BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN. smoothing, dan siklis untuk barang jadi Mie Atom Metode Regresi Linier. Nama barang jadi: Mie Atom.

Preferensi untuk alternatif A i diberikan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Peramalan Produksi Sayuran Di Kota Pekanbaru Menggunakan Metode Forcasting

ANALISIS DATA KATEGORIK (STK351)

BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN PENGARUH PENGGUNAAN METODE GALLERY WALK

BAB IV CONTOH PENGGUNAAN MODEL REGRESI GENERALIZED POISSON I. Kesulitan ekonomi yang tengah terjadi akhir-akhir ini, memaksa

IV. PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di MTs Negeri 2 Bandar Lampung dengan populasi siswa

BAB III HIPOTESIS DAN METODOLOGI PENELITIAN

BAB 2 LANDASAN TEORI. Universitas Sumatera Utara

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

ANALISIS BENTUK HUBUNGAN

Nama : Crishadi Juliantoro NPM :

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

UKURAN LOKASI, VARIASI & BENTUK KURVA

BAB.3 METODOLOGI PENELITIN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini di laksanakan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) N. 1 Gorontalo pada kelas

BAB III METODE PENELITIAN. Pada penelitian ini, penulis memilih lokasi di SMA Negeri 1 Boliyohuto khususnya

BAB 2 LANDASAN TEORI

BOKS A SUMBANGAN SEKTOR-SEKTOR EKONOMI BALI TERHADAP EKONOMI NASIONAL

MENGANALISA GANGGUAN PADA 331 WEIGHT FEEDER 2 UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI DI PT. SEMEN GRESIK (PERSERO).Tbk PABRIK TUBAN ABSTRAK

REGRESI DAN KORELASI LINEAR SEDERHANA. Regresi Linear

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan strategi pembelajaran mind mapping dalam pendekatan

BAB VB PERSEPTRON & CONTOH

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 13 Bandar Lampung. Populasi dalam

BAB II LANDASAN TEORI

ANALISIS REGRESI. Catatan Freddy

SEMINAR NASIONAL MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA 2010 ANALISIS DISKRIMINAN DISKRIT UNTUK MENGELOMPOKKAN KOMPONEN

BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 8 Bandar Lampung. Populasi dalam

Pendahuluan. 0 Dengan kata lain jika fungsi tersebut diplotkan, grafik yang dihasilkan akan mendekati pasanganpasangan

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB IV PEMBAHASAN MODEL

BAB IX. STATISTIKA. CONTOH : HASIL ULANGAN MATEMATIKA 5 SISWA SBB: PENGERTIAN STATISTIKA DAN STATISTIK:

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan (Research and

PERBANDINGAN METODE PREDIKSI PENYELESAIAN PROYEK EARNED VALUE MANAGEMENT DAN EARNED SCHEDULE

KORELASI DAN REGRESI LINIER. Debrina Puspita Andriani /

PENERAPAN METODE MAMDANI DALAM MENGHITUNG TINGKAT INFLASI BERDASARKAN KELOMPOK KOMODITI (Studi Kasus pada Data Inflasi Indonesia)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Di dalam matematika mulai dari SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di SD Al-Azhar 1 Wayhalim Bandar Lampung. Populasi

PERANCANGAN JARINGAN AKSES KABEL (DTG3E3)

BAB 2 LANDASAN TEORI

MATERI KULIAH STATISTIKA I UKURAN. (Nuryanto, ST., MT)

BAB 2 LANDASAN TEORI. Teori Galton berkembang menjadi analisis regresi yang dapat digunakan sebagai alat

IV. UKURAN SIMPANGAN, DISPERSI & VARIASI

BAB III METODE PENELITIAN. yang digunakan meliputi: (1) PDRB Kota Dumai (tahun ) dan PDRB

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan studi eksperimen yang telah dilaksanakan di SMA

BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen

Didownload dari ririez.blog.uns.ac.id BAB I PENDAHULUAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN. penerapan Customer Relationship Management pada tanggal 30 Juni 2011.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Untuk menjawab permasalahan yaitu tentang peranan pelatihan yang dapat

III. METODE PENELITIAN. bersifat statistik dengan tujuan menguji hipotesis yang telah ditetapkan.

BAB 1 PENDAHULUAN. Pertumbuhan dan kestabilan ekonomi, adalah dua syarat penting bagi kemakmuran

BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN JAYAPURA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

4 PRAKIRAAN SUHU MAKSIMUM DAN MINIMUM

Kritikan Terhadap Varians Sebagai Alat Ukur

PROPOSAL SKRIPSI JUDUL:

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah data pengujian pada

Kecocokan Distribusi Normal Menggunakan Plot Persentil-Persentil yang Distandarisasi

BAB III METODE PENELITIAN. Sebelum dilakukan penelitian, langkah pertama yang harus dilakukan oleh

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA

Kata kunci : daya, bahan bakar, optimasi, ekonomis. pembangkitan yang maksimal dengan biaya pengoperasian unit pembangkit yang minimal.

HUBUNGAN KEMAMPUAN KEUANGAN DAERAH TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

BAB VIB METODE BELAJAR Delta rule, ADALINE (WIDROW- HOFF), MADALINE

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENILAIAN KINERJA DAN PEMILIHAN MITRA BADAN PUSAT STATISTIK (BPS) KABUPATEN GUNUNGKIDUL MENGGUNAKAN METODE SAW BERBASIS WEB

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri I Tibawa pada semester genap

BUPATI PACITAN! PERATURAN BUPATI PACITAN I NOMOR 1^ TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PEMBERIAN PENGURANGAN, KERINGANAN, DAN PEMBEBASAN

III. METODE PENELITIAN

Bab III Analisis Rantai Markov

BAB III METODE PENELITIAN. sebuah fenomena atau suatu kejadian yang diteliti. Ciri-ciri metode deskriptif menurut Surakhmad W (1998:140) adalah

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Al-Azhar 3 Bandar Lampung yang terletak di

BAB III METODE PENELITIAN. hasil penelitian. Walaupun penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen,

BAB III METODE PENELITIAN. berjumlah empat kelas terdiri dari 131 siswa. Sampel penelitian ini terdiri dari satu kelas yang diambil dengan

BAB 3 PEMBAHASAN. 3.1 Prosedur Penyelesaian Masalah Program Linier Parametrik Prosedur Penyelesaian untuk perubahan kontinu parameter c

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian dilakukan secara purposive atau sengaja. Pemilihan lokasi penelitian

Apabila dua variabel X dan Y mempunyai hubungan, maka nilai variabel X yang sudah diketahui dapat dipergunakan untuk mempekirakan / menaksir Y.

UJI NORMALITAS X 2. Z p i O i E i (p i x N) Interval SD

BAB 2 LANDASAN TEORI. persamaan penduga dibentuk untuk menerangkan pola hubungan variabel-variabel

BAB 2 ANALISIS ARUS FASA PADA KONEKSI BEBAN BINTANG DAN POLIGON UNTUK SISTEM MULTIFASA

BAB II TEORI ALIRAN DAYA

Tinjauan Algoritma Genetika Pada Permasalahan Himpunan Hitting Minimal

TEORI INVESTASI DAN PORTFOLIO MATERI 4.

P n e j n a j d a u d a u l a a l n a n O pt p im i a m l a l P e P m e b m a b n a g n k g i k t Oleh Z r u iman

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan studi eksperimen dengan populasi penelitian yaitu

BAB III PERBANDINGAN ANALISIS REGRESI MODEL LOG - LOG DAN MODEL LOG - LIN. Pada prinsipnya model ini merupakan hasil transformasi dari suatu model

BAB IV HASIL PENELITIAN

Referensi: 1) Smith Van Ness Introduction to Chemical Engineering Thermodynamic, 6th ed. 2) Sandler Chemical, Biochemical adn

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN

BAB III METODELOGI PENELITIAN. metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif

MULTIVARIATE ANALYSIS OF VARIANCE (MANOVA) MAKALAH Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Multivariat yang dibimbing oleh Ibu Trianingsih Eni Lestari

Transkripsi:

BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH 5.1 Analsa Pemlhan Model Tme Seres Forecastng Pemlhan model forecastng terbak dlakukan secara statstk, dmana alat statstk yang dgunakan adalah MAD, MAPE dan TS. Perbandngan dlakukan dengan menggunakan pembobotan dengan nla terkecl untuk nla kesalahan terkecl bak MAD dan MAPE, sedangkan untuk trackng sgnal nla bobot terkecl untuk nla yang mendekat nol bak bernla postf maupun negatf. Model forecastng terplh adalah yang mempunya rangkng terkecl 5.1.1 Pembobotan Nla-nla Statstk Tabel 5.1 menamplkan pembobotan nla-nla MAD, MAPE dan TS berdasarkan pada 4 (empat) model peramalan, dmana 2 (dua) model lannya tdak dlakukan evaluas lebh lanjut yatu model movng average dan weghted movng average yang berada d luar peta kendal control untuk pengendalan trackng sgnal. Model forecastng yang akan dlakukan pembobotan adalah untuk Exponental Smoothng, Trend-Corrected Exponental Smoothng, Seasonalty Exponental Smoothng dan Trend & Seasonalty Corrected Exponental Smothng. Pembobotan nla MAD berturut-turut nla dar 1 sampa 4 adalah Seasonalty Exponental Smoothng, Trend & Seasonalty Corrected Exponental Smothng. Trend-Corrected Exponental Smoothng, dan Exponental Smoothng. Nla MAPE berturut dar 1 sampa 4 adalah Exponental Smoothng, Seasonalty Exponental Smoothng, Trend-Corrected Exponental Smoothng, dan Trend & Seasonalty Corrected Exponental Smothng. 77

78 Sedangkan untuk trackng sgnal, pembobotan dengan nla bobot terkecl untuk nla yang mendekat nol bak yang bernla postf maupun negatf, sehngga bak nla mnmal dan maksmal, akan dplh nla yang palng tngg yang dmlk masng-masng model forecastng, sehngga dperoleh pembobotan nla TS berturutturut nla dar 1 sampa 4 adalah Seasonalty Exponental Smoothng, Trend- Corrected Exponental Smoothng, Exponental Smoothng, dan Trend & Seasonalty Corrected Exponental Smothng. Tabel 5.1 : Pembobotan Nla MAD, MAPE dan TS Hasl Aplkas 4 (Empat) Model Forecastng Metode Peramalan MAD MAPE Trackng Sgnal Pont Mn Max Smple Exponental Smoothng α = 0,9 3,024.7 21.77-1.8 3.9 4 1 3 8 Trend-Corrected Exponental Smoothng 2,765.1 25.78-2.7-0.4 α = 0,9, β = 0,01 3 4 2 9 Seasonalty Exponental Smoothng 2,601.6 22.69-2.1 1.7 α = 0,5, γ = 0.1 1 2 1 4 Trend-Corrected & Seasonalty Exponental 2,715.6 25.74-4.0-1.0 Smoothng α = 0,7, β = 0,03, γ = 0.1 2 3 4 9 Dar tabel pembobotan terlhat bahwa model yang tepat untuk melakukan peramalan menggunakan seasonalty exponental smoothng dengan nla koefsen α = 0.5, γ = 0.01 dengan hasl nla MAD = 2,601.6, MAPE = 22.69, dan TS Range dar -2.1 sampa 1.7. 5.1.2 Analsa Uj Verfkas Forecastng Begel, John E. (1990 P51) menyatakan bahwa langkah pertama yang harus dlakukan setelah melakukan forecastng adalah melakukan verfkas apakah fungs peramalan mewakl pola yang ada. Salah satu metode yang dgunakan untuk melakukan verfkas forecastng dengan menggunakan movng range chart.

79 MR = MR = ' ' ( d t d ) ( d t 1 d ) MR n 1 UCL = + 2.66MR LCL = 2.66MR t t 1 (John E. Begel, 1990 p52) ( 2.66MR) 2 A = ± 3 A = ± 1.77MR 1 B = ± 3 ( 2.66MR) B = ± 0.89MR (John E. Begel, 1990 p54) Tabel 5.2 : Perhtungan Movng Range Chart untuk Seasonalty Exponental No Year Month Perode (t) Demand (d) Forecast (d') 1 Jan 1 6,872 16,319 9,447 2 Feb 2 9,454 9,798 344 9,102 3 Mar 3 10,602 8,831 (1,771) 2,115 4 Apr 4 12,446 11,222 (1,224) 547 5 May 5 13,678 11,334 (2,344) 1,120 6 Jun 6 16,768 14,260 (2,508) 164 2009 7 Jul 7 16,816 19,800 2,984 5,492 8 Aug 8 15,552 14,637 (915) 3,899 9 Sep 9 15,640 16,267 627 1,542 10 Oct 10 21,100 14,187 (6,913) 7,541 11 Nov 11 19,256 17,769 (1,487) 5,426 12 Dec 12 14,902 14,248 (654) 833 Totals 173,086 168,673 (4,413) 37,782 d'-d Movng Range

80 MR ' ' ( d t d ) ( d t 1 d ) = t t 1 MR 37,782 MR = = = 3,435 n 1 12 1 UCL = + 2.66MR UCL = + 2,66 3,435 = + 9,136 LCL = 2.66MR LCL = 2.66 3,435 = 9,136 Gambar 5.1 : Grafk MR Chart untuk Seasonalty Exponental Smoothng Tabel 5.3 : Matrk Konds d Luar Kendal MR Chart Konds d luar kendal, jka : Ya Tdak Ada ttk d luar UCL atau LCL V Dar 3 ttk plot berurutan 2 ttk berada pada regon A V Dar 5 ttk plot berurutan 4 ttk berada pada regon B V Ada 8 ttk plot berurutan berada pada bagan atas atau bawah gars tengah (regon C) V (John E. Begel, 1990 p54)

81 Dar hasl pemerksaan dan pengendalan data peramalan model seasonalty exponental smoothng dapat dsmpulkan bahwa peramalan tersebut vald dan layak untuk dgunakan karena seluruh data hasl peramalan dapat dkontrol dalam peta kendal rentang bergerak. 5.2 Analsa Sstem Inventor Hasl perbandngan baya nventor dar masng-masng metode dapat dlhat dalam tabel 5.4. Dar hasl perbandngan, terlhat bahwa nla baya untuk model LFL sama dengan model saat n dmana pemesanan dlakukan setap mnggu sekal. Metode EOQ memlk nla lebh besar dar sstem saat n. Metode PPB memlk nla lebh kecl dar nla sstem saat n, namun mash lebh besar dbandng dengan metode lannya yatu metode POQ dan LUC yang memlk nla total nventor sama yatu Rp. 237.401.209,00. Dbandngkan dengan sstem saat n, ada selsh sebesar Rp.84.998.791,00. Karena metode POQ dan LUC memlk baya terkecl dar sstem saat n maupun metode yang lan sepert PPB dan EOQ sehngga dapat dsmpulkan perbakan sstem menggunakan aplkas metode POQ atau LUC yatu penjadwalan pemesanan setap 2 mnggu sekal dengan jumlah pesan bervaras tergantung pada perode tercakup.

82 Tabel 5.4 : Perbandngan Hasl Analsa Metode Lot Szng Perod Demand Metode Lot Szng Saat n LFL EOQ POQ LUC PPB 49 210,761 210,761 491,122 421,522 421,522 632,283 50 210,761 210,761 51 210,761 210,761 491,122 421,522 421,522 52 210,761 210,761 653,185 1 210,761 210,761 210,761 491,122 442,424 442,424 2 210,761 231,663 231,663 3 210,761 231,663 231,663 491,122 463,326 463,326 694,989 4 210,761 231,663 231,663 5 210,761 231,663 231,663 491,122 446,512 446,512 6 231,663 214,849 214,849 644,546 7 231,663 214,849 214,849 491,122 429,697 429,697 8 231,663 214,849 214,849 9 231,663 214,849 214,849 412,579 412,579 610,310 10 214,849 197,731 197,731 491,122 11 214,849 197,731 197,731 395,462 395,462 12 214,849 197,731 197,731 491,122 593,192 13 214,849 197,731 197,731 395,462 395,462 14 197,731 197,731 197,731 15 197,731 237,708 237,708 491,122 475,417 475,417 713,125 16 197,731 237,708 237,708 17 197,731 237,708 237,708 491,122 475,417 475,417 18 197,731 237,708 237,708 670,838 19 237,708 216,565 216,565 491,122 433,130 433,130 20 237,708 216,565 216,565 21 237,708 216,565 216,565 491,122 433,130 433,130 649,694 22 237,708 216,565 216,565 23 216,565 216,565 216,565 556,497 556,497 24 216,565 339,932 339,932 491,122 1,019,795 25 216,565 339,932 339,932 491,122 679,864 679,864 26 216,565 339,932 339,932 491,122 27 216,565 339,932 339,932 614,768 614,768 889,605 28 339,932 274,837 274,837 491,122 29 339,932 274,837 274,837 549,673 549,673 30 339,932 274,837 274,837 491,122 844,388 31 339,932 274,837 274,837 569,552 569,552 32 274,837 294,715 294,715 491,122 33 274,837 294,715 294,715 491,122 589,430 589,430 884,145 34 274,837 294,715 294,715 35 274,837 294,715 294,715 491,122 562,446 562,446 36 294,715 267,731 267,731 803,193 37 294,715 267,731 267,731 491,122 535,462 535,462 38 294,715 267,731 267,731 39 294,715 267,731 267,731 491,122 533,250 533,250 798,769 40 267,731 265,519 265,519 491,122 41 267,731 265,519 265,519 531,038 531,038 42 267,731 265,519 265,519 491,122 694,237 43 267,731 265,519 265,519 428,718 428,718 44 265,519 163,199 163,199 491,122 45 265,519 163,199 163,199 326,398 326,398 489,597 46 265,519 163,199 163,199 47 265,519 163,199 163,199 491,122 326,398 326,398 48 163,199 163,199 163,199 163,199 49 163,199 50 163,199 51 163,199 52 163,199 Total Cost 322,400,000 322,400,000 329,746,576 237,401,209 237,401,209 260,754,282

83 5.3 Analsa Safety Stock pada Sstem Terplh Dar hasl analsa sstem nventor, dperoleh sstem yang memberkan baya nventor terkecl yang dplh sebaga metode untuk perbakan sstem saat n, yatu metode POQ atau LUC. Kemudan dlakukan perhtungan tngkat safety stock yang akan dterapkan dalam sstem sebaga tambahan dalam besarnya jumlah pemesanan produk setap perode pesan. Analsa nla safety stock dgunakan sebaga pengamanan nventor agar tdak terjad kehabsan persedaan (stock out), karena adanya lead tme pengrman materal. Penghtungan safety stock mengunakan metode devas pemakaan selama lead tme, yatu safety stock dhtung dar hasl perkalan devas lead tme, laju pemakaan rata-rata per-har selama lead tme dan safety factor (k) yang dambl dar tabel dstrbus normal tergantung pada berapa besar resko stock out (servce level). Dalam hal n, perusahaan membatas bahwa nla safety stock tertngg adalah 480.000 Kg dengan tngkat servce level sebesar 99%. Tabel 5.5 : Data Analsa Devas Standar Lead Tme Pemesanan No Month Lead Tme (Har) Devas (L - L) Devas Kuadrat (L - L) 2 1 Jun 31-3.57 12.74 2 Jul 31-3.57 12.74 3 Aug 37 2.43 5.90 4 Sep 33-1.57 2.46 5 Oct 38 3.43 11.76 6 Nov 37 2.43 5.90 7 Dec 35 0.43 0.18 Sehngga dar data d atas, dperoleh :

84 L = 34,57 ( L L) n = 7 2 = 51,71 Nla standar devas : S L ( L L) = n 1 2 = 51,71 = 2,936 6 tabel berkut : Sedangkan data laju pemakaan materal selama lead tme dtunjukkan dalam Tabel 5.6 : Data Laju Pemakaan selama Lead Tme No Month Pemakaan 1 Jun 489,728 2 Jul 711,667 3 Aug 1,065,253 4 Sep 932,680 5 Oct 1,564,188 6 Nov 1,184,570 7 Dec 1,138,910 U = 7.086.996,20 L = 242 Sehngga dar data d atas, dperoleh nla rata-rata penggunaan materal perhar selama lead tme : U L = U L 7.086.996,20 = = 242 29.285,11

85 Selanjutnya analsa nla safety stock dapat dcar menggunakan persamaan berkut, dmana perlu dketahu terlebh dahulu nla konstanta safety factor (k) yang akan dterapkan pada sstem, yatu nla servce level sebesar 99%, nla safety factor (k) adalah sebesar 2.33 sehngga besar safety stock dapat dhtung. Safety _ Stock = SS = k. U. S Safety _ Stock = SS = 200.335,92 200.336Kg L L = 2,33 29.285,11 2,936 Angka safety stock yang dperoleh sebesar 200.336 Kg mash dbawah nla maksmal yang djnkan yatu 480.000 Kg (kapastas pt penampung). Berdasarkan pada pembahasan 5.3, telah dtetapkan bahwa baya nventor terkecl dperoleh dengan menerapkan hasl analsa POQ atau LUC yatu reorder perod setap 2 mnggu sekal. Dengan menambahkan nla safety stock sebesar 200.336 Kg maka dperoleh jadwal pemesanan materal dan besarnya jumlah materal sepert pada tabel berkut : Tabel 5.7 : Jadwal Pemesanan Menggunakan POQ / LUC setelah penambahan Safety Stock untuk Perode Tahun 2010 Dengan perhtungan baya nventor sebaga berkut : - Baya smpan = jumlah nventor x baya smpan per unt per perode Baya smpan = 16.608.820 x Rp. 12,31 = Rp. 204.416.249,00

86 - Baya pesan = jumlah pemesanan x baya pesan per pesan Baya pesan = 26 x Rp. 6.200.000,00 = Rp. 161.200.000,00 Total baya nventor = Baya smpan + Baya pesan = Rp. 204.416.249,00 + Rp. 161.200.000,00 = Rp. 365.616.249,00 Untuk mendapatkan hasl perbandngan, maka perlu dbandngkan dengan data tahun sebelumnya yang palng mendekat yatu tahun 2009, dmana dperoleh data sebaga berkut : - Baya smpan = jumlah nventor x baya smpan per unt per perode Baya smpan = 11.366.300,00 x Rp. 12,31 = Rp. 139.892.929,00 - Baya pesan = jumlah pemesanan x baya pesan per pesan Baya pesan = 44 x Rp. 6.200.000,00 = Rp. 272.800.000,00 Dmana pada 2 bulan pertama (8 mnggu) tahun 2009 tdak melakukan mportas karena stock yang dmlk mash cukup besar. Total baya nventor = Baya smpan + Baya pesan = Rp. 139.892.929,00 + Rp. 272.800.000,00 = Rp. 412.692.929,00 Jka dbandngkan dengan baya nventor tahun 2009 yatu sebesar Rp. 412.692.929,00 (empat ratus dua belas juta enam ratus semblan puluh dua rbu semblan ratus dua puluh semblan rupah), nla baya nventor menggunakan metode usulan perbakan sstem nventor menggunakan smulas pada tahun 2010 adalah sebesar Rp. 365.616.249,00 (tga ratus enam puluh lma juta enam ratus enam belas rbu dua ratus empat puluh semblan rupah). Nla n mash lebh kecl dbandng baya nventor perode sebelumnya dmana terjad penghematan sebesar

87 Rp. 47.076.680,00 (empat puluh tujuh juta tujuh puluh enam rbu enam ratus delapan puluh rupah). Mengngat tngkat penghematan baya yang cukup besar usulan n patut untuk dpertmbangkan phak manajemen perusahaan untuk dterapkan pada perode-perode yang akan datang.