usaha dari segi keuntungan. Analisis finansial dilakukan dengan menggunakan

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "usaha dari segi keuntungan. Analisis finansial dilakukan dengan menggunakan"

Transkripsi

1 34 Roda Mandala Asia Makmur Trass Rumpin Satria Bangun Trass Sirtu Pratama Usaha Andesit Sumber Alfa Prolindo Pasir 4 38 Tarabatuh Manunggal Andesit Wiguna Karya II Trass 2.5 Jumlah Sumber : Dinas Energi Sumberdaya dan Mineral kabupaten Bogor, 2012 IX. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL Analisi finansial bertujuan untuk melihat sejauh mana kelayakan sebuah usaha dari segi keuntungan. Analisis finansial dilakukan dengan menggunakan kriteria-kriteria penilaian investasi seperti Net Present Value (NPV), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C Ratio), Internal Rate Return (IRR), Payback Period (PP). Analisis kriteria tersebut menggunakan arus kas untuk mengetahui besarnya manfaat dan biaya yang dikeluarkan selama periode waktu tertentu. Sebelum membuat arus kas, terlebih dahulu menentukan asumsi-asumsi yang digunakan dan melakukan analisis terhadap inflow dan outflow. 9.1 Asumsi-Asumsi Dasar dalam Analisis Finansial Usaha Pertambangan Asumsi-asumsi dasar yang digunakan dalam analisis finansial penelitian ini yaitu: 1. Modal yang digunakan berasal dari pinjaman 2. Umur proyek sekitar 18 tahun atau sesuai dengan lamanya ijin usaha yang diberikan oleh pemerintah 3. Modal investasi dapat digunakan untuk jangka panjang dan dapat digunakan berulang-ulang, biasanya umurnya lebih dari satu tahun

2 4. Investasi dapat terdiri dari tanah, bangunan, mesin-mesin, peralatan, dan kendaraan 5. Biaya perawatan ditanggung oleh pihak pusat perusahaan 6. Biaya operasional terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap terdiri dari komponen-komponen biaya manajemen kantor. Sedangkan biaya variabel terdiri dari biaya upah tenaga kerja dan seluruh kegiatan berkala perusahaan 7. Dana jaminan reklamasi dibayarkan oleh pihak pusat perusahaan sehingga tidak mempengaruhi arus uang masuk dan keluar pada perusahaan tersebut 8. Peralatan yang dipergunakan seluruh kegiatan perusahaan adalah milik perusahaan 9.2 Analisis Finansial Usaha Pertambangan Pembahasan dalam analisis ini terdiri dari pembahasan terhadap arus penerimaan, arus pengeluaran, dan analisis terhadap kriteria kelayakan investasi Arus Penerimaan Arus penerimaan pada unit usaha pertambangan terdiri atas penerimaan yang diperoleh dari penjualan kayu hutan, produksi split, produksi abu, produksi screening, dan nilai sisa dari investasi di akhir proyek. Penerimaan seluruh hasil produksi andesit diperoleh tiap tahun mulai dari tahun pertama hingga akhir tahun proyek. Penelitian ini mengasumsikan akhir tahun proyek merupakan tahun terakhir ijin kegiatan pertambangan yang diberikan pemerintah terkait berlaku.

3 Arus penerimaan dalam penelitian ini terdiri dari lima jenis, penjelasan lima jenis sumber pemasukan adalah sebagai berikut: 1. Nilai Penjualan Kayu Hutan Penjualan kayu hutan hanya dilakukan pada tahun ke-2. Dari total lahan seluas ha seluruhnya diasumsikan ditebang pada tahun ke-2. Setiap hektarnya diperkirakan berisi 1100 pohon yang dapat dijual. Harga per pohon dinilai seharga Rp karena umur pohon tua dan telah mencapai diameter yang besar. Pada tahun ke-2 pemasukan perusahaan dari penjualan kayu hutan adalah sebanyak Rp Nilai Penjualan Produksi Split Split merupakan salah satu jenis bahan galian C yang diperoleh dari ekstraksi sumberdaya alam. Split diproduksi mulai tahun pertama, yaitu pada tahun Setiap harinya, perusahaan tambang skala besar dalam penelitian ini mampu memproduksi kg split. Jumlah produksi split setiap harinya diasumsikan sama dan stabil dari awal hingga akhir proyek. Harga split yang dijual oleh perusahaan tersebut sekitar per kg. Harga split per kilogram juga diasumsikan sama dan stabil setiap harinya hingga tahun ke-18. Bila dikalkulasikan dan diasumsikan dalam satu tahun perusahaan berproduksi selama 300 hari maka akan diperoleh sebesar Rp sebagai pemasukan perusahaan setiap tahunnya dari hanya memproduksi split. 3. Nilai Penjualan Produksi Abu Abu merupakan salah satu jenis hasil produksi perusahaan tambang galian C. Sama seperti split, abu juga diproduksi dari awal proyek hingga akhir proyek tahun Jumlah produksi abu per hari lebih kecil dari jumlah produksi split,

4 yaitu sekitar kg. Harga abu per kg sebesar Rp Penelitian ini mengasumsikan perusahaan berproduksi selama 300 hari dalam satu tahun serta jumlah produksi dan harga tetap. Setelah melalui perhitungan sederhana, pemasukan yang didapatkan oleh perusahaan tersebut sebesar Rp Nilai Penjualan Produksi Screening Jenis andesit lain yang diproduksi yaitu screening. Produksi screening dilakukan setiap hari sepanjang tahun. Screening setiap hari diproduksi sebanyak kg. Harga screening lebih mahal dari harga abu. Setiap kilogram screening dijual seharga Rp Diasumsikan perusahaan berproduksi 300 hari per tahun, tingkat produksi konstan, dan harga jual konstan. Setelah dikalkulasikan dengan asumsi-asumsi tersebut, maka diperoleh pemasukan perusahaan setiap tahunnya dari produksi screening adalah sebesar Rp Nilai sisa Nilai sisa adalah taksiran nilai aktiva tetap setelah masa taksiran umur ekonomis selesai. Nilai sisa dalam penelitian ini bila ditotal jumlahnya mencapai Rp N Nilai sisa tersebut berasal dari : a. Excavator sebanyak dua unit yang masih memiliki sisa umur ekonomi sebanyak satu tahun. Per unit memiliki nilai sisa Rp , sehingga nilai sisa dua unit excavator bernilai Rp b. Dump Truck sebanyak dua unit juga memiliki sisa umur ekonomi sebanyak satu tahun hingga tahun terakhir proyek. Per unit memiliki nilai

5 sisa Rp per tahun. Sedangkan jika dikonversi dalam dua unit, nilai sisa dump truck menjadi sebesar Rp c. Stone Crusher memiliki nilai sisa satu tahun dari seluruh umur ekonomisnya. Nilai sisa dua unit crusher sebesar Rp d. Grader di perusahaan tersebut memiliki sisa umur ekonomi dua tahun. Sehingga total nilai sisa dari grader adalah Rp e. Loader sebanyak dua unit masih memiliki sisa umur ekonomi satu tahun. Untuk dua unit, nilai sisa loader sebesar Rp f. Drum dari umur ekonominya sebanyak sepuluh tahun memiliki nilai sisa sebanyak dua tahun. Total nilai sisa dari satu unit drum adalah sebesar Rp g. Trolley memiliki umur ekonomi selama sebelas tahun. Hingga akhir proyek, sisa umur ekonomi yang dimiliki sekitar lima tahun. Setelah dikali lima tahun, nilai sisa trolly adalah sebesar Rp h. Cangkul sebanyak lima unit memiliki nilai sisa sebanyak Rp i. Bangunan seluas lima hektar diperkirakan memiliki umur ekonomi selama dua puluh tahun. Hingga akhir tahun proyek, bangunan tersebut masih memiliki sisa umur ekonomi selama dua tahun. Nilai sisa bangunan tersebut sebesar Rp j. Mesin fotokopi sebanyak satu unit memiliki umur ekonomi sebanyak sembilan tahun. Setelah itu, perusahaan akan membeli mesin fotokopi kembali. Pada akhir proyek, mesin fotokopi masih memiliki sisa umur delapan tahun. Nilai sisa mesin fotokopi adalah sebesar Rp

6 k. Komputer yang ada di perusahaan sebanyak sepuluh unit diperkirakan memiliki umur ekonomi sekitar tujuh tahun. Pada akhir tahun proyek, nilai sisa ekonomi dua tahun komputer adalah sebesar Rp l. Tanah seluas ha setelah kegiatan tambang selesai, akan menjadi lahan yang tidak subur. Selain itu, tanah tersebut juga sebagian besar sudah tidah dapat dijadikan lahan pertambangan bahan bahan galian C Arus Pengeluaran Arus pengeluaran pada usaha pertambangan dibagi menjadi dua, yaitu biaya investasi dan biaya operasional. Biaya operasional terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. 1. Biaya Investasi Biaya investasi yang dikeluarkan perusahaan tambang dikeluarkan pada awal kegiatan dan dapat dikeluarkan pada beberapa tahun setelah proyek berjalan untuk memperoleh manfaat kemudian. Biaya investasi terdiri dari empat komponen. Biaya investasi yang pada umumnya dikeluarkan oleh suatu usaha dapat dilihat pada Tabel 16. Proyek pertambangan yang diteliti, memiliki beberapa benda investasi. Investasi yang dimiliki yaitu excavator, dump truck, crusher, pompa air, grader, loader, sekop, drum, trolley, cangkul, bangunan, meja, kursi, lampu, mesin fotokopi, komputer, sofa, meja besar, AC, tanah. Total seluruh investasi sebesar Rp Tabel 12. Komponen Biaya Investasi No. Komponen Struktur/Jenis Biaya 1 Tanah Pembelian tanah dan land clearing, Sewa lahan dibayarkan sekaligus di tahun awal (HGU) 2 Gedung dan prasarana Pembangunan gedung, kantor atau sewa tempat/gedung yang dibayarkan sekaligus di tahun

7 3 Mesin dan peralatan 4 Peralatan kantor awal Pembelian mesin dan peralatan utama Komputer, alat elektronik, dan meubel 2. Biaya Operasional Biaya operasional termasuk semua biaya produksi, pemeliharaan, dan lainnya yang menggambarkan pengeluaran untuk menghasilkan produksi yang digunakan bagi setiap proses produksi dalam satu periode kegiatan produksi. Biaya operasional terdiri dari dua komponen utama yakni, biaya variabel dan biaya tetap. a. Biaya variabel Biaya variabel yaitu biaya yang besar kecilnya selaras dengan perkembangan produksi atau penjualan setiap tahun (satu satuan waktu). Contoh biaya variabel yaitu: 1. Bahan baku : bahan mentah atau bahan setengah jadi yang diperlukan untuk diproses menjadi barang jadi sebagai produk akhir dari bisnis. Dalam penelitian ini, bahan baku tidak termasuk biaya operasional. 2. Sarana produksi : sarana pendukung kegiatan produksi yang dipakai yaitu, bahan peledak. 3. Bahan pembantu : berbagai bahan atau barang yang diperlukan untuk memperlancar proses produksi, seperti Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam hal ini solar. 4. Upah tenaga kerja: upah untuk tenaga kera tidak tetap dalam proses produksi. Upah tenaga kerja yang ada terbagi menjadi dua yaitu upah pegawai tetap dan upah pegawai kontrak.

8 b. Biaya Tetap Biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya tidak terpengaruh oleh perkembangan jumlah produksi atau penjualan dalam satu tahun (satu satuan waktu). Contoh biaya tetap proyek dalam penelitian ini yaitu, listrik, pembabatan lahan, penyiraman jalan sekitar tambang, dan kegiatan CSR Biaya Pemilikan dan Operasi Alat Besar Secara umum, biaya pemilikan dan operasi suatu alat besar dapat digambarkan sebagai berikut: Biaya Pemilikan Depresiasi (Penyusutan) Bunga Modal/Pajak dan Asuransi Biaya Pemilikan dan Operasi Fuel (Bahan Bakar) Lubricant/ Grease/ Filter Biaya Operasi Ban Upah Operator Perbaikan/ Reparasi

9 Hal-hal Khusus Gambar 10. Biaya Pemilikan dan Operasi Alat Besar Tinggi rendahnya biaya pemilikan suatu alat tidak hanya tergantung dari harga alat tersebut, tetapi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: 1. Kondisi medan kerja 2. Tipe Pekerjaan 3. Harga lokal dari bahan-bahan dan minyak pelumas 4. Tingkat bunga 5. Pajak dan asuransi 6. Biaya rupa-rupa Biaya Pemilikan Biaya pemilikan adalah biaya yang menunjukkan jumlah antara penyusutan (depresiasi) alat, bunga ddan asuransi alat. 1. Biaya Penyusutan (Depresiasi) Penyusutan adalah harga modal yang hilang pada suatu peralatan yang disebabkan oleh umur pemakaian. Guna menghitung besarnya penyusutan perlu diketahui terlebih dahulu umur kegunaan dari alat yang bersangkutan dan nilai sisa alat pada batas akhir umur kegunaannya. Terdapat banyak cara yang digunakan adalah straight line method yaituturunnya nilai modal

10 dilakukan dengan pengurangan nilai penyusutan yang sama besarnya sepanjang umur kegunaan dari alat tersebut, sebagai berikut: Depresiasi H M H B H S U K * Untuk alat-alat yang menggunakan crawler, harga ban tidak ada. 2. Bunga Modal, Pajak, dan Asuransi Bunga modal tidak hanya berlaku bagi peralatan yang dibeli dengan sistem kredit, tetapi dapat juga dari uang sendiri yang dianggap sebagai pinjaman. Jangka waktu peminjaman jarang yang lebih dari dua tahun pada saat ini. Besar kecilnya nilai asuransi tergantung pada baru tidaknya peralatan, kondisi medan,kerja, dan tipe pekerjaan yang ditangani. Perhitungan bunga modal, pajak, dan asuransi dapat disatukan dengan menggunakan rumus: Bunga Modal Pajak Asuransi Dimana: Faktor F H M B / J P / n = Umur ekonomi/life time alat (Tahun) r = Nilai sisa alat (%)

11 Biaya Operasi Biaya operasi peralatan adalah biaya yang hanya dikeluarkan apabila alat tersebut dioperasikan. Biaya ini terdiri atas: 1. Bahan Bakar Kebutuhan bahan bakar dan pelumas per jam berbeda untuk setiap alat atau merk dari mesin. Data-data ini biasanya dapat diperoleh dari produsen alat atau dealer alat yang bersangkutan atau dari data lapangan. Pemakaian bahan bakar dan pelumas per jam akan bertambah bila mesin bekerja berat dan berkurang bila bekerja ringan. Biaya bahan bakar dapat dihitung dengan rumus: Biaya Fuel = (Kebutuhan fuel/jam) x (Harga Bahan Bakar/liter) 2. Bahan Pelumas, Gemuk, Saringan(Filter) Untuk kebutuhan bahan-bahan tersebut, seperti pada kebutuhan bahan bakar, masing-masing alat besar dalam kebutuhan per berbeda sesuai dengan kondisi pekerjaan, bahan pelumas yang terdiri atas: oli mesin, oli transmisi, oli hidrolis, oli final drive, dan gemuk. Biaya Bahan Pelumas = Kebutuhan Bahan Pelumas x Harga Pelumas Sedangkan biaya filter biasanya diambil dari 50% dari jumlah pelumas di luar bahan bakar atau dalam rumus hitungan: Biaya /jam Jumlah x Harga Lama Penggantian jam 3. Ban

12 Umur ban terdiri dari alat sangat dipengaruhi oleh medan kerjanya disamping kecepatan dan tekanan angin. Selain itukualitas ban yang digunakan juga berpengaruh. Umur ban biasanya diperkirakan sesuai kondisi medan kerjanya. Ban Harga Ban Umur Kegunaan 4. Perbaikan (Reparasi) Biaya perbaikan ini merupakan biaya perbaikan dan perawatan alat sesuai dengan kondisi operasinya. Makin keras alat bekerja per jam makin besar pula biaya operasinya. Biaya perbaikan alat dapat ditentukan dengan menggunakan formula berikut: Biaya Reparasi 5. Hal-hal Khusus faktor Perbaikan x Harga Mesin Harga Ban Umur Kegunaan Alat Beberapa parts yang kehausannya lebih cepat dibanding parts lainnya tidak termasuk dalam biaya perbaikan, tetapi diamsukkan dalam hal-hal khusus. 6. Upah Operator Salah satu cara untuk menghitung upah operator per jam adalah: Upah Operator Upah Operator Pembantu/bulan Jam Operasi/bulan Analisis Kelayakan Usaha Sebelum Adanya Kompensasi

13 Kriteria investasi yang digunakan dalam menilai kelayakan finansial ini terdiri dari Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), Payback Period (PP). Untuk menentukan layak atau tidaknya proyek tersebut berjalan, perlu diperhitungkan pada perubahan nilai uangterhadap waktu atau faktor diskonto. Hal ini dikarenakan proyeksi arus uang yang dilakukan untuk menghitung kriteria kelayakan usaha tersebut diproyeksikan hingga jangka waktu yang panjang. Selama umur proyek tersebut, nilai uang akan terus berubah sehingga perlu digunkan metode yang dapat memperhitungkan perubahan nilai uang terhadap waktu tersebut. Dengan teknik tersebut, nilai manfaat dan biaya pada masa mendatang dturunkan menjadi nilai manfaat dan biaya pada masa sekarang. a. Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return, Net Benefit Cost Ratio, Payback Period Net Present Value (NPV) adalah perbedaan antara nilai sekarang dari manfaat dan biaya suatu proyek. Untuk memperhitungkan perubahan nilai uang terhadap waktu, digunakan tingkat diskonto (discount rate) 12.51% yang merupakan tingkat suku bunga pinjaman rata-rata pada Bulan April. Internal Rate of Return atau tingkat pengembalian internal merupakan tingkat kemampuan proyek untuk menghasilkan keuntungan dan dapat dinyatakan sebagai tingkat diskonto, dalam hal ini suku bunga (pinjaman bank) yang menghasilkan nilai NPV sama dengan nol. Net Benefit Cost Ratio merupakan perbandingan antara net benefit yang telah di discount positif dengan net benefit yang telah di discount negatif. Net B/C digunakan untuk ukuran tentang efisiensi penggunaan modal. Payback Period adalah jangka waktu

14 tertentu yang menunjukan terjadinya arus penerimaan secara kumulatif sama dengan jumlah investasi dalam bentuk present value atau nilai sekarang. Analisis PP ini akan menunjukkan berapa lama waktu yang diperlukan usaha tambang bahan galian C yang dikerjakan untuk dapat mengembalikan nilai investasi. Tingkat diskonto 12.51%, NPV diperoleh pada usaha pertambangan andesit bernilai positif dengan nilai Rp berdasarkan kriteria investasi, maka usaha tersebut dinyatakan layak karena memiliki nilai NPV>0. Menurut perhitungan, Net B/C bernilai nilai Net B/C tersebut yang lebih besar dari nol menunjukkan bahwa NPV = 0, maka proyek pertambangan tersebut dapat dinilai menguntungkan. Nilai IRR yang diperoleh adalah sebesar 17%. nilai tersebut mencerminkan tingkat suku bunga maksimal yang dapat dibayar oleh proyek untuk sumberdaya yang digunakan oleh perusahaan tersebut adalah sebesar 17%. Nilai payback period yang diperoleh dari hasil perhitungan adalah sebesar Payback period merupakan salah satu metode dalam menilai kelayakan suatu usaha yang digunakan untuk mengukur periode jangka waktu pengembalian modal. Semakin cepat modal itu kembali dapat dipakai untuk membiayai kegiatan lain (Husnan dan Suwarsono 2000). Nilai PP sebesar 4.90 dalam perhitungan menunjukkan bahwa modal perusahaan tambang yang diteliti hanya perlu menjalankan usaha selama 4.90 tahun atau selama 4 tahun dan 11 bulan untuk mendapat pengembalian modal usaha. Dari semua kriteria kelayakan usaha, perusahaan tambang skala tersebut dapat dinilai baik untuk dijalankan jika melihat pada keuntungan yang diperoleh.

15 Berdasarkan hasil cashflow, hanya pada tahun ke-1 perusahaan mengalami kerugian sedangkan pada tahun berikutnya hingga akhir tahun proyek, perusahaan mendapatkan keuntungan yang relatif besar. b. Kriteria Kelayakan Usaha Kriteria kelayakan usaha pada perusahaan tambang bahan galian C ini terdiri dari empat, yaitu penilaian terhadap NPV, IRR, Net B/C, dan PP. Setelah melakukan perhitungan pada arus uang masuk dan arus uang keluar selama umur proyek, diperoleh hasil bahwa selisih arus masuk dengan arus keluar bernilai negatif ketika tahun ke-1. Hal tersebut dikarenakan perusahaan banyak mengeluarkan uang untuk membeli investasi dalam jumlah yang besar sedangkan produksi belum berjalan sehingga pemasukan minim. Tetapi setelah tahun pertama hingga akhir tahun proyek, perusahaan terus mendapatkan laba positif dengan nilai yang tinggi. Laba yang tinggi tersebut membuat perusahaan tambang bahan galian C tersebut layak secara finansial untuk dijalankan. Perhitungan nilai kriteria kelayakan investasi tersebut dapat dilihat pada proyeksi arus kas usaha tambang di Lampiran 5. Walaupun perusahaan tersebut layak secara finansial, belum tentu perusahaan tersebut layak secara ekonomi. Kelayakan ekonomi dipengaruhi perhitungan dari kondisi kerusakan lingkungan sekitar proyek yang terjadi. Jika nilai ganti rugi kerusakan jalan dimasukkan dalam perhitungan pada akhir tahun proyek, perusahaan tersebut masih dapat dikatakan layak secara ekonomi. Hal tersebut karena pada akhir tahun, perusahaan masih memiliki nilai laba positif.

16 Seharusnya karena perusahaan tersebut dapat dikatakan layak, maka perusahaan mau memberi kompensasi dalam hal perbaikan jalan kecamatan. Terlebih lagi, pada dasarnya nilai perbaikan jalan tersebut seharusnya dilakukan oleh puluhan perusahaan tambang yang ada di Kecamatan Rumpin. Selain perusahaan, pemerintahpun seharusnya ikut serta dalam perbaikan jalan, karena perusahaan tambang tersebut telah membayarkan pajak kepada pemerintah. c. Kelayakan Usaha pada Tiga Skenario Selain dengan menggunakan tingkat suku bunga pinjaman sebesar 12.52%, dalam tiga skenario ini juga menggunakan BI rate, dan suku bunga deposito. Tabel 13. Kriteria Kelayakan Usaha Sebelum Adanya Kompensasi Suku Bunga Kriteria Kelayakan Finansial 12.51% 5.75% 5.42% NPV (Rp) Net B/C IRR 17% 25% 25% Payback Period Sumber : Olahan Peneliti (2012) Tiga skenario ini dibedakan dari tingkat suku bunga. Hasil kelayakan usaha dengan dipengaruhi tiga suku bunga terlihat pada Tabel 17. Pada Tabel

17 17. dengan suku bunga deposito dan suku bunga Bank Indonesia, perusahaan masih dapat dikatakan layak secara finansial. Jika menggunakan tingkat suku bunga BI sebesar 5.75%, NPV diperoleh pada usaha pertambangan andesit bernilai positif dengan nilai Rp berdasarkan kriteria investasi, maka usaha tersebut dinyatakan layak karena memiliki nilai NPV>0. Menurut perhitungan, Net B/C bernilai nilai Net B/C tersebut yang lebih besar dari nol menunjukkan bahwa NPV = 0, maka proyek pertambangan tersebut dapat dinilai menguntungkan. Nilai IRR yang diperoleh adalah sebesar 25%. nilai tersebut mencerminkan tingkat suku bunga maksimal yang dapat dibayar oleh proyek untuk sumberdaya yang digunakan oleh perusahaan tersebut adalah sebesar 25%. Nilai payback period yang diperoleh dari hasil perhitungan adalah sebesar Payback period merupakan salah satu metode dalam menilai kelayakan suatu usaha yang digunakan untuk mengukur periode jangka waktu pengembalian modal. Semakin cepat modal itu kembali dapat dipakai untuk membiayai kegiatan lain (Husnan dan Suwarsono 2000). Nilai PP sebesar 6.50 dalam perhitungan menunjukkan bahwa modal perusahaan tambang yang diteliti hanya perlu menjalankan usaha selama 6.50 tahun atau selama 6 tahun dan 6 bulan untuk mendapat pengembalian modal usaha. Jika menggunakan tingkat suku bunga deposito sebesar 5.42%, NPV diperoleh pada usaha pertambangan andesit bernilai positif dengan nilai Rp berdasarkan kriteria investasi, maka usaha tersebut dinyatakan layak karena memiliki nilai NPV>0. Menurut perhitungan, Net B/C bernilai nilai Net B/C tersebut yang lebih besar dari nol

18 menunjukkan bahwa NPV = 0, maka proyek pertambangan tersebut dapat dinilai menguntungkan. Nilai IRR yang diperoleh adalah sebesar 25%. nilai tersebut mencerminkan tingkat suku bunga maksimal yang dapat dibayar oleh proyek untuk sumberdaya yang digunakan oleh perusahaan tersebut adalah sebesar 25%. Nilai payback period yang diperoleh dari hasil perhitungan adalah sebesar Payback period merupakan salah satu metode dalam menilai kelayakan suatu usaha yang digunakan untuk mengukur periode jangka waktu pengembalian modal. Semakin cepat modal itu kembali dapat dipakai untuk membiayai kegiatan lain (Husnan dan Suwarsono 2000). Nilai PP sebesar 6.55 dalam perhitungan menunjukkan bahwa modal perusahaan tambang yang diteliti hanya perlu menjalankan usaha selama 6.55 tahun atau selama 6 tahun dan 7 bulan untuk mendapat pengembalian modal usaha Analisis Kelayakan Usaha Setelah Adanya Kompensasi Jika kompensasi untuk masyarakat dianggap tidak ada karena rata-rata keuntungan yang diperoleh setiap kepala keluarga lebih besar dari kerugian ratarata yang harus ditanggung masyarakat. Walaupun begitu, responden yang merasakan manfaat dari pertambangan tidak sampai setengah dari responden. Sebagian besar responden yang merasakan manfaat kegiatan pertambangan adalah hanya warga yang tinggal di pinggir jalan, di sekitar perusahaan-perusahaan tambang. Faktanya, lebih banyak warga yang tempat tinggalnya tinggal di dalam gang kecil, bukan di pinggir jalan.

19 Biaya kompensasi kerusakan jalan untuk kecamatan sebesar Rp Biaya tersebut merupakan tota biaya yang harus dikeluarkan oleh seluruh pelaku tambang bahan galian C di Kecamatan Rumpin. Jumlah seluruh pelaku tambang di Kecamatan Rumpin adalah 39. Bila dibagi dengan angka tersebut, maka biaya kompensasi yang harus dikeluarkan setiap perusahaan adalah sebesar Rp Seharusnya perusahaan dengan skala berbeda, membayar kompensasi dengan jumlah yang berbeda. Akan tetapi, karena skala produksi perusahaan tidak diketahui (skala produksi diasumsikan sama), maka besarnya biaya kompensasi yang harus dikeluarkan perusahaan diasumsikan sama. Bila besaran kompensasi tersebut dimasukkan dalam perhitungan kelayak usaha dengan menggunakan tiga skenario, maka didapatkan hasil kelayakan usaha seperti pada tabel 18. Selain kompensasi, perusahaan juga harus membayar biaya reklamasi sebesar Rp selama 14 tahun waktu reklamasi. Tabel 14. Kriteria Kelayakan Usaha Setelah Adanya Kompensasi Suku Bunga Kriteria Kelayakan 12.51% 5.75% 5.42% Finansial NPV (Rp) Net B/C IRR 14% 21% 22% Payback Period Sumber : Olahan Peneliti (2012) Tingkat diskonto 12.51%, NPV diperoleh pada usaha pertambangan andesit bernilai positif dengan nilai Rp berdasarkan kriteria investasi, maka usaha tersebut dinyatakan layak karena memiliki nilai NPV>0. Menurut perhitungan, Net B/C bernilai nilai Net B/C tersebut yang lebih

20 besar dari nol menunjukkan bahwa NPV = 0, maka proyek pertambangan tersebut dapat dinilai menguntungkan. Nilai IRR yang diperoleh adalah sebesar 14%. nilai tersebut mencerminkan tingkat suku bunga maksimal yang dapat dibayar oleh proyek untuk sumberdaya yang digunakan oleh perusahaan tersebut adalah sebesar 14%. Nilai payback period yang diperoleh dari hasil perhitungan adalah sebesar Payback period merupakan salah satu metode dalam menilai kelayakan suatu usaha yang digunakan untuk mengukur periode jangka waktu pengembalian modal. Semakin cepat modal itu kembali dapat dipakai untuk membiayai kegiatan lain (Husnan dan Suwarsono 2000). Nilai PP sebesar 5.20 dalam perhitungan menunjukkan bahwa modal perusahaan tambang yang diteliti hanya perlu menjalankan usaha selama 5.20 tahun atau selama 5 tahun 3 bulan untuk mendapat pengembalian modal usaha. Jika menggunakan suku bunga deposito dan suku bunga Bank Indonesia, perusahaan masih dapat dikatakan layak secara finansial. Jika menggunakan tingkat suku bunga BI sebesar 5.75%, NPV diperoleh pada usaha pertambangan andesit bernilai positif dengan nilai Rp berdasarkan kriteria investasi, maka usaha tersebut dinyatakan layak karena memiliki nilai NPV>0. Menurut perhitungan, Net B/C bernilai Nilai Net B/C tersebut yang lebih besar dari nol menunjukkan bahwa NPV = 0, maka proyek pertambangan tersebut dapat dinilai menguntungkan. Nilai IRR yang diperoleh adalah sebesar 21%. nilai tersebut mencerminkan tingkat suku bunga maksimal yang dapat dibayar oleh proyek untuk sumberdaya yang digunakan oleh perusahaan tersebut adalah sebesar 21%.

21 Nilai payback period yang diperoleh dari hasil perhitungan adalah sebesar Payback period merupakan salah satu metode dalam menilai kelayakan suatu usaha yang digunakan untuk mengukur periode jangka waktu pengembalian modal. Semakin cepat modal itu kembali dapat dipakai untuk membiayai kegiatan lain (Husnan dan Suwarsono 2000). Nilai PP sebesar 7.07 dalam perhitungan menunjukkan bahwa modal perusahaan tambang yang diteliti hanya perlu menjalankan usaha selama 7.07 tahun atau selama 7 tahun 1 bulan untuk mendapat pengembalian modal usaha. Jika menggunakan tingkat suku bunga deposito sebesar 5.42%, NPV diperoleh pada usaha pertambangan andesit bernilai positif dengan nilai Rp berdasarkan kriteria investasi, maka usaha tersebut dinyatakan layak karena memiliki nilai NPV>0. Menurut perhitungan, Net B/C bernilai nilai Net B/C tersebut yang lebih besar dari nol menunjukkan bahwa NPV = 0, maka proyek pertambangan tersebut dapat dinilai menguntungkan. Nilai IRR yang diperoleh adalah sebesar 22%. Nilai tersebut mencerminkan tingkat suku bunga maksimal yang dapat dibayar oleh proyek untuk sumberdaya yang digunakan oleh perusahaan tersebut adalah sebesar 22%. Nilai payback period yang diperoleh dari hasil perhitungan adalah sebesar Payback period merupakan salah satu metode dalam menilai kelayakan suatu usaha yang digunakan untuk mengukur periode jangka waktu pengembalian modal. Semakin cepat modal itu kembali dapat dipakai untuk membiayai kegiatan lain (Husnan dan Suwarsono 2000). Nilai PP sebesar 7.13 dalam perhitungan menunjukkan bahwa modal perusahaan tambang yang diteliti hanya perlu

22 menjalankan usaha selama 7.13 tahun atau selama 7 tahun dan 2 bulan untuk mendapat pengembalian modal usaha Perbandingan Analisis Kelayakan Usaha Sebelum dan Setelah Adanya Kompensasi Hasil analisis kelayakan usaha pertambangan bahan galian C dalam penelitian ini ketika sebelum dimasukkannya biaya kompensasi kerusakan jalan, dapat dikatakan layak secara finansial. Kelayakan secara finansial tersebut juga masih berlaku ketika perusahaan sudah mengeluarkan sebagian keuntungan bersihnya untuk kompensasi kerusakan jalan. Hal tersebut dikarenakan keuntungan bersih perusahaan tambang yang sangat besar setiap tahunnya, sehingga biaya kompensasi atas rusaknya jalan Kecamatan Rumpin tidak mengakibatkan perusahaan mengalami kerugian dan dikatakan tidak layak secara finansial. Bila tabel hasil analisis kelayakan usaha pertambangan bahan galian C dalam penelitian ini dibandingkan, akan terlihat bahwa keduanya memiliki nilai yang sama. Hanya sebagian kecil hasil perhitungan yang menunjukkan adanya perbedaan antara sebelum dan setelah pembayaran kompensasi kerusakan jalan. Perbedaan hasil tersebut hanya terlihat dalam skenario satu, pada tingkat suku bunga sebesar 12.51%. Sebelum biaya kompensasi dimasukkan, NPV sebesar Rp Sedangkan ketika setelah biaya kompensai dimasukkan NPV menjadi Rp Dari hasil tersebut, terlihat bahwa biaya kompensasi yang dibayarkan tidak mengakibatkan perusahaan tambang tidak layak secara finansial.

23 Nilai IRR sebelum adanya biaya kompensasi yaitu 17%, sedangkan ketika setelah adanya biaya kompensasi kerusakan jalan berkurang menjadi sebesar 14%. Pada payback period, sebelum dikenakan biaya kompensasi hasilnya sebesar Setelah ditambahkannya biaya kompensasi, nilai payback period menjadi Payback period setelah ditambah biaya kompensasi menjadi lebih besar, karena biaya yang seharusnya dapat digunakan sebagai pengganti biaya investasi digunakan untuk kompensasi. Net B/C sebelum adanya kompensasi adalah sebesar 1.1. Net B/C setelah adanya biaya kompensasi menjadi sebesar Keempat kriteria kelayakan finansial menunjukan perusahaan tambang tersebut dapat dikatakan layak secara finansial sebelum dan setelah adanya biaya kompensasi dan restorasi.

VIII. KOMPENSASI REKLAMASI LAHAN BEKAS TAMBANG DENGAN METODE HEA. 8.1 Skenario Kompensasi Lahan Bekas Tambang

VIII. KOMPENSASI REKLAMASI LAHAN BEKAS TAMBANG DENGAN METODE HEA. 8.1 Skenario Kompensasi Lahan Bekas Tambang VIII. KOMPENSASI REKLAMASI LAHAN BEKAS TAMBANG DENGAN METODE HEA 8.1 Skenario Kompensasi Lahan Bekas Tambang Pendekatan pengukuran kompensasi kerusakan sumber daya alam bisa dilakukan melalui dua pendekatan

Lebih terperinci

VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL Analisis kelayakan finansial dilakukan untuk mengetahui kelayakan pembesaran ikan lele sangkuriang kolam terpal. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam aspek finansial

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengumpulan Data

METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengumpulan Data IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian dilakukan di Usaha Mi Ayam Bapak Sukimin yang terletak di Ciheuleut, Kelurahan Tegal Lega, Kota Bogor. Lokasi penelitian diambil secara sengaja (purposive)

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN. (Purposive) dengan alasan daerah ini cukup representatif untuk penelitian yang

METODOLOGI PENELITIAN. (Purposive) dengan alasan daerah ini cukup representatif untuk penelitian yang IV. METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Tempat dan Waktu Penelitian Pengambilan data dilakukan pada bulan Februari sampai dengan bulan Maret 2011, bertempat di Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor,

Lebih terperinci

VIII. ANALISIS FINANSIAL

VIII. ANALISIS FINANSIAL VIII. ANALISIS FINANSIAL Analisis aspek finansial bertujuan untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan dengan membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan.

Lebih terperinci

VII. ANALISIS FINANSIAL

VII. ANALISIS FINANSIAL VII. ANALISIS FINANSIAL Usaha peternakan Agus Suhendar adalah usaha dalam bidang agribisnis ayam broiler yang menggunakan modal sendiri dalam menjalankan usahanya. Skala usaha peternakan Agus Suhendar

Lebih terperinci

MATERI 7 ASPEK EKONOMI FINANSIAL

MATERI 7 ASPEK EKONOMI FINANSIAL MATERI 7 ASPEK EKONOMI FINANSIAL Analisis kelayakan finansial adalah alat yang digunakan untuk mengkaji kemungkinan keuntungan yang diperoleh dari suatu penanaman modal. Tujuan dilakukan analisis kelayakan

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN. Pada bagian ini akan dijelaskan tentang konsep dan teori yang

KERANGKA PEMIKIRAN. Pada bagian ini akan dijelaskan tentang konsep dan teori yang III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Konseptual Pada bagian ini akan dijelaskan tentang konsep dan teori yang berhubungan dengan penelitian studi kelayakan usaha pupuk kompos pada Kelompok Tani

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Data dan Instrumentasi 4.3. Metode Pengumpulan Data

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Data dan Instrumentasi 4.3. Metode Pengumpulan Data IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian mengambil tempat di kantor administratif Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Jawa Barat yang berlokasi di Kompleks Pasar Baru Lembang

Lebih terperinci

VII. PEMBAHASAN ASPEK FINANSIAL

VII. PEMBAHASAN ASPEK FINANSIAL VII. PEMBAHASAN ASPEK FINANSIAL 7.1. Proyeksi Arus Kas (Cashflow) Proyeksi arus kas merupakan laporan aliran kas yang memperlihatkan gambaran penerimaan (inflow) dan pengeluaran kas (outflow). Dalam penelitian

Lebih terperinci

VIII. ANALISIS FINANSIAL

VIII. ANALISIS FINANSIAL VIII. ANALISIS FINANSIAL Analisis finansial bertujuan untuk menghitung jumlah dana yang diperlukan dalam perencanaan suatu industri melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan dengan membandingkan

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Dian Layer Farm yang terletak di Kampung Kahuripan, Desa Sukadamai, Kecamatan Darmaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pemilihan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian Kerangka pemikiran penelitian ini diawali dengan melihat potensi usaha yang sedang dijalankan oleh Warung Surabi yang memiliki banyak konsumen

Lebih terperinci

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL Pada penelitian ini dilakukan analisis kelayakan finansial untuk mengetahui kelayakan pengusahaan ikan lele phyton, serta untuk mengetahui apakah usaha yang dilakukan pada

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Pada bagian ini dijelaskan tentang konsep yang berhubungan dengan penelitian kelayakan Usaha pembenihan dan pembesaran ikan lele Sangkuriang di

Lebih terperinci

6 ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN SURIMI

6 ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN SURIMI 6 ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN SURIMI 6.1 Pendahuluan Industri surimi merupakan suatu industri pengolahan yang memiliki peluang besar untuk dibangun dan dikembangkan. Hal ini didukung oleh adanya

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Peternakan Domba Tawakkal, yang terletak di Jalan Raya Sukabumi, Desa Cimande Hilir No.32, Kecamatan Caringin, Kabupaten

Lebih terperinci

PENYUSUNAN CASH FLOW BISNIS DAN LAPORAN LABA/RUGI DEPARTEMEN AGRIBISNIS FEM - IPB

PENYUSUNAN CASH FLOW BISNIS DAN LAPORAN LABA/RUGI DEPARTEMEN AGRIBISNIS FEM - IPB PENYUSUNAN CASH FLOW BISNIS DAN LAPORAN LABA/RUGI DEPARTEMEN AGRIBISNIS FEM - IPB Penerimaan dan pengeluaran dalam bisnis merupakan komponen yang sangat penting untuk melihat aktivitas yang berlangsung

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Restoran Pastel and Pizza Rijsttafel yang terletak di Jalan Binamarga I/1 Bogor. Pemilihan tempat penelitian ini dilakukan

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1.Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Kelayakan Proyek Menurut Husnan dan Suwarsono (2000), proyek pada dasarnya merupakan kegiatan yang menyangkut pengeluaran modal (capital

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian

IV. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Peternakan Maju Bersama, Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2 Jenis dan Sumber Data 4.3 Metode Penentuan Narasumber

IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2 Jenis dan Sumber Data 4.3 Metode Penentuan Narasumber IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di peternakan milik Bapak Sarno yang bertempat di Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa barat. Pemilihan lokasi

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah penulis uraikan dalam bab sebelumnya, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Sampai

Lebih terperinci

VII. RENCANA KEUANGAN

VII. RENCANA KEUANGAN VII. RENCANA KEUANGAN Rencana keuangan bertujuan untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan dengan membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan. Untuk melakukan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Tanaman kehutanan adalah tanaman yang tumbuh di hutan yang berumur

III. METODE PENELITIAN. Tanaman kehutanan adalah tanaman yang tumbuh di hutan yang berumur 47 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Metode Pengambilan Responden 4.3. Desain Penelitian

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Metode Pengambilan Responden 4.3. Desain Penelitian IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Desa Blendung, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi ini ditentukan secara sengaja (purposive)

Lebih terperinci

ASPEK FINANSIAL Skenario I

ASPEK FINANSIAL Skenario I VII ASPEK FINANSIAL Setelah menganalisis kelayakan usaha dari beberapa aspek nonfinansial, analisis dilanjutkan dengan melakukan analisis kelayakan pada aspek finansial yaitu dari aspek keuangan usaha

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN IV. METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Pengambilan data dilakukan di Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara sengaja (purposive), dengan pertimbangan

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di perusahaan peternakan sapi perah di CV. Cisarua Integrated Farming, yang berlokasi di Kampung Barusireum, Desa Cibeureum, Kecamatan

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di PT Mekar Unggul Sari, Kabupaten Bogor. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) dengan alasan

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoretis Kerangka pemikiran teoretis merupakan suatu penalaran peneliti yang didasarkan pada pengetahuan, teori, dalil, dan proposisi untuk menjawab suatu

Lebih terperinci

Aspek Ekonomi dan Keuangan. Pertemuan 11

Aspek Ekonomi dan Keuangan. Pertemuan 11 Aspek Ekonomi dan Keuangan Pertemuan 11 Aspek Ekonomi dan Keuangan Aspek ekonomi dan keuangan membahas tentang kebutuhan modal dan investasi yang diperlukan dalam pendirian dan pengembangan usaha yang

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Kota depok yang memiliki 6 kecamatan sebagai sentra produksi Belimbing Dewa. Namun penelitian ini hanya dilakukan pada 3 kecamatan

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Analisis Kelayakan Usaha Analisis Kelayakan Usaha atau disebut juga feasibility study adalah kegiatan untuk menilai sejauh mana manfaat

Lebih terperinci

3 METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Metode Penelitian 3.4 Metode Pengambilan Responden 3.5 Metode Pengumpulan Data

3 METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Metode Penelitian 3.4 Metode Pengambilan Responden 3.5 Metode Pengumpulan Data 19 3 METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian di lapangan dilakukan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu, Sukabumi Jawa Barat. Pengambilan data di lapangan dilakukan selama 1 bulan,

Lebih terperinci

IV METODOLOGI PENELITIAN

IV METODOLOGI PENELITIAN IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di sebuah lokasi yang berada Desa Kanreapia Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa, Propinsi Sulawesi Selatan. Pemilihan lokasi

Lebih terperinci

METODE PERBANDINGAN EKONOMI. Pusat Pengembangan Pendidikan - Universitas Gadjah Mada

METODE PERBANDINGAN EKONOMI. Pusat Pengembangan Pendidikan - Universitas Gadjah Mada METODE PERBANDINGAN EKONOMI METODE BIAYA TAHUNAN EKIVALEN Untuk tujuan perbandingan, digunakan perubahan nilai menjadi biaya tahunan seragam ekivalen. Perhitungan secara pendekatan : Perlu diperhitungkan

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis mengemukakan teori-teori terkait penelitian. Teori-teori tersebut antara lain pengertian proyek, keterkaitan proyek dengan

Lebih terperinci

VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL

VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL Menganalisis kelayakan suatu proyek atau usaha dari segi keuangan dapat mengunakan. Analisis finansial. Adapun kriteria kriteria penilaian investasi yang dapat digunakan yaitu

Lebih terperinci

BAB IV KERANGKA PEMIKIRAN

BAB IV KERANGKA PEMIKIRAN 23 BAB IV KERANGKA PEMIKIRAN 4.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 4.1.1 Studi Kelayakan Usaha Proyek atau usaha merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan manfaat (benefit) dengan menggunakan sumberdaya

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian dilakukan di Kampung Budaya Sindangbarang, Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Kelayakan Proyek Proyek memiliki beberapa pengertian. Menurut Kadariah et al. (1999) proyek ialah suatu keseluruhan aktivitas yang menggunakan

Lebih terperinci

BAB V. Kesimpulan Dan Saran

BAB V. Kesimpulan Dan Saran BAB V Kesimpulan Dan Saran 5.1 Kesimpulan Berdasarkan penelitian dan pembahasan yang dilakukan penulis, maka dapat diperoleh kesimpulan antara lain: 1. Kebutuhan dana untuk investasi awal untuk proyek

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Analisis Investasi Tambang Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan dan pengusahaan endapan bahan galian yang meliputi

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penelitian dilaksanankan selama 3 bulan, yaitu mulai bulan Juli - September 2010. Objek yang dijadikan sebagai lokasi penelitian adalah usaha

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN. Menurut Kadariah (2001), tujuan dari analisis proyek adalah :

III. KERANGKA PEMIKIRAN. Menurut Kadariah (2001), tujuan dari analisis proyek adalah : III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Analisis Kelayakan Investasi Pengertian Proyek pertanian menurut Gittinger (1986) adalah kegiatan usaha yang rumit karena penggunaan sumberdaya

Lebih terperinci

ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI USAHA PERSEWAAN CRAWLER TRACTOR DI KOTA Y. Pingkan Ane Kristy Pratasis ABSTRAK

ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI USAHA PERSEWAAN CRAWLER TRACTOR DI KOTA Y. Pingkan Ane Kristy Pratasis ABSTRAK ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI USAHA PERSEWAAN CRAWLER TRACTOR DI KOTA Y Pingkan Ane Kristy Pratasis ABSTRAK Alat berat merupakan faktor penting di dalam proyek, terutama proyek proyek konstruksi dengan

Lebih terperinci

Bab 6 Teknik Penganggaran Modal (Bagian 1)

Bab 6 Teknik Penganggaran Modal (Bagian 1) M a n a j e m e n K e u a n g a n 96 Bab 6 Teknik Penganggaran Modal (Bagian 1) Mahasiswa diharapkan dapat memahami, menghitung, dan menjelaskan mengenai penggunaan teknik penganggaran modal yaitu Payback

Lebih terperinci

BAB V HASIL ANALISA. dan keekonomian. Analisis ini dilakukan untuk 10 (sepuluh) tahun. batubara merupakan faktor lain yang juga menunjang.

BAB V HASIL ANALISA. dan keekonomian. Analisis ini dilakukan untuk 10 (sepuluh) tahun. batubara merupakan faktor lain yang juga menunjang. BAB V HASIL ANALISA 5.1 ANALISIS FINANSIAL Untuk melihat prospek cadangan batubara PT. XYZ, selain dilakukan tinjauan dari segi teknis, dilakukan juga kajian berdasarkan aspek keuangan dan keekonomian.

Lebih terperinci

VII. ANALISIS ASPEK FINANSIAL

VII. ANALISIS ASPEK FINANSIAL VII. ANALISIS ASPEK FINANSIAL Analisis aspek finansial digunakan untuk menganalisis kelayakan suatu proyek atau usaha dari segi keuangan. Analisis aspek finansial dapat memberikan perhitungan secara kuantatif

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. ini yang dianalisis adalah biaya, benefit, serta kelayakan usahatani lada putih yang

METODE PENELITIAN. ini yang dianalisis adalah biaya, benefit, serta kelayakan usahatani lada putih yang III. METODE PENELITIAN A. Metode Dasar Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis, yang merupakan suatu metode penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN. 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis

KERANGKA PEMIKIRAN. 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Kelayakan Studi kelayakan merupakan bahan pertimbangan dalam mengambil suatu keputusan, apakah menerima atau menolak dari suatu gagasan

Lebih terperinci

VII. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL

VII. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL VII. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL Analisis finansial dilakukan untuk melihat sejauh mana CV. Usaha Unggas dapat dikatakan layak dari aspek finansial. Penilaian layak atau tidak usaha tersebut dari

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

IV METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di peternakan kambing perah Prima Fit yang terletak di Desa Cibuntu, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Lebih terperinci

KONSEP DAN METODE PENILAIAN INVESTASI

KONSEP DAN METODE PENILAIAN INVESTASI KONSEP DAN METODE PENILAIAN INVESTASI 4.1. KONSEP INVESTASI Penganggaran modal adalah merupakan keputusan investasi jangka panjang, yang pada umumnya menyangkut pengeluaran yang besar yang akan memberikan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. Daya Mandiri merencanakan investasi pendirian SPBU di KIIC Karawang.

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. Daya Mandiri merencanakan investasi pendirian SPBU di KIIC Karawang. 42 BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Dalam upaya mengembangkan usaha bisnisnya, manajemen PT Estika Daya Mandiri merencanakan investasi pendirian SPBU di KIIC Karawang. Langkah pertama

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Definisi Internet

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Definisi Internet II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Internet Secara harfiah, internet (kependekan dari interconnectednetworking) ialah rangkaian komputer yang terhubung di dalam beberapa rangkaian. Internet juga berarti

Lebih terperinci

VII. KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL

VII. KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL VII. KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL Kelayakan aspek finansial merupakan analisis yang mengkaji kelayakan dari sisi keuangan suatu usaha. Aspek ini sangat diperlukan untuk mengetahui apakah usaha budidaya nilam

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis mengemukakan teori-teori terkait penelitian. Teori-teori tersebut antara lain pengertian proyek, keterkaitan proyek dengan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Studi Kelayakan Proyek Dalam menilai suatu proyek, perlu diadakannya studi kelayakan untuk mengetahui apakah proyek tersebut layak untuk dijalankan atau tidak. Dan penilaian tersebut

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. yang dikeluarkan selama produksi, input-input yang digunakan, dan benefit

METODE PENELITIAN. yang dikeluarkan selama produksi, input-input yang digunakan, dan benefit III. METODE PENELITIAN Penelitian ini bersifat kuantitatif, yang banyak membahas masalah biayabiaya yang dikeluarkan selama produksi, input-input yang digunakan, dan benefit yang diterima, serta kelayakan

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Penentuan Responden

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Penentuan Responden IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Elsari Brownies and Bakery yang terletak di Jl. Pondok Rumput Raya No. 18 Bogor. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Pada akhirnya setelah penulis melakukan penelitian langsung ke perusahaan serta melakukan perhitungan untuk masing-masing rumus dan mencari serta mengumpulkan

Lebih terperinci

VII. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

VII. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL VII. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL Pada penelitian ini dilakukan analisis kelayakan finansial untuk mengetahui kelayakan pengusahaan ikan lele, serta untuk mengetahui apakah usaha yang dilakukan pada kelompok

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. penelitian ini, maka penulis dapat menarik simpulan sebagai berikut:

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. penelitian ini, maka penulis dapat menarik simpulan sebagai berikut: BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Berdasarkan permasalahan serta maksud dan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, maka penulis dapat menarik simpulan sebagai berikut: 1. Estimasi incremental

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Definisi Proyek Menurut Kadariah et al. (1999) proyek merupakan suatu keseluruhan aktivitas yang menggunakan sumber-sumber untuk mendapatkan

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis merupakan kumpulan teori yang digunakan dalam penelitian. Teori-teori ini berkaitan dengan permasalahan yang ada dalam

Lebih terperinci

Teknik Analisis Biaya / Manfaat

Teknik Analisis Biaya / Manfaat Teknik Analisis Biaya / Manfaat Komponen Biaya Biaya Pengadaan (procurement cost) Biaya Persiapan Operasi (start-up cost) Biaya Proyek (project-related cost) Biaya Operasi (ongoing cost) dan Biaya Perawatan

Lebih terperinci

A Modal investasi Jumlah (Rp) 1 Tanah Bangunan Peralatan Produksi Biaya Praoperasi*

A Modal investasi Jumlah (Rp) 1 Tanah Bangunan Peralatan Produksi Biaya Praoperasi* A Modal investasi Jumlah (Rp) 1 Tanah 150.000.000 2 Bangunan 150.000.000 3 Peralatan Produksi 1.916.100.000 4 Biaya Praoperasi* 35.700.000 B Jumlah Modal Kerja 1 Biaya bahan baku 7.194.196.807 2 Biaya

Lebih terperinci

Kontrak Kuliah. Analisis Biaya/Manfaat. Edi Sugiarto, S.Kom, M.Kom

Kontrak Kuliah. Analisis Biaya/Manfaat. Edi Sugiarto, S.Kom, M.Kom Kontrak Kuliah Analisis Biaya/Manfaat Edi Sugiarto, S.Kom, M.Kom Pendahuluan Pengembangan sistem informasi merupakan suatu investasi seperti halnya investasi proyek lainya. Investasi artinya dikeluarkanya

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Peternakan Agrifarm, yang terletak di desa Cihideung Udik Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pemilihan lokasi

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN 17 BAB III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Proyek adalah suatu kegiatan yang mengeluarkan uang atau biaya-biaya dengan harapan akan memperoleh hasil yang secara logika merupakan wadah

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Penelitian ini mengambil lokasi di pertambangan bahan galian C

METODE PENELITIAN. Penelitian ini mengambil lokasi di pertambangan bahan galian C IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ini mengambil lokasi di pertambangan bahan galian C Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan selama lima bulan.

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Pulau Panggang, Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, DKI

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. dan data yang diperoleh. Penelitian ini disusun sebagai penelitian induktif yaitu

BAB IV METODE PENELITIAN. dan data yang diperoleh. Penelitian ini disusun sebagai penelitian induktif yaitu BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Jenis/Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif karena dalam pelaksanaannya meliputi data, analisis dan interpretasi tentang arti

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan di penggilingan padi Sinar Ginanjar milik Bapak Candran di Desa Jomin Timur, Kecamatan Kota Baru, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Pemilihan

Lebih terperinci

BAB 5 ANALISIS KEUANGAN

BAB 5 ANALISIS KEUANGAN BAB 5 ANALISIS KEUANGAN 5.1. Ekuitas Ekuitas adalah modal kepemilikan yang diinvestasikan dalam suatu usaha. Vraniolle merupakan badan perorangan dengan modal yang berasal dari pemilik. Ekuitas modal pemilik

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan pada bab empat, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Sebelum melakukan analisis

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran Teoritis Pengertian Usaha

III. KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran Teoritis Pengertian Usaha III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Pengertian Usaha Menurut Gittinger (1986) bisnis atau usaha adalah suatu keseluruhan aktivitas yang menggunakan sumber-sumber untuk mendapatkan

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Teori Manfaat dan Biaya Dalam menganalisa suatu usaha, tujuan analisa harus disertai dengan definisi-definisi mengenai biaya-biaya dan manfaat-manfaat.

Lebih terperinci

BAB V ANALISIS BIAYA PENGERINGAN GABAH MENGUNAKAN PENGERING RESIRKULASI

BAB V ANALISIS BIAYA PENGERINGAN GABAH MENGUNAKAN PENGERING RESIRKULASI BAB V ANALISIS BIAYA PENGERINGAN GABAH MENGUNAKAN PENGERING RESIRKULASI 5.1 PENDAHULUAN Pengembangan usaha pelayanan jasa pengeringan gabah dapat digolongkan ke dalam perencanaan suatu kegiatan untuk mendatangkan

Lebih terperinci

VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL Analisis kelayakan finansial dalam penelitian ini ditujukan untuk mengetahui kelayakan usaha peternakan ayam ras petelur dari segi keuangan. Analisis finansial digunakan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Halaman ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... xii

DAFTAR ISI. Halaman ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... xii ABSTRAK Penelitian ini membahas mengenai perusahaan yang bergerak di bidang makloon konveksi. Karena kapasitas produksi yang tidak mencukupi, maka perusahaan bermaksud untuk melakukan ekspansi berupa penambahan

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikirian Teoritis Penelitian tentang analisis kelayakan yang akan dilakukan bertujuan melihat dapat tidaknya suatu usaha (biasanya merupakan proyek atau usaha investasi)

Lebih terperinci

PERBANDINGAN BERBAGAI ALTERNATIF INVESTASI

PERBANDINGAN BERBAGAI ALTERNATIF INVESTASI PERBANDINGAN BERBAGAI ALTERNATIF INVESTASI MATERI KULIAH 4 PERTEMUAN 6 FTIP - UNPAD METODE MEMBANDINGKAN BERBAGAI ALTERNATIF INVESTASI Ekivalensi Nilai dari Suatu Alternatif Investasi Untuk menganalisis

Lebih terperinci

ANALISIS STUDI KELAYAKAN PENGEMBANGAN USAHA KONVEKSI PADA CV. TATA SARANA MANDIRI. : Dedik Fahrudin NPM : Jenjang/Jurusan : S1/Manajemen

ANALISIS STUDI KELAYAKAN PENGEMBANGAN USAHA KONVEKSI PADA CV. TATA SARANA MANDIRI. : Dedik Fahrudin NPM : Jenjang/Jurusan : S1/Manajemen ANALISIS STUDI KELAYAKAN PENGEMBANGAN USAHA KONVEKSI PADA CV. TATA SARANA MANDIRI Nama : Dedik Fahrudin NPM : 11212796 Jenjang/Jurusan : S1/Manajemen LATAR BELAKANG Studi kelayakan terhadap suatu usaha

Lebih terperinci

BAB III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA BAB III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA Pada bab ini akan dijelaskan mulai dari pengumpulan data hingga pengolahan data. Pengumpulan data dimulai dengan menentukan lokasi penelitian, pasar produk yang

Lebih terperinci

LAMPIRAN Lampiran 1. Flow chart pelaksanaan penelitian

LAMPIRAN Lampiran 1. Flow chart pelaksanaan penelitian LAMPIRAN Lampiran 1. Flow chart pelaksanaan penelitian Mulai Observasi desain dan rancangan Alat Destilasi bioetanol pada literatur Penyusunan desain dan rancangan Alat Destilasi bioetanol Pemilihan bahan

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Studi Kelayakan Proyek Proyek merupakan suatu kegiatan yang mengeluarkan uang atau biayabiaya dengan harapan akan memperoleh hasil dan secara logika merupakan wadah untuk melakukan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL KATA PENGANTAR ABSTRAK DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR PUSTAKA BAB I PENDAHULUAN 1

DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL KATA PENGANTAR ABSTRAK DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR PUSTAKA BAB I PENDAHULUAN 1 ABSTRAK Seorang investor pemilik PT X menilai permintaan dan pangsa pasar di kota Bandung terlihat masih menjanjikan untuk bisnis Depot air Minum isi ulang AMIRA. Tetapi sebelum investor menanamkan modalnya

Lebih terperinci

III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. Rakyat (KUR) di Desa Ciporeat, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung.

III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. Rakyat (KUR) di Desa Ciporeat, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung. 22 III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Objek penelitian ini adalah usaha ternak sapi perah penerima Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Desa Ciporeat, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung.

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 17 III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Usaha Kecil Menengah (UKM) pengolahan pupuk kompos padat di Jatikuwung Innovation Center, Kecamatan Gondangrejo Kabupaten

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Kelayakan Proyek Proyek adalah suatu keseluruhan aktivitas yang menggunakan sumber-sumber untuk mendapatkan kemanfaatan (benefit),

Lebih terperinci

BAB 5 ANALISA KEUANGAN

BAB 5 ANALISA KEUANGAN BAB 5 ANALISA KEUANGAN 5.1 Ekuitas (Equity) Tiga elemen penting dari bisnis adalah aset, hutang, dan ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan. Menurut Weygandt, Kimmel, dan Kieso (2011:12), terdapat hubungan

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Kelayakan dan Investasi Studi kelayakan diadakan untuk menentukan apakah suatu usaha akan dilaksanakan atau tidak. Dengan kata lain

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Industri (HTI) sebagai solusi untuk memenuhi suplai bahan baku kayu. Menurut

BAB I PENDAHULUAN. Industri (HTI) sebagai solusi untuk memenuhi suplai bahan baku kayu. Menurut BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Penurunan produktivitas hutan alam telah mengakibatkan berkurangnya suplai hasil hutan kayu yang dapat dimanfaatkan dalam bidang industri kehutanan. Hal ini mendorong

Lebih terperinci

TEKNIK ANALISA BIAYA/MANFAAT TEKNIK ANALISA BIAYA/MANFAAT

TEKNIK ANALISA BIAYA/MANFAAT TEKNIK ANALISA BIAYA/MANFAAT ANALISA INVESTASI SETIAP INVESTASI TERDAPAT 2 KOMPONEN : KAS MASUK PROCEEDS : KEUNTUNGAN SETELAH PAJAK DAN DEPRESIASI SETIAP TAHUN. KAS KELUAR BIAYA INVESTASI. PENILAIAN SUATU PROYEK SISTEM DAPAT DIUKUR

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. sampai dengan 30 tahun tergantung dengan letak topografi lokasi buah naga akan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. sampai dengan 30 tahun tergantung dengan letak topografi lokasi buah naga akan V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Kelayakan Usahatani Buah Naga Buah naga merupakan tanaman tahunan yang sudah dapat berbuah 1 tahun sampai dengan 1,5 tahun setelah tanam. Buah naga memiliki usia produktif

Lebih terperinci

ALTERNATIF PENGADAAN BATU PECAH DI KABUPATEN KAPUAS DITINJAU DARI ASPEK FINANSIAL

ALTERNATIF PENGADAAN BATU PECAH DI KABUPATEN KAPUAS DITINJAU DARI ASPEK FINANSIAL ALTERNATIF PENGADAAN BATU PECAH DI KABUPATEN KAPUAS DITINJAU DARI ASPEK FINANSIAL Teras, R. Sutjipto Tantyonimpuno Laboratorium Manajemen Konstruksi, Jurusan Teknik Sipil FTSP ITS Telp 031-5939925, fax

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional mencakup pengertian yang

III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional mencakup pengertian yang III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional mencakup pengertian yang dipergunakan untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan

Lebih terperinci