Gambar 2.1 Skema Sistem Refrigerasi [3].

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Gambar 2.1 Skema Sistem Refrigerasi [3]."

Transkripsi

1 BB II DSR TEORI.. SISTEM REFRIGERSI Refrigerasi dan enyeju udara C (ir Conditioning) digunaan untu mendinginan suatu rodu atau lingungan gedung. Sistem refrigerasi atau enyeju udara C memindahan anas dari tangi reservoir energi rendah yang lebih dingin e tangi reservoir energi tinggi yang lebih hangat. Sema erja dari sistem refrigerasi daat dilihat ada Gambar.. Gambar. Sema Sistem Refrigerasi [3]... Sistem Refrigerasi Komresi Ua Silus refrigerasi omresi ua mengambil euntungan dari enyataan bahwa fluida yang berteanan tinggi ada suhu tertentu cenderung menjadi lebih dingin jia dibiaran mengembang. Jia erubahan teanan cuu tinggi, maa gas yang ditean aan menjadi lebih anas dariada lingungan (contoh udara diluar) dan gas yang mengembang aan menjadi lebih dingin dariada suhu dingin yang diehendai. Dalam asus ini, fluida digunaan untu mendinginan lingungan bersuhu rendah dan membuang anas e lingungan yang bersuhu tinggi. 6

2 7 Silus refrigerasi omresi ua memilii dua euntungan. ertama, sejumlah besar energi anas dierluan untu merubah cairan menjadi ua, dan oleh arena itu banya anas yang daat dibuang dari ruang yang disejuan. Kedua, sifat-sifat isothermal enguaan membolehan engambilan anas tana menaian suhu fluida erja. Hal ini berarti bahwa laju erindahan anas menjadi tinggi, sebab semain deat suhu fluida erja mendeati suhu seitarnya aan semain rendah laju erindahan anasnya [4]. Komonen-omonen utama sistem refrigerasi silus omresi ua terdiri dari [5] : a. Komresor Komresor adalah omonen yang meruaan jantung dari sistem refrigerasi. Komresor beerja menghisa ua refrigeran dari evaorator dan mendorongnya dengan cara omresi agar mengalir masu e ondenser. Karena omresor mengaliran refrigeran sementara iranti esansi membatasi alirannya, maa di antara edua omonen itu terbangitan erbedaan teanan, yaitu: di ondenser teanan refrigeran menjadi tinggi (high ressure H), sedangan di evaorator teanan refrigeran menjadi rendah (low ressure L). b. Kondensor Kondenser adalah omonen di mana terjadi roses erubahan fasa refrigeran, dari fasa ua menjadi fasa cair. Dari roses ondensasi (engembunan) yang terjadi di dalamnya itulah maa omonen ini mendaatan namanya. roses ondensasi aan berlangsung aabila refrigeran daat meleasan alor yang diandungnya. Kalor tersebut dileasan dan dibuang e lingungan. gar alor daat leas e lingungan, maa suhu ondensasi harus lebih tinggi dari suhu lingungan. Karena refrigeran adalah zat yang sangat mudah mengua, maa agar daat dia diondensasian haruslah dibuat berteanan tinggi. Maa, ondenser adalah bagian di mana refrigeran berteanan tinggi ( cond = high ressure H). c. Katu esansi atau ia ailer iranti ini berfungsi untu menurunan teanan dan temeratur refrigeran. ada dasarnya alat ini beerja seerti sebuah gerbang yang mengatur banyanya

3 8 refrigeran cair yang boleh mengalir dari ondenser e evaorator. Oleh sebab itu alat ini sering juga dinamaan refrigerant flow controller. roses yang berlangsung dalam iranti ini biasanya disebut throttling rocess. Besarnya laju aliran refrigeran meruaan salah satu fator yang menentuan besarnya aasitas refrigerasi. Untu sistem refrigerasi yang ecil, maa laju aliran refrigeran yang dierluan juga ecil saja. Sebalinya unit atau sistem refrigerasi yang besar aan memunyai laju aliran refrigeran yang besar ula. d. Evaorator Evaorator adalah omonen di mana cairan refrigeran yang masu e dalamnya aan mengua. roses enguaan (evaoration) itu terjadi arena cairan refrigeran menyera alor, yaitu yang meruaan beban refrigerasi sistem. Silus refrigerasi ditunjuan dalam Gambar. dan Gamabar.3 dan daat dibagi menjadi tahaan-tahaan beriut [3]: a.. Refrigeran dalam bentu ua masu menuju omresor dimana teanannya dinaian. Suhu emudian juga aan meningat, sebab bagian energi yang menuju roses omresi diindahan e refrigeran. Oleh arena itu omresor membutuhan erja W in. m h h (.) W in Dimana: m = laju aliran massa refrigerant (g/s) h = enthaly (j/g) b. 3. Suerheated gas berteanan tinggi lewat dari omresor menuju ondenser. Bagian awal roses refrigerasi menurunan anas suerheated gas sebelum gas ini diembalian menjadi bentu cairan. Refrigerasi untu roses ini biasanya dicaai dengan menggunaan udara atau air. enurunan suhu lebih lanjut terjadi ada eerjaan ia dan enerima cairan, sehingga cairan refrigeran didinginan e tingat lebih rendah etia cairan ini menuju alat esansi. Jadi laju erindahan anas dari ondensor e lingungan adalah.

4 9 Q out m h h 3 (.) c Cairan yang sudah didinginan dan berteanan tinggi melintas melalui eralatan esansi, yang mana aan mengurangi teanan dan mengendalian aliran menuju evaorator. roses ini terjadi secara adiabati sehingga tida ada anas yang eluar atauun masu. h 4 h 3 (.3) d. 4. Cairan refrigeran dalam evaorator menyera anas dari seitarnya, biasanya udara, air atau cairan roses lain. Selama roses ini cairan merubah bentunya dari cair menjadi gas, dan ada eluaran evaorator gas ini masu embali e omresor. Besarnya anas yang disera oleh evaorator disebut dengan aasitas refrigerasi atau beban endinginan Q in. m h h 4 (.4) Q in Gambar. Sema Silus Gambar.3 Diagram -h Silus Komresi Ua [3]. Komresi Ua [3].

5 0 Kondenser harus mamu membuang anas gabungan yang masu evaorator dan ondenser. Dengan ata lain: ( - ) + (4 - ) harus sama dengan ( - 3). Melalui alat esansi tida terdaat anas yang hilang mauun yang dieroleh. Sehingga daat ditulis ersamaan energi sebagai beriut: W Q Q (.5) in out in Koefisien inerja atau coeffient of erformance (CO) silus refrigersai ini meruaan erbandingan antara jumlah energi yang diterima sistem dari benda dingin Q in dengan erja neto yang diindahan edalam sistem W in oefisien inerja daat ditulisan sebagai [7]:. Dengan demiian Q W in in h h h h 4 (.6).. EJECTOR REFRIGERTION SYSTEM Tenologi ejector refrigeration telah lama dietahui dan diembangan, ertama ali ditemuan oleh Le Blance dan Charles arsons awal tahun 900 []. Ejector refrigeration namanya daat dialiasian menjadi sistem yang teat untu sistem refrigerasi sala besar ada situasi risis energi searang ini. Karena ejector refrigeration daat memanfaatan anas buang dari ower lants, ruang embaaran dan ada roses-roses industri lainnya dan digunaan untu menghaslian roses refrigerasi atau endinginan. Selain itu silus ejector refrigeration memilii onstrusi yang sederhana serta sediit bagian bergera sehingga secara eonomis lebih rendah biaya erawatan dan oerasionalnya dibanding silus omresi ua []. Tabel. adalah erbandingan biaya erawatan dan oerasional antara silus omresi ua dan silus ejector refrigeration yang dilauan oleh Nguyen [9].

6 Tabel. Tabel erbandingan Biaya Oerasi ntara Silus Komresi Ua dan Silus Ejector Refrigeration [9] Gambar.4 menunjuan sema dari silus ejector refrigeration. Boiler, ejector dan oma digunaan sebagai engganti omresor ada silus omresi ua. rosesnya berawal dari teanan dan temeratur tinggi yang dihasilan dari boiler disebut dengan rimary flow atau motive flow yang masu e ejector dengan eceatan suersonic. Sehingga menghasian teanan yang rendah dari fluida refrigeran didalam evaorator dan mengaibatan refrigeran mengua ada temeratur yang lebih rendah, lalu masu e ejector dan disebut secondary flow. Kemudian alor yang disera evaorator meruaan aasitas dari refrigerasi []. Jadi daat dilihat erformansi refrigerasi dari silus ini tergantung ada emamuan ejector meningatan flow rate refrigerasi yang melalui evaorator atau arameter ini biasa disebut entrainment ratio.

7 Gambar.4 Sema Ejector Refrigeration [].... Bagian-bagian Ejector Ejector memunyai emat bagian utama yaitu rimary nozzle, mixing chamber (suction chamber), constan-area section (throat) dan subsonic diffuser. ada Gambar.5 menjelasan bagian-bagian dari ejector. Gambar.5 Bagian-bagian Ejector [].

8 3 Berdasaran osisi dari ujung nozzle, desain ejector daat dilasifiasian menjadi dua ategori. Yang ertama untu osisi ujung nozzle ada constant-area mixing disebut constan-area mixing ejector, sehingga rimary flow dan secondary flow bertemu di constant-area section. Untu osisi ujung nozzle terleta di suction chamber yaitu didean constant-area section disebut constant-ressure mixing ejector, sehingga ercamuran antara rimary flow dan secondary flow terjadi di suction chamber dengan teanan onstan. Dan constant-ressure ejector memunyai inerja yang lebih bai serta lebih banya digunaan dariada constant-area ejector []. erbedaan dari dua ategori ejector tersebut daat dilihat ada Gambar.6. Gambar.6 Klasifiasi ejector berdasar osisi nozzle [].... Karateristi Oerasi Ejector Gambar.7 menunjuan rofil eceatan dan teanan seanjang ejector, daat dilihat ua berteanan tinggi () yang di sebut rimary fluid masu dan dierceat melalui nozzle (i), emudian eluar dengan eceatan suersonic (ii).

9 4 Dan menghasilan teanan rendah yang emudian menari ua dari evaorator yang disebut secondary flow (S) dan emudian bersama rimary fluid masu e mixing chamber yang ahirnya masu e throat (iv) dan terjadi normal shoc (v) sesaat sebelum eluar melalui subsonic diffuser. Gambar.7 rofil teanan dan eceatan seanjang ejector [].

10 5..3. erforma Ejector Refrigeration System Gambar.8 -h diagram ejector refrigeration system [7]. Gambar.8 meruaan -h diagram ejector refrigeration system. ada sistem refrigerasi ini, ejector berfungsi sebagai engganti omresor yaitu menaian teanan serta mensirulasian refrigerant dari evaorator menuju ondenser. Dengan demiian bahwa ejector membawa atau mengambil ua refrigeran dari evaorator. Kemamuan ejector untu mengambil ua refrigeran (secondary flow) daat dinyataan dengan entrainment ratio yaitu erbandingan antara laju aliran massa dari evaorator secondary flow m s dengan laju aliran massa dari boiler yang melalui nozzle rimary flowm [7]. m m s (.7)

11 6 Kemudian CO dari sistem ini daat dilihat ada ersamaan.8. (.8) Jadi CO dari sistem (.9) (.0) Jadi semain besar nilai entrainment ratio maa daat meningatan nilai aasitas endinginan sehingga nilai CO juga aan meningat. Selain itu ada dua arameter lagi yang biasa digunaan untu menunjuan erforma dari ejector, yaitu comression ratio [0] daat dilihat ada ersamaan. dan exansion ratio [0] daat dilihat ada ersamaan.. c CR (.) e b EXR (.) e ada constant-ressure ejector diasumsian bahwa aliran rimary dan secondary bercamur ada mixing chamber dengan teanan yang onstan. Disini timbul dua fenomena choing, yang ertama ada aliran rimer yang melintas eluar nozzle, dan choing yang edua ada aliran yang dibawa yaitu aibat erceatan dari aliran seunder menjadi suersoni di constant-area section. Dan entrainment ratio yang dihasilan bervariasi menurut erubahan bac ressure dengan secondary ressure (e) dan rimary ressure (m) teta. Sehingga inerja dari ejector daat dibagi menjadi tiga mode oerasional, mengacu ada bac ressure (c) [6].

12 7 Gambar.9 meruaan garis ondisi oerasi ada sebuah ejector, sehingga daat dietahui bahwa ada taanan bac ressure beraa inerja terbai dari ejector:. Double-choing atau critical mode ada c c*, yaitu rimary flow dan secondary flow eduanya choing dan entrainment ratio adalah onstan, = onstan.. Single-choing atau subcritical mode ada c* < c < co, yaitu hanya rimary flow saja yang terena choe and berubah menurut bac ressure (c). 3. Bac-flow atau malfunction mode ada c co, yaitu rimary flow dan secondary flow eduanya tida ada choe dan aliran secondary membali (malfunction), 0. Gambar.9 Kondisi oerasi ejector refrigeration system [6]..3.LIRN KOMRESIBEL Ketia suatu fluida bergera dengan erubahan densitas secara signifian maa aliran tersebut diataan aliran omresibel. da dua fenomena yang mungin terjadi ada aliran omresibel. Yang ertama adalah choing, dimana laju aliran masa ada duct dibatasi oleh onsdisi soni. Dan yang edua shoc waves, dimana roerti berubah ada aliran suersoni.

13 8.3. Mach Number arameter yang menjadi acuan utama untu menentuan suatu aliran omresibel atau tida, dilihat dari nilai Mach Number (Ma), yang didefinisian sebagai rasio antara eceatan aliran loal terhada eceatan suara loal [8]. Ma (.3) c Rentang nilai Mach Number daat dilasifiasian sebagai beriut [8]: a. Ma < 0.3: aliran diataan inomresibel, dimana erubahan densitas daiabaian. b. 0.3 < Ma < 0.8: aliran subsoni, dimana erubahan densitas sangat enting tetai tida ada shoc. c. 0.8 < Ma <.: aliran transoni, yaitu daerah antara subsoni dan suersoni dimana shoc ertama ali muncul. d.. < Ma < 3.0: aliran suersoni, terdaat gelombang shoc. e. 3.0 < Ma: aliran hiersoni, dimana shoc dan aliran berubah secara uat. Sedangan eceatan suara untu ada gas ideal sendiri meruaan fungsi dari temeratur dan didefinisian sebagai: c RT (.4) Dimana: = eceatan aliran (m/s) c = eceatan suara (m/s) = rasio sesifi anas c c v ada Tabel.. Sedangan untu eceatan suara ada beeraa material umum daat dilihat

14 9 Tabel.. Keceatan Suara ada Beberaa Material [8].3. Teori Gas Ideal enemuan teori gas ideal diawali ada tahun 66 Robert Boyle melauan exeriment dan menghasilan bahwa massa gas (jumlah mol) dan temeratur suatu gas dijaga onstan, sementara volume gas diubah ternyata teanan yang dieluaran gas juga berubah sedemiian hingga eralian antara teanan () dan volume (), selalu mendeati onstan. Dengan demiian suatu ondisi bahwa gas tersebut adalah gas semurna (ideal). onstan (.5) Kemudian ada tahun 80, J. Charles and J. Gay-Lussac, melauan exeriment dan menghasilan bahwa volume gas ada teanan rendah berbanding lurus dengan temeraturnya yaitu [3] : sebagai beriut : v RT (.6) Kemudian untu eadaan gas ada dua eadaan yang berbeda daat ditulis v T v T (.7)

15 0 Dimana: = teanan (a) T = temeratur (K) v = densitas (m 3 /g) R adalah onstanta gas R u R (Nm/gK), erbandingan antara onstanta gas M m universal R u =834 (Nm/mol.K) dengan massa moleul gas M m daat dilihat ada Tabel liran Isentroi a. ersamaan Kontinuitas ersamaan dasar: 0 t C d CS. d 0 sumsi: aliran steadi dan satu dimensional Menggunaan besaran salar yang biasa dalam bentu: m onstan (.8) b. ersamaan Momentum ersamaan dasar: Fs x F B x t C x d CS x. d dengan asumsi steadi, F B x =0 dan R x sebagai gaya tean dinding maa R x Dengan menggunaan besaran salar R x m m (.9)

16 c. Huum I Thermodinamia Q W s W shear W other e d e v. d t C CS dimana e u gz sumsi: - Q 0 - W s 0 - W 0 shear W other - gravitasi diabaian 0 u v u v Dengan mensubtitusian h u vdidaat h h h =onstan h 0 h (.0) Dimana h 0 adalah entali ondisi stagnasi yaitu ada eceatan nol [8]..3.4 liran Isentroi dengan erubahan rea Efe erubahan area dalam aliran isentroi berengaruh hususnya ada teanan dan eceatan. erubahan area (d) tersebut daat mengubah nilai teanan (d) dan eceatan (d) bai ositif mauun nagatif. d d M (.)

17 ada ersamaan. jia Ma<, area berubah aan menyebaban teanan berubah sesuai tanda erubahan area (jia d ositif berarti d ositif untu Ma<). Untu Ma>, maa erubahan area berlawanan dengan erubahan teanan. d d M (.) ada ersamaan. jia Ma<, erubahan area menyebaban eceatan berubah berlawanan tanda (jia d ositif berarti d negatif untu Ma<). Untu Ma>, erubahan area menyebaban erubahan eceatan sesuai dengan tanda [8]. Gambar.0 menjelasan tentang nozzle dan diffuser terhada bilangan Mach. Gambar.0 Efe bilangan mach ada nozzle dan diffuser [8]. erbandingan teanan terhada erubahan area daat dinyataan dengan ondisi stagnasi [8]: 0 M (.3)

18 3 Untu ondisi ritis dimana nilai bilangan Ma = daat dinyataan sebagai beriut 0 * M (.4) * M M (.5) Dimana: = area (m ) * = area ritis (m ) 0 = teanan stagnasi (a) * = teanan ritis (a).3.5 Converging Nozzle Gambar.a adalah converging nozzle dengan teanan masu 0 emudian aliran ditimbulan dengan menurunan teanan eluar dibawah 0 yaitu eadaan a samai e yang daat dilihat ada Gambar.b dan c. b dari Untu enurunan teanan b ada eadaan a dan b, teanan throat lebih besar dari teanan eluar ritis (teanan eluar ritis adalah teanan eluar maximum dimana eceatan throat masih dalam eadaan sonic) sehingga eceatan ada throat nozzle adalah subsonic. Dan laju aliran massa yang terjadi dibawah laju aliran massa maximum m max. Untu ondisi c teanan eluar sama dengan teanan ritis sehingga eceatan throat menjadi sonic. Dan laju aliran massa yang terjadi adalah laju aliran massa maximum m max. Kemudian etia b diturunan ada teanan dibawah yaitu ada eadaan d atau e, nozzle sudah tida mereson lagi erubahan teanan eluar arena sudah dalam eadaan choed ada laju aliran massa maximum ini. Dan aliran eluar dengan eceatan suersonic sehingga teanan eluar daat turun dari e.

19 4 Gambar. Karateristi aliran converging nozzle dengan berbagai teanan eluar..3.6 Converging-Diverging Nozzle Nozzle dengan bagian onverging dan diverging memunyai arateristi oerasi seerti ada Gambar.. Jia bac ressure (b) rendah maa daat terjadi aliran suersoni serta shoc ada bagian diverging. ada urva dan B bac ressure urang rendah untu membuat aliran soni di throat, dan aliran melintas secara subsoni. Untu urva C area rasio e t (erbandingan area bidang eluar nozzle e dan area throat t ) sama dengan rasio ritis e * yaitu bilangan Ma= ada throat, tetai aliran masih subsoni ada bidang eluar nozzle. Bac ressure antara C dan H ada throat aliran soni dan timbul shoc, mendeat bac ressure H ada diverging alirannya suersoni. Untu G dan I shoc timbul secara omle dan beruntun di bagian luar.

20 5 Gambar. Oerasi ada converging dan diverging nozzle [8]..4. NLIS STU DIMENSI DRI EJECTOR Gambar.3 Sema aliran di dalam ejector [6].

21 6 Gambar.3 adalah bentu aliran yang terjadi di dalam ejector. Ua eluar dari nozzle ada osisi, emudian menghisa dan mulai bercamur dengan secondary flow di y dan mengalami tean constant samai m dan ahirnya eluar dari throat ada osisi 3. Untu analisa satu dimensi rimary flow dari ejector adalah sebagai beriut, dengan teanan boiler b dan temeratur boiler Tb serta diameter throat nozzle t maa daat dietahui laju aliran masa yang eluar dari nozzle m yaitu [6]: m (.6) Beriut adalah teanan, masa jenis, temerature serta eceatan suara etia M= t * * T T * * a a / (.7) Jadi untu laju aliran massa ada saat M= dengan * RT maa * * t (.8) m m t RT (.9) / m t RT (.30) / Dengan RT asumsi yang dilauan untu membuat analisa : a. Fluida yang beerja adalah gas ideal dengan c dan adalah onstan. b. liran didalam ejector adalah steady dan satu dimensi. c. Energi ineti ada rimary dan secondary flow serta eluar diffuser ditiadaan. d. Untu enyederhanaan model satu dimensi, hubungan isentroi digunaan sebagai eriraan. Tetai sebagai catatan untu roses tida ideal, efe dari

22 7 gesean dan ehilangan saat ercamuran digunaan oefisien ada hubungan isentroi. Koefisien ini berhubungan dengan efisiensi isentroi dan membutuhan eserimen. e. Setelah eluar dari nozzle, rimary flow mengalir tana bercamur dengan secondary flow samai bagian y-y yaitu ada constant area section. f. Kedua aliran mulai bercamur ada bagian y-y dengan teanan yang seragam yaitu y=sy sebelum terjadinya shoc ada bagian s-s. g. liran ercamuran mengalami choced ada bagian y-y. h. Dinding bagian dalam ejector adalah adiabati, maa ersamaanya menjadi : t m (.3) T R ersamaan diatas adalah laju aliran massa yang eluar dari nozzle untu gas ideal, emudian untu suatu fluida omresibel lain dengan efisiensi isentrois tertentu B.J. Huang [6] menambahan fator efisiensi isentrois ( sehingga ersamaanya menjadi : ) edalam ersamaan, t b m (.3) T R Kemudian untu mencari teanan ada osisi yaitu ada saat eluar nozzle menggunaan ersamaan.33 di bawah ini : b M / (.33) Karena ejector ini adalah ejector constant ressure maa dan y sy m daat dietahui menggunaan ersamaan.34 dengan asumsi M [6]. sy sy e sy M sy / (.34)

23 8 Setelah didaatan ersamaan.35 digunaan untu mencari y sy m M y yaitu eceatan rimary flow ada osisi y. ( / ) M y ( / ) M y / (.35) Dua aliran mulai bercamur ada osisi y emudian seenuhnya bercamur ada osisi m emudian eceatan aliran daat dihitung dengan ersamaan.36 dengan = 0,84 [6] adalah friction loss. m m m m y m m s s sy (.36) Kemudian untu menghitung eceatan dan teanan ada osisi 3 menggunaan ersamaan.37 dan.38 dengan. C 3 M 3 / (.37) M 3 ( M m / ) M m ( / ) (.38).5. SIFT IR D BERBGI KEDN.5.. Diagram Fasa ir Gambar.4 adalah gambar tiga dimensi ermuaan -v-t dari air daat dilihat terdaat tiga daerah fasa air yaitu fasa adat, cair dan ua. ada daerah fase tunggal suatu eadaan daat ditentuan oleh setia asangan sifat yaitu : teanan, volume sesifi dan temeratur. Loasi diantara daerah fase tunggal meruaan daerah dua fase dimana terdaat dua fase dalam esetimbangan.

24 9 Gambar.4 ermuaan tiga dimensi -v-t dari air [3]. Sifat eadaan dari air daat diresentasian dalam diagram dua dimensi yaitu diagram T-v, -v dan -T seerti daat dilihat ada gambar dibawah ini. Dari diagram T-v daat dilihat misalan teanan air didalam suatu boiler dinaian samai Ma maa daat dietahui air didalam boiler aan mengua dengan temeratur yang lebih tinggi dari ada jia dianasan ada teanan atm begitu juga sebalinya, seerti terlihat ada Gambar.5. Gambar.5 Diagram T-v dari air [3].

25 30 ada Gambar.6, grafi -v bentunya menyeruai dengan grafi T-v tai temeratur T = onstan memunyai trend yang menurun. Gambar.6 Diagram -v dari air [3]. Kemudian grafi dibawah ini adalah grafi -T atau biasa disebut diagram fasa air arena disana terdaat tiga bagian fasa air yang diisahan oleh tiga garis. Garis sublimasi memisahan fasa adat dan fasa ua, garis elelehan memisahan fasa adat dan fasa cair emudian garis enguaan memisahan fasa cair dan ua. Tiga garis ini [3]. Gambar.7 Diagram T- dari air [3].

26 3 bertemu ada satu titi yang disebut titi triel (trile oint) yaitu titi dimana terdaat etiga ada suatu esetimbangan seerti terlihat ada Gambar Tabel Sifat Sifat thermodinami juga daat ditunjuan melalui tabel, untu setia zat biasanya ditunjuan dalam beeraa tabel seerti tabel suerheated vaor (ua suerheated), tabel comressed liquid (cair tean) dan saturated (eadaan jenuh). Tabel ini daat dilihat ada Lamiran..6. ORIFICE LTE FLOWMETER Orifice late adalah salah satu alat yang daat digunaan untu menguur laju aliran masa dari aliran. rinsi erjanya aliran melewati orifice late emudian aan mengecil dan membentu suatu daerah yang disebut vena contracta selanjutnya aan terjadi erbedaan teanan aliran amtara sebelum dan setelah melewati orifice late. Setelah itu laju aliran masa dari aliran dihitung menggunaan ersamaan bernouli dan ersamaan ontinyuitas. Gambar.8 adalah rofil eceatan dan teanan yang terjadi etia aliran melewati orifice late flowmeter. Gambar.8 Keceatan dan rofil ada orifice late flowmeter [8].

27 3 ersamaan otinyuitas : 0 d. d (.39) t C CS 0 D D 4 (.40) ersamaan Bernouli : gz gz (.4) (.4) Subtitusi ersamaan : Sehingga teoritis : (.43) Dan teoritis adalah : m teoritis m teoritis (.44)

28 33 ersamaan diatas urang aurat arena diabaian beeraa fator seerti gaya gese, oleh arena itu untu mengurangi etidasesuaian tersebut ditambahan satu oefisien baru yaitu Cd (discharge coefficient), dan β sehingga C d (.45) 4 m Untu nilai Cd SME mereomendasian ersamaan yang diembangan oleh ISO adalah sebagai beriut [9]: C d 0,09 4, 8,5 0,75 3 0,5959 0,03 0,84 9,7 Re F 4 0,0337 F (.46) D Dengan Re Gambar.9 Berbagai tie taing ada orifice flowmeter. sebagai beriut: Dan nilai F dan F berdasar ada osisi ta seerti ada Gambar.9 adalah Corner tas : F =0 F =0 D; /D tas : F =0,4333 F =0,47 Flange tas : F =/D (in) F =/D (in) (.47)

29 34 Kemudian jia fluida yang diuur adalah fluida omresibel maa ditambahan factor exansion Y untu mengurangi etidasesuaian yang diembangan oleh erry [], dimana adalah secific heat ratio, ersamaanya adalah sebagai beriut : r / 4 Y r 4 / r r (.48) Dengan r / sehingga ersamaan laju aliran masa ada orifice late untu fluida omresibel menjadi : YC d m (.49) 4

BAB II DASAR TEORI. Pada dasarnya sistem refrigerasi dibagi menjadi dua, yaitu (Ambarita, Himsar, 2010)

BAB II DASAR TEORI. Pada dasarnya sistem refrigerasi dibagi menjadi dua, yaitu (Ambarita, Himsar, 2010) BB II DSR TEORI. Sistem Refrigerasi Refrigerasi merupakan suatu kebutuhan dalam kehidupan saat ini terutama bagi masyarakat perkotaan. Karena itu kita perlu mempelajari sistem kerja refrigerasi dan sekali

Lebih terperinci

Bahan Minggu II, III dan IV Tema : Kerangka acuan inersial dan Transformasi Lorentz Materi :

Bahan Minggu II, III dan IV Tema : Kerangka acuan inersial dan Transformasi Lorentz Materi : Bahan Minggu II, III dan IV Tema : Keranga auan inersial dan Transformasi Lorent Materi : Terdaat dua endeatan ang digunaan untu menelusuri aedah transformasi antara besaran besaran fisis (transformasi

Lebih terperinci

BEBERAPA MODIFIKASI METODE NEWTON RAPHSON UNTUK MENYELESAIKAN MASALAH AKAR GANDA. Supriadi Putra, M,Si

BEBERAPA MODIFIKASI METODE NEWTON RAPHSON UNTUK MENYELESAIKAN MASALAH AKAR GANDA. Supriadi Putra, M,Si BEBERAPA ODIFIKASI ETODE NEWTON RAPHSON UNTUK ENYELESAIKAN ASALAH AKAR GANDA Suriadi Putra,,Si Laboratorium Komutasi Numeri Jurusan atematia Faultas atematia & Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau Kamus

Lebih terperinci

Kumpulan soal-soal level seleksi Kabupaten: Solusi: a a k

Kumpulan soal-soal level seleksi Kabupaten: Solusi: a a k Kumpulan soal-soal level selesi Kabupaten: 1. Sebuah heliopter berusaha menolong seorang orban banjir. Dari suatu etinggian L, heliopter ini menurunan tangga tali bagi sang orban banjir. Karena etautan,

Lebih terperinci

MEKANIKA TANAH HIDROLIKA TANAH DAN PERMEABILITAS MODUL 3

MEKANIKA TANAH HIDROLIKA TANAH DAN PERMEABILITAS MODUL 3 MEKANIKA TANAH MODUL 3 HIDROLIKA TANAH DAN PERMEABILITAS UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevard Bintaro Setor 7, Bintaro Jaya Tangerang Selatan 15224 Silus hidrologi AIR TANAH DEFINISI : air yang terdapat

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN (BAHAN DAN METODE)

BAB III METODE PENELITIAN (BAHAN DAN METODE) BAB III METODE PENELITIAN (BAHAN DAN METODE) Tahapan-tahapan pengerjaan yang dilauan dalam penelitian ini adalah sebagai beriut : 1. Tahap Persiapan Penelitian Pada tahapan ini aan dilauan studi literatur

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI Pada bagian landasan teori ini aan dibahas materi-materi aa saja yang menunjang materi yang dibahas ada bab selanjutnya. Adaun materi-materi tersebut adalah analisis variansi, metode

Lebih terperinci

BAB ELASTISITAS. Pertambahan panjang pegas

BAB ELASTISITAS. Pertambahan panjang pegas BAB ELASTISITAS 4. Elastisitas Zat Padat Dibandingan dengan zat cair, zat padat lebih eras dan lebih berat. sifat zat padat yang seperti ini telah anda pelajari di elas SLTP. enapa Zat pada lebih eras?

Lebih terperinci

Siklus Carnot dan Hukum Termodinamika II

Siklus Carnot dan Hukum Termodinamika II Siklus Carnot dan Hukum Termodinamika II Siklus Carnot Siklus adalah suatu rangkaian roses sedemikian rua sehingga akhirnya kembali keada keadaan semula. Perhatikan Gambar 1! Gambar 1. Siklus termodinamika.

Lebih terperinci

KINETIKA REAKSI KIMIA TIM DOSEN KIMIA DASAR FTP UB 2012

KINETIKA REAKSI KIMIA TIM DOSEN KIMIA DASAR FTP UB 2012 KINETIKA REAKSI KIMIA TIM DOSEN KIMIA DASAR FTP UB Konsep Kinetia/ Laju Reasi Laju reasi menyataan laju perubahan onsentrasi zat-zat omponen reasi setiap satuan watu: V [ M ] t Laju pengurangan onsentrasi

Lebih terperinci

KORELASI ANTARA DUA KELOMPOK VARIABEL KUANTITATIF DALAM ANALISIS KANONIK

KORELASI ANTARA DUA KELOMPOK VARIABEL KUANTITATIF DALAM ANALISIS KANONIK Jurnal Pengaaran MIPA, Vol. 0 No. Desember 007 ISSN: -097 KORELASI ANARA DUA KELOMPOK VARIABEL KUANIAIF DALAM ANALISIS KANONIK Oleh : Dewi Rachmatin, S.Si., M.Si. Jurusan Pendidian Matematia FPMIPA Universitas

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN (BAHAN DAN METODE)

BAB III METODE PENELITIAN (BAHAN DAN METODE) BAB III METODE PENELITIAN (BAHAN DAN METODE) Tahapan-tahapan pengerjaan yang dilauan dalam penelitian ini adalah sebagai beriut : 1. Tahap Persiapan Penelitian Pada tahapan ini aan dilauan studi literatur

Lebih terperinci

MEKANIKA TANAH REMBESAN DAN TEORI JARINGAN MODUL 4. UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevard Bintaro Sektor 7, Bintaro Jaya Tangerang Selatan 15224

MEKANIKA TANAH REMBESAN DAN TEORI JARINGAN MODUL 4. UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevard Bintaro Sektor 7, Bintaro Jaya Tangerang Selatan 15224 MEKANIKA TANAH MODUL 4 REMBESAN DAN TEORI JARINGAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevard Bintaro Setor 7, Bintaro Jaya Tangerang Selatan 154 PENDAHULUAN Konsep pemaaian oefisien permeabilitas untu

Lebih terperinci

BAB IV METODE BELAJAR HEBBIAN

BAB IV METODE BELAJAR HEBBIAN BAB IV MEODE BELAJAR HEBBIAN - Aturan Hebb meruaan salah satu huum embelajaran jaringan neural yang ertama. Diemuaan oleh Donald Hebb (949). Hebb lahir di Chester, Nova Scotia, ada ergantian abad. - Isinya

Lebih terperinci

3.1 TEOREMA DASAR ARITMATIKA

3.1 TEOREMA DASAR ARITMATIKA 3. TEOREMA DASAR ARITMATIKA Definisi 3. Suatu bilangan bulat > disebut (bilangan) rima, jia embagi ositif bilangan tersebut hanya dan. Jia bilangan bulat lebih dari satu buan bilangan rima disebut (bilangan)

Lebih terperinci

K13 Revisi Antiremed Kelas 11 Kimia

K13 Revisi Antiremed Kelas 11 Kimia K3 Revisi Antiremed Kelas Kimia Persiapan Penilaian Ahir Semester (PAS) Ganjil Doc. Name: RK3ARKIM0PAS Version : 06- halaman 0. Untu memperoleh onsentrasi Cl - =0,0 M, maa 50 ml larutan CaCl 0,5 M harus

Lebih terperinci

Soal-Jawab Fisika OSN x dan = min. Abaikan gesekan udara. v R Tentukan: a) besar kelajuan pelemparan v sebagai fungsi h. b) besar h maks.

Soal-Jawab Fisika OSN x dan = min. Abaikan gesekan udara. v R Tentukan: a) besar kelajuan pelemparan v sebagai fungsi h. b) besar h maks. Soal-Jawab Fisia OSN - ( poin) Sebuah pipa silinder yang sangat besar (dengan penampang lintang berbentu lingaran berjarijari R) terleta di atas tanah. Seorang ana ingin melempar sebuah bola tenis dari

Lebih terperinci

Kumpulan soal-soal level seleksi provinsi: solusi:

Kumpulan soal-soal level seleksi provinsi: solusi: Kumpulan soal-soal level selesi provinsi: 1. Sebuah bola A berjari-jari r menggelinding tanpa slip e bawah dari punca sebuah bola B berjarijari R. Anggap bola bawah tida bergera sama seali. Hitung ecepatan

Lebih terperinci

2. Menentukan koleksi inti ubi kayu dan mengevaluasi kebaikan koleksi inti yang diperoleh. METODE. Data

2. Menentukan koleksi inti ubi kayu dan mengevaluasi kebaikan koleksi inti yang diperoleh. METODE. Data 2 2. Menentuan olesi inti ubi ayu dan mengevaluasi ebaian olesi inti yang dieroleh. METODE Data Data yang digunaan dalam enelitian ini berasal dari Kelomo Peneliti Pengelolaan Sumberdaya Geneti (Kelti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Teknologi ejector refrigeration telah lama diketahui dan dikembangkan, pertama kali ditemukan oleh Charles Parsons awal tahun 1900. Ejector pertama kali digunakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tabel 2.1 Kelompok Aplikasi Mesin Refrigerasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tabel 2.1 Kelompok Aplikasi Mesin Refrigerasi BAB II TINJAUAN PUSTAKA 21 Mesin Refrigerasi Refrigerasi adalah suatu proses penyerapan panas dari suatu zat atau produ sehingga temperaturnya berada di bawah temperatur lingungan Mesin refrigerasi atau

Lebih terperinci

SIMULASI PEMANFAATAN PANAS BUANG CHILLER UNTUK KEBUTUHAN AIR PANAS DI PERHOTELAN

SIMULASI PEMANFAATAN PANAS BUANG CHILLER UNTUK KEBUTUHAN AIR PANAS DI PERHOTELAN SIMULASI PEMANFAAAN PANAS BUANG CHILLER UNUK KEBUUHAN AIR PANAS DI PERHOELAN Rahmat Iman Mainil (1), Afdhal Kurniawan Mainil (2) (1) Peneliti Balai Besar Kerami Kementean Pendustan RI, (2) Staf Pengajar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang (K. Chunnanond S. Aphornratana, 2003)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang (K. Chunnanond S. Aphornratana, 2003) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Refrigerasi ejektor tampaknya menjadi sistem yang paling sesuai untuk pendinginan skala besar pada situasi krisis energi seperti sekarang ini. Karena refregerasi ejector

Lebih terperinci

NOTASI SIGMA. Lambang inilah yang disebut sebagai SIGMA, but please remove. the exaggerated flower around it! Hahaha...

NOTASI SIGMA. Lambang inilah yang disebut sebagai SIGMA, but please remove. the exaggerated flower around it! Hahaha... NOTASI SIGMA Lambang inilah yang disebut sebagai SIGMA, but lease remove the exaggerated flower around it! Hahaha... Mananya adalah menjumlahan sesuatu. Sesuatu aa? Sesuatu yang muncul di belaangnya. Mengaa

Lebih terperinci

BAB III PROSES TERMODINAMIKA GAS SEMPURNA

BAB III PROSES TERMODINAMIKA GAS SEMPURNA BAB III PROSES ERMODINAMIKA GAS SEMPURNA Proses emanasan dan eksansi gas secara umum bisa didefinisikan sebagai roses termodinamika. Dari engamatan, sebagai hasil dari aliran energi, erubahan terjadi ada

Lebih terperinci

ANALISA PENGARUH POSISI KELUARAN NOSEL PRIMER TERHADAP PERFORMA STEAM EJECTOR MENGGUNAKAN CFD

ANALISA PENGARUH POSISI KELUARAN NOSEL PRIMER TERHADAP PERFORMA STEAM EJECTOR MENGGUNAKAN CFD Available online at Website http://ejournal.undip.ac.id/index.php/rotasi ANALISA PENGARUH POSISI KELUARAN NOSEL PRIMER TERHADAP PERFORMA STEAM EJECTOR MENGGUNAKAN CFD Tony Suryo Utomo*, Sri Nugroho, Eflita

Lebih terperinci

Kurikulum 2013 Kelas 11 Kimia

Kurikulum 2013 Kelas 11 Kimia Kuriulum 03 Kelas Kimia Persiapan UAS - Latihan Soal Doc. Name: K3ARKIM0UAS Version : 06-05 halaman 0. Untu memperoleh onsentrasi Cl - = 0,0 M, maa 50 ml larutan CaCl 0,5 M harus dienceran sampai 500 ml

Lebih terperinci

BAB III PENENTUAN HARGA PREMI, FUNGSI PERMINTAAN, DAN TITIK KESETIMBANGANNYA

BAB III PENENTUAN HARGA PREMI, FUNGSI PERMINTAAN, DAN TITIK KESETIMBANGANNYA BAB III PENENTUAN HARGA PREMI, FUNGSI PERMINTAAN, DAN TITIK KESETIMBANGANNYA Pada penelitian ini, suatu portfolio memilii seumlah elas risio. Tiap elas terdiri dari n, =,, peserta dengan umlah besar, dan

Lebih terperinci

Pendahuluan Teori Ensembel dan Ensembel Mikrokanik. Ref. Kerson Huang, Statistical Mechanics, Chap. 7

Pendahuluan Teori Ensembel dan Ensembel Mikrokanik. Ref. Kerson Huang, Statistical Mechanics, Chap. 7 Pendahuluan Teori nsembel dan nsembel Miroani Ref. Kerson Huang, Statistical Mechanics, Cha. 7 Ruang Fasa Klasi Classical Phase Sace Model : Gas dalam volum V sejumlah artiel lasi yang terbedaan. Satu

Lebih terperinci

OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2012 BIDANG ILMU FISIKA

OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2012 BIDANG ILMU FISIKA OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2012 BIDANG ILMU FISIKA SELEKSI TIM INDONESIA untu IPhO 2013 SOAL TES TEORI KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN MENENGAH DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belaang Model Loglinier adalah salah satu asus husus dari general linier model untu data yang berdistribusi poisson. Model loglinier juga disebut sebagai suatu model statisti

Lebih terperinci

4. 1 Spesifikasi Keadaan dari Sebuah Sistem

4. 1 Spesifikasi Keadaan dari Sebuah Sistem Dalam pembahasan terdahulu ita telah mempelajari penerapan onsep dasar probabilitas untu menggambaran sistem dengan jumlah partiel ang cuup besar (N). Pada bab ini, ita aan menggabungan antara statisti

Lebih terperinci

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 15 BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1Relasi Dispersi Pada bagian ini aan dibahas relasi dispersi untu gelombang internal pada fluida dua-lapisan.tinjau lapisan fluida dengan ρ a dan ρ b berturut-turut merupaan

Lebih terperinci

Makalah Seminar Tugas Akhir. Aplikasi Kendali Adaptif pada Pengendalian Plant Pengatur Suhu dengan Self Tuning Regulator (STR)

Makalah Seminar Tugas Akhir. Aplikasi Kendali Adaptif pada Pengendalian Plant Pengatur Suhu dengan Self Tuning Regulator (STR) Maalah Seminar ugas Ahir Apliasi Kendali Adaptif pada Pengendalian Plant Pengatur Suhu dengan Self uning Regulator (SR) Oleh : Muhammad Fitriyanto e-mail : [email protected] Maalah Seminar ugas Ahir Apliasi

Lebih terperinci

FISIKA. Kelas X GETARAN HARMONIS K-13. A. Getaran Harmonis Sederhana

FISIKA. Kelas X GETARAN HARMONIS K-13. A. Getaran Harmonis Sederhana K-13 Kelas X FISIKA GETARAN HARMONIS TUJUAN PEMBELAJARAN Setelah mempelajari materi ini, amu diharapan memilii emampuan sebagai beriut. 1. Memahami onsep getaran harmonis sederhana pada bandul dan pegas

Lebih terperinci

BAB I BUNGA TUNGGAL DAN DISKONTO TUNGGAL. Terminologi: modal, suku bunga, bunga, dan jangka waktu.

BAB I BUNGA TUNGGAL DAN DISKONTO TUNGGAL. Terminologi: modal, suku bunga, bunga, dan jangka waktu. BAB I BUNGA TUNGGAL DAN DISKONTO TUNGGAL Terminologi: modal, suu bunga, bunga, dan janga watu. Modal adalah sejumlah uang yang disiman atau ditabung atau diinjam ada (dari) suatu Ban atau badan lain. Suu-bunga

Lebih terperinci

STUDI SISTEM TURBIN-KOMPRESOR DALAM SIKLUS TAK LANGSUNG PADA RGTT200K

STUDI SISTEM TURBIN-KOMPRESOR DALAM SIKLUS TAK LANGSUNG PADA RGTT200K STUDI SISTEM TURBIN-KOMPRESOR DALAM SIKLUS TAK LANGSUNG PADA RGTT200K Sri Sudadiyo PTRKN-BATAN, Kawasan PUSPIPTEK Gd. 80, Tangerang, 15310 ABSTRAK STUDI SISTEM TURBIN-KOMPRESOR DALAM SIKLUS TAK LANGSUNG

Lebih terperinci

PENGUKURAN PENDAPATAN NASIONAL

PENGUKURAN PENDAPATAN NASIONAL PENGUKURAN PENDAPATAN NASIONAL A. PENDEKATAN PRODUKSI (PRODUCTION APPROACH) Menghitung besarnya pendapatan nasional dengan menggunaan pendeatan produsi didasaran atas perhitungan dari jumlah nilai barang-barang

Lebih terperinci

BAB 3 PATTERN MATCHING BERBASIS JARAK EUCLID, PATTERN MATCHING BERBASIS JARAK MAHALANOBIS, DAN JARINGAN SYARAF TIRUAN BERBASIS PROPAGASI BALIK

BAB 3 PATTERN MATCHING BERBASIS JARAK EUCLID, PATTERN MATCHING BERBASIS JARAK MAHALANOBIS, DAN JARINGAN SYARAF TIRUAN BERBASIS PROPAGASI BALIK BAB 3 PATTERN MATCHING BERBASIS JARAK EUCLID, PATTERN MATCHING BERBASIS JARAK MAHALANOBIS, DAN JARINGAN SYARAF TIRUAN BERBASIS PROPAGASI BALIK Proses pengenalan dilauan dengan beberapa metode. Pertama

Lebih terperinci

BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH

BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH 3.1 Penetapan Kriteria Optimasi Gambar 3.1 Bagan Penetapan Kriteria Optimasi Sumber: Peneliti Determinasi Kinerja Operasional BLU Transjaarta Busway Di tahap ini, peneliti

Lebih terperinci

MODEL MATEMATIKA KONSENTRASI OKSIGEN TERLARUT PADA EKOSISTEM PERAIRAN DANAU

MODEL MATEMATIKA KONSENTRASI OKSIGEN TERLARUT PADA EKOSISTEM PERAIRAN DANAU MDEL MATEMATIKA KNSENTRASI KSIGEN TERLARUT PADA EKSISTEM PERAIRAN DANAU Sutimin Jurusan Matematia, FMIPA Universitas Diponegoro Jl. Prof. H. Soedarto SH Tembalang, Semarang 5075 E-mail: [email protected]

Lebih terperinci

Optimasi Non-Linier. Metode Numeris

Optimasi Non-Linier. Metode Numeris Optimasi Non-inier Metode Numeris Pendahuluan Pembahasan optimasi non-linier sebelumnya analitis: Pertama-tama mencari titi-titi nilai optimal Kemudian, mencari nilai optimal dari fungsi tujuan berdasaran

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Statisti Inferensia Tujuan statisti pada dasarnya adalah melauan desripsi terhadap data sampel, emudian melauan inferensi terhadap data populasi berdasaran pada informasi yang

Lebih terperinci

Aplikasi diagonalisasi matriks pada rantai Markov

Aplikasi diagonalisasi matriks pada rantai Markov J. Sains Dasar 2014 3(1) 20-24 Apliasi diagonalisasi matris pada rantai Marov (Application of matrix diagonalization on Marov chain) Bidayatul hidayah, Rahayu Budhiyati V., dan Putriaji Hendiawati Jurusan

Lebih terperinci

BAB VII. RELE JARAK (DISTANCE RELAY)

BAB VII. RELE JARAK (DISTANCE RELAY) BAB VII. RELE JARAK (DISTANCE RELAY) 7.1 Pendahuluan. Rele jara merespon terhadap banya inputsebagai fungsi dari rangaian listri yang panjang (jauh) antara loasi rele dengan titi gangguan. Karena impedansi

Lebih terperinci

BAB VI HUKUM KEKEKALAN ENERGI DAN PERSAMAAN BERNOULLI

BAB VI HUKUM KEKEKALAN ENERGI DAN PERSAMAAN BERNOULLI BAB VI HUKUM KEKEKALAN ENERGI DAN PERSAMAAN BERNOULLI Tujuan Intruksional Umum (TIU) Mahasiswa diharakan daat merencanakan suatu bangunan air berdasarkan konse mekanika luida, teori hidrostatika dan hidrodinamika.

Lebih terperinci

BAB III DESAIN DAN APLIKASI METODE FILTERING DALAM SISTEM MULTI RADAR TRACKING

BAB III DESAIN DAN APLIKASI METODE FILTERING DALAM SISTEM MULTI RADAR TRACKING Bab III Desain Dan Apliasi Metode Filtering Dalam Sistem Multi Radar Tracing BAB III DESAIN DAN APLIKASI METODE FILTERING DALAM SISTEM MULTI RADAR TRACKING Bagian pertama dari bab ini aan memberian pemaparan

Lebih terperinci

SEMINAR NASIONAL MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA 2010 TUNING PARAMETER MODEL PREDICTIVE CONTROL (MPC) FOR MAX PLUS LINEAR (MPL) SYSTEMS

SEMINAR NASIONAL MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA 2010 TUNING PARAMETER MODEL PREDICTIVE CONTROL (MPC) FOR MAX PLUS LINEAR (MPL) SYSTEMS MTEMTIK DN PENDIDIKN MTEMTIK 010 Kelomo Matematia TUNING PRMETER MODEL PREDITIVE ONTROL (MP) FOR MX PLUS LINER (MPL) SYSTEMS Nurwan 1 and Subiono 1 Magister Student of Mathematics Deartment Lecturer of

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. sebuah teknik yang baru yang disebut analisis ragam. Anara adalah suatu metode

II. TINJAUAN PUSTAKA. sebuah teknik yang baru yang disebut analisis ragam. Anara adalah suatu metode 3 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Analisis Ragam (Anara) Untu menguji esamaan dari beberapa nilai tengah secara sealigus diperluan sebuah teni yang baru yang disebut analisis ragam. Anara adalah suatu metode

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Mulai

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Mulai BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. DIAGRAM ALIR METODOLOGI PENELITIAN Pada suatu penelitian tidak lepas dari metodologi yang digunakan. Oleh sebab itu agar prosedur penelitian tertata dan terarah sesuai

Lebih terperinci

Penentuan Nilai Ekivalensi Mobil Penumpang Pada Ruas Jalan Perkotaan Menggunakan Metode Time Headway

Penentuan Nilai Ekivalensi Mobil Penumpang Pada Ruas Jalan Perkotaan Menggunakan Metode Time Headway Rea Racana Jurnal Online Institut Tenologi Nasional Teni Sipil Itenas No.x Vol. Xx Agustus 2015 Penentuan Nilai Eivalensi Mobil Penumpang Pada Ruas Jalan Perotaan Menggunaan Metode Time Headway ENDI WIRYANA

Lebih terperinci

PENENTUAN FAKTOR KALIBRASI ACCELEROMETER MMA7260Q PADA KETIGA SUMBU

PENENTUAN FAKTOR KALIBRASI ACCELEROMETER MMA7260Q PADA KETIGA SUMBU PENENTUAN FAKTOR KALIBRASI ACCELEROMETER MMA7260Q PADA KETIGA SUMBU Wahyudi 1, Adhi Susanto 2, Sasongo P. Hadi 2, Wahyu Widada 3 1 Jurusan Teni Eletro, Faultas Teni, Universitas Diponegoro, Tembalang,

Lebih terperinci

PERHITUNGAN CRITICAL CLEARING TIME MENGGUNAKAN PERSAMAAN SIMULTAN BERBASIS TRAJEKTORI KRITIS TANPA KONTROL YANG TERHUBUNG DENGAN INFINITE BUS

PERHITUNGAN CRITICAL CLEARING TIME MENGGUNAKAN PERSAMAAN SIMULTAN BERBASIS TRAJEKTORI KRITIS TANPA KONTROL YANG TERHUBUNG DENGAN INFINITE BUS PROCEEDIG SEMIAR TUGAS AKHIR ELEKTRO ITS, (4) -6 PERHITUGA CRITICAL CLEARIG TIME MEGGUAKA PERSAMAA SIMULTA BERBASIS TRAJEKTORI KRITIS TAPA KOTROL YAG TERHUBUG DEGA IIITE BUS M. Abdul Aziz Al Haqim, Prof.

Lebih terperinci

ANALISA STATIK DAN DINAMIK GEDUNG BERTINGKAT BANYAK AKIBAT GEMPA BERDASARKAN SNI DENGAN VARIASI JUMLAH TINGKAT

ANALISA STATIK DAN DINAMIK GEDUNG BERTINGKAT BANYAK AKIBAT GEMPA BERDASARKAN SNI DENGAN VARIASI JUMLAH TINGKAT Jurnal Sipil Stati Vol. No. Agustus (-) ISSN: - ANALISA STATIK DAN DINAMIK GEDUNG BERTINGKAT BANYAK AKIBAT GEMPA BERDASARKAN SNI - DENGAN VARIASI JUMLAH TINGKAT Revie Orchidentus Francies Wantalangie Jorry

Lebih terperinci

VARIASI NILAI BATAS AWAL PADA HASIL ITERASI PERPINDAHAN PANAS METODE GAUSS-SEIDEL

VARIASI NILAI BATAS AWAL PADA HASIL ITERASI PERPINDAHAN PANAS METODE GAUSS-SEIDEL SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN SAINS Peningatan Kualitas Pembelajaran Sains dan Kompetensi Guru melalui Penelitian & Pengembangan dalam Menghadapi Tantangan Abad-1 Suraarta, Otober 016 VARIASI NILAI BATAS

Lebih terperinci

PENDAHULUAN TINJAUAN PUSTAKA

PENDAHULUAN TINJAUAN PUSTAKA 1 Latar Belaang PENDAHULUAN Sistem biometri adalah suatu sistem pengenalan pola yang melauan identifiasi personal dengan menentuan eotentian dari arateristi fisiologis dari perilau tertentu yang dimilii

Lebih terperinci

KAJI EKSPERIMENTAL PENGARUH ANGLE MIXING CHAMBER TERHADAP UNJUK KERJA STEAM EJECTOR REFRIGERATION

KAJI EKSPERIMENTAL PENGARUH ANGLE MIXING CHAMBER TERHADAP UNJUK KERJA STEAM EJECTOR REFRIGERATION KAJI EKSPERIMENTAL PENGARUH ANGLE MIXING CHAMBER TERHADAP UNJUK KERJA STEAM EJECTOR REFRIGERATION Bachtiar Setya Nugraha Dosen Program Studi S1 Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Muria Kudus E-mail:

Lebih terperinci

BAB II KONSEP PERENCANAAN STRUKTUR TAHAN GEMPA

BAB II KONSEP PERENCANAAN STRUKTUR TAHAN GEMPA BAB II KONSEP PERENCANAAN STRUKTUR TAHAN GEMPA. GEMPA BUMI Gempa bumi adalah suatu geraan tiba-tiba atau suatu rentetetan geraan tiba-tiba dari tanah dan bersifat transient yang berasal dari suatu daerah

Lebih terperinci

Studi Eksperimen Karakteristik Pengeringan Batubara Terhadap Variasi Sudut Blade Pada Swirling Fluidized Bed Coal Dryer

Studi Eksperimen Karakteristik Pengeringan Batubara Terhadap Variasi Sudut Blade Pada Swirling Fluidized Bed Coal Dryer Studi Esperimen Karateristi Pengeringan Batubara Terhadap Variasi Sudut Blade Pada Swirling Fluidized Bed Coal Dryer Ahmad Sefrio dan Prabowo Teni Mesin, Faultas Tenologi Industri, Institut Tenologi Sepuluh

Lebih terperinci

BAB 2 TEORI PENUNJANG

BAB 2 TEORI PENUNJANG BAB EORI PENUNJANG.1 Konsep Dasar odel Predictive ontrol odel Predictive ontrol P atau sistem endali preditif termasu dalam onsep perancangan pengendali berbasis model proses, dimana model proses digunaan

Lebih terperinci

Kata Kunci : Multipath, LOS, N-LOS, Network Analyzer, IFFT, PDP. 1. Pendahuluan

Kata Kunci : Multipath, LOS, N-LOS, Network Analyzer, IFFT, PDP. 1. Pendahuluan Statisti Respon Kanal Radio Dalam Ruang Pada Freuensi,6 GHz Christophorus Triaji I, Gamantyo Hendrantoro, Puji Handayani Institut Tenologi Sepuluh opember, Faultas Tenologi Industri, Jurusan Teni Eletro

Lebih terperinci

BAB III MODEL KANAL WIRELESS

BAB III MODEL KANAL WIRELESS BAB III MODEL KANAL WIRELESS Pemahaman mengenai anal wireless merupaan bagian poo dari pemahaman tentang operasi, desain dan analisis dari setiap sistem wireless secara eseluruhan, seperti pada sistem

Lebih terperinci

BEBERAPA SIFAT HIMPUNAN KRITIS PADA PELABELAN AJAIB GRAF BANANA TREE. Triyani dan Irham Taufiq Universitas Jenderal Soedirman

BEBERAPA SIFAT HIMPUNAN KRITIS PADA PELABELAN AJAIB GRAF BANANA TREE. Triyani dan Irham Taufiq Universitas Jenderal Soedirman JMP : Volume 4 Nomor 2, Desember 2012, hal. 271-278 BEBERAPA SIFAT HIMPUNAN KRITIS PADA PELABELAN AJAIB GRAF BANANA TREE Triyani dan Irham Taufiq Universitas Jenderal Soedirman [email protected] ABSTRACT.

Lebih terperinci

tidak mempunyai fixed mode terdesentralisasi, dapat dilakukan dengan memberikan kompensator terdesentralisasi. Fixed mode terdesentralisasi pertama

tidak mempunyai fixed mode terdesentralisasi, dapat dilakukan dengan memberikan kompensator terdesentralisasi. Fixed mode terdesentralisasi pertama BB IV PENGENDLIN TERDESENTRLISSI Untu menstabilan sistem yang tida stabil, dengan syarat sistem tersebut tida mempunyai fixed mode terdesentralisasi, dapat dilauan dengan memberian ompensator terdesentralisasi.

Lebih terperinci

DESAIN SENSOR KECEPATAN BERBASIS DIODE MENGGUNAKAN FILTER KALMAN UNTUK ESTIMASI KECEPATAN DAN POSISI KAPAL

DESAIN SENSOR KECEPATAN BERBASIS DIODE MENGGUNAKAN FILTER KALMAN UNTUK ESTIMASI KECEPATAN DAN POSISI KAPAL DESAIN SENSOR KECEPAAN BERBASIS DIODE MENGGUNAKAN FILER KALMAN UNUK ESIMASI KECEPAAN DAN POSISI KAPAL Alrijadjis, Bambang Siswanto Program Pascasarjana, Jurusan eni Eletro, Faultas enologi Industri Institut

Lebih terperinci

BAB 5 RUANG VEKTOR UMUM. Dr. Ir. Abdul Wahid Surhim, MT.

BAB 5 RUANG VEKTOR UMUM. Dr. Ir. Abdul Wahid Surhim, MT. BAB 5 RUANG VEKTOR UMUM Dr. Ir. Abdul Wahid Surhim, MT. KERANGKA PEMBAHASAN. Ruang Vetor Nyata. Subruang. Kebebasan Linier 4. Basis dan Dimensi 5. Ruang Baris, Ruang Kolom dan Ruang Nul 6. Ran dan Nulitas

Lebih terperinci

Pembicaraan fluida menjadi relatif sederhana, jika aliran dianggap tunak (streamline atau steady)

Pembicaraan fluida menjadi relatif sederhana, jika aliran dianggap tunak (streamline atau steady) DINAMIKA FLUIDA Hidrodinamika meruakan cabang mekanika yang memelajari fluida bergerak (gejala tentang fluida cuku komleks) Pembicaraan fluida terdaat bermacam-macam antara lain: - dari jenis fluida (kental

Lebih terperinci

TEORI KINETIKA REAKSI KIMIA

TEORI KINETIKA REAKSI KIMIA TORI KINTIK RKSI KII da (dua) pendeatan teoreti untu menjelasan ecepatan reasi, yaitu: () Teori tumbuan (collision theory) () Teori eadaan transisi (transition-state theory) atau teori omples atif atau

Lebih terperinci

BAB 3. Perhitungan Perubahan Entalpi

BAB 3. Perhitungan Perubahan Entalpi BAB Perhitungan Perubahan Entali.1. ransisi Fasa ransisi Fasa terjadi dari fasa adat menjadi fasa air, dari fasa air menjadi fasa gas, dan sebaliknya. Pada roses transisi ini terjadi erubahan entali (dan

Lebih terperinci

Variasi Spline Kubik untuk Animasi Model Wajah 3D

Variasi Spline Kubik untuk Animasi Model Wajah 3D Variasi Spline Kubi untu Animasi Model Wajah 3D Rachmansyah Budi Setiawan (13507014 1 Program Studi Teni Informatia Seolah Teni Eletro dan Informatia Institut Tenologi Bandung, Jl. Ganesha 10 Bandung 40132,

Lebih terperinci

BAB IV APLIKASI PADA MATRIKS STOKASTIK

BAB IV APLIKASI PADA MATRIKS STOKASTIK BAB IV : ALIKASI ADA MARIKS SOKASIK 56 BAB IV ALIKASI ADA MARIKS SOKASIK Salah satu apliasi dari eori erron-frobenius yang paling terenal adalah penurunan secara alabar untu beberapa sifat yang dimilii

Lebih terperinci

Penerapan Sistem Persamaan Lanjar untuk Merancang Algoritma Kriptografi Klasik

Penerapan Sistem Persamaan Lanjar untuk Merancang Algoritma Kriptografi Klasik Penerapan Sistem Persamaan Lanjar untu Merancang Algoritma Kriptografi Klasi Hendra Hadhil Choiri (135 08 041) Program Studi Teni Informatia Seolah Teni Eletro dan Informatia Institut Tenologi Bandung,

Lebih terperinci

Dalam penelitian ini ditentukan spesifikasi awal. b. Langkah piston (S) = 3,8 cm. c. Jumlah Silinder = 1

Dalam penelitian ini ditentukan spesifikasi awal. b. Langkah piston (S) = 3,8 cm. c. Jumlah Silinder = 1 BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Data Awal Spesifiasi Kompresor Dalam penelitian ini ditentuan spesifiasi awal perhitungan adalah sebagai beriut : a. Diameter silinder (D) = 5,1 cm b. Langah piston (S) = 3,8 cm c.

Lebih terperinci

Pemodelan Dan Eksperimen Untuk Menentukan Parameter Tumbukan Non Elastik Antara Benda Dengan Lantai

Pemodelan Dan Eksperimen Untuk Menentukan Parameter Tumbukan Non Elastik Antara Benda Dengan Lantai Pemodelan Dan Esperimen Untu enentuan Parameter Tumbuan Non Elasti Antara Benda Dengan Lantai Puspa onalisa,a), eda Cahya Fitriani,b), Ela Aliyani,c), Rizy aiza,d), Fii Taufi Abar 2,e) agister Pengajaran

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengolahan Data Data yang telah berhasil diumpulan oleh penulis di BB BIOGEN diperoleh hasil bobot biji edelai dengan jumlah varietas yang aan diuji terdiri dari 15

Lebih terperinci

PELABELAN FUZZY PADA GRAF. Siti Rahmah Nurshiami, Suroto, dan Fajar Hoeruddin Universitas Jenderal Soedirman.

PELABELAN FUZZY PADA GRAF. Siti Rahmah Nurshiami, Suroto, dan Fajar Hoeruddin Universitas Jenderal Soedirman. JMP : Volume 6 Nomor, Juni 04, hal. - PELABELAN FUZZY PADA GRAF Siti Rahmah Nurshiami, Suroto, dan Fajar Hoeruddin Universitas Jenderal Soedirman email : [email protected] ABSTRACT. This paper discusses

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan data sekunder bersifat runtun waktu (time series)

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan data sekunder bersifat runtun waktu (time series) III. METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data Penelitian ini menggunaan data seunder bersifat runtun watu (time series) dalam periode tahunan dan data antar ruang (cross section). Data seunder tersebut

Lebih terperinci

KENDALI OPTIMAL PADA MASALAH INVENTORI YANG MENGALAMI PENINGKATAN

KENDALI OPTIMAL PADA MASALAH INVENTORI YANG MENGALAMI PENINGKATAN KENDALI OPTIMAL PADA MASALAH INVENTORI YANG MENGALAMI PENINGKATAN Pardi Affandi, Faisal, Yuni Yulida Abstra: Banya permasalahan yang melibatan teori sistem dan teori ontrol serta apliasinya. Beberapa referensi

Lebih terperinci

khazanah Sistem Klasifikasi Tipe Kepribadian dan Penerimaan Teman Sebaya Menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan Backpropagation informatika

khazanah Sistem Klasifikasi Tipe Kepribadian dan Penerimaan Teman Sebaya Menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan Backpropagation informatika hazanah informatia Jurnal Ilmu Komputer dan Informatia Sistem Klasifiasi Tipe Kepribadian dan Penerimaan Teman Sebaya Menggunaan Jaringan Syaraf Tiruan Bacpropagation Yusuf Dwi Santoso *, Suhartono Departemen

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Sistem Kendali Lup [1] Sistem endali dapat diataan sebagai hubungan antara omponen yang membentu sebuah onfigurasi sistem, yang aan menghasilan tanggapan sistem yang diharapan.

Lebih terperinci

Materi. Menggambar Garis. Menggambar Garis 9/26/2008. Menggambar garis Algoritma DDA Algoritma Bressenham

Materi. Menggambar Garis. Menggambar Garis 9/26/2008. Menggambar garis Algoritma DDA Algoritma Bressenham Materi IF37325P - Grafia Komputer Geometri Primitive Menggambar garis Irfan Malii Jurusan Teni Informatia FTIK - UNIKOM IF27325P Grafia Komputer 2008 IF27325P Grafia Komputer 2008 Halaman 2 Garis adalah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belaang Keadaan dunia usaha yang selalu berubah membutuhan langah-langah untu mengendalian egiatan usaha di suatu perusahaan. Perencanaan adalah salah satu langah yang diperluan

Lebih terperinci

BAB IV PERHITUNGAN HARGA PREMI BERDASARKAN FUNGSI PERMINTAAN PADA TITIK KESETIMBANGAN

BAB IV PERHITUNGAN HARGA PREMI BERDASARKAN FUNGSI PERMINTAAN PADA TITIK KESETIMBANGAN BAB IV PERHITUNGAN HARGA PREMI BERDASARKAN FUNGSI PERMINTAAN PADA TITIK KESETIMBANGAN Berdasaran asumsi batasan interval pada bab III, untu simulasi perhitungan harga premi pada titi esetimbangan, maa

Lebih terperinci

BAB III METODE SCHNABEL

BAB III METODE SCHNABEL BAB III METODE SCHNABEL Uuran populasi tertutup dapat diperiraan dengan teni Capture Mar Release Recapture (CMRR) yaitu menangap dan menandai individu yang diambil pada pengambilan sampel pertama, melepasan

Lebih terperinci

TRY OUT UJIAN NASIONAL 2013 Mata Pelajaran : FISIKA

TRY OUT UJIAN NASIONAL 2013 Mata Pelajaran : FISIKA TRY OUT UJIN NSIONL 2013 Mata Pelajaran : FISIK 1. ndi menguur diameter sebuah lingaran dengan menggunaan janga sorong. Hasil penguurannya terlihat pada gambar. Diameter lingaran tersebut. 1,21 cm. 1,25

Lebih terperinci

Studi dan Analisis mengenai Hill Cipher, Teknik Kriptanalisis dan Upaya Penanggulangannya

Studi dan Analisis mengenai Hill Cipher, Teknik Kriptanalisis dan Upaya Penanggulangannya Studi dan Analisis mengenai Hill ipher, Teni Kriptanalisis dan Upaya enanggulangannya Arya Widyanaro rogram Studi Teni Informatia, Institut Tenologi Bandung, Jl. Ganesha 10 Bandung Email: [email protected]

Lebih terperinci

BAB 3 RUANG BERNORM-2

BAB 3 RUANG BERNORM-2 BAB RUANG BERNORM-. Norm- dan Ruang ` De nisi. Misalan V ruang vetor atas R berdimensi d (dalam hal ini d boleh ta hingga). Sebuah fungsi ; V V! R yang memenuhi sifat-sifat beriut;. x; y 0 ia dan hanya

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belaang Masalah untu mencari jalur terpende di dalam graf merupaan salah satu masalah optimisasi. Graf yang digunaan dalam pencarian jalur terpende adalah graf yang setiap sisinya

Lebih terperinci

Pemodelan Generator Uap Berbasis Jaringan Saraf Tiruan dengan Algoritme Pelatihan BPGD-ALAM

Pemodelan Generator Uap Berbasis Jaringan Saraf Tiruan dengan Algoritme Pelatihan BPGD-ALAM IJEIS, Vol.6, No.1, Aril 2016,. 1~12 ISSN: 2088-3714 1 Pemodelan Generator Ua Berbasis Jaringan Saraf Tiruan dengan Algoritme Pelatihan BPGD-ALAM Fadhlia Annisa* 1, Agfianto Eo Putra 2 1 Prodi Eletronia

Lebih terperinci

RINGKASAN SKRIPSI MODUL PERKALIAN

RINGKASAN SKRIPSI MODUL PERKALIAN RINGKASAN SKRIPSI MODUL PERKALIAN SAMSUL ARIFIN 04/177414/PA/09899 DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS GADJAH MADA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM YOGYAKARTA 2008 HALAMAN PENGESAHAN

Lebih terperinci

khazanah Sistem Klasifikasi Tipe Kepribadian dan Penerimaan Teman Sebaya Menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan Backpropagation informatika

khazanah Sistem Klasifikasi Tipe Kepribadian dan Penerimaan Teman Sebaya Menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan Backpropagation informatika hazanah informatia Jurnal Ilmu Komputer dan Informatia Sistem Klasifiasi Tipe Kepribadian dan Penerimaan Teman Sebaya Menggunaan Jaringan Syaraf Tiruan Bacpropagation Yusuf Dwi Santoso *, Suhartono Program

Lebih terperinci

OSN 2014 Matematika SMA/MA

OSN 2014 Matematika SMA/MA Soal 5. Suatu barisan bilangan asli a 1, a 2, a 3,... memenuhi a + a l = a m + a n untu setiap bilangan asli, l, m, n dengan l = mn. Jia m membagi n, butian bahwa a m a n. Solusi. Andaian terdapat bilangan

Lebih terperinci

PENERAPAN DYNAMIC PROGRAMMING DALAM WORD WRAP Wafdan Musa Nursakti ( )

PENERAPAN DYNAMIC PROGRAMMING DALAM WORD WRAP Wafdan Musa Nursakti ( ) PENERAPAN DYNAMIC PROGRAMMING DALAM WORD WRAP Wafdan Musa Nursati (13507065) Program Studi Teni Informatia, Seolah Teni Eletro dan Informatia, Institut Tenologi Bandung Jalan Ganesha No. 10 Bandung, 40132

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang BAB PENDAHULUAN. Latar belaang Metode analisis yang telah dibicaraan hingga searang adalah analisis terhadap data mengenai sebuah arateristi atau atribut (jia data itu ualitatif) dan mengenai sebuah variabel,

Lebih terperinci

PENGARUH LAJU ALIRAN FLUIDA MASUK TERHADAP KAPASITAS PENUKAR PANAS JENIS PEMBULUH DAN KAWAT PADA KONVEKSI BEBAS

PENGARUH LAJU ALIRAN FLUIDA MASUK TERHADAP KAPASITAS PENUKAR PANAS JENIS PEMBULUH DAN KAWAT PADA KONVEKSI BEBAS JTM, Volume 01 Nomor 02 Tahun 201, 71-79 PENGARUH LAJU ALIRAN FLUIDA MASUK TERHADAP KAPASITAS PENUKAR PANAS JENIS PEMBULUH DAN KAWAT PADA KONVEKSI BEBAS Moch. Ubab Kanzul Firi S1 Pendidian Teni Mesin,

Lebih terperinci

III DESKRIPSI DAN FORMULASI MASALAH PENGANGKUTAN SAMPAH DI JAKARTA PUSAT

III DESKRIPSI DAN FORMULASI MASALAH PENGANGKUTAN SAMPAH DI JAKARTA PUSAT III DESKRIPSI DAN FORMULASI MASALAH PENGANGKUTAN SAMPAH DI JAKARTA PUSAT 3.1 Studi Literatur tentang Pengelolaan Sampah di Beberapa Kota di Dunia Kaian ilmiah dengan metode riset operasi tentang masalah

Lebih terperinci

TEKNIK REAKSI KIMIA II LUQMAN BUCHORI, ST, MT

TEKNIK REAKSI KIMIA II LUQMAN BUCHORI, ST, MT TENI RESI IMI II LUQMN UCHORI, ST, MT DFTR PUST. Levensiel,, O., 972, Chemical Reaction Engineering, second edition, John Wiley & Sons, New Yor. 2. Smith, J.M., 98, Chemical Engineering inetics, third

Lebih terperinci

Tanggapan Waktu Alih Orde Tinggi

Tanggapan Waktu Alih Orde Tinggi Tanggapan Watu Alih Orde Tinggi Sistem Orde-3 : C(s) R(s) ω P ( < ζ (s + ζω s + ω )(s + p) Respons unit stepnya: c(t) βζ n n < n ζωn t e ( β ) + βζ [ ζ + { βζ ( β ) cos ( β ) + ] sin ζ ) ζ ζ ω ω n n t

Lebih terperinci

PENYELESAIAN PERSAMAAN LOTKA-VOLTERRA DENGAN METODE TRANSFORMASI DIFERENSIAL SUTRIANI HIDRI

PENYELESAIAN PERSAMAAN LOTKA-VOLTERRA DENGAN METODE TRANSFORMASI DIFERENSIAL SUTRIANI HIDRI PENYELESAIAN PERSAMAAN LOTKA-VOLTERRA DENGAN METODE TRANSFORMASI DIFERENSIAL SUTRIANI HIDRI Jurusan Matematia, FMIPA, Universitas Negeri Maassar Email: [email protected] Abstra. Pada artiel ini dibahas

Lebih terperinci