BAB VI MODEL-MODEL DETERMINISTIK

dokumen-dokumen yang mirip
P n e j n a j d a u d a u l a a l n a n O pt p im i a m l a l P e P m e b m a b n a g n k g i k t Oleh Z r u iman

Catatan Kuliah 12 Memahami dan Menganalisa Optimisasi dengan Kendala Ketidaksamaan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

(1.1) maka matriks pembayaran tersebut dikatakan mempunyai titik pelana pada (r,s) dan elemen a

3 METODE HEURISTIK UNTUK VRPTW

Pembayaran harapan yang berkaitan dengan strategi murni pemain P 2. Pembayaran Harapan bagi Pemain P1

BAB 3 PEMBAHASAN. 3.1 Prosedur Penyelesaian Masalah Program Linier Parametrik Prosedur Penyelesaian untuk perubahan kontinu parameter c

BAB II TEORI ALIRAN DAYA

ANALISIS BENTUK HUBUNGAN

OPTIMASI MASALAH PENUGASAN. Siti Maslihah

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

SEARAH (DC) Rangkaian Arus Searah (DC) 7

RANGKAIAN SERI. 1. Pendahuluan

BAB VB PERSEPTRON & CONTOH

Bab III Analisis Rantai Markov

SIMULASI OPTIMASI ALIRAN DAYA SISTEM TENAGA LISTRIK SEBAGAI PENDEKATAN EFISIENSI BIAYA OPERASI

JURNAL MATEMATIKA DAN KOMPUTER Vol. 6. No. 2, 59-70, Agustus 2003, ISSN :

BAB V PENGEMBANGAN MODEL FUZZY PROGRAM LINIER

I PENDAHULUAN II LANDASAN TEORI

Kata kunci : daya, bahan bakar, optimasi, ekonomis. pembangkitan yang maksimal dengan biaya pengoperasian unit pembangkit yang minimal.

BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH

BAB II LANDASAN TEORI

BAB IV PEMBAHASAN MODEL

BAB 2 LANDASAN TEORI. Universitas Sumatera Utara

Bab 1 Ruang Vektor. R. Leni Murzaini/

BAB II METODOLOGI PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian. variable independen dengan variabel dependen.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Di dalam matematika mulai dari SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi

Didownload dari ririez.blog.uns.ac.id BAB I PENDAHULUAN

BAB VIB METODE BELAJAR Delta rule, ADALINE (WIDROW- HOFF), MADALINE

Penyelesaian Masalah Transshipmen Dengan Metoda Primal-Dual Wawan Laksito YS 2)

Pendahuluan. 0 Dengan kata lain jika fungsi tersebut diplotkan, grafik yang dihasilkan akan mendekati pasanganpasangan

BAB II OPTIMALISASI PADA SISTEM KELISTRIKAN

2.1 Sistem Makroskopik dan Sistem Mikroskopik Fisika statistik berangkat dari pengamatan sebuah sistem mikroskopik, yakni sistem yang sangat kecil

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 4 PERHITUNGAN NUMERIK

Tinjauan Algoritma Genetika Pada Permasalahan Himpunan Hitting Minimal

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian dilakukan secara purposive atau sengaja. Pemilihan lokasi penelitian

BAB 2 LANDASAN TEORI

IV. UKURAN SIMPANGAN, DISPERSI & VARIASI

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

SISTEM LINEAR MAX-PLUS KABUR WAKTU INVARIANT AUTONOMOUS

MENCERMATI BERBAGAI JENIS PERMASALAHAN DALAM PROGRAM LINIER KABUR. Mohammad Asikin Jurusan Matematika FMIPA UNNES. Abstrak

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

VLE dari Korelasi nilai K

BAB 1 PENDAHULUAN. Pertumbuhan dan kestabilan ekonomi, adalah dua syarat penting bagi kemakmuran

MANAJEMEN LOGISTIK & SUPPLY CHAIN MANAGEMENT KULIAH 3: MERANCANG JARINGAN SUPPLY CHAIN

BAB III PERBANDINGAN ANALISIS REGRESI MODEL LOG - LOG DAN MODEL LOG - LIN. Pada prinsipnya model ini merupakan hasil transformasi dari suatu model

BUPATI PACITAN! PERATURAN BUPATI PACITAN I NOMOR 1^ TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PEMBERIAN PENGURANGAN, KERINGANAN, DAN PEMBEBASAN

ALJABAR LINIER LANJUT

Catatan Kuliah 13 Memahami dan Menganalisa Optimasi dengan Kendala Ketidaksamaan

MEREDUKSI SISTEM PERSAMAAN LINEAR FUZZY PENUH DENGAN BILANGAN FUZZY TRAPESIUM

BAB X RUANG HASIL KALI DALAM

III PEMODELAN MATEMATIS SISTEM FISIK

PENERAPAN PROGRAM LINIER KABUR DALAM ANALISIS SENSITIVITAS PROGRAM LINIER

Optimasi Perencanaan Hasil Produksi dengan Aplikasi Fuzzy Linear Programming (FLP)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BILANGAN RAMSEY SISI DARI r ( P, )

KORELASI DAN REGRESI LINIER. Debrina Puspita Andriani /

Sifat-sifat Operasi Perkalian Modular pada Graf Fuzzy

UJI PRIMALITAS. Sangadji *

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

Teori Himpunan. Modul 1 PENDAHULUAN. impunan sebagai koleksi (pengelompokan) dari objek-objek yang

Abstraksi. Abstraksi. Abstraksi. Property SP (single short shortest path) 4/29/2010. Berapa pa th yang mungkin dari garaph G tadi?

ANALISIS REGRESI. Catatan Freddy

REGRESI DAN KORELASI. Penduga Kuadrat Terkecil. Penduga b0 dan b1 yang memenuhi kriterium kuadrat terkecil dapat ditemukan dalam dua cara berikut :

REGRESI DAN KORELASI LINEAR SEDERHANA. Regresi Linear

berasal dari pembawa muatan hasil generasi termal, sehingga secara kuat

Contoh 5.1 Tentukan besar arus i pada rangkaian berikut menggunakan teorema superposisi.

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN

PowerPoint Slides by Yana Rohmana Education University of Indonesian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

IV. PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

TEORI INVESTASI DAN PORTFOLIO MATERI 4.


PENDAHULUAN LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

PERANCANGAN JARINGAN AKSES KABEL (DTG3E3)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB 2 LANDASAN TEORI

PROPOSAL SKRIPSI JUDUL:

DIMENSI PARTISI GRAF GIR

APLIKASI PERKONGRUENAN DALAM MENYELESAIKAN SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA PEUBAH. Yuni Yulida dan Muhammad Ahsar K

PADA GRAF PRISMA BERCABANG

BAB 2 LANDASAN TEORI. persamaan penduga dibentuk untuk menerangkan pola hubungan variabel-variabel

BAB I Rangkaian Transient. Ir. A.Rachman Hasibuan dan Naemah Mubarakah, ST

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

MODUL 3 : METODA Slope Deflection 3.1. Judul : Metoda Slope Deflection

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian mengenai Analisis Pengaruh Kupedes Terhadap Performance

Penentuan Lokasi Ideal SD dan MI Se-Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumen dengan Menggunakan Model P-Median, P-Center, dan Max Covering

PENGURUTAN DATA. A. Tujuan

Transkripsi:

BAB VI MODEL-MODEL DETERMINISTIK 6. Masalah Penyaluran Daya Lstrk Andakan seorang perencana sstem kelstrkan merencakan penyaluran daya lstrk dar beberapa pembangkt yang ternterkoneks dan terhubung dengan beberapa beban yang harus dsupla, maka yang harus dpkrkan adalah baya penyaluran daya yang semurah-murahnya dengan drop tegangan dan rug-rug saluran yang terkecl. Dharapkan semua supla beban terlayan dengan generator tdak terbeban 00% karena kemampuan generator harus lebh besar dar beban yang dsupla sehngga generator dapat beroperas dengan umur yang panang. Contoh 6. : Dketahu dua ardu Induk ternterkoneks ( dengan kapastas daya 58 MVA dan 2 87 MVA) sebaga sumber dengan 5 tuuan permntaan beban mnmum t beserta arak satuan penyaluran daya lstrk sepert pada gambar 6. Bagamana alokas penyaluran daya optmal yang memnmalkan rug-rug daya pada saluran tenaga lstrk pada gambar 6. 58 ambar 6. Contoh penyaluran daya 87 Jawaban: Tabel 6. Alokas rencana penyaluran daya optmal Tuuan beban Sumber (I) Alokas beban (MVA) Satuan rug-rug T 50 50 4 200 82

T 2 2 40 40 4 60 T 3 30 30 3 90 T 4 0 0 2 20 T 4 2 40 40 2 80 T 5 60 60 3 80 Total satuan: 230 730 Dar pemasalahan d atas terlhat bahwa ardu Induk ( ) cukup untuk mensupa beban 50 MVA (ssa 8 MVA) dan ardu Induk 2 ( 2 ) cukup untuk mensupa beban 80 MVA (ssa 7 MVA). 6.2 Perumusan Masalah Melalu Persamaan Masalah dalam contoh 6. datas dapat drumuskan sebaga berkut : Mencar x 0 ;,2 ;,2,,5 Yang memenuh + + x + 6x 50 (6.) Dan memnmalkan x 2 3 4 5 22 + x 23 + x 24 + x 25 2 2 22 2 x 23 3 24 4 25 5 50 40 30 50 60 f 4x + + + + + + + + + + (6.2) 5x2 3x3 2x4 3x5 6x 2 4x 22 7x 23 2x 24 6x 25 80 Secara umum masalah penyaluran daya n mrp dengan masalah angkutan. Contoh analsa lan masalah n dapat dtuls sebaga berkut. Dketahu suatu komodt tertentu yang terseda dalam m buah. Sumber (orgnal) S,,, m, akan dsalurkan ke n buah tuuan (destnaton) T,,,n, dan dketahu bahwa: b penawaran (supply, kapastas ) maksmum d S. 83

a permntaan (demand) mnmum d T. c ongkos angkut satuan pada alur (,). Akan dcar x alokas angkutan dar S ke T yang memenuh syarat-syarat penawaran dan permntaan dan memnmalkan ongkos angkut total. Dengan pertolongan matrks angkut dbawah n, perumusan menad : Tabel 6.2. Mencar x 0,,m,,n Memenuh n x b m x a Dan memnmalkan m f c, x n Jelas bahwa masalah datas memenuh pola program lnear sehngga dapat d selesakan dengan smpleks, yang memuat m n buah perubah asl dengan (m + n) buah kendala utama. 6.3 Masalah Angkutan Sembang < Apabla b a masalah tersebut past fsbel. Tetap bla b a, teorts masalahnya tdak fsbel. Keadan b a dsebut masalah angkutan sembang (balanced transportaton problem), dan bla drumuskan akan menad : Mencar x 0 ;,..,m ;,,n. Memenuh x dan x b a Dan memnmalkan f c x. 84

Kendala utama berupa (m+n) persamaan dalam m n perubah. Tetap karena ada hubungan b a, maka pada satu persamaan lnear bergantung/tak bebas (dependen lnear) dengan yang lan, sehngga dapat dbuang. Jad sekarang hanya ada (m+n-) persamaan yang bebas. Bla dambl suatu penyelesaan fsbel bass, maka ada (m+n-) perubah yang postf. Ternyata sebagan besar masalah angkutan dapat dbawa ke keadan sembang n. 6.4 Masalah Angkutan Tak Sembang Untuk keadan b > a, maka dengan menambahkan suatu tuuan semu T, ssa penawaran dapat danggap dtampung oleh T. Dengan demkan masalah akan kembal ke keadan sembang. Contoh 6.2 : Sebuah perusahaan perkanan mempunya 3 lokas penangkapan kan L, L 2, L 3 d panta yang perhar dapat menangkap kan rata-rata 0 ton kan. Perusahaan membuat kontrak untuk melayan kota (K, K 2, K 3, K 4 ) palng sedkt berturut-turut 8, 7, 4, dan 6 ton perharnya. Karena perusahaan tdak mempunya gudang dngn maka hasl haran harus dkrm har tu uga dan ssanya dlelang dtempat. Tabel 6.3. Ongkos satuan Ongkos angkut satuan tertera dalam tabel d sampng. Yang menad masalah yatu bagamana mengatur alokas angkutan dar ketga lokas ke empat kota supaya ongkos angkut total mnmum. Perumusan masalah :. b 30 ; a 25. Ada kelebhan 5 ton, maka dadakan kota semu K untuk menampungnya. Ongkos yang terkat dengan K ds nol. Sekarang adlah soal yang sembang, meskpun untuk pengsan tabel awal 85

kolom 5 mendapat prortas terakhr. Dalam PO, d kolom 5 akan ada alokas sebesar 5, berart ada 5 ton dalam sumber tertentu. Yang memerlukan pertmbangan adalah tak sembang yang kedua b < a. Secara teor masalahnya tdak fsbel. bla kedua belah phak berstegang maka tdak akan ada kontrak pengrman. Dalam kenyataannya, bla phak sumber memang tdak mungkn menambah penawarannya, maka haruslah phak tuuan yang perlu mengubah permntaannya, dengan cara menggant stlah permntaan mnmal menad permntaan target (sasaran) dalam art bla a yang dpasang boleh tdak dpenuh 00%. Dengan demkan masalah mash dapat dselesakan dengan mengembalkan ke keadan sembang lewat penambahan sumber semu S yang seolaholah menyedakan kekurangan penawaran dalam soal asl. 6.5 Masalah Penugasan Masalah penugasan adalah merupakan keadan khusus dar masalah penyaluran daya lstrk atau angkutan. Contoh 6.3 : Pmpnan sebuah kantor mencar 3 orang untuk mengs lowongan :. Sekretars (P ) 2. Bendahara (P 2 ) 3. Pmpnan pusat nformas (P 3 ) Tabel 6.4 a per kedudukan Sesudah semua pelamar du dan dsarng, terssa 3 orang (O, O 2, O 3 ) yang akan dterma. Masalahnya sekarang alah dmana O dtugaskan, atau sapa yang dtugaskan dmana, supaya ga bulanan total untuk mereka mnmum. D sampng n tertera tabel 6.4 yang menyatakan besar ga bulanan (dnyatakan dalam rbu rupah) bla O dtugaskan memegang P yang sesua dengan kemampuannya (terlhat dar hasl uannya). Untuk menyatakan awaban penugasan, dapat dplh bermacam-macam cara yang mudah dengan menugaskan ketga orang d atas dengan tugas yang berbeda-beda. 86

Tabel penugasan (alokas) dapat dpsahkan dar tabel ongkosnya, msalkan suatu penyelesaan fsbel.berbuny : O dtempatkan d P 2, O2 dtempatkan d P 3, dan O3 dtempatkan d P. Keadaan n dapat dgambarkan sepert tabel 6.5. Tabel 6.5 Contoh penempatan P P 2 P 3 total O O 2 O 3 Total Perumusannya alah : Mencar x 0 Memenuh x 3 ;, 2, 3 3 Memnmalkan x f c ;, 2, 3, x Model n dsebut dengan model penugasan (assgment). Dalam contoh n hanya ada 6 atau (3!) penyelesaan fsbel (PF), yatu pada tabel 6.6 : Tabel 6.6. Kemungknan alokas penempatan 550 87

Ternyata PF (6) lah yang menad Penyelesaan Optmal (PO) yang untuk ga terendah, dan berart bahwa: O, menad pmpnan pusat nformas O 2, menad bendahara, dan O 3, menad sekretars. Bla yang menad fungs sasaran bukan ga bulanan total yang harus dmnmalkan, melankan kualtas hasl kera total yang harus dmaksmalkan, maka PO nya adalah nomer (2) karena c d muka sebandng dengan efsens kera mereka. 6.6 Masalah Transhpment Model angkutan menganggap bahwa alur yang ada hanya yang menghubungkan suatu sumber ke suatu tuuan. Sedang dalam kenyataannya arngan alan yang ada dapat pula menghubungkan dua sumber, dua tuuan atau uga terad bahwa alur dar suatu sumber dar kesuatu tuuan harus melewat suatu sumber lan, dan sebaganya. Dalam hal n suatu sumber dapat menad tuuan dan sebalknya, atau ustru ada tempat yang bukan sumber maupun tuuan yang berfungs sebaga ttk loncatan saa. Hal n dsebut masalah Transhpment, suatu angkutan lewat ttk antara. Contoh 6.4 : Suatu masalah angkutan dgambarkan pada gambar 6.2 dengan arngan sebaga berkut : S sumber ke- T tuuan ke-, +20 pada S berart ada penawaran sebesar 20 pada S, -30 pada T2 berart ada permntaan sebesar 30 pada T2, dsb. ambar 6.2 Contoh transhpment Penyelesaan contoh d atas dperlhatkan pada Tabel 6.7 yang memperlhatkan model masalah sekalgus PO nya. PO n dapat dgambarakan dalam arngan, msal dengan lambang x, sebaga gambar alokas, dengan f mn 365 88

Tabel 6.7 T T 2 T 3 total S 5 x5 5 x2 20 S 2 30 x5 0 x8 40 total 5 30 5 6.7 Model Jarngan ambar 6.3 Model arngan Contoh 6.5 : Andakan gambar 6.3 merupakan daerah sebuah taman wsata. Smpul-smpul merupakan pos-pos penghubung seumlah 0 buah, sebuah gars-gars (busur) penghubung adalah alan yang dlengkap dengan panangnya dalam klometer. Pengurus merencanakan memaasang kawat ntercom antar pos sedemkan rupa sehngga setap pos-pos selalu terhubung. Pemasangan kawat dplh menelusur alur yang ada. Yang menad masalah alah pos-pos mana yang harus dhubungkan agar panang total menad maksmum. ambar 6.4 Pohon perentang mnmal Jawaban optmalnya sepert pada gambar 6.4 dengan panang kawat maksmal 33 km. Masalah n dsebut pohon perentang mnmal. 89

Contoh 6.6 : Bla gambar 6.3 danggap sebaga denah sebuah daerah dengan smpul-smpul adalah kota-kota dan busur adalah alan raya dengan blangan-blangannya adalah arak dalam 0 km. maka seseorang akan menghadap masalah bla a berada d kota dan akan menuu kota 0 dengan tax dengan syarat melewat alur-alur terpendek (ongkos termurah, bla ongkos sebandng dengan panang alan). Hasl optmal alan yang terpendek alah :, 2, 3, 6, 7, 9, 0 dengan panang alur terpendek 260 km (lhat gambar 6.5). ambar 6.5 Jalur terpendek 90