5 PENGEMBANGAN MODEL

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "5 PENGEMBANGAN MODEL"

Transkripsi

1 42 5 PENGEMBANGAN MODEL 5.1 Analisis Sistem Agroindustri Kerapu Budi Daya Sebagaimana dijelaskan pada bab metode penelitian, maka pengembangan model dinamis perencanaan dan pengelolaan agroindustri budi daya dilakukan dengan menerapkan pendekatan sistem yang tahapannya mengikuti diagram pada Gambar 8. Tahap tersebut terdiri atas (1) analisis kebutuhan, (2) formulasi permasalahan, (3) identifikasi sistem, (4) rancang bangun model, (5) pengujian model, dan (6) penerapan model. Berikut ini diuraikan langkahlangkah yang dilaksanakan dalam setiap tahapan tersebut Analisis kebutuhan Analisis kebutuhan mengidentifikasi dan menguraikan mengenai apa yang dibutuhkan oleh pelaku (komponen) yang terlibat dalam sistem. Komponenkomponen tersebut mempunyai kebutuhan yang berbedabeda sesuai dengan tujuannya masingmasing dan saling berinteraksi satu sama lain serta berpengaruh terhadap keseluruhan sistem yang ada. Dalam sistem pengembangan agroindustri budi daya pada penelitian ini, komponenkomponen yang terlibat serta kebutuhankebutuhan masingmasing komponen terhadap jalannya sistem adalah sebagai berikut: (1) Pemerintah membutuhkan kondisi di mana usaha budi daya berkembang di berbagai daerah sehingga dapat menyediakan lapangan pekerjaan dan pendapatan bagi masyarakat serta meningkatkan penghasilan devisa melalui ekspor dan menghindarkan terjadinya produksi yang berlebih sehingga merugikan pelaku usaha. (2) Pelaku peman (hatchery) membutuhkan kondisi di mana yang diproduksinya dapat terjual secara kontinyu, dengan harga yang setinggitingginya, serta harga input produksi (pakan, obatobatan, listrik, dan lain lain) yang serendahrendahnya. (3) Para pembudidaya ikan membutuhkan yang sehat dan input produksi lainnya (pakan, obatobatan) dengan harga murah, pada waktu dan jumlah yang tepat, dan dapat menjual ikan yang dibesarkan secara kontinyu dengan harga setinggitingginya.

2 43 (4) Para pengepul / pedagang (eksportir) ikan membutuhkan informasi tentang permintaan pasar dan pasokan ikan hidup ukuran konsumsi dari pembudidaya/ nelayan sesuai dengan permintaan pasar dengan harga beli yang serendah mungkin dan harga jual setinggi mungkin. (5) Nelayan pemasok induk dan alam, maupun sebagai pemasok pakan (ikan rucah) membutuhkan kondisi agar induk, maupun ikan rucah yang ditangkap dapat dijual dengan harga setinggitingginya, sehingga memperoleh pendapatan yang memadai. (6) Produsen pakan ikan membutuhkan kondisi agar pakan yang diproduksinya dapat terjual secara kontinyu dengan harga yang setinggitingginya, dan memperoleh bahan baku secara kontinyu dan dengan harga serendahrendahnya. (7) Produsen / pemasok obatobatan ikan dan bahan kimia untuk produksi peman membutuhkan kondisi di mana produk yang dihasilkan / dipasok dapat terjual secara kontinyu dengan harga yang setinggitingginya, dan memperoleh bahan baku secara kontinyu dan dengan harga beli serendahrendahnya. (8) Industri jasa transportasi membutuhkan adanya pesanan (order) yang kontinyu untuk mengangkut, ikan konsumsi atau jasa transport lainnya dari agroindustri budi daya sehingga ia memperoleh pendapatan yang memadai. (9) Konsumen membutuhkan pasokan ikan hidup secara kontinyu dengan kualitas baik dan dengan harga yang terjangkau oleh daya beli mereka Formulasi permasalahan Permasalahan akan timbul apabila terjadi konflik kepentingan antar para pelaku yang terlibat dalam sistem agroindustri budi daya. Uraian tentang keinginan dan konflik kepentingan yang menimbulkan masalah dapat dilihat pada Tabel 10. Meskipun terdapat konflik kepentingan, dalam kasus pengembangan agroindustri budi daya ini terdapat pula problem bersama (common problems) yang dihadapi oleh para pelaku yang dapat dijadikan dasar bagi para pelaku untuk saling bersinergi.

3 44 Tabel 10 Daftar keinginan dan konflik kepentingan antar pelaku dalam sistem agroindustri budi daya No Pelaku /Aktor Interest / Keinginan Konflik Kepentingan 1. Pemerintah Berkembangnya industri perikanan sehingga memperluas lapangan kerja, Dengan Nelayan: Nelayan lebih suka menangkap ikan di terumbu karang. PAD dan pertumbuhan Pemerintah melarang penggunaan ekonomi; bahan peledak dan Meningkatnya devisa melalui ekspor ; sianida yang merusak terumbu karang. Dengan Pedagang: Eksportir lebih suka membeli hasil tangkap nelayan dari terumbu karang, karena lebih murah dan mudah. 2 Pelaku Peman 3. Pembudidaya Ikan Ingin menjual semahal mungkin dan membeli input produksi (biaya produksi) semurah mungkin. Dapat menekan kematian (mortalitas) dan memperoleh yang bebas penyakit (virus dll.). Ingin menjual ikan semahal mungkin dan membeli input produksi (biaya produksi) semurah mungkin. Dapat menekan kematian (mortalitas) ikan dan mempercepat pertumbuhan ikan. Dengan Produsen/Pemasok Obatobatan/ Bahan Kimia: Produsen ingin menjual semahal mungkin, sedangkan pem ingin membeli semurah mungkin. Dengan Nelayan: Nelayan ingin menjual induk semahal mungkin, sedang hatchery ingin semurah mungkin. Dengan Produsen Benih: Pem ingin menjual semahal mungkin, sedangkan pembudidaya semurah mungkin. Sering terjadi kelangkaan saat dibutuhkan, atau kelimpahan saat tidak dibutuhkan. Pembudidaya sering mengeluhkan kualitas yang rendah mengakibatkan mortalitas tinggi. Dengan Produsen Pakan : Produsen pakan ingin menjual pakan semahal mungkin, sedangkan pembudidaya membeli semurah mungkin.

4 45 Tabel 10 (lanjutan) 4. Pengepul / pedagang/ Eksportir 5. Nelayan Pemasok Induk dan Pakan Rucah 7. Pemasok Obatobatan dan Bahan Kimia 8. Pengusaha Jasa Transportasi Memperoleh pasokan ikan sesuai permintaan pasar dengan harga semurah mungkin; Dapat menjual ikan sebanyak mungkin dengan harga setinggitingginya; Cenderung menutupnutupi informasi pasar sehingga dapat menekan petani ikan. Ingin menjual induk dan ikan rucah semahal mungkin dan membeli input produksi semurah mungkin 9. Konsumen Membutuhkan pasokan ikan hidup sesuai kebutuhan dengan harga yang terjangkau oleh daya beli mereka Dengan Pembudidaya: Pembudidaya ingin menjual ikan semahal mungkin, pedagang ingin semurah mungkin. Sering terjadi kelangkkan suplai pada saat dibutuhkan, atau kelebihan suplai pada saat permintaan pasar menurun. Pembudidaya menginginkan transparansi informasi pasar sehingga tidak dikelabui oleh eksportir. Dengan Pembudidaya: Pembudidaya ingin membeli ikan rucah (pakan) semurah mungkin sedangkan nelayan semahal mungkin. Ingin menjual Obatobatan Dengan Pengusaha Peman: dan Bahan Kimia semahal Idem butir 4. mungkin dan membelinya semurah mungkin. Membutuhkan adanya Dengan Pengguna jasa pesanan (order) yang (Peman, Pembudidaya, kontinyu untuk mengangkut Pedagang): Mereka, ikan konsumsi atau mengunginkan biaya angkut jasa transport lainnya dgn yang semurah mungkin. biaya semahal mungkin. Dengan Pedagang: Suplai ikan tergantung produsen, sering tidak sesuai dengan permintaan. Harga pasar sering di bawah tingkat yang diharapkan. Permasalahan bersama tersebut adalah masih belum terciptanya sinergi dan kerjasama yang saling menguntungkan antar pelaku usaha. Belum terciptanya sinergi tersebut terlihat dari sering terjadinya kelangkaan pada saat dibutuhkan oleh pembudidaya, atau sebaliknya kelebihan pada saat tidak dibutuhkan oleh pembudidaya. Demikian pula antara pembudidaya dengan pengolah / pedagang pengumpul sering terjadi ketidaksesuaian antara kebutuhan dan pasokan. Permasalahan bersama ini terutama terjadi karena proses produksi dan kegiatan budi daya ada ketergantungan pada musim sehingga mengalami puncak pada musimmusim tertentu, di sisi lain konsumen juga menginginkan suplai yang cukup besar pada bulanbulan tertentu.

5 46 Ketidaksesuaian antara demand dan supply ini mengakibatkan ketidakharmonisan yang berkepanjangan. Permasalahan lain yang menjadi perhatian bersama pelaku usaha dalam agroindustri perikanan budi daya adalah belum dikuasainya teknologi sehingga mengakibatkan rendahnya produktivitas dan kualitas produk. Peman ikan masih mengeluhkan tingginya tingkat kematian (mortality rate) terhadap larva yang dihasilkan sehingga sering mengalami kerugian. Di sisi lain, pembudi daya sering mengeluhkan yang dibeli dari peman banyak mengalami kematian karena kualitasnya yang kurang baik. Dalam transaksi jual beli ini belum ada perjanjian antara kedua belah pihak untuk menanggung bersama risiko kematian, sehingga pembudidaya sering mengalami kerugian. Permasalahan bersama ini perlu diatasi agar tidak menjadi penghambat bagi pengembangan agroindustri budi daya. Berkembangnya industri budi daya secara tidak langsung akan mengurangi terjadinya kerusakan terumbu karang akibat penangkapan ikan dengan caracara yang tidak ramah lingkungan. Bagi pemerintah, pengembangan agroindustri budi daya selain akan memberikan dampak ekonomi yaitu peningkatan pendapatan nelayan/petani ikan dan perolehan devisa, juga akan memberikan dampak kelestarian lingkungan yang penting bagi kelangsungan pembangunan dimasa yang akan datang Identifikasi sistem Tahap selanjutnya dalam rancangbangun model dinamis pengelolaan agroindustri budi daya adalah identifikasi sistem. Dalam tahap ini dilakukan penggambaran diagram sebabakibat (causal loop diagram) dan kotak gelap. Identifikasi sistem tersebut dilaksanakan dengan berdasarkan pada hasil analisis kebutuhan dan identifikasi permasalahan yang telah dilaksanakan pada tahap sebelumnya. Secara spesifik konsep diagram lingkar sebabakibat untuk sistem pengelolaan agroindustri budi daya digambarkan pada Gambar 9, sedangkan konsep kotak gelap dijelaskan pada Gambar 10. (1) Causal loop Keterkaitan antar pelaku maupun kegiatan yang terlibat dalam sistem pengelolaan agroindustri budi daya berbasis budi daya dapat digambarkan

6 47 dalam diagram sebabakibat (causal loop diagram) pada Gambar 9. Dalam penelitian ini perhatian utama ditujukan pada pemecahan permasalahan bersama yang diformulasikan pada tahap sebelumnya. Permasalahan utama tersebut adalah lemahnya keterkaitan antar rantai produksi peman, pembudidayaan dan penanganan pascapanen dan rendahnya penguasaan teknologi, sehingga diagram sebabakibat yang dibuat lebih berorientasi pada pendiskripsian permasalahan tersebut. Dalam diagram sebabakibat tersebut terdapat 3 (tiga) subsistem, yaitu peman, pembesaran, dan pascapanen yang dirangkai menjadi satu. Setiap subsistem memiliki struktur yang hampir serupa karena karakteristik kegiatannya hampir sama. Proses pengkonstruksian diagram sebabakibat pada masingmasing subsistem dilakukan secara bertahap, yaitu tahap pengkonstruksian diagram sebabakibat untuk aliran material dan diagram sebab untuk akibat aliran finansial. Diagram sebabakibat aliran material untuk peman ikan dimulai dari jumlah induk yang tersedia yang menentukan berapa jumlah yang dapat diproduksi. Tingkat produksi tersebut ditentukan juga oleh produktivitas induk. Selanjutnya tingkat produksi akan menentukan jumlah persediaan (inventory) yang juga dipengaruhi oleh jumlah penjualan. Besarnya inventory akan menentukan berapa jumlah yang harus diproduksi (desired production). Desired production tersebut disamping dipengaruhi oleh besarnya inventory juga dipengaruhi oleh proyeksi / ekspektasi permintaan yang diperhitungkan berdasarkan permintaan saat ini. Diagram sebabakibat untuk aliran finansial pada subsistem peman merupakan pentransferan aliran material ke nilai finansialnya. Besarnya produksi dikalikan dengan biaya produksi per unit akan menghasilkan perhitungan tentang biaya produksi. Demikian juga jumlah inventori dikalikan dengan biaya inventori per unit akan menentukan besarnya biaya inventori. Demikian juga dengan income (pemasukan) peman merupakan perkalian dari angka penjualan dengan harga jual. Selanjutnya pengurangan antara pemasukan dengan biayabiaya akan menghasilkan perhitungan tentang tingkat keuntungan (profit) yang diperoleh oleh subsistem peman.

7 48 Harga input produksi Jumlah induk Profit pembeni han inventori /unit Kerapu Tkt prod diinginkan inventori Income pemb. Penjualan Harga Tingkat permintaan Harga input produksi BD BD Jumlah KJA BD Profit budidaya Kerapu BD krp BD inventori krp BD Income BD inventori /unit Tkt prod BD diinginkan Harga BD Penjualan BD Tingkat permintaan BD Harga input produksi PPn P.Panen Jumlah KJA PP krp PP Profit pascapa nen inventori /unit Kerapu P.Panen Tkt prod PP diinginkan inventori krp PP Tingkat permintaan PP Income PP Harga PP Penjualan P. panen Produktiv itas induk Ekspektasi permintaan Produktiv itas KJA Ekspektasi permintaan BD Produktiv itas KJA Ekspektasi permintaan PP Gambar 9 Diagram sebab akibat sistem pengembangan agroindustri budi daya.

8 49 Pendeskripsian diagram sebabakibat untuk subsistem budi daya dan subsistem penanganan pascapanen hampir serupa dengan diagram subsistem peman. Diagram sebabakibat aliran material untuk budi daya dimulai dari jumlah KJA yang tersedia yang menentukan berapa jumlah ikan yang dapat diproduksi. Tingkat produksi tersebut ditentukan juga oleh produktivitas KJA. Selanjutnya tingkat produksi ikan akan menentukan jumlah persediaan (inventory) yang juga dipengaruhi oleh jumlah penjualan. Besarnya inventory akan menentukan berapa jumlah ikan yang harus diproduksi (desired production). Desired production tersebut disamping dipengaruhi oleh besarnya inventory juga dipengaruhi oleh proyeksi / ekspektasi permintaan ikan yang diperhitungkan berdasarkan permintaan ikan kondisi nyata saat ini. Diagram sebabakibat untuk aliran finansial pada subsistem pembesaran seperti pada subsistem peman merupakan pentransferan aliran material ke nilai finansialnya. Besarnya produksi ikan dikalikan dengan biaya produksi per ekor akan menghasilkan perhitungan tentang biaya produksi. Demikian juga jumlah inventori dikalikan dengan biaya inventori per unit akan menentukan besarnya biaya inventori. Demikian juga dengan income (pemasukan) pembesaran merupakan perkalian dari angka penjualan dengan harga jual. Selanjutnya pengurangan antara pemasukan dengan biayabiaya akan menghasilkan perhitungan tentang tingkat keuntungan (profit) yang diperoleh oleh subsistem pembesaran. Untuk diagram sebabakibat pada subsistem penanganan pascapanen, deskripsi elemennya identik dengan subsistem pembesaran baik untuk aliran material maupun aliran fiansialnya, hanya pada subsistem pascapanen ini elemen tingkat permintaan langsung berhubungan dengan angka permintaan pasar yang merupakan elemen penentu bagi sistem secara keseluruhan. Dalam diagram sebabakibat ini ketiga subsistem yang dapat dianalisis secara terpisah tersebut dirangkaikan menjadi suatu kesatuan sistem, dimana elemen permintaan pasar pada peman merupakan refleksi dari kebutuhan subsistem pembesaran, sehingga tingkat permintaan ditentukan oleh tingkat produksi pembesaran pada subsistem pembesaran. Demikian pula halnya secara identik, permintaan budi daya ditentukan oleh tingkat produksi pada subsistem pascapanen.

9 50 (2) Diagram input output Konsep diagram inputoutput merupakan tahapan lebih lanjut dari diagram sebabakibat, yaitu sebagai interpretasinya ke dalam konsep black box. Dalam konsep black box tersebut, informasi dikategorikan menjadi tiga golongan, yaitu (1) peubah input, (2) peubah output, dan (3) parameterparameter yang membatasi struktur sistem (Eriyatno 1999). Input terdiri atas dua golongan, yaitu input yang berasal dari luar sistem (exogen) atau input lingkungan dan input yang berasal dari dalam sistem (overt input). Overt input merupakan peubah endogen yang ditentukan oleh fungsi dari sistem. Input tersebut terdiri atas input terkendali dan input tak terkendali. Output dari sistem terdiri atas output diinginkan dan output tidak diinginkan. Input Tak Terkendali Harga jual dan permintaan di pasaran; Harga input produksi peman, pembesaran dan pascapanen. Ketersediaan kawasan Budi daya Kesehatan Lingkungan perairan Nilai Tukar Rupiah Tingkat Bunga Pinjaman Input Terkendali Teknologi peman Teknologi budi daya Tekn. pascapanen/pengolahan Teknologi Transportasi Tata ruang kawasan Input Lingkungan Peraturan pemerintah Globalisasi Perdagangan Perubahan Iklim Global SISTEM PENGELOLAAN INDUSTRI PERIKANAN KERAPU Manajemen Industri Output Diinginkan Peningkatan keuntungan pem, pembudi daya dan agroindustri ; Berkembangnya industri budi daya & pendukungnya; Peningkatan Devisa; Lestarinya terumbu karang Output Tak Diinginkan Tidak terkendalinya perkembangan industri perikanan Oversupply, harga turun Kelangkaan supply, harga naik Kelangkaan input produksi (pakan,, obatobatan). Gambar 10 Diagram input output sistem pengelolaan industri budi daya perikanan. Gambar 10 di atas menunjukkan diagram inputoutput untuk sistem pengelolaan agroindustri budi daya. Untuk pengelolaan industri tersebut dibutuhkan input yang tergolong dalam input tak terkendali yaitu harga ikan konsumsi dan permintaan pasar, harga input industri seperti harga induk ikan, dan pakan, ketersediaan kawasan budi daya, dan nilai tukar rupiah (yang berhubungan dengan harga jual) dan tingkat bunga pinjaman untuk investasi dan modal kerja. Sementara itu untuk input yang dapat dikendalikan adalah teknologi

10 51 peman, teknologi budi daya, teknologi pengolahan, teknologi transportasi dan perencanaan kawasan untuk budi daya. Sistem yang dikembangkan bertujuan untuk menghasilkan output yang diinginkan yaitu peningkatan pendapatan nelayan dan petani ikan, lestarinya terumbu karang dan berkembangnya usaha budi daya dan industri pendukungnya. Meskipun demikian dihasilkan pula output yang tidak diinginkan seperti tidak terkendalinya perkembangan usaha budi daya dan terjadinya oversuplai sehingga harga jatuh, kemungkinan terjadinya kepunahan terhadap ikan karang karena eksploitasi yang berlebih, dan kelangkaan input produksi yang dibutuhkan seperti pakan,, dan obatobatan. Untuk mengendalikan sistem agar lebih mengarah pada output yang diinginkan, maka dibuatlah mekanisme umpan balik (feedback) berupa manajemen sistem agroindustri sedemikian rupa agar output yang dihasilkan mengarah pada output yang diinginkan dan tidak mengarah pada output yang tidak diinginkan. Dalam penelitian ini fokus umpan balik manajemen agroindustri budi daya diarahkan pada penguatan keterkaitan antar pelaku usaha dalam rantai produksi dan peningkatan penggunaan teknologi sehingga tercipta suatu agroindustri budi daya yang tanguh dan berproduktivitas tinggi. Berkembangnya agroindustri budi daya akan mencegah terjadinya eksploitasi ikan di perairan terumbu karang sehingga dapat menjaga kelestariannya. 5.2 Rancang Bangun Model Berdasarkan hasil identifikasi sistem yang akan dibuat untuk pengelolaan agroindustri budi daya, terutama diagram sebabakibat, maka dilakukan rancang bangun model dinamis dengan menggunakan paket program Powersim Studio yang menerjemahkan diagram sebabakibat ke dalam program komputer Rancangbangun model peningkatan keuntungan agroindustri budi daya. (1) Rancang bangun model peningkatan keuntungan subsistem peman. Model peningkatan keuntungan produksi peman dirancangbangun sebagai alat untuk mensimulasikan tingkat keuntungan yang diperoleh peman dengan mempertimbangkan berbagai variabel yang

11 52 terlibat di dalamnya. Tingkat keuntungan merupakan fungsi dari tingkat pendapatan dikurangi oleh pengeluaran produksi. Tingkat pendapatan merupakan fungsi dari tingkat produksi dan harga jual, sedangkan tingkat pengeluaran produksi merupakan fungsi dari penggunaan volume input produksi dan harga beli input produksi tersebut. Tingkat pendapatan sangat berfluktuasi karena tingkat produksi dan harga jual yang berfluktuasi sepanjang tahun. Fluktuasi produksi terjadi karena indukinduk ikan hanya memijah (melepas telur) pada umur tertentu dan pada periodeperiode tertentu, terutama pada masa bulan gelap. Jumlah telur yang dihasilkan juga sangat bergantung pula pada umur induk yang dipijahkan, sedangkan persentase jumlah telur yang bertahan (survive) menjadi sangat tergantung pula pada input produksi yang digunakan selama masa pemeliharaan (46 bulan) terutama pakan, obatobatan dan penanganan kualitas air. Tingkat pengeluaran produksi selain ditentukan oleh volume penggunaan input produksi (pakan, obatobatan, tenaga kerja) dan juga harga input produksi tersebut. Sebagaimana halnya dengan tingkat pendapatan, maka tingkat pengeluaranpun berfluktuasi sesuai dengan perubahan yang terjadi pada variabel yang disebutkan di atas. Tujuan dari model ini adalah memaksimalkan keuntungan dengan meningkatkan efisiensi penggunaan input produksi dan mencegah kemungkinan terjadinya produksi yang berlebih (over supply) atau kekurangan produksi pada saat fluktuasi permintaan mencapai puncak (peak). Tujuan ini dapat dicapai apabila fluktuasi permintaan dapat diantisipasi oleh produsen melalui pengaturan waktu produksi atau melalui pengontrolan persediaan (inventory control). Model peningkatan keuntungan industri peman dikembangkan berdasarkan hubungan sebabakibat (causal loop diagram) sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 11.

12 pemeliharaan induk pemeliharaan induk/ekor Pengeluaran pem an Benih Benih Kerapu Bnh/Unit Produk tivitas induk Jumlah Induk disediakan Keuntungan Peman Benih Bnh/Unit Benih Kerapu Tkt Inventory Diinginkan Income Peman Harga Benih /Unit Coverage Benih Trend Permintaan Benih Expektasi Permintaan Penjualan Benih Kerapu 53 Tkt Per mintaan Gambar 11 Diagram hubungan sebabakibat dalam model peningkatan keuntungan industri peman. Hubungan antar elemen yang terlibat dalam model peningkatan keuntungan industri peman dapat didiskripsikan dalam persamaan matematis sebagai berikut: Keuntungan Peman = Income Peman Pengeluaran peman Income Peman = Jumlah Penjualan Benih * Harga Benih Pengeluaran peman = produksi biaya pemeliharaan induk biaya inventori. produksi = produksi per ekor * Jumlah Benih inventory = Inventory/ekor * Inventory Benih pemeliharaan induk = Jumlah induk * biaya pemeliharaan induk/ekor. Jumlah Benih = Jumlah Induk * Produktivitas induk.

13 54 = Jumlah produksi jumlah penjualan. Tingkat inventori diinginkan (t1) = ekpektasi permintaan (t) * Coverage inventori (t) Berdasarkan diagram sebabakibat dan hubungan antar elemen pada model peningkatan keuntungan industri peman ikan, maka dikonstruksikan model dengan menggunakan POWERSIM STUDIO yang dapat digunakan untuk proses simulasi. Model powersim untuk peningkatan keuntungan industri peman dapat dilihat pada Gambar 12. Tak Langsung Profit peman Total Profit Peman pemel induk per ekor Penyusutan Pemasukan Peman Harga Benih Pengeluaran Peman pemel induk By Pakan Bnh per ekor Prod Bnh per ekr Inventory Benih Faktor inventory By lainnya per ekor produksi penjualan Survival rate Survival rate Fekunditas induk Produktivitas induk Waktu utk perbaiki inventori Coverage inventori Bnh Konversi Kg ke Ekor Prosentase induk memijah Jumlah induk Tingkat produksi diinginkan Tkt inventori diinginkan Tkt permintaan per bulan Permintaan Kerapu Pasca Panen Penyediaan induk baru Kematian Induk Perubahan Exp demand Demand Ikan Ukuran Konsumsi Expected demand Waktu utk penyediaan induk baru Jumlah induk diinginkan Lifetime induk Waktu untuk merubah ekpektasi Gambar 12 Struktur Model peningkatan keuntungan industri peman menggunakan program Powersim Studio.

14 55 Model peningkatan keuntungan industri peman terdiri atas elemenelemen disusun sesuai dengan sistem operasi yang ada di lapangan, yaitu memproduksi ikan yang dapat dijual sesuai dengan permintaan pasar. Sesuai dengan kerangka konseptual, model ini ditujukan untuk dapat mensimulasikan jumlah induk yang harus disediakan untuk menghasilkan dalam jumlah yang tepat dan jumlah inventori yang harus disediakan untuk mengantisipasi fluktuasi permintaan pasar sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya kelebihan pasokan ( over supply ) atau kekurangan pasokan di pasaran. Deskripsi masingmasing elemen model dan hubungannya antar variabel maupun konstanta diuraikan pada Tabel 11 yang terdiri atas nama variabel, satuan yangdigunakan dan definisi dari variabel tersebut. Tabel 11 Deskripsi elemen pada model peningkatan keuntungan industri peman ikan. Nama Unit Definisi Inventory Benih Rp / mo Faktor inventory * Harga Benih *Inventory Pemeliharaan Rp / mo pemel induk per ekor * jumlah induk Induk Pemel Induk / ekor Rp/Induk/mo Benih Rp / mo * per ekor produksi per ekor Rp/ekor pakan per ekor biaya lainnya per ekor Tak Langsung Rp/mo lainnya per ekor Rp/ekor 796 pakan per Rp/ekor 1692 ekor Coverage inventori mo 1 Expected demand ekor / mo Tkt permintaan per bulan Faktor biaya inventori %/mo 5 Fekunditas induk Ekor/induk/6 mo NORMAL( , ) Harga Rp/ekor 6000 Inventory ekor Tkt inventory diinginkan Jumlahbinduk induk Jumlah induk diinginkan Jumlah induk diinginkan induk Tingkat produksi diinginkan / produktivitas induk Kematian induk Induk/mo Jumlah induk / lifetime induk Konversi Kg ke Ekor Ekor/kg 2 Lifetime induk mo 36 Pemasukan peman Rp / mo Penjualan Benih * harga Pengeluaran Peman Rp / mo inventory pemeliharaan induk produksi Penjualan ekor / mo Tkt permintaan per bulan Penyediaan induk baru Induk / mo (jumlah induk diinginkan jumlah induk tersedia) / waktu untuk penyediaan induk baru kematian induk

15 56 Tabel 11 (lanjutan) Permintaan pascapanen Ekor/mo GRAPHSTEP(TIME<STARTTIME,1<<mo>>, Demand Ikan Ukuran Konsumsi * Konversi Kg ke Ekor Perubahan expected demand ekor/mo (tkt permintaan / bulan Expected demand / wktu untuk merubah ekpektasi) ekor / mo Jumlah induk * produktivitas induk Produktivitas induk Ekor/mo/induk Fekunditas induk*persentase induk memijah* Survival Rate Keuntungan peman Rp / mo Pemasukan peman pengeluaran peman Persentase induk % NORMAL (20, 2) memijah Survival rete % NORMAL (16, 1.6) Survival rate % NORMAL (80, 8) Time delay mo 6 Tkt inventory diinginkan Tkt permintaan per bulan Total Keuntungan peman Waktu untuk merubah ekspektasi Waktu utk penyediaan induk baru Keterangan: mo = bulan ekor Expected demand * coverage inventory ekor / mo Rp mo 2 mo 12 (2) Rancangbangun model peningkatan nilai tambah subsistem pembesaran. Model peningkatan keuntungan usaha pembesaran disusun untuk digunakan sebagai alat untuk mensimulasikan maksimalisasi keuntungan pembesaran dengan meningkatkan pendapatan dan menekan biaya produksi. Upaya menekan biaya produksi dapat dilakukan dengan meningkatkan efisiensi penggunaan input produksi dan memperkecil terjadinya kelebihan produksi (ekses suplai). Tingkat pendapatan sangat berfluktuasi karena tingkat produksi dan harga jual ikan hasil budi daya berfluktuasi sepanjang tahun. Fluktuasi produksi terjadi karena adanya keterbatasan suplai dan kondisi musim yang tidak memungkinkan budi daya dilakukan sepanjang tahun. Tingkat pengeluaran produksi selain ditentukan oleh volume penggunaan input produksi (pakan, obatobatan, tenaga kerja) dan juga harga input produksi tersebut. Sebagaimana halnya dengan tingkat pendapatan, maka tingkat pengeluaranpun berfluktuasi sesuai dengan perubahan yang terjadi pada variabel yang disebutkan di atas.

16 57 Tujuan dari model ini adalah memaksimalkan keuntungan dengan mencegah kemungkinan terjadinya produksi yang berlebih (over supply) atau kekurangan produksi pada saat fluktuasi permintaan mencapai puncak (peak). Tujuan ini dapat dicapai apabila fluktuasi permintaan ikan konsumsi dapat diantisipasi oleh produsen melalui pengaturan waktu produksi atau melalui pengontrolan persediaan (inventory control). Model tersebut disusun berdasarkan hubungan sebabakibat (causal loop diagram) sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 13. Keuntungan Budi daya pemeliharaan KJA pemeliharaan KJA/unit Kerapu BD Pengeluaran Budi daya Kerapu BD Kerapu/Ekr Produk tivitas KJA Jumlah KJA disediakan Kerapu BD Krp/Unit Kerapu BD Tkt Inventory Diinginkan Income Budi daya Harga Kerapu/ Ekor Coverage Kerapu BD Trend Permintaan Kerapu BD Expektasi Permintaan Krp BD Penjualan Kerapu BD Tkt Per mintaan Gambar 13 Diagram hubungan sebabakibat dalam model peningkatan keuntungan industri pembesaran perikanan. Hubungan antar elemen yang terlibat dalam model peningkatan keuntungan industri pembesaran dapat didiskripsikan dalam formula sebagai berikut:

17 58 Keuntungan Pembesaran = Income Pembesaran Pengeluaran Pembesaran. Income Pembesaran = Jumlah Penjualan Kerapu BD * Harga Kerapu BD. Pengeluaran pembesaran = pemeliharaan KJA Kerapu BD BD. BD = Jumlah KJA * Produktivitas / KJA. produksi Kerapu BD = produksi BD per ekor * Jumlah Pembesaran. inventori = Inventory/ekor * Inventory Pembesaran. Jumlah Pembesaran = Jumlah KJA BD * Produktivitas KJA BD. = Jumlah produksi jumlah penjualan. Tingkat inventori diinginkan = ekpektasi permintaan pembesaran * coverage pembesaran. pemeliharaan KJA = Jumlah KJA * pemeliharaan / unit. Model peningkatan keuntungan pembesaran yang dirancang menggunakan Powersim Studio dapat dilihat pada Gambar 14. Seperti model peman, model ini terdiri atas elemenelemen disusun sesuai dengan sistem pembesaran yang ada di lapangan, yaitu memproduksi ikan ukuran konsumsi yang dapat dijual sesuai dengan permintaan pasar. Sesuai dengan kerangka konseptual pada Gambar 6, model ini ditujukan untuk dapat mensimulasikan proses peningkatan keuntungan pada industri pembesaran melalui efisiensi penggunaan input produksi dan pengelolaan inventory yang disesuaikan dengan fluktuasi permintaan pasar dan ketersediaan hasil hatchery sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya kelebihan pasokan (over supply) atau kekurangan pasokan ikan ukuran konsumsi di pasaran.

18 59 pemel KJA per unit BD Tak Langsung Profit budidaya Total Profit Budidaya Harga Benih Jumlah KJA pemel KJA Pengeluaran Budidaya Penyusutan BD Pemasukan Budidaya Harga Kerapu BD Bi Pkn BD per ekor input BD By Prod BD per ekor per ekor Inventory Kerapu BD Faktor inventory krp BD By BD lainnya per ekor produksi BD penjualan BD krp BD Produktivitas per KJA Waktu utk perbaiki inventory Krp BD Coverage inventori Krp BD SR selama penampungan Konversi Kg ke Ekor Survival rate Padat tebar KJA Perubahan jumlah KJA Tingkat produksi Krp BD diinginkan Tkt inventori KrpTingkat Permintaan diinginkan Kerapu BD Permintaan Kerapu Pasca Panen Jumlah KJA KJA Rusak Perubahan Exp demand Krp BD Demand Ikan Ukuran Konsumsi Waktu utk penambahan KJA Jumlah KJA dibutuhkan Lifetime KJA Expected demand BD Waktu untuk merubah ekpektasi demand Gambar 14 Struktur submodel peningkatan keuntungan industri pembesaran menggunakan program Powersim Studio. Deskripsi masingmasing elemen model dan hubungannya antar variabel maupun konstanta dalam model peningkatan keuntungan industri pembesaran perikanan diuraikan pada Tabel 12.

19 60 Tabel 12 Deskripsi elemen pada model peningkatan keuntungan industri pembesaran ikan Nama Unit Definisi pakan BD per ekor Rp/ekor BD Tak langsung Rp/mo input BD Rp/ekor BD per ekor Harga Inventory Kerapu BD Rp / mo (Faktor biaya invntory * Harga BD) * Inventory BD Pemeliharaan KJA Rp / mo pemel KJA per unit * jumlah KJA pemeliharaan KJA per Rp / induk unit / mo Kerapu BD Rp / mo BD * biaya input BD BD lainnya per ekor Rp/ekor 1908 produksi BD / ekor Rp/ekor pakan BD per ekor BD Lainnya Coverage inventory BD mo 1 Demand ikan ukuran konsumsi Kg/mo {2440,460,2090,10400,7696,10780, Expected demand BD ekor / mo Tkt permintaan per bulan Faktor biaya inventori %/m0 5 Harga BD Rp/ekor Inventory BD ekor Tkt inventory BD diinginkan Jumlah KJA KJA Jumlah KJA diinginkan Jumlah KJA dibutuhkan KJA 40 KJA Rusak Induk/mo Jumlah KJA / lifetime KJA Konversi Kg ke Ekor Ekor/kg 2 Lama Pembesaran mo NORMAL (5, 0.5) Lifetime KJA mo 60 Padat tebar per KJA ekor/induk/ NORMAL (500,50) 6 mo Pemasukan Pembesaran Rp / mo Penjualan BD * harga BD Pengeluaran Pembesaran Rp / mo inventory BD pemeliharaan Penjualan BD Tingkat permintaan BD Permintaan pascapanen Ekor/mo GRAPHSTEP(TIME,STARTTIME,1<<mo>>, Deman Ukan Ukuran Konsumsi) Konversi Kg ke Ekor Perubahan expected demand BD ekor/mo (tkt permintaan BDh / bulan Expected demand / waktu untuk merubah ekpektasi Perubahan jumlah KJA KJA/mo (Jumlah KJA dibutuhkanjumlah KJA)/Waktu untuk penembahan KJAKJA rusak. BD ekor / mo Jumlah KJA * produktivitas KJA Produktivitas per KJA ekor/mo/i nduk Padat tebar per KJA* Survival Rate Keuntungan pembesaran Rp / mo Pemasukan pembesaran pengeluaran pembesaran Survival rete ppanen % 90 Survival rate % NORMAL (80, 8) Tkt permintaan BD per ekor / mo bulan Tkt inventory diinginkan Total Keuntungan pembesaran Waktu untuk merubah ekspektasi Waktu utk penyediaan KJA mo 6 Keterangan: mo = bulan {2440, 460, 2090, 10400, dst...} ekor Expected demand * coverage inventory BD Rp mo 1

20 61 (3) Rancangbangun model peningkatan keuntungan subsistem penanganan pascapanen. Model peningkatan keuntungan penanganan pascapanen disusun untuk digunakan sebagai alat untuk mensimulasikan maksimalissi keuntungan pascapanen melalui minimalisasi inventori dan efisiensi penggunaan input produksi. Model tersebut disusun berdasarkan hubungan sebabakibat (causal loop diagram) sebagai berikut: Profit Pascapanen pemeliharaan KJA pemeliharaan KJA/unit Kerapu PP Pengeluaran Pascapanen Kerapu PP Kerapu PP/Ekr Produk tivitas KJA Jumlah KJA disediakan Kerapu PP Krp/Unit Kerapu BD Tkt Inventory Diinginkan Income Pasca Penen Harga Kerapu/ Ekor Coverage Krp PP Trend Permintaan Kerapu Expektasi Permintaan Krp PP Penjualan Kerapu PP Tkt Per mintaan Gambar 15 Diagram hubungan sebabakibat dalam model peningkatan keuntungan penanganan pascapanen.

21 62 Hubungan antar elemen yang terlibat dalam model peningkatan keuntungan pascapanen dapat didiskripsikan dalam formula sebagai berikut: Keuntungan Pascapanen = Income Pascapanen Pengeluaran Pascapanen. Income Pascapanen = Jumlah Penjualan Kerapu PP * Harga Kerapu PP. Pengeluaran pascapanen= pemeliharaan KJA Kerapu PP PP. PP = Jumlah KJA * Produktivitas / KJA. produksi Kerapu PP = produksi PP per ekor * Jumlah Pascapanen. inventori = Inventory/ekor * Inventory Pascapanen. Jumlah Pascapanen = Jumlah KJA PP * Produktivitas KJA PP. PP = Jumlah produksi PP jumlah penjualan PP. Tingkat inventori diinginkan = ekpektasi permintaan pascapanen * coverage pascapanen. pemeliharaan KJA = Jumlah KJA * pemeliharaan / unit. Model peningkatan keuntungan usaha pascapanen yang dirancang menggunakan program Powersim Studio dapat dilihat pada Gambar 16. Elemenelemen model disusun sesuai dengan sistem yang ada di lapangan, yaitu mengumpulkan, menyeleksi, menampung dan pemasarkan ikan ukuran konsumsi ke pasar, terutama pasar ekspor. Sesuai dengan kerangka konseptual pada Gambar 6, model ini ditujukan untuk dapat mensimulasikan proses peningkatan keuntungan pada industri penangan pascapanen dan pengelolaan inventori yang disesuaikan dengan fluktuasi permintaan pasar dan pasokan ikan hasil pembesaran atau dari sumbersumber lainnya seperti penangkapan, sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya kelebihan pasokan (over supply) atau kekurangan pasokan ikan ukuran konsumsi di pasaran.

22 63 pemel KJA PP per unit PP Tak Langsung Profit Pascapanen Total Profit Pascapanen Jumlah KJA PP Harga Kerapu BD pemel KJA PP input PP Bya PP per ekor Bya Pakan per ekor Bya PP lain per ekor produksi ppanen Pengeluaran Pasca panen PP per ekor Penyusutan PP Inventory Kerapu PP Pemasukan Pascapanen Harga Kerapu Pascapanen Faktor inventory krp PP penjualan PP krp Ppanen Produktivitas KJA Pasca panen Waktu utk perbaiki inventori Krp PP Coverage inventori Krp PP Konversi Kg ke Ekor SR selama penampungan Pdt tebar per KJA PP Tingkat produksi Krp PP diinginkan Tkt inventori Krp PP diinginkan Permintaan Kerapu Pasca Panen Demand Ikan Ukuran Konsumsi Jumlah KJA PP Perubahan jumlah KJA PP Rusak KJA PP Waktu utk penambahan KJA PP Lifetime KJA PP Jumlah KJA PP dibutuhkan Expected demand PP Perubahan Exp demand Krp PP Waktu untuk merubah ekpektasi demand Krp PP Gambar 16 Struktur submodel peningkatan keuntungan penanganan pascapanen. Deskripsi masingmasing elemen dan hubungannya antar variabel maupun konstanta pada model peningkatan keuntungan penanganan pascapanen perikanan dapat dilihat pada Tabel 13.

23 64 Tabel 13 Deskripsi elemen pada model peningkatan keuntungan industri pascapanen (PP) ikan Nama Unit Definisi Inventory Kerapu PP Rp / mo inventory PP per ekor * Inventory Pemeliharaan KJA Rp / mo pemel KJA per unit * jumlah KJA pemeliharaan KJA per Rp / induk / unit mo pengadaan per ekor ikan Rp/ekor Kerapu PP Rp / mo Pembenian BD * biaya pengadaan per ekor PP Lain per ekor Rp/ekor 2480 pakan per ekor Rp/ekor 5000 PP Tak langsung Rp/mo Coverage inventory PP mo 1 Demand ikan ukuran konsumsi Kg/mo {2440,460,2090,10400,7696,10780,...} Expected demand PP ekor / mo Tkt permintaan PP per bulan Faktor biaya inventori PP %/mo 10 Harga BD Rp/ekor Harga PP Rp/ekor Inventory PP ekor Tkt inventory PP diinginkan Jumlah KJA PP induk Jumlah KJA PP diinginkan Jumlah KJA PP diinginkan induk Tingkat produksi PP diinginkan/produktivitas KJA PP KJA PP Rusak Induk/mo Jumlah KJA PP / lifetime KJA PP Padat tebar per KJA ekor/induk/2 NORMAL (500,50) mo Produktivitas per KJA PP Ekor/mo/indu k Padat tebar per KJA PP * Survival Rate Keuntungan pascapanen Rp / mo Pemasukan pascapanen pengeluaran pascapanen Pembelian BD Ekor/mo DELAYMTR(Jumah KJA*Produktivitas KJA PP, Waktu tunda) Pengeluaran pascapanen Rp / mo inventory PP pemeliharaan PP Penjualan PP ekor / mo Tkt permintaan PP per bulan Penyusutan PP Rp/mo Permintaan pascapanen Ekor/mo GRAPHSTEP(TIME,STARTTIME,1<<mo>>, Deman Ukan Ukuran Konsumsi), Konversi Kg ke Ekor Perubahan expected demand PP ekor/mo (tkt permintaan PP / bulan Expected demand / waktu untuk merubah ekpektasi Perubahan Jumlah KJA PP KJA/mo (jumlah KJA dibutuhkan Jlh KJA)/waktu utk penambahan KJA PP KJA PP Rusak. Produktivitas per KJA PP ekor/mo/kja Padat tebar per KJA PP* Survival Rate Keuntungan Pascapanen Rp / mo Pemasukan pascapanen pengeluaran pascapanen. Survival rete ppanen % NORMAL (80, 8) Tkt inventory diinginkan ekor Expected demand * coverage inventory PP Total Keuntungan Pascapanen Rp Waktu tunda mo NORMAL (1.5, 0.15) Waktu untuk merubah mo 3 ekspektasi Waktu utk penyediaan KJA mo 6 Keterangan: mo = bulan

24 Rancangbangun model penguatan struktur agroindustri budi daya. Model penguatan struktur agroindustri budi daya dirancang bangun sebagai alat untuk dapat (1) mensimulasikan berapa besar kapasitas produksi yang harus dikembangkan untuk industri peman, pembesaran dan penanganan pascapanen secara nasional dan (2) mensimulasikan seberapa besar tingkat keuntungan yang diperoleh industri peman, pembesaran dan pascapanen pada kondisi lapangan. Pengetahuan tentang kapasitas produksi secara agregat diperlukan untuk menghindarkan terjadinya suplai yang berlebih (excess supply) yang sering terjadi pada industri pertanian dalam arti luas. Pengetahuan tentang pengaruh variabel produksi terhadap tingkat keuntungan tersebut akan sangat berguna dalam merumuskan kebijakan yang dapat mengatasi masalah ketimpangan pendapatan antar pelaku usaha yang menghambat pengembangan agroindustri budi daya. Faktor peubah utama yang menentukan perencanaan kapasitas produksi perikanan maupun perencanaan distribusi keuntungan antar pelaku usaha adalah volume permintaan konsumen dan perkembangan harga terutama di pasaran Hong Kong yang merupakan tujuan utama pemasaran ikan hidup. Semakin tinggi volume permintaan pasar maka makin besar industri yang bisa dikembangkan. Demikian pula sebaliknya semakin kecil permintaan pasar, semakin kecil pula produksi yang harus dihasilkan. Perubahan harga di pasaran akan berpengaruh terhadap tingkat keuntungan yang diperoleh. Model penguatan struktur agroindustri budi daya merupakan gabungan dari ke tiga model yang telah disusun terdahulu yaitu model peningkatan kinerja peman, model peningkatan kinerja budi daya dan model peningkatan kinerja pascapanen menjadi suatu kesatuan. Tujuan rancangbangun model ini adalah dapat mensimulasikan pengembangan kapasitas produksi serta pemerataan distribusi keuntungan antar ketiga pelaku usaha dalam agroindustri budi daya. Elemen yang terhimpun pada model industri perikanan ini serupa dengan elemen masingmasing model terdahulu dengan modifikasi pada hubungan elemen jumlah induk dan jumlah KJA serta penggabungan elemenelemen tersebut sehingga menjadi satu kesatuan.

25 66 Model penguatan struktur industri dirancang bangun berdasarkan alur pikir bahwa permintaan pasar di Hong Kong merupakan muara dari kegiatan produksi perikanan yang terdiri atas peman, pembesaran, penanganan pascapanen dan juga kegiatan penangkapan di alam (fishing). Pasar Hong Kong tersebut merupakan salah satu dari beberapa tujuan pasar ikan seperti Singapura, Taiwan, Jepang dan negaranegara lainnya. Permintaan ikan di pasaran Hong Kong ini dapat dijadikan sebagai barometer fluktuasi permintaan pasar ikan, sehingga produksi ikan melalui budi daya perlu mengantisipasi fluktuasi tersebut dengan mengatur jadwal dan kapasitas produksi sehingga menghindarkan terjadinya suplai yang berlebih (excess supply). Harmonisasi kegiatan produksi, pembesaran, maupun penanganan pascapanen dengan fluktuasi pasar dilakukan dengan menyusun model yang menggambarkan rangkaian kegiatan produksi yang saling terkait satu dengan lain. Keterkaitan antar elemen tersebut digambarkan dalam diagram sebabakibat (causal loop diagram) sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 17. Diagram sebabakibat tersebut terdiri atas tiga kegiatan (subsistem) utama, yaitu produksi (hatchery), produksi pembesaran, dan kegiatan pascapanen. Pada sisi paling kanan diagram tersebut terdapat variabel impor Hong Kong sebagai variabel yang menentukan perilaku model secara keseluruhan. Permintaan Hong Kong akan menentukan berapa besar permintaan di subsistem pascapanen yang secara berantai selanjutnya menentukan berapa besarnya penjualan pascapanen dan juga mempengaruhi ekspektasi terhadap permintaan di masa yang akan datang. Ekpektasi permintaan tersebut selanjutnya menentukan keinginan untuk memproduksi oleh pelaku pascapanen. Keinginan untuk memproduksi pascapanen ini akan diterjemahkan ke jumlah karamba jaring apung (KJA) yang harus disediakan. Jumlah karamba apung yang tersedia dimultiplikasikan dengan produktivitas setiap KJA akan menentukan jumlah produksi yang dihasilkan subsistem pascapanen. Basarnya produksi pada subsistem pascapanen selain menentukan persediaan (inventory) juga akan mempengaruhi tingkat permintaan pada subsistem pembesaran. Selanjutnya besarnya inventory akan menentukan keinginan (desired) produksi.

26 67 Harga input prod Jumlah induk Profit pembeni han inventori /unit Kerapu Tkt prod diinginkan inventori Income pemb. Penjualan Harga Tingkat permintaan Harga input prod BD BD Jumlah KJA BD Profit budidaya Kerapu BD krp BD inventori krp BD Income BD inventori /unit Tkt prod BD diinginkan Harga BD Penjualan BD Tingkat permintaan BD P.Panen krp PP Harga input prod PP Jumlah KJA PP Profit pascapa nen inventori /unit Kerapu P.Panen Tkt prod PP diinginkan inventori krp PP Tingkat permintaan PP Income PP Harga PP Penjualan P. panen Produkti vitas induk Ekspektasi permintaan Produkti vitas KJA Ekspektasi permintaan BD Produkti vitas KJA Ekspektasi permintaan PP Gambar 17 Diagram sebabakibat untuk model penguatan struktur agroindustri budi daya.

27 68 Hampir serupa dengan subsistem pascapanen, diagram sebabakibat pada subsistem pembesaran mempunyai perilaku yang sama, dimana permintaan ikan hasil pembesaran menentukan berapa besarnya penjualan hasil pembesaran dan juga mempengaruhi ekspektasi terhadap permintaan pembesaran di masa yang akan datang. Ekpektasi permintaan tersebut selanjutnya menentukan keinginan untuk memproduksi oleh pelaku pembesaran. Keinginan untuk memproduksi pembesaran ini akan diterjemahkan ke jumlah KJA yang harus disediakan. Jumlah karamba apung yang tersedia dimultiplikasikan dengan produktivitas setiap KJA akan menentukan jumlah produksi yang dihasilkan subsistem pembesaran. Basarnya produksi pada subsistem pembesaran selain menentukan persediaan (inventory) juga akan mempengaruhi tingkat permintaan pada subsistem peman. Selanjutnya besarnya inventory akan menentukan keinginan (desired) produksi pembesaran yang secara siklikal mempengaruhi variabel lainnya. Pada subsistem peman yang merupakan bagian hulu dari rangkaian produksi, permintaan yang dipengaruhi oleh produksi pada subsistem menentukan berapa besarnya penjualan dan juga mempengaruhi ekspektasi terhadap permintaan di masa yang akan datang. Ekpektasi permintaan tersebut selanjutnya menentukan keinginan untuk memproduksi oleh pelaku peman. Keinginan untuk memproduksi tersebut ini akan diterjemahkan ke jumlah induk yang harus disediakan. Jumlah induk yang tersedia dimultiplikasikan dengan produktivitas setiap induk akan menentukan jumlah produksi yang dihasilkan subsistem peman. Basarnya produksi pada subsistem peman ini akan menentukan persediaan (inventory). Selanjutnya besarnya inventory bersamasama dengan variabel expected demand akan menentukan keinginan (desired) produksi yang secara siklikal mempengaruhi variabel lainnya. Hubungan antar elemen dalam model prediksi kapasitas produksi dan prediksi tingkat keuntungan masingmasing pelaku sebagaimana dijelaskan di atas merupakan gambaran tentang aliran material dan aliran informasi dalam agroindustri budi daya. Model ini belum memasukkan aliran finansial yang mempengaruhi model dan akan dibahas dalam bagian lain yang membahas

28 69 distribusi keuntungan antar subsistem. Untuk memudahkan proses penyusunan model menggunakan Powersim Studio, maka hubungan antar elemen ini dideskripsikan sebagai berikut: Keuntungan Peman = Income Peman Pengeluaran peman. Income Peman = Jumlah Penjualan Benih * Harga Benih. Pengeluaran peman = produksi biaya pemeliharaan induk biaya inventori. produksi = produksi per ekor * Jumlah Benih. inventory = Inventory/ekor * Inventory Benih. Jumlah induk (t1) = Tkt produksi diinginkan (t1) / Produktivitas induk. Jumlah Benih = Jumlah Induk * Produktivitas induk. = Jumlah produksi jumlah penjualan. Tingkat inventori diinginkan (t1) = ekpektasi permintaan (t) * Coverage inventori (t). Keuntungan Pembesaran = Income Pembesaran Pengeluaran Pembesaran. Income Pembesaran = Jumlah Penjualan Kerapu BD * Harga Kerapu BD. Pengeluaran pembesaran = pemeliharaan KJA Kerapu BD BD. BD = Jumlah KJA * Produktivitas / KJA. produksi Kerapu BD = produksi BD per ekor * Jumlah Pembesaran. inventori = Inventory/ekor * Inventory Pembesaran. Jumlah Pembesaran = Jumlah KJA BD * Produktivitas KJA BD. = Jumlah produksi jumlah penjualan. Tingkat inventori diinginkan = ekpektasi permintaan pembesaran * coverage pembesaran. Keuntungan Pascapanen = Income Pascapanen Pengeluaran Pascapanen. Income Pascapanen = Jumlah Penjualan Kerapu PP * Harga Kerapu PP. Pengeluaran pascapanen= pemeliharaan KJA Kerapu PP PP. PP = Jumlah KJA * Produktivitas / KJA produksi Kerapu PP = produksi PP per ekor * Jumlah Pascapanen. inventori = Inventory/ekor * Inventory Pascapanen.

29 70 Jumlah Pascapanen = Jumlah KJA PP * Produktivitas KJA PP. PP = Jumlah produksi PP jumlah penjualan krp PP. Tingkat inventori diinginkan = ekpektasi permintaan pascapanen * coverage pascapanen. Permintaan pascapanen = (permintaan Hong Kong * market share Indonesia ). Penjualan pascapanen = min (permintaan pascapanen, inventory pascapanen ). Expected demand pascapanen (t1) = tingkat permintaan pasca panen t (tingkat permintaan pascapanen t * rate kenaikan). Desired produksi pascapanen (t1) = Expected demand PP (t1) (Tkt inventori KrpPP diinginkan (t1) krp Ppanen (t) ) / Waktu utk perbaiki inventori Krp PP. Jumlah KJA PP = Tingkat produksi Krp PP diinginkan / Produktivitas KJA Pascapanen. Permintaan pembesaran (t1) = produksi PP (t1) (tingkat mortalitas * produksi PP (t1) ). Penjualan pembesaran = min (permintaan pembesaran, inventory pembesaran ). Expected demand pembesaran (t1) = tkt permintaan krp pembesaran (t) (tingkat permintaan pembesaran (t) * rate kenaikan). Desired produksi pembesaran (t1) = Expected demand BD (t1) ('Tkt inventori Krp BD diinginkan (t1) krp BD (t1) ) /'Waktu utk perbaiki inventori Krp BD. Jumlah KJA BD = Tingkat produksi Krp BD diinginkan/produktivitas KJA Pembesaran. Permintaan (t1) = produksi BD (t) ( tingkat mortalitas * produksi BD (t) ). Penjualan (t1) = min (permintaan (t1), inventory (t1) ). Expected demand (t1) = tingkat permintaan (t) (tingkat permintaan (t) * rate kenaikan). Desired produksi (t1) = Expected demand (t1) (Tkt inventori diinginkan (t1) krp (t1) ) /Waktu utk perbaiki inventori Krp.

30 71 Diagram sebabakibat dan deskripsi hubungan antar elemen pada model penguatan struktur agroindustri budi daya ini selanjutnya diterjemahkan ke dalam model komputer menggunakan pemrograman Powersim Studio. Model ini selanjutnya dinamakan dengan Model Manajemen Agroindustri Kerapu, disingkat dengan Model MAGRIPU. Struktur model pengelolaan agroindustri budi daya yang merupakan struktur menyeluruh dari model yang dibuat dapat dilihat pada Gambar 18. Model ini menggambarkan agroindustri budi daya mulai dari peman, pembesaran, agroindustri, dan pemasaran ikan. Model ini dirancang untuk dapat mensimulasikan kapasitas produksi optimal peman, pembesaran dan pascapanen proses serta optimasi distribusi keuntungan yang diperoleh masingmasing pelaku usaha. Di samping itu, model tersebut dapat juga digunakan untuk mengatahui rantai pasokan (supply chain) dimana pelakupelakunya yang terdiri atas pemasok bahan baku, fasilitas produksi, jasa distribusi dan pelanggan dihubungkan (linked) satu dengan lainnya melalui aliran material ke depan (feedforward flow) dan aliran informasi ke belakang (feedback flow).

31 72 pemel KJA PP per unit Tak Langsung Total Profit Peman pemel KJA per unit Total Profit Budidaya PP Tak Langsung Total Profit Pascapanen Profit peman BD Tak Langsung Profit budidaya Profit Pascapanen pemel induk per ekor pemel induk By Pakan Bnh per ekor Survival rate Waktu utk penyediaan induk baru Pengeluaran Peman By lainnya per ekor Fekunditas induk Prod Bnh per ekr Penyediaan induk baru Delay produksi Produktivitas induk Waktu utk perbaiki inventori Prosentase induk memijah Jumlah induk Penyusutan Kematian Induk Lifetime induk Pemasukan Peman Inventory Benih Faktor inventory penjualan Coverage inventori Bnh Tkt inventori diinginkan Tingkat produksi diinginkan Expected demand Harga Benih Tkt permintaan per bulan Perubahan Exp demand Jumlah KJA Bi Pkn BD per ekor By BD lainnya per ekor pemel KJA Survival rate produksi BD Produktivitas per KJA Waktu utk penambahan KJA input BD By Prod BD per ekor Delay1 Pengeluaran Budidaya Padat tebar KJA Perubahan jumlah KJA per ekor krp BD Waktu utk perbaiki inventory Krp BD Jumlah KJA KJA Rusak Jumlah KJA dibutuhkan Penyusutan BD Tingkat produksi Krp BD diinginkan Lifetime KJA Inventory Kerapu BD Pemasukan Budidaya Faktor inventory krp BD penjualan BD Coverage inventori Krp BD Tkt inventori Krp diinginkan Expected demand BD Jumlah KJA PP Harga Kerapu BD Tingkat Permintaan Kerapu BD Perubahan Exp demand Krp BD pemel KJA PP input PP Bya PP per ekor Bya Pakan per ekor Delay2 Bya PP lain per ekor produksi ppanen Produktivitas KJA Pasca panen Pengeluaran Pasca panen PP per ekor Pdt tebar per KJA PP SR selama penampungan krp Ppanen Waktu utk perbaiki inventori Krp PP Jumlah KJA PP Perubahan jumlah KJA KJA PP Rusak PP Waktu utk penambahan KJAPP Lifetime KJA PP Jumlah KJA PP dibutuhkan Penyusutan PP Inventory Kerapu PP Tingkat produksi Krp PP diinginkan Pemasukan Pascapanen Harga Kerapu Pascapanen Faktor inventory krp PP penjualan PP Coverage inventori Krp PP Tkt inventori Krp PP diinginkan Expected demand PP Konversi Kg ke Ekor Permintaan Kerapu Pasca Panen Perubahan Exp demand Krp PP Demand Ikan Ukuran Konsumsi Waktu untuk merubah ekpektasi demand Krp PP Produktivitas induk Jumlah induk diinginkan Waktu untuk merubah ekpektasi Produktivitas per KJA Produktivitas KJA Waktu untuk merubah Pasca panen ekpektasi demand Gambar 18 Struktur model manajemen agroindustri (MAGRIPU) menggunakan program Powersim Studio.

32 Pengujian Model Verifikasi model Verifikasi terhadap model komputer MAGRIPU dilakukan untuk meyakinkan bahwa program komputer dan implementasi dari model konseptual adalah benar. Menurut Sargent (1998), jenis bahasa komputer yang digunakan akan mempengaruhi diperolehnya program yang benar. Penggunaan bahasa simulasi untuk tujuan khusus (special purpose) seperti halnya penggunaan POWERSIM STUDIO untuk pemodelan sistem dinamik, akan menghasilkan tingkat kesalahan yang relatif lebih sedikit dibandingkan dengan penggunaan bahasa simulasi yang general purpose. Verifikasi terhadap model komputer pertamatama dilakukan dengan menguji keabsahan tandatanda aljabar dan kepangkatan dilakukan dengan mencermati persamaanpersamaan yang digunakan sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 11, Tabel 12, dan Tabel 13. Persamaanpersamaan tersebut merupakan bagian yang ditampilkan pada pemrograman Powersim Studio Versi Persamaanpersamaan yang digunakan dalam model ini sebagian besar merupakan persamaan sederhana yang menggambarkan penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Proses verifikasi terhadap model komputer MAGRIPU secara otomatis dilakukan oleh paket program Powersim Studio. Apabila terdapat hubungan yang tidak logis maka program tersebut tidak dapat dijalankan (di run ) dan menunjukkan tanda tanda tertentu seperti? pada variabelvariabel atau hubungan antar variabel yang tidak logis. Hubungan yang tidak logis tersebut terutama akan dapat terdeteksi apabila satuan yang digunakan pada variabel yang dihubungkan satu dengan lain tidak sama (match). Apabila pada model yang dirancang sudah tidak ditemukan lagi tandatanda yang mencerminkan hubungan yang tidak logis maka model tersebut telah dianggap dapat dioperasikan. Proses verifikasi terhadap model komputer, selain dilakukan sebelum model divalidasi, juga dilakukan setelah proses validasi model. Proses tersebut dilakukan secara iteratif termasuk memodifikasi struktur model komputer untuk memperoleh hasil yang memuaskan dan sesuai dengan tujuan penyusunan model, yaitu untuk memprediksi proses peningkatan keuntungan pada peman,

33 74 pembesaran dan pascapanen, serta model untuk memprediksi kapasitas produksi optimal dan distribusi keuntungan ke tiga subsistem tersebut dalam sistem agroindustri budi daya Validasi model Validasi model adalah proses menguji substansi model, yaitu sejauh mana model komputer yang dibuat dalam lingkup aplikasinya memiliki kisaran akurasi yang memuaskan, konsisten dengan tujuan dari penerapan model. Sesuai dengan yang dikemukakan oleh Sargent (1998), atribut yang digunakan dalam proses validasi sangat dipengaruhi oleh kondisi sistem yang digunakan dalam model tersebut apakah dapat diobservasi (observable system) atau tidak dapat diobservasi (non observable system). Sistem tersebut dapat diobservasi apabila dimungkinkan untuk mengumpulkan data di dunia nyata tentang perilaku operasional dari sistem yang dikaji. Dalam kasus penelitian ini, tidak dimungkinkan untuk memperoleh data lapangan mengenai pengaruh faktor produksi peman, budi daya dan pascapanen terhadap tingkat keuntungan masingmasing subsistem, sehingga dikategorikan sebagai non observable system. Data lapangan yang tersedia pada umumnya hanya meliputi hubungan antara dua variabel misalnya antara jumlah pekan dengan pertumbuhan, tetapi pengaruh gabungan faktorfaktor produksi misalnya pakan, penggunaan vaksin dan unggul terdapat pertumbuhan ikan tidak dapat diperoleh. Untuk kasus non observable system seperti ini, maka proses validasi terhadap model dilakukan dengan mengeksplor perilaku model atau membandingkannya dengan model lainnya. Eksplorasi terhadap perilaku model pada prinsipnya adalah penggunaan model tersebut dalam proses simulasi untuk mengetahui pengaruh faktorfaktor produksi terhadap perilaku model. Proses simulasi yang dilakukan dalam penelitian ini pada kenyataannya dilakukan secara iteratif sekaligus menguji apakah keluaran yang dihasilkan berupa grafik maupun angkaangka masih logis, misalnya tidak ada angka produksi atau inventory yang di bawah nol (negatif). Proses tersebut dilakukan secara berulangulang hingga tidak ditemukan lagi keganjilan dan terbentuk model yang sempurna. Validasi model dalam penelitian ini yang dilakukan bersamaan dengan proses simulasi dilaksanakan terhadap submodel peningkatan keuntungan industri

34 75 peman, submodel peningkatan keuntungan industri budi daya dan submodel peningkatan keuntungan industri pascapanen. Ketiga submodel ini dirangkaikan menjadi satu kesatuan yang membentuk model penguatan struktur agroindustri budi daya yang digunakan dalam analisis kapasitas produksi dan pemerataan distribusi keuntungan. Validasi terhadap model penguatan struktur industri perikanan yang merupakan penggabungan dari submodel yang membentuknya dengan demikian akan mencerminkan tingkat validitas bagianbagian yang membentuknya. Dalam proses validasi ini terlihat bahwa keluaran yang ditunjukkan dalam proses simulasi menunjukkan perilaku yang sesuai dengan tujuan dari model Analisis sensitivitas Analisa sensitivitas dilakukan untuk menentukan peubah keputusan mana yang cukup penting ditelaah lebih lanjut pada aplikasi model. Peubah keputusan yang ditelaah tingkat kepentingannya diutamakan pada peubahpeubah yang bersifat teknis seperti tingkat mortalitas atau ikan yang dipelihara, tingkat fekunditas induk, dan persentase jumlah induk memijah terhadap tingkat keuntungan industri peman. Analisis sensitivitas pada industri budi daya menggunakan peubah tingkat mortalitas, padat penebaran dan lama budi daya terhadap tingkat keuntungan yang diperoleh. Berdasarkan analisis ini maka faktorfaktor yang kurang penting dapat dihilangkan sehingga pemusatan studi dapat lebih ditekankan pada peubah keputusan kunci serta menaikkan efisiensi dari proses pengambilan keputusan. Analisis sensitivitas terhadap peubahpeubah pada model peman dilakukan dengan menggunakan program powersim studio. Hasil analisis menunjukkan bahwa semua peubah teknis seperti tingkat mortalitas, padat penebaran dan persentase induk memijah sensitif terhadap tingkat keuntungan yang diperoleh. Untuk model pembesaran, peubahpeubah yang sensitif terhadap tingkat keuntungan yang diperoleh adalah tingkat mortalitas pembesaran, padat penebaran dan lama pembesaran. Sementara itu untuk model pascapanen, peubah yang sensitif terhadap tingkat keuntungan yang diperoleh adalah tingkat mortalitas, padat penebaran dan lama pascapanen.

35 Analisis stabilitas Analisis stabilitas dilakukan untuk menguji sejauh mana model tersebut bersifat stabil. Perilaku tidak stabil dapat terjadi apabila parameter diberi nilai yang di luar batas tertentu sehingga mengakibatkan perilaku acak dan tidak mempunyai pola yang tidak realistik. Parameterparameter yang diberi nilai di luar batas untuk analisa stabilitas antara lain adalah volume permintaan ikan atau tingkat harga yang turun hingga level terendah, atau kelangkaan pakan ikan dan lainlain. Analisis stabilitas dilakukan dengan mengantiganti harga, berturutturut sebesar Rp 6.000,/ekor, menjadi Rp 8.000, / ekor dan Rp , per ekor telah merubah tingkat pendapatan peman masingmasing Rp ,, Rp , dan Rp , per tahun. Perubahan harga tersebut berpengaruh juga terhadap pendapatan subsistem pembesaran dan subsistem pascapanen, namun dengan kisaran yang jauh lebih kecil dibanding pendapatan peman. Hasil ini menunjukkan bahwa model yang dirancang menunjukkan stabilitas. 5.4 Pengoperasian Model Pengoperasian model komputer yang telah disusun dilakukan dengan menggunakan program operasi POWERSIM STUDIO versi Model yang dioperasikan terdiri atas 5 (lima) submodel, yaitu submodel peningkatan keuntungan peman, submodel peningkatan keuntungan pembesaran, submodel peningkatan keuntungan pascapanen, submodel perencanaan kapasitas produksi optimal, dan submodel pemerataan distribusi keuntungan. Dengan menggunakan submodel tersebut maka dapat dilakukan simulasi untuk maksimalisasi maupun optimalisasi tujuan yang ingin dicapai. Manual untuk pengoperasian model simulasi ke lima submodel tersebut dapat dilihat pada Lampiran 9. Dalam manual tersebut diberikan petunjuk dan tuntunan untuk mengoperasikan program simulasi tersebut secara user friendly. Hasilhasil pengoperasian model komputer tersebut sebagian besar ditampilkan pada Bab 6.

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagai negara kepulauan dengan luas wilayah daratan 1,9 juta km 2 dan wilayah laut 5,8 juta km 2 dan panjang garis pantai 81.290 km, Indonesia memiliki potensi sumber

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Dari penelitian Rancang Bangun Model Dinamis Pengelolaan Agroindustri

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Dari penelitian Rancang Bangun Model Dinamis Pengelolaan Agroindustri BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Dari penelitian Rancang Bangun Model Dinamis Pengelolaan Agroindustri Perikanan Lele Lahan Kering didapatkan kesimpulan, bahwa: 1. Penelitian ini telah menghasilkan

Lebih terperinci

V. PENDEKATAN SISTEM 5.1. Analisis Kebutuhan Pengguna 1.) Petani

V. PENDEKATAN SISTEM 5.1. Analisis Kebutuhan Pengguna 1.) Petani V. PENDEKATAN SISTEM Sistem merupakan kumpulan gugus atau elemen yang saling berinteraksi dan terorganisasi untuk mencapai suatu tujuan atau serangkaian tujuan. Pendekatan sistem merupakan metode pemecahan

Lebih terperinci

3.3. PENGEMBANGAN MODEL

3.3. PENGEMBANGAN MODEL Selain teknologi pemupukan dan OPT, mekanisasi merupakan teknologi maju yang tidak kalah penting, terutama dalam peningkatan kapasitas kerja dan menurunkan susut hasil. Urbanisasi dan industrialisasi mengakibatkan

Lebih terperinci

Tabel 14 Kebutuhan aktor dalam agroindustri biodiesel

Tabel 14 Kebutuhan aktor dalam agroindustri biodiesel 54 ANALISIS SISTEM Sistem pengembangan agroindustri biodiesel berbasis kelapa seperti halnya agroindustri lainnya memiliki hubungan antar elemen yang relatif kompleks dan saling ketergantungan dalam pengelolaannya.

Lebih terperinci

MODEL KELEMBAGAAN PERTANIAN DALAM RANGKA MENDUKUNG OPTIMASI PRODUKSI PADI

MODEL KELEMBAGAAN PERTANIAN DALAM RANGKA MENDUKUNG OPTIMASI PRODUKSI PADI 2004 Pribudiarta Nur Posted 22 June 2004 Sekolah Pasca Sarjana IPB Makalah pribadi Pengantar ke Falsafah Sains (PPS702) Sekolah Pasca Sarjana / S3 Institut Pertanian Bogor Juni 2004 Dosen: Prof Dr Ir Rudy

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lain yang sesuai dengan kebutuhan ternak terutama unggas. industri peternakan (Rachman, 2003). Selama periode kebutuhan

BAB I PENDAHULUAN. lain yang sesuai dengan kebutuhan ternak terutama unggas. industri peternakan (Rachman, 2003). Selama periode kebutuhan BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Di daerah tropis seperti Indonesia, jagung memiliki kontribusi sebagai komponen industri pakan. Lebih dari 50% komponen pakan pabrikan adalah jagung. Hal ini

Lebih terperinci

4 ANALISIS SISTEM 4.1 Kondisi Rantai Pasok Jagung

4 ANALISIS SISTEM 4.1 Kondisi Rantai Pasok Jagung 47 4 ANALISIS SISTEM 4.1 Kondisi Rantai Pasok Jagung Rantai pasok jagung merupakan suatu rangkaian kegiatan mulai dari kegiatan pada sentra jagung, pedagang atau pengumpul, pabrik tepung jagung, hingga

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA SISTEM

BAB IV ANALISA SISTEM 71 BAB IV ANALISA SISTEM 4.1. Analisa Situasional Agroindustri Sutera Agroindustri sutera merupakan industri pengolahan yang menghasilkan sutera dengan menggunakan bahan baku kokon yaitu kepompong dari

Lebih terperinci

3 METODOLOGI 3.1 Kerangka Pemikiran

3 METODOLOGI 3.1 Kerangka Pemikiran 19 3 METODOLOGI 3.1 Kerangka Pemikiran Pemikiran utama yang melandasi perlunya penelitian ini adalah bahwa industri kerapu budi daya di Indonesia belum dapat berkembang dengan pesat, sedangkan potensi

Lebih terperinci

VII. IMPLEMENTASI MODEL

VII. IMPLEMENTASI MODEL VII. IMPLEMENTASI MODEL A. HASIL SIMULASI Simulasi model dilakukan dengan menggunakan data hipotetik berdasarkan hasil survey, pencarian data sekunder, dan wawancara di lapangan. Namun dengan tetap mempertimbangkan

Lebih terperinci

METODOLOGI Kerangka Pemikiran

METODOLOGI Kerangka Pemikiran METODOLOGI Kerangka Pemikiran Semakin berkembangnya perusahaan agroindustri membuat perusahaanperusahaan harus bersaing untuk memasarkan produknya. Salah satu cara untuk memenangkan pasar yaitu dengan

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI SISTEM PERIKANAN TERI (STOLEPHORUS SPP) DI DESA SUNGSANG BANYUASIN SUMATERA SELATAN

IDENTIFIKASI SISTEM PERIKANAN TERI (STOLEPHORUS SPP) DI DESA SUNGSANG BANYUASIN SUMATERA SELATAN PG-122 IDENTIFIKASI SISTEM PERIKANAN TERI (STOLEPHORUS SPP) DI DESA SUNGSANG BANYUASIN SUMATERA SELATAN Fauziyah 1,, Khairul Saleh 2, Hadi 3, Freddy Supriyadi 4 1 PS Ilmu Kelautan Universitas Sriwijaya

Lebih terperinci

5 KINERJA, SUMBER RISIKO, DAN NILAI TAMBAH RANTAI PASOK BUAH MANGGIS DI KABUPATEN BOGOR

5 KINERJA, SUMBER RISIKO, DAN NILAI TAMBAH RANTAI PASOK BUAH MANGGIS DI KABUPATEN BOGOR 5 KINERJA, SUMBER RISIKO, DAN NILAI TAMBAH RANTAI PASOK BUAH MANGGIS DI KABUPATEN BOGOR 5.1 Kinerja Rantai Pasok Kinerja rantai pasok merupakan ukuran kinerja secara keseluruhan rantai pasok tersebut (Chopra

Lebih terperinci

ANALISIS STRUKTUR-PERILAKU-KINERJA PEMASARAN SAYURAN BERNILAI EKONOMI TINGGI

ANALISIS STRUKTUR-PERILAKU-KINERJA PEMASARAN SAYURAN BERNILAI EKONOMI TINGGI LAPORAN KEGIATAN KAJIAN ISU-ISU AKTUAL KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERTANIAN 2013 ANALISIS STRUKTUR-PERILAKU-KINERJA PEMASARAN SAYURAN BERNILAI EKONOMI TINGGI Oleh: Erwidodo PUSAT SOSIAL EKONOMI DAN KEBIJAKAN

Lebih terperinci

BAB 1. PENDAHULUAN. Indonesia. Bawang merah bagi Kabupaten Brebes merupakan trademark

BAB 1. PENDAHULUAN. Indonesia. Bawang merah bagi Kabupaten Brebes merupakan trademark BAB 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kapupaten Brebes merupakan sentra produksi bawang merah terbesar di Indonesia. Bawang merah bagi Kabupaten Brebes merupakan trademark mengingat posisinya sebagai

Lebih terperinci

4.3. PENGEMBANGAN MODEL

4.3. PENGEMBANGAN MODEL terhadap berbagai aspek kehidupan (Amang dan Sapuan, 2000). Oleh karena itu, pengembangan sistem produksi kedelai nasional menuju swasembada dengan sistem modeling merupakan salah satu upaya untuk mendapatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat mendukung untuk pengembangan usaha perikanan baik perikanan

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat mendukung untuk pengembangan usaha perikanan baik perikanan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan suatu Negara yang memiliki kawasan perairan yang hampir 1/3 dari seluruh kawasannya, baik perairan laut maupun perairan tawar yang sangat

Lebih terperinci

XI. PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI UBI KAYU

XI. PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI UBI KAYU XI. PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI UBI KAYU Ubi kayu menjadi salah satu fokus kebijakan pembangunan pertanian 2015 2019, karena memiliki beragam produk turunan yang sangat prospektif dan berkelanjutan sebagai

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Ubi kayu mempunyai peran cukup besar dalam memenuhi kebutuhan pangan

I. PENDAHULUAN. Ubi kayu mempunyai peran cukup besar dalam memenuhi kebutuhan pangan 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Ubi kayu mempunyai peran cukup besar dalam memenuhi kebutuhan pangan maupun mengatasi ketimpangan ekonomi dan pengembangan industri. Pada kondisi rawan pangan,

Lebih terperinci

ANALISIS KELAYAKAN PERLUASAN USAHA PEMASOK IKAN HIAS AIR TAWAR Budi Fish Farm Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor. Oleh: DWIASIH AGUSTIKA A

ANALISIS KELAYAKAN PERLUASAN USAHA PEMASOK IKAN HIAS AIR TAWAR Budi Fish Farm Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor. Oleh: DWIASIH AGUSTIKA A ANALISIS KELAYAKAN PERLUASAN USAHA PEMASOK IKAN HIAS AIR TAWAR Budi Fish Farm Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor Oleh: DWIASIH AGUSTIKA A 14105665 PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN. Tahun Manggis Pepaya Salak Nanas Mangga Jeruk Pisang

1 PENDAHULUAN. Tahun Manggis Pepaya Salak Nanas Mangga Jeruk Pisang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki sumber daya buah tropis yang melimpah yang bisa diandalkan sebagai kekuatan daya saing nasional secara global dan sangat menjanjikan. Buah tropis adalah

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. Indonesia memiliki sektor pertanian yang terus dituntut berperan dalam

1. PENDAHULUAN. Indonesia memiliki sektor pertanian yang terus dituntut berperan dalam 1 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Indonesia memiliki sektor pertanian yang terus dituntut berperan dalam perekonomian nasional melalui pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB), perolehan devisa,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kopi merupakan salah satu komoditas ekspor unggulan subsektor perkebunan

I. PENDAHULUAN. Kopi merupakan salah satu komoditas ekspor unggulan subsektor perkebunan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kopi merupakan salah satu komoditas ekspor unggulan subsektor perkebunan yang memegang peranan penting dalam perdagangan dan perekonomian negara. Kopi berkontribusi cukup

Lebih terperinci

Gambar 15 Diagram model sistem dinamis pengambilan keputusan kompleks pengembangan agroindustri gula tebu.

Gambar 15 Diagram model sistem dinamis pengambilan keputusan kompleks pengembangan agroindustri gula tebu. 52 6 PENGEMBANGAN MODEL 6.1 Analisis model sistem dinamis agroindustri gula tebu Sesuai dengan metodologi, maka rancang bangun sistem dinamis bagi pengambilan keputusan kompleks pada upaya pengembangan

Lebih terperinci

4. ANALISIS SITUASIONAL

4. ANALISIS SITUASIONAL 29 4. ANALISIS SITUASIONAL Kinerja Sistem Komoditas Udang Komoditas udang Indonesia pernah mencatat masa keemasan sekitar tahun 1980 an, ditandai dengan komoditas udang windu menjadi primadona ekspor yang

Lebih terperinci

Pengembangan Jagung Nasional Mengantisipasi Krisis Pangan, Pakan dan Energi Dunia: Prospek dan Tantangan

Pengembangan Jagung Nasional Mengantisipasi Krisis Pangan, Pakan dan Energi Dunia: Prospek dan Tantangan Pengembangan Jagung Nasional Mengantisipasi Krisis Pangan, Pakan dan Energi Dunia: Prospek dan Tantangan Anton J. Supit Dewan Jagung Nasional Pendahuluan Kemajuan teknologi dalam budidaya jagung semakin

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri pangan menjadi salah satu industri terbesar di Indonesia dalam hal jumlah perusahaan dan nilai tambah. Dengan meningkatnya jumlah penduduk Indonesia, maka kebutuhan

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Gambar 7 Lokasi penelitian di perairan dangkal Semak Daun.

METODE PENELITIAN. Gambar 7 Lokasi penelitian di perairan dangkal Semak Daun. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Wilayah Perairan Semak Daun, Kelurahan Pulau Panggang, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu (KAKS) Daerah Khusus bukota Jakarta

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS

KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS III. KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS 3.1. Teori Perdagangan Internasional Teori tentang perdagangan internasional telah mengalami perkembangan yang sangat maju, yaitu dimulai dengan teori klasik tentang keunggulan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan ekonomi daerah seyogyanya bertumpuh pada sumberdaya lokal yang dimiliki dan aktivitas ekonomi yang mampu melibatkan dan menghidupi sebagian besar penduduk. Pemanfaatan

Lebih terperinci

PEMBESARAN BANDENG DI KERAMBA JARING APUNG (KJA)

PEMBESARAN BANDENG DI KERAMBA JARING APUNG (KJA) PEMBESARAN BANDENG DI KERAMBA JARING APUNG (KJA) Usaha pembesaran bandeng banyak diminati oleh orang dan budidaya pun tergolong cukup mudah terutama di keramba jaring apung (KJA). Kemudahan budidaya bandeng

Lebih terperinci

INDIKATOR KINERJA MINAPOLITAN, INDUSTRIALISASI KP DAN BLUE ECONOMY SUNOTO, MES, PHD PENASEHAT MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN BATAM, 22 SEPTEMBER 2014

INDIKATOR KINERJA MINAPOLITAN, INDUSTRIALISASI KP DAN BLUE ECONOMY SUNOTO, MES, PHD PENASEHAT MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN BATAM, 22 SEPTEMBER 2014 INDIKATOR KINERJA MINAPOLITAN, INDUSTRIALISASI KP DAN BLUE ECONOMY SUNOTO, MES, PHD PENASEHAT MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN BATAM, 22 SEPTEMBER 2014 INTEGRASI MINAPOLITAN, INDUSTRIALISASI, DAN BLUE ECONOMY

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Kelayakan Proyek Proyek adalah suatu keseluruhan aktivitas yang menggunakan sumber-sumber untuk mendapatkan kemanfaatan (benefit),

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. permasalahan yang sama, yaitu persaingan dalam industrinya sehingga perusahaan

BAB I PENDAHULUAN. permasalahan yang sama, yaitu persaingan dalam industrinya sehingga perusahaan BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG PENELITIAN Pada era globalisasi ini, setiap perusahaan menghadapi situasi serta permasalahan yang sama, yaitu persaingan dalam industrinya sehingga perusahaan harus

Lebih terperinci

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Agroindustri Kerapu Budi Daya

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Agroindustri Kerapu Budi Daya 9 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Agroindustri Kerapu Budi Daya Agroindustri adalah kegiatan usaha yang memproses bahan nabati atau hewani. Proses tersebut mencakup perubahan dan pengawetan melalui perwakilan fisik

Lebih terperinci

III. KERANGKA TEORI. sisi produksi maupun pasar, disajikan pada Gambar 1. Dari sisi produksi,

III. KERANGKA TEORI. sisi produksi maupun pasar, disajikan pada Gambar 1. Dari sisi produksi, III. KERANGKA TEORI Pasar jagung, pakan dan daging ayam ras di Indonesia dapat dilihat dari sisi produksi maupun pasar, disajikan pada Gambar 1. Dari sisi produksi, keterkaitan ketiga pasar tersebut dapat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi dan kemajuan ekonomi dewasa ini. memacu pertumbuhan industri di segala bidang, termasuk industri hasil

I. PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi dan kemajuan ekonomi dewasa ini. memacu pertumbuhan industri di segala bidang, termasuk industri hasil I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan teknologi dan kemajuan ekonomi dewasa ini memacu pertumbuhan industri di segala bidang, termasuk industri hasil pertanian atau agroindustri yang banyak dikonsumsi

Lebih terperinci

ANALISA SISTEM. Analisa Situasional

ANALISA SISTEM. Analisa Situasional ANALISA SISTEM Metodologi sistem didasari oleh tiga pola pikir dasar keilmuan tentang sistem, yaitu (1) sibernetik, atau berorientasi pada tujuan. Pendekatan sistem dimulai dengan penetapan tujuan melalui

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia menjadi negara kepulauan terbesar yang ada di wilayah Asia Tenggara.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia menjadi negara kepulauan terbesar yang ada di wilayah Asia Tenggara. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan sektor kelautan Indonesia yang cukup signifikan dan Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat luas yang dikelilingi oleh perairan dan Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia terdiri atas perairan yang di dalamnya terdapat beraneka kekayaan laut yang

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia terdiri atas perairan yang di dalamnya terdapat beraneka kekayaan laut yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan (archipelagic state) terluas di dunia dengan jumlah pulau sebanyak 17.504 buah dan panjang garis pantai mencapai 104.000 km (Putra,

Lebih terperinci

VII. KINERJA LEMBAGA PENUNJANG PEMASARAN DAN KEBIJAKAN PEMASARAN RUMPUT LAUT. menjalankan kegiatan budidaya rumput laut. Dengan demikian mereka dapat

VII. KINERJA LEMBAGA PENUNJANG PEMASARAN DAN KEBIJAKAN PEMASARAN RUMPUT LAUT. menjalankan kegiatan budidaya rumput laut. Dengan demikian mereka dapat VII. KINERJA LEMBAGA PENUNJANG PEMASARAN DAN KEBIJAKAN PEMASARAN RUMPUT LAUT 7.1. Kinerja Lembaga Penunjang Pengembangkan budidaya rumput laut di Kecamatan Mangarabombang membutuhkan suatu wadah sebagai

Lebih terperinci

Perencanaan Inventori Bahan Baku SPM Dengan Model P Back Order

Perencanaan Inventori Bahan Baku SPM Dengan Model P Back Order Perencanaan Inventori Bahan Baku SPM Dengan Model P Back Order Edi Junaedi 1, Lely Herlina 2, Evi Febianti 3 1, 2, 3 Jurusan Teknik Industri Universitas Sultan Ageng Tirtayasa [email protected] 1,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Hutan Rakyat 2.1.1 Definisi hutan rakyat Definisi Hutan rakyat dapat berbeda-beda tergantung batasan yang diberikan. Hutan rakyat menurut Undang-undang No. 41 tahun 1999

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

1 PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Kemandirian pangan pada tingkat nasional diartikan sebagai kemampuan suatu bangsa untuk menjamin seluruh penduduknya memperoleh pangan yang cukup, mutu yang layak dan aman

Lebih terperinci

Lampiran 1. Sebaran Bulanan Kebutuhan dan Ketersediaan Beras Tahun 2011 (ARAM II) Sumber : Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 2011

Lampiran 1. Sebaran Bulanan Kebutuhan dan Ketersediaan Beras Tahun 2011 (ARAM II) Sumber : Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 2011 LAMPIRAN Lampiran 1. Sebaran Bulanan Kebutuhan dan Ketersediaan Beras Tahun 2011 (ARAM II) Sumber : Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 2011 Lampiran 2. Rincian Luas Lahan dan Komponen Nilai Input Petani

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN MODEL DINAMIS PENGELOLAAN AGROINDUSTRI KERAPU

RANCANG BANGUN MODEL DINAMIS PENGELOLAAN AGROINDUSTRI KERAPU i RANCANG BANGUN MODEL DINAMIS PENGELOLAAN AGROINDUSTRI KERAPU IDING CHAIDIR SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2007 PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya

Lebih terperinci

SAP 2 EVALUASI PROYEK: PENGERTIAN EVALUASI PROYEK, ASPEK-ASPEKNYA DAN METODE MEMPEROLEH GAGASAN -Guido Benny-

SAP 2 EVALUASI PROYEK: PENGERTIAN EVALUASI PROYEK, ASPEK-ASPEKNYA DAN METODE MEMPEROLEH GAGASAN -Guido Benny- SAP 2 EVALUASI PROYEK: PENGERTIAN EVALUASI PROYEK, ASPEK-ASPEKNYA DAN METODE MEMPEROLEH GAGASAN -Guido Benny- A. KONSEP EVALUASI PROYEK 1. Pengertian Evaluasi Proyek Evaluasi Proyek, juga dikenal sebagai

Lebih terperinci

4 PEMBANGUNAN MODEL. Gambar 13. Diagram sebab-akibat (causal loop) antar faktor sediaan beras. Bulog Jumlah penduduk. Pedagang pengumpul

4 PEMBANGUNAN MODEL. Gambar 13. Diagram sebab-akibat (causal loop) antar faktor sediaan beras. Bulog Jumlah penduduk. Pedagang pengumpul 4 PEMBANGUNAN MODEL Deskripsi Model Berdasarkan studi literatur dan observasi lapangan dapat dikenali beberapa pelaku utama yang berperan dalam pendistribusian beras dari tingkat petani sampai ke konsumen.

Lebih terperinci

memberikan multiple effect terhadap usaha agribisnis lainnya terutama peternakan. Kenaikan harga pakan ternak akibat bahan baku jagung yang harus

memberikan multiple effect terhadap usaha agribisnis lainnya terutama peternakan. Kenaikan harga pakan ternak akibat bahan baku jagung yang harus I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengembangan agribisnis nasional diarahkan untuk meningkatkan kemandirian perekonomian dan pemantapan struktur industri nasional terutama untuk mendukung berkembangnya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jagung merupakan jenis tanaman serealia yang mempunyai peran strategis dalam perekonomian nasional, mengingat fungsinya yang multiguna. Jagung dapat dimanfaatkan untuk

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Obyek dan Lokasi Penelitian Obyek penelitian yang akan diangkat pada penelitian ini adalah Perencanaan budidaya ikan lele yang akan berlokasi di Desa Slogohimo, Wonogiri.

Lebih terperinci

Pembahasan Materi #5

Pembahasan Materi #5 1 EMA402 Manajemen Rantai Pasokan Pembahasan 2 Latar Belakang Kunci Sukses SCM Manajemen Logistik Fungsi dan Kegunaan Pengendalian Logistik Konvensional dan Logistik Mengelola Jaringan SC Strategi Proses

Lebih terperinci

VI HASIL DAN PEMBAHASAN

VI HASIL DAN PEMBAHASAN VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Saluran dan Lembaga Tataniaga Dalam menjalankan kegiatan tataniaga, diperlukannya saluran tataniaga yang saling tergantung dimana terdiri dari sub-sub sistem atau fungsi-fungsi

Lebih terperinci

Pengantar Ekonomi Makro. Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM

Pengantar Ekonomi Makro. Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM Pengantar Ekonomi Makro Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM Pengertian Ilmu Ekonomi Adalah studi mengenai cara-cara yang ditempuh oleh masyarakat untuk menggunakan sumber daya yang langka guna memproduksi komoditas

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Penelitian Terdahulu Untuk membantu penelitian ini maka diperlukan acuan atau perbandingan dalam perencanaan agregat maka diperlukan penelitian terdahulu. Dapat dijelaskan

Lebih terperinci

Bab II Tinjauan Pustaka

Bab II Tinjauan Pustaka Bab II Tinjauan Pustaka II.1 Pengembangan Perumahan Pengembangan perumahan adalah kegiatan yang dilakukan oleh pengembang secara mandiri maupun bersama dengan pihak lain untuk mencapai tujuan ekonomi dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan subsektor peternakan merupakan bagian dari sektor

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan subsektor peternakan merupakan bagian dari sektor BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan subsektor peternakan merupakan bagian dari sektor pertanian yang berperan menyediakan pangan hewani berupa daging, susu, dan telur yang mengandung zat gizi

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN 23 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Teori Dasar Perdagangan Internasional Teori perdagangan internasional adalah teori yang menganalisis dasardasar terjadinya perdagangan internasional

Lebih terperinci

perluasan kesempatan kerja di pedesaan, meningkatkan devisa melalui ekspor dan menekan impor, serta menunjang pembangunan wilayah.

perluasan kesempatan kerja di pedesaan, meningkatkan devisa melalui ekspor dan menekan impor, serta menunjang pembangunan wilayah. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tujuan pembangunan pertanian dan ketahanan pangan adalah meningkatkan produksi untuk memenuhi penyediaan pangan penduduk, mencukupi kebutuhan bahan baku industri dalam

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Teoritis 3.1.1 Konsep Risiko Istilah risiko (risk) dan ketidakpastian (uncertainty) sering digunakan secara bersamaan atau bahwa risiko sama dengan ketidakpastian.

Lebih terperinci

VIII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN. dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan net ekspor baik dalam

VIII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN. dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan net ekspor baik dalam 219 VIII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN 8.1. Kesimpulan 8.1.1. Berdasarkan pengujian, diperoleh hasil bahwa guncangan ekspor nonagro berpengaruh positip pada kinerja makroekonomi Indonesia, dalam

Lebih terperinci

Perencanaan Inventori Bahan Baku SPM dengan Model P Back Order

Perencanaan Inventori Bahan Baku SPM dengan Model P Back Order Jurnal Teknik Industri, Vol.1, No.4, Desember 2013, pp.304-308 ISSN 2302-495X Perencanaan Inventori Bahan Baku SPM dengan Model P Back Order Edi Junaedi 1, Lely Herlina 2, Evi Febianti 3 1, 2, 3 Jurusan

Lebih terperinci

3. METODOLOGI PENELITIAN

3. METODOLOGI PENELITIAN 20 3. METODOLOGI PENELITIAN Kerangka Pemikiran Penelitian Pengembangan agroindustri udang merupakan hal yang sangat penting dalam siklus rantai komoditas udang. Pentingnya keberadaan agroindustri udang

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan sektor perikanan merupakan bagian dari pembangunan perekonomian nasional yang selama ini mengalami pasang surut pada saat tertentu sektor perikanan merupakan

Lebih terperinci

kumulatif sebanyak 10,24 juta orang (Renstra DKP, 2009) ikan atau lebih dikenal dengan istilah tangkap lebih (over fishing).

kumulatif sebanyak 10,24 juta orang (Renstra DKP, 2009) ikan atau lebih dikenal dengan istilah tangkap lebih (over fishing). I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Potensi sumberdaya perikanan di Indonesia cukup besar, baik sumberdaya perikanan tangkap maupun budidaya. Sumberdaya perikanan tersebut merupakan salah satu aset nasional

Lebih terperinci

Dinamika Pengembangan Subsektor Industri Makanan dan Minuman Di Jawa Timur: Pengaruh Investasi Terhadap Penyerapan Jumlah Tenaga Kerja

Dinamika Pengembangan Subsektor Industri Makanan dan Minuman Di Jawa Timur: Pengaruh Investasi Terhadap Penyerapan Jumlah Tenaga Kerja Dinamika Pengembangan Subsektor Industri Makanan dan Minuman Di Jawa Timur: Pengaruh Investasi Terhadap Penyerapan Jumlah Tenaga Kerja Oleh: Putri Amelia 2508.100.020 Dosen Pembimbing: Prof. Dr. Ir. Budisantoso

Lebih terperinci

EVALUASI STRUKTUR SUPPLY CHAIN

EVALUASI STRUKTUR SUPPLY CHAIN EVALUASI STRUKTUR SUPPLY CHAIN PENDISTRIBUSIAN BENIH DAN BUDIDAYA IKAN TERHADAP PROFIT SUPPLY CHAIN DENGAN PENDEKATAN SIMULASI SISTEM DINAMIK (Studi kasus: Hatchery Ikan Kerapu di Situbondo) EVALUATION

Lebih terperinci

B A B 5. Ir.Bb.INDRAYADI,M.T. JUR TEK INDUSTRI FT UB MALANG 1

B A B 5. Ir.Bb.INDRAYADI,M.T. JUR TEK INDUSTRI FT UB MALANG 1 B A B 5 1 VSM adalah suatu teknik / alat dari Lean berupa gambar yg digunakan untuk menganalisa aliran material dan informasi yg disiapkan untuk membawa barang dan jasa kepada konsumen. VSM ditemukan pada

Lebih terperinci

SUPPLY CHAIN MANAGEMENT (SCM)

SUPPLY CHAIN MANAGEMENT (SCM) SUPPLY CHAIN MANAGEMENT (SCM) INTRODUCTION T I P F T P U B KONTRAK 50 % UTS 30 % Tugas 20 % Kuis/ present WHAT IS SUPPLY CHAIN? Sebuah rantai pasokan yang terdiri dari semua pihak yang terlibat, secara

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Mencermati data laporan Bank Indonesia dari berbagai seri dapat

I. PENDAHULUAN. Mencermati data laporan Bank Indonesia dari berbagai seri dapat I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Mencermati data laporan Bank Indonesia dari berbagai seri dapat dinyatakan bahwa perekonomian Indonesia pada tahun 1997 telah mengalami kontraksi dari tahun sebelumnya,

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian kelayakan Usaha pembenihan dan pembesaran ikan lele Sangkuriang dilakukan di Perusahaan Parakbada, Katulampa, Kota Bogor, Provinsi Jawa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Agroindustri adalah usaha untuk mengolah bahan baku hasil pertanian menjadi berbagai produk yang dibutuhkan konsumen (Austin 1981). Bidang agroindustri pertanian dalam

Lebih terperinci

VII NILAI TAMBAH RANTAI PASOK BERAS ORGANIK

VII NILAI TAMBAH RANTAI PASOK BERAS ORGANIK VII NILAI TAMBAH RANTAI PASOK BERAS ORGANIK Terdapat dua konsep nilai tambah yang digunakan dalam menganalisis beberapa kasus, yaitu nilai tambah produk akibat pengolahan dan nilai tambah perolehan pelaku

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. majunya gizi pangan, masyarakat semakin sadar akan pentingnya sayuran sebagai

BAB I PENDAHULUAN. majunya gizi pangan, masyarakat semakin sadar akan pentingnya sayuran sebagai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sayuran dibutuhkan oleh semua lapisan masyarakat. Dengan semakin majunya gizi pangan, masyarakat semakin sadar akan pentingnya sayuran sebagai asupan gizi. Oleh karena

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikirian Teoritis 3.1.1 Studi Kelayakan Proyek Studi kelayakan proyek adalah penelitian tentang dapat tidaknya suatu proyek (biasanya merupakan proyek investasi)

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN Latar Belakang

I PENDAHULUAN Latar Belakang 1.1. Latar Belakang I PENDAHULUAN Jawa Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang mempunyai potensi perikanan cukup besar. Hal ini ditunjukkan dengan kontribusi Jawa Barat pada tahun 2010 terhadap

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan daerah merupakan bagian dari pembangunan nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seperti karbohidrat, akan tetapi juga pemenuhan komponen pangan lain seperti

BAB I PENDAHULUAN. seperti karbohidrat, akan tetapi juga pemenuhan komponen pangan lain seperti BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Meningkatnya pertumbuhan jumlah penduduk dari tahun ke tahun menjadikan kebutuhan pangan juga semakin meningkat. Pemenuhan kebutuhan pangan tersebut tidak hanya terbatas

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM 4.1 Gambaran Umum Inflasi di Pulau Jawa

IV. GAMBARAN UMUM 4.1 Gambaran Umum Inflasi di Pulau Jawa IV. GAMBARAN UMUM 4.1 Gambaran Umum Inflasi di Pulau Jawa Selama periode 2001-2010, terlihat tingkat inflasi Indonesia selalu bernilai positif, dengan inflasi terendah sebesar 2,78 persen terjadi pada

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. peran yang sangat strategis dalam mendukung perekonomian nasional. Di sisi lain

I. PENDAHULUAN. peran yang sangat strategis dalam mendukung perekonomian nasional. Di sisi lain I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengembangan produksi dan distribusi komoditi pertanian khususnya komoditi pertanian segar seperti sayur mayur, buah, ikan dan daging memiliki peran yang sangat strategis

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Nilai Tambah Nilai tambah merupakan pertambahan nilai suatu komoditas karena mengalami proses pengolahan, penyimpanan, pengangkutan

Lebih terperinci

III METODOLOGI 3.1. Kerangka Penelitian

III METODOLOGI 3.1. Kerangka Penelitian III METODOLOGI 3.1. Kerangka Penelitian Sebuah manajemen rantai pasok yang baik memerlukan berbagai keputusan yang berhubungan dengan aliran informasi, produk dan dana. Rancang bangun rantai pasokan untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Jumlah Tenaga Kerja Penduduk Indonesia (Badan Pusat Statistik, 2014)

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Jumlah Tenaga Kerja Penduduk Indonesia (Badan Pusat Statistik, 2014) BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian di bidang pertanian. Seperti yang terdapat pada Gambar 1.1, dari 110.804.042

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN. Kerangka Pemikiran

METODOLOGI PENELITIAN. Kerangka Pemikiran METODOLOGI PENELITIAN Kerangka Pemikiran Sistem pasokan bahan baku dalam suatu agroindustri merupakan salah satu faktor yang penting untuk menjaga kelangsungan proses produksi. Sistem pasokan ini merupakan

Lebih terperinci

Ringkasan Eksekutif Analisis Efektivitas Kebijakan Subsidi Pupuk dan Benih: Studi Kasus Tanaman Padi dan Jagung 1

Ringkasan Eksekutif Analisis Efektivitas Kebijakan Subsidi Pupuk dan Benih: Studi Kasus Tanaman Padi dan Jagung 1 Ringkasan Eksekutif Analisis Efektivitas Kebijakan Subsidi Pupuk dan Benih: Studi Kasus Tanaman Padi dan Jagung 1 Kebijakan pemberian subsidi, terutama subsidi pupuk dan benih yang selama ini ditempuh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Bab ini menjelaskan tentang hal-hal yang mendasari penelitian diantaranya yaitu latar belakang penelitian, perumusan masalah, tujuan penelitian, batasan masalah, dan sistematika penulisan.

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan. Secara geografis, wilayah Indonesia memiliki luas wilayah seluruhnya mencapai 5.193.252 km 2 terdiri atas luas daratan sekitar 1.910.931,32

Lebih terperinci

VI. ANALISIS ASPEK ASPEK NON FINANSIAL

VI. ANALISIS ASPEK ASPEK NON FINANSIAL VI. ANALISIS ASPEK ASPEK NON FINANSIAL 6.1 Analsis Aspek Pasar Dalam aspek pasar akan dikaji mengenai potensi pasar ikan hias air tawar dan bauran pemasaran yang dilakukan perusahaan menyangkut bauran

Lebih terperinci

ALUR PIKIR DAN ENAM PILAR PENGEMBANGAN HORTIKULTURA

ALUR PIKIR DAN ENAM PILAR PENGEMBANGAN HORTIKULTURA ALUR PIKIR DAN ENAM PILAR PENGEMBANGAN HORTIKULTURA ENAM PILAR PENGEMBANGAN HORTIKULTURA 1. Pengembangan kawasan agribisnis hortikultura. 2. Penerapan budidaya pertanian yang baik / Good Agriculture Practices

Lebih terperinci

Remanufacturing Capacity Planning (RCP) Manajemen Simulator

Remanufacturing Capacity Planning (RCP) Manajemen Simulator Manual Penggunaan Remanufacturing Capacity Planning (RCP) Manajemen Simulator Akhmad Hidayatno Aziiz Sutrisno Rangga Widyatama Laboratorium Rekayasa, Pemodelan dan Simulasi Sistem Departemen Teknik Industri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. peranan yang tepat dari para pelaku ekonomi. konsumen adalah sebagai pemasok faktor faktor produksi kepada perusahaan

BAB I PENDAHULUAN. peranan yang tepat dari para pelaku ekonomi. konsumen adalah sebagai pemasok faktor faktor produksi kepada perusahaan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perekonomian terus tumbuh dan berkembang seiring dengan meningkatnya kebutuhan manusia. Jika perekonomian dalam suatu negara berjalan stabil maka kesejahteraan

Lebih terperinci

Sistem Perikanan Tangkap Ramah Lingkungan sebagai Upaya Menjaga Kelestarian Perikanan di Cilacap

Sistem Perikanan Tangkap Ramah Lingkungan sebagai Upaya Menjaga Kelestarian Perikanan di Cilacap Sistem Perikanan Tangkap Ramah Lingkungan sebagai Upaya Menjaga Kelestarian Perikanan di Cilacap Kabupaten Cilacap sebagai kabupaten terluas di Provinsi Jawa Tengah serta memiliki wilayah geografis berupa

Lebih terperinci

AGRIBISNIS DAN AGROINDUSTRI

AGRIBISNIS DAN AGROINDUSTRI AGRIBISNIS DAN AGROINDUSTRI PENGERTIAN AGRIBISNIS Arti Sempit Suatu perdagangan atau pemasaran hasil pertanian sebagai upaya memaksimalkan keuntungan. Arti Luas suatu kesatuan kegiatan usaha yang meliputi

Lebih terperinci