UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 49 JL. PAHLAWAN REVOLUSI NO. 53 PONDOK BAMBU JAKARTA TIMUR PERIODE 2 APRIL-11 MEI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER ARY ANDRIANI, S. Farm 1106046723 ANGKATAN LXXIV FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM PROFESI APOTEKER DEPARTEMEN FARMASI DEPOK JUNI 2012
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 49 JL. PAHLAWAN REVOLUSI NO. 53 PONDOK BAMBU JAKARTA TIMUR PERIODE 2 APRIL-11 MEI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker ARY ANDRIANI, S. Farm 1106046723 ANGKATAN LXXIV FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM PROFESI APOTEKER DEPARTEMEN FARMASI DEPOK JUNI 2012 ii Universitas Inonesia
HALAMAN PENGESAHAN Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker ini diajukan oleh : Nama : Ary Andriani, S.Farm. NPM : 1106046723 Program Studi : Apoteker - Departemen Farmasi FMIPA UI Judul Laporan : Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Apotek Kimia Farma No. 49, Jl. Pahlawan Revolusi No. 53, Pondok Bambu, Jakarta Timur Periode 2 April-11 Mei 2012 Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Pengujian dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Apoteker pada Program Studi Apteker Departemen Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,. DEWAN PENGUJI Pembimbing 1 : Drs. Khairul Mukmin, Apt. (...) Pembimbing 2 : Nadia Farhanah Syafhan, M.Si, Apt. (...) Penguji :... (...) Penguji :... (...) Penguji :... (...) Ditetapkan di : Depok Tanggal : iii Universitas Inonesia
KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) Angkatan LXXIV, yang diselenggarakan pada tanggal 2 April-11 Mei 2012 di Apotek Kimia Farma No. 49, Jl. Pahlawan Revolusi No.53, Pondok Bambu, Jakarta Timur. Kegiatan PKPA dan penyusunan laporan PKPA merupakan bagian dari kegiatan perkuliahan program pendidikan profesi apoteker dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, pengetahuan dan keterampilan mahasiswa. Setelah mengikuti kegiatan PKPA, diharapkan apoteker yang lulus nantinya dapat mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki kepada masyarakat pada saat memasuki dunia kerja. Dalam pelaksanaan kegiatan PKPA ini penulis tak luput mendapat banyak bantuan, bimbingan, dan saran-saran dari bberbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini dengan penuh ketulusan dan kerendahan hati penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada : 1. Drs. Khairul Mukmin, Apt. selaku pembimbing dari Apotek Kimia Farma No. 49 yang telah memberikan pengarahan dan bibingan selama PKPA. 2. Seluruh staf pengajar tutorial PKPA di Apotek Kimia Farma. 3. Ibu Prof. Dr. Yahdiana Harahap, MS., Apt. selaku Ketua Departemen Farmasi FMIPA. 4. Bapak Dr. Harmita, Apt. selaku Ketua Program Profesi Apoteker Departemen Farmasi FMIPA. 5. Ibu Nadia Farhanah Syafhan, M.Si., Apt. selaku pembimbing dari Departemen Farmasi FMIPA. 6. Seluruh staf Departemen Farmasi FMIPA 7. Serta pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu, yang telah memberikan dukungan dalam penyusunan laporan ini. Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan laporan ini masih terdapat banyak kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Akhir kata, penulis berharap semoga pengetahuan iv Universitas Inonesia
dan pengalaman yang penulis peroleh selama menjalani Praktek Kerja Profesi Apoteker ini dapat memberikan manfat bagi rekan-rekan sejawat dan semua pihak yang membutuhkan. Depok, Juni 2012 Penulis v Universitas Inonesia
DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... ii LEMBAR PENGESAHAN... iii KATA PENGANTAR... iv DAFTAR ISI... vi DAFTAR LAMPIRAN... viii BAB 1 PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Tujuan... 2 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA... 3 2.1 Definisi Apotek... 3 2.2 Landasan Hukum Apotek... 3 2.3 Tugas dan Fungsi Apotek... 4 2.4 Tata Cara Pemberian Apotek... 4 2.5 Kelengkapan Apotek... 6 2.6 Tenaga Kerja Apotek... 7 2.7 Apoteker Pengelola Apotek... 8 2.8 Pengalihan Tanggung Jawab Apoteker... 10 2.9 Pencabutan Surat Izin Apotek... 11 2.10 Sediaan Farmasi... 12 2.11 Pelayanan Kefarmasian di Apotek... 15 2.12 Pengelolaan Narkotika... 17 2.13 Pengelolaan Psikotropika... 20 2.14 Pengadaan Persediaan Apotek... 22 2.15 Pengendalian Persediaan Apotek... 24 BAB 3 TINJAUAN UMUM PT KIMIA FARMA, Tbk... 32 3.1 PT. Kimia Farma (Persero), Tbk... 32 3.2 PT. Kimia Farma Apotek... 34 BAB 4 TINJAUAN KHUSUS APOTEK KIMIA FARMA NO. 49... 39 4.1 Lokasi dan Tata Ruang Apotek... 39 4.2 Struktur Organisasi dan Personalia Apotek... 41 4.3 Tugas dan Tanggung Jawab Personalia Apotek... 42 4.4 Kegiatan Apotek... 44 BAB 5 PEMBAHASAN... 56 vi Universitas Inonesia
BAB 6 PENUTUP... 69 5.1 Kesimpulan... 69 5.2 Saran... 69 DAFTAR ACUAN... 70 LAMPIRAN... 71 vii Universitas Inonesia
DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1. Contoh Formulir APT-1... 72 Lampiran 2. Contoh Formulir APT-2... 74 Lampiran 3. Contoh Formulir APT-3... 75 Lampiran 4. Contoh Formulir APT-4... 81 Lampiran 5. Contoh Formulir APT-5... 82 Lampiran 6. Contoh Formulir APT-6... 85 Lampiran 7. Contoh Formulir APT-7... 86 Lampiran 8. Struktur Organisasi PT. Kimia Farma Apotek... 87 Lampiran 9. Struktur Organisasi Bisnis Manager... 88 Lampiran 10 Tata ruang apotek kimia farma No. 49... 89 Lampiran 11. Struktur organisasi apotek kimia farma No. 49... 90 Lampiran 12. Bon Permintaan Parang Apotek (BPBA)... 91 Lampiran 13. Bon Penerimaan Barang (dropping) dari BM Jaya II... 92 Lampiran 14. Lembar kartu stok... 93 Lampiran 15. Lembar copy resep... 95 Lampiran 16. Lembar kuitansi pembayaran resep/tunai... 96 Lampiran 17. Alur Pelayanan Resep..... 97 Lampiran 18. Lembar penomoran resep kredit... 98 Lampiran 19. Lembar formulir permintaan DOWA... 99 Lampiran 20. Lembar surat pesanan narkotika... 100 Lampiran 21. Surat Pengantar Narkotika dan Psikotropika... 101 Lampiran 22. Laporan penggunaan sediaan jadi narkotika... 102 Lampiran 23. Lembar surat pesanan psikotropik... 103 Lampiran 24. Laporan penggunaan psikotropika... 104 viii Universitas Inonesia
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pelayanan kesehatan merupakan suatu upaya yang diselenggarakan secara mandiri atau bersama-sama dan diarahkan untuk meningkatkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Berbagai upaya pembangunan kesehatan dilakukan diantaranya dengan pemerataan dan peningkatan pelayanan kesehatan yang memadai, penyediaan jumlah obat yang mencukupi, bermutu baik dan terdistribusi merata dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat luas. Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan yang berperan dalan upaya mempertinggi derajat kesehatan. Berdasarkan PP 51 tahun 2009, apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh apoteker. Untuk menunjang tugas apoteker dan juga menjamin mutu pelayanan kefarmasian kepada masyarakat maka dibuatlah standar pelayanan kefarmasian diapotek yang telah diberlakukan sejak Oktober 2004. Tujuan dari hal tersebut agar dapat digunakan sebagai pedoman praktek apoteker dalam menjalankan profesi, untuk melindungi masyarakat dari pelayanan yang tidak profesional dan untuk melindungi profesi apoteker dalam menjalankan praktek kefarmasian. Apotek merupakan suatu jenis usaha yang disamping memiliki unsur sosial yaitu pelayanan kesehatan (patient oriented), juga memiliki unsur bisnis (profit oriented). Dalam menjalankan kedua unsur tersebut, disinilah apoteker sebagai penanggung jawab apotek, memiliki peranan yang besar untuk dapat menyelaraskan kedua unsur tersebut agar berjalan sebaik-baiknya. Untuk mempersiapkan para apoteker yang profesional maka perlu dilakukan praktek kerja di Apotek sebagai pelatihan untuk menerapkan ilmu yang telah didapatkan di masa kuliah serta dapat mempelajari segala kegiatan dan permasalahan yang ada di suatu apotek. Dengan dilatarbelakangi hal tersebut maka diadakan kerjasama antara Program Pendidikan Profesi Apoteker Departemen Farmasi FMIPA dengan PT. Kimia Farma Apotek, berupa Pelatihan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Apotek Kimia Farma 1
2 yang dilaksanakan pada tanggal 2 April 2012 sampai dengan 11 Mei 2012, sehingga diharapkan para calon apoteker dapat mengenal, mengerti, serta menghayati peran dan tanggung jawab seorang apoteker di apotek, selain itu juga dapat menambah pengetahuan serta meningkatkan keterampilan dalam pekerjaan kefarmasiannya. 1.2 Tujuan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) yang diselenggarakan oleh Departemen Farmasi FMIPA UI yang bekerja sama dengan PT. Kimia Farma bertujuan untuk : 1.2.1 Mengetahui dan memahami peran dan tanggung jawab apoteker di apotek. 1.2.2 Mempelajari cara pengelolaan apotek yang dijalankan sebagai upaya dalam memberikan pelayanan kesehatan masyarakat di apotek.
BAB 2 TINJAUAN UMUM 2.1 Definisi Apotek Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, apotek adalah tempat dilakukannya pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi, serta perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. Sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetika, sedangkan perbekalan kesehatan adalah semua bahan selain obat dan peralatan yang diperlukan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan. Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian Pasal 1, apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh Apoteker. Pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian obat atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat, dan obat tradisional. Pelayanan kefarmasian merupakan suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan tujuan untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien. Sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetika. 2.2 Landasan Hukum Apotek Apotek memiliki landasan hukum yang diatur dalam : a. Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian. b. Keputusan Pemertintah Kesehatan RI No. 1027/MENKES/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. c. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1332/MENKES/SK/X/2003 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No.922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. 3
4 d. Undang-Undang No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. e. Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. f. Peraturan Menteri Kesehatan No. 922/MENKES/PER/X/1993 tentang Kententuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. g. Undang-Undang Kesehatan RI No.39 tahun 2009 tentang Kesehatan. h. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 889/MENKES/PER/V/2011 tentang Registrasi, Izin Praktik, dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian. i. Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1980 tentang perubahan atas PP No.26 Tahun 1965 tentang Apotek. 2.3 Tugas dan Fungsi Apotek Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 1980, tugas dan fungsi apotek adalah sebagai berikut: a. Tempat pengabdian profesi seorang Apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan. b. Sarana farmasi yang melaksanakan peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran, dan penyerahan obat atau bahan obat. c. Sarana penyaluran perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang diperlukan masyarakat secara luas dan merata. 2.4 Tata Cara Pemberian Izin Apotek Sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1332/Menkes/SK/X/2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 922/MENKES/PER/X/1993, Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek adalah sebagai berikut : a. Permohonan izin apotek diajukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan menggunakan contoh Formulir Model APT-1 (Lampiran 1). b. Dengan menggunakan Formulir APT-2 (Lampiran 2) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selambat-lambatnya 6 (enam) hari kerja setelah menerima
5 permohonan dapat meminta bantuan teknis kepada Kepala Balai POM untuk melakukan pemeriksaan terhadap kesiapan apotek melakukan kegiatan. c. Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM selambatlambatnya 6 (enam) hari kerja setelah permintaan bantuan teknis dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melaporkan hasil pemeriksaan setempat dengan menggunakan contoh Formulir APT-3 (Lampiran 3). d. Dalam hal pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan (3) tidak dilaksanakan, Apoteker Pemohon dapat membuat surat pernyataan siap melakukan kegiatan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dengan tembusan kepada Kepala Dinas Propinsi dengan menggunakan contoh Formulir Model APT-4 (Lampiran 4). e. Dalam jangka waktu 12 (dua belas) hari kerja setelah diterima laporan pemeriksaan sebagaimana dimaksud ayat (3) atau pernyataan ayat (4) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat mengeluarkan SIA dengan menggunakan contoh Formulir Model APT-5 (Lampiran 5). f. Dalam hal hasil pemeriksaan Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM dimaksud ayat (3) masih belum memenuhi syarat, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dalam waktu 12 (dua belas) hari kerja mengeluarkan Surat Penundaan dengan menggunakan contoh Formulir Model APT-6 (Lampiran 6). g. Terhadap surat penundaan, Apoteker diberi kesempatan untuk melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi selambat-lambatnya dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal surat penundaan. h. Terhadap permohonan izin apotek yang ternyata tidak memenuhi persyaratan, atau lokasi yang tidak sesuai dengan permohonan, maka Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam jangka waktu selambat-lambatnya 12 (dua belas) hari kerja wajib mengeluarkan surat penolakan disertai dengan alasannya dengan menggunakan formulir model APT-7 (Lampiran 7). Bila Apoteker menggunakan sarana milik pihak lain dalam pendirian apotek, dengan mengadakan kerja sama dengan Pemilik Sarana Apotek, maka harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
6 a. Penggunaan sarana apotek yang dimaksud, wajib didasarkan atas perjanjian kerja sama antara Apoteker dan pemilik sarana. b. Pemilik sarana yang dimaksud harus memenuhi persyaratan tidak pernah terlibat dalam pelanggaran peraturan perudang-undangan di bidang obat sebagaimana dinyatakan dalam surat pernyataan yang bersangkutan. 2.5 Kelengkapan Apotek Untuk mendapatkan izin apotek, seorang apoteker atau apoteker yang bekerja sama dengan pemilik sarana yang telah memenuhi persyaratan, harus siap dengan tempat, perlengkapan termasuk sediaan farmasi dan perbekalan farmasi yang lain yang merupakan milik sendiri atau milik pihak lain. Beberapa kelengkapan yang harus diperhatikan dalam pendirian sebuah apotek adalah tempat atau lokasi, bangunan, perlengkapan apotek, tenaga kerja apotek, dan perbekalan farmasi (Umar, 2011). 2.5.1 Lokasi Apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan kegiatan pelayanan komoditi lainnya di luar sediaan farmasi. Persyaratan jarak minimum antar apotek tidak dipermasalahkan lagi, akan tetapi ketentuan ini dapat berbeda, sesuai dengan kebijakan/peraturan daerah masing-masing. Lokasi apotek dapat dipilih dengan mempertimbangkan segi pemerataan dan pelayanan kesehatan, jumlah penduduk, jumlah praktek dokter, sarana dan pelayanan kesehatan lain, sanitasi dan faktorfaktor lainnya. 2.5.2 Bangunan Suatu apotek harus mempunyai luas bangunan yang cukup sehingga dapat menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan fungsi apotek. Bangunan apotek yang baik hendaknya memiliki ruang tunggu pasien, ruang peracikan dan penyerahan obat, ruang administrasi, ruang kerja apoteker, tempat pencucian alat dan kamar kecil. Bangunan apotek sebaiknya juga memiliki sumber air yang memenuhi syarat kesehatan, sumber penerangan yang dapat memberikan penerangan yang memadai, alat pemadam kebakaran, serta ventilasi dan sanitasi
7 yang baik. Papan nama apotek dipasang di depan bangunan dengan ketentuan memenuhi ukuran minimal panjang 60 cm, lebar 40 cm dengan tulisan hitam diatas dasar putih, tinggi huruf minimal 5 cm, umumnya terbuat dari papan seng yang pada bagian mukanya memuat nama apotek, nama APA, nomor SIA, alamat apotek, nomor telepon. 2.5.3 Peralatan Apotek Suatu apotek baru yang ingin beroperasi harus memiliki peralatan apotek yang memadai agar dapat mendukung pelayanan kefarmasiannya. Peralatan apotek yang harus dimiliki antara lain : a. Peralatan pembuatan, pengolahan dan peracikan seperti timbangan, lumpang, alu,gelas ukur, dan lain-lain. b. Peralatan dan tempat penyimpanan alat perbekalan farmasi seperti lemari obat, lemari pendingin (kulkas), dan lemari khusus untuk narkotika dan psikotropika. Lemari narkotik harus memenuhi persyaratan yang ada dalam Undang-Undang Narkotika Nomor 35 Tahun 2009. c. Wadah pengemas dan pembungkus. d. Perlengkapan administrasi seperti blanko pesanan, salinan resep, buku catatan penjualan, buku catatan pembelian, kartu stok obat, dan kuitansi. e. Buku-buku dan literatur standar yang diwajibkan, serta kumpulan perundangundangan yang berhubungan dengan kegiatan apotek. 2.6 Tenaga Kerja Apotek Berdasarkan Permenkes RI No. 1322/MENKES/SK/X/2002 pasal 1, tenaga kerja yang terlibat dalam kegiatan operasional apotek terdiri dari : a. Satu orang Apoteker Pengelola Apotek (APA), yaitu apoteker yang telah diberi Surat Izin Apotek (SIA). b. Apoteker Pendamping, yaitu apoteker yang bekerja di apotek di samping Apoteker Pengelola Apotek (APA) dan/atau menggantikan pada jam-jam tertentu pada hari buka apotek. c. Apoteker Pengganti, yaitu apoteker yang menggantikan Apoteker Pengelola Apotek selama Apoteker Pengelola Apotek tersebut tidak berada di tempat
8 lebih dari 3 (tiga) bulan secara terus-menerus, telah memiliki Surat Izin Kerja dan tidak bertindak sebagai Apoteker Pengelola Apotek di apotek lain. d. Asisten Apoteker adalah mereka yang berdasarkan peraturan perundangundangan berhak melakukan pekerjaan kefarmasian sebagai Asisten Apoteker. Sedangkan tenaga lainnya yang diperlukan untuk mendukung kegiatan di apotek terdiri dari : a. Juru resep adalah petugas yang membantu pekerjaan Asisten Apoteker. b. Kasir adalah petugas yang bertugas menerima uang dan mencatat pemasukan serta pengeluaran uang. c. Pegawai tata usaha adalah petugas yang melaksanakan administrasi apotek dan membuat laporan pembelian, penjualan, penyimpanan dan keuangan apotek. 2.7 Apoteker Pengelola Apotek Permenkes RI No. 1322/MENKES/SK/X/2002 menjelaskan Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus dan telah mengucapkan sumpah jabatan Apoteker. Apoteker Pengelola Apotek (APA) adalah Apoteker yang telah diberi surat Izin Apotek (SIA). Sebelum melaksanakan kegiatannya, seorang APA wajib memiliki Surat Izin Apotek (SIA) yang berlaku untuk seterusnya selama apotek masih aktif melakukan kegiatan dan APA dapat melakukan pekerjaannya serta masih memenuhi persyaratan. Seorang APA bertanggung jawab akan kelangsungan hidup apotek yang dipimpinnya, dan juga bertanggung jawab kepada pemilik modal apabila bekerja sama dengan pemilik sarana apotek (PSA). Apoteker yang akan menjalankan pekerjaan kefarmasian harus memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut (Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 Pasal 35,37,52,54) : a. Memiliki keahlian dan kewenangan. b. Menerapkan Standar Profesi. c. Didasarkan pada Standar Kefarmasian dan Standar Operasional d. Memiliki sertifikat kompetensi profesi e. Memiliki Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA)
9 f. Wajib memiliki Surat Izin Praktek Apoteker (SIPA) bagi Apoteker Pengelola Apotek (APA) dan Apoteker Pendamping di Apotek. g. Apoteker Pengelola Apotek (APA) hanya dapat melaksanakan praktek di satu apotek sedangkan Apoteker Pendamping hanya dapat melaksanakan praktek paling banyak di tiga Apotek. Surat Tanda Registrasi (STRA) merupakan bukti tertulis yang diberikan oleh Menteri kepada Apoteker yang telah diregistrasi. STRA berlaku 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu lima tahun selama masih memenuhi persyaratan. Untuk memperoleh STRA, Apoteker harus memenuhi persyaratan (Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 Pasal 40): a. Memiliki ijazah Apoteker b. Memiliki sertifikat kompetensi profesi c. Mempunyai surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji Apoteker d. Mempunyai surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang memiliki surat izin praktek e. Membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi Surat Izin Praktek Apoteker (SIPA) adalah surat izin yang diberikan kepada Apoteker dan Apoteker Pendamping untuk dapat melaksanakan pekerjaan kefarmasian pada Apotek atau Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS). SIPA dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota tempat pekerjaan kefarmasian dilakukan. SIPA dapat dibatalkan demi hukum apabila pekerjaan kefarmasian dilakukan pada tempat yang tidak sesuai dengan yang tercantum dalam surat izin. Untuk mendapatkan SIPA, Apoteker harus memiliki (Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 Pasal 55) : a. Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA) b. Tempat atau ada tempat untuk melakukan pekerjaan kefarmasian atau fasilitas kesehatan yang memiliki izin c. Rekomendasi dari organisasi profesi
10 Tugas dan kewajiban apoteker di apotek adalah sebagai berikut : a. Memimpin seluruh kegiatan apotek, baik kegiatan teknis maupun non teknis kefarmasian sesuai dengan ketentuan maupun perundangan yang berlaku b. Mengatur, melaksanakan, dan mengawasi administrasi c. Mengusahakan agar apotek yang dipimpinnya dapat memberikan hasil yang optimal sesuai dengan rencana kerja dengan cara meningkatkan omset, mengadakan pembelian yang sah dan penekanan biaya serendah mungkin d. Melakukan pengembangan usaha apotek Wewenang dan tanggung jawab APA meliputi (Umar, 2011): a. Menentukan arah terhadap seluruh kegiatan b. Menentukan sistem (peraturan) terhadap seluruh kegiatan c. Mengawasi pelaksanaan seluruh kegiatan d. Bertanggung jawab terhadap kinerja yang dicapai. 2.8 Pengalihan Tanggung Jawab Apoteker Pengalihan tanggung jawab apoteker diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1332/MenKes/SK/X/2002 (Pasal 19 dan 24) yaitu : a. Apabila Apoteker Pengelola Apotek (APA) berhalangan melakukan tugasnya pada jam buka apotek, APA harus menunjuk apoteker pendamping. b. Apabila APA dan Apoteker pendamping karena hal-hal tertentu berhalangan melakukan tugasnya, APA menunjuk apoteker pengganti. c. Apabila APA meninggal dunia, dalam jangka waktu dua kali dua puluh empat jam, ahli waris APA wajib melaporkan kejadian tersebut secara tertulis kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. d. Apabila pada apotek tersebut tidak terdapat Apoteker pendamping, pelaporan oleh ahli waris wajib disertai penyerahan resep, narkotika, psikotropika, obat keras, dan kunci tempat penyimpanan narkotika dan psikotropika. e. Pada penyerahan resep, narkotika, psikotropika dan obat keras serta kunci tersebut, dibuat berita acara serah terima dengan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat.
11 Penunjukkan Apoteker Pendamping dan Apoteker Pengganti harus dilaporkan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi setempat. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 922/MENKES/PER/X/1993 menjelaskan jika pengalihan tanggung jawab pengelolaan kefarmasian yang disebabkan karena penggantian Apoteker Pengelola Apotik kepada Apotek Pengganti, wajib dilakukan serah terima resep, narkotika, obat dan perbekalan farmasi lainnya serta kunci-kunci tempat penyimpanan narkotika dan psikotropika. Serah terima tersebut dibuat Berita Acara Serah Terima yang dibuat rangkap empat dan ditandatangani kedua belah pihak yang melakukan serah terima. 2.9 Pencabutan Surat Izin Apotek Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1332/Menkes/SK/X/2002 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek, Kepala Suku Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten dapat mencabut Surat Izin Apotek apabila: a. Apoteker tidak lagi memenuhi kewajibannya untuk menyediakan, menyimpan dan menyerahkan sediaan farmasi yang bermutu baik dan keabsahannya terjamin. b. Apoteker Pengelola Apotek berhalangan melakukan tugasnya lebih dari dua tahun secara terus menerus. c. Terjadi pelanggaran terhadap Undang-Undang tentang Narkotika, Undang- Undang Obat Keras, dan Undang-Undang tentang Kesehatan. d. Surat Izin Praktek Apoteker Pengelola Apotek dicabut. e. Apotek tidak dapat lagi memenuhi persyaratan mengenai kesiapan tempat pendirian apotek, serta kelengkapan sediaan farmasi dan perbekalan lainnya baik merupakan milik sendiri atau pihak lain.
12 Pelaksanaan pencabutan surat izin apotek dilaksanakan setelah dikeluarkan : a. Peringatan secara tertulis kepada APA sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut dengan tenggang waktu masing-masing 2(dua) bulan dengan menggunakan contoh Formulir Model APT-12. b. Pembekuan izin apotek untuk jangka waktu selama-lamanya 6 (enam) bulan sejak dikeluarkannya penetapan pembekuan kegiatan Apotek dengan menggunakan Formulir Model APT-13. Pembekuan Izin Apotek sebagaimana dimaksud dalam huruf (b) di atas, dapat dicairkan kembali apabila apotek telah membuktikan memenuhi seluruh persyaratan sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan ini dengan menggunakan contoh Formulir Model APT-14. Pencairan Izin Apotek yang dimaksud dilakukan setelah menerima laporan pemeriksaan dari Tim Pemeriksaan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat. Apabila Surat Izin Apotek dicabut, Apoteker Pengelola Apotek atau Apoteker Pengganti wajib mengamankan perbekalan farmasi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengamanan yang dimaksud wajib mengikuti tata cara sebagai berikut : a. Dilakukan inventarisasi terhadap seluruh persediaan narkotika, obat keras tertentu, dan obat lain serta seluruh resep yang tersedia di apotek. b. Narkotika, psikotropika dan resep harus dimasukkan dalam tempat yang tertutup dan terkunci. c. Apoteker Pengelola Apotek wajib melaporkan secara tertulis kepada Kepala Wilayah Kantor Kementeriaan Kesehatan atau petugas yang diberi wewenang olehnya, tentang penghentian kegiatan disertai laporan inventarisasi yang dimaksud dalam huruf (a). 2.10 Sediaan Farmasi Sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetik. Untuk menjaga keamanan penggunaan obat oleh masyarakat, maka pemerintah menggolongkan obat menjadi obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras, serta narkotik dan psikotropik.
13 2.10.1 Obat bebas (Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 2380/A/SK/VI/83) Obat bebas adalah obat tanpa peringatan, yang dapat diperoleh tanpa resep dokter. Tanda khusus yang terdapat pada obat bebas adalah lingkaran bulat berwarna hijau dengan garis tepi hitam. Gambar 2.1 Penandaan obat bebas 2.10.2 Obat bebas terbatas (Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 2380/A/SK/VI/83) Obat bebas terbatas adalah obat dengan peringatan, yang dapat diperoleh tanpa resep dokter. Tanda khusus yang terdapat obat bebas terbatas adalah lingkaran bulat berwarna biru dengan garis tepi hitam. Gambar 2.2 Penandaan obat bebas terbatas 2.10.3 Obat keras daftar G (Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 2396/A/SK/VII/86) Obat keras adalah obat yang dapat diperoleh dengan resep dokter. Tanda pada obat keras berupa lingkaran bulat berwarna bulat merah dengan garis tepi hitam dengan huruf K yang menyentuh garis tepi dan harus mencantumkan kalimat Harus dengan resep dokter. Gambar 2.3 Penandaan obat keras 2.10.4 Narkotika (Undang-undang nomor 35 Tahun 2009) Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan
14 atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Gambar 2.4 Penandaan obat narkotika Narkotika dibagi ke dalam tiga golongan yaitu : a. Narkotika Golongan I Narkotika Golongan I dilarang digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan. Narkotika golongan I dalam jumlah terbatas hanya digunakan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk reagensia diagnostik dan reagensia laboratorium setelah mendapatkan persetujuan Menteri atas rekomendasi dari Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan. Contoh : Tanaman Papaver somniferum, opium, kokain, heroin, psilosibin, amfetamin. b. Narkotika Golongan II Contoh : Difenoksilat, metadon, morfin, petidin. c. Narkotika Golongan III Contoh : Kodein, dihidrokodein, norkodein. Menurut Undang-undang nomor 5 Tahun 1997, psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Psikotropika digolongkan menjadi empat golongan. a. Psikotropika golongan I, contohnya psilosibin, dan lisergida; b. Psikotropika golongan II, contohnya amfetamin, deksamfetamin, metamfetamin, dan sekobarbital; c. Psikotropika golongan III, contohnya amobarbital, pentazosin, pentobarbital, dan siklobarbital; d. Psikotropika golongan IV, contohnya alobarbital, alprazolam, barbital, diazepam, dan fenobarbital.
15 2.11 Pelayanan Kefarmasian di Apotek Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, Pelayanan Kefarmasian (Pharmaceutical care) adalah bentuk pelayanan dan tanggung jawab langsung profesi apoteker dalam pekerjaan kefarmasian untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Pelayanan kefarmasian pada saat ini telah bergeser orientasinya dari obat ke pasien yang mengacu kepada pelayanan kefarmasian (pharmaceutical care). Kegiatan pelayanan kefarmasian yang semula hanya berfokus pada pengelolaan obat sebagai komoditi, sekarang menjadi pelayanan yang komprehensif dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dari pasien. Pelayanan kefarmasian di dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004, terdiri dari pelayanan resep, pemberian informasi obat, konseling, pemantauan penggunaan obat, promosi dan edukasi, serta Pelayanan Residensial (Home Care). 2.11.1 Pelayanan Resep a. Skrining resep Apoteker melakukan skrining resep meliputi persyaratan administratif (nama,sip dan alamat dokter, tanggal penulisan resep, tanda tangan/paraf dokter penulis resep, nama, alamat, umur, jenis kelamin, dan berat badan pasien), kesesuaian farmasetik (bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas, cara dan lama pemberian), pertimbangan klinis (adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian dosis, durasi, jumlah obat dan lain-lain). b. Penyiapan obat Penyiapan obat terdiri dari peracikan, penulisan etiket, pengemasan, serta penyerahan obat. Peracikan merupakan kegiatan menyiapkan, menimbang, mencampur, mengemas dan memberikan etiket pada wadah. Dalam melaksanakan peracikan obat harus dibuat suatu prosedur tetap dengan memperhatikan dosis, jenis dan jumlah obat serta penulisan etiket yang benar. Penulisan etiket harus jelas dan dapat dibaca. Obat hendaknya dikemas dengan rapi dalam kemasan yang cocok sehingga terjaga kualitasnya. Sebelum obat
16 diserahkan pada pasien, harus dilakukan pemeriksaan akhir terhadap kesesuaian antara obat dengan resep. Penyerahan obat dilakukan oleh apoteker disertai pemberian informasi obat dan konseling kepada pasien. 2.11.2 Pemberian Informasi Obat Apoteker harus memberikan informasi yang benar, jelas dan mudah dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana, dan terkini. Informasi obat pada pasien sekurang-kurangnya meliputi cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi. 2.11.3 Konseling Konseling adalah suatu proses komunikasi dua arah yang sistematik antara apoteker dan pasien untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan obat dan pengobatan. Apoteker harus memberikan konseling, mengenai sediaan farmasi, pengobatan dan perbekalan kesehatan lainnya, sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien atau yang bersangkutan terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau penggunaan salah sediaan farmasi atau perbekalan kesehatan lainnya. Untuk penderita penyakit tertentu seperti kardiovaskular, diabetes, TBC, asthma, dan penyakit kronis lainnya, apoteker harus memberikan konseling secara berkelanjutan. 2.11.4 Pemantauan Penggunaan Obat Setelah penyerahan obat kepada pasien, apoteker harus melaksanakan pemantauan penggunaan obat, terutama untuk pasien tertentu seperti cardiovascular, diabetes, TBC, asma, dan penyakit kronis lainnya. Pemantauan dilakukan terhadap khasiat obat serta efek samping yang kemungkinan dapat terjadi. 2.11.5 Promosi dan Edukasi Dalam rangka pemberdayaan masyarakat, apoteker harus berpartisipasi secara aktif dalam promosi dan edukasi. Apoteker ikut membantu diseminasi
17 informasi, antara lain dengan penyebaran leaflet / brosur, poster, penyuluhan, dan lain-lainnya. 2.11.6 Pelayanan Residensial (Home Care) Pelayanan residensial (Home care) adalah pelayanan apoteker sebagai care giver dalam pelayanan kefarmasian di rumah-rumah khususnya untuk kelompok lansia dan pasien dengan pengobatan terapi kronis lainnya. Apoteker sebagai care giver diharapkan juga dapat melakukan pelayanan kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk kelompok lansia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya. Untuk aktivitas ini apoteker harus membuat catatan berupa catatan pengobatan (medication record). 2.12 Pengelolaan Narkotika Narkotika hanya dapat bertujuan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan. Menurut Undang-undang Nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika, pengaturan narkotika bertujuan untuk menjamin ketersediaan narkotika untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau perkembangan ilmu pengetahuan, mencegah terjadinya penyalahgunaan narkotika, serta memberantas peredaran gelap narkotika. Apotek merupakan salah satu sarana kesehatan yang dapat melakukan penyerahan narkotika. Apotek dapat menyerahkan narkotika kepada rumah sakit, puskesmas, apotek lainnya, balai pengobatan, dokter dan pasien. Apotek hanya dapat menyerahkan narkotika kepada pasien berdasarkan resep dokter. Pengelolaan narkotika di apotek meliputi pemesanan, penyimpanan, pelayanan/penyerahan, pemusnahan, pencatatan dan pelaporan serta dokumentasi. 2.12.1 Pengadaan/Pemesanan Narkotika Apoteker hanya dapat memesan narkotika melalui Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang telah ditunjuk khusus oleh Menteri, yaitu PT. Kimia Farma dengan tujuan untuk memudahkan pengawasan peredaran narkotika. Pemesanan narkotika dilakukan dengan membuat surat pesanan narkotika asli yang ditandatangani oleh Apoteker Penanggungjawab Apotek di Apotek yang
18 dilengkapi dengan nama, nomor Surat Izin Praktek Apoteker (SIPA) di apotek, tanggal dan nomor surat, alamat lengkap dan stempel apotek. Satu surat pesanan hanya untuk satu jenis narkotika. 2.12.2 Penyimpanan Narkotika (Departemen Kesehatan, 1978) Bedasarkan Permenkes Nomor 28/MENKES/PER/V/1978 tentang penyimpanan narkotika, apotek harus memiliki tempat khusus untuk penyimpanan narkotika yang memenuhi persyaratan sebagai berikut : a. Harus dibuat seluruhnya dari kayu atau bahan lain yang kuat b. Harus mempunyai kunci yang kuat c. Dibagi dua masing-masing dengan kunci yang berlainan; bagian pertama dipergunakan untuk menyimpan morfina, petidina, dan garam-garamnya serta persediaan narrkotika lainnya yang dipakai sehari-hari d. Apabila tempat khusus tersebut berupa lemari berukuran kurang dari 40 x 80 x 100 cm, maka lemari tersebut harus dibaut pada tembok atau lantai. e. Lemari harus dikunci dengan baik. f. Lemari khusus tidak boleh dipergunakan untuk menyimpan barang lain selain narkotika. g. Anak kunci lemari khusus harus dikuasai oleh penanggung jawab atau pegawai lain yang dikuasakan. h. Lemari khusus harus ditaruh di tempat yang aman dan tidak terlihat oleh umum. 2.12.3 Pelayanan/ penyerahan Narkotika Menurut Undang-undang nomor 35 tahun 2009 pasal 43, Apotek hanya dapat melakukan penyerahan narkotika kepada rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat, apotek lainnya, balai pengobatan, dokter, dan pasien. Apotek hanya dapat menyerahkan narkotika kepada pasien berdasarkan resep dari dokter. Apotek dilarang mengulangi menyerahkan narkotika atas dasar resep yang sama dari seorang dokter atau atas dasar salinan resep dokter (Undang-Undang Nomor 9 tahun 1976 Pasal 7). Pada resep narkotika yang baru dilayani sebagian, apotek
19 boleh membuat salinan resep tetapi salinan resep tersebut hanya boleh dilayani di apotek yang menyimpan resep asli. 2.12.4 Pemusnahan Narkotika Tujuan dilakukannya pemusnahan narkotika adalah untuk menghapus pertanggungjawaban apoteker terhadap pengelolaan narkotika, menjamin narkotika yang sudah tidak memenuhi persyaratan dikelola sesuai dengan standar yang berlaku, dan mencegah penyalahgunaan bahan narkotika serta mengurangi resiko terjadinya penggunaan obat yang substandar (Departemen Kesehatan RI, 2008). Berdasarkan Undang-undang nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika Pasal 60, pemusnahan narkotika dilakukan dalam hal diproduksi tanpa memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku dan/atau tidak dapat digunakan dalam proses produksi, kadaluarsa, tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan dan/atau berkaitan untuk pengembangan ilmu pengetahua,; atau berkaitan dengan tindak pidana. Pemusnahan yang dilakukan oleh apotek dengan membuat berita acara pemusnahan narkotika dan dilaporkan kepada pihka-pihak yang terkait. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.28/MENKES/PER/I/1978 Tentang Penyimpanan Narkotika dan Undang- Undang nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika, berita acara pemusnahan memuat : a. Keterangan tempat, hari, tanggal, bulan, dan tahun pemusnahan b. Nama pemegang izin khusus, apoteker pimpinan apotek dan dokter pemilik narkotika; c. Nama seorang saksi dari pemerintah dan seorang saksi dari perusahaan atau badan tersebut. d. Nama dan jumlah narkotika yang dimusnahkan. e. Cara pemusnahan. f. Tanda tangan penanggung jawab apotek/ pemegang izin khusus, dokter pemilik narkotika dan saksi-saksi.
20 Berita acara pemusnahan tersebut dikirimkan kepada dibuat rangkap empat untuk ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Kepala Dinas Kesehatan Propinsi, Kepala Balai Pengawasan Obat dan Makanan, dan satu disimpan sebagai arsip di apotek. 2.12.5 Pencatatan dan Pelaporan Narkotika Berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, apotek wajib membuat, menyampaikan, dan menyimpan laporan berkala mengenai pemasukan dan/atau pengeluaran narkotika yang berada dalam penguasaannya. Pelaporan penggunaan narkotika telah dikembangkan dalam bentuk perangkat lunak atau program Sistem Pelaporan Narkotika dan Psikotropika (SIPNAP) sejak tahun 2006 oleh Kementerian Kesehatan. Sistem Pelaporan Narkotika dan Psikotropika (SIPNAP) adalah sistem yang mengatur pelaporan penggunaan Narkotika dan Psikotropika dari Unit Layanan (Puskesmas, Rumah Sakit dan Apotek) ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan menggunakan pelaporan elektronik selanjutnya Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melaporkan ke tingkat yang lebih tinggi (Dinkes Provinsi dan Ditjen Binfar dan Alkes) melalui mekanisme pelaporan online yang menggunakan fasilitas internet. 2.13 Pengelolaan Psikotropika Menurut Undang-undang No. 5 tahun 1997 psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Psikotropika hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan atau ilmu pengetahuan. Tujuan pengaturan di bidang psikotropika adalah untuk menjamin ketersediaan psikotropika guna kepentingan pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan, mencegah terjadinya penyalahgunaan psikotropika, serta memberantas peredaran gelap psikotropika.
21 2.13.1 Pemesanan Psikotropika Pemesanan psikotropika dilakukan dengan menggunakan Surat Pesanan Psikotropika yang ditandatangani oleh APA dengan mencantumkan nomor SIK (Lampiran 10). Surat pesanan tersebut dibuat rangkap tiga dan setiap surat dapat digunakan untuk memesan beberapa jenis psikotropika. 2.13.2 Penyimpanan Psikotropika Penyimpanan psikotropika belum diatur di dalam perundang-undangan atau peraturan lainnya. Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan psikotropika maka sebaiknya obat golongan psikotropika disimpan pada rak atau lemari khusus. 2.13.3 Penyerahan Psikotropika Penyerahan psikotropika oleh apotek hanya dapat dilakukan kepada apotek lain, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter dan pasien. Penyerahan psikotropika oleh apotek dilaksanakan berdasarkan resep dokter. 2.13.4 Pemusnahan Psikotropika Pada Undang-undang No. 5 tahun 1997 pasal 53disebutkan bahwa pemusnahan psikotropika dilaksanakan dalam hal berhubungan dengan tindak pidana, diproduksi tanpa memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku dan/atau tidak dapat digunakan dalam proses produksi psikotropika, kadaluwarsa, dan tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan dan/atau untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Setiap pemusnahan psikotropika, wajib dibuatkan berita acara. 2.13.5 Pelaporan Psikotropika Apotek berkewajiban menyusun dan mengirimkan laporan bulanan melalui perangkat lunak atau program Sistem Pelaporan Narkotika dan Psikotropika (SIPNAP). Mekanisme pelaporan psikotropika sama dengan pelaporan narkotika.
22 2.14 Pengadaan Persediaan Apotek Pengadaan persediaan farmasi merupakan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan perbekalan farmasi berdasarkan fungsi perencanaan dan penganggaran. Tujuan pengadaan adalah memperoleh barang atau jasa yang dibutuhkan dalam jumlah yang cukup dengan kualitas harga yang dapat dipertanggungjawabkan dalam waktu dan tempat tertentu secara efektif dan efisien menurut tata cara dan ketentuan yang berlaku (Quick, 1997). Pengadaan harus memenuhi beberapa syarat, yaitu (Seto, Yunita&Lily, 2004) : a. Doematig, artinya sesuai tujuan/sesuai rencana. Pengadaan harus sesuai kebutuhan yang sudah direncanakam sebelumnya. b. Rechtmatig, artinya sesuai hak/sesuai kemampuan. c. Wetmatig, artinya sistem/cara pengadaannya harus sesuai dengan ketentuanketentuan yang berlaku. Secara umum, jenis pengadaan berdasarkan waktu terdiri dari (Quick, 1997) : a. Annual purchasing, yaitu pemesanan dilakukan satu kali dalam satu tahun. b. Scheduled purchasing, yaitu pemesanan dilakukan secara periodik dalam waktu tertentu misalnya mingguan, bulanan, dan sebagainya. c. Perpetual purchasing, yaitu pemesanan dilakukan setiap kali tingkat persediaan rendah. d. Kombinasi antara annual purchasing, scheduled purchasing, dan perpetual purchasing. Pengadaan dengan pemesanan yang bervariasi waktunya seperti cara ini dapat diterapkan tergantung dari jenis obat yang dipesan. Misalnya, obat impor dari suatu negara dimana devaluasi mata uang menjadi masalah utama, atau obat berharga murah yang jarang digunakan cukup dipesan sekali dalam setahun saja. Obat-obatan yang relatif slow moving tetapi digunakan secara reguler dapat dipesan secara periodik setiap tahun (scheduled purchasing), dan obat-obatan yang banyak diminati dan obat-obatan yang harganya sangat mahal maka pemesanan dilakukan secara perpetual purchasing.
23 Setelah menentukan jenis pengadaan yang akan diterapkan berdasarkan frekuensi dan waktu pemesanan, maka pengadaan barang di apotek dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu (Seto, Yunita&Lily, 2004) : a. Pembelian kontan Dalam pembelian kontan, pihak apotek langsung membayar harga obat yang dibeli dari distributor. Biasanya dilakukan oleh apotek yang baru dibuka karena untuk melakukan pembayaran kredit apotek harus menunjukkan kemampuannya dalam menjual. b. Pembelian kredit Pembelian kredit adalah pembelian yang pembayarannya dilakukan pada waktu jatuh tempo yang telah ditetapkan, misalnya 30 hari setelah obat diterima apotek. c. Pembelian konsinyasi (titipan obat) Pembelian konsinyasi adalah titipan barang dari pemilik kepada apotek, dimana apotek bertindak sebagai agen komisioner yang menerima komisi bila barang tersebut terjual. Bila barang tersebut tidak terjual sampai batas waktu kadaluarsa atau waktu yang telah disepakati maka barang tersebut dapat dikembalikan pada pemiliknya. 2.15 Pengendalian Persediaan Apotek Pengendalian persediaan berhubungan dengan aktivitas dalam pengaturan persediaan obat di apotek untuk menjamin kelancaran pelayanan pasien secara efektif dan efisien. Unsur dari pengendalian persediaan mencakup penentuan cara pemesanan atau pengadaan hingga jumlah persediaan yang optimum dan yang harus ada di apotek untuk menghindari kekosongan persediaan. Parameter parameter dalam pengendalian persediaan adalah konsumsi rata-rata, lead time, safety stock, persediaan minimum, persediaan maksimum, dan perputaran persediaan. a. Konsumsi rata-rata Konsumsi rata-rata sering juga disebut permintaan (demand). Permintaan yang diharapkan pada pemesanan selanjutnya merupakan variabel kunci yang menentukan berapa banyak stok barang yang harus dipesan (Quick, 1997).
24 b. Lead Time (Waktu Tunggu) Lead time merupakan waktu tenggang yang dibutuhkan mulai dari pemesanan sampai dengan penerimaan barang dari suplier yang telah ditentukan. Lead time ini berbeda-beda untuk setiap suplier. Faktor-faktor yang dapat berpengaruh pada lead time adalah jarak antara suplier dengan apotek, jumlah pesanan, dan kondisi suplier (Quick, 1997). c. Safety stock (Persediaan Pengaman) Safety stock merupakan persediaan yang dicadangkan untuk kebutuhan selama menunggu barang datang untuk mengantisipasi keterlambatan barang pesanan atau untuk menghadapi suatu keadaan tertentu yang diakibatkan karena perubahan pada permintaan misalnya karena adanya permintaan barang yang meningkat secara tiba-tiba (karena adanya wabah penyakit) (Quick, 1997). Safety stock dapat dihitung dengan rumus (Quick, 1997): SS = LT x CA Keterangan : SS= Safety stock LT = Lead Time CA = konsumsi rata-rata d. Persediaan minimum Persediaan minimum merupakan jumlah persediaan terendah yang masih tersedia. Apabila penjualan telah mencapai nilai persediaan minimum ini maka pemesanan harus langsung dilakukan agar kontinuitas usaha dapat berlanjut. Jika barang yang tersedia jumlahnya sudah kurang dari jumlah persediaan minimum maka dapat terjadi stok kosong (Quick, 1997). e. Persediaan maksimum Persediaan maksimum merupakan jumlah persediaan terbesar yang telah tersedia. Jika jumlah persediaan telah mencapai jumlah maksimum maka tidak perlu lagi melakukan pemesanan untuk menghindari terjadinya stok mati yang
25 dapat menyebabkan kerugian (Quick, 1997). Rumus perhitungan persediaan maksimum adalah (Quick, 1997): S max = S min + (PP x CA) Keterangan : S max S min PP CA = Persediaan maksimum = Persediaan minimum = Periode pengadaan = Konsumsi rata-rata f. Perputaran persediaan Perputaran persediaan menggambarkan jumlah siklus yang dialami barang dari mulai pembelian hingga penjualan kembali. Jika suatu barang memiliki angka perputaran persediaan yang besar maka barang tersebut dikategorikan sebagai barang fast moving. Sebaliknya, jika angka perputaran persediaan suatu barang terbilang kecil maka barang tersebut termasuk slow moving (Quick, 1997). Perputaran persediaan dihitung dengan cara : Perputaran persediaan = So+P-Sn Sr Keterangan : So = Persediaan awal P = Jumlah pembelian Sn = Persediaan Akhir Sr = Persediaan rata-rata g. Jumlah pesanan (Economic Order Quantity / Economic Lot Size) Di apotek, jumlah persediaan yang harus ada adalah persediaan untuk jangka waktu tertentu dan disesuaikan dengan kebijakan pada pola kebutuhan. Persediaan dirancang agar setiap saat harus tersedia dan sekaligus untuk mengantisipasi permintaan yang tidak menentu, kemampuan suplier yang terbatas, waktu tenggang pesanan yang tidak menentu, ongkos kirim mahal, dan
26 sebagainya. Faktor yang dipertimbangkan untuk membangun persediaan berkaitan dengan biaya dan resiko penyimpanan, biaya pemesanan, dan biaya pemeliharaan (Quick, 1997). Merancang jumlah persediaan dapat dilakukan dengan perhitungan jumlah pesanan yang ekonomis atau dikenal dengan rumus Economic Order Quality (EOQ) (Quick, 1997) : EOQ = Keterangan : R = Jumlah kebutuhan dalam setahun P = Harga barang / unit S = Biaya memesan tiap kali pemesanan I = % Harga persediaan rata-rata h. ReOrder Point (ROP / Titik pemesanan) Titik pemesanan merupakan saat dimana harus diadakan pemesanan kembali sedemikian rupa sehingga kedatangan atau penerimaan barang yang dipesan adalah tepat waktu, dimana persediaan di atas persediaan pengaman (safety stock) sama dengan nol atau saat mencapai nilai persediaan minimum. Pada keadaan khusus (mendesak), dapat dilakukan pemesanan langsung tanpa harus menunggu hari pembelian yang telah ditentukan bersama antar apotek dan suplier (Quick, 1997). Rumus perhitungan ROP adalah (Quick, 1997) : ROP = SS + LT Keterangan : ROP = Recoder point SS = Safety stock LT = Lead time
27 Gambar 2.1 Diagram Model Pengendalian Persediaan (Quick, 1997) 2.15.2 Penentuan Prioritas Pengadaan Dalam melakukan pengadaan dibutuhkan penentuan prioritas barang yang akan dipesan. Pemilihan prioritas pengadaan dapat dilakukan dengan berbagai metode. Penyusunan prioritas dapat dilakukan dengan menggunakan metode sebagai berikut (Quick, 1997): a. Analisa VEN (Vital, Esensial, Non-esensial) Metode ini mengelompokan obat berdasarkan nilai kepentingan dan vitalitas obat terhadap pelayanan kesehatan untuk melayani permintaan untuk pengobatan. 1) V (Vital) Obat yang tergolong dalam kategori vital adalah obat untuk menyelamatkan hidup manusia atau untuk pengobatan karena penyakit yang mengakibatkan kematian. Pengadaan obat golongan ini diprioritaskan. 2) E (Esensial) Kategori esensial digunakan untuk obat-obat yang banyak diminta untuk digunakan dalam tindakan atau pengobatan penyakit terbanyak di masyarakat. Dengan kata lain, obat-obat golongan ini adalah obat yang fast-moving.
28 3) N (Non-esensial) Kategori non-esensial untuk obat-obat pelengkap yang sifatnya tidak esensial, tidak digunakan untuk penyelamatan hidup maupun pengobatan penyakit terbanyak, contohnya suplemen vitamin. b. Analisa Pareto (ABC) Analisa pareto disusun berdasarkan penggolongan persediaan yang mempunyai nilai harga yang paling tinggi. Pareto membagi persediaan berdasarkan atas nilai rupiah (volume persediaan yang dibutuhkan dalam satu periode dikalikan harga per unit). Kriteria kelas dalam klasifikasi ABC adalah: 1) Kelas A Persediaan yang memiliki volume rupiah yang tinggi. Kelas ini mewakili sekitar 70 % dari total nilai persediaan, meskipun jumlahnya hanya sekitar 20% dari seluruh item. Kelas A memiliki dampak biaya yang tinggi terhadap biaya pengadaan. Pengendalian khusus dilakukan secara intensif (Seto, Yunita&Lily, 2004). 2) Kelas B Persediaan yang memiliki volume rupiah yang menengah. Kelas ini mewakili sekitar 20 % dari total nilai persediaan, meskipun jumlahnya hanya sekitar 30 % dari seluruh item (Seto, Yunita&Lily, 2004). 3) Kelas C Persediaan yang memiliki volume rupiah yang rendah. Kelas ini mewakili sekitar 10% dari total nilai persediaan, tapi terdiri sekitar 50% dari seluruh item (Seto, Yunita&Lily, 2004). Analisis pareto dilakukan dengan menghitung nilai investasi dari tiap sediaan obat dengan cara : 1) Menghitung total investasi tiap jenis obat. 2) Pengelompokan obat berdasarkan nilai investasi dan diurutkan mulai dari nilai investasi terbesar hingga terkecil. 3) Syarat pengelompokan adalah sebagai berikut: Kelompok A dengan nilai investasi 70% dari total investasi obat keseluruhan;
29 Kelompok B dengan nilai investasi 20% dari total investasi obat keseluruhan; Kelompok C dengan nilai investasi 10% dari total investasi obat keseluruhan. c. Analisa VEN-ABC Metode analisa ini mengkombinasi kedua metode sebelumnya. Dalam metode ini pengelompokan barang berdasarkan volume dan nilai penggunaannya selama periode waktu tertentu. Analisa VEN-ABC menggabungkan analisa pareto dan VEN dalam suatu matriks sehingga analisa menjadi lebih tajam (Quick, 1997). Matriks dapat dibuat sebagai berikut : V E N A VA EA NA B VB EB NB C VC EC NC Gambar 2.2. Matriks analisa VEN-ABC Matriks tersebut dapat dijadikan dasar dalam menetapkan prioritas untuk menyesuaikan anggaran atau perhatian dalam pengelolaan persediaan. Semua obat vital dan esensial dalam kelompok A, B, dan C harus tersedia. Tetapi kuantitasnya disesuaikan dengan kebutuhan konsumen apotek. Untuk obat nonesensial dalam kelompok A tidak diprioritaskan, sedangkan kelompok B dan C pengadaannya disesuaikan dengan kebutuhan (Quick, 1997). 2.16 Strategi Pemasaran Apotek Strategi pemasaran yang umumnya dilakukan oleh apotek adalah analisis AIDA (Attention, Interest, Desire, Action). Analisis AIDA merupakan suatu rangkaian proses dimulai dari menarik perhatian calon pembeli hingga pembeli memutuskan untuk membeli di apotek.
30 2.16.1 Attention Strategi ini merupakan upaya apotek untuk dapat menarik perhatian pengunjung/konsumen, yang dapat dilakukan dengan: a. Membuat desain eksterior apotek semenarik mungkin, seperti membuat papan nama yang besar dan memasang neon box agar mudah terlihat oleh orang yang lewat. b. Mendesain bangunan agar terlihat menarik dan juga memperhatikan kondisi ekonomi di lingkungan tempat pendirian apotek. Misalnya, jika apotek berada di lingkungan daerah menengah ke atas, maka desainnya dapat dibuat lebih mewah agar tampak meyakinkan pengunjung di lingkungan tersebut bahwa obat yang dijual lengkap dan berkualiatas. Namun sebaliknya, apabila apotek didirikan di lingkungan menengah ke bawah, maka desain yang dipilih tidak perlu mewah agar tidak membuat pengunjung merasa enggan atau ragu untuk datang karena memiliki sugesti obat yang dijual di apotek tersebut mahal. c. Menggunakan kaca transparan pada sisi depan apotek agar desain interior apotek dapat terlihat dari luar. 2.16.2 Interest Strategi ini bertujuan untuk menimbulkan keinginan pengunjung untuk masuk ke dalam apotek, yang dapat dilakukan dengan cara menyusun obat fast moving yang dipajang di ruang tunggu agar menarik untuk pembeli sehingga dapat langsung terlihat oleh pengunjung saat memasuki apotek. Selain itu, obat dapat disusun dengan menarik yaitu dengan memperhatikan warna kemasan dan disusun berdasarkan efek farmakologis. 2.16.3 Desire Langkah selanjutnya setelah pengunjung masuk ke dalam apotek adalah menimbulkan keinginan mereka untuk membeli obat. Upaya yang dapat dilakukan adalah melayani pengunjung dengan ramah, cepat tanggap dengan keinginan pelanggan, meningkatkan kelengkapan obat, dan memberikan harga yang bersaing.
31 2.16.4 Action Setelah melalui beberapa tahap diatas, akhirnya pengunjung apotek tersebut memutuskan mengambil sikap untuk menjadi pembeli obat di apotek. Pada tahap ini pembeli akan merasakan sendiri pelayanan yang diberikan apotek. Pelayanan yang dapat diberikan antara lain dengan menunjukkan kecepatan pelayanan dan pemberian informasi yang diperlukan.
BAB 3 TINJAUAN UMUM PT KIMIA FARMA, Tbk 3. 1. PT. Kimia Farma (Persero), Tbk 3.1. 1. Sejarah Singkat (Kimia Farma, 2012) PT. Kimia Farma terbentuk sejak dikeluarkannya Undang-Undang No.74/1957 yang menyebutkan bahwa para penguasa perang dapat mengambil alih dan menguasai semua perusahaan Belanda yang beroperasi di seluruh wilayah Republik Indosnesia. Semenjak ditetapkannya Undang-Undang tersebut, pada tahun 1958 perusahaan-perusahaan swasta milik Belanda yang berada di Republik Indonesia mengalami proses nasionalisasi dan dibentuk menjadi Bapphar (Badan Pusat Penguasaan Perusahaan Farmasi Belanda. Berdasarkan UU no. 19/Prp/tahun 1960 tentang Perusahaan Negara (PN) dan PP No.69 Tahun 1961, Departemen Kesehatan mengubah Bapphar menjadi Badan Perusahaan Umum (BPU) Farmasi Negara dan membentuk beberapa Perusahaan Negara Farmasi (PNF) yaitu; Radja Farma (Jakarta), Nurani Farma (Jakarta), Nakula Farma (Jakarta), Bhineka Kina Farma (Bandung), Bio Farma (Bandung), Sari Husada (Jogyakarta) dan Kasa Husada (Jawa Timur). Pada perkembangan selanjutnya, melalui PP No. 3 Tahun 1969 tanggal 23 Januari 1969, PNF Radja Farma, PNF Nakula Farma, PNF Sari Husada dan PNF Bhineka Kimia Farma digabungkan dan dilebur menjadi perusahaan Farmasi dan Alat Kesehatan Bhineka Kimia Farma. Pada tanggal 19 Maret 1971 pemerintah melalui Peraturan Pemerintah No. 16 tahun 1971, mengalihkan bentuk PN Farmasi Kimia Farma menjadi Perusahaan Perseroan (Persero). Pada tahun 1997 PT. Kimia Farma menjadi sebuah perusahaan terbuka (Tbk.) sehingga masyarakat ikut serta dalam kepemilikan saham di PT. Kimia Farma. Pada tanggal 4 Januari 2002 didirikan 2 anak perusahaan yaitu PT. Kimia Farma Apotek dan PT. Kimia Farma Trading and Distribution untuk dapat mengelola perusahaan lebih terarah dan berkembang dengan cepat. PT. Kimia Farma Apotek saat ini, memiliki 34 unit Manajer Bisnis (Business Manager BM) dan 406 Apotek yang tersebar di 32
33 seluruh Indonesia, sedangkan PT. Kimia Farma Trading and Distribution memiliki 3 wilayah pasar dan 41 cabang PBF (Pedagang Besar Farmasi). 3.1. 2. Visi dan Misi (Kimia Farma, 2012) 3.1.2.1. Visi Menjadi Perusahaan pelayanan kesehatan utama di Indonesia dan berdaya saing global. 3.1.2.2. Misi Menghasilkan pertumbuhan nilai perusahaan melalui : a. Menyediakan produk dan jasa pelayanan kesehatan yang unggul untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan meningkatkan mutu kehidupan. b. Mengembangkan bisnis pelayanan kesehatan untuk meningkatkan nilai perusahaan bagi pemegang saham, karyawan dan pihak lain yang berkepentingan tanpa meninggalkan prinsip-prinsip tata kelola usaha yang baik (Good Corporate Governance). c. Meningkatkan kompetisi dan komitmen sumber daya manusia guna pengembangan perusahaan serta dapat berperan aktif dalam pengembangan industri kesehatan nasional. 3.1. 3. Struktur Organisasi PT Kimia Farma (Persero) Tbk, dipimpin oleh seorang Direktur Utama yang membawahi empat Direktorat, yaitu Direktorat Pemasaran, Direktorat Produksi, Direktorat Keuangan, Direktorat Umum dan Personalia. PT Kimia Farma (Persero) Tbk. mempunyai 2 anak perusahaan, yaitu PT Kimia Farma Trading & Distribution dan PT Kimia Farma Apotek yang masingmasing berperan dalam penyaluran sediaan farmasi, baik distribusi melalui PBF maupun pelayanan kefarmasian melalui apotek. PT Kimia Farma Trading & Distribution (T&D) merupakan jaringan distribusi yang terorganisir yang dibentuk sebagai upaya dalam perluasan, penyebaran, pemerataan, dan pendekatan pelayanan kefarmasian pada masyarakat. Wilayah usaha PT Kimia Farma T & D dibagi menjadi tiga wilayah
34 pasar yang keseluruhannya membawahi 41 cabang PBF di seluruh Indonesia. PBF mendistribusikan produk-produk baik berasal dari PT Kimia Farma (Persero) Tbk., maupun dari produsen-produsen yang lain ke apotek-apotek, toko obat dan institusi pemerintahan maupun swasta. PT Kimia Farma Apotek mempunyai 406 apotek yang terkoordinasi dalam 34 BM, sehingga sangat memungkinkan maupun pemerintah. Peningkatan pelayanan apotek dilakukan dengan cara menciptakan suasana aman dan nyaman, personil yang terampil dan ramah tamah, harga yang bersaing, dan kecepatan pelayanan dan kelengkapan resep. 3. 2. PT Kimia Farma Apotek PT. Kimia Farma Apotek merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang retail farmasi dan merupakan anak perusahaan dari PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. PT. Kimia Farma Apotek melayani penjualan langsung, resep dokter dan menyediakan pelayanan lain seperti praktek dokter, laboratorium, optik dan pelayanan OTC (over the counter) secara swalayan serta pusat pelayanan informasi obat yang dipimpin oleh tenaga Apoteker full timer sehingga dapat melayani informasi obat dengan baik. PT. Kimia Farma Apotek yang dahulu terkoordinasi dalam Unit Apotek Daerah (UAD) sejak bulan Juli tahun 2004 dibentuk dalam bentuk Bisnis Manager (BM) dan apotek pelayanan (APP) sebagai hasil restrukturisasi organisasi yang dilakukan PT. Kimia Farma Apotek. PT. Kimia Farma Apotek membawahi Apotek Kimia Farma yang wilayah usahanya terbagi menjadi 34 wilayah unit bisnis yang menaungi kurang lebih 406 apotek di seluruh Indonesia. Tiap-tiap unit bisnis/bm membawahi sejumlah APP yang berada di wilayah usahanya. Apotek Kimia Farma dipimpin oleh tenaga Apoteker yang mempunyai 3 fungsi utama yaitu profesional, retailer dan manajer. 3.2.1. Visi dan Misi (Kimia Farma, 2012) 3.2.1.1.Visi Menjadi perusahaan jaringan layanan kesehatan terkemuka yang mampu memberikan solusi kesehatan masyarakat di Indonesia.
35 3.2.1.2.Misi a. Jaringan layanan kesehatan yang terintegrasi meliputi jaringan apotek, klinik, laboratorium klinik dan pelayanan kesehatan lainnya. b. Saluran distribusi utama dari produk sendiri dan produk principal. c. Pengembangan bisnis waralaba dan peningkatan pendapatan lainnya (Fee- Based Income). 3.2.2. Logo PT Kimia Farma Apotek Gambar 1. Logo PT. Kimia Farma a. Simbol Matahari Paradigma baru Optimis Komitmen Sumber energi Semangat yang abadi : Matahari terbit adalah tanda memasuki babak baru kehidupan yang lebih baik. : Matahari memiliki cahaya sebagai sumber energi, cahaya tersebut adalah penggambaran optimisme kimia farma dalam menjalankan bisnisnya. : Matahari selalu terbit dari timur dan tenggelam dari arah barat secara teratur dan terus-menerus memiliki makna adanya komitmen dan konsistensi dalam menjalankan segala tugas yang diemban oleh kimia farma dalam bidang farmasi dan kesehatan. : Matahari sumber energi bagi kehidupan, dan kimia farma baru memposisikan dirinya sebagai sumber energi bagi kesehatan masyarakat. : Warna orange berarti semangat, warna biru adalah keabadian. Harmonisasi antara kedua
36 warna tersebut menjadi satu makna yaitu semangat yang abadi. b. Jenis Huruf Dirancang khusus untuk kebutuhan Kimia Farma yang disesuaikan dengan nilai dan image yang telah menjadi energi bagi Kimia Farma, karena prinsip sebuah identitas harus berbeda dengan identitas yang telah ada. c. Sifat Huruf Kokoh : Memperlihatkan Kimia Farma sebagai perusahaan terbesar dalam bidang farmasi yang memiliki bisnis dari hulu ke hilir, dan merupakan perusahaan farmasi pertama yang dimiliki Indonesia. Dinamis : Dengan jenis huruf italic memperlihatkan kedinamisan dan optimisme Kimia Farma dalam menjalankan bisnis kesehatan. Bersahabat : Dengan jenis huruf kecil dan lengkung, memperlihatkan keramahan Kimia Farma dalam melayani konsumennya. 3.2.3. Struktur Organisasi PT. Kimia Farma Apotek dipimpin oleh seorang direktur utama yang membawahi 3 direktur (Direktur Keuangan, Direktur SDM/Umum, dan Direktur Operasional). Direktur keuangan membawahi Manajer Akuntansi dan keuangan; Direktur SDM/Umum membawahi Manajer SDM; dan Direktur Operasional membawahi Manajer Operasional dan Manajer Bisnis. Business Manager (BM) atau Manajer Bisnis membawahi beberapa Apotek Pelayanan. Untuk lebih jelasnya, struktur organisasi PT Kimia Farma Apotek dapat dilihat pada Lampiran 8. BM bertugas mengkoordinasikan aktivitas administrasi beberapa Apotek Pelayanan dalam satu group daerah. Selain itu, BM melaksanakan kegiatan pengadaan dan penyimpanan barang, serta pendistribusian barang dan juga pengumpulan data kegiatan untuk semua Apotek dalam group daerahnya. Dengan adanya konsep BM diharapkan pengelolaan aset dan keuangan dari Apotek dalam satu area menjadi lebih efektif dan efisien, demikian juga kemudahan dalam
37 pengambilan keputusan-keputusan yang menyangkut antisipasi dan penyelesaian masalah. Secara umum keuntungan yang diperoleh melalui konsep BM adalah : a. Koordinasi modal kerja menjadi lebih mudah. b. Apotek pelayanan akan lebih fokus pada kualitas pelayanan, sehingga mutu pelayanan akan meningkat yang diharapkan akan berdampak pada peningkatan penjualan. c. Merasionalkan jumlah SDM terutama tenaga administrasi yang diharapkan berimbas pada efisiensi biaya administrasi. d. Meningkatkan bargaining dengan pemasok untuk memperoleh sumber barang dagangan yang lebih murah, dengan maksud agar dapat memperbesar range margin atau HPP rendah. PT.Kimia Farma Apotek membawahi 34 wilayah Unit Bisnis yang mengelola sebanyak 406 Apotek yang tersebar di seluruh Indonesia. Untuk wilayah Jabodetabek dibagi menjadi lima Unit Bisnis, yaitu: a. Bisnis Manager Jaya I, membawahi wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Barat dengan BM (Bisinis Manajer) di Apotek Kimia Farma No. 42, Kebayoran Baru. b. Bisnis Manager Jaya II, membawahi wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Utara dan Bekasi, dengan BM di Apotek Kimia Farma No.48, di Matraman. c. Bisnis Manager Bogor, membawahi wilayah Bogor, Depok, dan Sukabumi dengan BM di Apotek Kimia Farma No.7, Bogor. d. Bisnis Manager Tangerang membawahi wilayah Provinsi Banten dengan BM di Apotek Kimia Farma No. 78, Tangerang. e. BM Rumah Sakit di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), karawang, Cibubur, dll. Bisnis Manager secara struktur organisasi langsung membawahi para Manajer Apotek Pelayanan (MAP) dan membawahi supervisor akuntasi dan keuangan serta supervisor inventory. Masing-masing dari bagian tersebut terdiri dari fungsi-fungsi yang menjalankan perannya masing-masing. Struktur organisasi bisnis manager dapat dilihat pada Lampiran 9.
38 Berdasarkan besar kecilnya omset, 34 unit bisnis yang tersebar di Inodenesia dibagi dalam tiga strata, yaitu: a. Strata A, meliputi Jaya I, Jaya II, Rumah Sakit Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Denpasar dan Manado. b. Strata B meliputi Balik Papan, Samarinda, Banjarmasin, Bogor, Tanggerang, dan lain-lain. c. Strata C, meliputi Kendari, Lampung, Jaya Pura dan lain-lain.
BAB 4 TINJAUAN KHUSUS APOTEK KIMIA FARMA NO. 49, PONDOK BAMBU Apotek Kimia Farma No. 49 merupakan salah satu apotek pelayanan dari PT. Kimia Farma Apotek yang tergabung dalam Unit Bisnis Manager Jaya II yang terletak di Apotek Kimia Farma No. 48 Matraman.. Apotek Kimia Farma No, 49 terletak di Jl. Pahlawan Revolusi No. 53, Pondok Bambu Jakarta Timur. Apotek berusaha melengkapi sarana pelayanannya dengan berbagai sarana kesehatan yaitu dengan membuka tempat praktek dokter di apotek, tersedianya swalayan farmasi, pelayanan informasi obat (swamedikasi), dan pelayanan optik. Hal ini bertujuan agar pasien yang datang tidak perlu berpindah tempat untuk mendapatkan semua kebutuhannya. 4.1. Lokasi dan Tata Ruang Apotek 4.2.1. Lokasi Apotek Apotek Kimia Farma No. 49 beralamat di Jl. Pahlawan Revolusi No. 53 Pondok Bambu, Jakarta Timur. Lokasi Apotek sangat strategis karena terletak di tepi jalan dengan arus lalu lintas dua arah yang cukup ramai. Disekitar lingkungan apotek terdapat perumahan yang cukup padat, serta adanya sarana kesehatan yang berada tidak jauh dari lokasi apotek, seperti klinik, praktek dokter dan rumah sakit. 4.2.2. Tata Ruang Apotek Apotek Kimia Farma No. 49 terdiri dari 1 lantai yang terbagi menjadi beberapa area. Tata ruang apotek kimia farma No. 49 dapat dilihat pada Lampiran 10. a. Area apotek Area apotek terdiri dari beberapa bagian : a) Tempat penerimaan resep dan kasir Tempat penerimaan resep dan kasir berupa counter yang memisahkan antara pasien dengan petugas apotek. Di tempat ini terdapat komputer 39 Univeristas Indonesia
40 sehingga petugas dapat langsung terhubung dengan sistem informasi yang berisi harga dan stok obat serta menyimpan data tentang pasien dan dokter. b) Tempat penyiapan obat non racikan Tempat penyiapan obat non racikan berada di belakang tempat penyerahan resep. Pada meja tersebut terdapat perlengkapan penyiapan obat seperti etiket, plastik pengemas, lem, copy resep, kwitatansi, stempel, dll. c) Tempat peracikan obat Tempat peracikan obat terbagi menjadi 2 yaitu tempat peracikan kering dan tempat peracikan basah. Tempat peracikan kering terletak bersebelahan dengan tempat penerimaan resep, namun pasien tidak dapat melihat proses peracikan. Tempat peracikan kering untuk meracik puyer dan kapsul yang dilengkapi dengan lumpang alu, blender, kertas perkamen, timbangan, sealing machine. Sedangkan tempat peracikan basah merupakan ruangan yang terletak di belakang tempat administrasi. Tempat peracikan basah dilengkapi lumpang alu, gelas ukur, botol obat dan westafel yang berguna untuk mencuci alat yang telah terpakai. Tempat ini untuk meracik obat semi solid, liquid dan obat-obat anmaak. d) Tempat penyimpanan obat Obat disimpan di rak-rak yang berisi kotak-kotak obat. Selain itu terdapat lemari pendingin untuk penyimpanan sediaan farmasi yang termolabil. Selain itu terdapat lemari khusus yang terkunci untuk menyimpan narkotika dan psikotropika. e) Tempat administrasi Tempat administrasi berupa meja kerja yang terdapat komputer yang terhubung dengan sistem informasi apotek. Kegiatan administrasi yang dilakukan diantaranya pembuatan Bon Permintaan Barang Apotek (BPBA), Surat Pesanan khusus untuk narkotika dan psikotropika, rekapitulasi resep kredit.
41 f) Tempat penyerahan dan informasi obat Tempat ini berupa meja yang dilengkapi dengan kursi untuk tempat duduk pasien. Fasilitas tersebut disediakan untuk mempermudah penyampaian informasi obat dan konseling. b. Area Swalayan farmasi Area Swalayan Farmasi menyediakan produk-produk kesehatan yang tergolong dalam obat OTC (Over The Counter), alat kesehatan, perlengkapan bayi, susu, dan kosmetik. Selain itu juga tersedia produk non obat seperti minuman dan makanan. c. Ruang tunggu pasien Pada area ini terdapat susunan kursi-kursi yang disediakan untuk pasien yang menunggu resepnya disiapkan. Ruangan ini juga dilengkapi dengan pendingin ruangan, televisi, dan majalah demi kenyamanan pasien. d. Sarana penunjang Apotek Kimia Farma No.49 memiliki sarana penunjang diantaranya, tempat parkir, toilet, mushola, ruang prektek dokter umum dan gigi, optik, dan mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM). 4.2. Struktur Organisasi dan Personalia Apotek Apotek Kimia Farma No. 49 dipimpin oleh APA atau MAP (Manager Apotek Pelayanan) yang bertanggung jawab langsung kepada Bisnis Manager Jaya II. Tenaga kerja di Apotek Kimia Farma No. 49 Pondok Bambu berjumlah 13 orang, yang terdiri dari 1 orang APA yang bertindak juga sebagai MAP, 1 orang Apoteker pendamping/pio, 5 orang Asisten Apoteker, 5 orang Non Asisten Apoteker, 1 orang tenaga administrasi. Komposisi tenaga kerja yang ada di apotek ini bertujuan agar lebih memfokuskan kinerja dalam peningkatan pelayanan farmasi dan informasi obat kepada pasien, sehingga pelayaan di apotek menjadi berkualitas, berdaya asing, mendukung dalam pencapaian laba, dapat memenuhi target penjualan yang maksimal. Struktur organisasi Apotek Kimia Farma No. 49 dapat dilihat pada lampiran 11.
42 4.3. Tugas dan Tanggung Jawab Personalia Apotek 4.3.1. Apoteker Pengelola Apotek (APA) Pimpinan Apotek Kimia Farma No. 49 adalah seorang apoteker yang telah memiliki Surat Izin Kerja (SIK) dan Surat Izin Apotek. APA bertindak sebagai manager apotek pelayanan yang memiliki kemampuan untuk merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, dan mengawasi jalannya apotek. 4.3.2. Apoteker Pendamping Apoteker pendamping adalah seorang apoteker yang bertugas memberi pelayanan farmasi bersama dengan apoteker pengelola apotek atau ketika apoteker pengelola apotek tidak berada ditempat. 4.3.3. Asisten Apoteker Asisten apoteker bertanggung jawab langsung kepada APA. Tugas asisten apoteker adalah sebagai berikut: a. Menerima resep dan memeriksa keabsahan dan kelengkapan resep sesuai dengan peraturan kefarmasian. b. Memberikan harga pada setiap resep yang masuk. c. Memeriksa ketersediaan obat dan perbekalan farmasi lainnya berdasarkan resep yang diterima. d. Melayani dan meracik obat sesuai dengan resep dokter antara lain menghitung dosis obat untuk racikan, menimbang bahan, meracik, mengemas obat dan memberikan etiket. e. Memeriksa kebenaran obat yang akan diserahkan kepada pasien meliputi bentuk sediaan, jumlah obat, nama, nomor resep dan cara pemakaian. f. Membuat kuitansi atau salinan resep untuk obat yang hanya diambil sebagian atau bila diperlukan pasien. g. Melakukan pemeriksaan akhir terhadap hasil penyiapan obat. h. Menyerahkan obat dan perbekalan farmasi lainnya kepada pasien dan memberikan penjelasan tentang penggunaan obat atau informasi lain yang dibutuhkan.
43 i. Mengatur, mengontrol dan menyusun penyimpanan obat dan perbekalan farmasi lainnya sesuai dengan bentuk dan jenis barang yang disusun secara alfabetis. j. Mencatat masuk dan keluarnya obat pada kartu stok barang. k. Melakukan pelayanan informasi mengenai cara pemakaian obat melalui penyerahan obat dari asisten apoteker kepada pelanggan. l. Membuat faktur penjualan resep, resep kredit dari instansi yang telah disepakati. m. Mencatat/menghitung harga resep-resep kredit dari instansi sesuai dengan perjanjian yang disepakati. n. Turut berpartisipasi dalam pelaksanaan pemeliharaan sanitasi/kebersihan di ruang peracikan. 4.3.4. Petugas Swalayan Farmasi Petugas Swalayan Farmasi bertugas memberikan pelayanan kepada pelanggan di swalayan farmasi. Tanggung jawab petugas swalayan farmasi adalah: a. Memberikan pelayanan kepada pelanggan dalam hal pemberian informasi dan saran mengenai obat dan letak obat di swalayan, untuk mendukung pemberian layanan yang baik dan sesuai dengan kebutuhan pelanggan. b. Melaksanakan kegiatan penataan dan pengelompokan barang/obat sesuai dengan jenis dan lay-out yang telah ditentukan untuk memudahkan pelanggan mencari barang yang dibutuhkan. c. Melakukan pengecekan persediaan barang yang ada di swalayan dan pembukuan persediaan barang yang ada berdasarkan abjad barang ke komputer dan buku stock opname, untuk mengetahui tingkat persediaan barang/obat. d. Mengajukan permohonan pemesanan barang yang kosong untuk mendukung ketersediaan barang/obat di swalayan.
44 4.3.5. Tenaga Non Asisten Apoteker Tenaga non asisten apoteker bertugas membantu asisten apoteker dalam menyiapkan obat dan perbekalan farmasi lainnya di bawah pengawasan asisten apoteker. Tugas tenaga non asisten apoteker adalah sebagai berikut: a. Melaksanakan pengambilan resep di setiap instansi terkait yang ditujukan kepada apotek berdasarkan instruksi dari Supervisor Layanan Farmasi, selain itu juga melakukan pendistribusian obat-obatan dari apotek kepada instasi terkait untuk memastikan pemenuhan kebutuhan obat instasi terkait. b. Membantu Pelaksana Layanan Farmasi dalam peracikan dan pengepakan obat-obatan c. Melaksanakan pengambilan obat-obatan yang dibutuhkan apotek ke Bisnis Manager atau apotek lain. d. Turut berpartisipasi dalam pelaksanaan pemeliharaansanitasi/kebersihan di ruang racikan 4.4. Kegiatan Apotek Apotek Kimia Farma No. 49 merupakan apotek pelayanan sehingga kegiatan utama yang dilakukan meliputi kegiatan kefarmasian baik yang bersifat teknis dan non teknis yang berhubungan dengan pelayanan. 4.4.1. Kegiatan teknis Kefarmasian Kegiatan teknis kefarmasian merupakan kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan perbekalan farmasi yang meliputi perencanaan barang, penerimaan barang, penyimpanan barang, penjualan, pelayanan resep serta pengelolaan obat narkotika dan psikotropika, penyimpanan resep dan pemusnahan resep. 4.4.1.1. Perencanaan Barang Pengadaan barang baik obat maupun perbekalan kesehatan lainnya dilakukan melalui Bisnis Manager Jaya II (BM). Permintaan barang dilakukan dengan cara membuat Bon Permintaan Barang Apotek (BPBA) yang dibuat satu kali dalam dua minggu oleh asisten apoteker yang bertugas. Bon Permintaan Barang Apotek (BPBA) ke BM Jaya II dapat dilihat pada Lampiran 12. BPBA
45 dibuat berdasarkan daftar defekta dari penjualan obat bebas atau ethical. BPBA kemudian divalidasi oleh apoteker dan dikirim melalui email. Untuk pemesanan kebutuhan yang mendesak, misalnya jika obat atau perbekalan farmasi dibutuhkan mendadak dan harus segera dipenuhi tetapi tidak ada persediaan di apotek, maka dapat dibuat BPBA Cito. Biasanya 1 kali pemesanan melalui BPBA Cito tidak boleh lebih dari 10 item. Akan tetapi, hal ini tetap harus dikomunikasikan dengan pihak BM. Khusus untuk pengadaan sediaan narkotika, pemesanan dilakukan langsung kepada PBF Kimia Farma melalui surat pesanan (SP) yang ditandatangani oleh Apoteker Pengelola Apotek (APA). Sedangkan untuk pengadaan sediaan psikotropik, pemesanan dilakukan langsung kepada PBF produk masing-masing, yang juga melalui surat SP yang ditandatangani oleh APA. BPBA yang telah dibuat kemudian dikirimkan melalui email ke BM Jaya II. Jika barang-barang yang dipesan tersedia di BM, maka barang tersebut akan langsung dikirimkan ke apotek. Namun jika barang-barang tersebut tidak tersedia, BM akan memesankan ke distributor, dan distributor tersebut akan mengirim pesanan tersebut ke apotek. 4.4.1.2. Penerimaan Barang Setelah barang yang dipesan datang, maka dilakukan penerimaan dan pemeriksaan barang disesuaikan dengan surat pemesanan atau BPBA. BM akan mengirimkan bon penerimaan barang/dropping yang berisi data barang-barang yang dikirim ke apotek. Bon Penerimaan Barang (dropping) dapat dilihat pada Lampiran 13. Pemeriksaan yang dilakukan saat menerima barang antara lain pemeriksaan nama barang, kemasan, jumlah, tanggal kadaluarsa dan kondisi barang. Selain itu dilakukan pencocokan antara faktur dengan surat pesanan yang meliputi nama barang, kemasan, jumlah, harga barang serta nama pemasok, kemudian dibuat tanda terima pada faktur dengan ditandatangani dan diberi stempel apotek, kemudian didokumentasikan ke dalam buku penerimaan barang. Jika terjadi ketidak sesuaian antara fisik barang dengan yang tercantum pada Bon Penerimaan Barang, maka petugas yang melakukan pemeriksaan segera melakukan konfirmasi ke BM.
46 4.4.1.3. Penyimpanan Barang Obat-obat etichal disimpan dalam wadah kotak, obat di simpan menurut bentuk sediaan (padat, setengah padat dan cair) kemudian disusun berdasarkan farmakologi dan secara alfabetis. Selain itu, juga dilakukan pemisahan tempat penyimpanan untuk obat daftar Askes yang disusun secara alfabetis. Khusus untuk narkotika dan psikotropika, penyimpanan dilakukan di lemari terpisah dan terkunci sesuai ketentuan undang-undang. Sedangkan untuk produk-produk termolabil seperti serum, vaksin, dan suppositoria disimpan di dalam lemari pendingin. Obat yang dikemas dalam botol diletakkan di lemari paling bawah pada area apotek untuk mencegah jatuh. Bahan obat yang biasa digunakan untuk racikan dan perlu penimbangan diletakkan di dekat meja penimbangan dan meja peracikan. Penyimpanan barang pada bagian penjualan bebas di letakkan di area swalayan farmasi disusun berdasarkan bentuk dan jenis sediaannya. Penyusunan barang dipisahkan berdasarkan bentuk sediaan padat, setengah padat, dan cair. Selain dilakukan pemisahan berdasarkan bentuk sediaan, penyusunan barang juga diatur berdasarkan jenisnya, seperti multivitamin, obat flu, obat batuk, susu bayi, susu dewasa, perlengkapan bayi, dan lain-lain. Khusus untuk obat produksi PT. Kimia Farma yang dapat dibeli bebas untuk penyimpanannya disediakan rak khusus. Penyimpanan barang atau obat juga dilakukan berdasarkan sistem FIFO dan FEFO. FIFO (First In First Out), yaitu barang yang lebih dahulu masuk adalah barang yang keluar lebih dahulu, sedangkan FEFO (First Expired First Out) yaitu obat yang mempunyai tanggal kadaluarsa cepat adalah yang paling pertama keluar. Setiap penambahan dan pemakaian barang dicatat dalam kartu stok yang diletakkan di dalam masing-masing kotak obat. Pencatatan di kartu stok meliputi tanggal pengisian atau pengambilan, nomor resep/nomor dokumen, jumlah barang yang diisi atau diambil, dan paraf petugas. Contoh lembar kartu stok dapat dilihat pada Lampiran 14.
47 4.4.1.4. Pembuatan obat Anmaak Obat anmaak adalah obat yang diproduksi sendiri oleh apotek, ataupun obat yang dikemas ulang dalam takaran kecil. Pembuatan obat tersebut dilakukan berdasarkan resep, permintaan poliklinik dan pasien. Prosesnya dilakukan oleh asisten apoteker dibawah pengawasan apoteker. 4.4.1.5. Pelayanan Apotek a. Penjualan dengan pembayaran tunai Penjualan obat dengan pembayaran tunai dilakukan terhadap pasien yang langsung datang ke apotek untuk menebus obat resep, prosedurnya : a) Resep diterima di bagian penerimaan resep, lalu diperiksa kelengkapan dan keabsahan resep tersebut. b) Petugas penerima resep akan memeriksa ketersediaan obat dan menetapkan harga obat di sistem informasi apotek. Bila obat yang dibutuhkan tersedia, kemudian dilakukan pemberian harga dan diberitahukan kepada pasien. c) Setelah pasien setuju segera dilakukan pembayaran atas obat pada bagian kasir dan dilakukan pula input nama, alamat serta nomor telepon pasien. Kasir kemudian akan memberikan struk pembayaran yang tercantum nomor resep dan struk tersebut juga berfungsi sebagai nomor antrian pengambilan obat. d) Kasir juga mencetak struk pembayaran yang tertulis jumlah obat yang dibeli. Struk tersebut dan resep asli kemudian diserahkan ke bagian penyiapan obat dan peracikan. Bila obat hanya diambil sebagian maka petugas akan membuat salinan resep/copy resep untuk pengambilan sisanya. Lembar copy resep dapat dilihat pada Lampiran 15. Bagi pasien yang memerlukan kuitansi maka dapat pula dibuatkan kuitansi. Lembar kuitansi pembayaran resep/tunai dapat dilihat pada Lampiran 16. e) Asisten apoteker di bagian peracikan atau penyiapan obat akan meracik atau menyiapkan obat sesuai dengan resep dibantu oleh juru resep. Setelah obat selesai disiapkan maka obat diberi etiket dan dikemas.
48 f) Sebelum obat diberikan dilakukan pemeriksaan kembali oleh petugas yang berbeda meliputi nomor resep, nama pasien, kebenaran obat, jumlah dan etiketnya. Juga dilakukan pemeriksaan salinan resep sesuai resep aslinya serta kebenaran kuitansi. g) Obat diserahkan kepada pasien sesuai dengan nomor resep. Pada saat obat diserahkan kepada pasien, apoteker memberi informasi tentang cara pemakaian obat dan informasi lain yang diperlukan pasien. h) Lembaran resep asli dikumpulkan menurut nomor urut dan tanggal resep dan disimpan sekurang-kurangnya tiga tahun. Pada setiap tahapan, petugas apotek wajib membubuhkan paraf pada setiap langkah-langkah tersebut, sehingga jika terjadi sesuatu dapat dipertanggung jawabkan atas pekerjaan yang dilakukan. Alur pelayanan resep dapat dilihat pada Lampiran 17. b. Penjualan obat dengan pembayaran kredit Pelayanan dengan resep berdasarkan perjanjian kerjasama yang telah disepakati oleh suatu perusahaan atau instansi dengan apotek, yang pembayarannya dilakukan secara kredit melalui penagihan kepada perusahaan secara berkala sesuai dengan kesepakatan pihak apotek dengan instansi terkait. Apotek Kimia Farma No. 49 melakukan kerjasama dengan perusahan PLN Jatinegara, PLN Kampung Melayu, PT. Aqua (Pulo Lentut dan Pulo Kambing), PT Asabri, Unit Plan Jakarta (UPJ), dan Askes. Terdapat beberapa perbedaan prosedur pelayanan resep yang dibayar secara kredit dengan yang dibayar secara tunai seperti: a) Setelah resep kredit diterima dan diperiksa kelengkapannya maka tidak dilakukan penetapan harga dan pembayaran oleh pasien tetapi langsung dikerjakan oleh petugas apotek. b) Penomoran resep kredit dibedakan dengan resep tunai. Resep diberi nomor urut resep dalam lembar pemeriksaan proses resep. Lembar penomoran resep kredit dapat dilihat pada Lampiran 18.
49 c) Pada saat penyerahan obat, petugas akan meminta tanda tangan pasien pada lembar tanda terima obat. d) Resep disusun dan disimpan terpisah dari resep tunai kemudian dikumpulkan dan dijumlahkan nilai rupiahnya berdasarkan tiap instansinya dan dibuatkan lembar atau syarat penagihan sesuai dengan format yang diminta. Penagihan dilakukan saat jatuh tempo sesuai kesepakatan bersama. c. Penjualan OTC (Over the Counter atau Hand Verkoop/HV) Penjualan obat bebas dilakukan untuk produk OTC yang terletak di swalayan farmasi yaitu produk-produk yang dapat dibeli tanpa resep dari dokter seperti obat bebas, bebas terbatas, alat kesehatan, kosmetik, perlengkapan dan makanan bayi, minuman dan makanan ringan. Prosedur penjualan bebas yang dilakukan adalah sebagai berikut : a) Pasien mencari obat atau perbekalan farmasi yang dibutuhkan di swalayan farmasi b) Petugas OTC menerima permintaan barang dari pembeli. c) Kasir menerima pembayaran dan membuat struk pembayaran penjualan bebas. d) Barang beserta struk pembayaran diserahkan kepada pembeli. e) Bukti penjualan obat bebas dikumpulkan dan diurutkan berdasarkan nomor. d. Pelayanan UPDS (Upaya Pengobatan Diri Sendiri) Pelayanan UPDS yaitu pasien yang membeli obat yang termasuk ke dalam Daftar Obat Wajib Apotek (DOWA), dengan prosedur sebagai berikut: a) Pasien menyebutkan obat yang diinginkan. b) Proses tanya jawab antara apoteker/asisten apoteker yang bertugas dengan pasien, apakah obat yang diminta sesuai indikasi untuk pasien tersebut dan memastikan obat yang diminta terdapat dalam DOWA. c) Pemeriksaan ketersediaan obat, memberitahukan harga obat kepada pasien dan pembayaran obat oleh pasien.
50 d) Penyerahan obat kepada pasien diertai dengan pemberian informasi. Kemudian petugas mencatat nama, nomor telepon pasien, beserta obat yang diminta di formulir permintaan DOWA. Formulir permintaan DOWA dapat dilihat pada Lampiran 19. e) Formulir permintaan obat DOWA dan struk pembayaran disatukan, kemudian disusun berdasarkan nomor urut UPDS dan tanggal, dan disimpan terpisah dari resep tunai, kredit, atau penjualan bebas. e Penjualan alat kesehatan Selain obat, Apotek Kimia Farma No. 49 juga menyediakan alat kesehatan. Selain melayani pembelian, apotek memberikan pelayanan jasa antar dan pasang untuk akat kesehatan tertetu yang memerlukan penanganan khusus. Alat kesehatan tersebut antara lain kursi roda, tabung oksigen, tongkat jalan, dan lain-lain. 4.4.1.6. Pengelolaan Narkotika Pengelolaan narkotika diatur secara khusus mulai dari pengadaan sampai pemusnahan untuk menghindari terjadinya kemungkinan penyalahgunaan obat tersebut. Pelaksanaan pengelolaan narkotika di Apotek Kimia Farma No. 49 meliputi : a. Pemesanan Narkotika Pemesanan sediaan narkotika dilakukan secara tertulis oleh bagian pembelian dengan menggunakan Surat Pesanan (SP) khusus narkotika yang ditandatangani oleh Apoteker Pengelola Apotek (APA) dengan mencantumkan nama jelas, nomor SIK, nomor SIA, alamat dan stempel apotek. Satu lembar SP hanya berlaku untuk satu jenis narkotika. Surat pesanan narkotika dibuat rangkap empat yang terdiri dari 1 surat pesanan asli dan 3 lembar copy surat pesanan, masing-masing diserahkan kepada PBF yang bersangkutan dan 1 lembar sebagai arsip di apotek. Pemesanan dilakukan ke PBF Kimia Farma selaku distributor tunggal. Lembar surat pesanan narkotika dapat dilihat pada Lampiran 20.
51 b. Penerimaan Narkotika Penerimaan Narkotika dari PBF harus dilakukan oleh Apoteker APA atau dengan sepengetahuan APA. Apoteker akan menandatangani faktur tersebut setelah dilakukan pencocokan dengan surat pesanan. Pada saat diterima dilakukan pemeriksaan yang meliputi jenis dan jumlah narkotika yang dipesan. c. Penyimpanan Narkotika Obat-obat yang termasuk golongan narkotika di Apotek Kimia Farma No. 49 disimpan dalam lemari khusus yang terbuat dari kayu. Lemari tersebut terletak di tempat yang tidak di ketahui oleh umum, tetapi dapat diawasi langsung oleh asisten apoteker yang bertugas dan penaggung jawab narkotika. Setiap obat narkotika dilengkapi kartu stok yang diletakan dalam lemari, dan di cantumkan tanggal kadaluarsanya. d. Pelayanan resep Narkotika Apotek Kimia Farma No. 49 hanya melayani resep narkotika dari resep asli atau salinan resep yang dibuat oleh Apotek Kimia Farma No. 49 sendiri apabila obat baru diambil sebagian atau belum diambil sama sekali. Apotek tidak melayani pembelian obat narkotika tanpa resep atau pengulangan resep yang ditulis oleh apotek lain. Asisten apoteker bertugas mencatat dalam buku tersendiri berdasarkan tanggal, mengenai banyaknya pemasukan dan pengeluaran narkotika, jenis narkotika, nama dan alamat pasien. Penanganan resep narkotika di apotek adalah dengan memberi tanda garis merah pada obat golongan narkotika yang diresepkan dan pengarsipannya dipisahkan dari resep lainnya. e. Pelaporan Narkotika Pelaporan penggunaan narkotika di Apotek Kimia Farma No. 49 dibuat setiap awal bulan dan selambat-lambatnya tanggal 10 setiap bulannya. Laporan ditandatangani oleh APA dengan mencantumkan nama jelas, nomor SIK, alamat apotek dan stempel apotek. Laporan bulanan kemudian ditujukan kepada Kepala Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Kotamadya Jakarta Timur dengan tembusan kepada: a) Kepala Balai Besar POM Propinsi DKI Jakarta.
52 b) Kepala Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta. c) Penanggung Jawab Narkotika PT. Kimia Farma (Persero) Tbk, khusus untuk apotek Kimia Farma. d) Arsip Apotek Laporan penggunaan sediaan jadi narkotika dapat dilihat pada Lampiran 22. f. Pemusnahan Narkotika Prosedur pemusnahan narkotik adalah sebagai berikut : a) APA membuat dan menandatangani surat permohonan untuk pemusnahan narkotika yang berisi antara lain jenis dan jumlah narkotika yang rusak dan atau tidak memenuhi syarat. b) Surat permohonan yang telah ditandatangani oleh APA dikirimkan ke Balai Besar POM DKI Jakarta. Selanjutnya Balai Besar POM DKI Jakartaakan menetapkan waktu dan tempat pemusnahan. c) Kemudian dibentuk panitia pemusnahan yang terdiri dari APA, Asisten Apoteker, petugas Balai Besar POM, dan Kepala Suku Dinas Kepala Kantor Dinkes Kota Jakarta Timur. d) Bila pemusnahan narkotika telah dilaksanakan, maka Apoteker Pengelola Apotek yang memusnahkan narkotika harus membuat Berita Acara pemusnahan narkotika, yang berisi : 1) Keterangan tempat, jam, hari, tanggal, bulan dan tahun dilakukan pemusnahan. 2) Nama pemegang izin khusus atau Apoteker Pengelola Apotek. 3) Nama orang saksi dari pemerintah dan seorang saksi lain dari apotek tersebut. 4) Nama, jenis dan jumlah narkotika yang dimusnahkan. 5) Cara pemusnahan. 6) Tanda tangan penanggung jawab apotek dan saksi-saksi. Berita Acara pemusnahan narkotika tersebut dikirimkan kepada Kepala Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Kotamadya Jakarta Timur, dengan tembusan kepada Kepala Balai Besar POM Propinsi DKI Jakarta, Kepala Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta, penanggung
53 jawab narkotika PT. Kimia Farma (Persero) Tbk, arsip apotek. 4.4.1.7. Pengelolaan Psikotropika Pengelolaan psikotropika di Apotek Kimia Farma No. 49 meliputi : a. Pemesanan Psikotropika Pemesanan Psikotropika di Apotek Kimia Farma No. 49 dilakukan oleh bagian pembelian dengan menggunakan Surat Pesanan khusus Psikotropika yang ditandatangani oleh MAP, dilengkapi dengan nomor SIK/SIPA dan stempel apotek. Satu lembar surat pesanan dapat berisi lebih dari satu jenis psikotropika. Surat pesanan dibuat rangkap 2, yang masing-masing diserahkan ke Pedagang Besar Farmasi yang bersangkutan dan sebagai arsip di apotek. Lembar surat pesanan psikotropik dapat dilihat pada Lampiran 23. b. Penyimpanan Psikotropika Penyimpanan psikotropika dipisahkan dengan obat yang lainnya. Apotek Kimia Farma No. 49 mempunyai lemari khusus yang terpisah dari penyimpanan obat-obat golongan lain. Setiap obat psikotropika dilengkapi dengan kartu stok yang diletakkan dalam lemari dan dicantumkan tanggal kadaluarsanya. c. Pelayanan Psikotropika Apotek Kimia Farma No. 49 hanya melayani resep psikotropika dari resep asli atau salinan resep yang dibuat oleh Apotek Kimia Farma No. 49 yang belum diambil sama sekali atau baru diambil sebagian. Apotek tidak melayani pembelian obat psikotropika tanpa resep atau pengulangan resep yang ditulis oleh apotek lain. d. Pelaporan Psikotropika Laporan psikotropika memuat nama apotek, nama obat, nama distributor, jumlah penerimaan, jumlah pengeluaran, tujuan pemakaian, dan stok akhir. Laporan ditandatangani oleh APA, dilengkapi dengan nama jelas dan nomor SIK, serta stempel apotek. Laporan penggunaan psikotropika kemudian ditujukan kepada Kepala Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Kotamadya Jakarta Timur secara berkala satu bulan sekali, dengan
54 tembusan kepada : a) Kepala Balai Besar POM Propinsi DKI Jakarta b) Kepala Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta c) Arsip apotek Laporan penggunaan psikotropika dapat dilihat pada Lampiran 24. e. Pemusnahan Psikotropika Tata cara pemusnahan psikotropika sama dengan tata cara pemusnahan narkotika. Dalam pelaksanaannya, pemusnahan psikotropika dapat dilakukan bersamaan dengan narkotika. 4.4.1.8. Pengelolaan resep Resep yang telah dilayani apotek dirahasiakan dan disimpan di apotek dalam jangka waktu 3 tahun. Resep disusun berdasarkan tanggal dan nomor resep untuk mempermudah penelusuran resep apabila diperlukan, baik untuk kepentingan pasien ataupun pemeriksaan. Pemusnahan resep dilakukan pada resep yang telah disimpan melebihi jangka waktu 3 tahun dengan cara: a. Pemusnahan resep dapat dilakukan dengan cara dibakar atau cara lain oleh APA bersama-sama dengan sekurang-kurangnya petugas apotek. b. Berita acara pemusnahan dikirimkan ke Dinas Kesehatan Kota dengan tembusan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan arsip Apotek. 4.4.2. Kegiatan Non Teknis Kefarmasian Kegiatan non teknis kefarmasian meliputi kegiatan administrasi dan pengawasan. Kegiatan ini bertujuan untuk menunjang kelancaran usaha suatu apotek dan sebagai alat kontrol. 4.4.2.1. Kegiatan Administrasi Kegiatan non teknis kefarmasian yang dilakukan oleh Apotek Kimia Farma No. 49 meliputi kegiatan administrasi apotek yang dilakukan oleh petugas administrasi dengan tujuan untuk menunjang kelancaran tugas teknis kefarmasian di apotek berfungsi sebagai alat kontrol, contohnya pembuatan laporan ikhtisar
55 penjualan harian baik penjualan tunai maupun kredit, administrasi resep kredit sampai menjadi alat tagih (faktur), pencatatan biaya-biaya operasional yang dikeluarkan serta penyerahan bukti-bukti administrasi ke BM. Kegiatan administrasi yang lain dilakukan secara terkoordinir oleh BM, dengan tujuan pengurusan administrasi secara efektif dan efisien dalam hal keuangan maupun SDM agar pelayanan lebih fokus pada konsumen. 4.4.2.2. Stock Opname Stock Opname adalah kegiatan pemeriksaan terhadap persediaan barang yang ada di apotek, apakah barang yang tersedia sesuai dengan pencatatan jumlah barang yang ada. Stok opname ini dilakukan oleh Asisten Apoteker dibantu oleh petugas apotek yang lain, dan seluruh jegiatannya dibawah tanggung jawab APA.Tujuan stok opname adalah : a. Mendeteksi secara dini kebocoran atau kehilangan barang. b. Melakukan kontrol terhadap pengadaan barang agar diketahui efektivitasnya. c. Mendeteksi secara dini barang slow moving dan fast moving serta barang kadaluwarsa. Kegiatan stok opname setiap tiga bulan sekali. Hasil stok opname dilaporkan kepada MAP untuk memberitahukan kondisi dan nilai barang hasil stok opname tersebut. Selanjutnya MAP melakukan validasi data. Data yang telah divalidasi selanjutnya dikirimkan ke BM Jaya II dengan cara mentransfer data melalui komputer.
BAB 5 PEMBAHASAN Apotek merupakan sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh Apoteker. Selain itu apotek juga merupakan suatu toko pengecer (retailer) sehingga identik dengan toko, akan tetapi barang dagangannya adalah perbekalan farmasi. Hal yang membedakan adalah dalam menjalankan aktivitasnya, apotek harus memenuhi peraturan yang berlaku seperti pendirian apotek, pengelolaan perbekalan farmasi, dan standar pelayanan farmasi yang dijalankan di apotek. Mengingat apotek juga merupakan suatu bisnis, maka dibutuhkan sistem manajerial yang baik agar bisnis berjalan dengan lancar. Namun, pengelolaan apotek juga tidak lepas dari pelayanan farmasi yang berorientasi kepada pasien (patient oriented). Konsep pengelolaan bisnis dan pelayanan farmasi ini harus berjalan beriringan agar apotek dapat mendatangkan keuntungan dan menyediakan pelayanan farmasi yang memuaskan bagi pelanggan. 5.1. Lokasi dan Tata Ruang Apotek Apotek Kimia Farma No. 49 berlokasi di Jalan Pahlawan Revolusi No. 53, Pondok Bambu, Jakarta Timur. Lokasi berdirinya apotek ini terbilang sangat strategis karena berada di pertigaan dan jalan dua arah yang sangat ramai. Lokasi apotek sangat mudah dijangkau oleh masyarakat karena dilalui oleh angkutan umum dari berbagai daerah, terutama angkutan umum yang juga melewati stasium kereta api terdekat. Daerah di sekitar apotek banyak terdapat rumah sakit, sarana pelayanan kesehatan masyarakat, dan praktek dokter sehingga kemungkinan pasien untuk menebus resep di Apotek Kimia Farma No. 49 cukup banyak. Apotek dilengkapi dengan halaman parkir yang luas sehingga memudahkan pengunjung untuk mengunjungi apotek. Penataan apotek yang baik dilakukan agar apotek terlihat menarik untuk dikunjungi. Bagian depan apotek berupa kaca tembus pandang sehingga dapat terlihat dari luar. Namun yang perlu diperhatikan adalah kaca tembus pandang yang berada di sisi tempat penyimpanan obat karena cahaya dan panas dapat 56
57 masuk ke area penyimpanan obat. Hal ini akan merubah suhu penyimpanan yang seharusnya dijaga untuk kestabilan obat. Desain apotek terbagi menjadi area apotek, area swalayan farmasi, area ruang tunggu pasien, dan area penunjang. Area apotek didesain untuk mempermudah pekerja dalam melakukan tugasnya. Meja penyiapan obat dan meja racik diletakkan dekat dengan tempat penyerahan obat. Buku standar seperti Farmakope Indonesia, MIMS, ISO, dan buku peraturan perundang-undangan mengenai apotek diletakkan di daerah penerimaan resep. Perlengkapan penyiapan obat seperti kantong plastik, blanko salinan resep, blanko kuitansi, stampel apotek, etiket, lem, dan staples diletakkan di meja penyiapan obat. Area peracikan dibagi menjadi dua, yaitu ruang racik basah dan kering. Ruang racik kering merupakan ruangan peracikan untuk sediaan padat seperti kapsul dan puyer. Sedangkan ruang racik basah merupakan ruangan peracikan untuk sediaan semi padat (salep dan krim) dan sediaan cair (rekonstitusi sirup kering). Perlengkapan peracikan obat seperti mortar, stamper, blender, kantong obat, kertas puyer, kapsul kosong, obat-obat racikan diletakkan di rak-rak atau laci meja racik. Tempat pencucian alat berada di area ruang racik basah. Untuk mempercepat penyiapan obat, gunting diikat dengan tali di setiap rak penyimpanan obat. Semua peralatan diletakkan ditempatnya dengan rapi. Papan nama apoteker dipasang di area apotek yang masih dapat terlihat oleh pengunjunag. Papan nama apoteker memuat nama apotek, nama APA (Apoteker Pengelola Apotek), Nomor SIA, Alamat dan nomor telepon Apotek. Area swalayan farmasi didesain untuk mempermudah pengunjung mencari obat atau barang yang diinginkan. Obat dan barang diletakkan berdasarka jenisnya seperti perawatan tubuh, kosmetik, makanan ringan, minuman, obat-obatan, dan alat kesehatan. Untuk obat-obatan, disusun berdasarkan farmakologinya seperti obat diare, maag, batuk, suplemen vitamin, alat kesehatan, perlengkapan bayi, dan lain-lain. Untuk produk-produk yang harganya tinggi diletakkan di area apotek. Hal ini bertujuan untuk menghindari hilangnya barang akibat pencurian. Penempatan produk di swalayan farmasi dilakukan berdasarkan pedoman yang telah disusun oleh Departemen Logistic and Merchandising. Area apotek dan area swalayan dipisahkan oleh counter yang berfungsi sebagai kasir untuk transaksi,
58 tempat pelayanan resep serta pemberian informasi obat oleh petugas apoteker. Area ruang tunggu didesain agar pasien merasa nyaman saat menunggu obat disiapkan atau menunggu antrian pemeriksaan dokter. Ruang tunggu dilengkapi dengan kursi tunggu, televisi, bahan bacaan agar pasien tidak merasa bosan. Area penunjang apotek terdiri dari area parkir, mesin ATM, ruang praktek dokter umum, dokter gigi, mushola, dan toilet. Area parkir apotek cukup luas sehingga mempermudah pengunjung untuk memarkirkan kendaraan yang dibawanya. Adanya praktek dokter umum dan dokter gigi serta mesin ATM bertujuan untuk meningkatkan omset apotek, yaitu dari biaya sewa yang diterima dari apotek serta resep yang masuk ke apotek. Mushola dan toilet terletak di area belakang apotek. Area belakang apotek masih terdapat ruangan-ruangan kosong yang tidak terpakai yang sebenarya masih dapat dimanfaatkan. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 mengenai standar pelayanan kefarmasian di apotek, sebuah apotek harus memiliki ruang tunggu yang nyaman bagi pasien, ruang konseling yang tertutup, tempat untuk men-display informasi bagi pasien, ruang racikan, dan tempat pencucian alat. Namun, tersedianya ruang konseling yang tertutup untuk pasien belum terpenuhi. Apabila pasien ingin konseling, apoteker hanya memberikan konseling di area penyerahan obat. Tidak tersedianya ruangan konseling yang tertutup berdasarkan pertimbangan permintaan konseling yang jarang. Sampai saat ini, pasien bersedia untuk melakukan konseling di area penyerahan obat, namun sebaiknya pasien disediakan ruangan tertutup yang nyaman agar apoteker lebih mudah menggali informasi yang penting untuk keberhasilan terapi pasien. 5.2. Personalia dan Organisasi Apotek Apotek Kimia Farma No.49 dipimpin oleh seorang Manager Apotek Pelayanan (MAP) selaku Apoteker Pengelola Apotek (APA) yang membawahi 5 petugas asisten apoteker (AA), 4 petugas non asisten apoteker, dan 1 petugas swalayan farmasi. Selain itu terdapat 1apoteker pendamping yang mendampingi APA atau menggantikan APA saat APA tidak hadir di apotek ketika pelayanan farmasi dijalankan di apotek. Dalam melaksanakan sistem pengelolaan apotek,
59 petugas AA merangkap sebagai petugas kasir dan administrasi. Setiap AA mendapatkan tanggung jawab dalam menjalankan tugas administrasi seperti laporan narkotika, laporan psikotropika, laporan barang rusak dan kadaluarsa, laporan penjualan bebas, dan rekapitulasi tagihan resep kredit ke beberapa instansi yang melakukan kerja sama dengan Apotek Kimia Farma No. 49. Pembagian kerja ini dilakukan untuk efisiensi dan efektivitas tenaga kerja apotek. Apotek Kimia Farma No. 49 menggunakan sistem kerja 2 shift. Berdasarkan jumlah tenaga kerja tersebut, tiap harinya terdapat 1 shift kerja dimana tidak terdapat apoteker yang bertanggung jawab terhadap dijalankannya pelayanan farmasi di apotek. Idealnya, apotek yang tidak ada apoteker selama dibukanya apotek hanya dapat melayani obat bebas, obat bebas terbatas dan obat yang masuk dalam Daftar Obat Wajib Apotek (DOWA). Sehingga sebaiknya terdapat 1 apoteker pendamping tambahan agar di setiap shift kerja terdapat apoteker yang bertanggung jawab terhadap pelayanan farmasi di apotek. Selain petugas apotek, terdapat beberapa Sales Promotion Girl (SPG) yang ditugaskan di Apotek Kimia Farma No. 49. Selain meningkatkan penjualan produk, SPG juga membantu petugas apotek dalam men-display/menyusun produk-produk di area swalayan farmasi dan mengambilkan produk-produk yang ditempatkan di area swalayan farmasi. Hal ini sangat membantu petugas apoteker untuk memberikan pelayanan yang cepat. 5.3. Pengelolaan Perbekalan Farmasi Kegiatan pengeloaan perbekalan farmasi di Apotek kimia Farma No. 49 meliputi kegiatan perencanaan, penerimaan, penyimpanan, dan pendistribusian kepada pelanggan. Kegiatan pengadaan tidak dilakukan di Apotek Pelayanan, namun diserahkan kepada Bisnis Manager (BM) Jaya II, Matraman dengan tujuan agar Apotek Pelayanan berkonsentrasi terhadap pelayanan farmasi di masyarakat. Perencanaan dilakukan tiap 2 minggu sekali berdasarkan barang-barang yang telah dituliskan di buku difekta. Setiap asisten apoteker memiliki tanggung jawab tiap rak penyimpanan obat untuk memastikan obat-obat selalu tersedia dalam jumlah yang cukup. Apabila terdapat obat dalam jumlah di bawah stok minimum atau habis, petugas segera menuliskannya di buku defekta. Pemesanan
60 barang ke BM dilakukan dengan membuat Bon Permintaan Barang Apotek (BPBA), meliputi obat ethical maupun OTC, alat kesehatan, tetapi tidak termasuk obat narkotika, psikotropika, dan perbekalan kesehatan rumah tangga. BM akan segera mengirimkan barang yang dipesan pada hari senin sampai rabu jika persediaan di BM mencukupi. Jika persediaan di BM tidak mencukupi, maka BM akan memesan barang yang diminta ke PBF pada hari kamis sampai sabtu dan akan mengirimnya ke Apotek Pelayanan pada hari senin sampai rabu pada minggu berikutnya. Obat dalam golongan narkotika dan psikotropika dipesan langsung ke PBF dengan lembar Surat Pemesanan (SP) khusus. SP Narkotika dan SP psikotropika yang telah dibuat harus dibuat sepengetahuan Apoteker Pengelola Apotek (APA). Untuk pemesanan narkotika, pemesanan dilakukan ke PBF Kimia Farma selaku distributor tunggal. Untuk perbekalan kesehatan rumah tangga, ada petugas khusus yang bertanggung jawab dalam merencanakan dan mengadakan persediaannya.setiap bulan petugas tersebut diberikan sejumlah uang dari BM untuk dikelola sesuai kebutuhan dalam melakukan perencanaan dan pengadaan. Uang tersebut dibelanjakan di toko swalayan besar seperti Tip Top dan Lotte. Kemudian bukti pembayaran diserahkan ke apotek untuk dimasukkan ke pembukuan apotek. Sistem pengadaan barang yang terpusat di BM mempunyai keuntungan dan kerugian. Keuntungannya antara lain BM dapat membeli barang dalam jumlah besar sehingga mendapatkan potongan harga yang menguntungkan untuk apotek. Sedangkan kerugian sistem ini adalah kemungkinan terjadinya jumlah obat yang dipesan ke BM untuk keperluan selama 2 minggu tersebut tidak dapat memenuhi permintaan yang yang tiba-tiba. Untuk mengatasi masalah tersebut, terdapat prosedur pembuatan BPBA cito untuk memesan barang ke BM jika persediaan obat habis dalam rentang waktu 2 minggu tersebut. Apotek juga dapat meminta persediaan obat ke apotek Kimia Farma lain terdekat. Hal ini dapat mengurangi kepuasan pelanggan karena pelayanan obat karena menjadi lebih lama. Apotek akan menerima barang yang telah dipesan bersama dengan lembar dropping yang berisi informasi barang-barang yang dikirim BM ke apotek.
61 Petugas melakukan pengecekkan barang yang datang kemudian menyimpan barang-barang tersebut di tempat penyimpanannya masing-masing. Petugas akan memasukkan barang sesuai dengan tanggung jawab pemegang rak penyimpanan. Saat dimasukkan ke tempat penyimpanan, petugas mencatat jumlah barang masuk di kartu stok. Apabila terjadi kesalahan pengiriman, seperti pengiriman barang yang tidak dipesan, jumlah dan jenis barang yang tidak seusai, atau tidak dikirimnya barang tertentu maka petugas akan melakukan konfirmasi ke BM untuk menyelesaikan masalah tersebut. Penyimpanan barang-barang di apotek dilakukan di dua area, yaitu area apotek dan area swalayan farmasi. Pada area apotek, obat disimpan dalam rak-rak obat dan di setiap barisnya obat dimasukkan ke dalam kotak obat. Pada bagian depan kotak obat, terdapat informasi nama obat dan kekuatannya. Untuk memonitor kadaluarsa obat, di bagian depan kotak dituliskan bulan dan tahun kadaluarsa dengan berbagai warna label untuk membedakan tahun kadaluarsa. Namun, saat ini penandaan tersebut tidak di update. Masih terlihat label dengan tahun kadaluarsa tahun 2010 dan 2011. Jika ada barang yang tidak muat disimpan di rak obat, obat dapat disimpan di lemari kecil yang terletak diatas tiap rak obat yang berfungsi sebagai gudang kecil. Penyusunan obat dilakukan berdasarkan kombinasi bentuk sediaan, farmakologi, dan alfabetis. Pemisahan rak obat diawali dari bentuk sediaan seperti sediaan semi solid seperti krim/salep, sediaan cair seperti sirup/drop, dan sediaan padat seperti kapsul/tablet. Pemisahan bentuk sediaan ini tidak dilakukan pada golongan antibiotik dan golongan obat generik/askes. Untuk sediaan padat, penyusunan dilakukan berdasarkan farmakologi seperti saluran napas, analgetika, antialergi, antihipertensi, kardiovaskular, antikolesterol, hormon, vitamin, dan lain-lain; kemudian disusun berdasrkan alfabetis. Obat golongan narkotik dan psikotropik disimpan sesuai peraturan yang berlaku, yaitu disimpan di lemari terpisah. Selain itu untuk produk-produk termolabil seperti serum, vaksin, suppositoria, dan sediaan probiotik disimpan di dalam lemari pendingin. Untuk vaksin dan serum tidak selalu ready stock mengingat diperlukannya perhatian khusus dalam penyimpanannya dan permintaannya jarang. Sedangkan penyusunan produk di swalayan farmasi dilakukan berdasarkan
62 pedoman yang telah disusun oleh Departemen Logistic and Merchandising. Produk diletakkan berdasarkan jenisnya seperti perawatan tubuh, kosmetik, makanan ringan, minuman, obat-obatan, vitamin, alat kesehatan, dan perlengkapan bayi. Untuk obat-obatan, disusun berdasarkan farmakologinya. Untuk produk-produk yang harganya tinggi diletakkan area apotek hal ini bertujuan untuk menghindari hilangnya barang akibat pencurian. Namun, hal yang disayangkan adalah beberapa produk tersebut saat ini sedang gencar diiklankan di media cetak dan elektronik. Bila produk tersebut disimpan di area dalam apotek, pengunjung tidak melihatnya. Sebaiknya produk diletakkan di area swalayan farmasi untuk menarik keinginan membeli dari pengunjung. Hal ini bisa disiasati dengan menggunakan etalase/ kotak transparan dan terkunci untuk mendisplai produk di area swalayan farmasi. Penyimpanan obat secara umum dinilai sudah baik. Namun, masih terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti suhu penyimpanan dan cara penyimpanan yang baik dan benar. Area penyimpanan obat di apotek dan lemari pendingin tidak dilengakapi dengan termometer/pengukur suhu. Monitor suhu sangat diperlukan untuk tempat penyimpanan obat, terutama obat yang termolabil. Jika sewaktu-waktu suhu tidak sesuai dengan suhu penyimpanan yang seharusnya, petugas dapat segera mengambil tindakan untuk mencegah kerusakan obat. Hal lainnya adalah suhu penyimpanan yang tidak sesuai pada rak penyimpanan obat. Berdasarkan tata letak apotek pada Lampiran 3, antara tempat parkir dan area penyimpanan di dalam apotek hanya dibatasi oleh kaca yang dilengkapi dengan penutup yang berfungsi untuk menghalau sinar matahari yang masuk diapotek sekitar pukul 10.00-16.00. Terlebih lagi, bagian bawah gudang kecil dilengkapi dengan lampu yang dinyalakan dengan tujuan memberikan penerangan pada rak penyimpanan obat. Ternyata kondisi ini menyebabkan peningkatan suhu mencapai ± 35,5 o C di gudang kecil bagian bawah dan mencapai 33 o C di gudang kecil bagian atas. Sedangkan suhu penyimpanan obat yang terdapat pada brosur disebutkan suhu penyimpanan pada ruangan sejuk, 25-30 o C. Maka sebaiknya dinding kaca di area penyimpanan obat diganti dengan dinding tembok dan lampu di bawah gudang kecil tidak dipasang,
63 penerangan dapat dimaksimalkan pada langit-langit apotek. Selain suhu penyimpanan, cara penyimpanan yang sesuai juga harus diperhatikan. Terdapat sediaan cair untuk nebulizer yang dipisahkan dari wadah aluminium. Berdasarkan cara penyimpanan yang tertera pada brosur, produk harus tetap disimpan di dalam wadah aluminium dan hanya bertahan selama 3 bulan semenjak kemasan aluminium dibuka. Selain itu, terdapat beberapa sediaan yang disimpan di tempat yang tidak sesuai. Sediaan tetes mata seperti Cendo Genta, Cendo Cetapred, dan Cendo Fenikol memiliki suhu penyimpanan 2-8 o C yang artinya harus disimpan dalam lemari pendingin dengan suhu diantara 2-8 o C. Namun ketiga sediaan tersebut disimpan bersama dengan sediaan tetes mata lain di rak penyimpanan obat. Berdasarkan kedua contoh tersebut cara penyimpanan yang sesuai perlu diperhatikan untuk tetap menjaga stabilitas obat. Cara penyimpanan yang perlu diperhatikan juga adalah kotak penyimpanan obat harus dibedakan untuk merk yang sama namun kekuatan yang berbeda. Hal ini bertujuan untuk menghindari kesalahan pengambilan obat dan pencatatan kartu stok. Dalam pengamatan, masih ditemukan beberapa obat dengan merk sama namun dengan kekuatan berbeda masih disimpan di dalam 1 kotak obat. Bebrapa obat tersebut antara lain Mecox 7,5 mg dan 15 mg; Irvask 300 mg dan 150 mg; Diovan 40 mg dan 80 mg; Glimepirid 1 mg, 2 mg, dan 3 mg; Metrix 3 mg dan 4 mg; dan Lanavision dan Lanavision Plus. Hal yang menyebabkan penyimpanan seperti itu adalah rak penyimpanan yang sudah tidak memadai untuk menambah kotak penyimpanan obat. Dalam lemari narkotika Apotek Kimia Farma No. 49 ditemukan tablet doveri 200 mg sebanyak 19 tablet. Doveri mengandung pulvis opii yang merupakan prekursor narkotika sehingga terdapat risiko disalahgunakan. Adanya risiko penyalahgunaan, maka doveri sudah tidak digunakan dalam terapi suatu penyakit. Oleh karena itu, Apotek Kimia Farma No. 49 hanya menyimpan sediaan tablet doveri tersebut dan tidak digunakan untuk melayani resep yang meminta tablet doveri. 5.4. Kegiatan Pelayanan Apotek Apotek Kimia Farma No. 49 melakukan pelayanan resep dokter; penjualan
64 obat bebas dan bebas terbatas/otc (Over the Counter) dan perbekalan farmasi lainnya yang dikenal sebagai pelayanan HV (Hand Verkoop); dan penjualan obat OWA (Obat Wajib Apotek) yang dikenal sebagai pelayanan UPDS (Upaya Pengobatan Diri Sendiri). 5.4.1. Pelayanan Resep Dalam melayani resep, apotek menjalankan 6 langkah prosedur pelayanan resep. Langkah pertama, yaitu penerimaan resep meliputi pemeriksaan keabsahan dan kelengkapan resep, pemberian nomor resep, pemeriksaan ketersediaan obat, dan penetapan harga. Jika pemeriksaan ketersediaan dan pemberian harga obat sudah dilakukan, lanjutkan ke prosedur berikutnya. Langkah kedua, yaitu melakukan perjanjian dan menerima pembayaran, meliputi melakukan kesepakatan dengan pasien untuk mengambil semua atau sebagian obat dan melakukan pergantian obat jika obat tidak tersedia. Selanjutnya pasien melakukan pembayaran (tunai/kredit) dan menerima bukti pembayaran yang memuat nomor resep sebagai nomor antrian pelayanan resep. Jika pasien hanya mengambil sebagian obat yang diresepkan dan tidak bersedia untuk mengganti obat, maka petugas akan membuat salinan resep. Pasien juga dapat meminta petugas untuk membuatkan kuitansi pembayaran. Langkah ketiga, yaitu melakukan peracikan, meliputi penyiapan etiket obat dan kemasan, melakukan penyiapan obat atau peracikan obat, dan mengemasnya dalam kantong yang sesuai. Langkah keempat, yaitu melakukan pemeriksaan akhir sebelum obat diserahkan, meliputi pemeriksaan kesesuaian hasil penyiapan atau peracikan obat dengan resep, kesesuaian salinan resep dengan resep asli, dan kebenaran kuitansi. Langkah kelima, yaitu penyerahan obat dan pemberian informasi, meliputi pemberian informasi obat. Obat diserahkan kepada pasien oleh petugas yang berbeda. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan kesalahan yang mungkin akan terjadi dalam proses peracikan obat dengan melakukan pengecekan ganda. Langkah keenam, yaitu layanan purna jual, meliputi pemberian informasi dan komunikasi dengan pasien jika diperlukan dan penggantian obat bila diperlukan atas permintaan dokter. Resep yang dilayani meliputi resep tunai dan resep kredit. Resep kredit meliputi resep ASKES (khusus Rumah Sakit Duren Sawit), PT. ASABRI Persero,
65 Inhealt, PT. Aqua dan PT. PLN. Alur pelayanan resep kredit juga mengikuti kaidah 6 langkah prosedur pelayanan pasien. Namun, terdapat beberapa perbedaan prosedur dalam melayani resep kredit, yaitu penomoran resep kredit dilakukan secara manual dengan lembar penomoran resep berwarna biru; pemeriksaan kelengkapan penunjang reep seperti Surat Jaminan Pelayanan (SJP) dan foto copy kartu pegawai/peserta jaminan kesehatan; dan pemeriksaan obat yang diresepkan dicek apakah termasuk ke dalam formularium penjamin seperti Daftar Plafon Harga Obat (DPHO) untuk ASKES. Jika obat yang diresepkan tidak dijamin oleh penjamin, maka petugas dapat menawarkan pasien agar membeli secara tunai atau mengganti obat dengan zat aktif yang sama tetapi masuk ke dalam formularium. Penagihan pitutang pelayanan resep kredit dilakukan setiap satu kali setiapbulan. Apotek akan mengirimkan rekapitulasi obat-obat yang diresepkan dalam 1 bulan. Data tersebut berupa tanggal resep, nomor resep, nama karyawan, nama pasien (karyawan sendiri/istri/suami/anak), jumlah R/, dan harga. Hasil rekapitulasi dibuat 2 rangkap, lembar asli dan 1 rangkap dikirimkan ke instansi bersangkutan dan 1 rangkap lainnya disimpan di apotek sebagai arsip.hasil rekapitulasi ditandatangani oleh APA dan diberikan cap Apotek Kimia Farma No. 49. 5.4.2. Pelayanan HV (Hand Verkoop) Pelayanan HV meliputi penjualan obat bebas, obat bebas terbatas, alat kesehatan, makanan ringan, minuman dan produk-produk lain selain obat ethical. Untuk pembelian obat bebas dan obat bebas terbatas, biasanya pasien sudah mengetahui cara penggunaan obat sehingga pasien dapat membeli obat tanpa harus periksa ke dokter atau swamedikasi. Pelayanan yang diberikan berupa rekomendasi obat yang tepat untuk pasien. Konsep yang dijalankan adalah konsep WWHAM (Who, What, How, Action, Medicine). Dalam konsep tersebut dalam menentukan terapi yang tepat harus dipastikan obat yang akan dibeli untuk siapa, gejala apa yang dirasakan dan sudah berapa lama berlangsung, pengobatan apa yang sudah diberikan untuk mengobati penyakit, dan obat-obat lain yang sedang dikonsumsi. Sejauh ini konsep tersebut sudah diterapkan, terutama untuk pengunjung yang masih belum bisa menentukan obat apa yang sebaiknya dibeli.
66 Dalam pelayanan obat untk HV, petugas juga memberikan informasi tentang obat yang dibeli pasien. 5.4.3. Pelayanan UPDS (Upaya Pengobatan Diri Sendiri) Dalam pelayanan UPDS, apotek menjual obat-obat yang telah diizinkan oleh pemerintah untuk digunakan pasien tanpa resep dokter, yaitu obat yang telah masuk dalam DOWA (Daftar Obat Wajib Apotek). Umumnya pasien telah mengetahui khasiat dan cara menggunakan obat-obat tersebut utuk pengobatan dirinya sendiri (swamedikasi). Dalam proses pelayanan, petugas akan menanyakan pasien mengenai tujuan penggunaan obat yang akan dibeli dan memastikan bahwa obat masuk dalam DOWA. Apabila obat yang diminta pasien tidak masuk ke dalam DOWA atau harus berdasarkan resep, maka petugas akan merekomendasikan pasien untuk memeriksakan diri ke dokter terlebih dahulu. Perlakuan berbeda diterapkan apabila obat yang dibeli adalah obat untuk mengobati penyakit degeneratif seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, kolesterol, dan lain-lain dimana obat dibeli secara rutin. Dalam kondisi tersebut petugas akan melayani pasien. Dalam pelayanan UPDS, petugas apotek akan mengisi lembar permintaan obat DOWA dengan informasi nama pasien, alamat, dan keluhan. Namun, sejauh ini kegiatan tersebut belum sepenuhnya dilakukan. Dalam menjalankan kegiatan apotek sebagai suatu bisnis. Apotek Kimia Farma No. 49 telah melakukan beberapa usaha untuk meningkatkan omset apotek dan kepuasan pelanggan. Apotek Kimia Farma No. 49 membagikan brosur mengenai profil apotek dan berbagai pelayanan yang disediakan. Pelayanan tambahan yang diberikan antara lain layanan antar dengan melayani pesanan via telepon atau fax secara gratis untuk pembelian minimal Rp. 50.000,00. Selain itu apotek memberikan harga promo berupa diskon untuk produk OTC, kosmetik, perawatan tubuh, dan produk swalayan farmasi lainnya pada periode 16 April- 16 Mei 2012. Kegiatan seperti ini diadakan untuk menarik minat pengunjung untuk membeli. Dalam hal kenyamanan pengunjung, sebaiknya lebih ditingkatkan terutama pendingin ruangan yang belum memadai. Pendingin ruangan selain untuk kenyamanan pasien, penting juga untuk kenyamanan petugas apotek dan
67 menjaga suhu ruangan apotek terkait dengan suhu penyimpanan obat. Dari segi pelayanan pengunjung, petugas di bagian palayanan swalayan farmasi telah memberikan pelayanan dengan baik, yaitu ramah, sigap, dan membantu mengatasi kesulitan pelanggan. 5.5. Kegiatan pencatatan dan pelaporan Pengelolaan apotek tidak lepas dari kegiatan pencatatan dan pelaporan. Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain rekam medik pasien, pengarsipan resep, pelaporan penggunaan narkotika dan psikotropika, pelaporan barang rusak dan expired, serah terima shift, dan pelaporan setoran kas harian. Apotek Kimia Farma memiliki rekam medik pasien dalam bentuk elektronik. Rekam medik tersebut terdapat dalam program KIS (Kimia Farma Information System) dalam menu PMR (Patient Medical Record). Rekam medik pasien ini diisi pada saat transaksi/pembayaran obat. Informasi pasien yang ada di PMR antara lain tanggal transaksi, nomor, ID pasien, nama pasien, alamat, nomor telepon, dan tanggal lahir. Program KIS juga memiliki database semua produk yang dijual sehingga melalui program ini petugas dengan mudah dan cepat melihat stok dan harga produk. Pengarsipan resep dilakukan dengan menyusun rapi resep-resep yang diterima apotek per harinya kemudian disimpan dalam wadah kardus per bulan dengan mengurutkan tanggal dari awal sampai akhir bulan. Penyimpanan resep dikelompokkan berdasarkan resep tunai dan resep kredit. Setiap resep yang disimpan disatukan dengan bukti pembayaran/struk. Untuk resep narkotika dan psikotropika disimpan terpisah untuk memudahkan penyususnan laporan ke Dinas Kesehatan wilayah setempat. Penyimpanan disatukan bersama dengan arsip laporan bulanan narkotika dan psikotropika. Semua resep disimpan selama 3 tahun sebelum dimusnahkan. Pelaporan penggunaan narkotika dan psikotropika dilakukan sebulan sekali dengan menyerahkan Laporan Penggunaan Sediaan jadi Narkotika dan Laporan Penggunaan Sediaan Jadi Psikotropika ke Kepala Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta dengan tembusan Kepala Suku Dinas Yankes Jakarta Timur, Kepala Balai Besar POM DKI Jakarta dan arsip untuk apotek. Penyusunan laporan dilakukan oleh asisten apoteker yang diberikan tanggung
68 jawab oleh APA. Sedangkan laporan untuk barang rusak dan kadaluarsa dilakukan 3 bulan sekali. Pada laporan tersebut dirinci nama obat, jumlah, tanggal kadaluarsa. Apotek Kimia Farma No. 49 menerapkan sistem kerja 2 shift. Untuk memastikan kegiatan apotek berjalan secara berkesinambungan, maka pada saat pergantian shift dilakukan serah terima setoran shift dengan menyerahkan sejumlah uang sebagai modal untuk shift berikutnya dan slip setoran shift yang merinci jumlah pemasukan pada shift sebelumnya. Rincian tersebut berupa waktu shift (pagi/siang), nama petugas shift, tanggal, jumlah setoran beserta rincian (Resep/HV/UPDS/ lainnya), dan selisih uang antara fisik dan komputer. Sisa uang setelah dikurangi modal yang ditinggalkan untuk shift berikutnya diserahkan ke petugas keuangan apotek. Setiap harinya petugas mencetak bukti setor kas yang berisi laporan total penjualan dalam sehari. Total penjualan juga dirinci berdasarkan jenis pemasukan seperti tunai, debet, kredit, dan langganan. Bukti setor kas diserahkan ke petugas keuangan. Berdasarkan pembahasan tersebut, Apotek Kimia Farma No.49 telah menjalankan peran sebagai sarana pelayanan kefarmasian, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian oleh apoteker sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2009 tentang pekerjaan kefarmasian, seperti pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter serta memberikan pelayanan informasi obat. Dengan demikian, Praktek Kerja Profesi Apoteker di Apotek Kimia Farma No. 49, Pondok Bambu yang dilaksanakan selama lebih kurang 6 minggu telah memberikan gambaran kepada calon apoteker mengenai kegiatan pengelolaan dan pelayanan farmasi yang komprehensif di suatu apotek sehingga apoteker dapat menjadi sarana pelayanan kesehatan yang memuaskan serta menjadi suatu jenis usaha yang menguntungkan.
BAB 6 PENUTUP 6.1. Kesimpulan a. Apoteker memiliki peran dan tanggung jawab yang sangat penting dalam mengelola Apotek Kimia Farma No. 49 Pondok Bambu Jakarta Timur, mencakup pengelolaan teknis kefarmasian maupun pengelolaan non teknis kefarmasian. b. Pengelolaan apotek mencakup pengelolaan perbekalan farmasi, meliputi perencanaan, pengadaan, dan penerimaan; dan pelayanan farmasi, meliputi pelayanan resep, pelayanan non resep, dan pemberian informasi obat. 6.2. Saran a. Tampilan depan apotek yang terbuat dari kaca perlu ditinjau kembali, terkait dengan suhu area penyimpanan obat dalam apotek dalam menjaga kestabilan obat agar kualitas tetap terjamin. b. Cara penyimpanan obat yang benar perlu diperhatikan, sesuaikan tempat dan cara penyimpanan obat dengan suhu penyimpanan dan cara penyimpanan yang tertera pada kemasan/brosur obat. c. Perlu dilakukan penambahan unit pendingin ruangan untuk menjaga kenyamanan pelanggan apotek dan petugas pelayanan apotek, serta menjaga suhu ruangan sesuai dengan suhu penyimpanan obat. d. Perlu diletakkan alat pengukur suhu baik di area penyimpanan obat maupun di lemari pendingin untuk memonitor suhu penyimpanan. e. Perlu dilakukan penataan kembali obat-obat atau produk-produk yang sedang ramai diiklankan di media cetak maupun elektronik, sehingga obat-obat atau produk-produk tersebut mudah dilihat oleh pelanggan apotekdan memberikan impuls buying kepada pelanggan. 69
DAFTAR ACUAN Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1993). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 922/Menkes/Per/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2004). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1027/Menkes/SK/IX/2004 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2002). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1332/MenKes/SK/X/2002 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.922/MenKes/Per/X/1993 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2008). Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit. Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2006). Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas. Jakarta: Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1980). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1980 Tentang Perubahan Atas PP No.26 Tahun 1965 Tentang Apotek. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1980). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1980 Tentang Perubahan Atas PP No.26 Tahun 1965 Tentang Apotek. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2009). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1997). Undang Undang Nomor 5 Tahun 1997 Tentang Psikotropika. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 70
71 Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang No.39 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. (2010). Buku Pedoman Pengelolaan Narkotika dan Psikotropika di Apotek. Jawa Timur: Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Direktorat Jendral Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Review Penerapan Sistem Pelaporan Narkotika dan Psikotropika (SIPNAP) dan Sistem Pelaporan Dinamika Obat PBF Regional I, II dan III Tahun 2010. Direktorat Jendral Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI 4 Maret 2012. http://binfar.depkes.go.id/index.php/berita/view/178 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 889/MENKES/PER/V/2011 tentang Registrasi, Izin Praktik, dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Quick, J. (1997). Managing Drug Supply, The selection, Procurement, Distribution, and Use of Pharmaceuticals, 2nd ed. Revised and Expanded. Kumarian Press. Seto, S., Yunita, N., & T, L. (2004). Manajemen Farmasi. Jakarta: Airlangga University Press. Umar, M. (2011). Manajemen Apotek Farmasi. Jakarta : Wira Putra Kencana. Tim PKPA PT. Kimia Farma Apotek 2012. (2012). Materi Praktek Kerja Profesi Apoteker. Jakarta: PT Kimia Farma Apotek
LAMPIRAN
72 Lampiran 1. Contoh Formulir APT-1
73 Lampiran 1. Contoh Formulir APT-1 (Lanjutan)
74 Lampiran 2. Contoh Formulir APT-2
75 Lampiran 3. Contoh Formulir APT-3
76 Lampiran 3. Contoh Formulir APT-3 (Lanjutan)
77 Lampiran 3. Contoh Formulir APT-3 (Lanjutan)
78 Lampiran 3. Contoh Formulir APT-3 (Lanjutan)
79 Lampiran 3. Contoh Formulir APT-3 (Lanjutan)
80 Lampiran 3. Contoh Formulir APT-3 (Lanjutan)
81 Lampiran 4. Contoh Formulir APT-4
82 Lampiran 5. Contoh Formulir APT-5
83 Lampiran 5. Contoh Formulir APT-5 (Lanjutan)
84 Lampiran 5. Contoh Formulir APT-5 (Lanjutan)
85 Lampiran 6. Contoh Formulir APT-6
86 Lampiran 7. Contoh Formulir APT-7
87 Lampiran 8. Struktur Organisasi PT. Kimia Farma Apotek Direktur Utama Direktur Operasional Direktur Sumber Daya Manusia Direktur Keuangan Manajer Bisnis Manajer Operasional Manajer Sumber Daya Manusia Manajer Keuangan
88 Lampiran 9. Struktur Organisasi Bisnis Manager
89 Lampiran 10. Tata ruang apotek kimia farma No. 49 Keterangan: : Area / Ruangan 1. Parkir. 2. Swalayan farmasi 3. Kasir 4. Penyerahan resep 5. Informasi dan penyerahan obat 6. Meja peracikan kering 7. Meja peracikan basah 8. Meja administrasi 9. Area transit barang 10. Ruang manager apotek pelayanan 11. Toilet 12. Mushola 13. Ruang tunggu 14. Ruang dokter gigi 15. Ruang dokter 16. Optic kimia farma 17. Ruang Penyimpanan Arsip(resep) 18. ATM : Lemari 13. Lemari Salep dan Cream 14. Lemari tetes mata & inhaler 15. Lemari obat analgesic & saluran pernapasan 16. Lemari obat analgesic & vertigo 17. Lema obat saluran cerna 18. Lemari obat ant hipertensi, antikolesterol dan kardiovaskular 19. Lemari obat antidiabetes & hormone 20. Lemari Vitamin & vitamin tulang 21. Lemari Obat antibiotic 22. Lemari obat antibakteri & antijamur 23. Transit area HV Lampiran 4. Struktur organisasi apotek kimia farma No. 49 : Lemari 1. Lemari Obat Askes 2. Refrigrator 3. Lemari Narkotik 4. Lemari Psikotropik 5. Alkes 6. Personal care 7. Rak Medicine, vitamin & suplemen 8. Rak Medicine 9. Baby Care 10. Baby Milk 11. Adult milk & nutrition 12. Lemari penyimpanan Resep
90 Lampiran 11. Struktur organisasi apotek kimia farma No. 49 Manajer Apotek Pelayanan (MAP)/ Apoteker Pengelola Apotek (APA) Layanan Farmasi Swalayan Farmasi Apoteker Pendamping (PIO) Asisten Apoteker Petugas Swalayan Juru Resep Kasir Swalayan Kasir Administrasi Office Boy
91 Lampiran 12. Bon Permintaan Parang Apotek (BPBA)
92 Lampiran 13. Bon Penerimaan Barang (dropping) dari BM Jaya II
93 Lampiran 14. Lembar kartu stok
94 Lampiran 14. Lembar kartu stok (lanjutan)
95 Lampiran 15. Lembar copy resep
96 Lampiran 16. Lembar kuitansi pembayaran resep/tunai
97 Lampiran 17. Alur pelayanan resep Resep diterima oleh Apoteker Pengelola Apotek (APA) atau Asisten Apoteker (AA) Resep Tunai Pemeriksaan Administrasi Resep atau Keabsahan Resep Resep Kredit Pemeriksaan Administrasi Resep atau Keabsahan Resep Dientri di KIS untuk Pengecekan Persediaan dan Penetapan Harga Pemberian Struk Resep (Tertera No. Resep sebagai Nomor Pengambilan Obat) Pemeriksaan Kelengkapan Administrasi dari Instansi Tersebut Pemberian No. Urut Pengambilan Obat Secara Manual Penyiapan Resep Obat Jadi Obat Racikan Timbang, Racik, Kemas Penyiapan Obat dan Pemberian Etiket Penyerahan Obat Pemberian Informasi Obat (PIO) Arsip Resep
98 Lampiran 18. Lembar penomoran resep kredit
99 Lampiran 19. Lembar formulir permintaan DOWA
100 Lampiran 20. Lembar surat pesanan narkotika
101 Lampiran 21. Surat Pengantar Narkotika dan Psikotropika
102 Lampiran 22. Laporan penggunaan sediaan jadi narkotika
103 Lampiran 23. Lembar surat pesanan psikotropik
104 Lampiran 24. Laporan penggunaan psikotropika
105
UNIVERSITAS INDONESIA ANALISIS PARETO (ABC) TERHADAP PENJUALAN ANTIBAKTERI DAN PROFIL PERESEPAN ANTIBAKTERI DARI RESEP ANAK TUNAI PERIODE FEBRUARI - APRIL 2012 DI APOTEK KIMIA FARMA NO.49 PONDOK BAMBU JAKARTA TIMUR TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER ARY ANDRIANI, S.Farm. 1106046723 ANGKATAN LXXIV FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM PROFESI APOTEKER - DEPARTEMEN FARMASI DEPOK JUNI 2012
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR LAMPIRAN... Halaman BAB 1 PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Tujuan... 2 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA... 3 2.1 Manajemen Persediaan.... 3 2.2 Parameter Manajemen Persediaan.... 5 2.3 Analisis ABC (Pareto).... 8 2.4 Analisis VEN (Vital, Esensial, Nonesensial).... 10 2.5 Analisis VEN-ABC.... 10 2.6 Antibakteri.... 11 BAB 3 METODE PENGAMATAN... 19 3.1 Waktu dan Tempat Pengamatan... 19 3.2 Metode Pengolahan Data... 19 BAB 4 PEMBAHASAN... 20 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN.... 29 5.1 Kesimpulan.... 29 5.2 Saran.... 29 DAFTAR ACUAN.... 30 LAMPIRAN.... 31 ii ii iii iv v ii
DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.1. Diagram model pengendalian persediaan... 8 Gambar 2.2 Matriks analisis gabungan VEN-ABC... 11 iii
DAFTAR TABEL Halaman Tabel 4.1. Pengelompokan produk antibakteri dengan analisis ABC (Pareto) bersasarkan nilai investasi selama Februari-April 2012... 22 Tabel 4.2. Profil peresepan antibakteri tertinggi selama Februari- April 2012... 22 Tabel 4.3. Produk Obat dengan zat aktif sefiksim yang diresepkan selama Februari 2012... 27 Tabel 4.4. Produk Obat dengan zat aktif sefiksim yang diresepkan selama Maret 2012... 27 Tabel 4.5 Produk Obat dengan zat aktif sefadroksil yang diresepkan selama Maret 2012... 27 Tabel 4.6. Produk Obat dengan zat aktif sefiksim yang diresepkan selama April 2012... 28 iv
DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Lampiran 2. Lampiran 3. Lampiran 4. Lampiran 5. Lampiran 6. Lampiran 7. Lampiran 8. Lampiran 9. Halaman Data analisis pareto produk antibakteri pada resep anak di Apotek Kimia Farma No. 49 pada bulan Februari 2012... 31 Data presentase peresepan produk antibakteri di Apotek Kima Farma No, 49 pada bulan Februari 2012... 32 Data analisis pareto produk antibakteri pada resep anak di Apotek Kimia Farma No. 49 pada bulan Maret 2012... 33 Data presentase peresepan produk antibakteri di Apotek Kima Farma No, 49 pada bulan Maret 2012... 35 Data analisis pareto produk antibakteri pada resep anak di Apotek Kimia Farma No. 49 pada bulan April 2012... 37 Data presentase peresepan produk antibakteri di Apotek Kima Farma No, 49 pada bulan April 2012... 38 Data pola peresepan antibakteri pada anak di Apotek Kimia Farma No. 49 pada bulan Februari 2012... 39 Data pola peresepan antibakteri pada anak di Apotek Kimia Farma No. 49 pada bulan Maret 2012... 40 Data pola peresepan antibakteri pada anak di Apotek Kimia Farma No. 49 pada bulan April 2012... 41 v
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh apoteker. Pelayanan kefarmasian yang dimaksud adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi, dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien (Peraturan Pemerintah Nomor 51, 2009). Pekerjaan kefarmasian yang dilakukan antara lain pembuatan termasuk pengendalian mutu, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian/penyaluran, pengelolaan, pelayanan atas resep dokter, pelayanan informasi, serta pengembangan sediaan farmasi yang berupa obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetika (Undang-Undang Nomor 23, 1992). Apoteker merupakan orang yang bertanggung jawab atas pekerjaan kefarmasian yang dilakukan di apotek. Selain menjalankan fungsi profesinya, seorang apoteker harus mampu menjalankan fungsi manajerial di apotek. Kegiatan manajemen yang paling penting di apotek adalah pengendalian persediaan obat. Persediaan obat merupakan harta paling besar dari sebuah apotek karena memengaruhi kualitas pelayanan kepada masyarakat dan besarnya keuntungan yang diperoleh melalui penjualan obat tersebut. Selain itu, jumlah uang yang diinvestasikan dalam bentuk persediaan obat tidaklah sedikit, sehingga pengendalian persediaan obat memiliki pengaruh terhadap perolehan kembali investasi apotek. Berkaitan dengan kualitas pelayanan dan besarnya keuntungan yang dipengaruhi oleh persediaan obat di apotek, maka obat yang disediakan harus tepat jenis dan tepat jumlah sesuai dengan pola penyakit dan kebutuhan pelayanan kesehatan. Apotek dapat kehilangan penjualan apabila tidak menyediakan obat yang dibutuhkan pasien. Oleh karena itu, diperlukan suatu perencanaan yang baik dalam mengendalikan persediaan obat. Pengendalian persediaan di apotek 1
2 diharapkan dapat berjalan efektif, yaitu pengadaan dengan total investasi yang kecil dan dapat menjual berbagai produkuntuk memenuhi permintaan konsumen. Untuk mencapai tujuan tersebut, pengendalian persediaan dapat dilakukan dengan menggunakan analisis ABC (Pareto) dan VEN. Analisis ABC (Pareto) dilakukan dengan menggolongkan obat berdasarkan jumlah dan nilai konsumsi rata-rata selama periode tertentu, dan menyesuaikan rencana pengadaan obat dengan jumlah dana yang tersedia berdasarkan skala prioritas. Sedangkan analisis VEN dilakukan dengan menggolongkan obat berdasarkan nilai permintaan serta kepentingannya terhadap kesehatan masyarakat, apakah obat tersebut vital (life saving), essensial, atau nonesensial (Quick et. al., 1997). Pada kesempatan ini, penulis akan melakukan analisis ABC (Pareto) terhadap produk antibiotik berdasarkan resep anak yang diterima di Apotek Kimia Farma No. 49, Pomdok Bambu, Jakarta Timur selama bulan Februari 2012 sampai dengan April 2012. 1.2 Tujuan Tujuan penyusunan tugas khusus Praktek Kerja Profesi Apoteker di Apotek Keselamatan ini antara lain: a. Mengetahui produk antibakteri yang termasuk dalam kelompok Pareto A berdasarkan resep anak tunai yang diterima di Apotek Kimia Farma No.49 selama bulan Februari 2012 sampai dengan April 2012. b. Mengetahui antibakteri yang paling banyak diresepkan untuk anak berdasarkan resep anak tunai yang diterima di Apotek Apotek Kimia Farma No.49 selama bulan Februari 2012 sampai dengan April 2012.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2. 1. Manajemen Persediaan (Quick, 1997) Manajemen persediaan merupakan jantung dalam sistem pengadaan obat. Manajemen persediaan obat tidak semudah yang dibayangkan, karena diperlukan pertimbangan yang matang dan metode yang sesuai agar proses pengadaan obat berjalan efektif, efisien, dan ekonomis. Proses pengadaan yang efektif menjadi faktor penentu dalam menjamin ketersediaan obat yang diperlukan dalam jumlah yang sesuai, harga yang rasional dan kualitas yang memenuhi standar mutu. Persediaan adalah bahan atau barang yang meliputi bahan obat, sediaan obat jadi, atau alat-alat kesehatan, yang disimpan dan akan digunakan untuk memenuhi tujuan tertentu seperti proses peracikan obat atau penyediaan perbekalan pengobatan. Persediaan obat merupakan harta paling besar dari sebuah apotek. Karena begitu besar jumlah yang diinvestasikan untuk persediaan, manajemen persediaan obat yang tepat memliki pengaruh kuat dan langsung terhadap perolehan kembali atas investasi apotek. Manajemen persediaan memiliki beberapa fungsi, yaitu menghilangkan risiko akibat keterlambatan pengiriman obat atau bahan baku obat yang dibutuhkan untuk memenuhi pelayanan kesehatan, menghilangkan risiko terhadap kemungkinan kenaikan harga atau inflasi, memberikan kontribusi optimum kepada apotek dalam rangka memberikan pelayanan terbaik bagi pasien atau konsumen, mengurangi biaya pengadaan, dan menghilangkan risiko kekosongan persediaan ketika terjadi pengembalian barang yang dipesan karena mutu barang yang kurang baik atau jenis produk yang dipesan tidak sesuai. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pengadaan atau pembelian barang, antara lain: a. Kondisi keuangan Rencana pengadaan barang harus memperhatikan kondisi keuangan. Besarnya jumlah pembelian barang dan cara pembelian barang (secara kontan atau kredit atau cara lainnya) ditentukan oleh kondisi keuangan apotek. 3
4 b. Waktu pembelian Waktu ketika suatu barang harus dibeli disebut titik pemesanan kembali. Hal tersebut bukan mengenai tanggal, hari, atau bulan melainkan mengenai keadaan persediaan barang yang menjadi parameter untuk menetapkan waktu pembelian. Waktu pembelian harus diperhitungkan dengan baik agar tidak terjadi kekosongan maupun penumpukkan persediaan yang dapat merugikan apotek. c. Lokasi Jarak antara apotek dengan pemasok/pedagang besar farmasi (PBF) perlu diperhatikan karena semakin jauh jarak apotek dengan pemasok maka semakin lama waktu yang dibutuhkan mulai dari barang dipesan sampai dengan barang pesanan datang. Oleh karena itu perlu ditetapkan persediaan pengaman agar tidak sampai terjadi kehabisan barang sebelum barang pesanan datang. Hal tersebut sangat perting terutama bagi apotek yang berada di kawasan terpencil yang jauh dari PBF. d. Jenis barang Jenis barang yang akan dibeli ditentukan berdasarkan keperluan persediaan barang di apotek, kecepatan perputaran barang, keperluan konsumen, dan perkiraan permintaan dalam waktu dekat. Data obat dapat diperkirakan dari resep yang masuk di apotek, kondisi lingkungan dan penduduk sekitar apotek, musim, dan obat-obat yang diiklankan di media massa. e. Frekuensi dan volume pembelian Semakin kecil volume barang yang dibeli pada saat pembelian, maka semakin tinggi frekuensi dalam melakukan pembelian, sebaliknya apabila volume pembelian barang besar, maka frekuensi pembelian menjadi rendah. Frekuensi pembelian yang tinggi menyebabkan kegiatan menerima, memeriksa, dan memesan barang akan meningkat. f. Pemilihan pemasok/pbf Hal yang harus diperhatikan dalam memilih pemasok antara lain kondisi dan kualitas barang, harga yang kompetitif, pelayanan dan kinerja yang baik, kemudahan komunikasi, cara pembayaran, kebijakan pengembalian/garansi, dan kondisi perusahaan pemasok. Pemasok harus dipastikan merupakan agen resmi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti pemalsuan barang.
5 g. Cara Pembelian Pembelian barang dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu kontan, kredit, dan konsinyasi. Dalam pembelian kontan, pihak apotek langsung membayar obat yang dibeli dari distributor. Pembelian kontan dilakukan oleh apotek yang baru dibuka karena untuk melakukan pembayaran kredit, apotek harus menunjukkan kemampuannya dalam menjual obat. Pembelian kredit adalah pembelian yang pembayarannya dilakukan pada waktu jatuh tempo yang telah ditetapkan, misalnya 30 hari setelah obat diterima apotek. Sedangkan pembelian konsinyasi (kredit atau titipan obat) adalah titipan barang dari pemilik kepada apotek, dan apotek bertindak sebagai agen komisioner yang menerima komisi apabila barang tersebut terjual. Apabila barang tersebut tidak terjual sampai batas waktu kadaluarsa atau waktu yang telah disepakati, barang tersebut dapat dikembalikan pada pemiliknya. 2. 2. Parameter Manajemen Persediaan (Quick, 1997) Ada beberapa parameter dalam manajemen persediaan yang perlu diperhatikan agar pengelolaan persediaan barang dapat berjalan efektif dan efisien. Parameter-parameter manajemen persediaan yang dimaksud antara lain sebagai berikut : a. Konsumsi rata-rata Konsumsi rata-rata merupakan variabel kunci yang menentukan berapa banyak stok barang yang harus dipesan. Walaupun banyaknya permintaan dapat diprediksi, kemungkinan adanya kehabisan atau kekosongan barang dapat terjadi apabila salah memperkirakan waktu tunggu barang tersebut. b. Waktu tunggu Waktu yang dibutuhkan mulai dari pemesanan sampai dengan barang yang dipesan datang/diterima disebut sebagai waktu tunggu. Waktu tunggu berbedabeda untuk setiap pemasok. Meskipun seringkali menjadi parameter yang tidak pasti karena adanya faktor keterlambatan yang tidak bisa diduga, namun waktu tunggu tetap dapat dihitung dengan rumus: DDe = DDp + (OD x %OD) (2.1)
6 Keterangan: DDe = waktu tunggu yang sebenarnya. DDp = waktu tunggu yang dijanjikan pemasok OD = rata-rata keterlambatan. % OD = % keterlambatan. c. Persediaan pengaman Persediaan pengaman adalah persediaan yang dicadangkan untuk memenuhi keperluan selama menunggu barang datang, untuk mengantisipasi keterlambatan barang pesanan atau untuk menghadapi suatu keadaan tertentu yang diakibatkan karena perubahan pada permintaan. Misalnya, karena adanya permintaan barang yang meningkat secara tiba-tiba atau adanya wabah penyakit. Persediaan pengaman dapat dihitung dengan rumus: SS = LT x CA..(2.2) Keterangan: SS = Persediaan pengaman LT = Waktu tunggu CA = Konsumsi rata-rata d. Persediaan minimum Persediaan minimum adalah jumlah persediaan terendah yang boleh tersedia di apotek. Apabila penjualan telah mencapai nilai persediaan minimum, pemesanan sebaiknya segera dilakukan agar kontinuitas usaha tetap terjaga serta untuk menghindari terjadinya stok kosong. Persediaan minimum dapat dihitung dengan rumus: Smin = SS + LT...(2.3) Keterangan : Smin = Persediaan minimum SS = Persediaan pengaman LT = Waktu tunggu e. Perputaran persediaan Perputaran pesediaan adalah nilai dari jumlah penjualan dibagi rata-rata persediaan. Perputaran persediaan dapat dihitung dengan rumus : (So + P Sn)/SR.(2.4) Keterangan: So = Persediaan awal P = Jumlah pembelian Sn = Persediaan akhir
7 SR = Rata-rata persediaan f. Persediaan maksimum Jumlah persediaan terbesar yang boleh tersedia disebut persediaan maksimum. Apabila telah mencapai nilai persediaan maksimum, apotek tidak perlu lagi melakukan pemesanan untuk menghindari terjadinya stok mati yang dapat menyebabkan kerugian. Persediaan maksimum dapat dihitung dengan rumus: Smax = Smin + (PP x CA)...(2.5) Keterangan: Smax = Persediaan maksimum Smin = Persediaan minimum PP = Perputaran persediaan g. Titik pemesanan kembali Titik pemesanan kembali adalah waktu ketika suatu barang harus dibeli karena telah mencapai jumlah persediaan minimum di apotek. Apabila perbekalan telah mencapai jumlah tesebut maka harus diadakan pemesanan kembali sehingga kedatangan atau penerimaan barang yang dipesan tepat waktu. Pada keadaan khusus, dapat dilakukan pemesanan langsung tanpa harus menunggu hari pembelian yang telah ditentukan bersama antara apotek dan pemasok. Ttitik pemesanan kembali dapat dihitung dengan rumus: ROP = SS + LT...(2.6) Keterangan: ROP = Titik pemesanan kembali SS = Persediaan pengaman LT = Waktu tunggu Berbagai paremeter manajemen persediaan tersebut saling berkaitan satu sama dalam menjamin ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan. Apabila produk tetap berada dalam jumlah persediaan rata-rata, permintaan produk oleh konsumen akan dapat terpenuhi. Oleh karena itu, ketika jumlah persediaan sudah semakin menurun dan akhirnya berada pada level persediaan minimum, diperlukan pemesanan kembali terhadap produk tersebut. Pemesanan kembali harus memperhitungkan waktu tunggu kedatangan produk agar tidak terjadi kekosongan persediaan ketika menunggu produk yang
8 dipesan datang. Seiring berjalannya waktu, jumlah persediaan akan kembali turun dan perlu dilakukan pemesanan kembali. Siklus tersebut akan terus berputar untuk menjamin ketersediaan obat. Gambar 2.1 Diagram model pengendalian persediaan (Quick, 1997) 2. 3. Analisis ABC (Pareto) (Quick, 1997) Untuk mengetahui produk yang harus dipesan serta berapa jumlahnya tidak semata-mata berdasarkan jumlah produk tersebut yang telah mencapai jumlah persediaan minimum, terutama apabila kondisi keuangan apotek tidak memungkinkan. Perlu dilakukan analisis terhadap produk yang ada di apotek untuk menentukan produk manakah yang menjadi tulang punggung apotek serta produk manakah yang sebenarnya hanya pelengkap. Analisis tersebut dapat dilakukan dengan metode analisis ABC (Pareto). Analisis dilakukan dengan mengelompokkan persediaan berdasarkan atas nilai rupiah sehingga pengendalian persediaan lebih difokuskan pada item persediaan yang bernilai tinggi daripada item yang bernilai rendah. Nilai persediaan yang dimaksud adalah jumlah persediaan yang terjual dalam satu periode dikalikan harga tiap unit.
9 Analisis ABC (Pareto) dilakukan dengan menghitung nilai investasi dari tiap sediaan obat dengan cara : a. Menghitung total investasi tiap jenis produk, yaitu mengalikan jumlah item produk yang terjual dengan harga tiap unitnya. b. Mengelompokkan produk berdasarkan nilai investasi dan mengurutkannya mulai dari yang memilki nilai investasi terbesar hingga terkecil. Klasifikasi produk dalam analisis ABC (Pareto) adalah sebagai berikut: a. Kelompok A Kelompok A adalah kelompok persediaan yang memiliki nilai investasi yang tinggi. Kelompok A mewakili sekitar 75-80% dari total nilai persediaan yang terjual, meskipun jumlahnya hanya sekitar 10-20% dari seluruh item produk yang ada. Kelompok A memiliki dampak biaya yang tinggi dan merupakan tulang punggung apotek b. Kelompok B Kelompok B adalah kelompok persediaan yang memiliki nilai investasi yang sedang. Kelompok B mewakili sekitar 15-20% dari total nilai persediaan dan jumlahnya hanya sekitar 10-20% dari seluruh item produk yang ada. c. Kelompok C Kelompok C adalah persediaan yang memiliki nilai investasi yang rendah. Kelompok C mewakili hanya sekitar 5-10% dari total nilai persediaan, teapi jumlahnya lebih dari 60-80% dari seluruh item produk yang ada. Analisis ABC (Pareto) dapat diaplikasikan dalam beberapa proses pengelolaan obat di apotek, antara lain: a. Pemilihan Obat Analisis ABC (Pareto) dapat membantu mengidentifikasi pemilihan item produk yang perlu disediakan untuk memenuhi kebutuhan apotek. Misalnya terhadap beberapa item obat kelompok A yang membutuhkan biaya pengadaan cukup tinggi, apabila pemilihan obat yang diperlukan tidak tepat maka akan mengakibatkan biaya penyimpanan obat menjadi tinggi. b. Distribusi dan Pengelolaan Persediaan Analisis ABC (Pareto) dapat membantu pemantauan waktu penyimpanan serta penentuan jadwal pengiriman pesanan.
10 c. Penggunaan Dengan menggunakan analisis Pareto dapat diketahui jenis obat apa saja yang sering direkomendasikan oleh dokter atau sering dibutuhkan oleh konsumen. 2. 4. Analisis VEN (Vital, Esensial, Nonesensial) Analisis VEN merupakan upaya pengendalian obat dengan memperhatikan kepentingan dan vitalitas obat yang harus selalu tersedia untuk melayani permintaan pengobatan. Analisis VEN tidak memperhitungkan nilai rupiah. Klasifikasi obat dalam analisis VEN adalah sebagai berikut: a. V (Vital) Kelompok E merupakan kelompok obat untuk penyelamatan hidup manusia atau untuk pengobatan karena penyakit yang berisiko tinggi mengakibatkan kematian. Pengadaan obat kelompok V diprioritaskan dan harus selalu tersedia di apotek. Contoh obat yang termasuk dalam kelompok V antara lain obat-obat hipertensi, obat-obat jantung dan diabetes. b. E (Esensial) Kelompok V merupakan kelompok obat yang banyak diminta untuk digunakan dalam tindakan atau pengobatan penyakit terbanyak, yang resepnya sering datang ke apotik. Dengan kata lain, obat-obat golongan ini adalah obat yang fast-moving atau frekuensi penjualannya tinggi. c. N (Non esensial) Kelompok N merupakan kelompok obat pelengkap yang tidak banyak diminta dan tidak digunakan untuk penyelamatan hidup manusia. 2. 5. Analisis VEN-ABC (Quick, 1997) Analisis VEN-ABC merupakan metode analisis yang menggabungkan analisis ABC (Pareto) dan VEN dalam suatu matriks sehingga hasilnya tenjadi lebih tajam. Matriks analisis gabungan VEN-ABC tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.2. Matriks tersebut dapat dijadikan dasar dalam menetapkan prioritas dalam pengadaan barang terutama untuk menyesuaikan anggaran. Semua obat kelompok V dan E yang ada dalam kelompok A, B, dan C harus tersedia di apotek, terutama
11 untuk obat vital yang masuk kelompok pareto A. Namun jumlahnya tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan konsumen apotek serta kondisi keuangan apotek. Sementara untuk obat kelompok N yang ada dalam kelompok A, B, dan C tidak diprioritaskan. Gambar 2.2. Matriks analisis gabungan VEN-ABC 2. 6. Antibakteri (Neal, 2002) Berbagai antibakteri telah digunakan dalam pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Untuk mempermudah pemahaman mengenai antibakteri, maka penggolongan antibakteri dapat dilakukan berdasarkan mekanisme kerjanya. Antibakteri baik yang bersifat bakterisid maupun bakteriostatik memiliki berbagai mekanisme kerja yang berhubungan dengan siklus perkembangbiakan bakteri, mekanisme kerja tersebut antara lain: a. Menghambat sistensis asam nukleat b. Menghambat sintesis dinding sel c. Menghambat sintesis protein 2.6.1. Antibakteri yang Menghambat Sintesis Asam Nukleat 2.6.1.1.Sulfonamid Sulfonamid adalah obat pertama yang ditemukan efektif pada terapi penyakit sistemik. Namun, saat ini penggunaan sulfonamid berkurang karena perkembangan obat-obat yang lebih efektif dan kurang toksik. Selain itu, banyak organisme menjadi resisten terhadap sulfonamid. Penggunaan tunggal diberikan pada terapi infeksi saluran kemih. Sulfonamid secara kompetitif menghambat enzim dehidropteroat sintetase dan mencegah produksi folat yang dibutuhkan untuk sistesis DNA. Sulfonamid merupakan agen bakteriostatik. Sulfadiazin dalam kombinasi dengan primetamin digunakan pada infeksi Toxoplasma gondii.
12 Trimetoprim bekerja pada jalur metabolik yang sama seperti sulfonamid, tetapi merupakam inhibitor dihidrofolat reduktase. Trimetoprim kadang-kadang digunakan untuk infeksi saluran pernapasan, tetapi mempunyai aktivitas yang relatif buruk untuk melawan Streptococcus pneumoniae dan Streptococcus pyogenes. Kombinasi trimetoprim dan sulfametoksazol (kotrimoksazol) bisa menghasilkan aksi sinergistik dan meningkatkan aktivitas melawan bakteri tertentu. Kotrimoksazol digunakan terutama pada terapi infeksi pernapasan. 2.6.1.2.Kuinolon Antibakteri kuiolon berkerja dengan menghambat DNA girase, suatu enzim yang menekan DNA bakteri mejadi superkoil. Untuk memasukan DNA untai ganda yang panjang ke dalam sel bakteri, DNA diatur dalam loop (DNA terelaksasi) yang kemudian diperpendek oleh superkoil. Kuinolon merupakan bakterisida karena menghambat lepasnya untai-untai DNA yang terbuka pada proses superkoil. Sel eukariotik tidak mengandung DNA girase. Asam nalidiksat adalah kuinolon pertama yang ditemukan memiliki aktivitas antibakteri, tetapi asam nalidiksat tidak mencapai kadar antibakteri sistemik dan sampai saat ini hanya digunakan untuk infeksi saluran kemih. Siprofloksasin merupakan antibakteri spekrum luas. Sifat penting dari kuinolon adalah penetrasi yang baik ke dalam jaringan dan sel, efektivitasnya bila diberikan secara oral, dan toksisitasnya relatif lebih rendah. Siprofloksasin memiliki subtituen 6-fluoro yang memperkuat potensi antibakteri dalam melawan organisme gram positif dan terutama gram negatif, termasuk E. coli, Pseudomonas aeruginosa, Salmonella,dan Campylobacter. Sejauh ini resistensi tidak sering terjadi. Norfloksasin tidak mempunyai aktivitas sistemik. Norfloksasin terkonsentrasi dalam urin dan merupakan obat lini kedua pada infeksi saluran kemih. 2.6.1.3.5-nitroimidazol 5-nitroimidazol, misalnya metronidazol, mempunyai spektrum sangat luas dan aktif melawan bakteri anaerob serta beberapa protozoa. Obat berdifusi ke dalam mikroorganisme dimana gugus nitro dikurangi. Selama proses reduksi ini,
13 terbentuk intermediat yang reaktif secara kimia, yang menghambat sintesis DNA dan/atau merusak DNA sehingga mengganggu fungsinya. Metronidazol aktif melawan sebagian besar bakteri anaerob termasuk spesies Bacteroides. Metronidazol merupakan obat pilihan pada infeksi protozoa tertentu seperti Entamoeba histolytica, Giardia lambia, dan Trichomonas vaginalis. Tinidazol mempunyai kerja yang sama dengan metronidazol, tetapi mempunyai durasi kerja lebih panjang. Tinidazol diberikan pada kondisi giardiasis ketika metronidazol dosis tinggi tidak ditoleransi dengan baik. Rifampisin menghalangi transkripsi RNA pada bakteri dengan menghambat prolimerasi RNA yang tergantung DNA. Resistensi terhadap rifampisin sering terjadi, tetapi dalam kombinasi dengan obat lain, rifampisin penting dalam terapi tuberkulosis. 2.6.2. Antibakteri yang Menghambat Sintesis Dinding Sel Struktur penisilin dan sefalosporin mempunyai gambaran cincin β-laktam yang sama dan integritasnya penting untuk aktivitas antimikroba. Modifikasi struktur telah banyak menghasilkan antibiotik semisintetik, beberapa diantaranya tahan asam dan aktif secara oral, mempunyai spektrum aktivitas yang luas, atau resisten terhadap β-laktamase bakteri. Antibiotik β-laktam merupakan bakterisidal. Antibiotik menghasilkan aktivitas antimikrobanya dengan mencegah ikatan silang di antara rantai-rantai polimer peptidoglikan linier yang membentuk dinding sel, misalnya dengan jembatan pentaglisin. 2.6.2.1.Penisilin Benzilpenisilin adalah antibiotik yang memiliki spektrum sempit terutama melawan organisme gram positif. Benzilpenisilin efektif untuk mengobati infeksi pneumokokus, streptokokus, meningokokus, serta leptospira. Benzilpenisilin juga bermanfaat untuk profilaksis gangren gas klostridium. Sebagian besar Staphylococcus aureus saat ini menghasilkan penisilinase. Fenoksimetilpenisilin mempunyai spektrum yang sama dengan benzilpenisilin, tetapi kurang aktif. Fenoksimetilpenisilin hanya berguna untuk
14 organisme yang sangat sensitif, dimana kerja cepat tidak diperlukan (tonsilitis streptokokus) dan berguna pada profilaksis demam reumatik. Flukloksasilin diindikasikan pada infeksi yang disebabkan oleh stafilokokus penghasil penisilinase yang resisten penisilin. Flukloksasilin adalah penisilin semisintetik dan resisten terhadap penisilinase karena dapat menghalangi akses enzim ke cincin β-laktam. Ampisilin dan amoksisilin aktif melawan bakteri gram positif yang tidak menghasilkan β-laktamase. Kemampuan obat tersebut dalam berdifusi ke dalam bakteri gram negatif lebih mudah daripada benzilpenisilin. Obat ini juga aktif melawan banyak E. coli, Haemophilus influenzae, dan Salmonella. Amoksisilin dan ampisilin diinaktivasi oleh bakteri penghasil penisilinase. Organisme yang resisten terhadap amoksisilin meliputi sebagian besar Staphylococcus aureus, 50% strain E. coli, dan 15% strain Haemophilus influenzae. Banyak β-laktamase bakteri dihambat oleh asam klavulanat sehingga campuran inhibitor ini dengan amoksisilin (ko-amoksiklav) efektif melawan organisme panghasil penisilinase. Ko-amoksiklav diindikasikan pada infeksi saluran pernapasan dan saluran kemih yang dikonfirmasi dengan resisten terhadap amoksisilin. Piperasiklin dan tikarsilin diberikan melalui suntikan untuk infeksi bakteri gram negatif yang serius, terutama Pseudomonas aeruginosa. Obat-obat ini dapat dikombinasikan dengan aminoglikosida untuk terapi awal infeksi serius, seperti septikemia dan endokarditis. 2.6.2.2.Sefalosporin Antibiotik sefalosporin digunakan untuk terapi meningitis, pneumonia, dan septikemia. Sefalosporin mempunyai mekanisme kerja yang sama dengan penisilin. Semua sefalosporin mempunyai spektrum aktivitas antibakteri yang sama luas, meskipun obat-obat individual mempunyai aktivitas yang berbeda untuk melawan bakteri tertentu. Sefadroksil digunakan pada infeksi saluran kemih dimana organisme penyebabnya resisten terhadap antibiotik lain. Sefuroksim seringkali diberikan sebagai profilaksis dalam pembedahan. Sefuroksim resisten terhadap inaktivasi oleh β-laktamase dan digunakan pada infeksi serius dimana antibiotik lain tidak
15 efektif. Seftazidim mempunyai kisaran aktivitas yang besar dalam melawan bakteri gram negatif termasuk Pseudomonas aeruginosa, tetapi kurang aktif dibandingkan sefuroksim dalam melawan organisme gram positif. Seftazidim mencapai sistem saraf pusat dan digunakan pada meningitis yang disebabkan oleh organisme gram negatif. Seftriakson mempunyai waktu paruh lebih panjang dari pada sefalosporin lainnya dan hanya perlu diberikan sekali sehari. 2.6.2.3.Antibiotik β-laktam lainnya Meropenem adalah karbapenem (suatu struktur yang sama dengan penisilin), tetapi sangat resisten terhadap β-laktamase. Meropenem memiliki spektrum aktivitas yang luas, tetapi tidak aktif melawan beberapa strain. Pseudomonas. Meropenem diberikan melalui suntikan intravena 2.6.2.4.Vankomisin Vankomisin bekerja dengan menghambat pembentukan peptidoglikan dan aktif melawan sebagian besar organisme gram positif. Vankomisin intravena penting untuk terapi pasien septikemia atau endokarditis akibat strain Staphylococcus aureus yang resisten metisilin. Vankomisin merupakan obat pilihan yang diberikan secara oral untuk kolitis pseudomembranosa yang berhubungan dengan antibiotik. 2.6.3. Antibakteri yang Menghambat Sintesis Protein Kelompok antibiotik ini bekerja dengan menghambat sintesis protein bakteri. Obat-obat ini bersifat toksik selektif karena ribosom bakteri terdiri dari subunit 50S dan 30S, sementara ribosom mamalia memiliki subunit 60S dan 40S. Beberapa antibiotik dalam golongan ini adalah: a. Tetrasiklin dan aminoglikosida terikat pada subunit 30S dan menghambat ikatan aminoasil trna. Selain itu aminoglikosida menyebabkan kesalahan baca mrna, sehingga protein nonfungsional disintesis. b. Kloramfenikol menghambat aktivitas peptidil transferase dari subunit ribosom 50S.
16 c. Makrolida dan stereptrogramin terikat pada subunit 50S dan menghambat translokasi 2.6.3.1. Aminoglikosida Aminoglikosida mempunyai indeks terapi yang sempit dan semuanya berpotensi toksik. Efek samping paling penting dari aminoglikosida adalah kerusakan saraf kranial VIII atau ototoksisitas dan kerusakan ginjal. Gentamisin adalah aminoglikosida paling penting. Penggunaan utamanya adalah terapi empiris infeksi gram negatif akut yang mengancam jiwa di rumah sakit sampai sensitivitas antibiotik diketahui. Gentamisin bisa mempunyai aksi antimikroba yang sinergis dengan penisilin atau vankomisin. Kombinasi dengan salah satu obat-obat ini digunakan pada terapi endokarditis streptokokus. Amikasin kurang dipengaruhi oleh enzim yang menginaktivasi aminoglikosida dan digunakan pada infeksi gram negatif serius yang resisten gentamisin. Netilmisin dilaporkan kurang toksik dibandingkan gentamisin, namun terlalu toksik untuk penggunaan parenteral. Neomisin digunakan topikal pada infeksi kulit dan secara oral untuk mensterilkan usus sebelum pembedahan. Streptomisin aktif melawan Mycobacterium tuberkuosis. Akan tetapi, karena streptomisin menyebabkan ototoksisitas yang berkaitan dosis terutama pada terapi jangka panjang atau intensif, sterptomisin sering digantikan rifampisin. Resistensi secara cepat terjadi pada pemberian rifampisin saja dan pada terapi tuberkulosis, rifampisin dikombinasikan dengan isoniazid, etambutol, dan pirazinamid. Ketiga antimikroba tersebut hanya aktif melawan M. Tuberkulosis, tetapi mekanisme kerjanya tidak diketahui. 2.6.3.2. Makrolida Makrolida biasanya diberikan secara oral, tetapi eritromisin dan klaritromisin dapat diberikan secara intravena bila perlu. Makrolida memiliki spkterum antimikroba yang sama dengan benzilpenisilin, yaitu spektrum sempit terutama aktif melawan organisme gram positif dan dapat digunakan sebagai obat alternatif pada pasien yang sensitif penisilin, terutama pada infeksi yang disebabkan oleh streptokokus, stafilokokus, pneumokokus, dan klostridium.
17 Resistensi terhadap makrolida bisa terjadi karena adanya perubahan yang dikendalikan oleh plasmid pada reseptornya dalam subunit 50S ribosom bakteri (mengurangi ikatan). Eritromisin dosis tinggi bisa menyebabkan mual dan muntah, tetapi efek-efek ini lebih jarang terjadi pada aziromisin dan klaritromisin. 2.6.3.3. Tetrasiklin Tetrasiklin merupakan antibiotik spektrum luas dan merupakan obat pilihan untuk mengobati beberapa infeksi yang disebabkan oleh organisme intraselular karena tetrasiklin menembus makrofag dengan baik. Organisme yang sensitif terhadap tetrasiklin mengakumulasi sebagian obat dengan cara difusi pasif dan sebagian dengan transpor aktif. Organisme yang resisten menghasilkan pompa efluks dan tidak mengakumulasi antibiotik. Tetrasiklin terikat pada kalsium dalam tulang dan gigi pada anak-anak sehingga tetrasiklin seharusnya dihindari pada anak-anak sampai dengan usia 8 tahun, wanita hamil, serta ibu menyusui. 2.6.3.4. Kloramfenikol Kloramfenikol efektif melawan spektrum organisme yang luas. Efek samping serius seperti aplasia sumsum tulang, supresi reversibel sel darah merah dan sel darah putih, ensefalopati, dan neuritis optik membatasi penggunaannya. Neonatus tidak dapat memetabolisme obat dengan cepat dan akumulasi menyebabkan grey baby syndrome, yaitu pucat, distensi abdomen, muntah, dan pingsan. 2.6.3.5. Streptrogamin Quinupristin dan dalfopristin merupakan peptida siklik dan bekerja mirip dengan makrolida. Obat ini diberikan secara kombinasi karena kurang efektif bila diberikan secara individual. Quinupristin dan dalfopristin aktif melawan organisme gram positif.
BAB 3 METODE PENGAMATAN 3.1 Waktu dan Tempat Pengamatan Data diperoleh dari arsip resep anak yang dilayani di Apotek Kimia Farma no. 49 beserta bukti transaksi selama bulan Februari 2012 sampai dengan April 2012. Data yang dibutuhkan adalah nama, jumlah, dan harga jual produk antibakteri. 3.2 Metode Pengolahan Data Analisis data dilakukan dengan menghitung nilai investasi dari tiap sediaan obat dengan cara sebagai berikut: a. Membuat daftar antibakteri yang diresepkan untuk anak oleh dokter per bulan selama bulan Februari 2012 sampai dengan April 2012. b. Menghitung total investasi tiap item antibakteri dengan mengalikan harga satuan antibakteri dengan jumlah penjualan antibakteri. c. Menghitung persentase nilai investasi tiap antibakteri, yaitu dengan membagi nilai investasi tiap item antibakteri dengan total nilai investasi seluruh antibakteri. d. Mengurutkan item antibakteri berdasarkan persentase nilai investasi, yaitu dari yang terbesar sampai yang terkecil. e. Menghitung persentase kumulatif dari total nilai investasi untuk setiap item antibakteri f. Menentukan batasan kelompok A, B, dan C dari persentase kumulatif tersebut dengan kriteria sebagai berikut: 1) Kelompok A dengan nilai investasi sekitar 80% dari total investasi obat keseluruhan. 2) Kelompok B dengan nilai investasi sekitar 15% dari total investasi obat keseluruhan. 3) Kelompok C dengan nilai investasi sekitar 5% dari total investasi obat keseluruhan. 18
19 g. Membuat tabel dari data yang diperoleh untuk memudahkan dalam pengamatan. h. Membuat tabel antibakteri berdasarkan banyaknya jenis antibakteri yang diresepkan untuk anak per bulan selama bulan Februari 2012 sampai dengan April 2012 untuk melihat profil peresepan antibakteri pada anak.
BAB 4 PEMBAHASAN 4.1. Hasil Hasil yang diperoleh dari analisis yang dilakukan terhadap data yang ada adalah sebagai berikut: a. Bulan Februari 2012 1) Kelompok pareto A: jumlah investasi sebesar Rp. 3.886.919,00 atau 80,25% dari total investasi dengan jumlah produk 16 item atau 35,56% dari total item yang ada. 2) Kelompok pareto B: jumlah investasi sebesar Rp. 645.422,00 atau 14,84% dari total investasi dengan jumlah produk 13 item atau 28,88% dari total item yang ada. 3) Kelompok pareto C: jumlah investasi sebesar Rp. 237.585,00 atau 4,91% dari total investasi dengan jumlah produk 16 item atau 35,56% dari total item yang ada. 4) Antibakteri yang paling banyak diresepkan oleh dokter untuk pasien anak adalah sefiksim dengan jumlah 29 R/ atau 25,89% dari total R/. Keterangan lebih lengkap mengenai data analisis pareto produk antibakteri pada resep anak bulan Februari 2012 dapat dilihat pada Lampiran 1; persentase peresepan antibakteri pada anak bulan Februari 2012 dapat dilihat pada Lampiran 2; dan data pola peresepan antibakteri pada anak bulan Februari 2012 dapat dilihat pada Lampiran 7. b. Bulan Maret 2012 1) Kelompok pareto A: jumlah investasi sebesar Rp. 3.460.700,00 atau 80,57% dari total investasi dengan jumlah produk 21 item atau 42% dari total item yang ada. 2) Kelompok pareto B: jumlah investasi sebesar Rp. 625.065,00 atau 14,55% dari total investasi dengan jumlah produk 16 item atau 32% dari total item yang ada. 20
21 3) Kelompok pareto C: jumlah investasi sebesar Rp. 209.399,00 atau 4,88% dari total investasi dengan jumlah produk 13 item atau 26% dari total item yang ada. 4) Antibakteri yang paling banyak diresepkan oleh dokter untuk pasien anak adalah cefixime dengan jumlah 21 R/ atau 19,09% dari total R/ dan sefadroksil dengan jumlah 21 R/ atau 19,09% dari total R/. Keterangan lebih lengkap mengenai data analisis pareto produk antibakteri pada resep anak bulan Maret 2012 dapat dilihat pada Lampiran 3; persentase peresepan antibakteri pada anak bulan Maret 2012 dapat dilihat pada Lampiran 4; dan data pola peresepan antibakteri pada anak bulan Maret 2012 dapat dilihat pada Lampiran 8. c. Bulan April 2012 1) Kelompok pareto A: jumlah investasi sebesar Rp. 2.020.560,00 atau 79,68% dari total investasi dengan jumlah produk 12 item atau 36,36% dari total item yang ada. 2) Kelompok pareto B: jumlah investasi sebesar Rp. 381.795,00 atau 15,06% dari total investasi dengan jumlah produk 8 item atau 24,24% dari total item yang ada. 3) Kelompok pareto C: jumlah investasi sebesar Rp. 112.230,00 atau 5,26% dari total investasi dengan jumlah produk 13 item atau 39,40% dari total item yang ada. 4) Antibakteri yang paling banyak diresepkan oleh dokter untuk pasien anak adalah sefiksim dengan jumlah 14 R/ atau 25,45% dari total R/. Keterangan lebih lengkap mengenai data analisis pareto produk antibakteri pada resep anak bulan April 2012 dapat dilihat pada Lampiran 5; persentase peresepan antibakteri pada anak bulan April 2012 dapat dilihat pada Lampiran 6; dan data pola peresepan antibakteri pada anak bulan April 2012 dapat dilihat pada Lampiran 9.
22 Tabel 4.1. Pengelompokan produk antibakteri dengan analisis ABC (Pareto) Bulan Februari Maret April bersasarkan nilai investasi selama Februari-April 2012 Kelompok Jumlah Item Obat Persentase Item (%) Jumlah Investasi (Rp) Persentase Investasi (%) A 16 35,56 3.886.919 80,25 B 13 28,88 718.572 14,84 C 16 35,56 237.585 4,91 TOTAL 45 4843076 A 21 42,00 3.460.700 80,57 B 16 32,00 625.065 14,55 C 13 26,00 209.399 4,88 TOTAL 50 4295164 A 12 36,36 2.020.560 79,68 B 8 24,24 381.795 15,06 C 13 39,40 133.433 5,26 TOTAL 33 2535788 Tabel 4.2. Profil peresepan antibakteri tertinggi selama Februari-April 2012 4.2. Pembahasan Nama Persentase R/ Bulan Jumlah R/ Antibakteri (%) Februari Sefiksim 29 25,89 Sefiksim 21 19,09 Maret Sefadroksil 21 19,09 April Sefiksim 14 25,45 Persediaan obat di apotek harus dikelola dengan baik agar persediaan obat yang ada dapat memenuhi permintaan masyarakat sehingga memberikan keuntungan bagi apotek dan memberikan dampak baik bagi perkembangan apotek. Dalam mengelola persediaan obat, apoteker harus dapat membuat perencanaan pengadaan obat yang efektif dan efisien. Perencanaan merupakan proses seleksi obat yang dibutuhkan apotek baik jenis maupun jumlahnya. Seleksi dilakukan dengan membuat skala prioritas agar obat-obat yang lebih banyak memberikan omset atau obat-obat dengan konsumsi yang tinggi selalu tersedia di apotek. Pengendalian persediaan yang tidak tepat dapat menyebabkan kerugian bagi apotek karena tidak tersedianya barang saat adanya permintaan atau adanya persediaan yang mati (death moving) karena persediaan yang berlebihan. Keduanya dapat menyebabkan kerugian. Persediaan yang terlampau sedikit dapat menyebabkan hilangnya omset atau pelanggan karena apotek tidak mampu
23 memenuhi permintaan pelanggan. Selain itu, persediaan yang terlampau banyak dapat menyababkan biaya penyimpanan yang tinggi serta kemungkinan obat menjadi rusak atau kadaluarsa. Rencana pengadaan dapat dilakukan dengan menggunakan metode analisis ABC (pareto). Analisis ABC merupakan salah satu metode penyusunan prioritas pengadaan berdasarkan nilai investasi dan mengelompokkan persediaan menjadi kelompok A, B, dan C dengan batasan persentasi dari total investasi yang telah ditetapkan. Laporan ini menganalisis data produk antibakteri di Apotek Kimia Farma No. 49 selam bulan Februari 2012 sampai dengan April 2012 dengan menggunakan metode ABC (pareto). Data nama antibakteri diperoleh dari arsip resep apotek, nama dagang dan jumlah penjualan diperoleh dari bukti transaksi, dan harga produk diperoleh dari daftar harga di dalam KIS (Kimia Farmas Information System). Nama-nama antibakteri yang diresepkan untuk pasien anak dicatat. Selain itu, nama produk beserta jumlah penjualan yang digunakan yang tercantum dalam bukti transaksi dicatat. Kemudian nilai investasi tiap produk dihitung dengan cara jumlah tiap antibakteri yang diresepkan dikalikan dengan harga satuannya. Selanjutnya dibuat persentase nilai investasi tiap item antibakteri terhadap total investasi dan diurutkan dari nilai investasi terbesar hingga nilai investasi terkecil. Kemudian dihitung persentase kumulatifnya. Antibakteri dengan nilai investasi kumulatif ± 80% dari total investasi dikelompokkan dalam kelompok A, sedangkan antibakteri dengan nilai ± 15% dan ± 5% dari total investasi, dimasukkan dalam kelompok B dan C. Hasil analisis data menunjukkan bahwa pada bulan Februari 2012, kelompok A memiliki nilai investasi sebesar Rp. 3.886.919,00 atau sekitar 80,25% dari total investasi dengan jumlah produk 16 item atau 35,56% dari total item yang ada. Hasil analisis ABC tidak selalu sama di setiap bulannya. Hal ini dapat terlihat pada hasil analisis ABC pada bulan Maret 2012 dan April 2012. Pada bulan Maret 2012, kelompok A memiliki nilai investasi sebesar Rp. 3.460.700,00 atau 14,55% dari total investasi dengan jumlah produk 16 item atau 32% dari total item yang ada. Sedangkan pada bulan April 2012, kelompok A memiliki nilai investasi sebesar Rp. 2.020.560,00 atau 79,68% dari total investasi
24 dengan jumlah produk 12 item atau 36,36% dari total item yang ada. Hal ini juga terjadi pada kelompok B dan C. Analisis ABC (Pareto) dapat digunakan untuk mengendalikan persediaan obat secara efektif dan efisien karena analisis ini digunakan untuk menyesuaikan rencana pengadaan obat dengan kondisi keuangan di apotek. Kelompok A merupakan tulang punggung apotek yang memiliki dampak biaya yang tinggi sehingga memerlukan pengendalian khusus seperti monitor titik pemesanan kembali produk, pencatatan detil dan tepat agar dapat menganalisis data secara tepat. Umumnya produk yang tergolong dalam kelompok ini adalah produk dengan harga satuan mahal seperti Cefspan dengan harga mencapai Rp. 25.371,00 tiap tablet atau produk dengan harga satuan lebih murah namun memiliki jumlah penjualan yang tinggi seperti Rimcure paed dengan harga Rp 4011,00 tiap tablet dan jumlah penjualan mencapai 60 tablet per bulannya. Kelompok B memiliki dampak biaya lebih rendah dibandingkan kelompok A. Pengendalian persediaan produk dapat dilakukan hanya melalui kartu stok. Penyesuaian persediaan tiap item produk dapat dilakukan melalui kuantitas pemesanan atau titik pemesanan kembali produk tersebut. Sedangkan kelompok C memiliki jumlah item produk paling banyak dan memberikan konstribusi yang paling kecil terhadap total pendapatan apotek. Kelompok C umumnya merupakan produk-produk yang memiliki harga murah atau jumlah penjualan yang rendah (slow moving). Pengendalian kelompok C lebih sederhana, yaitu dengan memastikan bahwa produk tidak berada dalam keadaan kosong atau berada pada jumlah yang cukup sehingga apotek masih dapat melayani permintaan obat. Namun, tetap diperlukan monitor secara periodik untuk menentukan apakah obat dalam kategori slow moving sebaiknya ditiadakan dari persediaan sehingga dapat meminimalkan penimbunan obat di apotek. Hasil analisis ABC dipengaruhi oleh jumlah penjualan serta harga satuannya. Hal ini dapat terlihat pada hasil analisis ABC yang menunjukkan beberapa kondisi berikut: a. Item yang sama dapat berada di kelompok pareto yang berbeda pada periode analisis yang berbeda karena perubahan jumlah penjualan.
25 b. Item yang berbeda dengan jumlah penjualan yang sama berada pada kelompok pareto yang berbeda karena perbedaan nilai investasinya. c. Item dengan harga murah dengan jumlah penjualan yang tinggi berada pada kelompok pareto yang lebih tinggi dibandingkan item dengan harga mahal dengan jumlah penjualan yang rendah. Kondisi item yang sama dapat berada di kelompok pareto yang berbeda pada periode analisis yang berbeda dapat terlihat pada Cefila. Hal ini terjadi karena jumlah penjualan mengalami kenaikan dan penurunan. Cefila merupakan produk dengan zat aktif sefiksim 100 mg dengan harga tiap tabletnya mencapai Rp. 18.375,00. Pada bulan Februari 2012 dan Maret 2012, Cefila berada dalam kelompok pareto A dengan total investasi berturut-turut Rp. 73.500,00 dengan jumlah penjualan sebesar 4 tablet dan Rp. 128.625,00 dengan jumlah penjualan sebesar 7 tablet. Namun, pada bulan April Cefila tidak masuk ke dalam kelompok pareto manapun karena tidak ada penjualan Cefila pada bulan April 2012. Berdasarkan kondisi ini, maka tingkat penjualan dari waktu ke waktu perlu dimonitor apakah item dalam jumlah penjualan yang tinggi atau rendah. Kondisi beberapa item yang berbeda dengan jumlah penjualan yang sama dapat berada pada kelompok pareto yang berbeda. Hal ini dapat dilihat pada produk Ceptik, Sedrofen, dan Sanprima. Hasil analisis ABC pada bulan Maret 2012 menunjukkan ketiga produk tersebut dalam kelompok pareto yang berbeda, namun dengan jumlah penjualan yang sama, yaitu 4 tablet. Kondisi ini terjadi karena perbedaan nilai investasi tiap produk. Cefila dengan nilai investasi Rp. 18.375,00 tiap tabletnya berada dalam kelompok pareto A; Sedrofen dengan nilai investasi Rp. 13.009,00 tiap tabletnya berada dalam kelompok pareto B; sedangkan Sanprima dengan nilai investasi Rp. 1.024,00 tiap tabletnya berada dalam kelompok pareto C. Kondisi lain yang dapat terjadi karena pengaruh nilai investasi dan jumlah penjualan adalah item dengan harga murah dengan jumlah penjualan yang tinggi berada pada kelompok pareto yang lebih tinggi dibandingkan item dengan harga mahal dengan jumlah penjualan yang rendah. Hal ini dapat dilihat pada analisis ABC bulan Maret 2012 pada produk Rimcure paed dan Staforin. Rimcure paed memiliki nilai investasi Rp. 4011,00 tiap tabletnya dan jumlah penjualan
26 sebesar 60 tablet sehingga total nilai investasi mencapai Rp. 240.000,00 dan menempatkan produk ini dalan kelompok pareto A. Sedangkan Staforin memiliki nilai investasi Rp. 12.204,00 tiap tabletnya dengan jumlah penjualan hanya 3 tablet sehingga total nilai investasi Rp. 36.612,00 dan menempatkan produk ini dalam kelompok pareto B. Hal ini menunjukkan dalam merencanakan pengadaan obat, tidak hanya dilihat dari nilai investasinya tetapi juga dilihat dari jumlah penjualan (fast moving atau slow moving). Pada kondisi seperti ini, apotek harus memerhatikan jumlah obat yang akan dipesan dalam merencanakan pengadaan obat. Obat dengan nilai investasi rendah, namun dengan jumlah penjualan tinggi maka pengadaannya harus diutamakan agar tidak terjadi kekosongan barang. Sedangkan, untuk obat dengan nilai investasi besar, namun jumlah penjualannya rendah maka jumlah pengadaan harus diperhatikan agar tidak terjadi persediaan yang mati (death moving). Tingkat penjualan untuk obat-obat yang diresepkan dokter sangat dipengaruhi oleh pola peresepan. Pola peresepan dapat berubah dari waktu ke waktu karena sebab tertentu. Perubahan tersebut dapat disebabkan oleh pengaruh promosi produk tertentu kepada dokter, baik langsung melalui salesman atau terpengaruh pendapat dari dokter lain. Selain itu, ada juga dokter yang menganggap produk dari suatu pabrik tertentu lebih baik dari pabrik lain. Dengan demikian, apotek harus memerhatikan pola peresepan dokter. Jika apotek sudah mengetahui pola peresepan, selanjutnya apotek berusaha untuk menyediakan obat tersebut sehingga apotek dapat memberikan pelayanan resep yang optimal dan tidak terjadi penolakan resep karena tidak tersedianya obat. Oleh karena itu pada laporan ini disertai profil peresepan antibakteri pada anak. Berdasarkan hasil pengolahan data, antibakteri yang paling banyak diresepkan pada bulan Februari 2012 adalah sefiksim dengan jumlah 29 R/ atau 25,89% dari total R/; pada bulan Maret 2012 adalah sefiksim dan sefadroksil dengan profil yang sama, yaitu jumlah 21 R/ atau 19,09% dari total R/; dan pada bulan April 2012 adalah sefiksim dengan jumlah 14 R/ atau 25,45% dari total R/. Namun, tidak semua produk obat dengan zat aktif sefiksim berada dalam kelompok A. Seperti yang telah dijelaskan, hal ini dipengaruhi oleh nilai investasi dan jumlah penjualan produk.
27 Tabel 4.3. Produk Obat dengan zat aktif sefiksim yang diresepkan selama Februari 2012 Nama Produk Jumlah Penjualan Harga Satuan (Rp) Total Harga (Rp) Kelompok Sporetik 27 24171 652617 A Cefspan 24 25371 608904 A Cefixime Syrup 4 40732 162928 A Sofix 6 21812 130872 A Starcef Syrup 1 95595 95595 A Ceptik 4 22735 90940 A Cefila 4 18375 73500 A Ceptik Syrup 1 73150 73150 B Cefixime 50 mg 21 1830 38430 B Cefixime 100 mg 10 2895 28950 C Tabel 4.4. Produk Obat dengan zat aktif sefiksim yang diresepkan selama Maret 2012 Nama Produk Jumlah Penjualan Harga Satuan (Rp) Total Harga (Rp) Kelompok Cefspan 16 25371 405936 A Cefspan Syrup 2 117450 235080 A Cefixime Syrup 4 40732 162928 A Cefila 7 18375 128625 A Ceptik 4 22735 90940 A Sofix 4 21812 87248 A Starcef 2 23908 47816 B Cefixime 50 mg 15 1830 27450 B Ethifix 11 2293 25223 C Cefixime 100 mg 6 2895 17370 C Tabel 4.3. Produk Obat dengan zat aktif sefadroksil yang diresepkan selama Maret 2012 Nama Produk Jumlah Penjualan Harga Satuan (Rp) Total Harga (Rp) Kelompok Cefat 500 mg 34 11998 407932 A Cefat Syrup 4 53139 212556 A Ethicef 11 12692 139612 A Cefat 250 mg 10 6799 67990 A Sedrofen 4 13009 52036 B Dexacef 4 10680 42720 B Staforin 3 12204 36612 B Cefadroxil 500 mg 13 1617 21021 C Cefadroxil Syrup 1 11406 11406 C
28 Tabel 4.5. Produk Obat dengan zat aktif sefiksim yang diresepkan selama April 2012 Nama Produk Jumlah Penjualan Harga Satuan (Rp) Total Harga (Rp) Kelompok Cefspan 12 25371 304452 A Ethifix 10 22933 229330 A Cefixime Syrup 4 40732 162928 A Sporetik Syrup 1 98111 98111 A Fixiphar Syrup 1 68200 68200 A Cefixime 50 mg 11 1830 20130 C Cefixime 100 mg 6 2895 17370 C Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan, pengendalian persediaan obat melalui perencanaan keperluan obat yang tepat sangat diperlukan untuk menjamin ketersediaan obat di apotek. Ketersediaan obat yang memadai akan memengaruhi kualitas pelayanan kesehatan untuk masyarakat dan tingginya pendapatan apotek. Selain itu, ketersediaan apotek yang memadai dapat menciptkan citra yang baik untuk apotek karena selalu dapat memuaskan pelanggan sehingga dapat mempertahankan pelanggan lama dan menambah pelanggan baru.
BAB 5 PENUTUP 4.1. Kesimpulan a. Produk antibakeri yang selalu masuk dalam kelompok pareto A berdasarkan hasil analisis resep anak yang diterima Apotek Kimia Farma No. 49 selama bulan Februari-April 2012 adalah Cefspan, Cefat, dan Cefixime Syrup. b. Jenis antibakteri yang paling banyak diresepkan untuk pasien anak berdasarkan hasil analisis resep anak yang diterima Apotek Kimia Farma No. 49 selama bulan Februari-April 2012 adalah cefixime dengan produk yang bervariasi di tiap bulannya. 4.2. Saran Hasil analisis ABC (Pareto) yang telah dilakukan dapat dijadikan pertimbangan dalam melakukan perencanaan, pengadaan, dan pengendalian produk antibiotik, dengan mengoptimalkan penggunaan anggaran yang ada untuk menyediakan produk yang termasuk dalam kelompok pareto A dan produk yang jumlah penjualannya tinggi (fast moving). 29
DAFTAR ACUAN Anonim. (2009). Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta. Anonim. (1992). Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tanggal 17 September 1992 tentang Kesehatan. Jakarta. Neal, J.M. (2002). At a Glance: Farmakologi Medis. Jakarta: Erlangga Quick, JD., et al. (1997). Managing drug supply: The Selection, Procurement, Distribution, and Use of Pharmaceuticals (2nd ed.). Connecticut: Kumarian Press, 342-392. 30
LAMPIRAN
31 Lampiran 1. Data analisis pareto produk antibakteri pada resep anak di Apotek Kimia Farma No. 49 pada bulan Februari 2012 No Nama Obat Jumlah Harga Satuan (Rp) Total Harga (Rp) Persentase Item (%) Persentase Kumulatif (%) Kelompok 1 Sporetik 27 24171 652617 13,48 13,48 A 2 Cefspan 24 25371 608904 12,57 26,05 A 3 Cefat 45 11998 539910 11,15 37,20 A 4 Ethicef 41 12692 520372 10,74 47,95 A 5 Mezatrin 18 17412 313416 6,47 54,42 A 6 Clabat Syrup Forte 2 100188 200376 4,14 58,55 A 7 Cefixime Syrup 4 40732 162928 3,36 61,92 A 8 Sofix 6 21812 130872 2,70 64,62 A 9 Cefspan Syrup 1 117540 117540 2,43 67,05 A 10 Sedrofen 9 13009 117081 2,42 69,47 A 11 Starcef Syrup 1 95595 95595 1,97 71,44 A 12 Ceptik 4 22735 90940 1,88 73,32 A 13 Cefat Syrup 1 90464 90464 1,87 75,18 A 14 Urfamycin 15 5767 86505 1,79 76,97 A 15 Amoxsan Syrup 3 28633 85899 1,77 78,74 A 16 Cefila 4 18375 73500 1,52 80,26 A 17 Ceptik Syrup 1 73150 73150 1,51 81,77 B 18 Clabat Syrup 1 66550 66550 1,37 83,15 B 19 Amoxsan 250 mg 25 2502 62550 1,29 84,44 B 20 Claneksi Syrup 1 62451 62451 1,29 85,73 B 21 Thiamycin Syrup 1 62375 62375 1,29 87,02 B 22 Biolincom Syrup 1 61946 61946 1,28 88,29 B 23 Azithromycin 4 14630 58520 1,21 89,50 B 24 Amoxsan drop 2 28633 57266 1,18 90,69 B 25 Cefadroxil 32 1617 51744 1,07 91,75 B 26 Biothicol Syrup 2 24947 49894 1,03 92,78 B 27 Erysanbe Chewy 22 1843 40546 0,84 93,62 B 28 Cefixime 50 mg 21 1830 38430 0,79 94,41 B 29 INH 26 1275 33150 0,68 95,10 B 30 Cefixime 100 mg 10 2895 28950 0,60 95,70 C 31 Uplores 4 6653 26612 0,55 96,25 C 32 Kalmoxillin Syrup 1 26102 26102 0,54 96,79 C 33 Amoxil Ped drop 1 25201 25201 0,52 97,31 C 34 Amoxillin 10 2373 23730 0,49 97,80 C 35 Dexacef 2 10680 21360 0,44 98,24 C 36 Lincomycin 10 1364 13640 0,28 98,52 C 37 Sanprima 13 1024 13312 0,27 98,79 C 38 Rifampisin 10 1148 11480 0,24 99,03 C 39 Cefadroxyl Syrup 1 11406 11406 0,24 99,27 C 40 Ethambutol 6 1218 7308 0,15 99,42 C 41 Chloramphenicol Susp 1 6485 6485 0,13 99,55 C 42 Amoxicillin 14 462 6468 0,13 99,68 C 43 Cotrimoxazole Syrup 1 5767 5767 0,12 99,80 C 44 Amoxicillin Syrup 1 5450 5450 0,11 99,92 C 45 Cotrimoxazole 6 719 4314 0,09 100,00 C
32 Lampiran 2. Data presentase peresepan produk antibakteri di Apotek Kima Farma No, 49 pada bulan Februari 2012 No Nama Obat Jumlah Persentase (%) 1 Cefat 45 10,34 2 Ethicef 41 9,43 3 Cefadroxil 32 7,36 4 Sporetik 27 6,21 5 INH 26 5,98 6 Amoxsan 25 5,75 7 Cefspan 24 5,52 8 Erysanbe Chewy 22 5,06 9 Cefixime 50 mg 21 4,83 10 Mezatrin 18 4,14 11 Urfamycin 15 3,45 12 Amoxicillin 14 3,22 13 Sanprima 13 2,99 14 Cefixime 100 mg 10 2,30 15 Amoxillin 10 2,30 16 Lincomycin 10 2,30 17 Rifampisin 10 2,30 18 Sedrofen 9 2,07 19 Sofix 6 1,38 20 Ethambutol 6 1,38 21 Cotrimoxazole 6 1,38 22 Cefixime Syrup 4 0,92 23 Ceptik 4 0,92 24 Cefila 4 0,92 25 Azithromycin 4 0,92 26 Uplores 4 0,92 27 Amoxsan Syrup 3 0,69 28 Clabat Syrup Forte 2 0,46 29 Amoxsan drop 2 0,46 30 Biothicol Syrup 2 0,46 31 Dexacef 2 0,46 32 Cefspan Syrup 1 0,23 33 Starcef Syrup 1 0,23 34 Cefat Syrup 1 0,23 35 Ceptik Syrup 1 0,23 36 Clabat Syrup 1 0,23 37 Claneksi Syrup 1 0,23 38 Thiamycin Syrup 1 0,23 39 Biolincom Syrup 1 0,23 40 Kalmoxillin Syrup 1 0,23 41 Amoxil Ped drop 1 0,23 42 Cefadroxyl Syrup 1 0,23 43 Chloramphenicol Susp 1 0,23 44 Cotrimoxazole Syrup 1 0,23 45 Amoxicillin Syrup 1 0,23
33 Lampiran 3. Data analisis pareto produk antibakteri pada resep anak di Apotek Kimia Farma No. 49 pada bulan Maret 2012 No Nama Obat Jumlah Harga Satuan (Rp) Total Harga (Rp) Persentase Item (%) Persentase Kumulatif (%) Kelompok 1 Cefat 500 mg 34 11998 407932 9,50 9,5 A 2 Cefspan 16 25371 405936 9,45 18,95 A 3 Rimcure Paed 60 4011 240660 5,60 24,55 A 4 Cefspan Syrup 2 117540 235080 5,47 30,03 A 5 Aztrin 11 20482 225302 5,25 35,27 A 6 Cefat Syrup 4 53139 212556 4,95 40,22 A 7 Uplores 29 6653 192937 4,49 44,71 A 8 Cefixime Syrup 4 40732 162928 3,79 48,51 A 9 Clabat 11 14250 156750 3,65 52,16 A 10 Ethicef 11 12692 139612 3,25 55,41 A 11 Cefila 7 18375 128625 2,99 58,40 A 12 Spiradan 17 7522 127874 2,98 61,38 A 13 Rovamycin 12 9933 119196 2,78 64,15 A 14 Ceptik 4 22735 90940 2,12 66,27 A 15 Sofix 4 21812 87248 2,03 68,30 A 16 Amoxsan 500 mg 18 4355 78390 1,83 70,13 A 17 Cloracef 3 23663 70989 1,65 71,78 A 18 Cefat 250 mg 10 6799 67990 1,58 73,36 A 19 Claneksi Syrup 3 62451 187353 4,36 77,72 A 20 Biolincom Syrup 1 61946 61946 1,44 79,17 A 21 Thiamycin 12 5038 60456 1,41 80,57 A 22 Amoxsan Syrup 2 28633 57266 1,33 81,91 B 23 Sedrofen 4 13009 52036 1,21 83,12 B 24 INH 39 1275 49725 1,16 84,28 B 25 Erysanbe Chewy 26 1843 47918 1,12 85,39 B 26 Starcef 2 23908 47816 1,11 86,51 B 27 Dexacef 4 10680 42720 0,99 87,50 B 28 Rifamtibi 10 3872 38720 0,90 88,40 B 29 Staforin 3 12204 36612 0,85 89,25 B 30 Pyravit Syrup 1 35112 35112 0,82 90,07 B 31 Thiamycin Syrup 1 34875 34875 0,81 90,88 B 32 Suprazid Forte 23 1495 34385 0,80 91,68 B 33 Rifampisin 28 1148 32144 0,75 92,43 B 34 Pyrazinamid 38 811 30818 0,72 93,15 B 35 Urfamycin 5 5767 28835 0,67 93,82 B 36 Amoxsan drop 1 28633 28633 0,67 94,49 B 37 Cefixime 50 mg 15 1830 27450 0,64 95,13 B 38 Intermoxil Syrup 1 25662 25662 0,60 95,72 C 39 Erysanbe 7 3610 25270 0,59 96,31 C 40 Ethifix 11 2293 25223 0,59 96,90 C 41 Biothicol Syrup 1 24947 24947 0,58 97,48 C 42 Santibi 18 1178 21204 0,49 97,97 C 43 Cefadroxil 13 1617 21021 0,49 98,46 C 44 Cefixime 100 mg 6 2895 17370 0,40 98,87 C 45 Amoxycillin 27 462 12474 0,29 99,16 C
34 46 Cefadroxil Syrup 1 11406 11406 0,27 99,42 C 47 Ethambutol 9 1218 10962 0,26 99,68 C 48 Amoxicillin Syrup 1 5450 5450 0,13 99,81 C 49 Cotrimoxazole 6 719 4314 0,10 99,91 C 50 San Prima 4 1024 4096 0,10 100,00 C
35 Lampiran 4. Data presentase peresepan antibakteri pada anak di Apotek Kimia Farma No. 49 pada bulan Maret 2012 No Nama Obat Jumlah Persentase (%) 1 Rimcure Paed 60 10,34 2 INH 39 6,72 3 Pyrazinamid 38 6,55 4 Cefat 500 mg 34 5,86 5 Uplores 29 5,00 6 Rifampisin 28 4,83 7 Amoxycillin 27 4,66 8 Erysanbe Chewy 26 4,48 9 Suprazid Forte 23 3,97 10 Amoxsan 18 3,10 11 Santibi 18 3,10 12 Spiradan 17 2,93 13 Cefspan 16 2,76 14 Cefixime 50 mg 15 2,59 15 Cefadroxil 13 2,24 16 Rovamycin 12 2,07 17 Thiamycin 12 2,07 18 Aztrin 11 1,90 19 Clabat 11 1,90 20 Ethicef 11 1,90 21 Ethifix 11 1,90 22 Cefat 250 mg 10 1,72 23 Rifamtibi 10 1,72 24 Ethambutol 9 1,55 25 Cefila 7 1,21 26 Erysanbe 7 1,21 27 Cefixime 100 mg 6 1,03 28 Cotrimoxazole 6 1,03 29 Urfamycin 5 0,86 30 Cefat Syrup 4 0,69 31 Cefixime Syrup 4 0,69 32 Ceptik 4 0,69 33 Sofix 4 0,69 34 Sedrofen 4 0,69 35 Dexacef 4 0,69 36 San Prima 4 0,69 37 Cloracef 3 0,52 38 Claneksi Syrup 3 0,52 39 Staforin 3 0,52 40 Cefspan Syrup 2 0,34 41 Amoxsan Syrup 2 0,34 42 Starcef 2 0,34 43 Biolincom Syrup 1 0,17 44 Pyravit Syrup 1 0,17 45 Thiamycin Syrup 1 0,17 46 Amoxsan drop 1 0,17
36 47 Intermoxil Syrup 1 0,17 48 Biothicol Syrup 1 0,17 49 Cefadroxil Syrup 1 0,17 50 Amoxicillin Syrup 1 0,17
37 Lampiran 5. Data analisis pareto produk antibakteri pada resep anak di Apotek Kimia Farma No. 49 pada bulan April 2012 No Nama Obat Jumlah Harga Satuan (Rp) Total Harga (Rp) Persentase Item (%) Persentase Kumulatif (%) Kelompok 1 Rovamycin 42 9933 417186 16,45 16,45 A 2 Cefspan 12 25371 304452 12,01 28,46 A 3 Ethifix 10 22933 229330 9,04 37,50 A 4 Baquinor 10 16298 162980 6,43 43,93 A 5 Cefixime Syrup 4 40732 162928 6,43 50,35 A 6 Sedrofen 12 13009 156108 6,16 56,51 A 7 Cefat 10 11998 119980 4,73 61,24 A 8 Zibramax 3 38538 115614 4,56 65,80 A 9 Abbotic Syrup 1 103281 103281 4,07 69,87 A 10 Sporetik Syrup 1 98111 98111 3,87 73,74 A 11 Claneksi Syrup 250 mg 1 82390 82390 3,25 76,99 A 12 Fixiphar Syrup 1 68200 68200 2,69 79,68 A 13 Dexacef 6 10680 64080 2,53 82,21 B 14 Claneksi Syrup 125 mg 1 62451 62451 2,46 84,67 B 15 Amoxsan Syrup 2 28633 57266 2,26 86,93 B 16 Uplores 8 6653 53224 2,10 89,03 B 17 Azitromycin 3 14630 43890 1,73 90,76 B 18 Urfamycin 7 5767 40369 1,59 92,35 B 19 Suprazid Forte 23 1495 34385 1,36 93,71 B 20 Amoxsan 500 mg 6 4355 26130 1,03 94,74 B 21 Santibi 18 1178 21204 0,84 95,57 B 22 Cefixime 50 mg 11 1830 20130 0,79 96,37 C 23 Cefixime 100 mg 6 2895 17370 0,68 97,05 C 24 Rifampicin 10 1378 13780 0,54 97,59 C 25 Sanprima 13 1024 13312 0,52 98,12 C 26 Thiamfenikol 10 1318 13180 0,52 98,64 C 27 Cefadroxil Syrup 1 11406 11406 0,45 99,09 C 28 Pyrazinamid 9 811 7299 0,29 99,38 C 29 Cefadroxil 4 1617 6468 0,26 99,63 C 30 Amoxilin 8 462 3696 0,15 99,78 C 31 Septrin 4 719 2876 0,11 99,89 C 32 Cotrimoxazole 2 719 1438 0,06 99,95 C 33 INH 1 1275 1275 0,05 100,00 C
38 Lampiran 6. Data persentase peresepan antibakteri pada anak di Apotek Kimia Farma No. 49 pada bulan April 2012 No Nama Obat Jumlah Persentase (%) 1 Rovamycin 42 16,15 2 Suprazid Forte 23 8,85 3 Santibi 18 6,92 4 Sanprima 13 5,00 5 Cefspan 12 4,62 6 Sedrofen 12 4,62 7 Cefixime 50 mg 11 4,23 8 Baquinor 10 3,85 9 Cefat 10 3,85 10 Ethifix 10 3,85 11 Rifampicin 10 3,85 12 Thiamfenikol 10 3,85 13 Pyrazinamid 9 3,46 14 Amoxilin 8 3,08 15 Uplores 8 3,08 16 Urfamycin 7 2,69 17 Amoxsan 6 2,31 18 Cefixime 100 mg 6 2,31 19 Dexacef 6 2,31 20 Cefadroxil 4 1,54 21 Cefixime Syrup 4 1,54 22 Septrin 4 1,54 23 Azitromycin 3 1,15 24 Zibramax 3 1,15 25 Amoxsan Syrup 2 0,77 26 Cotrimoxazole 2 0,77 27 Abbotic Syrup 1 0,38 28 Cefadroxil Syrup 1 0,38 29 Claneksi Syrup 250 mg 1 0,38 30 Claneksi Syrup 150 mg 1 0,38 31 Fixiphar Syrup 1 0,38 32 INH 1 0,38 33 Sporetik Syrup 1 0,38
39 Lampiran 7. Data pola peresepan antibakteri pada anak di Apotek Kimia Farma No. 49 pada bulan Februari 2012 No Nama generik Jumlah R/ Persentase /R (%) 1 Cefixime 29 25,89 2 Cefadroxil 27 24,11 3 Amoxicillin 14 12,50 4 Cotrimoxazole 12 10,71 5 Thiamphenicol 7 6,25 6 Azithromycin 4 3,57 7 Co-amoxiclav 4 3,57 8 Erithromycin 4 3,57 9 Isoniazid 3 2,68 10 Ethambutol 2 1,79 11 Lincomycin 2 1,79 12 Chloramphenicol 1 0,89 13 Pyrazinamide 1 0,89 14 Rifampisin 1 0,89 15 Roxythromycin 1 0,89 TOTAL 112
40 Lampiran 8. Data pola peresepan antibakteri pada anak di Apotek Kimia Farma No. 49 pada bulan Maret 2012 No Nama generik Jumlah R/ Persentase /R (%) 1 Cefadroxil 21 19,09 2 Cefixime 21 19,09 3 Amoxicillin 14 12,73 4 Cotrimoxazole 8 7,27 5 Isoniazid 7 6,36 6 Spiramycin 6 5,45 7 Rifampicin 5 4,55 8 Roxythromycin 5 4,55 9 Thiamphenicol 5 4,55 10 Co-amoxiclav 4 3,64 11 Pirazinamid 4 3,64 12 Azithromycin 3 2,73 13 Erithromycin 3 2,73 15 Ethambutol 2 1,82 16 Cefaclor 1 0,91 17 Lincomycin 1 0,91 TOTAL 110
41 Lampiran 9. Data pola peresepan antibakteri pada anak di Apotek Kimia Farma No. 49 pada bulan April 2012 No Nama generik Jumlah R/ Persentase /R (%) 1 Cefixime 14 25,45 2 Cotrimoxazole 7 12,73 3 Cefadroxil 6 10,91 4 Spiramycin 5 9,09 5 Amoxicillin 4 7,27 6 Isoniazid 3 5,45 7 Thiamphenicol 3 5,45 8 Azithromycin 2 3,64 9 Co-amoxiclav 2 3,64 10 Ethambutol 2 3,64 11 Pyrazinamid 2 3,64 12 Roxythromycin 2 3,64 13 Ciprofloxacin 1 1,82 14 Clarithromycin 1 1,82 16 Rifampicin 1 1,82 TOTAL 55