UNIVERSITAS INDONESIA
|
|
|
- Yohanes Gunardi
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 2 JL. SENEN RAYA No. 66 JAKARTA PUSAT PERIODE 1 MEI 8 JUNI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER NENDEN PUSPITASARI, S.Si ANGKATAN LXXIV FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM PROFESI APOTEKER - DEPARTEMEN FARMASI DEPOK JUNI 2012
2 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 2 JL. SENEN RAYA No. 66 JAKARTA PUSAT PERIODE 1 MEI 8 JUNI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker NENDEN PUSPITASARI, S.Si ANGKATAN LXXIV FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM PROFESI APOTEKER - DEPARTEMEN FARMASI DEPOK JUNI 2012 ii
3
4 KATA PENGANTAR Puji syukur atas segala rahmat Allah SWT sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Apotek Kimia Farma No. 2, Senen Jakarta Pusar. Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker ini disusun sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh mahasiswa tingkat profesi pada Program Profesi Apoteker Departemen Farmasi FMIPA Universitas Indonesia untuk menyelesaikan masa studi dan memperoleh gelar apoteker. Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Apotek Kimia Farma No. 2 berlangsung selama periode 1 Mei 8 Juni Pada kesempatan ini perkenankanlah penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih tak terhingga kepada: 1. Segenap Direksi PT. Kimia Farma Apotek yang telah memberikan kesempatan untuk melaksanakan Praktek Kerja Profesi Apoteker. 2. Ibu Astrid Dwiastuti, S.Si., Apt., selaku Pembimbing yang telah memberikan kesempatan, bimbingan dan pengarahan selama PKPA dan penyusunan laporan PKPA. 3. Ibu Dr. Nelly D. Leswara, M.Sc., Apt selaku pembimbing yang telah memberikan masukan dalam penyusunan laporan ini. 4. Ibu Prof. Dr. Yahdiana Harahap, MS, Apt., selaku Ketua Departemen Farmasi FMIPA UI. 5. Bapak Dr. Harmita, Apt., selaku Ketua Program Profesi Apoteker Departemen Farmasi FMIPA UI. 6. Seluruh staf dan karyawan Apotek Kimia Farma No. 2 Senen yang telah memberikan bantuan, sikap yang ramah, kerja sama yang baik, serta kesempatan dan kepercayaan kepada penulis untuk melakukan pelayanan kefarmasian di apotek selama masa PKPA. 7. Keluarga yang telah memberikan dukungan moril dan materiil sehingga pelaksanaan PKPA dan penyelesaian laporan dapat berjalan lancar. iv
5 8. Seluruh teman-teman Apoteker Universitas Indonesia angkatan 74 serta semua pihak yang telah memberikan bantuan dan semangat kepada penulis selama pelaksanaan PKPA ini. Semoga Allah SWT memberikan balasan atas segala kebaikan dan jerih payah yang telah dicurahkan. Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan laporan ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Semoga pengetahuan dan pengalaman yang penulis peroleh selama menjalani Praktek Kerja Profesi Apoteker ini dapat memberikan manfaat bagi rekan-rekan sejawat dan semua pihak yang membutuhkan. Depok, Juni 2012 Penulis v
6 DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... ii DAFTAR ISI... vi DAFTAR GAMBAR... viii DAFTAR LAMPIRAN... ix 1. PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Apotek Landasan Hukum Apotek Tugas dan Fungsi Apotek Persyaratan Apotek Bangunan Sumber Daya Manusia Perlengkapan Tata Cara Pemberian Izin Apotek Pengelolaan Apotek Pelayanan Apotek Pelayanan Resep Promosi dan Edukasi Pelayanan Residensial Pengalihan Tanggung Jawab Apoteker Pencabutan Izin Apotek Sediaan Farmasi Pengelolaan Narkotika Pengelolaan Psikotropika vi
7 3. TINJAUAN UMUM PT Kimia Farma (Persero) Tbk PT Kimia Farma Apotek Visi dan Misi PT Kimia Farma Apotek Struktur Organisasi PT Kimia Farma Apotek Bisnis Manajer (BM) TINJAUAN KHUSUS Organisasi dan Personalia Lokasi Tata Ruang Tugas dan Tnaggung Jawab Personalia Apoteker Kegiatan Operasional Kegiatan Teknis Kefarmasian PEMBAHASAN KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran DAFTAR REFERENSI...53 LAMPIRAN vii
8 DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1. Penandaan obat bebas Gambar 2.2. Penandaan obat bebas terbatas Gambar 2.3. Tanda peringatan pada obat bebas terbatas (P1-P6) Gambar 2.4. Penandaan obat keras Gambar 2.5. Penandaan obat narkotika viii
9 DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1. Alur Pelayanan Penerimaan Resep Lampiran 2. Surat Pemesanan Narkotika Lampiran 3. Surat Pemesanan Psikotropika Lampiran 4. Laporan Narkotika Lampiran 5. Laporan Psikotropika Lampiran 6. Plastik Klip dengan Etiket Lampiran 7. Kertas Pembungkus Puyer Lampiran 8. Etiket Obat Dalam Lampiran 9. Etiket Obat Luar Lampiran 10. Label Obat Lampiran 11. Kwitansi Pembayaran Resep Tunai Lampiran 12. Kopi Resep Lampiran 13. Kartu Stok Obat Lampiran 14. Lay Out Apotek Kimia Farma No ix
10 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan merupakan salah satu unsur kesejahteraan umum yang dapat diwujudkan melalui pembangunan kesehatan. Pembangunan kesehatan besar artinya bagi pembangunan dan pembinaan sumber daya manusia Indonesia dan sebagai modal bagi pelaksanaan pembangunan nasional. Dengan memperhatikan peranan kesehatan tersebut, maka diperlukan upaya yang memadai bagi peningkatan derajat kesehatan dan pembinaan penyelenggaraan upaya kesehatan secara menyeluruh dan terpadu. Obat sebagai salah satu zat yang digunakan dalam upaya kesehatan pada dasarnya merupakan zat yang berbahaya bagi tubuh jika penggunaannya tidak dilakukan secara tepat apalagi jika disalah gunakan. Untuk itu peredaran obatobatan diatur oleh pemerintah. Pendistribusian obat dilakukan dan diawasi oleh tenaga kesehatan yang ahli di bidangnya dan untuk memperolehnya, maka terdapat sarana khusus yang pendiriannya juga harus mendapat izin pemerintah. Salah satu sarana resmi yang memperoleh izin dari pemerintah untuk mendistribusikan obat obatan ke tangan masyarakat yaitu apotek. Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.51 tahun 2009 disebutkan bahwa apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh Apoteker. Sebagai tempat melakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran perbekalan farmasi, dengan adanya perubahan paradigma diharapkan apotek tidak berfokus kepada pengadaan obat sebagai komoditi tetapi haruslah berubah menjadi pelayanan yang komprehensif dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Oleh sebab itu, apotek memiliki aturan main dan persyaratan yang lebih khusus dan lebih ketat dibandingkan bisnis lainnya, mulai dari tata cara perizinannya, pengelolaannya, sampai dengan pelaporannya. Peranan apoteker sebagai pengelola dan penanggung jawab apotek sangatlah besar mengingat apotek berjalan dengan fungsi ganda yaitu sebagai fungsi bisnis dan fungsi pelayanan kefarmasian. Apoteker diharapkan mampu 1 Universitas Indonesia
11 2 memberikan keputusan yang tepat untuk setiap masalah di apotek serta dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat, misalnya dalam hal memberikan pelayanan informasi obat yang tepat, aman, dan rasional. Oleh sebab itu seorang apoteker harus terus memperluas ilmunya terutama tentang obat yang terus menerus berkembang dengan pesat, sehingga dapat memperoleh hasil yang maksimal dalam memberikan pelayanan informasi obat yang saat ini telah bergeser orientasinya dari obat ke pasien (patient oriented) dan mengacu kepada pelayanan kefarmasian (pharmaceutical care). Selain itu, seorang apoteker pengelola apotek juga harus memahami manajemen pengelolaan apotek dengan baik. Sehingga sebagai calon Apoteker tidak cukup hanya belajar dari teori akan tetapi perlu mengetahui dan memahami secara langsung. Oleh karena itu, profesi Apoteker perlu dibekali pengetahuan, pemahaman dan aplikasinya. Menyadari pentingnya hal tersebut, mahasiswa Program Profesi Apoteker Departemen Farmasi Universitas Indonesia Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Apotek Kimia Farma yang bertempat di Apotek Kimia Farma 2 Jl. Senen Raya No. 66 Jakarta Pusat. Pelaksanaannya berlangsung mulai tanggal 1 mei 8 Juni Dengan harapan calon Apoteker mampu menerapkan ilmu yang diperolehnya setelah pelaksanaan PKPA dalam dunia kerja nantinya. 1.2 Tujuan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di apotek Kimia Farma ini bertujuan untuk: 1. Memberikan pemahaman akan fungsi dan peranan apoteker dalam mengelola apotek secara profesional. 2. Menambah dan memperluas pengetahuan serta wawasan calon apoteker agar dapat mengaplikasikan teori yang telah didapat dengan mengamati secara langsung kegiatan rutin, organisasi, manajemen dan pelayanan kesehatan di apotek. Universitas Indonesia
12 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Apotek Apotek adalah tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi serta perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat (Departemen Kesehatan RI, 2002). Menurut PP No. 51 Tahun 2009, apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh apoteker. Pelayanan kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien. Pekerjaan kefarmasian yang dilakukan meliputi pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan, dan pendistribusian atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan dan obat tradisional. Sediaan farmasi yang dimaksud adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetika. Sebagai salah satu sarana pelayanan kesehatan, maka dalam pelayanannya apotek harus mengutamakan kepentingan masyarakat yaitu menyediakan, menyimpan dan menyerahkan perbekalan farmasi yang bermutu baik. Dalam pengelolaannya, apotek harus dikelola oleh apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker. 2.2 Landasan Hukum Apotek Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan masyarakat yang diatur dalam: 1) Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 tentang pekerjaan kefarmasian. 2) Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1027/MenKes/SK/X/2004 tentang standar pelayanan kefarmasian di apotek. 3 Universitas Indonesia
13 4 3) Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1332/MenKes/SK/X/2002 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No.922/MenKes/Per/X/1993 tentang ketentuan dan tata cara pemberian izin apotek. 4) Undang Undang No. 5 Tahun 1997 tentang psikotropika. 5) Undang - Undang No. 35 Tahun 2009 tentang narkotika. 6) Peraturan Menteri Kesehatan No. 922/MenKes/Per/X/1993 tentang ketentuan dan tata cara pemberian izin apotek. 7) Undang Undang Kesehatan RI No.36 Tahun 2009 tentang kesehatan. 8) Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1990 tentang masa bakti apoteker, yang disempurnakan dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 184/MenKes/Per/II/ ) Peraturan Pemerintah No.25 Tahun 1980 tentang Perubahan atas PP NO.26 Tahun 1965 tentang apotek. 2.3 Tugas dan Fungsi Apotek Menurut Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1980 tugas dan fungsi apotek adalah sebagai berikut : 1) Tempat pengabdian profesi seorang apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan. 2) Sarana farmasi yang melakukan pengubahan bentuk dan penyerahan obat atau bahan obat. 3) Sarana penyalur perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang diperlukan masyarakat secara meluas dan merata. 4) Sarana pelayanan informasi mengenai perbekalan farmasi kepada masyarakat dan tenaga kesehatan lainnya. 2.4 Persyaratan Apotek Apotek baru yang akan beroperasi harus mempunyai Surat Izin Apotek (SIA) yaitu surat izin yang diberikan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia kepada apoteker atau apoteker yang bekerjasama dengan pemilik sarana untuk menyelenggarakan apotek di suatu tempat tertentu. Izin apotek berlaku untuk seterusnya selama apotek yang bersangkutan masih aktif melakukan kegiatan dan Universitas Indonesia
14 5 Apoteker Pengelola Apotek dapat melaksanakan pekerjaannya dan masih memenuhi persyaratan (Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1332/MENKES/SK/X/2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan No.922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek, 2002). Apoteker Pengelola Apotek adalah apoteker yang telah diberi Surat Izin Apotek (SIA). Untuk menjadi Apoteker Pengelola Apotek, harus memenuhi persyaratan sebagai berikut (Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek, 1993) : 1) Ijazahnya telah terdaftar pada Departemen Kesehatan. 2) Telah mengucapkan sumpah/janji sebagai apoteker. 3) Memiliki Surat Izin Kerja dari Menteri. 4) Memenuhi syarat-syarat kesehatan fisik dan mental untuk melaksanakan tugasnya sebagai apoteker. 5) Tidak bekerja di suatu perusahaan farmasi dan tidak menjadi Apoteker Pengelola Apotek di apotek lain. Untuk memperoleh SIPA atau SIKA, Apoteker mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota tempat pekerjaan kefarmasian dilaksanakan. Permohonan SIPA atau SIKA harus melampirkan: 1) Fotokopi STRA yang dilegalisir oleh Komite Farmasi Nasional (KFN); 2) Surat pernyataan mempunyai tempat praktek profesi atau surat keterangan dari pimpinan fasilitas pelayanan kefarmasian atau dari pimpinan fasilitas produksi atau distribusi/penyaluran; 3) Surat rekomendasi dari organisasi profesi; dan 4) Pas foto berwarna ukuran 4 x 6 sebanyak 2 (dua) lembar dan 3 x 4 sebanyak 2 (dua) lembar; Dalam mengajukan permohonan SIPA sebagai Apoteker pendamping harus dinyatakan secara tegas permintaan SIPA untuk tempat pekerjaan kefarmasian pertama, kedua, atau ketiga. Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA) adalah bukti tertulis yang diberikan oleh Menteri kepada Apoteker yang telah diregistrasi. Registrasi ini Universitas Indonesia
15 6 merupakan pencatatan resmi terhadap tenaga kefarmasian yang telah memiliki sertifikat kompetensi dan telah mempunyai kualifikasi tertentu serta diakui secara hukum untuk menjalankan pekerjaan/ praktek profesinya. Sertifikat kompetensi profesi adalah surat tanda pengakuan terhadap kompetensi seorang Apoteker untuk dapat menjalankan pekerjaan/ praktek profesinya di seluruh Indonesia setelah lulus uji kompetensi. Sertifikat kompetensi profesi dikeluarkan oleh organisasi profesi setelah lulus uji kompetensi. Sertifikat kompetensi profesi ini berlaku selama 5 tahun dan dapat dilakukan uji kompetensi kembali setelah habis masa berlakunya. Bagi Apoteker yang baru lulus pendidikan profesi dianggap telah lulus uji kompetensi dan dapat memperoleh sertifikat kompetensi profesi secara langsung. Tata Cara Memperoleh Surat Tanda Registrasi 1) Untuk memperoleh STRA, Apoteker mengajukan permohonan kepada KFN. 2) Surat permohonan STRA harus melampirkan: i. fotokopi ijazah Apoteker; ii. fotokopi surat sumpah/janji Apoteker; iii. fotokopi sertifikat kompetensi profesi yang masih berlaku; iv. surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang memiliki surat izin praktek; v. surat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi; dan vi. pas foto terbaru berwarna ukuran 4 x 6 cm sebanyak 2 (dua) lembar dan ukuran 2 x 3 cm sebanyak 2 (dua) lembar. 3) Permohonan STRA dapat diajukan dengan menggunakan teknologi informatika atau secara online melalui website KFN. Persyaratan pendirian sebuah apotek menurut Peraturan Menteri Kesehatan No.922/MENKES/PER/X/1993 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek yaitu : 1) Untuk mendapatkan izin apotek, apoteker atau apoteker yang bekerjasama dengan pemilik sarana yang telah memenuhi persyaratan harus siap dengan tempat, perlengkapan termasuk sediaan farmasi dan perbekalan lainnya yang merupakan milik sendiri atau milik pihak lain. Universitas Indonesia
16 7 2) Sarana apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan kegiatan pelayanan komoditi lainnya di luar sediaan farmasi. 3) Apotek dapat melakukan kegiatan pelayanan komoditi lainnya di luar sediaan farmasi Bangunan Apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan kegiatan pelayanan dan komoditi lainnya di luar sediaan farmasi. Bangunan apotek harus memiliki ruangan khusus diantaranya ruang penerimaan dan penyerahan resep, ruang tunggu (dibuat seluas dan senyaman mungkin, tenang, bersih, segar, terang, tidak ada nyamuk atau serangga lain yang mengganggu sehingga para pembeli merasa betah dan tidak lelah menunggu. Ruang tunggu dilengkapi dengan ventilasi udara segar atau jika memungkinkan memakai pendingin udara, penerangan yang baik tapi tidak menyebabkan panas, televisi atau musik yang enak didengar supaya para pembeli betah menunggu, jam dinding di tempat yang mudah terlihat oleh pembeli, rak atau lemari etalase yang berisi obat bebas atau produk lainnya dan rak brosur obat atau majalah yang bisa dibaca para pembeli, ruang peracikan sebagai tempat peracikan obat yang telah diresepkan oleh dokter harus tenang, bersih, dan nyaman, ruang administrasi, ruang apoteker sebagai tempat dilaksanakannya konseling dan pelayanan informasi obat bagi pasien, konter kasir dan ruang penjualan obat bebas, serta gudang sebagai tempat penyimpanan obatobatan Sumber Daya Manusia Sumber daya manusia yang terdapat di apotek antara lain Apoteker Pengelola Apotek, yaitu apoteker yang telah diberi Surat Izin Apotek (SIA); Apoteker Pendamping, yaitu apoteker yang bekerja di apotek disamping Apoteker Pengelola Apotek dan atau menggantikannya pada jam-jam tertentu pada hari buka apotek; Asisten Apoteker, yaitu mereka yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku berhak melakukan pekerjaan kefarmasian sebagai Asisten Apoteker; personalia lain yang membantu kegiatan di apotek, Universitas Indonesia
17 8 antara lain juru resep yang membantu Asisten Apoteker dalam menyiapkan obat untuk diracik, pemegang kas/kasir dan petugas kebersihan Perlengkapan Perlengkapan yang harus ada di apotek adalah peralatan untuk membuat, mengolah dan meracik obat seperti timbangan, mortir dan alu, gelas ukur dan lainlain; tempat penyimpanan perbekalan farmasi seperti lemari dan rak untuk menyimpan obat, lemari pendingin, lemari khusus untuk menyimpan narkotika dan psikotropika; wadah pengemas dan pembungkus seperti etiket obat; peralatan administrasi seperti blanko pemesanan obat, salinan resep dan kartu stok; buku standar yang berhubungan dengan kegiatan apotek. 2.5 Tata Cara Pemberian Izin Apotek (Departemen Kesehatan, 2002) Ketentuan dan tata cara pemberian izin apotek diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1332/MenKes/SK/X/2002 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No.922/MenKes/Per/X/1993. Izin apotek diberikan oleh Menteri yang kemudian wewenang pemberian izin dilimpahkan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Adapun ketentuannya adalah sebagai berikut: 1) Permohonan izin apotek diajukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan menggunakan contoh formulir APT-1. 2) Dengan menggunakan formulir APT-2 Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selambat-lambatnya 6 (enam) hari kerja setelah menerima permohonan dapat meminta bantuan teknis kepada Kepala Balai POM untuk melakukan pemeriksaan terhadap kesiapan apotek melakukan kegiatan. 3) Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM selambatlambatnya 6 (enam) hari kerja setelah permintaan bantuan teknis dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melaporkan hasil pemeriksaan setempat dengan menggunakan formulir APT-3. 4) Dalam hal pemeriksaan sebagaimana dimaksud di dalam (nomor 2) dan (nomor 3) tidak dilaksanakan, apoteker pemohon dapat membuat surat pernyataan siap melakukan kegiatan kepada Kepala Dinas Kesehatan Universitas Indonesia
18 9 Kabupaten/Kota setempat dengan tembusan kepada Kepala Dinas Propinsi dengan menggunakan formulir APT-4. 5) Dalam jangka waktu 12 (dua belas) hari kerja setelah diterima laporan hasil pemeriksaan sebagaimana di maksud ayat (3), atau pernyataan ayat (4) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat mengeluarkan Surat Izin Apotek (SIA) dengan menggunakan formulir APT-5. 6) Dalam hal hasil pemeriksaan, Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM dimaksud (nomor 3) masih belum memenuhi syarat, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mengeluarkan Surat Penundaan dengan menggunakan formulir APT-6 dalam waktu 12 (dua belas) hari kerja. 7) Terhadap Surat Penundaan sebagaimana dimaksud dalam (nomor 6), apoteker diberi kesempatan untuk melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi selambat-lambatnya dalam jangka waktu satu bulan sejak tanggal Surat Penundaan. 8) Apabila apoteker menggunakan sarana pihak lain, maka penggunaan sarana dimaksud wajib didasarkan atas perjanjian kerjasama antara apoteker dan pemilik sarana. 9) Pemilik sarana yang dimaksud (nomor 8) harus memenuhi persyaratan tidak pernah terlibat dalam pelanggaran peraturan perundang-undangan dibidang obat sebagaimana dinyatakan dalam surat penyataan yang bersangkutan. 10) Terhadap permohonan izin apotek dan Apoteker Pengelola Apotek (APA) atau lokasi tidak sesuai dengan pemohon, maka Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam jangka waktu selambat-lambatnya 12 hari kerja wajib mengeluarkan surat penolakan disertai dengan alasannya dengan menggunakan formulir APT Pengelolaan Apotek (Departemen Kesehatan RI, 1993) Pengelolaan Apotek adalah seluruh upaya dan kegiatan Apoteker untuk melaksanakan tugas dan fungsi pelayanan apotek. Pengelolaan apotek dapat dibagi menjadi 2, yaitu pengelolaan teknis farmasi dan pengelolaan non teknis farmasi. Universitas Indonesia
19 10 Pengelolaan teknis kefarmasian meliputi : 1) Pembuatan, pengelolaan, peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran, penyimpanan, dan penyerahan obat atau bahan obat. 2) Pengadaan, penyimpanan, penyaluran, penyerahan perbekalan farmasi lainnya. 3) Pelayanan informasi mengenai perbekalan farmasi yang meliputi : i. Pelayanan informasi mengenai perbekalan farmasi lainnya yang diberikan baik kepada dokter, tenaga kesehatan lainnya, maupun kepada masyarakat. ii. Pengamatan dan pelaporan mengenai khasiat, keamanan, bahaya dan/atau mutu obat serta perbekalan farmasi lainnya. Pengelolaan non teknis kefarmasian meliputi semua kegiatan administrasi, keuangan, personalia, pelayanan komoditi selain perbekalan farmasi dan bidang lainnya yang berhubungan dengan fungsi apotek. Seorang APA dituntut untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan memadai yang tidak hanya dalam bidang farmasi tetapi juga dalam bidang lain seperti manajemen agar dapat mengelola apotek dengan baik dan benar. Prinsip dasar manajemen yang perlu diketahui oleh seorang APA dalam mengelola apoteknya, yaitu : 1) Perencanaan, yaitu pemilihan dan penghubungan fakta serta penggunaan asumsi untuk masa yang akan datang dengan jalan menggambarkan dan merumuskan kegiatan yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan. 2) Pengorganisasian, yaitu menyusun atau mengatur bagian-bagian yang berhubungan satu dengan lainnya, dimana tiap bagian mempunyai suatu tugas khusus dan berhubungan secara keseluruhan. 3) Kepemimpinan, yaitu kegiatan untuk mempengaruhi dan memotivasi pegawainya agar berusaha untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 4) Pengawasan, yaitu tindakan untuk mengetahui hasil pelaksanaan untuk kemudian dilakukan perbaikan dalam pelaksanaan kerja agar segala kegiatan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sehingga tujuan yang diinginkan dapat tercapai Universitas Indonesia
20 Pelayanan Apotek (Departemen Kesehatan RI, 1993) Peraturan yang mengatur tentang Pelayanan Apotek adalah Peraturan Menteri Kesehatan No. 922/MENKES/PER/X/1993 yaitu : 1) Apoteker berkewajiban menyediakan, menyimpan dan menyerahkan perbekalan farmasi yang bermutu baik dan yang keabsahannya terjamin; 2) Apoteker wajib melayani resep dokter, dokter gigi dan dokter hewan. Pelayanan resep ini sepenuhnya atas dasar tanggung jawab Apoteker Pengelola Apotek, sesuai dengan tanggung jawab dan keahlian profesinya yang dilandasi pada kepentingan masyarakat; 3) Apoteker tidak diizinkan mengganti obat generik yang ditulis dalam resep dengan obat paten. Namun resep dengan obat bermerek dagang atau obat paten boleh diganti dengan obat generik; 4) Dalam hal pasien tidak mampu menebus obat yang tertulis dalam resep, apoteker wajib berkonsultasi dengan dokter untuk pemilihan obat yang lebih tepat; 5) Apoteker wajib memberikan informasi yang berkaitan dengan penggunaan obat yang diserahkan kepada pasien secara tepat, aman, dan rasional atas permintaan masyarakat; 6) Apabila apoteker menganggap bahwa dalam resep terdapat kekeliruan atau penulisan resep yang tidak tepat, apoteker harus memberitahukan kepada dokter penulis resep. Apabila atas pertimbangan tertentu dokter penulis resep tetap pada pendiriannya, dokter wajib menyatakan secara tertulis atau membubuhkan tanda tangan yang lazim di atas resep; 7) Salinan resep harus ditandatangani oleh apoteker; 8) Resep harus dirahasiakan dan disimpan di apotek dengan baik dalam jangka waktu tiga tahun; 9) Resep dan salinan resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter penulis resep atau yang merawat penderita, penderita yang bersangkutan, petugas kesehatan, atau petugas lain yang berwenang menurut perundangundangan yang berlaku; Universitas Indonesia
21 12 10) APA, apoteker pendamping atau apoteker pengganti diizinkan menjual obat keras tanpa resep yang dinyatakan sebagai Daftar Obat Wajib Apotek, yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia; 11) Apabila Apoteker Pengelola Apotek berhalangan melakukan tugasnya pada jam buka Apotek, Apoteker pengelola Apotek dapat menunjuk Apoteker Pendamping. Apabila Apoteker Pengelola Apotek dan Apoteker Pendamping karena hal-hal tertentu berhalangan melakukan tugasnya, Apoteker Pengelola Apotek dapat menunjuk Apoteker Pengganti; 12) Apoteker Pengelola Apotek turut bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh Apoteker Pendamping, Apoteker Pengganti di dalam pengelolaan Apotek. Apoteker Pendamping bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas pelayanan kefarmasian selama yang bersangkutan bertugas menggantikan Apoteker Pengelola Apotek; dan 13) Dalam pelaksanakan pengelolaan apotek, APA dapat dibantu oleh Asisten Apoteker (AA). AA melakukan pekerjaan kefarmasian di Apotek dibawah pengawasan Apoteker. Pelayanan yang dilakukan di apotek harus menerapkan pelayanan kefarmasian (pharmaceutical care) yaitu bentuk pelayanan dan tanggung jawab langsung profesi apoteker dalam pekerjaan kefarmasian untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Untuk mewujudkan pelayanan kefarmasian, farmasis harus menerapkan standar pelayanan yang baik dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan, yang meliputi pelayanan resep, promosi dan edukasi, pelayanan residensial (Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, 2004) Pelayanan Resep (Departemen Kesehatan RI, 2004) Skrining resep Apoteker melakukan skrining resep meliputi persyaratan administratif (nama, SIP dan alamat dokter; tanggal penulisan resep; tanda tangan/paraf dokter penulis resep; nama, alamat, umur, jenis kelamin dan berat badan pasien; nama obat, jumlah obat yang diminta; cara pemakaian yang jelas serta informasi lainnya Universitas Indonesia
22 13 yang diperlukan), kesesuaian farmasetik (bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas, cara dan lama pemberian), dan pertimbangan klinis (adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian dosis, durasi, jumlah obat dan lainlain) Penyiapan obat a. Peracikan Merupakan kegiatan menyiapkan, menimbang, mencampur, mengemas dan memberikan etiket pada wadah. Dalam melakukan peracikan obat, harus dibuat suatu prosedur tetap dengan memperhatikan dosis, jenis dan jumlah obat penulisan etiket yang benar. b. Etiket Etiket harus jelas dan dapat dibaca. c. Kemasan obat yang diserahkan kemasan obat harus cocok dan rapi sehingga terjaga kualitasnya. d. Penyerahan obat Sebelum obat diserahkan pada pasien, harus dilakukan pemeriksaan akhir terhadap kesesuaian antara obat dan resep. Penyerahan obat dilakukan oleh apoteker disertai pemberian informasi mengenai obat dan konseling kepada pasien). e. Informasi obat Apoteker harus memberikan informasi yang benar, jelas, mudah dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana dan terkini. Informasi ini sekurangkurangnya meliputi cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi. f. Monitoring penggunaan obat Setelah penyerahan obat kepada pasien, apoteker harus melaksanakan monitoring penggunaan obat, terutama untuk pasien kardiovaskular, diabetes, tuberkulosis, asma dan penyakit kronis lainnya. Universitas Indonesia
23 14 g. Konseling Konseling didefinisikan sebagai proses komunikasi dua arah yang sistematik antara apoteker dan pasien untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan obat dan pengobatan. Apoteker harus memberikan konseling mengenai sediaan farmasi, pengobatan dan perbekalan kesehatan lainnya sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien atau yang bersangkutan terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau penggunaan salah sediaan farmasi atau perbekalan kesehatan lainnya Promosi dan Edukasi (Departemen Kesehatan RI, 2004) Dalam rangka pemberdayaan masyarakat, apoteker harus berpartisipasi secara aktif dalam promosi dan edukasi kepada pasien. Apoteker ikut membantu penyebaran informasi antara lain dengan penyebaran leaflet/brosur, poster, penyuluhan dan lainnya Pelayanan Residensial (Departemen Kesehatan RI, 2004) Pelayanan residensial adalah pelayanan apoteker sebagai care giver dalam pelayanan kefarmasian di rumah-rumah khususnya untuk kelompok lansia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya. Untuk itu apoteker harus membuat catatan pengobatan pasien (medication record). 2.8 Pengalihan Tanggung Jawab Apoteker (Departemen Kesehatan RI, 2002) Pengalihan tanggung jawab apoteker diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1332/MenKes/SK/X/2002, yaitu : 1) Apabila Apoteker Pengelola Apotek (APA) berhalangan melakukan tugasnya pada jam buka apotek, APA harus menunjuk apoteker pendamping. 2) Apabila APA dan Apoteker pendamping karena hal-hal tertentu berhalangan melakukan tugasnya, APA menunjuk apoteker pengganti. 3) Apabila APA meninggal dunia, dalam jangka waktu dua kali dua puluh empat jam, ahli waris APA wajib melaporkan kejadian tersebut secara tertulis kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Universitas Indonesia
24 15 4) Apabila pada apotek tersebut tidak terdapat Apoteker pendamping, pelaporan oleh ahli waris wajib disertai penyerahan resep, narkotika, psikotropika, obat keras, dan kunci tempat penyimpanan narkotika dan psikotropika. 5) Pada penyerahan resep, narkotika, psikotropika dan obat keras serta kunci tersebut, dibuat berita acara serah terima dengan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat 2.9 Pencabutan Surat Izin Apotek (Departemen Kesehatan RI, 2002) Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1332/MenKes/SK/X/2002, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat mencabut surat izin apotek apabila : 1) Apoteker sudah tidak lagi memenuhi ketentuan yang tercantum dalam persyaratan sebagai Apoteker Pengelola Apotek. 2) Apoteker tidak lagi memenuhi kewajibannya sebagai Apoteker Pengelola Apotek. 3) APA berhalangan melakukan tugasnya lebih dari 2 tahun secara terus menerus. 4) Terjadi pelanggaran terhadap ketentuan perundang-undangan yang berhubungan dengan kegiatan apotek. 5) Surat Izin Kerja Apoteker Pengelola Apotek dicabut. 6) Pemilik Sarana apotek terbukti terlibat dalam pelanggaran perundangundangan di bidang obat. 7) Apotek tidak dapat lagi memenuhi persyaratan mengenai kesiapan tempat pendirian apotek serta kelengkapan sediaan farmasi dan perbekalan lainnya baik merupakan milik sendiri atau pihak lain. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebelum melakukan pencabutan surat izin apotek berkoordinasi dengan Kepala Balai POM setempat. Pelaksanaan pencabutan surat izin apotek dilaksanakan setelah dikeluarkan : 1) Peringatan secara tertulis kepada Apoteker Pengelola Apotek sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut dengan tenggang waktu masing-masing 2 (dua) bulan dengan menggunakan contoh Formulir Model APT-12. Universitas Indonesia
25 16 2) Pembekuan izin apotek untuk jangka waktu selama-lamanya 6 (enam) bulan sejak dikeluarkannya penetapan pembekuan kegiatan Apotek dengan menggunakan Formulir Model APT-13. Pembekuan Izin Apotek sebagaimana dimaksud dalam huruf (b) di atas, dapat dicairkan kembali apabila apotek telah membuktikan memenuhi seluruh persyaratan sesuai dengan ketentuan dalam peraturan ini dengan menggunakan contoh formulir Model APT-14. Pencairan Izin Apotek dilakukan setelah menerima laporan pemeriksaan dari Tim Pemeriksaan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat. Apabila Surat Izin Apotek dicabut, Apoteker Pengelola Apotek atau Apoteker Pengganti wajib mengamankan perbekalan farmasi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengamanan yang dimaksud wajib mengikuti tata cara sabagai berikut : 1) Dilakukan inventarisasi terhadap seluruh persediaan narkotika, psikotropika, obat keras tertentu dan obat lainnya serta seluruh resep yang tersedia di apotek. 2) Narkotika, psikotropika, dan resep harus dimasukkan dalam tempat yang tertutup dan terkunci. 3) Apoteker Pengelola Apotek wajib melaporkan secara tertulis kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, tentang penghentian kegiatan disertai laporan inventarisasi yang dimaksud dalam huruf (a) Sediaan Farmasi (Departemen Kesehatan RI, 2006) Sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetik. Untuk menjaga keamanan penggunaan obat oleh masyarakat, maka pemerintah menggolongkan obat menjadi : Obat Bebas Obat golongan ini adalah obat yang dapat dibeli tanpa resep dokter. Pada kemasan ditandai dengan lingkaran hitam, mengelilingi bulatan warna hijau disertai brosur yang berisi nama obat, nama dan isi zat berkhasiat, indikasi, dosis, atau aturan pemakaiannya, nomor bets, nomor registrasi, nama pabrik, dan alamat serta cara penyimpanannya. Universitas Indonesia
26 17 Gambar 2.1. Penandaan obat bebas Obat Bebas Terbatas Obat golongan ini adalah obat keras yang diberi batas pada setiap takaran dan kemasan yang digunakan untuk mengobati penyakit ringan yang dapat dikenali oleh penderita sendiri. Obat ini dapat dibeli tanpa resep dokter. Obat bebas terbatas ditandai dengan lingkaran hitam, mengelilingi bulatan warna biru yang ditulis pada etiket dan bungkus luar. Gambar 2.2. Penandaan obat bebas terbatas Di samping itu ada tanda peringatan P.No.1 sampai dengan P.No.6, dan penandaan pada etiket atau brosur terdapat nama obat yang bersangkutan, daftar bahan khasiat serta jumlah yang digunakan, nomor bets, dan tanggal kadaluarsa, nomor registrasi, nama dan alamat produsen, petunjuk penggunaan (indikasi), dan cara pemakaian, peringatan, serta kontraindikasi. Tanda peringatan pada kemasan dibuat dengan dasar hitam, tulisan putih. Gambar 2.3. Tanda peringatan pada obat bebas terbatas (P1-P6) Universitas Indonesia
27 Obat Keras Obat golongan ini adalah obat-obatan yang mempunyai khasiat mengobati, menguatkan, mendesinfeksi dan lain-lain pada tubuh manusia, baik dalam bungkusan atau tidak yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. Tanda khusus lingkaran merah dengan garis tepi hitam dan huruf K didalamnya. Psikotropika termasuk dalam golongan obat keras. Gambar 2.4. Penandaan obat keras Narkotika Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Gambar 2.5. Penandaan obat narkotika Berdasarkan Undang-undang No. 35 Tahun 2009 tentang narkotika, narkotika dibedakan dalam tiga golongan yaitu: a. Narkotika golongan I Merupakan narkotika yang dapat digunakan untuk kepentingan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan dilarang digunakan untuk kepentingan lainnya, serta mempunyai potensi yang sangat tinggi untuk menimbulkan ketergantungan. Contoh tanaman Papaver somniferum (kecuali biji), Erythroxylon coca, Cannabis sativa. b. Narkotika golongan II Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan sebagai pilihan terakhir dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu Universitas Indonesia
28 19 pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi untuk menimbulkan ketergantungan. Contohnya adalah morfin dan petidin. c. Narkotika golongan III Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan untuk menimbulkan ketergantungan, contohnya yaitu Codein Pengelolaan Narkotika Menurut Undang-undang 35 Tahun 2009 pengaturan narkotika bertujuan untuk: 1) Menjamin ketersediaan narkotika untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan; 2) Mencegah terjadinya penyalahgunaan narkotika; dan 3) Memberantas peredaran gelap narkotika. Secara garis besar pengelolaan narkotika meliputi pemesanan, penyimpanan, pelayanan dan pemusnahan Pemesanan Narkotika Apoteker hanya dapat memesan narkotika melalui Pedagang Besar Farmasi (PBF) tertentu yang telah ditetapkan oleh Menteri Kesehatan, yaitu PT. Kimia Farma, dengan tujuan untuk memudahkan pengawasan peredaran narkotika. Pemesanan narkotika dilakukan dengan menggunakan surat pesanan (SP) khusus narkotika yang terdiri dari 4 rangkap yang ditandatangani oleh APA serta dilengkapi dengan nama jelas, stempel apotek, nomor SIK, dan SIA. Satu Surat Pesanan (SP) hanya untuk memesan satu jenis narkotika Penyimpanan Narkotika (Departemen Kesehatan RI, 1978) Apotek harus mempunyai tempat khusus yang dikunci dengan baik untuk menyimpan narkotika. Tempat penyimpanan narkotika di apotek harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 1) Harus dibuat seluruhnya dari kayu atau bahan lain yang kuat. 2) Harus mempunyai kunci yang kuat. Universitas Indonesia
29 20 3) Dibagi dua, masing-masing dengan kunci yang berlainan; bagian pertama dipergunakan untuk menyimpan morfin, petidin, dan garam-garamnya serta persediaan narkotika; bagian kedua dipergunakan untuk menyimpan narkotika lainnya yang dipakai sehari-hari. 4) Apabila tempat khusus tersebut berupa lemari berukuran kurang dari 40x80x100 cm, maka lemari tersebut harus dibaut pada tembok atau lantai. 5) Lemari khusus tidak boleh digunakan untuk menyimpan barang lain selain narkotika, kecuali ditentukan oleh Menteri Kesehatan. 6) Anak kunci lemari khusus harus dipegang oleh penanggung jawab atau pegawai lain yang dikuasakan. 7) Lemari khusus harus ditempatkan di tempat yang aman dan tidak terlihat oleh umum Pelayanan Resep Yang Mengandung Narkotika Menurut UU No. 9 Tahun 1976 tentang narkotika disebutkan bahwa: 1) Narkotika hanya digunakan untuk kepentingan pengobatan dan/atau ilmu pengetahuan. 2) Narkotika hanya dapat dipergunakan untuk pengobatan penyakit berdasarkan resep dokter. 3) Apotek dilarang melayani salinan resep yang mengandung narkotika. Untuk resep narkotika yang baru dilayani sebagian atau belum dilayani sama sekali, apotek boleh membuat salinan resep tetapi salinan resep tersebut hanya boleh diambil di apotek yang menyimpan resep asli. Salinan resep dari resep narkotika dengan tulisan iter tidak boleh dilayani sama sekali. Oleh karena itu dokter tidak boleh menambah tulisan iter pada resep yang mengandung narkotika Pelaporan Narkotika Undang-undang No. 35 Tahun 2009 pasal 14 ayat (2) menyatakan bahwa industri farmasi, pedagang besar farmasi, sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah, apotek, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter, dan lembaga ilmu pengetahuan wajib membuat, menyampaikan dan menyimpan Universitas Indonesia
30 21 laporan berkala mengenai pemasukan dan/atau pengeluaran narkotika yang ada dalam penguasaannya. Apotek berkewajiban menyusun dan mengirimkan laporan yang ditandatangani oleh APA. Laporan tersebut terdiri dari laporan penggunaan bahan baku narkotika, laporan penggunaan sediaan jadi narkotika dan laporan khusus menggunakan morfin, petidin dan derivatnya. Laporan dikirim ke kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat selambat-lambatnya tanggal 10 bulan berikutnya, dengan tembusan kepada Kepala Dinkes Propinsi, Balai/Balai Besar POM, dan sebagai arsip Pemusnahan Narkotika (Departemen Kesehatan RI, 1978) APA dapat melakukan pemusnahan narkotika yang rusak, kadaluarsa, atau tidak memenuhi syarat lagi untuk digunakan dalam pelayanan kesehatan. APA yang memusnahkan narkotika harus membuat berita acara pemusnahan narkotika yang memuat : 1) Hari, tanggal, bulan,dan tahun pemusnahan. 2) Nama APA. 3) Nama seorang saksi dari pemerintah dan seorang saksi lain dari perusahaan atau badan tersebut. 4) Nama dan jumlah Narkotika yang dimusnahkan. 5) Cara pemusnahan. 6) Tandatangan penanggung jawab apotek. Pemusnahan narkotik harus disaksikan oleh : 1) Petugas Direktorat Pengawasan Obat dan Makanan untuk Importir, pabrik farmasi dan unit pergudangan pusat. 2) Petugas Kantor Wilayah Departemen Kesehatan untuk pedagang besar farmasi penyalur narkotika, lembaga dan unit pergudangan propinsi. 3) Petugas Dinas Kesehatan Daerah Tingkat II untuk apotek, rumah sakit, puskesmas dan dokter Berita acara pemusnahan narkotika tersebut dikirimkan kepada kepala kantor Departemen Kesehatan Republik Indonesia dengan tembusan kepada Kepala Dinkes Propinsi, Balai/Balai Besar POM, dan sebagai arsip. Menurut Universitas Indonesia
31 22 Petunjuk Teknis Peraturan Apotek Tahun 2004 mengenai Prosedur Tetap Pelayanan Resep Narkotika, yaitu : 1) Melakukan pemeriksaan terhadap kelengkapan administrasi. 2) Melakukan pemeriksaan kesesuaian farmasetika, yaitu bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas, cara dan lama pemberian. 3) Mengkaji pertimbangan klinis, yaitu adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian (dosis, durasi, jumlah obat dan lain-lain). 4) Narkotika hanya dapat diserahkan atas dasar resep asli rumah sakit, puskesmas, apotek lainnya, balai pengobatan, dokter. Salinan resep narkotika dalam tulisan iter tidak bolah dilayani sama sekali. 5) Salinan resep narkotika yang baru dilayani sebagian atau yang belum dilayani sama sekali hanya boleh dilayani oleh apotek yang menyimpan resep asli. 6) Mengkonsultasikan ke dokter tentang masalah resep apabila diperlukan Pengelolaan Psikotropika Menurut Undang Undang 5 Tahun 1997, psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan Narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada sistem saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku. Psikotropika dapat dibagi menjadi beberapa golongan, yaitu: a. Psikotropika golongan I Yaitu psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh: lisergida dan meskalina. b. Psikotropika golongan II Yaitu psikotropika yang berkhasiat pengobatan, digunakan dalam terapi, dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh: amfetamin dan metamfetamin. c. Psikotropika golongan III Yaitu psikotropika yang berkhasiat pengobatan, digunakan dalam terapi, dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang Universitas Indonesia
32 23 mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh: amobarbital, pentobarbital dan pentazosina. d. Psikotropika golongan IV Yaitu psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi, dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh: barbital, alprazolam dan diazepam Pemesanan Psikotropika Surat Pesanan (SP) psikotropika harus ditandatangani oleh APA serta dilengkapi dengan nama jelas, stempel apotek, nomor SIK dan SIA. Satu surat pesanan ini dapat terdiri dari berbagai macam nama obat psikotropika dan dibuat dua rangkap Penyimpanan Psikotropika Obat golongan psikotropika penyimpanannya belum diatur oleh perundang-undangan, namun karena kecenderungan penyalahgunaan psikotropika, maka disarankan agar obat golongan psikotropika diletakkan tersendiri dalam suatu rak atau lemari khusus Pelaporan Psikotropika Menurut UU No.5 Tahun 1997, apotek wajib membuat dan menyimpan catatan mengenai kegiatan yang berhubungan dengan psikotropika dan wajib melaporkan kepada Menteri secara berkala. Pelaporan psikotropika ditandatangani oleh APA ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dengan tembusan kepada Kepala Dinkes Propinsi setempat, Balai/Balai Besar POM serta sebagai arsip apotek Pemusnahan Psikotropika Berdasarkan UU No. 5 Tahun 1997, setiap pemusnahan psikotropika, wajib dibuatkan berita acara. Pemusnahan psikotropika dilaksanakan dalam hal : Universitas Indonesia
33 24 1) Berhubungan dengan tindak pidana 2) Kadaluwarsa 3) Tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan dan/atau untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Pemusnahan psikotropika sebagaimana dimaksud : 1) Pada butir a, dilakukan oleh suatu tim yang terdiri dari pejabat yang mewakili departemen yang bertanggung jawab di bidang kesehatan, Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan Kejaksaan sesuai dengan Hukum Acara Pidana yang berlaku, dan ditambah pejabat dari instansi terkait dengan tempat terungkapnya tindak pidana tersebut, dalam waktu tujuh hari setelah mendapat kekuatan hukum tetap. Untuk psikotopika khusus golongan I, wajib dilaksanakan paling lambat 7 (tujuh) hari setelah dilakukan penyitaan; dan 2) Pada butir b dan c dilakukan oleh apoteker yang bertanggung jawab atas peredaran psikotropika dengan disaksikan oleh pejabat departemen yang bertanggung jawab di bidang kesehatan, dalam waktu 7 (tujuh) hari Penyerahan Psikotropika Penyerahan psikotropika oleh apotek hanya dapat dilakukan kepada apotek lainnya, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter, dan pasien dengan resep dokter. Universitas Indonesia
34 BAB 3 TINJAUAN UMUM 3.1 PT Kimia Farma (Persero) Tbk PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. dimulai sekitar tahun 1957, pada saat pengambilalihan perusahaan milik Belanda yang bergerak di bidang farmasi oleh Pemerintah Republik Indonesia. Berdasarkan Undang-Undang No.86 tahun 1956, pemerintah Indonesia melakukan nasionalisasi terhadap perusahaan farmasi Belanda tersebut dan menurut Peraturan Pemerintah No.69 tahun 1968 statusnya diubah menjadi Perusahaan Negara Farmasi (PNF). Pada tanggal 23 Januari 1969, berdasarkan PP No.3 Tahun 1969 perusahaan-perusahaan negara tersebut digabung menjadi PNF Bhineka Kimia Farma dengan tujuan penertiban dan penyederhanaan perusahaan-perusahaan negara. Selanjutnya pada tanggal 16 Agustus 1971, Perusahaan Negara Farmasi Kimia Farma mengalami peralihan bentuk hukum menjadi Badan Usaha Milik Negara dengan status sebagai Perseroan Terbatas, sehingga selanjutnya disebut PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. Pada tahun 1998, terjadi krisis ekomi di ASEAN yang mengakibatkan APBN mengalami defisit anggaran dan hutang negara semakin besar. Pemerintah mengeluarkan kebijakan privatisasi BUMN untuk mengurangi beban hutang. Berdasarkan Surat Menteri Negara Penanaman Modal dan Pembinaan BUMN No.S-59/M-PM. BUMN/2000 tanggal 7 Maret 2000, PT. Kimia Farma diprivatisasi. Pada tanggal 4 Juli tahun 2002 PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. resmi terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES) sebagai perusahaan publik. PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. mendirikan 2 anak perusahaan pada tanggal 4 Januari 2003 yaitu PT. Kimia Farma Trading & Distribution dan PT. Kimia Farma Apotek agar perusahaan dapat berkembang dengan cepat dan pengelolaan perusahaan lebih terarah. PT. Kimia Farma Trading & Distribution saat ini memiliki 2 wilayah pasar dan 35 cabang PBF (Pedagang Besar Farmasi) sedangkan PT. Kimia Farma Apotek sekarang memiliki 34 Unit Bisnis dan 400 Apotek yang tersebar di seluruh Indonesia. 25 Universitas Indonesia
35 PT. Kimia Farma Apotek PT. Kimia Farma Apotek (KFA) adalah anak perusahaan dari PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. dengan tujuan mengelola apotek-apotek milik perusahaan yang ada dalam upaya meningkatkan kontribusi penjualan. PT. Kimia Farma Apotek membawahi Apotek Pelayanan Kimia Farma (KF) wilayah usahanya terbagi menjadi 34 wilayah Unit Bisnis yang menaungi sejumlah 400 apotek yang tersebar di seluruh Indonesia. Tiap-tiap Unit Bisnis (Business Manager) membawahi sejumlah apotek pelayanan yang berada di wilayah usahanya. Apotek Pelayanan Kimia Farma dalam melakukan kegiatannya selain melayani resep dokter juga melengkapinya dengan swalayan farmasi atau Hand Verkoop (HV) yang berisi obat-obatan bebas dan bahan kebutuhan sehari-hari, menyediakan tempat praktik dokter, laboratorium klinik, optik, Pusat Informasi Obat dan Public Healthcare Centre sebagai upaya meningkatkan mutu pelayanan kepada pasien Visi dan Misi PT. Kimia Farma Apotek Visi PT Kimia Farma Apotek adalah menjadi perusahaan jaringan layanan farmasi yang terkemuka di Indonesia. Misi PT Kimia Farma Apotek adalah: 1. Memberikan jasa layanan prima atas ritel farmasi dan jasa terkait serta memberikan solusi jasa layanan kefarmasian bagi pelanggan. 2. Meningkatkan nilai perusahaan untuk pemegang saham dan pihak-pihak yang berkepentingan dengan berdasarkan prinsip Good Corporate Governance (GCG). 3. Mengembangkan kompetensi dan komitmen sumber daya manusia (SDM) yang lebih profesional untuk meningkatkan nilai perusahaan dan kesejahteraan SDM Struktur Organisasi Kimia Farma Apotek PT. Kimia Farma Apotek dikepalai oleh seorang Direktur Utama. Direktur Utama membawahi 2 direktur (Direktur Operasional dan Direktur Pengembangan), serta juga membawahi langsung 3 manager (Manager SDM dan Umum, Manager Keuangan dan Akuntansi, serta Manager IT). Direktur Universitas Indonesia
36 27 Operasional sendiri membawahi Manager Operasional, Manager Layanan dan Logistik dan Manager Bisnis, Sedangkan Direktur Pengembangan membawahi Manager Pengembangan Pasar. Struktur organisasi PT. Kimia Farma Apotek dapat dilihat di Lampiran Bisnis Manager (BM) Apotek pelayanan yang ada di PT. Kimia Farma Apotek dibawahi oleh Bisnis Manager (BM). BM adalah suatu Unit Bisnis yang bertugas menangani pembelian, penyimpanan barang dan administrasi apotek pelayanan yang berada di bawahnya. Konsep BM ini diharapkan dapat menjadi pengelolaan aset dan keuangan dari apotek dalam suatu area menjadi lebih efektif dan efisien, demikian juga kemudahan dalam pengambilan keputusan-keputusan yang menyangkut antisipasi dan penyelesaian masalah. Secara umum keuntungan yang didapat melalui konsep BM antara lain: a. Koordinasi modal kerja menjadi lebih mudah. b. Apotek-apotek pelayanan akan lebih fokus pada kualitas pelayanan, sehingga mutu pelayanan akan meningkat yang diharapkan berdampak pada peningkatan penjualan. c. Merasionalkan jumlah SDM terutama tenaga administrasi yang diharapkan berimbas pada efisiensi biaya administrasi. d. Meningkatkan bargaining dengan pemasok untuk memperoleh sumber barang dagangan yang lebih murah dengan maksud agar dapat memperbesar range margin atau HPP rendah. Di seluruh Indonesia terdapat 34 unit bisnis yang dibagi dalam 3 strata berdasarkan omset yang diterima, yaitu strata A yang memiliki omset paling besar, strata B yang memiliki omset di bawah strata A, dan strata C adalah unit bisnis dengan omset paling kecil dibandingkan unit bisnis strata A dan B. Wilayah JABODETABEK memiliki 5 BM yaitu: 1. Bisnis Manager Jaya I, membawahi wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Barat. 2. Bisnis Manager Jaya II, membawahi wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Timur dan Bekasi. 3. Bisnis Manager Bogor, membawahi wilayah Bogor, Depok dan Sukabumi. Universitas Indonesia
37 28 4. Bisnis Manager Tangerang membawahi wilayah Provinsi Banten. 5. Bisnis Manager di Rumah Sakit Jakarta. Manager Bisnis secara struktural langsung membawahi para manager Apotek pelayanan. Manager Bisnis juga membawahi supervisor akutansi dan keuangan serta supervisor pengadaan. Fokus dari apotek pelayanan adalah pelayanan perbekalan farmasi dan informasi obat pasien, sehingga layanan apotek yang berkualitas dan berdaya saing mendukung dalam pencapaian laba melalui penjualan setinggi-tingginya. Ada tiga fungsi yang berperan dalam melaksanakan kegiatan yang dilakukan oleh BM, yaitu fungsi pengadaan, fungsi penjualan, dan fungsi pencatatan Fungsi Pengadaan Pengadaan di BM menganut sistem Distribution Center, yaitu sistem pengadaan barang terpusat yang digunakan untuk pengadaan barang-barang yang termasuk dalam Pareto A (barang yang mewakili sekitar 80% dari total penjualan tetapi jumlahnya 20% dari seluruh jenis barang yang ada). Barang-barang ini akan dipesan oleh BM ke pemasok, dikirim pemasok ke gudang BM, barang disiapkan untuk masing-masing APP dan akan dikirim ke unit apotek pelayanan disertai daftar droping barang dari gudang BM. Adapun barang yang langsung dikirim dari pemasok ke APP untuk barang-barang yang termasuk dalam Pareto B dan C. Administrasi dan prosedur pemesanan barang oleh BM dapat diuraikan sebagai berikut: 1) Bagian Pembelian dari setiap apotek pelayanan membuat Bon Permintaan Barang Apotek (BPBA) sesuai dengan buku defekta yang dibuat berdasarkan persediaan obat dan barang apotek lain yang persediaannya sudah atau hampir habis lalu dikirim ke BM melalui sistem komputerisasi. 2) Bagian pengadaan di BM akan menyiapkan dan menyerahkan barang yang dibutuhkan yang tersedia di gudang kemudian akan di dropping langsung ke unit apotek pelayanan sedangkan untuk barang yang tidak tersedia di gudang maka akan dibuat Surat Pesanan (SP) oleh bagian Pembelian. Untuk apotek Universitas Indonesia
38 29 pelayanan yang meminta barang dalam jumlah kecil, pemesanannya digabung dengan apotek pelayanan lain. 3) SP yang telah disetujui oleh APA akan dikirimkan ke pemasok (Pedagang Besar Farmasi/PBF) melalui fax, internet, telepon atau diambil oleh salesman. 4) Pemasok menyerahkan barang pesanan apotek disertai dengan dokumen faktur dan SP. 5) Bagian gudang BM menerima (kecuali jika dikirim langsung ke unit apotek pelayanan), memeriksa fisik barang (apakah sesuai SP dan faktur, meliputi nama, kemasan, jumlah, harga barang serta nama pemasok) dan membuat tanda terima di faktur (stempel dan tanda tangan) berdasarkan fisik barang yang diterima. 6) Kemudian setelah diperiksa, faktur dikirim ke bagian Tata Usaha untuk dibukukan sebagai laporan pembelian dan utang dagang Fungsi Penjualan BM akan mengelola seluruh penjualan yang dihasilkan oleh seluruh unit apotek pelayanan yang berada di dalam cakupan wilayahnya masing-masing. Hasil penjualan yang diperoleh berasal dari penerimaan resep (baik tunai maupun kredit), penjualan obat tanpa resep dan penjualan barang-barang yang ada di swalayan farmasi. Data hasil penjualan tunai dan kredit dikirimkan kepada masing-masing BM dalam waktu 1 (satu) hari kemudian (H+1) Fungsi Pencatatan Kegiatan pencatatan yang dilakukan oleh Tata Usaha (TU) BM dibukukan dalam dokumen-dokumen baku maupun dokumen lainnya yang tidak baku. Dokumen baku dibuat sebagai bahan untuk menyusun Neraca Tahunan Apotek Kimia Farma dan untuk keperluan manajerial. Sedangkan dokumen lainnya seperti laporan piutang, laporan utang dan laporan prestasi kerja dibuat hanya untuk keperluan manajerial saja dan tidak digunakan untuk menyusun neraca tahunan. Universitas Indonesia
39 30 Dokumen-dokumen yang termasuk dalam dokumen baku tersebut antara lain: a. Buku Kas, memuat semua transaksi yang menggunakan uang tunai baik pemasukan maupun pengeluaran. b. Buku Permintaan Barang Apotek, dibuat untuk keperluan teknis apotek pelayanan sendiri. c. Buku Penjualan Apotek, memuat rekapitulasi penjualan harian oleh apotek pelayanan baik tunai maupun kredit. d. Buku Pembelian Apotek, memuat rekapitulasi pembelian harian oleh apotek pelayanan baik tunai maupun kredit. Dokumen-dokumen ini dibuat harian lalu direkapitulasi menjadi laporan bulanan, laporan triwulan, laporan semester dan laporan tahunan. Semua dokumen dan laporan tersebut dibuat rangkap 2, lembar pertama diserahkan kebagian Akuntansi Kantor Pusat PT. Kimia Farma, sedangkan lembar kedua disimpan di BM sebagai arsip. Bagian TU BM melakukan kegiatan administrasi di bawah tanggung jawab Kepala Bagian Tata Usaha. Tugas bagian TU adalah sebagai berikut: a. Membuat Laporan Gabungan apotek pelayanan (yang berada di wilayahnya) setiap bulan, triwulan dan semester untuk dikirim ke Bagian Akuntansi Kantor Pusat antara lain: Laporan Penjualan, Laporan Utang dan Laporan Piutang. b. Membuat Laporan Tahunan Tutup Buku (neraca dan laporan laba rugi). c. Membuat Laporan Manajerial Gabungan dan meyiapkan data manajerial untuk masing-masing apotek pelayanan yang selanjutnya dianalisa oleh masing-masing Pimpinan Apotek Pelayanan. Dalam melaksanankan tugasnya, Kepala Tata Usaha BM dibantu oleh beberapa staf bagian, yaitu: a. Administrasi pembelian, mempunyai tugas sebagai berikut: 1) Menerima salinan faktur pembelian yang telah diperiksa dan diparaf oleh petugas penerimaan barang dari masing-masing unit apotek pelayanan, kemudian salinan faktur tersebut dikumpulkan menurut nomor urut penerimaan barang per hari. Universitas Indonesia
40 31 2) Memeriksa salinan faktur dan kebenaran harga pada faktur tersebut yang kemudian di paraf sebagai tanda bahwa faktur tersebut telah diperiksa. 3) Setiap transaksi pembelian dicatat di Buku Pembelian Apotek dan di entry datanya ke komputer berdasarkan nama distributornya. Dalam pencatatan harus tercantum nama distributor, nomor faktur, nama dan jumlah barang, harga, besarnya potongan harga dan tanggal pembelian. Setelah itu catatan diberikan kepada petugas administrasi utang dagang. Setiap akhir buku pembelian dijumlahkan total nilainya untuk mengetahui transaksi pembelian yang berlangsung pada bulan tersebut. b. Administrasi penjualan, mempunyai tugas: 1) Setiap hari menerima dan memeriksa kebenaran Laporan Penjualan Harian Apotek per tanggal yang dibuat oleh apotek pelayanan berdasarkan buktibukti pembayaran dari hasil penjualan tunai maupun kredit serta pemakaian obat intern. Petugas mencatat hasil penjualan total yang diperoleh. Bukti pembayaran dari penjualan tunai berupa bukti setoran kas sedangkan dari penjualan kredit berupa alat tagih, kwitansi dan tanda terima faktur. 2) Mencatat hasil penjualan kredit ke kartu piutang per pelanggan. Kartu ini berisi transaksi total penjualan kredit setiap hari dan fungsi sebagai kontrol atas penagihan bagian inkasso. Sedangkan penjualan tunai dicatat pada buku kas. 3) Setiap akhir bulan dibuat laporan peredaran kredit atau laporan sisa piutang berdasarkan nama debitur dan perincian sisa piutang untuk mengetahui berapa jumlah tagihan yang sudah dan belum dibayar. c. Administrasi penagihan/inkasso, mempunyai tugas: 1) Membuat nota inkasso dan tanda terima faktur 2) Mencatat kwitansi di buku registrasi dan menyerahkannya kepada penanggung jawab TU untuk diperiksa kemudian diteruskan ke pimpinan apotek untuk ditandatangani. 3) Menyerahkan nota inkassso dan berkas penagihan (tanda terima faktur dan lampiran resep kredit) kepada petugas penagihan. Universitas Indonesia
41 32 4) Petugas penagihan melakukan penagihan ke debitur dengan membawa tanda terima faktur yang akan ditukarkan dengan uang tunai, cek atau giro. 5) Hasil penagihan yang diterima petugas penagihan kemudian diserahkan kepada kasir BM disertai dengan bukti penerimaan kas. d. Administrasi pajak, mempunyai tugas: 1) Mencatat dan menghitung pajak masukan yang dihitung berdasarkan jumlah PPN dari faktur pembelian barang. Setiap bulan PPN tersebut dijumlahkan dan dicatat pada daftar pajak masukan. 2) Mencatat dan menghitung pajak keluaran yang dihitung berdasarkan jumlah PPn dari total hasil penjualan. Penjualan resep tunai, penjualan bebas dan alkes. PPn dihitung setiap minggu dan dibuat dalam daftar pajak sederhana. Penjualan resep kredit dan jumlah PPn dibuat dalam faktur pajak standar yang harus dibayar oleh debitur. 3) Membuat daftar pajak keluaran setiap bulan yang berisi jumlah total PPn dari penjualan tunai dan kredit. 4) Menghitung jumlah pajak yang harus disetorkan kepada kas negara setiap bulan. Jumlah pajak yang harus disetorkan adalah selisih antara jumlah pajak keluaran dikurangi pajak masukan. e. Administrasi umum dan personalia, mempunyai tugas: 1) Membuat daftar gaji, uang lembur, permohonan cuti, pengusulan kenaikan pangkat dan fasilitas lain yang diberikan pada karyawan yang telah disetujui oleh Apoteker Pengelola Apotek. 2) Mendata semua pegawai secara lengkap. 3) Mendata absensi pegawai. Universitas Indonesia
42 BAB 5 PEMBAHASAN Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh apoteker. Yang dimaksud praktek kefarmasian tersebut meliputi pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan distribusi obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat, dan obat tradisional. Hal yang tidak kalah penting adalah bahwa apotek merupakan suatu jenis bisnis retail yang harus dikelola dengan baik agar memperoleh keuntungan untuk menutup beban biaya operasional dan menjaga kelangsungan bisnis apotek itu sendiri. Untuk dapat mengelola apotek, seorang apoteker tidak cukup dengan berbekal ilmu teknik kefarmasian saja, karena mengelola sebuah apotek sama saja mengelola sebuah perusahaan. Dibutuhkan kemampuan manajerial yang meliputi pengelolaan administrasi, perbekalan farmasi, sarana, keuangan dan pengelolaan sumber daya manusia. Keberhasilan suatu apotek sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain lokasi yang strategis, susunan tata ruang yang baik, struktur organisasi dan job description yang baik, pelayanan yang baik, dan sistem manajemen pengadaan dan penyimpanan, manajemen pemasaran, serta manajemen administrasi atau pencatatan yang baik. Disamping itu, apotek juga merupakan penyedia layanan kesehatan (health care provider) baik obat maupun non obat, dimana apotek akan menjadi tempat praktek profesi yang terlibat dalam memberikan layanan kesehatan terpadu yang dibutuhkan masyarakat. Untuk dapat melaksanakan tugas tersebut, maka perlu peran Apoteker dari drug oriented menjadi patient oriented. Pelayanan patient oriented bertujuan memenuhi kebutuhan pasien tentang hal-hal yang berhubungan dengan obat sehingga kualitas hidup pasien dapat tercapai dan ditingkatkan. PT. Kimia Farma Apotek merupakan anak perusahaan dari PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. Manajemen PT. Kimia Farma Apotek menetapkan suatu sistem kebijakan berupa sistem grouping yaitu mengelompokkan tiap apotek 45 Universitas Indonesia
43 46 pelayanan dalam group-group tertentu berdasarkan wilayahnya, dimana dalam satu grup terdapat satu sebagai Bisnis Manager dan apotek pelayanan. Apotek Kimia Farma 2 merupakan salah satu apotek pelayanan yang masuk ke dalam grup Bisnis Manager Jaya 2 (BM Jaya 2) yang berlokasi di Matraman. Apotek Kimia Farma 2 berada di Jalan Senen Raya No. 66 Jakarta Pusat, terletak di lokasi yang strategis dan mudah dijangkau karena berada di persimpangan jalan raya yang ramai, banyak dilewati angkutan umum. Namun, karena letak apotek yang berada tepat di persimpangan jalan maka sering terlewat oleh pasien yang membawa kendaraan bermotor. Selain itu, lahan parkir di depan apotek sangat terbatas. Walau terdapat lahan parkir yang terletak di belakang apotek, hal ini tidak banyak diketahui pelanggan dan dapat mempengaruhi pelanggan untuk enggan berkunjung karena merasa kesulitan parkir. Untuk mengatasi hal tersebut sebaiknya dipasang papan atau tulisan bahwa tersedia lahan parkir yang terletak dibelakang bangunan sebagai petunjuk untuk pasien yang datang dengan membawa kendaraan. Di sekitar apotek juga terdapat rumah sakit dan praktek dokter, selain itu Apotek Kimia Farma 2 terletak dekat dengan pusat perbelanjaan yaitu Plaza Atrium. Hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi apotek, karena dapat menarik pelanggan dari rumah sakit, dokter praktek dan pusat perbelanjaan tersebut. Namun, apotek juga memiliki pesaing lain karena di sekitar Apotek Kimia Farma No. 2 Senen juga terdapat apotek lain seperti Apotek Century, Apotek Titi Murni, Apotek Melawai dan lain-lain. Tata ruangan Apotek Kimia Farma No. 2 Senen terdiri dari: a. Ruang tunggu pasien yang cukup bersih dan tenang dan dilengkapi dengan alat penimbang berat badan dan penyejuk ruangan. b. Ruang penerimaan resep dan kasir. c. Ruang Apoteker. d. Ruang administrasi. e. Ruang praktek dokter f. Ruang penyimpanan obat disusun berdasarkan bentuk sediaannya serta dikelompokkan menjadi beberapa kategori antara lain tablet, sirup, injeksi, salep atau krim, tetes mata, termasuk obat generik, obat askes dan obat-obat Universitas Indonesia
44 47 bebas dipisahkan pada rak berbeda. Obat psikotropik dan narkotik disimpan dalam lemari khusus yang memiliki dua pintu dan terkunci. Suppositoria, sirup kering, hormon, serta tablet yang tidak stabil dalam suhu ruangan disimpan dalam lemari es. Dari masing-masing kategori tersebut disusun secara abjad dan farmakologi untuk lebih memudahkan dalam proses pencarian obat. g. Ruang peracikan Apotek Kimia Farma No. 2 Senen terletak di bagian dalam dan terhalang oleh rak-rak obat. Namun, ruang peracikan ini ukurannya tidak terlalu besar sehingga kegiatan peracikan obat seringkali terganggu saat pegawai lain mengambil obat yang disimpan di sekitar ruang peracikan. Untuk mengatasi hal tersebut sebaiknya obat-obatan yang jarang diracik tidak disimpan di dekat ruang peracikan. h. Sarana penunjang lainnya seperti toilet, dapur, musholla dan tersedia juga fasilitas ATM sehingga menjadi nilai tambah apotek. Apotek Kimia Farma No. 2 Senen menyediakan swalayan farmasi, dengan adanya swalayan farmasi dapat memberikan beberapa keuntungan diantaranya pelanggan dapat memilih dan mengambil sendiri obat atau barang yang mereka bututhkan dan dengan melihat obat atau barang yang dipajang diswalayan farmasi dapat menimbulkan keinginan pelanggan untuk membeli obat atau barang tersebut. Namun selain itu swalayan farmasi mempunyai beberapa kerugian diantaranya resiko kehilangan obat atau barang cukup besar dan untuk informasi harga obat atau barang tetap harus menanyakan kepada kasir. Kegiatan pengadaan barang di apotek mengikuti sistem yang telah diterapkan oleh PT. Kimia Farma. Pemesanan barang dilakukan melalui Bisnis Manajer (BM). Apotek Kimia Farma No. 2 Senen membuat Bon Permintaan Barang Apotek (BPBA) yang kemudian dikirimkan ke BM. Jika barang tersedia di gudang BM, maka akan langsung dikirim ke apotek beserta bukti droppingnya. Apabila barang yang dipesan oleh apotek tidak ada di BM, maka BM melakukan pemesanan ke PBF. Untuk jumlah pemesanan barang dalam jumlah besar maka dari PBF akan langsung dikirim ke BM dan dari BM langsung dikirim ke apotek. Dalam dua minggu sekali, apotek hanya membuat BPBA satu kali. Namun ini tidak berarti bahwa semua kebutuhan apotek atas ketersediaan obat dapat teratasi. Jika terdapat kekosongan barang maka apotek dapat melakukan Universitas Indonesia
45 48 pengadaan barang dengan cara meminta barang antar apotek Kimia Farma melalui bon permintaan barang, baik dalam satu wilayah ataupun antar wilayah bisnis manager. Hal inilah yang disebut dengan dropping. Jika pada apotek Kimia Farma yang lain tidak tersedia obat yang dicari dan kondisinya sangat mendesak, maka Apotek Kimia Farma 2 Senen dapat membeli barang dari apotek lain di luar jaringan Apotek Kimia Farma tetapi jumlah obat yang dipesan hanya sebanyak permintaan saja. Dengan adanya sistem BM ini, maka apotek pelayanan dapat lebih focus dalam memberikan pelayanan kefarmasian yang lebih berkualitas karena fungsifungsi administrasi seperti pembelian dan keuangan hanya dilakukan oleh BM. Selain itu, sistem BM juga meningkatkan daya tawar (bargaining power) dengan pemasok untuk memperoleh barang dagangan yang lebih murah, karena dengan pembelian barang dalam jumlah besar memungkinkan para pemasok memberikan diskon yang cukup tinggi atau memberikan bonus bonus khusus sehingga dapat meningkatkan laba apotek. Penerimaan produk obat yang dikirimkan dari BM disesuaikan dengan BPBA kemudian diperiksa jumlah dan jenis obatnya. Produk obat yang sudah diperiksa, kemudian disimpan di kotak obat dan dicatat dikartu stok dengan menuliskan nomor batch dan tanggal kadaluarsanya. Produk obat yang sudah diterima, dimasukkan saldonya ke komputer, sehingga apabila terdapat ketidak sesuaian jumlah fisik dan kartu stok dapat dicek dalam komputer. Penyimpanan produk obat di apotek Kimia Farma 2 dilakukan berdasarkan sistem FIFO (First In First Out) dan FEFO (First Expired First Out) artinya produk atau obat yang datang lebih dahulu, harus dikeluarkan lebih dahulu sedangkan produk atau obat yang terakhir datang diletakkan di belakang atau jika produk atau obat yang memiliki expired date paling dekat dikeluarkan terlebih dahulu, begitu seterusnya. Sistem ini dilakukan agar perputaran produk obat dapat berjalan, sehingga dapat menghindari terdapatnya produk obat yang kadaluarsa. Di apotek Kimia Farma 2 dilakukan pemeriksaan stok opname secara rutin, yaitu setiap 3 bulan sekali sehingga dengan adanya pemeriksaan stok opname ini dapat diketahui kondisi produk atau obat yang ada secara fisik disesuaikan dengan kondisi produk atau obat yang ada di komputer, jika terjadi selisih jumlah maka Universitas Indonesia
46 49 dapat segera dilakukan evaluasi, selain itu dapat mengetahui obat atau barang yang akan kadaluarsa sehingga dapat dilakukan penanggulangan dengan meretur kepada pemasok atau dilakukan tukar guling dengan obat atau barang yang masa expirenya lebih lama. Untuk obat-obat narkotika dan psikotropika, tempat penyimpanannya terpisah yaitu di dalam lemari berkunci ganda. Hal ini sesuai dengan tata cara penyimpanan obat narkotika dan psikotropika yang tertulis dalam Permenkes RI No.28/I/Per/Menkes/1978. Pemasukan dan pengeluaran narkotika dibuat dalam suatu laporan untuk diarsipkan dan dilaporkan kepada Dinkes kabupaten setempat. Pada setiap pemasukan dan pengeluaran obat, kartu stok harus selalu diisi sehingga dapat dikontrol persediaan obatnya. Untuk produk atau obat OTC (Over The Counter) pemasukan dan pengeluarannya dicatat dalam kartu stok dan dalam komputer. Namun pada kenyataannya, masih ada yang berbeda antara jumlah pada kartu stok dengan jumlah obat secara fisik. Hal ini dikarenakan masih kurang ketelitian dalam melakukan pencatatan di kartu stok, Sehingga terjadi kekeliruan data pada kartu stok. Hal ini dapat segera diatasi dengan melakukan cek mutasi obat dan saldo komputer. Pelayanan yang dilakukan di Apotek Kimia Farma 2 Senen diantaranya yaitu: a. Pelayanan resep tunai Setelah keabsahan kelengkapan resep terpenuhi, petugas akan melihat ketersediaan obat dan melakukan penetapan harga. Dalam hal penetapan harga perlu dikomunikasikan kembali dengan pasien untuk mengetahui kemungkinan obat akan ditebus semua atau sebagian karena alasan pasien tidak mampu membayar. Untuk obat yang tidak dimiliki apotek dan tidak ingin diganti maka petugas akan memberikan salinan resep. Pada saat penyerahan obat pasien diminta untuk memberikan alamat, nomor telepon dan paraf. a. Pelayanan resep kredit Resep kredit disini berasal dari beberapa instansi. Dengan adanya permintaan resep kredit yang berasal dari beberapa instansi tersebut tentunya dapat meningkatkan omset dari Apotek pelayanan. Kerjasama ini tentunya Universitas Indonesia
47 50 didasarkan atas kesepakatan yang telah disetujui sebelumnya, dimana kesepakatan tersebut dapat dilakukan oleh seorang APA dari Apotek pelayanan sendiri ataupun diatur oleh pihak Manajemen. Tentunya, dengan banyaknya permintaan kredit haruslah disesuaikan dengan jumlah jam dan tenaga kerja yang ada di Apotek dengan tetap memprioritaskan permintaan resep yang berasal dari klinik maupun pasien luar. Kelebihan dari adanya bentuk kerjasama ini biasanya terdapat pada kelonggaran waktu piutang yang ditawarkan oleh pihak Apotek Pelayanan (atau Bisnis Manager) kepada pihak perusahaan yang bersangkutan. Pelayanan resep kredit tidak perlu menetapkan harga terlebih dahulu karena sifatnya piutang. Pemakaian obat untuk resep kredit diinput dan dikirim ke instansi yang bersangkutan untuk mendapatkan pembayaran hutang. Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanannya, apotek Kimia Farma 2 berusaha untuk memberikan pelayanan lebih luas kepada pelanggan, seperti : 1. Menyediakan praktek dokter untuk pasien. 2. Adanya pelayanan Upaya Pengobatan Diri Sendiri (UPDS) yang ditunjang dengan pemberian informasi yang benar mengenai penggunaan obat, sehingga terhindar dari efek samping obat yang merugikan. Metode yang digunakan meliputi 5 pertanyaan, yaitu untuk siapa obat yang diberikan, apa gejalanya, berapa lama gejala tersebut, tindakan yang telah dilakukan serta obat yang dipakai untuk kondisi yang lain. 3. Adanya pemisahan tempat untuk penjualan alat kesehatan, kosmetika dan obat tradisional. 4. Adanya ruang tunggu yang nyaman, dilengkapi dengan fasilitas televisi untuk mengurangi kejenuhan pasien selama menunggu obat disiapkan. 5. Adanya delivery service, untuk pasien yang tidak memiliki banyak waktu untuk menunggu maka obat dapat diantar ke alamat pasien. Universitas Indonesia
48 BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan 1. Apoteker Pengelola Apotek (APA) berperan dalam menentukan kebijakan pengelolaan apotek serta melaksanakan fungsi pengawasan dan pengendalian terhadap semua komponen yang ada di apotek. Disamping itu, apoteker sebagai bagian dari tenaga kesehatan memiliki tugas dan tanggung jawab dalam mewujudkan pelayanan kefarmasian yang berkualitas untuk menjamin penggunaan obat yang rasional guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat. 2. Pengelolaan Apotek mencakup administrasi, manajemen pengadaan, penyimpanan, penjualan dan pelayanan telah sesuai dengan peraturan, dan etika yang berlaku dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat Saran 1. Kebersihan alat peracikan perlu diperhatikan guna menjamin keamanan, efektifitas, dan kualitas obat. Perlu adanya prosedur tertulis mengenai cara pembersihan alat racik yang dapat dibaca oleh petugas yang meracik. Bila perlu alat racik untuk meracik obat yang mengandung beta laktam sebaiknya mempunyai alat racik sendiri. 2. Tanggung jawab petugas terhadap masing-masing lemari obat perlu diingatkan kembali, terutama mengenai kontrol persediaan termasuk kontrol expired date obat, kerapihan, dan kebersihan kotak dan lemari obat. Kotak obat yang sudah rusak dan kartu stok yang sudah penuh/rusak sebaiknya diganti dengan yang lebih baik. 3. Setiap karyawan perlu diberikan pemahaman dan pelatihan mengenai Standar Prosedur Operasional (SPO) pelayanan di apotek. Pengawasan terhadap pelaksanaan SPO yang telah ditetapkan harus terus ditingkatkan untuk memastikan bahwa pelayanan yang baik dapat tercapai setiap saat. 51
49 52 4. Komitmen untuk memberikan pelayanan sebaik mungkin kepada setiap konsumen harus terus diupayakan dan ditingkatkan oleh apoteker melalui pelayanan informasi obat, konseling dan monitoring penggunaan obat. 5. Evaluasi mutu pelayanan sebaiknya dilakukan secara berkala dengan menggunakan indikator tingkat kepuasan konsumen, dimensi waktu (lama pelayanan diukur dengan waktu yang telah ditetapkan), dan prosedur tetap untuk menjamin mutu pelayanan sesuai standar yang telah ditetapkan. 6. Kedisiplinan karyawan dalam menjalankan setiap tugas dan kewajibannya perlu ditingkatkan dengan cara pemberian reward. Universitas Indonesia
50 55 zlampiran 1. Alur Pelayanan Penerimaan Resep Penerimaan Resep Resep Kredit Resep Tunai Pemeriksaan kelengkapan administrasi Pemeriksaan kelengkapan administrasi Pemberian harga Pemberian harga Pemberian nomor urut Pasien membayar di kasir dan diberi nomor resep Bagian Penyiapan obat Obat Jadi Obat Racikan Pemberian etiket Pemeriksaan kesesuaian obat Penyerahan obat disertai pelayanan informasi obat Obat diterima oleh pasien Resep disimpan petugas
51 56 Lampiran 2. Surat Pemesanan Narkotika Lampiran 3. Surat Pemesanan Psikotropika
52 57 Lampiran 4. Laporan Narkotika
53 58 Lampiran 5. Laporan Psikotropika Lampiran 6. Plastik Klip dengan Etiket
54 59 Lampiran 7. Kertas Pembungkus Puyer Lampiran 8. Etiket Obat Dalam Lampiran 9. Etiket Obat Luar
55 60 Lampiran 10. Label Obat Lampiran 11. Kwitansi Pembayaran Resep Tunai
56 61 Lampiran 12. Kopi Resep
57 62 Lampiran 13. Kartu Stok Oba
58 68
59 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 2 JL. SENEN RAYA No. 66 JAKARTA PUSAT PERIODE 1 MEI 8 JUNI 2012 TUGAS KHUSUS ANALISIS KINERJA KATEGORI PRODUK OTC DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 2 PADA BULAN APRIL 2012 NENDEN PUSPITASARI, S.Si ANGKATAN LXXIV FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM PROFESI APOTEKER DEPARTEMEN FARMASI DEPOK JUNI 2012
60 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 2 JL. SENEN RAYA No. 66 JAKARTA PUSAT PERIODE 1 MEI 8 JUNI 2012 TUGAS KHUSUS ANALISA KINERJA KATEGORI PRODUK OTC DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 2 PADA BULAN APRIL 2012 Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker NENDEN PUSPITASARI, S.Si ANGKATAN LXXIV FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM PROFESI APOTEKER DEPARTEMEN FARMASI DEPOK JUNI 2012 ii
61 DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... ii DAFTAR ISI... iii DAFTAR LAMPIRAN... iv 1. PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan TINJAUAN PUSTAKA Apotek sebagai Bisnis Retail Merchandising di Apotek Analisis Kinerja Kategori Produk METODOLOGI PENELITIAN Waktu dan Tempat Cara Kerja HASIL DAN PEMBAHASAN KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran DAFTAR REFERENSI...12 LAMPIRAN iii
62 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berdasarkan PP no. 51 tahun 2009 pasal 1 ayat 13, apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh apoteker. Praktek kefarmasian di apotek meliputi pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian atau penyaluran obat, pelayanan obat atas resep dokter, dan pelayanan informasi obat. Oleh karena itu, seorang apoteker di apotek memiliki peran yang penting baik sebagai profesional, manajer, maupun retailer. Seiring perkembangan zaman, apotek sebagai retailer saat ini tidak hanya melayani obat atas resep dokter ataupun pengobatan mandiri, tetapi juga menyediakan perbekalan kesehatan lain yang dapat dibeli konsumen dengan bebas (swalayan/otc). Tujuan utama retailer adalah mampu menjual produk dan jasa semaksimal mungkin untuk menghasilkan keuntungan. Dengan demikian, peran apoteker sebagai retailer memegang peranan sangat penting demi lancarnya keberlangsungan bisnis apotek. Apotek sebagai retailer harus mempunyai varian produk atau jasa yang beragam dan menjualnya secara konsisten Seorang apoteker harus jeli dalam menentukan varian/jenis produk yang tepat yang akan disediakan di swalayan apoteknya sehingga memberikan keuntungan yang maksimal. Analisis terhadap kinerja kategori produk merupakan suatu metode yang dilakukan untuk mengidentifikasi kategori produk mana yang memiliki nilai jual tinggi sehingga dapat memberikan keuntungan maksimal bagi apotek. Dengan mengetahui kinerja dari kategori produk, maka apoteker mengetahui produk dari kategori apa yang layak untuk dikembangkan penjualannya. Pengembangan penjualan ini dapat dilakukan dengan menambah jenis/variasi produk atau pun jumlah pengadaan dari kategori tersebut. Tugas khusus ini berisi analisis kinerja kategori produk OTC yang dilakukan dengan mengkaji pareto penjualan pada bulan April 2012 di apotek Kimia Farma no. 2 Senen, Jakarta Pusat. 1 Universitas Indonesia
63 2 1.2 Tujuan Tujuan dari penulisan tugas khusus ini adalah untuk mengidentifikasi kategori produk OTC Apotek Kimia Farma no. 2 Senen yang memiliki nilai jual paling tinggi berdasarkan pareto bulan April Universitas Indonesia
64 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Apotek sebagai Bisnis Retail Retail adalah semua usaha bisnis yang secara langsung mengarahkan kemampuan pemasarannya untuk memuaskan konsumen akhir berdasarkan organisasi penjualan barang dan jasa sebagai inti dari distribusi. Apotek sebagai bisnis retail berarti suatu usaha yang menyediakan pelayanan produk dan jasa yang harus memenuhi kebutuhan konsumen dalam meningkatkan taraf kesehatan konsumen. Produk dan jasa yang disediakan di apotek antara lain pelayanan obat berdasarkan resep dokter, pelayanan pengobatan mandiri atau upaya pengobatan diri sendiri (UPDS), jasa pelayanan konsultasi, edukasi, dan informasi obat, jasa praktek dokter, serta penyediaan perbekalan kesehatan di swalayan apotek. Penyediaan varian produk atau jasa yang beragam dimaksudkan untuk mencapai tujuan utama retailer, yaitu mampu menjual produk dan jasa semaksimal mungkin untuk menghasilkan keuntungan yang maksimal Merchandising di Apotek Merchandising adalah aktivitas untuk mendapatkan barang atau jasa tertentu dan menjadikannya tersedia pada waktu, tempat, serta jumlah yang mampu membuat peritel mencapai tujuannya. Jadi merchandising merupakan suatu kegiatan perencanaan, pelaksanaan, maupun pengaturan dan penempatan produk yang dijual di dalam apotek. Merchandising berhubungan dengan purchasing, pricing, kategori produk, lay-out dan shelving, display, dan promosi. Program pembelian harus diatur sedemikan rupa sehingga produk tersedia pada saat yang tepat dengan jumlah yang sesuai. Harga jual pun perlu diperhatikan sehingga rasional bagi pelanggan dan memberikan keuntungan yang wajar bagi apotek. Kategori produk yang disediakan harus tepat memenuhi kebutuhan pelanggan sehingga semua produk terjual. Dekorasi serta penataan masing-masing kategori produk yang dijual penting demi kemudahan dan kenyamanan pelanggan dalam berbelanja di 3 Universitas Indonesia
65 4 swalayan apotek. Promosi diberikan untuk menarik pelanggan yang sensitif terhadap harga sehingga bisa menjadi daya tarik serta nilai tambah bagi pelanggan. Setiap apotek mempunyai program merchandising masing-masing. Dapat merupakan sebuah hasil evolusi yang tidak direncanakan, maupun merupakan program yang dikembangkan untuk merespon kebutuhan pelanggan dan kondisi pasar. Bagi chain pharmacy, istilah merchandising berarti sebuah kombinasi terbaik-terburuk untuk positioning, arranging, dan promoting sebuah produk di dalam apotek sedemikian rupa sehingga para pelanggan termotivasi untuk membeli setiap saat. Keputusan seorang pelanggan untuk membeli barang di apotek adalah ketika mereka berada di dalam apotek. Oleh karena itu, merchandising merupakan faktor penting yang harus di perhatikan dalam bisnis apotek. 2.3 Analisis Kinerja Kategori Produk Analisis kinerja kategori produk merupakan suatu metode atau kegiatan yang dilakukan untuk mengidentifikasi kategori produk mana yang memiliki nilai penjualan yang tinggi. Dengan demikian, dapat diketahui kategori produk apa yang memberikan keuntungan tertinggi bagi apotek. Analisis kinerja kategori produk dilakukan dengan mendata pareto penjualan setiap produk pada kurun waktu tertentu. Setelah didapatkan paretonya, setiap produk dikelompokkan berdasarkan kategori penjualan yang telah ditentukan sebelumnya. Pengelompokkan ini dapat didasarkan pada farmakologi maupun fungsi dari setiap jenis obat. Setelah dikelompokkan dengan kategori produknya masing-masing, dilihat jumlah nilai jual dari setiap kategori. Dengan demikian, dapat diketahui kategori mana yang memiliki nilai penjualan tertinggi. Pelaksanaan analisis kinerja kategori produk ini dapat dilakukan secara otomatis dengan menggunakan program komputer tertentu, maupun secara manual dengan menggunakan program Microsoft Excel. Universitas Indonesia
66 5 Dengan mengetahui kinerja dari kategori produk, maka apoteker mengetahui produk dari kategori apa yang layak untuk dikembangkan penjualannya. Pengembangan penjualan ini dapat dilakukan dengan menambah jenis/variasi produk atau pun jumlah pengadaan dari kategori tersebut. Kategori produk dengan varian produk yang besar dan beragam dapat menjadi daya tarik pelanggan dengan membentuk citra bahwa suatu apotek menyediakan produk yang lengkap. Dengan demikian, pelanggan akan kerap datang ke apotek tersebut dibanding apotek lain. Universitas Indonesia
67 BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Pengambilan data dan penelusuran pustaka dilakukan di Apotek Kimia Farma no. 2 Senen, Jakarta Pusat pada periode Mei Juni Data diambil dari bagian administrasi apotek. 3.2 Cara Kerja Dilakukan penelusuran data dari pareto penjualan produk OTC pada bulan April 2012 di swalayan Apotek Kimia Farma no. 2 Senen, Jakarta Pusat. Data yang diambil dari bagian administrasi apotek ini kemudian dikelompokkansecara manual berdasarkan kategori yang ada pada setiap gondola di swalayan apotek. Setelah terkelompok dengan baik, tabel data setiap kategori dibuat pada program Microsoft Excel dengan format nama produk, jumlah penjualan dan nilai penjualan. Nilai penjualan dari tiap kategori lalu dijumlahkan dan disusun dari angka nilai penjualan terbesar hingga terkecil. Dengan demikian diketahui urutan nilai penjual tiap kategori. 6 Universitas Indonesia
68 BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel pareto penjualan OTC yang didapatkan dari bagian administrasi berisi data berupa ±400 produk yang dipajang pada gondola swalayan apotek yang memiliki nilai penjualan terbesar. Pareto penjualan pada bulan April 2012 ini kemudian dikelompokkan berdasarkan masing-masing kategori pada gondola, dan ditentukan total nilai penjualannya. Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran Total nilai penjualan dari masing masing kategori kemudian disatukan dalam sebuah tabel sehingga dapat dibandingkan total nilai jual dan nilai persentasenya. Data tersebut dapat dilihat pada tabel 4.1. Tabel 4.1 Kategori Produk dan Nilai Penjualannya NO KATEGORI NILAI JUAL (Rp) NILAI % 1 Suplemen ,23 2 Medicine ,25 3 Alat Kesehatan ,49 4 Topical ,21 5 Vitamin & Mineral ,85 6 First Aid ,80 7 Milk & Nutrition ,50 8 Beauty Care ,06 9 Drink ,17 10 Oral care ,44 11 Skin Care ,28 12 Personal Care ,07 13 Food & Snack ,76 14 Feminine Care ,61 15 Baby & Child Care ,59 16 Paper Product & Feminine Care ,24 7 Universitas Indonesia
69 8 NO KATEGORI NILAI JUAL (Rp) NILAI % 17 Soap and Body wash ,23 18 Hair Care ,17 19 Majalah ,06 Total ,00 Data pada tabel 4.1 kemudian digambarkan dalam bentuk pie chart dengan tujuan mempermudah perbandingan nilai penjualan antar kategori. Selengkapnya dapat dilihat pada diagram 4.1. Diagram 4.1 Persentase Nilai Penjualan Setiap Kategori Berdasarkan data pada tabel dan diagram didapatkan bahwa 5 kategori dengan nilai penjualan terbesar adalah kategori suplemen (35%), kategori medicine (12%), kategori alat kesehatan (11%), kategori topical (9%%), dan kategori vitamin dan mineral (9%). Dengan tercapainya nilai penjualan yang tinggi, berarti keuntungan yang didapatkan oleh apotek dari penjualan kategori ini juga tinggi. Kategori suplemen menduduki peringkat teratas sebagai kategori produk dengan nilai penjualan terbesar, bahkan lebih besar dari nilai penjualan obat. Hal ini dapat menggambarkan bahwa kesadaran sebagian masyarakat indonesia sudah Universitas Indonesia
70 9 meningkat. Masyarakat pergi ke apotek tidak hanya membeli obat sebagai terapi penyembuhan penyakit, tetapi juga membeli suplemen sebagai terapi pencegahan penyakit. Ini berarti masyarakat telah menyadari betapa pentingnya kesehatan dan menganut prinsip lebik baih mencegah daripada mengobati. Selain itu, banyaknya informasi yang diberikan oleh para SPG juga dapat mendorong pelanggan apotek yang meskipun awalnya datang tidak dengan niat membeli suplemen, pada akhirnya tertarik dan membeli. Kategori produk suplemen memiliki nilai penjualan tertinggi. Ini berarti apotek mendapatkan keuntungan tertinggi dari penjualan produk kategori ini. Produkproduk yang terdapat pada kategori ini adalah suplemen antara lain seperti Spartax, Nature Pristine, Hezzel, dan lain-lain. Produk produk pada kategori suplemen ini merupakan produk premium yang memiliki harga mahal. Dengan tingginya nilai penjualan suplemen, berarti apotek memiliki banyak pelanggan dengan kemampuan ekonomi menengah ke atas dan tidak sensitif terhadap harga. Hal ini dapat menentukan langkah apa yang dapat diambil untuk pengembangan kategori suplemen selanjutnya. Pengembangan produk yang dapat diambil untuk pelanggan yang tidak sensitif terhadap harga adalah dengan menambah varian atau jenis suplemen dan memberikan pelayanan jasa konsultasi atau informasi produk dan kesehatan. Hal ini dapat menambah nilai dari produk suplemen yang dijual, serta meningkatkan loyalitas pelanggan sehingga tetap membeli suplemen di apotek Kimia Farma Senen. Dilihat dari data, produk yang berkaitan dengan kesehatan seperti suplemen, obat, alat kesehatan, topikal, vitamin dan mineral, susu dan nutrisi, serta perbekalan P3K masih menjadi primadona penjualan apotek. Sementara kategori lainnya seperti kosmetik, makanan dan minuman nilai penjualannya jauh di bawah produk kesehatan. Ini mengisyaratkan bahwa tujuan masyarakat ke apotek memang untuk mencari produk penunjang dan peningkat kesehatan. Akan tetapi produk-produk lain juga tetap perlu disediakan sebagai pelengkap sehingga bisa menjadi impulse product yang merupakan sumber pemasukan tambahan bagi apotek. Universitas Indonesia
71 10 Analisis terhadap kategori produk ini perlu dilakukan di apotek karena apotek merupakan bisnis retail yang memiliki tujuan utama menjual produk dan jasa semaksimal mungkin sehingga memperoleh keuntungan yang juga maksimal. Dengan tingginya nilai penjualan dan keuntungan yang diperoleh, maka pengembangan pelayanan OTC di swalayan apotek dapat terus dilakukan. Pengembangan swalayan apotek tidak hanya dari segi penambahan varian produk, tapi juga perlu diperhatikan display atau tata letak tiap produk dalam gondola kategori, serta tata letak gondola dalam ruangan. Untuk gondola kategori produk yang menjadi product destination seperti suplemen, medicine, alat kesehatan, topical, serta vitamin dan mineral dapat diletakkan pada bagian ujung atau pojok. Sementara untuk gondola kategori produk lainnya, sebaiknya diletakkan pada wilayah yang mudah tertangkap oleh mata. Hal ini bertujuan agar ketika pelanggan menuju produk tersebut, dapat sembari melihat-lihat gondola dari kategori produk lain, sehingga diharapkan terjadi penjualan impulse product. Seperti kategori produk dengan penjualan tinggi, kategori produk yang memiliki nilai penjualan rendah pun perlu mendapatkan perhatian yang sama. Pemilihan item produk yang dijual harus dipilih seselektif mungkin, disesuaikan dengan target pasar swalayan apotek yang pada umumnya adalah menengah dan menengah ke atas. Universitas Indonesia
72 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Kategori produk dengan nilai penjualan tertinggi adalah kategori suplemen dengan nilai penjualan total sebesar Rp dan persentase penjualan sebesar 35,23% dari total penjualan. 5.2 Saran Setelah mengetahui kategori produk dengan penjualan tertinggi, maka perlu dilakukan pengembangan kategori tersebut seperti penambahan variansi, pelayanan jasa informasi obat dan kesehatan, pemberian pelayanan cek kesehatan, promosi dan diskon, dan sebagainya. Pengembangan kategori produk sebaiknya tidak hanya dilakukan pada satu kategori produk dengan nilai penjualan tertinggi saja, tapi pada setidaknya lima kategori produk dengan nilai penjualan tertinggi. Analisis kinerja kategori produk ini perlu dilakukan secara berkala dan berkelanjutan. 11 Universitas Indonesia
73 DAFTAR REFERENSI Keputusan Presiden RI. (2009). Ketentuan Umum pasal 1 ayat 1. Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta. Keputusan Presiden RI. (2009). Ketentuan Umum Pasal 1 ayat 13. Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta. PT. Kimia Farma Apotek Merchandise structure and Display Manual. PT. Kimia Farma Apotek. Jakarta. PT. Kimia Farma Apotek Panduan Analisa Kinerja Category Produk. PT. Kimia Farma Apotek. Jakarta. 12 Universitas Indonesia
74 Lampiran 1. Daftar Pareto Kategori Suplemen Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 SPARTAX CAP@10 CAP PHARMASI BINANGKIT 286 7,235,800 2 NEW PROZOS CAP@1 CAP SARAKA MANDIRI SEMESTA 154 3,580,000 3 N.PRIST W.ALASKA SALMON OIL@30 BH UP. KIMIA FARMA JAKARTA 19 2,758,800 4 REDISS SARI BUAH MERAH CAP@60 BTL PT REDISS PAPUA 12 2,640,000 5 HEZZEL JOINT GUARD BTL HEZZEL FARM 6 1,488,000 6 N.PRIST EVENING PRIMROSE BH UP. KIMIA FARMA JAKARTA 14 1,422,960 7 HP PRO CAP@120 CAP BIO LIFE ,800 8 NEW PADIBU KPL@30 DUS KPL UP. KIMIA FARMA JAKARTA ,942 9 PROPOLIS DIAMOND 6ML BTL PNZ PROPOLIS 9 900, HEZZEL GREEN CARE SOAP BH HEZZEL FARM , ASTHIN B-OND CAP@30 CAP SOHO , HEZZEL ADULT FORM MULTIVIT@90 BH HEZZEL FARM 4 840, FITUNO CAP@30 BTL UP. KIMIA FARMA BANDUNG , SEA QUIL OMEGA 3 SALMON@100 FLS SEA-QUIL 3 688, HEZZEL ADULT FORM MULTIVIT@30 BH HEZZEL FARM 6 672, SUPER ESTER C HOLISTICARE@30 BTL MUGI LABORATORIUES , REDISS SARI BUAH MERAH 125ML BTL PT REDISS PAPUA 4 640, VIOSTIN COM DS KPL@30 KPL PHAROS INDONESIA , HEZZEL BEE PROPOLIS CAP@90 BH HEZZEL FARM 1 550, THERMOLYTE PLUS KPL@30 BH PHAROS INDONESIA 3 538, FOLAMIL GENIO SOFTCAP@30 CAP DEXA MEDICA , SEA QUIL PURE WAY C-EXTRAVI@30 BTL SEA-QUIL 7 483,000 13
75 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 23 N.PRIST GLUCOSAMIN BH UP. KIMIA FARMA JAKARTA 2 479, N.PRIST EYE FACTOR CAP@30 BH UP. KIMIA FARMA JAKARTA 3 431, HEZZEL SPIRULINA@ 30 BH HEZZEL FARM 3 429, SEA QUIL VIT E 400IU NAT@60+60 BTL SEA-QUIL 2 420, VERMINT CAP@30 BTL VERMINDO INTERNATIONAL , MARINOX OMEGA 3 PLUS CAP@ 30 BTL MARINS INTERNATIONAL 5 415, HEZZEL VITAMIN E@90 BH HEZZEL FARM 2 414, NOURISH SKIN TAB@30 DUS PHAROS INDONESIA 2 394, REDISS SARI BUAH MERAH CAP@30 BTL PT REDISS PAPUA 3 390, SEA QUIL DHA-GOLD 200MG@50 BTL SEA-QUIL 2 374, SLIMCAP 500MG CAP@30 BTL ALOMAMPA PERSADA 6 360, N.PRIST GLUCOBALANCE@30 BTL UP. KIMIA FARMA JAKARTA 2 359, NUTRIMAX RAINBOW KIDZ 240ML BTL BACTOLAC PHARMACE / NUTRI 1 337, HEZZEL HAIR & SKIN CARE@60 BH HEZZEL FARM 1 319, LING SHEN BTL ASIAPAC PANCA MAKMUR 1 306, SEA QUIL SUGAR SHIELD TAB@50 BTL SEA-QUIL 1 305, MARINOX HARVEST COUGH MIXT 150 BTL MARINS INTERNATIONAL 3 285, NATUR E SOFTCAP@160 CAP DARYA VARIA , MARINOX HARVEST COUGH MIXT 60M BTL MARINS INTERNATIONAL 5 275, NUTRIMAX COMPL MULTIV+GINS@60 BTL BACTOLAC PHARMACE / NUTRI 1 250, MARINOX MULTIVITAMIN BTL MARINS INTERNATIONAL 2 246, SUCHOL TAB@30 TAB UP. KIMIA FARMA JAKARTA , SEA QUIL NEO CHITO TRIM TAB@30 FLS SEA-QUIL 1 243, MARINOX GLUCOSAMIN COMP TAB@30 BTL MARINS INTERNATIONAL 1 235,000 14
76 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 47 WOMENCAP 500MG BTL ALOMAMPA PERSADA 8 231, MARINOX URICAID@30 BTL MARINS INTERNATIONAL 1 207, SEA QUIL GINGKO BILOBA EXT@60 BTL SEA-QUIL 1 199, MARINOX OMEGA 3 PLUS CAP@100 BTL MARINS INTERNATIONAL 1 196, MARINOX VIT E 400UI TAB@100 BTL MARINS INTERNATIONAL 1 193, SELOXY AA KPL@30 KPL FERRON PAR PHARM , MARINOX VIT E 400UI CAP@30 BTL MARINS INTERNATIONAL 2 180, SEA QUIL HERBAL SLIMING TEA@24 BTL SEA-QUIL 1 179, NUTRIMAX C+ PLUS BETA TAB@30 BTL BACTOLAC PHARMACE / NUTRI 2 170, MARINOX BRAIN GUARD TAB@50 BTL MARINS INTERNATIONAL 1 165, SEA QUIL SELENIUM ACE SOFS@30 FLS SEA-QUIL 1 158, MARINOX B100 COMPLEX@30 BTL MARINS INTERNATIONAL 1 150, NUTRIMAX DHA PLUS CAP@30 BTL BACTOLAC PHARMACE / NUTRI 1 150, MAXVITA GLOMEGA CAP@30 BTL MAX VITA 1 148, SEA QUIL OMEGA 3 SALMON@60 FLS SEA-QUIL 1 145, HEZZEL NUTRI BRAIN@30 BH HEZZEL FARM 1 145, EXO X CAP@2 CAP JAMU PUSPO INTERNUSA 6 144, MARINOX VITAMIN C 1000 TAB@50 BTL MARINS INTERNATIONAL 1 140, HEZZEL CALCIUM + VITAMIN D@100 BH HEZZEL FARM 1 136, SEA QUIL SPECTRA 3 TAB@ 30+5 FLS SEA-QUIL 1 128, NUTRIMAX LIVER GUARD CAP@30 BTL BACTOLAC PHARMACE / NUTRI 1 120, HEZZEL VITAMIN E@30 BH HEZZEL FARM 1 115, HEZZEL APPLE CIDER VINEGAR@30 BH HEZZEL FARM 1 112, HEZZEL VITAMIN C ORANGE@90 BH HEZZEL FARM 1 105,000 15
77 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 71 MERIT 30PIL SAC SARI SEHAT 9 103, SEA QUIL HERBACOLD LOZ@30 BTL SEA-QUIL 1 87, HARVEST SANODIA CAP@30 BTL INDO SEHAT LESTARI 1 75, VALEO 500MG CAP@40 CAP ULTRATRENT BIOTECH INDONE 20 75, ENERVITA M.S.M TAB@30 DUS BEST PT(BERKAT ASIA TUNGG 1 69, ENERVITA HORNY GOAT DUS BEST PT(BERKAT ASIA TUNGG 1 68,000 TOTAL 42,984,754 16
78 Lampiran 2. Daftar Pareto Kategori Medicine Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 OMEPROS TAB@30 TAB PHAROS INDONESIA ,470 2 NEUROBION 5000MG TAB@250 TAB MERCK INDONESIA ,680 3 AMBEVEN CAP@100 CAP MEDIKON PRIMA LAB ,300 4 ACTIFED COUGH DM SYR 60ML BTL GLAXO SMITH KLINE ,989 5 SIDO M TOLAK ANGIN+MADU 15ML SAC SIDO MUNCUL ,747 6 ACTIFED PLUS EXP SYR 60ML BTL GLAXO SMITH KLINE ,101 7 BATUGIN ELIXIR 300ML BTL UP. KIMIA FARMA BANDUNG ,846 8 NEUROBION TAB@250 TAB MERCK INDONESIA ,960 9 ACTIFED COUGH DM SYR 120ML BTL GLAXO SMITH KLINE 9 397, LACTO B SACH@40 BH NOVELL PHARM , LORIC CAP@30 CAP UP. KIMIA FARMA BANDUNG , OBH NELLCO SPECIAL 100ML BTL NELLCO INDOPHARMA , MICROLAX ENEMA 5ML TUB PHAPROS , MYLANTA SUSP 150ML BTL VICEN ECHINACEA 9 264, BISOLVON EXTRA SYR 60ML BTL BOEHRINGER INGELHEIM 9 256, ORALIT SACH@100 GKF SAC UP. KIMIA FARMA BANDUNG , MAGASIDA SUSP 150ML BTL UP. KIMIA FARMA JAKARTA 8 223, SANMOL SYR 60ML BTL SANBE FARMA , OBH COMBI B.FLU 100ML MENTHOL BTL COMBIPHAR , COMBANTRIN SYR JERUK BTL PFIZER , ENKASARI LIQ. 120ML BTL UP. KIMIA FARMA BANDUNG , BISOLVON FLU SYR 60ML BTL BOEHRINGER INGELHEIM 7 194,810 17
79 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 23 COMBANTRIN TAB TAB PFIZER , OSTE FORTE CAP SOHO , BISOLVON 8MG/4ML SOL 50ML BTL BOEHRINGER INGELHEIM 3 185, ENZYPLEX CAP@100 CAP MEDIFARMA , SACHET SAC LAPI , CALCUSOL CAP@ 50 BTL DR.SARDJITO 4 177, PANADOL COLD & FLU KPL@100 KPL GLAXO SMITH KLINE , VICKS F 44 SYR 100ML DWS BTL PROCTER GAMBLE IND,TBK , ANTANGIN JRG CAIR SACH@10 SAC DELTOMED LABORATORIES , PANADOL EXTRA KPL@100 KPL GLAXO SMITH KLINE , TEMPRA SYR 60ML BTL BRISTOL MYERS-SQUIBB 5 161, POLYSILANE SUSP 100ML BTL PHAROS INDONESIA 8 157, NALGESTAN TAB@100 TAB MEDIFARMA , PARATUSIN TAB@ 200 TAB PRAFA , NORIT LANG TAB@40 BH EAGLE INDO PHARA , VERMINT CAP@12 BTL VERMINDO INTERNATIONAL 8 144, TRIAMINIC EXP SYR 60ML BTL NOVARTIS BIOCHEMIE 4 141, PRORIS FORTE SYR 60ML BTL PHAROS INDONESIA 6 140, PANADOL 500MG KPL@100 KPL GLAXO SMITH KLINE , NEW DIATAB TAB@100 TAB MEDIFARMA , THERAGRAN-M TAB TAB BRISTOL MYERS-SQUIBB , BISOLVON ELIX 60ML BTL BOEHRINGER INGELHEIM 5 124, PARAMEX TAB@200 TAB KONIMEX , MYLANTA SYR 50ML BTL PFIZER ,042 18
80 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 47 OBAT BATUK IBU & ANAK 75ML BTL SINDE BUDI SENTOSA 7 117, PRORIS SYR 60ML BTL PHAROS INDONESIA 6 117, TEMPRA DROP 15ML BTL BRISTOL MYERS-SQUIBB 3 115, COMBANTRIN TAB 125MG@100 TAB PFIZER , PROMAG TAB@144 TAB KALBE FARMA , WOODS COUGH EXP SYR 100ML BTL KALBE FARMA 5 102, OB HERBAL 100ML BTL DELTOMED LABORATORIES 9 101, WOODS COUGH EXP SYR 60ML BTL KALBE FARMA 8 99, POLYSILANE SUSP 180ML BTL PHAROS INDONESIA 3 96, VERMOX 500MG TAB@24 TAB JANSSEN 5 96, FLUDANE PLUS KPL@100 TAB ARMOXINDO FARMA , PEDIALYTE 500ML B.GUM(PINK) BTL ABBOTT 4 93, OBAT BATUK IBU & ANAK 150ML BTL SINDE BUDI SENTOSA 3 91, BISOLVON ELIX 125ML BTL BOEHRINGER INGELHEIM 2 89, ACTIFED PLUS EXP SYR 120ML BTL GLAXO SMITH KLINE 2 87, LELAP CAP@100 CAP SOHO 68 86, AFRIN 0.05% NASAL SPRAY 15ML FLS SCHERING PLOUGH 1 83, PANKREOFLAT TAB@100 TAB KALI-DUPHAR GROUP 25 82, PANADOL SYR 60ML BTL GLAXO SMITH KLINE 3 79, NEUROVIT E TAB@60 TAB UP. KIMIA FARMA JAKARTA 90 79, NEO ENTROSTOP TAB@144 TAB KALBE FARMA , PROMAG DOUBLE ACTION TAB@12 TAB KALBE FARMA 48 75, BEKARBON 250 MG 750 TAB UP. KIMIA FARMA WATUDAKON , BISOLTUSSIN SYR 60ML BTL BOEHRINGER INGELHEIM 3 75,519 19
81 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 71 WOODS COUGH ATT SYR 60ML BTL KALBE FARMA 6 74, DISUDRIN DROP BTL MEDIFARMA 2 72, BATUGIN ELIXIR 120ML BTL UP. KIMIA FARMA JAKARTA 6 72, PEDIALYTE 500ML BENING BTL ABBOTT 3 70, PANADOL MUSCLE&JOINT PAIN@12 SAC GLAXO SMITH KLINE 4 69, OB HERBAL 60ML BTL DELTOMED LABORATORIES 9 69, TRIAMINIC BATUK SYR 60ML BTL NOVARTIS BIOCHEMIE 2 67, ACLONAC EMULGEL 20GR TUB PHAROS INDONESIA 2 67, KINA 0,222 TAB@12 TAB UP. KIMIA FARMA BANDUNG 72 67, LAXADINE SYR 60ML BTL GALENIUM PH 2 67, SIDO M TOLAK ANGIN CAIR ANAK SAC SIDO MUNCUL 57 65, DECOLSIN CAP@100 CAP MEDIFARMA , NEO RHEUMACYL NEURO TAB TAB DR HARI RAYADI 90 64, NEOZEP FORTE TAB@100 TAB MEDIFARMA ,368 OTAL 14,944,311 20
82 Lampiran 3. Daftar Pareto Kategori Alat Kesehatan Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 KURSI RODA BAN MATI SELLA BH SELLA 1 1,100,000 2 OMRON AUTO ARM BPM TYPE IA1 BH OMRON 1 1,070,575 3 MASKER SIGMA BH LOKAL ,838 4 ACCU-CHEK ACTIVE GLUCOSE@50 BH ROCHE 2 804,540 5 GLUCO DR SUPER SENS AGM 2200 BH OMRON 1 736,000 6 OMRON ABP MONITOR TYPE SEM 1 BH OMRON 1 575,025 7 ACCU-CHEK ACTIVE KIT/METER BH ROCHE 1 550,000 8 OPPO HEARING AID BEHIND SH-089 BH OPPO 1 550,000 9 ACCU-CHEK PERFORMA TEST STR@50 BH ROCHE 1 500, OPPO KNEE SUPP 1022 ALL BH OPPO 3 445, HERNIA AID TRIPLE L BH TRIPLE INC 1 371, WOMEN CHOICE TEST STRIP STR HEALTH CANADA , STEEKPAN OVAL STAINLEES STELL BH LOKAL 1 343, HEARING AID AXVA OM-188 BH AXVA 1 343, SENSITIF TES HAMIL@25 STR EISAI , OPPO SILC ANKLE SUPPO 1409 ALL BH OPPO 1 264, DR P ADULT DIAPERS L@8 BH EVERBEAUTY CORP 4 262, TENSOCREPE 6 INCH ROL BSN MEDICAL /SMITH NEPHEW 3 260, HEARING AID AXVA EX 13 BH AXVA 1 254, ACCU-CHEK ACTIVE BH ROCHE 2 253, GLUCO DR STR AGS 50T@50 BH OMRON 1 240, AKURAT TES HAMIL@25 BH DANPAC PHARMA ,200 21
83 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 23 TIMBANGAN BADAN CAMRY BH LOKAL 3 226, DIRECTEST CAWAN URINE BH CORTEST CHC , TIMBANGAN BADAN DWS TANITA 623 BH LOKAL 1 189, GUNTING LURUS TA/TA CBR BH LOKAL 2 178, GLUCO DR STRIP SPR SENSOR@25N BH OMRON 1 170, BIO SANITARY PAD FC HIJAU BH AVAIL ELOK INDONESIA 6 165, MICROLIFE THERMO PENTYPE TH186 BH MICROLIFE 2 160, MOLINEA UNDERPAD@10 PAK RRC 4 156, TONGKAT ORANG TUA BH SIMATRA 1 151, NEEDLE NOVOFINE 30G@100 BH NOVO NORDISK , THERMOMETER DIGITAL MAGIC STAR BH MAGIC STAR 5 137, WARM WATER ZAK RRC BH LOKAL 6 136, YOUNG2 BREAST PUMP BH TAIWAN FUJI LATEX 5 131, YASURAGI YJR ARM TRP DUS JAPAN 1 113, GELAS UKUR 100ML PYREX BH PYREX 1 112, TENSIMETER JAM SPHIGNED BH LOKAL 1 110, SARUNG TANGAN SENSI (L) BH SENSI , SARUNG TANGAN SENSI (M) BH SENSI , TENSIMETER ANEROID SPHYGMED BH SPHYGMED MEDICAL 1 101, WOMEN CHOICE STRIP+WADAH BH HEALTH CANADA 5 100, MORTIR 16CM + STAMPER BH CBR 1 82, AIR CUSHION MASK ADULT M1281 BH HUDSON RCI 1 79, KOTAK OBAT KAYU/ LEMARI OBAT K BH LOKAL 1 75,625 TOTAL 14,020,496 22
84 Lampiran 4. Daftar Pareto Kategori Topical Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 DERMATIX ULTRA 15GR TUB TRANSFARMA MEDICA INDAH 3 680,800 2 THROMBOPHOB GEL 20GR TUB TUNGGAL IDAM.ABDI ,740 3 COUNTERPAIN CR 30GR TUB BRISTOL MYERS-SQUIBB ,186 4 COUNTERPAIN CR 60GR TUB BRISTOL MYERS-SQUIBB ,467 5 VOLTAREN 1% EMULGEL 50GR TUB NOVARTIS BIOCHEMIE 5 557,865 6 SAFE CARE ROLL ON MIND&SPIRIT BH SIP FARMA ,645 7 CAP LANG MKP 60ML FLS EAGLE INDO PHARA ,505 8 CAP LANG MKP 210ML FLS EAGLE INDO PHARA ,412 9 M TAWON (FF) BTL TAWON JAYA MAKASAR , MEBO OINT 20GR TUB IFARS PHARMACEUTICAL 6 459, CALLUSOL LOT 10ML FL FAHRENHEIT , VOLTAREN 1% EMULGEL 20GR TUB NOVARTIS BIOCHEMIE 6 305, CANESTEN CR 10GR TUB BAYER 9 302, VOLTAREN 1% EMULGEL 10GR TUB NOVARTIS BIOCHEMIE 8 249, DAKTARIN CR 10GR TUB JANSSEN 7 240, KONICARE M TELON 125ML FLS KONIMEX 6 205, Y-RINS 120ML BTL FAHRENHEIT 8 202, LEGIRON CR 40GR TUB NAVITA INTI PRIMA 2 202, TRANSPULMIN BB BALSAM 20GR TUB MUGI LABORATORIUES 4 194, M TAWON (DD) BTL TAWON JAYA MAKASAR , VISINE TM 6ML FLS PFIZER , M TAWON (EE) BTL TAWON JAYA MAKASAR 7 178,584 23
85 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 23 COUNTERPAIN COOL 30GR TUB BRISTOL MYERS-SQUIBB 5 163, DAKTARIN PWD 20GR BTL JANSSEN 3 151, CAP LANG MKP 120ML FLS EAGLE INDO PHARA 6 141, DAKTARIN CR 5GR TUB JANSSEN 7 137, BETADINE 1% GARGLE 100ML FLS MAHAKAM BETA FARMA , CANESTEN CR 5GR TUB BAYER 7 135, ABC MENTHOL BESAR POT HEINZ ABC INDONESIA 6 132, INSTO TM 7.5ML FLS GLAXO SMITH KLINE , FRESHCARE ROLL ON SPLASH FRUIT BH ULTRA SAKTI , VICKS INHALER TUB PROCTER GAMBLE IND,TBK , M TAWON (GG) FL TAWON JAYA MAKASAR 1 110, FRESHCARE ROLL ON GREEN TEA BH ULTRA SAKTI , COUNTERPAIN COOL 15GR TUB BRISTOL MYERS-SQUIBB 5 103, KY JELLY PERSONAL 100GR TUB JOHNSON & JOHNSON 2 101, COUNTERPAIN CR 15GR TUB BRISTOL MYERS-SQUIBB 5 99, SALEP 88 6GR TUB LOKAL 15 93, CAP KAPAK M ANGIN 56ML FLS YAHI UTAMA 2 90, FITOCARE MKP 30ML FLS UP. KIMIA FARMA JAKARTA 16 90, FRESHCARE ROLL ON AROMATHERAPY FLS ULTRA SAKTI 8 84, FUNGIDERM CR 10GR TUB KONIMEX 4 84, FUNGIDERM CR 5GR TUB KONIMEX 7 82, ILIADIN 0.05% NASAL SPRAY 10ML FLS MERCK INDONESIA 2 81, CAP LANG MKP 30ML FLS EAGLE INDO PHARA 12 74, NEO ULTRASILINE CR 5GR TUB HENSON FARMA 11 71,753 24
86 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 47 TRANSPULMIN BALSAM 10GR TUB MUGI LABORATORIUES 2 69, VICKS VAP 50GR POT PROCTER GAMBLE IND,TBK 3 67, TJING TJAU 36GR BALSEM POT TULUS INDRA JAYA 5 65, FRESHCARE ROLL ON LAVENDER BH ULTRA SAKTI 6 63,756 TOTAL 11,234,391 25
87 Lampiran 5. Daftar Pareto Kategori Vitamin & Mineral Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 PHARMATON FORMULA CAP@50 CAP BOEHRINGER INGELHEIM ,952 2 SUPER ESTER C HOLISTICARE@30 BTL MUGI LABORATORIUES ,607 3 ENERVON C TAB@ 30 CAP MEDIFARMA ,210 4 CALCIUM D REDOXON EFF@10 TUB BAYER ,200 5 SANGOBION CAP@250 CAP MERCK INDONESIA ,135 6 PHARMATON VIT KPL@50 KPL BOEHRINGER INGELHEIM ,250 7 ASIFIT KPL@30 BTL UP. KIMIA FARMA JAKARTA ,101 8 IMBOOST FORCE TAB@30 TAB SOHO ,060 9 REDOXON ZINC EFF@10 ORANGE TUB BAYER , CALCIUM D REDOXON FRUIT EFF@10 TUB BAYER , ENERVON C TAB@100 TAB MEDIFARMA , CALCIUM D REDOXON EFF NEW@20 TUB BAYER 4 220, IMUNOS KPL@20 KPL LAPI , SUPRADYN EFF@10 TUB BAYER 6 202, IMBOOST SYR 120ML BTL SOHO 4 202, SARI KURMA AMIRA 300ML BTL AMIRA HERBAL 3 189, SARI KURMA AL-JAZIRA 330ML BH AMAL MULIA 7 177, SURBEX Z TAB@ 30 TAB ABBOTT , NY MENEER BERSALIN PIL ISI LKP BH NY MENEER 1 161, VITACIMIN SWEET TAB@100 TAB TAKEDA , CURVIT CL EMULSION 175ML BTL SOHO 3 151, CALCIUM SANDOZ FORTE EFF@10 TUB NOVARTIS BIOCHEMIE 3 151,419 26
88 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 23 CURCUMA 200MG TAB SOHO , TONIKUM BAYER LIQ. 330ML BTL BAYER 6 135, ZEVIT GROW CAP@50 CAP TEMPO SCAN PACIFIC , SARI KURMA AMIRA 175ML BTL AMIRA HERBAL 4 126, STARBIO CC 1000GR BH LOKAL 2 126, IMBOOST TAB@30 TAB SOHO , CEREBROFORT GOLD SYR 200ML BTL KALBE FARMA 4 121, CALCIUM LACTATE 500MG TAB GKF TAB UP. KIMIA FARMA BANDUNG , REDOXON ZINC EFF@10 BLACKCURRA TUB BAYER 4 114, VEGEBLEND ADULT 21 CAP@30 BTL PHAROS INDONESIA 1 112, BEKAMIN C FORTE TAB@250 TAB UP. KIMIA FARMA BANDUNG , EVER E 250MG SOFT CAP@30 CAP KONIMEX , CALCIDOL B12+DHA+LYS SYR 120ML BTL UP. KIMIA FARMA JAKARTA 6 108, ESTER C BLACKCURRANT EFF TUB MUGI LABORATORIUES 4 106, CUKA APEL TAHESTA 300ML BTL HERMACO PERKASA UTAMA 4 103, STIMUNO FORTE CAP@10 CAP DEXA MEDICA , MERIT 30PIL SACH@10 SAC SARI SEHAT 9 103, VITALONG C 500MG CAP@ 30 CAP BERNOFARM , VITALONG C 500MG CAP@100 TAB BERNOFARM , CEREBROVIT GINKGO CAP@100 CAP KALBE FARMA 70 97, APIALYS DROP 10ML BTL LAPI 3 94, FERRIZ DROP BTL NICHOLAS 3 94, CALCIUM D REDOXON FORTOS@10 TUB BAYER 3 94, BECOMBION DROP 15ML BTL MERCK INDONESIA 4 91,108 27
89 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 47 SUPER ESTER C HOLISTICARE@48 TAB MUGI LABORATORIUES 76 91, SCOTT EMULSION ORIG 400ML BTL GLAXO SMITH KLINE 3 89, SCOTT EMULSION VITA 400ML BTL GLAXO SMITH KLINE 3 89, ZEGAVIT KPL@50 KPL KALBE FARMA 35 88, FOLAVIT 400MCG TAB@100 TAB SANBE FARMA , BECOM C KPL@100 KPL SANBE FARMA 65 86, RENALYTE BTL FAHRENHEIT 6 83, FATIGON SPIRIT@30 TAB DANKOS 73 81, DUMOCALCIN TAB@30 PEPERMINT TAB ACTAVIS , PROVITAL PLUS CAP@50 CAP LANDSON 15 70, SUPRADYN RECHARGE KPL@30 KPL BAYER 30 68, DUMIN SYR 60ML BTL ACTAVIS 4 67, OBIPLUZ CAP@30 TAB DARYA VARIA 30 66, PROZA SYR 60ML BTL LANDSON 1 65, SEVEN SEAS ORANGE SYR 150ML BTL MERCK INDONESIA 1 64, OBIMIN AF KPL@30 BTL KPL MEDIFARMA 60 63, STARMUNO KIDS 60ML BTL KALBE FARMA 1 63, IMBOOST FORCE SYR 120ML BTL SOHO 1 63, IMBOOST SYR 60ML BTL SOHO 2 63,250 TOTAL 10,802,003 28
90 Lampiran 6. Daftar Pareto Kategori First-Aid Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 ALBOTHYL SOL CONC 10ML FLS DR SUDIGDO ADI ,768 2 ALKOHOL 70% 100ML IKA FLS IKAPHARMINDO ,630 3 ALKOHOL SWABS BRATACO BH BRATACO ,350 4 BETADINE 10% OINT 10GR TUB MAHAKAM BETA FARMA 7 97,405 5 BETADINE 10% SOL 15ML FLS MAHAKAM BETA FARMA 12 98,664 6 BETADINE STICK@10 BH MAHAKAM BETA FARMA ,970 7 BYE BYE FEVER FOR CHILD@5 SAC HISAMITSU PHARMA ,468 8 DETTOL LIQ 250ML FLS RECKITT & COLMAN 7 186,340 9 DODO BREAST PUMP W/ BOTTLE BH THAI INTERPUFF & BRUSH 1 74, DODO WATER FILLED TEETHER BH DODO NCO INC JAPAN 3 70, HANSAPLAST TOPLES 2637 BH BSN MEDICAL /SMITH NEPHEW 33 83, HYPAFIX 5 X 5 ROL BSN MEDICAL /SMITH NEPHEW 4 241, HYPAFIX 10 X 5 ROL BSN MEDICAL /SMITH NEPHEW 2 229, KAPAS PEMBALUT 1000GR KH BH KASSA HUSADA 1 88, KASA HYDR 40 X 80 NASACO ROL BUSANA UTAMA 12 1,485, KASA HYDR STERIL 16/16 KH BH KASSA HUSADA , KASA PEMB.HYD 4M X 7CM KH ROL KASSA HUSADA 28 83, LEUKOPLAST 1621H (0.5 X 5) ROL BSN MEDICAL /SMITH NEPHEW 14 97, MICROPORE 0.5 INCH X 10 ROL 3M PHARM , MICROPORE 1 INCH X 10 ROL 3M PHARM. 4 77, MITELA KAIN PEMBALUT SEGITIGA BH SPINREACT 6 70, OXYCAN GREEN KLG 5LT KLG SAMATOR 6 180,474 29
91 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 23 SALONPAS KOYO SAC HISAMITSU PHARMA , SALONPAS BH HISAMITSU PHARMA , TENSOCREPE 3 INCH ROL BSN MEDICAL /SMITH NEPHEW 3 164, TENSOCREPE 4 INCH ROL BSN MEDICAL /SMITH NEPHEW 1 66,012 TOTAL 5,859,616 30
92 Lampiran 7. Daftar Pareto Kategori Milk & Nutrition Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 PROSURE PWD 380GR VANILA KLG ABBOTT 5 777,025 2 PEPTISOL 185GR DUS VANILA DUS SANGHIANG PERKASA ,920 3 NESTLE NUTREN FIBER 400GR KLG NESTLE 7 649,593 4 PROLACTA DHA MOTHER CAP@60 CAP PHAROS INDONESIA ,245 5 ENTRAMIX 185GR VANILA DUS KALBE FARMA ,220 6 PEPTISOL 185GR DUS COKLAT DUS SANGHIANG PERKASA 7 292,215 7 NAN HA2 PROTECT PLUS 400GR BH NESTLE 2 225,274 8 APPETON WEIGHT GAIN ADULT 450 KLG KOTRA PHARMA(M) SDN,BHD 1 224,250 9 ENSURE FOS 400GR VANILA BH ABBOTT 2 203, NESTLE NUTREN OPM 400GR VANI KLG NESTLE 2 175, HEPATOSOL 185GR VANILA DUS SANGHIANG PERKASA 2 159, DIABETASOL VITA DIGEST 180 VAN BH SANGHIANG PERKASA 4 156, PROLACTA DHA BABY CAP@50 CAP PHAROS INDONESIA , BEBELAC FL 400GR KLG KLG MEAD JHONSON 2 140, NAN HA1 PROTECT PLUS 400GR BH NESTLE 1 119, MANDALA 525 2OOGR PLAIN DUS MANDALA 3 117, SGM LLM 200GR DUS DUS SARI HUSADA 4 108, PROTEN SACH 52GR VANILA SAK OTSUKA , NUTRILON SOYA 1 400GR KLG NUTRICIA 1 88, NEPHRISOL SACH 185GR VANILA DUS SANGHIANG PERKASA 2 85, HEPATOSOL 185GR COKLAT DUS SANGHIANG PERKASA 1 79,695 TOTAL 5,495,482 31
93 Lampiran 8. Daftar Pareto Kategori Beauty Care Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 MARCKS VENUS TWC NO 1 DUS UP. KIMIA FARMA SEMARANG ,936 2 MARCKS VENUS FACIAL WASH 100ML TUB UP. KIMIA FARMA SEMARANG ,400 3 MARCKS VENUS LP DYNAMIC NO1 IN DUS UP. KIMIA FARMA SEMARANG ,610 4 MARCKS VENUS TWC NO 2 DUS UP. KIMIA FARMA SEMARANG 7 410,240 5 MARCKS VENUS TWC NO1 INV REFF BH UP. KIMIA FARMA SEMARANG 8 290,952 6 MARCKS VENUS COMP PWD NO1 INV DUS UP. KIMIA FARMA SEMARANG ,276 7 MARCKS VENUS TWC REFILL NO 3 BH UP. KIMIA FARMA SEMARANG 6 218,214 8 VENUS FACE TONER OILY SKIN 100 BH UP. KIMIA FARMA SEMARANG ,000 9 BEDAK SALICYL 2% 60GR DUS UP. KIMIA FARMA SEMARANG , MARCKS VENUS CLEANSING MILK100 TUB UP. KIMIA FARMA SEMARANG , MARCKS VENUS LP DYNAMIC NO2 NB DUS UP. KIMIA FARMA SEMARANG 7 166, MARCKS VENUS TWC NO 3 DUS UP. KIMIA FARMA SEMARANG 3 162, VENUS F.TONER NORMAL& DRY 100 BH UP. KIMIA FARMA SEMARANG , SALICYL FRESH 60GR FLS UP. KIMIA FARMA JAKARTA , MARCKS VENUS LP DYNAMIC NO3 IV DUS UP. KIMIA FARMA SEMARANG 6 133, MARCKS VENUS FACIAL WASH 50ML TUB UP. KIMIA FARMA SEMARANG , MARCKS BEDAK CREME 60GR DUS UP. KIMIA FARMA SEMARANG , MARCKS VENUS COMP REFILL NO 3 BH UP. KIMIA FARMA SEMARANG 5 79, MARCKS VENUS TWC REFILL NO 2 BH UP. KIMIA FARMA SEMARANG 2 72, MARCKS BEDAK PUTIH 60GR DUS UP. KIMIA FARMA SEMARANG 10 70, MARCKS VENUS COMP PWD NO2 NB DUS UP. KIMIA FARMA SEMARANG 3 69,429 TOTAL 4,950,285 32
94 Lampiran 9. Daftar Pareto Kategori Drink Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 ULTRA MILK SLIM 250ML COKLAT BH ULTRAJAYA MILK IND ,000 2 MINUTE MAID PULPY ORANGE 240ML BH COCA COLA AMATIL IND ,614 3 FRESTEA FRUTCY MARKISA 500ML BTL COCA COLA AMATIL IND ,500 4 AQUA DANONE 600ML BTL FARMASI SINAR MANJUR ,500 5 MIN MAID PULPY ORANGE 350ML FL COCA COLA AMATIL IND ,000 6 ADES 600ML BTL COCA COLA AMATIL IND ,230 7 NESTLE PURELIFE 600ML BTL NESTLE ,500 8 ULTRA MILK UHT 1000ML COKLAT BTL ULTRAJAYA MILK IND ,000 9 BEAR BRAND RTD 189ML KLG NESTLE , BEAR BRAND GOLD TEH PUTIH 140M FLS NESTLE , NESCAFE ICE COFFEE 240ML LATTE BTL NESTLE , POCARI SWEAT 330ML KLG AMERTA INDAH OTSUKA , YOU C 1000 ISO WATER LEMON 500 BTL DJOJONEGORO C , FRESTEA GREEN TEA 500ML BTL COCA COLA AMATIL IND , FRESTEA FRUTCY APPLE 500ML BTL COCA COLA AMATIL IND , NESCAFE ICE COFFEE 240ML MOCHA BTL NESTLE 14 98, ULTRA SARI ASEM ASLI 250ML BH ULTRAJAYA MILK IND , FATIGON HYDRO + 250ML BTL DANKOS 19 85, ULTRA MILK UHT 1000ML PLAIN BTL ULTRAJAYA MILK IND. 6 78, YOU C 1000 VITAMIN LEMON 140ML BTL DJOJONEGORO C , ULTRA TEH KOTAK 200ML APPLE FL ULTRAJAYA MILK IND ,034 TOTAL 3,868,269 33
95 Lampiran 10. Daftar Pareto Kategori Oral Care Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 POLIDENT ADHESIVE 60GR BH GLAXO SMITH KLINE ,400 2 HEZZEL O-SHINE TOOTHPASTE 90GR TUB ETHICA 5 295,000 3 ORAL B ORTHO BRACES BH ORAL B LABORATORIES 8 170,496 4 BETADINE 1% GARGLE 190ML FLS MAHAKAM BETA FARMA 8 133,584 5 ENZIM PG 100ML MILD TUB ENZYM BIOTEC 5 104,660 6 ALOCLAIR ORAL RINSE 60ML BTL KALBE FARMA 1 94,875 7 SENSODYNE RAPID RELIEF 120GR TUB GLAXO SMITH KLINE 4 86,820 8 ENZIM PG 100ML MINT TUB ENZYM BIOTEC 4 83,728 9 LISTERINE COOLMINT 250ML FL JOHNSON & JOHNSON 5 83, LISTERINE ORIGINAL 250ML FL JOHNSON & JOHNSON 5 83, ENZIM PG 40 PLUS 100ML BH DELTOMED LABORATORIES 2 73, LISTERINE COOLMINT 80ML BH JOHNSON & JOHNSON 11 73,051 TOTAL 1,761,012 34
96 Lampiran 11. Daftar Pareto Kategori Skin Care Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 PARASOL SNBLOC LOT SPF30 120ML FL SURYA DERMATO MEDICA LAB 5 365,270 2 DERMATIX ULTRA 7GR TUB TRANSFARMA MEDICA INDAH 2 270,480 3 TEGADERM (10 X 25) BH 3M PHARM ,250 4 SELECTION KAPAS 75GR BH AISO ,977 5 VASELINE IC SUNBLOCK SPF FL UNILEVER INDONESIA,TBK 5 128,510 6 PARASOL SNBLOC LOT SPF15 120ML BTL SURYA DERMATO MEDICA LAB 3 126,276 7 PHISOHEX FACIAL WASH 100ML FL COMBIPHAR 3 91,080 8 PHISOHEX FACIAL WASH 50ML FL COMBIPHAR 4 70,840 9 PUROL PWD GREEN 90GR FLS SARA LEE 6 70, VERILE ACNE GEL 10GR TUB MEDIKON PRIMA LAB 5 69,435 TOTAL 1,556,162 35
97 Lampiran 12. Daftar Pareto Kategori Personal Care Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 DUREX PLAY 50ML FL LFD MANUFACTURING LTD 6 165,432 2 DUREX PLAY 100ML BTL LFD MANUFACTURING LTD 3 146,832 3 SUTRA KONDOM@12 BH SAWAH BESAR FARMA ,596 4 DUREX PLAY VIBRATIONS RING 1 BH LFD MANUFACTURING LTD 2 109,250 5 DUREX EXTRA SAFE KONDOM@12 DUS LFD MANUFACTURING LTD 2 106,172 6 SUTRA OK KONDOM@12 BH ARO 6 93,474 7 VIGEL GEL 60GR TUB KONIMEX 4 93,104 8 DUREX EXTRA SAFE KONDOM@ 3 DUS LFD MANUFACTURING LTD 6 91,008 9 DUREX FETHERLITE KONDOM@12 DUS LFD MANUFACTURING LTD 2 90, YOUNG2 KONDOM 002@12 DUS TAIWAN FUJI LATEX 3 79, VIGEL GEL 30GR TUB KONIMEX 6 79, DUREX RIBBED KONDOM@ 3 DUS LFD MANUFACTURING LTD 6 77, SUTRA KONDOM@3 BH ARO 21 66,862 TOTAL 1,309,389 36
98 Lampiran 13. Daftar Pareto Kategori Food & Snack Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 LOTTE XYLITOL LIME MINT BTL 66 BTL LOTTE INDONESIA 8 126,496 2 ALBA PASTILES 100GR SAK LOKAL 13 98,670 3 FOXS TIN FRUIT 200GR BH NESTLE 5 94,675 4 GARUDA KACANG ATOM PEDAS 250GR SAK GARUDA FOOD 8 92,400 5 MONDE BUTTER COOKIES 150GR BH NISSIN BISCUIT INDONESIA 8 90,160 6 DEGIROL LOZ@20 TAB DARYA VARIA ,800 7 STREPSIL MENTHOL@12 SAK RECKITT BENCKISER INDONES 7 73,486 8 SILVER QUEEN CASHEW COKLAT 68G BH CERES INDONESIA 7 73,255 9 REGAL MARIE 250GR BH JAYA ABADI,CV 4 66, PRINGLES POTATO ORIGINAL 120GR BH PROCTER & GAMBLE 4 63, SELAMAT WAFER CHOCO 198GR BH GENERAL FOOD INDUSTRIES 6 63,540 TOTAL 921,662 Lampiran 14. Daftar Pareto Kategori Feminine Care Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 LACTACYD FEMIN HYG 60ML PINK FLS COMBIPHAR ,932 2 LACTACYD FEMIN HYG 150ML PINK FL COMBIPHAR 5 265,650 3 CHARM BF SUPER COMFORT@36 BH UNI-CHARM INDONESIA ,490 TOTAL 748,072 37
99 Lampiran 15. Daftar Pareto Kategori Baby & Child Care Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 PIGEON PARCEL STANDART 2 BH PIGEON INDUTRIES CO,LTD 2 224,032 2 LACTACYD LIQ BABY 60ML BLUE FLS COMBIPHAR 6 136,620 3 SEBAMED BABY CLEANS BAR 100GR BH SEBAPHARMA 2 110,400 4 CALADINE LOT 60ML FLS GALENIUM PH 9 94,752 5 CALADINE LOT 95ML FLS GALENIUM PH 6 90,936 6 HEROCYN BEDAK 75GR FLS CORONET 9 65,060 TOTAL 721,800 Lampiran 16. Daftar Pareto Kategori Paper Product & Feminine Care Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 DR P ADULT DIAPERS XL BH EVERBEAUTY CORP 2 134,550 2 CERTAINTY ADULT DIAPERS L@10 SAK BUMKINS 1 77,228 3 MAMY POKO PANTS STD M@20 BH UNI-CHARM INDONESIA 2 77,198 TOTAL 288,976 Lampiran 17. Daftar Pareto Kategori Soap & Body Wash Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 SEBAMED CLEANSING BAR 100GR BH SEBAPHARMA 3 138,000 2 SABUN HIJAU 100GR BH BRATACO 13 74,750 3 ACNE AID BAR SOAP 100GR BH STIEFEL 2 73,370 TOTAL 286,120 38
100 Lampiran 18. Daftar Pareto Kategori Hair Care Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 PEDITOX LOT 50ML FLS COMBIPHAR 14 68,894 2 INTENSE SHAMPO 200ML FLS SINAR ANTJOL 1 68,000 3 LOREAL ELS DAMAGE CARE SHP 200 FLS DAYA MULIA SEJAHTERA 2 66,220 TOTAL 203,114 Lampiran 19. Daftar Pareto Kategori Majalah Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 MAJALAH OTC DIGEST BH PENERBIT BUKU, MAJALAH, 7 70,000 TOTAL 70,000 39
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO.1 JL. GARUDA NO.47 JAKARTA PUSAT PERIODE 1 MEI 8 JUNI 2012
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO.1 JL. GARUDA NO.47 JAKARTA PUSAT PERIODE 1 MEI 8 JUNI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER MUTIA ANGGRIANI,
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 7 JL. H. JUANDA NO. 30 BOGOR PERIODE 5 SEPTEMBER 15 OKTOBER 2011 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER YUDHO PRABOWO,
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 47 JALAN RADIO DALAM RAYA NO. 1-S, GANDARIA UTARA, KEBAYORAN BARU, JAKARTA SELATAN LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER
2017, No Tahun 1997 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3671); 3. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika (
No.276, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKES. Apotek. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2017 TENTANG APOTEK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN
PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 922/MENKES/PER/X/1993 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA PEMBERIAN IZIN APOTIK MENTERI KESEHATAN
PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 922/MENKES/PER/X/1993 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA PEMBERIAN IZIN APOTIK MENTERI KESEHATAN Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan pelayanan apotik harus diusahakan agar
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Apotek Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh Apoteker. (Peraturan Pemerintah no 51 tahun 2009). Sesuai ketentuan perundangan
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 7 Jl. H. JUANDA NO. 30, BOGOR PERIODE 5 SEPTEMBER 15 OKTOBER 2011 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DEDDY RIFANDI
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO.2 JL. SENEN RAYA NO. 66 JAKARTA PUSAT PERIODE 1 MEI 8 JUNI 2012
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO.2 JL. SENEN RAYA NO. 66 JAKARTA PUSAT PERIODE 1 MEI 8 JUNI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER MAYA MASITHA,
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 47 JALAN RADIO DALAM RAYA NO. 1-S, GANDARIA UTARA KEBAYORAN BARU, JAKARTA SELATAN LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
PERANAN APOTEKER DI RUMAH SAKIT
PERANAN APOTEKER DI RUMAH SAKIT Peranan Apoteker Farmasi Rumah Sakit adalah : 1. Peranan Dalam Manajemen Farmasi Rumah Sakit Apoteker sebagai pimpinan Farmasi Rumah Sakit harus mampu mengelola Farmasi
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA. Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 TENTANG STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 TENTANG STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MENIMBANG : bahwa dalam rangka meningkatkan
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 7 JL. Ir. H. JUANDA NO. 30 BOGOR PERIODE 13 FEBRUARI 22 MARET 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER ARMELIA
Nomor : 1332/MENKES/SK/X/2002 TENTANG NOMOR. 922/MENKES/PER/X/1993
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 1332/MENKES/SK/X/2002 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KESEHATAN RI NOMOR. 922/MENKES/PER/X/1993 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA PEMBERIAN
UNIVERSITAS INDONESIA DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 6 JL. DANAU TONDANO NO.1 PEJOMPONGAN JAKARTA PUSAT PERIODE 2 MEI 8 JUNI 2012
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 6 JL. DANAU TONDANO NO.1 PEJOMPONGAN JAKARTA PUSAT PERIODE 2 MEI 8 JUNI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO.7 JALAN H. JUANDA NO. 30 BOGOR PERIODE 13 FEBRUARI 22 MARET 2012
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO.7 JALAN H. JUANDA NO. 30 BOGOR PERIODE 13 FEBRUARI 22 MARET 2012 LAPORAN PRAKTEK PROFESI APOTEKER DEWI NUR ANGGRAENI,
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 278 RUKO VERSAILLES FB NO.15 SEKTOR 1.6 BSD SERPONG PERIODE 3 30 APRIL 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
UNIVERSITAS INDONESIA. LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 7 Jl. H. JUANDA NO. 30 BOGOR PERIODE 2 APRIL 11 MEI 2012
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 7 Jl. H. JUANDA NO. 30 BOGOR PERIODE 2 APRIL 11 MEI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER GINARTI EKAWATI, S.Farm.
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK RAWA PULE JL. KH. M. USMAN NO 46 DEPOK LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK RAWA PULE JL. KH. M. USMAN NO 46 DEPOK LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DWI FAJAR ABD. GHOFUR, S.Si 1006835204 ANGKATAN LXXIII
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 284/MENKES/PER/III/2007 TENTANG APOTEK RAKYAT MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 284/MENKES/PER/III/2007 TENTANG APOTEK RAKYAT MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan dan memperluas akses
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA Jl. KARTINI RAYA NO. 34A, JAKARTA PUSAT PERIODE 26 SEPTEMBER 29 OKTOBER 2011 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER CYNTHIA
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 115 JL. PAMULANG PERMAI RAYA D2/1A PERIODE 13 FEBRUARI 22 MARET 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER Laukha
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. hidup layak, baik dalam kesehatan pribadi maupun keluarganya termasuk di
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesehatan merupakan hak asasi manusia, setiap orang mempunyai hak untuk hidup layak, baik dalam kesehatan pribadi maupun keluarganya termasuk di dalamnya mendapat
a. bahwa apotek dan pedagang eceran obat merupakan pelayanan kesehatan yang dapat dilaksanakan oleh swasta;
BERITA DAERAH KOTA BOGOR TAHUN 2006 NOMOR 10 SERI E PERATURAN WALIKOTA BOGOR NOMOR 19 TAHUN 2006 TENTANG PENYELENGGARAAN APOTEK DAN PEDAGANG ECERAN OBAT (TOKO OBAT) WALIKOTA BOGOR, Menimbang: a. bahwa
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. mewujudkan tercapainya derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan dalam membantu mewujudkan tercapainya derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Pelayanan kesehatan adalah
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 284 JL. SILIWANGI NO.86A, BEKASI PERIODE 13 FEBRUARI - 22 MARET 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER Diajukan
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PEKERJAAN KEFARMASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PEKERJAAN KEFARMASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KESELAMATAN JALAN KESELAMATAN NO. 27 MANGGARAI, JAKARTA SELATAN
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KESELAMATAN JALAN KESELAMATAN NO. 27 MANGGARAI, JAKARTA SELATAN LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER NUR HASMAWATI, S.Farm (1006753942)
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ENDEH JL. PANCORAN TIMUR NO. 37, JAKARTA SELATAN PERIODE 15 JULI 31 AGUSTUS 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER PERMITA SARI,
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 889/MENKES/PER/V/2011 TENTANG REGISTRASI, IZIN PRAKTIK, DAN IZIN KERJA TENAGA KEFARMASIAN
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 889/MENKES/PER/V/2011 TENTANG REGISTRASI, IZIN PRAKTIK, DAN IZIN KERJA TENAGA KEFARMASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PEKERJAAN KEFARMASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PEKERJAAN KEFARMASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 298 JL. BENDUNGAN HILIR RAYA NO. 41, JAKARTA PUSAT PERIODE 3 MARET 11 APRIL 2014
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 298 JL. BENDUNGAN HILIR RAYA NO. 41, JAKARTA PUSAT PERIODE 3 MARET 11 APRIL 2014 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PEKERJAAN KEFARMASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PEKERJAAN KEFARMASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong masyarakat untuk semakin memperhatikan derajat
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong masyarakat untuk semakin memperhatikan derajat kesehatan demi peningkatan kualitas hidup yang lebih
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER MANGGARAI JAKARTA SELATAN
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KESELAMATAN JALAN KESELAMATAN NO. 27 MANGGARAI JAKARTA SELATAN LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER KARTIKA FEBIYANTI NORMAN, S.
Stabat dalam rangka pembinaan Puskesmas. BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pusat Kesehatan Masyarakat yang disingkat puskesmas adalah unit
Puskesmas dan sebagai bahan masukan kepada Dinas Kesehatan Kota Stabat dalam rangka pembinaan Puskesmas. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Puskesmas Pusat Kesehatan Masyarakat yang disingkat puskesmas
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK MEDIKO FARMA JL. PINANG RAYA NO. 10 PONDOK LABU CILANDAK JAKARTA SELATAN PERIODE 18 FEBRUARI 28 MARET 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER APOTEK ENDEH JL. PANCORAN TIMUR NO. 37, JAKARTA SELATAN PERIODE 15 JULI 31 AGUSTUS 2013
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ENDEH JL. PANCORAN TIMUR NO. 37, JAKARTA SELATAN PERIODE 15 JULI 31 AGUSTUS 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DEVINA LIRETHA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PEKERJAAN KEFARMASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PEKERJAAN KEFARMASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 63
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU SELATAN. Tahun 2007 No. 15 PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU SELATAN NOMOR 15 TAHUN 2007
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU SELATAN Tahun 2007 No. 15 PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU SELATAN NOMOR 15 TAHUN 2007 TENTANG IZIN APOTEK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ENDEH JL. PANCORAN TIMUR NO. 37 JAKARTA SELATAN PERIODE 6 JUNI 1 JULI 2011 DAN 1 AGUSTUS - 12 AGUSTUS 2011 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KESELAMATAN JALAN KESELAMATAN NO.27 MANGGARAI JAKARTA SELATAN
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KESELAMATAN JALAN KESELAMATAN NO.27 MANGGARAI JAKARTA SELATAN LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER YULIANA, S.Farm. 1106047511 ANGKATAN
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ARAFAH JL. ARAFAH I NO. F/8 VILLA ILHAMI ISLAMIC - TANGERANG PERIODE 8 APRIL 17 MEI 2013
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ARAFAH JL. ARAFAH I NO. F/8 VILLA ILHAMI ISLAMIC - TANGERANG PERIODE 8 APRIL 17 MEI 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER SERUNI
SURVEI KESALAHAN DALAM PENULISAN RESEP DAN ALUR PELAYANANNYA DI APOTEK KECAMATAN AMPEL KABUPATEN BOYOLALI SKRIPSI
SURVEI KESALAHAN DALAM PENULISAN RESEP DAN ALUR PELAYANANNYA DI APOTEK KECAMATAN AMPEL KABUPATEN BOYOLALI SKRIPSI Oleh : DWI KURNIYAWATI K 100 040 126 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
TINJAUAN ASPEK ADMINISTRASI PADA RESEP DI TIGA APOTEK DI KABUPATEN PEMALANG PERIODE JANUARI - JUNI 2008 SKRIPSI
TINJAUAN ASPEK ADMINISTRASI PADA RESEP DI TIGA APOTEK DI KABUPATEN PEMALANG PERIODE JANUARI - JUNI 2008 SKRIPSI Oleh : LINDA WIDYA RETNA NINGTYAS K 100 050 110 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
MEHTERIKESEHATAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI KESEHAT AN REPUBLIK INDONESIA. Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 TENTANG
.. MEHTERIKESEHATAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI KESEHAT AN REPUBLIK INDONESIA Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 TENTANG STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN 01 APOTEK MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 96 JALAN S. PARMAN KAV G/12, JAKARTA BARAT PERIODE 1 MEI 2012-8 JUNI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER YENNY
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK MEDIKO FARMA JL. PINANG RAYA NO. 10 PONDOK LABU CILANDAK JAKARTA SELATAN
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK MEDIKO FARMA JL. PINANG RAYA NO. 10 PONDOK LABU CILANDAK JAKARTA SELATAN LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER RAHMI RAMDANIS, S.Farm
BAB 11: PERBEKALAN FARMASI
SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016 FARMASI BAB 11: PERBEKALAN FARMASI Nora Susanti, M.Sc, Apk KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN 2016 BAB XI PERBEKALAN
GAMBARAN PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK WILAYAH KECAMATAN LAWEYAN KOTA SOLO TAHUN 2007 SKRIPSI
GAMBARAN PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK WILAYAH KECAMATAN LAWEYAN KOTA SOLO TAHUN 2007 SKRIPSI Oleh: ROSY MELLISSA K.100.050.150 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG IZIN USAHA APOTEK DAN IZIN USAHA PEDAGANG ECERAN OBAT
PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG IZIN USAHA APOTEK DAN IZIN USAHA PEDAGANG ECERAN OBAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Pengetahuan Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini setelah orang melakukan penginderaan terhadap obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera
PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG IZIN USAHA APOTEK DAN IZIN USAHA PEDAGANG ECERAN OBAT
PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG IZIN USAHA APOTEK DAN IZIN USAHA PEDAGANG ECERAN OBAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 42 JL. ST. HASANUDDIN NO.1 KEBAYORAN BARU JAKARTA SELATAN PERIODE 1 MEI 8 JUNI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 47 JALAN RADIO DALAM RAYA NO. 1-S, GANDARIA UTARA KEBAYORAN BARU, JAKARTA SELATAN PERIODE 13 FEBRUARI 22 MARET 2012
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO.50 JL. MERDEKA NO.24 BOGOR PERIODE 2 APRIL - 12 MEI 2012
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO.50 JL. MERDEKA NO.24 BOGOR PERIODE 2 APRIL - 12 MEI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DIAN RENI AGUSTINA,
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 2 JL. SENEN RAYA NO. 66, JAKARTA PUSAT
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 2 JL. SENEN RAYA NO. 66, JAKARTA PUSAT LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER FURQON DWI CAHYO, S.Farm 1206313135
PERATURAN PERUNDANGAN PRAKTEK APOTEKER
PERATURAN PERUNDANGAN PRAKTEK APOTEKER Oleh Dra. Liza Pristianty,MSi,MM,Apt Fakultas Farmasi Universitas Airlangga PC IAI Surabaya Disampaikan pada pertemuan Korwil PC Surabaya Tanggal 9,16 dan 23 April
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 202 JL. KEJAYAAN RAYA BLOK XI NO. 2 DEPOK II TIMUR PERIODE 2 JANUARI 14 FEBRUARI 2014 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI
MENTERI KESEHATAN TENTANG
PERATURAN MENTERI KESEHATAN Nomor : 922/MENKES/PER/X/1993 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA PEMBERIAN IJIN APOTIK MENTERI KESEHATAN MENIMBANG : a. bahwa penelenggaraan pelayanan Apotik harus diusahakan agar
PERATURAN DAERAH KOTA PRABUMULIH NOMOR 3 TAHUN 2006 TENTANG RETRIBUSI PENYELENGGARAAN APOTEK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PRABUMULIH
PERATURAN DAERAH KOTA PRABUMULIH NOMOR 3 TAHUN 2006 TENTANG RETRIBUSI PENYELENGGARAAN APOTEK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PRABUMULIH Menimbang : a. bahwa dalam rangka pengawasan dan pemantauan
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1148/MENKES/PER/VI/2011 TENTANG PEDAGANG BESAR FARMASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1148/MENKES/PER/VI/2011 TENTANG PEDAGANG BESAR FARMASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 889/MENKES/PER/V/2011
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 889/MENKES/PER/V/2011 TENTANG REGISTRASI, IZIN PRAKTIK, DAN IZIN KERJA TENAGA KEFARMASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 50 JALAN MERDEKA NO. 24 BOGOR PERIODE 1 SEPTEMBER 30 SEPTEMBER 2014 LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER HANUM PRAMITA
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1148/MENKES/PER/VI/2011 TENTANG PEDAGANG BESAR FARMASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1148/MENKES/PER/VI/2011 TENTANG PEDAGANG BESAR FARMASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK
2015, No.74 2 Peredaran, Penyimpanan, Pemusnahan, dan Pelaporan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 T
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.74, 2015 KEMENKES. Narkotika. Psikotropika. Prekursor Farmasi. Pelaporan. Pemusnahan. Penyimpanan. Peredaran. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masalah kesehatan di Indonesia sebagai salah satu negara berkembang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masalah kesehatan di Indonesia sebagai salah satu negara berkembang menjadi prioritas utama program pemerintah menuju masyarakat yang sehat dan sejahtera. Untuk
PENDIRIAN APOTEK. Heru Sasongko, S.Farm.,Apt.
PENDIRIAN APOTEK Heru Sasongko, S.Farm.,Apt. PENGERTIAN ISTILAH Apotek (kepmenkes 1027 standar pelayanan kefarmasian di apotek) adalah tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2017 TENTANG APOTEK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2017 TENTANG APOTEK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk meningkatkan aksesibilitas,
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengetahuan masyarakat akan pentingnya kesehatan terus meningkat seiring perkembangan zaman. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan masyarakat senantiasa diupayakan
MENTERI KESEHATAN NOMOR : 918/MENKES/PER/X/1993 TENTANG PEDAGANG BESAR FARMASI
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN Nomor : 1191/MENKES/SK/IX/2002 T E N T A N G PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR : 918/MENKES/PER/X/1993 TENTANG PEDAGANG BESAR FARMASI MENTERI KESEHATAN Menimbang
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ERRA MEDIKA JL. TOLE ISKANDAR, DEPOK LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ERRA MEDIKA JL. TOLE ISKANDAR, DEPOK LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER ANDI NURWINDA, S.Si. 1006835085 ANGKATAN LXXIII FAKULTAS
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1997 TENTANG PSIKOTROPIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1997 TENTANG PSIKOTROPIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 48 JL. MATRAMAN RAYA NO. 55, JAKARTA TIMUR PERIODE 13 FEBRUARI 22 MARET 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
Apoteker berperan dalam mengelola sarana dan prasarana di apotek. Selain itu, seorang apoteker juga harus menjamin bahwa:
I.PENDAHULUAN Apotek adalah suatu tempat tertentu yang digunakan untuk melakukan pekerjaan kefarmasian berupa penyaluran perbekalan farmasi kepada masyarakat dan tempat dilakukannya praktik kefarmasian
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ERRA MEDIKA JALAN TOLE ISKANDAR No. 4 5 DEPOK PERIODE 7 JANUARI 15 FEBRUARI 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER MIFTAHUL HUDA,
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JALAN KARTINI RAYA NO. 34 JAKARTA PUSAT PERIODE 9 APRIL 15 MEI 2012
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JALAN KARTINI RAYA NO. 34 JAKARTA PUSAT PERIODE 9 APRIL 15 MEI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER YODIFTA ASTRININGRUM,
PEDAGANG BESAR FARMASI. OLEH REZQI HANDAYANI, M.P.H., Apt
PEDAGANG BESAR FARMASI OLEH REZQI HANDAYANI, M.P.H., Apt Obat / Bahan Obat Ketersediaan Keterjangkauan Konsumen Aman Mutu Berkhasiat PBF LAIN PBF: Obat BBF INDUSTRI FARMASI 2 DASAR HUKUM Undangundang UU
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ENDEH JL. PANCORAN TIMUR NO 37 PENGADEGAN JAKARTA SELATAN PERIODE 01 APRIL 10 MEI 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER Suci
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 55 JALAN KEBAYORAN LAMA NO. 50 JAKARTA BARAT PERIODE 2 APRIL 12 MEI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER AGATHA
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO.55 JALAN KEBAYORAN LAMA NO.34K JAKARTA SELATAN PERIODE 03 APRIL- 10 MEI 2014
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO.55 JALAN KEBAYORAN LAMA NO.34K JAKARTA SELATAN PERIODE 03 APRIL- 10 MEI 2014 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG PEREDARAN, PENYIMPANAN, PEMUSNAHAN, DAN PELAPORAN NARKOTIKA, PSIKOTROPIKA, DAN PREKURSOR FARMASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JALAN KARTINI RAYA NO. 34 JAKARTA PUSAT PERIODE 6 FEBRUARI 16 MARET 2012
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JALAN KARTINI RAYA NO. 34 JAKARTA PUSAT PERIODE 6 FEBRUARI 16 MARET 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER STELLA, S.Farm.
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JALAN KARTINI RAYA NO. 34 JAKARTA PUSAT PERIODE 6 FEBRUARI- 16 MARET 2012 LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER I KADEK ARYA
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA No.48 JL. MATRAMAN RAYA NO. 55 JAKARTA TIMUR PERIODE 3 APRIL - 30 APRIL 2013
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA No.48 JL. MATRAMAN RAYA NO. 55 JAKARTA TIMUR PERIODE 3 APRIL - 30 APRIL 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER FIENDA
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Setiap manusia memiliki hak asasi yang diatur dalam perundang-undangan, salah satunya yaitu hak mengenai kesehatan, sesuai dengan UU No. 36 tahun 2009 bahwa kesehatan
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR : 918/MENKES/PER/X/1993 TENTANG PEDAGANG BESAR FARMASI MENTERI KESEHATAN
PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR : 918/MENKES/PER/X/1993 TENTANG PEDAGANG BESAR FARMASI MENTERI KESEHATAN Menimbang : a. Mengingat b. 1. 2. 3. 4. bahwa persyaratan tentang pedagang besar farmasi seperti
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN Nomor : 1191/MENKES/SK/IX/2002
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN Nomor : 1191/MENKES/SK/IX/2002 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR: 918/MENKES/PER/X/1993 TENTANG PEDAGANG BESAR FARMASI MENTERI KESEHATAN Menimbang : a.
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 202 JL. KEJAYAAN RAYA BLOK IX NO.2 DEPOK PERIODE 13 FEBRUARI 22 MARET 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KESELAMATAN JALAN KESELAMATAN NO. 27 JAKARTA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KESELAMATAN JALAN KESELAMATAN NO. 27 JAKARTA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER ZILFIA MUTIA RANNY, S.Farm. 1006835601 ANGKATAN
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ERRA MEDIKA JL. TOLE ISKANDAR No. 4-5 DEPOK LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ERRA MEDIKA JL. TOLE ISKANDAR No. 4-5 DEPOK LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER MELDA SILVIA SARI SILALAHI, S.Farm. 1206313343
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JALAN KARTINI RAYA NO. 34 A JAKARTA PUSAT PERIODE 9 JANUARI 2013 20 MARET 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER MEIYANI
BUPATI BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN BUPATI BANTUL NOMOR 22 TAHUN 2018 TENTANG PENYELENGGARAAN APOTEK
BUPATI BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN BUPATI BANTUL NOMOR 22 TAHUN 2018 TENTANG PENYELENGGARAAN APOTEK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANTUL, Menimbang : a. bahwa untuk mendukung
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK MITRASANA TAMAN HARAPAN BARU RUKO TAMAN HARAPAN BARU BLOK E7 NO. 9 BEKASI PERIODE JANUARI FEBRUARI 2014 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JL. KARTINI RAYA NO. 34A, JAKARTA PUSAT PERIODE 7 APRIL 16 MEI 2014
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JL. KARTINI RAYA NO. 34A, JAKARTA PUSAT PERIODE 7 APRIL 16 MEI 2014 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER RAFIKA FATHNI, S.Farm.
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA PELENGKAP NO. 1 RSCM JL. DIPONEGORO NO. 71, JAKARTA PUSAT, DKI JAKARTA PERIODE 1 MEI - 8 JUNI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER APOTEK KIMIA FARMA NO. 7, BOGOR PERIODE 2 APRIL 12 MEI 2012
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER APOTEK KIMIA FARMA NO. 7, BOGOR PERIODE 2 APRIL 12 MEI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER ANITA AYU DWI AJIE SAPUTRI, S.Farm. 1106046673
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2014 TENTANG
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 1148/MENKES/PER/VI/2011 TENTANG PEDAGANG BESAR FARMASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 5 JL. CIKINI RAYA NO. 121 JAKARTA PUSAT PERIODE 3 SEPTEMBER 6 OKTOBER 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
satu sarana kesehatan yang memiliki peran penting di masyarakat adalah apotek. Menurut Peraturan Pemerintah No. 35 tahun 2014, tenaga kesehatan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Salah satu Hak Asasi Manusia (HAM) dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia adalah kesehatan. Berdasarkan
UNIVERSITAS INDONESIA DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 7 JL. IR. H. JUANDA NO. 30, BOGOR LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 7 JL. IR. H. JUANDA NO. 30, BOGOR LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER AYUN ERWINA ARIFIANTI, S.Farm. 1206312883
