UNIVERSITAS INDONESIA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "UNIVERSITAS INDONESIA"

Transkripsi

1 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT GALENIUM PHARMASIA LABORATORIES JALAN RAYA JAKARTA BOGOR KM 51,5 KEDUNGHALANG, BOGOR PERIODE 6 FEBRUARI 28 MARET 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER EDI KURNIAWAN, S. Farm ANGKATAN LXXVI FAKULTAS FARMASI PROGRAM PROFESI APOTEKER DEPOK JUNI 2013

2 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT GALENIUM PHARMASIA LABORATORIES JALAN RAYA JAKARTA BOGOR KM 51,5 KEDUNGHALANG, BOGOR PERIODE 6 FEBRUARI 28 MARET 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker EDI KURNIAWAN, S. Farm ANGKATAN LXXVI FAKULTAS FARMASI PROGRAM PROFESI APOTEKER DEPOK JUNI 2013 ii

3 HALAMAN PENGESAHAN Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker ini diajukan oleh : Nama : Edi Kurniawan, S. Farm NPM : Program Studi : Apoteker Fakultas Farmasi Judul Laporan : Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di PT Galenium Pharmasia Laboratories Jl. Raya Jakarta- Bogor, Km 51,5, Kedung Halang, Bogor Periode 6 Februari-28 Maret 2013 Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Apoteker pada Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Indonesia DEWAN PENGUJI Pembimbing I : Priyudi Astrakusuma, S.F., Apt ( ) Pembimbing II : Dr. Mahdi Jufri, M.Si., Apt. ( ) Penguji I Penguji II ) Penguji III Ditetapkan di : Depok Tanggal : iii

4 KATA PENGANTAR Puji syukur Penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-nya, Penulis mampu melaksanakan dan menyelesaikan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di PT Galenium Pharmasia Laboratories. Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa praktek kerja sampai pada penyusunan laporan ini, sangatlah sulit bagi Penulis untuk menyelesaikan laporan ini. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada: 1) Bapak Juzardi Joesoef selaku President Director PT. Galenium Pharmasia Laboratories, Bogor. 2) Bapak Moch. Sjaifuddin selaku Operation and HR General Manager PT. Galenium Pharmasia Laboratories, Bogor. 3) Bapak Henry Purba selaku Human Resources Manager PT Galenium Pharmasi Laboratories, Bogor. 4) Bapak Priyudi Astrakusuma, S.F., Apt., selaku Deputy Head of Factory PT Galenium Pharmasia Laboratories atas izin, kesempatan, serta bimbingan yang diberikan selama PKPA Kami di PT Galenium Pharmasia Laboratories. 5) Deddy Rifandi Laurens, S.Farm., Apt. selaku Production Pharmacist serta Rianti Wulandari dan Ipah Hatipah selaku Admin produksi di PT Galenium Pharmasia Laboratories atas bimbingan, fasilitas, sarana, dan prasarana yang telah diberikan untuk membantu PKPA Kami di PT Galenium Pharmasia Laboratories. 6) Ibu Yusnizar, Ibu Rahmi Mansur, Bapak Zamhari, dan Bapak Kuspriyanto selaku supervisor produksi dan kemas farma. 7) Bapak Nuryadi, Bapak Sumargono, Bapak Jejen, Bu Nani, Bapak Sopian, Bapak Suseno, Bapak Afiet, Bapak Ajid, Bapak Saparin, dan Bapak Suprihato yang telah banyak membantu kami selama kegiatan PKPA. iv

5 8) Seluruh staf dan karyawan PT Galenium Pharmasia Laboratories, atas bimbingan dalam pengerjaan tugas khusus serta pembelajaran selama kegiatan PKPA. 9) Prof. Dr. Yahdiana Harahap, MS., Apt., selaku Dekan Farmasi Fakultas Farmasi UI yang telah memberi ijin dan kesempatan untuk melakukan Praktek Kerja Profesi Apoteker. 10) Dr. Harmita, Apt., selaku Ketua Program Profesi Apoteker yang telah memberikan kesempatan untuk melakukan Praktek Kerja Profesi Apoteker. 11) Dr. Mahdi Jufri, M.Si., Apt., selaku pembimbing yang selalu memberikan bimbingan, saran dan wawasan yang sangat berharga selama melakukan PKPA hingga tersusunnya laporan ini. 12) Keluarga yang selalu memberikan dukungan, perhatian, kepercayaan, dan kasih sayang yang tak ternilai. 13) Seluruh teman-teman Program Profesi Apoteker Angkatan 76 yang saling mendukung dan bekerjasama selama perkuliahan dan pelaksanaan PKPA. 14) Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah memberikan bantuan dan dukungan selama PKPA. Penulis berharap Tuhan Yang Maha Esa berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini masih belum sempurna, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan. Penulis berharap semoga pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama menjalani Praktek Kerja Profesi Apoteker ini dapat memberikan manfaat dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan bagi para pembaca. Penulis 2013 v

6 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... ii HALAMAN PENGESAHAN... iii KATA PENGANTAR... iv DAFTAR ISI... vi DAFTAR GAMBAR... viii DAFTAR TABEL... ix DAFTAR LAMPIRAN... x 1. PENDAHULUAN Latar belakang Tujuan TINJAUAN PUSTAKA Industri farmasi Cara pembuatan obat yang baik ISO TINJAUAN UMUM PT GALENIUM PHARMASIA LABORATORIES Profil Fungsi dasar Lokasi dan bangunan Produk Struktur Organisasi Sistem tata udara Water system and distribution Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) TINJAUAN KHUSUS LEAN MANUFACTURING DI DEPARTEMEN PRODUKSI Lean manufacturing Lean manufacturing di departemen produksi PT GPL PENERAPAN CPOB DI PT GALENIUM PHARMASIA LABORATORIES Manajemen mutu Personalia Bangunan dan fasilitas Peralatan Sanitasi dan higiene Produksi Pengawasan mutu Inspeksi diri, audit mutu, serta audit dan persetujuan pemasok Penangan keluhan terhadap produk dan penarikan kembali produk Dokumentasi vi

7 5.11 Pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak Kualifikasi dan validasi KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran DAFTAR ACUAN vii

8 DAFTAR GAMBAR Gambar 3.1. Logo PT Galenium Pharmasia Laboratories Gambar 5.1. Alur produksi sediaan larutan Gambar 5.2. Alur produksi sediaan tablet Gambar 5.3. Alur produksi sediaan powder viii

9 DAFTAR TABEL Tabel 3.1. Parameter pemeriksaan air limbah Tabel 4.1. Tipe dan contoh pemborosan di dalam proses produksi Tabel 3.2. Daftar produk farma ethical PT GPL Tabel 3.3. Daftar produk farma OTC PT GPL Tabel 3.4. Daftar produk PSC PT GPL ix

10 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Struktur organisasi PT Galenium Pharmasia Laboratories Lampiran 2. Struktur organisasi Departemen Produksi Farma PT GPL Lampiran 3. Alur proses produksi tablet, sirup, krim, dan sabun di PT GPL. 84 Lampiran 4. Alur proses produksi salep, bedak, emulsi, dan lotion di PT GPL x

11 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Pembangunan kesehatan nasional pada hakikatnya bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Salah satu fokus dari pembangunan di bidang kesehatan yaitu tercapainya pelayanan kesehatan yang baik (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2009). Untuk mendukung pelayanan kesehatan yang baik dan optimal, diperlukan perbekalan kesehatan, salah satunya adalah sediaan farmasi, dalam hal ini yaitu obat. Suatu obat harus mengalami proses penanganan secara ketat (highly regulated) dalam pembuatannya sampai distribusinya ke konsumen. Peran industri farmasi dalam hal ini sangatlah besar. Industri farmasi merupakan salah satu elemen yang berperan penting dalam mewujudkan kesehatan nasional melalui aktivitasnya dalam bidang pembuatan obat. Industri farmasi harus membuat obat sesuai dengan tujuan penggunaanya, memenuhi persyaratan yang ditetapkan, dan tidak menimbulkan resiko yang membahayakan penggunanya. Oleh karena itu, industri farmasi harus berupaya untuk menghasilkan produk yang aman, bermutu, dan efektif, serta memenuhi standar kualitas yang dipersyaratkan (Badan POM, 2006). Salah satu upaya yang dilakukan industri farmasi untuk menjamin obat diproduksi secara konsisten, memenuhi persyaratan yang ditetapkan, dan sesuai dengan tujuan penggunaanya adalah dengan menerapkan GMP (Good Manufacturing Practice). Di Indonesia, istilah GMP lebih dikenal dengan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) yang dinamis. CPOB mencakup seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu. Diharapkan dengan penerapan pedoman CPOB akan meningkatkan mutu produk farmasi/ obat secara terus menerus serta memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap kesehatan masyarakat. Dengan demikian, penerapan CPOB dapat mendukung perkembangan industri 1

12 2 farmasi di Indonesia sehingga mutu obat mendapat pengakuan dan kepercayaan internasional (Badan POM, 2006). Produksi obat yang baik adalah produksi yang telah memenuhi ketentuan CPOB. Menurut CPOB tidaklah cukup bila produk jadi hanya sekedar lulus dari serangkaian pengujian, tetapi yang sangat penting adalah mutu harus dibentuk ke dalam produk tersebut. Mutu obat dipengaruhi oleh bahan awal dan bahan pengemas, proses produksi dan pengendalian mutu, personalia, bangunan dan fasilitas, peralatan, sanitasi dan higiene, pengawasan mutu, inspeksi diri, penanganan keluhan terhadap obat, penarikan kembali obat, dan dokumentasi (Badan POM, 2006). Selain itu, kualitas obat juga dipengaruhi oleh sumber daya manusia yang terlibat dalam proses penanganan dan pembuatannya. Salah satu sumber daya manusia yang diperlukan adalah apoteker. Peran seorang apoteker dalam pencapaian kualitas obat yang baik sangatlah besar. Oleh karena itu, penyediaan tenaga apoteker yang handal mutlak diperlukan. Untuk menghasilkan tenaga apoteker yang profesional dibutuhkan dukungan dan peran aktif dari berbagai pihak seperti perguruan tinggi farmasi, organisasi profesi, industri farmasi, rumah sakit, dan Pemerintah dalam pembekalan yang menyeluruh secara teori dan praktek sebagai aplikasi ilmu dan teknologi kefarmasian. Pembekalan berupa praktek kerja secara langsung sangat diperlukan untuk mendapatkan gambaran mengenai fungsi dan tanggung jawab apoteker di suatu institusi, seperti industri farmasi. Oleh karena itu, Program Profesi Apoteker Departemen Farmasi bekerjasama dengan PT Galenium Pharmasia Laboratories menyelenggarakan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) pada tanggal 06 Februari sampai tanggal 28 Maret Praktek kerja ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan praktis dengan melihat dan terlibat langsung dalam pekerjaan kefarmasian di industri farmasi. 1.2 Tujuan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) yang dilaksanakan di PT Galenium Pharmasia Laboratories ini bertujuan untuk:

13 3 a. Mengamati penerapan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) yang dilakukan PT Galenium Pharmasia Laboratories. b. Mengamati kegiatan yang dilakukan oleh PT Galenium Pharmasia Laboratories. c. Mengamati peranan apoteker dalam industri farmasi sehingga dapat dibandingkan dengan teori yang diperoleh selama masa perkuliahan dan menjadi bekal untuk menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya.

14 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri farmasi Menurut peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia No HK tahun 2012, industri farmasi adalah badan usaha yang memiliki izin dari Menteri Kesehatan untuk melakukan kegiatan pembuatan obat atau bahan obat. Sedangkan obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi, yang digunakan untuk memengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan, dan kontrasepsi untuk manusia. Sedangkan bahan obat adalah bahan baik yang berkhasiat maupun tidak berkhasiat yang digunakan dalam pengolahan obat dengan standar dan mutu sebagai bahan baku farmasi (Badan POM, 2012) Persyaratan usaha industri farmasi Usaha industri farmasi wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. Berbadan usaha berupa perseroan terbatas. b. Memiliki rencana investasi dan kegiatan pembuatan obat. c. Memiliki nomor pokok wajib pajak (NPWP). d. Memiliki secara tetap, paling sedikit tiga orang apoteker warga negara Indonesia (WNI), masing-masing sebagai penanggung jawab pemastian mutu, produksi, dan pengawasan mutu. e. Komisaris dan direksi tidak pernah terlibat, baik langsung ataupun tidak langsung, dalam pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang kefarmasian (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2010) Pencabutan Izin Usaha Industri Farmasi Izin Usaha Industri Farmasi dapat dicabut dengan alasan: a. Perusahaan industri farmasi yang telah mendapat Izin Usaha Industri Farmasi melakukan pemindahtanganan hak milik Izin Usaha Industri Farmasi; dan atau 4

15 5 b. Perluasan tanpa memiliki izin sesuai dengan ketentuan dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan; dan atau c. Perusahaan industri farmasi yang telah mendapat Izin Usaha Industri Farmasi tidak menyampaikan informasi industri farmasi secara berturut-turut tiga kali atau dengan sengaja menyampaikan informasi yang tidak benar; dan atau d. Perusahaan industri farmasi yang telah mendapat Izin Usaha Industri Farmasi melakukan pemindahan lokasi usaha industri tanpa persetujuan tertulis terlebih dahulu dari Menteri Kesehatan; dan atau e. Perusahaan industri farmasi yang telah mendapat Izin Usaha Industri Farmasi dengan sengaja memproduksi obat jadi atau bahan baku obat yang tidak memenuhi persyaratan dan ketentuan yang berlaku atau obat palsu; dan atau f. Tidak dipenuhinya ketentuan dalam Izin Usaha Industri Farmasi yang ditetapkan dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan. 2.2 Cara pembuatan obat yang baik Cara pembuatan obat yang baik, yang selanjutnya disingkat CPOB, adalah cara pembuatan obat yang bertujuan untuk memastikan agar mutu obat yang dihasilkan sesuai dengan persyaratan dan tujuan penggunaan. CPOB mencakup seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu. Pada pembuatan obat, pengendalian menyeluruh adalah sangat esensial untuk menjamin bahwa konsumen menerima obat yang bermutu tinggi. Pembuatan secara sembarangan tidak dibenarkan bagi produk yang digunakan untuk menyelamatkan jiwa, memulihkan, atau memelihara kesehatan. Tidaklah cukup bila produk jadi hanya sekedar lulus dari serangkaian pengujian, tetapi yang lebih penting adalah bahwa mutu harus dibentuk ke dalam produk tersebut. Mutu obat tergantung pada bahan awal, bahan pengemas, proses produksi, pengendalian mutu, bangunan, peralatan yang dipakai dan personil yang terlibat. Pedoman ini juga dimaksudkan untuk digunakan oleh industri farmasi sebagai dasar pengembangan aturan internal sesuai kebutuhan. CPOB bertujuan untuk menjamin obat dibuat secara konsisten, memenuhi persyaratan yang ditetapkan, dan sesuai dengan tujuan penggunaannya. CPOB mencakup seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu (Badan POM, 2012).

16 Manajemen mutu Di setiap industri farmasi perlu adanya manajemen yang bertanggung jawab agar obat yang dihasilkan sedemikian rupa agar sesuai dengan tujuan penggunaannya, memenuhi persyaratan yang tercantum dalam dokumen izin edar (registrasi), dan tidak menimbulkan risiko yang membahayakan penggunanya karena tidak aman, mutu rendah, atau tidak efektif. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu adanya suatu Kebijakan Mutu, yang memerlukan partisipasi dan komitmen jajaran di semua departemen di dalam perusahaan, para pemasok, dan para distributor. Unsur dasar manajemen mutu adalah: a. Suatu infrastruktur atau sistem mutu yang tepat mencakup struktur organisasi, prosedur, proses, dan sumber daya. b. Tindakan sistematis yang diperlukan untuk mendapatkan kepastian dengan tingkat kepercayaan yang tinggi sehingga produk (atau jasa pelayanan) yang dihasilkan akan selalu memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Konsep dasar pemastian mutu, cara pembuatan obat yang baik (CPOB), pengawasan mutu, dan manajemen risiko mutu adalah aspek manajemen mutu yang saling terkait. Pemastian mutu adalah suatu konsep luas yang mencakup semua hal baik secara tersendiri maupun secara kolektif, yang akan memengaruhi mutu dari obat yang dihasilkan. Pemastian mutu adalah totalitas semua pengaturan yang dibuat dengan tujuan untuk memastikan bahwa obat dihasilkan dengan mutu yang sesuai dengan tujuan pemakaiannya. Karena itu pemastian mutu mencakup CPOB ditambah dengan faktor lain di luar pedoman ini, seperti desain dan pengembangan produk. CPOB merupakan bagian dari pemastian mutu yang memastikan bahwa obat dibuat dan dikendalikan secara konsisten untuk mencapai standar mutu yang sesuai dengan tujuan penggunaan dan dipersyaratkan dalam izin edar dan spesifikasi produk. Sedangkan pengawasan mutu merupakan bagian dari CPOB yang berhubungan dengan pengambilan sampel, spesifikasi dan pengujian, serta dengan organisasi, dokumentasi, dan prosedur pelulusan yang memastikan bahwa pengujian yang diperlukan dan relevan telah dilakukan, dan bahwa bahan yang belum diluluskan tidak digunakan, serta produk yang belum

17 7 diluluskan tidak dijual atau dipasok, sebelum mutunya dinilai dan dinyatakan memenuhi syarat. Selain itu dalam manajemen mutu juga dijelaskan mengenai manajemen risiko mutu yang merupakan suatu proses sistematis untuk melakukan penilaian, pengendalian, dan pengkajian risiko terhadap mutu suatu produk. Hal ini dapat diaplikasikan secara proaktif maupun retrospektif (Badan POM, 2012) Personalia Sumber daya manusia sangat penting dalam pembentukan dan penerapan sistem pemastian mutu yang memuaskan dan pembuatan obat yang benar. Oleh sebab itu, industri farmasi bertanggung jawab untuk menyediakan personil yang terkualifikasi dalam jumlah yang memadai untuk melaksanakan semua tugas. Tiap personil hendaklah memahami tanggung jawab masing-masing dan dicatat. Seluruh personil hendaklah memahami prinsip CPOB serta memperoleh pelatihan awal dan berkesinambungan, termasuk instruksi mengenai higiene yang berkaitan dengan pekerjaannya. Industri farmasi hendaklah memiliki personil yang terkualifikasi dan berpengalaman praktis dalam jumlah yang memadai. Tiap personil hendaklah tidak dibebani tanggung jawab yang berlebihan untuk menghindarkan risiko terhadap mutu obat. Industri farmasi harus memiliki struktur organisasi. Tugas spesifik dan kewenangan dari personil pada posisi penanggung jawab hendaklah dicantumkan dalam uraian tugas tertulis. Tugas mereka boleh didelegasikan kepada wakil yang ditunjuk serta mempunyai tingkat kualifikasi yang memadai. Hendaklah aspek penerapan CPOB tidak ada yang terlewatkan ataupun tumpang tindih dalam tanggung jawab yang tercantum pada uraian tugas. Personil kunci dalam industri farmasi terdiri dari kepala bagian produksi, kepala bagian pengawas mutu, dan kepala bagian manajemen mutu. Posisi personil kunci dalam industri farmasi dirancang sedemikian rupa sehingga bagian produksi dan bagian pengawasan mutu, maupun bagian manajemen mutu dipimpin oleh orang yang berlainan, yang tidak saling bertanggung jawab satu terhadap yang lain (independen). Masing-masing hendaklah diberi wewenang penuh dan sarana cukup yang diperlukan untuk dapat melaksanakan tugasnya secara efektif. Personil kunci tidak boleh mempunyai kepentingan lain di luar

18 8 organisasi pabrik, yang dapat menghambat atau membatasi tanggung jawabnya atau yang dapat menimbulkan pertentangan kepentingan pribadi atau finansial. Kepala bagian produksi, pengawasan mutu, dan manajemen mutu hendaklah seorang apoteker yang terdaftar dan terkualifikasi, memperoleh pelatihan yang sesuai, memiliki pengalaman praktis yang memadai dalam bidang pembuatan obat, dan keterampilan manajerial sehingga memungkinkan untuk melaksanakan tugasnya secara profesional. Masing-masing kepala bagian produksi, pengawasan mutu, dan manajemen mutu (pemastian mutu) memiliki tanggung jawab bersama dalam menerapkan semua aspek yang berkaitan dengan mutu, yang berdasarkan peraturan Badan POM mencakup: a. Otorisasi prosedur tertulis dan dokumen lain, termasuk amandemen. b. Pemantauan dan pengendalian lingkungan pembuatan obat. c. Higiene pabrik. d. Validasi proses. e. Pelatihan. f. Persetujuan dan pemantauan terhadap pemasok bahan. g. Persetujuan dan pemantauan terhadap pembuat obat berdasarkan kontrak. h. Penetapan dan pemantauan kondisi penyimpanan bahan dan produk. i. Penyimpanan catatan. j. Pemantauan pemenuhan terhadap persyaratan CPOB. k. Inspeksi, penyelidikan, dan pengambilan sampel untuk pemantauan faktor yang mungkin berdampak terhadap mutu produk (Badan POM, 2012) Bangunan dan fasilitas Bangunan dan fasilitas untuk pembuatan obat harus memiliki desain, konstruksi dan letak yang memadai, disesuaikan kondisinya, dan dirawat dengan baik untuk memudahkan pelaksanaan operasi yang benar. Tata letak dan desain ruangan harus dibuat sedemikian rupa untuk memperkecil risiko terjadi kekeliruan, pencemaran silang dan kesalahan lain, serta memudahkan pembersihan, sanitasi, dan perawatan yang efektif untuk menghindarkan pencemaran silang, penumpukan debu atau kotoran, dan dampak lain yang dapat menurunkan mutu obat.

19 9 Letak bangunan hendaklah sedemikian rupa untuk menghindarkan pencemaran dari lingkungan sekelilingnya, seperti pencemaran dari udara, tanah, dan air, serta dari kegiatan industri lain yang berdekatan. Apabila letak bangunan tidak sesuai, hendaklah diambil tindakan pencegahan yang efektif terhadap pencemaran tersebut. Bangunan dan fasilitas hendaklah didesain, dikonstruksi, dilengkapi, dan dirawat sedemikian agar memperoleh perlindungan maksimal terhadap pengaruh cuaca, banjir, rembesan dari tanah, serta masuk dan bersarang serangga, burung, binatang pengerat, kutu, atau hewan lain. Hendaklah tersedia prosedur untuk pengendalian binatang pengerat dan hama. Seluruh bangunan dan fasilitas termasuk area produksi, laboratorium, area penyimpanan, koridor, dan lingkungan sekeliling bangunan hendaklah dirawat dalam kondisi bersih dan rapi. Kondisi bangunan hendaklah ditinjau secara teratur dan diperbaiki bila perlu. Perbaikan dan perawatan bangunan dan fasilitas hendaklah dilakukan hati-hati agar kegiatan tersebut tidak memengaruhi mutu obat pasokan. Adapun kegiatan-kegiatan yang hendaknya dilakukan di area yang ditentukan antara lain penerimaan bahan, karantina barang masuk, penyimpanan bahan awal dan bahan pengemas, penimbangan dan penyerahan bahan atau produk, pengolahan, pencucian peralatan, penyimpanan peralatan, penyimpanan produk ruahan, pengemasan, karantina produk jadi sebelum memperoleh pelulusan akhir, pengiriman produk, dan laboratorium pengawasan mutu (Badan POM, 2012) Peralatan Peralatan untuk pembuatan obat hendaklah memiliki desain dan konstruksi yang tepat, ukuran yang memadai, serta ditempatkan dan dikualifikasi dengan tepat, agar mutu obat terjamin sesuai desain serta seragam dari bets ke bets, dan untuk memudahkan pembersihan serta perawatan agar dapat mencegah kontaminasi silang, penumpukan debu atau kotoran, dan hal-hal yang umumnya berdampak buruk pada mutu produk.

20 10 Pada prinsipnya pengadaan peralatan harus mempertimbangkan apakah sesuai dengan penggunaan dengan produksi atau pengujian obat dan apakah terbuat dari material yang memenuhi syarat dan aman dalam penggunaannya. Permukaan peralatan yang bersentuhan dengan bahan awal, produk antara, atau produk jadi tidak boleh menimbulkan reaksi, adisi, atau absorbsi yang dapat memengaruhi identitas, mutu, atau kemurnian di luar batas yang ditentukan. Peralatan hendaklah didesain sedemikian rupa agar mudah dibersihkan. Peralatan tersebut hendaklah dibersihkan sesuai prosedur tertulis yang rinci serta disimpan dalam keadaan bersih dan kering. Peralatan pencucian dan pembersihan hendaklah dipilih dan digunakan agar tidak menjadi sumber pencemaran. Peralatan untuk mengukur, menimbang, mencatat, dan mengendalikan hendaklah dikalibrasi dan diperiksa pada interval waktu tertentu dengan metode yang ditetapkan. Catatan yang memadai dari pengujian tersebut hendaklah disimpan. Filter cairan yang digunakan untuk proses produksi hendaklah tidak melepaskan serat ke dalam produk. Filter yang mengandung asbes tidak boleh digunakan walaupun sesudahnya disaring kembali menggunakan filter khusus yang tidak melepaskan serat. Pipa air suling, air deionisasi, dan bila perlu pipa air lain untuk produksi hendaklah disanitasi sesuai prosedur tertulis. Prosedur tersebut hendaklah berisi rincian batas cemaran mikroba dan tindakan yang harus dilakukan (Badan POM, 2012) Sanitasi dan higiene Tingkat sanitasi dan higiene yang tinggi hendaklah diterapkan pada setiap aspek pembuatan obat. Ruang lingkup sanitasi dan higiene meliputi personil, bangunan, peralatan dan perlengkapan, bahan produksi serta wadahnya, bahan pembersih dan desinfeksi, serta segala sesuatu yang dapat merupakan sumber pencemaran produk. Sumber pencemaran potensial hendaklah dihilangkan melalui suatu program sanitasi dan higiene yang menyeluruh dan terpadu. Program higiene yang rinci hendaklah dibuat dan diadaptasikan terhadap berbagai kebutuhan di dalam area pembuatan. Program tersebut hendaklah

21 11 mencakup prosedur yang berkaitan dengan kesehatan, praktik higiene, dan pakaian pelindung personil. Prosedur hendaklah dipahami dan dipatuhi secara ketat oleh setiap personil yang bertugas di area produksi dan pengawasan. Program higiene hendaklah dipromosikan oleh manajemen dan dibahas secara luas selama sesi pelatihan. Semua personil hendaklah menerapkan higiene perorangan yang baik. Hendaklah mereka dilatih mengenai penerapan higiene perorangan. Semua personil yang berhubungan dengan proses pembuatan hendaklah memerhatikan tingkat higiene perorangan yang tinggi. Bangunan yang digunakan untuk pembuatan obat hendaklah didesain dan dikonstruksi dengan tepat untuk memudahkan sanitasi yang baik.hendaklah ada prosedur tertulis yang menunjukkan penanggung jawab untuk sanitasi serta menguraikan dengan cukup rinci mengenai jadwal, metode, peralatan, dan bahan pembersih yang harus digunakan untuk pembersihan sarana dan bangunan. Prosedur tertulis terkait hendaklah dipatuhi. Segala praktek tidak higienis di area pembuatan atau area lain yang dapat berdampak merugikan terhadap mutu produk, hendaklah dilarang. Prosedur sanitasi dan higiene hendaklah divalidasi dan dievaluasi secara berkala agar cukup efektif dan selalu memenuhi persyaratan (Badan POM, 2012) Produksi Produksi hendaklah dilaksanakan dengan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan dan memenuhi ketentuan CPOB yang menjamin senantiasa menghasilkan produk yang memenuhi persyaratan mutu serta memenuhi ketentuan izin pembuatan dan izin edar. Adapun aspek produksi yang diatur pada CPOB meliputi: a. Bahan awal Pembelian bahan awal hendaklah hanya dari pemasok yang telah disetujui dan memenuhi spesifikasi yang relevan dan bila memungkinkan, langsung dari produsen. Pada tiap penerimaan hendaklah dilakukan pemeriksaan visual tentang kondisi umum, keutuhan wadah dan segelnya, ceceran, dan kemungkinan adanya kerusakan bahan dan tentang kesesuaian catatan

22 12 pengiriman dengan label dari pemasok. Bahan awal yang diterima hendaklah dikarantina sampai disetujui dan diluluskan untuk pemakaian oleh kepala bagian pengawasan mutu. Label yang menunjukkan status bahan awal hendaklah ditempelkan hanya oleh personil yang ditunjuk oleh kepala bagian pengawasan mutu. b. Validasi proses Perubahan signifikan terhadap proses pembuatan termasuk perubahan peralatan atau bahan yang dapat memengaruhi mutu produk dan atau reprodusibilitas proses hendaklah divalidasi. c. Pencegahan pencemaran silang Risiko pencemaran silang ini dapat timbul akibat tidak terkendalinya debu, gas, uap, percikan, atau organisme dari bahan atau produk yang sedang diproses, juga dari sisa yang tertinggal pada alat dan pakaian kerja operator. Tingkat risiko pencemaran ini tergantung dari jenis pencemar dan produk yang tercemar. Di antara pencemar yang paling berbahaya adalah bahan yang dapat menimbulkan sensitisasi kuat, preparat biologis yang mengandung mikroba hidup, hormon tertentu, bahan sitotoksik, dan bahan lain berpotensi tinggi. Produk yang paling terpengaruh oleh pencemaran adalah sediaan parenteral, sediaan yang diberikan dalam dosis besar, dan atau sediaan yang diberikan dalam jangka waktu yang panjang. d. Sistem penomoran bets/ lot Hendaklah tersedia sistem yang menjelaskan secara rinci penomoran bets/ lot dengan tujuan untuk memastikan bahwa tiap bets/ lot produk antara, produk ruahan, atau produk jadi dapat diidentifikasi. e. Penimbangan dan penyerahan Penimbangan atau penghitungan dan penyerahan bahan awal, bahan pengemas, produk antara, dan produk ruahan dianggap sebagai bagian dari siklus produksi dan memerlukan dokumentasi serta rekonsiliasi yang lengkap. f. Pengembalian Semua bahan awal, bahan pengemas, produk antara, dan produk ruahan yang dikembalikan ke gudang penyimpanan hendaklah didokumentasikan dengan benar dan direkonsiliasi.

23 13 g. Operasi pengolahan produk antara dan produk ruahan Semua kegiatan pengolahan hendaklah dilaksanakan mengikuti prosedur yang tertulis. Tiap penyimpangan hendaklah dipertanggungjawabkan dan dilaporkan. h. Bahan dan produk kering Untuk mengatasi masalah pengendalian debu dan pencemaran silang yang terjadi pada saat penanganan bahan dan produk kering, perhatian khusus hendaklah diberikan pada desain, pemeliharaan, serta penggunaan sarana dan peralatan. Apabila layak, hendaklah dipakai sistem pembuatan tertutup atau metode lain yang sesuai. i. Produk cair, krim, dan salep (nonsteril) Produk cair, krim, dan salep mudah terkena kontaminasi terutama terhadap mikroba atau cemaran lain selama proses pembuatan. Oleh karena itu, tindakan khusus harus diambil untuk mencegah kontaminasi. Untuk melindungi produk terhadap kontaminasi disarankan memakai sistem tertutup untuk pengolahan dan transfer. j. Bahan pengemas Pengadaan, penanganan, dan pengawasan bahan pengemas primer dan bahan pengemas cetak serta bahan cetak lain hendaklah diberi perhatian yang sama seperti terhadap bahan awal. Tiap penerimaan atau tiap bets bahan pengemas primer hendaklah diberi nomor yang spesifik atau penandaan yang menunjukkan identitasnya. k. Kegiatan pengemasan Kegiatan pengemasan berfungsi membagi dan mengemas produk ruahan menjadi produk jadi. Pengemasan hendaklah dilaksanakan di bawah pengendalian yang ketat untuk menjaga identitas, keutuhan, dan mutu produk akhir yang dikemas. l. Pengawasan selama proses Untuk memastikan keseragaman bets dan keutuhan obat, prosedur tertulis yang menjelaskan pengambilan sampel, pengujian, atau pemeriksaan yang harus dilakukan selama proses dari tiap bets produk hendaklah dilaksanakan sesuai dengan metode yang telah disetujui oleh kepala bagian manajemen mutu

24 14 (pemastian mutu) dan hasilnya dicatat. Pengawasan tersebut dimaksudkan untuk memantau hasil dan memvalidasi kinerja dari proses produksi yang mungkin menjadi penyebab variasi karakteristik produk dalam proses. m. Bahan dan produk yang ditolak, dipulihkan, dan dikembalikan Bahan dan produk yang ditolak hendaklah diberi penandaan yang jelas dan disimpan terpisah di area terlarang (restricted area). Bahan atau produk tersebut hendaklah dikembalikan kepada pemasoknya atau bila dianggap perlu, diolah ulang atau dimusnahkan. Langkah apa pun yang diambil hendaklah terlebih dahulu disetujui oleh kepala bagian manajemen mutu (pemastian mutu) dan dicatat. n. Karantina dan penyerahan produk jadi Karantina produk jadi merupakan tahap akhir pengendalian sebelum penyerahan ke gudang dan siap untuk didistribusikan. Sebelum diluluskan untuk diserahkan ke gudang, pengawasan yang ketat hendaklah dilaksanakan untuk memastikan produk dan catatan pengemasan bets memenuhi semua spesifikasi yang ditentukan. o. Catatan pengendalian pengiriman obat Sistem distribusi hendaklah didesain sedemikian rupa untuk memastikan produk yang pertama masuk didistribusikan lebih dahulu. Penyimpangan terhadap konsep first-in first-out (FIFO) atau first-expire first-out (FEFO) hendaklah hanya diperbolehkan untuk jangka waktu yang pendek dan hanya atas persetujuan manajemen yang bertanggung jawab. p. Penyimpanan bahan awal, bahan pengemas, produk antara, produk ruahan, dan produk jadi Semua bahan dan produk hendaklah disimpan secara rapi dan teratur untuk mencegah risiko kecampurbauran atau pencemaran serta memudahkan pemeriksaan dan pemeliharaan. Bahan dan produk hendaklah disimpan dengan kondisi lingkungan yang sesuai. Penyimpanan yang memerlukan kondisi khusus hendaklah disediakan. Kondisi penyimpanan obat dan bahan hendaklah sesuai dengan yang tertera pada penandaan berdasarkan hasil uji stabilitas (Badan POM, 2012).

25 Pengawasan mutu Pengawasan mutu merupakan bagian yang esensial dari CPOB untuk memberikan kepastian bahwa produk secara konsisten mempunyai mutu yang sesuai dengan tujuan penggunaannya. Pengawasan mutu tidak terbatas pada kegiatan laboratorium, tetapi juga harus terlibat dalam semua keputusan yang terkait dengan mutu produk. Pengawasan mutu hendaklah mencakup semua kegiatan analisis yang dilakukan di laboratorium, termasuk pengambilan sampel, pemeriksaan, dan pengujian bahan awal, produk antara, produk ruahan, dan produk jadi. Kegiatan ini mencakup juga uji stabilitas, program pemantauan lingkungan, pengujian yang dilakukan dalam rangka validasi, menyusun dan memperbarui spesifikasi bahan dan produk, serta metode pengujiannya (Badan POM, 2012) Inspeksi diri, audit mutu, serta audit dan persetujuan pemasok Tujuan inspeksi diri adalah untuk mengevaluasi apakah semua aspek produksi dan pengawasan mutu industri farmasi memenuhi ketentuan CPOB. Program inspeksi diri hendaklah dirancang untuk mendeteksi kelemahan dalam pelaksanaan CPOB dan untuk menetapkan tindakan perbaikan yang diperlukan. Inspeksi diri hendaklah dilakukan secara independen dan rinci oleh petugas yang kompeten dari perusahaan yang dapat mengevaluasi penerapan CPOB secara objektif. Inspeksi diri hendaklah dilakukan secara rutin, di samping itu, pada situasi khusus, misalnya dalam hal terjadi penarikan kembali obat jadi atau terjadi penolakan yang berulang. Semua saran untuk tindakan perbaikan supaya dilaksanakan. Prosedur dan catatan inspeksi diri hendaklah didokumentasikan dan dibuat program tindak lanjut yang efektif. Audit mutu berguna sebagai pelengkap inspeksi diri. Audit mutu meliputi pemeriksaan dan penilaian semua atau sebagian dari sistem manajemen mutu dengan tujuan spesifik untuk meningkatkannya. Audit mutu umumnya dilaksanakan oleh spesialis dari luar, independen, atau suatu tim yang dibentuk khusus, untuk hal ini oleh manajemen perusahaan.

26 16 Kepala bagian manajemen mutu (pemastian mutu) hendaklah bertanggung jawab bersama bagian lain yang terkait untuk memberi persetujuan pemasok yang dapat diandalkan memasok bahan awal dan bahan pengemas yang memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan. Jika audit diperlukan, audit tersebut hendaklah menetapkan kemampuan pemasok dalam pemenuhan standar CPOB (Badan POM, 2012) Penanganan keluhan terhadap produk dan penarikan kembali produk Semua keluhan dan informasi lain yang berkaitan dengan kemungkinan terjadi kerusakan obat harus dikaji dengan teliti, sesuai dengan prosedur tertulis. Untuk menangani semua kasus yang mendesak, hendaklah disusun suatu sistem, bila perlu mencakup penarikan kembali produk yang diketahui atau diduga cacat dari peredaran secara cepat dan efektif. Semua keluhan dan laporan keluhan hendaklah diteliti dan dievaluasi dengan cermat, kemudian diambil tindak lanjut yang sesuai dan dibuatkan laporan. Tindakan penarikan kembali dilakukan segera setelah diketahui ada produk yang cacat mutu atau diterima laporan mengenai reaksi yang merugikan. Produk kembalian adalah obat jadi yang telah beredar, yang kemudian dikembalikan ke pabrik karena adanya keluhan, kerusakan, kadaluwarsa, masalah keabsahan, atau sebab lain mengenai kondisi obat, wadah, atau kemasan sehingga menimbulkan keraguan akan keamanan, identitas, mutu, dan jumlah obat yang bersangkutan. Pabrik hendaklah membuat prosedur untuk menahan, menyelidiki, dan menganalisis obat yang dikembalikan serta menetapkan apakah obat tersebut dapat diproses kembali atau harus dimusnahkan (Badan POM, 2012) Dokumentasi Dokumentasi adalah bagian dari sistem informasi manajemen dan dokumentasi yang baik merupakan bagian yang esensial dari pemastian mutu. Dokumentasi yang jelas adalah fundamental untuk memastikan bahwa tiap personil menerima uraian tugas yang relevan secara jelas dan rinci sehingga memperkecil risiko terjadi salah tafsir dan kekeliruan yang biasanya timbul karena hanya mengandalkan komunikasi lisan. Spesifikasi, dokumen produksi induk atau

27 17 formula pembuatan, prosedur, metode dan instruksi, serta laporan dan catatan harus bebas dari kekeliruan dan tersedia secara tertulis. Keterbacaan dokumen adalah sangat penting. Dokumen hendaklah didesain, disiapkan, dikaji, dan didistribusikan dengan cermat. Dokumen hendaklah disetujui, ditandatangani, dan diberi tanggal oleh personil yang sesuai dan diberi wewenang. Dokumen hendaklah dikaji ulang secara berkala dan dijaga agar selalu mutakhir. Bila suatu dokumen direvisi, hendaklah dijalankan suatu sistem untuk menghindarkan penggunaan dokumen yang sudah tidak berlaku secara tidak sengaja (Badan POM, 2012) Pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak Pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak harus dibuat secara benar, disetujui, dan dikendalikan untuk menghindarkan kesalahpahaman yang dapat menyebabkan produk atau pekerjaan dengan mutu yang tidak memuaskan. Kontrak tertulis antara pemberi kontrak dan penerima kontrak harus dibuat secara jelas yang menentukan tanggung jawab dan kewajiban masing-masing pihak. Kontrak harus menyatakan secara jelas prosedur pelulusan tiap bets produk untuk diedarkan yang menjadi tanggung jawab penuh kepala bagian manajemen mutu (pemastian mutu). Semua pengaturan untuk pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak termasuk usul perubahan dalam pengaturan teknis atau pengaturan lain hendaklah sesuai dengan izin edar untuk produk bersangkutan. Kontrak yang dibuat hendaknya mengizinkan pemberi kontrak untuk mengaudit sarana dari penerima kontrak. Dalam hal analisis berdasarkan kontrak, pelulusan akhir harus diberikan oleh kepala bagian manajemen mutu pemberi kontrak (Badan POM, 2012) Kualifikasi dan validasi Seluruh kegiatan validasi hendaklah direncanakan. Unsur utama program validasi hendaklah dirinci dengan jelas dan didokumentasikan di dalam Rencana Induk Validasi (RIV) atau dokumen setara. RIV hendaklah merupakan dokumen yang singkat, tepat, dan jelas. RIV hendaklah mencakup sekurang-kurangnya data sebagai berikut: kebijakan validasi; struktur organisasi kegiatan validasi;

28 18 ringkasan fasilitas, sistem, peralatan dan proses yang akan divalidasi; format dokumen; format protokol dan laporan validasi; perencanaan dan jadwal pelaksanaan; pengendalian perubahan; dan acuan dokumen yang digunakan. Protokol validasi hendaklah merinci langkah kritis dan kriteria penerimaan. Laporan harus dibuat mengacu pada protokol kualifikasi dan atau protokol validasi dan memuat ringkasan hasil yang diperoleh, tanggapan terhadap penyimpangan yang terjadi, kesimpulan, dan rekomendasi perbaikan. Tiap perubahan terhadap rencana yang ditetapkan dalam protokol hendaklah didokumentasikan dengan pertimbangan yang sesuai. Kualifikasi terdiri dari: a. Kualifikasi desain b. Kualifikasi instalasi c. Kualifikasi operasional d. Kualifikasi kinerja. Sedangkan validasi terdiri dari: a. Validasi proses b. Validasi pembersihan c. Validasi metode analisis d. Validasi ulang (Badan POM, 2012). 2.3 ISO Definisi dan sejarah ISO 9001 merupakan model sistem jaminan kualitas dalam desain atau pengembangan, produksi, instalasi, dan pelayanan atau sering disebut dengan istilah Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO Namun ada pula yang mengatakan bahwa ISO 9001 merupakan standar internasional yang mengatur tentang Sistem Manajemen Mutu (Quality Management System). Berdasarkan pengertian tersebut, bisa disimpulkan bahwa ISO 9001 merupakan salah satu dari seri ISO 9000 yang mengatur tentang SMM sehingga ISO 9001 sering disebut dengan SMM ISO ISO 9001 lahir pertama kali pada tahun 1987 yang dikenal dengan nama SMM ISO 9001:1987. Ada tiga versi pilihan implementasi pada seri 1987 ini, yaitu yang menekankan pada aspek quality assurance (QA), aspek QA dan

29 19 produksi, serta quality assurance for testing. Konsentrasi utamanya adalah inspeksi produk di akhir sebuah proses (dikenal dengan final inspection) dan kepatuhan pada aturan prosedur sistem yang harus dipenuhi secara menyeluruh. Perkembangan berikutnya, tahun 1994, karena kebutuhan guaranty quality bukan hanya pada aspek final inspection, tetapi lebih jauh ditekankan perlunya proses preventive action untuk menghindari kesalahan pada proses yang menyebabkan ketidaksesuaian pada produk. Namun demikian, seri 9001:1994 ini masih menganut prosedur sistem yang kaku dan cenderung document centre dibanding kebutuhan organisasi yang disesuaikan dengan proses internal organisasi. Seri 9001:1994 lebih fokus pada proses manufacturing dan sangat sulit diaplikasikan pada organisasi bisnis kecil, karena banyaknya prosedur yang harus dipenuhi. Karena keterbatasan inilah, maka Technical Committee melakukan tinjauan atas standar yang ada, hingga akhirnya lahirlah revisi ISO 9001:2000 yang merupakan penggabungan dari ISO 9001, 9002, dan 9003 versi Pada seri 9001:2000, tidak lagi dikenal 20 klausul wajib, tetapi lebih pada proses bisnis yang terjadi dalam organisasi sehingga organisasi sekecil apapun bisa mengimplementasi SMM ISO 9001:2000 dengan berbagai pengecualian pada proses bisnisnya, maka dikenalah istilah BPM atau Business Process Mapping, di mana setiap organisasi harus memetakan proses bisnisnya dan menjadikannya bagian utama dalam quality manual perusahaan. Walau demikian ISO 9001:2000 masih mewajibkan 6 prosedur yang harus terdokumentasi, yaitu prosedur control of document, control of record, control of non-conforming product, internal audit, corrective action, dan preventive action, yang semuanya bisa dipenuhi oleh organisasi bisnis manapun. Pada perkembangan berikutnya, seri ISO 9001:2008 lahir sebagai bentuk penyempurnaan atas revisi tahun Adapun perbedaan antara seri ISO 9001: 2000 dengan ISO 9001: 2008 secara signifikan lebih menekankan pada efektivitas proses yang dilaksanakan dalam organisasi tersebut. Jika pada seri ISO 9001: 2000 mengatakan harus dilakukan corrective dan preventive action, maka seri ISO 9001: 2008 menetapkan bahwa proses corrective dan preventive action yang dilakukan harus secara efektif berdampak positif pada perubahan proses yang terjadi dalam organisasi. Selain itu, penekanan pada kontrol proses outsourcing

30 20 menjadi bagian yang disoroti dalam seri terbaru ISO 9001 ini. Berdasarkan pemaparan di atas, maka bisa disimpulkan bahwa seri ISO 9001 dalam perkembangannya telah mengalami tiga kali revisi sejak pertama didirikan pada tahun Secara umum tidak ada perubahan signifikan dari revisi tahun 2000 ke tahun 2008, tidak ada penambahan maupun pengurangan klausul di dalamnya (Wahyono, 2013) Klausul ISO 9001 Klausal dalam ISO 9001 antara lain: a. Peran manajemen, terdiri dari tanggung jawab manajemen, sistem mutu, tindakan koreksi dan pencegahan, audit mutu internal, serta pelatihan. b. Pengendalian proses, terdiri dari antara lain pengendalian rancangan (desain), pengendalian dokumen dan data, identifikasi dan mampu telusuri produk, pengendalian proses, penanganan, penyimpanan, pengemasan, pengawetan dan penyerahan, serta pelayanan. c. verifikasi, terdiri dari antara lain inspeksi dan pengujian, pengendalian alat inspeksi, alat ukur dan alat pengujian, status inspeksi dan uji, pengendalian produk yang tidak sesuai, pengendalian mutu, serta teknik statistik. d. Hubungan dengan pihak luar, terdiri dari antara lain tinjauan kontrak, pembelian, dan pengendalian produk pasokan pelanggan (Gunadi, 2008) Definisi mutu menurut ISO 9001:2008 Mutu (quality) adalah derajat yang dicapai oleh karakteristik yang inheren dalam memenuhi persyaratan. Jadi dapat dikatakan bahwa mutu itu bukan hanya berhubungan dengan mutu produk saja, tetapi juga dengan persyaratan lain seperti ketepatan pengiriman, biaya yang rendah, pelayanan yang memuaskan pelanggan, dan bisa dipenuhinya peraturan Pemerintah yang berhubungan dengan produk yang dipasarkan (QIMS, 2010) Manfaat penerapan ISO 9001:2008 a. Menghadapi era perdagangan bebas (AFTA) 2003, perusahaan sebaiknya sudah menerapkan SMM, agar membantu perusahaan dalam meningkatkan

31 21 kepercayaan dan kepuasan pelanggan melalui penyediaan jaminan mutu yang lebih baik. b. Nilai kompetisi dan imej perusahaan semakin meningkat dengan sertifikasi ISO 9001:2008. c. Penerapan ISO 9001:2008 akan meningkatkan produktivitas, efisiensi, efektifitas operasional, dan mengurangi biaya yang ditimbulkan barang cacat (reject) atau barang bermutu rendah dan limbah. d. Membuat sistem kerja dalam suatu perusahaan menjadi standar kerja yang terdokumentasi dan mempunyai aturan kerja yang baik sehingga memudahkan dalam pengendalian. e. Dapat berfungsi sebagai standar kerja untuk melatih karyawan yang baru. f. Menjamin bahwa proses yang dilaksanakan sesuai dengan sistem manajemen mutu yang ditetapkan. g. Akan memudahkan top management dalam pencapaian target, karena sudah dipersiapkannya target yang terukur dan rencana pencapaiannya. h. Meningkatkan semangat dan moral karyawan karena adanya adanya kejelasan tugas dan wewenang (job description) dan hubungan antar bagian yang terkait sehingga karyawan dapat bekerja dengan efisien dan efektif. i. Dapat mengarahkan karyawan agar berwawasan mutu dalam memenuhi permintaan pelanggan, baik internal maupun eksternal (QIMS, 2010).

32 BAB 3 TINJAUAN UMUM PT GALENIUM PHARMASIA LABORATORIES 3.1 Profil Sejarah singkat perusahaan PT Galenium Pharmasia Laboratories (PT GPL) merupakan industri farmasi swasta dalam negeri (PMDN) yang didirikan oleh B.S. Joesoef beserta keluarga pada tahun 1960 yang dahulu bernama PT Nitra. PT Nitra merupakan perusahaan yang bergerak di bidang penjualan obat-obatan. B.S Joesoef dan putranya, Dr Eddy Joesoef memiliki keinginan tidak hanya menjual, tetapi juga memproduksi obat-obatan. Pada tahun 1980, Dr. Eddy Joesoef bersama keluarganya mendirikan perusahaan farmasi yang diberi nama PT Yupharin Pharmaceutical. Selama 10 tahun, PT Yupharin Pharmaceutical mengalami perkembangan pesat menjadi perusahaan farmasi yang modern dan kompetitif. Pada tahun 1990, PT Yupharin Pharmaceutical melakukan restrukturisasi dalam hal operasional dan manajemen. Setahun kemudian, Dr. Eddy Joesoef pensiun dan kedudukannya digantikan oleh puteranya Juzardi Joesoef. Strategi-strategi pengembangan terus dilakukan untuk kemajuan perusahaan. Pada tahun 1994, PT Yupharin Pharmaceutical menempati bangunan pabrik seluas ± 2 hektar di Jalan Raya Bogor Km 51,5 Kedunghalang, Bogor, Jawa Barat. Bangunan tersebut semula ditempati oleh perusahaan farmasi PT Bristol Myers dan kemudian direnovasi sesuai ketentuan CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik). PT Yupharin Pharmaceutical menjadi perusahaan farmasi Indonesia yang pertama memperoleh 3 sertifikat sistem manajemen mutu, yaitu: a. Pada Tahun 1995, mendapatkan Sertifikat CPOB. b. Pada Tahun 2000, mendapatkan Sertifikat ISO 9001:2000. c. Pada Tahun 2001, mendapatkan Sertifikat CPKB. PT Yupharin Pharmaceutical memiliki lebih dari 44 jenis produk yang terbagi atas produk farma dan personel skin care (PSC), di mana produk-produk tersebut kebanyakan berfokus pada pengobatan kulit. Selain karena Dr. Eddy Joesoef adalah dokter spesialis dalam masalah dermatologi di Indonesia yang 22

33 23 beriklim tropis dan kelembapan udara yang tinggi, di mana banyak terdapat masalah-masalah penyakit kulit pada penduduknya sehingga diharapkan produkproduk PT Yupharin Pharmaceutical dapat membantu masalah penyakit kulit tersebut. Pada tanggal 1 Januari 2005 PT Yupharin Pharmaceutical berganti nama menjadi PT Galenium Pharmasia Laboratories (PT Galenium Pharmasia Laboratories, 2011) Visi dan misi perusahaan Visi PT Galenium Pharmasia Laboratories adalah Menjadi perusahaan perawatan kesehatan berkelas dunia yang memiliki daya saing tinggi dalam melayani dan menghasilkan produk bermutu bagi pasar regional Asia. Untuk mencapai visi tersebut, PT Galenium Pharmasia Laboratories menetapkan misi perusahaan, yaitu Menunjang pertumbuhan yang berkesinambungan untuk memberikan hasil usaha yang terbaik kepada para stakeholder dengan menetapkan prinsip-prinsip pengelolaan usaha yang sehat (PT Galenium Pharmasia Laboratories, 2011) Kebijakan mutu perusahaan Adapun kebijakan mutu PT GPL adalah sebagai berikut: a. Masuk peringkat 20 besar dalam kelompok perusahaan farmasi di Indonesia dalam kurun waktu 5 tahun dengan total penjualan terkonsolidasi sebesar Rp 500 Milyar. b. Memperkuat basis pelanggan untuk dapat menjaga kontribusi penjualan sebesar 75% untuk produk-produk personal skin care dan 25% untuk produkproduk farma, melalui manajemen penjualan yang efektif dan peningkatan ekspor ke 10 negara di Asia dan Timur Tengah dalam 5 tahun mendatang. c. Meningkatkan kemampuan dalam proses manajemen pelanggan untuk meningkatkan kesadaran dan kepuasan pelanggan dan membangun infrastuktur di bidang distribusi pendamping untuk meningkatkan persediaan dan penyebaran setiap produk di setiap wilayah.

34 24 d. Memberdayakan ICT (IT) yang dapat mendukung usaha disetiap divisi maupun distribusi untuk meningkatkan kecepatan dalam proses administrasi serta kemampuan aksesnya. e. Meningkatkan fasilitas pabrik agar sesuai dengan persyaratan cgmp (untuk HVAC dan sistem pengolahan air murni). f. Meningkatkan manajemen produksi untuk mencapai biaya produk dan biaya persediaan yang lebih rendah serta membangun kerjasama dengan perusahaan multinasional agar memperoleh pengalihan teknologi dan pengetahuan, guna pengembangan usaha. g. Menerapkan praktek-praktek human resource kelas dunia yang dapat mendorong mutu dan inovasi untuk memperoleh SDM yang memiliki keahlian dan kinerja yang baik untuk menjaga retensi karyawan. h. Memberdayakan sistem kontrol internal guna mendapatkan pelaksanaan proses-proses di tempat kerja yang terbaik dan rendah biaya (PT Galenium Pharmasia Laboratories, 2011) Logo Gambar 3.1. Logo PT Galenium Pharmasia Laboratories Logo PT Galenium Pharmasia Laboratories (PT GPL) terdiri dari dua bagian, yaitu 4 helai daun dan tubuh manusia. Daun dan tubuh manusia ini mencerminkan bahwa PT GPL mengambil bahan-bahan baku dari alam untuk membuat berbagai macam produk yang bermanfaat untuk kesehatan manusia (PT Galenium Pharmasia Laboratories, 2011). 3.2 Fungsi dasar Fungsi dasar dari PT GPL adalah penjualan/ pemasaran, dan pembuatan produk. Produk yang dihasilkan harus bermutu, tepat waktu, dengan biaya yang

35 25 rasional sehingga mampu bersaing. Selain itu, produksi harus dapat mengamankan tersedianya produk di pasaran (secure supply) sehingga mampu mendukung bagian pemasaran. Suatu produk dapat bersaing ketika produk tersebut memiliki: a. Perbedaan, di mana PT GPL selalu membuat inovasi produk untuk dapat menjawab kebutuhan pasar, diantaranya dengan membuat produk yang inovatif. b. Manfaat nyata, di mana masyarakat telah lama mengenal dan menggunakan produk-produk PT GPL yang terbukti berkhasiat dan dirasakan manfaatnya. c. Alasan produk tersebut dapat dipercaya oleh konsumen, di mana PT GPL telah mendapatkan sertifkat CPOB, CPKB, ISO 9001:2008, yang menjamin bahwa produk-produk yang dihasilkan mempunyai kualitas yang baik sehingga tidak diragukan lagi khasiat dan keamanannya (PT Galenium Pharmasia Laboratories, 2011). 3.3 Lokasi dan bangunan Pabrik PT GPL berlokasi di Jalan Raya Jakarta-Bogor Km. 51,5, Kedunghalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menempati lahan seluas 2 hektar. Sedangkan kantor pusatnya (head office) berada di Jalan Adityawarman No. 67, Kebayoran Baru, Jakarta. Bangunan pabrik PT GPL terdiri dari: a. Gedung GPL 1, merupakan fasilitas produksi farma dan bedak, ruang quality assurance (QA), technical support (TS), supply chain (SC), laboratorium quality control (QC), serta gudang bahan baku dan bahan kemas. b. Gedung GPL 2, merupakan gudang produk jadi, ruang kerja general affair (GA) dan business development (BD), serta masjid. c. Fasilitas produksi dan kemas sabun. d. Fasilitas produksi dan kemas sabun liquid. e. Fasilitas research and development (RD). f. Fasilitas engineering. g. Fasilitas instalasi pengolahan air limbah/ IPAL ( PT Galenium Pharmasia Laboratories, 2011).

36 Produk Sampai awal tahun 2013 ini, PT GPL telah memproduksi sediaan obat dan kosmetik dengan total 117 jenis produk, yang terdiri dari 70 jenis produk farma dan 47 jenis produk kosmetik (PSC). 70 jenis produk farma tersebut dibagi ke dalam dua golongan, yaitu 52 jenis produk ethical dan 18 jenis produk OTC. Adapun jenis produk ethical tersebut (Tabel 3.2) antara lain Acne Feldin Lotion, Bioderm, Pyravit, dan Trichol Kapsul. Sedangkan jenis produk OTC (Tabel 3.3) antara lain Cartiflex, Glimunos, Laxadine, dan Mycorine. Adapun jenis produk PSC (Tabel 3.4), beberapa diantaranya telah menjadi topbrand, antara lain Caladine Powder, Caladine Lotion, Caladine Baby, JF Sulfur, JF Wetwipes, Belsoap, dan Oilum. 3.5 Struktur organisasi Dalam menjalankan tugas hariannya, PT Galenium Pharmasia Laboratories dipimpin oleh seorang Direktur yang membawahi langsung Corporate Legal Manager, Corporate Compliance Manager, International Trading Manager, Group Accounting Manager, Quality Management Representative, Sales and Marketing Manager, General Manager Finance and Administration, Business Development Manager, dan General Manager Operation and Human Resource (PT Galenium Pharmasia Laboratories, 2012a). Struktur organisasi untuk PT GPL terdapat di dalam Lampiran Departemen quality operation (QO) Departemen ini membawahi empat bagian, yaitu quality control (QC), quality assurance (QA), technical support (TS), dan health, safety, and environment (HSE). Quality operation dipimpin oleh seorang deputy of quality operations yang membawahi empat orang manajer, manajer QC, manajer QA, manajer TS, dan manajer HSE. Secara umum bagian ini bertanggung jawab terhadap pemastian dan pengawasan mutu produk PT GPL.

37 Bagian quality assurance (QA) Bagian QA di PT GPL dipimpin oleh seorang manajer QA. Adapun tugas dan tanggung jawab dari bagian QA adalah sebagai berikut. a. Menyusun, mereview, dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kualifikasi, seperti kualifikasi pada bangunan, peralatan, dan sistem HVAC (tanggung jawab manajer QA). b. Melakukan pemantauan lingkungan kerja. c. Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan berbagai pengujian, seperti pengujian Integrity Leak Test HEPA Filter, pengujian perbedaan tekanan pada AHS, pengujian kecepatan aliran udara yang keluar dari HEPA filter, serta pengujian suhu dan kelembapan. d. Bertanggung jawab terhadap pengambilan sampel, baik produk antara, produk ruahan, ataupun produk jadi. e. Bertanggung jawab terhadap penandaan produk jadi dan produk retur serta kodifikasi bahan pengemas farma. f. Bertanggung jawab dalam pelaksanaan IPC (in process control). g. Bertanggung jawab dalam pemeriksaan catatan bets. h. Bertanggung jawab dalam trend analysis hasil pengujian. i. Bertanggung jawab dalam pengkajian tahunan produk (PTP). j. Mengadakan pelatihan CPOB dan CPKB bagi seluruh personil pabrik. k. Mengawasi penerapan higiene perorangan dan penyerahan barang (yang tidak sesuai spesifikasi) untuk dimusnahkan. l. Melakukan penilaian terhadap toll manufacture. m. Bertanggung jawab dalam pelaksanaan inspeksi diri dan pengkajian risiko. n. Bertanggung jawab dalam pelaksanaan validasi pembersihan. o. Melakukan evaluasi terhadap produk jadi (yang diduga rusak atau tidak memenuhi spesifikasi) akibat insiden internal (PT Galenium Pharmasia Laboratories, 2012b) Bagian quality control (QC) Bagian QC di PT GPL dipimpin oleh seorang manajer QC. Adapun tugas dan tanggung jawab dari bagian QC adalah sebagai berikut.

38 28 a. Menyusun dan merevisi prosedur pengawasan mutu dan spesifikasi. b. Menyiapkan prosedur tertulis yang rinci untuk melakukan seluruh pemeriksaan, pengujian, dan analisis. c. Menyusun program dan prosedur pengambilan sampel secara tertulis. d. Menyusun dan melaksanakan program validasi metode analisis. e. Menyiapkan baku pembanding sekunder sesuai dengan prosedur pengujian yang berlaku dan menyimpan baku pembanding tersebut pada kondisi yang tepat. f. Ikut serta dalam program inspeksi diri bersama dengan bagian/ departemen lain dari perusahaan (PT Galenium Pharmasia Laboratories, 2012b) Bagian technical support (TS) Bagian TS di PT GPL dipimpin oleh seorang manajer TS. Adapun tugas dan tanggung jawab dari bagian TS adalah sebagai berikut. a. Melakukan kualifikasi alat dan mesin yang digunakan, seperti oven dan inkubator. b. Melakukan kalibrasi alat dan mesin yang digunakan, seperti termometer, timbangan, magnehelic, dan HPLC. c. Melakukan verifikasi terhadap hasil kalibrasi. d. Melakukan validasi proses produk eksisting atau produk yang sudah beredar (PT Galenium Pharmasia Laboratories, 2012b) Departemen produksi farma Produksi farma di PT GPL dipimpin oleh seorang production pharma manager yang membawahi seorang production pharmacist, process review and improvement supervisor, semisolid production supervisor, solid and liquid production supervisor, dan pharma packaging supervisor (PT Galenium Pharmasia Laboratories, 2013a). Struktur organisasi bagian produksi farma terdapat di dalam Lampiran 2.

39 Tugas manajer produksi farma Manajer produksi farma di PT GPL bertanggung jawab atas kegiatan proses produksi dari penggunaan mesin produksi serta menjamin pelaksanaan sesuai prosedur yang sudah ditetapkan oleh perusahaan dan memenuhi ketentuan CPOB dan CPKB. Adapun rincian tugasnya adalah sebagai berikut: a. Mengawasi atau mengontrol ketersediaan produk dan pelaksanaan produksi agar dapat memenuhi permintaan atau kebutuhan dan dilakukan sesuai prosedur yang sudah ditetapkan perusahaan, dengan cara: 1) Melakukan koordinasi secara informal dengan bagian pemasaran untuk menjamin ketersediaan produk. 2) Menyusun dan melakukan revisi target mingguan bersama dengan supply chain (SC). 3) Mengawasi atau mengontrol pelaksanaan produksi agar dapat memenuhi permintaan dari SC. 4) Mengusahakan tercapainya target dari SC 100% yang sudah dalam proses BBM (bukti barang masuk). 5) Memberi informasi kepada SC mengenai produk-produk yang bermasalah atau tidak sesuai dengan spesifikasi. 6) Mengajukan permintaan dan tambahan bahan baku atau bahan kemas terhadap produk yang akan dibuat sesuai target dari SC pada bagian gudang. 7) Menjaga rendemen terhadap produk yang ada (98-102%). 8) Memeriksa catatan pembuatan dan pengemasan produk agar dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan. 9) Mengawasi atau mengontrol pemusnahan bahan kemas yang sudah tidak layak pakai. 10) Menjaga sanitasi ruangan (grey area) yang diperiksa bagian QC. 11) Berkoordinasi dengan bagian engineering untuk mengajukan perbaikan atau renovasi ruang produksi. 12) Mengawasi atau mengontrol validasi dan penggunaan mesin produksi agar dipergunakan dengan benar serta memenuhi ketentuan CPOB dan CPKB. 13) Mengajukan permintaan mesin-mesin baru apabila diperlukan.

40 30 14) Melakukan pertemuan rutin mingguan dengan departemen terkait. 15) Memberikan persetujuan secara informal dan membuat laporan kepada bagian purchasing apabila mesin yang diminta sudah sesuai dengan spesifikasi. 16) Memberikan persetujuan terhadap WO (work Order) yang dibuat oleh staf produksi untuk diserahkan ke bagian engineering. b. Memberikan masukan berkaitan dengan proses produksi untuk meningkatkan kualitas produk dalam rangka memberikan suatu kepuasan terhadap pelanggan, dengan cara: 1) Melakukan koordinasi dengan departemen terkait dalam pelaksanaan trial atau validasi produk 2) Melakukan koordinasi dengan departemen terkait sehubungan dengan persiapan launching produk baru. 3) Memberikan masukan mengenai produk atau formula yang tidak baik atau gagal. 4) Mengajukan permintaan perubahan mould (misalnya mengubah desain botol) 5) Melakukan kunjungan atau survey bersama bagian engineering ke pabrik lain untuk melihat mesin-mesin produksi yang akan dipergunakan. 6) Mengajukan obyektif dan rencana atau sasaran mutu serta menyusun anggaran tahunan untuk mendukung tercapainya obyektif perusahaan. c. Bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan produksi di perusahaan agar memenuhi target yang sudah ditetapkan oleh perusahaan. d. Meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan bawahan untuk mendukung kegiatan operasional dan pencapaian target yang sudah ditetapkan perusahaan, dengan cara: 1) Mengajukan usulan pelatihan untuk bawahan kepada HRD. 2) Melakukan evaluasi terhadap kinerja bawahan. 3) Mengajukan penambahan karyawan dan ikut serta dalam proses seleksi calon karyawan baru. e. Bertanggung jawab untuk melakukan suatu efisiensi dan inovasi terhadap proses produksi.

41 31 f. Memberikan persetujuan untuk permintaan ATK dan alat produksi yang lain (PT Galenium Pharmasia Laboratories, 2012c) Instruksi kerja (IK) di bagian produksi Instruksi kerja di bagian produksi PT GPL memiliki tujuan menjamin semua kegiatan yang berada di lingkungan produksi dilakukan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Beberapa instruksi kerja yang berada di lingkungan produksi diantaranya: a. IK alur keluar masuk karyawan ke produksi black area/ kelas F. b. IK alur keluar masuk tamu ke produksi black area/ kelas F. c. IK alur keluar masuk karyawan ke produksi grey area/ kelas E umum. d. IK alur keluar masuk tamu ke produksi grey area/ kelas E umum. e. IK sanitasi ruangan grey area. f. IK penomoran catatan bets (batch record). g. IK tata cara mencuci tangan. h. IK pemakaian dan pembersihan peralatan dan mesin produksi. i. IK penimbangan bahan baku (PT Galenium Pharmasia Laboratories, 2012d) Aliran proses produksi Aliran proses produksi di PT GPL adalah sebagai berikut: a. Departemen produksi menerima rencana produksi bulanan (RPB), target suplai produk jadi (TSPJ) dan lampiran kesiapan bahan baku (BB) dan bahan pengemas (BP) dari bagian supply chain (SC). b. Departemen produksi, QA, QC, R&D, SC, TS, dan engineering membuat rencana produksi mingguan (RPM) berdasarkan RPB, inter office memo (IOM), dan TSPJ. c. Bagian administrasi produksi mendistribusikan RPM yang telah disahkan ke bagian/ departemen terkait. d. Bagian administrasi produksi meminta batch record (BR) ke bagian document control (DC). e. Bagian DC menyerahkan BR produk regular ke administrasi produksi sesuai rencana target mingguan.

42 32 f. Jika serah terima sesuai, supervisor produksi atau kemas membuat bon permintaan bahan baku (BPBB) dan bahan pengemas (BPBP). Jika tidak sesuai, administrasi produksi akan menyerahkan kembali ke bagian DC. g. Manajer produksi melakukan pengesahan BPBB/ BPBP. h. Administrasi produksi menyerahkan BPBB/ BPBP ke bagian staf SC. i. Produksi dan gudang melakukan serah terima BPBB/ BPBP. j. Jika telah sesuai, supervisor produksi/ kemas melaksanakan proses produksi sesuai dengan BR masing-masing produk. k. Supervisor produksi, operator, dan inspektur QA melaksanakan in process control (IPC). l. Supervisor/ leader produksi menerima hasil pengujian. m. Jika tidak lulus pengujian (reject/ rework/ repack) masuk ke penanganan penyimpangan. n. Supervisor kemas melaksanakan proses pengemasan sekunder. o. Inspektur QA mengambil sampel pertinggal (retained sample). p. Supervisor/ leader kemas menempelkan produk karantina. q. Supervisor/ leader produksi memeriksa kelengkapan BR sesuai hal yang menjadi tanggung jawab pekerjaannya. r. Jika telah sesuai, supervisor menyerahkan BR untuk diperiksa dan disahkan oleh manajer produksi. s. Setelah disahkan oleh manajer produksi, supervisor/ leader kemas mengisi form bukti barang masuk (BBM) sesuai jumlah barang yang akan dikirim. t. Bagian produksi dan gudang produk jadi (GPJ) melakukan serah terima produk karantina menggunakan form BBM. u. Manajer QA mengevaluasi BR, inspeksi akhir, hasil analisis QC untuk meluluskan atau menolak produk release jual. v. Jika manajer QA menolak, maka BR akan diserahkan kembali ke bagian produksi untuk ditindaklanjuti sesuai prosedur CPOB terkini. Jika hasil analisis yang tidak disetujui, QA menyerahkan ke pihak QC. w. Jika manajer QA setuju, akan diberikan stempel (cap DILULUSKAN) pada lembar form BBM 3 rangkap, lalu diberi tanggal dan paraf untuk release jual.

43 33 x. Staf QA melakukan penempelan label DILULUSKAN pada produk karantina sehingga menjadi produk jadi dan memberikan lembar form BBM 3 rangkap yang telah distempel (cap DILULUSKAN) ke supervisor kemas/ leader produksi. y. Supervisor kemas/ leader produksi mendistribusikan form BBM 3 rangkap yang telah distempel (cap DILULUSKAN) lembar putih untuk bagian gudang, lembar merah untuk bagian keuangan, dan lembar kuning untuk bagian produksi (PT Galenium Pharmasia Laboratories, 2013b). Alur proses produksi untuk berbagai bentuk sediaan dapat dilihat pada Lampiran 3 dan Departemen research and development (R&D) Departemen R&D di PT GPL berada di bawah Departemen business and development (BD) dan bertanggung jawab kepada manajer BD. Departemen R&D dipimpin oleh seorang manajer R&D. Adapun tugas dan tanggung jawab dari departemen ini adalah sebagai berikut. a. Melakukan trial produksi, baik produk baru, maupun produk eksisting. b. Melakukan validasi proses produksi yang baru. c. Melakukan pembuatan master formula. d. Bertanggung jawab dalam pelaksanaan rework produk (PT Galenium Pharmasia Laboratories, 2012b) Departemen supply chain (SC) Departemen SC di PT GPL dipimpin oleh seorang manajer SC yang bertanggung jawab kepada seorang kepala pabrik atau head of factory (Namun, posisi head of factory sedang vacant dan saat ini posisi tersebut dijabat oleh deputy head of factory, yang merangkap juga sebagai pharma production manager). Secara garis besar, tugas dan tanggung jawab dari departemen SC adalah membuat perencanaan kebutuhan material (bahan baku dan bahan kemas), membuat perencanaan produksi, melakukan pembuatan rencana produksi (toll manufacturing) serta melakukan penomoran bets produk (PT Galenium Pharmasia Laboratories, 2012b).

44 34 Departemen SC juga membawahi bagian gudang (warehouse). Gudang di PT GPL dibedakan menjadi gudang bahan baku dan bahan pengemas serta gudang produk jadi. Gudang penyimpanan di PT GPL dalam kondisi penerangan yang cukup baik, serta sudah dilakukan penataan dan dilengkapi sedemikian rupa untuk memungkinkan penyimpanan bahan dan produk dalam keadaan kering, bersih, dan teratur. Daerah penyimpanan sudah melaksanakan pemisahan bahan dan produk yang efektif dan teratur terhadap berbagai kelompok bahan yang disimpan termasuk produk yang dikarantina sehingga memudahkan perputaran persediaan. Bahan disimpan sesuai dengan kriteria: a. Dibedakan menurut bentuk sediaan dan jenisnya. b. Dibedakan menurut suhu dan kestabilannya. c. Disusun berdasarkan FIFO (First in First Out). d. Disusun berdasarkan FEFO (First Expired First Out). e. Berdasarkan sifat mudah tidaknya barang meledak atau terbakar. f. Berdasarkan sifat tahan atau tidaknya bahan terhadap cahaya. Aktivitas yang terjadi di gudang secara umum adalah sebagai berikut: a. Penerimaan bahan baku dan bahan pengemas. b. Salinan purchase order (PO) dari bagian pembelian diterima oleh bagian gudang yang berisi informasi daftar bahan baku atau bahan pengemas yang dipesan kepada supplier. c. Dilakukan pengecekan kesesuaian jenis dan jumlah barang yang dibawa supplier saat barang datang, apakah sesuai dengan PO dan ada tidaknya kerusakan barang tersebut. d. Bagian gudang mencatat barang yang diterima ke dalam log book. e. Jika pesanan tidak sesuai, maka bagian gudang menginformasikan ke pengirim barang dan bagian purchasing perusahaan. Apabila barang dan dokumen sesuai, maka bagian gudang menempatkan barang di area karantina, diberi label bertuliskan KARANTINA. f. Area karantina yang tersedia adalah area yang diberi batas berupa cat di lantai berwarna kuning. g. Dibuat laporan bukti barang masuk (BBM).

45 35 h. Diinformasikan ke bagian QC tentang kedatangan barang sehingga dilakukan pengambilan sampel dan selanjutnya dilakukan pengujian. i. Gudang menerima hasil pengujian DILULUSKAN atau DITOLAK. Barang bisa dipindahkan sesuai status hasil pengujian. j. Barang yang telah dinyatakan DILULUSKAN maka bagian gudang mengisi kartu stok dan mencatatnya dalam log book. k. Laporan harian keluar masuk barang dibuat dan diberikan ke bagian SC untuk didata sebagai keperluan perencanaan selanjutnya. l. Pengeluaran bahan baku dan bahan pengemas. Pengeluaran bahan baku dan bahan pengemas harus sesuai permintaan dari produksi dan harus selalu didokumentasikan. a. Bagian gudang menerima permintaan barang berupa jenis dan jumlahnya dari bagian produksi, lalu memeriksa ketersediaan barang sesuai dengan permintaan. b. Jika barang tersedia, maka supervisor gudang memberikan persetujuan permintaan barang tersebut. c. Jika barang tidak tersedia segera diberitahukan ke bagian produksi. d. Dilakukan pengecekan terhadap barang yang disiapkan dan dilakukan serah terima antara bagian gudang dan produksi di ruang penimbangan. e. Bahan baku ditimbang bersama-sama oleh bagian produksi dan bagian gudang, kemudian bagian gudang mencatat pengeluaran barang dalam kartu stok. Stock opname bertujuan untuk memastikan ketersediaan bahan dan kesesuaiannya dengan laporan, meyakinkan bahwa wadahnya tertutup rapat, diberi tanda yang benar, dan dalam kondisi yang baik. Setiap bahan awal, produk antara, produk ruahan, dan obat jadi yang disimpan mempunyai kartu persediaan obat (kartu stok). Kartu tersebut senantiasa direkonsialiasi dan jika terdapat penyimpangan dicatat, disertai penjelasannya. Stock opname dilakukan setiap satu bulan untuk gudang produk jadi dan setiap tiga bulan untuk gudang bahan baku atau bahan pengemas. Terhadap bahan tersebut dilakukan pengambilan contoh dan uji ulang setiap selang waktu tertentu oleh QC untuk mengetahui apakah bahan masih bisa digunakan sebagaimana disebut dalam spesifikasi bahan awal. Pelaksanaan pengambilan contoh ulang diawali dengan pemasangan label

46 36 PENGUJIAN ULANG. Pemeriksaan kualitas bahan baku atau bahan pengemas dilakukan setiap enam bulan atau setiap satu tahun melalui pengujian ulang. Pengadaan bahan baku atau bahan kemas ada kemungkinan barang ditolak. Bahan yang tidak sesuai spesifikasi yang diminta sesuai perjanjian bisa saja ditolak. Spesifikasi bahan, yaitu pemerian suatu bahan awal, produk antara, produk ruahan, atau obat jadi mengenai sifat-sifat kimia, fisika, dan biologi. Spesifikasi tersebut menyatakan standar dan toleransi yang diperbolehkan dan biasanya dinyatakan secara deskriptif dan numerik. Kegiatan yang terjadi dalam penanganan bahan baku atau bahan pengemas yang ditolak adalah: a. Bahan yang dinyatakan ditolak oleh QC ditempatkan di area khusus retur dengan pembatas berwarna merah ditandai adanya label DITOLAK. b. Bahan tersebut dicatat ke dalam log book bahan baku atau bahan pengemas. c. BBM di sampaikan ke bagian purchasing dan SC serta membuat nota retur sesuai dengan jenis dan jumlah barang yang diolah. d. Nota retur diserahkan kepada suplier, purchasing, dan SC. e. Nota retur dan BBM disimpan sebagai dokumentasi perusahaan. Produk kembalian yang tidak dapat diolah ulang akan dimusnahkan sesuai prosedur pemusnahan bahan atau produk yang ditolak dengan memperhatikan pencegahan, pencemaran lingkungan, dan mencegah kemungkinan jatuhnya obat/ produk ke tangan orang yang tidak berwenang. Pemusnahan dilakukan oleh petugas yang berwenang dan bagian gudang membuat berita acara pemusnahan. Catatan pemusnahan bahan/ produk yang ditolak memuat antara lain: a. Nama, nomor bets, dan jumlah bahan/ produk yang ditolak. b. Asal bahan atau produk. c. Metode pemusnahan. d. Nama petugas yang melaksanakan dan menyaksikan pemusnahan. e. Tanggal pemusnahan Gudang bahan baku sendiri terdiri atas 4 ruangan: a. Ruangan suhu kamar: digunakan untuk menyimpan bahan baku yang tidak memerlukan kondisi khusus. Ruangan suhu kamar juga digunakan sebagai tempat karantina.

47 37 b. Ruang sampling: digunakan untuk pengambilan sampel bahan. Ruangan ini dilengkapi dengan sistem air lock dan tekanan udara yang diatur sedemikian rupa untuk mencegah kontaminasi saat bahan dikeluarkan dari wadah untuk sampling. c. Ruangan sejuk: digunakan untuk menyimpan bahan baku yang tidak tahan terhadap panas, seperti parfum dan minyak atsiri yang diatur suhunya agar tidak melebihi 22 C dan RH kurang dari 75%. d. Gudang api: merupakan ruangan khusus dan terpisah untuk penyimpanan bahan mudah terbakar, bahan mudah meledak, bahan yang sangat beracun, obat berbahaya lain, serta untuk produk bahan yang ditolak. 3.6 Sistem tata udara Salah satu faktor yang menentukan kualitas obat adalah kondisi lingkungan tempat di mana produk tersebut dibuat atau diproduksi. Kondisi lingkungan yang kritis terhadap kualitas produk, antara lain seperti cahaya, suhu, kelembapan relatif, kontaminasi mikroba, dan kontaminasi partikel. Sebagai upaya untuk mengendalikan kondisi lingkungan tersebut, maka PT GPL mengendalikan kondisi tersebut dengan AHU (air handling unit) atau sering juga disebut dengan HVAC (heat, ventilating, and air conditioning). Sistem tata udara tidak hanya mengontrol suhu ruangan seperti halnya AC konvensional, melainkan juga kelembaban, tingkat kebersihan (sesuai dengan kelas ruangan yang dipersyaratkan), tekanan udara, dan sebagainya. Sistem tata udara yang digunakan tergantung dari jenis produk yang dibuat dan tingkat kelas ruang yang digunakan. Untuk ruangan produksi obat (Kelas E) HVAC dilengkapi dengan HEPA filter dengan efektifitas penyaringan hingga 99% lebih, sedangkan pada kelas F tidak dilengkapi dengan HEPA. Pengaturan cooling coil dan heating coil dilakukan secara otomatis. Heating coil sebagai pengatur panas juga berguna untuk mengurangi kelembaban udara di ruang produksi yang sering terjadi pada musim hujan.

48 Water system and distribution Air merupakan salah satu aspek kritis dalam pelaksanaan CPOB. Hal tersebut disebabkan karena air merupakan bahan baku dalam jumlah besar, terutama untuk produk sirup dan berbagai produk semisolid. Bila tercemar atau terdapat kandungan mineral dalam air, maka dikhawatirkan dapat mengganggu proses produksi obat ataupun dapat mengganggu kestabilan sediaan, bahkan beresiko fatal bagi konsumen. Kualitas air yang digunakan untuk produksi, tergantung dari persyaratan air yang digunakan produk yang dibuat. Purified water system merupakan sistem pengolahan air yang dapat menghilangkan berbagai cemaran (ion, bahan organik, partikel, mikroba dan gas) yang terdapat di dalam air yang akan digunakan untuk produksi. Air yang digunakan untuk pengolahan air dapat diperoleh dari sumur. Variasi mutu dari pasokan air mentah (raw water) yang memenuhi syarat ditentukan dari target mutu air yang akan dihasilkan. Berikut adalah tahapan proses pengolahan air: a. Air yang berasal dari sumur disedot, ditampung dalam bak penampung berkapasitas L. Untuk pengolahan air, air dalam sumur penampungan tersebut ditampung lagi dalam tangki. b. Air di tangki penampungan dialirkan kedalam tangki multimedia ( berisi Zn silika 25 L : antraksit 100L). c. Air dialirkan ke dalam tangki karbon ( Zn silika 25 L : karbon aktif 100 L). d. Berikutnya air yang telah melewati dua penyaringan sebelumnya, dialirkan lagi kedalam tangki softener (berisi Zn silika 25 L dan resin kation 100 L). Ada tetesan larutan garam ( 100 L+16 kg garam) yang ikut dimasukkan ke dalam saluran. e. Jika air yang dihasilkan masih kotor, maka dibantu dengan tetesan air scalant yang berasal dari tangki bak air scalant. Akan tetapi, jika air tidak kotor, tidak diperlukan penambahan tetesan air scalant ini. f. Air akan mengalir melewati catridge filter dengan membran 5 µm. Disini 40% air dibuang ke penampungan yang selanjutnya digunakan untuk penggunaan air biasa dan 60% air saja yang dilanjutkan ke tahap berikutnya, karena keterbatasan kapasitas tahap berikutnya.

49 39 g. Air akan mengalami proses pengolahan secara sistem reverse osmosis (RO). Setelah mengalami proses reverse osmosis, air akan mengalami degenerasi dengan mixedbed dengan tahapan sebagai berikut: a. Service: merupakan tahap pertama pencucian untuk menghilangkan kotoran dan untuk memisahkan kation dan anion agar dapat beregenerasi dengan baik. Tahap ini memerlukan waktu menit. b. Settling: resin turun ke dasar filter sesuai berat jenisnya ketika air didiamkan. Kation memiliki BJ lebih besar dibandingkan dengan anion, maka kation akan lebih cepat berada pada bagian bawah tangki. Tahap ini memerlukan waktu sekitar 5-10 menit. c. Regenerasi anion: dilakukan pencucian dengan NaOH agar anion resin dapat berfungsi kembali. Tahap ini berlangsung sekitar menit. d. Rinsing anion: pencucian dengan air untuk membuang sisa-sisa NaOH. Akhir proses ini ditandai dengan ph air buangan sekitar Tahapan ini memerlukan waktu menit. e. Regenerasi kation: pencucian kation resin dengan HCl agar kation resin dapat berfungsi kembali. Proses ini terjadi selama menit. f. Rinsing kation: pembilasan dengan air untuk membuang sisa-sisa HCl, akhir proses ini ditandai dengan ph air buangan sekitar 3-4. Tahapan ini berlangsung sekitar menit. g. Rap rinsing: Pencucian secara bersamaan untuk membuang sisa-sisa HCl dan NaOH. Berlangsung sekitar menit. h. Drain down: air sebagian dibuang agar pencampuran resin berjalan dengan baik. i. Mixing: proses pencampuran resin dengan bantuan blower atau kompresor. j. Final rinse: merupakan tahap yang sama dengan tahap service, tetapi air yang dihasilkan dibuang sampai dengan konduktivitas yang didapat sesuai dengan yang dihasilkan. k. Jika konduktivitas sudah menunjukkan angka 1,3, maka air mengalir ke dalam tangki berikutnya untuk mengalami proses ultrafiltrasi. Jika alat tersebut belum menunjukkan angka1,3, maka air akan bersirkulasi kembali.

50 40 Untuk mencegah pertumbuhan bakteri yang mengakibatkan timbulnya zat pirogen, air suling yang akan digunakan untuk pengolahan tidak boleh dibiarkan lebih dari 24 jam, kecuali jika dalam sistem looping. Hasil pemantauan dan tindakan penanggulangan yang dilakukan didokumentasikan. Kapasitas air yang dihasilkan dari PWS di PT GPL sekitar 10 Liter per menit. PT GPL juga memiliki tempat khusus yang dinamakan boiler untuk menghasilkan uap panas. Diantaranya digunakan untuk ruang dan proses produksi dan juga untuk pengolahan air. Berikut adalah tahapan boiler dalam menghasilkan uap panas: a. Mesin menggunakan bahan bakar berupa solar dengan bantuan suhu 1900 C. b. Air sumur disedot dan kemudian dialirkan ke dalam tangki water filtration yang berisi Zn silika 25 L : antraksit 100 L. c. Kemudian air masuk ke dalam tangki softener yang berisi Zn silika 25 L : kation 100 L. d. Air akan masuk ke dalam watertank yang berisi, sebagai penampung air. e. Air akan masuk ke dalam mesin boiler. Mesin ini telah memiliki dua pompa sesuai standar. f. Di dalam mesin terjadi pemanasan air dengan api sehingga menghasilkan uap yang sangat panas. g. Uap panas inilah yang digunakan untuk pemanasan air pada produksi. 3.8 Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) PT GPL merupakan salah satu industri farmasi yang menghasilkan banyak limbah sehingga memerlukan penanganan khusus. Limbah cair yang dihasilkan berasal dari seluruh proses produksi meliputi produk farma, kosmetik (PSC), dan bedak sehingga perlu diolah agar aman bagi lingkungan sekitar. Proses pengolahan limbah cair dilakukan dengan tiga macam cara, yaitu pengolahan limbah cair secara fisika, kimiawi, dan biologi. Tahapan proses pengolahan limbah cair yang dilakukan di PT GPL adalah sebagai berikut.

51 Pengolahan limbah cair secara fisika a. Limbah dari bagian produksi disalurkan ke saluran air limbah yang cukup besar agar menghindari penyumbatan dan mempunyai bak kontrol serta ventilasi yang baik. b. Limbah dari bagian produksi ditampung dalam bak penampungan awal berfungsi untuk memisahkan limbah yang kasar. Di bagian ini terdapat pompa otomatis yang mengatur debit air yang kemudian akan dialirkan ke bak penampungan berikutnya (oil trap tank). c. Cairan limbah kemudian dialirkan ke oil trap tank. Di tahap ini terjadi pemisahan secara fisika dengan memanfaatkan perbedaan berat jenis fase air dan fase minyak. Fase minyak yang lebih ringan akan berada di bagian permukaan air sehingga memudahkan proses pengolahan selanjutnya. Proses pemisahan air dan minyak ini dilakukan dengan menggunakan bak oil trap tank yang tersusun tiga buah. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan hasil yang maksimal. d. Minyak yang mengapung di bagian oil trap tank kemudian diambil untuk dicampur dengan serbuk gergaji lalu dibakar. e. Fase air dialirkan dalam bak penampung air (bak ekualisasi). Bak ekualisasi ini dimaksudkan untuk menyeragamkan limbah yang beragam jenis dan sifatnya agar memudahkan pengolahan berikutnya. f. Kemudian limbah hasil bak tersebut dialirkan ke tangki mixing dengan kapasitas 3000 L untuk diolah secara kimia Pengolahan limbah secara kimia a. Di dalam tangki mixing limbah diatur keasamannya dengan penambahan Ca(OH) 2 sampai diperoleh ph Proses koagulasi akan lebih mudah terjadi pada kisaran ph tersebut. b. Pengukuran ph dilakukan menggunakan indikator universal. c. Dilakukan proses koagulasi dengan adanya penambahan koagulan poly alumunium chloride (PAC) ke dalam limbah hingga ph limbah 7.

52 42 d. Hasil dari proses koagulasi ditambahkan flokulan yaitu flokulan bermerk Curiflok untuk memperbesar ukuran endapan yang terbentuk sehingga pengendapan dapat berlangsung dengan cepat. e. Limbah didiamkan hingga mengendap sempurna dan terjadi pemisahan antara endapan dan cairan. f. Cairan (air jernih) limbah dialikan ke dalam bak yang berisi karbon aktif untuk menyaring sisa endapan yang masih terbawa dan mengurangi bau. g. Endapan dipindahkan ke dalam bak penampungan sedimen drying bed untuk menghilangkan kadar air. Endapan yang telah kering dicampur dengan limbah padat lainnya dan dimusnahkan lewat jasa PPLI (Pusat Pengolahan Limbah Industri). Air yang masih tersisa dari proses pada drying bed kembali dialirkan ke bak ekualisasi untuk diproses selanjutnya Pengolahan limbah secara biologi a. Hasil sedimentasi dialirkan ke dalam bak aerasi yang berisi bakteri aerob untuk menguraikan partikel secara biologi. b. Cairan limbah dialirkan ke dalam bak clarifier untuk pengendapan, kemudian dialirkan lagi ke bak filter yang memiliki batu-batu zeolite untuk menyerap limbah berbahaya. c. Cairan limbah dialirkan ke dalam bak stabilisasi (penampungan akhir). d. Dilakukan pemeriksaan ph air, yaitu 6-7. e. Sebagai indikator kualitas air yang baik digunakan ikan mas. f. Secara rutin setiap bulan juga dilakukan pemeriksaan dengan mendatangkan pemeriksa eksternal dari Institut Pertanian Bogor (IPB) agar ada jaminan hasil yang objektif. Adapun parameter yang digunakan dalam pemeriksaan air limbah meliputi: a. BOD (Biochemical Oxygen Demand) b. COD (Chemical Oxygen Demand) c. TSS d. ph e. total N

53 43 f. fenol g. Kesadahan air limbah. Tabel 3.1. Parameter pemeriksaan air limbah Rata-rata No. Total Parameter Limbah (mg/l) Manufacture (mg/l) 1 BOD COD TSS Total N 30-5 Fenol 1-6 ph

54 BAB 4 TINJAUAN KHUSUS LEAN MANUFACTURING DI DEPARTEMEN PRODUKSI 4.1 Lean manufacturing Definisi lean manufacturing Lean manufacturing merupakan suatu konsep yang dapat digunakan untuk mengeliminasi pemborosan/ waste di industri manufaktur dan jasa. Lean manufacturing merupakan konsep yang berasal dari Toyota Production System (TPS) yang berfungsi untuk mengurangi, bahkan meniadakan Seven Waste. Implementasi lean manufacturing digunakan untuk memecahkan masalah dengan melakukan perbaikan secara kontinu pada proses produksi. Lean manufacturing memiliki prinsip utama yaitu menekan tujuh pemborosan untuk dapat meningkatkan kepuasan konsumen. Menurut konsep lean dalam TPS, pemborosan terbagi menjadi tiga yaitu: a. Irrationality (muri), adalah sebuah pemberian tugas kepada pekerja oleh pihak manajemen di luar batas kemampuan pekerja atau mesin yang digunakan sehingga menyebabkan munculnya variasi produk. b. Inconsistency (mura), adalah ketidakseimbangan dalam pemberian tugas kepada pekerja. Ketidakseimbangan ini disebabkan oleh jadwal produksi yang tidak tetap, volume produksi yang tidak stabil, dan adanya kerusakan mesin. c. Waste (muda), adalah kegiatan yang tidak memberikan nilai tambah. Kegiatan ini dapat berupa panjangnya waktu tunggu dan transportasi, menambah inventori, dan menimbulkan gerakan yang tidak perlu dalam mengambil komponen produksi. Melalui penerapan konsep lean dalam suatu industri manufaktur maka didapat beberapa keuntungan, yaitu: menghilangkan pemborosan atau waste, meningkatkan nilai tambah (value added) pada produk, serta dapat memberikan nilai kepada pelanggan/ costumer value (Hamin dan Nurnajamuddin, 2012). 44

55 Elemen utama lean production Lean production merupakan perubahan tingkah laku (perilaku) pelanggan bisnis terhadap pemilihan dan manajemen pemasok. Pelaku bisnis harus menyadari dan menyesuaikan diri dengan perubahan yang ditimbulkan oleh lean production. Elemen utama dari lean production adalah: a. Produksi just in time (JIT), adalah suatu metode produksi yang membawa semua bahan baku dan suku cadang yang dibutuhkan dalam setiap produksi tepat pada saat dibutuhkan. Tujuan dari JIT adalah persediaan yang nol dengan kualitas 100%. b. Pengawasan kualitas yang ketat, di mana penghematan biaya maksimum dari JIT akan tercapai jika pembeli menerima barang yang sempurna dari pemasok. Dengan demikian, pemasok harus menerapkan prosedur pengawasan yang sangat ketat sebelum barang tersebut diserahkan kepada pabrik. c. Penyerahan berulang kali dan dapat diandalkan, di mana pengiriman ini sebaiknya dilakukan setiap hari untuk menghindari penumpukan persediaan. Bilamana terjadi keterlambatan akan pengiriman atau tidak memenuhi pemasokan, maka pemasok dikenakan denda atau pemutusan kontrak kerja. d. Lokasi yang lebih dekat, dengan adanya lokasi yang berdekatan dengan pelanggan utama, maka penyerahan dapat diandalkan sehingga akan timbul komitmen yang besar dengan pelanggan utama. e. Telekomunikasi, dengan adanya perkembangan teknologi yang semakin pesat, maka pemasok dapat membangun sistem penyerahan yang lebih baik lagi. f. Jadwal produksi yang stabil, di mana pelanggan menyerahkan jadwal produksinya pada pemasok sehingga pemasok dapat menyerahkan barang sesuai dengan jadwal produksi pelanggan. g. Sumber tunggal dan keterlibatan awal pemasok, dimana dengan adanya JIT ini, baik pemasok maupun pelanggan sudah terlibat dalam penyusunan kontrak kerja dan syarat-syarat lainnya (Hamin dan Nurnajamuddin, 2012) Tools dalam lean manufacturing Lean manufacturing memiliki kumpulan alat yang digunakan untuk mengidentifikasi waste yang dapat meningkatkan efisiensi proses dan

56 46 produktivitas. Tools yang digunakan dalam lean manufacturing adalah sebagai berikut Total Productive Maintenance (TPM) TPM merupakan metode yang digunakan untuk penjadwalan perawatan mesin agar dapat mengurangi down time mesin. Metode pencegahan sebelum mesin mengalami kerusakan dinilai lebih efektif dalam memelihara kinerja mesin Value Stream Mapping (VSM) VSM merupakan sebuah tool yang mengombinasikan aliran informasi dan aliran proses dari suatu produk, mulai dari raw material diproses sampai menjadi produk jadi. VSM merupakan tool lean yang digunakan untuk dapat menggambarkan aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah pada proses produksi. Aktivitas yang memberikan nilai tambah dalam proses produksi dapat memenuhi kriteria yang diinginkan konsumen, sedangkan aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah dalam proses produksi menimbulkan pemborosan dalam segi material, biaya, dan sumber daya yang dikeluarkan. VSM digunakan untuk memetakan proses produksi yang terdiri dari aliran informasi, aliran material, perpindahan material, dan waktu siklus. Manfaat menggunakan VSM adalah: a. Dapat menggambarkan aliran produksi secara jelas. b. Dapat mengidentifikasi waste yang ada dalam proses produksi. c. Dapat mengetahui kaitan aliran informasi dan material dalam proses pembuatan suatu produk. d. Dapat menggambarkan keadaan aliran informasi dan proses perusahaan pada saat ini yang digunakan untuk merencanakan perbaikan pada aliran proses dan informasi keadaan yang akan datang Pareto chart Pareto chart merupakan alat bantu dalam pengendalian kualitas yang digunakan untuk mengurutkan data kecacatan suatu produk dari kecacatan terbesar sampai terkecil. Data yang diplot dalam diagram Pareto adalah data persentase kecacatan produk dan data penyebab kecacatan. Melalui penggunaan

57 47 diagram Pareto, maka dapat dilihat penyebab kecacataan yang memiliki dampak terbesar pada produk sehingga dapat dilakukan analisa perbaikan untuk mengurangi kecacatan Fishbone diagram Fishbone diagram merupakan alat bantu yang digunakan untuk melihat hubungan penyebab dan akibat dari suatu kecacatan pada produk. Melalui penggunaan diagram fishbone maka dapat dilakukan analisa penyebab dari timbulnya kecacatan sehingga dapat dilakukan perbaikan untuk mengatasinya. Kecacatan suatu produk biasanya disebabkan oleh lima faktor antara lain: man (pekerja), material (material), machine (mesin), method (metode), environment (lingkungan) Budaya kerja 5S 5S adalah segala upaya untuk mengendalikan resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang efektif dan efisien. 5S merupakan akronim dari bahasa Jepang 5S, yaitu Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke, yang dalam bahasa indonesia memiliki arti Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin. Konsep ini menggambarkan secara sistematik praktek housekeeping yang baik, di mana dalam pelaksanaannya, 5S memanfaatkan tempat kerja yang mencakup peralatan, dokumen, bangunan, dan ruang untuk melatih kebiasaan para pekerja dalam usaha meningkatkan dispilin dan produktivitas kerja. Kondisi tempat kerja mencerminkan perlakuan seseorang terhadap pekerjaannya dan perlakuan ini mencerminkan sikapnya terhadap pekerjaan. Pelaksanaan 5S melibatkan setiap anggota organisasi dan merangsang untuk melakukan perbaikan dari yang terkecil. Konsep dasar dari 5S yaitu ada tempat untuk segala sesuatu, segala sesuatu terletak pada tempatnya, tidak ada barang yang tidak diperlukan. Berikut ini penjelasan masing-masing bagian dari 5S: a. Seiri/ Ringkas Sort-Seiri-Ringkas: Put things in order (Removed what is not needed and keep what is needed). Singkirkan barang yang tidak diperlukan dari tempat kerja. Prinsip dari Seiri yaitu dengan menggunakan manajemen stratifikasi dan

58 48 menangani sebab masalah. Setiap benda apapun harus dipisah-pisahkan menurut tujuan dan kegunaannya. Benda yang tidak diperlukan harus disingkirkan dari tempat kerja dengan serta mengidentifikasikan bagaimanakah kondisi fisik terbaik pada suatu area kerja. b. Seiton/ Rapi Straighten-Seiton-Rapi: Designating locations or proper arrangement (Place things in such a way that they are easily accessible whenever they are needed). Setiap barang yang ada mempunyai tempat yang ditentukan, menentukan tata letak yang tertata rapi sehingga kita selalu menemukan barang yang dibutuhkan. Prinsip dari Seiton adalah penyimpanan fungsional dan menghilangkan waktu untuk mencari barang. Setiap benda yang memang diperlukan di area tersebut harus disusun dan disimpan sedemikian rupa sehingga mudah dicari, dikendalikan, dan diambil atau diletakkan kembali. Hal ini merupakan kelanjutan dari langkah Ringkas agar diatur optimum. c. Seiso/ Resik Shine-Seiso-Resik: Cleanliness (Keep things clean and polished, no trash or dirt in the workplace). Bersihkan segala sesuatu ditempat kerja. Seiso bermakna menghilangkan sampah kotoran dan barang asing untuk memperoleh tempat kerja yang lebih bersih. Pembersihan dilakukan dengan cara inspeksi. Prinsip dari Seiso adalah bahwa pembersihan sebagai pemeriksaan dan tingkat kebersihan. Resik melakukan aktifitas bersih-bersih yang dilakukan oleh individu di area tersebut terhadap semua barang fisik yang ada di areanya secara teratur. d. Seiketsu/ Rawat Standardize-Seiketsu-Rawat: Standardize (Standardize the best practice & process of cleaning the workplace. For example develop a habit of cleaning your workplace). Mewujudkan tempat kerja yang sudah baik dapat selalu terpelihara. Seiketsu berarti memelihara barang dengan teratur, rapi, bersih, dan dalam aspek personal serta kaitannya dengan polusi. Prinsip dari Seiketsu adalah manajemen visual dan pemantapan 5S. Dimana proses membuat dan menjaga standar yang sistemik untuk memastikan tiga pilar Ringkas-

59 49 Rapi-Resik dipelihara agar setiap penyimpangan, ketidaknormalan, atau kondisi substandar menjadi mudah untuk dikendalikan. e. Shitsuke/ Rajin Sustain-Shitsuke-Rajin: Commitment and self dicipline (Develope an attitude to follow the above 4S ). Mengembangkan komitmen dan kedisiplinan untuk menerapkan 4S/4R diatas. Shitsuke berarti melakukan sesuatu yang benar sebagai kebiasaan. Prinsip dari Shitsuke adalah pembentukan kebiasaan dan tempat kerja yang mantap. Memastikan setiap orang berkesadaran menjalankan seluruh aktifitas 5S secara disiplin (Hamin dan Nurnajamuddin, 2012) Seven waste Seven waste merupakan tujuh pemborosan yang tidak memberikan nilai tambah dalam proses produksi. Ketujuh jenis pemborosan tersebut adalah sebagai berikut: a. Produksi berlebihan (overproduction) Merupakan pemborosan dalam memproduksi produk yang tidak dipesan konsumen. Pemborosan ini menimbulkan dampak pada penggunaan tenaga kerja berlebihan, bertambahnya biaya untuk membeli material, serta menyebabkan bertambahnya inventori. Pemborosan ini memiliki kaitan yang erat dengan pemborosan kelebihan inventori. b. Waktu tunggu (waiting) Merupakan waktu yang tidak digunakan secara efektif yang merupakan waste pada perusahaan, seperti pekerja yang menunggu material, berhentinya produksi karena disebabkan stockout, atau delay pada proses, peralatan dan mesin yang rusak dan terjadinya bottleneck pada kapasitas. Waktu menunggu juga disebabkan oleh adanya waktu transportasi yang dikeluarkan untuk perpindahan material dalam suatu proses kerja. c. Inventori berlebih (excess inventory) Merupakan bentuk pemborosan inventori berupa finished good dan raw material yang tidak diperlukan sehingga menimbulkan kerugian bagi perusahaan. Pemborosan inventori berupa produk finished good juga memiliki

60 50 kaitan dengan pemborosan produksi berlebihan. Masalah yang timbul akibat terjadinya kelebihan inventori yaitu menumpuknya produk finished good dan raw material yang rentan akan kerusakan serta timbulnya biaya transportasi dan penyimpanan. Selain itu kelebihan inventori juga menyebabkan pemborosan pada material yang digunakan dan biaya operasional yang dikeluarkan untuk memproduksi material. d. Pemborosan gerakan (unnecessary movement) Merupakan pemborosan pada pekerja yang disebabkan banyaknya perpindahan dan pergerakan yang tidak perlu dan tidak memberikan nilai tambah. Komponen-komponen seperti peralatan dan perlengkapan kerja harus ditata dengan baik agar operator dapat mengambilnya dengan mudah dan cepat serta mengurangi terjadinya double handling sehingga pemborosan dapat dikurangi. Contoh gerakan yang tidak memberikan nilai tambah seperti mencari material berjalan atau mengambil peralatan. e. Proses yang tidak tepat (incorrect proccesing) Merupakan pemborosan yang terjadi akibat tidak tepatnya proses produksi yang dijalankan. Ketidaktepatan proses tersebut menimbulkan kerugian berupa produk cacat atau rework. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pemborosan ini antara lain adalah peralatan kerja yang tidak terawat serta kurangnya pelatihan pada pekerja agar dapat menjalankan proses dengan benar dan tepat. f. Pemborosan transportasi (unnecessary transport) Merupakan kegiatan memindahkan raw material atau produk jadi pada proses produksi. Pemborosan ini disebabkan buruknya tata letak fasilitas kerja, seperti tata letak antar fasilitas yang tidak efisien. Hal ini menimbulkan dampak pada besarya waktu transportasi yang dikeluarkan. g. Pemborosan kecacatan (defect waste) Merupakan pemborosan yang ditimbulkan karena adanya produk cacat dan produk rework ketika produksi berlangsung. Terdapat kerugian yang disebabkan oleh adanya produk cacat dan rework, antara lain: kerugian material, tenaga kerja, dan biaya operasional. Selain itu kerugian lainnya yang

61 51 disebabkan adanya defect waste adalah ketidakpuasan konsumen terhadap produk yang dikonsumsi. Ketujuh pemborosan tersebut diperoleh dari konsep TPS. Berdasarkan permintaan akan suatu produk yang diinginkan konsumen, maka suatu aktivitas produksi terbagi tiga kategori yaitu: aktivitas yang memberikan nilai tambah (value added), aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah (non-value added), dan aktivitas yang tidak memberi nilai tambah tapi perlu dilakukan (non-value added but require). Aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah, yaitu berupa waste yang telah diterangkan pada pembahasan di atas. Selain itu terdapat aktivitas yang diperlukan, meskipun tidak memberikan nilai tambah pada produk. Tujuan utama dari aktivitas ini adalah tercapainya kepuasan konsumen. Upaya untuk memperkecil non-value added yaitu dengan melakukan continuous improvement agar pemborosan yang ada dapat dikurangi (Hamin dan Nurnajamuddin, 2012). Tabel 4.1. Tipe dan contoh pemborosan di dalam proses produksi No Kategori Sifat Upaya Penghematan 1 Produk Menyediakan produk yang Perbaikan inventori manufaktur tidak diperlukan dengan segera 2 Penolakan Memproduksi produk cacat Mengurangi penolakan produk cacat 3 Fasilitas Mesin yang tidak terpakai dan macet, setup terlalu lama Peningkatan dalam ratio kapasitas penggunaan mesin 4 Pengeluaran Investasi berlebihan untuk output yang dibutuhkan Pengurangan pengeluaran investasi 5 Tenaga kerja tidak langsung Personil berlebihan karena sistem tenaga kerja tidak langsung yang buruk Penunjukan tugas yang efisien

62 52 6 Desain Memproduksi produk dengan fungsi lebih daripada yang diperlukan 7 Ketrampilan Mengerjakan seseorang untuk pekerjaan yang dapat dikerjakan oleh mesin atau diberikan kepada orang yang kurang terampil 8 Pergerakan Tidak bekerja sesuai dengan standar-standar kerja 9 Siklus waktu Lambat atau terlalu panjang pembuatan produk Penekanan biaya Penghematan tenaga kerja atau memaksimumkan penggunaan tenaga kerja yang ada. Penyempurnaan standarstandar kerja Memperpendek siklus waktu Implementasi lean manufacturing Implementasi lean dimulai dari tujuan yang ingin dicapai perusahaan. Tahap berikutnya yaitu lean thinking yang meliputi pengertian akan konsep lean. Suatu manufaktur dapat menghilangkan pemborosan jika memahami konsepkonsep pemborosan pada lean manufacturing. Implementasi lean manufacturing terbagi menjadi empat tahap yaitu: a. Berusaha melihat waste yang ada di perusahaan dan melakukan eliminasi terhadap waste yang ada. Apabila perusahaan tidak mengatasi pemborosan tersebut, maka masalah tersebut akan muncul terus-menerus. b. Mengidentifikasi waste yang terjadi, di mana tahap ini membantu untuk menganalisis penyebab waste dengan menggunakan berbagai metode yang telah dijelaskan sebelumnya. c. Menemukan solusi untuk mengatasi permasalahan waste yang telah diidentifikasi. Dengan melihat permasalahan secara keseluruhan maka dapat membuat solusi untuk mengurangi waste yang ada. d. Melakukan implementasi dari solusi yang dibuat. Tahap ini memerlukan waktu yang lama dan diperlukan proses pelatihan pekerja, agar dapat menerapkan

63 53 solusi yang dipilih. Selain itu perlu adanya perbaikan secara kontinu agar waste dapat dievaluasi dan dikurangi (Hamin dan Nurnajamuddin, 2012). 4.2 Lean manufacturing di departemen produksi PT GPL Lean manufacturing bisa didefinisikan sebagai pendekatan sistematis untuk mengidentifikasikan dan mengeliminasi pemborosan/ waste melalui perbaikan berkesinambungan dengan aliran produk berdasarkan kehendak konsumen (pull system) dalam mengejar kesempurnaan. Pull System dikenal juga dengan Just In Time (JIT) atau produksi tepat waktu. Visi PT GPL adalah menjadi perusahaan perawatan kesehatan berkelas dunia yang memiliki daya saing tinggi dalam melayani dan menghasilkan produk bermutu bagi pasar regional Asia. Untuk mencapai visi tersebut, ditetapkan misi perusahaan yaitu menunjang pertumbuhan yang berkesinambungan untuk memberikan hasil usaha yang terbaik kepada para stakeholder dengan menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan usaha yang sehat. PT GPL selalu terbuka terhadap hal-hal, ide-ide, dan konsep-konsep baru, selama itu semua sejalan dengan visi misi perusahaan. Konsep lean manufacturing inipun dipercaya menjadi salah satu konsep yang dapat diterapkan dalam memberikan hasil usaha yang terbaik melalui nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Secara manajemen, lean manufacturing menjadi salah satu bagian dari konstruksi perusahaan, dimana lean manufacturing menjadi bagian atap perusahaan, setelah tiang-tiang perusahaan seperti K3, 5S, dan OHASS ditegakkan, sedangkan ISO dan CPOB berada sebagai pondasinya. Salah satu contoh implementasi nyata dari konsep lean manufacturing di bagian produksi PT GPL adalah dilakukannya time motion study, salah satunya untuk produk Galtropil Kaplet dan Galpect Syrup, yaitu dilakukan pengamatan dan dokumentasi terhadap setiap aktivitas proses produksi, waktu yang dibutuhkan serta operator yang terlibat, dalam skala produksi tertentu. Dari kegiatan ini diperoleh data-data yang jika mampu diterjemahkan dengan baik, akan memberikan fakta-fakta yang bermanfaat, yang berkaitan dalam hal antara lain:

64 54 a. Pengembangan sistem dan metode yang lebih baik. b. Standardisasi sistem dan standar tersebut. c. Penentuan standar waktu. d. Pelatihan operator. Dari contoh kegiatan ini, PT GPL telah menunjukan komitmen dalam memenuhi misinya menghasilkan produk terbaik melalui perbaikan-perbaikan yang berkesinambungan. Manajer produksi dan semua jajaran dibawahnya yang terlibat dalam proses produksi telah berperan sebagai lean thinker, dimana konsep-konsep lean tercermin dalam setiap keputusannya yang selalu mengacu ke arah kualitas yang lebih baik (better quality), efektifitas waktu (faster delivery), efisiensi biaya (cost efficiency). Karena memang lean manufacturing memerlukan kerjasama tim, dimana setiap anggota harus memiliki paradigma dan motivasi yang benar dalam melakukan pekerjaannya, sesuai dengan cita-cita PT Galenium Pharmasia Laboratories.

65 BAB 5 PENERAPAN CPOB DI PT. GALENIUM PHARMASIA LABORATORIES Dalam rangka menjamin obat yang dikonsumsi oleh masyarakat terjamin keamanan, kualitas, dan khasiatnya maka Pemerintah membuat peraturanperaturan yang menjadi suatu standar mutu dalam produksi suatu obat. Salah satu peraturan yang dibuat oleh pemerintah adalah CPOB. Sebagai industri farmasi, PT Galenium Pharmasia Laboratories (PT GPL) berkewajiban memenuhi ketentuan Cara Pembutan Obat yang Baik (CPOB) sebagaimana ditetapkan melalui Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI no HK tahun 2012 tentang Penerapan Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik. Hal ini bertujuan untuk memberikan jaminan bahwa produk obat yang dihasilkan selalu memenuhi persyaratan mutu yang telah ditentukan sesuai dengan tujuan penggunaannya. PT GPL telah mendapatkan sertifikat CPOB, CPKB, dan ISO Hal ini menunjukkan bahwa seluruh aspek CPOB yang tertuang di dalam pedoman CPOB telah dipenuhi oleh PT GPL. Aspek CPOB ini telah dilakukan secara menyeluruh terhadap setiap tahapan dari proses pembuatan obat mulai dari pemilihan pemasok bahan awal sampai dengan distributor yang akan menyalurkan produk. Penerapan CPOB dilakukan oleh PT GPL meliputi aspek-aspek antara lain manajemen mutu, personalia, bangunan dan fasilitas, peralatan, sanitasi dan higiene, produksi, pengawasan mutu, inspeksi diri dan audit mutu, penanganan keluhan terhadap produk, penarikan kembali produk dan produk kembalian, dokumentasi, pembuatan analisis berdasarkan kontrak, kualifikasi dan validasi. 5.1 Manajemen mutu Sistem mutu (quality system) merupakan kerangka kebijakan mutu yang didasarkan pada rangkaian regulasi yang memastikan bahwa produk yang dihasilkan bermutu tinggi untuk pelanggan dan menjaga kepatuhan terhadap regulasi. Manajemen mutu bertujuan untuk menetapkan persyaratan dasar untuk 55

66 56 memastikan bahwa sistem mutu diterapkan dengan tepat dan efektif untuk meyakinkan bahwa produk yang dihasilkan aman, sesuai dengan regulasi, dan tidak berbahaya (berisiko) terhadap konsumen. Manajemen mutu dipersyaratkan dalam CPOB untuk menjamin pembuatan obat agar sesuai dengan tujuan penggunaannya, memenuhi syarat izin edar, dan tidak menimbulkan risiko dalam penggunaannya karena tidak aman, mutu rendah, atau tidak efektif. PT GPL telah menerapkan sistem manajemen mutu di mana terdapat quality operational yang membawahi empat bagian yang saling bekerja sama dalam pemastian mutu yaitu departemen QA (quality assurance), QC (quality control), TS (technical support), dan HSE (health, safety, and environment). Adapun tugas-tugas yang dilakukan oleh QA pada PT GPL antara lain pemastian produk pada saat awal, tengah, dan akhir proses, pengendalian perubahan dan penyimpangan, pengkajian resiko, bertanggung jawab dalam release produk, membuat pelatihan CPOB dan CPKB, menangani jika terjadi retur dan keluhan pelanggan, dan melakukan review produk. Departemen QC bertanggung jawab dalam pengujian bahan baku, bahan pengemas, produk antara, produk ruahan, dan obat jadi yang dilakukan didalam laboratorium QC. Untuk menunjang fungsinya sebagai QC, PT GPL memiliki laboratorium pemeriksaan (untuk bahan baku, bahan pengemas, dan obat jadi) serta laboratorium mikrobiologi. Pelaksanaan manajemen mutu di PT GPL telah memenuhi unsur dasar manajemen mutu yaitu suatu infrastruktur atau sistem mutu yang tepat, yaitu mencakup struktur organisasi, prosedur, proses, dan semua sumber daya serta tindakan sistematis diperlukan untuk mendapatkan kepastian dengan tingkat kepercayaan yang tinggi, agar produk yang dihasilkan akan selalu memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. 5.2 Personalia Sumber daya manusia sangat penting dalam pembentukan dan penerapan sistem pemastian mutu yang memuaskan dan pembuatan obat yang benar. Pada bagian personalia di CPOB diatur hal-hal mengenai personil kunci, organisasi, kualifikasi dan tanggung jawab, serta pelatihan.

67 57 Personil kunci di PT GPL telah sesuai dengan CPOB, di mana apoteker sebagai penanggung jawab untuk bagian produksi, pemastian mutu, dan pengawasan. Untuk meningkatkan kualitas karyawan, PT GPL selalu mengadakan pelatihan-pelatihan, baik itu pelatihan CPOB dan CPKB yang setiap tahunnya, baik yang diadakan oleh QA maupun pelatihan-pelatihan lainnya yang dapat meningkatkan kualitas karyawan, seperti pelatihan 5S, lean manufacturing, validasi, dan team building. Dalam melakukan pelatihan selalu dipilih materi pelatihan yang tepat sesuai kebutuhan. Pemberian materi dilakukan oleh orang yang sudah kompeten baik dari eksternal maupun internal perusahaan. Selain itu di PT GPL diadakan rotasi karyawan antar bagian. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar karyawan tidak merasa jenuh pada suasana kerja. Selain itu hal ini juga dapat meningkatkan kemampuan karyawan itu sendiri, karena dapat menguasai pekerjaan di tiap bagian ketika dirotasi. Struktur organisasi yang diterapkan di PT GPL telah sesuai dengan CPOB yaitu adanya pemisahan antara bagian produksi, bagian QC, dan bagian QA. Adanya pemisahan ini membuat tiap-tiap bagian dapat melaksanakan tugasnya dengan baik tanpa adanya conflict of interest dan untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan wewenang. Personil di PT GPL mendapat spesifikasi tugas yang jelas dan rinci yang didokumentasikan sehingga tidak ada tumpang tindih tanggung jawab. PT GPL sangat memperhatikan kesehatan para karyawan di mana setiap tahunnya diadakan medical check up terhadap setiap personilnya. 5.3 Bangunan dan fasilitas Menurut CPOB, bangunan dan fasilitas untuk pembuatan obat harus memiliki desain, konstruksi dan letak yang memadai, disesuaikan kondisinya dan dirawat dengan baik untuk memudahkan pelaksanaan operasi yang benar. Tata letak dan desain ruangan harus dibuat sedemikian rupa untuk memperkecil risiko terjadi kekeliruan, pencemaran silang dan kesalahan lain, serta memudahkan pembersihan, sanitasi, dan perawatan yang efektif untuk menghindarkan pencemaran silang, penumpukan debu atau kotoran, dan dampak lain yang dapat menurunkan mutu obat.

68 58 Lokasi pabrik PT GPL yang berada di Jalan Raya Jakarta-Bogor km 51,5, Kedung Halang, Kabupaten Bogor telah memenuhi kriteria CPOB, karena lokasi bangunan pabrik cukup aman dari kemungkinan terjadinya pencemaran dari lingkungan sekitar, pengaruh cuaca, banjir, serta rembesan air tanah. Dari segi tata letak ruangan, PT GPL telah membuat lay out sedemikian rupa untuk mencegah terjadinya kontaminasi silang. Ruangan-ruangan sudah dibuat sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhannya. Di ruang produksi kelas E (grey area) sudah memenuhi ketentuan CPOB dimana permukaan bagian ruangan, baik dinding maupun lantai telah dilapisi oleh epoksi sehingga menjadi licin dan mudah dibersihkan. Lantai epoksi yang digunakan dalam bangunan merupakan lantai kedap air dan digunakan sebagai pencegahan dari rembesan air tanah. Lantai tersebut harus dijaga supaya tidak tergores dan rusak karena dapat mengurangi fungsinya dan dapat menjadi tempat akumulasi debu serta kotoran. Upaya yang dilakukan untuk menghindari kerusakan pada lantai antara lain dengan penggunaan sepatu khusus yang beralaskan karet. Bentuk-bentuk sudut pada dinding, langit-langit, maupun lantai dihilangkan dan menggantinya menjadi bentuk lengkungan (skirting) untuk mencegah akumulasi debu dan kotoran serta memudahkan pembersihan. Agar tidak terjadi kontaminasi untuk memasuki suatu area yang berbeda tingkat kebersihanya, terdapat ruang antara untuk mencegah terjadinya kontaminasi terhadap ruangan produksi dan produk yang diproduksi. Setiap ruangan di dalam bangunan telah mendapatkan penerangan yang efektif dan mempunyai ventilasi dengan fasilitas pengendali udara (termasuk suhu, kelembaban dan penyaring) yang sesuai untuk kegiatan dalam bangunan maupun dengan lingkungan sekitarnya. Pemasangan pipa, fitting lampu, titik ventilasi, dan instalasi lain di daerah produksi didesain agar tidak terbentuk ceruk yang tidak dapat dibersihkan yang dapat menjadi sumber mikroba. Pipa-pipa di dalam ruang produksi dipasang tidak menempel di dinding, tetapi digantungkan dengan menggunakan siku-siku pada jarak cukup untuk memudahkan pembersihan. Untuk mengantisipasi terjadinya hal yang tidak diinginkan, setiap bagian bangunan sudah dilengkapi dengan pintu darurat yang membuka langsung ke lingkungan luar. Agar tidak terjadi kontaminasi ke ruang produksi pintu darurat

69 59 selalu ditutup rapat untuk mencegah masuknya cemaran. Pintu-pintu di dalam gedung yang difungsikan sebagai perintang terhadap kontaminasi silang selalu dalam keadaan tertutup apabila sedang tidak digunakan. Ruangan produksi di PT GPL dibangun dengan memperhatikan persyaratan yang telah ditetapkan, di mana sudah terkendali dengan baik faktorfaktor kritis yang dapat memengaruhi proses produksi seperti jumlah partikel (dalam keadaan beroperasi dan tak beroperasi), jumlah mikroba dalam ruangan, perbedaan tekanan antar ruangan, pergantian udara, temperatur, dan kelembapan relatif (RH). Perbedaan tekanan, temperatur, dan RH ruangan diatur oleh fasilitas Air Handling Unit (AHU). Pengaturan udara bertujuan untuk mencegah terjadinya kontaminasi silang serta menjaga karyawan agar tidak terpapar zat-zat yang dapat membahayakan. Gudang di PT GPL sudah cukup baik dimana untuk bahan awal, bahan kemas, produk farma, dan produk kosmetik memiliki gedung terpisah satu sama lain dan masing-masing gudang telah memiliki supervisor tersendiri. Gudang dilengkapi dengan penerangan yang cukup, tertata rapi, teratur, dan bersih. Seluruh bangunan PT GPL dilengkapi dengan peralatan dan fasilitas untuk menunjang pelaksanaan kegiatan dengan memprioritaskan pada terciptanya sanitasi, higiene, keamanan dan keselamatan kerja, serta kelestarian lingkungan sekitar. Setiap tempat di PT GPL telah ditata dan dirawat dengan baik sesuai dengan konsep 5S dan pedoman CPOB terkini. 5.4 Peralatan Semua peralatan di PT GPL memiliki dokumen kualifikasi, prosedur tetap untuk operasional, pembersihan dan pemeliharaan, serta log book untuk kalibrasi dan pemakaian alat. Peralatan-peralatan tersebut ditempatkan dengan benar sehingga memudahkan pembersihan, perawatan, dan perbaikan, sesuai dengan konsep 5S. Peralatan dipilih dan diletakkan sesuai dengan fungsinya. Peralatan juga dibersihkan secara teratur, sesuai prosedur pembersihan alat yang tercantum dalam prosedur tetap, untuk mencegah kontaminasi yang dapat mengubah identitas, kualitas atau kemurnian suatu produk. Validasi pembersihan dilakukan

70 60 pada setiap peralatan yang kritis untuk menyediakan verifikasi bahwa prosedur pembersihan tersebut reprodusibel. Peralatan yang digunakan untuk menimbang, mengukur, menguji, dan mencatat selalu diperiksa ketelitiannya secara teratur dan dikalibrasi berdasarkan jadwal dan prosedur tetap kalibrasi. Setiap peralatan yang akan digunakan untuk pengujian harus dipastikan bahwa jadwal kalibrasi peralatan tersebut masih berlaku sehingga hasil yang diperoleh dari pengujian menggunakan peralatan tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan menunjukkan hasil yang sebenarnya. Setiap peralatan diletakan di ruangan yang sesuai agar tidak terlalu sempit dan tidak terlalu besar sehingga mempermudah personil ketika bekerja. Untuk tiap proses, peralatan diletakkan dalam ruangan terpisah dengan alat untuk proses lainnya dengan tujuan untuk mempermudah proses produksi. Bila terdapat lebih dari satu alat dalam satu ruang, peralatan dibuat tidak berdekatan untuk memberi keleluasaan bekerja dan mencegah kontaminasi. Pada tiap kegiatan yang dapat menimbulkan debu (fines) terdapat dust collector seperti kegiatan penimbangan, produksi tablet, dan kegiatan produksi lainnya. 5.5 Sanitasi dan higiene Ruang lingkup sanitasi dan higiene berdasarkan CPOB meliputi personalia, bangunan, peralatan, dan perlengkapan, bahan produksi serta wadahnya, dan setiap hal yang dapat merupakan sumber pencemaran produk. Sumber pencemaran hendaklah dihilangkan melalui suatu program sanitasi dan higiene yang menyeluruh serta terpadu. Prosedur sanitasi dan higiene hendaklah divalidasi serta dievaluasi secara berkala untuk memastikan efektivitas prosedur dan selalu memenuhi persyaratan. Penerapan higiene dan sanitasi yang baik dalam setiap aspek pembuatan obat sangat memengaruhi mutu produk yang dihasilkan. PT GPL juga menerapkan sanitasi dan higiene pada setiap aspek meliputi bangunan, peralatan, personil dan perlengkapan bahan produksi serta wadahnya, dan segala sesuatu yang dapat mencemari produk. Dengan program sanitasi dan higiene yang menyeluruh dan terpadu, sumber pencemaran yang bersifat potensial dapat dihilangkan. Prosedur pembersihan, sanitasi, dan higiene divalidasi dan dievaluasi

71 61 secara berkala untuk memastikan bahwa efektifitas prosedur memenuhi persyaratan. Dilengkapi dengan label identitas pada setiap ruangan dan peralatan sehingga dapat meminimalisasi kontaminasi yang dapat memengaruhi mutu produk baik secara langsung atau tidak langsung. Tidak hanya CPOB yang menjadi dasar kerja lingkup sanitasi dan higiene, PT GPL juga menerapkan konsep 5S atau 5R, yaitu Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin. Program ini sangat mendukung suasana kerja yang bersih dan nyaman Sanitasi bangunan dan fasilitas Semua hal-hal yang berkaitan dengan sanitasi bangunan dan fasilitas termasuk jadwal, metode, peralatan, dan bahan pembersih yang digunakan untuk pembersihan bangunan dan fasilitas terdapat dalam prosedur tertulis (SOP). Prosedur tertulis tersebut harus dilaksanakan dengan baik sehingga sanitasi bangunan dan fasilitas memenuhi standar yang ditetapkan. Sanitasi (pembersihan ruangan) selalu dilakukan setelah kegiatan produksi agar dapat digunakan kembali untuk proses produksi selanjutnya. Desain dan konstruksi tiap ruangan produksi tepat sehingga memudahkan dalam sanitasi. Masa kadaluarsa pembersihan selama 7 hari. Jika dalam 7 hari tidak terdapat aktivitas produksi pada ruangan tersebut, maka harus dilakukan pembersihan kembali. Sarana toilet tersedia dalam jumlah yang cukup dan memenuhi standar sanitasi serta memiliki ventilasi yang baik. Pengelolaan sampah harus diperhatikan agar sampah tidak menumpuk. Sampah dikumpulkan dalam wadah yang sesuai untuk dipindahkan ke tempat penampungan di luar bangunan dan dibuang secara teratur dan berkala Pembersihan dan sanitasi peralatan Peralatan yang sudah digunakan selalu dibersihkan baik bagian luar maupun bagian dalam sesuai dengan prosedur yang ditetapkan serta dijaga dan disimpan dalam kondisi yang bersih setiap kali sebelum dipakai. Setiap mesinmesin yang sudah dibersihkan diberi label BERSIH.

72 Higiene perorangan Semua personil, khususnya personil bagian produksi diwajibkan menjalani pemeriksaan kesehatan awal pada saat perekrutan yang menjamin bahwa keadaan kesehatan personil tidak mempengaruhi mutu produk. Setiap personil yang masuk ke area produksi, baik solid maupun likuid, harus melalui beberapa tahap, yaitu melewati loker untuk berganti pakaian dan loker untuk mengenakan pakaian khusus yang sesuai dengan kegiatan yang dilaksanakan, menggunakan pelindung yang telah disediakan seperti masker, penutup telinga (pada daerah tertentu yang memiliki kebisingan lebih dari 80 desibel), tidak mengenakan perhiasan dan komestik secara berlebihan untuk mencegah pencemaran terhadap produk. Kebersihan dan kerapihan ruangan loker perlu mendapat perhatian khusus, karena personil cenderung tidak terlalu peduli terhadap ruangan loker sehingga kurang menjaga kebersihan dan kerapihan di ruangan loker. Di PT GPL, setiap karyawan sebelum memasuki area kerja wajib mencuci tangan sesuai dengan IK prosedur pencucian dan mengeringkannya. Kegiatan mencuci tangan merupakan hal yang sederhana, namun memberikan peran penting dalam mencegah kontaminasi. Hal ini sudah ditekankan kepada personil, namun seringkali masih ada beberapa personil yang tidak melakukan kegiatan mencuci tangan. Perlu ditingkatkan lagi kesadaran setiap personil untuk mencuci tangan, karena tangan adalah sumber penyebaran kontaminan dan setiap personil semestinya membiasakan untuk mencuci tangan. Setiap personil yang masuk dalam area produksi, gudang, dan laboratorium tidak boleh melakukan hal-hal yang dapat berpengaruh pada mutu produk yang dihasilkan, misalnya merokok, makan, dan minum. Pengunjung yang tidak mendapat pelatihan dan akan masuk ke area produksi dan laboratorium pengawasan mutu diberikan penjelasan terlebih dahulu mengenai higiene perorangan dan pakaian pelindung yang disyaratkan oleh perusahaan. Pengunjung diberikan pengarahan oleh personil yang kompeten mengenai ketentuan yang harus diikuti sebelum memasuki area produksi dan laboratorium. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya kontaminasi terhadap produk yang berakibat pada kerusakan mutu produk yang dihasilkan.

73 63 PT GPL telah menetapkan program higiene perorangan yang meliputi prosedur yang terkait dengan kesehatan, hygiene practices, tata cara berpakaian, medical check up satu tahun sekali, dan tiap personil yang sakit/ mengalami luka terbuka tidak bersentuhan langsung dengan produk sampai sembuh. Sanitasi lebih menitikberatkan pada pembersihan bangunan dan peralatan. 5.6 Produksi Suatu proses produksi hendaklah dilaksanakan dengan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan dan memenuhi ketentuan CPOB, agar dapat menghasilkan produk yang memenuhi persyaratan mutu serta ketentuan izin pembuatan dan izin edar (registrasi). Mutu obat yang dihasilkan tidak hanya ditentukan pada hasil akhir analisis obat, tetapi juga ditentukan sejak kedatangan material hingga keseluruhan proses produksi selesai sehingga terdapat prosedur baku untuk tiap langkah proses beserta persyaratan yang harus diikuti dengan konsisten, seperti yang tercantum dalam prosedur pengolahan induk dan prosedur pengemasan induk sehingga dapat menjamin mutu obat yang diproduksi sesuai spesifikasi yang telah ditentukan Penyusunan jadwal produksi Perencanaan produksi di PT GPL berdasarkan pull system. Rencana produksi ditetapkan oleh departemen SC per bulannya. Penetapan produksi perbulan oleh SC ini didasari oleh permintaan dari bagian pemasaran yang mampu melihat potensi pasar tiap produk di lapangan. Berdasarkan pada jadwal produksi yang telah ditetapkan oleh bagian SC per bulannya, maka dibuatlah perencanaan mingguan sehingga proses produksi berjalan sesuai rencana. Setiap minggunya, PT GPL mengadakan rapat mingguan untuk mengatur jadwal produksi. Rapat tersebut melibatkan semua departemen yang terkait dalam produksi obat, yaitu departemen SC, produksi, QA, QC, dan R&D, yang akan membahas jadwal sehingga terjadi sinkronisasi jadwal pada setiap bagian yang akan menunjang kelancaran proses produksi. Jadwal yang telah disepakati tersebut, kemudian disosialisasikan kepada personil di tiap departemen. Selanjutnya proses produksi akan dilaksanakan berdasarkan jadwal yang telah

74 64 ditetapkan tersebut. Jadwal ini dibuat untuk sebagai acuan dalam melakukan proses produksi. Jadwal ini bersifat fleksibel dengan ketentuan ketentuan tertentu. Bagian pembelian membeli semua keperluan bahan awal produksi termasuk di dalamnya bahan kemas. Semua pemasukan, pengeluaran, dan sisa bahan dilakukan pencatatan. Sebelum digunakan, produk harus dikarantina terlebih dahulu. Bagian QC akan mengambil sampel dan melakukan serangkaian uji yang bertujuan untuk memastikan mutu bahan tersebut dan bahan hanya boleh digunakan jika sudah ada tanda diluluskan Pembagian ruang produksi Untuk menunjang berlangsungnya proses produksi di PT GPL terdapat ruangan ruangan yang berbeda kelas dan fungsinya. Adapun pembagian ruangan di area produksi adalah sebagai berikut: a. Black area (contohnya gudang dan area pengemasan) Di area ini, petugas gudang menggunakan pakaian berwarna coklat dan abuabu serta memakai helm pelindung, sedangkan untuk area pengemasan menggunakan baju berwarna biru tua dan memakai topi pelindung berwarna sama. b. Grey area (kelas E umum) Ruangan yang terdapat di area ini adalah ruangan produksi obat dan kosmetik. Untuk ruang produksi obat sudah mendapatkan sertifikat CPOB dan ruang produksi kosmetik sudah mendapatkan sertifikat CPKB. Di ruang produksi obat, personil menggunakan pakaian berwarna merah muda, sedangkan di ruang produksi kosmetik, personil menggunakan pakaian berwarna hijau muda. Di dalam area produksi obat, terdapat ruangan dengan fungsi antara lain ruang timbang, weighing airlock, ruang hasil timbang, mixing tablet, cetak tablet, coating tablet, cetak tablet 15 punch, cetak tablet 21 punch, cetak tablet 16 punch, penyimpanan walk in process (WIP), IPC, filling kapsul, mixing powder, filling powder, blistering, stripping, mixing emulsi, filling dan capping, mixing larutan, tangki filling larutan, mixing semisolid, ruang cuci alat, penyimpanan alat-alat bersih, cuci botol, penyimpanan alat-alat cetak tablet, FBD, dan ruang supervisor. Sedangkan di dalam area produksi

75 65 kosmetik, terdapat ruangan dengan fungsi antara lain ruang timbang, penyimpanan walk in process (WIP), kemas primer, IPC, mixing, filling, cuci alat, penyimpanan alat-alat bersih, dan ruang supervisor. c. Area produksi bedak dan area produksi sabun Alur masuk personil dan barang Agar proses produksi berlangsung dengan baik, maka harus dilakukan pemetaan alur barang dan personil di ruang produksi. Hal ini bertujuan agar waktu yang terpakai akan efektif dan efisien serta mengurangi kontaminasi yang dapat timbul. a. Alur personil Alur personil yang bekerja di dalam grey area telah diatur dengan peraturan yang mengikat untuk semua. Untuk memasuki area produksi, ada peraturan yang harus diikuti, antara lain, membuka pakaian dan sepatu yang digunakan saat berada di black area, menyimpan pakaian dan sepatu dalam loker yang telah disediakan, memakai baju untuk grey area, menggunakan sepatu khusus untuk grey area, dan mencuci tangan dengan sabun dan kemudian di bilas dengan alkohol 70% sebelum masuk ke ruang produksi. Memasuki area produksi dengan melewati air lock, pintu harus dibuka satu per satu karena merupakan sistem otomatis. Baju yang digunakan merupakan baju terusan dengan penutup kepala. Selama proses produksi berlangsung, operator diwajibkan menggunakan masker bersih. Visitor menggunakan baju berupa jas laboratorium dengan bahan dan warna yang sama, menggunakan tutup kepala, dan menggunakan masker selama berada dalam ruang produksi. b. Alur barang Bahan baku dan bahan kemas primer masuk melalui alur barang yang tersedia. Alur bahan baku dan bahan kemas berbeda, di mana bahan baku akan masuk melalui dedusting area, kemudian dibawa ke ruang antara (weighing airlock), untuk kemudian ditimbang, sedangkan bahan kemas melalui pass box. Setelah dilakukan penimbangan, bahan baku masuk ruang stagging dengan keadaan tertutup dalam satu wadah untuk satu bets tertentu dan sisa bahan baku

76 66 yang tersedia dibungkus kembali dengan rapi, kemudian dikembalikan ke ruang weighing air lock, untuk kemudian dikembalikan ke gudang melalui dedusting area. Bahan kemas primer yang tersisa, setelah digunakan, juga akan dikembalikan melalui jalurnya Kegiatan produksi Setelah ditetapkan jadwal mingguan, bagian produksi akan membuat BPBB kepada gudang. Gudang akan menyiapkan bahan-bahan yang telah dipesan sesuai jadwalnya setiap hari. Sebelum memulai proses produksi, perlu diperiksa kesiapan dari ruangan dan peralatan yang akan digunakan. Ruangan dan peralatan yang digunakan di PT GPL selalu diberi label status. Sebelum memulai proses produksi, diperiksa dahulu label tersebut, apakah ruangan dan peralatan telah dibersihkan dan diperiksa juga tanggal validitas pembersihannya. Jika validitas sudah tidak berlaku maka ruangan dan peralatan tersebut harus dibersihkan dahulu. Selain kebersihan, kesiapan ruangan juga diperiksa melalui suhu, kelembapan udara relatif, dan tekanan udara. Proses produksi diawali dengan penimbangan bahan. PT GPL sudah menerapkan prinsip empat mata pada saat penimbangan. Setiap proses penimbangan, dilakukan dengan pembuktian oleh dua orang petugas secara terpisah dan memiliki kecakapan dan pelatihan yang memadai. Tempat penimbangan dan penyerahan dijaga kebersihannya dengan menggunakan wadah yang cocok dan bersih. Semua proses penimbangan dan penyerahan didokumentasikan secara tertulis. Bahan-bahan yang telah ditimbang kemudian diletakkan di ruangan hasil timbang untuk menunggu proses selanjutnya. a. Produksi larutan Setelah dilakukan penimbangan dengan baik, semua bahan baku yang telah ditimbang tersebut dibawa oleh operator produksi ke ruangan mixing dengan sebuah troli yang memuat semua bahan yang diperlukan untuk produksi satu bets. Bahan yang telah ditimbang dimasukkan ke dalam sebuah wadah yang berbentuk tong, yang bertujuan agar bahan baku yang ada tidak tercecer. Setelah dilakukan mixing, inspektur IPC mengambil sampel dan produk diberi

77 67 label KARANTINA dan ditempatkan dalam ruang WIP, menunggu hasil release dari QC. Jika hasil dari QC menyatakan release, ruahan tersebut dapat segera dilakukan filling ke dalam wadah yang sesuai. Gambar 5.1. Alur produksi sediaan larutan b. Produksi tablet Setelah dilakukan penimbangan proses selanjutnya adalah mixing. Mixing tablet dilakukan di ruang mixing tablet. Setelah proses mixing selesai, petugas IPC akan mengambil sampel untuk diperiksa homogenitasnya oleh bagian QC. Proses selanjutnya baru dapat dilakukan jika sudah ada tanda diluluskan oleh QC. Produk yang menunggu proses selanjutnya, diletakkan di ruang WIP dan diberi label yang jelas mengenai status produk. Jika telah diluluskan, dilakukan sampel cetak tablet. Tablet dicetak dalam jumlah sedikit untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan oleh petugas IPC. Bila hasilnya memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan, proses cetak baru dapat dilanjutkan. Selama berlangsung proses cetak tablet, dilakukan juga IPC terhadap tablet setiap 15 menit. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya perbedaan pada hasil cetak tablet. Terakhir petugas IPC akan kembali mengambil sampel untuk diperiksa. Jika telah diluluskan, produksi tablet dapat dilanjutkan ke proses selanjutnya. Untuk tablet salut, maka proses selanjutnya adalah coating. Tablet yang sudah dicoating kemudian diperiksa kembali oleh petugas IPC. Tahap selanjutnya adalah penyortiran, untuk kemudian diblister/ stripping dan siap untuk dikemas.

78 68 Penimbangan Pencampuran IPC Pencetakan Tablet IPC Sampel Cetak IPC Penyalutan tablet IPC Pengemasan Akhir IPC Striping Gambar 5.2. Alur produksi sediaan tablet c. Produksi powder Setelah penimbangan, bahan baku akan dibawa oleh operator produksi untuk dilakukan mixing. Setelah dilakukan mixing, bagian IPC akan melakukan sampling terhadap produk ruahan. Pruduk ruahan yang menunggu hasil pemeriksaan IPC akan disimpan dalam kantung plastik rangkap dua. Setelah plastik awal diikat dengan tali plastik, akan dimasukan silika gel yang kemudian diikat kembali dengan tali plastik. Plastik ini ditaruh dalam tong bersih yang kemudian ditutup rapat dan diikat kembali dengan tali plastik dan diberi label KARANTINA dan disimpan dalam ruang WIP untuk menunggu hasil QC. Jika hasil mixing dinyatakan release oleh QC, dapat dilakukan proses filling/ pengemasan primer.

79 69 Penimbangan Pencampuran Pengayakan Pengisian IPC Pencampuran Pengemasan Gambar 5.3. Alur produksi sediaan powder Kegiatan pengemasan Proses pengemasan dilakukan di dua tempat, yaitu pengemasan primer yang dilakukan di grey area dan pengemasan sekunder yang dilakukan di black area. Proses pengemasan dilaksanakan dengan pengawasan yang ketat agar terjamin identitas, keutuhan, kelengkapan, dan kulitas produk yang telah dikemas. Kegiatan pengemasan sesuai dengan prosedur tertulis. Sebelum pengemasan dimulai, dipastikan bahwa peralatan dan ruangan atau jalur pengemasan dalam keadaan bersih dan bebas dari produk dan dokumen lain yang tidak diperlukan dalam pengemasan. Penandaan di label, dus, atau komponen lain dengan nomor bets, tanggal kadaluarsa dan informasi lain diawasi secara ketat pada setiap tahap pengemasan. Sisa produk atau produk yang rusak selama pengemasan, dihitung, dicatat, untuk kemudian dihancurkan Dokumentasi Semua proses produksi didokumentasikan dalam batch record yang meliputi data-data, label-label, prosedur produksi, dan lain-lain. Dokumen ini digunakan jika terjadi masalah terhadap lot yang bersangkutan, misalnya produk ditolak, adanya keluhan konsumen, atau produk kembalian. 5.7 Pengawasan mutu Pengawasan mutu merupakan bagian yang penting dari CPOB untuk memberikan kepastian bahwa produk secara konsisten mempunyai mutu yang

80 70 sesuai dengan tujuan pemakaiannya. Pengendalian mutu secara menyeluruh dilakukan oleh departemen QO, yang terdiri dari bagian QA, QC, TS, dan EHS. Pengendalian mutu ini dilakukan terhadap bahan awal, produk setengah jadi (termasuk IPC), sampai dengan produk jadi yang siap digunakan. Bagian QA bertanggung jawab penuh terhadap mutu obat yang dihasilkan, mulai dari bahan awal, proses produksi, kondisi lingkungan produksi, pengemasan dan peralatan, dokumentasi, validasi dan inspeksi diri. Bagian QC bertanggung jawab penuh pada pemeriksaan spesifikasi bahan awal, produk antara, dan produk jadi. Bagian TS bertanggung jawab penuh terhadap kualifikasi dan kalibrasi alat dan mesin pendukung proses produksi. Dalam menjalankan tugasnya bagian pengawasan mutu dilengkapi dengan laboratorium dan peralatan yang sesuai serta didukung oleh personil yang terlatih dan mampu serta terampil dibidangnya. Hal ini bertujuan untuk menjamin kebenaran dan ketepatan hasil analisis yang diperoleh. Bagian pengawasan mutu selalu melakukan pemeriksaan selama proses produksi berlangsung. Setiap kali melakukan analisis, lembar periksa yang berisi hasil dan kesimpulan analisis didokumentasikan oleh bagian QA. Unit Pengawasan Mutu memiliki sarana laboratorium pemeriksaan yang baik. Laboratorium dilengkapi dengan peralatan atau instrumen yang lengkap. Ada tiga laboratorium di departemen ini, yaitu laboratorium kimia, laboratorium instrumen, dan laboratorium mikrobiologi. Dalam melakukan tugasnya, seluruh personil diwajibkan untuk memakai pakaian pelindung dan alat pengaman seperti masker, kacamata, dan sarung tangan yang disesuaikan dengan keperluannya. Laboratorium instrumen memiliki peralatan yang memadai dalam pengujian. Peralatan dikalibrasi menurut jadwal yang telah ditetapkan. Tanggal kalibrasi dan perawatan yang telah dilakukan serta tanggal kalibrasi dan perawatan berikutnya tertera pada masing-masing instrumen. Alat-alat yang rusak atau sedang dalam perbaikan diberi identitas yang jelas sehingga tidak terjadi kesalahan dalam melakukan pengujian. Seluruh peralatan juga dilengkapi dengan prosedur tetap untuk pengoperasiannya, yang diletakkan di dekat instrumen atau peralatan bersangkutan.

81 71 Di laboratorium kimia, pereaksi yang dibuat, diberi label yang sesuai, seperti nama pereaksi, konsentrasi, waktu pembuatan, batas waktu penggunaan, dan tanda tangan petugas yang membuat pereaksi yang bersangkutan. Dengan demikian, identitas seluruh pereaksi yang digunakan dapat diketahui dengan jelas, guna menjamin kebenaran hasil pengujian. Selain itu, terdapat pula baku pembanding yang disimpan secara rapi menurut kondisi penyimpanannya. 5.8 Inspeksi diri, audit mutu, serta audit dan persetujuan pemasok Inspeksi diri dilakukan untuk menilai kesesuaian antara seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu dalam industri farmasi dengan ketentuan CPOB serta untuk mengevaluasi dan menentukan tindakan apa yang harus diambil sebagai langkah korektif jika terjadi suatu penyimpangan. Program inspeksi diri merupakan langkah peninjauan kembali sarana, prasarana, dan seluruh tata kerja pabrik yang mungkin dapat berpengaruh pada jaminan mutu. Dengan adanya inspeksi diri, dapat dilakukan perbaikan terus menerus terhadap berbagai kelemahan yang mungkin timbul. Inspeksi diri juga bertujuan untuk mengetahui cacat kritis, berdampak kecil, atau berdampak besar. Dengan demikian, langkahlangkah pencegahan dan perbaikan cacat tersebut dapat segera ditentukan. Inspeksi diri adalah kegiatan penilaian yang dilakukan secara regular, sistematis, dan objektif. Reguler berarti rutin, terdapat jadwal pelaksanaan inspeksi diri dalam jangka waktu tertentu untuk menjamin tercapainya kesesuaian secara kontinu. Inspeksi juga harus dilakukan secara sistematis, dalam artian terdapat langkah-langkah pengerjaan yang jelas dan daftar hal-hal yang harus diperiksa untuk mendapatkan standar inspeksi yang seragam. Sementara objektif artinya inspeksi dilakukan oleh seseorang yang tidak terkait dengan departemen yang sedang diperiksa. Inspeksi diri harus dilakukan oleh suatu tim auditor yang kompeten serta memahami peraturan atau regulasi yang terkait secara teoritis maupun praktis. Laporan inspeksi diri mencakup hasil, penilaian, kesimpulan, dan usulan tindakan perbaikan. Hasil dari inspeksi diri ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan baru, agar penyimpangan yang terjadi tidak terulang kembali.

82 72 PT GPL melakukan audit internal dan dilakukan secara berkala empat kali setiap tahun dengan membentuk tim khusus yang independen. Anggota tim dapat berasal dari lingkungan perusahaan atau dari luar perusahaan. Tiap anggota tim bebas dalam melakukan inspeksi dan dalam memberikan penilaian atas hasil inspeksi. Anggota tim adalah orang-orang yang telah mendapat sertifikasi dari konsultan CPOB untuk melaksanakan proses audit. Setelah audit internal ini, dilakukan pembuatan laporan audit yang isinya adalah temuan-temuan, penyimpangan yang terjadi, dan saran perbaikan sehingga terjadi perbaikan berkesinambungan. Dalam menentukan saran dan tindakan perbaikan harus disertai juga dengan perkiraan target akan tercapai dan penyelesaiannya yang disetujui oleh bagian yang diaudit dan tim inspeksi diri. Bila target penyelesaian lebih dari 6 bulan maka digunakan prosedur PTPP (Permintaan Tindakan Perbaikan dan Pencegahan) atau CPAR (Corrective, Preventive, Action, Request). Laporan audit tersebut diserahkan kepada bagian pengawasan mutu atau quality assurance (QA). Audit eksternal dilakukan oleh Badan POM atau dari tim sertifikasi ISO Untuk mendapat standar inspeksi diri yang minimal dan seragam disusun daftar periksa selengkap mungkin. Daftar periksa mengandung pertanyaan mengenai ketentuan CPOB yang meliputi : karyawan, bangunan termasuk fasilitas untuk karyawan, penyimpanan bahan jadi, peralatan, produksi, pengawasan mutu, dokumentasi, perawatan gedung, dan peralatan. Inspeksi diri merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menilai kesesuaian seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu dalam industri farmasi dengan ketentuan CPOB, serta untuk mengevaluasi dan menentukan tindakan apa yang harus diambil sebagai langkah korektif jika terjadi suatu penyimpangan. 5.9 Penanganan keluhan terhadap produk dan penarikan kembali produk Keluhan terhadap produk obat dibagi menjadi dua, yaitu keluhan yang menyangkut efek samping obat (ESO) dan menyangkut keluhan teknis kualitas obat (KTKO). Keluhan terhadap obat dapat berasal dari dalam maupun luar perusahaan. Keluhan dari dalam perusahaan dapat berasal semua pihak yang berhubungan dengan kegiatan produksi, sedangkan keluhan dari luar perusahaan

83 73 dapat berasal dari distributor, dokter, pasien, apoteker, rumah sakit atau klinik, Pemerintah (Badan POM), dan media massa. Keluhan dari pelanggan dapat disampaikan baik secara lisan maupun melalui surat, dan ditangani oleh bagian pemasaran PT GPL. Keluhan yang diterima kemudian ditindaklanjuti dengan melakukan evaluasi terhadap catatan pengolahan bets sesuai dengan bets yang dikeluhkan, contoh produk yang dikeluhkan, contoh pertinggal, dan contoh dari gudang produk/ produk kembalian, jika diperlukan. Terdapat personil yang ditunjuk untuk menangani hal ini mulai dari proses penyelidikan, evaluasi, tindak lanjut yang sesuai, termasuk pertimbangan untuk penarikan kembali produk, dalam menanggapi keluhan terhadap obat yang diduga cacat. Penarikan kembali produk juga dilaksanakan oleh personil yang telah ditunjuk. Obat kembalian adalah obat jadi yang telah beredar, yang kemudian dikembalikan ke pabrik karena adanya keluhan kerusakan, kadaluarsa, masalah keabsahan, atau sebab lain mengenai kondisi obat, wadah, atau kemasan sehingga menimbulkan keraguan akan keamanan, identitas, mutu, dan jumlah obat yang bersangkutan. Produk yang ditarik kembali diidentifikasi dan disimpan di tempat terpisah untuk menunggu keputusan terhadap produk tersebut. Produk kembalian dikarantina sebelum diambil keputusan apakah akan dilakukan tindakan pengolahan atau pengemasan ulang terhadap produk tersebut. Produk kembalian yang tidak dapat diolah atau dikemas ulang harus dimusnahkan. Penarikan kembali obat pada PT GPL dapat diprakarsai oleh perusahaan maupun Pemerintah (Badan POM, 2006). Sejauh ini hal tersebut belum terjadi di PT GPL Dokumentasi Salah satu hal yang sangat fundamental dalam pengoperasian suatu perusahaan farmasi agar dapat memenuhi persyaratan CPOB adalah dokumentasi. Dokumentasi merupakan hal yang sangat penting untuk memastikan bahwa setiap personil menerima uraian tugas yang relevan secara jelas dan rinci sehingga memperkecil resiko salah tafsir dan kekeliruan yang disebabkan oleh komunikasi lisan. Selain itu dokumentasi juga memastikan bahwa tugas dilakukan dengan benar dan setiap hal yang dilakukan didokumentasikan dengan baik. Dokumentasi

84 74 dilakukan untuk memudahkan penelusuran kembali jika terdapat produk yang tidak memenuhi syarat atau mengantisipasi terjadinya kesalahan di masa mendatang. Seluruh kegiatan produksi, bahan baku, hingga obat jadi harus mengikuti ketentuan dokumentasi yang diterapkan perusahaan. Dokumentasi pada PT GPL telah tersusun secara rinci mulai dari format standar dokumen, prosedur penyusunan, hingga prosedur pengisian dan penandatanganan dokumen. Dokumen disusun, diperiksa, dan ditandatangani oleh personil yang berwenang. Semua dokumen ditik dan pencatatan data ditulis tangan oleh personil yang bersangkutan dengan jelas. Semua kegiatan dicatat di log book dan ditandatangani. Sistem dokumentasi menggambarkan riwayat lengkap dari setiap bets atau lot suatu produk sehingga memungkinkan penyelidikan serta penelusuran terhadap bets atau lot yang bersangkutan. Sistem dokumentasi juga digunakan dalam pemantauan dan pengendalian, misalnya untuk kondisi lingkungan, perlengkapan, dan personalia. Pengelolaan dokumen tersebut dilakukan oleh departemen document control (DC) Pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak Pembuatan analisis berdasarkan kontrak harus dibuat secara benar, disetujui, dan dikendalikan untuk menghindari produk atau pekerjaan dengan mutu yang tidak memuaskan. Pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak pada dasarnya terbagi menjadi dua, yaitu toll in dan toll out. Toll in adalah kerjasama antara PT GPL dengan industri farmasi lain, tetapi proses manufacturing dilakukan di PT GPL, sedangkan toll out merupakan kerjasama antara PT GPL dengan industri farmasi lain dimana proses manufacturing dilakukan di industri farmasi lain. Pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak yang dilakukan oleh PT GPL mencakup keduanya, yaitu toll in dan toll out Kualifikasi dan validasi Kualifikasi dan validasi merupakan salah satu aspek penting CPOB yang wajib diterapkan dalam setiap industri farmasi sebagai bukti pengendalian terhadap aspek kritis dari kegiatan yang dilakukan. Perubahan signifikan terhadap fasilitas, peralatan, dan proses yang dapat mempengaruhi mutu produk hendaklah

85 75 divalidasi. Terdapat tiga jenis proses validasi, yaitu validasi prospektif, validasi konkuren, dan validasi retrospektif. Selain validasi dilakukan juga kualifikasi, yaitu pembuktian secara tertulis berdasarkan data yang menunjukkan bahwa suatu peralatan, fasilitas sistem penunjang (utility), komputer, dan proses pengemasan secara otomatis bekerja sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan sehingga secara konsisten dapat menghasilkan produk dengan standar mutu yang telah ditetapkan. Kualifikasi terdiri atas empat tahap, yaitu design qualification (DQ), instalation qualification (IQ), operational qualification (OQ) dan performance qualification (PQ). Keempat tahapan kualifikasi dilakukan untuk peralatan dan sistem baru, sedangkan untuk peralatan dan sistem yang dimodifikasi tidak dilakukan tahap design qualification. Validasi yang dilakukan di PT GPL meliputi validasi metode analisis, validasi pembersihan, validasi proses, dan validasi sistem penunjang. Validasi metode analisis, validasi pembersihan, dan validasi sistem penunjang dilakukan sebelum pelaksanaan validasi proses. Validasi pembersihan dilaksanakan terhadap mesin atau peralatan setelah digunakan untuk proses produk tertentu atau sampling bahan baku tertentu. Sementara itu, validasi proses dilakukan terhadap sistem penunjang seperti HVAC, water system, listrik, fasilitas, dan peralatan lainnya. Validasi proses terhadap produk-produk baru dilaksanakan setelah diperoleh formula yang optimal hasil pravalidasi oleh departemen R&D. Validasi prospektif merupakan pendekatan validasi standar. Peralatan, metode, proses, dan lain-lain harus terkualifikasi penuh sebelum pembuatan produk atau didukung oleh hal-hal tersebut. Untuk produk baru dilakukan validasi prospektif, tetapi jika tidak memungkinkan misalnya raw material mahal atau produksi yang jarang, maka dapat dilaksanakan validasi konkuren.

86 BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan a. PT Galenium Pharmasia Laboratories telah menerapkan setiap aspek CPOB dengan baik dalam tiap aspek dan rangkaian proses produksinya, yang meliputi aspek personalia, bangunan dan fasilitas, peralatan, sanitasi dan higiene, produksi, pengawasan mutu, inspeksi diri dan audit mutu, penanganan keluhan terhadap produk, penarikan kembali produk, dan produk kembalian, dokumentasi, pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak, serta kualifikasi dan validasi. b. Kegiatan di PT Galenium Pharmasia Laboratories meliputi proses manufaktur (proses produksi hingga pada proses pengolahan dan pengemasan), pemastian mutu, pengawasan mutu dan bagian perkantoran (head office). Masing-masing bagian QA, QC, dan produksi bersifat independen dan memiliki tanggung jawab sendiri, namun bertanggung jawab bersama pada penerapan CPOB dalam kegiatan pembuatan sediaan farmasi untuk menjamin mutu produk yang dihasilkan. c. Apoteker memegang peranan yang sangat penting dalam industri farmasi, khususnya di PT Galenium Pharmasia Laboratories, terutama sebagai manajer produksi, deputi quality operational (QO), manajer quality assurance (QA), manajer quality control (QC), dan manajer research and development (RD). Fungsi Apoteker adalah sebagai tenaga profesional yang ikut dalam menentukan kualitas produk yang dihasilkan melalui keahliannya dalam dunia kefarmasian. 6.2 Saran a. Dalam rangka meminimalisasi risiko kontaminasi mikroba pada produksi Emulsi maka sebaiknya dilakukan proses produksi tertutup yang terintegrasi sehingga tidak diperlukan lagi proses pemanasan emulsi sebelum filling. Dengan proses tertutup yang terintegrasi diharapkan stabilitas emulsi tidak 76

87 77 mengalami penurunan akibat pemanasan, waktu produksi menjadi lebih singkat, dan biaya menjadi lebih rendah. b. Untuk mempercepat waktu produksi emulsi sebaiknya dilakukan pembelian mesin filling baru otomatis. c. Sebaiknya waktu pendiaman basis emulsi dikurangi/dihilangkan untuk mencegah resiko kontaminasi dan mempercepat waktu produksi. d. Untuk mempercepat waktu produksi, sebaiknya ruang pencucian botol PET dilengkapi dengan pipa untuk aliran Purified water ke dalam ruangan sehingga operator tidak harus berulang kali mengambil purified water dari ruangan lain.

88 78 DAFTAR ACUAN Badan POM. (2006). Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Badan POM. (2012). Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia No. HK Tahun 2012 tentang Penerapan Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Daris, Azwar. (2008). Himpunan Peraturan dan Perundang-undangan Kefarmasian. Jakarta: PT ISFI Penerbitan. Gunadi. (2008). Pengertian ISO 9000, Sistem Standar Manajemen Mutu. ardisasi-3.4%20%28iso%209000%29.pdf. [Diunduh pada tanggal 21 Maret 2013 pukul 08:57]. Hamin, Murdifin dan Nurnajamuddin, Mahfud. (2012). Manajemen Produksi Modern, Operasi Manufaktur dan Jasa. Jakarta: PT Bumi Aksara. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1799/Menkes/Per/XII/2010 tentang Industri Farmasi. Jakarta. PT Galenium Pharmasia Laboratories. (2011). Profil Perusahaan. [Diunduh pada tanggal 21 Maret 2013 pukul 10:41]. PT Galenium Pharmasia Laboratories. (2012a). Organization Structure PT Galenium Pharmasia Laboratories Februari Bogor: PT Galenium Pharmasia Laboratories. PT Galenium Pharmasia Laboratories. (2012b). Instruksi Kerja Departemen No. B/PRP/01. Bogor: PT Galenium Pharmasia Laboratories. PT Galenium Pharmasia Laboratories. (2012c). Uraian Jabatan Pharma Production Manager. Bogor: PT Galenium Pharmasia Laboratories. PT Galenium Pharmasia Laboratories. (2012d). Instruksi Kerja Produksi No. B/PRP/02. Bogor: PT Galenium Pharmasia Laboratories. PT Galenium Pharmasia Laboratories. (2013a). Organization Structure of Department Pharma Production January Bogor: PT Galenium Pharmasia Laboratories.

89 79 PT Galenium Pharmasia Laboratories. (2013b). Standard Operating Procedure Proses Produksi SOP-GPL C3.1. Bogor: PT Galenium Pharmasia Laboratories. QIMS. (2010). ISO 9001: 2008 Sistem Manajemen Mutu (COQ-01). [Diunduh pada tanggal 21 Maret 2013 pukul 09:27]. Presiden Republik Indonesia Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Wahyono, Budi. (2013). Pengertian dan Sejarah Singkat ISO html. [Diunduh pada tanggal 21 Maret 2013 pukul 09:03].

90 TABEL

91 80 Tabel 3.2. Daftar produk farma ethical PT Galenium Pharmasia Laboratories NO CREAM LIQUID SYRUP OINTMENT TABLET KAPSUL Acne 1. Bioderm Feldin Cetymin Chiby Baby 5 gr Lotion ml Balm 20 gr Cetymin Mycotrazol ml Calacort 10 gr Dermafoot 30 gr Laxarec 5 ml Melavita 0,05 & 0,1%, 10 gr Scabimite 10 & 30 gr Sinobiotik 5 g Ressal Acne Lotion 100 ml Topisel Lotion 30 ml Galdom Suspensi 60 ml Galpect 60 ml Imunex 60 ml Laxadilac 60 ml Neladryl DMP 60 ml Neladryl Exp 60 & 110 ml Haemocaine 15 gr Galdom Galpect Glimunos Kaplet Galtropil Kaplet 800 & 1200 mg Galten Kaplet Galtaren 50 mg 8. Soft-U-Derm Pyravit 110 Gamesolon 4 Forte 40 gr & 225 ml & 8 mg 9. Solare SPF 30 & ml Prosic Suspension 60 ml Gasorbid 10. Topsy 3 & Haemogal 5 gr Kaplet 11. Imunex 12. Amlogal 5 mg 13. Laxatab 14. Mycostop 250 & 500 mg Prolung 15. Kaplet 450 mg Trichol Tabel 3.3. Daftar produk farma OTC PT Galenium Pharmasia Laboratories NO SEMISOLID LIQUID SYRUP POWDER TABLET KAPSUL Galtaren Chiby Oil Mycorine Glimunos Cartiflex 1. Emulgel Inhalant Powder Laxassia 30 & 60 ml Kaplet 20 gr 12 ml 25 gr Skintex Ointment 5 gr Mycorine Cream 5 & 15 gr Ressal Acne Lotion 100 ml Topisel Lotion 30 ml Laxadine Emulsi 30, 60, & 110 ml Galpect 60 ml Mycorine Sachet 10 gr Selefit Plus Kaplet Selefit Plus CC

92 81 Tabel 3.4. Daftar produk PSC PT Galenium Pharmasia Laboratories NO SEMISOLID LIQUID POWDER BARSOAP Caladine Powder Caladine Lotion Caladine Baby-Bootle Caladine Baby 1. Original 35, 60, 100, 60 & 95 ml 100 & 200 ml 85 gr & 220 gr Caladine Cream 15 gr JF Facial Foam Acne Care 70 gr JF Facial Foam Mild Ca re 70 gr JF Men Deep Clean 70 gr JF Men Oil Clear 70 gr Caladine Baby-Pouch 200 ml Oilum Body Wash Moisturizing- Bootle 210 ml Oilum Body Wash Moisturizing- Pouch 175 ml Oilum Body Wash- Brightening Scrub Bootle 210 ml JF Family Body Wash Orange Spirit- Bootle & Pouch 200 ml JF Family Body Wash Blue Ocean- Bootle & Pouch 200 ml 8. JF Wet Wipes 10 s Caladine Powder Soft Comfort 35, 60, 100, & 220 gr Caladine Powder Active Fresh 35, 60, 100, & 220 gr Caladine Baby Powder 50 & 100 gr JF Sufur Acne Care 65 & 90 gr JF Sufur Oily Care 65 & 90 gr JF Sufur Mild Care 65 & 90 gr JF Sufur Blemish Care 65 gr Belsoap Original 65 gr Belsoap White Musk 65 gr Belsoap Soft Floral 65 gr Oilum- Moisturizing 85 gr Oilum- Brightening Scrub 85 gr JF Family Orange Spirit 95 gr JF Family Blue Ocean 95 gr

93 LAMPIRAN

94 82 Lampiran 1. Struktur organisasi PT Galenium Pharmasia Laboratories

95 83 Lampiran 2. Struktur organisasi Departemen Produksi Farma PT GPL

96 84 Lampiran 3. Alur proses produksi tablet, sirup, krim, dan sabun di PT GPL Tablet (granulasi Basah) Sirup Cream Sabun Penimbangan Penimbangan Penimbangan Penimbangan Pencampuran Pencampuran Pembuatan basis Rolling minyak dan air Granulasi IPC Mixing Pencampuran Pengeringan Pengisian Rolling Rolling IPC IPC Plodding IPC Pencetakan Pengemasan Cutting Akhir Pengisian IPC Stamping IPC IPC Pengemasan IPC Primer Pengiriman Pengemasan Akhir Pengemasan IPC Primer IPC Pengemasan Akhir Pengemasan Akhir Pengiriman Pengiriman IPC Pengiriman

97 85 Lampiran 4. Alur proses produksi salep, bedak, emulsi, dan lotion di PT GPL Salep Bedak Emulsi Lotion Penimbangan Penimbangan Penimbangan Penimbangan Pelelehan Basis Pencampuran Pencampuran fase Pencampuran minyak dan air Pencampuran Pengayakan IPC IPC Rolling Pencampuran Pengisian Pengisian IPC IPC IPC IPC Pencampuran Pengisian Pengemasan Akhir Pengemasan Sekunder Pengemasan Akhir IPC Sekunder Pengemasan Akhir IPC Pengisian Pengemasan IPC Akhir Pengiriman IPC Pengiriman IPC Pengemasan Akhir Pengiriman IPC Pengiriman

98 UNIVERSITAS INDONESIA SIMULASI PENGAMBILAN KEPUTUSAN MENGGUNAKAN AHP (ANALITICAL HIERARCHY PROCESS) DALAM CONTINUES IMPROVEMENT PRODUKSI EMULSI Z DI PT GALENIUM PHARMASIA LABOATORIES TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER EDI KURNIAWAN, S. Farm ANGKATAN LXXVI FAKULTAS FARMASI PROGRAM PROFESI APOTEKER DEPOK JUNI 2013

99 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR GAMBAR... iii DAFTAR TABEL... iv 1. PENDAHULUAN Latar belakang Tujuan TINJAUAN PUSTAKA Analitical hierarchy process (AHP) Emulsi PELAKSANAAN TUGAS KHUSUS Waktu dan tempat Langkah-langkah dalam pengambilan keputusan menggunakan AHP PEMBAHASAN KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran DAFTAR ACUAN ii

100 DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1. Contoh struktur hierarki dalam AHP... 4 Gambar 3.1. Hubungan sasaran, kriteria, alternatif dalam AHP Gambar 3.2. Nilai eigen untuk masing-masing kriteria Gambar 3.3. Hubungan sasaran, kriteria, alternatif dengan nilai eigennya iii

101 DAFTAR TABEL Tabel 2.1. Skala perbandingan nilai kepentingan... 4 Tabel 2.2. Matriks perbandingan kriteria... 5 Tabel 2.3. Nilai indeks rasio (RI) untuk beberapa nilai n... 7 Tabel 3.1. Matriks hasil perbandingan berpasangan kriteria Tabel 3.2. Matriks hasil perbandingan berpasangan kriteria dengan nilai eigennya Tabel 3.3. Matrik perbandingan berpasangan untuk alternatif dengan kriteria biaya Tabel 3.4. Matriks hasil perbandingan berpasangan untuk alternatif dengan kriteria biaya beserta dengan nilai eigennya Tabel 3.5. Matriks perbandingan berpasangan untuk alternatif dengan kriteria waktu Tabel 3.6. Matriks hasil perbandingan berpasangan untuk kriteria waktu beserta dengan nilai eigennya Tabel 3.7. Matrik perbandingan berpasangan untuk alternatif dengan Kriteria mutu Tabel 3.8. Matriks hasil perbandingan berpasangan untuk kriteria mutu beserta dengan nilai eigennya Tabel 3.1. Nilai Eigen untuk semua alternatif dan kriteria iv

102 BAB 1 LATAR BELAKANG 1.1 Latar Belakang Di era dunia bisnis yang sangat kompetitif sekarang ini, sangat penting untuk setiap industri secara konsisten menilai setiap keputusan yang akan diambil secara tepat (Ogunyemi, O., et al. 2011). Dalam pengambilan keputusan dengan kriteria yang banyak, pengambil keputusan seringkali perlu memilih atau menilai alternatif yang memiliki konflik kriteria (Ahari, S.G., et al., 2011). Analitical hierarcy Process (AHP) sering digunakan untuk menyelesaikan masalah pengambilan keputusan dengan kriteria yang banyak dan telah sukses diterapkan pada banyak tipe permasalahan dalam pengambilan keputusan (Ahari, S.G., et al., 2011). AHP yang dikembangkan oleh Saaty pada tahun 1977, adalah metode pengambilan keputusan untuk membuat prioritas terhadap alternatif ketika multipel kriteria harus dipertimbangkan. AHP dapat menyederhanakan masalah yang kompleks dan tidak terstruktur, strategik dan dinamik menjadi bagiannya, serta menjadikan variabel dalam suatu hirarki (tingkatan). Keuntungan utama dari proses hirarki analisis adalah penggunaan pairwise comparison untuk mendapatkan perbandingan (rasio) derajat pengukuran. Skala rasio merupakan alat yang digunakan untuk mengukur baik tangibel maupun intagible faktor (Liberatore, M., and Robert L.N., 2008). Analitical hierarcy process memiliki potensi yang sangat banyak untuk diterapkan dalam bidang farmasi, bioteknologi, dan ilmu pengetahuan, termasuk dalam rencana strategis, R&D, supply chain, dan teknologi informasi (Decision Lens, 2011). PT Galenium Pharmasia Laboratories selalu berupaya dalam melakukan perbaikan terus menerus (continues improvment) di setiap lini perusahaan. Proses produksi merupakan salah satu lini yang menjadi perhatian karena merupakan tahapan yang penting dalam menghasilkan suatu produk sehingga perlu dilakukan perbaikan secara terus menerus agar dapat meningkatkan nilai jual produk dan produk dapat sampai ke tangan konsumen tepat waktu. Salah satu jenis sediaan farmasi yang diproduksi oleh PT Galenium Pharmasia Laboratories adalah emulsi. Produk emulsi Z merupakan salah satu produk andalan dari PT Galenium 1

103 2 Pharmasia Laboratories. Untuk menghasilkan produk dengan nilai jual yang lebih tinggi maka perlu dilakukan perbaikan pada tiap tahapan dari proses produksi tersebut. Ketika melakukan perbaikan pada proses produksi maka ada tiga hal yang sebaiknya dipertimbangkan yaitu bagaimana caranya proses produksi dapat lebih cepat, lebih murah, dan lebih bermutu. Dari ketiga hal tersebut diatas adakalanya saling bertentangan satu sama lain, ketika satu kriteria terpenuhi maka kriteria lain tidak terpenuhi. Misalnya di saat perusahaan ingin proses produksi lebih cepat maka perusahaan dapat membeli alat baru yang lebih canggih, namun harga dari alat baru tersebut ternyata sangat mahal. Proses produksi lebih cepat dapat terpenuhi namun lebih murah belum tentu terpenuhi. Oleh karena itu penting bagi para pengambil keputusan untuk menentukan kriteria mana yang lebih dipentingkan dengan mempertimbangkan kondisi dari perusahaan itu sendiri. Dalam menentukan alternatif yang akan dipilih maka digunakan metode AHP. Pertama dilakukan penentuan kriteria yang akan dianggap paling penting. Dimana pada simulasi pengambilan keputusan ini ditentukan tiga kriteria yaitu biaya lebih murah, waktu lebih cepat, dan mutu lebih baik. Langkah selanjutnya adalah menentukan peringkat dari tiap alternatif untuk masing-masing kriteria tersebut secara satu persatu. Kemudian dapat ditentukan peringkat secara kesuluruhan dari masing-masing alternatif berdasarkan semua kriteria yang telah ditentukan. 1.2 Tujuan Tujuan dari pembuatan tugas khusus ini adalah mahasiswa dapat memahami penerapan AHP dalam proses pengambilan keputusan dan mengaplikasikan dalam menentukan urutan prioritas alternatif yang akan dipilih dalam perbaikan proses produksi emulsi Z di PT Galenium Pharmasia Laboratories.

104 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Analitical Hierarcy Prosess (AHP) Pengertian AHP Analitical hierarcy process (AHP) adalah metode pengambilan keputusan dengan multi kriteria yang dikembangkan oleh Saaty. AHP menarik minat banyak peneliti hal ini karena AHP menggunakan metode matematika yang mudah dan input data dapat dilakukan secara sederhana. AHP adalah alat bantu dalam mengambil keputusan yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah pengambilan keputusan yang kompleks. AHP menggunakan multi level struktur hirarki objektif, kriteria, subkriteria, dan alternatif. Hubungan antar data diperoleh dengan menggunakan pairwise comparison. Perbandingan ini digunakan untuk mendapatkan bobot (nilai) kepentingan dari kriteria keputusan, dan merupakan penilaian kinerja relatif suatu alternatif dari masing-masing kriteria keputusan (Triantaphyllou, E and Stuart H.M., 1995). AHP memiliki banyak keunggulan dalam menjelaskan proses pengambilan keputusan karena dapat digambarkan secara grafis, sehingga mudah dipahami oleh semua pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan (Marimin dan Nurul Maghfiroh, 2011) Prinsip-Prinsip Dasar Analytical Hierarcy Process Ada tiga prinsip dasar dalam AHP, yaitu : a. Menyusun hirarki yaitu memecah persoalan menjadi unsur yang terpisah-pisah. b. Penetapan Prioritas yaitu menentukan peringkat elemen-elemen menurut relatif pentingnya. c. Konsistensi Logis yaitu menjamin bahwa semua elemen dikelompokkan secara logis dan diperingkatkan secara konsistensi sesuai dengan kriteria yang logis Dekomposisi (penyusunan hierarki) Dekomposisi adalah memecahkan atau membagi problema yang utuh menjadi unsur unsurnya ke bentuk hirarki proses pengambilan keputusan, dimana 3 Universitas indonesia

105 4 setiap unsur atau elemen saling berhubungan. Penyusunan hierarki dilakukan dengan cara mengidentifikasi pengetahuan atau informasi yang sedang diamati. Susunan hierarki biasanya terdiri dari tujuan (goal), kriteria, dan alternatif (Marimin dan Nurul Maghfiroh, 2011). Tujuan Kriteria 1 Kriteria 2 Kriteria 3 Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif 3 Gambar 2.1 Contoh Struktur Hierarki Dalam AHP (Marimin dan Nurul M., 2011) (telah diolah kembali). Alternatif Penilaian setiap level hierarki Penilaian setiap level hierarki dinilai melalui perbandingan berpasangan. Menurut Saaty (1983), untuk berbagai persoalan, skala 1 sampai 9 adalah skala terbaik dalam mengekspresikan pendapat. Skala 1-9 ditetapkan sebagai pertimbangan dalam membandingkan pasangan elemen di setiap level hierarki terhadap suatu elemen yang berada di level diatasnya. Skala dengan sembilan satuan dapat menggambarkan derajat sampai mana kita mampu membedakan intensitas tata hubungan antar elemen (Marimin dan Nurul, M., 2011). Tabel 2.1 Skala Perbandingan Nilai Kepentingan (Triantaphyllou, E & Mann.S.H., 1995) Tingkat Definisi keterangan kepentingan 1 Kedua elemen sama Dua elemen memberikan kontribusi penting yang sama kepada tujuan 3 Elemen yang satu sedikit Pengalaman dan pertimbangan lebih penting dibanding sedikit lebih menyukai elemen satu dengan lemen lainnya dibanding yang lain

106 5 5 Elemen yang satu lebih Pengalaman dan penilaian dengan esensial atau lebih penting kuat memihak elemen satu dari elemen lainnya dibanding yang lain 7 Elemen yang satu jelas Elemen yang satu dominan lebih penting dibandingkan terhadap yang lain elemen lainnya 9 Suatu elemen mutlak lebih Sudah ada bukti kuat yang penting dari yang lain menegaskan kepentingan terhadap yang lain 2,4,6,8 Nilai elemen berdekatan Perlu adanya suatu kompromi antara dua pertimbangan 1/(2-9) Kebalikan dari keterangan Jika untuk nilai aktivitas i nila 2-9 mendapat satu angka bila dibandingkan dngan aktivitas j, maka j mempunyai nilai kebalikannya bila dibandingkan dengan i Penentuan prioritas Menentukan susunan prioritas elemen adalah dengan menyusun perbandingan berpasangan yaitu membandingkan dalam bentuk berpasangan seluruh elemen untuk setiap sub hirarki. Perbandingan tersebut ditransformasikan dalam bentuk matriks. Tabel 2.2 Matriks Perbandingan Kriteria (Triantaphyllou, E & Mann.S.H., 1995) K1 K2 K3.. Kn K1 K11 K12 K12.. K1n K2 K21 K22 K23.. K2n K3 K31 K32 K33.. K3n Kn Kn1 Kn2 Kn3.. Knn

107 6 Dalam matriks ini, dibandingkan elemen K1 dalam kolom vertikal dengan elemen K1, K2, K3 dan seterusnya yang terdapat di baris horizontal yang dihubungkan dengan level tepat diatsnya (goal). Lalu ulangi dengan elemen kolom K2 dan seterusnya. Nilai K11 adalah nilai perbandingan elemen K1 (baris) terhadap K1 (kolom) yang menyatakan hubungan : a. Seberapa jauh tingkat kepentingan K1 (baris) terhadap kriteria dibandingkan dengan K1 (kolom) atau b. Seberapa jauh dominasi K1 (baris) terhadap K1 (kolom) atau c. Seberapa banyak sifat kriteria terdapat pada K1 (baris) dibandingkan dengan K1 (kolom) Konsistensi logis Semua elemen dikelompokan secara logis dan diperingkatkan secara konsisten sesuai dengan suatu kriteria yang logis. Penilaian yang mempunyai konsisten tinggi sangat diperlukan dalam persoalan pengambilan keputusan agar hasil keputusannya akurat. Dalam kehidupan nyata, konsistensi sempurna sukar dicapai. Jika buah apel lebih disukai daripada jeruk dan jeruk lebih disukai daripada pisang maka dalam hubungan konsisten yang sempurna apel seharusnya lebih dsukai daripada pisang, tetapi dengan orang yang sama, dapat kadangkala lebih menyukai pisang daripada apel, tergantung waktu dan kondisi tertentu (Marimin dan Nurul M., 2011). Konsistensi sampai batas tertentu dalam menetapkan prioritas sangat diperlukan untuk memperoleh hasil-hasil yang sahih dalam dunia nyata. AHP mengukur konsistensi menyeluruh dari berbagai pertimbangan melalui suatu rasio konsistensi. Nilai rasio konsistensi harus 10 persen atau kurang. Jika lebih dari 10 persen, maka penilaiannya masih acak dan perlu diperbaiki (Marimin dan Nurul M., 2011).

108 Pengujian Konsistensi Dalam persoalan pengambilan keputusan penting untuk mengetahui betapa baiknya konsistensi pengambil keputusan. Semakin banyak faktor yang harus dipertimbangkan, semakin sukar untuk mempertahankan konsistensi, ditambah lagi adanya intuisi dan faktor-faktor lain yang membuat orang mungkin menyimpang dari kekonsistensian. Namun, terlalu banyak ketidakkonsistenan juga tidak diinginkan. Pengulangan wawancara pada sejumlah responden yang sama kadang diperlukan apabila derajat tidak konsistensinya besar. Rasio konsistensi/consistency ratio (CR) sama dengan 0 menunjukkan bahwa penilaian konsisten. Menurut Saaty, jika CR lebih besar dari 0.1 maka penilaian tidak dapat dipercaya. Namun pada prakteknya inkonsistensi 10% atau kurang terkadang harus diterima (Asamoah, A et al. 2012) Saaty telah membuktikan bahwa Indeks Konsistensi/consistency index dari matriks berordo n dapat diperoleh dengan rumus: CI = CI = Rasio penyimpangan (deviasi) konsistensi (consistency index) λmax = Nilai eigen terbesar dari matriks berordo n n = Orde matriks Dari persamaan diatas, rasio konsistensi (CR) dapat dihitung dengan cara membandingkan nilai indeks konsistensi dengan nilai random index. Sehingga diperoleh persamaan : CR = CI = indeks konsistensi RI = random indeks Tabel 2.3. Nilai Indeks Rasio (RI) Untuk Beberapa Nilai n (Asamoah, A et al. 2012) N RI

109 Langkah-langkah pengambilan keputusan berdasarkan AHP (Marimin dan Nurul M., 2011) a. Merumuskan masalah dan menyusun elemen-elemen pokok secara hierarki. Elemen-elemen pokok tersebut yaitu sasaran, kriteria pemilihan, dan alternatif pemilihan. b. Menentukan prioritas setiap kriteria (bobot kriteria). Dapat dilakukan dengan membuat skala interval untuk menentukan ranking setiap kriteria. c. Menggunakan prinsip kerja AHP yaitu perbandingan berpasangan yang menggambarkan tingkat kepentingan suatu kriteria relatif terhadap kriteria lain. Perbandingan dilakukan berdasarkan pilihan atau judgement dari pembuat keputusan dengan menilai tingkat kepentingan suatu elemen dibandingkan elemen lainnya. d. Penyelesaian dengan manipulasi matrik dan menentukan nilai eigenvektor. e. Melakukan pembobotan untuk setiap alternatif kemudian lakukan manipulasi matrik dan tentukan nilai eigenvektor nya. f. Menentukan rangking dari masing-masing alternatif yang sudah dipilih dengan jalan mengalirkan matrik nilai eigen dari alternatif dengan matrik bobot kriteria Keuntungan dan kerugian Keuntungan Salah satu keuntungan paling utama dari AHP adalah kesederhanaannya ketika digunakan dan hasil yang diperoleh dapat dipercaya. AHP dapat juga digunakan pada informasi yang belum pasti dan subjektif, dan dapat didasarkan pada pengalaman, wawasan, dan intuisi dengan alasan yang masuk akal. Adapun beberapa keuntungan dalam menggunakan AHP (Saaty, 1993): a. AHP memberi model tunggal yang mudah dimengerti, luwes untuk beragam persoalan yang tidak terstruktur. b. AHP memadukan rancangan deduktif dan rancangan berdasarkan sistem dalam memecahkan persoalan kompleks. c. AHP dapat menangani saling ketergantungan elemen-elemen dalam satu sistem dan tidak memaksakan pemikiran linier.

110 9 d. AHP mencerminkan kecenderungan alami pikiran untuk memilah-milah elemen-elemen suatu sistem dalam berbagai tingkat berlainan dan mengelompokkan unsur yang serupa dalam setiap tingkat. e. AHP memberi suatu skala dalam mengukur hal-hal yang tidak terwujud untuk mendapatkan prioritas. f. AHP melacak konsistensi logis dari pertimbangan-pertimbangan yang digunakan dalam menetapkan berbagai prioritas. g. AHP menuntun ke suatu taksiran menyeluruh tentang kebaikan setiap alternatif. h. AHP mempertimbangkan prioritas-prioritas relatif dari berbagai faktor sistem dan memungkinkan orang memilih alternatif terbaik berdasarkan tujuan-tujuan mereka. i. AHP tidak memaksakan konsensus tetapi mensintesis suatu hasil yang representatif dari penilaian yang berbeda-beda. j. AHP memungkinkan orang memperhalus definisi mereka pada suatu persoalan dan memperbaiki pertimbangan dan pengertian mereka melalui pengulangan Kerugian Kerugian dari AHP antara lain ketidakkonsistenan dari pengambil keputusan. Sebagai contoh, pada sebuah pertandingan, tim A selalu dapat mengalahkan tim B dan tim B selalu dapat mengalahkan tim C namun belum tentu tim A dapat selalu mengalahkan tim C. Disini hal yang harus diperhatikan adalah memastikan bahwa inkonsistensi yang terjadi masih dibawah batas yang dapat diterima. Jika melebihi batas yang sudah ditentukan beberapa revisi putusan mungkin diperlukan. AHP menyediakan metode untuk menilai konsistensi keputusan pengambil keputusan. (Ross, M.E., 1994) Emulsi Teori dasar Emulsi merupakan jenis koloid dengan fase terdispersinnya berupa fase cair dengan medium pendispersinya bisa berupa zat padat, cair, ataupun gas. Emulsi merupakan sediaan yang mengandung dua zat yang tidak dapat bercampur, biasanya terdiri dari minyak dan air, dimana cairan yang satu

111 10 terdispersi menjadi butir-butir kecil dalam cairan yang lain. Dispersi ini tidak stabil, butir butir ini bergabung ( koalesen ) dan membentuk dua lapisan yaitu air dan minyak yang terpisah yang dibantu oleh zat pengemulsi (emulgator) yang merupakan komponen yang paling penting untuk memperoleh emulsi yang stabil. Zat pengemulsi (emulgator) merupakan komponen yang paling penting agar memperoleh emulsi yang stabil. Zat pengemulsi adalah PGA, tragakan, gelatin, sapo dan lain-lain. Emulsi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu emulsi vera (emulsi alam) dan emulsi spuria (emulsi buatan). Emulsi vera dibuat dari biji atau buah, dimana terdapat disamping minyak lemak juga emulgator yang biasanya merupakan zat seperti putih telur (Anief, 2000). Dalam pembuatan suatu emulsi, pemilihan emulgator merupakan faktor yang penting untuk diperhatikan karena mutu dan kestabilan suatu emulsi banyak dipengaruhi oleh emulgator yang digunakan. Salah satu emulgator yang aktif permukaan atau lebih dikenal dengan surfaktan. Mekanisme kerjanya adalah menurunkan tegangan antarmuka permukaan air dan minyak serta membentuk lapisan film pada permukaan globul-globul fasa terdispersinya (Ansel,H.C.1989) Komponen Emulsi (Langley and Belcher, 2008) Komponen dari emulsi dapat digolongkan menjadi 2 macam yaitu : a. Komponen Dasar Adalah bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat didalam emulsi, biasanya terdiri dari : Fase dispers / fase internal / fase diskontinyu, yaitu zat cair yang terbagi-bagi menjadi butiran kecil kedalam zat cair lain. Fase kontinyu / fase eksternal / fase luar, yaitu zat cair dalam emulsi yang berfungsi sebagai bahan dasar (pendukung) dari emulsi tersebut. b. Emulgator, adalah bagian berupa zat yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi. c. Komponen Tambahan Bahan tambahan yang sering ditambahkan pada emulsi untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Misalnya corrigen saporis,odoris, colouris, preservatif (pengawet), antoksidant. Preservatif yang digunakan antara lain metil dan

112 11 propil paraben, asam benzoat, asam sorbat, fenol, kresol, dan klorbutanol, benzalkonium klorida, fenil merkuri asetat, dll. Antioksidant yang digunakan antara lain asam askorbat, asam sitrat, propil gallat dan asam gallat Tipe Emulsi Berdasarkan macam zat cair yang berfungsi sebagai fase internal ataupun eksternal, maka emulsi digolongkan menjadi dua macam yaitu : a. Emulsi tipe O/W (oil in water) atau M/A (minyak dalam air) Adalah emulsi yang terdiri dari butiran minyak yang tersebar kedalam air. Minyak sebagai fase internal dan air fase eksternal. b. Emulsi tipe W/O (water in oil) atau A/M (air dalam minyak) Adalah emulsi yang terdiri dari butiran air yang tersebar kedalam minyak. Air sebagai fase internal sedangkan fase minyak sebagai fase eksternal Tujuan Pemakaian Emulsi Emulsi dibuat untuk diperoleh suatu preparat yang stabil dan rata dari campuran dua cairan yang saling tidak bisa bercampur. Tujuan pemakaian emulsi adalah : a. Dipergunakan sebagai obat dalam / peroal. Umumnya emulsi tipe O/W. b. Dipergunakan sebagai obat luar. Bisa tipe O/W maupun W/O tergantung banyak faktor misalnya sifat zat atau jenis efek terapi yang dikehendaki Teori Terjadinya Emulsi (Boylen J, 1994) Teori Tegangan Permukaan (Surface Tension) Molekul memiliki daya tarik menarik antara molekul yang sejenis yang disebut dengan daya kohesi. Selain itu molekul juga memiliki daya tarik menarik antara molekul yang tidak sejenis yang disebut dengan daya adhesi. Daya kohesi suatu zat selalu sama, sehingga pada permukaan suatu zat cair akan terjadi perbedaan tegangan karena tidak adanya keseimbangan daya kohesi. Tegangan yang terjadi pada permukaan tersebut dinamakan tegangan permukaan. Dengan cara yang sama dapat dijelaskan terjadinya perbedaan tegangan bidang batas dua cairan yang tidak dapat bercampur. Tegangan yang terjadi antara dua cairan

113 12 tersebut dinamakan tegangan bidang batas. Semakin tinggi perbedaan tegangan yang terjadi pada bidang mengakibatkan antara kedua zat cair itu semakin susah untuk bercampur. Tegangan yang terjadi pada air akan bertambah dengan penambahan garam-garam anorganik atau senyawa-senyawa elektrolit, tetapi akan berkurang dengan penambahan senyawa organik tertentu antara lain sabun. Didalam teori ini dikatakan bahwa penambahan emulgator akan menurunkan dan menghilangkan tegangan permukaan yang terjadi pada bidang batas sehingga antara kedua zat cair tersebut akan mudah bercampur Teori Interparsial Film Teori ini mengatakan bahwa emulgator akan diserap pada batas antara air dan minyak, sehingga terbentuk lapisan film yang akan membungkus partikel fase dispers. Dengan terbungkusnya partikel tersebut maka usaha antara partikel yang sejenis untuk bergabung menjadi terhalang. Dengan kata lain fase dispers menjadi stabil. Untuk memberikan stabilitas maksimum pada emulsi, syarat emulgator yang dipakai adalah: Dapat membentuk lapisan film yang kuat tapi lunak; Jumlahnya cukup untuk menutup semua permukaan partikel fase dispers; Dapat membentuk lapisan film dengan cepat dan dapat menutup semua permukaan partikel dengan segera Teori Electric Double Layer (lapisan listrik ganda) Jika minyak terdispersi kedalam air, satu lapis air yang langsung berhubungan dengan permukaan minyak akan bermuatan sejenis, sedangkan lapisan berikutnya akan bermuatan yang berlawanan dengan lapisan didepannya. Dengan demikian seolah-olah tiap partikel minyak dilindungi oleh dua benteng lapisan listrik yang saling berlawanan. Benteng tersebut akan menolak setiap usaha dari partikel minyak yang akan menggandakan penggabungan menjadi satu molekul besar. Karena susunan listrik yang menyelubungi setiap partikel minyak mempunyai susunan yang sama. Dengan demikian antara sesama partikel akan tolak menolak dan stabilitas emulsi akan bertambah. Terjadinya muatan listrik disebabkan oleh salah satu dari ketiga cara berikut: Terjadinya ionisasi dari

114 13 molekul pada permukaan partikel; Terjadinya absorpsi ion oleh partikel dari cairan disekitarnya; Terjadinya gesekan partikel dengan cairan disekitarnya Kestabilan Emulsi (Langley and Belcher, 2008) Emulsi dikatakan tidak stabil bila mengalami hal-hal seperti dibawah ini : Creaming Yaitu terpisahnya emulsi menjadi dua lapisan, dimana yang satu mengandung fase dispers lebih banyak daripada lapisan yang lain. Creaming bersifat reversibel artinya bila dikocok perlahan-lahan akan terdispersi kembali Koalesen dan cracking (breaking) Yaitu pecahnya emulsi karena film yang meliputi partikel rusak dan butir minyak akan koalesen (menyatu). Sifatnya irreversibel (tidak bisa diperbaiki). Hal ini dapat terjadi karena: a. Peristiwa kimia, seperti penambahan alkohol, perubahan PH, penambahan CaO / CaCL2 b. Peristiwa fisika, seperti pemanasan, penyaringan, pendinginan dan pengadukan Inversi yaitu peristiwa berubahnya sekonyong-konyong tipe emulsi W/O menjadi O/W atau sebaliknya dan sifatnya irreversible Bahan Pengemulsi (Soetopo dkk, 2001) Emulgator alam Yaitu Emulgator yang diperoleh dari alam tanpa proses yang rumit. Dapat digolongkan menjadi tiga golongan : a. Emulgator alam dari tumbuh-tumbuhan 1) Gom arab Sangat baik untuk emulgator tipe O/W dan untuk obat minum. Kestabilan emulsi yang dibuat dengan gom arab berdasarkan 2 faktor yaitu :

115 14 Kerja gom sebagai koloid pelindung Terbentuknya cairan yang cukup kental sehingga laju pengendapan cukup kecil sedangkan masa mudah dituang (tiksotropi). - Lemak-lemak padat : PGA sama banyak dengan lemak padat. - Minyak atsiri : PGA sama banyak dengan minyak atsiri. - Minyak lemak : PGA ½ kali berat minyak. - Minyak lemak + minyak atsiri + Zat padat larut dalam minyak lemak. - Bahan obat cair BJ tinggi seperti cloroform dan bromoform. - Balsam-balsam. - Oleum lecoris aseli 2) Tragacanth 3) Agar-agar 4) Chondrus 5) Emulgator lain: Pektin, metil selulosa, CMC 1-2 %. b. Emulgator alam dari hewan 1) Kuning telur 2) Adeps lanae c. Emulgator alam dari tanah mineral 1) Veegum / Magnesium Aluminium Silikat 2) Bentonit Emulgator buatan a. Sabun b. Tween 20; 40; 60; 80 c. Span 20; 40; Pembuatan Emulsi dengan Berbagai Emulgator (Anif, 2000) PGA a. Emulsi dengan minyak lemak Pembuatan emulsi minyak lemak biasanya dibuat dengan emulgator gom arab, dengan perbandingan untuk 10 bagian minyak lemak dibuat 100 bagian emulsi. Gom arab yang digunakan adalah separuh jumlah bagian minyak lemak. Untuk minyak lemak yang lebih kental, seperti Oleum ricini dapat digunakan gom

116 15 arab yang lebih sedikit, yaitu sepertiga jumlah minyak jarak. Pembuatan emulsi Oleum ricini dilakukan lebih dulu membuat korpus emulsi dengan Oleum ricini sebanyak dua kali jumlah gom, setelah korpus emulsi terjadi sisa minyak ditambahkan sedikit demi sedikit sambil diaduk. Setelah tidak terlihat tetes minyak, baru diencerkan dengan sisa air sedikit demi sedikt. Bila jumlah minyaknya sedikit (di bawah 10%) maka perlu menggunakan gom arab sebanyak 2,5% dari berat total larutan. b. Emulsi dengan cera atau lemak padat Dibuat dengan melebur lemak padat atau Cera di atas tangas air, setelah meleleh tambahkan PGA sama berat lemak dan tambahkan segera air panas sebanyak 1,5 berat PGA dan dibuat korpus emulsi. Setelah diencerkan dengan air dimasukkan dalam botol dan digojok sampai emulsi dingin. c. Emulsi dengan Extractum spissum Apabila jumlah ekstrak sedikit maka digunakan PGA 2,5% dari berat total emulsi. Bila di samping ekstrak terdapat minyak lemak, maka ekstrak dicampur dulu dengan minyak lemak dan selanjutnya diemulsi dengan PGA. Jumlah PGA yang digunakan adalah untuk ekstraknya sama berat dan untuk minyak lemaknya separuh berat minyak lemak. Jumlah air yang digunakan untuk membuat korpus emulsi adalah selalu 1,5 berat PGA. Setelah korps emulsi jadi, baru diencerkan dengan sisa airnya. Bila dalam emulsi tertulis pula sirupi dan gliserin, maka bahan ini dicampur dulu dengan korpus emulsi, tetapi untuk tincture, larutan alkoholis atau larutan elektrolit ditambahkan pada emulsi setelah pengenceran. Hal ini adalah untuk mencegah terjadinya pecahnya emulsi. d. Emulsi dengan minyak eteris kreosotum, Benzylis bemzoas Zat-zat dengan Benzylis benzoas untuk kulit sebaiknya dibuat dengan trietanolamin dan asam stearat dalam perbandingan 1 : 4. Asam stearat dilelehkan di atas tangas air dan trietanolamin dilarutkan dalam air dan emulsi dibuat pada suhu kira-kira 70 o C. f. Emulsi dengan Balsamum peruvianum, Balsamum copaivae dan Terebinthina laricina Dibuat dengan PGA sebanyak dua kali berat balsem. Bila disamping balsem terdapat pula minyak lemak maka PGA yang digunakan adalah jumlah

117 16 berat dari sama berat untuk balsem dan separuh berat untuk minyak lemak. Bila minyak lemak yang digunakan adalah Oleum ricini maka jumlah berat PGA untuk Oleum ricini adalah 1/3 berat minyak lemak. Balsamum peruvianum tidak dapat bercampur dengan minyak lemak kecuali Oleum ricini. Bila emulsi terdiri dari Balsamum peruvianum dan minyak lemak lain misalnya Oleum olivae, maka dibuat korpus emulsi dengan minyak lemak dulu dengan seluruh PGA. Setelah itu ditambahkan Balsamum peruvianum, aduk perlahan-lahan, setelah itu encerkan dengan sisa air. Balsamum peruvianum mudah pecah keluar harsa bila digerus keras-keras. g. Emulsi dengan Bromoformum Karena berat jenis Bromoformum 2,8, maka sulit dibuat emulsi yang stabil dan tidak mudah segera pecah. Untuk menurunkan berat jenis maka perlu ditambah minyak lemak sebanyak 10 kali berat Bromoformum. Penambahan minyak lemak sebanyak 7 kali berat Bromoformum akan menurunkan berat jenis Bromoformum menjadi ± 1. Bila Bromoformum terdapat dalam minuman maka perlu ditambahkan minyak lemak sebanyak 10 kali berat Bromoformum dan dibuat emulsi. Jumlah PGA yang digunakan adalah separuh berat minyak lemak dan sama cerat Bromoformum. Pembuatan emulsi selanjutnya seperti yang telah ditentukan yaitu membuat korpus emulsi dan selanjutnya diencerkan Pulvis Gummosus Cara pembuatan emulsi dengan Pulvis Gummosus dilakukan seperti pada pembuatan emulsi dengan tragakan, yaitu dibuat lendir dulu, lalu diteteskan minyak lemak. Untuk membuat lendir tragakan ditambahkan air sebanyak 20 berat tragakan, sedang untuk Pulvis Gummosus digunakan air sebanyak 7 berat Pulvis Gummosus. Karena tragakan dan Pulvis Gummosus menaikkan cairan menjadi viskes, maka zat-zat tersebut digunakan untuk menaikkan viskositas larutan dan hal ini diperlukan untuk mensuspensi partikel padat. Maka untuk mengemulsi digunakan PGA sedang untuk mensuspensi digunakan Pulvis Gummosus.

118 Agar-agar Sebagai emulgator agar-agar dilarutkan dulu dalam air panas dan dibiarkan sehari semalam lalu dididihkan lagi. Dalam air dingin agar-agar tidak larut tetapi mengembang dan larutannya 0,5% agar-agar masih berupa selai. Digunakan larutan agar-agar sebagai emulgator, adalah karena viskositas larutannya yang tinggi, maka itu penggunaannya sebagai emulgator adalah merupakan campuran dengan emulgator lain seperti PGA, span dan tween, tragakan. Setelah dibuat larutan lalu dibuat emulsi dengan minyaknya dengan diaduk kuat-kuat dengan mixer (alat penyampur) CMC (Natrii Carboxymethylcellulosum) Penggunaan sebagai emulgator dalam kadar 0,5 1%. Larutan CMC dapat bercampur dengan asam maupun basa, juga larutan alkohol sampai 40% alkohol. Cara melarutkan CMC yang baik adalah ditaburkan dalam air dingin dan dibiarkan beberapa jam lalu diaduk perlahan-lahan sampai larut. Atau diaduk kuat-kuat dengan pengaduk cepat (mixer). Emulsi dibuat dengan mencampur larutan CMC dengan paraffinum liquidum atau minyak lemak dan diaduk dengan mixer (pengaduk cepat) atau menggunakan alat homogenizer Sapo Penggunaan sapo sebagai emulgator hampir seluruhnya adalah pada sediaan untuk penggunaan luar. Biasanya sabun itu dibuat ekstemporer (baru) dengan mereaksikan asam dan basa; seperti pada pembuatan krim, yaitu mereaksikan asam stearat, asam palmitat dengan basa seperti KOH, NaOH, trietanolamin. Penggunaan sapo kalinus adalah 5%, sapo medicatus 2,5% dari berat seluruhnya. Emulsi dengan sapo kalinus dan sapo medicatus dibuat dengan melarutkan sabun dalam air seberat 5 kali berat sapo, dilakukan dengan menggerus atau memanaskan dalam botol di atas tangas air.

119 BAB 3 PELAKSANAAN TUGAS KHUSUS 3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan tugas khusus pengamatan proses produksi, pemilihan kriteria dan alternatif, serta penentuan keputusan menggunakan AHP dilakukan pada tanggal maret 2012 di bagian Produksi Pharma PT Galenium Pharmasia Laboratories. 3.2 Langkah Langkah Dalam Pengambilan Keputusan Menggunakan AHP Perumusan Masalah Dalam menyelesaikan masalah proses pemilihan alternatif perbaikan proses produksi, maka perlu dilakukan tiga langkah berikut untuk memecah persoalan menjadi unsur-unsur secara hierarkis. a. Penentuan sasaran yang ingin dicapai : peningkatan kualitas produksi. b. Penentuan kriteria pemilihan : biaya lebih murah, lebih cepat, mutu lebih baik. c. Penentuan alternatif pilihan : Penggantian mesin filling (alternatif 1), pengurangan waktu pendiaman basis emulsi (alternatif 2), dan Penambahan personel (alternatif 3). Informasi mengenai sasaran, kriteria, dan alternatif tersebut kemudian disusun dalam bentuk diagram hierarki fungsional seperti terlihat pada gambar 3.1 Perbaikan proses produksi Biaya Waktu Mutu 1. Penggantian/penamba han mesin filling 2. Pengurangan waktu pendiaman bubur CMC 3. Penambahan personel 1. Penggantian/penamba han mesin filling 2. Pengurangan waktu pendiaman bubur CMC 3. Penambahan personel Gambar 3.1 Hubungan sasaran, kriteria, alternatif dalam AHP 1. Penggantian/penamba han mesin filling 2. Pengurangan waktu pendiaman bubur CMC 3. Penambahan personel 18

120 Pembobotan Kriteria Setelah melakukan perumusan masalah dan menyusunnya dalam suatu diagram hierarki fungsional seperti terlihat pada gambar 3.1 maka langkah selanjutnya adalah menentukan pembobotan untuk kriteria dan alernatif. Pembobotan terhadap kriteria dan alternatif dapat dilakukan dengan menggunakan manipulasi matriks. Adapun langkah-langkah yang dilakukan pada penentuan bobot kriteria dan alternatif adalah sama. a. Penyusunan matriks Setelah menentukan kriteria maka perlu ditentukan tingkat kepentingan dari masing masing kriteria tersebut. Tingkat kepentingan suatu kriteria relatif terhadap kriteria lain dapat dinyatakan dengan jelas menggunakan prinsip kerja AHP yaitu perbandingan berpasangan (pairwise comparison). Semua elemen disusun dalam sebuah matriks sebagai berikut: Tabel 3.1 Matriks Hasil Perbandingan Berpasangan Kriteria Biaya Waktu Mutu Biaya 1/1 2/1 4/1 Waktu 1/2 1/1 3/1 Mutu 1/4 1/3 1/1 b. Penyelesaian dengan manipulasi matriks Matriks pada tabel 3.1 kemudian akan diolah untuk menentukan ranking dari kriteria yaitu dengan cara menentukan nilai eigen (eigenvector). Untuk mendapatkan nilai eigenvector maka langkah-langkah yang harus dilakukan adalah: 1) Matriks diubah menjadi bilangan desimal 2) Matriks tersebut dikuadratkan Itersasi ke 1

121 20 Nilai setiap baris matriks dijumlahkan dan dihitung nilai hasil normalisasinya: Jumlah baris hasil normalisasi Jumlah Iterasi ke 2 Nilai setiap baris matriks dijumlahkan dan dihitung nilai hasil normalisasinya: Jumlah baris Hasil Normalisasi Jumlah Dihitung perbedaan nilai eigen sebelum dan sesudah nilai eigen sekarang 3) Iterasi dihentikan jika diperoleh nilai eigen sudah tidak berbeda sampai 4 desimal. Bila dilakukan iterasi satu kali lagi, maka syarat akan terpenuhi (nilai eigen sudah tidak berbeda sampai 4 desimal) sehingga nilai eigen yang diperoleh adalah : , , Berdasarkan nilai eigen yang diperoleh maka diketahui bahwa kriteria yang paling penting adalah biaya, waktu, dan mutu.

122 21 Peningkatan kualitas produksi Biaya (0.5584) Waktu (0.3196) Mutu (0.1220) 1. Penggantian/penamba han mesin filling 2. Pengurangan waktu pendiaman bubur CMC 3. Penambahan personel 1. Penggantian/penamba han mesin filling 2. Pengurangan waktu pendiaman bubur CMC 3. Penambahan personel 4. Penggantian/penamba han mesin filling 5. Pengurangan waktu pendiaman bubur CMC 6. Penambahan personel Gambar 3.2. Nilai eigen untuk masing-masing kriteria 4) Perhitungan Consistency ratio (CR) Consistency ratio merupakan parmeter yang digunakan untuk memeriksa perbandingan berpasangan telah dilakukan dengan konsekuen atau tidak. Tabel 3.2 Matriks hasil perbandingan berpasangan kriteria dengan nilai eigen Biaya Waktu Mutu Nilai eigen Biaya Waktu Mutu Jumlah Selanjutnya nilai eigen maksimum (λmaksimum) didapat dengan menjumlahkan hasil perkalian jumlah kolom dengan vektor eigen. Nilai eigen maksimum yang dapat diperoleh adalah: λmax = ( x ) + ( x ) + (8.000 x ) = 3,0185

123 22 Karena matriks berordo 3 (yakni terdiri dari 3 kriteria), nilai indeks konsistensi yang diperoleh: = Untuk n=3, RI = 0.58 maka : = < 0.1 Karena CR < 0,100 berarti preferensi responden adalah konsisten Pembobotan Alternatif untuk Kriteria Biaya a. Penyusunan Matriks Setelah melakukan pembobotan kriteria maka langkah selanjutnya adalah menyusun matriks berpasangan untuk alternatif-alternatif bagi setiap kriteria, berikut merupakan penentuan bobot alternatif untuk kriteria biaya adalah : Tabel 3.3 Matrik Perbandingan Berpasangan untuk Alternatif dengan Kriteria Biaya Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif 3 Alternatif 1 1/1 1/5 1/3 Alternatif 2 5/1 1/1 3/1 Alternatif 3 3/1 1/3 1/1 b. Penyelesaian dengan manipulasi matriks Setelah membuat matriks berpasangan maka langkah selanjutnya sama seperti pada saat pembobotan kriteria yaitu matriks diolah untuk menentukan ranking dari

124 23 setiap alternatif pada kriteria biaya dengan cara menentukan nilai eigen (eigenvector). Untuk mendapatkan nilai eigenvector maka langkah-langkah yang harus dilakukan adalah: 1) Matriks diubah menjadi bilangan desimal 2) Matriks tersebut dikuadratkan Itersasi ke 1 Nilai setiap baris matriks dijumlahkan dan dihitung nilai hasil normalisasinya: Jumlah baris hasil normalisasi Iterasi ke 2 Jumlah Nilai setiap baris matriks dijumlahkan dan hitung nilai hasil normalisasinya : Jumlah baris Hasil Normalisasi Jumlah Hitung perbedaan nilai eigen sebelum dan sesudah nilai eigen sekarang

125 24 3) Iterasi dihentikan jika diperoleh nilai eigen sudah tidak berbeda sampai 4 desimal. Bila dilakukan iterasi satu kali lagi, maka syarat akan terpenuhi (nilai eigen sudah tidak berbeda sampai 4 desimal) sehingga nilai eigen yang diperoleh adalah : , , Berdasarkan nilai eigen yang diperoleh maka diketahui bahwa alternatif yang paling penting adalah alternatif 2, alternatif 3, alternatif 1 4) Perhitungan Consistency ratio (CR) Consistency ratio merupakan parmeter yang digunakan untuk memeriksa perbandingan berpasangan telah dilakukan dengan konsekuen atau tidak. Tabel 3.4 Matriks Hasil Perbandingan Berpasangan untuk Alternatif dengan Kriteria Biaya Beserta dengan Nilai Eigennya Biaya Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif 3 Nilai eigen Alternatif Alternatif Alternatif Jumlah Selanjutnya nilai eigen maksimum (λmaksimum) didapat dengan menjumlahkan hasil perkalian jumlah kolom dengan vektor eigen. Nilai eigen maksimum yang dapat diperoleh adalah: λmax = ( x ) + ( x ) + ( x ) = Karena matriks berordo 3 (yakni terdiri dari 3 kriteria), nilai indeks konsistensi yang diperoleh:

126 25 = Untuk n=3, RI = 0.58 maka : = < 0.1 Karena CR < 0,100 berarti preferensi responden adalah konsisten Pembobotan Alternatif untuk Kriteria Waktu a. Penyusunan matriks Menyusun matriks berpasangan untuk alternatif dengan kategori waktu untuk menentukan ranking dari masing-amsing alternatif pada kategori waktu. Tabel 3.5 Matriks perbandingan berpasangan untuk alternatif dengan kriteria waktu Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif 3 Alternatif 1 1/1 5/1 3/1 Alternatif 2 1/5 1/1 ½ Alternatif 3 1/3 2/1 1/1 b. Penyelesaian dengan manipulasi matriks. Tabel 3.5 diolah untuk mendapatkan nilai eigenvektor. 1) Matriks diubah menjadi bilangan desimal 2) Matriks tersebut dikuadratkan Itersasi ke 1

127 26 Nilai setiap baris matriks dijumlahkan dan dihitung nilai hasil normalisasinya: Jumlah baris hasil normalisasi Jumlah Iterasi ke 2 Nilai setiap baris matriks dijumlahkan dan dihitung nilai hasil normalisasinya: Jumlah baris Hasil Normalisasi Jumlah Hitung perbedaan nilai eigen sebelum dan sesudah nilai eigen sekarang 3) Iterasi dihentikan jika diperoleh nilai eigen sudah tidak berbeda sampai 4 desimal. Bila dilakukan iterasi satu kali lagi, maka syarat akan terpenuhi (nilai eigen sudah tidak berbeda sampai 4 desimal) sehingga nilai eigen yang diperoleh adalah :0.6483, , Berdasarkan nilai eigen yang diperoleh maka diketahui bahwa alternatif yang paling penting adalah alternatif 1, alternatif 3, alternatif 2 4) Perhitungan Consistency ratio (CR) Consistency ratio merupakan parmeter yang digunakan untuk memeriksa perbandingan berpasangan telah dilakukan dengan konsekuen atau tidak.

128 27 Tabel 3.6 Matriks hasil perbandingan berpasangan untuk kriteria waktu beserta dengan nilai eigennya. Waktu Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif 3 Nilai eigen Alternatif Alternatif Alternatif Jumlah Selanjutnya nilai eigen maksimum (λmaksimum) didapat dengan menjumlahkan hasil perkalian jumlah kolom dengan vektor eigen. Nilai eigen maksimum yang dapat diperoleh adalah: λmax = ( x ) + ( x ) + ( x ) = Karena matriks berordo 3 (yakni terdiri dari 3 alternatif), nilai indeks konsistensi yang diperoleh: = Untuk n=3, RI = 0.58 maka : = < 0.1 Karena CR < 0,100 berarti preferensi responden adalah konsisten Pembobotan Alternatif untuk Krieria Mutu a. Penyusunan matriks

129 28 penyusuna matriks berpasangan untuk alternatif-alternatif dengan kriteria mutu adalah : Tabel 3.7 Matriks perbandingan berpasangan alternatif untuk kriteria mutu Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif 3 Alternatif 1 1/1 5/1 2/1 Alternatif 2 1/5 1/1 1/3 Alternatif 3 1/2 3/1 1/1 b. Penyelesaian dengan manipulasi matriks Untuk mendapatkan nilai eigenvector maka langkah-langkah yang harus dilakukan adalah: 1) Matriks diubah menjadi bilangan desimal 2) Matriks tersebut dikuadratkan Itersasi ke 1 Nilai setiap baris matriks dijumlahkan dan dihitung nilai hasil normalisasinya: Jumlah baris hasil normalisasi Iterasi ke 2 Jumlah Nilai setiap baris matriks dijumlahkan dan dihitung nilai hasil normalisasinya:

130 29 Jumlah baris Hasil Normalisasi Jumlah Hitung perbedaan nilai eigen sebelum dan sesudah nilai eigen sekarang 3) Hentikan iterasi jika diperoleh nilai eigen sudah tidak berbeda sampai 4 desimal. Bila dilakukan iterasi satu kali lagi, maka syarat akan terpenuhi (nilai eigen sudah tidak berbeda sampai 4 desimal) sehingga nilai eigen yang diperoleh adalah : , , Berdasarkan nilai eigen yang diperoleh maka diketahui bahwa alternatif yang paling penting adalah alternatif 1, alternatif 3, alternatif 2 4) Perhitungan Consistency ratio (CR) Consistency ratio merupakan parmeter yang digunakan untuk memeriksa perbandingan berpasangan telah dilakukan dengan konsekuen atau tidak. Tabel 3.8 Matriks hasil perbandingan berpasangan untuk kriteria beserta dengan nilai eigennya Mutu Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif 3 Nilai eigen Alternatif Alternatif Alternatif Jumlah

131 30 Selanjutnya nilai eigen maksimum (λmaksimum) didapat dengan menjumlahkan hasil perkalian jumlah kolom dengan vektor eigen. Nilai eigen maksimum yang dapat diperoleh adalah: λmax = ( x ) + ( x ) + ( x ) = Karena matriks berordo 3 (yakni terdiri dari 3 alternatif), nilai indeks konsistensi yang diperoleh: = Untuk n=3, RI = 0.58 maka : = < 0.1 Karena CR < 0,100 berarti preferensi responden adalah konsisten. Peningkatan kualitas produksi Biaya (0.5584) Waktu (0.3196) Mutu (0.1220) 1. Penggantian/penamba han mesin filling (0.1047) 2. Pengurangan waktu pendiaman bubur CMC (0.6370) 3. Penambahan personel (0.2583) 1. Penggantian/penamba han mesin filling (0.6483) 2. Pengurangan waktu pendiaman bubur CMC (0.1220) 3. Penambahan personel (0.2296) 1. Penggantian/penamba han mesin filling (0.5815) 2. Pengurangan waktu pendiaman bubur CMC (0.1094) 3. Penambahan personel (0.3089) Gambar 3.3 Hubungan sasaran, kriteria, alternatif dengan nilai eigennya

132 Penentuan peringkat Dari hasil analisa di atas, maka jawaban dapat dieroleh dengan jalan mengalikan matrik nilai eigen dari tiap alternatif pada masing-masing kriteria dengan matrik dari bobot kriteria. Tabel 3.9 Nilai eigen untuk semua alternatif dan kriteria Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif 3 Bobot kriteria Alternatif Alternatif Alternatif Diperoleh hasil : Alternatif 1 : (Pembelian mesin filling baru) Alternatif 2 : (Pengurangan waktu pendiaman bubur) Alternatif 3 : (Penambahan personil)

133 BAB 4 PEMBAHASAN Dalam rangka meningkatkan daya saing dalam dunia bisnis dengan tetap mempertahankan standar produk demi memenuhi kebutuhan konsumen maka dalam mengambil sebuah keputusan diperlukan akurasi dengan mempertimbangkan efisiensi dan efektivitasnya. Hal ini hampir tidak bisa dicapai tanpa adanya perencanaan yang tepat, pengawasan, pengendalian dan evaluasi kegiatan secara terus menerus dari berbagai fungsi yang terhubung dengan proses. PT Galenium Pharmasia Laboratories senantiasa melakukan perbaikan terus menerus disegala lini termasuk perbaikan dalam proses produksi suatu obat. Salah satu sediaan farmasi yang diproduksi oleh PT Galenium Pharmasia Labratories adalah emulsi. Produk emulsi Z yang dibuat oleh PT Galenium Pharmasia Laboratories merupakan salah satu produk unggulan yang banyak diminati dipasaran. Oleh karena itu untuk dapat selalu memenuhi kebutuhan dipasaran dan meningkatkan nilai jual produk maka perlu dilakukan continues improvement untuk menghasilkan produk dalam waktu yang lebih cepat, dengan biaya yang lebih murah, dan memiliki mutu yang tinggi. Ketika terdapat banyak alternatif untuk menyempurnakan proses produksi maka ketiga kriteria tersebut harus terpenuhi. Salah satu metode yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan yaitu analitical hierarchy process (AHP). Pemilihan keputusan dengan AHP digunakan untuk membuat prioritas terhadap alternatif yang ada dengan banyak ktriteria yang harus dipertimbangkan. Pendekatan menggunakan AHP dapat digunakan oleh pengambil keputusan untuk menuangkan masalah yang kompleks kedalam suatu hirarki. Salah satu keuntungan utama dalam AHP adalah perbandingan berpasangan yang dapat digunakan untuk memperoleh skala penilaian untuk faktor tangible maupun intagible. Pada simulasi pengambilan keputusan untuk produk emulsi Z di PT Galenium Pharmasia Labratories digunakan metode AHP sebagai alat bantu pengambilan keputusan. Metode AHP digunakan untuk menentukan tingkat kepentingan dari masing-masing kriteria (biaya,waktu, dan mutu) dan selanjutnya 32

134 33 digunakan untuk menyusun peringkat tiap alternatif yang telah ditentukan. Dari hasil pendekatan menggunakan metode AHP maka didapat bahwa kriteria yang lebih dipentingkan adalah biaya (0.5584) kemudian waktu (0.3196) dan yang terakhir adalah mutu (0.1220). Pemilihan biaya sebagai faktor yang paling dipentingkan dibandingkan yang lain karena penekanan biaya produksi untuk saat ini lebih sesuai dengan kondisi perusahaan. Sedangkan kriteria mutu tidak lebih penting daripada biaya dan waktu karena dianggap mutu produk yang dihasilkan perusahaan telah memenuhi standar mutu yang berlaku sehingga untuk peningkatan mutu tidak dianggap terlalu krusial untuk saat ini. Ketika mengambil sebuah keputusan terkadang dipengaruhi oleh intuisi dan faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya penyimpangan konsistensi. Ditambah lagi jika semakin banyak faktor yang harus dipertimbangkan maka akan semakin sukar untuk mempertahankan konsistensi. Hal ini harus menjadi perhatian karena dalam persoalan pengambilan keputusan penting untuk mengetahui seberapa baik konsistensi pengambil keputusan. Konsistensi sampai batas tertentu dalam menetapkan prioritas sangat diperlukan untuk memperoleh hasil-hasil yang sahih dalam dunia nyata. AHP mengukur konsistensi menyeluruh dari berbagai pertimbangan melalui suatu rasio konsistensi. Nilai rasio konsistensi harus 10 persen atau kurang (Marimin dan Nurul M., 2011). Dari hasil penentuan nilai konsistensi pada ketiga kriteria (biaya, waktu, mutu) diperoleh hasil yang berarti pengambilan keputusan adalah konsisiten. Jika lebih dari 10 persen, maka penilaiannya masih acak dan perlu diperbaiki lagi. Setelah menentukan tingkat kepentingan dari kriteria maka langkah selanjutnya adalah menentukan alternatif-alternatif yang dapat dipilih dalam rangka perbaikan terus menerus di proses produksi emulsi. Untuk mendapatkan alternatif maka dilakukan pengamatan proses produksi mulai dari penimbangan hingga barang dikarantina untuk masuk ke gudang. Hal ini dilakukan agar keputusan yang akan diambil sesuai dengan kondisi nyata dilapangan. Setelah melakukan pengamatan terhadap proses produksi emulsi maka dipilih beberapa alternatif yang dapat dipertimbangkan untuk memaksimalkan proses produksi emulsi diantaranya pembelian mesin filling baru (alternatif 1), penghilangan

135 34 waktu pendiaman basis emulsi (alternatif 2), dan penambahan personil (alternatif 3). Alasan pembelian mesin filling baru karena mesin yang dipakai masih semi otomatis dan hanya dapat melakukan pengisian kedalam botol satu persatu. Sehingga pengisian emulsi kedalam botol memakan waktu yang cukup lama bahkan hanya untuk 1 bets. Hal ini dapat menjadi hambatan ketika memproduksi dalam jumlah yang lebih besar dimana lead time produk ruahan menjadi lebih lama dan dapat menimbulkan resiko terjadinya kontaminasi karena terlalu lama kontak dengan udara. Pemilihan alternatif untuk mengurangi/menghilangkan waktu pendiaman basis emulsi dipertimbangkan karena waktu yang dibutuhkan cukup lama yaitu 6 jam. Waktu yang cukup lama ini dapat meningkatkan resiko terjadinya kontaminasi dan pertumbuhan mikroba. Untuk memaksimalkan proses produksi maka perlu dilakukan pengurangan lead time. Terakhir penambahan personil menjadi pertimbangan sebagai alternatif yang akan dipilih karena jika dilihat dari proses pembuatan emulsi Z ada banyak tahapan proses produksi. Selain itu untuk formula emulsi Z menggunakan bahan yang cukup banyak sehingga jika menggunakan tenaga pekerja yang lebih banyak maka diharapkan waktu yang dibutuhkan akan lebih cepat dan kesalahan yang dilakukan oleh personil dapat dikurangi. Setelah ditentukan alternatif yang akan dipilih maka untuk memilih alternatif mana yang akan diambil tidaklah mudah karena harus dipertimbangkan tiga kriteria yang sebelumnya telah ditentukan. Adapun tidak semua dari ketiga kriteria tersebut dapat terpenuhi oleh masing-masing alternatif yang telah dipilih sehingga untuk menentukan alternatif mana yang akan dipilih maka dapat dilakukan penentuan tingkat kepentingan dari masing-masing alternatif tersebut dengan menggunakan matriks berpasangan. Langkah pertama yang dilakukan adalah menetukan nilai eigenvektor dari masing-masing alternatif pada tiap kriteria. Nilai eigenvektor pada kriteria biaya untuk masing-masing alternatif yaitu alternatif 1 (0.1047), alternatif 2 (0.6370), alternatif 3 (0.2583). Dari hasil tersebut diketahui pada kriteria biaya ternyata alternatif 2 pengurangan waktu pendiaman basis emulsi adalah yang terpenting.

136 35 Hal ini sesuai dengan kriteria biaya yang harus dipenuhi dimana kedua alternatif yang lain yaitu pembelian mesin filling baru dan penambahan personil memerlukan biaya tambahan. Sedangkan untuk kriteria waktu nilai eigenvektor yang diperoleh untuk setiap alternatif yaitu alternatif 1 (0.6483), alternatif 2 (0.1220), alternatif 3 (0.2296). Dari hasil tersebut diketahui bahwa dengan pembelian mesin baru (alternatif 1) maka waktu untuk produksi akan lebih cepat. Terakhir adalah kategori mutu, dimana diperoleh nilai eigenvektor yaitu alternatif 1 (0.5815), alternatif 2 (0.1094), alternatif 3 (0.3089). Setelah itu dilakukan penentuan peringkat berdasarkan semua kriteria yang telah ditentukan. Dengan dilakukannya penentuan peringkat untuk semua kriteria maka diharapkan alternatif terpilih adalah alternatif terbaik yang dapat memenuhi tiga kriteria yang telah ditentukan yaitu biaya lebih murah, waktu lebih cepat, dan mutu lebih baik. Dari hasil perhitungan dengan menggunakan matrik berpasangan maka alternatif pertama yang dipilih adalah pengurangan waktu pendiaman basis (alternatif 2) dengan nilai , kemudian pembelian mesin baru dengan nilai (alternatif 1) dan terakhir adalah penambahan personil (alternatif 3) dengan nilai Menurut perhitungan tersebut dengan memilih pengurangan waktu pendiman basis emulsi (alternatif 2) maka diharapkan proses produksi akan lebih murah, lebih cepat, dan mutu lebih baik.

137 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Analitical hierarcy process (AHP) dapat diterapkan pada pengambilan keputusan yang melibatkan banyak konflik krteria. Pada penerapan AHP dalam pemilihan alternatif perbaikan proses produksi di PT Galenium Pharmasia Laboratories dapat dipilih sebagai prioritas utama alternatif adalah penghilangan waktu pendiaman basis emulsi (alternatif 2) dengan nilai , alternatif kedua pembelian mesin filling (0.2657) dan terakhir penambahan personil (0.2554). 5.2 Saran Perlu dilakukan lagi pemilihan alternatif yang lain sebagai pertimbangan dan penggunaan metode pengambilan keputusan yang lain sebagai perbandingan. Selain itu dalam menentukan bobot dari setiap kriteria dan alternatif dapat dilakukan dengan membuat survey pendapat dengan responden para pakar agar mendapat hasil yang lebih akurat karena hasil bisa saja berbeda jika yang menentukan penilaian bukan pakar. 36

138 DAFTAR ACUAN Ahari, S.G., et al., A Portfolio Selection Using Fuzzy Analytic Hierarchy Process: A Case Study of Iranian Pharmaceutical Industry. International Journal of Industrial Engineering Computations 2 (2011) Anif, Mohamad Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press,. Ansel,H.C.1989.Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi edisi IV. UI Press: Jakarta. Asamoah, D., et al AHP Approach for Supplier Evaluation and Selection in a Pharmaceutical Manufacturing Firm in Ghana. International Journal of Business and Management Vol. 7, No. 10 Boylen J Encyclopedia of Pharmaceutical Technology Volume 9.New York: Maral Deck Inc. Decision Lens, A New Paradigm for Decision Making in the Pharma, Biotech and Life Sciences Industries. Langley CA and D Belcher Pharmaceutical Compounding and Dispensing. Grayslake: Pharmaceutical Press. Liberatore, M.., and Robert L.N The analytic hierarchy process in medical and health care decision making: A literature review. European Journal of Operational Research 189 (2008) Marimin dan Nurul Maghfiroh, Aplikasi teknik pengambilan keputusan dalam manajemen rantai pasok. Jakarta : IPB Press. Ogunyemi, O, et a Analytic Hierarchy prosess for Prioritizing Production Function : Illustration with Pharmaceutical Data. Journal of Economics and International Finance Vol. 3(14), pp Ross, M.E., Structuring the Selection Process of Licensing Candidates in the Pharmaceutical Industry Using the Analytical Hierarchy Process. J.Pharm. marketing & management vol, 8(1). Soetopo S, dkk Teori Ilmu Resep. Jakarta Triantaphyllou, E and Stuart H.M., Using the Analitytic Hierarchy process for Decision Making In Engineering Aplications : Some Challenges. Inter l Journal of Industrial Engineering: Applications and Practice, Vol. 2, No. 1, pp

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 tentang Ketentuan dan Tata cara Pelaksanaan Pemberian Izin Usaha

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Obat Jadi dan Industri Bahan Baku Obat. Definisi dari obat jadi yaitu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Obat Jadi dan Industri Bahan Baku Obat. Definisi dari obat jadi yaitu BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Industri Farmasi 1. Pengertian Industri Farmasi Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 245/MenKes/SK/V/1990 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Pemberian Izin

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1799/Menkes/Per/XII/2010 tentang Industri Farmasi adalah badan usaha yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1799/Menkes/Per/XII/2010 tentang Industri Farmasi adalah badan usaha yang BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi 2.1.1 Pengertian Industri Farmasi Industri farmasi menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1799/Menkes/Per/XII/2010 tentang Industri Farmasi adalah badan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Industri farmasi menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Industri farmasi menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi 2.1.1 Pengertian Industri Farmasi Industri farmasi menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1799/Menkes/Per/XII/2010 tentang Industri Farmasi adalah badan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (CPOB). Hal ini didasarkan oleh Keputusan Menteri Kesehatan RI.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (CPOB). Hal ini didasarkan oleh Keputusan Menteri Kesehatan RI. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Industri farmasi diwajibkan menerapkan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Hal ini didasarkan oleh Keputusan Menteri Kesehatan RI. No.43/MENKES/SK/II/1988 tentang CPOB dan Keputusan

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT ASTRAZENECA INDONESIA CIKARANG SITE JALAN TEKNO RAYA BLOK B1A B1B, CIKARANG, BEKASI JAWA BARAT PERIODE 6 JANUARI 21 FEBRUARI 2014 LAPORAN

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Industri Farmasi. Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor. 245/Menkes/V/1990 adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat. Industri

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM. Universitas Sumatera Utara

BAB II TINJAUAN UMUM. Universitas Sumatera Utara BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Industri Farmasi Industri farmasi adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat. Industri farmasi sebagai industri penghasil obat, dituntut untuk dapat menghasilkan obat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI. Lembaga Farmasi Direktorat Kesehatan Angkatan Darat (Lafi Ditkesad)

BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI. Lembaga Farmasi Direktorat Kesehatan Angkatan Darat (Lafi Ditkesad) BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI 2.1 Perkembangan Lafi Ditkesad Lembaga Farmasi Direktorat Kesehatan Angkatan Darat (Lafi Ditkesad) merupakan lembaga yang telah ada sejak zaman penjajahan Belanda.

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. GALENIUM PHARMASIA LABORATORIES JALAN RAYA BOGOR KM 51,5 CIMANDALA BOGOR PERIODE 5 SEPTEMBER 31 OKTOBER 2014 LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 terdiri dari industri obat jadi dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 terdiri dari industri obat jadi dan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi 2.1.1 Pengertian Industri Farmasi Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 terdiri dari industri

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Industri Farmasi Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.245 /Menkes/VI/1990, industri farmasi adalah industri obat jadi dan industri

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Industri farmasi menurut SK Menkes No. 245/Menkes/SK/V/1990

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Industri farmasi menurut SK Menkes No. 245/Menkes/SK/V/1990 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi 2.1.1 Pengertian Industri Farmasi Industri farmasi menurut SK Menkes No. 245/Menkes/SK/V/1990 adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat. Industri

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 terdiri dari industri obat jadi dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 terdiri dari industri obat jadi dan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi 2.1.1 Pengertian Industri Farmasi Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 terdiri dari industri

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Industri farmasi menurut SK Menkes No. 245/Menkes/SK/V/1990 adalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Industri farmasi menurut SK Menkes No. 245/Menkes/SK/V/1990 adalah BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi Industri farmasi menurut SK Menkes No. 245/Menkes/SK/V/1990 adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat. Industri obat jadi adalah industri yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Obat Jadi dan Industri Bahan Baku Obat. Definisi dari obat jadi yaitu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Obat Jadi dan Industri Bahan Baku Obat. Definisi dari obat jadi yaitu BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Industri Farmasi 1. Pengertian Industri Farmasi Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 245/MenKes/SK/V/1990 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Pemberian Izin

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 adalah industri obat jadi dan industri

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 adalah industri obat jadi dan industri BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat.

Lebih terperinci

Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor. 245/Menkes/V/1990 adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat.

Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor. 245/Menkes/V/1990 adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Industri Farmasi. Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor. 245/Menkes/V/1990 adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat. Industri

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 terdiri dari industri obat jadi dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 terdiri dari industri obat jadi dan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi 2.1.1 Pengertian Industri Farmasi Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 terdiri dari industri

Lebih terperinci

CPOB. (Cara Pembuatan Obat yang Baik)

CPOB. (Cara Pembuatan Obat yang Baik) CPOB { (Cara Pembuatan Obat yang Baik) CPOB (Cara Pembuatan Obat Yang Baik) 2006 atau GMP (Good Manufacturing Practices) 2006 adalah suatu pedoman pembuatan obat berdasarkan berbagai ketentuan dalam CPOB

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM. Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik

BAB II TINJAUAN UMUM. Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Industri Farmasi Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Industri farmasi adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Industri farmasi adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Industri Farmasi Industri farmasi adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat. Industri farmasi sebagai industri penghasil obat, dituntut untuk dapat menghasilkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Industri Farmasi menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Industri Farmasi menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi 2.1.1 Pengertian Industri Farmasi Industri Farmasi menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1799/Menkes/Per/XII/2010 adalah badan usaha yang memiliki izin

Lebih terperinci

B. Tujuan Tujuan Qualiy Assurance adalah untuk memastikan bahwa obat dihasilkan dengan mutu yang sesuai dengan tujuan pemakaiannya.

B. Tujuan Tujuan Qualiy Assurance adalah untuk memastikan bahwa obat dihasilkan dengan mutu yang sesuai dengan tujuan pemakaiannya. PEMASTIAN MUTU (QUALITY ASSURANCE/QA) A. Pendahuluan Industri farmasi bertujuan untuk menghasilkan obat yang harus memenuhi persyaratan khasiat (efficacy), keamanan (safety) dan mutu (quality). Berdasarkan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR QUALITY CONTROL

KATA PENGANTAR QUALITY CONTROL KATA PENGANTAR Assalamu alaikum, wr, wb, Segala Puji senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT beserta junjungan kita Nabi Besar Muhammad Rasulullah S.A.W yang telah melimpahkan rahmat, berkah, dan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI. (BUMN) dibentuk sebagai Perusahaan Perseroan pada tanggal 16 Agustus

BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI. (BUMN) dibentuk sebagai Perusahaan Perseroan pada tanggal 16 Agustus BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI 2.1 Tinjauan PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. 2.1.1 Sejarah Perusahaan. PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dibentuk sebagai Perusahaan

Lebih terperinci

Oleh : Bambang Priyambodo

Oleh : Bambang Priyambodo Oleh : Bambang Priyambodo SISTEMATIKA CPOB: 2012 merupakan penyempurnaan dari CPOB: 2006, mencakup revisi terhadap : Pedoman CPOB: 2006 Suplemen I Pedoman CPOB: 2006 tahun 2009 Aneks 8 : Cara Pembuatan

Lebih terperinci

Tugas Individu Farmasi Industri. Uraian Tugas Kepala Bagian Produksi, Pengawasan Mutu dan Pemastian Mutu

Tugas Individu Farmasi Industri. Uraian Tugas Kepala Bagian Produksi, Pengawasan Mutu dan Pemastian Mutu Tugas Individu Farmasi Industri Uraian Tugas Kepala Bagian Produksi, Pengawasan Mutu dan Pemastian Mutu Disusun Oleh : Eka Wahyu Lestari 14340004 Dosen : Drs. Kosasih, M.Sc., Apt. Program Profesi Apoteker

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. SYDNA FARMA JL. RC. VETERAN NO. 89 BINTARO, JAKARTA SELATAN PERIODE 1 APRIL 3 JUNI 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER KARTIKA

Lebih terperinci

Produksi di Industri Farmasi

Produksi di Industri Farmasi Produksi di Industri Farmasi PRODUKSI istilah terkait Pembuatan Seluruh rangkaian kegiatan dalam menghasilkan suatu obat, meliputi produksi dan pengawasan mutu, mulai dari pengadaan bahan awal dan bahan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM PT. COMBIPHAR. bawah pengelolaan Drs. Handoko Prayogo, Apt. Berawal dari industri rumah

BAB II TINJAUAN UMUM PT. COMBIPHAR. bawah pengelolaan Drs. Handoko Prayogo, Apt. Berawal dari industri rumah BAB II TINJAUAN UMUM PT. COMBIPHAR 2.1 Sejarah Perkembangan PT. Combiphar PT. Combiphar didirikan pada tahun 1971 di Jl. Sukabumi 61 Bandung, di bawah pengelolaan Drs. Handoko Prayogo, Apt. Berawal dari

Lebih terperinci

Quality Control (QC) dan Quality Assurance (QA) Mata Kuliah : Rancangan Produk Industri (2 SKS) Dosen : Kuni Zu aimah B.,S.Farm., M.Farm., Apt.

Quality Control (QC) dan Quality Assurance (QA) Mata Kuliah : Rancangan Produk Industri (2 SKS) Dosen : Kuni Zu aimah B.,S.Farm., M.Farm., Apt. Quality Control (QC) dan Quality Assurance (QA) Mata Kuliah : Rancangan Produk Industri (2 SKS) Dosen : Kuni Zu aimah B.,S.Farm., M.Farm., Apt. Industri farmasi harus membuat obat sedemikian rupa agar

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI. 1799/Menkes/Per/XII/2010 adalah badan usaha yang memiliki izin dari menteri

BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI. 1799/Menkes/Per/XII/2010 adalah badan usaha yang memiliki izin dari menteri BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI 2.1 Industri Farmasi 2.1.1 Pengertian Industri Farmasi Industri Farmasi menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1799/Menkes/Per/XII/2010 adalah badan usaha yang memiliki

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. COMBIPHAR JL. RAYA SIMPANG NO. 383 PADALARANG BANDUNG PERIODE 07 MARET 01 APRIL 2011 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER MOCHAMAD

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. MOLEX AYUS JL. RAYA SERANG KM 11,5 CIKUPA TANGERANG PERIODE 6 FEBRUARI 30 MARET 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER AGATHA DWI

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI PT. KIMIA FARMA PLANT MEDAN

LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI PT. KIMIA FARMA PLANT MEDAN LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI DI PT. KIMIA FARMA PLANT MEDAN DISUSUN OLEH : ERNITA, S. Farm 093202016 PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI DI PT. KIMIA FARMA (PERSERO) Tbk PLANT MEDAN

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI DI PT. KIMIA FARMA (PERSERO) Tbk PLANT MEDAN LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI DI PT. KIMIA FARMA (PERSERO) Tbk PLANT MEDAN DISUSUN OLEH : SRI ROMAITO HASIBUAN, S.Farm 093202065 PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM PT. COMBIPHAR. PT. Combiphar didirikan pada tahun 1971 di Jl. Sukabumi no. 61,

BAB II TINJAUAN UMUM PT. COMBIPHAR. PT. Combiphar didirikan pada tahun 1971 di Jl. Sukabumi no. 61, BAB II TINJAUAN UMUM PT. COMBIPHAR 2.1 Sejarah Perkembangan PT. Combiphar PT. Combiphar didirikan pada tahun 1971 di Jl. Sukabumi no. 61, Bandung di bawah pengelolaan Drs. Handoko Prayogo, Apt. Berawal

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI. Belanda, pada tahun 1958 pemerintah melebur sejumlah perusahaan farmasi

BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI. Belanda, pada tahun 1958 pemerintah melebur sejumlah perusahaan farmasi BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI 2.1 Sejarah PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. Sejalan dengan kebijakan nasionalisasi bekas perusahaan-perusahaan Belanda, pada tahun 1958 pemerintah melebur sejumlah

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.1.33.12.12.8195 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN PEDOMAN CARA PEMBUATAN OBAT

Lebih terperinci

PEDOMAN CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK

PEDOMAN CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK 7 2013, No.122 LAMPIRAN PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.1.33.12.12.8195 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN PEDOMAN CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK PENDAHULUAN PRINSIP

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan merupakan kebutuhan terpenting bagi manusia sehingga

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan merupakan kebutuhan terpenting bagi manusia sehingga BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan merupakan kebutuhan terpenting bagi manusia sehingga berbagai usaha dilakukan untuk memperoleh tubuh yang sehat. Mulai dari melakukan olah raga, hidup secara

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Industri Farmasi adalah badan usaha yang memiliki izin dari Menteri

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Industri Farmasi adalah badan usaha yang memiliki izin dari Menteri BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Farmasi 2.1.1 Pengertian industri farmasi Industri Farmasi adalah badan usaha yang memiliki izin dari Menteri Kesehatan untuk melakukan kegiatan pembuatan obat atau

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. COMBIPHAR JL. RAYA SIMPANG NO.383 PADALARANG, BANDUNG PERIODE 16 JANUARI 2012-10 FEBRUARI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI. PT. Kimia Farma (Persero) Tbk Plant Medan

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI. PT. Kimia Farma (Persero) Tbk Plant Medan LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI di PT. Kimia Farma (Persero) Tbk Plant Medan Disusun Oleh : Astrie Rezky, S. Farm. 093202004 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010 Lembar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Obat merupakan komoditi utama yang digunakan manusia untuk

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Obat merupakan komoditi utama yang digunakan manusia untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Obat merupakan komoditi utama yang digunakan manusia untuk menunjang kesehatannya. Semua orang rela mengeluarkan uangnya untuk mendapatkan kesehatan, bahkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM PT. PRADJA PHARIN (PRAFA) mengalami perkembangan pesat. PT. Prafa didirikan pada tahun 1960 oleh Tjipto

BAB II TINJAUAN UMUM PT. PRADJA PHARIN (PRAFA) mengalami perkembangan pesat. PT. Prafa didirikan pada tahun 1960 oleh Tjipto BAB II TINJAUAN UMUM PT. PRADJA PHARIN (PRAFA) 2.1 Sejarah dan Perkembangan Perusahaan PT. Prafa merupakan salah satu perusahaan farmasi Indonesia yang mengalami perkembangan pesat. PT. Prafa didirikan

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA DI PT. MOLEX AYUS JL. RAYA SERANG KM 11,5 CIKUPA TANGERANG PERIODE 16 JANUARI - 27 JANUARI 2012

UNIVERSITAS INDONESIA DI PT. MOLEX AYUS JL. RAYA SERANG KM 11,5 CIKUPA TANGERANG PERIODE 16 JANUARI - 27 JANUARI 2012 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. MOLEX AYUS JL. RAYA SERANG KM 11,5 CIKUPA TANGERANG PERIODE 16 JANUARI - 27 JANUARI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER LOEDFIASFIATI

Lebih terperinci

Tugas dan tanggungjawab Quality Assurance (QA) / Jaminan Mutu

Tugas dan tanggungjawab Quality Assurance (QA) / Jaminan Mutu Tugas dan tanggungjawab Quality Assurance (QA) / Jaminan Mutu Departemen QA merupakan departemen yang bertanggung jawab antara lain : a) Audit internal QA melakukan evaluasi kerja kesemua bagian/departemen

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. COMBIPHAR JL. RAYA SIMPANG NO.383 PADALARANG, BANDUNG PERIODE 16 JANUARI 2012-10 FEBRUARI 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

Lebih terperinci

Viddy A R. II Selasa, 5 September 2017

Viddy A R. II Selasa, 5 September 2017 INDUSTRI No. Tanggal Topik/Pokok Bahasan Substansi materi Dosen I Selasa, 29 Agustus 2017 Pendahuluan -Ruang lingkup industri farmasi -Pemenuhan CPOB -Jenis-jenis industri farmasi -Ciri-ciri industri farmasi

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT TAISHO PHARMACEUTICAL INDONESIA TBK. JL. RAYA BOGOR KM 38, DEPOK PERIODE 1 FEBRUARI 28 MARET 2013

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT TAISHO PHARMACEUTICAL INDONESIA TBK. JL. RAYA BOGOR KM 38, DEPOK PERIODE 1 FEBRUARI 28 MARET 2013 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT TAISHO PHARMACEUTICAL INDONESIA TBK. JL. RAYA BOGOR KM 38, DEPOK PERIODE 1 FEBRUARI 28 MARET 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI. 1799/Menkes/Per/XII/2010 adalah badan usaha yang memiliki izin dari menteri

BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI. 1799/Menkes/Per/XII/2010 adalah badan usaha yang memiliki izin dari menteri BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI 2.1 Industri Farmasi 2.1.1 Pengertian Industri Farmasi Industri Farmasi menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1799/Menkes/Per/XII/2010 adalah badan usaha yang memiliki

Lebih terperinci

2. KETENTUAN UMUM Obat tradisional Bahan awal Bahan baku Simplisia

2. KETENTUAN UMUM Obat tradisional Bahan awal Bahan baku Simplisia 1. PNGERTIAN CPOTB Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) meliputi seluruh aspek yang menyangkut pembuatan obat tradisional, Tujuan untuk menjamin agar produk yang dihasilkan senantiasa memenuhi

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. COMBIPHAR JL. RAYA SIMPANG NO. 383 PADALARANG PERIODE MARET 2012

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. COMBIPHAR JL. RAYA SIMPANG NO. 383 PADALARANG PERIODE MARET 2012 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. COMBIPHAR JL. RAYA SIMPANG NO. 383 PADALARANG PERIODE MARET 2012 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER MUTIA ANGGRIANI, S.Farm 1106047215

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI PT. SANBE FARMA UNIT II CIMAHI

LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI PT. SANBE FARMA UNIT II CIMAHI LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI di PT. SANBE FARMA UNIT II CIMAHI Disusun Oleh : Syabrina Naulita Pane, S.Farm. NIM 093202066 PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. KALBE FARMA, Tbk. KAWASAN INDUSTRI DELTA SILICON JL. M.H. THAMRIN BLOK A3-1, LIPPO CIKARANG BEKASI PERIODE 01 APRIL - 30 MEI 2014 LAPORAN

Lebih terperinci

No Kode DAR2/Profesional/582/010/2018 PENDALAMAN MATERI FARMASI MODUL 010: CARA DISTRIBUSI OBAT YANG BAIK. Dr. NURKHASANAH, M.Si., Apt.

No Kode DAR2/Profesional/582/010/2018 PENDALAMAN MATERI FARMASI MODUL 010: CARA DISTRIBUSI OBAT YANG BAIK. Dr. NURKHASANAH, M.Si., Apt. No Kode DAR2/Profesional/582/010/2018 PENDALAMAN MATERI FARMASI MODUL 010: CARA DISTRIBUSI OBAT YANG BAIK Dr. NURKHASANAH, M.Si., Apt. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kementerian Riset, Teknologi

Lebih terperinci

-1- DOKUMEN STANDAR MANAJEMEN MUTU

-1- DOKUMEN STANDAR MANAJEMEN MUTU -1- LAMPIRAN VII PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT NOMOR 27/PRT/M/2016 TENTANG PENYELENGGARAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM DOKUMEN STANDAR MANAJEMEN MUTU 1. Lingkup Sistem Manajemen

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 965/MENKES/SK/XI/1992 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 965/MENKES/SK/XI/1992 TENTANG KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NOMOR : 965/MENKES/SK/XI/1992 TENTANG CARA PRODUKSI KOSMETIKA YANG BAIK MENTERI KESEHATAN, Menimbang : a. bahwa langkah utama untuk menjamin keamanan kosmetika adalah penerapan

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.382, 2014 KEMENHAN. Peralatan Kesehatan. Lembaga Farmasi TNI. Standardisasi. PERATURAN MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG STANDARDISASI

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT TAISHO PHARMACEUTICAL INDONESIA TBK. JL. RAYA BOGOR KM 38, DEPOK

UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT TAISHO PHARMACEUTICAL INDONESIA TBK. JL. RAYA BOGOR KM 38, DEPOK UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT TAISHO PHARMACEUTICAL INDONESIA TBK. JL. RAYA BOGOR KM 38, DEPOK PERIODE 17 JUNI - 30 AGUSTUS 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Industri Farmasi Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 245/Menkes/SK/V/1990, yang dimaksud dengan industri farmasi adalah industri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Seiring dengan berkembangnya jaman masyarakat semakin sadar bahwa akan pentingnya kesehatan dalam kehidupan. Kesehatan merupakan salah satu aspek terpenting untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Setiap orang berhak mendapat kesehatan yang layak seperti tertulis dalam Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, bahwa kesehatan merupakan hak asasi manusia

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. MEPROFARM JL. SOEKARNO-HATTA 789 BANDUNG (31 AGUSTUS 9 OKTOBER 2015)

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. MEPROFARM JL. SOEKARNO-HATTA 789 BANDUNG (31 AGUSTUS 9 OKTOBER 2015) LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. MEPROFARM JL. SOEKARNO-HATTA 789 BANDUNG (31 AGUSTUS 9 OKTOBER 2015) PERIODE XLV OLEH: CINDY HERIYANTI. H, S. Farm. (NPM: 2448715105) PROGRAM STUDI PROFESI

Lebih terperinci

Penggunaan terbesar herbal. Fitofarmaka. supplement. kosmetik

Penggunaan terbesar herbal. Fitofarmaka. supplement. kosmetik Penggunaan terbesar herbal Fitofarmaka supplement kosmetik Pasar herbal Pasar dunia 10 M USD Nilai export indonesia 100 Triliun Kualitas Produksi herbal GAP GMP GDP GAP ON FARM Iklim Tanah Ketinggian bibit

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. MERCK TBK. JL. TB. SIMATUPANG NO. 8 PASAR REBO JAKARTA TIMUR PERIODE 3 FEBRUARI 28 MARET 2014 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR:. TENTANG PEDOMAN PENERAPAN CARA PEMBUATAN KOSMETIKA YANG BAIK

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR:. TENTANG PEDOMAN PENERAPAN CARA PEMBUATAN KOSMETIKA YANG BAIK PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR:. TENTANG PEDOMAN PENERAPAN CARA PEMBUATAN KOSMETIKA YANG BAIK KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. MEPROFARM JL. SOEKARNO-HATTA 789 BANDUNG (31 AGUSTUS 9 OKTOBER 2015)

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. MEPROFARM JL. SOEKARNO-HATTA 789 BANDUNG (31 AGUSTUS 9 OKTOBER 2015) LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. MEPROFARM JL. SOEKARNO-HATTA 789 BANDUNG (31 AGUSTUS 9 OKTOBER 2015) PERIODE XLV OLEH: RUS DWI CAHYANI, S. Farm. NPM: 2448715138 PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT TAISHO PHARMACEUTICAL INDONESIA TBK. JALAN RAYA BOGOR KM. 38 PERIODE 9 SEPTEMBER 31 OKTOBER 2013

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT TAISHO PHARMACEUTICAL INDONESIA TBK. JALAN RAYA BOGOR KM. 38 PERIODE 9 SEPTEMBER 31 OKTOBER 2013 UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT TAISHO PHARMACEUTICAL INDONESIA TBK. JALAN RAYA BOGOR KM. 38 PERIODE 9 SEPTEMBER 31 OKTOBER 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. BAYER INDONESIA CIMANGGIS PLANT JL. RAYA BOGOR KM 32 DEPOK JAWA BARAT (31 AGUSTUS 30 OKTOBER 2015)

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. BAYER INDONESIA CIMANGGIS PLANT JL. RAYA BOGOR KM 32 DEPOK JAWA BARAT (31 AGUSTUS 30 OKTOBER 2015) LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. BAYER INDONESIA CIMANGGIS PLANT JL. RAYA BOGOR KM 32 DEPOK JAWA BARAT (31 AGUSTUS 30 OKTOBER 2015) PERIODE XLV DISUSUN OLEH: JEMMY KURNIAWAN, S.Farm. 2448715124

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.1.34.11.12.7542 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN TEKNIS CARA DISTRIBUSI OBAT

Lebih terperinci

2 Presiden Nomor 55 Tahun 2013 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 125); 3. Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan,

2 Presiden Nomor 55 Tahun 2013 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 125); 3. Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.794, 2014 KEMEN KP. Obat Ikan. Cara Pembuatan. PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24/PERMEN-KP/2014 TENTANG CARA PEMBUATAN OBAT IKAN YANG

Lebih terperinci

Checklist Audit Mutu ISO 9001:2008

Checklist Audit Mutu ISO 9001:2008 Checklist Audit Mutu ISO 9001:2000 Checklist Audit Mutu ISO 9001:2008 :2008 4. 4.1 4.1 4.1 Sistem Manajemen Mutu Persyaratan Umum Apakah organisasi menetapkan dan mendokumentasikan sistem manajemen mutu

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.1.34.11.12.7542 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN TEKNIS CARA DISTRIBUSI OBAT

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI. terbentuk karena hasil penggabungan/ merger antara dua perusahaan besar kimia

BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI. terbentuk karena hasil penggabungan/ merger antara dua perusahaan besar kimia BAB II TINJAUAN UMUM INDUSTRI FARMASI 2.1 Sejarah Sebagai suatu perusahaan farmasi bertaraf global, PT Aventis Pharma terbentuk karena hasil penggabungan/ merger antara dua perusahaan besar kimia farmasi

Lebih terperinci

Sistem manajemen mutu Persyaratan

Sistem manajemen mutu Persyaratan Standar Nasional Indonesia Sistem manajemen mutu Persyaratan ICS 03.120.10 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... iv Pendahuluan... vi 0.1 Umum... vi 0.2 Pendekatan proses...

Lebih terperinci

Perencanaan. Pengadaan. Penggunaan. Dukungan Manajemen

Perencanaan. Pengadaan. Penggunaan. Dukungan Manajemen Perencanaan Penggunaan Pengadaan Dukungan Manajemen Distribusi Penyimpanan Menjamin tersedianya obat dgn mutu yang baik, tersebar secara merata dan teratur, sehingga mudah diperoleh pada tempat dan waktu

Lebih terperinci

BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN 5.1 Audit Internal Audit ini meliputi semua departemen. Coordinator audit/ketua tim audit ditentukan oleh Manajemen Representative dan kemudian ketua tim audit menunjuk tim

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. LAPI LABORATORIES KAWASAN INDUSTRI MODERN CIKANDE, SERANG, PERIODE 1 APRIL 29 APRIL 2013 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER YESSICA

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI PT. MUTIFA MEDAN

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI PT. MUTIFA MEDAN LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI di PT. MUTIFA MEDAN Disusun Oleh : Miss Naimah Abdunroni, S. Farm. 083202053 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010 Lembar Pengesahan LAPORAN

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI INDUSTRI FARMASI LANDSON PT. PERTIWI AGUNG JALAN DDN SUKADANAU CIKARANG BARAT BEKASI PERIODE 9 SEPTEMBER-7 NOVEMBER 2014 LAPORAN PRAKTEK

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Gudang merupakan sarana pendukung kegiatan produksi industri farmasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Gudang merupakan sarana pendukung kegiatan produksi industri farmasi BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Gudang merupakan sarana pendukung kegiatan produksi industri farmasi yang berfungsi untuk menyimpan bahan baku, bahan kemas dan obat jadi yang belum didistribusikan.

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT SYDNA FARMA JL. RC. VETERAN NO. 89 BINTARO JAKARTA SELATAN PERIODE 1 JULI 29 AGUSTUS 2014 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER SRIWULANTYA,

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI LEMBAGA FARMASI DIREKTORAT KESEHATAN ANGKATAN DARAT BANDUNG

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI LEMBAGA FARMASI DIREKTORAT KESEHATAN ANGKATAN DARAT BANDUNG LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI di LEMBAGA FARMASI DIREKTORAT KESEHATAN ANGKATAN DARAT BANDUNG Disusun Oleh : Eka Saputra, S. Farm. 073202020 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Lebih terperinci

Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB)

Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) BPOM dalam mengawal obat Visi : Obat dan makanan terjamin aman,bermutu dan berkhasiat. Misi: Melindungi masyarakat dari obat dan makanan yang beresiko terhadap kesehatan.

Lebih terperinci

5. TANGGUNG JAWAB MANAJEMEN 6. MANAJEMEN SUMBER DAYA 7. REALISASI PRODUK 8. PENGUKURAN,ANALISA & PERBAIKAN

5. TANGGUNG JAWAB MANAJEMEN 6. MANAJEMEN SUMBER DAYA 7. REALISASI PRODUK 8. PENGUKURAN,ANALISA & PERBAIKAN 5. TANGGUNG JAWAB MANAJEMEN 6. 7. 8. 1.1 UMUM Persyaratan SMM ini untuk organisasi adalah: Yang membutuhkan kemampuan untuk menyediakan produk secara konsisten yang sesuai dengan persyaratan pelanggan

Lebih terperinci

Aspek-aspek CPOB. Manajemen Mutu Personalia Bangunan dan Fasilitas Peralatan Sanitasi dan Higiene Produksi

Aspek-aspek CPOB. Manajemen Mutu Personalia Bangunan dan Fasilitas Peralatan Sanitasi dan Higiene Produksi Personalia Aspek-aspek CPOB Manajemen Mutu Personalia Bangunan dan Fasilitas Peralatan Sanitasi dan Higiene Produksi Pengawasan mutu Inspeksi diri dan audit mutu Penanganan keluhan terhadap produk, penarikan

Lebih terperinci

BAB 1 MANAJEMEN MUTU

BAB 1 MANAJEMEN MUTU Lampiran Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor HK.03.1.23.06.11.5629 Tahun 2011 BAB 1 MANAJEMEN MUTU PRINSIP Industri obat tradisional harus membuat obat tradisional sedemikian rupa agar

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI PT. UNIVERSAL PHARMACEUTICAL INDUSTRIES MEDAN

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI PT. UNIVERSAL PHARMACEUTICAL INDUSTRIES MEDAN LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI di PT. UNIVERSAL PHARMACEUTICAL INDUSTRIES MEDAN Disusun oleh: KATARIN SITOMPUL, S.Farm NIM 093202039 PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER FAKULTAS FARMASI

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. MEPROFARM JALAN SOEKARNO-HATTA NO. 789 BANDUNG 03 APRIL 26 MEI 2017

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. MEPROFARM JALAN SOEKARNO-HATTA NO. 789 BANDUNG 03 APRIL 26 MEI 2017 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. MEPROFARM JALAN SOEKARNO-HATTA NO. 789 BANDUNG 03 APRIL 26 MEI 2017 PERIODE XLVIII DISUSUN OLEH : HELMY ANDRIANTO WIDJAYA, S.Farm. NPM. 2448716033 PROGRAM

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.1.23.06.11.5629 TAHUN 2011 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS CARA PEMBUATAN OBAT

Lebih terperinci

PEDOMAN TEKNIS CARA DISTRIBUSI OBAT YANG BAIK

PEDOMAN TEKNIS CARA DISTRIBUSI OBAT YANG BAIK 7 LAMPIRAN PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.1.34.11.12.7542 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN TEKNIS CARA DISTRIBUSI OBAT YANG BAIK PEDOMAN TEKNIS CARA DISTRIBUSI

Lebih terperinci

PERIODE XLV. Disusun Oleh: CLAUDIA ALVINA, S. Farm. NPM

PERIODE XLV. Disusun Oleh: CLAUDIA ALVINA, S. Farm. NPM LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. MERCK SHARP DOHME PHARMA, Tbk. JL. RAYA PANDAAN KM. 48 PANDAAN PANDAAN-PASURUAN (07 SEPTEMBER 2015 13 OKTOBER 2015) PERIODE XLV Disusun Oleh: CLAUDIA ALVINA,

Lebih terperinci

2011, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 42,

2011, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 42, BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.393, 2011 BADAN POM. Obat Tradisional. Pembuatan. Persyaratan Teknis. PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.1.23.06.11.5629

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. MEPROFARM JL. SOEKARNO-HATTA 789 BANDUNG 4 APRIL 27 MEI 2016

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. MEPROFARM JL. SOEKARNO-HATTA 789 BANDUNG 4 APRIL 27 MEI 2016 LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. MEPROFARM JL. SOEKARNO-HATTA 789 BANDUNG 4 APRIL 27 MEI 2016 PERIODE XLVI OLEH: WILI MAWARTI NPM: 2448715248 PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER FAKULTAS FARMASI

Lebih terperinci

MODUL MATERI UJIAN PERPINDAHAN JABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS FARMASI DAN MAKANAN TERAMPIL KE AHLI PEGAWAI NEGERI SIPIL (PNS) BADAN POM RI

MODUL MATERI UJIAN PERPINDAHAN JABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS FARMASI DAN MAKANAN TERAMPIL KE AHLI PEGAWAI NEGERI SIPIL (PNS) BADAN POM RI MODUL MATERI UJIAN PERPINDAHAN JABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS FARMASI DAN MAKANAN TERAMPIL KE AHLI PEGAWAI NEGERI SIPIL (PNS) BADAN POM RI MATA PELAJARAN : KONSEP DASAR PENGAWASAN BADAN PENGAWAS OBAT DAN

Lebih terperinci

DOKUMENTASI

DOKUMENTASI DOKUMENTASI PENDAHULUAN Dokumentasi adalah suatu bukti yang dapat dipercaya pada penerapan/pemenuhan CPOTB. Mutu yang direncanakan adalah satu-satunya solusi untuk mengatasi keluhan yang terkait dengan

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI PT. KALBE FARMA Tbk. KAWASAN INDUSTRI DELTA SILICON JL. M. H. THAMRIN BLOK A3-1, LIPPO CIKARANG, BEKASI PERIODE 18 JULI 16 SEPTEMBER 2011

Lebih terperinci