VII. ANALISIS ASPEK FINANSIAL

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "VII. ANALISIS ASPEK FINANSIAL"

Transkripsi

1 VII. ANALISIS ASPEK FINANSIAL Analisis aspek finansial digunakan untuk menganalisis kelayakan suatu proyek atau usaha dari segi keuangan. Analisis aspek finansial dapat memberikan perhitungan secara kuantatif usaha pembesaran ikan bandeng pada Keramba Jaring Apung. Analisis finansial dilakukan dengan menggunakan kriteria kriteria penilaian investasi yaitu NPV, IRR, Net B/C, dan Payback period. Untuk menganalisis dengan empat kriteria tersebut, digunakan arus kas (cashflow) untuk mengetahui besarnya manfaat yang diterima dan biaya yang dikeluarkan selama umur proyek. Selain itu juga dilakukan analisis laba rugi yang akan menghasilkan komponen pajak yang merupakan pengurangan dalam cashflow perusahaan. Setelah diketahui pajak maka dilakukan penyusunan cashflow sebagai dasar perhitungan kriteria investasi. Kriteria investasi akan menunjukkan layak tidaknya usaha dari sisi finansial. Untuk mencari batas maksimal suatu perubahan sehingga dengan batas tersebut usaha masih dikatakan layak maka analisis sensitivitas dengan metode penghitungan switching value perlu dilakukan. Umur proyek ditetapkan selama tujuh tahun, hal ini berdasarkan atas ketahanan bangunan keramba jaring apung yaitu berkisar tujuh tahun, karena setelah tujuh tahun bangunan banyak yang harus direnovasi. Atas dasar itu umur proyek disesuaikan dengan umur ekonomis bangunan. 7.1 Analisis Biaya Komponen biaya akan dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu biaya investasi dan biaya operasional. Biaya investasi adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan faktor faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi. Biaya operasional adalah sejumlah dana yang dikeluarkan agar proses produksi berlangsung Biaya Investasi Biaya investasi yang diperhitungkan dalam cashflow terdiri dari : biaya investasi awal yang dikeluarkan pada tahun ke satu dan biaya reinvestasi yang 60

2 muncul pada saat proyek berjalan. Biaya investasi awal terdiri atas biaya investasi pembuatan keramba jaring apung serta biaya investasi perlengkapan. Total investasi awal untuk lima unit KJA sebesar Rp ,00. Rincian biaya investasi awal usaha pembesaran ikan bandeng pada keramba jaring apung untuk lima unit KJA dapat dilihat pada Tabel. Tabel 16. Rincian Biaya Investasi Pembesaran Ikan Bandeng dengan KJA di Kecamatan Muara Gembong Kabupaten Bekasi Biaya Investasi Umur Teknis Satuan Jumlah Unit Harga Satuan (Rp) Jumlah Biaya (Rp) =4x5 a) Bambu 7 Batang b) Besi 7 Batang c) Kayu Kaso 7 Batang d) Drum/busa stryofom 7 Buah e) Paku 7 Kg f) Tambang 7 Kg h) Bandul/Pemberat 7 Buah g) Jangkar 7 Buah i) Bahan Jaring 7 Kg j) Biaya Pengerjaan 7 Orang k) Rumah Jaga 7 Unit l) Perahu 7 Unit m) Ember plastik 2 Buah o) Serok 3 Buah p) Baskom Plastik 2 Buah q) Tabung Oksigen berat kotor 75 kg 10 Buah r) Plastik bag 1 Kg s) Genset 10 Buah Total Biaya Invesasi Komponen biaya yang diperhitungkan dalam biaya reinvestasi merupakan komponen-komponen yang meiliki umur teknis kurang dari tujuh tahun. Biaya reinvestasi muncul pada tahun ke dua yaitu untuk mengganti biaya perlengkapan yang mengalami kerusakan. Rincian biaya Re-investasi dapat dilihat pada Tabel

3 Tabel 17. Rincian Biaya Re-investasi Rincian Biaya Investasi Pembesaran Ikan Bandeng dengan KJA di Kecamatan Muara Gembong Kabupaten Bekasi No Komponen investasi umur Jumlah Biaya nilai reinvestasi (Rp) teknis (Rp) Serok ember plastik baskom plastik Plastik bag Total Biaya Reinvestasi Biaya Operasional Biaya operasional adalah biaya yang dikeluarkan secara berkala selama proyek berjalan. Biaya ini meliputi biaya tetap dan biaya variabel, biaya operasional dikeluarkan pada tahun kesatu sampai tahun tujuh. Pada tahun pertama biaya operasional yang dikeluarkan lebih kecil dibandingkan dengan tahun ke dua sampai tahun ke tujuh. Hal ini disebabkan karena periode awal digunakan untuk melakukan investasi pembuatan keramba, pada tahun itu skala produksi masih kecil Biaya Tetap Biaya tetap adalah biaya yang dikeluarkan setiap tahun yang besarnya tidak berpengaruh langsung terhadap jumlah output yang dihasilkan. Komponen biaya yang dikeluarkan untuk usaha pembesaran ikan bandeng pada KJA terdiri dari retribusi izin usaha perikanan, biaya perawatan jaring, gaji/upah karyawan, serta angsuran pinjaman (jika menggunakan pinjaman). Adapun rincian dari biaya tetap tersebut adalah sebagai berikut : a) Retribusi izin perikanan Sesuai dengan Perda Kabupaten Bekasi No. 6 Tahun 2007 mengenai Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Perikanan dan Kelautan dinyatakan bahwa usaha pembudidayaan ikan pada KJA yang memiliki lebih dari lima unit diwajibkan memiliki izin dan dikenakan retribusi sebesar Rp 2.500,00/kolam/bulan, atau Rp ,00/kolam/ tahun, sehingga beban yang dikenakan untuk lima unit keramba jaring apung sebesar Rp ,00/ tahun. 62

4 b) Biaya Perawatan Jaring Biaya perawatan jaring dikeluarkan setiap kali selesai panen ikan yaitu sebanyak tiga kali per tahunnya. Perawatan jaring dikerjakan oleh dua orang pekerja selama dua hari. Besarnya biaya perawatan jaring sebanyak tiga kali yaitu sebesar Rp ,00. Penetapan besarnya biaya perawatan diperoleh berdasarkan estimasi dan wawancara dengan pihak-pihak terkait, yaitu petani dan Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bekasi. c) Gaji/upah Biaya gaji dikeluarkan setiap bulan. Penetapan gaji berdasarkan upah minimun regional Kabupaten Bekasi. Upah minimum regional Kabupaten Bekasi tahun 2010 sebesar Rp ,00 per bulan, sedangkan gaji/ upah yang akan dikeluarkan adalah sebesar ,00 per orang/bulan. Total biaya gaji/ upah yang dikeluarkan untuk dua orang karyawan per bulannya sebesar Rp ,00 atau Rp ,00 per tahun. d) Biaya Cicilan Pinjaman Modal Analisis finansial kelayakan usaha pembesaran ikan bandeng pada KJA di Kecamatan Muara Gembong akan menggunakan skenario perolehan modal pinjaman dari Bank sebesar Rp ,00 Lamanya pinjaman tersebut tujuh tahun sesuai dengan umur proyek, rumus yang digunakan yaitu rumus perhitungan angsuran kredit dengan annuity (nilai angsuran tetap). Adapun rincian perhitungan cicilan pinjaman pokok dan bunga pinjaman dapat di lihat pada Tabel 21. Angsuran per Tahun = pinjaman x {interest x (1 + interest)^periode} {(1 + interest)^periode 1} 63

5 Tabel 18. Angsuran Pembayaran Pinjaman Perhitungan Pembayaran Kredit No Uraian Keterangan 1 Pinjaman Rp Jangka Waktu Pengembalian (tahun) 7 3 Tingkat Suku Bunga 13% 4 Angsuran Kredit per Tahun Rp Pembayaran Angsuran Pinjaman No Tahun Pokok Pinjaman Biaya Bunga Angsuran Sisa Pokok Pinjaman Biaya Variabel Biaya variabel adalah biaya yang selalu berubah selama proses produksi berlangsung. Komponen biaya variabel terdiri dari biaya pakan, pembelian benih ikan bandeng, biaya angkut benih, obat-obatan, bonus karyawan, bahan bakar minyak, dan isi ulang oksigen. Berdasarkan perhitungan biaya variabel pada tahun pertama menunjukkan bahwa komponen terbesar biaya variabel berasal dari pembelian pakan mencapai Rp ,00/ musim tebar (MST). Besarnya biaya pakan dikarenakan pemeliharaan ikan bandeng pada KJA memerlukan intensifikasi pemberian pakan buatan dan adanya keterbatasan ruang gerak ikan bandeng dalam hal mencari pakan alami. Pembelian benih sebesar kg berdasarkan pada padat penebaran dari keramba yang optimal, yaitu sebesar 5000 ekor. Benih yang ditebar berjenis benih gelondongan atau kisaran berat per ekornya sebesar gram. Satu kilogram benih gelondongan berjumlah 5-6 ekor ikan, maka kg benih gelondongan sama dengan ekor. Harga satu kilogram benih gelondongan yaitu Rp ,00 maka biaya yang dibutuhkan untuk benih gelondongan sebesar Rp ,00/ MST. 64

6 Biaya angkut benih dikeluarkan pada saat akan dilakukan penebaran benih yaitu sebanyak satu kali dalam satu masa tebar atau empat bulan. Besarnya biaya sebesar Rp Penetapan besarnya biaya angkut benih diperoleh berdasarkan estimasi dan wawancara dengan pihak-pihak terkait, yaitu petani dan Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bekasi. Bandeng yang dibudidayakan di laut umumnya lebih tahan dari parasit dan hampir tidak didapatkan organisme yang bersifat patogen, oleh karena itu biaya obat-obatan untuk usaha pembesaran ikan bandeng pada KJA merupakan komponen biaya variabel yang terkecil yaitu sebesar Rp ,00/ tahun. Pemberian bonus dimaksudkan agar karyawan termotivasi, sehingga bisa memberikan layanan terbaik untuk perusahaan. Pemberian bonus dilakukan dengan memberikan sejumlah uang sebesar Rp ,00/MST setelah dilakukan pemanenan ikan bandeng. Total biaya yang dikeluarkan per tahun untuk bonus dua orang karyawan sebesar Rp ,00. Pemberian uang bonus dilakukan secara periodik bulanan, digabung dengan gaji bulanan. Besaran bonus bisa berubah, bisa bertambah bahkan berkurang tergantung dari kinerja perusahaan. Bahan bakar minyak (BBM) digunakan untuk pemakaian genset dan sebagai bahan bakar perahu. Diestimasikan per tahun pemakaian BBM 250 liter atau per bulannya berkisar sebanyak 20 liter, maka dengan mengacu kepada harga bensin pada saat ini sebesar Rp 4.500,00 maka biaya BBM yang dikeluarkan selama satu tahun adalah Rp ,00. Oksigen diperlukan untuk memberi udara kepada plastik-plastik tempat panen ikan. Dalam satu tahun diestimasikan dilakukan 10 kali pengulangan pengisian oksigen. Biaya untuk satu kali pengulangan pengisian sebesar Rp ,00 maka untuk satu tahun dengan 10 kali pengulangan biaya yang dikeluarkan sebesar Rp ,00. Rincian biaya variabel untuk usaha pembesaran ikan bandeng pada KJA tahun pertama dapat dilihat pada Tabel 19 dan untuk rincian biaya variabel tahun-tahun berikutnya dapat dilihat pada Lampiran 11 sampai Tabel

7 Tabel 19. Rincian Biaya Variabel Usaha Pembesaran Ikan Bandeng pada KJA Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi Tahun Pertama No Komponen Biaya Satuan Jumlah Unit Harga Satuan (RP) Jumlah Biaya =4X5 Musim Tanam 1 1 Pakan Kg Benih Kg Biaya angkut 3 benih Kali obat-obatan Pot bonus karyawan orang/bulan BBM liter/tahun isi ulang oksigen ulangan Jumlah Rp Musim Tanam 2 1 Pakan Kg Benih Kg Biaya angkut 3 benih Kali obat-obatan Pot bonus karyawan orang/bulan BBM orang/bulan isi ulang oksigen ulangan Jumlah Rp Musim Tanam 3 1 Pakan Kg Benih Kg Biaya angkut 3 benih Kali obat-obatan Pot bonus karyawan orang/bulan BBM orang/bulan isi ulang oksigen Ulangan Jumlah Jumlah biaya variabel tahun pertama Rp Rp Analisis Manfaat Analisis finansial usaha lebih menitik beratkan pada manfaat yang didapat di nilai dengan uang (tangible benefit). Arus manfaat pada bisnis ini adalah penerimaan dari hasil penjualan ikan bandeng, pinjaman, dan nilai sisa. 66

8 Tabel 20. Penerimaan Kegiatan Usaha Pembesaran Ikan Bandeng pada KJA Kecamatan Muara Gembong Kabupaten Bekasi No Masa Tebar (MST) Komponen Harga satuan produksi Jumlah 1 Penerimaan (Rp) (kg) Penjualan Ikan Bandeng Penjualan Ikan Bandeng Penjualan Ikan Bandeng Total penerimaan tahun Masa Tebar (MST) Komponen Harga satuan produksi Jumlah 2 Penerimaan (Rp) (kg) 1 Penjualan Ikan Bandeng Penjualan Ikan Bandeng Penjualan Ikan Bandeng Total penerimaan tahun Masa Tebar (MST) Komponen Harga satuan produksi Jumlah 3 Penerimaan (Rp) (kg) 1 Penjualan Ikan Bandeng Penjualan Ikan Bandeng Penjualan Ikan Bandeng Total penerimaan tahun Masa Tebar (MST) Komponen Harga satuan produksi Jumlah 4 Penerimaan (Rp) (kg) 1 Penjualan Ikan Bandeng Penjualan Ikan Bandeng Penjualan Ikan Bandeng Total penerimaan tahun Masa Tebar (MST) Komponen Harga satuan produksi Jumlah 5 Penerimaan (Rp) (kg) 1 Penjualan Ikan Bandeng Penjualan Ikan Bandeng Penjualan Ikan Bandeng Total penerimaan tahun Masa Tebar (MST) Komponen Harga satuan produksi Jumlah 6 Penerimaan (Rp) (kg) 1 Penjualan Ikan Bandeng Penjualan Ikan Bandeng Penjualan Ikan Bandeng Total penerimaan tahun Masa Tebar (MST) Komponen Harga satuan produksi Jumlah 7 Penerimaan (Rp) (kg) 1 Penjualan Ikan Bandeng Penjualan Ikan Bandeng Penjualan Ikan Bandeng Total penerimaan tahun

9 Penerimaan Penjualan Ikan Bandeng Ikan bandeng dijual dalam bobot kilogram, dalam lima unit keramba potensi panen bisa mencapai kg/ MST. Harga jual yang diterapkan yaitu Rp ,00/ kg. Maka pendapatan yang diperoleh mencapai Rp ,00/ kg/ MST, atau dalam satu tahun pendapatan yang diperoleh perusahaan sebesar Rp ,00. Hasil proyeksi tujuh tahun kedepan menujukan bahwa nilai penjualan pada tahun pertama lebih kecil dibandingkan tahun tahun berikutnya. Hal ini disebabkan karena periode awal digunakan untuk melakukan investasi pembuatan keramba, pada periode awal skala produksi masih kecil Penerimaan Pinjaman dari Bank Analisis kelayakan finansial bisnis ini akan menggunakan dua skenario modal usaha yaitu skenario seluruhnya modal sendiri (skenario I) dan skenario mendapatkan pinjaman dari Bank (skenario II), besarnya modal sendiri dan pinjaman ditentukan dari besarnya investasi yang dikeluarkan, adapun biaya investasinya yaitu sebesar Rp , Nilai Sisa Pada penelitian ini diperoleh nilai sisa invetasi pada akhir tahun ke tujuh adalah sebesar Rp ,00. Nilai sisa ini berasal dari investasi yang belum habis umur ekonomisnya pada tahun tujuh yang masih mempunyai nilai ekonomis untuk dijual kembali. Nilai sisa diperhitungkan sebagai penerimaan pada tahun ke tujuh. Rincian nilai sisa disajikan pada Tabel

10 Tabel 21. Jumlah Nilai Sisa Usaha Pembesaran Ikan Bandeng pada KJA Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi No Jenis Investasi Nilai Beli Umur Pakai Penyusutan Nilai Sisa (Rp) (Tahun) per Tahun (Rp) 1 Bambu Besi Kayu Kaso Drum/busa stryofom Paku Tambang Bandul/Pemberat Jangkar Bahan Jaring Biaya Pengerjaan Rumah Jaga Perahu Ember plastik Serok Baskom Plastik Tabung Oksigen berat kotor kg Plastik bag Genset Total Penyusutan per Tahun Analisis Laba Rugi Analisis finansial membahas proyeksi laba/ rugi yang bertujuan untuk mengetahui posisi keuangan dari suatu proyek atau usaha yang akan dijalankan. Dalam penyusunan laporan laba rugi terdapat komponen biaya penyusutan yang didapat dari investasi. Besarnya biaya penyusutan per tahun yaitu Rp ,00. (Tabel 20). Rumus yang digunakan dengan metode penghitungan garis lurus. Penyusutan per Tahun = Nilai Beli Nilai Sisa Umur Pakai 69

11 Tabel 22. Rincian Biaya Penyusutan Usaha Pembesaran Ikan Bandeng pada KJA Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi N o Jenis Investasi Nilai Beli Umur Pakai Penyusutan Nilai Sisa (Rp) (Tahun) per Tahun (Rp) 1 Bambu Besi Kayu Kaso Drum/busa stryofom Paku Tambang Bandul/Pemberat Jangkar Bahan Jaring Biaya Pengerjaan Rumah Jaga Perahu Ember plastik Serok Baskom Plastik Tabung Oksigen berat kotor kg Plastik bag Genset Total Penyusutan per Tahun Analisis laba rugi juga digunakan untuk mengetahui perkembangan laba usaha setiap tahunnya. Rincian perhitungan laba rugi skenario pertama dengan modal sendiri dapat dilihat pada Tabel Lampiran 2 dan Rincian perhitungan laba rugi skenario ke dua dengan pinjaman bank dapat dilihat Tabel Lampiran 7, perhitungan laba rugi akan berpengaruh terhadap pajak penghasilan usaha, yang secara otomatis akan berpengaruh juga terhadap Cashflow. Berdasarkan data terlihat bahwa dengan analisis laba rugi pada skenario I, didapat laba yang lebih besar dibandingkan dengan laba yang diperoleh dari skenario II. Hal ini dikarenakan pada skenario I tidak dibebani oleh biaya bunga 70

12 pinjaman modal kepada Bank. Pada Tabel 22 terlihat perbandingan antara laba rugi skenario I dan Skenario II yang telah dikutip dari lampiran. Tabel 23. Hasil Analisis Laporan Laba Rugi Usaha Pembesaran Ikan Bandeng pada KJA Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi No Tahun Nilai Skenario I (DF 7 %) Skenario II (Df 13 %) (Rp) (Rp) Analisis Kelayakan Finansial Usaha Pembesaran Ikan Bandeng pada KJA di Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi Analisis kelayakan finansial digunakan untuk mengukur tingkat kelayakan pendirian usaha pembesaran ikan bandeng pada KJA, kriteria yang digunakan untuk mengukur kelayakan finansial adalah kriteria penilaian investasi yang meliputi analisis NPV, IRR, Net B/C, serta PP. Analisis kelayakan ini menggunakan dua skenario yaitu modal sendiri dan mendapatkan pinjaman dari Bank sebesar Rp ,00. Rincian perhitungan cashflow kedua skenario tersebut dapat dilihat pada Tabel Lampiran 1 (skenario I) dan Tabel Lampiran 6 (skenario II). Hasil analisis kelayakan finansial pengusahaan pembesaran ikan bandeng pada KJA kedua skenario yang telah dikutip dari lampiran 1 dan 6 dapat dilihat pada Tabel

13 Tabel 24. Hasil Analisis Kelayakan Finansial Usaha Pembesaran Ikan Bandeng pada KJA Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi No Kriteria Kelayakan Hasil Penilaian Skenario I (DF 7 %) Skenario II (DF 13 %) 1 NPV Rp Rp Net B/C 2,84 1,75 3 IRR 55% 26% 4 PP 2,4 4,7 Berdasarkan Tabel 23, terlihat bahwa hasil NPV skenario I pada tingkat diskonto 7 persen memiliki nilai yang lebih besar dari pada nol. Hal ini menunjukkan bahwa pengusahaan bisnis pembesaran ikan bandeng pada KJA menurut nilai sekarang menguntungkan untuk dilaksanakan karena memberikan tambahan manfaat sebesar Rp ,00 selama jangka waktu tujuh tahun. Nilai Net B/C skenario I adalah 2,84 atau lebih besar dari satu. Hal ini menunjukan bahwa pengeluaran investasi saat ini untuk pengusahaan bisnis pembesaran ikan bandeng pada KJA sebesar Rp 1,00 akan menghasilkan nilai pendapatan bersih sekarang sebesar Rp 3,50. Berdasarkan kriteria kelayakan Net B/C, pengusahaan bisnis ini layak untuk dilaksanakan. Nilai IRR yang diperoleh dari skenario I yaitu 55 persen. Nilai ini berada di atas nilai diskonto yang digunakan yaitu sebesar 7 persen. Berdasarkan kriteria IRR usaha ini layak untuk dilaksanakan. Berdasarkan waktu pengembalian investasinya, terlihat bahwa skenario I akan mencapai titik pengembalian investasi pada saat kegiatan usaha berjalan selama 2 tahun 4 bulan. Hal ini menunjukkan usaha ini layak karena pengembalian investasi tercapai sebelum umur proyek berakhir. NPV skenario II pada tingkat diskonto 13 persen memiliki nilai yang lebih besar dari pada nol. Hal ini menunjukkan bahwa pengusahaan bisnis pembesaran ikan bandeng pada KJA menurut nilai sekarang menguntungkan untuk dilaksanakan karena memberikan tambahan manfaat sebesar Rp ,00 selama jangka waktu tujuh tahun. Nilai Net B/C skenario II adalah 1,75 atau lebih besar dari satu. Hal ini menunjukkan bahwa pengeluaran investasi saat ini untuk pengusahaan bisnis pembesaran ikan bandeng pada KJA sebesar Rp 1,00 akan menghasilkan nilai 72

14 pendapatan bersih sekarang sebesar Rp 1,75. Berdasarkan kriteria kelayakan Net B/C, pengusahaan bisnis ini layak untuk dilaksanakan. Nilai IRR yang diperoleh dari skenario II yaitu 26 persen. Nilai ini berada di atas nilai diskonto yang digunakan yaitu sebesar 13 persen. Berdasarkan kriteria IRR usaha ini layak untuk dilaksanakan. Berdasarkan waktu pengembalian investasinya, terlihat bahwa skenario II akan mencapai titik pengembalian investasi pada saat kegiatan usaha berjalan selama 4 tahun 7 bulan. Hal ini berarti menunjukkan usaha ini layak karena pengembalian investasi tercapai sebelum umur proyek berakhir. Kedua skenario berdasarkan kriteria kelayakan investasi menunjukan bahwa usaha ini layak untuk dijalankan, namun jika dibandingkan antara skenario I dan skenario II maka skenario I lebih layak dibandingkan dengan skenario II. Hal ini dikarenakan NPV, IRR, dan Net B/C skenario I lebih besar dibandingkan dengan skenario II dan PP pada skenario I lebih cepat dibandingkan dengan skenario II Switching Value (Nilai Pengganti) Analisis sensitivitas dengan metode penghitungan switching value digunakan untuk mengetahui tingkat perubahan biaya dan manfaat sehingga keuntungan mendekati normal dimana NVP sama dengan nol, IRR sama dengan diskon faktor yang berlaku dan Net B/C sama dengan satu. Analisis sensitivitas dengan metode penghitungan switching value yang dilakukan adalah dengan menghitung perubahan maksimum yang boleh terjadi akibat adanya perubahan beberapa parameter. Parameter yang digunakan yaitu penurunan penjualan ikan bandeng yang didasarkan pada perubahan penurunan harga jual ikan bandeng dan penurunan produksi. Parameter berikutnya yang digunakan yaitu perubahan peningkatan biaya pembelian pakan ikan bandeng. Ikan bandeng pada KJA memerlukan intensifikasi pemberian pakan buatan, disamping itu pula biaya pakan merupakan komponen biaya terbesar dari biaya operasional produksi. Adanya kenaikan harga pakan akan mempengaruhi secara langsung produksi, untuk itu perlu dianalisis sampai sejauh mana batas maksimum kenaikan harga pakan yang masih bisa ditolerir, sedangkan penurunan harga jual merupakan komponen yang menentukan dari penerimaan. Penurunan 73

15 harga jual akan berpengaruh kepada cashflow perusahaan maupun rugi/ laba perusahaan. Untuk mengetahui risiko mana yang lebih sensitif (peka) terhadap perubahan parameter tersebut, maka perlu dibandingkan analisis sensitivitas dengan metode penghitungan switching value skenario I dan skenario II. Hasil analisis sensitivitas dengan metode penghitungan switching value dapat dilihat pada Tabel 24. Tabel 25. Hasil Analisis Sensitivitas Switching Value Skenario I dan skenario II N Skenario Skenario Parameter yang Berubah o I II 1 Maximum Peningkatan Harga Pakan 11,61% 4,80% 2 Maximum Penurunan Penurunan Harga Jual Ikan Bandeng 8,32% 2,50% 3 Maximum Penurunan Penurunan Produksi 8,32% 2,50% Pada Tabel 24 terlihat bahwa persentase maximum peningkatan harga pakan untuk skenario I yaitu sebesar 11,61 persen. Sedangkan persentase maximum penurunan penjualan ikan bandeng berdasarkan variabel penurunan harga jual ikan bandeng dan penurunan produksi mempunyai persentase yang sama yaitu sebesar 8,32 persen. Pada skenario ini perubahan parameter penurunan penjualan ikan bandeng lebih sensitif (peka) dibandingkan perubahan parameter peningkatan harga pakan. Pada Tabel 24 terlihat bahwa persentase maximum peningkatan harga pakan untuk skenario II yaitu sebesar 4,80 persen. Sedangkan persentase maximum penurunan penjualan ikan bandeng berdasarkan variabel penurunan harga jual ikan bandeng dan penurunan produksi mempunyai persentase yang sama yaitu sebesar 2,50 persen. Pada skenario ini perubahan parameter penurunan penjualan ikan bandeng lebih sensitif (peka) dibandingkan perubahan parameter peningkatan harga pakan. Penurunan harga jual ikan bandeng bisa dipicu oleh over supply. Adanya kelebihan penawaran harus diatasi dengan perencanaan produksi yang baik, sehingga output yang ada tidak berlebih. Penurunan harga jual juga bisa terjadi ketika musim hujan dengan cuaca yang buruk berlangsung, cuaca buruk 74

16 dikhawatirkan mengganggu transportasi panen yang akibatnya kembali menjadi kelebihan penawaran ikan bandeng. Akibat lain cuaca buruk adalah adanya ombak yang besar atau sirkulasi air yang tak beraturan akibat pasang surut terlau deras, ini mengakibatkan produksi terganggu. Penilaian secara keseluruhan menunjukan bahwa skenario II lebih sensitif (peka) terhadap perubahan perubahan yang terjadi baik itu perubahan peningkatan harga pakan ataupun penurunan penjualan ikan bandeng. Persentase terhadap parameter tersebut merupakan persentase maximum yang dapat ditolelir oleh pengusaha atau petani. Apabila persentase penurunan penjualan ikan bandeng dan peningkatan harga pakan bandeng mengalami peningkatan lebih besar dari persentase diatas, maka pengusaha atau petani tidak mendapatkan keuntungan. Hal ini dikarenakan keuntungan yang diperoleh habis digunakan untuk menutupi seluruh biaya kegiatan usaha. 75

Plastik bag Genset Total Penyusutan per Tahun

Plastik bag Genset Total Penyusutan per Tahun Lampiran 4. Nilai Sisa dan Penyusutan Usaha Pembesaran Ikan Bandeng pada KJA Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi Nilai Beli Umur Pakai Penyusutan Nilai Sisa Jenis Investasi (Rp) (Tahun) per Tahun

Lebih terperinci

VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL

VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL Menganalisis kelayakan suatu proyek atau usaha dari segi keuangan dapat mengunakan. Analisis finansial. Adapun kriteria kriteria penilaian investasi yang dapat digunakan yaitu

Lebih terperinci

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL Pada penelitian ini dilakukan analisis kelayakan finansial untuk mengetahui kelayakan pengusahaan ikan lele phyton, serta untuk mengetahui apakah usaha yang dilakukan pada

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. tentang istilah-istilah dalam penelitian ini, maka dibuat definisi operasional

III. METODE PENELITIAN. tentang istilah-istilah dalam penelitian ini, maka dibuat definisi operasional III. METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional Untuk memperjelas dan menghindari kesalahpamaham mengenai pengertian tentang istilah-istilah dalam penelitian ini, maka dibuat definisi operasional sebagai

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Pemilihan lokasi secara sengaja (purposive) berdasarkan pertimbangan bahwa

Lebih terperinci

VII. ANALISIS FINANSIAL

VII. ANALISIS FINANSIAL VII. ANALISIS FINANSIAL Usaha peternakan Agus Suhendar adalah usaha dalam bidang agribisnis ayam broiler yang menggunakan modal sendiri dalam menjalankan usahanya. Skala usaha peternakan Agus Suhendar

Lebih terperinci

VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL Analisis kelayakan finansial dilakukan untuk mengetahui kelayakan pembesaran ikan lele sangkuriang kolam terpal. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam aspek finansial

Lebih terperinci

BAB VII KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL

BAB VII KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL BAB VII KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL 7.1. Analisis Aspek Finansial Aspek finansial adalah aspek yang mengkaji dari sisi keuangan perusahaan. Kelayakan pada aspek financial dapat diukur melalui perhitungan

Lebih terperinci

VII. PEMBAHASAN ASPEK FINANSIAL

VII. PEMBAHASAN ASPEK FINANSIAL VII. PEMBAHASAN ASPEK FINANSIAL 7.1. Proyeksi Arus Kas (Cashflow) Proyeksi arus kas merupakan laporan aliran kas yang memperlihatkan gambaran penerimaan (inflow) dan pengeluaran kas (outflow). Dalam penelitian

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN. Menurut Kadariah (2001), tujuan dari analisis proyek adalah :

III. KERANGKA PEMIKIRAN. Menurut Kadariah (2001), tujuan dari analisis proyek adalah : III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Analisis Kelayakan Investasi Pengertian Proyek pertanian menurut Gittinger (1986) adalah kegiatan usaha yang rumit karena penggunaan sumberdaya

Lebih terperinci

VII. KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL

VII. KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL VII. KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL Kelayakan aspek finansial merupakan analisis yang mengkaji kelayakan dari sisi keuangan suatu usaha. Aspek ini sangat diperlukan untuk mengetahui apakah usaha budidaya nilam

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Pulau Panggang, Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, DKI

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian

IV. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Peternakan Maju Bersama, Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian

Lebih terperinci

VII. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL

VII. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL VII. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL Analisis finansial dilakukan untuk melihat sejauh mana Peternakan Maju Bersama dapat dikatakan layak dari aspek finansial. Untuk menilai layak atau tidak usaha tersebut

Lebih terperinci

VII. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL

VII. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL VII. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL Analisis finansial dilakukan untuk melihat sejauh mana CV. Usaha Unggas dapat dikatakan layak dari aspek finansial. Penilaian layak atau tidak usaha tersebut dari

Lebih terperinci

VII. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

VII. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL VII. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL Pada penelitian ini dilakukan analisis kelayakan finansial untuk mengetahui kelayakan pengusahaan ikan lele, serta untuk mengetahui apakah usaha yang dilakukan pada kelompok

Lebih terperinci

VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL Analisis kelayakan finansial dalam penelitian ini ditujukan untuk mengetahui kelayakan usaha peternakan ayam ras petelur dari segi keuangan. Analisis finansial digunakan

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Peternakan Domba Tawakkal, yang terletak di Jalan Raya Sukabumi, Desa Cimande Hilir No.32, Kecamatan Caringin, Kabupaten

Lebih terperinci

VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL

VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL Aspek finansial merupakan aspek yang dikaji melalui kondisi finansial suatu usaha dimana kelayakan aspek finansial dilihat dari pengeluaran dan pemasukan usaha tersebut selama

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN. (Purposive) dengan alasan daerah ini cukup representatif untuk penelitian yang

METODOLOGI PENELITIAN. (Purposive) dengan alasan daerah ini cukup representatif untuk penelitian yang IV. METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Tempat dan Waktu Penelitian Pengambilan data dilakukan pada bulan Februari sampai dengan bulan Maret 2011, bertempat di Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor,

Lebih terperinci

VII. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

VII. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL VII. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL Analisis kelayakan pengusahaan budidaya ikan bawal air tawar dilakukan untuk mengetahui apakah pengusahaan ikan bawal air tawar yang dilakukan Sabrina Fish Farm layak

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengumpulan Data

METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengumpulan Data IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian dilakukan di Usaha Mi Ayam Bapak Sukimin yang terletak di Ciheuleut, Kelurahan Tegal Lega, Kota Bogor. Lokasi penelitian diambil secara sengaja (purposive)

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Kelayakan Proyek Proyek adalah kegiatan-kegiatan yang dapat direncanakan dan dilaksanakan dalam suatu bentuk kesatuan dengan mempergunakan

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. ini yang dianalisis adalah biaya, benefit, serta kelayakan usahatani lada putih yang

METODE PENELITIAN. ini yang dianalisis adalah biaya, benefit, serta kelayakan usahatani lada putih yang III. METODE PENELITIAN A. Metode Dasar Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis, yang merupakan suatu metode penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan

Lebih terperinci

VIII. ANALISIS FINANSIAL

VIII. ANALISIS FINANSIAL VIII. ANALISIS FINANSIAL Analisis aspek finansial bertujuan untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan dengan membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan.

Lebih terperinci

II. KERANGKA PEMIKIRAN

II. KERANGKA PEMIKIRAN II. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis merupakan kumpulan teori yang digunakan dalam penelitian. Teori-teori ini berkaitan erat dengan permasalahan yang ada

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2 Jenis dan Sumber Data 4.3 Metode Penentuan Narasumber

IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2 Jenis dan Sumber Data 4.3 Metode Penentuan Narasumber IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di peternakan milik Bapak Sarno yang bertempat di Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa barat. Pemilihan lokasi

Lebih terperinci

ASPEK FINANSIAL Skenario I

ASPEK FINANSIAL Skenario I VII ASPEK FINANSIAL Setelah menganalisis kelayakan usaha dari beberapa aspek nonfinansial, analisis dilanjutkan dengan melakukan analisis kelayakan pada aspek finansial yaitu dari aspek keuangan usaha

Lebih terperinci

BUSINESS ANALYSIS ENLARGEMENT COMMON CARP (Cyprinus carpio) FLOATING NET CAGES IN TANJUNG ALAI VILLAGE XIII KOTO KAMPAR DISTRICT RIAU PROVINCE

BUSINESS ANALYSIS ENLARGEMENT COMMON CARP (Cyprinus carpio) FLOATING NET CAGES IN TANJUNG ALAI VILLAGE XIII KOTO KAMPAR DISTRICT RIAU PROVINCE BUSINESS ANALYSIS ENLARGEMENT COMMON CARP (Cyprinus carpio) FLOATING NET CAGES IN TANJUNG ALAI VILLAGE XIII KOTO KAMPAR DISTRICT RIAU PROVINCE By Angga Priyetno 1), Hendrik 2), Lamun Bathara 2) ABSTRACK

Lebih terperinci

A Modal investasi Jumlah (Rp) 1 Tanah Bangunan Peralatan Produksi Biaya Praoperasi*

A Modal investasi Jumlah (Rp) 1 Tanah Bangunan Peralatan Produksi Biaya Praoperasi* A Modal investasi Jumlah (Rp) 1 Tanah 150.000.000 2 Bangunan 150.000.000 3 Peralatan Produksi 1.916.100.000 4 Biaya Praoperasi* 35.700.000 B Jumlah Modal Kerja 1 Biaya bahan baku 7.194.196.807 2 Biaya

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Dian Layer Farm yang terletak di Kampung Kahuripan, Desa Sukadamai, Kecamatan Darmaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pemilihan

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian dilakukan di Kampung Budaya Sindangbarang, Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di PT Mekar Unggul Sari, Kabupaten Bogor. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) dengan alasan

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

IV METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di peternakan kambing perah Prima Fit yang terletak di Desa Cibuntu, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Usaha Pembesaran Lele Sangkuriang

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Usaha Pembesaran Lele Sangkuriang II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Usaha Pembesaran Lele Sangkuriang Pengembangan usaha budidaya ikan lele semakin meningkat setelah masuknya jenis ikan lele dumbo ke Indonesia pada tahun 1985. Keunggulan lele dumbo

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Kota depok yang memiliki 6 kecamatan sebagai sentra produksi Belimbing Dewa. Namun penelitian ini hanya dilakukan pada 3 kecamatan

Lebih terperinci

IV METODOLOGI PENELITIAN

IV METODOLOGI PENELITIAN IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di sebuah lokasi yang berada Desa Kanreapia Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa, Propinsi Sulawesi Selatan. Pemilihan lokasi

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Restoran Pastel and Pizza Rijsttafel yang terletak di Jalan Binamarga I/1 Bogor. Pemilihan tempat penelitian ini dilakukan

Lebih terperinci

Lampiran 1. Peta Lokasi Peneliti. Peta Teluk Levun Kabupaten Maluku Tenggara

Lampiran 1. Peta Lokasi Peneliti. Peta Teluk Levun Kabupaten Maluku Tenggara 123 123 Lampiran 1. Peta Lokasi Peneliti Peta Teluk Levun Kabupaten Maluku Tenggara 124 124 125 125 Lampiran.2. Sarana Input Produksi Budidaya Ikan Kerapu dan Rumput Laut di Kawasan Teluk Levun Unit Budidaya

Lebih terperinci

BAB V HASIL ANALISA. dan keekonomian. Analisis ini dilakukan untuk 10 (sepuluh) tahun. batubara merupakan faktor lain yang juga menunjang.

BAB V HASIL ANALISA. dan keekonomian. Analisis ini dilakukan untuk 10 (sepuluh) tahun. batubara merupakan faktor lain yang juga menunjang. BAB V HASIL ANALISA 5.1 ANALISIS FINANSIAL Untuk melihat prospek cadangan batubara PT. XYZ, selain dilakukan tinjauan dari segi teknis, dilakukan juga kajian berdasarkan aspek keuangan dan keekonomian.

Lebih terperinci

VIII. ANALISIS FINANSIAL

VIII. ANALISIS FINANSIAL VIII. ANALISIS FINANSIAL Analisis finansial bertujuan untuk menghitung jumlah dana yang diperlukan dalam perencanaan suatu industri melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan dengan membandingkan

Lebih terperinci

3 METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Metode Penelitian 3.4 Metode Pengambilan Responden 3.5 Metode Pengumpulan Data

3 METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Metode Penelitian 3.4 Metode Pengambilan Responden 3.5 Metode Pengumpulan Data 19 3 METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian di lapangan dilakukan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu, Sukabumi Jawa Barat. Pengambilan data di lapangan dilakukan selama 1 bulan,

Lebih terperinci

Biaya Investasi No Uraian Unit

Biaya Investasi No Uraian Unit LAMPIRAN Biaya Investasi No Uraian Unit Umur Ekonomis Harga Satuan Total Harga (Tahun) (Rp) (Rp) 1 Bangunan Kantor dan Gudang 1 5 5,000,000 5,000,000 2 Kolam Terpal a. Ukuran 10 m x 5 m 7 2 1,250,000 8,750,000

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Kelayakan Proyek Proyek adalah suatu keseluruhan aktivitas yang menggunakan sumber-sumber untuk mendapatkan kemanfaatan (benefit),

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Pada bagian ini dijelaskan tentang konsep yang berhubungan dengan penelitian kelayakan Usaha pembenihan dan pembesaran ikan lele Sangkuriang di

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengumpulan Data

METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengumpulan Data VI METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian dilakukan di Wisata Agro Tambi, Desa Tambi, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Teori Manfaat dan Biaya Dalam menganalisa suatu usaha, tujuan analisa harus disertai dengan definisi-definisi mengenai biaya-biaya dan manfaat-manfaat.

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1.Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Kelayakan Proyek Menurut Husnan dan Suwarsono (2000), proyek pada dasarnya merupakan kegiatan yang menyangkut pengeluaran modal (capital

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikirian Teoritis Penelitian tentang analisis kelayakan yang akan dilakukan bertujuan melihat dapat tidaknya suatu usaha (biasanya merupakan proyek atau usaha investasi)

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Kelayakan Bisnis Studi kelayakan bisnis merupakan penelitian terhadap rencana bisnis yang tidak hanya menganalisis layak atau tidak

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN. 4.1 Karakteristik Pembudidaya dan Keragaan Kegiatan Budidaya Ikan di KJA Jatiluhur

BAB IV HASIL PENELITIAN. 4.1 Karakteristik Pembudidaya dan Keragaan Kegiatan Budidaya Ikan di KJA Jatiluhur BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1 Karakteristik Pembudidaya dan Keragaan Kegiatan Budidaya Ikan di KJA Jatiluhur Karakteristik pembudidaya ikan KJA di Jatiluhur dilihat dari umur, pengalaman dan pendidikan.

Lebih terperinci

KELAYAKAN USAHA PEMBENIHAN UDANG VANNAMEI (Litopenaeus vannamei) Destri Yuliani 1) Program Studi Agribisnis Fakultas pertanian Universitas Siliwangi

KELAYAKAN USAHA PEMBENIHAN UDANG VANNAMEI (Litopenaeus vannamei) Destri Yuliani 1) Program Studi Agribisnis Fakultas pertanian Universitas Siliwangi KELAYAKAN USAHA PEMBENIHAN UDANG VANNAMEI (Litopenaeus vannamei) Destri Yuliani 1) Program Studi Agribisnis Fakultas pertanian Universitas Siliwangi Destriyuliani054@gmail.com Dedi Darusman 2) Fakultas

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Perubahan lingkungan internal dan eksternal menuntut perusahaan untuk meningkatkan keunggulan kompetitif agar dapat bertahan dan berkembang. Disaat perusahaan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Tanaman kehutanan adalah tanaman yang tumbuh di hutan yang berumur

III. METODE PENELITIAN. Tanaman kehutanan adalah tanaman yang tumbuh di hutan yang berumur 47 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan

Lebih terperinci

VII. RENCANA KEUANGAN

VII. RENCANA KEUANGAN VII. RENCANA KEUANGAN Rencana keuangan bertujuan untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan dengan membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan. Untuk melakukan

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Analisis Kelayakan Usaha Analisis Kelayakan Usaha atau disebut juga feasibility study adalah kegiatan untuk menilai sejauh mana manfaat

Lebih terperinci

BAB 5 ANALISIS KEUANGAN

BAB 5 ANALISIS KEUANGAN BAB 5 ANALISIS KEUANGAN 5.1. Ekuitas Ekuitas adalah modal kepemilikan yang diinvestasikan dalam suatu usaha. Vraniolle merupakan badan perorangan dengan modal yang berasal dari pemilik. Ekuitas modal pemilik

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN 46 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Batasan Operasional Konsep dan batasan operasional merupakan pengertian dan petunjuk mengenai variabel yang akan diteliti untuk memperoleh dan menganalisis

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di perusahaan peternakan sapi perah di CV. Cisarua Integrated Farming, yang berlokasi di Kampung Barusireum, Desa Cibeureum, Kecamatan

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Metode Pengambilan Responden 4.3. Desain Penelitian

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Metode Pengambilan Responden 4.3. Desain Penelitian IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Desa Blendung, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi ini ditentukan secara sengaja (purposive)

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoretis Kerangka pemikiran teoretis merupakan suatu penalaran peneliti yang didasarkan pada pengetahuan, teori, dalil, dan proposisi untuk menjawab suatu

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Kelayakan Proyek Proyek memiliki beberapa pengertian. Menurut Kadariah et al. (1999) proyek ialah suatu keseluruhan aktivitas yang menggunakan

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Data dan Instrumentasi 4.3. Metode Pengumpulan Data

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Data dan Instrumentasi 4.3. Metode Pengumpulan Data IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian mengambil tempat di kantor administratif Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Jawa Barat yang berlokasi di Kompleks Pasar Baru Lembang

Lebih terperinci

usaha dari segi keuntungan. Analisis finansial dilakukan dengan menggunakan

usaha dari segi keuntungan. Analisis finansial dilakukan dengan menggunakan 34 Roda Mandala Asia Makmur Trass 2.5 35 Rumpin Satria Bangun Trass 1.3 36 Sirtu Pratama Usaha Andesit 1.8 37 Sumber Alfa Prolindo Pasir 4 38 Tarabatuh Manunggal Andesit 16 39 Wiguna Karya II Trass 2.5

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Proyek Menurut UU No. 17 Tahun 2008, PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) sebagai operator pelabuhan dituntut untuk bertanggung jawab terhadap aset negara. Dalam

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Proses produksi kopi luwak adalah suatu proses perubahan berbagai faktor

III. METODE PENELITIAN. Proses produksi kopi luwak adalah suatu proses perubahan berbagai faktor III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Batasan Operasional Konsep dasar dan batasan operasional ini mencakup semua pengertian yang digunakan untuk memperoleh data yang akan dianalisis sesuai dengan

Lebih terperinci

Aspek Ekonomi dan Keuangan. Pertemuan 11

Aspek Ekonomi dan Keuangan. Pertemuan 11 Aspek Ekonomi dan Keuangan Pertemuan 11 Aspek Ekonomi dan Keuangan Aspek ekonomi dan keuangan membahas tentang kebutuhan modal dan investasi yang diperlukan dalam pendirian dan pengembangan usaha yang

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah penulis uraikan dalam bab sebelumnya, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Sampai

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perikanan merupakan salah satu subsektor pertanian yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia. Hal ini dikarenakan sebagian besar wilayah Indonesia terdiri atas perairan

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikirian Teoritis 3.1.1 Studi Kelayakan Proyek Studi kelayakan proyek adalah penelitian tentang dapat tidaknya suatu proyek (biasanya merupakan proyek investasi)

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. yang dikeluarkan selama produksi, input-input yang digunakan, dan benefit

METODE PENELITIAN. yang dikeluarkan selama produksi, input-input yang digunakan, dan benefit III. METODE PENELITIAN Penelitian ini bersifat kuantitatif, yang banyak membahas masalah biayabiaya yang dikeluarkan selama produksi, input-input yang digunakan, dan benefit yang diterima, serta kelayakan

Lebih terperinci

V. ANALISA MANFAAT DAN BIAYA BUDIDAYA IKAN HIAS AIR TAWAR

V. ANALISA MANFAAT DAN BIAYA BUDIDAYA IKAN HIAS AIR TAWAR V. ANALISA MANFAAT DAN BIAYA BUDIDAYA IKAN HIAS AIR TAWAR Analisa Biaya Manfaat Ikan Hias Air Tawar Layak tidaknya usaha dapat diukur melalui beberapa parameter pengukuran seperti Net Present Value (NPV),

Lebih terperinci

MATERI 7 ASPEK EKONOMI FINANSIAL

MATERI 7 ASPEK EKONOMI FINANSIAL MATERI 7 ASPEK EKONOMI FINANSIAL Analisis kelayakan finansial adalah alat yang digunakan untuk mengkaji kemungkinan keuntungan yang diperoleh dari suatu penanaman modal. Tujuan dilakukan analisis kelayakan

Lebih terperinci

Analisis Kelayakan Finansial Produk Pakan Ternak Sapi Perah di Koperasi Susu Kota Batu

Analisis Kelayakan Finansial Produk Pakan Ternak Sapi Perah di Koperasi Susu Kota Batu Petunjuk Sitasi: Ardianwiliandri, R., Tantrika, C. F., & Arum, N. M. (2017). Analisis Kelayakan Finansial Produk Pakan Ternak Sapi Perah di Koperasi Susu Kota Batu. Prosiding SNTI dan SATELIT 2017 (pp.

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis mengemukakan teori-teori terkait penelitian. Teori-teori tersebut antara lain pengertian proyek, keterkaitan proyek dengan

Lebih terperinci

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL TERHADAP PROFITABILITAS INDUSTRI RUMAH TANGGA ANEKA KUE KERING (STUDI KASUS: INDUSTRI RUMAH TANGGA ONI COOKIES )

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL TERHADAP PROFITABILITAS INDUSTRI RUMAH TANGGA ANEKA KUE KERING (STUDI KASUS: INDUSTRI RUMAH TANGGA ONI COOKIES ) ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL TERHADAP PROFITABILITAS INDUSTRI RUMAH TANGGA ANEKA KUE KERING (STUDI KASUS: INDUSTRI RUMAH TANGGA ONI COOKIES ) Nama : Sonny Suryadi NPM : 36410653 Jurusan : Teknik Industri

Lebih terperinci

6 ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN SURIMI

6 ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN SURIMI 6 ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN SURIMI 6.1 Pendahuluan Industri surimi merupakan suatu industri pengolahan yang memiliki peluang besar untuk dibangun dan dikembangkan. Hal ini didukung oleh adanya

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN 17 BAB III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Proyek adalah suatu kegiatan yang mengeluarkan uang atau biaya-biaya dengan harapan akan memperoleh hasil yang secara logika merupakan wadah

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN. 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis

KERANGKA PEMIKIRAN. 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Kelayakan Studi kelayakan merupakan bahan pertimbangan dalam mengambil suatu keputusan, apakah menerima atau menolak dari suatu gagasan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. Daya Mandiri merencanakan investasi pendirian SPBU di KIIC Karawang.

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. Daya Mandiri merencanakan investasi pendirian SPBU di KIIC Karawang. 42 BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Dalam upaya mengembangkan usaha bisnisnya, manajemen PT Estika Daya Mandiri merencanakan investasi pendirian SPBU di KIIC Karawang. Langkah pertama

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Penentuan Responden

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Penentuan Responden IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Elsari Brownies and Bakery yang terletak di Jl. Pondok Rumput Raya No. 18 Bogor. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Industri perikanan merupakan kegiatan terorganisir yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan serta lingkungannya, mulai dari pra

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian berada di UPR Citomi Desa Tanggulun Barat Kecamatan Kalijati Kabupaten Subang Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Studi Kelayakan Proyek Proyek merupakan suatu kegiatan untuk membangun sistem yang belum ada. Sistem dibangun dahulu oleh proyek, kemudian dioperasionalkan

Lebih terperinci

ANALISIS KELAYAKAN USAHA PEMBENIHAN LARVA IKAN BAWAL AIR TAWAR BEN S FISH FARM CIBUNGBULANG, KABUPATEN BOGOR

ANALISIS KELAYAKAN USAHA PEMBENIHAN LARVA IKAN BAWAL AIR TAWAR BEN S FISH FARM CIBUNGBULANG, KABUPATEN BOGOR ANALISIS KELAYAKAN USAHA PEMBENIHAN LARVA IKAN BAWAL AIR TAWAR BEN S FISH FARM CIBUNGBULANG, KABUPATEN BOGOR SKRIPSI SURAHMAT H34066119 DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

BAB III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Wilayah Kabupaten Lampung Barat pada bulan Januari

BAB III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Wilayah Kabupaten Lampung Barat pada bulan Januari 47 BAB III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan waktu penelitian Penelitian dilaksanakan di Wilayah Kabupaten Lampung Barat pada bulan Januari sampai dengan Februari 2011. 3.2 Bahan dan alat Bahan yang di

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN. Pada bagian ini akan dijelaskan tentang konsep dan teori yang

KERANGKA PEMIKIRAN. Pada bagian ini akan dijelaskan tentang konsep dan teori yang III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Konseptual Pada bagian ini akan dijelaskan tentang konsep dan teori yang berhubungan dengan penelitian studi kelayakan usaha pupuk kompos pada Kelompok Tani

Lebih terperinci

IV. METODOLOGI PENELITIAN. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan

IV. METODOLOGI PENELITIAN. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan IV. METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. Pemilihan lokasi

Lebih terperinci

Berkala Perikanan Terubuk, Februari 2012, hlm ISSN

Berkala Perikanan Terubuk, Februari 2012, hlm ISSN Berkala Perikanan Terubuk, Februari 2012, hlm 45 51 ISSN 0126 4265 Vol. 40. No.1 45 Berkala Perikanan Terubuk, Februari 2012, hlm 45 51 ISSN 0126 4265 Vol. 40. No.1 ANALISIS USAHA DAN POTENSI PENGEMBANGAN

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Penelitian Usaha warnet sebetulnya tidak terlalu sulit untuk didirikan dan dikelola. Cukup membeli beberapa buah komputer kemudian menginstalnya dengan software,

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL KATA PENGANTAR ABSTRAK DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR PUSTAKA BAB I PENDAHULUAN 1

DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL KATA PENGANTAR ABSTRAK DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR PUSTAKA BAB I PENDAHULUAN 1 ABSTRAK Seorang investor pemilik PT X menilai permintaan dan pangsa pasar di kota Bandung terlihat masih menjanjikan untuk bisnis Depot air Minum isi ulang AMIRA. Tetapi sebelum investor menanamkan modalnya

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. A. Konsep Dasar dan Bahan Batasan Operasional. Konsep dasar dan defenisi opresional mencakup pengertian yang

III. METODE PENELITIAN. A. Konsep Dasar dan Bahan Batasan Operasional. Konsep dasar dan defenisi opresional mencakup pengertian yang III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Bahan Batasan Operasional Konsep dasar dan defenisi opresional mencakup pengertian yang dipergunakan untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis merupakan kumpulan teori yang digunakan dalam penelitian. Teori-teori ini berkaitan dengan permasalahan yang ada dalam

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara 65 LAMPIRAN 66 Lampiran 1. Kuisioner Survei Analisis Nilai Ekonomi Tambak Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Pertanian No: Waktu: Hari/Tanggal: A. Identitas Responden / Informan 1. Nama

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Definisi Proyek Menurut Kadariah et al. (1999) proyek merupakan suatu keseluruhan aktivitas yang menggunakan sumber-sumber untuk mendapatkan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Definisi Internet

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Definisi Internet II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Internet Secara harfiah, internet (kependekan dari interconnectednetworking) ialah rangkaian komputer yang terhubung di dalam beberapa rangkaian. Internet juga berarti

Lebih terperinci

BAB V ANALISIS BIAYA PENGERINGAN GABAH MENGUNAKAN PENGERING RESIRKULASI

BAB V ANALISIS BIAYA PENGERINGAN GABAH MENGUNAKAN PENGERING RESIRKULASI BAB V ANALISIS BIAYA PENGERINGAN GABAH MENGUNAKAN PENGERING RESIRKULASI 5.1 PENDAHULUAN Pengembangan usaha pelayanan jasa pengeringan gabah dapat digolongkan ke dalam perencanaan suatu kegiatan untuk mendatangkan

Lebih terperinci

ANALISIS FINANSIAL DAN SENSITIVITAS PETERNAKAN AYAM BROILER PT. BOGOR ECO FARMING, KABUPATEN BOGOR

ANALISIS FINANSIAL DAN SENSITIVITAS PETERNAKAN AYAM BROILER PT. BOGOR ECO FARMING, KABUPATEN BOGOR ANALISIS FINANSIAL DAN SENSITIVITAS PETERNAKAN AYAM BROILER PT. BOGOR ECO FARMING, KABUPATEN BOGOR Abel Gandhy 1 dan Dicky Sutanto 2 Surya University Tangerang Email: abel.gandhy@surya.ac.id ABSTRACT The

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN 16 III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Usaha pengembangan kerupuk Ichtiar merupakan suatu usaha yang didirikan dengan tujuan untuk memanfaatkan peluang yang ada. Melihat dari adanya peluang

Lebih terperinci

Lampiran 1. Impor Ikan Asap Dunia Tahun 2008

Lampiran 1. Impor Ikan Asap Dunia Tahun 2008 LAMPIRAN 133 Lampiran 1. Impor Ikan Asap Dunia Tahun 2008 Lampiran 2. Volume Ekspor Ikan Asap Indonesia Tahun 2005-2008 No Tahun Volume Nilai Value Kenaikan (%) (kg) (US $) 1. 2005 6.384.755 12.278.787

Lebih terperinci