Bab II TEORI ENCOUNTER PLANET

dokumen-dokumen yang mirip
Bab III KONSEP PELUANG TABRAKAN ASTEROID DENGAN BUMI

Bab IV ANALISIS CLOSE APPROACH BEBERAPA ASTEROID BERBAHAYA

TE Teknik Numerik Sistem Linear

Bab III Aplikasi Efek Radiasi Termal Pada Asteroid

Bab 1 : Skalar dan Vektor

dengan vektor tersebut, namun nilai skalarnya satu. Artinya

BAB 1 BESARAN VEKTOR. A. Representasi Besaran Vektor

BESARAN VEKTOR. Gb. 1.1 Vektor dan vektor

Kalkulus Multivariabel I

a menunjukkan jumlah satuan skala relatif terhadap nol pada sumbu X Gambar 1

KINEMATIKA. Fisika. Tim Dosen Fisika 1, ganjil 2016/2017 Program Studi S1 - Teknik Telekomunikasi Fakultas Teknik Elektro - Universitas Telkom

Keep running VEKTOR. 3/8/2007 Fisika I 1

Matematika II : Vektor. Dadang Amir Hamzah

Transformasi Datum dan Koordinat

Bab 3 (3.1) Universitas Gadjah Mada

3. ORBIT KEPLERIAN. AS 2201 Mekanika Benda Langit. Monday, February 17,

Jenis Gaya gaya gesek. Hukum I Newton. jenis gaya gesek. 1. Menganalisis gejala alam dan keteraturannya dalam cakupan mekanika benda titik.

, ω, L dan C adalah riil, tunjukkanlah

BAB 1 Vektor. Fisika. Tim Dosen Fisika 1, Ganjil 2016/2017 Program Studi S1 - Teknik Telekomunikasi Fakultas Teknik Elektro - Universitas Telkom

Dr. Ramadoni Syahputra Jurusan Teknik Elektro FT UMY

KEDUDUKAN DUA GARIS LURUS, SUDUT DAN JARAK

Diferensial Vektor. (Pertemuan III) Dr. AZ Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

DINAMIKA ORBIT ASTEROID YANG ANALOG DENGAN ORBIT BUMI

1. (25 poin) Sebuah bola kecil bermassa m ditembakkan dari atas sebuah tembok dengan ketinggian H (jari-jari bola R jauh lebih kecil dibandingkan

VEKTOR. Oleh : Musayyanah, S.ST, MT

Kinematika Gerak KINEMATIKA GERAK. Sumber:

K 1. h = 0,75 H. y x. O d K 2

PERSAMAAN BIDANG RATA

DINAMIKA ORBIT ASTEROID 2012 DA14 PASCAPAPASAN DEKAT DENGAN BUMI

B.1. Menjumlah Beberapa Gaya Sebidang Dengan Cara Grafis

Dinamika. DlNAMIKA adalah ilmu gerak yang membicarakan gaya-gaya yang berhubungan dengan gerak-gerak yang diakibatkannya.

BAB II VEKTOR DAN GERAK DALAM RUANG

Vektor di ruang dimensi 2 dan ruang dimensi 3

VEKTOR. Besaran skalar (scalar quantities) : besaran yang hanya mempunyai nilai saja. Contoh: jarak, luas, isi dan waktu.

BAB 3 DINAMIKA GERAK LURUS

VEKTOR. 45 O x PENDAHULUAN PETA KONSEP. Vektor di R 2. Vektor di R 3. Perkalian Skalar Dua Vektor. Proyeksi Ortogonal suatu Vektor pada Vektor Lain

Fisika Dasar 9/1/2016

Karena hanya mempelajari gerak saja dan pergerakannya hanya dalam satu koordinat (sumbu x saja atau sumbu y saja), maka disebut sebagai gerak

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

SOAL&PEMBAHASAN MATEMATIKATKDSAINTEK SBMPTN. yos3prens.wordpres.com

BAB I BESARAN DAN SATUAN

PERSAMAAN GARIS LURUS

BAB 3 DINAMIKA. Tujuan Pembelajaran. Bab 3 Dinamika

1. a) Kesetimbangan silinder m: sejajar bidang miring. katrol licin. T f mg sin =0, (1) tegak lurus bidang miring. N mg cos =0, (13) lantai kasar

fi5080-by-khbasar BAB 1 Analisa Vektor 1.1 Notasi dan Deskripsi

BAB 3 PENANGANAN JARINGAN KOMUNIKASI MULTIHOP TERKONFIGURASI SENDIRI UNTUK PAIRFORM-COMMUNICATION

Outline Vektor dan Garis Koordinat Norma Vektor Hasil Kali Titik dan Proyeksi Hasil Kali Silang. Geometri Vektor. Kusbudiono. Jurusan Matematika

BAB 3 ASTEROID DAN POTENSI BENCANA

Bab 1 Vektor. A. Pendahuluan

L mba b ng n g d a d n n n o n t o asi Ve V ktor

DIKTAT MATEMATIKA II

Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 36

Catatan Kuliah FI1101 Fisika Dasar IA Pekan #8: Osilasi

Gambar 4.1 Macam-macam Komponen dengan Bentuk Kompleks

BINOVATIF LISTRIK DAN MAGNET. Hani Nurbiantoro Santosa, PhD.

Esther Wibowo

KINEMATIKA GERAK 1 PERSAMAAN GERAK

MODUL 2 GARIS LURUS. Mesin Antrian Bank

8. Nilai x yang memenuhi 2 log 2 (4x -

Telaah Evolusi Orbit 42 Asteroid PHAs

SP FISDAS I. acuan ) , skalar, arah ( ) searah dengan

BESARAN, SATUAN & DIMENSI

Analisis Fisika Mekanis Sederhana pada Permainan Billiard

Xpedia Matematika. Kapita Selekta Set 05

BAB IV HASIL - HASIL PENGOLAHAN DATA DAN ANALISIS

VEKTOR. Gambar 1.1 Gambar 1.2 Gambar 1.3. Liduina Asih Primandari, S.Si., M.Si.

Pengertian Fungsi. MA 1114 Kalkulus I 2

Bab V. Untuk menentukan besarnya kecepatan suatu titik yang bergerak. terhadap sebuah badan yang juga bergerak, perhatikan titik B yang

fungsi Dan Grafik fungsi

Bab IV Tes Evolusi Orbit Asteroid

Antiremed Kelas 11 FISIKA

Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 1. Integral Lipat Dua Atas Daerah Persegipanjang

Open Source. Not For Commercial Use. Vektor

B a b 2. Vektor. Sumber:

SISTEM KOORDINAT SISTEM TRANSFORMASI KOORDINAT RG091521

ANGKA UKUR. Angka ukur diletakan di tengah-tengah garis ukur. Angka ukur tidak boleh dipisahkan oleh garis gambar. Jadi boleh ditempatkan dipinggir.

Operasi Eliminasi Gauss. Eliminasi Gauss adalah suatu cara mengoperasikan nilai-nilai di dalam

BAB III TURUNAN DALAM RUANG DIMENSI-n

Uji Kompetensi Semester 1

(A) 3 (B) 5 (B) 1 (C) 8

GAYA GESEK. Gaya Gesek Gaya Gesek Statis Gaya Gesek Kinetik

: METODE GRAFIK. Metode grafik hanya bisa digunakan untuk menyelesaikan permasalahan dimana hanya

2 H g. mv ' A, x. R= 2 5 m R2 ' A. = 1 2 m 2. v' A, x 2

Theory Indonesian (Indonesia) Sebelum kalian mengerjakan soal ini, bacalah terlebih dahulu Instruksi Umum yang ada pada amplop terpisah.

Vektor-Vektor. Ruang Berdimensi-2. Ruang Berdimensi-3

Vektor di Bidang dan di Ruang

BAB II PELENGKUNG TIGA SENDI

SISTEM KOORDINAT SISTEM TRANSFORMASI KOORDINAT RG091521

Relasi Empirik Diameter Asteroid Dengan Fenomena Tsunami Dan Gempa

Bagian 7 Koordinat Kutub

Jika titik O bertindak sebagai titik pangkal, maka ruas-ruas garis searah mewakili

ANTIREMED KELAS 11 FISIKA

SOAL SELEKSI OLIMPIADE SAINS TINGKAT KABUPATEN/KOTA 2016 CALON TIM OLIMPIADE ASTRONOMI INDONESIA 2017

MODUL 3 BIDANG RATA. [Program Studi Pendidikan Matematika STKIP PGRI Sumatera Barat]

PENGANTAR KALKULUS PEUBAH BANYAK. 1. Pengertian Vektor pada Bidang Datar

GAMBAR PROYEKSI ORTOGONAL

2.2 kinematika Translasi

BAB I VEKTOR DALAM BIDANG

1/32 FISIKA DASAR (TEKNIK SIPIL) KINEMATIKA. menu. Mirza Satriawan. Physics Dept. Gadjah Mada University Bulaksumur, Yogyakarta

Transkripsi:

Bab II TEORI ENCOUNTER PLANET Terdapat beberapa populasi asteroid di tata surya. Populasi terbesar berada pada sabuk utama yang terletak di antara orbit Mars dan orbit Jupiter (Main Belt Asteroids, MBAs). Ada kategori Asteroid yang berada pada ruang dekat Bumi (Near Earth Asteroids, NEAs) yaitu Atens, Apollos, dan Amors. Dari kategori tersebut Atens dan Apollos memiliki orbit yang memotong orbit Bumi, sedangkan Amors menyinggung orbit Bumi, yang ada kalanya memiliki lintasan orbit yang berpotongan dengan orbit Bumi. Dengan demikian kebolehjadian asteroid-asteroid tersebut untuk berpapasan dengan Bumi akan tinggi. Asteroid-asteroid berbahaya bagi Bumi atau Potentially Hazardous Asteroids (PHAs) didefinisikan sebagai asteroid yang dianggap berbahaya bagi Bumi dengan ketentuan memiliki jarak kurang dari 0.05 AU dan mempunyai ukuran lebih dari 150 meter. 2.1 Target Plane Ketika asteroid memotong atau menyinggung lintasan Bumi pada jarak dekat, ada bidang geosentrik yang tegak lurus terhadap bidang lintasan orbit. Bidang tersebut menjadi fundamental untuk benda kecil yang berpapasan dengan planet. Bidang ini adalah Target Plane yang didefinisikan sebagai bidang yang tegak lurus (ortogonal) terhadap bidang lintasan orbit Bumi dan lintasan orbit asteroid yang asimtotik saat bersinggungan. 4

Sistem koordinat saat berpapasan berdasarkan planetosentrik (sistem ruang planet), yakni menggunakan sumbu koordinat (ξ, η, ζ), sedangkan tata koordinat Target Plane memakai sumbu koordinat (ξ, ζ) (lihat gambar 2.1). Sumbu ζ adalah sumbu berlawanan dari proyeksi arah gerak kecepatan planet, sumbu η adalah sejajar dengan arah gerak kecepatan asteroid dan sumbu ξ adalah sistem orientasi yang mengikutinya (cross product) dari kedua sumbu. Sumbu ξ dinyatakan sebagai MOID karena arah sumbu ini menuju asteroid, nilai ξ dan ζ akan menjadi parameter tumbukan (impact parameter, b). Kemudian sumbu ζ selanjutnya akan berkaitan dengan waktu. Pada gambar 2.1 ditunjukkan model Target Plane jika dilihat dari arah kedatangannya. Target Plane ini merupakan bidang yang tegak lurus terhadap orbit asteroid dan orbit Bumi ketika kedua benda tersebut sangat dekat, sehingga dipandang kedua lintasan obyek ini asimtotik. Pada gambar ini orbit Bumi dinyatakan dengan warna biru dan untuk asteroid adalah dengan orbit berwarna merah. Bidang target tersebut sebagai bidang yang akan dilewati oleh asteroid dan Bumi saat berpapasan (encounter). Bidang ini menjadi fudamental pada situasi close encounter karena menyangkut beberapa parameter close approach seperti Line of Variations, Resonant Returns, dan Keyholes. Salah satu kegunaan Target Plane adalah menganalisis peluang tumbukan asteroid dengan Bumi dan seberapa dekat asteroid melintasi Bumi. Target Plane memetakan posisi benda kecil (asteroid) ketika melintasi Bumi pada jarak terdekat. Dari sini didapat beberapa informasi yang salah satunya adalah impact parameter. 5

Gambar 2.1: Model Target Plane, Bumi, dan asteroid. 2.2 Minimum Orbital Intersection Distance Salah satu tinjauan masalah asteroid yang berbahaya bagi Bumi adalah dengan menghitung MOID (Minimum Orbital Intersection Distance). MOID didefinisikan sebagai jarak minimum antara dua orbit ketika dua benda tersebut berada pada titik nodal. Nominal MOID memiliki jarak minimum dengan Bumi kurang dari 0.05 AU (Milani et al. 2003). Perhitungan MOID sangat penting untuk studi kasus sebab akan menjadi masalah utama dalam peluang asteroid menabrak Bumi (Sitarski 1968). Konsep perhitungannya dipakai untuk mencari jarak minimum antar orbit ketika encounter. Pada gambar 2.2 diberikan lintasan dua orbit yakni orbit Bumi (yang memotong sumbu Z) dan orbit asteroid yang memiliki vektor kecepatan U. Keduanya terpisah sebesar sudut φ. Vektor kecepatan planetosentrik untuk sistem benda kecil mengikuti persamaan Carusi et al (1990): U x U y U z ± 2 1/a a(1 e 2 ) = a(1 e2 ) cos i 1 ± a(1 e 2 ) sin i (2.1) dengan kecepatan planetosentrik adalah 6

Gambar 2.2: Gambar orbit asteroid dan orbit Bumi (Valsecchi et al. 2003). U = 3 1 a 2 a(1 e 2 ) cos i, (2.2) atau dapat ditulis U = 3 T, dengan T = 1/a + 2 a(1 e 2 ) cos i adalah parameter Tisserand. Pada gambar 2.2 orbit Bumi dan orbit asteroid membetuk sudut θ dan φ, maka jika diproyeksikan akan membetuk U x U y U z U sinθ sinφ = U cosθ. (2.3) U sinθ cosφ Jika asteroid datang ke titik nodal pada waktu tertentu t 0, akan diperoleh sistem persamaan gerak yang bergantung waktu t. Sehingga persamaannya mengikuti X(t) U x (t t 0 ) + X 0 Usinθ sinφ (t t 0 ) + X 0 Y (t) = U y (t t 0 ) + Y 0 = Ucosθ (t t 0 ) + Y 0. (2.4) Z(t) U z (t t 0 ) Usinθ cosφ (t t 0 ) Persamaan (2.1) mengacu pada koordinat planetosentrik ketika asteroid berada asimtotik dengan Bumi saat keduanya pada titik nodal t 0, yaitu X 0 = 7

X(t 0 ). Jarak antar titik nodal adalah Y 0 = Y (t 0 ). Dari persamaan tersebut akan dapat diperoleh nilai MOID dengan mengeliminasi (Y Y 0 )/U y = (t t 0 ) pada persamaan (2.4) sehingga menjadi X = Z (U x/u y )(Y Y 0 ) + X 0 (U z /U y )(Y Y 0 ). (2.5) Bila didefinisikan ω = Y Y 0, modulus jarak akan bergantung Y, maka D y (ω) 2 = X 2 + Z 2 = U 2 x + U 2 z U 2 y ω 2 + 2 U x U y X 0 ω + X 2 0. (2.6) Turunan pertama persamaan (2.6) berbentuk d(d 2 y) dω = 2U2 x + U 2 z U 2 y ω + 2 U x U y X 0. (2.7) Agar mencapai nilai minimum maka turunan pertama harus sama dengan nol d(dy) 2 = 0, sehingga ω = U xu y X Ux 2 + Uz 2 0. (2.8) Dengan demikian diperoleh nilai minimum sebagai berikut [ Dy 2 = X0 2 1 U ] x 2 = X Ux 2 + U 0cos 2 2 φ, (2.9) z 2 dengan U = Vektor kecepatan asteroid φ = sudut antara orbit asteroid dan Bumi θ = sudut yang dibentuk vektor kecepatan U X, Y, Z = koordinat planetosentrik X 0, Y 0, Z 0 = koordinat planetosentrik saat t 0 8

Nilai MOID yang bergantung pada X 0 dan φ diberikan oleh Bonnano (2000). Selanjutnya D y = X 0 cosφ, (2.10) dengan D y = nilai MOID. Asteroid akan melintasi Bumi pada jarak antar orbit sejauh MOID. Pada Target Plane nilai MOID berada pada sumbu ξ, sehingga ξ = X 0 cosφ. 2.3 Line of Variations Pada pertengahan abad 19, Le Varrier menghitung variasi garis orbit Komet Lexell. Beliau mengidentifikasi sebaran garis orbit (sekarang disebut Line of Variations) Komet Lexell yang akan melintasi planet Jupiter. Jika kita mengamati asteroid yang termasuk berpotensi berbahaya bagi Bumi maka kita tidak akan tahu secara pasti orbit asteroid. Tetapi kita dapat mengamati pergerakan asteroid dan memperkirakan lintasan orbitnya, bahkan kita dapat memprediksi lintasan orbit di masa yang akan datang. Prediksi posisi asteroid tersebut masih sangat kasar (kebolehjadian asteroid melintasi orbit masih rendah). Hanya ada satu yang pasti dilintasi secara nyata oleh asteroid dari keragaman lintasan orbit tersebut, dan variasi daerah tersebut masih belum diketahui. Definisi Line of Variations (LOV) adalah variasi daerah garis orbit yang akan dilintasi oleh asteroid ketika close encounter dengan Bumi. Ketidakpastian variasi orbit ini masih tinggi. Ada beberapa solusi garis orbit pada LOV tetapi hanya ada satu alternatif jalur yang akan dilewati oleh asteroid saat itu. Sampel LOV sangat efektif digunakan untuk identifikasi lintasan yang akan dilewati asteroid (ephemeris). Prediksi ini dipakai ketika asteroid akan melintasi Bumi. Identifikasi orbit asteroid akan dipetakan memanjang pada Target 9

Plane saat asteroid berpapasan dengan Bumi. Daerah tersebut menjadi fundamental karena asteroid hanya akan melintasi daerah yang teridentifikasi. LOV dapat dipergunakan pula untuk impact monitoring, yakni mengamati keberadaan gerak asteroid melintasi Bumi. Sampai sejauh mana asteroid berpapasan dengan Bumi dan pengaruh gerak asteroid karena gravitasi Bumi. Jika diasumsikan posisi variasi (LOV) orbit asteroid dipetakan seperti pada gambar 2.3, sebaran garis orbit asteroid terpisah dengan Bumi pada jarak distance. Kemudian LOV memiliki daerah ketidakpastian (uncertainty region) dengan ketebalan width. Rentang ketebalan tersebut dinamakan sigma LOV, yaitu rentang jalur lintasan orbit yang terbaik pada observasi. Biasanya sigma LOV berada pada rentang -3 dan +3, dan 0 adalah kebolehjadian lintasan orbit yang tertinggi. Sigma impact adalah rentang peluang asteroid menabrak Bumi, mengikuti hubungan (distance - R Earth )/width. Jika sigma impact bernilai nol maka LOV berpotongan dengan Bumi. Gambar 2.3: Model Line of Variations. (http://neo.jpl.nasa.gov/risk/doc/sentry.html) 10

Pada tugas akhir ini, diambil contoh Asteroid 2004 VD 17 untuk menunjukkan pendefinisian dan letak Line of Variations (LOV). Asteroid ini akan berjumpa dengan Bumi pada 7 Novenber 2041 pada jarak minimum 0.013 AU (sekitar 5.13 jarak Bumi-Bulan). Ini adalah salah satu hasil keluaran dari software OrbFit, yaitu betuk geometri Target Plane untuk berbagai asteroid. Gambar 2.4 adalah Target Plane dengan sumbu mendatar adalah ξ dan sumbu tegak adalah ζ; kedua sumbu tersebut memiliki satuan Astronomical Unit (AU). LOV Asteroid 2004 VD 17 terletak di kanan atas (warna merah) pada Target Plane, yaitu sebuah garis yang merupakan variasi daerah yang akan dilewati oleh asteroid ini. Bumi berada pada titik (0,0), dan rentang antara garis tersebut dengan Bumi menunjukkan jarak minimum ketika encounter. Asteroid 2004 VD 17 akan melintas tegak lurus terhadap bidang ini dan hanya melintas sepanjang variasi garis pada Target Plane. Kebolehjadian asteroid ini untuk melintas pada titik tengah dari garis tersebut lebih tinggi dibanding jika melintas pada sisi sebelah kiri atau sisi sebelah kanannya. Gambar 2.4: LOV Asteroid 2004 VD 17 (diberi tanda panah) saat encounter pada 7 November 2041. 11

2.3.1 Volume of Variations Ada bentuk lain dari metode perhitungan statistika orbit yaitu Volume of Variations (VOV). VOV merupakan pengembangan dari konsep Line of Variations, (LOV), yang didefinisikan sebagai variasi volume ketika asteroid berpapasan dengan Bumi. Artinya tinjauan VOV adalah tiga dimensi, sedangkan LOV pada dua dimensi. VOV dipakai untuk mempelajari asteroid ketika masa transisi (ketika asteroid asimtotik dengan Bumi) sehingga lebih relevan atau nyata dipergunakan untuk menghitung peluang tabrakan dengan Bumi dan dalam mengidentifikasi asteroid yang dianggap berbahaya. VOV sangat mirip dengan LOV karena sama-sama berawal menggunakan aproksimasi linier. Parameter yang dipakai pada sampel VOV adalah elemen orbit dan elemen Cartesian yang dipetakan ke dalam (X, Y, Z, Ẋ, Ẏ, Ż). Kemudian semua parameter tersebut dipetakan sehingga memberikan rentang variasi dalam tiga dimensi (Muinonen et al. 2006). 12