IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di PT Tirta Ala Seesta. Perusahaan tersebut berlokasi di Desa Ciburayut, Kecaatan Cigobong, Kabupaten Bogor. Peilihan objek penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) karena PT Tirta Ala Seesta erupakan salah satu produsen air inu keasan beroksigen di Indonesia. Produk yang diproduksi oleh perusahaan adalah AirOx, yaitu air keasan beroksigen tinggi dengan erek AirOx yang kini sudah dipasarkan ke asyarakat. Waktu penelitian dilakukan selaa satu bulan, yaitu pada bulan Maret. 4.2 Jenis dan Suber Data Jenis data yang digunakan dala penelitian ini adalah data prier dan data sekunder. Data prier didapatkan elalui wawancara kepada responden atau inforan perusahaan dengan enggunakan kuesioner. Responden dan inforan perusahaan adalah orang-orang yang terkait dengan pengabilan keputusan anajerial dibidang peasaran dan orang-orang yang terlibat dala operasional peasaran dan produksi perusahaan. Data sekunder erupakan pelengkap dari data prier. Data sekunder diperoleh dari studi literatur yang berhubungan dengan ateri penelitian. Studi literatur yang berhubungan dengan ateri penelitian. Studi literatur dilakukan pada perpustakaan, database perusahaan (gabaran uu perusahaan dan dokuen perusahaan), Badan Pusat Statistik, buku-buku penelitian dan bukubuku lainnya yang berhubungan dengan ateri penelitian. 4.3 Teknik Pengupulan Data Untuk keperluan atriks banding berpasangan, aka akan dilakukan beberapa hal sebagai berikut: a. Observasi, yaitu elakukan pengaatan langsung terhadap proses peasaran produk ulai dari produksi, distribusi dan jalur-jalur peasarannya, berbagai
kegiatan proosi, dan segala hal yang enyangkut kebutuhan penyusunan strategi bauran peasaran. b. Wawancara, yaitu elakukan wawancara dengan pihak-pihak perusahaan yang terkait, seperti bagian peasaran, bagian analisa data, distributor, beberapa dealer resi perusahaan (distribution channel ) yang ditunjuk oleh distributor untuk endapatkan inforasi yang lengkap dan akurat. c. Kepustakaan, elakukan studi literatur baik yang ada di perusahaan (seperti laporan penjualan, laporan bulanan) ataupun yang berada di luar perusahaan seperti BPS, internet, penelitian-penelitian terdahulu, dan lainnya. d. Pengisian kuesioner, yaitu dengan eberikan kuesioner kepada epat orang responden sebagai orang yang dianggap benar-benar engetahui perasalahan yang berhubungan dengan penentuan strategi bauran peasaran perusahaan, sehingga akan didapat hasil yang obyektif. Responden tersebut erupakan para pengabil keputusan engenai peilihan dan pelaksanaan strategi bauran peasaran untuk perusahaan. Keepat orang responden tersebut yaitu factory anager unit produksi, supervisor arketing unit distribusi, senior arketing support dan supervisor arketing support unit peasaran. Pengisian kuesioner dilakukan oleh responden dengan panduan penulis. Penyusunan odel hierarki dibuat secara terstruktur, artinya dibuat terlebih dahulu dan selanjutnya didiskusikan pada pihak perusahaan agar sesuai dengan keadaan perusahaan. 4.4 Metode Pengolahan Data Data dan inforasi yang diperoleh keudian diolah. Tujuannya untuk enyederhanakan data yang terkupul dari hasil pengisian kuesioner oleh responden, enyajikan dala susunan yang baik dan rapi untuk dianalisis. Pengolahan data diperlukan untuk enterjeahkan angka-angka yang didapat dari hasil penelitian. Untuk endapatkan hasil yang akurat dala upaya eperoleh strategi bauran peasaran yang efektif dan efisien bagi perusahaan, aka digunakan etode Analytical Hierarcy Process (AHP). Beberapa keuntungan yang diperoleh 51
bila eecahkan persoalan dan engabil keputusan dengan enggunakan AHP adalah: a. AHP eberikan satu odel tunggal yang udah diengerti, luwes untuk aneka raga persoalan tidak terstruktur. b. AHP eadukan ancangan deduktif dan ancangan berdasarkan siste dala eecahkan persoalan kopleks. c. AHP dapat enangani saling ketergantungan eleen-eleen dala suatu siste dan tidak eaksakan peikiran linier. d. AHP encerinkan kecenderungan alai pikiran untuk eilah-ilah eleen-eleen dala suatu siste dala berbagai tingkat berlainan dan engelopokkan unsur yang serupa dala setiap tingkat. e. AHP eberi suatu skala untuk engukur hal-hal dan terwujud suatu etode untuk enetapkan prioritas. f. AHP elacak konsistensi logis dari pertibangan-pertibangan yang digunakan untuk enetapkan berbagai prioritas. g. AHP enuntun kesuatu taksiran enyeluruh tentang kebaikan setiap alternatif. h. AHP epertibangkan prioritas-prioritas relatif dari berbagai faktor siste dan eungkinkan organisasi eilih alternaftif terbaik berdasarkan tujuantujuan ereka. i. AHP tidak eaksakan konsensus, tetapi ensintesiskan suatu hasil yang representatif dari berbagai penilaian yang berbeda. j. AHP eungkinkan organisasi eperhalus definisi ereka pada suatu persoalan dan eperbaiki pertibangan dan pengertian ereka elalui pengulangan. Berdasarkan kerangka kerja AHP, penelitian ini diawali dengan observasi hingga pengupulan data dan inforasi elalui wawancara dengan pihak anajeen. Berdasarkan data dan inforasi yang terkupul tersebut keudian akan diklasifikasikan dan selanjutnya dibuat struktur hierarki. Struktur hierarki yang telah disusun enjadi dasar untuk pebuatan kuesioner yang diberikan kepada epat responden di atas. Kuesioner diberikan untuk engetahui pebobotan setiap eleen pada seluruh tingkat struktur hierarki. AHP diperlukan 52
untuk penentuan bobot bagi eleen di satu tingkat yang akan berpengaruh pada bobot eleen pada tingkat di bawahnya dan pada akhirnya etode AHP dapat digunakan untuk enghitung bobot pada setiap level untuk penilaian tujuan seluruhnya. Data hasil kuesioner yang diperoleh dari responden diproses dengan enggunakan progra koputer Expert Choice Version 2000. Progra ini erupakan progra yang disusun oleh Asian Institute of Technology and Microsoft Co. Hasil pengolahan ini keudian dianalisis dan disajikan dala bentuk uraian gabar dan tabel. Delapan langkah kerja utaa AHP (Saaty, 1993), disajikan di bawah ini. 1) Mendefinisikan persoalan dan erinci peecahan persoalan yang diinginkan. Hal yang perlu diperhatikan dala langkah ini adalah penguasaan asalah secara endala, karena akan enjadi perhatian adalah peilih tujuan, kriteria, dan eleen-eleen yang enyusun struktur hierarki. Tidak terdapat prosedur yang pasti untuk engidentifikasi koponen-koponen siste, seperti tujuan, kriteria, dan aktifitas-aktifitas yang akan dilibatkan dala suatu struktur hierarki. Koponen-koponen siste dapat diidentifikasi berdasarkan keapuan pada analisis untuk eneukan unsur-unsur yang dapat dilibatkan dala suatu siste. 2) Mebuat struktur hierarki dari sudut pandang anajeen secara keseluruhan. Hierarki erupakan abstraksi struktur suatu siste yang epelajari interaksi antar koponen dan dapaknya terhadap siste. Abstraksi ini epunyai bentuk yang saling berkaitan, tersusun dari sasaran utaa, sub-sub tujuan, faktor-faktor pendorong yang epengaruhi sub-sub siste tujuan tersebut, pelaku-pelaku yang eberi dorongan, tujuan-tujuan pelaku dan akhirnya ke alternatif strategis, pilihan atau skenario. Penyusunan hierarki berdasarkan jenis keputusan yang diabil. Pada tingkat puncak hierarki hanya terdiri dari satu eleen yang disebut di bawahnya dapat terdiri dari beberapa eleen yang dibagi dala kelopok hoogen, agar dapat dibandingkan dengan eleeneleen yang berada pada tingkat sebelunya. Struktur hierarki dapat dilihat pada Gabar 8. 53
Tingkat 1 Fokus G Tingkat 2 Faktor Fn Fn Fn Fn Tingkat 3 Pelaku A 1 A 1 A 1 A 1 Tingkat 4 Tujuan O 1 O 1 O 1 O 1 Tingkat 5 Skenario S 1 S 1 S 1 S 1 Gabar 8. Model Struktur Hierarki Suber: Saaty,1993 Berdasarkan teori struktur hierarki di atas, keudian dapat diperoleh odel struktur hierarki untuk penentuan strategi bauran peasaran PT Tirta Ala Seesta yang dapat dilihat pada Gabar 11. 3) Menyusun atriks banding berpasangan Matriks banding berpasangan untuk kontribusi atau pengaruh setiap eleen yang relevan atas setiap kriteria yang berpengaruh yang berada setingkat di atasnya. Matriks banding berpasangan diulai dari puncak hierarki untuk fokus G, yang erupakan dasar untuk elakukan perbandingan antar eleen yang terkait yang ada di bawahnya. Perbandingan berpasangan pertaa dilakukan pada eleen tingkat kedua (F1,F2,F3,...Fn) terhadap fokus G yang ada di puncak hierarki. Menurut perjanjian, suatu eleen yang ada di sebelah kiri suatu eleen di puncak atriks. 4) Mengupulkan seua pertibangan yang diperlukan untuk pengebangan perangkat atriks di langkah tiga. Pada langkah ini dilakukan perbandingan berpasangan antara setiap variabel pada kolo ke-j dengan setiap variabel pada baris ke-i yang berhubungan dengan fokus G. Perbandingan berpasangan antar variabel tersebut dapat dilakukan dengan pertanyaan: Seberapa kuat variabel baris ke-i didoinasi 54
oleh fokus G, dibandingkan dengan kolo ke-j?. Untuk engisi atriks berpasangan, digunakan skala banding yang tertera pada Tabel 6. Tabel 6. Nilai Skala Banding Berpasangan Intensitas Pentingnya Definisi Penjelasan 1 Kedua eleen saa pentingnya Dua eleen enyubangkan saa 3 5 7 9 2,4,6,8 Kebalikan Suber : Saaty (1993) Eleen yang satu sedikit lebih penting daripada eleen yang lainnya Eleen yang satu sangat penting daripada eleen yang lainnya Satu eleen jelas lebih penting daripada eleen lainnya Satu eleen utlak lebih penting daripada eleen lainnya besar pada sifat itu Pengalaan dan pertibangan sedikit enyokong atas eleen yang lainnya Pengalaan dan pertibangan dengan kuat enyokong satu eleen atas eleen yang lainnya Satu eleen dengan kuat disokong dan doinannya telah terlihat dala praktek Bukti yang enyokong eleen yang satu atas yang lainnya eiliki tingkat penegasan yang tertinggi yang ungkin enguatkan Nilai-nilai diantara dua Koproi diperlukan di pertibangan yang berdekatan antara dua pertibangan Jika untuk aktivitas i endapat satu angka bila dibandingkan dengan aktivitas j, aka j eiliki nilai kebalikannya bila dibandingkan dengan i 5. Measukkan nilai-nilai kebalikannya beserta bilangan 1 sepanjang diagonal utaa, penentuan prioritas dan pengujian konsistensi. Angka 1 sapai 9 digunakan bila F1 lebih endoinasi atau epengaruhi sifat fokus puncak hierarki (G) dibandingkan dengan Fj. Sedangkan bila Fi kurang endoinasi atau kurang epengaruhi sifat G dibandingkan dengan Fj, aka digunakan kebalikannya. Matriks di bawah garis diagonal utaa diisi dengan nilai-nilai kebalikannya. Untuk tahap 6-8, dapat diolah enggunakan koputer dengan progra koputer Expert Choice Version 2000. 55
6. Melaksanakan langkah 3,4,5 untuk seua eleen pada setiap tingkat keputusan yang terdapat pada hierarki, berkenaan dengan kriteria eleen di atas Matriks pebandingan dala etode AHP dibedakan enjadi dua, yaitu: Matriks Pendapat Individu (MPI) dan Matriks Pendapat Gabungan (MPG). MPI adalah atriks hasil perbandingan yang dilakukan individu. MPI eiliki eleen yang disibolkan aij yaitu eleen atriks pada baris ke-i dan kolo ke-j. Matriks Pendapat Individu dapat dilihat pada Gabar 9. G A1 A2 A3... An A1 a11 a12 a13... a1n A2 a21 a22 a23... a2n................ An an1 an2 an3... Ann Gabar 9. Matriks Pendapat Individu Suber : Saaty (1993) MPG adalah susunan atriks baru yang eleen (Gij) berasal dari rata-rata geoetrik pendapat-pendapat individu yang rasio inkonsistensinya lebih kecil atau saa dengan 10 persen, dan setiap eleen pada baris dan kolo yang saa dari MPI yang satu dengan MPI yang lain tidak terjadi konflik. Matriks Pendapat Gabungan dapat dilihat pada Gabar 10. G G1 G2 G3... Gn G1 G11 G12 G13... G1n G2 G21 G22 G23... G2n G3 G31 G32 G33... G3n.................. Gn Gn1 Gn2 Gn3... Gnn Gabar 10. Matriks Pendapat Gabungan Suber : Saaty (1993) Ruus ateatika yang digunakan untuk eperoleh rata-rata geoetrik adalah : 56
( ) gij = C a ij k k =1 diana : G ij (aij) C k = 1 = Eleen MPG baris ke-1 kolo ke-j = Eleen baris ke-i dari MPI ke-k = Julah MPI yang eenuhi persyaratan = Perkalian dari eleen k = 1 sapai k= = Akar pangkat dari 7. Mensintesis prioritas untuk elakukan pebobotan vektor-vektor prioritas Menggunakan koposisi secara hierarki untuk ebobotkan vektor-vektor prioritas itu dengan bobot kriteria-kriteria, dan enjulahkan seua nilai prioritas terbobot yang bersangkutan dengan nilai prioritas dari tingkat bawah berikutnya dan seterusnya. Pengolahan atriks pendapat terdiri dari dua tahap, yaitu: (1) Pengolahan horizontal dan (2) Pengolahan Vertikal. Kedua jenis pengolahan tersebut dapat dilakukan untuk MPI dan MPG. Pengolahan vertikal dilakukan setelah MPI dan MPG diolah secara horizontal, diana MPI dan MPG harus eenuhi persyaratan Rasio Inkonsistensi. a. Pengolahan horisontal bertujuan untuk elihat prioritas suatu eleen terhadap tingkat yang persis berada satu tingkat di atas eleen tersebut, yang terdiri dari tiga bagian, yaitu penentuan vektor prioritas (Rasio Vektor Eigen), uji konsistensi, dan revisi MPI dan MPG yang eiliki rasio inkonsistensi tinggi. Tahapan perhitungan yang dilakukan pada pengolahan horozontal ini adalah: 1) Horizontal baris (Z) dengan ruus: (ij = 1, 2, 3,..., ) ( ) Zi = C a ij k =1 57
2) Perhitungan vektor prioritas atau eigen vector adalah: VPI = k = i a i= 1 k = i ij a ij 3) Perhitungan nilai eigen aks dengan ruus: VA = (a ij ) x VP, dengan VA = (Va i ) VB = VA / VP, dengan VB = (Vb i ) λ = 1 aks Vb i i= k, untuk i = 1, 2, 3,..., 4) Perhitungan indeks konsistensi (CI) dengan ruus: λ CI = aks, untuk i = 1, 2, 3,..., n 1 5) Perhitungan rasio inkonsistensi (CR) adalah: CI CR = RI RI = Indeks acak (rando index) yang dikeluarkan oleh Oak Ridge Laboratory (Saaty, 1993) dari atriks berorde 1-15 yang enggunakan contoh berukuran 100 Nilai Rasio Inkonsistensi (CR) yang lebih kecil atau saa dengan 0,1 erupakan nilai yang epunyai tingkat konsistensi yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini dikarenakan CR erupakan tolok ukur bagi konsisten atau tidaknya suatu hasil perbandingan berpasangan dala suatu atriks pendapat (Saaty, 1993). b. Pengolahan Vertikal, yaitu enyusun prioritas pengaruh setiap eleen pada tingkat hierarki keputusan tertentu terhadap sasaran utaa atau fokus. Apabila CVij didefinisikan sebagai nilai prioritas pengaruh eleen ke-j pada tingkat ke-i terhadap sasaran utaa, aka : 58
CVij = CHij( t, i 1) xvwt( i 1) Untuk : i = 1,2,3,...,n j = 1,2,3,...,n t = 1,2,3,...,n Diana : Chij (t,i-1) = nilai prioritas pengaruh eleen ke-i terhadap eleen ke-t pada tingkat di atasnya (i-1), yang diperoleh dari hasil perhitungan horisontal. VWt(i-1) = nilai prioritas pengaruh eleen ke-t pada tingkat ke- (i-1) terhadap sasaran utaa, yang diperoleh dari hasil perhitungan horisontal. 8. Mengevaluasi konsistensi untuk seluruh hierarki. Langkah ini dilakukan dengan engalikan setiap indeks konsistensi dengan prioritas kriteria yang bersangkutan dan enjulahkan hasil kalinya. Hasil ini dibagi dengan pernyataan sejenis enggunakan indeks acak, yang sesuai dengan diensi asing-asing atriks. Dengan cara yang saa, setiap indeks acak juga dibobot berdasarkan prioritas kriteria yang bersangkutan dan hasilnya dijulahkan. Rasio konsistensi ini harus bernilai 10 persen atau kurang. Jika tidak, utu inforasi harus ditinjau kebali dan diperbaiki, antara lain dengan eperbaiki cara enggunakan pertanyaan pada saat pengisian ulang kuesioner dan dengan lebih engarahkan responden pada perbandingan berpasangan. 59