UNIVERSITAS INDONESIA

dokumen-dokumen yang mirip
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO.1 JL. GARUDA NO.47 JAKARTA PUSAT PERIODE 1 MEI 8 JUNI 2012

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA

2017, No Tahun 1997 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3671); 3. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika (

PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 922/MENKES/PER/X/1993 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA PEMBERIAN IZIN APOTIK MENTERI KESEHATAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO.2 JL. SENEN RAYA NO. 66 JAKARTA PUSAT PERIODE 1 MEI 8 JUNI 2012

UNIVERSITAS INDONESIA

PERANAN APOTEKER DI RUMAH SAKIT

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA. Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 TENTANG STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK

UNIVERSITAS INDONESIA

Nomor : 1332/MENKES/SK/X/2002 TENTANG NOMOR. 922/MENKES/PER/X/1993

UNIVERSITAS INDONESIA DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 6 JL. DANAU TONDANO NO.1 PEJOMPONGAN JAKARTA PUSAT PERIODE 2 MEI 8 JUNI 2012

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO.7 JALAN H. JUANDA NO. 30 BOGOR PERIODE 13 FEBRUARI 22 MARET 2012

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA. LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 7 Jl. H. JUANDA NO. 30 BOGOR PERIODE 2 APRIL 11 MEI 2012

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK RAWA PULE JL. KH. M. USMAN NO 46 DEPOK LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 284/MENKES/PER/III/2007 TENTANG APOTEK RAKYAT MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. hidup layak, baik dalam kesehatan pribadi maupun keluarganya termasuk di

a. bahwa apotek dan pedagang eceran obat merupakan pelayanan kesehatan yang dapat dilaksanakan oleh swasta;

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. mewujudkan tercapainya derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat.

UNIVERSITAS INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PEKERJAAN KEFARMASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KESELAMATAN JALAN KESELAMATAN NO. 27 MANGGARAI, JAKARTA SELATAN

UNIVERSITAS INDONESIA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 889/MENKES/PER/V/2011 TENTANG REGISTRASI, IZIN PRAKTIK, DAN IZIN KERJA TENAGA KEFARMASIAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PEKERJAAN KEFARMASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 298 JL. BENDUNGAN HILIR RAYA NO. 41, JAKARTA PUSAT PERIODE 3 MARET 11 APRIL 2014

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PEKERJAAN KEFARMASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong masyarakat untuk semakin memperhatikan derajat

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER MANGGARAI JAKARTA SELATAN

Stabat dalam rangka pembinaan Puskesmas. BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pusat Kesehatan Masyarakat yang disingkat puskesmas adalah unit

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER APOTEK ENDEH JL. PANCORAN TIMUR NO. 37, JAKARTA SELATAN PERIODE 15 JULI 31 AGUSTUS 2013

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PEKERJAAN KEFARMASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU SELATAN. Tahun 2007 No. 15 PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU SELATAN NOMOR 15 TAHUN 2007

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KESELAMATAN JALAN KESELAMATAN NO.27 MANGGARAI JAKARTA SELATAN

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ARAFAH JL. ARAFAH I NO. F/8 VILLA ILHAMI ISLAMIC - TANGERANG PERIODE 8 APRIL 17 MEI 2013

SURVEI KESALAHAN DALAM PENULISAN RESEP DAN ALUR PELAYANANNYA DI APOTEK KECAMATAN AMPEL KABUPATEN BOYOLALI SKRIPSI

TINJAUAN ASPEK ADMINISTRASI PADA RESEP DI TIGA APOTEK DI KABUPATEN PEMALANG PERIODE JANUARI - JUNI 2008 SKRIPSI

MEHTERIKESEHATAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI KESEHAT AN REPUBLIK INDONESIA. Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 TENTANG

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK MEDIKO FARMA JL. PINANG RAYA NO. 10 PONDOK LABU CILANDAK JAKARTA SELATAN

BAB 11: PERBEKALAN FARMASI

GAMBARAN PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK WILAYAH KECAMATAN LAWEYAN KOTA SOLO TAHUN 2007 SKRIPSI

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG IZIN USAHA APOTEK DAN IZIN USAHA PEDAGANG ECERAN OBAT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG IZIN USAHA APOTEK DAN IZIN USAHA PEDAGANG ECERAN OBAT

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO.50 JL. MERDEKA NO.24 BOGOR PERIODE 2 APRIL - 12 MEI 2012

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 2 JL. SENEN RAYA NO. 66, JAKARTA PUSAT

PERATURAN PERUNDANGAN PRAKTEK APOTEKER

UNIVERSITAS INDONESIA

MENTERI KESEHATAN TENTANG

PERATURAN DAERAH KOTA PRABUMULIH NOMOR 3 TAHUN 2006 TENTANG RETRIBUSI PENYELENGGARAAN APOTEK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PRABUMULIH

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1148/MENKES/PER/VI/2011 TENTANG PEDAGANG BESAR FARMASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 889/MENKES/PER/V/2011

UNIVERSITAS INDONESIA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1148/MENKES/PER/VI/2011 TENTANG PEDAGANG BESAR FARMASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

2015, No.74 2 Peredaran, Penyimpanan, Pemusnahan, dan Pelaporan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 T

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masalah kesehatan di Indonesia sebagai salah satu negara berkembang

PENDIRIAN APOTEK. Heru Sasongko, S.Farm.,Apt.

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2017 TENTANG APOTEK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

MENTERI KESEHATAN NOMOR : 918/MENKES/PER/X/1993 TENTANG PEDAGANG BESAR FARMASI

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ERRA MEDIKA JL. TOLE ISKANDAR, DEPOK LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1997 TENTANG PSIKOTROPIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNIVERSITAS INDONESIA

Apoteker berperan dalam mengelola sarana dan prasarana di apotek. Selain itu, seorang apoteker juga harus menjamin bahwa:

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JALAN KARTINI RAYA NO. 34 JAKARTA PUSAT PERIODE 9 APRIL 15 MEI 2012

PEDAGANG BESAR FARMASI. OLEH REZQI HANDAYANI, M.P.H., Apt

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO.55 JALAN KEBAYORAN LAMA NO.34K JAKARTA SELATAN PERIODE 03 APRIL- 10 MEI 2014

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JALAN KARTINI RAYA NO. 34 JAKARTA PUSAT PERIODE 6 FEBRUARI 16 MARET 2012

UNIVERSITAS INDONESIA

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA No.48 JL. MATRAMAN RAYA NO. 55 JAKARTA TIMUR PERIODE 3 APRIL - 30 APRIL 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR : 918/MENKES/PER/X/1993 TENTANG PEDAGANG BESAR FARMASI MENTERI KESEHATAN

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN Nomor : 1191/MENKES/SK/IX/2002

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KESELAMATAN JALAN KESELAMATAN NO. 27 JAKARTA

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ERRA MEDIKA JL. TOLE ISKANDAR No. 4-5 DEPOK LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

UNIVERSITAS INDONESIA

BUPATI BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN BUPATI BANTUL NOMOR 22 TAHUN 2018 TENTANG PENYELENGGARAAN APOTEK

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JL. KARTINI RAYA NO. 34A, JAKARTA PUSAT PERIODE 7 APRIL 16 MEI 2014

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER APOTEK KIMIA FARMA NO. 7, BOGOR PERIODE 2 APRIL 12 MEI 2012

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2014 TENTANG

UNIVERSITAS INDONESIA

satu sarana kesehatan yang memiliki peran penting di masyarakat adalah apotek. Menurut Peraturan Pemerintah No. 35 tahun 2014, tenaga kesehatan

UNIVERSITAS INDONESIA DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 7 JL. IR. H. JUANDA NO. 30, BOGOR LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

Transkripsi:

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 2 JL. SENEN RAYA No. 66 JAKARTA PUSAT PERIODE 1 MEI 8 JUNI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER NENDEN PUSPITASARI, S.Si 1106047221 ANGKATAN LXXIV FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM PROFESI APOTEKER - DEPARTEMEN FARMASI DEPOK JUNI 2012

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 2 JL. SENEN RAYA No. 66 JAKARTA PUSAT PERIODE 1 MEI 8 JUNI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker NENDEN PUSPITASARI, S.Si 1106047221 ANGKATAN LXXIV FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM PROFESI APOTEKER - DEPARTEMEN FARMASI DEPOK JUNI 2012 ii

KATA PENGANTAR Puji syukur atas segala rahmat Allah SWT sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Apotek Kimia Farma No. 2, Senen Jakarta Pusar. Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker ini disusun sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh mahasiswa tingkat profesi pada Program Profesi Apoteker Departemen Farmasi FMIPA Universitas Indonesia untuk menyelesaikan masa studi dan memperoleh gelar apoteker. Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Apotek Kimia Farma No. 2 berlangsung selama periode 1 Mei 8 Juni 2012. Pada kesempatan ini perkenankanlah penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih tak terhingga kepada: 1. Segenap Direksi PT. Kimia Farma Apotek yang telah memberikan kesempatan untuk melaksanakan Praktek Kerja Profesi Apoteker. 2. Ibu Astrid Dwiastuti, S.Si., Apt., selaku Pembimbing yang telah memberikan kesempatan, bimbingan dan pengarahan selama PKPA dan penyusunan laporan PKPA. 3. Ibu Dr. Nelly D. Leswara, M.Sc., Apt selaku pembimbing yang telah memberikan masukan dalam penyusunan laporan ini. 4. Ibu Prof. Dr. Yahdiana Harahap, MS, Apt., selaku Ketua Departemen Farmasi FMIPA UI. 5. Bapak Dr. Harmita, Apt., selaku Ketua Program Profesi Apoteker Departemen Farmasi FMIPA UI. 6. Seluruh staf dan karyawan Apotek Kimia Farma No. 2 Senen yang telah memberikan bantuan, sikap yang ramah, kerja sama yang baik, serta kesempatan dan kepercayaan kepada penulis untuk melakukan pelayanan kefarmasian di apotek selama masa PKPA. 7. Keluarga yang telah memberikan dukungan moril dan materiil sehingga pelaksanaan PKPA dan penyelesaian laporan dapat berjalan lancar. iv

8. Seluruh teman-teman Apoteker Universitas Indonesia angkatan 74 serta semua pihak yang telah memberikan bantuan dan semangat kepada penulis selama pelaksanaan PKPA ini. Semoga Allah SWT memberikan balasan atas segala kebaikan dan jerih payah yang telah dicurahkan. Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan laporan ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Semoga pengetahuan dan pengalaman yang penulis peroleh selama menjalani Praktek Kerja Profesi Apoteker ini dapat memberikan manfaat bagi rekan-rekan sejawat dan semua pihak yang membutuhkan. Depok, Juni 2012 Penulis v

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... ii DAFTAR ISI... vi DAFTAR GAMBAR... viii DAFTAR LAMPIRAN... ix 1. PENDAHULUAN... 1 1.1. Latar Belakang... 1 1.2. Tujuan... 2 2. TINJAUAN PUSTAKA... 3 2.1. Pengertian Apotek... 3 2.2. Landasan Hukum Apotek... 3 2.3. Tugas dan Fungsi Apotek... 4 2.4. Persyaratan Apotek... 4 2.4.1 Bangunan... 7 2.4.2 Sumber Daya Manusia... 7 2.4.3 Perlengkapan... 8 2.5. Tata Cara Pemberian Izin Apotek... 8 2.6. Pengelolaan Apotek... 9 2.7. Pelayanan Apotek... 11 2.7.1 Pelayanan Resep... 12 2.7.2 Promosi dan Edukasi... 14 2.7.3 Pelayanan Residensial... 14 2.8. Pengalihan Tanggung Jawab Apoteker... 14 2.9. Pencabutan Izin Apotek... 15 2.10. Sediaan Farmasi... 16 2.11. Pengelolaan Narkotika... 19 2.12. Pengelolaan Psikotropika... 22 vi

3. TINJAUAN UMUM... 25 3.1. PT Kimia Farma (Persero) Tbk... 25 3.2. PT Kimia Farma Apotek... 26 3.2.1 Visi dan Misi PT Kimia Farma Apotek... 26 3.2.2 Struktur Organisasi PT Kimia Farma Apotek... 26 3.2.3 Bisnis Manajer (BM)... 27 4. TINJAUAN KHUSUS... 33 4.1. Organisasi dan Personalia... 33 4.2. Lokasi... 34 4.3. Tata Ruang... 34 4.4. Tugas dan Tnaggung Jawab Personalia Apoteker... 35 4.5. Kegiatan Operasional... 38 4.6. Kegiatan Teknis Kefarmasian... 38 5. PEMBAHASAN... 45 6. KESIMPULAN DAN SARAN... 51 6.1 Kesimpulan... 51 6.2 Saran... 51 DAFTAR REFERENSI...53 LAMPIRAN... 55 vii

DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1. Penandaan obat bebas... 17 Gambar 2.2. Penandaan obat bebas terbatas... 17 Gambar 2.3. Tanda peringatan pada obat bebas terbatas (P1-P6)... 17 Gambar 2.4. Penandaan obat keras... 18 Gambar 2.5. Penandaan obat narkotika... 18 viii

DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1. Alur Pelayanan Penerimaan Resep... 55 Lampiran 2. Surat Pemesanan Narkotika... 56 Lampiran 3. Surat Pemesanan Psikotropika...... 56 Lampiran 4. Laporan Narkotika...... 57 Lampiran 5. Laporan Psikotropika... 58 Lampiran 6. Plastik Klip dengan Etiket..... 58 Lampiran 7. Kertas Pembungkus Puyer...... 59 Lampiran 8. Etiket Obat Dalam... 59 Lampiran 9. Etiket Obat Luar... 59 Lampiran 10. Label Obat... 60 Lampiran 11. Kwitansi Pembayaran Resep Tunai... 60 Lampiran 12. Kopi Resep... 61 Lampiran 13. Kartu Stok Obat... 62 Lampiran 14. Lay Out Apotek Kimia Farma No.2... 63 ix

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan merupakan salah satu unsur kesejahteraan umum yang dapat diwujudkan melalui pembangunan kesehatan. Pembangunan kesehatan besar artinya bagi pembangunan dan pembinaan sumber daya manusia Indonesia dan sebagai modal bagi pelaksanaan pembangunan nasional. Dengan memperhatikan peranan kesehatan tersebut, maka diperlukan upaya yang memadai bagi peningkatan derajat kesehatan dan pembinaan penyelenggaraan upaya kesehatan secara menyeluruh dan terpadu. Obat sebagai salah satu zat yang digunakan dalam upaya kesehatan pada dasarnya merupakan zat yang berbahaya bagi tubuh jika penggunaannya tidak dilakukan secara tepat apalagi jika disalah gunakan. Untuk itu peredaran obatobatan diatur oleh pemerintah. Pendistribusian obat dilakukan dan diawasi oleh tenaga kesehatan yang ahli di bidangnya dan untuk memperolehnya, maka terdapat sarana khusus yang pendiriannya juga harus mendapat izin pemerintah. Salah satu sarana resmi yang memperoleh izin dari pemerintah untuk mendistribusikan obat obatan ke tangan masyarakat yaitu apotek. Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.51 tahun 2009 disebutkan bahwa apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh Apoteker. Sebagai tempat melakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran perbekalan farmasi, dengan adanya perubahan paradigma diharapkan apotek tidak berfokus kepada pengadaan obat sebagai komoditi tetapi haruslah berubah menjadi pelayanan yang komprehensif dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Oleh sebab itu, apotek memiliki aturan main dan persyaratan yang lebih khusus dan lebih ketat dibandingkan bisnis lainnya, mulai dari tata cara perizinannya, pengelolaannya, sampai dengan pelaporannya. Peranan apoteker sebagai pengelola dan penanggung jawab apotek sangatlah besar mengingat apotek berjalan dengan fungsi ganda yaitu sebagai fungsi bisnis dan fungsi pelayanan kefarmasian. Apoteker diharapkan mampu 1 Universitas Indonesia

2 memberikan keputusan yang tepat untuk setiap masalah di apotek serta dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat, misalnya dalam hal memberikan pelayanan informasi obat yang tepat, aman, dan rasional. Oleh sebab itu seorang apoteker harus terus memperluas ilmunya terutama tentang obat yang terus menerus berkembang dengan pesat, sehingga dapat memperoleh hasil yang maksimal dalam memberikan pelayanan informasi obat yang saat ini telah bergeser orientasinya dari obat ke pasien (patient oriented) dan mengacu kepada pelayanan kefarmasian (pharmaceutical care). Selain itu, seorang apoteker pengelola apotek juga harus memahami manajemen pengelolaan apotek dengan baik. Sehingga sebagai calon Apoteker tidak cukup hanya belajar dari teori akan tetapi perlu mengetahui dan memahami secara langsung. Oleh karena itu, profesi Apoteker perlu dibekali pengetahuan, pemahaman dan aplikasinya. Menyadari pentingnya hal tersebut, mahasiswa Program Profesi Apoteker Departemen Farmasi Universitas Indonesia Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Apotek Kimia Farma yang bertempat di Apotek Kimia Farma 2 Jl. Senen Raya No. 66 Jakarta Pusat. Pelaksanaannya berlangsung mulai tanggal 1 mei 8 Juni 2012. Dengan harapan calon Apoteker mampu menerapkan ilmu yang diperolehnya setelah pelaksanaan PKPA dalam dunia kerja nantinya. 1.2 Tujuan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di apotek Kimia Farma ini bertujuan untuk: 1. Memberikan pemahaman akan fungsi dan peranan apoteker dalam mengelola apotek secara profesional. 2. Menambah dan memperluas pengetahuan serta wawasan calon apoteker agar dapat mengaplikasikan teori yang telah didapat dengan mengamati secara langsung kegiatan rutin, organisasi, manajemen dan pelayanan kesehatan di apotek. Universitas Indonesia

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Apotek Apotek adalah tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi serta perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat (Departemen Kesehatan RI, 2002). Menurut PP No. 51 Tahun 2009, apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh apoteker. Pelayanan kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien. Pekerjaan kefarmasian yang dilakukan meliputi pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan, dan pendistribusian atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan dan obat tradisional. Sediaan farmasi yang dimaksud adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetika. Sebagai salah satu sarana pelayanan kesehatan, maka dalam pelayanannya apotek harus mengutamakan kepentingan masyarakat yaitu menyediakan, menyimpan dan menyerahkan perbekalan farmasi yang bermutu baik. Dalam pengelolaannya, apotek harus dikelola oleh apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker. 2.2 Landasan Hukum Apotek Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan masyarakat yang diatur dalam: 1) Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 tentang pekerjaan kefarmasian. 2) Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1027/MenKes/SK/X/2004 tentang standar pelayanan kefarmasian di apotek. 3 Universitas Indonesia

4 3) Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1332/MenKes/SK/X/2002 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No.922/MenKes/Per/X/1993 tentang ketentuan dan tata cara pemberian izin apotek. 4) Undang Undang No. 5 Tahun 1997 tentang psikotropika. 5) Undang - Undang No. 35 Tahun 2009 tentang narkotika. 6) Peraturan Menteri Kesehatan No. 922/MenKes/Per/X/1993 tentang ketentuan dan tata cara pemberian izin apotek. 7) Undang Undang Kesehatan RI No.36 Tahun 2009 tentang kesehatan. 8) Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1990 tentang masa bakti apoteker, yang disempurnakan dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 184/MenKes/Per/II/1995. 9) Peraturan Pemerintah No.25 Tahun 1980 tentang Perubahan atas PP NO.26 Tahun 1965 tentang apotek. 2.3 Tugas dan Fungsi Apotek Menurut Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1980 tugas dan fungsi apotek adalah sebagai berikut : 1) Tempat pengabdian profesi seorang apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan. 2) Sarana farmasi yang melakukan pengubahan bentuk dan penyerahan obat atau bahan obat. 3) Sarana penyalur perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang diperlukan masyarakat secara meluas dan merata. 4) Sarana pelayanan informasi mengenai perbekalan farmasi kepada masyarakat dan tenaga kesehatan lainnya. 2.4 Persyaratan Apotek Apotek baru yang akan beroperasi harus mempunyai Surat Izin Apotek (SIA) yaitu surat izin yang diberikan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia kepada apoteker atau apoteker yang bekerjasama dengan pemilik sarana untuk menyelenggarakan apotek di suatu tempat tertentu. Izin apotek berlaku untuk seterusnya selama apotek yang bersangkutan masih aktif melakukan kegiatan dan Universitas Indonesia

5 Apoteker Pengelola Apotek dapat melaksanakan pekerjaannya dan masih memenuhi persyaratan (Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1332/MENKES/SK/X/2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan No.922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek, 2002). Apoteker Pengelola Apotek adalah apoteker yang telah diberi Surat Izin Apotek (SIA). Untuk menjadi Apoteker Pengelola Apotek, harus memenuhi persyaratan sebagai berikut (Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek, 1993) : 1) Ijazahnya telah terdaftar pada Departemen Kesehatan. 2) Telah mengucapkan sumpah/janji sebagai apoteker. 3) Memiliki Surat Izin Kerja dari Menteri. 4) Memenuhi syarat-syarat kesehatan fisik dan mental untuk melaksanakan tugasnya sebagai apoteker. 5) Tidak bekerja di suatu perusahaan farmasi dan tidak menjadi Apoteker Pengelola Apotek di apotek lain. Untuk memperoleh SIPA atau SIKA, Apoteker mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota tempat pekerjaan kefarmasian dilaksanakan. Permohonan SIPA atau SIKA harus melampirkan: 1) Fotokopi STRA yang dilegalisir oleh Komite Farmasi Nasional (KFN); 2) Surat pernyataan mempunyai tempat praktek profesi atau surat keterangan dari pimpinan fasilitas pelayanan kefarmasian atau dari pimpinan fasilitas produksi atau distribusi/penyaluran; 3) Surat rekomendasi dari organisasi profesi; dan 4) Pas foto berwarna ukuran 4 x 6 sebanyak 2 (dua) lembar dan 3 x 4 sebanyak 2 (dua) lembar; Dalam mengajukan permohonan SIPA sebagai Apoteker pendamping harus dinyatakan secara tegas permintaan SIPA untuk tempat pekerjaan kefarmasian pertama, kedua, atau ketiga. Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA) adalah bukti tertulis yang diberikan oleh Menteri kepada Apoteker yang telah diregistrasi. Registrasi ini Universitas Indonesia

6 merupakan pencatatan resmi terhadap tenaga kefarmasian yang telah memiliki sertifikat kompetensi dan telah mempunyai kualifikasi tertentu serta diakui secara hukum untuk menjalankan pekerjaan/ praktek profesinya. Sertifikat kompetensi profesi adalah surat tanda pengakuan terhadap kompetensi seorang Apoteker untuk dapat menjalankan pekerjaan/ praktek profesinya di seluruh Indonesia setelah lulus uji kompetensi. Sertifikat kompetensi profesi dikeluarkan oleh organisasi profesi setelah lulus uji kompetensi. Sertifikat kompetensi profesi ini berlaku selama 5 tahun dan dapat dilakukan uji kompetensi kembali setelah habis masa berlakunya. Bagi Apoteker yang baru lulus pendidikan profesi dianggap telah lulus uji kompetensi dan dapat memperoleh sertifikat kompetensi profesi secara langsung. Tata Cara Memperoleh Surat Tanda Registrasi 1) Untuk memperoleh STRA, Apoteker mengajukan permohonan kepada KFN. 2) Surat permohonan STRA harus melampirkan: i. fotokopi ijazah Apoteker; ii. fotokopi surat sumpah/janji Apoteker; iii. fotokopi sertifikat kompetensi profesi yang masih berlaku; iv. surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang memiliki surat izin praktek; v. surat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi; dan vi. pas foto terbaru berwarna ukuran 4 x 6 cm sebanyak 2 (dua) lembar dan ukuran 2 x 3 cm sebanyak 2 (dua) lembar. 3) Permohonan STRA dapat diajukan dengan menggunakan teknologi informatika atau secara online melalui website KFN. Persyaratan pendirian sebuah apotek menurut Peraturan Menteri Kesehatan No.922/MENKES/PER/X/1993 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek yaitu : 1) Untuk mendapatkan izin apotek, apoteker atau apoteker yang bekerjasama dengan pemilik sarana yang telah memenuhi persyaratan harus siap dengan tempat, perlengkapan termasuk sediaan farmasi dan perbekalan lainnya yang merupakan milik sendiri atau milik pihak lain. Universitas Indonesia

7 2) Sarana apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan kegiatan pelayanan komoditi lainnya di luar sediaan farmasi. 3) Apotek dapat melakukan kegiatan pelayanan komoditi lainnya di luar sediaan farmasi. 2.4.1 Bangunan Apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan kegiatan pelayanan dan komoditi lainnya di luar sediaan farmasi. Bangunan apotek harus memiliki ruangan khusus diantaranya ruang penerimaan dan penyerahan resep, ruang tunggu (dibuat seluas dan senyaman mungkin, tenang, bersih, segar, terang, tidak ada nyamuk atau serangga lain yang mengganggu sehingga para pembeli merasa betah dan tidak lelah menunggu. Ruang tunggu dilengkapi dengan ventilasi udara segar atau jika memungkinkan memakai pendingin udara, penerangan yang baik tapi tidak menyebabkan panas, televisi atau musik yang enak didengar supaya para pembeli betah menunggu, jam dinding di tempat yang mudah terlihat oleh pembeli, rak atau lemari etalase yang berisi obat bebas atau produk lainnya dan rak brosur obat atau majalah yang bisa dibaca para pembeli, ruang peracikan sebagai tempat peracikan obat yang telah diresepkan oleh dokter harus tenang, bersih, dan nyaman, ruang administrasi, ruang apoteker sebagai tempat dilaksanakannya konseling dan pelayanan informasi obat bagi pasien, konter kasir dan ruang penjualan obat bebas, serta gudang sebagai tempat penyimpanan obatobatan. 2.4.2 Sumber Daya Manusia Sumber daya manusia yang terdapat di apotek antara lain Apoteker Pengelola Apotek, yaitu apoteker yang telah diberi Surat Izin Apotek (SIA); Apoteker Pendamping, yaitu apoteker yang bekerja di apotek disamping Apoteker Pengelola Apotek dan atau menggantikannya pada jam-jam tertentu pada hari buka apotek; Asisten Apoteker, yaitu mereka yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku berhak melakukan pekerjaan kefarmasian sebagai Asisten Apoteker; personalia lain yang membantu kegiatan di apotek, Universitas Indonesia

8 antara lain juru resep yang membantu Asisten Apoteker dalam menyiapkan obat untuk diracik, pemegang kas/kasir dan petugas kebersihan. 2.4.3 Perlengkapan Perlengkapan yang harus ada di apotek adalah peralatan untuk membuat, mengolah dan meracik obat seperti timbangan, mortir dan alu, gelas ukur dan lainlain; tempat penyimpanan perbekalan farmasi seperti lemari dan rak untuk menyimpan obat, lemari pendingin, lemari khusus untuk menyimpan narkotika dan psikotropika; wadah pengemas dan pembungkus seperti etiket obat; peralatan administrasi seperti blanko pemesanan obat, salinan resep dan kartu stok; buku standar yang berhubungan dengan kegiatan apotek. 2.5 Tata Cara Pemberian Izin Apotek (Departemen Kesehatan, 2002) Ketentuan dan tata cara pemberian izin apotek diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1332/MenKes/SK/X/2002 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No.922/MenKes/Per/X/1993. Izin apotek diberikan oleh Menteri yang kemudian wewenang pemberian izin dilimpahkan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Adapun ketentuannya adalah sebagai berikut: 1) Permohonan izin apotek diajukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan menggunakan contoh formulir APT-1. 2) Dengan menggunakan formulir APT-2 Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selambat-lambatnya 6 (enam) hari kerja setelah menerima permohonan dapat meminta bantuan teknis kepada Kepala Balai POM untuk melakukan pemeriksaan terhadap kesiapan apotek melakukan kegiatan. 3) Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM selambatlambatnya 6 (enam) hari kerja setelah permintaan bantuan teknis dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melaporkan hasil pemeriksaan setempat dengan menggunakan formulir APT-3. 4) Dalam hal pemeriksaan sebagaimana dimaksud di dalam (nomor 2) dan (nomor 3) tidak dilaksanakan, apoteker pemohon dapat membuat surat pernyataan siap melakukan kegiatan kepada Kepala Dinas Kesehatan Universitas Indonesia

9 Kabupaten/Kota setempat dengan tembusan kepada Kepala Dinas Propinsi dengan menggunakan formulir APT-4. 5) Dalam jangka waktu 12 (dua belas) hari kerja setelah diterima laporan hasil pemeriksaan sebagaimana di maksud ayat (3), atau pernyataan ayat (4) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat mengeluarkan Surat Izin Apotek (SIA) dengan menggunakan formulir APT-5. 6) Dalam hal hasil pemeriksaan, Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM dimaksud (nomor 3) masih belum memenuhi syarat, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mengeluarkan Surat Penundaan dengan menggunakan formulir APT-6 dalam waktu 12 (dua belas) hari kerja. 7) Terhadap Surat Penundaan sebagaimana dimaksud dalam (nomor 6), apoteker diberi kesempatan untuk melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi selambat-lambatnya dalam jangka waktu satu bulan sejak tanggal Surat Penundaan. 8) Apabila apoteker menggunakan sarana pihak lain, maka penggunaan sarana dimaksud wajib didasarkan atas perjanjian kerjasama antara apoteker dan pemilik sarana. 9) Pemilik sarana yang dimaksud (nomor 8) harus memenuhi persyaratan tidak pernah terlibat dalam pelanggaran peraturan perundang-undangan dibidang obat sebagaimana dinyatakan dalam surat penyataan yang bersangkutan. 10) Terhadap permohonan izin apotek dan Apoteker Pengelola Apotek (APA) atau lokasi tidak sesuai dengan pemohon, maka Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam jangka waktu selambat-lambatnya 12 hari kerja wajib mengeluarkan surat penolakan disertai dengan alasannya dengan menggunakan formulir APT-7. 2.6 Pengelolaan Apotek (Departemen Kesehatan RI, 1993) Pengelolaan Apotek adalah seluruh upaya dan kegiatan Apoteker untuk melaksanakan tugas dan fungsi pelayanan apotek. Pengelolaan apotek dapat dibagi menjadi 2, yaitu pengelolaan teknis farmasi dan pengelolaan non teknis farmasi. Universitas Indonesia

10 Pengelolaan teknis kefarmasian meliputi : 1) Pembuatan, pengelolaan, peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran, penyimpanan, dan penyerahan obat atau bahan obat. 2) Pengadaan, penyimpanan, penyaluran, penyerahan perbekalan farmasi lainnya. 3) Pelayanan informasi mengenai perbekalan farmasi yang meliputi : i. Pelayanan informasi mengenai perbekalan farmasi lainnya yang diberikan baik kepada dokter, tenaga kesehatan lainnya, maupun kepada masyarakat. ii. Pengamatan dan pelaporan mengenai khasiat, keamanan, bahaya dan/atau mutu obat serta perbekalan farmasi lainnya. Pengelolaan non teknis kefarmasian meliputi semua kegiatan administrasi, keuangan, personalia, pelayanan komoditi selain perbekalan farmasi dan bidang lainnya yang berhubungan dengan fungsi apotek. Seorang APA dituntut untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan memadai yang tidak hanya dalam bidang farmasi tetapi juga dalam bidang lain seperti manajemen agar dapat mengelola apotek dengan baik dan benar. Prinsip dasar manajemen yang perlu diketahui oleh seorang APA dalam mengelola apoteknya, yaitu : 1) Perencanaan, yaitu pemilihan dan penghubungan fakta serta penggunaan asumsi untuk masa yang akan datang dengan jalan menggambarkan dan merumuskan kegiatan yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan. 2) Pengorganisasian, yaitu menyusun atau mengatur bagian-bagian yang berhubungan satu dengan lainnya, dimana tiap bagian mempunyai suatu tugas khusus dan berhubungan secara keseluruhan. 3) Kepemimpinan, yaitu kegiatan untuk mempengaruhi dan memotivasi pegawainya agar berusaha untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 4) Pengawasan, yaitu tindakan untuk mengetahui hasil pelaksanaan untuk kemudian dilakukan perbaikan dalam pelaksanaan kerja agar segala kegiatan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sehingga tujuan yang diinginkan dapat tercapai Universitas Indonesia

11 2.7 Pelayanan Apotek (Departemen Kesehatan RI, 1993) Peraturan yang mengatur tentang Pelayanan Apotek adalah Peraturan Menteri Kesehatan No. 922/MENKES/PER/X/1993 yaitu : 1) Apoteker berkewajiban menyediakan, menyimpan dan menyerahkan perbekalan farmasi yang bermutu baik dan yang keabsahannya terjamin; 2) Apoteker wajib melayani resep dokter, dokter gigi dan dokter hewan. Pelayanan resep ini sepenuhnya atas dasar tanggung jawab Apoteker Pengelola Apotek, sesuai dengan tanggung jawab dan keahlian profesinya yang dilandasi pada kepentingan masyarakat; 3) Apoteker tidak diizinkan mengganti obat generik yang ditulis dalam resep dengan obat paten. Namun resep dengan obat bermerek dagang atau obat paten boleh diganti dengan obat generik; 4) Dalam hal pasien tidak mampu menebus obat yang tertulis dalam resep, apoteker wajib berkonsultasi dengan dokter untuk pemilihan obat yang lebih tepat; 5) Apoteker wajib memberikan informasi yang berkaitan dengan penggunaan obat yang diserahkan kepada pasien secara tepat, aman, dan rasional atas permintaan masyarakat; 6) Apabila apoteker menganggap bahwa dalam resep terdapat kekeliruan atau penulisan resep yang tidak tepat, apoteker harus memberitahukan kepada dokter penulis resep. Apabila atas pertimbangan tertentu dokter penulis resep tetap pada pendiriannya, dokter wajib menyatakan secara tertulis atau membubuhkan tanda tangan yang lazim di atas resep; 7) Salinan resep harus ditandatangani oleh apoteker; 8) Resep harus dirahasiakan dan disimpan di apotek dengan baik dalam jangka waktu tiga tahun; 9) Resep dan salinan resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter penulis resep atau yang merawat penderita, penderita yang bersangkutan, petugas kesehatan, atau petugas lain yang berwenang menurut perundangundangan yang berlaku; Universitas Indonesia

12 10) APA, apoteker pendamping atau apoteker pengganti diizinkan menjual obat keras tanpa resep yang dinyatakan sebagai Daftar Obat Wajib Apotek, yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia; 11) Apabila Apoteker Pengelola Apotek berhalangan melakukan tugasnya pada jam buka Apotek, Apoteker pengelola Apotek dapat menunjuk Apoteker Pendamping. Apabila Apoteker Pengelola Apotek dan Apoteker Pendamping karena hal-hal tertentu berhalangan melakukan tugasnya, Apoteker Pengelola Apotek dapat menunjuk Apoteker Pengganti; 12) Apoteker Pengelola Apotek turut bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh Apoteker Pendamping, Apoteker Pengganti di dalam pengelolaan Apotek. Apoteker Pendamping bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas pelayanan kefarmasian selama yang bersangkutan bertugas menggantikan Apoteker Pengelola Apotek; dan 13) Dalam pelaksanakan pengelolaan apotek, APA dapat dibantu oleh Asisten Apoteker (AA). AA melakukan pekerjaan kefarmasian di Apotek dibawah pengawasan Apoteker. Pelayanan yang dilakukan di apotek harus menerapkan pelayanan kefarmasian (pharmaceutical care) yaitu bentuk pelayanan dan tanggung jawab langsung profesi apoteker dalam pekerjaan kefarmasian untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Untuk mewujudkan pelayanan kefarmasian, farmasis harus menerapkan standar pelayanan yang baik dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan, yang meliputi pelayanan resep, promosi dan edukasi, pelayanan residensial (Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, 2004). 2.7.1 Pelayanan Resep (Departemen Kesehatan RI, 2004) 2.7.1.1 Skrining resep Apoteker melakukan skrining resep meliputi persyaratan administratif (nama, SIP dan alamat dokter; tanggal penulisan resep; tanda tangan/paraf dokter penulis resep; nama, alamat, umur, jenis kelamin dan berat badan pasien; nama obat, jumlah obat yang diminta; cara pemakaian yang jelas serta informasi lainnya Universitas Indonesia

13 yang diperlukan), kesesuaian farmasetik (bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas, cara dan lama pemberian), dan pertimbangan klinis (adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian dosis, durasi, jumlah obat dan lainlain). 2.7.1.2 Penyiapan obat a. Peracikan Merupakan kegiatan menyiapkan, menimbang, mencampur, mengemas dan memberikan etiket pada wadah. Dalam melakukan peracikan obat, harus dibuat suatu prosedur tetap dengan memperhatikan dosis, jenis dan jumlah obat penulisan etiket yang benar. b. Etiket Etiket harus jelas dan dapat dibaca. c. Kemasan obat yang diserahkan kemasan obat harus cocok dan rapi sehingga terjaga kualitasnya. d. Penyerahan obat Sebelum obat diserahkan pada pasien, harus dilakukan pemeriksaan akhir terhadap kesesuaian antara obat dan resep. Penyerahan obat dilakukan oleh apoteker disertai pemberian informasi mengenai obat dan konseling kepada pasien). e. Informasi obat Apoteker harus memberikan informasi yang benar, jelas, mudah dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana dan terkini. Informasi ini sekurangkurangnya meliputi cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi. f. Monitoring penggunaan obat Setelah penyerahan obat kepada pasien, apoteker harus melaksanakan monitoring penggunaan obat, terutama untuk pasien kardiovaskular, diabetes, tuberkulosis, asma dan penyakit kronis lainnya. Universitas Indonesia

14 g. Konseling Konseling didefinisikan sebagai proses komunikasi dua arah yang sistematik antara apoteker dan pasien untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan obat dan pengobatan. Apoteker harus memberikan konseling mengenai sediaan farmasi, pengobatan dan perbekalan kesehatan lainnya sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien atau yang bersangkutan terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau penggunaan salah sediaan farmasi atau perbekalan kesehatan lainnya. 2.7.2 Promosi dan Edukasi (Departemen Kesehatan RI, 2004) Dalam rangka pemberdayaan masyarakat, apoteker harus berpartisipasi secara aktif dalam promosi dan edukasi kepada pasien. Apoteker ikut membantu penyebaran informasi antara lain dengan penyebaran leaflet/brosur, poster, penyuluhan dan lainnya. 2.7.3 Pelayanan Residensial (Departemen Kesehatan RI, 2004) Pelayanan residensial adalah pelayanan apoteker sebagai care giver dalam pelayanan kefarmasian di rumah-rumah khususnya untuk kelompok lansia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya. Untuk itu apoteker harus membuat catatan pengobatan pasien (medication record). 2.8 Pengalihan Tanggung Jawab Apoteker (Departemen Kesehatan RI, 2002) Pengalihan tanggung jawab apoteker diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1332/MenKes/SK/X/2002, yaitu : 1) Apabila Apoteker Pengelola Apotek (APA) berhalangan melakukan tugasnya pada jam buka apotek, APA harus menunjuk apoteker pendamping. 2) Apabila APA dan Apoteker pendamping karena hal-hal tertentu berhalangan melakukan tugasnya, APA menunjuk apoteker pengganti. 3) Apabila APA meninggal dunia, dalam jangka waktu dua kali dua puluh empat jam, ahli waris APA wajib melaporkan kejadian tersebut secara tertulis kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Universitas Indonesia

15 4) Apabila pada apotek tersebut tidak terdapat Apoteker pendamping, pelaporan oleh ahli waris wajib disertai penyerahan resep, narkotika, psikotropika, obat keras, dan kunci tempat penyimpanan narkotika dan psikotropika. 5) Pada penyerahan resep, narkotika, psikotropika dan obat keras serta kunci tersebut, dibuat berita acara serah terima dengan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat 2.9 Pencabutan Surat Izin Apotek (Departemen Kesehatan RI, 2002) Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1332/MenKes/SK/X/2002, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat mencabut surat izin apotek apabila : 1) Apoteker sudah tidak lagi memenuhi ketentuan yang tercantum dalam persyaratan sebagai Apoteker Pengelola Apotek. 2) Apoteker tidak lagi memenuhi kewajibannya sebagai Apoteker Pengelola Apotek. 3) APA berhalangan melakukan tugasnya lebih dari 2 tahun secara terus menerus. 4) Terjadi pelanggaran terhadap ketentuan perundang-undangan yang berhubungan dengan kegiatan apotek. 5) Surat Izin Kerja Apoteker Pengelola Apotek dicabut. 6) Pemilik Sarana apotek terbukti terlibat dalam pelanggaran perundangundangan di bidang obat. 7) Apotek tidak dapat lagi memenuhi persyaratan mengenai kesiapan tempat pendirian apotek serta kelengkapan sediaan farmasi dan perbekalan lainnya baik merupakan milik sendiri atau pihak lain. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebelum melakukan pencabutan surat izin apotek berkoordinasi dengan Kepala Balai POM setempat. Pelaksanaan pencabutan surat izin apotek dilaksanakan setelah dikeluarkan : 1) Peringatan secara tertulis kepada Apoteker Pengelola Apotek sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut dengan tenggang waktu masing-masing 2 (dua) bulan dengan menggunakan contoh Formulir Model APT-12. Universitas Indonesia

16 2) Pembekuan izin apotek untuk jangka waktu selama-lamanya 6 (enam) bulan sejak dikeluarkannya penetapan pembekuan kegiatan Apotek dengan menggunakan Formulir Model APT-13. Pembekuan Izin Apotek sebagaimana dimaksud dalam huruf (b) di atas, dapat dicairkan kembali apabila apotek telah membuktikan memenuhi seluruh persyaratan sesuai dengan ketentuan dalam peraturan ini dengan menggunakan contoh formulir Model APT-14. Pencairan Izin Apotek dilakukan setelah menerima laporan pemeriksaan dari Tim Pemeriksaan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat. Apabila Surat Izin Apotek dicabut, Apoteker Pengelola Apotek atau Apoteker Pengganti wajib mengamankan perbekalan farmasi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengamanan yang dimaksud wajib mengikuti tata cara sabagai berikut : 1) Dilakukan inventarisasi terhadap seluruh persediaan narkotika, psikotropika, obat keras tertentu dan obat lainnya serta seluruh resep yang tersedia di apotek. 2) Narkotika, psikotropika, dan resep harus dimasukkan dalam tempat yang tertutup dan terkunci. 3) Apoteker Pengelola Apotek wajib melaporkan secara tertulis kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, tentang penghentian kegiatan disertai laporan inventarisasi yang dimaksud dalam huruf (a). 2.10 Sediaan Farmasi (Departemen Kesehatan RI, 2006) Sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetik. Untuk menjaga keamanan penggunaan obat oleh masyarakat, maka pemerintah menggolongkan obat menjadi : 2.10.1 Obat Bebas Obat golongan ini adalah obat yang dapat dibeli tanpa resep dokter. Pada kemasan ditandai dengan lingkaran hitam, mengelilingi bulatan warna hijau disertai brosur yang berisi nama obat, nama dan isi zat berkhasiat, indikasi, dosis, atau aturan pemakaiannya, nomor bets, nomor registrasi, nama pabrik, dan alamat serta cara penyimpanannya. Universitas Indonesia

17 Gambar 2.1. Penandaan obat bebas 2.10.2 Obat Bebas Terbatas Obat golongan ini adalah obat keras yang diberi batas pada setiap takaran dan kemasan yang digunakan untuk mengobati penyakit ringan yang dapat dikenali oleh penderita sendiri. Obat ini dapat dibeli tanpa resep dokter. Obat bebas terbatas ditandai dengan lingkaran hitam, mengelilingi bulatan warna biru yang ditulis pada etiket dan bungkus luar. Gambar 2.2. Penandaan obat bebas terbatas Di samping itu ada tanda peringatan P.No.1 sampai dengan P.No.6, dan penandaan pada etiket atau brosur terdapat nama obat yang bersangkutan, daftar bahan khasiat serta jumlah yang digunakan, nomor bets, dan tanggal kadaluarsa, nomor registrasi, nama dan alamat produsen, petunjuk penggunaan (indikasi), dan cara pemakaian, peringatan, serta kontraindikasi. Tanda peringatan pada kemasan dibuat dengan dasar hitam, tulisan putih. Gambar 2.3. Tanda peringatan pada obat bebas terbatas (P1-P6) Universitas Indonesia

18 2.10.3 Obat Keras Obat golongan ini adalah obat-obatan yang mempunyai khasiat mengobati, menguatkan, mendesinfeksi dan lain-lain pada tubuh manusia, baik dalam bungkusan atau tidak yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. Tanda khusus lingkaran merah dengan garis tepi hitam dan huruf K didalamnya. Psikotropika termasuk dalam golongan obat keras. Gambar 2.4. Penandaan obat keras 2.10.4 Narkotika Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Gambar 2.5. Penandaan obat narkotika Berdasarkan Undang-undang No. 35 Tahun 2009 tentang narkotika, narkotika dibedakan dalam tiga golongan yaitu: a. Narkotika golongan I Merupakan narkotika yang dapat digunakan untuk kepentingan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan dilarang digunakan untuk kepentingan lainnya, serta mempunyai potensi yang sangat tinggi untuk menimbulkan ketergantungan. Contoh tanaman Papaver somniferum (kecuali biji), Erythroxylon coca, Cannabis sativa. b. Narkotika golongan II Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan sebagai pilihan terakhir dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu Universitas Indonesia

19 pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi untuk menimbulkan ketergantungan. Contohnya adalah morfin dan petidin. c. Narkotika golongan III Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan untuk menimbulkan ketergantungan, contohnya yaitu Codein. 2.11 Pengelolaan Narkotika Menurut Undang-undang 35 Tahun 2009 pengaturan narkotika bertujuan untuk: 1) Menjamin ketersediaan narkotika untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan; 2) Mencegah terjadinya penyalahgunaan narkotika; dan 3) Memberantas peredaran gelap narkotika. Secara garis besar pengelolaan narkotika meliputi pemesanan, penyimpanan, pelayanan dan pemusnahan. 2.11.1 Pemesanan Narkotika Apoteker hanya dapat memesan narkotika melalui Pedagang Besar Farmasi (PBF) tertentu yang telah ditetapkan oleh Menteri Kesehatan, yaitu PT. Kimia Farma, dengan tujuan untuk memudahkan pengawasan peredaran narkotika. Pemesanan narkotika dilakukan dengan menggunakan surat pesanan (SP) khusus narkotika yang terdiri dari 4 rangkap yang ditandatangani oleh APA serta dilengkapi dengan nama jelas, stempel apotek, nomor SIK, dan SIA. Satu Surat Pesanan (SP) hanya untuk memesan satu jenis narkotika. 2.11.2 Penyimpanan Narkotika (Departemen Kesehatan RI, 1978) Apotek harus mempunyai tempat khusus yang dikunci dengan baik untuk menyimpan narkotika. Tempat penyimpanan narkotika di apotek harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 1) Harus dibuat seluruhnya dari kayu atau bahan lain yang kuat. 2) Harus mempunyai kunci yang kuat. Universitas Indonesia

20 3) Dibagi dua, masing-masing dengan kunci yang berlainan; bagian pertama dipergunakan untuk menyimpan morfin, petidin, dan garam-garamnya serta persediaan narkotika; bagian kedua dipergunakan untuk menyimpan narkotika lainnya yang dipakai sehari-hari. 4) Apabila tempat khusus tersebut berupa lemari berukuran kurang dari 40x80x100 cm, maka lemari tersebut harus dibaut pada tembok atau lantai. 5) Lemari khusus tidak boleh digunakan untuk menyimpan barang lain selain narkotika, kecuali ditentukan oleh Menteri Kesehatan. 6) Anak kunci lemari khusus harus dipegang oleh penanggung jawab atau pegawai lain yang dikuasakan. 7) Lemari khusus harus ditempatkan di tempat yang aman dan tidak terlihat oleh umum. 2.11.3 Pelayanan Resep Yang Mengandung Narkotika Menurut UU No. 9 Tahun 1976 tentang narkotika disebutkan bahwa: 1) Narkotika hanya digunakan untuk kepentingan pengobatan dan/atau ilmu pengetahuan. 2) Narkotika hanya dapat dipergunakan untuk pengobatan penyakit berdasarkan resep dokter. 3) Apotek dilarang melayani salinan resep yang mengandung narkotika. Untuk resep narkotika yang baru dilayani sebagian atau belum dilayani sama sekali, apotek boleh membuat salinan resep tetapi salinan resep tersebut hanya boleh diambil di apotek yang menyimpan resep asli. Salinan resep dari resep narkotika dengan tulisan iter tidak boleh dilayani sama sekali. Oleh karena itu dokter tidak boleh menambah tulisan iter pada resep yang mengandung narkotika. 2.11.4 Pelaporan Narkotika Undang-undang No. 35 Tahun 2009 pasal 14 ayat (2) menyatakan bahwa industri farmasi, pedagang besar farmasi, sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah, apotek, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter, dan lembaga ilmu pengetahuan wajib membuat, menyampaikan dan menyimpan Universitas Indonesia

21 laporan berkala mengenai pemasukan dan/atau pengeluaran narkotika yang ada dalam penguasaannya. Apotek berkewajiban menyusun dan mengirimkan laporan yang ditandatangani oleh APA. Laporan tersebut terdiri dari laporan penggunaan bahan baku narkotika, laporan penggunaan sediaan jadi narkotika dan laporan khusus menggunakan morfin, petidin dan derivatnya. Laporan dikirim ke kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat selambat-lambatnya tanggal 10 bulan berikutnya, dengan tembusan kepada Kepala Dinkes Propinsi, Balai/Balai Besar POM, dan sebagai arsip. 2.11.5 Pemusnahan Narkotika (Departemen Kesehatan RI, 1978) APA dapat melakukan pemusnahan narkotika yang rusak, kadaluarsa, atau tidak memenuhi syarat lagi untuk digunakan dalam pelayanan kesehatan. APA yang memusnahkan narkotika harus membuat berita acara pemusnahan narkotika yang memuat : 1) Hari, tanggal, bulan,dan tahun pemusnahan. 2) Nama APA. 3) Nama seorang saksi dari pemerintah dan seorang saksi lain dari perusahaan atau badan tersebut. 4) Nama dan jumlah Narkotika yang dimusnahkan. 5) Cara pemusnahan. 6) Tandatangan penanggung jawab apotek. Pemusnahan narkotik harus disaksikan oleh : 1) Petugas Direktorat Pengawasan Obat dan Makanan untuk Importir, pabrik farmasi dan unit pergudangan pusat. 2) Petugas Kantor Wilayah Departemen Kesehatan untuk pedagang besar farmasi penyalur narkotika, lembaga dan unit pergudangan propinsi. 3) Petugas Dinas Kesehatan Daerah Tingkat II untuk apotek, rumah sakit, puskesmas dan dokter Berita acara pemusnahan narkotika tersebut dikirimkan kepada kepala kantor Departemen Kesehatan Republik Indonesia dengan tembusan kepada Kepala Dinkes Propinsi, Balai/Balai Besar POM, dan sebagai arsip. Menurut Universitas Indonesia

22 Petunjuk Teknis Peraturan Apotek Tahun 2004 mengenai Prosedur Tetap Pelayanan Resep Narkotika, yaitu : 1) Melakukan pemeriksaan terhadap kelengkapan administrasi. 2) Melakukan pemeriksaan kesesuaian farmasetika, yaitu bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas, cara dan lama pemberian. 3) Mengkaji pertimbangan klinis, yaitu adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian (dosis, durasi, jumlah obat dan lain-lain). 4) Narkotika hanya dapat diserahkan atas dasar resep asli rumah sakit, puskesmas, apotek lainnya, balai pengobatan, dokter. Salinan resep narkotika dalam tulisan iter tidak bolah dilayani sama sekali. 5) Salinan resep narkotika yang baru dilayani sebagian atau yang belum dilayani sama sekali hanya boleh dilayani oleh apotek yang menyimpan resep asli. 6) Mengkonsultasikan ke dokter tentang masalah resep apabila diperlukan. 2.12 Pengelolaan Psikotropika Menurut Undang Undang 5 Tahun 1997, psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan Narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada sistem saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku. Psikotropika dapat dibagi menjadi beberapa golongan, yaitu: a. Psikotropika golongan I Yaitu psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh: lisergida dan meskalina. b. Psikotropika golongan II Yaitu psikotropika yang berkhasiat pengobatan, digunakan dalam terapi, dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh: amfetamin dan metamfetamin. c. Psikotropika golongan III Yaitu psikotropika yang berkhasiat pengobatan, digunakan dalam terapi, dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang Universitas Indonesia

23 mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh: amobarbital, pentobarbital dan pentazosina. d. Psikotropika golongan IV Yaitu psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi, dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh: barbital, alprazolam dan diazepam. 2.12.1 Pemesanan Psikotropika Surat Pesanan (SP) psikotropika harus ditandatangani oleh APA serta dilengkapi dengan nama jelas, stempel apotek, nomor SIK dan SIA. Satu surat pesanan ini dapat terdiri dari berbagai macam nama obat psikotropika dan dibuat dua rangkap. 2.12.2 Penyimpanan Psikotropika Obat golongan psikotropika penyimpanannya belum diatur oleh perundang-undangan, namun karena kecenderungan penyalahgunaan psikotropika, maka disarankan agar obat golongan psikotropika diletakkan tersendiri dalam suatu rak atau lemari khusus. 2.12.3 Pelaporan Psikotropika Menurut UU No.5 Tahun 1997, apotek wajib membuat dan menyimpan catatan mengenai kegiatan yang berhubungan dengan psikotropika dan wajib melaporkan kepada Menteri secara berkala. Pelaporan psikotropika ditandatangani oleh APA ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dengan tembusan kepada Kepala Dinkes Propinsi setempat, Balai/Balai Besar POM serta sebagai arsip apotek. 2.12.4 Pemusnahan Psikotropika Berdasarkan UU No. 5 Tahun 1997, setiap pemusnahan psikotropika, wajib dibuatkan berita acara. Pemusnahan psikotropika dilaksanakan dalam hal : Universitas Indonesia

24 1) Berhubungan dengan tindak pidana 2) Kadaluwarsa 3) Tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan dan/atau untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Pemusnahan psikotropika sebagaimana dimaksud : 1) Pada butir a, dilakukan oleh suatu tim yang terdiri dari pejabat yang mewakili departemen yang bertanggung jawab di bidang kesehatan, Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan Kejaksaan sesuai dengan Hukum Acara Pidana yang berlaku, dan ditambah pejabat dari instansi terkait dengan tempat terungkapnya tindak pidana tersebut, dalam waktu tujuh hari setelah mendapat kekuatan hukum tetap. Untuk psikotopika khusus golongan I, wajib dilaksanakan paling lambat 7 (tujuh) hari setelah dilakukan penyitaan; dan 2) Pada butir b dan c dilakukan oleh apoteker yang bertanggung jawab atas peredaran psikotropika dengan disaksikan oleh pejabat departemen yang bertanggung jawab di bidang kesehatan, dalam waktu 7 (tujuh) hari. 2.12.5 Penyerahan Psikotropika Penyerahan psikotropika oleh apotek hanya dapat dilakukan kepada apotek lainnya, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter, dan pasien dengan resep dokter. Universitas Indonesia

BAB 3 TINJAUAN UMUM 3.1 PT Kimia Farma (Persero) Tbk PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. dimulai sekitar tahun 1957, pada saat pengambilalihan perusahaan milik Belanda yang bergerak di bidang farmasi oleh Pemerintah Republik Indonesia. Berdasarkan Undang-Undang No.86 tahun 1956, pemerintah Indonesia melakukan nasionalisasi terhadap perusahaan farmasi Belanda tersebut dan menurut Peraturan Pemerintah No.69 tahun 1968 statusnya diubah menjadi Perusahaan Negara Farmasi (PNF). Pada tanggal 23 Januari 1969, berdasarkan PP No.3 Tahun 1969 perusahaan-perusahaan negara tersebut digabung menjadi PNF Bhineka Kimia Farma dengan tujuan penertiban dan penyederhanaan perusahaan-perusahaan negara. Selanjutnya pada tanggal 16 Agustus 1971, Perusahaan Negara Farmasi Kimia Farma mengalami peralihan bentuk hukum menjadi Badan Usaha Milik Negara dengan status sebagai Perseroan Terbatas, sehingga selanjutnya disebut PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. Pada tahun 1998, terjadi krisis ekomi di ASEAN yang mengakibatkan APBN mengalami defisit anggaran dan hutang negara semakin besar. Pemerintah mengeluarkan kebijakan privatisasi BUMN untuk mengurangi beban hutang. Berdasarkan Surat Menteri Negara Penanaman Modal dan Pembinaan BUMN No.S-59/M-PM. BUMN/2000 tanggal 7 Maret 2000, PT. Kimia Farma diprivatisasi. Pada tanggal 4 Juli tahun 2002 PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. resmi terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES) sebagai perusahaan publik. PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. mendirikan 2 anak perusahaan pada tanggal 4 Januari 2003 yaitu PT. Kimia Farma Trading & Distribution dan PT. Kimia Farma Apotek agar perusahaan dapat berkembang dengan cepat dan pengelolaan perusahaan lebih terarah. PT. Kimia Farma Trading & Distribution saat ini memiliki 2 wilayah pasar dan 35 cabang PBF (Pedagang Besar Farmasi) sedangkan PT. Kimia Farma Apotek sekarang memiliki 34 Unit Bisnis dan 400 Apotek yang tersebar di seluruh Indonesia. 25 Universitas Indonesia

26 3.2 PT. Kimia Farma Apotek PT. Kimia Farma Apotek (KFA) adalah anak perusahaan dari PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. dengan tujuan mengelola apotek-apotek milik perusahaan yang ada dalam upaya meningkatkan kontribusi penjualan. PT. Kimia Farma Apotek membawahi Apotek Pelayanan Kimia Farma (KF) wilayah usahanya terbagi menjadi 34 wilayah Unit Bisnis yang menaungi sejumlah 400 apotek yang tersebar di seluruh Indonesia. Tiap-tiap Unit Bisnis (Business Manager) membawahi sejumlah apotek pelayanan yang berada di wilayah usahanya. Apotek Pelayanan Kimia Farma dalam melakukan kegiatannya selain melayani resep dokter juga melengkapinya dengan swalayan farmasi atau Hand Verkoop (HV) yang berisi obat-obatan bebas dan bahan kebutuhan sehari-hari, menyediakan tempat praktik dokter, laboratorium klinik, optik, Pusat Informasi Obat dan Public Healthcare Centre sebagai upaya meningkatkan mutu pelayanan kepada pasien. 3.2.1 Visi dan Misi PT. Kimia Farma Apotek Visi PT Kimia Farma Apotek adalah menjadi perusahaan jaringan layanan farmasi yang terkemuka di Indonesia. Misi PT Kimia Farma Apotek adalah: 1. Memberikan jasa layanan prima atas ritel farmasi dan jasa terkait serta memberikan solusi jasa layanan kefarmasian bagi pelanggan. 2. Meningkatkan nilai perusahaan untuk pemegang saham dan pihak-pihak yang berkepentingan dengan berdasarkan prinsip Good Corporate Governance (GCG). 3. Mengembangkan kompetensi dan komitmen sumber daya manusia (SDM) yang lebih profesional untuk meningkatkan nilai perusahaan dan kesejahteraan SDM. 3.2.2 Struktur Organisasi Kimia Farma Apotek PT. Kimia Farma Apotek dikepalai oleh seorang Direktur Utama. Direktur Utama membawahi 2 direktur (Direktur Operasional dan Direktur Pengembangan), serta juga membawahi langsung 3 manager (Manager SDM dan Umum, Manager Keuangan dan Akuntansi, serta Manager IT). Direktur Universitas Indonesia

27 Operasional sendiri membawahi Manager Operasional, Manager Layanan dan Logistik dan Manager Bisnis, Sedangkan Direktur Pengembangan membawahi Manager Pengembangan Pasar. Struktur organisasi PT. Kimia Farma Apotek dapat dilihat di Lampiran 1. 3.2.3 Bisnis Manager (BM) Apotek pelayanan yang ada di PT. Kimia Farma Apotek dibawahi oleh Bisnis Manager (BM). BM adalah suatu Unit Bisnis yang bertugas menangani pembelian, penyimpanan barang dan administrasi apotek pelayanan yang berada di bawahnya. Konsep BM ini diharapkan dapat menjadi pengelolaan aset dan keuangan dari apotek dalam suatu area menjadi lebih efektif dan efisien, demikian juga kemudahan dalam pengambilan keputusan-keputusan yang menyangkut antisipasi dan penyelesaian masalah. Secara umum keuntungan yang didapat melalui konsep BM antara lain: a. Koordinasi modal kerja menjadi lebih mudah. b. Apotek-apotek pelayanan akan lebih fokus pada kualitas pelayanan, sehingga mutu pelayanan akan meningkat yang diharapkan berdampak pada peningkatan penjualan. c. Merasionalkan jumlah SDM terutama tenaga administrasi yang diharapkan berimbas pada efisiensi biaya administrasi. d. Meningkatkan bargaining dengan pemasok untuk memperoleh sumber barang dagangan yang lebih murah dengan maksud agar dapat memperbesar range margin atau HPP rendah. Di seluruh Indonesia terdapat 34 unit bisnis yang dibagi dalam 3 strata berdasarkan omset yang diterima, yaitu strata A yang memiliki omset paling besar, strata B yang memiliki omset di bawah strata A, dan strata C adalah unit bisnis dengan omset paling kecil dibandingkan unit bisnis strata A dan B. Wilayah JABODETABEK memiliki 5 BM yaitu: 1. Bisnis Manager Jaya I, membawahi wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Barat. 2. Bisnis Manager Jaya II, membawahi wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Timur dan Bekasi. 3. Bisnis Manager Bogor, membawahi wilayah Bogor, Depok dan Sukabumi. Universitas Indonesia

28 4. Bisnis Manager Tangerang membawahi wilayah Provinsi Banten. 5. Bisnis Manager di Rumah Sakit Jakarta. Manager Bisnis secara struktural langsung membawahi para manager Apotek pelayanan. Manager Bisnis juga membawahi supervisor akutansi dan keuangan serta supervisor pengadaan. Fokus dari apotek pelayanan adalah pelayanan perbekalan farmasi dan informasi obat pasien, sehingga layanan apotek yang berkualitas dan berdaya saing mendukung dalam pencapaian laba melalui penjualan setinggi-tingginya. Ada tiga fungsi yang berperan dalam melaksanakan kegiatan yang dilakukan oleh BM, yaitu fungsi pengadaan, fungsi penjualan, dan fungsi pencatatan. 3.2.3.1 Fungsi Pengadaan Pengadaan di BM menganut sistem Distribution Center, yaitu sistem pengadaan barang terpusat yang digunakan untuk pengadaan barang-barang yang termasuk dalam Pareto A (barang yang mewakili sekitar 80% dari total penjualan tetapi jumlahnya 20% dari seluruh jenis barang yang ada). Barang-barang ini akan dipesan oleh BM ke pemasok, dikirim pemasok ke gudang BM, barang disiapkan untuk masing-masing APP dan akan dikirim ke unit apotek pelayanan disertai daftar droping barang dari gudang BM. Adapun barang yang langsung dikirim dari pemasok ke APP untuk barang-barang yang termasuk dalam Pareto B dan C. Administrasi dan prosedur pemesanan barang oleh BM dapat diuraikan sebagai berikut: 1) Bagian Pembelian dari setiap apotek pelayanan membuat Bon Permintaan Barang Apotek (BPBA) sesuai dengan buku defekta yang dibuat berdasarkan persediaan obat dan barang apotek lain yang persediaannya sudah atau hampir habis lalu dikirim ke BM melalui sistem komputerisasi. 2) Bagian pengadaan di BM akan menyiapkan dan menyerahkan barang yang dibutuhkan yang tersedia di gudang kemudian akan di dropping langsung ke unit apotek pelayanan sedangkan untuk barang yang tidak tersedia di gudang maka akan dibuat Surat Pesanan (SP) oleh bagian Pembelian. Untuk apotek Universitas Indonesia

29 pelayanan yang meminta barang dalam jumlah kecil, pemesanannya digabung dengan apotek pelayanan lain. 3) SP yang telah disetujui oleh APA akan dikirimkan ke pemasok (Pedagang Besar Farmasi/PBF) melalui fax, internet, telepon atau diambil oleh salesman. 4) Pemasok menyerahkan barang pesanan apotek disertai dengan dokumen faktur dan SP. 5) Bagian gudang BM menerima (kecuali jika dikirim langsung ke unit apotek pelayanan), memeriksa fisik barang (apakah sesuai SP dan faktur, meliputi nama, kemasan, jumlah, harga barang serta nama pemasok) dan membuat tanda terima di faktur (stempel dan tanda tangan) berdasarkan fisik barang yang diterima. 6) Kemudian setelah diperiksa, faktur dikirim ke bagian Tata Usaha untuk dibukukan sebagai laporan pembelian dan utang dagang. 3.2.3.2 Fungsi Penjualan BM akan mengelola seluruh penjualan yang dihasilkan oleh seluruh unit apotek pelayanan yang berada di dalam cakupan wilayahnya masing-masing. Hasil penjualan yang diperoleh berasal dari penerimaan resep (baik tunai maupun kredit), penjualan obat tanpa resep dan penjualan barang-barang yang ada di swalayan farmasi. Data hasil penjualan tunai dan kredit dikirimkan kepada masing-masing BM dalam waktu 1 (satu) hari kemudian (H+1). 3.2.3.3 Fungsi Pencatatan Kegiatan pencatatan yang dilakukan oleh Tata Usaha (TU) BM dibukukan dalam dokumen-dokumen baku maupun dokumen lainnya yang tidak baku. Dokumen baku dibuat sebagai bahan untuk menyusun Neraca Tahunan Apotek Kimia Farma dan untuk keperluan manajerial. Sedangkan dokumen lainnya seperti laporan piutang, laporan utang dan laporan prestasi kerja dibuat hanya untuk keperluan manajerial saja dan tidak digunakan untuk menyusun neraca tahunan. Universitas Indonesia

30 Dokumen-dokumen yang termasuk dalam dokumen baku tersebut antara lain: a. Buku Kas, memuat semua transaksi yang menggunakan uang tunai baik pemasukan maupun pengeluaran. b. Buku Permintaan Barang Apotek, dibuat untuk keperluan teknis apotek pelayanan sendiri. c. Buku Penjualan Apotek, memuat rekapitulasi penjualan harian oleh apotek pelayanan baik tunai maupun kredit. d. Buku Pembelian Apotek, memuat rekapitulasi pembelian harian oleh apotek pelayanan baik tunai maupun kredit. Dokumen-dokumen ini dibuat harian lalu direkapitulasi menjadi laporan bulanan, laporan triwulan, laporan semester dan laporan tahunan. Semua dokumen dan laporan tersebut dibuat rangkap 2, lembar pertama diserahkan kebagian Akuntansi Kantor Pusat PT. Kimia Farma, sedangkan lembar kedua disimpan di BM sebagai arsip. Bagian TU BM melakukan kegiatan administrasi di bawah tanggung jawab Kepala Bagian Tata Usaha. Tugas bagian TU adalah sebagai berikut: a. Membuat Laporan Gabungan apotek pelayanan (yang berada di wilayahnya) setiap bulan, triwulan dan semester untuk dikirim ke Bagian Akuntansi Kantor Pusat antara lain: Laporan Penjualan, Laporan Utang dan Laporan Piutang. b. Membuat Laporan Tahunan Tutup Buku (neraca dan laporan laba rugi). c. Membuat Laporan Manajerial Gabungan dan meyiapkan data manajerial untuk masing-masing apotek pelayanan yang selanjutnya dianalisa oleh masing-masing Pimpinan Apotek Pelayanan. Dalam melaksanankan tugasnya, Kepala Tata Usaha BM dibantu oleh beberapa staf bagian, yaitu: a. Administrasi pembelian, mempunyai tugas sebagai berikut: 1) Menerima salinan faktur pembelian yang telah diperiksa dan diparaf oleh petugas penerimaan barang dari masing-masing unit apotek pelayanan, kemudian salinan faktur tersebut dikumpulkan menurut nomor urut penerimaan barang per hari. Universitas Indonesia

31 2) Memeriksa salinan faktur dan kebenaran harga pada faktur tersebut yang kemudian di paraf sebagai tanda bahwa faktur tersebut telah diperiksa. 3) Setiap transaksi pembelian dicatat di Buku Pembelian Apotek dan di entry datanya ke komputer berdasarkan nama distributornya. Dalam pencatatan harus tercantum nama distributor, nomor faktur, nama dan jumlah barang, harga, besarnya potongan harga dan tanggal pembelian. Setelah itu catatan diberikan kepada petugas administrasi utang dagang. Setiap akhir buku pembelian dijumlahkan total nilainya untuk mengetahui transaksi pembelian yang berlangsung pada bulan tersebut. b. Administrasi penjualan, mempunyai tugas: 1) Setiap hari menerima dan memeriksa kebenaran Laporan Penjualan Harian Apotek per tanggal yang dibuat oleh apotek pelayanan berdasarkan buktibukti pembayaran dari hasil penjualan tunai maupun kredit serta pemakaian obat intern. Petugas mencatat hasil penjualan total yang diperoleh. Bukti pembayaran dari penjualan tunai berupa bukti setoran kas sedangkan dari penjualan kredit berupa alat tagih, kwitansi dan tanda terima faktur. 2) Mencatat hasil penjualan kredit ke kartu piutang per pelanggan. Kartu ini berisi transaksi total penjualan kredit setiap hari dan fungsi sebagai kontrol atas penagihan bagian inkasso. Sedangkan penjualan tunai dicatat pada buku kas. 3) Setiap akhir bulan dibuat laporan peredaran kredit atau laporan sisa piutang berdasarkan nama debitur dan perincian sisa piutang untuk mengetahui berapa jumlah tagihan yang sudah dan belum dibayar. c. Administrasi penagihan/inkasso, mempunyai tugas: 1) Membuat nota inkasso dan tanda terima faktur 2) Mencatat kwitansi di buku registrasi dan menyerahkannya kepada penanggung jawab TU untuk diperiksa kemudian diteruskan ke pimpinan apotek untuk ditandatangani. 3) Menyerahkan nota inkassso dan berkas penagihan (tanda terima faktur dan lampiran resep kredit) kepada petugas penagihan. Universitas Indonesia

32 4) Petugas penagihan melakukan penagihan ke debitur dengan membawa tanda terima faktur yang akan ditukarkan dengan uang tunai, cek atau giro. 5) Hasil penagihan yang diterima petugas penagihan kemudian diserahkan kepada kasir BM disertai dengan bukti penerimaan kas. d. Administrasi pajak, mempunyai tugas: 1) Mencatat dan menghitung pajak masukan yang dihitung berdasarkan jumlah PPN dari faktur pembelian barang. Setiap bulan PPN tersebut dijumlahkan dan dicatat pada daftar pajak masukan. 2) Mencatat dan menghitung pajak keluaran yang dihitung berdasarkan jumlah PPn dari total hasil penjualan. Penjualan resep tunai, penjualan bebas dan alkes. PPn dihitung setiap minggu dan dibuat dalam daftar pajak sederhana. Penjualan resep kredit dan jumlah PPn dibuat dalam faktur pajak standar yang harus dibayar oleh debitur. 3) Membuat daftar pajak keluaran setiap bulan yang berisi jumlah total PPn dari penjualan tunai dan kredit. 4) Menghitung jumlah pajak yang harus disetorkan kepada kas negara setiap bulan. Jumlah pajak yang harus disetorkan adalah selisih antara jumlah pajak keluaran dikurangi pajak masukan. e. Administrasi umum dan personalia, mempunyai tugas: 1) Membuat daftar gaji, uang lembur, permohonan cuti, pengusulan kenaikan pangkat dan fasilitas lain yang diberikan pada karyawan yang telah disetujui oleh Apoteker Pengelola Apotek. 2) Mendata semua pegawai secara lengkap. 3) Mendata absensi pegawai. Universitas Indonesia

BAB 5 PEMBAHASAN Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh apoteker. Yang dimaksud praktek kefarmasian tersebut meliputi pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan distribusi obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat, dan obat tradisional. Hal yang tidak kalah penting adalah bahwa apotek merupakan suatu jenis bisnis retail yang harus dikelola dengan baik agar memperoleh keuntungan untuk menutup beban biaya operasional dan menjaga kelangsungan bisnis apotek itu sendiri. Untuk dapat mengelola apotek, seorang apoteker tidak cukup dengan berbekal ilmu teknik kefarmasian saja, karena mengelola sebuah apotek sama saja mengelola sebuah perusahaan. Dibutuhkan kemampuan manajerial yang meliputi pengelolaan administrasi, perbekalan farmasi, sarana, keuangan dan pengelolaan sumber daya manusia. Keberhasilan suatu apotek sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain lokasi yang strategis, susunan tata ruang yang baik, struktur organisasi dan job description yang baik, pelayanan yang baik, dan sistem manajemen pengadaan dan penyimpanan, manajemen pemasaran, serta manajemen administrasi atau pencatatan yang baik. Disamping itu, apotek juga merupakan penyedia layanan kesehatan (health care provider) baik obat maupun non obat, dimana apotek akan menjadi tempat praktek profesi yang terlibat dalam memberikan layanan kesehatan terpadu yang dibutuhkan masyarakat. Untuk dapat melaksanakan tugas tersebut, maka perlu peran Apoteker dari drug oriented menjadi patient oriented. Pelayanan patient oriented bertujuan memenuhi kebutuhan pasien tentang hal-hal yang berhubungan dengan obat sehingga kualitas hidup pasien dapat tercapai dan ditingkatkan. PT. Kimia Farma Apotek merupakan anak perusahaan dari PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. Manajemen PT. Kimia Farma Apotek menetapkan suatu sistem kebijakan berupa sistem grouping yaitu mengelompokkan tiap apotek 45 Universitas Indonesia

46 pelayanan dalam group-group tertentu berdasarkan wilayahnya, dimana dalam satu grup terdapat satu sebagai Bisnis Manager dan apotek pelayanan. Apotek Kimia Farma 2 merupakan salah satu apotek pelayanan yang masuk ke dalam grup Bisnis Manager Jaya 2 (BM Jaya 2) yang berlokasi di Matraman. Apotek Kimia Farma 2 berada di Jalan Senen Raya No. 66 Jakarta Pusat, terletak di lokasi yang strategis dan mudah dijangkau karena berada di persimpangan jalan raya yang ramai, banyak dilewati angkutan umum. Namun, karena letak apotek yang berada tepat di persimpangan jalan maka sering terlewat oleh pasien yang membawa kendaraan bermotor. Selain itu, lahan parkir di depan apotek sangat terbatas. Walau terdapat lahan parkir yang terletak di belakang apotek, hal ini tidak banyak diketahui pelanggan dan dapat mempengaruhi pelanggan untuk enggan berkunjung karena merasa kesulitan parkir. Untuk mengatasi hal tersebut sebaiknya dipasang papan atau tulisan bahwa tersedia lahan parkir yang terletak dibelakang bangunan sebagai petunjuk untuk pasien yang datang dengan membawa kendaraan. Di sekitar apotek juga terdapat rumah sakit dan praktek dokter, selain itu Apotek Kimia Farma 2 terletak dekat dengan pusat perbelanjaan yaitu Plaza Atrium. Hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi apotek, karena dapat menarik pelanggan dari rumah sakit, dokter praktek dan pusat perbelanjaan tersebut. Namun, apotek juga memiliki pesaing lain karena di sekitar Apotek Kimia Farma No. 2 Senen juga terdapat apotek lain seperti Apotek Century, Apotek Titi Murni, Apotek Melawai dan lain-lain. Tata ruangan Apotek Kimia Farma No. 2 Senen terdiri dari: a. Ruang tunggu pasien yang cukup bersih dan tenang dan dilengkapi dengan alat penimbang berat badan dan penyejuk ruangan. b. Ruang penerimaan resep dan kasir. c. Ruang Apoteker. d. Ruang administrasi. e. Ruang praktek dokter f. Ruang penyimpanan obat disusun berdasarkan bentuk sediaannya serta dikelompokkan menjadi beberapa kategori antara lain tablet, sirup, injeksi, salep atau krim, tetes mata, termasuk obat generik, obat askes dan obat-obat Universitas Indonesia

47 bebas dipisahkan pada rak berbeda. Obat psikotropik dan narkotik disimpan dalam lemari khusus yang memiliki dua pintu dan terkunci. Suppositoria, sirup kering, hormon, serta tablet yang tidak stabil dalam suhu ruangan disimpan dalam lemari es. Dari masing-masing kategori tersebut disusun secara abjad dan farmakologi untuk lebih memudahkan dalam proses pencarian obat. g. Ruang peracikan Apotek Kimia Farma No. 2 Senen terletak di bagian dalam dan terhalang oleh rak-rak obat. Namun, ruang peracikan ini ukurannya tidak terlalu besar sehingga kegiatan peracikan obat seringkali terganggu saat pegawai lain mengambil obat yang disimpan di sekitar ruang peracikan. Untuk mengatasi hal tersebut sebaiknya obat-obatan yang jarang diracik tidak disimpan di dekat ruang peracikan. h. Sarana penunjang lainnya seperti toilet, dapur, musholla dan tersedia juga fasilitas ATM sehingga menjadi nilai tambah apotek. Apotek Kimia Farma No. 2 Senen menyediakan swalayan farmasi, dengan adanya swalayan farmasi dapat memberikan beberapa keuntungan diantaranya pelanggan dapat memilih dan mengambil sendiri obat atau barang yang mereka bututhkan dan dengan melihat obat atau barang yang dipajang diswalayan farmasi dapat menimbulkan keinginan pelanggan untuk membeli obat atau barang tersebut. Namun selain itu swalayan farmasi mempunyai beberapa kerugian diantaranya resiko kehilangan obat atau barang cukup besar dan untuk informasi harga obat atau barang tetap harus menanyakan kepada kasir. Kegiatan pengadaan barang di apotek mengikuti sistem yang telah diterapkan oleh PT. Kimia Farma. Pemesanan barang dilakukan melalui Bisnis Manajer (BM). Apotek Kimia Farma No. 2 Senen membuat Bon Permintaan Barang Apotek (BPBA) yang kemudian dikirimkan ke BM. Jika barang tersedia di gudang BM, maka akan langsung dikirim ke apotek beserta bukti droppingnya. Apabila barang yang dipesan oleh apotek tidak ada di BM, maka BM melakukan pemesanan ke PBF. Untuk jumlah pemesanan barang dalam jumlah besar maka dari PBF akan langsung dikirim ke BM dan dari BM langsung dikirim ke apotek. Dalam dua minggu sekali, apotek hanya membuat BPBA satu kali. Namun ini tidak berarti bahwa semua kebutuhan apotek atas ketersediaan obat dapat teratasi. Jika terdapat kekosongan barang maka apotek dapat melakukan Universitas Indonesia

48 pengadaan barang dengan cara meminta barang antar apotek Kimia Farma melalui bon permintaan barang, baik dalam satu wilayah ataupun antar wilayah bisnis manager. Hal inilah yang disebut dengan dropping. Jika pada apotek Kimia Farma yang lain tidak tersedia obat yang dicari dan kondisinya sangat mendesak, maka Apotek Kimia Farma 2 Senen dapat membeli barang dari apotek lain di luar jaringan Apotek Kimia Farma tetapi jumlah obat yang dipesan hanya sebanyak permintaan saja. Dengan adanya sistem BM ini, maka apotek pelayanan dapat lebih focus dalam memberikan pelayanan kefarmasian yang lebih berkualitas karena fungsifungsi administrasi seperti pembelian dan keuangan hanya dilakukan oleh BM. Selain itu, sistem BM juga meningkatkan daya tawar (bargaining power) dengan pemasok untuk memperoleh barang dagangan yang lebih murah, karena dengan pembelian barang dalam jumlah besar memungkinkan para pemasok memberikan diskon yang cukup tinggi atau memberikan bonus bonus khusus sehingga dapat meningkatkan laba apotek. Penerimaan produk obat yang dikirimkan dari BM disesuaikan dengan BPBA kemudian diperiksa jumlah dan jenis obatnya. Produk obat yang sudah diperiksa, kemudian disimpan di kotak obat dan dicatat dikartu stok dengan menuliskan nomor batch dan tanggal kadaluarsanya. Produk obat yang sudah diterima, dimasukkan saldonya ke komputer, sehingga apabila terdapat ketidak sesuaian jumlah fisik dan kartu stok dapat dicek dalam komputer. Penyimpanan produk obat di apotek Kimia Farma 2 dilakukan berdasarkan sistem FIFO (First In First Out) dan FEFO (First Expired First Out) artinya produk atau obat yang datang lebih dahulu, harus dikeluarkan lebih dahulu sedangkan produk atau obat yang terakhir datang diletakkan di belakang atau jika produk atau obat yang memiliki expired date paling dekat dikeluarkan terlebih dahulu, begitu seterusnya. Sistem ini dilakukan agar perputaran produk obat dapat berjalan, sehingga dapat menghindari terdapatnya produk obat yang kadaluarsa. Di apotek Kimia Farma 2 dilakukan pemeriksaan stok opname secara rutin, yaitu setiap 3 bulan sekali sehingga dengan adanya pemeriksaan stok opname ini dapat diketahui kondisi produk atau obat yang ada secara fisik disesuaikan dengan kondisi produk atau obat yang ada di komputer, jika terjadi selisih jumlah maka Universitas Indonesia

49 dapat segera dilakukan evaluasi, selain itu dapat mengetahui obat atau barang yang akan kadaluarsa sehingga dapat dilakukan penanggulangan dengan meretur kepada pemasok atau dilakukan tukar guling dengan obat atau barang yang masa expirenya lebih lama. Untuk obat-obat narkotika dan psikotropika, tempat penyimpanannya terpisah yaitu di dalam lemari berkunci ganda. Hal ini sesuai dengan tata cara penyimpanan obat narkotika dan psikotropika yang tertulis dalam Permenkes RI No.28/I/Per/Menkes/1978. Pemasukan dan pengeluaran narkotika dibuat dalam suatu laporan untuk diarsipkan dan dilaporkan kepada Dinkes kabupaten setempat. Pada setiap pemasukan dan pengeluaran obat, kartu stok harus selalu diisi sehingga dapat dikontrol persediaan obatnya. Untuk produk atau obat OTC (Over The Counter) pemasukan dan pengeluarannya dicatat dalam kartu stok dan dalam komputer. Namun pada kenyataannya, masih ada yang berbeda antara jumlah pada kartu stok dengan jumlah obat secara fisik. Hal ini dikarenakan masih kurang ketelitian dalam melakukan pencatatan di kartu stok, Sehingga terjadi kekeliruan data pada kartu stok. Hal ini dapat segera diatasi dengan melakukan cek mutasi obat dan saldo komputer. Pelayanan yang dilakukan di Apotek Kimia Farma 2 Senen diantaranya yaitu: a. Pelayanan resep tunai Setelah keabsahan kelengkapan resep terpenuhi, petugas akan melihat ketersediaan obat dan melakukan penetapan harga. Dalam hal penetapan harga perlu dikomunikasikan kembali dengan pasien untuk mengetahui kemungkinan obat akan ditebus semua atau sebagian karena alasan pasien tidak mampu membayar. Untuk obat yang tidak dimiliki apotek dan tidak ingin diganti maka petugas akan memberikan salinan resep. Pada saat penyerahan obat pasien diminta untuk memberikan alamat, nomor telepon dan paraf. a. Pelayanan resep kredit Resep kredit disini berasal dari beberapa instansi. Dengan adanya permintaan resep kredit yang berasal dari beberapa instansi tersebut tentunya dapat meningkatkan omset dari Apotek pelayanan. Kerjasama ini tentunya Universitas Indonesia

50 didasarkan atas kesepakatan yang telah disetujui sebelumnya, dimana kesepakatan tersebut dapat dilakukan oleh seorang APA dari Apotek pelayanan sendiri ataupun diatur oleh pihak Manajemen. Tentunya, dengan banyaknya permintaan kredit haruslah disesuaikan dengan jumlah jam dan tenaga kerja yang ada di Apotek dengan tetap memprioritaskan permintaan resep yang berasal dari klinik maupun pasien luar. Kelebihan dari adanya bentuk kerjasama ini biasanya terdapat pada kelonggaran waktu piutang yang ditawarkan oleh pihak Apotek Pelayanan (atau Bisnis Manager) kepada pihak perusahaan yang bersangkutan. Pelayanan resep kredit tidak perlu menetapkan harga terlebih dahulu karena sifatnya piutang. Pemakaian obat untuk resep kredit diinput dan dikirim ke instansi yang bersangkutan untuk mendapatkan pembayaran hutang. Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanannya, apotek Kimia Farma 2 berusaha untuk memberikan pelayanan lebih luas kepada pelanggan, seperti : 1. Menyediakan praktek dokter untuk pasien. 2. Adanya pelayanan Upaya Pengobatan Diri Sendiri (UPDS) yang ditunjang dengan pemberian informasi yang benar mengenai penggunaan obat, sehingga terhindar dari efek samping obat yang merugikan. Metode yang digunakan meliputi 5 pertanyaan, yaitu untuk siapa obat yang diberikan, apa gejalanya, berapa lama gejala tersebut, tindakan yang telah dilakukan serta obat yang dipakai untuk kondisi yang lain. 3. Adanya pemisahan tempat untuk penjualan alat kesehatan, kosmetika dan obat tradisional. 4. Adanya ruang tunggu yang nyaman, dilengkapi dengan fasilitas televisi untuk mengurangi kejenuhan pasien selama menunggu obat disiapkan. 5. Adanya delivery service, untuk pasien yang tidak memiliki banyak waktu untuk menunggu maka obat dapat diantar ke alamat pasien. Universitas Indonesia

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan 1. Apoteker Pengelola Apotek (APA) berperan dalam menentukan kebijakan pengelolaan apotek serta melaksanakan fungsi pengawasan dan pengendalian terhadap semua komponen yang ada di apotek. Disamping itu, apoteker sebagai bagian dari tenaga kesehatan memiliki tugas dan tanggung jawab dalam mewujudkan pelayanan kefarmasian yang berkualitas untuk menjamin penggunaan obat yang rasional guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat. 2. Pengelolaan Apotek mencakup administrasi, manajemen pengadaan, penyimpanan, penjualan dan pelayanan telah sesuai dengan peraturan, dan etika yang berlaku dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat. 6.2. Saran 1. Kebersihan alat peracikan perlu diperhatikan guna menjamin keamanan, efektifitas, dan kualitas obat. Perlu adanya prosedur tertulis mengenai cara pembersihan alat racik yang dapat dibaca oleh petugas yang meracik. Bila perlu alat racik untuk meracik obat yang mengandung beta laktam sebaiknya mempunyai alat racik sendiri. 2. Tanggung jawab petugas terhadap masing-masing lemari obat perlu diingatkan kembali, terutama mengenai kontrol persediaan termasuk kontrol expired date obat, kerapihan, dan kebersihan kotak dan lemari obat. Kotak obat yang sudah rusak dan kartu stok yang sudah penuh/rusak sebaiknya diganti dengan yang lebih baik. 3. Setiap karyawan perlu diberikan pemahaman dan pelatihan mengenai Standar Prosedur Operasional (SPO) pelayanan di apotek. Pengawasan terhadap pelaksanaan SPO yang telah ditetapkan harus terus ditingkatkan untuk memastikan bahwa pelayanan yang baik dapat tercapai setiap saat. 51

52 4. Komitmen untuk memberikan pelayanan sebaik mungkin kepada setiap konsumen harus terus diupayakan dan ditingkatkan oleh apoteker melalui pelayanan informasi obat, konseling dan monitoring penggunaan obat. 5. Evaluasi mutu pelayanan sebaiknya dilakukan secara berkala dengan menggunakan indikator tingkat kepuasan konsumen, dimensi waktu (lama pelayanan diukur dengan waktu yang telah ditetapkan), dan prosedur tetap untuk menjamin mutu pelayanan sesuai standar yang telah ditetapkan. 6. Kedisiplinan karyawan dalam menjalankan setiap tugas dan kewajibannya perlu ditingkatkan dengan cara pemberian reward. Universitas Indonesia

55 zlampiran 1. Alur Pelayanan Penerimaan Resep Penerimaan Resep Resep Kredit Resep Tunai Pemeriksaan kelengkapan administrasi Pemeriksaan kelengkapan administrasi Pemberian harga Pemberian harga Pemberian nomor urut Pasien membayar di kasir dan diberi nomor resep Bagian Penyiapan obat Obat Jadi Obat Racikan Pemberian etiket Pemeriksaan kesesuaian obat Penyerahan obat disertai pelayanan informasi obat Obat diterima oleh pasien Resep disimpan petugas

56 Lampiran 2. Surat Pemesanan Narkotika Lampiran 3. Surat Pemesanan Psikotropika

57 Lampiran 4. Laporan Narkotika

58 Lampiran 5. Laporan Psikotropika Lampiran 6. Plastik Klip dengan Etiket

59 Lampiran 7. Kertas Pembungkus Puyer Lampiran 8. Etiket Obat Dalam Lampiran 9. Etiket Obat Luar

60 Lampiran 10. Label Obat Lampiran 11. Kwitansi Pembayaran Resep Tunai

61 Lampiran 12. Kopi Resep

62 Lampiran 13. Kartu Stok Oba

68

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 2 JL. SENEN RAYA No. 66 JAKARTA PUSAT PERIODE 1 MEI 8 JUNI 2012 TUGAS KHUSUS ANALISIS KINERJA KATEGORI PRODUK OTC DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 2 PADA BULAN APRIL 2012 NENDEN PUSPITASARI, S.Si 1106047221 ANGKATAN LXXIV FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM PROFESI APOTEKER DEPARTEMEN FARMASI DEPOK JUNI 2012

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 2 JL. SENEN RAYA No. 66 JAKARTA PUSAT PERIODE 1 MEI 8 JUNI 2012 TUGAS KHUSUS ANALISA KINERJA KATEGORI PRODUK OTC DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 2 PADA BULAN APRIL 2012 Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker NENDEN PUSPITASARI, S.Si 1106047221 ANGKATAN LXXIV FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM PROFESI APOTEKER DEPARTEMEN FARMASI DEPOK JUNI 2012 ii

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... ii DAFTAR ISI... iii DAFTAR LAMPIRAN... iv 1. PENDAHULUAN... 1 1.1. Latar Belakang... 1 1.2. Tujuan... 2 2. TINJAUAN PUSTAKA... 3 2.1. Apotek sebagai Bisnis Retail... 3 2.2. Merchandising di Apotek... 3 2.3. Analisis Kinerja Kategori Produk... 4 3. METODOLOGI PENELITIAN... 6 3.1. Waktu dan Tempat... 6 3.2. Cara Kerja... 6 4. HASIL DAN PEMBAHASAN... 7 5. KESIMPULAN DAN SARAN... 11 4.1. Kesimpulan... 11 4.2. Saran... 11 DAFTAR REFERENSI...12 LAMPIRAN... 13 iii

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berdasarkan PP no. 51 tahun 2009 pasal 1 ayat 13, apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh apoteker. Praktek kefarmasian di apotek meliputi pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian atau penyaluran obat, pelayanan obat atas resep dokter, dan pelayanan informasi obat. Oleh karena itu, seorang apoteker di apotek memiliki peran yang penting baik sebagai profesional, manajer, maupun retailer. Seiring perkembangan zaman, apotek sebagai retailer saat ini tidak hanya melayani obat atas resep dokter ataupun pengobatan mandiri, tetapi juga menyediakan perbekalan kesehatan lain yang dapat dibeli konsumen dengan bebas (swalayan/otc). Tujuan utama retailer adalah mampu menjual produk dan jasa semaksimal mungkin untuk menghasilkan keuntungan. Dengan demikian, peran apoteker sebagai retailer memegang peranan sangat penting demi lancarnya keberlangsungan bisnis apotek. Apotek sebagai retailer harus mempunyai varian produk atau jasa yang beragam dan menjualnya secara konsisten Seorang apoteker harus jeli dalam menentukan varian/jenis produk yang tepat yang akan disediakan di swalayan apoteknya sehingga memberikan keuntungan yang maksimal. Analisis terhadap kinerja kategori produk merupakan suatu metode yang dilakukan untuk mengidentifikasi kategori produk mana yang memiliki nilai jual tinggi sehingga dapat memberikan keuntungan maksimal bagi apotek. Dengan mengetahui kinerja dari kategori produk, maka apoteker mengetahui produk dari kategori apa yang layak untuk dikembangkan penjualannya. Pengembangan penjualan ini dapat dilakukan dengan menambah jenis/variasi produk atau pun jumlah pengadaan dari kategori tersebut. Tugas khusus ini berisi analisis kinerja kategori produk OTC yang dilakukan dengan mengkaji pareto penjualan pada bulan April 2012 di apotek Kimia Farma no. 2 Senen, Jakarta Pusat. 1 Universitas Indonesia

2 1.2 Tujuan Tujuan dari penulisan tugas khusus ini adalah untuk mengidentifikasi kategori produk OTC Apotek Kimia Farma no. 2 Senen yang memiliki nilai jual paling tinggi berdasarkan pareto bulan April 2012. Universitas Indonesia

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Apotek sebagai Bisnis Retail Retail adalah semua usaha bisnis yang secara langsung mengarahkan kemampuan pemasarannya untuk memuaskan konsumen akhir berdasarkan organisasi penjualan barang dan jasa sebagai inti dari distribusi. Apotek sebagai bisnis retail berarti suatu usaha yang menyediakan pelayanan produk dan jasa yang harus memenuhi kebutuhan konsumen dalam meningkatkan taraf kesehatan konsumen. Produk dan jasa yang disediakan di apotek antara lain pelayanan obat berdasarkan resep dokter, pelayanan pengobatan mandiri atau upaya pengobatan diri sendiri (UPDS), jasa pelayanan konsultasi, edukasi, dan informasi obat, jasa praktek dokter, serta penyediaan perbekalan kesehatan di swalayan apotek. Penyediaan varian produk atau jasa yang beragam dimaksudkan untuk mencapai tujuan utama retailer, yaitu mampu menjual produk dan jasa semaksimal mungkin untuk menghasilkan keuntungan yang maksimal. 2.2. Merchandising di Apotek Merchandising adalah aktivitas untuk mendapatkan barang atau jasa tertentu dan menjadikannya tersedia pada waktu, tempat, serta jumlah yang mampu membuat peritel mencapai tujuannya. Jadi merchandising merupakan suatu kegiatan perencanaan, pelaksanaan, maupun pengaturan dan penempatan produk yang dijual di dalam apotek. Merchandising berhubungan dengan purchasing, pricing, kategori produk, lay-out dan shelving, display, dan promosi. Program pembelian harus diatur sedemikan rupa sehingga produk tersedia pada saat yang tepat dengan jumlah yang sesuai. Harga jual pun perlu diperhatikan sehingga rasional bagi pelanggan dan memberikan keuntungan yang wajar bagi apotek. Kategori produk yang disediakan harus tepat memenuhi kebutuhan pelanggan sehingga semua produk terjual. Dekorasi serta penataan masing-masing kategori produk yang dijual penting demi kemudahan dan kenyamanan pelanggan dalam berbelanja di 3 Universitas Indonesia

4 swalayan apotek. Promosi diberikan untuk menarik pelanggan yang sensitif terhadap harga sehingga bisa menjadi daya tarik serta nilai tambah bagi pelanggan. Setiap apotek mempunyai program merchandising masing-masing. Dapat merupakan sebuah hasil evolusi yang tidak direncanakan, maupun merupakan program yang dikembangkan untuk merespon kebutuhan pelanggan dan kondisi pasar. Bagi chain pharmacy, istilah merchandising berarti sebuah kombinasi terbaik-terburuk untuk positioning, arranging, dan promoting sebuah produk di dalam apotek sedemikian rupa sehingga para pelanggan termotivasi untuk membeli setiap saat. Keputusan seorang pelanggan untuk membeli barang di apotek adalah ketika mereka berada di dalam apotek. Oleh karena itu, merchandising merupakan faktor penting yang harus di perhatikan dalam bisnis apotek. 2.3 Analisis Kinerja Kategori Produk Analisis kinerja kategori produk merupakan suatu metode atau kegiatan yang dilakukan untuk mengidentifikasi kategori produk mana yang memiliki nilai penjualan yang tinggi. Dengan demikian, dapat diketahui kategori produk apa yang memberikan keuntungan tertinggi bagi apotek. Analisis kinerja kategori produk dilakukan dengan mendata pareto penjualan setiap produk pada kurun waktu tertentu. Setelah didapatkan paretonya, setiap produk dikelompokkan berdasarkan kategori penjualan yang telah ditentukan sebelumnya. Pengelompokkan ini dapat didasarkan pada farmakologi maupun fungsi dari setiap jenis obat. Setelah dikelompokkan dengan kategori produknya masing-masing, dilihat jumlah nilai jual dari setiap kategori. Dengan demikian, dapat diketahui kategori mana yang memiliki nilai penjualan tertinggi. Pelaksanaan analisis kinerja kategori produk ini dapat dilakukan secara otomatis dengan menggunakan program komputer tertentu, maupun secara manual dengan menggunakan program Microsoft Excel. Universitas Indonesia

5 Dengan mengetahui kinerja dari kategori produk, maka apoteker mengetahui produk dari kategori apa yang layak untuk dikembangkan penjualannya. Pengembangan penjualan ini dapat dilakukan dengan menambah jenis/variasi produk atau pun jumlah pengadaan dari kategori tersebut. Kategori produk dengan varian produk yang besar dan beragam dapat menjadi daya tarik pelanggan dengan membentuk citra bahwa suatu apotek menyediakan produk yang lengkap. Dengan demikian, pelanggan akan kerap datang ke apotek tersebut dibanding apotek lain. Universitas Indonesia

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Pengambilan data dan penelusuran pustaka dilakukan di Apotek Kimia Farma no. 2 Senen, Jakarta Pusat pada periode Mei Juni 2012. Data diambil dari bagian administrasi apotek. 3.2 Cara Kerja Dilakukan penelusuran data dari pareto penjualan produk OTC pada bulan April 2012 di swalayan Apotek Kimia Farma no. 2 Senen, Jakarta Pusat. Data yang diambil dari bagian administrasi apotek ini kemudian dikelompokkansecara manual berdasarkan kategori yang ada pada setiap gondola di swalayan apotek. Setelah terkelompok dengan baik, tabel data setiap kategori dibuat pada program Microsoft Excel dengan format nama produk, jumlah penjualan dan nilai penjualan. Nilai penjualan dari tiap kategori lalu dijumlahkan dan disusun dari angka nilai penjualan terbesar hingga terkecil. Dengan demikian diketahui urutan nilai penjual tiap kategori. 6 Universitas Indonesia

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel pareto penjualan OTC yang didapatkan dari bagian administrasi berisi data berupa ±400 produk yang dipajang pada gondola swalayan apotek yang memiliki nilai penjualan terbesar. Pareto penjualan pada bulan April 2012 ini kemudian dikelompokkan berdasarkan masing-masing kategori pada gondola, dan ditentukan total nilai penjualannya. Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 1 19. Total nilai penjualan dari masing masing kategori kemudian disatukan dalam sebuah tabel sehingga dapat dibandingkan total nilai jual dan nilai persentasenya. Data tersebut dapat dilihat pada tabel 4.1. Tabel 4.1 Kategori Produk dan Nilai Penjualannya NO KATEGORI NILAI JUAL (Rp) NILAI % 1 Suplemen 42.984.754 35,23 2 Medicine 14.944.311 12,25 3 Alat Kesehatan 14.010.496 11,49 4 Topical 11.234.391 9,21 5 Vitamin & Mineral 10.802.003 8,85 6 First Aid 5.859.616. 4,80 7 Milk & Nutrition 5.495.482 4,50 8 Beauty Care 4.980.285 4,06 9 Drink 3.868.269 3,17 10 Oral care 1.761.012 1,44 11 Skin Care 1.556.162 1,28 12 Personal Care 1.309.389 1,07 13 Food & Snack 921.662 0,76 14 Feminine Care 748.072 0,61 15 Baby & Child Care 721.800 0,59 16 Paper Product & Feminine Care 288.976 0,24 7 Universitas Indonesia

8 NO KATEGORI NILAI JUAL (Rp) NILAI % 17 Soap and Body wash 286.120 0,23 18 Hair Care 203.114 0,17 19 Majalah 70.000 0,06 Total 122.025.914 100,00 Data pada tabel 4.1 kemudian digambarkan dalam bentuk pie chart dengan tujuan mempermudah perbandingan nilai penjualan antar kategori. Selengkapnya dapat dilihat pada diagram 4.1. Diagram 4.1 Persentase Nilai Penjualan Setiap Kategori Berdasarkan data pada tabel dan diagram didapatkan bahwa 5 kategori dengan nilai penjualan terbesar adalah kategori suplemen (35%), kategori medicine (12%), kategori alat kesehatan (11%), kategori topical (9%%), dan kategori vitamin dan mineral (9%). Dengan tercapainya nilai penjualan yang tinggi, berarti keuntungan yang didapatkan oleh apotek dari penjualan kategori ini juga tinggi. Kategori suplemen menduduki peringkat teratas sebagai kategori produk dengan nilai penjualan terbesar, bahkan lebih besar dari nilai penjualan obat. Hal ini dapat menggambarkan bahwa kesadaran sebagian masyarakat indonesia sudah Universitas Indonesia

9 meningkat. Masyarakat pergi ke apotek tidak hanya membeli obat sebagai terapi penyembuhan penyakit, tetapi juga membeli suplemen sebagai terapi pencegahan penyakit. Ini berarti masyarakat telah menyadari betapa pentingnya kesehatan dan menganut prinsip lebik baih mencegah daripada mengobati. Selain itu, banyaknya informasi yang diberikan oleh para SPG juga dapat mendorong pelanggan apotek yang meskipun awalnya datang tidak dengan niat membeli suplemen, pada akhirnya tertarik dan membeli. Kategori produk suplemen memiliki nilai penjualan tertinggi. Ini berarti apotek mendapatkan keuntungan tertinggi dari penjualan produk kategori ini. Produkproduk yang terdapat pada kategori ini adalah suplemen antara lain seperti Spartax, Nature Pristine, Hezzel, dan lain-lain. Produk produk pada kategori suplemen ini merupakan produk premium yang memiliki harga mahal. Dengan tingginya nilai penjualan suplemen, berarti apotek memiliki banyak pelanggan dengan kemampuan ekonomi menengah ke atas dan tidak sensitif terhadap harga. Hal ini dapat menentukan langkah apa yang dapat diambil untuk pengembangan kategori suplemen selanjutnya. Pengembangan produk yang dapat diambil untuk pelanggan yang tidak sensitif terhadap harga adalah dengan menambah varian atau jenis suplemen dan memberikan pelayanan jasa konsultasi atau informasi produk dan kesehatan. Hal ini dapat menambah nilai dari produk suplemen yang dijual, serta meningkatkan loyalitas pelanggan sehingga tetap membeli suplemen di apotek Kimia Farma Senen. Dilihat dari data, produk yang berkaitan dengan kesehatan seperti suplemen, obat, alat kesehatan, topikal, vitamin dan mineral, susu dan nutrisi, serta perbekalan P3K masih menjadi primadona penjualan apotek. Sementara kategori lainnya seperti kosmetik, makanan dan minuman nilai penjualannya jauh di bawah produk kesehatan. Ini mengisyaratkan bahwa tujuan masyarakat ke apotek memang untuk mencari produk penunjang dan peningkat kesehatan. Akan tetapi produk-produk lain juga tetap perlu disediakan sebagai pelengkap sehingga bisa menjadi impulse product yang merupakan sumber pemasukan tambahan bagi apotek. Universitas Indonesia

10 Analisis terhadap kategori produk ini perlu dilakukan di apotek karena apotek merupakan bisnis retail yang memiliki tujuan utama menjual produk dan jasa semaksimal mungkin sehingga memperoleh keuntungan yang juga maksimal. Dengan tingginya nilai penjualan dan keuntungan yang diperoleh, maka pengembangan pelayanan OTC di swalayan apotek dapat terus dilakukan. Pengembangan swalayan apotek tidak hanya dari segi penambahan varian produk, tapi juga perlu diperhatikan display atau tata letak tiap produk dalam gondola kategori, serta tata letak gondola dalam ruangan. Untuk gondola kategori produk yang menjadi product destination seperti suplemen, medicine, alat kesehatan, topical, serta vitamin dan mineral dapat diletakkan pada bagian ujung atau pojok. Sementara untuk gondola kategori produk lainnya, sebaiknya diletakkan pada wilayah yang mudah tertangkap oleh mata. Hal ini bertujuan agar ketika pelanggan menuju produk tersebut, dapat sembari melihat-lihat gondola dari kategori produk lain, sehingga diharapkan terjadi penjualan impulse product. Seperti kategori produk dengan penjualan tinggi, kategori produk yang memiliki nilai penjualan rendah pun perlu mendapatkan perhatian yang sama. Pemilihan item produk yang dijual harus dipilih seselektif mungkin, disesuaikan dengan target pasar swalayan apotek yang pada umumnya adalah menengah dan menengah ke atas. Universitas Indonesia

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Kategori produk dengan nilai penjualan tertinggi adalah kategori suplemen dengan nilai penjualan total sebesar Rp.42.989.754 dan persentase penjualan sebesar 35,23% dari total penjualan. 5.2 Saran Setelah mengetahui kategori produk dengan penjualan tertinggi, maka perlu dilakukan pengembangan kategori tersebut seperti penambahan variansi, pelayanan jasa informasi obat dan kesehatan, pemberian pelayanan cek kesehatan, promosi dan diskon, dan sebagainya. Pengembangan kategori produk sebaiknya tidak hanya dilakukan pada satu kategori produk dengan nilai penjualan tertinggi saja, tapi pada setidaknya lima kategori produk dengan nilai penjualan tertinggi. Analisis kinerja kategori produk ini perlu dilakukan secara berkala dan berkelanjutan. 11 Universitas Indonesia

DAFTAR REFERENSI Keputusan Presiden RI. (2009). Ketentuan Umum pasal 1 ayat 1. Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta. Keputusan Presiden RI. (2009). Ketentuan Umum Pasal 1 ayat 13. Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta. PT. Kimia Farma Apotek. 2012. Merchandise structure and Display Manual. PT. Kimia Farma Apotek. Jakarta. PT. Kimia Farma Apotek. 2012. Panduan Analisa Kinerja Category Produk. PT. Kimia Farma Apotek. Jakarta. 12 Universitas Indonesia

Lampiran 1. Daftar Pareto Kategori Suplemen Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 SPARTAX CAP@10 CAP PHARMASI BINANGKIT 286 7,235,800 2 NEW PROZOS CAP@1 CAP SARAKA MANDIRI SEMESTA 154 3,580,000 3 N.PRIST W.ALASKA SALMON OIL@30 BH UP. KIMIA FARMA JAKARTA 19 2,758,800 4 REDISS SARI BUAH MERAH CAP@60 BTL PT REDISS PAPUA 12 2,640,000 5 HEZZEL JOINT GUARD 900 @60 BTL HEZZEL FARM 6 1,488,000 6 N.PRIST EVENING PRIMROSE OIL @ BH UP. KIMIA FARMA JAKARTA 14 1,422,960 7 HP PRO CAP@120 CAP BIO LIFE 200 910,800 8 NEW PADIBU KPL@30 DUS KPL UP. KIMIA FARMA JAKARTA 234 903,942 9 PROPOLIS DIAMOND 6ML BTL PNZ PROPOLIS 9 900,000 10 HEZZEL GREEN CARE SOAP BH HEZZEL FARM 13 884,000 11 ASTHIN B-OND CAP@30 CAP SOHO 90 853,920 12 HEZZEL ADULT FORM MULTIVIT@90 BH HEZZEL FARM 4 840,000 13 FITUNO CAP@30 BTL UP. KIMIA FARMA BANDUNG 11 757,669 14 SEA QUIL OMEGA 3 SALMON@100 FLS SEA-QUIL 3 688,500 15 HEZZEL ADULT FORM MULTIVIT@30 BH HEZZEL FARM 6 672,000 16 SUPER ESTER C HOLISTICARE@30 BTL MUGI LABORATORIUES 19 654,607 17 REDISS SARI BUAH MERAH 125ML BTL PT REDISS PAPUA 4 640,000 18 VIOSTIN COM DS KPL@30 KPL PHAROS INDONESIA 90 569,250 19 HEZZEL BEE PROPOLIS CAP@90 BH HEZZEL FARM 1 550,000 20 THERMOLYTE PLUS KPL@30 BH PHAROS INDONESIA 3 538,890 21 FOLAMIL GENIO SOFTCAP@30 CAP DEXA MEDICA 150 517,950 22 SEA QUIL PURE WAY C-EXTRAVI@30 BTL SEA-QUIL 7 483,000 13

NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 23 N.PRIST GLUCOSAMIN CHOND @30 BH UP. KIMIA FARMA JAKARTA 2 479,160 24 N.PRIST EYE FACTOR CAP@30 BH UP. KIMIA FARMA JAKARTA 3 431,244 25 HEZZEL SPIRULINA@ 30 BH HEZZEL FARM 3 429,000 26 SEA QUIL VIT E 400IU NAT@60+60 BTL SEA-QUIL 2 420,000 27 VERMINT CAP@30 BTL VERMINDO INTERNATIONAL 11 418,000 28 MARINOX OMEGA 3 PLUS CAP@ 30 BTL MARINS INTERNATIONAL 5 415,000 29 HEZZEL VITAMIN E@90 BH HEZZEL FARM 2 414,000 30 NOURISH SKIN TAB@30 DUS PHAROS INDONESIA 2 394,680 31 REDISS SARI BUAH MERAH CAP@30 BTL PT REDISS PAPUA 3 390,000 32 SEA QUIL DHA-GOLD 200MG@50 BTL SEA-QUIL 2 374,000 33 SLIMCAP 500MG CAP@30 BTL ALOMAMPA PERSADA 6 360,000 34 N.PRIST GLUCOBALANCE@30 BTL UP. KIMIA FARMA JAKARTA 2 359,370 35 NUTRIMAX RAINBOW KIDZ 240ML BTL BACTOLAC PHARMACE / NUTRI 1 337,500 36 HEZZEL HAIR & SKIN CARE@60 BH HEZZEL FARM 1 319,000 37 LING SHEN YAO @40 BTL ASIAPAC PANCA MAKMUR 1 306,130 38 SEA QUIL SUGAR SHIELD TAB@50 BTL SEA-QUIL 1 305,000 39 MARINOX HARVEST COUGH MIXT 150 BTL MARINS INTERNATIONAL 3 285,000 40 NATUR E SOFTCAP@160 CAP DARYA VARIA 288 277,902 41 MARINOX HARVEST COUGH MIXT 60M BTL MARINS INTERNATIONAL 5 275,000 42 NUTRIMAX COMPL MULTIV+GINS@60 BTL BACTOLAC PHARMACE / NUTRI 1 250,000 43 MARINOX MULTIVITAMIN PLUS @30 BTL MARINS INTERNATIONAL 2 246,000 44 SUCHOL TAB@30 TAB UP. KIMIA FARMA JAKARTA 120 244,920 45 SEA QUIL NEO CHITO TRIM TAB@30 FLS SEA-QUIL 1 243,000 46 MARINOX GLUCOSAMIN COMP TAB@30 BTL MARINS INTERNATIONAL 1 235,000 14

NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 47 WOMENCAP 500MG CAP@10 BTL ALOMAMPA PERSADA 8 231,250 48 MARINOX URICAID@30 BTL MARINS INTERNATIONAL 1 207,000 49 SEA QUIL GINGKO BILOBA EXT@60 BTL SEA-QUIL 1 199,000 50 MARINOX OMEGA 3 PLUS CAP@100 BTL MARINS INTERNATIONAL 1 196,200 51 MARINOX VIT E 400UI TAB@100 BTL MARINS INTERNATIONAL 1 193,500 52 SELOXY AA KPL@30 KPL FERRON PAR PHARM 30 189,750 53 MARINOX VIT E 400UI CAP@30 BTL MARINS INTERNATIONAL 2 180,000 54 SEA QUIL HERBAL SLIMING TEA@24 BTL SEA-QUIL 1 179,100 55 NUTRIMAX C+ PLUS BETA TAB@30 BTL BACTOLAC PHARMACE / NUTRI 2 170,000 56 MARINOX BRAIN GUARD TAB@50 BTL MARINS INTERNATIONAL 1 165,000 57 SEA QUIL SELENIUM ACE SOFS@30 FLS SEA-QUIL 1 158,000 58 MARINOX B100 COMPLEX@30 BTL MARINS INTERNATIONAL 1 150,000 59 NUTRIMAX DHA PLUS CAP@30 BTL BACTOLAC PHARMACE / NUTRI 1 150,000 60 MAXVITA GLOMEGA CAP@30 BTL MAX VITA 1 148,500 61 SEA QUIL OMEGA 3 SALMON@60 FLS SEA-QUIL 1 145,500 62 HEZZEL NUTRI BRAIN@30 BH HEZZEL FARM 1 145,000 63 EXO X CAP@2 CAP JAMU PUSPO INTERNUSA 6 144,210 64 MARINOX VITAMIN C 1000 TAB@50 BTL MARINS INTERNATIONAL 1 140,000 65 HEZZEL CALCIUM + VITAMIN D@100 BH HEZZEL FARM 1 136,000 66 SEA QUIL SPECTRA 3 TAB@ 30+5 FLS SEA-QUIL 1 128,250 67 NUTRIMAX LIVER GUARD CAP@30 BTL BACTOLAC PHARMACE / NUTRI 1 120,000 68 HEZZEL VITAMIN E@30 BH HEZZEL FARM 1 115,000 69 HEZZEL APPLE CIDER VINEGAR@30 BH HEZZEL FARM 1 112,000 70 HEZZEL VITAMIN C ORANGE@90 BH HEZZEL FARM 1 105,000 15

NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 71 MERIT 30PIL SACH@10 SAC SARI SEHAT 9 103,500 72 SEA QUIL HERBACOLD LOZ@30 BTL SEA-QUIL 1 87,000 73 HARVEST SANODIA CAP@30 BTL INDO SEHAT LESTARI 1 75,000 74 VALEO 500MG CAP@40 CAP ULTRATRENT BIOTECH INDONE 20 75,000 75 ENERVITA M.S.M TAB@30 DUS BEST PT(BERKAT ASIA TUNGG 1 69,000 76 ENERVITA HORNY GOAT WEED @30 DUS BEST PT(BERKAT ASIA TUNGG 1 68,000 TOTAL 42,984,754 16

Lampiran 2. Daftar Pareto Kategori Medicine Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 OMEPROS TAB@30 TAB PHAROS INDONESIA 210 841,470 2 NEUROBION 5000MG TAB@250 TAB MERCK INDONESIA 260 615,680 3 AMBEVEN CAP@100 CAP MEDIKON PRIMA LAB 460 554,300 4 ACTIFED COUGH DM SYR 60ML BTL GLAXO SMITH KLINE 19 514,989 5 SIDO M TOLAK ANGIN+MADU 15ML SAC SIDO MUNCUL 266 495,747 6 ACTIFED PLUS EXP SYR 60ML BTL GLAXO SMITH KLINE 18 484,101 7 BATUGIN ELIXIR 300ML BTL UP. KIMIA FARMA BANDUNG 18 450,846 8 NEUROBION TAB@250 TAB MERCK INDONESIA 370 443,960 9 ACTIFED COUGH DM SYR 120ML BTL GLAXO SMITH KLINE 9 397,918 10 LACTO B SACH@40 BH NOVELL PHARM 80 328,880 11 LORIC CAP@30 CAP UP. KIMIA FARMA BANDUNG 180 300,060 12 OBH NELLCO SPECIAL 100ML BTL NELLCO INDOPHARMA 18 299,826 13 MICROLAX ENEMA 5ML TUB PHAPROS 15 265,650 14 MYLANTA SUSP 150ML BTL VICEN ECHINACEA 9 264,132 15 BISOLVON EXTRA SYR 60ML BTL BOEHRINGER INGELHEIM 9 256,158 16 ORALIT SACH@100 GKF SAC UP. KIMIA FARMA BANDUNG 559 244,283 17 MAGASIDA SUSP 150ML BTL UP. KIMIA FARMA JAKARTA 8 223,752 18 SANMOL SYR 60ML BTL SANBE FARMA 18 209,718 19 OBH COMBI B.FLU 100ML MENTHOL BTL COMBIPHAR 19 209,589 20 COMBANTRIN SYR JERUK BTL PFIZER 16 198,352 21 ENKASARI LIQ. 120ML BTL UP. KIMIA FARMA BANDUNG 16 194,816 22 BISOLVON FLU SYR 60ML BTL BOEHRINGER INGELHEIM 7 194,810 17

NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 23 COMBANTRIN TAB 250MG@50 TAB PFIZER 38 189,886 24 OSTE FORTE CAP@30 CAP SOHO 30 189,750 25 BISOLVON 8MG/4ML SOL 50ML BTL BOEHRINGER INGELHEIM 3 185,574 26 ENZYPLEX CAP@100 CAP MEDIFARMA 206 181,692 27 L-BIO @30 SACHET SAC LAPI 38 177,840 28 CALCUSOL CAP@ 50 BTL DR.SARDJITO 4 177,560 29 PANADOL COLD & FLU KPL@100 KPL GLAXO SMITH KLINE 230 175,742 30 VICKS F 44 SYR 100ML DWS BTL PROCTER GAMBLE IND,TBK 11 174,988 31 ANTANGIN JRG CAIR SACH@10 SAC DELTOMED LABORATORIES 98 162,237 32 PANADOL EXTRA KPL@100 KPL GLAXO SMITH KLINE 250 162,148 33 TEMPRA SYR 60ML BTL BRISTOL MYERS-SQUIBB 5 161,285 34 POLYSILANE SUSP 100ML BTL PHAROS INDONESIA 8 157,776 35 NALGESTAN TAB@100 TAB MEDIFARMA 148 156,288 36 PARATUSIN TAB@ 200 TAB PRAFA 210 152,190 37 NORIT LANG TAB@40 BH EAGLE INDO PHARA 16 145,680 38 VERMINT CAP@12 BTL VERMINDO INTERNATIONAL 8 144,000 39 TRIAMINIC EXP SYR 60ML BTL NOVARTIS BIOCHEMIE 4 141,680 40 PRORIS FORTE SYR 60ML BTL PHAROS INDONESIA 6 140,412 41 PANADOL 500MG KPL@100 KPL GLAXO SMITH KLINE 260 139,738 42 NEW DIATAB TAB@100 TAB MEDIFARMA 268 138,572 43 THERAGRAN-M TAB TAB BRISTOL MYERS-SQUIBB 37 137,603 44 BISOLVON ELIX 60ML BTL BOEHRINGER INGELHEIM 5 124,853 45 PARAMEX TAB@200 TAB KONIMEX 268 120,600 46 MYLANTA SYR 50ML BTL PFIZER 13 120,042 18

NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 47 OBAT BATUK IBU & ANAK 75ML BTL SINDE BUDI SENTOSA 7 117,733 48 PRORIS SYR 60ML BTL PHAROS INDONESIA 6 117,648 49 TEMPRA DROP 15ML BTL BRISTOL MYERS-SQUIBB 3 115,746 50 COMBANTRIN TAB 125MG@100 TAB PFIZER 44 109,912 51 PROMAG TAB@144 TAB KALBE FARMA 264 103,488 52 WOODS COUGH EXP SYR 100ML BTL KALBE FARMA 5 102,935 53 OB HERBAL 100ML BTL DELTOMED LABORATORIES 9 101,430 54 WOODS COUGH EXP SYR 60ML BTL KALBE FARMA 8 99,960 55 POLYSILANE SUSP 180ML BTL PHAROS INDONESIA 3 96,771 56 VERMOX 500MG TAB@24 TAB JANSSEN 5 96,770 57 FLUDANE PLUS KPL@100 TAB ARMOXINDO FARMA 108 95,580 58 PEDIALYTE 500ML B.GUM(PINK) BTL ABBOTT 4 93,888 59 OBAT BATUK IBU & ANAK 150ML BTL SINDE BUDI SENTOSA 3 91,596 60 BISOLVON ELIX 125ML BTL BOEHRINGER INGELHEIM 2 89,562 61 ACTIFED PLUS EXP SYR 120ML BTL GLAXO SMITH KLINE 2 87,993 62 LELAP CAP@100 CAP SOHO 68 86,020 63 AFRIN 0.05% NASAL SPRAY 15ML FLS SCHERING PLOUGH 1 83,401 64 PANKREOFLAT TAB@100 TAB KALI-DUPHAR GROUP 25 82,550 65 PANADOL SYR 60ML BTL GLAXO SMITH KLINE 3 79,725 66 NEUROVIT E TAB@60 TAB UP. KIMIA FARMA JAKARTA 90 79,650 67 NEO ENTROSTOP TAB@144 TAB KALBE FARMA 204 77,316 68 PROMAG DOUBLE ACTION TAB@12 TAB KALBE FARMA 48 75,888 69 BEKARBON 250 MG TAB @ 750 TAB UP. KIMIA FARMA WATUDAKON 750 75,750 70 BISOLTUSSIN SYR 60ML BTL BOEHRINGER INGELHEIM 3 75,519 19

NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 71 WOODS COUGH ATT SYR 60ML BTL KALBE FARMA 6 74,970 72 DISUDRIN DROP BTL MEDIFARMA 2 72,864 73 BATUGIN ELIXIR 120ML BTL UP. KIMIA FARMA JAKARTA 6 72,470 74 PEDIALYTE 500ML BENING BTL ABBOTT 3 70,416 75 PANADOL MUSCLE&JOINT PAIN@12 SAC GLAXO SMITH KLINE 4 69,920 76 OB HERBAL 60ML BTL DELTOMED LABORATORIES 9 69,345 77 TRIAMINIC BATUK SYR 60ML BTL NOVARTIS BIOCHEMIE 2 67,804 78 ACLONAC EMULGEL 20GR TUB PHAROS INDONESIA 2 67,804 79 KINA 0,222 TAB@12 TAB UP. KIMIA FARMA BANDUNG 72 67,680 80 LAXADINE SYR 60ML BTL GALENIUM PH 2 67,044 81 SIDO M TOLAK ANGIN CAIR ANAK SAC SIDO MUNCUL 57 65,550 82 DECOLSIN CAP@100 CAP MEDIFARMA 116 65,212 83 NEO RHEUMACYL NEURO TAB TAB DR HARI RAYADI 90 64,860 84 NEOZEP FORTE TAB@100 TAB MEDIFARMA 144 64,368 OTAL 14,944,311 20

Lampiran 3. Daftar Pareto Kategori Alat Kesehatan Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 KURSI RODA BAN MATI SELLA BH SELLA 1 1,100,000 2 OMRON AUTO ARM BPM TYPE IA1 BH OMRON 1 1,070,575 3 MASKER SIGMA BH LOKAL 701 867,838 4 ACCU-CHEK ACTIVE GLUCOSE@50 BH ROCHE 2 804,540 5 GLUCO DR SUPER SENS AGM 2200 BH OMRON 1 736,000 6 OMRON ABP MONITOR TYPE SEM 1 BH OMRON 1 575,025 7 ACCU-CHEK ACTIVE KIT/METER BH ROCHE 1 550,000 8 OPPO HEARING AID BEHIND SH-089 BH OPPO 1 550,000 9 ACCU-CHEK PERFORMA TEST STR@50 BH ROCHE 1 500,940 10 OPPO KNEE SUPP 1022 ALL BH OPPO 3 445,500 11 HERNIA AID TRIPLE 26057 L BH TRIPLE INC 1 371,250 12 WOMEN CHOICE TEST STRIP STR HEALTH CANADA 22 370,685 13 STEEKPAN OVAL STAINLEES STELL BH LOKAL 1 343,750 14 HEARING AID AXVA OM-188 BH AXVA 1 343,750 15 SENSITIF TES HAMIL@25 STR EISAI 16 333,952 16 OPPO SILC ANKLE SUPPO 1409 ALL BH OPPO 1 264,000 17 DR P ADULT DIAPERS L@8 BH EVERBEAUTY CORP 4 262,080 18 TENSOCREPE 6 INCH 72083-03 ROL BSN MEDICAL /SMITH NEPHEW 3 260,103 19 HEARING AID AXVA EX 13 BH AXVA 1 254,375 20 ACCU-CHEK ACTIVE STR @10 BH ROCHE 2 253,000 21 GLUCO DR STR AGS 50T@50 BH OMRON 1 240,000 22 AKURAT TES HAMIL@25 BH DANPAC PHARMA 25 237,200 21

NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 23 TIMBANGAN BADAN CAMRY BH LOKAL 3 226,875 24 DIRECTEST CAWAN URINE BH CORTEST CHC 10 206,250 25 TIMBANGAN BADAN DWS TANITA 623 BH LOKAL 1 189,750 26 GUNTING LURUS TA/TA CBR BH LOKAL 2 178,750 27 GLUCO DR STRIP SPR SENSOR@25N BH OMRON 1 170,000 28 BIO SANITARY PAD FC HIJAU BH AVAIL ELOK INDONESIA 6 165,000 29 MICROLIFE THERMO PENTYPE TH186 BH MICROLIFE 2 160,000 30 MOLINEA UNDERPAD@10 PAK RRC 4 156,860 31 TONGKAT ORANG TUA BH SIMATRA 1 151,250 32 NEEDLE NOVOFINE 30G@100 BH NOVO NORDISK 40 145,760 33 THERMOMETER DIGITAL MAGIC STAR BH MAGIC STAR 5 137,500 34 WARM WATER ZAK RRC BH LOKAL 6 136,620 35 YOUNG2 BREAST PUMP BH TAIWAN FUJI LATEX 5 131,250 36 YASURAGI YJR ARM TRP COM @4 DUS JAPAN 1 113,850 37 GELAS UKUR 100ML PYREX BH PYREX 1 112,750 38 TENSIMETER JAM SPHIGNED BH LOKAL 1 110,000 39 SARUNG TANGAN SENSI (L) BH SENSI 200 107,200 40 SARUNG TANGAN SENSI (M) BH SENSI 200 107,200 41 TENSIMETER ANEROID SPHYGMED BH SPHYGMED MEDICAL 1 101,200 42 WOMEN CHOICE STRIP+WADAH BH HEALTH CANADA 5 100,905 43 MORTIR 16CM + STAMPER BH CBR 1 82,500 44 AIR CUSHION MASK ADULT M1281 BH HUDSON RCI 1 79,338 45 KOTAK OBAT KAYU/ LEMARI OBAT K BH LOKAL 1 75,625 TOTAL 14,020,496 22

Lampiran 4. Daftar Pareto Kategori Topical Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 DERMATIX ULTRA 15GR TUB TRANSFARMA MEDICA INDAH 3 680,800 2 THROMBOPHOB GEL 20GR TUB TUNGGAL IDAM.ABDI 12 652,740 3 COUNTERPAIN CR 30GR TUB BRISTOL MYERS-SQUIBB 21 648,186 4 COUNTERPAIN CR 60GR TUB BRISTOL MYERS-SQUIBB 11 577,467 5 VOLTAREN 1% EMULGEL 50GR TUB NOVARTIS BIOCHEMIE 5 557,865 6 SAFE CARE ROLL ON MIND&SPIRIT BH SIP FARMA 37 543,645 7 CAP LANG MKP 60ML FLS EAGLE INDO PHARA 41 504,505 8 CAP LANG MKP 210ML FLS EAGLE INDO PHARA 12 488,412 9 M TAWON (FF) BTL TAWON JAYA MAKASAR 13 467,324 10 MEBO OINT 20GR TUB IFARS PHARMACEUTICAL 6 459,192 11 CALLUSOL LOT 10ML FL FAHRENHEIT 13 320,671 12 VOLTAREN 1% EMULGEL 20GR TUB NOVARTIS BIOCHEMIE 6 305,118 13 CANESTEN CR 10GR TUB BAYER 9 302,778 14 VOLTAREN 1% EMULGEL 10GR TUB NOVARTIS BIOCHEMIE 8 249,960 15 DAKTARIN CR 10GR TUB JANSSEN 7 240,590 16 KONICARE M TELON 125ML FLS KONIMEX 6 205,249 17 Y-RINS 120ML BTL FAHRENHEIT 8 202,400 18 LEGIRON CR 40GR TUB NAVITA INTI PRIMA 2 202,400 19 TRANSPULMIN BB BALSAM 20GR TUB MUGI LABORATORIUES 4 194,464 20 M TAWON (DD) BTL TAWON JAYA MAKASAR 12 187,848 21 VISINE TM 6ML FLS PFIZER 20 187,220 22 M TAWON (EE) BTL TAWON JAYA MAKASAR 7 178,584 23

NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 23 COUNTERPAIN COOL 30GR TUB BRISTOL MYERS-SQUIBB 5 163,185 24 DAKTARIN PWD 20GR BTL JANSSEN 3 151,800 25 CAP LANG MKP 120ML FLS EAGLE INDO PHARA 6 141,162 26 DAKTARIN CR 5GR TUB JANSSEN 7 137,480 27 BETADINE 1% GARGLE 100ML FLS MAHAKAM BETA FARMA 15 136,620 28 CANESTEN CR 5GR TUB BAYER 7 135,303 29 ABC MENTHOL BESAR POT HEINZ ABC INDONESIA 6 132,252 30 INSTO TM 7.5ML FLS GLAXO SMITH KLINE 13 116,610 31 FRESHCARE ROLL ON SPLASH FRUIT BH ULTRA SAKTI 11 114,230 32 VICKS INHALER TUB PROCTER GAMBLE IND,TBK 10 111,090 33 M TAWON (GG) FL TAWON JAYA MAKASAR 1 110,055 34 FRESHCARE ROLL ON GREEN TEA BH ULTRA SAKTI 10 104,666 35 COUNTERPAIN COOL 15GR TUB BRISTOL MYERS-SQUIBB 5 103,100 36 KY JELLY PERSONAL 100GR TUB JOHNSON & JOHNSON 2 101,200 37 COUNTERPAIN CR 15GR TUB BRISTOL MYERS-SQUIBB 5 99,935 38 SALEP 88 6GR TUB LOKAL 15 93,450 39 CAP KAPAK M ANGIN 56ML FLS YAHI UTAMA 2 90,084 40 FITOCARE MKP 30ML FLS UP. KIMIA FARMA JAKARTA 16 90,000 41 FRESHCARE ROLL ON AROMATHERAPY FLS ULTRA SAKTI 8 84,800 42 FUNGIDERM CR 10GR TUB KONIMEX 4 84,148 43 FUNGIDERM CR 5GR TUB KONIMEX 7 82,348 44 ILIADIN 0.05% NASAL SPRAY 10ML FLS MERCK INDONESIA 2 81,264 45 CAP LANG MKP 30ML FLS EAGLE INDO PHARA 12 74,376 46 NEO ULTRASILINE CR 5GR TUB HENSON FARMA 11 71,753 24

NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 47 TRANSPULMIN BALSAM 10GR TUB MUGI LABORATORIUES 2 69,196 48 VICKS VAP 50GR POT PROCTER GAMBLE IND,TBK 3 67,275 49 TJING TJAU 36GR BALSEM POT TULUS INDRA JAYA 5 65,835 50 FRESHCARE ROLL ON LAVENDER BH ULTRA SAKTI 6 63,756 TOTAL 11,234,391 25

Lampiran 5. Daftar Pareto Kategori Vitamin & Mineral Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 PHARMATON FORMULA CAP@50 CAP BOEHRINGER INGELHEIM 243 695,952 2 SUPER ESTER C HOLISTICARE@30 BTL MUGI LABORATORIUES 19 654,607 3 ENERVON C TAB@ 30 CAP MEDIFARMA 578 546,210 4 CALCIUM D REDOXON EFF@10 TUB BAYER 16 467,200 5 SANGOBION CAP@250 CAP MERCK INDONESIA 485 432,135 6 PHARMATON VIT KPL@50 KPL BOEHRINGER INGELHEIM 110 393,250 7 ASIFIT KPL@30 BTL UP. KIMIA FARMA JAKARTA 10 374,101 8 IMBOOST FORCE TAB@30 TAB SOHO 55 313,060 9 REDOXON ZINC EFF@10 ORANGE TUB BAYER 10 296,080 10 CALCIUM D REDOXON FRUIT EFF@10 TUB BAYER 10 285,414 11 ENERVON C TAB@100 TAB MEDIFARMA 264 249,480 12 CALCIUM D REDOXON EFF NEW@20 TUB BAYER 4 220,870 13 IMUNOS KPL@20 KPL LAPI 34 215,050 14 SUPRADYN EFF@10 TUB BAYER 6 202,848 15 IMBOOST SYR 120ML BTL SOHO 4 202,400 16 SARI KURMA AMIRA 300ML BTL AMIRA HERBAL 3 189,750 17 SARI KURMA AL-JAZIRA 330ML BH AMAL MULIA 7 177,100 18 SURBEX Z TAB@ 30 TAB ABBOTT 54 161,406 19 NY MENEER BERSALIN PIL ISI LKP BH NY MENEER 1 161,000 20 VITACIMIN SWEET TAB@100 TAB TAKEDA 256 153,856 21 CURVIT CL EMULSION 175ML BTL SOHO 3 151,800 22 CALCIUM SANDOZ FORTE EFF@10 TUB NOVARTIS BIOCHEMIE 3 151,419 26

NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 23 CURCUMA 200MG DRAGE@100 TAB SOHO 190 144,210 24 TONIKUM BAYER LIQ. 330ML BTL BAYER 6 135,734 25 ZEVIT GROW CAP@50 CAP TEMPO SCAN PACIFIC 100 126,500 26 SARI KURMA AMIRA 175ML BTL AMIRA HERBAL 4 126,500 27 STARBIO CC 1000GR BH LOKAL 2 126,500 28 IMBOOST TAB@30 TAB SOHO 40 126,480 29 CEREBROFORT GOLD SYR 200ML BTL KALBE FARMA 4 121,440 30 CALCIUM LACTATE 500MG TAB GKF TAB UP. KIMIA FARMA BANDUNG 2000 120,000 31 REDOXON ZINC EFF@10 BLACKCURRA TUB BAYER 4 114,199 32 VEGEBLEND ADULT 21 CAP@30 BTL PHAROS INDONESIA 1 112,585 33 BEKAMIN C FORTE TAB@250 TAB UP. KIMIA FARMA BANDUNG 750 110,250 34 EVER E 250MG SOFT CAP@30 CAP KONIMEX 60 109,383 35 CALCIDOL B12+DHA+LYS SYR 120ML BTL UP. KIMIA FARMA JAKARTA 6 108,665 36 ESTER C BLACKCURRANT EFF TUB MUGI LABORATORIUES 4 106,764 37 CUKA APEL TAHESTA 300ML BTL HERMACO PERKASA UTAMA 4 103,730 38 STIMUNO FORTE CAP@10 CAP DEXA MEDICA 40 103,720 39 MERIT 30PIL SACH@10 SAC SARI SEHAT 9 103,500 40 VITALONG C 500MG CAP@ 30 CAP BERNOFARM 120 102,000 41 VITALONG C 500MG CAP@100 TAB BERNOFARM 88 100,144 42 CEREBROVIT GINKGO CAP@100 CAP KALBE FARMA 70 97,440 43 APIALYS DROP 10ML BTL LAPI 3 94,875 44 FERRIZ DROP BTL NICHOLAS 3 94,875 45 CALCIUM D REDOXON FORTOS@10 TUB BAYER 3 94,782 46 BECOMBION DROP 15ML BTL MERCK INDONESIA 4 91,108 27

NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 47 SUPER ESTER C HOLISTICARE@48 TAB MUGI LABORATORIUES 76 91,048 48 SCOTT EMULSION ORIG 400ML BTL GLAXO SMITH KLINE 3 89,703 49 SCOTT EMULSION VITA 400ML BTL GLAXO SMITH KLINE 3 89,703 50 ZEGAVIT KPL@50 KPL KALBE FARMA 35 88,550 51 FOLAVIT 400MCG TAB@100 TAB SANBE FARMA 110 87,010 52 BECOM C KPL@100 KPL SANBE FARMA 65 86,320 53 RENALYTE BTL FAHRENHEIT 6 83,490 54 FATIGON SPIRIT@30 TAB DANKOS 73 81,468 55 DUMOCALCIN TAB@30 PEPERMINT TAB ACTAVIS 160 76,960 56 PROVITAL PLUS CAP@50 CAP LANDSON 15 70,935 57 SUPRADYN RECHARGE KPL@30 KPL BAYER 30 68,970 58 DUMIN SYR 60ML BTL ACTAVIS 4 67,440 59 OBIPLUZ CAP@30 TAB DARYA VARIA 30 66,420 60 PROZA SYR 60ML BTL LANDSON 1 65,780 61 SEVEN SEAS ORANGE SYR 150ML BTL MERCK INDONESIA 1 64,784 62 OBIMIN AF KPL@30 BTL KPL MEDIFARMA 60 63,300 63 STARMUNO KIDS 60ML BTL KALBE FARMA 1 63,250 64 IMBOOST FORCE SYR 120ML BTL SOHO 1 63,250 65 IMBOOST SYR 60ML BTL SOHO 2 63,250 TOTAL 10,802,003 28

Lampiran 6. Daftar Pareto Kategori First-Aid Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 ALBOTHYL SOL CONC 10ML FLS DR SUDIGDO ADI 29 898,768 2 ALKOHOL 70% 100ML IKA FLS IKAPHARMINDO 45 432,630 3 ALKOHOL SWABS BRATACO BH BRATACO 110 97,350 4 BETADINE 10% OINT 10GR TUB MAHAKAM BETA FARMA 7 97,405 5 BETADINE 10% SOL 15ML FLS MAHAKAM BETA FARMA 12 98,664 6 BETADINE STICK@10 BH MAHAKAM BETA FARMA 49 123,970 7 BYE BYE FEVER FOR CHILD@5 SAC HISAMITSU PHARMA 12 108,468 8 DETTOL LIQ 250ML FLS RECKITT & COLMAN 7 186,340 9 DODO BREAST PUMP W/ BOTTLE BH THAI INTERPUFF & BRUSH 1 74,750 10 DODO WATER FILLED TEETHER BH DODO NCO INC JAPAN 3 70,125 11 HANSAPLAST TOPLES 2637 BH BSN MEDICAL /SMITH NEPHEW 33 83,952 12 HYPAFIX 5 X 5 ROL BSN MEDICAL /SMITH NEPHEW 4 241,212 13 HYPAFIX 10 X 5 ROL BSN MEDICAL /SMITH NEPHEW 2 229,724 14 KAPAS PEMBALUT 1000GR KH BH KASSA HUSADA 1 88,424 15 KASA HYDR 40 X 80 NASACO ROL BUSANA UTAMA 12 1,485,000 16 KASA HYDR STERIL 16/16 KH BH KASSA HUSADA 52 417,716 17 KASA PEMB.HYD 4M X 7CM KH ROL KASSA HUSADA 28 83,552 18 LEUKOPLAST 1621H (0.5 X 5) ROL BSN MEDICAL /SMITH NEPHEW 14 97,398 19 MICROPORE 0.5 INCH X 10 ROL 3M PHARM. 15 156,336 20 MICROPORE 1 INCH X 10 ROL 3M PHARM. 4 77,000 21 MITELA KAIN PEMBALUT SEGITIGA BH SPINREACT 6 70,128 22 OXYCAN GREEN KLG 5LT KLG SAMATOR 6 180,474 29

NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 23 SALONPAS KOYO HOT @12 SAC HISAMITSU PHARMA 22 123,332 24 SALONPAS KOYO@12 BH HISAMITSU PHARMA 17 106,369 25 TENSOCREPE 3 INCH 72083-07 ROL BSN MEDICAL /SMITH NEPHEW 3 164,517 26 TENSOCREPE 4 INCH 72083-17 ROL BSN MEDICAL /SMITH NEPHEW 1 66,012 TOTAL 5,859,616 30

Lampiran 7. Daftar Pareto Kategori Milk & Nutrition Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 PROSURE PWD 380GR VANILA KLG ABBOTT 5 777,025 2 PEPTISOL 185GR DUS VANILA DUS SANGHIANG PERKASA 16 667,920 3 NESTLE NUTREN FIBER 400GR KLG NESTLE 7 649,593 4 PROLACTA DHA MOTHER CAP@60 CAP PHAROS INDONESIA 155 539,245 5 ENTRAMIX 185GR VANILA DUS KALBE FARMA 12 440,220 6 PEPTISOL 185GR DUS COKLAT DUS SANGHIANG PERKASA 7 292,215 7 NAN HA2 PROTECT PLUS 400GR BH NESTLE 2 225,274 8 APPETON WEIGHT GAIN ADULT 450 KLG KOTRA PHARMA(M) SDN,BHD 1 224,250 9 ENSURE FOS 400GR VANILA BH ABBOTT 2 203,694 10 NESTLE NUTREN OPM 400GR VANI KLG NESTLE 2 175,300 11 HEPATOSOL 185GR VANILA DUS SANGHIANG PERKASA 2 159,390 12 DIABETASOL VITA DIGEST 180 VAN BH SANGHIANG PERKASA 4 156,352 13 PROLACTA DHA BABY CAP@50 CAP PHAROS INDONESIA 30 144,210 14 BEBELAC FL 400GR KLG KLG MEAD JHONSON 2 140,198 15 NAN HA1 PROTECT PLUS 400GR BH NESTLE 1 119,796 16 MANDALA 525 2OOGR PLAIN DUS MANDALA 3 117,645 17 SGM LLM 200GR DUS DUS SARI HUSADA 4 108,364 18 PROTEN SACH 52GR VANILA SAK OTSUKA 21 101,430 19 NUTRILON SOYA 1 400GR KLG NUTRICIA 1 88,658 20 NEPHRISOL SACH 185GR VANILA DUS SANGHIANG PERKASA 2 85,008 21 HEPATOSOL 185GR COKLAT DUS SANGHIANG PERKASA 1 79,695 TOTAL 5,495,482 31

Lampiran 8. Daftar Pareto Kategori Beauty Care Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 MARCKS VENUS TWC NO 1 DUS UP. KIMIA FARMA SEMARANG 15 837,936 2 MARCKS VENUS FACIAL WASH 100ML TUB UP. KIMIA FARMA SEMARANG 30 518,400 3 MARCKS VENUS LP DYNAMIC NO1 IN DUS UP. KIMIA FARMA SEMARANG 16 414,610 4 MARCKS VENUS TWC NO 2 DUS UP. KIMIA FARMA SEMARANG 7 410,240 5 MARCKS VENUS TWC NO1 INV REFF BH UP. KIMIA FARMA SEMARANG 8 290,952 6 MARCKS VENUS COMP PWD NO1 INV DUS UP. KIMIA FARMA SEMARANG 11 270,276 7 MARCKS VENUS TWC REFILL NO 3 BH UP. KIMIA FARMA SEMARANG 6 218,214 8 VENUS FACE TONER OILY SKIN 100 BH UP. KIMIA FARMA SEMARANG 13 208,000 9 BEDAK SALICYL 2% 60GR DUS UP. KIMIA FARMA SEMARANG 50 180,000 10 MARCKS VENUS CLEANSING MILK100 TUB UP. KIMIA FARMA SEMARANG 10 178,200 11 MARCKS VENUS LP DYNAMIC NO2 NB DUS UP. KIMIA FARMA SEMARANG 7 166,389 12 MARCKS VENUS TWC NO 3 DUS UP. KIMIA FARMA SEMARANG 3 162,932 13 VENUS F.TONER NORMAL& DRY 100 BH UP. KIMIA FARMA SEMARANG 10 160,000 14 SALICYL FRESH 60GR FLS UP. KIMIA FARMA JAKARTA 15 155,250 15 MARCKS VENUS LP DYNAMIC NO3 IV DUS UP. KIMIA FARMA SEMARANG 6 133,654 16 MARCKS VENUS FACIAL WASH 50ML TUB UP. KIMIA FARMA SEMARANG 13 125,000 17 MARCKS BEDAK CREME 60GR DUS UP. KIMIA FARMA SEMARANG 14 101,250 18 MARCKS VENUS COMP REFILL NO 3 BH UP. KIMIA FARMA SEMARANG 5 79,355 19 MARCKS VENUS TWC REFILL NO 2 BH UP. KIMIA FARMA SEMARANG 2 72,738 20 MARCKS BEDAK PUTIH 60GR DUS UP. KIMIA FARMA SEMARANG 10 70,500 21 MARCKS VENUS COMP PWD NO2 NB DUS UP. KIMIA FARMA SEMARANG 3 69,429 TOTAL 4,950,285 32

Lampiran 9. Daftar Pareto Kategori Drink Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 ULTRA MILK SLIM 250ML COKLAT BH ULTRAJAYA MILK IND. 97 388,000 2 MINUTE MAID PULPY ORANGE 240ML BH COCA COLA AMATIL IND. 54 358,614 3 FRESTEA FRUTCY MARKISA 500ML BTL COCA COLA AMATIL IND. 61 335,500 4 AQUA DANONE 600ML BTL FARMASI SINAR MANJUR 129 322,500 5 MIN MAID PULPY ORANGE 350ML FL COCA COLA AMATIL IND. 44 308,000 6 ADES 600ML BTL COCA COLA AMATIL IND. 110 252,230 7 NESTLE PURELIFE 600ML BTL NESTLE 93 232,500 8 ULTRA MILK UHT 1000ML COKLAT BTL ULTRAJAYA MILK IND. 15 195,000 9 BEAR BRAND RTD 189ML KLG NESTLE 29 185,977 10 BEAR BRAND GOLD TEH PUTIH 140M FLS NESTLE 28 183,036 11 NESCAFE ICE COFFEE 240ML LATTE BTL NESTLE 19 133,000 12 POCARI SWEAT 330ML KLG AMERTA INDAH OTSUKA 26 130,000 13 YOU C 1000 ISO WATER LEMON 500 BTL DJOJONEGORO C 1000 19 123,500 14 FRESTEA GREEN TEA 500ML BTL COCA COLA AMATIL IND. 21 113,378 15 FRESTEA FRUTCY APPLE 500ML BTL COCA COLA AMATIL IND. 19 104,500 16 NESCAFE ICE COFFEE 240ML MOCHA BTL NESTLE 14 98,000 17 ULTRA SARI ASEM ASLI 250ML BH ULTRAJAYA MILK IND. 23 92,000 18 FATIGON HYDRO + 250ML BTL DANKOS 19 85,500 19 ULTRA MILK UHT 1000ML PLAIN BTL ULTRAJAYA MILK IND. 6 78,000 20 YOU C 1000 VITAMIN LEMON 140ML BTL DJOJONEGORO C 1000 15 75,000 21 ULTRA TEH KOTAK 200ML APPLE FL ULTRAJAYA MILK IND. 27 74,034 TOTAL 3,868,269 33

Lampiran 10. Daftar Pareto Kategori Oral Care Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 POLIDENT ADHESIVE 60GR BH GLAXO SMITH KLINE 13 478,400 2 HEZZEL O-SHINE TOOTHPASTE 90GR TUB ETHICA 5 295,000 3 ORAL B ORTHO BRACES BH ORAL B LABORATORIES 8 170,496 4 BETADINE 1% GARGLE 190ML FLS MAHAKAM BETA FARMA 8 133,584 5 ENZIM PG 100ML MILD TUB ENZYM BIOTEC 5 104,660 6 ALOCLAIR ORAL RINSE 60ML BTL KALBE FARMA 1 94,875 7 SENSODYNE RAPID RELIEF 120GR TUB GLAXO SMITH KLINE 4 86,820 8 ENZIM PG 100ML MINT TUB ENZYM BIOTEC 4 83,728 9 LISTERINE COOLMINT 250ML FL JOHNSON & JOHNSON 5 83,490 10 LISTERINE ORIGINAL 250ML FL JOHNSON & JOHNSON 5 83,490 11 ENZIM PG 40 PLUS 100ML BH DELTOMED LABORATORIES 2 73,418 12 LISTERINE COOLMINT 80ML BH JOHNSON & JOHNSON 11 73,051 TOTAL 1,761,012 34

Lampiran 11. Daftar Pareto Kategori Skin Care Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 PARASOL SNBLOC LOT SPF30 120ML FL SURYA DERMATO MEDICA LAB 5 365,270 2 DERMATIX ULTRA 7GR TUB TRANSFARMA MEDICA INDAH 2 270,480 3 TEGADERM 16270 (10 X 25) BH 3M PHARM. 5 206,250 4 SELECTION KAPAS 75GR BH AISO 14 157,977 5 VASELINE IC SUNBLOCK SPF30 100 FL UNILEVER INDONESIA,TBK 5 128,510 6 PARASOL SNBLOC LOT SPF15 120ML BTL SURYA DERMATO MEDICA LAB 3 126,276 7 PHISOHEX FACIAL WASH 100ML FL COMBIPHAR 3 91,080 8 PHISOHEX FACIAL WASH 50ML FL COMBIPHAR 4 70,840 9 PUROL PWD GREEN 90GR FLS SARA LEE 6 70,044 10 VERILE ACNE GEL 10GR TUB MEDIKON PRIMA LAB 5 69,435 TOTAL 1,556,162 35

Lampiran 12. Daftar Pareto Kategori Personal Care Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 DUREX PLAY 50ML FL LFD MANUFACTURING LTD 6 165,432 2 DUREX PLAY 100ML BTL LFD MANUFACTURING LTD 3 146,832 3 SUTRA KONDOM@12 BH SAWAH BESAR FARMA 10 109,596 4 DUREX PLAY VIBRATIONS RING 1 BH LFD MANUFACTURING LTD 2 109,250 5 DUREX EXTRA SAFE KONDOM@12 DUS LFD MANUFACTURING LTD 2 106,172 6 SUTRA OK KONDOM@12 BH ARO 6 93,474 7 VIGEL GEL 60GR TUB KONIMEX 4 93,104 8 DUREX EXTRA SAFE KONDOM@ 3 DUS LFD MANUFACTURING LTD 6 91,008 9 DUREX FETHERLITE KONDOM@12 DUS LFD MANUFACTURING LTD 2 90,956 10 YOUNG2 KONDOM 002@12 DUS TAIWAN FUJI LATEX 3 79,695 11 VIGEL GEL 30GR TUB KONIMEX 6 79,692 12 DUREX RIBBED KONDOM@ 3 DUS LFD MANUFACTURING LTD 6 77,316 13 SUTRA KONDOM@3 BH ARO 21 66,862 TOTAL 1,309,389 36

Lampiran 13. Daftar Pareto Kategori Food & Snack Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 LOTTE XYLITOL LIME MINT BTL 66 BTL LOTTE INDONESIA 8 126,496 2 ALBA PASTILES 100GR SAK LOKAL 13 98,670 3 FOXS TIN FRUIT 200GR BH NESTLE 5 94,675 4 GARUDA KACANG ATOM PEDAS 250GR SAK GARUDA FOOD 8 92,400 5 MONDE BUTTER COOKIES 150GR BH NISSIN BISCUIT INDONESIA 8 90,160 6 DEGIROL LOZ@20 TAB DARYA VARIA 100 78,800 7 STREPSIL MENTHOL@12 SAK RECKITT BENCKISER INDONES 7 73,486 8 SILVER QUEEN CASHEW COKLAT 68G BH CERES INDONESIA 7 73,255 9 REGAL MARIE 250GR BH JAYA ABADI,CV 4 66,240 10 PRINGLES POTATO ORIGINAL 120GR BH PROCTER & GAMBLE 4 63,940 11 SELAMAT WAFER CHOCO 198GR BH GENERAL FOOD INDUSTRIES 6 63,540 TOTAL 921,662 Lampiran 14. Daftar Pareto Kategori Feminine Care Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 LACTACYD FEMIN HYG 60ML PINK FLS COMBIPHAR 14 309,932 2 LACTACYD FEMIN HYG 150ML PINK FL COMBIPHAR 5 265,650 3 CHARM BF SUPER COMFORT@36 BH UNI-CHARM INDONESIA 10 172,490 TOTAL 748,072 37

Lampiran 15. Daftar Pareto Kategori Baby & Child Care Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 PIGEON PARCEL STANDART 2 BH PIGEON INDUTRIES CO,LTD 2 224,032 2 LACTACYD LIQ BABY 60ML BLUE FLS COMBIPHAR 6 136,620 3 SEBAMED BABY CLEANS BAR 100GR BH SEBAPHARMA 2 110,400 4 CALADINE LOT 60ML FLS GALENIUM PH 9 94,752 5 CALADINE LOT 95ML FLS GALENIUM PH 6 90,936 6 HEROCYN BEDAK 75GR FLS CORONET 9 65,060 TOTAL 721,800 Lampiran 16. Daftar Pareto Kategori Paper Product & Feminine Care Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 DR P ADULT DIAPERS XL BH EVERBEAUTY CORP 2 134,550 2 CERTAINTY ADULT DIAPERS L@10 SAK BUMKINS 1 77,228 3 MAMY POKO PANTS STD M@20 BH UNI-CHARM INDONESIA 2 77,198 TOTAL 288,976 Lampiran 17. Daftar Pareto Kategori Soap & Body Wash Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 SEBAMED CLEANSING BAR 100GR BH SEBAPHARMA 3 138,000 2 SABUN HIJAU 100GR BH BRATACO 13 74,750 3 ACNE AID BAR SOAP 100GR BH STIEFEL 2 73,370 TOTAL 286,120 38

Lampiran 18. Daftar Pareto Kategori Hair Care Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 PEDITOX LOT 50ML FLS COMBIPHAR 14 68,894 2 INTENSE SHAMPO 200ML FLS SINAR ANTJOL 1 68,000 3 LOREAL ELS DAMAGE CARE SHP 200 FLS DAYA MULIA SEJAHTERA 2 66,220 TOTAL 203,114 Lampiran 19. Daftar Pareto Kategori Majalah Bulan April 2012 NO NAMA OBAT SATUAN NAMA PABRIK QTY NILAI JUAL 1 MAJALAH OTC DIGEST BH PENERBIT BUKU, MAJALAH, 7 70,000 TOTAL 70,000 39