BAB I LOGIKA KALIMAT

dokumen-dokumen yang mirip
NEGASI KALIMAT DAN KALIMAT MAJEMUK (Minggu ke-3)

KALIMAT DEKLARATIF (Minggu ke-1 dan 2)

RENCANA PROGRAM KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS) DAN BUKU DIKTAT PENGANTAR LOGIKA MATEMATIKA DAN HIMPUNAN

BAB I LOGIKA MATEMATIKA

Logika & Himpunan 2013 LOGIKA MATEMATIKA. Oleh NUR INSANI, M.SC. Disadur dari BUDIHARTI, S.Si.

BAB II TAUTOLOGI DAN PRINSIP-PRINSIP PEMBUKTIAN

LOGIKA MATEMATIKA (Pendalaman Materi SMA)

KONSEP DASAR LOGIKA MATEMATIKA. Riri Irawati, M.Kom Logika Matematika - 3 sks

Logika. Arum Handini Primandari, M.Sc. Ayundyah Kesumawati, M.Si.

BAB I DASAR-DASAR LOGIKA

LOGIKA MATEMATIKA LOGIKA. Altien Jonathan Rindengan, S.Si, M.Kom

Unit 5 PENALARAN/LOGIKA MATEMATIKA. Wahyudi. Pendahuluan

BAB I TAUTOLOGI DAN PRINSIP-PRINSIP PEMBUKTIAN

Logika Matematika. Cece Kustiawan, FPMIPA, UPI

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

PERNYATAAN MAJEMUK & NILAI KEBENARAN

MATEMATIKA DISKRIT LOGIKA

Unit 6 PENALARAN MATEMATIKA. Clara Ika Sari Budhayanti. Pendahuluan. Selamat belajar, semoga Anda sukses.

Matematika Industri I

Logika. Modul 1 PENDAHULUAN

LOGIKA. /Nurain Suryadinata, M.Pd

LOGIKA MATEMATIKA. LA - WB (Lembar Aktivitas Warga Belajar) MATEMATIKA PAKET C TINGKAT V DERAJAT MAHIR 1 SETARA KELAS X

RUMUS-RUMUS TAUTOLOGI. (Minggu ke-5 dan 6)

Logika Matematika. Logika Matematika. Jurusan Informatika FMIPA Unsyiah. September 26, 2012

LOGIKA Matematika Industri I

LOGIKA MATEMATIKA I. PENDAHULUAN

BAB III KUANTOR kuantor, 1. Kuantor Universal 3. Kuantor Eksistensial

LOGIKA. Arum Handini Primandari

Silabus. Tugas individu, tugas kelompok, kuis.

PENGERTIAN. Proposisi Kalimat deklaratif yang bernilai benar (true) atau salah (false), tetapi tidak keduanya. Nama lain proposisi: kalimat terbuka.

RUMUS LOGIKA MATEMATIKA DAN TABEL KEBENARAN

Modul ke: Logika Matematika. Proposisi & Kuantor. Fakultas FASILKOM BAGUS PRIAMBODO. Program Studi SISTEM INFORMASI.

Jadi penting itu baik, tapi jadi baik jauh lebih penting

LOGIKA (LOGIC) Logika merupakan dasar dari semua penalaran (reasoning). Penalaran didasarkan pada hubungan antara pernyataanpernyataan

PERNYATAAN (PROPOSISI)

ANALISIS KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL (KKM) SMK DIPONEGORO LEBAKSIU TAHUN PELAJARAN 2012/2013

PERTEMUAN KE 3 F T T F T F T F

MATEMATIKA DISKRIT. Logika

PENGEMBANGAN SILABUS TAHUN PELAJARAN 2012/2013

DASAR-DASAR LOGIKA. Pertemuan 2 Matematika Diskrit

Modul Matematika X Semester 2 Logika Matematika

Logika Logika merupakan dasar dari semua penalaran (reasoning). Penalaran didasarkan pada hubungan antara proposisi atau pernyataan (statements).

LOGIKA. Kegiatan Belajar Mengajar 1

I. PERNYATAAN DAN NEGASINYA

KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL ( KKM ) MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS X ( 1 ) SEMESTER I

Modul Ilmu Mantiq/Logika. Dosen: Ahmad Taufiq MA

Selamat datang di Perkuliahan LOGIKA MATEMATIKA Logika Matematika Teori Himpunan Teori fungsi

B. Proposisi (Pernyataan) yaitu kalimat yang mempunyai nilai salah atau benar tetapi tidak sekaligus keduanya

BAB I PENDAHULUAN. a. Apa sajakah hukum-hukum logika dalam matematika? b. Apa itu preposisi bersyarat?

BAHAN AJAR LOGIKA MATEMATIKA

BAB 4 PROPOSISI. 1. Pernyataan dan Nilai Kebenaran

LOGIKA MATEMATIKA. Tabel kebenarannya sbb : p ~ p B S S B

KISI KISI LOMBA KOMPETENSI SISWA SMK TINGKAT PROVINSI JAWA TIMUR 2014

B. Proposisi (Pernyataan) yaitu kalimat yang mempunyai nilai salah atau benar tetapi tidak sekaligus keduanya

Materi 4: Logika. I Nyoman Kusuma Wardana. STMIK STIKOM Bali

PENGANTAR ANALISIS REAL

NAMA LAMBANG KATA PERNYATAAN LOGIKANYA PENGHUBUNG

Pusat Pengembangan Pendidikan Universitas Gadjah Mada 1

- Mahasiswa memahami dan mampu membuat kalimat, mengevaluasi kalimat dan menentukan validitas suatu kalimat

MODUL LOGIKA MATEMATIKA

1.3 Pembuktian Tautologi dan Kontradiksi. Pernyataan majemuk yang selalu bernilai benar bagaimanapun nilai proposisi

MODUL PERKULIAHAN EDISI 1 MATEMATIKA DISKRIT

Logika Proposisi 1. Definisi 1. (Proposisi) Proposisi adalah kalimat yang bernilai benar atau salah, tetapi tidak keduanya sekaligus.

DURASI PEMELAJARAN KURIKULUM SMK EDISI 2004

LOGIKA PROPOSISI 3.1 Proposisi logika proposisional. Contoh : tautologi yaitu proposisi-proposisi yang nilainya selalu benar. Contoh 3.

LOGIKA. Logika Nilai kebenaran pernyataan majemuk Ingkaran suatu pernyataan Penarikan kesimpulan. A. Pernyataan, Kalimat Terbuka, Ingkaran.

PENALARAN DEDUKTIF. Pernyataan generalisasi (premis mayor) : Seseorang boleh mengendarai kendaraan bermotor jika ia mempunyai SIM.

PROPOSISI MATEMATIKA SISTEM INFORMASI 1

Kata Pengantar. Terima kasih atas kesediaan Bapak atau Ibu guru yang menggunakan buku Matematika Aplikasi SMA Kelas X XII. Hormat kami, Tim Penyusun

Konvers, Invers dan Kontraposisi

PENALARAN DALAM MATEMATIKA

51. Mata Pelajaran Matematika Kelompok Teknologi, Kesehatan dan Pertanian untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)/Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) A.

Logika Matematika Diskret (TKE132107) Program Studi Teknik Elektro, Unsoed

ANALISIS REAL. (Semester I Tahun ) Hendra Gunawan

BAB 6 LOGIKA MATEMATIKA

PERTEMUAN 2 TABEL KEBENARAN DADANG MULYANA. TABEL KEBENARAN (TB) digunakan untuk menyajikan hubungan antara nilai kebenaran sejumlah proposisi.

BAB 2 PENGANTAR LOGIKA PROPOSISIONAL

Dasar Logika Matematika

A. Pengertian Logika B. Pernyataan C. Nilai Kebenaran

BAB IV LOGIKA A. Pernyataan B. Operasi uner

Pertemuan 2. Proposisi Bersyarat

PERTEMUAN Logika Matematika

Paket Rumus Matematika Dasar

B. Tujuan Mata pelajaran Matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.

BAB III INDUKSI MATEMATIKA

Aljabar Bentuk Pernyataan

p q p? q (p? q) -p -q (1) (2) (3) (4) (5) (6) B B B S S S B S S B S B S B S B B S S S B B B B B S S ( - p? - q ) B S (p? q) S

PERTEMUAN 1. PERNYATAAN PENGHUBUNG PERNYATAAN A.Jerry W Jeki C.S. jekichas.weebly.com

KALIMAT MAJEMUK DAN KONEKTIVITAS

DURASI PEMELAJARAN KURIKULUM SMK EDISI 2004

SILABUS ALOKASI WAKTU T M P S P D SUMBER BELAJAR MATERI PEMBELAJARAN KOMPETENSI DASAR INDIKATOR MODEL KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

Mata Kuliah : Peng. Logika Matematika dan Himpunan Hari/tanggal : Rabu, 31 Oktober 2012 Waktu : 120 menit Sifat : Buku Tertutup Dosen : Budi S.

KISI-KISI SOAL UJIAN SEKOLAH SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK)

UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2007/2008

KATA PENGANTAR. Assalamu alaikum Wr. Wb.

PROPOSISI. Novy SetyaYunas. Pertemuan 4

IT105 MATEMATIKA DISKRIT. Ramos Somya, S.Kom., M.Cs.

PERTEMUAN 3 DASAR-DASAR LOGIKA

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Nama Sekolah : SMK... Mata Pelajaran : Matematika Kelas : XI Program Keahlian : Akuntansi dan Penjualan

Dasar-dasar Logika. (Review)

Transkripsi:

BAB I LOGIKA KALIMA Dalam suatu pernyataan kalimat, baik verbal maupun dalam bentuk tulisan, sering muncul ketidak mengertian, kesalah tafsiran dan bahkan keslah pahaman oleh karena beberapa aspek yang terkandung dalam kalimat. Perbedaan tersebut terkait pengertian kalimat yang dipicu dengan perbedaan definisi mengenai sebagian, maupun keseluruhan kalimat. Secara fungsional dalam banyak kasus, hal ini memang disengaja, mengingat perbedaan kebutuhan masing-masing bidang ilmu terhadap konsep dan makna dasar pemakaian suatu kata dalam suatu kalimat.bahkan walaupun bahasa induknya sama, misalkan Bahasa Indonesia, dalam perkembangannya setiap bidang ilmu memiliki ciri-ciri tertentu terhadap pemakaian suatu kata atau kalimat. Bahasa sastra, dalam hal ini kalimat sastra berbeda dengan kalimat hokum maupun matematika. Sebagai contoh perhatikan contoh-contoh berikut: 1. Senja resah terapung 2. Dari masing-masing buku keluar akar 3. Barangsiapa meniru, memalsukan uang kertas dan/atau dengan sengaja menyimpan. Kalimat pertama merupakan jenis kalimat yangs sering kita jumpai dalam sastra, khsususnya puisi atau prosa. Secara sastra kalimat tersebut memuat beberapa gaya bahasa, yang menurut orang awam merupakan sesuatu yang sulit atau tidak bisa dimengerti. Diantaranya apa artinya senja resah?. Padahal senja bukan makhluk hidup. Senja merupakan peralihan waktu antara sore dan malam hari. Bagaimana dia bisa mempunyai perasaan?. Di sisi lain muncul pertanyaan bagaimana senja bisa terapung, karena pengertian terapung adalah kondisi obyek di dalam cairan dengan posisi tidak menyentuh dasar temapt cairan dan sebagian muncul di atas permukaan cairan tersebut. Bagaimana senja bisa seperti itu? Jika demikian, apakah definisi senja dalam kalimat tersebut? Masing-masing kata dalam kalimat trsebut secara partial maupun sebagai bagian integral dari kalimat mempunyai arti ganda (konotasi) yang berbeda dengan makna yang seharusnya. Senja bisa diartikan manusia lanjut usia, pemerintahan yang sedang diambang kehancuran atau keadaan senja itu sendiri. Hal ini memang disengaja oleh si

pembuat kalimat, agar si pemerhati kalimat mengartikan kalimat tersebut mengikuti imajinasi mereka masing-masing. Dari sinilah keindahan kata atau kalimat dalam lingkup bidang sastra, akan muncul. Pada kalimat kedua yang menjadi persoalan adalah arti kata buku. Buku mempunyai dua arti yaitu kitab, sesuatu yang terdiri dari lembaran-lembaran kertas, atau ruas, baik tebu atau persendian. Jika kita mengartikan buku dalam kalimat tersebut sebagai kitab, maka kalimat tersebut menjadi tidak mempunyai arti. Demikian juga jika buku kita artikan sebagai persendian. Sangat aneh jika dari buku tangan bisa keluar akar. Kalimat di atas akan mempunyai arti jika buku mempunyai arti sebagai ruas tebu. Kalimat ketiga merupakan pernyataan yang dikutip dari lembaran uang kertas dan merupakan bahasa hokum. Kalimat P dan/atau Q dibaca P dan atau Q yang berarti bisa P saja atau Q saja yang dipenuhi. Hal ini dilakukan dengan menekankan dari apek ketepatan bahasa hokum. Sedangkan di bidang matematika dan bahasa percakapan secara umum, biasanya cukup digunakan kalimat P atau Q. 1.1 Semesta Pembicaraan Di bidang matematika, khususnya logika kalimat setiap kata atau kalimat harus mempunyai arti yang tunggal. idak boleh mempunyai konotasi yang berbeda antara satu pihak dengan pihak lainnya, sehingga setiap kata atau kalimat secara tepat dapat ditentukan apakah merupakan kalimat yang mempunyai arti, kalimat terbuka atau kalimat yang bisa ditentukan nilai kebenarannya. Walaupun suatu kalimat terdiri dari unsure-unsur subyek, predikat, obyek dan keterangan, tetapi dalam logika kalimat dipandang sebagai suatu kesatuan utuh yang tidak dianalisa berdasarkan unsure-unsurnya. Logika kalimat berperanan penting sebagai bahasa untuk memahami konsepkonsep matematika dan alat berpikir bagi para matematikawan. Salah satu unsure penting di dalam logika kalimat adalah semesta pembicaraan (universum/universe of discourse), yaitu himpunan semua obyek-obyek yang berada atau yang dibentangkan di dalam pembicaraan. Dalam percakapan sehari-hari biasanya semesta pembicaraan meliputi seluruh alam semesta, sehingga sangat mungkin muncul ketidak mengertian atau salah penafsiran. Sebagai contoh pada kalimat,

Dari masing-masing buku keluar akar Jika semesta pembicaraannya seluruh alam semesta dan buku diartikan denga kitab, kalimat tersebut bisa tidak memliki arti, jika akar diartikan sebagai bagian dari tumbuhan. Bisa juga memiliki arti, apabila yang dimaksud akar misalnya adalah ringkasan-ringkasan penting yang diturunkan dari buku tersebut. Namun jika semesta pembicaraan kita adalah tumbuhan, maka kalimat tersebut mempunyai arti dan tidak menutup kemungkinan sesuai dengan fakta yang terjadi. entu saja dalam kasus ini kita lebih memilih semestanya adalah tumbuhan. Untuk itu pada saat suatu ungkapan dinyatakan, sangat penting bagi kita untuk menentukan semesta pembicaraannya. Namun dalam percakapan sehari-hari hal ini seringkali tidak kita lakukan, walaupun dari kalimatnya sendiri seringkali dapat diperkirakan semesta pembicaraannya. Sebagai contoh perhatikan kalimat, Amir lebih kecil daripada setiap anggota Bisa diduga, bahwa semestanya terdiri dari orang-orang dan bukan bilangan atau fungsi. Oleh karena kondisi suatu kalimat mempunyai arti atau tidak, bernilai benar atau salah dapat ditentukan oleh semesta pembicaraannya, maka di dalam bidang matematika penentuan semesta pembicaraan harus kita lakukan pada saat suatu ungkapan dikemukakan. Contohnya adalah kalimat: Ada anggota yang lebih kecil daripada I. Jika semesta pembicaraan kalimat tersebut adalah R yaitu himpunan semua bilangan nyata, maka terhadap relasi lebih kecil yang lazim kita jumpai pada bilangan nyata, kalimat tersebut mempunyai arti. etapi jika semestanya himpunan semua bilangan kompleks, maka kalimat tersebut tidak mempunyai arti, kecuali pengertian lebih kecil telah didefinisikan. Selanjutnya jika semestanya R, pernyataan tersebut bernilai benar; dan jika semesta pembicaraannya himpunan semua bilangan asli, maka ungkapan tersebut bernilai salah. Latihan 1.1 1. entukan semesta pembicaraannya agar persamaan x 2 x 2 = 0 mempunyai: 1.1. epat satu penyelesaian 1.2. epat dua penyelesaian 2. entukan semesta pembicaraannya agar persamaan x 2 + 1 = 0 mempunyai penyelesaian.

3. Semesta pembicaraan himpunan semua bilangan nyata. Definisikan : bilangan bulat terbesar yang lebih kecil daripada : bilangan bulat terbesar yang lebih besar daripada entukan apakah kalimat-kalimat berikut benar atau salah: 3.1. Ada yang merupakan bilangan asli 3.2. Semua merupakan bilangan bulat tidak positif 3.3. Semua memenuhi 3.4. Ada yang memenuhi 1.2 Kalimat Deklaratif Suatu kalimat yang mengandung nilai salah atau benar dikatakan kalimat deklaratif. Benar pada kalimat artinya mempunyai persesuaian antara isi pernyataan dengan fakta yang sesungguhnya. Selanjutnya perhatikan ungkapan-ungkapan berikut ini; 1. Ya ampun 2. Bumi berputar pada porosnya 3. Presiden Indonesia dipilih setiap empat tahun sekali. 4. Carilah fakta untuk membuktikan, bahwa kesaksiannya bohong. 5. Selama ini bilangan 2 selalu hidup rukun dengan bilangan 3 6. Besok hujan atau tidak hujan Kalimat pertama merupakan kalimat seru (kata seru) yang mempunyai arti tetapi tidak mengandung nilai benar maupun salah; bahkan tidak memiliki struktur kalimat yang lengkap, yang minimal terdiri dari subyek dan predikat. Ungkapan ke-2 merupakan kalimat deklaratif yang bernilai benar, yaitu suatu fakta yang terjadi dalam ilmu bumi. Kalimat ke-3 merupakan kalimat deklaratif yang bernilai salah. Kalimat ke-2 dan ke-3 disebut faktual, karena untuk menentukan benar atau salahnya kita harus melihat fakta yang terjadi. Sedangkan kalimat ke-4 merupakan kalimat perintah yang mempunyai arti tetapi tidak memiliki nilai benar maupun salah, sehingga bukan merupakan kalimat deklaratif.

Latihan 1.2 entukan apakah kalimat-kalimat berikut ini merupakan kalimat yang mempunyai arti atau kalimat tanpa arti atau kalimat deklaratif. Jika deklaratif, tentukan merupakan kalimat faktual atau non faktual. 1. Semoga uhan mengabulkan permohonan 2. Apakah yang salah? 3. idak ada bilangan rasional yang lebih kecil dari semua bilangan bulat. 4. Bilangan 6 menghabiskan bilangan 72. 5. Bilangan asli yang memenuhi dan + 2 merupakan bilangan prima banyaknya tak berhingga. 6. Ada hari dimana manusia tidak membutuhkan air. 7. Setiap bilangan jika dikuadratkan hasilnya non-negatif. 8. Setiap bilangan pasti rasional atau irrasional. 1.3 Konstanta dan Variabel Untuk memahami pengertian konstanta mari kita perhatikan kalimat, Soekarno adalah salah seorang proklamator RI. Kata Soekarno dalam kalimat tersebut adalah nama dari seseorang yang pernah menjadi presiden RI pertama dan yang tercatat dalam buku sejarah. Dalam sejarah, dia merupakan salah satu (unsure tertentu) dari semesta pembicaraan yang terdiri dari orang-orang masa lalu. Pada kalimat tersebut kita membicarakan unsur tertentu dari semesta pembicaraan tanpa menghadirkan, bahkan tidak mungkin menghadirkan unsur tersebut, tetapi menggunakan lambangnya, yaitu Soekarno. Dalam hal ini Soekarno merupakan suatu konstanta. Definisi 1.3.1 Lambang suatu anggota tertentu dari semesta pembicaraannya disebut konstanta. Sebagai contoh perhatikan kalimat-kalimat berikut ini: 1. Ani adalah mahasiswi angkatan 2004 yang paling pandai. 2. Lima puluh habis dibagi 5. Pada kalimat pertama, dengan semesta pembicaraan himpunan semua manusia, Ani merupakan lambing dari suatu unsur tertentu dari semestanya yang merupakan manusia dengan ciri-ciri tertentu. Jadi Ani merupakan konstanta. Demikian juga lima puluh dan 5 merupakan angka sebagai lambing dari bilangan-bilangan tetentu dalam

semesta pembicaraan berupa himpunan bilangan, sehingga mereka merupakan konstanta. Dalam kondisi tertentu seringkali kita juga membicarakan sebarang anggota dari semesta pembicaraan. Misalkan dalam kalimat, Anak-anak memerlukan makanan dan pendidikan Dengan semesta pembicaraan himpunan semua manusia, maka kata anak-anak dalam kalimat tersebut merupakan lambang dari sebarang anggota semestanya yang memiliki rentang usia tertentu, yang sebenarnya bukan rangkaian huruf, tetapi terdiri atas tangan, kaki, perasaan dan sebagainya. Definisi 1.3.1 Lambang yang menjadi symbol dari sebarang anggota di dalam semesta pembicaraannya disebut variable. Lambang ini dapat berupa huruf, atau dan sebagainya. Semesta disebut daerah jelajah (range). Contoh 1.3.3 Pernyataan, merupakan bilangan negative, Bukan merupakan kalimat deklaratif. Kalimat ini disebut kalimat terbuka, karena memuat variable bebas dan baru mempunyai nilai benar atau salah (menjadi deklaratif) jika dengan suatu unsur tertentu dari semestanya. Misalnya deiganti 5 atau -2, sehingga diperolah 1. Bilangan 5 merupakan bilangan negatif 2. Bilangan -2 merupakan bilangan negatif Kalimat pertama bernilai salah, sedangkan kalimat ke-2 bernilai benar. Contoh 1.3.3 Jika semestanya himpunan semua bilangan nyata, maka kalimat: 1. merupakan kalimat terbuka 2. Untuk setiap pasangan dan jika <, maka terdapat yang memenuhi merupakan kalimat deklaratif dan bukan kalimat terbuka. Latihan 1.3 entukan apakah kalimat-kalimat berikut ini merupakan kalimat terbuka atau kalimat deklaratif. Jika kalimat deklaratif apakah bernilai benar atau salah. 1. Kalimat berikut semestanya himpunan semua manusia: 1.1. ono lebih tinggi daripada ini 1.2. Balita lebih rentan terhadap penyakit daripada lansia

1.3. Si lebih pandai daripada si. 2. Kalimat berikut semestanya himpunan semua bilangan nyata 2.1. 2.2. 2.3. 2.4. 1.4 Kata Penghubung Seperti layaknya penggunaan kalimat dalam bidang lain, pada logika kalimat juga muncul penggabungan beberapa kalimat tunggal yang disangkai dengan menggunakan kata penghubung. 1. Konjungsi: Menggunakan kata penghubung: dan 2. Disjungsi: Menggunakan kata penghubung: atau 3. Implikasi: Menggunakan kata penghubung: jika..., maka... 4. Biimplikasi: Menggunakan kata penghubung: jika dan hanya jika 1.4.1. Negasi, Konjungsi dan Disjungsi Suatu kalimat tidak jarang merupakan penyangkalan/ingkaran (negasi) dari suatu pernyataan lain, sebagaimana kalimat-kalimat berikut ini: Contoh 1.4.1 1. idak benar Amir mahasiswa tertinggi di angkatannya. Negasi dari: Amir mahasiswa tertinggi di angkatannya. 2. Dia bukan mahasiswi terpandai. Negasi dari: Dia mahasiswi terpandai 3. idak ada bilangan nyata yang kuadratnya negatif. Negasi dari: Ada bilangan nyata yang kuadratnya negatif.

Jika merupakan suatu pernyataan, maka negasi dari dengan simbol adalah kalimat tidak benar tidaklah atau non Nilai kebenaran didefiniskan dengan tabel kebenaran: dengan berarti kalimat bernilai benar dan berarti kalimat bernilai salah. Dalam contoh 1.4.1 misalkan adalah kalimat: Amir mahasiswa tertinggi di angkatannya, dan faktanya dia memang yang tertinggi di angkatannya, berarti bernilai ; sehingga kalimat ingkarannya, yaitu, idak benar Amir mahasiswa tertinggi di angkatannya, bernilai. Definisi 1.4.2 Kalimat yang terdiri dari beberapa kalimat tunggal yang dirangkai dengan kata penghubung dan disebut konjungsi. Di dalam logika kalimat kata dan diberi notasi dengan atau &. Contoh 1.4.3 oni mahasiswa pandai dan kaya. erdiri atas kalimat tunggal: : = oni mahasiswa pandai, dan : = ono orang kaya. Dalam logika kalimat dapat ditulis dengan atau Jika dan!kalimat tunggal, maka nilai kebenaran didefinisikan sebagai berikut: " "

Berdasarkan tabel tersebut suatu konjungsi berniali benar jika setiap kalimat tunggal bernilai benar. Dalam contoh 1.4.3, jika faktanya oni mahasiswa kaya, tetapi IPKnya kurang dari 2, yang berarti dia tidak pandai, maka kalimat tersebut bernilai salah; atau si pembuat pernyataan dikatakan berbohong. Ungkapan yang benar untuk fakta ini adalah oni mahasiswa kaya, tetapi tidak pandai. Definisi 1.4.4 Kalimat yang terdiri dari beberapa kalimat tunggal yang dirangkai dengan kata penghubung atau disebut disjungsi. Di dalam logika kalimat kata atau diberi notasi dengan #. Contoh 1.4.5 13 adalah bilangan primaatau habis dibagi 2. erdiri atas kalimat tunggal: $ = 13 adalah bilangan prima $= 13 adalah bilangan yang habis dibagi 2. Dalam logika kalimat dapat ditulis dengan # Jika dan! kalimat tunggal, maka nilai kebenaran # didefinisikan sebagai berikut: " # " Berdasarkan tabel tersebut suatu disfungsi bernilai benar jika salah suatu kalimat penyusunannya bernilai benar; atau dengan kata lain salah satu kalimat penyusunannya terjadi. Disjungsi akan bernilai salah jika masing-masing kalimat penyusunannya bernilai salah. Dalam contoh 1.4.5 sesuai fakta, 13 adalah bilangan prima, berarti bernilai benar. walaupun pernyataan, yaitu 13 adalah bilangan yang habis dibagi 2, merupakan pernyataan yang salah, tetapi sesuai tabel kalimat # bernilai benar. Selain disjungsi inklusif, yaitu jika ada kalimat majemuknya bernilai benar (seperti di tabel di atas), dalam bidang matematika juga dikenal adanya disjungsi

eksklusif. Pernyataan %&%' yang merupakan disjungsi eksklusif diberi simbol dengan # dengan tabel kebenaran: " # " Jadi disjungsi eksklusif bernilai benar jika hanya tepat satu dari kalimat penyusunannya yang bernilai benar. Sebagai contoh dalam kalimat, ( lebih besar daripada 1 atau ( 1 0. Untuk setiap bilangan real ( hanya dapat berlaku salah satu. 1.4.2. Implikasi dan biimplikasi Implikasi (kondisional) adalah kalimat yang terdiri dari anteseden dan konsekuen yang di rangkai dengan, 1. Jika..., maka..., 2. Bila..., maka..., Kata bila juga dapat diganti dengan apabila. Di dalam kehidupan sehari-hari banyak kita jumpai kalimat yang berbentuk implikasi seperti berikut ini: 1. Jika kamu lolos UMPN, maka kamu akan dibelikan motor. 2. Jika hari hujan, maka suhu udara akan turun. 3. Bila badannya panas, maka vaksin itu sedang bekerja. Pada kalimat pertama, antesedennya adalah Kamu lolos UMPN dan kosekuennya adalah Kamu akan dibelikan motor. Kalimat ini merupakan suatu berjanji. Kalimat ke-2 antesedennya adalah Hari hujan dan konsekuennya adalah Suhu udara akan turun. Kalimat ini mempunyai hubungan sebab akibat. Sedangkan kalimat ke-3 merupakan suatu tanda. Dari contoh-contoh tersebut jelas terlihat, bahwa di dalam implikasi sehari-hari biasanya ada hubungan antara anteseden dan konsekuen. Hal ini berbeda dengan impilikasi material yang digunakan dalam logika kalimat, yaitu keharusan adanya hubungan antara anteseden dan konsekuen ditiadakan.

Di dalam logika kalimat kebenaran implikasi Jika ), maka yang diberi simbol dengan )* didefiniskan dengan tabel kebenaran, " * " Dari tabel terlihat, bahwa suatu implikasi bernilai benar jika: 1. Anteseden bernilai salah atau 2. Kosekuen bernilai benar. Contoh 1.4.6 Di dalam teori bilangan berlaku sifat: Jika %+, maka %,+,. 1.1 Substitusi %= 1, + = 2 3 dan, = 4, diperoleh kalimat: Jika 1 = 2 3, maka 4 = ( 1)4 = (2 3)4 = 4 Karena sifat dalam teori bilangan, maka implikasi ini bernilai benar dengan anteseden dan konsekuen yang bernilai benar. Hal ini sesuai dengan baris ke-1 tabel kebenaran. 1.2 Substitusi %= 1, + = 2, dan,= 0, diperoleh kalimat: Jika 1 = 2, maka 0 = ( 1)0 = 2(0) = 0. Karena sifat di dalam teori bilangan, maka implikasi ini bernilai benar dengan anteseden salah tetapi konsekuen bernilai benar. Hal ini sesuai dengan baris ke-3 tabel kebenaran. 1.3 Substitusi %= 1, + = 2, dan,= 4, diperoleh kalimat: Jika 1 = 2, maka 4 = ( 1)4 = 2(4) = 8. Karena sifat di dalam teori bilangan, maka implikasi ini bernilai benar dengan anteseden dan konsekuen yang bernilai salah. hal ini sesuai dengan baris ke-4 tabel kebenaran. Implikasi )* yang dinyatakan sesuai fakta (bernilai benar) dapat diucapkan: 1. Jika ), maka, atau Bila ), maka atau bila ). 2. ) hanya jika atau ) hanya bila Karena jika tidak, berarti tidak terjadi atau dengan kata lain salah, maka pasti tidak ), yaitu ) bernilai salah.

- )merupakan syarat cukup untuk, Karena jika ) benar (terjadi) maka kondisi tersebut mencukupi untuk pasti terjadi. Dengan kata lain benar. merupakan syarat perlu untuk ), erjadinya merupakan suatu keharusan yang diperlukan agar ) terjadi. Karena jika tidak terjadi, maka ) pun tidak terjadi, walaupun dengan terjadinya tidak menjadi jaminan pasti terjadinya ). Agar ) pasti terjadi, selain terjadi mungkin diperlukan fakta lain. Contoh 1.4.7 1. Jika 1 < (< 1, maka ( 2 > 1. 2. Syarat cukup agar dua buah sudut pada segitiga ABC mempunyai besar yang sama adalah ABC sama sisi. 3. Syarat perlu agar segitiga ABC sama sisi adalah dua buah sudutnya sama besar. Ketiga implikasi tersebut merupakan sifat di kalkulus dan geometri. Pada contoh ke-2 terlihat, bahwa dengan dipenuhinya kondisi segitiga ABC sama sisi, berakibat ketiga sudutnya sama besar pasti dipenuhi. Dengan kata lain kondisi ABC sama sisi sudah mencukupi terjadinya dua buah sudutnya sama besar, walaupun sesunggunhnya untuk membuat dua buah sudutnya sama tidak diperlukan ABC sama sisi. Pada contoh ke-3, agar segitiga ABC sama sisi, salah satu keharusan yang perlu dipenuhi adalah dua sudutnya sama besar, tetapi keadaan ini belum cukup untuk membuat ABC sama sisi. Dengan kata lain diperlukan syarat tambahan, misalnya sudut lainnya juga sama. Selanjutnya di dalam tabel berikut dapat dilihat bahwa nilai kebenaran A * B identik dengan # B. " * " # B

Definisi 1.4.8 Kalimat yang terdiri dari dua kalimat tunggal A dan B, yang ditulis dengan A. B disebut biimplikasi atau bikondisional. abel kebenaran biimplikasi adalah: " / " Dari tabel terlihat bahwa suatu biimplikasi bernilai benar jika kalimat-kalimat penyusunannya mempunyai nilai kebenaran yang sama; dan bernilai salah jika kalimatkalimat penyusunannya mempunyai nilai kebenaran yang berbeda. Biimplikasi A. B dibaca : 1. A jika dan hanya jika B 2. A menjadi syarat perlu dan cukup terjadinya B Hal ini didasarkan pada fakta bahwa tabel kebenaran biimplikasi identik dengan kolom terakhir tabel berikut. A B A * B B * A (A * B) (B * A) Dengan kata lain nilai logika dari biimplikasi A. sama dengan kalimat, (A * B) (B * A) Contoh 1.4.9 1. 0 1 jika dan hanya jika 0 2 1 2. Sisi-sisi segitiga ABC sama panjang bila dan hanya bila sudut-sudutnya sama besar. Latihan 1.4 1. entukan negasi dari kalimat berikut ini. 1.1. Amir mahasiswa terpandai di angkatannya.

1.2. 1 bukan bilangan rasional. 1.3. Ada mahasiswa yang kaya dan mempunyai IPK 3,80 1.4. Setiap mahasiswa pernah bolos kuliah. 1.5. Ada bilangan nyata 0 yang memenuhi 0 + 22untuk setiap bilangan nyata 2 1.6. A mahasiswa terpandai atau bilangan negatif. 1.7. Bilangan 0 lebih besar daripada 1 dan lebih kecil daripada 10. 2. Dari soal no 1 untuk masing-masing kalimat tentukanlah apakah merupakan kalimat terbuka atau kalimat deklaratif. entukan juga jenis kalimat negasinya apakah bernilai benar atau salah. 3. entukan apakah kalimat-kalimat berikut ini merupakan kalimat terbuka atau kalimat deklaratif. Jika kalimat deklaratif tentukan apakah bernilai benar atau salah. 3.1. Setiap hari manusia memerlukan makanan. 3.2. Sisi-sisi bujursangkar selalu sama panjang. 3.3. Dia guru yang baik bagi teman-temannya. 3.4. Bilangan nyata 0 selalu memenuhi 0 2 3 1 atau 4 5 4 6 0 3.5. Grafik fungsi dengan persamaan 2 0 2-3 0 memotong sumbu 0 di dua titik yang berbeda dan mencapai minimum di 0 = 7 3.6. Bilangan 0 memenuhi 0 2 + 1 6 0. 4. entukan nilai kebenaran dari implikasi berikut ini. 4.1. 0 1 * 0 2 1 4.2. 0 2 1 * 0 1 4.3. Pada geometri bidang: Jika garis 898 dan 8 9 8-, maka : 8;;8- : 4.4. Pada geometri ruang: Jika garis 898 dan 8 9 8-, maka : 8;;8- : 4.5. Jika amir lebih berat daripada Amin dan ani lebih ringan daripada Amin, maka Amin tidak sama berat dibanding amir. 4.6. Jika <=> <=>?@A B C <=> D@E C G, maka <=>?@A C%H%I%=&'G. 4.7. Semesta himpunan semua bilangan bulat: Jika J -K, maka J habis dibagi 3.

5. entukan nilai kebenaran dari biimplikasi berikut ini. 5.1. ;; 6 L / L # L. 5.2. garis 89Mjika dan hanya 8NM 5.3. O. #. 5.4. ungsi C kontinyu di 0Pjika dan hanya jika, i. CK ada, ii. <=>?@A C ada dan iii. C <=>?@A C 1.5 Ingkaran dari konjungsi, disjungsi, implikasi dan biimplikasi. 1. Ingkaran konjungsi Q "Q adalah Q RRRRRRRRQ, " dengan tabel kebenaran sebagai berikut. " " RRRRRRRR " # "R "R erlihat bahwa nilai kebenaran dari Q RRRRRRRRQ " identik dengan # "R 2. Ingkaran disjungsi Q # "Q adalah Q RRRRRRRRQ ", dengan tabel kebenaran sebagai berikut. " # " RRRRRRRR " "R "R erlihat bahwa nilai kebenaran dari Q RRRRRRRRQ # " identik dengan "R. 3. Ingkaran implikasi Q * "Q adalah Q RRRRRRRRR, * " dengan tabel kebenaran sebagai berikut. " * " RRRRRRRRR * " "R "R

erlihat bahwa nilai kebenaran dari Q RRRRRRRRRQ * " identik dengan "R. 4. Ingkaran biimplikasi Q / "Q adalah Q RRRRRRRRRR, / " dengan tabel kebenaran sebagai berikut. " "R * " RRRRRRRRR * " " # " erlihat bahwa nilai kebenaran dari Q RRRRRRRRRRQ / " identik dengan "R # " Latihan 1.5 entukan ingkaran dari kalimat-kalimat di dalam Latihan 1.4, kemudian tentukan nilai kebenarannya. 1.6 Konvers, invers dan kontraposisi. Dari kalimat yang berbentuk implikasi Q * "Q dapat diturunkan bentuk-bentuk kalimat: 1. " * yang disebut konvers dari Q * " 2. * "R yang disebut invers dari Q * " 3. * "R yang disebut kontraposisi dari Q * " Nilai kebenaran kontraposisi sama dengan nilai kebenanaran implikasi awalnya. " * " * "R "R Contoh 1.6.1 1. Kalimat: Jika hari hujan, maka jalanan basah. Kontraposisinya:

1.1. Jika tidak benar jalanan basah, maka tidak benar hari hujan. 1.2. Jika jalanan tidak basah, maka hari tidak hujan. 2. Kalimat: ;; * Kontraposisinya: S * ;; S Untuk semesta pembicaraan ekuivalen dengan 6* ;; 6 Sedangkan nilai kebenaran dari konvers dan invers tidak bisa ditentukan dari nilai kebenaran implikasi awalnya. Contoh 1.6.2 1. Kalimat: Jika hari Minggu, maka kemarin hari Jum at. 1.1. Konversinya : Jika kemarin hari Jum at, maka besok hari Minggu. 1.2. Inversinya : Jika besok bukan hari Minggu, maka kemarin bukan hari Jum at Dalam kasus ini baik implikasi awal, maupun inversnya semua bernilai benar. 2. Diberikan semesta pembicaraannya Kalimat: 3 * 3. 2.1. Konversinya : 3 * 3 2.2. Inversinya : U * U Implikasi soal bernilai benar, Konvers dan inversnya bernilai salah sebab untuk berlaku 3 tetapi. Latihan 1.6 entukan konvers, invers dan kontraposisi kalimat-kalimat di dalam Latihan 1.4 no. 3 kemudian tentukan nilai kebenarannya.