspek perluasan akses dan kepentingan nasional. 4. Meningkatkan dan memelihara organisasi dan SDM Bank Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai strategis dan berbasis kinerja, serta melaksanakan tata kelola (governance) yang berkualitas dalam rangka melaksanakan tugas yang diamanatkan UU. Nilai-nilai Strategis : Merupakan nilai-nilai yang menjadi dasar Bank Indonesia, manajemen dan pegawai untuk bertindak atau berperilaku, yang terdiri atas Trust and Intergrity Professionalism Excellence - Public Interest - Coordination and Teamwork.

4 Halaman ini sengaja dikosongkan

5 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah-nya sehingga penyusunan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Gorontalo dapat diselesaikan dengan baik. Kajian ini di disusun dan disajikan setiap triwulan meliputi aspek pertumbuhan ekonomi, keuangan pemerintah, inflasi, sistem keuangan dan pengembangan akses keuangan, sistem pembayaran dan pengelolaan uang, ketenagakerjaan dan kesejahteraan masyarakat, serta prospek ekonomi ke depan. Melalui kajian, ini, peranan strategis Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo diharapkan dapat tercapai yaitu sebagai economic intelligent and research unit yang diharapkan mampu memberikan informasi ekonomi dan keuangan daerah yang akurat, menyeluruh, dan terkini sebagai bahan masukan stakeholders di daerah dan di pusat dalam pengambilan kebijakan. Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada semua pihak yang telah berkontribusi baik berupa pemikiran maupun penyediaan data atau informasi, baik secara langsung maupun melaui suvei dan liaison. Saran dan masukan dari berbagai pihak sangat kami harapkan demi kualitas kajian dan peranan yang lebih baik ke depan. Akhir kata, kiranya kajian ini dapat memberikan manfaat yang optimal bagi, terutama bagi pengembangan perekonomian Provinsi Gorontalo. Gorontalo, 13 November 2014 Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo Suryono Deputi Direktur KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014 v

6 Halaman ini sengaja dikosongkan vi KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

7 DAFTAR ISI Kata Pengantar... v Daftar Isi... vii Daftar Tabel... ix Daftar Grafik... xii RINGKASAN EKSEKUTIF... xiii BAB 1 Pertumbuhan Ekonomi Daerah Sisi Permintaan Konsumsi Investasi Ekspor Impor Sisi Penawaran Sektor Pertanian Sektor Pengangkutan dan Komunikasi Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran Sektor Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan Sektor Industri Pengolahan Sektor Lainnya Boks 1.A. Festival Karawo ; Melestarikan Budaya Menumbuhkan Perekonomian Boks 1.B: Potensi Ekonomi Kota Gorontalo BAB 2 Keuangan Pemerintah Alokasi APBN di Provinsi Gorontalo Realisasi Belanja APBN di Provinsi Gorontalo Postur APBD Provinsi Gorontalo Realisasi Pendapatan Daerah Realisasi Belanja Daerah BAB 3 Inflasi Daerah Perkembangan Inflasi Daerah Koordinasi Pengendalian Inflasi Boks 2. Dunia Usaha Di Gorontalo Siap Menghadapi Penyesuaian Harga Bbm Bersubsidi KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014 vii

8 BAB 4 Sistem Keuangan dan Pengembangan Akses Keuangan Fungsi Intermediasi Perbankan Penghimpunan Dana Pihak Ketiga Penyaluran Kredit Perbankan Kredit Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Risiko Kredit BAB 5 Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Perkembangan Transaksi Pembayaran Tunai Aliran Uang Kartal Perkembangan Uang Palsu Yang Ditemukan Sistem Pembayaran Non-Tunai Kegiatan Kliring Real Time Gross Settlement (RTGS) BAB 6 Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Ketenagakerjaan Kemiskinan Rasio Gini Indeks Pembangunan Manusia Kesejahteraan Petani BAB 7 Prospek Perekonomian Prospek Pertumbuhan Ekonomi Prospek Inflasi LAMPIRAN DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN viii KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

9 DAFTAR GRAFIK Grafik 1.1 Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Gorontalo... 2 Grafik 1.2 Perkembangan Survei Konsumen Bank Indonesia... 4 Grafik 1.3 Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Triwulan II Grafik 1.4 Perkembangan Tabungan dan Deposito Perbankan... 5 Grafik 1.5 Perkembangan Kredit Konsumsi Perbankan... 5 Grafik 1.6 Perkembangan Belanja Modal Pemerintah Melalui APBD... 8 Grafik 1.7 Perkembangan Volume Penjualan Semen... 8 Grafik 1.8 Perkembangan Kredit Konstruksi Perbankan... 8 Grafik 1.9 Perkembangan Kredit Investasi Perbankan... 8 Grafik 1.10 Perkembangan Nilai Ekspor Gorontalo... 9 Grafik 1.11 Perkembangan Muat Barang Pelabuhan Gorontalo... 9 Grafik 1.12 Perkembangan Nilai Impor Gorontalo Grafik 1.13 Perkembangan Bongkar Barang Pelabuhan Gorontalo Grafik 1.14 Perkembangan Neraca Perdagangan Luar Negeri Gorontalo Grafik 1.15 Perkembangan Struktur Perekonomian (PDRB Nominal) Provinsi Gorontalo Grafik 1.16 Pangsa Perekonomian (PDRB Riil) Provinsi Gorontalo Triwulan II Grafik 1.17 Perkembangan Luas Panen Jagung Berdasarkan Daerahnya Grafik 1.18 Perkembangan Luas Panen Padi Berdasarkan Daerahnya Grafik 1.19 Perkembangan Luas Tanam Panen dan Luas Tanam Jagung dan Padi Grafik 1.20 Perkembangan Luas Tanam Jagung Berdasarkan Daerahnya Grafik 1.21 Perkembangan Luas Tanam padi Berdasarkan Daerahnya Grafik 1.22 Perkembangan Jumlah Penumpang Kapal Laut dan Ferry Grafik 1.23 Perkembangan Konsumsi Premium dan Solar Grafik 1.24 Perkembangan Frekuensi Penerbangan Pesawat Grafik 1.25 Perkembangan Jumlah Penumpang Pesawat Grafik 1.26 Perkembangan Survei Kegiatan Dunia Usaha Sektor PHR Grafik 1.27 Perkembangan Kredit Sektor Perdagangan Perbankan Grafik 1.28 Perkembangan Tingkat Penghunian Hotel Grafik 1.29 Perkembangan Listrik Kelompok Bisnis Grafik 1.30 Perkembangan Pendapatan dan Beban Bunga Perbankan Grafik 1.31 Perkembangan Net Interest Margin (NIM) Perbankan Grafik 1.32 Perkembangan Subsektor Industri Mikro-Kecil Grafik 1.33 Perkembangan Industri Mikro-Kecil dan Industri Besar-Sedang Grafik 1.34 Perkembangan Konsumsi Listrik Industri Grafik 1.35 Perkembangan Kredit Perbankan Sektor Industri Grafik 1.36 Perkembangan Daya Listrik Tersambung Grafik 1.37 Perkembangan Konsumsi Listrik Grafik 1.38 Perkembangan Kredit Sektor Jasa-jasa Perbankan Grafik 1.39 Perkembangan Belanja Non Modal APBD Provinsi Gorontalo KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014 ix

10 Grafik 2.1 Pangsa Pagu APBN di Provinsi Gorontalo 2014 Berdasarkan Jenis Belanja Grafik 2.2 Pangsa Pagu APBN di Gorontalo 2014 Berdasarkan Satker Pemerintahan Grafik 2.3 Alokasi APBN di Provinsi Gorontalo 2014 Berdasarkan Jenis dan Satker Pemerintahan Grafik 2.4 Pangsa Realisasi APBN di Provinsi Gorontalo Triwulan II Grafik 2.5 Perbandingan Realisasi APBN di Provinsi Gorontalo Triwulan II 2013 dan Triwulan II Grafik 2.6 Perkembangan APBD Provinsi Gorontalo Grafik 2.7 Pangsa Pagu APBD Perubahan Provinsi Gorontalo Grafik 3.1 Inflasi Nasional dan Gorontalo Grafik 3.2 Peta Inflasi Nasional Grafik 3.3 Peta Inflasi Sulawesi Grafik 3.4 Ekspektasi Inflasi SKDU Grafik 3.5 Nilai Tukar Rupiah Grafik 4.1 Perkembangan Aset Perbankan Grafik 4.2 Perkembangan Loan to Deposit Ratio (LDR) Grafik 4.3 Perkembangan DPK Perbankan Gorontalo Grafik 4.4 Share Komponen DPK Perbankan Gorontalo Grafik 4.5 Perkembangan Kredit Jenis Penggunaan Grafik 4.6 Share Kredit Penggunaan Perbankan Gorontalo Grafik 4.7 Kredit Rumah Tangga Menurut Penggunaannya Grafik 4.8 Pertumbuhan Kredit Rumah Tangga Grafik 4.9 Penyaluran Kredit Perbankan Menurut Penggunaan Grafik 4.10 Kredit Produktif Berdasarkan Sektor Ekonomi Dengan Share Terbesar Grafik 4.11 Kredit Produktif Tiga Sektor Terbesar Grafik 4.12 Pertumbuhan Kredit Sektor Terbesar Grafik 4.13 Jumlah & Pertumbuhan Kredit UMKM Grafik 4.14 Perkembangan Share Kredit UMKM Grafik 4.15 Kredit UMKM menurut Kelompok Usaha Grafik 4.16 Perkembangan Kredit Usaha Rakyat Grafik 4.17 Rasio Kredit Bermasalah (NPLs) Berdasarkan Jenis Penggunaan Grafik 4.18 Rasio NPLs Konsumsi Menurut Peruntukannya Grafik 4.19 Rasio NPLs Berdasarkan Sektor Utama Grafik 4.20 Rasio NPLs Kredit Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Grafik 5.1 Perkembangan Net Flow Secara Bulanan Grafik 5.2 Net Inflow/Outflow Gorontalo Grafik 5.3 Perputaran Kliring di Gorontalo Grafik 5.4 Persentase Rata-rata Penolakan Grafik 5.5 Perkembangan Total Nominal Transaksi RTGS di Gorontalo Grafik 5.6 Perkembangan Total Volume Transaksi RTGS di Gorontalo x KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

11 Grafik 6.1 Perkembangan Ketenagakerjaan dan Angkatan Kerja Provinsi Gorontalo Grafik 6.2 Pangsa Ketenagakerjaan Provinsi Gorontalo bulan Februari Grafik 6.3 Perkembangan Penyerapan Tenaga Kerja Sisi Sektoral Provinsi Gorontalo Grafik 6.4 Perkembangan Ketenagakerjaan di Sektor Formal-Informal Grafik 6.5 Pangsa Tenaga Kerja di Provinsi Gorontalo Berdasarkan Lapangan Usaha Grafik 6.6 Perkembangan Ketenagakerjaan Menurut Jenjang Pendidikan Grafik 6.7 Pangsa Tenaga Kerja Berdasarkan Jenjang Pendidikan Grafik 6.8 Perkembangan Penduduk Miskin Provinsi Gorontalo Grafik 6.9 Perkembangan Garis Kemiskinan Provinsi Gorontalo Grafik 6.10 Perkembangan Gini Rasio Nasional dan Wilayah Sulawesi Grafik 6.11 Indeks Pembangunan Manusia Wilayah Sulawesi Grafik 6.12 Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Gorontalo Grafik 6.13 Perkembangan Nilai Tukar Petani Provinsi Gorontalo Grafik 6.14 Perkembangan NTP Provinsi Gorontalo per Subsektor Grafik 7.1 Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Gorontalo Grafik 7.2 Indeks Keyakinan Konsumen dan Ekspektasi Konsumen Grafik 7.3 Proyeksi Inflasi Gorontalo KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014 xi

12 DAFTAR TABEL Tabel 1.1 Pertumbuhan Ekonomi Sisi Permintaan... 2 Tabel 1.2 Satuan Kerja Pemerintah di Provinsi Gorontalo dengan Proyek Strategis APBN Tahun Tabel 1.3 Perkembangan Pembangunan Infrastruktur Melalui APBD dan APBN Provinsi Gorontalo... 6 Tabel 1.4 Pertumbuhan Ekonomi Sisi Penawaran Tabel 1.5 Angka Ramalan (ARAM) I Produksi Jagung di Provinsi Gorontalo Tahun Tabel 1.6 Angka Ramalan (ARAM) I Produksi Padi di Provinsi Gorontalo Tahun Tabel 2.1 Realisasi Pendapatan Daerah Provinsi Gorontalo Triwulan II 2013 dan Triwulan II Tabel 2.2 Pangsa Pendapatan Daerah Provinsi Gorontalo Triwulan II 2013 dan Triwulan II Tabel 2.3 Realisasi Belanja Daerah Provinsi Gorontalo Triwulan II Tabel 2.4 Pangsa Belanja Daerah Provinsi Gorontalo Triwulan II 2013 dan Triwulan II Tabel 2.5 Stimulus Fiskal APBD terhadap Sektor Rill Tabel 3.1 Inflasi Tahunan Menurut Kelompok Barang dan Jasa (mtm) Tabel 3.2 Inflasi Bulanan Menurut Kelompok Barang dan Jasa (yoy) Tabel 3.3 Andil Inflasi Kelompok Barang dan Jasa Tabel 3.4 Perbandingan Inflasi Kota di Sulampua Tabel 3.5 Inflasi Tahun Kalender Menurut Kelompok Barang dan Jasa (y.t.d) Tabel 3.6 Perkembangan Harga Beberapa Komoditas Hasil SPH Tabel 3.7 Komoditas Penyumbang Inflasi dan Deflasi Gorontalo Tabel 3.8 Perhitungan Tarif Tenaga Listrik Tabel 3.9 Daftar TPID di Provinsi Gorontalo Tabel 5.1 Perputaran Kliring dan Cek/BG Kosong di Gorontalo Tabel 5.2 Alasan Penolakan pada Cek/BG dalam SKN BI Tabel 5.3 Perkembangan Transaksi Melalui RTGS di Gorontalo Tabel 6.1 Nilai Tukar Petani 10 Provinsi di Kawasan Indonesia Timur Triwulan II xii KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

13 Tabel 7.1 Proyeksi Inflasi Gorontalo Triwulan II KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014 xiii

14 Halaman ini sengaja dikosongkan xiv KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

15 RINGKASAN EKSEKUTIF PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH RINGKASAN EKSEKUTIF Pertumbuhan perekonomian Gorontalo menunjukan penguatan dibandingkan triwulan sebelumnya Percepatan pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh pengeluaran konsumsi pemerintah, investasi, dan perdagangan luar negeri. Perekonomian Gorontalo pada triwulan III 2014 tumbuh 7,77% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 7,35% (yoy). Realisasi tersebut berada pada rentang proyeksi Bank Indonesia yang berada pada kisaran 7,01 8,01% (yoy). Namun, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, perekonomian Gorontalo triwulan III 2014 tumbuh lebih rendah daripada triwulan III 2013 yang tumbuh sebesar 7,90% (yoy). Di sisi permintaan, percepatan pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh pengeluaran konsumsi pemerintah, investasi, dan perdagangan luar negeri. Di sisi permintaan, perlambatan pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh konsumsi swasta nirlaba yang melambat. Sedangkan konsumsi rumah tangga stabil cenderung melemah. Dari sisi penawaran, sektor pertanian, sektor jasa-jasa dan sektor Perdagangan-Hotel Restoran mengalami perlambatan pertumbuhan dibandingkan triwulan sebelumnya. Penyerapan belanja pemerintah, baik melalui dana APBN maupun APBD pada triwulan III 2014 masih belum optimal KEUANGAN PEMERINTAH Realisasi penggunaan APBN di Provinsi Gorontalo masih relatif rendah yaitu sebesar 53,82% dari pagu Daftar Isian Penggunaan Anggaran (DIPA) Sementara itu, penerimaan dan pengeluaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Gorontalo pada triwulan III 2014 mengalami perlambatan dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya. KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014 xv

16 RINGKASAN EKSEKUTIF INFLASI DAERAH Laju inflasi Gorontalo pada triwulan III 2014 relatif terkendali, yaitu tercatat sebesar 3,59% (yoy) lebih rendah dari inflasi nasional dan perkiraan sebelumnya Laju inflasi Gorontalo pada triwulan III 2014 relatif terkendali, yaitu tercatat sebesar 3,59% (yoy) lebih rendah dari inflasi nasional yang tercatat sebesar 4,53% (yoy). Sesuai pola historisnya, inflasi setelah bulan Ramadhan dan Hari Besar Keagamaan cenderung melemah sebagai dampak berlakunya faktor seasonal. Realisasi inflasi pada triwulan III 2014 tersebut berada sedikit dibawah proyeksi sebelumnya yang berkisar antara 3,76%-4,76% (yoy). Dari sisi permintaan, peningkatan harga pada beberapa komoditas seperti tomat sayur, cabai rawit, bawang merah menjadi faktor-faktor penyebab inflasi di triwulan III Dari sisi penawaran, kelompok administered price memberikan tekanan pada inflasi triwulan laporan seiring dengan kenaikan harga rokok di tingkat penjualan eceran serta kenaikan tarif dasar listrik. SISTEM KEUANGAN DAN PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN Penghimpunan DPK tercatat mengalami perlambatan, hal serupa juga terjadi pada penyaluran kredit yang mengalami perlambatan Pada triwulan III 2014, kinerja perbankan di Provinsi Gorontalo menunjukkan perkembangan yang melambat sebagaimana terlihat pada beberapa indikator. Jumlah Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun perbankan Gorontalo sebesar Rp.3,88 triliun atau tumbuh sebesar 12,81% (y.o.y), lebih lambat dari pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 15,08% (y.o.y), dipengaruhi antara lain oleh melambatnya pertumbuhan jumlah Giro dari 38,61% menjadi 13,07% (y.o.y). Sementara itu jumlah kredit yang disalurkan sebesar Rp.7,47 triliun, tumbuh sebesar 13,49% (y.o.y) melambat dibanding triwulan sebelumnya sebesar 14,82% (y.o.y). Rasio penyaluran kredit terhadap DPK atau Loan to Deposit Ratio (LDR) pada triwulan III 2014 mencapai 192,65%. Sementara itu rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) relatif baik yaitu 3,71%, sedangkan khusus UMKM NPLs tercatat sebesar 9,05%. xvi KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

17 RINGKASAN EKSEKUTIF SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG Transaksi sistem pembayaran menunjukkan net inflow. Aktivitas transaksi melalui kliring dan RTGS tercatat mengalami penurunan Jumlah uang masuk (inflow) pada triwulan III 2014 sebesar Rp.987,94 milyar sedangkan uang keluar (outflow) sebesar Rp.729,75 milyar. Hal ini membuat Provinsi Gorontalo pada triwulan III 2014 mengalami net inflow sebesar Rp.258,19 milyar. Sementara itu, tidak ditemukan adanya uang palsu pada kas titipan di Provinsi Gorontalo pada triwulan III Aktivitas transaksi kliring tercatat sebesar Rp467,83 milyar dan transaksi melalui RTGS tercatat sebesar Rp2,00 triliun. KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN Tingkat pengangguran terbuka mengalami peningkatan, namun persentase penduduk miskin Provinsi Gorontalo mengalami penurunan Di pertengahan tahun 2014, kondisi ketenagakerjaan Provinsi Gorontalo mengalami penurunan. Hal ini terlihat dari peningkatan jumlah pengangguran terhadap angkatan kerja dari sebesar 4,15% jiwa pada bulan Agustus 2013 menjadi sebesar 4,18% jiwa pada bulan Agustus 2014 atau meningkat sebesar 5,2% (yoy). Kondisi yang membaik ditunjukkan oleh penurunan persentase penduduk miskin, dimana pada bulan Maret 2014 tercatat sebesar 17,44% atau sedikit lebih rendah dibandingkan bulan Maret 2013 yang sebesar 17,51%. Kesejahteraan petani juga cenderung melemah meskipun relatif kecil, yang terindikasi dari pelemahan Nilai Tukar Petani (NTP) dari 101,98 pada triwulan II 2014 menjadi 101,79 pada triwulan III Sementara Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada tahun 2013 menunjukan perbaikan dibandingkan tahun 2012, dari 71,28 menjadi 71,77. Sementara itu, Rasio Gini di tahun 2013 relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya yaitu sebesar 0,44%, namun masih lebih tinggi dibandingkan angka Rasio Gini nasional yang sebesar 0,41%. KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014 xvii

18 RINGKASAN EKSEKUTIF PROSPEK PEREKONOMIAN Perekonomian Gorontalo triwulan IV 2014 diperkirakan akan meningkat pada kisaran 7,81%-8,81% (y.o.y) Tingkat inflasi Gorontalo pada triwulan IV 2014 diperkirakan menurun pada kisaran 4,15%- 5,15% (yoy) Pertumbuhan ekonomi Gorontalo pada triwulan IV 2014 diperkirakan berada pada kisaran 7,81%-8,81% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 7,77% (yoy). Terjadinya efek musiman seperti Hari Raya Idul Adha, Hari Raya Natal, menjelang tahun baru, serta even tahunan Provinsi antara lain Festival Karawo 2014 diperkirakan memberikan dampak positif terhadap konsumsi rumah tangga yang akan mendorong peningkatan pertumbuhan perekonomian pada triwulan IV Selain itu, diperkirakan masih terdapat faktor peningkatan dari sisi konsumsi pemerintah seiring dengan usaha pemenuhan target realisasi anggaran menjelang berakhirnya masa tahun anggaran. Sedangkan inflasi Gorontalo pada triwulan IV 2014 diperkirakan berada pada kisaran 4,15%-5,15% (yoy), naik bila dibandingkan triwulan sebelumnya yang berada pada kisaran 3,76% - 4,76% (yoy). Munculnya faktor seasonal seperti Hari Raya Idul Adha, Hari Raya Natal dan menjelang tahun baru diperkirakan dapat meningkatkan ekspektasi inflasi di Gorontalo. xviii KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

19

20 Halaman ini sengaja dikosongkan xviii KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

21 TABEL INDIKATOR EKONOMI PROVINSI GORONTALO Indikator Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Ekonomi Makro Regional Produk Domestik Regional Bruto (%, yoy) Berdasarkan sektor - Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan, Hotel dan Restoran Transportasi dan Komunikasi Keuangan, Persewaan & Jasa Usaha Jasa-jasa Berdasarkan Permintaan - Konsumsi Rumah Tangga Konsumsi Pemerintah PMTB Ekspor (35.32) (28.53) (22.78) (26.91) Impor Ekspor - Nilai Ekspor Non Migas (US$ Juta) Impor - Nilai Impor Non Migas (US$ Juta) Laju Inflasi Tahunan (%, yoy) Perbankan Dana Pihak Ketiga (Rp Triliun) Giro Tabungan Deposito Kredit (Rp Triliun) Modal Kerja Konsumsi Investasi Kredit UMKM (Rp Triliun) Modal Kerja Investasi Loan to Deposit Ratio (%) NPL Gross (%) Sistem Pembayaran Transaksi RTGS (Rp Triliun) - Rata-Rata Harian Nominal Transaksi Rata-Rata Harian Volume Transaksi 1,208 1,573 1,584 1,730 1,366 1,728 1,722 1,911 1,405 1,600 1,530 Transaksi Kliring (Rp Triliun) - Rata-Rata Harian Nominal Transaksi Rata-Rata Harian Volume Transaksi 5,891 5,762 5,936 6,064 5,707 6,260 6,503 5,192 5,309 5,774 6,212 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014 xix

22 Halaman ini sengaja dikosongkan xx KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

23 BAB 1 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH BAB 1 : PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH Perekonomian Gorontalo pada triwulan III 2014 tumbuh 7,77% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 7,35% (yoy). Realisasi tersebut berada pada rentang proyeksi Bank Indonesia yang berada pada kisaran 7,01 8,01% (yoy). Namun, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, perekonomian Gorontalo triwulan III 2014 tumbuh lebih rendah daripada triwulan III 2013 yang tumbuh sebesar 7,90% (yoy). Di sisi permintaan, percepatan pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga yang tumbuh tinggi selama bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri 1435H. Sementara itu, konsumsi pemerintah mengalami percepatan pertumbuhan disebabkan penyaluran gaji ke-13 PNS/TNI/Polri yang baru dilakukan pada awal triwulan III Faktor pendukung peningkatan konsumsi pemerintah lainnya adalah penyaluran bantuan sosial dari dana APBD maupun APBN dilaksanakan setelah pelaksanaan Pemilu Presiden 2014 yang sempat ditunda penyalurannya. Walaupun realisasi belanja modal pemerintah sudah optimal, tetapi beberapa pelaksanaan pembangunan proyek pemerintah yang sudah berjalan pada triwulan III 2014 belum optimal, sehingga berpengaruh pada perlambatan pertumbuhan investasi Gorontalo. Aktivitas perdagangan luar negeri juga mengalami perkembangan, dengan nilai ekspor yang tumbuh jauh lebih tinggi dari pada nilai impor Gorontalo. Di sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi Gorontalo pada triwulan III 2014 ditopang oleh tiga sektor utamanya yaitu sektor pertanian dengan kontribusi sebesar 27,11%, sektor jasa-jasa sebesar 25,55%, dan sektor Perdagangan-Hotel-Restoran sebesar 12,15%. Musim panen yang berlangsung pada triwulan laporan telah mendorong peningkatan produksi tanaman bahan makanan yang sehingga sektor pertanian menjadi kontributor paling besar pada pertumbuhan ekonomi Gorontalo. Dari ketiga sektor utama tersebut hanyalah sektor Perdagangan-Hotel-Restoran yang mengalami perlambatan pertumbuhan pada triwulan laporan. KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

24 Grafik 1.1. Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Gorontalo BAB 1 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH , Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3* Sumber : BPS. Provinsi Gorontalo 1.1 SISI PERMINTAAN Secara keseluruhan, komponen konsumsi mengalami peningkatan pertumbuhan dibandingkan triwulan sebelumnya. Selain disebabkan oleh konsumsi rumah tangga yang mengalami peningkatan, pertumbuhan yang meningkat konsumsi pemerintah juga turut memberikan dampak pada percepatan komponen konsumsi. Penyaluran gaji ke-13 PNS/TNI/Polri yang baru dilaksanakan pada bulan Juli 2014 memberikan dampak positif terhadap laju konsumsi rumah tangga, dan belanja non modal pemerintah. Kegiatan pembangunan proyek pemerintah yang mulai berjalan pada triwulan laporan mendorong pertumbuhan iklim investasi pada triwulan laporan. Kinerja ekspor mengalami percepatan sedangkan kinerja impor luar negeri mengalami perlambatan dibanding triwulan sebelumnya. Akan tetapi, masuknya bulan puasa dan Ramadhan di awal triwulan laporan berpengaruh pada aktivitas perdagangan antar daerah dalam rangka memenuhi kebutuhan domestik. Tabel 1.1. Pertumbuhan Ekonomi Sisi Permintaan KOMPONEN 2012 (% yoy) 2013 (% yoy) I II III IV I II III IV I II III Konsumsi Rumah Tangga 6,13 5,84 6,12 5,35 5,86 5,91 6,24 6,29 6,45 6,23 6,54 6,59 6,66 Konsumsi Pemerintah 13,70 14,30 9,79 8,41 11,43 0,34 9,33 3,77 10,86 6,21 10,01 8, PMTB 5,83 10,14 8,35 3,37 6,85 0,89 2,32 4,10 10,84 4,65 9,83 11, Perubahan Stok 19,79 32,61 27,83 1,23 18,11 (72,26) (31,87) (48,14) (16,50) (39,24) 12,38 14,62 85,56 Ekspor Barang & Jasa 11,27 14,98 8,97 8,72 10,92 (35,32) (28,53) (22,78) (26,91) (28,33) 15,17 7, Impor Barang & Jasa 5,47 5,27 4,51 4,80 5,01 6,80 8,46 9,59 10,61 8,89 10,13 8, PDRB GORONTALO 8,39 8,29 6,64 7,57 7,71 7,06 7,67 7,90 8,43 7,77 7,85 7,35 7,77 Sumber : BPS. Provinsi Gorontalo 2 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

25 BAB 1 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH KONSUMSI Pada triwulan III 2014, kinerja konsumsi secara keseluruhan tumbuh 11.49% (yoy) atau lebih tinggi dibandingkan triwulan II 2014 yang tumbuh 7,27% (yoy). Konsumsi pemerintah tumbuh dari 8,16% (yoy) pada triwulan II 2014 menjadi 19.54% (yoy) pada triwulan III Sementara itu, konsumsi rumah tangga tumbuh moderat dari 6,29% (yoy) pada triwulan sebelumnya menjadi 6,58% (yoy) pada triwulan laporan, sedangkan konsumsi swasta nirlaba mengalami perlambatan yang cukup siginifikan yang tumbuh 11.39% (yoy), menurun dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 13.67% (yoy). Konsumsi pemerintah tumbuh dari 8,16% (yoy) pada triwulan II 2014 menjadi 19.54% (yoy) pada triwulan III Penyerapan anggaran belanja Pemerintah mengalami peningkatan hal ini dikarenakan pembayaran gaji ke-13 PNS/TNI/Polri serta penyaluran bantuan sosial yang baru dapat diberikan pada triwulan III Di sisi lain, pertumbuhan konsumsi rumah tangga tumbuh relatif moderat dibandingkan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan konsumsi terkonfirmasi dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) hasil Survei Konsumen (SK) Bank Indonesia pada triwulan III 2014 yang tercatat sebesar Walaupun masih lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 160,27, tetapi nilai tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tetap optimis terhadap kegiatan ekonomi saat ini dan ke depan. Masyarakat juga beranggapan bahwa kondisi ekonomi masih cukup kondusif untuk melakukan kegiatan konsumsi walaupun sedikit mengalami guncangan karena perkiraan adanya kenaikan harga BBM bersubsidi yang menyebabkan penurunan pada Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) dari 162,77 pada triwulan II 2014 menjadi 138,07 pada triwulan III Hasil Survei Konsumen juga sejalan dengan Indeks Tendensi Konsumen (ITK) yang dihasilkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo. ITK pada triwulan III 2014 tercatat sebesar 111,25, yang menunjukkan bahwa masyarakat tetap optimis dengan kondisi ekonomi saat ini. Hal ini dipengaruhi oleh membaiknya pendapatan rumah tangga kini (112,25), rendahnya pengaruh inflasi terhadap tingkat konsumsi (108,73), dan meningkatnya konsumsi makanan dan non makanan pada triwulan III 2014 dikarenakan Hari Besar Keagamaan (112,00). Peningkatan aktivitas konsumsi diperkirakan terjadi pada awal dan akhir triwulan laporan. KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

26 BAB 1 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH Grafik 1.2. Perkembangan Survei Konsumen Bank Indonesia Grafik 1.3. Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Triwulan II 2014 Sumber : BPS Provinsi Gorontalo Sementara itu di sisi perbankan, kinerja konsumsi berhasil diredam melalui peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) masyarakat. Peningkatan dialami oleh penghimpunan deposito yang berhasil tumbuh 24,15% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan II 2014 yang tumbuh 22,14% (yoy). Hal serupa juga terjadi pada penghimpunan tabungan pada triwulan III 2014, tabungan perbankan Gorontalo tumbuh 7,09% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan II 2014 yang sebesar 5,13% (yoy). Di sisi lain, kredit konsumtif terus mengalami perlambatan sejak triwulan III Hal tersebut tidak terlepas dari kebijakan Loan To Value (LTV) pada kredit konsumsi serta penerapan kebijakan suku bunga tinggi membuat target ekspansi kredit di tahun 2014 mengalami penurunan dibandingkan sebelumnya. Sebagai akibatnya, penyaluran kredit konsumtif perbankan Gorontalo di triwulan III 2014 tercatat tumbuh 18,90% (yoy) atau melambat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang tumbuh 21,74% (yoy). Grafik 1.4. Perkembangan Tabungan dan Deposito Perbankan Grafik 1.5. Perkembangan Kredit Konsumsi Perbankan 4 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

27 BAB 1 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH INVESTASI Kinerja investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) pada triwulan III 2014 tumbuh 11,77% (yoy) atau meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 11,11% (yoy). Investasi pemerintah masih memegang peranan yang penting dalam pertumbuhan komponen ini, terutama dalam hal investasi fisik. Walaupun realisasi belanja modal pemerintah pada triwulan III 2014 masih belum optimal, tetapi pembangunan proyek pemerintah yang sudah mulai dan berjalan berdampak positif pada peningkatan investasi daerah. Iklim investasi positif juga tampak dari peran pihak swasta melalui pembangunan beberapa proyek, baik properti residence maupun properti komersial (ruko dan rukan). Di sisi pemerintah, pelaksanaan pembangunan proyek pemerintah sudah mulai dilakukan pada triwulan laporan, baik melalui dana APBD maupun APBN. Total pagu belanja modal APBN di wilayah Gorontalo pada tahun 2014 tercatat sebesar Rp1,91 triliun. Tabel 1.2. Satuan Kerja Pemerintah di Provinsi Gorontalo dengan Proyek Strategis APBN Tahun 2014 Nama Satker Jumlah Proyek Pagu (Rp Miliar) Realisasi (Rp Miliar) % Realisasi Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah Provinsi Gorontalo ,95 396,87 59% SNVT Pelaksanaan Jaringan Sumber Air Sulawesi II Provinsi Gorontalo ,26 162,67 44% SNVT Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air Sulawesi II Provinsi Gorontalo 8 121,14 72,98 60% Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Gorontalo 5 51,82 32,16 62% Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Gorontalo 2 24,41 11,32 46% Bandar Udara Jalaludin di Gorontalo 3 169,86 33,49 19% Unit Penyelenggara Pelabuhan Anggrek 1 25,13 0,11 0% Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Gorontalo 1 13,62 0,94 1% Pelabuhan Penyeberangan Gorontalo 1 8,65 4,49 52% Listrik Pedesaan Gorontalo 6 68,92 25,81 37% Sumber : Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Gorontalo Pembangunan proyek strategis di Provinsi Gorontalo tetap difokuskan dalam pembangunan infrastruktur daerah demi mempercepat pertumbuhan ekonomi dan menarik minat investor untuk berinvestasi di Provinsi Gorontalo. Beberapa proyek pembangunan yang telah berjalan adalah seperti pembangunan dan pemeliharaan jalan nasional di wilayah Provinsi Gorontalo, pembangunan dan pemeliharaan jaringan sumber air, pembangunan dan pemeliharaan jaringan pemanfaatan air, serta pengembangan penyehatan lingkungan pemukiman Gorontalo. Sementara itu, proyek lainnya terkait pembangunan Bandar Udara Djalaluddin, Pelabuhan Anggrek, Pelabuhan Gorontalo, listrik pedesaan, dan Universitas Negeri Gorontalo rencananya akan mulai dilakukan di triwulan III KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

28 BAB 1 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH No. Tabel 1.3. Perkembangan Pembangunan Infrastruktur Melalui APBD dan APBN Provinsi Gorontalo APBD SUMBER DAYA AIR (SDA) Fisik (%) Keuangan (%) 1 Rehab dan Peningkatan Jaringan Irigasi di Kab. Gorontalo Juli s/d Agustus Rehab dan Peningkatan Jaringan Irigasi di Kab. Boalemo Juli s/d Agustus Rehab dan Peningkatan Jaringan Irigasi di Kab. Pohuwato Juli s/d Agustus Rehab dan Peningkatan Jaringan Irigasi di Kab. Gorontalo Utara Juli s/d Agustus Penanggulangan Banjir Sungai Desa Pelehu Kec. Bilato Kab. Gorontalo Agustus Perkuatan Tebing Sungai Desa Mamongaa Kec. Bulawa Kab. Bone Bolango Agustus Pembangunan Tanggul Banjir Sungai Mohiyolo Kab. Gorontalo September Pembangunan Tanggul Sungai Dumbaya Bulan Agustus Pengaman Abrasi Pantai Desa Mamungaa Kec. Bulawa Kab. Bone Bolango Agustus Rehab Rumah Jaga Bendung Bulia (DP04) Kab. Gorontalo Juni Rehab Rumah Jaga Bendung Tabulo Latula (DP05) Kab. Boalemo Juni Pembangunan Saluran Pembungan Daerah Irigasi Lomaya Desa Huntu Barat Juni Lanjutan Pembangunan Irigasi Bunggalo Kec. Telaga Kab. Gorontalo Juni Pekerjaan Tanggul Saluran Air, Saluran Pembuang Tanggidaa Kota Gorontalo Juni Pembangunan Tanggul Sungai Wapo Lombongo Juni Perkuatan Tebing Sungai Bongo Kec. Tolangohula Kab. Gorontalo (Jembatan Bongo) Juni Pengaman Abrasi Pantai Desa Mootinelo Kec. Bone Raya Kab. Bone Bolango Juni Pembangunan Pengaman Abrasi Pantai Desa Tabulo Selatan Kab. Boalemo Juni 2014 APBN 1 Rehabilitasi Tanggul Banjir Sungai di Kab. Gorontalo Pembangunan Pengaman Pantai Biluhu di Kab. Gorontalo Rehabilitasi Pengaman Pantai Biluhu Barat (50 M) Kab. Gorontalo Revitalisasi Danau Limboto Tahap Pembangunan Tanggul & Pengaman Pantai Paguyaman Kab. Boalemo dan Kab. Gorontalo April Pembangunan Jaringan Irigasi Randangan Kiri Lanjutan Kab. Pohuwato Pembangunan Bendung Randangan (1 Bh) Kab. Pohuwato (Multi Years) Pembangunan Tanggul Banjir Dumbaya Bulan (1 Km) Kab. Bone Bolango Pembangunan Tanggul Banjir dan Normalisasi Sungai di Kab. Bone Bolango Pembangunan Tanggul dan Perkuatan Tebing Sungai Tolinggula (2 Km) Kab. Gorontalo Utara Pembangunan Pengaman Pantai Monano (0.15 Km) Kab. Gorontalo Utara Pembangunan Jaringan Tersier DI. Paguyaman (2.148 ha) Kab. Gorontalo & Kab. Boalemo Rehabilitasi Jaringan Irigasi DI. Alo, Pohu dan Alopohu (600 Ha) Kab. Gorontalo Rehabilitasi Jaringan Irigasi DI Huludupitango (300 Ha) Kab. Gorontalo Pembangunan Prasarana Jaringan Irigasi Air Tanah Tersebar di Provinsi Gorontalo (Lanjutan) Pembangunan Embung & Jaringan Transmisi Air Baku Bulota /Telaga Biru (0.1M3/det) Kab. Gorontalo Finalisasi Bendung & Jaringan Irigasi DI. Paguyaman (450 Ha) Kab. Gorontalo & Kab. Boalemo Pembangunan Jaringan Irigasi Randangan Kiri Lanjutan Kab. Pohuwato Rehabiliatasi Jaringan Irigasi DI. Lomaya / Alale (300 Ha) Kab. Bone Bolango Pembangunan Embung dan Jaringan Transmisi Air Baku Botutonuo (0.1M3/det) Kab. Bone Bolango Rehabilitasi Bendung Poso (400 Ha) Kab. Gorontalo Utara Pembangunan Embung dan Jaringan Transmisi Air Baku Ilangata (0.1M3/det) Kab. Gorontalo Utara APBD Nama Proyek BINA MARGA Realisasi Target Penyelesaian 1 Rehab. Berkala Ruas Jalan Duhiyadaa - Imbodu Desember Pembangunan Ruas Jalan Molombulahe - Bubaa Desember Pelebaran Ruas Jalan Gorontalo - Batudaa - Isimu Desember Pelebaran Ruas Jalan Gorontalo - Suwawa - Tulabolo Desember Peningkatan Jalan Prof. Dr. Jhon A. Katili (Ex. Andalas) Desember Pengawasan Rehab./Pemeliharaan Berkala Jalan Tahun September Rehab. Berkala Jalan Kalengkongan September Rehab. Berkala Ruas Jalan Ahmad Dahlan - Cokroaminoto Oktober Rehab. Berkala Jalan Pangeran Hidayat September Rehab. Berkala Ruas Jalan Bilato - Tangkobu Oktober Rehab. Berkala Ruas Jalan Motolohu - Marisa IV Oktober Pembangunan Ruas Jalan Tangkobu - Pentadu ( Segmen Girisa - Karya Murni) oktober Peningkatan Jalan Rusli Datau oktober Pembangunan Ruas Jalan Boidu -Longalo - Dulamayo lanjutan (Desa Modelidu) Oktober Pembangunan Jembatan Ruas jalan Duhiadaa - Imbodu Oktober Lanjutan Pembangunan Jembatan Sigaso (Bangunan Atas) Oktober Rekonstruksi Ruas Jalan Batudaa - Isimu (Lanjutan Pembayaran) Maret Pengaspalan Jalan Brimob (Lanjutan Pembayaran) Maret KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

29 BAB 1 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH Lanjutan Tabel 1.3 No. APBD BINA MARGA Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Gorontalo Fisik (%) Keuangan (%) 19 Pembuatan Saluran Ruas Jalan Duhiadaa - Imbodu (Lanjutan Pembayaran) Maret Pengawasan Pembangunan Jalan Strategis Provinsi September Pemeliharaan Rutin Ruas Jalan Provinsi (Tersebar) Pemeliharaan Rutin Jembatan Tersebar Pembangunan Jalan Provinsi (Operasional) Pemeliharaan Rutin Jalan Provinsi (Operasional) APBN 1 Paket Berkala Jalan Tersebar Paket Pelebaran Jalan Tersebar Februari Paket Pembangunan/Pelebaran Jalan Tersebar Maret Paket Penggantian Jembatan Tersebar Maret Paket Rekonstruksi Jalan Tersebar Februari Pemeliharaan Rutin Jalan Basuki Rahmat (Gorontalo) Pemeliharaan Jembatan Tersebar Pemeliharaan Rutin Jalan Kota Gorontalo Pemeliharaan Rutin Jalan Kab. Gorontalo Pemeliharaan Rutin Jalan Kab. Gorontalo Utara Pemeliharaan Rutin Jalan Kab. Pohuwato Pemeliharaan Rutin Jembatan Tersebar APBD Nama Proyek CIPTA KARYA 1 Lanjutan Pembangunan Kantor Pemerintah Provinsi (Kawasan Blok Plan) 6.03 Realisasi 2 Pengawasan Lanjutan Pembangunan Kantor Pemerintah Provinsi Gorontalo (Blok Plan) Peningkatan Jalan Akses Desa Iloponu Kabupaten Gorontalo Utara, 3km Pengadaan dan Pemasangan Pipa Jaringan Air Bersih Kecamatan Tilango Pengadaan dan Pemasangan Pipa Jaringan Air Bersih Kecamatan Kabila Pembangunan Jaringan Pipa Air Bersih Kecamatan Marisa Utara Peningkatan Jalan Depan R.S. Mall (Paving Stone, L= 5 m) 0,7 km Pembangunan Jalan Akses Desa Tuladenggi (Dusun II, L=4 m) 1,375 km Peningkatan Jalan Akses TPA Talumelito, 0.5 km Pembangunan Jalan Kompleks Blok Plan, 0.6 km Pembangunan Jalan Bukit Aren Pembangunan MCK Tersebar Pembangunan Jaringan Air Bersih Sambungan Rumah (SR) Tersebar Pembangunan Jalan Akses Agropolitan Pos Pasar Desa Dimito Wonosari Pembangunan Drainase Desa Bunggalo Kec. Telaga Kab. Gorontalo Pembangunan Drainase Luwoo Kec. Telaga Kab. Gorontalo Pembangunan Drainase Jalan Batudaa Penyediaan Sarana dan Prasarana Air Minum dengan Jaringan Perpipaan dan Bukan Jaringan Pembangunan Prasarana dan Sarana Gedung Perkantoran (Opersional) Pembangunan/Peningkatan Infrastruktur Permukiman (Opersional) Pembangunan Sarana dan Prasarana Penunjang Fasilitas Layanan Umum (Opersional) Penyediaan Prasarana dan Sarana Sanitasi bagi Masyarakat (Opersional) APBN 1 Peningkatan Jalan Agropolitan Kws. Desa Saritani Kec. Wonosari Kab Boalemo Peningkatan Jalan Agropolitan Kws. Desa Mustika Kec Paguyaman Kab Boalemo Peningkatan Jalan Agropolitan Kws. Bongoime Kec Tilongkabila Kab Bone Bolango Peningkatan Jalan Agropolitan Desa Bulalo Kec Kwandang Kab Gorontalo Utara Pembangunan SPAM Tersebar Penyusunan RTBL Kawasan Kota Gorontalo Target Penyelesaian Akan tetapi, pembangunan proyek multiyears seperti Gorontalo Outer Ring Road (GORR) dan Terminal Bandar Udara Djalaluddin masih belum optimal seiring dengan munculnya beberapa kendala, terutama dalam hal pembebasan lahan. Sedangkan proyek multiyears yang sedang berjalan adalah pembangunan Bendungan Randangan di Kabupaten Pohuwato dan PLTU Anggrek. KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

30 BAB 1 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH Dari sisi APBD, perkembangan belanja modal pemerintah di triwulan III 2014 turut membaik walaupun mengalami kontraksi. Pertumbuhan realisasi belanja modal tercatat terkontraksi sebesar 39,74% (yoy), menurun dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi 38,20% (yoy). Grafik 1.6. Perkembangan Belanja Modal Pemerintah Melalui APBD Grafik 1.7. Perkembangan Volume Penjualan Semen Sumber : Dinas Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Gorontalo Sumber : Asosiasi Semen Indonesia Perkembangan kontribusi investasi fisik yang terjadi pada triwulan III 2014 tercermin dari penjualan semen di Provinsi Gorontalo yang mencapai ton atau tumbuh 53,70% (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang sebesar 28,91% (yoy). Iklim investasi yang positif juga didukung oleh peranan pihak swasta dalam pembangunan, khususnya perumahan rakyat di Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo. Grafik 1.8. Perkembangan Kredit Konstruksi Perbankan Grafik 1.9. Perkembangan Kredit Investasi Perbankan Perkembangan kinerja investasi juga tidak lepas dari peranan pihak perbankan dalam penyaluran kredit. Jika dilihat menurut penggunaannya, pertumbuhan kredit kontruksi pada triwulan III 2014 mengalami kontraksi sebesar 10,55% (yoy) atau turun dari triwulan II 2014 yang sebesar 19,38% (yoy). Akan tetapi, bila dilihat menurut sektor ekonominya, penyaluran kredit untuk sektor investasi tumbuh meningkat dari -22,29% (yoy) pada triwulan sebelumnya menjadi -14,01% (yoy) pada triwulan laporan. 8 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

31 BAB 1 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH EKSPOR IMPOR Perkembangan aktivitas perdagangan luar negeri Gorontalo mengalami percepatan pertumbuhan pada triwulan III Kinerja ekspor tercatat tumbuh 14,00% (yoy) atau lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang mampu tumbuh 7,75% (yoy). Kinerja impor tercatat stabil cenderung melemah dari 8,19% (yoy) menjadi 8,17% (yoy). Akan tetapi, peningkatan nilai ekspor pada triwulan III 2014 menyebabkan neraca perdagangan Gorontalo mengalami tren positif pada triwulan III 2014 dengan surplus sebesar US$1,1 jt. Kinerja ekspor mengalami perkembangan, baik secara nominal maupun pertumbuhannya dibandingkan periode sebelumnya. Nilai ekspor Gorontalo pada triwulan laporan tercatat sebesar US$3,59 juta, naik cukup signifikan dibandingkan triwulan II 2014 yang sebesar US$2.55 juta. Hal ini disebabkan oleh aktivitas ekspor jagung yang dilakukan produsen maizena di Gorontalo pada bulan Agustus dan September 2014 senilai US$ 2,50 juta, dengan negara tujuan Filipina Kinerja ekspor juga terkonfirmasi dari pertumbuhan volume muat barang di seluruh pelabuhan Gorontalo. Pada triwulan III 2014, volume muat barang mengalami perbaikan sebesar 122,64% (yoy) atau meningkat dibandingkan triwulan II 2014 yang tumbuh -10,10% (yoy). Secara nominal, total barang yang dimuat pada triwulan laporan mencapai ton, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yaitu ton. Grafik Perkembangan Nilai Ekspor Gorontalo Grafik Perkembangan Muat Barang Pelabuhan Gorontalo Sumber : Kantor Pelayanan Bea Cukai Gorontalo Sumber : Kantor Pelabuhan se-provinsi Gorontalo Di sisi lain, impor Gorontalo pada triwulan III 2014 tercatat sebesar US$2,48 juta atau tumbuh 92,00% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 143,28% (yoy). Keseluruhan nilai impor tersebut adalah berupa Aspal dari Singapura, dan Korea Selatan. Hal tersebut merupakan bagian dari upaya dalam pembangunan infrastruktur terutama jalan raya di Provinsi Gorontalo untuk meningkatkan aksesibilitas dan daya saing Provinsi. Terutama pembangunan jalan yang menjadi mega proyek Gorontalo yaitu Gorontalo Outer Ring Road KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

32 BAB 1 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH Grafik Perkembangan Nilai Impor Gorontalo Grafik Perkembangan Bongkar Barang Pelabuhan Gorontalo Sumber : Kantor Pelayanan Bea Cukai Gorontalo Sumber : Kantor Pelabuhan se-provinsi Gorontalo Sementara itu, perkembangan impor luar negeri Gorontalo yang melambat didorong oleh pertumbuhan impor antar pulau seiring dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat saat bulan Ramadhan 1435H dan Hari Raya Idul Adha. Hal tersebut terkonfirmasi dari volume bongkar barang di seluruh pelabuhan Gorontalo yang tumbuh positif, yaitu sebesar 29,59% (yoy) setelah mengalami pertumbuhan juga sebesar 9,18% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Impor domestik pada triwulan III 2014 berasal dari bahan makanan dan bahan bangunan. Dilihat dari kumulatif ekspor impor, Gorontalo mengalami surplus neraca perdagangan luar negeri pada triwulan III 2014, yaitu sebesar US$1,1 juta. Nilai tersebut tercatat mengalami perbaikan dibandingkan triwulan sebelumnya yang mengalami defisit US$0,32 juta. Sementara itu, bila dilihat secara kumulatif hingga triwulan III 2014, defisit neraca perdagangan Gorontalo masih relatif tinggi yaitu mencapai US$42,57 juta. Grafik Perkembangan Neraca Perdagangan Luar Negeri Gorontalo Neraca Perdagangan Luar Negeri Periode Triwulan III 2014 Impor dari LN US$2,48 juta SURPLUS US$1.1juta Ekspor ke LN US$3,6 juta Sumber : Kantor Pelayanan Bea Cukai Gorontalo 10 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

33 BAB 1 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH 1.2 SISI PENAWARAN Menurut sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi Gorontalo pada triwulan III 2014 ditopang oleh tiga sektor utamanya yaitu sektor pertanian dengan kontribusi sebesar 27,11%, sektor jasa-jasa sebesar 25,55%, dan sektor Perdagangan-Hotel-Restoran sebesar 12,15%. Dari ketiga sektor utama tersebut hanyalah sektor Perdagangan-Hotel-Restoran yang mengalami perlambatan pertumbuhan pada triwulan laporan, diikuti oleh sektor Pertambangan- Penggalian, sektor Konstruksi, sektor Listrik-Gas-Air Bersih, sektor Pengangkutan- Komunikasi. Sedangkan sektor konstruksi dan sektor Keuangan-Real Estat-Jasa dan Perusahaan mengalami peningkatan. Menurut sektor usahanya, perekonomian Provinsi Gorontalo didominasi oleh sektor tersier (services-oriented) yang terdiri dari sektor Perdagangan-Hotel-Restoran, sektor Pengangkutan-Komunikasi, sektor Keuangan-Real Estat-Jasa Perusahaan, dan sektor jasa-jasa. Sektor tersier memiliki kontribusi sebesar 58,68% terhadap total PDRB nominal Gorontalo pada triwulan III Hal ini didukung dengan pertumbuhan sektor ini mengalami percepatan pertumbuhan dari 7,68% (yoy) pada triwulan II 2014 menjadi 8,35% (yoy) pada triwulan III 2014, seiring dengan efek percepatan perekonomian Gorontalo secara keseluruhan. Sementara itu, sektor primer memiliki kontribusi terbesar kedua pada triwulan laporan dengan pangsa 28,23%, diikuti sektor sekunder dengan pangsa 13,10% Grafik Perkembangan Struktur Perekonomian (PDRB Nominal) Provinsi Gorontalo Grafik Pangsa Perekonomian (PDRB Riil) Provinsi Gorontalo Triwulan II 2014 Sumber : BPS Provinsi Gorontalo Sumber : BPS Provinsi Gorontalo Walaupun dilanda kemarau panjang namun sektor pertanian Gorontalo masih menunjukan tren yang positif terutama jika dibanding triwulan sebelumnya, masuknya musim panen pada beberapa sentra produksi tanaman pangan di Provinsi Gorontalo berpengaruh pada percepatan kinerja sektor pertanian, yang memberikan kontribusi terbesar terhadap total PDRB Gorontalo. Dorongan pada pertumbuhan ekonomi juga dipengaruhi oleh percepatan kinerja sektor jasa-jasa mengingat realisasi belanja operasional Pemerintah Daerah yang jatuh pada triwulan pelaporan. Sektor Perdagangan-Hotel-Restoran (PHR) mengalami sedikit KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

34 BAB 1 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH perlambatan disebabkan konsumsi masyarakat yang tumbuh moderat walaupun aktivitas perdagangan meningkat di akhir triwulan III 2014 seiring dengan momen pasca bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri. Di sisi lain, kinerja sektor konstruksi mampu tumbuh meningkat didukung oleh investasi fisik pemerintah dan swasta. Pelaksanaan proyek pembangunan pemerintah yang mulai berjalan di triwulan II 2014 belum berdampak signifikan terhadap kinerja konstruksi bergerak melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Tabel 1.4. Pertumbuhan Ekonomi Sisi Penawaran SEKTOR 2012 (% yoy) 2013 (% yoy) 2014 (%yoy) I II III IV I II III IV I II III Pertanian ,98 5,38 Pertambangan & Penggalian ,90 5,48 Industri Pengolahan ,26 9,41 Listrik, Gas, dan Air Bersih ,10 5,81 Konstruksi ,85 10,39 Perdagangan, Hotel, Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan, Real Estate, & Jasa Perusahaan ,05 10, ,80 6, ,17 8,18 Jasa-jasa ,53 7,25 PERTUMBUHAN EKONOMI Sumber : BPS. Provinsi Gorontalo , SEKTOR PERTANIAN Sedang berlangsungnya musim panen pada triwulan III 2014 berpengaruh signifikan terhadap percepatan pertumbuhan sektor pertanian Gorontalo. Kinerja sektor pertanian tercatat tumbuh 5,38% (yoy) atau lebih tinggi dibandingkan triwulan II 2014 yang tumbuh 4,98% (yoy). Kemarau panjang yang terjadi pada sebagian daerah di Provinsi Gorontalo tidak berdampak signifikan terhadap pertumbuhan sektor Pertanian di Provinsi Gorontalo Produksi tanaman bahan makanan masih memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap sektor pertanian Gorontalo, terutama tanaman jagung dan padi. Musim panen yang berlangsung pada triwulan laporan menyebabkan produksi tanaman bahan makanan mengalami peningkatan. Panen tanaman jagung di Gorontalo tercatat hanya seluas ha atau mengalami peningkatan 48.02% (yoy), naik signifikan setelah pada triwulan sebelumnya mengalami kontraksis sebesar 69,63% (yoy). Akan tetapi, lahan panen padi mengalami kontraksi sebesar 9,44% (yoy) atau seluas ha, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,19% (yoy). 12 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

35 BAB 1 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH Grafik Perkembangan Luas Panen Jagung Berdasarkan Daerahnya Grafik Perkembangan Luas Panen Padi Berdasarkan Daerahnya Sumber : Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultra Provinsi Gorontalo Grafik Perkembangan Luas Panen dan Luas Tanam Jagung dan Padi Sumber : Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultra Hasil in-depth interview dengan Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Gorontalo memperoleh informasi bahwa dampak iklim pada triwulan II 2014 tidak signifikan. Hal tersebut yang menyebabkan produktifitas lahan di Gorontalo masih mengalami petumbuhan yang positif. Pertumbuhan positif sektor Pertanian tersebut didukung oleh semua kota/kabupaten di Provinsi Gorontalo. Daerah yang mengalami pertumbuhan yang paling tinggi adalah kabupaten Pohuwato yaitu sebesar 62,1% (yoy) diikuti daerah Bone Bolango sebesar 52,5% (yoy). Sejalan dengan itu, hasil Angka Ramalan (ARAM) II BPS Provinsi Gorontalo mencatat bahwa produksi jagung Gorontalo pada tahun 2014 diperkirakan akan naik 10,19% dari ton pada tahun 2013 menjadi ton pipilan kering. Hal tersebut tidak terlepas dari pengaruh kenaikan luas panen jagung dari ha menjadi ha atau sebesar 9,90% (yoy) dan peningkatan produktivitas dari 47,65 kw/ha menjadi 47,77kw/ha (0,25%). Tabel 1.5. Angka Ramalan (ARAM) II Produksi Jagung di Provinsi Gorontalo Tahun 2014 Uraian (ARAM II) Perkembangan Perkembangan Absolut Persen Absolut Persen Luas Panen ,60% ,90% Produktifitas 47,57 47,65 47,77 0,08 0,17% 0,12 0,25% Produksi ,78% ,19% Sumber : BPS Provinsi Gorontalo (bentuk hasil produksi adalah pipilan jagung) KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

36 BAB 1 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH Luas panen padi di triwulan laporan tercatat tumbuh melambat, akan tetapi Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura menyebutkan bahwa hasil tersebut akan mengalami perubahan positif mengingat banyaknya bantuan benih tanaman padi yang disalurkan pemerintah di akhir tahun Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti : a. Kelangkaan pupuk di Provinsi Gorontalo pada bulan Desember 2013, yang merupakan akhir musim tanam di tahun Ketersediaan pupuk baru terjadi di triwulan I 2014 saat musim pemupukan sudah berakhir. b. Kemarau yang berkepanjangan menyebabkan keringnya sumber-sumber mata air di beberapa daerah c. Gagal panen yang terjadi akibat masuknya endapan air hasil pertambangan emas rakyat di Desa Taluduyunu ke lahan persawahan di Kecamatan Buntulia dan Kecamatan Duhiadaa Kabupaten Pohuwato. d. Tidak adanya penanaman sawah tadah hujan di Kabupaten Pohuwato. Tabel 1.6. Angka Ramalan (ARAM) II Produksi Padi di Provinsi Gorontalo Tahun 2014 Uraian (ARAM II) Perkembangan Perkembangan Absolut Persen Absolut Persen Luas Panen ,14% ,57% Produktifitas 48,01 52,01 49,18 4 8,33% -2,83-5,44% Produksi ,127 20,39% ,50% Sumber : BPS Provinsi Gorontalo (bentuk hasil produksi adalah gabah kering giling) Gangguan produksi tersebut menyebabkan hasil ARAM II BPS Provinsi Gorontalo memperkirakan produktifitas padi juga menurun. Namun di sisi lain, diperkirakan terjadi peningkatan luas panen dari ha pada tahun 2013 menjadi ha pada tahun 2014 yang menyebabkan produksi padi tetap tumbuh sebesar 5,5% (yoy) atau sebesar ton dibanding triwulan sebelumnya sebesar ton. Grafik Perkembangan Luas Tanam Jagung Berdasarkan Daerahnya Grafik Perkembangan Luas Tanam Padi Berdasarkan Daerahnya Sumber : Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Hortikultura Provinsi Gorontalo 14 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

37 BAB 1 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH Dampak datangnya musim panen berpengaruh negatif pada pertumbuhan luas area tanam di Gorontalo. Pada triwulan III 2014, luas lahan tanam jagung di Gorontalo tercatat mencapai 3868 ha atau berkontraksi sebesar 57,73% (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, lahan tanam padi tercatat seluas ha atau meningkat 117,40% (yoy) dibandingkan triwulan III SEKTOR PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI Kinerja sektor pengangkutan dan komunikasi pada triwulan III 2014 mengalami penurunan cukup signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada triwulan laporan, sektor ini tercatat tumbuh 6,68% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mampu tumbuh 7,80% (yoy). Kinerja subsektor pengangkutan laut terkonfirmasi dari percepatan pertumbuhan penumpang kapal laut dan kapal ferry. Pada triwulan III 2014, penumpang kapal laut tercatat berjumlah orang atau tumbuh 104,74% (yoy), lebih tinggi daripada triwulan sebelumnya yang tumbuh 55,21% (yoy). Hal serupa juga terjadi pada jumlah penumpang kapal ferry yang tercatat sebanyak atau tumbuh sebesar 31,85% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan II 2014 yang terkontraksi 15,28%. Hal ini turut dipengaruhi oleh hari Raya Idul Fitri yang terjadi pada awal triwulan III 2014 dan beberapa event yang dilakasanakan pada triwulan III 2014 di Gorontalo. Grafik Perkembangan Jumlah Penumpang Kapal Laut dan Ferry Grafik Perkembangan Konsumsi Premiumdan Solar Sumber : BPS Provinsi Gorontalo Sumber : Produsen Bahan Bakar Gorontalo Sementara itu, kinerja subsektor pengangkutan darat dikonfirmasi dari meningkatnya jumlah konsumsi BBM transportasi. Tingkat konsumsi bahan bakar premium pada triwulan laporan tercatat tumbuh 4,99% (yoy) lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,01% (yoy). Momen masuknya bulan puasa dan Ramadan ditengarai belum mampu mendorong aktivitas transportasi masyarakat Gorontalo melalui jalur darat. KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

38 BAB 1 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH Grafik Perkembangan Frekuensi Penerbangan Pesawat Grafik Perkembangan Jumlah Penumpang Pesawat Sumber : BPS Provinsi Gorontalo Sumber : BPS Provinsi Gorontalo Kinerja subsektor pengangkutan udara juga mengalami penurunan dari sisi nominal pada triwulan laporan, namun mengalami peningkatan dari sisi pertumbuhan. Frekuensi jumlah penerbangan, baik menuju maupun meninggalkan Gorontalo pada triwulan III 2014 mengalami kontraksi 11,38% (yoy) atau meningkat dibandingkan triwulan II 2014 yang juga terkontraksi sebesar 16,73% (yoy). Hal tersebut tidak lepas dari dampak Hari Besar Kegamaan seperti Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha yang terjadi selama triwulan pelaporan. Sebagai dampaknya, jumlah penumpang pesawat ikut mengalami peningkatan sebesar -10,33% (yoy) setelah pada triwulan sebelumnya mengalami perlambatan sebesar 19,60% (yoy). Pertumbuhan subsektor pengangkutan udara juga dipengaruhi adanya event berskala besar di Gorontalo pada triwulan III 2014 salah satunya Festival Karawo yang dilangsungkan pada bulan Oktober Kondisi tersebut berbeda dibandingkan dengan triwulan II 2013, dimana tidak terdapat event berskala besar di Gorontalo yang menyebabkan terjadinya penurunan pada subsektor pengangkutan udara SEKTOR PERDAGANGAN, HOTEL DAN RESTORAN Perlambatan pertumbuhan dialami oleh sektor Perdagangan-Hotel Restoran (PHR), dimana pada triwulan II 2014 tumbuh 10,90% (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 11,05% (yoy). Perlambatan tersebut disumbang oleh subsektor perhotelan melemah disebabkan penurunan frekuensi kegiatan yang disponsori oleh Pemerintah Daerah, sedangkan subsektor perdagangan tumbuh terbatas seiring dengan konsumsi rumah tangga yang tumbuh moderat. Tingginya aktivitas perdagangan yang terjadi pada awal dan akhir triwulan laporan terkonfirmasi dari konsumsi rumah tangga yang tumbuh di triwulan pelaporan. Musim panen yang terjadi menyebabkan aktivitas perdagangan masyarakat relatif berkembang, terutama saat bulan Ramadhan 1435 H dan Hari Raya Idul Fitri. Ketergantungan perdagangan akan impor dari daerah lain menjelang bulan puasa masih cukup tinggi, yang terkonfirmasi dari 16 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

39 BAB 1 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH meningkatnya aktivitas bongkar barang di pelabuhan, terutama pada Pelabuhan Kota Gorontalo. Pada triwulan II 2014, volume bongkar barang di Pelabuhan Kota Gorontalo mampu tumbuh 29,59% (yoy) atau meningkat setelah mengalami kontraksi pada triwulan I 2014 sebesar 9,18% (yoy). Grafik Perkembangan Survei Kegiatan Dunia Usaha Sektor PHR Grafik Perkembangan Kredit Sektor Perdagangan Perbankan Sumber : BPS Provinsi Gorontalo Dari sisi perbankan, perlambatan kinerja perdagangan swasta terlihat dari perkembangan kredit perdagangan yang tumbuh moderat, tercatat tumbuh 7,51% (yoy), cenderung menguat dibandingkan triwulan II 2014 yang tumbuh 7,18% (yoy). Hingga triwulan III 2014, jumlah kredit di sektor perdagangan yang berhasil disalurkan oleh perbankan Gorontalo mencapai Rp1,95 triliun. Dinamika aktivitas perdagangan swasta yang masih lemah juga tercermin dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia. Realisasi perdagangan di triwulan II 2014 masih mengalami pertumbuhan moderat 0,76%, tetapi tercatat lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi 2,69%. Grafik Perkembangan Tingkat Penghunian Hotel Grafik Perkembangan Listrik Kelompok Bisnis Sumber : BPS Provinsi Gorontalo Sumber : PT. PLN Wilayah Suluttenggo Cabang Gorontalo Sementara itu, kinerja subsektor perhotelan mengalami penurunan pada triwulan laporan. Kondisi ini terlihat dari Tingkat Penghunian Hotel (TPH) pada bulan September 2014 yang tercatat sebesar 34,50% atau naik dibandingkan kondisi bulan Maret 2014 yang sebesar 30,00. Penurunan aktivitas jasa perhotelan dan juga terkonfirmasi dari perkembangan yang cenderung terkontraksi dari listrik kelompok bisnis pada triwulan laporan. Konsumsi listrik KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

40 BAB 1 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH kelompok bisnis hanya tumbuh sebesar 17,42% (yoy) setelah pada bulan sebelumnya mengalami pertumbuhan sebesar 17,79% (yoy). Beberapa pihak perhotelan menyebutkan minimnya penyelenggaraan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) yang dilakukan oleh pemerintah daerah berdampak negatif pagi tingkat okupansi kamar dan ruang pertemuan SEKTOR KEUANGAN, REAL ESTAT, DAN JASA PERUSAHAAN Kinerja sektor keuangan, real estat, dan jasa perusahaan mengalami pertumbuhan yang stabil cenderung menguat, tumbuh dari 8,17% (yoy) pada triwulan sebelumnya menjadi 8,18% (yoy) pada triwulan laporan. Menurunnya penerimaan Net Interest Margin (NIM) perbankan merupakan dampak dari kebijakan suku bunga ketat dan kebijakan Loan To Value (LTV) berpengaruh pada perkembangan sektor ini. Perlambatan sektor keuangan, real estat, dan jasa perusahaan relatif dipengaruhi oleh kinerja subsektor keuangan, terutama lembaga keuangan bank. Kebijakan Loan To Value (LTV) yang diterapkan oleh Bank Indonesia terhadap Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) turut berpengaruh penyaluran kredit konsumsi yang mengalami tendensi melambat. Pertumbuhan kredit konsumsi rumah tangga melambat dari 21,74% (yoy) pada triwulan II 2014 menjadi 18,92% (yoy) pada triwulan III Hal ini menandakan adanya antisipasi perbankan dalam menjaga kesehatan penyaluran kredit seiring dengan kondisi perekonomian yang masih menunggu kepastian dari kenaikan harga BBM yang disinyalir akan terjadi pada semester II Grafik Perkembangan Pendapatan dan Beban Bunga Perbankan Grafik Perkembangan Net Interest Margin (NIM) Perbankan Beban bunga perbankan Gorontalo pada triwulan laporan tercatat tumbuh 38.21% (yoy) meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 32,33% (yoy). Sejalan dengan hal tersebut, pendapatan bunga perbankan juga tumbuh melambat dari 26,82% (yoy) menjadi 26,58% (yoy). Hal ini turut berdampak pada melambatnya pendapatan bunga bersih atau Net Interest Margin (NIM). Pertumbuhan NIM perbankan Gorontalo pada triwulan laporan 18 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

41 BAB 1 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH tercatat sebesar 23,26% (yoy) atau lebih rendah daripada triwulan II 2014 yang yaitu 25,18% (yoy) SEKTOR INDUSTRI PENGOLAHAN Sektor industri pengolahan tumbuh melambat dari 9,26% (yoy) pada triwulan II 2014 menjadi 9,41% (yoy) pada triwulan III Pertumbuhan industri mikro dan kecil mengalami perlambatan yang signifikan disebabkan oleh menurunnya kinerja industri makanan dan minuman serta industri makanan jadi dan industri furniture. Berdasarkan hasil survei BPS Provinsi Gorontalo, perlambatan pertumbuhan tidak hanya terjadi pada industri mikro dan kecil, tetapi juga industri besar dan sedang. Jika melihat kinerja industri miko dan kecil dengan lebih rinci, penurunan produksi terjadi pada industri makanan dan minuman, dan industri furniture. Sementara itu, produksi Industri kayu dan barang dari kayu tumbuh signifikan seiring dengan permintaan yang meningkat baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Pertumbuhan produksi industri makanan dan minuman di triwulan laporan mengalami penurunan dari triwulan sebelumnya yang sebesar 14.09%(yoy) menjadi 1.7%(yoy). Sementara itu, kondisi berbeda ditunjukan oleh sektor pakaian jadi 6.30%(yoy) industri tekstil 11.43%(yoy), dan industri kayu dan barang dari kayu sebesar 1.46% (yoy). Grafik Perkembangan Subsektor Industri Mikro-Kecil Grafik Perkembangan Industri Mikro-Kecil dan Industri Besar-Sedang Sumber : BPS Provinsi Gorontalo Sumber : BPS Provinsi Gorontalo Melambatnya kinerja subsektor industri mikro dan kecil juga diikuti oleh industri besar dan sedang. Pertumbuhan produksi industri tersebut tercatat sebesar 7,02% (yoy) atau lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 9,15% (yoy). Kondisi sektor industri yang tumbuh melambat turut terkonfirmasi dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia, dimana kapasitas produksi industri pengolahan menurun dari 89,25% pada triwulan I 2014 menjadi 85,63% pada triwulan II Masih terbatasnya jumlah industri pengolahan yang sustainable dan berskala besar di Gorontalo menjadi hal perlu diperhatikan oleh pemerintah daerah. Hal ini disebabkan pembangunan industri merupakan bagian integral dari pembangunan dan pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan berkembangnya sektor industri, KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

42 BAB 1 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH fungsi sumber daya alam dan sumber daya manusia semakin meningkat dan menopang kehidupan antar generasi. Grafik Perkembangan Konsumsi Listrik Industri Grafik Perkembangan Kredit Perbankan Sektor Industri Sumber : PT. PLN Wilayah Suluttenggo Cabang Gorontalo Bila dilihat dari sisi produksi, kinerja sektor industri juga terkonfirmasi dari perkembangan konsumsi listrik dan BBM industri. Konsumsi listrik industri pada triwulan laporan tercatat sebesar 4,34 juta KWh atau terkontraksi 0,64% (yoy), menurun dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 1,75% (yoy). Dari sektor perbankan, penyaluran kredit sektor industri melambat dari 43,57% (yoy) pada triwulan sebelumnya menjadi 42,00% (yoy) pada triwulan laporan SEKTOR LAINNYA Kinerja sektor Listrik-Gas-Air Bersih (LGA) pada triwulan III 2014 tumbuh 5,81% (yoy) atau lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 7,10% (yoy). Pertumbuhan sektor LGA di ditopang oleh peningkatan penjualan LPG seiring dengan program konversi minyak tanah ke LPG oleh pemerintah. Kebutuhan akan LPG yang meningkat terutama pada bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri. Grafik Perkembangan Daya Listrik Tersambung Grafik Perkembangan Konsumsi Listrik Sumber : PT. PLN Wilayah Suluttenggo Cabang Gorontalo Sumber : PT. PLN Wilayah Suluttenggo Cabang Gorontalo 20 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

43 BAB 1 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH Sementara itu, kontribusi penjualan daya listrik tumbuh melambat dikarenakan pemadaman listrik yang mulai terjadi sejak akhir triwulan I Kondisi ini dipengaruhi oleh gangguan yang terjadi pada PLTU Amorang sebagai pemasok utama listrik Gorontalo serta kerusakan coal belt conveyor pada PLTU Molotabu. Untuk mengurangi beban defisit listrik tersebut, PT. PLN Wilayah Suluttenggo Cabang Gorontalo harus membatasi pemasangan listrik dan penambahan daya baru sejak bulan Maret Sebagai akibatnya, daya listrik tersambung tumbuh melambat dari 18,64% (yoy) pada triwulan II 2014 menjadi 15,06% (yoy) pada triwulan III Dalam rangka mengantisipasi beban puncak listrik Gorontalo yang mencapai 70 MW, maka PT. PLN Wilayah Suluttenggo Cabang Gorontalo dalam jangka panjang dengan pembangunan PLTU Anggrek yang berdaya 2x50 MW, mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLMT) Taludaa sebesar 1,5 MW serta Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Sumalata sebesar 2 MW. Kondisi listrik yang belum optimal di akhir triwulan III 2014 akhirnya berpengaruh negatif pada perkembangan penjualan listrik, dimana pada triwulan laporan tumbuh 11,08% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 15,37% (yoy). Kendala akan ketersediaan energi mendapat perhatian serius dari pemerintah. Selain untuk mensuplai kebutuhan listrik rumah tangga, ketersediaan listrik turut mendorong perkembangan investasi di Gorontalo. Oleh sebab itu, rampungnya PLTU Anggrek di Gorontalo Utara dengan kapasitas 2x50 MW perlu diakselerasi oleh pemerintah mengingat pembangunannya belum menunjukkan kemajuan yang signifikan. Kinerja sektor pertambangan dan penggalian pada triwulan III 2014 melambat dibandingkan triwulan II Sektor ini berhasil tumbuh 5,48% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,90% (yoy). Perlambatan pertumbuhan kinerja sektor ini turut dipengaruhi oleh pertumbuhan kinerja sektor konstruksi yang juga turut melambat. Sektor konstruksi tumbuh dari 10,85% (yoy) pada triwulan sebelumnya menjadi 10,39% (yoy) pada triwulan laporan. Sektor pertambangan dan penggalian sendiri masih memberikan share yang relatif kecil bagi PDRB Provinsi Gorontalo, yaitu hanya 1,12%, dengan didominasi oleh pertambangan galian C seperti batu dan pasir. Oleh karena itu, produk sektor pertambangan kerap digunakan oleh sektor konstruksi dalam menyelesaikan pembangunan fisik. Sektor pertambangan Gorontalo diperkirakan memiliki potensi yang besar ke depannya. Hal ini ditengarai oleh aktivitas eksplorasi salah satu perusahaan tambang emas di Kabupaten Pohuwato yang rencananya akan memasuki studi amdal pada akhir tahun Kondisi ini dapat terealisasi apabila kerja sama dengan dengan perusahaan tambang milik daerah di kawasan tersebut dapat berjalan dengan baik dan lancar. KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

44 BAB 1 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH Grafik Perkembangan Kredit Sektor Jasa-jasa Perbankan Grafik Perkembangan Belanja Non Modal APBD Provinsi Gorontalo Sumber : Dinas Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Gorontalo Sementara itu, pada triwulan III 2014 sektor jasa-jasa tercatat tumbuh 7,25% (yoy), mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 4,53% (yoy). Keadaan ini terkonfirmasi dari realisasi belanja non modal pemerintah melalui dana APBD apada triwulan laporan juga masih belum optimal dengan realisasi belanja modal dapat tumbuh 11,61% (yoy), cenderung melemah dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 13,04% (yoy), Namun jika ditinjau dari sisi nominal terjadi peningkatan dimana pada triwulan III 2014 belanja non modal sebesar Rp661,06 Miliyar dibanding triwulan sebelumnya yang bernilai Rp398,85 Miliyar. 22 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

45 BAB 1 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH BOKS 1.A: FESTIVAL KARAWO ; MELESTARIKAN BUDAYA MENUMBUHKAN PEREKONOMIAN Karawo lahir dari proses panjang yang merupakan buah dari ketekunan para perajin. generasi ke generasi sejak masa Kerajaan Gorontalo masih berjaya. Namun demikian dalam perkembangannya, produksi Karawo sempat mati suri. Tak banyak perajin yang menekuni dunia ini karena kerumitan yang menyita banyak energi, waktu, dan ketekunan. Oleh karena itu, pemerintah melakukan berbagai cara untuk membuat kerajinan ini dapat terus lestari dan semakin populer, baik di dalam maupun luar negeri. Salah satu cara yang dilakukan pemerintah adalah mengadakan Festival Karawo yang telah digelar untuk pertama kalinya pada Desember 2011 silam dan pada tanggal Oktober telah memasuki pelaksanaan yang keempat. Festival ini telah diagendakan menjadi event tahunan yang digelar setahun sekali di Gorontalo dengan tujuan untuk menarik minat masyarakat dalam mengenakan produk Karawo sekaligus menguatkan ekonomi melalui pengembangan budaya daerah. Karawo Merakyat dengan harapan dapat lebih mempopulerkan Kain Karawo di kancah nasional dan internasional. Gubernur Gorontalo, Rusli Habibie, dalam sambutannya saat membuka event ini menyampaikan bahwa semakin dikenal, dicintai dan digunakan oleh semua kalangan, terlebih khusus bagi kita di Provinsi Gorontalo. Oleh karena itu saya menghimbau kepada seluruh instansi baik pemerintah daerah, perbankan, BUMN/BUMD, dan perusahaan swasta di Gorontalo untuk membudayakan busana Karawo minimal satu hari kerja dalam seminggu dan selama festival Karawo," tuturnya. Selain untuk menggugah kepedulian warga, diharapkan penggunaan Karawo dalam aktivitas kerja dapat mendorong dan menghidupkan pengembangan industri kerajinan Karawo di Gorontalo. Secara khusus Gubernur juga telah mengeluarkan edaran kepada pemerintah kabupaten/kota untuk meminta Bupati/Walikota mewajibkan penggunaan kain Karawo minimal satu hari belajar dalam seminggu. KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

46 BAB 1 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH daerah untuk mengenalkan busana Karawo. Lebih dari itu, kami ingin terus mendorong para pengrajin Karawo untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi demi memacu Pelaksanaan event tahunan Festival Karawo tersebut memberikan dampak positif bagi masyarakat Gorontalo, antara lain terefleksi dari 3 hal yaitu : 1. Meningkatnya kesadaran masyarakat Gorontalo untuk mencintai dan melestarikan kebudayaan sendiri, salah satunya menggunakan karawo sebagai produk lokal yang hasilkan tangan-tangan terampil pengrajin Gorontalo. Saat ini, karawo tidak hanya dipakai pada saat acara adat atau pernikahan namun telah menjadi pakaian formal di Gorontalo, bahkan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten Gorontalo telah mengeluarkan himbauan kepada instansi termasuk sekolah untuk menggunakan pakaian karawo minimal sekali dalam sebulan. 2. Meningkatnya pendapatan pengrajin, desainer dan pengusaha karawo karena menjelang pelaksanaan Festival Karawo khususnya saat dan karnaval karawo, permintaan karawo meningkat. Sebagai gambaran bahwa jumlah peserta fashion show karawo pada tahun 2014 adalah sebanyak 40 peserta, dan biaya yang untuk setiap kostum yang harus dibayar adalah sebesar Rp2 juta sehingga untuk kostum fashion show terjadi transaksi sebesar Rp80 juta. Demikian pula untuk parade, jumlah kontingen yang berpartisipasi sebanyak 40 tim dan setiap tim dipersyaratkan minimal 10 orang, sehingga total peserta minimal 400 orang. Dengan biaya (desain, kostum, make-up) sebesar Rp2 juta/orang maka jumlah transaksi (penghasilan dunia usaha) minimal Rp800 juta untuk peserta parade Karawo tersebut. 3. Meningkatnya penghasilan pengusaha yang ikut dalam pameran, termasuk pengusaha Mikro dan Kecil. Hal tersebut terefleksi dari jumlah transaksi yang terjadi dalam pameran selama penyelenggaraan FK 2014, tercatat sebanyak Rp3,2 miliar. Jumlah tersebut termasuk pengusaha karawo dan pedagang kaki lima yang turut partisipasi dalam pameran. 24 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

47 BAB 1 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH Boks 1.B: Potensi Ekonomi Kota Gorontalo Pada tahun 2013, struktur perekonomian kota Gorontalo masih didominasi oleh sektor jasa-jasa dan sektor perdagangan, hotel dan restoran. Sektor jasa sendiri masih didominasi oleh sub sektor jasa pemerintah, hal tersebut dikarenakan Gorontalo adalah ibu kota Propinsi Gorontalo. Sebagai ibu kota Gorontalo, jumlah pegawai lebih tinggi dibandingkan dengan kabupaten lainnya. Hal tersebut menyebabkan pendapatan di sektor pemerintahan di Kota Gorontalo cukup tinggi. Selain sebagai pusat pemerintahan, kota Gorontalo juga merupakan pusat perekonomian di Provinsi Gorontalo. Oleh karena itu sektor perdagangan masih mendorong struktur perekonomian kota Gorontalo. Tabel 1 Data PDRB Kota Gorontalo atas Dasar Harga Berlaku (dalam Milyar Rupiah) Sektor Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas & Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel & Restoran Angkutan & Komunikasi Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan Jasa - jasa PDRB 1, , , , , Sumber: Gorontalo dalam Angka, 2014 Sektor bangunan merupakan sektor yang memiliki kontribusi dan laju pertumbuhan yang tinggi bagi kota Gorontalo. Kenaikan ini salah satunya disebabkan oleh banyaknya pembangunan tempat tinggal maupun pertokoan, hotel, jalan dan sebagainya. Sektor angkutan dan komunikasi juga merupakan sektor yang memiliki kontribusi yang tinggi dengan laju pertumbuhan yang cepat. Hal tersebut dikarenakan adanya perkembangan infrastruktur, baik sarana maupun prasarana transportasi, perkembangan teknologi internet dan alat komunikasi (handphone) serta meningkatnya arus perdagangan yang juga ikut andil dalam mendorong peran subsektor pengangkutan dalam menentukan struktur perekonomian di daerah ini. Meningkatnya arus perdagangan di kota Gorontalo menyebabkan tumbuhnya ekonomi masyarakat sehingga kebutuhan masyarakat akan jasa perbankan dan lembaga keuangan juga ikut meningkat. Banyak kantor-kantor bank berdiri di Kota Gorontalo untuk mendukung KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

48 BAB 1 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH pelayanan jasa keuangan dan transaksi finansial sehingga dalam lima tahun terakhir kontribusi sektor ini terhadap PDRB Kota dan Provinsi cukup tinggi. Keterangan Potensi Internal (Pertumbuhan & Kontribusi) Tabel 2 Matrik Potensi Internal dan Eksternal Kota Gorontalo Unggulan Potensi Eksternal (SLQ & DLQ) Unggulan Andalan Prospektif Terbelakang - Angkutan & Komunikasi - Jasa - jasa - Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan Andalan - Bangunan - Industri Pengolahan Prospektif Terbelakang - Perdagangan, Hotel & Restoran - Listrik, Gas & Air Bersih - Pertanian Pertambangan & Penggalian Berdasarkan hasil matriks potensi eksternal dan internal kota Gorontalo, sektor yang dapat dikembangkan di Kota Gorontalo adalah sektor angkutan dan komunikasi, sektor bangunan, sektor jasa-jasa, sektor keuangan persewaan dan jasa perusahaan, sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor listrik, gas dan air bersih. Potensi ekonomi kota Gorontalo Gambar 1 Potensi Sektor ekonomi Kota Gorontalo muncul akibat tingginya 8. Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 9. Jasa - jasa 7. Angkutan & Komunikasi 6. Perdagangan, Hotel & Restoran 1. Pertanian 2. Pertambangan & Penggalian 5. Bangunan 3. Industri Pengolahan 4. Listrik, Gas & Air Bersih aktivitas perekonomian yang dimilikinya. Sektor angkutan dan komunikasi di Kota Gorontalo termasuk dalam sektor unggulan baik secara internal maupun eksternal, dengan jumlah penduduk terbanyak dan sebagai pusat pemerintahan Provinsi sektor ini memiliki potensi untuk dikembangkan baik berupa transportasi dalam kota maupun antar kabupaten-provinsi sebagai jasa mobilitas perekonomian. Hal senada juga dimiliki oleh sektor Bangunan yang merupakan sektor andalan dan menjadi unggulan secara eksternal, hal tersebut dikarenakan kota Gorontalo sedang dalam tahap pembangunan sehingga dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi masih diperlukan penambahan jalan, jembatan, bangunan toko, bangunan gedung instansi pemerintah, swasta dan bangunan tempat tinggal 26 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

49 BAB 1 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH Sektor jasa-jasa terdiri dari subsektor jasa pemerintahan umum dan jasa swasta. Sektor jasa-jasa menjadi sektor kunci yang memegang peranan penting pada pembentukan PDRB Kota Gorontalo. Namun sektor ini masih didominasi oleh subsektor jasa pemerintahan umum, sedangkan subsektor jasa swasta masih kecil peranannya. Meskipun peranannya masih kecil namun subsektor swasta dalam perkembangannya akan menjadi penting, terutama peranannya sebagai pendukung aktivitas perekonomian dan permintaan domestik yang terus meningkat seiring dengan peningkatan pendapatan masyarakat di masa yang akan datang. KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

50 BAB 2 KEUANGAN PEMERINTAH BAB 2 : KEUANGAN PEMERINTAH Secara umum, kinerja pengelolaan keuangan pemerintah di Provinsi Gorontalo tercermin dari besarnya alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di wilayah Provinsi Gorontalo serta realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pada triwulan III 2014, realisasi penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di Provinsi Gorontalo masih relatif rendah yaitu sebesar 53,82%, kinerja tersebut tercatat lebih rendah dibandingkan realisasi triwulan III 2013 yang sebesar 60% dari pagu Daftar Isian Penggunaan Anggaran (DIPA) Sementara itu, penerimaan dan pengeluaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Gorontalo pada triwulan III 2014 mengalami perlambatan dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya. Penerimaan pendapatan di triwulan III 2014 tercatat sebesar 72,84% dari pagu penerimaan APBD 2014, lebih rendah dibandingkan dengan triwulan III 2013 yang sebesar 81.60% dari pagu penerimaan APBD Hasil yang belum optimal juga ditunjukkan oleh realisasi belanja APBD dimana hingga triwulan III 2014, anggaran belanja APBD yang telah terealisasi hanya sebesar 59,77% dari pagu belanja APBD 2014 atau lebih rendah dibandingkan realisasi triwulan III 2013 yang sebesar 66,98% dari pagu belanja APBD ALOKASI APBN DI PROVINSI GORONTALO Kontribusi alokasi APBN sebagai salah satu sumber pembiayaan cukup signifikan dalam kegiatan perekonomian Gorontalo. Hal ini terlihat pada pagu total DIPA yang dikelola di wilayah Provinsi Gorontalo yang tercatat sebesar Rp3,81 triliun, meskipun sedikit mengalami penurunan dibandingkan tahun 2013 yang sebesar Rp3,96 triliun. Grafik 2.1. Pangsa Pagu APBN di Provinsi Gorontalo 2014 Berdasarkan Jenis Belanja Grafik 2.2. Pangsa Pagu APBN di Provinsi Gorontalo 2014 Berdasarkan Satker Pemerintahan Sumber: Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Gorontalo Sumber: Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Gorontalo 28 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

51 BAB 2 KEUANGAN PEMERINTAH Jika dilihat secara rinci, pengeluaran APBN di Provinsi Gorontalo lebih banyak digunakan untuk membiayai belanja modal dengan pangsa yang mencapai 47,86% dari total pagu atau sebesar Rp1,82 triliun. Kondisi ini menunjukkan perhatian pemerintah yang masih besar dalam meningkatkan kualitas infrastruktur di Provinsi Gorontalo demi mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Sementara itu, belanja barang memiliki pangsa sebesar 24,56% (Rp miliar) menempati urutan kedua. Selanjutnya, belanja pegawai memiliki pangsa sebesar 20,31% atau Rp773,17 miliar yang merupakan pengeluaran rutin pemerintah seperti pembiayaan pegawai untuk gaji, tunjangan, honorarium, lembur, kontribusi sosial dan lainnya. Belanja bantuan sosial memiliki pangsa terkecil sebesar 7,26% atau Rp276,31 miliar, yang digunakan untuk pengeluaran bencana alam, bantuan sosial, dan pengeluaran tidak terduga lainnya. Apabila dilihat berdasarkan satuan kerja pemerintahan, penggunaan APBN di Provinsi Gorontalo lebih difokuskan untuk Kota Gorontalo dan Provinsi Gorontalo yang masing-masing memiliki pangsa sebesar 37,69% (Rp1,43 triliun) dan 36,44% (Rp1,39 triliun). Sementara itu, dana APBN yang dianggarkan untuk kabupaten lainnya masih relatif kecil seperti Kabupaten Gorontalo dengan pangsa 11,56% (Rp440 miliar), Kabupaten Bone Bolango dengan pangsa 4,37% (Rp166,3 miliar), Kabupaten Boalemo dengan pangsa 3,91% (Rp148,9 miliar), Kabupaten Pohuwato dengan pangsa 3,19% (Rp121,3 miliar), dan Kabupaten Gorontalo Utara dengan pangsa 2,84% (Rp108,0 miliar). Grafik 2.3. Alokasi APBN di Provinsi Gorontalo 2014 Berdasarkan Jenis dan Satker Pemerintahan Kota Gorontalo Kab. Gorontalo Utara Kab. Bone Bolango Kab. Pohuwato Kab. Boalemo Kab. Gorontalo Belanja Pegawai Belanja Barang Belanja Modal Belanja Bantuan Sosial Prov. Gorontalo Rp miliar ,000 1,200 1,400 1,600 Sumber: Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Gorontalo KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

52 BAB 2 KEUANGAN PEMERINTAH Jika dilihat secara lebih rinci, pagu belanja modal APBN yang dianggarkan untuk Pemerintah Provinsi Gorontalo mencapai Rp826,36 miliar atau sebesar 21,71% dari total pagu APBN wilayah Gorontalo, sedangkan untuk Pemerintah Kota Gorontalo mencapai Rp746,93 miliar atau 19,62% dari total pagu. Aktivitas ekonomi, pemerintahan, dan pembangunan yang masih terpusat di Kota Gorontalo juga menyebabkan belanja pegawai Pemerintah Kota Gorontalo merupakan yang terbesar dibandingkan Satuan Kerja Pemerintahan lainnya, yaitu sebesar Rp354,52 miliar atau 9,31% dari total pagu APBN wilayah Gorontalo REALISASI BELANJA APBN DI PROVINSI GORONTALO Realisasi belanja APBN di wilayah Provinsi Gorontalo pada triwulan III 2014 tercatat sebesar Rp2,19 triliun atau 57,67% dari pagu DIPA Kinerja tersebut tercatat sedikit lebih baik dibandingkan realisasi triwulan III 2013 yang menyerap 32,69% dari total pagu. Realisasi belanja modal yang merupakan pangsa terbesar dari total pagu APBN 2014 masih relatif rendah. Hingga triwulan III 2014, realisasi belanja modal tercatat sebesar Rp879,70 miliar atau hanya 48,29% dari pagu belanja modal yang dianggarkan. Walaupun begitu, kinerja tersebut lebih baik dibandingkan triwulan III 2013 yang sebesar 25,40% dari total pagu. Realisasi yang belum optimal tersebut dipengaruhi oleh masih minimnya pengerjaan infrastruktur karena masih memasuki tahap penawaran pekerjaan. Penyerapan belanja APBN terbesar pada triwulan III 2014 masih dialami oleh belanja pegawai, yaitu sebesar 72,48% dari pagu belanja pegawai, diikuti oleh belanja bantuan sosial (72,19%), belanja barang dan jasa (59,41%), dan belanja modal (48,29%). Jika dilihat berdasarkan strukturnya, realisasi belanja modal mempunyai pangsa terbesar 40,08% (Rp879,70 miliar), diikuti belanja barang dan jasa sebesar 25,30% (Rp555,45 miliar), belanja pegawai sebesar 25,53% (Rp560,43 miliar), dan belanja bantuan sosial sebesar 9,09% (Rp199,46 miliar). Grafik 2.4. Pangsa Realisasi APBN di Provinsi Gorontalo Triwulan II 2014 Grafik 2.5. Perbandingan Realisasi APBN di Provinsi Gorontalo Triwulan II 2013 dan Triwulan II 2014 Sumber: Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Gorontalo Sumber: Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Gorontalo 30 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

53 BAB 2 KEUANGAN PEMERINTAH Berdasarkan satuan kerjanya, peningkatan realisasi belanja APBN tertinggi dialami oleh Pemerintah Kabupaten Pohuwato yaitu sebesar 70,5% pada triwulan III 2014 dari triwulan III 2013 yang bernilai 41,2%. Namun, realisasi tersebut jika dibandingkan satuan kerja lainnya hanya bernilai Rp85,55miliar atau memiliki pangsa 3,90% dari total realisasi. Peningkatan lainnya juga dialami oleh Pemerintah Kabupaten Bone Bolango, Kabupaten Boalemo, Kabupaten Pohuwato, Kota Gorontalo, dan Kabupaten Gorontalo Utara. Sementara itu, penurunan realisasi terjadi pada Pemerintah Kabupaten Gorontalo yaitu dari 62,6% pada triwulan III 2013 menjadi 48,7% pada triwulan III POSTUR APBD PROVINSI GORONTALO Selain APBN, faktor pendorong pertumbuhan ekonomi Provinsi Gorontalo dari sisi fiskal tentu juga dipengaruhi oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pagu pendapatan daerah Provinsi Gorontalo pada tahun 2014 tercatat sebesar Rp1,20 triliun atau meningkat 15,59% dibandingkan anggaran pendapatan daerah setelah perubahan tahun 2013 yang sebesar Rp1,04 triliun. Pagu belanja daerah Provinsi Gorontalo juga meningkat 14,38% dibandingkan anggaran belanja daerah setelah perubahan tahun 2013, yaitu dari Rp1,13 triliun menjadi Rp1,29 triliun Grafik 2.6. Perkembangan APBD Provinsi Gorontalo Rp miliar Pendapatan Daerah Belanja Daerah Sumber: Dinas Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Gorontalo Peningkatan tertinggi pada anggaran pendapatan daerah tahun 2014 dialami oleh penerimaan Pajak Daerah sebesar 40,35% (yoy), yang terdiri dari Pajak Kendaraan Bermotor, Pajak Kendaraan di Air, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama Kendaraan di Air, Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, Pajak Air Permukaan, Pajak Air Bawah Tanah, dan Pajak Rokok. Peningkatan tertinggi kedua dialami oleh Retribusi Daerah sebesar 33,33% (yoy), diikuti Dana Alokasi Umum sebesar 12,57% (yoy), dan Lain-lain PAD yang sah sebesar 4,36% (yoy). Sementara itu, penurunan pendapatan daerah dialami oleh Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

54 BAB 2 KEUANGAN PEMERINTAH dan Dana Alokasi Khusus. Struktur anggaran pendapatan daerah Provinsi Gorontalo masih didominasi oleh Dana Alokasi Umum yang dianggarkan hingga 61,03% dari total anggaran pendapatan. Di sisi anggaran belanja daerah, peningkatan yang signifikan dialami oleh Belanja Bagi Hasil sebesar 39,63% (yoy), Belanja Modal sebesar 32,05% (yoy), Belanja Pegawai sebesar 13,22% (yoy), dan Belanja Barang dan Jasa sebesar 11,52% (yoy). Jika dilihat dari strukturnya, alokasi terhadap Belanja Barang dan Jasa mendapat proporsi terbesar yaitu 30,07%, diikuti oleh Belanja Pegawai (23,95%), Belanja Modal (21,10%), dan Belanja Hibah (13,69%). Belanja konsumsi pemerintah yang masih mendominasi pengeluaran anggaran daerah memberikan pengaruh yang cukup signifikan bagi pertumbuhan ekonomi Provinsi Gorontalo di sisi permintaan. Grafik 2.7. Pangsa Pagu APBD Perubahan Provinsi Gorontalo 2014 Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah, 10.57% Pajak daerah, 21.44% PAD Lainnya, 1.36% Belanja Modal, 21.10% Belanja Pegawai, % Dana Alokasi Umum, 61.03% Dana Perimbangan Lainnya, 5.59% Belanja Barang dan Jasa, 30.07% Belanja Tidak Langsung Lainnya, % Belanja Hibah, 13.69% Sumber: Dinas Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Gorontalo REALISASI PENDAPATAN DAERAH Pada tahun 2014, target pendapatan daerah Pemerintah Provinsi Gorontalo adalah sebesar Rp1,22 triliun, dan hingga triwulan III 2014 realisasi telah mencapai Rp887,75 miliar atau 72,84% dari target pendapatan pada APBD Realisasi tersebut lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2013 yang mencapai 81,97% dari rencana anggaran. Hal tersebut dipengaruhi oleh masih rendahnya realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada triwulan III 2014 yang tercatat baru mencapai Rp199,68 miliar atau 68,60% dari target PAD tahun 2014 sebesar Rp291,09 miliar, lebih rendah dari realisasi PAD periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 83,23%. Hal tersebut disebabkan oleh penerimaan pajak dan retribusi yang belum optimal dimana hingga triwulan III 2014 realisasi pajak dan retribusi masing-masing baru mencapai 66,66% dan 33,16% dari target tahun KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

55 BAB 2 KEUANGAN PEMERINTAH Sumber pendapatan daerah yang lain yaitu dana perimbangan pada triwulan III 2014 mencapai Rp593,27 miliar atau 74,12% dari target Dilihat dari komponen dana perimbangan, Dana Alokasi Umum yang diperoleh pada triwulan III 2014 sebesar Rp550,71 miliar atau 75,00% dari dana yang dianggarkan. Kinerja tersebut tercatat lebih rendah dibandingkan triwulan III 2013 yang mencapai 83,33% dari target anggaran. Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan komponen penerimaan daerah terbesar di Gorontalo sebagaimana tercermin dari pangsa DAU sebesar 60,25% dari total pendapatan daerah. Sementara sumber penerimaan lainnya yaitu pendapatan daerah yang sah mencapai Rp94,79 juta atau 74,52% dari target tahun Kemandirian fiskal daerah Gorontalo secara umum masih perlu dioptimalkan, karena berdasarkan data keuangan daerah hingga triwulan III 2014, realisasi Pendapatan Asli Daerah masih relatif kecil yaitu 22,49% dari total realisasi pendapatan daerah. Data tersebut merefleksikan bahwa pendapatan daerah Gorontalo masih cukup tergantung pada bantuan dana dari pemerintah pusat melalui komponen Dana Perimbangan. Share komponen Dana Perimbangan terhadap total pendapatan pada triwulan III 2014 mencapai 66,83%. No Tabel 2.1. Realisasi Pendapatan Daerah Provinsi Gorontalo Triwulan III 2013 dan Triwulan III 2014 Sumber : Dinas Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Gorontalo Realisasi (Rp miliar) % Realisasi thd APBD Realisasi (Rp miliar) % Realisasi thd APBD I Pendapatan Asli Daerah (PAD) a. Pajak Daerah b. Hasil Pengelolaan Kekayaan c. Retribusi Daerah d. Lain-lain PAD II Dana Perimbangan a. Bagi Hasil Pajak b. Dana Alokasi Umum c. Dana Alokasi Khusus III Lain-lain Pendapatan Total Pendapatan Uraian APBDP 2013 (Rp miliar) Triwulan III 2013 APBD 2014 (Rp miliar) Triwulan III , , KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

56 BAB 2 KEUANGAN PEMERINTAH Tabel 2.2. Pangsa Pendapatan Daerah Provinsi Gorontalo Triwulan II 2013 dan Triwulan II 2014 No Uraian Triwulan III 2013 (%) Triwulan III 2014 (%) I Pendapatan Asli Daerah (PAD) a. Pajak Daerah b. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah - - c. Retribusi Daerah d. Lain-lain PAD II Dana Perimbangan a. Bagi Hasil Pajak b. Dana Alokasi Umum c. Dana Alokasi Khusus III Lain-lain Pendapatan Total Pendapatan Sumber : Dinas Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Gorontalo REALISASI BELANJA DAERAH Hingga triwulan III 2014, realisasi belanja daerah Pemerintah Provinsi Gorontalo masih relatif minim, yaitu tercatat sebesar Rp774,19 miliar atau 59,48% dari pagu total anggaran belanja tahun Realisasi tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan triwulan III 2013 dengan penyerapan realisasi belanja sebesar 66,49% dari anggaran, terutama disebabkan oleh masih rendahnya realisasi Belanja Langsung yaitu baru mencapai Rp380,22 miliar atau 53,23% dari anggaran. Realisasi komponen Belanja Tidak Langsung juga masih belum optimal dimana realisasinya mencapai Rp393,98 miliar atau 67,09% dari pagu anggaran belanja tahun Belanja Langsung merupakan komponen belanja yang memiliki share terbesar terhadap target belanja pemerintah daerah Provinsi Gorontalo tahun 2014 yaitu sebesar 54,88%, namun demikian dalam pelaksanaannya hingga triwulan III 2014 realisasi belanja langsung masih rendah yaitu 49,11% dari total realisasi belanja. Rendahnya realisasi tersebut disebabkan oleh masih rendahnya realisasi Belanja Modal yaitu baru mencapai Rp113,13 miliar atau 42,03% dari pagu anggaran belanja modal tahun 2014 sebesar Rp269,15 miliar. Demikian pula dengan komponen belanja barang dan jasa realisasinya baru mencapai Rp244,99 miliar atau 60,13% dari pagu belanja barang dan jasa tahun Realisasi Belanja Tidak Langsung Pemerintah pada triwulan III 2014 tercatat sebesar Rp393,98 miliar atau 67,09% dari pagu anggaran belanja Realisasi pada komponen tersebut terdiri dari Belanja Pegawai, Belanja Hibah, Belanja Bantuan Sosial, Belanja Bagi Hasil Pajak Daerah kepada Kabupaten/Kota. Realisasi terbesar adalah Belanja Pegawai sebesar Rp187,52 miliar, diikuti oleh Belanja Hibah sebesar Rp128,17 miliar dan Belanja Bagi Hasil Pajak Daerah sebesar Rp67,78 miliar. Komposisi total belanja tidak langsung APBD triwulan III KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

57 BAB 2 KEUANGAN PEMERINTAH didominasi oleh ketiga komponen tersebut dengan total pangsa mencapai 97,33% dari total realisasi belanja tidak langsung. Realisasi belanja pegawai yang cukup tinggi tersebut dipengaruhi oleh pembayaran gaji ke-13 PNS, TNI, Polri, dan Pensiunan yang dilakukan Juli- Agustus Sementara itu, realisasi Belanja Modal dan Belanja Barang dan Jasa hingga triwulan III 2014 masih cukup rendah dan menurun dibandingkan triwulan III Belanja modal misalnya baru terealisasi sebesar Rp113,13 miliar atau 42,03% dari pagu belanja modal APBD 2014 yang direncanakan. Kondisi tersebut tentunya memerlukan effort yang lebih tinggi pada triwulan IV 2014 untuk segera merealisasikan belanja modal terutama untuk pembangunan infrastruktur seperti jalan, pelabuhan dan bandara yang sangat dibutuhkan untuk mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi Gorontalo. Hal yang perlu mendapat perhatian pula adalah belanja barang dan jasa dimana hingga triwulan III 2014, realisasinya baru mencapai Rp244,99 miliar atau hanya 29,76% dari pagu belanja barang dan jasa tahun Berdasarkan kondisi realisasi anggaran pendapatan dan belanja daerah, terlihat bahwa Provinsi Gorontalo berada dalam kondisi surplus yang cukup besar pada triwulan III 2014 yaitu mencapai Rp113,56 miliar, sedikit lebih rendah dibandingkan triwulan III 2013 yang mengalami surplus Rp133,64 miliar. Ruang fiskal (fiscal space) yang relatif besar tersebut menunjukkan penggunaan anggaran Pemerintah Daerah belum cukup optimal, dan upaya lebih optimal dalam merealisasikan alokasi belanja khususnya belanja modal dan belanja barang dan jasa yang sangat diperlukan untuk mendorng percepatan pertumbuhan ekonomi Provinsi Gorontalo. No Tabel 2.3. Realisasi Belanja Daerah Provinsi Gorontalo Triwulan III 2014 Sumber : Dinas Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Gorontalo Realisasi (Rp miliar) % Realisasi thd APBD Realisasi (Rp miliar) % Realisasi thd APBD I Belanja Operasi a. Belanja Pegawai b. Belanja Barang dan Jasa c. Belanja Bunga d. Belanja Subsidi e. Belanja Hibah f. Belanja Bantuan Sosial g. Belanja Bantuan Keuangan II Belanja Modal III Belanja Tidak Terduga IV Belanja Bagi Hasil Total Belanja Uraian APBDP 2013 (Rp miliar) Triwulan III 2013 APBD 2014 (Rp miliar) Triwulan III , , KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

58 BAB 2 KEUANGAN PEMERINTAH Tabel 2.4. Pangsa Belanja Daerah Provinsi Gorontalo Triwulan II 2013 dan Triwulan II 2014 No Uraian Triwulan III 2013 (%) Triwulan III 2014 (%) I Belanja Operasi a. Belanja Pegawai b. Belanja Barang dan Jasa c. Belanja Bunga - - d. Belanja Subsidi - - e. Belanja Hibah f. Belanja Bantuan Sosial g. Belanja Bantuan Keuangan II Belanja Modal III Belanja Tidak Terduga IV Belanja Bagi Hasil Total Belanja Sumber : Dinas Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Gorontalo Kinerja fiskal pada triwulan III 2014 belum menunjukkan perubahan yang signifikan dalam memberikan stimulan terhadap perkembangan sektor riil. Realisasi anggaran konsumsi pemerintah memberikan pangsa 64,51%, lebih rendah dibandingkan pangsa triwulan III 2013 yang sebesar 68,39%. Hal yang serupa juga terjadi pada belanja modal yang memiliki pangsa hanya 42,19% atau juga lebih rendah dibandingkan pangsa triwulan III 2013 yaitu 60,73%. Baik realisasi anggaran konsumsi maupun belanja modal mengalami penurunan dibandingkan triwulan III Oleh karena itu, Pemerintah Daerah sebaiknya dapat memanfaatkan penggunaan dana APBN secara optimal sehingga dapat mendorong pertumbuhan komponen konsumsi dan investasi PDRB Provinsi Gorontalo. No Uraian Sumber : Dinas Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Gorontalo Tabel 2.5. Stimulus Fiskal APBD terhadap Sektor Riil APBDP 2013 (Rp miliar) Triwulan III 2013 Realisasi (Rp miliar) % Realisasi thd PDRB APBD 2014 (Rp miliar) Triwulan III 2014 Realisasi (Rp miliar) % Realisasi thd PDRB I Konsumsi Pemerintah a. Belanja Pegawai b. Belanja Subsidi c. Belanja Hibah d. Belanja Bantuan Sosial e. Belanja Bagi Hasil f. Belanja Bantuan Keuangan g. Belanja Tidak Terduga h. Belanja Barang dan Jasa II Pembentukan Modal Tetap Bruto KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

59 BAB 3 INFLASI DAERAH Halaman ini sengaja dikosongkan KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

60 BAB 3 INFLASI DAERAH BAB 3 : INFLASI DAERAH Laju inflasi Gorontalo pada triwulan III 2014 relatif terkendali, yaitu tercatat sebesar 3,59% (yoy) lebih rendah dari inflasi nasional yang sebesar 4,53% (yoy). Sesuai pola historisnya, inflasi setelah bulan Ramadhan dan Hari Besar Keagamaan cenderung melemah sebagai dampak berlakunya faktor seasonal. Realisasi inflasi pada triwulan III 2014 tersebut berada sedikit dibawah proyeksi sebelumnya yang berkisar antara 3,76%-4,76% (yoy). Dari sisi permintaan, peningkatan harga pada beberapa komoditas seperti tomat sayur, cabai rawit, bawang merah menjadi faktor-faktor penyebab inflasi di triwulan III Sedangkan komoditas yang mengalami penurunan harga terjadi pada komoditas ikan segar seperti ikan Nike, ikan Layang, ikan Selar, dan ikan Teri, karena pasokannya cukup melimpah. Dari sisi penawaran, kenaikan harga rokok di tingkat penjualan eceran serta kenaikan tarif dasar listrik memberikan sumbangan inflasi pada triwulan III Dari sisi eksternal, tekanan inflasi juga dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar Rupiah, meskipun volatilitasnya tetap terjaga. 3.1 PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH Secara umum inflasi Gorontalo pada triwulan III 2014 menunjukan kondisi yang relatif terkendali. Stabilnya inflasi pada triwulan laporan disebabkan karena perkembangan harga komoditas yang relatif stabil meskipun mendapatkan tekanan pada bulan Juli Hal ini dapat dilihat pada laju inflasi bulanan (mtm) Gorontalo pada Juli, Agustus dan September 2014 secara berturut-turut adalah sebesar 0,77%, -0,52% dan 0,03%. Pada triwulan III 2014, kelompok bahan makanan tercatat mengalami inflasi sebesar 0,75% (yoy), kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 7,57% (yoy), kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 4,98% (yoy), kelompok sandang sebesar 5,32% (yoy), kelompok kesehatan sebesar 5,64% (yoy), kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 3,72% (yoy), serta kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,8% (yoy) (Tabel 3.1). 38 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

61 BAB 3 INFLASI DAERAH Tabel 3.1. Inflasi Tahunan Menurut Kelompok Barang dan Jasa (yoy) No. Kelompok I II III IV I II III IV I II III IV I II III 1 Bahan makanan 8,50 12,04-0,70-0,62 1,90 3,58 6,02 6,66 9,62 3,32 0,42 6,61 0,16 3,72 0,75 Makanan Jadi, 2 Minuman, Rokok dan 8,32 7,44 4,82 7,69 6,00 7,04 7,11 5,48 7,91 6,37 6,18 8,17 6,79 8,72 7,57 Tembakau 3 Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar 4,21 5,05 6,58 7,85 12,67 10,47 7,59 7,05 1,70 2,82 2,97 3,69 4,62 4,61 4,98 4 Sandang 4,14 5,12 12,33 9,78 9,44 7,12 0,44 1,83 1,92 0,90 1,45 1,09 2,70 5,43 5,32 5 Kesehatan 2,22 3,43 3,50 4,64 3,81 2,91 2,83 5,02 5,10 6,39 7,55 5,95 5,68 6,57 5,64 6 Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga 1,18 0,60 3,88 3,96 3,72 4,26 0,88 0,61-0,14 0,04 0,00 0,28 1,81 2,26 3,72 7 Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan 2,44 3,36 1,38 2,44 3,18 3,00 2,18 1,74 1,21 3,92 9,18 9,14 12,27 8,27 0,8 Umum 5,77 7,11 3,27 4,08 5,90 5,95 5,40 5,31 5,18 3,59 3,40 5,84 5,10 5,82 3,59 Sumber : BPS Provinsi Gorontalo (diolah) Jika dilihat secara tahunan, maka tingkat inflasi Gorontalo pada akhir triwulan III 2014 adalah sebesar 3,59% (yoy), lebih rendah jika dibandingkan inflasi triwulan sebelumnya yang sebesar 5,82% (yoy). Inflasi pada triwulan III 2014 tersebut juga searah dengan perkiraan sebelumnya yang berada pada kisaran 3,26%-5,26% (yoy), serta lebih rendah dari realisasi inflasi nasional yang sebesar 4,53% (yoy). Grafik 3.1. Inflasi Nasional dan Gorontalo Grafik 3.2. Peta Inflasi Nasional Sumber : BPS Provinsi Gorontalo (diolah) Sumber : BPS Provinsi Gorontalo (diolah) Tabel 3.2. Inflasi Bulanan Menurut Kelompok Barang dan Jasa (mtm) Bulanan (mtm) No. Kelompok Bahan makanan 6,39 4,79-10,97 1,10 2,78 4,02 0,79-5,01 0,04 2,75-2,12 0,13 1,10-3,27 0,12 2 Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan 0,45 0,14 0,98 0,03 1,99 0,74 0,40 0,38 0,17 0,78 0,44 0,71 0,74 0,22 0,22 3 Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar 0,17 0,64 0,25 0,38 0,51 0,38 0,82 0,42 0,02 0,13 0,07 0,30 0,63 0,60 0,29 4 Sandang -0,17 0,50 1,43 0,25-0,19 0,22 0,02-0,42 1,30 0,71 0,30 1,46 1,38 0,33-0,37 5 Kesehatan 0,13 1,11 0,53 0,77 0,34 0,63 0,96 0,28 0,70 0,56 0,60 0,77 0,22 0,00 0,24 6 Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga -0,01 0,09 0,04 0,18 0,02 0,00 0,56 0,39 0,02 0,38-0,02 0,50 1,60-0,02 0,01 7 Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan 4,91 0,46-0,17 0,28 0,03 0,03-0,95 0,02 0,88 0,16 0,09 0,47 0,38-0,04-0,54 Umum 2,78 1,89-3,43 0,53 1,35 1,54 0,36-0,98 0,31 0,89-0,34 0,45 0,77-0,52 0,03 Sumber : BPS Provinsi Gorontalo Pada triwulan III 2014 tersebut, kelompok komoditas yang memberikan sumbangan inflasi terbesar adalah kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,08%, dengan komoditas yang mengalami peningkatan harga tertinggi adalah tarif listrik dan bahan bakar rumah tangga. Peningkatan kedua komoditas tersebut disebabkan oleh adanya kenaikan KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

62 BAB 3 INFLASI DAERAH TDL dan kenaikan harga LPG 12Kg. Kelompok komoditas kedua yang memberikan sumbangan inflasi terbesar adalah makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,04%, dengan komoditas yang mengalami peningkatan harga tertinggi adalah rokok kretek filter. Peningkatan harga rokok tersebut disebabkan oleh adanya pajak rokok yang diberlakukan sejak Januari 2014 yaitu sebesar 10% dari total nilai cukai yang dikenakan. Sedangkan kelompok bahan makanan, komoditas yang mengalami peningkatan harga tertinggi adalah tomat sayur, cabe rawit, bawang merah, ayam hidup dan daging ayam. Peningkatan laju inflasi tersebut searah dengan peningkatan laju inflasi secara nasional akibat bulan puasa Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Sumbangan inflasi pada kelompok lainnya dapat dilihat pada Tabel 3.3. Sumber: BPS (diolah) Tabel 3.3. Andil Inflasi Kelompok Barang dan Jasa No. Komoditas Andil Inflasi(%) Jul Aug Sep 1 Bahan Makanan 0,25-0,71 0,03 2 Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau 0,12 0,03 0,04 3 Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar 0,18 0,17 0,08 4 Sandang 0,07 0,02-0,02 5 Kesehatan 0,01 0,00 0,01 6 Pendidikan, Rekreasi dan Olah Raga 0,08 0,00 0,00 7 Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan 0,07-0,01-0,10 Tabel 3.4. Perbandingan Inflasi Kota di Sulampua No Kota Triwulan III 2014 mtm yoy ytd 1 Gorontalo 0,03 3,59 0,95 2 Jayapura 0,46 4,23 1,58 3 Kendari -0,13 1,05 2,1 4 Manado -0,03 4 2,54 5 Pare-Pare 0,04 3,04 3,04 6 Manokwari -0,22 5,27 3,37 7 Makassar 0,39 3,57 3,81 8 Ambon -0,26 2,27 3,85 9 Mamuju 0,71 4,46 3,91 10 Watampone -0,18 4,55 4,03 11 Palopo -0,60 4,03 4,09 12 Palu -0,36 5,46 4,24 13 Bulukumba -0,28 7,3 4,56 14 Tual -0,89 8,85 4,57 15 Ternate 0,87 5,4 4,61 16 Bau-Bau -0,77 3,98 5,35 17 Merauke 1,08 5,29 5,86 18 Sorong 0,85 5,34 6,06 Sumber : BPS Provinsi Gorontalo (diolah) Grafik 3.3. Peta Inflasi Sulawesi Sumber : BPS Provinsi Gorontalo (diolah) Jika dilihat dari tingkat inflasi tahun kalender seluruh kota di Sulampua (tabel 3.4), maka Gorontalo menduduki peringkat pertama terendah, yakni hanya sebesar 0,95% (ytd). Perkembangan laju inflasi tahun kalender pada triwulan III 2014 tersebut meningkat jika 40 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

63 BAB 3 INFLASI DAERAH dibanding triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,67%(ytd) namun masih merupakan yang terendah jika dibanding triwulan ketiga sepanjang 3 tahun sebelumnya. Laju inflasi kumulatif (ytd) Gorontalo pada triwulan III di tahun 2011, 2012, 2013, dan 2014 berturut-turut sebesar 2,89%, 4,20%, 2,31%, dan 0,95% (tabel 3.5). Tabel 3.5. Inflasi Tahun Kalender Menurut Kelompok Barang dan Jasa (ytd) No. Kelompok I II III IV I II III IV I II III IV I II III 1 Bahan makanan -2,66-1,57-1,80-0,62-0,20 2,59 4,77 6,66 2,57-0,62-1,37 6,61-4,22-3,55-5,56 Makanan Jadi, 2 Minuman, Rokok dan 2,61 3,37 5,12 7,69 1,01 2,75 4,56 5,48 3,33 3,61 5,25 8,17 0,96 2,92 4,15 Tembakau Perumahan, Air, Listrik, 3 Gas dan Bahan Bakar 1,73 2,99 6,70 7,85 6,28 5,49 6,44 7,05 0,97 1,32 2,39 3,69 1,26 1,76 3,32 4 Sandang 0,18 2,46 10,59 9,78-0,13-0,02 1,18 1,83-0,04-0,93 0,81 1,09 0,90 3,41 4,80 5 Kesehatan 1,57 2,69 3,47 4,64 0,76 1,00 1,68 5,02 0,83 2,31 4,13 5,95 1,95 3,93 4,40 6 Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga 0,62 0,24 3,76 3,96 0,39 0,53 0,69 0,61-0,36-0,04 0,08 0,28 0,97 1,85 3,47 7 Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan -0,04 0,66 1,60 2,44 0,68 1,21 1,34 1,74 0,16 3,37 8,76 9,14-0,06 0,66 0,45 Umum 0,02 1,04 2,89 4,08 1,77 2,85 4,20 5,31 1,65 1,17 2,31 5,84-0,32 0,67 0,95 Sumber : BPS Provinsi Gorontalo (diolah) Deflasi yang terjadi pada kelompok core inflation pada triwulan III 2014 berasal dari penurunan harga beberapa komoditas antara lain oleh turunnya harga ikan Tuna -0,03% dan ikan Nike yang menyumbang deflasi sebesar -0,02%, sedangkan faktor pendorong inflasi pada kelompok core inflation antara lain seperti pada komoditas nanas (0,04%), biskuit (0,02%). Inflasi kelompok non-core inflation disumbang oleh kenaikan harga komoditas cabai rawit yang menyumbang inflasi terbesar yaitu sebesar 0,22%, diikuti oleh tomat sayur (0,09%), dan bawang merah (0,08%). Tekanan inflasi juga disumbang dari kenaikan harga rokok kretek filter, tarif listrik dan bahan bakar rumah tangga. Perkembangan harga beberapa komoditas di Gorontalo dapat dilihat pada tabel 3.6. KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

64 BAB 3 INFLASI DAERAH Tabel 3.6. Perkembangan Harga Beberapa Komoditas Hasil Survei Pemantaun Harga (SPH) Penurunan harga beberapa komoditas di Gorontalo tersebut dipicu normalisasi harga pasca Bulan Puasa Ramadhan dan Hari Raya Idhul Fitri yang tercermin pada harga daging ayam ras pada pertengahan triwulan III 2014 menurun dari Rp50.000/kg menjadi Rp45.000/kg. Komoditas tomat sayur juga mengalami kondisi yang serupa yaitu turun dari harga Rp25.000/kg menjadi Rp7.500/kg. Sementara kenaikan harga rokok disebabkan oleh adanya pajak rokok yang dikenakan atas cukai rokok yang ditetapkan oleh Pemerintah dan mulai berlaku pada tanggal 1 Januari Pasca diberlakukannya pajak rokok tersebut, industri rokok nasional mulai meningkatkan harga jual mereka, sehingga kenaikan rokok berdampak inflasi pada triwulan III Beberapa komoditas lain yang mempengaruhi inflasi pada triwulan III 2014 dapat dilihat dalam tabel KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

65 BAB 3 INFLASI DAERAH No Inflasi Komoditas core inflation Sumber : BPS Provinsi Gorontalo (diolah) Tabel 3.7. Komoditas Penyumbang Inflasi dan Deflasi Gorontalo Andil No Inflasi Komoditas volatile foods Andil No Inflasi Komoditas administred prices 1 nanas 0,04 1 Cabai Rawit 0,22 1 tarip listrik 0,04 2 biskuit 0,02 2 Tomat Sayur 0,09 2 Rokok Kretek Filter 0,04 3 gula pasir 0,01 3 Kangkung 0,08 3 Rokok Kretek 0,01 4 bubara 0,01 Deflasi Deflasi 5 sewa rumah 0,01 1 Bawang Merah -0,22 1 Angkutan Udara -0,10 Deflasi 2 Layang/Benggol -0,12 1 tuna -0,03 3 teri -0,06 2 nike -0,02 4 ayam hidup -0,03 3 deho -0,02 5 ketimun -0,03 4 sabun detergen bubuk -0,02 6 kembung -0,05 5 emas -0,01 7 terong panjang -0,02 6 blus -0,01 8 cumi-cumi -0,02 Andil Dari sisi eksternal, nilai rupiah pada triwulan III 2014 tercatat sedikit melemah jika dibandingkan dengan triwulan II Rupiah secara rata-rata melemah 2,2% (qtq) dari triwulan sebelumnya menjadi Rp per dolar AS. Pelemahan Rupiah tersebut dipengaruhi oleh faktor sentimen terkait dengan dinamika geopolitik dan kemungkinan normalisasi kebijakan The Fed yang lebih cepat dari perkiraan semula. Faktor sentimen domestik terkait dengan perilaku investor yang menunggu rencana kebijakan pemerintah ke depan, termasuk kebijakan terkait dengan subsidi energi. Pelemahan rupiah tersebut dapat memberikan tekanan pada stabilitas harga di dalam negeri. Ekspektasi inflasi dunia usaha yang diambil melalui Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia tercatat lebih rendah dari realisasi inflasi pada triwulan III 2014, sebagaimana ditunjukkan dalam grafik 3.4. Grafik 3.4. Ekspektasi Inflasi SKDU Grafik 3.5. Nilai Tukar Rupiah Rp Rp Rp Rp Rp Rp ,719 Rp9.250 Rp8.750 Rp8.250 I II III IV I II III IV I II III IV I II III KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

66 BAB 3 INFLASI DAERAH Tabel 3.8. Perhitungan Tarif Tenaga Listrik Gol. Tarif Batas Daya Tarif Listrik Reguler (Rp/kwh) Mei '14 Jul '14 Sep '14 Nov '14 I-1/TR 450 VA I-1/TR 900 VA I-1/TR VA I-1/TR VA I-1/TR s.d. 14 kva 1,112 1,112 1,112 1,112 I-2/TR di atas 14 kva s.d. 200 kva 1,057 1,057 1,057 1,057 I-3/TM Sumber : PLN di atas 200 kva 864 (Non Go Public ) 938 (Go Public ) Adapun peningkatan inflasi tarif listrik pada triwulan III 2014 sejalan dengan kebijakan yang dilakukan pemerintah pusat untuk menaikkan tarif tenaga listrik (TTL) untuk enam golongan konsumen. Peningkatan inflasi pada jasa angkutan laut terjadi karena PT Pelni melakukan penyesuaian harga tarif angkutan penumpang laut kelas ekonomi dengan rata-rata kenaikan sebesar 20% pada 15 Mei (Non Go Public ) (Go Public ) (Non Go Public ) (Go Public ) (Non Go Public ) (Go Public ) I-4/TT kva ke atas ,051 1, KOORDINASI PENGENDALIAN INFLASI Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Gorontalo akan terus berkordinasi untuk menjaga potensi terjadinya gejolak inflasi. Untuk memperkuat koordinasi dalam pengambilan kebijakan terkait inflasi, Pemerintah Provinsi Gorontalo secara aktif terus mendorong pembentukan TPID di tingkat kabupaten/kota. Tercatat hingga triwulan laporan, telah terbentuk 1 (satu) TPID Provinsi dan 6 (enam) TPID di seluruh kabupaten/kota sesuai tabel 3.9. Tabel 3.9. Daftar TPID di Provinsi Gorontalo No TPID Dasar Pembentukan 1 TPID Provinsi Gorontalo SK Gubernur Gorontalo No. 422/03/XII/ TPID Kota Gotontalo SK Walikota Gorontalo No.7/25/I/ TPID Kab. Gorontalo Utara SK Bupati Gorontalo Utara No. 30 Tahun TPID Kab. Bone Bolango SK Bupati Bone Bolango No. 46/KEP/BUP.BB/101/ TPID Kabupaten Gorontalo SK Bupati Gorontalo No.201/01.5/II/ TPID Kab. Pohuwato SK Bupati Pohuwato No.161/I/III/ TPID Kab. Boalemo SK Bupati Boalemo No.163 Tahun 2014 Dalam rangka menghadapi rencana pembatasan kouta BBM bersubsidi, rencana kenaikan BBM, risiko inflasi pangan terkait potensi terjadinya el nino, kenaikan tarif tenaga listrik dan kenaikan LPG 12 kg, pada Triwulan III 2014 TPID Provinsi Gorontalo tetap secara berkesinambungan melakukan koordinasi pengendalian inflasi di daerah terutama dalam merumuskan langkah-langkah antispasi yang diperlukan dalam mengendalikan inflasi yang berkembang dan meminimalisir dampaknya yaitu dengan melakukan pertemuan baik pada level Rapat Teknis maupun Rapat Koordinasi Wilayah TPID seluruh level Provinsi/Kabaupaten/Kota di 44 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

67 BAB 3 INFLASI DAERAH Gorontalo. Selain itu juga pertemuan TPID dilaksanakan dalam rangka menindaklanjuti hasil pertemuan Rapat Koordinasi Pusat dan Daerah Wilayah KTI berkenaan dengan kerjasama perdagangan antar daerah, penyediaan data neraca pangan, serta mekanisme koordinasi pengendalian inflasi dan penilaian TPID. KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

68 BOKS.2: DUNIA USAHA DI GORONTALO SIAP MENGHADAPI PENYESUAIAN HARGA BBM BERSUBSIDI BAB 3 INFLASI DAERAH Terkait dengan rencana pemerintah pusat yang berencana untuk melakukan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, maka Bank Indonesia Provinsi Gorontalo melakukan survei singkat terhadap kalangan dunia usaha di Gorontalo untuk menanggapi isu penyesuaian harga tersebut. Survei dilakukan terhadap 50 (lima puluh) perusahaan yang mewakili seluruh sektor ekonomi. Dari hasil survei tersebut, 52% responden menyatakan setuju jika pemerintah melakukan penyesuaian harga BBM bersubsidi. Sedangkan timing atau waktu yang tepat untuk penyesuaian harga BBM adalah pada bulan Desember Besaran kenaikan sendiri diharap tidak terlalu besar, dimana hal ini terlihat dari jawaban responden yang menyatakan bahwa kenaikan harga BBM cukup dikisaran Rp.500,00 Rp.1.000,00. Grafik 1. Pendapat Responden Terhadap Rencana Grafik 2. Timing Penyesuaian Harga BBM Penyesuaian Harga BBM 12% 48% 52% Setuju Tidak Setuju 8% 2% 26% Nov'14 Des'14 Jan'15 Feb'15 Mar'15 52% Grafik 3. Besaran Kenaikan Harga yang Masih Dapat Diakomodir 16% 2% 38% 44% Rp 500,- Rp.1.000,- Rp.2.000,- Rp.3.000,- > Rp.3.000,- 46 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

69 BAB 3 INFLASI DAERAH Jika penyesuaian harga BBM bersubsidi berada pada kisaran Rp.2.000,00 Rp.3.000,00, kalangan dunia usaha menyatakan akan melakukan beberapa tindakan penyesuaian, antara lain dengan cara menaikkan harga jual, mengurangi produksi, mencari alternative bahan baku lain, bahkan jika dirasa perlu akan mengurangi tenaga kerja. Namun berbagai tindakan penyesuaian tersebut baru akan dilakukan satu hingga tiga bulan pasca kenaikan harga seperti terlihat pada Grafik 4. Grafik 4. Timing Penyesuaian Harga Jual oleh Kalangan Dunia Usaha 8% 4% 54% 34% Dari sebelum harga BBM bersubsidi dinaikkan Langsung sesaat setelah harga BBM bersubsidi dinaikkan 1 3 bulan setelah harga BBM bersubsidi dinaikkan > 3 bulan setelah harga BBM bersubsidi dinaikkan Secara umum, dari hasil survey tersebut dapat disimpulkan bahwa kalangan dunia usaha di Provinsi Gorontalo setuju dengan kenaikan harga BBM bersubsidi, asalkan tidak naik terlalu tinggi. Jika kenaikan BBM lebih dari Rp.2.000,00 maka kemungkinan pengusaha akan menyikapinya dengan meningkatkan harga jual atau melakukan penghematan dengan mengurangi produksi ataupun mencari bahan baku yang lebih murah. Selain itu, kalangan dunia usaha berharap dengan berkurangnya subsidi BBM akan berdampak pada ruang fiskal yang lebih besar bagi pemerintah yang baru, dana bisa dimaksimalkan untuk menggenjot infrastruktur, yang paling dibutuhkan untuk kalangan dunia usaha di Gorontalo saat ini adalah infrastruktur di sektor transportasi dan logistik. KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

70 BAB 4 : SISTEM KEUANGAN DAN BAB 4 SISTEM KEUANGAN DAN PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN Pada triwulan III 2014, kinerja perbankan di Provinsi Gorontalo menunjukkan perkembangan yang melambat sebagaimana terlihat pada beberapa indikator. Jumlah Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun perbankan Gorontalo sebesar Rp.3,88 triliun atau tumbuh sebesar 12,81% (y.o.y), lebih lambat dari pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 15,08% (y.o.y), dipengaruhi antara lain oleh melambatnya pertumbuhan jumlah Giro dari 38,61% menjadi 13,07% (y.o.y). Sementara itu jumlah kredit yang disalurkan sebesar Rp.7,47 triliun, tumbuh sebesar 13,49% (y.o.y) melambat dibanding triwulan sebelumnya sebesar 14,82% (y.o.y) karena kredit investasi yang tumbuh negatif sebesar -14,01%. Rasio penyaluran kredit terhadap DPK atau Loan to Deposit Ratio (LDR) pada triwulan III 2014 mencapai 192,65%. Sementara itu rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) relatif terjaga yaitu 3,71%, sedangkan khusus UMKM NPLs tercatat sebesar 9,05%. 4.1 FUNGSI INTERMEDIASI PERBANKAN Jumlah bank yang beroperasi di Gorontalo hingga saat ini sebanyak 17 bank umum dan 4 BPR yang tersebar di 6 kabupaten/kota di Gorontalo, belum ada tambahan bank baru pada triwulan III Jumlah jaringan kantor bank di Gorontalo mencapai 101 kantor dengan 18 kantor cabang, 42 cabang pembantu, 30 kantor unit, 2 kantor fungsional, dan 9 kantor kas. Sementara, jaringan kantor BPR sebanyak 8 kantor dengan 4 kantor pusat, 3 kantor cabang dan 1 kantor kas. Total aset bank umum hingga triwulan III 2014 mencapai Rp7,68 triliun (grafik 4.1), meningkat dibanding triwulan sebelumnya yang tercatat Rp7,51 triliun. Sementara untuk BPR, total aset pada triwulan III 2014 mencapai Rp33,88 miliar, menurun sebesar -3,24% dibanding triwulan sebelumnya yang tercatat Rp35,02 miliar. Penurunan aset BPR seiring dengan penurunan jumlah kredit yang disalurkan dari Rp28,11 miliar pada triwulan II 2014 menjadi Rp26,67 miliar pada triwulan III Fungsi intermediasi perbankan yang terefleksi dari angka LDR tercatat sebesar 192,65%, menunjukkan bahwa fungsi intermediasi perbankan Gorontalo secara umum berjalan baik. Angka LDR triwulan III 2014 tersebut sedikit mengalami penurunan dibanding triwulan II 2014 yang tercatat 194,66%, antara lain dipengaruhi oleh adanya perlambatan pertumbuhan kredit perbankan khususnya jenis kredit investasi yang tumbuh negatif sebesar -14,01% (grafik 4.2). Sementara untuk Bank Perkreditan Rakyat (BPR), angka LDR pada triwulan III 2014 tercatat juga tinggi yaitu sebesar 142,83%. 48 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

71 TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III BAB 4 SISTEM KEUANGAN DAN PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN Secara umum, LDR tersebut masih tergolong tinggi karena angka di atas 100% merefleksikan bahwa sebagian dana yang dihimpun oleh perbankan Gorontalo masih jauh lebih kecil dibandingkan kredit yang disalurkan. Upaya penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) perlu terus ditingkatkan antara lain melalui edukasi dan promosi perbankan kepada masyarakat untuk dapat memanfaatkan layanan jasa perbankan misalnya dengan menempatkan dananya di perbankan Gorontalo. Untuk LDR ini, pada dasarnya Bank Indonesia telah menyesuaikan ketentuan range LDR individual bank yang dikaitkan dengan GWM dari 78% - 100% menjadi 78% - 92%. Grafik 4.1. Perkembangan Aset Perbankan Gorontalo Grafik 4.2. Perkembangan LDR Perbankan Gorontalo 9,000,000 8,000,000 7,000,000 6,000,000 5,000,000 4,000,000 3,000,000 2,000,000 1,000,000 - ASET (Rp. Juta) Growth ASET (%) 35% 7,684,177 30% 25% 20% 15% 13.30% 10% 5% 0% 40% 35% 30% 25% 20% 15% 10% 5% 0% LDR Aset Kredit DPK % % % % 14.82% 15.77% 15.08% 250% 200% 150% 100% 50% 0% TAHUN 2011 TAHUN 2012 TAHUN 2013 TAHUN 2014 TAHUN 2011 TAHUN 2012 TAHUN 2013 TAHUN PENGHIMPUNAN DANA PIHAK KETIGA Jumlah dana yang berhasil dihimpun oleh perbankan di Gorontalo hingga triwulan III 2014 mencapai Rp3,88 triliun atau tumbuh sebesar 12,81%, tumbuh lebih lambat dibanding triwulan sebelumnya sebesar 15,08% (Grafik 4.3). Relatif melambatnya pertumbuhan DPK tersebut karena penurunan jumlah nominal Giro yaitu dari Rp670,62 miliar (tumbuh 38,61% y.o.y) pada triwulan II 2014 menjadi Rp653,14 miliar (tumbuh 13,07% y.o.y) pada triwulan III Penurunan giro tersebut terefleksi dari berkurangnya giro pemerintah daerah pada perbankan sebesar Rp21,87 miliar, yang diperkirakan untuk merealisasikan pembiayaan/pembayaran proyek atau belanja pemerintah daerah. Meskipun secara umum DPK tumbuh melambat, namun jumlah tabungan tercatat sebesar Rp2,05 triliun atau tumbuh 7,10% (y.o.y) lebih tinggi dibanding triwulan II 2014 yang tumbuh sebesar 5,13%. Namun demikian, satu hal yang perlu mendapat perhatian perbankan adalah adanya penurunan jumlah rekening tabungan dari rekening pada triwulan II 2014 menjadi rekening pada triwulan III 2014 atau berkurang rekening. Dilihat dari komposisinya, dana pihak ketiga perbankan terbesar masih bersumber dari jenis tabungan yang mencapai Rp2,05 triliun atau 52,83% dari total DPK. Selanjutnya jenis deposito sebesar Rp1,18 triliun atau 30,32% dari total DPK, sedangkan giro hanya sebesar Rp653,14 miliar atau 16,85% dari total dana yang dihimpun (Grafik 4.4). KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

72 TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III BAB 4 SISTEM KEUANGAN DAN PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN Grafik 4.3. Perkembangan DPK Perbankan Gorontalo Grafik 4.4. Share Komponen DPK Perbankan Gorontalo 2,500,000 2,000,000 1,500,000 DEPOSITO (Rp. Juta) TABUNGAN (Rp. Juta) GIRO (Rp. Juta) Growth DPK (%) 30% 2,048,16525% 20% Giro Deposito Tabungan 653,143, 17% 1,000, ,000-1,175,453 15% 12.81% 10% 653,143 5% 0% 2,048,165, 53% 1,175,453, 30% TAHUN 2011 TAHUN 2012 TAHUN 2013 TAHUN PENYALURAN KREDIT PERBANKAN Jumlah kredit/pembiayaan yang disalurkan oleh bank umum di Gorontalo pada triwulan III 2014 tercatat Rp7,47 triliun atau tumbuh sebesar 13,49% (y.o.y) seperti terlihat pada Grafik 4.5. Pertumbuhan kredit tersebut mengalami perlambatan dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 14,82% (y.o.y) karena kredit konsumsi yang memiliki share terbesar terhadap kredit, tumbuh melambat dari 21,74% (y.o.y) pada triwulan II 2014 menjadi 18,92% (y.o.y) pada triwulan III Hal lainnya adalah kredit konsumsi yang tumbuh negatif sebesar -14,01% (y.o.y). Perlambatan pertumbuhan kredit tersebut diperkirakan sebagai bagian dari meminimalisir risiko kredit perbankan khususnya kredit produktif karena pada triwulan III 2014 rasio kredit bermasalah untuk kredit investasi tercatat sebesar 12,67% dan kredit modal kerja sebesar 7,40%. Adapun kredit pada Bank Perkreditan Rakyat (BPR) pada triwulan III 2014 tercatat Rp26,67 miliar atau tumbuh negatif sebesar -5,26% (y.o.y), turun dibanding triwulan sebelumnya tercatat sebesar Rp28,11 miliar. Penurunan jumlah kredit tersebut diperkirakan sebagai langkah manajemen BPR untuk meminimalisir risiko kredit karena terlihat rasio kredit bermasalah pada BPR terus menunjukkan kenaikan dimana pada triwulan III 2014 mencapai angka 15,07% cukup jauh di atas batas wajar NPLs sebesar 5%. Berdasarkan komposisinya, kredit perbankan di Gorontalo masih dominan disalurkan pada jenis kredit konsumsi yaitu sebesar 65,78% dari total kredit perbankan yang mencapai Rp7,47 triliun. Sementara jenis kredit produktif yaitu investasi dan modal kerja masing-masing hanya memiliki share sebesar 6,06% dan 28,16% dari total kredit perbankan di Gorontalo. Cukup tingginya permintaan kredit konsumsi dan rendahnya risiko kredit konsumsi, diperkirakan menjadi faktor yang turut mempengaruhi meningkatnya permintaan dan share kredit konsumsi dibandingkan triwulan II 2014 yang tercatat sebesar 64,78% (Grafik 4.6). Sementara melambatnya pertumbuhan kredit jenis investasi dan modal kerja diperkirakan karena risiko kredit yang masih cukup tinggi yaitu masing-masing tercatat 12,67% dan 7,40%. 50 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

73 TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III BAB 4 SISTEM KEUANGAN DAN PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN Grafik 4.5. Perkembangan Kredit Jenis Penggunaan Grafik 4.6. Share Kredit Menurut Jenis Penggunaan 6,000,000 5,000,000 4,000,000 MODAL KERJA (Rp. Juta) INVESTASI (Rp. Juta) KONSUMSI (Rp. Juta) Growth KREDIT 40% 4,912,994 35% 30% 25% Investasi Modal Kerja Konsumsi 452,883, 6% 3,000,000 20% 2,000,000 1,000,000-2,102,858 15% 13.49% 10% 452,883 5% 0% 4,912,994, 66% 2,102,858, 28% TAHUN 2011 TAHUN 2012 TAHUN 2013 TAHUN 2014 Penyaluran kredit konsumsi (rumah tangga) pada triwulan III 2014 walaupun tercatat masih dominan dengan share 66%, namun pertumbuhannya relatif melambat yaitu 18,92% (y.o.y) pada triwulan III 2014, lebih lambat dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 21,74% (y.o.y). Hal tersebut terutama terjadi pada kredit multiguna yang merupakan salah satu penyumbang terbesar kredit konsumsi, tumbuh negatif sebesar -10,94% (y.o.y) pada triwulan III Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) juga tumbuh negatif yaitu -27,32% pada triwulan III 2014 (Grafik 4.8). Sementara Kredit Pemilikan Rumah (KPR) tercatat mengalami perlambatan pertumbuhan dari 49,06% (y.o.y) pada triwulan II 2014 menjadi 30,86% (y.o.y) pada triwulan III Secara umum perlambatan pertumbuhan kredit konsumsi merupakan respon perbankan untuk mengantisipasi kecenderungan naiknya rasio NPLs kredit rumah tangga yaitu dari 1,23% menjadi 1,31% dari total kredit rumah tangga sebesar Rp4,91 triliun. Sementara itu, khusus untuk kredit jenis KPR dan KKB, perlambatan diperkirakan dipengaruhi oleh adanya kebijakan Loan to Value (LTV) yaitu menaikkan prosentase uang muka debitur untuk fasilitas pembelian perumahan atau kendaraan bermotor dari 20% menjadi 30%. Dari total kredit konsumsi (rumah tangga) yang telah disalurkan pada triwulan III 2014 sebanyak Rp4,91 triliun, kredit multiguna memiliki pangsa sebesar 25,45% (Rp1,25 triliun), kemudian Kredit Pemilikan Rumah (KPR) memiliki pangsa sebesar 15,13% (Rp.743,49 miliar), Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) sebesar 3,26% (Rp160,23 miliar), dan selebihnya kredit pembelian perlengkapan dan kredit konsumsi lainnya (Grafik 4.7). KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

74 TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III Tw-I Tw-II Tw-III Tw-IV Tw-I Tw-II Tw-III Tw-IV Tw-I Tw-II Tw-III Tw-IV Tw-I Tw-II Tw-III Tw-I Tw-II Tw-III Tw-IV Tw-I Tw-II Tw-III Tw-IV Tw-I Tw-II Tw-III Tw-IV Tw-I Tw-II Tw-III BAB 4 SISTEM KEUANGAN DAN PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN Grafik 4.7. Kredit Rumah Tangga Menurut Grafik 4.8. Pertumbuhan Kredit Rumah Penggunaannya Tangga KPR KKB PERLENGKAPAN MULTIGUNA LAINNYA 3,000, % KPR KKB PERLENGKAPAN MULTIGUNA 2,500,000 2,000,000 (Rp. juta) % % % 1,500,000 1,250, % 1,000, , , , % % % 0.00% % 46.60% 30.86% % % Kredit produktif (modal kerja dan investasi) yang disalurkan oleh perbankan Gorontalo pada triwulan III 2014 tercatat mencapai Rp2,56 triliun. Dari jumlah tersebut, distribusinya masih didominasi oleh kredit kepada sektor perdagangan dengan pangsa sebesar 76,53% dari total kredit produktif yang disalurkan, diikuti oleh sektor konstruksi dengan pangsa sebesar 5,50% (Grafik 4.10). Tingginya permintaan kredit pada kedua sektor tersebut antara lain dipengaruhi oleh tingginya permintaan barang/jasa terkait kedua sektor tersebut sehubungan dengan libur lebaran (Juli-Agustus) dan realisasi proyek pemerintah dan swasta yang meningkat pada triwulan III 2014 antara lain pengerjaan proyek jalan raya di Gorontalo. Adapun kredit produktif kepada sektor pertanian, perikanan, dan pertambangan tercatat hanya memiliki pangsa masing-masing sebesar 3,53%, 0,89%, dan 0,20% dari total kredit produktif. Grafik 4.9. Penyaluran Kredit Perbankan Menurut Kelompok Penggunaan Grafik Kredit Produktif Sektor Ekonomi dengan Share Terbesar 6,000,000 5,000,000 4,000,000 KREDIT KONSUMTIF (Rp. Juta) Growth KREDIT PRODUKTIF (%) KREDIT PRODUKTIF (Rp. Juta) 4,912,994 60% 50% 40% 30% 2.03% 3.53% 3.43% 5.50% 3,000,000 2,000,000 1,000,000-2,555,74120% 10% 0% 4.34% -10% -20% PERTANIAN INDUSTRI KONSTRUKSI TAHUN 2011 TAHUN 2012 TAHUN 2013 TAHUN % PERDAGANGAN AKOMODASI Dilihat dari aspek pertumbuhan, secara umum kredit produktif yang disalurkan kepada sektor ekonomi di Gorontalo pada triwulan III 2014 sedikit meningkat dibanding triwulan sebelumnya (Grafik 4.9). Peningkatan pertumbuhan kredit produktif tersebut antara lain dipengaruhi oleh adanya pertumbuhan kredit sektor perdagangan yang tumbuh sebesar 52 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

75 TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III BAB 4 SISTEM KEUANGAN DAN PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN 10,01% (y.o.y), lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya sebesar 7,08% (.o.y). Dari hasil pendalaman melalui liaison yang dilakukan pada salah satu perusahaan perdagangan di Gorontalo, diperoleh informasi bahwa omzet perdagangan pada triwulan III 2014 mengalami peningkatan karena adanya momen lebaran pada akhir bulan Juli dan persiapan pelaksanaan Festival Karawo tahun Untuk sektor pertanian, jumlah kredit yang disalurkan hingga triwulan III 2014 tercatat sebesar Rp90,27 miliar. Kredit sektor ini tercatat tumbuh 5,08% (y.o.y) lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 35,39% (y.o.y), yang diperkirakan karena sebagian besar memasuki musim panen sehingga permintaan kredit relatif berkurang. Sementara jumlah kredit sektor konstruksi pada triwulan III 2014 tercatat sebesar Rp140,62 miliar atau tumbuh sebesar 9,10% (y.o.y), lebih lambat dibanding pertumbuhan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 19,38%. Perlambatan pertumbuhan kredit konstruksi tersebut diperkirakan didorong oleh mulai terealisasinya pembayaran (termin) pelaksanaan proyek sehingga mengurangi permintaan kredit sebagaimana tercermin antara lain dari angka rasio NPLs yang menunjukkan sedikit perbaikan dari 33,16% menjadi 27,81%. Selain itu, meminimalisir risiko diperkirakan turut menjadi pertimbangan perbankan dalam menyalurkan kredit ke sektor ini, karena jumlah kredit bermasalah pada sektor ini cukup tinggi seperti disebutkan di atas Perkembangan kredit produktif berdasarkan nominal dan pertumbuhan tahunan (y.o.y) dapat dilihat pada Grafik 4.11 dan 4.12 berikut ini. Grafik 4.11.Kredit Produktif Tiga Sektor Terbesar Grafik Pertumbuhan Kredit Sektor Terbesar 3,000,000 2,500,000 2,000,000 1,500,000 1,000, ,000 - Rp. juta KONSTRUKSI PERTANIAN PERDAGANGAN TOTAL KREDIT PRODUKTIF TAHUN 2011 TAHUN 2012 TAHUN 2013 TAHUN ,555, ,955, , % 100% 80% 60% 40% 20% 0% -20% -40% gpertanian gkonstruksi gperdagangan gkredit PRODUKTIF TAHUN 2011 TAHUN 2012 TAHUN 2013 TAHUN % 9.10% 5.08% 4.34% 4.4 KREDIT SEKTOR USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH (UMKM) Peran perbankan Gorontalo dalam mendukung perkembangan UMKM cukup signifikan. Hal ini terlihat pada penyaluran kredit kepada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Gorontalo dimana pada triwulan III 2014 mencapai Rp2,29 triliun (Grafik 4.13), dengan jumlah penerima mencapai debitur. Kredit UMKM tersebut tumbuh sebesar 7,19% (yoy), KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

76 TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III BAB 4 SISTEM KEUANGAN DAN PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN meningkat dibanding triwulan sebelumnya yang tercatat tumbuh sebesar 2,80% (yoy). Kredit produktif bagi UMKM yang tercatat Rp2,29 triliun tersebut memiliki share sebesar 30,64% dari total kredit yang disalurkan perbankan di Gorontalo (Grafik 4.14). Grafik Perkembangan Kredit UMKM Grafik Perkembangan Share Kredit UMKM 3,000,000 2,500,000 2,000,000 1,500,000 1,000, ,000 - TOTAL UMKM (Rp. Juta) Growth UMKM (%) 60% 50% 2,288,491 40% 30% 20% 7.19% 10% 0% -10% -20% -30% -40% 50% 40% 30% 20% 10% 0% Share UMKM (%) 47.42% 31.44% 30.64% TAHUN 2011 TAHUN 2012 TAHUN 2013 TAHUN 2014 TAHUN 2011 TAHUN 2012 TAHUN 2013 TAHUN 2014 Dari sisi nominal kredit, kelompok usaha yang terbanyak memperoleh kredit UMKM adalah usaha kecil yang tercatat sebesar Rp896,15 miliar atau memiliki porsi sebesar 39,16% dari total kredit. Sedangkan kredit mikro dan menengah masing-masing tercatat Rp590,18 miliar atau 25,79% dan Rp802,17 miliar atau 35,05% (Grafik 4.15). Adapun dilihat dari jumlah debitur, penerima kredit UMKM terbanyak adalah kelompok usaha mikro sebanyak debitur, sedangkan kelompok kecil dan menengah masing-masing sebanyak debitur dan 947 debitur. Kondisi perekonomian daerah Gorontalo yang baru berkembang menyebabkan penerima kredit UMKM banyak didominasi oleh kelompok usaha mikro dan kecil. Salah satu kredit program bagi UMKM yang disalurkan oleh perbankan Gorontalo adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR) dimana sampai dengan triwulan III 2014 total KUR yang telah disalurkan kepada debitur dengan jumlah plafond sebesar Rp849,32 miliar. Adapun outstanding atau baki debet KUR posisi triwulan III 2014 tercatat sebesar Rp238,76 miliar tumbuh sebesar 33,11% (y.o.y). Pertumbuhan kredit KUR tersebut relatif melambat dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 37,47% (Grafik 4.16). Perlambatan tersebut diperkirakan karena cukup tingginya rasio kredit bermasalah kredit kredit UMKM termasuk KUR sehingga lebih selektif dalam menyalurkan kredit program ini kepada dunia usaha. 54 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

77 TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III BAB 4 SISTEM KEUANGAN DAN PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN Grafik Kredit UMKM Menurut Kelompok KECIL (Rp. Juta) MENENGAH (Rp. Juta) MIKRO (Rp. Juta) 1,200,000 1,000, , , , , , , ,000 0 Grafik Perkembangan Kredit Usaha Rakyat KUR (Rp. Juta) Growth KUR (%) 300, % 250, % 238, % 200, % 150, % 100,000 50% 50, % 0% 0-50% TAHUN 2011 TAHUN 2012 TAHUN 2013 TAHUN 2014 TAHUN 2011 TAHUN 2012 TAHUN 2013 TAHUN 2014 Pada tahun 2014, beberapa program kegiatan dilakukan untuk mendorong penyaluran kredit kepada UMKM, antara lain melalui pengembangan klaster dan wira usaha baru (WUB) dengan fokus pada fasilitasi pengembangan kapasitas usaha, manajemen, dan akses pemasaran produk. Program klaster yang dikembangkan pada tahun 2014 adalah klaster sapi pada 2 (dua) daerah di Gorontalo yaitu wilayah Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Bone Bolango. Selain itu, difasilitasi pula pengembangan wira usaha baru melalui pelatihan sekaligus pendampingan dalam mengelola dan mengembangkan usaha sehingga lebih bankable. Hingga triwulan III 2014, upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah bekerjasama dengan Bank Indonesia dan pihak lainnya terkait program klaster dan wira usaha baru antara lain berupa pemberian pelatihan dan pendampingan bagi kelompok peternak sapi dan pengusaha pemula, fasilitasi akses pemasaran produk, serta pemberian bantuan sarana produksi atau modal. 4.5 RISIKO KREDIT Risiko kredit perbankan tercermin dari indikator rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loans (NPLs) pada triwulan III 2014 tercatat sebesar Rp277,24 miliar atau 3,71% dari total kredit yang disalurkan. Angka NPLs tersebut lebih rendah dibandingkan triwulan II 2014 yang tercatat sebesar 3,88% (Grafik 4.17) karena membaiknya kualitas kredit investasi dan modal kerja. Rasio NPLs investasi tercatat sebesar 12,67% lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 14,82% yang diperkirakan dipengaruhi oleh adanya pembayaran sebagian realisasi proyek sehingga mengurangi beban NPLs perbankan. Rasio NPLs modal kerja juga mengalami sedikit perbaikan dari 7,47% pada triwulan II 2014 menjadi 7,40% pada triwulan III Untuk perbankan syariah, rasio pembiayaan bermasalah atau Non Performing Financings (NPFs) tercatat mengalami perbaikan yaitu yaitu dari 7,75% pada triwulan II 2014 menjadi sebesar 5,84% pada triwulan III Sementara untuk BPR, rasio kredit bermasalah pada triwulan III 2014 tercatat sebesar 15,07% meningkat dibanding triwulan sebelumnya KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

78 Tw-I Tw-II Tw-III Tw-IV Tw-I Tw-II Tw-III Tw-IV Tw-I Tw-II Tw-III Tw-IV Tw-I Tw-II Tw-III Tw-I Tw-II Tw-III Tw-IV Tw-I Tw-II Tw-III Tw-IV Tw-I Tw-II Tw-III Tw-IV Tw-I Tw-II Tw-III BAB 4 SISTEM KEUANGAN DAN PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN sebesar 12,80%. NPLs pada BPR perlu mendapat perhatian mengingat rasionya jauh diatas batas wajar kredit bermasalah sebesar 5% dari total kredit. Berdasarkan jenis penggunaan, penyumbang kredit bermasalah terbesar adalah jenis kredit investasi yaitu sebesar 12,67%, selanjutnya adalah kredit modal kerja sebesar 7,40%, sedangkan kredit konsumsi merupakan yang terendah dengan NPLs sebesar 1,31%. Kredit konsumsi sendiri, jika dikelompokkan menurut peruntukannya, seluruhnya memiliki rasio di bawah batas wajar 5%, dengan NPLs tertinggi pada kredit konsumsi jenis KPR yang tercatat memiliki NPLs sebesar 3,60%. Gambaran kualitas kredit berdasarkan jenis penggunaan dapat dilihat pada Grafik 4.17 dan Grafik Rasio NPLs Berdasarkan Jenis Penggunaan Grafik Rasio NPLs Kredit Konsumsi Menurut Peruntukannya NPLs Total NPLs Investasi 16% NPLs Modal Kerja NPLs Konsumsi 14% 12% 12.67% 10% 8% 7.40% 6% 4% 3.71% 2% 1.31% 0% NPLs KPR NPLs KKB NPLs PERLENGKAPAN NPLs MULTIGUNA NPLs LAINNYA NPLs TOTAL RUMAH TANGGA (2.00) Secara sektoral, 3 sektor yang memberikan share terbesar bagi kredit produktif yaitu konstruksi, perdagangan, dan konstruksi juga memberikan andil cukup besar bagi pembentukan rasio kredit bermasalah. Pada triwulan III 2014, rasio kredit bermasalah terbesar ada pada sektor konstruksi yaitu sebesar 27,81%, namun menurun dibanding triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 33,16%. Sementara kredit bermasalah pada sektor perdagangan dan sektor pertanian pada triwulan III 2014 masing-masing sebesar 7,58% dan 6,50%. Selengkapnya dapat dilihat pada Grafik KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

79 TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III TW-IV TW-I TW-II TW-III Tw-I Tw-II Tw-III Tw-IV Tw-I Tw-II Tw-III Tw-IV Tw-I Tw-II Tw-III Tw-IV Tw-I Tw-II Tw-III BAB 4 SISTEM KEUANGAN DAN PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN Grafik Rasio NPLs Berdasarkan Sektor Ekonomi Utama 35% NPLs Pertanian NPLs Perdagangan NPLs Konstruksi NPLs TOTAL SEKTOR 30% 25% 27.81% 20% 15% 10% 5% 0% 7.58% 6.50% 3.71% -5% Untuk kredit Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), walaupun mengalami penurunan namun masih perlu mendapat perhatian karena sejak berada di atas batas wajar NPLs sebesar 5%. Rasio kredit UMKM bermasalah pada triwulan III 2014 tercatat sebesar 9,05%, menurun dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 9,26%. Tingginya NPLs kredit UMKM terutama berasal dari kredit usaha menengah dengan NPLs sebesar 13,10%. Sementara kredit usaha kecil tercatat sebesar 9,37%, sedangkan kualitas kredit usaha mikro relatif baik dengan NPLs sebesar 3,04% (Grafik 4.20). Grafik Rasio NPLs Kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) 15% 10% 5% NPLs UMKM (%) NPLs MIKRO (%) NPLs KECIL (%) NPLs MENENGAH (%) 13.10% 9.37% 9.05% 0% 3.04% TAHUN 2011 TAHUN 2012 TAHUN 2013 TAHUN 2014 Untuk meminimalkan risiko kredit perbankan, Bank Indonesia telah mengeluarkan ketentuan makroprudensial mengenai loan to value (LTV) untuk kredit pemilikan rumah (KPR) dan besaran uang muka untuk kredit kendaraan bermotor (KKB). Untuk sektor properti KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

80 BAB 4 SISTEM KEUANGAN DAN PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN pertumbuhan kredit yang tinggi tersebut dapat mendorong terjadinya gelembung harga (bubble) yang tidak mencerminkan harga properti yang sebenarnya sehingga meningkatkan risiko kredit bank. Ketentuan LTV untuk sektor properti juga sudah disempurnakan lagi dengan menurunkan rasio LTV atau meningkatkan jumlah uang muka untuk akad kredit kedua dan seterusnya mengingat adanya beberapa nasabah yang memiliki KPR lebih dari satu. 58 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

81 BAB 5 SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG Halaman ini sengaja dikosongkan Halaman ini sengaja dikosongkan KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

82 BAB 5 SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG BAB 5 : SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG Jumlah uang masuk (inflow) pada triwulan III 2014 sebesar Rp.987,94 milyar sedangkan uang keluar (outflow) sebesar Rp.729,75 milyar, sehingga peredaran uang tunai di Gorontalo pada triwulan III 2014 mengalami net inflow sebesar Rp.258,19 milyar. Sementara itu, tidak ditemukan adanya uang palsu pada kas titipan di Provinsi Gorontalo pada triwulan III Perkembangan sistem pembayaran secara non-tunai pada triwulan III 2014 menunjukkan adanya perlambatan. Hal tersebut dapat terlihat pada aktivitas transaksi kliring yang tumbuh melambat yaitu sebesar 0,70% (qtq) dari Rp.464,59 milyar pada triwulan II 2014 menjadi Rp.467,83 milyar pada triwulan III Sedangkan aktivitas transaksi melalui RTGS mengalami penurunan sebesar -11,99% (qtq) dari sebelumnya Rp.2,27 triliun pada triwulan II 2014 menjadi Rp.2,00 triliun pada triwulan III Salah satu fungsi dan tugas Bank Indonesia sebagai Bank Sentral yang diamanatkan dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1999 sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU. No. 6 tahun 2009 yaitu mengatur dan menjaga kelancaran Sistem Pembayaran. Namun, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo belum dapat melakukan fungsi dan tugas tersebut. Penyelenggaraan aktivitas pengelolaan sistem pembayaran hingga saat ini masih dilakukan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara yang bekerjasama dengan salah satu bank milik pemerintah untuk melaksanakan fungsi Kas Titipan dan Penyelenggara Kliring Lokal. Sistem pembayaran sendiri dapat diartikan sebagai seperangkat aturan, lembaga dan mekanisme yang digunakan untuk melaksanakan pemindahan dana guna memenuhi suatu kewajiban yang timbul dari suatu kegiatan ekonomi. Kegiatan ekonomi tersebut dapat dilakukan baik secara tunai maupun non-tunai. Pembayaran secara tunai dilakukan dengan menggunakan mata uang Rupiah, sementara pembayaran non-tunai dilakukan dengan cara kliring ataupun dengan menggunakan real time gross settlement (RTGS). 5.1 PERKEMBANGAN TRANSAKSI PEMBAYARAN TUNAI ALIRAN UANG KARTAL Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi Provinsi Gorontalo pada triwulan III 2014, jumlah uang kartal yang masuk ke kas titipan Bank Indonesia (inflow) meningkat sebesar 27,28% (qtq) dari triwulan sebelumnya yang sebesar Rp.776,18 miliar menjadi sebesar Rp.987,94 miliar. Meningkatnya jumlah nominal uang yang masuk ke kas titipan Bank Indonesia pada triwulan III 2014 terutama terjadi pada bulan Agustus 2014 yang mencapai 60 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

83 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sept Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Okt Nov Dec Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Setoran-Bayaran (Rp.Juta) Netflow (Rp.Juta) BAB 5 SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG Rp.548,70 milyar, hal ini terjadi karena pasca Idul Fitri 1434 H yang jatuh pada akhir Juli 2014 biasanya masyarakat kembali menyetorkan dananya ke perbankan di Gorontalo. Sementara itu, outflow atau jumlah uang yang keluar dari kas titipan Bank Indonesia mengalami penurunan sebesar -12,42% (qtq) dari sebelumnya sebesar Rp.833,26 miliar di triwulan II 2014 menjadi Rp.729,75 miliar pada triwulan III Dengan demikian, Gorontalo mengalami net inflow sebesar Rp.258,19 miliar pada triwulan III Jika dilihat secara bulanan, net intflow tertinggi terjadi pada bulan Agustus 2014 yang mencapai Rp.448,94 miliar (Grafik 5.1 dan Grafik 5.2). Grafik 5.1 Perkembangan Net Flow Secara Bulanan 600, , , , , , , , , , ,000 (100,000) - (200,000) inflow outflow Net Flow (milyar rupiah) Grafik 5.2 Net Inflow/Outflow Gorontalo Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q Sumber: Bank Indonesia KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

84 5.1.2 PERKEMBANGAN UANG PALSU YANG DITEMUKAN BAB 5 SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG Pada Triwulan III 2014, tidak ditemukan adanya uang palsu di kas titipan Bank Indonesia. Meski demikian, peredaran uang palsu di Gorontalo tetap perlu diwaspadai, masyarakat Gorontalo diharap tetap berhati-hati dalam melakukan transaksi kegiatan ekonominya. Pemahaman yang baik akan ciri-ciri keaslian uang perlu diketahui oleh masyarakat, oleh karena itu Bank Indonesia selaku otoritas dalam sistem pembayaran secara rutin melakukan sosialisasi keaslian uang rupiah agar dapat meningkatkan pemahaman masyarakat. Salah satu program yang terus disosialisasikan oleh Bank Indonesia adalah tagline 3D (dilihat, diraba, diterawang) yang selanjutnya dikembangkan lagi dengan pengertian yang baru yaitu Didapat, Disimpan, Disayang yang berarti uang tidak boleh diremas, dibasahi, dilipat maupun distaples. Selain itu, Bank Indonesia Provinsi Gorontalo secara rutin juga melakukan kegiatan edukasi kebanksentralan dan edukasi keuangan yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap fungsi dan tujuan Bank Indonesia. Dalam menjaga kelancaran pembayaran secara tunai, Bank Indonesia senantiasa berupaya untuk memenuhi kebutuhan uang kartal di masyarakat baik dalam nominal yang cukup, jenis pecahan yang sesuai, tepat waktu dan dalam kondisi yang layak edar (clean money policy). Dalam melaksanakan strategi clean money policy tersebut, Bank Indonesia melakukan kegiatan pemusnahan uang yang sudah tidak layak edar dengan melakukan Pemberian Tanda Tidak Berharga (PTTB) terhadap uang kartal yang telah lusuh/rusak. 5.2 SISTEM PEMBAYARAN NON TUNAI Berkembangnya perekonomian Indonesia termasuk di Gorontalo berdampak pada peningkatan kebutuhan masyarakat terhadap keamanan, kehandalan dan ketepatan dalam bertransaksi. Sistem pembayaran non-tunai menjadi alternatif bagi masyarakat untuk dapat melakukan transaksi secara lebih efisien, efektif dan aman. Dalam rangka mitigasi risiko dalam sistem pembayaran nasional, Bank Indonesia telah mengembangkan sistem setelmen (sistem penyelesaian transaksi) yaitu Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS), Bank Indonesia Scripless Securities Settlement System (BI-SSSS) dan Sistem Kliring Nasional (SKN). BI-RTGS merupakan sistem transfer dana elektronik antar peserta dalam mata uang rupiah yang penyelesaiannya dilakukan secara seketika per transaksi secara individual. BI-SSSS merupakan sarana transaksi dengan Bank Indonesia termasuk penatausahaannya dan penatausahaan surat berharga secara elektronik. Sementara SKN merupakan kliring antar bank untuk alat pembayaran cek, Bilyet Giro, nota debet lainnya dan transfer kredit antar bank. 62 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

85 BAB 5 SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG KEGIATAN KLIRING Penyelenggaraan kliring diatur dalam Peraturan Bank Indonesia No.7/18/PBI/2005 tanggal 22 Juli 2005 tentang Sistem Kliring Nasional (SKN) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia No.12/5/PBI/2010 tanggal 12 Maret SKN-BI adalah sistem transfer elektronik yang meliputi kliring debet dan kliring kredit yang penyelesaian setiap transaksinya dilakukan secara nasional. SKN-BI berperan penting dalam pemrosesan aktivitas transaksi pembayaran, khususnya untuk memproses transaksi pembayaran yang termasuk Retail Value Payment System (RVPS) atau transaksi bernilai kecil (retail) yaitu transaksi di bawah Rp.100 juta. Penyelenggaraan kliring di Gorontalo dilaksanakan oleh penyelenggara kliring lokal (PKL) selain BI, yaitu kantor bank yang telah mendapatkan persetujuan dari Bank Indonesia, dalam hal ini dilakukan oleh salah satu bank milik pemerintah yang berada di Gorontalo. Perkembangan kliring di Provinsi Gorontalo selama triwulan III 2014 menunjukkan adanya peningkatan aktifitas jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Jumlah warkat yang dikliringkan tercatat sebanyak lembar dengan nilai transaksi sebesar Rp.467,83 miliar atau meningkat baik secara volume maupun nominalnya masing-masing sebesar 7,59% dan 0,70% (qtq) dibandingkan dengan triwulan II 2014 yang sebanyak lembar dengan nominal sebesar Rp.464,59 miliar (Tabel 5.1). KETERANGAN Perputaran Kliring Tabel 5.1 Perputaran Kliring di Gorontalo I II III IV I II III IV I II III a. Lembar 17,673 17,286 17,809 18,192 17,121 18,781 19,509 15,576 15,927 17,321 18,636 b. Nominal (Rp miliar) Rata-rata perputaran kliring per hari a. Lembar b. Nominal (Rp miliar) Persentase rata-rata penolakan a. Lembar (%) b. Nominal (%) Sumber: Bank Indonesia Pada Triwulan III 2014 terdapat 62 hari transaksi kliring, dimana rata-rata penolakan lembar cek/bilyet giro selama triwulan laporan tercatat 1,81% dari rata-rata lembar warkat kliring yang dikliringkan per hari atau meningkat dari rata-rata penolakan pada triwulan II 2014 yang tercatat sebesar 1,60% dari rata-rata lembar warkat yang dikliringkan. Meski rata-rata jumlah persentase lembar cek/bilyet giro yang ditolak mengalami peningkatan. Terdapat banyak faktor yang menyebabkan lembar cek/bg yang ditransaksikan pada sistem kliring nasional mengalami penolakan, berdasarkan PBI No.12/5/PBI/2010 tentang SKNBI terdapat beberapa alasan sebuah lembar Cek/BG ditolak, selengkapnya dapat dilihat pada tabel 5.2. KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

86 BAB 5 SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG Grafik 5.3 Perputaran Kliring di Gorontalo (milyar) (lembar) 18, I II III IV I II III IV I II III Nominal Jumlah Warkat Kliring (skala kanan) 21,000 20,000 19,000 18,000 17,000 16,000 15, Grafik 5.4 Persentase Rata-rata Penolakan (%) I II III IV I II III IV I II III Nominal Jumlah Warkat Kliring (skala kanan) Sumber: Bank Indonesia Tabel 5.2 Alasan Penolakan pada Cek/BG dalam SKN-BI No. Alasan Penolakan 1 Saldo rekening giro atau rekening khusus tidak cukup 2 Rekening giro atau rekening khusus telah ditutup 3 Unsur cek/syarat formal bilyet giro tidak dipenuhi, yaitu tidak terdapat penyebutan tempat dan tanggal penarikan 4 Unsur cek tidak dipenuhi, yaitu tidak terdapat tanda tangan penarik 5 Syarat formal bilyet giro tidak dipenuhi, yaitu tidak terdapat nama dan nomor rekening giro Pemegang 6 Syarat formal bilyet giro tidak dipenuhi, yaitu tidak terdapat nama bank penerima 7 8 Syarat formal bilyet giro tidak dipenuhi, yaitu tidak terdapat jumlah dana yang dipindahbukukan baik dalam angka maupun dalam huruf selengkap-lengkapnya Syarat formal bilyet giro tidak dipenuhi, yaitu tidak terdapat tanda tangan, nama jelas dan/atau dilengkapi dengan cap/stempel 9 10 Bilyet giro diunjukkan sebelum tanggal penarikan atau sebelum tanggal efektif, atau tanggal efektif dicantumkan tidak dalam tenggang waktu pengunjukan Cek dan/atau bilyet giro dibatalkan oleh penarik setelah berakhirnya tenggang waktu pengunjukan berdasarkan surat pembatalan dari penarik 11 Cek dan/atau bilyet giro sudah kadaluarsa 12 Perubahan teks/perintah yang telah tertulis pada Bilyet Giro tidak ditandatangani oleh Penarik. 13 Tanda tangan tidak cocok dengan spesimen Bank Penagih bukan merupakan Bank penerima yang disebut dalam Cek Silang Khusus atau Bilyet Giro sebagai Bank penerima Dana. Cek dan/atau Bilyet Giro diblokir pembayarannya oleh Penarik karena hilang atau dicuri (harus dilampiri dengan surat keterangan dari kepolisian). Cek dan/atau Bilyet Giro diblokir pembayarannya oleh instansi yang berwenang karena diduga terkait dengan tindak pidana yang dilakukan oleh Penarik (harus dilampiri dengan surat pemblokiran dari instansi yang berwenang). Rekening Giro diblokir oleh instansi yang berwenang (harus dilampiri dengan surat pemblokiran dari instansi yang berwenang). Perintah dalam DKE Debet tidak sesuai dengan perintah dalam Warkat Debet yang bersangkutan. 19 Penerimaan DKE Debet tidak disertai dengan penerimaan fisik Warkat Debet. 64 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

87 BAB 5 SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG No. Alasan Penolakan 20 Cek dan/atau Bilyet Giro diduga palsu/dimanipulasi. 21 Warkat Debet yang diterima oleh Bank Tertarik bukan ditujukan untuk Bank Tertarik. 22 Tidak ada Endosemen pada Cek atas nama yang dialihkan pada pihak lain. 23 Nota Debet tidak sesuai dengan ketentuan dan/atau perjanjian yang mendasarinya. Sumber: Bank Indonesia REAL TIME GROSS SETTLEMENT (RTGS) BI-RTGS adalah sistem transfer dana elektronik yang penyelesaian setiap transaksinya dilakukan dalam waktu seketika. Sejak dioperasikan oleh Bank Indonesia pada tanggal 17 November 2000, BI-RTGS berperan penting dalam pemrosesan aktivitas transaksi pembayaran, khususnya untuk memproses transaksi pembayaran yang termasuk High Value Payment System (HVPS) atau transaksi bernilai besar yaitu transaksi Rp.100 juta ke atas dan bersifat segera (urgent). Dalam menjalankan peran sebagai Penyelenggara (Operator) sistem BI-RTGS, Bank Indonesia memiliki tanggung jawab sebagai berikut: 1. menyelenggarakan BI-RTGS dengan menerapkan prinsip efisien, cepat, aman dan handal. 2. memberikan penjelasan kepada Peserta mengenai risiko finansial sehubungan keikutsertaannya dalam Sistem BI-RTGS dan peserta harus mengelola risiko tersebut. 3. memastikan kepatuhan peserta terhadap ketentuan yang telah ditetapkan, termasuk menerima laporan internal audit terkait penyelenggaraan BI-RTGS oleh peserta. Tabel 5.3 Perkembangan Transaksi Melalui RTGS di Gorontalo KETERANGAN I II III IV I II III IV I II III Dari Gorontalo ke Luar Daerah (from) a. Volume Transaksi 2,189 2,886 2,907 3,077 2,224 2,711 2,620 2,938 2,200 2,454 2,381 b. Nominal (Rp miliar) , , Dari Luar Daerah Ke Gorontalo (to) a. Volume Transaksi 1,434 1,832 1,846 2,112 1,442 1,870 1,927 2,096 1,560 1,796 1,648 b. Nominal (Rp miliar) , , , , , , , , , , Transaksi di dalam Gorontalo (From - To) a. Volume Transaksi b. Nominal (Rp miliar) Total Transaksi RTGS a. Volume Transaksi 4,166 5,510 5,573 6,094 4,097 5,184 5,167 5,732 4,216 4,800 4,591 b. Nominal (Rp miliar) 1, , , , , , , , , , , Sumber: Bank Indonesia Peserta BI-RTGS terdiri dari seluruh bank dan lembaga selain bank. Keanggotaan peserta BI-RTGS dibedakan menjadi Peserta Langsung dan Peserta Tidak Langsung. Peserta Langsung KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

88 BAB 5 SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG adalah peserta yang dapat mengirimkan transaksi RTGS dengan menggunakan identitas sendiri. Sedangkan Peserta Tidak Langsung dapat mengirimkan transaksi RTGS dengan menggunakan identitas Peserta Langsung. Dalam pengisian instruksi transfer, peserta wajib memenuhi ketentuan mengenai prinsip pengenalan nasabah (know your customer principles) dan aturan mengenai tindak pidana pencucian uang (anti money laundering). Untuk itu, identitas mengenai data nasabah pengirim dan penerima transfer melalui BI-RTGS harus diisi secara lengkap dan benar. Grafik. 5.5 Perkembangan Total Nominal Transaksi RTGS di Gorontalo 3500 (milyar rupiah) (yoy) 40% % 20% 10% 0% -10% -20% -30% -40% I II III IV I II III IV I II III (From-To) (to) (from) Pertumbuhan (yoy, skala kanan) Sumber : Bank Indonesia Grafik 5.6 Perkembangan Total Volume Transaksi RTGS di Gorontalo (volume transaksi) (yoy) 15% 10% 5% 0% -5% -10% 0 I II III IV I II III IV I II III (From-To) (to) (from) Pertumbuhan (yoy, skala kanan) -15% Sumber : Bank Indonesia 66 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

89 BAB 5 SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG Pada triwulan III 2014, total transaksi RTGS di Gorontalo adalah sebesar Rp.2,00 triliun dengan jumlah total volume transaksi sebanyak transaksi. Total nominal transaksi tersebut mengalami penurunan yang cukup tinggi yaitu sebesar -31,36% (yoy) dari triwulan yang sama di tahun 2013 yang sebesar Rp.2,91 triliun rupiah dengan transaksi (Grafik 5.5) Total volume transaksi RTGS mengalami penurunan sebesar sebesar -11,15% (yoy) dari sebelumnya sebanyak transaksi di triwukan III 2013 turun menjadi transaksi di triwulan III 2014 (Grafik 5.6). Penurunan volume transaksi tersebut terjadi di seluruh jenis transaksi, baik yang dari Gorontalo (from), dari luar daerah Gorontalo (to), maupun transaksi di dalam Gorontalo (from-to). Secara triwulanan, volume transaksi RTGS di triwulan III 2014 tersebut juga mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan triwulan II KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

90 BAB 6 KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN Halaman ini sengaja dikosongkan 68 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

91 BAB 6 KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN BAB 6 : KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN Di pertengahan tahun 2014, kondisi ketenagakerjaan Provinsi Gorontalo mengalami penurunan. Hal ini terlihat dari peningkatan jumlah pengangguran terhadap angkatan kerja dari sebesar 4,15% jiwa pada bulan Agustus 2013 menjadi sebesar 4,18% jiwa pada bulan Agustus 2014 atau meningkat sebesar 5,2% (yoy). Sebagian besar penduduk masih bekerja di sektor pertanian dengan pangsa mencapai 39,24% dari total penduduk yang bekerja. Kesejahteraan petani juga cenderung melemah meskipun relatif kecil, yang terindikasi dari pelemahan Nilai Tukar Petani (NTP) dari 101,98 pada triwulan II 2014 menjadi 101,79 pada triwulan III Sementara Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada tahun 2013 menunjukan perbaikan dibandingkan tahun 2012, dari 71,28 menjadi 71,77. Kondisi yang membaik juga ditunjukkan oleh penurunan jumlah penduduk miskin. Pada bulan Maret 2014, persentase penduduk miskin tercatat sebesar 17,44%, sedikit lebih rendah dibandingkan bulan Maret 2013 yang sebesar 17,51%. Rasio Gini di tahun 2013 relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya yaitu sebesar 0,44%, namun masih lebih tinggi dibandingkan angka Rasio Gini nasional yang sebesar 0,41% KETENAGAKERJAAN Jumlah penduduk usia kerja (berusia 15 tahun ke atas) di Provinsi Gorontalo pada bulan Agustus 2014 tercatat sebanyak jiwa, atau meningkat 2,15% (yoy) dibandingkan bulan Agustus 2013 yang sebanyak jiwa. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya jumlah angkatan kerja hingga 4,4%, (yoy) dari jiwa pada bulan Agustus 2013 menjadi jiwa pada bulan Agustus Hal ini juga didorong oleh menurunnya jumlah bukan angkatan kerja dari jiwa menjadi jiwa. Perbaikan kondisi angkatan kerja terlihat dari bertambahnya jumlah penduduk yang bekerja dari jiwa menjadi jiwa atau meningkat hingga 7,22% (yoy). Di sisi lain, jumlah penduduk yang tidak bekerja mengalami peningkatan dari jiwa pada bulan Agustus 2013 menjadi jiwa pada bulan Agustus Hal ini dipengaruhi oleh masuknya angkatan kerja baru pada bulan kelulusan mulai bulan Juli Pertumbuhan ekonomi yang kondusif pada triwulan I 2014 dan triwulan II 2014 dalam realitanya tidak berpengaruh signifikan pada perbaikan tingkat pengangguran. Hal ini terlihat dari peningkatan jumlah pengangguran angkatan kerja dari jiwa pada bulan Agustus 2013 menjadi jiwa pada bulan Agustus Tingkat Pengangguran Terbuka juga ikut mengalami koreksi dari 4,15% menjadi 4,18%. Terlebih lagi, terdapat kondisi ketenagakerjaan di Gorontalo yang perlu mendapat perhatian juga, yaitu peningkatan jumlah pekerja dipengaruhi oleh jumlah pekerja paruh waktu yang naik mencapai 18% (yoy). Oleh karena itu, KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

92 BAB 6 KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN kualitas lapangan kerja yang tersedia juga patut menjadi perhatian sehingga angka pengangguran dapat semakin berkurang. Grafik 6.1. Perkembangan Ketenagakerjaan dan Angkatan Kerja Provinsi Gorontalo Sumber: BPS Provinsi Gorontalo Grafik 6.2. Pangsa Ketenagakerjaan Provinsi Gorontalo bulan Agustus 2014 Sumber: BPS Provinsi Gorontalo Jika dilihat berdasarkan lapangan usaha penduduk yang bekerja, sektor pertanian terlihat masih mendominasi sebagian besar penduduk Provinsi Gorontalo yaitu menyerap tenaga kerja pada bulan Agustus 2014 atau sebesar 39,24% dari total penduduk yang bekerja. Jumlah tersebut meningkat 10,99% (yoy) jika dibandingkan dengan bulan Agustus 2013 yang hanya menyerap tenaga kerja. Peningkatan tersebut disebabkan oleh karena musim kemarau yang berkepanjangan sehingga memaksa para petani serta anggota keluarganya untuk mencari tambahan penghasilan penghasilan dengan juga menjadi buruh tani di ladang yang cenderung memiliki pengairan yang cukup baik. Sementara itu, tenaga kerja pada sektor jasa kemasyarakatan menunjukkan tren penurunan. Pada bulan Agustus 2014, sektor jasa kemasyarakatan hanya menyerap tenaga kerja atau menurun 6,22% (yoy) jika dibandingkan dengan bulan Agustus 2013 yang menyerap tenaga kerja. Hal serupa juga terjadi pada sektor lainnya dimana terjadi penurunan sebesar 5,58% (yoy) atau hanya menyerap tenaga kerja sebesar dibanding Agustus 2013 sebesar KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

93 BAB 6 KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN Grafik 6.3. Perkembangan Penyerapan Tenaga Kerja Sisi Sektoral Provinsi Gorontalo Sumber: BPS Provinsi Gorontalo Grafik 6.4. Perkembangan Ketenagakerjaan di Sektor Formal-Informal Grafik 6.5. Pangsa Tenaga Kerja di Provinsi Gorontalo Berdasarkan Lapangan Usaha Sumber: BPS Provinsi Gorontalo Sumber: BPS Provinsi Gorontalo Tingkat pekerja formal pada bulan Agustus 2014 berjumlah jiwa atau meningkat 33,42%. Tenaga kerja formal tersebut berkurang sebesar 1,7%. Pekerja formal mencakup kategori buruh/karyawan/pegawai maupun mereka yang berusaha sendiri, dibantu buruh tidak tetap/buruh tidak dibayar, dan dibantu buruh tetap. Pekerja di sektor informal tercatat) dengan jumlah mencapai jiwa atau 64.49% dari total pekerja. Tenaga kerja informal tersebut tercatat meningkat sebesar 7,7% (yoy). Dalam hal jenjang pendidikan, jumlah tenaga kerja pada bulan Agustus 2014 masih didominasi oleh jenjang SD ke bawah yang sebagian besar mendominasi sektor pertanian, yaitu sebanyak jiwa atau 62,68% dari total penduduk yang bekerja. Jumlah tersebut juga meningkat dibandingkan bulan Agustus 2013 yang berjumlah Spesifikasi tenaga kerja untuk jenjang universitas masih relatif rendah dimana hingga bulan Agustus 2014 hanya menyerap tenaga kerja atau 9,59% dari total penduduk yang bekerja. Jumlah tersebut terus mengalami tren pertumbuhan dibandingkan bulan Agustus 2013 sebesar Hal KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

94 BAB 6 KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN tersebut, menunjukan bahwa terdapat perkembangan pada sektor industri di Gorontalo sehingga membutuhkan lulusan S1 dalam proses bisnisnya. Grafik 6.6. Perkembangan Ketenagakerjaan Menurut Jenjang Pendidikan Grafik 6.7. Pangsa Tenaga Kerja Berdasarkan Jenjang Pendidikan Sumber: BPS Provinsi Gorontalo Sumber: BPS Provinsi Gorontalo 6.2. KEMISKINAN Berdasarkan hasil survei BPS Provinsi Gorontalo, persentase jumlah penduduk miskin di Provinsi Gorontalo pada Maret 2014 tercatat sebesar 17,44% dari jumlah penduduk ( jiwa), mengalami penurunan dibandingkan persentase bulan Maret 2013 yang sebesar 17,51% dari jumlah penduduk ( jiwa). Pengukuran kemiskinan dilakukan dengan menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic need approach) dan sejak bulan September 2013 pengolahan data menggunakan hasil proyeksi penduduk. Pada periode Maret 2014, jumlah penduduk miskin di kota mengalami kenaikan dari jiwa di bulan Maret 2013 menjadi jiwa. Sementara itu, jumlah penduduk miskin di desa tercatat sebanyak jiwa, atau mengalami penurunan dibandingkan bulan Maret 2013 yang sebanyak jiwa. Walaupun terjadi penurunan persentase jumlah penduduk miskin, akan tetapi garis kemiskinan di Provinsi Gorontalo mengalami kenaikan. Pada bulan Maret 2014, garis kemiskinan tercatat sebesar Rp per kapita per bulan atau mengalami kenaikan sebesar Rp per kapita per bulan dibandingkan dengan bulan Maret 2013 yang tercatat sebesar Rp per kapita per bulan. Garis kemiskinan daerah perkotaan di bulan Maret 2014 tercatat sebesar Rp per kapita per bulan, lebih tinggi dibandingkan masyarakat pedesaan yang sebesar Rp per kapita per bulan. Pada bulan Maret 2014, Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM) di perkotaan lebih besar dibandingkan di pedesaan. GKNM wilayah perkotaan tercatat sebesar Rp atau 72 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

95 BAB 6 KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN memiliki selisih Rp dibandingkan GKNM wilayah pedesaan yang sebesar Rp Hal tersebut dipengaruhi oleh kebutuhan minimum masyarakat perkotaan untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan yang relatif lebih banyak dan mahal harganya dibandingkan masyarakat pedesaan. Sementara itu, Garis Kemiskinan Makanan (GKM) wilayah pedesaan cenderung lebih besar dibandingkan perkotaan disebabkan pola konsumsi masyarakat pedesaan yang lebih tinggi. GKM wilayah pedesaan tercatat sebesar Rp atau memiliki selisih Rp dibandingkan GKM wilayah perkotaan yang sebesar Rp Salah satu faktor pendorong menurunnya persentase penduduk miskin di Provinsi Gorontalo disebabkan oleh meningkatnya jumlah penduduk Provinsi Gorontalo di tahun Sementara itu, tingkat konsumsi masyarakat yang meningkat di awal tahun menyebabkan garis kemiskinan masyarakat juga ikut meningkat. Pemerintah dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) tetap memegang peranan yang sangat penting dalam menjaga tingkat inflasi daerah dan daya beli masyarakat dengan melakukan berbagai upaya dalam menjaga stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi. Grafik 6.8. Perkembangan Penduduk Miskin Provinsi Gorontalo 210, , , ,000 90,000 60,000 30,000 jiwa Perkotaan Pedesaan gpenduduk Miskin % Grafik 6.9. Perkembangan Garis Kemiskinan Provinsi Gorontalo 250, , , ,000 50,000 Rp Perkotaan Total Pedesaan Rp 300, , , , ,000 50, * * Sumber: BPS Provinsi Gorontalo (* Maret 2014) Sumber: BPS Provinsi Gorontalo (* Maret 2014) 6.3. RASIO GINI Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan oleh BPS pada bulan Maret 2013 mencatat Rasio Gini Provinsi Gorontalo sebesar 0,44%, relatif sama dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Akan tetapi, kesenjangan pendapatan antar lapisan penduduk Provinsi Gorontalo lebih tinggi dari nasional yang tercatat 0,41% dan merupakan yang tertinggi di wilayah Sulawesi. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa walaupun pertumbuhan ekonomi dan laju inflasi Provinsi Gorontalo lebih baik dibandingkan nasional, tetapi manfaatnya relatif kesejahteraan antar penduduk masih cukup lebar. KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

96 BAB 6 KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN Grafik Perkembangan Gini Rasio Nasional dan Wilayah Sulawesi Nasional Gorontalo Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Sumber : BPS Nasional, Berdasarkan Susenas Maret Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Utara 6.4. INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) Seiring dengan terus bertumbuhnya perekonomian Provinsi Gorontalo, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang terdiri dari indeks daya beli, indeks pendidikan dan indeks kesehatan, juga menunjukan tren peningkatan. IPM Provinsi Gorontalo pada tahun 2013 tercatat sebesar 71,77, meningkat dibandingkan tahun 2012 yang sebesar 71,28. Meskipun demikian, IPM Provinsi Gorontalo masih relatif lebih rendah dibandingkan provinsi lainnya di wilayah Sulawesi, kecuali Provinsi Sulawesi Tenggara dan Provinsi Sulawesi Barat. Berdasarkan kabupaten dan kota di Provinsi Gorontalo, IPM tertinggi berada di Kota Gorontalo yang tercatat sebesar 74,17, sedangkan IPM terendah berada di Kabupaten Boalemo sebesar 69,49. Hal ini tidak terlepas dari posisi Kota Gorontalo yang merupakan ibukota provinsi dan pusat pemerintahan, sehingga masyarakatnya lebih banyak tersentuh kegiatan pembangunan. Grafik Indeks Pembangunan Manusia Wilayah Sulawesi Grafik Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Gorontalo Sumber: BPS Provinsi Gorontalo Kab. Boalemo Kab. Gorontalo Kab. Pohuwato Sumber: BPS Provinsi Gorontalo Kab. Bone Bolango Kab. Gorontalo Utara Kota Gorontalo 74 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III 2014

97 BAB 6 KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN 6.5. KESEJAHTERAAN PETANI Nilai Tukar Petani (NTP) yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib), merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP maka secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan atau daya beli petani. Grafik Perkembangan Nilai Tukar Petani Provinsi Gorontalo SBH 2007=100 SBH 2012=100 Sumber: BPS Provinsi Gorontalo Mulai bulan Desember 2013, perubahan tahun dasar dilakukan dalam penghitungan NTP dari tahun dasar 2007=100 menjadi tahun dasar 2012=100. Perubahan tahun dasar ini dilakukan untuk menyesuaikan perubahan/pergeseran pola produksi pertanian dan pola konsumsi rumah tangga pertanian di pedesaan, serta perluasan cakupan subsektor pertanian. Kesejahteraan petani terjadi pada triwulan III 2014 tercatat sebesar 101,79, cenderung mengalami penurunan dibandingkan triwulan II 2014 yang sebesar 101,98. Dampak dari kekeringan di Provinsi Gorontalo merupakan salah satu penyebab penurunan dari kesejahteraan petani. Indeks yang diterima (lt) oleh petani tercatat sebesar 115,44, atau meningkat 0,62% (q.t.q) dibanding triwulan sebelumnya. Akan tetapi, biaya produksi yang dikeluarkan petani juga ikut mengalami peningkatan. Indeks dibayar petani (lb) tercatat meningkat 0,81% (q.t.q) dari 112,5 menjadi 113,41. NTP pada subsektor hortikultura, peternakan, dan perikanan mengalami peningkatan dibanding triwulan sebelumnya yang berturut-turut tercatat sebesar 114,72; 104,64; dan 101,3. Peningkatan NTP subsektor hortikultura dipengaruhi oleh kenaikan harga kelompok sayur-sayuran, dan tanaman obat. Dampak dari Hari Besar Keagamaan di akhir triwulan III 2014 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN III

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO Triwulan III 2014 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI GORONTALO Publikasi ini dan publikasi Bank Indonesia yang lain dapat diakses secara online

Lebih terperinci

Publikasi ini dan publikasi Bank Indonesia yang lain dapat diakses secara online pada :

Publikasi ini dan publikasi Bank Indonesia yang lain dapat diakses secara online pada : Publikasi ini dan publikasi Bank Indonesia yang lain dapat diakses secara online pada : www.bi.go.id/web/id/publikasi/ Salinan publikasi ini dapat diperoleh dengan menghubungi : Unit Asesmen Ekonomi dan

Lebih terperinci

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA TRIWULAN II Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA TRIWULAN II Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA TRIWULAN II 2013 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional

Lebih terperinci

BAB 5 : SISTEM PEMBAYARAN

BAB 5 : SISTEM PEMBAYARAN BAB 5 SISTEM PEMBAYARAN BAB 5 : SISTEM PEMBAYARAN Transaksi sistem pembayaran tunai di Gorontalo pada triwulan I-2011 diwarnai oleh net inflow dan peningkatan persediaan uang layak edar. Sementara itu,

Lebih terperinci

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III 2010 Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional

Lebih terperinci

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan II-2013

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan II-2013 Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan II-2013 Asesmen Ekonomi Perekonomian Kepulauan Riau (Kepri) pada triwulan II-2013 mengalami pelemahan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pada

Lebih terperinci

Kajian. Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Kalimantan Tengah

Kajian. Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Kalimantan Tengah Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Triwulan III 2015 1 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat-nya (KEKR) Provinsi Kalimantan Tengah Triwulan III

Lebih terperinci

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan IV 2012 Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional

Lebih terperinci

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan II 2011 Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional

Lebih terperinci

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III 2011 Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional

Lebih terperinci

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan I 2012 Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional melalui

Lebih terperinci

BAB 1 : PERKEMBANGAN MAKRO REGIONAL

BAB 1 : PERKEMBANGAN MAKRO REGIONAL BAB 1 : PERKEMBANGAN MAKRO REGIONAL Perekonomian Gorontalo pada triwulan II-2013 tumbuh 7,74% (y.o.y) relatif lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 7,63% (y.o.y). Angka tersebut

Lebih terperinci

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan IV 2010 Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional

Lebih terperinci

Asesmen Pertumbuhan Ekonomi

Asesmen Pertumbuhan Ekonomi Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Asesmen Pertumbuhan Ekonomi Penurunan momentum pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau di periode ini telah diperkirakan sebelumnya setelah mengalami tingkat pertumbuhan

Lebih terperinci

BAB 1 : PERKEMBANGAN MAKRO REGIONAL

BAB 1 : PERKEMBANGAN MAKRO REGIONAL BAB 1 : PERKEMBANGAN MAKRO REGIONAL Perekonomian Gorontalo sampai dengan akhir tahun 2012 mengalami pertumbuhan yang cukup baik. Secara triwulanan, ekonomi tumbuh 7,57% (y.o.y) lebih tinggi dibandingkan

Lebih terperinci

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO 1.2 SISI PENAWARAN Dinamika perkembangan sektoral pada triwulan III-2011 menunjukkan arah yang melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Keseluruhan sektor mengalami perlambatan yang cukup signifikan

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI ACEH

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI ACEH KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI ACEH VISI Menjadi Kantor Bank Indonesia yang dapat dipercaya di daerah melalui peningkatan peran dalam menjalankan tugas-tugas Bank Indonesia yang diberikan. MISI Mendukung

Lebih terperinci

BAB 4 : KEUANGAN DAERAH

BAB 4 : KEUANGAN DAERAH BAB 4 KEUANGAN DAERAH BAB 4 : KEUANGAN DAERAH Realisasi penyerapan belanja APBD Pemerintah Provinsi Gorontalo triwulan IV-2010 cenderung lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Lambatnya

Lebih terperinci

Bank Indonesia adalah Bank Sentral Republik Indonesia. ~UU No. 23 Tahun 1999 Pasal 4 ayat 1~ Visi Bank Indonesia. Misi Bank Indonesia

Bank Indonesia adalah Bank Sentral Republik Indonesia. ~UU No. 23 Tahun 1999 Pasal 4 ayat 1~ Visi Bank Indonesia. Misi Bank Indonesia Dasar Hukum Bank Indonesia Negara memiliki suatu bank sentral yang susunan, kedudukan, kewenangan, tanggung jawab, dan independensinya diatur dengan undang-undang. ~UUD 1945 Pasal 23 D~ Bank Indonesia

Lebih terperinci

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012 Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012 Asesmen Ekonomi Laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau pada triwulan II 2012 tercatat sebesar 7,25%, mengalami perlambatan dibandingkan

Lebih terperinci

BAB 7 : OUTLOOK EKONOMI

BAB 7 : OUTLOOK EKONOMI BAB 7 OUTLOOK EKONOMI BAB 7 : OUTLOOK EKONOMI Perekonomian Gorontalo pada triwulan II- diperkirakan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan I-. Kondisi ini diperkirakan didorong oleh proyeksi kenaikan

Lebih terperinci

BAB 4 : KEUANGAN DAERAH

BAB 4 : KEUANGAN DAERAH BAB 4 KEUANGAN DAERAH BAB 4 : KEUANGAN DAERAH Realisasi penyerapan belanja daerah relatif lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya meskipun secara besaran belum mencapai target anggaran

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN BONGKAR BARANG

PERKEMBANGAN BONGKAR BARANG TON PERSEN BAB 1 Sementara itu tumbuhnya kegiatan impor luar negeri sedikit diredam oleh melambatnya kinerja impor antar pulau. Indikator dimaksud ditunjukkan oleh volume bongkar di beberapa pelabuhan

Lebih terperinci

Kajian Ekonomi Regional Banten

Kajian Ekonomi Regional Banten Kajian Ekonomi Regional Banten Triwulan I - 2009 i Kata Pengantar Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah melimpahkan segala rahmat-nya sehingga penyusunan buku Kajian Ekonomi Regional

Lebih terperinci

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012 Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012 Asesmen Ekonomi Pada triwulan I 2012 pertumbuhan Kepulauan Riau mengalami akselerasi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 6,34% (yoy)

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI LAMPUNG. Kajian Triwulanan Misi Bank Indonesia. Visi, Misi dan Nilai Strategis Bank Indonesia

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI LAMPUNG. Kajian Triwulanan Misi Bank Indonesia. Visi, Misi dan Nilai Strategis Bank Indonesia Visi, Misi dan Nilai Strategis Bank Indonesia KAJIAN EKONOMI DAN Visi Bank Indonesia KEUANGAN REGIONAL PROVINSI LAMPUNG Menjadi lembaga bank sentral yang kredibel dan terbaik di regional melalui penguatan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN BONGKAR BARANG

PERKEMBANGAN BONGKAR BARANG TON PERSEN BAB 1 160,000 140,000 120,000 100,000 80,000 60,000 40,000 20,000 - PERKEMBANGAN BONGKAR BARANG Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 2009 2010 2011 40.00 30.00 20.00 10.00 0.00-10.00-20.00-30.00 VOLUME

Lebih terperinci

Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan

Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan November 216 (terbit setiap triwulan) KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia

Lebih terperinci

TRIWULAN III 2014 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH I SULAWESI MALUKU PAPUA

TRIWULAN III 2014 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH I SULAWESI MALUKU PAPUA Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan TRIWULAN III 214 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH I SULAWESI MALUKU PAPUA Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain

Lebih terperinci

Kajian Ekonomi Regional Triwulan II-2014 Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat

Kajian Ekonomi Regional Triwulan II-2014 Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat Visi Bank Indonesia Menjadi lembaga bank sentral yang kredibel dan terbaik di regional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang rendah dan nilai tukar yang stabil

Lebih terperinci

No.11/02/63/Th XVII. 5 Februari 2014

No.11/02/63/Th XVII. 5 Februari 2014 No.11/02/63/Th XVII. 5 Februari 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2013 Secara triwulanan, PDRB Kalimantan Selatan triwulan IV-2013 menurun dibandingkan dengan triwulan III-2013 (q-to-q)

Lebih terperinci

BAB 3. PERKEMBANGAN PERBANKAN

BAB 3. PERKEMBANGAN PERBANKAN BAB 3. PERKEMBANGAN PERBANKAN 24 BAB 3. PERKEMBANGAN PERBANKAN KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGAH TRIWULAN III 2008 KANTOR 25 BAB 3. PERKEMBANGAN PERBANKAN Visi Bank Indonesia Menjadi lembaga

Lebih terperinci

Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2014 Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat

Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2014 Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat Visi Bank Indonesia Menjadi lembaga bank sentral yang kredibel dan terbaik di regional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang rendah dan nilai tukar yang stabil

Lebih terperinci

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo

BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III 2009 Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional

Lebih terperinci

Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan

Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Agustus 217 (terbit setiap triwulan) KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II- 2014

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II- 2014 No. 048/08/63/Th XVIII, 5Agustus PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II- Ekonomi Kalimantan Selatan pada triwulan II- tumbuh sebesar 12,95% dibanding triwulan sebelumnya (q to q) dan apabila

Lebih terperinci

Kajian Ekonomi & Keuangan Regional Triwulan III 2014

Kajian Ekonomi & Keuangan Regional Triwulan III 2014 Kajian Ekonomi & Keuangan Regional Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Tenggara KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL (www.bi.go.id) KATA PENGANTAR Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT TRIWULAN IV-28 KANTOR BANK INDONESIA BANDUNG Kantor Bank Indonesia Bandung Jl. Braga No. 18 BANDUNG Telp : 22 423223 Fax : 22 4214326 Visi Bank Indonesia Menjadi

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI JAWA TENGAH AGUSTUS

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI JAWA TENGAH AGUSTUS KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI JAWA TENGAH AGUSTUS 2017 1 KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia- Ekonomi dan Keuangan Regional

Lebih terperinci

Pertumbuhan Ekonomi Kepulauan Riau. *)angka sementara **)angka sangat sementara

Pertumbuhan Ekonomi Kepulauan Riau. *)angka sementara **)angka sangat sementara RINGKASAN EKSEKUTIF Asesmen Ekonomi Laju perekonomian provinsi Kepulauan Riau di triwulan III-2008 mengalami koreksi yang cukup signifikan dibanding triwulan II-2008. Pertumbuhan ekonomi tercatat berkontraksi

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SUMATERA UTARA KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH IX

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SUMATERA UTARA KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH IX KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SUMATERA UTARA TRIWULAN III-2013 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH IX 2013 KATA PENGANTAR Buku Kajian Ekonomi Regional Provinsi Sumatera Utara merupakan terbitan

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI BENGKULU

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI BENGKULU KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI BENGKULU Triwulan III - 2010 Penyusun : Tim Ekonomi Moneter Kelompok Kajian, Statistik dan Survei : 1. Bayu Martanto Peneliti Ekonomi Muda Senior 2. Jimmy Kathon Peneliti

Lebih terperinci

Halaman ini sengaja dikosongkan.

Halaman ini sengaja dikosongkan. 2 Halaman ini sengaja dikosongkan. KATA PENGANTAR Puji serta syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan rahmat dan ridha- IV Barat terkini yang berisi mengenai pertumbuhan ekonomi,

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT TRIWULAN I-2008 KANTOR BANK INDONESIA BANDUNG Kantor Bank Indonesia Bandung Jl. Braga No. 108 BANDUNG Telp : 022 4230223 Fax : 022 4214326 Visi Bank Indonesia

Lebih terperinci

Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan

Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan Agustus 216 (terbit setiap triwulan) KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN IV 2013 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo Suryono : Kepala Perwakilan / Deputi Direktur

Lebih terperinci

Laporan Perkembangan Perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta Triwulan I 2014

Laporan Perkembangan Perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta Triwulan I 2014 Laporan Perkembangan Perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta Triwulan I 2014 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA ...Memberikan saran kepada pemerintah daerah mengenai kebijakan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2012

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2012 No.11/02/63/Th XVII, 5 Februari 2012 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2012 Perekonomian Kalimantan Selatan tahun 2012 tumbuh sebesar 5,73 persen, dengan pertumbuhan tertinggi di sektor konstruksi

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO Triwulan IV 2014 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI GORONTALO Publikasi ini dan publikasi Bank Indonesia yang lain dapat diakses secara online

Lebih terperinci

Laporan Perkembangan Perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta Triwulan III 2014

Laporan Perkembangan Perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta Triwulan III 2014 Laporan Perkembangan Perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta Triwulan III 2014 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA ...Memberikan saran kepada pemerintah daerah mengenai kebijakan

Lebih terperinci

BAB 4 : KEUANGAN DAERAH

BAB 4 : KEUANGAN DAERAH BAB 4 KEUANGAN DAERAH BAB 4 : KEUANGAN DAERAH Realisasi penyerapan belanja APBD Pemerintah Provinsi Gorontalo triwulan I-2012 cenderung lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Rendahnya

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI GORONTALO. PDRB Gorontalo Triwulan III-2013 Naik 2,91 Persen

PERTUMBUHAN EKONOMI GORONTALO. PDRB Gorontalo Triwulan III-2013 Naik 2,91 Persen No. 62/11/75/Th. VII, 6 November 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI GORONTALO PDRB Gorontalo Triwulan III-2013 Naik 2,91 Persen PDRB Provinsi Gorontalo triwulan III-2013 naik 2,91 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.

Lebih terperinci

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Sulawesi Selatan

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Sulawesi Selatan Kajian Ekonomi Regional Provinsi Sulawesi Selatan Triwulan IV 213 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH I SULAWESI MALUKU PAPUA Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain dapat diakses

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI JAWA TENGAH FEBRUARI 2017

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI JAWA TENGAH FEBRUARI 2017 FEBRUARI 217 KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunianya Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Jawa Tengah Februari 217 dapat dipublikasikan.

Lebih terperinci

Dari sisi permintaan (demmand side), perekonomian Kalimantan Selatan didorong permintaan domestik terutama konsumsi rumah tangga.

Dari sisi permintaan (demmand side), perekonomian Kalimantan Selatan didorong permintaan domestik terutama konsumsi rumah tangga. No. 064/11/63/Th.XVIII, 5 November 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN III-2014 Perekonomian Kalimantan Selatan pada triwulan III-2014 tumbuh sebesar 6,19 persen, lebih lambat dibandingkan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN I- 2013

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN I- 2013 No. 027/05/63/Th XVII, 6 Mei 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN I- 2013 Perekonomian Kalimantan Selatan triwulan 1-2013 dibandingkan triwulan 1- (yoy) tumbuh sebesar 5,56 persen, dengan

Lebih terperinci

. Tabel 1.2 Pertumbuhan Ekonomi Sisi Penawaran SEKTOR PERTANIAN

. Tabel 1.2 Pertumbuhan Ekonomi Sisi Penawaran SEKTOR PERTANIAN *) Angka Sementara Sumber : BPS. Prov. Gorontalo 1.2.1 SEKTOR PERTANIAN. Tabel 1.2 Pertumbuhan Ekonomi Sisi Penawaran SEKTOR 2009 2010 I II III IV I II III 1. PERTANIAN 7,74 5,42 (2,89) 5,18 1,52 1,35

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN DAERAH PROVINSI BENGKULU

PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN DAERAH PROVINSI BENGKULU PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN DAERAH PROVINSI BENGKULU Triwulan III - 2009 PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN DAERAH PROVINSI BENGKULU Penerbit : Bank Indonesia Bengkulu Tim Ekonomi Moneter Kelompok Kajian, Statistik

Lebih terperinci

BAB 4 : KEUANGAN DAERAH

BAB 4 : KEUANGAN DAERAH BAB 4 KEUANGAN DAERAH BAB 4 : KEUANGAN DAERAH Penghimpunan pendapatan dan penyerapan belanja APBD Pemerintah Provinsi Gorontalo selama triwulan laporan meningkat secara nominal, namun dilihat dari persentase

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT TRIWULAN II-2008 KANTOR BANK INDONESIA BANDUNG Kantor Bank Indonesia Bandung Jl. Braga No. 108 BANDUNG Telp : 022 4230223 Fax : 022 4214326 Visi Bank Indonesia

Lebih terperinci

TRIWULAN IV 2014 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN

TRIWULAN IV 2014 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan TRIWULAN IV 2014 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain dapat

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Kalimantan Tengah Triwulan I2010 Kantor Bank Indonesia Palangka Raya KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat Nya sehingga Kajian

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II- 2013

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II- 2013 No. 046/08/63/Th XVII, 2 Agustus 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II- 2013 Ekonomi Kalimantan Selatan pada triwulan II-2013 tumbuh sebesar 13,92% (q to q) dan apabila dibandingkan dengan

Lebih terperinci

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan IV-2012

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan IV-2012 Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan -2012 Asesmen Ekonomi Pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2012 tercatat 8,21% lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2011 yang tercatat

Lebih terperinci

Kajian Ekonomi Regional Triwulan II-2010 Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat

Kajian Ekonomi Regional Triwulan II-2010 Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat Visi Bank Indonesia Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional melalui penguatan nilai-nilai yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang rendah dan stabil Misi

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI ACEH. Triwulan I 2016

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI ACEH. Triwulan I 2016 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI ACEH Triwulan I 216 VISI Menjadi Kantor Perwakilan yang kredibel dalam pelaksanaan tugas BI dan kontributif bagi pembangunan ekonomi daerah maupun nasional.

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SULAWESI BARAT

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SULAWESI BARAT KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SULAWESI BARAT TRIWULAN-I 2013 halaman ini sengaja dikosongkan iv Triwulan I-2013 Kajian Ekonomi Regional Sulawesi Barat Daftar Isi KATA PENGANTAR... III DAFTAR ISI...

Lebih terperinci

Grafik 1.21 Perkembangan Bongkar Barang

Grafik 1.21 Perkembangan Bongkar Barang Grafik 1.21 Perkembangan Bongkar Barang 1.2 SISI PENAWARAN Dinamika perkembangan sektoral pada triwulan I-2012 menunjukkan arah yang melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Perlambatan tersebut didorong

Lebih terperinci

BPS PROVINSI SULAWESI SELATAN

BPS PROVINSI SULAWESI SELATAN BPS PROVINSI SULAWESI SELATAN No. 63/11/73/Th. VIII, 5 November 2014 EKONOMI SULAWESI SELATAN TRIWULAN III TUMBUH SEBESAR 6,06 PERSEN Perekonomian Sulawesi Selatan pada triwulan III tahun 2014 yang diukur

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Nusa Tenggara Timur Triwulan III - 2013 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur KATA PENGANTAR Sejalan dengan salah satu tugas pokok Bank Indonesia,

Lebih terperinci

ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III

ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III - 2009 127 ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III - 2009 Tim Penulis

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI ACEH. Triwulan IV 2015

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI ACEH. Triwulan IV 2015 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI ACEH Triwulan IV 215 VISI Menjadi Kantor Perwakilan yang kredibel dalam pelaksanaan tugas BI dan kontributif bagi pembangunan ekonomi daerah maupun nasional.

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI ACEH. Triwulan III 2015

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI ACEH. Triwulan III 2015 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI ACEH Triwulan III 215 VISI Menjadi Kantor Perwakilan yang kredibel dalam pelaksanaan tugas BI dan kontributif bagi pembangunan ekonomi daerah maupun nasional.

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI KEUANGAN REGIONAL

KAJIAN EKONOMI KEUANGAN REGIONAL KAJIAN EKONOMI KEUANGAN REGIONAL Provinsi Kalimantan Selatan Triwulan III - 2014 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah II Kalimantan Kata Pengantar KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada

Lebih terperinci

BANK INDONESIA KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI BALI TRIWULAN II 2014

BANK INDONESIA KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI BALI TRIWULAN II 2014 BANK INDONESIA KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI BALI TRIWULAN II 2014 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan II 2014 1 Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perbankan berperan dalam mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi dan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perbankan berperan dalam mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi dan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perbankan berperan dalam mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi dan memperluas kesempatan kerja melalui penyediaan sejumlah dana pembangunan dan memajukan dunia usaha.

Lebih terperinci

TRIWULAN IV 2015 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN

TRIWULAN IV 2015 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan TRIWULAN IV 215 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI SELATAN Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain dapat

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROPINSI SULAWESI SELATAN TRIWULAN-II Kajian Ekonomi Regional Sulawesi Selatan Triwulan II-2008 i

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROPINSI SULAWESI SELATAN TRIWULAN-II Kajian Ekonomi Regional Sulawesi Selatan Triwulan II-2008 i KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROPINSI SULAWESI SELATAN TRIWULAN-II 008 Kajian Ekonomi Regional Sulawesi Selatan Triwulan II-008 i Halaman ini sengaja dikosongkan This page is intentionally blank Kata Pengantar

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL Triwulan IV 2012

KAJIAN EKONOMI REGIONAL Triwulan IV 2012 KAJIAN EKONOMI REGIONAL Triwulan IV 2012 Januari 2013 Kinerja Ekonomi Daerah Cukup Kuat, Inflasi Daerah Terkendali Ditengah perlambatan perekonomian global, pertumbuhan ekonomi berbagai daerah di Indonesia

Lebih terperinci

No. Sektor No. Sektor No. Jenis Penggunaan

No. Sektor No. Sektor No. Jenis Penggunaan PDRB SEKTORAL Berdasarkan Harga Berlaku (Rp Miliar) No. Sektor 2006 2007 1 Pertanian 431.31 447.38 465.09 459.18 462.01 491.83 511.76 547.49 521.88 537.38 2 Pertambangan dan Penggalian 11.48 11.44 11.80

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Provinsi Nusa Tenggara Timur Kantor Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur Menyongsong Pembangunan di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang Berkualitas Februari 2017 Untuk

Lebih terperinci

PAPARAN BANK INDONESIA RAKORDAL TW II 17. Kalimantan Tengah. Kalimantan Tengah

PAPARAN BANK INDONESIA RAKORDAL TW II 17. Kalimantan Tengah. Kalimantan Tengah Kalimantan Tengah PAPARAN BANK INDONESIA RAKORDAL TW II 17 Kalimantan Tengah Pertumbuhan Ekonomi & Inflasi Tahun 2017 Pasca meningkat cukup tinggi pada triwulan I 2017, ekonomi Kalimantan Tengah diperkirakan

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL. Provinsi Nusa Tenggara Timur

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL. Provinsi Nusa Tenggara Timur KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Provinsi Nusa Tenggara Timur November 2016 Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Unit Asesmen Ekonomi dan Keuangan KPW BI Provinsi NTT Jl. Tom Pello No. 2

Lebih terperinci

Laporan Perkembangan Perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta Triwulan III-2008

Laporan Perkembangan Perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta Triwulan III-2008 Laporan Perkembangan Perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta Triwulan III-2008 YOGYAKARTA VISI BANK INDONESIA Menjadi KBI yang dapat dipercaya di daerah melalui peningkatan peran dalam menjalankan tugas-tugas

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI KEUANGAN REGIONAL

KAJIAN EKONOMI KEUANGAN REGIONAL KAJIAN EKONOMI KEUANGAN REGIONAL Provinsi Kalimantan Selatan Triwulan II - 2014 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah II Kalimantan Kata Pengantar KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan

Lebih terperinci

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Barat

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Barat Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Barat Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain dapat diakses secara online pada: www.bi.go.id/web/id/publikasi/ Salinan publikasi ini

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGAH

KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGAH KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGAH TRIWULAN III 2009 KANTOR BANK INDONESIA PALU Visi Bank Indonesia maupun internasional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang dimiliki serta Misi Bank

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN IV/2011 DAN TAHUN 2011

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN IV/2011 DAN TAHUN 2011 No. 06/02/62/Th. VI, 6 Februari 2012 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN IV/2011 DAN TAHUN 2011 Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Tengah tahun 2011 (kumulatif tw I s/d IV) sebesar 6,74 persen.

Lebih terperinci

TRIWULAN II 2014 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH I SULAWESI MALUKU PAPUA

TRIWULAN II 2014 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH I SULAWESI MALUKU PAPUA Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan TRIWULAN II 214 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH I SULAWESI MALUKU PAPUA Publikasi ini beserta publikasi Bank Indonesia yang lain

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI JAWA TENGAH MEI 2017

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI JAWA TENGAH MEI 2017 MEI KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia-nya Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Jawa Tengah Mei dapat dipublikasikan. Buku ini

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN MONETER, PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN TRIWULAN III 2003

PERKEMBANGAN MONETER, PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN TRIWULAN III 2003 1 PERKEMBANGAN MONETER, PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN TRIWULAN III 2003 Tim Penulis Laporan Triwulanan III 2003, Bank Indonesia Sampai dengan triwulan III-2003, kondisi perekonomian Indonesia masih mengindikasikan

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Kalimantan Tengah Triwulan I2009 Kantor Bank Indonesia Palangka Raya KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmatnya sehingga Laporan

Lebih terperinci

BERITA RESMI STATISTIK

BERITA RESMI STATISTIK BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI JAWA TIMUR No. 72/11/35/Th. X, 5 November 2012 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TIMUR TRIWULAN III-2012 Ekonomi Jawa Timur Triwulan III Tahun 2012 (y-on-y) mencapai 7,24 persen

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL KAJIAN EKONOMI REGIONAL Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan I - 2009 Kantor Bank Indonesia Palembang KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan

Lebih terperinci

Proyeksi Perekonomian Sulsel 2009 Menghadapi Krisis Keuangan Global

Proyeksi Perekonomian Sulsel 2009 Menghadapi Krisis Keuangan Global Proyeksi Perekonomian Sulsel 2009 Menghadapi Krisis Keuangan Global Oleh : Marsuki Disampaikan dalam Acara Raker Multi Niaga Group, dengan Tema : Tumbuh di Tengah Krisis keuangan Global. Graha Multi Niaga,

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL AGUSTUS 216 website : www.bi.go.id email : empekanbaru@bi.go.id VISI BANK INDONESIA : kredibel dan terbaik di regional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN I TAHUN 2014

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN I TAHUN 2014 No. 28/05/72/Thn XVII, 05 Mei 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN I TAHUN 2014 Perekonomian Sulawesi Tengah triwulan I-2014 mengalami kontraksi 4,57 persen jika dibandingkan dengan triwulan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kendari, Agustus 2009 BANK INDONESIA KENDARI. Lawang M. Siagian Pemimpin

KATA PENGANTAR. Kendari, Agustus 2009 BANK INDONESIA KENDARI. Lawang M. Siagian Pemimpin KATA PENGANTAR Kajian Ekonomi Regional Provinsi Sulawesi Tenggara menyajikan kajian mengenai perkembangan ekonomi Sulawesi Tenggara yang meliputi perkembangan ekonomi makro, perkembangan inflasi daerah,

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

KAJIAN EKONOMI REGIONAL BANK INDONESIA KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI BALI TRIWULAN III-2013 Kajian Ekonomi Regional (KER) Provinsi Bali Triwulan III-2013 1 Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Tim Asesmen Ekonomi

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN MONETER, PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN TRIWULAN III 2004

PERKEMBANGAN MONETER, PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN TRIWULAN III 2004 Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran Triwulan III 2004 185 PERKEMBANGAN MONETER, PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN TRIWULAN III 2004 Tim Penulis Laporan Triwulanan III 2004, Bank Indonesia

Lebih terperinci