BAB 2 LANDASAN TEORI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Transkripsi

1 15 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Ruang Sampel dan Kejadian Definisi Ruang Sampel Himpunan semua hasil semua hasil (oucome) yang mungkin muncul pada suau percobaan disebu ruang sampel dan dinoasikan dengan S. Tiap iap hasil yang mungkin dalam ruang sampel disebu unsur aau anggoa ruang sampel ersebu aau disebu juga dengan isilah iik sampel. Conoh: Pada percobaan melempar dua maa uang, diperoleh S = {AA, AG, GA, GG}, dengan AA adalah kejadian muncul angka pada lemparan perama, dan muncul angka pada lemparan kedua; AG adalah kejadian muncul angka pada lemparan perama, dan muncul gambar pada lemparan kedua; GA adalah kejadian muncul gambar pada lemparan perama, dan muncul angka pada lemparan kedua; GG adalah kejadian muncul gambar pada lemparan perama, dan muncul gambar pada lemparan kedua. Tiik sampelnya adalah AA, AG, GA, dan GG Definisi Kejadian Kejadian aau perisiwa adalah himpunan bagian dari ruang sampel. Conoh : Suau percobaan yang dilakukan dengan melanunkan sebuah dadu, maka ruang sampelnya: S = {1, 2, 3, 4, 5, 6}. Misalkan A menyaakan suau kejadian bahwa bilangan genap muncul, maka kejadian A = { 2, 4, 6}, sehingga A merupakan himpunan bagian ruang sampel S, dinoasikan sebagai A S.

2 Definisi Peluang Suau Kejadian Teori peluang mempelajari enang peluang erjadinya suau kejadian aau perisiwa. Peluang dinyaakan dalam pecahan aau desimal anara dan 1. bila peluang suau kejadian bernilai, maka kejadian ersebu idak akan erjadi. Sedangkan bila peluang suau kejadian bernilai 1, maka kejadian ersebu pasi erjadi. Dalam eori peluang suau kejadian adalah sau aau beberapa kemungkinan hasil dari suau indakan. Tujuan eori peluang adalah menggambarkan dan menaksir raa raa sedemikian iu dalam benuk peluang kejadian. Unuk menenukan Peluang suau kejadian A, semua bobo iik sampel dalam A dijumlahkan. Jumlah ini dinamakan ukuran A aau peluang A dan dinyaakan dengan P(A). jadi ukuran himpunan adalah dan ukuran S adalah 1. Peluang didefinisikan dengan menggunakan iga pendekaan yang berbeda. Keiga definisi pendekaan ersebu adalah sebagai beriku. a. Definisi Aksiomaik Pendekaan aksiomaik peluang berdasar pada iga posula sebagai beriku. Peluang P(A) kejadian A adalah bilangan non negaif yang dieapkan pada kejadian ini yaiu P(A). Peluang P(B) kejadian B pasi sama dengan 1, yaiu P(B) = 1. Dan bila kejadian kejadian A dan B saling asing maka P(A+B) = P(A) + P(B) b. Definisi Frekuensi Relaif Pendekaan frekuensi relaif berdasar pada definisi beiku. Peluang P(A) kejadian A adalah limi dari perbandingan n(a) dengan N, dimana n mendekai ak hingga, sehingga dapa diulis sebagai beriku. n(a) P A = lim n N dimana n(a) adalah jumlah erjadinya suau kejadian A dan N adalah jumlah

3 17 c. Definisi Klasik Menuru definisi klasik, Bila suau percobaan dapa menghasilkan N macam hasil yang berkemungkinan sama dan bila epa sebanyak n dari hasil berkaian dengan kejadian A, maka peluang kejadian A adalah n(a) P(A) = N Definisi Peluang Suau Kejadian A Peluang suau kejadian A adalah jumlah semua iik sampel yang ermasuk A. Jadi dinyaakan dengan: P(A) 1, P( )=, P(S)= Definisi Peluang Bersyara Misalkan A dan B menyaakan dua kejadian dalam koleksi kejadian dalam ruang sampel S, maka peluang bersyara dari kejadian A bila diberikan kejadian B dinoasikan dengan P A B P A B = dengan P B P B 2.3 Variabel Random dan Disribusi Peluang Defenisi Variabel Random Suau fungsi bernilai real yang harganya dienukan oleh iap anggoa dalam ruang sampel disebu suau variabel random Ada dua macam variabel random, yaiu variabel random diskri dan variabel random koninu.

4 Definisi Variabel Random Diskri Jika semua himpunan nilai yang mungkin dari suau variabel random X merupakan himpunan erbilang (counable se), yaiu { x, x,,..., x } aau { x, x,,...}, maka X 1 2 n 1 2 disebu variabel random diskri Definisi Variabel Random Koninu Jika himpunan semua nilai yang mungkin dari suau variabel random X merupakan selang bilangan real, maka X disebu variabel random koninu. 2.4 Disribusi Peluang Diskri dan Koninu Defenisi Disribusi Peluang Diskri Fungsi f(x) adalah suau fungsi peluang aau disribusi peluang suau peubah acak diskri X bila, unuk seiap hasil x yang mungkin a. f(x) b. f x = 1 x c.p(x = x) Disribus kumulaif F(x) yaiu suau variabel random diskri X dengan disribusi peluang f(x) dinyaakan oleh F x = P X x = x f() unuk < x < Defenisi Disribusi Peluang Koninu Fungsi f(x) adalah fungsi pada peluang peubah acak koninu X, yang didefenisikan aas himpunan semua bilangan real R, bila a. f(x), unuk semua x di R

5 19 b. f x dx = 1 b c. P a X b = f x dx a dinamakan fungsi densias probabilias dari variabel random koninu X. Jika variabel random koninu X memiliki fungsi densias probabilias f(x), maka peluang suau kejadian aau perisiwa A, diberikan oleh P A = f x dx xdia Definisi Fungsi densias probabilias koninu Fungsi densias probabilias koninu adalah Suau fungsi f(x) yang didefinisikan pada selang nilai variabel random X. sehingga fungsi disribusi kumulaifnya dapa dinyaakan sebagai. F x = f d x 2.5 Konsep Dasar Disribusi waku Hidup Fungsi-fungsi pada disribusi ahan hidup merupakan suau fungsi yang menggunakan variable random. Waku hidup adalah inerval waku yang diamai dari suau individu saa perama kali masuk kedalam pengamaan hingga keluar dari pengamaan. Misalnya inerval waku sampai rusaknya suau barang produksi, mainya suau makhluk hidup, kambuhnya suau penyaki, dan lain-lain. Variable random nonnegaive waku hidup biasanya dinoasikan dengan huruf T, dan akan membenuk suau disribusi. Disribusi dari waku hidup dapa disajikan oleh iga fungsi beriku:

6 Fungsi Kepadaan Peluang Fungsi Kepadaan Peluang adalah probabilias suau individu mai aau gagal dalam inerval waku dari sampai +, dengan waku T merupakan variabel random. Fungsi densias Probabilias dinyaakan dengan. f = lim P T < + (2.1) Waku hidup merupakan variabel random non negaif, sehingga waku hidup hanya diukur unuk nilai yang posiif, maka diperoleh f = unuk < dan f d = Fungsi Tahan Hidup (Survival) Fungsi ahan hidup (Survival) adalah probabilias suau individu yang masih dapa berahan hidup sampai dengan waku ( > ). Jika T merupakan variabel random dari waku hidup suau individu dalam inerval [, ), maka fungsi disribusi kumulaif F() unuk disribusi koninu dengan fungsi densias probabilias f() dinyaakan sebagai beriku f = P(T ) aau F = f x dx, unuk > (2.2) Oleh karena iu diperoleh fungsi ahan hidup (Survival) yang didefinisikan dengan S() = P (T ) = 1- P (T ) = 1- F() (2.3)

7 21 Dalam beberapa hal, khususnya yang mencakup ahan hidup dari komponenkomponen indusri, S() dienukan sebagai fungsi Survival. Jadi hubungan fungsi densias probabilias dengan fungsi ahan hidup (Survival) adalah f = lim P T < + = F, = S, (2.4) Dalam hal ini fungsi ahan hidup S() merupakan fungsi monoon urun yang mempunyai sifa (i). S() =1, arinya peluang suau individu berahan hidup lebih lama dari waku nol adalah 1 (ii). S( ) =, arinya peluang suau individu berahan hidup pada waku yang ak erhingga adalah Fungsi Kegagalan (Hazard Funcion) Fungsi Kegagalan adalah probabilias suau individu mai dalam inerval waku dari sampai +Δ, jika dikeahui individu ersebu masih dapa berahan hidup sampai dengan waku. fungsi hazard secara maemaika dinyaakan sebagai: h = lim P( T < ( + ) T ) (2.5) Misalkan f() adalah fungsi densias probabilias pada waku, maka dari persamaan (2.5) diperoleh: h = lim = lim P T < + T P T < + (T ) P T.

8 22 = lim P( T < + ) P T. = lim 1 F + F() 1 F() = lim F + F() 1. S() = F, () S() h = f() S() (2.6) Dari persamaan (2.4) dan (2.6) diperoleh h() sebagai beriku: h = S () S() = S d ln S(). ds() = ds() d lns(). d ds() h = d lns (2.7) d Dari persamaan (2.7) diperoleh h x dx = d lns x dx dx o h x dx = d ln S x dx dx

9 23 h x dx = ln S(x) Karena S()=1, maka diperoleh h x dx = ln S S = exp h x dx Dari uraian di aas diperoleh hubungan anara f(), S(), dan h() sebagai beriku: i) f = S (2.8) ii) iii) h = f() S() S = exp h x dx Dengan demikian jika fungsi hazard h() dari suau disribusi dalam ahan hidup dikeahui, maka f(), F() dan S() dapa dicari. Sedangkan fungsi hazard kumulaif didefinisikan dengan H = h x dx (2.9) melalui persamaan (2.8) fungsi hazard kumulaif yang dihubungkan dengan fungsi ahan hidup diperoleh S = exp H() Dan dari persamaan (2.6) dan (2.8) diperoleh

10 24 f = h exp h x dx 2.6 Saisik Teruru (2.1) Himpunan variabel random X 1, X 2,, X n disebu sampel random yang berukuran n dari suau populasi denga fungsi densias f(x) maka fungsi densias probabilias bersama dari variabel random independen akan diberikan sebagai f x 1, x 2,, x n = f x 1 f x 2 f(x n ) Jika sampel random yang berukuran n ersebu diurukan dalam suau uruan naik maka disebu saisik eruru aau order saisik dari X 1, X 2,, X n dan dinyaakan dengan X 1.n, X 2.n,, X n.n aau Y 1, Y 2,, Y n dengan X in = Y i, i = 1, 2,, n. dan misalkan X 1, X 2,, X n adalah sampel random yang berukuran n dari fungsi densias probabilias, f(x), dimana unuk f(x) koninu dan f(x) > ; a < x < b, maka fungsi densias probabilias dari saisik eruru ke-k, Y k adalah g k y k = n! k 1! n k! F y k k 1 1 F(y k n k f y k jika a < y k < b 2.7 Sisem keandalan Dalam konsep keandalan, juga erdapa beberapa sisem yang dinyaakan unuk membanu memuuskan apakah sisem gagal secara oal aau idak. Dalam suau proses, idaklah selalu mudah unuk memuuskan krieria-krieria kegagalan dalam siem ersebu. Sebagai conoh, kia perhaikan crieria kegagalan dalam sisem sebuah mobil. Jika idak dapa bergerak dengan enaganya sendiri, maka mobil ersebu dinyaakan elah rusak aau sisemnya. Namun haruskah rusaknya penghapus kaca pada mobil ersebu juga dihiung sebagai suau kegagalan oal, walaupun mobil ersebu dapa digunakan pada cuaca cerah, mungkin idak akan dapa digunakan secara oal pada waku hujan leba, yang berari erjadinya kerusakan sisem. Oleh karena iu, kerusakan sisen sering diakibakan oleh kegagalan aau kerusakan dari komponen-komponenya.

11 25 Unuk iulah dibwah ini akandiberikan iga sysem yang dapa dikaakan sebagai sisem dasar dari keandalan sisem. Yaiu siem seri, parallel dan gabungan dari seri dengan paralel Sisem keandalan seri Suau sisem dapa dimodelkan dengan susunan seri jika kompenen-komponen yang ada didalam sisem iu harus bekerja seluruhnya agar sisem ersebu sukses dalam menjalankan fungsinya. Aau denga kaa lain bila ada sau komponen saja idak bekerja, maka akan mengakibakan sysem iu gagal menjalankan fungsinya. Secara diagram, sysem keandalan seri dapa diliha pada gambar n Gambar 2.1 Diagram pada gambar diaas sering disebu Diagram Blok Keandalan / Reliabiliy Block Diagram (RDB). Perlu diperhaikan bahwa diagram ini idak mewakili seiap komponen yang dihubungkan secara seri, eapi menunjukkan bagaimana komponen-komponen iu diperlakukan dari sudu pandang keandalan. Jika ada n buah komponen dalam susunan seri dan masing-masing memiliki indeks keandalan R 1, R 2,, R n, seperi erliha pada gambar 2.1, maka secara umum sysem keandalan seri dirumuskan sebagai beriku: n R s = R 1. R 2.. R n = R i (2.11) i=1 Sedangkan ekspresi keidakandalan dari sysem dengan susunan seri dari n buah komponen adalah n Q s = 1 R s = 1 R i (2.12) i=1

12 26 Conoh 2.1 Sebuah sisem conrol erdiri dari lima buah uni dimana semua uni pendukungnya bekerja seluruhnya agar sysem conrol ersebu dapa berfungsi. Jika indeks keandalan dari kelima uni masing-masing adalah,9;,95;,87;,93; dan,9 enukan indeks keandalan dari sisem konrol ersebu. Penyelesaian : Blok diagram keandalan yang paling mewakili dari sysem conrol ersebu adalah blok diagram keandalan dengan susunan seri. Jika keandalan dari masing-masing uni disimbolkan dengan R i maka keandalan dari sysem conrol iu adalah 5 R s = R i =,9,95,87,93,9 =,62262 i =1 Jadi keandalan dari sisem conrol ersebu adalah, Sisem Keandalan Paralel Pada sisem ini seiap komponen yang mungkin mengalami kerusakan idak akan mengakibakan kerusakan sisem secara keseluruhan, dan sering dinamakan faul oleran( kerusakan yang dapa diolerir). Ada dua jenis dari sysem kendalan paralel ini, yakni kelebihan redundan akif dan kelebihan pasif. Pada kelebihan akif, dua aau lebih uni dileakkan dalam sysem keandalan paralel dimana secara normal pembagian fungsi dilakukan eapi uni-uni aersebau diaur sedemikian hingga jika sau uni aau lebih mengalami kerusakan, maka sisanya dapa mengganikan possisinya. Sebagai conoh adalah dua mesin pesawa erbang yang diakifkan eapi idak menuup kemungkinan pesawa unuk erbang dengan sau mesin, apabila mesin yang saunya mengalami kerusakan. Pada kelebihan pasif, sau uni secara normal memegang fungsi secara penuh eapi jika uni ersebu mengalami kerusakan, maka uni yang lain akan diakifkan unuk mengambil alih perannya.

13 Sisem Keandalan Paralel Kelebihan Akif Misalkan ada dua uni (1) dan (2) dihubungkan dalam sysem parallel seperi gambar dibawah ini. 1 2 Gambar 2.2 Sisem akan rusak apabila kedua-duanya mengalami kerusakan. Keandalan sysem dikalkulasikan sebagai beriku, jika didefenisikan bahwa Q s = keidakandalan sisem Maka Q s = P E 1 E 2 Dimana E adalah kejadian komplemen bebas sehingga diperoleh n Q s = 1 R i (2.13) i =1 Jika peluang dari kegagalan adalah independen, maka fungsi sysem keandalannya adalah n R s = 1 (1 R 1 ) i= Sisem Keandalan Paralel Kelebihan Pasif (2.14)

14 28 Pada sisem redundan pasif, uni uama(1) secara normal membawa fungsi secara penuh dan uni siaga (2) dibawa unuk digunakan keika uni uama mengalami kegagalan. Secara sederhana, redundan pasif dapa diunjukkan pada gambar beriku: 1 2 Gambar 2.3 Cara unuk menganalisa sisem ini adalah harus memperimbangkan bahwa sysem kegagalan waku adalah variable acak yang mengandung jumlah dari dua variable acak, yakni kegagalan waku (1) dan kegagalan waku (2). Jika R 1 = R 2 = exp ( λ) Maka dapa diuliskan : R s = 1 + λ exp ( λ) Kombinasi Sisem Seri dan Paralel Kombinasi dari sysem seri dan paralel dapa di selesaikan dengan menggabungkan masing-masing subsisem ke dalam komponen seri maupun paralel erlebih dahulu. Unuk lebih memahami sisem kombinasi seri dan paralel, akan diberikan conoh gambar seperi beriku ini:

15 29 A C B D Gambar 2.4 sisem seri-paralel A C B D Gambar 2.5 sisem paralel -seri Dari kedua gambar diaas, gambar (2.4) menunjukkan sysem kombinasi seri dan paralel. Unuk menyelesaikan sisem gabungan ini perama-amakia gabungkan subsisem parelel kedalam benuk yang sama dengan komponen seri. Misalkan: R A =.9, R B =.8, R C =.7, dan R D =.6 Maka penyelesaian dapa diuliskan R AB = = 1.2 =.98 Dan R CD = = 1.12 =.88 Maka keandalan sisem secara keseluruhan adalah R S = =.8624

16 3 Unuk gambar (2.5) seperi yang diunjukkan, merupakan sysem kombinasi paralelseri. Unuk menyelasaikannya, perama-ama kia gabungkan subsisem seri ke dalam benuk yang sama dengan komponen paralel. Unuk pemisalan yang sama dengan diaas, maka diperoleh penyelesaiannya sebagi beriku: R AC =.9.7 =.63 Dan R BD =.8.6 =.48 Sehingga keandalan sisem secara keseluruhan adalah R S = 1 1 R AC (1 R BD ) = (1.48) = 1.37 (.52) = = Daa Tersensor Dalam penyensoran sering erjadi individu yang diamai ersensor. Masalah penyensoran ini merupakan suau hal yang membedakan anara uji hidup dengan bidang ilmu saisik yang lain. Daa ersensor adalah daa yang diperoleh sebelum hasil yang diinginkan dari pengamaan erjadi, sedangkan waku pengamaan elah berakhir aau oleh sebab lain. Daa yang mengalami penyensoran hanya memua sebagian informasi mengenai variabel random yang diperhaikan, namun berpengaruh erhadap pengerian-pengerian dan perhiungan saisik. Ada iga macam meode yang sering digunakan dalam eksperimen uji hidup, yaiu sebagai beriku:

17 31 1. Sampel lengkap, dalam uji sampel lengkap eksperimen akan dihenikan jika semua komponen yang diuji elah mai aau gagal. Cara seperi ini mempunyai keunungan yaiu dapa dihasilkan observasi eruru dari semua komponen yang diuji. 2. Sensor ipe I, semua objek yang dielii (n) masuk pengujian dalam waku yang bersamaan, dan pengujian dihenikan seelah baas waku yang dienukan. Kelemahan dari sensor ipe I ini bias erjadi sampai baas waku yang dienukan semua objek masih hidup sehingga idak diperoleh daa ahan hidup dari objek yang diuji. 3. Sensor ipe II, bila uji dihenikan seelah diperoleh sejumlah kegagalan erenu. daa ersensor ipe II merupakan daa kemaian aau kegagalan yang idak lengkap (incomplee moraliy daa) yaiu daa waku kemaian aau kegagalan dari r observasi erkecil dalam sampel random yang berukuran n dengan 1 r n. Dalam eksperimen menunjukkan penyensoran ipe II lebih sering digunakan sebagai conoh dalam uji hidup dari oal observasi sebanyak n, eapi uji hidup akan berheni pada waku observasi sampel mempunyai waku kemaian aau kegagalan ke-r. Oleh karena iu uji hidup ini dapa menghema waku dan biaya, karena uji hidup memakan waku yang lama unuk penyensoran erhadap kegagalan dari observasi. Daa ersensor ipe II diperoleh dari penyelidikan erhadap n observasi, sehingga penyensoran berheni sampai observasi sampel yang mempunyai waku kemaian aau kegagalan ke- r objek ersebu. 2.9 Disribusi Weibull Teknologi modern elah memungkinkan orang merancang banyak sysem yang rumi penggunaannya, aau barangkali keamanannya, berganung pada keandalan berbagai komponen dalam sysem ersebu. Sebagai conoh, suau sekering mungkin puus, iang baja melengkung, ala pengindra panas idak bekerja. Komponen yang sama dalam lingkungan yang sama akan rusak dalam waku yang berlainan yang idak dapa diramalkan.waku sampai rusak aau umur suau komponen, diukur dari suau waku sampai rusak, dinyaakan dengan peubah acak koninu T dengan fungsi pada peluang f(). Misalkan variabel random koninu T berdisribusi Weibull, dengan parameer θ dan β, disingka T ~ WEI (θ, β) maka fungsi densias probabiliasnya adalah

18 32 f = βθ β β 1 exp θ β >, θ >, β > Adapun fungsi ahan hidup dan fungsi hazard dari disribusi weibull adalah S = exp (θ) β, > (2.15) Dan h = θβ(θ) β 1 (2.16) dimana θ >, β >, >. sedangkan fungsi disribusi dari disribusi weibull adalah F = 1 exp (θ) 2 (2.17) Dimana θ >, >. 2.1 Disribusi Rayleigh Dalam beberapa kasus khusus parameer benuk, β, dari disribusi Weibull diberi harga β = 2, dikenal sebagai disribusi Rayleigh. Sehingga diperoleh fungsi ahan hidup dari disribusi Rayleigh sebagai beriku. S = exp (θ) 2 dimana θ >, >. (2.18) Dan diperoleh fungsi hazard dari disribusi Rayleigh yaiu: h = 2θ 2 (2.19) dimana >, θ >, dan menunjukkan waku hidup dari individu uang diobservasi. Dari fungsi ahan hidup, persamaan (2.18), dapa dienukan fungsi disribusi kegagalan dari daa waku hidup yang berdisribusi Rayleigh,

19 33 F = 1 S() = 1 exp (θ) 2 1 F = exp (θ) 2 Dari persamaan (2.8) dan (2.18) diperoleh persamaan f = ds() d = d(exp θ 2 ) d (2.2) Sehingga diperoleh fungsi densias probabilias dari disribusi Rayleigh adalah sebagai beriku: f = 2θ 2 exp (θ) 2 unuk >, θ > Prinsip Dasar Meode Maksimum Likelihood Meode unuk mengesimasi harga parameer disribusi dari daa dalam fungsi ahan hidup (Survival) adalah dengan menggunakan meode maksimum likelihood. Meode maksimum likelihood menggunakan nilai dalam ruang parameer Ω yang bersesuaian dengan harga kemungkinan maksimum dari daa observasi sebagai esimasi dari parameer yang idak dikeahui. Dalam aplikasinya L(θ) menunjukkan fungsi densias probabilias bersama dari sampel random. Jika Ω ruang parameer yang merupakan inerval erbuka dan L(θ) merupakan fungsi yang dapa diurunkan sera diasumsikan maksimum pada Ω maka persamaan maksimum likelihoodnya adalah d L θ = (2.21) dθ Jika penyelesaian dari persamaan ersebu ada, maka maksimum dari L(θ) dapa erpenuhi. Apabila penyelesaian dari persamaan (2.19) sukar diselesaikan maka

20 34 fungsi L(θ) dapa dibua logarima nauralnya, dengan keenuan memaksimumkan lnl(θ), sehingga persamaan logarima naural likelihoodnya adalah d lnl θ = (2.22) dθ Jika fungsi densias probabilias bersama dari n variabel random X 1, X 2,, X n, yang diobservasi pada X 1, X 2,, X n, dinoasikan dengan f(.x 1, X 2,, X n, ) maka fungsi liklelihood dari himpunan pengamaan X 1, X 2,, X n, dinyaakan sebagai L θ = f x 1 ; θ f x 2 ; θ f x n ; θ = Dengan parameer yang idak dikeahui n i=1 f x 1 ; θ (2.23) Penduga maksimum likelihood dari θ didapa dengan menyelesaikan persamaan d lnl θ =, misalkan ada k parameer yang idak dikeahui, ma dθ ka penduga parameer likelihood dari θ i didapa dengan menyelesaikan d dθ i lnl θ 1, θ 2,, θ k =, dengan i = 1, 2, 3,, k.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perawaan (Mainenance) Mainenance adalah akivias agar komponen aau sisem yang rusak akan dikembalikan aau diperbaiki dalam suau kondisi erenu pada periode waku erenu (Ebeling,

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 robabilias 2.1.1 Definisi robabilias adalah kemungkinan yang daa erjadi dalam suau erisiwa erenu. Definisi robabilias daa diliha dari iga macam endekaan, yaiu endekaan klasik,

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS INTERVENSI. Analisis intervensi dimaksudkan untuk penentuan jenis respons variabel

BAB III ANALISIS INTERVENSI. Analisis intervensi dimaksudkan untuk penentuan jenis respons variabel BAB III ANALISIS INTERVENSI 3.1. Pendahuluan Analisis inervensi dimaksudkan unuk penenuan jenis respons variabel ak bebas yang akan muncul akiba perubahan pada variabel bebas. Box dan Tiao (1975) elah

Lebih terperinci

x 4 x 3 x 2 x 5 O x 1 1 Posisi, perpindahan, jarak x 1 t 5 t 4 t 3 t 2 t 1 FI1101 Fisika Dasar IA Pekan #1: Kinematika Satu Dimensi Dr.

x 4 x 3 x 2 x 5 O x 1 1 Posisi, perpindahan, jarak x 1 t 5 t 4 t 3 t 2 t 1 FI1101 Fisika Dasar IA Pekan #1: Kinematika Satu Dimensi Dr. Pekan #1: Kinemaika Sau Dimensi 1 Posisi, perpindahan, jarak Tinjau suau benda yang bergerak lurus pada suau arah erenu. Misalnya, ada sebuah mobil yang dapa bergerak maju aau mundur pada suau jalan lurus.

Lebih terperinci

BAB 2 KINEMATIKA. A. Posisi, Jarak, dan Perpindahan

BAB 2 KINEMATIKA. A. Posisi, Jarak, dan Perpindahan BAB 2 KINEMATIKA Tujuan Pembelajaran 1. Menjelaskan perbedaan jarak dengan perpindahan, dan kelajuan dengan kecepaan 2. Menyelidiki hubungan posisi, kecepaan, dan percepaan erhadap waku pada gerak lurus

Lebih terperinci

1.4 Persamaan Schrodinger Bergantung Waktu

1.4 Persamaan Schrodinger Bergantung Waktu .4 Persamaan Schrodinger Berganung Waku Mekanika klasik aau mekanika Newon sanga sukses dalam mendeskripsi gerak makroskopis, eapi gagal dalam mendeskripsi gerak mikroskopis. Gerak mikroskopis membuuhkan

Lebih terperinci

Faradina GERAK LURUS BERATURAN

Faradina GERAK LURUS BERATURAN GERAK LURUS BERATURAN Dalam kehidupan sehari-hari, sering kia jumpai perisiwa yang berkaian dengan gerak lurus berauran, misalnya orang yang berjalan kaki dengan langkah yang relaif konsan, mobil yang

Lebih terperinci

B a b 1 I s y a r a t

B a b 1 I s y a r a t TKE 305 ISYARAT DAN SISTEM B a b I s y a r a Indah Susilawai, S.T., M.Eng. Program Sudi Teknik Elekro Fakulas Teknik dan Ilmu Kompuer Universias Mercu Buana Yogyakara 009 BAB I I S Y A R A T Tujuan Insruksional.

Lebih terperinci

Analisis Model dan Contoh Numerik

Analisis Model dan Contoh Numerik Bab V Analisis Model dan Conoh Numerik Bab V ini membahas analisis model dan conoh numerik. Sub bab V.1 menyajikan analisis model yang erdiri dari analisis model kerusakan produk dan model ongkos garansi.

Lebih terperinci

BAB III METODE PEMULUSAN EKSPONENSIAL TRIPEL DARI WINTER. Metode pemulusan eksponensial telah digunakan selama beberapa tahun

BAB III METODE PEMULUSAN EKSPONENSIAL TRIPEL DARI WINTER. Metode pemulusan eksponensial telah digunakan selama beberapa tahun 43 BAB METODE PEMUUAN EKPONENA TRPE DAR WNTER Meode pemulusan eksponensial elah digunakan selama beberapa ahun sebagai suau meode yang sanga berguna pada begiu banyak siuasi peramalan Pada ahun 957 C C

Lebih terperinci

PENGGUNAAN DISTRIBUSI PELUANG JOHNSON SB UNTUK OPTIMASI PEMELIHARAAN MESIN

PENGGUNAAN DISTRIBUSI PELUANG JOHNSON SB UNTUK OPTIMASI PEMELIHARAAN MESIN M-6 PENGGUNAAN DISTRIBUSI PELUANG JOHNSON SB UNTUK OPTIMASI PEMELIHARAAN MESIN Enny Suparini 1) Soemarini 2) 1) & 2) Deparemen Saisika FMIPA UNPAD [email protected] 1) [email protected] 2) Absrak

Lebih terperinci

MODUL PERTEMUAN KE 3. MATA KULIAH : FISIKA TERAPAN (2 sks)

MODUL PERTEMUAN KE 3. MATA KULIAH : FISIKA TERAPAN (2 sks) Polieknik Negeri Banjarmasin 4 MODUL PERTEMUAN KE 3 MATA KULIAH : ( sks) MATERI KULIAH: Jarak, Kecepaan dan Percepaan; Gerak Lurus Berauran, Percepaan; Gerak Lurus Berauran, Gerak Lurus Berubah Berauran

Lebih terperinci

BAB 2 URAIAN TEORI. waktu yang akan datang, sedangkan rencana merupakan penentuan apa yang akan

BAB 2 URAIAN TEORI. waktu yang akan datang, sedangkan rencana merupakan penentuan apa yang akan BAB 2 URAIAN EORI 2.1 Pengerian Peramalan Peramalan adalah kegiaan memperkirakan aau memprediksi apa yang erjadi pada waku yang akan daang, sedangkan rencana merupakan penenuan apa yang akan dilakukan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Produksi padi merupakan suatu hasil bercocok tanam yang dilakukan dengan

BAB 2 LANDASAN TEORI. Produksi padi merupakan suatu hasil bercocok tanam yang dilakukan dengan BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Produksi Produksi padi merupakan suau hasil bercocok anam yang dilakukan dengan penanaman bibi padi dan perawaan sera pemupukan secara eraur sehingga menghasilkan suau produksi

Lebih terperinci

3. Kinematika satu dimensi. x 2. x 1. t 1 t 2. Gambar 3.1 : Kurva posisi terhadap waktu

3. Kinematika satu dimensi. x 2. x 1. t 1 t 2. Gambar 3.1 : Kurva posisi terhadap waktu daisipayung.com 3. Kinemaika sau dimensi Gerak benda sepanjang garis lurus disebu gerak sau dimensi. Kinemaika sau dimensi memiliki asumsi benda dipandang sebagai parikel aau benda iik arinya benuk dan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 35 BAB LANDASAN TEORI Meode Dekomposisi biasanya mencoba memisahkan iga komponen erpisah dari pola dasar yang cenderung mencirikan dere daa ekonomi dan bisnis. Komponen ersebu adalah fakor rend (kecendrungan),

Lebih terperinci

BAB III METODE DEKOMPOSISI CENSUS II. Data deret waktu adalah data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu

BAB III METODE DEKOMPOSISI CENSUS II. Data deret waktu adalah data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu BAB III METODE DEKOMPOSISI CENSUS II 3.1 Pendahuluan Daa dere waku adalah daa yang dikumpulkan dari waku ke waku unuk menggambarkan perkembangan suau kegiaan (perkembangan produksi, harga, hasil penjualan,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORITIS

BAB II TINJAUAN TEORITIS BAB II TIJAUA TEORITIS 2.1 Peramalan (Forecasing) 2.1.1 Pengerian Peramalan Peramalan dapa diarikan sebagai beriku: a. Perkiraan aau dugaan mengenai erjadinya suau kejadian aau perisiwa di waku yang akan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Masalah persediaan merupakan masalah yang sanga pening dalam perusahaan. Persediaan mempunyai pengaruh besar erhadap kegiaan produksi. Masalah persediaan dapa diaasi

Lebih terperinci

BAB KINEMATIKA DENGAN ANALISIS VEKTOR

BAB KINEMATIKA DENGAN ANALISIS VEKTOR BAB KINEMATIKA DENGAN ANALISIS VEKTOR Karakerisik gerak pada bidang melibakan analisis vekor dua dimensi, dimana vekor posisi, perpindahan, kecepaan, dan percepaan dinyaakan dalam suau vekor sauan i (sumbu

Lebih terperinci

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Permasalahan Nyata Penyebaran Penyakit Tuberculosis

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Permasalahan Nyata Penyebaran Penyakit Tuberculosis BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN A. Permasalahan Nyaa Penyebaran Penyaki Tuberculosis Tuberculosis merupakan salah sau penyaki menular yang disebabkan oleh bakeri Mycobacerium Tuberculosis. Penularan penyaki

Lebih terperinci

BAB II PERTIDAKSAMAAN CHERNOFF

BAB II PERTIDAKSAMAAN CHERNOFF BAB II PERTIDAKSAMAAN CHERNOFF.1 Pendahuluan Di lapangan, yang menjadi perhaian umumnya adalah besar peluang dari peubah acak pada beberapa nilai aau suau selang, misalkan P(a

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK UMUR PRODUK PADA MODEL WEIBULL. Sudarno Staf Pengajar Program Studi Statistika FMIPA UNDIP

KARAKTERISTIK UMUR PRODUK PADA MODEL WEIBULL. Sudarno Staf Pengajar Program Studi Statistika FMIPA UNDIP Karakerisik Umur Produk (Sudarno) KARAKTERISTIK UMUR PRODUK PADA MODEL WEIBULL Sudarno Saf Pengajar Program Sudi Saisika FMIPA UNDIP Absrac Long life of produc can reflec is qualiy. Generally, good producs

Lebih terperinci

Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Mercu Buana MODUL PERTEMUAN KE 3. MATA KULIAH : FISIKA DASAR (4 sks)

Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Mercu Buana MODUL PERTEMUAN KE 3. MATA KULIAH : FISIKA DASAR (4 sks) MODUL PERTEMUAN KE 3 MATA KULIAH : (4 sks) MATERI KULIAH: Jarak, Kecepaan dan Percepaan; Gerak Lurus Berauran, Percepaan; Gerak Lurus Berauran, Gerak Lurus Berubah Berauran POKOK BAHASAN: GERAK LURUS 3-1

Lebih terperinci

RANK DARI MATRIKS ATAS RING

RANK DARI MATRIKS ATAS RING Dela-Pi: Jurnal Maemaika dan Pendidikan Maemaika ISSN 089-855X ANK DAI MATIKS ATAS ING Ida Kurnia Waliyani Program Sudi Pendidikan Maemaika Jurusan Pendidikan Maemaika dan Ilmu Pengeahuan Alam FKIP Universias

Lebih terperinci

PENGGUNAAN KONSEP FUNGSI CONVEX UNTUK MENENTUKAN SENSITIVITAS HARGA OBLIGASI

PENGGUNAAN KONSEP FUNGSI CONVEX UNTUK MENENTUKAN SENSITIVITAS HARGA OBLIGASI PENGGUNAAN ONSEP FUNGSI CONVEX UNU MENENUAN SENSIIVIAS HARGA OBLIGASI 1 Zelmi Widyanuara, 2 Ei urniai, Dra., M.Si., 3 Icih Sukarsih, S.Si., M.Si. Maemaika, Universias Islam Bandung, Jl. amansari No.1 Bandung

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LADASA TEORI 2.1 Pengerian Peramalan Peramalan (forecasing) adalah suau kegiaan yang memperkirakan apa yang akan erjadi pada masa yang akan daang. Meode peramalan merupakan cara unuk memperkirakan

Lebih terperinci

PERSAMAAN GERAK VEKTOR SATUAN. / i / = / j / = / k / = 1

PERSAMAAN GERAK VEKTOR SATUAN. / i / = / j / = / k / = 1 PERSAMAAN GERAK Posisi iik maeri dapa dinyaakan dengan sebuah VEKTOR, baik pada suau bidang daar maupun dalam bidang ruang. Vekor yang dipergunakan unuk menenukan posisi disebu VEKTOR POSISI yang diulis

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Definisi 1 Himpunan semua hasil yang mungkin dari suatu percobaan disebut ruang sampel dan dinyatakan dengan S.

BAB 2 LANDASAN TEORI. Definisi 1 Himpunan semua hasil yang mungkin dari suatu percobaan disebut ruang sampel dan dinyatakan dengan S. BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Ruang Sampel dan Kejadian Definisi 1 Himpunan semua hasil yang mungkin dari suatu percobaan disebut ruang sampel dan dinyatakan dengan S. Tiap hasil dalam ruang sampel disebut

Lebih terperinci

Integral dan Persamaan Diferensial

Integral dan Persamaan Diferensial Sudaryano Sudirham Sudi Mandiri Inegral dan Persamaan Diferensial ii Darpublic 4.1. Pengerian BAB 4 Persamaan Diferensial (Orde Sau) Persamaan diferensial adalah suau persamaan di mana erdapa sau aau lebih

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Teori Risiko Produksi Dalam eori risiko produksi erlebih dahulu dijelaskan mengenai dasar eori produksi. Menuru Lipsey e al. (1995) produksi adalah suau kegiaan yang mengubah

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Peneliian Jenis peneliian kuaniaif ini dengan pendekaan eksperimen, yaiu peneliian yang dilakukan dengan mengadakan manipulasi erhadap objek peneliian sera adanya konrol.

Lebih terperinci

PENGUJIAN HIPOTESIS. pernyataan atau dugaan mengenai satu atau lebih populasi.

PENGUJIAN HIPOTESIS. pernyataan atau dugaan mengenai satu atau lebih populasi. PENGUJIAN HIPOTESIS 1. PENDAHULUAN Hipoesis Saisik : pernyaaan aau dugaan mengenai sau aau lebih populasi. Pengujian hipoesis berhubungan dengan penerimaan aau penolakan suau hipoesis. Kebenaran (benar

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Pada bab ini akan dibahas dasar-dasar teori yang akan digunakan

BAB II LANDASAN TEORI. Pada bab ini akan dibahas dasar-dasar teori yang akan digunakan BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dibahas dasar-dasar eori yang akan digunakan dalam penulisan skripsi ini, yaiu model regresi dua level, meode penaksiran maximum likelihood, mariks parisi, kronecker

Lebih terperinci

PEMODELAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP $US MENGGUNAKAN DERET WAKTU HIDDEN MARKOV SATU WAKTU SEBELUMNYA 1. PENDAHULUAN

PEMODELAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP $US MENGGUNAKAN DERET WAKTU HIDDEN MARKOV SATU WAKTU SEBELUMNYA 1. PENDAHULUAN PEMODELAN NILAI UKAR RUPIAH ERHADAP $US MENGGUNAKAN DERE WAKU HIDDEN MARKOV SAU WAKU SEBELUMNYA BERLIAN SEIAWAY, DIMAS HARI SANOSO, N. K. KUHA ARDANA Deparemen Maemaika Fakulas Maemaika dan Ilmu Pengeahuan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 39 III. METODE PENELITIAN 3.1 Waku dan Meode Peneliian Pada bab sebelumnya elah dibahas bahwa cadangan adalah sejumlah uang yang harus disediakan oleh pihak perusahaan asuransi dalam waku peranggungan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Metode Peramalan merupakan bagian dari ilmu Statistika. Salah satu metode

BAB 2 LANDASAN TEORI. Metode Peramalan merupakan bagian dari ilmu Statistika. Salah satu metode 20 BAB 2 LADASA TEORI 2.1. Pengerian Peramalan Meode Peramalan merupakan bagian dari ilmu Saisika. Salah sau meode peramalan adalah dere waku. Meode ini disebu sebagai meode peramalan dere waku karena

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Pada dasarnya peramalan adalah merupakan suau dugaan aau perkiraan enang erjadinya suau keadaan di masa depan. Akan eapi dengan menggunakan meodemeode erenu peramalan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Peramalan (Forecasting) adalah suatu kegiatan yang mengestimasi apa yang akan

BAB II LANDASAN TEORI. Peramalan (Forecasting) adalah suatu kegiatan yang mengestimasi apa yang akan BAB II LADASA TEORI 2.1 Pengerian peramalan (Forecasing) Peramalan (Forecasing) adalah suau kegiaan yang mengesimasi apa yang akan erjadi pada masa yang akan daang dengan waku yang relaif lama (Assauri,

Lebih terperinci

BAB III RUNTUN WAKTU MUSIMAN MULTIPLIKATIF

BAB III RUNTUN WAKTU MUSIMAN MULTIPLIKATIF BAB III RUNTUN WAKTU MUSIMAN MULTIPLIKATIF Pada bab ini akan dibahas mengenai sifa-sifa dari model runun waku musiman muliplikaif dan pemakaian model ersebu menggunakan meode Box- Jenkins beberapa ahap

Lebih terperinci

BAB II MATERI PENUNJANG. 2.1 Keuangan Opsi

BAB II MATERI PENUNJANG. 2.1 Keuangan Opsi Bab II Maeri Penunjang BAB II MATERI PENUNJANG.1 Keuangan.1.1 Opsi Sebuah opsi keuangan memberikan hak (bukan kewajiban) unuk membeli aau menjual sebuah asse di waku yang akan daang dengan harga yang disepakai.

Lebih terperinci

GERAK LURUS BESARAN-BESARAN FISIKA PADA GERAK KECEPATAN DAN KELAJUAN PERCEPATAN GLB DAN GLBB GERAK VERTIKAL

GERAK LURUS BESARAN-BESARAN FISIKA PADA GERAK KECEPATAN DAN KELAJUAN PERCEPATAN GLB DAN GLBB GERAK VERTIKAL Suau benda dikaakan bergerak manakalah kedudukan benda iu berubah erhadap benda lain yang dijadikan sebagai iik acuan. Benda dikaakan diam (idak bergerak) manakalah kedudukan benda iu idak berubah erhadap

Lebih terperinci

BAB 2 RESPONS FUNGSI STEP PADA RANGKAIAN RL DAN RC. Adapun bentuk yang sederhana dari suatu persamaan diferensial orde satu adalah: di dt

BAB 2 RESPONS FUNGSI STEP PADA RANGKAIAN RL DAN RC. Adapun bentuk yang sederhana dari suatu persamaan diferensial orde satu adalah: di dt BAB ESPONS FUNGSI STEP PADA ANGKAIAN DAN C. Persamaan Diferensial Orde Sau Adapun benuk yang sederhana dari suau persamaan ferensial orde sau adalah: 0 a.i a 0 (.) mana a o dan a konsana. Persamaan (.)

Lebih terperinci

1.1 Konsep Distribusi

1.1 Konsep Distribusi BAB DISTRIBUSI PELUANG DALAM EVALUASI KEANDALAN SISTEM. Konsep Disribusi P ada bab sebelumnya elah beberapa konsep enang disribusi peluang (probabiliy disribuion) seperi probabiliy mass funcion, probabiliy

Lebih terperinci

LIMIT FUNGSI. 0,9 2,9 0,95 2,95 0,99 2,99 1 Tidak terdefinisi 1,01 3,01 1,05 3,05 1,1 3,1 Gambar 1

LIMIT FUNGSI. 0,9 2,9 0,95 2,95 0,99 2,99 1 Tidak terdefinisi 1,01 3,01 1,05 3,05 1,1 3,1 Gambar 1 LIMIT FUNGSI. Limi f unuk c Tinjau sebuah fungsi f, apakah fungsi f ersebu sama dengan fungsi g -? Daerah asal dari fungsi g adalah semua bilangan real, sedangkan daerah asal fungsi f adalah bilangan real

Lebih terperinci

Suatu Catatan Matematika Model Ekonomi Diamond

Suatu Catatan Matematika Model Ekonomi Diamond Vol. 5, No.2, 58-65, Januari 2009 Suau aaan Maemaika Model Ekonomi Diamond Jeffry Kusuma Absrak Model maemaika diberikan unuk menjelaskan fenomena dalam dunia ekonomi makro seperi modal/kapial, enaga kerja,

Lebih terperinci

Fungsi Bernilai Vektor

Fungsi Bernilai Vektor Fungsi Bernilai Vekor 1 Deinisi Fungsi bernilai vekor adalah suau auran yang memadankan seiap F R R dengan epa sau vekor Noasi : : R R F i j, 1 1 F i j k 1 dengan 1,, ungsi bernilai real Conoh : 1. 1 F

Lebih terperinci

Darpublic Nopember 2013

Darpublic Nopember 2013 Darpublic Nopember 01 www.darpublic.com 4.1. Pengerian 4. Persamaan Diferensial (Orde Sau) Sudarano Sudirham Persamaan diferensial adalah suau persamaan di mana erdapa sau aau lebih urunan fungsi. Persamaan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1 Pengerian dan Manfaa Peramalan Kegiaan unuk mempeirakan apa yang akan erjadi pada masa yang akan daang disebu peramalan (forecasing). Sedangkan ramalan adalah suau kondisi yang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekaan Peneliian Jenis peneliian yang digunakan dalam peneliian ini adalah peneliian evaluasi dan pendekaannya menggunakan pendekaan kualiaif non inerakif (non

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Defenisi Persediaan Persediaan adalah barang yang disimpan unuk pemakaian lebih lanju aau dijual. Persediaan dapa berupa bahan baku, barang seengah jadi aau barang jadi maupun

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Peramalan adalah kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Peramalan adalah kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa BAB 2 TINJAUAN TEORITI 2.1. Pengerian-pengerian Peramalan adalah kegiaan unuk memperkirakan apa yang akan erjadi di masa yang akan daang. edangkan ramalan adalah suau siuasi aau kondisi yang diperkirakan

Lebih terperinci

BAB II TEORI DASAR ANTENA

BAB II TEORI DASAR ANTENA BAB II TEORI DASAR ANTENA.1. endahuluan Anena didefinisikan oleh kamus Webser sebagai ala yang biasanya erbua dari meal (sebagai iang aau kabel) unuk meradiasikan aau menerima gelombang radio. Definisi

Lebih terperinci

B a b 1 I s y a r a t

B a b 1 I s y a r a t 9 TKE 35 ISYARAT DAN SISTEM B a b I s y a r a (bagian 2) Indah Susilawai, S.T., M.Eng. Program Sudi Teknik Elekro Fakulas Teknik dan Ilmu Kompuer Universias Mercu Buana Yogyakara 29 2.4. Isyara Periodik

Lebih terperinci

FISIKA. Kelas X GLB DAN GLBB K13 A. GERAK LURUS BERATURAN (GLB)

FISIKA. Kelas X GLB DAN GLBB K13 A. GERAK LURUS BERATURAN (GLB) K3 Kelas X FISIKA GLB DAN GLBB TUJUAN PEMBELAJARAN Seelah mempelajari maeri ini, kamu diharapkan memiliki kemampuan beriku.. Memahami konsep gerak lurus berauran dan gerak lurus berubah berauran.. Menganalisis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 11 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Salah sau masalah analisis persediaan adalah kesulian dalam menenukan reorder poin (iik pemesanan kembali). Reorder poin diperlukan unuk mencegah erjadinya kehabisan

Lebih terperinci

Relasi LOGIK FUNGSI AND, FUNGSI OR, DAN FUNGSI NOT

Relasi LOGIK FUNGSI AND, FUNGSI OR, DAN FUNGSI NOT 2 Relasi LOGIK FUNGSI ND, FUNGSI OR, DN FUNGSI NOT Tujuan : Seelah mempelajari Relasi Logik diharapkan dapa,. Memahami auran-auran relasi logik unuk fungsi-fungsi dasar ND, OR dan fungsi dasar NOT 2. Memahami

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Poensi sumberdaya perikanan, salah saunya dapa dimanfaakan melalui usaha budidaya ikan mas. Budidaya ikan mas yang erus berkembang di masyaraka, kegiaan budidaya

Lebih terperinci

MODUL 1 RANGKAIAN THEVENIN, PEMBEBANAN DAN ARUS TRANSIEN

MODUL 1 RANGKAIAN THEVENIN, PEMBEBANAN DAN ARUS TRANSIEN MODUL 1 FI 2104 ELEKTRONIKA 1 MODUL 1 RANGKAIAN THEVENIN, PEMBEBANAN DAN ARUS TRANSIEN 1. TUJUAN PRAKTIKUM Seelah melakukan prakikum, prakikan diharapkan elah memiliki kemampuan sebagai beriku : 1.1. Mampu

Lebih terperinci

IR. STEVANUS ARIANTO 1

IR. STEVANUS ARIANTO 1 GERAK TRANSLASI GERAK PELURU GERAK ROTASI DEFINISI POSISI PERPINDAHAN MEMADU GERAK D E F I N I S I PANJANG LINTASAN KECEPATAN RATA-RATA KELAJUAN RATA-RATA KECEPATAN SESAAT KELAJUAN SESAAT PERCEPATAN RATA-RATA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tepat rencana pembangunan itu dibuat. Untuk dapat memahami keadaan

BAB I PENDAHULUAN. tepat rencana pembangunan itu dibuat. Untuk dapat memahami keadaan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Dalam perencanaan pembangunan, daa kependudukan memegang peran yang pening. Makin lengkap dan akura daa kependudukan yang esedia makin mudah dan epa rencana pembangunan

Lebih terperinci

PERTEMUAN 2 KINEMATIKA SATU DIMENSI

PERTEMUAN 2 KINEMATIKA SATU DIMENSI PERTEMUAN KINEMATIKA SATU DIMENSI RABU 30 SEPTEMBER 05 OLEH: FERDINAND FASSA PERTANYAAN Pernahkah Anda meliha aau mengamai pesawa erbang yang mendara di landasannya? Berapakah jarak empuh hingga pesawa

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Peramalan adalah kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa yang

BAB 2 LANDASAN TEORI. Peramalan adalah kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa yang BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengerian Peramalan Peramalan adalah kegiaan unuk memperkirakan apa yang akan erjadi di masa yang akan daang. Sedangkan ramalan adalah suau aau kondisi yang diperkirakan akan erjadi

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian Quasi Eksperimental Design dengan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian Quasi Eksperimental Design dengan BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Desain Peneliian Peneliian ini adalah peneliian Quasi Eksperimenal Design dengan kelas eksperimen dan kelas conrol dengan desain Prees -Poses Conrol Group Design

Lebih terperinci

KINEMATIKA. gerak lurus berubah beraturan(glbb) gerak lurus berubah tidak beraturan

KINEMATIKA. gerak lurus berubah beraturan(glbb) gerak lurus berubah tidak beraturan KINEMATIKA Kinemaika adalah mempelajari mengenai gerak benda anpa memperhiungkan penyebab erjadi gerakan iu. Benda diasumsikan sebagai benda iik yaiu ukuran, benuk, roasi dan gearannya diabaikan eapi massanya

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Masalah Dalam sisem perekonomian suau perusahaan, ingka perumbuhan ekonomi sanga mempengaruhi kemajuan perusahaan pada masa yang akan daang. Pendapaan dan invesasi merupakan

Lebih terperinci

BAB IV PERHITUNGAN NUMERIK

BAB IV PERHITUNGAN NUMERIK BAB IV PERHITUNGAN NUMERIK Dengan memperhaikan fungsi sebaran peluang berahan dari masingmasing sebaran klaim, sebagai mana diulis pada persamaan (3.45), (3.70) dan (3.90), perhiungan numerik idak mudah

Lebih terperinci

KINEMATIKA GERAK LURUS

KINEMATIKA GERAK LURUS Kinemaika Gerak Lurus 45 B A B B A B 3 KINEMATIKA GERAK LURUS Sumber : penerbi cv adi perkasa Maeri fisika sanga kenal sekali dengan gerak benda. Pada pokok bahasan enang gerak dapa imbul dua peranyaan

Lebih terperinci

=====O0O===== Gerak Vertikal Gerak vertikal dibagi menjadi 2 : 1. GJB 2. GVA. A. GERAK Gerak Lurus

=====O0O===== Gerak Vertikal Gerak vertikal dibagi menjadi 2 : 1. GJB 2. GVA. A. GERAK Gerak Lurus A. GERAK Gerak Lurus o a Secara umum gerak lurus dibagi menjadi 2 : 1. GLB 2. GLBB o 0 a < 0 a = konsan 1. GLB (Gerak Lurus Berauran) S a > 0 a < 0 Teori Singka : Perumusan gerak lurus berauran (GLB) Grafik

Lebih terperinci

Analisis Rangkaian Listrik Di Kawasan s

Analisis Rangkaian Listrik Di Kawasan s Sudaryano Sudirham Analisis angkaian Lisrik Di Kawasan s Sudaryano Sudirham, Analisis angkaian Lisrik () BAB 3 Fungsi Jargan Pembahasan fungsi jargan akan membua kia memahami makna fungsi jargan, fungsi

Lebih terperinci

PENDUGAAN PARAMETER DERET WAKTU HIDDEN MARKOV SATU WAKTU SEBELUMNYA

PENDUGAAN PARAMETER DERET WAKTU HIDDEN MARKOV SATU WAKTU SEBELUMNYA PENDUGAAN PARAMEER DERE WAKU HIDDEN MARKOV SAU WAKU SEBELUMNYA BERLIAN SEIAWAY DAN DIMAS HARI SANOSO Deparemen Maemaika Fakulas Maemaika dan Ilmu Pengeahuan Alam Insiu Peranian Bogor Jl Merani, Kampus

Lebih terperinci

Sekilas Pandang. Modul 1 PENDAHULUAN

Sekilas Pandang. Modul 1 PENDAHULUAN Modul 1 Sekilas Pandang Drs. Irlan Soelaeman, M.Ed. S PENDAHULUAN uau hari, saya dan keluarga berencana membawa mobil pergi ke Surabaya unuk mengunjungi salah seorang saudara. Sau hari sebelum keberangkaan,

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. dari bahasa Yunani yang berarti Demos adalah rakyat atau penduduk,dan Grafein

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. dari bahasa Yunani yang berarti Demos adalah rakyat atau penduduk,dan Grafein BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1 Pengerian Demografi Keadaan penduduk sanga era kaiannya dengan demografi. Kaa demografi berasal dari bahasa Yunani yang berari Demos adalah rakya aau penduduk,dan Grafein adalah

Lebih terperinci

Bab II Dasar Teori Kelayakan Investasi

Bab II Dasar Teori Kelayakan Investasi Bab II Dasar Teori Kelayakan Invesasi 2.1 Prinsip Analisis Biaya dan Manfaa (os and Benefi Analysis) Invesasi adalah penanaman modal yang digunakan dalam proses produksi unuk keunungan suau perusahaan.

Lebih terperinci

SIMULASI PERGERAKAN TINGKAT BUNGA BERDASARKAN MODEL VASICEK

SIMULASI PERGERAKAN TINGKAT BUNGA BERDASARKAN MODEL VASICEK Jurnal Maemaika Murni dan Terapan εpsilon Vol.9 No.2 (215) Hal. 15-24 SIMULASI PEGEAKAN TINGKAT BUNGA BEDASAKAN MODEL VASICEK Shanika Marha, Dadan Kusnandar, Naomi N. Debaaraja Fakulas MIPA Universias

Lebih terperinci

Pemodelan Data Runtun Waktu : Kasus Data Tingkat Pengangguran di Amerika Serikat pada Tahun

Pemodelan Data Runtun Waktu : Kasus Data Tingkat Pengangguran di Amerika Serikat pada Tahun Pemodelan Daa Runun Waku : Kasus Daa Tingka Pengangguran di Amerika Serika pada Tahun 948 978. Adi Seiawan Program Sudi Maemaika, Fakulas Sains dan Maemaika Universias Krisen Saya Wacana, Jl. Diponegoro

Lebih terperinci

PELATIHAN STOCK ASSESSMENT

PELATIHAN STOCK ASSESSMENT PELATIHA STOCK ASSESSMET Modul 5 PERTUMBUHA Mennofaria Boer Kiagus Abdul Aziz Maeri Pelaihan Sock Assessmen Donggala, 1-14 Sepember 27 DIAS PERIKAA DA KELAUTA KABUPATE DOGGALA bekerjasama dengan PKSPL

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN BAB 4 ANALISIS DAN EMBAHASAN 4.1 Karakerisik dan Obyek eneliian Secara garis besar profil daa merupakan daa sekunder di peroleh dari pusa daa saisik bursa efek Indonesia yang elah di publikasi, daa di

Lebih terperinci

Peramalan Penjualan Sepeda Motor di Jawa Timur dengan Menggunakan Model Dinamis

Peramalan Penjualan Sepeda Motor di Jawa Timur dengan Menggunakan Model Dinamis JURNAL SAINS DAN NI POMITS Vol. 3, No. 2, (2014) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Prin) D-224 Peramalan Penjualan Sepeda Moor di Jawa Timur dengan Menggunakan Model Dinamis Desy Musika dan Seiawan Jurusan Saisika,

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI POLA DATA TIME SERIES

IDENTIFIKASI POLA DATA TIME SERIES IDENTIFIKASI POLA DATA TIME SERIES Daa merupakan bagian pening dalam peramalan. Beriku adalah empa krieria yang dapa digunakan sebagai acuan agar daa dapa digunakan dalam peramalan.. Daa harus dapa dipercaya

Lebih terperinci

Fisika Dasar. Gerak Jatuh Bebas 14:12:55. dipengaruhi gaya. berubah sesuai dengan ketinggian. gerak jatuh bebas? nilai percepatan gravitasiyang

Fisika Dasar. Gerak Jatuh Bebas 14:12:55. dipengaruhi gaya. berubah sesuai dengan ketinggian. gerak jatuh bebas? nilai percepatan gravitasiyang Gerak Jauh Bebas 14:1:55 Gerak Jauh Bebas Gerak jauh bebas merupakan gerakan objekyang dipengaruhi gaya graiasi. Persamaan maemaik gerak jauh bebas sama dengan persamaan gerak1d unuk percepaan konsan.

Lebih terperinci

Matematika EBTANAS Tahun 1988

Matematika EBTANAS Tahun 1988 Maemaika EBTANAS Tahun 988 EBT-SMA-88- cos = EBT-SMA-88- Sisi sisi segiiga ABC : a = 6, b = dan c = 8 Nilai cos A 8 4 8 EBT-SMA-88- Layang-layang garis singgung OAPB, sudu APB = 6 dan panjang OP = cm.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengerian Persediaan (Invenory) Persediaan didefinisikan sebagai barang jadi yang disimpan aau digunakan unuk dijual pada periode mendaang, yang dapa berbenuk bahan baku yang

Lebih terperinci

BAB 4 PENGANALISAAN RANGKAIAN DENGAN PERSAMAAN DIFERENSIAL ORDE DUA ATAU LEBIH TINGGI

BAB 4 PENGANALISAAN RANGKAIAN DENGAN PERSAMAAN DIFERENSIAL ORDE DUA ATAU LEBIH TINGGI BAB 4 PENANAISAAN RANKAIAN DENAN PERSAMAAN DIFERENSIA ORDE DUA ATAU EBIH TINI 4. Pendahuluan Persamaan-persamaan ferensial yang pergunakan pada penganalisaan yang lalu hanya erbaas pada persamaan-persamaan

Lebih terperinci

1. Pengertian Digital

1. Pengertian Digital Kegiaan elajar. Pengerian Digial Tujuan Khusus Pembelajaran Pesera harus dapa: Menyebukan definisi besaran analog Menyebukan definisi besaran digial Menggambarkan keadaan logika Menyebukan perbedaan nilai

Lebih terperinci

BAB III ARFIMA-FIGARCH. pendek (short memory) karena fungsi autokorelasi antara dan turun

BAB III ARFIMA-FIGARCH. pendek (short memory) karena fungsi autokorelasi antara dan turun BAB III ARFIMA-FIGARCH 3. Time Series Memori Jangka Panjang Proses ARMA sering dinyaakan sebagai proses memori jangka pendek (shor memory) karena fungsi auokorelasi anara dan urun cepa secara eksponensial

Lebih terperinci

Oleh : Danny Kurnianto; Risa Farrid Christianti Sekolah Tinggi Teknologi Telematika Telkom Purwokerto

Oleh : Danny Kurnianto; Risa Farrid Christianti Sekolah Tinggi Teknologi Telematika Telkom Purwokerto Oleh : Danny Kurniano; Risa Farrid Chrisiani Sekolah Tinggi Teknologi Telemaika Telkom Purwokero Pendahuluan Seelah kia mempelajari anggapan alamiah dari suau rangkaian RL aau RC, yaiu anggapan saa sumber

Lebih terperinci

FIsika KTSP & K-13 KINEMATIKA. K e l a s A. VEKTOR POSISI

FIsika KTSP & K-13 KINEMATIKA. K e l a s A. VEKTOR POSISI KTSP & K-13 FIsika K e l a s XI KINEMATIKA Tujuan Pembelajaran Seelah mempelajari maeri ini, kamu diharapkan mampu menjelaskan hubungan anara vekor posisi, vekor kecepaan, dan vekor percepaan unuk gerak

Lebih terperinci

BAHAN AJAR GERAK LURUS KELAS X/ SEMESTER 1 OLEH : LIUS HERMANSYAH,

BAHAN AJAR GERAK LURUS KELAS X/ SEMESTER 1 OLEH : LIUS HERMANSYAH, BAHAN AJAR GERAK LURUS KELAS X/ SEMESTER 1 OLEH : LIUS HERMANSYAH, S.Si NIP. 198308202011011005 SMA NEGERI 9 BATANGHARI 2013 I. JUDUL MATERI : GERAK LURUS II. INDIKATOR : 1. Menganalisis besaran-besaran

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waku Peneliian Peneliian ini dilakukan di Dafarm, yaiu uni usaha peernakan Darul Fallah yang erleak di Kecamaan Ciampea, Kabupaen Bogor, Jawa Bara. Pemilihan lokasi

Lebih terperinci

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN GENIUS LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN GENIUS LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA ISSN 5-73X PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN GENIUS LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR ISIKA SISWA Henok Siagian dan Iran Susano Jurusan isika, MIPA Universias Negeri Medan Jl. Willem Iskandar, Psr V -Medan

Lebih terperinci

PEMODELAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP $US MENGGUNAKAN DERET WAKTU HIDDEN MARKOV HAMILTON*

PEMODELAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP $US MENGGUNAKAN DERET WAKTU HIDDEN MARKOV HAMILTON* PEMODELAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP $US MENGGUNAKAN DERET WAKTU HIDDEN MARKOV HAMILTON* BERLIAN SETIAWATY DAN HIRASAWA Deparemen Maemaika Fakulas Maemaika dan Ilmu Pengeahuan Alam Insiu Peranian Bogor

Lebih terperinci

PEMODELAN PRODUKSI SEKTOR PERTANIAN

PEMODELAN PRODUKSI SEKTOR PERTANIAN Seminar Nasional Saisika IX Insiu Teknologi Sepuluh Nopember, 7 November 2009 PEMODELAN PRODUKSI SEKTOR PERTANIAN Brodjol Suijo Jurusan Saisika ITS Surabaya ABSTRAK Pada umumnya daa ekonomi bersifa ime

Lebih terperinci

ANALISIS ANTRIAN ANGKUTAN UMUM BUS ANTAR KOTA REGULER DI TERMINAL ARJOSARI

ANALISIS ANTRIAN ANGKUTAN UMUM BUS ANTAR KOTA REGULER DI TERMINAL ARJOSARI Achmadi, Analisis Anrian Angkuan Umum Bus Anar Koa Reguler di Terminal ANALISIS ANTRIAN ANGKUTAN UMUM BUS ANTAR KOTA REGULER DI TERMINAL ARJOSARI Seno Achmadi Absrak : Seiring dengan berkembangnya aku,

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. yang akan datang. Peramalan menjadi sangat penting karena penyusunan suatu

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. yang akan datang. Peramalan menjadi sangat penting karena penyusunan suatu BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengerian Peramalan Peramalan adalah kegiaan memperkirakan apa yang erjadi pada waku yang akan daang sedangkan rencana merupakan penenuan apa yang akan dilakukan pada waku yang

Lebih terperinci