dx = F(x) + C (P.6.1)
|
|
|
- Teguh Sugiarto
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Bab 6 Integrasi Numerik Pelajarila jagad raya ini. Jangan kecewa karena dunia tidak mengenal anda, tetapi kecewala karena anda tidak mengenal dunia. (Kong Fu Tse - filusuf Cina) Di dalam kalkulus, integral adala satu dari dua pokok baasan yang mendasar disamping turunan (derivative). Dalam kulia kalkulus integral, anda tela diajarkan cara memperole solusi analitik (dan eksak) dari integral Tak-tentu maupun integral Tentu. Integral Tak-tentu dinyatakan sebagai f ( ) d = F() + C (P.6.) Solusinya, F(), adala fungsi menerus sedemikian seingga F'() = f(), dan C adala sebua konstanta. Integral Tentu menangani peritungan integral di antara batas-batas yang tela ditentukan, yang dinyatakan sebagai I = b a f ( ) d (P.6.) Menurut teorema dasar kalkulus integral, persamaan (P.6.) diitung sebagai b a f ( ) d = F() b a = F(b) - F(a) Secara geometri, integrasi Tentu sama dengan luas daera yang dibatasi ole kurva y = f(), garis = a dan garis = b (Gambar 6.). Daera yang dimaksud ditunjukkan ole bagian yang diarsir. Bab 6 Integrasi Numerik 69
2 y y = f() a b Gambar 6. Tafsiran geometri integral Tentu Fungsi-fungsi yang dapat diintegrasikan dapat dikelompokkan sebagai. Fungsi menerus yang sederana, seperti polinomial, eksponensial, atau fungsi trigonometri. Misalnya, ( 6 + cos( ) e ) d Fungsi sederana seperti ini muda diitung integralnya secara eksak dengan menggunakan metode analitik. Metode-metode analitik untuk mengitung integral fungsi yang demikian suda tersedia, yaitu a n d = e a d = a n+ /(n+) + C e a /a+ C sin(a+b) d = -/a cos(a+b) + C cos(a+b) d = /a sin(a+b) + C d/ = ln + C ln d = ln - + C. Fungsi menerus yang rumit, misalnya + cos +.5sin ( + ).5 e d 7 Metode Numerik
3 Fungsi yang rumit seperti ini jelas sulit, bakan tidak mungkin, diselesaikan dengan metode-metode integrasi yang sederana. Karena itu, solusinya anya dapat diitung dengan metode numerik.. Fungsi yang ditabulasikan, yang dalam al ini nilai dan f() diberikan dalam sejumla titik diskrit. Fungsi seperti ini sering dijumpai pada data asil eksperimen di laboratorium atau berupa data pengamatan di lapangan. Pada kasus terakir ini, umumnya fungsi f() tidak diketaui secara eksplisit. Yang dapat diukur anyala besaran fisisnya saja. Misalnya, f() Integrasi fungsi seperti ini jelas arus didikerjakan secara numerik. 6. Terapan Integral dalam Bidang Sains dan Rekayasa Integral mempunyai banyak terapan dalam bidang sains dan rekayasa. Dalam praktek rekayasa, seringkali fungsi yang diintegrasikan (integrand) adala fungsi empirik yang diberikan dalam bentuk tabel, atau integrand-nya tidak dalam bentuk fungsi elementer (seperti sin, fungsi Gamma Γ(α), dsb), atau fungsi eksplisit f yang terlalu rumit untuk diintegralkan [KRE88]. Ole sebab itu, metode numerik dapat digunakan untuk mengampiri integrasi. Di bawa ini diberikan beberapa conto persoalan dalam bidang sains dan rekayasa.. Dalam bidang fisika, integral digunakan untuk mengitung persamaan kecepatan. Misalkan kecepatan sebua partikel merupakan fungsi waktu menerus yang diketaui teradap waktu, v(t). Jarak total d yang ditempu ole partikel ini selama waktu t diberikan ole: d = t v( t) dt Bab 6 Integrasi Numerik 7
4 . Dalam bidang teknik elektro/kelistrikan, tela diketaui bawa arga rata-rata suatu arus listrik yang berosilasi sepanjang satu periode bole nol. Disamping kenyataan bawa asil netto adala nol, arus tersebut mampu menimbulkan kerja dan mengasilkan panas. Karena itu para rekayasawan listrik sering mencirikan arus yang demikian dengan persamaan I RMS T ( t) i = T dt yang dalam al ini I RMS adala arus RMS (root-mean-square), T adala periode, dan i(t) adala arus pada rangkaian, misalnya i(t) = 5e -t sin πt untuk t T/ = untuk T/ t T. Conto fungsi dalam bentuk tabel adala pengukuran fluks panas mataari yang diberikan ole tabel berikut: Waktu, jam Fluks panas q, kalori/cm/jam Data yang ditabulasikan pada tabel ini memberikan pengukuran fluks panas q setiap jam pada permukaan sebua kolektor sinar mataari. Diminta 7 Metode Numerik
5 memperkiraan panas total yang diserap ole panel kolektor seluas 5. cm selama waktu 4 jam. Panel mempunyai kemangkusan penyerapan (absorption), e ab, sebesar 45%. Panas total yang diserap diberikan ole persamaan H = e ab t qadt Demikianla beberapa conto terapan integral dalam bidang sains dan rekayasa. Umumnya fungsi yang diintegralkan bentuknya rumit seingga sukar diselesaikan secara analitik. Karena itu, peritungan integral secara numerik lebi banyak dipraktekkan ole para insinyur. 6. Persoalan Integrasi Numerik Persoalan integrasi numerik iala mengitung secara numerik integral Tentu I = b a f ( ) d yang dalam al ini a dan b batas-batas integrasi, f adala fungsi yang dapat diberikan secara eksplisit dalam bentuk persamaan ataupun secara empirik dalam bentuk tabel nilai. Terdapat tiga pendekatan dalam menurunkan rumus integrasi numerik. Pendekatan pertama adala berdasarkan tafsiran geometri integral Tentu. Daera integrasi dibagi atas sejumla pias (strip) yang berbentuk segiempat. Luas daera integrasi diampiri dengan luas seluru pias. Rumus, dalam bab ini disebut kaida, integrasi numerik yang diturunkan dengan pendekatan ini digolongkan ke dalam metode pias. Pendekatan kedua adala berdasarkan polinom interpolasi. Di sini fungsi integrand f() diampiri dengan polinom interpolasi p n (). Selanjutnya, integrasi dilakukan teradap p n () karena polinom lebi muda diintegralkan ketimbang mengintegralkan f(). Rumus integrasi numerik yang diturunkan dengan pendekatan ini digolongkan ke dalam metode Newton-Cotes, yaitu metode yang umum untuk menurunkan rumus integarsi numerik.. Pendekatan ketiga sama sekali tidak menggunakan titik-titik diskrit sebagaimana pada kedua pendekatan di atas. Nilai integral diperole dengan mengevaluasi nilai fungsi pada sejumla titik tertentu di dalam selang [-, ], mengalikannya Bab 6 Integrasi Numerik 7
6 dengan suatu konstanta, kemudian menjumlakan keseluruan peritungan. Pendekatan ketiga ini dinamakan Kuadratur Gauss, yang akan dibaas pada bagian akir bab ini. 6. Metode Pias Pada umumnya, metode peritungan integral secara numerik bekerja dengan sejumla titik diskrit. Karena data yang ditabulasikan suda berbentuk demikian, maka secara alami ia sesuai dengan kebanyakan metode integrasi numerik. Untuk fungsi menerus, titik-titik diskrit itu diperole dengan menggunakan persamaan fungsi yang diberikan untuk mengasilkan tabel nilai. Diubungkan dengan tafsiran geometri inttegral Tentu, titik-titik pada tabel sama dengan membagi selang integrasi [a, b] menjadi n bua pias (strip) atau segmen (Gambar 6.). Lebar tiap pias adala = b a n (P.6.) Titik absis pias dinyatakan sebagai r = a + r, r =,,,..., n (P.6.4) dan nilai fungsi pada titik absis pias adala f r = f( r ) (P.6.5) Luas daera integrasi [a, b] diampiri sebagai luas n bua pias. Metode integrasi numerik yang berbasis pias ini disebut metode pias. Ada juga buku yang menyebutnya metode kuadratur, karena pias berbentuk segiempat. r r f r f f f f 4 4 f n- n- f n- n- n- f n- n n f n y f f n n- f f f a = n- n =b y =f() Gambar 6. Metode pias 74 Metode Numerik
7 Kaida integrasi numerik yang dapat diturunkan dengan metode pias adala:. Kaida segiempat (rectangle rule). Kaida trapesium (trapezoidal rule). Kaida titik tenga (midpoint rule) Dua kaida pertama pada akekatnya sama, anya cara penurunan rumusnya yang berbeda, sedangkan kaida yang ketiga, kaida titik tenga, merupakan bentuk kompromi untuk memperole nilai ampiran yang lebi baik. 6.. Kaida Segiempat Pandang sebua pias berbentuk empat persegi panjang dari = sampai = berikut (Gambar 6.). y y = f() Gambar 6. Kaida segiempat Luas satu pias adala (tinggi pias = f( ) ) f ( ) d f( ) (P.6.6) atau (tinggi pias = f( ) ) f ( ) d f( ) (P.6.7) Bab 6 Integrasi Numerik 75
8 Jadi, f ( ) d f ( ) f ( ) d f( ) + f ( ) d [ f( ) + f( )] Bagi setiap ruas persamaan asil penjumlaan di atas dengan, untuk mengasilkan f ( ) d [f( ) + f( )] (P.6.8) Persamaan (P.6.8) ini dinamakan kaida segiempat. Kaida segiempat untuk satu pias dapat kita perluas untuk mengitung I = b a f ( ) d yang dalam al ini, I sama dengan luas daera integrasi dalam selang [a, b]. Luas daera tersebut diperole dengan membagi selang [a, b] menjadi n bua pias segiempat dengan lebar, yaitu pias dengan absis [, ], [, ], [, ],..., dan pias [ n-, n ]. Jumla luas seluru pias segiempat itu adala ampiran luas I (Gambar 6.4). Kaida integrasi yang diperole adala kaida segiempat gabungan (composite rectangle's rule): b a f ( ) d f ( ) + f ( ) + f ( ) f ( n- ) b a f ( ) d f ( ) + f ( ) + f ( ) f ( n ) + b a f ( ) d f( ) + f ( ) + f( ) f( n- ) + f( n ) 76 Metode Numerik
9 Bagi setiap ruas persamaan asil penjumlaan di atas dengan, untuk mengasilkan b a f ( ) d f ( ) + f( ) + f( ) f( n- ) + f (n ) Jadi, kaida segiempat gabungan adala b a f ( ) d n ( f + f + f f n- + f n ) = (f + i= f i + f n ) (P.6.9) dengan f r = f( r ), r =,,,..., n. y y = f()... a =... n- n- n = b Gambar 6.4 Kaida segiempat gabungan 6.. Kaida Trapesium Pandang sebua pias berbentuk trapesium dari = sampai = berikut (Gambar 6.5): Luas satu trapesium adala f ( ) d [ f( ) + f( )] (P.6.) Bab 6 Integrasi Numerik 77
10 Persamaan (P.6.) ini dikenal dengan nama kaida trapesium. Catatla bawa kaida trapesium sama dengan kaida segiempat. y Gambar 6.5 Kaida trapesium Bila selang [a, b] dibagi atas n bua pias trapesium, kaida integrasi yang diperole adala kaida trapesium gabungan (composite trapezoidal's rule): b a f ( ) d f ( ) d + f ( ) d n n f ( ) d [ f( ) + f( )] + [ f( )+ f( )] [ f(n- ) + f( n )] [ f( ) + f( ) + f( ) f( n- ) + f( n )] n ( f + i= f + f n ) (P.6.) dengan f r = f( r ), r =,,,..., n. 78 Metode Numerik
11 Program 6. Kaida Trapesium procedure trapesium(a, b : real; n: integer; var I : real); { Mengitung integrasi f() di dalam selang [a, b] dan jumlas pias adala n dengan menggunakan kaida trapesium. K.Awal : nilai a, b, dan n suda terdefinisi K.Akir: I adala ampiran integrasi yang diitung dengan kaida segi-empat. } var,, sigma: real; r : integer; begin :=(b-a)/n; {lebar pias} :=a; {awal selang integrasi} I:=f(a) + f(b); sigma:=; for r:= to n- do begin :=+; sigma:=sigma + *f(); end; I:=(I+sigma)*/; { nilai integrasi numerik} end; 6.. Kaida Titik Tenga Pandang sebua pias berbentuk empat persegi panjang dari = sampai = dan titik tenga absis = + / (Gambar 6.6). Luas satu pias adala f ( ) d f( + /) f( / ) P.6.) Persamaan (P.6.) ini dikenal dengan nama kaida titik-tenga. Bab 6 Integrasi Numerik 79
12 y y = f() +/ Gambar 6.6 Kaida titik tenga Kaida titik-tenga gabungan adala (Gambar 6.7): b a f ( ) d f ( ) d + f ( ) d n n f ( ) d f( / ) + f( / ) + f( 5/ ) + f( 7/ ) f( n-/ ) (f / + f / f n-/ ) i= n f i+/ P.6.) yang dalam al ini, dan r+/ = a + (r+/)) f r +/ = f( r+/ ) r =,,,..,n- 8 Metode Numerik
13 y y = f()... a b / / 5/... n-/ n-/ Gambar 6.7 Kaida titik-tenga gabungan Program 6. KaidaTitik-tenga procedure titik_tenga(a, b : real; n: integer; var I : real); { mengitung integrasi f() dalam selang [a, b] dengan jumla pias sebanyak n. K.Awal : arga a, b, dan n suda terdefinisi K.Akir: I adala ampiran integrasi yang diitung dengan kaida titik-tenga } var,, sigma : real; r : integer; begin :=(b-a)/n; {lebar pias} := a+/; {titik tenga pertama} sigma:=f(); for r:= to n- do begin :=+; sigma:=sigma + f() end; I:=sigma*; { nilai integrasi numerik} end; Bab 6 Integrasi Numerik 8
14 6..4 Galat Metode Pias Sekarang akan kita itung berapa besar galat asil integrasi untuk masing-masing metode. Misalkan dan I adala nilai integrasi sejati I ' adala integrasi secara numerik maka galat asil integrasi numerik didefenisikan sebagai E = I I ' (P.6.4) Untuk penurunan galat, kita tinjau galat integrasi di dalam selang [, ], I = f ( ) d (P.6.5) y galat y = f() Gambar 6.8 Galat kaida trapesium (bagian yang diarsir) Untuk setiap kaida akan kita turunkan galatnya berikut ini. 8 Metode Numerik
15 6..4. Galat Kaida Trapesium Galat untuk satu bua pias (Gambar 6.8) adala E = f ( ) d - ( f + f ) Uraikan f() ke dalam deret Taylor di sekitar = f() = f + f ' + f " + 6 f "' +... Uraikan f = f( ) = f() ke dalam deret Taylor di sekitar = f = f( ) = f() = f + f ' + f " +... Maka, E = [ f + f ' + f " + 6 f "' +... ]d - f - [ f + f ' + f " +...] = f + / f ' + /6 f "'+..] - / f - / f - / f ' - /4 f "' -... = (f o + / f ' + /6 f " +...) - (f + / f ' + /4 f "'+...) = - f " f "(t), < t < (P.6.6) O( ) Jadi, f ( ) d ( f + f ) + O( ) (P.6.7) Bab 6 Integrasi Numerik 8
16 Persamaan (P.6.7) ini menyatakan bawa galat kaida trapesium sebanding dengan. Pernyataan ini dibuat dengan andaian bawa f() menerus dalam selang [, ]. Jika tidak, maka galat tidak sebanding dengan [NAK9]. Untuk n bua pias, galat keseluruan (total) adala E tot - ( f " + f " + f " f " n- ) yang dapat disederanakan dengan teorema nilai antara untuk penjumlaan menjadi E tot - n i= f i " - n f "(t), a < t < b (P.6.8) Mengingat = b a n maka E tot -n f "(t) - n b a n f "(t) - (b - a) f "(t) (P.6.9) O( ) Dengan demikian, b a n f ( ) d = ( f + i= f i + f n ) + O( ) (P.6.) Jadi, galat total integrasi dengan kaida trapesium sebanding dengan kuadrat lebar pias (). Semakin kecil ukuran ukuran, semakin kecil pula galatnya, namun semakin banyak jumla komputasinya. 84 Metode Numerik
17 Conto 6.. [GER85] Hitung integral 4 e d dengan kaida trapesium. Ambil =.. Perkirakan juga batas- batas galatnya. Gunakan 5 angka bena. Penyelesaian:.8 Fungsi integrand-nya adala f() = e Jumla pias adala n = (b-a)/ = (.4 -.8)/. = 8 Tabel data diskritnya adala sebagai berikut: r r f( r ) r r f( r ) Nilai integrasinya,. 4.8 e d (f + f + f f 6 + f 7 + f 8 ). [[6.5 + (7.89) + (9.5) (6.445) + (.86) + (4.5) ].994 Nilai integrasi sejatinya adala. 4.8 e d = e =.8 =. 4 = e.4 - e.8 = =.94 Galat kaida trapesium: E = - (b - a) f "(t),.8 < t <.4 Bab 6 Integrasi Numerik 85
18 Karena f() = e, f '() = e, dan f "() = e maka E = -. (.4 -.8) e,.8 < t <.4 Karena fungsi f() = e menaik secara monoton di dalam selang [.8,.4], maka kita dapat menentukan batas-batas galatnya: atau E = - (.) e (.4 -.8) e -. < E < Di sini nilai sejati I arus terletak di antara.8.4 ( min) =.( min) ( ma) =.598( ma) =.84 dan =.96 (nilai integrasi sejatinya adala.94, yang memang terletak di antara.84 dan.96). Galat asil integrasi 4 e d adala = -.8 yang memang terletak di antara galat minimum dan galat maksimum Galat Kaida Titik Tenga Galat untuk satu bua pias adala E = f ( ) d - f / Dengan cara penurunan yang sama seperti pada kaida trapesium, dapat dibuktikan bawa E f "(t), < t < (P.6.) 4 Galat untuk seluru pias adala E tot n 4 f "(t), a < t < b 86 Metode Numerik
19 4 ( b - a) f "(t) (P.6.) = O( ) Dapat diliat bawa galat integrasi dengan kaida titik tenga sama dengan / kali galat pada kaida trapesium namun berbeda tanda. Dengan kata lain, kaida titik tenga lebi baik daripada kaida trapesium. Sayangnya, kaida titik-tenga tidak dapat diterapkan jika fungsi f() tidak diketaui secara eksplisit (anya tersedia data berupa tabel titik-titik saja) sebab kita tidak dapat mengitung nilai tenga, f r+/. 6.4 Metode Newton-Cotes Metode Newton-Cotes adala metode yang umum untuk menurunkan kaida integrasi numerik. Polinom interpolasi menjadi dasar metode Newton-Cotes. Gagasannya adala mengampiri fungsi f() dengan polinom interpolasi p n () I = b a f ( ) d b a p ( ) d (P.6.) n yang dalam al ini, p n () = a + a + a a n- n- + a n n Mengapa polinom interpolasi? Karena suku-suku polinom muda diintegralkan dengan rumus integral yang suda baku, yaitu a n a d = n + n+ + C Sembarang polinom interpolasi yang tela kita baas di dalam Bab 5 dapat digunakan sebagai ampiran fungsi, tetapi di dalam bab ini polinom interpolasi yang kita pakai adala polinom Newton-Gregory maju: p n () = f + ( - ) f! + ( - )( - ) f! + + n n ( - )( - )...( - n- ) f n! Bab 6 Integrasi Numerik 87
20 Dari beberapa kaida integrasi numerik yang diturunkan dari metode Newton-Cotes, tiga di antaranya yang terkenal adala:. Kaida trapesium (Trapezoidal rule). Kaida Simpson / (Simpson's / rule). Kaida Simpson /8 (Simpson's /8 rule) Sebagai catatan, kaida trapesium suda kita turunkan dengan metode pias. Metode Newton-Cotes memberikan pendekatan lain penurunan kaida trapesium Kaida Trapesium Diberikan dua bua titik data (, f()) dan (, f()). Polinom interpolasi yang melalui kedua bua titik itu adala sebua garis lurus. Luas daera yang diitung sebagai ampiran nilai integrasi adala daera di bawa garis lurus tersebut (Gambar 6.9). y y = p () y = f() = = Gambar 6.9 Kaida trapesium Polinom interpolasi Newton-Gregory derajat yang melalui kedua bua titik itu adala p () = f( ) + f ( ) f = f + 88 Metode Numerik
21 Integrasikan p () di dalam selang [,]: I f ( ) d p ( d ) ( f + f ) d f + = f = f + f f + ( f - f ), sebab f = f -f f + f ( f + f ) Jadi, kaida trapesium adala f ( ) d ( f + f ) (P.6.) Galat kaida trapesium suda kita turunkan sebelumnya pada metode pias, yaitu E = - f "(t) = O( ), < t < Jadi, f ( ) d ( f + f ) + O( ) (P.6.4) Bab 6 Integrasi Numerik 89
22 Kaida trapesium untuk integrasi dalam selang [, ] kita perluas untuk mengitung I = b a f ( ) d yang dalam al ini, I sama dengan luas daera integrasi di dalam selang [a, b]. Luas daera tersebut diperole dengan membagi selang [a, b] menjadi n bua upaselang (subinterval) dengan lebar tiap upaselang, yaitu [, ], [, ], [, ],..., [ n-, n ]. Titik-titik ujung tiap upaselang diinterpolasi dengan polinom derajat. Jadi, di dalam selang [a, b] terdapat n bua polinom derajat satu yang terpotong-potong (piecewise). Integrasi masing-masing polinom itu mengasilkan n bua kaida trapesium yang disebut kaida trapesium gabungan. Luas daera integrasi di dalam selang [a, b] adala jumla seluru luas trapesium, yaitu f ( ) d f ( ) d + f ( ) d n f ( ) d b a n ( f + f ) + ( f + f ) ( fn- + f n ) ( f + f + f f n- + f n ) n ( f + f i + i= dengan f r = f( r ), r =,,,..., n. f n ) (P.6.5) Galat total kaida trapesium gabungan suda kita turunkan pada metode pias, yaitu E tot - ( b - a) f "(t) = O( ), < t < n Dengan demikian, b a f ) d ( = ( f + n i= f i + f n ) + O( ) (P.6.6) Jadi, galat integrasi dengan kaida trapesium sebanding dengan. 9 Metode Numerik
23 6.4. Kaida Simpson / Hampiran nilai integrasi yang lebi baik dapat ditingkatkan dengan mengunakan polinom interpolasi berderajat yang lebi tinggi. Misalkan fungsi f() diampiri dengan polinom interpolasi derajat yang grafiknya berbentuk parabola. Luas daera yang diitung sebagai ampiran nilai integrasi adala daera di bawa parabola (Gambar 6.). Untuk itu, dibutukan bua titik data, misalkan (, f()), (, f()), dan (, f()). y y = p () y = f() = = = Gambar 6. Kaida Simpson / Polinom interpolasi Newton-Gregory derajat yang melalui ketiga bua titik tersebut adala p () = f( ) + f( ) + ( )! Integrasikan p () di dalam selang [, ]: f( ) = f + f + ( )! f I f ( ) d p ( d f + ( f + f + ) f + ( ( )! 6 - f ) d ) = f 4 = Bab 6 Integrasi Numerik 9
24 f f + ( 6-4 ) f 4 f + f + ( 4 - ) f f + f + f Mengingat dan f = f - f f = f - f = ( f - f ) - ( f - f ) = f -f + f maka, selanjutnya I f + ( f - f ) + ( f - f + f ) f + f - f + f - f + f 4 f + f + f ( f + 4f + f ) (P.6.7) Persaman (P.6.7) ini dinamakan kaida Simpson /. Sebutan "/" muncul karena di dalam persamaan (P.6.6) terdapat faktor "/" (sekaligus untuk membedakannya dengan kaida Smpson yang lain, yaitu Simpson /8). Misalkan kurva fungsi sepanjang selang integrasi [a, b] kita bagi menjadi n+ bua titik diskrit,,,, n, dengan n genap, dan setiap tiga bua titik (atau pasang upaselang) di kurva diampiri dengan parabola (polinom interpolasi derajat ), maka kita akan mempunyai n/ bua potongan parabola. Bila masingmasing polinom derajat tersebut kita integralkan di dalam upaselang (subinterval) integrasinya, maka jumla seluru integral tersebut membentuk kaida Simpson / gabungan: I tot = b a f ( ) d f ( ) d + 4 f ( ) d f ( ) d n n 9 Metode Numerik
25 ( f + 4f + f ) + ( f + 4f + f 4 ) ( fn- + 4f n- + f n ) ( f + 4f + f + 4f + f f n- + 4f n- + f n ) n ( f + 4 i i=,,5 n f + i i=,4,6 f + f n ) (P.6.8) Persamaan (P.6.8) ini muda diafalkan dengan mengingat pola koefisien sukusukunya:, 4,, 4,,...,, 4, Namun penggunaan kaida / Simpson mensyaratkan jumla upaselang (n) arus genap, ini berbeda dengan kaida trapesium yang tidak mempunyai persyaratan mengenai jumla selang. Program 6. Kaida Simpson / procedure Simpson_sepertiga(a, b : real; n: integer; var I : real); { mengitung integrasi f() dalam selang [a, b] dengan jumla pias sebanyak n (n arus genap} K.Awal : arga a, b, dan n suda terdefinisi (n arus genap) K.Akir: I adala ampiran integrasi yang diitung dengan kaida Simpson / } var,, sigma : real; r : integer; begin :=(b-a)/n; {jarak antar titik } :=a; {awal selang integrasi} I:=f(a) + f(b); sigma:=; for r:= to n- do begin :=+; if r mod = ten { r =,, 5,..., n- } sigma:=sigma + 4*f() else { r =, 4, 6,..., n- } sigma:=sigma + *f(); end; I:=(I+sigma)*/; { nilai integrasi numerik} end; Bab 6 Integrasi Numerik 9
26 Conto 6. Hitung integral d + [NOB7] dengan menggunakan (a) kaida trapesium (b) kaida titik-tenga (c) kaida Simpson / Gunakan jarak antar titik =.5. Penyelesaian: Jumla upaselang: n = ( - )/.5 = 8 Tabel titik-titik di dalam selang [,]: Tabel titik-titik di dalams elang [, ]: (untuk kaida trapesium dan Simpson /) (untuk kaida titik-tenga) r r f r r r f r / / / / / / / / (a) dengan kaida trapesium d + / ( f + f + f + f + f 4 + f 5 + f 6 + f 7 + f 8 ).5/ [ + (.88889) + (.8) ).694 (b) dengan kaida titik-tenga d + ( f / + f / + f 5/ + f 7/ + f 9/ + f / + f / + f 5/ ).5 (5.548) 94 Metode Numerik
27 (c) dengan kaida / Simpson d + / ( f + 4f + f + 4f + f 4 + 4f 5 + f 6 + 4f 7 + f 8 ).5/ (6.6568).695 Bandingkan solusi (a), (b), dan (c) dengan solusi sejatinya: d = ln(+) + = = ln() - ln() = = yang apabila dibulatkan ke dalam 5 angka bena, f(.69478) =.695, asilnya tepat sama dengan nilai integrasi yang diitung dengan kaida Simpson /. Jadi, kaida Simpson/ memang unggul dalam al ketelitian asil dibandingkan dua kaida sebelumnya. Galat Kaida Simpson / Galat kaida Simpson / untuk dua pasang upaselang adala E = f ( ) d - ( f + 4f +f ) (P.6.9) Uraikan f(), f, dan f masing-masing ke dalam deret Taylor di sekitar = : f() = f + f ' + f = f() = f + f ' + f " + f = f() = f + f ' + 6 f " f "' + 4 f " + 4 f "' f (iv) +... f (iv) f "'+ 4 4 f (iv) +... (P.6.) (P.6.) (P.6.) Sulikan persamaan (P.6.), (P.6.), (P.6.) ke dalam persamaan (P.6.9): E = ( f + f ' + f " f "' + 4 f (iv) +...) d Bab 6 Integrasi Numerik 95
28 - [ ( f + 4f + 4f ' + + (f + f ' + 4 f " f " + f "' f "' f (iv) +...) ] (iv) f +...) 4 = (f + f ' f " f "' + f (iv) +...) = = - (6f + 6f ' + 4 f " + f "' f (iv) +...) = (f + f ' + = - (f + f ' + 5 f (iv) = ( f " + 4 f " + f (iv) +... ) 5 f o (iv) +... f "' f "' + f (iv) +...) 5 IV f +...) 7 = - 9 = O( 5 ) 5 f (iv) (P.6.) Jadi, kaida Simpson / untuk sepasang upaselang ditamba dengan galatnya dapat dinyatakan sebagai f ( ) d = ( f + 4f + f ) + O( 5 ) Galat untuk n/ pasang upaselang adala E tot = ( f (iv) + f (iv) + f 4 (iv) f n- (iv) ) = n (iv) f i i=,,... 5 = - 9. n. f (iv) (t), a < t < b 4 = - (b - a) f (iv) (t), karena n = (b - a)/ (P.6.4) 8 = O( 4 ) 96 Metode Numerik
29 Jadi, kaida Simpson / gabungan ditamba dengan galatnya dapat dinyatakan sebagai, b a n f ( ) d ( f + 4 i i=,,5 n f + i i=,4,6 f + f n ) + O( 4 ) dengan kata lain, kaida Simpson / gabungan berorde 4. Dibandingkan dengan kaida trapesium gabungan, asil integrasi dengan kaida Simpson gabungan jau lebi baik, karena orde galatnya lebi tinggi. Tapi ada kelemaannya, yaitu kaida Simpson / tidak dapat diterapkan bila jumla upaselang (n) ganjil. Conto 6. Hitungla ep( ) d dengan menggunakan kaida Simpson / dan jumla upaselang yang digunakan adala n =, lalu taksirla batas-batas galatnya. Penyelesaian: = ( - )/ =. Tabel titik-titik di dalam selang [, ] dengan =.: r r f r Nilai integasi f() di dalam selang [, ] adala: Bab 6 Integrasi Numerik 97
30 I = ep( ) d / ( f + 4f + f + 4f + f 4 + 4f 5 + f 6 + 4f 7 + f 8 + 4f 9 + f ). ( ) Taksiran galatnya: f (4) () = 4( )ep(- ) Nilai minimum f (4) () adala pada =.5 +.5, dengan f (4) ( ) = -7.59, sedangkan nilai maksimum f (4) () adala pada =, dengan f (4) () =, maka batas-batas galatnya adala 4 E tot = - (b - a) f (iv) (t) 8 = - ( ) 4. ( - ) ( min) ( maks) = =.4.6 Jadi, galat integrasinya, E tot, terletak di dalam selang -.4 < E tot <.6 Di sini nilai sejati I arus terletak di antara =.7468 dan =.7468 atau.7468 < I < Kaida Simpson /8 Seperti alnya pada kaida Simpson /, ampiran nilai integrasi yang lebi teliti dapat ditingkatkan terus dengan mengunakan polinom interpolasi berderajat lebi tinggi pula. Misalkan sekarang fungsi f() kita ampiri dengan polinom interpolasi derajat. Luas daera yang diitung sebagai ampiran nilai integrasi adala daera di bawa kurva polinom derajat tersebut parabola (Gambar 6.). Untuk membentuk polinom interpolasi derajat, dibutukan 4 bua titik data, misalkan titik-titk tersebut (, f()), (, f()), (, f()), dan (, f()). 98 Metode Numerik
31 y y = p () y = f() = = = = Gambar 6. Kaida Simpson /8 Polinom interpolasi Newton-Gregory derajat yang melalui keempat bua titik itu adala p () = f( ) + f( ) + = f + f + ( )! ( )! f + Integrasi p () di dalam selang [,] adala I f ( ) d p ( d ) f( ) + ( )( )! ( )( )! f( ) f( ) (P.6.5) [ f + f + ( )! f + ( )( )! f( ) ] d Dengan cara penurunan yang sama seperti pada kaida Simpson /, diperole f ( ) d ( f + f + f + f ) 8 (P.6.6) yang merupakan kaida Simpson /8. Bab 6 Integrasi Numerik 99
32 Galat kaida Simpson /8 adala E f (iv) (t), < t < (P.6.7) Jadi, kaida Simpson /8 ditamba dengan galatnya deapat dinyatakan sebagai f ( ) d ( f + f + f + f ) + O( 5 ) 8 Sedangkan kaida Simpson /8 gabungan adala b a f ( ) d ( f + f + f + f + f 4 + f 5 + f 6 + f 7 + f 8 + f f n- + f n- + f n- + f n ) ( f + 8 n i i= i,6,9,... f + n i i=,6,9,... f + f n ) (P.6.8) Persamaan (P.6.8) ini muda dafalkan dengan mengingat pola suku-sukunya:,,,,,,,,,,...,,,, Namun penggunaan kaida Simpson /8 mensyaratkan jumla upaselang (n) arus kelipatan tiga. Galat kaida /8 Simpson gabungan adala n / E tot i= ( 5 ) 8 f (iv) (t) n i= f (iv) (t) - 5 n.. f (iv) (t) ( b a) f (iv) (t) Metode Numerik
33 ( b a ) f (iv) (t), a < t < b (P.6.9) = O( 4 ) Jadi, kaida Simpson /8 ditamba dengan galatnya dapat dinyatakan sebagai b a f ( ) d ( f + 8 n i i= i,6,9,... f + n i i=,6,9,... f + f n ) + O( 4 ) Kaida Simpson /8 memiliki orde galat yang sama dengan orde galat kaida Simpson /. Namun dalam praktek, kaida Simpson / biasanya lebi disukai daripada kaida Simpson /8, karena dengan tiga titik (Simpson /) suda diperole orde ketelitian yang sama dengan 4 titik (Simpson /8). Tetapi, untuk n kelipatan tiga, kita anya dapat menggunakan kaida Simpson /8, dan bukan Simpson /. Program 6.4 Kaida Simpson /8 procedure Simpson_per8(a, b : real; n: integer; var I : real); { mengitung integrasi f()dalam selang [a,b]dengan jumla upa-selang sebanyak n (n arus kelipatan tiga} } K.Awal : arga a, b, dan n suda terdefinisi, n kelipatan K.Akir: I adala ampiran integrasi yang diitung dengan kaida /8 Simpson } var,, sigma : real; r : integer; begin :=(b-a)/n; {jarak antar titik } :=a; {awal selang integrasi} I:=f(a) + f(b); sigma:=; for r:= to n- do begin :=+; if r mod = ten { r =, 6, 9,..., n- } sigma:=sigma + *f() else { r, 6, 9,..., n- } sigma:=sigma + *f(); end; I:=(I+sigma)**/8; { nilai integrasi numerik} end; Bab 6 Integrasi Numerik
34 6.4.4 Metode Integrasi Numerik Untuk yang Berbeda-beda Misalkan jarak antara titik-titik data dalam selang [a, b] tidak seragam. Beberapa titik data mempunyai jarak, beberapa titik data lain, sedangkan sisanya berjarak. Integrasi numerik dalam selang [a, b] dilakukan dengan mengkombinasikan kaida integrasi yang suda ada, misalnya kombinasi kaida trapesium, kaida / Simpson, dan kaida /8 Simpson. Berdasarkan orde galatnya, kaida / Simpson dan /8 Simpson lebi teliti daripada kaida trapesium. Karena itu, kaida / Simpson diterapkan bila jumla upaselang yang bertetangga genap, sedangkan kaida /8 Simpson diterapkan bila jumla upaselang yang bertetangga ganjil dan kelipatan tiga. Sisanya diitung dengan kaida trapesium. Jadi, tata-ancangnya dapat diringkas sebagai berikut : (a) untuk sejumla upaselang berturutan yang berjarak sama adala genap, gunakan kaida / Simpson (b) untuk sejumla upaselang berturutan yang berjarak sama adala kelipatan tiga, gunakan kaida /8 Simpson (c) untuk sejuumla upaselang yang tidak berjarak sama dengan tetangganya, gunakan kaida trapesium Contonya dapat diliat pada Gambar 6.. Empat bua upaselang pertama berjarak sama, lebi baik menggunakan kaida Simpson / (karena jumla upaselang genap). Tiga bua upaselang berikutnya berjarak sama, lebi baik menggunakan kaida Simpson /8 (karena jumla upaselang kelipatan ). Dua bua upaselang berikutnya masing-masing berbeda lebarnya, maka setiap upaselang diitung integrasinya dengan kaida trapesium. y y = f() } kaida Simpson /8 } trap kaida Simpson / trap Gambar 6. Kaida / Simpson gabungan Metode Numerik
35 6.4.5 Bentuk Umum Metode Newton-Cotes Kaida trapesium, kaida Simpson /, dan kaida Simpson /8 adala tiga bua metode integrasi numerik pertama dari metode Newton-Cotes. Masing-masingnya mengampiri fungsi f() dengan polinom interpolasi derajat (lanjar), derajat (kuadratik), dan derajat (kubik). Kita dapat menemukan kaida-kaida lainnya dengan menggunakan polinom interpolasi derajat 4, 5, 6, dan seterusnya. Bentuk umum metode Newton-Cotes dapat ditulis sebagai b a f ( ) d = α [w f + w f + w f w n f N ] + E (P.6.4) dalam al ini f r = f( r ), r = a + r, dan = (b - a)/n, E menyatakan galat, sedangkan α dan w i adala konstanta riil seperti yang didaftarkan pada tabel berikut ini : n α w i, i =,,..., n E Nama / -/ f " Trapesium / 4 -/9 5 f ( 4) / Simpson /8 -/8 5 f (4) /8 Simpson 4 / /945 7 f (6) Boole 5 5/ /96 7 f (4) 6 / /4 9 f (8) 7 7/ / / / /584 9 f (8) -68/ f () -7/46 f () -465/ f () Dari tabel di atas nilai-nilai w akan semakin besar dengan membesarnya n. Dari teori galat suda diketaui bawa pengurangan bilangan yang besar dengan bilangan yang kecil di dalam komputer dapat menyebabkan galat pembulatan. Karena alasan itu, maka metode-metode Newton-Cotes orde tinggi kurang disukai. Alasan lainnya, Bab 6 Integrasi Numerik
36 orde metode menyatakan ketelitian anya jika rana integrasi [a, b] cukup kecil seingga turunan fungsi ampir tetap di dalam rana nilai tersebut. Sebagai implikasinya, metode Newton-Cotes orde tinggi tidak lebi teliti daripada metode orde renda bila turunannya beruba secara signifikan di dalam rana tersebut. Sebagai conto adala peritungan integrasi L = π [(+ cos ) + 4sin ] d =... Hasil peritungan L dengan metode Newton-Cotes orde n = sampai orde n = adala: n =, L = 8.8 n = 7 L = 8. n =, L = 8.8 n = 8 L = 8. n = 4, L = n = 9 L = 8.97 n = 5, L = n = L = 7.99 n = 6, L = 8. Nilai integrasi sejati L = 8. Hasil di atas menggambarkan asil integrasi yang nilainya semakin tidak bagus dengan semakin tingginya orde metode Newton-Cotes (n). Dari n = sampai n = 8, nilai L mendekati asil sejati, 8.. Setela n = 8, galatnya meningkat. Peningkatan galat disebabkan ole galat penambaan dan pengurangan bilanganbilangan yang sangat besar di dalam metodenya [NAK9] 6.5 Singularitas Kita akan kesulitan melakukan mengitung integrasi numerik apabila fungsi tidak terdefenisi di = t, dalam al ini a < t < b. Misalnya dalam mengitung integrasi I = cos( ) d fungsi f() = cos / jelas tidak terdefinisi di = (ujung bawa selang). Begitu juga apabila peritungan integrasi I =.5 d 4 Metode Numerik
37 menggunakan =., titik diskrit di = tidak dapat diitung sebab fungsi f() = /(-) tidak terdefinisi di =. Fungsi yang tidak terdefinisi di = t, untuk a t b, dinamakan fungsi singular. Singularitas juga muncul pada fungsi yang turunannya tidak terdefinisi di = t, untuk a t b. Misalnya asil peritungan integrasi memperliatkan asil yang menyimpang meskipun fungsi f() = sendiri terdefinisi untuk semua = t, untuk a t b. Penyimpangan ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Misalkan integral diitung dengan kaida trapesium. Tinjau kembali galat total pada kaida trapesium: E tot - ( f " + f " + + f " n- ) - n i= f " i - b a f ( ) d - [ f '(b) - f ' (a)] (P.6.4) Persamaan (P.6.4) menyiratkan bawa galat integrasi b a f ( ) d akan besar apabila f '(a) atau f '(b) tidak ada. Singularitas arus diilangkan dengan cara memanipulasi persamaan fungsi sedemikian seingga ia tidak singular lagi. Conto 6.4 Ubala fungsi integrasi I = cos( ) d seingga menjadi tidak singular lagi. Bab 6 Integrasi Numerik 5
38 Penyelesaian: Fungsi f() = cos()/ tidak terdefenisi di =. Misalkan = u d = u du Batas-batas selang integrasi juga beruba maka = u = = = u = = I = cos( ) d cos( u ) = (u) du u I = cos(u ) du tidak singular lagi Conto 6.5 Ubala fungsi integrasi I = d seingga menjadi tidak singular lagi Penyelesaian: Fungsi f() = singular sebab turunannya f '() = tidak terdefinisi di = Misalkan = u² d = u du 6 Metode Numerik
39 Batas-batas selang integrasi juga beruba maka = u = = = u = = I = d = u du tidak singular lagi Conto 6.6 Ubala fungsi integrasi berikut seingga menjadi tidak singular: I = d ( sin)( ) Penyelesaian: Fungsi f() = / (sin )( - ) tidak terdefenisi di = dan = Peca integral I menjadi dua bagian, I dan I : I = d ( sin)( ) = a d ( sin )( ) + a d ( sin )( ) I, singular di = I, singular = Misalkan dengan < a < = u d = u du Batas-batas integrasi Maka, = a u = a = u = I = a u du 6 ( sinu )( u ) = a u / u 6 ( sinu )( u ) u du Bab 6 Integrasi Numerik 7
40 Mengingat lim sin( u u u ) = maka I = a 6 ( u ) du tidak singular lagi I = a ( sin )( ) tidak dapat diterapkan pemisalan = u² Uraikan ( ) menjadi ( )( + + ): I = d + a ( sin)( )( + ) Misalkan - = u - d = u du Batas-batas integrasi : = u = (- ) = = a u = (- a) I = a u du [ ( )] sin u u + ( u ) + ( u ) = a u du 4 [ sin ( u )] ( -u u ) = a du 4 [ sin ( u )] ( -u u ) tidak singular lagi Cara lain penanganan singularitas dapat diliat di [NAK9] alaman 4. 8 Metode Numerik
41 6.6 Penggunaan Ekstrapolasi untuk Integrasi Misalkan I() adala perkiraan nilai integrasi dengan jarak antara titik data adala ( < ). Dari persaman galat kaida integrasi (trapesium, Simpson /, dll) yang dinyatakan dalam notasi orde: E = O( p ) dapat diliat bawa galat E semakin kecil bila digunakan yang semakin kecil, seperti yang ditunjukkan ole diagram garis berikut: ara... /8 /4 / Nilai sejati integrasi adala bila =, tetapi pemilian = tidak mungkin kita lakukan di dalam rumus integrasi numerik sebab ia akan membuat nilai integrasi sama dengan. Yang dapat kita perole adala perkiraan nilai integrasi yang lebi baik dengan melakukan ekstrapolasi ke =. Ada dua macam metode ekstrapolasi yang digunakan untuk integrasi:. Ekstrapolasi Ricardson. Ekstrapoalsi Aitken 6.6. Ekstrapolasi Ricardson Pandang kembali kaida trapesium b a f ( ) d = ( f + n i= f i b a f " t + f n ) - ( ) ( ) yang dapat ditulis sebagai b a f ( ) d = I () + C dengan I() adala integrasi dengan menggunakan kaida trapesium dengan jarak antar titik selebar dan C = ( b a ) f " ( t ). Bab 6 Integrasi Numerik 9
42 Secara umum, kaida integrasi yang lain dapat kita ditulis sebagai b a f ( ) d = I () + C q (P.6.4) dengan C dan q adala konstanta yang tidak bergantung pada. Nilai q dapat ditentukan langsung dari orde galat kaida integrasi, misalnya kaida trapesium, O( ) q = kaida titik-tenga, O( ) q = kaida / Simpson, O( 4 ) q = 4 Tujuan ekstrapolasi Ricardson iala mengitung nilai integrasi yang lebi baik (improve) dibandingkan dengan I. Misalkan J adala nilai integrasi yang lebi baik daripada I dengan jarak antar titik adala : J = I() + C q (P.6.4) Ekstrapolasikan menjadi, lalu itung integrasi numeriknya J = I () + C() q (P.6.44) Eliminasikan C dari kedua persamaan dengan menyamakan persamaan (P.6.4) dan persamaan (P.6.44): I() + C q = I () + C() q seingga diperole C = I ( ) I( ) ( ) q q (P.6.45) Sulikan (P.6.45) ke dalam (P.6.4) untuk memperole: J = I() + I ( ) I( ) q (P.6.46) yang merupakan persamaan ekstrapolasi Ricardson. Ekstrapolasi Ricardson dapat kita artikan sebagai berikut: Mula-mula itungla nilai integrasi dengan kaida yang suda baku dengan jarak antar titik selebar untuk mendapatkan I(), kemudian itung kembali nilai integrasi dengan jarak antar titik selebar untuk memperole I(). Akirnya, itung nilai integrasi yang lebi baik dengan menggunakan persamaan (P.6.46). Metode Numerik
43 Peratikanla bawa jika pernyataan di atas dibalik, kita tela melakukan ekstrapolasi menuju =, yaitu kita itung I() lalu itung I(). Urutan pengerjaan (I() atau I() lebi dulu) tidak mempengarui solusi akirnya. Sebagai conto, bila I() dan I() diitung dengan kaida trapesium (q = ), maka ekstrapolasi Ricardson-nya adala J = I() + [ I() - I() ] (P6.47) dan bila I() dan I() diitung dengan kaida / Simpson (q = 4), maka ekstrapolasi Ricardson-nya adala J = I() + 5 [ I() - I() ] (P.6.48) Peratikanla bawa suku / [ I() - I() ] pada persamaan (P.6.47) dan suku /5 [I() - I()] pada persaman (P.6.48) merupakan faktor koreksi. Artinya, nilai taksiran integrasi I() dapat ditingkatkan menjadi nilai yang lebi baik dengan menambakan faktor koreksi tersebut. Conto 6.7 Hitung kembali integral d + dengan menggunakan ekstrapolasi Ricardson, yang dalam al ini I() dan I() diitung dengan kaida trapesium dan =.5. Penyelesaian: Jumla upaselang: n = ( - )/.5 = 8 Tabel titik-titik di dalam selang [,] dengan =.5: r r f r Bab 6 Integrasi Numerik
44 I() adala nilai integrasi dengan kaida trapesium menggunakan =.5: I() = d / ( f + f + f + f + f 4 + f 5 + f 6 + f 7 + f 8 ) +.5/ [ + (.88889) + (.8) ).694 I() adala nilai integrasi dengan kaida trapesium menggunakan =.5: I() = d + ()/ ( f + f + f 4 + f 6 + f 8 ).5/ [ + (.8) + (.66667) + (.574) +.5).697 Nilai integrasi yang lebi baik, J, diperole dengan ekstrpolasi Ricardson: J = I() + I ( ) I( ) q yang dalam al ini, q =, karena I() dan I() diitung dengan kaida trapesium (yang mempunyai orde galat = ) J = =.695 Jadi, taksiran nilai integrasi yang lebi baik adala.695. Bandingkan dengan nilai integrasi sejatinya: d = ln(+) + = = ln() - ln() = = yang apabila dibulatkan ke dalam 5 angka bena, f(.69478) =.695, asilnya tepat sama dengan nilai integrasi yang diitung dengan ekstrapolasi Ricardson. Metode Numerik
45 Conto 6.8 Perliatkan bawa bila I() dan I() diitung dengan kaida trapesium, maka persamaan ekstrapolasi Ricardson menyatakan kaida Simpson /. Penyelesaian: Kaida / Simpson untuk sepasang upaselang adala (liat Gambar 6.) adala I = f ( ) d I() dan I() adala perkiraan asil integrasi dengan kaida trapesium menggunakan pias masing-masing selebar dan : I() = / ( f + f ) + / ( f + f ) = / ( f + f + f ) I() = () / ( f + f ) = ( f + f ) Ekstrapolasi Ricardson-nya (q = ): J = I() + [ I() - I() ] = / (f + f + f ) + / ( / (f + f + f ) - (f + f ) ) = / (f + f + f ) + / 6 (f + f + f ) - / (f + f ) = / f + f + / f + / 6 f + / f + / 6 f - / f - / f = / f + / 6 f - / f + f + / f + / f + / 6 f - / f = / f + 4 / f + / f = / (f + 4f + f ) yang merupakan kaida Simpson /. Jadi, berdasarkan definisi ekstrapolasi Ricardson, kaida Simpson / adala perkiraan integrasi yang lebi baik daripada kaida trapesium. Conto ini bersesuaian dengan jawaban Conto 6.7, sebab nilai integrasi dengan ekstrapoalsi Ricardson sama dengan nilai integrasi yang diperole dengan kaida Simpson / (liat jawabannya pada Conto 6.). Persamaan ekstrapolasi Ricardson memenui semua kaida integrasi yang dirurunkan dengan metode pias maupun metode Newton-Cotes. Kita pun dapat menurunkan kaida integrasi numerik yang baru dengan menerapkan ekstrapolasi Ricardson. Misalkan bila I() dan I() diitung dengan kaida Simpson /, maka ekstrapolasi Ricardson menyatakan kaida Boole (buktikan!): 4 J = f ( ) d = ( 7f + f + f + f + 7f 4 ) 45 Bab 6 Integrasi Numerik
46 yang berarti kaida Boole merupakan taksiran integrasi yang lebi baik daripada kaida Simpson /. Bila ekstrapolasi Ricardson diterapkan secara terus menerus, akan diperole nilai integrasi yang semakin lama semakin baik (galatnya semakin kecil). Metode penerapan ekstrapolasi Ricardson seperti ini dinamakan metode Romberg Metode Romberg Metode integrasi Romberg didasarkan pada perluasan ekstrapolasi Ricardson untuk memperole nilai integrasi yang semakin baik. Sebagai catatan, setiap penerapan ekstrapolasi Ricardson akan menaikkan order galat pada asil solusinya sebesar dua: O( N ) O( N+ ) Misalnya,bila I() dan I() diitung dengan kaida trapesium yang berorde galat O( ), maka ekstrapolasi Ricardson mengaslkan kaida Simpson / yang berorde O( 4 ). Selanjutnya, bila I() dan I() diitung dengan kaida Simpson /, ekstrapolasi Ricardson mengaslkan kaida Boole yang berorde O( 6 ). Tinjaau kembali persamaan ekstrapolasi Ricardson: J = I() + I ( ) I( ) q Misalkan I adala nilai integrasi sejati yang dinyatakan sebagai I = A k + C + D 4 + E yang dalam al ini = (b - a)/n dan A k = Perkiraan nilai integrasi dengan kaida trapesium dan jumla pias n = k Orde galat A k adala O( ). 4 Metode Numerik
47 Sebagai conto, selang [a, b] dibagi menjadi 64 bua pias atau upaselang: n = 64 = 6 k = 6 (,,,, 4, 5, 6) k = (artinya n = = pias, = (b-a)/) A = / [ f + f 64 ] k = (artinya n = = pias, = (b-a)/) A = / [ f + f + f 64 ] k = (artinya n = = 4 pias, = (b-a)/4) A = / [ f + f 6 + f + f 48 + f 64 ] k = (artinya n = = 8 pias, = (b-a)/8) A = / [ f + f 8 + f 6 + f 4 + f + f 4 + f 48 + f 56 + f 64 ]... k = 6 (artinya n = 6 = 64 pias, 6 = (b-a)/64) A 6 = 6 / [ f + f + f f 6 + f 64 ] Arti dari setiap A k adala sebagi berikut: A adala taksiran nilai integrasi b I = f ( ) d dengan menggunakan kaida trapesium dengan pembagian daera integrasi menjadi n = = bua pias; A adala taksiran nilai integrasi b a I = f ( ) d dengan menggunakan kaida trapesium dengan pembagian daera integrasi menjadi n = = bua pias; A adala taksiran nilai integrasi a b I = f ( ) d dengan menggunakan kaida trapesium dengan pembagian daera integrasi menjadi n = = 4 bua pias; A 6 adala taksiran nilai integrasi a b I = f ( ) d dengan menggunakan kaida trapesium dengan pembagian daera integrasi menjadi n = 6 = 64 bua pias; a Tiga A k yang pertama dilukiskan ole Gambar 6.. Bab 6 Integrasi Numerik 5
48 y y = f() y = f() y = f() y y a b a b a b A A A Gambar 6. Luas daera A, A, A,..., dengan jumla upaselang masing-masing n =, n =, n = 4,... Gunakan A, A,...A k pada persamaan ekstrapolasi Ricardson untuk mendapatkan runtunan B, B,...,B k, yaitu B k = A k + A k A k Jadi, nilai I (yang lebi baik) sekarang adala I = B k + D' 4 + E' 6 + dengan orde galat B k adala O( 4 ). Selanjutnya, gunakan B, B,.., B k pada persamaan ekstrapolasi Ricardson untuk mendapatkan runtunan C, C,..., C k, yaitu C k = B k + B k B k 4 Jadi, nilai I (yang lebi baik) sekarang adala I = C k + E " dengan orde galat C k adala O( 6 ). Selanjutnya, gunakan C, C,..., C k pada persamaan ekstrapolasi Ricardson untuk mendapatkan runtunan D, D4,..., D k, yaitu D k = C k + C k C k 6 Jadi, nilai I (yang lebi baik) sekarang adala I = D k + E "' dengan orde galat D k adala O( 8 ). Demikian seterusnya. Dari runtunan tersebut, diperole tabel yang dinamakan tabel Romberg seperti berikut ini: 6 Metode Numerik
49 O( ) O( 4 ) O( 6 ) O( 8 ) O( ) O( ) O( 4 ) A A B A B C A B C D A 4 B 4 C 4 D 4 E 4 A 5 B 5 C 5 D 5 E 5 F 5 A 6 B 6 C 6 D 6 E 6 F 6 G 6 Nilai integrasi yang lebi baik Conto 6.9 Hitung integral d + dengan metode Romberg (n = 8). Gunakan 5 angka bena. Penyelesaian: Jarak antar titik: = ( - )/8 =.5 Tabel titik-titik di dalam selang [,] dengan =.5: r r f r Bab 6 Integrasi Numerik 7
50 A = / [ f + f 8 ] = / ( +.5) =.75 A = / [ f + f 4 + f 8 ] =.5/[ + (.66667) +.5] =.78 A = / [ f + f + f 4 + f 6 + f 8 ] =.5/[ + (.8) + (.66667) + (.574) +.5] =.697 A = / [ f + f + f + f + f 4 + f 5 + f 6 + f 7 + f 8 ] =.5/[ + (.88889) + (.8) + + (.5) +.5] =.694 A A B = A + = (A k berorde, jadi q = ) A A B = A + =.695 A A B = A + =.695 B B C = B + =.697 (B 4 k berorde 4, jadi q = 4) B B C = B + = C C D = C + =.694 (C 6 k berorde 6, jadi q = 6) Tabel Romberg: k O( ) O( 4 ) O( 6 ) O( 8 ) Jadi, d (Bandingkan dengan solusi sejatie d =.6945 ) + 8 Metode Numerik
51 6.6. Ekstrapolasi Aitken Kita tela membaas ekstrapolasi Ricardson yang dapat diringkas sebagai berikut: Jika I = b a f ( ) d I() + C q yang dalam al ini, maka = lebar tiap upaselang atau pias (atau jarak antar titik) C dan q adala konstanta dengan q diketaui (C dapat dieliminir) I() adala ampiran nilai nilai I C q adala galat dari ampiran nilai I J = I() + [ I() - I()] q adala perkiraan nilai integrasi yang lebi baik (improve) daripada I. Timbul persoalan, bagaimana jika q tidak diketaui? Untuk kasus ini kita gunakan tiga bua perkiraan nilai I, yaitu I(), I(), dan I(4): J = I() + C q C = J = I() + C() q C = J = I(4) + C(4) q C = J I J J q ( ) I ( ) ( ) q I ( 4) ( 4) q (P.6.49) (P.6.5) (P.6.5) Eliminasikan nilai C dan q dengan menyamakan persamaan (P.6.49) dan (P.6.5) J I q ( ) = J I ( ) ( ) q Bab 6 Integrasi Numerik 9
52 J I J I ( ) ( ) = q q q = q (P.6.5) dan menyamakan persamaan (P.6.5) dan (P.6.5) J I J I ( ) ( 4) ( ) q = ( 4) q = q (P.6.5) Persaman (P.6.5) sama dengan persamaan (P.6.5): J I J I ( ) ( ) = J I J I ( ) ( 4) (P.6.54) kali silangkan kedua ruas persamaan (P.6.54) J - J I() - J I(4) + I() I(4) = J - J I() + [I()] J = I I ( ) I( 4) [ I( ) ] ( ) I( ) + I ( 4) atau J ( ) [ I( ) I ( ) ] ( ) I( ) + I( 4) = I (P.6.55) I Persamaan (P.6.55) ini dinamakan persamaan ekstrapolasi Aitken [NOB7]. Sekarang, tinjau kembali: J = I() + C q J = I() + C() q = I() - I() + C q - C() q I() - I() = C() q C q (P.6.56) J = I() + C() q J = I(4) + C(4) q = I() - I(4) + C() q - C(4) q I() - I(4) = C(4) q - C() q (P.6.57) Metode Numerik
53 Bagi persamaan (P.6.57) dengan persamaan (P.6.56): ( ) I( 4) I( ) I( ) I = C q ( ) C( 4) C q C( ) q Besaran C pada persamaan (P.6.58) dapat diilangkan menjadi t = ( ) I( 4) I( ) I( ) I q = q (P.6.58) = q (P.6.59) Tinjau kembali persamaan (P.6.55) yang dapat ditulis ulang sebagai J = I() - = I() - = I() - = I() + I I( ) I( ) ( ) I ( ) + I( 4) I ( ) I( ) I I I I I ( ) I( ) I( ) + I( 4) ( ) I ( ) ( ) I( ) t ( ) I( ) t Jadi, ( ) I( ) I J = I( ) + (P.6.6) t yang "mirip" dengan persamaan ekstrapolasi Ricardson. Ekstrapolasi Aitken akan tepat sama dengan ektrapolasi Ricardson jika nilai teoritis t = q tepat sama dengan nilai empirik t = ( ) I( 4) I( ) I( ) I Perbedaan antara kedua metode ekstrapolasi muncul bergantung kepada apaka kita mengetaui nilai q atau tidak. Hal ini diringkas dalam prosedur berikut: Bab 6 Integrasi Numerik
54 Prosedur praktis:. Hitung I(4), I(), dan I() I I 4. Hitung nilai empirik t = I I ( ) ( ) ( ) ( ). Hitung nilai teoritik t = q (bila q diketaui) 4. Jika t teoritik t empirik arus kita bertanya "mengapa?" 5. Gunakan ekstrapolasi Aitken (P.6.59) dengan nilai empirik t atau ekstrapolasi Riardson (P.6.45) dengan q. Conto 6. [NOB7] Hitung d Simpson (Gunakan = /8)! Penyelesaian: sampai lima angka bena dengan menggunakan kaida / / I 4 = 4 /8 = / I(4) = I(/) = ( f + 4f / + f ) = /8 = /4 I() = I(/4) = = /8 I() = I(/8) = empirik t = / 8 =.668 = /6 ( + 4 (/) + ) =.687 / 4 ( f + 4f /4 + f / + 4f /4 + f ) = / ( + 4 /4 + (/) + 4 (/4) + ) =.6565 ( f + 4f /8 + f /8 + 4f /8 + f 4/8 + 4f 5/8 + f 6/8 + 4f 7/8 + f ) ( ) I( 4) I( ) I( ) I = I I ( / 4) I( / ) ( / 8) I( / 4) teoritik t = q = 4 = 6 (yang diarapkan) =.8 Mengapa t teoritik tidak sama dengan t empirik? Perbedaan ini timbul sebab fungsi turunan tidak terdefinisi di = (singular). Karena itu, nilai t teoritik (t = 6) tidak dapat Metode Numerik
55 dipegang, seingga ekstrapolasi Ricardson (P.6.46) tidak dapat digunakan untuk mengitung perkiraan nilai integrasi yang lebi baik. Jadi, gunakan ekstrapolasi Aitken (P.6.6) dengan nilai t empirik untuk mengitung perkiraan nilai integrasi yang lebi baik: J = I (/8) + = = I ( /8) I( / 4).8.8 [ ] Bandingkan solusi ini dengan solusi sejatinya = Peratikan, kalau kita menggunakan ekstrapolasi Ricardson dengan t teoritik ( t = 6), maka solusinya J = I (/8) + I ( /8) I( / 4) 4 = [ ] =.665 yang cukup berbeda jau dengan solusi eksak. Karena itu, asil integrasi dengan ekstrapolasi Aitken yang dapat diterima, yaitu Integral Ganda Dalam bidang teknik, integral sering muncul dalam bentuk integral ganda dua (atau lipat dua) atau integral ganda tiga (lipat tiga). Misalkan kita tinjau untuk integral lipat dua. Integral lipat dua didefinisikan sebagai A b f (, y) da = [ f (, y) dy] d = [ f (, y) d] dy (P.6.6) a d c d c b a Tafsiran geometri dari integral ganda adala mengitung volume ruang di bawa permukaan kurva f(,y) yang alasnya adala berupa bidang yang dibatasi ole garis-garis = a, = b, y = c, dan y = d. Volume benda berdimensi tiga adala V = luas alas tinggi Bab 6 Integrasi Numerik
56 Kaida-kaida integrasi numerik yang tela kita baas dapat dipakai untuk mengitung integral ganda. Jika pada fungsi dengan satu peuba, y = f(), luas daera diampiri dengan pias-pias yang berbentuk segiempat atau trapesium, maka pada fungsi dengan dua peuba, z = f(, y), volume ruang diampiri dengan balokbalok yang berbentuk segiempat atau trapesium. Solusi integral lipat dua diperole dengan melakukan integrasi dua kali, pertama dalam ara (dalam al ini nilai, nilai y tetap), selanjutnya dalam ara y (dalam al ini, nilai tetap), atau sebaliknya. Dalam ara berarti kita mengitung luas alas benda, sedangkan dalam ara y berarti kita mengalikan alas dengan tinggi untuk memperole volume benda. Tinggi benda dinyatakan secara tidak langsung dengan koefisien-koefisien w i pada persamaan (P.6.4). Misalkan integrasi dalam ara diitung dengan kaida trapesium, dan integrasi dalam ara y diitung dengan kaida Simpson /. Maka d b c a m [ f (, y) d] dy j= y v j n i= w i f ij [ ( f, + f, + f, f n-, + f n, ) ( f, + f, + f, f n-, + f n, ) + ( f, + f, + f, f n-, + f n, )... + (f,m- + f,m- + f,m f n-,m- + f n,m- ) + 4 (f,m- + f,m- + f,m f n-,m- + f n,m- ) + (f,m + f,m + f,m f n-, + f n,m ) ] (P.6.6) dengan = jarak antar titik dalam ara, y = jarak antar titik dalam ara y, n = jumla titik diskrit dalam ara, m = jumla titik diskrit dalam ara y. 4 Metode Numerik
57 Conto 6. Diberikan tabel f(,y) sebagai berikut: y Hitung f (, y) ddy [GER85] Penyelesaian: Misalkan - dalam ara kita gunakan kaida trapesium - dalam ara y kita gunakan kaida Simpson / Dalam ara (y tetap):. y =. ; f, y) d.5.. ( f (,.) d.5 / ( f, + f, + f, + f, ).5/ ( ).4 y =. ; f (, y) d f (,.) d / (f, + f, + f, + f, ).5/ (.54 + ( ) 5.7 y =.4 ; f (, y) d f (,.4) d y =.5; f (, y) d f (,.5) d y =.6; f (, y) d f (,.6) d Bab 6 Integrasi Numerik 5
58 Dalam ara y : Jadi, f (, y) dy y/ ( )..5./ ( ).6446 f (, y) ddy.6446 Cara peritungan integral ganda dua di atas dapat dirampatkan (generalized) untuk integral ganda tiga R f (, y, z) dr maupun integral ganda yang lebi tinggi. 6.8 Kuadratur Gauss Sampai saat ini kita tela membaas kaida integrasi yang berbasis titik-titik data diskrit dengan metode Newton-Cotes. Sebelum melakukan peritungan integrasi, kita arus membentuk tabulasi titik-titik diskrit yang berjarak sama. Titik-titik diskrit tersebut arus berawal dan berakir di ujung-ujung selang a dan b. Trapesium-trapesium yang mengampiri dear integarsi arus berawal dan berakir di ujung-ujung selang tersebut. Batasan ini mengakibatkan galat yang diasilkan dengan mekanisme ini ternyata cukup besar. Misalnya bila kita menggunakan kaida trapesium untuk mengitung f ( ) d, maka daera integrasi dalam selang [-, ] (Gambar 6.4) diampiri dengan sebua trapesium yang luasnya adala I = f ( ) d dengan = (-(-)) =. [ f() + f(-)] f() + f(-) (P.6.6) 6 Metode Numerik
59 y galat y = f() - Gambar 6.4 Integral - f()d diampiri dengan trapesium Peratikan kembali bawa persamaan (P.6.6) dapat ditulis sebagai I c f(a) + c f(b) (P.6.64) dengan a = -, b =, c = c = / = / =. Pendekatan integrasi yang berbeda dengan metode Newton-Cotes dikembangkan ole Gauss dan dinamakan metode kuadratur Gauss (Gaussian Quadrature). Dengan metode kuadratur Gauss, batasan-batasan yang terdapat pada metode Newton- Cotes kuadratur diilangkan. Di sini kita tidak perlu lagi menentukan titik-titik diskrit yang berjarak sama, tetapi nilai integrasi numerik cukup diperole dengan mengitung nilai fungsi f() pada beberapa titik tertentu. Untuk memberi gambaran tentang kuadratur Gauss, peratikan Gambar 6.5. Sebua garis lurus ditarik mengubungkan dua titik sembarang pada kurva y = f(). Titik-titik tersebut diatur sedemikian seingga garis lurus tersebut menyeimbangkan galat positif dan galat negatif. Luas daera yang diitung sekarang adala luas daera di bawa garis lurus, yang dinyatakan sebagai I = f ( ) d c f( ) + c f( ) (P.6.65) dengan c, c,, dan adala sembarang nilai. Persamaan (P.6.65) ini dinamakan persamaan kuadratur Gauss. Peratikan bawa bila dipili = -, =, dan c = c =, maka persamaan kuadratur Gauss (P.6.65) menjadi kaida trapesium (P.6.6). Jadi, kaida trapesium memenui persamaan kuadratur Gauss. Bab 6 Integrasi Numerik 7
60 y y = f() - Gambar 6.5 Integral - f()d diampiri dengan kuadratur Gauss Persamaan (P.6.65) mengandung empat bua peuba yang tidak diketaui (unknown), yaitu,, c, dan c. Kita arus memili,, c, dan c sedemikian seingga galat integrasinya minimum. Karena ada empat bua peuba yang tidak diketaui, maka kita arus mempunyai empat bua persamaan simultan yang mengandung,, c, dan c. Di atas tela dikatakan bawa kaida trapesium bersesuaian dengan kuadratur Gauss. Dapat diliat bawa nilai integrasi numerik dengan kaida trapesium akan tepat (galatnya = ) untuk fungsi tetap dan fungsi lanjar. Misalnya untuk f() = dan f() =. Peratikan Gambar 6.6. Dari dua bua fungsi tersebut, diperole dua persamaan: f() = d = = = = - (-) = = c + c (P.6.66) f() = - d = / = = / () - / (-) = = c + c (P.6.67) = 8 Metode Numerik
61 y y = y y = - - (a) d (b) d Gambar 6.6 Integrasi yang bernilai sejati dengan kaida trapesium Kita memerlukan dua bua persamaan lagi agar,, c, dan c dapat ditentukan. Dari penalaran bawa kaida trapesium sejati untuk fungsi tetap dan fungsi lanjar, maka penalaran ini juga kita perluas dengan menambakan anggapan bawa integrasinya juga sejati untuk f() = dan f() =. Sekarang kita menadapatkan dua persamaan tambaan, yaitu dan f() = d = / = = / = c + c = (P.6.68) f() = d = /4 4 = = = = c + c (P.6.69) Sekarang, kita suda mempunyai empat bua persamaan simultan c + c = c + c = c + c = / c + c = Bab 6 Integrasi Numerik 9
62 yang bila dipecakan mengasilkan: Jadi, c = c = = / = = -/( = f ( ) d f (/ ) + f (-/ ) (P.6.7) Persamaan (P.6.7) dinamakan kaida Gauss-Legendre -titik. Dengan kaida ini, mengitung integral f() di dalam selang [-, ] cukup anya dengan mengevaluasi nilai fungsi f di =/ dan di = -. Transformasi a b f() d Menjadi - f(t) dt Untuk mengitung integrasi I = f ( ) d kita arus melakukan transformasi: a. selang [a, b] menjadi selang [-, ] b. peuba menjadi peuba t c. diferensial d menjadi dt Selang [a, b] dan [-, ] dilukiskan ole diagram garis berikut: a b - t Dari kedua diagram garis itu kita membuat perbandingan: a b a a b a = = t t + ( ) ( ) - a = (t + )(b - a) = (t + )(b - a) + a Metode Numerik
63 = = bt at + b a + a a + b + bt at ( a + b ) + ( b a ) = t (P.6.7) Dari persaman (P.6.7), diperole diferensialnya d = b a dt (P.6.7) Transformasikan b a f ( ) d menjadi f ( t) dt dilakukan dengan menyulikan (P.6.7) dan (P.6.7) ke dalam b a f ( ) d : b a ( a + b) + ( b a) t ( b a) ( b a) ( a + b) + ( b a) t f ( ) d = f [ ] dt = f [ ] dt Conto 6. [MAT9] Hitung integral ( + ) d dengan kaida Gauss-Legendre -titik. Penyelesaian: a =, b = = d = ( + ) + ( ) t dt =.5 dt = t Bab 6 Integrasi Numerik
64 Transformasikan f ( ) d menjadi f ( t) dt : ( + ) d = [(.5 +.5t ) + ].5dt =.5 [(.5 +.5t ) + ] dt Jadi, dalam al ini f(t) = ( t) + maka f(/ ) = ( / ) + ) = f(-/ ) = ( / ) + ) = Dengan demikian ( + ) d =.5 - ( t) + ) dt.5 {f(/ ) + f(-/ )} Nilai integrasi sejatinya adala:. ( + ) d = / + = = = (8/ + ) + (/ + ) = (7/ + ) =. yang untuk kasus ini tepat sama sampai angka bena dengan solusi ampirannya. Program 6.5 : Integrasi ( + ) d dengan kaida Gauss-Legendre -Titik procedure Gauss_Legendre Titik(a, b: real; var I : real); { Mengitung a b f()d dengan metode Gauss-Legendre -Titik K.Awal : arga a dan b suda terdefenisi K.Akir: I berisi ampiran integrasi } var f, f : real; function f(t:real):real; { mengitung nilai f(t) untuk arga t yang tela terdefinisi } var :real; begin :=((a+b) + (b-a)*t)/; {transformasi peuba} f:=* + ; end; Metode Numerik
65 begin f:=f(sqrt()/); f:=f(-sqrt()/); I:=(b-a)/ * (f + f); end; Dibandingkan dengan metode Newton-Cotes (trapesium, / Simpson, dll), kaida Gauss-Legendre -titik lebi sederana dan lebi mangkus dalam operasi aritmetika, karena Gauss-Legendre -titik anya membutukan dua bua evaluasi fungsi. Selain itu, ketelitiannya lebi tinggi dibandingkan dengan metode Newton- Cotes. Namun, kaida Gauss-Legendre tidak dapat digunakan jika fungsi f() tidak diketaui secara eksplisit, karena kita tidak dapat melakukan transformasi b a f ( ) d menjadi f ( t) dt Untuk kasus seperti ini, jelas metode Newton-Cotes sebagai jalan keluarnya. Kaida Gauss-Legendre -Titik Metode Gauss-Legendre -Titik dapat ditulis sebagai I = f ( ) dt c f( ) + c f( ) + c f( ) Parameter,,, c, c, dan c dapat ditemukan dengan membuat penalaran bawa kuadratur Gauss bernilai tepat untuk 6 bua fungsi berikut: f() = ; f() = ; f() = f() = ; f() = 4 ; f() = 5 Dengan cara yang sama seperti pada penurunan kaida Gauss-Legendre -titik, diperole 6 bua persaman simultan yang solusinya adala Jadi, c = 5/9 ; = - /5 c = 8/9 ; = c = 5/9 ; = /5 8 5 [ ] + f ( ) f [ ( / 5) ] 5 f ( ) d f ( / 5) (P.6.7) Bab 6 Integrasi Numerik
66 Kaida Gauss-Legendre n-titik Penurunan kaida Gauss-Legendre -titik dan Gauss-Legendre -titik dapat dirampatkan untuk mengasilkan kaida Gauss-Legendre n-titik f ( ) dt c f( ) + c f( ) + + c n f( n ) (P.6.74) Nilai-nilai c i dan i dapat diliat pada tabel berikut ini: Metode Gauss-Legendre n-titik f ( ) dt c f( ) + c f( ) + + c n f( n ) n Faktor bobot Argumen fungsi Galat pemotongan c =. c =. c = c = c = c = c = c = c = c = c = c = c 4 = c 5 = c =.7449 c = c = c 4 = c 5 = c 6 =.7449 = = = = = = = = =.866 = = = 4 = = = = = = = = f (4) (c) f (6) (c) f (8) (c) f () (c) f () (c) 4 Metode Numerik
67 6.9 Conto Soal Terapan Seorang penerjun payung terjun dari sebua pesawat. Kecepatan penerjun sebagai fungsi dari waktu adala [CHA9]: v(t) = gm ( - e - (c / m) t ) c yang dalam al ini v = kecepatan penerjun dalam m/dt g = tetapan gravitasi = 9.8 m/dt m = massa penerjun = 68. kg c = koefisien taanan udara =.5 kg/detik Misalkan kita ingi mengetaui seberapa jau penerjun tela jatu setele waktu tertentu t. Karena kecepatan merupakan turunan pertama dari fungsi jarak, maka jarak penerjun dari titik terjun (t = ) adala : t d = t gm ( c / m) t v( t) dt = ( e ) dt c Hitung seberapa jau penerjun tela jatu setela waktu t = detik dengan bermacammacam metode integrasi numerik. Penyelesaian: Persoalan kita adala mengitung integrasi dengan gm d = ( e c ( c / m) t ) dt v = kecepatan penerjun dalam m/dt g = percepatan gravitasi = 9.8 m/dt m = massa penerjun = 68. kg c = koefisien taanan udara =.5 kg/detik Nilai d dengan bermacam-macam metode integrasi numerik diringkas dalam tabel berikut: Bab 6 Integrasi Numerik 5
68 Metode Integrasi d (meter) Keterangan Trapesium n = 8 Titik-tenga n = 8 Simpson / n = 8 Simpson / n = 4 Romberg n = 8 Gauss-Legendre -Titik Gauss-Legendre -Titik Gauss-Legendre 4-Titik Dari tabel di atas terliat perbaikan asil integrasi dimulai setela kaida titik-tenga. Mulai dari kaida Simpson / sampai metode Romberg, nilai integrasi semakin diperbaiki. Pada conto ini, asil integrasi dengan kaida Simpson /8 tidak dapat dibandingkan karena jumla pias n tidak sama dengan kaida integrasi lainnya, keculai jika kita menggunakan n yang sama (n genap tetapi merupakan kelipatan tiga). Sedangkan asil integrasi dengan kuadratur Gauss memperliatkan perbaikan dengan semakin tingginya orde metode. Kebutuan yang paling mendasar bagi menusia iala bagaimana mengatasi keterasingannya, untuk meningggalkan penjara kesendiriannya. (Eric Fromm - Te Art of Loving) 6 Metode Numerik
69 Soal Latian. Diketaui f() = (4t - t )ep(t ), dan n = 56. Hitungla f() d dengan: (a) kaida trapesium (b) kaida Simpson / (c) kaida titik-tenga (d) metode Romberg (e) kaida Gauss-Legendre -titik dan Gauss-Legendre 4-titik... Diketaui f() = cos( ),.5.5 dan =.. Hitungla 5 dengan: (a) kaida trapesium (b) kaida Simpson / (c) kaida titik-tenga (d) metode Romberg (e) kaida Gauss-Legendre -titik dan Gauss-Legendre 4-titik..5 f() d. Turunkan rumus galat kaida titik-tenga dan galat totalnya. 4. Turunkan rumus galat kaida Simpson /8 dan galat totalnya. 5. Tentukan n (jumla upaselang atau pias) seingga kaida trapesium memberikan nilai integrasi cos()d kurang dari.. 6. (a) Dengan menerapkan ekstrapolasi Ricardson, turunkan kaida Boole untuk 4 f()d bila I() dan I() diitung dengan kaida Simpson /. (b) Dengan menyatakan I I() + C q Ricardson untuk mengitung selebar dan., turunkan rumus ekstrapolasi f() d dengan menggunakan titik-titik Bab 6 Integrasi Numerik 7
70 (c) Berdasarkan rumus ekstrapolasi Ricardson pada jawaban (b) di atas, turunkan kaida /8 Simpson bila I() dan I() diitung dengan kaida titik tenga. 7. (a) Dengan menyatakan I I() + C q, turunkan rumus ekstrapolasi Ricardson untuk mengitung f() d dengan menggunakan titik-titik selebar dan. (b) Dengan menerapkan ekstrapolasi Ricardson pada rumus (a), turunkan kaida integrasi baru yang galatnya berorde O( 7 ) untuk 6 f ( ) d bila I() dan I() diitung dengan kaida Simpson /8. (c) Berdasarkan rumus ekstrapolasi Ricardson pada jawaban (b) di atas, turunkan kaida Simpson /8 bentuk lain bila I() dan I() diitung dengan kaida titik tenga. 8. Rumus f() ( -) d = pf(a) + qf(a) akan tepat untuk polinom derajat. Tentukan p, q, a, dan b. 9. Ubala bentuk integrasi di bawa ini agar tidak singular lagi : (i) cos()/ / d (ii) d/(-) / d (iii) ( -)/( - + ) d 8 Metode Numerik
71 . Nilai integrasi untuk fungsi f() = singular dekat = dan tidak singular untuk yang jau dari nol. Untuk membuktikan pernyataan ini, lakukan peritungan tangan (tanpa komputer) sampai 5 angka bena pada:. (a) d, kaida / Simpson, =.5. Bandingkan dengan nilai integrasi sejatinya.. (b) d, kaida Simpson /, =.5. Bandingkan dengan nilai integrasi sejatinya. Sekarang, ubala fungsi f() seingga tidak singular lagi, lalu itung kembali integrasi soal (a) dan (b) di atas.. Hitungla e y cos() d dy : (a) Gunakan kaida Simpson / untuk kedua ara, = y =. (b) Gunakan kaida Gauss-Legendre 4-titik untuk kedua ara. Susunla rumus integrasi numerik dari bentuk berikut : f() d = af(-) + bf() + cf() yang nilai integrasinya tepat untuk polinom f() derajat. Perliatkan bawa galat kaida Gauss-Legendre -titik sebanding dengan f (4) (c), yang dalam al ini - < c <. (Petunjuk : gunakan bantuan deret Taylor). 4. Ubala bentuk integrasi di bawa ini agar tidak singular lagi : (i) (ii) cos()/ / d d/(-) / d (iii) ( -)/( - + ) d Bab 6 Integrasi Numerik 9
72 5. Hitungla secara analitis b a d. Nyatakan jawaban anda dalam a dan b. Perliatkan bawa bila integral tersebut diselesaikan dengan kaida Simpson / asilnya sama dengan nilai integrasi sejatinya. 6. Hitungla e y d dy : (a) Gunakan kaida Simpson / untuk kedua ara, = y =. (b) Gunakan kaida Gauss-Legendre 4 titik untuk kedua ara. 4 Metode Numerik
IntegrasiNumerik. Bahan Kuliah IF4058 Topik Khusus Informatika I. Oleh; Rinaldi Munir(IF-STEI ITB) (Bag. 1)
IntegrasiNumerik (Bag. ) Baan Kulia IF458 Topik Kusus Informatika I Ole; Rinaldi Munir(IF-STEI ITB) IF458 Topik Kusus Informatika I: Metode PersoalanIntegrasiNumerik Hitungla nilai Integral-Tentu yang
Setiap mahasiswa yang pernah mengambil kuliah kalkulus tentu masih ingat dengan turunan fungsi yang didefenisikan sebagai
Bab 7 Turunan Numerik Lebi banyak lagi yang terdapat di langit dan di bumi, Horatio, daripada yang kau mimpikan di dalam ilosoimu. (Hamlet) Setiap maasiswa yang perna mengambil kulia kalkulus tentu masi
untuk i = 0, 1, 2,..., n
RANGKUMAN KULIAH-2 ANALISIS NUMERIK INTERPOLASI POLINOMIAL DAN TURUNAN NUMERIK 1. Interpolasi linear a. Interpolasi Polinomial Lagrange Suatu fungsi f dapat di interpolasikan ke dalam bentuk interpolasi
BAB III INTEGRASI NUMERIK
Bab BAB III INTEGRASI NUMERIK Integrasi numerik mengambil peranan penting dalam masala sains dan teknik. Hal ini menginat di dalam bidang sains sering ditemukan ungkapan-ungkapam integral matematis yang
Turunan Fungsi. Penggunaan Konsep dan Aturan Turunan ; Penggunaan Turunan untuk Menentukan Karakteristik Suatu Fungsi
8 Penggunaan Konsep dan Aturan Turunan ; Penggunaan Turunan untuk Menentukan Karakteristik Suatu Fungsi ; Model Matematika dari Masala yang Berkaitan dengan ; Ekstrim Fungsi Model Matematika dari Masala
MAKALAH METODE NUMERIK
MAKALAH METODE NUMERIK Pemanfaatan Metode Numerik Turunan dan Integrasi Numerik dalam Bidang IT Disusun Oleh : Ismail Wibi Wicaksono NRP : 2103157011 Jurusan : Teknik Informatika POLITEKNIK ELEKTRONIKA
19, 2. didefinisikan sebagai bilangan yang dapat ditulis dengan b
PENDAHULUAN. Sistem Bilangan Real Untuk mempelajari kalkulus perlu memaami baasan tentang system bilangan real karena kalkulus didasarkan pada system bilangan real dan sifatsifatnya. Sistem bilangan yang
Limit Fungsi. Limit Fungsi di Suatu Titik dan di Tak Hingga ; Sifat Limit Fungsi untuk Menghitung Bentuk Tak Tentu ; Fungsi Aljabar dan Trigonometri
7 Limit Fungsi Limit Fungsi di Suatu Titik dan di Tak Hingga ; Sifat Limit Fungsi untuk Mengitung Bentuk Tak Tentu ; Fungsi Aljabar dan Trigonometri Cobala kamu mengambil kembang gula-kembang gula dalam
dapat dihampiri oleh:
BAB V PENGGUNAAN TURUNAN Setela pada bab sebelumnya kita membaas pengertian, sifat-sifat, dan rumus-rumus dasar turunan, pada bab ini kita akan membaas tentang aplikasi turunan, diantaranya untuk mengitung
Matematika ITB Tahun 1975
Matematika ITB Taun 975 ITB-75-0 + 5 6 tidak tau ITB-75-0 Nilai-nilai yang memenui ketidaksamaan kuadrat 5 7 0 atau atau 0 < ITB-75-0 Persamaan garis yang melalui A(,) dan tegak lurus garis + y = 0 + y
Seri : Modul Diskusi Fakultas Ilmu Komputer. FAKULTAS ILMU KOMPUTER Sistem Komputer & Sistem Informasi HANDOUT : KALKULUS DASAR
Seri : Modul Diskusi Fakultas Ilmu Komputer FAKULTAS ILMU KOMPUTER Sistem Komputer & Sistem Informasi HANDOUT : KALKULUS DASAR Ole : Tony Hartono Bagio 00 KALKULUS DASAR Tony Hartono Bagio KATA PENGANTAR
PENGGUNAAN EKSTRAPOLASI UNTUK MENYELESAIKAN FUNGSI INTEGRAL TENTU NIRSAL
PENGGUNAAN EKSTRAPOLASI UNTUK MENYELESAIKAN FUNGSI INTEGRAL TENTU NIRSAL Dosen Tetap Yayasan Universitas Cokroaminoto Palopo E-Mail: [email protected] Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk
A. Penggunaan Konsep dan Aturan Turunan
A. Penggunaan Konsep dan Aturan Turunan. Turunan Fungsi Aljabar a. Mengitung Limit Fungsi yang Mengara ke Konsep Turunan Dari grafik di bawa ini, diketaui fungsi y f() pada interval k < < k +, seingga
SUATU CONTOH INVERSE PROBLEMS YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM TORRICELLI
Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 16 Mei 009 SUATU CONTOH INVERSE PROBLEMS YANG BERKAITAN DENGAN HUKUM TORRICELLI Suciati
Penyelesaian Model Matematika Masalah yang Berkaitan dengan Ekstrim Fungsi dan Penafsirannya
. Tentukan nilai maksimum dan minimum pada interval tertutup [, 5] untuk fungsi f(x) x + 9 x. 4. Suatu kolam ikan dipagari kawat berduri, pagar kawat yang tersedia panjangnya 400 m dan kolam berbentuk
KAIDAH SIMPSON 3/8 DAN INTEGRASI NUMERIK. Kelompok 6
KAIDAH SIMPSON 3/8 DAN INTEGRASI NUMERIK Kelompok 6 ANGGOTA Rian Triastuti (4101410020) Mardiyani (4101410053) Gias Atikasari (4101410060) Agil Dwijayanti (4101410074) Diah Aprilia (4101410090) Nur Khasanah
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Suatu integral dapat diselesaikan dengan 2 cara, yaitu secara analitik dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Suatu integral dapat diselesaikan dengan 2 cara, yaitu secara analitik dan secara numerik. Perhitungan secara analitik dilakukan untuk menyelesaikan integral pada fungsi
LEMBAR KERJA SISWA 1. : Menggunakan Konsep Limit Fungsi Dan Turunan Dalam Pemecahan Masalah
BAB V T U R U N A N 1. Menentukan Laju Perubaan Nilai Fungsi. Menggunakan Aturan Turunan Fungsi Aljabar 3. Menggunakan Rumus Turunan Fungsi Aljabar 4. Menentukan Persamaan Garis Singgung Kurva 5. Fungsi
TURUNAN FUNGSI. turun pada interval 1. x, maka nilai ab... 5
TURUNAN FUNGSI. SIMAK UI Matematika Dasar 9, 009 Jika kurva y a b turun pada interval, maka nilai ab... 5 A. B. C. D. E. Solusi: [D] 5 5 5 0 5 5 0 5 0... () y a b y b b a b b 6 6a 0 b 0 b 6a 0 b 5 b a
Penerapan Integrasi Numerik pada Medan Magnet karena Arus Listrik
Penerapan Integrasi Numerik pada Medan Magnet karena Arus Listrik Rianto Fendy Kristanto - 13507036 1 Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung,
METODE NUMERIK 3SKS-TEKNIK INFORMATIKA-S1. Mohamad Sidiq PERTEMUAN : 8
METODE NUMERIK 3SKS-TEKNIK INFORMATIKA-S1 Moamad Sidiq PERTEMUAN : 8 DIFERENSIASI NUMERIK METODE NUMERIK TEKNIK INFORMATIKA S1 3 SKS Moamad Sidiq MATERI PERKULIAHAN SEBELUM-UTS Pengantar Metode Numerik
BAB I PENDAHULUAN. Tahap-tahap memecahkan masalah dengan metode numeric : 1. Pemodelan 2. Penyederhanaan model 3.
BAB I PENDAHULUAN Tujuan Pembelajaran: Mengetahui apa yang dimaksud dengan metode numerik. Mengetahui kenapa metode numerik perlu dipelajari. Mengetahui langkah-langkah penyelesaian persoalan numerik.
BAB II PENGANTAR SOLUSI PERSOALAN FISIKA MENURUT PENDEKATAN ANALITIK DAN NUMERIK
BAB II PENGANTAR SOLUSI PERSOALAN FISIKA MENURUT PENDEKATAN ANALITIK DAN NUMERIK Tujuan Instruksional Setelah mempelajari bab ini pembaca diharapkan dapat: 1. Menjelaskan cara penyelesaian soal dengan
Triyana Muliawati, S.Si., M.Si.
SI 2201 - METODE NUMERIK Triyana Muliawati, S.Si., M.Si. Prodi Matematika Institut Teknologi Sumatera Lampung Selatan 35365 Hp. +6282260066546, Email. [email protected] 1. Pengenalan Metode
4. TURUNAN. MA1114 Kalkulus I 1
4. TURUNAN MA4 Kalkulus I 4. Konsep Turunan 4.. Turunan di satu titik Pendauluan dua masala dalam satu tema a. Garis Singgung Kemiringan tali busur PQ adala : m PQ Jika, maka tali busur PQ akan beruba
Kamiran Persamaan-persamaan. Bab 22
Kamiran Persamaan-persamaan Bab Di akir bab ini, anda sepatutnya: faam asas bagi teori Ekstrapolasi Ricardson dan bagaimana ia digunakan ke atas algoritma Romberg dan pembezaan secara berangkanya Dapat
Differensiasi Numerik
Dierensiasi Numerik Yuliana Setiowati Politeknik Elektronika Negeri Surabaya 2007 1 Topik DIFFERENSIASI NUMERIK Mengapa perlu Metode Numerik? Dierensiasi dg MetNum Metode Selisi Maju Metode Selisi Tengaan
Matematika Lanjut 2 SISTIM INFORMASI FENI ANDRIANI
Matematika Lanjut SISTIM INFORMASI FENI ANDRIANI . SOLUSI PERSAMAAN NON LINIER Metode Biseksi Fungsi kontinu pada [a,b] Akarnya = p & p [a,b] Untuk setiap iterasi akan membagi interval yang memuat = p
DIFERENSIASI & INTEGRASI NUMERIK
DIFERENSIASI & INTEGRASI NUMERIK Pada bab ini dibaas konsep dasar dierensiasi dan integrasi numerik, meliputi teknik pendekatan atau pengampiran, metode komputasi numerik berkaitan dengan bentuk dierensial
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sejarah Kalkulus Kalkulus integral terlahir lebih dari 2.000 tahun yang lalu pada waktu bangsa Yunani mencoba menentukan luas dengan suatu proses yang mereka sebut dengan metode
Kata Pengantar... Daftar Isi... Daftar Padan Kata...
Daftar Isi Kata Pengantar... Daftar Isi... Daftar Padan Kata... iii v xi 1. Metode Numerik Secara Umum... 1 1.1 Metode Analitik versus Metode Numerik... 4 1.2 Metode Numerik dalam Bidang Rekayasa... 6
TURUNAN FUNGSI. 1. Turunan Fungsi
TURUNAN FUNGSI. Turunan Fungsi Turunan fungsi f disembarang titik dilambangkan dengan f () dengan definisi f ( ) f ( ) f (). Proses mencari f dari f disebut penurunan; dikatakan bawa f diturunkan untuk
Olimpiade Sains Nasional Eksperimen Fisika Tingkat Sekolah Menengah Atas Agustus 2008 Waktu: 4 jam
Olimpiade Sains Nasional 008 Eksperimen Fisika Hal dari Olimpiade Sains Nasional Eksperimen Fisika Tingkat Sekola Menenga Atas Agustus 008 Waktu: 4 jam Petunjuk umum. Hanya ada satu soal eksperimen, namun
IntegrasiNumerik. Bahan Kuliah IF4058 Topik Khusus Informatika I. Oleh; Rinaldi Munir(IF-STEI ITB) (Bag. 2)
IntegrasiNumerik (Bag. ) Bahan Kuliah IF4058 Topik Khusus Informatika I Oleh; Rinaldi Munir(IF-STEI ITB) Singularitas Kita akan kesulitan melakukan menghitung integrasi numerik apabilafungsitidakterdefenisidix
MATEMATIKA MODUL 4 TURUNAN FUNGSI KELAS : XI IPA SEMESTER : 2 (DUA)
MATEMATIKA MODUL 4 TURUNAN FUNGSI KELAS : XI IPA SEMESTER : (DUA) Muammad Zainal Abidin Personal Blog SMAN Bone-Bone Luwu Utara Sulsel ttp://meetabied.wordpress.com PENGANTAR : TURUNAN FUNGSI Modul ini
E-learning Matematika, GRATIS
Penyusun : Arik Murwanto, S.Pd. Editor : Drs. Keto Susanto, M.Si. M.T. ; Istijab, S.H. M.Hum. Imam Indra Gunawan, S.Si. Standar Kompetensi: Menggunakan konsep turunan fungsi dalam pemecaan masala Kompetensi
MATEMATIKA TURUNAN FUNGSI
MATEMATIKA TURUNAN FUNGSI lim 0 f ( x ) f( x) KELAS : XI IPA SEMESTER : (DUA) SMA Santa Angela Bandung Taun Pelajaran 04-05 XI IPA Semester Taun Pelajaran 04 05 PENGANTAR : TURUNAN FUNGSI Modul ini kami
TurunanNumerik. Bahan Kuliah IF4058 Topik Khusus Informatika I. Oleh; Rinaldi Munir(IF-STEI ITB)
TurunanNumerik Baan Kulia IF4058 Topik Kusus Inormatika I Ole; Rinaldi Munir(IF-STEI ITB) IF4058 Topik Kusus Inormatika I: Metode Numerik/Teknik Inormatika ITB 1 DeinisiTurunan(derivati) '(x) = lim 0 (
BAB 5 DIFFERENSIASI NUMERIK
BAB 5 DIFFERENSIASI NUMERIK 5.1. Permasalaan Differensiasi Numerik Sala satu peritungan kalkulus yang banyak digunakan adala differensial, dimana differensial ini banyak digunakan untuk keperluan peritungan
PERBANDINGAN BEBERAPA METODE NUMERIK DALAM MENGHITUNG NILAI PI
PERBANDINGAN BEBERAPA METODE NUMERIK DALAM MENGHITUNG NILAI PI Perbandingan Beberapa Metode Numerik dalam Menghitung Nilai Pi Aditya Agung Putra (13510010)1 Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik
4.1 Konsep Turunan. lim. m PQ Turunan di satu titik. Pendahuluan ( dua masalah dalam satu tema )
4. TURUNAN 4. Konsep Turunan 4.. Turunan di satu titik Pendauluan dua masala dalam satu tema a. Garis Singgung Kemiringan tali busur PQ adala : m PQ Jika, maka tali busur PQ akan beruba menjadi garis ggung
Rangkuman Materi dan Soal-soal
Rangkuman Materi dan Soal-soal Dirangkum Ole: Anang Wibowo, S.Pd [email protected] / www.matikzone.co.cc Rangkuman Materi dan Conto Soal. Definisi dy df Turunan dari fungsi y f ( adala y ' f '( ( y'
Perbandingan Kecepatan Komputasi Beberapa Algoritma Solusi Persamaan Nirlanjar
Perbandingan Kecepatan Komputasi Beberapa Algoritma Solusi Persamaan Nirlanjar Bernardino Madaharsa Dito Adiwidya - 13507089 1 Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut
MODEL ATOM MEKANIKA KUANTUM UNTUK ATOM BERELEKTRON BANYAK
MODE ATOM MEKANIKA KUANTUM UNTUK ATOM BEREEKTRON BANYAK Pada materi Struktur Atom Hidrogen suda kita pelajari tentang Teori Atom Bor, dimana lintasan elektron pada atom Hidrogen berbentuk lingkaran. Namun
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Penelitian ini menggunakan metode eksperimen kuantitati dengan desain posttest control group design yakni menempatkan subyek penelitian kedalam
Solusi Analitik Model Perubahan Garis Pantai Menggunakan Transformasi Laplace
Jurnal Gradien Vol. No.2 Juli 24 : 5-3 Solusi Analitik Model Perubaan Garis Pantai Menggunakan Transformasi Laplace Syarifa Meura Yuni, Icsan Setiawan 2, dan Okvita Maufiza Jurusan Matematika FMIPA Universitas
III. METODE PENELITIAN. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII B MTs Al Hikmah Bandar
26 III. METODE PENELITIAN A. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adala siswa kelas VII B MTs Al Hikma Bandar Lampung semester genap taun pelajaran 2010/2011 pada pokok baasan Gerak Lurus. Dengan jumla
TURUNAN / DIFERENSIAL TURUNAN DAN DIFERENSIAL
TURUNAN / DIFERENSIAL 4. Devinisi Turunan Derivati Turunan ungsi adala yang nilainya pada bilangan dan dideinisikan ole : ' lim0 untuk semua dengan limit tersebut ada. Conto Andaikan cari 4? Penyelesaian
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dasar Teori 2.1.1 Integral Integral merupakan invers atau kebalikan dari differensial. Integral terdiri dari dua macam yakni integral tentu dan integral tak tentu. Integral
Pengkajian Metode Extended Runge Kutta dan Penerapannya pada Persamaan Diferensial Biasa
JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 4, No.2, (215 2337-352 (231-928X Print A-25 Pengkajian Metode Extended Runge Kutta dan Penerapannya pada Persamaan Diferensial Biasa Singgi Tawin Muammad, Erna Apriliani,
KALKULUS. Laporan Ini Disusun Untuk Memenuhi Mata Kuliah KALKULUS Dosen Pengampu : Ibu Kristina Eva Nuryani, M.Sc. Disusun Oleh :
KALKULUS Laporan Ini Disusun Untuk Memenui Mata Kulia KALKULUS Dosen Pengampu : Ibu Kristina Eva Nuryani, M.Sc Disusun Ole : 1. Anggit Sutama 14144100107 2. Andi Novantoro 14144100111 3. Diya Elvi Riana
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adala penelitian komparasi. Kata komparasi dalam baasa inggris comparation yaitu perbandingan. Makna dari
Barisan dan Deret Agus Yodi Gunawan
Barisan dan Deret Agus Yodi Gunawan Barisan. Definisi. Barisan tak hingga adalah suatu fungsi dengan daerah asalnya himpunan bilangan bulat positif dan daerah kawannya himpunan bilangan real. Notasi untuk
Interpolasi. Metode Numerik POLITEKNIK ELEKTRONIKA NEGERI SURABAYA DEPARTEMEN TEKNIK INFORMATIKA DAN KOMPUTER PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA
POLITEKNIK ELEKTRONIKA NEGERI SURABAYA DEPARTEMEN TEKNIK INFORMATIKA DAN KOMPUTER PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA Interpolasi Metode Numerik Zulhaydar Fairozal Akbar [email protected] 2017 TOPIK Pengenalan
Gambar 1. Gradien garis singgung grafik f
D. URAIAN MATERI 1. Definisi dan Rumus-rumus Turunan Fungsi a. Definisi Turunan Sala satu masala yang mendasari munculnya kajian tentang turunan adala gradien garis singgung. Peratikan Gambar 1. f(c +
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB 1
Ringkasan Kalkulus 2, Untuk dipakai di ITB Deret Tak Hingga Pada bagian ini akan dibicarakan penjumlahan berbentuk a +a 2 + +a n + dengan a n R Sebelumnya akan dibahas terlebih dahulu pengertian barisan
AKAR PERSAMAAN Roots of Equations
AKAR PERSAMAAN Roots o Equations Akar Persamaan 2 Acuan Capra, S.C., Canale R.P., 1990, Numerical Metods or Engineers, 2nd Ed., McGraw-Hill Book Co., New York. n Capter 4 dan 5, lm. 117-170. 3 Persamaan
BAB III STRATIFIED CLUSTER SAMPLING
BAB III STRATIFIED CUSTER SAMPING 3.1 Pengertian Stratified Cluster Sampling Proses memprediksi asil quick count sangat dipengarui ole pemilian sampel yang dilakukan dengan metode sampling tertentu. Sampel
Aplikasi Aljabar Lanjar pada Metode Numerik
Aplikasi Aljabar Lanjar pada Metode Numerik IF223 Aljabar Geometri Oleh: Rinaldi Munir Program Studi Informatika, STEI-ITB Rinaldi Munir - IF223 Aljabar Geometri Apa itu Metode Numerik? Numerik: berhubungan
Akar-Akar Persamaan. Definisi akar :
Akar-Akar Persamaan Definisi akar : Suatu akar dari persamaan f(x) = 0 adalah suatu nilai dari x yang bilamana nilai tersebut dimasukkan dalam persamaan memberikan identitas 0 = 0 pada fungsi f(x) X 1
Metode Numerik - Interpolasi WILLY KRISWARDHANA
Metode Numerik - Interpolasi WILLY KRISWARDHANA Interpolasi Para rekayasawan dan ahli ilmu alam sering bekerja dengan sejumlah data diskrit (yang umumnya disajikan dalam bentuk tabel). Data di dalam tabel
Konsep Deret & Jenis-jenis Galat
Metode Numerik (IT 402) Fakultas Teknologi Informasi - Universitas Kristen Satya Wacana Bagian 2 Konsep Deret & Jenis-jenis Galat ALZ DANNY WOWOR 1. Pengatar Dalam Kalkulus, deret sering digunakan untuk
65 Soal dengan Pembahasan, 315 Soal Latihan
Galeri Soal Soal dengan Pembaasan, Soal Latian Dirangkum Ole: Anang Wibowo, SPd April MatikZone s Series Email : matikzone@gmailcom Blog : HP : 8 8 8 Hak Cipta Dilindungi Undang-undang Dilarang mengkutip
ISBN. PT SINAR BARU ALGENSINDO
Drs. HERI SUTARNO, M. T. DEWI RACHMATIN, S. Si., M. Si. METODE NUMERIK DENGAN PENDEKATAN ALGORITMIK ISBN. PT SINAR BARU ALGENSINDO PRAKATA Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Alloh SWT yang
MA1201 MATEMATIKA 2A Hendra Gunawan
MA101 MATEMATIKA A Hendra Gunawan Semester II 016/017 4 Maret 017 Kulia ang Lalu 1.1 Fungsi dua atau lebi peuba 1. Turunan Parsial 1.3 Limit dan Kekontinuan 1.4 Turunan ungsi dua peuba 1.5 Turunan berara
PENGUAT DAYA (POWER AMPLIFIER) Oleh : Sumarna, Jurdik Fisika, FMIPA, UNY
PEGUAT DAYA (POWE AMPIFIE) Ole : Sumarna, Jurdik Fisika, FMIPA, UY E-mail : [email protected] Dalam praktek, sistem penguat selalu terdiri dari sejumla tingkat yang menguatkan sinyal lema ingga cukup kuat
Rencana Pembelajaran
Learning Outcome Rencana Pembelajaran Setelah mengikuti proses pembelajaran ini, diharapkan mahasiswa dapat ) Menentukan nilai turunan suatu fungsi di suatu titik ) Menentukan nilai koefisien fungsi sehingga
CNH2B4 / KOMPUTASI NUMERIK
CNH2B4 / KOMPUTASI NUMERIK TIM DOSEN KK MODELING AND COMPUTATIONAL EXPERIMENT 1 REVIEW KALKULUS & KONSEP ERROR Fungsi Misalkan A adalah himpunan bilangan. Fungsi f dengan domain A adalah sebuah aturan
APLIKASI INTEGRAL 1. LUAS DAERAH BIDANG
Bahan ajar Kalkulus Integral 9 APLIKASI INTEGRAL. LUAS DAERAH BIDANG Misalkan f() kontinu pada a b, dan daerah tersebut dibagi menjadi n sub interval h, h,, h n yang panjangnya,,, n (anggap n ), ambil
KB. 2 INTERAKSI PARTIKEL DENGAN MEDAN LISTRIK
KB. INTERAKSI PARTIKEL DENGAN MEDAN LISTRIK.1 Efek Stark. Jika sebua atom yang berelektorn satu ditempatkan di dalam sebua medan listrik (+ sebesar 1. volt/cm) maka kita akan mengamati terjadinya pemisaan
SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER GLOBAL INFORMATIKA MDP
METODE NUMERIK Disusun oleh Ir. Sudiadi, M.M.A.E. Ir. Rizani Teguh, MT SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER GLOBAL INFORMATIKA MDP 2015 Metode Numerik i KATA PENGANTAR Pertama-tama penulis
Catatan Kuliah KALKULUS II BAB V. INTEGRAL
BAB V. INTEGRAL Anti-turunan dan Integral TakTentu Persamaan Diferensial Sederhana Notasi Sigma dan Luas Daerah di Bawah Kurva Integral Tentu Teorema Dasar Kalkulus Sifat-sifat Integral Tentu Lebih Lanjut
PERFORMANSI METODE TRAPESIUM DAN METODE GAUSS-LEGENDRE DALAM PENYELESAIAN INTEGRAL DENGAN METODE NUMERIK MENGGUNAKAN BAHASA PEMROGRAMAN MATLAB.
Volume 5, Nomor, September 06 ISSN 978-660 PERFORMANSI METODE TRAPESIUM DAN METODE GAUSS-LEGENDRE DALAM PENYELESAIAN INTEGRAL DENGAN METODE NUMERIK MENGGUNAKAN BAHASA PEMROGRAMAN MATLAB Oleh : MEILANY
JURNAL. Oleh: ELVYN LELYANA ROSI MARANTIKA Dibimbing oleh : 1. Dian Devita Yohanie, M. Pd 2. Ika Santia, M. Pd
JURNAL PENINGKATAN HASIL BELAJAR DAN RESPON SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KUMON PADA MATERI PEMBAGIAN BENTUK ALJABAR KELAS VIII SMP NEGERI 8 KOTA KEDIRI PADA TAHUN PELAJARAN 2016/2017 THE
BAB III METODE STRATIFIED RANDOM SAMPLING
BAB III METODE STRATIFIED RADOM SAMPIG 3.1 Pengertian Stratified Random Sampling Dalam bukunya Elementary Sampling Teory, Taro Yamane menuliskan Te process of breaking down te population into rata, selecting
PAM 252 Metode Numerik Bab 4 Pencocokan Kurva
PAM 252 Metode Numerik Bab 4 Pencocokan Kurva Mahdhivan Syafwan Jurusan Matematika FMIPA Universitas Andalas Semester Genap 2013/2014 1 Mahdhivan Syafwan Metode Numerik: Pencocokan Kurva Permasalahan dan
MENYELESAIKAN TURUNAN TINGKAT TINGGI DENGAN MENGGUNAKAN METODE SELISIH ORDE PUSAT BERBANTUAN PROGRAM MATLAB
MENYELESAIKAN TURUNAN TINGKAT TINGGI DENGAN MENGGUNAKAN METDE SELISIH RDE PUSAT BERBANTUAN PRGRAM MATLAB Arwan Maasiswa Prodi Matematika, FST-UINAM Try Azisa Prodi Matematika, FST-UINAM Irwan Prodi Matematika,
di FKIP Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya 4 Herwinarso, Tjondro Indrasutanto, G. Budijanto Untung adalah Dosen Pendidikan Fisika
PENENTUAN PANJANG GELOMBANG BERBAGAI FILTER WARNA PADA LAMPU TL DAN WOLFRAM DENGAN SPEKTROMETER KISI DIFRAKSI UNTUK MENUNJANG EKSPERIMEN EFEKFOTOLISTRIK Herwinarso, Tjondro Indrasutanto, G. Budijanto Untung
STATISTICS WEEK 8. By : Hanung N. Prasetyo POLTECH TELKOM/HANUNG NP
STATISTICS WEEK 8 By : Hanung N. Prasetyo BAHASAN Pengertian Hypotesisdan Hypotesis Testing Tipe Kesalaan dalam Pengujian Hipotesis Lima Langka Pengujian Hipotesis Pengujian: Dua Sisi dan Satu Sisi Uji
Bagian 3 Differensiasi
Bagian Differensiasi Bagian Differensiasi berisi materi tentang penerapan konsep limit untuk mengitung turunan an berbagai teknik ifferensial. Paa penerapan konsep limit, Ana akan iperkenalkan engan konsep
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI Pada bab II ini dibahas teori-teori pendukung yang digunakan untuk pembahasan selanjutnya yaitu tentang Persamaan Nonlinier, Metode Newton, Aturan Trapesium, Rata-rata Aritmatik dan
PETUNJUK PRAKTIKUM METODE NUMERIK (MT318)
PETUNJUK PRAKTIKUM METODE NUMERIK (MT38) Oleh : Dewi Rachmatin, S.Si., M.Si. JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 9 Dewi Rachmatin PRAKTIKUM
Hendra Gunawan. 26 Februari 2014
MA1201 MATEMATIKA 2A Hendra Gunawan Semester II, 2013/2014 26 Februari 2014 9.6 Deret Pangkat Kuliah yang Lalu Menentukan selang kekonvergenan deret pangkat 9.7 Operasi pada Deret Pangkat Mlkk Melakukan
MA1201 KALKULUS 2A Do maths and you see the world
Catatan Kuliah MA20 KALKULUS 2A Do maths and you see the world disusun oleh Khreshna I.A. Syuhada, MSc. PhD. Kelompok Keilmuan STATISTIKA - FMIPA Institut Teknologi Bandung 203 Catatan kuliah ini ditulis
BAB V ALINYEMEN VERTIKAL
BB V INYEMEN VERTIK linyemen vertikal adala perpotongan bidang vertikal dengan bidang permukaan perkerasan jalan melalui sumbu jalan untuk jalan lajur ara atau melalui tepi dalam masing masing perkerasan
Sudaryatno Sudirham ing Utari. Mengenal. 8-2 Sudaryatno S & Ning Utari, Mengenal Sifat-Sifat Material (1)
Sudaryatno Sudiram ing Utari Mengenal Sifat-Sifat Material (1) 8- Sudaryatno S & Ning Utari, Mengenal Sifat-Sifat Material (1) BAB 8 Teori Pita Energi Tentang Padatan Setela mempelajari bagaimana atom
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau Kampus Binawidya Pekanbaru (28293), Indonesia.
INTEGRASI NUMERIK TANPA ERROR UNTUK FUNGSI-FUNGSI TERTENTU Irma Silpia 1, Syamsudhuha, Musraini M. 1 Mahasiswi Jurusan Matematika Dosen Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
digunakan untuk menyelesaikan integral seperti 3
Bab Teknik Pengintegralan BAB TEKNIK PENGINTEGRALAN Rumus-rumus dasar integral tak tertentu yang diberikan pada bab hanya dapat digunakan untuk mengevaluasi integral dari fungsi sederhana dan tidak dapat
Analisis Numerik Integral Lipat Dua Fungsi Trigonometri Menggunakan Metode Romberg
Analisis Numerik Integral Lipat Dua Fungsi Trigonometri Menggunakan Metode Romberg Numerical Analysis of Double Integral of Trigonometric Function Using Romberg Method ABSTRAK Umumnya penyelesaian integral
METODE BEDA HINGGA PADA KESTABILAN PERSAMA- AN DIFUSI KOMPLEKS DIMENSI SATU
PROSIDING ISSN: 50-656 METODE BEDA HINGGA PADA KESTABILAN PERSAMA- AN DIFUSI KOMPLEKS DIMENSI SATU Danar Ardian Pramana, M.Sc 1) 1) DIV TeknikInformatikaPoliteknikHarapanBersama [email protected]
Galeri Soal. Dirangkum Oleh: Anang Wibowo, S.Pd
Galeri Soal Dirangkum Ole: Anang Wibowo, SPd April Semoga sedikit conto soal-soal ini dapat membantu siswa dalam mempelajari Matematika kususnya Bab Limit Kami mengusaakan agar soal-soal yang kami baas
LUAS DAERAH, TITIK BERAT DAN MOMEN INERSIA POLAR KARDIODA DENGAN INTEGRAL NUMERIK METODE TRAPESIUM & METODE SIMPSON
LUAS DAERAH, TITIK BERAT DAN MOMEN INERSIA POLAR KARDIODA DENGAN INTEGRAL NUMERIK METODE TRAPESIUM & METODE SIMPSON Tomi Tristiono 1 1 adala Dosen Fakultas Teknik Universitas Merdeka Madiun Abstract Te
LEMBAR AKTIVITAS SISWA INDUKSI MATEMATIKA
Nama Siswa Kelas : : LEMBAR AKTIVITAS SISWA INDUKSI MATEMATIKA Latihan 1 1. A. NOTASI SIGMA 1. Pengertian Notasi Sigma Misalkan jumlah n suku pertama deret aritmatika adalah S n = U 1 + U 2 + U 3 + + U
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
RENCN PELKSNN PEMBELJRN Mata Pelajaran : Matematika Kelas/ Semester: XI Program IP/ lokasi Waktu: 8 jam Pelajaran (4 Pertemuan). Standar Kompetensi Menggunakan konsep limit fungsi dan turunan fungsi dalam
MAKALAH TURUNAN. Disusun oleh: Agusman Bahri A1C Dosen Pengampu: Dra. Irma Suryani, M.Pd
MAKALAH TURUNAN Disusun ole: Agusman Bari A1C214027 Dosen Pengampu: Dra. Irma Suryani, M.P PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS JAMBI 2015 KATA PENGANTAR
(A) 3 (B) 5 (B) 1 (C) 8
. Turunan dari f ( ) = + + (E) 7 + +. Turunan dari y = ( ) ( + ) ( ) ( + ) ( ) ( + ) ( + ) ( + ) ( ) ( + ) (E) ( ) ( + ) 7 5 (E) 9 5 9 7 0. Jika f ( ) = maka f () = 8 (E) 8. Jika f () = 5 maka f (0) +
(b) M merupakan nilai minimum (mutlak) f apabila M f(x) x I..
3. Aplikasi Turunan a. Nilai ekstrim Bagian ini dimulai dengan pengertian nilai ekstrim suatu fungsi yang mencakup nilai ekstrim maksimum dan nilai ekstrim minimum. Definisi 3. Diberikan fungsi f: I R,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau Kampus Binawidya Pekanbaru (28293), Indonesia.
METODE SIMPSON-LIKE TERKOREKSI Ilis Suryani, M. Imran, Asmara Karma Mahasiswa Program Studi S Matematika Laboratorium Matematika Terapan, Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Matematika I: APLIKASI TURUNAN. Dadang Amir Hamzah. Dadang Amir Hamzah Matematika I Semester I / 70
Matematika I: APLIKASI TURUNAN Dadang Amir Hamzah 2015 Dadang Amir Hamzah Matematika I Semester I 2015 1 / 70 Outline 1 Maksimum dan Minimum Dadang Amir Hamzah Matematika I Semester I 2015 2 / 70 Outline
