DINAMIKA ORBIT ASTEROID YANG ANALOG DENGAN ORBIT BUMI
|
|
|
- Yenny Gunardi
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 164 Jurnal Sains Dirgantara Vol. 7 No. 2 Juni 2010 : DINAMIKA ORBIT ASTEROID YANG ANALOG DENGAN ORBIT BUMI B. Dermawan *), T. Hidayat *), M. Putra *), A. Fermita **), D. T. Wahyuningtyas **), D. Mandey **), Z. Hudaya ***), dan D. Utomo ***) *) Kelompok Keilmuan Astronomi, FMIPA Institut Teknologi Bandung, **) Program Pasca Sarjana Astronomi, FMIPA Institut Teknologi Bandung ***) Alumnus Program Sarjana Astronomi, FMIPA Institut Teknologi Bandung [email protected] ABSTRACT A set of asteroids that belong to Atens and Apollos groups which orbits are crossing the Earth at 1 AU is known as Earth-like-Orbit Asteroids. As of 1 July 2009, there were 19 Earth-like-Orbit Asteroids listed at the JPL (Jet Propulsion Laboratory NASA) Small-Body Database. Orbital dynamics of five new asteroids among them (2008 EV 5, 2008 JE, 2008 KT, 2008 UA 202, and 2008 UC 202) have not been studied yet. This study is important because they are asteroids belonging to potentially hazardous objects. High accuracy orbital integrations for a time-span of 1000 to yr have been conducted to figure out their evolutionary tracks. Our results show that high inclination Earth-like-Orbit Asteroids of more than ~5 degrees tend to be more dynamically stable than those of lower orbital inclination which often switch over from Atens to Apollos and vice versa. Four new Earth-like-Orbit Asteroids are found to have potential collisions with Earth because they will encounter the Earth at minimum distances of less than 0.01 AU. Keywords: Asteroids, Orbit dynamics, Hazardous objects ABSTRAK Salah satu kelompok asteroid dekat-bumi pada grup Atens dan Apollos yang orbitnya memotong orbit Bumi pada daerah 1 AU adalah kelompok asteroid yang orbitnya analog dengan orbit Bumi (asteroidanalog-bumi). Sampai 1 Juli 2009 terdapat 19 asteroid-analog-bumi pada tabulasi JPL (Jet Propulsion Laboratory NASA) Small-Body Database. Dari jumlah ini terdapat lima asteroid baru (2008 EV 5, 2008 JE, 2008 KT, 2008 UA 202, dan 2008 UC 202) yang belum pernah ditelaah dinamika orbitnya. Telaah dinamika orbit asteroid-analog-bumi menjadi penting karena termasuk salah satu kelompok asteroid yang berpotensi menabrak Bumi (hazardous objects). Melalui perhitungan orbit berakurasi tinggi sepanjang waktu 1000 sampai tahun dari
2 Dinamika Orbit Asteroid yang Analog...(B. Dermawan et al.) sekarang, dinamika orbit asteroid-analog-bumi tersebut diperiksa. Hasilnya menunjukkan bahwa dinamika asteroid-analog-bumi dengan inklinasi orbit lebih dari ~5 derajat cenderung lebih stabil daripada yang berinklinasi lebih rendah, yang kerap sangat dinamis berpindah dari grup Atens ke Apollos atau sebaliknya. Empat asteroid baru analog-bumi diketahui akan berpotensi bertabrakan dengan Bumi karena akan melintas pada jarak kurang dari 0.01 SA. Kata kunci: Asteroids, Dinamika orbit, Hazardous objects 1 PENDAHULUAN Asteroid-asteroid yang mendiami ruang di dekat Bumi dikenal dengan asteroid dekat-bumi, yang dikelompokkan menjadi grup Atiras, Atens, Apollos, dan Amors. Tabel 1-1 memperlihatkan kriteria orbital kelompok asteroid dekat-bumi. Orbit asteroid dekat-bumi ini dapat memotong orbit Bumi pada daerah jarak aphelion Bumi (Q E), jarak perihelion Bumi (q E), atau jarak setengah sumbu-panjang Bumi (a E). Untuk yang terakhir, yakni memotong orbit Bumi pada jarak a E, secara bersamaan hanya dapat dipenuhi oleh asteroid anggota grup Atens dan Apollos. Tabel 1-1: KRITERIA ORBITAL GRUP ASTEROID DEKAT-BUMI Grup Kriteria Orbital Atiras Q < Q E Atens a < a E dan Q > Q E Apollos a > a E dan q < q E Amors q E < q < 1.3 SA Q, q, dan a masing-masing menyatakan jarak aphelion, jarak perihelion, dan setengah sumbu-panjang orbit asteroid. Q E = SA, q E = SA, dan a E = 1.0 SA. Pemeriksaan elemen orbit yang teliti terhadap asteroid anggota grup Atens dan Apollos memperlihatkan bahwa asteroid-asteroid yang memotong orbit Bumi pada jarak a E dapat dibagi lagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok asteroid ko-orbital (co-orbital asteroids) dan asteroid yang orbitnya analog dengan orbit Bumi (Earth-like orbit asteroids, asteroid-analog-bumi). Asteroid ko-orbital memiliki periode orbit yang hampir sama dengan Bumi (dikenal dengan istilah resonansi gerak-rerata orbit 1:1) dan berada pada jarak orbit a E 0.01 SA (Mikkola et al. 2006). Telah diidentifikasi 16 asteroid ko-orbital Bumi (Gallardo 2006) yang dinamika orbitnya dapat dijelaskan melalui solusi permasalahan tiga-benda terbatas, yang meliputi tipe orbit horseshoe, 165
3 Jurnal Sains Dirgantara Vol. 7 No. 2 Juni 2010 : tadpole, dan quasi-satellite (Murray dan Dermott 2005; Mikkola et al. 2006). Kelompok asteroid-analog-bumi mulai ditelaah sekitar satusetengah dekade lalu (Rabinowitz, 1993) dengan istilah Earth-crossing asteroids, yang dipicu oleh temuan asteroid 1991 VG dengan orbit yang sangat mirip dengan orbit Bumi. Studi ini merupakan hasil awal survey asteroid menggunakan teleskop Spacewatch dan lebih menitikberatkan pada distribusi ukuran asteroid. Studi terbaru (Brasser dan Wiegert 2008; Kwiatkowski et al. 2009) menunjukkan bahwa terdapat 14 asteroid anggota asteroid-analog-bumi yang memenuhi kriteria nilai setengah sumbu-panjang a = a E 0.05 SA, eksentrisitas e [0,0.1], dan inklinasi orbit i [0,10 ] (Brasser dan Wiegert, 2008). Bila dilihat dari nilai a, maka dapat saja asteroid ko-orbital (a = a E 0.01 SA) menjadi anggota asteroid-analog-bumi. Untuk itu Brasser dan Wiegert (2008) memberi batasan tambahan bahwa asteroid-asteroid yang sudah mendapat konfirmasi sebagai asteroid ko-orbital tidak dimasukkan menjadi anggota asteroid-analog-bumi. Telaah dinamika orbit asteroid-analog-bumi mendapat perhatian penting karena dengan orbit yang memotong orbit Bumi maka peluang menabrak Bumi tidak dapat diabaikan. Berbeda dengan kelompok asteroid ko-orbital yang mempunyai peluang kecil untuk menabrak Bumi akibat karakter orbit ko-orbitalnya (Murray dan Dermott 2005), kelompok asteroid-analog-bumi merupakan salah satu kelompok yang peluang tabrakan tersebut tidak dapat diabaikan. Dengan demikian telaah dinamika orbit asteroid-analog-bumi menempati posisi penting sebagai kontribusi pengetahuan tentang orbit dari obyek-obyek langit yang berpotensi berbahaya (potentially hazardous objects) bagi Bumi. Telaah dinamika ini mengambil waktu perhitungan yang merentang dari 1000 hingga tahun dari waktu saat ini agar dinamika orbit di masa mendatang dapat diperiksa dengan meninjau kecenderungan perilakunya dari masa lalu. 2 DATA DAN METODE PERHITUNGAN ORBIT Institusi JPL (Jet Propulsion Laboratory NASA) Small-Body Database ( lazim dipergunakan sebagai tempat rujukan utama database asteroid dan komet. Dengan menggunakan layanan search engine dalam situs ini pada 1 Juli 2009 diperoleh 20 asteroid-analog-bumi dengan elemen orbit (termasuk nilai ketidakpastiannya) untuk epoch Modified Julian Date MJD Elemen orbit yang dimaksud adalah a, e, i (pengertian ketiganya telah 166
4 Dinamika Orbit Asteroid yang Analog...(B. Dermawan et al.) diberikan sebelumnya), longitude of ascending-node, argument of perihelion, dan mean anomaly M. Mengikuti kriteria yang diberikan oleh Brasser dan Wiegert (2008) daftar 20 asteroid-analog-bumi ini tidak termasuk asteroid ko-orbital Bumi yang telah mendapat konfirmasi. Pada daftar 20 asteroid-analog-bumi ini terdapat dua asteroid yang diduga merupakan asteroid ko-orbital Bumi (a = a E 0.01 SA), yaitu asteroid 2009 BD dan 2008 UC 202, yang masing-masing memiliki nilai a = dan SA. Pemeriksaan dinamika orbit asteroid 2009 BD menunjukkan bahwa asteroid ini termasuk asteroid ko-orbital dengan tipe orbit horseshoe (Puspitarini dan Dermawan 2010) sepanjang rentang waktu 3000 sampai tahun, sehingga tidak termasuk asteroid yang menjadi obyek penelitian ini meskipun konfirmasi sebagai asteroid ko-orbital belum diputuskan karena masih memerlukan data pengamatan tambahan ( archive.php?view=1&day=25&month=01&year=2009). Berbeda dengan asteroid 2009 BD, meskipun melakukan beberapa kali encounter dengan Bumi, pemeriksaan awal dinamika orbit asteroid 2008 UC 202 tidak menunjukkan karakter ko-orbital. Dengan demikian asteroid 2008 UC 202 termasuk asteroid yang menjadi obyek penelitian ini. Setelah dilakukan pemeriksaan awal orbit asteroid di atas, obyek penelitian ini secara keseluruhan mencakup 19 asteroid-analog-bumi, yang 14 asteroid di antaranya telah diberitakan sebelumnya, yaitu 13 asteroid oleh Wiegert dan Brasser (2008) dan 1 asteroid (2006 RH 120) oleh Kwiatkowski et al. (2009). Meskipun telah diberitakan, telaah 14 asteroid-analog-bumi tersebut tidak memeriksa secara spesifik dinamika orbit masing-masing asteroid. Untuk itu pada penelitian ini dilakukan telaah rinci dinamika orbit dengan melakukan orbital clones pada elemen orbit 19 asteroid-analog-bumi, baik untuk yang telah diberitakan (14 asteroid) dan 5 asteroid anggota baru (2008 EV 5, 2008 JE, 2008 KT, 2008 UA 202, dan 2008 UC 202). 167
5 Jurnal Sains Dirgantara Vol. 7 No. 2 Juni 2010 : Tabel 2-1: BESARAN-DASAR ORBITAL 19 ASTEROID-ANALOG-BUMI UNTUK EPOCH MJD YANG DIPEROLEH PADA 1 JULI 2009 Tabel 2-1 memperlihatkan besaran-dasar orbital 19 asteroidanalog-bumi pada penelitian ini yang diperoleh dari JPL Small-Body Database, yang disusun berdasarkan nilai parameter U untuk masingmasing grup Atens dan Apollos. Parameter U menyatakan kualitas orbit asteroid dengan batas galat orbit tidak lebih dari 4.4 /dekade untuk U = 168 Asteroid a (SA) a e e i ( ) i ( ) ( ) M ( ) M T E MOID (SA) 2008 EV 5* ATE UP ATE SG ATE FR ATE QQ ATE JE* ATE VU ATE CN ATE RH APO VG APO PN APO JY APO BZ APO KT* APO UA 202* APO GP APO DQ APO UC 202* APO XB APO *Anggota baru asteroid-analog-bumi (pekerjaan ini). ATE menunjukkan Atens dan APO untuk Apollos. U Grup
6 Dinamika Orbit Asteroid yang Analog...(B. Dermawan et al.) 1 hingga 2.08 /dekade untuk U = 6. Semakin kecil nilai parameter U maka orbit asteroid tersebut semakin baik diketahui, atau nilai ketidakpastian elemen orbitnya ( ) semakin kecil. Penjelasan rinci tentang parameter U diberikan pada situs IAU (International Astronomical Union) Minor Planet Center ( edu/iau/info/uvalue.html). Besaran T E adalah parameter Tisserand untuk Bumi dengan formula. T E 2 1 e cos i ae a 2, (2-1) a a E yang menunjukkan bahwa asteroid akan lepas dari pengaruh dominasi Bumi bila memiliki nilai T E > 3, seperti pada asteroid 2006 RH 120. Sebelum dan setelah encounter dengan Bumi, nilai T E praktis tidak berubah. Besaran MOID (Minimum Orbital Intersection Distance) adalah jarak terdekat antara orbit asteroid dan orbit Bumi yang umumnya dihitung untuk waktu sekitar 100 tahun ke depan. Potensi tabrakan akan semakin besar bila nilai MOID semakin kecil. Perhitungan dinamika orbit mengambil bentuk masalah N-benda (i,j = 1,,N) yang masing-masingnya memiliki massa m i dengan vektor posisi x i (untuk kartesian: x i, y i, z i) pada waktu tertentu t. Percepatan yang dialami m i akibat tarikan gravitasi oleh massa-massa lainnya (m j) pada sistem adalah 2 N d x Gm i j ( xi x j ) 3, (2-2) 2 dt i, j 1; j i x x i j dengan G adalah tetapan gravitasi. Karena persamaan diferensial (2-2) tidak memiliki solusi analitik, maka lazim digunakan penyelesaian numerik dengan melakukan perhitungan gaya netto yang dialami sebuah massa pada waktu tertentu, yang kemudian dilakukan perhitungan vektor posisi yang baru untuk step waktu kemudian. Demikian selanjutnya sampai rentang waktu perhitungan yang ditentukan. Metode penyelesaian persamaan diferensial (2-2) yang diimplementasikan pada pekerjaan ini adalah Bulirsch-Stoer (BS), yang merupakan metode standar dan sangat akurat pada persoalan dinamika orbit (Bodenheimer et al. 2007). Metode BS mengakomodasi variasi step waktu perhitungan, sehingga dapat dengan akurat menghitung jejak orbit asteroid, khususnya ketika encounter dengan planet. Sebelum menggunakan persamaan (2-2), elemen orbital yang diberikan pada Tabel 2-1 terlebih dahulu diubah menjadi elemen kartesian melalui transformasi standar, yang kemudian pada setiap step waktu perhitungan dapat ditransformasikan kembali menjadi 169
7 Jurnal Sains Dirgantara Vol. 7 No. 2 Juni 2010 : elemen orbital. Paket program Mercury (Chambers 1999), yang biasa dipakai dalam tinjauan dinamika orbit, dipergunakan pada pekerjaan ini dengan memilih implementasi metode BS pada perhitungan numeriknya. Benda masif selain Matahari pada pekerjaan ini melibatkan semua planet terestrial dan Jupiter, dengan dasar pertimbangan bahwa asteroid yang ditinjau berada di daerah dekat-bumi. Asteroid dianggap benda titik massless (bermassa sangat kecil relatif terhadap Matahari dan planet) dan tidak ada interaksi gravitasional atau tabrakan sesamanya. Rentang waktu perhitungan adalah 1000 hingga tahun dan untuk itu diambil step waktu 1/1000 tahun. Step waktu ini dipandang memadai karena periode orbit tercepat pada sistem (Merkurius: 88 hari) disegmentasi sebanyak ~240 tahap perhitungan. Akurasi perhitungan ditinjau dari kekekalan energi-total sistem dan momentum-sudut sistem yang praktis tidak berubah karena dipandang sebagai sistem yang tertutup. Pada pekerjaan ini dicapai akurasi perhitungan dalam orde tidak lebih dari untuk nilai energi-total relatif dan momentum-sudut-total relatif, yaitu dengan mengambil selisih nilai-baru dan nilai-sebelumnya dibagi dengan nilai-sebelumnya. Dengan capaian akurasi ini maka hasil perhitungan numerik pada pekerjaan ini dapat dipertanggungjawabkan dengan baik, dan waktu komputasi dapat beberapa kali lebih cepat daripada menggunakan, misalnya, metode Runge-Kutta orde-4 dengan nilai akurasi yang sama. Telaah dinamika orbit pada pekerjaan ini memerlukan ketelitian nilai elemen orbit. Tabel 2-1 menunjukkan asteroid-analog-bumi dengan nilai optimal elemen orbit dan nilai ketidakpastian yang merupakan sebaran nilai elemen orbit tersebut. Setiap elemen orbit dapat dibuat sebaran nilainya mengikuti sebaran Gaussian ternormalisasi yang dibangun dari nilai. Semakin kecil nilai, semakin sempit sebaran nilai elemen orbitnya. Obyek-obyek yang elemen orbitnya berdasarkan sebaran nilai ini dinamakan sebagai clones dari sebuah asteroid. Pada pekerjaan ini dibuat 100 clones untuk setiap asteroid, sehingga jumlah total clones yang terlibat dalam perhitungan mencapai Secara umum clones dari asteroid yang memiliki nilai parameter U yang kecil akan mempunyai sebaran nilai elemen orbit yang sempit. 3 HASIL PERHITUNGAN DAN DISKUSI Bagian ini akan memaparkan dinamika orbit asteroid-analog- Bumi yang diperoleh dari hasil perhitungan numerik, termasuk tinjauan encounter asteroid dengan Bumi. Setelah itu akan disampaikan 170
8 Dinamika Orbit Asteroid yang Analog...(B. Dermawan et al.) analisis jelajah orbit dari clones asteroid selama rentang waktu perhitungan. 3.1 Dinamika Orbit Asteroid-analog-Bumi Sampel jelajah orbit asteroid-analog-bumi pada rentang waktu dari 1000 sampai tahun diberikan pada Gambar 3-1. Rentang waktu ini direpresentasikan dengan gradasi warna tertentu ke hitam. Sampel jelajah orbit ini mewakili 19 asteroid-analog-bumi yang secara keseluruhan dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu dinamika orbit yang relatif-stabil, pindah-grup, dan chaotic. Dinamika orbit asteroid 2005 CN 61 (grup Atens, gradasi warna merah ke hitam) dan 2002 PN (grup Apollos, jingga ke hitam) termasuk kategori relatif-stabil, tidak berpindah grup, meskipun terjadi variasi elemen orbit a, e, dan i. Orbit asteroid 2006 BZ 147 (hijau ke hitam) merupakan sampel dinamika orbit dengan kategori pindah-grup, dalam hal ini dari Atens ke Apollos. Sampel dinamika orbit dengan kategori chaotic adalah asteroid 1991 VG, yang sangat sering berpindah grup dan encounter dengan Bumi. Gambar 3-1: Sampel jelajah orbit asteroid-analog-bumi yang digambarkan pada plot i vs. a (panel atas) dan e vs. a (panel bawah). Garis tegak putus-putus menyatakan lokasi resonansi gerak-rerata (mean-motion resonances) dengan Venus (2:3V dan 1:2V) dan Bumi (1:1E). Bumi ditunjukkan dengan tanda lingkaran hijau. Kurva titik-garis menyatakan lokasi Q E (pada a < a E; batas daerah Atens) dan q E (pada a > a E; batas daerah Apollos). Kurva titik-titik menyatakan lokasi T E = 3; di bawah kurva ini nilai T E > 3. Jelajah orbit dinyatakan dengan warna yang bergradasi menjadi hitam. Lokasi asteroid saat ini ditunjukkan dengan tanda kotak berwarna 171
9 Jurnal Sains Dirgantara Vol. 7 No. 2 Juni 2010 : Dinamika orbit anggota baru asteroid-analog-bumi secara khusus diperlihatkan pada Gambar 3-2. Anggota baru ini terdiri dari 2 asteroid Atens (2008 EV 5 dan 2008 JE) dan 3 asteroid Apollos (2008 KT, 2008 UA 202, dan 2008 UC 202). Sama dengan penjelasan sebelumnya, gradasi warna ke hitam menunjukkan rentang waktu dari 1000 hingga tahun. Tanda panah kecil berwarna menyatakan runutan jelajah orbit asteroid yang bersesuaian. Jelajah orbit asteroid 2008 EV 5 (gradasi warna merah ke hitam) dan 2008 JE (jingga ke hitam) memperlihatkan dinamika orbit dengan kategori relatif-stabil. Sementara itu, dinamika orbit asteroid 2008 KT (gradasi warna biru ke hitam), 2008 UA 202 (hijau ke hitam), dan 2008 UC 202 (ungu ke hitam) menunjukkan karakter kategori pindah-grup dengan hanya sesekali encounter dengan Bumi pada lokasi a E dan q E. Gambar 3-2: Seperti pada Gambar 3-1, namun untuk anggota baru asteroid-analog-bumi, yaitu 2008 EV5 (merah ke hitam), 2008 JE (jingga ke hitam), 2008 KT (biru ke hitam), 2008 UA202 (hijau ke hitam), dan 2008 UC202 (ungu ke hitam). Panah kecil berwarna menunjukkan arah jelajah orbital asteroid yang bersesuaian Tabulasi rinci kategori dinamika orbit 19 asteroid-analog-bumi diberikan pada Tabel 3-1. Terdapat 2 asteroid (1991 VG dan 2006 RH 120) yang memiliki dinamika orbit dengan kategori chaotic. Pemeriksaan dengan lebih teliti menunjukkan bahwa asteroid 2006 RH 120 lebih chaotic daripada 1991 VG, yaitu dengan rentang jelajah a lebih dari 0.15 SA dan mengisi ruang orbital antara q E-Q E dan T E = 3. Jumlah 172
10 Dinamika Orbit Asteroid yang Analog...(B. Dermawan et al.) berimbang didapati untuk asteroid dengan kategori dinamika orbit pindah-grup (8 asteroid) dan relatif-stabil (9 asteroid). Dari 9 asteroid kategori relatif-stabil ini, asteroid 2005 CN 61, 2007 UP 6, dan 2008 JE menunjukkan evolusi orbit yang sangat stabil pada sebaran lokasi a yang sempit (a 0.15 SA). Tabel 3-1: KATEGORI DINAMIKA ORBIT ASTEROID-ANALOG-BUMI Relatif-stabil Pindah-grup Chaotic 2001 GP 2 APO 2000 SG 344 APO 1991 VG APO 2002 PN APO 2001 FR 85 ATE 2006 RH 120 APO 2005 CN 61 ATE 2006 BZ 147 ATE 2006 DQ 14 APO 2006 JY 26 APO 2006 QQ 56 ATE 2007 XB 23 ATE 2007 UP 6 ATE 2008 KT* APO 2007 VU 6 ATE 2008 UA 202 * APO 2008 EV 5 * ATE 2008 UC 202 * APO 2008 JE* ATE *Anggota baru asteroid-analog-bumi (pekerjaan ini). ATE menunjukkan Atens dan APO untuk Apollos. 3.2 Tinjauan Encounter Asteroid dengan Bumi Salah satu kriteria pada definisi standar bahwa sebuah asteroid termasuk anggota Potentially Hazardous Asteroids (PHAs) adalah nilai MOID asteroid kurang dari 0.05 SA ( neo/pha.html#orbital). Semua asteroid-analog-bumi pada Tabel 2-1 memiliki nilai MOID yang memenuhi kriteria sebagai PHAs. Pada pekerjaan ini didefinisikan bahwa apabila jarak asteroid dengan Bumi mencapai kurang dari 0.01 SA (~4 kali jarak Bumi-Bulan) maka asteroid-analog-bumi memiliki potensi sangat berbahaya bagi Bumi. Batasan 0.01 SA merupakan daerah bola pengaruh gravitasi Bumi, yang dapat menyebabkan asteroid tersebut tertangkap sehingga berpotensi besar menabrak Bumi. Sebagai catatan bahwa asteroidanalog-bumi ini telah diperiksa sebelumnya sebagai asteroid yang tidak termasuk asteroid ko-orbital. Tabel 3-2 memperlihatkan tentang encounter asteroid-analog- Bumi yang akan terjadi pada tahun mendatang. Asteroid 2006 RH 120 akan sangat sering encounter dengan Bumi. Dua asteroid grup Apollos (2002 PN dan 2006 DQ 14) didapati tidak akan melakukan encounter, sedangkan dari grup Atens ada empat asteroid (2007 UP 6, 2006 QQ 56, 2008 JE, dan 2005 CN 61). Empat dari lima asteroid baru analog-bumi (2008 EV 5, 2008 KT, 2008 UC 202, dan 2008 UA 202) termasuk berpotensi membahayakan Bumi; bahkan dua di antaranya (2008 UC 202 dan 2008 UA 202) akan melakukan encounter pada jarak sangat dekat, yaitu ~ SA (~0.7 jarak Bumi-Bulan!). 173
11 Jurnal Sains Dirgantara Vol. 7 No. 2 Juni 2010 : Tabel 3-2: ENCOUNTER ASTEROID-ANALOG-BUMI PADA JARAK 0.01 SA DALAM TAHUN MENDATANG Asteroid Jumlah total encounter Jumlah encounter dalam +100 tahun Jarak minimum (SA) Waktu terjadi (tahun # ) 2008 EV 5 * UP SG FR QQ JE* VU CN RH VG PN JY BZ KT* UA 202 * GP DQ UC 202 * XB *Anggota baru asteroid-analog-bumi (pekerjaan ini). # Waktu terjadi jarak minimum yang dihitung terhadap epoch. Galat tahun. Sebuah catatan penting, bahwa terdapat tiga asteroid lain yang akan encounter dengan Bumi pada jarak yang praktis sama dengan di atas (~0.7 jarak Bumi-Bulan!), yaitu asteroid 2000 SG 344, 2006 RH 120, dan 1991 VG (lihat Tabel 3-2). Kedua asteroid terakhir ini patut mendapat perhatian penting karena memiliki frekuensi encounter yang sangat sering. 3.3 Dinamika Orbit Clones Asteroid-analog-Bumi Pada pekerjaan ini clones dari sebuah asteroid-analog-bumi adalah 100 obyek yang dihasilkan dari sebaran Gaussian dengan menggunakan nilai ketidakpastian yang tersedia untuk setiap elemen orbitnya. Pada pekerjaan ini dilakukan pemantauan dinamika orbit tahun ke depan. Secara umum evolusi orbit obyek clones berkaitan dengan lokasi awal orbitalnya. Obyek dengan inklinasi relatif besar (i > 5 derajat) memperlihatkan dinamika yang lebih stabil daripada obyek dengan inklinasi rendah. Tampak nyata peran 174
12 Dinamika Orbit Asteroid yang Analog...(B. Dermawan et al.) perturbasi Bumi pada daerah q E dan Q E. Selain itu resonansi 2:3V dengan Venus dan 1:1E dengan Bumi (a E) menyebabkan obyek seakan melompat dengan cepat ke daerah di seberang lokasi resonansi. Gambar 3-3 memperlihatkan contoh umum hasil perhitungan evolusi orbit (perubahan warna dari abu-abu ke hitam) obyek clones. Gambar ini memperlihatkan clones dari asteroid baru analog-bumi. Panel atas adalah untuk dinamika orbit yang stabil (grup Atens) karena kelompok clones pada akhir evolusi hanya menyebar tidak begitu luas seperti pada kasus di panel bawah. Tampak bahwa resonansi 2:3V berperan melemparkan sejumlah clones dari kelompok utama asteroid 2008 EV 5. Panel bawah pada Gambar 3-3 ini memperlihatkan evolusi orbit grup Apollos yang clones pada akhir evolusi menjadi jauh lebih luas. Namun demikian, clones dengan inklinasi lebih tinggi (kotak) akan berevolusi dengan sebaran yang lebih sempit daripada clones pada inklinasi rendah (lingkaran dan segitiga). Gambar 3-3: Evolusi orbit clones asteroid baru analog-bumi untuk grup Atens (atas) dan grup Apollos (bawah). Waktu evolusi sampai tahun dinyatakan dengan warna yang berubah dari abu-abu ke hitam. Keterangan gambar sama dengan pada Gambar
13 Jurnal Sains Dirgantara Vol. 7 No. 2 Juni 2010 : Terdapat indikasi bahwa asteroid-analog-bumi grup Atens yang berlokasi seperti pada asteroid 2008 JE memiliki dinamika orbit yang lebih stabil. Indikasi ini dapat dikaitkan dengan adanya fenomena dinamika resonansi sekuler pada daerah ini, yang dikenal dengan resonansi Kozai (Michel 1998). Pemeriksaan dengan waktu integrasi yang lebih panjang diperlukan untuk menjelaskan fenomena ini. 4 KESIMPULAN Perhitungan integrasi orbit asteroid-analog-bumi memperlihatkan bahwa dinamika orbit kelompok asteroid ini umumnya chaotic, yang banyak mendapat gangguan perturbasi Bumi pada q E dan Q E, juga dari resonansi 2:3V dan 1:1E (pada a E). Tiga asteroid-analog-bumi (2005 CN 61, 2007 UP 6, dan 2008 JE) yang merupakan anggota grup Atens memiliki dinamika orbit yang paling stabil, sedangkan dua asteroid (1991 VG dan 2006 RH 120) anggota grup Apollos sangat chaotic pada daerah T E ~ 3. Evolusi obyek clones asteroid-analog-bumi memperlihatkan bahwa asteroid yang memiliki inklinasi tinggi (i > 5 derajat) menunjukkan sebaran clones di akhir evolusi relatif lebih terbatas daripada untuk asteroid dengan inklinasi rendah. Empat dari lima asteroid baru analog-bumi akan melakukan encounter pada jarak kurang dari 0.01 SA. Dua di antaranya (2008 UC 202 dan 2008 UA 202) bahkan akan berada sangat dekat (~ SA) dengan Bumi sehingga berpotensi besar bertabrakan. Penelitian ini mendapati pula bahwa asteroid yang sudah dikenal, 2000 SG 344, 2006 RH 120, dan 1991 VG, akan encounter pada jarak minimum yang praktis sama dengan kedua asteroid baru analog-bumi tersebut. Ucapan Terima Kasih Penelitian ini merupakan bagian dari hasil Program Riset Kelompok Keahlian ITB 2009 dengan kontrak no. 244/K01.7/PL/ DAFTAR RUJUKAN Bodenheimer, P.; G. P. Laughlin; M. Rozyezka; and H. W. Yorke, Numerical Methods in Astrophysics. Taylor & Francis, New York. Brasser, R.; and P. Wiegert, Asteroids on Earth-like Orbits and Their Origin, Mon. Not. R. Astron. Soc., 386, Chambers, J. E., A Hybrid Symplectic Integrator that Permits Close Encounters between Massive Bodies, Mon. Not. R. Astron. Soc., 304, Gallardo, T., Atlas of the Mean Motion Resonances in the Solar System, Icarus, 184,
14 Dinamika Orbit Asteroid yang Analog...(B. Dermawan et al.) Kwiatkowski, T; A. Kryszczyńska; M. Polińska; D. A. H. Buckley; D. O Donoghue; et al., Photometry of 2006 RH 120: An Asteroid Temporary Captured into A Geocentric Orbit, Astron. & Astrophys., 495, Michel, P., Dynamical Behaviour of Near-Earth Asteroids in the Terrestrial Planet Region: The Role of Secular Resonances, Planet. Space. Sci., 46, Mikkola, S.; K. Innanen; P. Wiegert; M. Connors; and R. Brasser, Stability Limits for the Quasi-Satellite Orbit, Mon. Not. R. Astron. Soc., 369, Murray, C. D.; and S. F. Dermott, Solar System Dynamics, Cambridge Univ. Press, New York. Puspitarini, L.; and B. Dermawan, The Orbital Dynamics of Earth's Co-orbital Asteroids in Proceedings of Conference of the Indonesia Astronomy and Astrophysics, (in press/publication). Rabinowitz, D. L., The Size Distribution of the Earth-Approaching Asteroids, The Astrophysical Journal, 407,
EVOLUSI ORBIT CENTAURS DAN TRANS-NEPTUNUS KE BAGIAN DALAM TATA SURYA
102 Jurnal Sains Dirgantara Vol. 8 No. 1 Desember 2010 :102-114 EVOLUSI ORBIT CENTAURS DAN TRANS-NEPTUNUS KE BAGIAN DALAM TATA SURYA B. Dermawan *), Z. Hudaya **), T. Hidayat, M. Putra *), A. Fermita,
Telaah Evolusi Orbit 42 Asteroid PHAs
ISSN: Simposium Nasional Fisika 1 (2015) 1-7 Telaah Evolusi Orbit 42 Asteroid PHAs Judhistira Aria Utama 1*, Waslaluddin 1 Departemen Pendidikan Fisika, FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia *[email protected]
DINAMIKA ORBIT ASTEROID 2012 DA14 PASCAPAPASAN DEKAT DENGAN BUMI
DINAMIKA ORBIT ASTEROID 2012 DA14 PASCAPAPASAN DEKAT DENGAN BUMI Judhistira Aria Utama 1*), Budi Dermawan 2, Taufiq Hidayat 2, Umar Fauzi 3 1 Program Studi Astronomi, Jl. Ganesha 10, Bandung 40132 2 KK
Bab II TEORI ENCOUNTER PLANET
Bab II TEORI ENCOUNTER PLANET Terdapat beberapa populasi asteroid di tata surya. Populasi terbesar berada pada sabuk utama yang terletak di antara orbit Mars dan orbit Jupiter (Main Belt Asteroids, MBAs).
Bab IV Tes Evolusi Orbit Asteroid
Bab IV Tes Evolusi Orbit Asteroid Sebelum tahun 1990 konsep perhitungan evolusi atau integrasi orbit yang banyak dipakai adalah menggunakan konsep time-step seperti Runge-Kutta (Dormand et al. 1987), Bulirsch
Bab IV ANALISIS CLOSE APPROACH BEBERAPA ASTEROID BERBAHAYA
Bab IV ANALISIS CLOSE APPROACH BEBERAPA ASTEROID BERBAHAYA Sebagian besar asteroid yang termasuk kelompok PHAs menimbulkan ancaman dikarenakan orbitnya yang sangat dekat dengan Bumi (kurang dari 0.05 AU)
BAB IV HASIL - HASIL PENGOLAHAN DATA DAN ANALISIS
BAB IV HASIL - HASIL PENGOLAHAN DATA DAN ANALISIS 4.1. Data NEA dan PHA Data NEA dan PHA yang digunakan di sini diambil dari website NASA http://neo.jpl.nasa.gov/elements yang diambil tanggal 25 Juli 2006.
Bab III Aplikasi Efek Radiasi Termal Pada Asteroid
Bab III Aplikasi Efek Radiasi Termal Pada Asteroid Main Belt Asteroids (MBAs) adalah asteroid-asteroid yang mendiami daerah diantara Mars dan Jupiter, yakni 2.0 3.3 AU, yang ditaksir berjumlah sekitar
Bab III KONSEP PELUANG TABRAKAN ASTEROID DENGAN BUMI
Bab III KONSEP PELUANG TABRAKAN ASTEROID DENGAN BUMI Pengamatan asteroid yang dianggap berbahaya bagi Bumi banyak dilakukan melalui program pengamatan, salah satunya adalah (Near Earth Asteroid Program)
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
SOAL OLIMPIADE SAINS NASIONAL ASTRONOMI Ronde : Analisis Data Waktu : 240 menit KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN MENENGAH DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH ATAS
3. ORBIT KEPLERIAN. AS 2201 Mekanika Benda Langit. Monday, February 17,
3. ORBIT KEPLERIAN AS 2201 Mekanika Benda Langit 1 3.1 PENDAHULUAN Mekanika Newton pada mulanya dimanfaatkan untuk menentukan gerak orbit benda dalam Tatasurya. Misalkan Matahari bermassa M pada titik
TELAAH AWAL KEUBAHAN SETENGAH SUMBU PANJANG AKIBAT EFEK YARKOVSKY PADA ASTEROID 3362 KHUFU (1984 QA)
Telaah Awal Keubahan Setengah Sumbu... (E. Soegiartini et al.) TELAAH AWAL KEUBAHAN SETENGAH SUMBU PANJANG AKIBAT EFEK YARKOVSKY PADA ASTEROID 3362 KHUFU (1984 QA) E. Soegiartini, dan S. Siregar Program
TELAAH AWAL KEUBAHAN SETENGAH SUMBU PANJANG AKIBAT EFEK YARKOVSKY PADA ASTEROID 3362 KHUFU (1984 QA)
TELAAH AWAL KEUBAHAN SETENGAH SUMBU PANJANG AKIBAT EFEK YARKOVSKY PADA ASTEROID 3362 KHUFU (1984 QA) E. Soegiartini dan S. Siregar Program Studi Astronomi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
BAB I PENDAHULUAN. yang dihasilkan oleh planet meliputi kecepatan dan posisi setiap saat yang dialami
BAB I PENDAHULUAN Simulasi tentang gerak planet dalam tatasurya merupakan topik yang sangat menarik untuk dilakukan. Simulasi ini akan menggambarkan bagaimana gerak yang dihasilkan oleh planet meliputi
4. Orbit dalam Medan Gaya Pusat. AS 2201 Mekanika Benda Langit
4. Orbit dalam Medan Gaya Pusat AS 2201 Mekanika Benda Langit 4. Orbit dalam Medan Gaya Pusat 4.1 Pendahuluan Pada bab ini dibahas gerak benda langit dalam medan potensial umum, misalnya potensial sebagai
JAWABAN DAN PEMBAHASAN
JAWABAN DAN PEMBAHASAN 1. Dalam perjalanan menuju Bulan seorang astronot mengamati diameter Bulan yang besarnya 3.500 kilometer dalam cakupan sudut 6 0. Berapakah jarak Bulan saat itu? A. 23.392 km B.
3. MEKANIKA BENDA LANGIT
3. MEKANIKA BENDA LANGIT 3.1. ELIPS Sebelum belajar Mekanika Benda Langit lebih lanjut, terlebih dahulu perlu diketahui salah satu bentuk irisan kerucut yaitu tentang elips. Gambar 3.1. Geometri Elips
SOAL SELEKSI OLIMPIADE SAINS TINGKAT KABUPATEN/KOTA 2016 CALON TIM OLIMPIADE ASTRONOMI INDONESIA 2017
HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG SOAL SELEKSI OLIMPIADE SAINS TINGKAT KABUPATEN/KOTA 2016 CALON TIM OLIMPIADE ASTRONOMI INDONESIA 2017 Bidang Astronomi Waktu : 150 menit KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Bab III INTERAKSI GALAKSI
Bab III INTERAKSI GALAKSI III.1 Proses Dinamik Selama Interaksi Interaksi merupakan sebuah proses saling mempengaruhi yang terjadi antara dua atau lebih obyek. Obyek-obyek yang saling berinteraksi dapat
Planet-planet dalam sistem tatasurya kita
Cari planet yuuuk Film-film fiksi ilmiah sering menampilkan impian terpendam akan adanya dunia lain di jagad raya ini. Sejauh mana kebenaran film-film tersebut? Apakah memang ada bumi lain di sistem tatasurya
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DIREKTORAT JENDRAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH UMUM
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DIREKTORAT JENDRAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH UMUM Tes Seleksi Olimpiade Astronomi Tingkat Provinsi 2004 Materi Uji : ASTRONOMI Waktu :
PRISMA FISIKA, Vol. I, No. 1 (2013), Hal. 1-7 ISSN : Visualisasi Efek Relativistik Pada Gerak Planet
PRISMA FISIKA, Vol. I, No. 1 (13), Hal. 1-7 ISSN : 337-8 Visualisasi Efek Relativistik Pada Gerak Planet Nurul Asri 1, Hasanuddin 1, Joko Sampurno 1, Azrul Azwar 1 1 Program Studi Fisika, FMIPA, Universitas
PEKERJAAN RUMAH SAS PERTEMUAN-1 DAN PERTEMUAN-2 A.Pilihan Ganda
PEKERJAAN RUMAH SAS PERTEMUAN-1 DAN PERTEMUAN-2 A.Pilihan Ganda 1. Tinggi bintang dari bidang ekuator disebut a. altitude b. latitude c. longitude d. deklinasi e. azimut 2. Titik pertama Aries, didefinisikan
Relasi Empirik Diameter Asteroid Dengan Fenomena Tsunami Dan Gempa
Relasi Empirik Diameter Asteroid Dengan Fenomena Tsunami Dan Gempa TUGAS AKHIR Karya tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana dari Institut Teknologi Bandung oleh: Dhany Dewantara
BAB 3 ASTEROID DAN POTENSI BENCANA
BAB 3 ASTEROID DAN POTENSI BENCANA Sebagian besar asteroid tipe AAA kini diklaim sebagai kelompok PHA (Potentially Hazardous Asteroids), yaitu kelompok yang berpotensi membahayakan berdasarkan parameter
SOAL SELEKSI OLIMPIADE SAINS TINGKAT KABUPATEN/KOTA 2014 CALON TIM OLIMPIADE ASTRONOMI INDONESIA 2015
HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG SOAL SELEKSI OLIMPIADE SAINS TINGKAT KABUPATEN/KOTA 2014 CALON TIM OLIMPIADE ASTRONOMI INDONESIA 2015 Bidang Astronomi Waktu : 150 menit KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Analisis dan Kontrol Optimal Sistem Gerak Satelit Menggunakan Prinsip Minimum Pontryagin
JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 6, No.2, (2017) 2337-3520 (2301-928X Print) A 45 Analisis dan Kontrol Optimal Sistem Gerak Satelit Menggunakan Prinsip Minimum Pontryagin Putri Saraswati, Mardlijah, Kamiran
Studi Kasus 1. Komet dalam orbit parabola
Daftar Isi Bab 1 Masalah Dua Benda 1.1 Vektor I-1 1.2 Momentum linier, momentum sudut, momen dan gaya I-2 1.3 Potensial bola padat I-5 1.4 Persamaan gerak dua titik massa I-7 1.6 Orbit dalam bentuk polar
BAB 2 ORBIT DAN SIFAT FISIS ASTEROID
BAB 2 ORBIT DAN SIFAT FISIS ASTEROID 2.1 Asteroid Definisi kata Asteroid adalah star-like atau seperti bintang. Definisi ini menjelaskan penampakan visual asteroid dari teleskop namun tidak sesuai dengan
PERBANDINGAN SOLUSI MODEL GERAK ROKET DENGAN METODE RUNGE-KUTTA DAN ADAM- BASHFORD
Prosiding Seminar Nasional Matematika, Universitas Jember, 19 November 2014 376 PERBANDINGAN SOLUSI MODEL GERAK ROKET DENGAN METODE RUNGE-KUTTA DAN ADAM- BASHFORD KUSBUDIONO 1, KOSALA DWIDJA PURNOMO 2,
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
SOAL OLIMPIADE SAINS NASIONAL ASTRONOMI Ronde : Teori Waktu : 240 menit KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN MENENGAH DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH ATAS TAHUN 2014
SOAL UJIAN PRAKTEK ASTRONOMI OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2014 CALON PESERTA INTERNATIONAL EARTH SCIENCE OLYMPIAD (IESO) 2015
SOAL UJIAN PRAKTEK ASTRONOMI OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2014 CALON PESERTA INTERNATIONAL EARTH SCIENCE OLYMPIAD (IESO) 2015 Bidang : KEBUMIAN SUB BIDANG ASTRONOMI Materi : ANALISIS DATA (Langit Mendung)
SELEKSI TINGKAT PROVINSI CALON PESERTA INTERNATIONAL ASTRONOMY OLYMPIAD (IAO) TAHUN 2009
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DIRJEN MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH ATAS SELEKSI TINGKAT PROVINSI CALON PESERTA INTERNATIONAL ASTRONOMY OLYMPIAD (IAO) TAHUN
1. "Ia mempunyai hobi bermain dengan pesawat model " (Benda kecil dengan sifat seperti sesungguhnya)
Bab 1 Pendahuluan 1-1 Definisi Model adalah representasi suatu masalah dalam bentuk yang lebih sederhana agar mudah dikerjakan dan diaplikasikan 1-2 Pengertian-pengertian 1. "Ia mempunyai hobi bermain
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Hak Cipta Dilindungi Undang-undang SOLUSI SOAL UJIAN SELEKSI CALON PESERTA OLIMPIADE SAINS NASIONAL 014 TINGKAT PROVINSI ASTRONOMI Waktu : 180 menit KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL
PENENTUAN GAYA HAMBAT UDARA PADA PELUNCURAN ROKET DENGAN SUDUT ELEVASI 65º
Penentuan Gaya Hambat Udara pada Peluncuran... (Turah Sembiring) PENENTUAN GAYA HAMBAT UDARA PADA PELUNCURAN ROKET DENGAN SUDUT ELEVASI 65º Turah Sembiring Peneliti Pusat Teknologi Penerbangan, LAPAN e-mail:
Satuan Besaran dalam Astronomi. Dr. Chatief Kunjaya KK Astronomi ITB
Satuan Besaran dalam Astronomi Dr. Chatief Kunjaya KK Astronomi ITB Kompetensi Dasar X.3.1 Memahami hakikat fisika dan prinsipprinsip pengukuran (ketepatan, ketelitian dan aturan angka penting) X.4.1 Menyajikan
Oleh : Kunjaya TPOA, Kunjaya 2014
Oleh : Kunjaya Kompetensi Dasar X.3.5 Menganalisis besaran fisis pada gerak melingkar dengan laju konstan dan penerapannya dalam teknologi X.4.5 Menyajikan ide / gagasan terkait gerak melingkar Pengertian
ROTASI BENDA LANGIT. Chatief Kunjaya. KK Atronomi, ITB. Oleh : TPOA, Kunjaya 2014
ROTASI BENDA LANGIT Oleh : Chatief Kunjaya KK Atronomi, ITB KOMPETENSI DASAR XI.3.6 Menerapkan konsep torsi, momen inersia, titik berat dan momentum sudut pada benda tegar (statis dan dinamis) dalam kehidupan
TUGAS APLIKASI NUKLIR DI INDUSTRI KELEBIHAN DAN KEKURANGAN RTG VS SEL SURYA
TUGAS APLIKASI NUKLIR DI INDUSTRI KELEBIHAN DAN KEKURANGAN RTG VS SEL SURYA Muhammad Ilham, Mohamad Yusup, Praba Fitra 10211078, 10211077, 10211108 Program Studi Fisika, Institut Teknologi Bandung, Indonesia
TUGAS 1 ASISTENSI GEODESI SATELIT. Sistem Koordinat CIS dan CTS
TUGAS 1 ASISTENSI GEODESI SATELIT KELAS A Sistem Koordinat CIS dan CTS Oleh : Enira Suryaningsih (3513100036) Dosen : JURUSAN TEKNIK GEOMATIKA FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH
SOAL UJIAN SELEKSI CALON PESERTA OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2016 TINGKAT PROVINSI
HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG SOAL UJIAN SELEKSI CALON PESERTA OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2016 TINGKAT PROVINSI BIDANG ASTRONOMI Waktu : 180 Menit KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL
Masalah Dua Benda. SMA-BPK,Jakarta Barat, 16 Maret oleh Dr. Suryadi Siregar KK-Astronomi,ITB
Masalah Dua Benda oleh Dr. Suryadi Siregar KK-Astronomi,ITB SMA-BPK,Jakarta Barat, 6 Maret 007 6 Maret 007 S.Siregar, Pelatihan Astronomi Hukum Gravitasi G konstanta gravitasi mi massa ke i r jarak m ke
Ikhlasul-pgsd-fip-uny/iad. Tata Surya, sebuah kerajaan di langit
Tata Surya, sebuah kerajaan di langit Kata solar berasal dari bahasa Latin Sol yang artinya Matahari atau Surya. Jadi, yang dimaksud dengan Tata Surya adalah sebutan yang diberikan pada Matahari dan seluruh
ANALIS1S EVOLUSI GRUP SUNSPOTSPD WATUKOSEK UNTUK MEMPEROLEH INDIKATOR KEMUNCULAN FLARE
ANALIS1S EVOLUSI GRUP SUNSPOTSPD WATUKOSEK UNTUK MEMPEROLEH INDIKATOR KEMUNCULAN FLARE Nanang Wldodo, Nur Aenl, Sudan*!, Ahmad Sodlkin, Marian Penelhl Stasiun Pengamat Dirgantara Watukosek, LAPAN ABSTRACT
TUGAS KOMPUTASI SISTEM FISIS 2015/2016. Pendahuluan. Identitas Tugas. Disusun oleh : Latar Belakang. Tujuan
TUGAS KOMPUTASI SISTEM FISIS 2015/2016 Identitas Tugas Program Mencari Titik Nol/Titik Potong Dari Suatu Sistem 27 Oktober 2015 Disusun oleh : Zulfikar Lazuardi Maulana (10212034) Ridho Muhammad Akbar
KOMPUTASI NUMERIK GERAK PROYEKTIL DUA DIMENSI MEMPERHITUNGKAN GAYA HAMBATAN UDARA DENGAN METODE RUNGE-KUTTA4 DAN DIVISUALISASIKAN DI GUI MATLAB
KOMPUTASI NUMERIK GERAK PROYEKTIL DUA DIMENSI MEMPERHITUNGKAN GAYA HAMBATAN UDARA DENGAN METODE RUNGE-KUTTA4 DAN DIVISUALISASIKAN DI GUI MATLAB Tatik Juwariyah Fakultas Teknik Universitas Pembangunan Nasional
PROGRAM PERSIAPAN OLIMPIADE SAINS BIDANG ASTRONOMI 2014 SMA 2 CIBINONG TES 20 MEI 2014
PROGRAM PERSIAPAN OLIMPIADE SAINS BIDANG ASTRONOMI 2014 SMA 2 CIBINONG TES 20 MEI 2014 NAMA PROVINSI TANGGAL LAHIR ASAL SEKOLAH KABUPATEN/ KOTA TANDA TANGAN 1. Dilihat dari Bumi, bintang-bintang tampak
Ikhlasul-pgsd-fip-uny/iad. Pluto, Planet?
Pluto, Planet? Mengapa dinamakan Pluto? Pluto dalam bahasa Yunani berarti Hades, yaitu nama dewa dunia penjahat Yunani. Setelah mendapat banyak usulan pemberian nama planet kesembilan dari sistem tata
KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DITJEN MANAJEMEN PENDIDIKAN MENENGAH DIREKTORAT PEMBINAAN SMA Tes Seleksi Olimpiade Astronomi Tingkat Provinsi 2012 Waktu 180 menit Nama Provinsi Tanggal Lahir.........
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Konstelasi satelit beredar mengelilingi bumi dalam ilmu astrodinamika dipandang sebagai masalah dua benda langit. Seperti halnya bulan, satelit mengelililngi bumi dengan
ANTIREMED KELAS 11 FISIKA
ANTIREED KELAS 11 FISIKA UTS Fisika Latihan 1 Doc. Name: AR11FIS01UTS Version : 2014-10 halaman 1 01. erak sebuah benda memiliki persamaan posisi r = (-6-3t)i + (8 + 4t)j Semua besaran menggunakan satuan
PENGARUH AKTIVITAS MATAHARI PADA KALA HIDUP SATELIT
PENGARUH AKTIVITAS MATAHARI PADA KALA HIDUP SATELIT Thomas DJamaluddJn PenelW BI dang Matahari dan Antariksa, LAPAN ABSTRACT It has been known the effects of solar activities on satellite orbits. However,
KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DITJEN MANAJEMEN PENDIDIKAN MENENGAH DIREKTORAT PEMBINAAN SMA
KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DITJEN MANAJEMEN PENDIDIKAN MENENGAH DIREKTORAT PEMBINAAN SMA Olimpiade Sains Nasional Bidang Astronomi 2012 ESSAY Solusi Teori 1) [IR] Tekanan (P) untuk atmosfer planet
Materi Bumi dan Antariksa)
(Pendalaman Materi Bumi dan Antariksa) Hari/Tanggal : Rabu & Kamis,, 19 & 20 Sep 2007 Waktu : 13.55 11. 45 Penyaji : Drs. Yamin Winduono, M.Pd Tempat : Ruang Plato Brainstorming / Diskusi /Tanya jawab
SOAL PILIHAN GANDA ASTRONOMI 2008/2009 Bobot nilai masing-masing soal : 1
SOAL PILIHAN GANDA ASTRONOMI 2008/2009 Bobot nilai masing-masing soal : 1 1. [SDW] Tata Surya adalah... A. susunan Matahari, Bumi, Bulan dan bintang B. planet-planet dan satelit-satelitnya C. kumpulan
indahbersamakimia.blogspot.com
Tes Seleksi Olimpiade Astronomi Tingkat Provinsi 2007 Materi Uji : Astronomi Waktu : 150 menit Tidak diperkenankan menggunakan alat hitung (kalkultor). Di bagian akhir soal diberikan daftar konstanta yang
Jurnal MIPA 37 (2) (2014): Jurnal MIPA.
Jurnal MIPA 37 (2) (2014): 192-199 Jurnal MIPA http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/jm PENYELESAIAN PERSAMAAN DUFFING OSILATOR PADA APLIKASI WEAK SIGNAL DETECTION MENGGUNAKAN METODE AVERAGING Z A Tamimi
BAB II KAJIAN PUSTAKA. kita. IPA lebih populer dengan istilah sains. Istilah ini merujuk pada suatu
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teoritik 1. Hakekat IPA Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu dari bidang ilmu pengetahuan yang objek kajiannya lingkungan alam yang ada di sekitar kita. IPA
SAINS BUMI DAN ANTARIKSA
SAINS BUMI DAN ANTARIKSA NAMA NIM : 15034038 FISIKA B 2015 : PUTI AULIA MARDIAH GERAK SEMU TAHUNAN MATAHRI A. Latar Belakang di beberapa kasus pada belahan bumi, terjadi perbedaan musim dan perbedaan lama
TATA SURYA Susunan Matahari dan anggota tata surya yang mengitarinya. Anggota Tata Surya:
TATA SURYA Susunan Matahari dan anggota tata surya yang mengitarinya. Anggota Tata Surya: 1. Planet 2. Asteroid 3. Satelit 4. Meteorid 5. Komet Planet Planet adalah benda langit yang tidak dapat memancarkan
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN MENENGAH DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH ATAS
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN MENENGAH DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH ATAS Nama Kelas & Sekolah Provinsi Kabupaten/Kota Tanggal Lahir Tanda Tangan Naskah ini
GANGGUAN PADA SATELIT GSO
GANGGUAN PADA SATELIT GSO Neflia dan Abd. Rachman Peneliti Pusat Pemanfaatan Sains dan Antariksa, LAPAN AB STRACT A truly geostationery orbit will have zero inclination and zero eccentricities and the
SOAL SELEKSI PESERTA OLIMPIADE SAINS NASIONAL BIDANG ASTRONOMI
SOAL SELEKSI PESERTA OLIMPIADE SAINS NASIONAL BIDANG ASTRONOMI Waktu Jumlah Soal : 150 menit : 30 Soal 1. Bintang A memiliki tingkat kecemerlangan tiga kali lebih besar dibandingkan dengan Bintang B. Bintang
Oleh: Dr. Kasiyan, M.Hum. Jurusan Pendidikan Seni Rupa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta 2013
NIRMANA WARNA Oleh: Dr. Kasiyan, M.Hum. Jurusan Pendidikan Seni Rupa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta 2013 WARNA Merupakan kesan yang timbul oleh pantulan cahaya yang ditangkap oleh
Wilfried Suhr Gambar 1. Waktu-waktu kontak dalam peristiwa transit Venus.
TUGAS I ASTROFISIKA (FI 567) BESARAN MENDASAR DALAM ASTRONOMI & ASTROFISIKA: Penentuan 1 AU SEMESTER GANJIL 2014 2015 DOSEN: JUDHISTIRA ARIA UTAMA, M.SI. (KODE: 2582) Dalam aktivitas laboratorium astronomi
BANK SOAL METODE KOMPUTASI
BANK SOAL METODE KOMPUTASI 006 iv DAFTAR ISI Halaman Bio Data Singkat Penulis.. Kata Pengantar Daftar Isi i iii iv Pengantar... Kesalahan Bilangan Pendekatan... 6 Akar-akar Persamaan Tidak Linier.....
ANALISIS SIMULASI GEJALA CHAOS PADA GERAK PENDULUM NONLINIER. Oleh: Supardi. Jurusan Pendidikan Fisika Universitas Negeri Yogyakarta
ANALISIS SIMULASI GEJALA CHAOS PADA GERAK PENDULUM NONLINIER Oleh: Supardi Jurusan Pendidikan Fisika Universitas Negeri Yogyakarta Penelitian tentang gejala chaos pada pendulum nonlinier telah dilakukan.
Info Astronomy JELAJAH SEMESTA. Penerbit Info Astronomy
Info Astronomy JELAJAH SEMESTA Penerbit Info Astronomy JELAJAH SEMESTA Oleh: Info Astronomy Hak Cipta 2013 by Info Astronomy Penerbit Info Astronomy www.infoastronomy.uni.me [email protected] Desain
seperti sebuah bajak, masyarakat Cina melihatnya seperti kereta raja yang ditarik binatang, dan masyarakat Jawa melihatnya seperti bajak petani.
GALAKSI Pada malam yang cerah, ribuan bintang dapat kamulihat di langit. Sesungguhnya yang kamu lihat itu belum seluruhnya, masih terdapat lebih banyak lagi bintang yangtidak mampu kamu amati. Di angkasa
PENELITIAN PRESTASI TERBANG ROKET SONDA SATU TINGKAT RX-320
PENELITIAN PRESTASI TERBANG ROKET SONDA SATU TINGKAT RX-320 Turah Semblring Penellti Pusterapan. LAPAN ABSTRACT Research to find the optimum performance of the rocket is done by using one stage of RX-320
SMP kelas 9 - FISIKA BAB 4. SISTEM TATA SURYALatihan Soal 4.1. (1) Yupiter Berupa gas dan massanya terbesar diantara planet tata surya
1. Perhatikan ciri-ciri planet pada tabel berikut. SMP kelas 9 - FISIKA BAB 4. SISTEM TATA SURYALatihan Soal 4.1 Nama Planet Ciri Ciri (1) Yupiter Berupa gas dan massanya terbesar diantara planet tata
Seabad mencari ETI di MWC-349
2017 Seabad mencari ETI di MWC-349 Suryadi Siregar Astronomy Research Group Center for Advances Sciences Bld Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha 10, Bandung 40132 Indonesia Seabad mencari ETI di MWC-349
PERMODELAN MATEMATIS LINTASAN BOLA YANG BERGERAK DENGAN TOP SPIN PADA OLAH RAGA SEPAK BOLA
1 PERMODELAN MATEMATIS LINTASAN BOLA YANG BERGERAK DENGAN TOP SPIN PADA OLAH RAGA SEPAK BOLA Ridho Muhammad Akbar Jurusan Fisika, Institut Teknologi Bandung, Bandung, Indonesia (15 Juli 2013) Tujuan dari
ANALISIS SOLUSI NUMERIK MODEL GERAK PLANET DENGAN METODE RUNGE-KUTTA SKRIPSI. Oleh. Moh. Ba its Sulthon NIM
ANALISIS SOLUSI NUMERIK MODEL GERAK PLANET DENGAN METODE RUNGE-KUTTA SKRIPSI Oleh Moh. Ba its Sulthon NIM 081810101058 JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS JEMBER
BAB I PENDAHULUAN I.1
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Gaya Gravitasi merupakan gaya yang terjadi antara dua massa yang saling berinteraksi berupa gaya tarik-menarik sehingga kedua benda mengalami percepatan yang arahnya
TATA KOORDINAT BENDA LANGIT. Kelompok 6 : 1. Siti Nur Khotimah ( ) 2. Winda Yulia Sari ( ) 3. Yoga Pratama ( )
TATA KOORDINAT BENDA LANGIT Kelompok 6 : 1. Siti Nur Khotimah (4201412051) 2. Winda Yulia Sari (4201412094) 3. Yoga Pratama (42014120) 1 bintang-bintang nampak beredar dilangit karena bumi berotasi. Jika
Bab 2 Metode Pendeteksian Planet Luar-surya
Bab 2 Metode Pendeteksian Planet Luar-surya Mendeteksi sebuah planet di bintang lain sangat sulit. Cahaya bintang terlalu terang sehingga kalaupun terdapat planet di bintang tersebut, kontras cahaya antara
PENDEKATAN THREE BODY PROBLEMS THEORY UNTUK MENSIMULASIKAN EFEK JUPITER TERHADAP GERAKAN ORBIT BUMI
LAPORAN PENELITIAN BIDANG STUDI/ILMU/KEAHLIAN TANUN ANGGARAN 2011 PENDEKATAN THREE BODY PROBLEMS THEORY UNTUK MENSIMULASIKAN EFEK JUPITER TERHADAP GERAKAN ORBIT BUMI Oleh: Supardi, M.Si dkk JURUSAN PENDIDIKAN
Pengertian Pasang Surut
Pengertian Pasang Surut Pasang surut adalah fluktuasi (gerakan naik turunnya) muka air laut secara berirama karena adanya gaya tarik benda-benda di lagit, terutama bulan dan matahari terhadap massa air
GAYA GESEK. Gaya Gesek Gaya Gesek Statis Gaya Gesek Kinetik
GAYA GESEK (Rumus) Gaya Gesek Gaya Gesek Statis Gaya Gesek Kinetik f = gaya gesek f s = gaya gesek statis f k = gaya gesek kinetik μ = koefisien gesekan μ s = koefisien gesekan statis μ k = koefisien gesekan
DINAMIKA BENDA LANGIT
DINAMIKA BENDA LANGIT CHATIEF KUNJAYA KK A S T R O N O M I, I N S T I T U T T E K N O L O G I B A N D U N G TPOA, Kunjaya 2014 KOMPETENSI DASAR X.3.3 Menganalisis besaran-besaran fisis pada gerak lurus
Antiremed Kelas 11 FISIKA
Antiremed Kelas FISIKA Persiapan UAS - Latihan Soal Doc. Name: K3ARFIS0UAS Version : 205-02 halaman 0. Jika sebuah partikel bergerak dengan persamaan posisi r= 5t 2 +, maka kecepatan rata -rata antara
Dasar-Dasar Gerak dan Lintasan Satelit. Oleh Dr. Suryadi Siregar
Dasar-Dasar Gerak dan Lintasan Satelit Oleh Dr. Suryadi Siregar Program Studi Astronomi Institut Teknologi Bandung 2007 Kata Pengantar Diktat ini disusun untuk membantu mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan
Physic Work sheet Grade XI Semester I. 2. Newton s Law of Gravitation
. Newton s Law of Gravitation the gravitational force between two objects is the attractive force which its magnitude is directly proportional to the mass of each object and inversely proportional to the
B. Analisis Besaran Fisika Pada Gerak Melingkar dengan Laju Konstan
Keingintahuan Di sekeliling kamu ada bermacam-macam benda, seperti batu, kelereng, bola kaki, buah mangga, buah jeruk dan sebagainya. Buatlah contoh tentang gerak lurus berubah beraturan dengan perlambatan
PENGARUH PERUBAHAN NILAI PARAMETER TERHADAP NILAI ERROR PADA METODE RUNGE-KUTTA ORDE 3
PENGARUH PERUBAHAN NILAI PARAMETER TERHADAP NILAI ERROR PADA METODE RUNGE-KUTTA ORDE 3 Tornados P. Silaban 1, Faiz Ahyaningsih 2 1) FMIPA, UNIMED, Medan, Indonesia email: [email protected] 2)
Fisika Dasar I (FI-321)
Fisika Dasar I (FI-321) Topik hari ini (minggu 2) Gerak dalam Satu Dimensi (Kinematika) Kerangka Acuan & Sistem Koordinat Posisi dan Perpindahan Kecepatan Percepatan GLB dan GLBB Gerak Jatuh Bebas Mekanika
OLIMPIADE ASTRONOMI Tingkat Kabupaten/Kota
OLIMPIADE ASTRONOMI Tingkat Kabupaten/Kota - 2016 Copyright (c) 2016 Ridlo W. Wibowo ([email protected]) Sulistiyowati ([email protected]) Solusi ini dibuat tanpa jaminan kesesuaian dengan
Studi Komputasi Gerak Bouncing Ball pada Vibrasi Permukaan Pantul
Studi Komputasi Gerak Bouncing Ball pada Vibrasi Permukaan Pantul Haerul Jusmar Ibrahim 1,a), Arka Yanitama 1,b), Henny Dwi Bhakti 1,c) dan Sparisoma Viridi 2,d) 1 Program Studi Magister Sains Komputasi,
Tata Surya dari Perspektif Ilmu Pengetahuan
Ceramah Umum: DKM Al-Mukarromah Jl. Prof.DR. Ir.Sutami No.50A Bandung 40152 27 Januari 2008/18 Muharram 1429 H Tata Surya dari Perspektif Ilmu Pengetahuan DR.H. Suryadi Siregar DEA 1 2 Evolusi Tata Surya
Ikhlasul-pgsd-fip-uny/iad. Komet
Komet Apakah komet membawa sial? Pada zaman purbakala, komet yang terang merupakan suatu kejadian yang menakutkan. Kemunculan komet dianggap sebagai lambang suatu bencana seperti penyakit pes, kelaparan,
SOAL UJIAN SELEKSI CALON PESERTA OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2013 TINGKAT PROVINSI
SOAL UJIAN SELEKSI CALON PESERTA OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2013 TINGKAT PROVINSI ASTRONOMI Waktu : 180 menit KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN MENENGAH DIREKTORAT PEMBINAAN
BAB III APLIKASI METODE EULER PADA KAJIAN TENTANG GERAK Tujuan Instruksional Setelah mempelajari bab ini pembaca diharapkan dapat: 1.
BAB III APLIKASI METODE EULER PADA KAJIAN TENTANG GERAK Tujuan Instruksional Setelah mempelajari bab ini pembaca diharapkan dapat: 1. Menentukan solusi persamaan gerak jatuh bebas berdasarkan pendekatan
Uji Kompetensi Semester 1
A. Pilihlah jawaban yang paling tepat! Uji Kompetensi Semester 1 1. Sebuah benda bergerak lurus sepanjang sumbu x dengan persamaan posisi r = (2t 2 + 6t + 8)i m. Kecepatan benda tersebut adalah. a. (-4t
3.6.1 Menganalisis momentum sudut pada benda berotasi Merumuskan hukum kekekalan momentum sudut.
I. Kompetensi Inti KI 1: Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. KI 2: Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai),
TES STANDARISASI MUTU KELAS XI
TES STANDARISASI MUTU KELAS XI. Sebuah partikel bergerak lurus dari keadaan diam dengan persamaan x = t t + ; x dalam meter dan t dalam sekon. Kecepatan partikel pada t = 5 sekon adalah ms -. A. 6 B. 55
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN MENENGAH DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH ATAS
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN MENENGAH DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH ATAS Nama Kelas & Sekolah Provinsi Kabupaten/Kota Tanggal Lahir Tanda Tangan Soal A.
