BAB VIII ANALISIS KELAYAKAN EKONOMI UPS MUTU ELOK. Proyek UPS Mutu Elok diawali pada tahun 2005 dan memulai produksi

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB VIII ANALISIS KELAYAKAN EKONOMI UPS MUTU ELOK. Proyek UPS Mutu Elok diawali pada tahun 2005 dan memulai produksi"

Transkripsi

1 BAB VIII ANALISIS KELAYAKAN EKONOMI UPS MUTU ELOK Proyek UPS Mutu Elok diawali pada tahun 2005 dan memulai produksi serta penjualan pada tahun Umur proyek UPS Mutu Elok diasumsikan 20 tahun yang ditentukan dari ketahanan bangunan UPS secara teknis. Dana UPS Mutu Elok seluruhnya berasal dari masyarakat. Untuk mendapatkan nilai ekonomi proyek UPS Mutu Elok pada saat ini, analisis kelayakan ekonomi dilakukan dengan menggunakan harga-harga yang berlaku pada tahun 2011 sebagai harga tahun dasar Identifikasi Penerimaan Komponen Arus Penerimaan (Inflow) dihitung dari jumlah manfaat yang diterima dari adanya UPS Mutu Elok. Penerimaan UPS Mutu Elok meliputi manfaat kompos, manfaat kenyamanan, dan nilai sisa. Manfaat kompos terdiri dari penjualan kompos, penggunaan kompos untuk LRB, dan kesuburan. Dalam analisis ekonomi, bantuan berupa kas warga dan dana PPMK tidak dianggap sebagai penerimaan karena bukan merupakan manfaat yang diterima dari adanya proyek. Berikut detail arus pemasukan UPS Mutu Elok : 1. Manfaat Kompos a) Penjualan Kompos Nilai penjualan kompos diperoleh dari hasil perkalian antara harga dengan volume penjualan. Kompos merupakan barang non-tradable yang tidak memiliki subtitusi, sehingga harga bayangannya didekati dari harga pasar. UPS Mutu Elok pertama kali melakukan penjualan pada tahun 2006 dengan volume penjualan sebanyak kg. Pada tahun 2007, 2008, 2009, dan 2010, volume penjualan turun menjadi sebanyak , 65

2 32.333, , dan kg karena sebagian kompos yang dihasilkan digunakan untuk mengisi LRB. Jumlah penggunaan kompos untuk LRB pada tahun diasumsikan tetap, sehingga volume penjualan pun diasumsikan tetap, yaitu sebanyak kg per tahun. Harga kompos adalah Rp kg, maka nilai penjualan kompos UPS Mutu Elok dari tahun secara berturut-turut Rp , , , , dan Nilai penjualan kompos dari taun tetap, yaitu sebesar Rp per tahun. b) Pengunaan Kompos Untuk LRB Satu LRB membutuhkan 20 kg kompos yang diganti setiap dua bulan sekali pada musim hujan dan 6-7 bulan sekali pada musim kering. Berdasarkan data dari World Weather and Climate Information (2009), dalam setahun Jakarta mengalami 6 bulan musim hujan dan 6 bulan musim kering, sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam setahun kompos diganti sebanyak empat kali. Pada tahun 2007, warga membuat lima ratus LRB untuk mengurangi genangan air dengan jumlah penggunaan kompos sebanyak 4000 kg. Pada tahun 2008, 2009, dan 2010, jumlah lubang biopori bertambah masing-masing menjadi 2500, 3500, dan 4200 lubang. Penambahan lubang ini meningkatkan jumlah kompos yang digunakan menjadi , , dan kg. Jumlah penggunaan kompos dari tahun 2011 hingga 2024 diasumsikan sama, karena penambahan jumlah LRB tidak dapat diprediksikan. Nilai penggunaan kompos untuk LRB diperoleh dengan mengalikan jumlah penggunaan 66

3 kompos dengan harga kompos sebesar Rp Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai penggunaan kompos untuk LRB dari tahun 2007 hingga tahun 2010 sebesar Rp , , dan Nilai pengunaan kompos untuk LRB dari tahun 2011 sampai 2024 diasumsikan tetap, yaitu Rp per tahun. Data curah hujan di Jakarta dapat dilihat pada Gambar 13. Sumber: World Weather and Climate Information (2009) Gambar 13. Grafik Curah Hujan Bulanan Selama Setahun di Jakarta c) Kesuburan Manfaat kesuburan muncul pada tahun pertama UPS Mutu Elok berproduksi, yaitu tahun Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Putri et al. (2009) pada objek penelitian yang sama, nilai kesuburan yang dihasilkan dari penggunaan kompos sebagai pupuk adalah Rp per tahun. Nilai ini diperoleh dari perkalian antara jumlah kompos yang digunakan sebagai pupuk untuk taman dan jalur hijau dengan harga kompos sebesar Rp Karena jumlah penggunaan kompos untuk taman dan jalur hijau tetap, maka nilai manfaat kesuburan dari tahun 2006 sampai 2024 tetap sebesar Rp per tahun. 2. Manfaat Kenyamanan Seperti yang telah dijelaskan pada sub bab , UPS Mutu Elok memberikan manfaat kenyamanan dengan mengurangi jumlah timbulan 67

4 sampah. UPS Mutu Elok menjaga agar seluruh sampah yang dihasilkan dapat tertampung dan terkelola, sehingga sampah tidak menimbulkan pencemaran yang dapat menganggu kenyamanan warga. Manfaat ini tidak memiliki nilai pasar, sehingga pengukuran nilai manfaatnya didekati dari nilai WTP atau kesediaan membayar warga untuk memperoleh manfaat tersebut. Berdasarkan hasil kuisioner, nilai WTP warga Cipinang Elok adalah Rp per KK dengan rentang nilai Rp 7500 hingga Rp Setelah dikalikan dengan jumlah KK, didapatkan nilai total WTP sebesar Rp per bulan atau Rp per tahun. Nilai ini muncul pada tahun 2006 ketika UPS Mutu Elok mulai beroperasi. 3. Nilai Sisa Nilai sisa adalah nilai yang diperoleh dari sisa penyusutan barang-barang investasi pada saat proyek berakhir. Besar nilai sisa proyek UPS Mutu Elok adalah Rp Identifikasi Pengeluaran Arus pengeluaran terdiri dari pengeluaran biaya investasi, biaya operasional, dan biaya perawatan. Berikut detail arus pengeluaran UPS Mutu Elok : 1. Biaya Investasi Biaya investasi terdiri dari biaya lahan, bangunan, mesin, peralatan, dan inventaris meja. a) Biaya Lahan Biaya lahan ditentukan dari biaya imbangan (opportunity cost) yang berasal dari penggunaan terbaik (best alternatives) lahan UPS. UPS 68

5 Mutu Elok didirikan di atas lahan milik pemerintah yang disediakan sebagai fasilitas umum untuk warga Cipinang Elok. Lahan ini tidak dapat digunakan untuk kegiatan pertanian ataupun fasilitas umum, sehingga alternatif terbaik penggunaan lahan ini adalah penyewaan. Harga sewa lahan di Perumahan Cipinang Elok adalah Rp per meter. Luas lahan yang digunakan untuk bangunan UPS Mutu Elok adalah 60. Perkalian antara luas lahan yang digunakan dengan harga sewa lahan menghasilkan biaya lahan sebesar Rp per tahun. b) Biaya Bangunan Warga Cipinang Elok menghabiskan biaya sebesar Rp untuk membangun UPS Mutu Elok. Biaya ini dikeluarkan hanya pada tahun c) Biaya Mesin Mesin pencacah dan mesin ayak masing-masing menghabiskan biaya sebesar Rp Kedua mesin ini memiliki umur teknis lima tahun sehingga harus dire-investasi pada tahun 2010, 2015, dan d) Biaya Peralatan Total biaya peralatan adalah Rp Masing-masing peralatan memiliki umur teknis yang berbeda dan harus dire-investasi pada periode yang berbeda pula. Jumlah unit, besar biaya, dan tahun re-investasi peralatan disajikan secara lengkap pada Tabel

6 Tabel 12. Biaya, Tahun Re-investasi, dan Nilai Penyusutan Peralatan UPS Mutu Elok Komponen Unit Biaya Tahun Re-investasi a. Timbangan , 12, 18 b. Garu , 10, 15, 20 c. Sekop , 10, 15, 20 d. Bakul ,2, 3,..., 20 e. Ember , 6, 9, 12, 15, 18, 20 f. Terpal , 10, 15, 20 g. Tong air , 16 h. Penyiram tanaman , 10, 15, 20 i. Gerobak sampah , 20 j. Sepatu boot , 6, 9, 12, 15, 18 k. Selang air , 8, 12, 16, 20 l. Steples , 8, 12, 16, 20 m Becak , 20 TOTAL Sumber: Data Primer (2011) e) Biaya Inventaris Meja Meja merupakan fasilitas yang disediakan untuk petugas yang berkerja di UPS Mutu Elok. Meja dibuat sendiri oleh petugas UPS pada tahun 2005 dan menghabiskan biaya sebesar Rp Nilai ekonomi meja ini habis pada tahun Karena fungsinya tidak terlalu krusial, maka tidak dilakukan re-investasi. 2. Biaya Operasional Biaya operasional terdiri dari biaya bahan baku, kemasan, overhead, dan tenaga kerja. a) Biaya Bahan Baku Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan kompos adalah cairan EM4, dedak, pupuk kandang, dan gula. Gula merupakan tradable input komoditas impor, sehingga harga ekonomi gula disesuaikan dengan menggunakan border price impor atau CIF. Harga CIF ini terlebih dahulu dikonversikan ke dalam nilai tukar rupiah dan selanjutnya 70

7 ditambah biaya transpor dan tata niaga. Pada Desember 2010, harga CIF gula mencapai US$ 770 per ton atau sama dengan Rp Bila dijabarkan kembali dengan memasukkan biaya susut, handling, dan sebagainya, harga gula impor yang sampai ke tangan pengecer di Indonesia adalah Rp per kg. Setelah dijumlah dengan biaya distribusi sebesar Rp 266 per kg, diperoleh harga bayangan gula sebesar Rp per kg. Pemakaian gula untuk kegiatan pengomposan selama setahun mencapai 24 kg, sehingga nilai total pemakaian gula adalah Rp Rincian biaya bahan baku dapat dilihat pada Tabel 13. b) Biaya Kemasan Bahan yang diperlukan untuk membuat kemasan kompos Mutu Elok adalah isi staples, plastik, dan label. Label diperbanyak dengan membuat fotokopinya. Harga ketiga bahan ini dapat dilihat pada Tabel 13. Tabel 13. Rincian Biaya Baku dan Kemasan UPS Mutu Elok No. Uraian Harga per Unit (Rp) Kebutuhan Unit per Tahun Total Biaya per Tahun (Rp) a. Em botol b. Dedak kg c. Pupuk kandang m d. Gula kg e. Biaya listrik bulan f. Plastik kemasan kantong g. Label kemasan kali h. Isi staples kardus Sumber: Data Primer (2011) c) Biaya Overhead Air merupakan barang yang penggunannya disubsidi oleh pemerintah, sehingga memiliki harga pasar yang lebih rendah dari nilai ekonominya. Untuk mendapatkan nilai ekonomi air, harga yang digunakan harus harga 71

8 air tanpa subsidi, yaitu Rp 6 per liter. UPS Mutu Elok menghabiskan air sebanyak liter per tahun, sehingga total biaya air per tahun adalah Rp Penggunaan listrik oleh UPS Mutu Elok menghabiskan biaya sebesar Rp setiap tahunnya. d) Biaya Tenaga Kerja Tenaga kerja yang digunakan merupakan tenaga kerja tidak terdidik. Alternatif pekerjaan terbaik dapat digeluti oleh tenaga kerja jenis ini adalah ojeg. Dalam seminggu, rata-rata tukang ojeg memperoleh pendapatan sebesar Rp per bulan atau Rp per tahun. UPS Mutu Elok menyerap tenaga kerja sebanyak dua orang, sehingga nilai ekonomi tenaga kerjanya sama dengan Rp per tahun. 3. Biaya Perawatan Biaya perawatan terdiri dari biaya perawatan gerobak dan becak dengan biaya masing-masing sebesar Rp per tahun dan Rp per tahun. 4. Biaya Lain-Lain Biaya lain-lain terdiri dari biaya pengangkutan dan pembuangan sampah organik terolah yang tidak diolah oleh UPS Mutu Elok. Biaya ini didekati dari besar tip yang diberikan kepada supir truk untuk mengangkut sampah dari UPS ke TPST Bantargebang. Besar biaya ini adalah Rp per tahun Penilaian Kelayakan Kelayakan ekonomi dinilai dengan menggunakan kriteria NPV, Net B/C, dan IRR. Social discount rate yang digunakan pada ketiga kriteria ini adalah 16 72

9 persen. Karena proyek sudah berjalan sebelum tahun 2011, maka total manfaat dan biaya yang diperoleh pada tahun akan dicompounding. Sementara, total manfaat dan biaya yang diperoleh pada tahun akan didiscounting. Selain dinilai pada kondisi riil, kelayakan ekonomi UPS Mutu Elok juga akan dinilai dengan menggunakan dua skenario. Pada skenario 1, kelayakan ekonomi dinilai seandainya kegiatan pengolahan mencapai 2 per hari, sesuai dengan potensi sampah organik terolah yang dihasilkan Perumahan Cipinang Elok, sedangkan pada skenario 2, penilaian kelayakan enonomi dinilai seandainya kegiatan pengolahan mencapai 4 per hari, sesuai dengan kapasitas mesin pencacah. Berdasarkan hasil perhitungan pada kondisi riil, diperoleh NPV sebesar Rp Nilai ini merupakan manfaat bersih total yang akan diterima oleh masyarakat khususnya warga Cipinang Elok dari adanya investasi proyek UPS Mutu Elok. Nilai Net B/C yang diperoleh sebesar 5,50 dan IRR sebesar 96,31 persen. Pada skenario 1, sampah organik terolah sebanyak 2 per hari yang dihasilkan Perumahan Cipinang Elok diasumsikan terolah seluruhnya. Kondisi ini meningkatkan produksi kompos hingga mencapai kg per tahun. Seiring dengan peningkatan produksi kompos, volume dan nilai penjualan kompos pada tahun 2006 meningkat menjadi kg dengan nilai penjualan sebesar Rp Volume penjualan tahun turun masing-masing menjadi ; ; ; dan kg dengan nilai penjualan sebesar Rp ; ; ; dan Penurunan terjadi karena sebagian kompos yang diproduksi digunakan untuk LRB yang jumlahnya 73

10 meningkat dari tahun 2007 sampai Setelah tahun 2011, jumlah LRB tidak lagi bertambah, sehingga jumlah penggunaan kompos untuk LRB pada tahun 2011 hingga 2024 diasumsikan tetap setiap tahunnya. Hal ini menyebabkan volume penjualan dari tahun juga disumsikan tetap sebanyak kg dengan nilai penjualan sebesar Rp Perubahan volume dan nilai penjualan UPS Mutu Elok berdasarkan skenario 1 dapat dilihat pada Tabel 14. Tabel 14. Perubahan Volume dan Nilai Penjualan UPS Mutu Elok Berdasarkan Skenario 1 Tahun Volume Penjualan (kg) Nilai Penjualan (Rp) per tahun per tahun Sumber: Data Primer 2011 Pada skenario 2, jumlah sampah organik terolah yang diolah oleh UPS Mutu Elok meningkat menjadi 4 per hari sesuai dengan kapasitas mesin pencacah. Peningkatan volume sampah yang diolah meningkatkan produksi kompos menjadi kg per tahun. Peningkatan produksi menyebabkan volume penjualan pada tahun 2006 meningkat menjadi kg dengan nilai penjualan sebesar Rp Penggunaan sebagian kompos untuk LRB yang dimulai dari tahun 2007 menurunkan volume penjualan tahun masing-masing menjadi 4.000, , , dan kg dengan nilai penjualan sebesar ; ; ; dan Setelah tahun 2011, jumlah LRB diasumsikan tidak bertambah, sehingga volume penjualan kompos dari tahun 2011 sampai 2024 diasumsikan tetap sebanyak kg dengan nilai penjualan sebesar Rp Perubahan volume 74

11 dan nilai penjualan UPS Mutu Elok berdasarkan skenario 2 dapat dilihat pada Tabel 15. Tabel 15. Perubahan Volume dan Nilai Penjualan UPS Mutu Elok Berdasarkan Skenario 2 Tahun Volume Penjualan (kg) Nilai Penjualan (Rp) per tahun per tahun Sumber: Data Primer 2011 Berdasarkan hasil perhitungan pada skenario 1, diperoleh NPV sebesar Rp ; Net B/C sebesar 9,02; dan IRR sebesar 156,80 persen. Sementara pada skenario 2, diperoleh NPV sebesar Rp ; Net B/C sebesar 9,02; dan IRR sebesar 156,80 persen. Kedua nilai ini masih memerlukan penyesuaian karena pada kedua skenario, komponen biaya diasumsikan tetap. Padahal faktanya, pengolahan sampah organik terolah sebanyak 2 per hari memerlukan tambahan biaya untuk memperluas bangunan, sebab luas bangunan yang dimiliki oleh UPS Mutu Elok hanya mampu mengakomodasi kegiatan pengolahan sebanyak 1,25 per hari. Peningkatan pengolahan sampah hingga 4 per hari juga memerlukan tambahan biaya pengangkutan sampah organik terolah dari luar Perumahan Cipinang Elok karena jumlah timbulan sampah organik terolah yang dihasilkan dari dalam Perumahan Cipinang Elok hanya mencapai 2 per hari. Suatu proyek dikatakan layak apabila NPV 0, Net B/C 1, dan IRR social discount rate. Sesuai dengan kriteria diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pada kondisi riil proyek UPS Mutu Elok layak secara ekonomi untuk dijalankan. NPV, Net B/C dan IRR yang diperoleh dari perhitungan cashflow juga 75

12 menunjukkan bahwa peningkatan pengolahan sampah organik terolah sebanyak 2 dan 4 per hari tetap layak untuk dijalankan. Hasil analisis kelayakan ekonomi UPS Mutu Elok disajikan secara lengkap pada Tabel 16, sedangkan rincian cashflow disajikan pada Lampiran 1, 2, dan 3. Tabel 16. Hasil Analisis Kelayakan Ekonomi UPS Mutu Elok Skenario Kriteria Kondisi Riil 1 2 NPV Rp Rp Rp Net B/C 5,50 9,02 18,42 IRR 96,31 % 156,80 % 317,02 % Sumber: Data Primer Analisis Sensitivitas Analisis sensitivitas dilakukan untuk melihat bagaimana hasil proyek jika terjadi suatu kesalahan atau perubahan dalam dasar-dasar perhitungan manfaat dan biaya. Dalam analisis ini, perubahan dilakukan dengan menurunkan harga kompos menjadi Rp per kg dan menaikkan harga gula sebesar 100 persen. Berdasarkan hasil perhitungan pada kondisi riil, jika harga kompos turun menjadi Rp per kg, proyek akan memberikan NPV sebesar Rp ; Net B/C sebesar 3,93; dan IRR sebesar 69,14 persen. Sementara jika harga gula meningkat 100 persen, proyek akan memberikan NPV sebesar Rp ; Net B/C sebesar 5,48; dan IRR sebesar 95,98 persen. Hasil perhitungan analisis sensitivitas pada kondisi riil dapat diihat pada Tabel 17, sedangkan rincian cashflow analisis sensitivitas terlampir pada Lampiran 4 dan 5. Tabel 17. Hasil Analisis Sensitivitas UPS Mutu Elok Pada Kondisi Riil Kriteria Harga Kompos Rp Harga Gula Naik 100 % NPV Rp Rp Net B/C 3,93 5,48 IRR 69,14 % 95,98 % Sumber: Data Primer

13 Hasil analisisis sensitivitas pada skenario 1 menunjukkan bahwa jika harga kompos turun menjadi Rp 1.100, akan diperoleh NPV sebesar Rp ; Net B/C sebesar 6,52; dan IRR sebesar 113,85 persen. Peningkatan harga gula sebesar 100 persen akan memberikan NPV sebesar Rp ; Net B/C sebesar 9,00; dan IRR sebesar 156,37 persen. Hasil perhitungan analisis sensitivitas disajikan pada Tabel 18, sedangkan rician cashflow analisis sensitivitas terlampir pada Lampiran 6 dan 7. Tabel 18. Hasil Analisis Sensitivitas UPS Mutu Elok Pada Skenario 1 Kriteria Harga Kompos Rp Harga Gula Naik 100 % NPV Rp Rp Net B/C 6,52 9,00 IRR 113,85 % 156,37 % Sumber: Data Primer 2011 Analisis sensitivitas pada skenario 2 menunjukkan bahwa jika harga kompos turun menjadi Rp 1.100, akan diperoleh NPV sebesar Rp ; Net B/C sebesar 13,41; dan IRR sebesar 231,65 persen. Sementara itu, peningkatan harga gula sebesar 100 persen akan menyebabkan perolehan NPV sebesar Rp ; Net B/C sebesar 9,00; dan IRR sebesar 156,37 persen. Hasil perhitungan analisis sensitivitas disajikan secara lengkap pada Tabel 19, sedangkan rician cashflow analisis sensitivitas disajikan pada Lampiran 8 dan 9. Tabel 19. Hasil Analisis Sensitivitas UPS Mutu Elok Pada Skenario 2 Kriteria Harga Kompos Rp Harga Gula Naik 100 % NPV Rp Rp Net B/C 13,41 18,38 IRR 231,65 % 316,32 % Sumber: Data Primer 2011 Berdasarkan hasil analisis sensitivitas, dapat disimpulkan bahwa proyek UPS Mutu Elok, baik pada kondisi riil maupun pada skenario, layak secara ekonomi untuk dijalankan. Hal ini karena proyek UPS Mutu Elok memenuhi kriteria kelayakan, yaitu NPV 0, Net B/C 1, dan IRR social discount rate. 77

BAB IV METODE PENELITIAN. dilakukan secara sengaja (purposive) dengan alasan: (1) terdapat UPS pada lokasi

BAB IV METODE PENELITIAN. dilakukan secara sengaja (purposive) dengan alasan: (1) terdapat UPS pada lokasi 4.1. Lokasi dan Waktu BAB IV METODE PENELITIAN Daerah penelitian mencakup Perumahan Cipinang Elok RW 10, Kelurahan Cipinang Muara, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. Pemilihan lokasi dilakukan secara

Lebih terperinci

BAB VI PENGELOLAAN SAMPAH 3R BERBASIS MASYARAKAT DI PERUMAHAN CIPINANG ELOK. menjadi tiga macam. Pertama, menggunakan plastik kemudian

BAB VI PENGELOLAAN SAMPAH 3R BERBASIS MASYARAKAT DI PERUMAHAN CIPINANG ELOK. menjadi tiga macam. Pertama, menggunakan plastik kemudian BAB VI PENGELOLAAN SAMPAH 3R BERBASIS MASYARAKAT DI PERUMAHAN CIPINANG ELOK 6.1. Pewadahan Sampah Pewadahan individual Perumahan Cipinang Elok pada umumnya dibagi menjadi tiga macam. Pertama, menggunakan

Lebih terperinci

BAB VII ANALISIS DAYA DUKUNG LINGKUNGAN UPS MUTU ELOK. Jumlah Timbulan Sampah dan Kapasitas Pengelolaan Sampah

BAB VII ANALISIS DAYA DUKUNG LINGKUNGAN UPS MUTU ELOK. Jumlah Timbulan Sampah dan Kapasitas Pengelolaan Sampah BAB VII ANALISIS DAYA DUKUNG LINGKUNGAN UPS MUTU ELOK 7.1. Jumlah Timbulan Sampah dan Kapasitas Pengelolaan Sampah Total timbulan sampah yang diangkut dari Perumahan Cipinang Elok memiliki volume rata-rata

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1. Jumlah Penduduk dan Timbulan Sampah di Provinsi DKI Jakarta Tahun

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1. Jumlah Penduduk dan Timbulan Sampah di Provinsi DKI Jakarta Tahun BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jumlah penduduk Jakarta cenderung meningkat setiap tahun. Peningkatan jumlah penduduk yang disertai perubahan pola konsumsi dan gaya hidup turut meningkatkan jumlah

Lebih terperinci

VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL Analisis kelayakan finansial dilakukan untuk mengetahui kelayakan pembesaran ikan lele sangkuriang kolam terpal. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam aspek finansial

Lebih terperinci

BAB VII KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL

BAB VII KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL BAB VII KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL 7.1. Analisis Aspek Finansial Aspek finansial adalah aspek yang mengkaji dari sisi keuangan perusahaan. Kelayakan pada aspek financial dapat diukur melalui perhitungan

Lebih terperinci

VII. PEMBAHASAN ASPEK FINANSIAL

VII. PEMBAHASAN ASPEK FINANSIAL VII. PEMBAHASAN ASPEK FINANSIAL 7.1. Proyeksi Arus Kas (Cashflow) Proyeksi arus kas merupakan laporan aliran kas yang memperlihatkan gambaran penerimaan (inflow) dan pengeluaran kas (outflow). Dalam penelitian

Lebih terperinci

VII. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL

VII. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL VII. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL Analisis finansial dilakukan untuk melihat sejauh mana CV. Usaha Unggas dapat dikatakan layak dari aspek finansial. Penilaian layak atau tidak usaha tersebut dari

Lebih terperinci

VII. ANALISIS FINANSIAL

VII. ANALISIS FINANSIAL VII. ANALISIS FINANSIAL Usaha peternakan Agus Suhendar adalah usaha dalam bidang agribisnis ayam broiler yang menggunakan modal sendiri dalam menjalankan usahanya. Skala usaha peternakan Agus Suhendar

Lebih terperinci

VII. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

VII. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL VII. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL Pada penelitian ini dilakukan analisis kelayakan finansial untuk mengetahui kelayakan pengusahaan ikan lele, serta untuk mengetahui apakah usaha yang dilakukan pada kelompok

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA DUKUNG LINGKUNGAN DAN KELAYAKAN EKONOMI UNIT PENGOLAHAN SAMPAH MUTU ELOK DI PERUMAHAN CIPINANG ELOK JAKARTA TIMUR VIDYA KHAIRUNISA

ANALISIS DAYA DUKUNG LINGKUNGAN DAN KELAYAKAN EKONOMI UNIT PENGOLAHAN SAMPAH MUTU ELOK DI PERUMAHAN CIPINANG ELOK JAKARTA TIMUR VIDYA KHAIRUNISA ANALISIS DAYA DUKUNG LINGKUNGAN DAN KELAYAKAN EKONOMI UNIT PENGOLAHAN SAMPAH MUTU ELOK DI PERUMAHAN CIPINANG ELOK JAKARTA TIMUR VIDYA KHAIRUNISA DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI

Lebih terperinci

VII. KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL

VII. KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL VII. KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL Kelayakan aspek finansial merupakan analisis yang mengkaji kelayakan dari sisi keuangan suatu usaha. Aspek ini sangat diperlukan untuk mengetahui apakah usaha budidaya nilam

Lebih terperinci

VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL Analisis kelayakan finansial dalam penelitian ini ditujukan untuk mengetahui kelayakan usaha peternakan ayam ras petelur dari segi keuangan. Analisis finansial digunakan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. 6.1 Analisis Kelayakan Unit Pengelolaan Sampah. Usaha pengelolaan sampah ini membutuhkan sarana-sarana seperti tempat

HASIL DAN PEMBAHASAN. 6.1 Analisis Kelayakan Unit Pengelolaan Sampah. Usaha pengelolaan sampah ini membutuhkan sarana-sarana seperti tempat VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Analisis Kelayakan Unit Pengelolaan Sampah 6.1.1 Identifikasi Biaya Usaha pengelolaan sampah ini membutuhkan sarana-sarana seperti tempat pengelolaan sampah, kantor, kendaraan

Lebih terperinci

ASPEK FINANSIAL Skenario I

ASPEK FINANSIAL Skenario I VII ASPEK FINANSIAL Setelah menganalisis kelayakan usaha dari beberapa aspek nonfinansial, analisis dilanjutkan dengan melakukan analisis kelayakan pada aspek finansial yaitu dari aspek keuangan usaha

Lebih terperinci

VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL

VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL Menganalisis kelayakan suatu proyek atau usaha dari segi keuangan dapat mengunakan. Analisis finansial. Adapun kriteria kriteria penilaian investasi yang dapat digunakan yaitu

Lebih terperinci

VII. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL

VII. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL VII. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL Analisis finansial dilakukan untuk melihat sejauh mana Peternakan Maju Bersama dapat dikatakan layak dari aspek finansial. Untuk menilai layak atau tidak usaha tersebut

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. berfokus pada bidang penggemukan sapi.sapi yang digemukkan mulai dari yang

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. berfokus pada bidang penggemukan sapi.sapi yang digemukkan mulai dari yang V. HASIL DAN PEMBAHASAN Usaha peternakan sapi di CV. Anugrah farm merupakan peternakan yang berfokus pada bidang penggemukan sapi.sapi yang digemukkan mulai dari yang berbobot 200 kg sampai dengan 300

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN. (Purposive) dengan alasan daerah ini cukup representatif untuk penelitian yang

METODOLOGI PENELITIAN. (Purposive) dengan alasan daerah ini cukup representatif untuk penelitian yang IV. METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Tempat dan Waktu Penelitian Pengambilan data dilakukan pada bulan Februari sampai dengan bulan Maret 2011, bertempat di Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor,

Lebih terperinci

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL Pada penelitian ini dilakukan analisis kelayakan finansial untuk mengetahui kelayakan pengusahaan ikan lele phyton, serta untuk mengetahui apakah usaha yang dilakukan pada

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengumpulan Data

METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengumpulan Data IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian dilakukan di Usaha Mi Ayam Bapak Sukimin yang terletak di Ciheuleut, Kelurahan Tegal Lega, Kota Bogor. Lokasi penelitian diambil secara sengaja (purposive)

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Metode Pengambilan Responden 4.3. Desain Penelitian

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Metode Pengambilan Responden 4.3. Desain Penelitian IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Desa Blendung, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi ini ditentukan secara sengaja (purposive)

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI SAMPAH DAN KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PENGELOLAAN SAMPAH RUMAHTANGGA

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI SAMPAH DAN KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PENGELOLAAN SAMPAH RUMAHTANGGA ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI SAMPAH DAN KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PENGELOLAAN SAMPAH RUMAHTANGGA (Studi Kasus di Perumahan Cipinang Elok, Jakarta Timur) GANIS DWI CAHYANI DEPARTEMEN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Dewasa ini, jumlah penduduk Indonesia berkembang pesat. Kondisi perkembangan ini akan memberikan dampak pada berbagai bidang kehidupan. Salah satunya adalah dampak

Lebih terperinci

VIII. ANALISIS FINANSIAL

VIII. ANALISIS FINANSIAL VIII. ANALISIS FINANSIAL Analisis aspek finansial bertujuan untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan dengan membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 KONDISI UMUM PENYEDIAAN AIR BERSIH DI KAMPUS IPB DRAMAGA Penyelenggaraan kegiatan pendidikan di kampus IPB Dramaga tidak bisa terlaksana tanpa adanya air bersih. Saat ini pemenuhan

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Data dan Instrumentasi 4.3. Metode Pengumpulan Data

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Data dan Instrumentasi 4.3. Metode Pengumpulan Data IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian mengambil tempat di kantor administratif Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Jawa Barat yang berlokasi di Kompleks Pasar Baru Lembang

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. sampai dengan 30 tahun tergantung dengan letak topografi lokasi buah naga akan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. sampai dengan 30 tahun tergantung dengan letak topografi lokasi buah naga akan V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Kelayakan Usahatani Buah Naga Buah naga merupakan tanaman tahunan yang sudah dapat berbuah 1 tahun sampai dengan 1,5 tahun setelah tanam. Buah naga memiliki usia produktif

Lebih terperinci

Lampiran 7. Aktor/Pelaku Pasar Arang Tempurung Kelapa (ATK) di Desa Gunung Terang Kabupaten Lampung Selatan. Petani Kelapa. Pelaku Pengolah Kopra

Lampiran 7. Aktor/Pelaku Pasar Arang Tempurung Kelapa (ATK) di Desa Gunung Terang Kabupaten Lampung Selatan. Petani Kelapa. Pelaku Pengolah Kopra Lampiran 7. Aktor/Pelaku Pasar Arang Tempurung Kelapa (ATK) di Desa Gunung Terang Kabupaten Lampung Selatan Petani Kelapa Pengumpul/ AgenKelapa Pelaku Pengolah Kopra Pelaku Pengolah Kopra+Arang Pelaku

Lebih terperinci

Lay out TPST. ke TPA. Pipa Lindi

Lay out TPST. ke TPA. Pipa Lindi Lay out TPST A A B ke TPA 1 2 3 B 14 10 11 12 13 4 Pipa Lindi 18 15 9 8 18 7 5 19 16 17 18 1) Area penerima 2) Area pemilahan 3) Area pemilahan plastik 4) Area pencacah s.basah 5) Area pengomposan 6) Area

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Rancabungur, Desa Pasirgaok, Bogor,

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Rancabungur, Desa Pasirgaok, Bogor, 26 BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Rancabungur, Desa Pasirgaok, Bogor, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi ini dilakukan dengan pertimbangan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. limbah padat. Sampah merupakan sisa-sisa bahan yang mengalami perlakuanperlakuan,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. limbah padat. Sampah merupakan sisa-sisa bahan yang mengalami perlakuanperlakuan, BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian dan Klasifikasi Sampah Sampah adalah istilah umum yang sering digunakan untuk menyatakan limbah padat. Sampah merupakan sisa-sisa bahan yang mengalami perlakuanperlakuan,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. hal ini dikarenakan munculnya kesadaran dari masyarakat mengenai pentingnya

I. PENDAHULUAN. hal ini dikarenakan munculnya kesadaran dari masyarakat mengenai pentingnya I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertanian organik kini mulai menjadi peluang baru dalam usaha pertanian, hal ini dikarenakan munculnya kesadaran dari masyarakat mengenai pentingnya mengonsumsi makanan,

Lebih terperinci

IV METODOLOGI PENELITIAN

IV METODOLOGI PENELITIAN IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di sebuah lokasi yang berada Desa Kanreapia Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa, Propinsi Sulawesi Selatan. Pemilihan lokasi

Lebih terperinci

A Modal investasi Jumlah (Rp) 1 Tanah Bangunan Peralatan Produksi Biaya Praoperasi*

A Modal investasi Jumlah (Rp) 1 Tanah Bangunan Peralatan Produksi Biaya Praoperasi* A Modal investasi Jumlah (Rp) 1 Tanah 150.000.000 2 Bangunan 150.000.000 3 Peralatan Produksi 1.916.100.000 4 Biaya Praoperasi* 35.700.000 B Jumlah Modal Kerja 1 Biaya bahan baku 7.194.196.807 2 Biaya

Lebih terperinci

KONSEP PENANGANAN SAMPAH TL 3104

KONSEP PENANGANAN SAMPAH TL 3104 KONSEP PENANGANAN SAMPAH TL 3104 Environmental Engineering ITB - 2010 KELOMPOK 2 Dian Christy Destiana 15308012 Vega Annisa H. 15308014 Ratri Endah Putri 15308018 M. Fajar Firdaus 15308020 Listra Endenta

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian Kerangka pemikiran penelitian ini diawali dengan melihat potensi usaha yang sedang dijalankan oleh Warung Surabi yang memiliki banyak konsumen

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Teori Manfaat dan Biaya Dalam menganalisa suatu usaha, tujuan analisa harus disertai dengan definisi-definisi mengenai biaya-biaya dan manfaat-manfaat.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Manusia dalam menjalani aktivitas hidup sehari-hari tidak terlepas dari

I. PENDAHULUAN. Manusia dalam menjalani aktivitas hidup sehari-hari tidak terlepas dari I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia dalam menjalani aktivitas hidup sehari-hari tidak terlepas dari keterkaitannya terhadap lingkungan. Lingkungan memberikan berbagai sumberdaya kepada manusia dalam

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN. Pada bagian ini akan dijelaskan tentang konsep dan teori yang

KERANGKA PEMIKIRAN. Pada bagian ini akan dijelaskan tentang konsep dan teori yang III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Konseptual Pada bagian ini akan dijelaskan tentang konsep dan teori yang berhubungan dengan penelitian studi kelayakan usaha pupuk kompos pada Kelompok Tani

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. ini yang dianalisis adalah biaya, benefit, serta kelayakan usahatani lada putih yang

METODE PENELITIAN. ini yang dianalisis adalah biaya, benefit, serta kelayakan usahatani lada putih yang III. METODE PENELITIAN A. Metode Dasar Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis, yang merupakan suatu metode penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikirian Teoritis 3.1.1 Studi Kelayakan Proyek Studi kelayakan proyek adalah penelitian tentang dapat tidaknya suatu proyek (biasanya merupakan proyek investasi)

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI BADAN LINGKUNGAN HIDUP KOTA PROBOLINGGO Sejarah Singkat Badan Lingkungan Hidup Kota Probolinggo

BAB II DESKRIPSI BADAN LINGKUNGAN HIDUP KOTA PROBOLINGGO Sejarah Singkat Badan Lingkungan Hidup Kota Probolinggo BAB II DESKRIPSI BADAN LINGKUNGAN HIDUP KOTA PROBOLINGGO 2.1. Sejarah Singkat Badan Lingkungan Hidup Kota Probolinggo Hingga pertengahan tahun 2005 pengelolaan lingkungan hidup di Kota Probolinggo dilaksanakan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN Diagram alir metode penelitian merupakan kerangka berpikir yang terdiri langkah-langkah penelitian yang disusun sebagai acuan penelitian. Diagram alir diperlukan agar penyusunan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pengelolaan Limbah Agroindustri

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pengelolaan Limbah Agroindustri III. BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pengelolaan Limbah Agroindustri Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada bulan

Lebih terperinci

VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL

VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL Aspek finansial merupakan aspek yang dikaji melalui kondisi finansial suatu usaha dimana kelayakan aspek finansial dilihat dari pengeluaran dan pemasukan usaha tersebut selama

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional mencakup pengertian yang

III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional mencakup pengertian yang III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional mencakup pengertian yang dipergunakan untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan

Lebih terperinci

TUGAS PENGANTAR EKONOMI PRODUKSI ANALISIS USAHA JAHIT ARYAN TAILOR

TUGAS PENGANTAR EKONOMI PRODUKSI ANALISIS USAHA JAHIT ARYAN TAILOR TUGAS PENGANTAR EKONOMI PRODUKSI ANALISIS USAHA JAHIT ARYAN TAILOR Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Ekonomi Produksi Perikanan dan Kelautan Disusun Oleh: Ludfi Dwi 230110120120 Sofan

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR PRODUKSI KOMPOS

LAPORAN AKHIR PRODUKSI KOMPOS KEMENTERIAN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL BINA PENGELOLAAN DAS DAN PERHUTANAN SOSIAL DIREKTORAT BINA PERBENIHAN TANAMAN HUTAN LAPORAN AKHIR PRODUKSI KOMPOS RUMPIN SEED SOURCES AND NURSERY CENTER JAKARTA,

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Peternakan Domba Tawakkal, yang terletak di Jalan Raya Sukabumi, Desa Cimande Hilir No.32, Kecamatan Caringin, Kabupaten

Lebih terperinci

VII. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

VII. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL VII. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL Analisis kelayakan pengusahaan budidaya ikan bawal air tawar dilakukan untuk mengetahui apakah pengusahaan ikan bawal air tawar yang dilakukan Sabrina Fish Farm layak

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di PT Mekar Unggul Sari, Kabupaten Bogor. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) dengan alasan

Lebih terperinci

Biaya Investasi No Uraian Unit

Biaya Investasi No Uraian Unit LAMPIRAN Biaya Investasi No Uraian Unit Umur Ekonomis Harga Satuan Total Harga (Tahun) (Rp) (Rp) 1 Bangunan Kantor dan Gudang 1 5 5,000,000 5,000,000 2 Kolam Terpal a. Ukuran 10 m x 5 m 7 2 1,250,000 8,750,000

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Tanaman kehutanan adalah tanaman yang tumbuh di hutan yang berumur

III. METODE PENELITIAN. Tanaman kehutanan adalah tanaman yang tumbuh di hutan yang berumur 47 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan 33 III. METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional dan Konsep Dasar Konsep dasar dan batasan operasional ini mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan

Lebih terperinci

l. PENDAHULUAN Sampah pada dasarnya merupakan suatu bahan yang terbuang atau

l. PENDAHULUAN Sampah pada dasarnya merupakan suatu bahan yang terbuang atau l. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sampah pada dasarnya merupakan suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari hasil aktivitas kehidupan manusia baik individu maupun kelompok maupun proses-proses alam yang

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Packing House Packing house ini berada di Desa Hegarmanah, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi. Packing house dibangun pada tahun 2000 oleh petani diatas lahan

Lebih terperinci

usaha dari segi keuntungan. Analisis finansial dilakukan dengan menggunakan

usaha dari segi keuntungan. Analisis finansial dilakukan dengan menggunakan 34 Roda Mandala Asia Makmur Trass 2.5 35 Rumpin Satria Bangun Trass 1.3 36 Sirtu Pratama Usaha Andesit 1.8 37 Sumber Alfa Prolindo Pasir 4 38 Tarabatuh Manunggal Andesit 16 39 Wiguna Karya II Trass 2.5

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Dian Layer Farm yang terletak di Kampung Kahuripan, Desa Sukadamai, Kecamatan Darmaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pemilihan

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

IV METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di peternakan kambing perah Prima Fit yang terletak di Desa Cibuntu, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penelitian dilaksanankan selama 3 bulan, yaitu mulai bulan Juli - September 2010. Objek yang dijadikan sebagai lokasi penelitian adalah usaha

Lebih terperinci

VIII. ANALISIS FINANSIAL

VIII. ANALISIS FINANSIAL VIII. ANALISIS FINANSIAL Analisis finansial bertujuan untuk menghitung jumlah dana yang diperlukan dalam perencanaan suatu industri melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan dengan membandingkan

Lebih terperinci

i - - - ii iii iv v vi vii No. Asumsi A B C Aspek Pasar 1. Untuk prediksi ke depan, permintaan produk dianggap tidak mengalami penurunan dalam jangka waktu 10 tahun yang

Lebih terperinci

5.3.1 Pengamatan Sistem Produksi WTP

5.3.1 Pengamatan Sistem Produksi WTP III. METODOLOGI 5.1 TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di sekitar Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat selama tiga bulan dari Agustus sampai Oktober 2010. 5.2 ALAT DAN BAHAN Alat-alat

Lebih terperinci

Analisa Luasan Area Parkir

Analisa Luasan Area Parkir Analisa Luasan Area Parkir Manajemen Pengelolaan Kehadiran dan keberadaan manajemen properti diperlukan baik oleh sektor privat maupun sektor publik yang memiliki dan/atau menggunakan properti, baik dalam

Lebih terperinci

ANALISIS KELAYAKAN USAHA PUPUK ORGANIK (Studi Kasus Rumah Kompos di Gapoktan Suka Hasil Desa Cintaasih Kecamatan Cingambul Kabupaten Majalengka)

ANALISIS KELAYAKAN USAHA PUPUK ORGANIK (Studi Kasus Rumah Kompos di Gapoktan Suka Hasil Desa Cintaasih Kecamatan Cingambul Kabupaten Majalengka) ANALISIS KELAYAKAN USAHA PUPUK ORGANIK (Studi Kasus Rumah Kompos di Gapoktan Suka Hasil Desa Cintaasih Kecamatan Cingambul Kabupaten Majalengka) BUSINESS FEASIBILITY ANALYSIS OF ORGANIC FERTILIZER (Case

Lebih terperinci

Analisis Kelayakan Finansial Produk Pakan Ternak Sapi Perah di Koperasi Susu Kota Batu

Analisis Kelayakan Finansial Produk Pakan Ternak Sapi Perah di Koperasi Susu Kota Batu Petunjuk Sitasi: Ardianwiliandri, R., Tantrika, C. F., & Arum, N. M. (2017). Analisis Kelayakan Finansial Produk Pakan Ternak Sapi Perah di Koperasi Susu Kota Batu. Prosiding SNTI dan SATELIT 2017 (pp.

Lebih terperinci

VII. ANALISIS ASPEK FINANSIAL

VII. ANALISIS ASPEK FINANSIAL VII. ANALISIS ASPEK FINANSIAL Analisis aspek finansial digunakan untuk menganalisis kelayakan suatu proyek atau usaha dari segi keuangan. Analisis aspek finansial dapat memberikan perhitungan secara kuantatif

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kota Yogyakarta merupakan satu-satunya daerah tingkat II yang berstatus Kota di samping empat daerah tingkat II lainnya yang berstatus Kabupaten. Menurut sensus penduduk

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. KOMPOSISI DAN KARAKTERISTIK SAMPAH KOTA BOGOR 1. Sifat Fisik Sampah Sampah berbentuk padat dibagi menjadi sampah kota, sampah industri dan sampah pertanian. Komposisi dan jumlah

Lebih terperinci

Pendapatan Rata-Rata Peternak Sapi Perah Per Ekor/Bulan

Pendapatan Rata-Rata Peternak Sapi Perah Per Ekor/Bulan LAMPIRAN 82 Lampiran 1. Pendapatan Rata-Rata Peternak Sapi Perah Per Ekor/Bulan No Keterangan Jumlah Satuan Harga Nilai A Penerimaan Penjualan Susu 532 Lt 2.930,00 1.558.760,00 Penjualan Sapi 1 Ekor 2.602.697,65

Lebih terperinci

STUDI KELAYAKAN USAHA PRODUKSI ALAT DAN MESIN PERTANIAN

STUDI KELAYAKAN USAHA PRODUKSI ALAT DAN MESIN PERTANIAN STUDI KELAYAKAN USAHA PRODUKSI ALAT DAN MESIN PERTANIAN (Studi Kasus : Produksi Ditcher Lengan Ayun Untuk Saluran Drainase Pada Budidaya Tanaman Tebu Lahan Kering) Oleh: KETSIA APRILIANNY LAYA F14102099

Lebih terperinci

VI. ANALISIS KELAYAKAN USAHA LENGKENG DIAMOND RIVER

VI. ANALISIS KELAYAKAN USAHA LENGKENG DIAMOND RIVER VI. ANALISIS KELAYAKAN USAHA LENGKENG DIAMOND RIVER 6.1. Aspek Non Finansial 6.1.1. Aspek Pasar Dalam aspek pasar akan dikaji mengenai potensi pasar lengkeng Diamond River, baik dari segi permintaan, penawaran

Lebih terperinci

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Identifikasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Volume Timbunan Sampah Analisis ini menggunakan pendekatan model IPAT untuk melihat faktorfaktor yang memberikan dampak terhadap

Lebih terperinci

6 ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN SURIMI

6 ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN SURIMI 6 ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN SURIMI 6.1 Pendahuluan Industri surimi merupakan suatu industri pengolahan yang memiliki peluang besar untuk dibangun dan dikembangkan. Hal ini didukung oleh adanya

Lebih terperinci

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN VI. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis kelayakan usaha dilakukan untuk menentukan apakah suatu usaha layak atau tidak untuk dijalankan. Analisis kelayakan usaha pengolahan minyak jelantah (Waste Cooking Oil)

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Setelah melihat kondisi awal perusahaan, menganalisis masalahnya, dan membuat rancangan untuk memperbaikinya maka alat analisi yang digunakan yaitu metode 5S (Seiri,

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Restoran Pastel and Pizza Rijsttafel yang terletak di Jalan Binamarga I/1 Bogor. Pemilihan tempat penelitian ini dilakukan

Lebih terperinci

LAMPIRAN HARGA SATUAN JUMLAH 1 4,000 50, ,000, ,300 50,000 65,000, ,400 50,000 70,000, ,000 25,000,000

LAMPIRAN HARGA SATUAN JUMLAH 1 4,000 50, ,000, ,300 50,000 65,000, ,400 50,000 70,000, ,000 25,000,000 LAMPIRAN Lampiran 1. INVESTASI UNTUK KAPASITAS 1000 KG/JAM (6") TANAH SAMPEL JUMLAH (M²) HARGA SATUAN (Rp) JUMLAH 1 4,000 50,000 200,000,000 2 1,300 50,000 65,000,000 3 1,400 50,000 70,000,000 4 500 50,000

Lebih terperinci

Lampiran 1. Tampilan cokelat batangan dan desain kemasan cokelat batangan

Lampiran 1. Tampilan cokelat batangan dan desain kemasan cokelat batangan LAMPIRAN 85 Lampiran 1. Tampilan cokelat batangan dan desain kemasan cokelat batangan Cokelat batangan Kemasan cokelat batangan Kemasan tanpa cokelat batangan Tampak depan dengan cokelat batangan Tampak

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikirian Teoritis Penelitian tentang analisis kelayakan yang akan dilakukan bertujuan melihat dapat tidaknya suatu usaha (biasanya merupakan proyek atau usaha investasi)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam kehidupannya sehari-hari, manusia tidak bisa dilepaskan dari suatu benda. Benda ini ada yang dapat digunakan seutuhnya, namun ada juga yang menghasilkan sisa

Lebih terperinci

III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. Rakyat (KUR) di Desa Ciporeat, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung.

III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. Rakyat (KUR) di Desa Ciporeat, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung. 22 III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Objek penelitian ini adalah usaha ternak sapi perah penerima Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Desa Ciporeat, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung.

Lebih terperinci

BAB V ANALISIS BIAYA PENGERINGAN GABAH MENGUNAKAN PENGERING RESIRKULASI

BAB V ANALISIS BIAYA PENGERINGAN GABAH MENGUNAKAN PENGERING RESIRKULASI BAB V ANALISIS BIAYA PENGERINGAN GABAH MENGUNAKAN PENGERING RESIRKULASI 5.1 PENDAHULUAN Pengembangan usaha pelayanan jasa pengeringan gabah dapat digolongkan ke dalam perencanaan suatu kegiatan untuk mendatangkan

Lebih terperinci

TEKNIK PEMBUATAN pupuk BOKASHI

TEKNIK PEMBUATAN pupuk BOKASHI TEKNIK PEMBUATAN pupuk BOKASHI TEKNIK PEMBUATAN pupuk BOKASHI Teknik Pembuatan Pupuk Bokashi @ 2012 Penyusun: Ujang S. Irawan, Senior Staff Operation Wallacea Trust (OWT) Editor: Fransiskus Harum, Consultant

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 10 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Wangunjaya Kecamatan Cugenang Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan selama satu

Lebih terperinci

BAB II TINJUAN PUSTAKA

BAB II TINJUAN PUSTAKA BAB II TINJUAN PUSTAKA 2.1 Hortikultura Komoditas hortikultura termasuk produk yang mudah rusak (perishable product), dimana tingkat kerusakan dapat terjadi dari masa panen hingga pascapanen dan pada saat

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian

IV. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Peternakan Maju Bersama, Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian

Lebih terperinci

KKN ITATS Tahun Kegiatan Pelatihan Pembuatan Kompos. Disiapkan oleh Taty Alfiah, ST.MT

KKN ITATS Tahun Kegiatan Pelatihan Pembuatan Kompos. Disiapkan oleh Taty Alfiah, ST.MT KKN ITATS Tahun 2010 Kegiatan Pelatihan Pembuatan Kompos Disiapkan oleh Taty Alfiah, ST.MT Lokasi pelatihan pembuatan kompos Tempat / Kelurahan Dusun Kelompok Bulurejo Kacangan VII Munggu Gianti Gianti

Lebih terperinci

Mulai. Merancang bentuk alat. Menggambar dan menentukan dimensi alat. Memilih bahan. Diukur bahan yang akan digunakan

Mulai. Merancang bentuk alat. Menggambar dan menentukan dimensi alat. Memilih bahan. Diukur bahan yang akan digunakan Lampiran 1. Flow Chart Pelaksanaan Penelitian Mulai Merancang bentuk alat Menggambar dan menentukan dimensi alat Memilih bahan Diukur bahan yang akan digunakan Dipotong, dibubut dan dikikir bahan yang

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN A. WAKTU DAN LOKASI Penelitian dimulai pada bulan Oktober sampai Desember 2008, bertempat di beberapa TPS pasar di Kota Bogor, Jawa Barat yaitu pasar Merdeka, pasar Jl. Dewi

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Kecamatan Medan Percut Sei Tuan dengan ketinggian tempat kira-kira 12 m dpl,

III. METODE PENELITIAN. Kecamatan Medan Percut Sei Tuan dengan ketinggian tempat kira-kira 12 m dpl, III. METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area yang berlokasi di Jl. Kolam No.1 Medan Estate Kecamatan Medan Percut

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Pulau Panggang, Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, DKI

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoretis Kerangka pemikiran teoretis merupakan suatu penalaran peneliti yang didasarkan pada pengetahuan, teori, dalil, dan proposisi untuk menjawab suatu

Lebih terperinci

Lampiran 1. Impor Ikan Asap Dunia Tahun 2008

Lampiran 1. Impor Ikan Asap Dunia Tahun 2008 LAMPIRAN 133 Lampiran 1. Impor Ikan Asap Dunia Tahun 2008 Lampiran 2. Volume Ekspor Ikan Asap Indonesia Tahun 2005-2008 No Tahun Volume Nilai Value Kenaikan (%) (kg) (US $) 1. 2005 6.384.755 12.278.787

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. berkembang pesat pada dua dekade terakhir. Produksi minyak sawit Indonesia

I. PENDAHULUAN. berkembang pesat pada dua dekade terakhir. Produksi minyak sawit Indonesia I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri kelapa sawit merupakan salah satu agroindustri yang sangat potensial dan berkembang pesat pada dua dekade terakhir. Produksi minyak sawit Indonesia telah menyumbang

Lebih terperinci

IV. DESKRIPSI USAHA PENGOLAHAN TEPUNG UBI JALAR

IV. DESKRIPSI USAHA PENGOLAHAN TEPUNG UBI JALAR IV. DESKRIPSI USAHA PENGOLAHAN TEPUNG UBI JALAR 4.1 Gambaran Umum Kelompok Tani Hurip Kelompok Tani Hurip terletak di Desa Cikarawang Kecamatan Darmaga. Desa Cikarawang adalah salah satu Desa di Kecamatan

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN 16 III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Usaha pengembangan kerupuk Ichtiar merupakan suatu usaha yang didirikan dengan tujuan untuk memanfaatkan peluang yang ada. Melihat dari adanya peluang

Lebih terperinci

PELESTARIAN LINGKUNGAN MELALUI TATAJER

PELESTARIAN LINGKUNGAN MELALUI TATAJER PELESTARIAN LINGKUNGAN MELALUI TATAJER Anitarakhmi Handaratri, Yuyun Yuniati Program Studi Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Ma Chung Email: anita.hand@gmail.com, yuyun.yuniati@machung.ac.id

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN 40 V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Kelembagaan Pengelolaan sampah di DKI Jakarta khususnya di Jakarta Timur dilakukan oleh Dinas Kebersihan, selain berfungsi sebagai pengelola sampah, dinas kebersihan juga

Lebih terperinci