UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JALAN KARTINI RAYA NO. 34A JAKARTA PUSAT PERIODE 2 OKTOBER 6 NOVEMBER 2013 LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER ALIFANA JASMINDRIYATI, S.Farm 1206329341 ANGKATAN LXXVII FAKULTAS FARMASI PROGRAM PROFESI APOTEKER DEPOK JANUARI 2014
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JALAN KARTINI RAYA NO. 34A JAKARTA PUSAT PERIODE 2 OKTOBER 6 NOVEMBER 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker ALIFANA JASMINDRIYATI, S.Farm 1206329341 ANGKATAN LXXVII FAKULTAS FARMASI PROGRAM PROFESI APOTEKER DEPOK JANUARI 2014 ii
7 Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar. Nama NPM :1206329341 TandaTangan, : Alifana Jasmindriyati, S.Farm n, /J /\\ I - e.-l-!)l/,":',\ \I1'r,'lr-- Tanggal : 13 Januari2}T4
KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, atas segala berkat rahmat- Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Praktik Kerja Profesi Apoteker di Apotek Atrika, serta menyusun laporan ini tepat pada waktunya. Penyusunan laporan ini juga tidak lepas dari dukungan berbagai pihak sehingga pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada: 1. Dr. Mahdi Jufri, M.Si., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Indonesia. 2. Prof. Dr. Yahdiana Harahap, M.S., selaku Pejabat Sementara Fakultas Farmasi sampai dengan tanggal 20 Desember 2013 3. Dr. Harmita, Apt. selaku Ketua Program Profesi Apoteker, Fakultas Farmasi UI sekaligus pembimbing dari Apotek Atrika yang telah memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis selama penulisan laporan PKPA. 4. Dra. Azizahwati, M.S., Apt. selaku pembimbing dari Fakultas Farmasi yang telah memberikan ilmu dan bimbingan yang sangat bermanfaat selama penulisan laporan PKPA. 5. Bapak Winardi Hendrayanta selaku Pemilik Sarana Apotek Atrika. 6. Para karyawan Apotek Atrika (Mbak Ratna, Bu Mimin, Bu Tuti, Pak Tab, Mbak Ayu, Mbak Ponah, Pak Kadi, Mas Heru, dan lain-lain) atas ilmu, arahan dan bantuan yang telah diberikan selama pelaksanaan PKPA. 7. Seluruh dosen dan staf tata usaha Fakultas Farmasi UI atas ilmu dan bantuan yang diberikan selama penulis menjalani pendidikan di Program Profesi Apoteker. 8. Kedua orangtua atas kesabaran, kasih sayang, dukungan, perhatian dan doanya kepada penulis hingga dapat menyelesaikan pendidikan profesi Apoteker dengan sebaik mungkin. 9. Rekan-rekan PKPA di Apotek Atrika yang telah berbagi ilmu, pengalaman serta saling mendukung selama pelaksanaan PKPA. v
10. Seluruh sahabat dan teman Program Profesi Apoteker, Fakultas Farmasi UI sebagai teman seperjuangan yang telah memberikan bantuan, dukungan dan semangat. Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan PKPA ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan segala kritik dan saran yang membangun untuk perbaikannya. Penulis berharap semoga laporan PKPA ini dapat bermanfaat dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang farmasi dan aplikasi pelayanannya di apotek. Penulis 2013 vi
t:',i' 't, HALAMAN?ERI\YATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI,, TUGAS AKIIIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS l"!1 bawah ini: Nama NPM Program Studi Fakultas Jenis karya Alifana Jasmindriyati, S.F arm t206329341 Apoteker Farmasi Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive Royalty Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul: LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK ATRIKA JALAN KARTI1V RAYA NO. 344, JAKARTA PUSAT. PERIODE 2 OKTOBER - 6 NOVEMBER 2013 beserta perangkat yang ada (bila diperlukan) dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini berhak menyimpan, mengalihmedia/ formatkan, mengelola dalam bentuk basis data merawat, dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencanfumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di : D.epok PadaTanggal : 13 Januari 2014 Yang menyalakan (Alifana Jasmindriyati, S.Farm.)
DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL... i HALAMAN JUDUL... ii HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS... iii HALAMAN PENGESAHAN... iv KATA PENGANTAR... v HALAMAN PERNYATAAN PUBLIKASI... vii DAFTAR ISI... viii DAFTAR LAMPIRAN... x ABSTRAK... xi ABSTRACT... xii BAB 1 PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Tujuan... 2 BAB 2 TINJAUAN UMUM APOTEK... 3 2.1 Definisi Apotek... 3 2.2 Landasan Hukum Apotek... 3 2.3 Tugas dan Fungsi Apotek... 4 2.4 Persyaratan Sarana dan Prasarana Apotek (Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1027/Menkes/SK/ IX/2004)... 4 2.5 Persyaratan Apoteker Pengelola Apotek... 5 2.6 Pengalihan Tanggung Jawab Pengelolaan Apotek... 7 2.7 Tata Cara Perizinan Apotek (Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1332/Menkes/SK/X/2002)... 7 2.8 Pencabutan Surat Izin Apotek... 10 2.9 Tenaga Kerja di Apotek...12 2.10 Sediaan Farmasi di Apotek... 13 2.11 Pengelolaan Apotek... 20 2.11.1 Perencanaan... 20 2.11.2 Pengadaan... 21 2.11.3 Penyimpanan... 21 2.11.4 Administrasi...21 2.11.5 Pelayanan... 22 2.12 Pengadaan Persediaan Apotek... 22 2.13 Pengendalian Persediaan Apotek... 23 2.13.1 Analisis VEN (Vital, Esensial, Non-esensial)... 23 2.13.2 Analisis Pareto (ABC)... 24 2.13.3 Analisis VEN-ABC...24 2.14 Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek... 25 2.14.1 Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE)... 28 2.14.2 Konseling... 29 2.14.3 Swamedikasi... 30 BAB 3 TINJAUAN KHUSUS APOTEK ATRIKA... 32 viii
3.1 Sejarah dan Lokasi... 32 3.2 Tata Ruang... 32 3.3 Penataan Obat... 32 3.4 Struktur Organisasi... 33 3.5 Tugas dan Fungsi Jabatan... 33 3.5.1 Apoteker Pengelola Apotek (APA)...33 3.5.2 Apoteker Pendamping... 34 3.5.3 Asisten Apoteker... 34 3.5.4 Juru Resep...35 3.5.5 Kasir... 35 3.5.6 Keuangan... 36 3.5.7 Kurir...36 3.5.8 Petugas Kebersihan...36 3.6 Kegiatan di Apotek Atrika...36 3.6.1 Kegiatan Teknis Kefarmasian... 37 3.6.1.1 Pengelolaan Perbekalan Farmasi... 37 3.6.1.2 Pengelolaan Narkotika...39 3.6.1.3 Pengelolaan Psikotropika...40 3.6.1.4 Pelayanan Apotek... 40 3.6.2 Kegiatan Non-Teknis Kefarmasian... 41 3.6.2.1 Kegiatan Administrasi...41 3.6.2.2 Sistem Administrasi... 41 BAB 4 PEMBAHASAN...45 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN...51 5.1 Kesimpulan... 51 5.2 Saran... 51 DAFTAR ACUAN...52 LAMPIRAN...53 ix
DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Contoh formulir APT-1... 54 Lampiran 2. Contoh formulir APT-2... 56 Lampiran 3. Contoh formulir APT-3... 57 Lampiran 4. Contoh formulir APT-4... 63 Lampiran 5. Contoh formulir APT-5... 64 Lampiran 6. Contoh formulir APT-6... 67 Lampiran 7. Contoh formulir APT-7... 68 Lampiran 8. Apotek Atrika tampak dari luar... 69 Lampiran 9. Tata Ruang Etalase Depan Apotek... 69 Lampiran 10. Lemari Penyimpanan Narkotik... 69 Lampiran 11. Lemari Penyimpanan Psikotropik... 70 Lampiran 12. Struktur Organisasi Apotek Atrika... 70 Lampiran 13. Etiket Apotek Atrika... 70 Lampiran 14. Kopi Resep Apotek Atrika... 71 Lampiran 15. Surat Pesanan Apotek Atrika... 71 Lampiran 16. Surat Pesanan Narkotika... 72 Lampiran 17. Laporan Penggunaan Narkotika... 72 Lampiran 18. Surat Pesanan Psikotropika... 73 Lampiran 19. Laporan Penggunaan Psikotropika (1)... 73 Lampiran 20. Laporan Penggunaan Psikotropika (2)... 74 x
ABSTRAK Nama : Alifana Jasmindriyati, S. Farm NPM : 1206329341 Program Studi : Profesi Apoteker Judul : Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Apotek Atrika Periode 2 Oktober 6 November 2013 Praktek Kerja Profesi Apoteker di Apotek Atrika bertujuan untuk memahami tugas dan fungsi apoteker pengelola apotek (APA) di apotek dan memahami kegiatan di apotek baik secara teknis kefarmasian maupun non teknis kefarmasian. Tugas khusus yang diberikan berjudul Rekapitulasi dan Analisis Resep Obat Antibiotik Oral pada Daftar e-catalogue Obat Generik yang akan diterapkan dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) di Apotek Atrika. Tujuan dari tugas khusus ini adalah untuk mengetahui jenis antibiotika oral yang akan disediakan oleh Apotek Atrika pada saat SJSN diberlakukan dan antibiotika oral yang paling sering diresepkan oleh dokter selama periode tertentu. Kata kunci : Apotek Atrika, SJSN, Antibiotika Oral Tugas umum : xi + 52 halaman; 20 lampiran Tugas khusus : ii + 23 halaman; 5 tabel; 11 gambar Daftar Acuan Tugas Umum : 10 (1980-2011) Daftar Acuan Tugas Khusus : 2 (1986-2013 xi
ABSTRACT Name : Alifana Jasmindriyati, S. Farm NPM : 1206329341 Study Program : Apothecary Title : Internship Report Apothecary in Atrika Drugstore Periods October 2 nd November 6 th 2013 Practice Pharmacist in Atrika Drugstore aims to understand the duties and functions of pharmacists pharmacy manager (APA) in pharmacies and pharmacy activities better understand the technical and non-technical pharmacy pharmacy. Given a special task called recapitulation and analysis on the Oral Antibiotic Prescription Drug List Generic Drugs e-catalogue which will be applied in the Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) in Atrika Drugstore. The purpose of this special task is to determine the type of oral antibiotics will be provided by the Atrika Drugstore imposed upon SJSN and oral antibiotics most often prescribed by doctor for a certain period. Key : Atrika Drugstore, SJSN, Oral Antibiotics General Report : xi + 52 contents; 20 additional Spesific Report : ii + 23 contents; 5 table; 11 image Reference General Report : 10 (1980-2011) Reference Spesific Report : 2 (1986-2013 xii
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Apotek merupakan sarana kesehatan yang berperan dalam upaya-upaya kesehatan, terutama untuk penyerahan obat dan perbekalan farmasi beserta informasinya kepada masyarakat. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.51 tahun 2009 tentang Tenaga Kefarmasian, apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh Apoteker. Apotek sebagai sarana yang bergerak di bidang jasa pelayanan harus mampu memberikan pelayanan kefarmasian secara tepat dan bermutu. Orientasi pelayanan kefarmasian yang telah bergeser dari pelayanan berorientasi obat menjadi pelayanan berorientasi pasien menyebabkan kegiatan pelayanan yang tadinya hanya berfokus pada pengelolaan obat sebagai komoditi berubah menjadi pelayanan yang komprehensif dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup pasien. Konsekuensi perubahan orientasi tersebut adalah apoteker dituntut untuk terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya agar dapat melaksanakan interaksi langsung kepada pasien. Bentuk interaksi tersebut bisa berupa pelaksanaan pemberian informasi dan pengawasan penggunaan obat demi tercapainya tujuan akhir terapi yang diharapkan (Kementerian Kesehatan RI, 2004). Seiring dengan meningkatnya tuntutan terhadap perbaikan pelayanan kefarmasian, termasuk di apotek, calon-calon apoteker diharapkan dapat menjadi pemberi pelayanan kefarmasian yang baik, serta pembaharu dalam dunia kefarmasian yang terus berkembang. Apoteker dan calon apoteker harus terus meningkatkan pemahaman dan kompetensinya dalam melakukan tugas dan tangung jawab yang diemban. Oleh karena itu, program profesi Apoteker Fakultas Farmasi bekerja sama dengan Apotek Atrika melakukan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di apotek untuk para calon apoteker sebagai latihan untuk terjun langsung ke lapangan dan melihat realita kerja yang ada, serta menerapkan ilmu yang didapat selama di bangku kuliah untuk mengatasi berbagai permasalahan yang bisa mereka temui di apotek. 1
2 1.2 Tujuan Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Apotek Atrika bertujuan agar para calon apoteker: a. Memahami peran, fungsi dan tanggung jawab seorang Apoteker dalam pekerjaan kefarmasian di apotek. b. Memahami dan melaksanakan kegiatan pelayanan kefarmasian di apotek, baik secara teknis kefarmasian maupun non teknis kefarmasian.
BAB 2 TINJAUAN UMUM APOTEK 2.1 Definisi Apotek Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009, apotek merupakan sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktik kefarmasian oleh apoteker. Pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan, dan pendistribusian atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat, dan obat tradisional. 2.2 Landasan Hukum Apotek Apotek memiliki landasan hukum yang diatur dalam: a. Undang-Undang (UU), yaitu: 1. Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. 2. Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. 3. Undang-Undang No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. b. Peraturan Pemerintah, yaitu: 1. Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian. 2. Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1980 tentang perubahan atas PP No. 26 Tahun 1965 tentang Apotek. c. Peraturan Menteri Kesehatan (PMK), yaitu: 1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 889/Menkes/Per/V/2011 tentang Registrasi, Izin Praktek, dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian. 2. Peraturan Menteri Kesehatan No. 922/Menkes/Per/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. d. Keputusan Menteri Kesehatan (KMK), yaitu: 1. Keputusan Kementerian Kesehatan RI No. 1027/Menkes/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. 2. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1332/Menkes/SK/X/2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 922/Menkes/Per/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. 3
4 2.3 Tugas dan Fungsi Apotek Menurut Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1980, tugas dan fungsi apotek adalah: a. Tempat pengabdian profesi seorang Apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan. b. Sarana farmasi yang melaksanakan peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran, dan penyerahan obat atau bahan obat. c. Sarana penyalur perbekalan farmasi yang harus mendistribusikan obat yang diperlukan masyarakat secara meluas dan merata. d. Sebagai sarana tempat pelayanan informasi mengenai perbekalan farmasi kepada masyarakat dan tenaga kesehatan lainnya. 2.4 Persyaratan Sarana dan Prasarana Apotek (Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1027/Menkes/SK/ IX/2004) Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1027/Menkes/SK/ IX/2004, apotek harus berlokasi pada daerah yang mudah dikenali oleh masyarakat. Pada halaman terdapat papan petunjuk yang dengan jelas tertulis kata APOTEK. Apotek harus dapat dengan mudah diakses oleh anggota masyarakat. Pelayanan produk kefarmasian diberikan pada tempat yang terpisah dari aktivitas pelayanan dan penjualan produk lainnya. Hal tersebut berguna untuk menunjukkan integritas dan kualitas produk serta mengurangi risiko kesalahan penyerahan. Masyarakat harus diberi akses secara langsung dan mudah oleh Apoteker untuk memperoleh informasi dan konseling. Kebersihan lingkungan apotek harus dijaga. Apotek harus bebas dari hewan pengerat, serangga, dan hama. Apotek harus memiliki suplai listrik yang konstan, terutama untuk lemari pendingin. Perabotan apotek harus tertata rapi, lengkap dengan rak-rak penyimpanan obat dan barang-barang lain yang tersusun dengan rapi, terlindung dari debu, kelembaban, dan cahaya yang berlebihan serta diletakkan pada kondisi ruangan dengan temperatur yang telah ditetapkan. Apotek harus memiliki: a. Ruang tunggu yang nyaman bagi pasien.
5 b. Tempat untuk menempatkan informasi bagi pasien, termasuk penempatan brosur atau materi informasi. c. Ruangan tertutup untuk konseling bagi pasien yang dilengkapi dengan meja dan kursi serta lemari untuk menyimpan catatan medikasi pasien. d. Ruang racikan. e. Keranjang sampah yang tersedia untuk staf maupun pasien. 2.5 Persyaratan Apoteker Pengelola Apotek Berdasarkan PMK Nomor 889/Menkes/PerV/2011 tentang Registrasi, Izin Praktek, dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian. Berdasarkan Permenkes ini, setiap Tenaga Kefarmasian wajib memiliki surat tanda registrasi. Untuk tenaga kefarmasian yang merupakan seorang Apoteker, maka wajib memiliki Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA). Setelah memiliki STRA, Apoteker wajib memiliki surat izin sesuai tempat kerjanya. Surat izin tersebut dapat berupa Surat Izin Praktek Apoteker (SIPA) untuk Apoteker yang bekerja di fasilitas pelayanan kefarmasian atau Surat Izin Kerja Apoteker (SIKA) untuk Apoteker yang bekerja di fasilitas produksi atau distribusi farmasi. Setelah mendapatkan STRA, Apoteker wajib mengurus SIPA atau SIKA di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota tempat pekerjaan kefarmasian dilakukan. STRA dikeluarkan oleh Menteri, dimana Menteri akan mendelegasikan pemberian STRA kepada KFN. STRA berlaku selama lima tahun dan dapat diregistrasi ulang selama memenuhi persyaratan. Untuk memperoleh SIPA atau SIKA, Apoteker mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota tempat pekerjaan kefarmasian dilaksanakan. Permohonan SIPA atau SIKA harus melampirkan: a. Fotokopi STRA yang dilegalisir oleh KFN; b. Surat pernyataan mempunyai tempat praktek profesi atau surat keterangan dari pimpinan fasilitas pelayanan kefarmasian atau dari pimpinan fasilitas produksi atau distribusi/penyaluran; c. Surat rekomendasi dari organisasi profesi; d. Pas foto berwarna ukuran 4 x 6 cm sebanyak dua lembar dan 3 x 4 cm sebanyak dua lembar.
6 Dalam mengajukan permohonan SIPA sebagai Apoteker pendamping harus dinyatakan permintaan SIPA untuk tempat pekerjaan kefarmasian pertama, kedua, atau ketiga. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota harus menerbitkan SIPA atau SIKA paling lama dua puluh hari kerja sejak surat permohonan diterima dan dinyatakan lengkap. Apoteker Pengelola Apotek (APA) adalah Apoteker yang telah diberi Surat Izin Apotek (SIA). Seorang Apoteker Pengelola Apotek harus memenuhi kualifikasi sebagai berikut: a. Memiliki ijazah yang telah terdaftar pada Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. b. Telah mengucapkan sumpah atau janji sebagai Apoteker. c. Memiliki SIPA yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota tempat pekerjaan kefarmasian dilakukan.. d. Memenuhi syarat-syarat kesehatan fisik dan mental untuk melaksanakan tugasnya sebagai Apoteker. e. Tidak bekerja di suatu perusahaan farmasi secara penuh dan tidak menjadi APA di apotek lain. Apabila APA berhalangan melakukan tugasnya pada jam buka apotek, APA harus menunjuk Apoteker Pendamping. Apabila APA dan Apoteker Pendamping karena hal-hal tertentu berhalangan melakukan tugasnya, APA menunjuk Apoteker Pengganti. Penunjukan tersebut harus dilaporkan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi setempat. Apabila APA berhalangan melakukan tugasnya lebih dari 2 (dua) tahun secara terus menerus, SIA atas nama Apoteker bersangkutan dicabut. 2.6 Pengalihan Tanggung Jawab Pengelolaan Apotek Pengalihan tanggung jawab pengelolaan apotek dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: a. Pada setiap pengalihan tanggung jawab pengelolaan kefarmasian yang disebabkan karena penggantian APA kepada Apoteker pengganti, wajib dilakukan serah terima resep, narkotika, obat dan perbekalan farmasi lainnya
7 serta kunci-kunci tempat penyimpanan narkotika dan psikotropika (Pasal 23 ayat 1, Peraturan Menteri Kesehatan RI No.922/Menkes/Per/X/1993); b. Pada kegiatan serah terima tersebut wajib dibuat berita acara serah terima sesuai dengan bentuk yang telah ditentukan dalam rangkap empat yang ditandatangani oleh kedua belah pihak (Pasal 23 ayat 2, Peraturan Menteri Kesehatan RI No.922/Menkes/Per/X/1993); c. Apabila APA meninggal dunia, dalam jangka waktu dua kali dua puluh empat jam, ahli waris APA wajib melaporkan kejadian tersebut secara tertulis kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota (Pasal 24 ayat 1, Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1332/Menkes/SK/X/2002). d. Apabila pada apotek tersebut tidak terdapat Apoteker pendamping, pada pelaporan dimaksud Pasal 24 ayat (1) wajib disertai penyerahan resep, narkotika, psikotropika, obat keras, dan kunci tempat penyimpanan narkotika dan psikotropika (Pasal 24 ayat 2, Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1332/Menkes/SK/X/2002); e. Pada penyerahan yang dimaksud pada pasal 24 ayat (1) dan (2), dibuat berita acara seperti yang dimaksud pasal 23 ayat (2) dan dilaporkan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada Kepala Balai POM setempat (Pasal 24 ayat 3, Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1332/Menkes/SK/X/2002). 2.7 Tata Cara Perizinan Apotek (Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1332/Menkes/SK/X/2002) Di dalam Keputusan Menteri Kesehatan No.1332/Menkes/SK/X/2002 disebutkan bahwa SIA adalah surat izin yang diberikan oleh Menteri kepada Apoteker atau Apoteker bekerjasama dengan pemilik sarana untuk menyelenggarakan apotek di suatu tempat tertentu. Izin apotek diberikan oleh Menteri, kemudian Menteri melimpahkan wewenang pemberian izin apotek kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota wajib melaporkan pelaksanaan pemberian izin, pembekuan izin, pencairan izin, dan pencabutan izin apotek sekali setahun kepada Menteri dan tembusan disampaikan kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi.
8 Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1332/Menkes/SK/X/2002 Pasal 7 dan 9 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 922/Menkes/PER/X/1993 mengenai Tata Cara Pemberian Izin Apotek adalah sebagai berikut: a. Permohonan izin apotek diajukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan menggunakan contoh formulir APT-1. b. Dengan menggunakan formulir APT-2 Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selambat-lambatnya 6 (enam) hari kerja setelah menerima permohonan dapat meminta bantuan teknis kepada Kepala Balai POM untuk melakukan pemeriksaan terhadap kesiapan apotek melakukan kegiatan. c. Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM selambatlambatnya 6 (enam) hari kerja setelah permintaan bantuan teknis dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melaporkan hasil pemeriksaan setempat dengan menggunakan contoh formulir APT-3. d. Dalam hal pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam (b) dan (c) tidak dilaksanakan, apoteker pemohon dapat membuat surat pernyataan siap melakukan kegiatan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dengan tembusan kepada Kepala Dinas Provinsi dengan menggunakan contoh formulir APT-4. e. Dalam jangka waktu 12 (dua belas) hari kerja setelah diterima laporan pemeriksaan sebagaimana dimaksud ayat (c) atau pernyataan ayat (d) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat mengeluarkan SIA dengan menggunakan contoh formulir APT-5. f. Dalam hal hasil pemeriksaan Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM dimaksud ayat (c) masih belum memenuhi syarat. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dalam waktu 12 (dua belas) hari mengeluarkan Surat Penundaan dengan menggunakan contoh formulir APT-6. g. Terhadap Surat Penundaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (f), Apoteker diberi kesempatan untuk melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi selambat-lambatnya dalam jangka waktu satu bulan sejak tanggal Surat Penundaan.
9 h. Apabila apoteker menggunakan sarana pihak lain, maka penggunaan sarana dimaksud wajib didasarkan atas perjanjian kerja sama antara apoteker dan pemilik sarana. i. Pemilik sarana yang dimaksud (poin h) harus memenuhi persyaratan tidak pernah terlibat dalam pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang obat sebagaimana dinyatakan dalam surat penyataan yang bersangkutan. j. Terhadap permohonan izin apotek yang ternyata tidak memenuhi persyaratan APA dan atau persyaratan apotek atau lokasi apotek tidak sesuai dengan permohonan, maka Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dalam jangka waktu selambat-lambatnya (12) dua belas hari kerja wajib mengeluarkan surat penolakan disertai dengan alasannya dengan menggunakan formulir model APT-7. Dalam mengajukan permohonan perizinan apotek, Apoteker selaku penanggung jawab melampirkan: 1. Data Apoteker a) Fotocopy KTP Apoteker Pengelola Apotek (APA) b) Fotocopy NPWP APA c) Pasfoto berwarna ukuran 4x6 cm 1 lembar d) Fotocopy Surat Izin Kerja e) Fotocopy Surat Lolos butuh dari Dinas Kesehatan Provinsi bagi APA yang berasal dari luar Provinsi f) Surat Izin dari Atasan bagi APA yang PNS/TNI/Polri 2. Data Pemilik Sarana Apotek (PSA) a) Fotocopy KTP PSA / Pemilik Perusahaan b) Fotocopy NPWP c) Pasfoto berwarna ukuran 4x6 cm 1 lembar 3. Fotocopy Akte Perusahaan bila berbentuk Badan Hukum yang telah terdaftar di Departemen Kehakiman dan HAM RI 4. Salinan Akte Perjanjian kerjasama antara APA dan PSA 5. Fotocopy IMB yang telah dilegalisir 6. Fotocopy Undang-Undang Gangguan (UUG) dari Dinas Tramtib yang telah dilegalisir.
10 7. Surat Pernyataan dari APA tidak bekerja pada perusahaan Farmasi lain di atas materai Rp 6.000,- 8. Surat Pernyataan APA yang menyaakan akan tunduk serta patuh kepada peraturan yang berlaku di atas materai Rp 6.000,- 9. Surat Pernyataan dari APA tidak melakukan penjualan Narkotika, Obat Keras Tertentu tanpa resep di atas materai Rp 6.000,- 10. Surat Pernyaaan PSA tidak pernah terlibat dan tidak akan terlibat dalam pelanggaran peraturan di bidang Farmasi/obat dan tidak ikut campur dalam hal pengelolaan obat di atas materai Rp 6.000,- 11. Peta lokasi dan denah ruangan beserta fungsi dan ukurannya 12. Struktur organisasi dan tata kerja/ tata laksana 13. Rencana jadwal buka apotek 14. Daftar ketenagaan berdasarkan pendidikan 15. Kelengkapan Asisten Apoteker/D3 Farmasi a) Surat Izin Asisten Apoteker b) Fotocopy KTP c) Surat pernyataan bersedian bekerja di atas materai Rp 6.000,- 16. Daftar peralatan peracikan obat 17. Daftar buku pustaka 18. Perlengkapan administrasi a) Contoh etiket, kartu stock, copy resep b) Blanko SP, blanko faktur, form laporan Narkotika 2.8 Pencabutan Surat Izin Apotek Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No.1332/Menkes/SK/X/2002, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat wajib melaporkan pemberian izin, pembekuan izin, pencairan izin, dan pencabutan izin apotek dalam jangka waktu setahun sekali kepada Menteri dan tembusan disampaikan kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi. Surat izin apotek dapat dicabut oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota apabila: a. Apoteker tidak lagi memenuhi kewajibannya untuk menyediakan, menyimpan dan menyerahkan sediaan farmasi yang bermutu baik dan
11 keabsahannya terjamin. Sediaan farmasi yang sudah dikatakan tidak bermutu baik atau karena sesuatu hal tidak dapat dan dilarang untuk digunakan seharusnya dimusnahkan dengan cara dibakar atau ditanam atau dengan cara lain yang ditetapkan oleh Menteri. b. APA berhalangan melakukan tugasnya lebih dari dua tahun secara terus menerus. c. Pelanggaran terhadap Undang-Undang Obat Keras Nomor, St. 1937 N. 541, Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Undang-Undang No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika, Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, serta ketentuan peraturan perundang-undangan lain yang berlaku. d. SIPA APA dicabut. e. Pemilik Sarana Apotek terbukti terlibat dalam pelanggaran perundangundangan di bidang obat. f. Apotek tidak dapat lagi memenuhi persyaratan mengenai kesiapan tempat pendirian apotek serta kelengkapan sediaan farmasi dan perbekalan lainnya baik merupakan milik sendiri atau pihak lain. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebelum melakukan pencabutan surat izin apotek berkoordinasi dengan Kepala Balai POM setempat. Pelaksanaan pencabutan surat izin apotek dilaksanakan setelah dikeluarkan: a. Peringatan secara tertulis kepada APA sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut dengan tenggang waktu masing-masing 2 (dua) bulan. b. Pembekuan izin apotek untuk jangka waktu selama-lamanya 6 (enam) bulan sejak dikeluarkannya penetapan pembekuan kegiatan apotek. Pembekuan izin apotek sebagaimana dimaksud dalam huruf (b) di atas, dapat dicairkan kembali apabila apotek telah membuktikan memenuhi seluruh persyaratan sesuai dengan ketentuan dalam peraturan ini. Pencairan izin apotek dilakukan setelah menerima laporan pemeriksaan dari Tim Pemeriksaan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat. Apabila SIA dicabut, APA atau Apoteker Pengganti wajib mengamankan perbekalan farmasi sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. Pengamanan tersebut wajib mengikuti tata cara sebagai berikut:
12 a. Dilakukan inventarisasi terhadap seluruh persediaan narkotika, obat keras tertentu dan obat lain serta seluruh resep yang tersedia di apotek. b. Narkotika, psikotropika, dan resep harus dimasukkan dalam tempat yang tertutup dan terkunci. Apoteker Pengelola Apotek wajib melaporkan secara tertulis kepada Kepala Wilayah Kantor Kementerian Kesehatan atau petugas yang diberi wewenang olehnya, tentang penghentian kegiatan disertai laporan inventarisasi yang dimaksud dalam huruf (a). 2.9 Tenaga Kerja di Apotek Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 menyebutkan bahwa tenaga kefarmasian adalah tenaga yang melakukan pekerjaan kefarmasian, yang terdiri dari Apoteker dan tenaga teknis kefarmasian. Tenaga teknis kefarmasian adalah tenaga yang membantu Apoteker dalam menjalankan pekerjaan kefarmasian, yang terdiri atas sarjana farmasi, ahli madya farmasi, analis farmasi dan tenaga menengah farmasi/asisten Apoteker. APA adalah Apoteker yang telah diberi Surat Izin Apotek. APA bertanggung jawab penuh terhadap semua kegiatan yang berlangsung di apotek, juga bertanggung jawab kepada pemilik modal (jika bekerja sama dengan Pemilik Sarana Apotek). Tugas dan kewajiban APA di apotek adalah sebagai berikut: a. Memimpin seluruh kegiatan apotek, baik kegiatan teknis maupun non-teknis kefarmasian sesuai dengan ketentuan maupun perundangan yang berlaku. b. Menyediakan, menyimpan, dan menyerahkan sediaan farmasi yang bermutu baik dan yang keabsahannya terjamin. c. Mengatur, melaksanakan, dan mengawasi administrasi. d. Mengusahakan agar apotek yang dipimpinnya dapat memberikan hasil yang optimal sesuai dengan rencana kerja dengan cara meningkatkan omset, mengadakan pembelian yang sah dan penekanan biaya serendah mungkin. e. Melakukan pengembangan apotek Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No. 1332 Tahun 2002, dalam melakukan tugasnya, apabila APA berhalangan melakukan tugasnya pada jam buka apotek, APA harus menunjuk apoteker pendamping. Apabila APA dan
13 apoteker pendamping karena hal-hal tertentu berhalangan melakukan tugasnya, APA dapat menunjuk apoteker pengganti. Apoteker pendamping merupakan apoteker yang bekerja di apotek di samping APA dan/atau menggantikannya pada jam-jam tertentu pada hari buka apotek. Apoteker pengganti adalah apoteker yang menggantikan APA selama APA tidak berada di tempat lebih dari 3 (tiga) bulan secara terus-menerus, telah memiliki SIPA, dan tidak bertindak sebagai APA di apotek lain. 2.10 Sediaan Farmasi di Apotek Menurut Undang-Undang No. 36 Tahun 2009, obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi untuk manusia. Obat-obat yang beredar di Indonesia digolongkan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dalam 4 (empat) kategori, yaitu obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras dan psikotropika, serta obat golongan narkotika. Penggolongan ini berdasarkan tingkat keamanan dan dimaksudkan untuk memudahkan pengawasan terhadap peredaran dan pemakaian obat-obat tersebut. Setiap golongan obat diberi tanda pada kemasan yang terlihat. Berdasarkan ketentuan peraturan tersebut, maka obat dibagi menjadi beberapa golongan yaitu (Umar, 2011; Departemen Kesehatan RI, 1997). 2.10.1 Obat Bebas Obat bebas merupakan obat yang dijual bebas di pasaran dan dapat dibeli tanpa resep dokter. Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas adalah lingkaran hijau dengan garis tepi berwarna hitam. Contohnya adalah Parasetamol (Kementerian Kesehatan, 2006).
14 2.10.2 Obat Bebas Terbatas Obat bebas terbatas adalah obat yang sebenarnya termasuk obat keras, tapi masih dapat dijual atau dibeli bebas tanpa resep dokter, dan disertai dengan tanda peringatan. Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas terbatas adalah lingkaran biru dengan garis tepi berwarna hitam (Kementerian Kesehatan, 2006). Tanda peringatan selalu tercantum pada kemasan obat bebas terbatas, berupa empat persegi panjang berwarna hitam berukuran panjang 5 (lima) centimeter, lebar 2 (dua) centimeter dan memuat pemberitahuan berwarna putih sebagai berikut: Gambar 2.2 Tanda peringatan pada kemasan obat bebas terbatas. 2.10.3 Obat Keras dan Psikotropika Obat keras adalah obat yang hanya dapat dibeli di apotek dengan resep dokter. Tanda khusus pada kemasan dan etiket adalah huruf K dalam lingkaran merah dengan garis tepi berwarna hitam. Contoh obat keras adalah Asam Mefenamat. Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Psikotropika yang digolongkan menjadi:
15 a) Psikotropika golongan I Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh dari obat psikotropika golongan I adalah Brafofetam. b) Psikotropika golongan II Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contohnya adalah Sekobarbital dan Metakualon. c) Psikotropika golongan III Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contohnya adalah Amobarbital dan Pentobarbital. d) Psikotropika golongan IV Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh psikotropik golongan IV adalah Alprazolam, Diazepam, Fenobarbital, dan Flurazepam. Dalam UU Nomor 5 Tahun 1997 pengaturan psikotropika bertujuan untuk: 1) Menjamin ketersediaan psikotropika guna kepentingan pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan. 2) Mencegah terjadinya penyalahgunaan psikotropika. 3) Memberantas peredaran gelap psikotropika. Pengelolaan psikotropika di apotek adalah sebagai berikut: 1) Pemesanan Pemesanan psikotropika dapat dilakukan pada Pedagang Besar Farmasi (PBF) dengan menggunakan Surat Pesanan Psikotropika yang ditandatangani oleh APA dilengkapi nama jelas, nomor SIPA, dan stempel apotek. Surat pesanan
16 terdiri dari tiga rangkap dan dalam setiap surat pesanan dapat digunakan untuk memesan lebih dari 1 (satu) jenis psikotropika. 2) Penyimpanan Penyimpanan psikotropika belum diatur dalam perundang-undangan atau peraturan lainnya, sehingga untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan psikotropika maka sebaiknya obat golongan psikotropika disimpan dalam suatu rak atau lemari khusus dan disertai kartu stok psikotropika. 3) Penyerahan Penyerahan psikotropika oleh apotek hanya dapat dilakukan kepada apotek lainnya, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter dan pasien. Penyerahan psikotropika oleh apotek dilaksanakan berdasarkan resep dokter (UU No.5 tahun 1997 pasal 14). 4) Pelaporan Apotek berkewajiban menyusun dan mengirimkan laporan bulanan mengenai kegiatan yang berhubungan dengan psikotropika dan dilaporkan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dengan tembusan ke Kepala Balai POM setempat secara berkala. Mekanisme pelaporan psikotropika sama dengan pelaporan narkotika. 5) Pemusnahan Pada Undang-undang No. 5 tahun 1997 pasal 53 disebutkan bahwa pemusnahan psikotropika dilaksanakan dalam hal yang berhubungan dengan tindak pidana, diproduksi tanpa memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku dan/atau tidak dapat digunakan dalam proses produksi psikotropika, kadaluwarsa, dan tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan dan/atau untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Setiap pemusnahan psikotropika, wajib dibuatkan berita acara. Tata cara pemusnahan psikotropika sama dengan narkotika.
17 2.10.4 Narkotika Definisi narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Narkotika dibagi menjadi tiga golongan, yaitu: a) Narkotika golongan I Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh narkotika golongan I adalah Opium, Kokaina, tanaman ganja, Heroina, MDMA, Meskalin, Amfetamina, Metamfetamina. b) Narkotika golongan II Narkotika yang berkhasiat pengobatan, dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan, serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh narkotika golongan II adalah Difenoksilat, Fentanil, Levometorfan, Metadona, Morfina, dan Petidina. c) Narkotika golongan III Narkotika berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan, serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Contoh narkotika golongan III adalah Kodeina dan Buprenorfina. Pengaturan narkotika dalam UU Nomor 35 Tahun 2009 meliputi segala bentuk kegiatan dan/atau perbuatan yang berhubungan dengan narkotika dan prekursor narkotika. Peraturan ini perlu dilakukan dengan tujuan untuk: 1) Menjamin ketersediaan narkotika untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi;
18 2) Mencegah, melindungi, dan menyelamatkan Bangsa Indonesia dari penyalahgunaan narkotika; 3) Memberantas peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika; dan 4) Menjamin pengaturan upaya rehabilitasi medis dan sosial bagi penyalah guna dan pecandu narkotika. Pengelolaan narkotika di apotek adalah sebagai berikut: 1) Pemesanan Pemesanan narkotika hanya dapat dilakukan pada Pedagang Besar Farmasi (PBF) Kimia Farma menggunakan Surat Pesanan Narkotika yang ditandatangani oleh APA, dilengkapi nama jelas, nomor SIPA, dan stempel apotek. Surat pesanan narkotika terdiri dari empat rangkap dan satu lembar surat pesanan hanya dapat digunakan untuk memesan satu macam narkotika. 2) Penerimaan dan Penyimpanan Penerimaan narkotika dilakukan oleh APA atau AA yang mempunyai SIPA dengan menandatangani faktur, mencantumkan nama jelas, nomor SIA, dan stempel apotek (Kemenkes RI, 1978). Apotek harus mempunyai tempat khusus yang dikunci dengan baik untuk menyimpan narkotika. Tempat penyimpanan narkotika di apotek harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: a) Harus dibuat seluruhnya dari kayu atau bahan lain yang kuat. b) Harus mempunyai kunci yang kuat. c) Dibagi dua, masing-masing dengan kunci yang berlainan; bagian pertama dipergunakan untuk menyimpan morfin, petidin, dan garam-garamnya serta persediaan narkotika; bagian kedua dipergunakan untuk menyimpan narkotika lainnya yang dipakai sehari-hari. d) Apabila tempat khusus tersebut berupa lemari berukuran kurang dari 40 x 80 x 100 cm, maka lemari tersebut harus dibaut pada tembok atau lantai. e) Lemari khusus tidak boleh digunakan untuk menyimpan barang lain selain narkotika, kecuali ditentukan oleh Menteri Kesehatan. f) Anak kunci lemari khusus harus dipegang oleh penanggung jawab atau pegawai lain yang dikuasakan.
19 g) Lemari khusus harus ditempatkan di tempat yang aman dan tidak terlihat oleh umum. 3) Pelayanan resep Menurut Undang-Undang No. 35 Tahun 2009, disebutkan bahwa narkotika hanya dapat diserahkan kepada pasien untuk pengobatan penyakit berdasarkan resep dokter. Selain itu, berdasarkan Surat Edaran Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (sekarang Badan POM) No. 336/E/SE/1997 disebutkan bahwa apotek dilarang melayani salinan resep yang mengandung narkotika. Untuk resep narkotika yang baru dilayani sebagian atau belum sama sekali, apotek boleh membuat salinan resep tetapi salinan resep tersebut hanya boleh dilayani oleh apotek yang menyimpan resep asli. Salinan resep dari narkotika dengan tulisan iter tidak boleh dilayani sama sekali. Dengan demikian dokter tidak boleh menambahkan tulisan iter pada resep-resep yang mengandung narkotika. 4) Pelaporan Berdasarkan Permenkes RI No.1575/Menkes/PER/XI/2005 tentang organisasi dan tata kerja Departemen Kesehatan, Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan mempunyai tugas melakukan pengumpulan, pengolahan, serta penyajian data dan informasi Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah pengumpulan, pengolahan dan penyajian data penggunaan obat narkotika dan psikotropika dari unit pelayanan. Dalam melaksanakan aktivitas pengelolaan data pelaporan tersebut Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan telah menggunakan Sistem Pelaporan dalam bentuk software, yaitu Sistem Pelaporan Narkotika dan Psikotropika (SIPNAP) yang dapat diakses online dengan alamat http//www.sipnap.binfar.depkes.go.id. SIPNAP terdiri dari software Unit pelayanan (Apotek, Puskesmas, dan Rumah Sakit), Software tingkat Dinas Kesehatan Kab/Kota dan pelaporan ke Provinsi dan Pusat dilakukan sistem pelaporan online.
20 5) Pemusnahan Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 28/Menkes/Per/I/1978 pasal 9 mengenai pemusnahan narkotika, APA dapat memusnahkan narkotika yang rusak, kadaluarsa, dan tidak memenuhi syarat untuk digunakan dalam pelayanan kesehatan dan/atau untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Pemusnahan narkotika dilakukan dengan pembuatan berita acara yang sekurangkurangnya memuat: tempat dan waktu (jam, hari, bulan, dan tahun); nama pemegang izin khusus, APA atau dokter pemilik narkotika; nama, jenis, dan jumlah narkotika yang dimusnahkan; cara pemusnahan; tanda tangan dan identitas lengkap penanggung jawab apotek dan saksi-saksi pemusnahan. Berita acara pemusnahan narkotika tersebut dikirimkan kepada Suku Dinas Pelayanan Kesehatan setempat dengan tembusan kepada Balai Besar POM setempat. 2.11 Pengelolaan Apotek Sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku, apotek harus dikelola oleh seorang Apoteker yang profesional. Dalam mengelola apotek, Apoteker harus memiliki kemampuan menyediakan dan memberikan pelayanan yang baik, mengambil keputusan yang tepat, kemampuan berkomunikasi antar profesi, menempatkan diri sebagai pimpinan dalam situasi multidisiplin, kemampuan mengelola sumber daya manusia secara efektif, selalu belajar sepanjang karir, dan membantu memberikan pendidikan dan peluang untuk meningkatkan pengetahuan. Pengelolaan persediaan farmasi dan perbekalan kesehatan lainnya dilakukan sesuai ketentuan perundangan yang berlaku meliputi: perencanaan, pengadaan, penyimpanan, administrasi, dan pelayanan. 2.11.1 Perencanaan Kegiatan perencanaan meliputi penyusunan rencana keperluan yang tepat, mencegah terjadinya kekurangan dan sedapat mungkin mencegah terjadinya kelebihan perbekalan farmasi yang tersimpan lama dalam gudang. Banyaknya jenis perbekalan farmasi yang dikelola mendorong diperlukannya suatu perencanaan yang dilakukan secara cermat sehingga pengelolaan persediaan dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Dalam membuat perencanaan pengadaan
21 sediaan farmasi perlu diperhatikan pola penyakit, kemampuan masyarakat, dan budaya masyarakat. 2.11.2 Pengadaan Pengadaan perbekalan farmasi harus diterapkan sebaik mungkin agar pengendalian, keamanan, dan jaminan mutu perbekalan farmasi dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Prinsip pengadaan tidak hanya sekedar membeli barang, tetapi juga mengandung pengertian meminta kerja sama pemasok dalam menyediakan barang yang diperlukan. Pengadaan harus sesuai dengan keperluan yang direncanakan sebelumnya dan harus sesuai dengan kemampuan atau kondisi keuangan yang ada. Sistem atau cara pengadaannya harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 2.11.3 Penyimpanan Obat atau bahan obat harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik. Ketika isi harus dipindahkan ke dalam wadah lain, maka harus dicegah terjadinya kontaminasi dan harus ditulis informasi yang jelas pada wadah baru yang memuat sekurang-kurangnya nomor batch dan tanggal kadaluarsa. Semua bahan obat harus disimpan pada kondisi yang sesuai untuk menjamin kestabilan bahan. Penataan perbekalan farmasi perlu memperhatikan peraturan yang berlaku dan kemudahan dalam melakukan kegiatan pelayanan serta memiliki nilai estetika. Penataan sedemikan rupa pada desain lemari harus menjamin kebersihan dan keamanan perbekalan farmasi senantiasa terjaga. 2.11.4 Administrasi Dalam menjalankan pelayanan kefarmasian di apotek, perlu dilaksanakan kegiatan administrasi yang meliputi administrasi umum dan administrasi pelayanan. Kegiatan administrasi umum meliputi pencacatan, pengarsipan, pelaporan narkotika dan psikotropika, dan dokumentasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Administrasi pelayanan meliputi pengarsipan resep, pengarsipan catatan pengobatan pasien dan pengarsipan hasil monitoring penggunaan obat.
22 2.12 Pengadaan Persediaan Apotek (Quick, 1997; Seto, Yunita&Lily, 2004) Pengadaan merupakan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan perbekalan farmasi berdasarkan fungsi perencanaan dan penganggaran. Tujuan pengadaan yaitu untuk memperoleh barang atau jasa yang dibutuhkan dalam jumlah yang cukup dengan kualitas harga yang dapat dipertanggungjawabkan dalam waktu dan tempat tertentu secara efektif dan efisien menurut tata cara dan ketentuan yang berlaku. Persyaratan yang perlu diperhatikan dalam fungsi pengadaan, yaitu: a. Doematig, artinya sesuai tujuan atau rencana. Pengadaan harus sesuai kebutuhan yang sudah direncanakam sebelumnya. b. Rechtmatig, artinya sesuai hak atau kemampuan. c. Wetmatig, artinya sistem atau cara pegadaannya harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku Model pengadaan secara umum berdasarkan waktu adalah sebagai berikut: a. Annual purchasing, yaitu pemesanan satu kali dalam satu tahun. b. Scheduled purchasing, yaitu pemesanan secara periodik dalam waktu tertentu misalnya mingguan, bulanan, dan sebagainya. c. Perpetual purchasing, yaitu pemesanan dilakukan setiap kali tingkat persediaan rendah. d. Kombinasi antara annual purchasing, scheduled purchasing, dan perpetual purchasing yaitu pengadaan dengan pemesanan yang bervariasi waktunya, seperti cara ini dapat diterapkan tergantung dari jenis obat yang dipesan. Misalnya obat impor yang mahal cukup dipesan sekali dalam setahun saja. Obat-obatan yang termasuk slow moving dapat dipesan secara periodik setiap tahun (scheduled purchasing), dan obat-obatan yang banyak diminati oleh pembeli maka pemesanan dilakukan secara perpetual purchasing. Setelah menentukan jenis pengadaan yang akan diterapkan berdasarkan frekuensi dan waktu pemesanan maka pengadaan atau pembelian barang di apotek dapat dilakukan dengan cara: a. Pembelian kontan
23 Pembelian kontan adalah pembelian di mana pihak apotek langsung membayar harga obat yang dibeli dari distributor. b. Pembelian kredit Pembelian kredit adalah pembelian yang pembayarannya sampai jatuh tempo. c. Konsinyasi (Titipan obat) Konsinyasi adalah titipan barang dari pemilik kepada apotek, dimana apotek bertindak sebagai agen komisioner yang menerima komisi bila barang tersebut terjual. Bila barang tersebut tidak terjual sampai batas waktu kadaluarsa atau waktu yang telah disepakati maka barang tersebut dapat dikembalikan pada pemiliknya. 2.13 Pengendalian Persediaan Apotek Aktivitas pengendalian persediaan bertujuan untuk pengaturan persediaan obat di apotek agar menjamin kelancaran pelayanan pasien di apotek secara efektif dan efisien. Unsur dari pengendalian persediaan ini mencakup penentuan cara pemesanan atau pengadaannya, menentukan jenis persediaan yang menjadi prioritas pengadaan, hingga jumlah persediaan yang optimal dan yang harus ada di apotek untuk menghindari kekosongan persediaan. Oleh karena itu, pengelolaan dan pengendalian persediaan obat di apotek berfungsi untuk memastikan pasien memperoleh obat yang diperlukan, mencegah risiko kualitas barang yang dipesan tidak baik sehingga harus dikembalikan, dan mendapatkan keuntungan dari pembelian dengan memilih distributor obat yang memberi harga obat bersaing, pengiriman cepat, dan kualitas obat yang baik. Salah satu cara untuk menentukan dan mengendalikan jenis persediaan yang seharusnya dipesan adalah dengan melihat pergerakan keluar masuknya obat dan mengidentifikasi jenis persediaan yang menjadi prioritas pemesanan. Metode pengendalian persediaan dengan menyusun prioritas tersebut dapat dibuat dilakukan dengan menggunakan metode sebagai berikut (Quick, 1997): 2.13.1 Analisis VEN (Vital, Esensial, Non-esensial) Pengendalian obat dengan memperhatikan kepentingan dan vitalitas obat yang harus selalu tersedia untuk melayani permintaan untuk pengobatan. Vital dalam analisis VEN maksudnya adalah obat untuk penyelamatan hidup manusia
24 atau untuk pengobatan karena penyakit yang mengakibatkan kematian. Pengadaan obat golongan ini diprioritaskan. Contohnya adalah obat-obat hipertensi dan diabetes. Obat esensial adalah obat yang banyak diminta untuk digunakan dalam tindakan atau pengobatan penyakit terbanyak, yang resepnya sering datang ke apotek. Dengan kata lain, obat-obat golongan ini adalah obat yang fast moving. Obat non-esensial meliputi aneka ragam perbekalan farmasi yang digunakan untuk penyakit yang sembuh sendiri. 2.13.2 Analisis ABC Analisis ABC disusun berdasarkan penggolongan persediaan yang mempunyai nilai harga yang paling tinggi. Analisis ABC merupakan metode pembuatan grup atau penggolongan berdasarkan peringkat nilai dari nilai tertinggi hingga terendah, dan dibagi menjadi 3 kelompok besar yang disebut kelompok A, B dan C. Kelompok A adalah inventory dengan jumlah sekitar 20% dari item tapi mempunyai nilai investasi sekitar 75% 80% dari total nilai inventory. Kelompok B adalah inventory dengan jumlah sekitar 30% dari item tapi mempunyai nilai investasi sekitar 15% 20% dari total nilai inventory. Sedangkan kelompok C adalah inventory dengan jumlah sekitar 50% 60% dari item tapi mempunyai nilai investasi sekitar 5% 10% dari total nilai inventory. Besarnya persentase ini adalah kisaran yang bisa berubah-ubah dan berbeda antara perusahaan satu dengan yang lainnya (Widiyanti, 2005). 2.13.3 Analisis VEN-ABC Mengkategorikan item berdasarkan volume dan nilai penggunaannya selama periode waktu tertentu, biasanya 1 tahun. Analisis VEN-ABC menggabungkan analisis ABC dan VEN dalam suatu matriks sehingga analisis menjadi lebih tajam. Matriks dapat dibuat sebagai berikut: V E N A VA EA NA B VB EB NB C VC EC NC Gambar 2.3 Matriks VEN-ABC
25 Matriks di atas dapat dijadikan dasar dalam menetapkan prioritas untuk menyesuaikan anggaran atau perhatian dalam pengelolaan persediaan. Semua obat vital dan esensial dalam kelompok A, B, dan C hendaknya disediakan, tetapi kuantitasnya disesuaikan dengan kebutuhan konsumen apotek. Untuk obat nonesensial dalam kelompok A tidak diprioritaskan, sedangkan kelompok B dan C pengadaannya disesuaikan dengan kebutuhan. 2.14 Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek Pharmaceutical Care (PC) seringkali diartikan sebagai Asuhan Kefarmasian atau Pelayanan Kefarmasian. Pharmaceutical care adalah tanggung jawab farmakoterapi dari seorang Apoteker untuk mencapai dampak tertentu dalam meningkatkan kualitas hidup pasien. PC diimplementasikan dengan Good Pharmacy Practice (Cara Praktek di Apotek yang Baik). Dengan demikian Good Pharmacy Practice merupakan suatu pedoman yang digunakan untuk menjamin bahwa layanan yang diberikan Apoteker kepada setiap pasien telah memenuhi kualitas yang tepat. Pedoman tersebut perlu disusun secara nasional dengan inisiatif dari organisasi profesi Apoteker dan pemerintah. Dengan adanya pedoman tersebut diharapkan bahwa masyarakat dapat menggunakan obat-obatan dan produk serta jasa kesehatan dengan lebih tepat sehingga tercapai tujuan terapi yang diinginkan. Pelaksanaan Good Pharmacy Practice di farmasi komunitas adalah sebagai berikut: a. Melakukan serah terima obat kepada pasien atas resep dokter dengan beberapa kriteria. b. Melakukan pemilihan obat pada pasien dalam upaya pengobatan diri sendiri (swamedikasi). c. Memonitor kembali penggunaan obat oleh pasien akan tujuan yang optimal melalui telepon atau kunjungan residensial. d. Memberikan informasi tentang kesehatan dan obat, memberdayakan masyarakat tentang penggunaan obat yang baik dan upaya dalam pencegahan penyakit di masyarakat.
26 Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004, standar pelayanan kefarmasian di apotek meliputi peayanan resep, promosi dan edukasi, serta pelayanan residensial (home care). 1) Pelayanan Resep a. Skrining Resep Apoteker melakukan skrining resep meliputi: 1. Persyaratan Administratif a) Nama, SIP, dan alamat dokter b) Tanggal penulisan resep c) Tanda tangan/paraf dokter penulis resep d) Nama, alamat, umur, jenis kelamin, dan berat badam pasien e) Nama obat, potensi, dosis, jumlah yang diminta f) Cara pemakaian yang jelas g) Informasi lainnya 2. Kesesuaian farmasetik: bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas, cara dan lama pemberian. 3. Pertimbangan klinis: adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian (dosis, durasi, jumlah obat, dan lain-lain). Jika ada keraguan terhadap resep hendaknya dikonsultasikan kepada dokter penulis resep dengan memberikan pertimbangan dan alternatif sepenuhnya bila perlu menggunakan persetujuan setelah pemberitahuan. b. Penyiapan Obat 1. Peracikan Merupakan kegiatan menyiapkan, menimbang, mencampur, mengemas, dan memberikan etiket pada wadah. Dalam melaksanakan peracikan obat harus dibuat suatu prosedur tetap dengan memperhatikan dosis, jenis, dan jumlah obat, serta penulisan etiket yang benar. 2. Etiket Etiket harus jelas dan dapat dibaca. 3. Kemasan obat yang diserahkan Obat hendaknya dikemas dengan rapi dalam kemasan yang cocok sehingga terjaga kualitasnya.
27 4. Penyerahan obat Sebelum obat diserahkan pada pasien harus dilakukan pemeriksaan akhir terhadap kesesuain antara obat dengan resep. Penyerahan obat dilakukan oleh apoteker disertai pemberian informasi obat dan konseling kepada pasien dan tenaga kesehatan. 5. Informasi obat Apoteker harus memberikan informasi yang benar, jelas dan mudah dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana, dan terkini. Informasi obat pada pasien sekurang-kurangnya meliputi: cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas, serta makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi. 6. Konseling Apoteker harus memberikan konseling, mengenai sediaan farmasi, pengobatan dan perbekalan kesehatan lainnya sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien atau yang bersangkutan terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau penggunaan salah sediaan farmasi atau perbekalan lainnya. Untuk menderita penyakit tertentu, seperti kardiovaskuler, diabetes, asma, dan penyakit kronis lainnya, apoteker harus memberikan konseling secara berkelanjutan. 7. Monitoring Penggunaan Obat Setelah penyerahan obat kepada pasien, apoteker harus melaksanakan pemantauan penggunaan obat, terutama untuk pasien tertentu, seperti kardiovaskuler, diabetes, asma, dan penyakit kronis lainnya. 2) Promosi dan Edukasi Dalam rangka pemberdayaan masyarakat, apoteker harus berpartisipasi secara aktif dalam promosi dan edukasi. Apoteker ikut membantu diseminasi informasi, antara lain dengan penyebaran leaflet/brosur, poster, penyuluhan, dan lain-lainnya. 3) Pelayanan Residensial Apoteker sebagai care giver diharapkan juga dapat melakukan pelayanan kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk kelompok lansia
28 dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya. Untuk aktivitas ini, apoteker harus membuat catatan berupa catatan pengobatan (medication record). 2.14.1 Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) di bidang kefarmasian merupakan rangkaian kegiatan interaksi positif antara Apoteker dengan pasien, keluarga pasien, atau dengan tenaga kesehatan. Tujuannya adalah untuk membangun hubungan dan kepercayaan dengan pasien, mendapatkan informasi dari pasien, memberikan instruksi pada pasien yang berkaitan dengan obat, serta untuk memberikan dukungan maupun semangat kepada pasien supaya penyakitnya cepat sembuh. Informasi yang diberikan mengenai efek samping, dosis, cara penggunaan, interaksi obat, harga obat, dan lain-lain. Informasi yang diberikan haruslah benar, jelas, dan mudah dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana, dan terkini. Informasi obat pada pasien sekurang-kurangnya meliputi cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas, serta makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi. Seorang Apoteker harus dapat menyarankan pengobatan yang rasional dan dapat memberikan alternatif pengobatan lain yang lebih aman dan efektif. Latar belakang perlunya KIE ialah: a. Penggunaan obat dalam jangka waktu yang lama secara kontinyu dapat mengakibatkan ketidakpatuhan pasien. Status ekonomi pasien maupun adanya interaksi antara pasien dengan tenaga kesehatan yang kurang baik juga termasuk salah satu penyebab ketidakpatuhan pasien. Ketidakpatuhan ini dapat terjadi dalam bentuk resep tidak ditebus oleh pasien, resep yang lama tidak ditebus kembali, atau dosis yang tidak efektif membuat pasien menggandakan dosis sendiri. b. Penggunaan obat yang tidak rasional dapat berupa obat tidak tepat indikasi, tidak tepat pasien, jenis obat, dosis, rute pemberian, waktu pemberian, durasi pemberian dan obat tidak terjangkau oleh pasien. c. Penggunaan obat yang tidak benar seperti pada teknik penggunaan obat oleh pasien, beberapa bentuk sediaan obat yang memerlukan teknik khusus dalam
29 penggunaannya agar lebih efektif antara lain obat asma yang menggunakan inhaler, suppositoria, dan obat tetes. KIE dapat memberikan manfaat, baik bagi pasien, keluarga pasien, tenaga kesehatan, maupun Apoteker. Beberapa manfaat tersebut, antara lain : a. Bagi pasien, keluarga, atau tenaga kesehatan 1. Menurunkan kesalahan dalam menggunakan obat 2. Menurunkan ketidakpatuhan 3. Menurunkan efek samping obat 4. Menurunkan biaya pengobatan 5. Meningkatkan pemahaman tentang penyakit 6. Meningkatkan penggunaan obat yang rasional a. Bagi Apoteker 1. Meningkatkan citra profesi 2. Meningkatkan kepuasan kerja 3. Menarik customer Dalam memberikan informasi obat, seorang Apoteker harus memiliki ciriciri sebagai berikut: a. Mandiri, berarti Apoteker bebas dari segala bentuk keterikatan dengan pihak lain sehingga menyebabkan informasi yang diberikan menjadi tidak objektif. b. Objektif c. Seimbang, berarti Apoteker dalam memberikan informasi harus melihat dariberbagai sudut pandang yang mungkin berlawanan. d. Ilmiah, berarti Apoteker dalam menyampaikan informasi harus berdasarkansumber data atau referensi yang dapat dipercaya. e. Berorientasi pada pasien, berarti informasi yang disampaikan tidak hanya mencakup informasi produk, seperti ketersediaan, kesetaraan generik, melainkan juga mencakup informasi yang mempertimbangkan kondisi pasien. 2.14.2 Konseling Salah satu bentuk standar pelayanan kefarmasian yang dilakukan Apoteker di apotek adalah pemberian konseling. Apoteker harus memberikan konseling mengenai sediaan farmasi, pengobatan, dan perbekalan kesehatan lainnya,
30 sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien atau pasien dapat terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau penggunaan obat yang salah. Untuk penderita penyakit tertentu seperti kardiovaskular, diabetes, TBC, asma, dan penyakit kronis lainnya, Apoteker harus memberikan konseling secara berkelanjutan. 2.14.3 Swamedikasi Swamedikasi adalah melakukan pengobatan mandiri tanpa melalui dokter ketika sedang sakit. Umumnya, swamedikasi dilakukan untuk mengatasi gangguan kesehatan ringan mulai dari batuk pilek, demam, sakit kepala, maag, masalah pada kulit, hingga iritasi ringan pada mata. Konsep modern dari swamedikasi adalah upaya pencegahan terhadap penyakit, dengan mengonsumsi vitamin dan suplemen kesehatan atau suplemen makanan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Beberapa hal yang menjadi faktor berkembangnya swamedikasi di masyarakat adalah: a. Harga obat yang melambung tinggi dan biaya pelayanan kesehatan yang semakin mahal mendorong masyarakat berinisiatif untuk mengobati dirinya sendiri dengan obat-obatan yang tersedia di pasaran tanpa melalui konsultasi dengan dokter. Biasanya penggunaan obat yang dipilih adalah kategori obat OTC dan obat DOWA. b. Pergeseran pola pengobatan dari kuratif rehabilitatif menjadi preventif rehabilitatif. Penyebabnya adalah tingkat pengetahuan masyarakat yang semakin tinggi; penghasilan per individu yang meningkat; teknologi informasi semakin cepat, mudah, dan jelas; dan lain-lain. Untuk itu, upaya yang dilakukan adalah pencegahan terhadap kemungkinan terserang penyakit, sehingga obat-obatan yang dicari adalah obat-obat bebas dan suplemen makanan atau suplemen kesehatan. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan saat melakukan swamedikasi, antara lain: a. Membaca secara teliti informasi yang tertera pada kemasan atau brosur di dalam kemasan. Informasi yang diberikan meliputi komposisi zat aktif,
31 indikasi, kontraindikasi, efek samping, interaksi obat, dosis, dan cara penggunaan. b. Memilih obat dengan jenis kandungan zat aktif sesuai keperluan, misalnya apabila gejala penyakit hanya batuk maka obat yang dipilih hanya mengatasi batuk saja, tidak perlu obat penurun demam. c. Penggunaan obat hanya jangka pendek (seminggu), jika gejala menetap atau memburuk maka segera konsultasikan ke dokter. d. Memperhatikan aturan pemakaian, bagaimana cara memakainya, berapa jumlahnya, berapa kali sehari, dipakai sebelum atau sesudah makan atau menjelang tidur, serta berapa lama pemakaiannya. Perlu diperhatikan masalah kontraindikasi (pada keadaan mana obat tidak boleh digunakan) dan bagaimana cara penyimpanan obat (obat disimpan dimana dan apakah sisa obat yang disimpan dapat digunakan lagi).
BAB 3 TINJAUAN KHUSUS APOTEK ATRIKA 3.1 Sejarah dan Lokasi Apotek Atrika didirikan pada tanggal 21 Juli 2001 dengan nomor SIA 1387.01/KANWIL/SIA/01/0. Pemilik Sarana Apotek (PSA) ialah Bapak Winardi Hendrayanta dan sebagai Apoteker Pengelola Apotek (APA) Atrika ialah Bapak Dr. Harmita, Apt. Apotek Atrika terletak di Jalan Kartini Raya No. 34A Jakarta Pusat yang merupakan kawasan pemukiman penduduk. Terletak di jalan yang mudah dijangkau oleh kendaraan dan dilalui oleh angkutan umum serta merupakan jalan dua arah dengan badan jalan yang tidak terlalu lebar. Di sekitar apotek terdapat banyak praktek dokter umum, dokter spesialis, dan dokter hewan. 3.2 Tata Ruang Bagian depan apotek memiliki halaman yang dapat digunakan sebagai tempat parkir. Bangunannya terbagi menjadi dua bagian, yaitu ruang depan dan ruang dalam. Ruang depan terdiri dari ruang tunggu, counter kasir, tempat penerimaan resep sekaligus tempat penyerahan obat, dan etalase untuk obat OTC. Ruang dalam terdiri atas ruang racik yang dikelilingi lemari untuk obat ethical, kamar mandi, dan tempat pencucian atau wastafel. 3.3 Penataaan Obat Penataan obat dilakukan berdasarkan farmakologi obat dan jenis sediaannya yang kemudian disusun berdasarkan abjad. Penggolongan obat secara farmakologi yang terdapat di apotek, diantaranya antibiotika, antimikroba, antivirus, vitamin, saluran kemih, antithyroid, antimigrain, analgesik/antiinflamasi, saluran pencernaan, saluran pernafasan, antihistamin, kortikosteroid, kontrasepsi/hormon, antipsikosis, kardiovaskular dan golongan lain. Bentuk sediaan dibagi menjadi tiga, yaitu sediaan oral padat (tablet, kapsul), sediaan oral cair (sirup, suspensi), dan sediaan topikal (salep, krim, suppositoria, obat tetes mata, obat tetes telinga, dan sebagainya). Selain itu, juga terdapat lemari 32
33 terpisah untuk menyimpan obat fast moving, obat generik berlogo, obat golongan narkotika, psikotropika, dan obat yang telah mendekati waktu kadaluarsa. 3.4 Struktur Organisasi Pembentukan struktur organisasi dan pembagian tugas serta wewenang tiap jabatan dilakukan oleh APA. Seorang APA harus dapat membentuk struktur organisasi apotek, disertai dengan uraian fungsi dan tugas, wewenang dan tanggung jawabnya. APA harus mengetahui kegiatan apa saja yang akan dilakukan dan tipe orang yang bagaimana yang dapat melaksanakan fungsi kegiatan tersebut sehingga apotek dapat beroperasional sesuai rencana. Apotek Atrika mempunyai beberapa orang karyawan dengan rincian sebagai berikut: a. Apoteker, yaitu: Apoteker Pengelola Apotek : 1 orang Apoteker Pendamping : 1 orang b. Tenaga teknis farmasi, yaitu: Asisten Apoteker : 2 orang Juru resep : 1 orang c. Tenaga non teknis farmasi, yaitu: Tenaga keuangan dan kasir : 2 orang Kurir : 1 orang Petugas Kebersihan : 1 orang Gambar struktur organisasi Apotek Atrika dapat dilihat pada Lampiran 8. 3.5 Tugas dan Fungsi Jabatan 3.5.1 Apoteker Pengelola Apotek (APA) Tugas dan tanggung jawab APA adalah sebagai berikut: a. Menyelenggarakan pelayanan kefarmasian yang sesuai dengan fungsinya (apotek sebagai tempat pengabdian profesi) dan memenuhi segala kebutuhan perundang-undangan di bidang perapotekan yang berlaku. b. Memimpin seluruh kegiatan manajerial apotek termasuk mengkoordinasikan dan mengawasi dinas kerja karyawan lainnya antara lain mengatur daftar
34 giliran kerja, menetapkan pembagian beban kerja, dan tanggung jawab masing-masing karyawan. c. Secara aktif berusaha sesuai dengan bidang tugasnya untuk meningkatkan omset penjualan dan mengembangkan hasil usaha apotek dengan mempertimbangkan masukan dari karyawan lainnya untuk perbaikan pelayanan dan kemajuan apotek. d. Melayani permintaan obat bebas dan resep dokter, mulai dari penerimaan resep, menyiapkan obat, meracik, menulis etiket, mengemas, sampai dengan menyerahkan obat. e. Memeriksa kebenaran obat yang akan diserahkan kepada pasien meliputi bentuk sediaan obat, jumlah obat, nama obat, nomor resep, nama pasien kemudian menyerahkan obat kepada pasien. f. Memberikan pelayanan informasi obat kepada pasien untuk mendukung penggunaan obat yang rasional. Apoteker harus memberikan informasi yang benar, jelas dan mudah dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana, dan terkini. g. Membuat salinan resep dan kuintasi bila dibutuhkan. h. Mengatur dan mengawasi pengamanan hasil penjualan tunai harian. i. Bertanggung jawab atas pengadaan obat, terutama obat-obat golongan narkotika dan psikotropika. 3.5.2 Apoteker Pendamping Tugas dan tanggung jawab Apoteker Pendamping adalah sebagai berikut: a. Melaksanakan tugas dan tanggung jawab APA ketika APA sedang tidak berada di tempat. b. Bertanggung jawab atas pengadaan obat, kecuali obat-obat golongan narkotika dan psikotropika. 3.5.3 Asisten Apoteker Tugas dan fungsi Asisten Apoteker adalah sebagai berikut: a. Melakukan pendataan kebutuhan barang.
35 b. Mengatur, mengontrol, dan menyusun obat pada tempat penyimpanan obat di ruang peracikan. c. Melayani permintaan obat bebas dan obat bebas terbatas. d. Memberi harga untuk resep-resep yang masuk dan memeriksa kelengkapan resep. e. Memeriksa kesesuaian obat yang akan diserahkan kepada pasien meliputi bentuk sediaan obat, jumlah obat, nama obat, nomor resep, nama pasien kemudian menyerahkan obat kepada pasien dan memberikan informasi tentang penggunaan obat tersebut serta informasi tambahan lain yang diperlukan. f. Mencatat keluar masuk barang. g. Melakukan pengecekan terhadap obat-obat yang mempunyai kadaluarsa. h. Menyusun daftar masuknya barang dan menandatangani faktur obat yang masuk setiap harinya. i. Mencatat penerimaan uang setelah dihitung terlebih dahulu, begitu juga dengan pengeluaran yang harus dilengkapi dengan kuitansi, nota dan tanda setoran yang sudah diparaf APA atau karyawan yang ditunjuk. 3.5.4 Juru Resep Tenaga yang membantu Asisten Apoteker dalam meracik obat di apotek adalah juru resep. Tugas dan kewajiban juru resep adalah: a. Membantu tugas Apoteker dan Asisten Apoteker dalam penyediaan atau pembuatan obat jadi maupun obat racikan. b. Menyiapkan dan membersihkan alat-alat peracikan serta melaporkan hasil sediaan yang sudah jadi kepada Asisten Apoteker. c. Membuat obat-obat racikan standar di bawah pengawasan Asisten Apoteker. d. Menjaga kebersihan apotek. 3.5.5 Kasir Tugas dan tanggung jawab kasir adalah sebagai berikut: a. Menerima pembayaran tunai maupun dengan kartu kredit. b. Menerima barang masuk.
36 c. Melayani penjualan obat bebas dan bebas terbatas. d. Mencatat, menghitung, dan menyimpan uang hasil penjualan. e. Menyetor uang hasil penjualan ke bagian keuangan. f. Bertanggung jawab terhadap kesesuaian uang yang masuk dengan penjualan. 3.5.6 Keuangan Tugas dan kewajiban bagian keuangan adalah sebagai berikut: a. Bertanggung jawab terhadap kondisi aliran kas yang terjadi. b. Menerima uang yang disetor oleh kurir dan penjualan obat tunai, baik obat bebas dan bebas terbatas maupun penjualan obat dengan resep. c. Mengeluarkan uang yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan operasional apotek, seperti listrik dan telepon. d. Menyimpan bukti pembayaran dan pembelian barang, serta bukti pertukaran faktur dengan PBF. 3.5.7 Kurir Tugas dari seorang kurir adalah sebagai berikut: a. Mengantar obat dan sediaan farmasi untuk pelayanan pesan antar. b. Menjamin obat yang tepat sampai kepada pasien yang tepat. c. Menerima uang hasil pembayaran obat. 3.5.8 Petugas Kebersihan Tugas dan tanggung jawab pesuruh adalah sebagai berikut: a. Menjaga kebersihan apotek. b. Menjamin kerapian apotek. c. Membantu petugas apotek lain yang memerlukan bantuan non-teknis kefarmasian. 3.6 Kegiatan di Apotek Atrika Tenaga kerja Apotek Atrika bekerja secara bergantian berdasarkan jam kerja yang telah dibagi menjadi dua shift, yaitu shift I pukul 08.00-16.00 dan shift II pukul 16.00-22.00. Apotek Atrika buka hari Senin sampai Jumat mulai pukul
37 08.00-22.00 WIB, hari Sabtu pukul 08.00-16.00, sedangkan hari Minggu dan hari libur nasional tutup. Kegiatan yang dilakukan di Apotek Atrika dikelompokkan menjadi dua bidang, yaitu kegiatan di bidang teknis kefarmasian dan kegiatan non-teknis kefarmasian. 3.6.1 Kegiatan Teknis Kefarmasian 3.6.1.1 Pengelolaan Perbekalan Farmasi a. Perencanaan Barang Perencanaan barang di Apotek Atrika berdasarkan pola konsumsi dengan melihat data konsumsi obat periode sebelumnya. b. Pengadaan Barang APA merupakan orang yang bertanggung jawab dalam pengadaan perbekalan farmasi, tetapi untuk menjaga kelancaran dan ketepatan persediaan barang, Asisten Apoteker dapat melakukan pengadaan barang untuk keperluan mendesak yang dilakukan pada pagi hari dengan surat pesanan sementara yang diparaf oleh Asisten Apoteker. Pengadaan barang di apotek, baik jenis maupun jumlah barang disesuaikan dengan kondisi keuangan dan kategori arus barang fast moving atau slow moving. Pengadaan juga didasarkan pada obat-obat yang banyak diresepkan oleh dokter yang praktek di sekitar apotek. Pengadaan barang dilakukan dengan cara COD (cash on delivery) dan kredit. Selain dengan COD dan kredit, terdapat juga cara konsinyasi di mana PBF menitipkan barang untuk dijual di apotek. Konsinyasi adalah penjualan dengan cara pemilik menitipkan barang kepada pihak lain dalam hal ini apotek, untuk dijualkan dengan harga dan syarat yang telah diatur. COD adalah pembelian barang di mana pembayaran dilakukan secara langsung pada saat barang datang, sedangkan pembayaran yang dilakukan secara kredit dilakukan setelah jatuh tempo. c. Pemesanan Barang Pemesanan barang kepada PBF dilakukan dengan menggunakan surat pesanan. Apotek memesan barang langsung kepada salesman atau melalui telepon. Jenis barang yang dipesan dilihat berdasarkan catatan pada buku defekta.
38 d. Penerimaan Barang Asisten Apoteker memeriksa barang yang diterima berdasarkan surat pesanan dan faktur, baik kuantitas maupun kualitas (tanggal kadaluarsa, keadaan fisik barang, kode produksi/bets dan lain-lain). Apabila barang yang diterima sesuai dengan surat pesanan, maka petugas selanjutnya menandatangani,memberi stempel apotek pada faktur dan memberi nomor faktur untuk kemudian dicatat di buku penerimaan barang yang berisi tanggal penerimaan, nomor urut faktur dan nama PBF. Selanjutnya, faktur asli diserahkan kembali ke PBF dan salinan faktur disimpan di apotek sebanyak dua lembar. Penerimaan dicatat dalam buku pemasukan obat ethical yang berisi tanggal penerimaan, nama obat dan jumlah barang yang diterima (satuan terkecil) dan tanggal kadaluarsa. Kemudian dilakukan pencatatan faktur ke buku faktur yang berisi tanggal faktur, nama PBF, jumlah barang (satuan terbesar), nama obat, tanggal kadaluwarsa, harga satuan, potongan harga dan PPN. Jumlah barang yang diterima kemudian ditambahkan ke dalam kartu stok besar (kartu gudang) dan kartu stok kecil. Bila terjadi perubahan harga barang maka perubahan harga dicatat di buku perubahan harga kemudian juga di buku daftar harga barang dan komputer kasir. e. Penyimpanan Barang Apotek Atrika melakukan penyimpanan barang berdasarkan bentuk sediaan obat dan menurut abjad, baik untuk obat ethical, maupun untuk obat OTC. Obat disusun berdasarkan sistem FIFO (First In First Out) dan FEFO (First Expired First Out), di mana obat yang memiliki tanggal kadaluarsa terlebih dahulu diletakkan di bagian yang paling depan dan/atau paling atas, agar keluar terlebih dahulu. Selain itu, terdapat juga lemari khusus untuk menyimpan barang-barang yang mendekati waktu kadaluarsa. Penyimpanan narkotika dilakukan di lemari khusus yang menempel di dinding dan kunci lemari tersebut disimpan oleh Apoteker Pendamping. f. Pengeluaran Barang Apotek Atrika melakukan pengeluaran barang dengan sistem FEFO (First Expired First Out), yaitu barang yang memiliki batas kadaluarsa lebih awal dikeluarkan terlebih dahulu. Barang yang keluar dari penjualan bebas dicatat pada
39 buku penjualan barang bebas (OTC), sedangkan barang yang keluar dari penjualan resep dicatat pada buku resep dokter. g. Pemeriksaan dan Pencatatan Stok Barang Pemeriksaan dan pencatatan stok barang dilihat dari buku penjualan dan buku resep dokter yang dilakukan setiap hari. Jumlah barang yang ada dicocokkan dengan jumlah yang tertera pada kartu stok kecil. Barang yang habis dicatat pada buku defekta untuk dilakukan pemesanan. h. Pembuatan Sediaan Standar (Anmaak) Obat-obat yang dibuat oleh apotek berdasarkan resep-resep standar dalam buku resmi untuk dijual bebas ataupun berdasarkan resep dokter disebut dengan sediaan standar. Beberapa sediaan standar yang dibuat di Apotek Atrika adalah minyak kayu putih, minyak telon, lisol, obat batuk putih, obat batuk hitam, obat biang keringat, rivanol, salicyl spiritus, dan bedak salisilat. Sediaan standar ini ditempatkan di rak obat bebas dan disusun berdasarkan abjad. 3.6.1.2 Pengelolaan Narkotika a. Pengadaan Narkotika Kegiatan ini telah dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Penerimaan narkotika dilakukan oleh Apoteker Pendamping atau Asisten Apoteker yang memiliki SIK dan bukti penerimaannya diterima dan disimpan oleh Apoteker Pengelola Apotek. Gambar Surat Pesanan (SP) Narkotika dapat dilihat pada Lampiran 16. b. Penyimpanan Narkotika Narkotika disimpan di dalam lemari khusus yang menempel di dinding dan kuncinya dipegang oleh Apoteker Pendamping. c. Pelayanan Narkotika Pelayanan resep yang mengandung narkotika telah dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku. Setiap pengeluaran narkotika harus dicatat di kartu stok dan diperiksa kesesuaian jumlahnya. Narkotika pada resep digaris bawah merah, dan resepnya disimpan terpisah dari resep lain.
40 d. Pelaporan Narkotika Laporan penggunaan narkotika dibuat setiap bulan dan dikirim ke Suku Dinas Kesehatan Jakarta Pusat, paling lambat tanggal 10 setiap bulannya dengan tembusan kepada Balai Besar POM dan untuk arsip. 3.6.1.3 Pengelolaan Psikotropika a. Pengadaan Psikotropika Pemesanan psikotropika dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Gambar Surat Pesanan (SP) Psikotropika dapat dilihat pada Lampiran 18. b. Penyimpanan Psikotropika Di Apotek Atrika, psikotropika disimpan dalam lemari khusus dan kunci lemari dipegang oleh Apoteker Pendamping. c. Pelayanan Psikotropika Pelayanan resep prikotropika diserahkan atas dasar resep dokter dan salinan resep. Resep yang mengandung psikotropika disimpan terpisah dari resep lain. d. Pelaporan Psikotropika Laporan penggunaan psikotropika dibuat setiap bulan dan dikirimkan ke Suku Dinas Kesehatan Jakarta Pusat paling lambat setiap tanggal 10 setiap bulannya dengan tembusan kepada balai Besar POM dan untuk arsip. Gambar Laporan Penggunaan Psikotropika dapat dilihat pada Lampiran 19. 3.6.1.4 Pelayanan Apotek a. Pelayanan Obat dengan Resep Proses pelayanan obat dengan resep di Apotek Atrika dilakukan sesuai dengan prinsip HTKP (Harga, Timbang, Koreksi, Penyerahan). Resep dokter dari pasien diterima oleh Asisten Apoteker, kemudian dilakukan skrining resep dan diberi harga pada huruf H dari HTKP berdasarkan buku daftar harga dan pada huruf H diberi paraf. Harga obat yang telah disetujui pasien dibayarkan di kasir dan dicatat alamat serta nomor telepon pasien. Resep dibawa ke bagian peracikan untuk dikerjakan oleh Asisten Apoteker dan juru resep. Setelah semua bahan dalam resep ditimbang, huruf T pada HTKP
41 diberi paraf. Resep yang telah selesai dikerjakan dan diberi etiket diperiksa oleh Apoteker atau Asisten Apoteker, kemudian huruf K dari HTKP diberi paraf. Resep yang telah diperiksa kemudian diserahkan kepada pasien. Apoteker yang menyerahkan obat menyampaikan informasi yang berkaitan dengan obat tersebut memberikan paraf pada huruf P pada HTKP. Resep yang telah selesai dilayani setiap harinya dikumpulkan berdasarkan nomor urut resep dan dicatat dalam buku resep. Pelayanan resep secara tunai sama dengan pelayanan resep secara kredit, tetapi untuk pelayanan resep secara kredit, kuitansi pembayarannya tidak diserahkan ke pasien melainkan disimpan untuk dilakukan penagihan pada awal bulan berikutnya. b. Pelayanan Obat Tanpa Resep Apotek Atrika melakukan penjualan obat tanpa menggunakan resep dokter (obat bebas, obat bebas terbatas, dan obat wajib apotek) dan penjualan sediaan lain di luar obat-obatan. Pembayarannya dilakukan di kasir secara tunai kemudian barang dan struk pembayaran diserahkan kepada pembeli. 3.6.2 Kegiatan Non-Teknis Kefarmasian 3.6.2.1 Kegiatan Administrasi a. Administrasi Personalia Apotek Atrika melakukan administrasi personalia yang berkaitan dengan semua hal mengenai urusan pegawai yang meliputi absensi, gaji, hak cuti, dan fasilitas lain yang berhubungan dengan pegawai. b. Administrasi Umum Apotek Atrika melakukan administrasi umum yang meliputi laporan penggunaan bahan baku dan sediaan jadi narkotika, laporan penggunaan psikotropika dan segala hal yang berhubungan dengan urusan administrasi. c. Administrasi Penjualan Apotek Atrika melakukan kegiatan administrasi penjualan dengan melakukan pencatatan terhadap semua penjualan resep dan penjualan bebas secara tunai. Pengaturan juga dilakukan terhadap harga jual yang dimasukkan ke dalam buku
42 daftar harga jual yang dijadikan sebagai acuan. Apabila terdapat perubahan harga, maka harga yang tertera pada buku harga jual akan diubah. d. Administrasi Pembelian Apotek Atrika melakukan kegiatan administrasi pembelian dengan melakukan pencatatan terhadap semua pembelian di buku pembelian dan pengumpulan faktur-faktur berdasarkan debitur. Tanggal tukar faktur yang ditentukan oleh Apotek Atrika adalah setiap tanggal 5 dan 15, sedangkan tanggal pembayaran akan ditentukan pada tanggal tukar faktur. e. Administrasi Pajak Apotek Atrika melakukan administrasi pajak dengan melakukan pencatatan dan pengumpulan faktur pajak serta menghitung jumlah pajak yang harus dibayarkan oleh apotek. Kegiatan administrasi pajak juga menangani pajak lain yang harus dibayarkan oleh apotek, seperti pajak reklame. f. Administrasi Pergudangan Apotek Atrika melakukan administrasi pergudangan dengan melakukan pencatatan pemasukan dan pengeluaran obat menggunakan kartu stok yang tersedia untuk setiap obat sehingga dapat diketahui sisa persediaan. g. Administrasi Piutang Pengumpulan kuitansi piutang dilakukan terhadap penjualan kredit kepada suatu badan sosial dan melakukan pencatatan apabila telah dilunasi. 3.6.2.2 Sistem Administrasi Apotek Atrika memiliki sistem administrasi yang dikelola dengan baik, dimulai dari perencanaan, pengadaan, pengelolaan, dan pelaporan barang yang masuk dan keluar, pengelolaan ini dilakukan oleh Apoteker dan Asisten Apoteker yang dibantu oleh karyawan administrasi. Kelengkapan administrasi di Apotek Atrika meliputi:
43 a. Buku Defekta Buku ini digunakan untuk mencatat daftar nama obat atau sediaan yang telah habis atau hampir habis sehingga harus segera dipesan agar dapat memenuhi kebutuhan di apotek. Dengan adanya buku ini, proses pemesanan menjadi lebih cepat sehingga tersedianya barang di apotek dapat terkontrol dan terjamin dengan baik. b. Surat Pesanan (SP) Surat ini digunakan untuk melakukan pemesanan barang ke PBF. Terdiri dari 2 lembar, di mana 1 lembar pertama untuk diberikan kepada PBF dan lembar terakhir untuk keperluan arsip di apotek. Dalam surat pesanan terdapat tanggal pemesanan, nama PBF yang ditunjuk, nomor dan nama barang, jumlah pesanan, tanda tangan pemesanan, dan stempel apotek. Gambar surat pesanan (SP) Apotek Atrika dapat dilihat pada Lampiran 15. c. Buku Penerimaan Barang Buku penerimaan barang digunakan untuk mencatat surat faktur barang yang masuk. Dalam buku ini tercantum tanggal, nomor urut faktur, nama PBF, nomor faktur, jumlah barang, nama barang, tanggal kadaluarsa, harga satuan, diskon, harga setelah potongan, dan jumlah harga seluruh barang. Buku penerimaan barang depan dan obat ethical dipisahkan. d. Buku Daftar Harga Buku ini berfungsi untuk mencatat harga barang untuk penjualan bebas dan untuk penjualan resep. Pada buku ini tercantum nama obat dengan merek dagang, generik, maupun bahan baku. Penyusunan nama obat berdasarkan abjad dan dipisahkan antara obat dengan nama dagang dan generik. e. Kartu Stok Besar Kartu ini berfungsi untuk mencatat barang-barang yang masuk atau baru dibeli. Kartu stok besar memuat tanggal penerimaan barang, jumlah barang, nama PBF, nomor faktur, harga satuan, diskon, nomor batch, dan tanggal kadaluarsa.
44 f. Kartu Stok Kecil Kartu ini berfungsi untuk mencatat jumlah barang yang keluar dan masuk serta sisa stok barang di lemari. Kartu stok kecil memuat tanggal keluar/masuk barang, keterangan (nomor resep/penjualan untuk pengeluaran barang, tanggal kadaluarsa untuk pemasukan barang), jumlah yang masuk, jumlah yang keluar, dan sisa stok barang pada lemari. g. Buku Pemasukan Obat Ethical Buku ini berfungsi untuk mencatat pemasukan obat-obat ethical. Di dalam buku ini tercantum nama barang, jumlah obat ethical satuan terkecil, dan tanggal kadaluarsa. h. Buku Pemasukan Obat Over The Counter (OTC) Buku ini berfungsi untuk mencatat pemasukan obat-obat OTC. i. Buku Resep Dokter Buku ini berfungsi untuk mencatat pengeluaran obat berdasarkan resep dokter. Buku ini memuat tanggal dibuatnya resep, nomor resep, nama obat, jumlah obat serta bentuk dan jumlah sediaan yang dibuat. j. Buku Penjualan Obat Bebas Buku ini berfungsi untuk mencatat pengeluaran obat-obat bebas yang memuat tanggal penjualan, nama obat, jumlah, dan harga obat. k. Buku Pembelian dan Penggunaan Narkotika dan Psikotropika Buku ini bertujuan untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran golongan narkotika dan psikotropika, yang mencantumkan nama obat, bulan, persediaan awal, penambahan jumlah yang meliputi tanggal pembelian, jumlah, nama PBF, pengurangan, dan sisa serta keterangan lain jika ada. l. Buku Pengiriman Barang ke Cabang Buku ini berfungsi untuk mencatat barang-barang yang dikirimkan ke Apotek Atrika cabang. Terdapat buku berbeda untuk setiap cabang. Buku ini memuat nama barang, jumlah barang, dan tanggal kadaluarsa.
45 BAB 4 PEMBAHASAN Apotek adalah tempat dilakukannya pekerjaaan kefarmasian oleh apoteker dan penyaluran sediaan farmasi serta perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat sesuai dengan keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1332/MENKES/SK/X/2002. Apotek tidak sekedar bisnis retail yang hanya menghasilkan keuntungan semata, tetapi juga sebagai tempat pengabdian profesi apoteker dengan menjalankan fungsinya dalam memberikan informasi obat atau yang disebut dengan Pelayanan Informasi Obat (IPO). Pelayanan kefarmasian harus didasari oleh kepedulian terhadap pasien dalam ruang lingkup yang luas sehingga pasien tidak hanya mendapatkan obat yang terjaga kualitas serta mutunya tetapi juga rasional dan mampu memberikan informasi yang berhubungan dengan obat yang diterimanya sehubungan dengan kondisi kesehatan yang dialaminya, sesuai pada lampiran Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 tentang standar pelayanan kefarmasian di apotek. Apotek Atrika dibangun melalui kerja sama antara Dr. Harmita, Apt., sebagai APA dengan Bapak Winardi Hendrayanta sebagai PSA, didirikan pada 21 Juli 2001dan telah beroperasi selama hampir 12 tahun, dan saat ini Apotek Atrika memiliki tenaga kerja seperti apoteker pendamping, asisten apoteker, juru racik, serta kasir. Dengan semakin berkembangnya usaha Apotek Atrika ini, maka apotek ini membuka beberapa cabang yang terletak di daerah Kuningan, Mangga dua, dan Pantai Indah Kapuk, yang kegiatannya dikoordinasi oleh Apotek Atrika Jalan Kartini Raya sebagai pusatnya. Apotek Atrika terletak di Jalan Kartini Raya 34A, Jakarta Pusat. Apotek Atrika ini berada pada kawasan yang strategis, hal ini karena terletak di samping jalan dua arah yang ramai lalu lintas, dapat dilalui oleh kendaraan pribadi maupun umum sehingga mudah untuk di akses, dan juga berada di wilayah pemukiman penduduk yang cukup padat. Lokasi ini dianggap sudah sangat strategis mengingat apotek terletak dekat dengan RS Husada serta praktek dokter, dan jarak lokasi apotek dengan apotek pesaingnya cukup jauh. 45
46 Apotek Atrika dilengkapi halaman parkir yang cukup memadai, sehingga akan memberikan kemudahan bagi pengunjung yang membawa mobil pribadi. Dengan adanya papan nama apotek di halaman membuat Apotek Atrika mudah dikenali oleh masyarakat yang lewat. Secara umum sarana dan prasarana di Apotek Atrik cukup memadai, dimana memiliki penerangan yang baik, terdapat ruang tunggu, ruang racik, counter cashier, ruang administrasi dan keuangan, tempat sampah, wastafel, dapur dan toilet. Bangunan Apotek Atrika terbagi menjadi dua ruangan, yakni ruang depan untuk menyimpan produk OTC dan ruangan belakang untuk tempat peracikan dan menyimpan produk ethical. Pada ruang depan apotek digunakan sebagai ruang tunggu, counter penjualan produk OTC, penerimaan resep, penyerahan obat, dan kasir. Desain eksterior Apotek Atrika cukup baik dan memiliki beberapa pajangan yang terbuat dari batu giok yang dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Ruang tunggu ini dilengkapi tempat duduk dan pendingin ruangan untuk meningkatkan kenyamanan pelanggan. Penataan obat obat OTC disusun berdasarkan bentuk sediaan yang kemudian disusun berdasarkan abjad. Produk OTC di letakkan di dalam lemari etalase yang tembus pandang sehingga pelanggan dapat melihat berbagai obat yang dijual, selain itu kombinasi warna di kemasan OTC yang dapat menarik perhatian pelanggan. Ruang depan dan ruang belakang dibatasi oleh dinding pembatas dan pintu yang selalu tertutup sehingga pelanggan tidak dapat melihat aktifitas peracikan dimana ruang belakang digunakan sebagai ruang racik dan ruang kerja dengan luas yang cukup memadai untuk pekerjaan meracik. Ruang belakang juga dilengkapi pendingin ruangan untuk menjamin stabilitas obat selama penyimpanan dan kenyamanan pegawai dalam melakukan pekerjaannya. Ruang racik Apotek Atrika memiliki tata letak berupa meja racik terletak di tengah ruangan yang dikelilingi oleh lemari/rak penyimpanan obat ethical. Penempatan yang demikian bertujuan untuk mempermudah mobilisasi pegawai sehingga proses pengerjaan resep menjadi lebih efisien. Untuk menunjang operasionalnya, Apotek Atrika menyediakan kelengkapan apotek secara lengkap sesuai dengan yang tercantum dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1332 Tahun 2002. Toilet dan wastafel terdapat pada ruang racik yang dapat digunakan untuk
47 aktivitas higienisasi alat (membersihkan alat racik) dan higienisasi pegawai (mencuci tangan). Dalam ruang racik telah disediakan perlengkapan untuk proses peracikan berupa stamper dan mortir, timbangan miligram, timbangan gram, gelas ukur, dan perlengkapan lain sesuai kebutuhan peracikan. Selain itu, etiket, label, wadah pengemas, dan blanko-blanko perlengkapan apotek (salinan resep, surat pesanan, kartu stok, dan lain sebagainya) juga sudah disediakan dengan baik. Bila sewaktu-waktu dibutuhkan informasi terkait dalam peresepan obat atau operasional apotek, pegawai dapat mencari informasi tersebut dalam buku standar dan informasi mengenai obat (Farmakope Indonesia, MIMS, ISO) serta buku mengenai peraturan perundang-undangan, atau literatur kefarmasian lain yang tersedia. Perencanaan, pengadaan, penyimpanan, dan pelayanan merupakan kegiatan teknis kefarmasian yang ada di apotek. Perencanaan barang Apotek Atrika dilakukan berdasarkan pola konsumsi. Jika suatu item produk habis atau mendekati stok minimum, maka dilakukan pengadaan dengan mempertimbangkan data konsumsi produk tersebut periode sebelumnya. Dengan mencatat ke dalam buku defekta untuk obat-obat yang telah mendekati stok minimum, setelah itu dilakukan pemesanan ke PBF yang disesuaikan dengan jenis dan jumlah yang dibutuhkan oleh apotek. Perencanaan barang dibedakan menurut aliran persediaan, yaitu slow moving dan fast moving. Sebaiknya untuk produk slow moving diadakan dengan jumlah yang tidak terlalu banyak untuk mengantisipasi kerugian dan waktu kadaluarsa obat, sementara produk fast moving bisa diadakan dengan jumlah yang cukup banyak untuk mencegah kekosongan stok dan mengantisipasi lead time, karena apabila terjadi kekosongan stok maka akan terjadi penolakan resep akibat dari tidak adanya obat yang diminta oleh pelanggan, yang akan berdampak pada penjualan. Setiap hari dilakukan pengecekan stok untuk mengetahui item produk yang jumlahnya minimum. Produk-produk yang akan dipesan dicatat di buku defekta, lalu disusun berdasarkan PBF penyedianya. Bila produk tersedia pada lebih dari satu PBF, maka pemilihan akan didasarkan pada pertimbangan lokasi, kualitas barang yang dikirim, ketepatan waktu pengiriman, kemudahan dalam hal pengembalian obat yang rusak dan kadaluarsa, serta faktor harga, contohnya
48 seperti PBF mana yang menawarkan diskon lebih besar atau harga lebih murah, karena hal ini terkait dengan laba yang akan diperoleh oleh Apotek Atrika. Pemesanan dapat dilakukan melalui telepon atau melalui sales yang berkunjung ke apotek pada saat itu. Pada saat penerimaan barang pesanan dari PBF, dilakukan di tempat yang sama dengan tempat penyerahan obat kepada pasien. Hal ini dirasakan cukup mengganggu kenyamanan pasien, sehingga sebaiknya perlu disediakan ruangan khusus untuk penerimaan barang. Penataan obat di apotek Atrika juga telah sesuai dengan pedoman Cara Pelayanan Kefarmasian yang Baik (CPFB) di mana dalam pedoman ini obat-obat disimpan berdasarkan farmakologisnya yang dikombinasi dengan bentuk sediaan dan alfabetis untuk meminimalisir terjadinya kesalahan dalam penyerahan obat. Penyimpanan obat di Apotek Atrika dilakukan dengan menyimpan obat pada lemari yang terbuat dari kayu dengan pintu kaca transparan sehingga memudahkan melihat produk dengan jelas. Produk-produk di Apotek Atrika ditempatkan berdasarkan kategori OTC atau ethical, bentuk sediaan, abjad, dan kelas farmakologinya. Proses penempatannya dibedakan berdasarkan bentuk sediaan, yaitu sediaan oral padat, sediaan oral cair, dan sediaan topikal. Setelah itu, obat diletakkan sesuai dengan sifat farmakologinya dan ditempatkan sesuai abjad dari bagian atas lemari hingga ke bagian bawah. Untuk penyusunannya, digunakan sistem FEFO (First Expired First Out), yakni obat yang hampir mendekati masa kadaluarsa dikeluarkan terlebih dahulu karena untuk mengantisipasi kadaluarsa obat selama proses penyimpanan. Sistem FEFO ini biasanya dipilih untuk apotek yang memilik sirkulasi aliran persediaan barang yang cukup lama, sementara untuk sistem FIFO (First In First Out) dipilih untuk sirkulasi barang yang cepat sehingga tidak akan mempengaruhi waktu kadaluarsa. Kegiatan administrasi kefarmasian yang dilakukan sehari-hari oleh Apotek Atrika masih dengan cara manual dan belum menggunakan sistem komputerisasi. Padahal penggunaan komputer akan sangat membantu dalam proses pemberian atau pemeriksaan harga dan dalam proses pengolahan administrasi apotek, selain itu juga memudahkan dalam mengetahui jumlah persediaan barang di apotek. Ketersediaan barang yang terdapat di apotek dapat lebih mudah diketahui dengan adanya sistem komputerisasi, selain itu meningkatkan kelancaran dan efisiensi
49 pelayanan apotek. Pencatatan dengan sistem manual memiliki banyak kelemahan yakni timbul kesalahan dalam pencatatan, seperti pencatatan yang berulang akibat kurangnya komunikasi antar pegawai atau terdapatnya barang keluar masuk yang tidak tercatat. Hal ini tentu saja berpotensi menimbulkan kerugian bagi apotek akibat tidak efisiennya sistem pembukuan dan pencatatan. Proses pelayanan HTKP adalah pertama-tama obat yang ditebus melalui resep diberi harga terlebih dahulu (termasuk laba dan pajak) dan nomor resep, kemudian pasien akan diminta konfirmasinya kembali oleh kasir untuk menebus seluruh obat atau sebagian, lalu kasir akan menandatangani kolom H. Apabila telah mendapat persetujuan dari pasien mengenai harga yang ditetapkan maka resep ini diserahkan ke ruang racik untuk disiapkan. Sebelum obat diracik, dihitung dosisnya dengan untuk menghindari kesalahan penimbangan. Obat yang telah diambil dan diracik, dikemas dalam wadah yang sesuai dan diberi etiket yang berisi tentang aturan pakai obat serta indikasi obat. Setelah obat disiapkan, obat akan diserahkan pada pasien. Pada kertas HTKP, setiap orang yang melakukan salah satu fungsi HTKP wajib menandatangani pada huruf pada petugas yang melakukan fungsinya. Fungsi diberlakukannya HTKP adalah untuk memudahkan penelusuran dalam menjalankan fungsinya masing-masing. Pelayanan resep di Apotek Atrika sudah dilakukan dengan baik. Semua resep yang sudah diterima, disimpan per hari berdasarkan nomor urut resep. Resepresep tersebut akan disimpan selama 3 tahun. Setelah itu, dilakukan pemusnahan resep dengan membuat berita acara yang selanjutnya dilaporkan kepada Suku Dinas Kesehatan Jakarta Pusat. Untuk meningkatkan kepuasan konsumen maka Apotek Atrika menyediakan layanan antar bagi pasien yang tidak cukup mempunyai banyak waktu untuk ke apotek, yaitu berupa penerimaan resep melalui fax hingga pengantaran obat ke rumah pasien untuk daerah sekitar Jakarta Pusat dengan syarat pembelian sejumlah tertentu. Profesi apoteker harus menjalankan fungsinya dalam memberikan pelayanan informasi obat (IPO) kepada pasien. Kegiatan pelayanan informasi obat telah dilakukan di Apotek Atrika walaupun kegiatan konseling belum secara nyataditerapkan. Hal ini mungkin disebabkan karena tidak tersedianya ruangan
50 khusus bagi pasien untuk melakukan konseling obat. Pelayanan informasi obat dilakukan di tempat penyerahan obat atau pada saat swamedikasi kepada pasien yang datang tanpa resep obat ke apotek. Tujuan pemberiaan informasi obat kepada pasien adalah menghindari kesalahan dalam penggunaan obat, meningkatkan kepatuhan pasien, dan dapat memberikan manfaat dari penggunaan obat yang digunakan. Apoteker harus mampu memberikan informasi mengenai obat yang digunakan oleh pasien seperti nama obat, cara penggunaan, waktu penggunaan, dosis dan cara penyimpanan obat.
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan a. Apotek merupakan tempat pengabdian profesi apoteker sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya dengan melakukan kegiatan kefarmasian secara profesioanal. b. Apoteker di Apotek Atrika telah melaksanakan tugas dan fungsinya dalam pengelolaan apotek, baik secara teknis maupun non teknis kefarmasian. Dalam kegiatan teknis kefarmasian, apoteker berperan dalam mengatur perencanaan, pengadaan, pendistribusian, serta penyimpanan. Sedangkan kegiatan non teknis meliputi pengelolaan modal dan sarana (manajerial), administrasi dan keuangan serta sumber daya manusia. 5.2 Saran a. Kegiatan pelayanan informasi obat oleh apoteker perlu ditingkatkan kembali untuk meningkatkan peran apoteker dalam menjalankan keprofesiannya b. Diperlukan suatu integrasi sistem administrasi dari sistem manual ke sistem yang telah terkomputerisasi, sehingga kegiatan pencatatan dapat berjalan secara efektif dan efisien terutama pada saat dilakukan pembukuan dan pencatatan. c. Pelayanan swamedikasi sebaiknya lebih ditingkatkan kembali, sehingga dapat meningkatkan penjualan, dan meningkatkan pengobatan yang aman, tepat, dan rasional. 51
52 DAFTAR ACUAN Kementerian Kesehatan RI. (1990). Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 347/Menkes/SK/VII/1990 tentang Obat Wajib Apotek. Jakarta. Kementerian Kesehatan RI. (1993). Peraturan Menteri Kesehatan No. 919/Menkes/Per/X/1993 Tentang Kriteria Obat yang Dapat Diserahkan Tanpa Resep. Jakarta Kementerian Kesehatan RI. (1993). Peraturan Menteri Kesehatan No. 922/Menkes/Per/X/1993Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Ijin Apotik. Jakarta. Kementerian Kesehatan RI. (2002). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 1332/MENKES/SK/X/2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor. 922/Menkes/Per/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotik. Jakarta. Kementerian Kesehatan RI. (2004). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta. Kementerian Kesehatan RI. (2006). Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas. Jakarta. Pemerintah Republik Indonesia. (1980). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1980 tentang Perubahan dan Tambahan Atas Peraturan Pemerintah RI Nomor 26 Tahun 1965 tentang Apotek. Jakarta. Pemerintah Republik Indonesia. (2009). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta. Presiden Republik Indonesia. (1997). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Jakarta. Presiden Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Republik Indonesia No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Jakarta. Presiden Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Jakarta. Quick, J. (1997). Managing Drug Supply, the Selection, Procurement, Distribution, and Use of Pharmaceuticals. 2nd ed Revised and Expanded. Kumarian Pers. Seto, S., Yunita, N., & T, L. (2004). Manajemen Farmasi. Jakarta: Airlangga University Press. Umar, M. (2011). Manajemen Apotek Praktis. Cetakan Keempat. Jakarta: Wira Putra Kencana. Widiyanti, T. (2005). Penerapan Analisis Pareto dalam Manajemen Persediaan di Suatu Perusahaan Farmasi Industri Sekunder. Yogyakarta: Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada.
54 LAMPIRAN
54 Lampiran 1. Contoh formulir APT-1
55 (Lanjutan)
56 Lampiran 2. Contoh formulir APT-2
57 Lampiran 3. Contoh formulir APT-3
58 (Lanjutan)
59 (Lanjutan)
60 (Lanjutan)
61 (Lanjutan)
62 (Lanjutan)
63 Lampiran 4. Contoh formulir APT-4
64 Lampiran 5. Contoh formulir APT-5
65 (Lanjutan)
66 (Lanjutan)
67 Lampiran 6. Contoh formulir APT-6
68 Lampiran 7. Contoh formulir APT-7
69 Lampiran 8. Apotek Atrika tampak dari luar Lampiran 9. Tata Ruang Etalase Depan Apotek Lampiran 10. Lemari Penyimpanan Narkotik
70 Lampiran 11. Lemari Penyimpanan Psikotropik Lampiran 12. Struktur Organisasi Apotek Atrika Pemilik Sarana Apotek (PSA) Apoteker Pengelola Apotek (APA) Apoteker Pendamping Asisten Apoteker Juru Resep Kasir Kurir Petugas Kebersihan Lampiran 13. Etiket Apotek Atrika
71 Lampiran 14. Kopi Resep Apotek Atrika Lampiran 15. Surat Pesanan Apotek Atrika
72 Lampiran 16. Surat Pesanan Narkotika Lampiran 17. Laporan Penggunaan Narkotika (secara manual)
73 Lampiran 18. Surat Pesanan Psikotropika Lampiran 19. Laporan Penggunaan Psikotropika (1)
74 Lampiran 20. Laporan Penggunaan Psikotropika (2)
UNIVERSITAS INDONESIA REKAPITULASI DAN ANALISIS RESEP OBAT ANTIBIOTIK ORAL PADA DAFTAR E-CATALOGUE OBAT GENERIK YANG AKAN DITERAPKAN DALAM SISTEM JAMINAN SOSIAL NASIONAL (SJSN) DI APOTEK ATRIKA TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER ALIFANA JASMINDRIYATI, S. Farm. 1206329341 ANGKATAN LXXVII FAKULTAS FARMASI PROGRAM PROFESI APOTEKER DEPOK JANUARI 2014
DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR... iv BAB 1. PENDAHULUAN... 1 1.1 LatarBelakang... 1 1.2 Tujuan... 2 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA... 3 2.1 Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)... 3 2.2 Sistem Pertahanan Tubuh... 4 2.3 Infeksi... 5 2.4 Antibiotik... 6 BAB 3. METODE PELAKSANAAN... 7 3.1 Waktu dan Tempat Pengkajian... 7 3.2 Metode Pengumpulan Data... 7 3.3 Metode Pengolahan Data... 7 BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN... 8 BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN... 21 5.1 Kesimpulan... 21 5.2 Saran... 21 DAFTAR ACUAN... 23 ii
DAFTAR TABEL Tabel 2.1. Daftar obat generik e-catalogue pada wilayah DKI Jakarta... 25 Tabel 4.3. Perbandingan Penjualan masing-masing obat antibiotika oral generik periode Februari September 2013... 27 Tabel 4.5. Daftar PBF obat yang terdapat di dalam resep... 28 iii
DAFTAR GAMBAR Gambar 4.1. Perbandingan jumlah resep antibiotik oral generik periode Februari September 2013... 9 Gambar 4.2. Perbandingan jumlah non-resep antibiotik oral generik periode Februari September 2013... 13 Gambar 4.3. Perbandingan jumlah antibiotik oral pada bulan Februari 2013... 30 Gambar 4.4. Perbandingan jumlah antibiotik oral pada bulan Maret 2013... 30 Gambar 4.5. Perbandingan jumlah antibiotik oral pada bulan April 2013... 31 Gambar 4.6. Perbandingan jumlah antibiotik oral pada bulan Mei 2013... 31 Gambar 4.7. Perbandingan jumlah antibiotik oral pada bulan Juni 2013... 32 Gambar 4.8. Perbandingan jumlah antibiotik oral pada bulan Juli 2013... 32 Gambar 4.9. Perbandingan jumlah antibiotik oral pada bulan Agustus 2013... 33 Gambar 4.10. Perbandingan jumlah antibiotik oral pada bulan September 2013... 33 Gambar 4.11. Contoh Resep Antibiotik di Apotek Atrika... 34 iv
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Infeksi adalah keadaan dimana mikroba masuk ke dalam tubuh manusia sehingga menyebabkan penyakit. Penyakit mempunyai kemampuan menular kepada orang lain yang sehat, sehingga populasi penderita dapat meluas. Antibiotika adalah senyawa kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme atau dihasilkan secara sintetik yang dapat membunuh atau menghambat perkembangan bakteri dan organisme lain (WHO, 2011). Antibiotik sampai saat ini masih menjadi obat andalan dalam penanganan kasus-kasus penyakit infeksi. Pemakaiannya selama 5 dekade terakhir mengalami peningkatan yang luar biasa, hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga menjadi masalah di negara maju seperti Amerika Serikat. The Center for Disease Control and Prevention in USA menyebutkan terdapat 50 juta peresepan antibiotik yang tidak diperlukan (unnescecery prescribing) dari 150 juta peresepan setiap tahun (Akalin, 2002). Banyak masyarakat di Indonesia tidak menggunakan antibiotika secara tepat. E-Catalogue atau katalog elektronik adalah sistem informasi elektronik yang memuat daftar, jenis, spesifikasi teknis dan harga barang tertentu dari berbagai penyedia Barang/Jasa Pemerintah dengan tata cara pembelian yang diatur pemerintah yaitu menggunakan sistem e-purchasing. Obat-obatan yang terdaftar dalam e-catalogue sebagian besar merupakan obat generik yang telah melalui proses seleksi melalui sistem pelelangan harga. Fasilitas pelayanan kesehatan berdasarkan UU Kesehatan No.36 tahun 2009, yaitu suatu alat dan/atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan kesehatan baik promotif, preventif, kuratif, maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah dan/atau masyarakat. Menurut Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) No.40 tahun 2004 Pasal 23, salah satu Fasilitas Kesehatan yang disediakan dalam rangka SJSN termasuk apotek, dimana berperan dalam sistem pengadaan obat harus telah memiliki izin dari instansi pemerintah yang bertanggung jawab dan membuat perjanjian kerjasama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. 1
2 Untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang sehat secara optimal, maka usaha-usaha di bidang pengobatan dan pelayanan kesehatan perlu ditingkatkan secara terus menerus. Tercapainya derajat kesehatan yang optimal harus ditunjang oleh adanya jaminan kesehatan. Pelayanan kesehatan dibidang kefarmasian merupakan salah satu bentuk interaksi yang langsung dengan masyarakat dan merupakan tanggung jawab profesi apoteker khususnya dalam mengoptimalkan terapi dan masalah terkait obat. Dalam kesempatan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Apotek Atrika, dilakukan rekapitulasi dan analisa resep yang mengandung obat antibiotik oral generik yang dikaitkan dengan daftar e-catalogue di Apotek Atrika selama periode Februari sampai September 2013. Dari hasil pengkajian resep tersebut, diharapkan dapat diketahui obat antibiotik yang sering diresepkan maupun dalam pembelian non-resep dan mampu menganalisis kerasionalan resep yang diberikan oleh dokter. 1.2 Tujuan Penyusunan laporan tugas khusus Praktek Kerja Profesi Apoteker ini bertujuan untuk: a. Mengetahui obat generik khususnya golongan antibiotik oral yang akan disediakan oleh Apotek Atrika pada saat Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) diberlakukan. b. Mengetahui jenis antibiotik oral yang paling banyak diresepkan oleh dokter kepada pasien berdasarkan resep yang diterima Apotek Atrika dan pembelian antibiotik oral tanpa resep selama periode Februari hingga September 2013. c. Mengkaji peresepan obat antibiotik oral yang diterima Apotek Atrika selama periode Februari hingga September 2013 dari sisi kerasional resep, interaksi obat, dan pemberian informasi.
3 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) 2.1.1 Definisi dan Tujuan SJSN Berdasarkan UU RI No 40 tahun 2004 Jaminan sosial merupakan salah satu bentuk perlindungan sosial untuk menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya yang layak. Sistem Jaminan Sosial Nasional adalah suatu tata cara penyelenggaraan program jaminan sosial oleh beberapa badan penyelenggara jaminan sosial. SJSN diselenggarakan berdasarkan asas kemanusiaan, asas manfaat, dan asas keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia serta bertujuan untuk memberikan jaminan terpenuhinya kebutuhan dasar hidup yang layak bagi setiap peserta dan/atau anggota keluarganya Sistem Jaminan Sosial Nasional diselenggarakan berdasarkan asas kemanusiaan, asas manfaat, dan asas keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sistem Jaminan Sosial Nasional bertujuan untuk memberikan jaminan terpenuhinya kebutuhan dasar hidup yang layak bagi setiap peserta dan/atau anggota keluarganya. 2.1.2 Konvensi ILO 102 tahun 1952 Standar minimal Jaminan Sosial (Tunjangan kesehatan, tunjangan sakit, tunjangan pengangguran, tunjangan hari tua, tunjangan kecelakaan kerja, tunjangan keluarga, tunjangan persalinan, tunjangan kecacatan, tunjangan ahli waris 2.1.3 E-Catalogue E-Catalogue atau katalog elektronik adalah sistem informasi elektronik yang memuat daftar, jenis, spesifikasi teknis dan harga barang tertentu dari berbagai penyedia Barang/Jasa Pemerintah dengan tata cara pembelian yang diatur pemerintah yaitu menggunakan system e-purchasing. E-Purchasing merupakan suatu tata cara pembelian Barang/Jasa pemerintah melalui sistem katalog elektronik yang diselenggarakan oleh Lembaga 3
4 Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dan Perubahannya. E-Purchasing dapat dilaksanakan setelah spesifikasi data Barang/Jasa yang akan dibeli terlebih dahulu dimasukkan dalam e-catalogue. Dengan adanya sistem e-purchasing tersebut diharapkan dapat memberikan kemudahan kepada K/L/D/I dalam melaksanakan pengadaan Barang/Jasa untuk kebutuhan instansinya. Untuk pengadaan obat, saat ini terdapat total 11.052 item obat dalam berbagai kekuatan, bentuk kemasan, dan dari berbagai produsen yang terdaftar dalam e-catalogue yang akan dialokasikan ke 33 provinsi di Indonesia dimana tercantum pada Tabel 2.1. Tampilan katalog obat akan menampilkan sebuah tabel yang memuat datadata mengenai nama-nama obat yang tersedia untuk dialokasikan ke provinsiprovinsi beserta dengan nama penyedia obat-obat tersebut, bentuk kemasan, harga obat dalam satuan terkecil, serta nama distributor dan perjanjian Kontrak Payung. Yang dimaksud dengan Kontrak Payung adalah surat perjanjian kerjasama antara LKPP dengan penyedia Barang/Jasa, yang dalam hal ini adalah perusahaan farmasi dan distributor. Obat-obatan yang terdaftar dalam e-catalogue sebagian besar merupakan obat generik yang telah melalui proses seleksi melalui sistem pelelangan harga. Sesuai Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012, untuk tahun 2013 penetapan harga melalui lelang harga satuan dilakukan dengan harapan agar pengadaan obat dapat mengikuti aturan, lebih mudah, dan efisien dengan tetap menjamin ketersediaan obat. Lelang harga obat melalui e-catalogue merupakan kerjasama antara Kementerian Kesehatan dan LKPP. 2.2 Sistem Pertahanan Tubuh Manusia secara terus menerus berkontak dengan agen eksternal yang mungkin dapat membahayakan apabila agen tersebut masuk kedalam tubuh, yang paling serius adalah mikroorganisme penyebab penyakit. Mikroorganisme yang mampu berkontak dapat masuk ke tubuh seperti saluran pencernaan, saluran pernapasan, saluran genital. Apabila bakteri atau virus masuk kedalam tubuh,
5 tubuh memiliki sistem pertahanan yang kompleks dan berlapis-lapis, sistem imun yang memberikan proteksi terhadap invasi oleh agen-agen asing dengan berbagai mekanisme baik fisika, kimia maupun fisiologis. Permukaan tubuh yang terpajan ke lingkungan eskternal, misalnya kulit, berfungsi sebagai lini pertama sistem pertahanan untuk menahan penetrasi mikroorganisme asing. Imunitas mengacu pada kemampuan tubuh menahan atau mengeliminasi benda asing atau sel abnormal yang potensi berbahaya. Dari segi barier anatomi tubuh, sistem pertahanan tubuh dapat dibagi menjadi dalam dua bagian: a. Pertahanan Permukaan, yaitu pertahanan yang diselenggarakan oleh kulit dan selaput mukosa beserta sekret yang dihasilkan oleh kelenjar, misalnya keasaman (ph), sifat bakterisidal dari air mata, lisosim, dan sebagainya. b. Pertahanan Jaringan, yaitu pertahanan tubuh yang berperan setelah terjadi penetrasi infektor melalui pertahanan permukaan. Pertahanan jaringan non spesifik dapat muncul secara spontan seperti adanya proses fagositosis sel terhadap infektor. Kemampuan pertahanan non spesifik ini diberikan oleh sel darah putih, leukosit, monosit, dan makrofag. Sementara pertahanan jaringan spesifik yang sebenarnya merupakan respon sistem imun tubuh terhadap infektor yang masuk (Wattimena et. al, 1991) 2.3 Infeksi Infeksi adalah keadaan dimana mikroba masuk ke dalam tubuh manusia sehingga menyebabkan penyakit. Faktor penentu dalam timbulnya penyakit infeksi sebenarnya adalah daya berjangkitnya dan daya penjalaran penyakit dalam populasi manusia yakni epidemiloginya. Pada dasarnya dapat dibedakan dua tipe mikroorganisme, yaitu bakteri yang bersifat patogen dan non patogen. Timbul atau tidaknya penyakit infeksi pada seseorang yag terinfeksi penyebab penyakit sering ditentukan oleh keadaan tubuh yang bersangkutan. Keadaan nutrisi seseorang yang buruk dapat mempengaruhi sistem pertahanan tubuhnya atau dapat menyebabkan defisiensi dalam sistem imun, akibatnya respon pertahanan terhadap infeksi berkurang dan mudah terjangkit penyakit infeksi. Selain cara
6 penyembuhan (kuratif), merupakan faktor terpenting lain dalam penyakit infeksi adalah kontrol epidemi penyakit tersebut (Edberg, 1986). 2.4 Antibiotik Antibiotika oral adalah senyawa kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme atau dihasilkan secara sintetik yang dapat membunuh atau menghambat perkembangan bakteri dan organisme lain yang dikonsumsi secara per oral. Berdasarkan mekanisme kerjanya, antibiotik dibagi menjadi empat golongan yang berbeda, yakni: (Katzung, 1995) Mekanisme kerja Efek Obat a. Penghambatan sintesis dinding sel. Efek bakterisidal. a. Pemecahan enzim dinding sel. Penisilin Sefalosporin b. Penghambatan enzim dalam b. Pengubahan permeabilitas membran sel atau transpor melalui membran sel. c. Penghambatan sintesis protein d. Penghambatan sintesis asam nukleat sintesis dinding sel. Efek bakteriostatik atau bakterisidal. Meningkatkan permeabilitas membran. Hilangnya substansi seluler yang menyebabkan sel menjadi lisis. Efek bakteriostatik atau bakterisidal. Mengganggu sintesis protein tanpa mempengaruhi sel normal. Menghambat tahap-tahap sintesis protein. Efek bakteriostatik. Mengganggu tahap-tahap metabolisme di didalam sel. Amfoterisin B Nistain Polimiksin Aminoglikosid Tetrasiklin Eritromisin Linkomisin Sulfonamid Trimetoprim Isoniazid Asam Nalidiksat Ofloksasin
BAB 3 METODOLOGI PENGKAJIAN 3.1 Waktu dan Tempat Pengkajian Pengkajian dilakukan pada di Apotek Atrika Jalan Kartini Raya No: 34 Jakarta Pusat pada pelaksanaan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) periode 2 Oktober - 6 November. 3.2 Metode Pengumpulan Data Data diperoleh dengan mengumpulkan resep yang diterima dan dilayani oleh Apotik Atrika selama bulan Februari hingga September 2013, kemudian dilakukan pencatatan terhadap resep-resep yang mengandung obat antibiotik oral selama periode tersebut. 3.3 Metode Pengolahan Data Data yang telah diperoleh dicatat kemudian dihitung frekuensi peresepannya dan disajikan dalam bentuk grafik dan tabel. Data tersebut kemudian disajikan dalam bentuk tabel serta dilakukan analisis data yang disesuaikan dengan literatur. 7
8 BAB 4 PEMBAHASAN 4.1 Rekapitulasi Resep Selama pelaksanaan PKPA di Apotek Atrika, dilakukan penelusuran dan pengkajian terhadap resep yang mengandung obat antibiotik oral yang terdapat dalam daftar e-catalogue. Obat antibiotik oral yang terdapat dalam e-catalogue ada tujuh belas macam, yaitu amoksisiklin, doksisiklin, eritromisin, klindamisin, kloramfenikol, levofloksasin, linkomisin, ofloxacin, sefadroksil, sefaleksin, sefiksim, siprofloksasin, spiramisin, tetrasiklin, dan tiamfenikol. Tabel 4.1. Jenis Antibiotik oral yang terdapat dalam e-catalog yang akan diterapkan dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) No. Nama Generik Formulasi Amoksisilin + As. 1 Klavulanat 625 mg tablet kapsul/kaplet 250 mg, 500 mg; sirup kering 125 mg/ Amoksisilin 2 5 ml 3 Doksisiklin kapsul/kaplet 100 mg 4 Eritromisin kapsul/kaplet 250 mg, 500 mg; sirup 200 mg/ 5 ml 5 Klindamisin kapsul/kaplet 150 mg; 300 mg 6 Kloramfenikol kapsul/kaplet 250 mg; suspensi 125 mg/ 5 ml 7 Levofloksasin tablet 500 mg 8 Linkomisin kapsul/kaplet 500 mg 9 Ofloxacin tablet 200 mg; 400 mg 10 Sefadroksil sirup kering 125 mg/5ml; kapsul/kaplet 500 mg 11 Sefaleksin kapsul/kaplet 500 mg 12 Sefiksim 400 mg + Azitromisin 1000 mg 13 Sefiksim kapsul/kaplet 100 mg; sirup kering 100 mg/ 5 ml 14 Siprofloksasin (sebagai HCl) tablet 250 mg; 500 mg 15 Spiramisin tablet 500 mg 16 Tetrasiklin kapsul/kaplet 250 mg; 500 mg 17 Tiamfenikol kapsul/kaplet 500 mg Ketujuh belas jenis obat tersebut diamati penggunaanya dalam resep yang diterima Apotek Arika selama periode Februari sampai September 2013. Hal ini dilakukan untuk mengetahui profil peresepan obat terutama untuk obat yang paling banyak diresepkan dan yang paling banyak terjual di Apotek Atrika berdasarkan dari resep dan non-resep yang mengandung obat antibiotika oral generik. 8
9 Berdasarkan hasil penelusuran resep yang di terima Apotek Atrika, diketahui bahwa antibiotik yang digunakan dalam resep adalah Amoksisilin, Spiramycin, Doxycillin, Ofloxacin, Cefadroxil, Cefixime, Linkomisin, Ampisilin, Azithromycin, Thiamycin, Levofloxacin, Kloramfenikol, Teramycin, Cefalexin, Ciprofloxacin, dan Clindamycin. Jumlah total resep yang diterima atau dilayani selama bulan Februari sampai September 2013 adalah 1597 lembar resep. Sedangkan jumlah resep yang menggunakan obat antibiotik oral generik terdapat 77 lembar resep atau 4,8% dari jumlah keseluruhan resep yang diterima selama periode tersebut. Gambar 4.1 menunjukkan bahwa jumlah resep yang mengandung obat antibiotik oral generik selama periode Februari hingga September 2013, dimana pada bulan Februari sebanyak 133 items, bulan Maret sebanyak 80 items, bulan April 72 items, bulan Mei 105 items, bulan Juni sebanyak 261 items, bulan Juli sebanyak 82 items, bulan Agustus 31 items, dan pada bulan September sebanyak 46 items. 300 250 JUMLAH RESEP 200 150 100 50 0 BULAN Gambar 4.1. Perbandingan jumlah resep antibiotik oral generik periode Februari September 2013 Pada grafik tersebut terlihat bahwa peresepan antibiotik oral generik di Apotek Atrika terbanyak terdapat di bulan Juni, dimana selama periode tersebut antibiotik oral yang banyak di resepkan adalah amoksisilin tablet. Hal ini mungkin disebabkan karena amoksisilin memiliki spektrum luas untuk bakteri, lebih cepat di absorpsi di dalam usus efektif untuk berbagai jenis infeksi, dan memiliki efek samping yang lebih minimal dibandingkan jenis antibiotik oral lainnya. Namun secara total peresepan dari periode Februari hingga September, antibiotik oral yang paling banyak diresepkan adalah Sefadroksil. Berikut
10 merupakan daftar untuk jenis Obat Antibiotika Oral yang diresepkan selama bulan Februari hingga September 2013 Tabel 4.2. Daftar untuk jenis Obat Antibiotika Oral yang diresepkan selama bulan Februari hingga September 2013 Nama Obat Sediaan Indikasi Generik (Zat Aktif) Amoksisilin Tablet (250 mg; 500 mg) Infeksi saluran napas atas, otitis media, bronkitis akut& kronik, pneumonia, sistitis, infeksi kulit dan jaringan, salura urogenital, pasca operasi. Ampisilin Tablet (250 mg; 500 mg) Infeksi bakteri Gram (+) / (-), saluran napas atas, infeksi saluran kemih, infeksi gastroinstestinal, otitis media bakterial. Spiramycin Tablet (500 mg) Infeksi saluran napas, faringitis, otitis media, ruam kulit dan infeksi lain, profilaksis toksoplasmosis kongenital. Siprofloksasin Tablet (250 mg; 500 mg) Infeksi saluran napas, saluran gastrointestinal, infeksi kulit dan jaringan lunak, tulang dan sendi, infeksi GI termasuk demam tifoid, untuk dekontaminasi selektif pada usus, dan infeksi berat pada pasien yang dirawat di rumah sakit. Ofloksasin Tablet (200 mg; 400 mg) Infeksi saluran kemih atas dan bawah, infeksi saluran napas bawah, infeksi ginekologi, dan kulit dan jaringan lunak. Levofloksasin Tablet 500 mg Terapi sinusitis maksilaris akut, bronkitis kronis, eksaserbasi akut, pneumonia yang didapat dari lingkungan, infeksi saluran kemih, infeksi jaringan lunak. Tetrasiklin Tablet ( 250 mg; 500 mg) Infeksi yang disebabkan mikroorganisme yang sensitif terhadap tetrasiklin, infeksi
11 yang riketsia, klamidia, mikoplasma pneumonia, infeksi Gram (+) / (-), infeksi saluran napas, saluran kemih dan jaringan. Doksisiklin Kapsul (100 mg) Infeksi karena mikroorganisme yang sensitif, misalnya rickettsiosis, kolera, sinusitis,otitis media purulenta, pneumonia, infeksi kulit akne vulgaris. Terapi antibiotik alternatif yang alergi terhadap penisilin. Klindamisin Kapsul (150 mg) Infeksi serius Gram (+) / (-) terutama Streptococcus, pneumokokus, dan Staphylococcus. Termasuk bakteri anaerob. Infeksi saluran napas atas dan bawah, kulit dan jaringan serta infeksi serius lainnya. Linkomisin Kapsul (250 mg; 500 mg) Infeksi berat karena Streptococcus, pneumokokus, Klostridium, dan Staphylococcus. Infeksi tulang dan sendi, infeksi saluran napas, infeksi salurah kemih. Kloramfenikol Kapsul (250 mg) Tifoid dan paratifoid. Infeksi berat karena Salmonella sp, H. influenza (terutama meningitis), rickettsia, limfogranuloma, psitakosis, meningitis karena bakteri Gram (-). Tiamfenikol Kapsul (500 mg) Tifoid dan paratifoid. Infeksi berat karena Salmonella sp, H. influenza (terutama meningitis), rickettsia, limfogranuloma, psitakosis, meningitis karena bakteri Gram (-). Sefadroksil Kapsul (500 mg) Infeksi karena Gram (+) / (-) seperti infeksi saluran napas, infeksi kulit dan jaringan, infeksi saluran kemih dan
12 kelamin, abses, osteomielitis, septikemia, peritonitis. Sefaleksin Infeksi yang disebabkan karena Gram (+) / (-), seperti infeksi saluran napas, otitis media yang disebabkan Salmonella sp, H. Influenza. Infeksi saluran kemih Sefiksime Kapsul (100 mg) Infeksi saluran kemih tanpa komplikasi, otitis media, faringitis, tonsilitis, bronkitis kronis eksaserbasi akut Sementara untuk jumlah total pembelian tanpa resep (obat bebas dalam) yang diterima atau dilayani selama bulan Februari sampai September 2013 adalah sebanyak 3036 pembelian obat non resep (tanpa resep dokter). Sedangkan obat antibiotik oral yang dilayani dengan pembelian tanpa menggunakan resep (obat bebas dalam) adalah sebanyak 309 pembelian obat secara bebas (tanpa resep dokter) atau sebesar 10,18% dari jumlah keseluruhan pembelian obat tanpa resep selama periode tersebut. Berdasarkan data tersebut, ternyata penggunaan antibiotik oral generik tanpa resep penggunaannya jauh lebih besar dibandingkan dengan antibiotik oral dengan menggunakan resep. Hal ini disebabkan penjualan antibiotik oral yang tidak diawasi dan dibatasi penggunaannya. Mengingat penggunaan antibiotik oral tanpa resep yang cukup besar, maka sebaiknya kita sebagai apoteker memiliki peranan untuk dapat memberikan informasi kepada pasien mengenai cara penggunaan, dosis yang diberikan, dan agar dilakukan pencatatan sehingga kepatuhan pasien terhadap pengobatan dapat tercapai dan efek resistensi dapat diminimalisir. Pada Gambar 4.2 menunjukkan bahwa jumlah pembelian obat tanpa resep yang mengandung obat antibiotik oral generik selama periode Februari hingga September 2013, dimana penjualan pada bulan Februari sebanyak 812 items, bulan Maret sebanyak 727 items, bulan April 561 items, bulan Mei 528 items, bulan Juni sebanyak 509 items, bulan Juli sebanyak 658 items, bulan Agustus sebanyak 517 items, dan pada bulan September sebanyak 821 items. Pada grafik tersebut terlihat bahwa pembelian antibiotika oral non- resep terbanyak pada bulan September, dimana pada periode tersebut pembelian terbanyak adalah antibiotik tetrasiklin. Namun secara total pembelian non resep dari periode Februari hingga September, antibiotik oral yang paling banyak diminta adalah Amoksisilin. Amoksisilin merupakan pilihan obat terpilih utama dalam pengobatan infeksi. Untuk mengetahui lebih rinci mengenai perbandingan
13 penjualan masing-masing antibiotik oral generik baik resep maupun non-resep dalam tiap bulan dapat dilihat pada Tabel 4.3. Sedangkan untuk melihat profil perbandingan antara resep dan non resep per tiap bulannya dapat dilihat pada Gambar 4.2-4.10. 1000 800 JUMLAH NON RESEP 600 400 200 0 BULAN Gambar 4.2. Perbandingan jumlah non-resep antibiotik oral generik periode Februari September 2013 Dalam Tabel 4.4, tercantum perbandingan harga obat antibiotik oral generik dalam daftar e-catalog dan dalam daftar harga di Apotek Atrika. Berdasarkan tabel tersebut, harga obat dalam daftar e-catalog lebih cost-effective dibandingkan dengan daftar harga Apotek Atrika. Oleh karena itu diharapkan SJSN akan mulai diberlakukan pada tahun 2014 mendatang dengan sistem yang berjalan dengan baik Tabel 4.4. Perbandingan Harga Obat Antibiotik Oral Generik dalam daftar e-catalog SJSN dan dalam Daftar Harga di Apotek Atrika Nama Harga Satuan Obat e-catalogue Apotek Atrika Amoksisilin 250 mg 200 344 Amoksisilin 500 mg 220 462 Amoksisilin dry sirup 2276,9 6364 Ampisilin 500 mg 560 Sefaleksin 500 mg 972 1265 Sefadroksil 500 mg 520 1100
14 Cefixim 100 mg 958 2993 Kloramfenikol 250 mg 213 307 Siprofloksasin 250 mg 237 330 Siprofloksasin 500 mg 250 325 Doksisiklin 100 mg 220 317 Eritromisin 250 mg 440 522 Eritromisin 500 mg 864,7 911 Linkomisin 500 mg 520 813 Levofloksasin 570 1680 Ofloksasin 200 mg 413 760 Ofloksasin 400 mg 654 1200 Tertrasikilin 250 mg 140 190 Tertrasikilin 500 mg 257 321 Tiamfenikol 500 mg 431 725 Spiramisin 500 mg 1386 1924 Setelah semua resep yang mengandung obat antibiotik oral generik selama bulan Februari - September 2013 di rekapitulasi dan dilihat profilnya baik dalam peresepan maupun non-peresepan, selanjutnya dipilih satu resep untuk di analisis. 4.2 Penyelesaian Kasus Resep Telah diterima dan dilayani salah satu resep di Apotek Atrika pada tanggal 1 Juli 2013. Pasien Ny. X, beliau memeriksakan dirinya ke praktek dokter di Jalan Bungur Besar No. 34F Jakarta pada tanggal 1 Juli 2013. Untuk contoh resep asli dapat dilihat pada Gambar 4.11.
15 4.2.1 Penulisan ulang resep DOKTER J.P AULIA Praktek Umum Sore : Jam 15.00 18.00 Jl. Bungur Besar No.34 Jakarta Hp. 0818 140215 DU 0083/P-3-01/09-90 Jakarta, 1 Juli 2013 R/ Cimetidine 200 Vosedon 10 mf. dtd No. XV S. 3dd1. ac R/ Tab Merislon 10 No. XV S. 3dd1. p.c R/ Cap. Ofloxacin 400 No. X S. 2dd1. p.c Pro : Ny. X Alamat: Obat tidak dapat diganti tanpa sepengetahuan Dokter 4.2.2 Data obat dalam resep Sebelum dilakukan pengkajian resep, terlebih dahulu diperlukan data mengenai obat yang terdapat dalam resep. Selain itu, dalam sistem pengadaan obatnya Apotek Atrika bekerjasama dengan Pedagang Besar Farmasi (PBF) untuk dapat melakukan pemesanan obat berdasarkan dari yang biasa diresepkan atau yang paling banyak diminta, dimana dapat dilihat pada Tabel 4.5. Terdapat tiga resep jenis obat yang diberikan, dimana satu resep berupa racikan dalam bentuk kapsul. 4.2.2.1 Cimetidine Nama Obat Bentuk sediaan Cimetidine Tablet
16 Komposisi Indikasi Peringatan Efek Samping Dosis Interaksi Obat Cimetidine 200 mg Tukak dan radan lambung, & tukak usus 12 jari. Perdarahan saluruan cerna bagian atas akibat tukak atau erosi. Refluks gastroesofagus, hipersekresi patologis yang berhubungan dengan sindroma Zollinger Ellison. Keadaan lain dimana penghambatan sekresi asam lambung diharapkan Tidak digunakan untuk pasien dengan sejarah gagal ginjal, hamil dan laktasi. Pusing, diare, ruam. Jarang terjadi: alergi, rasa bingung yang reversible, mialgia, gangguan darah, hepaotoksik, pankreatitis. Dewasa: 200 mg 3 kali sehari sebelum tidur atau sebelum makan. Anak: 20-40 mg/kgbb/hari, dosis terbagi Meningkatkan kadar warfarin, fenitoin, teofilin, lignokain, antiaritmia, benzodiazepin, β-bloker, sebagai vasodilator. 4.2.2.2 Vosedon Nama Obat Bentuk Sediaan Komposisi Indikasi Dosis Peringatan Efek Samping Interaksi obat Vosedon Tablet Domperidone 10 mg Mengurangi gejala mual dan muntah pada keadaan akut, disebabkan pemberian obat levodopa atau bromokriptin, pada anak setelah kemoterapi kanker atau iradiasi. Pengobatan gejala dispepsia fungsional. Dewasa: Dispepsia fungsiaonal 10 mg 3 kali sehari, mual dan muntah 10-20 mg 3-4 kali sehari Anak: 0,25 mg/kgbb/3 kali sehari Dosisi dikurangi pada pasien gagal ginjal. Timbul efek ekstrapiramidal bila diberikan bersama dengan obat lain. Jangan diberikan pada bayi, wanita hamil dan laktasi. Tidak direkomendasikan pada penggunaan lama. Dapat menimbulkan gangguan hati. Muka merah, reaksi alergi lain, dan reaksi distonik akut Penggunaan bersama dengan obat antikolinergik
17 dapat mengantagonis efek anti dispepsia. Dengan antasida dan antisekretorik dapat menurunkan bioavailabilitas. 4.2.2.3 Merislon Nama Obat Bentuk Sediaan Komposisi Indikasi Dosis Peringatan Efek Samping Interaksi Obat Merislon Tablet Betahistine mesylate 6 mg Vertigo perifer, penyakit meniere, sindrom yang menyerupai penyakit meniere, vertigo. 1-2 tablet, tiga kali dalam sehari Asma bronkhial, tukak peptik atau riwayat tukak peptik. Hamil dan laktasi. Sebaiknya tidak digunakan pada anak usia dibawah 12 tahun. Mual, muntah, gangguan GI lain seperti ruam kulit, kulit gatal Antihistamin 4.2.2.4 Ofloksasin Nama Obat Bentuk Sediaan Komposisi Indikasi Dosis Ofloksasin Tablet Ofloksasin 400 mg Infeksi saluran kemih bagian atas dan bawah, uretritis, servisitis, infeksi saluran napas bawah (kecuali yang disebabkan karena Streptomycin), infeksi kulit dan jaringan lunak, infeksi ginekologi. Infeksi saluran kemih : 100-400 mg/hari terbagi dalam 1-2 dosis untuk 1-10 hari. Infeksi berat atau terkomplikasi: dosis sampai dengan 600 mg/hari selama sampai dengan 20 hari. Infeksi saluran napas bawah : 200-600 mg/hari terbagi dalam 1-3 dosis selama 3-10 hari. Infeksi berat atau terkomplikasi:dosis sampai dengan 800 mg/hari selama sampai dengan 20 hari. Infeksi kulit dan jaringan, infeksi ginekologi : 400 mg/hari selama 7 hari Uretritis tak terkomplikasi: tunggal. 100-400 mg dosis
18 Peringatan Efek Samping Pasien dengan penurunan fungsi ginjal dan lansia. Hentikan obat jika terjadi syok atau gejala menyerupai syok. Epilepsi dan gangguan saraf lain. Dapat mengganggu kemampuan mengemudi atau menjalankan mesin. Pada terapi jangka panjang perlu pemeriksaan fungsi hati, ginjal dan darah. Mual, muntah, rasa tidak enak pada ulu hati, nyeri abdomen, diare, anoreksia, sakit kepala, pusing, gangguan tidur, erupsi kulit, ruam, eksim, gatal. Interaksi Obat Antasid yang mengandung alumunium atau magnesium hidroksida. 4.3 Analisis Kerasionalan Resep Menurut Keputusan Menteri Kesehatana RI No. 1027/Menkes/SK/IX/2004 mengenai standar pelayanan kefarmasian di apotek, persyaratan administratif dalam penulisan resep adalah sebagai berikut : 1. Nama, SIP, dan alamat dokter 2. Tanggal penulisan resep 3. Tanda tangan/paraf dokter penulis resep 4. Nama, alamat, umur, jenis kelamin, dan berat badan pasien 5. Nama obat, potensi, dosis, dan jumlah yang diminta 6. Cara pemakaian yang jelas 7. Informasi lainnya Pada resep diatas dilakukan skrining resep untuk mengetahui kerasionalan dari resep tersebut. Pada resep diatas telah memenuhi semua persyaratan administratif, dimana terdapat nama, SIP, dan alamat dokter; tanggal penulisan resep; paraf dokter; nama, potensi dan dosis obat; serta cara pemakaian. Tugas apoteker dalam melakukan skrinning resep adalah melengkapi keterangan resep yang telah ada seperti menanyakan nomor telepon yang bisa dihubungi kepada pasien untuk memudahkan dalam penelusuran jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Berdasarkan keterangan yang terdapat pada resep, dapat dipastikan bahwa Ny. X menderita infeksi saluran kemih. Infeksi saluran kemih ini terjadi di sepanjang saluran kemih, akibat poliferasi suatu mikroorganisme. Sebagian besar infeksi saluran kemih disebabkan oleh bakteri, tetapi jamur dan virus juga menjadi penyebabnya. Infeksi saluran kemih sering terjadi pada wanita, dimana salah satu penyebabnya adalah uretra wanita yang lebih pendek sehingga bakteri kontaminan lebih mudah memperoleh akses ke kandung kemih. Faktor lain
19 yang mendukung terjadinya infeksi saluran kemih adalah kecenderungan budaya untuk menahan urine serta iritasi kulit lubang uretra pada wanita sewaktu melakukan hubungan kelamin (Corwin, 2007). Hal ini didukung dengan terdapatnya obat antibiotik oral seperti Ofloksasin di dalam resep. Ofloksasin merupakan jenis antibiotika oral golongan kuinolon dengan mekanisme dalam penghambatan DNA-girase suatu enzim essensial yang merupakan katalis penting dalam duplikasi dan transkripsi DNA bakteri. Di dalam resepnya, Ny. X juga diberikan obat racikan yang berisi Simetidin dan Vosedon (Domperidone) dengan tujuan untuk mengatasi efek samping yang ditimbulkan oleh Ofloksasin, yaitu dapat menyebabkan mual, muntah dan gangguan gastrointestinal. Selain itu terdapat juga Merislon (Betahistine mesylate) di dalam resep, untuk mengobati pasien yang sering mengalami vertigo. Pada kasus ini juga diharapkan agar pasien selalu menjaga kesehatan terutama pada bagian saluran kemih dengan cara tidak menahan untuk berkemih dan memberi saran untuk membilas dengan air dari depan ke belakang untuk menghindari kontaminasi ke lubang uretraoleh bakteri feses. Pada resep Ofloksasin (generik) dalam bentuk tablet, diminta untuk dibuatkan menjadi sediaan kapsul sebanyak 10 kapsul. Pengubahan bentuk sediaan ini tidak menjadi masalah karena sediaan tersebut hanya dalam bentuk tablet biasa sehingga tidak akan mempengaruhi mekanisme absorpsinya. Selain itu pada Simetidin dan Vosedon, dilihat dari sisi farmasetika kedua obat tersebut dibuat dalam bentuk racikan. Dilihat dari segi farmakologinya kedua obat tersebut tidak memiliki interaksi secara signifikan. Seharusnya Simetidin dan Vosedon tidak dijadikan dalam menjadi satu racikan yang digabung. Vosedon sebaiknya diberikan lebih dahulu satu jam sebelum makan untuk dapat memberikan efek anti mual. Terdapat interaksi yang signifikan antara Simetidin dengan Ofloksasin, dimana Simetidin dapat meningkatkan kadar dalam plasma atau efek yang ditimbulkan oleh Ofloksasin melalui kompetisi obat dalam pengikatan kationik untuk klirens pada tubulus ginjal, sehingga dapat mengakibatkan efek toksisitas bila tidak terpantau. Berdasarkan dosis yang digunakan, obat dalam resep telah berada dalam rentang dosis yang dibutuhkan. Resep untuk Ny. X, obat Ofloksasin 400 mg diberikan 10 kapsul dimana harus diminum dua kali sehari sebanyak masing-masing satu kapsul. Antibiotik oral ini tidak boleh diberikan berlebih ataupun lupa diberikan, serta pemakaiannya harus dihabiskan agar pengobatan tidak menjadi resisten. Pada obat racikan diberikan lima belas kapsul, begitupula dengan Merislon diberikan lima belas tablet, dimana masing-masing diminum sebanyak tiga kali sehari. Untuk menghindari interaksi obat yang terjadi antara Simetidin dengan
20 Ofloksasin maka perlu dilakukan perbedaaan interval dalam pemberian obat. Dimana obat racikan yang berisi Simetidin dan Vosedon diberikan setengah jam sebelum makan, dan Ofloksasin diberikan satu jam setelah makan, diharapkan efektifitas dalam pengobatan dapat tercapai. Obat tersebut harus tetap diberikan secara teratur. Pada saat meminum Ofloksasin, sebaiknya menghindari untuk mengemudi karena memiliki efek samping dapat mengganggu kemampuan dalam hal mengemudi atau pada waktu menyalakan mesin.
21 BAB 5 KESIMPULAN 5.1 Kesimpulan a. Obat generik khususnya golongan antibiotika oral yang terdapat dalam daftar e-catalogue telah tersedia di Apotek Atrika, seperti amoksisilin, doksisiklin, kloramfenikol, levofloksasin, linkomisin, ofloksasin, sefadroksil, sefaleksin, spiramisin, tetrasiklin, dan tiamfenikol b. Berdasarkan resep yang diterima Apotek Atrika selama periode Februari hingga September 2013, resep yang mengandung obat antibiotik oral generik terdapat 77 lembar resep dalam bentuk terapi dengan golongan obat lain, sementara pada pembelian non resep sebanyak 309 kali pembelian antibiotik oral. Sefadroksil merupakan obat antibiotika oral generik terpilih yang paling sering diresepkan dan yang paling sering digunakan, sementara amoksisilin adalah yang paling sering digunakan dengan pembelian tanpa resep. c. Resep pilihan antibiotik oral yang dilayani Apotek Atrika kurang rasional dan harus selalu terpantau, dimana Vosedon sebaiknya diberikan tersendiri satu jam sebelum makan untuk dapat memberikan efek antimual. Selain itu terdapat peningkatan kadar antibiotika oral akibat interaksi farmakodinamik antara ofloksasin dan simetidin. 5.2 Saran a. Mengingat penggunaan antibiotika oral tanpa resep sangat banyak bila dibandingkan dengan penggunaan resep, maka sebaiknya perlu dilakukan pencatatan dan pemberian informasi obat mengenai cara penggunaan dan dosis yang diberikan, agar kepatuhan pasien dapat tercapai dan meminimalisir resistensi terjadi. b. Tenaga farmasi perlu diberikan tambahan wawasan mengenai pelayanan di Apotek agar dapat memberikan pelayanan yang baik. c. Perlu pengkajian resep pada periode yang lebih lama untuk mengetahui jenis obat antibiotik oral lain yang diresepkan oleh dokter kepada pasien berdasarkan resep yang diterima Apotek Atrika, karena ternyata banyak ditemukan obat yang kurang rasional. 21
22 d. Selain itu, perlu dilakukan wawancara dan konseling dengan pasien untuk mengetahui informasi-informasi yang dibutuhkan sehingga dapat dinilai kerasionalan resep agar tidak menimbulkan masalah nantinya.
23 DAFTAR ACUAN Akalin, EH. (2002). Surgical prophylaxis, The evolution of guidelines in an era of cost containment. Journal Hospital Infections, 50: 3-7. Corwin, Elizabeth J. (2007). Patofisiologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Edberg, Stephen., Stephen, Berger. (1986). Antibiotics and Infection. NewYork: Churchill Livingstone Inc. Fadjriadinur. 2013. Persiapan PT. Askes sebagai BPJS Kesehatan 2014. Diunduh pada tanggal: 1 Desember 2013. Katzung, Bertram, G. (1995). Farmakologi Dasar dan Klinik. Jakarta: Penerbita Buku Kedokteran EGC, Ed. 3. Undang undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. World Health Organization. (2011). Use Antibiotics Rationally. World Health Organization: Artikel Memperingati Hari Kesehatan Sedunia.
TABEL Univerrsitas Indonesia
25 Tabel 2.1. Daftar obat generik e-catalogue pada wilayah DKI Jakarta NO NAMA OBAT PERUSAHAAN SATUAN HARGA 1 Amoksisilin + As. PT. Indofarma Dus, 5 Strip @ 6 4.550 Klavulanat 625 mg tablet Tablet 2 Amoksisilin PT. Holi Pharma ktk 12 strip x 10 200 kapsul/kaplet 250 mg kapsul 3 Amoksisilin PT. Kimia Farma ktk 10 x 10 kaplet 220 kapsul/kaplet 500 mg 4 Amoksisilin sirup PT. Lucas Djaja Botol 60 ml 2.276,92 kering 125 mg/ 5 ml 5 Doksisiklin PT. Indofarma Dus, 10 Strip @ 220 kapsul/kaplet 100 mg 10 Kapsul 6 Eritromisin PT. Kimia Farma ktk 10 x 10 kapsul 440 kapsul/kaplet 250 mg 7 Eritromisin PT. Yarindo 10 X 10 kaplet 864,25 kapsul/kaplet 500 mg Farmatama 8 Eritromisin sirup 200 PT. Kimia Farma btl 60 ml 7.220 mg/ 5 ml 9 Klindamisin PT. Indofarma Dus, 5 Blister @ 382 kapsul/kaplet 150 mg 10 Kapsul 10 Klindamisin PT. Indofarma Dus, 5 Blister @ 527 kapsul/kaplet 300 mg 10 Kapsul 11 Kloramfenikol PT. Kimia Farma ktk 10 x 10 kapsul 213 kapsul/kaplet 250 mg 12 Kloramfenikol PT. Bernofarm Botol 60 ml 3.700 suspensi 125 mg/ 5 ml 13 Kloramfenikol PT. Kimia Farma btl 60 ml 3.700 suspensi 125 mg/ 5 ml 14 Levofloksasin tablet PT. Bernofarm Kotak 30 tab 500 570 500 mg mg 15 Levofloksasin tablet PT. Indofarma Dus, 3 Strip @ 10 570 500 mg Tablet 16 Linkomisin PT. Indofarma Dus, 5 Blister @ 520 kapsul/kaplet 500 mg 12 Kapsul 17 Ofloxacin tablet 200 PT. Indofarma Dus, 2 Strip @ 10 413 mg Tablet 18 Ofloxacin tablet 400 PT. Indofarma Dus, 5 Strip @ 10 654 mg Tablet 19 Sefadroksil sirup PT. Bernofarm Kotak 60 ml 5.200 kering 125 mg/5ml 20 Sefadroksil sirup PT. Hexpharm Jaya Btl 60 ml 5.200 kering 125 mg/5ml 21 Sefadroksil kapsul/kaplet 500 mg Laboratories PT. Bernofarm Kotak 100 kapsul/kaplet 500 mg 520
26 22 Sefadroksil kapsul/kaplet 500 mg 23 Sefaleksin kapsul/kaplet 500 mg 24 Sefiksim 400 mg + Azitromisin 1000 mg 25 Sefiksim kapsul/kaplet 100 mg 26 Sefiksim sirup kering 100 mg/ 5 ml 27 Siprofloksasin tablet 500 mg (sebagai HCl) 28 Siprofloksasin tablet 250 mg (sebagai HCl) 29 Spiramisin tablet 500 mg 30 Tetrasiklin kapsul/kaplet 250 mg 31 Tetrasiklin kapsul/kaplet 500 mg 32 Tiamfenikol kapsul/kaplet 500 mg PT. Hexpharm Jaya Laboratories ktk 10 x 10 kapsul 520 PT. Indofarma Dus, 5 Strip @ 10 972 Kapsul PT. Kimia Farma PAKET/AMPLOP 33.000 PT. Hexpharm Jaya Laboratories Ktk 5 x 10 kapsul 958 PT. Hexpharm Jaya btl 30 ml 10.588 Laboratories PT. Bernofarm Kotak 100 tab 500 250 mg PT. Indofarma Dus, 5 Blister @ 237 10 Tablet PT. Indofarma Dus, 5 Strip @ 10 1.386 Tablet PT. Phapros, Tbk ktk 10 str x 10's 140 PT. Kimia Farma ktk 10 x 10 kapsul 257 PT. Indofarma Dus, 10 Strip @ 10 Kapsul 431
27 Tabel 4.3. Perbandingan Penjualan masing-masing Obat Antibiotik Oral Generik Periode Februari September 2013 Obat Antibiotika Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Non Non Non Non Non Non Non Non Resep Resep Resep Resep Resep Resep Resep Resep Resep Resep Resep Resep Resep Resep Resep Resep Amoksisilin 10 280 355 235 250 133 207 15 205 200 250 Spiramycin 30 Doxycillin 15 40 20 30 30 20 10 10 10 Ofloxacin 20 6 Cefadroxil 26 50 23 20 30 36 10 35 10 20 20 8 31 21 Cefixime 9 3 10 3 10 10 10 Linkomisin 18 24 20 12 18 48 27 12 12 12 Ampisilin 2 10 20 40 15 120 Azithromycin 3 Thiamycin 20 10 10 10 10 40 Levofloxacin 10 22 6 5 5 3 Kloramfenikol 302 282 214 20 100 80 30 50 50 Teramycin 1 Cefalexin 12 16 Ciprofloxacin 40 20 20 15 20 10 50 100 60 Clindamycin 30 10 43 18 10 Tetrasiklin 90 30 80 160 250 120 260 Tiamfenikol 10 TOTAL 133 812 80 727 72 561 105 528 261 509 82 658 31 517 46 821
28 Tabel 4.5. Daftar PBF obat yang terdapat di dalam resep No. Nama Obat PBF Alamat No. Telepon 1. Cimetidine Kimia Farma Ruko Majapahit Permai Blok A 105-106. Jalan Majapahit No. 021-34833395 18-22 Jakarta Pusat Bina San Prima Jalan Rawa Gelam IV No.7 Kawasan Industri Pulogadung 021-46826464 Jakarta Timur 2. Vosedon Bina San Prima Jalan Rawa Gelam IV No.7 Kawasan Industri Pulogadung 021-46826464 Jakarta Timur 3. Merislon Guna Abdi Wisesa Jalan Kalibaru Barat Raya No. 65 Jakarta 021-4253830 Stimec Int Jalan Lautze No. 60 Jakarta 021-3456868 4. Ofloxacin Kimia Farma Ruko Majapahit Permai Blok A 105-106. Jalan Majapahit No. 021-34833395 18-22 Jakarta Pusat Indofarma Global Komp. Infinia, Jalan Dr. Saharjo No.45 Jakarta Selatan 12850 021-83792599 Medika Antar Mitra Sembada Jalan Kamboja Ujung Blok I No. 1 Kota Bambu
GAMBAR
30 Perbandingan Jumlah Antibiotik Oral pada Bulan Februari 2013 Jumlah 400 300 200 100 0 Amoksisilin Spiramycin Doxycillin Ofloxacin Cefadroxil Cefixime Linkomisin Ampisilin Azithromycin Thiamycin Levofloxacin Kloramfenikol Teramycin Cefalexin Ciprofloxacin Clindamycin Tetrasiklin Tiamfenikol Antibiotik Oral Resep Non-Resep Gambar 4. 3. Perbandingan Jumlah Antibiotik Oral pada Bulan Februari 2013 400 Perbandingan Jumlah Antibiotik Oral pada Bulan Maret 2013 Jumlah 300 200 100 0 Amoksisilin Spiramycin Doxycillin Ofloxacin Cefadroxil Cefixime Linkomisin Ampisilin Azithromycin Thiamycin Levofloxacin Kloramfenikol Teramycin Cefalexin Ciprofloxacin Clindamycin Tetrasiklin Tiamfenikol Antibiotik Oral Resep Non-Resep Gambar 4.4. Perbandingan Jumlah Antibiotik Oral pada Bulan Maret 2013
31 Jumlah 250 200 150 100 50 0 Perbandingan Jumlah Antibiotik Oral pada Bulan April 2013 Amoksisilin Spiramycin Doxycillin Ofloxacin Cefadroxil Cefixime Linkomisin Ampisilin Azithromycin Thiamycin Levofloxacin Kloramfenikol Teramycin Cefalexin Ciprofloxacin Clindamycin Tetrasiklin Tiamfenikol Antibiotik Oral Resep Non-Resep Gambar 4.5. Perbandingan Jumlah Antibiotik Oral pada Bulan April 2013 Jumlah 250 200 150 100 50 0 Perbandingan Jumlah Antibiotik Oral pada Bulan Mei 2013 Amoksisilin Spiramycin Doxycillin Ofloxacin Cefadroxil Cefixime Linkomisin Ampisilin Azithromycin Thiamycin Levofloxacin Kloramfenikol Teramycin Cefalexin Ciprofloxacin Clindamycin Tetrasiklin Tiamfenikol Antibiotik Oral Resep Non-Resep Gambar 4.6. Perbandingan Jumlah Antibiotik Oral pada Bulan Mei 2013
32 Jumlah 250 200 150 100 50 0 Perbandingan Jumlah Antibiotik Oral pada Bulan Juni 2012 Amoksisilin Spiramycin Doxycillin Ofloxacin Cefadroxil Cefixime Linkomisin Ampisilin Azithromycin Thiamycin Levofloxacin Kloramfenikol Teramycin Cefalexin Ciprofloxacin Clindamycin Tetrasiklin Tiamfenikol Antibiotik Oral Resep Non-Resep Gambar 4.7. Perbandingan Jumlah Antibiotik Oral pada Bulan Juni 2013 250 Perbandingan Jumlah Antibiotik Oral pada Bulan Juli 2013 Jumlah 200 150 100 50 0 Amoksisilin Spiramycin Doxycillin Ofloxacin Cefadroxil Cefixime Linkomisin Ampisilin Azithromycin Thiamycin Levofloxacin Kloramfenikol Teramycin Cefalexin Ciprofloxacin Clindamycin Tetrasiklin Tiamfenikol Antibiotik Oral Resep Non-Resep Gambar 4.8. Perbandingan Jumlah Antibiotik Oral pada Bulan Juli 2013
33 200 Perbandingan Jumlah Antibiotik Oral pada Bulan Agustus 2013 Jumlah 150 100 50 Resep Non-Resep 0 Amoksisilin Spiramycin Doxycillin Ofloxacin Cefadroxil Cefixime Linkomisin Ampisilin Azithromycin Thiamycin Levofloxacin Kloramfenikol Teramycin Cefalexin Ciprofloxacin Clindamycin Tetrasiklin Tiamfenikol Antibiotik Oral Gambar 4.9. Perbandingan Jumlah Antibiotik Oral pada Bulan Agustus 2013 300 Perbandingan Jumlah Antibiotik Oral pada Bulan September 2013 Jumlah 200 100 0 Amoksisilin Spiramycin Doxycillin Ofloxacin Cefadroxil Cefixime Linkomisin Ampisilin Azithromycin Thiamycin Levofloxacin Kloramfenikol Teramycin Cefalexin Ciprofloxacin Clindamycin Tetrasiklin Tiamfenikol Antibiotik Oral Resep Non-Resep Gambar 4.10. Perbandingan Jumlah Antibiotik Oral pada Bulan September 2013
34 Gambar 4.11. Contoh Resep di Apotek Atrika