RUMUS-RUMUS TAUTOLOGI. (Minggu ke-5 dan 6)

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TAUTOLOGI DAN PRINSIP-PRINSIP PEMBUKTIAN

BAB I TAUTOLOGI DAN PRINSIP-PRINSIP PEMBUKTIAN

1.3 Pembuktian Tautologi dan Kontradiksi. Pernyataan majemuk yang selalu bernilai benar bagaimanapun nilai proposisi

Logika. Arum Handini Primandari, M.Sc. Ayundyah Kesumawati, M.Si.

LOGIKA MATEMATIKA (Pendalaman Materi SMA)

Pernyataan adalah kalimat yang bernilai benar atau salah tetapi tidak sekaligus benar dan salah.

I. PERNYATAAN DAN NEGASINYA

LOGIKA MATEMATIKA I. PENDAHULUAN

Pusat Pengembangan Pendidikan Universitas Gadjah Mada 1

B I L A N G A N 1.1 SKEMA DARI HIMPUNAN BILANGAN. Bilangan Kompleks. Bilangan Nyata (Riil) Bilangan Khayal (Imajiner)

LOGIKA. Arum Handini Primandari

Modul ke: Logika Matematika. Proposisi & Kuantor. Fakultas FASILKOM BAGUS PRIAMBODO. Program Studi SISTEM INFORMASI.

LOGIKA MATEMATIKA LOGIKA. Altien Jonathan Rindengan, S.Si, M.Kom

NEGASI KALIMAT DAN KALIMAT MAJEMUK (Minggu ke-3)

LOGIKA MATEMATIKA. LA - WB (Lembar Aktivitas Warga Belajar) MATEMATIKA PAKET C TINGKAT V DERAJAT MAHIR 1 SETARA KELAS X

Pertemuan 2. Proposisi Bersyarat

Pertemuan 3 METODE PEMBUKTIAN

BAB I LOGIKA MATEMATIKA

BAB I PENDAHULUAN. a. Apa sajakah hukum-hukum logika dalam matematika? b. Apa itu preposisi bersyarat?

MODUL PERKULIAHAN EDISI 1 MATEMATIKA DISKRIT

Matematika Industri I

PROPOSISI MATEMATIKA SISTEM INFORMASI 1

Unit 6 PENALARAN MATEMATIKA. Clara Ika Sari Budhayanti. Pendahuluan. Selamat belajar, semoga Anda sukses.

Berdasarkan tabel 1 diperoleh bahwa p q = q p.

BAB 4 PROPOSISI. 1. Pernyataan dan Nilai Kebenaran

PENGERTIAN. Proposisi Kalimat deklaratif yang bernilai benar (true) atau salah (false), tetapi tidak keduanya. Nama lain proposisi: kalimat terbuka.

Logika Matematika. Logika Matematika. Jurusan Informatika FMIPA Unsyiah. September 26, 2012

Selamat datang di Perkuliahan LOGIKA MATEMATIKA Logika Matematika Teori Himpunan Teori fungsi

BAB 1 OPERASI PADA HIMPUNAN BAHAN AJAR STRUKTUR ALJABAR, BY FADLI

Unit 5 PENALARAN/LOGIKA MATEMATIKA. Wahyudi. Pendahuluan

Jadi penting itu baik, tapi jadi baik jauh lebih penting

BAB I HIMPUNAN. Contoh: Himpunan A memiliki 5 anggota, yaitu 2,4,6,8 dan 10. Maka, himpunan A dapat dituliskan: A = {2,4,6,8,10}

BAB VI BILANGAN REAL

1 INDUKSI MATEMATIKA

RENCANA PROGRAM KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS) DAN BUKU DIKTAT PENGANTAR LOGIKA MATEMATIKA DAN HIMPUNAN

MATEMATIKA EKONOMI 1. Oleh : Muhammad Imron H

Logika Proposisi 1. Definisi 1. (Proposisi) Proposisi adalah kalimat yang bernilai benar atau salah, tetapi tidak keduanya sekaligus.

KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL ( KKM ) MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS X ( 1 ) SEMESTER I

LOGIKA. /Nurain Suryadinata, M.Pd

PEMBUKTIAN MATEMATIKA

1.1 Pengertian Himpunan. 1.2 Macam-macam Himpunan. 1.3 Relasi Antar Himpunan. 1.4 Diagram Himpunan. 1.5 Operasi pada Himpunan. 1.

HIMPUNAN. A. Pendahuluan

SISTEM BILANGAN REAL

BAB III HIMPUNAN. 2) Mahasiswa dapat menyebutkan relasi antara dua himpunan. 3) Mahasiswa dapat menentukan hasil operasi dari dua himpunan

BAB 6 LOGIKA MATEMATIKA

BAB 6 EKUIVALENSI LOGIS

6. LOGIKA MATEMATIKA

PERTEMUAN 2 TABEL KEBENARAN DADANG MULYANA. TABEL KEBENARAN (TB) digunakan untuk menyajikan hubungan antara nilai kebenaran sejumlah proposisi.

Konvers, Invers dan Kontraposisi

INTERVAL, PERTIDAKSAMAAN, DAN NILAI MUTLAK

LOGIKA MATEMATIKA. Tabel kebenarannya sbb : p ~ p B S S B

STMIK Banjarbaru EKUIVALENSI LOGIKA. 10/15/2012 H. Fitriyadi & F. Soesianto

Catatan Kuliah MA1123 Kalkulus Elementer I

PENDAHULUAN INDUKSI MATEMATIKA Di dalam Matematika, sebuah pernyataan atau argumen dan bahkan sebuah rumus sekalipun tidak hanya sekedar dibaca.

ANALISIS REAL. (Semester I Tahun ) Hendra Gunawan

- Mahasiswa memahami dan mampu membuat kalimat, mengevaluasi kalimat dan menentukan validitas suatu kalimat


Logika Logika merupakan dasar dari semua penalaran (reasoning). Penalaran didasarkan pada hubungan antara proposisi atau pernyataan (statements).

Proposition Logic. (Logika Proposisional) Bimo Sunarfri Hantono

PERNYATAAN MAJEMUK & NILAI KEBENARAN

G a a = e = a a. b. Berdasarkan Contoh 1.2 bagian b diperoleh himpunan semua bilangan bulat Z. merupakan grup terhadap penjumlahan bilangan.

Silabus. Tugas individu, tugas kelompok, kuis.

RUMUS LOGIKA MATEMATIKA DAN TABEL KEBENARAN

NAMA LAMBANG KATA PERNYATAAN LOGIKANYA PENGHUBUNG

UNIVERSITAS GADJAH MADA. Bahan Ajar:

B. Proposisi (Pernyataan) yaitu kalimat yang mempunyai nilai salah atau benar tetapi tidak sekaligus keduanya

Diktat Kuliah. Oleh:

LOGIKA MATEMATIKA. MATEMATiKA DISKRET S1-SISTEM INFORMATIKA STMIK AMIKOM. proposisi conjungsi tautologi inferensi

DASAR-DASAR LOGIKA. Pertemuan 2 Matematika Diskrit

LOGIKA DAN PEMBUKTIAN

Logika Matematika. Logika Matematika. Jurusan Informatika FMIPA Unsyiah. September 26, 2012

RPKPS MATA KULIAH PROGRAM STUDI MATEMATIKA JURUSAN MATEMATIKA FMIPA UGM

INGKARAN DARI PERNYATAAN

B. Proposisi (Pernyataan) yaitu kalimat yang mempunyai nilai salah atau benar tetapi tidak sekaligus keduanya

LOGIKA MATEMATIKA. d. 6 + a > -4 e. 7 adalah faktor dari 63. c. 4 x 6 2. Tentukan variabel dan himpunan penyelesaian dari: a.

KALKULUS BAB II FUNGSI, LIMIT, DAN KEKONTINUAN. DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA Universitas Indonesia

SISTEM BILANGAN REAL. 1. Sistem Bilangan Real. Terlebih dahulu perhatikan diagram berikut: Bilangan. Bilangan Rasional. Bilangan Irasional

MATEMATIKA DASAR (Ekivalensi dan Kuantifikasi)

Sistem Bilangan Real. Pendahuluan

Perhatikan skema sistem bilangan berikut. Bilangan. Bilangan Rasional. Bilangan pecahan adalah bilangan yang berbentuk a b

MODUL LOGIKA MATEMATIKA

MA2111 PENGANTAR MATEMATIKA Semester I, Tahun 2015/2016. Hendra Gunawan

BAB I DASAR-DASAR LOGIKA

HIMPUNAN. Arum Handini Primandari, M.Sc Ayundyah Kesumawati, M.Si

Mata Kuliah : Peng. Logika Matematika dan Himpunan Hari/tanggal : Rabu, 31 Oktober 2012 Waktu : 120 menit Sifat : Buku Tertutup Dosen : Budi S.

5. 1 Mendeskripsikan pernyataan dan bukan pernyataan (kalimat terbuka)

PERTEMUAN TAUTOLOGI, KONTRADIKSI, DAN CONTINGENT

PETA PERKULIAHAN MATA KULIAH : LOGIKA MATEMATIKA KODE MATA KULIAH : GD 321. SEMESTER : GANJIL (5) DOSEN : MAULANA, S.Pd., M.Pd.

MATEMATIKA BISNIS. Himpunan. Muhammad Kahfi, MSM. Modul ke: Fakultas Ekonomi Bisnis. Program Studi Manajemen.

SOAL UJIAN SELEKSI CALON PESERTA OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2014 TINGKAT PROVINSI

PENGEMBANGAN SILABUS TAHUN PELAJARAN 2012/2013

PEMBAHASAN. Teorema 1. Tidak ada bilangan asli N yang lebih besar dari semua bilangan bulat lainnya.

KATA PENGANTAR. Assalamu alaikum Wr. Wb.

MATEMATIKA DISKRIT LOGIKA

MATEMATIKA DISKRIT. Logika

Persamaan dan pertidaksamaan kuadrat BAB II

UMPky. Matematika Dasar. Bahan Ajar. Haryadi. NIDN Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

MATEMATIKA 1. Pengantar Teori Himpunan

MATEMATIKA DASAR (Validitas Pembuktian)

Logika Matematika Diskret (TKE132107) Program Studi Teknik Elektro, Unsoed

Transkripsi:

RUMUS-RUMUS TAUTOLOGI (Minggu ke-5 dan 6) 1

1 Rumus-rumus tautologi Rumus 1.1 (Komutatif) 1. p q q p 2. p q q p Bukti: p q p q q p T T T T T F F F F T F F F F F F 2

Rumus 1.2 (Distributif) 1. p (q r) (p q) (p r) 2. p (q r) (p q) (p r) Bukti: Untuk 1. p q r q r p (q r) (p q) (p r) p q p r T T T T T T T T T T F T T T T T T F T T T T T T T F F T T T T T F T T T T T T T F T F F F F T F F F F F F F F F 3

Rumus 1.3 1. p T T p p 3. p F F p p 2. p F F p F 4. p T T p T Rumus 1.4 1. p p T 2. p p F Rumus 1.5 (Assosiatif) 1. p (q r) (p q) r 2. p (q r) (p q) r Rumus 1.6 (Identitas, negasi rangkap dan idempoten) 1. p p 3. p p p 2. p p 4. p p p 4

Rumus 1.7 Hukum De Morgan 1. p q ( p q) 2. p q ( p q). Bukti: Untuk 1. p q p q p q p q p q T T T F F F F T F F T T F T F T F T T T F F F F T T T T 5

Rumus 1.8 1. p = q (p q) 2. p q ((p q) ( p = q)). Rumus 1.9 1. (T = p) p 3. (p T ) p 2. (F = p) T 4. (p F ) p Rumus 1.10 Hubungan implikasi dan biimplikasi dengan negasi, konjungsi dan disjungsi 1. (p = q) ( p q) 3. (p = q) (( p q) (p q) 2. (p = q) p q 4. (p q) ((p q) ( p q) 6

Rumus 1.11 1. (p q) ((p = q) (q = p)) 2. ((p = q) (q = r)) (p = r). (Sifat Transitif) Rumus 1.12 1. (p = (q = r)) (q = (p = r)) 2. (p = (q = r)) ((p q) = r). 7

Bukti Tautologi Menggunakan Tautologi Elementer (p = (q = r)) (q = (p = r)) Bukti: (p = (q = r)) p ( q r) ( q p) r) ( p q) r) q ( p r) (q = (p = r)) 8

Latihan Buktikan, bahwa rumus-rumus di atas merupakan tautologi dengan menggunakan pengisian tabel. Jika mungkin buktikan juga tanpa menggunakan pengisian tabel. 9

2 Metode Pembuktian Tiga hukum penting tautologi yang digunakan sebagai metode pembuktian: 1. Modus Ponens 2. Hukum Kontraposisi 3. Reductio ad absurdum. Modus ponens merupakan bukti secara langsung. Sedangkan kontraposisi dan reductio ad absurdum merupakan bukti tidak langsung. Pembuktian suatu teori lebih diutamakan menggunakan bukti secara langsung. 10

2.1 Modus Ponens Rumus 2.1 (p (p = q)) = q. Ilustrasi: α = β T α Terjadi β Berlaku Contoh 2.1 Buktikan, bahwa salah satu titik potong grafik fungsi dengan persamaan y = f(x) = 3x 3 3x 2 1 terhadap sumbu X berada di interval [1, 2]. 11

Penyelesaian: Di dalam kalkulus berlaku sifat (implikasi) jika f kontinu pada interval [a, b], dan berlaku f(a) dan f(b) berbeda tanda, maka dapat ditemukan c [a, b] yang memenuhi f(c) = 0. Jadi implikasi ini bernilai benar. Fungsi y = f(x) = 3x 3 3x 2 1 kontinu pada [1, 2] dan f(1) < 0 serta f(2) > 0. Jadi anteseden implikasi terjadi, maka dapat disimpulkan terdapat x o [1, 2] yang berakibat f(x 0 ) = 3x 3 0 3x 2 0 1 = 0 Jadi salah satu titik potong grafik fungsi f terhadap sumbu X berada di interval [1, 2]. 12

2.2 Hukum Kontraposisi Rumus 2.2 Ilustrasi: (p = q) ( q = p). α = β T β Terjadi ᾱ Berlaku Contoh 2.2 Buktikan, bahwa jika 1 + ( 1) n 0, maka n genap. Penyelesaian: Ingkaran n genap adalah n ganjil. Akibatnya ( 1) n = 1, sehingga 1 + ( 1) n = 0 yang merupakan ingkaran dari 1 + ( 1) n 0. Jadi kontraposisinya dapat dibuktikan, sehingga kalimat aslinya secara tidak langsung juga terbukti. 13

2.3 Reductio ad absurdum Rumus-rumus tautologi yang merupakan bentuk-bentuk reductio ad absurdum: Rumus 2.3 ( p = (q q)) = p. α = (β β) = α Benar : Tautologi α = (β β) Diturunkan dari α α T : Modus Ponens Contoh Buktikan, bahwa 2 bilangan irrasional. 14

Bukti: Yang akan dibuktikan pernyataan P : 2 bilangan irrasional. Diandaikan P berlaku, Dengan kata lain 2 bilangan rasional. Di Q berlaku sifat untuk setiap bilangan rasional r dapat dinyatakan dengan r = m n, dengan m dan n bilangan bulat, n 0 dan (m, n) yaitu faktor persekutuan terbesar dari m dan n sama dengan 1. 2 bilangan rasional, maka 2 = m n, untuk suatu bilangan bulat m dan n dengan n 0 dan (m, n) = 1 (Modus ponen), sehingga 2n 2 = ( 2n) 2 = m 2 = mm. Sesuai modus ponen dapat disimpulkan, m = 2c, dengan c bilangan bulat. Akibatnya 2n 2 = (2c)(2c) dan sesuai sifat kanselasi berlaku nn = n 2 = 2c 2, sehingga n = 2d untuk suatu bilangan bulat d. Akbiatnya (m, n) 2, kontradiksi (m, n) = 1 dan (m, n) 2. Yang benar P : 2 bilangan irrasional. 15

Rumus 2.4 ( p = p) = p. Ilustrasi: (α = α) = α Benar : Tautologi α = α α diturunkan dari α α T : Modus Ponens Contoh: Di dalam himpunan semua bilangan bulat notasi (x 1, x 2,, x n ) adalah simbol faktor persekutuan terbesar dari x 1, x 2,, x n. Buktikan, bahwa (x, y) = (y, z) = (x, z) = 1 = (x, y, z) = 1. 16

Bukti: Andaikan (x, y, z) > 1. Karena (x, y, z) faktor persekutuan x, y dan z, maka (x, y, z) x dan (x, y, z) y, sehingga (x, y, z) (x, y). Akibatnya 1 < (x, y) dan terjadi kontradiksi dengan (x, y) = 1. Jadi disimpulkan (x, y, z) = 1 Contoh: Di dalam semesta himpunan semua bilangan bulat berlaku sifat jika z bilangan prima dan z ab, dengan a dan b keduanya bulat, maka z a atau z b. Buktikan, bahwa jika z b n dengan n bulat positif, maka z b. Bukti: Andaikan z b. Karena z bb n 1, maka sesuai sifat bilangan prima z b atau z b n 1. Oleh karena z b, maka z b n 1, dan b n 1 = bb n 2. Jadi z b n 2, z b n 3, dan seterusnya. Pada akhirnya z b, sehingga dapat disimpulkan z b. 17

Rumus 2.5 ((p q) = q) = (p = q). Ilustrasi: ((α β) = β) = (α = β) T : Tautologi (α = β) = β T : β diturunkan dari α β α = β T : Modus Ponens Contoh: Dengan semesta pembicaraan himpunan semua bilangan real, buktikan bahwa jika untuk setiap ϵ 0 berlaku a b + ϵ, maka a b. 18

Bukti: Misalkan α : Untuk setiap ϵ 0 berlaku a b + ϵ, dan β : a b, sehingga yang akan dibuktikan adalah implikasi α = β. Diandaikan α = β berlaku. Jadi α β terjadi, yaitu berlaku untuk setiap ϵ 0 memenuhi a b + ϵ, tetapi a > b. Akibatnya a b > 0. Dipilih ϵ yang sama dengan a b 2, maka ϵ > 0 dan a b + ϵ = b + a b 2. Akibatnya 2a 2b + (a b), sehingga a b, yaitu terbukti β. Sesuai tautologi tebuktilah α = β. 19

Rumus 2.6 ((p q) = p) = (p = q). Ilustrasi: ((α β) = α) = (α = β) T : Tautologi (α = β) = α T : α diturunkan dari α β α = β T : Modus Ponens Contoh: Buktikan, bahwa jika a dan b bilangan real positif, maka 1 2 (a + b) ab. 20

Penyelesaian: Bukti tidak langsung : Misalkan α : a dan b positif, dan β : 1 2 (a + b) ab. Berarti yang harus dibuktikan adalah α = β. Diandaikan ingkaran α = β, yaitu α β terjadi. Maka a dan b positif, tetapi 1 2 (a + b) < ab. Akibatnya 1 4 (a2 + 2ab + b 2 ) = 1 4 (a + b)2 < ab, sehingga a 2 + 2ab + b 2 < 4ab. Jadi (a b) 2 = a 2 2ab + b 2 < 0, yang berarti a kompleks atau b kompleks, yaitu ingkaran dari a dan b real positif, sehingga terbukti α = β. 21

Rumus 2.7 p = (p = q). Dari tautologi ini dapat ditarik kesimpulan, bahwa dari sesuatu yang salah dengan langkah yang sahih pernyataan apapun dapat dibuktikan (Ex falso sequitur quod libet). Ilustrasi: α = (α = β) T : Tautologi α T : Karena ketentuan α = β α β T : Modus Ponens T : Karena ketentuan T : Modus ponens 22

Latihan 1. Buktikan, bahwa bentuk-bentuk berikut merupakan tautologi, jika mungkin tanpa menggunakan tabel. 1.1 p = ((p = q) = q)) 1.2 p = ((p q) = q) Modus tollendo ponens 1.3 ((p q) = r) ((r q) = p) 1.4 ((p = q) (r = s)) = ((p r) = (q s)) 1.5 (p = q) = (q r = r p) 2. Buktikan secara langsung maupun dengan reductio ad absurdum, bahwa banyaknya bilangan-bilangan prima adalah tak berhingga. 3. Buktikan, bahwa jika 1 2 (1 + ( 1)n ) ganjil, maka n genap. 4. Buktikan, bahwa jika p bilangan prima, maka p merupakan irrasional. 5. Diketahui segitiga sama sisi ABC dengan panjang sisi 1 terletak pada bujur sangkar AP QR, yaitu B terletak pada P Q dan C pada QR. Buktikan, bahwa luas segitiga BQC sama dengan jumlah luas segitiga AP B dan ARC. 6. Buktikan dengan reductio ad absurdum, bahwa akar-akar persamaan 23

bernilai bulat atau irrsional. x n + a 1 x n 1 + + a n 1 x + a n = 0 7. Tunjukkan, bahwa di dalam himpunan semua bilangan bulat pernyataanpernyataan berikut ekuivalen 1. (x, y, z) = 1 4. (x, y) = 1 2. (x, z) = 1 5. (x, y) = (y, z) = (x, z) = 1. 3. (y, z) = 1 8. Dengan menggunakan pengetahuan di mata kuliah kalkulus buktikan, bahwa perpotongan grafik fungsi dengan persamaan y = 3x 3 3x 2 1 terhadap sumbu X hanya ada tepat satu titik. 9. Buktikan secara langsung maupun dengan reduction ad absurdum, bahwa jika n bulat dan n 2 habis dibagi 2, maka n juga habis dibagi 2. 10. Misalkan diketahui α i, dengan i = 1,, n adalah penyataan-pernyataan. Tunjukkan, bahwa untuk membuktikan cukup dibuktikan α 1 α 2 α n α 1 = α 2 = = α n = α 1 24

11. Diberikan 80 koin mata uang, terdiri dari 79 koin asli dengan bobot sama dan 1 koin palsu dengan bobot lebih berat. Dengan menggunakan timba- ngan berlengan sama, tentukan jumlah minimal banyaknya penimbangan dan bagaimana cara menimbangnya agar akhirnya diketahui koin yang palsu. 12. Lima buah kartu yaitu: A, B, C, D, E akan diberi nomor dari 0, 1, 2, 3 atau 4 tanpa ada yang sama dan dimulai dari kartu paling kiri, A. Misalnya A diberi nomor k. Kemudian kartu paling kanan diletakkan disebelah kiri kartu paling kiri, berturut-turut E, D dan seterusnya sampai sebanyak 4 k kartu. Kemudian kartu paling kiri diberi nomor l, yaitu satu di antara 0, 1, 2, 3, 4 selain k; selanjutnya secara berurutan dari kartu paling kanan, 4 l kartu dipindahkan ke sebelah kiri kartu yang paling kiri. Jika proses dilanjutkan dengan cara tersebut tunjukkan, bahwa langkah penomoran akan gagal. 25