TANGGAPAN FREKUENSI. 7.1 Pendahuluan BAB VII
|
|
|
- Yanti Ratna Budiaman
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB VII TANGGAPAN FREKUENSI Taggapa frekuesi adalah taggapa keadaa tuak suatu sistem terhadap masuka siusoidal. Dalam metoda taggapa frekuesi, frekuesi siyal masuka dalam suatu daerah frekuesi tertetu diubah da taggapa frekuesi yag dihasilka dipelaari. Kriteria kestabila Nyquist memugkika utuk meyelidiki kestabila mutlak maupu relatif sistem liier lup tertutup dari karakteristik taggapa frekuesi lup terbukaya. Dalam megguaka kriteria kestabila ii tidak diperluka utuk meetuka akar-akar persamaa karakteristik. Peguia taggapa frekuesi pada umumya sederhaa da dapat dilakuka secara teliti dega megguaka pembagkit siyal siusoidal yag telah tersedia da alat-alat ukur yag teliti. Serigkali fugsi alih kompoe yag rumit dapat ditetuka secara eksperimetal dega peguia taggapa frekuesi. Metoda taggapa frekuesi dapat diterapka pada sistem yag tidak mempuyai fugsi rasioal. Solusi dari pada itu, sistem (kedalia) yag tidak diketahui atau sistem yag bear-bear dikeal, dapat ditagai dega metoda taggapa frekuesi sedemikia sehigga pegaruh derau yag tidak diigika dapat diabaika da aalisis serta peracaga semacam ii dapat diperluas ke sistem kedali o-liier. Pada bab ii aka dibahas metoda Bode Plot da metoda Nyquist utuk aalisis sistem kedali dalam kawasa frekuesi. Selautya dibahas kosep kestabila meurut Bode Plot da meurut kriteria Nyquist. Bila pada Bab V kosep kestabila sistem kedali dapat lagsug diterapka pada Root Locus yag berkawasa waktu, maka pada bab ii kosep kestabila pada Bode Plot da Nyquist diterapka secara tidak lagsug, yaitu dega megaitka letak pole-pole lup tertutup sistem dega besara margi fasa da margi peguata. 7. Pedahulua Perhatika sistem liier yag tidak berubah dega waktu seperti yag terlihat pada Gambar 7- berikut ii. 84
2 Bab 7: Taggapa Frekuesi 85 x(t) X(s) G(s) y(t) Y(s) Gambar 7-: Sistem liier yag tidak berubah dega waktu. Utuk sistem ii, maka Y(s) X(s) G(s) (7-) Masuka x(t) adalah siusoidal, yaitu x(t) X si t (7-) Jika sistem stabil, maka keluara y(t) dapat dituliska sebagai dega da y(t) Ysi( t + ) (7-3) Y X G( ) (7-4a) G( bagia imaier G( ) ) ta (7-4b) bagia riel G( ) Suatu sistem liier yag tidak berubah dega waktu stabil yag dikeai masuka siusoidal, pada keadaa tuak, aka mempuyai keluara siusoidal dega frekuesi yag sama dega masukaya.tetapi amplituda da fasa dari keluara, pada umumya, berbeda dega masukaya. Pada keyataaya, amplitudo keluara merupaka hasil kali amplitudo masuka dega G( ) ; sedagka sudut fasa berbeda dari masukaya sebesar G( ). Utuk masuka siusoidal, G( ) Y( X( ) ) perbadiga amplitudo keluara siussoidal terhadap masuka siusoidal. G( ) Y( X( ) ) pergesera fasa keluara siusoidal terhadap masuka siusoidal.
3 Bab 7: Taggapa Frekuesi 86 Dega demikia, karakteristik taggapa suatu sistem terhadap suatu masuka siusoidal dapat diperoleh secara lagsug dari Y( X( ) ) G( ) (7-5) Fugsi alih siusoidal G( ), perbadiga Y( ) dega X( ), merupaka besara kompleks da dapat diyataka dega besara da sudut fasa dega frekuesi sebagai parameter (sudut fasa egatif disebut fasa tertiggal (phase lag), da sudut fasa positif disebut fasa medahului (phase lead)). Fugsi alih siusoida setiap sistem liier diperoleh dega mesubstitusika s = pada fugsi alih sistem. 7. Diagram Bode Fugsi alih siusoidal dapat disaika dalam dua diagram yag terpisah, satu merupaka diagram besara terhadap frekuesi da yag laiya adalah diagram sudut fasa dalam deraat terhadap frekuesi. Diagram Bode terdiri dari dua grafik. Grafik pertama merupaka diagram dari logaritma besara fugsi siusoidal, da grafik yag lai merupaka sudut fasa; di maa kedua grafik digambarka terhadap frekuesi dalam skala logaritmik. Peyaia stadar besara logaritmik dari G( ) adalah log G( ), dega basis logaritma tersebut adalah. Satua yag diguaka dalam peyaia besara adalah desibel (db). Pada peyaia logaritmik, kurva digambarka pada kertas semilog, dega megguaka skala log utuk frekuesi da skala liier utuk besara (dalam db) atau sudut fasa (dalam deraat). 7.. Faktor-Faktor Dasar dari G( )H( ) Faktor-faktor dasar yag meyusu sebarag fugsi alih G( )H( ) adalah. Peguata K. Faktor itegral derivatif ( ) 3. Faktor orde pertama (+ T) 4. Faktor kuadratik
4 Bab 7: Taggapa Frekuesi Peguata K Setiap agka yag lebih besar dari satu mempuyai ilai positif dalam db, sedagka agka yag lebih kecil dari satu mempuyai ilai egatif. Kurva besara log utuk peguata K yag kosta merupaka garis horizotal dega besara log K db. Sudut fasa peguata K adalah ol. Pegaruh perubaha peguata K pada fugsi alih dapat meaikka atau meuruka kurva besara log fugsi alih tadi sesuai dega besar log K, tetapi tidak mempuyai pegaruh pada sudut fasa. db log K Gambar 7-: Kurva taggapa frekuesi besara log utuk peguata K Faktor Itegral da Derivatif ( ) Besara logaristmik dari dalam desibel adalah log log db Sudut fasa dari adalah kosta da besaraya -9. Dalam diagram Bode, perbadiga frekuesi diekspresika dalam betuk oktaf atau dekade. Oktaf adalah suatu pita frekuesi dari ke, dega adalah suatu harga frekuesi sembarag. Dekade adalah suatu pita frekuesi dari ke, dega adalah suatu harga frekuesi sembarag. Jika besara log - log db digambarka terhadap pada skala logaritmik, aka diperoleh garis lurus. (- log ) db = (- log -) db dega kemiriga garis tersebut adalah - db/dekade (atau -6 db/oktaf).
5 Bab 7: Taggapa Frekuesi 88 Dega cara yag sama, maka log log db dega sudut fasa yag kosta, yaitu 9. Kurva besara log adalah suatu garis lurus dega kemiriga db/dekade. Gambar berikut memperlihatka kurva taggapa frekuesi masig-masig utuk da. Perbedaa kedua taggapa frekuesi dari faktor da terletak pada tada kemiriga kurva besara - log da tada sudut fasa. Kedua besara log tersebut meadi sama dega db pada =. db db 4 kemiriga = -db/dekade - -4, 4 kemiriga = db/dekade - -4, o 8 o 9 o 9 o 8 o o,, Gambar 7-3: Kurva taggapa frekuesi besara - log da sudut fasaya, utuk da. Jika fugsi alih megadug faktor masig-masig meadi atau ( ), maka besara log log log log db ( ) atau log ( ) log log db
6 Bab 7: Taggapa Frekuesi 89 Selautya kemiriga kurva besara log utuk faktor-faktor da ( ), masig-masig - db/dekade da db/dekade. Sudut fasa = -9 o di seluruh retag frekuesi, sedagka sudut fasa ( ) = 9 o di seluruh retag frekuesi. Kurva besara melalui titik db, pada = Faktor Orde Pertama ( T) Besara log dari faktor orde pertama T adalah log T log T db Utuk frekuesi redah, <<, besara log dapat didekati dega T log T log = db Jadi kurva besara log pada frekuesi redah terletak di garis kosta db. Utuk frekuesi tiggi, >>, besara log dapat didekati dega T log T log T db yag merupaka ekspresi perkiraa retag frekuesi tiggi. Pada, besara log = db T, besara log = - db T Jadi harga - log T db megecil oleh db utuk setiap dekade. Utuk kurva besara log tersebut meadi suatu garis lurus dega kemiriga - db/dekade atau -6 db/oktaf. Kurva taggapa frekuesi dari faktor T T, dapat didekati dega dua buah garis lurus asimtotis, satu garis lurus pada db utuk daerah frekuesi < < T, da yag lai garis lurus dega kemiriga - db/dekade (-6 db/oktaf) utuk retag
7 Bab 7: Taggapa Frekuesi 9 frekuesi < <. Kurva besara log da kurva sudut fasaya terlihat pada gambar T berikut. Gambar 7-4: Kurva taggapa frekuesi besara - log da sudut fasaya, utuk T. Frekuesi pada perpotoga dua asimtot disebut frekuesi sudut (corer frequecy). Utuk faktor T, frekuesi = T merupaka frekuesi sudut karea pada = T kedua asimtot mempuyai ilai yag sama. (Ekspresi asimtot frekuesi redah pada = T adalah log db = db; ekspresi asimtotik frekuesi tiggi pada = T uga log db = db). Frekuesi sudut membagi kurva taggapa frekuesi meadi dua daerah, yaitu kurva utuk daerah frekuesi redah da kurva utuk daerah frekuesi tiggi. Frekuesi sudut sagat petig dalam membuat sketsa kurva taggapa frekuesi logaritmik. Sudut fasa sebearya dari faktor T adalah
8 Bab 7: Taggapa Frekuesi 9 ta T Pada frekuesi ol, sudut fasaya adalah. Pada frekuesi sudut, sudut fasaya adalah ta T T ta 45 Galat kurva besara yag diakibatka oleh asimtot-asimtot dapat dihitug. Kesalaha maksimum teradi pada frekuesi sudut da hampir sama dega -3 db, karea log log log 3, 3 db 3 db Galat pada frekuesi satu oktaf di bawah frekuesi sudut, yaitu pada 4 5 log log log, 97 db - db Galat pada frekuesi satu oktaf di atas frekuesi sudut, yaitu pada T adalah T adalah 5 log log log, 97 db - db Jadi galat pada satu oktaf di bawah atau di atas frekuesi sudut hampir sama dega - db. Dega demikia galat pada satu dekade di bawah atau di atas frekuesi sudut kirakira -,4 db. Dalam praktekya, kurva taggapa frekuesi yag teliti digambarka dega meempatka titik -3 db pada frekuesi sudut da titik - db satu oktaf di bawah atau di atas frekuesi sudut da selautya meghubugka titik ii dega suatu kurva yag halus (smooth). Suatu kelebiha diagram Bode adalah utuk faktor-faktor kebalika, misalya haya perlu diubah tadaya. Karea log T log T ta T T T maka frekuesi sudut kedua kasus tersebut adalah sama.
9 Bab 7: Taggapa Frekuesi 9 Kemiriga asimtot frekuesi tiggi dari adalah db/dekade. Da sudut T fasaya berubah dari sampai 9 ika frekuesi diperbesar dai sampai. Kurva besara log da sudut fasa utuk faktor T seperti terlihat pada gambar berikut. Gambar 7-5: Kurva taggapa frekuesi besara log da sudut fasaya, utuk T Faktor Kuadratik Sistem kedali mempuyai faktor kuadratik yag berbetuk Jika >, maka faktor kuadratik ii dapat diyataka sebagai perkalia dua buah orde pertama dega pole riel. Pole s da s adalah akar-akar yata, dega betuk
10 Bab 7: Taggapa Frekuesi 93 s s da s s ekivale dega T +, sehigga diagram Bode dapat digambarka sesuai dega subbab Jika < <, maka faktor kuadratik aka mempuyai dua akar kompleks sekawa. Pedekata asimtot pada kurva taggapa frekuesi utuk suatu faktor dega harga redah adalah tidak teliti. Hal ii disebabka besara da fasa faktor kuadratik tersebut tergatug pada frekuesi sudut da rasio redama. Megigat: log log maka utuk frekuesi redah sedemikia rupa sehigga meadi - log = db Jadi asimtot frekuesi redah merupaka garis horizotal pada db. Utuk frekuesi tiggi, log 4log, besara logya meadi db, besara log tersebut Persamaa utuk asimtot frekuesi tiggi merupaka garis lurus dega kemiriga -4 db/dekade, karea 4log 4 4log Asimtot frekuesi tiggi memotog asimtot frekuesi redah pada frekuesi ii =, karea pada 4log 4log Frekuesi ii merupaka frekuesi sudut pada frekuesi yag ditiau. db
11 Bab 7: Taggapa Frekuesi 94 Sudut fasa faktor kuadratik adalah ta..... (7-6) Sudut fasa merupaka fugsi da. Pada =, sudut fasa =. Pada frekuesi sudut =, sudut fasa = - 9, tidak tergatug karea ta ta 9 Pada =, sudut fasa meadi -8. Kurva sudut fasa simetris mirig terhadap ifleksi pada = -9. Kurva taggapa frekuesi utuk faktor dapat diperoleh haya dega membalik tada besara log da sudut fasa dari faktor. Utuk mecari kurva taggapa frekuesi fugsi alih kuadratik, pertama-tama harus ditetuka harga frekuesi sudut da rasio redama. Cotoh 7- Gambarka diagram Bode utuk fugsi alih lup terbuka Jawab : G(s)H(s) 4(s ) s(s 4)
12 Bab 7: Taggapa Frekuesi 95 G(s)H(s) G( )H( ) 4(s ) s(s 4) 4( ) ( 4) Meggambar besara log : Tetuka frekuesi sudut : da 4 Buat garis-garis asimtot dari Buat garis asimtot da 4 4 (garis - db/dekade atau -6 db/oktaf melalui titik = ). Buat garis kurva log = db (garis horizotal). Semua garis asimtot da kurva diumlahka. Lalu buat kurva yag lebih terperici, yag merupaka diagram Bode. Meggambar sudut fasa : G( )H( ) G( )H( ) ta G( )H( ) 5, 7 G( )H( ), 3 5 G( )H( ) 6, 57 G( )H( ) 45 G( )H( ) 63, 43 4 G( )H( ) 76 G( )H( ) G( )H( ) ta 4 4 G( )H( ), 43 G( )H( ) 4, G( )H( ) 6, 57 4 G( )H( ) 45 8 G( )H( ) 63, 43
13 Bab 7: Taggapa Frekuesi 96 G( )H( ) G( )H( ) 9 G( )H( ) G( )H( ) Semua sudut yag diperoleh diumlahka Bode yag bersagkuta. merupaka sudut fasa dari diagram Gambar 7-6: Kurva taggapa frekuesi besara - log da sudut fasaya, utuk Cotoh Hubuga atara Tipe Sistem dega Kurva Besara - Log Perhatika diagram blok sistem kedali balika satua seperti pada gambar berikut. R(s) + E(s) C(s) G(s) - Gambar 7-7: Sistem kedali balika satua.
14 Bab 7: Taggapa Frekuesi 97 Kostata galat posisi statik, kostata galat kecepata statik da kostata galat akselerasi statik, masig-masig meggambarka perilaku frekuesi redah dari sistem tipe, tipe da tipe. Utuk setiap sistem, haya ada satu kostata galat statik yag terhigga da sigifika. (Maki besar harga kostata galat statik terhigga tersebut, maka peguata lup meadi semaki tiggi ika medekati ol). Tipe sistem meetuka kemiriga kurva besara - log pada frekuesi redah. Jadi, iformasi megeai keberadaa da besarya galat keadaa tuak suatu sistem kedali terhadap masuka dapat ditetuka dari pegamata pada daerah frekuesi redah kurva besara - log Peetua Kostata Galat Posisi Statik adalah Perhatika Gambar 7-7 di atas. Asumsika bahwa fugsi alih lup terbukaya G(s) K(T s )(T s ) (T s ) a b m N s (T s )(T s ) (T s ) p atau G( ) K(T )(T ) (T ) a b m N (T )(T ) (T ) p Gambar 7-8 memperlihatka suatu cotoh diagram besara - log suatu sistem tipe. Dalam suatu sistem, besara G( ) sama dega K p pada frekuesi redah, atau db log K p - db/dekade -4 db/dekade dalam skala log Gambar 7-8 : Kurva besara - log suatu sistem tipe.
15 Bab 7: Taggapa Frekuesi 98 lim G( ) K p Hal ii berarti asimtot frekuesi redah berupa garis harizotal yag terletak pada log K p db Peetua Kostata Galat Kecepata Statik Perhatika sistem kedali balika satua seperti yag terlihat pada Gambar 7-7. Gambar 7-9 memperlihatka suatu cotoh diagram besara - log dari suatu sistem tipe. Perpotoga dari segme keadaa mula - db/dekade (atau perpaagaya) dega garis = mempuyai besara log K v. db db / dekade log K v 3 K v dalam ska la log - 4 db / dekade Gambar 7-9 : Kurva besara - log suatu sistem tipe. Dalam sistem tipe sehigga G( ) = K v, utuk << log K v = = log K v Perpotoga dari segme keadaa mula - db/dekade (atau perpaagaya) dega garis db mempuyai suatu frekuesi yag besarya sama dega K v. Utuk melihat hal ii, defiisika frekuesi pada perpotoga ii sebagai, maka K v = atau K v
16 Bab 7: Taggapa Frekuesi Peetua Kostata Galat Statik Perhatika sistem kedali balika satua seperti yag terlihat pada Gambar 7-7. Gambar 7- memperlihatka suatu cotoh diagram besara - log suatu sistem tipe. Perpotoga dari segme keadaa mula -4 db/dekade (atau perpaagaya) dega garis maka = mempuyai besara log K a. Pada frekuesi redah G( ) = K ( a ), utuk << log K a = = log K a db - 4 db / dekade 6 db / dekade log K a db / dekade a K a dalam ska la log Gambar 7-: Kurva besara - log suatu sistem tipe. Frekuesi a pada perpotoga segme keadaa mula -4 db/dekade (atau perpaagaya) dega garis db memberika kuadrat K a. Hal ii dapat dilihat dari log K ( ( K K a a ) a a ) = log = sehigga a K a
17 Bab 7: Taggapa Frekuesi 7..3 Meggambar Diagram Bode dega MATLAB Peritah bode meghitug besara da sudut fasa taggapa frekuesi sistem liier kotiyu yag tidak berubah dega waktu. Bila peritah bode (tapa argume di sebelah kiri sumbu khayal) dimasukka dalam komputer, MATLAB aka meghasilka suatu diagram Bode pada layar. Bila diperitahka dega argume di sebelah kiri, [mag,phase,w]=bode(um,de,w) bode megembalika taggapa frekuesi sistem dalam matriks mag, phase, da w. Tidak tampak diagram pada layar. Matriks mag da phase berisi besara da sudut fasa taggapa frekuesi sistem yag dievaluasi pada titik-titik frekuesi yag ditetuka. Sudut fasa dikembalika dalam satua deraat. Besara dapat dikoversika ke desibel dega peryataa. magdb=*log(mag) Utuk retag frekuesi tertetu, diguaka peritah logspace(d,d ) atau logspace(d,d, ). logspace(d,d ) meghasilka suatu vektor yag terdiri dari 5 titik logaritmik yag sama di atara dekade d da d. Sebagai cotoh, utuk meghasilka 5 titik di atara, rad/dtk da rad/dtk, masukka peritah w=logspace(-,) logspace(d,d, ) meghasilka titik logaritmik sama di atara dekade d da d. Sebagai cotoh, utuk meghasilka titik di atara rad/dtk da rad/dtk, masukka peritah w=logspace(,3,) Utuk memasukka frekuesi ii bila meggambar diagram Bode, guaka peritah bode(um,de,w) atau bode(a,b,c,d,iu,w). Peritah ii meyataka vektor frekuesi w yag ditetuka. Cotoh 7- Diberika fugsi alih sistem G( s) s 5 4s 5 Gambarka diagram Bodeya utuk fugsi alih di atas.
18 Bab 7: Taggapa Frekuesi Jawab : Program MATLAB : um=[ 5]; de=[ 4 5]; bode(um,de) subplot(,,); title( Diagram bode dari G(s) = 5/(s^+4+5) ) Gambar 7-: Diagram Bode dari G(s) 5. s 4s 5 Cotoh 7-3 Diberika fugsi alih lup terbuka suatu sistem adalah 9( s, s ) G( s) s( s, s 9) Gambarka diagram Bodeya. Jawab :
19 Bab 7: Taggapa Frekuesi Program MATLAB : um=[ 9.8 9]; de=[. 9 ]; bode(um,de) subplot(,,); title( Diagram Bode dari G(s) = 9(s^+,s+)/[s(s^+,s+9) ] Diagram Bode yag dihasilka secara otomatis aka mempuyai retag frekuesi, rad/dtk sampai rad/dtk. Gambar 7-: Diagram Bode dari G(s) 9(s,s ) s(s,s 9). Jika diigika gambar diagram Bode dari, rad/dtk sampai rad/dtk, masukka peritah w=logspace(-,3,)
20 Bab 7: Taggapa Frekuesi 3 Peritah ii meghasilka titik logaritmis yag sama di atara, rad/dtk da rad/dtk. Gambar 7-3: Diagram Bode dari G(s) 9(s,s ) s(s,s 9). Program MATLAB-ya : um=[ 9.8 9]; de=[. 9 ]; w=logspace(-,3,); bode(um,de,w) subplot(,,); title( Diagram Bode dari G(s) = 9(s^+,s+)/[s(s^+,s+9) ] Jika diguaka peritah bode(um,de,w)
21 Bab 7: Taggapa Frekuesi 4 kemudia retag frekuesi ditetuka, tetapi retag besara da retag sudut fasa secara otomatis aka ditetuka. Utuk retag besara da retag sudut fasa tertetu, guaka peritah [mag,phase,] = bode(um,de,w) Matriks mag da phase berisi besara da sudut fasa taggapa frekuesi yag dievaluasi pada titik-titik frekuesi yag ditetuka. Sudut fasa dikembalika ke dalam satua deraat. Besara dapat dikoversika ke desibel dega peryataa magdb=*log(mag) 7.3 Diagram Polar Diagram polar suatu fugsi alih siusoidal G( ) adalah suatu diagram besara G( ) terhadap sudut fasa G( ) pada koordiat polar, ika diubah dari sampai. Jadi diagram polar adalah tempat keduduka vektor G( ) G( ) ika diubah dari sampai. Dalam diagram polar, sudut fasa positif (egatif) diukur berlawaa arah dega arah arum am (searah dega arah arum am) dari sumbu riel positif. Diagram polar serig disebut diagram Nyquist. Gambar 7- berikut merupaka cotoh diagram polar. Re G( ) Im 3 G( ) G( ) Im Re G( ) Gambar 7-4: Diagram polar. Setiap titik pada diagram polar dari G( ) merupaka titik termial dari vektor utuk harga tertetu. Proyeksi G( ) pada sumbu yata da sumbu khayal adalah
22 Bab 7: Taggapa Frekuesi 5 kompoe yata da kompoe khayal G( ). Utuk meggambar diagram polar, baik besara G( ) maupu sudut fasa G( )harus dihitug secara lagsug utuk setiap frekuesi. Meskipu demikia, karea diagram logaritmik (Bode) mudah digambar, maka data yag diperluka utuk meggambar diagram polar dapat diperoleh secara lagsug dari diagram logaritmik tersebut, yaitu ika diagram ii digambarka lebih dahulu da skala desibel diubah meadi skala besara biasa. Atau MATLAB (program komputer) dapat diguaka utuk meetuka suatu diagram polar G( ) atau medapatka G( ) da G( ) secara teliti utuk harga yag berubah dalam retag frekuesi yag diperluka. Suatu keutuga pegguaa diagram polar adalah bahwa diagram tersebut melukiska karakteristik taggapa frekuesi sistem di seluruh retag frekuesi pada satu diagram. Kelemahaya adalah diagram ii tidak dapat secara elas meuukka kotribusi tiap-tiap faktor fugsi alih lup terbuka Faktor Itegral Da Derivatif ( ) Diagram polar dari G( ) = adalah sumbu khayal egatif, karea G( ) 9 Diagram polar dari G( ) = adalah sumbu khayal positif G( ) Faktor Orde Pertama + T Utuk fugsi alih siusoidal, G( ) T T ta T Harga G( ) pada = da = T, masig-masig adalah G() da G( ) T 45
23 Bab 7: Taggapa Frekuesi 6 Jika meuu,maka besara G( ) meuu da sudut fasa medekati - 9. Diagram polar dari fugsi alih ii adalah setegah ligkara ika frekuesi diubah dari sampai,seperti terlihat pada gambar berikut. Pusat terletak di,5 pada sumbu yata da ari-ariya =,5. Im T = G( T ) T T,5 Re G( T ) T = Gambar 7-5: Diagram polar dari T. Utuk membuktika bahwa diagram polar ii merupaka setegah ligkara, didefiisika dega G( X = Y = ) maka diperoleh X + Y = bagia riel dari G( ) + T T = bagia imaier dari G( ) + T ( X ) Y T T T T Jadi, pada bidag X-Y, G( ) berupa ligkara dega pusat di X = ½, Y = da ariari ½, seperti diperlihatka gambar berikut. Ligkara bagia bawah berkaita dega, sedagka ligkara bagia atas berkaita dega -.
24 Bab 7: Taggapa Frekuesi 7 Y,5 X Gambar 7-6: Diagram dari G( ) pada bidag X - Y. Diagram polar da fugsi alih + T berupa garis lurus melalui titik (,) dalam bidag kompleks da paralel dega sumber imaier, seperti yag terlihat pada gambar berikut. Im Re Gambar 7-7: Diagram polar dari T Faktor Kuadratik Bagia frekuesi redah da frekuesi tiggi alih siusoidal berikut G( ) Masig-masig diberika oleh limg( ) = da lim G( ) = ; > 8 Diagram polar fugsi alih siusoidal dimulai dari da berakhir pada -8 ika membesar dari meuu. Jadi bagia frekuesi tiggi dari G( ) meyiggug
25 Bab 7: Taggapa Frekuesi 8 sumbu riel egatif. Harga-harga G( ) dalam retag frekuesi yag diigika dapat dihitug secara lagsug, atau dega megguaka diagram Bode, atau dega megguaka MATLAB. Cotoh diagram polar dari fugsi alih yag diperhatika, seperti yag terlihat pada gambar berikut. Betuk eksak dari suatu diagram polar tergatug dari harga rasio redama, tetapi betuk umum dari diagram sama, baik utuk keadaa kurag teredam (> >) da terlalu diredam ( >). Gambar 7-8: Diagram polar dari G( ) ; > Im Re Gambar 7-9: Diagram polar dari utuk >
26 Bab 7: Taggapa Frekuesi Betuk Umum Diagram Polar Diagram polar dari fugsi alih yag berbetuk G( ) K(+ T )(+ T ) ( ) (+ T )(+ T ) ; > m. m m- b ( ) b ( ) o a ( ) a ( ) o a - b Betuk umumya adalah sebagai berikut.. Utuk = atau sistem tipe. Titik awal diagram polar adalah berhigga da terletak pada sumbu riel positif. Garis yag meyiggug diagram polar pada = adalah tegak lurus sumbu yata. Titik akhir yag berkaita dega = terletak di titik asal, da kurva tersebut meyiggug salah satu sumbu.. Utuk = atau sistem tipe. Betuk pada peyebut meambah - 9 pada sudut fasa total dari G( ) utuk. Pada =, besara dari G( ) adalah da sudut fasaya meadi - 9. Pada frekuesi redah, diagram polar mempuyai asimtot berupa garis lurus yag seaar dega sumbu khayal egatif. Pada =, besara G( ) meadi ol sehigga kurva koverge ke titik asal da meyiggug salah satu sumbu. 3. Utuk = atau sistem tipe. Betuk ( ) pada peyebut meambah pada sudut fasa total dari G( ) utuk. Pada =, besara G( ) meadi da sudut fasaya meadi -8. Pada frekuesi redah, diagram polar mempuyai asimtot berupa garis lurus yag seaar dega sumbu riel egatif. Pada =, besara G( ) meadi ol da kurva meyiggug salah satu sumbu.
27 Bab 7: Taggapa Frekuesi Betuk umum bagia frekuesi redah diagram polar dari sistem tipe, tipe, da tipe terlihat pada gambar berikut. Gambar 7-: Diagram polar dari sistem tipe, tipe, da tipe. Terlihat bahwa ika deraat poliomial peyebut dari G( ) lebih besar dari deraat poliomial pembilagya, maka tempat keduduka G( ) koverge ke titik pusat (,) searah dega arah arum am. Pada =, tempat keduduka meyiggug salah salah satu sumbu. Betuk kurva diagram polar yag rumit disebabka oleh diamika pembilagya, yaitu kostata waktu dalam pembilag dari fugsi alih. Gambar 7-: Diagram polar dari fugsi alih dega diamika pembilag.
28 Bab 7: Taggapa Frekuesi Dalam aalisis sistem kedali, diagram polar dari G( ) pada retag frekuesi yag diigika harus ditetuka secara teliti Cara Meggambar Diagram Nyquist Diagram Nyquist adalah sebuah cara utuk membuat taggapa frekuesi, di maa setiap phasor dari fugsi alih digambarka dalam koordiat polar, dega frekuesi sebagai variabelya. Beberapa cara meggambar diagram Nyquist adalah sebagai berikut. a. Cara tidak lagsug Dega terlebih dahulu membuat diagram Bode. Lalu utuk setiap frekuesi, besara da sudut fasaya dapat ditetuka. Cara ii teliti, tetapi memerluka waktu yag cukup lama. b. Cara lagsug Dega meghitug besara da sudut fasaya pada ttitik tertetu saa (titik-titik petig). Cara ii cepat, tetapi tidak teliti. Cotoh 7-4 : Peguata lup terbuka G( ) H( ) utuk G( )H( G( )H( ) ) 5 Lalu digambarka seperti berikut ( 5 ) 3, 6 5 (, 6 )(, ) , 433 ( 4) 9
29 Bab 7: Taggapa Frekuesi Perpotoga dega garis -8 (dicari dega cara coba-coba), yaitu pada tertetu, dalam hal ii pada = 4 rad/dtk. 5 G( ) H( ) 4 (, 4 )(, 4 ) 5 4(, 4 )(, 4 ), c. Cara pemetaa Utuk meggambarka G(s)H(s) dega pemetaa dari bidag s ke bidag GH (koordiat bola). Diperluka kurva yag legkap, termasuk frekuesi kompleks da egatif. Mes kipu demikia, cara ii tidak teliti Meggambar Diagram Nyquist dega MATLAB Diagram Nyquist, seperti diagram Bode, biasaya diguaka dalam represetasi taggapa frekuesi dari sistem kedali balika liier yag tidak berubah dega waktu. Diagram Nyquist adalah diagram polar, sedagka diagram Bode adalah diagram rectagular. Dalam MATLAB, peritah yquist meghitug taggapa frekuesi utuk sistem liier kotiyu yag tidak berubah dega waktu. Bila tapa argume bagia sebelah kiri sumbu khayal, yquist aka meghasilka suatu diagram Nyquist pada layar. Peritah yquist(um,de) meggambar diagram Nyquist dari fugsi alih um(s) G( s) de( s) dega um da de berisi koefisie poliomial dalam pagkat s yag meuru. Peritah yquist(um,de,w) megguaka vektor frekuesi w yag ditetuka oleh pemakai. Vektor w meyataka titik-titik frekuesi dalam radia per detik di maa taggapa frekuesi aka dihitug. Bila dimita dega argume sebelah kiri
30 Bab 7: Taggapa Frekuesi 3 [re,im,w] = yquist(um,de) atau [re,im,w] = yquist(um,de,w) MATLAB megembalika taggapa frekuesi sistem dalam matriks re, im, da w. Tidak terdapat diagram pada layar. Matriks re da im berisi bagia riel da imaier dari taggapa frekuesi sistem yag dievaluasi pada titik-titik frekuesi tertetu dalam vektor w. Perhatika bahwa re da im mempuyai bayak kolom sebagai keluara da satu baris utuk setiap eleme dalam w. Cotoh 7-5 Diberika fugsi alih lup terbuka dari sistem adalah G( s) s, 8s Gambarka diagram Nyquist-ya dega MATLAB. Jawab : Karea sistem diberika dalam betuk fugsi alih, peritah yquist(um,de) dapat diguaka utuk meggambar suatu diagram Nyquist. Program MATLABya : um=[ ]; de=[.8 ]; yquist(um,de) grid title( Diagram Nyquist dari G(s) = /(s^+,8s+) )
31 Bab 7: Taggapa Frekuesi 4 Gambar 7-: Diagram Nyquist dari G(s) s,8s Jika diigika meggambar diagram Nyquist dega retag yag ditetuka, misalya dari - sampai pada sumbu riel da - sampai pada sumbu imaier, masukka peritah v=[ - - ] axis(v); atau axis ([- - ]); Program Matlab ya %.. Diagram Nyquist.. um=[ ]; de=[.8 ]; yquist(um,de) v=[- - ]; axis(v) grid title( Diagram Nyquist dari G(s) = /(s^+,8s+) )
32 Bab 7: Taggapa Frekuesi 5 Gambar 7-3: Diagram Nyquist dari G(s) utuk retag - higga + s,8s Kriteria Kestabila Nyquist Kriteria kestabila Nyquist adalah kriteria kestabila yag megaitka atara taggapa frekuesi lup terbuka G( )H( ) dega bayakya pole loop tertutup + G( )H( ) yag terletak di sebelah kaa sumbu khayal pada bidag s. Sistem stabil bila semua akar persamaa karakteristik G s H s, atau semua pole loop tertutup terletak disebelah kiri bidag-s. Sistem tetap stabil meskipu pole-pole/zerozero fugsi alih loop terbuka ada yag terletak disebelah kaa bidag-s. Kriteria ii sagat bergua karea kestabila mutlak sistem lup tertutup dapat ditetuka secara grafis dari kurva taggapa frekuesi lup terbuka sehigga tidak perlu mecari pole-pole lup tertutup. Kurva taggapa frekuesi lup terbuka yag diperoleh secara aalitis maupu yag diperoleh secara eksperimetal dapat diguaka utuk aalisis kestabila. Utuk memahami kosep kestabila Nyquist, diperluka pemahama tetag kosep pemetaa dari bidag-s ke bidag F( s) G( s) H( s) terlebih dahulu.
33 Bab 7: Taggapa Frekuesi 6 Gambar 7-4 meuukka hasil pemetaa tersebut utuk beberapa kasus. Beberapa catata yag dapat diambil dari Gambar 7-4 adalah sebagai berikut:. Bila ada pole dikeliligi oleh kurva tertutup bidag-s, maka titik asal aka dikeliligi kali berlawaa arah arum am pada di bidag F(s).. Bila ada pole da zero dega umlah sama pada kurva tertutup di bidag -s, maka kurva tertutup di bidag F(s) tak megeliligi titik asal. 3. Bila ada zero yag diligkupi oleh kurva tertutup di-bidag-s, maka kurva tertutup pada bidag F(s) ya aka megeliligi titik asal searah arum am sebayak umlah zero tersebut. 4. Bila kurva tertutup di bidag-s tak mecakup pole atau zero, maka kurva pemetaaya di bidag F(s) tak megeliligi titik asal pula. 5. Pemetaa dari bidag-s ke bidag F(s) merupaka pemetaa -, sebalikya tidak.
34 Bab 7: Taggapa Frekuesi 7 Gambar 7-4: Pemetaa dari bidag s ke bidag F(s) = + G(s)H(s)
35 Bab 7: Taggapa Frekuesi 8 Secara umum, persamaa karakteristik suatu sistem kedali dapat diyataka sbb: p( s) F( s) q( s) Bila P = umlah pole F(s) yag terletak di dalam beberapa litasa tertutup dibidag-s, da Z = umlah zero F(s) yag terletak di dalam beberapa litasa tertutup di bidag-s, dega litasa-litasa tersebut tidak melalui pole-pole / zero-zero tersebut. Apabila litasa-litasa pada bidag-s tersebut dipetaka pada bidag F(s), maka umlah total N litasa tertutup di bidag F(s) yag megeliligi titik asal searah arum am = Z - P. Dalam aplikasiya, teori pemetaa pada aalisis kestabila harus memeuhi beberapa persyarata berikut ii: Litasa tertutup pada bidag-s mecakup semua bidag sebelah kaa (disebut litasa Nyquist) sebagaimaa dituukka pada Gambar 7-5. Gambar 7-5: Litasa Nyquist Semua pole da zero + G(s) H(s) yag memiliki bagia yata positip tercakup pada litasa Nyquist. Sistem stabil bila tak ada akar-akar persamaa karakteristik +G(s)H(s) =, atau pole-pole loop tertutup didalam litasa Nyquist. Utuk memudahka aalisis selautya, maka bidag F( ) = + G( )H( ) yag meggambarka sistem loop tertutup dipetaka pada bidag G( )H( ) yag meggambarka sistem loop terbuka. Pemetaa ii meghasilka pergesera titik asal pada bidag [+G( )H( )] ke titik + pada bidag G( )H( ) sebagaimaa
36 Bab 7: Taggapa Frekuesi 9 dituukka pada Gambar 7-6. Dega demikia, pegeliliga titik asal pada kurva [ + G( ) H( )] berubah meadi pegeliliga titik - + pada kurva G( ) H( ). Gambar 7-6: Pemetaa dari bidag [+ G( )H( )] ke bidag G( )H( ) Berikut ii adalah kriteria kestabila Nyquist utuk kasus G(s)H(s) tak memiliki pole/zero pada sumbu maya. Bila fugsi alih loop terbuka G(s)H(s) memiliki k pole di sebelah kaa bidag-s da lim s ~ G(s)H(s) = kosta, maka sistem stabil bila kurva G( )H( ) megeliligi titik - + sebayak k kali berlawaa arah arum am. dega: Secara matematis, kriteria tersebut dapat dituliska sebagai berikut: Z = N + P Z = bayakya akar persamaa karakteristik +G(s)H(s)=, atau pole-pole loop tertutup yag terletak disebelah kaa bidag-s. N = Berapa kali titik -+ pada bidag G( )H( ) dikeliligi searah arum am. P = bayakya pole loop terbuka G(s)H(s) yag terletak disebelah kaa bidag-s. Kriteria tersebut dapat diyataka sebagai berikut: Bayakya akar F(s)=+G(s)H(s) yag terletak di daerah tak stabil sama dega bayakya pole G(s)H(s) di daerah tak stabil ditambah dega berapa kali kurva F(s) megeliligi titik asal searah arum am.
37 Bab 7: Taggapa Frekuesi Dega demikia, sistem stabil bila Z =. Hal ii dapat teradi apabila:. P = da N =. Bila P, maka N = -P Pada kasus pertama, sistem yag tak memiliki pole da zero loop terbuka yag terletak disebelah kaa bidag-s (disebut sistem fasa miimum) aka stabil bila kurva Nyquist pada bidag G( )H( ) tak megeliligi titik +. Sedag pada kasus kedua, yaitu utuk sistem yag memiliki P pole da /atau zero loop terbuka yag terletak disebelah kaa bidag-s (disebut sistem fasa o miimum) aka stabil bila kurva Nyquist pada bidag G( )H( ) megeliligi titik + berlawaa arah arum am sebayak P kali. Pada sistem yag memiliki beberapa loop, maka kestabilaya harus diaalisis secara hati-hati megigat sistem tersebut mugki memiliki pole-pole yag terletak disebelah kaa bidag-s. Perlu dicatat bahwa meskipu sistem loop dalamya tidak stabil, dega peracaga yag sesuai sistem keseluruha dapat stabil. Ispeksi pegeliliga titik + oleh kurva G( )H( ) tidak cukup utuk melacak ketidak stabila pada sistem loop bayak. Dalam kasus ii, kestabila lebih mudah diui dega kriteria Routh. Bila ada fugsi trasedetal (misal e -Ts ) pada G(s)H(s), dekati fugsi tersebut dega suku pertama deret sebagai berikut: e Ts Ts Ts ( Ts) 8 ( Ts) 8 ( Ts) 48 ( Ts) e Ts Ts Ts Ts Ts (7-7) Selautya guaka kriteria Routh utuk megaalisis kestabilaya. Bila kurva G( )H( ) melalui titik +, hal ii meuukka ada pole-pole loop tertutup pada sumbu, sehigga sistem aka berosilasi. Disampig itu, litasa Nyquist tak boleh melalui pole/zero +G(s)H(s). Bila ada pole atau zero G(s)H(s) dititik asal (pada bidag-s), maka litasa Nyquist harus tidak mecakupya seperti terlihat pada Gambar 7-7.
38 Bab 7: Taggapa Frekuesi. Gambar 7-7: Kurva Nyquist tidak melitasi pole / zero loop terbuka pada titik asal Cotoh 7-6: Tetuka kestabila sistem yag memiliki fugsi alih lup terbuka: k G s H s s s Jawab: Pemetaa s e ; dega ; 9 o sampai 9 o, maka G e H e k k e e (setegah ligkara dega ari-ari ~ da bermula dari +9 higga -9 ) Gambar 7-8 : Pemetaa Kurva Nyquist dari kompleks bidag s ke k bidag kompleks GH utuk G s H s s s
39 Bab 7: Taggapa Frekuesi Dari Gambar 7-8 terlihat bahwa N =, P=, sehigga Z = yag berarti sistem tersebut adalah stabil. Cotoh 7-7: Tetuka kestabila sistem yag memiliki fugsi alih lup terbuka: k G s H s s Ts Jawab: Pemetaa s e 9 o ; t ; : sampai 9 o, diperoleh : lim s te G s H s k e (ligkara dega ari-ari ~ da berawal dari 8 o higga -8 o ). Gambar 7-9 : Pemetaa Kurva Nyquist dari kompleks bidag s ke k bidag kompleks GH utuk G s H s s Ts Terlihat dari Gambar 7-9 bahwa : N=, P=, sehigga Z= yag meuukka adaya pole lup tertutup sistem berada didaerah tak stabil pada bidag s.
40 Bab 7: Taggapa Frekuesi 3 Cotoh 7-8: Aalisislah kestabila sistem yag memiliki fugsi alih lup terbuka berikut ii. Cotoh 7-9: Gambar 7-3: Kurva Nyquist sistem pada Cotoh 7-8 pada bidag GH Aalisislah kestabila sistem yag memiliki fugsi alih lup terbuka berikut ii. Gambar 7-3: Kurva Nyquist sistem pada Cotoh 7-9 pada bidag GH
41 Bab 7: Taggapa Frekuesi 4 Cotoh 7-: Aalisislah kestabila sistem yag memiliki fugsi alih lup terbuka berikut ii. Gambar 7-3: Kurva Nyquist sistem pada Cotoh 7- pada bidag GH Cotoh 7-: Aalisislah kestabila sistem yag memiliki fugsi alih lup terbuka berikut ii. Gambar 7-33: Kurva Nyquist sistem pada Cotoh 7- pada bidag GH.
42 Bab 7: Taggapa Frekuesi 5 Cotoh 7-: Aalisislah kestabila sistem yag memiliki fugsi alih lup terbuka berikut ii. Gambar 7-34: Kurva Nyquist sistem pada Cotoh 7- pada bidag GH Cotoh 7-3: Aalisislah kestabila sistem yag memiliki fugsi alih lup terbuka berikut ii. G( s) H( s) s( s )( s 3) 7 sistem stabil 8 9 Gambar 7-35: Kurva Nyquist sistem utuk G( s) H( s) pada bidag GH s( s )( s 3) Bila peguata lup terbukaya diperbesar kali, maka G( s) H( s) Terlihat pada Gambar 7-36 bahwa sistem tersebut masih stabil. s( s )( s 3 ).
43 Bab 7: Taggapa Frekuesi sistem stabil 9 Gambar 7-36: Kurva Nyquist sistem utuk G( s) H( s) pada bidag GH s( s )( s 3) Bila peguata lup terbukaya diperbesar 5 kali, maka G( s) H( s) Terlihat pada Gambar 7-37 bahwa sistem tersebut tidak stabil. 5 s( s )( s 3 ). 7 sistem tidak stabil 8 9 Gambar 7-37: Kurva Nyquist sistem utuk G( s) H( s) 5 pada bidag GH s( s )( s 3) Jadi utuk G( s) H( s) stable). K s( s )( s 3) sistemya aka stabil bersyarat (coditioally 7.4 Margi Fasa da Margi Peguata Kestabila sistem pada kawasa waktu dapat ditetuka dari letak pole-pole sistem lup tertutupya. Sistem stabil bila semua pole tersebut terletak disebelah kiri
44 Bab 7: Taggapa Frekuesi 7 sumbu maya pada bidag-s. Dega kata lai, sumbu maya merupaka batas atara stabil da tidak stabil. Pada kawasa frekuesi, syarat kestabila dapat dituruka dari persamaa karakteristik sistem balika satua [ + G( )= atau G( )= -], dega G( ) adalah eleme mau. Persamaa kompleks ii selautya dapat dipecah meadi persamaa utuk magitude da utuk sudut fasa. Dari persamaa utuk magitude selautya dituruka kosep margi peguata da margi fasa dituruka dari persamaa kedua. Kosep kestabila aka lebih mudah dipahami setelah memahami pegertia margi fasa da margi peguata Margi Fasa Margi fasa adalah bayakya fasa tertiggal yag ditambahka pada frekuesi gai cross over yag diigika agar sistem berbatasa dega keadaa tidak stabil. Frekuesi gai cross over adalah frekuesi di maa G( ) =. Margi fasa adalah 8 ditambah sudut fasa dari fugsi alih lup terbuka pada frekuesi gai cross over atau = 8 + (7-8) Dari gambar berikut terlihat bahwa dalam diagram polar sebuah garis harus digambar dari pusat ke titik di maa ligkara satua berpotoga dega diagram G( ). Sudut dari sumbu riel egatif ke garis ii adalah margi fasa. Margi fasa positif utuk > da egatif utuk <. Utuk sistem fasa miimum (tidak terdapat pole atau zero di kaa sumbu khayal bidag s) yag stabil, margi fasa harus positif. Dalam diagram logaritmik, titik kritis dalam bidag kompleks berkaita dega garis db da -8.
45 Bab 7: Taggapa Frekuesi 8 G db G db margi peguata positif margi peguata egatif log log log margi fasa positif log margi fasa egatif Sistem stabil Sistem tidak stabil Bidag G Im Bidag G Im margi peguata positif K g margi fasa egatif - Re - Re margi fasa positif G( ) G( ) K g margi peguata egatif Sistem stabil Sistem tidak stabil Gambar 7-3: Margi fasa da margi peguata dari sistem stabil da sistem tidak stabil Margi Peguata Margi fasa adalah kebalika dari besara G( ) pada frekuesi di maa sudut fasa = -8. Bila didefiisika frekuesi phase cross over adalah frekuesi di maa sudut fasa fugsi alih lup terbuka = -8, maka margi peguata K g adalah K g G( ) (7-9a)
46 Bab 7: Taggapa Frekuesi 9 Dalam betuk desibel K g db log K g log G( ) (7-9b) Margi fasa yag diekspresika dalam desibel, positif ika K g > da egatif ika K g <. Jadi suatu margi fasa positif (dalam desibel) berarti sistem stabil, da margi fasa egatif (dalam desibel) berarti sistem tidak stabil. Sistem stabil dalam fasa miimum dituukka oleh margi peguataya, yaitu seberapa besar peguata dapat diaikka sebelum sistem meadi tidak stabil. Sistem tidak stabil dituukka oleh seberapa besar peguata yag harus dituruka agar sistem meadi stabil. 7.5 Taggapa Frekuesi Lup Tertutup 7.5. Sistem Balika Satua Utuk suatu sistem lup tertutup stabil, taggapa frekuesi dapat diperoleh secara mudah dari lup terbuka. Fugsi alih lup tertutupya adalah C( s) R( s) G( s) G( s) Diagram Nyquist utuk lup terbukaya [G ( )] dituukka pada Gambar 7-4. Im -+ P - O Re A G( ) Gambar 7-4: Diagram Polar G( ) pada bidag G( ). Perbadiga dari vektor OA da PA adalah taggapa frekuesi lup tertutup utuk ilai pada titik yag bersagkuta. OA PA G( ) G( ) C( ) R( ) (7-) Hal ii memperlihatka bahwa setiap titik pada bidag G( ) terhubug ke suatu ilai
47 Bab 7: Taggapa Frekuesi 3 C( ) R( ) tertetu. Besara taggapa frekuesi lup tertutup didefiisika sebagai M da sudut fasaya, C( ) sehigga R( ) M e Ligkara M : Magitude Utuk medapatka tempat keduduka besara kosta, G( ) dilihat sebagai suatu ilai kompleks yag dituliska sebagai G( ) = X + Y Dega X da Y berilai riil, maka M meadi M= X Y X Y da M adalah M sehigga X X Y Y X M M X M M Y.... (7-) Jika M =, maka dari persamaa (7-) didapat X persamaa garis yag paralel dega sumbu Y da melalui titik persamaa (7-) dapat dituliska sebagai. Persamaa ii adalah,. Jika M, X M M M X M Y Bila pada kedua sisiya ditambahka M ( M ), didapat X sehigga M M M M M X Y M ( M ) ( M ) X M M M Y ( M )... (7-)
48 Bab 7: Taggapa Frekuesi 3 Persamaa (7-) merupaka persamaa ligkara yag berpusat di X= Y=, dega ari-ari M M. M M da Tempat keduduka kostata M pada bidag G(s) adalah sekumpula ligkara. Titik pusat da ari-ariya utuk suatu M tertetu dapat ditetuka dapat dega mudah. Gambar 7-5: Ligkara M pada bidag G( ) Ligkara N: Sudut Fasa Sudut fasa e dalam betuk X da Y diperoleh seperti berikut. X Y X Y Sudut fasa adalah ta X Y ta Y X Jika didefiisika ta maka = N N ta ta Y X ta Y X
49 Bab 7: Taggapa Frekuesi 3 karea ta( A B) maka diperoleh atau N Y X Y X Y Y X X X X Y ta A ta B taa ta B N Y Y X X Y Tambahka 4 N pada kedua sisiya sehigga diperoleh X Y N 4 N.. (7-3) Persamaa (7-3) merupaka persamaa ligkara yag berpusat di X da Y N dega ari-ari 4 N Gambar 7-6: Ligkara N pada bidag G( ).
B a b 1 I s y a r a t
34 TKE 315 ISYARAT DAN SISTEM B a b 1 I s y a r a t (bagia 3) Idah Susilawati, S.T., M.Eg. Program Studi Tekik Elektro Fakultas Tekik da Ilmu Komputer Uiversitas Mercu Buaa Yogyakarta 29 35 1.5.2. Isyarat
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Model Sistem dalam Persamaan Keadaan
Istitut Tekologi Sepuluh Nopember Surabaya Model Sistem dalam Persamaa Keadaa Pegatar Materi Cotoh Soal Rigkasa Latiha Pegatar Materi Cotoh Soal Rigkasa Istilah-istilah Dalam Persamaa Keadaa Aalisis Sistem
5. KARAKTERISTIK RESPON
5. ARATERISTI RESPON Adalah ciri-ciri khusus perilaku diamik (spesifikasi performasi) Taggapa (respo) output sistem yag mucul akibat diberikaya suatu siyal masuka tertetu yag khas betukya (disebut sebagai
Bab 3 Metode Interpolasi
Baha Kuliah 03 Bab 3 Metode Iterpolasi Pedahulua Iterpolasi serig diartika sebagai mecari ilai variabel tergatug tertetu, misalya y, pada ilai variabel bebas, misalya, diatara dua atau lebih ilai yag diketahui
I. DERET TAKHINGGA, DERET PANGKAT
I. DERET TAKHINGGA, DERET PANGKAT. Pedahulua Pembahasa tetag deret takhigga sebagai betuk pejumlaha suku-suku takhigga memegag peraa petig dalam fisika. Pada bab ii aka dibahas megeai pegertia deret da
terurut dari bilangan bulat, misalnya (7,2) (notasi lain 2
Bab Bilaga kompleks BAB BILANGAN KOMPLEKS Defiisi Bilaga Kompleks Sebelum medefiisika bilaga kompleks, pembaca diigatka kembali pada permasalah dalam sistem bilaga yag telah dikeal sebelumya Yag pertama
6. Pencacahan Lanjut. Relasi Rekurensi. Pemodelan dengan Relasi Rekurensi
6. Pecacaha Lajut Relasi Rekuresi Relasi rekuresi utuk dereta {a } adalah persamaa yag meyataka a kedalam satu atau lebih suku sebelumya, yaitu a 0, a,, a -, utuk seluruh bilaga bulat, dega 0, dimaa 0
REGRESI LINIER DAN KORELASI. Variabel bebas atau variabel prediktor -> variabel yang mudah didapat atau tersedia. Dapat dinyatakan
REGRESI LINIER DAN KORELASI Variabel dibedaka dalam dua jeis dalam aalisis regresi: Variabel bebas atau variabel prediktor -> variabel yag mudah didapat atau tersedia. Dapat diyataka dega X 1, X,, X k
PERTEMUAN 13. VEKTOR dalam R 3
PERTEMUAN VEKTOR dalam R Pegertia Ruag Vektor Defiisi R Jika adalah sebuah bilaga bulat positif, maka tupel - - terorde (ordered--tuple) adalah sebuah uruta bilaga riil ( a ),a,..., a. Semua tupel - -terorde
Solusi Numerik Persamaan Transport
Solusi Numerik Persamaa Trasport M. Jamhuri December 16, 2013 Diberika persamaa Trasport u t + 2u x = 0 1) Diberika persamaa Trasport u t + 2u x = 0 1) Diskretka persamaa trasport 1) dega megguaka persamaa
BAB I KONSEP DASAR PERSAMAAN DIFERENSIAL
BAB I KONSEP DASAR PERSAMAAN DIFERENSIAL Defiisi Persamaa diferesial adalah persamaa yag melibatka variabelvariabel tak bebas da derivatif-derivatifya terhadap variabel-variabel bebas. Berikut ii adalah
Definisi Integral Tentu
Defiisi Itegral Tetu Bila kita megedarai kedaraa bermotor (sepeda motor atau mobil) selama 4 jam dega kecepata 50 km / jam, berapa jarak yag ditempuh? Tetu saja jawabya sagat mudah yaitu 50 x 4 = 200 km.
BAB II LANDASAN TEORI. matematika secara numerik dan menggunakan alat bantu komputer, yaitu:
4 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Model matematis da tahapa matematis Secara umum tahapa yag harus ditempuh dalam meyelesaika masalah matematika secara umerik da megguaka alat batu komputer, yaitu: 2.1.1 Tahap
Bab IV. Penderetan Fungsi Kompleks
Bab IV Pedereta Fugsi Kompleks Sebagaimaa pada fugsi real, fugsi kompleks juga dapat dideretka pada daerah kovergesiya. Semua watak kajia kovergesi pada fugsi real berlaku pula pada fugsi kompleks. Secara
BAB II LANDASAN TEORI. Dalam tugas akhir ini akan dibahas mengenai penaksiran besarnya
5 BAB II LANDASAN TEORI Dalam tugas akhir ii aka dibahas megeai peaksira besarya koefisie korelasi atara dua variabel radom kotiu jika data yag teramati berupa data kategorik yag terbetuk dari kedua variabel
JURNAL MATEMATIKA DAN KOMPUTER Vol. 6. No. 2, , Agustus 2003, ISSN : METODE PENENTUAN BENTUK PERSAMAAN RUANG KEADAAN WAKTU DISKRIT
Vol. 6. No., 97-09, Agustus 003, ISSN : 40-858 METODE PENENTUAN BENTUK PERSAMAAN RUANG KEADAAN WAKTU DISKRIT Robertus Heri Jurusa Matematika FMIPA UNDIP Abstrak Tulisa ii membahas peetua persamaa ruag
An = an. An 1 = An. h + an 1 An 2 = An 1. h + an 2... A2 = A3. h + a2 A1 = A2. h + a1 A0 = A1. h + a0. x + a 0. x = h a n. f(x) = 4x 3 + 2x 2 + x - 3
SUKU BANYAK A Pegertia: f(x) x + a 1 x 1 + a 2 x 2 + + a 2 +a 1 adalah suku bayak (poliom) dega : - a, a 1, a 2,.,a 2, a 1, a 0 adalah koefisiekoefisie suku bayak yag merupaka kostata real dega a 0 - a
BAB 6. DERET TAYLOR DAN DERET LAURENT Deret Taylor
Bab 6 Deret Taylor da Deret Lauret BAB 6 DERET TAYLOR DAN DERET LAURENT 6 Deret Taylor Misal fugsi f aalitik pada - < R ligkara dega pusat di da jari-jari R Maka utuk setiap titik pada ligkara itu f dapat
Fungsi Kompleks. (Pertemuan XXVII - XXX) Dr. AZ Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
TKS 4007 Matematika III Fugsi Kompleks (Pertemua XXVII - XXX) Dr. AZ Jurusa Tekik Sipil Fakultas Tekik Uiversitas Brawijaya Pedahulua Persamaa x + 1 = 0 tidak memiliki akar dalam himpua bilaga real. Pertayaaya,
BAB III TAKSIRAN KOEFISIEN KORELASI POLYCHORIC DUA TAHAP. Permasalahan dalam tugas akhir ini dibatasi hanya pada penaksiran
BAB III TAKSIRAN KOEFISIEN KORELASI POLYCHORIC DUA TAHAP Permasalaha dalam tugas akhir ii dibatasi haya pada peaksira besarya koefisie korelasi polychoric da tidak dilakuka peguia terhadap koefisie korelasi
Secara umum, suatu barisan dapat dinyatakan sebagai susunan terurut dari bilangan-bilangan real:
BARISAN TAK HINGGA Secara umum, suatu barisa dapat diyataka sebagai susua terurut dari bilaga-bilaga real: u 1, u 2, u 3, Barisa tak higga merupaka suatu fugsi dega domai berupa himpua bilaga bulat positif
Barisan. Barisan Tak Hingga Kekonvergenan barisan tak hingga Sifat sifat barisan Barisan Monoton. 19/02/2016 Matematika 2 1
Barisa Barisa Tak Higga Kekovergea barisa tak higga Sifat sifat barisa Barisa Mooto 9/0/06 Matematika Barisa Tak Higga Secara sederhaa, barisa merupaka susua dari bilaga bilaga yag urutaya berdasarka bilaga
JURNAL MATEMATIKA DAN KOMPUTER Vol. 7. No. 1, 31-41, April 2004, ISSN :
Vol. 7. No. 1, 31-41, April 24, ISSN : 141-8518 Peetua Kestabila Sistem Kotrol Lup Tertutup Waktu Kotiu dega Metode Trasformasi ke Betuk Kaoik Terkotrol Robertus Heri Jurusa Matematika FMIPA UNDIP Abstrak
An = an. An 1 = An. h + an 1 An 2 = An 1. h + an 2... A2 = A3. h + a2 A1 = A2. h + a1 A0 = A1. h + a0. x + a 0. x = h a n. f(x) = 4x 3 + 2x 2 + x - 3
BAB XII. SUKU BANYAK A = a Pegertia: f(x) = a x + a x + a x + + a x +a adalah suku bayak (poliom) dega : - a, a, a,.,a, a, a 0 adalah koefisiekoefisie suku bayak yag merupaka kostata real dega a 0 - a
Kestabilan Rangkaian Tertutup Waktu Kontinu Menggunakan Metode Transformasi Ke Bentuk Kanonik Terkendali
Jural Tekika ISSN : 285-859 Fakultas Tekik Uiversitas Islam Lamoga Volume No.2 Tahu 29 Kestabila Ragkaia Tertutup Waktu Kotiu Megguaka Metode Trasformasi Ke Betuk Kaoik Terkedali Suhariyato ) Dose Fakultas
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB LANDASAN TEORI.1 Aalisis Regresi Istilah regresi pertama kali diperkealka oleh seorag ahli yag berama Facis Galto pada tahu 1886. Meurut Galto, aalisis regresi berkeaa dega studi ketergatuga dari suatu
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakag Masalah Struktur alabar adalah suatu himpua yag di dalamya didefiisika suatu operasi bier yag memeuhi aksioma-aksioma tertetu. Gelaggag ( Rig ) merupaka suatu struktur
III PEMBAHASAN. λ = 0. Ly = 0, maka solusi umum dari persamaan diferensial (3.3) adalah
III PEMBAHASAN Pada bagia ii aka diformulasika masalah yag aka dibahas. Solusi masalah aka diselesaika dega Metode Dekomposisi Adomia. Selajutya metode ii aka diguaka utuk meyelesaika model yag diyataka
REGRESI DAN KORELASI
REGRESI DAN KORELASI Pedahulua Dalam kehidupa sehari-hari serig ditemuka masalah/kejadia yagg salig berkaita satu sama lai. Kita memerluka aalisis hubuga atara kejadia tersebut Dalam bab ii kita aka membahas
Karakteristik Dinamik Elemen Sistem Pengukuran
Karakteristik Diamik Eleme Sistem Pegukura Kompetesi, RP, Materi Kompetesi yag diharapka: Mahasiswa mampu merumuskaka karakteristik diamik eleme sistem pegukura Racaga Pembelajara: Miggu ke Kemampua Akhir
Persamaan Non-Linear
Persamaa No-Liear Peyelesaia persamaa o-liear adalah meghitug akar suatu persamaa o-liear dega satu variabel,, atau secara umum dituliska : = 0 Cotoh: 2 5. 5 4 9 2 0 2 5 5 4 9 2 2. 2 0 2 5. e 0 Metode
BAB 4 LIMIT FUNGSI Standar Kompetensi Menggunakan konsep limit fungsi dan turunan fungsi dalam pemecahan masalah
BAB LIMIT FUNGSI Stadar Kompetesi Megguaka kosep it ugsi da turua ugsi dalam pemecaha masalah Kompetesi Dasar. Meghitug it ugsi aljabar sederhaa di suatu titik. Megguaka siat it ugsi utuk meghitug betuk
IV. METODE PENELITIAN
IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi da Waktu peelitia Peelitia dilakuka pada budidaya jamur tiram putih yag dimiliki oleh usaha Yayasa Paguyuba Ikhlas yag berada di Jl. Thamri No 1 Desa Cibeig, Kecamata Pamijaha,
Dasar Sistem Pengaturan - Transformasi Laplace. Transformasi Laplace bilateral atau dua sisi dari sinyal bernilai riil x(t) didefinisikan sebagai :
Defiisi Trasformasi Laplace Trasformasi Laplace Bilateral Trasformasi Laplace bilateral atau dua sisi dari siyal berilai riil x(t) didefiisika sebagai : X B x(t)e Operasi trasformasi Laplace bilateral
BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH
89 BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH Dalam upaya mearik kesimpula da megambil keputusa, diperluka asumsi-asumsi da perkiraa-perkiraa. Secara umum hipotesis statistik merupaka peryataa megeai distribusi probabilitas
TINJAUAN PUSTAKA Pengertian
TINJAUAN PUSTAKA Pegertia Racaga peelitia kasus-kotrol di bidag epidemiologi didefiisika sebagai racaga epidemiologi yag mempelajari hubuga atara faktor peelitia dega peyakit, dega cara membadigka kelompok
Range atau jangkauan suatu kelompok data didefinisikan sebagai selisih antara nilai terbesar dan nilai terkecil, yaitu
BAB 4 UKURAN PENYEBARAN DATA Pada Bab sebelumya kita telah mempelajari beberapa ukura pemusata data, yaitu ukura yag memberika iformasi tetag bagaimaa data-data ii megumpul atau memusat Pada bagia Bab
Mata Kuliah : Matematika Diskrit Program Studi : Teknik Informatika Minggu ke : 4
Program Studi : Tekik Iformatika Miggu ke : 4 INDUKSI MATEMATIKA Hampir semua rumus da hukum yag berlaku tidak tercipta dega begitu saja sehigga diraguka kebearaya. Biasaya, rumus-rumus dapat dibuktika
Setelah mempelajari modul ini Anda diharapkan dapat: a. memeriksa apakah suatu pemetaan merupakan operasi;
Modul 1 Operasi Dr. Ahmad Muchlis B PENDAHULUAN erapakah 97531 86042? Kalau Ada megguaka kalkulator, jawabaya amat bergatug pada tipe kalkulator yag Ada pakai. 9 Kalkulator ilmiah Casio fx-250 memberika
Bab III Metoda Taguchi
Bab III Metoda Taguchi 3.1 Pedahulua [2][3] Metoda Taguchi meitikberatka pada pecapaia suatu target tertetu da meguragi variasi suatu produk atau proses. Pecapaia tersebut dilakuka dega megguaka ilmu statistika.
Oleh : Bambang Supraptono, M.Si. Referensi : Kalkulus Edisi 9 Jilid 1 (Varberg, Purcell, Rigdom) Hal
BAB. Limit Fugsi Ole : Bambag Supraptoo, M.Si. Referesi : Kalkulus Edisi 9 Jilid (Varberg, Purcell, Rigdom) Hal 56 - Defiisi: Pegertia presisi tetag it Megataka bawa f ( ) L berarti bawa utuk tiap yag
BAB II TEORI DASAR. Definisi Grup G disebut grup komutatif atau grup abel jika berlaku hukum
BAB II TEORI DASAR 2.1 Aljabar Liier Defiisi 2. 1. 1 Grup Himpua tak kosog G disebut grup (G, ) jika pada G terdefiisi operasi, sedemikia rupa sehigga berlaku : a. Jika a, b eleme dari G, maka a b eleme
Penyelesaian Persamaan Non Linier
Peyelesaia Persamaa No Liier Metode Iterasi Sederhaa Metode Newto Raphso Permasalaha Titik Kritis pada Newto Raphso Metode Secat Metode Numerik Iterasi/NewtoRaphso/Secat - Metode Iterasi Sederhaa- Metode
Kekeliruan dalam Perhitungan Numerik dan Selisih Terhingga Biasa
Modul 1 Kekelirua dalam Perhituga Numerik da Selisih Terhigga Biasa D PENDAHULUAN Dr. Wahyudi, M.Pd. i dalam pemakaia praktis, peyelesaia akhir yag diigika dari solusi suatu permasalaha (soal) dalam matematika
2 BARISAN BILANGAN REAL
2 BARISAN BILANGAN REAL Di sekolah meegah barisa diperkealka sebagai kumpula bilaga yag disusu meurut "pola" tertetu, misalya barisa aritmatika da barisa geometri. Biasaya barisa da deret merupaka satu
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Variabel-variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah:
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3. Variabel da Defiisi Operasioal Variabel-variabel yag diguaka pada peelitia ii adalah: a. Teaga kerja, yaitu kotribusi terhadap aktivitas produksi yag diberika oleh para
PENENTUAN SOLUSI RELASI REKUREN DARI BILANGAN FIBONACCI DAN BILANGAN LUCAS DENGAN MENGGUNAKAN FUNGSI PEMBANGKIT
Prosidig Semiar Nasioal Matematika da Terapaya 06 p-issn : 0-0384; e-issn : 0-039 PENENTUAN SOLUSI RELASI REKUREN DARI BILANGAN FIBONACCI DAN BILANGAN LUCAS DENGAN MENGGUNAKAN FUNGSI PEMBANGKIT Liatus
POSITRON, Vol. II, No. 2 (2012), Hal. 1-5 ISSN : Penentuan Energi Osilator Kuantum Anharmonik Menggunakan Teori Gangguan
POSITRON, Vol. II, No. (0), Hal. -5 ISSN : 30-4970 Peetua Eergi Osilator Kuatum Aharmoik Megguaka Teori Gaggua Iklas Saubary ), Yudha Arma ), Azrul Azwar ) )Program Studi Fisika Fakultas Matematika da
BAB 5 OPTIK FISIS. Prinsip Huygens : Setiap titik pada muka gelombang dapat menjadi sumber gelombang sekunder. 5.1 Interferensi
BAB 5 OPTIK FISIS Prisip Huyges : Setiap titik pada muka gelombag dapat mejadi sumber gelombag sekuder. 5. Iterferesi - Iterferesi adalah gejala meyatuya dua atau lebih gelombag, membetuk gelombag yag
III. METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian dilakukan di Provinsi Sumatera Barat yang terhitung
42 III. METODE PENELITIAN 3.. Lokasi da Waktu Peelitia Lokasi peelitia dilakuka di Provisi Sumatera Barat yag terhitug mulai miggu ketiga bula April 202 higga miggu pertama bula Mei 202. Provisi Sumatera
REGRESI DAN KORELASI SEDERHANA
REGRESI DAN KORELASI SEDERHANA Apa yag disebut Regresi? Korelasi? Aalisa regresi da korelasi sederhaa membahas tetag keterkaita atara sebuah variabel (variabel terikat/depede) dega (sebuah) variabel lai
1 Persamaan rekursif linier non homogen koefisien konstan tingkat satu
Secara umum persamaa rekursif liier tigkat-k bisa dituliska dalam betuk: dega C 0 0. C 0 x + C 1 x 1 + C 2 x 2 + + C k x k = b, Jika b = 0 maka persamaa rekursif tersebut diamaka persamaa rekursif liier
Program Perkuliahan Dasar Umum Sekolah Tinggi Teknologi Telkom. Barisan dan Deret
Program Perkuliaha Dasar Umum Sekolah Tiggi Tekologi Telkom Barisa da Deret Barisa Defiisi Barisa bilaga didefiisika sebagai fugsi dega daerah asal merupaka bilaga asli. Notasi: f: N R f( ) a Fugsi tersebut
i adalah indeks penjumlahan, 1 adalah batas bawah, dan n adalah batas atas.
4 D E R E T Kosep deret merupaka kosep matematika yag cukup populer da aplikatif khusuya dalam kasus-kasus yag meyagkut perkembaga da pertumbuha suatu gejala tertetu. Apabila perkembaga atau pertumbuha
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB LANDASAN TEORI.1 Distribusi Ekspoesial Fugsi ekspoesial adalah salah satu fugsi yag palig petig dalam matematika. Biasaya, fugsi ii ditulis dega otasi exp(x) atau e x, di maa e adalah basis logaritma
Mata Kuliah: Statistik Inferensial
PENGUJIAN HIPOTESIS SAMPEL KECIL Prof. Dr. H. Almasdi Syahza, SE., MP Email: [email protected] DEFINISI Pegertia Sampel Kecil Sampel kecil yag jumlah sampel kurag dari 30, maka ilai stadar deviasi (s)
II LANDASAN TEORI. Sebuah bilangan kompleks dapat dinyatakan dalam bentuk. z = x jy. (2.4)
3 II LANDASAN TEORI 2.1 Peubah Kompleks da Fugsi Kompleks Sebuah bilaga kompleks dapat diyataka dalam betuk z = x + jy, (2.1) dega x da y adalah bilaga-bilaga real da j = 1. Bilaga x disebut bagia real
Pendugaan Selang: Metode Pivotal Langkah-langkahnya 1. Andaikan X1, X
Pedugaa Selag: Metode Pivotal Lagkah-lagkahya 1. Adaika X1, X,..., X adalah cotoh acak dari populasi dega fugsi kepekata f( x; ), da parameter yag tidak diketahui ilaiya. Adaika T adalah peduga titik bagi..
Bab 7 Penyelesaian Persamaan Differensial
Bab 7 Peelesaia Persamaa Differesial Persamaa differesial merupaka persamaa ag meghubugka suatu besara dega perubahaa. Persamaa differesial diataka sebagai persamaa ag megadug suatu besara da differesiala
BARISAN DAN DERET. Nurdinintya Athari (NDT)
BARISAN DAN DERET Nurdiitya Athari (NDT) BARISAN Defiisi Barisa bilaga didefiisika sebagai fugsi dega daerah asal merupaka bilaga asli. Notasi: f: N R f( ) = a Fugsi tersebut dikeal sebagai barisa bilaga
1 4 A. 1 D. 4 B. 2 E. -5 C. 3 A.
. Seorag pedagag membeli barag utuk dijual seharga Rp. 0.000,00. Bila pedagag tersebut meghedaki utug 0 %, maka barag tersebut harus dijual dega harga A. Rp. 00.000,00 D. Rp. 600.000,00 B. Rp. 00.000,00
BAB IV PEMECAHAN MASALAH
BAB IV PEMECAHAN MASALAH 4.1 Metodologi Pemecaha Masalah Dalam ragka peigkata keakurata rekomedasi yag aka diberika kepada ivestor, maka dicoba diguaka Movig Average Mometum Oscillator (MAMO). MAMO ii
STATISTICS. Hanung N. Prasetyo Week 11 TELKOM POLTECH/HANUNG NP
STATISTICS Haug N. Prasetyo Week 11 PENDAHULUAN Regresi da korelasi diguaka utuk megetahui hubuga dua atau lebih kejadia (variabel) yag dapat diukur secara matematis. Ada dua hal yag diukur atau diaalisis,
BAB 3 ENTROPI DARI BEBERAPA DISTRIBUSI
BAB 3 ENTROPI DARI BEBERAPA DISTRIBUSI Utuk lebih memahami megeai etropi, pada bab ii aka diberika perhituga etropi utuk beberapa distribusi diskrit da kotiu. 3. Distribusi Diskrit Pada sub bab ii dibahas
4.7 TRANSFORMASI UNTUK MENDEKATI KENORMALAN
4.7 TRANSFORMASI UNTUK MENDEKATI KENORMALAN Saat asumsi keormala tidak dipuhi maka kesimpula yag kita buat berdasarka suatu metod statistik yag mesyaratka asumsi keormala meadi tidak baik, sehigga mucul
BARISAN DAN DERET. 05/12/2016 Matematika Teknik 1 1
BARISAN DAN DERET 05//06 Matematika Tekik BARISAN Barisa Tak Higga Kekovergea barisa tak higga Sifat sifat barisa Barisa Mooto 05//06 Matematika Tekik Barisa Tak Higga Secara sederhaa, barisa merupaka
METODE NUMERIK JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS BRAWIJAYA 7/4/2012 SUGENG2010. Copyright Dale Carnegie & Associates, Inc.
METODE NUMERIK JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS BRAWIJAYA 7/4/0 SUGENG00 Copyright 996-98 Dale Caregie & Associates, Ic. Kesalaha ERROR: Selisih atara ilai perkiraa dega ilai eksakilai
SOAL PENYISIHAN =. a. 11 b. 12 c. 13 d. 14 e. 15
SOAL PENYISIHAN Petujuk pegerjaa soal : Jumlah soal 0 soal Piliha Gada da Uraia Utuk piliha gada diberi peilaia bear +, salah -, tidak diisi 0 Lama pegerjaa soal adalah 0 meit Kalau berai, silaka pilih
ANALISIS REGRESI DAN KORELASI SEDERHANA
LATAR BELAKANG DAN KORELASI SEDERHANA Aalisis regresi da korelasi megkaji da megukur keterkaita seara statistik atara dua atau lebih variabel. Keterkaita atara dua variabel regresi da korelasi sederhaa.
MODUL 2 SINYAL WAKTU DISKRIT DALAM KAWASAN WAKTU DAN FREKUENSI
MODUL SINYAL WAKTU DISKRIT DALAM KAWASAN WAKTU DAN FREKUENSI I. Tugas Pedahulua Peritah atau fugsi pada MATLAB dapat dilihat da dipelajari dega olie help pada Commad widow. Cotoh ketiklah : help plot.
SOAL-SOAL HOTS. Fungsi, komposisi fungsi, fungsi invers, dan grafik fungsi.
SOL-SOL HOTS. LJBR Pagkat Bulat Positif, Betuk kar, da Logaritma 1. Jumlah bakteri pada saat mula-mula adalah M 0. Karea suatu hal, setiap selag satu hari jumlah bakteri aka leyap r%. Jika M0 1.0 da r
BARISAN FIBONACCI DAN BILANGAN PHI
BARISAN FIBONACCI DAN BILANGAN PHI Fiboacci Matematikawa terbesar pada abad pertegaha adalah Leoardo dari Pisa, Italia (80 0). Ia lebih dikeal dega ama Fibo-acci. Artiya, aak Boaccio. Meara Pisa yag terkeal
Kuliah : Rekayasa Hidrologi II TA : Genap 2015/2016 Dosen : 1. Novrianti.,MT. Novrianti.,MT_Rekayasa Hidrologi II 1
Kuliah : Rekayasa Hidrologi II TA : Geap 2015/2016 Dose : 1. Novriati.,MT 1 Materi : 1.Limpasa: Limpasa Metoda Rasioal 2. Uit Hidrograf & Hidrograf Satua Metoda SCS Statistik Hidrologi Metode Gumbel Metode
LIMIT. = δ. A R, jika dan hanya jika ada barisan. , sedemikian hingga Lim( a n
LIMIT 4.. FUNGSI LIMIT Defiisi 4.. A R Titik c R adalah titik limit dari A, jika utuk setiap δ > 0 ada palig sedikit satu titik di A, c sedemikia sehigga c < δ. Defiisi diatas dapat disimpulka dega cara
BAB III METODE PENELITIAN
36 BAB III METODE PENELITIAN A. Racaga Peelitia 1. Pedekata Peelitia Peelitia ii megguaka pedekata kuatitatif karea data yag diguaka dalam peelitia ii berupa data agka sebagai alat meetuka suatu keteraga.
METODE NUMERIK TKM4104. Kuliah ke-2 DERET TAYLOR DAN ANALISIS GALAT
METODE NUMERIK TKM4104 Kuliah ke- DERET TAYLOR DAN ANALISIS GALAT DERET TAYLOR o Deret Taylor adalah alat yag utama utuk meuruka suatu metode umerik. o Deret Taylor bergua utuk meghampiri ugsi ke dalam
DERET TAK HINGGA (INFITITE SERIES)
MATEMATIKA II DERET TAK HINGGA (INFITITE SERIES) sugegpb.lecture.ub.ac.id aada.lecture.ub.ac.id BARISAN Barisa merupaka kumpula suatu bilaga (atau betuk aljabar) yag disusu sehigga membetuk suku-suku yag
BAB I PENDAHULUAN. Matematika merupakan suatu ilmu yang mempunyai obyek kajian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakag Masalah Matematika merupaka suatu ilmu yag mempuyai obyek kajia abstrak, uiversal, medasari perkembaga tekologi moder, da mempuyai pera petig dalam berbagai disipli,
Uji apakah ada perbedaan signifikan antara mean masing-masing laboratorium. Gunakan α=0.05.
MA 8 STATISTIKA DASAR SEMESTER I /3 KK STATISTIKA, FMIPA ITB UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS) Sei, Desember, 9.3.3 WIB ( MENIT) Kelas. Pegajar: Utriwei Mukhaiyar, Kelas. Pegajar: Sumato Wiotoharjo Jawablah pertayaa
Pengamatan, Pengukuran dan Eksperimen
TEORI KESALAHAN EKSPERIMEN FISIKA DASAR I Pegamata, Pegukura da Eksperime Pegamata da pegukura Teori / model Eksperime Ramala Pegamata payig attetio watch somethig attetively record of somethig see or
CATATAN KULIAH Pertemuan I: Pengenalan Matematika Ekonomi dan Bisnis
CATATAN KULIAH Pertemua I: Pegeala Matematika Ekoomi da Bisis A. Sifat-sifat Matematika Ekoomi 1. Perbedaa Matematika vs. Nomamatematika Ekoomi Keutuga pedekata matematika dalam ilmu ekoomi Ketepata (Precise),
Soal dan Pembahasan. Ujian Nasional Matematika Teknik SMK matematikamenyenangkan.com
Soal da Pembahasa jia Nasioal 06 Matematika Tekik SMK matematikameyeagka.com . pqr Betuk sederhaa dari p q r A. p 8 q r adalah... B. p q 0 r 0 D. p q 0 r 0 C. p 8 q r 0 E. p 6 q r Igat rumus berikut m
MANAJEMEN RISIKO INVESTASI
MANAJEMEN RISIKO INVESTASI A. PENGERTIAN RISIKO Resiko adalah peyimpaga hasil yag diperoleh dari recaa hasil yag diharapka Besarya tigkat resiko yag dimasukka dalam peilaia ivestasi aka mempegaruhi besarya
,n N. Jelas barisan ini terbatas pada dengan batas M =: 1, dan. barisan ini kovergen ke 0.
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FKIP UNMUH PONOROGO SOAL UJIAN TENGAH SEMESTER GENAP TA 03/04 Mata Ujia : Aalisis Real Tipe Soal : REGULER Dose : Dr. Jula HERNADI Waktu : 90 meit Hari, Taggal : Selasa,
BAB VI DERET TAYLOR DAN DERET LAURENT
BAB VI DERET TAYLOR DAN DERET LAURENT. Deret Taylor Misal fugsi f() aalitik pada - < R ( ligkara dega pusat di da jari-jari R ). Maka utuk setiap titik pada ligkara itu, f() dapat diyataka sebagai : f
Deret Fourier. Modul 1 PENDAHULUAN
Modul Deret Fourier Prof. Dr. Bambag Soedijoo P PENDAHULUAN ada modul ii dibahas masalah ekspasi deret Fourier Sius osius utuk suatu fugsi periodik ataupu yag diaggap periodik, da dibahas pula trasformasi
IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan waktu 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3 Metode Pengumpulan Data
IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi da waktu Peelitia ii dilakuka di PD Pacet Segar milik Alm Bapak H. Mastur Fuad yag beralamat di Jala Raya Ciherag o 48 Kecamata Cipaas, Kabupate Ciajur, Propisi Jawa Barat.
MATEMATIKA DISKRIT FUNGSI
1 MATEMATIKA DISKRIT FUNGSI Fugsi Misalka A da B himpua. Relasi bier f dari A ke B merupaka suatu fugsi jika setiap eleme di dalam A dihubugka dega tepat satu eleme di dalam B. Jika f adalah fugsi dari
3. Rangkaian Logika Kombinasional dan Sequensial 3.1. Rangkaian Logika Kombinasional Enkoder
3. Ragkaia Logika Kombiasioal da Sequesial Ragkaia Logika secara garis besar dibagi mejadi dua, yaitu ragkaia logika Kombiasioal da ragkaia logika Sequesial. Ragkaia logika Kombiasioal adalah ragkaia yag
Kompetisi Statistika Tingkat SMA
. Arya da Bombom melakuka tos koikoi yag seimbag yag mempuyai sisi, agka da gambar Arya melakuka tos terhadap 6 koi, sedagka Bombom melakuka tos terhadap koi, maka peluag Arya medapatka hasil tos muka
Kompleksitas dari Algoritma-Algoritma untuk Menghitung Bilangan Fibonacci
Kompleksitas dari Algoritma-Algoritma utuk Meghitug Bilaga Fiboacci Gregorius Roy Kaluge NIM : 358 Program Studi Tekik Iformatika, Istitut Tekologi Badug Jala Gaesha, Badug e-mail: [email protected],
) didefinisikan sebagai persamaan yang dapat dinyatakan dalam bentuk: a x a x a x b... b adalah suatu urutan bilangan dari bilangan s1, s2,...
SISEM PERSAMAAN LINIER DAN MARIKS. SISEM PERSAMAAN LINIER Secara umum, persamaa liier dega variabel ( x, x,..., x ) didefiisika sebagai persamaa yag dapat diyataka dalam betuk: a x a x a x b... dega a,
Solusi Soal OSN 2012 Matematika SMA/MA Hari Pertama
Solusi Soal OSN Matematika SMA/MA Hari Pertama Soal 1. Buktika bahwa utuk sebarag bilaga asli a da b, bilaga adalah bilaga bulat geap tak egatif. = F P B (a, b) + KP K (a, b) a b Solusi. Pertama aka dibuktika
BAB III ECONOMIC ORDER QUANTITY MULTIITEM DENGAN MEMPERTIMBANGKAN WAKTU KADALUARSA DAN FAKTOR DISKON
BAB III ECONOMIC ORDER QUANTITY MULTIITEM DENGAN MEMPERTIMBANGKAN WAKTU KADALUARA DAN FAKTOR DIKON 3.1 Ecoomic Order Quatity Ecoomic Order Quatity (EOQ) merupaka suatu metode yag diguaka utuk megedalika
= Keterkaitan langsung ke belakang sektor j = Unsur matriks koefisien teknik
Aalisis Sektor Kuci Dimaa : KLBj aij = Keterkaita lagsug ke belakag sektor j = Usur matriks koefisie tekik (b). Keterkaita Ke Depa (Forward Ligkage) Forward ligkage meujukka peraa suatu sektor tertetu
LEVELLING 1. Cara pengukuran PENGUKURAN BEDA TINGGI DENGAN ALAT SIPAT DATAR (PPD) Poliban Teknik Sipil 2010LEVELLING 1
LEVELLING 1 PENGUKURAN SIPAT DATAR Salmai,, ST, MS, MT 21 PENGUKURAN BEDA TINGGI DENGAN ALAT SIPAT DATAR (PPD) Jika dua titik mempuyai ketiggia yag berbeda, dikataka mempuyai beda tiggi. Beda tiggi dapat
Galat dan Perambatannya
Modul 1 Galat da Perambataya Prof. Dr. Bambag Soedijoo P PENDHULUN ada Modul 1 ii dibahas masalah galat atau derajat kesalaha da perambataya, dega demikia para peggua modul ii diharapka telah memahami
BAB 1 PENDAHULUAN. Analisis regresi menjadi salah satu bagian statistika yang paling banyak aplikasinya.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakag Aalisis regresi mejadi salah satu bagia statistika yag palig bayak aplikasiya. Aalisis regresi memberika keleluasaa kepada peeliti utuk meyusu model hubuga atau pegaruh
