UNIVERSITAS INDONESIA
|
|
|
- Erlin Kartawijaya
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT SYDNA FARMA JL. RC. VETERAN NO. 89 BINTARO JAKARTA SELATAN PERIODE 1 JULI 29 AGUSTUS 2014 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER SRIWULANTYA, S.Farm ANGKATAN LXXIX FAKULTAS FARMASI PROGRAM PROFESI APOTEKER DEPOK JANUARI 2015
2 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT SYDNA FARMA JL. RC. VETERAN NO. 89 BINTARO JAKARTA SELATAN PERIODE 1 JULI 29 AGUSTUS 2014 Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker SRIWULANTYA, S.Farm ANGKATAN LXXIX FAKULTAS FARMASI PROGRAM PROFESI APOTEKER DEPOK JANUARI 2015
3 ii
4
5 KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa melimpahkan karunia dan rahmat-nya, sehingga dapat terselesaikannya Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di PT Sydna Farma yang dilaksanakan dari tanggal 1 Juli sampai 29 Agustus Laporan ini disusun sebagai salah satu syarat memenuhi kurikulum Program Pendidikan Profesi Apoteker Fakultas Farmasi. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada : 1. Bapak Dr. Mahdi Jufri, M.Si. selaku Dekan Fakultas Farmasi UI. 2. Bapak Dr. Hayun, M.Si. Apt. selaku Ketua Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi UI. 3. Ibu Dra. Nony Shilviani, Apt. Selaku Manajer Pabrik PT Sydna Farma yang telah memberikan kesempatan untuk melakukan PKPA di PT Sydna Farma, serta selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan, pengarahan pelatihan, ilmu dan saran kepada penulis selama penyusunan laporan PKPA. 4. Ibu Dra. Maryati Kurniadi, M.Si., Apt. selaku pembimbing dari Fakultas Farmasi yang telah memberikan ilmu, bimbingan, dan nasehat yang bermanfaat kepada penulis selama penyusunan laporan PKPA. 5. Ibu Arzuliana Zulkati, S.Si., Apt. Manajer Pemastian Mutu PT Sydna Farma yang telah memberikan bimbingan, pengarahan, ilmu dan saran kepada penulis selama penyusunan laporan PKPA. 6. Bapak Wisnu Hercahya, S.Si., Apt. Selaku Manajer Pengawasan Mutu PT Sydna Farma yang telah memberikan bimbingan, pengarahan, ilmu dan saran kepada penulis selama penyusunan laporan PKPA. 7. Seluruh Manajer, Supervisor, dan Staff PT Sydna Farma yang telah membantu dalam pelaksanaan praktek kerja profesi dan penyusunan laporan ini. 8. Seluruh dosen dan staff tata usaha Fakultas Farmasi UI atas ilmu dan bantuan yang diberikan selama penulis menjalani pendidikan di Program Profesi Apoteker. iv
6 9. Keluarga tercinta yang telah memberikan bantuan moril dan materil atas kesabarannya, kasih sayang, dukungan, perhatian dan doa untuk menyelesaikan pendidikan profesi Apoteker dengan sebaik mungkin. 10. Rekan-rekan PKPA di PT Sydna Farma yang telah berbagi ilmu, pengalaman dan juga menghibur selama pelaksanaan PKPA. 11. Seluruh sahabat dan teman-teman Program Profesi Apoteker, Fakultas Farmasi UI selaku teman seperjuangan yang telah memberikan dukungan dan semangat. Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca. Akhir kata, penulis barharap semoga laporan dapat bermanfaat bagi kita semua. Penulis Agustus 2014 iv
7
8 ABSTRAK Nama : Sriwulantya, S.Farm. NPM : Program Studi : Profesi Apoteker Judul : Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di PT Sydna Farma Jl. RC. Veteran No. 89 Bintaro Jakarta Selatan Periode 1 Juli 29 Agustus 2014 Praktek Kerja Profesi Apoteker bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan tentang segala aspek industri farmasi yang berhubungan dengan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), serta mengetahui dan memahami tugas dan tanggung jawab seorang Apoteker di dalam industri farmasi yang diharapkan dapat menjadi bekal untuk menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya. Tugas khusus bertujuan untuk memahami pentingnya kualifikasi kinerja pada mesin dan peralatan yang digunakan dalam proses produksi maupun analisis, serta mampu melaksanakan kualifikasi kinerja dan menyusun laporan kualifikasi autoklaf Hirayama HV-50 pada laboratorium analisis mikrobiologi di PT Sydna Farma. Kata kunci : PT Sydna Farma, CPOB, Kualifikasi Tugas umum : vii+ 85 halaman; 6 lampiran Tugas Khusus : iii+ 18 halaman; 1 lampiran Daftar Acuan Tugas Umum : 27 ( ) Daftar Acuan Tugas Khusus : 10 ( )
9 ABSTRACT Name : Sriwulantya, S.Farm. NPM : Study Program : Apothecary Profession, Pharmacy Faculty Title : Pharmacist Internship Report at PT Sydna Farma Jl. RC. Veteran No. 89 Bintaro, South Jakarta Periods of July 1 st - August 29 th 2014 Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) aims to increase knowledge and insight on all aspects of the pharmaceutical industry associated with the Good Manufacturing Practice (GMP), and to know and understand the duties and responsibilities of a pharmacist in the pharmaceutical industry and is expected to be beneficial to face the world of work in the future. Specific task aims to understand the importance of qualifying performance on machines and equipment used in the production process and analysis, and able to carry out qualification and performance qualification autoclave compiling reports Hirayama HV-50 in laboratory microbiological analysis in PT Sydna Farma. Key Words: PT Sydna Farma, CPOB, Qualifications General Assignment: vii+ 85 pages; 6 appendices Specific Assignment: iii+ 18 pages; 1 appendices Bibliography of General Assignment: 27 ( ) Bibliography of Specific assignment: 10 ( )
10 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... Hal i ii iii v vi vii BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tujuan... 2 BAB 2 TINJAUAN UMUM 2.1 Industri Farmasi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB)... 6 BAB 3 TINJAUAN KHUSUS 3.1 Profil PT Sydna Farma Lokasi dan Saran Produksi Visi dan Misi Niali Utama PT Sydna Farma Organisasi dan tata Kerja Produk PT Sydna Farma BAB 4 PEMBAHASAN 4.1 Penerapan CPOB di Industri Manajemen Mutu Personalia Bangunan dan Failitas Peralatan Sanitasi dan Higiene Produksi Pengawasan Mutu Inspeksi Diri dan Audit Mutu Penanganan Keluhan Terhadap Produk, Penarikan Kembali Produk dan Produk Kembalia Dokumentasi Pembuatan dan Analisis Berdasarkan Kontrak Kualifikasi dan Validasi BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Saran DAFTAR ACUAN vi
11 DAFTAR GAMBAR Hal Gambar 4.1 Sistem Tata Udara Gambar 4.2 Proses Pengolahan Air Keran Menjadi Air Demineralisata Gambar 4.3 Proses Pengolahan Aquademineralisata Menjadi WFI Gambar 4.4 Sistem Pengolahan Limbah Cair di PT Sydna Farma vii
12 DAFTAR LAMPIRAN Hal Lampiran 1. Bagan Struktur Organisasi Pabrik PT Sydna Farma Lampiran 2. Bagan Struktur Organisasi Departemen Pengadaan PT Sydna Farma Lampiran 3. Bagan Struktur Organisasi Departemen Produksi PT Sydna Farma Lampiran 4. Bagan Struktur Organisasi Departemen Pemastian Mutu PT Sydna Farma Lampiran 5. Bagan Struktur Organisasi Departemen Pengawasan Mutu PT Sydna Farma Lampiran 6. Bagan Struktur Organisasi Departemen Teknik Servis dan Kesehatan Keselamatan Lingkungan PT Sydna Farma viii
13 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri farmasi merupakan salah satu industri yang dikontrol dan diawasi dengan ketat oleh pemerintah dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Pengontrolan tersebut ditinjau dari segi perizinan, produksi, peredaran, maupun kualitas obat yang diedarkan. Hal tersebut dilakukan agar industri farmasi menghasilkan produk yang memenuhi syarat mutu sehingga terwujud kesehatan nasional. Penerapan CPOB merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh industri farmasi untuk meningkatkan kualitas obat yang diproduksinya. CPOB adalah pedoman pembuatan obat bagi industri farmasi di Indonesia yang bertujuan untuk menjamin obat dibuat secara konsisten, memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan dan sesuai dengan tujuan penggunaannya. Melalui pedoman CPOB semua aspek yang berhubungan dengan produksi dan pengendalian mutu obat diperhatikan dan ditentukan sedemikian rupa sehingga tujuannya tercapai. Menurut CPOB, tidaklah cukup bila obat jadi hanya sekedar lulus dari serangkaian pengujian, tetapi yang penting adalah bahwa mutu harus dibentuk ke dalam produk tersebut (BPOM, 2012). CPOB menyangkut berbagai aspek mulai dari manajemen mutu, personalia, bangunan dan fasilitas, peralatan dan higienis, produksi, pengawasan mutu, inspeksi diri, audit mutu dan persetujuan pemasok, penanganan keluhan terhadap obat dan penarikan kembali obat serta obat kembalian, dokumentasi, pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak, serta kualifikasi dan validasi (BPOM, 2012). Seorang apoteker di industri farmasi mempunyai peranan dan tanggung jawab penting untuk menerapkan aspek-aspek yang tercantum dalam CPOB tersebut, antara lain sebagai penanggung jawab produksi, penanggung jawab pengawasan dan pemastian mutu. Untuk mencapai peran dan tanggung jawab tersebut, apoteker dituntut memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai. Namun, pemahaman melalui teori yang didapat dari perkuliahan saja masih kurang mencukupi, maka calon apoteker perlu dibekali dengan 1
14 2 pengetahuan dan pemahaman yang komprehensif antara teori dengan prakteknya secara langsung. Program Profesi Apoteker Farmasi bekerja sama dengan PT Sydna Farma dalam meyelenggarakan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) bagi para calon Apoteker guna memberikan perbekalan, pengetahuan, pemahaman dan gambaran singkat peran dan tanggung jawab Apoteker di industri farmasi. Pelaksanaan praktek kerja berlangsung dari 1 Juli 29 Agustus Dengan adanya praktek kerja ini diharapakan mahasiswa calon Apoteker dapat mengambil manfaat dan ilmu sebanyak mungkin agar nantinya dapat diterapkan secara nyata di dunia kerja. 1.2 Tujuan Tujuan dari Praktek Kerja Profesi Apoteker di industri farmasi PT Sydna Farma adalah: a. Meningkatkan pengetahuan dan wawasan tentang segala aspek industri farmasi yang berhubungan dengan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). b. Melihat secara langsung proses produksi obat serta penerapan CPOB di PT Sydna Farma. c. Mengetahui dan memahami tugas dan tanggung jawab seorang Apoteker di dalam industri farmasi yang diharapkan dapat menjadi bekal untuk menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya.
15 BAB 2 TINJAUAN UMUM 2.1 Industri Farmasi Pengertian Industri Farmasi Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.1799/Menkes/Per/XII 2010 tentang Industri Farmasi, industri farmasi adalah badan usaha yang memiliki izin dari Menteri Kesehatan untuk melakukan kegiatan pembuatan obat dan bahan obat. Definisi dari obat jadi menurut Surat Kepmenkes No.245/MenKes/SK/V/1990 adalah sediaan atau paduan bahan-bahan yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi, sedangkan yang dimaksud dengan bahan baku obat adalah bahan baik yang berkhasiat maupun yang tidak berkhasiat yang digunakan dalam pengolahan obat dengan standar mutu sebagai bahan farmasi. Proses pembuatan obat dan/atau bahan obat hanya dapat dilakukan oleh industri farmasi. Industri farmasi dapat melakukan kegiatan proses pembuatan obat dan/atau bahan obat untuk semua tahapan kegiatan dalam menghasilkan obat, yang meliputi pengadaan bahan awal dan bahan pengemas, produksi, pengemasan, pengawasan mutu dan pemastian mutu sampai diperoleh obat untuk didistribusikan (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2010) Persyaratan Usaha Industri Farmasi Perusahaan industri farmasi wajib memperoleh izin usaha industri farmasi. Usaha industri farmasi wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2010): a. Setiap pendirian industri farmasi wajib memperoleh izin industri farmasi dari Direktur Jenderal Bina Kefarmasiaan dan Alat Kesehatan. b. Industri farmasi yang membuat obat dan/atau bahan obat yang termasuk dalam golongan narkotika wajib memperoleh izin khusus untuk memproduksi narkotika sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. 3
16 4 Adapun persyaratan untuk memperoleh izin industri farmasi, antara lain: a. Berbadan usaha berupa perseroan terbatas b. Memiliki rencana investasi dan kegiatan pembuatan obat c. Memilik Nomor Pokok Wajib Pajak d. Memiliki secara tetap paling sedikit 3 (tiga) orang apoteker Warga Negara Indonesia, masing-masing sebagai penanggung jawab pemastian mutu, produksi dan pengawasan mutu. e. Komisaris dan direksi tidak pernah terlibat, baik langsung atau tidak langsung dalam pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang kefarmasian Izin Usaha Industri Farmasi Untuk memperoleh izin usaha industri farmasi diperlukan persetujuan prinsip yang berlaku selama 3 (tiga) tahun. Permohonan persetujuan prinsip diajukkan kepda Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Dalam hal permohonan persetujuan prinsip dilakukan oleh industri Penanaman Modal Asing (PMA) atau Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), pemohon harus memperoleh surat persetujuan penanaman modal dari instansi yang menyelenggarakan urusan penanaman modal sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Persetujuan prinsip diberikan olek Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan setelah pemohon memperoleh persetujuan Rencana Induk Pembangunan (RIP) dari Kepala BPOM. Dalam hal permohonan persetujuan prinsip telah diberikan, pemohon dapat langsung melakukan persiapan, pembagunan, pengadaan, pemasangan dan instalasi peralatan termasuk produksi percobaan dengan memperhatikan ketentuan perundang-undangan. Setiap pendirian industri farmasi wajib memenuhi ketentuan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan di bidang tata ruang dan lingkungan hidup. Industri farmasi wajib memenuhi persyaratan CPOB yang dibuktikan dengan sertifikat CPOB. Sertifikat CPOB berlaku selama 5 (lima) tahun sepanjang memenuhi persyaratan. Ketentuan mengenai persyaratan dan tata cara sertifikasi CPOB diatur oleh Kepala BPOM. Izin usaha industri farmasi diberikan oleh Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan dengan rekomendasi
17 5 dari kepala BPOM. Izin ini berlaku seterusnya selama perusahaan industri farmasi tersebut berproduksi dan memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan. Industri farmasi yang akan melakukan perubahan bermakna terhadap pemenuhan persyratan CPOB baik untuk perubahan kapasitas dan/atau fasilitas produksi wajib melapor dan mendapat persetujuan sesuai dengan perundang-undangan. Untuk industri farmasi PMA, masa berlakunya sesuai dengan ketentuan dalam UU No. 1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing dan peraturan pelaksanaannya. Perusahaan industri farmasi yang telah mendapat Izin Usaha Industri wajib: a. Menyampaikan laporan industri secara berkala mengenai kegiatan usahanya, yaitu sekali dalam enam bulan, meliputi jumlah dan nilai produksi setiap obat atau bahan obat yang dihasilkan serta sekali dalam satu tahun. b. Melaksanakan upaya keseimbangan dan kelestarian sumber daya alam serta pencegahan timbulnya kerusakan dan pencemaran terhadap lingkungan hidup akibat kegiatan industri farmasi yang dilakukannya. c. Melaksanakan upaya yang menyangkut keamanan dan keselamatan alat, bahan baku dan bahan penolong, proses serta hasil produksinya termasuk pengangkutannya dan keselamatan kerja. d. Melakukan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang berlaku bagi jenis-jenis industri yang telah ditetapkan dan kewajiban untuk melakukannya setelah memperoleh Izin Usaha Industri Farmasi Pelanggaran Industri Farmasi Pelanggaran terhadap ketentuan yang tercantum dalam peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1799/Menkes/Per/XII/2010 tentang Industri Farmasi dapat dikenakan sanksi administratif berupa: a. Peringatan secara tertulis (diberikan oleh Kepala BPOM). b. Larangan mengedarkan untuk sementara waktu dan/atau perintah untuk penarikan kembali obat atau bahan obat dari peredaran bagi obat atau
18 6 bahan obat yang tidak memenuhi standar dan persyaratan keamanan, khasiat, atau mutu (diberikan oleh Kepala BPOM). c. Perintah pemusnahan obat atau bahan obat jika terbukti tidak memenuhi persyaratan keamanan, khasiat atau mutu (diberikan oleh Kepala BPOM). d. Penghentian sementara kegiatan (diberikan oleh Kepala BPOM). e. Pembekuan izin industri farmasi (diberikan oleh Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan atas rekomendasi Kepala BPOM). f. Pencabutan izin industri farmasi (diberikan oleh Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan atas rekomendasi Kepala BPOM) Pencabutan Izin Usaha industri Farmasi a. Perusahaan Industri Farmasi yang telah mendapatkan Izin Usaha Industri Farmasi melakukan pemindah tanganan hak milik Izin Usaha Industri Farmasi dan memperluas tanpa memiliki izin sesuai dengan ketentuan dalam Surat Keputusan ini. b. Perusahaan Industri Farmasi yang telah mendapatkan Izin Usaha Industri Farmasi tidak menyampaikan informasi industri farmasi secara berturutturut 3 (tiga) kali atau dengan sengaja menyampaikan informasi yang tidak benar. c. Perusahaan Industri Farmasi yang telah mendapatkan Izin Usaha Industri Farmasi melakukan pemindahan lokasi usaha industri tanpa persetujuan tertulis terlebih dahulu dari menteri. d. Perusahaan Industri Farmasi yang telah mendapatkan Izin Usaha Industri Farmasi dengan sengaja memproduksi Obat Jadi atau Bahan Baku Obat yang tidak memenuhi persyaratan dan ketentuan yang berlaku, obat palsu. e. Tidak dipenuhinya ketentuan dalam Izin Usaha Industri Farmasi yang ditetapkan dalam Surat Keputusan 2.2 Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) Secara prinsip, CPOB bertujuan untuk mejamin obat dibuat secara konsisten, memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan sesuai dengan tujuan penggunaannya. CPOB mencakup seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu.
19 7 Pada pembuatan obat, pengedalian menyeluruh adalah sangat esensial untuk menjamin bahwa konsumen menerima obat yang bermutu tinggi. Untuk menjamin bahwa konsumen menerima obat yang bermutu tinggi. Pembuatan secara sembarangan tidak dibenarkan bagi produk yang digunakan untuk menyelamatkan jiwa atau memulihkan atau memelihara kesehatan. Suatu produk tidak hanya lulus dari serangkaian pengujian tapi yang lebih adalah bahwa mutu harus dibentuk dalam produk tersebut. Mutu obat tergantung pada bahan awal, bahan pengemas, proses produksi, dan pengendalian mutu, bangunan, peralatan yang dipakai dan personel yang terlibat. Tidaklah cukup bila produk jadi hanya sekedar lulus dari serangkaian pengujian, tetapi yang lebih penting adalah bahwa mutu harus dibentuk ke dalam produk tersebut. Mutu obat tergantung pada bahan awal, bahan pengemas, proses produksi, dan pengendalian mutu, bangunan, peralatan yang dipakai dan personel yang terlibat. Pedoman ini juga dimaksudkan untuk digunakan oleh industri farmasi sebagai dasar pengembangan aturan internal sesuai kebutuhan. Pemastian mutu suatu obat tidak hanya mengandalkan pada pelaksanaan pengujian tertentu saja, namun hendaklah dibuat dalam kondisi yang dikendalikan dan dipantai secara cermat. CPOB merupakan pedoman yang bertujuan untuk memastikan agar mutu obat yang dihasilkan sesuai persyaratan dan tujuan penggunaannya, bila perlu dapat dilakukan penyesuaian pedoman dengan syarat bahwa standar mutu obat yang telah ditentukan tetap tercapai. CPOB adalah bagian dari Pemastian Mutu yang memastikan bahwa obat dibuat dan dikendalikan secara konsisten untuk mencapai standar mutu yang sesuai dengan tujuan penggunaan dan dipersyaratkan dalam izin edar dan spesifikasi produk. CPOB mencakup Produksi dan Pengawasan Mutu. Persyaratan dasar dari CPOB adalah : a. Semua proses pembuatan obat dijabarkan dengan jelas, dikaji secara sistematis berdasarkan pengalaman dan terbukti mampu secara konsisten menghasilkan obat yang memenuhi persyaratan mutu yang telah ditetapkan. b. Tahap proses yang kritis dalam pembuatan, pengawasan proses dan sarana penunjang serta perubahan yang signifikan divalidasi. Tersedia semua
20 8 sarana yang diperlukan dalam CPOB termasuk: personel terkualifikasi dan terlatih, bangunan dan sarana dengan luas memadai, peralatan dan sarana penunjang yang sesuai, bahan, wadah dan label yang benar, prosedur dan instruksi yang disetujui, tempat penyimpanan dan transportasi yang memadai. c. Prosedur dan instruksi ditulis dalam bentuk instruksi dengan bahasa yang jelas, tidak bermakna ganda, dapat diterapkan secara spesifik pada sarana yang tersedia. d. Operator memperoleh pelatihan untuk menjalankan prosedur secara benar. e. Pencatatan dilakukan secara manual atau dengan alat pencatat selama pembuatan yang menunjukkan bahwa semua langkah yang dipersyaratkan dalam prosedur dan instruksi yang ditetapkan benar-benar dilaksanakan dan jumlah serta mutu produk yang dihasilkan sesuai dengan yang diharapkan. Tiap penyimpangan dicatat secara lengkap dan diinvestigasi. f. Catatan pembuatan termasuk distribusi yang memungkinkan penelusuran riwayat bets secara lengkap, disimpan secara komprehensif dan dalam bentuk yang mudah diakses. g. Penyimpanan dan distribusi obat yang dapat memperkecil risiko terhadap mutu obat. h. Tersedia sistem penarikan kembali bets manapun dari peredaran. i. Keluhan terhadap produk yang beredar dikaji, penyebab cacat mutu diinvestigasi serta dilakukan tindakan perbaikan yang tepat dan pencegahan pengulangan kembali keluhan Menejemen Mutu (Quality Management) Industri farmasi harus membuat obat sedemikian rupa agar sesuai dengan tujuan penggunaannya, memenuhi persyaratan yang tercantum dalam dokumen izin edar (registrasi) dan tidak menimbukan risiko yang membahayakan penggunanya karena tidak aman, mutu rendah atau tidak efektif. Menejemen bertanggung jawab untuk pencapaian tujuan ini melalui Kebijakan Mutu, yang memerlukan partisipasi dan komitmen dari semua jajaran di semua departemen di dalam perusahaan, para pemasok dan para distributor.
21 9 Untuk mencapai tujuan mutu secara konsisten dan dapat diandalkan, diperlukan system Pemastian Mutu yang didesain secara menyeluruh dan diterapkan secara benar serta menginkoporasi Cara Pembuatan Obat yang Baik termasuk Pengawasan Mutu dan Manajemen Resiko Mutu. Untuk dasar manajemen mutu adalah : a. Suatu infrastruktur atau sistem yang tepat mencakup struktur organisasi, prosedur, proses dan sumber daya. b. Tindakan sistematis yang diperlukan untuk mendapatkan kepastian dengan tingkat kepercayaan yang tinggi, sehingga produk (atau jasa pelayanan) yang dihasilkan akan selalu memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Keseluruhan tindakan tersebut disebut Pemastian Mutu Semua bagian sistem Pemastian Mutu hendaklah didukung dengan ketersediaan personel yang kompeten, bangunan dan saran serta peralatan yang cukup dan memadai. Tambahan tanggung jawab legal hendaklah diberikan kepada Menejemen Mutu (Pemastian Mutu) Personalia Sumber daya manusia sangat penting dalam pembentukan dan penerapaan sistem pemastian mutu yang memuaskan dan pembuatan obat yang benar. Oleh sebab itu, industri farmasi bertanggung jawab untuk menyediakan personel yang terkualifikasi dalam jumlah yang memadai untuk melaksanakan semua tugas. Tiap personel hendaklah memahami tanggung jawab masing-masing dan dicatat. Seluruh personel hendaklah memahami prinsip CPOB serta memperoleh pelatihan awal dan berkesinambungan, termasuk instruksi mengenal hygiene yang berkaitan dengan pekerjaannya. Industri farmasi hendaknya memiliki personel yang terkualifikasi dan berpengalaman praktis dalam jumlah yang memadai. Tiap personel hendaklah tidak dibebani tanggung jawab yang berlebihan untuk menghindari risiko terhadap mutu obat. Industri farmasi juga harus memiliki struktur organisasi. Tugas spesifik dan kewenangan dari personel pada posisi penanggung jawab hendaklah dicantumkan dalam uraian tugas tertulis. Hendaklah aspek penerapan CPOB tidak
22 10 ada yang terlewatkan ataupun tumpang tindih dalam tanggung jawab yang tercantum dalam uraian tugas. Personel kunci mencakup kepala bagian produksi, kepala bagian pengawasan mutu, kepala bagian manajemen mutu (pemastian mutu). Posisi utama tersebut dijabat oleh personel purna waktu. Kepala bagian produksi dan kepala bagian manajemen mutu (pemastian mutu)/kepala bagian pengawasan mutu harus independen satu terhadap yang lain. Struktur organisasi industri farmasi hendaklah sedemikian rupa sehingga bagian produksi, pengawasan mutu, manajemen mutu (pemastian mutu) dipimpin oleh orang yang berbeda serta tidak saling bertanggung jawab satu terhadap yang lain. Masing-masing personil hendaklah diberi wewenang penuh dan sarana yang memadai yang diperlukan untuk dapat melaksanakan tugasnya secara efektif. Hendaklah personil tersebut tidak mempunyai kepentingan lain di luar organisasi yang dapat menghambat atau membatasi kewajibannya dalam melaksanakan tanggung jawab atau yang dapat menimbulkan konflik kepentingan pribadi atau finansial. Industri farmasi hendaklah memberikan pelatihan bagi seluruh personel yang karena tugasnya harus berada di dalam area produksi, gudang penyimpanan atau laboratorium (termasuk personel teknik, perawatan dan petugas kebersihan), dan bagi personel lain yang kegiatannya dapat berdampak pada mutu produk. Disamping pelatihan dasar dalam teori dan praktek CPOB, personel baru hendaklah mendapat pelatihan sesuai dengan tugas yang diberikan. Pelatihan berkesinambungan hendaklah juga diberikan, dan efektivitas penerapannya hendaklah dinilai secara berkala. Hendaklah tersedia program pelatihan yang disetujui kepala bagian masing-masing dan catatan pelatihan hendaklah disimpan Bangunan dan Fasilitas Bangunan dan fasilitas untuk pembuatan obat hendaklah memiliki desain, konstruksi, dan letak yang memadai, serta disesuaikan kondisinya dan dirawat dengan baik untuk memudahkan pelaksanaan operasi yang benar. Tata letak dan desain ruangan harus dibuat sedemikian rupa untuk memperkecil risiko terjadinya
23 11 kekeliruan, pencemaran silang dan kesalahan lain, dan memudahkan pembersihan, sanitasi dan perawatan yang efektif untuk menghindari pencemaran silang, penumpukan debu atau kotoran, dan dampak lain yang dapat menurunkan mutu obat. Adapun syarat-syarat bangunan dan fasilitas menurut CPOB adalah sebagai berikut : a. Letak bangunan hendaklah sedemikian rupa untuk menghindari terjadinya pencemaran dari lingkungan sekelilingnya, seperti pencemaran dari udara, tanah dan air serta kegiatan insustri lainnya yang berdekatan. b. Bangunan dan fasilitas hendaklah didesain, dikontruksi, dilengkapi dan dirawat sedemikian agar memperoleh perlindungan maksimal terhadap pengaruh cuaca, banjir, rembesan dari tanah serta masuk dan bersarangnya serangga, burung, binatang pengerat, kutu atau hewan lain. c. Desain dan tata letak ruang hendaklah memastikan kompatibilitas dengan kegiatan produksi lain yang mungkin dilakukan di dalam sarana yang sama atau sarana yang berdampingan dan pencegahan area produksi dimanfaatkan sebagai jalur lalu lintas bagi personel dan bahan atau produk, atau sebagai tempat penyimpanan bahan atau produk selain yang sedang diproses. d. Tata letak ruang produksi sebaiknya dirancang sedemikian rupa untuk memungkinkan kegiatan produksi dilakukan di area yang saling berhubungan antara satu ruangan dengan ruangan lain mengikuti urutan tahap produksi dan menurut kelas kebersihan yang dipersyaratkan; luasnya area kerja dan area penyimpanan bahan atau produk yang sedang dalam proses hendaknya memadai untuk memungkinkan penempatanan peralatan dan bahan secara teratur dan sesuai dengan alur proses, sehingga dapat memperkecil risiko terlewat atau salah melaksanakan tahapan proses produksi atau pengawasan. e. Daerah pengolahan produk steril dipisahkan dari daerah produksi lain serta dirancang dan dibangunan secara khusus. f. Obat yang mengandung golongan penisilin dan sefalosporin diproduksi dalam suatu bangunan yang terpisah dilengkapi peralatan pengendali udara.
24 12 g. Permukaan dinding, lantai dan langit-langit bagian dalam ruangan di mana terdapat bahan baku dan bahan pengemas primer, produk antara atau produk ruahan yang terpapar ke lingkungan hendaklah halus, bebas retak dan sambungan yang terbuka, tidak melepaskan partikulat, serta memungkinkan pelaksanaan pembersihan (bila perlu disinfeksi) yang mudah dan efektif. h. Saluran pembuangan air hendaklah cukup besar dan dilengkapi bak kontrol untuk mencegah alir balik. i. Area produksi hendaklah mendapat penerangan yang memadai, terutama di mana pengawasan visual dilakukan pada saat proses berjalan Peralatan Peralatan untuk pembuatan obat hendaklah memiliki desain dan kontruksi yang tepat, ukuran yang memadai serta ditempatkan dan dikualifikasi dengan tepat agar mutu obat terjamin sesuai desain serta seragam dari bets ke bets lain dan untuk memudahkan pembersihan serta perawatan agar dapat mencegah dari kontaminasi silang, penumpukan debu atau kotoran dan, hal-hal yang umumnya berdampak buruk pada mutu produk. Peralatan manufaktur hendaklah didesain, ditempatkan dan dirawat sesuai dengan tujuannya. Permukaan peralatan yang bersentuhan dengan bahan awal, produk antara atau produk jadi tidak boleh menimbulkan reaksi, adisi atau absorpsi yang dapat mempengaruhi identitas, mutu atau kemurnian di luar batas yang ditentukan. Peralatan manufaktur hendaklah didesain sedemikian rupa agar mudah dibersihkan, serta tidak boleh menimbulkan akibat yang merugikan terhadap produk. Pemasangan dan penempatan peralatan diatur sedemikian rupa sehingga proses produksi dapat berjalan secara efektif dan efisien. Peralatan hendaklah dirawat menurut jadwal yang tepat supaya tetap berfungsi dengan baik dan mencegah terjadinya pencemaran yang dapat mengubah identitas, mutu atau kemurnian produk. Peralatan yang rusak harus dikeluarkan dari area produksi dan pengawasan mutu, atau setidaknya diberi penandaan yang jelas. Peralatan hendaklah dirawat sesuai jadwal untuk mencegah malfungsi atau pencemaran yang dapat mempengaruhi identitas, mutu atau kemurnian produk.
25 13 Kegiatan perbaikan dan perawatan hendaklah tidak menimbulkan risiko terhadap mutu produk Sanitasi dan Higiene Tingkat sanitasi dan higiene yang tinggi hendaklah diterapkan pada setiap aspek pembuatan obat. Ruang lingkup sanitasi dan hygiene meliputi personel, bangunan, peralatan dan perlengkapan, bahan produksi serta wadahnya, dan segala sesuatu yang dapat merupakan sumber kontaminasi produk. Sumber pencemaran potensial hendaklah dihilangkan melalui suatu program sanitasi dan hygiene yang menyeluruh dan terpadu. Pembersihan mesin dapat mencegah adanya kontaminasi terhadap produk. Tiap kali sebelum dipakai, kebersihan peralatan diperiksa untuk memastikan bahwa semua produk atau bahan dari bets sebelumnya telah dihilangkan. Metode pembersihan dengan cara vakum atau cara basah lebih dianjurkan. Penggunaan udara bertekanan dan sikat sedapat mungkin dihindari karena dapat menambah risiko pencemaran produk. Pembersihan dan sanitasi perlatan serta wadah yang digunakan dalam pembuatan obat hendaklah tercakup dalam suatu prosedur tertulis yang cukup rinci. Penerapan higiene perorangan meliputi pemeriksaan kesehatan, menjaga kebersihan diri, memakai alat pelindungan diri dengan baik, menjaga kesehatan dan bebarapa peraturan lain di area produksi. Semua personel hendaklah menjalani pemeriksaan kesehatan pada saat direkrut. Selain itu, hendaklah dilakukan juga pemeriksaan kesehatan kerja dan kesehatan personel secara berkala Produksi Produksi hendaklah dilaksanakan dengan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan dan memenuhi ketentuan CPOB yang menjamin senantiasa menghasilkan produk yang memenuhi persyaratan mutu serta memenuhi ketentuan izin pembuatan dan izin edar. Produksi obat membutuhkan sarana gedung produksi, pengemasan, penyimpanan. Material yang memenuhi
26 14 persyaratan, peralatan yang terkualifikasi dan terkalibrasi, personalia yang terlatih dan berkualitas. Proses produksi yang tervalidasi dan dokumen produksi yang sah yang dapat ditelusuri. Mutu suatu obat tidak hanya ditentukan oleh hasil analisa terhadap produk akhir melainkan juga oleh mutu yang dibangun selama tahapan proses produksi sejak pemilihan bahan awal, penimbangan, proses produksi, personalia, bangunan, peralatan kebersihan, dan higienis sampai dengan pengemasan. Produksi hendaklah dilakukan dan diawasi oleh personel yang kompeten. Prosedur produksi dibuat oleh penanggung jawab produksi bersama dengan penanggung jawab pengawasan mutu yang dapat menjamin obat yang dihasilkan memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan. Prosedur kerja standar hendaklah tertulis, mudah dipahami dan dipatuhi oleh karyawan produksi, serta didokumentasikan. Dokumentasi setiap langkah dilakukan dengan cermat, tepat dan ditangani oleh karyawan yang melaksanakan tugas. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam produksi adalah: a. Pengadaan Bahan Awal Pengadaan bahan awal hendaklah hanya dari pemasok yang telah disetujui dan memenuhi spesifikasi yang relevan. Semua penerimaan, pengeluaran dan jumlah bahan tersisa hendaklah dicatat. Catatan hendaklah berisi keterangan mengenai pasokan, nomor batch/lot, tanggal penerimaan, tanggal pelulusan, dan tanggal kadaluarsa. b. Validasi Proses Studi validasi hendaklah memperkuat pelaksanaan CPOB dan dilakukan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Hasil validasi dan kesimpulan hendaklah dicatat. Hendaklah secara kritis dilakukan revalidasi secara periodik untuk memastikan bahwa proses dan prosedur tetap mampu mencapai hasil yang diinginkan. c. Pencegahan Pencemaran Silang Tiap tahap proses, produk dan bahan hendaklah dilindungi terhadap pencemaran mikroba dan pencemaran lain. Risiko pencemaran silang ini dapat timbul akibat tidak terkendalinya debu, uap, percikan atau organisme
27 15 dari bahan atau produk yang sedang diproses, dari sisa yang tertinggal pada alat dan pakaian kerja operator. Tingkat risiko pencemaran ini tergantung dari jenis pencemar dan produk yang tercemar. d. Sistem Penomoran Bets/Lots Hendaklah tersedia sistem yang menjelaskan secara rinci penomoran bets/lot dengan tujuan untuk memastikan bahwa tiap bets/lot produk antara, produk ruahan atau produk jadi dapat diidentifikasi. Sistem penomoran bets/lot hendaklah menjamin bahwa nomor bets/lot yang sama tidak dipakai secara berulang. e. Penimbangan dan Penyerahan Penimbangan dan penyerahan bahan awal, bahan pengemas, produk antara dan produk ruahan dianggap sebagai bagian dari siklus produksi dan memerlukan dokumentasi yang lengkap. Hanya bahan awal, bahan pengemas, produk antara dan produk ruahan yang telah diluluskan oleh pengawasan mutu dan masih belum daluarsa yang boleh diserahkan. f. Pengembalian Semua bahan awal dan bahan pengemas yang dikembalikan ke gudang penyimpanan hendaklah didokumentasikan dengan benar dan rekonsiliasi. g. Operasi Pengolahan Produk Antara dan Produk Ruahan Semua bahan yang dipakai di dalam pengolahan hendaklah diperiksa sebelum dipakai. Semua peralatan yang dipakai dalam pengolahan hendaklah diperiksa sebelum digunakan. Peralatan hendaklah dinyatakan bersih secara tertulis sebelum digunakan. Semua kegiatan pengolahan hendaklah dilaksanakan mengikusi prosedur yang tertulis. Tiap penyimpangan hendaklah dilaporkan. Semua produk antara hendaklah diberi label yang benar dan dikarantina sampai diluluskan oleh bagian pengawasan mutu. h. Kegiatan Pengemasan Kegiatan pengemasan berfungsi mengemas produk ruahan menjadi produk jadi. Pengemasan hendaklah dilaksanakan di bawah pengendalian yang ketat untuk menjaga identitas, keutuhan dan mutu produk akhir yang dikemas. Semua kegiatan pengemasan hendaklah dilaksanakan sesuai dengan instruksi yang diberikan dan menggunakan bahan pengemas yang tercantum dalam
28 16 prosedur pengemasan induk. Rincian pelaksanaan pengemasan hendaklah dicatat dalam catatan pengemasan batch. i. Pengawasan Selama Proses Pengawasan selama proses hendaklah mencakup : 1) Semua parameter produk, volume atau jumlah isi produk diperiksa pada saat awal dan selama proses pengolahan atau pengemasan. 2) Kemasan akhir diperiksa selama proses pengemasan dengan selang waktu yang teratur untuk memastikan kesesuaiannya dengan spesifikasi dan memastikan semua komponen sesuai dengan yang ditetapkan dalam prosedur pengemasan induk. j. Bahan dan Produk yang Ditolak, Dipulihkan dan Dikembalikan Bahan dan produk yang ditolak hendaklah diberi penandaan yang jelas dan disimpan terpisah di area terlarang (restricted area). Bahan atau produk tersebut hendaklah dikembalikan kepada pemasoknya atau, bila dianggap perlu, diolah ulang atau dimusnahkan. Bets yang mengandung produk pulihan hanya boleh diluluskan setelah semua bets asal produk pulihan yang bersangkutan telah dinilai dan dinyatakan memenuhi spesifikasi yang ditetapkan. Produk yang dikembalikan dari peredaran dan telah lepas dari pengawasan industri pembuat hendaklah dimusnahkan. Produk tersebut dapat dijual lagi, diberi label kembali atau dipulihkan ke bets berikut hanya bila tanpa keraguan mutunya masih memuaskan setelah dilakukan evaluasi secara kritis oleh kepala bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu) sesuai prosedur tertulis. k. Karantina dan Penyerahan Produk Jadi Karantina produk jadi merupakan tahap akhir pengendalian sebelum penyerahan ke gudang dan siap untuk didistribusikan. Sebelum diluluskan untuk diserahkan ke gudang, pengawasan yang ketat hendaklah dilaksanakan untuk memastikan produk dan catatan pengolahan batch memenuhi semua spesifikasi yang ditentukan. Prosedur tertulis hendaklah mencantumkan cara penyerahan produk jadi ke area karantina, cara penyimpanan sambil
29 17 menunggu pelulusan, persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh pelulusan, dan cara pemindahan selanjutnya ke gudang produk jadi Pengawasan Mutu Pengawasan mutu merupakan bagian yang penting dari CPOB untuk memastikan bahwa produk yang dibuat senantiasa konsisten dan mempunyai mutu yang sesuai dengan tujuan pemakaiannya. Keterlibatan dan komitmen semua pihak yang berkepentingan pada semua tahap merupakan keharusan untuk mencapai sasaran mutu mulai dari awal pembuatan sampai kepada distribusi obat jadi. Pengawasan mutu hendaklah mencakup semua kegiatan analisis yang dilakukan di laboratoriun, termasuk pengambilan sampel, spesifikasi, pengujian serta termasuk pengaturan, dokumentasi dan prosedur pelulusan yang memastikan bahwa semua pengujian yang relevan telah dilakukan dan bahan tidak diluluskan untuk dipakai atau produk diluluskan untuk dijual, terbatas pada kegiatan laboratorium, tapi juga harus terlibat dalam semua keputusan yang terkait dengan mutu produk. Tiap personel yang bertugas melakukan kegiatan laboratorium hendaklah memiliki pendidikan, mendapat pelatihan dan pengalaman yang sesuai untuk memungkinkan pelaksanaan tugas dengan baik. Personel hendaklah memakai pakaian pelindung dan alat pengaman seperti masker, kacamata pelindung, dan sarung tangan tahan asam atau basa sesuai tugas yang dilaksanakan. Peralatan, instrumen dan perangkat lunak terkait hendaklah dikualifikasi dan divalidasi, dirawat dan dikalibrasi dalam selang waktu yang telah ditetapkan dan dokumentasinya disimpan. Prosedur pengujian hendaklah divalidasi dengan memperhatikan fasilitas dan peralatan yang ada sebelum prosedur tersebut digunakan dalam pengujian rutin. Dokumentasi dan prosedur pelulusan yang diterapkan bagian pengawasan mutu hendaklah menjamin bahwa pengujian yang diperlukan telah dilakukan sebelum bahan yang digunakan dalam produksi dan produk yang disetujui sebelum didistribusikan. Personel pengawasan mutu hendaklah memiliki akses ke area produksi untuk pengambilan sampel dan penyelidikan yang diperlukan.
30 18 Personel, bangunan dan fasilitas, serta peralatan laboratorium hendaklah sesuai untuk segala jenis tugas yang ditentukan dan skala kegiatan pembuatan obat Inspeksi Diri, Audit Mutu dan Audit & Persetujuan Pemasok Tujuan inspeksi diri adalah untuk mengevaluasi apakah semua aspek produksi dan pengawasan mutu industri farmasi memenuhi kriteria CPOB (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2012). Inspeksi diri hendaklah dilakukan secara independen dan rinci oleh petugas yang kompeten dari perusahaan yang dapat mengevaluasi penerapan CPOB secara objektif (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2012). Inspeksi diri dilakukan oleh suatu tim, yang terdiri dari tiga anggota yang berpengalaman dalam bidangnya masing-masing dan memahami CPOB serta bersifat independen dalam melakukan inspeksi (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2006). Anggota tim hendaklah dipilih dari bagian-bagian produksi, pengawasan mutu, pemastian mutu, penelitian dan pengembangan teknik (Badan POM, 2009). Untuk memperoleh standar inspeksi diri hendaklah dibuat daftar periksa selengkap mungkin sebagai rujukan untuk tim inspeksi diri dalam melakukan tugasnya. Daftar periksa ini hendaklah diperbaharui secara berkala agar selalu mengikuti dan meliputi perubahan, peraturan pemerintah dan kebijakan perusahaan (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2009). Dengan melakukan inspeksi diri dapat diketahui kekurangan atas pemenuhan CPOB, baik yang kritis, yang berdampak besar maupun yang berdampak kecil. Penilaian terhadap kekurangan tersebut dapat dikategorikan berdasarkan tingkat kekritisannya, antara lain (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2009). a. Kritis (C) yaitu kekurangan yang mempengaruhi mutu obat dan dapat mengakibatkan reaksi fatal terhadap kesehatan konsumen sampai kematian. b. Berdampak besar (M) yaitu kekurangan yang mempengaruhi mutu obat tetapi tidak berdampak fatal terhadap kesehatan konsumen.
31 19 c. Berdampak kecil (m) yaitu kekurangan yang kecil pengaruhnya terhadap mutu obat dan tidak berdampak terhadap kesehatan konsumen. Inspeksi diri hendaklah dilakukan secara rutin dan pada situasi khusus, misalnya dalam hal terjadi penarikan kembali obat jadi atau terjadi penolakan yang berulang. Semua saran untuk tindakan perbaikan supaya dilaksanakan. Prosedur dan catatan inspeksi diri hendaklah didokumentasikan dan dibuat program tindak lanjut yang efektif (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2012). Penyelenggaraan audit mutu berguna sebagai pelengkap inspeksi diri. Audit mutu meliputi pemeriksaan dan penilaian semua atau sebagian dari sistem manajemen mutu dengan tujuan spesifik untuk meningkatkannya. Audit mutu umumnya dilaksanakan oleh spesialis dari luar atau independen atau suatu tim yang dibentuk khusus untuk hal ini oleh manajemen perusahaan. Audit mutu juga dapat diperluas terhadap pemasok dan penerima kontrak (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2012). Hendaklah dibuat daftar pemasok yang disetujui untuk bahan awal dan bahan pengemas. Semua pemasok yang telah ditetapkan hendaklah dievaluasi secara teratur Penanganan Keluhan terhadap Produk dan Penarikan Kembali Produk Semua keluhan dan informasi lain yang berkaitan dengan kemungkinan terjadi kerusakan obat hendaklah dikaji dengan teliti sesuai dengan prosedur tertulis. Untuk menangani semua kasus yang mendesak hendaklah disusun suatu sistem, bila perlu mencakup penarikan kembali produk yang diketahui atau diduga cacat dari peredaran secara cepat dan efektif (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2012). Keluhan dan informasi yang berasal dari dalam industri antara lain dapat dari bagian produksi, bagian pengawasan mutu, bagian gudang dan bagian pemasaran, sementara dari luar industri antara lain dapat berasal dari pasien, dokter, paramedis, klinik, rumah sakit, apotek, distributor dan Otoritas Pengawas Obat (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2009).
32 20 Penanganan keluhan dan laporan suatu produk termasuk hasil evaluasi dari penyelidikan serta tindak lanjut yang dilakukan hendaklah dicatat dan dilaporkan kepada manajemen atau bagian yang terkait. Catatan keluhan hendaklah dikaji secara berkala untuk mengindetifikasi hal yang spesifik atau masalah yang berulang terjadi, yang memerlukan perhatian dan kemungkinan penarikan kembali produk dari peredaran. Badan POM hendaklah diberitahukan apabila industri farmasi mempertimbangkan tindakan yang terkait dengan kemungkinan kesalahan pembuatam, kerusakan produk, pemalsuan atau segala hal lain yang serius mengenai mutu produk (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2012). Penarikan kembali produk adalah suatu proses penarikan dari satu atau beberapa bets atau seluruh bets produk tertentu dari rantai distribusi karena keputusan bahwa produk tidak layak lagi untuk diedarkan. Keputusan ini dapat bersumber dari OPO atau dari industri (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2009). Penarikan kembali produk dilakukan oleh personel yang bertanggung jawab untuk melaksanakan dan mengkoordinasikan penarikan kembali produk dan hendaklah ditunjang oleh staf yang memadai untuk menangani semua aspek penarikan kembali sesuai dengan tingkat urgensinya. Personel tersebut hendaklah independen terhadap bagian penjualan dan pemasaran (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2012) Dokumentasi Dokumentasi adalah bagian dari sistem informasi manajemen dan dokumentasi yang baik merupakan bagian yang esensial dari pemastian mutu. Dokumentasi yang jelas adalah fundamental untuk memastikan bahwa tiap personel menerima uraian tugas yang relevan secara jelas dan rinci sehingga memperkecil risiko terjadi kesalahan tafsir dan kekeliruan yang biasanya timbul karena hanya mengandalkan komunikasi lisan. Spesifikasi, dokumen produksi induk atau formula pembuatan, prosedur, metode dan instruksi, laporan dan catatan harus bebas dari kekeliruan dan tersedia secara tertulis. Keterbacaan dokumen adalah sangat penting.
33 21 Dokumen hendaknya didesain, disiapkan, dikaji dan didistribusikan dengan cermat kemudian ditandatangani dan diberi tanggal oleh personel yang sesuai dan diberi wewenang. Dokumen yang diperlukan antara lain: a. Spesifikasi menguraikan secara rinci persyaratan yang harus dipenuhi produk atau bahan yang digunakan atau diperoleh selama pembuatan. Dokumen ini merupakan dasar untuk mengevaluasi mutu. Hendaklah tersedua spesifikasi bahan awal, spesifikasi bahan pengemas, spesifikasi produk antara dan produk ruahan, serta spesifikasi produk jadi. b. Dokumen Produksi Induk, Prosedur Pengolahan Induk dan Prosedur Pengemasan Induk (Formula Pembuatan, Instruksi Pengolahan dan Instruksi Pengemasan), menyatakan seluruh bahan awal dan bagan pengemas yang digunakan serta menguraikan semua operasi pengolahan dan pengemasan. c. Prosedur berisi cara untuk melaksanakan operasi tertentu, misalnya pembersihan, berpakaian, pengendalian lingkungan, pengambilan sampel, pengujian, dan pengoperasian peralatan. d. Catatan menyajikan pengolahan dan pengemasan bets. e. Prosedur dan catatan: penerimaan, pengambilan sampel, pengujian dan lain-lain. Spesifikasi bahan awal dan bahan pengemas mencakup deskripsi bahan, petunjuk pengambilan sampel dan pengujian atau prosedur rujukan, persyaratan kualitatif dan kuantitatif dengan batas penerimaan, kondisi penyimpanan dan tindakan pengamanan, serta batas waktu penyimpanan sebelum dilakukan pengujian kembali. Spesifikasi produk antara dan produk ruah hendaklah tersedia apabila produk tersebut dibeli atau dikirim, atau apabila data dari produk antara digunakan untuk mengevaluasi produk jadi. Spesifikasi produk antara dan produk ruahan hendaklah mirip dengan spesifikasi bahan awal atau produk jadi sesuai keperluan. Spesifikasi produk jadi mencakup nama produk yang ditentukan dan kode produk, formula atau komposisi atau rujukan, deskripsi bentuk sediaan dan uraian mengenai kemasan, termasuk ukuran kemasan, petunjuk pengambilan sampel dan pengujian atau prosedur rujukan, persyaratan kualitatif dan kuantitatif
34 22 dengan batas penerimaan, kondisi penyimpanan dan tindakan pengamanan khusus, serta masa edar atau simpan. Dokumen produksi terdiri dari: a. Dokumen Produksi Induk yang berisi formula produksi dari suatu produk dalam bentuk sediaan dan kekuatan tertentu, tidak tergantung dari ukuran bets. b. Prosedur Produksi Induk terdiri dari Prosedur Pengolahan Induk dan Prosedur Pengemasan Induk yang masing-masing berisi prosedur pengolahan dan prosedur pengemasan yang rinci untuk suatu produk dengan bentuk sediaan, kekuatan dan ukuran bets spesifik. Prosedur Produksi Induk dipersyaratkan divalidasi sebelum mendapat pengesahan untuk digunakan. c. Catatan Produksi Bets terdiri dari Catatan Pengolahan Bets dan Catatan Pengemasan Bets, yang berisi semua data dan informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan produksi dari suatu bets produk. Menurut CPOB, hendaklah tersedia prosedur tertulis dan catatan penerimaan untuk tiap pengiriman tiap bahan awal, bahan pengemas primer dan bahan pengemas cetak. Selain itu, hendaklah tersedia prosedur tertulis untuk pengambilan sampel yang mencakup personel yang diberi wewenang mengambil sampel, metode dan alat yang harus digunakan, jumlah yang harus diambil dan segala tindakan pengamanan yang harus diperhatikan untuk menghindarkan kontaminasi terhadap bahan atau segala penurunan mutu. Pengujian bahan dan produk yang diperoleh dari tiap tahap produksi juga memerlukan prosedur tertulis yang menguraikan metode dan alat yang harus digunakan dalam pengujian Pembuatan dan Analisis berdasarkan Kontrak Pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak harus dibuat secara benar, disetujui dan dikendalikan untuk menghindari kesalahpahaman yang dapat menyebabkan produk atau pekerjaan dengan mutu yang tidak memuaskan. Kontrak tertulis antara pemberi kontrak dengan penerima kontrak harus dibuat secara jelas dalam hal tanggung jawab dan kewajiban masing-masing pihak.
35 23 Kontrak harus menyatakan secara jelas prosedur pelulusan tiap bets produk untuk diedarkan yang menjadi tanggung jawab penuh Kepala Bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu). Pemberi kontrak bertanggung jawab untuk menilai kompetensi Penerima Kontrak dalam melaksanakan pekerjaan atau pengujian yang diperlukan dan memastikan bahwa prinsip dan pedoman CPOB diikuti. Pemberi Kontrak hendaklah menyediakan semua informasi yang diperlukan kepada Penerima Kontrak untuk melaksanakan pekerjaan kontrak secara benar sesuai izin edar dan persyaratan legal lain. Pemberi Kontrak hendaklah memastikan bahwa semua produk yang diproses dan bahan yang dikirimkan oleh Penerima Kontrak memenuhi spesifikasi yang ditetapkan atau produk telah diluluskan oleh kepala bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu). Penerima Kontrak harus mempunyai gedung dan peralatan yang cukup, pengetahuan dan pengalaman, dan personel yang kompeten untuk melakukan pekerjaan yang diberikan oleh Pemberi Kontrak dengan memuaskan. Pembuatan obat berdasarkan kontrak hanya hanya dapat dilakukan oleh industri farmasi yang memiliki sertifikat CPOB yang diterbitkan oleh Badan POM. Penerima Kontrak hendaklah memastikan bahwa semua produk dan bahan yang diterima sesuai dengan tujuan penggunaannya. Kontrak hendaklah dibuat antara pemberi kontrak dan penerima kontrak dengan menetapkan masing-masing pihak yang berhubungan dengan produksi dan pengendalian mutu produk. Aspek teknis dari kontrak hendaklah dibuat oleh personel yang kompeten dan memiliki pengetahuan di bidang teknologi farmasi, analisis dan CPOB Kualifikasi dan Validasi CPOB mensyaratkan industri farmasi untuk mengidentifikasi validasi yang diperlukan sebagai bukti pengendalian terhadapa aspek kritis dari kegiatan yang dilakukan. Perubahan signifikan terhadap fasilitas, peralatan dan proses yang dapat mempengaruhi mutu produk hendaklah divalidasi. Pendekatan dengan kajian risiko digunakan untuk menentukan ruang lingkup dan cakupan validasi.
36 24 Seluruh kegiatan validasi hendaklah direncanakan. Unsur utama program validasi hendaklah dirinci dengan jelas dan didokumentasikan di dalam Rencana Induk Validasi (RIV) atau dokumen yang setara. RIV hendaklah merupakan dokumen yang singkat, tepat dan jelas. RIV hendaklah mencakup sekurang-kurangnya data sebagai berikut: kebijakan validasi; struktur organisasi kegiatan validasi; ringkasan fasilitas, sistem peralatan dan proses yang akan divalidasi; format dokumen: format protokol dan laporan validasi, perencanaan dan jadwal pelaksanaan; pengendalian perubahan; dan acuan dokumen yang digunakan. Protokol validasi hendaklah merinci langkah kritis dan kriteria penerimaan. Laporan harus dibuat mengacu pada protokol kualifikasi dan/atau protokol validasi dan memuat ringkasan hasil yang diperoleh, tanggapan terhadap penyimpangan yang terjadi, kesimpulan dan rekomendasi perbaikan. Tiap perubahan terhadap rencana yang ditetapkan dalam protokol hendaklah didokumentasikan dengan pertimbangan yang sesuai. Kualifikasi terdiri dari: a. Kualifikasi Desain Kualifikasi desain adalah unsur pertama dalam melakukan validasi terhadap fasilitas, sistem atau peralatan baru. b. Kualifikasi Instalasi Kualifikasi Instalasi (KI) hendaklah dilakukan terhadap fasilitas, sistem dan peralatan baru atau yang dimodifikasi. KI hendaklah mencakup, tapi tidak terbatas pada hal berikut: instalasi peralatan, pipa dan sarana penunjang dan instrumentasi hendaklah sesuai dengan spesifikasi dan gambar teknik yang didesain; pengumpulan dan penyusunan dokumen pengoperasian dan perawatan peralatan dari pemasok; ketentuan dan persyaratan kalibrasi; dan verifikasi bahan konstruksi. c. Kualifikasi Operasional Kualifikasi operasional hendaklah dilakukan setelah kualifikasi instalasi selesai dilaksanakan dikaji dan disetujui. Kualifikasi operasional hendaklah mencakup, tapi tidak terbatas pada hal berikut: pengujian yang perlu dilakukan berdasarkan pengetahuan tentang proses, sistem dan
37 25 peralatan; dan pengujian yang meliputi satu atau beberapa kondisi yang mencakup batas operasional atas dan bawah, yang dikenal sebagai worst case (kondisi terburuk). d. Kualifikasi Kinerja Pengujian yang menggunakan bahan baku, bahan pengganti yang memenuhi spesifikasi atau produk simulasi yang dilakukan berdasarkan pengetahuan tentang proses, fasilitas, sistem dan peralatan dan uji yang meliputi satu atau beberapa kondisi yang mencakup batas operasional atas dan bawah. Validasi terdiri dari: a. Validasi Proses Pada umumnya kegiatan validasi proses dilakukan sebelum produk dipasarkan (validasi prospektif). Dalam hal tertentu, jika hal di atas tidak memungkinkan, validasi dapat juga dilakukan selama proses produksi rutin dilakukan (konkuren). Proses yang sudah berjalan, hendaklah juga divalidasi (validasi retrospektif). b. Validasi Pembersihan Validasi pembersihan biasanya dilakukan hanya untuk permukaan alat yang bersentuhan dengan produk. Interval waktu antara penggunaan alat dan pembersihan hendaklah divalidasi demikian juga antara pembersihan dan penggunaan kembali. Validasi prosedur pembersihan hendaklah dilakukan dengan melaksanakan prosedur tiga kali berturut-turut dengan hasil yang memenuhi syarat untuk membuktikan bahwa metode tersebut telah tervalidasi. c. Validasi Ulang Fasilitas, sistem, peralatan dan proses termasuk proses pembersihan hendaklah dievaluasi secara berkala untuk konfirmasi keabsahannya. Jika tidak ada perubahan yang signifikan terhadap status validasi, peninjauan
38 26 dengan bukti bahwa fasilitas, sistem, peralatan dan proses memenuhi persyaratan yang ditetapkan akan kebutuhan revalidasi. d. Validasi Metode Analisis Validasi metode analisis dilakukan untuk mengetahui bahwa metode analisis sesuai dengan tujuan penggunaannya. Validasi metode analisis umumnya dilakukan pada uji identifikasi, uji kuantitatif kandungan impuritas (impurity), uji batas impuritas dan uji kuantitatif zat aktif dalam sampel bahan aktif obat atau obat atau kompenen tertentu dalam obat.
39 BAB 3 TINJAUAN KHUSUS PT SYDNA FARMA 3.1 Profil PT Sydna Farma PT Sydna Farma merupakan perusahaan industri farmasi yang bergerak dalam produksi obat jadi. Status kepemilikan perusahaan PT Sydna Farma berubah dari Penanaman Modal Asing (PMA) atas nama Organon menjadi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), setelah beralih kepemilikan kepada PT United Dico Citas pada akhir Desember PT Sydna Farma mulai beroperasi pada tanggal 1 Januari PT Sydna Farma memiliki 3 sertifikat CPOB yaitu sertifikat SPV (Small Volume Parenteral), tablet non hormon seks dan tablet hormon seks. PT Sydna Farma menjalankan produksi kontrak (Toll in) untuk beberapa produk obat jadi dari industri farmasi lainnya. PT Sydna Farma juga memiliki lisensi dari NV Organon (Schering Plough/MSD) untuk tetap memproduksi dan memasok produk-produk Organon tertentu. PT Sydna Farma telah berhasil mengembangkan produk sendiri yang dikembangkan oleh departemen penelitian dan pengembangan. Produk sendiri tersebut adalah produk copy yang tetap berfokus pada produk obat hormonal, atas dasar pertimbangan pengalaman PT Sydna Farma yang telah lama menangani proses produksi obat hormonal. Produk tersebut adalah Sydnaginon dengan komposisi levonogestrel 0,15 mg dan etinilestradiol 0,03 mg. Selain itu, ada pula produk non hormon yang kembangkan yaitu Sydnatron-8 yang merupakan injeksi ondansentron 8 mg dalam ampul 4 ml dan Sydnatron- 4 yang merupakan injeksi ondansentron 4 mg dalam ampul 2 ml. 3.2 Lokasi dan Sarana Produksi PT Sydna Farma berlokasi di Jl. R.C Veteran No. 89, Bintaro, Jakarta Selatan. Luas seluruh area pabrik yang dimiliki PT Sydna Farma adalah m 2, dengan rincian panjang 192 m dan lebar 118 m. Bangunan pabrik PT Sydna 27
40 28 Farma menempati area dengan luas tanah m 2, dengan rincian panjang 72 m dan lebar 50 m, sedangkan bangunan kantor menempati area dengan luas tanah 600 m 2. Konstruksi bangunan PT Sydna Farma dibangun pertama kali pada tahun 1973 dan renovasi keseluruhan diselesaikan pada tahun Beberapa bagian pabrik, baru dibangun pada tahun Perbaikan area pabrik tahap 1 dilakukan pada area non hormon seks dan selesai pada tahun Perbaikan area pabrik tahap 2 pada area hormon seks dilakukan pada akhir tahun 2008 dan selesai pada semester 1 tahun Perbaikan area parenteral dilaksanakan pada tahun Perbaikan-perbaikan tersebut dilakukan dengan tujuan untuk memenuhi ketentuan CPOB terkini. Area PT Sydna Farma memiliki sumber air tersendiri untuk mensuplai seluruh kebutuhan operasional pabrik. Sumber air tersebut terdiri dari 2 buah sumur yang berada dalam area pabrik. Sumber energi listrik untuk kebutuhan operasional pabrik disuplai oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan didukung generator diesel bila terjadi pemadaman listrik Area Gudang Area gudang pabrik terdiri atas area-area penyimpanan yang berbeda sesuai dengan status barang yaitu karantina, lulus, dan ditolak. Penyimpanan untuk barang yaitu diruang main storage dan barang yang membutuhkan kondisi khusus, tersedia gudang dingin (cold storage), gudang kering (dry storage), solvent storage, estrogen storage dan control room temperature sesuai dengan persyaratan penyimpanan barang tersebut Area QC Area QC meliputi laboratorium utama yang dilengkapi dengan sarana pendukung berupa compressed air, nitrogen dan DMW. Laboratorium mikrobiologi terletak di dalam laboratorium utama yang terpisah, dilengkapi dengan LAF cabinet untuk operasional pada kondisi kelas 100.
41 Area Produksi Area produksi terbagi atas empat bagian besar yaitu area parenteral, area tablet non-estrogen, area tablet estrogen dan area pengemasan sekunder. Ruangan produksi tersebut terbagi menjadi beberapa kelas ruangan seperti kelas , kelas dan kelas 100 (area parenteral), masing-masing ruang produksi dilengkapi dengan manometer dan termohigrometer untuk memantau suhu, kelembapan udara dan tekanan ruangan. Area produksi sediaan padat (tablet) estrogen dan non-estrogen terpisah dan masing-masing area memiliki sistem pengendalian udara (Air Handling Unit/AHU), ruang ganti pakaian (gowning), ruang antar kelas kebersihan atau material air lock (MAL). 3.3 Visi dan Misi PT Sydna Farma Visi Visi PT Sydna Farma adalah menjadi industri farmasi tingkat dunia yang berbasis pada pengembangan ilmu pengetahuan dalam dunia farmasi dengan sistem operasional yang unggul dalam memastikan kualitas yang tertinggi, keamanan dan efektivitas produk dengan sistem kerja yang efisien (Sydna Farma, 2011) Misi Misi PT Sydna Farma adalah selalu berusaha menyediakan obat-obatan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia Nilai Utama PT Sydna Farma PT Sydna Farma memiliki nilai-nilai utama yang menjadi nilai dasar perusahaan, yaitu (Sydna Farma, 2011): a. Kualitas dari Pelayanan PT Sydna Farma selalu berupaya untuk mencari serta mencapai melebihi harapan pelanggan.
42 30 b. Kualitas Lingkungan Kerja PT Sydna Farma selalu menyediakan lingkungan kerja yang kondusif secara terus menerus untuk membantu perkembangan pekerja, pengetahuan, dan harmoni pekerja serta kesejahteraan bagi para pemegang sahamnya. c. Kemitraan Semangat dari kerja tim dan kolaborasi yang baik akan selalu menjadi dasar bisnis perusahaan. d. Integritas Selalu mengedepankan prisip-prinsip kebenaran, keadilan, ketekunan berdedikasi dan kesetiaan akan megarahkan semua kegiatan sehari-hari semua karyawan. 3.5 Organisasi dan Tata Kerja PT Sydna Farma dikepalai oleh seorang direktur. Sedangkan pabrik PT Sydna Farma dikepalai oleh seorang manajer pabrik. Manajer pabrik bertanggung jawab langsung kepada direktur. Manajer pabrik membawahi 5 departemen yaitu Departemen Pengadaan/Suplay Chain, Departemen Produksi, Departemen Pemastian Mutu, Departemen Pengawasan Mutu, dan Departemen Teknis Servis dan Kesehatan, Keselamatan Lingkungan. Sedangkan bagian administrasi langsung dibawahi oleh manajer pabrik Departemen Pengadaan/Supply Chain Departemen Pengadaan atau Supply Chain dikepalai oleh manajer Supply Chain yang membawahi 3 bagian yaitu perencanaan (planning), gudang (warehouse) dan pembelian barang (purchasing). Penjelasan mengenai bagianbagian tersebut adalah sebagai berikut: Bagian Perencanaan (Planning) Tugas pokok bagian perencanaan adalah: a. Membuat perencanaan kegiatan produksi Perencanaan kegiatan produksi dibuat berdasarkan jadwal kebutuhan produk yang diberikan oleh Organon dan perusahaan yang melakukan toll-in di
43 31 PT Sydna Farma, untuk kemudian dikonfirmasi dan didiskusikan dengan departemen produksi dengan memperhatikan kapasitas mesin dan jumlah serta ketersediaan personel di departemen produksi. Perencanaan produksi dibuat untuk kurun waktu satu tahun ke depan. Berdasarkan perencanaan ini dibuat kegiatan produksi bulanan. Rencana produksi bulanan diberikan kepada departemen produksi untuk dirinci menjadi rencana mingguan. b. Melakukan kontrol persediaan material di gudang Bagian perencanaan bertugas untuk memastikan bahwa bahan untuk keperluan kegiatan produksi dan pengemasan tersedia dalam jumlah yang cukup pada waktu yang dibutuhkan dan dengan spesifikasi yang sesuai. Persediaan gudang diusahakan jumlahnya selalu tepat, tidak lebih dan tidak kurang. Tugas ini didukung oleh sistem komputer yang dimiliki oleh PT Sydna Farma yaitu sistem Axapta. Karena sebagian besar perencanaan PT Sydna Farma berdasarkan permintaan customer (perusahaan pemberi lisensi dan perusahaan yang melakukan toll-in), maka dalam melakukan pengontrolan persedian Supply Chain menerapkan prinsip tergantung pada pesanan costumer. Selain itu, Supply Chain bersikap proaktif dalam mencari informasi-informasi yang dibutuhkan sehingga kebijakan yang diambil adalah berdasarkan data yang akurat dan aktual Gudang (warehouse) Bagian gudang diawasi oleh supervisor gudang, gudang juga membawahi bagian penimbangan. Bagian gudang bertugas memberikan pelayanan penerimaan dan pengeluaran barang. Bahan-bahan tersebut adalah bahan baku, bahan pengemas, produk setengah jadi, dan produk jadi. Pelayanan gudang bersifat internal dan eksternal. a. Pelayanan Internal Pelayanan internal terbagi atas pelayanan penerimaan dan pengeluaran barang. Pelayanan penerimaan barang dibuat berdasarkan surat penyerahan barang (Product Delivery Sheet) untuk obat jadi. Bagian gudang juga menerima barang sisa atau rusak dari bagian produksi dan pengemasan berdasarkan Tanda Terima Penyerahan Barang (TTPB) yang kemudian barang-barang tersebut akan
44 32 dibuang sebagai limbah. Pelayanan pengeluaran barang dari gudang dibuat berdasarkan Surat Pesanan Barang (Material Requisition Sheet) dari bagianbagian lain yang membutuhkan. Untuk melayani pesanan tersebut, bagian gudang terlebih dahulu memiliki kartu stok guna mengetahui persediaan barang. Untuk barang-barang yang perlu ditimbang, bagian gudang (petugas bagian penimbangan) juga bertugas melakukan penimbangan di ruang penimbangan dengan didampingi oleh seorang wakil dari bagian produksi yang membutuhkan barang tersebut. b. Pelayanan Eksternal Pelayanan eksternal juga terbagi atas pelayanan penerimaan dan pengeluaran barang yang meliputi penerimaan bahan baku dan bahan pengemas dari pemasok dan pengeluaran barang berupa obat jadi ke distributor. Dalam proses penerimaan barang, bagian gudang akan mendapatkan Surat Pesanan Pembelian (Purchase Order) dari bagian pembelian barang. Jika ada pemasok datang dengan membawa barang yang dipesan, bagian gudang akan mencocokan barang dengan Surat Pesanan Pembelian kemudian melakukan pemeriksaan fisik dan administrasi dari barang dengan melihat daftar periksa penerimaan barang. Jika terdapat cacat fisik pada kemasan barang. Bagian gudang akan membuat Berita Acara Pemeriksaan yang nantinya akan ditindaklanjuti oleh bagian pembelian. Untuk barang yang direject, bagian gudang akan memberitahukan bagian pembelian yang nantinya akan mengeluarkan Return Order kepada pihak gudang dan Surat Pengantar Barang ke pemasok yang dilampiri Result of Analysis dari QC. Dalam proses pengeluaran barang, bagian gudang akan menerima perintah pengiriman (delivery order) dari customer yang berisi daftar obat jadi yang dipesan oleh distributor. Selanjutnya, bagian gudang akan mengirimkan obat jadi yang diminta ke distributor dengan disertai bukti pengeluaran berupa Delivery Note. Pengeluaran barang yang selain untuk penjualan dilakukan dengan Warehouse Delivery Voucher. Semua transaksi di bagian gudang didokumentasikan dalam program Axapta.
45 Bagian Pembelian Barang (Purchasing) Bagian pembelian bertugas: a. Mencari supplier/pemasok dan pemasok untuk barang-barang yang diperlukan di pabrik baik material untuk produksi (bahan baku, bahan aktif) maupun material lain sesuai dengan Purchase Request (PR) yang dibuat oleh masing-masing departemen. Untuk bahan baku dan bahan kemas untuk pembuatan produk, bagian pembelian hanya dapat membelinya dari pemasok yang sudah disetujui (approved supplier). b. Melakukan negosiasi harga dengan pemasok. c. Apabila negosiasi harga telah selesai, menyiapkan Purchase Order (PO) untuk pemesanan barang atau material. d. Meminta pengiriman barang ke pabrik Departemen Produksi Departemen produksi dikepalai oleh manajer produksi yang membawahi 3 bagian yaitu tabletting supervisor, parenteral supervisor, dan packaging supervisor. Produksi adalah kegiatan yang dilakukan untuk membuat dan menghasilkan suatu produk. Dasar dari pelaksanaan produksi di PT Sydna Farma adalah adanya surat perintah produksi yang disebut Manufacturing Order (MO) dan surat perintah pengemasan atau Packaging Order (PO) yang berasal dari Supply Chain. Setelah MO dan PO diterima, departemen produksi akan membuat Material Requesition Sheet (MRS) yang merupakan permintaan material yang ditujukan ke gudang. Bagian gudang selanjutnya akan menyiapkan barang yang diminta. Material yang sudah disiapkan oleh gudang akan diambil oleh bagian produksi dan selanjutnya diolah sesuai dengan prosedur pengolahan masingmasing produk (Departemen Produksi PTSF, 2014a). Departemen produksi terbagi menjadi 3 bagian yaitu: Bagian Tablet Kegiatan produksi di PT Sydna Farma terbagi menjadi 2 yaitu produksi tablet non estrogen dan tablet estrogen dilaksanakan di ruangan terpisah. Bahan
46 34 atau material yang telah ditimbang di ruang penimbangan sesuai dengan jenis bahannya oleh bagian gudang, selanjutnya akan masuk ke dalam ruangan yang sesuai dengan proses produksi yang akan dilakukan. Tahapan proses produksi dan pergerakan material dilakukan sesuai dengan catatan pengolahan bets atau disebut Batch Manufacturing Record (BMR) masing-masing produk serta dilakukan di masing-masing ruangan sesuai dengan peruntukannya. Ruangan-ruangan yang terdapat di bagian tablet baik estrogen maupun non estrogen sesuai dengan proses yang dilakukan meliputi granulasi, slugging, final mixing, pembuatan larutan coating, dan pencetakan tablet dimana masing-masing ruangan terdapat spesifikasi baik suhu, tekanan maupun kelembaban udara. Terdapat juga ruangan penyimpanan selama proses produksi berlangsung yaitu ruangan Work in Process (WIP storage) Bagian Parenteral Bahan (material) yang akan digunakan untuk pembuatan sediaan injeksi meliputi bahan kemas primer yaitu ampul dan bahan baku (aktif maupun tambahan). Untuk produksi injeksi, alur pergerakan karyawan dan material baik ampul maupun bahan baku dibuat jalur yang berbeda. Pembatasan dan pengaturan alur ini bertujuan untuk menghindari pencemaran silang dalam proses pembuatan sediaan parenteral (Departemen Produksi PTSF, 2014a). Ruangan yang terdapat di parenteral terbagi atas 4 kelas kebersihan yaitu (Departemen Produksi PTSF, 2013b): a. Ruang kelas 100 (kelas A) meliputi ruang dibawah Laminar Air Flow (LAF). b. Ruang kelas 100 (kelas B) meliputi ruang filling dan sterilized container area. c. Ruang (kelas C) meliputi ruang cuci ampul, ruang after washing, ruang pencampuran, material airlock, dan koridor persiapan. d. Ruang (kelas D) meliputi ruang visual inspeksi, penyimpanan produk semi-finished, kantor supervisor, penyimpanan material, dan parenteral corridor.
47 Bagian Pengemasan (Packaging) Produk yang sudah selesai dibuat, akan dikemas di bagian packaging melalui 2 tahapan pengemasan yaitu pengemasan primer dan pengemasan sekunder. Pengemasan primer meliputi proses blowing (pencucian botol), bottling (pengisian tablet ke dalam botol), dan proses pemeriksaan hasil sensor counter mesin proses bottling, proses blistering (pengisian tablet ke dalam blister), dan proses stripping (pengisian tablet ke dalam strip). Pengemasan sekunder meliputi proses pelipatan brosur (leaflet folding), pencetakan label (label printing), labeling ampul dan botol, pemilihan untuk blister dan strip (sorting-out), pengemasan blister ke dalam sachet (sacheting), dan pemasangan segel sachet dan In-Line printing sachet dengan ink-jet printer, proses sleeving blister (pengemasan blister ke dalam sleeves) dan proses cartoning dan In-Line Printing folding box dengan mesin ink-jet printer. Untuk mengontrol pelaksanaan proses pengemasan primer dan sekunder perlu dilaksanakan prosedur IPC selama proses pengemasan berlangsung, agar produk yang dihasilkan selalu memenuhi persyaratan (Departemen Produksi PTSF, 2013c). Pengemasan merupakan tahap akhir dalam proses produksi obat jadi setelah produk ruahan obat dinyatakan memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan oleh bagian QA/QC. Sebelum pelaksanaan kegiatan pengemasan sekunder, bagian pengemasan (packaging) akan mengajukan permintaan ke QA untuk melakukan pemeriksaan dan pengambilan sampel pada proses pengemasan primer. Segala proses yang dilakukan selama pengemasan suatu produk tercatat pada catatan pengemasan bets atau Batch Packanging Record (BPR). Setelah lulus semua pemeriksaan QC dan semua data sudah tercatat dalam BMR dan BPR, maka produk tersebut dapat diluluskan untuk didistribusikan atau dikirimkan kepada customer. Penyimpanan produk jadi dilakukan dibawah pengawasan bagian gudang (Supply Chain) (Departemen Produksi PTSF, 2014b) Departemen Pemastian Mutu (QA) Departemen Pemastian Mutu (QA) di PT Sydna Farma merupakan departemen yang bertanggung jawab terhadap penjaminan mutu produk yang
48 36 dihasilkan. Departemen pemastian mutu dikepalai oleh Manajer Pemastian Mutu (QA) yang membawahi 3 bagian yaitu bagian validasi yang dikepalai oleh Validation pharmacist, bagian pemenuhan terhadap CPOB (compliance) yang dikepalai oleh dan Compliance pharmacist, serta bagian inspeksi bahan awal dan produk yang dikepalai oleh Material Inspection and Product Inspection Supervisor Bagian Compliance Bagian compliance berperan dalam penjaminan pemenuhan CPOB di PT Sydna Farma. Tugas dan fungsi bagian compliance antara lain: a. Pengelolaan SOP (Standard Operating Procedure) SOP adalah dokumen yang menjelaskan tentang tahapan pelaksanaan suatu kegiatan secara rinci agar diperoleh hasil akhir yang konsisten. Penulisan SOP bertujuan untuk memastikan agar setiap proses dilaksanakan sesuai ketentuan CPOB, serta memastikan agar setiap proses dilaksanakan dengan cara yang sama oleh operator, memudahkan apabila terdapat pengenalan proses baru atau perubahan proses yang telah ada, memastikan bahwa karyawan senantiasa bekerja dengan cara yang telah ditetapkan. b. Inspeksi diri Inspeksi diri adalah suatu kegiatan rutin yang dilakukan untuk meninjau kembali apakah seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu selalu memenuhi standar CPOB dan standar HSE (Health, Safety, Environment), juga harus ditentukan tindakan yang efektif untuk mencegah dan memperbaiki penyimpangan. Inspeksi diri dilaksanakan dengan melakukan pemantauan langsung ke tempat kerja menggunakan suatu daftar periksa yang telah disusun. Inspeksi diri dilakukan PT Sydna Farma mencakup Routine Self Inspection (RSI) dan General Self Inspection (GSI) (Departemen Mutu PTSF, 2014c).
49 37 b1. Routine Self Inspection (RSI) RSI adalah peninjauan kembali departemen-departemen yang dilakukan bergantian di tiap department berdasarkan jadwal pelaksanaan inspeksi diri yang sudah disiapkan dan didistribusikan ke tiap departemen yang terkait setiap awal tahun. b2. General Self Inspection (GSI) GSI adalah kegiatan peninjauan kembali secara terpadu dan menyeluruh di semua departemen yang diadakan 2 kali tiap tahunnya. GSI dilakukan sesuai alur pembuatan produk, dari penerimaan bahan baku/kemas di gudang, proses produksi, pengemasan dan pengawasan mutu. Tim pelaksananya adalah seluruh Manager Department, Factory Manager, HSE Coordinator dan Compliance Pharmacist. b3. Audit Pemasok Kegiatan audit dilakukan minimal satu kali per 2 tahun untuk setiap pemasok. Audit pemasok dilakukan untuk mengetahui apakah supplier bahan awal dapat diandalkan dan dipercaya secara konsisten menjaga mutu bahan yang dipasok sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan serta menjamin bahan baku dan bahan pengemas yang diterima berkualitas (Departemen Mutu PTSF, 2014a). b4. Pelatihan Pelatihan dilakukan agar dapat melakukan pekerjaan sesuai dengan prosedur kerja GMP dan aturan HSE, setiap karyawan PT Sydna Farma harus menerima pelatihan yang tepat sebelum melakukan pekerjaannya. Selain itu, untuk karyawan yang melakukan pekerjaan spesifik, harus menerima pelatihan khusus. Pelatihan dilakukan untuk memberikan informasi kepada karyawan tentang cara melakukan pekerjaan secara tepat sekaligus untuk menghindari terjadinya malpraktek atau kecelakaan kerja (Departemen Mutu PTSF, 2014b).
50 38 b5. Penanganan Non Conformance Report dan Request Keadaan yang menyimpang dari keadaan normal atau tidak sesuai dengan yang tertulis (SOP, CPOB dan referensi lainnya) disebut sebagai deviasi. Hal tersebut dapat disebabkan oleh: 1) Permasalahan dalam suhu, kelembaban, tekanan udara, serta kualitas udara dalam ruangan produksi. 2) Kerusakan/kegagalan fungsi dan alat-alat produksi. 3) Kerusakan/kegagalan alat ukur dan alat kontrol. 4) Kualitas sistem pengolahan air. 5) Penyimpangan pada proses produksi. 6) Permasalahan terkait kondisi penyimpanan bahan baku, produk setengah jadi dan produk jadi. Setiap penyimpangan yang terjadi, khususnya pada saat produksi dan memiliki kemungkinan berpengaruh terhadap kualitas obat, harus diketahui oleh departemen pemastian mutu dan diinformasikan dalam bentuk laporan deviasi. Semua penyimpangan tersebut harus segera dilaporkan dan ditangani agar dapat dievaluasi seberapa jauh pengaruhnya terhadap kualitas produk serta mencegah terulangnya kejadian di masa yang akan datang. Jenis formulir yang digunakan untuk penanganan penyimpangan, yaitu Non Conformance Report dan Non Conformance Request. Formulir Non Conformance Report digunakan untuk melaporkan penyimpangan yang sudah terjadi sedangkan formulir Non Conformance Request digunakan untuk menangani deviasi minor yang akan terjadi dan tidak dapat dihindari (Departemen Mutu PTSF, 2014d). b6. Pengelolaan Change Request Procedure Pengelolaan Change Request Procedure merupakan sistem pengelolaan terhadap perubahan yang terjadi dalam suatu proses, peralatan, SOP, aspek registrasi produk dengan tujuan mencatat semua perubahan yang terjadi dan penyebabnya sehingga setiap kemungkinan terjadinya perubahan dapat ditelusuri dan dikontrol dampaknya. CRF (Change Request Form) merupakan
51 39 bagian dari change contol procedure. CRF merupakan suatu formulir usulan perubahan yang digunakan sebagai bukti terdokumentasi untuk pengusulan dan pelaksanaan perubahan. Perubahan dapat berasal dari laporan deviasi, permintaan departemen terkait aspek regulasi pemerintah (Departemen Mutu PTSF, 2013a). b7. Penanganan Keluhan Produk (Product Complaint) Keluhan atas produk dapat terjadi baik dari pasien, dokter, institusi kesehatan atau internal perusahaan. Penelitian dilakukan terhadap semua keluhan yang masuk, kemudian dilakukan evaluasi secara seksama dengan mengumpulkan semua informasi tentang keluhan tersebut. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan atau pengujian terhadap contoh yang diterima serta membandingkan terhadap retained sample batch yang bersangkutan, meneliti kembali semua dan dokumentasi yang berkaitan termasuk catatan pengolahan batch (BHF). Secara umum, penanganan product complaint di PT Sydna Farma dengan cara penggantian segera, investigasi penyebab, bila sifatnya kritis maka dilakukan penarikan kembali. b8. Review Produk Tahunan (Annual Product Riview) Review produk tahunan merupakan kegiatan peninjauan produk-produk yang telah diproduksi selama setahun berdasarkan BHF (Batch History File). Fungsi kegiatan ini adalah untuk mengenal parameter kritis dalam pengolahan suatu produk, memberikan bukti terdokumentasi bahwa prosedur pembuatan dapat menghasilkan produk dengan mutu yang konsisten BagianValiadasi Validasi adalah suatu tindakan pembuktian bahwa suatu proses produksi dengan menggunakan peralatan tertentu, pembersihan dan metode pemeriksaan akan selalu menghasilkan produk yang selalu memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Validasi yang dilakukan di PT Sydna Farma antara lain :
52 40 a. Validasi Proses (Departemen Mutu PTSF, 2012c). Validasi proses adalah tindakan pembuktian bahwa suatu proses produksi dengan menggunakan peralatan tertentu yang dapat diandalkan akan selalu menghasilkan produk yang selalu memenuhi persyaratan yang ditetapkan dari waktu ke waktu. Validasi proses dapat dilaksanakan dengan cara : a1. Prospektif, yaitu berdasarkan pengembangan proses Validasi prospektif adalah validasi yang dilakukan untuk proses produksi baru, dimana tiga bets validasi ini tidak boleh dipasarkan sebelum seluruh kegiatan validasi selesai dilaksanakan. a2. Konkuren, yaitu validasi bersamaan dengan proses Validasi konkuren adalah validasi dimana suatu bets validasi dapat dipasarkan tanpa menunggu seluruh bets validasi telah selesai dibuat, dievaluasi dan disimpulkan. Validasi ini hanya berlaku untuk produk yang sudah dibuat dan dipasarkan serta menunjukkan hasil yang konsisten. Validasi ini dilakukan terhadap tiga bets berturut-turut. a3. Retrospektif, yaitu validasi proses yang sudah dilakukan bertahun-tahun Validasi retorspektif dapat digunakan sebagai alternatif jika proses produksi sudah dilakukan cukup lama dan validasi prospektif belum pernah dilaksanakan. Syarat utama validasi ini adalah proses produksi tersebut sudah ada cukup lama dan berjalan secara konsipsten tanpa adanya perubahan. a4. Revalidasi dilakukan apabila terjadi suatu perubahan, misalnya perubahan proses. b. Validasi Prosedur Pembersihan (Cleaning Validation) (Departemen Mutu PTSF, 2012d) Validasi pembersihan adalah tindakan yang dilakukan untuk membuktikan bahwa metode pembersihan yang dilakukan telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Untuk membuktikan bahwa prosedur pembersihan peralatan cukup efektif dalam menghilangkan sisa bahan aktif dari prosedur sebelumnya,
53 41 meminimalkan jumlah residu pengotor pada alat hingga kadar yang diperbolehkan. c. Validasi Metode Analisis Validasi ini dilakukan melalui percobaan laboratorium dan bertujuan untuk membuktikan bahwa karakteristik dari prosedur tersebut dapat memenuhi persyaratan tertentu untuk dapat dipakai dalam kegiatan analisis rutin. Validasi ini mancakup akurasi, presisi, spesifisitas/selektivitas, batas deteksi (LOD), batas kuantitasi (LOQ), kekuatan/ketangguhan, linearitas dan rentang serta uji kesesuaian system. d. Validasi Mesin dan Alat (Departemen Mutu PTSF, 2012a) Kualifikasi merupakan proses pembuktian yang terdokumentsi untuk menunjukkan bahwa suatu mesin/ peralatan baru telah terpasang dengan benar, dapat dioperasikan sesuai spesifikasi mesin/alat yang diminta, serta menghasilkan kinerja yang baik sesuai parameter dan kondisi yang telah ditetapkan oleh penggunaannya. Kualifikasi terdiri dari 4 tingkatan: d1. Kualifikasi Desain (Desaign Qualification/DQ) DQ/ kualifikasi desain adalah untuk menjamin dan mendokumentasikan bahwa sistem atau peralatan atau bangunan yang akan dipasang atau dibangun dengan ketentuan atau spesifikasi yang diatur dalam CPOB yang berlaku. DQ dilakukan sebelum mesin, peralatan produksi atau sarana penunjang (termasuk bangunan untuk industri farmasi) tersebut dibeli/dipasang/dibangun. d2. Kualifikasi Instalasi (Installation Qualification/ IQ) IQ/ Kualifikasi instalasi adalah untuk menjamin dan mendokumentasikan bahwa sistem atau peralatan yang diinstalasi sesuai dengan spesifikasi yang tertera pada dokumen pembelian, manual alat yang bersangkutan dan pemasangannya dilakukan memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan. Jadi IQ dilaksanakan saat pemasangan atau instalasi mesin atau peralatan produksi atau sarana penunjang.
54 42 d3. Kualifikasi Operasional (Operational Qualification/OQ) OQ/Kualifiksi Operasional adalah untuk menjamin dan mendokumentasikan bahwa sistem atau peralatan yang telah diinstalasi beroperasi sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan. Jadi OQ dilakukan setelah pemasangan atau instalasi mesin atau peralatan produksi atau sarana penunjang dan digunakan sebagai test mesin / peralatan. d4. Kualifikasi Performa (Performance Qualification/ PQ) PQ/Kualifikasi Kinerja adalah untuk menjamin dan mendokumentasikan bahwa sistem/peralatan yang telah diinstalasi bekerja sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan dengan cara menjalankan sistem sesuai dengan tujuan penggunaan. e. Validasi Sistem Komputer Dalam membuktikan bahwa pencatatan dokumen yang dilakukan oleh sistem komputer dapat dipercaya, maka perlu dilakukan validasi sistem komputer. Sistem komputer yang digunakan PT Sydna Farma yang berkaitan dengan pencatatan dokumen harus sesuai dengan persyaratan seperti keamanan akses, back-up, dan recovery, validasi serta dokumentasi Bagian Inspeksi Bahan Awal dan Produk Bagian ini bertugas untuk melakukan pengambilan sampel, inspeksi visual, pemeriksaan secara fisik serta pemberian label status terhadap bahan baku, produk antara, dan produk jadi. Pekerjaan bagian inspeksi ini dimulai melalui surat permintaan inspeksi yang dikeluarkan oleh departemen gudang atau produksi. Inspeksi dilakukan berdasarkan SOP dan metode uji yang telah ditetapkan. Hasil inspeksi akan didokumentasikan untuk kemudian diperiksa dan ditandatangani oleh manajer mutu. Setelah pengujian dilakukan dan dinyatakan lolos uji, inspektor akan melaporkan hasil inspeksinya kepada departemen terkait. Selain itu, bagian inspeksi akan memeriksa kebenaran label status dan melakukan pengujian ulang bila status pada label telah melampaui masa berlakunya status.
55 Departemen Pengawasan Mutu (QC) Departemen Pengawasan Mutu (QC) di PT Sydna Farma merupakan departemen yang bertanggung jawab terhadap pengendalian mutu produk yang dihasilkan. Departemen pengawasan mutu dikepalai oleh Manajer Pengawasan Mutu (QC) yang membawahi 2 bagian yaitu Bagian Pengujian Kimia dan Pengujian Mikrobiologi serta Bagian Penelitian dan Pengembangan Produk (Research and Development) Bagian Pengujian Kimia dan Mikrobiologi a. Pengujian Kimia Kegiatan bagian pengujian kimia di PT Sydna Farma antara lain: a1. Pemeriksaan bahan baku, produk setengah jadi dan produk jadi Setiap bahan baku, produk setengah jadi dan produk jadi memiliki spesifikasi masing-masing yang merupakan syarat release bahan tersebut. Pemeriksaan dilakukan terhadap setiap bahan baku yang datang ke PT Sydna Farma, baik berupa material aktif maupun eksipien. Untuk bahan baku yang berasal dari Organon Oss (Prinsipal) sudah diluluskan oleh Organon Oss, hanya dilakukan pemeriksaan identitas di laboratorium kimia. Sedangkan untuk bahan baku dari pemasok lokal dilakukan pemeriksaan lengkap walaupun terdapat Certificate of Analysis (COA). a2. Pemantauan kualitas air Air yang dipantau kualitasnya adalah air untuk injeksi, air demineralisasi, air sumur dan air keran. Parameter yang diperiksa antara lain konduktivitas, ph, mineral dan total solid. Selain pemantauan terhadap air, dilakukan juga pemantauan terhadap kualitas air limbah yang telah diolah melalui Waste Water Treatment, untuk menentukan apakah air limbah tersebut aman untuk dibuang keluar pabrik.
56 44 a3. Pemantauan kadar bahan aktif di udara (Active Pharmaceutical Ingredient/ API) Kegiatan ini dilakukan untuk memantau secara teratur konsentrasi zat aktif di udara. Pemantauan kadar bahan aktif di udara dimaksudkan untuk menentukan alat pelindung diri dari karyawan, sehingga tidak mempengaruhi kesehatan karyawan yang bekerja. a4. Re-assay bahan baku Re-assay bahan baku yaitu pemeriksaan kualitas bahan baku yang telah mendekati waktu pengujian ulang. Pada saat dilakukan re-assay, semua bahan baku dianalisis secara lengkap, baik yang berasal dari Organon Oss atau lokal. a5. Uji stabilitas (Departement Mutu PTSF, 2014e) Uji stabilitas dapat dibagi menjadi dua, yang pertama uji stabilitas untuk bahan aktif atau produk baru yang bertujuan untuk mengetahui profil stabilitas dan profil degradasi suatu produk sehingga dapat ditentukan masa edar (shelf life) dari produk tersebut. Kedua yaitu uji stabilitas untuk produk yang telah dipasarkan (Post Marketing Surveillance Studies/PMSS). Uji stabilitas bertujuan untuk membuktikan kebenaran masa edar (shelf life) suatu produk pada kondisi penyimpanannya, sebagai dasar untuk penambahan masa edar suatu produk dan penentuan kondisi penyimpanan yang lebih sesuai. Sampel yang diambil harus sudah berada dalam kemasan produk jadinya. Uji stabilitas dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: 1) Uji stabilitas dipercepat, yaitu uji stabilitas sampel yang disimpan pada kondisi ekstrim, misalnya dengan suhu tinggi. 2) Real Time Study, yaitu uji stabilitas pada kondisi yang sesuai dengan yang tertera pada kemasan selama berlakunya masa kadaluarsa. Kondisi penyimpanan real time study harus mewakili kondisi penyimpanan (30 C; RH 75%).
57 45 a6. Penyimpanan contoh pertinggal (Retained Sample) Contoh pertinggal adalah contoh dari suatu bets bahan baku dan produk jadi yang disimpan selama 11 tahun untuk bahan baku dan selama satu tahun setelah masa kadaluarsa untuk produk jadi. Tujuan pengambilan contoh pertinggal adalah untuk memudahkan penelusuran dan sebagai pembanding jika terjadi keluhan produk. a7. Out of Specification (OOS) Investigation Ada kalanya hasil pemeriksaan yang dilakukan tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Kondisi dimana pemeriksaan memberikan hasil yang tidak memenuhi spesifikasi tersebut disebut sebagai OOS. Tujuan dari OOS adalah untuk memastikan agar tidak terjadi kesalahan analisis atau kegiatan pembuktian bahwa penyimpangan yang terjadi bukan merupakan kesalahan operator analisis. b. Pengujian Mikrobiologi Laboratorium pengujian mikrobiologi PT Sydna Farma memiliki tiga ruangan yaitu, ruang pembuatan media, ruang inkubasi dan ruang tes sterilisasi. Aktivitas dari laboratorium mikrobiologi ini meliputi: b1. Pemeriksaan sterilitas produk steril Sterilitas merupakan persyaratan yang esensial untuk produk parenteral. Uji sterilitas diperlukan untuk mendeteksi adanya kontaminasi dari suatu kegagalan teknis pada proses produksi, kesalahan yang berkaitan dengan manusia, ataupun tercampurnya produk yang sudah disterilkan dan yang belum disterilkan. b2. Pemeriksaan batas kuman Pemeriksaan ini dilakukan pada bahan baku dan produk jadi yang meliputi pemeriksaan jumlah dan jenis kuman. Pemeriksaan secara mikrobiologi dilakukan terutama pada bahan baku alamiah seperti amilum dan laktosa. Khusus untuk
58 46 sediaan tablet, pemeriksaan jumlah kuman hanya dilakukan pada tablet dengan bahan aktif hormon. Kuman yang tidak boleh ada antara lain Pseudomonosa aeruginosa, Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Salmonella dan Enterobacteriaceae. b3. Pemantauan kualitas mikrobiologi air Pemantauan kualitas mikrobiologi air dilakukan terhadap semua jenis air yang ada di PT Sydna Farma, yaitu air untuk injeksi (WFI), air demineralisata, air sumur dan air keran. Pemantauan WFI dilakukan pemeriksaan endotoksin bakteri dan jumlah kuman hidup dengan syarat harus negatif terhadap E.coli dan Pseudomonosa aeruginosa. Uji terhadap WFI dilakukan setiap sebelum produksi. Untuk air demineralisata, air sumur dan air keran dilakukan pemeriksaan jumlah kuman hidup dengan harus negatif terhadap E.coli. Uji ini dilakukan satu kali setiap minggu. b4. Bioburden test Bioburden test berguna untuk mengetahui berapa banyak jumlah kuman yang terdapat pada suatu cairan (produk injeksi) sebelum dilakukan proses sterilisasi secara filtrasi. b5. Pemeriksaan ruangan produksi parenteral Pemeriksaan terhadap ruangan produksi parenteral meliputi pemeriksaan jumlah partikel, pemeriksaan kuman di udara, pemeriksaan kebersihan permukaan alat dan ruangan, pemeriksaan kebersihan personil serta pemantauan RH dan temperatur ruang parenteral. Pemeriksaan jumlah partikel menggunakan alat particle counter yang diletakkan dalam ruangan selama satu menit dan dilakukan satu kali dalam seminggu, tergantung dari jadwal produksi. Pemeriksaan kuman di udara, pada ruang parenteral dilakukan dengan menggunakan alat Merck Air Sampler (MAS). MAS akan menyedot udara per m 3 dan udara akan melewati media agar pada alat tersebut, kemudian akan terlihat pertumbuhan kuman pada agar setelah beberapa hari. Untuk pemeriksaan kualitas mikrobiologi udara di bawah LAF digunakan Sedimentation Plate. Pemeriksaan
59 47 tersebut dapat digunakan sebagai indikator untuk memonitor efektivitas penyaringan udara, tekanan ruangan dan sanitasi ruangan atau personel. Pemeriksaan kebersihan pada permukaan alat dan ruangan dilakukan dengan menggunakan RODAC Plate yang ditempelkan pada permukaan alat atau ruangan. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui jumlah kuman yang terdapat di permukaan alat atau bangunan. Pemeriksaan kebersihan personil dilakukan dengan touch plate methode yaitu menempelkan telapak tangan pada media agar yang kemudian diinkubasi. Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk melihat tingkat kebersihan personil yang terlihat dalam proses produksi. b6. Uji broth filling trial Pengujian sterilitas pada sejumlah contoh yang diambil secara acak belum memberikan jaminan bahwa seluruh ampul yang diproduksi steril, terutama pada produk yang dibuat secara aseptis. Untuk itu perlu dilakukan suatu kegiatan untuk membuktikan bahwa seluruh proses pembuatan sediaan steril tersebut termasuk alat, manusia, dan fasilitas produksi memberikan jaminan bahwa produk yang dibuat selalu steril. Uji ini merupakan simulasi proses produksi dari pencampuran sampai pengisian dan sebagai pemeriksaan untuk melihat pengaruh operator maupun kebersihan ruangan dan alat terhadap hasil akhir produk parenteral. Pada uji ini, ampul kosong diisi dengan media TSB cair sebagai pengganti larutan obat yang kemudian diinkubasi pada suhu kamar selama 14 hari. Jumlah ampul yang terkontaminasi dipersyaratkan di bawah standar yang ditentukan dengan tingkat kepercayaan 95% Bagian Penelitian dan Pengembangan Produk Bagian penelitian dan pengembangan produk membutuhkan seorang apoteker yang memiliki pengetahuan dalam formulasi sediaan farmasi, proses, dan pengembangan kemasan, mengetahui peraturan lokal dan internasional untuk pendaftaran produk. Bertanggung jawab untuk pengembangan produk baru dan proses produksinya, juga perbaikan pada formulasi produk yang sudah ada serta proses produksinya. Pengembangan produk baru yang meliputi formulasi dan kemasan.
60 48 Bertanggung jawab atas penyusunan dokumen pendaftaran yang berkaitan dengan formulasi, proses produksi, dan kemasan Departemen Teknik Servis (TSD) dan Kesehatan Keselamatan Lingkungan (Health Safety Environment) Departemen Teknik Servis (TSD) dan HSE merupakan departemen di PT Sydna Farma yang bertanggung jawab terhadap perangkat keras pabrik agar kegiatan operasional pabrik dapat berlangsung dengan lancar. Departemen ini mempunyai bangunan yang terpisah dari pabrik Bagian Mekanik dan Elektrik Tugas dari bagian mekanis dan elektrik antara lain: a. Melakukan pemeliharaan dan pemeriksaan Pemeliharaan dan pemeriksaan dilakukan secara berkala terhadap peralatan dan perlengkapan di pabrik. Peralatan yang ada di pabrik dapat digolongkan menjadi 2 bagian yaitu, peralatan produksi dan peralatan umum. Peralatan produksi yang menjadi tanggung jawab Departemen TS dan HSE antara lain alat destilasi air, mesin pembuatan granul, fluid bed dryer, super mixer, dan alat pencetak tablet. Peralatan umum yang dibutuhkan oleh seluruh departemen, contohnya gedung, pipa, kran air, lampu dan sebagainya. Perlengkapan yang menjadi tanggung jawab Departemen TS dan HSE antara lain, mesin pendidih air, chiller, AHU, mesin vacum, mesin pengumpul debu, pembangkit listrik, pendingin udara dan pengolahan air kran. b. Melakukan perawatan secara berkala dan perbaikan Perawatan secara berkala dan perbaikan dilakukan bila terjadi kerusakan pada peralatan produksi dan peralatan umum. Bila terjadi kerusakan dalam skala besar yang tidak bisa ditangani oleh departemen ini, maka perbaikan dilakukan oleh kontraktor dari luar ataupun pemasok peralatan tersebut. Sedangkan bila terjadi kerusakan pada alat-alat analitik di laboratorium QA/QC, maka perbaikan dilakukan oleh pemasok alat tersebut.
61 49 c. Melakukan tes pendahuluan Tes pendahuluan dilakukan terhadap kelengkapan bagian mesin, kondisi mesin dan operasional awal mesin apabila pabrik membeli mesin baru. Perlengkapan merupakan alat penunjang produksi yang digunakan untuk keperluan produksi. Alat-alat tersebut antara lain, sumber listrik, steam boiler (mesin didih air), air compressor, Heating Ventilating and Air Conditioning (HVAC), mesin pendingin air, Air Handling Unit (AHU), Air Conditioning (AC), Exhaust Fan, mesin pengempul debu, air kran dan penanganan limbah cair Bagian Kesehatan Keselamatan Lingkungan (Health Safety Environment) Fungsi bagian HSE dapat dibagi menjadi dua, yaitu menjaga kesehatan karyawan dan melindungi karyawan dari kemungkinan efek kontaminasi produk maupun kecelakaan kerja (fungsi internal) dan untuk menjaga kelestarian lingkungan dengan cara megurangi dampak negatif pencemaran limbah industri ke lingkungan dan melakukan analisis risiko suatu pekerjaan (fungsi eksternal). Tugas koordinator HSE dalam bidang kesehatan antara lain: a. Bersama dengan dokter perusahaan memantau kesehatan karyawan melalui pemeriksaan kesehatan karyawan secara berkala, seperti pemeriksaan pendengaran untuk karyawan yang bekerja dengan mesinmesin industri, pemeriksaan mata untuk karyawan di bagian pemeriksaan visual ampul dan pemeriksaan ginekomastia untuk karyawan yang bekerja di area produksi estrogen. b. Pemeriksaan kesehatan karyawan baru. c. Pemeriksaan kesehatan terhadap karyawan sekali dalam setahun atau pada jangka waktu tertentu bekerja sama dengan dokter perusahaan. d. Menyediakan alat pelindung diri (APD) berkoordinasi dengan supervisor departemen terkait.
62 50 Dalam hal keselamatan kerja, prinsip yang digunakan adalah tindakan pencegahan sebelum terjadinya bahaya. Beberapa kegiatan pencegahan yang dilakukan adalah: a. Menaati MSDS (Material Safety Data Sheet) yang berisi penaganan bahan-bahan berbahaya dan cara pembersihannya, cara mengatasi api yang disebabkan oleh bahan yang mudah terbakar, maupun cara mengatasi kontaminasi bahan beracun dan berbahaya. MSDS ditinjau dan direvisi setiap dua tahun. Untuk melindungi personil laboratorium disediakan fasilitas pencuci mata, shower dan kotak PPPK. b. Penggunaan alat pengaman pada departemen TS dan HSE seperti safety shoes, safety helmet, masker dan sarung tangan yang harus dikenakan saat merawat atau memperbaiki mesin, bekerja di atas plafon dan pengelasan. c. Penempatan tabung gas dan gudang pelarut yang sangat mudah terbakar di luar pabrik. d. Penyediaan kotak P3K yang mudah dijangkau di setiap ruangan, penandaan jalur khusus untuk troli dan adanya pintu darurat sebagai akses keluar bagi karyawan jika terjadi kebakaran maupun gempa. e. Mengadakan pelatihan P3K dengan bekerja sama dengan dokter perusahaan. f. Melakukan pemeriksaan alarm kebakaran dan alat pemadam kebakaran bersama dengan personel TS dan HSE. Secara eksternal dalam hal lingkungan, koordinator HSE berperan sebagai berikut: a. Menangani limbah di PT Sydna Farma. Dalam hal ini, bagian HSE bertanggung jawab untuk: a1. Menangani limbah secara umum seperti sisa makanan, kantong plastik yang tidak terkontaminasi bahan aktif, kayu, sisa lempengan besi, baja, bekas prefilter, medium filter dan HEPA filter yang tidak megandung bahan aktif, box makanan sekali pakai, gelas putih
63 51 transparan dan media agar bekas disterilisasi. Penanganan limbah umum melalui dinas kebersihan DKI Jakarta. a2. Menangani pengolahan limbah cair agar dihasilkan limbah pabrik yang ramah lingkungan sebelum dibuang ke lingkungan luar pabrik a3. Menangani limbah b3, antara lain sisa serbuk, tablet yang mengandung bahan aktif, bekas filter yang terkontaminasi bahan aktif plastik pembungkus bahan aktif, pelarut organik dan larutannya, blister yang sudah kontak langsung dengan produk, pelarut atau campuran pelarut dengan air, bahan pengemas primer yang terkontaminasi bahan aktif, sarung tangan, masker sekali pakai, bahan aktif yang tidak memenuhi syarat, sisa sampel produk dan bahan aktif, organik dan senyawa organik padat. Penanganannya melalui kontraktor pengolahan dan pembuangan limbah b3 ke pusat pengolahan limbah (PPLI). a4. Menangani limbah oli seperti pelumas mesin, sisa oli disel dan oli mesin lainnya. Penanganannya melalui kontraktor daur ulang limbah oli yang tersertifikasi oleh pemerintah. a5. Menangani limbah daur ulang, seperti kardus bekas, kertas, botolbotol reagen bekas setelah dibilas, box leaflet, sachet produk jadi kadaluarsa atau ditolak yang telah disobek minimal menjadi 4 bagian, bekas tali kipas, perabotan usang, besi bekas. Penanganannya melalui kontraktor daur ulang limbah. a6. Menangani limbah baterai dan cartridge tinta, melalui kontraktor pihak ketiga yang tersertifikasi oleh pemerintah. a7. Menangani limbah kebun seperti daun, ranting pohon, rumput dan lain-lain. Penanganannya dengan cara dikomposkan di area belakang pabrik.
64 52 b. Memantau emisi udara, seperti pengecekkan ambient air sebelum menuju ke pemukiman c. Memantau kebisingan seperti yang ditimbulkan oleh mesin-mesin yang mempunyai nilai kebisingan melebihi nilai ambang batas Bagian Keamanan Bagian keamanan juga merupakan bagian dari Departemen TS dan HSE. Bagian keamanan bertugas menjaga dan mengawasi keamanan lingkungan perusahaan, baik personel maupun material secara rutin, termasuk memantau dan melaporkan kepada TSD bila ditemukan tanda penyimpangan pada sistem pengaturan suhu dan tekanan ruang di area produksi. 3.6 Produk PT Sydna Farma Pembagian produk PT Sydna Farma secara umum dibagi menjadi dua, yaitu berdasarkan zat aktifnya dan berdasarkan peruntukkannya. Berdasarkan zat aktifnya dibedakan kembali menjadi produk hormonal dan non-hormonal. Sedangkan berdasarkan peruntukkannya dibedakan menjadi produk MSD dan produk toller.
65 BAB 4 PEMBAHASAN 4.1 Penerapan CPOB di Industri Pembangunan kesehatan nasional pada hakikatnya merupakan upaya peyelenggaraan kesehatan untuk mencapai derajat kesehatan yang baik. Pemerintah melakukan upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan meningkatkan sarana dan prasarana di bidang kesehatan. Selain itu, pemerintah juga mengeluarkan peraturan-peraturan yang bertujuan untuk menjamin masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik di bidang kesehatan. Obat merupakan salah satu unsur penting demi terselenggaranya pembangunan kesehatan. Oleh karena itu, obat yang dikonsumsi oleh masyarakat harus benar-benar terjamin keamanan, kualitas dan khasiatnya. Badan regulasi untuk pengawasan obat dan makanan mengeluarkan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) sebagai pedoman suatu industri farmasi dalam membuat obat untuk dipasarkan di Indonesia. PT Sydna Farma sebagai salah satu Penanam Modal Dalam Negeri (PMDN) yang ada di Indonesia dalam menjalankan proses produksinya telah menerapkan CPOB. Penerapan CPOB dan seluruh aspek rangkaian produksi merupakan suatu langkah untuk menjamin mutu obat jadi sehingga memenuhi persyaratan yang ditentukan sesuai dengan tujuan penggunaannya. Selama Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA), peserta diberi kesempatan untuk melakukan pengamatan ke Departemen Pengadaan, Departemen Pemastian dan Pengawasan Mutu, Departemen Produksi, Departemen Pengembangan Produk, serta Departemen Teknik Servis dan Kesehatan Keselamatan Lingkungan sebagai proses untuk memahami penjaminan mutu suatu produk di PT Sydna Farma. Selain itu, peserta melakukan berbagai aktivitas di bawah Departemen Pengawasan Mutu dan Pemastian Mutu. 53
66 Manajemen Mutu PT Sydna Farma menerapkan manajemen mutu yang berfokus pada pemenuhan persyaratan yang diberlakukan baik oleh persyaratan internal perusahaan maupun standar yang sesuaidengan CPOB terkini. Departemen QA dan QC menerapkan beberapa program manajemen mutu berupa monitoring, kualifikasi, kalibrasi, validasi, inspeksi diri dan pelatihan GMP untuk karyawan secara berkala. 4.3 Personalia Dalam rangka pengembangan profesionalitas kerja karyawan, PT Sydna Farma menerapkan beberapa langkah dalam programnya seperti pelatihan berkala dan penentuan tingkatan keahlian operator. Pelatihan dilakukan untuk memberikan informasi kepada karyawan tentang cara melakukan pekerjaan secara tepat sekaligus untuk menghindari terjadinya malpraktek atau kecelakaan kerja. Bentuk pelatihan yang dilakukan antara lain (Departemen Mutu, 2014b): a. Basic Job Training adalah pelatihan yang harus diberikan pada tiap karyawan agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, sesuai standar yang ditetapkan dari perusahaan. b. Refreshment Training adalah pelatihan yang diberikan pada karyawan sebagai pelatihan ulang dengan tujuan untuk mengingatkan kembali aturan SOP yang berlaku, mengingatkan standar keterampilan yang dibutuhkan atau alasan spesifik lainnya. c. Incidental Training adalah pelatihan yang diberikan kepada karyawan yang tidak berhubungan secara langsung dengan pekerjaan mereka, tetapi dibutuhkan untuk memperluas pengetahuan mereka yang juga berguna di tempat kerja, misalnya: pelatihan pertolongan pertama dan pelatihan pemadaman api. d. Development Training adalah pelatihan yang diberikan sebagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan teknis dan tingkah laku yang dapat mendukung pelaksanaan tugas secara efektif dan efisien. Umumnya pelatihan
67 55 ini berupa pelatihan di bidang manajemen seperti supervisory management, presentation skill, dan coaching skill. e. Training on the Job adalah pelatihan yang dilakukan langsung di lapangan sekaligus dengan praktek operasionalnya. Dalam training ini dilakukan penilaian untuk mengetahui kemampuan seorang operator/personel apakah telah mampu dalam melaksanakan tugasnnya. 4.4 Bangunan dan Fasilitas Lokasi Bangunan PT Sydna Farma memiliki bangunan yang terletak di tengah kota dan dekat dengan pemukiman penduduk. Bangunan PT Sydna Farma memiliki perlindungan yang memadai terhadap cuaca dan banjir dengan adanya sistem drainase yang baik, serangga dan binatang pengerat dengan adanya program pengendalian hama (pest control) yang teratur, efektif dan terdokumentasi Tata Ruang Tata letak dan desain ruangan di PT Sydna Farma dibuat sedemikian rupa untuk memperkecil risiko terjadinya kekeliruan, pencemaran silang, memudahkan pembersihan, sanitasi yang efektif, menghindari penumpukan debu dan kotoran dan dampak lain yang dapat menurunkan mutu obat. Bangunan PT Sydna Farma telah mengalami beberapa kali renovasi untuk meningkatkan kepatuhan (compliance) perusahaan terhadap persyaratan CPOB terkini dan efisiensi melalui perbaikan alur proses kerja. PT Sydna Farma memiliki ruangan yang terpisah untuk produksi sediaan padat hormon estrogen dan non estrogen. Selain itu, juga terdapat ruangan yang terpisah untuk produksi sediaan parenteral. Lalu lintas barang dan karyawan untuk masing-masing area produksi terpisah, tanpa harus melewati ruangan produksi lainnya. Tata letak, penempatan, bentuk dan penggunaan material bangunan (termasuk lampu, pipa saluran udara, pipa saluran air) sudah sesuai dengan persyaratan CPOB terkini.
68 Ruang Produksi Sediaan Tablet Produksi tablet terbagi menjadi produk hormon dan non hormon yang prosesnya dilakukan di dalam ruangan dan sistem pengolahan udara (AHU) yang terpisah. Ruangan produksi tablet memiliki tekanan udara yang lebih tinggi dibandingkan koridor utama. Ruangan produksi tablet non hormon terbagi atas ruang granulasi, ruang penyalutan tablet, ruang pencampuran akhir, ruang slugging, ruang pencetakan tablet. Sedangkan ruangan produksi tablet hormon terbagi menjadi ruang granulasi, ruang pencetakan tablet, ruang pencampuran bahan dan ruang blistering (pengemasan primer) Ruang Produksi Sediaan Steril Ruangan yang terdapat di parenteral terbagi atas 4 kelas kebersihan yaitu (Departemen Produksi PTSF, 2013b): a. Ruang kelas 100 (kelas A) meliputi ruang dibawah Laminar Air Flow (LAF). b. Ruang kelas 100 (kelas B) meliputi ruang filling dan sterilized container area. c. Ruang (kelas C) meliputi ruang cuci ampul, ruang after washing, ruang pencampuran, material airlock, dan koridor persiapan. d. Ruang (kelas D) meliputi ruang visual inspeksi, penyimpanan produk semi-finished, kantor supervisor, penyimpanan material, dan parenteral corridor. Ruang (kelas C) area parenteral dilengkapi penyaring udara High Efficiency Particulate Air (HEPA) dengan efisiensi 99,995%, sedangkan ruang 100 (kelas B) dilengkapi dengan HEPA filter dengan efisiensi 99,997%. Tekanan udara di ruang pengisian lebih tinggi dibanding tekanan di koridor parenteral utama. Air lock (ruang antar kelas kebersihan) antara area kelas dan antara memiliki sistem interlock yaitu sistem otomatis yang mengunci salah satu pintu jika pintu yang lain terbuka.
69 Ruangan Pengemasan Primer Ruangan pengemasan primer untuk produk non hormon dan hormon dilakukan dalam ruangan dan AHU yang terpisah. Ruangan pengemasan primer memiliki tekanan udara yang lebih rendah dibandingkan koridor utama. Lantai dan langit-langit ruangan didesain sedemikian rupa sehingga dapat menghindari terjadinya pelepasan atau penumpukan partikel, serta menjadi tempat perkembangan mikroba Gudang Gudang terdiri dari 6 ruangan dengan kondisi berbeda untuk penyimpanan barang, yang disesuaikan dengan kondisi penyimpanan yang dipersyaratkan untuk masing-masing barang, yaitu: a. Main Storage (Gudang Utama) memiliki batas suhu C b. Controlled Room Temperature Storage (Gudang dengan Suhu Terkontrol) memiliki batasan suhu C. c. Dry Storage memiliki batasan suhu C dengan kontrol kelembaban 30-45%. d. Cold Storage (Gudang Dingin) memiliki batasan suhu 2-8 C. e. Solvent Storage (Gudang bahan mudah menguap dan mudah terbakar), tempat penyimpanan pelarut dengan kondisi suhu ruang serta tanpa kontrol kelembaban. Gudang ini terletak pada bangunan yang terpisah. f. Estrogen Storage merupakan tempat untuk menyimpan bahan baku untuk produksi hormon memiliki temperatur C dengan kelembaban 35-45% dan tekanan 0-5 Pa. Gudang memiliki tempat penyimpanan berupa rak-rak yang dilengkapi dengan kode lokasi. Tata letak rak diatur sedemikian rupa sehingga penempatan untuk barang dipisahkan berdasarkan jenis dan nomor bets. Barang dengan status ditolak, diletakkan di tempat yang terkunci. Penyimpanan label juga dilakukan dalam tempat yang terkunci. Setiap barang yang disimpan di gudang memiliki label kondisi penyimpanan di samping label identitas untuk memudahkan mutasi barang. Arus barang datang dan keluar gudang terkontrol dan terdokumentasi
70 58 dengan baik. Barang datang dan keluar melalui pintu yang berbeda, dan setiap proses mutasi barang dilakukan dokumentasi. Area gudang hanya dapat dimasuki oleh orang yang terotorisasi. Barang yang datang akan ditempatkan di area penerimaan dan diberi label quarantine warna kuning. Selanjutnya, bagian gudang akan menginput data kedatangan material pada sistem komputer Axapta untuk menginformasikan kedatangan barang tersebut ke departemen pemastian mutu agar dilakukan sampling. Setelah disampling, barang akan dipindahkan ke ruang karantina dengan kondisi yang sesuai. Setelah mendapat hasil analisis dari QC dan dinyatakan lulus, maka lebel kuning diganti dengan label hijau. Jika barang tidak memenuhi persyaratan, label kuning akan diganti dengan label merah dan kemudian akan dikembalikan ke pemasok atau dimusnahkan tergantung dari jenis cacatnya. Bagian gudang juga bertanggung jawab terhadap ruangan penimbangan (dispensing room). Ruangan penimbangan terbagi atas dua macam, yaitu ruangan penimbangan bahan aktif dan ruangan penimbangan bahan non aktif. Ruangan penimbangan bahan baku aktif dibagi atas ruangan penimbangan bahan baku aktif hormon dan non hormon. Ruangan-ruangan tersebut terdapat pada area dan dengan sistem pengolahan udara yang terpisah. Ruangan penimbangan memiliki lantai dan langit-langit yang dilapisi epoksi. Exhaust (penghisap debu) diletakkan di belakang meja penimbangan dengan tujuan agar operator tidak terpapar oleh bahan aktif selama penimbangan berlangsung. Penimbangan untuk bahan baku parenteral dilakukan di bawah LAF Departemen Teknik Servis dan Kesehatan Keselamatan Lingkungan Departemen ini memiliki bangunan yang terpisah dari pabrik dan terbagi atas ruangan-ruangan sebagai berikut: a. Bengkel untuk perbaikan alat-alat yang rusak. b. Gudang untuk penyimpanan peralatan dan suku cadang. c. Engine house untuk tempat generator, boiler dan panel-panel.
71 Sistem Tata Udara Air Handling Unti (AHU) adalah unit penukar kalor yang dipakai untuk menjaga kondisi udara di dalam sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan, misalnya dalam mempertahankan tekanan udara, kelembaban dan suhu suatu ruangan. PT Sydna Farma memiliki 16 AHU yang merupakan satu kesatuan sistem tata udara yang melayani area produksi, packaging dan laboratorium. AHU berperan penting untuk menunjang proses produksi yang ada sehingga kinerjanya harus selalu dipelihara, untuk menghindari kerusakan yang dapat mengganggu aktivitas produksi (Departemen Teknik Servis dan Kesehatan Keselamatan Lingkungan PTSF, 2014b). AHU dilengkapi dengan alat pengontrol kecepatan putaran blower yang disebut inverter. Untuk ruangan yang mempunyai fasilitas penghangat ruangan untuk menurunkan kelembaban udara, penggunaan AHU harus menyesuaikan kondisi berdasarkan laporan dari pihak produksi. Apabila suhu ruangan terlalu rendah atau kelembabannya terlalu tinggi, maka penghangat ruangan diaktifkan. Sebaiknya, apabila kondisi ruangan telah tercapai atau suhu lebih tinggi atau kelembabannya terlalu rendah, maka penghangat ruangan tidak perlu diaktifkan. Pemantauan system AHU dilakukan disetiap ruangan yang sumber udaranya berasal dari AHU. Parameter pemantauan sistem AHU meliputi tekanan, suhu dan kelembaban udara diruangan. Pemantauan ketiga parameter ini dilakukan oleh staf masing-masing departemen (Departemen Teknik servis dan Kesehatan Keamanan Lingkungan PTSF, 2014b). Komponen utama yang dimliki AHU adalah fan blower, motor, cooling coil, heating coil (jika diperlukan) dan after cooling (jika diperlukan). Komponen pembantu antara lain prefilter, medium filter, HEPA filter dan volume damper. Filter merupakan bagian yang berfungsi untuk mengendalikan dan mengontrol jumlah partikel dan mikroorganisme yang mengkontaminasi udara yang masuk kedalam ruang produksi. Ducting merupakan saluran tertutup tempat mengalirnya udara. Dumper merupakan bagian yang berfungsi untuk mengatur jumlah (debit) udara yang dipindahkan ke dalam ruang produksi. Tidak semua AHU memilki
72 60 semua komponen seperti pada bagan, tergantung pada kebutuhan kualitas udara pada ruangan produksi (Departemen Teknik Servis dan Kesehatan Keamanan Lingkungan PTSF, 2014b). Beberapa bagian lain yang termasuk dalam sistem tata udara adalah dust collerctor dan exhaust fan. Dust collector adalah mesin yang digunakan untuk menghisap debu obat dari ruangan yang dihasilkan oleh proses produksi. Sedangkan exhaust fan merupakan mesin yang digunakan untuk mengeluarkan udara dari dalam ruangan ke luar ruangan, berguna untuk keperluan ventilasi udara. Sistem tata udara dapat dilihat pada Gambar 4.1. Perawatan AHU meliputi penggantian prefilter, medium filter dan HEPA filter, pengecekan ducting dan kebocoran pada dinding AHU, pembersihan dan pemeliharaan cooling coil dan after cooling coil, pengecekan V belt, bearing pulley pada blower, pemerikasaan motor pada blower, pemerikasaan sistem kelistrikan, pemeriksaan sistem elektrik heater, dan pemeriksaan sistem kontrol suhu AHU. Pemeriksaan ini dilakukan tanpa mematikan sistem AHU (Departemen Teknik Servis dan Kesehatan Keamanan Lingkungan PTSF, 2014b). Penggunaan prefilter dilakukan setiap dua minggu sekali dan untuk unit yang beroperasi 24 jam dilakukan setiap minggu. Prefilter yang sudah kotor diganti dengan prefilter yang bersih. Pembersihan prefilter dilakukan dengan mencuci prefilter tersebut dengan air secara berlawanan arah aliran udara saat filter digunakan. Penggantian media prefilter dilakukan setiap enam bulan sekali (Departemen Teknik Servis dan Kesehatan Keamanan Lingkungan PTSF, 2014b). AHU yang menjadi sumber udara untuk ruangan kelas 100 dan digunakan medium filter dengan efisiensi 90-95% dan HEPA filter dengan efisiensi 99,997%. Untuk AHU yang menjadi sumber udara ruangan kelas digunakan medium filter dengan efisiensi 80-85% dan HEPA filter dengan efisiensi 95%. Penggantian HEPA filter AHU dilakukan berdasarkan monitoring pressure drop yang spesifikasinya telah ditetapkan internal perusahaan (Departemen Teknik Servis dan Kesehatan Keamanan Lingkungan PTSF, 2014b).
73 Sistem Air untuk Produksi Sumber air PT Sydna Farma diambil dari satu sumur dengan kedalaman 200 meter. Air dari dalam tanah (deep well water) ditampung di tempat penampungan air kapasitas Liter, kemudian dialirkan ke sand filter untuk disaring sehingga tanah, lumpur dan kotoran lain yang terdapat dalam air dapat dihilangkan. Sand filter diperkirakan dapat menyaring partikel sampai dengan ukuran 5µm. setelah melewati sand filter, air ditampung dalam reservoir untuk dialirkan ke area-area pabrik, salah satunya sebagai sumber pembuatan aqua demineralisata. Pada akhir proses ini, air yang diperoleh disebut tap water. Penggunaan mesin DM Water Plant, akan menghasilkan demineralized water dari tap water. Demineralized water diperlukan sebagai bahan baku air untuk pembuatan water for injection, pembuatan steam pada sistem generator di linden autoclave dan kebutuhan produksi lainnya (misalnya pencucian) (Departemen Teknik Servis dan Kesehatan Keamanan Lingkungan PTSF, 2014a). Air dari tap water akan melewati loop 1 yang diawali dengan 2 buah filter (prafilter) yang masing-masing berukuran 25 µm dan 5 µm sebelum melewati sistem penukar ion untuk menghilangkan mineral-mineral yang terkandung dalam air. Sistem penukaran ion terdiri dari 3 buah tangki secara berurutan yaitu tangki kation, anion dan mixed bed. Tangki ini berisi resin yang dikontrol dengan nilai konduktiviti filter 2,5 µm, lampu UV dan filter 1,2 µm sebelum ditampung dalam tangki penyimpanan. Sampai pada proses ini, air yang dihasilkan berupa aqua demineralisata. Aqua demineralisata didalam tangki penyimpanan didistribusikan ke area pabrik. Proses pengolahan air kran menjadi aqua demineralisata dapat dilihat pada Gambar 4.2. Aqua demineralisata (DM) water akan mengalami proses destilasi dengan tiga tabung pararel menjadi water for injection (WFI) didalam loop 2, dan disimpan dalam penampungan. WFI tersebut digunakan untuk produksi parenteral dan selama penyimpanan disirkulasikan secara kontinu pada suhu 80 C selama 24 jam sehari guna mencegah pertumbuhan bakteri. Air untuk injeksi ini harus bebas dari pirogen, rendah partiker, dan memiliki jumlah kuman hidup yang rendah (low
74 62 viable count). Proses pengolahan DM water menjadi WFI dapat dilihat pada Gambar 4.3. Sanitasi dilakukan secara berkala pada pipa loop 1 dan loop 2 untuk menjaga kulitas air yang dihasilkan. Sanitasi ini bertujuan untuk menjaga agar jumlah mikroba dalam sistem DM water plant tetap memenuhi spesifikasi. Pada DM water generator, larutan H 2 O 2 dialirkan pada loop 1, sedangkan bagian DM water circulating loop sistem akan melakukan sirkulasi air dengan temperatur 80±5 C. Pelaksanaan sanitasi dilakukan apabila hasil pemeriksaan mikroba dari departemen QC diatas 50 cfu/ml. Penggantian prefilter 25µm dilakukan setiap bulan sedang penggantian prefilter 5µm setiap 3 bulan. Untuk sanitasi loop 1 dan loop 2 dilakukan setiap 3 bulan sekali, lampu UV dibersihkan setiap 6 bulan sekali dan penggantian lampu UV dilakukan jika running hour UV lamp telah mencapai 8000 jam operasi dengan toleransi 24 jam (Departemen Teknik Servis dan Kesehatan Keamanan Lingkungan PTSF, 2014a) Uap Air (steam boiler) PT Sydna Farma memiliki 3 boiler. Uap air (steam) berfungsi sebagai sumber panas yang digunakan untuk operasional mesin produksi sepertidrying oven, mesin coating dan aquadestiller. Selain itu digunakan pula untuk memanaskan air (dengan menggunakan double jacket). Uap air yang digunakan dalam proses sterilisasi autoklaf dari yang bersentuhan langsung dengan produk terutama produk steril, memenuhi persyaratan sebagai uap murni (clean steam) Udara Tekan (Compressed air) Compressed air dihasilkan oleh mesin compressor PT Sydna Farma memiliki 2 buah compressor oil free. Compressor air dapat digunakan untuk menggerakkan/menjalankan peralatan dan mesin-mesin tertentu. Untuk compressor air yang bersentuhan langsung dengan produk, maka sistem udara tekan akan dilengkapi dengan penyaring udara yang sesuai. Disamping digunakan untuk menjalankan mesin-mesin dan peralatan, tekanan angin juga digunakan untuk membantu proses pembersihan ruangan dan mesin.
75 Area Pengawasan Mutu Area Pengawasan mutu meliputi laboratorium mikrobiologi dan laboratorium kimia. Laboratorium kimia dilengkapi dengan sarana pendukung berupa compressed air, nitrogen dan DMW. Laboratorium mikrobiologi terletak di dalam laboratorium utama yang terpisah, dilengkapi dengan LAF cabinet untuk operasional pada kondisi kelas Peralatan Kesesuaian desain dan konsistensi tiap bets dilakukan agar mutu obat terjamin.peralatan-peralatan yang ada di PT Sydna Farma memiliki desain, konstruksi dan ukuran yang sesuai dengan spesifikasinya, serta dikualifikasi dan ditempatkan dengan tepat sehingga memudahkan dalam pemakaian, perawatan dan pembersihan. Setiap peralatan diberi nomor pengenal/inventaris guna keperluan penelusuran, misalnya untuk keperluan kalibrasi dan kualifikasi. Setiap alat dilengkapi dengan SOP (Standard Operating Prosedure) yang meliputi pengoperasian, pembersihan, perawatan, dan perbaikan alat. Penerapan SOP tersebut diperlukan sebagai pedoman untuk tiap personil yang terkait agar dapat melaksanakan prosedur tersebut dengan benar dan konsisten. SOP direvisi setiap 3 tahun sekali untuk melihat kesesuaian SOP dengan kondisi yang ada dan juga bila terdapat perubahan yang dilakukan pada alat. Pembersihan, pemeliharaan, dan kalibrasi alat dilakukan secara rutin sesuai jadwal dalam SOP. SOP pemeliharaan dan kalibrasi perlatan tersebut bertujuan agar alat dapat difungsikan dengan baik. Alat yang telah dikalibrasi akan diberi label kalibrasi, demikian pula alat yang dibersihkan akan mendapat label bersih. Label bersih alat berlaku hingga jadwal pembersihan berikutnya selama alat belum digunakan (Departemen Mutu PTSF, 2012d).
76 Sanitasi dan Higiene Sanitasi Untuk menghindari pencemaran terhadap lingkungan dari limbah dan mempermudah penanganannya, limbah PT Sydna Farma dibagi menjadi dua yaitu limbah domestik dan limbah B3. PT Sydna Farma hanya memiliki system pengolahan limbah domestik saja karena limbah yang termasuk dalam golongan B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya) tidak diolah sendiri tetapi dikirim ke PPLI guna diolah lebih lanjut. Skema pengolahan limbah domestic dapat dilihat pada Gambar 4.4. Sistem pengolahan limbah terdiri dari bak kontrol 1 yang merupakan tangki pengontrol aliran limbah yang menampung semua limbah pabrik dan limbah sosial. Dari bak kontrol 1, limbah akan masuk ke dalam bak equalisasi. Bak equalisasi adalah tangki tempat bercampuran over flow cairan limbah social dari septic tank dengan limbah cair dari pabrik yang bersumber dari laboratorium. Dari bak equalisasi kemudian ke gutter pembagi, merupakan saluran yang terbuat dari plat galvanis antikarat, berfumgsi untuk mendistribusikan air limbah secara merata ke permukaan bebatuan berpori yang terdapat di bawahnya dalam tangki Trickling filter. Cairan yang berada diatas mengalir ke dalam saringan dasar (trickling filter) dan akan terjadi kontak antara limbah cair dan bakteri. Air dialirkan ke saringan dasar melalui sistem mekanik berupa saluran pembagi lalu jatuh melalui lubang-lubang yang ada secara gravitasi. Saringan tersebut terdiri dari bebatuan yang menyebar pada seluruh permukaan sebagai tempat pertumbuhan bakteri. Bakteri-bakteri yang digunakan untuk pengolahan limbah cair ini adalah aerob dan anaerob. Pada dasar batuan, air ditampung dan dialirkan ke sumur pompa. Dari sumur pompa, limbah cair dipompa ke wadah pengeluaran. Pompa tersebut dilengkapi oleh meteran yang mngukur jumlah limbah cair yang meninggalkan pabrik melalui wadah pengeluran menuju ke sungai (Departemen Teknik Servis dan Kesehatan Keamanan Lingkungan PTSF, 2014c).
77 65 Tingkat sanitasi peralatan PT Sydna Farma juga telah dilakukan dengan baik. Bila proses produksi telah selesai dilakukan maka peralatan yang digunakan segera dibersihkan dan dicuci. Batas waktu status bersih alat juga ditetukan. Pada area produksi parenteral, sanitasi area bersih sangatlah penting. Area produksi parenteal dibersihkan secara menyeluruh sesuai program yang tertulis. Desinfektan yang digunakan telah disterilkan terlebih dahulu dan setiap bulannya digunakan desinfektan yang berbeda untuk mencegah resistensi. Penggunaan desinfektan untuk pembersihan dipantau dan hasil pengenceran ditempatkan dalam wadah yang telah dicuci bersih dan hanya boleh disimpan dalam jangka waktu tertentu. Fumigasi juga dilakukan jika ditemukan jamur Higiene Semua personalia yang memasuki area pabrik harus menjaga higiene perorangan. Higiene perorangan untuk kelas 100 dan antar personil yang sakit (mata, flu, kelainan pada lambung, luka kulit) tidak boleh memasuki area steril, personel wanita yang sedang menstruasi disarankan tidak memasuki kelas 100 dan , jumlah personel yang bekerja diarea steril harus seminimal mungkin, menghindari gerakan yang tidak perlu dan berbicara terlalu keras, tidak menyentuh bagian ampul yang terbuka, tidak menggunakan jumpsuit yang kotor. Obeservasi dan kontrol harus dilakukan dari luar area (Departemen Produksi PTSF, 2013b). Semua personel yang hendak masuk maupun keluar area produksi harus mencuci tangan dan dikeringkan dengan tissue. Pada area tertentu (area tablet hormon) diwajibkan untuk mandi bila hendak meninggalkan area tersebut (2 PTSF, 2013a). Setiap personel harus menggunakan pakaian yang sesuai area kerja tertentu bila hendak memasuki area kerja tersebut. Alat pelindung diri (APD) khusus untuk kegiatan-kegiatan tertentu. Tiap bagian departemen produksi memiliki warna pakaian yang spesifik (Departemen Produksi PTSF, 2013b). Bagi personel yang bekerja pada area tablet, APD dust mask harus dikenakan saat proses tableting berlangsung guna menghindari terhirupnya debu zat aktif. Personel yang bekerja dengan paparan tinggi terhadap bahan aktif
78 66 diwajibkan untuk mengenakan cartridge mask atau full face mask, dan sarung tangan. Penentuan tingginya paparan zat aktif terhadap personel ditentukan berdasarkan hasil pemantauan API (Active Pharmaceutical Ingredients). Personel yang bekerja pada proses mixing dengan bahan aktif estrogen dan pelarut kimia harus menggunakan supplied air respiration (hood respirator) untuk mendapatkan udara bersih dan untuk menghindari terhirupnya bahan berbahaya. Personel yang bekerja pada area granulation tablet hormon wajib menggunakan compressed air masks saat menangani granulat zat aktif. Personel yang melakukan proses coating harus menggunakan vapour cartridge mask (Departemen Produksi PTSF, 2013a). Personel yang bekerja di area kelas 100 dan wajib menggunakan pakaian overall bebas serat/partikel dan disterilkan. Sebagai tambahan, sarung tangan karet steril dan sepatu boots steril harus digunakan. Pakaian overall hanya dapat digunakan sekali dan diganti setelah shif berakhir atau saat akhir waktu kerja (Departemen Produksi PTSF, 2013b). Dalam usaha memelihara dan meningkatkan kesehatan para karyawan, pihak perusahaan telah melakukan program General Chek-Up satu tahun sekali. Selain itu pemeriksaan mata untuk karyawan visual inspector tiap 6 bulan, pemeriksaan pendengaran bagi karyawan yang bekerja di lingkungan dengan intensitas suara melebihi normal satu tahun sekali, dan pemeriksaan ginekomastia bagi karyawan yang bekerja pada dengan bahan aktif estrogen tiap 6 bulan sekali serta pemerikasaan jarak baca setiap 6 bulan sekali bagi karyawan yang bekerja sebagai operator sorting out blister/strip. PT Sydna Farma berusaha menjalankan program higiene perusaahaan dan melaksanakan program higiene perorangan serta adanya pembatasan terhadap karyawan yang memasuki daerah produksi (Departemen Teknik servis dan Kesehatan Keselamatan Lingkungan PTSF, 2012) Produksi PT Sydna Farma dalam melaksanakan proses produksi mengikuti prosedur yang telah ditetapkan dalam Batch Manufacturing Record (BMR) dan Batch
79 67 Packaging Record (BPR) untuk menjamin mutu obat agar memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan. Dalam mendapatkan bahan baku dan bahan kemas, PT Sydna Farma terlebih dahulu melakukan penilaian terhadap pemasok (vendor approval system) yang dilakukan oleh QA, sehingga bahan baku memiliki spesifikasi sesuai dengan yang diinginkan (Departemen Mutu PTSF, 2014a). In Process Control (IPC) yang dilakukan bertujuan untuk menjaga kualitas produk agar sesuai dengan ketentuan CPOB. Produksi parenteral IPC yang dilakukan adalah pemeriksaan ph pada saat proses mixing, pemeriksaan keseragaman volume pada proses filling (PTSF, 2012). Pada produksi tablet IPC yang dilakukan pada proses pembuatan granul adalah pengukuran LOD (loss on drying) atau susut pengeringan, MC (moisture contents) atau kadar kelembaban dan kadar air granulat. Pada proses pencetakan tablet dilakukan IPC meliputi pemeriksaan keseragaman bobot, kekerasan, ketebalan tablet dan pemeriksaan visual tablet. Pada proses penyalutan, IPC yang dilakukan yaitu pemeriksaan penampilan tablet tersalut, berat tablet rata-rata sebelum penyalutan dan berat tablet rata-rata setelah penyalutan (Departemen Produksi PTSF, 2011). Setelah proses produksi selesai kemudian produk yang dihasilkan adalah produk ruahan yang kemudian akan diserah terimakan ke bagian packaging untuk dilakukan pengemasan. Dokumen berupa BPR akan diperiksa oleh manager produksi dan manager produksi dan manager mutu (Departemen Produksi PTSF, 2011). Selama produksi dilakukan, semua peralatan dalam keadaan baik, bersih dan telah dikalibrasi. Kondisi lingkungan produksi senantiasa dijaga agar sesuai dengan spesifikasinya dana selalu dilakukan pengendalian. Kondisi lingkungan yang harus dikendalikan antara lain kualitas air, suhu, tekanan, dan kecepatan sirkulasi udara pada ruangan produksi, tergantung dari sediaan yang dibuat (Departemen Produksi PTSF, 2011a; Departemen Produksi PTSF, 2012) Pengawasan Mutu Pengawasan mutu dilaksanakan dengan sistem yang terencana dan terpadu sehingga menjamin barang yang diproduksi sesuai dengan prosedur yang ada. Pengawasan selama berlangsungnya proses pengolahan bertujuan untuk
80 68 mencegah produksi obat yang tidak memenuhi spesifikasi. Bagian pengawasan mutu memiliki wewenang khusus untuk memberikan keputussan akhir atas mutu obat ataupun hal lain yang mempengaruhi mutu obat. Pengawasan mutu di PT Sydna Farma dilakukan mulai dari barang datang, selama proses hingga produk dihasilkan, yang meliputi pemeriksaan pada raw material, packaging, bulk material dan finished goods. Selain itu juga dilakukan validasi prosedur, kalibrasi dan kualifikasi alat. Pemeriksaan mikrobiologi dilakukan dilaboratorium mikrobiologi yang terpisah dengan laboratorium fisika kimia Inspeksi Diri dan Audit Mutu Inspeksi diri yang dilakukan PT Sydna Farma adalah: a. Routine Self Inspection (RSI) RSI dilakukan pada 1-2 departemen setiap bulannya berdasarkan jadwal pelaksanaan yang disiapkan. Tim inspeksi dari 1 orang compliance pharmacist, HSE dan 1 orang auditor yaitu supervisor bagian terkait dari bagian lain yang dipilih secara acak. Jadwal pelaksanaan inspeksi diri ini didistribusikan ke setiap departemen yang terkait setiap semester (Departemen Mutu PTSF, 2014c). b. General Self Inspection (GSI) GSI merupakan kegiatan inspeksi diri ke seluruh departemen oleh tim inspeksi yang terdiri dari manager pabrik, manager QA/QC, manager produksi, manager TSD, manager PPIC dan supervisor QA. Kegiatan ini dilakukan 2 kali dalam setahun. Pada GSI akan ditinjau sejauh mana implementasi CPOB dan HSE secara umum. GSI dilakukan sesuai alur pembuatan produk, dari penerimaan bahan baku/kemas digudang, proses produksi, pengemasan dan pengawasan mutu serta pementauan implementasi di TSD, kantor dan keamanan. Bersamaan dengan jadwal RSI, jadwal dan pelaksanaan GSI akan didistribusikan ke setiap departemen terkait setiap semester. (Departemen Mutu PTSF, 2014c). selain itu terdapat juga kegiatan audit pemasok dan distributor yang dilakukan dua tahun sekali untuk semua pemasok (Departemen Mutu PTSF, 2014a).
81 Penanganan Keluhan Terhadap Produk, Penarikan Kembali Produk dan Produk Kembalian (Departemen Mutu PTSF, 2011a) Penanganan terhadap keluhan dan dokumentasi dilakukan oleh bagian QA (Complience pharmacist). Bersama komite keluhan (compliant committee) akan dilakukan penelusuran terhadap bets yang bersangkutan, mencari penyebab masalah dana mencari solusinya, menetapkan tindakan perbaikan yang akan diambil, membuat laporan keluhan dengan lengkap dan baik. setelah itu laporan ini akan diteruskan kembali ke pengiriman keluhan. Keluhan dikategorikan menjadi 2 jenis yaitu Pruduct Quality Complaint (PQC) dan adverse event (AE). Product Quality Complaint merupakan keluhan produk cacat, termasuk keluhan yang berkaitan dengan efek samping obat. Sedangkan AE adalah kejadian medis yang tidak diinginkan pada pasien atau pada subjek investigasi klinik yang tidak diinginkan dan tidak dimaksudkan untuk terjadi, gejala atau penyakit yang terjadi sementara berhubungan dengan tujuan penggunaan suatu obat. Semua keluhan dan tanggapan terhadap keluhan yang dilakukan dicatat dan disimpan oleh departemen pemastian mutu dan bila perlu semua tindakan pencegahan terulangnya keluhan ditentukan sebagai pencegahan terhadap keluhan serupa di waktu yang akan datang. Secara umum, penanganan keluhan produk PT Sydna Farma dan produk toller diawali dengan pencatatan keluhan pada Form Pelaporan Keluhan yang kemudian diteruskan ke Departemen Pemastian Mutu dan departemen terkait untuk dilakukan tindakan lanjut sampai mendapat jawaban dari keluhan tersebut selanjutnya disampaikan ke pelapor. Sedangkan untuk produk toller, setelah ditangani oleh Departemen Pemastian Mutu dan departemen terkait, maka laporan keluhan disampaikan kepada pemberi toller terkait keluhan. Pada akhirnya pihak toller yang kan memberikan jawaban kepada pelapor Dokumentasi Dokumen digunakan sebagai acuan pelaksanaan suatu kegiatan, untuk memonitor pelaksanaan suatu kegiatan sebagai sumber informasi mengenai riwayat mesin, perizinan dan lainnya serta digunakan sebagai dasar untuk penelususran produk. Setelah jadi dipasarkan, dokumen juga digunakan sebagai
82 70 acuan untuk penelusuran kembali sejarah suatu produk apabila diterima keluhan produk dari konsumen. Suatu kegiatan belum dapat dikatakan sudah dilakukan apabila tidak didukung oleh keberadaan dokumen (Departemen Mutu PTSF, 2013b). Sistem dokumentasi merupakan bagian dari sistem informasi manjemen yang harus dipersiapkan dalam kegiatan pembuatan obat. Sistem ini mencakup informasi pemerian, spesifikasi catatan yang mungkin ada ataupun tidak ada hubungan dengan batch. Dokumentasi sangat penting untuk memastikan bahwa setiap petugas mendapat instruksi secara rinci dan jelas mengenai bidang tugas yang harus dilaksanakan sehingga akan memperkecil risiko terjadinya salah tafsir dan kekeliruan yang biasanya timbul karena mengandalkan komunikasi lisan. Sistem dokumentasi mampu mencatat semua riwayat lengkap setiap batch produk jadi dari awal sampai akhir. Sistem dokumentasi di PT Sydna Farma sudah baik karena setiap kegiatan yang dilakukan sekecil mungkin apapun terdokumentasi dengan baik. adanya pendokumentasian yang baik akan memudahkan penelusuran jika terjadi masalah, sehingga tidak menghambat proses kegiatan yang lain dan tidak menimbulkan kerugian besar bagi perusahaan. Sistem dokumentasi PT Sydna Farma juga mencakup pengendalian terhadap perubahan meliputi CRF (Change control Request Form) yang akan direview oleh Departemen Pemastian Mutu untuk menentukan tindakan apa yang harus dilakukan sehubungan dengan perubahan yang kan dilakukan. Semua perubahan yang ada, didokumentasikan dan disimpan selama kurun waktu tertentu. Selain pengendalian perubahan, PT Sydna Farma juga memiliki dokumentasi terhadap penyimpangan-penyimpangan yang terjadi selama proses produksi melalui non-conformance dan non-conformance report (Departemen Mutu PTSF, 2013b) Pembuatan dan Analisis berdasarkan Kontrak PT Sydna Farma menerima kontrak pembuatan obat dari perusahaan farmasi lain, tetapi tidak melakukan kontrak perusahaan laimn. Sampai saat ini, sebagian besar produk yang dibuat PT Sydna Farma merupakan obat kontrak dari perusahaan lain atau lisensi dari perusahaan NV. Organon Belanda. Beberapa
83 71 analisis yang tidak dapat dilakukan di laboratorium QC PT Sydna Farma dikontrakkan ke laboratorium lain yang telah tersertifikasi Kualifikasi dan Validasi PT Sydna Farma mempunyai rencana induk validasi (RIV) yang berisikan rencana validasi 5 tahun mendatang dan diperbarui tiap tahun. Kegiatan validasi dilakukan oleh PT Sydna Farma meliputi validasi proses, validasi proses pembersihan, validasi metode proses analisis, validasi sistem komputer, kualifikasi fasilitas penunjang dan kualifikasi peralatan yang berupa DQ, IQ, OQ, dan PQ. Dalam RIV, pelaksanaan kualifikasi diprioritaskan pada mesin-mesin atau perlatan yang berdampak kritis pada kualitas produk (Departemen Mutu PTSF, 2012c) Jika terjadi perubahan pemasok bahan aktif, PT Sydna Farma melakukan validasi proses concurrent. Proses validasi ini dilakukan dengan 3 batch berturutturut dengan mengawasi perubahan kritis yang terjadi selama proses serta pengambilan jumlah sampel yang lebih banyak (Departemen Mutu PTSF, 2014a). Validasi proses pembersihan dilakukan untuk mencegah kontaminasi dari satu produk ke produk lain. Pada validasi proses pembersihan dilakukan identifikasi titik kritis pengambilan sampel, menentukan metode pengambilan sampel, menentukan worst case product serta menentukan batas penerimaan yang diambil dari literatur. Kegiatan validasi dan kualifikasi dikoordinasi oleh Validation pharmacist yang dibantu dengan departemen yang terkait (Departemen Mutu PTSF, 2012d).
84 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan PT Sydna Farma telah menerapkan Cara Pembuatan Obat yang baik (CPOB) dalam tiap aspek dan rangkaian proses produksinya, yaitu aspek bangunan, personalia, peralatan, sanitasi dan higiene, produksi, pengawasan mutu, inspeksi diri, penanganan keluhan terhadap obat, penarikan kembali dan obat kembalian, serta dokumentasi Dalam industri farmasi seorang apoteker berperan dan bertanggung jawab sebagai tenaga professional yang ikut dalam menentukan kualitas produk yang dihasilkan melalui keahliannya dalam dunia kefarmasian. 5.2 Saran Penerapan CPOB dan standar mutu lainnya dilaksanakan secara konsisten dan terus menerus dengan meningkatkan kesadaran karyawan terhadap penerapan CPOB dalam segala aspek yang berkaitan dengan proses produksi. 72 Universitas indonesia
85 DAFTAR ACUAN Badan Pengawasan Obat dan Makanan. (2006). Pedoman Cara Penggunaan Obat yang Baik. Jakarta : BPOM. Badan Pengawasan Obat dan Makanan. (2012). Pedoman Cara Penggunaan Obat yang Baik. Jakarta : BPOM. Badan Pengawasan Obat dan Makanan. (2009). Petunjuk Operasional Penerapan Cara Penggunaan Obat yang Baik. Jakarta : BPOM. Departemen Kesehatan. (2010). Surat Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1799/Menkes/Per/XII 2010 tentang Industri Farmasi. Jakarta : Departemen Kesehatan. Departemen Mutu PTSF. (2012a). Kualifikasi Mesin dan Peralatan (SOP 610- val b). Jakarta : PTSF. Departemen Mutu PTSF. (2012b). Prosedur Umum Kalibrasi Mesin dan Peralatan (SOP 610-val B). Jakarta : PTSF. Departemen Mutu PTSF. (2012c). Validasi Proses (SOP 610-val B). Jakarta : PTSF. Departemen Mutu PTSF. (2012d). Validasi Prosedur Pembersihan (SOP 610-val B). Jakarta : PTSF. Departemen Mutu PTSF. (2013a). Prosedur Change Control (SOP 600-ga B). Jakarta : PTSF. Departemen Mutu PTSF. (2013b). Penanganan Dokumentasi Pabrik (SOP 600- ga b). Jakarta : PTSF. Departemen Mutu PTSF. (2014a). Penilaian Terhadap Pemasok (Supplier) (SOP 600-ga B). Jakarta : PTSF. Departemen Mutu PTSF. (2014b). Pelatihan (SOP 600-ga B). Jakarta : PTSF. Departemen Mutu PTSF. (2014c). Self Inspection (SOP 600-ga B). Jakarta : PTSF. Departemen Mutu PTSF. (2014d). Laporan Ketidaksesuaian Proses (Non Conformance Report/Request) (SOP 600-ga B). Jakarta : PTSF. Departemen Mutu PTSF. (2014e). Uji Stabilitas Product (SOP 610-anl B). Jakarta : PTSF. 73
86 74 Departemen Produksi PTSF. (2011). In Process Control di Produksi Tablet (SOP 612-tab B). Jakarta : PTSF Departemen Produksi PTSF. (2012). Prosedur In Process Control di Parenteral (SOP 611-inj B). Jakarta : PTSF Departemen Produksi PTSF. (2013a). Prosedur Memasuki Ruangan Produksi (SOP 600-ga B). Jakarta : PTSF Departemen Produksi PTSF. (2013b). Higiene Perorangan dan Prosedur Gowning Kelas dan 100 (SOP 611-inj B). Jakarta : PTSF Departemen Produksi PTSF. (2013c). Prosedur In Process Control di Packaging (SOP 613-pac B). Jakarta : PTSF Departemen Produksi PTSF. (2014a). Alur Pergerakan Personel, Material, dan Alat Di Departemen Produksi (SOP 600-pro B). Jakarta : PTSF Departemen Produksi PTSF. (2014b). Prosedur Pengemasan Di Bagian Packaging Sekunder (SOP 613-pac B). Jakarta : PTSF Departemen Teknik Servis dan Kesehatan Keselamatan Lingkungan PTSF. (2012). Pemantauan Kesehatan Karyawan (SOP 600-hse B). Jakarta : PTSF. Departemen Teknik Servis dan Kesehatan Keselamatan Lingkungan PTSF. (2014a). Pengoperasian dan Perawatan DM Water Plant (SOP 615-tsd B). Jakarta : PTSF Departemen Teknik Servis dan Kesehatan Keselamatan Lingkungan PTSF. (2014b). Pengoperasian dan Pemeliharaan AHU di PT. Sydna Farma (SOP 615-tsd B). Jakarta : PTSF. Departemen Teknik Servis dan Kesehatan Keselamatan Lingkungan PTSF. (2014c). Pengoperasian dan Perawatan Instalasi Pengolahan Air Limbah di PTSF (SOP 615-tsd B). Jakarta : PTSF. Sydna Farma. (2011). Site Master file. Jakarta : PT Sydna Farma.
87 LAMPIRAN
88 75 [Sumber: Departemen Teknik Servis dan Kesehatan Keselamatan Lingkungan PTSF, 2014b] Keterangan: PF=Prefilter (luar); PF = Prefilter (dalam); MF= Medium Filter (luar); MF =Medium Filter (dalam); MF =Medium Filter (luar); HF=HEPA Filter (luar); CC=Cooling Coil; CF=Centrifugal Fan; BF=Booster Fan; AF=After Cooling; VD=Volume Damper (pengatur udara) Gambar 4.1 Sistem tata udara
89 76 [Sumber: Departemen Teknik Servis dan Kesehatan Keselamatan Lingkungan PTSF, 2014a] Gambar 4.2 Proses pengolahan air keran menjadi air demineralisata
90 77 [Sumber: Departemen Teknik Servis dan Kesehatan Keselamatan Lingkungan PTSF, 2014a] Gambar 4.3 Proses pengolahan aquademineralisata menjadi WFI
91 78 [Sumber: Departemen Teknik Servis dan Kesehatan Keselamatan Lingkungan PTSF, 2014c] Gambar 4.4 Sistem pengolahan limbah cair di PT Sydna Farma Keterangan gambar dan proses: 1. Bak kontrol 1: tangki pengontrol aliran air limbah dan limbah sosial yang berasal dari kantin dan toilet. 2. Bak equalisasi: tangki tempat bercampurnya over flow cairan limbah sosial dari septik tank dengan limbah cair dari pabrik yang bersumber dari laboratorium maupun dari pembersihan ruangan dan proses produksi di dalam pabrik. 3. Bak proses anaerobik (tricking filter): tangki berisi batuan berpori tempat berlangsungnya proses penguraian air limbah oleh bakteri. 4. Tangki penampungan: tangki ini secara pararel berbuhungan dengan bak proses anaerobik sehingga level air di dalamnya sama. Setelah air limbah mencapai ketinggian tertentu, secara otomatis akan dipompakan ke tangki selanjutnya.
92 79 5. Tangki pengeluaran: dalam tangki ini air limbah ditampung beberapa saat hingga mencapai ketinggian maksimal lalu secara otomatis dibuang ke saluran air umum. 6. Bak kontrol 2: bak penampungan pembuangan limbah cair sebagai bioindikator kualitas limbah cair yang dibuang. A. Gutter pembagi: saluran yang terbuat dari plat galvanis anti karat, berfungsi untuk mendistribusikan air limbah secara merata ke permukaan bebatuam berpori yang terdapat dibawahnya dalam tangki tricking filter. B. Pompa submersible No.1 C. Pompa submersible No.2: pompa celup yang bekerja otomatis memompakan air limbah dan dikontrol oleh level switch pada masingmasing tangki. D. Blower aerasi: blower yang berfungsi memberikan udara ke air limbah dengan tujuan memperbaiki kualitas limbah cair. E. Panel kontrol
93 80 Lampiran 1. Bagan Struktur Organisasi Pabrik PT Sydna Farma
94 81 Lampiran 2. Bagan Struktur Organisasi Departemen Pengadaan PT Sydna Farma
95 82 Lampiran 3. Bagan Struktur Organisasi Departemen Produksi PT Sydna Farma
96 83 Lampiran 4. Bagan Struktur Organisasi Departemen Pemastian Mutu PT Sydna Farma
97 84 Lampiran 5. Bagan Struktur Organisasi Departemen Pengawasan Mutu PT Sydna Farma
98 85 Lampiran 6. Bagan Struktur Organisasi Departemen Teknik Servis dan Kesehatan Keselamatan Lingkungan
99 UNIVERSITAS INDONESIA KUALIFIKASI KINERJA AUTOKLAF HIRAYAMA HV-50 PADA LABORATORIUM MIKROBIOLOGI DI PT SYDNA FARMA TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER SRIWULANTYA, S. Farm ANGKATAN LXXIX FAKULTAS FARMASI PROGRAM PROFESI APOTEKER DEPOK JANUARI 2015
100 DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... i DAFTAR GAMBAR... ii DAFTAR TABEL... iii BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tujuan... 2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Autoklaf Kualifikasi Mesin dan Peralatan Design Qualification (DQ)/ Users Requirement Specification (URS) Installation Qualification (IQ) Operational Qualification (OQ) Performance Qualification (PQ) Re-Qualification Prosedur Kualifikasi Kinerja Autoklaf Dokumentasi BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Metode Pengkajian BAB IV PEMBAHASAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR ACUAN i
101
102 DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1. Diagram Pelaksanaan Kualifikasi ii
103
104 DAFTAR TABEL Halaman Tabel 2.1. Pilihan mode sterilisasi autoklaf Hirayama HV iii
105 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada pembuatan obat, pengendalian menyeluruh sangat esensial untuk menjamin bahwa produksi dapat menghasilkan obat yang bermutu tinggi. Pembuatan secara sembarangan tidak dibenarkan bagi produk yang digunakan untuk menyelamatkan jiwa, atau memulihkan atau memelihara kesehatan. Oleh karena itu, industri farmasi di Indonesia hendaklah menggunakan pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). CPOB merupakan pedoman bagi industri farmasi di Indonesia yang memiliki tujuan agar obat yang dibuat oleh industri farmasi tersebut terjamin dan konsisten hasilnya, serta memenuhi persyaratan dan sesuai dengan tujuan penggunaannya. Salah satu aspek dalam CPOB adalah kualifikasi dan validasi. CPOB mensyaratkan industri farmasi untuk mengidentifikasi validasi yang perlu dilakukan sebagai bukti pengendalian terhadap aspek kritis dari kegiatan yang dilakukan. Perubahan signifikan terhadap fasilitas, peralatan dan proses yang dapat memengaruhi mutu produk hendaklah divalidasi (CPOB 2012). Kualifikasi adalah bagian dari validasi yang merupakan kegiatan pembuktian dan pendokumentasian bahwa sebuah sistem dan atau alat sudah terpasang dengan benar dan berfungsi secara benar sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dan konsisten. Kualifikasi terdiri atas 4 tingkatan, yaitu kualifikasi desain, kualifikasi instalasi, kualifikasi operasional, dan kualifikasi kinerja. Masing-masing pelaksanaan kualifikasi harus berkesinambungan. Artinya, dalam pelaksanaan kualifikasi harus dilaksanakan secara berurutan. Bagi industri farmasi hasil kualifikasi akan sangat menentukan kualitas produk (Priyambodo, 2007). Autoklaf merupakan salah satu alat penunjang aktivitas yang ada di suatu industri farmasi dan harus dikualifikasi. Autoklaf merupakan alat sterilisasi yang mempergunakan sistem uap dengan tekanan tertentu. Alat ini merupakan ruang berdinding rangkap yang diisi dengan uap jenuh bebas udara dan dipertahankan pada suhu serta tekanan yang 1
106 2 ditentukan selama periode waktu yang dikehendaki. Autoklaf Hirayama HV-50 merupakan alat sterilisasi basah (uap bertekanan) yang didesain untuk mensterilkan alat-alat, media-media pertumbuhan kuman, larutan dan materi lainnya yang dibutuhkan dalam rangka proses sterilisasi pada laboratorium mikrobiologi di PT Sydna Farma dan merupakan proses yang menunjang untuk kegiatan analisis mikrobiologi. Autoklaf Hirayama di PT Sydna Farma telah lolos dari kualifikasi desain, kualifikasi instalasi, dan kualifikasi kinerja. Akan tetapi berdasarkan SOP 610- mcl b PT Sydna Farma, autoklaf perlu dilakukan pengujian secara berkala terhadap kualifikasi kinerja. Tujuan kualifikasi kinerja adalah untuk menjamin dan mendokumentasikan bahwa sistem atau peralatan yang telah diinstalasi bekerja (beroperasi) sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan dengan cara menjalankan sistem sesuai dengan tujuan penggunaannya. Pendokumentasian hasil kualifikasi kinerja dalam bentuk laporan report yang dibuat dan disimpan oleh validation pharmacist setelah hasilnya di setujui oleh manajer pemastian mutu. 1.2 Tujuan Tujuan dari penyusunan laporan tugas khusus Praktek Kerja Profesi Apoteker di PT Sydna Farma ini adalah : a. Mengetahui dan memahami pentingnya kualifikasi kinerja pada mesin dan peralatan yang digunakan dalam proses produksi maupun analisis yang dilakukan di PT Sydna Farma. b. Mampu melaksanakan kegiatan kualifikasi kinerja autoklaf Hirayama HV-50 pada laboratorium analisis mikrobiologi di PT Sydna Farma. c. Mampu melaksanakan penyusunan laporan kualifikasi kinerja autoklaf Hirayama HV-50 pada laboratorium analisis mikrobiologi di PT Sydna Farma.
107 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Autoklaf (Departemen Mutu PTSF, 2014a) Autoklaf merupakan alat sterilisasi yang mempergunakan sistem uap dengan tekanan tertentu. Alat ini merupakan ruang berdinding rangkap yang diisi dengan uap jenuh bebas udara dan dipertahankan pada suhu serta tekanan yang ditentukan selama periode waktu yang dikehendaki. Proses sterilisasi pada autoklaf adalah memanfaatkan panas dan tekanan uap dalam chamber. Panas dan tekanan tersebut dihasilkan oleh pemanasan elemen di dalam chamber yang dikondisikan menjadi hampa udara. Semakin besar penyetingan waktu dan suhu yang digunakan maka semakin besar tekanan yang dihasilkan dalam chamber sehingga proses sterilisasi akan lebih cepat selesai. Tetapi dalam proses sterilisasi sudah ditentukan besarnya suhu dan lamanya waktu sterilisasi, tergantung dari setiap bahan/alat yang akan disterilkan. Penurunan tekanan pada autoklaf tidak dimaksudkan untuk membunuh mikroorganisme, melainkan meningkatkan suhu dalam autoklaf. Suhu yang tinggi inilah yang akan membunuh mikroorganisme. Perhitungan waktu sterilisasi autoklaf dimulai ketika suhu di dalam autoklaf mencapai 121 C. Jika objek yang disterilisasi cukup tebal atau banyak, transfer panas pada bagian dalam autoklaf akan melambat, sehingga terjadi perpanjangan waktu pemanasan total untuk memastikan bahwa semua objek bersuhu 121 C untuk waktu menit. Perpanjangan waktu juga dibutuhkan ketika cairan dalam volume besar akan di autoklaf karena volume yang besar membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapai suhu sterilisasi. Autoklaf Hirayama HV-50 merupakan alat sterilisasi basah (uap bertekanan) yang didesain untuk mensterilkan alat-alat, larutan dan materi lainnya yang dibutuhkan dalam rangka proses sterilisasi dilaboratorium maupun fasilitas lainnya. Bagian-bagian dari alat ini dirancang untuk melindungi keselamatan operator dan bahan yang disterilkan. 3
108 4 2.2 Kualifikasi Mesin dan Peralatan Pedoman CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) mensyaratkan bahwa semua mesin/peralatan yang baik yang dipergunakan pada proses produksi maupun yang dipergunakan dalam kegiatan analisis, benar-benar dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya dan tidak berdampak buruk terhadap mutu/kualitas produk. Untuk menjamin hal itu, maka setiap mesin/peralatan harus dikualifikasi terlebih dahulu sebelum digunakan. Kualifikasi adalah proses pembuktian yang terdokumentasi untuk menunjukkan bahwa suatu mesin/peralatan baru telah terpasang dengan benar, dapat dioperasikan sesuai spesifikasi yang diminta, serta menghasilkan kinerja yang baik sesuai parameter dan kondisi yang telah ditetapkan oleh penggunanya (dalam hal ini PT Sydna Farma). Tahapan proses kualifikasi adalah sebagai berikut: Design Qualification (DQ) (di PT Sydna Farma dikenal sebagai User Requirment Spesification (URS)), Installation Qualification (IQ), Operational Qualification (OQ) dan Performance Qualification (PQ) (Departemen Mutu PTSF, 2012a) Design Qualification (DQ)/Users Requirement Specification (URS) Kualifikasi desain adalah unsur pertama dalam melakukan validasi terhadap fasilitas, sistem atau peralatan baru, (BPOM, 2012). Kualifikasi desain adalah proses pembuktian terdokumentasi yang menyatakan uraian usulan desain, kegunaan, spesifikasi, serta latar belakang pembelian suatu mesin/alat beserta analisis risiko (risk assessment) dari penggunaan alat tersebut dilihat dari aspek GMP maupun HSE (Health, Safety, and Environment) yang menyatakan pembelian mesin/alat tersebut layak untuk dijadikan investasi (Departemen Mutu PTSF, 2012a). Kualifikasi harus diterapkan pada seluruh mesin/alat atau sistem yang berpotensi mempengaruhi kualitas suatu produk atau dipergunakan dalam proses analisis. Namun kegiatan kualifikasi yang dilaksanakan akan sangat tergantung pada jenis, fungsi, serta kompleksitas mesin/alat yang dikualifikasi. DQ/URS disiapkan sebelum pembelian mesin/peralatan baru (Departemen Mutu PTSF, 2012a).
109 5 Pelaksanaan kualifikasi desain dimulai dengan menyiapkan DQ/URS yang berisi spesifikasi mesin yang dibutuhkan, kemudian tentukan supplier dari alat/mesin dengan cara membandingkan spesifikasi mesin-mesin yang ditawarkan. Hal lain yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan adalah adanya jaminan garansi/after sales yang baik dari supplier, adanya bantuan dari supplier dalam penyiapan protokol dan pelaksanaan kualifikasi, dan pelatihan yang dapat diberikan oleh supplier (Departemen Mutu PTSF, 2012a) Installation Qualification (IQ) Kualifikasi instalasi adalah proses pembuktian terdokumentasi yang menyatakan bahwa suatu mesin/peralatan ataupun sistem yang telah terpasang atau mengalami modifikasi sesuai dengan desain yang telah disetujui, rekomendasi dari pabrik pembuat, maupun persyaratan yang diminta, (BPOM, 2012) Pembuatan protokol pada kualifikasi instalasi dibuat sebelum mesin/peralatan diterima. Kualifikasi dilaksanakan saat barang diterima dan pembuatan laporan setelah hasil pelaksanaan IQ dan OQ memenuhi spesifikasi yang ditetapkan. Sumber utama referensi protokol kualifikasi instalasi adalah URS dan buku petunjuk operasional mesin dan spesifikasi mesin yang disarankan oleh supplier atau pembuat mesin (Departemen Mutu PTSF, 2012a). Pelaksanaan kualifikasi instalasi dimulai sejak mesin diterima, bersamasama dengan supplier, dilakukan pengecekan kelengkapan seluruh bagian-bagian mesin, spare parts, dokumentasi mesin, proses berkaitan mesin, serta proses penyalaan mesin untuk pertama kali. Seluruh proses pemasangan mesin termasuk proses penyambungan dengan sistem penunjang beserta semua penyimpangan yang ditemukan dalam protokol dicatat dan dilaporkan pada manajer departemen. Manager pemastian mutu akan memutuskan apakah alat/mesin tersebut lolos kualifikasi instalasi atau tidak. Apabila mesin tidak lolos kualifikasi instalasi, hubungi supplier/pembuat mesin untuk melakukan pengesetan ulang atau melengkapi spare parts yang rusak atau kurang. Bila kualifikasi instalasi telah lolos proses, maka dapat dilanjutkan dengan proses kualifikasi operasional mesin/alat (Departemen Mutu PTSF, 2012a).
110 Operational Qualification (OQ) Kualifikasi operasional adalah kualifikasi yang dikerjakan setelah kualifikasi instalasi selesai dikerjakan, dikaji dan disetujui (BPOM, 2012). Kulifikasi operasional adalah proses pembuktian terdokumentasi yang menyatakan bahwa suatu mesin/peralatan ataupun sstem yang telah terpasang/mengalami modifikasi dapat berfungsi sesuai yang diharapkan dalam batasan-batasan yang telah ditentukan sebelumnya dalam spesifikasi. (Departemen Mutu PTSF, 2012a). Pembuatan protokol kualifikasi operasional dimulai sebelum mesin/ peralatan datang. Selanjutnya pelaksanaan kualifikasi operasional dilakukan ketika mesin/peralatan telah lolos proses kualifikasi instalasi. Setelah proses pelaksanaan kualifikasi dilakukan pembuatan laporan. Penanggung jawab pembuat protokol adaah supervisor bagian yang mengajukan pembelian barang bersama supervisor TSD. Pelaksana kualifikasi adalah personel bagian yang bersangkutan bersama personel TSD diawasi oleh supervisor bagian yang bersangkutan bersama supervisor TSD. Sumber utama referensi protokol kualifikasi operasional adalah URS dan buku petunjuk operasional mesin/manual book dan spesifikasi mesin/desain instalasi yang disertakan oleh supplier/pembuat mesin (Departemen Mutu PTSF, 2012a). Laporan hasil akhir OQ dibuat dan dilaporkan kepada manajer pemastian mutu beserta kesimpulan akhir yang menyatakan status kualifikasi mesin (lolos kualifikasi atau tidak). Apabila alat/mesin tidak lolos proses kualifikasi operasional, hubungi supplier/pembuat mesin untuk melakukan pengesetan ulang sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan. Apabila alat/mesin dinyatakan lolos proses kualifikasi, alat/mesin dapat segera digunakan untuk kegiatan produksi/analisis. Setelah kualifikasi operasional dinyatakan lolos, maka dapat dilakukan kualifikasi kinerja untuk 3 batch pertama produk yang diproduksi/dianalisis menggunakan alat/mesin yang bersangkutan (Departemen Mutu PTSF, 2012a) Performance Qualification (PQ) Kualifikasi kinerja adalah suatu kualifikasi yang dilaksanakan secara periodik yang menyatakan bahwa suatu mesin/peralatan ataupun sistem yang telah
111 7 terpasang atau yang mengalami modifikasi, beserta peralatan/sistem pendukungnya dapat beroperasi efektif dalam jangka waktu tertentu (berulang) berdasarkan proses, metode, maupun spesifikasi yang telah ditetapkan (Departemen Mutu PTSF, 2012a). Pembuatan protokol kualifikasi kinerja setelah mesin/peralatan lolos kualifikasi instalasi dan operasional. Pelaksanaan kualifikasi dilakukan setelah mesin/peralatan lolos proses kualifikasi instalasi dan operasional dan bersamaan dengan penggunaan mesin untuk produksi/analisis 3 batch. Pembuat protokol kualifikasi kinerja adalah validation pharmacist (Departemen Mutu PTSF, 2012a). Pelaksanaan PQ dapat dilakukan dengan cara review spesifikasi produk akhir yang telah diproduksi menggunakan mesin/alat yang sedang dikualifikasi (minimal 3 batch berturut-turut). Cara ini hanya dapat diterapkan pada mesin/ alat yang dipergunakan untuk proses produksi. Mengaplikasikan prosedur pengujian yang sama yang telah dilakukan pada OQ (minimal 3 kali pengulangan) untuk menunjukkan bahwa mesin dapat beroperasi dengan baik pada pemakaian rutin. Cara ini diterapkan untuk mesin/alat yang tidak terkait langsung dengan proses pembuatan produk (contoh: autoklaf hirayama dan climatic chamber) (Departemen Mutu PTSF, 2012a). Laporan akhir hasil kualifikasi kinerja dilaporkan kepada manajer pemastian mutu beserta kesimpulan akhir yang menyatakan status kualifikasi dari mesin (lolos kualifikasi atau tidak). Apabila mesin dinyatakan telah lolos kualifikasi, selanjutnya kualifikasi akan dilakukan secara periodik untuk membuktikan bahwa alat/mesin masih berada pada kondisi prima dan layak untuk dioperasikan (Departemen Mutu PTSF, 2012a) Re-Qualification Kualifikasi ulang adalah proses kualifikasi yang dilaksanakan secara periodik/regular yang menyatakan bahwa suatu mesin/peralatan ataupun sistem masih sesuai untuk dipergunakan dan dapat beroperasi sesuai spesifikasi yang telah ditentukan (Departemen Mutu PTSF, 2012a).
112 8 Berdasarkan definisi waktu pelaksanaan proses kualifikasi/kualifikasi ulang dibedakan menjadi 2: (Departemen Mutu PTSF, 2012a). 1. Kualifikasi Ulang yang Dilakukan Secara Periodik Periode kualifikasi mengacu pada jadwal kalibrasi dan kualifikasi yang telah dicantumkan dalam SOP (dalam hal ini SOP yang ada di PT Sydna Farma). 2. Kualifikasi Ulang yang Dilakukan karena Relokasi atau Modifikasi Alat Proses kualifikasi harus dilaksanakan karena relokasi alat (dalam arti instalasi ulang yang bersifat permanen, dan bukan sekedar pemindahan alat yang reversible dari suatu ruangan ke ruangan lainnya). Proses kualifikasi juga harus dilaksanakan apabila ada modifikasi/penggantian spare parts kritis dari mesin/alat. 2.3 Prosedur Kualifikasi Kinerja Autoklaf Kualifikasi merupakan bagian dari proses validasi. Tujuan dari kualifikasi adalah untuk memastikan, menjaga dan menjamin peralatan atau instrumen telah terpasang dan dapat berfungsi secara benar sesuai kriteria yang diinginkan. Kualifikasi ulang atau kualifikasi autoklaf penting dilakukan untuk memberikan bukti terdokumentasi bahwa autoklaf memenuhi spesifikasinya dan dapat menunjang kegiatan sterilisasi. Autoklaf Hirayama dikualifikasi ulang setiap 6 bulan, meliputi: heat distribution empty chamber dan heat penetration menggunakan indikator biologi dan bowie dick dari salah satu mode. Kualifikasi ulang setiap 1 tahun meliputi heat distribution empty chamber, heat distribution dan heat penetration menggunakan indikator biologi dan bowie dick test pack dari semua mode sterilisasi secara lengkap. (Departemen Mutu PTSF, 2014a) Indikator biologi (Geobacillus stearothermophilus ATCC 7935) digunakan untuk menentukan fungsi autoklaf sebagai alat sterililasi dan bakteri ini dapat mati pada saat sterilisasi berlangsung. Bowie dick test digunakan untuk menguji tahap pemvakuman chamber dapat berjalan normal atau tidak, sehingga uap dapat terpenetrasi dengan cepat secara kontinyu ke material yang disterilisasi. Bowie dick adalah indikator kimia yang dapat berubah warna setelah sterilisasi. (Departemen Mutu PTSF, 2014a)
113 9 Tabel 2.1.Pilihan mode sterilisasi autoklaf Hirayama HV-50: (Departemen Mutu PTSF, 2014a) Mode Aplikasi Setting 1 Sterilisasi media padat 121 o C/ 15 menit 2 Sterilisasi media cair dan larutan 121 o C/ 15 menit 3 Sterilisasi alat gelas, keramik, logam, rubber 121 o C/ 40 menit 4 Pemanasan (warming) media 100 o C/ 30 menit 3 Destruksi 121 o C/ 60 menit Pelaksanaan kualifikasi ulang autoklaf dihubungkan dengan Yokogawa Multipoint Temperature Recorder Daqstation dengan menggunakan thermocouple Teflon probe tipe 7ST1WY-30. Agar selalu meberikan hasil yang dapat dipercaya, baik Yokogawa Multipoint Temperature Recorder Daqstation maupun thermocouple harus dikalibrasi secara periodik. Kalibrasi unit Yokogawa multipoint temperature recorder daqstation dilakukan oleh pihak ketiga dengan periode kalibrasi setiap 1 tahun sekali. Sedangkan thermocouple dikalibrasi sebelum dan sesudah alat digunakan (Departemen Mutu PTSF, 2013a). Hal ini karena thermocouple tersebut tidak dilengkapi selubung metal sehingga harus dipastikan bahwa kondisi thermocouple sebelum, selama dan setelah penggunaan dalam keadaan baik. Spesifikasi yang harus dipenuhi adalah perbedaan suhu maksimal antara suhu pada thermocouple dengan suhu yang ditentukan adalah kurang dari 1 o C, perbedaan suhu maksimum dari seluruh thermocouple harus kurang dari 1 o C, jika perbedaan suhu >1 o C, nilai dari dtmax(2) menjadi faktor koreksi (Departemen Mutu PTSF, 2013b). Prosedur pre dan post kalibrasi thermocouple: (Departemen Mutu PTSF, 2013b). 1. Isi beaker stainless 250 ml dengan minyak silikon (untuk suhu > 100 o C) dan pasang di atas hot plate stirrer pada temperatur yang diinginkan. 2. Nyalakan stirrer, aduk pada kecepatan sedang sampai sistem mancapai keadaan setimbang. 3. Masukkan termometer digital standar dan thermocouple-thermocouple yang akan dikalibrasi dalam beaker dan biarkan tercapai pembacaan yang stabil.
114 10 4. Catat pembacaan temperatur digital standar selama minimal 10 menit. 5. Bandingkan hasil thermocouple daqstation dengan termometer standar. 6. Hitung perbedaan antara suhu tertinggi dan suhu terendah pada thermocouple dengan rumus: dtmax (1) = Max of [Tx(max)-Ty(min)]; x dan y adalah thermocouple 7. Hitung juga perbedaan terbesar antara suhu yang diukur dengan suhu pada thermometer digital stndar dengan menggunakan rumus: dtmax (2) = Max of [Tstd(t)-Tx(min)]; std adalah standar dan x adalah thermocouple. 2.4 Dokumentasi Dokumentasi adalah bagian dari sistem informasi manajemen dan dokumentasi yang baik merupakan bagian yang esensial dari pemastian mutu, serta faktor yang sangat penting bagi kegiatan dalam pemenuhan persyaratan CPOB. Dokumentasi dapat dibuat dengan bentuk yang bervariasi termasuk media berbasis kertas, elektronis atau fotografis. Tujuan utama sistem dokumentasi yang digunakan haruslah untuk menentukan, mengendalikan, memantau dan mencatat seluruh kegiatan yang secara langsung atau tidak langsung berdampak terhadap semua aspek mutu obat. Dokumentasi yang jelas adalah fundamental untuk memastikan bahwa tiap personil menerima uraian tugas yang relevan secara jelas dan rinci sehingga memperkecil risiko terjadi salah tafsir dan kekeliruan yang biasanya timbul karena hanya mengandalkan komunikasi lisan (BPOM, 2014 dan BPOM 2012). Dokumen hendaklah disetujui, ditandatangani dan diberi tanggal oleh personil yang sesuai dan diberi wewenang. Penyelenggaraan yang tepat dari dokumentasi yang baik hendaklah diterapkan sesuai dengan jenis dokumen. Pengendalian yang tepat hendaklah diterapkan untuk memastikan keakuratan, keutuhan, ketersediaan dan keterbacaan dokumen (Departemen Mutu PTSF, 2012c).
115 BAB 3 METODOLOGI TUGAS KHUSUS 3.1 Tempat dan Waktu Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) dilaksanakan di PT Sydna Farma, tugas khusus di departemen pemastian mutu adalah melaksanakan kualifikasi kinerja (Performance Qualification) alat yaitu autoklaf Hirayama HV-50 yang berada di laboratorium mikrobiologi PT Sydna Farma, dan membuat laporan dari kualifikasi kinerja yang telah dilakukan. Waktu pelaksanaan tugas khusus yaitu selama bulan Juli hingga Agustus Metode Pengkajian Tugas khusus dikaji berdasarkan hasil studi literatur pada pedoman CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) dan POP CPOB (Petunjuk Operasional Penerapan Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik) serta SOP (Standard Operating Procedure) yang berkaitan dengan kualifikasi peralatan di PT Sydna Farma. Pengkajian dilakukan juga dengan melaksanakan langsung kualifikasi kinerja pada autoklaf Hirayama HV-50. Pelaksanaan kualifikasi kinerja terhadap autoklaf dilakukan berdasarkan Performance Qualification Protocol for Hirayama Sterilizer in Microbiology Laboratory. Autoklaf dihubungkan dengan Yokogawa Multipoint Temperature Recorder Daqstation sebagai alat pembaca suhu digital, yang digunakan sebagai pengukur sekaligus pencatat suhu pada berbagai titik pengukuran dalam suatu periode waktu tertentu dengan menggunakan thermocouple Teflon probe tipe 7ST1WY-30. Selanjutnya dilakukan pembuatan laporan hasil kualifikasi kinerja dengan menyusun raw data yang diperoleh dari pencatatan alat daqstation, kemudian dilakukan perhitungan tehadap data yang diperoleh untuk mengetahui bahwa autoklaf Hirayama memenuhi persyaratan spesifikasinya dalam mendukung kegiatan sterilisasi di laboratorium mikrobiologi PT Sydna Farma. 11
116 BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Perusahaan farmasi, dalam menghasilkan obat dengan mutu yang baik, selain harus dibuat dengan cara pembuatan obat yang baik (CPOB), peralatan/mesin yang digunakan baik dalam kegiatan produksi, analisis di pabrik farmasi maupun di daerah/tempat penyimpanan bahan baku, produk ruahan maupun produk jadi juga harus diperhatikan. Pedoman CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) mensyaratkan bahwa semua mesin/peralatan yang baik yang dipergunakan pada proses produksi maupun yang yang dipergunakan dalam kegiatan analisis benar-benar dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya dan tidak berdampak buruk terhadap mutu/kualitas produk. Untuk menjamin hal itu, maka setiap mesin/peralatan harus dikualifikasi terlebih dahulu sebelum digunakan. Kualifikasi adalah istilah yang digunakan untuk validasi mesin, peralatan produksi maupaun sarana penunjang. Kualifikasi mesin, peralatan produksi dan sarana penunjang merupakan langkah pertama dalam pelaksanaan validasi di industri farmasi. Seluruh kegiatan validasi di industri farmasi diawali dengan pelaksanaan program kualifikasi ini. Validasi metode analisis, validasi metode produksi, validasi proes pengemasan, serta validasi pembersihan tidak bisa dilakukan tanpa melakukan kualifikasi mesin, peralatan produksi serta sarana penunjang terlebih dahulu (Priyambodo, 2007). Kualifikasi peralatan merupakan identitas sifat suatu peralatan yang berkaitan dengan kinerja dan fungsinya. Kualifikasi terdiri atas 4 tingkatan, yaitu kualifikasi desain, kualifikasi instalasi, kualifikasi operasional, dan kualifikasi kinerja. Masing-masing pelaksanaan kualifikasi harus berkesinambungan. Artinya, dalam pelaksanaan kualifikasi harus dilaksanakan secara berurutan. Autoklaf Hirayama HV-50 merupakan salah satu alat penunjang aktivitas yang berada pada laboratorium mikrobiologi di industri farmasi yaitu PT Sydna Farma dan harus dikualifikasi. Autoklaf ini biasa digunakan dalam aktivitas rutin pada laboratorium mikrobiologi. Autoklaf Hirayama telah lolos dalam kualifikasi desain, kualifikasi instalasi, kualifikasi operasional, dan kualifikasi kinerja. Akan 12
117 13 tetapi untuk menjamin alat ini masih sesuai untuk dipergunakan dan dapat beroperasi sesuai spesifikasinya, maka perlu dilakukan pelaksanaan kualifikasi secara periodik terhadap kinerja autoklaf Hirayama HV-50. Pelaksanaan kualifikasi kinerja secara periodik pada autoklaf Hirayama HV-50 dilakukan 2 kali setiap tahun oleh validation pharmacist berdasarkan protokol kualifikasi autoklaf Hirayama yang ada di PT Sydna Farma. Pelaksanaan sesuai dengan referensi yang di cantumkan dalam POP CPOB yaitu peralatan kritis yang harus dikualifikasi antara lain sterilisator misalnya adalah autoklaf. Material atau bahan yang dibutuhkan untuk kualifikasi autoklaf yaitu spore strips Geobacillus stearothermophilus ATCC 7953, steritape, daqstation yang dihubungkan dengan 6 buah thermocouple tipe teflon probe, hot plate, minyak silikon, termometer digital, media untuk tes mikroba, dan peralatan laboratorium lainnya. Kualifikasi kinerja pada autoklaf meliputi parameter heat distribution dan heat penetration. Prosedur pelaksanaan kualifikasi dimulai dari kalibrasi daqstastion dan termometer digital, namun kedua alat ini dikalibrasi oleh pihak ke tiga. Tahap selanjutnya adalah melakukan pre-kalibrasi thermocouple, heat distribution empty chamber, heat distribution chamber dengan media padat, heat distribution chamber dengan media cair, dan heat distribution chamber dengan perlatan laboratorium. Setelah parameter distribusi ini tercapai dan memenuhi spesifikasinya, selanjutnya dilaksanakan pengujian heat penetration chamber dengan media padat, heat penetration dengan media cair dan heat penetration dengan peralatan laboratorium. Setelah kualifikasi selesai, thermocouple harus dilakukan post-kalibrasi. Kalibrasi thermocouple dilakukan sebelum dan setelah aktivitas kualifikasi dikerjakan. Spesifikasi yang harus dipenuhi adalah perbedaan suhu antara thermocouple dengan temperatur yang disetting harus kurang dari 1 o C, dan perbedaan suhu antar tiap thermocouple harus kurang dari 1 o C. Heat distribution empty chamber, dengan media padat, dengan media cair, dan dengan perlatan laboratorium memiliki spesifikasi yang sama untuk dipenuhi, yang membedakan keempatnya adalah mode sterilisasi yang digunakan dan isi dari chamber saat proses berlangsung. Distribusi panas chamber kosong dan
118 14 dengan media padat menggunakan mode 1, dengan media cair menggunakan mode 2, dan dengan peralatan laboratorium dengan mode 3. Spesifikasi yang harus dipenuhi adalah temperatur di dalam chamber harus lebih dari 121 o C selama lebih dari 12 menit, perbedaan titik suhu terpanas dan suhu terdingin dari pembacaan suhu oleh daqstation tidak boleh lebih dari 3 o C, temperatur harus berada pada rentang o C, nilai Fo kumulatif untuk titik terdingin harus memiliki nilai lebih dari 12, juga harus ditentukan berapa lama waktu ekuilbrasi yang dibutuhkan. Pelaksanaan distribusi panas dimaksudkan untuk mengetahui apakah panas yang ada di dalam autoklaf dapat teristribusi merata selama proses sterilisasi belangsung. Heat penetration dengan media padat, dengan media cair, dan dengan peralatan laboratorium memiliki spesifikasi yang sama untuk dipenuhi, setting suhu dan waktu sterilisasi, dan isi chamber yang sama seperti pada heat distribution, yang membedakannya yaitu pada penetrasi panas menggunakan indikator biologi dan bowie dick test. Indikator biologi yang dimasukkan selama proses berlangsung dimaksudkan untuk menentukan fungsi autoklaf sebagai alat sterilisasi dan bakteri ini dapat mati pada saat sterilisasi. Bila sterilisasi berjalan dengan baik, maka saat indikator biologi ini diinkubasi didalam media, tidak akan menunjukkan kekeruhan, yang berarti bakteri telah mati selama proses sterilisasi. Media pertumbuhan bakteri yang digunakan adalah campuran dari berbagai protein, karbohidrat dan berbagai bahan kimia sehingga dapat dipakai untuk menumbuhkan bakteri secara optimal. Media yang digunakan untuk peertumbuhan bakteri dalam kualifikasi autoklaf ini adalah media pertumbuhan cair (Departemen Mutu PTSF, 2013c). Bowie dick test digunakan untuk menguji apakah tahap pemvakuman chamber dapat berjalan normal sehingga uap dapat terpentrasi dengan cepat secara kontinyu ke material yang disterilisasi, bowie dick dapat berubah warna setelah sterilisasi. Bila proses pemvakuman berjalan dengan baik, lembar bowie dick test akan berubah warna dengan sempurna, namun bila proses pemvakuman kurang baik, akan terbentuk alur warna pada lembar bowie dick test. Laporan atau report harus dibuat setelah kegiatan kualifikasi kinerja ataupun kualifikasi ulang dilaksanakan, hal ini merupakan bagian dari
119 15 dokumentasi. Dokumentasi merupakan hal yang sangat penting bagi perusahaan farmasi untuk memnuhi kriteria CPOB. Tujuan utama dokumentasi adalah untuk memberikan bukti otentik bahwa suatu kegiatan yaitu validasi atau kualifikasi telah dilaksanakan sesuai protokol/pedoman yang berlaku. Laporan kualifikasi kinerja terdiri dari lembar persetujuan, daftar isi, pendahuluan/latar belakang, referensi, bahan, alat, dan dokumen, hasil kualifikasi, pembahasan hasil kualifikasi, kesimpulan akhir, dan lampiran-lampiran. Laporan kualifikasi diserahkan kepada manajer pemastian mutu dan disertakan kesimpulan akhir yang menyatakan status akhir kualifikasi/kualifikasi dari autoklaf, lolos kualifikasi atau tidak. Apabila autoklaf telah dinyatakan lulus kualifikasi/kualifikasi maka dapat dibuat atau ditentukan jadwal kualifikasi selanjutnya.
120 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Kualifikasi ulang terhadap kinerja alat yaitu autoklaf Hirayama HV-50 yang berada pada laboratorium mikrobiologi di PT Sydna Farma penting untuk dilakukan karena dapat memberikan bukti terdokumentasi yang menunjukkan autoklaf masih berfungsi dengan benar sesuai kriteria yang diinginkan dan dapat menunjang kegiatan sterilisasi yang ada di laboratorium mikrobiologi PT Sydna Farma. Profesi apoteker pada bagian kualifikasi dan validasi memiliki fungsi dan tanggung jawab untuk mempunyai kemampuan baik dalam pengerjaan langsung dilapangan maupun kemampuan dalam melakukan pendokumentasian. 5.2 Saran Penerapan kualifikasi kinerja terhadap mesin/peralatan harus dilakukan secara periodik, konsisten dan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan untuk memberikan bukti terdokumentasi bahwa suatu mesin/peralatan dapat berjalan sesuai dengan kinerja dan fungsinya. Kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana untuk kegiatan kualifikasi di PT Sydna Farma diharapkan dapat senantiasa diperbaharui untuk mengikuti pesatnya perkembangan teknologi, khususnya di bidang farmasi industri. Diharapkan adanya peningkatan kuantitas dan kualitas pada sumber daya manusia khususnya untuk bagian kualifikasi dan kalibrasi mesin/peralatan untuk memastikan, menjaga dan menjamin peralatan dapat berfungsi secara benar sesuai kriteria yang diinginkan sehingga dapat menunjang kegiatan produksi maupun analisis yang ada di PT Sydna Farma. 16
121 DAFTAR ACUAN Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2014). Petunjuk Operasional Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik (POP CPOB). Jakarta: BPOM RI. Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2012). Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Jakarta: BPOM RI. Departemen Mutu PTSF. (2012a). Kualifikasi Mesin dan Peralatan (SOP 610- val b). Jakarta: PTSF. Departemen Mutu PTSF. (2012b). Pemeriksaan Bioindikator Untuk Validasi Oven/ Autoklaf (SOP 610-mcl B). Jakarta: PTSF. Departemen Mutu PTSF. (2012c). Sistem Penomoran Protokol/ Laporan Validasi Dan Uji Stabilitas (SOP 610-val B). Jakarta: PTSF. Departemen Mutu PTSF. (2013a). Pengoperasian Yokogawa Multipoint Temperature Recorder Daqstation (SOP 610-val B). Jakarta: PTSF. Departemen Mutu PTSF. (2013b). Prosedur Kalibrasi Peralatan Dengan Parameter Temperatur (SOP 610-val B). Jakarta: PTSF. Departemen Mutu PTSF. (2013c). Penyediaan, Pembuatan dan Penanganan Media di Laboratorium Mikrobiologi (SOP 610-mcl B). Jakarta: PTSF. Departemen Mutu PTSF. (2014a). Cara Pengoperasian Autoclave HIRAYAMA HV-50 (SOP 610-mcl B). Jakarta: PTSF. Priyambodo, B., 2007, Manajemen Farmasi Industri, Global Pustaka Utama,Yogyakarta. 17
122 Gambar 1. Diagram Pelaksanaan Kualifikasi 18
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Obat Jadi dan Industri Bahan Baku Obat. Definisi dari obat jadi yaitu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Industri Farmasi 1. Pengertian Industri Farmasi Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 245/MenKes/SK/V/1990 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Pemberian Izin
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 tentang Ketentuan dan Tata cara Pelaksanaan Pemberian Izin Usaha
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. SYDNA FARMA JL. RC. VETERAN NO. 89 BINTARO, JAKARTA SELATAN PERIODE 1 APRIL 3 JUNI 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER KARTIKA
BAB II TINJAUAN UMUM. Universitas Sumatera Utara
BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Industri Farmasi Industri farmasi adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat. Industri farmasi sebagai industri penghasil obat, dituntut untuk dapat menghasilkan obat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1799/Menkes/Per/XII/2010 tentang Industri Farmasi adalah badan usaha yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi 2.1.1 Pengertian Industri Farmasi Industri farmasi menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1799/Menkes/Per/XII/2010 tentang Industri Farmasi adalah badan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Industri farmasi menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi 2.1.1 Pengertian Industri Farmasi Industri farmasi menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1799/Menkes/Per/XII/2010 tentang Industri Farmasi adalah badan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (CPOB). Hal ini didasarkan oleh Keputusan Menteri Kesehatan RI.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Industri farmasi diwajibkan menerapkan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Hal ini didasarkan oleh Keputusan Menteri Kesehatan RI. No.43/MENKES/SK/II/1988 tentang CPOB dan Keputusan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 terdiri dari industri obat jadi dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi 2.1.1 Pengertian Industri Farmasi Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 terdiri dari industri
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 terdiri dari industri obat jadi dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi 2.1.1 Pengertian Industri Farmasi Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 terdiri dari industri
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Industri farmasi adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Industri Farmasi Industri farmasi adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat. Industri farmasi sebagai industri penghasil obat, dituntut untuk dapat menghasilkan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Industri Farmasi Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.245 /Menkes/VI/1990, industri farmasi adalah industri obat jadi dan industri
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Industri farmasi menurut SK Menkes No. 245/Menkes/SK/V/1990 adalah
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi Industri farmasi menurut SK Menkes No. 245/Menkes/SK/V/1990 adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat. Industri obat jadi adalah industri yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Industri Farmasi. Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor. 245/Menkes/V/1990 adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat. Industri
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Obat Jadi dan Industri Bahan Baku Obat. Definisi dari obat jadi yaitu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Industri Farmasi 1. Pengertian Industri Farmasi Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 245/MenKes/SK/V/1990 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Pemberian Izin
BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI. Lembaga Farmasi Direktorat Kesehatan Angkatan Darat (Lafi Ditkesad)
BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI 2.1 Perkembangan Lafi Ditkesad Lembaga Farmasi Direktorat Kesehatan Angkatan Darat (Lafi Ditkesad) merupakan lembaga yang telah ada sejak zaman penjajahan Belanda.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Industri Farmasi menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi 2.1.1 Pengertian Industri Farmasi Industri Farmasi menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1799/Menkes/Per/XII/2010 adalah badan usaha yang memiliki izin
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 terdiri dari industri obat jadi dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi 2.1.1 Pengertian Industri Farmasi Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 terdiri dari industri
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Industri farmasi menurut SK Menkes No. 245/Menkes/SK/V/1990
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi 2.1.1 Pengertian Industri Farmasi Industri farmasi menurut SK Menkes No. 245/Menkes/SK/V/1990 adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat. Industri
BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI. 1799/Menkes/Per/XII/2010 adalah badan usaha yang memiliki izin dari menteri
BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI 2.1 Industri Farmasi 2.1.1 Pengertian Industri Farmasi Industri Farmasi menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1799/Menkes/Per/XII/2010 adalah badan usaha yang memiliki
BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI. (BUMN) dibentuk sebagai Perusahaan Perseroan pada tanggal 16 Agustus
BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI 2.1 Tinjauan PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. 2.1.1 Sejarah Perusahaan. PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dibentuk sebagai Perusahaan
B. Tujuan Tujuan Qualiy Assurance adalah untuk memastikan bahwa obat dihasilkan dengan mutu yang sesuai dengan tujuan pemakaiannya.
PEMASTIAN MUTU (QUALITY ASSURANCE/QA) A. Pendahuluan Industri farmasi bertujuan untuk menghasilkan obat yang harus memenuhi persyaratan khasiat (efficacy), keamanan (safety) dan mutu (quality). Berdasarkan
BAB II TINJAUAN UMUM. Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik
BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Industri Farmasi Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 adalah industri obat jadi dan industri
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat.
Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor. 245/Menkes/V/1990 adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Industri Farmasi. Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor. 245/Menkes/V/1990 adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat. Industri
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. MOLEX AYUS JL. RAYA SERANG KM 11,5 CIKUPA TANGERANG PERIODE 6 FEBRUARI 30 MARET 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER AGATHA DWI
KATA PENGANTAR QUALITY CONTROL
KATA PENGANTAR Assalamu alaikum, wr, wb, Segala Puji senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT beserta junjungan kita Nabi Besar Muhammad Rasulullah S.A.W yang telah melimpahkan rahmat, berkah, dan
CPOB. (Cara Pembuatan Obat yang Baik)
CPOB { (Cara Pembuatan Obat yang Baik) CPOB (Cara Pembuatan Obat Yang Baik) 2006 atau GMP (Good Manufacturing Practices) 2006 adalah suatu pedoman pembuatan obat berdasarkan berbagai ketentuan dalam CPOB
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. COMBIPHAR JL. RAYA SIMPANG NO. 383 PADALARANG BANDUNG PERIODE 07 MARET 01 APRIL 2011 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER MOCHAMAD
BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI. 1799/Menkes/Per/XII/2010 adalah badan usaha yang memiliki izin dari menteri
BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI 2.1 Industri Farmasi 2.1.1 Pengertian Industri Farmasi Industri Farmasi menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1799/Menkes/Per/XII/2010 adalah badan usaha yang memiliki
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT ASTRAZENECA INDONESIA CIKARANG SITE JALAN TEKNO RAYA BLOK B1A B1B, CIKARANG, BEKASI JAWA BARAT PERIODE 6 JANUARI 21 FEBRUARI 2014 LAPORAN
BAB II TINJAUAN UMUM PT. COMBIPHAR. bawah pengelolaan Drs. Handoko Prayogo, Apt. Berawal dari industri rumah
BAB II TINJAUAN UMUM PT. COMBIPHAR 2.1 Sejarah Perkembangan PT. Combiphar PT. Combiphar didirikan pada tahun 1971 di Jl. Sukabumi 61 Bandung, di bawah pengelolaan Drs. Handoko Prayogo, Apt. Berawal dari
UNIVERSITAS INDONESIA DI PT. MOLEX AYUS JL. RAYA SERANG KM 11,5 CIKUPA TANGERANG PERIODE 16 JANUARI - 27 JANUARI 2012
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. MOLEX AYUS JL. RAYA SERANG KM 11,5 CIKUPA TANGERANG PERIODE 16 JANUARI - 27 JANUARI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER LOEDFIASFIATI
BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI. Belanda, pada tahun 1958 pemerintah melebur sejumlah perusahaan farmasi
BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI 2.1 Sejarah PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. Sejalan dengan kebijakan nasionalisasi bekas perusahaan-perusahaan Belanda, pada tahun 1958 pemerintah melebur sejumlah
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Industri Farmasi adalah badan usaha yang memiliki izin dari Menteri
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi 2.1.1 Pengertian industri farmasi Industri Farmasi adalah badan usaha yang memiliki izin dari Menteri Kesehatan untuk melakukan kegiatan pembuatan obat atau
Produksi di Industri Farmasi
Produksi di Industri Farmasi PRODUKSI istilah terkait Pembuatan Seluruh rangkaian kegiatan dalam menghasilkan suatu obat, meliputi produksi dan pengawasan mutu, mulai dari pengadaan bahan awal dan bahan
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. COMBIPHAR JL. RAYA SIMPANG NO. 383 PADALARANG PERIODE MARET 2012
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. COMBIPHAR JL. RAYA SIMPANG NO. 383 PADALARANG PERIODE MARET 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER MUTIA ANGGRIANI, S.Farm 1106047215
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Obat merupakan komoditi utama yang digunakan manusia untuk
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Obat merupakan komoditi utama yang digunakan manusia untuk menunjang kesehatannya. Semua orang rela mengeluarkan uangnya untuk mendapatkan kesehatan, bahkan
Tugas Individu Farmasi Industri. Uraian Tugas Kepala Bagian Produksi, Pengawasan Mutu dan Pemastian Mutu
Tugas Individu Farmasi Industri Uraian Tugas Kepala Bagian Produksi, Pengawasan Mutu dan Pemastian Mutu Disusun Oleh : Eka Wahyu Lestari 14340004 Dosen : Drs. Kosasih, M.Sc., Apt. Program Profesi Apoteker
Viddy A R. II Selasa, 5 September 2017
INDUSTRI No. Tanggal Topik/Pokok Bahasan Substansi materi Dosen I Selasa, 29 Agustus 2017 Pendahuluan -Ruang lingkup industri farmasi -Pemenuhan CPOB -Jenis-jenis industri farmasi -Ciri-ciri industri farmasi
BAB II TINJAUAN UMUM PT. COMBIPHAR. PT. Combiphar didirikan pada tahun 1971 di Jl. Sukabumi no. 61,
BAB II TINJAUAN UMUM PT. COMBIPHAR 2.1 Sejarah Perkembangan PT. Combiphar PT. Combiphar didirikan pada tahun 1971 di Jl. Sukabumi no. 61, Bandung di bawah pengelolaan Drs. Handoko Prayogo, Apt. Berawal
Quality Control (QC) dan Quality Assurance (QA) Mata Kuliah : Rancangan Produk Industri (2 SKS) Dosen : Kuni Zu aimah B.,S.Farm., M.Farm., Apt.
Quality Control (QC) dan Quality Assurance (QA) Mata Kuliah : Rancangan Produk Industri (2 SKS) Dosen : Kuni Zu aimah B.,S.Farm., M.Farm., Apt. Industri farmasi harus membuat obat sedemikian rupa agar
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1799/MENKES/PER/XII/2010 TENTANG INDUSTRI FARMASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 1799/MENKES/PER/XII/2010 TENTANG INDUSTRI FARMASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN, Menimbang : a. bahwa pengaturan tentang Industri Farmasi yang komprehensif
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 965/MENKES/SK/XI/1992 TENTANG
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NOMOR : 965/MENKES/SK/XI/1992 TENTANG CARA PRODUKSI KOSMETIKA YANG BAIK MENTERI KESEHATAN, Menimbang : a. bahwa langkah utama untuk menjamin keamanan kosmetika adalah penerapan
BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan merupakan kebutuhan terpenting bagi manusia sehingga
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan merupakan kebutuhan terpenting bagi manusia sehingga berbagai usaha dilakukan untuk memperoleh tubuh yang sehat. Mulai dari melakukan olah raga, hidup secara
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI DI PT. KIMIA FARMA (PERSERO) Tbk PLANT MEDAN
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI DI PT. KIMIA FARMA (PERSERO) Tbk PLANT MEDAN DISUSUN OLEH : SRI ROMAITO HASIBUAN, S.Farm 093202065 PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS
LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI PT. KIMIA FARMA PLANT MEDAN
LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI DI PT. KIMIA FARMA PLANT MEDAN DISUSUN OLEH : ERNITA, S. Farm 093202016 PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. GALENIUM PHARMASIA LABORATORIES JALAN RAYA BOGOR KM 51,5 CIMANDALA BOGOR PERIODE 5 SEPTEMBER 31 OKTOBER 2014 LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI
Perencanaan. Pengadaan. Penggunaan. Dukungan Manajemen
Perencanaan Penggunaan Pengadaan Dukungan Manajemen Distribusi Penyimpanan Menjamin tersedianya obat dgn mutu yang baik, tersebar secara merata dan teratur, sehingga mudah diperoleh pada tempat dan waktu
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. KALBE FARMA, Tbk. KAWASAN INDUSTRI DELTA SILICON JL. M.H. THAMRIN BLOK A3-1, LIPPO CIKARANG BEKASI PERIODE 01 APRIL - 30 MEI 2014 LAPORAN
No Kode DAR2/Profesional/582/010/2018 PENDALAMAN MATERI FARMASI MODUL 010: CARA DISTRIBUSI OBAT YANG BAIK. Dr. NURKHASANAH, M.Si., Apt.
No Kode DAR2/Profesional/582/010/2018 PENDALAMAN MATERI FARMASI MODUL 010: CARA DISTRIBUSI OBAT YANG BAIK Dr. NURKHASANAH, M.Si., Apt. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kementerian Riset, Teknologi
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI. PT. Kimia Farma (Persero) Tbk Plant Medan
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI di PT. Kimia Farma (Persero) Tbk Plant Medan Disusun Oleh : Astrie Rezky, S. Farm. 093202004 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010 Lembar
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT TAISHO PHARMACEUTICAL INDONESIA TBK. JL. RAYA BOGOR KM 38, DEPOK
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT TAISHO PHARMACEUTICAL INDONESIA TBK. JL. RAYA BOGOR KM 38, DEPOK PERIODE 17 JUNI - 30 AGUSTUS 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Industri Farmasi Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 245/Menkes/SK/V/1990, yang dimaksud dengan industri farmasi adalah industri
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. KALBE FARMA Tbk. KAWASAN INDUSTRI DELTA SILICON JL. M. H. THAMRIN BLOK A3-1, LIPPO CIKARANG, BEKASI PERIODE 18 JULI 16 SEPTEMBER 2011
Oleh : Bambang Priyambodo
Oleh : Bambang Priyambodo SISTEMATIKA CPOB: 2012 merupakan penyempurnaan dari CPOB: 2006, mencakup revisi terhadap : Pedoman CPOB: 2006 Suplemen I Pedoman CPOB: 2006 tahun 2009 Aneks 8 : Cara Pembuatan
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. MERCK TBK. JL. TB. SIMATUPANG NO. 8 PASAR REBO JAKARTA TIMUR PERIODE 3 FEBRUARI 28 MARET 2014 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT TAISHO PHARMACEUTICAL INDONESIA TBK. JALAN RAYA BOGOR KM. 38 PERIODE 9 SEPTEMBER 31 OKTOBER 2013
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT TAISHO PHARMACEUTICAL INDONESIA TBK. JALAN RAYA BOGOR KM. 38 PERIODE 9 SEPTEMBER 31 OKTOBER 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
PEDOMAN CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK
7 2013, No.122 LAMPIRAN PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.1.33.12.12.8195 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN PEDOMAN CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK PENDAHULUAN PRINSIP
BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA
BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.1.33.12.12.8195 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN PEDOMAN CARA PEMBUATAN OBAT
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT TAISHO PHARMACEUTICAL INDONESIA TBK. JL. RAYA BOGOR KM 38, DEPOK PERIODE 1 FEBRUARI 28 MARET 2013
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT TAISHO PHARMACEUTICAL INDONESIA TBK. JL. RAYA BOGOR KM 38, DEPOK PERIODE 1 FEBRUARI 28 MARET 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI PT. SANBE FARMA UNIT II CIMAHI
LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI di PT. SANBE FARMA UNIT II CIMAHI Disusun Oleh : Syabrina Naulita Pane, S.Farm. NIM 093202066 PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI INDUSTRI FARMASI LANDSON PT. PERTIWI AGUNG JALAN DDN SUKADANAU CIKARANG BARAT BEKASI PERIODE 9 SEPTEMBER-7 NOVEMBER 2014 LAPORAN PRAKTEK
2. KETENTUAN UMUM Obat tradisional Bahan awal Bahan baku Simplisia
1. PNGERTIAN CPOTB Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) meliputi seluruh aspek yang menyangkut pembuatan obat tradisional, Tujuan untuk menjamin agar produk yang dihasilkan senantiasa memenuhi
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Telah dirumuskan dalam UU RI No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan, yang menyatakan bahwa kesehatan adalah suatu keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun
PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR:. TENTANG PEDOMAN PENERAPAN CARA PEMBUATAN KOSMETIKA YANG BAIK
PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR:. TENTANG PEDOMAN PENERAPAN CARA PEMBUATAN KOSMETIKA YANG BAIK KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang
Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB)
Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) BPOM dalam mengawal obat Visi : Obat dan makanan terjamin aman,bermutu dan berkhasiat. Misi: Melindungi masyarakat dari obat dan makanan yang beresiko terhadap kesehatan.
BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA
PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR HK.04.1.33.12.11.09938 TAHUN 2011 TENTANG KRITERIA DAN TATA CARA PENARIKAN OBAT YANG TIDAK MEMENUHI STANDAR DAN/ATAU PERSYARATAN DENGAN RAHMAT TUHAN
BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA
BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.1.34.11.12.7542 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN TEKNIS CARA DISTRIBUSI OBAT
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1148/MENKES/PER/VI/2011 TENTANG PEDAGANG BESAR FARMASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1148/MENKES/PER/VI/2011 TENTANG PEDAGANG BESAR FARMASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. PFIZER INDONESIA JL. RAYA BOGOR KM 28, JAKARTA TIMUR PERIODE 6 JANUARI MARET 2014
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. PFIZER INDONESIA JL. RAYA BOGOR KM 28, JAKARTA TIMUR PERIODE 6 JANUARI 2014 7 MARET 2014 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER INDAH
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1148/MENKES/PER/VI/2011 TENTANG PEDAGANG BESAR FARMASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1148/MENKES/PER/VI/2011 TENTANG PEDAGANG BESAR FARMASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. SOHO INDUSTRI PHARMASI KAWASAN INDUSTRI PULOGADUNG JL. PULOGADUNG NO. 6, JAKARTA PERIODE 16 JANUARI 09 MARET 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA
DOKUMENTASI
DOKUMENTASI PENDAHULUAN Dokumentasi adalah suatu bukti yang dapat dipercaya pada penerapan/pemenuhan CPOTB. Mutu yang direncanakan adalah satu-satunya solusi untuk mengatasi keluhan yang terkait dengan
BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA
BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.1.34.11.12.7542 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN TEKNIS CARA DISTRIBUSI OBAT
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. SOHO INDUSTRI PHARMASI KAWASAN INDUSTRI PULOGADUNG Jl. PULOGADUNG NO. 6, JAKARTA PERIODE 16 JANUARI 9 MARET 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA
(BUMN) dibentuk sebagai Perusahaan Perseroan pada tanggal 16 Agustus Sejak berdirinya hingga sekarang ini PT. Kimia Farma (Persero) Tbk.
BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI 2.1 Tinjauan PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. 2.1.1 Sejarah Perusahaan. PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dibentuk sebagai Perusahaan
2 Presiden Nomor 55 Tahun 2013 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 125); 3. Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan,
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.794, 2014 KEMEN KP. Obat Ikan. Cara Pembuatan. PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24/PERMEN-KP/2014 TENTANG CARA PEMBUATAN OBAT IKAN YANG
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Gudang merupakan sarana pendukung kegiatan produksi industri farmasi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Gudang merupakan sarana pendukung kegiatan produksi industri farmasi yang berfungsi untuk menyimpan bahan baku, bahan kemas dan obat jadi yang belum didistribusikan.
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. OTTO PHARMACEUTICAL INDUSTRIES JL. Dr. SETIABUDHI KM 12,1 LEMBANG BANDUNG 1 AGUSTUS 27 SEPTEMBER 2016
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. OTTO PHARMACEUTICAL INDUSTRIES JL. Dr. SETIABUDHI KM 12,1 LEMBANG BANDUNG 1 AGUSTUS 27 SEPTEMBER 2016 PERIODE XLVII DISUSUN OLEH: MARIA FENNI KIOEK, S.Farm.
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. COMBIPHAR JL. RAYA SIMPANG NO.383 PADALARANG, BANDUNG PERIODE 16 JANUARI 2012-10 FEBRUARI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Seiring dengan berkembangnya jaman masyarakat semakin sadar bahwa akan pentingnya kesehatan dalam kehidupan. Kesehatan merupakan salah satu aspek terpenting untuk
Tugas dan tanggungjawab Quality Assurance (QA) / Jaminan Mutu
Tugas dan tanggungjawab Quality Assurance (QA) / Jaminan Mutu Departemen QA merupakan departemen yang bertanggung jawab antara lain : a) Audit internal QA melakukan evaluasi kerja kesemua bagian/departemen
BAB 1 MANAJEMEN MUTU
Lampiran Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor HK.03.1.23.06.11.5629 Tahun 2011 BAB 1 MANAJEMEN MUTU PRINSIP Industri obat tradisional harus membuat obat tradisional sedemikian rupa agar
PERSYARATAN TEKNIS CARA PEMBUATAN OBAT TRADISIONAL YANG BAIK BAB 1
Lampiran Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor HK.03.1.23.06.11.5629 Tahun 2011 Tentang Persyaratan Teknis Cara Pembuatan Obat Tradisioanl Yang Baik (CPOTB) PERSYARATAN TEKNIS CARA PEMBUATAN
BAB 2 GAMBARAN UMUM OBJEK
BAB 2 GAMBARAN UMUM OBJEK 2.1 Sejarah Singkat Berdirinya PT. Metiska Farma PT. Metiska Farma didirikan pada tahun 1970, atas prakarsa Bapak Memet Tanuwijaya, Bapak Ismail dan Bapak Karim Johan, yang pada
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1189/MENKES/PER/VIII/2010 TENTANG PRODUKSI ALAT KESEHATAN DAN PERBEKALAN KESEHATAN RUMAH TANGGA
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1189/MENKES/PER/VIII/2010 TENTANG PRODUKSI ALAT KESEHATAN DAN PERBEKALAN KESEHATAN RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. GUARDIAN PHARMATAMA KAWASAN INDUSTRI MANIS JL. MANIS RAYA KM 8,5 GANDASARI, JATIUWUNG, TANGERANG PERIODE 6 FEBRUARI 28 MARET 2013 LAPORAN
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. BAYER INDONESIA CIMANGGIS PLANT JL. RAYA BOGOR KM 32 DEPOK JAWA BARAT (31 AGUSTUS 30 OKTOBER 2015)
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. BAYER INDONESIA CIMANGGIS PLANT JL. RAYA BOGOR KM 32 DEPOK JAWA BARAT (31 AGUSTUS 30 OKTOBER 2015) PERIODE XLV DISUSUN OLEH: JEMMY KURNIAWAN, S.Farm. 2448715124
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. SOHO INDUSTRI PHARMASI KAWASAN INDUSTRI PULOGADUNG JL. PULOGADUNG NO. 6, JAKARTA PERIODE 5 SEPTEMBER 28 OKTOBER 2011 LAPORAN PRAKTEK
PEDOMAN TEKNIS CARA DISTRIBUSI OBAT YANG BAIK
7 LAMPIRAN PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.1.34.11.12.7542 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN TEKNIS CARA DISTRIBUSI OBAT YANG BAIK PEDOMAN TEKNIS CARA DISTRIBUSI
LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI. Lembaga Farmasi Direktorat Kesehatan Angkatan Darat Bandung. Disusun Oleh:
LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI di Lembaga Farmasi Direktorat Kesehatan Angkatan Darat Bandung Disusun Oleh: Debora R. Hutagaol, S.Farm. NIM 133202215 Dinda Ayyu Hanjaya, S.Farm. NIM 133202126
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. MEPROFARM JL. SOEKARNO-HATTA 789 BANDUNG (31 AGUSTUS 9 OKTOBER 2015)
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. MEPROFARM JL. SOEKARNO-HATTA 789 BANDUNG (31 AGUSTUS 9 OKTOBER 2015) PERIODE XLV OLEH: CINDY HERIYANTI. H, S. Farm. (NPM: 2448715105) PROGRAM STUDI PROFESI
Aspek-aspek CPOB. Manajemen Mutu Personalia Bangunan dan Fasilitas Peralatan Sanitasi dan Higiene Produksi
Personalia Aspek-aspek CPOB Manajemen Mutu Personalia Bangunan dan Fasilitas Peralatan Sanitasi dan Higiene Produksi Pengawasan mutu Inspeksi diri dan audit mutu Penanganan keluhan terhadap produk, penarikan
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. ACTAVIS INDONESIA JL. RAYA BOGOR KM 28, JAKARTA TIMUR PERIODE 12 AGUSTUS 2 OKTOBER 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER HERDIYANTI
2011, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 42,
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.393, 2011 BADAN POM. Obat Tradisional. Pembuatan. Persyaratan Teknis. PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.1.23.06.11.5629
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI PT. UNIVERSAL PHARMACEUTICAL INDUSTRIES MEDAN
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI di PT. UNIVERSAL PHARMACEUTICAL INDUSTRIES MEDAN Disusun oleh: KATARIN SITOMPUL, S.Farm NIM 093202039 PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER FAKULTAS FARMASI
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI PT. MUTIFA MEDAN
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI di PT. MUTIFA MEDAN Disusun Oleh : Miss Naimah Abdunroni, S. Farm. 083202053 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010 Lembar Pengesahan LAPORAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2017 TENTANG CARA PEMBUATAN ALAT KESEHATAN DAN PERBEKALAN KESEHATAN RUMAH TANGGA YANG BAIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. COMBIPHAR JL. RAYA SIMPANG NO.383 PADALARANG, BANDUNG PERIODE 16 JANUARI 2012-10 FEBRUARI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
REGULASI PENGELOLAAN DISTRIBUSI OBAT DAN URGENCY SERTIFIKASI CDOB
REGULASI PENGELOLAAN DISTRIBUSI OBAT DAN URGENCY SERTIFIKASI CDOB Disampaikan oleh: Direktur Pengawasan Distribusi Produk Terapetik & PKRT Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) IKATAN APOTEKER INDONESIA Tangerang
