PRISMA FISIKA, Vol. I, No. 3 (2013), Hal ISSN :
|
|
|
- Hamdani Irawan
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 PRISMA FISIKA, Vol. I, No. (01), Hal ISSN : Aplikasi Persamaan Einstein Hyperbolic Geometric Flow Pada Lintasan Cahaya di Alam Semesta Risko 1, Hasanuddin 1, Boni Pahlanop Lapanporo 1, Azrul Azwar 1 1) Program Studi Fisika, FMIPA, Universitas Tanjungpura Jalan Jendral Ahmad Yani Pontianak, Indonesia [email protected] Abstrak Telah dilakukan sebuah kajian persamaan Einstein hyperbolic geometric flow dan aplikasinya pada lintasan cahaya di alam semesta. Solusi persamaan Einstein hyperbolic geometric flow menunjukkan bahwa dinamika alam semesta mengembang dan dipercepat tanpa batas yang sebanding dengan nilai t /. Berdasarkan solusi tersebut diketahui bahwa lintasan cahaya di alam semesta akan bergerak mengikuti arah pengembangan alam semesta yang berarti cahaya akan bergerak pada waktu tertentu dari r = r 0 dan selanjutnya akan bergerak keluar sepanjang garis lurus secara radial dengan nilai θ dan φ konstan. Model tersebut menunjukkan bahwa lintasan cahaya bergerak sepanjang geodesiknya. Kata kunci: persamaan Einstein hyperbolic geometric flow, persamaan geodesik, lintasan cahaya. 1. Pendahuluan Persamaan Einstein hyperbolic geometric flow merupakan suatu sistem evolusi nonlinear dari persamaan differensial parsial orde kedua dan sangat alamiah untuk memahami fenomena gelombang tertentu di alam serta geometri manifold, khususnya menggambarkan karakter gelombang metrik dan kurvatur dari manifold. Untuk memperkenalkan aliran tersebut sebagian dilatarbelakangi oleh persamaan Einstein dalam relativitas umum dan kemajuan terbaru dalam Hamilton Ricci flow dan dengan kemungkinan penerapan teori dari persamaan differensial parsial hiperbolik geometri. Baru-baru ini, HE Chun-Lei (008) mengajukan sebuah model dari hyperbolic geometrif low dan axial symetry. Model tersebut menunjukkan bahwa hyperbolic geometric flow merupakan alat alami dan baik untuk dipelajari dalam beberapa permasalahan penting yang berasal dari geometri differensial dan relativitas umum seperti singularitas, eksistensi dan keteraturan. Model yang dikembangkan oleh HE Chun-Lei mempunyai perbedaan essensial yang mendasar dari persamaan medan Einstein dan Ricci flow. Dengan mengikuti pola yang telah dikembangkan oleh HE Chun-Lei, dalam penelitian ini akan dikaji lintasan cahaya di alam semesta yang bermetrik Robertson-Walker. Salah satunya adalah untuk aplikasi persamaan Einstein hyperbolic geometric flow pada lintasan cahaya di alam semesta yang ditinjau secara geodesik. Menurut konteks teori relativitas umum, persamaan geodesik digunakan untuk menelaah lintasan cahaya di alam semesta berbentuk persamaan diferensial non linear orde dua yang menggabungkan beberapa observabel, seperti empat koordinat polar (r, t, θ, φ)(anugraha, 011).. Metrik Robertson Walker Metrik Robertson-Walker adalah metrik yang menggambarkan ruang-waktu dengan kelengkungan konstan. Dengan mengingat prinsip kosmologi yang menyatakan bahwa alam semesta bersifat homogen dan isotropis, dan dengan definisi waktu kosmik, maka metrik ruang-waktu yang sesuai dengan pernyataan ini adalah metrik Robertson-Walker yang dinyatakan oleh persamaan (Sabbata, 1985) ds = dt + ρ(t) ( dr 1 kr + r dθ + r sin θ dφ ) (1) disini r, θ, φ menunjukkan pusat koordinat bola dan ρ(t) merupakan faktor skala kosmik yang dapat dikaitkan dengan ukuran alam semesta yang tergantung terhadap waktu. Sedangkan k adalah konstanta kurvatur yang bernilai -1, 0, dan 1 yang masing-masing menunjukkan bahwa ruang tersebut berbentuk hiperbolik, datar dan berbentuk bola sesuai dengan sifat metrik Robertson-Walker (Spigell, 1998).. Persamaan Geodesik Geodesik adalah garis paling pendek yang menghubungkan dua titik yang diberikan dalam ruang, atau merupakan generalisasi yang sering disebut sebagai garis lurus dalam geometri 1
2 biasa. Pada ruang datar, geodesik akan berupa garis lurus. Sedangkan dalam ruang lengkung, geodesik akan berupa garis lengkung yang dinyatakan oleh persamaan d x dx dx Γ 0 () ds ds ds Secara umum, persamaan () merupakan persamaan geodesik. Disini ds merupkan parameter affine sepanjang lintasan partikel. Persamaan ini selalu mendefenisikan suatu kurva dengan panjang minimum. Jika tensor kurvaturnya sama dengan nol, maka ruang tersebut adalah Euclidean (Hidayat, 010 ). 4. Persamaan Einstein Hyperbolic Geometric Flow Pada persamaan Einstein hyperbolic geometric flow untuk kelengkapannya, pertamatama disingkat dengan menggunakan beberapa notasi dasar. Misalkan M menjadi berjenis n- dimensi Riemann dan dilengkapi dengan g ij metrik Riemann, hubungan tersebut ditentukan oleh simbol Christoffel yang dapat dihitung dengan menggunakan persamaan (Chun-Lei, 008) Γ ds 1 g gjl g g x x x k kl il ij ij j i l g dx dx v v () dengan g ij k adalah invers dari g ij dan R ijl merupakan kelengkungan tensor Riemann dinyatakan oleh persamaan (Chun-Lei, 008) R k k Γ jl Γil Γ Γ Γ Γ i j x x k k p k p ijl ip jl jp il (4) k disini R ijl merupakan tensor Ricci yang menyatakan bahwa tensor tersebut berada dalam ruang-waktu lengkung. Persamaan medan Einstein merupakan persamaan yang menyatakan kelengkungan ruang-waktu yang dinyatakan dengan metrik Riemann (Kong dan Liu, 008) (5) dan persamaan Einstein vakum dituliskan (Kong dan Liu, 008) G 0 (6) v dengan G μv adalah tensor Einstein dan mempertimbangkan metrik berikut pada ortogonal ruang-waktu (Chun-Lei, 008) i j ds dt gij x, t dx dx (7) Untuk persamaan Einstein hyperbolic geometric flow dapat dituliskan dalam bentuk gij 1 gij g pq pq g pq ip g jq R ij g g t t t t t (8) Persamaan (8) merupakan persamaan Einstein hyperbolic geometric flow dalam ruang hampa sehubungan dengan metrik Lorent yang masingmasing nilainya dapat dicari dari komponenkomponen dan tensor Ricci dari suatu metrik (Kong dan Liu, 008). 5. Solusi Persamaan Einstein Hyperbolic Geometric Flow Untuk memperoleh solusi persamaan Enstein hyperbolic geometric flow dapat dilakukan dengan menghitung tensor Einstein dari metrik Robertson-Walker. Dengan mensubsitusikan komponen-komponen yang tidak nol dari persamaan (1) dan () ke persamaan (8), maka akan diperoleh solusi dari persamaan Einstein hyperbolic geometric flow berbentuk persamaan differensial parsial nonlinear yaitu ρ = 4k 1 ρ (ρ ) (9) dengan k merupakan konstanta kurvatur yang menggambarkan kelengkungan ruang-waktu dannotasi titik (dot) menunjukkan turunan terhadap waktu. Disini telah dipilih k = 0 yang menunjukkan bahwa alam semesta datar, maka persamaan (9) dapat dituliskan dalam bentuk d 1 d dt dt 0 yang berpenyelesaian t tc c 1 (10) (11) Berdasarkan model yang diterima sekarang, bahwa alam semesta dimulai dari big-bang, maka dapat diberikan syarat batas t = 0, sehingga persamaan (10) menjadi t tc1 (1) Persamaan (1) menunjukkan bahwa evolusi faktor skala kosmik tidak bergantung pada geometri dan distribusi materi-energi di alam semesta. Ini merupakan krakteristik umum dari model kosmologi yang dibangun dengan pendekatan kinematis. 14
3 Gambar 1. Plot faktor skala kosmik ρ(t) terhadap waktu untuk kasus k = 0 (alam semesta datar) Dari gambar 1 di atas dapat dilihat bahwa alam semesta mengembang tanpa batas dengan laju pengembangan mendekati nol setelah waktu tertentu. Pengembangan alam semesta yang mengalami percepatan yang diakibatkan oleh keberadaan energi gelap (dark energy). Tidak seperti gravitasi yang memperlambat terjadinya pengembangan, energi gelap justru mempercepat pengembangan. Jika energi gelap memiliki peranan penting dalam evolusi alam semesta, maka kemungkinan yang terjadi alam semesta akan terus mengembang tanpa batas. Hal ini sesuai dengan model alam semesta mengembang yang dinamakan dengan Alam Semesta Friedman-Robertson-Walker (FRW). Dengan demikian faktor skala ρ(t) dapat dihubungkan secara langsung dengan variabel t, dan dilihat bahwa alam semesta mengembang sebanding t /. 6. Solusi Persamaan Geodesik Lintasan Cahaya Salah satu aplikasi dari teori relativitas umum adalah terbeloknya cahaya pada saat melintasi benda yang bersifat massif seperti matahari. Berkas cahaya merupakan berkas yang tersusun dari sejumlah foton, dimana foton merupakan partikel bermassa nol dan bergerak dengan laju cahaya. Menurut perumusan geometri teori relativitas umum, semua gerak dalam medan direpresentasikan oleh geodesik dalam ruang-waktu lengkung termasuk juga arah perambatan sinar cahaya dalam medan gaya berat, tetapi geodesik perambatan cahaya berbeda dengan geodesik gerak planet dan benda bermassa lainnya. Dengan menganggap bahwa benda uji dalam metrik Robertson- Walker sebagai gerak dari foton yang bergerak bebas dalam ruang-waktu lengkung. Maka persamaan yang digunakan adalah persamaan geodesik nol atau dapat dituliskan ds = 0, sehingga persamaan (1) dapat dituliskan dalam bentuk 1 ρ(t) ( 1 kr (dr dt ) + r ( dθ dt ) + r sin θ ( dφ dt ) ) = 1 (1) Substitusikan persamaan (1) ke persamaan (1), maka akan menjadi ( c 1 1t) ( 1 kr (dr dt ) + r ( dθ dt ) + r sin θ ( dφ dt ) ) = 1 (14) Dari persamaan (14) dapat ditelaah lintasan cahaya atau gerak foton baik pada koordinat r, θ maupun φ yang masing-masing merupakan fungsi dari waktu untuk modelmodel alam semesta yang diajukan. Khususnya pada model alam semesta datar ditinjau gerakan cahaya atau foton secara radial, gerakan sudut polar dan gerak θ saja. Untuk gerak secara radial, maka persamaan (14) dapat dituliskan dalam bentuk 1 dr ct 1 1 kr dt 1 atau dapat dituliskan dalam bentuk lain yaitu d / t dt cr 1 0 (15) (16) 15
4 yang jika diintegralkan akan mempunyai solusi r r t / c1 t / c c1 (17) dengan c 1 dan c merupakan suatu konstanta. Berdasarkan model yang diterima sekarang yang menunjukkan bahwa alam semesta dimulai dari big-bang, maka dapat memberikan syarat batas t = 0. Syarat batas ini akan memberikan bahwa konstanta integrasi c pada persamaan (17) sama dengan nol, sehingga persamaan (17) menjadi (18) dengan t merupakan variabel waktu diri yang diukur oleh pengamat lokal yang diam terhadap suatu koordinat spasial. Persamaan (17) dan (18) sama-sama menyatakan hubungan antara koordinat r dalam alam semesta sebagai fungsi dari waktu. Selanjutnya ditinjau gerakan radial pada r = r 0 dan bidang planar θ = π. Hal ini berarti bahwa gerak berlangsung pada bidang θ = π dan dapat dilakukan dengan penyederhanaan bahwa semua gerak pada θ konstan, sehingga persamaan (1) menjadi 1 r0 d c t 1 dt atau dapat ditulis dalam bentuk lain yaitu d / t dt cr 1 0 (19) (0) yang jika diintegralkan akan mempunyai solusi t / r c1 0 c (1) dengan c 1 dan c merupakan suatu konstanta integrasi. Dengan memberikan syarat batas awal yaitu ketika t = 0 yang menunjukkan bahwa alam semesta dimulai dari big-bang, maka konstanta integrasi c = 0, sehingga persamaan (0) dapat dituliskan kembali dalam bentuk t / r c1 0 () Persamaan () ini menyatakan hubungan antara sudut polar φ sebagai fungsi dari waktu untuk cahaya atau foton yang bergerak pada r konstan di bidang planar, selanjutnya bergerak keluar sepanjang garis lurus secara radial dengan nilai θ konstan. Solusi yang diperoleh pada persamaan (18) dan () ini digunakan untuk meninjau lintasan cahaya di alam semesta pada persamaan Einstein hiperbolic geometric flow. Tanpa kehilangan peninjauan secara umum, dengan memisalkan θ = π/ sehingga berkas cahaya ditinjau dalam bidang ekuator. 7. Analisis Lintasan Cahaya pada Persamaan Einstein Hyperbolic Geometric Flow Berkas cahaya merupakan berkas yang tersusun dari sejumlah besar foton sebagaimana diketahui bahwa foton merupakan partikel bermasa nol dan bergerak dengan laju cahaya oleh karena itu persamaannya merupakan geodesik nol. Untuk mempelajari penjalaran cahaya dalam pengaruh medan gravitasi, dapat dipandang berkas cahaya sebagai objek yang terdiri dari kumpulan banyak foton, dan kemudian selidiki bagaimana lintasan partikel uji yang bergerak dengan kecepatan cahaya tersebut (Purwanto, 010). Solusinya bergantung dari nilai r, θ dan φ yang bersesuaian. Hasil dari solusi pada persamaan Einstein hyperbolic geometric flow pada lintasan cahaya di alam semesta sebagaimana ditampilkan pada Gambar. Dari gambar dapat dilihat bahwa pada alam semesta datar dari solusi persamaan Einstein hyperbolic geometric flow jika solusi tersebut diaplikasikan untuk gerak foton atau lintasan cahaya, maka cahaya akan mengalami pembelokan yang mengikuti pengembangan alam semesta, artinya cahaya akan bergerak pada waktu tertentu dari r = r 0 yang selanjutnya akan bergerak keluar sepanjang garis lurus secara radial dengan nilai θ dan φ konstan dan akan begerak sesuai dengan arah pengembangan pada alam semesta. Cahaya itu menurut Einstein tidak memiliki massa, sehingga lintasan cahaya pada ruang bagi medan gravitasi akan menjadi lengkung dan akan bergerak dalam ruang lengkung sepanjang lintasan geodesik. Hasil penelitian ini sama halnya pada lintasan cahaya yang diajukan oleh Albert Einstein yang mana membeloknya cahaya atau foton bukan disebabkan oleh tertariknya cahaya karena pengaruh gaya gravitasi, melainkan ruang-waktu disekitar matahari yang melengkung. 16
5 Gambar. Plot faktor skala r terhadap t untuk kasus k = 0 (alam semesta datar) 8. Kesimpulan Aplikasi persamaan Einstein hyperbolic geometric flow pada lintasan cahaya di alam semeseta menunjukkan bahwa pada alam semesta datar alam semesta akan mengembang tanpa batas yang sebanding dengan nilai t / dan cahaya pada solusi tersebut akan bergerak mengikuti arah pengembngan alam tersebut sesuai dengan perumusan dari hasil persamaan Einstein hyperbolic geometric flow. Daftar Pustaka Anugraha, R., 005, Pengantar Teori Relativitas Dan Kosmologi, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Lei, C., 008, Exact Solutions for Einstein s Hyperbolic Geometric Flow, Chinese Physical Society, Beijing, China, Vol. 50, No. 6, pp Hidayat, T., 010, Teori Relativitas Einstein: Sebuah Pengantar, ITB, Bandung. Kong, D. dan Liu, K., 006, Wave Character of Metrics and Hyperbolic Geometric Flow, Rev. 9 November 006. Purwanto, A., 009, Pengantar Kosmologi, ITS Press, Surabaya. Sabbata, V de and Gasperini, Maurizio, 1985, Introduction To Gravitation, World Scientific Publishing Co Pte Ltd., Torino. Spiegell, M. R. 1988, Analisis Vektor dan pengantar Analisis Tensor, Wospakrik, Hans J. (alih bahasa), Erlangga, Jakarta. 17
PRISMA FISIKA, Vol. I, No. 1 (2013), Hal ISSN : Analisis Lintasan Foton Dalam Ruang-Waktu Schwarzschild
Analisis Lintasan Foton Dalam Ruang-Waktu Schwarzschild Urai astri lidya ningsih 1, Hasanuddin 1, Joko Sampurno 1, Azrul Azwar 1 1 Program Studi Fisika, FMIPA, Universitas Tanjungpura; e-mail: [email protected]
PRISMA FISIKA, Vol. I, No. 1 (2013), Hal. 1-7 ISSN : Visualisasi Efek Relativistik Pada Gerak Planet
PRISMA FISIKA, Vol. I, No. 1 (13), Hal. 1-7 ISSN : 337-8 Visualisasi Efek Relativistik Pada Gerak Planet Nurul Asri 1, Hasanuddin 1, Joko Sampurno 1, Azrul Azwar 1 1 Program Studi Fisika, FMIPA, Universitas
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN Perkembangan fisika teoritik melalui Teori Relativitas Umum (TRU) yang dikemukakan oleh Albert Einstein sudah sangat pesat dan cukup baik dalam mendeskripsikan ataupun memprediksi fenomena-fenomena
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Permasalahan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Upaya para fisikawan, khususnya fisikawan teoretik untuk mengungkap fenomena alam adalah dengan diajukannya berbagai macam model hukum alam berdasarkan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teori Relativitas Einstein Relativitas merupakan subjek yang penting yang berkaitan dengan pengukuran (pengamatan) tentang di mana dan kapan suatu kejadian terjadi dan bagaimana
Teori Dasar Gelombang Gravitasi
Bab 2 Teori Dasar Gelombang Gravitasi 2.1 Gravitasi terlinearisasi Gravitasi terlinearisasi merupakan pendekatan yang memadai ketika metrik ruang waktu, g ab, terdeviasi sedikit dari metrik datar, η ab
Bab 2. Persamaan Einstein dan Ricci Flow. 2.1 Geometri Riemann
Bab 2 Persamaan Einstein dan Ricci Flow 2.1 Geometri Riemann Sebuah himpunan M disebut sebagai manifold jika tiap titik Q dalam M memiliki lingkungan terbuka S yang dapat dipetakan 1-1 melalui sebuah pemetaan
PENENTUAN MEDAN GRAVITASI EINSTEIN DALAM RUANG MINKOWSKI MENGGUNAKAN SIMBOL CHRISTOFFEL JENIS I DAN II SKRIPSI MELLY FRIZHA
PENENTUAN MEDAN GRAVITASI EINSTEIN DALAM RUANG MINKOWSKI MENGGUNAKAN SIMBOL CHRISTOFFEL JENIS I DAN II SKRIPSI Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat mencapai gelar Sarjana Sains MELLY FRIZHA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teori Gravitasi Newton Mengapa planet, bulan dan matahari memiliki bentuk mendekati bola? Mengapa satelit bumi mengelilingi bumi 90 menit, sedangkan bulan memerlukan waktu 27
Kemudian, diterapkan pengortonormalan terhadap x 2 dan x 3 pada persamaan (1), sehingga diperoleh
SOLUSI VAKUM PERSAMAAN MEDAN EINSTEIN UNTUK BENDA SIMETRI AKSIAL STASIONER MENGGUNAKAN PERSAMAAN ERNST Aldytia Gema Sukma 1, Drs. Bansawang BJ, M.Si, Dr. Tasrief Surungan, M.Sc 3 Universitas Hasanuddin,
PENENTUAN MEDAN GRAVITASI EINSTEIN DALAM RUANG MINKOWSKI MENGGUNAKAN SIMBOL CHRISTOFFEL JENIS I DAN II
Proseding Seminar Nasional Fisika dan Aplikasinya Sabtu, 19 November 2016 Bale Sawala Kampus Universitas Padjadjaran, Jatinangor PENENTUAN MEDAN GRAVITASI EINSTEIN DALAM RUANG MINKOWSKI MENGGUNAKAN SIMBOL
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Hukum gravitasi Newton mampu menerangkan fenomena benda-benda langit yang dipengaruhi oleh gaya gravitasi antar benda. Namun, hukum gravitasi Newton ini tidak sesuai dengan teori
SOLUSI STATIK PERSAMAAN MEDAN EINSTEIN UNTUK RUANG VAKUM BERSIMETRI SILINDER DAN PERSAMAAN GERAK PARTIKEL JATUH BEBAS DARI SOLUSI TERSEBUT
SOLUSI STATIK PERSAMAAN MEDAN EINSTEIN UNTUK RUANG VAKUM BERSIMETRI SILINDER DAN PERSAMAAN GERAK PARTIKEL JATUH BEBAS DARI SOLUSI TERSEBUT SKRIPSI Oleh A.Syaiful Lutfi NIM 081810201005 JURUSAN FISIKA FAKULTAS
Pengaruh Konstanta Kosmologi Terhadap Model Standar Alam Semesta
B-8 JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 5 No. (6) 7-5 (-98X Print) Pengaruh Konstanta Kosmologi Terhadap Model Standar Alam Semesta Muhammad Ramadhan dan Bintoro A. Subagyo Jurusan Fisika, Fakultas MIPA, Institut
Bahan Minggu XV Tema : Pengantar teori relativitas umum Materi :
Bahan Minggu XV Tema : Pengantar teori relativitas umum Materi : Teori Relativitas Umum Sebelum teori Relativitas Umum (TRU) diperkenalkan oleh Einstein pada tahun 1915, orang mengenal sedikitnya tiga
Bab 2. Geometri Riemann dan Persamaan Ricci Flow. 2.1 Geometri Riemann Manifold Riemannian
Bab 2 Geometri Riemann dan Persamaan Ricci Flow 2.1 Geometri Riemann Geometri Riemann pertama kali dikemukakan secara general oleh Bernhard Riemann pada abad ke 19. Pada bagian ini akan diberikan penjelasan
Skenario Randal-Sundrum dan Brane Bulk
Bab VI Skenario Randal-Sundrum dan Brane Bulk VI.1 Pendahuluan Bab ini bertujuan untuk menggeneralisasi hasil yang diperoleh untuk sistem dua buah brane, dengan memperluas skema perturbasi yang telah dibahas
BAB III TENSOR. Berdasarkan uraian bab sebelumnya yang telah menjelaskan beberapa
BAB III TENSOR Berdasarkan uraian bab sebelumnya yang telah menjelaskan beberapa istilah dan materi pendukung yang berkaitan dengan tensor, pada bab ini akan dijelaskan pengertian dasar dari tensor. Tensor
4. Orbit dalam Medan Gaya Pusat. AS 2201 Mekanika Benda Langit
4. Orbit dalam Medan Gaya Pusat AS 2201 Mekanika Benda Langit 4. Orbit dalam Medan Gaya Pusat 4.1 Pendahuluan Pada bab ini dibahas gerak benda langit dalam medan potensial umum, misalnya potensial sebagai
I. Hukum lintasan : Semua planet bergerak dalarn lintasan berupa elips, dengan matahari pada salah satu titik fokusnya.
RENCANA PEMBELAJARAN 10. POKOK BAHASAN: GAYA SENTRAL Gaya sentral adalah gaya bekerja pada benda, di mana garis kerjanya selalu melalui titik tetap, disebut pusat gaya. Arah gaya sentral mungkin menuju
Momen Inersia. distribusinya. momen inersia. (karena. pengaruh. pengaruh torsi)
Gerak Rotasi Momen Inersia Terdapat perbedaan yang penting antara masa inersia dan momen inersia Massa inersia adalah ukuran kemalasan suatu benda untuk mengubah keadaan gerak translasi nya (karena pengaruh
1/32 FISIKA DASAR (TEKNIK SIPIL) KINEMATIKA. menu. Mirza Satriawan. Physics Dept. Gadjah Mada University Bulaksumur, Yogyakarta
1/32 FISIKA DASAR (TEKNIK SIPIL) KINEMATIKA Mirza Satriawan Physics Dept. Gadjah Mada University Bulaksumur, Yogyakarta email: [email protected] Definisi KINEMATIKA Kinematika adalah cabang ilmu fisika yang
MOMENTUM - TUMBUKAN FISIKA DASAR (TEKNIK SISPIL) (+GRAVITASI) Mirza Satriawan. menu
FISIKA DASAR (TEKNIK SISPIL) 1/34 MOMENTUM - TUMBUKAN (+GRAVITASI) Mirza Satriawan Physics Dept. Gadjah Mada University Bulaksumur, Yogyakarta email: [email protected] Sistem Partikel Dalam pembahasan-pembahasan
Teori Relativitas. Mirza Satriawan. December 23, Pengantar Kelengkungan. M. Satriawan Teori Relativitas
Teori Relativitas Mirza Satriawan December 23, 2010 Pengantar Kelengkungan Quiz 1 Apakah basis vektor dalam sistem koordinat melengkung selalu konstan? 2 Dalam sistem koordinat apakah basis vektornya selalu
POSITRON, Vol. II, No. 1 (2012), Hal ISSN : Efek Reaksi Balik Gelombang Gravitasi pada Lensa Gravitasi
Efek Reaksi Balik Gelombang Gravitasi pada Lensa Gravitasi Imamal Muttaqien 1) 1)Kelompok Keahlian Astrofisika, Jurusan Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati,
BAB III APLIKASI METODE EULER PADA KAJIAN TENTANG GERAK Tujuan Instruksional Setelah mempelajari bab ini pembaca diharapkan dapat: 1.
BAB III APLIKASI METODE EULER PADA KAJIAN TENTANG GERAK Tujuan Instruksional Setelah mempelajari bab ini pembaca diharapkan dapat: 1. Menentukan solusi persamaan gerak jatuh bebas berdasarkan pendekatan
LAMPIRAN A. Ringkasan Relativitas Umum
LAMPIRAN A Ringkasan Relativitas Umum Besaran fisika harus invarian terhadap semua kerangka acuan. Kalimat tersebut merupakan prinsip relativitas khusus yang pertama. Salah satu besaran yang harus invarian
TEST KEMAMPUAN DASAR FISIKA
TEST KEMAMPUAN DASAR FISIKA Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan pernyataan BENAR atau SALAH. Jika jawaban anda BENAR, pilihlah alasannya yang cocok dengan jawaban anda. Begitu pula jika
Dinamika Lubang Hitam Reissner-Nordtsrӧm Dalam Kosmologi Frieedman-Robertson-Walker (FRW)
Dinamika Lubang Hitam Reissner-Nordtsrӧm Dalam Kosmologi Frieedman-Robertson-Walker (FRW) 1*) Muh. Fachrul Latief, 1) Bansawang BJ., 1) Wira Bahari Nurdin 1) Laboratorium Fisika Teoritik dan Komputasi,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teori Gravitasi Newton Beberapa teori dapat membandingkan ketelitian ramalannya dengan teori gravitasi universal Newton. Ramalan mekanika benda angkasa untuk posisi planet sesuai
Metrik Reissner-Nordström dalam Teori Gravitasi Einstein
JURNAL FISIKA DAN APLIKASINYA VOLUME 13, NOMOR 1 JANUARI 17 Metrik Reissner-Nordström dalam Teori Gravitasi Einstein Canisius Bernard Program Studi Fisika, Fakultas Teknologi Informasi dan Sains, Universitas
KINEMATIKA. Fisika. Tim Dosen Fisika 1, ganjil 2016/2017 Program Studi S1 - Teknik Telekomunikasi Fakultas Teknik Elektro - Universitas Telkom
KINEMATIKA Fisika Tim Dosen Fisika 1, ganjil 2016/2017 Program Studi S1 - Teknik Telekomunikasi Fakultas Teknik Elektro - Universitas Telkom Sasaran Pembelajaran Indikator: Mahasiswa mampu mencari besaran
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
1.4. Hipotesis 1. Model penampang hamburan Galster dan Miller memiliki perbedaan mulai kisaran energi 0.3 sampai 1.0. 2. Model penampang hamburan Galster dan Miller memiliki kesamaan pada kisaran energi
Aplikasi Persamaan Bessel Orde Nol Pada Persamaan Panas Dua dimensi
JURNAL FOURIER Oktober 2013, Vol. 2, No. 2, 113-123 ISSN 2252-763X Aplikasi Persamaan Bessel Orde Nol Pada Persamaan Panas Dua dimensi Annisa Eki Mulyati dan Sugiyanto Program Studi Matematika Fakultas
perpindahan, kita peroleh persamaan differensial berikut :
1.1 Pengertian Persamaan Differensial Banyak sekali masalah terapan (dalam ilmu teknik, ilmu fisika, biologi, kimia, sosial, dan lain-lain), yang telah dirumuskan dengan model matematika dalam bentuk persamaan
SOLUSI PERSAMAAN RICCI FLOW UNTUK RUANG EMPAT DIMENSI BERSIMETRI SILINDER
SOLUSI PERSAMAAN RICCI FLOW UNTUK RUANG EMPAT DIMENSI BERSIMETRI SILINDER SKRIPSI Oleh Sudarmadi NIM 061810201112 JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS JEMBER 2012 SOLUSI
3. ORBIT KEPLERIAN. AS 2201 Mekanika Benda Langit. Monday, February 17,
3. ORBIT KEPLERIAN AS 2201 Mekanika Benda Langit 1 3.1 PENDAHULUAN Mekanika Newton pada mulanya dimanfaatkan untuk menentukan gerak orbit benda dalam Tatasurya. Misalkan Matahari bermassa M pada titik
KAJIAN TEORITIS TRANSFORMASI METRIK SCHWARZCHILD DALAM DUA KOORDINAT
Proseding Seminar Nasional Fisika dan Aplikasinya Sabtu, 19 November 2016 Bale Sawala Kampus Universitas Padjadjaran, Jatinangor KAJIAN TEORITIS TRANSFORMASI METRIK SCHWARZCHILD DALAM DUA KOORDINAT ALMIZAN
Teori Relativitas. Mirza Satriawan. December 7, Fluida Ideal dalam Relativitas Khusus. M. Satriawan Teori Relativitas
Teori Relativitas Mirza Satriawan December 7, 2010 Fluida Ideal dalam Relativitas Khusus Quiz 1 Tuliskan perumusan kelestarian jumlah partikel dengan memakai vektor-4 fluks jumlah partikel. 2 Tuliskan
BAB II PENGANTAR SOLUSI PERSOALAN FISIKA MENURUT PENDEKATAN ANALITIK DAN NUMERIK
BAB II PENGANTAR SOLUSI PERSOALAN FISIKA MENURUT PENDEKATAN ANALITIK DAN NUMERIK Tujuan Instruksional Setelah mempelajari bab ini pembaca diharapkan dapat: 1. Menjelaskan cara penyelesaian soal dengan
ANALISIS VEKTOR. Aljabar Vektor. Operasi vektor
ANALISIS VEKTOR Aljabar Vektor Operasi vektor Besaran yang memiliki nilai dan arah disebut dengan vektor. Contohnya adalah perpindahan, kecepatan, percepatan, gaya, dan momentum. Sementara itu, besaran
Soal-Jawab Fisika Teori OSN 2013 Bandung, 4 September 2013
Soal-Jawab Fisika Teori OSN 0 andung, 4 September 0. (7 poin) Dua manik-manik masing-masing bermassa m dan dianggap benda titik terletak di atas lingkaran kawat licin bermassa M dan berjari-jari. Kawat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Fisika adalah upaya menemukan kaidah-kaidah atau pola-pola keteraturan yang ditaati oleh alam. Pola-pola keteraturan itu sering pula disebut hukum alam (Rosyid,
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 1. Integral Lipat Dua Atas Daerah Persegipanjang
ingkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 1 Integral Lipat Dua Atas Daerah Persegipanjang Perhatikan fungsi z = f(x, y) pada = {(x, y) : a x b, c y d} Bentuk partisi P atas daerah berupa n buah persegipanjang
Kajian Konstanta Kosmologi Einstein pada Solar System Effect di ruang waktu Schwarzschild de Sitter
Kajian Konstanta Kosmologi Einstein pada Solar System Effect di ruang waktu Schwarzschild de Sitter Philin Yolanda Dwi Sagita 1, Bintoro Anang Subagyo 2 1 Program Studi Fisika FMIPA Institut Teknologi
K 1. h = 0,75 H. y x. O d K 2
1. (25 poin) Dari atas sebuah tembok dengan ketinggian H ditembakkan sebuah bola kecil bermassa m (Jari-jari R dapat dianggap jauh lebih kecil daripada H) dengan kecepatan awal horizontal v 0. Dua buah
Disusun oleh : MIRA RESTUTI PENDIDIKAN FISIKA (RM)
Disusun oleh : MIRA RESTUTI 1106306 PENDIDIKAN FISIKA (RM) PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2013 Kompetensi Dasar :
TEORI RELATIVITAS DAN KOSMOLOGI
TEORI RELATIVITAS DAN KOSMOLOGI Dr. Eng. Rinto Anugraha NQZ Jurusan Fisika FMIPA UGM PRAKATA Bismillahirrahmanirrahim Alhamdulillah, akhirnya buku Teori Relativitas dan Kosmologi ini dapat kami selesaikan.
FISIKA UNTUK UNIVERSITAS JILID I ROSYID ADRIANTO
i FISIKA UNTUK UNIVERSITAS JILID I ROSYID ADRIANTO Departemen Fisika Universitas Airlangga, Surabaya E-mail address, P. Carlson: i an [email protected] URL: http://www.rosyidadrianto.wordpress.com Puji
Teori Medan Klasik. USSR Academy of Sciences. Miftachul Hadi. Applied Mathematics for Biophysics Group. Physics Research Centre LIPI
Teori Medan Klasik L. D. Landau 1, E. M. Lifshitz 2 1,2 Institute of Physical Problems USSR Academy of Sciences Miftachul Hadi Applied Mathematics for Biophysics Group Physics Research Centre LIPI Puspiptek,
Bab 2. Teori Gelombang Elastik. sumber getar ke segala arah dengan sumber getar sebagai pusat, sehingga
Bab Teori Gelombang Elastik Metode seismik secara refleksi didasarkan pada perambatan gelombang seismik dari sumber getar ke dalam lapisan-lapisan bumi kemudian menerima kembali pantulan atau refleksi
III. KINEMATIKA PARTIKEL. 1. PERGESERAN, KECEPATAN dan PERCEPATAN
III. KINEMATIKA PARTIKEL Kinematika adalah bagian dari mekanika yang mempelajari tentang gerak tanpa memperhatikan apa/siapa yang menggerakkan benda tersebut. Bila gaya penggerak ikut diperhatikan maka
1. (25 poin) Sebuah bola kecil bermassa m ditembakkan dari atas sebuah tembok dengan ketinggian H (jari-jari bola R jauh lebih kecil dibandingkan
. (5 poin) Sebuah bola kecil bermassa m ditembakkan dari atas sebuah tembok dengan ketinggian H (jari-jari bola R jauh lebih kecil dibandingkan dengan H). Kecepatan awal horizontal bola adalah v 0 dan
BAB II DASAR TEORI. 2.1 Persamaan Kontinuitas dan Persamaan Gerak
BAB II DASAR TEORI Ada beberapa teori yang berkaitan dengan konsep-konsep umum mengenai aliran fluida. Beberapa akan dibahas pada bab ini. Diantaranya adalah hukum kekekalan massa dan hukum kekekalan momentum.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB TINJAUAN PUSTAKA. Definisi Gelombang dan klasifikasinya. Gelombang adalah suatu gangguan menjalar dalam suatu medium ataupun tanpa medium. Dalam klasifikasinya gelombang terbagi menjadi yaitu :. Gelombang
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Teori relativitas khusus (TRK) yang diperkenalkan Einstein tahun 1905 menyatukan ruang dan waktu menjadi entitas tunggal ruang-waktu (misalnya dalam Hidayat, 2010).
Perluasan Model Statik Black Hole Schwartzchild
Perluasan Model Statik Black Hole Schwartzchild Abd Mujahid Hamdan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Ar-raniry, Banda Aceh, Indonesia [email protected] Abstrak: Telah dilakukan perluasan model black
Fisika Dasar I (FI-321)
Fisika Dasar I (FI-31) Topik hari ini Getaran dan Gelombang Getaran 1. Getaran dan Besaran-besarannya. Gerak harmonik sederhana 3. Tipe-tipe getaran (1) Getaran dan besaran-besarannya besarannya Getaran
BAB II DASAR TEORI. 2.1 Teori Relativitas Umum Einstein
BAB II DASAR TEORI Sebagaimana telah diketahui dalam kinematika relativistik, persamaanpersamaannya diturunkan dari dua postulat relativitas. Dua kerangka inersia yang bergerak relatif satu dengan yang
Persamaan Diferensial
Orde Satu Jurusan Matematika FMIPA-Unud Senin, 18 Desember 2017 Orde Satu Daftar Isi 1 Pendahuluan 2 Orde Satu Apakah Itu? Solusi Pemisahan Variabel Masalah Gerak 3 4 Orde Satu Pendahuluan Dalam subbab
BAB III. Proses Fisis Penyebab Fluktuasi Temperatur CMB
BAB III Proses Fisis Penyebab Fluktuasi Temperatur CMB III.1 Penyebab Fluktuasi Struktur di alam semesta berasal dari fluktuasi kuantum di awal alam semesta. Akibat pengembangan alam semesta, fluktuasi
UM UGM 2017 Fisika. Soal
UM UGM 07 Fisika Soal Doc. Name: UMUGM07FIS999 Version: 07- Halaman 0. Pada planet A yang berbentuk bola dibuat terowongan lurus dari permukaan planet A yang menembus pusat planet dan berujung di permukaan
MEDAN SKALAR DENGAN SUKU KINETIK POWER LAW
Prosiding Seminar Nasional Fisika (E-Journal) SNF016 http://snf-unj.ac.id/kumpulan-prosiding/snf016/ VOLUME V, OKTOBER 016 p-issn: 339-0654 e-issn: 476-9398 DOI: doi.org/10.1009/030500505 KOMPAKTIFIKASI
VEKTOR. Besaran skalar (scalar quantities) : besaran yang hanya mempunyai nilai saja. Contoh: jarak, luas, isi dan waktu.
VEKTOR Kata vektor berasal dari bahasa Latin yang berarti "pembawa" (carrier), yang ada hubungannya dengan "pergeseran" (diplacement). Vektor biasanya digunakan untuk menggambarkan perpindahan suatu partikel
UNIVERSITAS INDONESIA SOLUSI SCHWARZSCHILD UNTUK PERHITUNGAN PRESISI ORBIT PLANET-PLANET DI DALAM TATA SURYA DAN PERGESERAN MERAH GRAVITASI SKRIPSI
UNIVERSITAS INDONESIA SOLUSI SCHWARZSCHILD UNTUK PERHITUNGAN PRESISI ORBIT PLANET-PLANET DI DALAM TATA SURYA DAN PERGESERAN MERAH GRAVITASI SKRIPSI SALMAN FARISHI 0304020655 FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU
Bab IV Gravitasi Braneworld IV.1 Pendahuluan
Bab IV Gravitasi Braneworld IV.1 Pendahuluan Pada Bab III, telah diperoleh sebuah deskripsi teori efektif 4-dimensi dari teori 5- dimensi dengan cara mengkompaktifikasi pada orbifold dalam kerangka kerja
Fisika Dasar I (FI-321)
Fisika Dasar I (FI-321) Topik hari ini (minggu 2) Gerak dalam Satu Dimensi (Kinematika) Kerangka Acuan & Sistem Koordinat Posisi dan Perpindahan Kecepatan Percepatan GLB dan GLBB Gerak Jatuh Bebas Mekanika
Fisika Dasar 9/1/2016
1 Sasaran Pembelajaran 2 Mahasiswa mampu mencari besaran posisi, kecepatan, dan percepatan sebuah partikel untuk kasus 1-dimensi dan 2-dimensi. Kinematika 3 Cabang ilmu Fisika yang membahas gerak benda
Solusi Khusus Persamaan Ricci Flow untuk Metrik Axisimetrik Empat Dimensi
Solusi Khusus Persamaan Ricci Flow untuk Metrik Axisimetrik Empat Dimensi Laporan Tugas Akhir Diajukan untuk memenuhi persyaratan kelulusan pendidikan tingkat S1 di Program Studi Fisika ITB oleh: FIKI
Pendahuluan. Setelah mempelajari bab 1 ini, mahasiswa diharapkan
1 Pendahuluan Tujuan perkuliahan Setelah mempelajari bab 1 ini, mahasiswa diharapkan 1. Mengetahui gambaran perkuliahan. Mengerti konsep dari satuan alamiah dan satuan-satuan dalam fisika partikel 1.1.
Intensitas spesifik Fluks energi Luminositas Bintang sebagai benda hitam (black body) Kompetensi Dasar: Memahami konsep pancaran benda hitam
RADIASI BENDA HITAM Intensitas spesifik Fluks energi Luminositas Bintang sebagai benda hitam (black body) Kompetensi Dasar: Memahami konsep pancaran benda hitam Teori Benda Hitam Jika suatu benda disinari
GARIS BESAR PROGRAM PEMBELAJARAN (GBPP)
Revisi ke: Tanggal: GARIS BESAR PROGRAM PEMBELAJARAN (GBPP) SPMI-UNDIP/GBPP/xx.xx.xx/xxx Disetujui oleh Dekan Fak Mata Kuliah : Fisika Matematika II Kode/ Bobot : PAF 215/4 sks Deskripsi singkat : Mata
BINOVATIF LISTRIK DAN MAGNET. Hani Nurbiantoro Santosa, PhD.
BINOVATIF LISTRIK DAN MAGNET Hani Nurbiantoro Santosa, PhD [email protected] 2 BAB 1 PENDAHULUAN Atom, Interaksi Fundamental, Syarat Matematika, Syarat Fisika, Muatan Listrik, Gaya Listrik, Pengertian
BINOVATIF LISTRIK DAN MAGNET. Hani Nurbiantoro Santosa, PhD.
BINOVATIF LISTRIK DAN MAGNET Hani Nurbiantoro Santosa, PhD [email protected] 2 BAB 2 MEDAN LISTRIK DAN HUKUM GAUSS Pendahuluan, Distribusi Muatan Kontinu, Mencari Medan Listrik Menggunakan Integral,
BAB II : PEMBIASAN CAHAYA
BAB II : PEMBIASAN CAHAYA I.. Pembiasan Ketika sebuah cahaya mengenai sebuah permukaan bidang batas yang memisahkan dua medium berbeda, maka energi cahaya tsb dipantulkan dan memasuki medium kedua. Perubahan
BENDA TEGAR FISIKA DASAR (TEKNIK SISPIL) Mirza Satriawan. menu. Physics Dept. Gadjah Mada University Bulaksumur, Yogyakarta
1/36 FISIKA DASAR (TEKNIK SISPIL) BENDA TEGAR Mirza Satriawan Physics Dept. Gadjah Mada University Bulaksumur, Yogyakarta email: [email protected] Rotasi Benda Tegar Benda tegar adalah sistem partikel yang
Bab 1 Vektor. A. Pendahuluan
Bab 1 Vektor A. Pendahuluan Dalam mata kuliah Listrik Magnet A, maupun mata kuliah Listrik Magnet B sebagaii lanjutannya, penyajian konsep dan pemecahan masalah akan banyak memerlukan pengetahuan tentang
Arahnya diwakili oleh sudut yang dibentuk oleh A dengan ketigas umbu koordinat,
VEKTOR Dalam mempelajari fisika kita selalu berhubungan dengan besaran, yaitu sesuatu yang dapat diukur dan dioperasikan. da besaran yang cukup dinyatakan dengan nilai (harga magnitude) dan satuannya saja,
II LANDASAN TEORI. dengan, 1,2,3,, menyatakan koefisien deret pangkat dan menyatakan titik pusatnya.
2 II LANDASAN TEORI Pada bagian ini akan dibahas teoriteori yang mendukung karya tulis ini. Teoriteori tersebut meliputi persamaan diferensial penurunan persamaan KdV yang disarikan dari (Ihsanudin, 2008;
Stephen Hawking. Muhammad Farchani Rosyid
Stephen Hawking Muhammad Farchani Rosyid Kelompok Penelitian Kosmologi, Astrofisika, Partikel, dan Fisika Matematik (KAMP), Laboratorium Fisika Atom dan Inti, Jurusan Fisika FMIPA, Universitas Gadjah Mada,
Nama: Gilang Ramadhan NPM : Tugas: Fisika Dasar DINAMIKA
Nama: Gilang Ramadhan NPM :4320070016510014 Tugas: Fisika Dasar DINAMIKA Dinamika merupakan ilmu yang mempelajari gerak suatu benda dengan meninjau penyebabnya, bagian dari mekanika. Beda halnya dengan
SP FISDAS I. acuan ) , skalar, arah ( ) searah dengan
SP FISDAS I Perihal : Matriks, pengulturan, dimensi, dan sebagainya. Bisa baca sendiri di tippler..!! KINEMATIKA : Gerak benda tanpa diketahui penyebabnya ( cabang dari ilmu mekanika ) DINAMIKA : Pengaruh
Fisika Umum (MA101) Kinematika Rotasi. Dinamika Rotasi
Fisika Umum (MA101) Topik hari ini: Kinematika Rotasi Hukum Gravitasi Dinamika Rotasi Kinematika Rotasi Perpindahan Sudut Riview gerak linear: Perpindahan, kecepatan, percepatan r r = r f r i, v =, t a
Kinematika. Hoga saragih. hogasaragih.wordpress.com 1
Kinematika Hoga saragih hogasaragih.wordpress.com 1 BAB II Penggambaran Gerak Kinematika Dalam Satu Dimensi Mempelajari tentang gerak benda, konsep-konsep gaya dan energi yang berhubungan serta membentuk
Konsep Usaha dan Energi
1/18 FISIKA DASAR (TEKNIK SISPIL) USAHA DAN ENERGI Mirza Satriawan Physics Dept. Gadjah Mada University Bulaksumur, Yogyakarta email: [email protected] Konsep Usaha dan Energi Disamping perumusan hukum newton,
Getaran Dalam Zat Padat BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Pendahuluan Getaran atom dalam zat padat dapat disebabkan oleh gelombang yang merambat pada Kristal. Ditinjau dari panjang gelombang yang digelombang yang digunakan dan dibandingkan
Fisika Dasar I (FI-321)
Fisika Dasar I (FI-321) Topik hari ini (minggu 2) Gerak dalam Satu Dimensi (Kinematika) Kerangka Acuan & Sistem Koordinat Posisi dan Perpindahan Kecepatan Percepatan GLB dan GLBB Gerak Jatuh Bebas Mekanika
Interferensi Cahaya. Agus Suroso Fisika Teoretik Energi Tinggi dan Instrumentasi, Institut Teknologi Bandung
Interferensi Cahaya Agus Suroso ([email protected]) Fisika Teoretik Energi Tinggi dan Instrumentasi, Institut Teknologi Bandung Agus Suroso (FTETI-ITB) Interferensi Cahaya 1 / 39 Contoh gejala interferensi
Integral yang berhubungan dengan kepentingan fisika
Integral yang berhubungan dengan kepentingan fisika 14.1 APLIKASI INTEGRAL A. Usaha Dan Energi Hampir semua ilmu mekanika ditemukan oleh Issac newton kecuali konsep energi. Energi dapat muncul dalam berbagai
soal dan pembahasan : GLBB dan GLB
soal dan pembahasan : GLBB dan GLB Posted on November 7, 2010. Filed under: contoh soal Contoh Soal dan tentang Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB) dan Gerak Lurus Beraturan (GLB), materi fisika kelas
Kalkulus Multivariabel I
Statistika FMIPA Universitas Islam Indonesia 214 Salah satu jenis generalisasi integral tentu b f (x)dx diperoleh dengan menggantikan himpunan [a, b] yang kita integralkan menjadi himpunan berdimensi dua
Gambar 7.1 Sebuah benda bergerak dalam lingkaran yang pusatnya terletak pada garis lurus
BAB 7. GERAK ROTASI 7.1. Pendahuluan Gambar 7.1 Sebuah benda bergerak dalam lingkaran yang pusatnya terletak pada garis lurus Sebuah benda tegar bergerak rotasi murni jika setiap partikel pada benda tersebut
SOAL DAN PEMBAHASAN FINAL SESI I LIGA FISIKA PIF XIX TINGKAT SMA/MA SEDERAJAT PAKET 1
SOAL DAN PEMBAHASAN FINAL SESI I LIGA FISIKA PIF XIX TINGKAT SMA/MA SEDERAJAT PAKET 1 1. Terhadap koordinat x horizontal dan y vertikal, sebuah benda yang bergerak mengikuti gerak peluru mempunyai komponen-komponen
2.2 kinematika Translasi
II KINEMATIKA PARTIKEL Kompetensi yang akan diperoleh setelah mempelajari bab ini adalah pemahaman dan kemampuan menganalisis serta mengaplikasikan konsep kinematika partikel pada kehidupan sehari-hari
Catatan Kuliah FI2101 Fisika Matematik IA
Khairul Basar atatan Kuliah FI2101 Fisika Matematik IA Semester I 2015-2016 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung Bab 6 Analisa Vektor 6.1 Perkalian Vektor Pada bagian
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teori Atom Bohr Pada tahun 1913, Niels Bohr, fisikawan berkebangsaan Swedia, mengikuti jejak Einstein menerapkan teori kuantum untuk menerangkan hasil studinya mengenai spektrum
SISTEM HUKUM KEKEKALAN LINEAR
Bab 3 SISTEM HUKUM KEKEKALAN LINEAR 3.1 Sistem Linear Hiperbolik Sistem linear dalam pengertian Tugas Akhir ini adalah suatu sistem hukum kekekalan dengan bentuk umum, t u + d A α (t) xα u = 0 (3.1.1)
Antiremed Kelas 12 Fisika
Antiremed Kelas 12 Fisika Persiapan UAS Doc. Name: K13AR12FIS01UAS Version: 2015-11 halaman 1 01. Seorang pendengar A berada di antara suatu sumber bunyi S yang menghasilkan bunyi berfrekuensi f dan tembok
DEPARTMEN IKA ITB Jurusan Fisika-Unej BENDA TEGAR. MS Bab 6-1
Jurusan Fisika-Unej BENDA TEGAR Kuliah FI-1101 Fisika 004 Dasar Dr. Linus Dr Pasasa Edy Supriyanto MS Bab 6-1 Jurusan Fisika-Unej Bahan Cakupan Gerak Rotasi Vektor Momentum Sudut Sistem Partikel Momen
Bab 1 : Skalar dan Vektor
Bab 1 : Skalar dan Vektor 1.1 Skalar dan Vektor Istilah skalar mengacu pada kuantitas yang nilainya dapat diwakili oleh bilangan real tunggal (positif atau negatif). x, y dan z kita gunakan dalam aljabar
