UNIVERSITAS INDONESIA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "UNIVERSITAS INDONESIA"

Transkripsi

1 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK MEDIKO FARMA JL. PINANG RAYA NO. 10 PONDOK LABU CILANDAK JAKARTA SELATAN PERIODE 18 FEBRUARI 28 MARET 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER YESSICA LISYANA, S. Farm ANGKATAN LXXVI FAKULTAS FARMASI PROGRAM PROFESI APOTEKER DEPOK JUNI 2013

2 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK MEDIKO FARMA JL. PINANG RAYA NO. 10 PONDOK LABU CILANDAK JAKARTA SELATAN PERIODE 18 FEBRUARI 28 MARET 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker YESSICA LISYANA, S. Farm ANGKATAN LXXVI FAKULTAS FARMASI PROGRAM PROFESI APOTEKER DEPOK JUNI 2013 ii

3

4 KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena atas berkat dan rahmat-nya, penulis dapat menyelesaikan laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Apotek Mediko Farma. Penulisan laporan ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Apoteker pada Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Indonesia. Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, sangatlah sulit bagi penulis untuk menyelesaikan laporan ini. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada: 1. Dra. Farida Indyastuti, S.E., Apt., M.M., selaku Apoteker Pengelola Apotek Mediko Farma sekaligus dosen pembimbing yang telah memberikan kesempatan PKPA di Apotek Mediko Farma serta menyediakan waktu, tenaga dan pikiran untuk mengarahkan saya dalam penyusunan laporan ini; 2. Dra. Azizahwati, Apt., M.S., selaku dosen pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga dan pikiran untuk mengarahkan saya dalam penyusunan laporan ini; 3. Prof. Dr. Yahdiana Harahap, M.S., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Indonesia; 4. Bapak Dr. Harmita, Apt., selaku Ketua Program Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Indonesia; 5. Bapak dan Ibu staf pengajar serta seluruh karyawan Fakultas Farmasi Universitas Indonesia; 6. Seluruh karyawan di Apotek Mediko Farma yang telah banyak membantu dalam PKPA dan usaha memperoleh data yang saya perlukan; 7. Orang tua dan keluarga saya yang telah memberikan bantuan dukungan material dan moral; 8. Sahabat-sahabat apoteker angkatan LXXVI yang telah banyak membantu dan memberi semangat kepada saya dalam meyelesaikan laporan ini; dan iv Universitas Indonesia

5 9. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu saya dalam menyelesaikan laporan ini. Akhir kata, saya berharap semoga Allah SWT berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga laporan ini memberikan manfaat bagi pembaca. Penulis 2013 v Universitas Indonesia

6

7 DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... ii HALAMAN PENGESAHAN... iii KATA PENGANTAR... iv DAFTAR ISI... vi DAFTAR GAMBAR... viii DAFTAR TABEL... ix DAFTAR LAMPIRAN... x BAB1. PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan... 2 BAB 2. TINJAUAN UMUM APOTEK Definisi Apotek Landasan Hukum Apotek Tugas dan Fungsi Apotek Persyaratan Apotek Tata Cara Perizinan Apotek Tenaga Kerja Apotek Pengelolaan Apotek Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek Penggolongan Obat yang Beredar di Indonesia Pencabutan Surat Izin Apotek Pengalihan Tanggung Jawab Apoteker Pelayanan Swamedikasi Obat Wajib Apotek Pelayanan Informasi Obat Konseling BAB 3. TINJAUAN KHUSUS APOTEK MEDIKO FARMA Sejarah Apotek Mediko Lokasi dan Tata Ruang Struktur Organisasi dan Sumber Daya Manusia Pengelolaan Perbekalan Farmasi Pelayanan Apotek Pengelolaan Obat Golongan Narkotika Pengelolaan Obat Golongan Psikotropika Kegiatan Non Teknis Kefarmasian BAB 4. PEMBAHASAN Lokasi dan Bangunan Apotek Sumber Daya Manusia di Apotek Pengelolaan Perbekalan Farmasi Pelayanan Kefarmasian di Apotek vi

8 BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran DAFTAR ACUAN vii

9 DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.1. Tanda Peringatan Obat Bebas Terbatas (P1-P6) Gambar 3.1. Bangunan Apotek Mediko Farma Gambar 3.2. Ruang Tunggu dan Etalase di Apotek Mediko Farma Gambar 3.3. Ruang Peracikan di Apotek Mediko Farma Gambar 3.4. Alat-alat Peracikan Puyer di Apotek Mediko Farma viii

10 DAFTAR TABEL Halaman Tabel 2.1. Logo Golongan Obat Tabel 4.1 Pembagian Shift Asisten Apoteker ix

11 DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1. Peta Lokasi Apotek Mediko Farma Pondok Labu Lampiran 2. Denah Bangunan Apotek Mediko Farma Lampiran 3. Bagan Struktur Organisasi Apotek Mediko Farma Lampiran 4. Format Surat Pesanan Apotek Mediko Farma Lampiran 5. TandaTerima Faktur Lampiran 6. Alur Penerimaan Resep Lampiran 7. Salinan Resep Lampiran 8. Kuitansi Pembelian Obat Resep Lampiran 9. Kuitansi Pembelian Obat Bebas Lampiran 10. Format Surat Pesanan Obat Golongan Narkotika Lampiran 11. Format Surat Pesanan Obat Golongan Psikotropika x

12 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis (Presiden RI, 2009b). Pembangunan bidang kesehatan pada dasarnya ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan. Salah satu tenaga kesehatan yang berperan penting dalam mewujudkan peningkatan derajat kesehatan bagi masyarakat adalah apoteker. Apoteker sebagai salah satu tenaga kefarmasian dapat menjalankan praktek kefarmasiannya pada berbagai fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat. Salah satu fasilitas pelayanan kefarmasian yang erat hubungannya dengan apoteker adalah apotek. Tugas dan fungsi apotek adalah sebagai tempat pengabdian profesi seorang apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan; sebagai sarana farmasi yang melaksanakan peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran dan penyerahan obat atau bahan obat dan sebagai sarana penyalur perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang diperlukan masyarakat secara meluas dan merata (Presiden RI, 2009c). Apoteker dalam melakukan pekerjaan kefarmasian di apotek wajib mengikuti paradigma pelayanan kefarmasian dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi. Pelayanan kefarmasian (pharmaceutical care) merupakan bentuk pelayanan dan tanggung jawab langsung profesi apoteker dalam pekerjaan kefarmasian untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kefarmasian telah terjadi pergeseran orientasi pelayanan kefarmasian dari pengelolaan obat sebagai komoditi (drug oriented) kepada pelayanan yang komprehensif (pharmaceutical care) yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dari pasien (Presiden RI, 2009c). 1 Universitas Indonesia

13 2 Dalam menanggapi perubahan orientasi tersebut, maka apoteker sebagai long life learner dituntut untuk selalu meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya agar mampu melakukan pelayanan kefarmasian dengan baik sesuai standar pelayanan yang tercantum dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Dalam standar pelayanan tersebut, selain mampu berinteraksi secara langsung dengan pasien, apoteker juga harus mampu berkomunikasi aktif dengan tenaga kesehatan lainnya dalam menetapkan terapi untuk mendukung penggunaan obat yang rasional. Oleh karena itu, diperlukan pendidikan dan pelatihan aktual di suatu apotek, Agar calon apoteker dapat menjadi apoteker yang memiliki kompetensi melalui Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA). Dalam hal ini, Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Indonesia menyelenggarakan PKPA di Apotek Mediko Farma yang berlangsung dari tanggal 18 Februari sampai tanggal 28 Mei 2013 dengan harapan agar calon apoteker dapat memahami secara langsung mengenai peranan dan tanggung jawab seorang apoteker di apotek dalam pelaksanaan pekerjaan kefarmasian Tujuan a. Mempraktekkan teori yang telah didapat selama kuliah dengan keadaan yang sebenarnya di Apotek. b. Memahami fungsi, tugas, dan peranan apoteker di apotek sesuai dengan peraturan dan etika yang berlaku dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat. c. Mengetahui pengelolaan apotek, baik dalam pelayanan kefarmasian maupun dalam sistem manajerial. Universitas Indonesia

14 BAB 2 TINJAUAN UMUM APOTEK 2.1 Definisi Apotek Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1332/Menkes/SK/X/2002 dan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1027/Menkes/SK/IX/2004, apotek adalah suatu tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi, serta perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. Menurut Peraturan Pemerintah (PP) No.51 Tahun 2009, apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh apoteker. Pelayanan kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien (Departemen Kesehatan RI, 2009). Menurut PP No.51 tahun 2009, yang dimaksud dengan pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional. Sediaan farmasi yang dimaksud adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetika. Apotek sebagai salah satu sarana pelayanan kesehatan, harus mengutamakan kepentingan masyarakat dan berkewajiban menyediakan, menyimpan dan menyerahkan perbekalan farmasi yang bermutu baik dan keabsahannya terjamin. 2.2 Landasan Hukum Apotek Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan masyarakat yang diatur dalam: a. Undang-undang Republik Indonesia No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. b. Undang-undang Republik Indonesia No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika. c. Undang-undang Republik Indonesia No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika. d. Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian e. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 25 tahun 1980 tentang Perubahan atas PP No. 26 tahun 1965 tentang Apotek. 3 Universitas Indonesia

15 4 f. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 695/ MENKES/ PER/ 2007 tentang perubahan kedua atas Peraturan Menteri Kesehatan No. 184/MENKES/PER/II/1995 tahun tentang penyempurnaan pelaksanaan masa bakti dan izin kerja apoteker. g. Peraturan Menteri Kesehatan No. 922/ MENKES/ PER/ X/ 1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. h. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1027/ MENKES/ SK/ IX/ 2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. i. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1332/ MENKES/ SK/ X/ 2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. 2.3 Tugas dan Fungsi Apotek Berdasarkan PP No. 51 Tahun 2009, tugas dan fungsi apotek adalah: a. Tempat pengabdian profesi seorang apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker b. Sarana farmasi yang melaksanakan peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran dan penyerahan obat atau bahan obat. c. Sarana penyalur perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang diperlukan masyarakat secara luas dan merata. 2.4 Persyaratan Apotek Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 922/Menkes/Per/X/1993, persyaratan yang harus dipenuhi oleh apotek adalah sebagai berikut: a. Untuk mendapatkan izin apotek, apoteker, atau apoteker yang bekerja sama dengan pemilik sarana yang telah memenuhi persyaratan harus siap dengan tempat, perlengkapan, termasuk sediaan farmasi dan perbekalan farmasi lainnya yang merupakan milik sendiri atau milik pihak lain. b. Sarana apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan kegiatan pelayanan komoditi lainnya diluar sediaan farmasi. c. Apotek dapat melakukan kegiatan pelayanan komoditi lainnya diluar sediaan Universitas Indonesia

16 5 farmasi. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1027/Menkes/SK/ IX/2004, disebutkan bahwa : a. Sarana apotek berlokasi pada daerah yang dengan mudah dikenali oleh masyarakat. b. Pada halaman terdapat papan petunjuk yang dengan jelas tertulis kata apotek. c. Apotek harus dapat dengan mudah diakses oleh anggota masyarakat. d. Pelayanan produk kefarmasian diberikan pada tempat yang terpisah dari aktivitas pelayanan dan penjualan produk lainnya, hal ini berguna untuk menunjukkan integritas dan kualitas produk serta mengurangi risiko kesalahan penyerahan. e. Masyarakat harus diberi akses secara langsung dan mudah oleh apoteker untuk memperoleh informasi dan konseling. f. Lingkungan apotek harus dijaga kebersihannya, bebas dari hewan pengerat, serangga. g. Apotek memiliki suplai listrik yang konstan, terutama untuk lemari pedingin. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1027/Menkes/SK/ IX/2004, disebutkan bahwa apotek harus memiliki : a. Ruang tunggu yang nyaman bagi pasien. b. Tempat untuk menampilkan informasi bagi pasien, termasuk penempatan brosur/materi informasi. c. Ruangan tertutup untuk konseling bagi pasien yang dilengkapi dengan meja dan kursi serta lemari untuk menyimpan catatan medikasi pasien. d. Ruang racikan. e. Keranjang sampah yang tersedia untuk staf maupun untuk pasien. Perlengkapan dan peralatan apotek harus tertata rapi, lengkap dengan rakrak penyimpanan obat dan barang-barang lain yang tersusun rapi, terlindung dan debu, kelembaban dan cahaya yang berlebihan serta diletakkan pada kondisi ruangan dengan temperatur yang telah ditetapkan. 2.5 Tata Cara Perizinan Apotek Ketentuan dan tata cara pemberian izin apotek diatur dalam keputusan Universitas Indonesia

17 6 Menteri Kesehatan RI No. 1332/MenKes/SK/X/2002 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 922/MenKes/Per/X/1993. Izin apotek diberikan oleh Menteri, yang kemudian wewenang pemberian izin dilimpahkan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Adapun ketentuannya adalah sebagai berikut: a. Permohonan izin apotek diajukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota dengan menggunakan contoh Formulir APT-1. b. Dengan menggunakan Formulir APT-2 Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota selambat-lambatnya 6 (enam) hari kerja setelah menerima permohonan dapat meminta bantuan teknis kepada Kepala Balai POM untuk melakukan pemeriksaan terhadap kesiapan apotek melakukan kegiatan. c. Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota atau Kepala Balai POM selambat lambatnya 6 (enam) hari kerja setelah permintaan bantuan teknis dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota melaporkan hasil pemeriksaan setempat dengan menggunakan Formulir APT-3. d. Dalam hal pemeriksaan sebagaimana dimaksud di dalam butir (b) dan butir (c) tidak dilaksanakan, apoteker pemohon dapat membuat surat pernyataan siap melakukan kegiatan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota setempat dengan tembusan kepada Kepala Dinas Propinsi dengan menggunakan Formulir APT-4. e. Dalam jangka waktu 12 (dua belas) hari kerja setelah diterima laporan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud butir (c), atau pernyataan butir (d) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota setempat mengeluarkan Surat Izin Apotek (SIA) dengan menggunakan Formulir APT-5. f. Dalam hal hasil pemeriksaan, Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/kota atau Kepala Balai POM dimaksud butir (c) masih belum memenuhi syarat, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota dalam waktu 12 (dua belas) hari kerja mengeluarkan Surat Penundaan dengan menggunakan Formulir APT-6. g. Terhadap Surat Penundaan sebagaimana dimaksud dalam butir (f), apoteker diberi kesempatan untuk melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi selambat-lambatnya dalam jangka waktu satu bulan sejak tanggal Surat Penundaan. Universitas Indonesia

18 7 h. Apabila apoteker menggunakan sarana pihak lain, maka penggunaan sarana dimaksud wajib didasarkan atas perjanjian kerjasama antara apoteker dan pemilik sarana. i. Pemilik sarana yang dimaksud butir (h) harus memenuhi persyaratan tidak pernah terlibat dalam pelanggaran peraturan perundang-undangan dibidang obat sebagaimana dinyatakan dalam surat pernyataan yang bersangkutan. j. Terhadap permohonan izin apotek dan Apoteker Pengelola Apotek (APA) atau lokasi tidak sesuai dengan pemohon, maka Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam jangka waktu selambat-lambatnya 12 hari kerja wajib mengeluarkan surat penolakan disertai dengan alasannnya dengan menggunakan Formulir APT-7. Dalam mendirikan apotek, apoteker harus memiliki Surat Izin Apotek (SIA) yaitu surat yang diberikan Menteri Kesehatan Republik Indonesia kepada apoteker atau apoteker yang bekerja sama dengan pemilik sarana apotek untuk mendirikan apotek di suatu tempat tertentu. 2.6 Tenaga Kerja Apotek Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009, tenaga kefarmasian adalah tenaga yang melakukan pekerjaan kefarmasian, yang terdiri dari apoteker dan tenaga teknis kefarmasian dan non teknis kefarmasian. Tenaga teknis kefarmasian yaitu sarjana farmasi, ahli madya farmasi rumah sakit dan tenaga menengah farmasi/ asisten apoteker yang sudah disumpah. Tenaga kefarmasian untuk kegiatan pelayanan kefarmasian di suatu apotek, antara lain: Apoteker Pengelola Apotek (APA) Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1332/Menkes/SK/X/2002, Apoteker Pengelola Apotek adalah apoteker yang telah diberi Surat Izin Apotek. Apoteker Pengelola Apotek bertanggung jawab penuh terhadap semua kegiatan yang berlangsung di apotek, juga bertanggung jawab kepada pemilik modal (jika bekerja sama dengan pemilik sarana apotek). Sebelum melaksanakan kegiatannya, seorang APA wajib memiliki Surat Izin Apotek (SIA) yang berlaku untuk seterusnya selama apotek masih aktif Universitas Indonesia

19 8 melakukan kegiatan dan APA dapat melakukan pekerjaannya serta masih memenuhi persyaratan. Sesuai dengan Permenkes RI No. 922/MENKES/PER/X/1993, Apoteker Pengelola Apotek (APA) harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : a. Ijazahnya telah terdaftar pada Departemen Kesehatan Republik Indonesia. b. Telah mengucapkan sumpah/ janji Apoteker. c. Memiliki Surat Izin Kerja/ Surat Penugasan dari Departemen Kesehatan melalui dinas kesehatan daerah masing - masing. d. Memenuhi syarat-syarat kesehatan fisik dan mental untuk melaksanakan tugasnya sebagai apoteker. e. Tidak bekerja di suatu perusahaan farmasi dan tidak menjadi Apoteker Pengelola Apotek di apotek lain. Tugas dan Kewajiban apoteker di apotek adalah sebagai berikut: a. Memimpin seluruh kegiatan apotek, baik kegiatan teknis maupun non teknis kefarmasian sesuai dengan ketentuan maupun perundangan yang berlaku. b. Mengatur, melaksanakan dan mengawasi administrasi. c. Mengusahakan agar apotek yang dipimpinnya dapat memberikan hasil yang optimal sesuai dengan rencana kerja dengan cara meningkatkan omset, mengadakan pembelian yang sah dan penekanan biaya serendah mungkin. d. Melakukan pengembangan apotek. Seorang Apoteker Pengelola Apotek apabila berhalangan melakukan tugasnya pada jam buka apotek, maka Apoteker Pengelola Apotek harus menunjuk apoteker pendamping serta apabila Apoteker pengelola Apotek dan apoteker pendamping karena hal-hal tertentu berhalangan melakukan tugasnya, Apoteker pengelola Apotek menunjuk Apoteker pengganti. Penunjukan dimaksud harus dilaporkan kepada Kepala Dinas Kesehatan kabupaten/ kotadengan tembusan kepada Kepala Dinas kesehatan propinsi setempat. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1332/Menkes/SK/X/2002 : a. Apoteker Pendamping, yakni apoteker yang bekerja di apotek selain APA dan/ atau menggantikan APA pada jam-jam tertentu pada hari buka apotek. b. Apoteker Pengganti adalah apoteker yang menggantikan APA jika Universitas Indonesia

20 9 APA berhalangan hadir selama lebih dari tiga bulan secara terus-menerus, telah memiliki Surat Izin Kerja (SIK) dan tidak bertindak sebagai APA di tempat lain Asisten Apoteker Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1332/Menkes/SK/X/2002 asisten apoteker adalah mereka yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku berhak melakukan pekerjaan kefarmasian sebagai asisten apoteker di bawah pengawasan apoteker. 2.7 Pengelolaan Apotek Seluruh upaya dan kegiatan Apoteker untuk melaksanakan tugas dan fungsi pelayanan apotek, disebut pengelolaan apotek. Kegiatan dalam pengelolaan apotek dibagi menjadi dua, yaitu pengelolaan teknis farmasi dan pengelolaan non teknis farmasi. Pengelolaan non teknis kefarmasian tersebut meliputi kegiatan administrasi, keuangan, pajak, personalia, kegiatan bidang material dan bidang lain yang berhubungan dengan apotek Pengelolaan Persediaan Farmasi dan Perbekalan Kesehatan Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1027/Menkes/SK/IX/2004, pengelolaan persediaan farmasi dan perbekalan kesehatan meliputi perencanaan, pengadaan, penyimpanan, dan pelayanan. Pengeluaran obat memakai sistem First In First Out (FIFO) dan First Expire First Out (FEFO) Perencanaan Kegiatan perencanaan meliputi penyusunan rencana keperluan yang tepat, mencegah terjadinya kekurangan dan sedapat mungkin mencegah terjadinya kelebihan perbekalan farmasi yang tersimpan lama dalam gudang serta meningkatkan penggunaan perbekalan farmasi. Pengelolaan perbekalan farmasi yang beragam memerlukan suatu perencanaan yang dilakukan secara cermat sehingga pengelolaan dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Hal-hal yang Universitas Indonesia

21 10 perlu diperhatikan dalam membuat perencanaan pengadaan perbekalan farmasi yaitu: pola penyakit, daya beli masyarakat dan budaya masyarakat Pengadaan Untuk menjamin kualitas pelayanan kefarmasian maka pengadaaan sediaan farmasi harus melalui jalur resmi. Penentu utama terhadap tersedianya obat dan total biaya kesehatan adalah pengadaan perbekalan farmasi yang efektif. Untuk meningkatkan pelayanan yang efektif dan efisien kepada pasien, maka pengadaan yang meliputi ketersediaan, keamanan, dan jaminan mutu perbekalan tersebut harus diterapkan sebaik mungkin. Prinsip pengadaan tidak hanya sekedar membeli barang, tetapi juga mengandung pengertian meminta kerja sama pemasok dalam menyediakan barang yang diperlukan. Halhal yang harus diperhatikan dalam pengadaan antara lain: a. Harus sesuai dengan keperluan yang direncanakan sebelumnya. b. Harus sesuai dengan kemampuan atau kondisi keuangan yang ada. c. Sistem atau cara pengadaannya harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku Penyimpanan Tata cara penyimpanan perbekalan farmasi dan penataannya disesuaikan dengan ketentuan peraturan yang berlaku dan sifat obat serta bentuk perbekalannya. Hal hal yang perlu dipertimbangkan dalam penyimpanan perbekalan farmasi diantaranya: a. Obat/ bahan obat harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik. Ketika isi harus dipindahkan ke dalam wadah lain (pengecualian), maka harus dicegah terjadinya kontaminasi dan harus ditulis informasi yang jelas pada wadah baru yang memuat sekurang-kurangnya nomor bets dan tanggal kadaluarsa. b. Semua bahan obat harus disimpan pada kondisi yang sesuai untuk menjamin kestabilan bahan Pelayanan Apotek Peraturan yang mengatur tentang Pelayanan Apotek adalah Peraturan Menteri Kesehatan No. 922/MENKES/SK/X/1993, yang meliputi : Universitas Indonesia

22 11 a. Apotek wajib melayani resep dokter, dokter spesialis, dokter gigi dan dokter hewan. Pelayanan resep ini sepenuhnya atas dasar tanggung jawab Apoteker Pengelola Apotek, sesuai dengan keahlian profesinya yang dilandasi pada kepentingan masyarakat. b. Apotek wajib menyediakan, menyimpan dan menyerahkan perbekalan yang bermutu baik dan absah. c. Apotek tidak diizinkan mengganti obat generik yang ditulis dalam resep dengan obat bermerek dagang, namun resep dengan obat bermerek dagang atau obat paten boleh diganti dengan obat generik. d. Apotek wajib memusnahkan perbekalan farmasi yang tidak memenuhi syarat sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dengan membuat berita acara. Pemusnahan ini dilakukan dengan cara dibakar atau dengan ditanam atau dengan cara lain yang ditetapkan oleh Badan POM. e. Dalam hal pasien tidak mampu menebus obat yang diresepkan, apoteker wajib berkonsultasi dengan dokter penulis resep untuk pemilihan obat yang lebih tepat. f. Apoteker wajib memberikan informasi yang berkaitan dengan penggunaan obat yang diserahkan kepada pasien secara tepat, aman, dan rasional atas permintaan masyarakat. g. Apabila apoteker menganggap bahwa dalam resep terdapat kekeliruan atau penulisan resep yang tidak tepat, apoteker harus memberitahukan kepada dokter penulis resep. Apabila atas pertimbangan tertentu dokter penulis resep tetap pada pendiriannya, dokter wajib melaksanakan secara tertulis atau membubuhkan tanda tangan yang lazim di atas resep. h. Salinan resep harus ditandatangani oleh apoteker. i. Resep harus dirahasiakan dan disimpan di apotek dengan baik dalam jangka waktu 3 tahun. j. Resep dan salinan resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter penulis resep atau yang merawat penderita, penderita yang bersangkutan, petugas kesehatan, atau petugas lain yang berwenang menurut perundang-undangan yang berlaku. k. Apoteker Pengelola Apotek, apoteker pendamping atau apoteker pengganti Universitas Indonesia

23 12 diizinkan menjual obat keras tanpa resep yang dinyatakan sebagai Daftar Obat Wajib Apotek, yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia. l. Apoteker Pengelola Apotek turut bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh apoteker pendamping, Apoteker Pengganti didalam pengelolaan apotek Administrasi Dalam menjalankan pelayanan kefarmasian di apotek, perlu dilaksanakan kegiatan administrasi yang meliputi : a. Administrasi Umum Pada bagian ini dilakukan pencacatan, pengarsipan, pelaporan narkotika, psikotropika dan dokumentasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. b. Administrasi Pelayanan. Pada bagian ini dilakukan pengarsipan resep, pengarsipan cacatan pengobatan pasien, pengarsipan hasil monitoring penggunaan obat. 2.8 Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek Pelayanan kefarmasian pada saat ini telah bergeser orientasinya dari obat ke pasien yang mengacu kepada pelayanan kefarmasian (Pharmaceutical Care). Kegiatan pelayanan kefarmasian yang semula hanya berfokus pada pengelolaan obat sebagai komoditi menjadi pelayanan yang komprehensif yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dari pasien. Sebagai konsekuensi perubahan orientasi tersebut, apoteker dituntut untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan perilaku untuk dapat melaksanakan interaksi langsung dengan pasien. Bentuk interaksi tersebut antara lain adalah melaksanakan pemberian informasi, monitoring penggunaan obat dan mengetahui tujuan akhir apakah sesuai harapan dan terdokumentasi dengan baik. Sebagai upaya agar para apoteker dapat melaksanakan pelayanan kefarmasian dengan baik, Ditjen Yanfar dan Alkes Departemen Kesehatan bekerja sama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI) menyusun standar pelayanan kefarmasian di apotek untuk menjamin mutu pelayanan kefarmasian Universitas Indonesia

24 13 kepada masyarakat. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang standar pelayanan kefarmasian di apotek disebutkan bahwa pelayanan di apotek meliputi: Pelayanan Resep (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2004) Skrining Resep Apoteker melakukan skrining resep yang meliputi, persyaratan administratif (nama, SIP dan alamat dokter; tanggal penulisan resep; tanda tangan/ paraf dokter penulis resep; nama, alamat, umur, jenis kelamin dan berat badan pasien; nama obat, potensi, dosis dan jumlah yang diminta; cara pemakaian yang jelas serta informasi lainnya yang diperlukan); kesesuaian farmasetik (bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas, cara dan lama pemberian); pertimbangan klinis (adanya alergi, efek samping, interaksi, serta kesesuaian dosis, durasi, jumlah obat, dan lain-lain) Penyiapan Obat Hal-hal yang diperhatikan dalam penyiapan obat adalah peracikan (kegiatan menyiapkan, menimbang, mencampur, mengemas dan memberikan etiket pada wadah) dengan suatu prosedur tetap memperhatikan dosis, jenis dan jumlah obat serta penulisan etiket yang benar, etiket harus jelas dan dapat dibaca, obat dikemas dengan rapi dalam kemasan yang cocok sehingga terjaga kualitasnya, dan pemeriksaan akhir terhadap kesesuaian antara obat dengan resep. Penyerahan obat dilakukan oleh apoteker disertai dengan pemberian informasi obat kepada pasien dan tenaga kesehatan. Informasi obat pada pasien sekurangkurangnya meliputi cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi. Apoteker juga harus memberikan konseling mengenai sediaan farmasi, pengobatan dan perbekalan kesehatan lainnya sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien atau yang bersangkutan terhindar dari bahaya, penyalahgunaan atau salah penggunaan sediaan farmasi atau perbekalan farmasi lainnya. Setelah obat diserahkan oleh apoteker kepada pasien, maka apoteker Universitas Indonesia

25 14 harus melaksanakan pemantauan penggunaan obat dan konseling berkelanjutan terutama untuk penderita penyakit tertentu seperti kardiovaskular, diabetes, TBC, asma, dan penyakit kronis lainnya Promosi dan Edukasi Dalam kegiatan ini apoteker dapat berperan dalam penyebaran leaflet/ brosur, poster, penyuluhan dan lain-lainnya Pelayanan Residensial (Home Care) Apoteker diharapkan juga dapat melakukan pelayanan kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk geriatric dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya. Untuk kegiatan ini apoteker harus membuat catatan berupa catatan pengobatan. 2.9 Penggolongan Obat yang Beredar di Indonesia Obat adalah suatu zat yang digunakan dengan dosis tertentu untuk diagnosis, pengobatan, peringanan, penyembuhan atau pencegahan penyakit pada manusia atau hewan. Obat-obat yang beredar di Indonesia, digolongkan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan ke dalam 5 (lima) kategori, yakni obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras, obat golongan psikotropika, dan obat golongan narkotika. Penggolongan ini dimaksudkan untuk memudahkan pengawasan terhadap peredaran dan pemakaian obat-obat tersebut. Setiap golongan obat diberi tanda/ logo pada kemasan yang terlihat. Tabel 2.1 Logo Golongan Obat Golongan Obat Logo Golongan Obat Logo Obat Bebas Obat Keras Obat Bebas Terbatas Golongan Narkotik Universitas Indonesia

26 Obat OTC Obat-obat yang dapat diperoleh tanpa resep dokter adalah obat OTC (OverThe Counter). Obat OTC terdiri dari : Obat Bebas Obat yang dijual bebas di pasaran dan dapat dibeli tanpa resep dokter disebut obat bebas (Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas, 2006). Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas adalah lingkaran hijau dengan garis tepi berwarna hitam (Tabel 2.1) Obat Bebas Terbatas Obat yang sebenarnya termasuk obat keras tetapi masih dapat dijual atau dibeli bebas tanpa resep dokter, dan disertai dengan tanda peringatan disebut dengan obat bebas terbatas. Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas terbatas adalah lingkaran biru dengan garis tepi berwarna hitam (Tabel 2.1). Komposisi obat bebas terbatas mengandung bahan yang relatif toksik, sehingga dalam wadah atau kemasannya perlu dicantumkan tanda peringatan (P No.1 P No.6) dan penyerahannya harus dalam bungkus aslinya. Tanda peringatan tersebut berwarna hitam dengan ukuran panjang 5 cm dan lebar 2 cm (atau disesuaikan dengan kemasannya) dan diberi tulisan peringatan npenggunaannya dengan huruf berwarna putih (Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas, 2006). Gambar 2.1 Tanda Peringatan Obat Bebas Terbatas (P1-P6) Universitas Indonesia

27 Obat Ethical Obat yang hanya dapat diperoleh dengan mempergunakan resep dokter disebut ethical seperti obat keras termasuk obat golongan psikotropika dan obat golongan narkotika Obat Keras Obat yang hanya dapat dibeli di apotek dengan resep dokter disebut dengan obat keras. Kemasan obat keras ditandai dengan lingkaran yang di dalamnya terdapat huruf K yang menyentuh tepi lingkaran yang berwarna hitam dengan latar warna merah. Obat-obat yang masuk ke dalam golongan ini antara lain obat jantung, antihipertensi, antihipotensi, obat diabetes, hormon, antibiotika, beberapa obat tukak lambung dan semua obat injeksi (Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas, 2006) Obat Golongan Psikotropika Pengertian psikotropika menurut UU No. 5 tahun 1997 adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintesis bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Ruang lingkup pengaturan psikotropika dalam UU No. 5 tahun 1997 adalah segala yang berhubungan dengan psikotropika yang mempunyai potensi mengakibatkan ketergantungan. Tujuan dari pengaturan psikotropika adalah untuk menjamin ketersediaan psikotropika guna kepentingan pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan, mencegah terjadinya penyalahgunaan psikotropika dan memberantas peredaran gelap psikotropika. Kemasan obat psikotropik ditandai dengan lingkaran yang di dalamnya terdapat huruf K yang menyentuh tepi lingkaran yang berwarna hitam dengan latar warna merah. Psikotropika dibedakan ke dalam 4 golongan, yakni: a. Psikotropika golongan I, yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak dapat digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi amat kuat dalam mengakibatkan ketergantungan, misalnya brolamfetamina, lisergida (LSD), meskalin dan psilosibin. b. Psikotropika golongan II, yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan Universitas Indonesia

28 17 dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potens yang kuat dalam mengakibatkan ketergantungan, misalnya amfetamin, metamfetamin dan metilfenidat. c. Psikotropika golongan III, yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang dalam mengakibatkan ketergantungan, misalnya amobarbital, siklobarbital, dan pentazosina. d. Psikotropika golongan IV, yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan dalam mengakibatkan ketergantungan, misalnya derivat diazepam, alprazolam, dan fenobarbital. Secara garis besar, kegiatan pengelolaan psikotropika di apotek meliputi pemesanan, penyimpanan, pelaporan, pelayanan dan pemusnahan (Presiden RI,1997): a. Pemesanan psikotropika Obat-obat golongan psikotropika dipesan apotek dari Pedagang Besar Farmasi (PBF), dengan menggunakan surat pesanan (SP) psikotropika 3 (tiga) rangkap dan ditandatangani oleh Apoteker Pengelola Apotek yang dilengkapi nomor SIK dari apoteker dan stempel apotek. Satu surat pesanan dapat digunakan untuk beberapa jenis psikotropika. b. Penyimpanan psikotropika Obat-obat golongan psikotropika ini cenderung disalahgunakan sehingga disarankan agar menyimpan obat-obatan tersebut dalam suatu rak atau lemari khusus. c. Penyerahan psikotropika Penyerahan obat-obat golongan psikotropik oleh apotek hanya dapat dilakukan kepada apotek lainnya, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter, dan kepada pengguna/ pasien. d. Pelaporan psikotropika Apotek wajib membuat dan menyimpan catatan kegiatan yang berhubungan dengan psikotropika dan melaporkan kepada Direkorat Jenderal Binfar Alkes Kementerian Kesehatan secara online melalui website Universitas Indonesia

29 18 Pelaporan dilakukan setiap bulan, paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya dengan tembusan kepada Balai Besar POM. e. Pemusnahan Psikotropika Pada pemusnahan psikotropika, apoteker wajib membuat berita acara dan disaksikan oleh pejabat yang ditunjuk dalam tujuh hari setelah mendapat kepastian. Menurut pasal 53 UU No. 5 tahun 1997, pemusnahan psikotropika dilakukan apabila berkaitan dengan tindak pidana, psikotropika yang diproduksi tidak memenuhi standar dan persyaratan bahan baku yang berlaku, kadaluarsa, serta tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan dan atau pengembangan ilmu pengetahuan. Pemusnahan psikotropika yang berkaitan dengan tindak pindana dilakukan oleh suatu tim yang terdiri dari pejabat yang mewakili Departemen yang bertanggung jawab di bidang kesehatan, Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan Kejaksaan sesuai dengan Hukum Acara Pidana yang berlaku, dan ditambah pejabat dari instansi terkait dengan tempat terungkapnya tindak pidana tersebut, dalam waktu tujuh hari setelah mendapat kekuatan hukum tetap. Untuk psikotopika khusus golongan I, wajib dilaksanakan paling lambat 7 (tujuh) hari setelah dilakukan penyitaan. Pemusnahan psikotropika yang disebabkan karena kadaluarsa serta tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan dan atau pengembangan ilmu pengetahuan dilakukan oleh apoteker yang bertanggung jawab atas peredaran psikotropika dengan disaksikan oleh pejabat Departemen yang bertanggung jawab di bidang kesehatan, dalam waktu 7 (tujuh) hari setelah mendapatkan kepastian Obat Golongan Narkotika Pengertian narkotika menurut Undang-Undang No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan. Kemasan golongan narkotika ditandai dengan lingkaran yang di dalamnya terdapat palang berwarna merah Universitas Indonesia

30 19 (Departemen Kesehatan RI, 2006b). Narkotika dibedakan ke dalam 3 golongan yaitu: a. Narkotika golongan I, yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak dapat digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi yang sangat tinggi untuk mengakibatkan ketergantungan, misalnya opium, kokain, dan ganja. b. Narkotika golongan II, yang berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi, dan atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi untuk mengakibatkan ketergantungan, misalnya morfin dan petidin. c. Narkotika golongan III, yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan untuk menimbulkan ketergantungan, misalnya kodein. UU No. 35 tahun 2009 telah mengatur tata cara ekspor-impor, produk, penanaman, peredaran, penyediaan, penyimpanan dan penggunaan narkotika, untuk mencegah dan menanggulangi bahaya-bahaya yang ditimbulkan oleh efek samping penggunaan dan penyalahgunaan, memulihkan kembali penderita kecanduan narkotika, serta untuk memberantas peredaran gelap narkotika. Secara garis besar pengelolaan narkotika di apotek meliputi pemesanan, penyimpanan, pelaporan, pelayanan dan pemusnahan. a. Pemesanan Narkotika Kegiatan ini dilakukan ke PBF Kimia Farma dengan menggunakan surat pesanan narkotika empat rangkap yang ditandatangani oleh APA (tiga rangkap untuk PBF Kimia Farma dan satu rangkap arsip apotek), dilengkapi nomor SIK dan stempel apotek. Satu lembar surat pesanan hanya digunakan untuk memesan satu jenis narkotika. b. Penyimpanan Narkotika Di dalam Permenkes No. 28/Menkes/Per/1978 pasal 5 dan 6 dijelaskan bahwa apotek harus memiliki tempat khusus untuk menyimpan narkotika, yang memenuhi persyaratan sebagai berikut: harus dibuat seluruhnya dari kayu atau bahan lain yang kuat; harus mempunyai kunci ganda yang berlainan; lemari Universitas Indonesia

31 20 dibagi dua sekat, masing-masing dengan kunci yang berlainan. Bagian pertama digunakan untuk menyimpan morfin, petidin dan garamnya serta persediaan narkotika, sedangkan bagian kedua digunakan untuk penyimpanan narkotika lainnya yang digunakan sehari-hari; lemari khusus tersebut berupa lemari dengan ukuran lebih kurang 40 x 80 x 100 cm dan harus dibaut pada tembok atau lantai; lemari khusus tidak dipergunakan untuk menyimpan bahan lain selain narkotika, kecuali ditentukan oleh Menteri Kesehatan; anak kunci lemari khusus harus dikuasai oleh pegawai yang diberi kuasa; lemari khusus harus ditempatkan di tempat yang aman dan yang tidak diketahui oleh umum. c. Pelayanan Resep yang mengandung Narkotika Menurut UU No. 35 tahun 2009, disebutkan bahwa narkotika hanya dapat diserahkan kepada pasien untuk pengobatan penyakit berdasarkan resep dokter. Selain itu, berdasarkan Surat Edaran Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan (sekarang Badan POM) No. 336/E/SE/1997 disebutkan bahwa apotek dilarang melayani salinan resep yang mengandung narkotika. Resep narkotika yang baru dilayani sebagian atau belum sama sekali, apotek boleh membuat salinan resep tetapi salinan resep tersebut hanya boleh dilayani oleh apotek yang menyimpan resep asli. Salinan resep dari narkotika dengan tulisan iter tidak boleh dilayani sama sekali. Oleh karena itu dokter tidak boleh menambahkan tulisan iter pada resep-resep yang mengandung narkotika. Selain kepada pasien, penyerahan obat golongan narkotika dapat dilakukan apotek kepada rumah sakit, puskesmas, apotek lain, balai pengobatan, dan dokter. d. Pelaporan Narkotika Undang-undang No. 22 tahun 1997 pasal 11 ayat 2, menyatakan bahwa importir, eksportir, pabrik obat, pabrik farmasi, PBF, apotek, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter dan lembaga ilmu pengetahuan wajib membuat, menyampaikan, dan menyimpan laporan berkala mengenai pemasukan dan atau pengeluaran narkotika yang ada dalam penguasaannya. Laporan penggunaan narkotika ini harus dilaporkan setiap bulan paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya yang ditujukan kepada bulan berikutnya yang ditujukan kepada Direkorat Jenderal Binfar Alkes Kementerian Kesehatan secara online pada website setiap bulan paling Universitas Indonesia

32 21 lambat tanggal 10 bulan dengan tembusan kepada Balai Besar POM. Sistem Pelaporan Narkotika dan Psikotropika biasa disebut dengan SIPNAP adalah sistem yang mengatur pelaporan penggunaan Narkotika dan Psikotropika dari Unit Layanan (Puskesmas, Rumah Sakit, dan Apotek). e. Pemusnahan Narkotika Sesuai dengan Permenkes RI No.28/Menkes/Per/I/1978 pasal 9 mengenai pemusnahan narkotika, Apoteker Pengelola Apotek dapat memusnahkan narkotika yang rusak, kadaluarsa, atau tidak memenuhi syarat untuk digunakan dalam pelayanan kesehatan dan atau untuk pengembangan Ilmu Pengetahuan. Pemusnahan narkotika dilakukan dengan pembuatan berita acara yang sekurangkurangnya memuat: tempat dan waktu (jam, hari, bulan, dan tahun); nama pemegang izin khusus, APA atau dokter pemilik narkotika; nama, jenis, dan jumlah narkotika yang dimusnahkan; cara pemusnahan; tanda tangan dan identitas lengkap penanggung jawab apotek dan saksi-saksi pemusnahan. Pemusnahan narkotika harus disaksikan oleh : petugas Direktorat Pengawasan Obat dan Makanan untuk importir, pabrik farmasi dan unit pergudangan pusat; petugas Kantor Wilayah Departemen Kesehatan untuk pedagang besar farmasi penyalur narkotika, lembaga dan unit pergudangan propinsi, petugas Dinas Kesehatan Daerah Tingkat II untuk apotek, rumah sakit, puskesmas dan dokter. Berita acara pemusnahan narkotika tersebut dikirimkan kepada kepala kantor Departemen Kesehatan Republik Indonesia dengan tembusan kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi, Balai/ Balai Besar POM, dan sebagai arsip Pencabutan Surat Izin Apotek Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1332/Menkes/SK/X/2002, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota setempat wajib melaporkan pemberian izin, pembekuan izin, pencairan izin, dan pencabutan izin apotek dalam jangka waktu setahun sekali kepada Menteri dan tembusan disampaikan kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota dapat mencabut surat izin apotek apabila : Universitas Indonesia

33 22 a. Apoteker sudah tidak lagi memenuhi syarat sebagai APA. b. Apoteker tidak memenuhi kewajiban dalam pelayanan kefarmasian. c. APA berhalangan melakukan tugasnya lebih dari 2 tahun secara terusmenerus. d. Terjadi pelanggaran terhadap Undang-Undang No. 22 tahun 1997 tentang Narkotika (sekarang UU No. 35 tahun 2009), Undang-undang No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika, Undang-undang No 23 tahun 1992 tentang Kesehatan atau ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya. e. Surat Izin Kerja (SIK) Apoteker Pengelola Apotek dicabut f. Pemilik Sarana Apotek terbukti terlibat dalam pelanggaran perundangundangan di bidang obat. g. Apotek tidak dapat lagi memenuhi persyaratan mengenai kesiapan tempat pendirian apotek serta kelengkapan sediaan farmasi dan perbekalan lainnya baik merupakan milik sendiri atau pihak lain. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota sebelum melakukan pencabutan berkoordinasi dengan Kepala Balai POM setempat. Menurut Peraturan Pemerintah nomor 51 tahun 2009, pelaksanaan pencabutan izin apotek dilakukan setelah dikeluarkan : a. Peringatan secara tertulis kepada Apoteker Pengelola Apotek sebanyak tiga kali berturut-turut dengan tenggang waktu masing-masing dua bulan dengan menggunakan contoh Formulir Model APT-12. b. Pembekuan izin apotek untuk jangka waktu selama-lamanya enam bulan sejak dikeluarkannya penetapan pembekuan kegiatan di apotek dengan mengunakan contoh Formulir Model APT-13. Keputusan pencabutan Surat Izin Apotek dilakukan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota kepada Apoteker Pengelola Apotek dengan menggunakan contoh Formulir Model APT-15 dan tembusan disampaikan kepada Menteri Kesehatan dan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi serta Kepala Balai POM setempat. Apabila surat izin apotek tersebut dicabut, APA atau Apoteker Pengganti wajib mengamankan perbekalan farmasi yang dilakukan dengan cara: a. Seluruh persediaan narkotika, obat keras tertentu dan obat lainnya serta Universitas Indonesia

34 23 seluruh resep yang tersedia di apotek diinventarisasi. b. Narkotika, psikotropika dan resep harus dimasukkan dalam tempat yang tertutup dan terkunci. c. Apoteker Pengelola Apotek wajib melapor secara tertulis kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau petugas yang diberi wewenang tentang penghentian kegiatan disertai laporan inventarisasi yang dimaksud di atas. Pembekuan izin apotek dapat dicairkan kembali apabila apotek tersebut telah membuktikan memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dengan menggunakan contoh Formulir APT-14. Pencairan izin apotek dilakukan setelah menerima laporan pemeriksaan dari tim pemeriksaan Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota setempat. Selama pembekuan izin, apotek dilarang menjalankan kegiatan kefarmasian, namun diberi waktu maksimal 6 bulan untuk membuktikan bahwa apotek memenuhi seluruh persyaratan sesuai dengan ketentuan yang ada Pengalihan Tanggung Jawab Apoteker Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1332/Menkes/SK/X/2002 tentang pengalihan tanggung jawab apoteker : a. Pada setiap pengalihan tanggung jawab pengelolaan kefarmasian yang disebabkan karena penggantian APA kepada apoteker pengganti, wajib dilakukan serah terima resep, narkotika, obat dan perbekalan farmasi lainnya serta kunci-kunci tempat penyimpanan narkotika dan psikotropika. Pada kegiatan serah terima tersebut wajib dibuat berita acara serah terima sesuai dengan bentuk yang telah ditentukan dalam rangkap empat yang ditandatangani oleh kedua belah pihak. b. Apabila Apoteker Pengelola Apotek (APA) meninggal dunia, dalam jangka dua kali dua puluh empat jam, ahli waris APA wajib melaporkan kejadian tersebut secara tertulis kepada kepala wilayah atau petugas yang diberi wewenang olehnya. c. Apabila pada apotek tersebut tidak terdapat apoteker pendamping, maka pelaporan oleh ahli waris tersebut wajib disertai penyerahan resep, narkotika Universitas Indonesia

35 24 psikotropika, obat keras dan kunci tempat penyimpanan narkotika dan psikotropika. d. Pada penyerahan resep, narkotika, psikotropika dan obat keras serta kunci tersebut, dibuat berita acara serah terima dengan kepala kantor wilayah atau petugas yang diberi wewenang olehnya, selaku pihak yang menerima Pelayanan Swamedikasi Upaya masyarakat untuk mengobati dirinya sendiri dikenal dengan istilah swamedikasi. Tindakan pengobatan sendiri biasanya dilakukan untuk mengatasi keluhan-keluhan dan penyakit ringan yang banyak dialami masyarakat, seperti demam, nyeri, pusing, batuk, influenza, sakit maag, kecacingan, diare, penyakit kulit dan lain-lain. Swamedikasi menjadi alternatif yang diambil masyarakat untuk meningkatkan keterjangkauan pengobatan. Walaupun pengobatan sendiri dilakukan oleh dan untuk diri sendiri, swamedikasi harus dilakukan secara rasional. Ini berarti bahwa tindakan pemilihan dan penggunaan produk bersangkutan sepenuhnya merupakan tanggung jawab bagi para penggunanya. Swamedikasi dilakukan dengan menggunakan obat tanpa resep yaitu golongan obat bebas, bebas terbatas, dan obat wajib apotek. Pemerintah juga turut berperan serta dalam meningkatkan upaya pengobatan sendiri dengan mengeluarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 347/Menkes/SK/VII/ 1990 tentang Obat Wajib Apotek Obat Wajib Apotek Obat Wajib Apotek (OWA) adalah obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dokter oleh apoteker di apotek. Obat yang dapat diserahkan tanpa resep dokter harus memenuhi kriteria sebagai berikut : a. Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak di bawah usia 2 tahun dan orang tua diatas 65 tahun. b. Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan risiko pada kelanjutan penyakit. c. Penggunaan tidak memerlukan cara dan atau alat khusus yang harus dilakukan oleh tenaga kesehatan. Universitas Indonesia

36 25 d. Penggunaan diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di Indonesia. e. Obat dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk pengobatan sendiri. Dalam melayani pasien yang memerlukan OWA, apoteker di apotek diwajibkan untuk : a. Memenuhi ketentuan dan batasan tiap jenis obat per pasien yang disebutkan dalam OWA yang bersangkutan b. Membuat catatan pasien serta obat yang telah diserahkan c. Memberikan informasi, meliputi dosis dan aturan pakainya, kontraindikasi, efek samping dan lain-lain yang perlu diperhatikan oleh pasien. Obat wajib apotek didasarkan pada tiga surat Keputusan Menteri Kesehatan yaitu: a. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 347/Menkes/SK/VII/1990 tentang Obat Wajib Apotek No. 1 yang terdiri dari 7 kelas terapi yaitu, oral kontrasepsi, obat saluran cerna, obat mulut dan tenggorokan, obat saluran napas, obat yang mempengaruhi sistem neuromuskular, antiparasit, dan obat topikal. Perubahan golongan OWA No.1 berdasarkan PerMenKes No.925 Tahun1993 memuat beberapa obat yang semula OWA berubah menjadi obat bebas terbatas atau obat bebas, selain itu juga ada keterangan pembatasannya b. Keputusan Menkes RI No. 924/Menkes/PER/IX/1993 tentang Daftar Obat Wajib Apotek No. 2 yang terdiri dari 34 jenis obat generik sebagai tambahan lampiran Keputusan Menkes RI No. 347/MENKES/SK/VII/1990 tentang Obat Wajib Apotek No 1. Daftar obat wajib apotek No. 2 tersebut antara lain terdiri dari albendazol, basitrasin, karbinoksamin, klindamisin, deksametason, dan dekspantenol. c. Keputusan Menkes RI No. 1176/Menkes/SK/X/1999 tentang Daftar Obat Wajib Apotek No. 3 yang terdiri dari 6 kelas terapi yaitu, saluran pencernaan dan metabolisme, obat kulit, antiinfeksi umum, sistem muskuloskeletal, sistemn saluran pernafasan, dan organ-organ sensorik. Universitas Indonesia

37 Pelayanan Informasi Obat Pekerjaan kefarmasian di apotek tidak hanya pada pembuatan, pengolahan, pengadaan, dan penyimpanan perbekalan farmasi, tetapi juga pada pelayanan informasi obat. Tujuan diselenggarakannya PIO di apotek adalah demi tercapainya penggunaan obat yang rasional, yaitu tepat indikasi, tepat pasien, tepat regimen (dosis, cara, saat dan lama pemberian), tepat obat, dan waspada efek samping. Dalam memberikan informasi obat, hendaknya seorang apoteker mempunyai ciriciri sebagai berikut: a. Mandiri, artinya bebas dari segala bentuk keterikatan dengan pihak lain yang dapat mengakibatkan informasi yang diberikan menjadi tidak objektf. b. Objektif, artinya memberikan informasi dengan sejelas-jelasnya mengenai suatu produk obat tanpa dipengaruhi oleh berbagai kepentingan. c. Seimbang, artinya informasi diberikan setelah melihat dari berbagai sudut pandang yang mungkin berlawanan d. Ilmiah, yang artinya informasi berdasarkan sumber data atau referensi yang dapat dipercaya. e. Berorientasi pada pasien, maksudnya informasi tidak hanya mencangkup informasi produk seperti ketersediaan, kesetaraan generik, tetapi juga harus mencangkup informasi yang mempertimbangkan kondisi pasien. Oleh sebab itu peranan terhadap keberadaan apoteker di apotek dalam pemberian informasi obat tersebut kepada pasien, dokter, maupun tenaga medis lainnya sangat penting Konseling Pengertian dari konseling adalah suatu proses komunikasi dua arah yang sistematik antara apoteker dan pasien untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan obat dan pengobatan. Apoteker harus memberikan konseling, mengenai sediaan farmasi, pengobatan dan perbekalan kesehatan lainnya, sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien atau yang bersangkutan terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau penggunaan salah sediaan farmasi atau perbekalan kesehatan lainnya (Menteri Kesehatan RI, 2004). Universitas Indonesia

38 27 Tujuan dari kegiatan konseling yaitu (Menteri Kesehatan RI, 2007) : a. Tujuan umum 1. Meningkatkan keberhasilan terapi. 2. Memaksimalkan efek terapi. 3. Meminimalkan resiko efek samping. 4. Meningkatkan cost effectiveness. 5. Menghormati pilihan pasien dalam menjalankan terapi. b. Tujuan khusus 1. Meningkatkan hubungan kepercayaan antara apoteker dengan pasien 2. Menunjukkan perhatian serta kepedulian terhadap pasien 3. Membantu pasien untuk mengatur dan terbiasa dengan obatnya 4. Membantu pasien untuk mengatur dan menyesuaikan dengan penyakitnya 5. Meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan. 6. Mencegah atau meminimalkan Drug Related Problem 7. Meningkatkan kemampuan pasien untuk memecahkan masalahnya sendiri dalam hal terapi 8. Mengerti permasalahan dalam pengambilan keputusan 9. Membimbing dan mendidik pasien dalam menggunakan obat sehingga dapat mencapai tujuan pengobatan dan meningkatkan mutu pengobatan pasien Pemberian konseling ditujukan baik untuk pasien rawat jalan maupun pasien rawat inap. Konseling dapat diberikan kepada pasien langsung atau melalui perantara. Perantara yang dimaksud disini adalah keluarga pasien, pendamping pasien, perawat pasien, atau siapa saja yang bertanggung jawab dalam perawatan pasien. Pemberian konseling melalui perantara diberikan jika pasien tidak mampu mengenali obat-obatan dan terapinya, pasien pediatrik, pasien geriatrik. Pemberian konseling untuk pasien rawat jalan dapat diberikan pada saat pasien mengambil obat di apotik, puskesmas dan di sarana kesehatan lain. Kegiatan ini bisa dilakukan di counter pada saat penyerahan obat tetapi lebih efektif bila dilakukan di ruang khusus yang disediakan untuk konseling. Pemilihan tempat konseling tergantung dari kebutuhan dan tingkat kerahasian / kerumitan akan hal-hal yang perlu dikonselingkan ke pasien. Konseling pasien Universitas Indonesia

39 28 rawat jalan diutamakan pada pasien yang : 1. Menjalani terapi untuk penyakit kronis, dan pengobatan jangka panjang (Diabetes, TBC, epilepsi, HIV/ AIDS). 2. Mendapatkan obat dengan bentuk sediaan tertentu dan dengan cara pemakaian yang khusus, misalnya supositoria, inhaler, injeksi insulin dll. 3. Mendapatkan obat dengan cara penyimpanan yg khusus, misalnya insulin dll 4. Mendapatkan obat-obat dengan aturan pakai yang rumit, misalnya pemakaian kortikosteroid dengan tapering down. 5. Golongan pasien yang tingkat kepatuhannya rendah, misalnya geriatrik, pediatri. 6. Mendapatkan obat dengan indeks terapi sempit (digoksin, fenitoin, dll). 7. Mendapatkan terapi obat-obat dengan kombinasi yang banyak (polifarmasi) Universitas Indonesia

40 BAB 3 TINJAUAN KHUSUS APOTEK MEDIKO FARMA 3.1. Sejarah Apotek Mediko Farma Apotek Mediko Farma didirikan pada tanggal 14 September 1976 berdasarkan akta notaris Mintarsih Natamihardja, SH. Pemilik sarana Apotek Mediko Farma adalah Dr. Sri Soesilastoeti sedangkan Apoteker Pengelola Apotek (APA) di Mediko Farma saat ini adalah Dra. Farida Indyastuti, S.E., Apt., MM dengan SIA: 153/kanwil/SIA-78/ Lokasi dan Tata Ruang Lokasi Apotek Mediko Farma terletak di Jalan Pinang Raya No. 10, Pondok Labu, Jakarta Selatan. Apotek Mediko Farma berlokasi di perempatan jalan dengan badan jalan satu arah yang tidak terlalu lebar dan berada disamping pusat perbelanjaan di dekat kawasan pemukiman penduduk yang mudah dijangkau oleh kendaraan dan dilalui oleh angkutan umum. Apotek Mediko Farma dilengkapi pula dengan laboratorium klinik yang bersebelahan dengan apotek dan praktek dokter yang berada di lantai atas apotek. Praktek dokter terdiri dari dokter umum, dokter THT, dokter anak serta dokter kulit dan kelamin, sehingga dapat meningkatkan penerimaan resep di apotek. Papan nama apotek disertai nama laboratorium klinik dan praktek dokter nampak jelas di perempatan jalan dan di tempat parkir apotek sehingga membantu pelanggan baru untuk mencari lokasi Apotek Mediko Farma Tata Ruang Bangunan apotek terdiri dari tempat parkir pada halaman depan apotek, ruang bagian depan, dan ruang bagian belakang. Selain itu, apotek juga dilengkapi kamar mandi dan mushola untuk karyawan yang berada di bagian belakang apotek. Gambar bangunan apotek Mediko Farma, dapat dilihat pada Gambar 3.1. Ruang bagian depan terdiri dari ruang tunggu dilengkapi kursi-kursi yang ditata rapi dan nyaman serta mesin dispenser untuk para pengunjung, tempat 29 Universitas Indonesia

41 30 penerimaan resep dan pemberian harga obat bebas, tempat pembayaran obat resep maupun obat bebas (kasir), serta tempat pemajangan obat bebas (OTC) dan obat-obat fast moving. Penataan produk OTC dikelompokkan berdasarkan indikasi/ tujuan penggunaannya (batuk; flu; demam; sakit kepala; sakit perut; vitamin; sakit cacingan) dan bentuk sediaannya (solid, semisolid dan cair). Sediaan-sediaan yang banyak diminati pembeli diletakkan di bagian tengah etalase dan sejajar pandangan mata agar eye catching sehingga langsung dilihat oleh pengunjung yang masuk ke apotek. Selain itu, pada bagian paling atas lemari etalase terdapat beberapa box kosong berukuran besar dan mencolok yang dititipkan oleh perusahaan untuk dipajang di Apotek Mediko Farma sebagai bagian dari promosi pada setiap pelanggan yang datang ke apotek. Selain produk OTC, apotek juga menjual perlengkapan bayi, produk-produk susu, produk-produk herbal, produk-produk kosmetik yang digunakan sehari-hari, serta alat-alat kesehatan lainnya seperti masker, sarung tangan, dan alat tes kehamilan yang ditata dietalase bagian depan. Gambar ruang tunggu apotek, dapat dilihat pada Gambar 3.2. Ruang bagian belakang terdiri dari ruang peracikan, tempat administratif serta tempat pencucian. Ruang peracikan digunakan untuk kegiatan verifikasi resep, penyiapan obat, peracikan, pemberian etiket, penulisan kopi resep dan kuitansi pembayaran obat. Ruang ini terdiri dari sebuah meja besar yang diletakkan di tengah ruangan dan dikelilingi dengan lemari obat keras yang berderet membentuk huruf L di sekeliling ruangan. Penataan ruang peracikan dilakukan sedemikian rupa sehingga dapat dimanfaatkan sebaik mungkin dengan memperhatikan ruang gerak bagi para pekerja. Penataan obat keras dikelompokkan berdasarkan obat generik dan obat nama dagang, berdasarkan bentuk sediaannya, dan obat yang biasa diresepkan oleh dokter yang berpraktek di lantai atas apotek. Gambar ruang peracikan apotek dapat dilihat pada Gambar 3.3. Di ruang peracikan juga terdapat lemari narkotika, lemari pendingin untuk menyimpan obat-obat termolabil seperti supositoria, meja untuk menimbang disertai peralatan menimbang, lemari untuk menyimpan buku-buku literatur (Farmakope Indonesia, ISO, dan MIMS) serta wastafel. Selain itu, dirungan ini juga terdapat tempat untuk kegiatan administrasi seperti Universitas Indonesia

42 31 pemesanan obat kepada distributor dan pendataan perbekalan farmasi yang harus dipesan. Oleh sebab itu, ruang peracikan juga dilengkapi dengan dua buah computer, printer, telepon dan mesin fax. Denah tata ruang Apotek Mediko Farma terdapat pada Lampiran Struktur Organisasi dan Sumber Daya Manusia Apotek Mediko Farma memiliki 12 tenaga kerja, terdiri atas tenaga teknis farmasi dan tenaga non-teknis farmasi. Tenaga teknis farmasi terdiri dari satu orang Apoteker Pengelola Apotek sebagai pimpinan, satu orang apoteker pendamping yang merangkap manager keuangan dan tiga orang asisten apoteker. Tenaga non-teknis farmasi terdiri dari dua orang bagian administrasi (satu orang bagian pembelian dan satu orang bagian faktur), dua orang tenaga kasir, satu orang petugas kebersihan dan dua orang petugas keamanan. Bagan struktur organisasi apotek Mediko Farma dapat dilihat pada Lampiran 3. Apotek Mediko Farma beroperasi setiap hari Senin sampai Sabtu mulai pukul WIB, hari Minggu mulai pukul WIB, sedangkan hari libur nasional tutup Pengelolaan Perbekalan Farmasi Pengadaan Perbekalan farmasi Apotek Mediko Farma melakukan perencanaan setiap hari Minggu dan Kamis berdasarkan stok minimum dan penjualan di minggu sebelumnya. Perbekalan farmasi yang sudah hampir habis di buat daftar rencana pembelian pada buku defecta/buku pemesanan kemudian di serahkan ke bagian pembelian untuk dibuatkan surat pesanan. Pemesanan dilakukan menggunakan surat pesanan langsung kepada petugas PBF yang bersangkutan atau melalui telepon langsung ke PBF yang dimaksud. Contoh surat pesanan dapat dilihat pada Lampiran 4. Pemesanan dan pembelian dilakukan setiap hari Senin dan Kamis oleh bagian pembelian yang bertanggung jawab langsung kepada APA. Surat pesanan perbekalan farmasi untuk obat keras, obat bebas terbatas dan obat bebas ditandatangani oleh Asisten Apoteker, sedangkan untuk obat psikoropik dan narkotik ditandatangani oleh APA. Pengadaaan perbekalan farmasi pada apotek Mediko Farma dilakukan dengan cara : Universitas Indonesia

43 32 a. Cash Order Delivery (COD) COD merupakan pembelian yang pembayarannya dilakukan langsung pada saat perbekalan farmasi yang dipesan datang. Metode ini dilakukan pengadaan perbekalan farmasi yang baru dan/atau sangat dibutuhkan oleh apotek pada keadaan tertentu. b. Kredit Kredit merupakan pembelian yang pembayarannya dapat dilakukan hingga batas waktu jatuh tempo yang telah ditetapkan oleh PBF pemasok yang telah disepakati bersama dengan pihak apotek. c. Konsinyasi Konsinyasi merupakan titipan perbekalan farmasi dari pemilik kepada apotek dimana apotek bertindak sebagai Agen Komisioner yang menerima komisi bila perbekalan farmasi tersebut terjual sampai batas waktu kadaluarsa atau batas waktu yang disepakati, dan bila perbekalan farmasi tersebut tidak laku maka perbekalan farmasi tersebut dapat dikembalikan kepada pemiliknya. Biasanya konsinyasi dilakukan untuk obat-obat yang masih baru dan belum dijual di apotek dan sedang dalam masa promosi, pembayaran dilakukan hanya terhadap perbekalan farmasi yang telah terjual. Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam melakukan kerjasama dengan PBF adalah ketepatan dan kecepatan dalam pelayanan, bertanggung jawab terhadap pesanan perbekalan farmasi apabila terjadi kerusakan, memberikan jaminan terhadap perbekalan farmasi pesanan, ada kepastian memperoleh perbekalan farmasi yang dipesan, diskon yang diberikan, dan lamanya tanggal jatuh tempo pembayaran Penerimaan Perbekalan farmasi Penerimaan perbekalan farmasi dilakukan setiap hari Senin dan Kamis pada jam operasional apotek oleh Asisten Apoteker. Pada saat penerimaan dilakukan pemeriksaan dokumen berupa kesesuaian antara surat pesanan dengan faktur, serta pemeriksaan fisik perbekalan farmasi yang diterima (tanggal kadaluarsa, keadaan fisik perbekalan farmasi, kode produksi/batch, dan lainlain). Apabila perbekalan farmasi yang diterima sesuai dengan surat pesanan, Universitas Indonesia

44 33 maka bagian pembelian atau asisten apoteker menandatangani dan memberi stempel apotek pada faktur. Selanjutnya, faktur asli diserahkan kembali ke PBF dan salinan faktur disimpan di apotek. Setiap hari Selasa dan Jum at PBF melakukan tukar faktur yaitu PBF memberikan faktur asli disertai faktur pajak kepada apotek untuk kemudian dibayarkan oleh apotek berdasarkan tanggal jatuh tempo faktur tersebut dan untuk contoh tanda terima faktur dapat dilihat pada Lampiran Penyimpanan Perbekalan farmasi Data mengenai perbekalan farmasi yang diterima kemudian dimasukkan ke dalam sistem komputer pada formulir penerimaan pesanan yang berisi antara lain tanggal pembelian, nama PBF, perbekalan farmasi yang diterima, tanggal kadaluarsa, potongan harga, dan harga. Setelah itu, perbekalan farmasi di tempatkan di etalase atau rak penyimpanan sediaan sesuai dengan kategori penyimpanannya. Apotek Mediko Farma melakukan penyimpanan perbekalan farmasi berdasarkan jenis perbekalan farmasi, penggolongan obat bebas dan obat resep (ethical), serta bentuk sediaan obat kemudian disusun menurut abjad. Penyimpanan obat bebas dikelompokkan pula berdasarkan indikasi/ farmakologi obat dan disusun sedemikian rupa dalam lemari kaca atau rak dengan perpaduan warna yang sesuai sehingga menarik perhatian pasien yang datang ke apotek. Obat resep (ethical) dikelompokkan pula berdasarkan generik, nama dagang dan obat yang sering diresepkan oleh dokter yang berpraktek di lantai atas apotek sehingga memudahkan pengambilan obat saat peracikan. Penyusunan perbekalan farmasi tersebut juga menggunakan sistem First In First Out (FIFO) dan First Expired First Out (FEFO). Penempatan obat sistem First In First Out (FIFO) yaitu perbekalan farmasi yang masuk lebih dulu diletakkan pada bagian yang paling depan dan/atau paling atas, agar memudahkan dalam pengambilan sehingga yang terlebih dahulu masuk akan keluar terlebih dahulu. Pada penyusunan obat berdasarkan sistem FEFO (First Expired First Out) yaitu perbekalan farmasi yang memiliki tanggal kadaluarsa terlebih dahulu diletakkan di bagian yang paling depan dan/atau paling atas, sehingga yang batas kadaluarsa lebih dulu akan keluar terlebih dahulu. Universitas Indonesia

45 34 Penyimpanan obat-obat khusus dilakukan pada tempat terpisah yaitu untuk obat golongan psikotropika dan narkotik disimpan di dalam lemari terkunci dan untuk jenis obat yang termolabil seperti supositoria disimpan dalam lemari pendingin Pengeluaran Perbekalan farmasi Apotek Mediko Farma melakukan pengeluaran perbekalan farmasi dengan sistem FEFO (First Expired First Out), yaitu perbekalan farmasi yang dikeluarkan terlebih dahulu adalah perbekalan farmasi yang memiliki batas kadaluarsa lebih awal Pembuatan Sediaan Standar (aanmaak) Apotek Mediko Farma juga melakukan pembuatan sediaan standar dan pengemasan kembali sediaan standar ke dalam wadah yang lebih kecil. Sediaan standar adalah obat-obat yang dibuat oleh apotek berdasarkan resep- resep standar dalam buku resmi untuk dijual bebas ataupun berdasarkan resep dokter. Sediaan standar ini dibuat untuk menyediakan sediaan yang jarang atau tidak terdapat di pasaran. Beberapa sediaan standar yang dibuat di Apotek Mediko Farma adalah obat batuk hitam, salep 24, AAV (Asam salisilat, Asam benzoat, dan Vaselin album), boorschudmixtuur (BSM), ichtyol zalf, rivanol, alkohol 70% dan bedak salisilat. Adapula sediaan standar yang dibeli dalam skala besar lalu dikemas kembali dalam skala kecil seperti minyak cengkeh, minyak sereh, garam inggris, dan vitamin. Sediaan standar ini ditempatkan di rak obat bebas dan disusun berdasarkan abjad Pelayanan Apotek Apotek Mediko Farma melakukan pelayanan resep dan pelayanan obat bebas dan komoditi lain di luar sediaan farmasi (perlengkapan bayi, produkproduk susu, produk-produk herbal, produk-produk kosmetik, serta alat-alat kesehatan). Pembayaran dapat dilakukan secara tunai, debit, ataupun kredit. Pembayaran secara tunai sama dengan pembayaran secara kredit, tetapi untuk pembayaran secara kredit, kuitansi pembayarannya tidak diserahkan ke pasien tetapi disimpan Apotek untuk dilakukan penagihan pada awal bulan berikutnya. Universitas Indonesia

46 Pelayanan Obat Bebas Apotek Mediko Farma melakukan pelayanan untuk obat bebas, obat bebas terbatas, dan obat DOWA (Daftar Obat Wajib Apotek) yaitu penjualan obat tanpa menggunakan resep dokter. Obat bebas ditandai dengan logo lingkaran berwarna hijau, obat bebas terbatas ditandai dengan logo lingkaran berwarna biru, sedangkan obat DOWA merupakan obat dengan logo lingkaran berwarna merah dengan huruf K ditengah yang tercantum didalam Daftar Obat Wajib Apotek. Jika pasien menginginkan kuitansi pembelian obat bebas apotek dapat memberikannya. Contoh kuitansi dapat dilihat pada Lampiran Pelayanan Obat Dengan Resep Apotek Mediko Farma melakukan pelayanan resep yaiu Asisten Apoteker menerima resep dari pasien, kemudian diperiksa ketersediaan obat dan dilakukan verifikasi resep (skrining resep) baik kelengkapan administratif, kesesuaian farmasetika dan kesesuaian farmakologi. Pelayanan resep dilakukan sesuai dengan HTKP (Harga, Timbang, Kemas, Penyerahan). Resep yang diterima diberikan harga berdasarkan harga yang terdapat pada sistem komputer, dimana untuk resep yang berasal dari dokter untuk dipakai sendiri atau pada keadaan tertentu lainnya, harga yang telah dihitung kemudian dikurangi diskon sejumlah yang ditentukan. Resep yang telah diberi harga diberikan kepada kasir untuk dibayar oleh pasien serta diberikan nomor urut resep. Resep dibawa ke bagian peracikan untuk disiapkan atau diracik oleh asisten apoteker. Resep yang telah selesai dikerjakan dikemas, diberi etiket, dan dilakukan pemeriksaan akhir oleh apoteker atau asisten apoteker. Kemudian obat yang telah siap diserahkan kepada pasien oleh apoteker atas asisten apoteker disertai dengan penyampaian informasi yang berkaitan dengan obat tersebut. Pada saat penyerahan obat apoteker atau asisten apoteker meminta nomor telepon dan alamat pasien untuk data tambahan. Bagan alur penerimaan resep dapat dilihat pada Lampiran 6. Resep yang obatnya hanya diambil sebagian akan diberi salinan resep yang ditandatangani oleh apoteker/asisten apoteker dan diberi stempel apotek. Contoh salinan resep dapat dilihat pada Lampiran 7. Jika pasien menginginkan Universitas Indonesia

47 36 kuitansi pembayaran obat resep, apotek akan memberikannya. Contoh kuitansi pembelian obat resep dapat dilihat pada Lampiran 8. Resep yang telah selesai diracik dikumpulkan dan disusun berdasarkan nomor urut resep per hari lalu disimpan selama 3 tahun Pelayanan Informasi Obat Pelayanan informasi obat di Apotek Mediko Farma sudah berjalan baik secara pasif maupun secara aktif namun masih terbatas. Pemberian informasi obat secara pasif yaitu pasien menanyakan tentang obat dan asisten apoteker/apoteker menjawab. Sedangkan secara aktif yaitu pemberian informasi pada saat penyerahan obat mengenai nama obat/ zat aktif yang terkandung didalamnya, kekuatan obat (mg/g), bentuk sediaan, indikasi obat, efek samping, interaksi obat, jadwal dan cara pemakaian, cara penyimpanan serta dosis obat Swamedikasi Kegiatan swamedikasi saat ini telah dilakukan di Apotek Mediko Farma. Obat-obat yang digunakan dalam swamedikasi meliputi Obat Wajib Apotek, obat bebas terbatas, dan obat bebas. Obat Wajib Apotek merupakan obat dengan lingkaran merah dengan huruf K pada bagian tengah yang masuk dalam daftar obat wajib apotek. Penyerahan obat DOWA dilakukan oleh apoteker dan harus disertai dengan pemberian informasi tentang penggunaan, manfaat dan efek samping yang ditimbulkan oleh obat, namun yang sering bertindak dalam swamedikasi adalah asisten apoteker Pelayanan Lain Pelayanan lainnya di Mediko Farma untuk meningkatkan pendapatan apotek antara lain: a. Penjualan produk-produk herbal dan kosmetik b. Penjualan alat-alat kesehatan c. Penjualan makanan ringan. d. Praktek dokter umum, dokter spesialis anak, dokter THT, dan dokter spesialis kulit dan kelamin. Universitas Indonesia

48 37 e. Laboratorium 3.6. Pengelolaan Obat Golongan Narkotika Pengadaan Obat Golongan Narkotika Pemesanan obaat-obat golongan narkotika dilakukan oleh bagian pembelian ke PBF Kimia Farma. Pembelian dilakukan dengan menggunakan Surat Pesanan Narkotika rangkap 4 yang telah ditandatangi oleh APA dengan mencantumkan nama jelas, nomor SIK, nomor SIA, jabatan, nama apotek serta stempel apotek. Dalam satu Surat Pesanan hanya berlaku untuk satu jenis narkotika. Contoh surat pesanan narkotika dapat dilihat pada Lampiran Penerimaan dan Penyimpanan Obat Golongan Narkotika Penerimaan narkotika yang dipesan, diterima oleh Apoteker/ Asisten Apoteker dengan mencantumkan nama jelas, SIK, tanda tangan, stempel apotek dan disertai tanggal dan waktu penerimaan narkotika. Apoteker akan menandatangani faktur tersebut setelah dilakukan pencocokan dengan surat pesanan. Obat-obat golongan narkotika disimpan dalam lemari kayu khusus yang terkunci berukuran panjang 19,5 cm, lebar 15,5 cm dan tinggi 39 cm. Penyimpanan obat golongan narkotika dipisahkan untuk penggunaan seharihari dan untuk persediaan, namun lemari penyimpanan obat golongan narkotika pada Apotek Mediko Farma masih diletakan pada area yang sering dilalui di dalam area apotek. Contoh sediaan narkotika yang terdapat di apotek adalah Codein tablet 10 dan 20 mg, Codipront dan Codipront cum expectorant kapsul serta Codipront dan Codipront cum expectorant sirup Pelayanan Obat Golongan Narkotika Apotek Mediko farma hanya melayani resep asli yang mengandung narkotika atau salinan resep yang berasal dari Apotek Mediko Farma sendiri untuk mengambil sisa obat dengan terlebih dahulu diskrining kelengkapan resepnya serta harus disertai stempel dokter yang jelas. Pada saat penyerahan obat kepada pasien harus dicantumkan nama, nomor telepon yang dapat dihubungi, dan alamat pasien yang jelas. Universitas Indonesia

49 Pelaporan Obat Golongan Narkotika Laporan pemakaian obat-obat golongan narkotika dibuat setiap bulan dan dilaporkan paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. Pelaporan dilakukan langsung ke Direktorat Jenderal Bina Farmasi dan Alat Kesehatan (Ditjen Binfar Alkes) secara online melalui situs sipnap.binfar.depkes.go.id. Sistem pelaporan ini merupakan sistem baru dimana apotek terlebih dahulu membuat account pada situs tersebut dan mengunduh form pelaporan narkotika yang dibuat Ditjen Binfar Alkes. Setelah laporan dikirim akan ada surat balasan dari Ditjen Binfar Alkes yang menyatakan telah menerima laporan. Pelaporan narkotika yang dilakukan di Mediko Farma hanya berupa laporan narkotika untuk sediaan jadi Pengelolaan Obat Golongan Psikotropika Pengadaan Obat Golongan Psikotropika Pemesanan obat-obatan golongan psikotropika dilakukan oleh bagian pembelian ke PBF dengan menggunakan Surat Pemesanan Psikotropika rangkap 3 yang telah ditandatangi oleh APA dengan mencantumkan nama jelas, nomor SIK, nomor SIA, jabatan, nama apotek serta stempel apotek. Dalam satu Surat Pesanan boleh lebih dari satu jenis obat. Secara lengkap Surat Pesanan Psikotropika dapat dilihat pada Lampiran Penerimaan dan Penyimpanan Obat Golongan Psikotropika Penerimaan psikotropika dapat dilakukan oleh apoteker/asisten apoteker yang mempunyai SIK dan bukti penerimaan psikotropika ditandatangani oleh Apoteker Pengelola Apotek/ Asisten Apoteker. Obat golongan psikotropika ini kemudian disimpan di dalam lemari khusus dan terjamin keamanannya, hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi penyalahgunaan. Contoh sediaan psikotropika yang terdapat di apotek Mediko Farma adalah analsik tablet, braxidin tablet, esilgan 2 mg, frisium 10 mg, frixitas 0,25 mg, lexotan 5 mg, stesolid 5 mg, stesolid rectal 5 dan 10 mg, valium 2 mg, valisanbe, xanax, bellaphen tablet, cetalgin, danalgin, diazepam 2 mg, librax, neurodial 5 mg, luminal 30 mg, proneuron dan spasmium 5 mg. Universitas Indonesia

50 Pelayanan Obat Golongan Psikotropika Obat psikotropika dapat diserahkan kepada pasien berdasarkan resep dokter atau salinan salinan resep dengan terlebih dahulu diskrining kelengkapan resepnya serta harus disertai stempel dokter yang jelas. Pada saat penyerahan obat kepada pasien harus dicantumkan nama, nomor telepon yang dapat dihubungi, dan alamat pasien yang jelas Pelaporan Obat Golongan Psikotropika Laporan penggunaan psikotropika di Apotek Mediko Farma sama seperti laporan narkotika dimana di laporkan paling lambat tanggal 10 dibulan berikutnya. Pelaporan dilakukan langsung ke Direktorat Jenderal Bina Farmasi dan Alat Kesehatan secara online melaui situs sipnap.binfar.depkes.go.id. Sistem pelaporan ini merupakan sistem baru dimana apotek terlebih dahulu membuat account pada situs tersebut dan menngunduh form pelaporan narkotika yang dibuat Ditjen Binfar Alkes. Setelah laporan dikirim akan ada surat balasan dari Ditjen Binfar Alkes yang menyatakan telah menerima laporan Kegiatan Non teknis Kefarmasian Dalam melaksanakan kegiatannya, Apotek tidak hanya menjalankan fungsi kefarmasian, tetapi juga menjalankan fungsi bisnis, yaitu melakukan kegiatan administrasi yang berfungsi untuk mencatat segala proses kegiatan kerja yang ada di apotek. Pengelolaannya dilakukan oleh bagian administrasi dan dibantu oleh bagian pembelian, kasir serta Asisten Apoteker yang kemudian diperiksa oleh manajer Kegiatan Administrasi Kegiatan administrasi yang dilakukan di Apotek Mediko Farma meliputi: a. Administrasi Personalia Apotek Mediko Farma melakukan kegiatan administrasi personalia yang berkaitan dengan semua hal mengenai urusan pegawai yang meliputi absensi, gaji, hak cuti, dan fasilitas lain yang berhubungan dengan karyawan. b. Administrasi Penjualan Apotek Mediko Farma melakukan kegiatan administrasi penjualan dengan Universitas Indonesia

51 40 melakukan pencatatan baik menggunakan sistem komputer maupun pencatatan manual terhadap semua penjualan obat bebas dan obat bebas terbatas (OTC) maupun obat keras (ethical) serta perbekalan kesehatan rumah tangga (PKRT) secara tunai atau debit. Selain itu, dilakukan juga pengaturan terhadap penentuan harga jual yang dimasukkan kedalam system komputer. Daftar harga jual inilah yang dijadikan sebagai acuan dalam pemberian harga jual pada pasien dan apabila terdapat perubahan harga pembelian dari PBF (Pedagang Besar Farmasi) maka harga yang terdapat pada daftar harga jual juga akan diubah. c. Administrasi Pembelian Kredit atau Hutang Dagang Apotek Mediko Farma melakukan pembelian produk dari PBF dengan cara tunai, kredit dan konsinyasi. Setiap PBF memberikan kebijaksanaan mengenai harga obat maupun diskon yang berbeda-beda kepada apotek. Pencatatan terhadap pembelian kredit dibuat berdasarkan faktur hutang yang masuk dari PBF ke apotek dan di buat dalam sebuah laporan oleh bagian administrasi untuk memudahkan pengawasan Sistem Administrasi Apotek Mediko Farma memiliki sistem administrasi untuk pengelolaan perbekalan farmasi mulai dari perencanaan, pengadaan, penerimaan, pelayanan dan pelaporan perbekalan farmasi yang masuk dan keluar. Pengelolaan ini dilakukan oleh bagian pembelian, administrasi dan asisten Apoteker. Kelengkapan administrasi di Apotek Mediko Farma meliputi : a. Buku Defekta Daftar nama obat atau sediaan yang habis atau hampir habis dicatat dalam buku defekta untuk segera dipesan agar dapat memenuhi kebutuhan di apotek. Keuntungan buku ini adalah dapat digunakan untuk mengecek perbekalan farmasi yang sudah atau hampir habis dan mempercepat proses pemesanan sehingga ketersediaan perbekalan farmasi di apotek dapat terkontrol dan terjamin dengan baik. b. Surat Pesanan (SP) Surat yang digunakan untuk memesan perbekalan farmasi yang diperlukan Universitas Indonesia

52 41 oleh apotek disebut Surat Pesanan yang terdiri dari 2 rangkap, dimana yang asli diserahkan pada pihak distributor sedangkan salinannya merupakan SP pertinggal di apotek untuk menyesuaikan perbekalan farmasi yang datang dengan perbekalan farmasi yang dipesan. Surat Pesanan ditandatangani asisten apoteker apabila akan melakukan pemesanan perbekalan farmasi. Dalam surat pesanan, terdapat tanggal pemesanan serta nama PBF yang ditunjuk. c. Daftar harga sediaan farmasi di apotek Daftar harga jual apotek berasal dari harga yang diberikan PBF ditambah dengan pajak dan margin. Harga ini dapat diketahui dari daftar harga pada sistem komputer dan sistem manual/ hardcopy. Pada sistem ini tercantum nama obat (merk dagang atau generik) yang disusun secara alfabetis serta spesifikasi produk sperti kekuatan dan volume sediaannya. d. Sistem administrasi pembelian dan faktur Penerimaan perbekalan farmasi diinput dalam sistem komputer dengan mencantumkan tanggal, nama perbekalan farmasi, jumlah perbekalan farmasi, nama PBF, nomor faktur, tanggal jatuh tempo faktur, nomor batch, tanggal kadaluarsa, harga satuan, diskon yang diperoleh, total harga dan total pembayaran. Pencatatan ini dilakukan saat perbekalan farmasi datang berdasarkan faktur pengiriman perbekalan farmasi dari PBF. Nomor faktur dari pembelian pada PBF berisikan nomor faktur, tanggal pembelian, nama PBF, tanggal jatuh tempo, dan jumlah pembelian. Ketika dilakukan pembayaran faktur, maka ditulis tanggal dan waktu pembayaran pada faktur yang sudah dibayar. e. Buku catatan penggunaan narkotika dan psikotropika Buku ini berfungsi untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran obat-obat golongan narkotika dan psikotropika, yang berisikan nama obat, bulan, persediaan awal, penambahan jumlah yang meliputi tanggal pembelian, jumlah, nama PBF, pengurangan dan sisa serta keterangan lain jika ada. Catatan harian narkotika dan psikotropika meliputi nomor resep, nama pasien, alamat pasien, nama dokter, alamat dokter, jumlah obat yang diresepkan dan sisa obat (dalam satuan tablet). Universitas Indonesia

53 BAB 4 PEMBAHASAN Apotek adalah suatu jenis bisnis eceran (retail) yang komoditasnya (barang yang diperdagangkan) terdiri dari perbekalan farmasi (obat dan bahan obat) dan perbekalan kesehatan (alat kesehatan). Seorang apoteker dalam menjalankan profesi apotekernya di apotek tidak hanya pandai sebagai penanggung jawab teknis kefarmasian saja. Apoteker juga dituntut dapat mengelola apotek sesuai dengan prinsip-prinsip bisnis yang dapat memberikan keuntungan kepada pihakpihak yang memiliki kepentingan (stake holder) tanpa harus menghilangkan fungsi sosialnya di masyakat) Lokasi dan Bangunan Apotek Apotek Mediko Farma berlokasi di Jalan Pinang Raya nomor 10, Pondok Labu, Jakarta Selatan. Apotek ini telah beroperasi melayani masyarakat selama hampir 36 tahun. Apotek ini dilengkapi dengan laboratorium klinik dan beberapa praktek dokter, mulai dari dokter umum dan dokter spesialis (spesialis anak, spesialis kulit dan kelamin, dan spesialis THT). Lokasi apotek dinilai cukup strategis. Apotek ini terletak dipertigaan jalan yang cukup ramai karena berada disamping pusat perbelanjaan yang difasilitasi oleh ATM dan dilalui kendaraan, termasuk kendaraan umum, sehingga mudah untuk dicapai pembeli. Lokasi yang strategis juga didukung dengan keberadaan sarana kesehatan lain di sekitar apotek, seperti Rumah Sakit Fatmawati, Rumah Sakit Bersalin Bina Sehat, Rumah Sakit Umum Prikasih, pemukiman penduduk yang cukup padat, serta keberadaan apotek pesaing yang cukup jauh letaknya. Desain eksterior Apotek Mediko Farma sudah cukup baik. Hal ini dapat terlihat dari papan nama petunjuk keberadaan apotek yang cukup jelas dan besar. Meskipun bangunan apotek sudah lama, namun bangunan apotek tetap terlihat bersih dan terawat. Selain itu, apotek ini memiliki halaman yang cukup luas yang dapat digunakan sebagai tempat parkir dengan kapasitas dua buah mobil dan beberapa sepeda motor. Adanya beberapa tanaman di halaman membuat apotek 42 Universitas Indonesia

54 43 terasa sejuk, asri, dan hijau. Bagian depan apotek terdiri dari jendela yang terbuat dari kaca yang bening namun agak tertutup dengan adanya beberapa banner produk sehingga alangkah baiknya jika banner produk tidak diletakkan di depan jendela agar pembeli dapat melihat desain interior apotek dan produk-produk yang ada di dalam apotek. Dari segi desain interior, Apotek Mediko Farma dapat dinilai memiliki desain yang baik. Bangunan apotek terbagi menjadi dua ruangan, yaitu ruang bagian depan dan ruang bagian belakang. Ruangan dalam Apotek Mediko Farma diberi cat warna putih sehingga memberi kesan bersih dan tenang. Penerangan yang ada pun sudah cukup baik dan tidak menyebabkan panas. Ruang bagian depan apotek digunakan sebagai counter untuk penerimaan resep, penyerahan obat, kasir, penerimaan pembelian dari PBF, dan ruang tunggu yang memiliki 16 buah kursi. Jumlah kursi ini sudah cukup untuk menampung pasien yang menunggu karena jumlah pelayanan resep per hari yang cukup banyak terutama saat sore hari ketika praktek dokter sudah dimulai. Ruang tunggu juga terjaga bersih, sudah dilengkapi pendingin ruangan atau air conditioner (AC), jam dinding, dan tersedia pula brosur dan majalah kesehatan serta air minum gratis untuk meningkatkan kenyamanan pelanggan selama menunggu obat. Penempatan obat bebas dan obat bebas terbatas pada etalase di ruang depan apotek sudah baik. Produk yang eye catching diletakkan dibagian yang dapat terlihat jelas oleh konsumen. Sedangkan, untuk obat bebas dan obat terbatas lain disusun berdasarkan farmakologi dan bentuk sediaan sehingga memberikan kenyaman dan kemudahan bagi karyawan maupun pembeli. Ruang bagian belakang digunakan untuk lemari penyimpanan obat keras (generik maupun paten), ruang racik dan ruang kerja dengan luas yang cukup untuk pekerjaan meracik. Ruang bagian belakang juga dilengkapi AC yang menjaga suhu ruangan untuk menjamin stabilitas obat selama penyimpanan dan kenyamanan tenaga kerja dalam melakukan pekerjaannya. Desain ruang racik Apotek Mediko Farma menempatkan meja racik pada bagian tengah di antara lemari obat akan mempermudah pekerjaan peracikan obat. Meja kerja diletakkan di sudut ruangan agar tidak mengganggu pekerjaan meracik obat. Universitas Indonesia

55 44 Pada ruang racik juga dilengkapi dengan wastafel yang dapat digunakan sebagai tempat pencucian alat dan kulkas yang berada disamping meja kerja untuk menyimpan obat-obat yang stabil pada suhu dingin sedangkan toilet untuk karyawan berada dibelakang ruang racik Sumber Daya Manusia di Apotek Apotek Mediko Farma memiliki 12 tenaga kerja, terdiri atas tenaga teknis farmasi dan tenaga non-teknis farmasi. Tenaga teknis farmasi terdiri dari satu orang Apoteker Pengelola Apotek sebagai pimpinan, satu orang apoteker pendamping yang merangkap manager keuangan dan tiga orang asisten apoteker. Tenaga non-teknis farmasi terdiri dari dua orang bagian administrasi (satu orang bagian pembelian dan satu orang bagian faktur), dua orang tenaga kasir, satu orang petugas kebersihan dan dua orang petugas keamanan. Bagan struktur organisasi apotek Mediko Farma dapat dilihat pada Lampiran 3. Tenaga kerja Apotek Mediko Farma bekerja secara bergantian berdasarkan jam kerja yang telah dibagi menjadi dua shift, yaitu shift pertama pukul WIB dan shift kedua pukul WIB. Sedangkan untuk hari minggu hanya ada satu shift selama 12 jam dan tenaga kerja dianggap lembur. Tabel 4.1. Pembagian Shift Asisten Apoteker Pagi ( WIB) Siang ( WIB) Lembur ( WIB) Senin - Sabtu 1 orang 2 orang - Minggu orang Berdasarkan pembagian shift tersebut, terdapat perbedaan jumlah sumber daya manusia yaitu pada jumlah asisten apoteker yang bertugas, pembagian jumlah asisten apoteker pada masing-masing shift dapat dilihat pada Table 4.1. Pembagian shift ini sudah cukup efektif mengingat jam ramai apotek berkisar pada waktu sore hingga malam karena adanya praktek dokter sehingga sumber daya manusia pada shift kedua lebih banyak dibandingkan shift pertama Pengelolaan Perbekalan Farmasi Proses pengadaan perbekalan farmasi di Apotek Mediko Farma dilakukan melalui pembelian secara kredit, tunai ataupun konsinyasi, dengan Universitas Indonesia

56 45 memperhatikan arus barang (slow moving atau fast moving) dan arus uang. Setiap hari dilakukan pemeriksaan terhadap jenis persediaan obat yang mulai menipis dan mencegah stok kosong (stock out). Pembuatan defekta dilakukan setiap hari Minggu dan Kamis dan dibuat berdasarkan stok minimum serta penjualan pada minggu sebelumnya. Perbekalan farmasi yang akan atau sudah habis tersebut kemudian dicatat kedalam buku defekta/buku pemesanan lalu disusun berdasarkan PBF yang menyediakan obat-obat tersebut dengan tujuan untuk mempermudah pemesanan dan melakukan pemilihan PBF. Jika suatu obat tersedia pada lebih dari satu PBF, maka dasar pemilihan PBF yang diterapkan adalah faktor harga (potongan harga) dan kecepatan pengiriman. Buku defekta/buku pemesanan kemudian di serahkan ke bagian pembelian untuk dibuatkan Surat Pesanan. Pemesanan perbekalan farmasi dilakukan setiap hari Senin dan Kamis tetapi untuk obat-obat keperluan mendesak (cito) dan fast moving dapat dilakukan kapan saja saat persediaan menipis karena perputaran barang lebih cepat dan untuk mencegah stok kosong maupun adanya death stock (stok mati) atau obat yang kadaluarsa (akibat terlalu lama disimpan) sehingga kerugian apotek dapat ditekan. Pemesanan obat ke distributor dilakukan melalui telepon maupun melalui sales yang datang ke apotek. Pemesanan seminggu dua kali memberikan keuntungan bagi apotek dalam hal mengurangi penumpukan yang dapat mengganggu aliran kas. Umumnya lama pengiriman barang dari distributor ke apotek kurang dari satu hari sehingga tidak ada waktu tenggang (lead time) yang panjang. Apotek Mediko Farma tidak menyediakan stok pengaman (buffer stock) bagi perbekalan famasi yang dijual kecuali untuk obat generik. Berdasarkan hasil pengamatan, pengadaan perbekalan farmasi di Apotek Mediko Farma sudah berjalan cukup baik dan efektif. Namun, belum adanya perencanaan dalam penyediaan stok pengaman (buffer stock) dan perhitungan stok minimum sebagai acuan pemesanan terkadang menyebabkan adanya kekosongan perbekalan farmasi. Dalam mengatasi hal tersebut, apotek menawarkan obat pengganti namun atau menawarkan kepada pelanggan untuk memesan terlebih dahulu kemudian mengambilnya keesokan hari penawaran ini tidak selalu diterima oleh seluruh pelanggan. Hal ini dapat merugikan apotek karena apotek Universitas Indonesia

57 46 kehilangan penjualan dan membuat pelanggan kecewa. Selain itu, tidak adanya stok pengaman menyebabkan peningkatkan beban kerja apotek dan biaya administrasi karena pembelian barang dalam jumlah sedikit sehingga tidak mendapatkan diskon dari distributor. Oleh sebab itu, sebaiknya dilakukan perhitungan stok minimum sebagai acuan pemesanan dan pemilahan perbekalan farmasi yang dapat disediakan stok pengamannya sehingga dapat menekan kekosongan perbekalan farmasi dan memperlancar kegiatan pelayanan. Penyimpanan perbekalan farmasi di Apotek Mediko Farma telah sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1027/MENKES/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, yaitu persediaan farmasi harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik dan semua bahan obat harus disimpan pada kondisi yang sesuai untuk menjamin kestabilannya. Hal ini dilakukan agar mudah dilakukan identifikasi dan penarikan obat jika ada informasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan terhadap obat yang tidak sesuai dengan persyaratan; mengetahui waktu kadaluarsa dan obat dapat dikembalikan kepada distributor dengan wadah asli pabrik sesuai perjanjian. Sistem penyimpanan perbekalan farmasi dilakukan berdasarkan sistem FEFO (First Expired First Out) atau FIFO (First In First Out). Gudang untuk penyimpanan stok obat hanya ada untuk obat generik. Gudang ini berada di lemari yang sama dengan penyimpanan obat generik tersebut, hanya saja lokasinya berada di bagian bawah. Untuk narkotika dan psikotropika, harus memiliki lemari penyimpanan khusus. Akan tetapi, di Apotek Mediko Farma, penyimpanan narkotika dan psikotropika masih digabung dalam satu lemari meskipun letaknya dipisahkan. Lemari penyimpanan tersebut terbuat dari kayu namun hanya terdapat satu pintu dengan satu kunci. Hal ini masih belum sesuai dengan Permenkes No. 28/Menkes/Per/1978 pasal 5 dan 6 dijelaskan bahwa apotek harus memiliki tempat khusus untuk menyimpan narkotika, yang seharusnya lemari tersebut mempunyai kunci ganda yang berlainan; lemari dibagi dua sekat, masingmasing dengan kunci yang berlainan. Pengontrolan tanggal kadaluarsa secara visual belum diberlakukan di apotek ini. Pengontrolan tanggal untuk obat-obat yang disimpan di ruang peracikan dilakukan dua kali seminggu saat pendataan defekta. Sedangkan, Universitas Indonesia

58 47 pengontrolan tanggal kadaluarsa untuk produk OTC hanya dilakukan saat penerimaan barang dari distributor. Hal tersebut berisiko menimbulkan kerugian akibat tidak terkontrolnya obat yang telah mendekati kadaluarsa dan belum terjual. Persediaan farmasi yang telah kadaluarsa dikumpulkan pada awal tahun untuk dihitung kerugiannya. Selanjutnya, produk kadaluarsa ini dimusnahkan dengan disaksikan oleh karyawan apotek. Penataan di apotek ini dilakukan untuk memberikan kemudahan dan efisiensi karyawan apotek dalam bergerak karena semua produk yang dijual di apotek hanya bisa dijangkau oleh karyawan apotek. Untuk produk-produk yang dijual di apotek ini tidak terbatas pada obat-obat bebas, terbatas maupun keras. Produk-produk yang dijual dapat berupa persediaan farmasi maupun non farmasi. Persediaan farmasi yang dijual meliputi obat, alat kesehatan, dan produk herbal.sedangkan, produk non farmasi yang dijual di apotek yaitu kosmetik, produk kebersihan, serta kebutuhan bayi. Penataan produk-produk tersebut berada di area produk OTC yang mudah terlihat oleh pengunjung dan disusun berdasarkan kegunaannya. Adanya alat kesehatan dan produk non farmasi menjadi salah satu keunggulan bagi apotek, selain untuk memudahkan pelangan mendapatkan kebutuhannya, juga dapat meningkatkan pendapatan apotek diluar pelayanan obat resep Pelayanan Kefarmasian di Apotek Pekerjaan kefarmasian lainnya yang dilakukan di apotek adalah pelayanan atas resep dokter. Pada bagian peracikan sediaan diperlukan ketepatan, ketelitian dan kecepatan dari SDM untuk melayani resep dengan baik. Dalam pelaksanaannya asisten apoteker yang melakukan peracikan, penyerahan obat hingga pelayanan informasi obat ke pasien. Apotek Mediko memiliki alur pelayanan untuk pelayanan atas resep dokter, yaitu 1. Resep dokter yang diterima diberikan kepada AA atau Apoteker. 2. AA atau Apoteker memasukkan daftar obat dan jumlah yang dibutuhkan sesuai resep ke dalam sistem komputer untuk memberikan penomoran dan melihat biaya atas resep tersebut. 3. Biaya atas resep diinformasikan kepada pasien. Universitas Indonesia

59 48 4. Jika pasien setuju dengan harganya, maka dilakukan pembayaran oleh pasien ke kasir. Pada tahap ini kasir memberikan nomor antrian, satu lembar diberikan ke pasien, satu lembar ditempel di resep. Jika pasien tidak setuju, resep dikembalikan ke pasien. 5. Resep yang sudah dibayar, diberikan kepada AA. 6. AA menyiapkan obat sesuai resep dalam satu wadah. Saat awal penyiapan, terlebih dahulu resep di-cap dengan cap HTKP. 7. Penyerahan obat dengan terlebih dahulu mencocokkan antara nomor yang dipegang oleh pasien dan nomor yang tertempel di resep. 8. Pemberian informasi obat terkait nama obat, kegunaan dan cara penggunaan. 9. Pencatatan nomor telepon pasien untuk semua jenis resep dan dilengkapi pencatatan alamat pasien untuk resep yang menuliskan obat psikotropika dan narkotika. 10. Resep asli disimpan oleh pihak Apotek, namun untuk reep yang dapat diulang, diberikan kopi resepnya ke pasien. Metode peracikan yang dilakukan sangat berpengaruh terhadap ketepatan dosis dan efek farmakologis yang akan dihasilkan dari obat yang diberikan pada pasien tersebut. Penggunaan alat penggerus pada peracikan puyer atau kapsul yang tidak teliti, yaitu mortir dan tablet crusher (mesin penghancur tablet), dapat mengurangi jumlah serbuk obat yang diracik. Pada peracikan puyer dan kapsul di apotek ini selalu menggunakan tablet crusher, sedangkan mortar dipakai untuk peracikan sediaan semi solid. Apabila sediaan puyer atau kapsul yang diracik dengan tablet crusher memiliki jumlah yang sedikit dan memiliki kandungan zat aktif yang juga sedikit, adanya kemungkinan ketidaktepatan dosis dari sediaan obat racikan menjadi lebih besar. Hal tersebut seharusnya dapat diminimalisir dengan pemilihan alat penggerus yang sesuai ketika dilakukan peracikan obat. Pada saat peracikan masih terjadi kesalahan seperti digunakannya sediaan salut, baik salut gula maupun salut enterik untuk kemudian diracik menjadi sediaan kapsul atau puyer. Solusi yang seharusnya dilakukan yaitu menghubungi dokter penulis resep untuk merekomendasikan pergantian bentuk sediaan obat dalam resep menjadi sediaan konvensional. Dalam proses peracikan sediaan juga harus diperhatikan faktor kebersihan dan keamanan bagi tenaga teknis Universitas Indonesia

60 49 kefarmasian yang melakukan peracikan sediaan. Dalam pelaksanaannya, tenaga teknis kefarmasian sudah melengkapi diri dengan alat pelindung diri seperti masker. Namun, penggunaan alat pelindung diri lain saat peracikan seperti sarung tangan belum dilakukan oleh tenaga teknis kefarmasian di apotek ini. Pemberian informasi obat pada saat penyerahan obat di apotek seringkali hanya meliputi kegunaan obat, aturan pakai, dan cara penggunaan obat. Hal ini dikarenakan banyaknya obat yang harus diberikan kepada pasien dalam waktu yang sama dan pasien biasanya menghendaki penyampaian informasi yang cepat. Namun, alangkah lebih baik lagi jika pemberian informasi obat pada saat penyerahan obat kepada pasien, sekurang-kurangnya meliputi cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi sehingga dapat mempercepat kesembuhan pasien dan sesuai dengan standar pelayanan di apotek yang ditetapkan. Apotek Mediko Farma dilengkapi dengan dua buah komputer dengan sistem yang tersambung pada internet dan sudah disesuaikan untuk keperluan apotek untuk membantu dalam pelayanan. Sistem komputer ini yang menjadi acuan dalam pemberian harga jual obat kepada pasien dan melihat stok obat. Berdasarkan pengamatan, sistem ini sudah efektif dalam membantu pelayanan di apotek. Namun, terkadang sistem ini mengalami masalah yang membuat loading menjadi lama dan hal ini berpengaruh pada pelayanan karena pasien perlu menunggu hingga sistem kembali normal. Hal ini tentunya memerlukan perhatian karena menyebabkan pembeli menunggu cukup lama dapat mempengaruhi kepuasan pelanggan terhadap kinerja apotek. Oleh sebab itu, alangkah lebih baik jika sistem komputer di-upgrade agar kecepatan pelayanan meningkat dan pada akhirnya dapat meningkatkan kepuasan konsumen dan membawa keuntungan bagi apotek. Konseling atau disebut juga dengan konsultasi, dilakukan ketika pasien meminta untuk berkonsultasi. Konseling dilakukan di tempat penyerahan obat biasanya oleh AA. Konseling bertujuan untuk dapat memperbaiki kualitas hidup pasien atau yang bersangkutan terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau penggunaan salah sediaan farmasi atau perbekalan kesehatan lainnya. Kegiatan Universitas Indonesia

61 50 pelayanan yang dilakukan di Apotek ini terbatas pada pemberian informasi obat dan konseling. Pelayanan berupa monitoring terapi baru dimulai dengan menuliskan riwayat pengobatan pasien di suatu formulir yang diisi oleh AA. Namun, untuk pemantauan secara rutin terhadap penggunaan obat oleh pasien tertentu belum dilakukan. Selain dengan resep, apotek juga memberikan pelayanan pembelian obat tanpa resep sebagai pelayanan pengobatan swamedikasi melalui UPDS (Upaya Pengobatan Diri Sendiri) sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan No. 347/Menkes/SKA/ll/1990 tentang Obat Wajib Apotik, Keputusan Menteri Kesehatan No. 924/Menkes/Per/X/1993 tentang Daftar Obat Wajib Apotik No. 2, dan Keputusan Menteri Kesehatan No. 1176/Menkes/SK/X/1999 tentang Daftar Obat Wajib Apotek No.3. Pelayanan yang ramah dan cepat merupakan salah satu faktor penting untuk kemajuan suatu apotek. Dalam hal kepuasan pasien mengenai waktu pelayanan, setiap karyawan apotek menjaganya dengan selalu memberitahukan kepada pasien tentang pelayanan resep yang agak lama jika terdapat racikan pada resep. Adanya program PKPA di Apotek Mediko Farma yang dilaksanakan selama 6 (enam) minggu telah banyak memberikan gambaran kepada calon apoteker tentang bagaimana seorang Apoteker seharusnya menjalankan profesinya di apotek. Tugas dan fungsi seorang apoteker di apotek tidak hanya berperan sebagai penanggung jawab teknis kefarmasian melainkan juga berperan dalam manajemen pengelolaan Apotek. Universitas Indonesia

62 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Berdasarkan program PKPA di Apotek Mediko selama 6 minggu, penulis dapat menyimpulkan: a. PKPA di apotek merupakan kegitatan yang tepat dan efektif untuk mengaplikasikan ilmu kefarmasian. b. Apoteker di apotek berperan sebagai penanggung jawab teknis kefarmasian sekaligus berperan dalam manajemen pengelolaan Apotek sehingga apotek dapat terus bertahan dan memberikan keuntungan bisnis. c. Kegiatan pengelolaan apotek di Apotek Mediko Farma sudah berjalan baik dalam segi pelayanan kefarmasian meliputi pelayanan resep dan nonresep hingga pemberian informasi kepada pasien, maupun sistem manajerial meliputi kegiatan menejemen pengadaan, penyimpanan, penjualan,dan sumber daya manusia Saran Untuk mempertahankan kinerja serta meningkatkan mutu pelayanan di apotek diperlukan upaya-upaya antara lain: a. Sebaiknya banner produk yang diletakkan di dekat jendela apotek dipindahkan agar pembeli dapat melihat desain interior apotek dan produk yang ada di dalam apotek sehingga dapat menarik pelanggan baru dan pada akhirnya meningkatkan penjualan apotek. b. Pengadaan perbekalan farmasi yang sudah berjalan dapat berjalan lebih baik dan efektif bila dilakukan perhitungan stok minimum sebagai acuan pemesanan dan pemilahan perbekalan farmasi yang dapat disediakan stok pengamannya sehingga dapat menekan kekosongan perbekalan farmasi dan memperlancar kegiatan pelayanan. c. Pengadaan lemari khusus tempat penyimpanan narkotika dan psikotropika agar sesuai dengan peraturan yang berlaku. 51 Universitas Indonesia

63 52 d. Sistem komputer perlu diupgrade kinerjanya sehingga pasien tidak perlu menunggu lama untuk mengetahui berapa jumlah uang yang harus dibayar untuk meningkatkan efisiensi kerja dan kepuasan pelanggan. Universitas Indonesia

64 DAFTAR ACUAN Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2006a). Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2006b). Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas. Jakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2009). Sistem Pelaporan Penggunaan Sediaan Jadi Narkotika dan Psikotropika Nasional. Jakarta. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (1978). Peraturan Menteri Kesehatan No.28/Menkes/Per/I/1978 tentang Tata Cara Penyimpanan Narkotika. Jakarta. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (1990). Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 347/Menkes/SK/VII/1990 Tentang Obat Wajib Apotik. Jakarta. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (1993a). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 919/Menkes/Per/X/1993. Jakarta. Menteri Kesehatan Republik Indonesia.(1993b). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 922/Menkes/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta. Menteri Kesehatan Republik Indonesia.(1993c). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 924/Menkes/Per/X/1993 Tentang Daftar Obat Wajib Apotik No. 2. Jakarta. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (1993d). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 925/Menkes/Per/X/1993 Tentang Daftar Perubahan Golongan Obat No. 1. Jakarta. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (1999). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 1176/Menkes/Per/X/1993 Tentang Daftar Obat Wajib Apotik No.3. Jakarta. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2002). Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1332/MenKes/SK/X/2002 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No.922/MenKes/Per/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2004). Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta. Presiden Republik Indonesia. (1997). Undang-undang No.5 tahun 1997 tentang Psikotropika. Jakarta. 53 Universitas Indonesia

65 54 Presiden Republik Indonesia. (2009a). Undang-undang No.35 tahun 2009 tentang Narkotika. Jakarta. Presiden Republik Indonesia.(2009b). Undang-undang No.36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Jakarta. Presiden Republik Indonesia. (2009c). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta Universitas Indonesia

66 GAMBAR

67 55 Gambar 3.1. Bangunan Apotek Mediko Farma Gambar 3.2. Ruang Tunggu dan Etalase di Apotek Mediko Farma

68 56 Gambar 3.3. Ruang Peracikan di Apotek Mediko Farma Keterangan : (a) Tablet crusher (mesin penghancur tablet) (b) Sealing machine (mesin pengemas) (c) Medicine packet (pembungkus puyer) (d) Plastic spoon (sendok plastik) Gambar 3.4. Alat-Alat Peracikan Puyer di Apotek Mediko Farma

69 LAMPIRAN

70 57 Lampiran 1. Peta Lokasi Apotek Mediko Farma Pondok Labu

71 58 Lampiran 2. Denah Bangunan Apotek Mediko Farma

72 59 Lampiran 3. Bagan Struktur Organisasi Apotek Mediko Farma

73 60 Lampiran 1. Format Surat Pesanan Apotek Mediko Farma

74 61 Lampiran 5. Tanda Terima Faktur

75 62 Lampiran 6. Alur Penerimaan Resep

76 63 Lampiran 7. Salinan Resep

77 64 Lampiran 8. Kuitansi Pembelian Obat Resep

78 65 Lampiran 9. Kuitansi Pembelian Obat Bebas

79 66 Lampiran 10. Format Surat Pesanan Obat Golongan Narkotika

80 67 Lampiran 11. Format Surat Pesanan Obat Golongan Psikotropika

81 UNIVERSITAS INDONESIA EFEK SAMPING DAN KONTRAINDIKASI DAFTAR OBAT DI APOTEK MEDIKO FARMA TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER YESSICA LISYANA, S.Farm ANGKATAN LXXVI FAKULTAS FARMASI PROGRAM PROFESI APOTEKER DEPOK JUNI 2013

82 DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR GAMBAR... iii DAFTAR LAMPIRAN... iv BAB 1. PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan... 2 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA Efek Samping Kontra Indikasi Daftar Obat di Apotek Mediko Farma... 5 BAB 3. METODE PENGKAJIAN Waktu dan Tempat Metode Pengkajian... 6 BAB 4. PEMBAHASAN... 7 BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran... 9 DAFTAR ACUAN ii Universitas Indonesia

83 DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1. Bagan klasifikasi ESO berdasarkan reaksi imunologi... 3 Gambar 2. Bagan klasifikasi ESO berdasarkan aksi farmakologi... 3 iii Universitas Indonesia

84 DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1. Daftar Obat di Apotek Mediko Farma iv Universitas Indonesia

85 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Peningkatan taraf kesehatan dapat dicapai dengan meningkatkan pembangunan kesehatan. Berdasarkan UU no. 23 tahun 1992 tentang kesehatan, bahwa salah satu unsur penyelenggaraan upaya kesehatan yaitu sarana kesehatan. Sarana kesehatan meliputi balai pengobatan, rumah sakit dan apotek. Undang-undang atau peraturan merupakan hal penting yang harus diketahui apoteker beserta staf di apotek dalam mengelola perbekalan farmasi di apotek. Sebab pengelolaan yang menyimpang dari ketentuan peraturan yang berlaku akan memperoleh sanksi pidana. Seorang apoteker dalam menjalankan usaha apotek harus mampu mengembangkan apoteknya, tetapi tidak melupakan fungsi sosialnya. Pertimbangannya adalah bahwa konsumen tidak mengerti tentang obat sehingga apoteker dan stafnya dapat menginformasikan dan melayani kebutuhan obat sesuai dengan kemampuan setiap konsumennya yang datang ke apoteknya (Umar, 2004). Obat tidak hanya memiliki efek yang menguntungkan, tetapi juga merugikan. Efek samping adalah efek yang tidak diinginkan yang timbul dari penggunaan obat pada dosis yang dianjurkan. Efek samping obat dapat menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan pada pasien, yaitu memperburuk keadaan penyakit atau efek fatal lainnya. Reaksi ini dapat terjadi pada dosis yang biasanya digunakan untuk pencegahan maupun pengobatan penyakit. Tingginya angka kejadian efek samping obat perlu mendapatkan perhatian yang besar, salah satunya dengan melakukan pengawasan (Syamsudin, 2011). Apotek yang mengadakan pengelolaan farmasi yang bertanggung jawab atas pekerjaan dan pelayanan kefarmasian yang terdiri atas perencanaan, pengadaan, produksi, penyimpanan, perbekalan kesehatan barang farmasi, mengelola dan mendistribusikannya ke pasien, bertanggung jawab atas semua barang farmasi yang beredar di apotek dan berperan dalam memberikan informasi obat bagi pasien agar tercapai ketepatan penggunaan obat dan dapat menghindari kesalahan penggunaan obat. 1 Universitas Indonesia

86 2 1.2 TUJUAN Mengetahui obat-obatan yang tersedia di apotek Mediko Farma dan mengetahui efek samping dari penggunaan obat dan kontra indikasinya. Universitas Indonesia

87 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Efek Samping Efek samping adalah setiap efek yang tidak dikehendaki yang merugikan atau membahayakan pasien (adverse reactions) dari suatu pengobatan. Efek samping tidak mungkin dihindari/dihilangkan sama sekali, tetapi dapat ditekan atau dicegah seminimal mungkin dengan menghindari faktor-faktor risiko yang sebagian besar sudah diketahui (Anonim, nd). Klasifikasi Efek Samping Obat (Anonim, nd) : 1. Berdasarkan Reaksi Immunologi dan Non Immunologi Gambar 1. Bagan klasifikasi ESO berdasarkan reaksi imunologi 2. Berdasarkan Tipe Aksi Farmakologi Gambar 2. Bagan klasifikasi ESO berdasarkan aksi farmakologi Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya Efek Samping Obat (ESO). Faktor-faktor tersebut meliputi (Anonim, nd) : 3 Universitas Indonesia

88 4 1. Umur Pasien lanjut usia akan lebih sering mengalami ESO dibandingkan pasien yang lebih muda. Hal ini dimungkinkan karena pasien lanjut usia lebih sering mendapatkan terapi obat dimana pasien lansia mengalami beberapa penyakit sekaligus (komplikasi). Neonatus, khususnya yang prematur, juga berisiko lebih tinggi untuk mengalami ESO. Pada tahap neonatus ini enzim-enzim yang terlibat dalam metabolisme dan distribusi obat masih belum berkembang sempurna. Oleh karena itu obat-obat dengan indeks terapi sempit perlu digunakan dengan lebih berhatihati. 2. Jenis kelamin Reaksi obat yang tidak dikehendaki lebih sering terjadi pada wanita dibanding pria. Namun belum ada penjelasan mengapa hal ini bisa terjadi. Contoh wanita lebih mudah mengalami kelainan sel darah bila menggunakan fenilbutazon dan kloramfenikol. 3. Genetik Perbedaan genetik mungkin dapat mempengaruhi proses pengobatan di dalam tubuh. Sebagai contoh, perbedaan secara genetik tampak dalam laju metabolisme pada banyak obat sehingga meskipun obat diberikan dalam dosis yang sama akan menghasilkan variasi kadar yang sangat besar di dalam plasma pada pasien yang berbeda. 4. Penyakit Adanya penyakit lain yang menyertai dapat mempengaruhi respons obat dan munculnya ESO secara bermakna melalui perubahan proses farmokokinetika. Penderita yang mengalami risiko ESO lebih tinggi dari obat-obat yang dieliminasi melalui rute ini. Keadaan hamil dan melahirkan seringkali mempengaruhi respons obat. Penyakit lain juga mempengaruhi penderita terhadap terjadinya ESO, misalnya penderita yang positif mengidap HIV atau AIDS yang menggunakan kotrimoksazol. Universitas Indonesia

89 5 2.2 Kontra Indikasi Kontra indikasi adalah suatu situasi tertentu di mana obat tidak boleh digunakan karena dapat membahayakan pasien. Ada dua jenis kontraindikasi (Vorvick, 2013) : 1. Kontra indikasi relatif berarti bahwa ketika dua obat atau prosedur yang digunakan bersama-sama dalam penggunaannya harus diperhatikan. (Hal ini dapat dilakukan jika manfaat lebih besar daripada risiko.) 2. Kontra indikasi absolut berarti bahwa peristiwa atau zat bisa menyebabkan situasi yang mengancam jiwa. Obat yang berada di kategori ini harus dihindari. Beberapa pengobatan dapat menyebabkan reaksi yang tidak diinginkan atau berbahaya pada orang dengan alergi, tekanan darah tinggi, atau kehamilan. Misalnya, isotretinoin, obat yang digunakan untuk mengobati jerawat adalah mutlak dikontraindikasikan pada kehamilan karena risiko cacat lahir. Dekongestan tertentu kontraindikasi pada orang dengan tekanan darah tinggi dan harus dihindari. Banyak obat tidak boleh digunakan bersama-sama oleh orang yang sama. Misalnya, orang yang mengambil warfarin untuk mengencerkan darah sebaiknya tidak menggunakan aspirin, yang merupakan pengencer darah. Ini adalah contoh dari kontraindikasi relatif. 2.3 Daftar Obat di Apotek Mediko Farma Daftar obat di apotek dimaksudkan untuk menunjang pelayanan pengobatan terhadap pasien agar kebutuhan pasien dapat terpenuhi. Pedoman efek samping dan kontraindikasi yang ditambahkan agar mempermudah pelaksanaan pada saat di lapangan. Sehingga apoteker atau asisten apoteker yang menyerahkan obat dipermudah dalam memberikan informasi tentang efek samping dan kontraindikasi sehingga obat tersebut tepat diberikan kepada pasien dan menghindari terjadi kesalahan dalam memberikan obat. Universitas Indonesia

90 3.1 Waktu dan Tempat BAB 3 METODELOGI PENGKAJIAN Pengambilan data dilakukan apotek Mediko Farma dari tanggal 26 Februari 28 Maret Metode Pengkajian obat. Data diambil dari studi literatur seperti ISO, MIMS, martindale dan brosur 6 Universitas Indonesia

91 BAB 4 PEMBAHASAN Berdasarkan obat yang ada pada daftar obat yang ada di apotek Mediko Farma maka efek samping yang paling banyak ditemukan pada keseluruhan obat antara lain gangguan GI seperti mual, muntah dan diare. Diare adalah suatu kondisi yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi buang air besar dibandingkan biasanya. Anjuran yang dapat diberikan ke pasien adalah asupan nutrisi (makanan) harus diteruskan untuk mencegah atau meminimalkan gangguan gizi yang terjadi. Banyak minum air, konsumsi produk susu dihindari dan segera ke dokter bila mengalami tanda-tanda dehidrasi. Untuk mengatasinya dapat diberikan obat antidiare, baik itu adsorben dan pembentuk massa, antidiare narkotik, kombinasi antibakterial dan elektrolit (Pramudianto dan Evaria, 2011). Mual adalah sensasi subjektif yang tidak menyenangkan dan sering mendahului muntah. Mual disebabkan distensi atau iritasi di bagian mana saja di saluran GI, tetapi juga dapat distimulasi oleh pusat otak. Muntah adalah refleks kompleks yang diperantarai pusat muntah di medula oblongata otak. Hipoksia dan nyeri juga dapat menstimulasi muntah dengan mengaktivasi pusta muntah. Muntah juga dapat terjadi melalui stimulasi langsung bagian otak yang terletak dekat dengan pusat muntah di otak. Gejala-gejala tertentu biasanya mendahului muntah, termasuk mual, takikardi dan berkeringat (Corwin, 2007). Sedangkan untuk kontra indikasi yang paling banyak ditemukan pada keseluruhan obat adalah bila pasien hipersensitif terhadap obat tertentu. Alergi adalah reaksi hipersensitifitas tubuh terhadap suatu zat / alergen yang pada individu normal tidak berbahaya namun pada individu yang sensitif dapat memicu timbulnya reaksi alergi. Alergi dapat diakibatkan oleh obat-obatan tertentu. Reaksi alergi serius dapat mengakibatkan syok anafilaksis yang membutuhkan penanganan medis segera (Pramudianto dan Evaria, 2011). Anjuran yang dapat diberikan ke pasien adalah menghentikan penggunaan obat tersebut jika obat itu termasuk golongan obat bebas dan konsultasikan ke dokter jika obat tersebut tergolong obat keras. Setiap kali berobat ke dokter 7 Universitas Indonesia

92 8 beritahukan dokter mengenai alergi obat apa saja yang dialami (Pramudianto dan Evaria, 2011). Untuk menghindari efek samping dan kontraindikasi maka yang harus dilakukan adalah memberi instruksi kepada pasien mengenai penggunaan obatobatan seperti besarnya dosis, frekuensi penggunaan, cara penggunaan, dll dan diskusi cara penanganan dan pencegahan mengenai reaksi-reaksi efek samping dan kontra indikasi yang mungkin terjadi (Pramudianto dan Evaria, 2011). Universitas Indonesia

93 5.1 Kesimpulan BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN Dengan dibuatnya daftar obat ini beserta keterangan mengenai efek samping dan kontraindikasinya diharapkan dapat membantu mempermudah pelaksanaan pelayanan kefarmasian di apotek agar pelaksana mengetahui tentang efek samping dan kontraindikasi tentang obat yang tersedia di apotek sehingga membantu dalam memberikan pelayanan obat ke pasien. 5.2 Saran Sistem pengadaan obat di apotek agar lebih baik sehingga daftar obat yang telah ada dapat melayani kebutuhan pasien terhadap obat yang diperlukan. Jika perlu direvisi daftar obat yang harus disediakan apotek untuk meningkatkan pelayanan obat. 9 Universitas Indonesia

94 DAFTAR ACUAN Anonim. (nd). Efek Samping Obat. Yogyakarta : Bagian Farmakologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada Corwin, E. J. (2007). Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Pramudianto dan Evaria. (2011). MIMS Indonesia. Petunjuk Konsultasi Edisi /2012. Jakarta : Penerbit BIP. Syamsudin, M. (2011). Buku Ajar Farmakologi : Efek Samping Obat. Jakarta : Penerbit Salemba. Sweetman, S.C. (ed). (2007). Martindale: The Complete Drug Reference. London: Pharmaceutical Press. Umar, M. (2004). Manajemen Apotek Praktis. Jakarta : Wira Putra Kencana. Vorvick, L.J. (2013). Contraindication. Diunduh dari 10 Universitas Indonesia

95 LAMPIRAN

96 Lampiran 1. Daftar Obat di Apotek Mediko Farma No Nama Obat Nama Dagang Komposisi Indikasi 1. ANALGESIK, ANTIPIRETIK, ANTIREMATIK, ANTIPIRAL 1.1 ANALGESIK NARKOTIK 1 Codein Codein 10 mg; 20 mg 1.2 ANALGESIK NON NARKOTIK 2 Analsik Metampiron 500 mg dan Diazepam 2 mg Meredakan rasa nyeri, batuk Sakit kepala,nyeri pinggang,nyeri otot dan sendi Bentuk Sediaan tablet Kaplet Dewasa sehari 3 x 1 kaplet, anak sehari 3 x 1 / 2 kaplet. Dosis Efek Samping Kontra Indikasi Mual atau muntah, mengantuk, pusing, kurang waspada mengantuk, pusing, amnesia, gangguan penglihatan, hipotensi, ketergantungan, reaksi alergi pasien hipersensitif, serangan asma akut, koma, hamil dan menyusui, penyakit saluran pencernaan psikosis berat, hipersensitifitas terhadap golongan pirazolon 3 Antalgin Metampiron 500 mg 4 Asam Mefenamat Asam mefenamat 250 mg/kapsul; 500 mg/kaplet Meringankan rasa sakit terutama kolik dan sakit setelah operasi Meredakan nyeri ringan sampai sedang karena sakit kepala, sakit gigi, nyeri otot dan sesudah operasi Tablet Dewasa: sehari 3x 1 tablet. Kaplet Kapsul Dewasa dan anak > 14 tahun : awal 500 mg, dilanjutkan 250 mg tiap 6 jam. reaksi alergi, pendarahan GI, mengantuk, takikardi, aritmia, retensi urin gangguan GI, ulkus peptikum, sakit kepala, mengantuk, pusing, cemas, gangguan visual ruam kulit, kemungkinan pendarahan, porfiria ulserasi lambung atau usus, penyakit radang usus, gangguan hati atau ginjal 11

97 5 Aspilets Asetosal 80 mg Demam, sakit kepala, sakit gigi, rasa nyeri pada otot dan sendi Tablet Jika perlu dapat di berikan tiap 3 jam : bayi : 1 / 2-1 tab, 2-3 tahun 1 tab, 4-5 tahun 2 tab, 6-9 tahun 4 tab. sindrom reye, tukak lambung, ulkus peptik wanita hamil 6 Aspirin Asetosal 500 mg Sakit kepala, pusing, sakit gigi, nyeri otot, demam Tablet Dewasa : sehari 1-3 tab, anak > 5 tahun ½-1 tab, maksimal sehari 1½ -3 tab. sindrom reye, tukak lambung, ulkus peptik wanita hamil 7 Betalgin Metampiron Meringankan rasa sakit terutama nyeri kolik dan sakit setelah operasi 8 Biogesic Parasetamol 500 mg; 150 mg/ 5 ml Influenza, sakit kepala, sakit gigi, dismenore, demam 500 mg kapsul Tablet dan sirup Dewasa : jika sakit 1 kap, berikutnya 1 kap tiap 6-8 jam. Dewasa : sehari 3 x 1-2 tab anak-anak sehari 3-4x, anak 2-6 tahun 5-10 ml, anak 7-12 tahun ml. reaksi alergi, pendarahan GI, mengantuk, takikardi, aritmia, retensi urin mata kuning, diare, mual muntah, lambung nyeri, keringat meningkat, hilang nafsu makan Hipersensitif, wanita hamil dan menyusui, penderita dengan tekanan darah sistolik < 100 mmhg Penderita yang telah ketergantungan alkohol, gagal ginjal, hepatitis, liver, atau fenilketouria 12

98 9 Bodrex Parasetamol 600 mg, Kafein 50 mg Meringankan sakit kepala, pusing, sakit gigi, menurunkan demam Tablet Dewasa : sehari 3-4 x 1 tab, anak 6-12 tahun sehari 3-4 x ½ - 1 tab. mata kuning, diarea, mual muntah, lambung nyeri, keringat meningkat, hilang nafsu makan Penderita yang telah ketergantungan alkohol, gagal ginjal, hepatitis, liver, atau fenilketouria 10 Bodrexin Asetosal (acetyl salicylic acid) 80 mg 11 Cataflam Kalium diklofenak 25 mg; 50 mg 12 Contrexin Asetosal termikronisasi 80 mg, glisin 20 mg 13 Neurodial Metampiron 500 mg dan Diazepam 2 mg Menurunkan demam dan Meringankan rasa nyeri pada anakanak Pengobatan jangka pendek untuk nyeri dan inflamasi Demam dan rasa nyeri karena flu, masuk angin, vaksinasi dan lainnya pada anak-anak Nyeri kolik dan sakit setelah operasi Tablet 2-3 tahun 1 tab, 4-5 tahun 2 tab, 6-8 tahun 3 tab. Tablet Dewasa : awal mg sehari. Tablet Sebaiknya di sesuaikan dengan umur anak 3-6 bulan : sehari 2-3x 1 / 3 - ½ tab, ½-1 tahun : sehari 2-3x 3 / 4 tab, 1-3 tahun : sehari 2-3x / 2 tab Kaplet salut selaput Dewasa 1 kaplet jika sakit, setelahnya 1 kaplet setiap 6-8 jam sindrom reye, tukak lambung, ulkus peptik Kadang-kadang nyeri epigastrum, sakit kepala, pusing dan vertigo sindrom reye, tukak lambung, ulkus peptic reaksi alergi, pendarahan GI, mengantuk, takikardi, aritmia, retensi urin wanita hamil Hipersensitif, ulkus peptic wanita hamil, anak < 12 tahun psikosis berat, kemungkinan pendarahan, porfiria 13

99 14 Artrilox Meloksikam 7,5 mg dan 15 mg 15 Celebrex Selekoksib 100 mg; 200 mg Terapi jangka pendek eksaserbasi osteo artitis akut, simpyomati jangka panjang arthariitis rhematoid Osteoarthariitis dan rematik arthariitis pada orang dewasa Tablet Dosis maks yang dianjurkan sehari 15 mg Kapsul Sehari 1 x 200 mg atau 2 x 100 mg; untuk rematik artitis 2 x mg Pendarahan saluran cerna, intosikasi saluranan cerna, peningkatan tekanan darah Intoksikasi saluran cerna, intoksikasi kardiovaskuler, intoksikasi sistem saraf periferal Tukak lambung, pendarahan saluran cerna, pendarahan pembuluh darah otak, peningkatan tekanan darah Reaksi tipe alergi terhadap sulfonamida, aspirin 16 Cetalgin Metampiron 500 mg dan diazepam 2 mg 17 Cetalgin-T Metampiron 500 mg, vit B1 60 mg, vit B6 15 mg, vit B12 15 µg dan Kafein 50 mg Sakit kepala neuralgia, sakit pinggang, ketegangan, rasa sakit lainnya Sakit kepala neuralgia, sakit pinggang, ketengangan, rasa sakit lainnya Tablet Dewasa 3x1 tablet, Anak 1/2-1 tablet Tablet / kaplet Dewasa Sehari 3 x 1 tablet/kaplet, anak 8-12 tahun sehari 1-2 x ½ kaplet/tablet reaksi alergi, pendarahan GI, agranulositosis,mengantuk, takikardi, aritmia, retensi urin reaksi alergi, pendarahan GI, agranulositosis,mengantuk, takikardi, aritmia, retensi urin psikosis akut, kemungkinan pendarahan, porfiria psikosis akut, kemungkinan pendarahan, porfiria 14

100 18 Danalgin Metampiron 500 mg dan diazepam 2 mg 19 Dumin Parasetamol 120mg/5ml; 500mg 20 Dumin RT Parasetamol 125 mg/2,5ml Meringankan rasa sakit sedang sampai berat terutama nyeri otot kolik dan sakit setelah operasi dimana diperlukan kombinasi dengan trankulizer. Menurunkan Demam dan meredakan rasa nyeri pada otot, sakit kepala dan sakit gigi Menghilangkan nyeri pada sakit kepala, sakit gigi, masuk angin, flu dan sendi kaplet 1 kaplet jika sakit, setelahnya 1 kaplet setiap 6-8 jam Tablet / sirup Sirup sehari 3-4 x, Anak < 1 tahun 2,5 ml; 2-6 tahun 5 ml; 7-12 tahun 10 ml; dewasa 3-4 x 1-2 tablet sampai sehari maksimal 8 tablet Dewasa sehari 3-4x 0,5-1g, maks sehari 4 g, anak 1-6 tahun sehari 3-4x 125 mg maks sehari 750 mg, anak < 1tahun sehari 3-4x 60 mg mengantuk, pusing, amnesia, gangguan penglihatan, hipotensi, ketergantungan, reaksi alergi mata kuning, diarea, mual muntah, lambung nyeri, keringat meningkat, hilang nafsu makan mata kuning, diare, mual muntah, lambung nyeri, keringat meningkat, hilang nafsu makan Hipersenstif, depresi pernapasan, psikosis akut. Penderita yang telah ketergantungan alkohol, gagal ginjal, hepatitis, liver, atau fenilketouria, hipersensitif Penderita yang telah ketergantungan alkohol, gagal ginjal, hepatitis, liver, atau fenilketouria, hipersensitif 15

101 21 Hufagrip Parasetamol 120 mg,pseudoefedrin HCl 7,5 mg, klorfeniramin maleat 0,5 mg, gliseril guaiakolat 50 mg per ml sirup 22 Hufagrip TMP Ibupropen 100mg/5 ml Menghilangkan nyeri pada sakit kelapa, sakit gigi,masuk angin, flu dan sendi Menurunkan demam, meringankan nyeri ringan sampai sedang. 23 Maxicam Piroksikam 20 mg Terapi simptomatik pada reumotoid, gangguan encok akut. 24 Mefinal Asam Mefenamat 250 mg; 500 mg Menghilangkan rasa sakit dan nyeri. Sirup Anak 2-6 tahun sehari 3-4x10ml, anak 1-2 tahun 2,5ml, anak 3-7 tahun 5ml anak ml Sirup Dewasa sehari 3-4x 10ml. Anak 1-2 tahun 2,5ml, 3-7 tahun 5ml, 8-11tahun 10ml Kapsul Dewasa awal 20mg dan sehari 40mg dosis tunggal atau terbagi selama 2 hari, selanjutnya sehari 20 mg selama 7-14 hari Kaplet Anak > 6 bulan 3-6,5mg/kgBB /hari/jam, Dewasa dan anak > 14 tahun mula-mula 500 mg kemudian 250 mg setiap 6 mata kuning, diarea, mual muntah, lambung nyeri, keringat meningkat, hilang nafsu makan gangguan GI, ruam kulit, bronkospasme, trombositopenia, limfospenia, penglihatan kabur atau menurun gangguan GI, sakit kepala, iritasi dan ulkus gaster (dosis >20 mg/hari) gangguan GI & pendarahan, ulkus peptik, sakit kepala, mengantuk, pusing, cemas, gangguan visual, ruam kulit, diskrasia darah Penderita yang telah ketergantungan alkohol, gagal ginjal, hepatitis, liver, atau fenilketouria, hipersensitif hipersensitif terhadap AINS lain dan aspirin, tukak peptik, asma, rinitis atau urtikaria. Hamil trisemester 3 ulkus peptikum. Riwayat serangan asma,, rinitis, urtikaria, polip nasal ulserasi lambung atau usus, penyakit radang usus, gangguan hati atau ginjal 16

102 jam 25 Mevilox Meloksikam 7,5mg; 15mg 26 Metaneuron Metampiron 500 mg 27 Movicox Meloksikam 7,5mg; 15mg Terapi simptomatik jangka pendek eksaserbasi oesteoritis akut. Sakit kepala akibat ketegangan, menimbulkan kejang pada sel empedu dan ginjal. Arthariitis rematoid (AR), osteoarthariitis (OA) Tablet Sehari 7,5-15 mg dosis maks 15 mg Tablet Dewasa sehari 3-4x1tab setelah makan, anak ½ tablet setelah makan. Tablet AR : sehari 15 mg tergantung respon terapetik, dapat dikurangi hingga sehari 7,5 mg; OA: Dosis awal 7,5mg, dosis dapat gangguan GI, anemia, sakit kepala, ruam kulit, pruritus mengantuk, ataksia, lelah, konstipasi, depresi, hipotensi, mual, tremor, retensi urin, vertigo gangguan GI, anemia, sakit kepala, ruam kulit, pruritus, edema, kepala terasa ringan hamil dan laktasi, anak < 15 tahun, insufisiensi ginjal berat non dialisis, insufisiensi hati berat, pendarahan GI dan KV, asma bayi < 6 bulan, gangguan paru akut, hamil dan laktasi, pasien dengan TD sistol < 100mmHg, depresi pernafasan hamil dan laktasi, anak dan remaja < 15 tahun, insufisiensi ginjal berat non dialisis, pendarahan saluran cerna 17

103 ditingkatkan menjadi 15 mg per hari 28 Neorhemacyl Ibuprofen 200 mg, parasetamol 350 mg 29 Neorhemacyl cream Metilsalisilat 150 mg, mentol 50mg, kamfer 15 mg, dan euginol 20 mg 30 Neurofenac Natrium diklofenak 25mg; 50mg Meringankan nyeri ringan sampai sedang pada otot dan sendi, nyeri haid. Meredakan nyeri otot dan nyeri sendi, keseleo dan pegal-pegal Antirematik non steroid Tablet 1 tablet tiap 4-6 jam atau sehari 3-4 x Cream 10mg Tablet Dioleskan atau digosokan pada bagian yang sakit. Dewasa 3x25 mg; pemeliharaan atau pengobatan jangka panjang mg Penggunaan jangka lama dan dosis besar dapat menimbulkan kerusakan hati gangguan GI, tukak lambung atau usus, kecenderungan edema meningkat, gangguan SSP, reaksi hipersensitifitas Penderita hipersensitif terhadap ibuprofen, parasetamol, asesetosal dan AINS. Trisemester terakhir kehamilan Tidak dianjurkan untuk hipersensitif komponen obat, anak < 2 tahun tukak peptik, reaksi hipersensitifitas terhadap diklofenak, asetosal, atau obat AINS lain 18

104 31 Novagesic Parasetamol 120mg/5ml; 500mg 32 Novalgin Metampiron 500mg/tablet; 50mg/ml sirup 33 Pamol Parasetamol 500mg; 120mg/5ml Rasa sakit pada sakit kepala, sakit gigi, menurunkan demam Nyeri berat terkait dengan sakit kepala, sakit gigi, paska kecelakaan atau paska operasi. Demam dan nyeri pencernaan sirup, kaplet Tablet / sirup Tablet / sirup Anak-anak 0-1 tahun ½ sdt, 2-6 tahun 1-2 sdt, 6-9 tahun 2-3 sdt. Kapsul Dewasa sehari 3-4x 1 kaplet, anak-anak 6-12 tahun sehari 3-4 ½ -1 kaplet. Dewasa 1 tablet sehari. Sirup Dewasa 2-4 sendok Dewasa: sehari 1-2 tablet, anakanak ½- 1 tablet. Sirup sehari 1-3x sendok. Drops 0,6ml maks 1,2ml mata kuning, diarea, mual muntah, lambung nyeri, keringat meningkat, hilang nafsu makan jarang : reaksi anafilaksis. Penurunan TD secara drastis, bronkospasme. Sangat jarang : leukopenia, agranulositosis, proteinuria, urin berwarna merah, nyeri dan reaksi lokal pada tempat injeksi mual muntah diare, wajah pucat dan nyeri perut, gangguan fungsi hati (penggunaan jika panjang dan dosis tinggi) Penderita yang telah ketergantungan alkohol, gagal ginjal, hepatitis, liver, atau fenilketouria, hipersensitif alergi pirazolon, hamil dan laktasi, bayi < 3 bulan atau dengan BB < 5 kg gangguan fungsi hati berat dan Hipersensitif tehadap parasetamol 19

105 34 Panadol Parasetamol 500mg; 120mg/5ml 35 Paracetamol Paracetamol 120mg/5ml 36 Ponstan dan Ponstan FCT Asam mefenamat 250mg; 500mg; 50mg/5ml 37 Progesic Parasetamol 250mg/5 ml; 500mg/ tablet Sakit kepala,sakit sendi,sakit gigi, sakit setelah vaksinasi menurunkan panas Meringankan rasa sakit kepala, sakit gigi, menurunkan demam. Meredakan nyeri ringan sampai sedang sehubungan dengan sakit kepala,sakit gigi, nyeri otot Obat penurun panas, demam, penghilang rasa nyeri,yang aman dan efektif 501 mg tablet, 60 ml sirup Sirup Kaplet/ tablet/ suspensi Sirup/ tablet Dewasa: Tablet sehari 1-2 tablet, anak-anak ½- 1 tablet. Sirup sehari 1-3x sendok. Drops 0,6ml maks 1,2ml Dewasa: Sehari 3-4x 4 sdt, anak 8-12 tahun : 3-4x 2-4 sdt, anak 1-6 tahun, 3-4x 1-2 sdt, anak < 1 tahun 3-4x ½-1 sdt. 500 mg setiap 6 jam sesuai kebutuhan. Sirup : dewasa 1 sdm. Anak 6-12 tahun 1-2 sdt. Tablet : dewasa 2 tablet. Anak 6-12 tahun ½-1 tab mual muntah diare, wajah pucat dan nyeri perut, gangguan fungsi hati (penggunaan jika panjang dan dosis tinggi) reaksi hematologi, erupsi kulit, mual, muntah, gangguan ginjal (dosis besar) gangguan GI, ulkus peptikum, sakit kepala, mengantuk, pusing, cemas, gangguan visual ruam kulit, reaksi hematologi, reaksi kulit dan alergi lain Hipersensitif tehadap parasetamol dan gangguan hati dan pencernaan penyakit hati dan ginjal. Hipersensitif tehadap parasetamol ulserasi lambung atau usus, penyakit radang usus, gangguan hati atau ginjal penyakit hati. Hipersensitif tehadap parasetamol 20

106 38 Voltadex Natrium diklofenak 25 mg; 50 mg Menghilangkan rasa sakit, inflamasi rheumatoid artitis dan jenis rematik lainnya mg 3kali sehari Tablet Dewasa 3x25 mg; pemeliharaan atau pengobatan jangka panjang mg gangguan dan pendarahan GI, sakit kepala, cemas, ruam kulit, pruritus, edema, mengantuk, depresi, insomnia, penglihatan kabur tukak peptik, reaksi hipersensitifitas terhadap diklofenak, asetosal, atau obat AINS lain 39 Voltaren Natrium diklofenak 25mg; 50mg I.3 ANTIREMATIK, ANTIPIRAI Peradangan dan untuk penyakit degenerative pada rematik. Tablet Dewasa: mg gangguan GI, sakit kepala, pusing, vertigo, ruam kulit tukak peptik, reaksi hipersensitifitas terhadap diklofenak, asetosal, atau obat AINS lain 40 Alopurinol Alopurinol 100 mg; 300 mg 2. ANESTETIK Hiperurisemia primer, dan hiperurisemia sekunder (mencegah pengendapan asam urat dan kalsium oksalat). Tablet Dewasa Awal sehari mg, dosis pemeliharaan sehari mg, dosis tunggal maks 300mg. mual, diare, gangguan GI, sakit kepala, mengantuk, hipersensitifitas serangan gout akut, hamil dan laktasi 2.1 ANESTETIK LOKAL 41 Lidodex Lidocain HCl 50 mg/ml 2.2 ANESTETIK UMUM Anestetik lokal ampul 1 amp, maks 2ml Dapat menyebabkan udem, kepucatan yang bersifat lokal dan sementara hipersensitifitas thd gol amida pd anestesi lokal 21

107 42 Miloz Midazolam 5 mg/ml 3. ANTIALERGI DAN OBAT UNTUK ANAFILAKSIS 43 Cetirizine Setirizin HCl 10mg/kap; 5mg/ml 44 Chlorphenirami ne klorpheniramin maleat 4 mg 45 CTM Klorfeniramin maleat 4 mg 46 Decadryl Difenhidramin HCl 10mg/ml Anestesi umum ampul Dewasa: 0,07-0,1mg/kgbb Alergi rhinitis yg kronik Kapsul/ sirup Dewasa dan anak > 12 tahun sehari 1x 10mg Rinitis, ultikaria Tablet Dewasa: Sehari 3-4x ½ tab, 2-6 tahun: sehari 3-4 x 1 / 4 tab. Mengobati keadaan alergi, seperti gatal-gatal, dermatitis. Tablet Dewasa: Bila perlu sehari 3x1 tab. Anak anak: bila perlu 3x ½ tab atau atas petunjuk dokter sakit kepala, reaksi di tempat injeksi, cegukan, mual muntah, batuk, oversedasi, mengantuk, halusinasi sakit kepala, agitasi, mengantuk, pusing, mulut kering, gangguan GI, reaksi kulit Mengantuk, mulut kering, pandangan kabur Mengantuk mulut kering, pandangan kabur Anti alergi Sirup - pusing, gangguan saluran pencernaan, kekeringan pd mulut, hidung, tenggorokan, kesulitan urinasi, dan penglihatan kabur bayi prematur, intoksisitas alkohol akut dengan depresi tanda-tanda vital, syok atau koma hamil trisemester 1 dan laktasi. Penyakit ginjal berat jgn diberikan pd orang yg mengemudikan kendaraan, bayi baru lahir atau prematur jgn diberikan pd orang yg mengemudikan kendaraan, bayi baru lahir atau prematur glaukoma, retensi urin, alergi terhadap dipenhidramin HCl, sedasi 22

108 47 Loratadine Loratadin 10 mg/ml 4. ANTIEPILEPSI 48 Phenytoin Phenitoin na 100 mg: 100mg/ 2 ml Pengobata simptomatis pada alergi rhinitis dan berbagai jenis alergi pada kulit antikonvulsan Sirup kap/ ampul Dewasa dan anak anak > 12 tahun: sehari 10 mg. Anak 2-12 tahun : > 30 kg: sehari 10 mg, anak > 30kg : sehari 5 mg. Dewasa sehari 3x1 kap sedasi, mulut kering, sakit kepala, lesu gangguan GI, ataksia, bicara tidak jelas, pusing, sakit kepala, mual, muntah, nistagmus prematur atau bayi baru lahir, serangan asma akut hipersensitif thd hidantoin lain 49 Neurontin Gabapentin 300mg 5. ANTIMIKROBA 5.1 ANTELMINTIK ANTELMINTIK INTESTINAL 50 Combantrin Pirantel pamoat setara pirantel 50mg/ml; 25/ml, 250 mg/ tab; 125mg/tab 5.2 ANTIBAKTERI GOLONGAN PENISILIN Nyeri neuropati pada pasien dewasa di atas 18 tahun Sebagai infeksi tunggal atau ganda kap Sirup tablet Dewasa dan anak > 12 tahun sehari dosis efektif mg Dosis tunggal 10mg/kg bb atau 250 mg/25kg bb pusing, ataksia, lesu, nistagmus, sakit kepala, termor, mual, muntah, Tukak lambung, anak dengan kecenderungan kejang, gangguan fungsi ginjal dan hati, anak < 2 tahun. Hamil, laktasi Hipersensitif muntah, mengantuk, inkordinasi otot, dan gangguan akomodasi mata 23

109 51 Amoksisilin Amoksisilin trihidrat 250 mg; 500mg; 125 mg/5ml; 250 mg/ml, 52 Amoxan Amoksisilin 125 mg/5ml; 250 mg/ml; 250 mg; 500 mg Infeksi yang disebabkan oleh strain bakteri yang peka infeksi kulit dan jaringan lunak. Infeksi saluran pernapasan bawah, tifoid Sirup / kapsul Sirup/ kapsul Dewasa dan anak dngan BB < 20 Kg mg tiap 8 jam. Kaps: Dewasa dan anak-anak 20 kg : mg tiap 8 jam, anak > 8kg mg tiap 8 jam. reaksi hipersensitifitas, gangguan GI reaksi hipersensitifitas, gangguan GI (mual, muntah, diare), reaksi-reaksi hematologi Hipersensitifitas, pasien dangan riwayat alergi terhadap penisilin, infeksi mononukleosis hipersensitifitas thd gol penisilin 53 Ampisilin Ampisilin trihidrat 500 mg/ Kaplet; Amoksisilin 125 mg/5ml Infeksi yang di sebabkan oleh bakteri gram positif atau gram negatif yang peka terhadap ampisilin, infeksi saluran pernapasan, infeksi alat kelamin wanita, infeksi saluran pencernaan. Kaplet / sirup Dewasa dan anak-anak dengan BB > 20 kg sehari 3-4x mg. Anak anak dengan BB < 20Kg mg/kg BB di bagi 4 dosis setiap 6 jam. gangguan GI, ruam kulit, demam, pruritus, urtikaria hipersensitif thd penisilin, infeksi mononuleosis 24

110 54 Claneksi amoksisilin 500mg dan asam klavulanat 125 mg; tiap 5 ml sirup kering amoksisilin 125 mg dan asam klavulanat 31, 25 mg 55 Decamox Amoksisilin trihidrat 250mg, 500mg, amoksisilin anhidrat 250 mg/5ml. Infeksi saluran napas bagian atas, infeksi saluran nafas bagian bawah,infeksi kulit dan jaringan lunak. Infeksi saluran napas bagian atas, infeksi saluran nafas bagian bawah,infeksi kulit dan jaringan lunak. Kaplet/ sirup kering Tablet/ sirup Dewasa dan anak-anak > 12 tahun: infeksi ringan smpai sedang: 1 kaplet 250mg 3x sehari, infeksi berat: 1 kaplet 500 mg 3 x sehari. Anakanak 25mg/kg BB/ Hari dalam dosis terbagi tiap 8 jam. Dewasa dan anak-anak > 12 tahun: infeksi ringan smpai sedang: 1 kaplet 250mg 3x sehari, infeksi berat: 1 kaplet 500 mg 3 x sehari. Anakanak 25mg/kg BB/ Hari dalam dosis terbagi tiap 8 jam. diare, mual, muntah, urtikaria atau eritema, anemia hemolitik, kolestatik jaundice diare, mual, muntah, urtikaria atau eritema, anemia hemolitik, kolestatik jaundice hipersensitif thd penisilin, riwayat kolestatik jaundice hipersensitif thd penisilin, riwayat kolestatik jaundice 25

111 56 Kalmoxilin Amoksisilin trihidrat 250mg; 500mg; 125mg/ml, 250mg/5ml GOLONGAN KLORAMFENIKOL Infeksi saluran nafas akut maupun kronik,saluran kemih, kulit dan jaringan lunak. Tablet/ sirup kering Dewasa: Infeksi ringan dan sedang: sehari 3x1 kap atau 2 tab. Anak: sehari mg/kgbb dalam 3 dosis.infeksis parah dosis dapat di perbesar. diare, mual, muntah, urtikaria atau eritema, anemia hemolitik, kolestatik jaundice hipersensitif thd penisilin, riwayat kolestatik jaundice 57 Biothicol Tiamfenikol 250 mg, 500mg, 125 mg/ 5ml, 250 mg/ 5ml Tifus, paratifus, infeksi yang di sebabkan oleh salmonella. Kap/ sirup kering. Dewasa anak dan bayi>2 minggu: 50mg/ kg BB /hari, terbagi dalam 3-4 dosis gangguan GI, urtikaria, anafilaktik, diskrasia darah, sindrom gray hipersensitif, disfungsi ginjal dan hati berat 58 Chloramphenic ol Kloramfenikol 250 mg Tifus karena H. Influensa Kapsul Dewasa anak dan bayi > minggu: sehari 50 mg/kg BB dalam dosis terbagi 3-4. anemia aplastik, gangguan GI, depresi sumsum tulang, sindrom gray hipersensitif, hamil trisemester 3 dan laktasi, anemia 26

112 59 Tiamfenikol Tiamfenikol 250 mg, 500mg GOLONGAN KUINOLON Untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme yang sensitif seperti salmonella sp, bakteri gram negatif, meningitis Kapsul Dewasa anak dan bayi >2 minggu: 50mg. Kg BB, terbagi dalam sehari 3-4x. gangguan GI, urtikaria, anafilaktik, diskrasia darah, sindrom gray hipersensitif, disfungsi ginjal dan hati berat, hamil dan laktasi 60 Baquinor Siprofloksasin HCl 250 mg, 500mg, Pengobatan infeksi oleh strain yang sensitip dari mikroorganisme pada infeksi saluran nafas bawah, infeksi kulit dan jaringan lunak, infeksi tulang dan persendian, saluran kemih dan saluran cerna. Tablet/ kapsul Sal kemih ringan dan sedang: sehari 2x 250mg; infeksi berat 2x 500 mg rasa terbakar setempat atau tidak enak, gatal, edema kelopak mata, berair hipersensitif thd siprofloksasin dan kuinolon lain 27

113 61 Ciprofloxacin Siprofloksasin 250 mg, 500 mg GOLONGAN MAKROLIDA 62 Erithariomycin Erythariomisin stearat setara eritromisin 250 mg, eritromisin suksinat setara eritromisin 500mg/tab, 200mg 5ml susp. 63 Lincomycin Linkomisin 250 mg, 500 mg Infeksi saluran nafas, infeksi kulit, dan jaringan lunak. Infeksi ringansedang, saluran fernapasan atas dan bawah, infeksi kulit dan jaringan. Infeksi oleh stroptokokus, stapilokokus Tablet Ringan sedang: sehari 2x mg, berat : sehari 2x 500mg.ringan sedang: 2x mg, berat sehari 2x750 mg. Tab/ suspensi Dewasa 300 mg tiap 6 jam atau 500 mg tiap 12 jam, anak mg/kg BB sehari dalam 3-4 dosis. Kap 500 mg tiap 6-8 jam, anak dan bayi > 1 bulan: mg/ kg BB/ hari di bagi dalam 3-4 dosis. gangguan GI, sakit kepala, pusing, insomnia, takikardi, tremor, agitasi rasa tidak enak pada perut, gangguan fungsi hati, reaksi alergi ringan reaksi hipersensitifitas, gangguan GI, haus, letih, kehilangan bobot tubuh, trombositopenia anak <18 tahun, hamil dan laktasi hipersensitif thd eritromisin hipersensitif thd linkomisin dan klindamisi, jgn digunakan pd bayi baru lahir 28

114 64 Osmycin Spiramisin 500 mg, 125 mg/ 5 ml Infeksi saluran pernapasan antara lain tonsillitis, faringitis, otitis media, bronkitis, pneumonia dan pertusi. Tablet/ sirup Sehari 3x 1 tablet selama 5 hari, anak 50 mg/ kg BB/ hari dalam 3 dosis bagi selama 5 hari. gangguan GI (mual, muntah, diare) alergi thd spiramisin 65 Spiramycin Spiramisin 250 mg,500 mg. Infeksi saluran nafas, seperti tonsillitis, faringitis, bronchitis, pneumonia, sinusitis dan otitis media. Tablet Dewasa: Sehari 3x 500 mg selama 5 hari, infeksi berat dapat sampai maks 3000mg/hari. Anak-anak : sehari mg Kg BB terbagi 2-3 dosis. gangguan GI, reaksi alergi pd kulit hipersensitif 29

115 66 Zibramax Azitromisin 500 mg GOLONGAN SEFALOSPORIN Infeksi saluran pernafasan bagian atas dan bawah, infeksi kulit dan jaringan, penyakit kelamin. Kaplet salut selaput Dosis total 1,5 g selama 5 hari dengan dosis awal 500 mg, kemudian sehari 250 mg pada hari kedua sampai hari ke 5, anak-anak sehari 1x10 mg/kgbb selama 3 hari. diare, muntah, rasa tidak enak di perut, kembung, mual, sakit kepala, ruam kulit, kelelahan menyeluruh hipersensitif thd eritromisin ataupun makrolida 67 Cefadroxil Sefadroksil 250 mg, 500 mg, 125 mg/5 ml Infeksi saluran nafas, kulit jaringan lunak, saluran cerna, saluran kemih. Kap/ sirup kering Dewasa: Sehari 1-2 g dalam sekali dosis atau 2 dosis terbagi. Anak 30 mg/kg BB/ hari dalam 2 dosis terbagi. Mual, muntah, diare, genital pruritus,nyeri perut, demam, kulit panas, menurunnya urin, pusing dan berkunang- kunang, gatal, bengkak, kesulitan bernafas alergi thd sefalosforin GOLONGAN TETRASIKLIN 30

116 68 Cendocyclin Tetrasiklin HCl 250 mg ISK,usus, saluran nafas, kulit dan jaringan lunak,infeksi sistemik, infeksi pada mata. kapsul Dewasa : Sehari 4x1 kap: anak: 25mg/kg BB/hari daalam 4 dosis, 1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan. mual, diare,muntah, anoreksia, perubahan warna gigi dan hipoplasia enamel pd anak, hambatan pertumbuhan tulang Hipersensitif, gangguan ginjal, hamil, anak < 7 tahun 69 Terramycin Oksitetrasiklin HCl 250 mg Infeksi saluran nafas, saluran cerna, kulit dan jaringan lunakmata,oral dan gigi. Kap Dewasa sehari 1-2 g, anak mg/kgbb. reaksi hipersensitif, hipoplasia enamel, gangguan GI, ruam eritematosa Hipersensitif, hamil, anak < 8 tahun GOLONGAN LAIN-LAIN 70 Bactricid Trimetoprim 80 mg, sulfametakzasol 400 mg. Infeksi saluran nafas atas dan bawah, saluran kemih,saluran cerna dan infeksi lainnya. Tablet Sehari 2x2 tablet. gangguan GI, sindrom steven johnson, kelainan darah, hepatitis hipersensitif terhadap sulfonamid, kerusakan hati atau ginjal berat, hamil dan laktasi, bayi < 2 bulan 31

117 71 Bactrim Trimetoprim 80 mg, sulfametokzasol 400mg. Disebabkan kuma e, coli, saluran pencernaan di sebabkan oleh salmonella sp dan shigella, saluran pernafasan di sebabkan oleh kuman.h. influenza. Tablet Dewasa dan anak-anak > 12 tahun: sehari 2x2 tablet atau 1 tab forte. gangguan GI, reaksi kulit, hiperkalemia, hipoglikemi hipersensitif, hamil, gagal ginjal berat, jerusakan parenkim hati 72 Clindamycin Klindamisin 150 mg, 300mg. 73 Cotrimoxazole Sulfametokzasol dan trimetroprim 200 mg dan 40 mg/5ml.susp 400mg dan 80 mg/tab. 5.3 ANTITUBERKULOSIS Infeksi serius bakteri anaerob, streptokokus, pneumokokus. ISK ole e.coli, saluran cerna oleh salmonella. Kapsul Dewasa infeksi serius mg tiap 6 jam, anak-anak dengan infeksi serius: 8-16 jam. Tablet Dewasa dan anak >12 tahun, sehari 2x2 tab selama hari, infeksi berat sehari 2x3 tab. diarea, mual muntah, nyeri perut, gatal pada rectal dan organ sex gangguan GI, reaksi kulit, hiperkalemia, hipoglikemi Hipersensitif terhadap klindamisisn dan linkomisin hipersensitif, hamil, gagal ginjal berat, jerusakan parenkim hati 32

118 74 Ethambutol Etambutol 250 mg, 500 mg TBC paru Tablet 15 mg/kg BB/ hari pada pasien yang tidak mendapat terapidengan banyak anti tuberkulosa. 75 INH Isoniazid 100 mg Anti tuberkulosis. Tablet 3-4x 1 tablet sehari atau menurut 76 Isoniazid Isoniazid 100 mg, 300 mg. 77 Rifampicin Rifampisin 450mg; 600 mg 5.4 ANTILEPROTIK 78 Rifampicin Rifampisin 300 mg, 450 mg/kaps, 600 mg/ tab salut. 5.5 ANTIFUNGI Anti Tuberkulosis. petunjuk dokter. Tablet Sehari 5 mg/ kg BB sampai 300 mg dosis tunggal. Tuberculosis. kaplet Sehari mg/ kgbb. lepra Kapsul, tab salut Sehari mg/kgbb. penurunan daya penglihatan, gangguan GI, ruam alergi, buta warna hijau-merah neuritis perifer, neuritis optik, insomnia, kedutan pd otot, kejang, reaksi hipersensitifitas neuritis perifer, neuritis optik, insomnia, kedutan pd otot, kejang, reaksi hipersensitifitas fungsi hati abnormal, gangguan GI, demam disertai flu, reaksi kulit, hemolisis fungsi hati abnormal, gangguan GI, demam disertai flu, reaksi kulit, hemolisis neuritis optik, anak < 13 tahun pasien hipersensitif INH, penyakit hati yang diinduksi obat pasien hipersensitif INH, penyakit hati yang diinduksi obat hipersensitif, ikterus hipersensitif, ikterus 33

119 79 Candistin Nistatin UI 80 Flagystatin Metronidazol 500 mg, nistatin UI. 81 Ketoconazole Ketokonazol 200 mg. 82 Mycostatin Nistatin UI/ml; UI 5.6 ANTIMALARIA Terapi kandiasis pada rongga mulut. Infeksi vagina yang di sebabkan oleh trikomoniasis dan kandidiasis. Infeksi pada kulit, rambut dan kuku yg di sebabkan oleh dermatofit atau ragi. Infeksi jamur sistemik. Drops Bayi: sehari 4x1-2 ml sehari. anak dan dewasa: sehari 4x1-6 ml diteteskan ke dalam mulut dan di tahan beberapa waktu sebelum di telan. Ovula Ovula : selama 7-19 hari, krim: 1 aplikator perhari selama 10 hari. Tablet Infeksi kulit: sel cernak dan sistemik, sehari 1x1 tab, pada waktu makan. Drops, Tablet Sehari 3x 1-2 tab atau sehari 4x1 ml untuk kondidiasi mulut. diare gangguan GI, mual, muntah, urtikaria iritasi lokal iritasi kulit setempat diare, rasa tidak nyaman pd GI, mual dan muntah (dosis besar) Hipersensitif thd obat ini. Hipersensitif terhadap metronidazol dan nistatin. Hipersensitif Hipersensitif 34

120 83 Sulfadoxine Sulfadoksin 500 mg, pirimetamin 25 mg. 5.7 ANTIVIRUS Pencegahan dan pengobatan malaria yang telah resisten terhadap klorokuina. Tablet Dosis tunggal deasa: 2-3 tab, anak 9-14 tahn: 2 tab, 4-8 tahun: 1 tab, <4 tahun: ½ tab. ruam akibat obat, pruritus, kerontokan rambut ringan. Jarang : sindrom steven johnson, kenyang, mual, muntah Hamil dan menyusui, bayi premature atau sebelum 4 minggu. Gangguan ginjal dan hati 84 Acyclovir Asiklovir 200 mg, 400 mg/tab, 5% krim. 6. ANTIMIGRAIN/VERTIGO Herpes genital, Simpleks pada kulit dan selaput lender. Tab / krim. Dewasa: Sehari 5x800mg selama 7-10 hari, anak 2-12 tahun: sehari 4x mg selama 5 hari, anak < 2 tahun sehari 4x 20 mg/kg BB selama 5 hari. rasa panas, perih, eritema, pengeringan kulit ringan, pengelupasan kulit hipersensitif terhadap asiklovir 6.1 ANTIMIGRAIN 85 Bodrex migrain Paracetamol 350 mg, profipenazon 150 mg, kofein 50 mg. Meringankan sakit kepala pada migrain. Tablet Sehari 3-4x ½ -1 tab, anak 6-1 tahun: sehari 3-4x ½ -1 tab. reaksi hematologi, erupsi kulit, mual, muntah, gangguan ginjal (dosis besar) Penderita dengan gangguan fungsi hati yg berat, penderita hipersensitif. 86 Bodrex extra Paracetamol 350 mg, ibuprofen 200mg, kofein 50 mg. Meredahkan sakit kepalah,menceng kram, tegang, kaku di kepala Kaplet 3-4x11 tab, anak 6-12 tahun: sehari 3-4x ½ -1 tab. reaksi hematologi, erupsi kulit, mual, muntah, gangguan ginjal (dosis besar) Penderita dengan gangguan fungsi hati yg berat, penderita hipersensitif. 35

121 belakang. 6.2 ANTIVERTIGO 87 Mertigo Bethistin mesilat 6 mg. Gangguan ke seimbangan yang terjadi pada gangguan sirkulasi darah. 7. ANTINEOPLASTIK, IMUNOSUPRESAN DAN OBAT UNTUK TERAPI PALIATIF 7.1 ANTIHORMON 88 Taxen Tamoksifen 10 mg, 20 mg. 8. ANTIPARKISON/ DEMENTIA 8.1. ANTIPARKISON Terapi tambahan setelah pengobatan primer karsinoma mammae tablet 3x1-2 tablet gangguan GI, ruam kulit hamil, laktasi, anak <2 tahun Tab salut film Sehari mg. pendarahan vagina, mual, muntah, retensi cairan, ruam kulit, lelah, sakit kepala. Pada pria, impotensi, lekopenia atau trombositopenia, tromboemboli hamil, laktasi,trombositopenia, lekopenia atau hiperkalsemia 36

122 89 Pardoz Levodopa 100 mg, benzeraside 25 mg. 8.2 DEMENTIA Penyakit parkison dan gejala pankirsonisme kecuali sindrom parkison karena obat-obatan. Glaucoma sudut sempit, psikosis. Tablet Awal sehari 3-4x ½ tab.ditingkatkan menjadi sehari 3x1 tab dan di naikan 1 tab dengan interval tiap minggu sampai tercapai dosis pengobatan individual. anoreksia, mual, muntah, aritmia jantung, hipotensi ortostatik. Jarang insomnia, agitasi atau depresi, reaksi psikosis glaukoma sudut sempit, psikosis, riwayat melanoma, pasien < 30 tahun 90 Aldomer 5 Donefezil HCL 5 mg. 9. OBAT YANG MEMPENGARUHI DARAH Gejala demensia ringan tau sedang pada penyakit Alzheimer. Tablet Dewasa atau lansia : dimulai dengan sehari 5 mg menjelang tidur malam selama 1 bulan, kemudian di tingkatkan s/d 10 mg perhari 1x. diare, kram otot, kelelahan yang menyeluruh, mual, muntah, insomnia, pusing Hipersensitif terhadap derivat piperidin, anak. 9.1 ANTIANEMIA 37

123 91 Sangobion Besi II glukonat 250 mg, mangan sulfat 0,2 mg, tembaga II sulfat 0,2 mg, vit c 50 mg, asam polat 1 mg, vit-b12 dengan fakter intriksi 7,5 mg, besi II glikonat 129,5 mg, vit-b1 1 mg, vit-b2 1 mg, vit- B6 5 mg, nikotinamid 15 mg, biotin 0,3 mg. Anemia yang di sebabkan defisiensi besi dan mineral lainnya yang berperan dalam pembentukan darah. 9.2 ANTIKOAGULAN, ANTI PLATELET DAN TROMBOLITIK 92 Procardin Asetosal 100 mg. Mengurangi resiko kematian, strok pada penderita laki-laki dengan riwayat iskimia otak. Kapsul Sehari satu kap selama tau setelah makan, anak sehari 1 sdtk, Dewasa 2 sdtk. gangguan GI akumulasi zat besi, gangguan penggunaan zat besi Tablet Sehari 1x1 tab. Iritasi lambung, mual, muntah Hipesensitif, ganggguan fungsi hati, dan ginjal berat, kelainan perdarahan, penderita alergi atau sering mendapat perdarahan di bawah kulit. 38

124 93 Thariombo aspilets 9.3 HEMOSTATIK 94 Kalnex Asam traneksamat 250 mg, 500mg 95 Transamin Asam traneksamat 50 mg, 250 mg/kap, 500 mg 10. ANTISEPTIK DAN DESINFEKTAN Asetosal 80 mg. Pengobatan dan pencegahan proses pembekuan dalam pembuluh darah dan paska strok. hipersensitif, tukak lambung, sering mengalami perdarahan di bawah kulit. Pendarahan abnormal setelah oprasi, pendarahan setelah ekstaksi gigi pada pasien hemofili. Untuk pendarahan abnormal dengan gejala penyakit anemia hipoplastik, leukemia atau setelah operasi prostat. Tablet Sehari 1x1-2 tab. Tablet Sehari 3-4x 1-2 tab. Kaplet Sehari 3-4x 1-2 kap. iritasi GI, mual muntah. Penggunaan jangka panjang pendarahan GI, ulkus peptikum gangguan GI, mual, pusing, muntah, anoreksia, eksantema, sakit kepala. Hipotensi pada pemberian iv cepat gangguan GI, mual, pusing, muntah, anoreksia, eksantema, sakit kepala. Hipotensi pada pemberian iv cepat sensitif terhadap aspirin, asma, ulkus peptikum, pendarahan subkutan, hemofilia riwayat tromboembolik riwayat tromboembolik 39

125 96 Betadine Larutan povidon iodine 10%. 11. OBAT UNTUK GIGI DAN MULUT Desinfektan dan setelah oprasi, mencegah timbulnya infeksi pada luka, pengobatan pada infeksi kulit, kompres luka bernanah. Larutan Oleskan pada bagian yang luka Hipotiroidisme pada bayi Hipersensitif terhadap iodium. 97 FG Troches Faradiomisin 2,5 mg, garamisidin-s 1 mg. Gingifitis, stomatitis, laryngitis, bronchitis, tosilitis dan infeksi di dalam mulut. Tablet kunyah anoreksia, mual, gangguan GI hipersensitif terhadap aminoglikosida seperti streptomisisn, kanamisin, gentamisin, fradiomisin atau basitrasin 12. DIURETIK 98 Furosemide Furosemid 40 mg/tab, Udema karena gangguan jantung, sirosis hati, gangguan ginjal, hipertensi ringan dan sedang. Tablet Dewasa: Sehari 1-2x 1-2 tab, maksimal 5 tab sehari. mual, muntah, diare, ruam kulit, pruritus, penglihatan kabur. Hiperglikemia, urtikaria, eritema multiforma, agranulositosis, anemia pasien dengan gangguan defisiensi kalium, insufisiensi ginjal akut, wanita hamil, pasien hipersensitif, anuria, ibu menyusui 13. HORMON, ENDOKRIN LAIN DAN KONTRASEPSI 13.1 ANTIDIABETIK ANTIDIABETIK ORAL 40

126 99 Amaryl Glimepirid 1mg, 2 mg, 3 mg, 4 mg. Diabetes mellitus tipe 2 yang tidak cukup terkontrol oleh diet, latihan fisik dan penurunan berat badan saja, insulin. Dia bêtes mellitus tergnatung insulit tipe 1. Gangguan ginjal, disfungsi hati, wanita hamil dan menyusui. Tablet 1-8 mg per hari, dosis awal: 1 mg 1x sehari.dosis haria dapat ditingkatkan dengan interval 1-2 munggu. hipoglikemi, gangguan penglihatan sementara, gangguan GI, kerusakan fungsi hati. Jarang : trombositopenia, anemia hemolitik, gatal, ruam, urtikaria DM tipe 1, gangguan fungsi ginjal dan hati yang berat, hipersensitif terhadap sulfonil urea, hamil dan laktasi 41

127 100 Glucovance Glibenklamid, metformin hidroklorida tiap tab 1,25 /250 mg: 2,5/500, 5/500 mg/mg. 101 Glumin Metformin HCl 500 mg, 850 mg. Terapi tahap 2 untuk diabetes tipe 2 bila diet. NIDDM. Tablet Dosis di gunakan secara individu dengan mempertimbang angkan ke efektifan dan toleransi, dosis sehari tidak boleh dari 20 mg, glibanklamid & 200 mg metformin.dosis awal yang diromundasikan: 1sehari 1-2x 1,25/2,50 mg. Tablet Tab 500mg. Sehari 3x 1 tab, tab 850 mg, awal sehari 1x, pemeliharaan sehari 2x. infeksi saluran nafas atas, reaksi pada GI seperti diare, mual muntah & nyeri perut, sakit kepala, pusing, hipoglikemi gangguan GI, asidosis laktat (jarang) penyakit ginjal atau gangguan fungsi ginjal, gagal jantung kongestif, asidosis metabolik akut atau kronik koma diabetik, ketoasidosis, kerusakan ginjal, penyakit hati kronik, gagal jantung, infark miokardium, hipoksemia, hipersensitif, insufisiensi pulmonal 42

128 102 Metformin Metformin 500 mg. D tipe 2 dan penderita yang sudah overweight yang kadar gula darahnya tidak bias dikontrol hanya dengan diet saja. Tablet Awal sehari 3x 500 mg maks 3b/hari HORMON KELAMIN DAN OBAT YANG MEMPENGARUHI FERTILITAS ESTROGEN 103 Diane 35 Estradiol valerat 2 mg/tab. 104 Renodiol Metilestrenolon 5 mg, metilestradiol 0,3 mg KONTRASEPTIK 105 Microgynon Etinil estradiol 0,03 mg, levonorgestrel 0,15 mg, plus 7 tab besar plasebo. Simtomatik gejala klimakterik, dan pengganti estrogen. Pengobatan tidak terjadinya masa haid pada kasus tertentu. Pil Pil Kontrasepsi oral. Pil Sehari 1 tablet selama 21 hari 1 tablet selama 2 hari berturutturut Sehari 1 tab mulai pada hari pertama siklus haid. gangguan GI, asidosis laktat (jarang) perlunakan atau nyeri pada payudara, sakit kepala, perasaan depresi, perubahan BB, mual, nyeri perut edema, sakit kepala, mual perlunakan atau nyeri pada payudara, sakit kepala, perubahan suasana hati, perubahan BB, mual, nyeri perut koma diabetik, ketoasidosis, kerusakan ginjal, penyakit hati kronik, gagal jantung, infark miokardium, hipoksemia, hipersensitif, insufisiensi pulmonal Hamil, laktasi, tumor hati, DM berat, pendarahan vagina yang abnormal. hamil, riwayat ikterus idiopatik, pruritus berat atau pemfigoid gestasional selama kehamilan trombosis vena, migren dengan gejala neurologi lokal, DM dengan gejala vaskuler, penyakit hati berat, tumor hati, anemia sel sabit, hamil 43

129 106 PIL KB Levonogestrel 0,15mg, etinestradiol o,o3 mg, tiap 21 tab salut gula ukuran lebih kecil, tiap 7 tab salut gula lebih besar,. 107 Yasmin Drospirenon 3 mg, etinelistradiol 0,03 mg INDUKTOR 108 Fensipros Klomifen sitrat 50 mg. Kontrasepsi oral Pil Kontrasepsi oral dengan afek anti mineral kartikoid dan antiadrogenik. Pengobatan infertilitas pada wanita dan pria. Pil Sehari 1 tab mulai hari pertama haid, mengikuti arah panah sampai kemasan kosong. Mulai pada hari pertama mentruasi, sehari 1 tab selama 21 hari, lalu 7 hari tanpa tab, dan seterusnya. Tablet fertelitas pada wanita: sehari 1 tab selama 5 hari, di mulai pada hari ke-5 siklus mentruasi. perlunakan atau nyeri pada payudara, sakit kepala, perubahan suasana hati, perubahan BB, mual, nyeri perut gangguan siklus menstruasi, pendarahan, nyeri payudara, sakit kepala, pusing, depresi, migren, mual, kandidiasis vagina pembesaran ovarium, rasa tidak nyaman pada perut, gejala vasomotor (wajah merah dan panas), mual, muntah, rasa tidak nyaman pada payudara & gangguan visual, gugup, insomnia, sakit kepala, pusing, berkemih, depresi, lelah, dermatitis, urtikaria, peningkatan BB, kerontokan rambut temporer trombosis vena, migren dengan gejala neurologi lokal, DM dengan gejala vaskuler, penyakit hati berat, tumor hati, anemia sel sabit, hamil trombosis arteri atau vena. DM dengan gejala vaskuler, penyakit hati berat, insufisiensi ginjal atau gagal ginjal akut, hamil, laktasi, hipertensi berat, perokok berat, usia >35 tahun insufisiensi hati, hamil, kista ovarium. Gangguan organik pada pituitari, ovarium atau organ reproduksi lain. Pendarahan uterus abnormal, endometriosis ovarium. Disfungsi tiroid atau adrenal tidak terkontrol 44

130 13.3 HORMON TEROID DAN ANTITIROID ANTIHIPERTIROIDESME 109 Thyrozol Tiamazol 5mg, 10mg, 20mg KORTIKOSTEROID DAN KORTIKOTROPIN Hipertirodisme terutama pasien usia muda, persiapan operasi. Tablet mg perhari, kasus ringan, sehari 2x 1 tab 20 mg. reaksi alergi kulit, mual, muntah, rasa tidak nyaman pada epigastrum, kehilangan daya pengecapan, sakit kepala, pruritus, mengantuk, edema, vertigo, pigmentasi kulit, ikterus granulositopenia, kolestasis sebelum mulai terapi, laktasi 110 Dexa methasone Dexametason 0,5 mg. Anti alergi, anti inflamasi, reumatik, pernapasan. Tablet Sehari awal 0,75-9 mg. retensi cairan & elektrolit, meningkatkan kemungkinan infeksi, gangguan pertumbuhan, sindrom cushing, amenorea, hiperhidrosis, gangguan mental, hipertensi intrakranial, pankreatitis akut ulkus peptik, osteoporosis, infeksi akut, laktasi 111 Kemotason Dexametason 0,5mg. alergi, penyakit kulit,penyakit neoplastik. Tablet Dosis permulaan sehari 0,75-9 mg retensi cairan & elektrolit, meningkatkan kemungkinan infeksi, gangguan pertumbuhan, sindrom cushing, amenorea, hiperhidrosis, gangguan mental, hipertensi intrakranial, pankreatitis akut ulkus peptik, osteoporosis, infeksi akut, psikosis atau psikoneurosis berat 45

131 112 Kenacort Triamsinolon 4 mg. Demam, reumatik.asma bronchial Tablet Dewasa: Sehari 4-48 mg. rasa panas dan kemerahan pd wajah, berkeringat, akne, hirsutisme, vertigo, sakit kepala, tromboemboli,tukak peptik, esofagitis ulseratif, pankreatitis akut, peningkatan TIK TBC aktif, laten atau yang sudah sembuh, psikosis akut 113 Ketricin Triamsinolon asetonid 114 Methyl prednisolone OBG DEXA Lesi akut dari mukosa rongga mulut Metilprednisolon Abnormalitas fungsi adrenokortikal penyakit kolagen keadaan alergi dan peradangan pada kulit dan saluran pernapasan tertentu penyakit hematologik, hiperkalsemia. Tablet Oleskan pada membrane mukosa oral sehari 2-3x setelah makan dan sebelum tidur. Tablet Dewasa sehari 4-48mg. Anak sehari 0,117 mg/kgbb atau sehari 3,33mg/m2 luas permukaan dalam dosis terbagi 3. gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, gangguan muskuloskeletal, GI, dermatologik, neurologik, gangguan oftalmologik & metabolik, insomnia, memburuknya infeksi atau menutupi gejala infeksi gangguan elektrolit dan cairan tubuh, kelemahan otot, penurunan resistensi terhadap infeksi, gangguan penyembuhan luka, meningkatnya TD, katarak, gangguan pertumbuhan pada anak, osteoporosis, tukak lambung pasien dengan infeksi jamur sistemik TB, infeksi jamur sistemik, ulkus peptik, herpes, DM dan varisela 46

132 115 Prednisone Prednisone 5mg Pengobatan untuk kasus alergi, inflamasi, rematik, 116 Sanexon Metil prednisolon 4mg/8mg/ 16mg/tab. Metilprednisolon 125mg/2ml; 500mg/8ml 13.5 OBAT MEMEPENGARUHI TULANG 117 Osteocal Kalsium karbonat tablet Abnormalitas fungsi adrenokortikal, gangguan alergi, kolagen, penyakit hati,hiperkalsemia Supleman kalsium untuk membantu kekurangan kalsium pada wanita hamil dan menyusui Tablet Sehari 1-4 tablet gangguan elektrolit dan cairan tubuh, retensi Na dan cairan, kehilangan kalium, hipertensi, gagal jantung kognitif, gangguan muskuloskeletal, GI, kulit, neurologi, endokrin, mata, metabolik, reaksi anafilaksis Tablet /sirup Dewasa sehari 4-80mg dosis dapat ditingkatkan 16mg sehari. Anak 2-4mgsehari dosis dapat ditingkatkan 8 mg moon face, kelemahan otot, obesitas, osteoporosis, penuruna toleransi glukosa, penghambatan pertumbuhan pd anak, sakit kepala, vertigo, gangguan elektrolit dan retensi cairan, dermatologi TBC aktif, infeksi jamur sistemik, tukak peptik, herpes simpleks okular, gangguan saraf, gangguan ginjal, gangguan jantung ulkus lambung, osteoporosis, gangguan psikiatrik, amebiasis, infeksi mikosis sistemik, poliomyelitis Tablet Sehari 1-2 tablet kembung, diare, atau konstipasi hiperkalsemia dan hiperkalsiuria berat, insufisiensi ginjal berat 47

133 118 Osvion plus Vitamin C,Vitamin D mono sulfat, Zn sulfat, selenium dioksida HCl, Metil sufonil metan, kondroitin sulfat 14. OBAT KARDIOVASKULAR 14.1 ANTIANGINA 119 Adalat Nifedifin 5mg,10mg 120 Cedocard Isosorbid dinitrat 5m, 10mg 14.2 ANTIDISRITMIA 121 Kendaron Amiodaron HCl 200mg 14.3 ANTIHIPERTENSI Memelihara kesehatan fungsi persendiaan dan bermanfaat bagi penderita osteoartritis Terapi dan propilaksis insufiensi kororner akut dan koronik Angina pektoris Tablet sub lingual Pengobatan fibrilasi verikular yang berulang dan tarkikardia ventricular yang tidak stabil secara hemodinamik kapsul Sehari 1 kapsul Tablet Dosis tunggal sehari 3x5-10mg 1-2 tablet sublingual 5mg setiap 2-3 jam Tablet Sehari 3x1 tab selama seminggu sakit kepala, edema, vasodilatasi, konstipasi, gelisah hipotensi orthostatik, wajah/leher panas & kemerahan, sakit kepala, gangguan GI, denyut nadi cepat, ruam kulit (jarang) gangguan GI, sakit kepala, lesu/letih, mialgia, termor, ataksia, gagal jantung kongestif, inflamasi paru hipersensitifitas thd dihidropiridin, hipotensi berat, syok KV, infark miokard akut, hamil dan laktasi glaukoma, anemia, hipertiroid, infark miokardium sinus bradikardi, hamil, distiroidisme 48

134 GOLONGAN ACE INHIBITOR 122 Captropil Kaptropil tab 12,5mg, 25mg, 50mg 123 Clonodin Klonidin HCl 0,25mg 124 Dexacap Kaptropil tab 12,5mg, 25mg, 50mg GOLONGAN BETA BLOKER Hipertensi ringan sampai dengan sedang Hipertensi ringan -sedang Hipertensi,gagal jantung 125 Bisoprolol Bisoprolol 5 mg Sebagai terapi tunggal atau kombinasi dengan antihipertensi 14.4 PENURUN KOLESTEROL Tablet Dewasa Dosis sehari awal 2x12,5mg, dosis maksimum sehari 3x50mg. Anak 0,3mg/kgbb/hari maks 0,6mg/kgbb/hari Tablet Sehari 2x1/2 tablet Tablet Dewasa Dosis sehari awal 2x12,5mg, dosis maksimum sehari 3x50 mg. Anak 0,3mg/kgbb/hari maks 0,6mg/kgbb/hari Tablet Awal sehari 1x 5mg dapat dinaikan 10 sehari 20 mg. ruam kulit, pruritus, muka kemerahan, batuk kering, gangguan pengecapan, hipotensi, gangguan GI, proteinuria hamil, hipotensi dengan gejala hiponatrium mulut kering, sedasi, rasa lelah sindrom sick-sinus. Blok AV derajat 2 atau 3 ruam kulit, pruritus, muka kemerahan, batuk kering, gangguan pengecapan, hipotensi, gangguan GI, proteinuria sensasi dingin atau kebal pd ekstremitas,mual, muntah, diare, konstipasi, lelah, pusing, sakit kepala hamil, hipotensi dengan gejala hiponatrium syok kardiogenik, sindrom sick-sinus. Blok Av derajat 2 atau 3, blok SA, bradikardi 49

135 126 Simvastatin Simvastatin 10 mg Mengurangi kadar kolesterol total dan LDL sebagai antikolesterol primer ataupun sekunder Tablet Sehari 1x10 mg (malam hari), sehari 1x5mg maksimal sehari 40mg nyeri perut, kembung, konstipasi, sakit kepala. Jarang : hepatitis dan reaksi hipersensitifitas hamil & laktasi, penyakit hati aktif atau peningkatan persisten dari transaminase serum 15. OBAT TOPIKAL UNTUK KULIT 15.1 ANTIAKNE 127 Medi-Klin Solution gel klidamisin fosfat 1,2 % Mengobati akne vulgaris Gel Dioleskan pada letak yang berjerwat tipis 1-2x sehari iritasi, kemerahan, ruam & kekeringan pd kulit hipersensitif thd klindamisin & linkomisin 128 Medi Klin TR Klidimisin Fosfat 1,2%, Tritinoin 0,025% Mengobati anti vulgaris yang disertai lesi inflamasi dan komedo tertutup dan terbuka Gel Dioleskan pada letak yang berjerwattipis 1xsehari iritasi, kulit kering, kemerahan pd kulit, gatal hipersensitif thd klindamisin & linkomisin. Hamil dan laktasi.dermatitis seboroik, kulit terbakar sinar matahari 15.2 ANTI BAKTERI 129 Oxytetracyclne Oksitetrasiklin HCl setara dengan Oksitetrasiklin HCl 30mg/g Infeksi-infeksi kulit yang disebabkanoleh mikroorganisme Salep Dioleskan sehari 2-3 kali pada bagian kulit yang sudah dibersihkan gangguan GI, gatal di anus dan vulva, hambatan pertumbuhan tulang sementara, perubahan warna pd gigi dan hipoplasia enamel pd anak hipersensitif, gangguan ginjal, hamil, anak < 7 tahun 15.3 ANTIFUNGI 50

136 130 Canesten Krim dan cairan klotrimazol 1% Pengobatan topikal candida albicans Krim /cairan Sehari 2-3 kali dioleskan eritema, rasa tersengat, lepuh, kulit mengelupas, edema, gatal, urtikaria, rasa terbakar & iritasi pd kulit hipersensitif thd klotrimazol 131 Daktarin Mikonazol nitrat 2% Dermatosis Mikosi dan berbagai infeksi jamur superinfeksi karena infeksi gram positif Krim Dioleskan tipis sehari 2x lama gantung letak dan pengobatan letak dan luas. iritasi, alergi Hipersensitif 132 Mycostatin Nistatin UI/g 15.4 ANTIVIRUS Terapi pencegahan kandiditasis pada kulit Dioleskan tipis sehari 2x lama gantung letak dan pengobatan letak dan luas. diare, rasa tidak nyaman pd GI, mual dan muntah (dosis besar) Hipersensitif 133 Licovir Asiklovir 50% Infeksi herpes simpleks Krim Dioleskan sampai menutup lesi selama 3jam ruam kulit, reaksi neurologis yg reversibel, gangguan GI, peningkatan bilirubin dan enzim hati, peningkatan kadar urea & kreatinin darah, sakit kepala, rasa lelah, penurunan indeks hematologik hipersensitif thd asiklovir 15.5 ANTIINFLAMASI ANTIEKZEM 51

137 134 Hydrocortisone Hidrokortisaone asetat 2,5% Menekan reaksi radang pada kulit yang bukan disebabkan infeksi alersi kulit Krim Dioleskan sehari 2-3x sehari hilangnya atropi kulit setempat (pemakaian lama dan terus menerus),jaringan kolagen kulit, erupsi yg menyerupai akne, gatal, dermatitis kontak alergi penyakit virus, infeksi jamur dan bakteri pd kulit, akne, dermatitis perioral, laktasi 15.6 Lain-lain 135 Albothyl Polikresulen 3,6 mg/ml Sebagai keputihan, epikstatits, stokmatitis, polipektomi, tonsilektomi Larutan Sesuai pemakaian rasa tidak enak pd permulaan terapi yang akan hilang jika terapi dihentikan 136 Herocyn Balsem peru 2%, seng oksida 3,5 %, belerang endap 1,42 %, asam salisilat 0,8 %, kamfer 0,31%, mentol 0,47%, talk 100% 137 Kalpanax Cairan: asam salisilat 4%, asam benzoate 4%, povidon iodide 0,5%, Untuk mengobati gangguan seperti biang keringat. Cairan: panu, kadas dan lainlainnya,jamur pada kulit, salep: kutu air, panu, kadas atau kurap. bedak sehari beberapa kali taburkan pada tempat yang sakit setelah di bersihkan. Larutan Oleskan pada kulit 52

138 138 Konicare Peru balsem 20%, mentol 1,2 %, seng oksida 4,5%, asam salisilat 0,8%, sulphur presipitat 3,2%, kamfer 0,18%, serbuk bedak, biang keringat, kalamin 10%, mentol 0,01%, seng oksida 2%, kamfer 0,05%. Gatal-gatal, biang keringat, serta gangguan kulit lain. Bedak Oleskan bagian yang nyeri merata, gosok sampai meresap ke dalam kulit, bila perlu pemakaian dapat di ulang sampai sehari 3x. 139 Melanox forte Hidrokuinon 4%. Hiperpegmentasi kulit, noda hitam. Krim Oleskan sehari 1x pada malam hari, gunakan kriem pelindung sinar matahari pada siang hari. kadang-kadang dapat terjadi hipersensitifitas 53

139 140 Minyak angin cap kapak. Mentol 20%, kamfer 5%, minyak eucalyptus 15%, minyak esensial 12%, metil salisilat 15%. 141 Minyak telon Cajuput oil 0,45ml, coconut oil 0,5ml, anise oil 0,05ml/ml Menghilangkan dengan segala rasa sakit pada rematik, mual dalam perjalana, pilek,ckeseleo, influenza, sakit urat saraf, sakit gigi,sakit otot, badan lesu, gatal digigit serangga. Menghangatkan kulit dan menghilangkan rasa pegel-pegel. Larutan Oleskan 1-2 tetes pada bagian yang sakit. Larutan Gunakan secukupnya. 16. LARUTAN ELEKTROLIT NUTRISI DAN LAIN LAIN 16.1 ORAL 142 Oralit natrium klorida 0,52 g, kalium klorida 0,3 g, trinatrium sitrat hidrat 0,58 g, glukosa anhidrat 2,7 g untuk 1 gelas air. Mencegah dan mengobati kurang cairan akiat diare, mencret dan muntaber. Serbuk Anak di bawah 1 tahun, sampai 3 jam pertama 1 ½ gelas, selanjutnya ½ gelas setiap kali mencret. 17. OBAT UNTUK MATA 54

140 17.1 SISTEMIK 143 Opibright Ekstra billberry 80 mg, beta karoten 5mg, retinol 1,600 UI, vit-e 40mg TOPIKAL ANTIMIKROBA 144 Cendoxitrol Deksametason 0,1 %, neomisin 3,5 mg polimiksin B- sulfat 6000 UI/ml. 145 Gentamycin Gentamisin sulfat 0,3 % 146 Kloramixin Kloramfenikol 0,2%, polimiksin B sulfat 2,500 IU/ml ANTIINFLAMASI Membantu kesehatan mata. Infeksi bakteri pekak neomisindan polimiksin, tidak bernananh, tukak kornea. Infeksi mata yang sensitive terhadap gentamycin. Pengobatan infeksi mikroba yang pekak terhadap kloramfenikol dan polimiksin pada mata. Tablet Sehari 2-3x 1 tab. Tetes Tetes mata Tetes mata tiap 4 jam 1-2 tetes pada mata yang sakit, dapat di tingkatkan 2 tetes tiap jam. Sehari 4-6 x1-2tetes. iritasi lokal reaksi alergi, gangguan daya penglihatan, eritropoesis, hipoplasia sum-sum tulang termasuk anemia aplastik Hipersensitif infeksi karena jamur atau virus Hipersensitif 55

141 146 Insto Tetrahidrozolin HCL 0,05%, benzalkonium chloride 0,01%. 147 Rohto Tetrahidrozolin HCL 0,05%, magnesium L- aspartat kalium-l aspartat (1:1), asam borat, natrium borat, benzalkonium klorida, klorbutanol. Mata lelah, mata merah, mata perih dan mata gatal karena iritasi debu, asap,angin, banyak membaca, setelah berenang, menonton tv, lama mengemudi. Iritasi mata ringan, yang di sebabkan oleh debu, asap, terkena sengatan matahari, dingin, pemakaian lensa kontak, terlalu banyak membaca atau iritasi setelah berenang. Tetes mata Tetes mata 2-3 tetes pada setiap mata, sehari 3-4x. Sehari 2-3x 1-2 tetes pada mata yang sakit. mata terasa pedih, panas seperti terbakar & hiperemia reaktif jika digunakan secara berlebihan mata terasa pedih, panas seperti terbakar & hiperemia reaktif jika digunakan secara berlebihan glaukoma. Jangan digunakan bersama lensa kontak & untuk pengobatan jangka lama Glaukoma 148 Visine Tetrahidrozolin HCL 0,05%. Meredahkan mata merah karena iritasi mata ringan. Tetes mata Sehari 2-3x 1-2 tetes. rasa tersengat & panas pada mata & hiperemia reaktif Glaukoma MIDRIATIK 56

142 149 Cendo carpine Pilokarpin HCl 1%, 2%, 4% LAIN-LAIN 150 Vitrasin Tetrahidrozolin HCl 0,5 mg/ml 18. PSIKOFARMAKA 18.1 ANTIANSIETAS DAN ANTIINSOMANIA 151 Diazepam Diazepam 2 mg, 5mg/tab, Anti glaukoma simplek kronis. Mata lelah,mata merah, mata perih dan gatal,iritasi debu,asap,angin,b anyak membaca setelah berenang. Tetes mata tetes mata. Sehari 3-4x 2 tetes. Sehari 3-4x 2tetes. Kejang otot. Tablet Dewasa 3x 2-5 mg sehari. Lansia 1-2 x mg sehari rasa terbakar, ngilu, gatal, penglihatan kabur, menurunkan ketajaman penglihatan, miopia, kongesti vaskular konjungtiva rasa tersengat & panas pd mata & hiperemia reaktif gangguan mental, mengantuk, amnesia, ketergantungan, penglihatan kabur, retensi urin, depresi pernafasan, hipotensi, ataksia, depresi pulmoral, tremor, vertigo, konstipasi, gangguan bicara kondisi konstriksi papilar yg tidak diinginkan seperti iritis akut,glaukoma blok papilar, menggunakan lensa kontak Glaukoma psikosis berat, glaukoma sudut sempit akut. Bayi prematur atau baru lahir, serangan asma akut, miastenia gravis, hamil trisemester Renaquin Lorazepam 1 mg. Trankuilizer minor. Tablet Sehari 2-3x 1mg. mengantuk, pusing, sedasi, letih, bingung, lelah & gangguan tidur. Perubahan nafsu makan, gangguan penglihatan, efek GI gangguan depresi primer, terapi primer psikosis, hamil, anak < 12 tahun 57

143 153 Xanax Alprazolam 0,25 mg, 0,5mg, 1 mg. Gangguan kecemasan, gejala kecemasan. Tablet Kecemasan dosis awal: sehari 3x 0,25-0,50 mg, dosis biasa sehari 0,50-4 mg, di berikan dalam beberapa kali pemberian. mengantuk, gangguan bicara & kordinasi, gangguan daya ingat, lelah, depresi glaukoma sudut terbuka akut, pasien yg sensitif terhadap benzodiazepin 18.2 ANTIDEPRESI DAN ANTIMANIA 154 Kalxetin Fluoksetin HCl setara dengan fluoksetin 10 mg; 20mg. Depresi Kap Sehari 20 mg, maksimal sehari 80 mg. ansietas, gelisah, insomnia, mengantuk, lelah, tremor, berkeringat, anoreksia, mual, diare, pusing hipersensitif 19. OBAT UNTUK MESTENIA GRAVIS 155 Mestinon Piridostigmin Br 60 mg. Miastenia gravis Tablet salut gula Dewasa: Sehari mg, anak 6-12 tahun sehari 60 mg. mual, muntah, hipersalivasi, kram abdomen hipersensitif thd bromida, obstruksi GI atau saluran kemih, asma bronkial 20. OBAT UNTUK SALURAN CERNA 20.1 ANTASIDA DAN ULKUS 58

144 156 Antasida doen Al hidroksida gel kering yang setara dengan Al hidroksida 200mg, Mg hidroksida 200mg. Obat sakit maag, untuk mengurangi nyeri lambung yang disebabkan oleh kelebihan asam lambung dengan gejala mual dan perih. 157 Cimetedine Simetidin 200mg. Pengobatan jangka pendek tukak usus 12 jari, tukak lambung, pencegahan perdarahan saluran cerna atas. 158 Dexanta Al- hidroksida 200 mg, mghidroksida setara dengan mg-oksida 200mg, dimetilpolisiloksa n aktif 20mg/5ml atau tiap tab. Tukak lambung dan perut kembung, dan nyeri ulu hati. Tablet Dewasa: Sehari 3-4x 1-2 tab, anak 6-12 tahun sehari 3-4 x ½ - 1 tab. Tablet Untuk tukak usus 12 jari : 800mg/hari, sebelum pemeliharaan tukak usus 12 jari: 400mg, tukak lambung, 800 mg 1x Suspensi Sehari 5-10ml susp, diantara makan dan akan tidur. gangguan GI diare, ruam, pusing, lelah, ginekomastia. Jarang : alergi, mialgia, kelainan darah konstipasi, diare, obstruksi intestinal (dosis besar) Disfungsi ginjal berat, hipersensitif. Hipersensitif terhadap simetidin. disfungsi ginjal 59

145 159 Magalat Magaldrat 480 mg, simetikon 20mg/tab, magaldrat 540 mg, simetikon 20mg/ml. 160 Magasida Aluminium, magnesium hidroksida gel kering 461 mg, simetikon 20 mg, tiap tab kunyah atau 5 ml suspensi. 161 Mylanta Al- hidroksida gel kering 200 mg, mg- hidroksida 200 mg,simetikon 20 mg/ml atau tab. 162 Omeprazol Omeprazol 20 mg. Gangguan lambung karena hiperasiditas dengan atau tanpa rasa kembung. Tukak lambung dan usus 12 jari, perut kembung karna gas di dalam perut. Mengurangi gejala yang berhubungan dengan kelebihan asam lambung. nyeri lambung, nyeri ulu hati. Pengobatan jangka panjang tukak husus, dan tukak lambung. Tablet/ Suspensi Tablet/ Suspensi Tablet/ Suspensi 1-2 tab atau 1-2 sdt sehari 3-4x. 1-2 tab, 1-2 sendok 5 ml suspensi Dewasa: 1-2 sdt atau 1-2 tab, sehari 3-4x. Anak 6-12 tahun, ½ -1 sdt atau ½ -1 tab, sehari 3-4x Kapsul Dewasa: Sehari 1x mg. gangguan fungsi usus, hipofasfatemia, konstipasi, diare (jarang) gangguan GI gangguan GI seperti sembelit, diare, mual, muntah mual, muntah, sakit kepala, diare, konstipasi, nyeri perut, ruam kulit insufisiensi ginjal. Disfungsi ginjal berat, hipersensitif. Gangguan fungsi ginjal berat. Hipersensitif 163 Promag Hidrotalsit 200 mg, Mg- hidroksida 15 mg, simetikon. Kelebihan asam lambung, perut kembung, perut sakit dan kolik, Tablet diare, konstipasi Hipersensitif 60

146 164 Ranitidine Ranitidine 150 mg/ tab, 25mg/ml inj ANTIEMETIK 165 Antimo Dimenhidrinat 50 mg, dimenhidrinat 12,5 mg/sachet. 166 Domperidone Domperidon 10 mg. Tukak lambung. Tablet Dewasa: Oral: sehari 2x1 tab.menjelang tidur malam hari selama 4-8 minggu. Mabuk perjalanan Tablet larutan Dewasa 1 tab 8-12 tahun ½ tab 5-8 tahun ¼ tab. sakit kepala, pusing, mual, konstipasi, nyeri abdomen, ruam kulit depresi susunan saraf pusat seperti mengantuk, lesu, pusing dan gangguan koordinasi. Sakit kepala, gangguan psikomotor, efek antimuskarinik, seperti mulut kering, pandangan kabur, retensi urin, konstipasi. gangguan saluran cerna seperti mual muntah Mual dan Muntah Tablet Sehari 3x1 tab. jarang : kram ringan pd perut, peningkatan kadar prolaktin serum Hipersensitif pendarahan, obstruksi mekanik atau perforasi GI, prolaktinoma 167 Vometa Domperidon 10 mg/ tab, 5 mg/5 ml sirup, 5mg/ml drops ANTIPASMODIK Mual,muntah, sindrom yang sering pengosongan lambung yang terlambat. Tablet Dewasa dan lansia 3x mg 0,2-0,4 mg/kgbb tiap 4-8 jam jarang : kram ringan pd perut jika terjadi stimulasi thd motilitas lambung dianggap membahayakan 61

147 168 Librax Klordiazepoksid 5 mg, klidinum bromida 2,5 mg, 279 mg karbohidrat. Teraapi tambahan paska pengobatan tukak petik dan sindrom perut. Tablet Lazim oral : sehari 1-4x1 atau 2 tab. mulut kering, konstipasi, agranulositosis, reaksi alergi, mengantuk glaukoma 20.4 OBAT UNTUK DIARE 169 Biodiar Attapulgit 630 mg. Antidiare. Tablet Dewasa: Maksimum sehari 6 tab. konstipasi lesi stenosis pd GI. Demam tinggi 170 Diapet Ekstrak psidii folium 23,5 %, ekstrak curcuma domesticae rhizome 12,5%, ekstrak coix lacrima jobi semen 18%, ektrak phellodendri radix 23 %, ekstrak coptidis rhizome 23%. Mengobatkan mencret dan memadatkan kembali feses yang cair, mengatasi rasa mulas. Kaplet Dewasa dan anak sehari 2-3x2 kap, untuk penyembuhan diare akut 2x2 kap. anak < 5 tahun 171 Nifural Nifuroksazid 250mg/5ml sirup. Diare akut pada dewasa, diare yang di sebabkan oleh E.coli. sirup Sehari 3-4x 1-2 sdt, anak lebih dari 6 bulan sehari 3x1 sdt, kurang dari 6 bulan sehari 2x1 sdt. neurotoksisitas berat. Nyeri abdomen, diare, pigmentasi hijau pd lidah, urin & feses. Kerusakan serebral kerusakan fungsi ginjal & hati. Hipertiroid, intoleransi iodium 62

148 20.5 LAKSATIF 172 Dulcolax Bisakodil 10mg/supositoria, 5 mg/supositoria, anak 5 mg LAIN-LAIN Sembelit, menghilangkan rasa nyeri pada buang air besar, sebelum dan setelah operasi. Tablet Dewasa: Sehari 1x1 atau 1x2 supositoria, jika perlu. Anak 1x1 kram & nyeri abdomen. Diare, reaksi alergi obstruksi intestinal, kondisi pd abdomen yang memerlukan tindakan operasi termasuk apendisitis, penyakit inflamasi akut pada usus besar & dehidrasi berat 173 Laktobion Laktoferin 100mg, laktulosa 100 mg, bifidobacteria 100 milion cell. Mengatur sistem imun, memperbaiki flora usus. Tablet Maksimal Sehari 6 tab. kembung, mual, muntah, diare, kehilangan cairan, mulut kering galaktosemia, diet rendah galaktosa, obstruksi usus 21 OBAT UNTUK SALURAN NAFAS 21.1 ANTIASMA 174 Asmadex Teofilin anhidrat 130 mg, efedrin HCl 10 mg. Asma bronkial, asma bronkitis, kejang bronkus, alergi. Tablet Dewasa: Sehari 3x1-2 tab, anak sehari 2-3x ½ -1 tab. mengantuk, pusing, mulut kering, gangguan dan pendarahan GI, insomnia, palpitasi, ansietas, sakit kepala hipertiroid, hipertensi, penyakit koroner 175 Ephedrine HCl Efedrin HCl Asam, bronchitis, emfisema. Tablet Dewasa: sehari 1-3 tablet mual, muntah, sakit kepala, diare, insomnia hipertiroid, hipertensi, gangguan jantung, glaukoma 63

149 176 Lasal Salbutamol sulfat 2 mg. 4 mg,/kap, 2mg/5 ml sirup, Asma bronkial, dan penyakit paru lain. Kapsul/si rup sehari 3-4x, Dewasa 2-4 minggu, anak 6-12 tahun, 0,1-0,2mb/ kg BB/hari. tremor, palpitasi hipertensi, insufisiensi miokardial, diabetes & gangguan KV, hipersensitifitas thd salbutamol sulfat 177 Neo napacin Teofilin 130 mg, efedrin 25 mg. 178 Salbutamol Salbutamol sulfat setara salbutamol 2mg dan 4 mg per tab dan 2mg/5ml sirup. Asma, sesak napas. Kejang bronkus, pada asma bronkial, bronkitis kronis dan emfisema. Tablet - Tablet/ sirup >12 tahun 2-4 mg, sehari 3-4x atau 1-2 sendok (5-10ml). anak 2-6 tahun, 1-2 mg sehari 3-4x atau ½ -1 sdt.6-12 tahun, sehari 3-4x 1 sdt sirup. mual, muntah, sakit kepala, diare, insomnia tremor, palpitasi hipertiroid, hipertensi, gangguan jantung, glaukoma hipertensi, insufisiensi miokardial, diabetes & gangguan KV, hipersensitifitas thd salbutamol sulfat 21.2 ANTITUSIF 179 Benadryl DMP Difenhidramin HCl 5 mg, dekstrometorfan HBr 7,5 mg/5ml. Meringankan batuk dan pilek. sirup Tiap 4-6 jam. Dewasa 10ml, 4-12 tahun, 5-10ml, 2-4 tahun, 2,5ml. 64

150 180 Decadryl DHB Diphenhidramin HCl 13,5mg, ammonium klorida 131,5 mg, HBr 10 mg/5ml. Batuk, pilek,asma,sesak nafas gangguan perut, alergi. sirup Tiap 2-3 jam 1-2 sdtk, anak 3 jam1/2-1 sdtk. 181 Dextromethorp han Dekstrometorfan HBr 15 mg/tab dan 10 mg/5 ml sirup. Meringankan batuk tidak berdahak, atau menimbulkan rasa sakit. Tablet/ sirup Dewasa dan anak >12 tahun, sehari 3x 1 tab, anak 6-12 tahun 3x ½ -1 sendok teh sehari. mengantuk, mual, pusing, konstipasi 182 Ikadryl DMP Difenhidramin HCl 10 mg, dekstrometorphan HBr 15 mg, guaifenesin 100mg, fenilefrin HCl 15 mg. Mengobati batuk dan filek di sebabkan oleh alergi. sirup Dewasa Sehari 3x1 tab, anak 6-12 tahun, sehari 3x ½ sdtk setiap 6 jam. gangguan GI, anoreksia atau peningkatan nafsu makan, penglihatan kabur, gangguan kencing, neonatus atau bayi prematur, serangan asma akut 183 Komix Dekstrometorfan HBr 15 mg, klorfeniramin maleat 2 mg, ammonium klorida 100mg. Antitusip dan ekspektoran pada batuk produktif maupun non produktif. Sirup Sehari 3-4x 1-2 sachet, anak sehari 3-4x ½ -1 sachet. mengantuk, mual, pusing, konstipasi 65

151 184 Konidin klorfeniramin maleat 2 mg, Dekstrometorfan HBr 15 mg, gliserin guaiakolat 100mg. Batuk kering, batuk pilek, batuk sesak dan meringankan batuk. Tablet/ sirup Dewasa dan anak, di atas 12 tahun, sehari 3x1-2 tab, Dewasa sehari 3x 5ml sirup. 185 Sanadryl DMP Dekstrometorfan HBr 15 mg, difenhidramin HCL 12,5 mg, fenilefrin HCL 5 MG, ammonium klorida 100mg, na-nitrat 50 mg, menthol 1 mg/5 ml. Meringankan gejalah batuk, tidak berdahak atau batuk karena alergi. Sirup Dewasa sehari 3-4x sdt sirup, anak 6-12 tahun sehari 3-4x 1sdt sirup. mengantuk, pusing, gangguan kordinasi,sekresi saluran nafas mengental, mulut kering hamil & laktasi, glaukoma, asma bronkial, gagal nafas, 186 Wood antitusif Dekstrometorfan HBr 7,5 mg,/5ml. difenhidramin HCl 12,5mg. Batuk non produktif yang berhubungan dengan alergi. Sirup Dewasa: sehari 3 x 1 sendok makan (15 ml) muntah, pusing, mengantuk, konstipasi hamil & laktasi, glaukoma, asma bronkial, gagal nafas 187 Yekadryl extra difenhidramin HCl 12,5 mg, Dekstrometorfan HBr 15 mg. ammonium klorida 125mg/5ml. Meredakan batuk di sertai alergi. Sirup Dewasa dan anak > 12 tahun 1-2 sdtk setiap 6 jam, anak 6-12 tahun, ½ -1 sdt setiap 6 jam. muntah, pusing, mengantuk, konstipasi hamil & laktasi, glaukoma, asma bronkial, gagal nafas, 66

152 21.3 MUKOLITIK DAN EKSPEKTORAN 188 Bisolvon Bromheksin HCL 4 mg/5 ml.eliksir 2mg/5ml, inj 8mg. Paru meradang kronik, merangsang pembentukan dahak. Tablet, sirup Eliksir Dewasa sei 3x10ml, anak sehari 3x 5ml, bayi dan anak kecil sehari 3x 2,5 ml. diare, mual, muntah, gangguan GI ringan lain, reaksi alergi termasuk ruam kulit, urtikaria, bronkospasme, anafilaksis 67

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK MEDIKO FARMA JL. PINANG RAYA NO. 10 PONDOK LABU CILANDAK JAKARTA SELATAN

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK MEDIKO FARMA JL. PINANG RAYA NO. 10 PONDOK LABU CILANDAK JAKARTA SELATAN UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK MEDIKO FARMA JL. PINANG RAYA NO. 10 PONDOK LABU CILANDAK JAKARTA SELATAN LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER RAHMI RAMDANIS, S.Farm

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA. Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 TENTANG STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA. Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 TENTANG STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 TENTANG STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MENIMBANG : bahwa dalam rangka meningkatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. hidup layak, baik dalam kesehatan pribadi maupun keluarganya termasuk di

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. hidup layak, baik dalam kesehatan pribadi maupun keluarganya termasuk di 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesehatan merupakan hak asasi manusia, setiap orang mempunyai hak untuk hidup layak, baik dalam kesehatan pribadi maupun keluarganya termasuk di dalamnya mendapat

Lebih terperinci

MEHTERIKESEHATAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI KESEHAT AN REPUBLIK INDONESIA. Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 TENTANG

MEHTERIKESEHATAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI KESEHAT AN REPUBLIK INDONESIA. Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 TENTANG .. MEHTERIKESEHATAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI KESEHAT AN REPUBLIK INDONESIA Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 TENTANG STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN 01 APOTEK MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Apotek Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh Apoteker. (Peraturan Pemerintah no 51 tahun 2009). Sesuai ketentuan perundangan

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 47 JALAN RADIO DALAM RAYA NO. 1-S, GANDARIA UTARA, KEBAYORAN BARU, JAKARTA SELATAN LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER

Lebih terperinci

2017, No Tahun 1997 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3671); 3. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika (

2017, No Tahun 1997 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3671); 3. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika ( No.276, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKES. Apotek. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2017 TENTANG APOTEK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 922/MENKES/PER/X/1993 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA PEMBERIAN IZIN APOTIK MENTERI KESEHATAN

PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 922/MENKES/PER/X/1993 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA PEMBERIAN IZIN APOTIK MENTERI KESEHATAN PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 922/MENKES/PER/X/1993 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA PEMBERIAN IZIN APOTIK MENTERI KESEHATAN Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan pelayanan apotik harus diusahakan agar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. mewujudkan tercapainya derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. mewujudkan tercapainya derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan dalam membantu mewujudkan tercapainya derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Pelayanan kesehatan adalah

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 284/MENKES/PER/III/2007 TENTANG APOTEK RAKYAT MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 284/MENKES/PER/III/2007 TENTANG APOTEK RAKYAT MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 284/MENKES/PER/III/2007 TENTANG APOTEK RAKYAT MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan dan memperluas akses

Lebih terperinci

Nomor : 1332/MENKES/SK/X/2002 TENTANG NOMOR. 922/MENKES/PER/X/1993

Nomor : 1332/MENKES/SK/X/2002 TENTANG NOMOR. 922/MENKES/PER/X/1993 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 1332/MENKES/SK/X/2002 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KESEHATAN RI NOMOR. 922/MENKES/PER/X/1993 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA PEMBERIAN

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA Jl. KARTINI RAYA NO. 34A, JAKARTA PUSAT PERIODE 26 SEPTEMBER 29 OKTOBER 2011 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER CYNTHIA

Lebih terperinci

PERANAN APOTEKER DI RUMAH SAKIT

PERANAN APOTEKER DI RUMAH SAKIT PERANAN APOTEKER DI RUMAH SAKIT Peranan Apoteker Farmasi Rumah Sakit adalah : 1. Peranan Dalam Manajemen Farmasi Rumah Sakit Apoteker sebagai pimpinan Farmasi Rumah Sakit harus mampu mengelola Farmasi

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 115 JL. PAMULANG PERMAI RAYA D2/1A PERIODE 13 FEBRUARI 22 MARET 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER Laukha

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong masyarakat untuk semakin memperhatikan derajat

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong masyarakat untuk semakin memperhatikan derajat 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong masyarakat untuk semakin memperhatikan derajat kesehatan demi peningkatan kualitas hidup yang lebih

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO.1 JL. GARUDA NO.47 JAKARTA PUSAT PERIODE 1 MEI 8 JUNI 2012

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO.1 JL. GARUDA NO.47 JAKARTA PUSAT PERIODE 1 MEI 8 JUNI 2012 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO.1 JL. GARUDA NO.47 JAKARTA PUSAT PERIODE 1 MEI 8 JUNI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER MUTIA ANGGRIANI,

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO.2 JL. SENEN RAYA NO. 66 JAKARTA PUSAT PERIODE 1 MEI 8 JUNI 2012

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO.2 JL. SENEN RAYA NO. 66 JAKARTA PUSAT PERIODE 1 MEI 8 JUNI 2012 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO.2 JL. SENEN RAYA NO. 66 JAKARTA PUSAT PERIODE 1 MEI 8 JUNI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER MAYA MASITHA,

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 47 JALAN RADIO DALAM RAYA NO. 1-S, GANDARIA UTARA KEBAYORAN BARU, JAKARTA SELATAN LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masalah kesehatan di Indonesia sebagai salah satu negara berkembang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masalah kesehatan di Indonesia sebagai salah satu negara berkembang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masalah kesehatan di Indonesia sebagai salah satu negara berkembang menjadi prioritas utama program pemerintah menuju masyarakat yang sehat dan sejahtera. Untuk

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Pengetahuan Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini setelah orang melakukan penginderaan terhadap obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK MEDIKO FARMA JL. PINANG RAYA NO. 10 PONDOK LABU CILANDAK JAKARTA SELATAN PERIODE 17 JUNI-16 AGUSTUS 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JALAN KARTINI RAYA NO. 34 JAKARTA PUSAT PERIODE 9 APRIL 15 MEI 2012

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JALAN KARTINI RAYA NO. 34 JAKARTA PUSAT PERIODE 9 APRIL 15 MEI 2012 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JALAN KARTINI RAYA NO. 34 JAKARTA PUSAT PERIODE 9 APRIL 15 MEI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER YODIFTA ASTRININGRUM,

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER MANGGARAI JAKARTA SELATAN

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER MANGGARAI JAKARTA SELATAN UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KESELAMATAN JALAN KESELAMATAN NO. 27 MANGGARAI JAKARTA SELATAN LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER KARTIKA FEBIYANTI NORMAN, S.

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU SELATAN. Tahun 2007 No. 15 PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU SELATAN NOMOR 15 TAHUN 2007

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU SELATAN. Tahun 2007 No. 15 PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU SELATAN NOMOR 15 TAHUN 2007 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU SELATAN Tahun 2007 No. 15 PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU SELATAN NOMOR 15 TAHUN 2007 TENTANG IZIN APOTEK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 47 JALAN RADIO DALAM RAYA NO. 1-S, GANDARIA UTARA KEBAYORAN BARU, JAKARTA SELATAN PERIODE 13 FEBRUARI 22 MARET 2012

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Obat merupakan komoditi utama yang digunakan manusia untuk

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Obat merupakan komoditi utama yang digunakan manusia untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Obat merupakan komoditi utama yang digunakan manusia untuk menunjang kesehatannya. Semua orang rela mengeluarkan uangnya untuk mendapatkan kesehatan, bahkan

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JL. KARTINI RAYA NO. 34, JAKARTA PUSAT

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JL. KARTINI RAYA NO. 34, JAKARTA PUSAT UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JL. KARTINI RAYA NO. 34, JAKARTA PUSAT LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER Tri Setiawan, S.Farm. 1006754075 ANGKATAN LXXIII

Lebih terperinci

GAMBARAN PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK WILAYAH KECAMATAN LAWEYAN KOTA SOLO TAHUN 2007 SKRIPSI

GAMBARAN PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK WILAYAH KECAMATAN LAWEYAN KOTA SOLO TAHUN 2007 SKRIPSI GAMBARAN PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK WILAYAH KECAMATAN LAWEYAN KOTA SOLO TAHUN 2007 SKRIPSI Oleh: ROSY MELLISSA K.100.050.150 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 6 JL. DANAU TONDANO NO.1 PEJOMPONGAN JAKARTA PUSAT PERIODE 2 MEI 8 JUNI 2012

UNIVERSITAS INDONESIA DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 6 JL. DANAU TONDANO NO.1 PEJOMPONGAN JAKARTA PUSAT PERIODE 2 MEI 8 JUNI 2012 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 6 JL. DANAU TONDANO NO.1 PEJOMPONGAN JAKARTA PUSAT PERIODE 2 MEI 8 JUNI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

Lebih terperinci

GAMBARAN PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK KABUPATEN SRAGEN TAHUN 2008 SKRIPSI

GAMBARAN PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK KABUPATEN SRAGEN TAHUN 2008 SKRIPSI GAMBARAN PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK KABUPATEN SRAGEN TAHUN 2008 SKRIPSI Oleh: WAHID BEKTI FITRIANTO K 100 040 146 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA SURAKARTA

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ENDEH JL. PANCORAN TIMUR NO. 37 JAKARTA SELATAN PERIODE 6 JUNI 1 JULI 2011 DAN 1 AGUSTUS - 12 AGUSTUS 2011 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI

Lebih terperinci

PENGELOLAAN OBAT DAN ADMINISTRASI APOTEK. Heru Sasongko, S.Farm.,Apt.

PENGELOLAAN OBAT DAN ADMINISTRASI APOTEK. Heru Sasongko, S.Farm.,Apt. PENGELOLAAN OBAT DAN ADMINISTRASI APOTEK Heru Sasongko, S.Farm.,Apt. Kegiatan administrasi di apotek (standar pelayanan kefarmasian) Administrasi umum pencatatan, pengarsipan, pelaporan narkotika, psikotropika

Lebih terperinci

BAB 11: PERBEKALAN FARMASI

BAB 11: PERBEKALAN FARMASI SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016 FARMASI BAB 11: PERBEKALAN FARMASI Nora Susanti, M.Sc, Apk KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN 2016 BAB XI PERBEKALAN

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 284 JL. SILIWANGI NO.86A, BEKASI PERIODE 13 FEBRUARI - 22 MARET 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER Diajukan

Lebih terperinci

Stabat dalam rangka pembinaan Puskesmas. BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pusat Kesehatan Masyarakat yang disingkat puskesmas adalah unit

Stabat dalam rangka pembinaan Puskesmas. BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pusat Kesehatan Masyarakat yang disingkat puskesmas adalah unit Puskesmas dan sebagai bahan masukan kepada Dinas Kesehatan Kota Stabat dalam rangka pembinaan Puskesmas. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Puskesmas Pusat Kesehatan Masyarakat yang disingkat puskesmas

Lebih terperinci

MENTERI KESEHATAN TENTANG

MENTERI KESEHATAN TENTANG PERATURAN MENTERI KESEHATAN Nomor : 922/MENKES/PER/X/1993 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA PEMBERIAN IJIN APOTIK MENTERI KESEHATAN MENIMBANG : a. bahwa penelenggaraan pelayanan Apotik harus diusahakan agar

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JALAN KARTINI RAYA NO. 34 JAKARTA PUSAT PERIODE 6 FEBRUARI- 16 MARET 2012 LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER I KADEK ARYA

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 2 JL. SENEN RAYA No. 66 JAKARTA PUSAT PERIODE 1 MEI 8 JUNI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER NENDEN PUSPITASARI,

Lebih terperinci

SURVEI KESALAHAN DALAM PENULISAN RESEP DAN ALUR PELAYANANNYA DI APOTEK KECAMATAN AMPEL KABUPATEN BOYOLALI SKRIPSI

SURVEI KESALAHAN DALAM PENULISAN RESEP DAN ALUR PELAYANANNYA DI APOTEK KECAMATAN AMPEL KABUPATEN BOYOLALI SKRIPSI SURVEI KESALAHAN DALAM PENULISAN RESEP DAN ALUR PELAYANANNYA DI APOTEK KECAMATAN AMPEL KABUPATEN BOYOLALI SKRIPSI Oleh : DWI KURNIYAWATI K 100 040 126 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA PRABUMULIH NOMOR 3 TAHUN 2006 TENTANG RETRIBUSI PENYELENGGARAAN APOTEK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PRABUMULIH

PERATURAN DAERAH KOTA PRABUMULIH NOMOR 3 TAHUN 2006 TENTANG RETRIBUSI PENYELENGGARAAN APOTEK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PRABUMULIH PERATURAN DAERAH KOTA PRABUMULIH NOMOR 3 TAHUN 2006 TENTANG RETRIBUSI PENYELENGGARAAN APOTEK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PRABUMULIH Menimbang : a. bahwa dalam rangka pengawasan dan pemantauan

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ERRA MEDIKA JALAN TOLE ISKANDAR No. 4 5 DEPOK PERIODE 7 JANUARI 15 FEBRUARI 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER MIFTAHUL HUDA,

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ARAFAH JL. ARAFAH I NO. F/8 VILLA ILHAMI ISLAMIC - TANGERANG PERIODE 8 APRIL 17 MEI 2013

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ARAFAH JL. ARAFAH I NO. F/8 VILLA ILHAMI ISLAMIC - TANGERANG PERIODE 8 APRIL 17 MEI 2013 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ARAFAH JL. ARAFAH I NO. F/8 VILLA ILHAMI ISLAMIC - TANGERANG PERIODE 8 APRIL 17 MEI 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER SERUNI

Lebih terperinci

2015, No.74 2 Peredaran, Penyimpanan, Pemusnahan, dan Pelaporan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 T

2015, No.74 2 Peredaran, Penyimpanan, Pemusnahan, dan Pelaporan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 T BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.74, 2015 KEMENKES. Narkotika. Psikotropika. Prekursor Farmasi. Pelaporan. Pemusnahan. Penyimpanan. Peredaran. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1148/MENKES/PER/VI/2011 TENTANG PEDAGANG BESAR FARMASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1148/MENKES/PER/VI/2011 TENTANG PEDAGANG BESAR FARMASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1148/MENKES/PER/VI/2011 TENTANG PEDAGANG BESAR FARMASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ERRA MEDIKA JL. TOLE ISKANDAR No. 4-5 DEPOK LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ERRA MEDIKA JL. TOLE ISKANDAR No. 4-5 DEPOK LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ERRA MEDIKA JL. TOLE ISKANDAR No. 4-5 DEPOK LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER MELDA SILVIA SARI SILALAHI, S.Farm. 1206313343

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JALAN KARTINI RAYA NO. 34 JAKARTA PUSAT PERIODE 6 FEBRUARI 16 MARET 2012

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JALAN KARTINI RAYA NO. 34 JAKARTA PUSAT PERIODE 6 FEBRUARI 16 MARET 2012 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JALAN KARTINI RAYA NO. 34 JAKARTA PUSAT PERIODE 6 FEBRUARI 16 MARET 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER STELLA, S.Farm.

Lebih terperinci

GAMBARAN PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK KABUPATEN BREBES TAHUN 2008 SKRIPSI

GAMBARAN PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK KABUPATEN BREBES TAHUN 2008 SKRIPSI GAMBARAN PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK KABUPATEN BREBES TAHUN 2008 SKRIPSI Oleh: ASRI MUHTAR WIJIYANTI K 100 040 150 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA SURAKARTA

Lebih terperinci

a. bahwa apotek dan pedagang eceran obat merupakan pelayanan kesehatan yang dapat dilaksanakan oleh swasta;

a. bahwa apotek dan pedagang eceran obat merupakan pelayanan kesehatan yang dapat dilaksanakan oleh swasta; BERITA DAERAH KOTA BOGOR TAHUN 2006 NOMOR 10 SERI E PERATURAN WALIKOTA BOGOR NOMOR 19 TAHUN 2006 TENTANG PENYELENGGARAAN APOTEK DAN PEDAGANG ECERAN OBAT (TOKO OBAT) WALIKOTA BOGOR, Menimbang: a. bahwa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1997 TENTANG PSIKOTROPIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1997 TENTANG PSIKOTROPIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1997 TENTANG PSIKOTROPIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO.50 JL. MERDEKA NO.24 BOGOR PERIODE 2 APRIL - 12 MEI 2012

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO.50 JL. MERDEKA NO.24 BOGOR PERIODE 2 APRIL - 12 MEI 2012 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO.50 JL. MERDEKA NO.24 BOGOR PERIODE 2 APRIL - 12 MEI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DIAN RENI AGUSTINA,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1148/MENKES/PER/VI/2011 TENTANG PEDAGANG BESAR FARMASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1148/MENKES/PER/VI/2011 TENTANG PEDAGANG BESAR FARMASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1148/MENKES/PER/VI/2011 TENTANG PEDAGANG BESAR FARMASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 50 JALAN MERDEKA NO. 24 BOGOR PERIODE 1 SEPTEMBER 30 SEPTEMBER 2014 LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER HANUM PRAMITA

Lebih terperinci

TINJAUAN ASPEK ADMINISTRASI PADA RESEP DI TIGA APOTEK DI KABUPATEN PEMALANG PERIODE JANUARI - JUNI 2008 SKRIPSI

TINJAUAN ASPEK ADMINISTRASI PADA RESEP DI TIGA APOTEK DI KABUPATEN PEMALANG PERIODE JANUARI - JUNI 2008 SKRIPSI TINJAUAN ASPEK ADMINISTRASI PADA RESEP DI TIGA APOTEK DI KABUPATEN PEMALANG PERIODE JANUARI - JUNI 2008 SKRIPSI Oleh : LINDA WIDYA RETNA NINGTYAS K 100 050 110 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2017 TENTANG APOTEK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2017 TENTANG APOTEK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2017 TENTANG APOTEK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk meningkatkan aksesibilitas,

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA. LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 7 Jl. H. JUANDA NO. 30 BOGOR PERIODE 2 APRIL 11 MEI 2012

UNIVERSITAS INDONESIA. LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 7 Jl. H. JUANDA NO. 30 BOGOR PERIODE 2 APRIL 11 MEI 2012 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 7 Jl. H. JUANDA NO. 30 BOGOR PERIODE 2 APRIL 11 MEI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER GINARTI EKAWATI, S.Farm.

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KESELAMATAN JALAN KESELAMATAN NO. 27 MANGGARAI, JAKARTA SELATAN

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KESELAMATAN JALAN KESELAMATAN NO. 27 MANGGARAI, JAKARTA SELATAN UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KESELAMATAN JALAN KESELAMATAN NO. 27 MANGGARAI, JAKARTA SELATAN LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER NUR HASMAWATI, S.Farm (1006753942)

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ERRA MEDIKA JL. TOLE ISKANDAR, DEPOK LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ERRA MEDIKA JL. TOLE ISKANDAR, DEPOK LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ERRA MEDIKA JL. TOLE ISKANDAR, DEPOK LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER ANDI NURWINDA, S.Si. 1006835085 ANGKATAN LXXIII FAKULTAS

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JALAN KARTINI RAYA NO. 34 A JAKARTA PUSAT PERIODE 9 JANUARI 2013 20 MARET 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER MEIYANI

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK RAWA PULE JL. KH. M. USMAN NO 46 DEPOK LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK RAWA PULE JL. KH. M. USMAN NO 46 DEPOK LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK RAWA PULE JL. KH. M. USMAN NO 46 DEPOK LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DWI FAJAR ABD. GHOFUR, S.Si 1006835204 ANGKATAN LXXIII

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JL. KARTINI RAYA NO. 34 A, JAKARTA PUSAT PERIODE 6 SEPTEMBER 17 OKTOBER 2012

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JL. KARTINI RAYA NO. 34 A, JAKARTA PUSAT PERIODE 6 SEPTEMBER 17 OKTOBER 2012 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JL. KARTINI RAYA NO. 34 A, JAKARTA PUSAT PERIODE 6 SEPTEMBER 17 OKTOBER 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER ANITA HASAN,

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG IZIN USAHA APOTEK DAN IZIN USAHA PEDAGANG ECERAN OBAT

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG IZIN USAHA APOTEK DAN IZIN USAHA PEDAGANG ECERAN OBAT PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG IZIN USAHA APOTEK DAN IZIN USAHA PEDAGANG ECERAN OBAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KESELAMATAN JALAN KESELAMATAN NO.27 MANGGARAI JAKARTA SELATAN

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KESELAMATAN JALAN KESELAMATAN NO.27 MANGGARAI JAKARTA SELATAN UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KESELAMATAN JALAN KESELAMATAN NO.27 MANGGARAI JAKARTA SELATAN LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER YULIANA, S.Farm. 1106047511 ANGKATAN

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG IZIN USAHA APOTEK DAN IZIN USAHA PEDAGANG ECERAN OBAT

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG IZIN USAHA APOTEK DAN IZIN USAHA PEDAGANG ECERAN OBAT PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG IZIN USAHA APOTEK DAN IZIN USAHA PEDAGANG ECERAN OBAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PEKERJAAN KEFARMASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PEKERJAAN KEFARMASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PEKERJAAN KEFARMASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO.7 JALAN H. JUANDA NO. 30 BOGOR PERIODE 13 FEBRUARI 22 MARET 2012

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO.7 JALAN H. JUANDA NO. 30 BOGOR PERIODE 13 FEBRUARI 22 MARET 2012 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO.7 JALAN H. JUANDA NO. 30 BOGOR PERIODE 13 FEBRUARI 22 MARET 2012 LAPORAN PRAKTEK PROFESI APOTEKER DEWI NUR ANGGRAENI,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PEKERJAAN KEFARMASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PEKERJAAN KEFARMASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PEKERJAAN KEFARMASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

BUPATI BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN BUPATI BANTUL NOMOR 22 TAHUN 2018 TENTANG PENYELENGGARAAN APOTEK

BUPATI BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN BUPATI BANTUL NOMOR 22 TAHUN 2018 TENTANG PENYELENGGARAAN APOTEK BUPATI BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN BUPATI BANTUL NOMOR 22 TAHUN 2018 TENTANG PENYELENGGARAAN APOTEK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANTUL, Menimbang : a. bahwa untuk mendukung

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 202 JL. KEJAYAAN RAYA BLOK XI NO. 2 DEPOK II TIMUR PERIODE 2 JANUARI 14 FEBRUARI 2014 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PEKERJAAN KEFARMASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PEKERJAAN KEFARMASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PEKERJAAN KEFARMASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JALAN KARTINI RAYA NO. 34 A JAKARTA PUSAT PERIODE APRIL - MEI 2013

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JALAN KARTINI RAYA NO. 34 A JAKARTA PUSAT PERIODE APRIL - MEI 2013 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JALAN KARTINI RAYA NO. 34 A JAKARTA PUSAT PERIODE APRIL - MEI 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER WILLY HERMAWAN, S.Farm.

Lebih terperinci

MENTERI KESEHATAN NOMOR : 918/MENKES/PER/X/1993 TENTANG PEDAGANG BESAR FARMASI

MENTERI KESEHATAN NOMOR : 918/MENKES/PER/X/1993 TENTANG PEDAGANG BESAR FARMASI KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN Nomor : 1191/MENKES/SK/IX/2002 T E N T A N G PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR : 918/MENKES/PER/X/1993 TENTANG PEDAGANG BESAR FARMASI MENTERI KESEHATAN Menimbang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Izin Apotek Pasal 1 ayat (a): Apotek adalah tempat tertentu, tempat dilakukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Izin Apotek Pasal 1 ayat (a): Apotek adalah tempat tertentu, tempat dilakukan 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Apotek Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1332/Menkes/SK/X/2002 Tentang Perubahan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 922/Menkes/Per/X/1993

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 2 JL. SENEN RAYA NO. 66, JAKARTA PUSAT

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 2 JL. SENEN RAYA NO. 66, JAKARTA PUSAT UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 2 JL. SENEN RAYA NO. 66, JAKARTA PUSAT LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER FURQON DWI CAHYO, S.Farm 1206313135

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG PEREDARAN, PENYIMPANAN, PEMUSNAHAN, DAN PELAPORAN NARKOTIKA, PSIKOTROPIKA, DAN PREKURSOR FARMASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 298 JL. BENDUNGAN HILIR RAYA NO. 41, JAKARTA PUSAT PERIODE 3 MARET 11 APRIL 2014

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 298 JL. BENDUNGAN HILIR RAYA NO. 41, JAKARTA PUSAT PERIODE 3 MARET 11 APRIL 2014 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 298 JL. BENDUNGAN HILIR RAYA NO. 41, JAKARTA PUSAT PERIODE 3 MARET 11 APRIL 2014 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA No.48 JL. MATRAMAN RAYA NO. 55 JAKARTA TIMUR PERIODE 3 APRIL - 30 APRIL 2013

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA No.48 JL. MATRAMAN RAYA NO. 55 JAKARTA TIMUR PERIODE 3 APRIL - 30 APRIL 2013 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA No.48 JL. MATRAMAN RAYA NO. 55 JAKARTA TIMUR PERIODE 3 APRIL - 30 APRIL 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER FIENDA

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek. dalam rangka keselamatan pasien (patient safety) (Menkes, RI., 2014).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek. dalam rangka keselamatan pasien (patient safety) (Menkes, RI., 2014). BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek Pelayanan kefarmasian di apotek saat ini telah mempunyai standar dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JL. KARTINI RAYA NO. 34A, JAKARTA PUSAT PERIODE 7 APRIL 16 MEI 2014

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JL. KARTINI RAYA NO. 34A, JAKARTA PUSAT PERIODE 7 APRIL 16 MEI 2014 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JL. KARTINI RAYA NO. 34A, JAKARTA PUSAT PERIODE 7 APRIL 16 MEI 2014 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER RAFIKA FATHNI, S.Farm.

Lebih terperinci

PEDAGANG BESAR FARMASI. OLEH REZQI HANDAYANI, M.P.H., Apt

PEDAGANG BESAR FARMASI. OLEH REZQI HANDAYANI, M.P.H., Apt PEDAGANG BESAR FARMASI OLEH REZQI HANDAYANI, M.P.H., Apt Obat / Bahan Obat Ketersediaan Keterjangkauan Konsumen Aman Mutu Berkhasiat PBF LAIN PBF: Obat BBF INDUSTRI FARMASI 2 DASAR HUKUM Undangundang UU

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 96 JALAN S. PARMAN KAV G/12, JAKARTA BARAT PERIODE 1 MEI 2012-8 JUNI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER YENNY

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 42 JL. SULTAN HASANUDDIN NO.42 KEBAYORAN BARU, BLOK M PERIODE 3 APRIL 30 APRIL 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KESELAMATAN JALAN KESELAMATAN NO. 27 MANGGARAI JAKARTA SELATAN

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KESELAMATAN JALAN KESELAMATAN NO. 27 MANGGARAI JAKARTA SELATAN UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KESELAMATAN JALAN KESELAMATAN NO. 27 MANGGARAI JAKARTA SELATAN LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER CICILIA MARINA, S. Farm. 1306502333

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK RINI JAKARTA PERIODE 10 JANUARI - 28 FEBRUARI 2013

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK RINI JAKARTA PERIODE 10 JANUARI - 28 FEBRUARI 2013 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK RINI JAKARTA PERIODE 10 JANUARI - 28 FEBRUARI 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER NISA YULIANTI SUPRAHMAN 1206313412 ANGKATAN

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Umum Apotek Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh apoteker. Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus dan telah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Setiap manusia memiliki hak asasi yang diatur dalam perundang-undangan, salah satunya yaitu hak mengenai kesehatan, sesuai dengan UU No. 36 tahun 2009 bahwa kesehatan

Lebih terperinci

PERATURAN PERUNDANGAN PRAKTEK APOTEKER

PERATURAN PERUNDANGAN PRAKTEK APOTEKER PERATURAN PERUNDANGAN PRAKTEK APOTEKER Oleh Dra. Liza Pristianty,MSi,MM,Apt Fakultas Farmasi Universitas Airlangga PC IAI Surabaya Disampaikan pada pertemuan Korwil PC Surabaya Tanggal 9,16 dan 23 April

Lebih terperinci

Apoteker berperan dalam mengelola sarana dan prasarana di apotek. Selain itu, seorang apoteker juga harus menjamin bahwa:

Apoteker berperan dalam mengelola sarana dan prasarana di apotek. Selain itu, seorang apoteker juga harus menjamin bahwa: I.PENDAHULUAN Apotek adalah suatu tempat tertentu yang digunakan untuk melakukan pekerjaan kefarmasian berupa penyaluran perbekalan farmasi kepada masyarakat dan tempat dilakukannya praktik kefarmasian

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 25 Maret 2012 di Apotek RSUD Toto

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 25 Maret 2012 di Apotek RSUD Toto BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 25 Maret 2012 di Apotek RSUD Toto Kabupaten Bone Bolango. Dalam rangka memperoleh data yang diperlukan,

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK SAFA, JL. BUKIT DURI TANJAKAN NO. 68 TEBET, JAKARTA SELATAN

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK SAFA, JL. BUKIT DURI TANJAKAN NO. 68 TEBET, JAKARTA SELATAN UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK SAFA, JL. BUKIT DURI TANJAKAN NO. 68 TEBET, JAKARTA SELATAN LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DESY INDRIWINARNI, S.Farm. 1106046780

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK RINI JAKARTA PERIODE 10 JANUARI - 28 FEBRUARI 2013

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK RINI JAKARTA PERIODE 10 JANUARI - 28 FEBRUARI 2013 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK RINI JAKARTA PERIODE 10 JANUARI - 28 FEBRUARI 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER NITA KARTIKA, S. Farm. 1206313425 ANGKATAN

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK RINI JALAN BALAI PUSTAKA TIMUR NO.11 RAWAMANGUN PERIODE 17 JUNI 12 JULI DAN 29 JULI 23 AGUSTUS 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI

Lebih terperinci

U NIVERSITAS INDONESIA

U NIVERSITAS INDONESIA U NIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PR AKTEK KERJA PROFESI APOTEK ER DI APOTEK ATRIKA JALAN KAR TINI RAYA NO. 34 JAKARTA PUS AT PERIODE 4 FEBRUARI 1 MARET 2013 DAN 1 24 MEI 2013 LAPORAN PR AKTEK KERJA PROFESI

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 55 JALAN KEBAYORAN LAMA NO. 50 JAKARTA BARAT PERIODE 2 APRIL 12 MEI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER AGATHA

Lebih terperinci

satu sarana kesehatan yang memiliki peran penting di masyarakat adalah apotek. Menurut Peraturan Pemerintah No. 35 tahun 2014, tenaga kesehatan

satu sarana kesehatan yang memiliki peran penting di masyarakat adalah apotek. Menurut Peraturan Pemerintah No. 35 tahun 2014, tenaga kesehatan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Salah satu Hak Asasi Manusia (HAM) dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia adalah kesehatan. Berdasarkan

Lebih terperinci

PENDIRIAN APOTEK. Heru Sasongko, S.Farm.,Apt.

PENDIRIAN APOTEK. Heru Sasongko, S.Farm.,Apt. PENDIRIAN APOTEK Heru Sasongko, S.Farm.,Apt. PENGERTIAN ISTILAH Apotek (kepmenkes 1027 standar pelayanan kefarmasian di apotek) adalah tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ENDEH JL. PANCORAN TIMUR NO. 37, JAKARTA SELATAN PERIODE 15 JULI 31 AGUSTUS 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER PERMITA SARI,

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ERRA MEDIKA JALAN TOLE ISKANDAR No. 4-5 DEPOK PERIODE 8 APRIL 17 MEI 2013

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ERRA MEDIKA JALAN TOLE ISKANDAR No. 4-5 DEPOK PERIODE 8 APRIL 17 MEI 2013 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ERRA MEDIKA JALAN TOLE ISKANDAR No. 4-5 DEPOK PERIODE 8 APRIL 17 MEI 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER ROSHAMUR CAHYAN FORESTRANIA,

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JALAN KARTINI RAYA NO. 34 JAKARTA PUSAT PERIODE 1 APRIL 10 MEI 2013

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JALAN KARTINI RAYA NO. 34 JAKARTA PUSAT PERIODE 1 APRIL 10 MEI 2013 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JALAN KARTINI RAYA NO. 34 JAKARTA PUSAT PERIODE 1 APRIL 10 MEI 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER ILMA NAFIA, S.Farm.

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1010/MENKES/PER/XI/2008 TENTANG REGISTRASI OBAT

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1010/MENKES/PER/XI/2008 TENTANG REGISTRASI OBAT PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1010/MENKES/PER/XI/2008 TENTANG REGISTRASI OBAT Menimbang : a. bahwa dalam rangka melindungi masyarakat dari peredaran obat yang tidak memenuhi persyaratan,

Lebih terperinci

2017, No Indonesia Nomor 5062); 3. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144

2017, No Indonesia Nomor 5062); 3. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144 No.206, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKES. Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2016 TENTANG STANDAR PELAYANAN

Lebih terperinci