CARA PENENTUAN KELAS KUAT ACUAN BAMBU PETUNG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "CARA PENENTUAN KELAS KUAT ACUAN BAMBU PETUNG"

Transkripsi

1 CARA PENENTUAN KELAS KUAT ACUAN BAMBU PETUN usi Made Oka * * Asrac Wood use in civil uildings has shon increasing demand heher for srucural or non srucural means. The demand iself can no e fulfilled ecause on he lack of lumer oods in large diameer. On he oher hand, amoo has no een opimally exploed alhough research resuls have shon ha amoo has srengh and eer performance compared o oher uilding maerials. This research as aimed o reveal he physical and mechanical properies of amoo Peung. Preliminary research as made he physical and mechanical properies specimens amoo Peung, hich folloing he ISO sandard es mehod. The resul experimen shoed ha amoo modulus of elasiciy (MOE) oained as MPa, herefore could e classified as srengh class E1. The resul of mechanical ay es shoed ha modulus of rapure(mor), he ensile srengh, compression srengh parallel, compression srengh uprigh, he shear srengh ere 29 MPa, 27 MPa, MPa, 11 MPa and 5 MPa. Keyord: amoo Peung, modulus of elasiciy, modulus of repure 1. Pendahuluan Bamu merupakan salah sau hasil huan non kayu dari jenis anaman rumpu-rumpuan yang memiliki karakerisik dasar yang idak jauh ereda dengan kayu, ahkan dalam eerapa hal memiliki keunggulan dan karakerisik yang khas yang erpoensi unuk dikemangkan seagai ahan aku penggani aau ahan aku alernaif dalam indusri pengolahan yang erasis kayu. Selain iu penggunaan jenis-jenis non kayu akan mengurangi keerganungan erhadap ahan aku kayu sehingga dapa mengurangi laju degradasi huan dan menunjang kelesarian huan. Beerapa sumer ahan aku aru elah diperkenalkan dan mulai dimanfaakan, misalnya jenis kayu cepa umuh (fas groing) dari huan anaman, jenis kayu kurang dikenal (lesser knon/used species) dan penggunaan jenis non kayu yang memiliki karakerisik dasar yang mirip dengan kayu. Penggunaan ahan aku indusri dan dan jenis non kayu yang kurang diperhaikan dan masih sanga eraas dalam penggunaannya, Pada hal jika diinjau leih mendalam eerapa jenis non kayu memiliki karakerisik dasar yang idak jauh ereda dengan kayu, ahkan dalam eerapa hal memiliki keunggulan dan karakerisik khas yang erpoensi unuk dikemangkan seagai ahan aku penggani aau ahan aku alernaif dalam indusri pengolahan erasis kayu. Selain iu penggunaan jenis-jenis non kayu akan mengurangi keerganungan erhadap ahan aku kayu sehingga dapa mengurangi laju degradasi huan dan menunjang kelesarian huan. Bamu merupakan salah sau hasil huan non kayu dan jenis anaman rumpu-rumpuan yang umuh hampir di seluruh dunia aik di daerah yang eriklim panas maupun eriklim dingin. Keeradaan amu dapa dikelompokan kedalam 75 genera dan 1250 jenis amu umuh didunia Morisco, 1995, hal 1-) dalam Nassend (1995) melaporkan erdapa 56 jenis amu yang asli umuh di Indonesia yang memiliki poensi ekonomi unuk dikemangkan. Komunias penelii inernasional elah mengidenifikasi 10 jenis priorias unuk dikemangkan dimana empa jenis dianaranya amu asli dari Indonesia. Bila diandingkan dengan jenis amu yang ada, amu peung leih memiliki peluang unuk menjadi ahan aku pemuaan hasil produksi laminasi. Bamu peung memiliki dinding aang yang relaif leih eal ila diandingkan dengan jenis amu lainnya yaiu mencapai 10 mm. Selain iu amoo peung elah lama menjadi salah sau jenis yang dipilih oleh seagian esar masyaraka unuk dimanfaakan seagai maerial konsruksi. Poensi amu peung di Indonesia cukup esar, hal ini dapa diliha dari penyearan amu peung di ilayah Indonesia melipui daerah daaran rendah sampai pegunungan dengan keinggian 2000 m dari muka lau dan mecakup * Saf Pengajar Jurusan Teknik Sipil Fakulas Teknik Universias Tadulako, Palu

2 Cara Penenuan Kelas Kua Acuan Bamu Peung pulau Jaa, Bali, Sumara, Kalimanan, Sulaesi (Dransfield, 1980, hal 126). Tujuan yang ingin dicapai pada peneliian ini adalah unuk mengeahui kelas kua acuan amu erhadap sifa fisika dan mekanika amu peung melipui kadar air (moisure conen), kua ekan (compressive srengh), kua lenur (modulus of rapure), modulus elasisias (modulus of elasiciy) dan kua geser (shearing srengh). Sehingga rekomendasi yang dierikan enang sifa fisika dan mekanika harus didukung dengan daa yang valid dan menjadi ahan perimangan dalam penggunaan amoo peung seagai maerial konsruksi. 1.2 Tujuan peneliian Tujuan yang ingin dicapai pada peneliian ini melipui (a) unuk mengeahui sifa fisika dan mekanika amu peung () unuk mengeahui kelas kua acuan dalam aplikasi seagai maerial konsruksi. 1. Manfaa peneliian Melalui peneliian diharapkan dapa (a). menumuhkan kreaifias dengan menggali dan mengemangkan poensi sumer daya alam yang ada unuk diingkakan dayaguna dan nilai ekonominya (). memeri peluang sumer ahan aku dan memanfaakan ahan aku non kayu yang memiliki karakerisik dasar seperi kayu (c). memeri informasi enang kelas kua acuan amu peung seagai maerial konsruksi 2. Tinjauan Pusaka 2.1 Sifa amu secara umum Bamu yang dikenalo secara umum merupakan anaman yang diudidayakan aaupun yang umuh secara alami dalam ilmu oani merupakan anggoa dari su famili rumpurumpuan (raminae) dan ersusun ruas-ruas sepanjang aangnya. Beerapa keunggulan yang dimiliki amu anara lain adalah mudah dianam, perumuhannya cepa, idak memerlukan pemeliharaan secara khusus, mempunyai keahanan erhadap eragai gangguan, rumpun amu yang sudah erakar masih isa hidup dan poensial seagai ahan penggani kayu. Diliha darisifa mekanikanya amoo mempunyai eerapa keleihan anara lain adalah kua ariknya mendekai dua kali kua arik aja, momen kelemamannya esar karena penampangnya erenuk ula, ahaya erhadap ekuk lokal cukup rendah dengan adanya ruas-ruas (nodia) dan sifa amu yang ringan dan lenur, jika dirangkai anar aang-aangnya maka akan dapa diperoleh srukur yang mempunyai keahanan erhadap gempa (Janssen, 1987 : 84-86). Kekuaan amu seagai ahan srukur angunan dipengaruhi oleh eragai fakor anara lain adalah umur amoo saa dipoong, lingkungan dimana amoo umuh yaiu amu yang umuh dilereng gunung mempunyai kekuaan yang leih inggi diandingkan dengan amu yang dianam di daerah lemah, posisi aau leak poongan (pangkal, engah dan ujung). Bamu mempunyai kekuaan arik sejajar sera yang inggi namun kekuaan gesernya rendah (Janssen, 1991 : ). Peneliian leih lanju oleh Morisco (1999:14-16) memperlihakan kekuaan arik amu dua kali kekuaan arik aja. Selain iu, disarankan unuk menilai kekuaan amu ukan dari leak poongan pangkal, engah dan ujung, namun didasarkan pada keealan sehingga diperoleh hasil yang konsisen. Unuk menjelaskan kurang konsisennya kekuaan amu perlu diperhaikan eerapa hal enang karakerisik amoo. Bagian erkua dari amu adalah kulinya. Kekuaan kuli ini sanga jauh leih inggi dari pada kekuaan amu agian dalam. Teal kuli relaif seragam sepanjang aang, sedangkan eal amoo sanga ervariasi dari pangkal sampai ujung. Oleh karena iu amoo yang ipis mempunyai porsi kuli esar, sehingga mempunyai kekuaan raa-raa menjadi inggi, sedangkan amu yang eal mempunyai porsi kuli luar yang ipis sehingga mempunyai kekuaan raa-raa yang rendah. Sehingga unuk menilai kekuaan amu seaiknya erdasarkan keealannya, sehingga diperoleh hasil yang konsisen. Selama ini penggunaan amu seagai maerial konsruksi dapa diliha pada srukur angunan erupa kap, kuda-kuda, jemaan, dinding penahan anah, saluran air dan seagainya. Permasalaha yang umumnya dihadapi dalam penggunaan amu adalah eknik penyamungan dengan memperhaikan kekuaan geser yang rendah. Teknik penyamungan dapa dilakukan secara radisional dengan menggunakan ali maupun pasak, ahkan sekarang mulai dikemangkan eknik penyamungan menggunakan pela aja dan ahan pengisi kayu maupun eon. 2.2 Sifa amu peung Bamu peung dalam ilmu oani dapa dikelompokan kedalam divisio spermaopya, sudivisio angiospermae, kelas monococyledoneae, ordo poales, famili poaceae, genus amusae, sugenus dendrocalamus dan spesies MEKTEK TAHUN VI NO. 18 JANUARI

3 Cara Penenuan Kelas Kua Acuan Bamu Peung dendrocalamus asper (Pulle, 1952 dalam Seyadi, 2002: -16). Bamu peung (Dendrocalamus sp) eragai daerah di Indonesia dikenal dengan nama iying peung, uluh peung, pring peung, ai peung, uluh sanggi, jajang peung, au peung, ulo loung dan lainnya (Morisco, 1999:2-4). Bamu jenis ini mempunyai rumpun agak rapa, dapa umuh di daaran rendah sampai pegunungan dengan keinggian 2000 m diaas permukaan lau. Perumuhannya cukup aik khususnya daerah yang idak erlalu kering. Warna kuli aang umumnya arna hijau kekuningkuningan. Panjang aang dapa mencapai anara 10 sampai 14 meer, panjang ruas erkisar anara 40 sampai 60 cenimeer dengan diameer anara 6 sampai cenimeer dan eal dindingnya anara 10 sampai 20 milimeer. Berdasarkan peneliian yang dilakukan Morisco (1999:6-8) kekuaan arik raa-raa daalam keadaan kering oven amu peung adalah 1900 kg/cm 2 (anpa uku) dan 1160 kg/cm 2 (dengan uku). Diinjau dari posisi poongan amu, kekuaan arik raa-raa amu peung pada agian pangkal 2278 kg/cm 2, agian engah 1770 kg/cm 2 dan agian ujung 2080 kg/cm 2. Berdasarkan pengujian kua ekan raa-raa amoo peung ula pada agian pangkal 2769 kg/cm 2, Tael 2.1 Kua acuan (MPa) erdasarkan pemilahan secara mekanis Kode Muu Modulus Elasisias Lenur (E) Kua Lenur (F) Kua Tarik Sejajar Sera (F) pada agian engah 4089 kg/cm 2 dan pada agian ujung 5479 kg/cm 2 2. Kelas kua acuan Berdasarkan SNI-2002 unuk kayu, penenuan kelas kua acuan dapa dilakukan dengan dua cara yaiu kua acuan erdasarkan aas pemilahan secara mekanis dan kua acuan erdasarkan pemilahan secara visual. a. Kua Acuan Berdasarkan Pemilahan Secara Mekanis Pemilahan secara mekanis dimaksudkan unuk mendapakan modulus elasisias lenur harus dilakukan dengan mengikui sandar pemilahan mekanis yang aku. Berdasarkan modulus elasisias lenur yang diperoleh secara mekanis, kua acuan lainnya dapa diamil mengikui Tael 2.1. Kua acuan yang ereda dengan Tael 2.1 dapa digunakan apaila ada pemukian secara ekperimenal yang mengikui sandar-sandar eksperimen yang aku. Menuru Blass dkk (1984:A4/16) unuk menenukan modulus elasisias lenur pada kadar air % dengan facor koreksi 1,5. Seelah nilai modulus elasisias lenur diperoleh, maka kua acuan lain yaiu kua lenur (F), kua arik sejajar sera (F), kua ekan sejajar sera (Fc), kua geser (Fv) dan kua ekan egak lurus sera ( F ) dapa diamil pada Tael 2.1. MEKTEK TAHUN VI NO. 18 JANUARI c Kua Tekan Sejajar Sera (Fc) Kua eser (Fv) Kua Tekan Tegak Lurus Sera ( F ) E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E c

4 Cara Penenuan Kelas Kua Acuan Bamu Peung. Kua Acuan Berdasarkan Pemilahan Secara Visual Pemilahan secara visual harus mengikui sandar pemilahan secara visual yang aku. Apaila pemeriksaan visual dilakukan erdasarkan aas pengukuran era jenis, maka kua acuan unuk amu ersera lurus anpa caca dapa dihiung dengan menggunakan langkah-langkah seagai eriku : 1. Menenukan kerapaan amu (ρ ) Kerapaan pada kondisi asah (era dan volume) diukur pada kondisi asah, eapi kadar airnya leih mkecil dari 0% dan dihiung mengikui prosedur yang aku. unakan sauan kg/m unuk ρ. 2. Kadar air ( m 0% ) Kadar air dapa diukur menggunakan prosedur yang aku.. Menenukan era jenis kayu pada kadar air m% (m) dengan rumus : ρ m...(1) 1000 (1 + m /100 ) [ ] 4. Meneukan era jenis dasar ( ) dengan rumus: m [ a. m] a (0 m)/0.. (2) 5. Menenukan era jenis pada kadar air % ( ) : () [ ] 6. Menenukan kua acuan erdasarkan era jenis pada kadar air % ( ): Modulus elasisias lenur E (MPa): 0.7 E (4) Kua lenur F (kpa): 1.1 F (5) Kua arik sejajar sera F (kpa ): F (6) Kua ekan sejajar sera Fc (kpa): F (7) Kua geser sejajar sera Fv (kpa): 1.1 Fv (8) Kua ekan egak lurus sera F c (kpa) F c..(9). Meode peneliian.1 Ruang lingkup peneliian Pada peneliian ini melipui pengujian kadar air, kua arik, kua ekan, kua lenur, modulus elasisias dan kua geser alok laminasi amu Peung. Pengamilan ahan uji dilakukan secara acak dan pengamilan agian amu yaiu pangkal, engah dan ujung. Pengaman dan pengamilan sample amu mengenai umur amu dilakukan secara visual..2 Bahan dan ala Bamu yang dipergunakan dalam peneliian ini adalah amu Peung (Dendrocalamus sp) diamil pada agian pangkal, engah dan ujung. Penanganan pengeringan dilakukan didalam ruangan melalui pengeringan udara dengan cara menyusun amoo secara verikal.proses pengeringan secara manual ini dilakukan kurang leih sau ulan, seelum dilakukan pengeringan dilakukan dengan oven. Peralaan yang dipergunakan unuk pengujian kadar air mengunakan oven dengan merek Memmer mh, D8540 Schaach Wesern ermany. Unuk pengujian sifa mekanika amu Peung menggunkan UTM (Universal Tesing Machine) dengan merek Unied Model SFM-0 seri dengan kapasias 1 on. Ukuran dan jumlah enda uji unuk pengujian sifa fisika dan mekanika amu Peung mengikui sandar ISO (Inernaional Sandard Organizaion) melipui enda uji kadar air, kerapaan, ekan sejajar sera, ekan egak lurus sera, arik sejajar sera, lenur, modulus elasisias dan geser sejajar sera. Benda uji sifa fisika dan mekanika amu Peung yang lengkap dapa diliha dalam Tael.1.. Prosedur peneliian Penyiapan amu dilakukan dengan mengamil amu yang elah erumur ahun seelah dieang diagi-agi menjadi ukuran panjang 120 cm. Kemudian amu diua dalam enuk ilah dan diuang kuli luarnya dengan lear ilah 2,5 cm. Unuk mencapai kering dengan kadar air 12% dilakukan dengan mendudukan ilah kayu secara verical didalam ruang idak kena maahari lansung. Bilah-ilah amu Peung dilaur dengan pereka urea formaldehyde sesuai dengan era erlaur yang direncanakan dengan sysem MDL. MEKTEK TAHUN VI NO. 18 JANUARI

5 Cara Penenuan Kelas Kua Acuan Bamu Peung Unuk meraakan pereka dipermukaan amu digunakan skap. Bilah-ilah erseu disusun dengan arah sejajar sera dengan enuk alok yang erdiri dari empa lapisan ilah amoo dengan iga garis perekaan. Selanjunya alok erseu dikempa dingin dengan esar ekanan sesuai dengan yang direncanakan, kemudian diklem selama 24 jam. Seelah klem diukakemudian alok dikeringkan selama kurang leih 7 hari agar erenuk ikaan yang leih kua. Balok laminasi kemudian dilakukan finishing dengan menggunakan mesin planer seperi enuk akhir enda uji. Balok laminasi selanjunya dienuk menjadi enda uji sifa fisika dan mekanika yang diua mengikui sandar ISO. 4. Analisis dan Pemahasan 4.1 Kadar air Pada pengujian kadar air pada sampel amoo peung yang diamai erkisar anara 12.11% sampai 1,9%, dengan kadar air raa-raa 12.6%. Sedangkan pemeriksaan kadar air dengan menggunakan moisure meer menunjukkan angka raa-raa seesar 14%, dengan demikian erari keeliian ala cukup aik unuk dipergunakan unuk menenukan kadar air enda uji anpa perlu diadakan fakor koreksi. Hasil lengkap hasil pengujian kadar air amoo peung dapa diliha pada Tael 4.1. Dengan demikian erari kadar air enda uji elah sesuai dengan syara-syara perencanaan yakni kondisi kering dengan kadar air seimang 6% sampai 16% unuk kayu yang digunakan unuk konsruksi (LPMB, 1961:1). 4.2 Kerapaan Kerapaan sampel enda uji amu peung yang diamai erkisar anara gr/cm sampai dengan gr/cm dengan nilai raa-raa gr/cm. Hasil lengkap hasil pengujian kadar air amu peung dapa diliha pada Tael 4.2. Tael.1 Benda uji sifa fisika dan mekanika No. Jenis enda uji Jumlah Kerapaan dan kadar air Tekan sejajar sera Tekan egak lurus sera Lenur (MOR) dan modulus elasisias (MOE) Tarik sejajar sera eser sejajar sera Tael 4.1 Kadar air amu peung Ukuran Penampang Bera Kadar Kode Volume Air No. Benda Uji Lear Tinggi Panjang (cm ) Aal Akhir (cm) (cm) (cm) (gram) (gram) (%) 1. FBP FBP FBP Reraa 12.6 Tael 4.2 Kerapaan amu peung ** No. Kode Benda Uji Lear (cm) Ukuran Penampang Tinggi (cm) Panjang (cm) Volume Aal (gram) Bera Akhir (gram) Kera- Paan (cm ) (gr/cm ) 1. FBP FBP FBP ** pada kadar air reraa 12.6% Reraa MEKTEK TAHUN VI NO. 18 JANUARI

6 Cara Penenuan Kelas Kua Acuan Bamu Peung Tael 4. Hasil pengujian sifa mekanika amu peung ** No. Benda Uji Tekan // ) (F C Tekan F ) ( C Tarik // ) (F Sifa Mekanika eser // ) (F V Lenur ) (F Elasisias ) (E W (MPa) (MPa) (MPa) (MPa) (MPa) (MPa) * * pada kadar air reraa 12.6% 4. Sifa mekanika Dari hasil pengujian amoo peung erhadap sifa mekanika ahan, maka diperoleh hasil yang disajikan dalam Tael Penenuan Kua acuan Bamu peung a. Berdasarkan pemilahan secara mekanis Pemilahan secara mekanis merupakan penenuan kelas kua acuan erdasarkan nilai elasisias lenur yang diperoleh melalui pemgujian mekanis. Menuru Blass dkk (1984:A4/16) unuk menenukan modulus elasisias lenur pada kadar air % dengan fakor koreksi 1.5, maka diperoleh nilai modulus elasisias lenur ( E ) seesar Mpa. Berdasarkan Tael 5.1 SNI menunjukkan aha amu peung seagai ahan peneliian diklasifikasikan ke dalam kelas kua acuan E1, dengan nilai-nilai sandar seagai eriku yaiu kua lenur (F ) 29 MPa, kua arik sejajar sera (F ) 27 MPa, kua ekan sejajar sera (F c ) MPa, kua geser ( FV ) 5,0 MPa, kua ekan egak lurus sera (F C ) 11 MPa.. Berdasarkan pemilahan secara visual Penenuan kelas kua acuan erdasarkan pemilahan secara visual mengikui SNI-2002 pasal 5.2 dilakukan erdasarkan pengukuran era jenis, maka kua acuan amu ersera lurus anpa cacad dapa dihiung dengan menggunakan langkah-langkah seagai eriku : Kerapaan amu peung ( ρ ) 818 kg/m Kadar air amu peung (m) 12.6% Bera jenis amu peung ( m ) pada kadar air 12.6% ρ m [ 1000(1 + m/100) ] [ 1000( /100) ] Bera jenis dasar amu peung ( ): 0 m a 0 0 m [ a m ] [ (0.579) (0.726) ] Bera jenis amoo peung pada kadar air % ( ) : 0.65 [ ] [ 1 0.9(0.65) ] Esimasi kua acuan erdasarkan era jenis amu peung pada kadar air % ( ) unuk eragai sifa mekanika amu peung adalah seagai eriku : o Modulus elasisias lenur 0.7 (E ) (0.729 ) 1.224,92 MPa o Kua lenur: 1.1 (F ) 1710(0.729) ,04kPa 12MPa o Kua arik sejajar sera (F ) 7600(0.729) kPa 5.7MPa o Kua ekan sejajar sera (Fc ) 7600(0.729) 576,42kPa 5.7 MPa o Kua geser sejajar sera 1.1 (FV ) 2190(0.729) 2,24kPa 1.5MPa o Kua ekan egak lurus sera 2.09 (F ) 2160(0.729) 11.76kPa 1.1MPa c 5. Kesimpulan Berdasarkan pemahasan erhadap hasil peneliian, maka dapa diamil eerapa kesimpulan seagai eriku : 1. Berdasarkan aas pemilahan secara mekanis amu peung dapa diklasifikasikan kedalam MEKTEK TAHUN VI NO. 18 JANUARI

7 Cara Penenuan Kelas Kua Acuan Bamu Peung kelas kua acuan E1 dengan nilai-nilai sandar yaiu modulus elasisias ( E ) 1257,65 MPa, kua lenur ( F ) 29 MPa, kua arik sejajar sera ( F ) 27 MPa, kua ekan sejajar sera (F c ) MPa, kua geser sejajar sera (F V ) 5.0 MPa, kua ekan egak lurus sera (F c ) 11 MPa. 2. Berdasarkan aas pemilahan secara visual amu peung dapa diklasifikasikan kedalam kelas kua acuan E1 dengan nilai-nilai sandar yaiu modulus elasisias ( E ) MPa, kua lenur ( F ) 12 MPa, kua arik sejajar sera ( F ) 5.7 MPa, kua ekan sejajar sera (F c ) 5.7 MPa, kua geser sejajar sera (F V ) 1.5 MPa, kua ekan egak lurus sera (F c ) 1.1 MP 6. Dafar Pusaka Blass,H.J., P. Aune, B.S. Choo, R. orlacher, D.R. riffihs, B.O. Hilso, P. Raacher dan. Seek, (Eds), 1995, Timer Engineering Sep 1, Firs Ediion, Cenrum Hou, The Nedherlands. Janssen, J.J.A, 1981, Bamoo in Building Srucures, Ph.D. Thesis, Universiy of Technology og Eindhoven, Neherland (idak dierikan). Kollman, F.F.P. dan W.A. Coe, Jr., 1984, Principles 0f Wood Science and Technology, Vol I, Solid Wood, Springer-Verlag, Berlin. LPMB, 1961, Perauran Konsruksi Kayu Indonesia NI-5 PKKI-1961, Yayasan Penyelidikan Masalah Bangunan, Bandung. Morisco, 1999, Rekayasa Bamu, Nafiri Offse, Yogyakara. Prayino, T.A., 1996, Perekaan Kayu, Fakulas Kehuanan, Universias adjah Mada, Yoyakara. SNI 2002, Taa Cara Perencanaan Konsruksi Kayu Indonesia, Badan Sandarisasi Nasional, Jakara. Serano, E. dan J.H. Larsen, 1999, Numerical Invesigaions of he Laminaing Effec in Laminaed Beams, Journal of Srucural Engineering, 125 (7); Somayaji, 1995, Civil Engineering Maerials, Prenice Hall, Englood Cliffs, Ne Jersey. Solis, L.A. dan D.R. Rammer, 1997, Bending o Shear Raio Approach for Beam Design, Fores Produc Journal, 47( I ); MEKTEK TAHUN VI NO. 18 JANUARI

PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI SIFAT MEKANIK BAHAN KOMPOSIT SERAT DAUN NENAS-POLYESTER DITINJAU DARI FRAKSI MASSA DAN ORIENTASI SERAT

PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI SIFAT MEKANIK BAHAN KOMPOSIT SERAT DAUN NENAS-POLYESTER DITINJAU DARI FRAKSI MASSA DAN ORIENTASI SERAT PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI SIFAT MEKANIK BAHAN KOMPOSIT SERAT DAUN NENAS-POLYESTER DITINJAU DARI FRAKSI MASSA DAN ORIENTASI SERAT Delni Sriwia, Asui Jurusan Fisika FMIPA Universias Andalas Kampus Unand,

Lebih terperinci

PENGGUNAAN ORDER STATISTICS DALAM MENENTUKAN SAMPEL PADA EKSPERIMEN LIFE-TESTING

PENGGUNAAN ORDER STATISTICS DALAM MENENTUKAN SAMPEL PADA EKSPERIMEN LIFE-TESTING BIASaisics (2016) Vol. 10, No. 1, hal. 1-7 PENGGUNAAN ORDER STATISTICS DALAM MENENTUKAN SAMPEL PADA EKSPERIMEN LIFE-TESTING Yeny Krisa Frany 1, Budhi Handoko 2 1,2 Deparemen Saisika FMIPA Universias Padjadjaran

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Teoriis 3.1.1 Daya Dukung Lingkungan Carrying capaciy aau daya dukung lingkungan mengandung pengerian kemampuan suau empa dalam menunjang kehidupan mahluk hidup secara

Lebih terperinci

ek SIPIL MESIN ARSITEKTUR ELEKTRO

ek SIPIL MESIN ARSITEKTUR ELEKTRO ek SIPIL MESIN ARSITEKTUR ELEKTRO ANALISIS PEREKAT TERLABUR PADA PEMBUATAN BALOK LAMINASI BAMBU PETUNG Gusti Made Oka * Abstract Wood use in civil buildings has shown increasing demand whether for structural

Lebih terperinci

PERHITUNGAN PARAMETER DYNAMIC ABSORBER

PERHITUNGAN PARAMETER DYNAMIC ABSORBER PERHITUNGAN PARAMETER DYNAMIC ABSORBER BERBASIS RESPON AMPLITUDO SEBAGAI KONTROL VIBRASI ARAH HORIZONTAL PADA GEDUNG AKIBAT PENGARUH GERAKAN TANAH Oleh (Asrie Ivo, Ir. Yerri Susaio, M.T) Jurusan Teknik

Lebih terperinci

BATANG GANDA DENGAN PLAT KOPEL

BATANG GANDA DENGAN PLAT KOPEL BATAG GADA DEGA PLAT KOPEL. Baasan-baasan Pela kopel digunakan jika jarak kosong a sebagai beriku : b a 6b Pla kopel dipasang pada jarak yang sau sama lain sebesar L. Pemasangannya harus seangkup (simeris)

Lebih terperinci

PENGUJIAN SAMBUNGAN FINGER JOINT UNTUK MENGKAJI KUAT LENTUR PADA BALOK KAYU

PENGUJIAN SAMBUNGAN FINGER JOINT UNTUK MENGKAJI KUAT LENTUR PADA BALOK KAYU Media Teknik Sipil, Volume X, Juli 010 ISSN 141-0976 PENGUJIAN SAMBUNGAN FINGER JOINT UNTUK MENGKAJI KUAT LENTUR PADA BALOK KAYU Endah Safiri 1), Purnawan Gunawan ) 1), ) Jurusan Teknik Sipil, Fakulas

Lebih terperinci

PENGARUH IMPEDANSI PEMBUMIAN MENARA TRANSMISI TERHADAP DISTRIBUSI TEGANGAN SURJA PADA TIAP MENARA TRANSMISI

PENGARUH IMPEDANSI PEMBUMIAN MENARA TRANSMISI TERHADAP DISTRIBUSI TEGANGAN SURJA PADA TIAP MENARA TRANSMISI PENGARUH IMPEDANSI PEMBUMIAN MENARA TRANSMISI TERHADAP DISTRIBUSI TEGANGAN SURJA PADA TIAP MENARA TRANSMISI Renha L. Daalok (1, Ir. Syahrawardi ( Konsenrasi Teknik Energi Lisrik, Deparemen Teknik Elekro

Lebih terperinci

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Brawijaya

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Brawijaya Fakulas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universias Brawijaa B Momen Sais a Penampang Bidang Berenuk Tak Berauran Momen sais dari suau luasan eradap sumu dan didefinisikan seagai inegral dari asil kali luas

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA PERANCANGAN BCSU BERDASARKAN HASIL PENGUKURAN DAN SIMULASI RANGKAIAN DENGAN MENGGUNAKAN MULTISIM

BAB IV ANALISA PERANCANGAN BCSU BERDASARKAN HASIL PENGUKURAN DAN SIMULASI RANGKAIAN DENGAN MENGGUNAKAN MULTISIM BAB IV ANALISA PERANCANGAN BCSU BERDASARKAN HASIL PENGUKURAN DAN SIMULASI RANGKAIAN DENGAN MENGGUNAKAN MULTISIM Analisa perancangan erdasarkan hasil simulasi dan pengukuran rangkaian, dimaksudkan unuk

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 engerian Bejana Tekan Bejana ekan adalah abung aau angki yang digunakan unuk menyimpan media yang berekanan. Media yang disimpan dapa berupa za cair, uap, gas aau udara. Jika

Lebih terperinci

BAB 2 KINEMATIKA. A. Posisi, Jarak, dan Perpindahan

BAB 2 KINEMATIKA. A. Posisi, Jarak, dan Perpindahan BAB 2 KINEMATIKA Tujuan Pembelajaran 1. Menjelaskan perbedaan jarak dengan perpindahan, dan kelajuan dengan kecepaan 2. Menyelidiki hubungan posisi, kecepaan, dan percepaan erhadap waku pada gerak lurus

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Masalah Dalam sisem perekonomian suau perusahaan, ingka perumbuhan ekonomi sanga mempengaruhi kemajuan perusahaan pada masa yang akan daang. Pendapaan dan invesasi merupakan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1 Pengerian dan Manfaa Peramalan Kegiaan unuk mempeirakan apa yang akan erjadi pada masa yang akan daang disebu peramalan (forecasing). Sedangkan ramalan adalah suau kondisi yang

Lebih terperinci

2014 LABORATORIUM FISIKA MATERIAL IHFADNI NAZWA EFEK HALL. Ihfadni Nazwa, Darmawan, Diana, Hanu Lutvia, Imroatul Maghfiroh, Ratna Dewi Kumalasari

2014 LABORATORIUM FISIKA MATERIAL IHFADNI NAZWA EFEK HALL. Ihfadni Nazwa, Darmawan, Diana, Hanu Lutvia, Imroatul Maghfiroh, Ratna Dewi Kumalasari 2014 LAORATORIUM FISIKA MATERIAL IHFADNI NAZWA EFEK HALL Ihfadni Nazwa, Darmawan, Diana, Hanu Luvia, Imroaul Maghfiroh, Rana Dewi Kumalasari Laboraorium Fisika Maerial Jurusan Fisika, Deparemen Fisika

Lebih terperinci

BAB KINEMATIKA DENGAN ANALISIS VEKTOR

BAB KINEMATIKA DENGAN ANALISIS VEKTOR BAB KINEMATIKA DENGAN ANALISIS VEKTOR Karakerisik gerak pada bidang melibakan analisis vekor dua dimensi, dimana vekor posisi, perpindahan, kecepaan, dan percepaan dinyaakan dalam suau vekor sauan i (sumbu

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Peneliian Jenis peneliian kuaniaif ini dengan pendekaan eksperimen, yaiu peneliian yang dilakukan dengan mengadakan manipulasi erhadap objek peneliian sera adanya konrol.

Lebih terperinci

MODEL OPTIMASI PENGGANTIAN MESIN PEMECAH KULIT BERAS MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN DINAMIS (PABRIK BERAS DO A SEPUH)

MODEL OPTIMASI PENGGANTIAN MESIN PEMECAH KULIT BERAS MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN DINAMIS (PABRIK BERAS DO A SEPUH) Journal Indusrial Servicess Vol. No. Okober 0 MODEL OPTIMASI PENGGANTIAN MESIN PEMECAH KULIT BERAS MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN DINAMIS (PABRIK BERAS DO A SEPUH) Abdul Gopar ) Program Sudi Teknik Indusri Universias

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Produksi padi merupakan suatu hasil bercocok tanam yang dilakukan dengan

BAB 2 LANDASAN TEORI. Produksi padi merupakan suatu hasil bercocok tanam yang dilakukan dengan BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Produksi Produksi padi merupakan suau hasil bercocok anam yang dilakukan dengan penanaman bibi padi dan perawaan sera pemupukan secara eraur sehingga menghasilkan suau produksi

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. dari bahasa Yunani yang berarti Demos adalah rakyat atau penduduk,dan Grafein

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. dari bahasa Yunani yang berarti Demos adalah rakyat atau penduduk,dan Grafein BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1 Pengerian Demografi Keadaan penduduk sanga era kaiannya dengan demografi. Kaa demografi berasal dari bahasa Yunani yang berari Demos adalah rakya aau penduduk,dan Grafein adalah

Lebih terperinci

Faradina GERAK LURUS BERATURAN

Faradina GERAK LURUS BERATURAN GERAK LURUS BERATURAN Dalam kehidupan sehari-hari, sering kia jumpai perisiwa yang berkaian dengan gerak lurus berauran, misalnya orang yang berjalan kaki dengan langkah yang relaif konsan, mobil yang

Lebih terperinci

STUDI PENELITIAN KOMPOSISI BETON BERPORI DENGAN VARIASI JENIS DAN PERSENTASE BAHAN ADMIXTURE TERKAIT NILAI KUAT TEKAN PADA APLIKASI SIDEWALK

STUDI PENELITIAN KOMPOSISI BETON BERPORI DENGAN VARIASI JENIS DAN PERSENTASE BAHAN ADMIXTURE TERKAIT NILAI KUAT TEKAN PADA APLIKASI SIDEWALK STUDI PENELITIAN KOMPOSISI BETON BERPORI DENGAN VARIASI JENIS DAN PERSENTASE BAHAN ADMIXTURE TERKAIT NILAI KUAT TEKAN PADA APLIKASI SIDEWALK Frandy Ferdian, Amelia Makmur, S.T., M.T. Binus Universiy, Jl.

Lebih terperinci

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN GENIUS LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN GENIUS LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA ISSN 5-73X PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN GENIUS LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR ISIKA SISWA Henok Siagian dan Iran Susano Jurusan isika, MIPA Universias Negeri Medan Jl. Willem Iskandar, Psr V -Medan

Lebih terperinci

MODUL PERTEMUAN KE 3. MATA KULIAH : FISIKA TERAPAN (2 sks)

MODUL PERTEMUAN KE 3. MATA KULIAH : FISIKA TERAPAN (2 sks) Polieknik Negeri Banjarmasin 4 MODUL PERTEMUAN KE 3 MATA KULIAH : ( sks) MATERI KULIAH: Jarak, Kecepaan dan Percepaan; Gerak Lurus Berauran, Percepaan; Gerak Lurus Berauran, Gerak Lurus Berubah Berauran

Lebih terperinci

BAB 2 URAIAN TEORI. waktu yang akan datang, sedangkan rencana merupakan penentuan apa yang akan

BAB 2 URAIAN TEORI. waktu yang akan datang, sedangkan rencana merupakan penentuan apa yang akan BAB 2 URAIAN EORI 2.1 Pengerian Peramalan Peramalan adalah kegiaan memperkirakan aau memprediksi apa yang erjadi pada waku yang akan daang, sedangkan rencana merupakan penenuan apa yang akan dilakukan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN A III METODE PEELITIA Salah sau komponen peneliian yang mempunyai ari pening dalam kaiannya dengan proses sudi secara komprehensif adalah komponen meode peneliian. Meode peneliian menjelaskan bagaimana

Lebih terperinci

JURNAL TEKNIK PERKAPALAN Jurnal Hasil Karya Ilmiah Lulusan S1 Teknik Perkapalan Universitas Diponegoro

JURNAL TEKNIK PERKAPALAN Jurnal Hasil Karya Ilmiah Lulusan S1 Teknik Perkapalan Universitas Diponegoro ttp://ejournal-s1.undip.ac.id/index.pp/naval JURNAL TEKNIK ERKAALAN Jurnal Hasil Karya Ilmia Lulusan S1 Teknik erkapalan Universitas Diponegoro ISSN 2338-0322 Analisa Teknis Dan Ekonomis enggunaan Bamu

Lebih terperinci

BAB III METODE DEKOMPOSISI CENSUS II. Data deret waktu adalah data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu

BAB III METODE DEKOMPOSISI CENSUS II. Data deret waktu adalah data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu BAB III METODE DEKOMPOSISI CENSUS II 3.1 Pendahuluan Daa dere waku adalah daa yang dikumpulkan dari waku ke waku unuk menggambarkan perkembangan suau kegiaan (perkembangan produksi, harga, hasil penjualan,

Lebih terperinci

PENGARUH PENGEMBANGAN KARYAWAN TERHADAP MOTIVASI DAN PRESTASI KERJA KARYAWAN (Studi pada karyawan tetap PT PG Tulangan Sidoarjo)

PENGARUH PENGEMBANGAN KARYAWAN TERHADAP MOTIVASI DAN PRESTASI KERJA KARYAWAN (Studi pada karyawan tetap PT PG Tulangan Sidoarjo) PENGARUH PENGEMBANGAN KARYAWAN TERHADAP MOTIVASI DAN PRESTASI KERJA KARYAWAN (Sudi pada karyawan eap PT PG Tulangan Sidoarjo) Niken Dwi Okavia Heru Susilo Moehammad Soe`oed Hakam Fakulas Ilmu Adminisrasi

Lebih terperinci

MODUL 4 STRUKTUR BAJA 1. S e s i 6 Batang Tekan (Compression Member) Dosen Pengasuh : Ir. Thamrin Nasution

MODUL 4 STRUKTUR BAJA 1. S e s i 6 Batang Tekan (Compression Member) Dosen Pengasuh : Ir. Thamrin Nasution STRUKTUR BAJA MODUL 4 S e s i 6 Baang Tekan (Compression Memer) Maeri Pemelajaran : 0. Sailias Baang Tekan Berdasarkan PPBBI 984.. Ukuran Minimum Profil.. Prarencana Ukuran Penampang Profil Tunggal Dan

Lebih terperinci

ANALISIS SISTEM PENTANAHAN GARDU INDUK TELUK LEMBU DENGAN BENTUK KONSTRUKSI GRID (KISI-KISI)

ANALISIS SISTEM PENTANAHAN GARDU INDUK TELUK LEMBU DENGAN BENTUK KONSTRUKSI GRID (KISI-KISI) ANALISIS SISTEM PENTANAHAN GARDU INDUK TELUK LEMBU DENGAN BENTUK KONSTRUKSI GRID (KISI-KISI) Abrar Tanjung Jurusan Teknik Elekro Fakulas Teknik Universias Lancang Kuning E-mail : [email protected]

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. universal, disemua negara tanpa memandang ukuran dan tingkat. kompleks karena pendekatan pembangunan sangat menekankan pada

BAB I PENDAHULUAN. universal, disemua negara tanpa memandang ukuran dan tingkat. kompleks karena pendekatan pembangunan sangat menekankan pada BAB I PENDAHULUAN A. Laar Belakang Disparias pembangunan ekonomi anar daerah merupakan fenomena universal, disemua negara anpa memandang ukuran dan ingka pembangunannya. Disparias pembangunan merupakan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LADASA TEORI 2.1 Pengerian Peramalan Peramalan (forecasing) adalah suau kegiaan yang memperkirakan apa yang akan erjadi pada masa yang akan daang. Meode peramalan merupakan cara unuk memperkirakan

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waku Peneliian Peneliian ini dilakukan di Dafarm, yaiu uni usaha peernakan Darul Fallah yang erleak di Kecamaan Ciampea, Kabupaen Bogor, Jawa Bara. Pemilihan lokasi

Lebih terperinci

Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Mercu Buana MODUL PERTEMUAN KE 3. MATA KULIAH : FISIKA DASAR (4 sks)

Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Mercu Buana MODUL PERTEMUAN KE 3. MATA KULIAH : FISIKA DASAR (4 sks) MODUL PERTEMUAN KE 3 MATA KULIAH : (4 sks) MATERI KULIAH: Jarak, Kecepaan dan Percepaan; Gerak Lurus Berauran, Percepaan; Gerak Lurus Berauran, Gerak Lurus Berubah Berauran POKOK BAHASAN: GERAK LURUS 3-1

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Perumbuhan ekonomi merupakan salah sau ukuran dari hasil pembangunan yang dilaksanakan khususnya dalam bidang ekonomi. Perumbuhan ersebu merupakan rangkuman laju-laju

Lebih terperinci

VARIABEL-VARIABEL YANG MEMPENGARUHI ACTUAL SYSTEM USAGE (ASU) PADA PEMANFAATAN STUDENTSITE

VARIABEL-VARIABEL YANG MEMPENGARUHI ACTUAL SYSTEM USAGE (ASU) PADA PEMANFAATAN STUDENTSITE VARIABEL-VARIABEL YANG MEMPENGARUHI ACTUAL SYSTEM USAGE (ASU) PADA PEMANFAATAN STUDENTSITE Indra Nurhadi Program Sudi Manajemen Ekonomi, Fakulas Ekonomi, Universias Gunadarma Jl. Akses Kelapa Dua Cimanggis,

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Poensi sumberdaya perikanan, salah saunya dapa dimanfaakan melalui usaha budidaya ikan mas. Budidaya ikan mas yang erus berkembang di masyaraka, kegiaan budidaya

Lebih terperinci

SUPLEMEN 3 Resume Hasil Penelitian: Analisis Respon Suku Bunga dan Kredit Bank di Sumatera Selatan terhadap Kebijakan Moneter Bank Indonesia

SUPLEMEN 3 Resume Hasil Penelitian: Analisis Respon Suku Bunga dan Kredit Bank di Sumatera Selatan terhadap Kebijakan Moneter Bank Indonesia SUPLEMEN 3 Resume Hasil Peneliian: Analisis Respon Suku Bunga dan Kredi Bank di Sumaera Selaan erhadap Kebijakan Moneer Bank Indonesia Salah sau program kerja Bank Indonesia Palembang dalam ahun 2007 adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perekonomian dunia telah menjadi semakin saling tergantung pada

BAB I PENDAHULUAN. Perekonomian dunia telah menjadi semakin saling tergantung pada BAB I PENDAHULUAN A. Laar Belakang Masalah Perekonomian dunia elah menjadi semakin saling erganung pada dua dasawarsa erakhir. Perdagangan inernasional merupakan bagian uama dari perekonomian dunia dewasa

Lebih terperinci

Keywords : Design of Experiment, ANOVA Clasic, RAKL, RAKTLS

Keywords : Design of Experiment, ANOVA Clasic, RAKL, RAKTLS ESTIMASI PARAMETER PADA RANCANGAN ACAK KELOMPOK SIMETRIS DAN TAK LENGKAP SEIMBANG Arniwai 1, Raupong 2, Anisa 3 Program sudi Saisika, Deparemen Maemaika, FMIPA, Universias Hasanuddin [email protected]

Lebih terperinci

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Brawijaya

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Brawijaya Fakulas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universias Brawijaa Luas Penampang a. Bidang erenuk ak erauran Luas penampang didefinisikan seagai inegral dari luas elemen diferensial dengan A : Luas penampang secara

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 26 III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penilaian perkembangan kinerja keuangan PT. Goodyear Indonesia Tbk dilakukan dengan maksud unuk mengeahui sejauh mana perkembangan usaha perusahan yang

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waku Peneliian Peneliian ini dilaksanakan pada kasus pengolahan ikan asap IACHI Peikan Cia Halus (PCH) yang erleak di Desa Raga Jaya Kecamaan Ciayam, Kabupaen Bogor,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. salad ke piring setelah dituang. Minyak goreng dari kelapa sawit juga memiliki sifat

BAB I PENDAHULUAN. salad ke piring setelah dituang. Minyak goreng dari kelapa sawit juga memiliki sifat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Dalam kehidupan sehari hari kia biasa menjumpai produk makanan yang sifanya kenal. Sebagai conoh produk mayonaisse yang diambahkan pada salad. Viskosias (kekenalan)

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Dalam pelaksanaan pembangunan saat ini, ilmu statistik memegang peranan penting

BAB 1 PENDAHULUAN. Dalam pelaksanaan pembangunan saat ini, ilmu statistik memegang peranan penting BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Laar Belakang Dalam pelaksanaan pembangunan saa ini, ilmu saisik memegang peranan pening baik iu di dalam pekerjaan maupun pada kehidupan sehari-hari. Ilmu saisik sekarang elah melaju

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Propinsi Sumatera Utara merupakan salah satu propinsi yang mempunyai

BAB 1 PENDAHULUAN. Propinsi Sumatera Utara merupakan salah satu propinsi yang mempunyai BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Propinsi Sumaera Uara merupakan salah sau propinsi yang mempunyai perkembangan yang pesa di bidang ransporasi, khususnya perkembangan kendaraan bermoor. Hal ini dapa

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. tahun 1990-an, jumlah produksi pangan terutama beras, cenderung mengalami

BAB 1 PENDAHULUAN. tahun 1990-an, jumlah produksi pangan terutama beras, cenderung mengalami 11 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Laar Belakang Keahanan pangan (food securiy) di negara kia ampaknya cukup rapuh. Sejak awal ahun 1990-an, jumlah produksi pangan eruama beras, cenderung mengalami penurunan sehingga

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian Quasi Eksperimental Design dengan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian Quasi Eksperimental Design dengan BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Desain Peneliian Peneliian ini adalah peneliian Quasi Eksperimenal Design dengan kelas eksperimen dan kelas conrol dengan desain Prees -Poses Conrol Group Design

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Pada dasarnya peramalan adalah merupakan suau dugaan aau perkiraan enang erjadinya suau keadaan di masa depan. Akan eapi dengan menggunakan meodemeode erenu peramalan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 23 III. METODE PENELITIAN 3.1 Waku dan Lokasi Peneliian dilaksanakan di iga empa berbeda. Unuk mengeahui ingka parisipasi masyaraka penelii mengambil sampel di RT 03/RW 04 Kelurahan Susukan dan RT 05/RW

Lebih terperinci

B a b. Aplikasi Dioda

B a b. Aplikasi Dioda Aplikasi ioda B a b 2 Aplikasi ioda Seelah mengeahui konsruksi, karakerisik dan model dari dioda semikondukor, diharapkan mahasiswa dapa memahami pula berbagai konfigurasi dioda dengan menggunkan model

Lebih terperinci

ADOPSI REGRESI BEDA UNTUK MENGATASI BIAS VARIABEL TEROMISI DALAM REGRESI DERET WAKTU: MODEL KEHILANGAN AIR DISTRIBUSI DI PDAM SUKABUMI

ADOPSI REGRESI BEDA UNTUK MENGATASI BIAS VARIABEL TEROMISI DALAM REGRESI DERET WAKTU: MODEL KEHILANGAN AIR DISTRIBUSI DI PDAM SUKABUMI ADOPSI REGRESI BEDA UNTUK MENGATASI BIAS VARIABEL TEROMISI DALAM REGRESI DERET WAKTU: MODEL KEHILANGAN AIR DISTRIBUSI DI PDAM SUKABUMI Yusep Suparman Universias Padjadjaran [email protected] ABSTRAK.

Lebih terperinci

Sifat Mekanik Kayu Keruing untuk Konstruksi Mechanics Characteristic of Keruing wood for Construction

Sifat Mekanik Kayu Keruing untuk Konstruksi Mechanics Characteristic of Keruing wood for Construction Jurnal aintis Volume 13 Nomor 1, April 2013, 83-87 ISSN: 1410-7783 Sifat Mekanik Kayu Keruing untuk Konstruksi Mechanics Characteristic of Keruing wood for Construction Sri Hartati Dewi Program Studi Teknik

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Air merupakan kebuuhan pokok bagi seiap makhluk hidup di dunia ini ermasuk manusia. Air juga merupakan komponen lingkungan hidup yang pening bagi kelangsungan hidup

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Peramalan adalah kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa yang

BAB 2 LANDASAN TEORI. Peramalan adalah kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa yang BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengerian Peramalan Peramalan adalah kegiaan unuk memperkirakan apa yang akan erjadi di masa yang akan daang. Sedangkan ramalan adalah suau aau kondisi yang diperkirakan akan erjadi

Lebih terperinci

III METODE PENELITIAN

III METODE PENELITIAN III METODE PENELITIAN 3.1 Waku dan Tempa Peneliian Peneliian mengenai konribusi pengelolaan huan rakya erhadap pendapaan rumah angga dilaksanakan di Desa Babakanreuma, Kecamaan Sindangagung, Kabupaen Kuningan,

Lebih terperinci

ANALISIS DIRECT SELLING COST DALAM MENINGKATKAN VOLUME PENJUALAN Studi kasus pada CV Cita Nasional.

ANALISIS DIRECT SELLING COST DALAM MENINGKATKAN VOLUME PENJUALAN Studi kasus pada CV Cita Nasional. JURNAL ILMIAH RANGGAGADING Volume 7 No. 1, April 7 : 3-9 ANALISIS DIRECT SELLING COST DALAM MENINGKATKAN VOLUME PENJUALAN Sudi kasus pada CV Cia Nasional. Oleh Emmy Supariyani* dan M. Adi Nugroho *Dosen

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Peramalan (Forecasting) adalah suatu kegiatan yang mengestimasi apa yang akan

BAB II LANDASAN TEORI. Peramalan (Forecasting) adalah suatu kegiatan yang mengestimasi apa yang akan BAB II LADASA TEORI 2.1 Pengerian peramalan (Forecasing) Peramalan (Forecasing) adalah suau kegiaan yang mengesimasi apa yang akan erjadi pada masa yang akan daang dengan waku yang relaif lama (Assauri,

Lebih terperinci

PEMODELAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP $US MENGGUNAKAN DERET WAKTU HIDDEN MARKOV SATU WAKTU SEBELUMNYA 1. PENDAHULUAN

PEMODELAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP $US MENGGUNAKAN DERET WAKTU HIDDEN MARKOV SATU WAKTU SEBELUMNYA 1. PENDAHULUAN PEMODELAN NILAI UKAR RUPIAH ERHADAP $US MENGGUNAKAN DERE WAKU HIDDEN MARKOV SAU WAKU SEBELUMNYA BERLIAN SEIAWAY, DIMAS HARI SANOSO, N. K. KUHA ARDANA Deparemen Maemaika Fakulas Maemaika dan Ilmu Pengeahuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tepat rencana pembangunan itu dibuat. Untuk dapat memahami keadaan

BAB I PENDAHULUAN. tepat rencana pembangunan itu dibuat. Untuk dapat memahami keadaan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Dalam perencanaan pembangunan, daa kependudukan memegang peran yang pening. Makin lengkap dan akura daa kependudukan yang esedia makin mudah dan epa rencana pembangunan

Lebih terperinci

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA KELAS VIII DI SMPN 5 LINGSAR TAHUN PELAJARAN 2012/2013

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA KELAS VIII DI SMPN 5 LINGSAR TAHUN PELAJARAN 2012/2013 Jurnal Lensa Kependidikan Fisika Vol. 1 Nomor 1, Juni 13 ISSN: 338-4417 PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA KELAS VIII DI SMPN 5 LINGSAR TAHUN PELAJARAN 1/13

Lebih terperinci

ANALISA TORSI PADA BALOK DENGAN LUBANG PADA BADANNYA. Disusun oleh

ANALISA TORSI PADA BALOK DENGAN LUBANG PADA BADANNYA. Disusun oleh ANALISA TORSI PADA BALOK DENGAN LUBANG PADA BADANNYA TUGAS AKHIR Diajukan unuk Melengkapi ugas-ugas dan Memenuhi Syara unuk Menempuh Ujian Sidang Sarjana Teknik Sipil Disusun oleh HIMSAR M GULTOM 03 0404

Lebih terperinci

Pemodelan Data Runtun Waktu : Kasus Data Tingkat Pengangguran di Amerika Serikat pada Tahun

Pemodelan Data Runtun Waktu : Kasus Data Tingkat Pengangguran di Amerika Serikat pada Tahun Pemodelan Daa Runun Waku : Kasus Daa Tingka Pengangguran di Amerika Serika pada Tahun 948 978. Adi Seiawan Program Sudi Maemaika, Fakulas Sains dan Maemaika Universias Krisen Saya Wacana, Jl. Diponegoro

Lebih terperinci

PERSAMAAN GERAK VEKTOR SATUAN. / i / = / j / = / k / = 1

PERSAMAAN GERAK VEKTOR SATUAN. / i / = / j / = / k / = 1 PERSAMAAN GERAK Posisi iik maeri dapa dinyaakan dengan sebuah VEKTOR, baik pada suau bidang daar maupun dalam bidang ruang. Vekor yang dipergunakan unuk menenukan posisi disebu VEKTOR POSISI yang diulis

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN BAB 4 ANALISIS DAN EMBAHASAN 4.1 Karakerisik dan Obyek eneliian Secara garis besar profil daa merupakan daa sekunder di peroleh dari pusa daa saisik bursa efek Indonesia yang elah di publikasi, daa di

Lebih terperinci

Analisis Model dan Contoh Numerik

Analisis Model dan Contoh Numerik Bab V Analisis Model dan Conoh Numerik Bab V ini membahas analisis model dan conoh numerik. Sub bab V.1 menyajikan analisis model yang erdiri dari analisis model kerusakan produk dan model ongkos garansi.

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 35 BAB LANDASAN TEORI Meode Dekomposisi biasanya mencoba memisahkan iga komponen erpisah dari pola dasar yang cenderung mencirikan dere daa ekonomi dan bisnis. Komponen ersebu adalah fakor rend (kecendrungan),

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. bahasa Yunani yang berarti Demos adalah rakyat atau penduduk, dan Grafein adalah

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. bahasa Yunani yang berarti Demos adalah rakyat atau penduduk, dan Grafein adalah 37 BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1 Pengerian-pengerian Kependudukan sanga era kaiannya dengan demgrafi. Kaa demgrafi berasal dari bahasa Yunani yang berari Dems adalah rakya aau penduduk, dan Grafein adalah

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK UMUR PRODUK PADA MODEL WEIBULL. Sudarno Staf Pengajar Program Studi Statistika FMIPA UNDIP

KARAKTERISTIK UMUR PRODUK PADA MODEL WEIBULL. Sudarno Staf Pengajar Program Studi Statistika FMIPA UNDIP Karakerisik Umur Produk (Sudarno) KARAKTERISTIK UMUR PRODUK PADA MODEL WEIBULL Sudarno Saf Pengajar Program Sudi Saisika FMIPA UNDIP Absrac Long life of produc can reflec is qualiy. Generally, good producs

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN AWAL DAN KEMAMPUAN NUMERIK DENGAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA SMP

HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN AWAL DAN KEMAMPUAN NUMERIK DENGAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA SMP HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN AWAL DAN KEMAMPUAN NUMERIK DENGAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA SMP Halima Rosida 1, Widha Sunarno 2, Supurwoko 3 Program Sudi Pendidikan Fisika PMIPA FKIP UNS Surakara, 57126, Indonesia

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional merupakan pengertian dan petunjuk yang

III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional merupakan pengertian dan petunjuk yang III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional merupakan pengerian dan peunjuk yang digunakan unuk menggambarkan kejadian, keadaan, kelompok, aau

Lebih terperinci

KLASIFIKASI DATA PRODUKSI PADI PULAU JAWA MENGGUNAKAN ALGORITMECLASSIFICATION VERSION 4.5 (C4.5)

KLASIFIKASI DATA PRODUKSI PADI PULAU JAWA MENGGUNAKAN ALGORITMECLASSIFICATION VERSION 4.5 (C4.5) KLASIFIKASI DATA PRODUKSI PADI PULAU JAWA MENGGUNAKAN ALGORITMECLASSIFICATION VERSION 4.5 (C4.5) Dwi Seyowai, Yuliana Susani, Supriyadi Wibowo Program Sudi Maemaika Fakulas Maemaika dan Ilmu Pengeahuan

Lebih terperinci

ASSESSMENT TECHNOLOGY DI DEPARTEMEN WORKSHOP PADA PT.TRIPANDU JAYA DENGAN METODE TEKNOMETRIK

ASSESSMENT TECHNOLOGY DI DEPARTEMEN WORKSHOP PADA PT.TRIPANDU JAYA DENGAN METODE TEKNOMETRIK ASSESSMENT TECHNOLOGY DI DEPARTEMEN WORKSHOP PADA PT.TRIPANDU JAYA DENGAN METODE TEKNOMETRIK Reno Indriariningias, Nachnul Anshori, dan R.Andi Surya Kusuma Teknik Indusri Universias Trunojoyo Madura Email:

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Kabupaten Labuhan Batu merupakan pusat perkebunan kelapa sawit di Sumatera

BAB 1 PENDAHULUAN. Kabupaten Labuhan Batu merupakan pusat perkebunan kelapa sawit di Sumatera BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Kabupaen Labuhan Bau merupakan pusa perkebunan kelapa sawi di Sumaera Uara, baik yang dikelola oleh perusahaan negara / swasa maupun perkebunan rakya. Kabupaen Labuhan

Lebih terperinci

SIFAT-SIFAT FISIKA DAN MEKANIKA KAYU KERUING - SENGON. Oleh : Lorentius Harsi Suryawan & F. Eddy Poerwodihardjo

SIFAT-SIFAT FISIKA DAN MEKANIKA KAYU KERUING - SENGON. Oleh : Lorentius Harsi Suryawan & F. Eddy Poerwodihardjo SIFAT-SIFAT FISIKA DAN MEKANIKA KAYU KERUING - SENGON Oleh : Lorentius Harsi Suryawan & F. Eddy Poerwodihardjo Abstraksi Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat-sifat fisika kayu keruing dan

Lebih terperinci

BAB III METODE PEMULUSAN EKSPONENSIAL TRIPEL DARI WINTER. Metode pemulusan eksponensial telah digunakan selama beberapa tahun

BAB III METODE PEMULUSAN EKSPONENSIAL TRIPEL DARI WINTER. Metode pemulusan eksponensial telah digunakan selama beberapa tahun 43 BAB METODE PEMUUAN EKPONENA TRPE DAR WNTER Meode pemulusan eksponensial elah digunakan selama beberapa ahun sebagai suau meode yang sanga berguna pada begiu banyak siuasi peramalan Pada ahun 957 C C

Lebih terperinci

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 2, (2013) ISSN: ( Print) D-108

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 2, (2013) ISSN: ( Print) D-108 JURNAL TEKNIK POMITS Vol., No., (013) ISSN: 337-3539 (301-971 Prin) D-108 Simulasi Peredaman Gearan Mesin Roasi Menggunakan Dynamic Vibraion Absorber () Yudhkarisma Firi, dan Yerri Susaio Jurusan Teknik

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Sumber Daya Alam (SDA) yang tersedia merupakan salah satu pelengkap alat

BAB 1 PENDAHULUAN. Sumber Daya Alam (SDA) yang tersedia merupakan salah satu pelengkap alat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Sumber Daya Alam (SDA) yang ersedia merupakan salah sau pelengkap ala kebuuhan manusia, misalnya anah, air, energi lisrik, energi panas. Energi Lisrik merupakan Sumber

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Usahatani belimbing karangsari adalah kegiatan menanam dan mengelola. utama penerimaan usaha yang dilakukan oleh petani.

III. METODE PENELITIAN. Usahatani belimbing karangsari adalah kegiatan menanam dan mengelola. utama penerimaan usaha yang dilakukan oleh petani. III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Usahaani belimbing karangsari adalah kegiaan menanam dan mengelola anaman belimbing karangsari unuk menghasilkan produksi, sebagai sumber

Lebih terperinci

PERTEMUAN 2 KINEMATIKA SATU DIMENSI

PERTEMUAN 2 KINEMATIKA SATU DIMENSI PERTEMUAN KINEMATIKA SATU DIMENSI RABU 30 SEPTEMBER 05 OLEH: FERDINAND FASSA PERTANYAAN Pernahkah Anda meliha aau mengamai pesawa erbang yang mendara di landasannya? Berapakah jarak empuh hingga pesawa

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekaan Peneliian Jenis peneliian yang digunakan dalam peneliian ini adalah peneliian evaluasi dan pendekaannya menggunakan pendekaan kualiaif non inerakif (non

Lebih terperinci

3. Kinematika satu dimensi. x 2. x 1. t 1 t 2. Gambar 3.1 : Kurva posisi terhadap waktu

3. Kinematika satu dimensi. x 2. x 1. t 1 t 2. Gambar 3.1 : Kurva posisi terhadap waktu daisipayung.com 3. Kinemaika sau dimensi Gerak benda sepanjang garis lurus disebu gerak sau dimensi. Kinemaika sau dimensi memiliki asumsi benda dipandang sebagai parikel aau benda iik arinya benuk dan

Lebih terperinci

KUAT ARUS DAN BEDA POTENSIAL Kuat arus adalah banyaknya muatan listrik yang mengalir melalui suatu penghantar tiap detik.

KUAT ARUS DAN BEDA POTENSIAL Kuat arus adalah banyaknya muatan listrik yang mengalir melalui suatu penghantar tiap detik. MODUL 2 : LISTRIK RANGKAIAN TERTUTUP Rangkaian eruup ialah rangkaian yang ak berpangkal dan ak berujung yang erdiri dari komponen lisrik (seperi kawa penghanar), ala ukur lisrik, dan sumber daya lisrik

Lebih terperinci

RINGKASAN MATERI KALOR, PERUBAHN WUJUD DAN PERPINDAHAN KALOR

RINGKASAN MATERI KALOR, PERUBAHN WUJUD DAN PERPINDAHAN KALOR RINGKASAN MATERI KALOR, PERUBAHN WUJUD DAN PERPINDAHAN KALOR A. KALOR (PANAS) Tanpa disadari, konsep kalor sering kia alami dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya kia mencampur yang erlalu panas dengan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Metode Peramalan merupakan bagian dari ilmu Statistika. Salah satu metode

BAB 2 LANDASAN TEORI. Metode Peramalan merupakan bagian dari ilmu Statistika. Salah satu metode 20 BAB 2 LADASA TEORI 2.1. Pengerian Peramalan Meode Peramalan merupakan bagian dari ilmu Saisika. Salah sau meode peramalan adalah dere waku. Meode ini disebu sebagai meode peramalan dere waku karena

Lebih terperinci

BAB III PERSAMAAN ARPS DAN METODE TABEL

BAB III PERSAMAAN ARPS DAN METODE TABEL BAB III ERSAMAAN ARS DAN METODE TABEL 3. ersamaan Ars Meoda decline curve analysis (analisis enurunan kurva) meruakan suau meode yang sering digunakan unuk mengesimasi erhiungan cadangan yang daa diamil

Lebih terperinci