16 BAB 2. RANDOMISASI DALAM PENELITIAN Randomisasi merupakan langkah peting dalam penelitian yang tidak dilakukan secara sensus. Dengan randomisasi yang aik maka akan dapat diperoleh sampel yang representatif yang mewakili populasi. Dengan demikian simpulan yang diperoleh atas dasar hasil analisis statistika dapat erlaku dalam tingkat populasi. Prinsip terseut erlaku ila penelitian secara sampling terseut merupakan penelitian noneksperimen. Teknik pengamilan sampel merupakan suatu prosedur yang harus ditempuh oleh peneliti, agar seagian individu atau item anggota dari populasi yang diteliti, enar-enar representatif atau dapat mewakili populasinya. Jika sampel yang diamil tidak representatif maka kesimpulan yang diperoleh pada tingkat sampel tidak erlaku pada tingkat populasinya. Jika demikian halnya maka ukan lagi merupakan penelitian sampling, akan tetapi hanya merupakan penelitian kasus. Tidak erarti ahwa suatu penelitian kasus tidak erharga sama sekali. Boleh jadi, untuk penelitian tertentu memang leih tepat menggunakan studi kasus karena fenomenanya memang ersifat khusus. Tentu saja hasilnya akan dapat dimanfaatkan atau diterapkan untuk menghadapi kasus lain yang serupa. Banyak penelitian psikologi klinik juga penelitian dalam idang hukum yang menggunakan pendekatan kasus. Sampel dinyatakan representatif apaila data sampel (data statistik sampel) enarenar dapat mencerminkan harga-harga yang ada pada populasinya (parameter populasi). Artinya, apaila Anda memiliki data rerata sampel maka data rerata sampel terseut harus mampu menjadi penduga tak ias (penduga yang enar) dari harga rerata populasi. Dalam hal ini mengandung maksud, jika dilakukan pengamilan sampel erulang-ulang dan setiap pengamilan dihitung harga reratanya maka rata-rata dari seluruh rerata data sampel esarnya sama dengan harga rerata populasi. Teknik pengamilan sampel tidak dapat terlepas dari metode penelitian yang dilakukan. Dalam penelitian iologi, teknik pengamilan sampel dalam penelitian survei ataupun penelitian oservasi tidak sama dengan teknik pengamilan sampel dalam penelitian eksperimen/percoaan. Dr. Bamang Suali, M.S. UNY 2011
17 1. Teknik Pengamilan Sampel dalam Penelitian Survei dan Oservasi Penelitian survei atau penelitian oservasi ertujuan untuk memperoleh konsep secara induktif dari fakta-fakta yang erhasil diamati pada populasi yang diteliti. Oleh karena itu karakteristik populasi menjadi pertimangan dalam melakukan pengamilan sampel. Artinya, ahwa peneliti enar-enar harus sudah memperoleh informasi, agaimana seenarnya keadaan populasi yang ingin diteliti. Berikut ini disajikan eerapa teknik dalam penelitian survei dan penelitian oservasi. Berikut disajikan eerapa teknik pengamilan saampel pada penelitian deskriptif. a. Teknik tidak acak (non-random sampling) Teknik non-random adalah teknik pengamilan sampel yang tidak mendasarkan pada prinsip peluang. Ada dua prosedur teknik non-random, yakni erikut ini. 1) Pengamilan sampel menurut kuota (quota sampling) Pengamilan sampel menurut kuota (quota sampling) merupakan prosedur untuk memperoleh sampel dari populasi asal sudah memenuhi jumlah tertentu yang kita inginkan. Oleh karena dalam pelaksanaannya tanpa pertimangan apapun maka dikatakan pula seagai teknik pengamilan sampel seadanya. Artinya, jika si peneliti memerlukan sampel terdiri dari 40 unit sampel maka ia akan mengamil individuindividu anggota populasi yang diteliti erturut-turut sampai diperoleh 40 unit sampel. Penelitian dengan teknik quota sampling iasanya dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh informasi lapangan guna mengungkap apakah yang menjadi permasalahan penelitian enar-enar tampak fenomenanya. Dengan kata lain, data yang diperoleh melalui teknik quota sampling, dijadikan penguat oleh peneliti dalam mengungkapkan pokok permasalahan yang akan diselesaikan. Karena cara pengamilan sampelnya seadanya maka diseut pula dengan teknik pengamilan sampel secara aksidental (accidental sampling). Seagai contoh, suatu penelitian ertujuan untuk melihat munculnya sifat kenakalan dihuungkan dengan faktor penyeanya. Dalam hal ini, ingin diteliti apakah faktor iologik, yakni faktor genetik, leih kuat pengaruhnya dianding faktor Dr. Bamang Suali, M.S. UNY 2011
18 lingkungan. Untuk memperoleh data, peneliti mendatangi lemaga pemasyarakatan khusus untuk anak-anak, terukti ahwa kenakalan anak leih dipengaruhi oleh faktor lingkungan daripada faktor genetik. Permasalahannya, apakah kesimpulan yang diperoleh terseut erlaku pada semua kenakalan yang terjadi di lapangan? Namun demikian, peneliti semakin yakin ahwa permasalahan kenakalan erat kaitannya dengan faktor lingkungan sehingga perlu diteliti. Contoh lain, seorang peneliti ingin mengetahui hasil panen padi Cisadane pada suatu kecamatan. Karena peneliti tidak punya informasi erapa anggota populasi petani yang menaman padi Cisadane dan dimana mereka tinggal, maka ia ingin mendata hasil padi dari 100 petani yang menanam padi Cisadane. Kemudian ia mendatangi 20 desa yang ada di kecamatan terseut sampai diperleh data dari 100 petani. Data penelitian yang diperoleh dari sampel yang dicuplik menggunakan teknik quota sampling tidak representatif mewakili populasi. Jadi, leih menjurus kepada studi kasus. Oleh karenanya, data yang diperoleh hanya dapat dianalisis menggunakan prinsip statistika deskriptif. 2) Pengamilan sampel dengan pertimangan (purposive sampling) Pengamilan sampel dengan pertimangan atau purposive sampling merupakan teknik pengamilan sampel dengan menggunakan pertimangan tertentu setelah mengetahui karakteristik populasinya. Misalnya, untuk menyelidiki perilaku gajah Sumatera yang dilatih selama pemelajaran, peneliti menggunakan sampel gajah yang ada di Sekolah Gajah Way Kamas. Peneliti mempunyai pertimangan erupa asumsi ahwa gajah-gajah lain yang ada di Pulau Sumatera, jika dilatih akan menunjukkan perilaku yang sama dengan gajah-gajah yang sedang dilatih di Sekolah Gajah Way Kamas. Contoh lain, untuk menyelidiki tingkat kesehatan penderita down syndrome huungannya dengan status sosial ekonomi orang tuanya, peneliti mendatangi salah satu panti asuhan yang merawat para penderita down syndrome yang erasal dari eragai status sosial ekonomi di masyarakat. Jadi, peneliti tidak perlu mendata penderita down syndrome yang ada di lapangan karena memerlukan iaya yang esar. Dr. Bamang Suali, M.S. UNY 2011
19 Selain itu oleh jadi orang tua yang anaknya mengalami down syndrome akan malu jika diketahui oleh orang lain. Dengan mendatangi panti asuhan terseut diharapkan tujuan penelitian tetap dapat dicapai. Data yang diperoleh dari sampel yang dicuplik melalui teknik purposive sampling juga hanya dapat diolah dengan analisis statistika deskriptif. Hal terseut diseakan oleh karena sampel yang diteliti elum sepenuhnya representatif mewakili populasi.. Pengamilan sampel secara acak (random sampling) Pengamilan sampel secara acak (random sampling) mendasarkan diri pada prinsip peluang. Artinya, setiap individu anggota populasi yang diteliti harus memiliki peluang yang sama untuk dapat dijadikan sampel. Oleh karena itu, teknik random sampling juga diseut teknik proaility sampling. Agar setiap individu anggota populasi erkesempatan untuk terpilih menjadi sampel dilakukan pengacakan atau perandoman yang dilakukan dengan cara diundi. Dengan cara demikian, sampel yang tercuplik enar-enar dapat mewakili populasinya. 1) Pengamilan sampel acak sederhana (simple random sampling) Pengamilan sampel acak sederhana (simple random sampling) diterapkan jika populasi penelitian enar-enar homogen. Untuk keperluan terseut, peneliti harus menyiapkan kerangka sampling/kerangka pencuplikan (sampling frame), yang tidak lain erupa populasi yang akan diamil sampelnya. Agar dapat menentukan kerangka sampling/kerangka pencuplikan, peneliti harus memiliki informasi erapa jumlah individu yang menjadi anggota populasinya. Dengan demikian, populasinya enar-enar teratas atau erhingga jumlahnya. Setelah seluruh anggota populasi dicatat nomornya, kemudian dilakukan pengundian untuk memilih nomor-nomor anggota untuk diamil seagai sampel. Cara pengundian dapat menggunakan tael ilangan random yang tersedia pada Tael 1-2 atau dengan cara lain. Yang penting ahwa dalam melakukan undian enar-enar tidak ada unsur memihak. Jadi, enar-enar dipilih secara acak atau random. Dr. Bamang Suali, M.S. UNY 2011
20 Contoh, suatu peneliti ertujuan menyelidiki produksi sapi ras Selandia yang dipelihara di Kecamatan Cangkringan Kaupaten Sleman, Propinsi DIY. Karena sapisapi yang ada di kecamatan terseut didatangkan pada satu periode import, kemudian dipelihara dengan cara yang relatif sama oleh para petani maka aik umur ataupun kondisinya dianggap homogen. Oleh karena itu, jika di kecamatan terseut terdapat 1000 ekor sapi etina yang sedang aktif memproduksi air susu. Dengan perhitungan statistika untuk taraf signifikansi presisi/ketepatan + 5% harus diamil 286 ekor maka 1000 ekor sapi terseut diundi untuk diamil 286 ekor seagai sampel. Besarnya sampel yang harus diamil dari suatu populasi erdasarkan ukuran populasi dan atas taraf signifikansi (taraf nyata) ketepatannya pada Tael 1-1. Taraf signifikansi menunjukkan penyimpangannya, jadi kalau taraf signifikansi ketepatan 1%, yang erarti ahwa kekeliruan atau ketidaktepatan sampel mewakili populasi hanya 1%. Untuk mengamil 286 ekor dari 1000 ekor sapi etina terseut dilakukan pengundian. Untuk melakukan pengundian digunakan tael ilangan acak/random yang tersedia pada Tael 1-2. Tael ilangan acak/random merupakan kumpulan angka yang disusun menurut deret dan kolom yang enar-enar tersear secara acak. Oleh karena itu, nomor erapa pun yang terundi menurut tael ilangan acak/random akan diakui keacakannya. Pengundian menggunakan tael acak/random dilakukan dengan cara seagai erikut. 1. Buat nomor urut dari 1000 ekor sapi terseut. 2. Tentukan secara searang suatu ilangan pada tael random, misal dengan mata tertutup menjatuhkan ujung pensil pada tael random. Misalnya, tertunjuk ilangan aris ketiga elas kolom kesemilan, yaitu angka 6, dan dari angka 6 pada deretan terseut tertera angka 60 06 17 36 37 75 63 14 89 51 23 35 01 74 69 93. Karena 1000 terdiri dari 4 angka maka kita amil masing-masing 4 angka dari deretan angka terseut, kemudian dikurangi 1000. Hasil yang diperoleh menunjukkan nomor sampel yang terundi. Dari 4 angka pertama 6006 jika dikurangi 1000 secara erturut-turut diperoleh harga 0006, jadi sampel pertama dari 286 ekor sapi terseut adalah sapi ernomor 0006. Sampel kedua adalah sapi ernomor 0736 karena pada deret terseut tertera angka 1736 jika dikurangi 1000 tersisa 0736. Demikian seterusnya nomor-nomor sampel diundi Dr. Bamang Suali, M.S. UNY 2011
21 dengan memanfaatkan deret dan kolom angka pada tael random. Pengundian dihentikan setelah sampel yang diperlukan terpenuhi jumlahnya, yakni seanyak 286 ekor sapi. Tael 1.1. Ukuran Sampel (n) Berdasar Ukuran Populasi (N) dan Taraf Signifikansi Presisi/Ketepatan (e) untuk interval konfidensi 2σ (π = 0,5) a Ukuran populasi (N) 500 1.000 1.500 2.000 2.500 Ukuran sampel (n) untuk presisi/ketepatan (e) pada taraf signifikansi + 1% + 2% + 3% + 4% + 5% + 10% B B 1.250 B 638 714 769 385 441 476 500 222 286 316 333 345 83 91 94 95 96 3.000 3.500 4.000 4.500 5.000 1.364 1.458 1.538 1.607 1.667 811 843 870 891 909 517 530 541 549 556 353 359 364 367 370 97 97 98 98 98 6.000 7.000 8.000 9.000 10.000 5.000 1.765 1.842 1.905 1.957 2.000 938 959 976 989 1.000 566 574 580 584 588 375 378 381 383 385 98 99 99 99 99 15.000 20.000 25.000 50.000 100.000 6.000 6.667 7.143 8.333 9.091 2.143 2.222 2.273 2.381 2.439 1.034 1.053 1.064 1.087 1.099 600 606 610 617 621 390 392 394 397 398 99 100 100 100 100 10.000 2.500 1.111 625 400 100 Sumer: Yamane, T. 1973. Statistics: An Introductory Analysis. Keterangan: a adalah formula untuk ukuran sample jika proporsi populasi π adalah seagai erikut n o = z 2 z 2 1 N 2 1 N e = 1 N 2 N e dan n n o Asumsi yang digunakan dalam tale yaitu π = 0,5 dn z = 2; sehingga: 2 2 2 1 0,5 N N n = = dan n n o 2 2 2 2 1 N e z 1 0,5 N e = tidak ada sampel yang dapat diamil karena asumsi kenormalan data tidak terpenuhi Dr. Bamang Suali, M.S. UNY 2011
22 Tael 1.2. Tael ilangan Acak Dr. Bamang Suali, M.S. UNY 2011
23 Sumer:: Yamane, T. 1973. Statistics: An Introductory Analysis. Dr. Bamang Suali, M.S. UNY 2011
24 Hasil penelitian pada tingkat sampel diharapkan dapat digeneralisasikan sehingga dapat erlaku secara umum pada tingkat populasi. Oleh karena itu, ada dua kemungkinan yang terjadi. Kemungkinan pertama, yang menjadi populasi dalam penelitiannya juga merupakan populasi targetnya. Artinya, wilayah generalisasi dari kesimpulan yang diperoleh hanya erlaku pada populasi penelitiannya. Kemungkinan kedua, populasi penelitian hanya seagian dari populasi target yang leih esar yang memiliki karakteristik seagaimana populasi penelitiannya. Dengan sendirinya wilayah generalisasi kesimpulannya akan menjadi leih luas karena erlaku pada populasi target yang leih esar daripada populasi penelitiannya. Misalnya, suatu penelitian menyelidiki huungan mikroklimat dengan kekayaan jenis dan kelimpahan jenis tumuhan awah pada hutan jati di Kecamatan Semanu kaupaten Gunung-kidul. Jika hutan jati eserta tumuh-tumuhan awahnya tingkat homogenitasnya tidak ada padanannya di tempat lain maka populasi penelitian sekaligus merupakan populasi target. Artinya, kesimpulan yang diperoleh hanya erlaku pada hutan jati di kecamatan terseut. Jika homogenitas tumuhan awahnya juga sama dengan tumuhan awah pada hutan-hutan jati di kecamatan lain di wilayah Kaupaten Gunung Kidul (misal dengan alasan waktu tanam sama, tinggi tempat sama, jenis tanah dan kesuurannya sama, demikian pula faktor-faktor lain yang dicurigai ikut erpengaruh relatif sama) maka populasi targetnya adalah tumuhan awah pada hutan-hutan jati di seluruh kecamatan di Kaupaten Gunung Kidul. Dengan demikian, kesimpulan yang diperoleh dari penelitian di Kecamatan Semanu erlaku pula di seluruh kecamatan di Gunung Kidul. Tentu saja asumsi yang mendasari ahwa populasi target masih memiliki karakteristik yang sama, seperti populasi penelitiannya harus memiliki alasan atau argumentasi yang enar-enar kuat. 2) Pengamilan sampel sistematik (systematic sampling) Pengamilan sampel sistematik (systematic sampling) dapat dilakukan jika populasinya juga enar-enar homogen. Dalam hal ini, pengundian hanya dilakukan untuk memilih nomor sampel yang pertama. Jika nomor sampel pertamanya sudah terpilih maka pengamilan nomor sampel kedua dan seterusnya didasarkan pada Dr. Bamang Suali, M.S. UNY 2011
25 selang nomor yang konstan. Misalnya, setelah terundi sampel pertama adalah yang ernomor 6, yang diamil seagai sampel kedua yang ernomor 16, sampel ketiga yang ernomor 26, demikian dan seterusnya, sampai dengan jumlah tertentu sesuai dengan tingkat presisi yang kita kehendaki. Besarnya selang nomor k untuk pengamilan n sampel dari populasi erukuran N adalah seesar N/n. Jadi, dari pengamilan sampel seanyak 286 ekor dari 1000 ekor sapi, esarnya k = 1000/286 = 3. Agar dapat melakukan pengundian, kerangka sampling atau kerangka pencuplikannya juga harus tersedia terleih dahulu. Jika diandingkan dengan teknik simple random sampling, teknik ini akan leih praktis jika digunakan pada populasi homogen yang erukuran sangat esar. 3) Pengamilan Sampel Acak Berlapis (Stratified Random Sampling) Pengamilan sampel acak erlapis (stratified random sampling atau disingkat stratified sampling) dilakukan jika kita sudah mengetahui populasi tidak homogen. Oleh karena tidak homogen, populasi yang akan diteliti dikelompok-kelompokkan menjadi eerapa kelompok (strata) sehingga terjadi homogenitas pada masingmasing kelompok. Tentu saja perlu adanya informasi yang mendasar apa yang menjadikan populasi tidak homogen. Kemudian, harus diagi menjadi erapa kelompok, agar tiap kelompok, anggotanya enar-enar homogen. Jika setelah diselidiki dapat dikelompokkan menjadi lima kelompok maka akan diketahui pula erapa anggota masing-masing kelompok. Misal anggota kelompok I seanyak N 1, kelompok II seanyak N 2, kelompok III seanyak N 3, kelompok IV seanyak N 4, dan kelompok V seanyak N 5 maka sampel yang teramil harus proporsional sesuai dengan ukuran tiap kelompok dalam populasinya. Dengan demikian, apaila kita mengamil sampel erukuran n, harus terdiri dari sampel seanyak n 1 dari kelompok I, n 2 dari kelompok II, n 3 dari kelompok III, n 4 dari kelompok IV dan n 5 dari kelompok V dengan perandingan: n 1 : n 2 : n 3 : n 4 : n 5 = N 1 : N 2 : N 3 : N 4 : N 5 Dr. Bamang Suali, M.S. UNY 2011
26 Jika akan diamil sampel erukuran 83 dari populasi erukuran 500, dan setelah diselidiki populasi terseut terdiri dari 3 kelompok (strata) masing-masing seanyak 200, 175 dan 125 maka 83 sampel terseut terdiri dari: Sampel kelompok I = 200/500 83 = 33 Sampel kelompok II = 175/500 83 = 29 Sampel kelompok III = 125/500 83 = 21 4) Pengamilan sampel acak gugus (cluster sampling) Pengamilan sampel acak gugus atau pengamilan sampel acak geromol (cluster sampling) dilakukan jika populasi erada dalam suatu satuan tertentu yang terdiri dari gugus-gugus (cluster). Oleh karena unit sampelnya erupa satuan gugus maka seluruh individu yang terdapat dalam suatu gugus akan menjadi sampel penelitian jika gugus yang ersangkutan terundi seagai sampel. Pemagian populasi ke dalam gugus dapat erdasarkan wilayah, dapat pula erdasar pemilikan, dasar lain dengan kriteria yang sudah ditetapkan seelumnya. Pemagian ke dalam gugus hanya untuk memudahkan teknik pengacakan. Oleh karena itu, populasi diasumsikan enar-enar homogen. Misalnya, untuk memperoleh informasi tingkat kesehatan siswa SD pada suatu kecamatan, diasumsikan ahwa seluruh SD yang tersear pada kecamatan terseut memiliki tingkat kesehatan siswa yang relatif homogen. Jika kecamatan terseut terdiri atas 20 desa, erarti SD yang ada teragi ke dalam 20 gugus SD. Dengan teknik cluster sampling, kemudian diamil secara acak 5 desa yang dijadikan sampel. Dengan sendirinya seluruh siswa SD yang terdapat di 5 desa terseut menjadi sampel penelitian. Karena pemagian gugus erdasar area maka teknik pengamilan sampelnya juga diseut cluster sampling dengan pendekatan area maka diseut area sampling. Dalam hal ini kategorinya masih merupakan pengamilan sampel acak gugus sederhana atau simple cluster sampling karena pemagian populasi ke dalam gugus hanya dilakukan sekali atau satu tahap. Contoh lain, untuk meneliti produksi padi yang dihasilkan oleh petani di Kelurahan Minapadi, dilakukan pengamilan sampel dengan mendudukkan keluarga petani seagai unit sampelnya. Jika di desa terseut ada 200 keluarga petani padi Dr. Bamang Suali, M.S. UNY 2011
27 maka 200 keluarga petani terseut erkedudukan seagai gugus. Jika akan diamil 50 gugus seagai sampel maka dari 200 keluarga petani diamil 50 keluarga seagai sampel, kemudian didata erapa rata-rata produksi padi yang diperoleh tiap panen. Oleh karena pengamilan sampel menggunakan keluarga seagai gugus, kita oleh mengatakan ahwa teknik yang dilaksanakan adalah teknik cluster sampling dengan pendekatan keluarga. Pemagian populasi ke dalam gugus dapat ertingkat atau eerapa tahap. Misal, untuk populasi yang erada dalam suatu kaupaten, mula-mula diundi kecamatan mana yang akan dijadikan sampel. Dari masing-masing kecamatan yang terpilih seagai sampel, diundi lagi desa mana yang akan dipilih seagai sampel. Dengan demikian, pengamilan sampelnya menjadi ertahap. Oleh karena itu, tekniknya diseut teknik pengamilan sampel acak gugus ertahap (multi stage cluster sampling atau disingkat multi stage sampling). 2. Teknik Pengamilan Sampel dalam Penelitian Eksperimen Biologi Populasi di dalam penelitian eksperimen iologi oleh dikata hampir semuanya erupa populasi tak teratas atau populasi tak erhingga (infinite population). Penelitian eksperimen memiliki jangkauan generalisasi yang luas. Artinya, hasil yang diperoleh dari suatu eksperimen diharapkan akan selalu tetap jika dilakukan secara erulang-ulang pada ojek yang sama sepanjang cara/metode eksperimennya sama, aik dilakukan di tempat lain dan/atau waktu yang ereda. Seagai contoh, jika Anda ingin mengadakan percoaan untuk menyelidiki pengaruh pemerian dosis pupuk urea terhadap padi varietas Cisadane maka hasilnya diasumsikan akan tetap sama jika eksperimen terseut diulang lagi pada lokasi dan/atau waktu ereda sepanjang yang digunakan seagai sampel tetap padi Cisadane yang memiliki karakteristik sama dengan padi Cisadane yang telah digunakan dalam eksperimen seelumnya, dengan metode eksperimen yang sama pula. Selain itu, eksperimen iologi umumnya menghindarkan diri untuk dilaksanakan pada tingkat populasi. Jadi hampir tidak ada penelitian eksperimen yang ersifat sensus. Mengapa? Karena akiat eksperimen akan memawa konsekuensi terjadinya peruahan. Dr. Bamang Suali, M.S. UNY 2011
28 Oleh karena itu, penelitian eksperimen secara sensus ertentangan dengan hukum kelestarian. Mengingat penelitian eksperimen merupakan penelitian sampling (dilakukan pada tingkat sampel) maka atasan atau definisi populasinya harus enar-enar jelas, harus diingat ahwa ketidakjelasan populasi akan sangat erisiko agi penarikan kesimpulan dan generalisasinya. Misalnya, untuk melihat respons pertumuhan lidah uaya akiat pemerian dosis pupuk urea, si peneliti menggunakan padi varietas lidah uaya Kalimantan Barat Samasumur 2 minggu, tinggi 20 25 cm, dengan jumlah daun 7 helai tiap atang. Tentu hasilnya akan lain jika eksperimen terseut dikenakan pada padi varietas lain walaupun umur sama, tinggi sama serta jumlah atang per rumpun juga sama. Atau penelitiannya dilakukan terhadap lidah uaya dengan varietas sama tetapi umurnya eda atau umur sama tetapi tingginya ereda, atau umur sama, tinggi sama, tetapi jumlah daun tiap atang ereda. Jika populasinya sudah didefinisikan dengan jelas maka sampel tinggal dipilih sesuai dengan kriteria yang ada pada populasinya. Berapa jumlah sampel yang diutuhkan. Jumlah sampel yang diutuhkan akan seanding dengan anyaknya taraf perlakuan serta anyaknya ulangan. Jika taraf dosis pupuk urea yang digunakan ada 3 taraf/level perlakuan (0 g/pot, 5 g/pot, dan 10 g/pot, dan masing-masing perlakuan dengan replikasi/ulangan 10 kali maka diperlukan 30 atang tanaman lidah uaya. Di dalam eksperimen tewrseut anyaknya sampel yang representatif cukup diamil sesuai dengan anyaknya taraf faktor perlakuan serta anyaknya replikasi/ulangan. Hal terseut dilakukan mengingat populasinya homogen dan tak erhingga anyaknya. Berapa anyaknya ulangan yang harus dilakukan. Dari contoh eksperimen di atas peneliti memerlukan 3 x 10 atang tanaman lidah uaya. Seanyak 30 pot tanaman lidah uaya terseut selanjutnya diacak untuk menghasilkan tiga grup/kelompok. Grup/kelompok I akan dikenai perlakuan yakni x 1 (0 g/pot), grup/kelompok II dikenai perlakuan x 2 (5 g/pot), dan grup/kelompok III dikenai perlakuan x 3 (10 g/pot). Dengan demikian, seluruh tanaman terseut harus diundi secara acak sehingga teragi menjadi tiga grup dan setiap unit eksperimen erpeluang sama untuk memperoleh perlakuan x 1 atau x 2 atau x 3. Dalam hal ini maka rancangan eskperimen yang digiunakan adalah completely randomized Dr. Bamang Suali, M.S. UNY 2011
29 design (rancangan acak lengkap) jika seluruh faktor lain yang menjadi variael penekan/pengganggu/eksternal juga dapat dikendalikan sehingga enar-enar homogen. ) Tersedia 30 pot tanaman Lidah Buaya yang homogen Pot 1 Pot 2 Pot 3 Pot 4 Pot 5 Pot 6 Pot 7 Pot 8 Pot 9 Pot 10 Pot 11 Pot 12 Pot 13 Pot 14 Pot 15 Pot 16 Pot 17 Pot 18 Pot 19 Pot 20 Pot 21 Pot 22 Pot 23 Pot 24 Pot 25 Pot 26 Pot 27 Pot 28 Pot 29 Pot 30 Dr. Bamang Suali, M.S. UNY 2011
30 Hasil undian Grup I Pot 2 Pot 5 Pot 8 Pot 9 Pot 15 Pot 18 Pot 20 Pot 22 Pot 28 Pot 29 Grup 2 Pot 6 Pot 12 Pot 13 Pot 14 Pot 19 Pot 23 Pot 24 Pot 25 Pot 27 Pot 30 Grup 3 Pot 1 Pot 3 Pot 4 Pot 7 Pot 10 Pot 11 Pot 16 Pot 17 Pot 21 Pot 26 Dr. Bamang Suali, M.S. UNY 2011
31 Contoh kedua, seorang peneliti melakukan eksperimen dengan tujuan untuk menyelidiki pengaruh dosis pupun N terhadap pertumuhan tanaman Cendana. Namun, ukuran tanaman cendana tidak homogen. Ada semai cendana yang erukuran tinggi, ada yang erukuran sedang, sampai ada yang erukuran rendah. Seandainya dosis pupuk yang akan dikenakan adalah dosis 0 g/pot, 5 g/pot, dan 10 g/pot, masing-masing dengan 10 ulangan erarti diperlukan seanyak 30 pot tanaman Cendana. Misalnya, semai tanaman cendana yang tersedia seanyak: a) 7 pot tanaman yang tingginya 10 - <12 cm; ) 10 pot tanaman yang tingginya 12 - <14 cm; c) 8 pot tanaman yang tingginya 14 - <16 cm; d) 6 pot tanaman yang tingginya 16 - <18 cm; e) 5 pot tanaman yang tingginya 18 - <20 cm; f) 6 pot tanaman yang tingginya 20 - <22 cm; g) 2 pot tanaman yang tingginya 22 - <24 cm; h) 4 pot tanaman yang tingginya 24 - <26 cm; Jadi tersedia 8 grup tanaman Cendana erdasar tingginya. Namun karena semai tanaman cendana dengan ketinggian 22 - <24 cm, maka grup yang diperoleh hanya 7 grup. Mengapa demikian? Karena dengan tidak homogennya seluruh semai tanaman cendana yang tersedia, maka pengundian/randomisasi hanya dapat dilakukan pada tiap grup. Mengingat anyaknya taraf/level perlakuan ada 3 taraf/level, maka dalam setiap grup harus tersedia 3 semai tanaman cendana. Dengan demikian grup yang dapat digunakan untuk penelitian dan kemudian didudukkan seagai lok adalah a) Grup 1: dengan tinggi 10 - <12 cm ) Grup 2: dengan tinggi 12 - <14 cm c) Grup 3: dengan tinggi 14 - <16 cm d) Grup 4: dengan tinggi 16 - <18 cm e) Grup 5: dengan tinggi 18 - <20 cm f) Grup 6: dengan tinggi 20 - <22 cm g) Grup 7: dengan tinggi 24 - <26 cm Selanjutnya anggota setiap grup diundi untuk memperoleh x 1 (0 g/pot), perlakuan x 2 (5 g/pot) atau untuk memperoleh perlakuan x 3 (10 g/pot). Karena perlakuan dierikan Dr. Bamang Suali, M.S. UNY 2011
32 pada tiap kelompok maka desain eksperimennya adalah randomized completely lock design (rancangan acak erlok/rancangan acak kelompok) dengan catatan ahwa seluruh faktor lainnya yang mempengaruhi jalannya eksperimen harus dapat dikendalikan sehomogen mungkin menjadi variael kendali. Hasil pengundian grup/lok 1 Pot 1X 2 Pot 1X 1 Pot 1X 3 Hasil pengundian grup/lok 2 Pot 2X 3 Pot 2X 2 Pot 2X 1 Demikian selanjutnya sampai grup/lok 7, misalnya dengan hasil seagai erikut. Pot 7 1 Pot 7 3 Pot 7 2 Dr. Bamang Suali, M.S. UNY 2011