BAB I PENDAHULUAN I. 1. Latar Belakang

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I PENDAHULUAN I. 1. Latar Belakang"

Transkripsi

1 1 BAB I PENDAHULUAN I. 1. Latar Belakang Candi Borobudur adalah bangunan yang memiliki nilai historis tinggi. Bangunan ini menjadi warisan budaya bangsa Indonesia maupun warisan dunia. Candi yang didirikan pada abad ke-8 yaitu pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra ini mempunyai potensi untuk menarik para wisatawan asing maupun domestik, sehingga dapat memberikan devisa bagi negara. Oleh karena itu diperlukan pemeliharaan bangunan candi yang intensif untuk mencegah kerusakan bangunan. Dalam rangka pemeliharaan ini Balai Konservasi Peninggalan Borobudur (BKPB) melakukan pemantauan stabilitas candi secara periodik antara lain dengan pengamatan geodetik pada jaring pemantauan deformasi yang berada di area candi Borobudur. Pengamatan geodetik pada jaring pemantauan deformasi yang berada di area candi Borobudur dilaksanakan dengan pemantauan jaring poligon untuk meneliti deformasi horisontal candi Borobudur. Pemantauan deformasi horisontal candi Borobudur dilaksanakan pada titik-titik pemantau yang tersebar di halaman, koridor dan area di sekitar stupa pusat dan beberapa titik tangga yang digunakan sebagai penghubung antar jaring poligon. Titik-titik pemantau yang membentuk poligon tertutup ini diukur secara periodik dengan interval waktu pengamatan satu tahun. Pengamatan deformasi horisontal secara periodik dilakukan dengan pengukuran sudut dan jarak dari setiap sisi-sisi pada poligon dengan desain jaring poligon yang ditunjukkan pada gambar I.1. Desain jaring poligon tertutup memiliki titik awal dan akhir pada satu titik referensi yang sama yaitu titik PIII-1. Dengan menggunakan satu azimut referensi pada titik referensi tersebut, sehingga hasil ukuran sudut dan jarak pada pengukuran poligon sudah dapat dikontrol melalui bentuk geometrinya. Proses penentuan posisi 2D menggunakan metode Bowdith, sehingga data posisi yang didapat hanya berupa posisi 2D tanpa disertai dengan simpangan baku dari posisi yang diestimasi. Apabila hasil estimasi posisi hanya digunakan untuk mencari nilai koordinat titik-titik dalam poligon maka metode

2 2 Bowdith pada perhitungan jaring poligon tertutup ini dapat digunakan, namun apabila digunakan untuk analisis deformasi horisontal metode ini kurang sesuai. Salah satu alasan kurang sesuainya metode ini adalah jika ada data ukuran yang masih mengandung kesalahan tak acak maka kesalahan dari salah satu atau beberapa data ukuran ini dibagikan secara merata kepada masing-masing ukuran yang terlibat pada pengukuran poligon tertutup, sehingga tidak akan diketahui mana data ukuran yang seharusnya tidak digunakan untuk proses estimasi nilai koordinat. Gambar I. 1. Sketsa jaring pemantauan deformasi horisontal candi Borobudur (Sumarno, 2012) Selain metode Bowdith dikenal beberapa metode hitung perataan dalam proses estimasi nilai koordinat; salah satunya adalah hitung perataan kuadrat terkecil metode parameter. Pada metode ini nilai pengukuran yang didapat menjadi fungsi dari parameter yaitu besaran yang akan dicari nilainya yaitu koordinat 2D. Beberapa kelebihan yang didapat dari metode ini adalah terhadap data ukuran yang digunakan dapat dilakukan uji statistik, sehingga data ukuran yang masih mengandung

3 3 kesalahan tak acak dapat dihilangkan dan tidak digunakan pada proses hitungan dan dengan demikian nilai estimasi koordinat 2D yang didapatkan menjadi lebih handal. Proses hitung kuadrat terkecil metode parameter menuntut adanya data ukuran lebih pada proses perhitungannya, karena nilai estimasi koordinat yang didapat akan menjadi lebih presisi jika dibandingkan dengan hanya sedikit data ukuran yang digunakan untuk mengestimasi nilai koordinat. Pada bentuk jaring pemantauan poligon tertutup data ukuran lebih menjadi terbatas dikarenakan jumlah parameter dan jumlah ukuran yang hampir sama, sehingga posisi nilai koordinat yang didapatkan menjadi kurang presisi. Selain itu, apabila ada satu atau beberapa data ukuran yang memiliki kesalahan tak acak dan dihilangkan pada proses perhitungan maka proses hitungan estimasi posisi akan menjadi terganggu, sehingga data ukuran yang mengandung kesalahan tak acak ini tetap akan digunakan dalam proses estimasi nilai koordinat. Adanya kelemahan ini tidak disebabkan oleh pengaruh metode hitungan yang digunakan namun pada bentuk geometri poligon tertutup yang kurang sesuai jika dilakukan proses perhitungan dengan metode parameter. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui kualitas jaring pemantauan deformasi horisontal. Pada tahun 2012 dilaksanakan pengukuran dengan desain jaring pemantauan yang berbeda dengan desain jaring tahun 2011 (yang menggunakan model jaring pemantauan poligon tertutup). Perbedaanya terletak pada (1) spesifikasi alat yang digunakan untuk melakukan pengambilan data ukuran jarak dan sudut; (2) penambahan titik referensi pada proses perhitungan estimasi nilai koordinat dan pada (3) bentuk geometri jaring pemantauan, sehingga dengan mengacu pada ketiga hal ini maka analisis kualitas jaring pemantauan dilakukan. Untuk melihat pengaruh ketiga hal diatas, pada proses analisis kualitas jaring digunakanlah elips kesalahan untuk melihat tingkat kepresisian dari beberapa titik yang dihitung pada setiap desain jaring perhitungan. Dengan melihat ukuran dan bentuk elips kesalahan yang terjadi maka analisis kualitas dari desain jaring dapat dilakukan. Setelah melakukan analisis kualitas jaring pemantauan, maka untuk titik-titik pantau yang sama pada kedua kala pengamatan dapat dilakukan analisis deformasi horisontal agar dapat diketahui apakah ada pergeseran antara tahun 2011 dan 2012.

4 4 I.2. Rumusan Masalah Masalah yang dikaji dalam penelitian ini yaitu: 1. Pada bentuk poligon tertutup ada kendala dalam proses hitung perataan dengan hitung kuadrat terkecil dikarenakan kurangnya data ukuran lebih. 2. Perbedaan ketelitian alat saat pengukuran dan adanya perubahan bentuk geometri pada jaring pemantau tahun 2011 dan 2012 akan berpengaruh pada tingkat kualitas jaring pemantau. 3. Deformasi horisontal dapat terjadi antara dua kala pengamatan yang berbeda, yaitu pada tahun 2011 dan tahun I.3. Pertanyaan Penelitian Dari kedua uraian pada rumusan masalah di atas, maka didapat suatu pertanyaan sebagai dasar dari penelitian ini, yaitu: 1. Bagaimana pengaruh masing-masing faktor kualitas jaring yaitu ketelitian alat saat pengukuran, penambahan jumlah titik ikat dan perubahan bentuk geometri jaring pemantau terhadap sudut orientasi dan dimensi dari elips kesalahan pada masing-masing titik pemantau dalam desain jaring? 2. Pada titik-titik pemantau yang sama pada jaring deformasi horisontal candi Borobudur tahun 2011 dan tahun 2012, adakah deformasi horisontal yang terjadi pada selang waktu tersebut? I.4. Cakupan Penelitian Dalam penelitian ini, peneliti akan membatasi permasalahan yang ada dengan memberikan cakupan sebagai berikut: 1. Pada penelitian ini titik ikat yang digunakan adalah titik titik yang diperoleh dengan pengukuran GPS yang diasumsikan tidak mengalami pergeseran. 2. Analisis kualitas desain jaring menggunakan nilai dari hasil perhitungan elips kesalahan. 3. Analisis deformasi horisontal dilakukan dengan uji pergeseran titik yang dilakukan pada titik-titik pengamatan yang sama pada tahun 2011 dan 2012.

5 5 I.5. Tujuan Tujuan diadakannya penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui kualitas desain jaring pemantauan deformasi horisontal candi Borobudur pada tahun 2011 dan Untuk mengetahui besar pergeseran secara horisontal titik titik pantau pada jaring pemantauan candi Borobudur antara tahun 2011 dan tahun I.6. Manfaat Manfaat dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas dari desain jaring pemantauan horisontal candi Borobudur yang akan digunakan untuk studi deformasi. Pentingnya studi deformasi adalah untuk mengetahui adanya pergeseran dari bangunan candi yang diwakili dengan pengamatan terhadap titik-titik pantau yang ada di sekitar halaman candi maupun titik-titik yang ada di bagian dalam candi Borobudur, sehingga diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi terhadap upaya pelestarian peninggalan budaya bangsa. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam upaya pengembangan suatu metode yang mampu memberikan hasil yang dapat diandalkan dalam analisis deformasi. I.7. Tinjauan Pustaka Wijayatmo (2011) melakukan studi kehandalan jaring horisontal dengan objek pengamatan adalah titik-titik pantau yang ada pada bendungan Sermo. Analisis kehandalan jaring dilakukan dengan menggunakan 5 titik pantau dengan satu titik pantau digunakan sebagai titik referensi yang diketahui koordinatnya. Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa semakin baik ketelitian koordinat yang dilihat dari bentuk dan ukuran elips kesalahan dalam suatu desain jaring, maka desain jaring yang dihasilkan akan memiliki tingkat kehandalan yang tinggi. Dalam penelitian ini juga dapat diketahui bahwa untuk meningkatkan kehandalan jaring horisontal maka diperlukan data ukuran yang teliti, sehingga semakin banyak data ukuran yang mengandung kesalahan, maka akan semakin buruk kualitas jaring horisontal yang dihasilkan.

6 6 Simkooei, dkk (2012) melakukan penelitian mengenai analisis kualitas jaring yang dilihat dari presisi dan kehandalan jaring horisontal. Dalam penelitian ini digunakan beberapa bentuk desain jaring kontrol horisontal pada pekerjaan pemetaan seperti poligon, jaringan triangulasi dan juga jaringan trilaterasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk menghasilkan jaring yang handal dan presisi, maka diperlukan optimasi terhadap konfigurasi jaring, ketelitian pengamatan dan juga bentuk geometri untuk setiap desain dari jaring horisontal yang akan dibuat. Widyaningsih, (2006) melakukan penelitian dengan menggunakan data pengukuran jaring triangulasi untuk kurun waktu tahun 2001, 2002, dan Metode yang digunakan adalah analisis dengan metode hitung perataan terpisah pada masing-masing kala pengamatan. Pada penelitian ini titik yang tersebar tidak mempunyai referensi yang dianggap tetap karena semua dianggap masuk dalam area yang terdeformasi dan metode perataan yang digunakan adalah metode perataan jaring bebas. Pada penelitian ini titik I pada poligon tiga dianggap sebagai titik yang tetap dan azimut pada titik ini dianggap nol untuk memenuhi syarat minimum constraint. Sumarno, (2012) melakukan analisis pergeseran horisontal jaring pemantauan deformasi horisontal dengan kala pengamatan adalah tahun 2004, 2006 dan tahun Analisis deformasi horisontal dilakukan pada titik-titik pemantau yang ada pada jaring poligon di halaman sekitar candi Borobudur sampai titik-titik pemantau yang ada pada halaman stupa candi Borobudur (tiga jaring poligon yaitu poligon III, poligon lorong I, dan poligon V atau poligon halaman stupa candi). Analisis deformasi horisontal menggunakan tingkat kepercayaan sebesar 99%, hal ini dikarenakan ada banyak data ukuran yang dihinggapi kesalahan tak acak. Dari analisis deformasi horisontal yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa selama selang waktu antara tahun 2004 sampai dengan tahun 2006 tidak ada titik-titik pemantau yang mengalami pergeseran horisontal. Lestari dan Widjajanti, (2012) melakukan evaluasi kekuatan geometri jaring pemantau deformasi horisontal candi Borobudur dengan melakukan analisis terhadap jaring tahun 2011 dan tahun Pada penelitian ini digunakan analisis kekuatan geometri dengan menggunakan korelasi antar titik pemantau di kedua kala

7 7 pengamatan. Hasilnya, bentuk jaring poligon tertutup dengan hanya menggunakan satu titik referensi merupakan bentuk jaring yang lemah, karena sesuai dengan analisis yang dilakukan hampir semua nilai korelasi antar titik-titik pemantau pada poligon tertutup bernilai mendekati +1 atau -1. I.8. Landasan Teori I.8.1. Poligon tertutup Ada beberapa metode dalam penentuan kerangka kontrol horisontal tetapi metode poligon atau traverse adalah metode yang paling sering untuk digunakan. Ada berbagai macam bentuk poligon dan salah satu kriteria dari penentuan kerangka dasar pengukuran dengan metode poligon adalah berdasarkan bentuk dari poligon yaitu poligon terbuka, tertutup dan poligon cabang. Poligon tertutup adalah rangkaian titik-titik secara berurutan sebagai kerangka dasar pengukuran dengan titik awal dan akhir pengukuran adalah pada titik yang sama. Meskipun berbeda secara bentuk geometri namun fungsi dari poligon tetaplah sama yaitu untuk menentukan nilai dari titik-titik koordinat yang ada pada poligon dengan cara melakukan pengukuran azimut, sudut antar titik dan juga jarak antar titik poligon. Gambar I. 2. Poligon tertutup

8 8 Keterangan Gambar I.2 u : arah utara poligon tertutup 1,2,3... : titik-titik pada poligon tertutup : tanda titik referensi : tanda titik poligon : sudut bantu perhitungan s 1, s 2 : sudut ukuran ke-1 dan ke-2 d 1,2 : jarak sisi dari titik 1 ke titik 2 α 1,2, α 2,3 : azimut sisi dari titik 1 ke-2 dan azimuth sisi dari titik 2 ke-3 Dalam gambar (I.2) ditunjukkan contoh poligon tertutup. Titik 1 adalah titik yang dijadikan sebagai acuan (titik ikat) dengan α 1, 2 adalah azimut dari poligon tertutup. Karena unsur pengukuran dalam poligon adalah sudut dan arah maka harus ditentukan hubungan antara keduanya. Dengan menggunakan koordinat dari titik yang diketahui nilainya yaitu titik 1, maka didapat persamaan penentuan koordinat secara umum yaitu: X 2 = X 1 + d 1,2 α 1,2... (I.1) Y 2 = Y 1 + d 1,2 α 1,2... (I.2) Dari persamaan (I.1) di atas untuk mencari azimut berikutnya dari masingmasing titik koordinat digunakan cara penambahan hasil azimut awal ditambah dengan sudut antar titik koordinat. Azimut dari masing-masing titik ini ditentukan atas dasar sketsa pengukuran yang telah dibuat di lapangan pada saat dilakukan pengukuran, agar hasil perhitungan koordinat yang dihasilkan sesuai dengan posisi koordinat sebenarnya di lapangan. Pada gambar (I.2) digunakan azimuth awal adalah α 1,2 sehingga azimut α 2, 3 dicari dengan persamaan sebagai berikut. = 360 o α 1,2 α 2, 1 = 180 o 360 o + α 1,2 = α 1, o α 2, 3 = α 2, 1 + (360 o s 2 ) = α 1, o o s 2 = α 1, o s 2... (I.3)

9 9 Dengan cara yang sama ditentukan azimut dari titik-titik berikutnya, sehingga untuk menentukan azimut yang benar maka hasil pengukuran sudut dari masingmasing titik juga harus benar atau dengan kata lain hasil ukurannya harus terkoreksi. Kesalahan dalam pengukuran sudut di dalam perhitungan koordinat dengan menggunakan metode bowdith, dilakukan sesuai dengan persamaan berikut ini: Σβ = (n 2). 180 o, jika menggunakan sudut dalam... (I.4) Σβ = (n + 2). 180 o, jika menggunakan sudut luar... (I.5) Komponen dari sebuah poligon adalah sudut, azimut dan juga pengukuran jarak. Jika data ukuran dalam poligon adalah sudut dan jarak maka pasti koreksi harus dilakukan terhadap kesalahan yang ada pada pengukuran keduanya. Karena telah dikoreksi pengukuran sudut maka perlu juga dilakukan koreksi terhadap pengukuran jarak caranya adalah dengan mengurangkan atau menambahkan selisih jumlah hitungan absis (d sin α) dan ordinat (d cos α) yang seharusnya bernilai 0, persamaannya adalah sebagai berikut. Σ d sin α = 0... (I.6) Σ d cos α = 0... (I.7) Dengan demikian dari komponen sudut dan jarak dapat ditentukan tingkat ketelitian dari pengukuran suatu poligon. Pada poligon yang tertutup atau terikat sempurna dimana jumlah sudut hasil pengukuran serta jumlah d sin α dan d cos α sudah tertentu maka tingkat ketelitian poligon didasarkan pada besarnya kesalahan penutup sudut dan jarak. Dengan dasar tersebut kelas poligon dibedakan menjadi (Basuki, 2006). Tabel I.1. Kelas ketelitian Poligon Kelas ketelitian poligon I II III IV Kesalahan penutup sudut 2 N 10 N 30 N 60 N Koreksi maksimum persudut Ketelitian penutup jarak 1 : : : : 2000 Keterangan Tabel I.1 N : banyaknya titik dalam poligon. Metode Bowdith dalam penentuan nilai koordinat posisi horisontal terkadang diperlukan, sebab nilai koordinat yang dihitung dengan menggunakan metode

10 10 Bowdith digunakan sebagai nilai koordinat pendekatan yang nantinya digunakan pada proses perhitungan dengan metode hitung kuadrat terkecil. I.8.2. Survei deformasi Secara umum deformasi didefinisikan sebagai perubahan bentuk, posisi dan dimensi dari suatu materi, atau sebagai perubahan kedudukan (pergerakan) suatu materi pada suatu benda baik secara absolut maupun relatif dalam suatu kerangka referensi tertentu, akibat suatu gaya yang bekerja pada materi tersebut (Kuang, 1996). Pada survei deformasi digunakan dua jenis keranga dasar untuk proses pemantauannya (Chen, 1986), yaitu: 1. Kerangka dasar absolut, yaitu suatu kerangka dasar titik-titik referensi yang terletak di luar area obyek pengamatan deformasi yang posisinya dianggap stabil, 2. Kerangka dasar relatif, yaitu suatu kerangka dasar dengan titik-titik obyek pengamatan terletak di dalam area pengamatan deformasi. Pada kerangka dasar relatif, karena posisi titik-titik obyek yang digunakan terletak di dalam area pengamatan yang tidak stabil, maka titik-titik obyek tersebut mengalami perubahan. Kerangka dasar pada pekerjaan survei deformasi digunakan untuk menentukan besarnya nilai pergeseran dan parameter-parameter pergeseran, yang mempunyai karakteristik dalam ruang dan waktu (Chrzanowsky dkk., 1986). Pengolahan data dari pemantauan masing-masing epok tersebut diratakan dengan hitung kuadrat terkecil secara terpisah maupun secara langsung. Berdasarkan hasil pengukuran berulang tersebut, akan diperoleh perbedaan koordinat titik-titik objek, sehingga parameter-parameter deformasi dapat ditentukan. Prosedur survei deformasi dalam pengamatan dua epok dilakukan dengan cara (Widjajanti, 1997): 1. menyelenggarakan jaring pemantauan deformasi dan menentukan metode pengukuran yang tepat, 2. menganalisis data pengukuran dan melakukan hitung perataan, 3. mengenali pergeseran benda kaku yang terjadi atau sebagian benda saja, dan

11 11 4. membentuk model deformasi yang sesuai. I.8.3. Hitung perataan kuadrat terkecil metode parameter Metode perataan standar II atau hitung kuadrat terkecil metode parameter adalah metode hitungan estimasi parameter yang menyatakan hubungan fungsional antara besaran pengukuran dan besaran parameter. Menurut Wolf (1997) prinsip hitungan perataan dengan kuadrat terkecil adalah jumlah kuadrat dari koreksi yang diberikan pada hasil ukuran adalah minimum dengan besaran pengamatan pada persamaan tersebut merupakan fungsi dari persamaan parameter. Model matematis yang menunjukkan pengamatan adalah fungsi dari parameter ditunjukkan sebagai berikut (Wolf, 1997): La = f(xa)... (I.8) F(Xa) = f(xo+x)... (I.9) La = Lb + V... (I.10) Lb + V = f(xo + X)... (I.11) Untuk model matematika yang tidak linier dapat dilinierisasikan menggunakan deret Taylor sebagai berikut: Lb + V = f(xo + X) Lb + V= f(xo) + F xa=x + 2 F Xa X n F a Xn a Lb + V = f(xo) + AX V = AX + f(xo) Lb... V = AX + F... Xa = Xo + X... Dalam hal ini, La : nilai estimasi pengamatan Xa : nilai estimasi parameter Lb : nilai pengamatan F : selisih nilai fungsi estimasi pengamatan dengan nilai pengamatan V : residu / koreksi pengamatan Xo : nilai pendekatan parameter (I.12) (I.13) (I.14)

12 12 X : nilai koreksi parameter Dari persamaan di atas nilai X atau nilai koreksi parameter dapat dihitung dengan memasukkan komponen matriks bobot (P) dalam perhitungan sesuai dengan persamaan berikut ini: X = - (A T PA) -1 (A T PF)... (I.15) Sehingga nilai estimasi parameter (Xa) adalah: Xa = Xo + X... (I.16) Mencari nilai parameter dan nilai ukuran terkoreksi apabila diketahui bobot ukuran. Dari persamaan (I.15) nilai X koreksi parameter harus ditentukan untuk mencari nilai estimasi parameter (Xa). Dalam teori hitung kuadrat terkecil metode parameter, harga X dapat ditentukan berdasarkan data hasil perhitungan dari data pengukuran yaitu mencari nilai parameter dan nilai ukuran terkoreksi. Terkadang ketelitian pengukuran yang digunakan pada hitung kuadrat terkecil tidak sama, sehingga untuk hasil estimasi yang lebih realistis pada proses hitungan diberikan bobot sesuai dengan ketelitian saat pengukuran. Penentuan bobot ukuran dapat dinyatakan dengan persamaan (Mikhail, 1981). P = σ 0 2 σ l 2... (I.17) Dalam hal ini, σ 0 2 = varian apriori σ l 2 = varian pengukuran Apabila antar data ukuran tidak berkorelasi maka matriks P adalah matriks diagonal dengan element entri pada diagonal utamanya adalah: ditulis: 2 P = σ 0. Σ 1 Lb... (I.18) Apabila varian apriori σ 0 2 telah ditentukan nilainya yaitu 1, matriks P dapat P = σ l σ2 0 l2 1 σ2 l3... (I.19)

13 13 Sesuai dengan teori kuadrat terkecil maka untuk mendapatkan nilai La terbaik jumlah kuadrat residu (V) harus minimum dan dalam bentuk matriks hasil perhitungannya akan sama dengan V transpose dikalikan dengan V, sehingga persamaannya menjadi (Hadiman, 2001): VTPV = (AX + F) T P(AX + F) = (X T A T + F T )P(AX + F) = X T A T PAX + X T A T PF + F T PAX + F T PF = X T A T PAX + 2F T PAX + F T PF... (I.20) Dengan menggunakan diferensial parsial ke vektor X diperoleh: VTPV X = 0 2X T A T PA + 2F T PAX T A T PA + F T PA = 0 -(A T PA) -1 (A T PF) = X... (I.21) Berdasarkan nilai X yang dihitung dari persamaan di atas dapat ditentukan nilai estimasi pengamatan (La) dan juga beberapa persamaan yang nantinya akan digunakan dalam analisis jaringan. La = L + V = L A(A T PA) -1 (A T PF) + F... (I.22) σ o 2 = VT PV n u... (I.23) Σxx = σ o 2 (A T PA) (I.24) VV = σ o 2 ( P -1 A(A T PA) -1 A T )... (I.25) Dalam hal ini: σ o 2 Σxx VV = varian aposteori = matriks varian kovarian parameter = matriks varian kovarian residu Kontrol hitungan. Pada proses hitung perataan yang melibatkan hitungan dengan persamaan tidak linier, kontrol hitungan menjadi suatu prosedur yang sangat penting untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan pada proses hitungan dengan persamaan tidak linier dibutuhkan proses iterasi yang berulang-ulang agar diperoleh nilai estimasi parameter yang sesuai. Terkadang pada saat melakukan proses perhitungan, dari iterasi didapatkan hasil nilai koreksi parameter (X) dan juga harga residu (V) yang semakin membesar. Melihat hasil ini terkadang diasumsikan bahwa

14 14 data pengukuran yang diperoleh adalah data yang kurang bagus karena semakin 2 besarnya nilai koreksi (V) yang secara otomatis harga dari varian aposteori (σ o ) juga akan semakin menjadi besar, yang berakibat uji data pengukuran akan ditolak. Untuk itulah kontrol perhitungan menjadi proses yang penting untuk dilakukan apakah perhitungan yang dilakukan telah benar dan sesuai dengan hasil yang diinginkan. Menurut Hadiman (2001), kontrol hitungan pada metode parameter dapat ditentukan dengan persamaan sebagai berikut: V T PV= F T PV... (I.26) Bila terjadi perbedaan, karena pembulatan dalam proses hitungan, berarti secara keseluruhan ada kesalahan dalam proses hitungan. Meskipun kontrol hitungan dapat ditentukan, namun prosedur ini hanyalah untuk mengontrol proses perhitungan yang dilakukan, bukan kontrol kebenaran penyelesaian yang juga tergantung dengan jumlah pengamatan dan parameter yang digunakan. Terkadang pada hitungan awal terjadi perbedaan selisih harga yang besar antara nilai V T PV dan F T PV. Untuk itu, agar perbedaan ini tidak terlalu besar atau mungkin selisih antara keduanya bernilai nol, maka caranya adalah dengan menggunakan harga pendekatan parameter yang diperkirakan nilainya sama dengan nilai parameter hasil estimasi perhitungan. I.8.4. Linierisasi persamaan pengamatan Persamaan yang membentuk hubungan antara pengukuran sudut maupun jarak dengan koordinat titik-titik estimasi merupakan persamaan non-linier. Untuk itu perlu dilakukan linierisasi menggunakan deret Taylor (Soeta at, 1996). Secara umum proses linierisasi dengan menggunakan deret Taylor adalah melakukan diferential persamaan terhadap parameter yang ingin diketahui nilainya sampai suku pertama dan menganggap suku kedua hingga seterusnya (atau suku ke-n) mendekati nol. I Linierisasi persamaan pengamatan jarak. Fungsi data ukuran jarak terhadap parameter posisi 2D (x,y) merupakan persamaan yang tidak linier sehingga perlu dilakukan proses linierisasi menggunakan deret Taylor yang secara umum seperti dalam persamaan berikut.

15 15 F x = Lb + V = F(x 0 ) + F(x) (x) x =x 0 x +... (I.27) Dari gambar I.3 dapat diperoleh model matematik pengamatan jarak yaitu F x = d AB = (x B x A ) 2 + (y B y A ) 2... (I.28) Gambar I. 3. Jarak antara koordinat A dan B Diasumsikan bahwa koordinat A telah diketahui maka dengan menggunakan deret Taylor dapat dilakukan linierisasi persamaan (I.28) terhadap x B dan y B sehingga diperoleh persamaan linierisasi sebagai berikut: d AB + Vd AB = d 0 AB + δd AB δx A δd AB δx B XB = XB0 XA = XA0 X A + δd AB δy A X B + δd AB δy B YB = YB0 YA = YA0 Y A + Y B... (I.29) Jika f u = F x = d AB maka dengan notasi Leibnitz suatu persamaan diferensial dapat dinyatakan dengan d y d x = d y d u. d u d x... (I.30) Sehingga persamaan jarak d AB dapat dibentuk menjadi y = u ; u = (x B x A ) 2 + (y B y A ) 2 dan dari kedua persamaan di atas didapatkan hasil diferensial d y d u = 1 2 u ; d u d x = 2 (x B x A )

16 16 dengan menggunakan aturan Leibneitz pada persamaan (I.30) didapatkan hasil diferensial terhadap koordinat x B, begitu juga dengan cara yang sama dilakukan proses diferensial terhadap koordinat y B menghasilkan: F x = d y d x = F x = d y d x = x B x A... (I.31) (x B x A ) 2 + (y B y A ) 2 y B y A... (I.32) (x B x A ) 2 + (y B y A ) 2 I Linierisasi persamaan pengamatan sudut. Besar sudut horisontal suatu geometri jaring adalah selisih bacaan arah horisontal yang satu dengan arah horisontal lainnya pada azimut tertentu yang diilustrasikan pada gambar (I.4). Dari gambar (I.4) dapat diperoleh model matematik pengamatan sudut yaitu F x = θ = 360 o + α AC α AB... (I.33) dengan, α AC = arc tan (x C x A ) (y C y A ) α AB = arc tan (x B x A ) (y B y A ) Gambar I. 4. Pengamatan sudut A Karena sudut θ merupakan persamaan tidak linier maka perlu dilinierisaikan dengan menggunakan deret Taylor, sehingga persamaan sudut θ menjadi: F x = θ + V = F(x 0 ) + F(x) (x) x =x 0 x +... (I.34) Diasumsikan koordinat titik referensi adalah koordinat A (x A, y A ) dan B (x B, y B ). Persamaan sudut di atas dibentuk dari persamaan fungsi sinklometri yaitu kebalikan

17 17 (inverse) fungsi dari trigonometri. Karena dalam kasus ini diferensial hanya pada titik koordinat C (x c, y c ) maka dengan menggunakan aturan Leibneitz pada persamaan (I.30) didapatkan dua persamaan yaitu: f u = arc tan u ; u = (x C y C ) (x A y A ) karena f u merupakan fungsi sinklometri maka diperlukan suatu metode khusus dalam proses diferensial f u terhadap u, sehingga dalam perhitungan ini juga diperlukan hasil diferensial dari fungsi trigonometri tangent sebagai berikut: du tan f(u) = = sec 2 f(u) df(u) f(u) ingat bahwa dalam persamaan trigonometri sec 2 f u tan 2 f u = 1, maka didapatkan sec u = 1 + x 2 dengan menggunakan fungsi invers didapat df u du = 1 du df u = x 2 Hasil akhir dari proses ini didapat dengan menggunakan aturan Leibneitz pada persamaan (I.30), dengan proses diferensial terhadap koordinat x B, begitu juga dengan cara yang sama yang dilakukan terhadap koordinat y B menghasilkan: F x = d y d x = F x = d y d x = y C y A (x C x A ) 2 + (y C y A ) 2... (I.35) (x C x A ) (x C x A ) 2 + (y C y A ) I.8.5. Uji statisitik hasil hitungan perataan 2... (I.36) Untuk mengetahui bahwa hasil pengamatan di lapangan tidak mengandung kesalahan tak acak maka nilai varian dan koreksi ukuran hasil pengamatan dilakukan pengujian secara statistik untuk daerah kepercayaan tertentu. Pengujian statistik yang dilakukan berupa data snooping untuk mengetahui atau mendeteksi adanya kesalahan blunder. Kesalahan suatu pengamatan dalam konsep hitung kuadrat terkecil, diasumsikan mengikuti sebaran normal. Kebenaran asumsi ini perlu diuji dengan

18 18 menggunakan uji statistik. Salah satu uji statistik untuk mendeteksi adanya kesalahan kasar (gross error) dapat dilakukan dengan uji Tau. Uji ini merupakan hasil pengembangan data snooping untuk mencari data pengamatan yang dihinggapi kesalahan kasar. Uji Tau diterapkan untuk menghindari kesalahan estimasi nilai varian apriori (σ 2 o ) yang menyebabkan kurang terwakilinya kondisi pengukuran di lapangan sebenarnya (Kuang, 1996). Pada pendeteksian ini setiap data diuji dengan tujuan menemukan data pengamatan yang mengandung kesalahan besar. Oleh karena itu perlu dicari penyebab penolakan Hipotesis nol (H o ), sehingga perlu disusun lagi H o dan hipotesis alternatif atau tandingan (H a ) sebagai berikut : H o H a : hasil pengamatan tidak dipengaruhi kesalahan kasar : hasil pengamatan dipengaruhi kesalahan kasar Tahapan pengujiannya adalah sebagai berikut. 1. Menyusun hipotesis : Hipotesa nol (Ho, merupakan perumusan sementara yang akan diuji kebenarannya) yang berarti pengamatan ke l i tidak dipengaruhi kesalahan kasar. Hipotesa tandingan (Ha, sebagai lawan dari hipotesa nol) yang berarti pengamatan ke l i dipengaruhi kesalahan kasar. 2. Menetapkan taraf uji (α o ). 3. Menentukan nilai t αo /2 dari tabel fungsi distribusi t-student dengan argument α o dan r (derajat kebebasan). 4. Menentukan nilai batas t αo /2 yang dapat dihitung dari hubungan dengan distribusi t-student dengan rumus (Kuang, 1996) : τ αo /2( r ) = r t α o / 2 r 1 r 1+ t α o / 2 r 1... (I.37) 5. Menghitung nilai τ i untuk setiap data pengamatan τ i = V i / σ vi... (I.38) dalam hal ini : V i : koreksi pengamatan ke-i

19 19 σ vi : simpangan baku koreksi pengamatan ke-i (akar dari elemen diagonal matriks vv ) 6. Menguji hipotesis nol (Ho) Hipotesis nol diterima jika : τ i < τ αo /2... (I.39) Penerimaan Ho bermakna bahwa ukuran l i tidak dipengaruhi kesalahan kasar, ini artinya data ukuran tersebut tidak perlu dihilangkan atau diulang. Hal yang sebaliknya berlaku untuk penolakan Ho yang bermakna bahwa ukuran l i dipengaruhi kesalahan kasar, sehingga perlu dilakukan cek data ukuran atau pengukuran dengan kesalahan kasar tersebut tidak disertakan dalam proses hitungan. I.8.6. Elips kesalahan Hasil perhitungan dari data pengukuran sudut, azimut dan jarak menghasilkan nilai koordinat dari suatu titik. Dengan menggunakan metode hitung kuadrat terkecil dapat ditentukan koordinat titik stasiun dan juga varian kovarian parameter, sehingga setiap titik hasil estimasi pasti berpasangan dengan ketelitiannya atau standar deviasinya. Namun, dengan hanya mengetahui simpangan bakunya belum dapat ditentukan kualitas dari posisi yang dihasilkan, sebab posisi x dan y bukanlah posisi yang dihitung secara terpisah tetapi penentuan kesalahan melibatkan distribusi kesalahan gabungan dari x dan y. Dari permasalahan ini untuk menunjukkan hubungan kesalahan dua variabel dan sekaligus untuk menunjukkan kualitas titik stasiun hasil perhitungan diperlukan suatu tampilan secara visual maupun nilai numeris dengan cara membentuk elips kesalahan pada setiap titik koordinat hasil estimasi. Gambar (I.5) menjelaskan tentang visualisasi dari elips kesalahan. Arah orientasi dari elips kesalahan bergantung dari sudut t, yang merupakan sudut yang dibentuk dari sumbu y searah jarum jam dengan sumbu kedua u dan sumbu v yang saling tegak lurus membentuk sudut 90 o. Sudut t diperlukan untuk mencari besarnya sumbu maksimum u dan sumbu minimum v. Sumbu u memperlihatkan kesalahan maksimum dari hasil estimasi begitu juga sebaliknya, sumbu v memperlihatkan kesalahan minimum dari perhitungan koordinat hasil estimasi. Dari gambar (I.5) diperlihatkan hubungan antara sumbu kartesi (x, y) dan (u, v).

20 20 Gambar I. 5. Elips kesalahan (Ghilani, 2005) Untuk mendapatkan koordinat kartesi dari u dan v, dari gambar di atas dapat ditarik hubungan matematis: Su i = Sx i sin t + Sy i cos t... Sv i = Sx i cos t + Sy i sin t... Dalam bentuk matriks dapat ditulis Su i Sv i = Sin t Cos t Cos t Sin t dalam bentuk yang sederhana adalah (I.40) (I.41) Sx i Sy i... (I.42) Z = R. X... (I.43) dengan: u i = sumbu maksimum elips v i = sumbu minimum elips t = sudut rotasi elips terhadap sumbu kartesi 2D R = matriks rotasi Untuk permasalahan hitung perataan pada sistem koordinat (x,y), dapat dihasilkan matriks kofaktor Q xx. Matriks ini kemudian dikembangkan ke dalam sistem koordinat (u, v) sesuai dengan persamaan (Ghilani, 2005): Q zz = R Q xx R T... (I.44)

21 21 Penjabaran matriks Q zz adalah Q zz = q uv Q zz = q uu q vu q... (I.45) vv Dimana entri kofaktor Q xx adalah varian dan kovarian dari nilai koordinat. q xy Q xx = q xx q yx q... (I.46) yy Jika persamaan (I.46) dimasukkan dalam persamaan (I.44) didapatkan: q xx sin 2 t + q xy cos t sin t + q xy cos t sin t + q yy cos 2 t q xx cos t sin t q xy cos 2 t + q xy sin 2 t + q yy cos t sin t Sesuai dengan persamaan di atas maka dapat ditulis: q xx cos t sin t q xy cos 2 t + q xy sin 2 t + q yy cos t sin t q xx cos 2 t q xy cos t sin t q xy cos t sin t + q yy sin 2 t... (I.47) q uu = q xx sin 2 t + 2q xy cos t sin t + q yy cos 2 t... (I.48) q vv = q xx cos 2 t 2q xy cos t sin t + q yy sin 2 t... (I.49) Untuk membuat nilai sudut t berharga maksimal terhadap quu maka lakukan diferential quu terhadap sudut t dan aturlah hasil akhir dari persamaan quu dengan nilai 0. dq uu dt = q yy q xx 2 2 sin 2t + 2q xy cos 2t = 0 sehingga didapat hasil diferensialq uu terhadap t yaitu: sin 2t cos 2t = tan 2t = 2q xy q yy q xx... (I.50) Dalam kasus analisis jaring sangatlah diperlukan perbandingan elips kesalahan dari setiap titik yang ada pada jaring. Hal ini diperlukan agar dapat diketahui kualitas dari masing masing jaring menggunakan uji statistik dengan tingkat kepercayaan tertentu. Menggunakan uji statistik Fisher hubungan antara elips kesalahan dengan kualitas jaring dapat ditentukan, persamaannya adalah (Ghilani, 2005). S u% = S u c = S u 2F α,2,derajad kebebasan... (I.51) S v% = S v c = S v 2F α,2,derajad kebebasan... (I.52) Dari persamaan di atas dapat ditarik hubungan jika jumlah derajad kebebasan meningkat maka presisi akan meningkat dan ukuran dari kesalahan elips akan mengecil. Harga F ditentukan dari tingkat kepercayaan yang digunakan sesuai dengan tabel I.2 (Ghilani, 2005).

22 22 Tabel I.2. Tabel statistik nilai kemungkinan Derajad Kemungkinan bebas 90% 95% 99% 1 49,50 199, ,50 2 9,00 19,00 99,00 3 5,46 9,55 30,82 4 4,32 6,94 18,00 5 3,78 5,79 13, ,92 4,10 7, ,70 3,68 6, ,59 3,49 5, ,49 3,32 5, ,39 3,15 4,98 Disamping menyediakan informasi kepresesian dalam bentuk angka, keuntungan lain dari elips kesalahan adalah menampilkan informasi secara visual kepresesian antara dua koordinat (Ghilani, 2005), sebab dengan menggunakan informasi secara numeris maupun grafis, dapat ditentukan kualitas dari suatu jaring titik kontrol. Dalam pekerjaan survei pengukuran, bentuk, ukuran, dan sudut orientasi dari elips kesalahan bergantung dari ketelitian dan jumlah titik kontrol yang digunakan, kepresesian pengukuran dan bentuk geometri jaring dari survey. Dalam desain jaring ketiga hal ini sangat diperlukan untuk mendapatkan hasil perhitungan posisi yang handal. Dalam proses analisis tingkat kepresesian dari titik-titik pantau, selain menggunakan analisis secara visual digunakan juga klasifikasi jaring titik kontrol horisontal sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Kelas suatu jaring titik kontrol horizontal ditentukan berdasarkan panjang sumbu-panjang (semi-major axis) dari setiap elipss kesalahan relatif (antar titik) dengan tingkat kepercayaan (confidence level) 95% yang dihitung berdasarkan statistik yang diberikan oleh hasil hitung perataan jaringan kuadrat terkecil terkendala minimal (minimal constrained). Dalam hal ini panjang maksimum dari sumbu panjang elipss kesalahan relatif yang digunakan untuk menentukan kelas jaringan adalah : r = c ( d )... (I.53)

23 23 keterangan: r = panjang maksimum dari sumbu-panjang yang diperbolehkan, dalam milimeter c = faktor empirik yang menggambarkan tingkat presisi survei; d = jarak antar titik, dalam kilometer. Berdasarkan nilai faktor c tersebut, kategorisasi kelas jaring titik kontrol horizontal yang diusulkan diberikan pada Tabel I.3 (SNI JKH, 2002). Tabel I.3. Kelas (pengukuran) jaring titik kontrol horisontal Kelas c Aplikasi Tipikal 3A 0,01 jaring tetap (kontinu) GPS 2A 0,1 survei geodetik berskala nasional A 1 survei geodetik berskala regional B 10 survei geodetik berskala lokal C 30 survei geodetik untuk perapatan D 50 survei pemetaan I.8.7. Analisis deformasi horisontal Untuk menentukan parameter pergeseran dan menganalisis ada tidaknya pergeseran pada titik-titik pantau, dilakukan hitungan analisis pergeseran. Data yang digunakan dalam hitung analisis pergeseran horisontal adalah data yang dihasilkan dari tahap hitung perataan terpisah masing-masing kala pengamatan. Uji pergeseran titik dilakukan dengan menggunakan analog uji kesalahan besar metode Pope Tau. Adapun langkah langkah analisisnya adalah sebagai berikut: 1. Menentukan vektor pergeseran titik yang merupakan selisih dari titik-titik pantau yang sama namun pada kala pengamatan yang berbeda. 2. Untuk melakukan uji statistik dari vektor pergeseran maka digunakan uji Dimana: kesebangunan dengan persamaannya adalah sebagai berikut: δd 12 = dx dy (I.54) δd 12 dx 12 = pergeseran titik dari kala pengamatan i sampai j = nilai vektor pergeseran searah sumbu x

24 24 dy 12 = nilai vektor pergeseran searah sumbu y 3. Hipotesa nol (Ho) yang digunakan pada uji statistik ini adalah bahwa titik tidak bergeser dalam selang dari kala pengamatan ke-1 ke kala pengamatan ke-2, sehingga: Ho = jika titik ke-i tidak mengalami pergeseran. Ha = jika titik ke-i mengalami pergeseran. 4. Nilai statistik (T) pada uji pergeseran ini didapat dengan memenuhi persamaan (Simona, 2006): T = dimana: δd ij... (I.55) σ(δd ij ) σ(δd ij ) = simpangan baku dari vektor pergeseran titik. 5. Nilai statistik (T) sesuai dengan tabel distribusi Student (τ) dimana selang dari hipotesa nol (Ho) ditolak jika: T > τ df,α/2... (I.56) Apabila hipotesis diterima (Ho), menunjukkan bahwa titik ke-i tidak mengalami pergeseran dan sebaliknya, apabila hipotesis ditolak maka titik-titik tersebut mengalami pergeseran Hipotesis Perbedaan ketelitian alat, jumlah titik referensi dan perubahan bentuk geometri jaring pada masing-masing desain jaring pemantau akan menentukan sudut orientasi dan dimensi dari elips kesalahan, dengan kata lain akan menentukan kualitas dari desain jaring pemantau. Dengan menggunakan referensi penelitian sebelumnya, dapat ditentukan bahwa pada interval waktu satu tahun tidak ada pergeseran horisontal yang terjadi pada titik-titik pemantau jaring deformasi horisontal candi Borobudur, namun pergeseran mungkin dapat terjadi apabila ada faktor lain yang menyebabkannya (misalnya bencana alam).

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Sebagai salah satu situs warisan budaya dunia, Candi Borobudur senantiasa dilakukan pengawasan serta pemantauan baik secara strukural candi, arkeologi batuan candi,

Lebih terperinci

L A P O R A N K A J I A N

L A P O R A N K A J I A N L A P O R A N K A J I A N PENGEMBANGAN METODE PENGUKURAN DEFORMASI VERTIKAL DAN HORISONTAL CANDI BOROBUDUR DAN BUKIT Disusun oleh : Brahmantara, S.T Joni Setiyawan, S.T Yenny Supandi, S.Si Ajar Priyanto

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang PT. Adaro Indonesia merupakan salah satu perusahaan tambang batubara yang menerapkan sistem tambang terbuka dengan metode strip mine. Penambangan secara terbuka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara di dunia dengan peradaban masa lampau yang sangat megah. Peninggalan peradaban masa lampau tersebut masih dapat dinikmati hingga

Lebih terperinci

I.3. Pertanyaan Penelitian Dalam penelitian ini terdapat tiga pertanyaan penelitian :

I.3. Pertanyaan Penelitian Dalam penelitian ini terdapat tiga pertanyaan penelitian : BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang mempunyai beraneka ragam budaya. Hal ini nampak dari adanya berbagai macam suku, bahasa, rumah adat, dan tarian daerah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Bendungan adalah suatu bangunan penampung air yang dibentuk dari berbagai batuan dan tanah. Air yang dibendung akan digunakan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Bendungan atau dam adalah konstruksi yang dibangun untuk menahan laju air menjadi waduk, danau, atau tempat rekreasi. Salah satu dari bendungan di Indonesia, yaitu

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Candi Borobudur adalah salah satu karya besar nenek moyang bangsa Indonesia. Candi Borobudur merupakan candi terbesar di dunia dan sudah ditetapkan sebagai salah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Pengukuran dalam geodesi dapat diaplikasikan untuk pemantauan terhadap kemungkinan pergeseran pada suatu obyek. Pemantauan pergeseran dilakukan terusmenerus dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Bendungan adalah suatu bangunan penampung air yang dibentuk dari berbagai batuan, tanah dan juga beton. Bendungan dibangun untuk menahan laju air, sehingga menjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1.

BAB I PENDAHULUAN I.1. BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Salah satu tahapan dalam pengadaan jaring kontrol GPS adalah desain jaring. Desain jaring digunakan untuk mendapatkan jaring yang optimal. Terdapat empat tahapan dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Candi Borobudur sebagai sebuah peninggalan bersejarah bagi bangsa Indonesia sudah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia. Salah satu bentuk antisipasi pencegahan

Lebih terperinci

Tujuan Khusus. Tujuan Umum

Tujuan Khusus. Tujuan Umum Tujuan Umum Tujuan Khusus Mahasiswa memahami arti Kerangka Kontrol Horizontal (KKH) Mahasiswa memahami cara pengukuran, cara menghitung, cara koreksi dari suatu pengukuran polygon baik polygon sistem terbuka

Lebih terperinci

STUDI EVALUASI METODE PENGUKURAN STABILITAS CANDI BOROBUDUR DAN BUKIT

STUDI EVALUASI METODE PENGUKURAN STABILITAS CANDI BOROBUDUR DAN BUKIT STUDI EVALUASI METODE PENGUKURAN STABILITAS CANDI BOROBUDUR DAN BUKIT Oleh Joni Setyawan, S.T. Balai Konservasi Peninggalan Borobudur ABSTRAK Candi Borobudur sebagai sebuah peninggalan bersejarah bagi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Pengecekan Kualitas Data Observasi Dengan TEQC Kualitas dari data observasi dapat ditunjukkan dengan melihat besar kecilnya nilai moving average dari multipath untuk

Lebih terperinci

Prinsip Kuadrat Terkecil

Prinsip Kuadrat Terkecil Prinsip Kuadrat Terkecil Dari suatu pengukuran yang tidak saling bergantung (independent): d1, d2, d3, d4,..., dn. Dari pengukuran tersebut dapat dicari nilai rata-rata (d) yang merupakan nilai yang paling

Lebih terperinci

HITUNGAN PERATAAN POSISI 3D TITIK PREMARK SECARA SIMULTAN PADA SURVEI FOTO UDARA FORMAT KECIL

HITUNGAN PERATAAN POSISI 3D TITIK PREMARK SECARA SIMULTAN PADA SURVEI FOTO UDARA FORMAT KECIL HITUNGAN PERATAAN POSISI 3D TITIK PREMARK SECARA SIMULTAN PADA SURVEI FOTO UDARA FORMAT KECIL Harintaka 1, Subaryono, Ilham Pandu Wijaya 3 1, Jurusan Teknik Geodesi, FT-UGM. Jl. Grafika No. Yogyakarta

Lebih terperinci

ILMU UKUR TANAH 2 PENENTUAN POSISI

ILMU UKUR TANAH 2 PENENTUAN POSISI ILMU UKUR TANAH 2 PENENTUAN POSISI Oleh: Andri Oktriansyah JURUSAN SURVEI DAN PEMETAAN UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI PALEMBANG 2017 1. Penentuan Posisi Penentuan posisi titik dikelompokkan dalam dua

Lebih terperinci

Metode Titik Kontrol Horisontal 3.1. Metode Survei Klasik Gambar. Jaring Triangulasi

Metode Titik Kontrol Horisontal 3.1. Metode Survei Klasik Gambar. Jaring Triangulasi 3. Metode Titik Kontrol Horisontal Dalam pekerjaan survei hidrografi di lapangan, survei topografi juga perlu dilakukan untuk menentukan kerangka kawasan pantai secara geografis. Dimana survey topografi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pada bab ini diuraikan hasil tinjauan pustaka tentang definisi, konsep, dan teori-teori yang terkait dengan penelitian ini. Adapun pustaka yang dipakai adalah konsep perambatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A.Latar Belakang. B. Tujuan Praktikum

BAB I PENDAHULUAN. A.Latar Belakang. B. Tujuan Praktikum BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Pengukuran merupakan penentuan besaran, dimensi, atau kapasitas, biasanya terhadap suatu standar atau satuan pengukuran atau dapat dikatakan juga bahwa pengukuran adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1.

BAB I PENDAHULUAN I.1. BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Digital earth surface mapping dapat dilakukan dengan teknologi yang beragam, diantaranya metode terestris, ekstra terestris, pemetaan fotogrametri, citra satelit,

Lebih terperinci

1. Akar-akar persamaan 2x² + px - q² = 0 adalah p dan q, p - q = 6. Nilai pq =... A. 6 B. -2 C. -4 Kunci : E Penyelesaian : D. -6 E.

1. Akar-akar persamaan 2x² + px - q² = 0 adalah p dan q, p - q = 6. Nilai pq =... A. 6 B. -2 C. -4 Kunci : E Penyelesaian : D. -6 E. 1. Akar-akar persamaan 2x² + px - q² = 0 adalah p dan q, p - q = 6. Nilai pq =... A. 6-2 -4 Kunci : E -6-8 2. Himpunan penyelesaian sistem persamaan Nilai 6x 0.y 0 =... A. 1 Kunci : C 6 36 3. Absis titik

Lebih terperinci

METODE PENGUKURAN TRIANGULASI

METODE PENGUKURAN TRIANGULASI METODE PENGUKURAN TRIANGULASI Triangulasi adalah proses mencari koordinat dari sebuah titik dengan cara menghitung panjang sisi segitiga yang berhadapan dengan titik tersebut, dan ukuran kedua sudut antara

Lebih terperinci

Matematika EBTANAS Tahun 1991

Matematika EBTANAS Tahun 1991 Matematika EBTANAS Tahun 99 EBT-SMA-9-0 Persamaan sumbu simetri dari parabola y = 8 x x x = 4 x = x = x = x = EBT-SMA-9-0 Salah satu akar persamaan kuadrat mx 3x + = 0 dua kali akar yang lain, maka nilai

Lebih terperinci

2.1 Soal Matematika Dasar UM UGM c. 1 d d. 3a + b. e. 3a + b. e. b + a b a

2.1 Soal Matematika Dasar UM UGM c. 1 d d. 3a + b. e. 3a + b. e. b + a b a Soal - Soal UM UGM. Soal Matematika Dasar UM UGM 00. Jika x = 3 maka + 3 log 4 x =... a. b. c. d. e.. Jika x+y log = a dan x y log 8 = b dengan 0 < y < x maka 4 log (x y ) =... a. a + 3b ab b. a + b ab

Lebih terperinci

Transformasi Geometri Sederhana

Transformasi Geometri Sederhana Transformasi Geometri Sederhana Transformasi Dasar Pada Aplikasi Grafika diperlukan perubahan bentuk, ukuran dan posisi suatu gambar yang disebut dengan manipulasi. Perubahan gambar dengan mengubah koordinat

Lebih terperinci

BAB II TEORI DASAR. 2.1 Tinjauan Umum Deformasi

BAB II TEORI DASAR. 2.1 Tinjauan Umum Deformasi BAB II TEORI DASAR 2.1 Tinjauan Umum Deformasi Deformasi adalah perubahan bentuk, posisi, dan dimensi dari suatu benda (Kuang,1996). Berdasarkan definisi tersebut deformasi dapat diartikan sebagai perubahan

Lebih terperinci

Soal-Soal dan Pembahasan Matematika IPA SNMPTN 2012 Tanggal Ujian: 13 Juni 2012

Soal-Soal dan Pembahasan Matematika IPA SNMPTN 2012 Tanggal Ujian: 13 Juni 2012 Soal-Soal dan Pembahasan Matematika IPA SNMPTN 01 Tanggal Ujian: 13 Juni 01 1. Lingkaran (x + 6) + (y + 1) 5 menyinggung garis y 4 di titik... A. ( -6, 4 ). ( -1, 4 ) E. ( 5, 4 ) B. ( 6, 4) D. ( 1, 4 )

Lebih terperinci

a menunjukkan jumlah satuan skala relatif terhadap nol pada sumbu X Gambar 1

a menunjukkan jumlah satuan skala relatif terhadap nol pada sumbu X Gambar 1 1. Koordinat Cartesius Sistem koordinat Cartesius terdiri dari dua garis yang saling tegak lurus yang disebut sumbu Sumbu horizontal disebut sumbu X dan sumbu vertikal disebut sumbu Y Tiap sumbu mempunyai

Lebih terperinci

Wardaya College. Tes Simulasi Ujian Nasional SMA Berbasis Komputer. Mata Pelajaran Matematika Tahun Ajaran 2017/2018

Wardaya College. Tes Simulasi Ujian Nasional SMA Berbasis Komputer. Mata Pelajaran Matematika Tahun Ajaran 2017/2018 Tes Simulasi Ujian Nasional SMA Berbasis Komputer Mata Pelajaran Matematika Tahun Ajaran 07/08 -. Jika diketahui x = 8, y = 5 dan z = 8, maka nilai dari x y z adalah.... (a) 0 (b) 00 (c) 500 (d) 750 (e)

Lebih terperinci

PREDIKSI UAN MATEMATIKA SESUAI KISI-KISI PEMERINTAH

PREDIKSI UAN MATEMATIKA SESUAI KISI-KISI PEMERINTAH PREDIKSI UAN MATEMATIKA SESUAI KISI-KISI PEMERINTAH. Apabila P dan q kalimat pernyataan, di mana ~p q kalimat bernilai salah, maka kalimat yang benar berikut ini, kecuali (d) p q (~p ~q) (~p ~q) ~ (~p

Lebih terperinci

1. Sebuah kawat yang panjangnya 10 meter akan dibuat bangun yang berbentuk 3 persegi panjang kongruen seperti pada gambar di bawah.

1. Sebuah kawat yang panjangnya 10 meter akan dibuat bangun yang berbentuk 3 persegi panjang kongruen seperti pada gambar di bawah. 1. Sebuah kawat yang panjangnya 10 meter akan dibuat bangun yang berbentuk 3 persegi panjang kongruen seperti pada gambar di bawah. Luas maksimum daerah yang dibatasi oleh kawat tersebut adalah... 3,00

Lebih terperinci

OSN Guru Matematika SMA (Olimpiade Sains Nasional)

OSN Guru Matematika SMA (Olimpiade Sains Nasional) ocsz Pembahasan Soal OSN Guru 2012 OLIMPIADE SAINS NASIONAL KHUSUS GURU MATEMATIKA SMA OSN Guru Matematika SMA (Olimpiade Sains Nasional) Disusun oleh: Pak Anang Halaman 2 dari 26 PEMBAHASAN SOAL OLIMPIADE

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS PERCOBAAN

BAB IV ANALISIS PERCOBAAN BAB IV ANALISIS PERCOBAAN Sesuai dengan tujuan penulisan tugas akhir ini, dilakukan analisis terhadap percobaan yang sudah dilakukan. Analisis yang dilakukan meliputi : 4.1 Analisis Pengadaan Data Analisis

Lebih terperinci

STUDI PENERAPAN MODEL KOREKSI BEDA TINGGI METODE TRIGONOMETRI PADA TITIK-TITIK JARING PEMANTAU VERTIKAL CANDI BOROBUDUR DENGAN TOTAL STATION

STUDI PENERAPAN MODEL KOREKSI BEDA TINGGI METODE TRIGONOMETRI PADA TITIK-TITIK JARING PEMANTAU VERTIKAL CANDI BOROBUDUR DENGAN TOTAL STATION Studi Penerapan Model Koreksi Beda Tinggi Metode Trigonometri... (Rosalina) STUDI PENERAPAN MODEL KOREKSI BEDA TINGGI METODE TRIGONOMETRI PADA TITIK-TITIK JARING PEMANTAU VERTIKAL CANDI BOROBUDUR DENGAN

Lebih terperinci

Transformasi Geometri Sederhana. Farah Zakiyah Rahmanti 2014

Transformasi Geometri Sederhana. Farah Zakiyah Rahmanti 2014 Transformasi Geometri Sederhana Farah Zakiyah Rahmanti 2014 Grafika Komputer TRANSFORMASI 2D Transformasi Dasar Pada Aplikasi Grafika diperlukan perubahan bentuk, ukuran dan posisi suatu gambar yang disebut

Lebih terperinci

Pembahasan Matematika IPA SNMPTN 2012 Kode 483

Pembahasan Matematika IPA SNMPTN 2012 Kode 483 Tutur Widodo Pembahasan Matematika IPA SNMPTN 0 Pembahasan Matematika IPA SNMPTN 0 Kode 8 Oleh Tutur Widodo. Di dalam kotak terdapat bola biru, 6 bola merah dan bola putih. Jika diambil 8 bola tanpa pengembalian,

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Alat Ukur GPS GPS (Global Positioning System) adalah sistem radio navigasi menggunakan satelit yang dimiliki dan dikelola oleh Amerika Serikat, untuk menentukan posisi, kecepatan

Lebih terperinci

BAB I TEGANGAN DAN REGANGAN

BAB I TEGANGAN DAN REGANGAN BAB I TEGANGAN DAN REGANGAN.. Tegangan Mekanika bahan merupakan salah satu ilmu yang mempelajari/membahas tentang tahanan dalam dari sebuah benda, yang berupa gaya-gaya yang ada di dalam suatu benda yang

Lebih terperinci

Contohnya adalah sebagai berikut :

Contohnya adalah sebagai berikut : Sudut merupakan besaran derajat yang terbentuk dari tiga buah titik. Misalnya sudut ApB atau disebut sudut β seperti pada gambar. Sudut tersebut dalam pengukuran menggunakan theodolit atau kompas didapatkan

Lebih terperinci

TRY OUT MATEMATIKA PAKET 3B TAHUN 2010

TRY OUT MATEMATIKA PAKET 3B TAHUN 2010 . Perhatikan argumen berikut ini. p q. q r. r ~ s TRY OUT MATEMATIKA PAKET B TAHUN 00 Negasi kesimpulan yang sah dari argumen di atas adalah... A. p ~s B. p s C. p ~s D. p ~s E. p s. Diketahui npersamaan

Lebih terperinci

dengan vektor tersebut, namun nilai skalarnya satu. Artinya

dengan vektor tersebut, namun nilai skalarnya satu. Artinya 1. Pendahuluan Penggunaan besaran vektor dalam kehidupan sehari-hari sangat penting mengingat aplikasi besaran vektor yang luas. Mulai dari prinsip gaya, hingga bidang teknik dalam memahami konsep medan

Lebih terperinci

SOAL-SOAL dan PEMBAHASAN UN MATEMATIKA SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 2011/2012

SOAL-SOAL dan PEMBAHASAN UN MATEMATIKA SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 2011/2012 SOAL-SOAL dan PEMBAHASAN UN MATEMATIKA SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 0/0. Akar-akar persamaan kuadrat x +ax - 40 adalah p dan q. Jika p - pq + q 8a, maka nilai a... A. -8 B. -4 C. 4 D. 6 E. 8 BAB III Persamaan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. digunakan sebagai konsep statistik pada tahun 1877 oleh Sir Francis Galton. Dia

BAB 2 LANDASAN TEORI. digunakan sebagai konsep statistik pada tahun 1877 oleh Sir Francis Galton. Dia 10 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Regresi Dalam ilmu statistika teknik yang umum digunakan untuk menganalisa hubungan antara dua variabel atau lebih adalah analisa regresi linier. Regresi pertama

Lebih terperinci

III HASIL DAN PEMBAHASAN

III HASIL DAN PEMBAHASAN Fungsi periodizer kutub tersebut dapat dituliskan pula sebagai: p θ, N, θ 0 = π N N.0 n= n sin Nn θ θ 0. () f p θ, N, θ 0 = π N N j= j sin Nj θ θ 0 diperoleh dengan menyubstitusi variabel θ pada f θ =

Lebih terperinci

MATEMATIKA DASAR TAHUN 1987

MATEMATIKA DASAR TAHUN 1987 MATEMATIKA DASAR TAHUN 987 MD-87-0 Garis singgung pada kurva y di titik potong nya dengan sumbu yang absisnya positif mempunyai gradien 0 MD-87-0 Titik potong garis y + dengan parabola y + ialah P (5,

Lebih terperinci

Pembahasan Matematika IPA SNMPTN 2012 Kode 132

Pembahasan Matematika IPA SNMPTN 2012 Kode 132 Tutur Widodo Pembahasan Matematika IPA SNMPTN 0 Pembahasan Matematika IPA SNMPTN 0 Kode Oleh Tutur Widodo. Lingkaran (x 6) + (y + ) = menyinggung garis x = di titik... (, 6) d. (, ) (, 6) e. (, ) c. (,

Lebih terperinci

(A) 3 (B) 5 (B) 1 (C) 8

(A) 3 (B) 5 (B) 1 (C) 8 . Turunan dari f ( ) = + + (E) 7 + +. Turunan dari y = ( ) ( + ) ( ) ( + ) ( ) ( + ) ( + ) ( + ) ( ) ( + ) (E) ( ) ( + ) 7 5 (E) 9 5 9 7 0. Jika f ( ) = maka f () = 8 (E) 8. Jika f () = 5 maka f (0) +

Lebih terperinci

Keep running VEKTOR. 3/8/2007 Fisika I 1

Keep running VEKTOR. 3/8/2007 Fisika I 1 VEKTOR 3/8/007 Fisika I 1 BAB I : VEKTOR Besaran vektor adalah besaran yang terdiri dari dua variabel, yaitu besar dan arah. Sebagai contoh dari besaran vektor adalah perpindahan. Sebuah besaran vektor

Lebih terperinci

Bab 2 LANDASAN TEORI

Bab 2 LANDASAN TEORI 9 Bab 2 LANDASAN TEORI 21 Uji Kecukupan Sampel Dalam melakukan penelitian yang berhubungan dengan kecukupan sampel maka langkah awal yang harus dilakukan adalah pengujian terhadap jumlah sampel Pengujian

Lebih terperinci

Fakultas Teknik UNY Jurusan Pendidikan Teknik Otomotif INTEGRASI FUNGSI. 0 a b X A. b A = f (X) dx a. Penyusun : Martubi, M.Pd., M.T.

Fakultas Teknik UNY Jurusan Pendidikan Teknik Otomotif INTEGRASI FUNGSI. 0 a b X A. b A = f (X) dx a. Penyusun : Martubi, M.Pd., M.T. Kode Modul MAT. TKF 20-03 Fakultas Teknik UNY Jurusan Pendidikan Teknik Otomotif INTEGRASI FUNGSI Y Y = f (X) 0 a b X A b A = f (X) dx a Penyusun : Martubi, M.Pd., M.T. Sistem Perencanaan Penyusunan Program

Lebih terperinci

FUNGSI. Riri Irawati, M.Kom 3 sks

FUNGSI. Riri Irawati, M.Kom 3 sks FUNGSI Riri Irawati, M.Kom 3 sks Agenda 1. Sistem Koordinat Kartesius. Garis Lurus 3. Grafik persamaan Tujuan Agar mahasiswa dapat : Menggunakan sistem koordinat untuk menentukan titik-titik dan kurva-kurva.

Lebih terperinci

BAB I TEGANGAN DAN REGANGAN

BAB I TEGANGAN DAN REGANGAN BAB I TEGANGAN DAN REGANGAN.. Tegangan Dalam mekanika bahan, pengertian tegangan tidak sama dengan vektor tegangan. Tegangan merupakan tensor derajat dua, sedangkan vektor, vektor apapun, merupakan tensor

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 21 Analisis Regresi Perubahan nilai suatu variabel tidak selalu terjadi dengan sendirinya, namun perubahan nilai variabel itu dapat disebabkan oleh berubahnya variabel lain yang berhubungan

Lebih terperinci

Matematika EBTANAS Tahun 1999

Matematika EBTANAS Tahun 1999 Matematika EBTANAS Tahun 999 EBT-SMA-99-0 Akar-akar persamaan kuadrat + = 0 adalah α dan β. Persamaan kuadrat baru yang akar-akarnya (α + ) dan (β + ) + = 0 + 7 = 0 + = 0 + 7 = 0 + = 0 EBT-SMA-99-0 Akar-akar

Lebih terperinci

SISTEM KOORDINAT SISTEM TRANSFORMASI KOORDINAT RG091521

SISTEM KOORDINAT SISTEM TRANSFORMASI KOORDINAT RG091521 SISTEM KOORDINAT SISTEM TRANSFORMASI KOORDINAT RG091521 SISTEM KOORDINAT SISTEM TRANSFORMASI KOORDINAT RG091521 Sistem Koordinat Parameter SistemKoordinat Koordinat Kartesian Koordinat Polar Sistem Koordinat

Lebih terperinci

3. ORBIT KEPLERIAN. AS 2201 Mekanika Benda Langit. Monday, February 17,

3. ORBIT KEPLERIAN. AS 2201 Mekanika Benda Langit. Monday, February 17, 3. ORBIT KEPLERIAN AS 2201 Mekanika Benda Langit 1 3.1 PENDAHULUAN Mekanika Newton pada mulanya dimanfaatkan untuk menentukan gerak orbit benda dalam Tatasurya. Misalkan Matahari bermassa M pada titik

Lebih terperinci

TRY OUT MATEMATIKA PAKET 2A TAHUN 2010

TRY OUT MATEMATIKA PAKET 2A TAHUN 2010 TRY OUT MATEMATIKA PAKET A TAHUN 00. Diketahui premis premis () Jika hari hujan terus menerus maka masyarakat kawasan Kaligawe gelisah atau mudah sakit. () Hujan terus menerus. Ingkaran kesimpulan premis

Lebih terperinci

ORIENTASI PADA PRA PLOTTING PETA BERSISTEM KOORDINAT LOKAL TERHADAP SISTEM KOORDINAT FIX (TETAP)

ORIENTASI PADA PRA PLOTTING PETA BERSISTEM KOORDINAT LOKAL TERHADAP SISTEM KOORDINAT FIX (TETAP) Orientasi pada Pra Plotting... ORIENTASI PADA PRA PLOTTING PETA BERSISTEM KOORDINAT LOKAL TERHADAP SISTEM KOORDINAT FIX (TETAP) Yuwono 1), AdiKurniawan 2) 1) Jurusan Teknik Geomatika, ITS, 2) Jurusan Teknik

Lebih terperinci

1. Agar F(x) = (p - 2) x² - 2 (2p - 3) x + 5p - 6 bernilai positif untuk semua x, maka batas-batas nilai p adalah... A. p > l B. 2 < p < 3 C.

1. Agar F(x) = (p - 2) x² - 2 (2p - 3) x + 5p - 6 bernilai positif untuk semua x, maka batas-batas nilai p adalah... A. p > l B. 2 < p < 3 C. 1. Agar F(x) = (p - 2) x² - 2 (2p - 3) x + 5p - 6 bernilai positif untuk semua x, maka batas-batas nilai p adalah... A. p > l 2 < p < 3 p > 3 1 < p < 2 p < 1 atau p > 2 Kunci : C Persamaan fungsi : F(x)

Lebih terperinci

Vektor. Vektor memiliki besaran dan arah. Beberapa besaran fisika yang dinyatakan dengan vektor seperti : perpindahan, kecepatan dan percepatan.

Vektor. Vektor memiliki besaran dan arah. Beberapa besaran fisika yang dinyatakan dengan vektor seperti : perpindahan, kecepatan dan percepatan. Vektor Vektor memiliki besaran dan arah. Beberapa besaran fisika yang dinyatakan dengan vektor seperti : perpindahan, kecepatan dan percepatan. Skalar hanya memiliki besaran saja, contoh : temperatur,

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 14 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Konsep Dasar Analisis Regresi Kata regresi (regression) diperkenalkan pertama kali oleh Francis Dalton pada tahun 1886. Menurut Dalton, analisis regresi berkenaan dengan studi

Lebih terperinci

INDIKATOR 10 : Menyelesaikan masalah program linear 1. Pertidaksamaan yang memenuhi pada gambar di bawah ini adalah... Y

INDIKATOR 10 : Menyelesaikan masalah program linear 1. Pertidaksamaan yang memenuhi pada gambar di bawah ini adalah... Y INDIKATOR : Menyelesaikan masalah program linear. Pertidaksamaan yang memenuhi pada gambar di bawah ini adalah... Y 8 8 X x + y 8; x + y ; x + y x + y 8; x + y ; x + y x + y 8; x + y ; x + y x + y 8; x

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Matematika sebagai salah satu ilmu dasar, semakin dirasakan interaksinya dengan bidangbidang ilmu lainnya, seperti ekonomi dan teknologi. Peran matematika dalam interaksi

Lebih terperinci

SOAL DAN PEMBAHASAN UJIAN NASIONAL SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 2008/2009

SOAL DAN PEMBAHASAN UJIAN NASIONAL SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 2008/2009 SOAL DAN PEMBAHASAN UJIAN NASIONAL SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 008/009. Perhatikan premis premis berikut! - Jika saya giat belajar maka saya bisa meraih juara - Jika saya bisa meraih juara maka saya boleh

Lebih terperinci

f(-1) = = -7 f (4) = = 3 Dari ketiga fungsi yang didapat ternyata yang terkecil -7 dan terbesar 11. Rf = {y -7 y 11, y R}

f(-1) = = -7 f (4) = = 3 Dari ketiga fungsi yang didapat ternyata yang terkecil -7 dan terbesar 11. Rf = {y -7 y 11, y R} 1. Persamaan (m - 1)x 2-8x - 8m = 0 mempunyai akar-akar real, maka nilai m adalah... -2 m -1-2 m 1-1 m 2 Kunci : C D 0 b 2-4ac 0 (-8)² - 4(m - 1) 8m 0 64-32m² + 32m 0 m² - m - 2 0 (m - 2)(m + 1) 0 m -1

Lebih terperinci

Hitung Perataan Kuadrat Terkecil (Least Squares Adjustment)

Hitung Perataan Kuadrat Terkecil (Least Squares Adjustment) Hitung Perataan Kuadrat Terkecil (Least Squares Adjustment) Metoda Kuadrat Terkecil adalah salah satu metoda yang paling populer dalam menyelesaikan masalah hitung perataan. Aplikasi pertama perataan kuadrat

Lebih terperinci

Soal dan Pembahasan UN Matematika Program IPA 2008

Soal dan Pembahasan UN Matematika Program IPA 2008 Soal dan Pembahasan UN Matematika Program IPA 2008. Diketahui premis premis : () Jika hari hujan, maka udara dingin. (2) Jika udara dingin, maka ibu memakai baju hangat. (3) Ibu tidak memakai baju hangat

Lebih terperinci

SISTEM KOORDINAT SISTEM TRANSFORMASI KOORDINAT RG091521

SISTEM KOORDINAT SISTEM TRANSFORMASI KOORDINAT RG091521 SISTEM KOORDINAT SISTEM TRANSFORMASI KOORDINAT RG091521 Sistem Koordinat Parameter SistemKoordinat Koordinat Kartesian Koordinat Polar Sistem Koordinat Geosentrik Sistem Koordinat Toposentrik Sistem Koordinat

Lebih terperinci

BAB II METODE ANALISIS DATA. memerlukan lebih dari satu variabel dalam membentuk suatu model regresi.

BAB II METODE ANALISIS DATA. memerlukan lebih dari satu variabel dalam membentuk suatu model regresi. 10 BAB II METODE ANALISIS DATA 2.1 Pengertian Regresi Berganda Banyak data pengamatan yang terjadi sebagai akibat lebih dari dua variabel, yaitu memerlukan lebih dari satu variabel dalam membentuk suatu

Lebih terperinci

8. Nilai x yang memenuhi 2 log 2 (4x -

8. Nilai x yang memenuhi 2 log 2 (4x - 1. Agar F(x) = (p - 2) x² - 2 (2p - 3) x + 5p - 6 bernilai positif untuk semua x, maka batas-batas nilai p p > l 2 < p < 3 p > 3 1 < p < 2 p < 1 atau p > 2 2. Fungsi kuadrat yang mempunyai nilai maksimum

Lebih terperinci

Diferensial Vektor. (Pertemuan III) Dr. AZ Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Diferensial Vektor. (Pertemuan III) Dr. AZ Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya TKS 4007 Matematika III Diferensial Vektor (Pertemuan III) Dr. AZ Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Perkalian Titik Perkalian titik dari dua buah vektor A dan B pada bidang dinyatakan

Lebih terperinci

Bab 3 (3.1) Universitas Gadjah Mada

Bab 3 (3.1) Universitas Gadjah Mada Bab 3 Sifat Penampang Datar 3.1. Umum Didalam mekanika bahan, diperlukan operasi-operasi yang melihatkan sifatsifat geometrik penampang batang yang berupa permukaan datar. Sebagai contoh, untuk mengetahui

Lebih terperinci

LATIHAN SOAL ILMU UKUR TAMBANG. Oleh: YULI KUSUMAWATI, S.T., M.T.

LATIHAN SOAL ILMU UKUR TAMBANG. Oleh: YULI KUSUMAWATI, S.T., M.T. LATIHAN SOAL ILMU UKUR TAMBANG Oleh: YULI KUSUMAWATI, S.T., M.T. Contoh 1. Hitunglah bearing dari data pengukuran poligon berikut ini: BS IS Sudut kanan Jarak datar Bearing FS 6 7 8 9 10 6 7 8 9 10 11-280

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Latar Belakang Historis Fondasi dari integral pertama kali dideklarasikan oleh Cavalieri, seorang ahli matematika berkebangsaan Italia pada tahun 1635. Cavalieri menemukan bahwa

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Aljabar Matriks 2.1.1 Definisi Matriks Matriks adalah suatu kumpulan angka-angka yang juga sering disebut elemen-elemen yang disusun secara teratur menurut baris dan kolom sehingga

Lebih terperinci

MACLAURIN S SERIES. Ghifari Eka

MACLAURIN S SERIES. Ghifari Eka MACLAURIN S SERIES Ghifari Eka Taylor Series Sebelum membahas mengenai Maclaurin s series alangkah lebih baiknya apabila kita mengetahui terlebih dahulu mengenai Taylor series. Misalkan terdapat fungsi

Lebih terperinci

Wardaya College. Tes Simulasi Ujian Nasional SMA Berbasis Komputer. Mata Pelajaran Matematika Tahun Ajaran 2017/2018

Wardaya College. Tes Simulasi Ujian Nasional SMA Berbasis Komputer. Mata Pelajaran Matematika Tahun Ajaran 2017/2018 Tes Simulasi Ujian Nasional SMA Berbasis Komputer Mata Pelajaran Matematika Tahun Ajaran 2017/2018-1. Jika diketahui x = 8, y = 25 dan z = 81, maka nilai dari x 2 y 2 z adalah.... (a) 0 (b) 00 (c) 500

Lebih terperinci

1. Himpunan penyelesaian adalah {(x, y, z)}. Nilai dari y + z adalah... D. -4 E. -5

1. Himpunan penyelesaian adalah {(x, y, z)}. Nilai dari y + z adalah... D. -4 E. -5 1. Himpunan penyelesaian adalah {(x, y, z)}. Nilai dari y + z adalah... A. 5 3 2 Kunci : C 3x + y = 5 y - 2z = -7-3x + 2z = 12 2x + 2z = 10 - x = 2-4 -5 x + z = 5 2 + z = 5 z = 3 3x + y = 5 3. 2 + y =

Lebih terperinci

Matematika EBTANAS Tahun 1986

Matematika EBTANAS Tahun 1986 Matematika EBTANAS Tahun 986 EBT-SMA-86- Bila diketahui A = { x x bilangan prima < }, B = { x x bilangan ganjil < }, maka eleman A B =.. 3 7 9 EBT-SMA-86- Bila matriks A berordo 3 dan matriks B berordo

Lebih terperinci

KALKULUS MULTIVARIABEL II

KALKULUS MULTIVARIABEL II Definisi KALKULUS MULTIVARIABEL II (Minggu ke-7) Andradi Jurusan Matematika FMIPA UGM Yogyakarta, Indonesia Definisi 1 Definisi 2 ontoh Soal Definisi Integral Garis Fungsi f K R 2 R di Sepanjang Kurva

Lebih terperinci

Soal-Soal dan Pembahasan Matematika IPA SNMPTN 2012 Tanggal Ujian: 13 Juni 2012

Soal-Soal dan Pembahasan Matematika IPA SNMPTN 2012 Tanggal Ujian: 13 Juni 2012 Soal-Soal dan Pembahasan Matematika IPA SNMPTN 01 Tanggal Ujian: 13 Juni 01 1. Lingkaran (x + 6) + (y + 1) 5 menyinggung garis y 4 di titik... A. ( -6 4 ). ( -1 4 ) E. ( 5 4 ) B. ( 6 4) D. ( 1 4 ) BAB

Lebih terperinci

B21 MATEMATIKA. Pak Anang MATEMATIKA SMA/MA IPA. Rabu, 18 April 2012 ( )

B21 MATEMATIKA. Pak Anang MATEMATIKA SMA/MA IPA. Rabu, 18 April 2012 ( ) B Pak Anang http://pak-anang.blogspot.com MATEMATIKA Rabu, 8 April 0 (08.00 0.00) A-MAT-ZD-M8-0/0 Mata Pelajaran Jenjang Program Studi Hari/Tanggal Jam MATA PELAJARAN : MATEMATIKA : SMA/MA : IPA WAKTU

Lebih terperinci

SOAL DAN PEMBAHASAN UJIAN NASIONAL SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 2008/2009

SOAL DAN PEMBAHASAN UJIAN NASIONAL SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 2008/2009 SOAL DAN PEMBAHASAN UJIAN NASIONAL SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 8/9. Perhatikan premis premis berikut! - Jika saya giat belajar maka saya bisa meraih juara - Jika saya bisa meraih juara maka saya boleh ikut

Lebih terperinci

Bahan ajar On The Job Training. Penggunaan Alat Total Station

Bahan ajar On The Job Training. Penggunaan Alat Total Station Bahan ajar On The Job Training Penggunaan Alat Total Station Direktorat Pengukuran Dasar Deputi Bidang Survei, Pengukuran dan Pemetaan Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 2011 Pengukuran Poligon

Lebih terperinci

BAB ΙΙ LANDASAN TEORI

BAB ΙΙ LANDASAN TEORI 7 BAB ΙΙ LANDASAN TEORI Berubahnya nilai suatu variabel tidak selalu terjadi dengan sendirinya, bisa saja berubahnya nilai suatu variabel disebabkan oleh adanya perubahan nilai pada variabel lain yang

Lebih terperinci

SISTEM KOORDINAT VEKTOR. Tri Rahajoeningroem, MT T. Elektro - UNIKOM

SISTEM KOORDINAT VEKTOR. Tri Rahajoeningroem, MT T. Elektro - UNIKOM SISTEM KOORDINAT VEKTOR Tri Rahajoeningroem, MT T. Elektro - UNIKOM Tujuan Pembelajaran Mahasiswa dapat memahami koordinat vektor Mahasiswa dapat menggunakan sistem koordinat vektor untuk menyelesaikan

Lebih terperinci

LEMBAR KERJA SISWA 1. : Menggunakan Konsep Limit Fungsi Dan Turunan Dalam Pemecahan Masalah

LEMBAR KERJA SISWA 1. : Menggunakan Konsep Limit Fungsi Dan Turunan Dalam Pemecahan Masalah BAB V T U R U N A N 1. Menentukan Laju Perubaan Nilai Fungsi. Menggunakan Aturan Turunan Fungsi Aljabar 3. Menggunakan Rumus Turunan Fungsi Aljabar 4. Menentukan Persamaan Garis Singgung Kurva 5. Fungsi

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Analisis regresi (regression analysis) merupakan suatu teknik untuk membangun

BAB 2 LANDASAN TEORI. Analisis regresi (regression analysis) merupakan suatu teknik untuk membangun BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Regresi Analisis regresi (regression analysis) merupakan suatu teknik untuk membangun persamaan dan menggunakan persamaan tersebut untuk membuat perkiraan (prediction).

Lebih terperinci

PEMBUATAN PROGRAM APLIKASI PERHITUNGAN JARING TRIANGULATERASI UNTUK PENENTUAN KOORDINAT TITIK PANTAU BENDUNGAN MENGGUNAKAN MATLAB R2009A

PEMBUATAN PROGRAM APLIKASI PERHITUNGAN JARING TRIANGULATERASI UNTUK PENENTUAN KOORDINAT TITIK PANTAU BENDUNGAN MENGGUNAKAN MATLAB R2009A PEMBUATAN PROGRAM APLIKASI PERHITUNGAN JARING TRIANGULATERASI UNTUK PENENTUAN KOORDINAT PANTAU BENDUNGAN MENGGUNAKAN MATLAB R009A Rian Stadyanto, Bebas Purnawan, Dessy Apriyanti 3 ABSTRAK Bendungan Sermo

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. (statistik) dinamakan galat baku statistik, yang dinotasikan dengan

TINJAUAN PUSTAKA. (statistik) dinamakan galat baku statistik, yang dinotasikan dengan TINJAUAN PUSTAKA Penduga Titik dan Selang Kepercayaan Penduga bagi parameter populasi ada dua jenis, yaitu penduga titik dan penduga selang atau disebut sebagai selang kepercayaan. Penduga titik dari suatu

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. disebut dengan bermacam-macam istilah: variabel penjelas, variabel

BAB 2 LANDASAN TEORI. disebut dengan bermacam-macam istilah: variabel penjelas, variabel 8 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Regresi Regresi dalam statistika adalah salah satu metode untuk menentukan tingkat pengaruh suatu variabel terhadap variabel yang lain. Variabel yang pertama disebut

Lebih terperinci

Soal-Soal dan Pembahasan Ujian Nasional Matematika Tahun Pelajaran 2010/2011 Program Studi IPA

Soal-Soal dan Pembahasan Ujian Nasional Matematika Tahun Pelajaran 2010/2011 Program Studi IPA Soal-Soal dan Pembahasan Ujian Nasional Matematika Tahun Pelajaran 010/011 Program Studi IPA 1. Akar-akar persamaan 3x -1x + = 0 adalah α dan β. Persamaan Kuadrat baru yang akar-akarnya (α +) dan (β +)

Lebih terperinci

MIKHO HENRI DARMAWAN Ir.CHATARINA N,MT DANAR GURUH.ST,MT

MIKHO HENRI DARMAWAN Ir.CHATARINA N,MT DANAR GURUH.ST,MT STUDI KEANDALAN ALAT ETS TKS 202 DALAM PENGUKURAN SITUASI PENYUSUN : MIKHO HENRI DARMAWAN 3504 100 020 DOSEN PEMBIMBING : DOSEN PEMBIMBING : Ir.CHATARINA N,MT DANAR GURUH.ST,MT Latar Belakang.Perkembangan

Lebih terperinci

BAB II PENGANTAR SOLUSI PERSOALAN FISIKA MENURUT PENDEKATAN ANALITIK DAN NUMERIK

BAB II PENGANTAR SOLUSI PERSOALAN FISIKA MENURUT PENDEKATAN ANALITIK DAN NUMERIK BAB II PENGANTAR SOLUSI PERSOALAN FISIKA MENURUT PENDEKATAN ANALITIK DAN NUMERIK Tujuan Instruksional Setelah mempelajari bab ini pembaca diharapkan dapat: 1. Menjelaskan cara penyelesaian soal dengan

Lebih terperinci

16. INTEGRAL. A. Integral Tak Tentu 1. dx = x + c 2. a dx = a dx = ax + c. 3. x n dx = + c. cos ax + c. 4. sin ax dx = 1 a. 5.

16. INTEGRAL. A. Integral Tak Tentu 1. dx = x + c 2. a dx = a dx = ax + c. 3. x n dx = + c. cos ax + c. 4. sin ax dx = 1 a. 5. 6. INTEGRAL A. Integral Tak Tentu. dx = x + c. a dx = a dx = ax + c. x n dx = n+ x n+ + c. sin ax dx = a cos ax + c 5. cos ax dx = a sin ax + c 6. sec ax dx = a tan ax + c 7. [ f(x) ± g(x) ] dx = f(x)

Lebih terperinci

1. Dengan merasionalkan penyebut, bentuk sederhana dari adalah... D E

1. Dengan merasionalkan penyebut, bentuk sederhana dari adalah... D E 1. Dengan merasionalkan penyebut, bentuk sederhana dari adalah... A. 3-3 + 21-7 21-21 + 7 2. Persamaan (2m - 4)x² + 5x + 2 = 0 mempunyai akar-akar real berkebalikan, maka nilai m adalah... A. -3-3 6 Kunci

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS. Ditorsi radial jarak radial (r)

BAB IV ANALISIS. Ditorsi radial jarak radial (r) BAB IV ANALISIS 4.1. Analisis Kalibrasi Kamera Analisis kalibrasi kamera didasarkan dari hasil percobaan di laboratorium dan hasil percobaan di lapangan. 4.1.1. Laboratorium Dalam penelitian ini telah

Lebih terperinci