Analisis Kelompok (Cluster Analysis)

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Analisis Kelompok (Cluster Analysis)"

Transkripsi

1 Analisis Kelomok (Cluster Analysis) Sunari Mega Purnamasari ( ) Program Stui Sistem an eknologi Informasi Sekolah Teknik Elektro an Informatika Institut Teknologi Banung, Jl. Ganesha 10 Banung 40132, Inonesia Abstract Cluster analysis atau engelomokan aalah teori mengenai serangkaian engamatan aa himunan bagian. Clustering meruakan teknik umum untuk analisis ata statistik yang igunakan alam berbagai biang, termasuk machine learning, ata mining (enggalian ata), engenalan ola, analisis citra, an bioinformatika. Metoe ini juga tiak hanya mengelomokkan objek tetai juga fitur ari objek tersebut. Paa makalah ini akan iaarkan mengenai asar teori ari metoe ini an bagaimana algoritma yang teat alam melakukan engelomokkan ini serta seerti aa struktur bentukan yang terjai ari hasil analisis ata. Selain itu, aa makalah ini juga teraat ilustrasi atau contoh ermasalahan yang akan iselesaikan menggunakan metoe cluster analysis ini. Permasalahan ari ilustrasi tersebut akan iselesaikan menggunakan formula-formula yang iaarkan aa teori asar an ilakukan engan enekatan melalui metoe hierarki engan cara enggabungan an emecahan. Dengan begitu kita aat mengetahui bagaimana imlementasi ari formula an algoritma aa metoe ini sehingga iaat emahaman asar yang cuku untuk mengekslorasi cluster analysis lebih jauh lagi. Kata kunci cluster analysis, algoritma, hierarki, statistic. I. PENDAHULUAN Cluster analysis aalah analisis statistika yang bertujuan untuk mengelomokkan ata seemikian sehingga ata yang beraa alam kelomok yang sama memunyai sifat yang relatif homogen ariaa ata yang beraa alam kelomok yang berbea. Ditinjau ari halhal yang ikelomokkan, cluster analysis ibagi menjai ua macam, yaitu : 1. Pengelomokkan observasi 2. Pengelomokkan variable Secara umum, cluster analysis memiliki ua metoe, yaitu : 1. Metoe hierarki. Metoe ini igunakan untuk mencari struktur engelomokkan ari objek-objek. Jai, hasil engelomokkannya isajikan secara hierarki atau berjenjang. Metoe hierarki ini teriri ari ua cara,yaitu : a) Agglomerative (enggabungan). Cara ini igunakan jika masing-masing objek iangga satu kelomok kemuian antar kelomok yang jaraknya berekatan bergabung menjai satu kelomok. b) Divise (emecahan). Cara ini gunakan jika aa awalnya semua objek beraa alam satu gerombol. Setelah itu, sifat aling bea iisahkan an membentuk satu gerombol yang lain. Proses tersebut berlanjut samai semua objek tersebut masing-masing membentuk satu gerombol. 2. Metoe tak hierarki. Metoe ini igunakan aabila jumlah kelomok yang iinginkan iketahui an biasanya iakai untuk mengelomokkan ata yang ukurannya besar. II. TEORI DASAR Dalam roses enggabungan kelomok engan metoe hierarki selalu iikuti engan erbaikan matriks jarak. Suatu fungsi isebut jarak jika memunyai sifat tak negative ( 0) an ( = 0) jika i = j, simetri ( = ji ), anjang salah satu sisi segitiga selalu lebih kecil atau sama engan jumlah ua sisi yang lain ( ik + jk ). Beberaa macam jarak yang biasa iakai i alam analisis kelomok : 1. Jarak Eucliean Rumusnya: 2 xik x jk k1 Sebuah tinjauan cluster analysis alam enelitian kesehatan sikologi menemukan bahwa engukuran jarak yang aling umum alam enelitian aalah jarak Eucliian atau kuarat jarak Eucliian. 2. Jarak Manhattan 3. Jarak Pearson k1 x k1 ik x x ik jk var x x jk k 2

2 4. Jarak Korelasi 1 r 5. Jarak Mutlak Korelasi 1 r Metoe-metoe engelomokkan hierarki ibeakan berasarkan konse jarak antar kelomok, enentuan jarak antar kelomok untuk metoe-metoe tersebut aalah : 1. Metoe single linkage Metoe ini menegelomokkan ua objek yang memunyai jarak terekat terlebih ahulu. Jarak antar kelomok (i,j) engan k aalah : (i,j)k = min(ik, jk) 2. Metoe comlete linkage Metoe ini akan mengelomokkan ua objek yang memunyai jarak terjauh terlebih ahulu. Jarak antar kelomok (i,j) engan k aalah : (i,j)k = max(ik, jk) 3. Metoe average linkage Metoe ini akan mengelomokkan objek berasarkan jarak rata-rata yang iaat engan melakukan rata-rata semua jarak objek terlebih ahulu. Jarak antar kelomok (i,j) engan k aalah : 4. Metoe meian linkage (i,j)k = average(ik, jk) Paa metoe ini, jarak antara ua cluster aalah jarak ia antara centroi cluster tersebut. Centroi aalah ratarata jarak yang aa aa sebuah cluster yang iaat engan melakukan rata-rata aa semua anggota suatu cluster tertentu. Dengan metoe ini, setia terjai cluster baru, akan terjai erhitungan ulang centroi hingga terbentuk cluster teta. Jarak antar kelomok (i,j) engan k aalah : (i,j)k = meian(ik, jk) Hasil ari analisis akan isajikan alam bentuk struktur ohon yang isebut enogram. Pemotongan enogram aat ilakukan aa selisih jarak enggabungan yang terbesar. Akar ohon teriri ari cluster tunggal yang berisi semua engamatan, an aun sesuai engan engamatan iniviu. Algoritma untuk mengelomokkan hierarki aa umumnya menggunakan cara agglomerative, yaitu imulai ari aun an secara berurutan menggabungkan cluster bersama, atau emecahan yang imulai ari akar an ibagi secara rekursif. Pemotongan aa ketinggian tertentu akan memberikan clustering aa resisi yang iilih. Sebagai contoh, emotongan setelah baris keua akan menghasilkan cluster {a}{bc}{e}{f}. Pemotongan setelah baris ketiga akan menghasilkan cluster {a}{bc}{ef}, yang meruakan clustering kasar engan sejumlah cluster yang lebih besar. Untuk lebih jelasnya, akan ierlihatkan gambar sebagai berikut. Gambar 1. Lalu engelomokan enogram akan menjai seerti gambar berikut. Gambar 2 Dalam contoh ini, kita memiliki enam elemen, yaitu {a}{b}{c}{}{e}{f}. Langkah ertama aalah menentukan elemen untuk menggabungkan sebuah cluster. Biasanya, alam enggabungan ini iambil ua elemen terekat sesuai engan jarak yang iilih. Secara bebas kita juga aat membuat matriks jarak aa taha ini engan angka alam baris ke-j kolom ke-i aalah jarak antara j an elemen i.. Kemuian, setelah clustering berlangsung, baris an kolom menjai kelomok engan jarak yang suah ierbarui. Ini aalah cara yang umum untuk mengimlementasikan jenis clustering an berguna untuk menyembunyikan jarak antara cluster. Setia algomerasi terjai aa jarak antar cluster yang lebih besar ariaa algomerasi sebelumnya, an

3 clustering berhenti jika cluster terlalu jauh untuk igabung atau ketika aa jumlah angka cluster yang cuku kecil. Metoe yang meruakan metoe tak hierarki aalah metoe k-means. algoritma k-means memberikan oin aa cluster engan usat yang terekat. Pusat ini aalah rata-rata ari semua titik alam cluster. Contohnya, kumulan ata memiliki tiga imensi an cluster ini memiliki ua titik : X = (x1, x2, x3) an Y = (y1, y2, y3). Kemuian Z centroi menjai Z = (z1, z2, z3), imana z1 =, z2 =, an z3 = Keuntungan utama ari algoritma ini aalah keseerhanaan an keceatan yang memungkinkan untuk engoerasian i ataset yang besar. Dibawah ini akan iberikan tabel yang meruakan contoh ilustrasi ari cluster analysis menggunakan ata haraan hiu kucing an haraan hiu kelinci i kota jaboetabek. HiuKucing Jakarta Bogor Deok Tangerang Bekasi Tabel 1 HiuKelinci Dari table iatas aat ibuat iagram ersebaran haraan hiu kucing an haraan hiu kelinci i setia kota seerti aa gambar berikut. III. DATA DAN HASIL ANALISIS Paa sub bab ini akan iberikan contoh ermasalahan ari teori metoe cluster analysis. Contoh ermasalahan yang akan iberikan aalah contoh yang seerhana mengenai engelomokan suatu himunan bagian menjai suatu kesatuan. Pengelomokan akan ilakukan berasarkan sifat-sifatnya aakah setia elemen ekivalen engan elemen lainnya. Jika teraat elemen yang memiliki kesamaan terekat, maka elemen-elemen tersebut akan igabungkan alam suatu kelomok. Taha-taha engelemokkan ata engan menggunakan metoe hierarki aalah : 1. Tentukan matriks jarak antar ata yang ikelomokkan. 2. Tentukan ua ata yang memunyai jarak terkecil kemuin gabungkan ua ata ini ke alam satu kelomok. 3. Moifikasi matriks jarak sesuai aturan jarak antar kelomok yang sesuai engan metoe engelomokan yang iakai. 4. Lakukan langkah 2 an 3 samaai matriks jarak berukuran 1x1 Taha-taha engelomokkan ata engan menggunakan metoe tak hierarki k-means aalah : 1. Mulai 2. Tentukan k buah usat awal. 3. Tentukan jarak setia ata ke tia usat. 4. Lakukan engelomokkan setia ata ke usat terekat. 5. Tentukan nilai usat baru sebagai rata-rata ata alam kelomok. 6. Lakukan langkah 3-5 samai nilai usat kelomok tak berubah lagi. 7. Selesai Gambar 3 Langkah awal analisis kelomok metoe hierarki aalah membentuk matriks jarak antar observasi : Menghitung matriks jarak berasarkan kuarat jarak Eucliian, misalkan (Jakarta, Bogor) = (30-25) 2 + (35-30) 2 = 50 Bogor Deok Tangerang Bekasi Jakarta Bogor Deok Tangerang 53 Tabel 2 Setelah matriks jarak suah terbentuk, maka langkah berikutnya aalah menentukan ua observasi yang memunyai jarak terekat an kemuian igabung alam satu kelomok. Dari tabel iatas aat ilihat bahwa kota yang jaraknya aling ekat aalah Kota Bogor an Bekasi. Oleh karena itu, aa tabel baru yang akan ibuat Kota Bogor an Bekasi igabung alam satu sel ( satu kelomok).

4 (Bgr, Bks) Deok Tangerang Jakarta (Bgr,Bks) Deok 26 Tabel 3 Selanjutnya, ibuat tabel yang mengisi Jarak antara Jakarta engan (Bogor, Bekas untuk berbagai metoe. No Metoe Jarak antara kelomok mor (Bgr,Bks) engan Inonesia 1 Single linkage min( jak bgr, jak bks ) = min (50, 85) = 50 2 Comlete linkage max( jak bgr, jak bks ) = max (50, 85) = 85 3 Average linkage Average( jak bgr, jak bks ) = average(50, 85) = 67,5 4 meian linkage Meian( jak bgr, jak bks ) = meian(50, 85) = 67,5 Tabel 4 Kemuian ilih salah satu metoe saja, misalkan kita menggunakan metoe single linkage untuk semua cluster, maka akan ieroleh matriks jaraknya sebagai berikut. (Bgr, Bks) Deok Tangerang Jakarta (Bgr, Bks) Deok 26 Tabel 5 Setelah taha ini, aat ilihat ari tabel iatas bahwa observasi yang memunyai jarak aling ekat aalah Kota Deok engan Bogor an Bekasi, sehingga ketiga kota ini igabung seerti aa tabel berikut. (Bgr, Dk) Tangerang Jakarta (Bgr, Dk) 26 Tabel 6 Paa taha ini, jarak aling ekat aalah 26 sehingga Tangerang bergabung engan kelomok (Bogor, Bekasi, Deok) sehingga matriks jarak berubah menjai seerti aa tabel berikut. Jakarta (Bgr, Dk, Tang) 50 Tabel 7 Kemuian enggabungan terakhir aalah Jakarta engan (Bogor, Bekasi, Deok, Tangerang) aa jarak enggabungan 50. Dengan begitu, aat ieroleh engelomokkan Kota-kota Jaboetabek engan menggunakan metoe single linkage aalah sebagai berikut. T a h a Jarak Penggabun gan Yang igabung cluster1 cluster2 Bany ak Kelo mok Kelo mok (Bgr) (Bks) (Tan) (Dk) 1 5 Bgr Bks 4 (Bgr, Bks) (Dk) (Tan) 2 13 Bgr, Dk Bks 3 26 Bgr, Tan Dk 4 50 Bgr, Jak Dk, Tan 3 (Bgr, Dk) (Tan) 2 (Bgr, Dk, Tan) 1 (Bgr. Tan, Dk, Jak) Tabel 8 Berasarkan kriteria loncatan, jarak enggabungan terbesar aalah jarak ari 26 ke 54. Oleh karena itu, aat iketahui banyaknya kelomok aalah 2 yaitu (Bogor, Bekasi, Deok, tangerang) (jakarta). Selain loncatan jarak enggabungan terbesar, banyaknya kelomok aat juga itentukan engan beberaa kriteria, yaitu : a) Maksimum nisbah (ratio) keragaman ata antar kelomok engan keragaman ata i alam kelomok. Statistik uji ini aat ihitung melalui statistik uji F alam oneway anova atau statistik uji Wilk alam oneway Manova. b) Maksimum statistik Hartigan(1975) : W ( k) H ( k) 1 / n k 1 W ( k 1) c) Maksimum rata-rata statistik silhoutte yang iajukan oleh Kaufman an Rousseuw (1990) b( a( s( max a(, b( Dengan a( aalah rata-rata jarak observasi ke-i engan observasi yang lain alam cluster yang sama an

5 b( aalah rata- rata jarak observasi ke-i engan cluster terekat. Statistik ini isajikan oleh rogram SPLUS Untuk engelomokan variabel, banyaknya kelomok aat itentukan engan menggunakan kriteria banyaknya nilai eigen yang lebih besar ari satu ari matriks korelasi. IV. APLIKASI Konse ari metoe ini cuku luas sehingga aat iimlementasikan an ialikasikan alam berbagai biang seerti biang ilmu biologi, keokteran, enelitian asar, eniiikan, analisis jaringan sosial, erangkat lunak, segmentasi gambar, otimasi eta sliy, engelemokan rouk, analisi kejahatan a) Biang ilmu Biologi Peneraannya alam ilmu biologi cuku banyak. Pertama aalah imaging. Dalam imaging, ata clustering aat mengambil bentuk yang berbea berasarkan imensi ata. Sebagai contoh, EM SOCR yang menunjukkan bagaimana menaatkan titik, wilayah atau klasifikasi volume. Keua, clustering igunakan untuk menggambarkan an membuat erbaningan sasial an temoral aa kumulan organisme i lingkungan heterogen. Ketiga, alam transcitomik igunakan untuk membangun gen engan ola eksresi terkait. Keemat, algoritma clustering aat igunakan secara otomatis untuk menetakan genotye. b) Biang keokteran Dalam encitraan meis, cluster analysis aat igunakan untuk membeakan berbagai jenis jaringan an arah alam gambar 3 imensi. Contohnya aalah alat meis scan PET. c) Biang enelitian asar Cluster analysis banyak igunakan alam riset asar ketika bekerja engan ata multivariate ari survei an lanel uji. Peneliti asar menggunakan analisis ini untuk engelomokkan enuuk ari konsumen ke alam segmen asar an untuk lebih memahami hubungan antara berbagai kelomok konsumen. ) Biang eniikan alam analisis enelitian eniikan, enggunaan ata bisa untuk siswa, orang tua, jenis kelamin, atau skor tes. Cluster analysis aat igunakan untuk ekslorasi ata, an engujian hiotesis ekslorasi. Biasanya ata igunakan ketika aa informasi mengenai sekolah atau siswa yang akan ikelomokkan secara bersama-sama. e) Analisis jaringan sosial Dalam stui jaringan sosial,clustering aat igunakan untuk mengenali tia iniviu orang alam sekelemok besar orang. f) Perangkat lunak Clustering berguna alam evolusi erangkat lunak karena membantu mengurangi sifat warisan alam koe. g) Segmentasi gambar Clustering aat igunakan untuk membagi sebuah gambar igital ke aerah yang berbea untuk eteksi erbatasan an engenalan objek. h) Otimasi eta sliy Paa foto eta flickr an eta situs lainnya igunakan clustering untuk mengurangi jumlah enana aa eta. Hal ini aat mengurangi jumlah kekacauan visual. Pengelomokkan rouk Clustering igunakan untuk kelomok semua barang belanja yang terseia i web menjai serangkaian rouk. Seerti contoh, item i ebay. j) Analisis kejahatan Cluster analysis aat igunakan untuk mengientifikasi aerah-aerah insien besar terjai atauun kejahatan-kejahatn tertentu V. KESIMPULAN teori cluster analysis memiliki berbagai macam metoe engan cakuan yang luas sehingga teraat banyak alikasi an imlementasinya aa kehiuan sehari-hari. Pengimlementasian formula aa contoh ermasalahan un tiak terlalu sulit, hanya saja memerlukan ketelitian alam erhitungan. Cluster analysis juga memiliki kelebihan an kekurangan. Keuntungan ari enggunaan metoe ini aalah metoe ini baik untuk meninjau enataan engan ceat, terutama jika bena tersebut iklasifikasikan ke alam banyak kelomok. Namun kelemahannya aalah aa metoe k-means ierlukan beberaa analisis sebelum jumlah cluster aat itentukan. Hal ini aat sangat sensitive terhaa ilihan usat awal cluster. Dalam beberaa tahun ini, telah banyak uaya alam meningkatkan kinerja algoritma sehingga enggunaan metoe ini menjai efektif an efisien. VI. REFERENSI 1. htt://en.wikieia.org/wiki/cluster_analysis waktu akses 15 Desember htt://statistikateraan.files.worress.com/2008/10/a nalisis-kelomok.oc waktu akses 15 Desember htt://winnerstatistik.blogsot.com/.../analisisgerombolcluster-analysis.html waktu akses 15 Desember 2010

6 PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa makalah yang saya tulis ini aalah tulisan saya seniri, bukan sauran, atau terjemahan ari makalah orang lain, an bukan lagiasi. Banung, 29 Aril 2010 SUNDARI MEGA PURNAMASARI

Pengenalan Pola. Hierarchical Clustering

Pengenalan Pola. Hierarchical Clustering Pengenalan Pola Hierarchical Clustering PTIIK - 2014 Course Contents 1 Agglomerative Hierarchical Clustering (AHC) 2 Stui Kasus 3 Latihan an Diskusi 4 Progress Final Project Hierarchical Clustering Hierarchical

Lebih terperinci

ANALISIS KLASTER UNTUK PENGELOMPOKAN KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI JAWA TENGAH BERDASARKAN INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT

ANALISIS KLASTER UNTUK PENGELOMPOKAN KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI JAWA TENGAH BERDASARKAN INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT ANALISIS KLASTER UNTUK PENGELOMPOKAN KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI JAWA TENGAH BERDASARKAN INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT 1 Safa at Yulianto, Kishera Hilya Hiayatullah 1, Ak. Statistika Muhammaiyah Semarang

Lebih terperinci

Data Mining. Metode Klasterisasi K-Means

Data Mining. Metode Klasterisasi K-Means Data Mining Metoe Klasterisasi K-Means Pokok Pembahasan. Konsep Dasar Clustering. Tahapan Clustering. K-Means Clustering Algoritma K-Means Rumus Umum K-Means 4. Case Stu Konsep Dasar Klusterisasi Data,

Lebih terperinci

PETA KENDALI R ADAPTIF SEBAGAI ALTERNATIF PETA KENDALI R SHEWHART DALAM MENDETEKSI PERGESERAN KECIL PADA VARIANS

PETA KENDALI R ADAPTIF SEBAGAI ALTERNATIF PETA KENDALI R SHEWHART DALAM MENDETEKSI PERGESERAN KECIL PADA VARIANS PETA KENDALI ADAPTIF SEBAGAI ALTENATIF PETA KENDALI SHEWHAT DALAM MENDETEKSI PEGESEAN KECIL PADA VAIANS Oleh : Farihatul Usro 7 7 Dosen Pembimbing : Dra. Faria Agustini W. MS Dra. Laksmi Prita W. MSi Jurusan

Lebih terperinci

SKRIPSI ANALISIS PENGELOMPOKKAN KECAMATAN DI KODYA SURABAYA BERDASARKAN VARIABEL-VARIABEL KEPENDUDUKAN, KESEHATAN DAN PENDIDIKAN

SKRIPSI ANALISIS PENGELOMPOKKAN KECAMATAN DI KODYA SURABAYA BERDASARKAN VARIABEL-VARIABEL KEPENDUDUKAN, KESEHATAN DAN PENDIDIKAN SKRIPSI ANALISIS PENGELOMPOKKAN KECAMATAN DI KODYA SURABAYA BERDASARKAN VARIABEL-VARIABEL KEPENDUDUKAN, KESEHATAN DAN PENDIDIKAN Oleh : Rengganis L. N. R 302 00 046 PENDAHULUAN Latar Belakang Penduduk

Lebih terperinci

Dika Dwi Muharahman*, Nurul Gusriani, Elis Hertini. Departemen Matematika, Universitas Padjadjaran *E mail:

Dika Dwi Muharahman*, Nurul Gusriani, Elis Hertini. Departemen Matematika, Universitas Padjadjaran *E mail: Perubahan Perilaku Pengguna nstant Messenger dengan Menggunakan Analisis Koresondensi Bersama (Studi Kasus Mahasiswa di Program Studi S-1 Matematika FMPA Unad) Dika Dwi Muharahman*, Nurul Gusriani, Elis

Lebih terperinci

ANALISIS CLUSTER PSIKOGRAFIS KONSUMEN KEDIRI TOWN SQUARE (CLUSTER ANALYSIS PSYCHOGRAPHIC CONSUMERS KEDIRI TOWN SQUARE)

ANALISIS CLUSTER PSIKOGRAFIS KONSUMEN KEDIRI TOWN SQUARE (CLUSTER ANALYSIS PSYCHOGRAPHIC CONSUMERS KEDIRI TOWN SQUARE) ANALISIS CLUSTER PSIKOGRAFIS KONSUMEN KEDIRI TOWN SQUARE (CLUSTER ANALYSIS PSYCHOGRAPHIC CONSUMERS KEDIRI TOWN SQUARE) Amin Tohari Universitas Nusantara PGRI Keiri, [email protected] Abstrak Perkembangan

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Data Langkah-Langkah Penelitian

METODE PENELITIAN Data Langkah-Langkah Penelitian METODE PENELITIAN Data Inonesia merupakan salah satu negara yang tiak mempunyai ata vital statistik yang lengkap. Dengan memperhatikan hal tersebut, sangat tepat menggunakan Moel CPA untuk mengukur tingkat

Lebih terperinci

Desain dan Simulasi Filter FIR Menggunakan Metode Windowing

Desain dan Simulasi Filter FIR Menggunakan Metode Windowing 41 Desain an Simulasi Filter FIR enggunakan etoe Winowing Neily T. ooniarsih Laboratorium Telekomunikasi Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Tanjungura E-mail : [email protected] Abstrat

Lebih terperinci

Ax b Cx d dan dua persamaan linier yang dapat ditentukan solusinya x Ax b dan Ax b. Pada sistem Ax b Cx d solusi akan

Ax b Cx d dan dua persamaan linier yang dapat ditentukan solusinya x Ax b dan Ax b. Pada sistem Ax b Cx d solusi akan SOLUSI SISTEM PERSAMAAN LINIER PADA ALJABAR MAX-PLUS Bui Cahyono Peniikan Matematika, FSAINSTEK, Universitas Walisongo Semarang [email protected] Abstrak Dalam kehiupan sehari-hari seringkali kita menapatkan

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. Beton bertulang merupakan kombinasi antara beton dan baja. Kombinasi

BAB III LANDASAN TEORI. Beton bertulang merupakan kombinasi antara beton dan baja. Kombinasi 16 BAB III LANDASAN TEORI 3.1. Umum Beton bertulang merupakan kombinasi antara beton an baja. Kombinasi keuanya membentuk suatu elemen struktur imana ua macam komponen saling bekerjasama alam menahan beban

Lebih terperinci

MAKALAH TUGAS AKHIR DIMENSI METRIK PADA PENGEMBANGAN GRAPH KINCIR DENGAN POLA K 1 + mk n

MAKALAH TUGAS AKHIR DIMENSI METRIK PADA PENGEMBANGAN GRAPH KINCIR DENGAN POLA K 1 + mk n MAKALAH TUGAS AKHIR DIMENSI METRIK PADA PENGEMBANGAN GRAPH KINCIR DENGAN POLA K 1 + mk n Oleh : JOHANES ARIF PURWONO 105 100 00 Pembimbing : Drs. Suhu Wahyui, MSi 131 651 47 ABSTRAK Graph aalah suatu sistem

Lebih terperinci

Praktikum Total Quality Management

Praktikum Total Quality Management Moul ke: 09 Dr. Fakultas Praktikum Total Quality Management Aries Susanty, ST. MT Program Stui Acceptance Sampling Abstract Memberikan pemahaman tentang rencana penerimaan sampel, baik satu tingkat atau

Lebih terperinci

DETEKSI API REAL-TIME DENGAN METODE THRESHOLDING RERATA RGB

DETEKSI API REAL-TIME DENGAN METODE THRESHOLDING RERATA RGB ISSN: 1693-6930 17 DETEKSI API REAL-TIME DENGAN METODE THRESHOLDING RERATA RGB Kartika Firausy, Yusron Saui, Tole Sutikno Program Stui Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Inustri, Universitas Ahma Dahlan

Lebih terperinci

BAB III PROSES PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN

BAB III PROSES PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN BB III PROSES PERNCNGN DN PERHITUNGN 3.1 Diagram alir penelitian MULI material ie an material aluminium yang iekstrusi Perancangan ie Proses pembuatan ie : 1. Pemotongan bahan 2. Pembuatan lubang port

Lebih terperinci

METODE PERSAMAAN DIOPHANTINE LINEAR DALAM PENENTUAN SOLUSI PROGRAM LINEAR INTEGER

METODE PERSAMAAN DIOPHANTINE LINEAR DALAM PENENTUAN SOLUSI PROGRAM LINEAR INTEGER METODE PERSAMAAN DIOPHANTINE LINEAR DALAM PENENTUAN SOLUSI PROGRAM LINEAR INTEGER Asrul Syam Program Stui Teknik Informatika, STMIK Dipanegara, Makassar e-mail: [email protected] Abstrak Masalah optimasi

Lebih terperinci

BAB 3 MODEL DASAR DINAMIKA VIRUS HIV DALAM TUBUH

BAB 3 MODEL DASAR DINAMIKA VIRUS HIV DALAM TUBUH BAB 3 MODEL DASA DINAMIKA VIUS HIV DALAM TUBUH 3.1 Moel Dasar Moel asar inamika virus HIV alam tubuh menggunakan beberapa asumsi sebagai berikut: Mula-mula tubuh alam keaaan tiak terinfeksi virus atau

Lebih terperinci

oleh seperangkat variabel X, maka persamaan di atas dinamakan persamaan struktural, dan modelnya disebut model struktural.

oleh seperangkat variabel X, maka persamaan di atas dinamakan persamaan struktural, dan modelnya disebut model struktural. ANALISIS JALUR A. PENGERTIAN ANALISIS JALUR Telaah statistika menyatakan bahwa untuk tujuan eramalan/ endugaan nilai Y atas dasar nilai-nilai X 1, X,., X i, ola hubungan yang sesuai adalah ola hubungan

Lebih terperinci

PEMODELAN Deskripsi Masalah

PEMODELAN Deskripsi Masalah PEMODELAN Deskripsi Masalah Sebelum membuat penjawalan perkuliahan perlu iketahui semua mata kuliah yang itawarkan, osen yang mengajar, peserta perkuliahan, bobot sks an spesifikasi ruang yang iperlukan.

Lebih terperinci

3 TEORI KONGRUENSI. Contoh 3.1. Misalkan hari ini adalah Sabtu, hari apa setelah 100 hari dari sekarang?

3 TEORI KONGRUENSI. Contoh 3.1. Misalkan hari ini adalah Sabtu, hari apa setelah 100 hari dari sekarang? Paa bab ini ipelajari aritmatika moular yaitu aritmatika tentang kelas-kelas ekuivalensi, imana permasalahan alam teori bilangan iseerhanakan engan cara mengganti setiap bilangan bulat engan sisanya bila

Lebih terperinci

Kompleksitas Algoritma Quick Sort

Kompleksitas Algoritma Quick Sort Komleksitas Algoritma Quick Sort Fachrie Lantera NIM: 130099 Program Studi Teknik Informatika, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung Jln. Ganesha 10, Bandung E-mail : [email protected]

Lebih terperinci

PROGRAM KOMPUTER UNTUK PEMODELAN SEBARAN PERGERAKAN. Abstrak

PROGRAM KOMPUTER UNTUK PEMODELAN SEBARAN PERGERAKAN. Abstrak PROGRAM KOMPUTER UNTUK PEMODELAN SEBARAN PERGERAKAN Ruy Setiawan, ST., MT. Sukanto Tejokusuma, Ir., M.Sc. Jenny Purwonegoro, ST. Staf Pengajar Fakultas Staf Pengajar Fakultas Alumni Fakultas Teknik Sipil

Lebih terperinci

BAB III UJICOBA KALIBRASI KAMERA

BAB III UJICOBA KALIBRASI KAMERA BAB III UJICOBA KALIBRASI KAMERA 3.1 Spesifikasi kamera Kamera yang igunakan alam percobaan paa tugas akhir ini aalah kamera NIKON Coolpix 7900, engan spesifikasi sebagai berikut : Resolusi maksimum :

Lebih terperinci

Kombinasi Gaya Tekan dan Lentur

Kombinasi Gaya Tekan dan Lentur Mata Kuliah Koe SKS : Perancangan Struktur Beton : CIV-204 : 3 SKS Kombinasi Gaya Tekan an Lentur Pertemuan 9,10,11 Sub Pokok Bahasan : Analisis an Desain Kolom Penek Kolom aalah salah satu komponen struktur

Lebih terperinci

Solusi Tutorial 6 Matematika 1A

Solusi Tutorial 6 Matematika 1A Solusi Tutorial 6 Matematika A Arif Nurwahi ) Pernyataan benar atau salah. a) Salah, sebab ln tiak terefinisi untuk 0. b) Betul. Seerhananya, titik belok apat ikatakan sebagai lokasi perubahan kecekungan.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Persoalan jalur terendek (Shortest Path) meruakan suatu jaringan engarahan erjalanan dimana seseorang engarah jalan ingin menentukan jalur terendek antara dua kota

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3. Kerangka Pemikiran Penelitian ini dimulai dengan adanya ermasalahan yang ditemukan oleh enulis yakni mengenai validitas CAPM di dalam engalikasiannya terhada engukuran

Lebih terperinci

3 TEORI KONGRUENSI. Contoh 3.1. Misalkan hari ini adalah Sabtu, hari apa setelah 100 hari dari sekarang?

3 TEORI KONGRUENSI. Contoh 3.1. Misalkan hari ini adalah Sabtu, hari apa setelah 100 hari dari sekarang? Paa bab ini ipelajari aritmatika moular yaitu aritmatika tentang kelas-kelas ekuivalensi, imana permasalahan alam teori bilangan iseerhanakan engan cara mengganti setiap bilangan bulat engan sisanya bila

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi yang dijadikan tempat dalam penelitian ini adalah Tempat

BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi yang dijadikan tempat dalam penelitian ini adalah Tempat BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Loasi an Watu Penelitian 3.1.1 Loasi penelitian Loasi yang ijaian tempat alam penelitian ini aalah Tempat Pelelangan Ian (TPI) Kota Gorontalo. 3.1. Watu penelitian Penelitian

Lebih terperinci

Jurnal Teknika ISSN : Fakultas Teknik Universitas Islam Lamongan Volume 2 No.2 Tahun 201

Jurnal Teknika ISSN : Fakultas Teknik Universitas Islam Lamongan Volume 2 No.2 Tahun 201 akultas Teknik Universitas Islam Lamongan Volume 2 No.2 Tahun 20 PEMBUATAN APLIKASI SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN DALAM PENGEMBANGAN INDUSTRI POTENSIAL DENGAN METODE PROMETHEE II Ahma Jalaluin )

Lebih terperinci

DIFERENSIAL FUNGSI SEDERHANA

DIFERENSIAL FUNGSI SEDERHANA DIFERENSIAL FUNGSI SEDERHANA Salah satu metoe yang cukup penting alam matematika aalah turunan (iferensial). Sejalan engan perkembangannya aplikasi turunan telah banyak igunakan untuk biang-biang rekayasa

Lebih terperinci

MODIFIKASI FUNGSI DENSITY PADA ALGORITMA ANT CLUSTERING

MODIFIKASI FUNGSI DENSITY PADA ALGORITMA ANT CLUSTERING MODIFIKASI FUNGSI DENSITY PADA ALGORITMA ANT CLUSTERING Kurniawan Nur Ramadhani 1), Febryanti Sthevanie ) Fakultas Informatika Universitas Telkom Jln Telekomunikasi No. 1 Terusan Buah Batu Bandung 4057

Lebih terperinci

PERENCANAAN PENULANGAN LENTUR DAN GESER BALOK PERSEGI MENURUT SNI 03-847-00 Slamet Wioo Staf Pengajar Peniikan Teknik Sipil an Perenanaan FT UNY Balok merupakan elemen struktur yang menanggung beban layan

Lebih terperinci

3. Kegiatan Belajar Medan listrik

3. Kegiatan Belajar Medan listrik 3. Kegiatan Belajar Mean listrik a. Tujuan Kegiatan Pembelajaran Setelah mempelajari kegiatan belajar 3, iharapkan Ana apat: Menjelaskan hubungan antara kuat mean listrik i suatu titik, gaya interaksi,

Lebih terperinci

matriks A. PENGERTIAN MATRIKS Persija Persib baris

matriks A. PENGERTIAN MATRIKS Persija Persib baris Kolom 1. Pengertian Matriks matriks A. PENGERTIAN MATRIKS Dalam kehiupan sehari-hari an alam matematika, berbagai keterangan seringkali isajikan alam bentuk matriks. Contoh 1: Hasil pertaningan grup I

Lebih terperinci

PANJANG PENYALURAN TULANGAN

PANJANG PENYALURAN TULANGAN 131 6 PANJANG PENYALURAN TULANGAN Penyauran gaya seara sempurna ari baja tuangan ke beton yang aa i sekeiingnya merupakan syarat yang muthak harus ipenuhi agar beton bertuang apat berfungsi engan baik

Lebih terperinci

Integral dan Persamaan Diferensial

Integral dan Persamaan Diferensial Sudaryatno Sudirham Studi Mandiri Integral dan Persamaan Diferensial ii Darublic BAB 3 Integral (3) (Integral Tentu) 3.. Luas Sebagai Suatu Integral. Integral Tentu Integral tentu meruakan integral yang

Lebih terperinci

BAB III INTERFERENSI SEL

BAB III INTERFERENSI SEL BAB NTEFEENS SEL Kinerja sistem raio seluler sangat ipengaruhi oleh faktor interferensi. Sumber-sumber interferensi apat berasal ari ponsel lainya ialam sel yang sama an percakapan yang seang berlangsung

Lebih terperinci

Pengaruh Perubahan Sisi Elektrode Sangkar Delta pada Nilai Resistans Satu Batang Pentanah

Pengaruh Perubahan Sisi Elektrode Sangkar Delta pada Nilai Resistans Satu Batang Pentanah 462 Pengaruh Perubahan Sisi Elektroe Sangkar Delta paa Nilai Resistans Satu Batang Pentanah Harnoko Stephanus 1 Abstract Grouning ro is more practical than grouning plate or grouning strip. Grouning resistance

Lebih terperinci

270 o. 90 o. 180 o PENDAHULUAN

270 o. 90 o. 180 o PENDAHULUAN PENDAHULUAN Latar Belakang Perkembangan analisis data saat ini masih bertumu ada analisis untuk data linear. Disisi lain, untuk kasus-kasus tertentu engukuran dilakukan secara sirkular. Beberaa ilustrasi

Lebih terperinci

Sistem Informasi Seminar dan Sidang Tugas Akhir Program Studi Teknik Informatika Universitas Tanjungpura

Sistem Informasi Seminar dan Sidang Tugas Akhir Program Studi Teknik Informatika Universitas Tanjungpura Jurnal an Teknologi Informasi (JUSTIN) Vol. 1, No. 1, (2016) 1 Informasi Seminar an Siang Tugas khir Stui Teknik Informatika Universitas Tanjungpura Muftia 1, rif Bijaksana Putra Negara 2, Novi Safriai

Lebih terperinci

Penerapan Aljabar Max-Plus Pada Sistem Produksi Meubel Rotan

Penerapan Aljabar Max-Plus Pada Sistem Produksi Meubel Rotan Jurnal Graien Vol 8 No 1 Januari 2012:775-779 Penerapan Aljabar Max-Plus Paa Sistem Prouksi Meubel Rotan Ulfasari Rafflesia Jurusan Matematika, Fakultas Matematika an Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas

Lebih terperinci

SURVEYING (CIV-104) PERTEMUAN 11 : METODE PENGUKURAN LUAS

SURVEYING (CIV-104) PERTEMUAN 11 : METODE PENGUKURAN LUAS SURVEYING (CIV-04) PERTEMUAN : METODE PENGUKURAN LUAS UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevar Bintaro Sektor 7, Bintaro Jaa Tangerang Selatan 54 MANFAAT PERHITUNGAN LUAS Pengukuran luas ini ipergunakan

Lebih terperinci

F = M a Oleh karena diameter pipa adalah konstan, maka kecepatan aliran di sepanjang pipa adalah konstan, sehingga percepatan adalah nol, d dr.

F = M a Oleh karena diameter pipa adalah konstan, maka kecepatan aliran di sepanjang pipa adalah konstan, sehingga percepatan adalah nol, d dr. Hukum Newton II : F = M a Oleh karena iameter pipa aalah konstan, maka kecepatan aliran i sepanjang pipa aalah konstan, sehingga percepatan aalah nol, rr rr( s) rs rs( r r) rrs sin o Bentuk tersebut apat

Lebih terperinci

BAB 2 PEMODELAN DAN LANDASAN TEORI SISTEM JACKETED STIRRED TANK HEATER

BAB 2 PEMODELAN DAN LANDASAN TEORI SISTEM JACKETED STIRRED TANK HEATER BAB PEMODELAN DAN LANDASAN TEORI SISTEM JACETED STIRRED TAN HEATER Jackete stirre tank heater itunukkan aa gambar. Sistem ini teriri ari tangki an aket yang mengelilingi tangki tersebut. Aliran masuk tangki

Lebih terperinci

BAB 7 P A S A K. Gambar 1. Jenis-Jenis Pasak

BAB 7 P A S A K. Gambar 1. Jenis-Jenis Pasak BAB 7 P A S A K Pasak atau keys merupakan elemen mesin yang igunakan untuk menetapkan atau mengunci bagian-bagian mesin seperti : roa gigi, puli, kopling an sprocket paa poros, sehingga bagian-bagian tersebut

Lebih terperinci

PENDAHULUAN TINJAUAN PUSTAKA. 2. Membandingkan hasil penggerombolan antara sebelum dan sesudah pereduksian peubah. Latar Belakang

PENDAHULUAN TINJAUAN PUSTAKA. 2. Membandingkan hasil penggerombolan antara sebelum dan sesudah pereduksian peubah. Latar Belakang PEDHULU Latar elaang Pengan aalah roe mengelomoan obe e alam elomoelomo beraaran emirian atau etamirian. Hail ari engan aan menunuan bahwa obe-obe yang beraa alam atu aan lebih homogen ibaningan antar.

Lebih terperinci

APLIKASI DISCOUNTED CASH FLOW PADA KONTROL INVENTORY DENGAN BEBERAPA MACAM KREDIT PEMBAYARAN SUPPLIER

APLIKASI DISCOUNTED CASH FLOW PADA KONTROL INVENTORY DENGAN BEBERAPA MACAM KREDIT PEMBAYARAN SUPPLIER Program Studi MMT-ITS, Surabaya Agustus 9 APLIKASI ISOUNTE ASH FLOW PAA KONTROL INVENTORY ENGAN BEBERAPA MAAM KREIT PEMBAYARAN SUPPLIER Hansi Aditya, Rully Soelaiman Manajemen Teknologi Informasi MMT -

Lebih terperinci

UN SMA IPA 2009 Matematika

UN SMA IPA 2009 Matematika UN SMA IPA 009 Matematika Koe Soal P88 Doc. Name: UNSMAIPA009MATP88 Doc. Version : 0-0 halaman 0. Perhatikan premis-premis berikut ini : :Jika Ai muri rajin maka Ai muri panai :Jika Ai muri panai maka

Lebih terperinci

Penerapan Multivariate Exponentially Weighted Moving Average Control Chart Pada Proses Pembuatan Boiler di PT. ALSTOM ESI Surabaya

Penerapan Multivariate Exponentially Weighted Moving Average Control Chart Pada Proses Pembuatan Boiler di PT. ALSTOM ESI Surabaya 1 Peneraan Multivariate Exonentially Weighted Moving Average Control Chart Pada Proses Pembuatan Boiler di PT. ALSTOM ESI Surabaya R. Candra Dewantara (1), Dr. Muhammad Mashuri, M.T. () Jurusan Statistika,

Lebih terperinci

BAB 3 PENGEMBANGAN TEOREMA DAN PERANCANGAN PROGRAM

BAB 3 PENGEMBANGAN TEOREMA DAN PERANCANGAN PROGRAM BAB 3 PENGEMBANGAN TEOREMA DAN PERANCANGAN PROGRAM 3.1. Pengembangan Teorema Dalam enelitian dan erancangan algoritma ini, akan dibahas mengenai beberaa teorema uji rimalitas yang terbaru. Teorema-teorema

Lebih terperinci

METODE MATRIK APLIKASI METODE MATRIK UNTUK ANALISA STRUKTUR BALOK

METODE MATRIK APLIKASI METODE MATRIK UNTUK ANALISA STRUKTUR BALOK METOE MATRIK APIKASI METOE MATRIK UNTUK ANAISA STRUKTUR BAOK PENGERTIAN UMUM Metoe matrik aalah suatu pemikiran baru paa analisa struktur, yang berkembang bersamaan engan populernya penggunaan computer

Lebih terperinci

PERANCANGAN ANTENA MIKROSTRIP PATCH SEGI EMPAT SLOTS DUAL-BAND PADA FREKUENSI 2,4 GHz DAN 3,3 GHz

PERANCANGAN ANTENA MIKROSTRIP PATCH SEGI EMPAT SLOTS DUAL-BAND PADA FREKUENSI 2,4 GHz DAN 3,3 GHz PERANCANGAN ANTENA MIKROSTRIP PATCH SEGI EMPAT SLOTS DUAL-BAND PADA FREKUENSI 2,4 DAN 3,3 Zul Hariansyah Hutasuhut, Ali Hanafiah Rambe Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

Lebih terperinci

PENGENALAN IRIS MATA MENGGUNAKAN PENCIRIAN MATRIKS KO-OKURENSI ARAS KEABUAN Aditya Angga Kusuma 1, R. Rizal Isnanto 2, Imam Santoso 2.

PENGENALAN IRIS MATA MENGGUNAKAN PENCIRIAN MATRIKS KO-OKURENSI ARAS KEABUAN Aditya Angga Kusuma 1, R. Rizal Isnanto 2, Imam Santoso 2. Makalah Tugas Akhir PENGENALAN IRIS MATA MENGGUNAKAN PENCIRIAN MATRIKS KO-OKURENSI ARAS KEABUAN Aitya Angga Kusuma 1, R. Rizal Isnanto 2, Imam Santoso 2 Abstract Human iris has a very unique pattern which

Lebih terperinci

VIII. ALIRAN MELALUI LUBANG DAN PELUAP

VIII. ALIRAN MELALUI LUBANG DAN PELUAP VIII. ALIRAN MELALUI LUBANG DAN PELUAP 8.. Penahuluan Lubang aalah bukaan paa ining atau asar tangki imana zat cair mengalir melaluinya. Lubang tersebut bisa berbentuk segi empat, segi tiga, ataupun lingkaran.

Lebih terperinci

ABSTRACT. Keywords: Training, Evaluation, Kirkpatrick Model, Employees. 376 Hania Aminah. Hania Aminah Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Jakarta

ABSTRACT. Keywords: Training, Evaluation, Kirkpatrick Model, Employees. 376 Hania Aminah. Hania Aminah Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Jakarta MODEL EVALUASI KIRIKPATRICK DAN APLIKASINYA DALAM PELAKSANAAN PELATIHAN (LEVEL REAKSI DAN PEMBELAJARAN) DI PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PERUM JAKARTA Hania Aminah Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TIJAUA PUSTAKA Portofolio Saham Portofolio berarti sekumulan investasi, untuk kasus saham, berarti sekumulan investasi dalam bentuk saham. Proses embentukan orfolio saham terdiri dari mengidentifikasi

Lebih terperinci

ANALISAPERHITUNGANWAKTU PENGALIRAN AIR DAN SOLAR PADA TANGKI

ANALISAPERHITUNGANWAKTU PENGALIRAN AIR DAN SOLAR PADA TANGKI ANALISAPERITUNGANWAKTU PENGALIRAN AIR DAN SOLAR PADA TANGKI Nurnilam Oemiati Staf Pengajar Jurusan Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammaiyah Palembang Email: [email protected] Abstrak paa

Lebih terperinci

BAB I. Ada beberapa macam sarana transportasi pribadi untuk membawa anak,yaitu : BERMOBILITAS

BAB I. Ada beberapa macam sarana transportasi pribadi untuk membawa anak,yaitu : BERMOBILITAS PENDAHLAN LATAR BELAKANG Aa eeraa macam sarana transortasi riai untuk memawa,yaitu : Motor Moil Menengah Tetai K E NYATAAN NYA: Menengah Dari segi keselamatanæ Moil jauh leih aman i aningkan motor. Karena

Lebih terperinci

, serta notasi turunan total ρ

, serta notasi turunan total ρ LANDASAN TEORI Lanasan teori ini berasarkan rujukan Jaharuin (4 an Groesen et al (99, berisi penurunan persamaan asar fluia ieal, sarat batas fluia ua lapisan an sistem Hamiltonian Penentuan karakteristik

Lebih terperinci

DETEKSI JENIS WARNA KULIT WAJAH UNTUK KLASIFIKASI RAS MANUSIA MENGGUNAKAN TRANSFORMASI WARNA

DETEKSI JENIS WARNA KULIT WAJAH UNTUK KLASIFIKASI RAS MANUSIA MENGGUNAKAN TRANSFORMASI WARNA DETEKSI JENIS WARNA KULIT WAJAH UNTUK KLASIFIKASI RAS MANUSIA MENGGUNAKAN TRANSFORMASI WARNA Murinto, Eko Aribowo, Wahyu Nurhiayati Program Stui Teknik Informatika Universitas Ahma Dahlan Jogjakarta [email protected]

Lebih terperinci

=== PERANCANGAN RANGKAIAN KOMBINASIONAL ===

=== PERANCANGAN RANGKAIAN KOMBINASIONAL === TKNIK IITL === PRNNN RNKIN KOMINSIONL === Rangkaian logika atau igital apat ibagi menjai 2 bagian yaitu:. Rangkaian Kombinasional, aalah suatu rangkaian logika yang keaaan keluarannya hanya ipengaruhi

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. II.1 Saham

BAB II DASAR TEORI. II.1 Saham BAB II DASAR TEORI Paa bab ini akan ijelaskan asar teori yang igunakan selama pelaksanaan Tugas Akhir ini: saham, analisis funamental, analisis teknis, moving average, oscillator, an metoe Relative Strength

Lebih terperinci

IV. ANALISA RANCANGAN

IV. ANALISA RANCANGAN IV. ANALISA RANCANGAN A. Rancangan Fungsional Dalam penelitian ini, telah irancang suatu perontok pai yang mempunyai bentuk an konstruksi seerhana an igerakkan engan menggunakan tenaga manusia. Secara

Lebih terperinci

Respon Getaran Lateral dan Torsional Pada Poros Vertical-Axis Turbine (VAT) dengan Pemodelan Massa Tergumpal

Respon Getaran Lateral dan Torsional Pada Poros Vertical-Axis Turbine (VAT) dengan Pemodelan Massa Tergumpal JURNAL TEKNIK POMITS Vol., No. 1, (13 ISSN: 337-3539 (31-971 Print B-11 Respon Getaran Lateral an Torsional Paa Poros Vertical-Axis Turbine (VAT engan Pemoelan Massa Tergumpal Ahma Aminuin, Yerri Susatio,

Lebih terperinci

BAB IV PERCOBAAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB IV PERCOBAAN DAN PENGOLAHAN DATA BAB IV ERCOBAAN DAN ENGOLAHAN DATA Untuk mengetahui unjuk kerja ari alat uji yang telah ibuat, maka perlu ilakukan pengujian paa alat uji tersebut. Data-ata yang iapat melalui pengujian kemuian ianalisis,

Lebih terperinci

Hukum Coulomb. a. Uraian Materi

Hukum Coulomb. a. Uraian Materi Hukum oulomb a. Tujuan Kegiatan Pembelajaran Setelah mempelajari kegiatan belajar, iharapkan ana apat: - menjelaskan hubungan antara gaya interaksi ua muatan listrik, besar muatan-muatan, an jarak pisah

Lebih terperinci

Hardy F. Logiani, Awang N. I. Wardana, Andang W. Harto

Hardy F. Logiani, Awang N. I. Wardana, Andang W. Harto Hary F. Logiani, Awang. I. Warana, Anang W. Harto Imlementasi Ientifikasi Sistem Kalang Tertutu untuk Asesmen Kinerja Pengenali Level aa Konensor Hary F. Logiani, Awang. I. Warana, Anang W. Harto 3,,3

Lebih terperinci

TRANSFORMASI AFFIN PADA BIDANG

TRANSFORMASI AFFIN PADA BIDANG Jurnal Matematika Vol. No. November 03 [ : 8 ] TRANSFORMASI AFFIN PADA BIDANG Gani Gunawan dan Suwanda Program Studi Matematika, Fakultas MIPA, Universitas Islam Bandung Prgram Studi Statistika, Fakultas

Lebih terperinci

FUNGSI TRANSENDEN J.M. TUWANKOTTA

FUNGSI TRANSENDEN J.M. TUWANKOTTA FUNGSI TRANSENDEN J.M. TUWANKOTTA. Penekatan Kalkulus: menefinisikan fungsi logaritma natural sebagai integral Panang sebuah fungsi yang iefinisikan engan menggunakan integral: (.) L(x) = t t. Dari Teorema

Lebih terperinci

ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM INFORMASI PENJADWALAN PRODUKSI DENGAN METODE SIMULASI DISKRIT PADA PT. BIOPLAST UNGGUL

ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM INFORMASI PENJADWALAN PRODUKSI DENGAN METODE SIMULASI DISKRIT PADA PT. BIOPLAST UNGGUL ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM INFORMASI PENJADWALAN PRODUKSI DENGAN METODE SIMULASI DISKRIT PADA PT. BIOPLAST UNGGUL Jeefry Sutrisman Binus University, Jakarta, DKI Jakarta, Inonesia Abstrak PT. Bioplast

Lebih terperinci

=== BENTUK KANONIK DAN BENTUK BAKU ===

=== BENTUK KANONIK DAN BENTUK BAKU === TEKNIK DIGITL === ENTUK KNONIK DN ENTUK KU === entuk Kanonik yaitu Fungsi oolean yang iekspresikan alam bentuk SOP atau POS engan minterm atau maxterm mempunyai literal yang lengkap. entuk aku yaitu Fungsi

Lebih terperinci

Cluster Analysis. Hery Tri Sutanto. Jurusan Matematika MIPA UNESA. Abstrak

Cluster Analysis. Hery Tri Sutanto. Jurusan Matematika MIPA UNESA. Abstrak S-17 Cluster Analysis Hery Tri Sutanto Jurusan Matematika MIPA UNESA Abstrak Dalam analisis cluster mempelajari hubungan interdependensi antara seluruh set variabel perlu diteliti. Tujuan utama analisis

Lebih terperinci

Bab I Pendahuluan. I.1 Latar Belakang Masalah

Bab I Pendahuluan. I.1 Latar Belakang Masalah Bab I Pendahuluan I. Latar Belakang Masalah Dalam beberaa tahun terakhir ini, roses emonitoran kestabilan barisan matriks korelasi mendaatkan erhatian yang amat serius dalam literatur, terutama dalam literatur

Lebih terperinci

PENGARUH STRATEGI VAKSINASI KONTINU PADA MODEL EPIDEMIK SVIRS

PENGARUH STRATEGI VAKSINASI KONTINU PADA MODEL EPIDEMIK SVIRS SEMIRATA MIPAnet 27 24-26 Agustus 27 UNSRAT, Manao PENGARUH STRATEGI VAKSINASI KONTINU PADA MODEL EPIDEMIK SVIRS TONAAS KABUL WANGKOK YOHANIS MARENTEK Universitas Universal Batam, [email protected],

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Maksud 1.2 Tujuan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Maksud 1.2 Tujuan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Maksu 1.1.1 Memisahkan fraksi butiran seimen paa ukuran (iameter) butir tertentu. 1.1.2 Menentukan nilai koefisien sortasi, skewness an kurtosi baik secara grafis maupun matematis.

Lebih terperinci

ANALISIS PENGENDALIAN KUALITAS PRODUK CETAK BUKU DENGAN MENGGUNAKAN SEVEN TOOLS PADA PT..XYZ

ANALISIS PENGENDALIAN KUALITAS PRODUK CETAK BUKU DENGAN MENGGUNAKAN SEVEN TOOLS PADA PT..XYZ Yogyakarta, 27 Agustus 2008 ANALISIS PENGENDALIAN KUALITAS PRODUK CETAK BUKU DENGAN MENGGUNAKAN SEVEN TOOLS PADA PT..XYZ Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Sultan Agung

Lebih terperinci

Metode Nonparametrik untuk Menaksir Koefisien Korelasi Parsial

Metode Nonparametrik untuk Menaksir Koefisien Korelasi Parsial Prosiing Statistika ISSN 46-6456 Metoe Nonparametrik untuk Menaksir Koeisien Korelasi Parsial 1 Silmi Kaah, Anneke Iswani Ahma, 3 Lisnur Wachiah 1,,3 Statistika, Fakultas MIPA, Universitas Islam Banung,

Lebih terperinci

Sudaryatno Sudirham. Studi Mandiri. Diferensiasi. Darpublic

Sudaryatno Sudirham. Studi Mandiri. Diferensiasi. Darpublic Suaratno Suirham Stui Maniri Diferensiasi ii Darpublic BAB 3 Turunan Fungsi-Fungsi (3 (Fungsi-Fungsi Trigonometri, Trigonometri Inersi, Logaritmik, Eksponensial 3.. Turunan Fungsi Trigonometri Jika maka

Lebih terperinci

BAB IV ESTIMASI DIMENSI ELEMEN STRUKTUR. 1 basement. Denah bangunan hotel seperti terlihat pada gambar 4.1 : Gambar 4.1.

BAB IV ESTIMASI DIMENSI ELEMEN STRUKTUR. 1 basement. Denah bangunan hotel seperti terlihat pada gambar 4.1 : Gambar 4.1. BAB IV ESTIMASI DIMENSI ELEMEN STRUKTUR 4.1. Denah Bangunan Dalam tugas akhir ini penulis akan merancang geung hotel 7 lantai an 1 basement. Denah bangunan hotel seperti terlihat paa gambar 4.1 : Gambar

Lebih terperinci

Suatu persamaan diferensial biasa orde n adalah persamaan bentuk :

Suatu persamaan diferensial biasa orde n adalah persamaan bentuk : PERSAMAAN DIFERENSIAL BIASA PERSAMAAN DIFERENSIAL Suatu persamaan iferensial biasa ore n aalah persamaan bentuk : F n, ', '', ''',......, 0 Yang menatakan hubungan antara, fungsi () an turunanna ', '',

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI.1 etode Perancangan etode erancangan adalah roses berikir sistematis untuk menyelesaikan suatu masalah, sehingga mendaatkan hasil enyelesaian yang maksimal untuk mencaai sesuatu yang

Lebih terperinci

UJIAN TENGAH SEMESTER KALKULUS/KALKULUS1

UJIAN TENGAH SEMESTER KALKULUS/KALKULUS1 Jurusan Matematika FMIPA IPB UJIAN TENGAH SEMESTER KALKULUS/KALKULUS1 Sabtu, 4 Maret 003 Waktu : jam SETIAP NOMOR MEMPUNYAI BOBOT 10 1. Tentukan: (a) (b) x sin x x + 1 ; x (cos (x 1)) :. Diberikan fungsi

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI TEKNIK FEATURE MORPHING PADA CITRA DUA DIMENSI

IMPLEMENTASI TEKNIK FEATURE MORPHING PADA CITRA DUA DIMENSI IMPLEMENTSI TEKNIK FETURE MORPHING PD CITR DU DIMENSI Luciana benego an Nico Saputro Jurusan Intisari Pemanfaatan teknologi animasi semakin meluas seiring engan semakin muah an murahnya penggunaan teknologi

Lebih terperinci

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENERIMAAN SISWA BARU DENGAN METODE PROMETHEE (STUDI KASUS SD PLUS NURUL HIKMAH PAMEKASAN)

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENERIMAAN SISWA BARU DENGAN METODE PROMETHEE (STUDI KASUS SD PLUS NURUL HIKMAH PAMEKASAN) SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENERIMAAN SISWA BARU DENGAN METODE PROMETHEE (STUDI KASUS SD PLUS NURUL HIKMAH PAMEKASAN) Ubaii Teknik Informatika Universitas Maura [email protected] ABSTRAK Penelitian ini

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS RANTAI MARKOV PADA PERAMALAN PANGSA PASAR

BAB III ANALISIS RANTAI MARKOV PADA PERAMALAN PANGSA PASAR BAB III ANALISIS RANTAI MARKOV PADA PERAMALAN PANGSA PASAR Berdasarkan ada bab sebelumnya, ada bab ini akan dijelaskan enetaan atribut-atribut (keseakatan istilah) yang akan digunakan, serta langkah-langkah

Lebih terperinci

PEMODELAN KETERTINGGALAN DAERAH DI INDONESIA MENGGUNAKAN ANALISIS DISKRIMINAN

PEMODELAN KETERTINGGALAN DAERAH DI INDONESIA MENGGUNAKAN ANALISIS DISKRIMINAN M-20 PEMODELAN KETERTINGGALAN DAERAH DI INDONESIA MENGGUNAKAN ANALISIS DISKRIMINAN Titi Purwandari, Yuyun Hidayat 2,2) Deartemen Statistika FMIPA Universitas Padjadjaran, email : [email protected],

Lebih terperinci

PEMODELAN PENJADWALAN LINIER DENGAN ALOKASI SUMBER DAYA MANUSIA PADA PROYEK PERUMAHAN. Hedwig A Tan 1, Ratna S Alifen 2

PEMODELAN PENJADWALAN LINIER DENGAN ALOKASI SUMBER DAYA MANUSIA PADA PROYEK PERUMAHAN. Hedwig A Tan 1, Ratna S Alifen 2 PEMODELAN PENJADWALAN LINIER DENGAN ALOKASI SUMBER DAYA MANUSIA PADA PROYEK PERUMAHAN Hewig A Tan, Ratna S Alifen ABSTRAK: Metoe penjawalan linier cocok untuk proyek engan aktivitas seerhana, an repetitif

Lebih terperinci

MODIFIKASI GEOMETRI SEBAGAI PENGONTROL PASIF TERHADAP GAYA DRAG PADA SILINDER GANDA YANG TERSUSUN SECARA TANDEM

MODIFIKASI GEOMETRI SEBAGAI PENGONTROL PASIF TERHADAP GAYA DRAG PADA SILINDER GANDA YANG TERSUSUN SECARA TANDEM MODIFIKASI GEOMETRI SEBAGAI PENGONTROL PASIF TERHADAP GAYA DRAG PADA SILINDER GANDA YANG TERSUSUN SEARA TANDEM Okasatria Novyanto 1 1 Puslit KIM-LIPI, Kawasan Pusitek-Serong [email protected] INTISARI

Lebih terperinci

JEMBATAN KÖNIGSBERG. Puji Nugraheni. Abstrak

JEMBATAN KÖNIGSBERG. Puji Nugraheni. Abstrak JEMTN KÖNIGSERG Puji Nugraheni Jurusan Pendidikan Matematika FKIP Universitas Muhammadiyah Purworejo bstrak erbagai ermasalahan dalam kehiduan sehari-hari daat dimodelkan dengan menggunakan diagram titik

Lebih terperinci

Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Intitut Teknologi Seuluh Noember Surabaya Materi Contoh Soal Ringkaan Latihan Aemen Materi Contoh Soal Ringkaan omonen Sitem Sitem Hail Perancangan Proeur Perancangan Pengenali PD Moifikai Latihan Aemen

Lebih terperinci

PERSAMAAN DIFFERENSIAL. Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Matematika

PERSAMAAN DIFFERENSIAL. Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Matematika PERSAMAAN DIFFERENSIAL Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Matematika Disusun oleh: Aurey Devina B 1211041005 Irul Mauliia 1211041007 Anhy Ramahan 1211041021 Azhar Fuai P 1211041025 Murni Mariatus

Lebih terperinci

SURAT KETERANGAN TUGAS AKHIR

SURAT KETERANGAN TUGAS AKHIR SURAT KETERANGAN TUGAS AKHIR Sesuai engan persetujuan ari Ketua Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Kristen Maranatha, melalui surat 812/TA/FTS/UKM/III/2004 tanggal 9 Februari 2004, engan

Lebih terperinci

Abstrak. Kata kunci : sistem pendukung keputusan, jamkesmas, system development life cycle, seleksi, penerima

Abstrak. Kata kunci : sistem pendukung keputusan, jamkesmas, system development life cycle, seleksi, penerima SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN SELEKSI CALON PENERIMA JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT(JAMKESMAS) DENGAN METODE PROMETHEE DI DESA MAKAM, KECAMATAN REMBANG, PURBALINGGA Kartika Nur Utami Jurusan Sistem Informasi,

Lebih terperinci

OPTIMASI PARAMETER DALAM ANALISIS CREEP DAN FATIQUE TERHADAP MATERIAL MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA

OPTIMASI PARAMETER DALAM ANALISIS CREEP DAN FATIQUE TERHADAP MATERIAL MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA Optimalisasi Parameter alam Analisis Creep an Fatique Terhaap Material Menggunakan Algoritma Genetika OPTIMASI PARAMETER DALAM ANALISIS CREEP DAN FATIQUE TERHADAP MATERIAL MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA

Lebih terperinci

PENENTUAN RUMUS KETIDAKPASTIAN PENGUKURAN UJI KEKERASAN VICKERS

PENENTUAN RUMUS KETIDAKPASTIAN PENGUKURAN UJI KEKERASAN VICKERS 3 ISSN 016-318 PENENTUAN RUMUS KETIDAKPASTIAN PENGUKURAN UJI KEKERASAN VICKERS Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir BATAN Serpong. ABSTRAK PENENTUAN RUMUS KETIDAKPASTIAN PENGUKURAN UJI KEKERASAN VICKERS.

Lebih terperinci

Sudaryatno Sudirham. Diferensiasi

Sudaryatno Sudirham. Diferensiasi Suaratno Suirham Diferensiasi Bahan Kuliah Terbuka alam format pf terseia i.buku-e.lipi.go.i alam format pps beranimasi terseia i.ee-cafe.org Pengertian-Pengertian 0-0 Kita telah melihat baha kemiringan

Lebih terperinci

MAKALAH SEMINAR PENDIDIKAN MATEMATIKA PENARIKAN AKAR PANGKAT TIGA DARI BILANGAN BULAT DENGAN HASIL HAMPIRAN

MAKALAH SEMINAR PENDIDIKAN MATEMATIKA PENARIKAN AKAR PANGKAT TIGA DARI BILANGAN BULAT DENGAN HASIL HAMPIRAN MAKALAH SEMINAR PENDIDIKAN MATEMATIKA PENARIKAN AKAR PANGKAT TIGA DARI BILANGAN BULAT DENGAN HASIL HAMPIRAN OLEH LUKMANUDIN D07.090.5 PROGRAM STUDY PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

Lebih terperinci