Bab II Tinjauan Pustaka

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Bab II Tinjauan Pustaka"

Transkripsi

1 Bab II Tnauan usaka II.1 Kesembangan asokan-ermnaan Fungs permnaan adalah suau fungs yang menggambarkan seberapa banyak suau barang akan dbel pada berbaga alernaf harga barang yang bersangkuan, harga barang-barang lan yang berkaan, pada berbaga ngka pendapaan, dan nla dar berbaga varabel lan yang mempengaruh permnaan. Fungs pasokan adalah suau fungs yang menggambarkan seberapa banyak suau barang akan dhaslkan pada berbaga harga, pada berbaga harga npu, dan berbaga nla dar varabel-varabel lan yang mempengaruh pasokan (Baye, 006). ada saa harga sebesar L (kuanas pasokan dan permnaan sebesar 0 dan 1 ), akan erad kelebhan permnaan (excess demand/shorage). Konds yang demkan akan mendorong harga unuk nak. ada saa harga sebesar (kuanas pasokan dan permnaan sebesar 1 dan 0 ), akan erad kelebhan pasokan (excess supply). Konds yang demkan akan mendorong harga unuk urun. Ineraks anara pasokan dan permnaan pada akhrnya menenukan suau harga kompef, sehngga dak ada lag bak kekurangan maupun kelebhan barang (Baye, 006). Konds yang demkan dsebu konds kesembangan pasokan-permnaan. Harga dan kuanas yang dhaslkan pada konds n dsebu harga dan kuanas kesembangan ( e dan e pada ambar II.1). 6

2 rce S H F Surplus e L A B D 0 e 1 uany ambar II.1 Kuanas dan Harga dalam Kurva Kesembangan asokan ermnaan (Baye, 006) II. Surplus Konsumen (Consumer s Surplus) dan Socal ayoff Sesua dengan hukum permnaan, kesedaan/kesanggupan konsumen unuk membayar akan urun dengan semakn berambahnya un barang yang dkonsums (Baye, 006). Konsumen mengngnkan harga suau komodas yang serendahrendahnya. barang. ambar II. menunukkan kurva permnaan unuk konsums suau rce 5 3 (CS) A uany ambar II. Kurva ermnaan dan Consumer s Surplus (Baye, 006) 7

3 Kesanggupan konsumen membayar seumlah barang yang dkonsums dunukkan oleh luasan area d bawah kurva permnaan dengan sumbu koordna. Unuk permnaan barang sebesar, konsumen akan berseda membayar seumlah luasan 0 A 5. ada kenyaaannya, unuk permnaan barang sebesar, konsumen hanya dkenakan baya sebesar luasan 0 A 3. Selsh nla (0 A 5 0 A 3 ) adalah surplus yang derma oleh konsumen, anpa harus membayar. Nla dmana konsumen dapakan dar suau barang anpa harus membayarnya dsebu surplus konsumen (Baye, 006). Besarnya surplus konsumen dunukkan oleh luasan area 3 A 5 dalam ambar II.. Samuelson (195) memberkan slah socal payoff unuk menggankan slah surplus konsumen. Socal payoff adalah luasan area d bawah kurva kelebhan pasokan (d bawah kurva excess supply eap berlawanan anda alabar) seper dunukkan pada ambar II.3. Unuk kasus wlayah (negara), eradnya kelebhan pasokan dan perbedaan harga danara dua wlayah (negara) menyebabkan alran ekspor sebesar nla kelebhan pasokan (E 1 ) ersebu. Socal payoff akan dalam bak oleh negara pengekspor/produsen (kelebhan pasokan ES 1 ) maupun negara pengmpor/konsumen (kelebhan pasokan negaf ES ) sebesar luasan area excess supply (negral kurva excess supply). Kurva NN adalah umlahan secara verkal (selsh) anara kurva ES 1 dan ES dengan kurva baya WXYZ berpoongan d k F. Ne socal payoff adalah oal nla socal payoff (produsen dan konsumen) seelah dkurang dengan oal baya ransporas (luasan YF = A1JJ + AKK ). 8

4 ES 1, A ES 1 K' K N J' J ES 1 A 1 ES Y F Z E 1 E 1 0 E 1 E 1 W X N ambar II.3. Socal ayoff Komodas Tunggal Dua Wlayah (Samuelson, 195) Wlle (1983) memberkan defns ne socal payoff sebaga umlahan consumer s surplus dan producer s surplus yang lebh kecl dar oal baya ransporas unuk eradnya alran komodas. odel derapkan unuk komodas unggal dan banyak komodas. Nole (007) menggunakan fungs obyekf maksmsas ne socal payoff dengan dua pendekaan: alran komodas blaeral (dengan kebakan-kebakan arf yang berlaku) dan asums barang yang homogen. Keluaran model berupa harga, produks, dan permnaan yang dsmulaskan dengan skenaro yau skenaro dasar (baselne scenaro), perseuuan WT (WT agreemen), lberalsas Un Eropa (EU lberalzaon), dan lberalsas penuh(full lberalzaon). 9

5 II.3 Invenor enyangga (Buffer Socks) Invenor penyangga adalah nvenor yang dgunakan unuk menganspas kelangkaan (shorage) pasokan barang aau unuk meredam flukuas permnaan yang bersfa random (Bahaga, 006). Fungs-fungs dasar dar nvenor penyangga yang demkan adalah menympan seumlah erenu komodas pada peroda boomng keka harga rendah, dan melepaskan seumlah komodas yang ersmpan pada peroda erenu dmana erad kelangkaan keka harga ngg (Ahanasou, e al., 007). Kelangkaan barang dsebabkan oleh kedaksembangan anara kuanas permnaan dan kuanas pasokan, yang menyebabkan kedaksablan harga. Rencana buffer sock dapa mengaas kelangkaan barang ersebu. enuru assell (1969) dalam Hallwood, e al. (1980), uuan buffer sock adalah unuk memaksmumkan benef neo yang dharapkan (expeced ne benef) dar phak yang erlba dalam rencana buffer sock. II. rce band Dengan prce band baas-baas aas dan bawah deapkan unuk harga domesk, semenara harga nernasonal berlaku ka berada pada ksaran prce band ersebu. Keka harga nernasonal berada d bawah baas bawah, arf dkenakan unuk menakkan harga ke baas bawah ersebu, semenara ka harga nernasonal melebh baas aas, subsd dbua unuk menurunkan harga ke baas aas ersebu (Coleman, e al., 1991). Cara lan perhungan prce band adalah dengan menghlangkan seumlah harga erngg dan erendah dar daa harga-harga masa lalu (msalnya harga bulanan selama peroda 5 ahun). Jangkauan anara harga erngg dan erendah dar daa harga yang erssa dadkan baas aas dan baas bawah dar prce band (Coleman, e al., 1991). 10

6 II.5 Spaal Equlbrum dan Iner Regonal Trade Flows Kesembangan harga dalam suau pasar persangan denukan oleh neraks-neraks dar seluruh pembel dan penual d pasar. Harga dar suau barang dalam pasar persangan denukan oleh neraks dar pasokan dan permnaan pasar komodas (Baye, 006). asalah umum dalam spaal equlbrum berasums bahwa produks dan konsums muncul dalam berbaga lokas yang dpsahkan secara spasal, yang dhubungkan melalu suau arngan ransporas (ompermayer, e al., 007). asalah selanunya adalah menenukan harga-harga pasokan, harga-harga permnaan, dan alran-alran komodas, yang memenuh konds-konds kesembangan: harga permnaan sama dengan harga pasokan dambah baya ransporas, ka ada hubungan danara pasarpasar pasokan dan permnaan (ompermayer, e al., 007). II.6 odel Referens II.6.1 odel Spaal rce Equlbrum Samuelson (195) odel Samuelson (195) adalah model dasar spaal prce equlbrum. Unuk kasus dua negara dengan komodas unggal, eradnya ner regonal rade flows (alran komodas anar wlayah) dsebabkan oleh perbedaan harga anarnegara. Komodas mengalr dar negara 1 dengan harga rendah ( 1 ) ke negara dengan harga ngg ( ) dengan seumlah ongkos ransporas ( T 1 ) seper pada persamaan (II.1). 1 T (II.1) Kuanas komodas yang mengalr (yang dekspor) sebesar nla excess supply (kelebhan pasokan, E 1 ). Ukuran knera dar model Samuelson (195) adalah maksmsas ne socal payoff (NS), yau penumlahan socal payoff (surplus konsumen, ransporas (II.). NS s 1 x dan x s ) dar kedua negara dkurang dengan ongkos E1 E1 s x dx (II.) s 0 x dx T E 11

7 Keluaran model adalah kuanas komodas yang dekspor dar negara yang memlk kelebhan pasokan ke negara yang mengalam kekurangan pasokan. II.6. odel Buffer Socks Ahanasou, e al. (007) odel Ahanasou, e al. (007) membahas nervens pasokan pemernah dalam benuk buffer sock unuk mensablkan harga. emernah membel aau menual seumlah komodas ( ) unuk mencapa konds kesembangan pasokanpermnaan. ersamaan fungs pasokan dan permnaan berbenuk lner (II.3 dan II.). Unuk peroda + 1, besarnya pasokan adalah nla maksmum dar 0 dengan nla mnmum dar kuanas pasokan maksmum ( S ) dengan kuanas pasokan hasl perhungan. D 1 a b 1; a, b (II.3) S 1 c d max 1 ; c, d 0 0;mn S ; c d ; c, d, S (II.) Besarnya sok pemernah pada peroda + 1 ( 1) sama dengan nvenor pemernah pada peroda ( ) dkurang dengan kuanas komodas yang dlepas ke pasar, (II.5) (II.5) 1 ersamaan n menunukkan poss sok yang ada d pemernah unuk operas sablsas harga pada peroda ersebu. Hubungan anara kuanas permnaan, penawaran, dan kuanas komodas yang dlepas pemernah dunukkan pada persamaan (II.6). ersamaan n menunukkan adanya nervens pemernah dalam benuk pembelan komodas ( 0 ) dan menympannya unuk peroda + 1. Inervens pemernah dalam benuk penualan komodas ( 0 ) keka erad excess demand (kelebhan permnaan). 1

8 D 1 S (II.6) Harga komodas pada peroda + 1 denukan dengan persamaan (II.7). Harga n merupakan harga akual komodas seelah adanya nervens pemernah. kesembangan denukan dengan persamaan (II.8). Harga Dalam model n unuk menghndar kasus dak ada produks, maka dgunakan a c b d /. a c ka 1 b d a c d 1 c c S 1 ka (II.7) b d d a S ad bc ka S b b d a ka ad bc b a c ad bc ka S dan b d b d a S ad bc ka S b b d ad bc (II.8) Kuanas nervens pemernah denukan dengan persamaan (II.9). ersamaan n akan membawa kuanas komodas yang ada d pasar pada peroda + 1 ( S 1 ) mendeka kuanas pasokan sembang ( S ). In yang dsebu kebakan Keep Supply a Equlbrum (KSE). mn ;max S S ; 1 ad bc S b d a c b d (II.9) 13

9 II.6.3 odel Spaal rce Equlbrum (SE) Nole (007) odel Nole (007), mengembangkan model dasar spaal prce equlbrum (SE) Samuelson (195) dengan fungs obyekf maksmsas ne socal payoff unuk komodas gula pasr. odel dsmulaskan dengan menggunakan skenaro: Skenaro Dasar, Kesepakaan Dengan WT, Lberalsas Un Eropa, dan Lberalsas enuh. odel dpaka unuk memecahkan masalah sau komodas dan banyak wlayah (sngle commody and mul regons). odel SE Nole (007) dformulaskan menad xed Complemenary roblem (C) dan dpecahkan dengan sofware ATH Solver. asokan komodas dar negara pengekspor, S adalah lner dengan elassas harga ε (II.10), besarnya dak boleh melebh kuoa produks d negara ersebu, (II.11). S, quoa ax 0. S (II.10) S quoa (II.11) Kuanas permnaan d negara, D maksmum sama dengan kuanas komodas yang mengalr dar negara ke negara berdasarkan skenaro sch, X sch.. (II.1). D X sch, sch, (II.1) Kuanas pasokan d negara pengekspor mnmum sama dengan kuanas alran komodas dar negara ke negara berdasarkan skenaro sch, S X sch, sch X sch.. (II.13)., (II.13) Kuanas komodas yang mengalr dar negara ke negara pada skenaro sch maksmum sama dengan kuanas kuoa perlndungan mpor (arff rae quoa) skenaro sch negara ke negara, rq sch.. (II.1) X sch, rq sch,,, (II.1) 1

10 ersamaan-persamaan (II.11, II.1, II.13, dan II.1) menunukkan persyaraanpersyaraan eradnya alran komodas (ner regonal rade flows). Syara eradnya alran komodas uga dunukkan oleh persamaan (II.15). Alran komodas (ekspor-mpor) erad ka harga d negara pengekspor, S dambah dengan baya-baya yang erka d dalamnya melebh harga d negara pengmpor, D. Baya-baya yang erka dalam model n adalah: 1 SH = ngkos renal unuk kuoa produks sch.. = ngkos sewa unuk TR 3 exw_ fas = ngkos ransporas dar pabrk ke pelabuhan unloadng loadng, = ngkos bongkar mua kapal 5 fregh. = ngkos pengrman kapal 6 c = ngkos-ongkos ransaks sch 7 exs sch. 8 ar av sch... = Subsd ekspor _ = Tarf ad valorem 9 ar sp sch.. _ = Tarf khusus 10 nl _ ranspor = ngkos-ongkos ransporas dar pelabuhan aau pabrk ke pasar grosr S SH sch,, exw _ fas loadng fregh, c sch ex _ sub, * 1 ar _ av sch,, ar _ sp sch,, unloadng nld _ ranspor D (II.15) Keluaran aau varabel kepuusan model n adalah harga, produks, dan permnaan komodas gula d seluruh negara yang del (Lampran 1). Nla seluruh varabel 15

11 kepuusan dapa dbandngkan danara keempa skenaro yang del. Dalam model n dapa dlha kemungknan alran komodas dar negara surplus ke negara defs. II.6. odel Buffer Socks Suopo, e al. (008) odel Suopo, e al. (008), membahas enang buffer socks unuk mensablkan harga komodas gula. emernah melakukan nervens pasar dalam benuk pembelan komodas pada saa erad kelebhan pasokan (peroda panen) dan melakukan operas pasar dengan menualnya pada saa erad kekurangan pasokan (peroda anam). odel n dpaka unuk menyelesakan masalah sngle commody and sngle regon (sau komodas dan sau wlayah) dengan memperhakan nervens pemernah dalam benuk kebakan prce band dan buffer socks. odel derapkan unuk horzon waku peroda (1 = awal musm panen, = akhr musm panen, 3 = awal musm anam, dan = akhr musm anam), yang dapa merepresenaskan kuanas keersedaan komodas d pasar. odel Suopo, e al. n mengembangkan model Ahanasou, e al. (007). Fungs uuan dar model n adalah mnmsas oal baya dar produsen, konsumen, dan pemernah. rodusen mengeluarkan baya unuk komodas yang dproduksnya selama peroda awal dan akhr panen (drepresenaskan oleh ongkos penualan, p 0). rodusen menual komodas dengan harga pasar anpa nervens pemernah ( pada peroda 1, dan dengan harga subsd (nervens) pemernah ( peroda. mn f p ) ) pada Konsumen mengeluarkan baya unuk komodas yang dkonsumsnya pada peroda nervens pemernah (akhr musm panen dan akhr musm anam). ada peroda akhr musm panen, seharusnya konsumen memperoleh harga pasar ( p ) yang lebh rendah dar harga nervens pemernah ( mn ). ada peroda konsumen mendapa subsd dar pemernah dengan derapkannya harga nervens ( max ) yang lebh 16

12 rendah dar harga yang seharusnya ( f p ). Toal baya yang dkeluarkan konsumen sebesar harga komodas dkalkan dengan kuanas komodas yang dkonsums. emernah mengeluarkan baya unuk operas pembelan kelebhan pasokan pada mn I peroda ( ), pembelan mpor komodas ( p ), sera baya penanganan komodas selama dsmpan (h), dkalkan dengan kuanasnya. emernah max memperoleh pendapaan dar melakukan nervens pasar pada peroda ( ) dkalkan dengan kuanas operas pasar yang dlakukan ( ). Fungs uuan dar model Suopo, e al. (008) dapa dlha pada persamaan (II.16). C Toal baya sakeholder ( TC,, ) merupakan umlahan dar oal baya produsen C ( TC ), oal baya konsumen ( TC ), dan oal baya pemernah ( TC ). erhungan oal baya ersebu dapa drnc sebaga berku: 1 Toal baya produsen rodusen mendapa keunungan sebesar selsh harga kesembangan d pasar bebas ( f 1 p ) dengan ongkos penualan ( p 0 ) dkalkan umlah pasokan pada s peroda 1 ( q 1 ). ada peroda produsen akan mengalam kerugan karena auhnya harga akba surplus pasokan. emernah mengnervens harga dengan meneapkan harga baas mnmum ( mn ) unuk mengurang kerugan produsen. Baya yang danggung produsen menad selsh dar ongkos penualan dengan harga mnmum dkalkan dengan umlah pasokan pada peroda. Toal baya dar ss produsen dapa dnyaakan dengan persamaan II.16. f 1 s mn p p q p q s TC (II.16) Toal baya konsumen Inervens pasar pemernah menyebabkan konsumen drugkan karena harga akan nak mendeka harga baas mnmum. Kerugan konsumen sebesar selsh anara harga akual anpa nervens ( p ) dengan harga baas mnmum dkalkan d dengan umlah permnaan pada peroda ( q ). ada peroda erad 17

13 kelangkaan pasokan, sehngga harga menngka. emernah mengnervens max harga dengan meneapkan harga baas maksmum ( ). Konsumen mendapakan keunungan sebesar selsh harga kesembangan pasar bebas ( f p ) d dengan harga baas maksmum dkalkan dengan umlah permnaan ( q ). Toal baya dar ss konsumen dapa dnyaakan dengan persamaan II.17. mn d f max p q p q d TC C.... (II.17) 3 Toal baya pemernah Baya yang dkeluarkan pemernah unuk operas pembelan pada peroda sebesar harga baas mnmum dkalkan dengan umlah pembelan pada peroda ( ). emernah mengeluarkan baya unuk mpor komodas sebesar harga I I mpor ( p ) dkalkan umlah komodas yang dmpor ( ). Unuk menangan buffer socks, pemernah mengeluarkan baya sebesar ongkos penanganan (h) dkalkan dengan umlah buffer socks ( ). emernah mendapakan penghaslan dar menual komodas pada peroda sebesar harga baas max maksmum ( ) dkalkan dengan umlah komodas yang dual ( ). Toal baya dar ss pemernah dapa dnyaakan dengan persamaan II.18. mn I I max p h TC.... (II.18) TC, C, TC TC C TC f 1 s mn s mn d p p 0 q1 p0 q p q f max d p q mn I I max p h.... (II.19) Fungs-fungs pembaas dalam penelan n dapa drnc sebaga berku: 1 embaas-pembaas kebakan prce band a Harga baas mnmum Harga baas mnmum merupakan fungs harga pasokan seelah pemernah mengnervens dengan pembelan kelebhan pasokan pada peroda. Secara 18

14 maemak persamaan harga baas mnmum dapa dnyaakan dengan persamaan (II.0). mn s a b q.... (II.0) Harga baas mnmum yang deapkan pemernah n hanya dgunakan unuk mengnervens harga selama peroda. Secara maemak pembaas n dapa dnyaakan dengan persamaan (II.1)..... (II.1) mn f 1 b Harga baas maksmum Harga baas maksmum merupakan fungs harga pasokan seelah pemernah mengnervens dengan menual komodas pada peroda ( ). Secara maemak persamaan harga baas maksmum dapa dnyaakan dengan persamaan (II.). max s b a bq.... (II.) Harga baas maksmum yang deapkan pemernah n hanya dgunakan unuk mengnervens harga selama peroda. Secara maemak pembaas n dapa dnyaakan dengan persamaan (II.3)..... (II.3) 3 max f embaas-pembaas pasokan-permnaan a Jumlah komodas yang dbel pemernah pada peroda maksmum sama dengan selsh pasokan dan permnaan (II.). s d q q.... (II.) b Jumlah komodas yang dual pemernah pada peroda mnmum sama dengan selsh permnaan dan pasokan (II.5). d s q q.... (II.5) c Jumlah oal pasokan nasonal dan mpor melebh umlah permnaan nasonal dan buffer socks (II.6). s q 1 1 I d q.... (II.6) 19

15 3 embaas-pembaas pembukaan pasar a Besarnya safey sock pemernah maksmum sama dengan umlah sok awal pemernah dambah umlah komodas yang dbel pemernah pada peroda dkurang umlah yang dual pada peroda dambah umlah yang dmpor (II.7). SS I (II.7) b Besarnya buffer socks pemernah sama dengan selsh umlah pembelan pemernah pada peroda dengan umlah penualan pemernah pada peroda dambah umlah komodas gula pasr yang dmpor (II.8). I.... (II.8) embaas nonnegaf embaas nonnegaf menyaakan bahwa seluruh varabel kepuusan harus bernla posf (II.9) I mn max,,,, (II.9) Keluaran (varabel kepuusan) model n adalah harga mnmum ( mn ), harga max I maksmum ( ), kuanas mpor ( ), buffer socks ( ), kuanas operas pasar pemernah (pembelan pada peroda akhr panen, dan penualan pada peroda akhr anam, ). 0

BAB IV METODA RUNGE-KUTTA ORDE 4 PADA MODEL ALIRAN FLUIDA YANG TERGANGGU

BAB IV METODA RUNGE-KUTTA ORDE 4 PADA MODEL ALIRAN FLUIDA YANG TERGANGGU BAB IV METODA RUNGE-KUTTA ORDE 4 PADA MODEL ALIRAN FLUIDA YANG TERGANGGU Pada bab III, ka elah melakukan penguan erhadap meoda Runge-Kua orde 4 pada persamaan panas. Haslnya, solus analk persamaan panas

Lebih terperinci

ANaLISIS - TRANSIEN. A B A B A B A B V s V s V s V s. (a) (b) (c) (d) Gambar 1. Proses pemuatan kapasitor

ANaLISIS - TRANSIEN. A B A B A B A B V s V s V s V s. (a) (b) (c) (d) Gambar 1. Proses pemuatan kapasitor ANaISIS - TANSIEN. Kapasor dalam angkaan D Sebuah kapasor akan ermua bla erhubung ke sumber egangan dc seper yang dperlhakan pada Gambar. Pada Gambar (a), kapasor dak bermuaan yau pla A dan pla B mempunya

Lebih terperinci

Line Transmisi. Oleh: Aris Heri Andriawan ( )

Line Transmisi. Oleh: Aris Heri Andriawan ( ) ANALISIS APLIKASI PENJADWALAN UNIT-UNIT PEMBANGKIT PADA SISTEM KELISTRIKAN JAWA-BALI DENGAN MENGGUNAKAN UNIT COMMITMENT, UNIT DECOMMITMENT DAN MODIFIED UNIT DECOMMITMENT Oleh: Ars Her Andrawan (07000)

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN MODEL MATEMATIS UNTUK OPTIMASI PERENCANAAN PRODUKSI MINUMAN MARIMAS

PENGEMBANGAN MODEL MATEMATIS UNTUK OPTIMASI PERENCANAAN PRODUKSI MINUMAN MARIMAS PENGEMBANGAN MODEL MATEMATIS UNTUK OPTIMASI PERENCANAAN PRODUKSI MINUMAN MARIMAS Mra Puspasar, Snggh Sapad, Dana Puspasar Absraks PT Ulam Tba Halm merupakan salah sau ndusr mnuman serbuk d Indonesa, dmana

Lebih terperinci

BAB 8 PERSAMAAN DIFERENSIAL BIASA

BAB 8 PERSAMAAN DIFERENSIAL BIASA Maa kulah KOMPUTASI ELEKTRO BAB 8 PERSAMAAN DIFERENSIAL BIASA Persamaan dferensal dapa dbedakan menjad dua macam erganung pada jumlah varabel bebas. Apabla persamaan ersebu mengandung hana sau varabel

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN FASILKOM-UDINUS T.SUTOJO RANGKAIAN LISTRIK HAL 1

BAB I PENDAHULUAN FASILKOM-UDINUS T.SUTOJO RANGKAIAN LISTRIK HAL 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Defns Rangkaan Lsrk Rangkaan Lsrk adalah sambungan dar beberapa elemen lsrk ( ressor, kapasor, ndukor, sumber arus, sumber egangan) yang membenuk mnmal sau lnasan eruup yang dapa

Lebih terperinci

BAB 2 RESPONS FUNGSI STEP PADA RANGKAIAN RL DAN RC. Ir. A.Rachman Hasibuan dan Naemah Mubarakah, ST

BAB 2 RESPONS FUNGSI STEP PADA RANGKAIAN RL DAN RC. Ir. A.Rachman Hasibuan dan Naemah Mubarakah, ST BAB ESPONS FUNGSI STEP PADA ANGKAIAN DAN C Oleh : Ir. A.achman Hasbuan dan Naemah Mubarakah, ST . Persamaan Dferensal Orde Sau Adapun benuk yang sederhana dar suau persamaan dferensal orde sau adalah:

Lebih terperinci

PERENCANAAN PERSEDIAAN DAN PENGENDALIAN BAHAN BAKU DI PABRIK PRODUK BETON PT WIJAYA KARYA BETON, BOGOR

PERENCANAAN PERSEDIAAN DAN PENGENDALIAN BAHAN BAKU DI PABRIK PRODUK BETON PT WIJAYA KARYA BETON, BOGOR B-5-1 PERENCANAAN PERSEDIAAN DAN PENGENDALIAN BAHAN BAKU DI PABRIK PRODUK BETON PT WIJAYA KARYA BETON, BOGOR Wsnu Bud Sunaryo, Haryono ITS Surabaya ABSTRAK Dalam duna konsruks saa n pemakaan produk beon

Lebih terperinci

PENENTUAN EOQ TERHADAP PRODUK AVTUR DI LANUD HUSEIN SASTRANEGARA BANDUNG

PENENTUAN EOQ TERHADAP PRODUK AVTUR DI LANUD HUSEIN SASTRANEGARA BANDUNG INDEPT, Vol., No. 3, Okober 01 ISSN 087 945 PENENTUAN EOQ TERHADAP PRODUK AVTUR DI LANUD HUSEIN SASTRANEGARA BANDUNG Samsul Budaro, ST., MT Dosen Teap Teknk Indusr, Wakl Dekan III akulas Teknk, Unversas

Lebih terperinci

IV. METODOLOGI PENELITIAN

IV. METODOLOGI PENELITIAN IV. METODOLOGI PENELITIN 4.. Obek Penelan Obek penelan adalah Provns Sulawes Tengah, yang ddasarkan aas beberapa permbangan. Perama, Provns Sulawes Tengah memlk sumberdaya sekor peranan dan ndusr pengolahan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI Landasan Teor 6 BAB II LADASA TEORI. PERAMALA PERMITAA Peramalan adalah suau proses dalam menggunakan daa hsores yang elah dmlk unuk dproyekskan ke dalam suau model dan menggunakan model n unuk memperkrakan

Lebih terperinci

BAB 5 ENTROPI PADA MATRIKS EMISI MODEL MARKOV TERSEMBUNYI

BAB 5 ENTROPI PADA MATRIKS EMISI MODEL MARKOV TERSEMBUNYI BAB ETROPI PADA MATRIKS EMISI MODEL MARKOV TERSEMBUYI Model Markov Tersembuny (Hdden Markov Model, MMT) elah banyak daplkaskan dalam berbaga bdang seper pelafalan bahasa (speeh reognon) dan klasfkas (luserng).

Lebih terperinci

Penggunaan Metode Modified Unit Decommitment (MUD) untuk Penjadwalan Unit-Unit Pembangkit Pada Sistem Kelistrikan Jawa - Bali

Penggunaan Metode Modified Unit Decommitment (MUD) untuk Penjadwalan Unit-Unit Pembangkit Pada Sistem Kelistrikan Jawa - Bali Penggunaan Meode Modfed Un Decommmen (MUD) unuk Penjadwalan Un-Un Pembangk Pada Ssem Kelsrkan Jawa - Bal Ars Her Andrawan,2, Onoseno Penangsang ) Jurusan Teknk Elekro TS, Surabaya 60, ndonesa 2) Jurusan

Lebih terperinci

Jumlah kasus penderita penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Surabaya tahun

Jumlah kasus penderita penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Surabaya tahun Baasan Masalah Jumlah kasus pendera penyak Demam Berdarah Dengue (DBD d Koa Surabaya ahun - Varabel Explanaory (Varabel penjelas yang dgunakan dalam penelan adalah varabel Iklm (Curah hujan, Suhu, Kelembaban

Lebih terperinci

Created by Simpo PDF Creator Pro (unregistered version)

Created by Simpo PDF Creator Pro (unregistered version) Creaed by Smpo PDF Creaor Pro (unregsered verson) hp://www.smpopdf.com Sask Bsns : BAB 8 VIII. ANALISIS DATA DERET BERKALA (TIME SERIES) 8.1 Pendahuluan Daa Berkala (Daa Dere waku) adalah daa yang dkumpulkan

Lebih terperinci

Analisis Jalur / Path Analysis

Analisis Jalur / Path Analysis Analss Jalur / Pah Analyss Analss jalur adalah salah sau benuk model SEM yang dak mengandung varable laen. Tenu saja model n lebh sederhana dbandngkan dengan model SEM lengka. Analss jalur sebenarnya meruakan

Lebih terperinci

\ DANA ALOKASI DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

\ DANA ALOKASI DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA y BUPAT PACTAN PERATURAN BUPAT PACTAN : NOMOR 55" TAHUN 20 ; TENTANG \ DANA ALOKAS DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPAT PACTAN, Menmbang : a. bahwa dalam rangka penngkaan penyelenggaraan pemernahan,

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB LANDAAN TEORI. Tnjauan Pusaka.. Uj Keseragaman Daa Tujuan uama pengukuran uj keseragaman daa adalah unuk mendapakan da yang seragam. Kedak seragaman daa dapa daang anpa dsadar, maka dperlukan suau

Lebih terperinci

BUPATI PACITAN. i PERATURAN BUPATI PACITAN ; NOMOR 5" TAHUN 2008 TENTANG

BUPATI PACITAN. i PERATURAN BUPATI PACITAN ; NOMOR 5 TAHUN 2008 TENTANG BUPAT PACTAN PERATURAN BUPAT PACTAN ; NOMOR 5" TAHUN 2008 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERA KABUPATEN PACTAN NOMOR 25 TAHUN 2007 TENTANG ORGAN DAN KEPEGAWAAN PERUSAHAAN DAERAH AR MNUM j KABUPATEN

Lebih terperinci

BAB III THREE STAGE LEAST SQUARE. Sebagaimana telah disinggung pada bab sebelumnya, salah satu metode

BAB III THREE STAGE LEAST SQUARE. Sebagaimana telah disinggung pada bab sebelumnya, salah satu metode BAB III THREE STAGE LEAST SQUARE Sebagamana elah dsnggung pada bab sebelumnya, salah sau meode penaksran parameer pada persamaan smulan yau meode Three Sage Leas Square (3SLS. Sebelum djelaskan lebh lanju

Lebih terperinci

PENGGUNAAN METODE MODIFIED UNIT DECOMMITMENT (MUD) UNTUK PENJADWALAN UNIT-UNIT PEMBANGKIT PADA SISTEM KELISTRIKAN JAWA - BALI

PENGGUNAAN METODE MODIFIED UNIT DECOMMITMENT (MUD) UNTUK PENJADWALAN UNIT-UNIT PEMBANGKIT PADA SISTEM KELISTRIKAN JAWA - BALI Prosdng Semnar Nasonal Manajemen Teknolog X Program Sud MMT-TS, Surabaya 6 Pebruar 2010 PENGGUNAAN METODE MODFED UNT DECOMMTMENT (MUD) UNTUK PENJADWALAN UNT-UNT PEMBANGKT PADA SSTEM KELSTRKAN JAWA - BAL

Lebih terperinci

(Cormen 2002) III PEMBAHASAN. yt : pendapatan rumah tangga pada periode t, dengan yt 0.

(Cormen 2002) III PEMBAHASAN. yt : pendapatan rumah tangga pada periode t, dengan yt 0. 5 Vaabel s dsebu vaabel slak enambahan vaabel slak beujuan unuk mengubah peaksamaan yang mengandung anda menjad sebuah pesamaan eaksamaan () bena jka dan hanya jka pesamaan (2) dan peaksamaan (3) bena

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Model Persediaan Model Deterministik

BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Model Persediaan Model Deterministik 6 BAB LANDASAN TEORI. Model Persedaan.. Model Deermnsk Model Deermnsk adalah model yang menganggap nla-nla parameer elah dkeahu dengan pas. Model n dbedakan menjad dua: a. Deermnsk Sas. D dalam model n

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB LANDAAN EORI. njauan Pusaka.. Peramalan Peramalan (forecasng) merupakan ala banu yang penng dalam perencanaan yang efekf dan efsen khususnya dalam bdang ekonom. Dalam organsas modern mengeahu keadaan

Lebih terperinci

Peramalan Jumlah Penumpang Kereta Api Kelas Ekonomi Kertajaya Menggunakan ARIMA dan ANFIS

Peramalan Jumlah Penumpang Kereta Api Kelas Ekonomi Kertajaya Menggunakan ARIMA dan ANFIS JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 4 No. (05) 33-350 (30-9X Prn) D-3 Peramalan Jumlah Penumpang Kerea Ap Kelas Ekonom Keraaya Menggunakan ARIMA dan ANFIS Ilaf Andala dan Irhamah Jurusan Saska Fakulas Maemaka

Lebih terperinci

( ) STUDI KASUS. ò (, ) ( ) ( ) Rataan posteriornya adalah = Rataan posteriornya adalah (32)

( ) STUDI KASUS. ò (, ) ( ) ( ) Rataan posteriornya adalah = Rataan posteriornya adalah (32) 8 Raaan poserornya adalah E m x ò (, ) f ( x) m f x m f f m ddm (32) Dalam obseras basanya dgunakan banyak daa klam. Msalkan saja erdr dar grup daa klam dengan masng-masng grup ke unuk seap, 2,..., yang

Lebih terperinci

MANAJEMEN LOGISTIK & SUPPLY CHAIN MANAGEMENT KULIAH 3: MERANCANG JARINGAN SUPPLY CHAIN

MANAJEMEN LOGISTIK & SUPPLY CHAIN MANAGEMENT KULIAH 3: MERANCANG JARINGAN SUPPLY CHAIN MANAJEMEN LOGISTIK & SUPPLY CHAIN MANAGEMENT KULIAH 3: MERANCANG JARINGAN SUPPLY CHAIN By: Rn Halla Nasuton, ST, MT MERANCANG JARINGAN SC Perancangan jarngan SC merupakan satu kegatan pentng yang harus

Lebih terperinci

Kresnanto NC. Model Sebaran Pergerakan

Kresnanto NC. Model Sebaran Pergerakan Kresnano C Moel Sebaran Pergerakan Kresnano C Tujuan Uama: Mengeahu pola pergerakan alam ssem ransporas serng jelaskan alam benuk arus pergerakan (kenaraan, penumpang, an barang) yang bergerak ar zona

Lebih terperinci

Sudaryatno Sudirham. Analisis Rangkaian Listrik Di Kawasan Waktu

Sudaryatno Sudirham. Analisis Rangkaian Listrik Di Kawasan Waktu Sudaryano Sudrham nalss Rangkaan Lsrk D Kawasan Waku BB 12 nalss Transen d Kawasan Waku Rangkaan Orde Perama Yang dmaksud dengan analss ransen adalah analss rangkaan yang sedang dalam keadaan peralhan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN PACITAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PACITAN : NOMOR 18 TAHUN 2001

PEMERINTAH KABUPATEN PACITAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PACITAN : NOMOR 18 TAHUN 2001 I I PEMERINTAH KABUPATEN PACITAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PACITAN : NOMOR 18 TAHUN 2001 \ TENTANG PEMBERDAYAAN, PELESTARIAN DAN PENGEMBANGAN ADAT ISTIADAT DAN LEMBAGA ADAT DENGAN RAHMAT TAHUN YANG MAHA

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN PACITAN PERATURAN BUPATI PACITAN 1 NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG

BERITA DAERAH KABUPATEN PACITAN PERATURAN BUPATI PACITAN 1 NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG BERTA DAERAH KABUPATEN PACTAN TAHUN 200 NOMOR 7 PERATURAN BUPAT PACTAN NOMOR 6 TAHUN 200 TENTANG PERUBAHAN KETGA ATAS PERATURAN BUPAT PACTAN NOMOR 28 TAUN 2009 TENTANG PENJABARAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN

Lebih terperinci

PENERAPAN FUZZY MULTI CRITERIA DECISION MAKING UNTUK MENENTUKAN PEMBERIAN BEASISWA

PENERAPAN FUZZY MULTI CRITERIA DECISION MAKING UNTUK MENENTUKAN PEMBERIAN BEASISWA Semnar Nasonal Teknolog Informas dan Mulmeda 2015 STMIK AMIKOM Yogyakara, 6-8 Februar 2015 PENERAPAN FUZZY MULTI CRITERIA DECISION MAKING UNTUK MENENTUKAN PEMBERIAN BEASISWA Yeffransjah Salm STMIK Indonesa

Lebih terperinci

Peramalan Penjualan Sepeda Motor Tiap Jenis di Wilayah Surabaya dan Blitar dengan Model ARIMA Box-Jenkins dan Vector Autoregressive (VAR)

Peramalan Penjualan Sepeda Motor Tiap Jenis di Wilayah Surabaya dan Blitar dengan Model ARIMA Box-Jenkins dan Vector Autoregressive (VAR) JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 3, No., (04) 337-350 (30-98X Prn) D-36 Peramalan Penjualan eda Moor Tap Jens d Wlayah Surabaya dan Blar dengan Model ARIMA Box-Jenkns dan Vecor Auoregressve (VAR) Ade

Lebih terperinci

NILAI TOTAL TAK TERATUR TOTAL DARI GABUNGAN TERPISAH GRAF RODA DAN GRAF BUKU SEGITIGA

NILAI TOTAL TAK TERATUR TOTAL DARI GABUNGAN TERPISAH GRAF RODA DAN GRAF BUKU SEGITIGA Jurnal Ilmu Maemaka dan Terapan Desember 015 Volume 9 Nomor Hal. 97 10 NILAI TOTAL TAK TERATUR TOTAL DARI GABUNGAN TERPISAH GRAF RODA DAN GRAF BUKU SEGITIGA R. D. S. Rahangmean 1, M. I. Tlukay, F. Y. Rumlawang,

Lebih terperinci

BAB 3 PEMBAHASAN. 3.1 Prosedur Penyelesaian Masalah Program Linier Parametrik Prosedur Penyelesaian untuk perubahan kontinu parameter c

BAB 3 PEMBAHASAN. 3.1 Prosedur Penyelesaian Masalah Program Linier Parametrik Prosedur Penyelesaian untuk perubahan kontinu parameter c 6 A PEMAHASA Pada bab sebelumnya telah dbahas teor-teor yang akan dgunakan untuk menyelesakan masalah program lner parametrk. Pada bab n akan dperlhatkan suatu prosedur yang lengkap untuk menyelesakan

Lebih terperinci

(1.1) maka matriks pembayaran tersebut dikatakan mempunyai titik pelana pada (r,s) dan elemen a

(1.1) maka matriks pembayaran tersebut dikatakan mempunyai titik pelana pada (r,s) dan elemen a Lecture 2: Pure Strategy A. Strategy Optmum Hal pokok yang sesungguhnya menad nt dar teor permanan adalah menentukan solus optmum bag kedua phak yang salng bersang tersebut yang bersesuaan dengan strateg

Lebih terperinci

BAB III MODEL PERTUMBUHAN EKONOMI DUA SEKTOR

BAB III MODEL PERTUMBUHAN EKONOMI DUA SEKTOR 15 BAB III MODEL PERTUMBUHA EKOOMI DUA SEKTOR 3.1 Aum dan oa Model perumbuhan dua ekor n merupakan model perumbuhan dengan dua komod yang dhalkan, yau barang modal dan barang konum. Kedua barang n dproduk

Lebih terperinci

EL NINO, LA NINA, DAN PENAWARAN PANGAN DI JAWA, INDONESIA

EL NINO, LA NINA, DAN PENAWARAN PANGAN DI JAWA, INDONESIA Jurnal Ekonom Pembangunan Volume 1, Nomor, Desember 011, hlm.57-71 EL NINO, LA NINA, DAN PENAWARAN PANGAN DI JAWA, INDONESIA Arn Wahyu Uam, Jamhar, dan Suhamn Hardyasu Jurusan Sosal Ekonom Peranan, Fakulas

Lebih terperinci

ANALISIS INTEGRASI HARGA MINYAK BUMI, MINYAK KEDELAI, CPO, MINYAK GORENG DOMESTIK DAN TANDAN BUAH SEGAR KELAPA SAWIT. Oleh: BAMBANG WAHYU PONCO AJI

ANALISIS INTEGRASI HARGA MINYAK BUMI, MINYAK KEDELAI, CPO, MINYAK GORENG DOMESTIK DAN TANDAN BUAH SEGAR KELAPA SAWIT. Oleh: BAMBANG WAHYU PONCO AJI ANALISIS INTEGRASI HARGA MINYAK BUMI, MINYAK KEDELAI, CPO, MINYAK GORENG DOMESTIK DAN TANDAN BUAH SEGAR KELAPA SAWIT Oleh: BAMBANG WAHYU PONCO AJI PROGRAM STUDI ILMU EKONOMI SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT

Lebih terperinci

BAB V PENGEMBANGAN MODEL FUZZY PROGRAM LINIER

BAB V PENGEMBANGAN MODEL FUZZY PROGRAM LINIER BAB V PENGEMBANGAN MODEL FUZZY PROGRAM LINIER 5.1 Pembelajaran Dengan Fuzzy Program Lner. Salah satu model program lnear klask, adalah : Maksmumkan : T f ( x) = c x Dengan batasan : Ax b x 0 n m mxn Dengan

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waku Peneliian Peneliian ini dilaksanakan di PT Panafil Essenial Oil. Lokasi dipilih dengan perimbangan bahwa perusahaan ini berencana unuk melakukan usaha dibidang

Lebih terperinci

Bab 3 Beberapa Skema Pembagian Rahasia

Bab 3 Beberapa Skema Pembagian Rahasia 9 Ba 3 Beeraa Skema Pemagan Rahasa Skema emagan rahasa adalah meode unuk memag rahasa K d anara anggoaanggoa suau hmunan arsan P {P,P, P n } sedemkan sehngga ka arsan ada suhmunan A P yang derolehkan mengeahu

Lebih terperinci

Optimasi Model Inventory Deterministik untuk Permintaan Menaik dan Biaya Pemesanan Konstan

Optimasi Model Inventory Deterministik untuk Permintaan Menaik dan Biaya Pemesanan Konstan Opma Model Invenory Deermnk unuk Permnaan Menak dan Baya Pemeanan Konan Dana Purwaar, Rully Soelaman, Fr Qona Fakula Teknolog Informa, Inu Teknolog Sepulu Nopember, Surabaya E-mal : [email protected] Abrak

Lebih terperinci

PERSAMAAN GERAK VEKTOR SATUAN. / i / = / j / = / k / = 1

PERSAMAAN GERAK VEKTOR SATUAN. / i / = / j / = / k / = 1 PERSAMAAN GERAK Posisi iik maeri dapa dinyaakan dengan sebuah VEKTOR, baik pada suau bidang daar maupun dalam bidang ruang. Vekor yang dipergunakan unuk menenukan posisi disebu VEKTOR POSISI yang diulis

Lebih terperinci

TRANSMISI HARGA DAN PERILAKU PASAR BAWANG MERAH JANUAR ARIFIN RUSLAN

TRANSMISI HARGA DAN PERILAKU PASAR BAWANG MERAH JANUAR ARIFIN RUSLAN TRANSMISI HARGA DAN PERILAKU PASAR BAWANG MERAH JANUAR ARIFIN RUSLAN SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2016 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. membahas analisis deret waktu, diagram kontrol Shewhart, Average Run Length

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. membahas analisis deret waktu, diagram kontrol Shewhart, Average Run Length BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pendahuluan Dalam enulsan maer okok dar skrs n derlukan beberaa eor-eor yang mendukung, yang menjad uraan okok ada bab n Uraan dmula dengan membahas analss dere waku, dagram konrol

Lebih terperinci

Optimasi Model Inventory Deterministik untuk Permintaan Menaik dan Biaya Pemesanan Konstan

Optimasi Model Inventory Deterministik untuk Permintaan Menaik dan Biaya Pemesanan Konstan Opma Model Invenory Deermnk unuk Permnaan Menak dan Baya Pemeanan Konan Dana Purwaar, Rully Soelaman, Fr Qona Fakula Teknolog Informa, Inu Teknolog Sepulu Nopember, Surabaya E-mal : [email protected] Abrak

Lebih terperinci

Penerapan Statistika Nonparametrik dengan Metode Brown-Mood pada Regresi Linier Berganda

Penerapan Statistika Nonparametrik dengan Metode Brown-Mood pada Regresi Linier Berganda Jurnal EKSPONENSIAL Volume 7, Nomor, Me 6 ISSN 85-789 Penerapan Saska Nonparamerk dengan Meode Brown-Mood pada Regres Lner Berganda Applcaon of Nonparamerc Sascs, wh Brown-Mood Mehod on Mulple Lnear Regresson

Lebih terperinci

OPTIMASI MASALAH PENUGASAN. Siti Maslihah

OPTIMASI MASALAH PENUGASAN. Siti Maslihah JPM IIN ntasar Vol. 01 No. 2 Januar Jun 2014, h. 95-106 OPTIMSI MSLH PNUGSN St Maslhah bstrak Pemrograman lner merupakan salah satu lmu matematka terapan yang bertuuan untuk mencar nla optmum dar suatu

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Dalam memlh sesuatu, mula yang memlh yang sederhana sampa ke hal yang sangat rumt yang dbutuhkan bukanlah berpkr yang rumt, tetap bagaman berpkr secara sederhana. AHP

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional merupakan pengertian dan petunjuk yang

III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional merupakan pengertian dan petunjuk yang III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional merupakan pengerian dan peunjuk yang digunakan unuk menggambarkan kejadian, keadaan, kelompok, aau

Lebih terperinci

PENDUGAAN STATISTIK AREA KECIL DENGAN METODE EMPIRICAL CONSTRAINED BAYES 1

PENDUGAAN STATISTIK AREA KECIL DENGAN METODE EMPIRICAL CONSTRAINED BAYES 1 PENDUGAAN SAISIK AREA KECIL DENGAN MEODE EMPIRICAL CONSRAINED AYES Ksmann Jurusan Penddkan Maemaka FMIPA Unversas Neger Yogyakara Absrak Meode emprcal ayes (E merupakan meode yang lebh aplkaf pada pendugaan

Lebih terperinci

KONSEP DASAR. Latar belakang Metode Numerik Ilustrasi masalah numerik Angka signifikan Akurasi dan Presisi Pendekatan dan Kesalahan

KONSEP DASAR. Latar belakang Metode Numerik Ilustrasi masalah numerik Angka signifikan Akurasi dan Presisi Pendekatan dan Kesalahan KONSEP DASAR Laar belakang Meode Numerk Ilusras masalah numerk Angka sgnfkan Akuras dan Press Pendekaan dan Kesalahan Laar Belakang Meode Numerk Tdak semua permasalahan maemas dapa dselesakan dengan mudah,

Lebih terperinci

BAB III MINIMUM COVARIANCE DETERMINANT. Sebagaimana telah disinggung pada bab sebelumnya, salah satu metode

BAB III MINIMUM COVARIANCE DETERMINANT. Sebagaimana telah disinggung pada bab sebelumnya, salah satu metode BAB III MINIMUM COVARIANCE DETERMINANT Sebagamana elah dsnggung pada bab sebelumnya, salah sau meode robus unuk mendeeks penclan (ouler) dalam analss komponen uama robus yau meode Mnmum Covarance Deermnan

Lebih terperinci

PROSES STOKASTIK KELAHIRAN-KEMATIAN DENGAN DUA JENIS KELAMIN SECARA KELOMPOK PADA PROSES YULE- FURRY. Samsuryadi

PROSES STOKASTIK KELAHIRAN-KEMATIAN DENGAN DUA JENIS KELAMIN SECARA KELOMPOK PADA PROSES YULE- FURRY. Samsuryadi JURNAL MATEMATIKA DAN KOMUTER Vol. 4. No. - Agusus ISSN : 4-858 ROSES STOKASTIK KELAHIRAN-KEMATIAN DENAN DUA JENIS KELAMIN SECARA KELOMOK ADA ROSES YULE- FURRY Samsuryad Jurusan Maemaka FMIA Unversas Srwaya

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN MODEL PERSEDIAAN BAHAN BAKU DENGAN MEMPERTIMBANGKAN WAKTU KADALUWARSA DAN FAKTOR UNIT DISKON

PENGEMBANGAN MODEL PERSEDIAAN BAHAN BAKU DENGAN MEMPERTIMBANGKAN WAKTU KADALUWARSA DAN FAKTOR UNIT DISKON PENGEMBANGAN MODEL PERSEDIAAN BAHAN BAKU DENGAN MEMPERTIMBANGKAN WAKTU KADALUWARSA DAN FAKTOR UNIT DISKON Har Prasetyo Jurusan Teknk Industr Unverstas Muhammadyah Surakarta Jl. A. Yan Tromol Pos 1, Pabelan,

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Teoriis 3.1.1 Daya Dukung Lingkungan Carrying capaciy aau daya dukung lingkungan mengandung pengerian kemampuan suau empa dalam menunjang kehidupan mahluk hidup secara

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN MODEL

BAB IV PEMBAHASAN MODEL BAB IV PEMBAHASAN MODEL Pada bab IV n akan dlakukan pembuatan model dengan melakukan analss perhtungan untuk permasalahan proses pengadaan model persedaan mult tem dengan baya produks cekung dan jont setup

Lebih terperinci

BAB III METODE PEMULUSAN EKSPONENSIAL TRIPEL DARI WINTER. Metode pemulusan eksponensial telah digunakan selama beberapa tahun

BAB III METODE PEMULUSAN EKSPONENSIAL TRIPEL DARI WINTER. Metode pemulusan eksponensial telah digunakan selama beberapa tahun 43 BAB METODE PEMUUAN EKPONENA TRPE DAR WNTER Meode pemulusan eksponensial elah digunakan selama beberapa ahun sebagai suau meode yang sanga berguna pada begiu banyak siuasi peramalan Pada ahun 957 C C

Lebih terperinci

i BUPATI PACITAN 1 I PERATURAN BUPATI PACITAN I NOMOR 5 TAHUN 2014 i

i BUPATI PACITAN 1 I PERATURAN BUPATI PACITAN I NOMOR 5 TAHUN 2014 i ( BUPAT PACTAN PERATURAN BUPAT PACTAN NOMOR 5 TAHUN 204 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PACTAN NOMOR 8 TAHUN 20 TENTANG RETRBUS TEMPAT PELELANGAN KAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Laar Belakang Masalah Knerja pembangunan ekonom Indonesa bsa dkaakan sanga membanggakan dengan ngka perumbuhan ekonom selama beberapa dekade erakhr n sangalah ngg, walaupun mengalam

Lebih terperinci

! BUPATI PACriAN j PERATURAN BUPATI PACITAN NOMOR 18 TAHUN 2013

! BUPATI PACriAN j PERATURAN BUPATI PACITAN NOMOR 18 TAHUN 2013 ! BUPAT PACrAN j PERATURAN BUPAT PACTAN NOMOR 18 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN LAPORAN DEWAN PENGAWAS BADAN LAYANAN UMUM DAERAH PADA RUMAH SAKT UMUM DAERAH KABUPATEN PACTAN DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Pertumbuhan dan kestabilan ekonomi, adalah dua syarat penting bagi kemakmuran

BAB 1 PENDAHULUAN. Pertumbuhan dan kestabilan ekonomi, adalah dua syarat penting bagi kemakmuran BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan dan kestablan ekonom, adalah dua syarat pentng bag kemakmuran dan kesejahteraan suatu bangsa. Dengan pertumbuhan yang cukup, negara dapat melanjutkan pembangunan

Lebih terperinci

BUPATI PACITAN. PERATURAN BUPATI PACITAN NOMOR i TAHUN 2011 TENTANG. PETUNJUK PELAKSANAAN KEGIATAN INSEMINASI BUATAN j DI KABUPATEN PACITAN

BUPATI PACITAN. PERATURAN BUPATI PACITAN NOMOR i TAHUN 2011 TENTANG. PETUNJUK PELAKSANAAN KEGIATAN INSEMINASI BUATAN j DI KABUPATEN PACITAN BUPAT PACTAN PERATURAN BUPAT PACTAN NOMOR TAHUN 20 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN KEGATAN NSEMNAS BUATAN j D KABUPATEN PACTAN DENGAN RAHMAT TUAN YANG MAHA ESA Menmbang : a. b. BUPAT PACTAN, bahwa guna kelancaran

Lebih terperinci

BAB 2 KINEMATIKA. A. Posisi, Jarak, dan Perpindahan

BAB 2 KINEMATIKA. A. Posisi, Jarak, dan Perpindahan BAB 2 KINEMATIKA Tujuan Pembelajaran 1. Menjelaskan perbedaan jarak dengan perpindahan, dan kelajuan dengan kecepaan 2. Menyelidiki hubungan posisi, kecepaan, dan percepaan erhadap waku pada gerak lurus

Lebih terperinci

PENGUKURAN VALUE AT RISK PADA ASET TUNGGAL DAN PORTOFOLIO DENGAN SIMULASI MONTE CARLO. Di Asih I Maruddani 1, Ari Purbowati 2

PENGUKURAN VALUE AT RISK PADA ASET TUNGGAL DAN PORTOFOLIO DENGAN SIMULASI MONTE CARLO. Di Asih I Maruddani 1, Ari Purbowati 2 Pengukuran Value a sk (D Ash I Maruddan) PEGUKUA VALUE AT ISK PADA ASET TUGGAL DA POTOFOLIO DEGA SIMULASI MOTE CALO D Ash I Maruddan 1, Ar Purbowa 1 Saf Pengajar Program Sud Saska FMIPA UDIP Bro Pusa Saska

Lebih terperinci

SIMULASI OPTIMASI ALIRAN DAYA SISTEM TENAGA LISTRIK SEBAGAI PENDEKATAN EFISIENSI BIAYA OPERASI

SIMULASI OPTIMASI ALIRAN DAYA SISTEM TENAGA LISTRIK SEBAGAI PENDEKATAN EFISIENSI BIAYA OPERASI ISSN: 1693-6930 167 SIMULASI OPTIMASI ALIRAN DAA SISTEM TENAGA LISTRIK SEBAGAI PENDEKATAN EFISIENSI BIAA OPERASI Subyanto Teknk Elektro Fakultas Teknk Unverstas Neger Semarang Gedung E6 Lt. Kampus Sekaran

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN II LANDASAN TEORI

I PENDAHULUAN II LANDASAN TEORI I PENDAHULUAN Latar elakang Sekolah merupakan salah satu bagan pentng dalam penddkan Oleh karena tu sekolah harus memperhatkan bagan-bagan yang ada d dalamnya Salah satu bagan pentng yang tdak dapat dpsahkan

Lebih terperinci

Bab III Analisis Rantai Markov

Bab III Analisis Rantai Markov Bab III Analss Ranta Markov Sstem Markov (atau proses Markov atau ranta Markov) merupakan suatu sstem dengan satu atau beberapa state atau keadaan, dan dapat berpndah dar satu state ke state yang lan pada

Lebih terperinci

Pengenalan Aksara Pallawa dengan Model Hidden Markov

Pengenalan Aksara Pallawa dengan Model Hidden Markov Pengenalan Aksara Pallawa dengan Model Hdden Markov Wwen Wdyasu Teknk Elekro, Fakulas Sans dan Teknolog, Unversas Sanaa Dharma Emal: [email protected] Absrak Aksara Pallawa aau kadangkala duls sebaga Pallava

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian mengenai Analisis Pengaruh Kupedes Terhadap Performance

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian mengenai Analisis Pengaruh Kupedes Terhadap Performance BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokas dan Waktu Peneltan Peneltan mengena Analss Pengaruh Kupedes Terhadap Performance Busness Debtur dalam Sektor Perdagangan, Industr dan Pertanan dlaksanakan d Bank Rakyat

Lebih terperinci

III METODE PENELITIAN

III METODE PENELITIAN III METODE PENELITIAN 3.1 Waku dan Tempa Peneliian Peneliian mengenai konribusi pengelolaan huan rakya erhadap pendapaan rumah angga dilaksanakan di Desa Babakanreuma, Kecamaan Sindangagung, Kabupaen Kuningan,

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI PACITAN NOMOR (9 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN KEUANGAN BADAN LAYANAN UMUM RUMAH SAKIT DAERAH BUPATI PACITAN

PERATURAN BUPATI PACITAN NOMOR (9 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN KEUANGAN BADAN LAYANAN UMUM RUMAH SAKIT DAERAH BUPATI PACITAN BUPAT PACTAN PERATURAN BUPAT PACTAN NOMOR (9 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN KEUANGAN BADAN LAYANAN UMUM RUMAH SAKT DAERAH BUPAT PACTAN Menmbang: a. bahwa sehubungan elah deapkannya Badan Rumah

Lebih terperinci

THE ECONOMICS OF MARRIAGE & DIVORCE. Minggu-11 Page 1

THE ECONOMICS OF MARRIAGE & DIVORCE. Minggu-11 Page 1 THE ECONOMICS OF MARRIAGE & DIVORCE Mnggu-11 Page 1 Page 2 Page 3 Page 4 Fakta d USA 1950 2001 2010 Angka pernkahan per 1000 penduduk Angka perceraan per 1000 penduduk Umur medan lak-lak pertama menkah

Lebih terperinci

APLIKASI INVERSI NON LINIER DENGAN PENDEKATAN LINIER UNTUK MENENTUKAN HIPOSENTER (CONTOH KASUS DI G. KELUD)

APLIKASI INVERSI NON LINIER DENGAN PENDEKATAN LINIER UNTUK MENENTUKAN HIPOSENTER (CONTOH KASUS DI G. KELUD) Alkas Iners Non Lner Dengan Pendekaan Lner Unuk Menenukan Hosener Conoh Kasus d G. Kelud) Cece Sulaeman) APLIKASI INVERSI NON LINIER DENGAN PENDEKATAN LINIER UNTUK MENENTUKAN HIPOSENTER CONTOH KASUS DI

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LADASA TEORI 2.1 Pengerian Peramalan Peramalan (forecasing) adalah suau kegiaan yang memperkirakan apa yang akan erjadi pada masa yang akan daang. Meode peramalan merupakan cara unuk memperkirakan

Lebih terperinci

Kajian Model Markov Waktu Diskrit Untuk Penyebaran Penyakit Menular Pada Model Epidemik SIR

Kajian Model Markov Waktu Diskrit Untuk Penyebaran Penyakit Menular Pada Model Epidemik SIR JURAL TEKK POT Vol, o, (0) -6 Kajan odel arkov Waku Dskr Unuk Penyebaran Penyak enular Pada odel Epdemk R Rafqaul Hasanah, Laksm Pra Wardhan, uhud Wahyud Jurusan aemaka, Fakulas PA, nsu Teknolog epuluh

Lebih terperinci

PACITAN PERATURAN BUPATI PACITAN NOMOR 9 TAHUN 2014 PEDOMAN TATA CARA PENGADAAN BARANG/JASA DI DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PACITAN PERATURAN BUPATI PACITAN NOMOR 9 TAHUN 2014 PEDOMAN TATA CARA PENGADAAN BARANG/JASA DI DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA bupat PACTAN j PERATURAN BUPAT PACTAN NOMOR 9 TAHUN 204 TENTANG PEDOMAN TATA CARA PENGADAAN BARANG/JASA D DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA ; BUPAT PACTAN. Menlznbang : a. bahwa unuk kelancaran dan

Lebih terperinci

3 Kondisi Fisik Dermaga A I Pelabuhan Palembang

3 Kondisi Fisik Dermaga A I Pelabuhan Palembang Bab 3 3 Konds Fsk Dermaga A I Pelabuhan Palembang Penanganan Kerusakan Dermaga Sud Kasus Dermaga A I Pelabuhan Palembang 3.1 Pengolahan Daa Pasang Suru 3.1.1 Meode Leas Square Meode n menjelaskan bahwa

Lebih terperinci

III. PEMBAHASAN. Untuk transaksi dengan arah x y z x, maka tiap kurs dapat didefinisikan sebagai berikut:

III. PEMBAHASAN. Untuk transaksi dengan arah x y z x, maka tiap kurs dapat didefinisikan sebagai berikut: 8 III. EMBAHASAN. Model Makroskops dar Arbtrase Trangular Model makroskops menggunakan data aktual kurs yang dambl dar www.oanda.com untuk tga mata uang yatu IDR J dan USD dalam kurun waktu dar Januar

Lebih terperinci

Perencanaan Waktu Replenishment pada Continuous Material Requirement Planning dengan Kendala Laju Produksi Level

Perencanaan Waktu Replenishment pada Continuous Material Requirement Planning dengan Kendala Laju Produksi Level Perencanaan Waku Replenshmen pada Connuous Maeral Requremen Plannng dengan Kendala Laju Produks Arf Rahman Jurusan Teknk Indusr, Fakulas Teknk, Unversas Brawjaya Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145 Indonesa

Lebih terperinci

Universitas Katolik SOEGIJAPRANATA SUN SEBAGAI INSTRUMEN OPERASI PASAR TERBUKA. WORKING PAPER/110/e/fak/c1/2009

Universitas Katolik SOEGIJAPRANATA SUN SEBAGAI INSTRUMEN OPERASI PASAR TERBUKA. WORKING PAPER/110/e/fak/c1/2009 Unversas Kaolk SOEGIJAPRANATA SUN SEBAGAI INSTRUMEN OPERASI PASAR TERBUKA WORKING PAPER/110/e/fak/c1/2009 ANGELINA IKA RAHUTAMI 2009 SUN SEBAGAI INSTRUMEN OPERASI PASAR TERBUKA Angelna Ika Rahuam 1 Defs

Lebih terperinci

TUGAS ANALISIS MATRIKS APLIKASI TEOREMA PERRON FROBENIUS PADA MODEL MATRIKS POPULASI LESLIE

TUGAS ANALISIS MATRIKS APLIKASI TEOREMA PERRON FROBENIUS PADA MODEL MATRIKS POPULASI LESLIE TUGAS ANALISIS MATRIKS APLIKASI TEOREMA PERRON FROBENIUS PADA MODEL MATRIKS POPULASI LESLIE Fan Puspasar 201 16019 Program Sud Magser Maemaa Faulas Maemaa dan Ilmu Pengeahuan Alam Insu Tenolog Bandung

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Akuntans Baya Akuntans baya melengkap manajemen menggunakan perangkat akuntans untuk kegatan perencanaan dan pengendalan, perbakan mutu dan efsens serta membuat keputusan rutn

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Defenisi Persediaan Persediaan adalah barang yang disimpan unuk pemakaian lebih lanju aau dijual. Persediaan dapa berupa bahan baku, barang seengah jadi aau barang jadi maupun

Lebih terperinci