ANALISIS MORFOLOGI DAN SITOLOGI TANAMAN BUAH NAGA KULIT KUNING (Selenicereus megalanthus)

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "ANALISIS MORFOLOGI DAN SITOLOGI TANAMAN BUAH NAGA KULIT KUNING (Selenicereus megalanthus)"

Transkripsi

1 ANALISIS MORFOLOGI DAN SITOLOGI TANAMAN BUAH NAGA KULIT KUNING (Selenicereus egalanthus) Skripsi Untuk eenuhi sebagian persyaratan Guna eperoleh derajat Sarjana Pertanian di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Jurusan/Progra Studi Agronoi Oleh : Ari Setyowati H FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2008

2 Analisis orfologi dan sitologi tanaan buah naga kulit kuning (Selenicereus egalanthus) Yang dipersiapkan dan disusun oleh : Ari Setyowati H Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal :... dan dinyatakan telah eenuhi syarat Susunan Ti Penguji Ketua Anggota I Anggota II Ir. Sukaya, MS. NIP Dr. Ir. Endang Yuniastuti, MSi. NIP Ir. Sri Hartati, MP. NIP Surakarta, Oktober 2008 Mengetahui Universitas Sebelas Maret Fakultas Pertanian Dekan Prof. Dr. Ir. H. Suntoro, MS NIP KATA PENGANTAR ii

3 Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah elipahkan segala rahat dan hidayah-nya sehingga Penulis dapat enyelesaikan rangkaian penelitian dan penulisan skripsi yang berjudul Analisis Morfologi dan Sitologi Tanaan Buah Naga Kulit Kuning (Selenicereus egalanthus) ini dengan baik. Penulis enyadari bahwa dala penulisan dan penyusunan skripsi ini dapat berjalan baik karena adanya bibingan, bantuan, dan pengarahan berbagai pihak. Oleh sebab itu, Penulis engucapkan teria kasih kepada : 1. Prof. Dr. Ir. H. Suntoro, MS selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2. Ir. Wartoyo S. P., MS selaku Ketua Jurusan Agronoi Fakultas Pertanian Universitas Sebalas Maret Surakarta. 3. Ir. Sukaya, MS. selaku Dosen Pebibing Utaa. 4. Dr. Ir. Endang Yuniastuti, MSi. selaku Dosen Pebibing Pendaping. 5. Ir. Sri Hartati, MP. selaku Dosen Pebahas. 6. Ir. Aalia Tetrani Sakya, MS. MPhil selaku Dosen Pebibing Akadeik. 7. DIPA UNS yang telah ebiayai penelitian. 8. Seua pihak yang telah ebantu dei kelancaran penulisan skripsi ini. Penulis enyadari bahwa skripsi ini asih jauh dari sepurna. Untuk itu kritik dan saran yang ebangun penulis harapkan dei perbaikan. Akhir kata, seoga skripsi ini dapat beranfaat bagi para pebaca pada uunya dan penulis pada khususnya. Surakarta, Oktober 2008 Penulis DAFTAR ISI iii

4 HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii KATA PENGANTAR... iii DAFTAR ISI... iv DAFTAR GAMBAR... vi DAFTAR LAMPIRAN... vii RINGKASAN... viii SUMMARY... ix I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1 B. Peruusan Masalah... 2 C. Tujuan Penelitian... 3 D. Hipotesis... 3 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tanaan Buah Naga... 4 B. Susunan Genetik... 6 III. METODE PENELITIAN A. Tepat dan Waktu Penelitian... 9 B. Bahan dan Alat Penelitian Bahan Alat... 9 C. Rancangan Penelitian Morfologi Sitologi... 9 D. Tata Laksana Penelitian Peilihan Lokasi Pengaatan Morfologi a. Morfologi Akar b. Morfologi Batang c. Morfologi Buah iv

5 d. Morfologi Biji Pebibitan Pebuatan preparat Pengaatan Krooso a. Julah krooso b. Ukuran krooso c. Bentuk krooso d. Kariotipe E. Metode Analisis Data Morfologi Sitologi IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Lokasi B. Deskripsi Akar C. Deskripsi Batang D. Deskripsi Buah E. Deskripsi Buah F. Julah krooso G. Ukuran krooso H. Bentuk krooso I. Kariotipe V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesipulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN v

6 DAFTAR GAMBAR Noor Judul Halaan 1. Batang Buah Naga Kulit Kuning (Selenicereus egalanthus) Buah Selenicereus egalanthus Krooso Buah Naga Kulit Kuning (Selenicereus egalanthus) Kariotipe Buah Naga Kulit Kuning (Selenicereus egalanthus) Idiogra Buah Naga Kulit Kuning (Selenicereus egalanthus) vi

7 DAFTAR LAMPIRAN Noor Judul Halaan 1. Tanaan Buah Naga Kulit Kuning (Selenicereus egalanthus) Gabar Bahan dan Alat Yang Digunakan dala Pengaatan Krooso Tanaan Buah Naga Kulit Kuning (Selenicereus egalanthus) Ukuran dan Bentuk Krooso Tanaan Buah Naga Kulit Kuning (Selenicereus egalanthus) Rekapan Data Pengaatan Morfologi Tanaan Buah Naga Kulit Kuning (Selenicereus egalanthus) vii

8 ANALISIS MORFOLOGI DAN SITOLOGI TANAMAN BUAH NAGA KULIT KUNING (Selenicereus egalanthus) Ari Setyowati H RINGKASAN Buah naga erupakan salah satu buah tropis yang sangat potensial untuk dikebangkan. Inforasi akan karakter orfologi dan sitologi tanaan buah naga asih sedikit dan sederhana sehingga perlu dilakukan analisis orfologi dan sitologi. Analisis orfologi dan sitologi enghasilkan inforasi yang berguna untuk endukung progra peuliaan tanaan buah naga. Penelitian ini bertujuan untuk epelajari karakter orfologis dan sitologis (kariotipe) pada tanaan buah naga kulit kuning (S. egalanthus). Penelitian ini engabil sapel dari Agrowisata Kusuo Wanadri Pantai Glagah Indah, Yogyakarta. Identifikasi krooso dilaksanakan di Laboratoriu Peuliaan Tanaan Fakultas Pertanian UNS. Penelitian dilaksanakan pada bulan Deseber 2006 sapai Juni Metode yang digunakan adalah pengaatan survei di lapangan dan etode squashing dengan pra perlakuan dala air selaa 24 ja pada suhu 5-8ºC, fiksasi dala larutan asa asetat 45% selaa 2 ja pada suhu 5-8ºC, hidrolisis dala larutan HCl 1 N selaa 3-4 enit pada suhu 60ºC, pewarnaan dala larutan aceto orcein 2% selaa 24 ja pada suhu 5-8ºC, dan squashing (peencetan). Data orfologis dan sitologis dianalisis dan disajikan secara deskriptif. Morfologi tanaan S. egalanthus adalah akar berbentuk benang berwarna putih kekuningan dengan siste perakaran tanaan serabut. Batangnya adalah batang basah yang licin dan bersegi dengan tepi cekung. Buah berbentuk lonjong dikelilingi duri-duri pendek, kulit buah berwarna kuning, dan warna daging buah putih. S. egalanthus eiliki julah krooso tetraploid 2n = 4X = 44 dengan panjang krooso berkisar 2 + 0,098 µ sapai dengan 4,75 + 0,98 µ.. Ruus kariotip krooso S. egalanthus 2n = 4X = 44 = s. Kata kunci : orfologi, Selenicereus egalanthus, sitologi. viii

9 THE MORPHOLOGY AND CYTOLOGY ANALYSIS OF YELLOW SKIN DRAGON FRUIT (Selenicereus egalanthus) Ari Setyowati H SUMMARY Dragon fruit is one of tropical fruit which is potential to be developed. The inforation of dragon fruit s orphology and cytology character is quite little and siple so it need to do orphology and cytology analysis. The orphology and cytology analysis give the useful inforation to support the dragon fruit breeding progra. This research ais to study the orphology character and cytology (caryotipe) of yellow skin dragon fruit (S. egalanthus). It was took saple fro Agrowisata Kusuo Wanadri Pantai Glagah Indah, Yogyakarta. Identification of chroosoe conducted at Plants Breeding Laboratory of Agriculture Faculty UNS. It was conducted fro Deceber 2006 until June The ethod that was used is field research survey and squash ethod with pretreatent in cold water for 24 hours at C, fixation with asetat glacial 45% for 2 hours C, hydrolysis with HCL 1 N for 3-4 inutes 60 0 C and stainning with aceto-orcein 2% for 24 hours C. The orphology and cytology data was analysed and presented descriptively. The orphology of S. egalanthus is that the root has a thread shape which is colour is white yellowish with a fibrous root syste. The ste is wet, slippery and angular with convect side. The fruit is oval surrounded by short thorns, fruit s skin is yellow, and the flesh of fruit is white. S. egalanthus has a tetraploid chroosoe 2n = 4X = 44 which is length around 2 + 0,098 µ to 4,75 ± 0,098 µ. The chroosoe caryotipe forula of S. egalanthus 2n = 4X = 44 = s. Keywords: orphology, Selenicereus egalanthus,cytology. ix

10 ANALISIS MORFOLOGI DAN SITOLOGI TANAMAN BUAH NAGA KULIT KUNING (Selenicereus egalanthus) Oleh : ARI SETYOWATI H FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2008 x

11 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanaan buah naga yang berasal dari Aerika Tengah dan Selatan belu banyak dibudidayakan. Tanaan ini baru dibudidayakan secara intensif di beberapa negara seperti: Israel, Colobia, Nikaragua, Vietna, Thailand, Cina, dan Australia (Lichtenzveig, et. al., 2000). Tanaan buah naga juga disebut sebagai dragon fruit karena buahnya eiliki jubai yang enyerupai sisik naga. Tanaan ini eiliki ciri-ciri bentuk pohon yang erabat dengan duri-duri yang tubuh di sepanjang sulur dan akan terlihat unik terlebih jika telah uncul buah pada sulursulurnya. Pada awalnya, tanaan ini hanya dianfaatkan sebagai tanaan hias. Akan tetapi, setelah diketahui bahwa buahnya enak diakan keudian ulai diusahakan pebudidayaannya sebagai tanaan buah. Buah naga dapat dikonsusi dala bentuk segar aupun olahan. Menurut Kristanto (2003), buah naga epunyai kandungan air yang sangat tinggi sekitar 90,20 % dari berat buah. Rasanya cukup anis karena gula dala buah yang cukup tinggi. Selain dibudidayakan sebagai tanaan buah, buah naga juga dibudidayakan sebagai tanaan obat karena eiliki khasiat untuk kesehatan anusia. Khasiat tersebut antara lain: sebagai penyeibang gula darah, pencegah kanker usus, pelindung kesehatan ulut, pengurang kolestrol, pencegah pendarahan, dan dan obat keluhan keputihan. Tanaan ini ulai dikenal dan dibudidayakan di Indonesia pada tahun Meskipun deikian, perkebangan budidaya tanaan ini sangat labat, padahal kondisi ikli Indonesia sangat endukung untuk pengebangan tanaan ini. Pada tahun 2006 baru ada beberapa daerah yang ebudidayakan tanaan ini yaitu Malang, Kediri, Tawangangu, Searang, dan Kulon Progo dengan luas pertanaan yang beraga. Beberapa tahun terakhir ini, setelah diketahui bahwa buah naga berkhasiat obat, usaha budidaya buah naga terus dilakukan karena sangat enguntungkan. Meskipun deikian, pebudidayaan buah naga kulit kuning asih jarang dilakukan. 1 xi

12 Buah naga kulit kuning enghendaki lingkungan tubuh di daerah dataran tinggi, berbeda dengan buah naga jenis lain yang dapat dibudidayakan di dataran rendah. Pengenalan tanaan buah naga berdasarkan karakter orfologi dan sitologi akan sangat endukung keberhasilan progra peuliaan tanaan buah naga. Akan tetapi, sapai dengan saat ini pengetahuan akan karakter orfologi dan sitologi tanaan buah naga asih sedikit dan sederhana. Dengan engetahui secara pasti karakter orfologi dan sitologi suatu tanaan, aka dapat diketahui inforasi genetik suatu tanaan sehingga dapat dicari etode yang tepat untuk pengebangan dan pebudidayaannya. Buah naga yang dibudidayakan di Indonesia ada 2 genus yaitu Hylocereus dan Selenicereus. Buah naga yang dibudidayakan adalah buah naga dari genus Hylocereus yaitu H. undatus (daging buah putih), H. polyrhizus (daging buah berwarna erah tua), dan H. costaricensis (daging buah berwarna erah uda) yang seuanya erupakan tanaan diploid dengan 2N = 2X = 22. Sedangkan genus Selenicereus yang dibudidayakan adalah S. egalanthus yang erupakan tanaan tetraploid 2N = 4X = 44. Meski sudah diketahui ploidinya naun belu diketahui kariotipenya. B. Peruusan Masalah Deskripsi engenai tanaan buah naga ini asih sederhana dan asih didasarkan pada penapilan orfologinya saja. Oleh sebab itu, hasil yang diperoleh asih belu akurat. Deskripsi berdasarkan fenotip saja akan eberikan hasil yang berbeda-beda karena perbedaan lingkungan tubuhnya. Penapilan fenotip suatu tanaan dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan faktor genetik serta interaksi antara keduanya. Deskripsi berdasarkan analisis sitologi diharapkan dapat eberikan inforasi yang akurat engenai sifat genetik suatu tanan sehingga akan eperudah pelaksanaan progra peuliaan tanaan. Berdasarkan uraian tersebut di atas aka asalah yang akan diangkat dala penelitian ini yaitu: xii

13 1. Hubungan atau kesesuaian antara sifat orfologi dengan krooso yang diaati. 2. Pola kariotipe tanaan buah naga kulit kuning (Selenicereus egalanthus). C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk epelajari karakter orfologis dan sitologis (kariotipe) pada tanaan buah naga kulit kuning (Selenicereus egalanthus). D. Hipotesis 1. Ada hubungan antara sifat orfologi dan krooso. 2. Julah krooso buah naga kulit kuning (Selenicereus egalanthus) 2n = 4X = 44 yang pada kariotipe tetraploid. xiii

14 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tanaan Buah Naga Jenis buah naga ada epat aca, pertaa buah naga daging putih (Hylocereus undatus), buah naga daging erah (Hylocereus polyrhizus), buah naga daging super erah (Hylocereus costaricensis), dan buah naga kulit kuning daging putih (Selenicereus egalanthus). Buah jenis ini bercitarasa anis bercapur asa segar, epunyai sisik atau jubai kehijauan di sisi luar, serta kadar keanisannya tergolong rendah dibandingkan buah naga jenis lain, yakni briks (Anoni, 2008a). Buah naga berkulit kuning daging putih (Selenicereus egalanthus) eiliki taksonoi sebagai berikut: Divisi : Magnoliophyta Kelas : Dicotyledoneae Ordo : Caryophyllales Faili : Cactaceae Genus : Selenicereus Spesies : Selenicereus egalanthus (Anoni, 2008b). Sebagai salah satu anggota faili Cactaceae, tanaan buah naga tidak eerlukan persyaratan tubuh yang ruit. Tanaan buah naga dapat tubuh baik tubuh baik pada tanah yang relatif kurang subur (bahkan pada tanah berbatu), pada tanah yang bereaksi relatif asa sapai pada tanah bergara dan tahan terhadap kekurangan air. Tanaan buah naga dapat tubuh baik pada kondisi air tanah endekati titik layu (wilting point). Di Aerika Tengah, tanaan buah naga ditana di antara tanaan pohon. Hal ini erupakan indikator bahwa tanaan buah naga erupakan salah satu tanaan yang tahan terhadap naungan. Di Israel, untuk dapat tubuh dengan baik bahkan tanaan ini eerlukan naungan 30-60%. Tanaan buah naga juga tahan terhadap fluktuasi teperatur yang sangat tinggi. Tanaan asih dapat tubuh dan berbuah baik pada kisaran teperatur 8-38º C. Tanaan 4 xiv

15 akan engalai kerusakan pada teperatur lebih dari 39º C, pebungaan terhabat (Soelistyari et. al., 2006). Tanaan buah naga perakarannya bersifat epifit, yaitu erabat dan enepel pada batang tanaan lain. Akar tanaan ini sangat tahan kekeringan dan tidak tahan dengan genangan yang cukup laa. Akar tanaan buah naga tidak terlalu panjang dan terbentuk akar cabang. Dari akar cabang tubuh akar rabut yang sangat kecil, lebut, dan banyak (Kristanto, 2003). Batang tanaan buah naga engandung air dala bentuk lendir dan berlapiskan lilin bila sudah dewasa. Batang berukuran panjang dan bentuknya segitiga dengan warna hijau kebiru-biruan atau ungu. Pada batang ini banyak tubuh cabang diana batang dan cabang tersebut berfungsi sebagai daun dala proses asiilasi. Batang dan cabang ditubuhi duri-duri yang keras tetapi sangat pendek sehingga tidak encolok. Letak duri tersebut pada tepi batang aupun cabang (Kristanto, 2003). Bunga tanaan buah naga terletak pada sulur batang, berbentuk teropet, dan berwarna putih. Susunan bunga erupakan susunan bunga ajeuk. Buahnya berbentuk bulat panjang dan lonjong serta berdaging warna erah dan sangat tebal. Letak buah pada uunya endekati ujung cabang atau batang. Pada batang atau cabang dapat tubuh lebih dari 1 buah, terkadang bersaaan atau berhipitan. Ketebalan kulit buah 2-3 c dan pada perukaan kulit buah terdapat jubai atau jabul berukuran 1-2 c. Biji buah naga berbentuk bulat berukuran kecil dan berwarna hita. Kulit biji sangat tipis tetapi keras (Kristanto, 2003). Buah kaktus adu (buah naga) cukup kaya dengan berbagai zat vitain dan ineral yang dapat ebantu eningkatkan daya tahan tubuh. Penelitian enunjukkan buah naga erah sangat baik untuk siste peredaran darah. Buah naga juga dapat untuk engurangi tekanan eosi dan enetralkan toksik dala darah. Penelitian juga enunjukkan buah ini dapat encegah kanker usus, selain engandung kolestrol yang rendah dala darah dan pada waktu yang saa enurunkan kadar leak dala tubuh. Secara keseluruhan, setiap buah naga erah engandung protein yang apu xv

16 engurangi etabolise badan dan enjaga kesehatan jantung; serat (encegah kanker usus, kencing anis, dan diet); karotin (kesehatan ata, enguatkan otak, dan encegah penyakit); kalsiu (enguatkan tulang); dan fosferos. Buah naga juga angandung zat besi untuk enabah darah; vitain B1 (engawal kepanasan badan); vitain B2 (enabah selera); vitain B3 (enurunkan kadar kolestrol); dan vitain C (Zain, 2006). B. Susunan Genetik Deskripsi tanaan yang hanya didasarkan penapilan fenotip saja akan eberikan hasil yang berbeda-beda. Untuk eperudah pengebangan peuliaan tanaan aka diperlukan juga deskripsi tanaan berdasarkan analisis sitologinya. Pengaatan sifat berdasarkan uji sitologis tersebut akan sangat diperlukan untuk eberikan inforasi yang akurat engenai sifat genetik pada suatu tanaan (Akagi, et. al., 1996). Uji sitologis sangat diperlukan dala usaha peuliaan tanaan karena dengan pengaatan sitologis tersebut, inforasi sifat genetik (berdasarkan julah, ukuran dan susunan kroosonya) dapat lebih akurat (Stent, 1978). Menurut Crowdrer (1986), krooso erupakan benda-benda halus berbentuk batang panjang atau pendek dan lurus atau bengkok serta berfungsi sebagai pebawa bahan keturunan atau ateri genetik. Krooso erupakan bentukan akroolekul besar yang euat DNA yang ebawa inforasi genetika dala sel biologi. DNA dapat terpaket dala satu atau lebih krooso. Sebuah krooso (dala bahasa Yunani chroa = warna dan soa = badan) adalah sebuah potongan DNA yang sangat panjang dan berkelanjutan, yang terdapat banyak gen unsur regulator dan sekuens nukleotida lainnya. Selaa itosis (pebelahan sel), krooso terkondensasi dan disebut krooso etafase. Hal ini enyebabkan asing-asing krooso dapat diaati elalui ikroskop optik. Setiap krooso eilki dua lengan, yang pendek disebut dengan lengan p (dari bahasa Perancis petit yang berarti kecil) dan lengan yang panjang lengan q (q engikuti p dala alpabet) (Anoni, 2008c). xvi

17 Struktur krooso dapat dilihat sangat jelas pada fase-fase tertentu waktu pebelahan nukleus pada saat ereka bergulung. Setiap krooso dala geno biasanya dapat dibedakan satu dengan lainnya oleh beberapa kriteria, terasuk panjang relatif krooso, posisi suatu struktur yang disebut sentroer yang ebagi krooso dala dua tangan yang panjangnya berbeda-beda, kehadiran dan posisi bidang (area) yang ebesar yang disebut tobol (knob) atau krooer, adanya perpanjangan halus pada terinal dari aterial kroatin yang disebut satelit dan sebagainya (Stansfield, 1991). Krooso-krooso itu berbeda ukuran besarnya dan dala posisi dari sentroer-sentroernya sekalipun kedua anggota dari setiap pasangan hoolog adalah dala strukturnya. Ukuran besarnya dan posisi sentroer ebantu untuk ebedakan satu krooso dengan yang lain (Apandi, 1992). Eery (1983) berpendapat bahwa sentroer bertanggung jawab untuk gerakan krooso pada pebelahan inti sel. Setiap krooso tidak hanya berbeda dala letak sentroernya tetapi juga dala panjang totalnya. Suatu krooso dengan sentroer edian (etasentris) akan epunyai tangan-tangan dengan ukuran yang kira-kira saa. Krooso yang subetasentris atau akrosentris epunyai tangan-tangan yang jelas ukurannya tidak saa. Jika sentroer suatu krooso berada di atau dekat sekali dengan salah satu ujung krooso disebut telosentris. Setiap krooso dari geno (dengan pengecualian krooso-krooso seks) diberi noor secara berurutan enurut panjangnya, diulai pertaa kali dengan krooso yang paling panjang (Stansfield, 1991). Pertelaan lengkap seua diiliki oleh suatu tipe sel enyusun kariotipenya dan kariotipe biasanya dipersiapkan dengan peotongan asingasing pasangan kroatid dari suatu fotograf dan engaturnya dala deretan enurut ukurannya. Kariotipe itu berguna karena dapat eungkinkan pengenalan yang cepat terhadap penyipangan pada julah atau orfologi krooso. Kariotipe juga berfungsi untuk enentukan hubungan evolusi antara jenis-jenis yang berbeda (Adisoearto, 1988). xvii

18 Menurut Apandi (1992), kariotipe erupakan gabaran dari seua krooso aktual yang diteukan dala sebuah sel. Kariotipe selalu diperlihatkan dengan krooso-krooso yang enjadi dua, sebab kita bisa eberi gabaran engenai krooso-krooso hanya setelah krooso itu enjadi dua dan elingkar pada pebelahan sel. Krooso dapat diperlihatkan dengan teknik pengecatan khusus hanya selaa waktu inti sel sedang ebelah. Ini disebabkan karena krooso pada saat itu enebal dan eendek serta lebih banyak enyerap zat warna dibanding dengan inti sel yang sedang dala keadaan istirahat (Eery, 1983). Menurut Apandi (1992), prosedur pewarnaan odern eproduksi pewarnaan yang tidak erata, enghasilkan jalur-jalur/garisgaris terang dan gelap. Pola bergaris-garis dari krooso individual yang diteukan adalah unik dan konsisten. Hal ini digunakan untuk engenali (identifikasi) pasangan-pasangan hoolog. Pengaatan krooso paling sering enggunakan etode squash atau etode pencet yaitu suatu etode untuk endapatkan preparat dengan cara eencet suatu potongan jaringan atau suatu organise secara keseluruhan. Dengan deikian, didapat suatu preparat yang enyebar sehingga dapat diaati di bawah ikroskop. Dala pebuatan preparat ini diusahakan agar sel-sel terpisah satu saa lain, tetapi tidak kehilangan bentuk aslinya dan tersebar dala suatu lapisan di atas gelas benda, sehingga eperudah dala pengaatan bagian-bagian sel. Metode ini banyak dipakai di dala laboratoriu botani (Suntoro, 1983). xviii

19 III. METODE PENELITIAN A. Tepat dan Waktu Penelitian Penelitian ini engabil sapel dari Agrowisata Kusuo Wanadri Pantai Glagah Indah, Dusun Bebekan, Teon, Kulon Progo, Yogyakarta. Identifikasi krooso dilaksanakan di Laboratoriu Peuliaan Tanaan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penelitian dilaksanakan pada bulan Deseber 2006 sapai Juni B. Bahan dan Alat Penelitian 1. Bahan Bahan yang digunakan dala penelitian ini antara lain yaitu : a. Tanaan buah naga kulit kuning (Selenicereus egalanthus). b. Larutan aceto-orcein 2%, aquadest, asa asetat 45%, larutan HCl 1N, tisu, kertas label, dan cat kuku. 2. Alat Pot, cutter, flakon, pinset, pensil, gelas preparat, gelas penutup, oven, refrigerator (alari pendingin), ikroskop cahaya, dan ikroskop foto. C. Rancangan Penelitian 1. Morfologi Penelitian orfologi dilaksanakan dengan etode pengaatan survei di lapangan. Survei pada dasarnya ditujukan untuk engetahui kondisi di lokasi penelitian terasuk di dalanya elakukan pengaatan faktorfaktor lingkungan dan identifikasi tanaan buah naga. Pengabilan sapel sejulah 5 tanaan dilakukan secara acak (rando sapling). 2. Sitologi xix

20 Penelitian sitologi dilaksanakan dengan etode squashing (peencetan) yaitu suatu etode untuk endapatkan preparat dengan cara eencet suatu potongan jaringan atau suatu organise secara keseluruhan. Dengan deikian, didapat suatu preparat yang enyebar sehingga dapat diaati di bawah ikroskop. D. Tata Laksana Penelitian Penelitian ini dilaksanakan elalui 9 tahap-tahap sebagai berikut : 1. Peilihan Lokasi Penentuan lokasi sebagai tepat pengabilan sapel (bahan) identifikasi orfologi dilakukan secara sengaja (purpossive). Lokasi tersebut yaitu Agrowisata Kusuo Wanadri Pantai Glagah Indah, Dusun Bebekan, Teon, Kulon Progo, Yogyakarta. Identifikasi krooso dilaksanakan di Laboratoriu Fisiologi dan Bioteknologi Tanaan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2. Pengaatan Morfologi Pengaatan sifat orfologi engabil sapel tanaan sejulah 5 tanaan secara acak. Variabel-variabel yang diaati didasarkan pada orfologi tanaan yang dinyatakan oleh Tjitrosoepoo (2003). Variabelvariabel tersebut eliputi sifat akar, batang, buah, dan biji. a. Morfologi Akar 1) Julah akar (banyak sedikitnya) diaati berdasarkan banyaknya akar yang tubuh (sangat sedikit, sedikit, sedang, banyak, atau sangat banyak). 2) Bentuk akar, pengaatan dilakukan dengan engaati bentuk akar tanaan, apakah akar tanaan berbentuk tobak (fusiforis), berbentuk gasing (napiforis), atau berbentuk benang (filiforis). 3) Ada tidaknya rabut akar diaati berdasarkan banyaknya rabut akar yang tubuh (tidak ada, sedikit, sedang, banyak, atau banyak sekali). 4) Warna akar (putih, putih kekuningan, kuning, atau warna lain). xx

21 5) Siste perakaran, pengaatan dilakukan dengan engaati siste perakarannya apakah terasuk siste akar tunggang atau siste akar serabut. b. Morfologi Batang 1) Jenis batang, pengaatan dilakukan dengan engaati apakah batang terasuk jenis batang basah (herbaceus), batang berkayu (lignosus), batang ruput (calus), atau batang endong (calaus). 2) Bentuk batang, pengaatan dilakukan dengan engaati bentuk batang pada penapang elintangnya, apakah terasuk bentuk bulat (teres), bersegi (angularis), atau pipih. 3) Perukaan batang, pengaatan dilakukan dengan engaati perukaannya, apakah terasuk licin (laevis), berusuk (costatus), beralur (sulcatus), bersayap (alatus), berabut (pilosus), berduri (spinosus), eperlihatkan bekas-bekas daun, eperlihatkan bekas-bekas daun penupu, eperlhatkan banyak lentisel, atau keadaan-keadaan, isalnya lepasnya kerak. 4) Percabangan batang diaati ada tidaknya percabangan pada batang keudian ditentukan cara percabangannya apakah terasuk onopodial, sipodial, atau enggarpu. 5) Julah cabang diaati dengan enghitung julah cabang dari batang utaa. 6) Warna batang (hijau, hijau tua, hijau kekuningan, atau warna lain). 7) Bentuk lingir batang, pengaatan dilakukan dengan engaati bentuk lingir batang apakah elengkung ke dala (cebung) atau elengkung ke luar (cekung). c. Morfologi Buah 1) Berat buah, pengaatan dilakukan dengan cara enibang buah yang diaati. xxi

22 2) Bentuk buah, pengaatan dilakukan dengan cara engaati bentuk buah dan enentukan apakah berbentuk bulat, bulat telur, lonjong, atau bintang. 3) Warna kulit buah, pengaatan dilakukan dengan engaati secara seksaa warna kulit buah. 4) Warna daging buah, pengaatan dilakukan dengan engaati secara seksaa warna daging buah. 5) Aroa citarasa, pengaatan dilakukan dengan cara erasakan daging buah apakah rasanya asa, anis, atau anis sekali. 6) Adanya duri atau jubai, pengaatan dilakukan dengan cara engaati apakah pada kulit buah terdapat duri atau jubai. d. Biji 1) Julah biji per buah, pengaatan dilakukan dengan enghitung julah biji per buah. 2) Berat 100 biji, pengaatan dilakukan dengan enibang berat tiap 100 biji. 3) Bentuk biji, pengaatan dilakukan dengan engaati bentuk biji dan enentukan apakah berbentuk bulat, bulat telur, atau lonjong. 4) Warna biji, dilakukan dengan engaati secara seksaa warna biji. 3. Pebibitan Bibit buah naga diperoleh dari setek sulur. Setek ditubuhkan dala pot dengan enggunakan edia tana berupa pasir alang. Setelah uncul akar, keudian dipotong dan digunakan sebagai bahan pebuatan preparat. 4. Pebuatan preparat Pebuatan preparat enggunakan etode squash (peencetan) dan penyegelan secara sei peranen yang diaplikasi dari cara yang dipakai oleh Anggarwulan et al., 1999; Parjanto et al., Praperlakuan diulai xxii

23 dengan peotongan akar. Akar dicuci dengan air bersih, bagian akar yang eristeatis dipotong sepanjang kira-kira 5 dari ujung akar, direnda dala aquadest selaa 24 ja pada refrigerator pada suhu C. Potongan akar difiksasi dengan enggunakan larutan asa asetat 45% dan disipan dala refrigerator selaa 2 ja, setelah selesai potongan akar diabil dan dicuci dengan aquadest tiga kali. Potongan akar yang telah difiksasi selanjutnya dihidrolisis dengan larutan HCl 1N selaa 3-4 enit dan disipan dala oven pada suhu 60 0 C keudian HCl 1N dibuang dan dicuci lagi dengan aquadest tiga kali (Anggarwulan et al., 1999). Pewarnaan krooso dilakukan dengan cara erenda potongan akar dala larutan aceto orcein 2% (Anggarwulan et al., 1999; Parjanto et al., 2003) selaa 24 ja dala refrigerator. Setelah pewarnaan, tudung akar pada ujung akar dihilangkan, bagian eristeatis (kurang lebih 0,5 dari ujung akar) diabil dan diletakkan di atas gelas preparat. Selanjutnya potongan akar tersebut ditutup dengan gelas penutup yang diletakkan di atas potongan akar dan dilakukan penekanan (squash) dengan ibu jari atau dengan enggunakan ujung pensil secara perlahan (Daayanti dan Mariska, 2003; Anggarwulan et al., 1999). Keudian preparat yang telah dipencet, disegel dengan enggunakan cat kuku bening (Anggarwulan et al., 1999) dan diaati dengan enggunakan ikroskop cahaya pada perbesaran 1000 kali. xxiii

24 Beberapa sel yang terlihat dipilih sel yang tidak enupuk dan enunjukkan tahap proetafase atau etafase. Pada tahap tersebut krooso tapak enyebar dengan baik, sehingga eudahkan dala pengaatan. Sel yang terpilih dipotret dengan ikroskop-foto Nikon dan dibuat ikrografinya. Metode ini erupakan odifikasi dari etode yang dipergunakan Parjanto et al. (2003). 5. Pengaatan krooso Pengaatan orfologi krooso eliputi : a. Julah krooso Pengaatan julah krooso dilakukan setelah krooso tapak jelas pada ikroskop cahaya, selanjutnya dipotret dan dari hasil cetakan diperbesar sehingga dapat dihitung julah kroosonya (Anggarwulan et al., 1999). b. Ukuran krooso Setelah krooso dihitung, keudian dari gabar krooso diukur panjang kedua lengan (Anggarwulan et al., 1999) dan panjang kroosonya (hasil penjulahan panjang lengan panjang dan panjang lengan pendek) (Parjanto et al., 2003) c. Bentuk krooso Bentuk krooso ditentukan berdasarkan letak sentroernya. Letak sentroer ditentukan berdasarkan rasio lengan panjang dan lengan pendek. Penentuan bentuk krooso ini engacu pada cara Ciupercescu et al. (1990) cit. Parjanto et al. (2003). d. Kariotipe xxiv

25 Krooso pada tahap proetafase atau etafase yang enunjukkan penyebaran krooso dengan baik dipotret dengan ikroskop-foto. Gabar krooso yang diperoleh keudian diaati orfologinya dan disusun secara berurutan dari ukuran terpanjang sapai terpendek sebagai kariotip. Penyusunan kariotip dilakukan dengan easangkan krooso hoolog yang ditentukan berdasarkan keiripan ukuran dan bentuk krooso (Parjanto, et al., 2003). E. Metode Analisis Data 1. Morfologi Data orfologis dianalisis dan disajikan secara deskriptif berdasarkan hasil pengaatan orfologi di lapang. 2. Sitologi Data sitologis dianalisis dan disajikan secara deskriptif berdasarkan pengaatan dari gabar krooso hasil peotretan, pengaatan panjang dan bentuk krooso. xxv

26 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Lokasi Lahan di Agrowisata Kusuo Wanadri Pantai Glagah Indah, Dusun Bebekan, Teon, Kulon Progo, Yogyakarta erupakan lahan berpasir dengan ketinggian tepat 5 dpl. Kondisi lingkungan tubuh tanaan buah naga di tepat penelitian eiliki rata-rata intensitas cahaya atahari harian antara 2860 lux lux. Suhu rata-rata harian antara 27 0 C-31 0 C. Kelebaban udara harian rata-rata antara 88%-93%. Curah hujan antara /th. Kondisi lingkungan tubuh tersebut sudah sesuai dengan syarat tubuh tanaan buah naga seperti yang dinyatakan oleh Kristanto (2003), bahwa suhu yang ideal bagi tanaan buah naga antara 26 0 C-36 0 C dan kelebaban yang dibutuhkan tanaan antara 70%-90%. Akan tetapi, pertubuhan tanaan buah naga kulit kuning akan optial jika ditana di daerah dingin dengan ketinggian tepat lebih dari 800 dpl. B. Deskripsi Akar Morfologi akar S. egalanthus eiliki beberapa kesaaan dengan akar tanaan buah naga genus Hylocereus. Kesaaan tersebut antara lain: akarnya berbentuk filiforis, eiliki rabut-rabut akar dengan julah sedang, warna akar putih kekuningan, dan eiliki siste perakaran serabut. Morfologi akar S. egalanthus juga eiliki perbedaan dengan akar tanaan buah naga genus Hylocereus yaitu dala hal julah akar. Julah akar S. egalanthus tidak sebanyak julah akar tanaan buah naga genus Hylocereus. Perbedaan julah akar antara Selenicereus dengan Hylocereus keungkinan berpengaruh terhadap pertubuhan tanaan. Pertubuhan Selenicereus cenderung lebih labat jika dibandingkan dengan pertubuhan Hylocereus. Hal ini diungkinkan karena pengaruh julah ineral-ineral yang apu diserap tanaan sehingga berpengaruh juga dala penghasilan zat-zat akanan yang didistribusikan ke seluruh bagian tanaan. 15 xxvi

TINJAUAN PUSTAKA Tanaman Buah Naga

TINJAUAN PUSTAKA Tanaman Buah Naga II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tanaman Buah Naga Buah naga ( Dragon Fruit) merupakan salah satu tanaman hortikultura yang baru dibudidayakan di Indonesia dengan warna buah merah yang menyala dan bersisik hijau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam skala prioritas pembangunan nasional dan daerah di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. dalam skala prioritas pembangunan nasional dan daerah di Indonesia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pebangunan ekonoi erupakan asalah penting bagi suatu negara, untuk itu sejak awal pebangunan ekonoi endapat tepat penting dala skala prioritas pebangunan nasional

Lebih terperinci

PELUANG BISNIS BUAH NAGA DI INDONESIA TUGAS AKHIR MATA KULIAH LINGKUNGAN BISNIS

PELUANG BISNIS BUAH NAGA DI INDONESIA TUGAS AKHIR MATA KULIAH LINGKUNGAN BISNIS PELUANG BISNIS BUAH NAGA DI INDONESIA TUGAS AKHIR MATA KULIAH LINGKUNGAN BISNIS Disusun oleh : RAHMANDHANI KURNIAWAN 11.02.8063 D3MI-03 STMIK AMIKOM YOGYAKARTA ABSTRAK Buah naga adalah buah dari beberapa

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pembekuan

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pembekuan II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pebekuan Pebekuan berarti peindahan panas dari bahan yang disertai dengan perubahan fase dari cair ke padat dan erupakan salah satu proses pengawetan yang uu dilakukan untuk penanganan

Lebih terperinci

TERMODINAMIKA TEKNIK II

TERMODINAMIKA TEKNIK II DIKTAT KULIAH TERMODINAMIKA TEKNIK II TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DARMA PERSADA 2005 i DIKTAT KULIAH TERMODINAMIKA TEKNIK II Disusun : ASYARI DARAMI YUNUS Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Tanaman Buah Naga

TINJAUAN PUSTAKA Tanaman Buah Naga II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tanaman Buah Naga Tanaman buah naga yang awalnya berasal dari Meksiko, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan. Buah naga masuk ke Indonesia dan menjadi populer sekitar tahun 2000

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Data dan Variabel 2.1.1 Data Pengertian data enurut Webster New World Dictionary adalah things known or assued, yang berarti bahwa data itu sesuatu yang diketahui atau dianggap.

Lebih terperinci

ISSN WAHANA Volume 67, Nomer 2, 1 Desember 2016

ISSN WAHANA Volume 67, Nomer 2, 1 Desember 2016 ISSN 0853 4403 WAHANA Volue 67, Noer 2, Deseber 206 PERBANDINGAN LATIHAN BOLA DIGANTUNG DAN BOLA DILAMBUNGKAN TERHADAP HASIL BELAJAR SEPAK MULA DALAM PERMAINAN SEPAK TAKRAW PADA SISWA PUTRA KELAS X-IS

Lebih terperinci

MENGUKUR MOMEN INERSIA BEBERAPA MODEL VELG SEPEDA MINI

MENGUKUR MOMEN INERSIA BEBERAPA MODEL VELG SEPEDA MINI KONSTAN: Jurnal Fisika dan Pendidikan Fisika (ISSN.460-919) Volue 1, No., Maret 016 MENGUKUR MOMEN INERSIA BEBERAPA MODEL VELG SEPEDA MINI 1 Suraidin, Islahudin, 3 M. Firan Raadhan 1 Mahasiswa Sarjana

Lebih terperinci

PSIKOLOGI PERKEMBAN GAN

PSIKOLOGI PERKEMBAN GAN PSIKOLOGI PERKEMBAN GAN 1 Definisi psikologi perkebangan Psikologi berasal dari bahasa yunani yaitu kata psikose yg berarti jiwa dan logos yg berarti ilu. Berarti psikologi adalah ilu yg ebahas tentang

Lebih terperinci

Gambar 1. Skema proses komunikasi dalam pembelajaran

Gambar 1. Skema proses komunikasi dalam pembelajaran 2 kurang tertarik epelajari pelajaran ilu pengetahuan ala karena etode pebelajaran yang diterapkan guru. Jadi etode pengajaran guru sangat epengaruhi inat belajar siswa dala epelajari ilu pengetahuan ala.

Lebih terperinci

Studi Eksperimen Pengaruh Alur Permukaan Sirip pada Sistem Pendingin Mesin Kendaraan Bermotor

Studi Eksperimen Pengaruh Alur Permukaan Sirip pada Sistem Pendingin Mesin Kendaraan Bermotor Jurnal Kopetensi Teknik Vol. 1, No. 1, Noveber 009 1 Studi Eksperien Pengaruh Alur Perukaan Sirip pada Siste Pendingin Mesin Kendaraan Berotor Sasudin Anis 1 dan Aris Budiyono 1, Jurusan Teknik Mesin,

Lebih terperinci

BAB GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK

BAB GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK BAB GLOMBANG LKTROMAGNTIK Contoh. Hubungan dan B dari gelobang bidang elektroagnetik Suatu gelobang bidang elektroagnetik sinusoidal dengan frekuensi 5 MHz berjalan di angkasa dala arah X, seperti ditunjukkan

Lebih terperinci

PEMETAAN MEDAN ELEKTROMAGNETIK PADA PEMUKIMAN PENDUDUK DI BAWAH JARINGAN SUTT 150 KV PLN WILAYAH KALIMANTAN BARAT

PEMETAAN MEDAN ELEKTROMAGNETIK PADA PEMUKIMAN PENDUDUK DI BAWAH JARINGAN SUTT 150 KV PLN WILAYAH KALIMANTAN BARAT PEMETAAN MEDAN ELEKTROMAGNETIK PADA PEMUKIMAN PENDUDUK DI BAWAH JARINGAN SUTT 5 KV PLN WILAYAH KALIMANTAN BARAT Baharuddin Progra Studi Teknik Elektro, Universitas Tanjungpura, Pontianak Eail : cithara89@gail.co

Lebih terperinci

BAB III PEMODELAN SISTEM DINAMIK PLANT. terbuat dari acrylic tembus pandang. Saluran masukan udara panas ditandai dengan

BAB III PEMODELAN SISTEM DINAMIK PLANT. terbuat dari acrylic tembus pandang. Saluran masukan udara panas ditandai dengan BAB III PEMODELAN SISTEM DINAMIK PLANT 31 Kriteria rancangan plant Diensi plant yang dirancang berukuran 40cx60cx50c, dinding terbuat dari acrylic tebus pandang Saluran asukan udara panas ditandai dengan

Lebih terperinci

PENGARUH BENTUK COVER TERHADAP PRODUKTIFITAS DAN EFISIENSI SOLAR STILL

PENGARUH BENTUK COVER TERHADAP PRODUKTIFITAS DAN EFISIENSI SOLAR STILL PENGARUH BENTUK COVER TERHADAP PRODUKTIFITAS DAN EFISIENSI SOLAR STILL Nova R. Isail Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Widyagaa Malang novarislapung@yahoo.co.id ABSTRACT Various distillation

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Botani Tanaman Bayam Bayam (Amaranthus sp.) merupakan tanaman semusim dan tergolong sebagai tumbuhan C4 yang mampu mengikat gas CO 2 secara efisien sehingga memiliki daya adaptasi

Lebih terperinci

Definisi 3.3: RUANG SAMPEL KONTINU Ruang sampel kontinu adalah ruang sampel yang anggotanya merupakan interval pada garis bilangan real.

Definisi 3.3: RUANG SAMPEL KONTINU Ruang sampel kontinu adalah ruang sampel yang anggotanya merupakan interval pada garis bilangan real. 0 RUANG SAMPEL Kita akan eperoleh ruang sapel, jika kita elakukan suatu eksperien atau percobaan. Eksperien disini erupakan eksperien acak. Misalnya kita elakukan suatu eksperien yang diulang beberapa

Lebih terperinci

Hukum II Newton. Untuk SMA kelas X. (Modul ini telah disesuaikan dengan KTSP)

Hukum II Newton. Untuk SMA kelas X. (Modul ini telah disesuaikan dengan KTSP) Huku II Newton Untuk SMA kelas X (Modul ini telah disesuaikan dengan KTSP) Lisensi Dokuen: Copyright 008 009 GuruMuda.Co Seluruh dokuen di GuruMuda.Co dapat digunakan dan disebarkan secara bebas untuk

Lebih terperinci

Diketik ulang oleh : Copyright Bank Soal OLIMPIADE IPA, MATEMATIKA, FISIKA, BIOLOGI, KIMIA, ASTRONOMI, INFORMATIKA, dll UNTUK

Diketik ulang oleh : Copyright  Bank Soal OLIMPIADE IPA, MATEMATIKA, FISIKA, BIOLOGI, KIMIA, ASTRONOMI, INFORMATIKA, dll UNTUK Copyright http://serbiserbi.co/ Bank Soal OLIMPIADE IPA, MATEMATIKA, FISIKA, BIOLOGI, 1 2 SOAL PILIHAN GANDA 1. Tahukah kalian, salah satu keunikan dari laba-laba pelopat adalah keistiewaan penglihatannya.

Lebih terperinci

Implementasi Histogram Thresholding Fuzzy C-Means untuk Segmentasi Citra Berwarna

Implementasi Histogram Thresholding Fuzzy C-Means untuk Segmentasi Citra Berwarna JURNAL TEKNIK POMITS Vol., No., (03) ISSN: 337-3539 (30-97 Print) Ipleentasi Histogra Thresholding Fuzzy C-Means untuk Segentasi Citra Berwarna Risky Agnesta Kusua Wati, Diana Purwitasari, Rully Soelaian

Lebih terperinci

PERANCANGAN SISTEM KOMPUTERISASI PROSES PINJAMAN DAN ANGSURAN PINJAMAN ANGGOTA KOPERASI ( STUDI KASUS PADA KOPERASI AMANAH SEJAHTERA SEMARANG )

PERANCANGAN SISTEM KOMPUTERISASI PROSES PINJAMAN DAN ANGSURAN PINJAMAN ANGGOTA KOPERASI ( STUDI KASUS PADA KOPERASI AMANAH SEJAHTERA SEMARANG ) PERANCANGAN SISTEM KOMPUTERISASI PROSES PINJAMAN DAN ANGSURAN PINJAMAN ANGGOTA KOPERASI ( STUDI KASUS PADA KOPERASI AMANAH SEJAHTERA SEMARANG ) Siti Munawaroh, S.Ko Abstrak: Koperasi Aanah Sejahtera erupakan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Konsep Dasar Graph Sebelu sapai pada pendefinisian asalah network flow, terlebih dahulu pada bagian ini akan diuraikan engenai konsep-konsep dasar dari odel graph dan representasinya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Mengetahui banyaknya penyakit yang diderita oleh masyarakat sekarang karena pola makan atau cara hidup mereka yang kurang sehat atau tidak memperdulikan lingkungan

Lebih terperinci

BAB III. METODE PENELITIAN. Tabel 1. Indikator/ Indikasi Penelitian

BAB III. METODE PENELITIAN. Tabel 1. Indikator/ Indikasi Penelitian 39 BAB III. METODE PENELITIAN 3.1. Tipe Penelitian Penelitian ini terasuk tipe penelitian dengan pendekatan analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Analisis ini dipergunakan untuk enggabarkan tentang

Lebih terperinci

Daftar Isi Standarisasi Harga dan Standarisasi Sarana dan Prasarana Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur

Daftar Isi Standarisasi Harga dan Standarisasi Sarana dan Prasarana Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur Daftar Isi 2014 1 Kata Pengantar 2014 KATA PENGANTAR Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat Rahmat dan Hidayah-Nya, maka Buku Standarisasi Harga dan Standarisasi Sarana

Lebih terperinci

PEMBENTUKAN SEL-SEL MESIN UNTUK MENDAPATKAN PENGURANGAN JARAK DAN BIAYA MATERIAL HANDLING DENGAN METODE HEURISTIK DI PT. BENGKEL COKRO BERSAUDARA

PEMBENTUKAN SEL-SEL MESIN UNTUK MENDAPATKAN PENGURANGAN JARAK DAN BIAYA MATERIAL HANDLING DENGAN METODE HEURISTIK DI PT. BENGKEL COKRO BERSAUDARA PEMBENTUKAN SEL-SEL MESIN UNTUK MENDAPATKAN PENGURANGAN JARAK DAN BIAYA MATERIAL HANDLING DENGAN METODE HEURISTIK DI PT. BENGKEL COKRO BERSAUDARA Babang Purwanggono, Andre Sugiyono Progra Studi Teknik

Lebih terperinci

SIFAT-SIFAT OPERASI ARITMATIKA, DETERMINAN DAN INVERS PADA MATRIKS INTERVAL TUGAS AKHIR. Oleh : NURSUKAISIH

SIFAT-SIFAT OPERASI ARITMATIKA, DETERMINAN DAN INVERS PADA MATRIKS INTERVAL TUGAS AKHIR. Oleh : NURSUKAISIH SIFAT-SIFAT OPERASI ARITMATIKA DETERMINAN DAN INVERS PADA MATRIKS INTERVAL TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Meperoleh Gelar Sarjana Sains pada Jurusan Mateatika Oleh : NURSUKAISIH 0854003938

Lebih terperinci

Aplikasi Information Retrieval (IR) CATA Dengan Metode Generalized Vector Space Model

Aplikasi Information Retrieval (IR) CATA Dengan Metode Generalized Vector Space Model Aplikasi Inforation Retrieval (IR) CATA Dengan Metode Generalized Vetor Spae Model Hendra Bunyain, Chathalea Puspa Negara Jurusan Teknik Inforatika Fakultas Teknologi Inforasi, Universitas Kristen Maranatha.

Lebih terperinci

SISTEM RESI GUDANG SOLUSI BAGI PETANI

SISTEM RESI GUDANG SOLUSI BAGI PETANI SISTEM RESI GUDANG SOLUSI AGI PETANI Noviarina Purnai Putri Siste Resi Gudang ulai di kenal di Indonesia sejak 5 tahun terakhir. Sebelu uncul Undang- Undang no 9 Tahun 2006 Tentang Siste Resi Gudang banyak

Lebih terperinci

MAKALAH SEMINAR TUGAS AKHIR ANALISIS TEKSTUR MENGGUNAKAN METODE TRANSFORMASI PAKET WAVELET Rosanita Listyaningrum*, Imam Santoso**, R.

MAKALAH SEMINAR TUGAS AKHIR ANALISIS TEKSTUR MENGGUNAKAN METODE TRANSFORMASI PAKET WAVELET Rosanita Listyaningrum*, Imam Santoso**, R. 1 MAKALAH SEMINAR TUGAS AKHIR ANALISIS TEKSTUR MENGGUNAKAN METODE TRANSFORMASI PAKET WAVELET Rosanita Listyaningru*, Ia Santoso**, R.Rizal Isnanto** Abstrak - Tekstur adalah karakteristik yang penting

Lebih terperinci

PENENTUAN BESAR CADANGAN PADA ASURANSI JIWA BERSAMA DWIGUNA DENGAN MENGGUNAKAN METODE ILLINOIS

PENENTUAN BESAR CADANGAN PADA ASURANSI JIWA BERSAMA DWIGUNA DENGAN MENGGUNAKAN METODE ILLINOIS Jurnal Mateatika UNAND Vol. 5 No. 3 Hal. 85 91 ISSN : 2303 2910 c Jurusan Mateatika FMIPA UNAND PENENTUAN BESAR CADANGAN PADA ASURANSI JIWA BERSAMA DWIGUNA DENGAN MENGGUNAKAN METODE ILLINOIS FERDY NOVRI

Lebih terperinci

BUKU 3 : PEDOMAN PENGAWAS / PEMERIKSA

BUKU 3 : PEDOMAN PENGAWAS / PEMERIKSA BADAN PUSAT STATISTIK BUKU 3 : PEDOMAN PENGAWAS / PEMERIKSA SURVEI INDUSTRI MIKRO DAN KECIL TAHUNAN T A H U N 2 0 1 5 (VIMK15 TAHUNAN) Pedoan Teknis Pipinan BPS Provinsi, Kabupaten/Kota VIMK15 Tahunan

Lebih terperinci

Membelajarkan Geometri dengan Program GeoGebra

Membelajarkan Geometri dengan Program GeoGebra Mebelajarkan Geoetri dengan Progra GeoGebra Oleh : Jurusan Pendidikan Mateatika FMIPA UNY Yogyakarta Eail: ali_uny73@yahoo.co ABSTRAK Peanfaatan teknologi koputer dengan berbagai progranya dala pebelajaran

Lebih terperinci

PERHITUNGAN INTEGRAL FUNGSI REAL MENGGUNAKAN TEKNIK RESIDU

PERHITUNGAN INTEGRAL FUNGSI REAL MENGGUNAKAN TEKNIK RESIDU PERHITUNGAN INTEGRAL FUNGSI REAL MENGGUNAKAN TEKNIK RESIDU Warsito (warsito@ail.ut.ac.id) Universitas Terbuka ABSTRAT A function f ( x) ( is bounded and continuous in (, ), so the iproper integral of rational

Lebih terperinci

Pengendalian Kualitas Proses Produksi Teh Hitam di PT. Perkebunan Nusantara XII Unit Sirah Kencong

Pengendalian Kualitas Proses Produksi Teh Hitam di PT. Perkebunan Nusantara XII Unit Sirah Kencong JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 5 No. (016) 337-350 (301-98X Print) D-37 Pengendalian Kualitas Proses Produksi Teh Hita di PT. Perkebunan Nusantara XII Unit Sirah Kencong Qulsu Dwi Anggraini, Haryono, Diaz

Lebih terperinci

dimana p = massa jenis zat (kg/m 3 ) m= massa zat (kg) V= Volume zat (m 3 ) Satuan massa jenis berdasarkan Sistem Internasional(SI) adalah kg/m 3

dimana p = massa jenis zat (kg/m 3 ) m= massa zat (kg) V= Volume zat (m 3 ) Satuan massa jenis berdasarkan Sistem Internasional(SI) adalah kg/m 3 Zat dan Wujudnya Massa Jenis Jika kau elihat kapas yang berassa 1 kg dan batu berassa 1 kg, apa ada di benaku? Massa Jenis adalah perbandingan antara assa benda dengan volue benda Massa jenis zat tidak

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Sejarah Tanaman Cabai Botani Tanaman Cabai

TINJAUAN PUSTAKA Sejarah Tanaman Cabai Botani Tanaman Cabai 3 TINJAUAN PUSTAKA Sejarah Tanaman Cabai Cabai ditemukan pertama kali oleh Columbus pada saat menjelajahi Dunia Baru. Tanaman cabai hidup pada daerah tropis dan wilayah yang bersuhu hangat. Selang beberapa

Lebih terperinci

ASPEK BIOLOGI TANAMAN KOPI Oleh : Abd. Muis, SP.

ASPEK BIOLOGI TANAMAN KOPI Oleh : Abd. Muis, SP. ASPEK BIOLOGI TANAMAN KOPI Oleh : Abd. Muis, SP. Sifat dan perilaku tanaman kopi dapat dipelajari dari sisi biologinya. Artikel ini ditujukan untuk memberikan pengetahuan tentang beberapa aspek biologi

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Kondisi Umum Lokasi Penelitian

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Kondisi Umum Lokasi Penelitian IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kondisi Umum Lokasi Penelitian Tanaman salak yang digunakan pada penelitian ini adalah salak pondoh yang ditanam di Desa Tapansari Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman Yogyakarta.

Lebih terperinci

ABSTRAK. Keywords: Economic Quantity Production, Nasution, A.H, Perencanaan dan Pengendalian Persediaan. ABSTRACT

ABSTRAK. Keywords: Economic Quantity Production, Nasution, A.H, Perencanaan dan Pengendalian Persediaan. ABSTRACT PERECANAAN DAN PENGENDALIAN PRODUKSI UNTUK MEMINIMALKAN BIAYA PRODUKSI DENGAN METODE ECONOMIC PRODUCTION QUANTITY MULTI ITEM DI CV. FAJAR TEKNIK SEJAHTERA Dio Kharisa Putra, Rusindiyanto dan Budi Santoso

Lebih terperinci

ANALISIS PENGARUH GANGGUAN HEAT TRANSFER KONDENSOR TERHADAP PERFORMANSI AIR CONDITIONING. Puji Saksono 1) ABSTRAK

ANALISIS PENGARUH GANGGUAN HEAT TRANSFER KONDENSOR TERHADAP PERFORMANSI AIR CONDITIONING. Puji Saksono 1) ABSTRAK ANALISIS PENGARUH GANGGUAN HEAT TRANSFER KONDENSOR TERHADAP PERFORMANSI AIR CONDITIONING Puji Saksono 1) ABSTRAK Kondensor erupakan alat penukar kalor pada sisti refrigerasi yang berfungsi untuk elepaskan

Lebih terperinci

BILANGAN PRIMA : PERKEMBANGAN DAN APLIKASINYA

BILANGAN PRIMA : PERKEMBANGAN DAN APLIKASINYA J. J. Siang BILANGAN PRIMA : PERKEMBANGAN DAN APLIKASINYA Intisari Dala tulisan ini dipaparkan engenai sejarah peneuan bilangan pria, pengujian bilangan pria besar, serta salah satu aplikasinya dala kriptografi

Lebih terperinci

DISTRIBUSI DUA PEUBAH ACAK

DISTRIBUSI DUA PEUBAH ACAK 0 DISTRIBUSI DUA PEUBAH ACAK Dala hal ini akan dibahas aca-aca fungsi peluang atau fungsi densitas ang berkaitan dengan dua peubah acak, aitu distribusi gabungan, distribusi arginal, distribusi bersarat,

Lebih terperinci

Sphaira Mobile Electronic Medical Record (m-emr) Mobile Application untuk pelayanan medis yang lebih baik

Sphaira Mobile Electronic Medical Record (m-emr) Mobile Application untuk pelayanan medis yang lebih baik Sphaira Mobile Electronic Medical Record (-EMR) Mobile Application untuk pelayanan edis yang lebih baik Para narasuber di peluncuran aplikasi Sphaira Mobile pada tablet Windows 8 (ki-ka) Rudy Surjanto

Lebih terperinci

BUKU 3 PEDOMAN PENGAWAS/PEMERIKSA BADAN PUSAT STATISTIK

BUKU 3 PEDOMAN PENGAWAS/PEMERIKSA BADAN PUSAT STATISTIK BUKU 3 PEDOMAN PENGAWAS/PEMERIKSA BADAN PUSAT STATISTIK BAB I PENGAWASAN DAN PEMERIKSAAN 11 Latar Belakang Keberhasilan suatu kegiatan survei tidak terlepas dari tanggung jawab, fungsi dan peran seluruh

Lebih terperinci

Pedoman Pemeriksa/Pengawas VIMK14 Triwulanan

Pedoman Pemeriksa/Pengawas VIMK14 Triwulanan Pedoan Peeriksa/Pengawas VIMK14 Triwulanan i ii Pedoan Pengawas/ Peeriksa VIMK14 Triwulanan DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI iii I PENGAWASAN DAN PEMERIKSAAN 11 Latar Belakang 1 12 Fungsi Pengawas

Lebih terperinci

BAB V PERENCANAAN STRUKTUR

BAB V PERENCANAAN STRUKTUR BAB V PERENCANAAN STRUKTUR 5.1. TINJAUAN UMUM Dala perencanaan suatu bangunan pantai harus ditetapkan terlebih dahulu paraeter-paraeter yang berperan dalan perhitungan struktur. Paraeterparaeter tersebut

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM PH METER, PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGAN, DAN PENGENCERAN

LAPORAN PRAKTIKUM PH METER, PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGAN, DAN PENGENCERAN LAPORAN PRAKTIKUM PH METER, PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGAN, DAN PENGENCERAN NAMA PRAKTIKAN : Raadhan Bestari T. Barlian GRUP PRAKTIKAN : Grup Pagi (08.00-11.00) KELOMPOK : 2 HARI/TGL. PRAKTIKUM : Kais, 17

Lebih terperinci

NISBAH KELAMIN TERHADAP PERSILANGAN STRAIN m>< m, e >< e dan m >< ebeserta RESIPROKNYA PADA Drosophila melanogaster

NISBAH KELAMIN TERHADAP PERSILANGAN STRAIN m>< m, e >< e dan m >< ebeserta RESIPROKNYA PADA Drosophila melanogaster NISBAH KELAMIN TERHADAP PERSILANGAN STRAIN >< e dan >< ebeserta RESIPROKNYA PADA Drosophila elanogaster LAPORAN PROYEK Untuk eenuhi tugas atakuliah Genetika I yang dibina oleh Prof. Dr. Arg. Mohaad

Lebih terperinci

Efektifitas fasad selubung ganda dalam mengurangi beban panas pada dinding luar bangunan

Efektifitas fasad selubung ganda dalam mengurangi beban panas pada dinding luar bangunan TEMU ILMIAH IPLBI 2014 Efektifitas fasad selubung ganda dala engurangi beban panas pada dinding luar bangunan Rosady Mulyadi Laboratoriu Sains dan Teknologi Bangunan, Progra Studi Arsitektur, Fakultas

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN TRANSAKSI KLAIM BERBASIS WEB PADA PERUSAHAAN ASURANSI KESEHATAN (Studi Kasus PT. Asuransi Jiwa InHealth Pekanbaru)

RANCANG BANGUN TRANSAKSI KLAIM BERBASIS WEB PADA PERUSAHAAN ASURANSI KESEHATAN (Studi Kasus PT. Asuransi Jiwa InHealth Pekanbaru) Jurnal Teknik Inforatika, Vol 1 Septeber 2012 RANCANG BANGUN TRANSAKSI KLAIM BERBASIS WEB PADA PERUSAHAAN ASURANSI KESEHATAN (Studi Kasus PT. Asuransi Jiwa InHealth Pekanbaru) Dodi Wahyudi, Dadang Syarif

Lebih terperinci

MODUL PERTEMUAN KE 6 MATA KULIAH : FISIKA TERAPAN

MODUL PERTEMUAN KE 6 MATA KULIAH : FISIKA TERAPAN 43 MODUL PERTEMUAN KE 6 MATA KULIAH : MATERI KULIAH: Mekanika klasik, Huku Newton I, Gaya, Siste Satuan Mekanika, Berat dan assa, Cara statik engukur gaya.. POKOK BAHASAN: DINAMIKA PARTIKEL 6.1 MEKANIKA

Lebih terperinci

KLASIFIKASI JENIS POHON MANGGA GADUNG DAN CURUT BERDASARKAN TESKTUR DAUN

KLASIFIKASI JENIS POHON MANGGA GADUNG DAN CURUT BERDASARKAN TESKTUR DAUN SESINDO 011-Jurusan Siste Inforasi ITS KLASIFIKASI JENIS POHON MANGGA GADUNG DAN CURUT BERDASARKAN TESKTUR DAUN Soffiana Agustin 1), Eko Prasetyo ) 1,) Progra Studi Teknik Inforatika, Fakultas Teknik,

Lebih terperinci

SISTEM PELAPORAN KEPEMILIKAN DOKUMEN KEPENDUDUKAN DINAS KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL KABUPATEN OGAN ILIR BERBASIS WEB

SISTEM PELAPORAN KEPEMILIKAN DOKUMEN KEPENDUDUKAN DINAS KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL KABUPATEN OGAN ILIR BERBASIS WEB SISTEM PELAPORAN KEPEMILIKAN DOKUMEN KEPENDUDUKAN DINAS KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL KABUPATEN OGAN ILIR BERBASIS WEB Nopian Sidiq Rudi Tazil Roadini Jurusan Siste Inforasi STMIK PalCoTech Palebang

Lebih terperinci

ANALISIS PERBANDINGAN NILAI TAHANAN PENTANAHAN YANG DITANAM DI TANAH DAN DI SEPTICTANK PADA PERUMAHAN

ANALISIS PERBANDINGAN NILAI TAHANAN PENTANAHAN YANG DITANAM DI TANAH DAN DI SEPTICTANK PADA PERUMAHAN 1 MAKALAH SEMINAR TUGAS AKHIR ANALISIS PERBANDINGAN NILAI TAHANAN PENTANAHAN YANG DITANAM DI TANAH DAN DI SEPTICTANK PADA PERUMAHAN Arif Derawan, Ir. Juningtyastuti**, Abdul Syakur, S.T.,M.T.** Jurusan

Lebih terperinci

PETUNJUK UMUM Pengerjaan Soal Tahap Final Diponegoro Physics Competititon Tingkat SMA

PETUNJUK UMUM Pengerjaan Soal Tahap Final Diponegoro Physics Competititon Tingkat SMA PETUNJUK UMUM Pengerjaan Soal Tahap Final Diponegoro Physics Copetititon Tingkat SMA 1. Ujian Eksperien berupa Naskah soal beserta lebar jawaban dan kertas grafik. 2. Waktu keseluruhan dala eksperien dan

Lebih terperinci

Bab 2 Tinjauan Pustaka

Bab 2 Tinjauan Pustaka 5 Bab 2 Tinjauan Pustaka 2.1. Definisi Penjadwalan Penjadwalan adalah kegiatan pengalokasian suber-suber atau esin-esin yang ada untuk enjalankan sekupulan tugas dala jangka waktu tertentu. (Baker,1974).

Lebih terperinci

Sistem Linear Max-Plus Interval Waktu Invariant

Sistem Linear Max-Plus Interval Waktu Invariant Siste Linear Max-Plus Interval Waktu Invariant A 11 M. Andy udhito Progra Studi Pendidikan Mateatika FKIP Universitas Sanata Dhara Paingan Maguwoharjo Yogyakarta eail: arudhito@yahoo.co.id Abstrak elah

Lebih terperinci

BAB II PENYEARAH DAYA

BAB II PENYEARAH DAYA BAB II PENYEARAH DAYA KOMPETENSI DASAR Setelah engikuti ateri ini diharapkan ahasiswa eiliki kopetensi: Menguasai karakteristik penyearah setengah-gelobang dan gelobang-penuh satu fasa dan tiga fasa Menguasai

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman mentimun ( Cucumis sativus L.) (Cahyono, 2006) dalam tata nama tumbuhan, diklasifikasikan kedalam :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman mentimun ( Cucumis sativus L.) (Cahyono, 2006) dalam tata nama tumbuhan, diklasifikasikan kedalam : 1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Mentimun Klasifikasi tanaman mentimun ( Cucumis sativus L.) (Cahyono, 2006) dalam tata nama tumbuhan, diklasifikasikan kedalam : Divisi :

Lebih terperinci

PENDEKATAN ANALISIS FUZZY CLUSTERING

PENDEKATAN ANALISIS FUZZY CLUSTERING PENDEKATAN ANALISIS FUZZY CLUSTERING PADA PENGELOMPOKKAN STASIUN POS HUJAN UNTUK MEMBUAT ZONA PRAKIRAAN IKLIM (ZPI) (Studi Kasus Pengelopokkan Zona Prakiraan Ikli (ZPI) dengan Data Curah Hujan di Kabupaten

Lebih terperinci

BAB 4 KAJI PARAMETRIK

BAB 4 KAJI PARAMETRIK Bab 4 Kaji Paraetrik BAB 4 Kaji paraetrik ini dilakukan untuk endapatkan suatu grafik yang dapat digunakan dala enentukan ukuran geoetri tabung bujursangkar yang dibutuhkan, sehingga didapatkan harga P

Lebih terperinci

MATRIKS DALAM LABORATORIUM oleh : Sugata Pikatan

MATRIKS DALAM LABORATORIUM oleh : Sugata Pikatan Kristal no.12/april/1995 1 MATRIKS DALAM LABORATORIUM oleh : Sugata Pikatan Di dala ateatika anda pasti sudah pernah berhadapan dengan sebuah siste persaaan linier. Cacah persaaan yang berada di dala siste

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Bab ini akan menguraikan mengenai Latar Belakang Penelitian, Identifikasi Masalah, Maksud dan Tujuan Penelitian, Manfaat dan Kegunaan

I PENDAHULUAN. Bab ini akan menguraikan mengenai Latar Belakang Penelitian, Identifikasi Masalah, Maksud dan Tujuan Penelitian, Manfaat dan Kegunaan I PENDAHULUAN Bab ini akan menguraikan mengenai Latar Belakang Penelitian, Identifikasi Masalah, Maksud dan Tujuan Penelitian, Manfaat dan Kegunaan Penelitian, Kerangka pemikiran, Hipotesis Penelitian,

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN SISTEM APLIKASI MANAJEMEN SOAL PADA BIMBINGAN BELAJAR PRIMAGAMA (STUDI KASUS PRIMAGAMA PONTIANAK) Budi Heriyanto

RANCANG BANGUN SISTEM APLIKASI MANAJEMEN SOAL PADA BIMBINGAN BELAJAR PRIMAGAMA (STUDI KASUS PRIMAGAMA PONTIANAK) Budi Heriyanto RANCANG BANGUN SISTEM APLIKASI MANAJEMEN SOAL PADA BIMBINGAN BELAJAR PRIMAGAMA (STUDI KASUS PRIMAGAMA PONTIANAK) Budi Heriyanto Progra Studi Teknik Inforatika Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas

Lebih terperinci

Model Sistem Informasi Pencatatan Pengembangan Bangunan Gedung

Model Sistem Informasi Pencatatan Pengembangan Bangunan Gedung ISSN: 026-3284 077 Model Siste Inforasi Pencatatan Pengebangan Bangunan Gedung Rakhat Fajri, Rintana Arnie STMIK Banjarbaru Jalan Ahad Yani K. 33,5 Banjarbaru riefaz@gail.co, rintana.bj@gail.co Abstrak

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. menjadi tegas, kering, berwarna terang segar bertepung. Lembab-berdaging jenis

TINJAUAN PUSTAKA. menjadi tegas, kering, berwarna terang segar bertepung. Lembab-berdaging jenis 16 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Ada 2 tipe akar ubi jalar yaitu akar penyerap hara di dalam tanah dan akar lumbung atau umbi. Menurut Sonhaji (2007) akar penyerap hara berfungsi untuk menyerap unsur-unsur

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani Tanaman Tomat Tanaman tomat termasuk tanaman semusim yang berumur sekitar 4 bulan (Pudjiatmoko, 2008). Klasifikasi tanaman tomat adalah sebagai berikut: Divisi : Spermatophyta

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2005 TENTANG PENGANGKATAN TENAGA HONORER MENJADI CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2005 TENTANG PENGANGKATAN TENAGA HONORER MENJADI CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2005 TENTANG PENGANGKATAN TENAGA HONORER MENJADI CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menibang

Lebih terperinci

BAB III ANALISA TEORETIK

BAB III ANALISA TEORETIK BAB III ANALISA TEORETIK Pada bab ini, akan dibahas apakah ide awal layak untuk direalisasikan dengan enggunakan perhitungan dan analisa teoretik. Analisa ini diperlukan agar percobaan yang dilakukan keudian

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI, PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI NOMOR 4 TAHUN 2016 TENTANG PERSYARATAN UMUM DAN PERSYARATAN TEKNIS GUDANG TERTUTUP DALAM SISTEM RESI GUDANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK WATER CHILLER

KARAKTERISTIK WATER CHILLER Karakteristik Water Chiller (PK Purwadi dan Wibowo Kusbandono KARAKTERISTIK WATER CHILLER PK Purwadi dan Wibowo Kusbandono ABSTRACT The quantities of cooling load and the condition of air in air conditioning

Lebih terperinci

PEMILIHAN KRITERIA DALAM PEMBUATAN KARTU KREDIT DENGAN MENGGUNAKAN METODE FUZZY AHP

PEMILIHAN KRITERIA DALAM PEMBUATAN KARTU KREDIT DENGAN MENGGUNAKAN METODE FUZZY AHP E-Jurnal Mateatika Vol. 3, No. Januari 204, 25-32 ISSN: 2303-75 PEMILIHAN KRITERIA DALAM PEMBUATAN KARTU KREDIT DENGAN MENGGUNAKAN METODE FUZZY AHP JOKO HADI APRIANTO, G. K. GANDHIADI 2, DESAK PUTU EKA

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB LANDASAN TEORI. Beberapa Defenisi Pada analisa keputusan, si pebuat keputusan selalu doinan terhadap penjabaran seluruh alternatif yang terbuka, eperkirakan konsequensi yang perlu dihadapi pada setiap

Lebih terperinci

Panel Akustik Ramah Lingkungan Berbahan Dasar Limbah Batu Apung Dengan Pengikat Poliester

Panel Akustik Ramah Lingkungan Berbahan Dasar Limbah Batu Apung Dengan Pengikat Poliester Proceeding Seinar Nasional Tahunan Teknik Mesin XIV (SNTTM XIV) Banjarasin, 7-8 Oktober 2015 Panel Akustik Raah Lingkungan Berbahan Dasar Libah Batu Apung Dengan Pengikat Poliester Ngakan Putu Gede Suardana

Lebih terperinci

Kecepatan atom gas dengan distribusi Maxwell-Boltzmann (1) Oleh: Purwadi Raharjo

Kecepatan atom gas dengan distribusi Maxwell-Boltzmann (1) Oleh: Purwadi Raharjo Kecepatan ato gas dengan distribusi Mawell-Boltzann () Oleh: Purwadi Raharjo Dala proses odifikasi perukaan bahan, kita ungkin sering endengar teknologi pelapisan tipis (thin fil). Selain pelapisan tipis,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Trustinah (1993) sistematika (taksonomi) kacang tanah diklasifikasikan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Trustinah (1993) sistematika (taksonomi) kacang tanah diklasifikasikan 7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Taksonomi dan Morfologi Menurut Trustinah (1993) sistematika (taksonomi) kacang tanah diklasifikasikan sebagai berikut. Kingdom Divisi Sub-divisi Class Ordo Famili Genus Spesies

Lebih terperinci

Jl. Ir. Sutami 36A, Surakarta 57126; Telp

Jl. Ir. Sutami 36A, Surakarta 57126; Telp SIMULASI PERILAKU PONDASI GABUNGAN TELAPAK DAN SUMURAN DENGAN VARIASI DIMENSI TELAPAK DAN DIAMETER SUMURAN PADA TANAH LEMPUNG BERLAPIS DITINJAU DARI NILAI PENURUNAN Habib Abduljabar Waskito 1), Niken Sili

Lebih terperinci

PENGARUH GREEN MARKETING TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK HIJAU TEH KOTAK ABSTRAK

PENGARUH GREEN MARKETING TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK HIJAU TEH KOTAK ABSTRAK PENGARUH GREEN MARKETING TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK HIJAU TEH KOTAK ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh green marketing mix yang terdiri dari produk, promosi, harga dan

Lebih terperinci

ANALISIS ALGORITMA LOCALLY OPTIMAL HARD HANDOFF TERHADAP KECEPATAN DAN KORELASI JARAK

ANALISIS ALGORITMA LOCALLY OPTIMAL HARD HANDOFF TERHADAP KECEPATAN DAN KORELASI JARAK ANALISIS ALGORITMA LOCALLY OPTIMAL HARD HANDOFF TERHADAP KECEPATAN DAN KORELASI JARAK Lucky T Sianjuntak, Maksu Pine Departeen Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Suatera Utara, Medan e-ail : LuckyTrasya@gail.co

Lebih terperinci

2016, No Noor 10 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Undang- Undang Noor 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Kooditi (Lebaran Negara Rep

2016, No Noor 10 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Undang- Undang Noor 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Kooditi (Lebaran Negara Rep No.1513, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BAPEPPTI. Gudang Tertutup. Persyaratan Uu dan Teknis. Pencabutan. PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI NOMOR 4 TAHUN 2016 TENTANG

Lebih terperinci

BAB III METODE BEDA HINGGA CRANK-NICOLSON

BAB III METODE BEDA HINGGA CRANK-NICOLSON BAB III METODE BEDA HINGGA CRANK-NICOLSON 3. Metode Beda Hingga Crank-Nicolson (C-N) Metode Crank-Nicolson dikebangkan oleh Crank John dan Phyllips Nicholson pada pertengahan abad ke-, etode ini erupakan

Lebih terperinci

BAB III m BAHASAN KONSTRUKSI GF(3 ) dalam penelitian ini dapat dilakukan dengan mengacu pada konsep perluasan filed pada Bab II bagian 2.8.

BAB III m BAHASAN KONSTRUKSI GF(3 ) dalam penelitian ini dapat dilakukan dengan mengacu pada konsep perluasan filed pada Bab II bagian 2.8. BAB III BAHASAN KONSTRUKSI GF( ) Untuk engonstruksi GF( ) dala penelitian ini dapat dilakukan dengan engacu pada konsep perluasan filed pada Bab II bagian 28 Karena adalah bilangan pria, aka berdasarkan

Lebih terperinci

Prediksi Umur Kelelahan Struktur Keel Buoy Tsunami dengan Metode Spectral Fatigue Analysis

Prediksi Umur Kelelahan Struktur Keel Buoy Tsunami dengan Metode Spectral Fatigue Analysis JURNAL TEKNIK ITS Vol., (Sept, ) ISSN: 3-97 G-59 Prediksi Uur Kelelahan Struktur Keel Buoy Tsunai dengan Metode Spectral Fatigue Analysis Angga Yustiawan dan Ketut Suastika Jurusan Teknik Perkapalan, Fakultas

Lebih terperinci

ABSTRACT. vii. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRACT. vii. Universitas Kristen Maranatha ABSTRACT This study aimed to test whether the discipline of work affecting the performance of the Regional Water Company employees Tirtawening Bandung. The study was conducted on the distribution of clean

Lebih terperinci

USULAN PERBAIKAN RANCANGAN TATA LETAK MESIN MENGGUNAKAN GROUP TECHNOLOGY DENGAN METODE RANK ORDER CLUSTERING 2 (ROC2) (STUDI KASUS DI PT.

USULAN PERBAIKAN RANCANGAN TATA LETAK MESIN MENGGUNAKAN GROUP TECHNOLOGY DENGAN METODE RANK ORDER CLUSTERING 2 (ROC2) (STUDI KASUS DI PT. USULAN PERBAIKAN RANCANGAN TATA LETAK MESIN MENGGUNAKAN GROUP TECHNOLOGY DENGAN METODE RANK ORDER CLUSTERING 2 (ROC2) (STUDI KASUS DI PT.STALLION) Kartika Suhada, Santoso 2, Bobby Christian Mandagi 3 Absak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan nama latin Syzygium aromaticum atau Eugenia aromaticum. Tanaman

BAB I PENDAHULUAN. dengan nama latin Syzygium aromaticum atau Eugenia aromaticum. Tanaman BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Cengkeh adalah tumbuhan asli Maluku, Indonesia. Cengkeh dikenal dengan nama latin Syzygium aromaticum atau Eugenia aromaticum. Tanaman asli Indonesia ini tergolong

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Caisim (Brassica juncea L.) Caisim merupakan jenis sayuran yang digemari setelah bayam dan kangkung (Haryanto dkk, 2003). Tanaman caisim termasuk dalam famili Cruciferae

Lebih terperinci

Pembuatan dan Karakteristik Komposit Polimer Berpenguat Bagasse

Pembuatan dan Karakteristik Komposit Polimer Berpenguat Bagasse JURNL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 2, (2013) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) F-208 Pebuatan dan Karakteristik Koposit Polier Berpenguat Bagasse Eqitha Dea Clareyna dan Lizda Johar Mawarani Jurusan Teknik

Lebih terperinci

REVIEW GERAK HARMONIS SEDERHANA

REVIEW GERAK HARMONIS SEDERHANA REVIEW GERAK HARMONIS SEDERHANA Di sekitar kita banyak benda yang bergetar atau berosilasi, isalnya assa yang terikat di ujung pegas, garpu tala, gerigi pada ja ekanis, penggaris elastis yang salah satu

Lebih terperinci

SKRIPSI PENGARUH APLIKASI UNSUR FE PADA KONDISI CEKAMAN KEKERINGAN TERHADAP TANAMAN TOMAT. Oleh Aprilia Ike Nurmalasari H

SKRIPSI PENGARUH APLIKASI UNSUR FE PADA KONDISI CEKAMAN KEKERINGAN TERHADAP TANAMAN TOMAT. Oleh Aprilia Ike Nurmalasari H SKRIPSI PENGARUH APLIKASI UNSUR FE PADA KONDISI CEKAMAN KEKERINGAN TERHADAP TANAMAN TOMAT Oleh Aprilia Ike Nurmalasari H0709011 PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

Lebih terperinci

III HASIL DAN PEMBAHASAN

III HASIL DAN PEMBAHASAN 7 III HASIL DAN PEMBAHASAN 3. Analisis Metode Dala penelitian ini akan digunakan etode hootopi untuk enyelesaikan persaaan Whitha-Broer-Koup (WBK), yaitu persaaan gerak bagi perabatan gelobang pada perairan

Lebih terperinci

PEMBUATAN APLIKASI PELACAKAN LOKASI UNTUK MEMONITOR KELOMPOK BERBASIS ANDROID

PEMBUATAN APLIKASI PELACAKAN LOKASI UNTUK MEMONITOR KELOMPOK BERBASIS ANDROID PEMBUATAN APLIKASI PELACAKAN LOKASI UNTUK MEMONITOR KELOMPOK BERBASIS ANDROID Rody Verdika Cahyadi *), Kodrat Ian Satoto, and R. Rizal Isnanto Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro,

Lebih terperinci

PERANCANGAN TATA LETAK SEL UNTUK MEMINIMASI VARIASI BEBAN SEL DAN MAKESPAN

PERANCANGAN TATA LETAK SEL UNTUK MEMINIMASI VARIASI BEBAN SEL DAN MAKESPAN PERANCANGAN TATA LETAK SEL UNTUK MEMINIMASI VARIASI BEBAN SEL DAN MAKESPAN Agus Ristono Teknik Industri UPN Veteran Yogyakarta Jl. Babarsari 02 Tabakbayan Yogyakarta Indonesia 55281 Phone: + 62 274 485

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2. Graf Graf G= (V G,E G ) adalah suatu siste yang terdiri dari hipunan berhingga tak kosong V G dari objek yang dinaakan titik (ertex) dan hipunan E G, pasangan tak berurut dari

Lebih terperinci

ANALISA GELOMBANG KEJUT TERHADAP KARAKTERISTIK ARUS LALU LINTAS DI JALAN WALANDA MARAMIS BITUNG

ANALISA GELOMBANG KEJUT TERHADAP KARAKTERISTIK ARUS LALU LINTAS DI JALAN WALANDA MARAMIS BITUNG Jurnal Iliah MEDIA ENGINEERING Vol. 3, No. 2, Juli 2013 ISSN 2087-9334 (94-98) ANALISA GELOMBANG KEJUT TERHADAP KARAKTERISTIK ARUS LALU LINTAS DI JALAN WALANDA MARAMIS BITUNG Octaviani Litwina Ada Aluni

Lebih terperinci

ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM INFORMASI KEPENDUDUKAN DI DESA WANUREJO, BOROBUDUR, MAGELANG NASKAH PUBLIKASI

ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM INFORMASI KEPENDUDUKAN DI DESA WANUREJO, BOROBUDUR, MAGELANG NASKAH PUBLIKASI ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM INFORMASI KEPENDUDUKAN DI DESA WANUREJO, BOROBUDUR, MAGELANG NASKAH PUBLIKASI diajukan oleh Desy Verina Sari 0.2.480 kepada SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk melihat kenampakan sel secara utuh. Maserasi pada jaringan tumbuhan

BAB I PENDAHULUAN. untuk melihat kenampakan sel secara utuh. Maserasi pada jaringan tumbuhan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Maserasi merupakan salah satu teknik pembuatan preparat yang digunakan untuk melihat kenampakan sel secara utuh. Maserasi pada jaringan tumbuhan dengan cara memisahkan

Lebih terperinci

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Angka Gizi Buruk Di Jawa Timur dengan Pendekatan Regresi Nonparametrik Spline

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Angka Gizi Buruk Di Jawa Timur dengan Pendekatan Regresi Nonparametrik Spline JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol., No., (Sept. ) ISSN: 3-9X D-77 Faktor-Faktor yang Mepengaruhi Angka Gizi Buruk Di Jawa Tiur dengan Pendekatan Regresi Nonparaetrik Spline Riana Kurnia Dewi, I Nyoan Budiantara

Lebih terperinci