Bab IV Persamaan Integral Batas

dokumen-dokumen yang mirip
Bab III Model Proses Deformasi Benang Viscoelastis Linear di Lingkungan Fluida Newton

Bab II Konsep Dasar Metode Elemen Batas

Metode Elemen Batas (MEB) untuk Model Konduksi-Konveksi dalam Media Anisotropik

ABSTRAK METODE ELEMEN BATAS UNTUK PENYELESAIAN MASALAH PEMBENTUKAN DROPLET PADA BENANG FLUIDA VISCOELASTIS A.WAHIDAH.AK NIM :

METODE ELEMEN BATAS (MEB) UNTUK SOLUSI NUMERIK MASALAH STATIK DARI MATERIAL ELASTIS ISOTROPIK TAK-HOMOGEN

BAB III PEMODELAN PERSAMAAN INTEGRAL PADA ALIRAN FLUIDA

Metode Elemen Batas (MEB) untuk Model Perambatan Gelombang

Integral Garis. Sesi XIII INTEGRAL 12/7/2015

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dan medan hidrodinamik. Pertama, dengan menentukan potensial listrik V dan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

Metode Elemen Batas (MEB) untuk Model Konduksi Panas

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Persamaan Kontinuitas dan Persamaan Gerak

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

DIKTAT KULIAH KALKULUS PEUBAH BANYAK (IE-308)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

Teorema Divergensi, Teorema Stokes, dan Teorema Green

Model Perpindahan dan Penyebaran Pollutan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

Teori Relativitas. Mirza Satriawan. December 7, Fluida Ideal dalam Relativitas Khusus. M. Satriawan Teori Relativitas

Integral Vektor. (Pertemuan VII) Dr. AZ Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Matematika Teknik I. Prasyarat : Kalkulus I, Kalkulus II, Aljabar Vektor & Kompleks

A suatu fungsi vektor yang mempunyai derivatif kontinu, maka

BAB IV SEBARAN ASIMTOTIK PENDUGA TURUNAN PERTAMA DAN KEDUA DARI KOMPONEN PERIODIK FUNGSI INTENSITAS PROSES POISSON PERIODIK DENGAN TREN LINEAR

BAB 2 PDB Linier Order Satu 2.1 PDB Linier Order Satu Homogen PDB order satu dapat dinyatakan dalam atau dalam bentuk derivatif = f(x y) dx M(x y)dx +

PEMBAHASAN KISI-KISI SOAL UAS KALKULUS PEUBAH BANYAK (TA 2015/2016)

UJI KONVERGENSI. Januari Tim Dosen Kalkulus 2 TPB ITK

METODE ELEMEN BATAS UNTUK MASALAH TRANSPORT

Teori Ensambel. Bab Rapat Ruang Fase

PDP linear orde 2 Agus Yodi Gunawan

Fisika Matematika II 2011/2012

II LANDASAN TEORI. dengan, 1,2,3,, menyatakan koefisien deret pangkat dan menyatakan titik pusatnya.

ALJABAR LINIER MAYDA WARUNI K, ST, MT ALJABAR LINIER (I)

GARIS BESAR PROGRAM PEMBELAJARAN (GBPP)

Bab 2. Landasan Teori. 2.1 Persamaan Air Dangkal (SWE)

Teori Dasar Gelombang Gravitasi

BAB IV PERSAMAAN INTEGRAL FREDHOLM BENTUK KEDUA

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. Dalam beberapa tahun terakhir, model graph secara statistik telah diaplikasikan

iii Banda Aceh, Nopember 2008 Sabri, ST., MT

SOLUSI NUMERIK PERSAMAAN INTEGRAL VOLTERRA-FREDHOLM NONLINEAR MENGGUNAKAN FUNGSI BASIS BARU ABSTRACT

BAB 3 PERAMBATAN GELOMBANG MONOKROMATIK

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

Catatan Kuliah FI2101 Fisika Matematik IA

FI2202 Listrik Magnet: Magnetostatika

ANALISIS VEKTOR. Aljabar Vektor. Operasi vektor

3.1 Integral Kirchhoff Pada Media Homogen

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

Persamaan Di erensial Orde-2

Program Studi Teknik Mesin S1

Fourier Analysis & Its Applications in PDEs - Part II

BAB 2 PDB Linier Order Satu 2

PENYELESAIAN PERSAMAAN DIFFERENSIAL ORDE 1 - I

FUNGSI DELTA DIRAC. Marwan Wirianto 1) dan Wono Setya Budhi 2)

Dosen Pengampu : Puji Andayani, S.Si, M.Si, M.Sc

Program Studi Teknik Mesin S1

BAB V PERAMBATAN GELOMBANG OPTIK PADA MEDIUM NONLINIER KERR

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

MA1201 KALKULUS 2A Do maths and you see the world

DIKTAT KULIAH KALKULUS PEUBAH BANYAK (IE-308)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Persoalan yang melibatkan model matematika sering kali muncul dalam

perpindahan, kita peroleh persamaan differensial berikut :

Matematika Teknik Dasar-2 5 Perkalian Antar Vektor. Sebrian Mirdeklis Beselly Putra Teknik Pengairan Universitas Brawijaya

Soal dan Solusi Materi Elektrostatika

BAB III MENENTUKAN PRIORITAS DALAM AHP. Wharton School of Business University of Pennsylvania pada sekitar tahun 1970-an

Kontrol Optimum. MKO dengan Horizon Takhingga, Syarat Cukup. Toni Bakhtiar. Departemen Matematika IPB. Februari 2014

KALKULUS MULTIVARIABEL II

L mba b ng n g d a d n n n o n t o asi Ve V ktor

BAB III TENSOR. Berdasarkan uraian bab sebelumnya yang telah menjelaskan beberapa

Bab III Model Difusi Oksigen di Jaringan dengan Laju Konsumsi Konstan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

MODEL MATEMATIKA MANIPULATOR FLEKSIBEL

9. Teori Aproksimasi

Bab IV Gravitasi Braneworld IV.1 Pendahuluan

SATUAN ACARA PEMBELAJARAN (SAP)

PEMBAHASAN. (29) Dalam (Grosen 1992), kondisi kinematik (19) dan kondisi dinamik (20) dapat dinyatakan dalam sistem Hamiltonian berikut : = (30)

Bab II Teori Pendukung

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

TURUNAN DALAM RUANG DIMENSI-n

Pertemuan 1 dan 2 KONSEP DASAR PERSAMAAN DIFERENSIAL

Solusi Persamaan Linier Simultan

Pemodelan Matematika dan Metode Numerik

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. analitik dengan metode variabel terpisah. Selanjutnya penyelesaian analitik dari

BAB Solusi Persamaan Fungsi Polinomial

DERET FOURIER. n = bilangan asli (1,2,3,4,5,.) L = pertemuan titik. Bilangan-bilangan untuk,,,, disebut koefisien fourier dari f(x) dalam (-L,L)

Analisis Fungsional. Oleh: Dr. Rizky Rosjanuardi, M.Si Jurusan Pendidikan Matematika UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

TRANSPOR POLUTAN. April 14. Pollutan Transport

Aplikasi Aljabar Lanjar pada Metode Numerik

3. ORBIT KEPLERIAN. AS 2201 Mekanika Benda Langit. Monday, February 17,

11. Konvolusi. Misalkan f dan g fungsi yang terdefinisi pada R. Konvolusi dari f dan g adalah fungsi f g yang didefinisikan sebagai.

I. PENDAHULUAN. dan kotoran manusia atau kotoran binatang. Semua polutan tersebut masuk. ke dalam sungai dan langsung tercampur dengan air sungai.

METODE DEKOMPOSISI ADOMIAN UNTUK MENYELESAIKAN PERMASALAHAN NILAI BATAS PADA PERSAMAAN DIFERENSIAL PARSIAL NONLINEAR ABSTRACT

Matematika Dasar INTEGRAL PERMUKAAN

Metode elemen batas untuk menyelesaikan masalah perpindahan panas

Kunci Jawaban Quis 1 (Bab 1,2 dan 3) tipe 1

BAB II KONSEP DAN TEORI DASAR. Pada bab ini akan dibahas beberapa konsep dan teori dasar yang. digunakan untuk membahas bab-bab selanjutnya.

1 BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN

BAB II LANDASAN TEORI

Transkripsi:

Bab IV Persamaan Integral Batas IV.1 Konvensi simbol ebelum memulai pembahasan, kita akan memperkenalkan sejumlah konvensi simbol yang akan digunakan pada tesis ini. imbol x, y, x 0 akan digunakan untuk menyatakan titik di R sebuah vektor di R. edang lambang subscript x 1, x untuk menyatakan komponen dari titik x = x 1, x ). edangkan simbol u superscript) u i menyatakan tensor di R. IV. Penentuan olusi Fundamental Pada bab 4 sebelumnya telah diperoleh persamaan dasar tokes Nonhomogen persamaan konstitutif ) dari proses deformasi benang viscoelastis menjadi droplet. P + η u = De t ) τ dengan u = u d dan τ = τ d. Melalui persamaan di atas, kita akan menentukan solusi fundamental solusi Green. Persamaan di atas ditulis dalam bentuk P + η u + gδx x 0 ) = 0 4.1) dengan u menyatakan solusi Green, dan x menyatakan titik pengamatan Observation Point) dan x 0 menyatakan titik sumber ource Point), P menyatakan tekanan isotropik, η menunjukkan kekentalan, g menyatakan vektor konstan, dan δ menyatakan fungsi Delta Dirac. Misal solusi Green dari persamaan 4.1) dituliskan dalam bentuk u i x) = 1 4πη G ijx, x 0 )g j 4.) dengan x 0 titik sumber, x titik pengamatan, dan G ij menyatakan fungsi Green, solusi fundamental propagator. Fungsi Green G ij yang kita punyai adalah fungsi Green pada aliran tak berhingga yang dibatasi oleh suatu permukaan. Titik pengamatan Observation Point) x menghampiri titik sumber x 0 sedemikian sehingga semua fungsi Green menghasilkan perilaku singularitas. Melalui teorema Divergensi Gauss yang dikenakan pada persamaan 4.) dan adanya persamaan kekontinuan, maka kita peroleh persamaan i u i = 0 G ij x, x 0 ) = 0 4.3)

7 dengan mengintegralkan persamaan 4.3) di luar domain yang dibatasi oleh permukaan, dan melalui teorema Divergensi Gauss diperoleh G ij x, x 0 )n i d = 0 4.4) titik sumber x 0 dapat diletakkan diluar, di dalam di batas domain. Misal kecepatan, tekanan, dan medan tegangan dinyatakan dalam bentuk fungsi Green P x) = 1 4π p jx, x 0 )g j π ij x) = 1 4πη T ijkx, x 0 )g j 4.5) yang mana u, p, T menyatakan tensor kecepatan, vektor tekanan, dan tensor tegangan yang dihubungkan dengan fungsi Green. Telah diasumsikan bahwa fluida tak-newton bersifat incompressible dan ada pengaruh pressure terhadap fluida tak-newton. Dengan demikian tensor tegangan total dapat dinyatakan π ij = P δ ij + τ ij 4.6) dengan ui x) τ ij = η + u ) kx) x k 4.7) Melalui persamaan 4.5)-4.7) diperoleh tensor tegangan yang dinyatakan dalam bentuk fungsi Green T. T ijk x, x 0 ) = δ ik p j x, x 0 ) + Gij x, x 0 ) + G ) kj x, x 0 ) x k 4.8) Masing-masing sisi diturunkan terhadap x i sedemikian sehingga diperoleh T ijk = p j x k + G kj x i 4.9) dan melalui persamaan 4.5) dan persamaan 4.1) 1 p j p j p ) ) j 1 u i + η + u j 4π x j x k 4πη x i x j ) + u k = gδx x x 0 ) k dan diperoleh p j x k + G kj x k melalui persamaan 4.9)-4.10) diperoleh = 4πδ kj δx x 0 ) 4.10) T ijk = T kij = 4πδ kj δx x 0 ) 4.11)

8 Kita memanfaatkan teorema Divergensi Gauss pada masing-masing sisi persamaan 4.11) diperoleh 4πδ T jk ijk d = T ijk x x 0 )n i x)dx) = πδ jk 4.1) 0 Pandang persamaan tokes Nonhomogen 4.1). Persamaan 4.1) juga persamaan Poisson. olusi fundamental dari persamaan Poisson sama dengan solusi fundamental dari persamaan Laplace. olusi fundamental dari persamaan Laplace akibatnya jj u i = δx x 0 ) 4.13) u i = 1 lnr) 4.14) π jj u i = 1 π jj lnr) = δx x 0 ) δx x 0 ) = 1 π ln r 4.15) dengan r = x x 0. Untuk menyeimbangkan dimensi dari persamaan 4.1), kita dapat menuliskan vektor tekanan pressure) P P = 1 ln r) g 4.16) π vektor tegangan g = g 1 i + g j) dan r = x 1 + x, akibatnya diperoleh ) P = 1 g 1 x 1 + g x π x 1 + x x 1 + x elanjutnya, persamaan 4.1) dapat ditulis dalam bentuk u = 1 η P gδx x 0)) 4.17) divergensi dari persamaan 4.17), diperoleh u ) = 1 η P + g δx x 0 )) ) P = 0 dengan mengambil Laplace dari persamaan 4.18), diperoleh 4.18) η 4 u P ) + g δx x 0 ) = 0

9 dari persamaan kekontinuan diperoleh persamaan biharmonik 4 u = 0 4.19) dan dari persamaan 4.14)-4.16) ) 1 u = π g ln r ) 1 g π ln r 4.0) akibatnya diperoleh u = 1 πη g I ) lnr) 4.1) Penentuan solusi di atas dapat dilihat pada lampiran. Misal: u = 1 η g I ) H 4.) akibatnya u = ) 1 g I ) H ) 4.3) η dari persamaan 4.0) dan 4.1), diperoleh H = 1 lnr) 4.4) π dengan memberikan operator Laplace pada persamaan 4.3), berlaku persamaan biharmonik Melalui teorema Green kedua, diperoleh 4 H = δ x x 0 ) 4.5) H = 1 8π r lnr) 1) 4.6) dengan mensubstitusi nilai H ke persamaan 4.1), diperoleh persamaan di atas dapat ditulis u = 1 8πη g I ) r lnr) 1) 4.7) u = 1 8πη G ijg j G menyatakan fungsi Green solusi fundamental. G ij r) = 1 δ ik ln r + r ) ir k 4π r 4.8)

30 elanjutnya, kita akan menentukan tensor tegangan τ. Telah dijelaskan pada bab sebelumnya ui π ij = P δ ij + η + u ) j 4.9) x j dan pada subbab di atas diperoleh persamaan dari tensor kecepatan dengan r = x 1 + x dan u = 1 8πη )g I ) r ln r 1) P = 1 π x 1 g 1 + x g x 1 + x x 1 + x ) Misal π ij = 1 4π T ijkg j T ijk = 4ππ ik g j ui 4π P δ ij + η + u )) j g j 4.30) x j dengan mensubstitusi persamaan vektor kecepatan u dan vektor tekanan p ke persamaan 4.9), diperoleh persamaan T ijk = 1 π r i r j r k r 4 T ijk merupakan solusi fundamental bagi persamaan IV.3 P + η u + gδx x 0 ) = 0 Persamaan Integral Batas Pada sub bagian ini, kita akan membangun solusi untuk kecepatan dengan membangun persamaan integral batas. Diasumsikan bahwa tensor tegangan tak Newton awal diketahui η jj u l) i i P l) = De j t τ l) ij dalam 4.31) [ τ ij t j ] = 0 kondisi dinamik pada batas 4.3) 1 [ τ ij n j ] = σ + 1 ) n i kondisi dinamik pada 4.33) R 1 R dx i dt = u i kondisi kinematik padac. 4.34) τ ij 0) = Qδ ij tensor tegangan awal 4.35)

31 Teknik standar untuk merepresentasikan solusi masalah syarat batas di atas adalah dengan memanfaatkan solusi fundamentalnya. G ijk r) = 1 δ ik ln r + r ) ir k 4.36) 4π r T ijk r) = 1 r i r j r k 4.37) π r 4 Untuk melakukan itu, pertama, kita mentransformasi sistem koordinat Ox 1 x ke dalam sistem koordinat polar. Daerah batas didiskritisasi menjadi beberapa segmen garis. Titik pada batas dinamakan node. Akibatnya dengan mempertahankan orientasi positifnya, kita dapat menuliskan persamaan integral batasnya. jj u i y; x)u i y; x)d [ jj u i i P De j t τ ij ] d 4.38) [ jj u i y; x) i P De j t τ ij ] u i y; x) d 4.39) diperoleh persamaan integral batas c ik u i x) K ijk r)u i y)n j y)d 1 λ = 1 λ i P u i y; x)d De j t τ ij u i y; x)d 4.40) J ik r)κy)n i y)d J ik r) j τ NN ij y)d Integral domain pada persamaan integral di atas diuraikan melalui teorema Divergensi Gauss J ik r) j τ NN ij y)d = τ ij j J ik r)d + J ik r) τ ij r) n j y)) d Karena tensor tegangan tak Newton kontinu pada batas dan memiliki turunan terbatas maka ) τij NN n j = 0, akibatnya c ik u i x) K ijk r)u i y)n j y)d 1 J ik r)κn i y)d 4.41) λ = 1 τ ij r) j Jik NN y)d 4.4) λ Persamaan integral batas 4.4) mengandung dua kasus, yakni

3 a. Elemen batas sel internal tidak mengandung titik evaluasi. Elemen ini dinamakan elemen regular. K ijk r)u i y)n j y)d b. Elemen batas sel internal mengandung titik evaluasi. Elemen ini dinamakan elemen singular. J ik r)κn i y)d τ ij r) j J ik y)d Pada kasus pertama jarak antara titik evaluasi x dengan y harus lebih besar dari nol. Penentuan integral batas K ijkr)u i y)n j y)d menggunakan metode Gauss Legendre 1 titik. Berikut pada kasus kedua, jarak antara titik evaluasi x dengan y harus sama dengan nol. Penentuan integral batas J ikκn i d dan integral domain De t j u i y; x)d melalui penentuan solusi eksak.