BAB 2 LANDASAN TEORI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Transkripsi

1 BAB 2 LANDASAN TEORI 2. Teor-teor Dasar Untuk dapat mengert tentang robot dan knematka dalam bdang robotka, beberapa pengetahuan umum dalam robotka dan matematka perlu dketahu. 2.. Defns Robot Istlah robot berasal dar perkataan zech robota, ang berart kerja. Kamus besar Webster memberkan defns mengena robot, atu sebuah peralatan otomats ang melakukan pekerjaan sepert apa ang dlakukan manusa Klasfkas Umum Robot Berdasarkan fungsna robot dapat dklasfkaskan ke dalam 2 bagan besar, atu: a. Industral Robot, dgunakan pada sektor ndustr sepert, membantu dalam proses peraktan kendaraan, mengelas, dan sebagana. b. Servce Robot, merupakan robot ang berfungs membantu manusa dalam membershkan rumah, membantu dokter melakukan operas, menjad pemandu wsata, dan lan-lan. Berdasarkan sfat mobltasna, robot dklasfkaskan ke dalam 2 bagan besar, atu:

2 9 a. Fed Robot, robot ang memlk ruang kerja (spatal space) ang terbatas, d mana bagan dasarna (Base) dlekatkan pada sebuah benda tetap sepert panel atau meja. b. Moble Robot, robot ang memlk ruang kerja ang cukup luas, d mana bagan dasarna dlekatkan pada sebuah alat gerak sepert roda/ban atau kak Hukum Asmov Seorang penuls certa fks lmah, Isaac Asmov, pernah memberkan tga hukum pentng mengena tngkah laku sebuah robot, atu: a. Robot tdak boleh meluka manusa. b. Robot harus patuh pada perntah ang dberkan manusa, kecual bla perntah tersebut melanggar hukum pertama. c. Robot harus dapat menjaga eksstens drna sendr, kecual bla terjad pelanggaran terhadap hukum pertama dan kedua Matematka Pada bagan n akan djelaskan mengena vektor, matrks, operas matrks dan transpos matrks Vektor Berdasarkan Gere dan Weaver (983, p-3), berkut adalah bagan-bagan ang pentng tentang vektor: Vektor ddefnskan sebaga besaran ang memlk panjang dan arah. Vektor serng dnatakan secara geometrs oleh sebuah gars dengan tanda panah pada

3 ujungna. Panjang gars menunjukkan besarna vektor, dan tanda panah menunjukkan arah vektor. Sebaga lustras, perhatkan vektor F pada gambar 2. (vektor dcetak dengan huruf tebal untuk membedakanna dengan besaran skalar). Vektor F dgambarkan dengan sebuah anak panah, memlk panjang dan arah. D sn jelas bahwa sebuah blangan tunggal tdak cukup untuk menatakan vektor n, sebab harus ada besar dan arahna. Besar suatu vektor adalah suatu besaran skalar ang dperlhatkan oleh panjangna vektor; sebaga contoh, jka vektor F dalam gambar 2. adalah vektor jarak, maka besarna mungkn meter, dperlhatkan dengan skala ang sesua dengan panjang dar pangkal panah sampa ujungna. Jad besar suatu vektor senantasa mempuna nla non negatf, akn postf atau nol, dan umumna dnatakan oleh tanda nla mutlak; msalkan, besar F dtuls F. Y F Fz F F X Z Gambar 2. Suatu vektor F dan komponenna Berdasarkan Hadle (96, p6-7), vektor pada gambar 2.2 terdapat ttk (P, P, Pz) atu ttk d mana kepala dar vektor berakhr, vektor P sudah dnatakan secara lengkap. Besar/panjangna adalah

4 P = P P Pz (2-) dan arahna, dtentukan oleh kedua sudut Φ dan, d mana P tan = P (2-2) cos Φ = P 2 Pz + P 2 + Pz 2 (2-3) selanjutna hubungan antara vektor dengan ttk dapat dtuls sebaga berkut : P = (P, P, Pz) (2-4) Persamaan (2-4) menandakan bahwa P adalah sebuah vektor ang dgambar dar ttk asal sampa ttk (P, P, Pz) dengan koordnat P, P, Pz. Hubungan antara vektor dan ttk dalam ruang merupakan dasar dan pentng karena nla praktsna dalam perhtungan-perhtungan vektor, juga merupakan kunc untuk perluasan ang lebh abstrak dar konsep vektor. z (P, P, Pz) P Φ Gambar 2.2 Vektor P dalam ruang Matrks Berdasarkan Gere dan Weaver (983, p3-4), berkut adalah bagan-bagan ang pentng tentang matrks:

5 2 Bentuk ang palng umum dar suatu matrks adalah susunan blangan-blangan ang berbentuk perseg panjang ang dapat dgambarkan sebaga berkut: A A2 A = Am A A A 2 22 m2 A n A 2n Amn (2-5) Blangan-blangan A, A 2,..., A mn ang menusun rangkaan tu dsebut Elemen atau Unsur dar matrks. Indeks pertama dar elemen menunjukkan bars dan ndeks kedua menunjukkan kolom d mana elemen tu berada. Untuk menulskan matrks beserta elemen-elemenna dpergunakan tanda kurung sku sepert ang dperlhatkan pada persamaan (2-5); sedangkan, sebuah huruf ang dcetak tebal (msalna, A) dapat dgunakan juga untuk menatakan sebuah matrks. Sebuah penajan lan untuk sebuah matrks adalah dengan menulskan elemen umumna dalam sebuah kurung sku; maka matrks A pada persamaan (2-5) dapat juga dtuls [A j ] atau [A]. Ordo (atau ukuran) sebuah matrks dtentukan oleh banakna bars dan kolom; maka, matrks A pada persamaan (2-5) mempuna ordo m dan n, basana dtuls m n. Matrks bujur sangkar adalah matrks ang jumlah bars dan kolomna sama (m = n) dan dkatakan berordo n. Elemen-elemen dar matrks bujur sangkar mula ujung kr atas sampa ujung kanan bawah secara dagonal (atu elemen A, A 22,..., A mn ) dsebut dagonal utama matrks. Dan elemen-elemen dar kr bawah sampa kanan atas (A m,..., A n ) dnamakan dagonal kedua.

6 Operas Matrks Berdasarkan Gere dan Weaver (983, p4-2), berkut adalah bagan-bagan ang pentng tentang operas matrks: Aturan-aturan operas matematka (sepert penjumlahan dan perkalan) untuk matrks agak ntutf dan telah drumuskan sedemkan agar berguna untuk perhtunganperhtungan prakts. Hubungan ang palng sederhana kesamaan dua matrks. Agar dua buah matrks dapat dkatakan sama, mereka harus berordo sama dan elemen-elemen ang bersesuaan harus sama. Maka, jka A = B, d mana A dan B haruslah berlaku hubungan A j = B j untuk dar sampa m dan j dar sampa n. Penjumlahan Matr Penjumlahan dua buah matrks A dan B dapat berlangsung jka kedua matrks tu berordo sama. Jumlah dua buah matrks adalah matrks lan ang berordo sama ang elemen-elemenna merupakan jumlah dar elemen-elemen ang bersesuaan dar kedua matrks asal. Dengan kata lan, jka A + B = maka tap elemen akan mempuna bentuk: A j + B j = j (2-6) Perkalan Matr Ada banak cara untuk mengalkan dua buah matrks, antara lan, msalna hana mengalkan elemen-elemen ang bersesuaan. Secara umum kta dapat mengalkan sebuah matrks A ang berordo m n dengan matrks B ang berordo n p. Hasl-kalna berupa matrks ang berordo m p, ang dnatakan sebaga berkut: A. B = atau

7 4 A A Am 2 A A A 2 22 m2 A n A 2n Amn B B Bn 2 B B B 2 22 n2 B p B 2 p = 2 Bnp m 2 22 m2 p 2 p mp (2-7) Perkalan dlakukan dengan mengambl perkalan-dalam antara bars-bars dar matrks A dan kolom-kolom dar matrks B. Elemen ang terletak pada bars dan kolom pertama matrks berasal dar perkalan-dalam antara bars pertama matrks A dengan kolom pertama matrks B, sehngga: = A B + A 2 B A n B n (2-8) Elemen p berasal dar perkalan-dalam antara bars pertama matrks A dengan kolom ke-p matrks B, sehngga: p = A B p + A 2 B 2p A n B np (2-9) Elemen-elemen bars ke-dua matrks dhtung dar perkalan-dalam antara bars kedua matrks A dengan setap kolom matrks B secara bergantan; akn: 2 = A 2 B + A 22 B A 2n B n 22 = A 2 B 2 + A 22 B A 2n B n p = A 2 B p + A 22 B 2p A 2n B np (2-) ara untuk menghtung elemen-elemen matrks n (atau perkalan matrks) menunjukkan bahwa supaa perkalan n dapat berlangsung maka banakna kolom matrks A harus selalu sama dengan banakna bars matrks B. Matrks akan selalu mempuna banak bars ang sama dengan matrks A dan banak kolom ang sama dengan matrks B. Hubungan kesesuaan untuk perkalan matrks n dapat dnatakan dengan bagan sebaga berkut:

8 5 Perkalan matrks kebanakan tdak komutatf. Yakn: [m n] [n p] = [m p] (2-) A B B A (2-2) Transpos Matrks Berdasarkan Gere dan Weaver (983, p2), matrks tranpos, atu sebuah matrks baru ang dbentuk dengan menukar bars-bars dan kolom-kolom dar matrks asal; atu; bars pertama dar matrks asal menjad kolom pertama dar matrks transpos, bars kedua menjad kolom kedua dan seterusna. Jka matrks A adalah matrks asal ang berordo m n, sepert ang terdapat pada persamaan (2-5), maka matrks transposna, dtuls A T, akan berordo n m: A T A A2 = A n A A A n Am A m2 Amn (2-3) 2.2 Teor-teor Khusus ang Berhubungan dengan Topk Yang Dbahas Teor khusus tentang robot ndustr dan knematka ang berhubungan dengan geometr dar gerakan. Berkut n beberapa dasar teor robot ndustr dan knematka Defns Robot Industr Organsas standarsas duna melalu ISO 8373 mendefnskan robot ndustr sebaga sebuah manpulator dengan tga atau lebh sumbu, ang dkontrol secara otomats, ang dapat dprogram ulang, dengan banak tujuan, d mana dletakkan pada

9 6 tempat ang tetap atau dapat bergerak untuk keperluan dan aplkas-aplkas otomas ndustr. D sampng tu, Brtsh Robot Assocaton memberkan defns mengena robot ndustr, atu sebuah peralatan ang dapat dprogram ulang, ang drancang untuk sekalgus memanpulas dan memndahkan benda, peralatan atau alat khusus untuk proses manufaktur, melalu gerakan dengan pemrograman varabel untuk melakukan tugas manufaktur khusus. Demkan halna dengan Japanese Industral Robot Assocaton ang memberkan defns robot menjad enam tngkatan (Fu et al, 987, p-6), atu: a. Peralatan manual (manual handlng devces). b. Peralatan mengangkat dan meletakkan (pck and place devces). c. Manpulator ang varabelna dapat dprogram secara berurutan (programmable varable sequence manpulator). d. Robot ang dajar secara manual (robot taught manuall). e. Robot ang dkendalkan dengan sebuah bahasa pemrograman (robots controlled b a programmng language). f. Robot ang dapat bereaks terhadap lngkunganna (robots whch can raect to ther envronment) Karakterstk Robot Industr Berdasarkan James L. Fuller (99, p37-38), berkut adalah karakterstkkarakterstk robot ndustr: a. Hand, atau tangan dalam robotka dkenal sebaga grpper, end effector, atau end-ofarm. D dalam tangan tersebut terdapat peralatan-peralatan mekank ang bsa dgerakkan ang dlekatkan pada ujung manpulator. Tangan robot dapat memegang

10 7 dan memndahkan objek serta bsa juga melakukan proses manufaktur sepert: mengelas, mengecat dan sebagana. b. Wrst, merupakan penghubung antara tangan (hand) dan lengan (arm) pada robot. Wrst dapat bergerak dengan tga pergerakan, antara lan: Ptch, pergerakan jont nak dan turun. Yaw, pergerakan jont menampng kr dan kanan. Roll, pergerakan jont memutar. c. Arm, atau lengan, merupakan sarana untuk bernteraks langsung dengan objek. Bentuk dar lengan n akan dapat mempengaruh pergerakan, lntasan dan luas jangkauan dar robot. Secara mekans lengan robot terbag atas dua bagan utama, atu: Lnk, merupakan bagan lengan. Jont, merupakan ttk pertemuan antara dua lnk. Jont tu sendr terdr dar beberapa macam, atu prsmatc jont, planar jont, sphercal jont, revolute jont, screw jont, dan clndrcal jont. d. Shoulder, berfungs untuk mendukung/membantu pergerakan lengan. e. Lftng Power, merupakan gaa angkat dar lengan robot ang bergantung pada berat, bentuk dan objek ang akan dpndahkan. f. Repeatablt, untuk dapat menggantkan peran manusa dengan sempurna, sebuah robot harus dapat melakukan tugas/pekerjaan secara berulang-ulang dengan press ang tngg/bak. Kemampuan pergerakan robot secara berulang-ulang untuk melakukan tugas dengan press ang bak dsebut repeatablt.

11 8 g. Automatc ontrol Sstem, dgunakan untuk menjalankan nstruks-nstruks ang tersmpan d dalam memor robot. Tanpa Automatc ontrol Sstem, robot hanalah sepert sebuah peralatan kendal jarak jauh Komponen Robot Industr Berdasarkan James L. Fuller (99, p37-38), robot ndustr mempuna dua komponen utama, antara lan: a. Phscal Parts/Anatom, terbentuk dar empat bagan, atu: Mechancal Part/Manpulator, adalah suatu struktur peralatan mekank ang mempuna fungs tertentu, msalna untuk menjept, berputar ataupun bergeser dan lan sebagana. Manpulator basana dbuat dalam bentuk lengan. ontroller, atu bagan dar sstem ang bertugas mengatur semua kegatan ang terjad pada robot. ontroller pada robot dapat menggunakan mkrokontroler atau mkroprosesor dan bers control program dan task program. Power Suppl, berfungs memberkan energ kepada manpulator untuk dapat bergerak. Energ ang dberkan bsa berupa elektrk, hdrolk, atau pneumatk. Vehcle, komponen n dapat dgunakan ataupun tdak (optonal). Berfungs untuk membawa bagan dasar (base) dar robot ke arah tempat robot bekerja. Bagan dasar robot (base) bsa dlekatkan pada sebuah benda tetap sepert panel atau meja, juga bsa dlekatkan pada sebuah alat gerak sepert roda/ban atau kak. b. Learned Behavor/Task Program, berfungs sebaga data pada control program untuk melaksanakan pekerjaan ang dberkan.

12 Knematka Dasar Berdasarkan Fu, Gonzales dan Lee (987, p6-3), berkut adalah pengertan tentang permasalahan-permasalahan ang terdapat pada knematka: Terdapat dua permasalahan dalam mempelajar knematka, permasalahan pertama adalah drect knematcs. Drect knematcs berhubungan dengan mencar solus untuk mendapatkan poss dan orentas dar tool frame dalam hal n end effector ang relatf terhadap base frame dengan memberkan sudut-sudut dar jont (). Permasalahan ang kedua adalah nverse knematcs, berhubungan dengan mencar solus untuk menemukan besarna sudut-sudut jont () dengan memberkan poss dan orentas dar end effector. Parameter Lnk Sudut-sudut Jont Drect Knematc Poss dan Orentas End Effector Parameter Lnk Sudut-sudut Jont Inverse Knematc Gambar 2.3 Drect knematcs dan nverse knematcs Defns Poss, Orentas, dan Frame Berdasarkan rag (989, p2-24), berkut adalah defns dar poss, orentas, dan frame. Poss merupakan lokas kedudukan relatf suatu benda terhadap suatu acuan. Orentas merupakan arah rujukan suatu benda relatf terhadap suatu acuan. Frame

13 2 merupakan sekumpulan vektor ang memberkan nformas tentang poss dan orentas atau secara sngkat frame dapat dsebut koordnat. Macam-macam Gerakan Berdasarkan rag (989, p32-37), gerakan bsa dbag menjad: gerak translas, gerak rotas, dan transformas. Gerak translas adalah gerak perpndahan suatu ttk ke ttk lan secara lurus d dalam ruangan. Gerak rotas adalah gerak perpndahan suatu ttk ke ttk lan secara melngkar d dalam ruangan. Transformas adalah gerakan gabungan dar gerak translas dan gerak rotas Drect Knematcs Pada bagan n akan djelaskan mengena matrks rotas, translas, transformas homogeneous, dan konsep Denavt-Hartenberg. Hal n dmaksudkan dalam memaham konsep Denavt-Hartenberg memerlukan pembahasan transformas homogeneous d mana untuk memahamna memerlukan pembahasan tentang matrks rotas dan translas bak dalam dua ataupun tga dmens Rotas Dalam 2 Dmens Y ' V V Θ Φ ' X Gambar 2.4 Vektor V berotas menjad V

14 2 Gambar 2.4 menggambarkan vektor V = adalah poss dar sebuah ttk. Bla dtuls dengan koordnat polar menjad V = r cos φ = r sn φ (2-4) Bla terjad rotas sebesar, V menjad V d mana ( ) ( ) ' r cos + φ r V = = = ' r sn + φ r ( cos cos φ sn sn φ ) ( ) sn cos φ + cos sn φ cos sn cos sn V = = sn + cos sn cos (2-5) sehngga V = R. V (2-6) dengan cos R = matrks rotas = sn sn cos (2-7) Rotas Dalam 3 Dmens Gambar 2.5 menggambarkan sstem koordnat OUVW berotas terhadap sstem koordnat referens OXYZ. Ttk P dapat drepresentaskan melalu tap-tap koordnatna dengan mengacu kepada sstem koordnat OUVW dan OXYZ.

15 22 Z W.P O V Y U X Gambar 2.5 Koordnat OUVW relatf terhadap sstem koordnat OXYZ Matrks rotas dalam 3 dmens berukuran 3 3. Pada gambar 2.6, bla sstem koordnat OUVW berotas terhadap sumbu OZ dengan sudut, maka koordnat arah sumbu OZ tdak berubah, ang berubah koordnat pada arah OX dan OY, jad matrksna mrp dengan matrks rotas dalam 2 dmens dengan komponen Z-na tetap, haslna adalah, cos sn R = z, sn cos (2-8) Z P W O V U Y X Gambar 2.6 Koordnat OUVW berotas terhadap sumbu OZ Gambar 2.7 menggambarkan bla sstem koordnat OUVW berotas terhadap sumbu OX dengan sudut α, maka koordnat arah sumbu OX tdak berubah, ang berubah koordnat pada arah OY dan OZ, jad matrksna mrp dengan matrks rotas dalam 2 dmens dengan komponen X-na tetap, haslna adalah,

16 23 R, α = cosα snα (2-9) snα cosα Z P W O V Y U X Gambar 2.7 Koordnat OUVW berotas terhadap sumbu OX Gambar 2.8 menggambarkan bla sstem koordnat OUVW berotas terhadap sumbu OY dengan sudut Φ, maka koordnat arah sumbu OY tdak berubah, ang berubah koordnat pada arah OX dan OZ, jad matrksna mrp dengan matrks rotas dalam 2 dmens dengan komponen Y-na tetap, haslna adalah, cosφ sn Φ R, Φ = (2-2) sn Φ cosφ Z U W P X O V Y Gambar 2.8 Koordnat OUVW berotas terhadap sumbu OY

17 24 Arah rotas berlawanan jarum jam tanda α,, dan Φ adalah postf sedangkan arah rotas searah dengan gerak jarum jam tanda α,, dan Φ adalah negatf. Matrks-matrks R,α persamaan (2-9), R,Φ persamaan (2-2) dan R z, persamaan (2-8) d atas dapat dsebut sebaga matrks rotas dasar. Z W Z W α V Φ O α Y X U Φ O V O Y U X Gambar 2.9 Sstem-sstem koordnat ang berputar Translas Dalam 2 Dmens Gambar 2. menggambarkan poss sebuah ttk (, ) dnatakan dengan sebuah vektor V. Ttk n kemudan berpndah menjad (, ) dan dnatakan dengan vektor V. Y V V V O X Gambar 2. Vektor V bertranslas menjad V

18 25 Msalkan perubahan vektor V ang merupakan perubahan dalam arah sebesar, dan dalam arah sebesar, maka V = V + V (2-2) Jka dtuls dalam komponenna menjad, + = ' ' + + = ' ' (2-22) Translas Dalam 3 Dmens Sepert halna dengan translas 2 dmens, untuk translas 3 dmens hana menambahkan komponen z, sehngga persamaan (2-22) menjad, = z z z ' ' ' (2-23) Jka dtuls dalam bentuk matrks persamaan (2-23) d atas menjad, = ' ' ' z z z (2-24) Matrks z dsebut matrks translas. Nla pada pojok kanan bawah hana merupakan operator matematka pembantu saja agar penulsan dalam bentuk matrks bsa dlakukan. Selan tu jka bukan translas saja tetap juga melakukan rotas

19 26 maka matrks rotas dan translas bsa dgabung menjad satu dan basana dsebut matrks transformas homogenous Matrks Transformas Homogeneous Berdasarkan Fu, Gonzales dan Lee (987, p27-29), berkut adalah bagan-bagan ang pentng tentang transformas homogeneous: Matrks rotas 33 ang sebelumna dperkenalkan tdak dapat dgunakan untuk menunjukkan pergeseran dar suatu poss (translas) dan penskalaan, untuk tu dbutuhkan sebuah matrks baru ang bsa merepresentaskan pergeseran sekalgus penskalaan. Matrks transformas homogeneous adalah sebuah matrks 44 d mana matrks n dapat memetakan sebuah vektor poss ang dekspreskan dalam koordnat homogeneous dar suatu sstem koordnat ke sstem koordnat lanna. Sebuah matrks transformas homogeneous terdr dar 4 submatrks: T R3 = f 3 3 Ι Ι Ι matrks P 3 rotas = transformas S perspektf Ι Ι Ι vektor poss skala (2-25) d mana submatrks 33 ang terletak d kr atas merepresentaskan matrks rotas, submatrks 3 d bagan kanan atas merepresentaskan vektor poss dar sstem koordnat asal ang drotas mengacu pada sstem koordnat referens. Submatrks 3 d bagan bawah kr merepresentaskan transformas perspektf, dan terakhr submatrks ang terletak d bagan kanan bawah adalah matrks ang merepresentaskan faktor penskalaan.

20 27 Selanjutna sebuah matrks rotas 33 bsa dperluas menjad matrks transformas homogeneous 44 ang dlambangkan dengan T rot. Persamaan (2-8) sampa dengan persamaan (2-2) dapat dekspreskan sebaga matrks transformas homogeneous, cosα snα T =, α (2-26) snα cosα cosφ sn Φ T =, Φ (2-27) sn Φ cosφ cos sn sn cos T = z, (2-28) Matrks-matrks rotas 44 d atas dsebut juga matrks rotas homogeneous dasar. Submatrks 3 ang merepresentaskan transformas perspektf berguna pada komputer vson dan kalbras dar sebuah kamera. Semua elemen dar sub matrks n d set sama dengan nol untuk mengndkaskan bahwa perspektf/sudut pandang tdak berubah karena tdak menggunakan kamera. Pada matrks rotas homogeneous faktor penskalaan d set, karena dasumskan tdak terjad pembesaran pada objek jka tdak menggunakan kamera.

21 Konsep Denavt Hartenberg Manpulator mekank terdr atas sejumlah bagan tubuh ang dnamakan sebaga lnk. Kemudan sejumlah jont dgunakan untuk menghubungkan lnk-lnk tersebut. Setap jont mewakl satu derajat kebebasan. Untuk mendeskrpskan hubungan translasonal dan rotasonal antara lnk-lnk ang berdekatan, Denavt dan Hartenberg [955] memperkenalkan rancangan sebuah metode matrks ang secara sstemats membangun sebuah sstem koordnat dar masng-masng lnk. Dalam mencar sebuah transformas dar sebuah ujung alat hngga bass dar sebuah manpulator, dtentukan frame dar lnk-lnk dan mendapatkan teknk ang sstematkal, ang dapat menjabarkan knematka dar sebuah robot dengan n derajat kebebasan dalam cara ang unk. Gambar 2. Lnks of a knematc chan

22 29 Gambar 2. menunjukkan lnk pertama dar ranta knematka. Pada bass dan tap lnk dar ranta tersebut menggambarkan sebuah frame K ang spesfk, ang mana merupakan lnk. Jad poss dan orentas dar sebuah frame lnk berubah dengan berdasarkan frame lnk ang sebelahna menurut pergerakkan dar penggabungan jont. Maka dar tu koordnat frame K dapat djabarkan dar frame K - lnk sebelumna. Transformas homogeneous melput sudut jont (untuk jont putar) atau offset jont (untuk prsmatc jont). Pada akhrna frame K n dapat dtransformaskan ke frame base dengan mengalkan semua transformas lnk dengan ranta knematk. Jad untuk membuat sebuah poss/orentas tergantung dar frame alat (sensor ang terletak dsana) mendekat frame bass dar manpulator (ang berada d lanta basana permanen), urutan dar transformas homogeneous durut dar atas(ujung akhr) hngga bawah(bass) dengan urutan K n-,k n-2,.,k harus dolah. Tugas ang terssa adalah mengatur semua matrks transformas homogeneous untuk sebuah tpe ranta knematk, mengngat sudut dar lnk dan tpe dar jont.

23 3 Gambar 2.2 Parameter knematk menurut konsep Denavt Hartenberg Gambar 2.2 menunjukkan secara terpernc dar ranta knematk, dmana dua buah lnk ang terhubung lewat sebuah jont putar. In dgunakan untuk menunjukkan bagamana parameter-parameter ddapat dengan penjabaran lnk. Untuk mendapatkan sstem koordnat-koordnat dar lnk dapat dlhat pada penjabaran pada jont-jont-na. dan - adalah jont ang merepresentaskan jont ang satu dengan ang sebelumna. Pada jont ang ke, perpotongan gars tegak pada ttk U dengan gars lurus a merupakan frame K, dmana =,, 2, 3, 4,, n (dmana n merupakan jumlah derajat kebebasan). Sumbu ddapat dar gars normal pada frame base dan searah dengan lnk jka bukan base. Sumbu Z merupakan gars lurus ang searah dengan sumbu putar jont, sehngga berdasarkan kaedah tangan kanan sumbu

24 3 bsa ddapatkan. Kaedah tangan kanan ddefnskan sebaga perluasan bu jar, jar telunjuk, dan jar tengah tangan kanan. pergerakan dar (jar telunjuk) ke + (jar tengah) menunjukkan hasl vektor z (bu jar). Berdasarkan Fu, Gonzales dan Lee (987, p36) setap koordnat dbuat berdasarkan tga buah aturan d bawah n:. Sumbu Z - berada d sepanjang poros pergerakan dar jont ke- 2. Sumbu X tegak lurus terhadap sumbu Z - dan menunjuk menjauh darna 3. Sumbu Y melengkap sstem koordnat ang dperlukan berdasarkan aturan tangan kanan Pada parameter-parameter ang ada untuk konsep Denavt Hartenberg ang ada pada gambar 2.2 dapat djabarkan sebaga berkut: a. Panjang dar gars normal Sudut antara Z - dan Z dengan sumbu X sebaga acuanna Panjang dar gars Sudut antara X - dan X dengan sumbu Z - sebaga acuanna Sebuah transformas homogeneous - T pencermnkan frame K terhadap K - melalu lnk terbaru, dapat dturunkan dengan transformas geometrkal melalu lnk dengan pertmbangan sebaga berkut:. Rotas terhadap Z - dengan sudut. 2. Translas sepanjang Z - dengan perpndahan d. 3. Translas sepanjang X - dengan perpndahan a. 4. Rotas terhadap X dengan sudut α. Masng-masng dar keempat pertmbangan d atas dapat dlakukan perhtungan dengan cara matrks homogeneous rotas-translas dan hasl dar keempat

25 32 matrks tersebut adalah matrks transformas berdasarkan konsep Denavt Hartenberg untuk sstem koordnat berdekatan - A, atu sstem koordnat dan sstem koordnat -, untuk jont putar adalah: - A = T Z,d. T Z,. T X,a. T X,α - A = cos sn sn cos cos sn sn cos a d α α α α - A = cos sn sn cos sn cos cos sn cos sn sn sn cos cos d a a α α α α α α (2-29) Inverse Knematcs Inverse Knematcs dperlukan pada pengendalan poss dan orentas dar end effector robot untuk mencapa suatu objek d dalam sstem koordnat. Berdasarkan poss dan orentas ( T ) ang ngn dcapa, nverse knematcs dgunakan untuk mencar besarna sudut ( ) ang harus dberkan pada setap jont () manpulator untuk mendapatkan poss dan orentas tersebut (Fu, Gonzales dan Lee, 987, p52). Berdasarkan rag (989, p4-8), kemungknan adana solus perlu dketahu dahulu sebelum melakukan pencaran nla. Kemungknan untuk mendapatkan solus sangat pentng untuk dketahu, hngga perhtungan untuk mencar solus tdak perlu dlakukan apabla tdak ada jamnan bsa mendapatkan solus. Ada tdakna solus berhubungan erat dengan area jangkauan (workspace) robot. Area jangkauan adalah volum ruang ang dapat dcapa oleh end effector manpulator. Apabla poss dan

26 33 orentas (ttk tujuan) dar end effector berada d dalam area jangkauan, maka sekurangkurangna terdapat satu solus. Apabla solusna ada, maka kemungknan lan ang bsa terjad adalah solusna lebh dar satu (mult solus). Hal n menjad masalah karena sstem dtuntut hana bsa memlh satu solus saja. A B 2 Gambar 2.3 Dua solus untuk satu poss Sebaga contoh bsa dlhat pada gambar 2.3, berdasarkan gambar tersebut, end effector semula berada pada poss A dan dngnkan pndah ke poss B. Untuk mencapa poss B ada dua macam konfguras gerakan manpulator ang bsa dlakukan (dtunjukkan dengan gars putus-putus dan 2). Kedua solus tersebut sama-sama bsa mendapatkan poss ang sama. Bla terdapat lebh dar satu solus, maka akan sangat bak untuk memlh solus dengan gerakan palng sedkt pada jont-jont, berdasarkan contoh gambar 2.3 d atas, maka gars putus-putus palng atas () merupakan plhan terbak. Namun apabla ada halangan atau rntangan ketka memlh solus dengan gerakan ang palng mnmal, maka solus dengan pergerakan ang lebh jauh bsa dplh. Hal n menunjukkan perluna menghtung semua solus ang mungkn dlakukan.

27 34 Banakna solus dtentukan oleh jumlah jont ang dmlk manpulator, dan juga fungs dar parameter-parameter lnk (d, a, dan α pada manpulator dengan jont putar; dan, a, dan α pada manpulator dengan jont prsmatk) ang tdak sama dengan nol. Semakn banak parameter lnk ang tdak bernla nol, maka semakn banak pula cara atau solus untuk mencapa suatu tujuan. Berdasarkan Fu, Gonzales dan Lee (987, p53), ada dua cara untuk mencar solus Inverse Knematcs: teknk transformas nverse untuk mencar solus sudut Euler, dan pendekatan geometrs. Teknk Transformas Inverse untuk Solus Sudut Euler Berdasarkan Fu, Gonzales dan Lee (987, p53-6), solus dcar dengan menggunakan konsep dasar dar teknk transformas nverse untuk mencar sudut Euler. Karena matrks rotas 3 3 dapat dtuls dengan persamaan sudut Euler (Φ,, ψ) sesua dengan persamaan d bawah n,,,ψ, w u z z z z R R R a s n a s n a s n Φ = (2-3) Φ Φ + Φ Φ + Φ Φ Φ Φ Φ Φ = ψ ψ ψ ψ ψ ψ ψ ψ ψ ψ S S S S S S S S S S S S S S a s n a s n a s n z z z (2-3) D mana n = normal vector, orthogonal terhadap end effector. s = sldng vector, menunjuk ke arah end effector bergerak (membuka atau menutup). a = approach vector, menunjuk ke arah luar end effector. = cos, S = sn, Φ = cos Φ, SΦ = sn Φ, ψ = cos ψ, Sψ = sn ψ.

28 35 Pada persamaan d atas (2-3) jka ruas kr sama dengan ruas kanan, maka dperoleh n = Φ ψ SΦ Sψ n = SΦ ψ + ψ Sψ n z = S Sψ s = -Φ Sψ - SΦ ψ s = - SΦ Sψ + Φ ψ s z = S ψ a = SΦ S a = - Φ S a z = (2-32a) (2-32b) (2-32c) (2-32d) (2-32e) (2-32f) (2-32g) (2-32h) (2-32) Kemudan gunakan persamaan (2-32f), (2-32h), dan (2-32) untuk mencar nla Φ,, ψ, maka dperoleh = cos - ( a z ) (2-33) ψ = cos - Φ = cos - s z (2-34) S a (2-35) S Pendekatan Geometrs ara geometrs n ddapat berdasarkan sstem koordnat lnk dan geometr tangan manusa. Pada pendekatan n dbag menjad 2 macam solus atu solus untuk poss dan solus untuk orentas. Solus untuk poss menelesakan 3 jont pertama sedangkan untuk solus untuk orentas menelesaan 3 jont terakhr. Dalam penelesaanna menggunakan trgonometr untuk mendapatan sudut-sudutna. Berdasarkan Fu, Gonzales, dan Lee (987, p6-69), pada cara geometrs, solus dcar

29 36 dengan menerapkan lmu-lmu geometr dan hukum-hukum trgonometr. Sebaga contoh: Z A (P, P, Pz) O X, Y Gambar 2.4 Sudut jont Untuk mencar, bsa dgunakan lmu-lmu geometrk, sehngga ddapatkan: P Z 2 2 [ ( P + P + Pz )] 2 sn = (2-36) 2 2 [ ( P + P )] 2 2 [ ( P + P + Pz )] 2 cos = (2-37) = arctan 2(sn,cos ) (2-38) Pendekatan Numerk Pada robot ang dstandarsas dapat drangka dalam struktur dengan beragam derajat kebebasan dan bentuk untuk tugas ang berbeda. Pada umumna robot manpulator ang ddesan, solus nverse knematcs dturunkan sendr dan dsmpan sebaga fungs pusataka dalam pengendal robot. Bagamanapun untuk modul sstem ang dapat dpasang, untuk jumlah geometr dan derajat kebebasan bsa ddapat dar modul dan sangat besar dan menngkat secara eksponensal. Juga beberapa dar geometr

30 37 robot mungkn tdak memlk solus bentuk tertutup nverse knematcs. Dalam kasus tertentu, penurunan manual untuk solus secara umum tdak prakts dan mustahl (I- Mng hen & Guln Yang, In-Gu Kang, 999, p2). Pendekatan numerk memanfaatkan kemampuan komputer untuk melakukan perhtungan secara berulang-ulang d dalam mendapatkan solus nverse knematcs. Komputer akan terus menghtung semua kemungknan solus secara berulang-ulang sampa ddapatkan suatu solus ang sesua untuk sudut-sudut jont ang dbutuhkan agar bsa mencapa poss dan orentas ang dngnkan. ara numerk relatf lebh mudah, namun menghabskan lebh banak waktu karena sfat pengulanganna. Apabla cara numerk menghabskan waktu terlalu banak, maka perlu dpertmbangkan penggunaan cara analtk (rag, 989, p9-2).

BAB 4 PERHITUNGAN NUMERIK

BAB 4 PERHITUNGAN NUMERIK Mata kulah KOMPUTASI ELEKTRO BAB PERHITUNGAN NUMERIK. Kesalahan error Pada Penelesaan Numerk Penelesaan secara numers dar suatu persamaan matemats kadang-kadang hana memberkan nla perkraan ang mendekat

Lebih terperinci

Bab 3. Penyusunan Algoritma

Bab 3. Penyusunan Algoritma Bab 3. Penusunan Algortma on anuwjaa/ 500030 Algortma merupakan penulsan permasalahan ang sedang dsorot dalam bahasa matematk. Algortma dbutuhkan karena komputer hana dapat membaca suatu masalah secara

Lebih terperinci

Pendahuluan. 0 Dengan kata lain jika fungsi tersebut diplotkan, grafik yang dihasilkan akan mendekati pasanganpasangan

Pendahuluan. 0 Dengan kata lain jika fungsi tersebut diplotkan, grafik yang dihasilkan akan mendekati pasanganpasangan Pendahuluan 0 Data-data ang bersfat dskrt dapat dbuat contnuum melalu proses curve-fttng. 0 Curve-fttng merupakan proses data-smoothng, akn proses pendekatan terhadap kecenderungan data-data dalam bentuk

Lebih terperinci

.. Kekakuan Rangka batang Bdang (Plane Truss) BAB ANAISIS STRUKTUR RANGKA BATANG BIANG Struktur plane truss merupakan suatu sstem struktur ang merupakan gabungan dar seumlah elemen (batang) d mana pada

Lebih terperinci

BAB III SKEMA NUMERIK

BAB III SKEMA NUMERIK BAB III SKEMA NUMERIK Pada bab n, akan dbahas penusunan skema numerk dengan menggunakan metoda beda hngga Forward-Tme dan Centre-Space. Pertama kta elaskan operator beda hngga dan memberkan beberapa sfatna,

Lebih terperinci

BAB VB PERSEPTRON & CONTOH

BAB VB PERSEPTRON & CONTOH BAB VB PERSEPTRON & CONTOH Model JST perseptron dtemukan oleh Rosenblatt (1962) dan Mnsky Papert (1969). Model n merupakan model yang memlk aplkas dan pelathan yang lebh bak pada era tersebut. 5B.1 Arstektur

Lebih terperinci

BAB X RUANG HASIL KALI DALAM

BAB X RUANG HASIL KALI DALAM BAB X RUANG HASIL KALI DALAM 0. Hasl Kal Dalam Defns. Hasl kal dalam adalah fungs yang mengatkan setap pasangan vektor d ruang vektor V (msalkan pasangan u dan v, dnotaskan dengan u, v ) dengan blangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Di dalam matematika mulai dari SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Di dalam matematika mulai dari SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi Daftar Is Daftar Is... Kata pengantar... BAB I...1 PENDAHULUAN...1 1.1 Latar Belakang...1 1.2 Rumusan Masalah...2 1.3 Tujuan...2 BAB II...3 TINJAUAN TEORITIS...3 2.1 Landasan Teor...4 BAB III...5 PEMBAHASAN...5

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Fuzzy Set Pada tahun 1965, Zadeh memodfkas teor hmpunan dmana setap anggotanya memlk derajat keanggotaan yang bernla kontnu antara 0 sampa 1. Hmpunan n dsebut dengan hmpunaan

Lebih terperinci

Tinjauan Algoritma Genetika Pada Permasalahan Himpunan Hitting Minimal

Tinjauan Algoritma Genetika Pada Permasalahan Himpunan Hitting Minimal 157 Vol. 13, No. 2, 157-161, Januar 2017 Tnjauan Algortma Genetka Pada Permasalahan Hmpunan Httng Mnmal Jusmawat Massalesse, Bud Nurwahyu Abstrak Beberapa persoalan menark dapat dformulaskan sebaga permasalahan

Lebih terperinci

Bab IV Pemodelan dan Perhitungan Sumberdaya Batubara

Bab IV Pemodelan dan Perhitungan Sumberdaya Batubara Bab IV Pemodelan dan Perhtungan Sumberdaa Batubara IV1 Pemodelan Endapan Batubara Pemodelan endapan batubara merupakan tahapan kegatan dalam evaluas sumberdaa batubara ang bertuuan menggambarkan atau menatakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Analisis regresi merupakan metode statistika yang digunakan untuk

BAB I PENDAHULUAN. Analisis regresi merupakan metode statistika yang digunakan untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Analss regres merupakan metode statstka ang dgunakan untuk meramalkan sebuah varabel respon Y dar satu atau lebh varabel bebas X, selan tu juga dgunakan untuk

Lebih terperinci

Analisa Forward dan Inverse Kinematics pada Simulator Arm Robot 5 Derajat Kebebasan

Analisa Forward dan Inverse Kinematics pada Simulator Arm Robot 5 Derajat Kebebasan Jurnal Teknk Mesn S-1, Vol. 1, No. 3, Tahun 2013 Onlne: http://ejournal-s1.undp.ac.d/ndex.php/jtm _ Analsa Forward dan Inverse Knematcs pada Smulator Arm Robot 5 Derajat Kebebasan *Bud Utomo 1, Munad 2

Lebih terperinci

II. TEORI DASAR. Definisi 1. Transformasi Laplace didefinisikan sebagai

II. TEORI DASAR. Definisi 1. Transformasi Laplace didefinisikan sebagai II. TEORI DASAR.1 Transormas Laplace Ogata (1984) mengemukakan bahwa transormas Laplace adalah suatu metode operasonal ang dapat dgunakan untuk menelesakan persamaan derensal lnear. Dengan menggunakan

Lebih terperinci

ANALISIS DATA KATEGORIK (STK351)

ANALISIS DATA KATEGORIK (STK351) Suplemen Respons Pertemuan ANALISIS DATA KATEGORIK (STK351) 7 Departemen Statstka FMIPA IPB Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan Referens Waktu Korelas Perngkat (Rank Correlaton) Bag. 1 Koefsen Korelas Perngkat

Lebih terperinci

Teori Himpunan. Modul 1 PENDAHULUAN. impunan sebagai koleksi (pengelompokan) dari objek-objek yang

Teori Himpunan. Modul 1 PENDAHULUAN. impunan sebagai koleksi (pengelompokan) dari objek-objek yang Modul 1 Teor Hmpunan PENDAHULUAN Prof SM Nababan, PhD Drs Warsto, MPd mpunan sebaga koleks (pengelompokan) dar objek-objek yang H dnyatakan dengan jelas, banyak dgunakan dan djumpa dberbaga bdang bukan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN Dalam pembuatan tugas akhr n, penulsan mendapat referens dar pustaka serta lteratur lan yang berhubungan dengan pokok masalah yang penuls ajukan. Langkah-langkah yang akan

Lebih terperinci

MEREDUKSI SISTEM PERSAMAAN LINEAR FUZZY PENUH DENGAN BILANGAN FUZZY TRAPESIUM

MEREDUKSI SISTEM PERSAMAAN LINEAR FUZZY PENUH DENGAN BILANGAN FUZZY TRAPESIUM MEREDUKSI SISTEM PERSAMAAN LINEAR FUZZY PENUH DENGAN BILANGAN FUZZY TRAPESIUM Tut Susant, Mashad, Sukamto Mahasswa Program S Matematka Dosen Jurusan Matematka Fakultas Matematka dan Ilmu Pengetahuan Alam

Lebih terperinci

IV. UKURAN SIMPANGAN, DISPERSI & VARIASI

IV. UKURAN SIMPANGAN, DISPERSI & VARIASI IV. UKURAN SIMPANGAN, DISPERSI & VARIASI Pendahuluan o Ukuran dspers atau ukuran varas, yang menggambarkan derajat bagamana berpencarnya data kuanttatf, dntaranya: rentang, rentang antar kuartl, smpangan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Pertumbuhan dan kestabilan ekonomi, adalah dua syarat penting bagi kemakmuran

BAB 1 PENDAHULUAN. Pertumbuhan dan kestabilan ekonomi, adalah dua syarat penting bagi kemakmuran BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan dan kestablan ekonom, adalah dua syarat pentng bag kemakmuran dan kesejahteraan suatu bangsa. Dengan pertumbuhan yang cukup, negara dapat melanjutkan pembangunan

Lebih terperinci

Didownload dari ririez.blog.uns.ac.id BAB I PENDAHULUAN

Didownload dari ririez.blog.uns.ac.id BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN Sebuah jarngan terdr dar sekelompok node yang dhubungkan oleh busur atau cabang. Suatu jens arus tertentu berkatan dengan setap busur. Notas standart untuk menggambarkan sebuah jarngan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertan Regres Regres pertama kal dpergunakan sebaga konsep statstka oleh Sr Francs Galton (1822 1911). Belau memperkenalkan model peramalan, penaksran, atau pendugaan, yang

Lebih terperinci

BAB II TEORI ALIRAN DAYA

BAB II TEORI ALIRAN DAYA BAB II TEORI ALIRAN DAYA 2.1 UMUM Perhtungan alran daya merupakan suatu alat bantu yang sangat pentng untuk mengetahu konds operas sstem. Perhtungan alran daya pada tegangan, arus dan faktor daya d berbaga

Lebih terperinci

Bab 3 Analisis Ralat. x2 x2 x. y=x 1 + x 2 (3.1) 3.1. Menaksir Ralat

Bab 3 Analisis Ralat. x2 x2 x. y=x 1 + x 2 (3.1) 3.1. Menaksir Ralat Mater Kulah Ekspermen Fska Oleh : Drs. Ishaft, M.S. Program Stud Penddkan Fska Unverstas Ahmad Dahlan, 07 Bab 3 Analss Ralat 3.. Menaksr Ralat Msalna suatu besaran dhtung dar besaran terukur,,..., n. Jka

Lebih terperinci

ANALISIS BENTUK HUBUNGAN

ANALISIS BENTUK HUBUNGAN ANALISIS BENTUK HUBUNGAN Analss Regres dan Korelas Analss regres dgunakan untuk mempelajar dan mengukur hubungan statstk yang terjad antara dua varbel atau lebh varabel. Varabel tersebut adalah varabel

Lebih terperinci

Bab III Analisis Rantai Markov

Bab III Analisis Rantai Markov Bab III Analss Ranta Markov Sstem Markov (atau proses Markov atau ranta Markov) merupakan suatu sstem dengan satu atau beberapa state atau keadaan, dan dapat berpndah dar satu state ke state yang lan pada

Lebih terperinci

Bab 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

Bab 1 PENDAHULUAN Latar Belakang 11 Bab 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perbankan adalah ndustr yang syarat dengan rsko. Mula dar pengumpulan dana sebaga sumber labltas, hngga penyaluran dana pada aktva produktf. Berbaga kegatan jasa

Lebih terperinci

Fisika Dasar I (FI-321)

Fisika Dasar I (FI-321) Fska Dasar I (FI-31) Topk har n (mnggu 5) Usaha dan Energ Usaha dan Energ Energ Knetk Teorema Usaha Energ Knetk Energ Potensal Gravtas Usaha dan Energ Potensal Gravtas Gaya Konservatf dan Non-Konservatf

Lebih terperinci

Fisika Dasar I (FI-321) Usaha dan Energi

Fisika Dasar I (FI-321) Usaha dan Energi Fska Dasar I (FI-31) Topk har n (mnggu 5) Usaha dan Energ Usaha Menyatakan hubungan antara gaya dan energ Energ menyatakan kemampuan melakukan usaha Usaha,,, yang dlakukan oleh gaya konstan pada sebuah

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Universitas Sumatera Utara

BAB 2 LANDASAN TEORI. Universitas Sumatera Utara BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertan Analsa Regres Dalam kehdupan sehar-har, serng kta jumpa hubungan antara satu varabel terhadap satu atau lebh varabel yang lan. Sebaga contoh, besarnya pendapatan seseorang

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Menurut teor molekuler benda, satu unt volume makroskopk gas (msalkan cm ) merupakan suatu sstem yang terdr atas sejumlah besar molekul (kra-kra sebanyak 0 0 buah molekul) yang

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Hpotess Peneltan Berkatan dengan manusa masalah d atas maka penuls menyusun hpotess sebaga acuan dalam penulsan hpotess penuls yatu Terdapat hubungan postf antara penddkan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Sebelum dilakukan penelitian, langkah pertama yang harus dilakukan oleh

BAB III METODE PENELITIAN. Sebelum dilakukan penelitian, langkah pertama yang harus dilakukan oleh BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desan Peneltan Sebelum dlakukan peneltan, langkah pertama yang harus dlakukan oleh penelt adalah menentukan terlebh dahulu metode apa yang akan dgunakan dalam peneltan. Desan

Lebih terperinci

Bab 1 Ruang Vektor. R. Leni Murzaini/0906577381

Bab 1 Ruang Vektor. R. Leni Murzaini/0906577381 Bab 1 Ruang Vektor Defns Msalkan F adalah feld, yang elemen-elemennya dnyatakansebaga skalar. Ruang vektor atas F adalah hmpunan tak kosong V, yang elemen-elemennya merupakan vektor, bersama dengan dua

Lebih terperinci

BAB 3 PEMBAHASAN. 3.1 Prosedur Penyelesaian Masalah Program Linier Parametrik Prosedur Penyelesaian untuk perubahan kontinu parameter c

BAB 3 PEMBAHASAN. 3.1 Prosedur Penyelesaian Masalah Program Linier Parametrik Prosedur Penyelesaian untuk perubahan kontinu parameter c 6 A PEMAHASA Pada bab sebelumnya telah dbahas teor-teor yang akan dgunakan untuk menyelesakan masalah program lner parametrk. Pada bab n akan dperlhatkan suatu prosedur yang lengkap untuk menyelesakan

Lebih terperinci

ALJABAR LINIER LANJUT

ALJABAR LINIER LANJUT ALABAR LINIER LANUT Ruang Bars dan Ruang Kolom suatu Matrks Msalkan A adalah matrks mnatas lapangan F. Bars pada matrks A merentang subruang F n dsebut ruang bars A, dnotaskan dengan rs(a) dan kolom pada

Lebih terperinci

SEARAH (DC) Rangkaian Arus Searah (DC) 7

SEARAH (DC) Rangkaian Arus Searah (DC) 7 ANGKAAN AUS SEAAH (DC). Arus Searah (DC) Pada rangkaan DC hanya melbatkan arus dan tegangan searah, yatu arus dan tegangan yang tdak berubah terhadap waktu. Elemen pada rangkaan DC melput: ) batera ) hambatan

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. Gambar 2-1 Photogrammetry proses [10].

BAB II DASAR TEORI. Gambar 2-1 Photogrammetry proses [10]. BAB II DASAR TEORI 2. Photogrammetry Photogrammetry adalah suatu teknk yang dgunakan untuk menentukan koordnat suatu ttk pada ruang tga dmens yang berasal dar dua atau lebh gambar dua dmens ttk tersebut

Lebih terperinci

Interpretasi data gravitasi

Interpretasi data gravitasi Modul 7 Interpretas data gravtas Interpretas data yang dgunakan dalam metode gravtas adalah secara kualtatf dan kuanttatf. Dalam hal n nterpretas secara kuanttatf adalah pemodelan, yatu dengan pembuatan

Lebih terperinci

3 METODE HEURISTIK UNTUK VRPTW

3 METODE HEURISTIK UNTUK VRPTW 12 3 METODE HEURISTIK UNTUK VRPTW 3.1 Metode Heurstk Metode heurstk merupakan salah satu metode penentuan solus optmal dar permasalahan optmas kombnatoral. Berbeda dengan solus eksak yang menentukan nla

Lebih terperinci

Kekakuan Balok (Beam) BAB ANAISIS STRUKTUR BAOK Struktur beam merupakan suatu sstem struktur ang merupakan gabungan dar seumlah elemen (batang) ang lurus (a ) d mana pada setap ttk smpulna danggap berperlaku

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 ENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusa dlahrkan ke duna dengan ms menjalankan kehdupannya sesua dengan kodrat Illah yakn tumbuh dan berkembang. Untuk tumbuh dan berkembang, berart setap nsan harus

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri I Tibawa pada semester genap

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri I Tibawa pada semester genap 5 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3. Lokas Dan Waktu Peneltan Peneltan n dlaksanakan d SMA Neger I Tbawa pada semester genap tahun ajaran 0/03. Peneltan n berlangsung selama ± bulan (Me,Jun) mula dar tahap

Lebih terperinci

BEBERAPA SIFAT TERKAIT SUBMODUL SEMIPRIMA

BEBERAPA SIFAT TERKAIT SUBMODUL SEMIPRIMA BEBERAPA SIFAT TERKAIT SUBMODUL SEMIPRIMA A-3 Dan Aresta Yuwanngsh 1 1 Mahasswa S Matematka UGM [email protected] Abstrak Dberkan R merupakan rng dengan elemen satuan, M R-modul kanan, dan R S End

Lebih terperinci

Bab 2 AKAR-AKAR PERSAMAAN

Bab 2 AKAR-AKAR PERSAMAAN Analsa Numerk Bahan Matrkulas Bab AKAR-AKAR PERSAMAAN Pada kulah n akan dpelajar beberapa metode untuk mencar akar-akar dar suatu persamaan yang kontnu. Untuk persamaan polnomal derajat, persamaannya dapat

Lebih terperinci

BAB III HASILKALI TENSOR PADA RUANG VEKTOR. Misalkan V ruang vektor atas lapangan F. Suatu transformasi linear f L ( V, F )

BAB III HASILKALI TENSOR PADA RUANG VEKTOR. Misalkan V ruang vektor atas lapangan F. Suatu transformasi linear f L ( V, F ) 28 BAB III HASILKALI TENSOR PADA RUANG VEKTOR III.1 Ruang Dual Defns III.1.2: Ruang Dual [10] Msalkan V ruang vektor atas lapangan F. Suatu transformas lnear f L ( V, F ) dkatakan fungsonal lnear (atau

Lebih terperinci

BAB V PENGEMBANGAN MODEL FUZZY PROGRAM LINIER

BAB V PENGEMBANGAN MODEL FUZZY PROGRAM LINIER BAB V PENGEMBANGAN MODEL FUZZY PROGRAM LINIER 5.1 Pembelajaran Dengan Fuzzy Program Lner. Salah satu model program lnear klask, adalah : Maksmumkan : T f ( x) = c x Dengan batasan : Ax b x 0 n m mxn Dengan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 2 LNDSN TEORI 2. Teor engamblan Keputusan Menurut Supranto 99 keputusan adalah hasl pemecahan masalah yang dhadapnya dengan tegas. Suatu keputusan merupakan jawaban yang past terhadap suatu pertanyaan.

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI INTERPOLASI LAGRANGE UNTUK PREDIKSI NILAI DATA BERPASANGAN DENGAN MENGGUNAKAN MATLAB

IMPLEMENTASI INTERPOLASI LAGRANGE UNTUK PREDIKSI NILAI DATA BERPASANGAN DENGAN MENGGUNAKAN MATLAB Semnar Nasonal Teknolog 007 (SNT 007) ISSN : 1978 9777 Yogakarta, 4 November 007 IMPEMENTASI INTERPOASI AGRANGE UNTUK PREDIKSI NIAI DATA BERPASANGAN DENGAN MENGGUNAKAN MATAB Krsnawat STMIK AMIKOM Yogakarta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang dan Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang dan Permasalahan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang dan Permasalahan Matematka dbag menjad beberapa kelompok bdang lmu, antara lan analss, aljabar, dan statstka. Ruang barsan merupakan salah satu bagan yang ada d bdang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. yang digunakan meliputi: (1) PDRB Kota Dumai (tahun ) dan PDRB

BAB III METODE PENELITIAN. yang digunakan meliputi: (1) PDRB Kota Dumai (tahun ) dan PDRB BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jens dan Sumber Data Jens data yang dgunakan dalam peneltan n adalah data sekunder. Data yang dgunakan melput: (1) PDRB Kota Duma (tahun 2000-2010) dan PDRB kabupaten/kota

Lebih terperinci

Dekomposisi Nilai Singular dan Aplikasinya

Dekomposisi Nilai Singular dan Aplikasinya A : Dekomposs Nla Sngular dan Aplkasnya Gregora Aryant Dekomposs Nla Sngular dan Aplkasnya Oleh : Gregora Aryant Program Stud Penddkan Matematka nverstas Wdya Mandala Madun aryant_gregora@yahoocom Abstrak

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB 1 ENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara umum dapat dkatakan bahwa mengambl atau membuat keputusan berart memlh satu dantara sekan banyak alternatf. erumusan berbaga alternatf sesua dengan yang sedang

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN MODEL

BAB IV PEMBAHASAN MODEL BAB IV PEMBAHASAN MODEL Pada bab IV n akan dlakukan pembuatan model dengan melakukan analss perhtungan untuk permasalahan proses pengadaan model persedaan mult tem dengan baya produks cekung dan jont setup

Lebih terperinci

P n e j n a j d a u d a u l a a l n a n O pt p im i a m l a l P e P m e b m a b n a g n k g i k t Oleh Z r u iman

P n e j n a j d a u d a u l a a l n a n O pt p im i a m l a l P e P m e b m a b n a g n k g i k t Oleh Z r u iman OTIMISASI enjadualan Optmal embangkt Oleh : Zurman Anthony, ST. MT Optmas pengrman daya lstrk Dmaksudkan untuk memperkecl jumlah keseluruhan baya operas dengan memperhtungkan rug-rug daya nyata pada saluran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang Matematka sebaga bahasa smbol yang bersfat unversal memegang peranan pentng dalam perkembangan suatu teknolog. Matematka sangat erat hubungannya dengan kehdupan nyata.

Lebih terperinci

RANGKAIAN SERI. 1. Pendahuluan

RANGKAIAN SERI. 1. Pendahuluan . Pendahuluan ANGKAIAN SEI Dua elemen dkatakan terhubung ser jka : a. Kedua elemen hanya mempunya satu termnal bersama. b. Ttk bersama antara elemen tdak terhubung ke elemen yang lan. Pada Gambar resstor

Lebih terperinci

PROPOSAL SKRIPSI JUDUL:

PROPOSAL SKRIPSI JUDUL: PROPOSAL SKRIPSI JUDUL: 1.1. Latar Belakang Masalah SDM kn makn berperan besar bag kesuksesan suatu organsas. Banyak organsas menyadar bahwa unsur manusa dalam suatu organsas dapat memberkan keunggulan

Lebih terperinci

2.1 Sistem Makroskopik dan Sistem Mikroskopik Fisika statistik berangkat dari pengamatan sebuah sistem mikroskopik, yakni sistem yang sangat kecil

2.1 Sistem Makroskopik dan Sistem Mikroskopik Fisika statistik berangkat dari pengamatan sebuah sistem mikroskopik, yakni sistem yang sangat kecil .1 Sstem Makroskopk dan Sstem Mkroskopk Fska statstk berangkat dar pengamatan sebuah sstem mkroskopk, yakn sstem yang sangat kecl (ukurannya sangat kecl ukuran Angstrom, tdak dapat dukur secara langsung)

Lebih terperinci

BOKS A SUMBANGAN SEKTOR-SEKTOR EKONOMI BALI TERHADAP EKONOMI NASIONAL

BOKS A SUMBANGAN SEKTOR-SEKTOR EKONOMI BALI TERHADAP EKONOMI NASIONAL BOKS A SUMBANGAN SEKTOR-SEKTOR EKONOMI BALI TERHADAP EKONOMI NASIONAL Analss sumbangan sektor-sektor ekonom d Bal terhadap pembangunan ekonom nasonal bertujuan untuk mengetahu bagamana pertumbuhan dan

Lebih terperinci

BAB III FUNGSI MAYOR DAN MINOR. Pada bab ini akan dibahas konsep-konsep dasar dari fungsi mayor dan fungsi

BAB III FUNGSI MAYOR DAN MINOR. Pada bab ini akan dibahas konsep-konsep dasar dari fungsi mayor dan fungsi BAB III FUNGSI MAYOR DAN MINOR Pada bab n akan dbahas konsep-konsep dasar dar fungs mayor dan fungs mnor dar suatu fungs yang terdefns pada suatu nterval tertutup. Pendefnsan fungs mayor dan mnor tersebut

Lebih terperinci

III PEMODELAN MATEMATIS SISTEM FISIK

III PEMODELAN MATEMATIS SISTEM FISIK 34 III PEMODELN MTEMTIS SISTEM FISIK Deskrps : Bab n memberkan gambaran tentang pemodelan matemats, fungs alh, dagram blok, grafk alran snyal yang berguna dalam pemodelan sstem kendal. Objektf : Memaham

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. berasal dari peraturan SNI yang terdapat pada persamaan berikut.

BAB III LANDASAN TEORI. berasal dari peraturan SNI yang terdapat pada persamaan berikut. BAB III LANDASAN TEORI 3. Kuat Tekan Beton Kuat tekan beban beton adalah besarna beban per satuan luas, ang menebabkan benda uj beton hanur bla dbeban dengan gaa tekan tertentu, ang dhaslkan oleh mesn

Lebih terperinci

PEMBUATAN GRAFIK PENGENDALI BERDASARKAN ANALISIS KOMPONEN UTAMA (PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS)

PEMBUATAN GRAFIK PENGENDALI BERDASARKAN ANALISIS KOMPONEN UTAMA (PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS) PEMBUATAN GRAFIK PENGENDALI BERDASARKAN ANALISIS KOMPONEN UTAMA (PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS) Wrayant ), Ad Setawan ), Bambang Susanto ) ) Mahasswa Program Stud Matematka FSM UKSW Jl. Dponegoro 5-6 Salatga,

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2 Masalah Transportas Jong Jek Sang (20) menelaskan bahwa masalah transportas merupakan masalah yang serng dhadap dalam pendstrbusan barang Msalkan ada m buah gudang (sumber) yang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan BAB III METODE PENELITIAN A. Jens Peneltan Peneltan n merupakan peneltan yang bertujuan untuk mendeskrpskan langkah-langkah pengembangan perangkat pembelajaran matematka berbass teor varas berupa Rencana

Lebih terperinci

DEPARTMEN FISIKA ITB BENDA TEGAR. FI Dr. Linus Pasasa MS Bab 6-1

DEPARTMEN FISIKA ITB BENDA TEGAR. FI Dr. Linus Pasasa MS Bab 6-1 BENDA TEGAR FI-0 004 Dr. Lnus Pasasa MS Bab 6- Bahan Cakupan Gerak Rotas Vektor Momentum Sudut Sstem Partkel Momen Inersa Dall Sumbu Sejajar Dnamka Benda Tegar Menggelndng Hukum Kekekalan Momentum Sudut

Lebih terperinci

Preferensi untuk alternatif A i diberikan

Preferensi untuk alternatif A i diberikan Bahan Kulah : Topk Khusus Metode Weghted Product (WP) menggunakan perkalan untuk menghubungkan ratng atrbut, dmana ratng setap atrbut harus dpangkatkan dulu dengan bobot atrbut yang bersangkutan. Proses

Lebih terperinci

ANALISIS REGRESI. Catatan Freddy

ANALISIS REGRESI. Catatan Freddy ANALISIS REGRESI Regres Lner Sederhana : Contoh Perhtungan Regres Lner Sederhana Menghtung harga a dan b Menyusun Persamaan Regres Korelas Pearson (Product Moment) Koefsen Determnas (KD) Regres Ganda :

Lebih terperinci

DIMENSI PARTISI GRAF GIR

DIMENSI PARTISI GRAF GIR Jurnal Matematka UNAND Vol. 1 No. 2 Hal. 21 27 ISSN : 2303 2910 c Jurusan Matematka FMIPA UNAND DIMENSI PARTISI GRAF GIR REFINA RIZA Program Stud Matematka, Fakultas Matematka dan Ilmu Pengetahuan Alam,

Lebih terperinci

Medan Elektromagnetik

Medan Elektromagnetik Medan Elektromagnetk Kulah 1 Medan Magnet 19 Me 009 Dr. r Poernomo ar, T, MT 1. Medan magnet d sektar arus lstrk Oersted menentukan adanya medan magnet d sektar kawat yang berarus lstrk. Percobaan Oersted

Lebih terperinci

Bab 2 Tinjauan Pustaka 2.1 Penelitian Terdahulu

Bab 2 Tinjauan Pustaka 2.1 Penelitian Terdahulu Bab 2 Tnjauan Pustaka 2.1 Peneltan Terdahulu Pemlhan stud pustaka tentang sstem nformas penlaan knerja karyawan n juga ddasar pada peneltan sebelumnya yang berjudul Penerapan Metode TOPSIS untuk Pemberan

Lebih terperinci

Fisika Dasar I (FI-321)

Fisika Dasar I (FI-321) Fska Dasar I (FI-321) Topk har n Kesetmbangan Statk Syarat Kesetmbangan Pusat Gravtas Kesetmbangan Stabl, Labl dan Netral Kesetmbangan Benda Tegar Kesetmbangan Mekank Benda dkatakan berada dalam kesetmbangan

Lebih terperinci

Nama : Crishadi Juliantoro NPM :

Nama : Crishadi Juliantoro NPM : ANALISIS INVESTASI PADA PERUSAHAAN YANG MASUK DALAM PERHITUNGAN INDEX LQ-45 MENGGUNAKAN PORTOFOLIO DENGAN METODE SINGLE INDEX MODEL. Nama : Crshad Julantoro NPM : 110630 Latar Belakang Pemlhan saham yang

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskrps Data Hasl Peneltan Satelah melakukan peneltan, penelt melakukan stud lapangan untuk memperoleh data nla post test dar hasl tes setelah dkena perlakuan.

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. estimasi, uji keberartian regresi, analisa korelasi dan uji koefisien regresi.

BAB 2 LANDASAN TEORI. estimasi, uji keberartian regresi, analisa korelasi dan uji koefisien regresi. BAB LANDASAN TEORI Pada bab n akan durakan beberapa metode yang dgunakan dalam penyelesaan tugas akhr n. Selan tu penuls juga mengurakan tentang pengertan regres, analss regres berganda, membentuk persamaan

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Definisi Game Theory

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Definisi Game Theory BAB II DASAR TEORI Perkembangan zaman telah membuat hubungan manusa semakn kompleks. Interaks antar kelompok-kelompok yang mempunya kepentngan berbeda kemudan melahrkan konflk untuk mempertahankan kepentngan

Lebih terperinci

Regresi. Bahan Kuliah IF4058 Topik Khusus Informatika I. Oleh; Rinaldi Munir(IF-STEI ITB)

Regresi. Bahan Kuliah IF4058 Topik Khusus Informatika I. Oleh; Rinaldi Munir(IF-STEI ITB) Regres Bahan Kulah IF4058 Topk Khusus Informatka I Oleh; Rnald Munr(IF-STEI ITB) 1 Pendahuluan Regresadalahteknkpencocokankurvauntukdata ang berketeltanrendah. Contohdata ang berketeltanrendahdata haslpengamatan,

Lebih terperinci

BAB IX. STATISTIKA. CONTOH : HASIL ULANGAN MATEMATIKA 5 SISWA SBB: PENGERTIAN STATISTIKA DAN STATISTIK:

BAB IX. STATISTIKA. CONTOH : HASIL ULANGAN MATEMATIKA 5 SISWA SBB: PENGERTIAN STATISTIKA DAN STATISTIK: BAB IX. STATISTIKA. CONTOH : HASIL ULANGAN MATEMATIKA 5 SISWA SBB: PENGERTIAN STATISTIKA DAN STATISTIK: BAB IX. STATISTIKA Contoh : hasl ulangan Matematka 5 sswa sbb: 6 8 7 6 9 Pengertan Statstka dan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Node. Edge. Gambar 1 Directed Acyclic Graph

TINJAUAN PUSTAKA. Node. Edge. Gambar 1 Directed Acyclic Graph TINJAUAN PUSTAKA Bayesan Networks BNs dapat memberkan nformas yang sederhana dan padat mengena nformas peluang. Berdasarkan komponennya BNs terdr dar Bayesan Structure (Bs) dan Bayesan Parameter (Bp) (Cooper

Lebih terperinci

PENENTUAN LOKASI PEMANCAR TELEVISI MENGGUNAKAN FUZZY MULTI CRITERIA DECISION MAKING

PENENTUAN LOKASI PEMANCAR TELEVISI MENGGUNAKAN FUZZY MULTI CRITERIA DECISION MAKING Meda Informatka, Vol. 2, No. 2, Desember 2004, 57-64 ISSN: 0854-4743 PENENTUAN LOKASI PEMANCAR TELEVISI MENGGUNAKAN FUZZY MULTI CRITERIA DECISION MAKING Sr Kusumadew Jurusan Teknk Informatka, Fakultas

Lebih terperinci

BAB III HIPOTESIS DAN METODOLOGI PENELITIAN

BAB III HIPOTESIS DAN METODOLOGI PENELITIAN BAB III HIPOTESIS DAN METODOLOGI PENELITIAN III.1 Hpotess Berdasarkan kerangka pemkran sebelumnya, maka dapat drumuskan hpotess sebaga berkut : H1 : ada beda sgnfkan antara sebelum dan setelah penerbtan

Lebih terperinci

PENERAPAN METODE MAMDANI DALAM MENGHITUNG TINGKAT INFLASI BERDASARKAN KELOMPOK KOMODITI (Studi Kasus pada Data Inflasi Indonesia)

PENERAPAN METODE MAMDANI DALAM MENGHITUNG TINGKAT INFLASI BERDASARKAN KELOMPOK KOMODITI (Studi Kasus pada Data Inflasi Indonesia) PENERAPAN METODE MAMDANI DALAM MENGHITUNG TINGKAT INFLASI BERDASARKAN KELOMPOK KOMODITI (Stud Kasus pada Data Inflas Indonesa) Putr Noorwan Effendy, Amar Sumarsa, Embay Rohaet Program Stud Matematka Fakultas

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI 2.1 Tnjauan Pustaka Dar peneltan yang dlakukan Her Sulstyo (2010) telah dbuat suatu sstem perangkat lunak untuk mendukung dalam pengamblan keputusan menggunakan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB PEDAHULUA. Latar Belakang Rsko ddentfkaskan dengan ketdakpastan. Dalam mengambl keputusan nvestas para nvestor mengharapkan hasl yang maksmal dengan rsko tertentu atau hasl tertentu dengan rsko yang

Lebih terperinci

SISTEM LINEAR MAX-PLUS KABUR WAKTU INVARIANT AUTONOMOUS

SISTEM LINEAR MAX-PLUS KABUR WAKTU INVARIANT AUTONOMOUS SISTEM LINEAR MAX-PLUS KABUR WAKTU INVARIANT AUTONOMOUS A8 M. Andy Rudhto 1 1 Program Stud Penddkan Matematka FKIP Unverstas Sanata Dharma Kampus III USD Pangan Maguwoharjo Yogyakarta 1 e-mal: [email protected]

Lebih terperinci

ALGORITMA UMUM PENCARIAN INFORMASI DALAM SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI BERBASIS METODE VEKTORISASI KATA DAN DOKUMEN

ALGORITMA UMUM PENCARIAN INFORMASI DALAM SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI BERBASIS METODE VEKTORISASI KATA DAN DOKUMEN ALGORITMA UMUM PENCARIAN INFORMASI DALAM SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI BERBASIS METODE VEKTORISASI KATA DAN DOKUMEN Hendra Bunyamn Jurusan Teknk Informatka Fakultas Teknolog Informas Unverstas Krsten Maranatha

Lebih terperinci

berasal dari pembawa muatan hasil generasi termal, sehingga secara kuat

berasal dari pembawa muatan hasil generasi termal, sehingga secara kuat 10 KARAKTRISTIK TRANSISTOR 10.1 Dasar Pengoperasan JT Pada bab sebelumnya telah dbahas dasar pengoperasan JT, utamannya untuk kasus saat sambungan kolektor-bass berpanjar mundur dan sambungan emtor-bass

Lebih terperinci

SCHEMATICS 2009 National Programming Contest

SCHEMATICS 2009 National Programming Contest SCHEMATICS 2009 Natonal Programmng Contest No Nama Problem 1 Berhtung 2 Gelang Cantk 3 Jalan 4 Kubangan Lumpur 5 Ayam dan Bebek 6 Schematcs09 7 Pagar Labrn JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA FAKULTAS TEKNOLOGI

Lebih terperinci

APLIKASI METODE SINGULAR VALUE DECOMPOSITION(SVD) PADA SISTEM PERSAMAAN LINIER KOMPLEKS

APLIKASI METODE SINGULAR VALUE DECOMPOSITION(SVD) PADA SISTEM PERSAMAAN LINIER KOMPLEKS Vol No Jurnal Sans Teknolog Industr APLIKASI METODE SINGULAR VALUE DECOMPOSITION(SVD) PADA SISTEM PERSAMAAN LINIER KOMPLEKS Ftr Aryan Dew Yulant Jurusan Matematka Fakultas Sans Teknolog UIN SUSKA Rau Emal:

Lebih terperinci

ε adalah error random yang diasumsikan independen, m X ) adalah fungsi

ε adalah error random yang diasumsikan independen, m X ) adalah fungsi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Analss regres merupakan suatu metode yang dgunakan untuk menganalss hubungan antara dua atau lebh varabel. Pada analss regres terdapat dua jens varabel yatu

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode BAB III METODE PENELITIAN Desan Peneltan Metode peneltan yang dgunakan dalam peneltan n adalah metode deskrptf analts dengan jens pendekatan stud kasus yatu dengan melhat fenomena permasalahan yang ada

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di MTs Negeri 2 Bandar Lampung dengan populasi siswa

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di MTs Negeri 2 Bandar Lampung dengan populasi siswa III. METODE PENELITIAN A. Populas dan Sampel Peneltan n dlakukan d MTs Neger Bandar Lampung dengan populas sswa kelas VII yang terdr dar 0 kelas yatu kelas unggulan, unggulan, dan kelas A sampa dengan

Lebih terperinci

IV. PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM

IV. PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM IV. PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM Perancangan Sstem Sstem yang akan dkembangkan adalah berupa sstem yang dapat membantu keputusan pemodal untuk menentukan portofolo saham yang dperdagangkan d Bursa

Lebih terperinci

LAMPIRAN A PENURUNAN PERSAMAAN NAVIER-STOKES

LAMPIRAN A PENURUNAN PERSAMAAN NAVIER-STOKES LAMPIRAN A PENURUNAN PERSAMAAN NAVIER-STOKES Hubungan n akan dawal dar gaya yang beraks pada massa fluda. Gaya-gaya n dapat dbag ke dalam gaya bod, gaya permukaan, dan gaya nersa. a. Gaya Bod Gaya bod

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB LANDASAN TEORI.1 Pengertan Regres Regres pertama kal dgunakan sebaga konsep statstka oleh Sr Francs Galton (18 1911).Belau memperkenalkan model peramalan, penaksran, atau pendugaan, yang selanjutnya

Lebih terperinci

MENCERMATI BERBAGAI JENIS PERMASALAHAN DALAM PROGRAM LINIER KABUR. Mohammad Asikin Jurusan Matematika FMIPA UNNES. Abstrak

MENCERMATI BERBAGAI JENIS PERMASALAHAN DALAM PROGRAM LINIER KABUR. Mohammad Asikin Jurusan Matematika FMIPA UNNES. Abstrak JURAL MATEMATIKA DA KOMUTER Vol. 6. o., 86-96, Agustus 3, ISS : 4-858 MECERMATI BERBAGAI JEIS ERMASALAHA DALAM ROGRAM LIIER KABUR Mohammad Askn Jurusan Matematka FMIA UES Abstrak Konsep baru tentang hmpunan

Lebih terperinci