BAB 4 MODEL RUANG KEADAAN (STATE SPACE)
|
|
|
- Herman Wibowo
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB 4 MODEL RUANG KEADAAN (STATE SPACE) KOMPETENSI Kemampuan untuk menjelaskan pengertian tentang state space, menentukan nisbah alih hubungannya dengan persamaan ruang keadaan dan Mengembangkan analisis sistem pengaturan dalam model persamaan Ruang Keadaan (state space) SASARAN PEMBELAJARAN Setelah mempelajari materi ini mahasiswa diharapkan dapat a Menjelaskan pengertian tentang state space b Menentukan nisbah alih hubungannya dengan persamaan ruang keadaan c Mengembangkan analisis sistem pengaturan dalam model persamaan Ruang Keadaan (state space) METODE PEMBELAJARAN Metode pembelajaran pada modul ini menggunakan metode kuliah (ceramah) selama 3*2*50 menit 41 PENDAHULUAN Di bagian sebelumnya telah dibahas pemodelan sistem dengan representasi persamaan diferensial yang diturunkan melalui hukum-hukum fisika yang membangun sistem Telah dibahas pula, hubungan inputoutput sistem yang dapat dinyatakan melalui fungsi transfer Bentuk fungsi transfer memperlihatkan relasi langsung antara input-output sistem dengan mengabaikan perilaku (dinamika) sistem 1
2 Semakin berkembangnya teknologi banyak persoalan yang semakin rumit terutama dalam sistem rekayasa Karena sistem yang rumit mungkin mempunyai banyak masukan, banyak keluaran, dan waktu yang berubahubah Karena kebutuhan yang ketat terhadap unjuk kerja sistem, akses yang mudah ke komputer, maka pendekatan baru terhadap analisa dan disain sekitar tahun 1960 dikembangkan dan didasarkan pada konsep Kedudukan Dan dikenal dengan istilah state space Dalam beberapa hal, kita memerlukan informasi tentang variabel proses yang terlibat dalam sistem Variabel tersebut biasa disebut dengan variabel keadaan (state variabel) Perbedaan antara pendekatan konvensional dan modern(state space) terutama pada sistem MIMO akan lebih mudah bila mengggunakan pendekatan statespace sedang pendekatan konvensional digunakan untuk sistem SISO 42 PENGERTIAN STATE SPACE Dalam beberapa literatur, keadaan (state) didefinisikan sebagai himpunan variabel terkecil dalam sistem yang bersamaan dengan inputnya menentukan perilaku sistem secara lengkap Sementara itu, variabel keadaan adalah variabel yang membentuk keadaan sistem Ada beberapa definisi lain yang berkaitan dengan pemodelan sistem yang melibatkan variabel keadaan ini, yaitu : a State (keadaan) State suatu sistem dinamik adalah sekelompok variabel terkecil (variabel keadaan) sehingga pengetahuan dari variabel tersebut pada t = to, bersama masukan untuk t > to secara lengkap menentukan kelakuan sistem untuk t>to Untuk sistem linier tidak berubah waktu biasanya dipilih acuan to sama dengan 0 b Variabel keadaan 2
3 Variabel keadaan dari suatu sistem dinamik adalah variabel yang membentuk variabel terkecil yang menentukan keadaan sistem dinamik Jika paling sedikit n variabel maka variabel x1, x2,, xn diperlukan untuk menggambarkan secara lengkap tentang dinamika sistem yang disebut variabel keadaan c Vektor keadaan (state vector) Jika n variabel keadaan diperlukan untuk menggambarkan secara lengkap kelakuan suatu sistem, maka n variabel keadaan tersebut dapat dipandang sebagai n komponen vektor x yang disebut vektor keadaan d Ruang Keadaan Ruang n dimensi yang sumbu koordinatnya sumbu x1, sumbu x2,, sumbu xn disebut ruang keadaan Suatu keadaan dapat dinyatakan dengan satu titik dalam ruang keadaan e Persamaan ruang keadaan (state space equation) Model persamaan ruang keadaan memberikan informasi lengkap dari semua variable sistem pada tiap saat t to Ada tiga jenis variabel yang terlibat dalam model sistem dinamika suatu persamaan ruang keadaan yaitu : a variabrel masukan b variabel keadaan c variabel keluaran Variable keadaan dipilih dengan pertimbangan : Sejumlah minimum variabel keadaan harus dipilih sebagai komponen-komponen vektor keadaan Jumlah minimum ini mencukupi untuk menggambarkan sistem secara lengkap Komponen-komponen vektor keadaan harus bersifat mandiri secara linear Sejumlah variabel disebut mandiri secara linear jika tidak ada satupun variabel tersebut dapat ditulis sebagai kombinasi linear dari variabel lainnya 3
4 Bagaimana mengetahui jumlah minimum? Jumlah minimum = orde PD sistem = derajat persamaan karakteristik Cacah variabel keadaan = cacah elemen penyimpan-tenaga yang ada di dalam sistem Jika variabel keadaan dipilih terlalu sedikit: tidak dapat menulis persamaan output tidak dapat melengkapi persamaan keadaan Jika variabel keadaan dipilih terlalu banyak: Dimensi matrix sistem bertambah tanpa perlu Solusi vektor keadaan menjadi lebih sulit Penambahan variabel keadaan yg gayut (dependent) mengurangi kemampuan perancangan dengan metode ruang-keadaan Contoh 41 Memilih variabel keadaan (sistem elektrik), Lihat Gambar 41 Tulis persamaan derivatif utk setiap elemen penyimpan-tenaga Selesaikan tiap derivatif sebagai kombinasi linear dari variabel sistem dan input Pilih setiap variabel yangg diderivatifkan sebagai variabel keadaan Tulis persamaan keadaan Tulis persamaan output Gambar 41 Rangkaian R, L dan C 4
5 Beri label semua arus cabang dalam rangkaian Pilih variabel keadaan dengan menulis persamaan derivarif dari semua elemen penyimpan-tenaga: Variabel keadaan: besaran yg diderivatifkan vc dan il Persamaan keadaan akan lengkap bila ic & vl ditulis sebagai kombinasi linear dari variabel keadaan dan input Gunakan hukum Kirchhoff Arus dan Tegangan untuk memperoleh: Tuliskan untuk mendapatkan Persamaan output: Hasil akhir 5
6 43 PERSAMAAN RUANG KEADAAN Secara umum persamaan ruang keadaan sistem dinyatakan dalam bentuk berikut : dengan x adalah variabel keadaan, u menandai input sistem, dan t menyatakan variabel waktu Sebagai catatan, x - dibaca x dot - adalah simbol yang lazim digunakan untuk menandai turunan pertama dari variabel keadaan Sementara itu, apabila dilibatkan pernyataan output sistem berikut maka persamaan (1)-(2) membentuk dinamika sistem Untuk sistem linier tak bergantung waktu (linear time invariant), persamaan (1) biasanya berbentuk : dengan A dan B berbentuk matriks berdimensi sesuai dengan variabel keadaan dan inputnya, serta persamaan (2) berbentuk : 6
7 Dalam beberapa literatur, A sering disebut sebagai matriks keadaan (state matrix) atau matriks sistem, B disebut matriks input, C dinamai matriks output, D adalah matriks transmisi langsung (direct transmission matrix) Kadang-kadang sistem ruang keadaan dinyatakan dengan (A, B, C, D) Contoh 42 Tentukanlah matriks A,B,C dan D untuk rangkaian listrik pada Gambar 42 Gambar 42 Rangkaian listrik u(t) menyatakan sumber arus, x1(t) adalah tegangan kapasitor, dan x2(t) menandai arus yang melalui induktor, dan y(t) adalah tegangan pada resistor Jawab : Dengan menggunakan hukum Kirchoff diperoleh persamaan berikut : yang akan menghasilkan persamaan ruang keadaan berikut : 7
8 Output sistemnya adalah : atau dalam bentuk matriks Dengan demikian, sistem ruang keadaan dari rangkaian listrik pada Gambar 42 adalah (A, B, C, D) dengan masing-masing matriks berbentuk : Contoh 43 Gambar 43 adalah model getaran dengan k adalah konstanta pegas, m adalah massa benda, dan b adalah koefisien gesekan, u menandai gaya luar yang bekerja kepada sistem, dan y adalah simpangan getaran Model simpangan getaran dalam sistem dapat dinyatakan sebagai 8
9 Gambar 43 Model getaran (Sistem Mekanik) Dengan mendefinisikan variabel keadaan berikut Diperoleh : atau dalam bentuk matriks 9
10 Sementara itu, persamaan keluarannya berbentuk 44 HUBUNGAN ANTARA MODEL NISBAH ALIH DAN MODEL RUANG KEADAAN Model nisbah alih (transfer function) hanya dapat merepresentasikan sistem-sistem linier yang sederhana dan single input single output (siso) efektif untuk membantu analisa dengan pencil and paper (tanpa computer) Menjelang tahun 1960-an, dengan kamajuan teknologi berkembanglah metode baru dalam pemodelan sistem dinamik yang disebut model ruang keadaan (state space) Model ruang keadaan ini lebih efektif untuk dianalisis sistem linier maupun tak linier yang lebih rumit multi Input Multi Output (MIMO) sehingga memerlukan bantuan komputer Pemodelan ruang keadaan tidak memerlukan transformasi peubah, tetap disusun dalam kawasan (time-domain) Alat matematika yang digunakan adalah aljabar matriks (linier algebra) Model ruang keadaan adalah model sistem berbasis matriks Bentuk umum model ruang keadaan u(t) SISTEM y(t) 10
11 Sistem dengan isyarat masukan u(t) dan isyarat keluaran y(t) dinyatakan dengan dua persamaan : Dengan bagan kotak : [ Persamaan keadaan X = AX + BU Persamaan Keluaran Y = CX + DU ] Gambar 44 Diagram kotak ruang keadaan u = isyarat masukan u(t) : merupakan vector kolom : m buah isyarat masukan u 1 (t) u 2 (t) u 3 (t) [m x] = [ u m (t)] y = isyarat keluaran y(t) : merupakan vektor kolom : k buah isyarat keluaran 11
12 y 1 (t) y 2 (t) y 3 (t) [k x] = [ y k (t)] x = peubah keadaan (state variable) : merupakan vector kolom : n buah peubah keadaan yang menemukan dinamik dari sistem yang di modelkan x 1 (t) x 2 (t) x 3 (t) [x] = [ x n (t)] x = dx(t) dt dx dt = lim x t 0 t = vector kolom [nx] = [ dx1 dt dx2 dt dxn(t) dt ] Matriks matriks A,B,C dan D harus tertentu dimensinya sesuai dengan dimensi vector u, x dan y agar operasi perkalian /penjumlahan dalam persamaan keadaan dan persamaan keluaran sahih (valid) mengikuti kaidah-kaidah aljabar linier x = AX + BU y = CX + DU 12
13 Untuk diagram blok berikut fungsi transfer sistem dituliskan sebagai Perhatikan sistem ruang keadaan berikut Transformasi Laplace untuk sistem tersebut berbentuk Dengan definisi fungsi transfer, yaitu kondisi mula sistem dianggap nol, didapat bentuk dengan I adalah matriks satuan (unit matrix) dan (si - A) -1 menandai inversi dari (si A) Substitusi X(s) ke persamaan Y(s) didapat Dengan demikian, fungsi transfer sistem berbentuk 13
14 Contoh 44 Suatu sistem yang mempunyai 5 buah masukan, 3 buah keluaran dan 4 buah peubah keadaan akan di modelkan dengan matriks matriks : A : [ 4x4 ] B : [ 4x5 ] C : [ 3x4 ] D : [ 3x5 ] Model ruang keadaan adalah model yang bersifat lebih umum (general) dari model Nisbah Alih Oleh karena itu dari satu model Nisbah Alih yang sama, bisa diturunkan banyak macam model ruang keadaan yang sama-sama sahih (valid) Berikut ini akan dibahas salah satu cara mengubah model Nisbah Alih menjadi model Ruang Keadaan yaitu yang menghasilkan bentuk khusus matriks A yang disebut bentuk Jordan Companion Misalkan ada model Nisbah-Alih dari suatu sistem : G(S) = C(S) R(S) = b ms m + b m 1 S m b 1 S + b 0 a n S n + a n 1 S n a 1 (S) + a 0 Kasus m < n C(S) = isyarat keluaran = Ϫ c(t) R(S) = isyarat keluaran = Ϫ r(t) Selanjutnya dibangkitkan isyarat sembarang x(t) = L 1 X(S) 14
15 C(S) R(S) = (b ms m + b m 1 S m b 1 S + b 0 )X(S) (a n S n + a n 1 S n a 1 (S) + a 0 )X(S) Jika C(S) : (b m S m + b m 1 S m b 1 S + b 0 )X(S) (1) Maka R(S): (a n S n + a n 1 S n a 1 (S) + a 0 )X(S) (2) Dengan asumsi keadaan awal = nol, maka inverse transformasi Laplace akan menghasilkan : r(t) = a n d n x(t) dt n + a n 1 d n 1 x(t) dt n 1 + a n 2 d n 2 x(t) dt n a 1 dx(t) dt + a 0 x(t) Untuk memenuhi bentuk umum model ruang keadaan, maka tetapkan : r(t) u x(t) x 1 x 1 = dx 1(t) dt = dx(t) dt x 2 dx(t) dt d 2 x(t) dt x 2 x 2 = dx 2 dt = d2 x(t) dt 2 x 3 x 3 x 3 = dx 3 dt = d3 x(t) dt 3 x 4 d n 2 x(t) dt n 2 x n 1 x n 1 = dx n 1 dt = dn 1 x(t) dt n 1 x n d n 1 x(t) dt n 1 x n x n = dx n(t) dt = dn x(t) dt n 15
16 d n x(t) dt n = a n 1 a n d n 1 x(t) dt n 1 a n 2 a n d n 2 dt n 2 a 1 a n dx(t) dt a 0 a n x(t) + 1 a n u x = a 0 x a 1 a 1 x n a 2 a n 2 x n a n 1 a n 1 x n a n + 1 u n a n Persamaan keadaan x1 x x2 x x3 x3 0 x = = xn 1 [ xn ] [ a0 an a1 an an 2 an an 1 an ] [ xn 1 0 xn ] [ 1 n ] Dari persamaan (1) C(S) : (b m S m + b m 1 S m b 1 S + b 0 )X(S) dengan asumsi yang sama dengan sebelumnya : c(t) = b m d m x(t) dt m + b m 1 d m 1 x(t) dt m b 1 dx(t) dt Dengan ketetapan yang sama dengan sebelumnya + b 0 x(t) c(t) y y = b m x m+1 + b m 1 x m + b m 2 x m b 1 x 2 + b 0 b 1 y = [bo b1 b2 bm 1 bm 0] x1 x2 x3 + [0] u xm xm + 1 [ xn ] 16
17 Contoh 45 G(S) = 5S S S 6 + 4S 4 + 6S n=6 m=2 a0 = 8 b0 = 15 a1 = 8 b1 = 10 a2 = 8 b2 = 5 a3 = 0 a4 = 4 a5 = 0 a6 = 2 Model ruang keadaan : x = x [ ] [ A B u 1 2 ] C D y = [ ] x + [ 0 ] u A = [ n x n ] B = [ n x m ] C = [ k x n ] D = [ k x m ] Kasus m=n 17
18 Contoh 46 G(S) = S6 + 5 S S S 6 + 4S 4 + 6S Untuk kasus ini tidak ada masalah dengan matriks A dan B, sampai dengan kasus m<n Matriks C bermasalah, karena hanya ada 6 kolom Sedangkan b0 b6 ada 7 angka Oleh karena itu, kasus m=n ini harus diubah menjadi kasus m <n Caranya adalah dengan membagi G(S) menjadi : G(S) = k + G 1 (S) 2S 6 + 4S 4 + 6S S 6 + 5S S + 15 S 6 + 2S 4 + 3S S 4 +2S S G(S) = S4 +2S 2 +10S+11 2S 6 + 4S 4 + 6S b 4S 4 + b 3S 3 + b 2S 2 + b 1S 1 + b 0 a 6 S 6 + a 5 S 5 + a 4 S 4 + a 3 S 3 + a 2 S 2 + a 1 S + a 0 G (S), Kasus m < n 18
19 n=6 m=4 a0 = 8 b0 = 11 a1 = 0 b1 = 10 a2 = 6 b2 = 2 a3 = 0 b3 = 0 a4 = 4 b4 = 2 a5 = 0 a6 = 2 Jadi matriks C = [ ] bo b1 b2 b3 b4 b5 D = [1/2] Persamaan keluaran : y = [ ] x + [ ½ ] u A = [ ] B = [ 1/2] 19
20 45 CONTOH SOAL 1 Rangkaian RLC digambarkan dengan skema berikut : Berdasarkan Hukum Kirchof, pada rangkaian tersebut berlaku : Untuk masing-masing arus deberikan oleh persamaan : Dimana vl(τ) penurunan tegangan yang melalui induktor L Dari persamaan (1) kita diferensialkan menjadi : Persamaan (2),(4), dan (5) disubstitusikan ke persamaan (6), diperoleh : Dengan substitusi nilai R1=R2=L=C=1, dan i2(t) = -i1(t) i3(t), didapat : 20
21 Persamaan (10) diatas merupakan persamaan diferensial yang mengaitkan masukan u(t) dengan keluaran y(t) Berikutnya, untuk membuat persamaan ruang keadaan dari sistem tersebut, yang pertama kita tuliskan persamaan tegangan kirchoff mengelilingi loop yang mengandung u(t) : Dengan mensubstitusikan persamaan (12) ke persamaan (11) diperoleh : dengan mensubstitusikan R1= 1 dan C=1, diperoleh : Kemudian untuk persamaan yang kedua dapat diperoleh dengan menuliskan persamaan tegangan mengelilingi loop kedua, yaitu : Dengan L=1, dan R2=1, kita peroleh : 21
22 Dari persamaan (11), (15), dan (17), kita peroleh sistem LTI : Persamaan ruang keadaan diatas dapat dibentuk menjadi : Maka diperoleh matriks-matriks ruang keadaan : 2 Dinamika sebuah sistem didefinisikan oleh persamaan ruang keadaan Berikut Tentukanlah fungsi transfernya? Jawab : Fungsi transfernya bisa dituliskan menjadi : 22
23 Untuk mendapatkan bentuk fungsi transfernya, kita harus menyelesaikan terlebih dahulu inversi matriks pada persamaan Penyelesaian adalah sebagai berikut : sehingga penyelesaian persamaan berbentuk 3 Tentukanlah fungsi alih sistem mekanik pada contoh 41 sebelumnya 23
24 46 LATIHAN SOAL 1 Tentukan bentuk ruang keadaan dari persamaan diferensial berikut 2 Turunkan fungsi transfer sistem dengan persamaan ruang keadaan berikut : 3 Diketahui Persamaan Keadaan : x = Ax + Bu dan Persamaan Luaran : y = Cx + Du Tentukanlah : a Dimensi Matrix A [ X ], B [ X _], C [_X ] dan D [ X ]? b Tentukanlah model Ruang Keadaan (State Space) dari sistem di atas? 4 Susunlah model MODEL RUANG KEADAAN (State Space) dari masing-masing dua sistem berikut : 24
25 47 DAFTAR PUSTAKA 25
PEMODELAN STATE SPACE
PEMODELAN STATE SPACE Beberapa Pengertian: State: State suatu sistem dinamik adalah sekumpulan minimum variabel (disebut variabel-variabel state) sedemikian rupa sehingga dengan mengetahui variabel-variabel
Model Matematika dari Sistem Dinamis
Model Matematika dari Sistem Dinamis September 2012 () Model Matematika dari Sistem Dinamis September 2012 1 / 60 Pendahuluan Untuk analisis dan desain sistem kontrol, sistem sis harus dibuat model sisnya.
II LANDASAN TEORI. Contoh. Ditinjau dari sistem yang didefinisikan oleh:
5 II LANDASAN TEORI 2.1 Keterkontrolan Untuk mengetahui persoalan sistem kontrol mungkin tidak ada, jika sistem yang ditinjau tidak terkontrol. Walaupun sebagian besar sistem terkontrol ada, akan tetapi
BAB I PENDAHULUAN. keadaan dari suatu sistem. Dalam aplikasinya, suatu sistem kontrol memiliki tujuan
BAB I PENDAHULUAN 11 Latar Belakang Masalah Sistem kontrol merupakan suatu alat untuk mengendalikan dan mengatur keadaan dari suatu sistem Dalam aplikasinya, suatu sistem kontrol memiliki tujuan atau sasaran
TE Dasar Sistem Pengaturan
TE4345 Dasar Sistem Pengaturan Model Matematik Ir. Jos Pramudijanto, M.Eng. Jurusan Teknik Elektro FTI ITS Telp. 5947302 Fax.593237 Email: [email protected] Objektif: Penyajian Model Matematik Model
BAB 3 SISTEM DINAMIK ORDE SATU
BAB 3 SISTEM DINAMIK ORDE SATU Isi: Pengantar pengembangan model sederhana Arti fisik parameter-parameter proses 3. PENGANTAR PENGEMBANGAN MODEL Pemodelan dibutuhkan dalam menganalisis sisten kontrol (lihat
TRANSFORMASI LAPLACE
TRANSFORMASI LAPLACE SISTEM KENDALI KLASIK Pemodelan Matematika Analisis Diagram Bode, Nyquist, Nichols Step & Impulse Response ain / Phase Margins Root Locus Disain Simulasi SISTEM KONTROL LOOP TERTUTUP
State Space(ruang keadaan)
State Space(ruang keadaan) Nuryono S.W., S.T.,M.Eng. Dasar Sistem Kendali 1 PEMODELAN STATE SPACE Sejauh inikita baru mempelajari persamaan differensial dan laplace (fungsi alih) sebagai cara untuk menyatakan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Transformasi Laplace Salah satu cara untuk menganalisis gejala peralihan (transien) adalah menggunakan transformasi Laplace, yaitu pengubahan suatu fungsi waktu f(t) menjadi
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI. Sistem Pendulum Terbalik Dalam penelitian ini diperhatikan sistem pendulum terbalik seperti pada Gambar di mana sebuah pendulum terbalik dimuat dalam motor yang bisa digerakkan.
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Model Matematik Sistem Elektrik
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Model Matematik Sistem Elektrik Hukum Kirchoff 2 Pada bagian ini akan dibahas mengenai pembuatan model matematika dari sistem elektrik baik dalam bentuk persamaan
TE Sistem Linier. Sistem Waktu Kontinu
TE 226 - Sistem Linier Jimmy Hasugian Electrical Engineering - Maranatha Christian University [email protected] - http://wp.me/p4scve-g Sistem Waktu Kontinu Jimmy Hasugian (MCU) Sistem Waktu Kontinu
BAB I PENDAHULUAN. himpunan vektor riil dengan n komponen. Didefinisikan R + := {x R x 0}
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Misalkan R menyatakan himpunan bilangan riil. Notasi R n menyatakan himpunan vektor riil dengan n komponen. Didefinisikan R + := {x R x } dan R n + := {x= (x
Fungsi Alih & Aljabar Diagram Blok. Dasar Sistem Kendali 1
Fungsi Alih & Aljabar Diagram Blok Dasar Sistem Kendali 1 Fungsi Alih Dasar Sistem Kendali 2 Model Matematis Sistem Pada Kuliah sebelumnya kita telah mengenal sistem mekanis berikut Kita menurunkan persm.
Teori kendali. Oleh: Ari suparwanto
Teori kendali Oleh: Ari suparwanto Minggu Ke-1 Permasalahan oleh : Ari Suparwanto Permasalahan Diberikan sistem dan sinyal referensi. Masalah kendali adalah menentukan sinyal kendali sehingga output sistem
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Model Matematik Sistem Mekanik
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Model Matematik Sistem Mekanik Gerak Translasi Gerak Rotasi 2 Pada bagian ini akan dibahas mengenai pembuatan model matematika dari sistem mekanika baik dalam
By : MUSAYYANAH, S.ST, MT
By : MUSAYYANAH, S.ST, MT 1 Pengertian Sistem Contoh sistem Klasifikasi Sistem Macam-macam sistem Uji sistem Linier dan Bukan Linier Time invariant atau bukan 2 Sistem bagian dari lingkungan yang menghubungkan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Model state space yang dikembangkan pada akhir tahun 1950 dan awal tahun 1960, memiliki keuntungan yang tidak hanya menyediakan metode yang efisien untuk analisis
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Keterkendalian (Controlability)
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Keterkendalian (Controlability) Contoh Soal Ringkasan Latihan Contoh Soal Ringkasan Latihan Vektor Bebas Linear Keterkendalian Keadaan Secara Sempurna dari
BAB II KONSEP PERANCANGAN SISTEM KONTROL. menyusun sebuah sistem untuk menghasilkan respon yang diinginkan terhadap
BAB II KONSEP PERANCANGAN SISTEM KONTROL 2.1 Pengenalan Sistem Kontrol Definisi dari sistem kontrol adalah, jalinan berbagai komponen yang menyusun sebuah sistem untuk menghasilkan respon yang diinginkan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang sudah lama ada dan berkembang sangat pesat di setiap zaman. Perkembangan ilmu matematika tidak lepas
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Persamaan Diferensial Persamaan diferensial adalah suatu hubungan yang terdapat antara suatu variabel independen, suatu variabel dependen, dan satu atau lebih turunan dari
MASALAH SYARAT BATAS (MSB)
Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unmuh Ponorogo PENDAHULUAN MODEL KABEL MENGGANTUNG DEFINISI MSB Persamaan diferensial (PD) dikatakan berdimensi 1 jika domainnya berupa himpunan bagian pada R 1.
Sistem Kendali dengan Format Vektor - Matriks
Sistem Kendali dengan Format Vektor - Matriks Oleh : Rohani Jahja Widodo Edisi Pertama Cetakan Pertama, 2008 Hak Cipta 2008 pada penulis, Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak atau
Model Matematis, Sistem Dinamis dan Sistem Kendali
Model Matematis, Sistem Dinamis dan Sistem Kendali PENDAHULUAN Beberapa istilah pada karakteristik tanggapan : Sistem : kombinasi beberapa komponen yang bekerja secara bersama-sama dan membentuk suatu
MATERI 2 MATEMATIKA TEKNIK 1 PERSAMAAN DIFERENSIAL ORDE DUA
MATERI MATEMATIKA TEKNIK 1 PERSAMAAN DIFERENSIAL ORDE DUA 1 Tujuan 1. Dapat menyelesaikan persamaan diferensial orde dua.. Dapat menyelesaikan suatu Sistem Linier dengan menggunakan metode Eliminasi atau
Pemodelan Sistem Dinamik. Desmas A Patriawan.
Pemodelan Sistem Dinamik Desmas A Patriawan. Tujuan Bab ini Mengulang Transformasi Lalpace (TL) Belajar bagaimana menemukan model matematika, yang dinamakan transfer function (TF). Belajar bagaimana menemukan
TE Sistem Linier. Sistem Waktu Kontinu
TE 226 - Sistem Linier Jimmy Hasugian Electrical Engineering - Maranatha Christian University [email protected] - http://wp.me/p4scve-g Sistem Waktu Kontinu Jimmy Hasugian (MCU) Sistem Waktu Kontinu
BAB I PENDAHULUAN. Kompetensi
BAB I PENDAHULUAN Kompetensi Mahasiswa diharapkan 1. Memiliki kesadaran tentang manfaat yang diperoleh dalam mempelajari materi kuliah persamaan diferensial. 2. Memahami konsep-konsep penting dalam persamaan
TE Sistem Linier. Sistem Waktu Kontinu
TE 226 - Sistem Linier Jimmy Hasugian Electrical Engineering - Maranatha Christian University [email protected] - http://wp.me/p4scve-g Sistem Waktu Kontinu Jimmy Hasugian (MCU) Sistem Waktu Kontinu
Bahan 2 Transmisi, Tipe, dan Spesifikasi Filter
Bahan Transmisi, Tipe, dan Spesifikasi Filter Asep Najmurrokhman Jurusan Teknik Elektro Universitas Jenderal Achmad Yani October 0 EK306 Perancangan Filter Analog Pendahuluan Filter analog => realisasi
REALISASI UNTUK SISTEM DESKRIPTOR LINIER INVARIANT WAKTU
Jurnal Matematika UNAND Vol 2 No 3 Hal 1 8 ISSN : 2303 2910 c Jurusan Matematika FMIPA UNAND REALISASI UNTUK SISTEM DESKRIPTOR LINIER INVARIANT WAKTU NOVRIANTI Program Studi Magister Matematika, Fakultas
BAB I PENDAHULUAN. Kompetensi
BAB I PENDAHULUAN Kompetensi Mahasiswa diharapkan 1. Memiliki kesadaran tentang manfaat yang diperoleh dalam mempelajari materi kuliah persamaan diferensial. 2. Memahami konsep-konsep penting dalam persamaan
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Model Matematik Sistem Elektromekanik
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Model Matematik Sistem Elektromekanik Elektro Plunger Motor DC 2 Pada bagian ini akan dibahas mengenai pembuatan model matematika dari sistem elektromekanika
SISTEM KENDALI OTOMATIS Analisa Respon Sistem
SISTEM KENDALI OTOMATIS Analisa Respon Sistem Analisa Respon Sistem Analisa Respon sistem digunakan untuk: Kestabilan sistem Respon Transient System Error Steady State System Respon sistem terbagi menjadi
TRANSFORMASI LINEAR. Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Aljabar Linear. Dosen Pengampu : Abdul Aziz Saefudin, M.Pd
TRANSFORMASI LINEAR Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Aljabar Linear Dosen Pengampu : Abdul Aziz Saefudin, M.Pd Disusun oleh : Kelompok 7/ Kelas III A Endar Alviyunita 34400094 Ahmat Sehari ---------------
SISTEM KONTROL LINIER
SISTEM KONTROL LINIER Silabus : 1. SISTEM KONTROL 2. TRANSFORMASI LAPLACE 3. PEMODELAN MATEMATIKA DARI SISTEM DINAMIK 4. ANALISIS SISTEM KONTROL DALAM RUANG KEADAAN 5. DESAIN SISTEM KONTROL DALAM RUANG
Invers Transformasi Laplace
Invers Transformasi Laplace Transformasi Laplace Domain Waktu Invers Transformasi Laplace Domain Frekuensi Jika mengubah sinyal analog kontinyu dari domain waktu menjadi domain frekuensi menggunakan transformasi
ANALISA STEADY STATE ERROR SISTEM KONTROL LINIER INVARIANT WAKTU
Jurnal Matematika UNAND Vol. 2 No. 3 Hal. 9 97 ISSN : 233 29 c Jurusan Matematika FMIPA UNAND ANALISA STEADY STATE ERROR SISTEM KONTROL LINIER INVARIANT WAKTU FANNY YULIA SARI Program Studi Matematika,
ANALISIS KESTABILAN MELALUI DINAMIKA NOL SISTEM OUTPUT TEGANGAN DAN ARUS SEARAH KONVERTER BUCK-BOOST
Buletin Ilmiah Math. Stat. dan Terapannya (Bimaster) Volume 5, No. 03 (tahun), hal 3 330. ANAISIS KESTABIAN MEAUI DINAMIKA NO SISTEM OUTPUT TEGANGAN DAN AUS SEAAH KONVETE BUK-BOOST Selviana, Helmi, Fransiskus
BAB III METODA PENELITIAN
BAB III METODA PENELITIAN 3.1 TahapanPenelitian berikut ini: Secara umum tahapan penelitian digambarkan seperti pada Gambar 3.1 diagram alir Gambar 3.1 Diagram alir penelitian Agar dapat mencapai tujuan
Modul 1 : Respons Impuls
Praktikum Pengolahan Sinyal Waktu Kontinyu sebagai bagian dari Mata Kuliah ET 2004 Modul 1 : Respons Impuls Program Studi Teknik Telekomunikasi Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi
BAB VII MATRIKS DAN SISTEM LINEAR TINGKAT SATU
BAB VII MATRIKS DAN SISTEM LINEAR TINGKAT SATU Sistem persamaan linear orde/ tingkat satu memiliki bentuk standard : = = = = = = = = = + + + + + + + + + + Diasumsikan koefisien = dan fungsi adalah menerus
BAB 2 PEMODELAN SISTEM
BAB 2 PEMODELAN SISTEM Bab 2 berisi pemodelan sistem sebagai dasar dalam analisis dan sintesis sistem kendali. Uraiannya meliputi pengertian sistem, model sistem, perbedaaan model dan simulasi, pengertian
BAB II PERSAMAAN DIFERENSIAL BIASA(PDB) ORDE SATU
BAB II PERSAMAAN DIFERENSIAL BIASA(PDB) ORDE SATU PDB orde satu dapat dinyatakan dalam: atau dalam bentuk: Penyelesaian PDB orde satu dengan integrasi secara langsung Jika PDB dapat disusun dalam bentuk,
BAB III MODEL STATE-SPACE. dalam teori kontrol modern. Model state space dapat mengatasi keterbatasan dari
BAB III MODEL STATE-SPACE 3.1 Representasi Model State-Space Representasi state space dari suatu sistem merupakan suatu konsep dasar dalam teori kontrol modern. Model state space dapat mengatasi keterbatasan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kestabilan model predator-prey tipe Holling II dengan faktor pemanenan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Dalam bab ini akan dibahas mengenai dasar teori untuk menganalisis simulasi kestabilan model predator-prey tipe Holling II dengan faktor pemanenan. 2.1 Persamaan Diferensial Biasa
PENERAPAN KONSEP SPL DAN MATRIKS DALAM MENENTUKAN TEGANGAN DAN ARUS LISTRIK PADA TIAP-TIAP RESISTOR
PENERAPAN KONSEP SPL DAN MATRIKS DALAM MENENTUKAN TEGANGAN DAN ARUS LISTRIK PADA TIAPTIAP RESISTOR Rangga Ajie Prayoga 1), Rizky Fauziah Setyawati 1), Siti Gita Permana 1), Hendra Kartika 2) 1) Program
GAYA GERAK LISTRIK KELOMPOK 5
GAYA GERAK LISTRIK KELOMPOK 5 Tujuan Dapat memahami prinsip kerja ggl dan fungsinya dalam suatu rangkaian tertutup. Dapat mencari arus dan tegangan dalam suatu rangkaian rumit dengan memakai hukum kirchoff
REALISASI SISTEM LINIER INVARIANT WAKTU
Jurnal Matematika UNAND Vol 2 No 3 Hal 134 141 ISSN : 2303 2910 c Jurusan Matematika FMIPA UNAND REALISASI SISTEM LINIER INVARIANT WAKTU ANGGI SYAPUTRA Program Studi Matematika, Fakultas Matematika dan
SUBRUANG VEKTOR. Disusun Untuk Memenuhi Mata Kuliah Aljabar Linier. Dosen Pembimbing: Abdul Aziz Saefudin, M.Pd
SUBRUANG VEKTOR Disusun Untuk Memenuhi Mata Kuliah Aljabar Linier Dosen Pembimbing: Abdul Aziz Saefudin, M.Pd Disusun Oleh : Kelompok 6/ III A4 1. Nina Octaviani Nugraheni 14144100115 2. Emi Suryani 14144100126
MATERI 2 MATEMATIKA TEKNIK 1 PERSAMAAN DIFERENSIAL ORDE SATU
MATERI 2 MATEMATIKA TEKNIK 1 PERSAMAAN DIFERENSIAL ORDE SATU 1 Persamaan diferensial orde satu Persamaan diferensial menyatakan hubungan dinamik antara variabel bebas dan variabel tak bebas, maksudnya
Keep running VEKTOR. 3/8/2007 Fisika I 1
VEKTOR 3/8/007 Fisika I 1 BAB I : VEKTOR Besaran vektor adalah besaran yang terdiri dari dua variabel, yaitu besar dan arah. Sebagai contoh dari besaran vektor adalah perpindahan. Sebuah besaran vektor
DERET FOURIER. n = bilangan asli (1,2,3,4,5,.) L = pertemuan titik. Bilangan-bilangan untuk,,,, disebut koefisien fourier dari f(x) dalam (-L,L)
DERET FOURIER Bila f adalah fungsi periodic yang berperioda p, maka f adalah fungsi periodic. Berperiode n, dimana n adalah bilangan asli positif (+). Untuk setiap bilangan asli positif fungsi yang didefinisikan
Studi dan Simulasi Getaran pada Turbin Vertikal Aksis Arus Sungai
JURNAL TEKNIK POMITS Vol, No, () -6 Studi dan Simulasi Getaran pada Turbin Vertikal Aksis Arus Sungai Anas Khoir, Yerri Susatio, Ridho Hantoro Teknik Fisika, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi
PERILAKU TEGANGAN SISTEM EKSITASI GENERATOR DENGAN METODA PENEMPATAN KUTUB DALAM DOMAIN WAKTU
PERILAKU TEGANGAN SISTEM EKSITASI GENERATOR DENGAN METODA PENEMPATAN KUTUB DALAM DOMAIN WAKTU Heru Dibyo Laksono 1, Noris Fredi Yulianto 2 Jurusan Teknik Elektro, Universitas Andalas Email : [email protected]
Bab 15. Interaksi antar dua spesies (Model Kerjasama)
Bab 15. Interaksi antar dua spesies (Model Kerjasama) Dalam hal ini diberikan dua spesies yang hidup bersama dalam suatu habitat tertutup. Kita ketahui bahwa terdapat beberapa jenis hubungan interaksi
PENGGAMBARAN SISTEM KENDALI
PENGGAMBARAN SISTEM KENDALI PENDAHULUAN FUNGSI ALIH DIAGRAM BLOK REDUKSI DIAGRAM BLOK SIGNAL FLOW GRAPH FORMULA MASON Teknik Elektro ITB [EYS-1998] hal 1 dari 29 PENDAHULUAN Langkah-langkah dalam analisis
5/12/2014. Plant PLANT
Matakuliah : Teknik Kendali Tahun : 2014 Versi : Pada akhir pertemuan ini, diharapkan mahasiswa akan mampu : menjelaskan gambaran umum dan aplikasi sistem pengaturan di industri menunjukkan kegunaan dasar-dasar
KONSEP DASAR PERSAMAAN DIFERENSIAL
KONSEP DASAR PERSAMAAN DIFERENSIAL A. PENGERTIAN PERSAMAAN DIFERENSIAL Dalam pelajaran kalkulus, kita telah berkenalan dan mengkaji berbagai macam metode untuk mendiferensialkan suatu fungsi (dasar). Sebagai
Analisis Rangkaian Listrik Di Kawasan Waktu
Sudaryatno Sudirham nalisis Rangkaian Listrik Di Kawasan Waktu 2 Sudaryatno Sudirham, nalisis Rangkaian Listrik (1) BB 6 Hukum-Hukum Dasar Pekerjaan analisis pada suatu rangkaian linier yang parameternya
TKE 3105 ISYARAT DAN SISTEM. B a b 2 S i s t e m. Indah Susilawati, S.T., M.Eng.
TKE 3105 ISYARAT DAN SISTEM B a b 2 S i s t e m Indah Susilawati, S.T., M.Eng. Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Mercu Buana Yogyakarta 2009 51 B A B I I S I S
Prosedur tersebut bisa digambarkan sbb.:
Transformasi Laplace Ditemukan oleh Pierre-Simon Marquis de Laplace (1749-1827), pakar matematika dan astronomi Perancis. Prinsipnya mentransformasi sinyal/sistem kontinyu dari ranah waktu ke ranah-s Mirip
ANALISIS SISTEM KONTROL SUSPENSI BLANKET CYLINDER PADA MESIN CETAK OFFSET
e-issn: 2548-9542 ANALISIS SISTEM KONTROL SUSPENSI BLANKET CYLINDER PADA MESIN CETAK OFFSET Program Studi Teknik Grafika, Politeknik Negeri Media Kreatif e-mail : [email protected] Abstrak Sekecil apapun,
Persamaan Diferensial
TKS 4003 Matematika II Persamaan Diferensial Konsep Dasar dan Pembentukan (Differential : Basic Concepts and Establishment ) Dr. AZ Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Pendahuluan
MATRIKS. Slide : Tri Harsono PENS - ITS. 1 Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) - ITS
MATRIKS Slide : Tri Harsono PENS - ITS 1 Sifat Matriks Perkalian dua matriks tidak komutatif Perkalian dua matriks bersifat assosiatif dan distributif tidak komutatif AB BA (AB)C = A(BC) A(B+C) = AB +
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Persamaan diferensial sebagai model matematika terbentuk karena
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Persamaan diferensial sebagai model matematika terbentuk karena ketertarikan dan keingintahuan seseorang tentang perilaku atau fenomena perubahan sesuatu yang
STABILISASI SISTEM KONTROL LINIER INVARIANT WAKTU DENGAN MENGGUNAKAN METODE ACKERMANN
Jurnal Matematika UNAND Vol. 2 No. 3 Hal. 34 41 ISSN : 2303 2910 c Jurusan Matematika FMIPA UNAND STABILISASI SISTEM KONTROL LINIER INVARIANT WAKTU DENGAN MENGGUNAKAN METODE ACKERMANN DIAN PUSPITA BEY
Desain dan Implementasi Self Tuning LQR Adaptif untuk Pengaturan Tegangan Generator Sinkron 3 Fasa
Desain dan Implementasi Self Tuning LQR Adaptif untuk Pengaturan Tegangan Generator Sinkron 3 Fasa Oleh : Arif Hermawan (05-176) Dosen Pembimbing : 1. Dr.Ir.Mochammad Rameli 2. Ir. Rusdhianto Effendie
Tegangan Gerak Listrik dan Kaidah Kirchhoff
TOPIK 6a Tegangan Gerak Listrik dan Kaidah Kirchhoff Kuliah Fisika Dasar II TIP, TP, UGM 2009 Ikhsan Setiawan, M.Si. Jurusan Fisika FMIPA UGM [email protected] Tegangan Gerak Listrik (TGL) TGL secara
Hendra Gunawan. 25 April 2014
MA101 MATEMATIKA A Hendra Gunawan Semester II, 013/014 5 April 014 Kuliah yang Lalu 15.11 Persamaan Diferensial Linear Orde, Homogen 15. Persamaan Diferensial Linear Orde, Tak Homogen 15.3 Penggunaan Persamaan
SISTEM DINAMIK LINEAR KOEFISIEN KONSTAN. Caturiyati Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)
1 SISTEM DINAMIK LINEAR KOEFISIEN KONSTAN Caturiyati Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Abstrak Dalam artikel ini, konsep sistem dinamik linear disajikan dengan sistem
Bab 7 Persamaan Differensial Non-homogen
Bab 7 Persamaan Differensial Non-homogen Persamaan Differensial Orde- Non Homogen Bentuk hukum : d y dy + p( ) + Q( ) y R( ) (*) Dimana, P(), Q(), dan R() dapat juga berwujud suatu leoust Solusinya : y
BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN SISTEM
BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN SISTEM Pada bab ini menjelaskan tentang perancangan dan pembuatan sistem kontrol, baik secara software maupun hardware yang digunakan untuk mendukung keseluruhan sistem
Untai Elektrik I. Metode Analisis. Dr. Iwan Setyawan. Fakultas Teknik Universitas Kristen Satya Wacana. Untai 1. I. Setyawan. Metode Arus Cabang
Untai Elektrik I Analisis Dr. Iwan Setyawan Fakultas Teknik Universitas Kristen Satya Wacana (1) Pada (Branch Current), setiap cabang pada untai diberi arus. Kemudian, kita terapkan Kirchhoff s Current
PERSAMAAN DIFERENSIAL I PERSAMAAN DIFERENSIAL BIASA
PERSAMAAN DIFERENSIAL I PERSAMAAN DIFERENSIAL BIASA Persamaan Diferensial Biasa 1. PDB Tingkat Satu (PDB) 1.1. Persamaan diferensial 1.2. Metode pemisahan peubah dan PD koefisien fungsi homogen 1.3. Persamaan
Mata Kuliah :: Matematika Rekayasa Lanjut Kode MK : TKS 8105 Pengampu : Achfas Zacoeb
Mata Kuliah :: Matematika Rekayasa Lanjut Kode MK : TKS 8105 Pengampu : Achfas Zacoeb Sesi XII Differensial e-mail : [email protected] www.zacoeb.lecture.ub.ac.id Hp. 081233978339 PENDAHULUAN Persamaan diferensial
JAWABAN ANALITIK SEBAGAI VALIDASI JAWABAN NUMERIK PADA MATA KULIAH FISIKA KOMPUTASI ABSTRAK
JAWABAN ANALITIK SEBAGAI VALIDASI JAWABAN NUMERIK PADA MATA KULIAH FISIKA KOMPUTASI ABSTRAK Kasus-kasus fisika yang diangkat pada mata kuliah Fisika Komputasi akan dijawab secara numerik. Validasi jawaban
BAB II TEORI KODING DAN TEORI INVARIAN
BAB II TEORI KODING DAN TEORI INVARIAN Pada bab 1 ini akan dibahas definisi kode, khususnya kode linier atas dan pencacah bobot Hammingnya. Di samping itu, akan dijelaskanan invarian, ring invarian dan
BAB I DASAR-DASAR PEMODELAN MATEMATIKA DENGAN PERSAMAAN DIFERENSIAL
BAB I DASAR-DASAR PEMODELAN MATEMATIKA DENGAN PERSAMAAN DIFERENSIAL Pendahuluan Persamaan diferensial adalah persamaan yang memuat diferensial Kita akan membahas tentang Persamaan Diferensial Biasa yaitu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Persamaan diferensial merupakan persamaan yang didalamnya terdapat beberapa derivatif. Persamaan diferensial menyatakan hubungan antara derivatif dari satu variabel
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Untuk mengungkapkan perilaku dinamik suatu sistem fisik seperti mekanik, listrik, hidrolik dan lain sebagainya, umumnya sistem fisik dimaksud dimodelkan dengan sistem
SATUAN ACARA PERKULIAHAN UNIVERSITAS GUNADARMA
Mata Kuliah : Matematika Diskrit 2 Kode / SKS : IT02 / 3 SKS Program Studi : Sistem Komputer Fakultas : Ilmu Komputer & Teknologi Informasi. Pendahuluan 2. Vektor.. Pengantar mata kuliah aljabar linier.
PENGUKURAN TEKNIK TM3213
PENGUKURAN TEKNIK TM3213 KULIAH 2: KARAKTERISTIK PENGUKURAN DAN INSTRUMENTASI Mochamad Safarudin Jurusan Teknik Mesin, STT Mandala Isi Kesalahan pengukuran Definisi statik Karakteristik statik Kalibrasi
Isyarat dan Sistem. Sistem adalah sebuah proses yang menyusun isyarat input x(t) atau x[n] ke isyarat output y(t) atau y[n].
Sistem adalah sebuah proses yang menyusun isyarat input x(t) atau x[n] ke isyarat output y(t) atau y[n]. x(t) y(t) x[n] y[n] Jadi sistem sapat dipandang sebagai sebuah proses pemetaan atau transformasi
REALISASI FUNGSI TRANSFER DALAM BENTUK KANONIK TERKONTROL
Jurnal Matematika UNAND Vol 3 No 2 Hal 5 3 ISSN : 233 29 c Jurusan Matematika FMIPA UNAND REALISASI FUNGSI TRANSFER DALAM BENTUK KANONIK TERKONTROL NURWENI PUTRI Program Studi Matematika, Fakultas Matematika
1.1. Definisi dan Pengertian
BAB I PENDAHULUAN Sistem kendali telah memegang peranan yang sangat penting dalam perkembangan ilmu dan teknologi. Peranan sistem kendali meliputi semua bidang kehidupan. Dalam peralatan, misalnya proses
ANALOG SIGNAL PROCESSING USING OPERASIONAL AMPLIFIERS
ANALOG SIGNAL PROCESSING USING OPERASIONAL AMPLIFIERS (PEMROSESAN SINYAL ANALOG MENGGUNAKAN PENGUAT OPERASIONAL) A. PENDAHULUAN Sinyal keluaran dari sebuah tranduser atau sensor sangat kecil hampir mendekati
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 SINYAL DASAR ATAU FUNGSI SINGULARITAS Sinyal dasar atau fungsi singularitas adalah sinyal yang dapat digunakan untuk menyusun atau mempresentasikan sinyal-sinyal yang lain. Sinyal-sinyal
I. Sistem Persamaan Diferensial Linier Orde 1 (Review)
I. Sistem Persamaan Diferensial Linier Orde (Review) November 0 () I. Sistem Persamaan Diferensial Linier Orde (Review) November 0 / 6 Teori Umum Bentuk umum sistem persamaan diferensial linier orde satu
Analisis Simpul dan Jala
Analisis Simpul dan Jala Slide-03 Ir. Agus Arif, MT Semester Gasal 2016/2017 1 / 23 Materi Kuliah 1 Analisis Simpul Analisis Rangkaian Metode Analisis Simpul SuperSimpul Ringkasan 2 Analisis Jala Analisis
KISI-KISI PENULISAN SOAL TRY OUT UJIAN NASIONAL MATEMATIKA IPA SANGGAR 07 TAHUN 2014/2015
KISI-KISI PENULISAN SOAL TRY OUT UJIAN NASIONAL MATEMATIKA IPA SANGGAR 07 TAHUN 2014/2015 Jenis Sekolah : SMA Bentuk : P.G Kurikulum : Irisan kurikulum 1994, 2004 dan S.I Alokasi : 120 menit Program :
BAB II PERSAMAAN DIFERENSIAL BIASA
BAB II PERSAMAAN DIFERENSIAL BIASA Tujuan Pembelajaran Umum: 1 Mahasiswa mampu memahami konsep dasar persamaan diferensial 2 Mahasiswa mampu menggunakan konsep dasar persamaan diferensial untuk menyelesaikan
PENGANTAR MATEMATIKA TEKNIK 1. By : Suthami A
PENGANTAR MATEMATIKA TEKNIK 1 By : Suthami A MATEMATIKA TEKNIK 1??? MATEMATIKA TEKNIK 1??? MATEMATIKA TEKNIK Matematika sebagai ilmu dasar yang digunakan sebagai alat pemecahan masalah di bidang keteknikan
TUGAS MANDIRI KULIAH PERSAMAAN DIFERENSIAL BIASA Tahun Ajaran 2016/2017
A. Pengantar Persamaan Diferensial TUGAS MANDIRI KULIAH PERSAMAAN DIFERENSIAL BIASA Tahun Ajaran 016/017 1. Tentukan hasil turunan dari fungsi sebagai berikut: a. f() = c e b. f() = c cos k + c sin k c.
SISTEM KENDALI POSISI MOTOR DC Oleh: Ahmad Riyad Firdaus Politeknik Batam
SISTEM KENDALI POSISI MOTOR DC Oleh: Ahmad Riyad Firdaus Politeknik Batam I. Tujuan 1. Mampu melakukan analisis kinerja sistem pengaturan posisi motor arus searah.. Mampu menerangkan pengaruh kecepatan
Bab 3 MODEL DAN ANALISIS MATEMATIKA
Bab 3 MODEL DAN ANALISIS MATEMATIKA Pada bab ini akan dimodelkan permasalahan penyebaran virus flu burung yang bergantung pada ruang dan waktu. Pada bab ini akan dibahas pula analisis dari model hingga
Induktansi. Kuliah Fisika Dasar II Jurusan TIP, FTP, UGM 2009
Induktansi Kuliah Fisika Dasar II Jurusan TIP, FTP, UGM 2009 Ikhsan Setiawan, M.Si. Jurusan Fisika FMIPA UGM http:/setiawan.synthasite.com [email protected] 1 Outline Induktansi Diri Rangkaian RL Energi
Program Perkuliahan Dasar Umum Sekolah Tinggi Teknologi Telkom Persamaan Diferensial Orde II
Program Perkuliahan Dasar Umum Sekolah Tinggi Teknologi Telkom Persamaan Diferensial Orde II [MA4] PDB Orde II Bentuk umum : y + p(x)y + g(x)y = r(x) p(x), g(x) disebut koefisien jika r(x) = 0, maka Persamaan
