BAB I PENDAHULUAN I.1

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 2 KINEMATIKA. A. Posisi, Jarak, dan Perpindahan

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI. Produksi padi merupakan suatu hasil bercocok tanam yang dilakukan dengan

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang

BAB III METODE DEKOMPOSISI CENSUS II. Data deret waktu adalah data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu

1.4 Persamaan Schrodinger Bergantung Waktu

BAB 2 URAIAN TEORI. waktu yang akan datang, sedangkan rencana merupakan penentuan apa yang akan

BAB II LANDASAN TEORI. Peramalan (Forecasting) adalah suatu kegiatan yang mengestimasi apa yang akan

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 2 LANDASAN TEORI. Metode Peramalan merupakan bagian dari ilmu Statistika. Salah satu metode

BAB 1 PENDAHULUAN. Sumber Daya Alam (SDA) yang tersedia merupakan salah satu pelengkap alat

BAB 2 LANDASAN TEORI. Peramalan adalah kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa yang

BAB II TINJAUAN TEORITIS

BAB I PENDAHULUAN. tepat rencana pembangunan itu dibuat. Untuk dapat memahami keadaan

BAB III METODE PEMULUSAN EKSPONENSIAL TRIPEL DARI WINTER. Metode pemulusan eksponensial telah digunakan selama beberapa tahun

BAB KINEMATIKA DENGAN ANALISIS VEKTOR

MODUL PERTEMUAN KE 3. MATA KULIAH : FISIKA TERAPAN (2 sks)

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Faradina GERAK LURUS BERATURAN

3. Kinematika satu dimensi. x 2. x 1. t 1 t 2. Gambar 3.1 : Kurva posisi terhadap waktu

Analisis Model dan Contoh Numerik

PERSAMAAN GERAK VEKTOR SATUAN. / i / = / j / = / k / = 1

I Elevasi Puncak Dermaga... 31

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

x 4 x 3 x 2 x 5 O x 1 1 Posisi, perpindahan, jarak x 1 t 5 t 4 t 3 t 2 t 1 FI1101 Fisika Dasar IA Pekan #1: Kinematika Satu Dimensi Dr.

PERHITUNGAN PARAMETER DYNAMIC ABSORBER

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN

Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Mercu Buana MODUL PERTEMUAN KE 3. MATA KULIAH : FISIKA DASAR (4 sks)

FIsika KTSP & K-13 KINEMATIKA. K e l a s A. VEKTOR POSISI

Sekilas Pandang. Modul 1 PENDAHULUAN

=====O0O===== Gerak Vertikal Gerak vertikal dibagi menjadi 2 : 1. GJB 2. GVA. A. GERAK Gerak Lurus

BAB I PENDAHULUAN. universal, disemua negara tanpa memandang ukuran dan tingkat. kompleks karena pendekatan pembangunan sangat menekankan pada

GERAK LURUS BESARAN-BESARAN FISIKA PADA GERAK KECEPATAN DAN KELAJUAN PERCEPATAN GLB DAN GLBB GERAK VERTIKAL

PEMODELAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP $US MENGGUNAKAN DERET WAKTU HIDDEN MARKOV SATU WAKTU SEBELUMNYA 1. PENDAHULUAN

B a b 1 I s y a r a t

KINEMATIKA. gerak lurus berubah beraturan(glbb) gerak lurus berubah tidak beraturan

BAB 2 LANDASAN TEORI

Pemodelan Data Runtun Waktu : Kasus Data Tingkat Pengangguran di Amerika Serikat pada Tahun

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. METODE PENELITIAN. Usahatani belimbing karangsari adalah kegiatan menanam dan mengelola. utama penerimaan usaha yang dilakukan oleh petani.

Jurnal Bidang Teknik ENGINEERING, ISSN , Vol. 6 No. 1 April 2013 Fakultas Teknik Universitas Pancasakti Tegal

BAB 2 LANDASAN TEORI

LIMIT FUNGSI. 0,9 2,9 0,95 2,95 0,99 2,99 1 Tidak terdefinisi 1,01 3,01 1,05 3,05 1,1 3,1 Gambar 1

BAB III RUNTUN WAKTU MUSIMAN MULTIPLIKATIF

BAB 1 PENDAHULUAN. tahun 1990-an, jumlah produksi pangan terutama beras, cenderung mengalami

III. METODE PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu ukuran dari hasil pembangunan yang

BAB II TEORI DASAR ANTENA

PENERAPAN METODE TRIPLE EXPONENTIAL SMOOTHING UNTUK MENGETAHUI JUMLAH PEMBELI BARANG PADA PERUSAHAAN MEBEL SINAR JEPARA TANJUNGANOM NGANJUK.

IDENTIFIKASI POLA DATA TIME SERIES

IV. METODE PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Propinsi Sumatera Utara merupakan salah satu propinsi yang mempunyai

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN GENIUS LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA

PENGUJIAN HIPOTESIS. pernyataan atau dugaan mengenai satu atau lebih populasi.

BAB III ANALISIS INTERVENSI. Analisis intervensi dimaksudkan untuk penentuan jenis respons variabel

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 2 TINJAUAN TEORI

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. dari bahasa Yunani yang berarti Demos adalah rakyat atau penduduk,dan Grafein

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian Quasi Eksperimental Design dengan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

Muhammad Firdaus, Ph.D

Matematika EBTANAS Tahun 1988

Pekan #3. Osilasi. F = ma mẍ + kx = 0. (2)

BAB 1 PENDAHULUAN. Kabupaten Labuhan Batu merupakan pusat perkebunan kelapa sawit di Sumatera

ADOPSI REGRESI BEDA UNTUK MENGATASI BIAS VARIABEL TEROMISI DALAM REGRESI DERET WAKTU: MODEL KEHILANGAN AIR DISTRIBUSI DI PDAM SUKABUMI

Aplikasi Metode Seismik 4D untuk Memantau Injeksi Air pada Lapangan Minyak Erfolg

III METODE PENELITIAN

PEMODELAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP $US MENGGUNAKAN DERET WAKTU HIDDEN MARKOV HAMILTON*

Fisika Dasar. Gerak Jatuh Bebas 14:12:55. dipengaruhi gaya. berubah sesuai dengan ketinggian. gerak jatuh bebas? nilai percepatan gravitasiyang

BAB 2 LANDASAN TEORI

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 2, (2013) ISSN: ( Print) D-108

KINEMATIKA GERAK LURUS

PENGGUNAAN KONSEP FUNGSI CONVEX UNTUK MENENTUKAN SENSITIVITAS HARGA OBLIGASI

BAB I PENDAHULUAN. salad ke piring setelah dituang. Minyak goreng dari kelapa sawit juga memiliki sifat

BAB I PENDAHULUAN. Perekonomian dunia telah menjadi semakin saling tergantung pada

Integral dan Persamaan Diferensial

III. METODE PENELITIAN

Soal-Jawab Fisika OSN 2015

BAB III METODE PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN

ANALISIS DIRECT SELLING COST DALAM MENINGKATKAN VOLUME PENJUALAN Studi kasus pada CV Cita Nasional.

APLIKASI PEMULUSAN EKSPONENSIAL DARI BROWN DAN DARI HOLT UNTUK DATA YANG MEMUAT TREND

MODUL 2. Gerak Berbagai Benda di Sekitar Kita

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Permasalahan Nyata Penyebaran Penyakit Tuberculosis

III. METODE PENELITIAN

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN I. Laar Belakang Dermaga merupakan salah sau fasilias di pelabuhan yang memiliki fungsi sebagai empa kapal merapa dan beramba sehingga mempermudah kegiaan perpindahan barang dan penumpang. Dalam perencanaan pembangunan dermaga harus memperhiungkan fakor-fakor yang akan mempengaruhi kesabilan bangunan dermaga sera keamanan kapal-kapal yang berlabuh, fakor-fakor ersebu adalah angin, gelombang dan pasang suru (Triamodjo b, 2003). Pasang suru menjadi fakor yang harus diperhiungkan karena kejadiannya yang bersifa periodik dan pasi mempengaruhi bangunan dermaga, baik pada saa persiapan, pembangunan maupun pemakaian. Produk pasang suru yaiu highes high waer level (HHWL) merupakan komponen dasar dalam perhiungan design waer level (DWL) unuk menenukan nilai elevasi dermaga. Nilai HHWL dienukan berdasarkan pengamaan pasang suru selama minimal 5 hari, dimana daa pasang suru 5 hari dianggap elah mencakup sau siklus pasang suru yaiu pasang purnama hingga pasang perbani (Triamodjo a, 2003). Di Indonesia sendiri pengamaan pasang suru unuk keperluan prakis seperi perencanaan bangunan panai hanya dilakukan selama 5 pianan (seri pendek) aau 29 pianan (seri panjang) (Poerbandono dan Djunarsjah, 2005). Pasal 8 aya 2 Perauran Pemerinah Republik Indonesia Nomor 6 ahun 2009 enang kepelabuhan menegaskan bahwa Meneri meneapkan rencana induk pelabuhan ermasuk didalamnya hal pengoperasian pelabuhan secara aman unuk jangka waku 20 ahun. Selanjunya seelah periode ersebu akan dilakukan pengonrolan seiap 5 ahun sekali. Berdasarkan uraian di aas maka dalam perencanaan pembangunan dermaga di Indonesia, daa pasu dengan lama pengamaan 5 hari aau 30 hari dianalisis harmonik dan dihiung nilai HHWL nya sehingga didapa nilai elevasi dermaga yang dinyaakan aman unuk jangka waku panjang. Konrol keamanan elevasi dermaga merupakan nilai

2 HHWL dari daa pasu hasil prediksi hingga jangka waku panjang. Suau dermaga dinyaakan aman jika idak ergenang air lau, dan menuru sandar krieria desain pelabuhan Indonesia (984) baas aman inggi HHWL adalah maksimal 30 cm di bawah lanai dermaga yang nilainya bereferensi erhadap MSL. Tinggi air pada pengamaan pasu merupakan resulan dari berbagai gelombang (konsana pasu) yang dominan dibangkikan akiba adanya gaya graviasi bumi dengan bulan dan maahari. Benda-benda langi ersebu masing-masing bergerak dengan siklusnya yang membenuk pola harmonik sederhana dengan periode yang eap (NN., 200 dalam Perbani, 200). Jika periode suau konsana pasu eap maka frekuensinya juga eap, sedangkan yang selalu berubah adalah nilai ampliudo dan fasenya. Sebagai daa diskre, daa pasu akan membaasi konsana pasu yang dapa dianalisis. Panjang pengamaan pasu memegang peranan pening dalam analisis harmonik sehingga dapa memisahkan konsana-konsana pasu sau sama lain dengan baik. Namun jika keersediaan daa pengamaan pasu hanya dalam periode pendek, maka jumlah konsana pasu yang dapa dianalisis sediki. Selanjunya dalam perhiungan prediksinya pun hanya akan melibakan konsana-konsana pasu yang nilainya masih erkonaminasi oleh energi konsana pasu lain yang idak erwakili (Perbani, 200). Daa hasil prediksi idak akan bisa merekonsruksi kejadian-kejadian yang mempengaruhi inggi pasu selama jangka waku panjang, karena daa masukannya merupakan daa idak sabil yang hanya menggambarkan fenomena pembangki pasu pada periode pendek seperi fraksi seengah bulan aau sau bulan. Penggunaan daa pasu periode pendek unuk penenuan elevasi dermaga sebelumnya pernah dilakukan. Elevasi dermaga dihiung berdasarkan nilai high waer spring (HWS) dari daa pengamaan pasu selama sau ahun. Sedangkan sebagai konrol keamanannya adalah nilai perkiraan kenaikan muka air lau dan nilai HWS pada iga ahun ke depan yang didapa dari daa pasu hasil prediksi (Rachmayani, dkk, 20). Namun demikian, daa pasu hasil prediksi idak diuji keandalannya sehingga idak dikeahui apakah nilai HHWL yang digunakan sebagai konrol keamanan sudah benar.

3 Sehubungan dengan iu maka perlu adanya peneliian mengenai pengaruh periode daa pasu erhadap hasil nilai elevasi dermaga dan nilai HHWL sebagai konrol keamanannya. Penulis dalam peneliian ini membandingkan nilai HHWL dari masing-masing daa pasu berbeda periode pengamaan dengan nilai elevasi dermaga yang dihasilkan. Daa pasu dikelompokkan menjadi lima kelompok berdasarkan periode pergerakan bumi, bulan, dan maahari, yaiu 5 hari, 30 hari, ahun, 8,85 ahun, dan 8,6 ahun. Nilai HHWL merupakan hasil penjumlahan nilai muka air lau reraa dan ampliudo konsana uama pasu yang didapa dari analisis harmonik dan prediksi pasu dengan meode leas square. Nilai konsana pasu dari daa pasu hasil prediksi dianalisis ingka presisinya erhadap nilai konsana pasu dari daa pengamaan asli menggunakan uji saisik. Dari proses ersebu maka dikeahui apakah daa pasu periode pendek dapa digunakan unuk penenuan nilai elevasi dermaga yang aman sera periode daa pasu yang opimal unuk melakukan prediksi jangka panjang. Berkenaan dengan pelaksanaan peneliian ersebu, kelengkapan daa pasu dengan lama pengamaan minimal 8,6 ahun sanga dibuuhkan. Sasiun pasang suru Jepara milik Badan Informasi Geospasial (BIG) yang erleak di 6 35 30 LS, 0 38 5 BT merupakan salah sau sasiun pasu yang memiliki daa pasu dengan lama pengamaan selama 20 ahun erhiung dari ahun 994. Selain karena keersediaan daa pasu dengan lama pengamaan yang panjang, area perairan Jepara dipilih sebagai lokasi peneliian karena sekiar 20 meer ke bara dari sasiun pasu Jepara erdapa dermaga Panai Karini yang berfungsi khusus sebagai dermaga kapal ferry. Dermaga ersebu merupakan dermaga skala regional yang pening peranannya dalam bidang ransporasi lau dan perekonomian di pulau Jawa. I.2 Rumusan Masalah Daa pasu periode pendek merupakan daa pasu yang idak sabil, karena idak semua pengaruh fenomena pergerakan benda-benda langi erkandung di dalamnya. Selain iu nilai ampliudo konsana pasu hasil analisis harmoniknya masih ercampur

4 dengan nilai konsana pasu lain yang idak dapa dipisahkan. Sedangkan unuk kepeningan prakis khususnya perencanaan bangunan dermaga, daa pasu periode pendek biasa digunakan unuk mengiung nilai HHWL dalam penenuan elevasi dermaga sekaligus sebagai nilai konrol keamanannya unuk jangka waku panjang. Berdasarkan uraian rumusan masalah di aas maka dalam peneliian ini dienukan beberapa peranyaan ilmiah sebagai beriku:. Bagaimana pengaruh periode pengamaan pasu berdasarkan sisem pergerakan bumi, bulan, dan maahari erhadap nilai MSL dan ampliudo konsana pasu sera daa pasu hasil prediksinya? 2. Bagaimana hubungan nilai HHWL dari daa pasu periode 5 hari, 30 hari, ahun, 8,85 ahun dan 8,6 ahun dan prediksinya selama 8,6 ahun erhadap nilai elevasi dermaga yang dihasilkan? 3. Berapa lama periode daa pasu yang opimal unuk prediksi daa pasu selama 8,6 ahun? I.3 Tujuan Peneliian Tujuan yang ingin dicapai dalam peneliian ini adalah sebagai beriku :. Menganalisis pengaruh lama pengamaan daa pasu berdasarkan sisem pergerakan bumi, bulan dan maahari erhadap nilai MSL dan ampliudo konsana pasu sera daa pasu hasil prediksinya. 2. Menganalisis hubungan nilai HHWL dari masing-masing kelompok daa pasu berdasarkan pergerakan bumi, bulan, dan maahari dan daa pasu prediksinya selama 8,6 ahun erhadap nilai elevasi dermaga yang dihasilkan. 3. Menenukan periode daa pasu yang opimal unuk prediksi pasu selama 8,6 ahun ke depannya.

5 I.4 Manfaa Peneliian Manfaa yang didapa dari peneliian ini adalah dihasilkan evaluasi perbandingan nilai elevasi muka air lau acuan dan nilai elevasi dermaga dari kelompok daa prediksi dengan kelompok daa asli pengamaan 8,6 ahun. Diharapkan hasil peneliian ini dapa dijadikan salah sau bahan perimbangan pembuaan kebijakan khususnya dibidang rekayasa mengenai perencanaan pembangunan bangunan panai di daerah perairan Jepara dan sekiarnya. I.5 Baasan Masalah Baasan masalah dalam peneliian ini adalah sebagai beriku :. Daa pasang suru yang digunakan adalah daa pasang suru di perairan Jepara selama periode 9 ahun dari ahun 994 sampai ahun 202 yang sudah divalidasi oleh BIG. 2. Pengolahan daa pasang suru menggunakan meode leas square dan anpa ada proses inerpolasi pada daa kosong. 3. DWL dienukan berdasar HHWL dan nilai SLR (sea level rise) global dengan idak memperhiungkan nilai sorm surge aau wind se-up. 4. Nilai baas keamanan elevasi dermaga sesuai dengan krieria desain pelabuhan Indonesia (984) unuk dermaga yang melayani kapal kecil. I.6 Tinjuan Pusaka Peneliian dengan opik yang hampir serupa elah pernah dilakukan yaiu, Rachmayani, dkk (20) melakukan peneliian mengenai penenuan HWS (High Waer Spring) dengan menggunakan komponen pasu unuk penenuan elevasi dermaga. Peneliian ersebu menggunakan daa pasu perairan Teluk Lamong dengan periode sau ahun selama ahun 2007. Daa pasu diolah dengan meode leas square menggunakan sofware WXTide 32 dan Qinsy 7.5, sehingga menghasilkan nilai ampliudo delapan komponen pasu yaiu M2, S2, N2, K, O, MS4, dan M4 dengan M2 dan K merupakan komponen yang lebih mendominan dibandingkan dengan komponen yang

6 lain. Nilai ampliudonya sebesar 42,4 cm unuk komponen M2 dan 4,5 cm unuk komponen K. Pada peneliian ersebu elevasi muka air lau yang dipilih sebagai acuan adalah HWS dengan nilai sebesar 2,884 meer. Prediksi elevasi air lau juga dilakukan unuk periode ahun 200, pada daa prediksi ahun 200 didapakan nilai HWS sebesar 283,4 cm, dari nilai ersebu dapa dikeahui bahwa erjadi penurunan sebesar 5 cm apabila dibandingkan dengan HWS ahun 2007. Elevasi dermaga dienukan sesuai Sandar Krieria Desain unuk Pelabuhan Indonesia (984) dan mengacu pada pea baimeri area rencana dermaga dengan kedalaman yang dikehendaki sebesar 20 meer. Elevasi dermaga dihiung menggunakan nilai HWS ahun 2007 dengan idak memperhiungkan nilai sorm surge dan kenaikan muka air lau (sea rise level) akiba pemanasan global, sehingga elevasi dermaga yang dihasilkan adalah 4,884 meer. Berdasarkan hasil nilai HWS daa prediksi pasu ahun 200 sera nilai perkiraan kenaikan muka air lau pada ahun 2050 yaiu sebesar 0,25-0,5 meer, maka nilai elevasi dermaga yang dihasilkan masih berada di baas aman, karena lanai dermaga idak mengalami banjir saa erjadi pasang inggi. Selain iu erdapa beberapa peneliian lainnya mengenai analisis pasang suru lau yang dijadikan sebagai rujukan sekaligus pembanding dianaranya adalah, Sinaga (200) dengan peneliiannya yang berema analisis perbandingan anara daa pasu dan prediksi pasu unuk pendefinisian LAT. Peneliian ersebu menggunakan daa pasu selama ahun 985-2003 dari empa sasiun pasu yaiu, sasiun pasu pulau Chrismas, sasiun pasu Perancis, sasiun pasu Galveson, dan sasiun pasu Guam. Koreksi daa melipui koreksi spike dan koreksi daa kosong. Koreksi daa kosong dilakukan dengan inerpolasi menggunakan meode polynomial deraja enam dan sesuai oleransi BIG yaiu, panjang daa kosong yang diperbolehkan diinerpolasi idak lebih dari 24 jam. Proses prediksi pasu dilakukan dengan meode leas square menggunakan daa pasu selama sau ahun perama unuk memprediksi inggi muka air lau selama 8,6 ahun kedepannya. Nilai LAT dienukan dengan cara mencari nilai erendah dari keseluruhan daa diseiap se daa, hasilnya dapa diliha pada abel I..

7 Tabel I. Nilai LAT daa pengamaan dan daa prediksi empa sasiun pasu Daa Pengamaan Daa Prediksi Sasiun Pasu Periode LAT (cm) Periode LAT (cm) Pulau Chrismas 985-2003 -9 986-2004 7 Prancis 985-2003 204 986-2004 356 Galveson 985-2003 240 200-209 949 Guam 985-2003 -204 200-209 27 Sumber: Sinaga, 200 Hermawan (202) melakukan peneliian enang pengaruh pengamaan daa dan kualias daa inggi muka air lau erhadap hasil prediksi ampliudo dan daum pasu. Daa yang diolah adalah daa pasu dari sasiun pasu Bekapai, Dela Mahakam, Kalimanan Timur periode Januari 200 hingga 3 Desember 200. Daa ersebu dipecah menjadi sembilan kelompok daa yaiu, daa uuh sau ahun, daa enam bulan, daa iga bulan, iga kelompok daa sau bulan, dan iga kelompok daa 5 hari. Masingmasing kelompok daa digunakan unuk memprediksi inggi muka air lau selama sau ahun di ahun yang sama dengan meode leas square, daa prediksi dianalisis kembali unuk mendapakan nilai ampliudo besera kesalahannya yang selanjunya digunakan dalam penenuan nilai MLWS, MHWS, HAT, dan LAT. Unuk mengeahui pengaruh daa dan kualias daa maka daa pengamaan sau ahun diberi kesalahan berupa daa kosong dan daa spike, lalu dilakukan prediksi dan diolah lagi unuk mendapakan nilai konsana pasu, kesalahan ampliudo, dan nilai daumnya. Hasil peneliian ersebu dapa diliha diabel I.2. Kesimpulan dari peneliian ersebu adalah nilai variansi dari hasil prediksi pasu berganung pada jumlah daa yang digunakan, semakin panjang daa dan kualiasnya baik dalam hal ini kecilnya jumlah daa kosong dan daa spike maka semakin kecil nilai varian yang dihasilkan.

8 Tabel I.2 Nilai daum dan variansi dengan iga pengaruh Daum dan Pengaruh Panjang daa (Periode) Pengaruh Daa Kosong (Prosenase) Pengaruh Daa Spike (Prosenase) Variansi 5 (meer) Tahun Bulan Hari 7% 0,8% 0,03% 6% 3% 0,25% Variansi 0,0085 0,047 0,06 0,0086 0,0086 0,0085 0,0086 0,0085 0,0085 MLWS 2,576 2,553 2,570 2,585 2,578 2,575 2,585 2,594 2,553 MHWS 2,285 2,307 2,29 2,296 2,267 2,267 2,296 2,28 2,275 HAT 3,839 3,725 3,770 3,843 3,839 3,839 3,840 3,840 3,840 LAT,349,387,332,357,348,350,348,349,348 Sumber: Hermawan, 202 Rachmadi (20) dalam peneliiannya yang berjudul Analisis Kualias Daa Pasu unuk Pendifinisian Char Daum menganalisis kualias daa pasang suru di enam sasiun pasu milik BIG yaiu sasiun pasu Baam, Cilacap, Lembar, Mahalayai, Tarakan dan Sorong. Daa pasu ersebu merupakan daa pengamaan selama ahun 2000. Daa pasu diolah menggunakan pendekaan grafik unuk pengecekan kesalahan daa spike dan offse, analisis meode kuadra erkecil dan prediksi menggunakan aplikasi T-Tide. Hasil peneliian ersebu adalah daa dari iga sasiun pasu yaiu sasiun pasu Cilacap, Malahayai, dan Sorong idak lolos proses konrol kualias daa, ini dikarenakan erdapa daa kosong lebih dari 24 jam. Tiga sasiun pasu sisanya yang daanya memenuhi konrol kualias daa yaiu sasiun pasu Baam, Lembar dan Tarakan, masing-masing dilakukan analisis konsana pasu dan menghasilkan 70 komponen pasu yang selanjunya digunakan unuk prediksi. Hasil prediksinya dinyaakan memiliki akurasi persebaran daa yang baik, karena nilai RMS nya mendekai nol yaiu, 0,027 meer unuk sasiun pasu Baam, 0,03 unuk sasiun Lembar, dan 0,027 unuk sasiun Tarakan. Peneliian yang dilakukan oleh penulis mengambil lokasi peneliian di perairan Jepara, daa yang digunakan adalah daa pasu sasiun pasu Jepara milik BIG dengan

9 panjang periode daa dari ahun 994 202. Daa ersebu dibagi menjadi empa kelompok daa pengamaan dan prediksi yaiu kelompok daa 30 hari, sau ahun, 8,85 ahun, dan 8,6 ahun. Konrol kualias daa melipui koreksi daa kosong, koreksi offse, dan koreksi daa spike menggunakan uji saisik dengan ingka kepercayaan 2σ. Meode hiungan yang dipakai adalah meode leas quare unuk mendapakan nilai HHWL dari masing-masing kelompok daa yang selanjunya digunakan unuk menghiung elevasi dermaga. Hasil hiungan berupa nilai komponen pasu dan elevasi muka air lau acuan dari masing-masing kelompok daa dibandingkan dan diarik kesimpulan enang pengaruh periode dan kualias daa pasu erhadap nilai elevasi dermaga yang dihasilkan. I.7 Landasan Teori I.7. Pasang Suru Lau Pasang suru merupakan pergerakan permukaan air lau secara periodik yang memiliki hubungan fase dan ampliudo erhadap periode gaya geofisik (Inernaional Oceanographic Comission, 985). Tinggi muka air lau pada perisiwa pasang suru merupakan resulan dari berbagai gelombang yang dominan dibangkikan akiba adanya pengaruh variasi gaya graviasi benda langi khususnya bulan dan maahari erhadap pergerakan reguler bumi dan bulan sera sisem bumi dan maahari. Fakor-fakor nonasronomi seperi konfigurasi garis panai, kedalaman lokal air lau, opografi dasar lau, dan pengaruh hidrografi sera meereologi lainnya juga memiliki peran pening dalam mengubah range dari pasu, inerval waku anara air inggi dan air rendah, dan waku kedaangan gelombang (NOAA, 2007). Perisiwa pasang suru lau sebenarnya elah dipelajari sejak lama. Pada ahun 687, Sir Isaac Newon menggunakan eori equilibrium pasang suru unuk menjelaskan respon dari lau di permukaan bumi erhadap pengaruh gaya graviasi bulan dan maahari (de Jong, e all, 200). Teori equilibrium menolak benuk, kedalaman dan konfigurasi dari basin, pergeseran, massa anah, inersia dari massa air, dan gaya koriolis. Teori equilibrium mengasumsikan bumi dalam kondisi yang ideal dengan asumsi sebagai beriku :

0. Bumi berbenuk bola. 2. Permukaan bumi seluruhnya diselimui oleh air dengan densias dan kedalaman yang sama. 3. Bumi mengiari maahari dengan kecepaan konsan sera orbi berbenuk lingkaran. 4. Bidang orbi bumi mengelilingi maahari berimpi dengan bidang equaor bumi. Teori equilibrium aau eori pasu seimbang ini mampu memberikan gambaran fenomena pasu secara kualiaif namun belum bisa unuk meramalkan pasu secara kuaniaif. Maka unuk menjelaskan fenomena erjadinya pasang suru yang lebih real dikembangkan eori gaya pembangki pasu lau. Sir Isaac Newon menyaakan bahwa maahari dan bulan membangkikan medan gaya di sekeliling bumi, dimana arah dan besarnya gaya berubah-ubah secara periodik sesuai dengan posisi kedua benda langi (bulan dan maahari) erhadap bumi. Gaya-gaya inilah yang membangkikan pasu lau dan disebu gaya pembangki pasu (GPP) (de Jong, e all, 200). Gaya pembangki pasu erdiri dari dua gaya yaiu gaya graviasi bulan dan gaya senrifugal sebagai gaya penyeimbang. Hukum Newon enang graviasi universal menyaakan bahwa gaya graviasi anara dua benda berbanding lurus dengan massanya dan berbanding erbalik dengan kuadra jarak anar dua benda ersebu. Hukum newon ersebu secara maemaik dinyaakan melalui rumus I. (de Jong, e all, 200) :... (I.) Keerangan rumus : Fg : magniude gaya graviasi G : konsana graviasi universal (6,6725985. 0 - m 3 kg - s -2 ) m dan m 2 : besar massa benda dan benda 2

R : jarak anara pusa massa kedua benda Maahari 27 jua kali lebih besar dari bulan, api jarak maahari ke bumi 390 kali lebih jauh dari jarak bulan ke bumi (NOAA, 2007). Berdasarkan rumus hukum newon diaas dikombinasikan dengan hukum enang dua benda langi yang bergerak bersama erhadap pusa massa bersamanya maka dapa dikeahui bahwa gaya pembangki pasu oleh maahari berkurang (59 jua kali) dibandingkan dengan gaya pembangki pasu oleh bulan, besarnya gaya pembangki pasu yang dihasilkan oleh maahari adalah 46% dari gaya pembangki pasu oleh bulan, dengan kaa lain magniude gaya graviasi bulan lebih besar dibanding maahari sehingga dominan dalam membangkikan pasu di bumi dengan arah gayanya diseiap iik di permukaan bumi selalu menuju ke bulan. Komponen gaya pembangki pasu berikunya adalah gaya senrifugal, gaya ini merupakan gaya penyeimbang. Gaya senrifugal lebih besar dari gaya graviasi dan nilainya sama unuk seiap iik diseluruh permukaan bumi dengan arah gaya menjauhi bulan. Besarnya gaya senrifugal secara maemaik dinyaakan dalam rumus I.2 (de Jong, e all, 200) :... (I.2) Keerangan : Fs : magniude gaya senrifugal G : konsana graviasi universal (6,6725985. 0 - m 3 kg - s -2 ) Mm : besar massa bulan r : jarak dari iik dipermukaan bumi ke pusa massa bulan I.3 dan I.4 : Selanjunya besarnya nilai gaya pembangki pasu dihiung menggunakan rumus.. (I.3)

2.. (I.4) Pada rumus I.4 operasi hiungan menjadi minus dikarenakan komponen gaya pembangki pasu merupakan dua vekor yang berlawanan arah, unuk lebih jelasnya dapa diliha pada gambar I., dimana iik P merupakan suau iik di permukaan bumi dengan r merupakan jarak dari iik P ke pusa bulan, R E merupakan jari-jari bumi, dan d M merupakan jarak dari pusa bumi ke pusa bulan. Fs Fg Gambar I..Geomeri pembangki pasu di iik P dalam sisem bumi bulan (Sumber : dimodifikasi dari de Jong, e all, 200) Gaya pembangki pasu menghasilkan dua pasang lau di dua sisi bumi yang berbeda. Pasang yang dibangkikan oleh gaya graviasi bulan erleak di sisi bumi yang deka dengan bulan, sedangkan di sisi bumi sebaliknya aau yang jauh dari bulan juga mengalami pasang yang dibangkikan oleh gaya senrifugal seperi yang diunjukkan pada gambar I.2.

3 Gambar I.2.Pasang dan suru dalam sisem bumi bulan (Sumber : de Jong, e all, 200) I.7.2 Gerakan Periodik Bulan, Bumi, dan Maahari Posisi benda-benda langi yaiu bulan dan maahari erhadap bumi selalu berubahubah secara periodik. Variasi posisi ersebu merupakan akiba dari gerakan periodik nya. Pada peneliian ini gerakan gerakan periodik benda langi yang dibahas adalah sebagai beriku :. Revolusi bulan mengelilingi bumi. Periode bulan mengelilingi bumi sama dengan periodenya unuk beroasi yaiu 29,5 hari (solar day) (Pugh, 996). Revolusi bulan pada orbinya yang berbenuk ellips mengakibakan variasi posisi bulan erhadap bumi dan maahari yang disebu dengan fase bulan. Fase perama adalah fase bulan baru dan fase bulan mai. Waku yang dibuuhkan unuk mengalami fase bulan baru ke bulan baru selanjunya aau fase bulan mai ke bulan mai selanjunya adalah 29,5 hari. Fase bulan baru dan bulan mai merupakan posisi dimana bumi, bulan dan maahari erleak pada sau garis seperi yang diunjukkan pada gambar I.3. Fase bulan baru mengakibakan lau di permukaan bumi yang erdeka dan erjauh dari bulan mengalami pasang eringgi (spring ide), sekaligus suru ersuru di permukaan bumi lainnya.

4 Gambar I.3.Fase bulan baru dan fase bulan mai (full moon) (Sumber: de Jong, e all, 200) Fase berikunya adalah fase seperempa bulan (quarer). Sebagaimana diunjukkan pada gambar I.4, pada fase ini posisi bulan bumi maahari membenuk sudu 90 sehingga menghasilkan pasang perbani (neap ide). Gambar I.4.Fase seperempa bulan (Sumber: de Jong, e all, 200) Fase erakhir adalah fase dimana posisi bulan erleak dianara posisi bulan baru dan seperempa bulan, fase ini dapa diliha pada gambar I.5.

5 Gambar I.5.Fase bulan sabi (Sumber: de Jong, e all, 200) 2. Revolusi bumi mengelilingi maahari. Waku yang dibuuhkan bumi unuk melakukan sau kali revolusi adalah 365.2564 hari (solar days) aau sau ahun (Vernicek dan Krakiwsky, 982). Bumi berevolusi pada bidang orbinya yang berbenuk ellips yang disebu dengan bidang eklipik. Bidang ini membenuk sudu (inklinasi) erhadap bidang equaor sebesar 23,5. Bidang orbi bumi yang berbenuk ellips menyebabkan posisi bumi selama berevolusi bisa berada pada iik erdeka dengan maahari (perihelion) dan iik erjauh dari maahari (aphelion) sebagaimana diunjukkan pada gambar I.6. Saa bumi berada di perihelion range pasu di bumi inggi, sedangkan keika bumi berada di aphelion maka range pasu rendah (NOAA, 2003)

6 Gambar I.6.Gerakan ahunan bumi berevolusi (Sumber: Vernicek dan Krakiwsky,982) 3. Gerakan presesi orbi bulan. Bidang orbi bulan mengalami perubasi sehingga iik perigee bulan idak eap pada posisi yang sama. Gerakan presesi orbi bulan merupakan gerakan perpuaran orbi bulan dimana iik perigee bulan kembali ke iik perigee bulan yang semula dengan lama periode 8,85 ahun (Pugh,996). Ilusrasi gerakan presesi orbi bulan dapa diliha pada gambar I.7. Bulan Bumi Perigee Gambar I.7.Gerakan presesi orbi bulan 4. Gerakan presesi nodal. Selain mengalami perubasi, bidang orbi bulan memiliki inklinasi erhadap bidang eklipik bumi sebesar 5 (Mueller, 969 dalam Vernicek dan Krakiwsky, 982). Perpoongan anara bidang orbi bulan dengan bidang eklipik bumi dikeahui sebagai iik nodal, dan

7 erjadi seiap 8,6 ahun sekali (Vernicek dan Krakiwsky, 982), unuk lebih jelasnya dapa diliha pada gambar I.8. I.7.3 Konsana Pasu lau Gambar I.8.Gerakan presesi nodal (Sumber: Vernicek dan Krakiwsky,982) Konsana pasu lau merupakan parameer bernilai yang menyebabkan erjadinya perisiwa pasang suru lau. Konsana pasu imbul akiba gaya arik bulan dan maahari, pengaruh geomeri, dan bahimeri panai. Persamaan I.5 menunjukkan hubungan anara konsana pasu erhadap inggi muka air lau dalam model persamaan sinusoidal (Rahmasari, 202):.. (I.5) Pada rumus I.5, y B adalah inggi muka air lau saa, A B adalah nilai ampliudo konsana pasu, ω adalah kecepaan sudu konsana pasu, dan θ adalah beda fase dari konsana pasu. Konsana-konsana pasu masing-masing memiliki simbol, sera nilai ampliudo dan fase yang nilainya berbeda-beda di seiap lokasi. Secara umum, konsana pasu uama yang imbul akiba gaya graviasi bulan dan maahari dibagi menjadi iga yaiu :. Konsana pasu diurnal, yaiu kali pasang dan kali suru dalam sehari. 2. Konsana pasu semidiurnal, yaiu 2 kali pasang dan 2 kali suru dalam sehari.

8 3. Konsana pasu periode panjang. Selain iga konsana pasu uama ersebu, erdapa konsana pasu perairan dangkal yang imbul akiba pengaruh geomeri dan bahimeri panai yang berineraksi konsana-konsana pasu uama. Tabel I.3 menunjukkan dafar konsana-konsana pasu dengan nilai kecepaan sudu dan periodenya yang selalu eap. Tabel I.3 Konsana-konsana pasu Konsana pasu Kecepaan sudu (deraja/jam) Periode (jam) Semidiurnal Principal Lunar (M2) 28,984 2,42 Principal Solar (S2) 30,0000 2,00 Larger Lunar Ellipic (N2) 28,4397 2,66 Luni Solar (K2) 30,082,97 Diurnal Luni Solar (K) 5,04 23,33 Principal Lunar (O) 3,9430 25,82 Principal Solar (P) 4,9589 24,07 Periode panjang Diurnal Fornighly (Mf),0980 327,82 Lunar Monhly (Mm) 0,5444 66,30 Solar Semi Annual (Ssa) 0,082 29,43 Perairan dangkal Shallow waer semidiurnal (2SM2) 3,06,6 MNS2 27,4240 3,3 Shallow waer erdiurnal (MK3) 44,0250 8,8 Shallow waer overides of principal lunar (M4) 57,9680 6,2 Shallow waer quarer diurnal (MS4) 58,0840 6,20 I.7.4 Periode Sinodik Sumber: Ali, dkk 2004 dalam Rufaida, 2008 Periode sinodik adalah panjang pengamaan yang diperlukan unuk memisahkan dua buah konsana pasu. Sebagai daa diskre, maka daa pasu akan membaasi konsana pasu yang dapa dianalisis, dimana pembaasannya berganung pada nilai frekuensi eringgi, nilai frekuensi erendah, dan panjang daa pengamaan. Panjang daa

9 pengamaanlah yang memegang peranan pening dalam menenukan frekuensi erendah dan resolusi unuk memisahkan konsana-konsana pasu sau sama lain. Periode sinodik dapa dienukan menggunakan persamaan I.6 :. (I.6) Dimana: T : periode sinodik (jam) ω dan ω 2 : kecepaan sudu dari konsana dan konsana 2 (deraja/jam) Sebagai conoh konsana M2 dan S2 memiliki beda frekuensi 0,077308 rad/jam, maka periode sinodiknya adalah 354,4 jam aau seara dengan 5 hari, dengan kaa lain dibuuhkan daa dengan panjang daa minimal 5 hari unuk memisahkan konsana M2 dan S2. Selain konsana pasu uama, biasanya nilai periode sinodiknya akan lebih lama bahkan bisa hingga fraksi ahunan. Semakin kecil perbedaan frekuensi dua buah konsana, maka semakin panjang daa yang diperlukan unuk memisahkan dua komponen ersebu (Ali, dkk, 2004 dalam Banna, 204). I.7.5 Analisis Harmonik Pasu Meode Leas square Analisis harmonik pasu digunakan unuk menenukan ampliudo dan beda fase konsana-konsana pasu erhadap keadaan pasu seimbang. Pada peneliian ini, meode yang digunakan unuk analisis harmonik pasu adalah meode leas square. Meode leas square adalah meode pendekaan yang dapa digunakan unuk regresi aau pembenukan persamaan dari iik-iik daa diskrinya, dan unuk analisis kesalahan pengukuran. Konsep meode ini didasarkan pada pemaksaan suau kondisi maemais, yaiu jumlah kuadra kesalahan dikalikan bobonya adalah minimum, seperi yang diunjukkan pada persamaan I.7 : Σv 2 = min...(i.7) Dengan v adalah residu pengamaan.

20 Analisis harmonik pasu meode leas square menggunakan persamaan dasar fungsi inggi muka air lau erhadap waku, sebagaimana yang didefinisikan pada persamaan I.8 (Soeprapo, 993 dalam Banna, 204):.. (I.8) Keerangan : x() : inggi muka air saa v( n ) : residu x o k Ai ωi gi : inggi muka air reraa : waku : jumlah konsana : ampliudo konsana ke-i : kecepaan sudu konsana ke-i : beda fase konsana ke-i Persamaan I.8 kemudian diuraikan dengan sifa rigonomeri sehingga menjadi persamaan I.9:... (I.9) Jika dimisalkan:, dan.. (I.0) Lalu disubsiusikan ke dalam persamaan I.9, hasilnya menjadi persamaan I. yang linear:. (I.)

2 Keerangan : Ar dan Br : konsana pasu ke-i n pengamaan) : waku pengamaan ( n = -n, n+, n; n = 0 adalah waku engah-engah Tinggi muka air lau hasil hiungan (x()) dengan persamaan I.8 akan mendekai inggi muka air pengamaan (x( n )) jika :. (I.2) Persamaan I.2 kemudian diurunkan erhadap Ari, Bri dan x o, sehingga:,, dengan i =, 2,., k.. (I.3) Berdasarkan hubungan persamaan di aas maka dapa dienukan nilai xo, Ar dan Br melalui ahapan dengan prinsip meode leas square beriku :. Menenukan persamaan observasi yaiu persamaan inggi muka air lau, L = AX 2. Meneukan persamaan koreksi, V = (AX) L 3. Menghiung nilai parameer, X = (A T PA) - A T PL Sehingga persamaan observasinya dapa diulis :.. (I.4) Beriku merupakan desain marik dalam analisis harmonik pasu meode leas square (Rachmadi, 20):. Marik A merupakan marik koefisen yang mana merupakan hasil limearisasi persamaan observasi.

22 A n n n n k n k k 2 k k 2 k k 2 sin sin cos sin cos sin sin cos sin cos sin sin cos sin cos 2. Marik L merupakan marik daa pengamaan inggi muka air lau. 3. Marik X merupakan marik parameer konsana harmonik pasu Nilai ampliudo konsana pasu dienukan dari persamaan I.0 sebelumnya:,. (I.5) Kemudian nilai beda fase juga dienukan dari persamaan I.0 :,

23.. (I.6) I.7.6 Prediksi Pasu Meode Leas square Prediksi pasu berujuan unuk meramalkan inggi muka air lau di suau lokasi pada renang waku erenu di masa mendaang. Dalam prediksi pasu diperlukan daa ampliudo dan beda fase dari konsana-konsana pembangki pasu. Pada peneliian ini prediksi pasu dilakukan menggunakan meode leas square dengan persamaan I.7: (I.7) Keerangan : x() xo N A f ω v g : inggi muka air lau hasil prediksi : inggi muka air lau raa-raa : jumlah konsana pasu : ampliudo konsana pasu : fakor nodal (koreksi ampliudo) : kecepaan sudu konsana pasu : waku : argumen asronomi : beda fase Dari persamaan I.7 dapa dikeahui bahwa inggi muka air lau hasil prediksi sanga berganung pada jumlah konsana pasu yang digunakan dalam formula hiungan, yang mana jumlah konsana pasu berganung pada panjang daa pengamaannya. Semakin panjang daa pengamaan, maka semakin banyak konsana pasu yang dapa

24 dihasilkan, semakin banyak pula konsana pasu yang akan dilibakan dalam formula prediksi. I.7.7 Daa Pasu Lau Sasiun Pasu BIG Jepara Daa pasu merupakan daa diskre, yaiu daa dere waku yang diamai dengan inerval erenu (Perbani, 200). Daa ersebu didapa dari hasil pengamaan menggunakan ala perekam pasu. Ala ini bisa berupa ala manual yaiu ide gauge, maupun ala digial aau oomais yang memanfaakan sensor erenu. BIG aau Badan Informasi Geospasial memiliki 3 sasiun pasang suru yang ersebar di seluruh Indonesia. Salah sau sasiun pasu milik BIG yang erdapa di pulau Jawa adalah sasiun pasu Jepara. Sasiun pasu Jepara menggunakan ala perekam pasu digial berupa floaing gauge digial dengan merek OTT Thalimedes. Cara kerja floaing gauge pada dasarnya menggunakan sebuah abung (ube) unuk memfiler air lau yang masuk ke dalam abung, kemudian di dalam abung ersebu erdapa sebuah pelampung sensiif yang dihubungkan dengan kawa baja yang melingkar pada sebuah karol yang akan mengkonversi gerakan naik urunnya pelampung akiba pasu menjadi gerakan horizonal yang akan menggerakkan pen unuk mencaa inggi muka air lau dalam skala erenu pada gulungan paper char. Pada floaing gauge digial, paper char diganikan dengan encoder digial yang merekam inggi muka air lau dalam benuk angka digial. Hasil ala perekam daa pasu di sasiun pasu Jepara adalah daa inggi muka air per meni dengan sauan cenimeer. Selanjunya daa ersebu dilakukan validasi berupa pembuangan daa spike sera koreksi offse menggunakan sofware MGPS-DB (Khasanah, 204). Daa yang sudah divalidasi akan memiliki inerval waku per jam dan berbenuk mariks berdimensi 24 x 30, 24 merupakan jumlah jam dan 30 merupakan jumlah hari yang berganung pada bulan seperi yang diunjukkan pada gambar I.9. Daa disimpan dengan forma daa umum aau.dat sera forma penamaan berupa kode sasiun pasu_bulan_ahun, sebagai conoh nama daa: S0800.

25 Keerangan: S08 : sasiun pasu Jepara 0 : bulan Januari 0 : ahun 200 Gambar I.9.Daa pasu sasiun pasu Jepara pada Januari 200 I.7.8 Konrol Kualias Daa Pasu Seiap daa hasil pengukuran pasi megandung kesalahan, ermasuk daa hasil pengukuran pasu. Konrol kualias daa pasu berujuan unuk memverifikasi daa sehingga dapa erdeeksi kesalahan yang berupa offse, ouliers aau spikes, sera perubahan ime series dari daa pasu (SHOM, 202 dalam Banna, 204). Kesalahan offse merupakan perbedaan unggang pasu dalam sau pake daa yang diakibakan oleh perbedaan nilai referensi inggi. Kesalahan ouliers aau spikes adalah kesalahan yang berupa daa melonjak sehingga keluar dari range daa pasunya. Perubahan ime series dari daa pasu diakibakan oleh adanya beberapa daa kosong yang erleak di engahengah renang daa pengamaan.

26 Konrol kualias daa dilakukan sebelum analisis harmonik meode leas square. Terdapa dua konrol kualias daa pasu yang dilakukan pada peneliian ini:. Konrol kualias daa secara visual. Konrol kualias ini dilakukan dengan menginepreasi secara visual ada idaknya kesalahan spike, kesalahan offse, dan daa kosong sera leak dari kesalahan ersebu pada kurva daa pengamaan. Khusus unuk kesalahan daa kosong dideeksi dengan meliha perubahan ime series pada daa secara langsung. 2. Uji saisik. Uji saisik dapa mendeeksi kesalahan pada daa berdasarkan nilai simpangan bakunya. Nilai simpangan baku yang besar erhadap nilai raa-raa daa pengamaan, biasanya mengindikasikan erdapa kesalahan pada daa. Pada peneliian ini uji saisik dilakukan dua kali, yaiu saa sebelum peraaan dan seelah peraaan. Kedua uji saisik ersebu beruruuru melipui : a. Uji global dengan simpangan baku 2σ. Simpangan baku aau sandar deviasi dihiung unuk meliha seberapa presisi aau kedekaan daa pengamaan dengan raa-raa daa. Selain mendeeksi leak kesalahan, uji ini juga dapa langsung menghilangkan kesalahan yang berupa kesalahan spike dengan cara menolak daa yang berada diluar baas berdasarkan ingka kepercayaan erenu yang dierapkan pada simpangan bakunya menggunakan kaidah disribusi normal. Simpangan baku secara maemais dihiung menggunakan rumus I.8 (Sugiyono, 2007 dalam Banna 204):. (I.8) Keerangan: σ Xi : simpangan baku aau sandar deviasi : daa pengamaan

27 : raa-raa dari daa pengamaan n : jumlah daa pengamaan b. Uji Signifikansi parameer dua meode dengan uji (suden). Uji (suden) dapa digunakan unuk menguji dua buah nilai parameer dari peraaan dua meode unuk obyek yang sama. Prosesnya diawali dengan penyusunan dua hipoesis, yaiu hipoesis awal (Ho) dan hipoesis pembanding (Ha). Hipoesis awal akan dierima apabila dipenuhi besaran krieria pada persamaan (I.9) (Wolf, P. R. dan Ghilani, C. D., 997) : (I.9) Keerangan: xi i : parameer ke-i meode I xii i : parameer ke-i meode II σ xii σ xiii α,f : simpangan baku parameer ke-i meode I : simpangan baku parameer ke-i meode II : sebaran fungsi dari abel (suden) dengan araf uji (α) dan f deraja kebebasan. c. RMS (roo mean square) Pada peneliian ini nilai RMS digunakan unuk meliha kecocokan model prediksi yang baik dengan daa pengamaan yang asli. Semakin kecil nilai RMS maka model prediksi dinyaakan baik dan dapa mendekai daa pengamaan yang asli. Dalam hal ini nilai RMS dihiung menggunkan rumus I.20 (Rahmasari, 202): (I.20)

28 Keerangan: RMS : nilai RMS (meer) μ : nilai raa-raa dari selisih anara daa pengamaan dengan daa pasu hasil prediksi y i n I.7.9 Aplikasi T-Tide : selisih anara daa pengamaan dengan daa pasu hasil prediksi : jumlah daa pasu Aplikasi T-Tide merupakan aplikasi yang berisi program unuk mengolah daa pasu yang perama kali dibua oleh Mike G.G. Foreman dalam bahasa Forran, kemudian S. Lenz dan B. Beardsley mengkonversi kode ersebu ke dalam bahasa Malab, dan R. Pawlowicz kemudian melengkapinya dengan menambahkan perhiungan yang kompleks. Fenomena pasu dalam aplikasi T-Tide dihiung dengan menggunakan persamaan yang mengasumsikan pasu yang erjadi sebagai pasu seimbang, dan proses analisis harmoniknya menggunakan meode leas square. Pake program T-Tide erdiri beberapa program beriku program yang digunakan (Anggun, 202 dalam Akbar, 203) :. Program analisis harmonik dan pendukungnya a. _ide.m, unuk menghiung analisis pasu dari rangkaian waku yang nyaa dan kompleks. b. _predic.m, unuk menghiung prediksi pasu menggunakan hasil dari program _ide c. _vuf.m, unuk menghiung koreksi nodal dan argumenasi asronomi. d. _geconss.m, mengeksrak berbagai macam daa konsana harmonik (konsiuen) berdasar file daa dari pake program forran. e. _synh.m, unuk menenukan konsana harmonic (konsiuen) yang digunakan dalam prediksi pasu. 2. File dokumenasi

29 a. _readme.m, merupakan file yang berisi penjelasan mengenai pake program _ide b. _error.m, penjelasan mengenai inerval kepercayaan dan bagaimana hal ersebu dapa dikembangkan 3. File demonsrasi a. _demo.m, conoh demo penggunaan program _ide dengan mengunakan daa keinggian di sasiun pasu Tukoyukuk. 4. Daa file pendukung T_equilib.da file yang berfungsi unuk menghiung ampliudo seimbang dari konsana harmonik uama sesuai linang yang dimasukkan. 5. Daa program lainnya : a. Tide3.da, berisi file daa konsana harmonik sandar dari pake analisis Insiue of Ocean Sciences (IOS), file ini dibaca sekali dan hasilnya ersimpan dalam srukur daa dalam _consiuens.ma. b. _equilib.da file yang berisi fakor ampliudo A dan B. c. _consiuens.ma, berisi srukur daa konsana harmonik. d. _example.ma, conoh daa se keinggian muka lau di sasiun pasu Tukoyukuk. I.7.0 Elevasi Muka Air Lau Pening Daa pasu menghasilkan nilai elevasi muka air lau yang pening unuk dikeahui, beberapa dianaranya dijadikan sebagai referensi inggi dalam pengukuran aau daum pasu, beriku penjelasan singka mengenai jenis elevasi muka air lau pening yang digunakan dalam peneliian ini (Triamodjo b, 2003):. MSL (mean sea level) aau muka air reraa adalah muka air reraa anara muka air inggi reraa dengan muka air rendah reraa. Elevasi ini digunakan sebagai referensi mulak unuk elevasi di daraan. 2. HHWL (highes high waer level) aau muka air inggi eringgi adalah air eringgi pada saa pasang suru purnama aau bulan mai. Nilai HHWL

30 dihiung menggunakan persamaan I.2 (Ongkosono dan Suyarso, 989 dalam Nugraha, dkk, 203): (I.2) Dengan: So : inggi muka air lau reraa A(M2), A(S2), : nilai ampliudo konsana M2, nilai ampliudo konsana S2, I.7. Dermaga Dermaga menuru Bambang Triamodjo b (2003) didefinisikan sebagai Suau bangunan pelabuhan yang digunakan unuk merapa dan menambakan kapal yang melakukan bongkar mua barang dan menaik-urunkan penumpang. I.7.. Design Waer Level (DWL) Design Waer Level (DWL) aau elevasi muka air lau rencana sebenarnya merupakan hasil penjumlahan beberapa parameer yaiu pasang suru, sunami, wave seup, wind seup, dan kenaikan muka air lau global. Dalam pembuaan DWL, semua parameer diaas dilibakan dan dianggap erjadi dalam waku yang bersamaan, namun kemungkinan kejadian ersebu adalah sanga kecil. Semenara iu pasang suru mempunyai periode 2 jam aau 24 jam, yang berari dalam sehari bisa erjadi sau kali aau dua kali pasang suru. Kemungkinan erjadinya kejadian air pasang suru ini sanga besar, dengan demikian pasang suru merupakan fakor erpening dalam menenukan DWL. DWL dienukan berdasar pemilihan salah sau elevasi muka air lau dari daa pasang suru sebagai acuan dalam perencanaan. Dari beberapa definisi elevasi muka air lau sebelumnya. HHWL biasa digunakan unuk menenukan elevasi puncak pemecah gelombang, dermaga, panjang ranai pelampung penampba dan sebagainya. Pemilihan

3 penggunaan HHWL sebagai referensi dalam hiungan berganung pada keersediaan daa pasang suru dalam pekerjaan. Dalam peneliian ini digunakan persamaan I.22 unuk menenukan nilai DWL dengan idak memperhiungkan sorm surge aau wind-seup karena keerbaasan daa gelombang (Nugraha, dkk, 203) : (I.22) Keerangan: DWL HHWL SLR (sea level rise) : nilai elevasi muka air lau rencana (meer) : elevasi muka air lau acuan (meer) : kenaikan muka air lau akiba pemanasan global (mm/ahun) I.7..2 Elevasi Puncak Dermaga Bangunan dermaga harus mampu mengamankan gelombang air lau unuk kelancaran maneuver kapal dan operasi pelabuhan. Elevasi puncak dermaga dihiung berdasar DWL yang dienukan dengan nilai HHWL unuk menganisipasi air pasang inggi (Rachmayani dan Yuwono, 20). Elevasi dermaga bereferensi erhadap nilai MSL seempa, sebagaimana diunjukkan gambar I.0. HHWL MSL Nilai elevasi dermaga LLWL Char Daum Gambar I.0.Skesa nilai elevasi dermaga Nilai elevasi dermaga dihiung menggunakan rumus I.23 :. (I.23)

32 keerangan: DWL : nilai elevasi muka air lau rencana (meer) Clearence : inggi jagaan menuru Sandar Krieria Desain Pelabuhan Indonesia (984) (meer) I.8 Hipoesis Elevasi dermaga yang dihiung berdasarkan HHWL akan menghasilkan nilai yang berbeda unuk seiap kelompok periode daa, karena nilai ampliudo unuk konsana pasu yang sama pada kelompok periode daa pasu yang berbeda akan berbeda pula, hal ini disebabkan nilai ampliudo relaif erhadap panjang periode pengamaan yang berpengaruh pada jumlah konsana yang dapa dipisahkan (Perbani, 200). Kelompok daa pasu periode pendek yaiu 5 hari, 30 hari, dan sau ahun merupakan kelompok daa pasu yang idak sabil, karena belum mencakup semua fenomena asronomis pembangki pasu. Sedangkan kelompok daa pasu periode panjang yaiu 8,85 ahun relaif lebih sabil, karena elah mencakup gerakan revolusi bulan, revolusi bumi, presesi orbial dan separuh gerakan presesi nodal. Berdasarkan asumsi ersebu, maka hipoesis peneliian ini adalah sebagai beriku :. Kelompok daa pasu periode erpanjang yaiu 8,6 ahun menghasilkan jumlah konsana signifikan erbanyak, sera nilai MSL yang paling sabil. 2. Nilai HHWL dari daa pasu periode pendek (5 hari, 30 hari, dan ahun) dan daa hasil prediksinya idak mampu mewakili nilai HHWL pada periode panjang, sehingga nilai elevasi dermaga yang dihasilkan oleh daa pasu periode pendek idak aman hingga jangka waku panjang. 3. Periode opimal unuk memprediksi daa pasu 8,6 ahun adalah periode 8,85 ahun.