ANALISIS DAYA DUKUNG LINGKUNGAN DAN KELAYAKAN EKONOMI UNIT PENGOLAHAN SAMPAH MUTU ELOK DI PERUMAHAN CIPINANG ELOK JAKARTA TIMUR VIDYA KHAIRUNISA

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "ANALISIS DAYA DUKUNG LINGKUNGAN DAN KELAYAKAN EKONOMI UNIT PENGOLAHAN SAMPAH MUTU ELOK DI PERUMAHAN CIPINANG ELOK JAKARTA TIMUR VIDYA KHAIRUNISA"

Transkripsi

1 ANALISIS DAYA DUKUNG LINGKUNGAN DAN KELAYAKAN EKONOMI UNIT PENGOLAHAN SAMPAH MUTU ELOK DI PERUMAHAN CIPINANG ELOK JAKARTA TIMUR VIDYA KHAIRUNISA DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011

2 ANALISIS DAYA DUKUNG LINGKUNGAN DAN KELAYAKAN EKONOMI UNIT PENGOLAHAN SAMPAH MUTU ELOK DI PERUMAHAN CIPINANG ELOK JAKARTA TIMUR VIDYA KHAIRUNISA H Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011 i

3 PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi Analisis Daya Dukung Lingkungan dan Kelayakan Ekonomi Unit Pengolahan Sampah Mutu Elok di Perumahan Cipinang Elok Jakarta Timur adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun pada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini. Bogor, Desember 2011 Vidya Khairunisa H ii

4 RINGKASAN VIDYA KHAIRUNISA. Analisis Daya Dukung Lingkungan dan Kelayakan Ekonomi Unit Pengolahan Sampah Mutu Elok di Perumahan Cipinang Elok Jakarta Timur Dibimbing oleh EKA INTAN KUMALA PUTRI DAN ASTI ISTIQOMAH Jumlah timbulan sampah Jakarta yang terus meningkat perlu diatasi dengan mengurangi jumlah timbulan sampah. Pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat merupakan paradigma baru dalam pengelolaan sampah yang mendorong masyarakat dan pelaku usaha (pengembang kawasan) untuk mengurangi sampah dengan melakukan kegiatan 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Akan tetapi, partisipasi masyarakat dan pengembang kawasan dalam pengelolaan sampah 3R hingga kini masih minim, khususnya untuk kegiatan pengolahan. Masyarakat dan pengembang kawasan tidak tertarik untuk melakukan pengolahan sampah karena dianggap tidak menguntungkan. Pengolahan sampah sebenarnya dapat memberikan sejumlah manfaat yang menguntungkan bagi pemerintah, masyarakat, dan pengembang kawasan, tetapi kebanyakan dari manfaat tersebut merupakan manfaat lingkungan yang sering diabaikan dalam analisis finansial. Oleh karena itu, diperlukan analisis lebih mendalam mengenai pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat, khususnya untuk kegiatan pengolahan. Manfaat lingkungan yang dihasilkan oleh kegiatan pengolahan perlu dianalisis secara ekonomi agar manfaat dapat terlihat secara keseluruhan. Perumahan Cipinang Elok merupakan salah satu kompleks perumahan yang menerapkan pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat di Jakarta. Warga berupaya mengurangi sampah yang dibuang ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dengan mendirikan Unit Pengolahan Sampah (UPS) Mutu Elok yang berfungsi mengolah sampah organik menjadi kompos. Kegiatan pengolahan UPS Mutu Elok harus dintegrasikan dengan daya dukung lingkungan agar alokasi kegiatan sesuai dengan kondisi dan kapasitas sumberdaya di wilayah UPS tersebut. Pengintegrasian juga bertujuan untuk menghindari kerusakan sumberdaya dan ekosistem oleh kegiatan pengolahan yang dapat mengganggu kenyamanan warga dan menyebabkan kegiatan pengolahan tidak berkelanjutan. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) memperoleh gambaran pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat yang diterapkan di Perumahan Cipinang Elok; (2) menganalisis daya dukung lingkungan UPS Mutu Elok dan pengaruh UPS Mutu Elok terhadap daya dukung lingkungan Perumahan Cipinang Elok; (3) menganalisis kelayakan ekonomi UPS Mutu Elok. Penelitian dilakukan di Perumahan Cipinang Elok, Jakarta Timur. Pengambilan sampel dilakukan secara sengaja (purposive) pada bulan Agustus-September Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan menggunakan kuisioner, sedangkan data sekunder diperoleh dari RW Cipinang Elok, Kelurahan Cipinang Muara, dan Dinas Kebersihan DKI Jakarta, laporan, buku, dan internet. Data penelitian diolah menggunakan Microsoft Office Excel. Pelaksanaan pengelolaan sampah di Perumahan Cipinang Elok dianalisis berdasarkan hasil pengamatan dan disajikan secara deskriptif. Daya dukung lingkungan UPS Mutu Elok dan pengaruh UPS iii

5 Mutu Elok terhadap daya dukung lingkungan Perumahan Cipinang Elok dianalisis secara deskriptif dengan mengkaji sarana, prasarana, dan respon warga. Kelayakan ekonomi UPS Mutu Elok dianalisis dengan menggunakan kriteria kelayakan NPV, Net B/C, dan IRR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di Perumahan Cipinang Elok terdiri dari pewadahan, pengumpulan, pemindahan, pengangkutan dan pembuangan akhir. Pelaksanaan pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat di Perumahan Cipinang Elok sejauh ini sudah baik, tetapi belum optimal karena masih ada warga yang belum melakukan pemilahan sampah. Berdasarkan analisis daya dukung lingkungan, diperoleh simpulan bahwa UPS Mutu Elok memiliki tingkat daya dukung lingkungan yang rendah dengan indeks sebesar 0,63 untuk timbulan dan 0,31 untuk mesin. Ketidaksesuaian antara luas bangunan yang dimiliki dengan luas bangunan yang dibutuhkan juga menyebabkan daya dukung UPS Mutu Elok terlampaui. Meskipun demikian, tidak ditemukan indikasi adanya gangguan ataupun pencemaran yang disebabkan oleh UPS. Penambahan IPTEK berupa UPS Mutu Elok meningkatkan daya dukung lingkungan Perumahan Cipinang Elok. UPS Mutu Elok layak secara ekonomi untuk dijalankan pada tingkat social discount rate 16 persen dengan menggunakan kriteria NPV, Net B/C, dan IRR. Hasil perhitungan cashflow menunjukkan UPS Mutu Elok memberikan NPV sebesar Rp , Net B/C sebesar 3,73 dan IRR sebesar 58,21 persen. Peningkatan pengolahan sampah dengan memaksimumkan pemanfaatan potensi sampah organik terolah dan mesin pencacah menyebabkan peningkatan NPV, Net B/C dan IRR, sehingga proyek UPS Mutu Elok semakin layak untuk dijalankan. Penurunan harga kompos hingga Rp per kg dan peningkatan harga gula sebesar 100 persen menurunkan perolehan NPV, Net B/C, dan IRR, tetapi proyek UPS Mutu Elok tetap layak untuk dijalankan. iv

6 Judul Skripsi : Analisis Daya Dukung Lingkungan dan Kelayakan Ekonomi Unit Pengolahan Sampah Mutu Elok di Perumahan Cipinang Elok Jakarta Timur Nama : Vidya Khairunisa NIM : H Disetujui Dr. Ir. Eka Intan Kumala Putri, M.S Pembimbing I Asti Istiqomah, SP Pembimbing II Diketahui Dr. Ir. Aceng Hidayat, M.T Ketua Departemen Tanggal Lulus: v

7 UCAPAN TERIMA KASIH Penyusunan skripsi ini banyak dibantu oleh berbagai pihak baik secara moril maupun materil. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Ayah, Ibu dan Adik yang telah memberikan curahan kasih sayang, dukungan, dan doa yang tulus; 2. Dr. Ir Eka Intan Kumala Putri, M.Si sebagai dosen pembimbing skripsi pertama dan Asti Istiqomah, SP sebagai dosen pembimbing skripsi kedua yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, motivasi, semangat, pembelajaran, dan pengarahan kepada penulis; 3. Dr. Ir. Aceng Hidayat, M.T dan Nuva, SP, M.Sc sebagai dosen penguji yang bersedia meluangkan waktu untuk menguji dan memberikan saran demi penyempurnaan skripsi ini; 4. Ketua RW 10 Cipinang Muara, pengelola Unit Pengolahan Sampah Mutu Elok, pengelola TPST Bantargebang, serta seluruh pegawai Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta yang telah membantu saya dalam mengumpulkan data penelitian; 5. Seluruh staf pengajar dan karyawan di Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, FEM IPB; 6. Agung Wiguna Johan serta teman-teman ESL angkatan 44 yang telah memberikan dukungan dan motivasi. Semoga Allah SWT memberikan pahala atas kebaikannya. Amin. Bogor, Desember 2011 Penulis vi

8 KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah SWT atas anugerah, dan kasih sayang-nya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul Analisis Daya Dukung Lingkungan dan Kelayakan Ekonomi Unit Pengolahan Sampah Mutu Elok di Perumahan Cipinang Elok, Jakarta Timur. Skripsi ini disusun untuk memenuhi persyaratan penyelesaian Program Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan menganalisis daya dukung lingkungan Unit Pengolahan Sampah Mutu Elok dan pengaruh unit pengolahan sampah tersebut terhadap daya dukung lingkungan Perumahan Cipinang Elok. Penelitian juga bertujuan untuk menganalisis kelayakan ekonomi Unit Pengolahan Sampah Mutu Elok. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi bagi masyarakat dan pelaku usaha serta menjadi bahan pertimbangan bagi pihakpihak terkait khususnya pemerintah dalam menyusun kebijakan yang terkait dengan pengelolaan sampah. Peneliti menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih belum sempurna, sehingga saran dan kritik yang dapat memperbaiki penyusunan skripsi sangat diharapkan oleh peneliti. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kemashalatan umat dan bernilai ibadah dalam pandangan Allah SWT. vii

9 DAFTAR ISI DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... Halaman I. PENDAHULUAN Latar Belakang Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Ruang Lingkup... 7 II. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian dan Klasifikasi Sampah Sistem Pengelolaan Sampah Standar Pengelolaan Sampah Standar Teknis Operasional Pengelolaan Sampah Spesifikasi Peralatan dan Bangunan Kompos Pengertian Daya Dukung Lingkungan Hubungan Daya Dukung Lingkungan dengan Pengetahuan dan Teknologi Penentuan Daya Dukung Lingkungan Analisis Kelayakan Ekonomi Penelitian Terdahulu III. KERANGKA PEMIKIRAN IV. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Jenis, Sumber dan Teknik Pengumpulan Data Metode Pengambilan Sampel Metode Pengolahan dan Analisis Data Analisis Daya Dukung Lingkungan Komponen Arus Penerimaan (Inflow) dan Pengeluaran (Outflow) UPS Mutu Elok Kriteria Kelayakan Analisis Sensitivitas V. GAMBARAN UMUM Deskripsi Perumahan Cipinang Elok Deskripsi UPS Mutu Elok Karakteristik Responden Sebaran Tempat Tinggal Responden Tingkat Pendidikan Responden Tingkat Pendapatan Responden x xi xii viii

10 VI. PENGELOLAAN SAMPAH DI PERUMAHAN CIPINANG ELOK Pewadahan Sampah Pengumpulan dan Pengangkutan Pemindahan dan Pengolahan Pengangkutan dan Pembuangan Akhir VII. ANALISIS DAYA DUKUNG LINGKUNGAN UPS MUTU ELOK Jumlah Timbulan Sampah dan Kapasitas Pengelolaan Sampah Daya Dukung Lingkungan UPS Mutu Elok Respon Warga terhadap UPS Mutu Elok Pengaruh UPS Mutu Elok terhadap Daya Dukung Lingkungan Perumahan Cipinang Elok VIII. ANALISIS KELAYAKAN EKONOMI UPS MUTU ELOK Identifikasi Penerimaan Identifikasi Pengeluaran Penilaian Kelayakan Analisis Sensitivitas IX. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Saran X. DAFTAR PUSTAKA XI. LAMPIRAN ix

11 Nomor DAFTAR TABEL Halaman 1. Jumlah Penduduk dan Timbulan Sampah Tahun di Provinsi DKI Jakarta Spesifikasi Peralatan dan Bangunan Menurut SNI Matriks Penelitian Terdahulu Matriks Metode Analisis Data Luasan Taman Perumahan Cipinang Elok Jumlah Timbulan dan Komposisi Sampah yang Dihasilkan Perumahan Cipinang Elok Komposisi Sampah Anorganik Terolah di Perumahan Cipinang Elok Macam dan Kapasitas Pengelolaan Sampah di Perumahan Cipinang Elok Tingkat Daya Dukung Lingkungan UPS Mutu Elok Perbandingan Antara Total Timbulan Sampah dengan Total Kapasitas Pengelolaan Dengan UPS Mutu Elok Perbandingan Antara Total Timbulan Sampah dengan Total Kapasitas Pengelolaan Tanpa UPS Mutu Elok Biaya, Tahun Re-investasi dan Nilai Penyusutan Peralatan UPS Mutu Elok Rincian Biaya Bahan Baku dan Kemasan UPS Mutu Elok Perubahan Volume dan Nilai Penjualan UPS Mutu Elok Berdasarkan Skenario Perubahan Volume dan Nilai Penjualan UPS Mutu Elok Berdasarkan Skenario Hasil Analisis Kelayakan Ekonomi UPS Mutu Elok Hasil Analisis Sensitivitas UPS Mutu Elok Pada Kondisi Riil Hasil Analisis Sensitivitas UPS Mutu Elok Pada Skenario Hasil Analisis Sensitivitas UPS Mutu Elok Pada Skenario x

12 Nomor DAFTAR GAMBAR Halaman 1. Diagram Pola Pengumpulan Sampah Menurut SNI Daya Dukung Lingkungan Sebagai Dasar Pembangunan Berkelanjutan Hubungan Peningkatan Daya Dukung dan Penggunaan IPTEK Diagram Penentuan Daya Dukung Lingkungan dengan Pendekatan Kesesuaian Ketersediaan Sarana dan Prasarana Diagram Alir Kerangka Pemikiran Sebaran Tempat Tinggal Responden Sebaran Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Sebaran Responden Berdasarkan Tingkat Pendapatan Rumah Tangga Proporsi Pembedaaan Wadah oleh Responden Teknologi Sanitary Landfill Pola Pengelolaan Sampah Perumahan Cipinang Elok Mulai dari Pewadahan Hingga Pembuangan Akhir Pohon Pengelolaan Sampah Grafik Curah Hujan Bulanan Selama Setahun di Jakarta xi

13 Nomor DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1. Cashflow UPS Mutu Elok Berdasarkan Kondisi Riil Cashflow UPS Mutu Elok Berdasarkan Skenario Cashflow UPS Mutu Elok Berdasarkan Skenario Cashflow UPS Mutu Elok Berdasarkan Kondisi Riil Saat Penurunan Harga Harga Kompos (Rp per kg) Cashflow UPS Mutu Elok Berdasarkan Kondisi Riil Saat Peningkatan Harga Gula (100 persen) Cashflow UPS Mutu Elok Berdasarkan Skenario 1 Saat Penurunan Harga Harga Kompos (Rp per kg) Cashflow UPS Mutu Elok Berdasarkan Skenario 1 Saat Peningkatan Harga Gula (100 persen) Cashflow UPS Mutu Elok Berdasarkan Skenario 2 Saat Penurunan Harga Harga Kompos (Rp per kg) Cashflow UPS Mutu Elok Berdasarkan Skenario 2 Saat Peningkatan Harga Gula (100 persen) Kuisioner Penelitian Gambar Tahapan Pembuatan Kompos Dokumentasi Penelitian xii

14 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jumlah penduduk Jakarta cenderung meningkat setiap tahun. Peningkatan jumlah penduduk yang disertai perubahan pola konsumsi dan gaya hidup turut meningkatkan jumlah sampah yang dihasilkan oleh warga Jakarta seperti yang terlihat pada tabel berikut ini: Tabel 1. Jumlah Penduduk dan Timbulan Sampah di Provinsi DKI Jakarta Tahun Jumlah Penduduk (jiwa) Jumlah sampah ( /hari) Sumber: * ** *** * * * * * ** *** *** *** *** *** *** Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta (2011)1 BPS (2011) Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta (2011) Tabel di atas menunjukkan bahwa pada tahun 2010, jumlah sampah yang dihasilkan oleh penduduk Jakarta sangat tinggi, yaitu /hari. Dalam 2 hari, jumlah timbulan2 sampah ini setara dengan volume Candi Borobudur sebesar Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta (2005) memprediksi jumlah timbulan sampah akan terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk hingga mencapai /hari pada tahun Di sisi lain, keterbatasan lahan dan mahalnya biaya operasional menyulitkan pemerintah dalam mengelola sampah yang dihasilkan. Pada tahun 2009, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST)3 Bantargebang yang memiliki 1 BPS Provinsi DKI Jakarta. MzE= diakses pada tanggal 5 Oktober Banyaknya sampah yang timbul dari masyarakat. Dapat dinyatakan dalam satuan volume maupun berat kapita per hari, atau per luas bangunan, atau per panjang jalan 3 Tempat pembuangan sampah yang dilengkapi dengan sarana pengolahan dan penanganan limbah. Bantargebang telah menerapkan sistem ini, sehingga istilahnya berubah dari TPA menjadi TPST 1

15 daya tampung ton per hari harus menampung sampah sebanyak ton yang dihasilkan oleh penduduk Jakarta setiap harinya. Sebanyak 400 ton timbulan sampah dapat dibuang ke TPST Cilincing, tetapi masih menyisakan kelebihan ton yang menyebabkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus mengeluarkan dana 700 miliyar untuk membuka TPST baru di daerah Ciangir. Dalam menjamin kelancaran pengangkutan sampah ke TPST, pemerintah DKI Jakarta juga mengalami masalah ketersediaan truk sampah. Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta memiliki 800 unit truk sampah, tetapi hanya 480 unit yang masih dapat digunakan karena selebihnya sudah terlalu tua untuk beroperasi. Jumlah ini tidak sebanding dengan titik pengangkutan sampah di lima wilayah administrasi Jakarta yang mencapai 600 pool 4. Keterbatasan truk sampah menyebabkan sebagian sampah tidak atau terlambat diangkut, sehingga menimbulkan pencemaran. Peningkatan jumlah timbulan sampah menimbulkan tekanan terhadap daya dukung lingkungan. Keterbatasan kapasitas pelayanan dalam mengimbangi jumlah timbulan memperparah tekanan dan menurunkan kemampuan lingkungan dalam mendukung organisme di dalamnya secara lestari dan berkelanjutan. Jika daya dukung lingkungan terlampaui, ekosistem akan terganggu dan mengancam keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya. Tragedi ledakan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah dan longsor sampah di TPST Bantargebang merupakan bukti nyata terlampauinya daya dukung lingkungan oleh sampah. 4 Lenny. diakses pada tanggal 5 Oktober

16 Mengurangi sampah mulai dari sumber merupakan solusi yang dipilih pemerintah dalam memecahkan permasalahan sampah. Dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, pemerintah menegaskan bahwa pengelolaan sampah kini harus meliputi upaya pengurangan sampah dari sumber dengan cara melibatkan partisipasi masyarakat dan pelaku usaha. Undangundang ini mengubah konsep pengelolaan sampah jakarta dari kumpul-angkutbuang menjadi pengelolaan sampah 3R (Reduce, Reuse, Recycle) berbasis masyarakat. Pengelolaan tersebut mendorong masyarakat dan pelaku usaha untuk berpartisipasi aktif dalam pengelolaan sampah, mulai dari mengurangi sampah yang dibuang (reduce), memilah sampah dan menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan (reuse), hingga mengolah sampah menjadi bentuk lain yang berguna (recycle). Cara ini diharapkan dapat efektif mengurangi jumlah timbulan sampah, mengingat 62,27 persen sampah yang dihasilkan oleh Jakarta berasal dari sampah rumah tangga (Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta, 2005). Akan tetapi, pelaksanaan 3R berbasis masyarakat di Jakarta hingga kini masih belum optimal 5. Banyak pelaku usaha termasuk pengembang kawasan (developer) yang tidak mau menyediakan fasilitas pengelolaan sampah 3R, terutama untuk kegiatan pengolahan. Sampai saat ini, baru ada satu pengembang kawasan yang mau menyediakan fasilitas pengolahan 6. Kontribusi masyarakat terhadap kegiatan pemilahan dan pengolahan sampah juga dapat dikatakan minim. Hal ini karena kegiatan pengolahan sampah dianggap tidak menguntungkan, sehingga tidak menarik untuk dilakukan. 5 Bataviase. diakses pada tanggal 5 0ktober Berdasarkan keterangan petugas Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta pada tanggal 6 September

17 Padahal jika dikaji lebih lanjut, kegiatan pengolahan sampah sebenarnya memberikan sejumlah manfaat yang membawa keuntungan bagi pemerintah, masyarakat, dan pengembang kawasan. Selain mengurangi sampah dan memperbaiki daya dukung lingkungan, hasil dari pengolahan sampah dapat menjadi sumber penghasilan. Kegiatan pengolahan sampah juga memberikan banyak manfaat lingkungan, tetapi manfaat-manfaat tidak diperhitungkan dalam analisis finansial. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis lebih mendalam mengenai pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat, khususnya kegiatan pengolahan. Manfaat lingkungan yang dihasilkan oleh kegiatan pengolahan perlu diperhitungkan agar manfaat pengolahan dapat terlihat secara keseluruhan Perumusan Masalah Jumlah timbulan sampah Jakarta terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Keterbatasan luas lahan dan mahalnya biaya pengelolaan menyulitkan pemerintah dalam mengelola seluruh sampah yang dihasilkan. Ketidakmampuan pemerintah memperparah tekanan yang ditimbulkan sampah terhadap daya dukung lingkungan. Jika jumlah timbulan sampah melampaui daya dukung lingkungan, ekosistem akan terganggu dan mengancam keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya. Untuk mengatasi masalah ini, sampah harus dikurangi dengan pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat. Melalui pengelolaan sampah tersebut, sampah dikurangi dari sumbernya dengan cara mengajak masyarakat dan pelaku usaha melakukan kegiatan 3R. Namun sampai saat ini, pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat di Jakarta masih belum berjalan optimal. Masih sedikit masyarakat dan pelaku usaha 4

18 yang mau berpartisipasi dalam pengelolaan sampah 3R, khususnya dalam kegiatan pengolahan. Sebagian besar masyarakat dan pelaku usaha menganggap kegiatan pengolahan tidak cukup menguntungkan, sehingga kurang menarik untuk dilakukan. Perumahan Cipinang Elok merupakan salah satu kompleks perumahan yang menerapkan pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat di Jakarta. Warga berupaya mengurangi timbulan sampah yang dibuang ke TPST dengan mendirikan Unit Pengolahan Sampah (UPS) yang berfungsi mengolah sampah organik menjadi kompos. Kompos kemudian dipasarkan ke warga sekitar dengan nama dagang Mutu Elok. Proyek yang diadakan sejak tahun 2005 ini sering dijadikan wilayah percontohan atau studi banding oleh LSM dan warga perumahan wilayah lainnya. Daya dukung lingkungan harus menjadi salah satu pertimbangan dalam pendirian UPS Mutu Elok. Kegiatan pengolahan UPS Mutu Elok harus dintegrasikan dengan daya dukung lingkungan agar alokasi kegiatan sesuai dengan kondisi dan kapasitas sumberdaya di wilayah UPS tersebut. Pengintegrasian juga bertujuan untuk menghindari kerusakan sumberdaya dan ekosistem oleh kegiatan pengolahan yang dapat mengganggu kenyamanan warga dan menyebabkan kegiatan pengolahan tidak berkelanjutan. UPS Mutu Elok memerlukan analisis kelayakan untuk mengetahui apakah proyek layak atau tidak untuk dijalankan atau diteruskan. Analisis ini diperlukan untuk menghindari pemborosan sumberdaya karena pelaksanaan proyek yang tidak menguntungkan. Kelayakan UPS Mutu Elok harus dianalisis 5

19 dari sudut pandang ekonomi karena UPS memberikan banyak manfaat eksternal 7 berupa manfaat lingkungan yang tidak diperhitungkan dalam analisis finansial. Pengabaikan manfaat eksternal oleh analisis finansial dapat menyebabkan kelayakan UPS dinilai terlalu rendah (underestimate). Berdasarkan uraian diatas, maka permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian meliputi: 1. Bagaimana pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat di Perumahan Cipinang Elok? 2. Bagaimana daya dukung lingkungan UPS Mutu Elok dan bagaimana pengaruh UPS Mutu Elok terhadap daya dukung lingkungan Perumahan Cipinang Elok? 3. Bagaimana kelayakan ekonomi UPS Mutu Elok? 1.3. Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah, maka tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Memperoleh gambaran pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat yang diterapkan di Perumahan Cipinang Elok; 2. Menganalisis daya dukung lingkungan UPS Mutu Elok dan pengaruh UPS Mutu Elok terhadap daya dukung lingkungan Perumahan Cipinang Elok; 3. Menganalisis kelayakan ekonomi UPS Mutu Elok. 7 Dampak positif yang diterima oleh suatu pihak akibat tindakan yang dilakukan oleh pihak lain. Manfaat eksternal juga biasa disebut eksternalitas positif 6

20 1.4. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi: 1. Penulis dalam memberikan wawasan dan pengetahuan mengenai penerapan ilmu yang telah diberikan selama kuliah; 2. Pihak lain terutama pengembang kawasan dan masyarakat dalam memahami daya dukung lingkungan serta analisis kelayakan ekonomi suatu proyek yang berbasis lingkungan, dalam hal ini UPS; 3. Institusi swasta dan pemerintah dalam menyusun kebijakan lingkungan khususnya yang terkait dengan sampah Ruang Lingkup 1. Pelaksanaan pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat dianalisis hanya pada aspek teknis operasional. 2. Analisis terhadap daya dukung lingkungan dibatasi pada kemampuan lingkungan dalam menerima beban sampah dengan meninjau sarana prasarana dan respon warga terhadap UPS Mutu Elok sesuai dengan definisi daya dukung lingkungan menurut Soerjani et al. dan Khana dalam Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). 3. Analisis kelayakan hanya dilakukan dari sudut pandang ekonomi. Hal ini dilakukan karena analisis kelayakan dari sudut pandang finansial telah dilakukan sebelumnya oleh Cahyani (2009). 4. Umur proyek UPS Mutu Elok adalah 20 tahun, ditentukan dari ketahanan bangungan UPS secara teknis. 5. Manfaat UPS yang dianalisis dibatasi pada manfaat penjualan, penggunaan kompos untuk Lubang Resapan Biopori (LRB), kesuburan dan kenyamanan. 7

21 6. Analisis kelayakan ekonomi menggunakan harga bayangan (shadow price) karena dapat menggambarkan nilai ekonomi sesungguhnya dari suatu barang dan jasa. 7. Produksi kompos diasumsikan terjual semua. 8. Volume penggunaan kompos untuk mengisi LRB dari tahun diasumsikan sama setiap tahunnya. Asumsi ini digunakan karena jumlah LRB selama delapan tahun ke depan tidak dapat diprediksikan. 9. Biaya untuk mendapatkan sampah sebagai bahan baku kompos diasumsikan nol. Biaya pengangkutan sampah dari rumah ke UPS Mutu Elok dapat dianggap sebagai biaya sampah, tetapi UPS Mutu Elok yang teletak satu lokasi dengan Tempat Penampungan Sementara (TPS) menyebabkan biaya ini harus diabaikan. Tanpa adanya proyek UPS Mutu Elok, sampah akan tetap diangkut ke TPS, sehingga keberadaan proyek UPS Mutu Elok tidak menimbulkan biaya tambahan pengangkutan sampah. 10. Pajak diasumsikan tidak ada. 11. Indonesia belum memiliki tingkat diskonto sosial (social discount rate) yang ditetapkan secara umum, sehingga analisis kelayakan ekonomi menggunakan social discount rate yang berasal dari suku bunga bank pada tahun 2011, yaitu sebesar 16 persen. 8

22 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian dan Klasifikasi Sampah Sampah adalah istilah umum yang sering digunakan untuk menyatakan limbah padat. Sampah merupakan sisa-sisa bahan yang mengalami perlakuanperlakuan, baik karena telah diambil bagian utamanya, karena pengolahan, maupun karena sudah tidak memberikan manfaat dari segi sosial ekonomi serta dapat menyebabkan pencemaran atau gangguan terhadap lingkungan hidup (Hadiwiyoto, 1983). dari: Menurut Gelbert et al. (1996), sumber-sumber timbulan sampah terdiri 1. Sampah pemukiman, yaitu sampah rumah tangga berupa sisa pengolahan makanan, perlengkapan rumah tangga bekas, kertas, kardus, gelas, kain, sampah kebun atau halaman, dan lain-lain; 2. Sampah pertanian dan perkebunan, terdiri dari sampah organik, sampah bahan kimia, dan sampah anorganik seperti plastik penutup tempat tumbuhtumbuhan; 3. Sampah dari sisa bangunan dan konstruksi gedung, seperti kayu, triplek, semen, pasir, spesi, batu bata, ubin, besi, baja, kaca, dan kaleng; 4. Sampah dari perdagangan dan perkantoran, berupa bahan organik, kardus, pembungkus, kertas, toner fotokopi, pita printer, baterai, pita mesin ketik, klise film, komputer rusak, dan lain-lain; 5. Sampah industri, yaitu sampah yang berasal dari seluruh rangkaian proses produksi berupa bahan-bahan kimia serpihan atau potongan bahan, serta 9

23 perlakuan dan pengemasan produk berupa kertas, kayu, plastik, atau lap yang jenuh dengan pelarut untuk pembersihan. Sedangkan berdasarkan tingkat penguraian, sampah pada umumnya dibagi menjadi dua macam (Hadiwiyoto, 1983): 1. Sampah organik, yaitu sampah yang mengandung senyawa-senyawa organik, karena tersusun dari unsur-unsur seperti C, H, O, N, dan sebagainya. Sampah organik umumnya dapat terurai secara alami oleh mikroorganisme, contohnya sisa makanan, karton, kain, karet, kulit, sampah halaman. 2. Sampah anorganik, yaitu sampah yang bahan kandungannya bersifat anorganik dan umumnya sulit terurai oleh mikroorganisme. Contohnya kaca, kaleng, alumunium, debu, dan logam lainnya Sistem Pengelolaan Sampah Pengelolaan sampah adalah pengaturan yang berhubungan dengan pengendalian timbulan, penyimpanan, pengumpulan, pemindahan, pengangkutan, pengolahan, dan pembuangan sampah dengan cara yang merujuk pada dasar-dasar terbaik mengenai kesehatan masyarakat, ekonomi, teknik, konservasi, estetika, dan pertimbangan lingkungan lainnya serta tanggap terhadap perilaku massa (Yones, 2007). Sistem pengelolaan sampah terdiri dari lima aspek yang saling mendukung dimana antara satu dengan yang lainnya saling berinteraksi untuk mencapai tujuan. Kelima aspek tersebut terdiri dari aspek teknis operasional, kelembagaan, hukum dan peraturan, pembiayaan, dan peran serta masyarakat. Dalam pengelolaan sampah, kelima aspek tersebut saling terkait, tidak dapat berdiri sendiri (Artiningsih, 2008). 10

24 2.3. Standar Pengelolaan Sampah Standar Teknis Operasional Pengelolaan Sampah Standar teknis operasional pengelolaan sampah untuk kawasan permukiman diatur dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor tentang Pengelolaan Sampah di Permukiman dan SNI Nomor tentang Tata Cara Teknik Operasional Pengelolaan Sampah Perkotaan. Menurut kedua SNI tersebut, pengelolaan sampah kawasan permukiman terdiri dari serangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara integral dan terpadu, meliputi: 1. Pewadahan Pewadahan adalah aktivitas menampung sampah sementara dalam suatu wadah individual atau komunal di tempat sumber sampah. Pewadahan terdiri dari dua macam, yaitu pewadahan individual dan pewadahan komunal. Tiap rumah minimal memiliki 2 buah wadah sampah untuk memisahkan sampah organik dengan anorganik. 2. Pengumpulan Pengumpulan sampah adalah aktivitas penanganan yang tidak hanya mengumpulkan sampah dari wadah individual dan atau wadah komunal, melainkan juga mengangkutnya ke terminal tertentu. Pola pengumpulan sampah dibedakan menjadi empat pola, yaitu: 1) pola individual tidak langsung dari rumah ke rumah, 2) pola individual langsung dengan truk untuk jalan dan fasilitas umum, 3) pola komunal langsung untuk pasar dan daerah komersial, 4) pola komunal tidak langsung untuk permukiman padat. Diagram jenis pola pengumpulan sampah secara lengkap dapat dilihat pada Gambar 1. 11

25 Sumber: Badan Standardisasi Nasional (2002) Gambar 1. Diagram Pola Pengumpulan Sampah Menurut SNI Pengolahan dan Daur Ulang di Sumber dan TPS Mekanisme pengolahan dan daur ulang sampah di sumber dan TPS dapat dilakukan dengan: 1) pengomposan skala rumah tangga dan daur ulang sampah anorganik, sesuai dengan tipe rumah atau luas halaman yang ada; 2) pengomposan skala lingkungan di TPS; 3) daur ulang sampah anorganik di TPS. 4. Pemindahan Pemindahan sampah adalah proses memindahkan sampah hasil pengumpulan ke dalam alat pengangkut untuk dibawa ke tempat pembuangan akhir. Pemindahan sampah dapat dilakukan di TPS atau TPST dan di lokasi wadah sampah komunal. 5. Pengangkutan Pengangkutan adalah kegiatan pengangkutan sampah dari TPS atau wadah komunal ke TPST atau TPA dengan frekuensi pengangkutan disesuaikan dengan jumlah sampah yang ada. Pengangkutan sampah residu dari TPS atau 12

26 wadah komunal dilakukan bila kontainer 8 telah penuh dan sesuai jadwal pengangkutan yang telah dikonfirmasikan dengan pengelola sampah kota. Menurut SNI , terdapat tiga metode pembuangan akhir yang dapat dilakukan pada TPST atau TPA, yaitu: (1) penimbunan terkendali (controlled landfill) yang dilengkapi pengolahan dan gas; (2) lahan urug saniter (sanitary landfill) yang diengkapi pengolahan lindi dan gas; (3) penimbunan dengan sistem kolam (fakultatif, maturasi) untuk daerah pasangsurut Spesifikasi Peralatan dan Bangunan Standar peralatan dan bangunan untuk pengelolaan sampah perumahan diatur dalam SNI Spesifikasi peralatan dan bangunan menurut SNI dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Spesifikasi Peralatan dan Bangunan Menurut SNI Kapasitas Pelayanan No. Peralatan/Bangunan Volume KK Jiwa 1. Wadah komunal ,5-1,0 2. Komposter komunal ,5-1,0 3. Alat pengumpul Kontainer truk armroll TPS Tipe I Tipe II ±300 Tipe III ± Bangunan pendaur ulang sampah skala lingkungan Sumber: Badan Standardisasi Nasional (2008) Secara matematis, rumus untuk menghitung luas bangunan pendaur ulang skala lingkungan luas adalah sebagai berikut: Wadah sampah komunal yang terbuat dari besi dan digunakan untuk menampung sampah selama periode tertentu 13

27 Keterangan: C = Jumlah Rumah Sederhana Vbk = Volume 1 cetakan bahan kompos 2.4. Kompos Pengomposan adalah sistem pengolahan sampah organik dengan bantuan mikroorganisme, sehingga membentuk pupuk organik (Artiningsih, 2008). Sampah kota bisa digunakan sebagai kompos dengan catatan sampah kota harus dipilah dengan memisahkan sampah yang sukar membusuk terlebih dahulu sebelum diproses menjadi kompos. Jadi, sampah yang diolah menjadi kompos hanya sampah yang mudah membusuk (Wied dalam Sulistyorini, 2005). Beberapa manfaat kompos menurut Isroi antara lain 9 : (1) menghemat biaya transportasi dan penimbunan limbah; (2) mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan; (3) mengurangi volume atau ukuran limbah; (4) memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya; (5) mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah; (6) meningkatkan kesuburan tanah; (7) memperbaiki struktur dan karakteristik tanah Pengertian Daya Dukung Lingkungan Menurut Soerjani et al. (1987), daya dukung lingkungan adalah batas teratas dari pertumbuhan suatu populasi saat jumlah populasi tidak dapat didukung lagi oleh sarana, sumber daya dan lingkungan yang ada. Menurut Khana dalam KLH (2010) daya dukung lingkungan dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk mendapatkan hasil atau produk di suatu daerah dari 9 Isroi. diakses pada tangga 12 Oktober

28 sumberdaya alam yang terbatas dengan mempertahankan jumlah dan kualitas sumberdayanya. Sesuai dengan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa daya dukung lingkungan tidak hanya diukur dari kemampuan lingkungan dan sumberdaya alam dalam mendukung kehidupan manusia, tetapi juga dari kemampuan menerima beban pencemaran dan bangunan. Dengan demikian, daya dukung lingkungan hidup terbagi menjadi dua komponen yaitu kapasitas penyediaan (supportive capacity) dan kapasitas tampung limbah (assimilative capacity), seperti yang teruang pada Gambar 2 (KLH, 2010). Pertumbuhan Ekonomi Kualitas Hidup Hasil/Output Kegiatan Pembangunan Input Limbah/Residu Sumberdaya Alam Lingkungan Gambar 2. Kapasitas Penyediaan Sumberdaya Alam Kapasitas Tampung Limbah (Supportive Capacity) (Assimilative Capacity) Daya Dukung Lingkungan (Carrying Capacity) Sumber: Khana dalam KLH (2010) Daya Dukung Lingkungan Sebagai Dasar Pembangunan Berkelanjutan 2.6. Hubungan Daya Dukung Lingkungan dengan Pengetahuan dan Teknologi Masuknya ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) serta energi dalam cara pemanfaatan suatu sumberdaya dapat meningkatkan daya dukung suatu 15

29 lingkungan. Akan tetapi, karena keterbatasan dari potensi sumberdaya alam, ekosistem, dan IPTEK yang dikuasai manusia itu sendiri menyebabkan peningkatan daya dukung juga dapat bersifat signoid, bahkan pada ujung grafik signoid dapat menurun seperti pada Gambar 3 (KLH, 2010). Kenaikan Daya Dukung batas kenaikan daya dukung Penambahan IPTEK dan Energi Sumber: KLH (2010) Gambar 3. Hubungan Peningkatan Daya Dukung dan Penggunaan IPTEK 2.7. Penentuan Daya Dukung Lingkungan Penentuan daya dukung lingkungan hidup dalam pengendalian perkembangan kawasan didasarkan pada tiga komponen, yaitu kesesuaian dan ketersediaan lahan, kesesuaian mutu dan ketersediaan air, dan ketersediaan sarana prasarana. Apabila salah satu dari ketiga komponen tersebut terlampaui, maka dapat diindikasikan bahwa daya dukung lingkungan di kawasan tersebut telah terlampaui (KLH, 2010). Penentuan daya dukung lingkungan dapat dilakukan dengan mendasarkan tingkat ketersediaan sarana prasarana untuk pemenuhan kebutuhan pada setiap jenis kawasan sesuai peruntukannya. Apabila terdapat kesesuaian, maka dapat diindikasikan bahwa daya dukung lingkungan berada dalam keadaan belum terlampaui. Tetapi apabila sebaliknya, maka dapat diindikasikan bahwa daya dukung lingkungan telah terlampaui (KLH, 2010). Untuk lebih jelasnya, 16

30 penentuan daya dukung lingkungan berdasarkan ketersediaan sarana prasarana dapat dilihat pada Gambar 4. Ketersediaan sarana prasarana Dibandingkan Jumlah kebutuhan Kebutuhan terpenuhi sesuai standar? Ya Tidak Indikasi daya dukung lingkungan terlampaui Indikasi daya dukung lingkungan belum terlampaui Sumber: KLH (2010) Gambar 4. Diagram Penentuan Daya Dukung Lingkungan dengan Pendekatan Kesesuaian Ketersediaan Sarana Prasarana 2.8. Analisis Kelayakan Ekonomi Perhitungan biaya dan manfaat proyek pada dasarnya dapat dilakukan melalui dua pendekatan, tergantung pada pihak yang berkepentingan langsung dalam proyek. Suatu perhitungan dikatakan privat atau analisis finansial jika yang berkepentingan langsung dalam biaya dan manfaat proyek adalah individu atau pengusaha. Dalam hal ini, yang dihitung sebagai manfaat adalah apa yang diperoleh orang-orang atau badan-badan swasta yang menanamkan modalnya dalam proyek tersebut. Sebaliknya, suatu perhitungan dikatakan sosial atau ekonomi jika yang berkepentingan langsung dalam biaya dan manfaat proyek adalah pemerintah atau masyarakat. Dalam hal ini, yang dihitung adalah seluruh manfaat yang terjadi dalam masyarakat sebagai hasil dari proyek dan semua biaya yang terpakai terlepas dari siapa saja yang menikmati manfaat dan siapa saja yang mengorbankan sumber-sumber tersebut (Gray, 2007). Setiap kebijakan program atau keputusan ekonomi harus dianalisis dalam rangka melihat pengaruh-pengaruh yang ada. Analisis ekonomi adalah suatu alat yang digunakan oleh para ahli untuk memberikan arahan dalam proses-proses 17

31 pengambilan keputusan secara nasional serta menganalisis kebijakan ekonomi. Analisis ekonomi juga digunakan untuk mengevaluasi kontribusi dari kebijakankebijakan yang ada, keputusan-keputusan atau proyek yang memberikan kemakmuran bagi masyarakat. Nilai dari setiap barang atau sumberdaya yang digunakan atau dihasilkan oleh proyek dinilai berdasarkan kontribusinya terhadap kemakmuran negara (Maturana, 2005). Menurut Gray (2007) pada dasarnya perhitungan dalam analisis privat dan analisis ekonomi berbeda menurut lima hal, yaitu: 1. Harga Dalam analisis ekonomi, harga yang digunakan adalah harga bayangan yang merupakan nilai tertinggi suatu produk atau faktor produksi dalam penggunaan alternatif terbaik. Menurut Husnan dan Suwarsono (2000), beberapa cara penggunaan harga bayangan antara lain sebagai berikut 10 : a) Harga bayangan yang digunakan untuk input output diperdagangkan adalah harga internasional atau border price yang dinyatakan dalam satuan moneter setempat pada kurs pasar. Menurut Djamin (2003), border price yang relevan untuk input dan output impor adalah harga CIF (Cost, Insurance and Freight). Sementara untuk input dan output ekspor, border price yang relevan digunakan adalah harga FOB (Free On Board) pada titik masuk pelabuhan ekspor; b) Harga bayangan dari input tidak diperdagangkan adalah consumer willingness to pay (WTP) atau kesediaan konsumen untuk membayar, 10 Soetriono. diakses pada tanggal 9 Oktober

32 dalam hal ini adalah kesediaan pihak yang berkepentingan dalam proyek untuk membayar; c) Harga bayangan untuk biaya tenaga kerja adalah berapa sektor lain bersedia membayar untuk tenaga kerja tersebut. Jika proyek tersebut menciptakan tenaga kerja, maka harga bayangan tenaga kerja jauh lebih rendah dibandingkan dengan upah yang dibayarkan perusahaan kepada tenaga kerja; d) Harga bayangan modal untuk lahan diperhitungkan dari biaya pengorbanan produksi (production foregone), yaitu hasil produksi dari tanah apabila tidak digunakan untuk proyek. Untuk tanah yang tidak menghasilkan, harga bayangan dapat berupa harga sewa dari tanah tersebut; e) Harga bayangan untuk nilai valuta asing adalah nilai resmi yang ditentukan oleh lembaga pemerintah yang berwenang dikali dengan faktor konversi. 2. Pajak Analisis ekonomi menganggap pajak sebagai transfer, yaitu bagian dari manfaat proyek yang diserahkan kepada pemerintah, sehingga tidak dikurangi dari komponen manfaat. Dengan kata lain, pajak tidak termasuk dalam sumber-sumber riil yang penggunaannya dalam proyek menyebabkan timbulnya biaya penggunaan alternatif terbaik dari segi masyarakat. Pajak langsung berupa pajak perusahaan yang dibayarkan atas laba perusahaan tidak dikurangi dari harga yang dibayarkan konsumen. Sementara itu, pajak tidak langsung yang dibayarkan ke pemerintah dan merupakan bagian harga 19

33 yang dibayarkan konsumen, harus dikurangi dalam menghitung harga ekonomi. 3. Subsidi Pada analisis ekonomi, subsidi dianggap sebagai sumber-sumber yang dialihkan dari masyarakat untuk digunakan dalam proyek. Oleh karena itu subsidi yang diterima proyek adalah beban masyarakat, sehingga dari segi perhitungan ekonomi tidak mengurangi biaya proyek. 4. Biaya Investasi dan Pelunasan Pinjaman Pada analisis ekonomi, seluruh biaya investasi baik yang berasal dari modal yang dihimpun dari dalam atau luar negeri maupun dari modal saham atau pinjaman, dianggap sebagai biaya proyek pada saat dikeluarkannya. Jadi, pelunasan pinjaman yang digunakan untuk membiayai sebagian investasi tersebut diabaikan dalam perhitungan biaya ekonomi demi menghindari perhitungan ganda (double-counting). Terdapat pengecualian jika bagian investasi dibiayai dengan pinjaman luar negeri yang diperuntukkan hanya untuk proyek itu sendiri. Dana pinjaman tidak boleh dipakai untuk proyek lain apabila proyek tersebut tidak jadi dilaksanakan. Sama halnya dengan perhitungan privat, biaya pinjaman luar negeri yang diperuntukkan hanya untuk proyek termaksud diperhitungkan dalam bentuk arus pelunasan pinjaman. 5. Bunga Bunga atas pinjaman dalam negeri ataupun luar negeri tidak dianggap sebagai biaya pada analisis ekonomi. Hal tersebut dikarenakan modal dianggap sebagai modal masyarakat sehingga bunganya pun dianggap sebagai bagian 20

34 dari manfaat ekonomi. Akan tetapi, jika bunga berasal dari peminjaman luar negeri yang terikat dan tersedia hanya untuk proyek tertentu, bunga dibayarkan sebagai biaya proyek pada tahun pertama Penelitian Terdahulu Evaluasi terhadap daya dukung lingkungan telah dilakukan sebelumnya oleh Wibowo pada tahun Daya dukung yang diteliti meliputi fungsi ekologis vegetasi dalam memperbaiki suhu (ameliorasi iklim) dan menyerap air hujan (hidrologis) di Jakarta. Penelitian dilakukan secara kuantitatif dengan menggunakan metode expost facto yang dibahas menggunakan analisis deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa daya dukung Jakarta dalam memperbaiki suhu turun dari diatas 100 persen pada tahun 1940 menjadi 86,76 persen pada tahun 2003, sedangkan kapasitas daya dukung menyerap air turun dari 100 persen menjadi 66,25 persen. Inkantriani (2008) juga telah melakukan analisis daya dukung lingkungan dengan studi kasus zona industri Genuk yang berlokasi di Semarang. Teknik analisis yang digunakan adalah deskriptif dan kuantitatif dengan pembobotan dan distribusi frekuensi. Variabel daya dukung lingkungan yang dianalisis meliputi sarana dan prasana yang dimiliki zona industri Genuk, yaitu jaringan jalan dan drainase. Hasil dari analisis menunjukkan bahwa tingkat daya dukung lingkungan pada kawasan industri Terboyo Semarang, Terboyo Megah, dan LIK Buangan termasuk rendah karena nilainya berada pada kisaran 20-46, sedangkan tingkat daya dukung lingkungan untuk wilayah industri sepanjang jalan Kaligawe termasuk sedang karena nilainya berada pada kisaran

35 Penelitian mengenai analisis kelayakan finansial telah dilakukan oleh Kurniawan (1999) dengan mengambil studi kasus usaha pengolahan sampah yang terdapat di TPST Bantargebang. Kurniawan menyimpulkan bahwa dengan kapasitas produksi 540 ton kompos per tahun dan harga jual Rp per kg, usaha pengolahan sampah memperoleh penerimaan total sebesar Rp per tahun. Nilai Benefit Cost Ratio (B/C) yang diperoleh adalah 1,05 yang berarti setiap Rp1,00 biaya yang dikeluarkan akan diperoleh keuntungan sebesar Rp 1,05. Payback periode hasil perhitungan adalah 0,28 tahun atau tiga bulan lebih 4 hari, yang artinya modal usaha pembuatan kompos akan kembali dalam jangka waktu 3 bulan lebih 4 hari. Cahyani (2009) mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah timbulan sampah yang dihasilkan Perumahan Cipinang Elok. Hasil analisis dengan menggunakan regresi berganda menunjukkan bahwa jika luas tempat tinggal dimasukkan sebagai variabel, maka variabel yang mempengaruhi jumlah timbulan adalah pola hidup, jumlah anggota keluarga, pendapatan rumah tangga, pengeluaran konsumsi rumah tangga, jenis sampah dan retribusi kebersihan. Sementara jika luas tempat tinggal tidak dimasukkan sebagai variabel, maka variabel yang mempengaruhi jumlah timbulan adalah pola hidup, jumlah anggota keluarga, pendapatan rumah tangga, pengeluaran konsumsi rumah tangga dan retribusi kebersihan dan jenis sampah. Cahyani juga melakukan analisis untuk menilai kelayakan UPS Mutu Elok yang berlokasi di wilayah Perumahan Cipinang Elok. Berdasarkan penelitian disimpulkan bahwa pada tingkat suku bunga rata-rata 10 persen, UPS Mutu Elok memiliki nilai Net Present Value (NPV), Net B/C dan Internal Rate of Return (IRR) masing-masing sebesar Rp 22

36 ,50, 1,22 dan 12 persen, sehingga layak untuk dijalankan. Pemberian subsidi harga kompos, peningkatan alokasi dana dari kas warga, dan peningkatan tarif retribusi kebersihan akan meningkatkan kelayakan finansial dari UPS Mutu Elok. Sebaliknya, penurunan alokasi dana dari kas warga dan penurunan tarif retribusi kebersihan akan menurunkan kelayakan finansial UPS Mutu Elok. Penjelasan selengkapya mengenai penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 3. Meskipun penelitian mengenai daya dukung lingkungan dan analisis kelayakan sampah telah dilakukan sebelumnya, penelitian ini memiliki perbedaan, sehingga tetap penting untuk dilakukan. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah sebagai berikut: 1. Analisis kelayakan UPS dilakukan dari sudut pandang ekonomi dengan memperhitungkan manfaat dan biaya eksternal 11 ; 2. Penelitian ini menganalisis daya dukung lingkungan UPS Mutu Elok dengan memfokuskan analisis pada kemampuan lingkungan dalam menerima beban sampah; 3. Penelitian menganalisis pengaruh UPS Mutu Elok terhadap daya dukung lingkungan Perumahan Cipinang Elok. 11 Dampak negatif yang diterima oleh suatu pihak akibat tindakan yang dilakukan oleh pihak lain. Biaya eksternal juga biasa disebut eksternalitas negatif 23

37 Tabel 3. Matriks Penelitian Terdahulu Penulis Judul Metode Hasil 1. Wibowo Evaluasi Daya Dukung Lingkungan Hidup Kota Jakarta Expost facto Daya dukung Jakarta dalam memperbaiki suhu turun dari diatas 100 persen pada tahun 1940 menjadi 86,76 persen pada tahun 2003, sedangkan kapasitas daya dukung menyerap air turun dari 100 persen menjadi 66,25 persen 2. Inkantriani Evaluasi Daya Dukung Lingkungan Zona Industri Genuk Semarang 3. Kurniawan Analisis Kelayakan Usaha Pengolahan Sampah Kota Menjadi Produk yang Berguna di TPA Bantargebang 4. Cahyani Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Sampah dan Kelayakan Finansial Usaha Pengelolaan Sampah Rumahtangga (Studi Kasus di Perumahan Cipinang Elok, Jakarta Timur) Pembobotan dan distribusi frekuensi Analisis penerimaan, Net B/C dan payback periode Analisis regresi berganda dan analisis kelayakan finansial dengan menggunakan kriteria NPV, Net B/C dan IRR Kawasan industri Terboyo Semarang, Terboyo Megah, dan LIK Buangan memiliki tingkat daya dukung yang rendah karena nilainya berada pada kisaran 20-46, sedangkan wilayah industri sepanjang jalan Kaligawe memiliki tingkat daya dukung lingkungan sedang karena nilainya berada pada kisaran Usaha pengolahan sampah memiliki penerimaan total sebesar Rp per tahun dan Net B/C sebesar 1,05. Payback periode usaha ini adalah 0,28 tahun atau 3 bulan lebih 4 hari, yang artinya modal usaha pembuatan kompos akan kembali dalam jangka waktu 3 bulan lebih 4 hari Jika luas tempat tinggal dimasukkan sebagai variabel, maka variabel yang mempengaruhi jumlah timbulan adalah pola hidup, jumlah anggota keluarga, pendapatan rumah tangga, pengeluaran konsumsi rumah tangga, jenis sampah dan retribusi kebersihan. Sementara jika luas tempat tinggal tidak dimasukkan sebagai variabel, maka variabel yang mempengaruhi jumlah timbulan adalah pola hidup, jumlah anggota keluarga, pendapatan rumah tangga, pengeluaran konsumsi rumah tangga dan retribusi kebersihan dan jenis sampah. Pada tingkat suku bunga 10 persen, UPS Mutu Elok layak dijalankan dengan nilai NPV, Net B/C dan IRR masing-masing sebesar Rp ,50, 1,22 dan 12 persen 24 24

38 BAB III KERANGKA PEMIKIRAN Jumlah timbulan sampah yang dihasilkan penduduk Jakarta terus meningkat setiap tahunnya seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Keterbatasan lahan dan mahalnya biaya operasional menyebabkan pemerintah tidak dapat mengimbangi peningkatan timbulan sampah dengan peningkatan pelayanan pengelolaan sampah. Jika terus dibiarkan, jumlah timbulan sampah akan melampaui daya dukung lingkungan dan menimbulkan kerusakan pada sumberdaya dan ekosistem. Mengurangi timbulan sampah merupakan langkah penyelesaian yang dapat diambil untuk keluar dari masalah ini. Agar efektif, sampah harus dikurangi sejak dari sumber dengan melibatkan seluruh pihak, baik pemerintah, masyarakat, maupun pelaku usaha. Hal ini juga telah ditegaskan pemerintah dalam Undang- Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat merupakan paradigma baru dalam pengelolaan sampah yang dibuat untuk mengakomodasi upaya pengurangan sampah sejak dari sumber. Pelaksanaan pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat di Jakarta masih belum optimal karena masyarakat dan pelaku usaha dalam pengelolaan sampah 3R masih minim, khususnya untuk kegiatan pengolahan. Masyarakat dan pengembang kawasan tidak tertarik melakukan pengolahan sampah karena dianggap tidak menguntungkan. Pengolahan sampah sebenarnya dapat memberikan sejumlah manfaat yang membawa keuntungan bagi pemerintah, masyarakat, dan pengembang kawasan. Namun, kebanyakan dari manfaat-manfaat tersebut merupakan manfaat lingkungan yang tidak diperhitungkan dalam analisis finansial. Oleh karena itu, 25

39 dengan menggunakan Perumahan Cipinang Elok sebagai studi kasus, analisis lebih mendalam mengenai pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat akan dilakukan, khususnya untuk kegiatan pengolahan. Manfaat lingkungan yang dihasilkan oleh kegiatan pengolahan akan diperhitungkan agar manfaat pengolahan dapat terlihat secara keseluruhan. Penelitian diawali dengan analisis terhadap pelaksanaan pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat yang diterapkan di Perumahan Cipinang Elok. Analisis dilakukan berdasarkan pengamatan terhadap teknis operasional pengelolaan sampah, mulai dari sistem pewadahan di tiap rumah tangga hingga pembuangan akhir ke TPST Bantargebang. Seluruh hasil analisis disajikan secara deskriptif. Penelitian kemudian dilanjutkan dengan analisis daya dukung lingkungan UPS Mutu Elok dengan membatasi lingkup analisis pada kemampuan lingkungan dalam menerima beban sampah. Kegiatan pengolahan UPS Mutu Elok harus dintegrasikan dengan daya dukung lingkungan agar alokasi kegiatan sesuai dengan kondisi dan kapasitas sumberdaya di wilayah UPS tersebut. Pengintegrasian juga bertujuan untuk menghindari kerusakan sumberdaya dan ekosistem oleh kegiatan pengolahan yang dapat mengganggu kenyamanan warga dan menyebabkan kegiatan pengolahan tidak berkelanjutan. Daya dukung lingkungan UPS Mutu Elok dianalisis dengan cara mengkaji sarana dan prasarana yang dimiliki UPS Mutu Elok. Respon warga dianalisis untuk melihat ada tidaknya indikasi gangguan dan pencemaran yang ditimbulkan oleh UPS Mutu Elok. Pengaruh UPS Mutu Elok terhadap daya dukung lingkungan Perumahan Cipinang Elok juga dianalisis untuk mengetahui apakah penambahan 26

40 IPTEK berupa UPS dapat meningkatkan daya dukung lingkungan perumahan. Seluruh analisis daya dukung lingkungan disajikan secara deskriptif. Terakhir, kelayakan ekonomi UPS Mutu Elok dianalisis dengan menggunakan kriteria NPV, Net B/C, dan IRR. Hasil dari penilaian tersebut akan menentukan layak tidaknya UPS Mutu Elok tersebut dijalankan. Setelah itu, analisis sensitivitas dilakukan untuk melihat apakah UPS Mutu Elok masih layak dijalankan seandainya terjadi perubahan-perubahan. Seluruh hasil dari analisis akan menghasilkan rekomendasi yang diharapkan dapat membantu menyelesaikan masalah sampah di Jakarta. Untuk memperjelas alur dari penelitian yang dilakukan, dapat dilihat pada diagram alir dalam Gambar 5. 27

41 Peningkatan jumlah timbulan sampah Berpotensi melampaui daya dukung lingkungan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah Pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat Rendahnya partisipasi masyarakat dan pengembang kawasan karena dianggap tidak menguntungkan Perumahan Cipinang Elok Unit Pengolahan Sampah (UPS) MutuElok Pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat di Perumahan Cipinang Elok Analisis daya dukung lingkungan Kemampuan lingkungan dalam menerima beban sampah Analisis Kelayakan Ekonomi UPS Mutu Elok : 1. NPV 2. Net B/C 3. IRR 1. Daya dukung lingkungan UPS Mutu Elok 2. Respon warga Cipinang Elok 3. Pengaruh UPS Mutu Elok terhadap daya dukung lingkungan Perumahan Cipinang Elok Layak/tidak? Deskriptif Rekomendasi Gambar 5. Diagram Alir Kerangka Pemikiran 28

42 4.1. Lokasi dan Waktu BAB IV METODE PENELITIAN Daerah penelitian mencakup Perumahan Cipinang Elok RW 10, Kelurahan Cipinang Muara, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan alasan: (1) terdapat UPS pada lokasi tersebut; (2) penelitian ini telah mendapatkan persetujuan dari ketua RW setempat, sehingga memudahkan peneliti untuk melakukan penelitian. Pengambilan data dilaksanakan dari bulan Agustus September Jenis, Sumber dan Teknik Pengumpulan Data Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui observasi lapang dan wawancara dengan responden menggunakan kuisioner. Sementara data sekunder diperoleh melalui studi literatur yang didapatkan dari berbagai sumber yang relevan dan instansi yang terkait dengan permasalahan. Sumber-sumber relevan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari buku, laporan, dan internet. Sementara, instansi yang dijadikan sumber dalam penelitian ini adalah RW Cipinang Elok, Kelurahan Cipinang Muara, dan Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta Metode Pengambilan Sampel Pengambilan sampel dilakukan dengan metode Purposive Sampling. Responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah warga Perumahan Cipinang Elok dengan jumlah sampel sebanyak 40 responden. Penentuan jumlah sampel didasarkan pada pertimbangan batas minimum pengambilan sampel untuk penelitian komposisi sampah yang ditetapkan oleh Dirjen Cipta Karya Kementerian PU, yaitu sebanyak 40 sampel. 29

43 4.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data Pengolahan data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Pengolahan data kualitatif dilakukan secara deskriptif dan interpretatif. Pengolahan dan analisis data kuantitatif dilakukan dengan menggunakan program Microsoft Office Excel. Tabel 4 berikut menunjukkan matriks metode analisis yang digunakan untuk menjawab tujuan dalam penelitian ini. Tabel 4. Matriks Metode Analisis Data Tujuan Penelitian Jenis Data Metode Analisis Data 1. Memperoleh gambaran pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat yang diterapkan di Perumahan Cipinang Elok Primer Deskriptif 2. Analisis daya dukung lingkungan UPS Mutu Elok dan pengaruh UPS Mutu Elok terhadap daya dukung lingkungan Primer Deskriptif 3. Analisis kelayakan UPS Mutu Elok secara ekonomi Primer dan sekunder Kriteria kelayakan (NPV, Net B/C, IRR), Analisis sensitivitas Analisis Daya Dukung Lingkungan Daya dukung lingkungan UPS Mutu Elok dianalisis dengan membandingkan potensi sampah terolah dan potensi mesin pencacah dengan realisasi pemanfaatan potensi tersebut. Jika potensi yang dimiliki potensi yang termanfaatkan, maka dapat disimpulkan bahwa UPS Mutu Elok memiliki daya dukung lingkungan yang tinggi. Sementara jika potensi yang dimiliki > potensi yang termanfaatkan, maka dapat disimpulkan bahwa UPS Mutu Elok memiliki daya dukung yang rendah. Indeks daya dukung lingkungan dihitung secara matematis dengan menggunakan rumus berikut: 30

44 Daya dukung lingkungan UPS Mutu Elok juga dianalisis dengan cara membandingkan antara ketersediaan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh UPS Mutu Elok dengan jumlah kebutuhan. Jumlah kebutuhan UPS Mutu Elok diukur dari luas ideal bangunan UPS yang dihitung dengan menggunakan rumus yang ditetapkan dalam SNI Luas ideal bangunan UPS berdasarkan rumus SNI yang telah disesuaikan dengan kondisi di lapangan adalah sebagai berikut: Jika luas bangunan UPS Mutu Elok luas ideal, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat kesesuaian antara sarana prasarana dengan jumlah kebutuhan yang merupakan indikasi belum terlampauinya daya dukung lingkungan. Namun jika luas bangunan UPS Mutu Elok < luas ideal, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat ketidakesesuaian antara sarana prasarana dengan jumlah kebutuhan yang merupakan indikasi telah terlampauinya daya dukung lingkungan. Analisis respon masyarakat terhadap pengelolaan sampah juga dilakukan untuk melihat apakah ada indikasi gangguan atau pencemaran yang disebabkan oleh UPS Mutu Elok. Analisis ini disajikan dalam bentuk uraian berdasarkan hasil wawancara dan observasi. Analisis pengaruh UPS Mutu Elok terhadap daya dukung lingkungan Perumahan Cipinang Elok dilakukan dengan cara membandingkan kondisi daya dukung lingkungan Perumahan Cipinang Elok dengan dan tanpa UPS Mutu Elok. Pada kondisi terdapat UPS Mutu Elok, kemampuan lingkungan perumahan dalam menerima beban sampah didekati dari kapasitas pengelolaan sampah yang terdiri dari kapasitas penampungan sementara, kapasitas daur ulang, 31

45 dan kapasitas pengomposan yang secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut: Keterangan: KPS = Kapasitas penampungan sementara KDU = Kapasitas daur ulang KPO = Kapasitas pengomposan Sementara pada kondisi tanpa UPS Mutu Elok, kapasitas pengelolaan sampah hanya terdiri dari kapasitas penampungan sementara dan kapasitas daur ulang yang secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut: Keterangan: KPS = Kapasitas penampungan sementara KDU = Kapasitas daur ulang Masing-masing total kapasitas pengelolaan ini kemudian dibandingkan dengan total jumlah timbulan sampah dengan cara menghitung selisihnya menggunakan rumus berikut: Jika selisih antara total kapasitas pengelolaan dengan total timbulan sampah 0, maka dapat dindikasikan bahwa daya dukung lingkungan Perumahan Cipinang Elok belum terlampaui. Namun jika sebaliknya, maka dapat dindikasikan bahwa daya dukung lingkungan Perumahan Cipinang Elok telah terlampaui. 32

46 Komponen Arus Penerimaan (Inflow) dan Pengeluaran (Outflow) UPS Mutu Elok Komponen Arus Penerimaan (Inflow) dihitung berdasarkan sejumlah manfaat (Bt) yang diterima dari adanya UPS Mutu Elok, terdiri dari: 1. Manfaat Kompos Manfaat Kompos yang dimaksud di sini adalah manfaat langsung yang diperoleh dari produksi kompos oleh UPS Mutu Elok, yaitu: a) Penjualan Kompos Nilai manfaat penjualan diperoleh dari hasil perkalian antara harga penjualan kompos dengan volume penjualan. Nilai penjualan kompos dirumuskan sebagai berikut: Keterangan: NP = Nilai penjualan kompos Pi = Harga kompos yang dijual pada tahun i Qi = Volume penjualan kompos pada tahun i i = Waktu ke-i b) Penggunaan Kompos Untuk LRB Sebagian kompos yang dihasilkan UPS Mutu Elok digunakan untuk mengisi LRB. Biasanya, LRB diisi dengan sampah organik yang berfungsi untuk menyerapkan air ke dalam tanah. Namun, warga Cipinang Elok lebih memilih menggunakan kompos ketimbang sampah organik karena kompos lebih cepat menyerap air dibandingkan sampah organik. Penggunaan kompos ini tidak dipungut biaya oleh UPS Mutu 33

47 Elok. Namun dalam analisis ekonomi, penggunaan tersebut dianggap sebagai manfaat kompos yang harus diperhitungkan dalam cashflow. Nilai penggunaan kompos pada LRB dihitung dengan menggunakan rumus: Keterangan: NL = Nilai penggunaan kompos pada LRB Pi = Harga kompos yang dijual pada tahun i Qi = Jumlah kompos yang digunakan untuk LRB pada tahun i i = Waktu ke-i c) Kesuburan Penggunaan kompos sebagai pupuk memberikan manfaat kesuburan bagi tanaman. Nilai manfaat ini diperoleh dari hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya pada objek dan lokasi yang sama. 2. Nilai Kenyamanan UPS Mutu Elok memiliki peran dalam membantu mengurangi jumah timbulan sampah. Pengurangan jumlah timbulan sampah menyebabkan sampah dapat tertampung dan terkelola seluruhnya, sehingga tidak menimbulkan pencemaran yang dapat menganggu kenyamanan warga. Dengan demikian, UPS Mutu Elok secara tidak langsung memberikan manfaat kenyamanan. Karena manfaat ini tidak memiliki nilai pasar, maka pengukuran nilai manfaatnya didekati dari nilai WTP. 34

48 Simonson dan Drolet (2003) mendefinisikan WTP sebagai harga pada tingkat konsumen yang merefleksikan nilai barang atau jasa dan pengorbanan untuk memperolehnya. Menurut Tamin (1999) WTP adalah kesediaan pengguna untuk mengeluarkan imbalan atas jasa yang diperolehnya. Pendekatan yang digunakan dalam analisis WTP didasarkan pada persepsi pengguna terhadap tarif dari jasa tersebut. Nilai WTP masyarakat terhadap UPS Mutu Elok diperoleh melalui wawancara dengan menggunakan kuisioner. Tahap-tahap untuk memperoleh nilai WTP adalah sebagai berikut: 1) Membuat Pasar Hipotetik Dalam penelitian ini pasar hipotetik dibentuk atas dasar terjadinya perbaikan kualitas lingkungan dengan adanya UPS Mutu Elok. 2) Mendapatkan Penawaran Besarnya Nilai WTP. Metode yang digunakan untuk mendapatkan nilai penawaran pada penelitian ini adalah campuran antara Close Ended Question dan Open Ended Question, yaitu dengan cara memberikan pilihan nilai WTP yang diperlukan untuk memperoleh perbaikan kualitas lingkungan yang kemudian dilanjutkan dengan pilihan terbuka seandainya responden ingin memberikan nilai yang lebih besar dari nilai-nilai yang telah ditawarkan. 3) Memperkirakan Nilai Tengah WTP Nilai WTP dapat diestimasi dengan menggunakan nilai rata-rata dari penjumlahan keseluruhan nilai WTP dibagi dengan jumlah responden. Namun menurut Hanley dan Spash (1993), penggunaan nilai rata-rata akan menyebabkan nilai WTP yang diperoleh lebih tinggi dari nilai 35

49 sebenarnya. Hal ini karena nilai dipengaruhi oleh penawaran responden yang terlalu besar atau kecil yang mungkin disebabkan oleh kesalahan persepsi dalam proses wawancara. Oleh karena itu, nilai WTP akan lebih baik jika diperoleh dengan menggunakan nilai tengah. Dugaan nilai tengah WTP dihitung dengan rumus: ( ) Keterangan: EWTP = Estimasi nilai WTP Bb = Batas bawah dari interval yang mengandung nilai tengah = Frekuensi kumulatif di bawah interval yang mengandung nilai tengah = Frekuensi interval yang mengandung nilai tengah i = Lebar interval N = Jumlah responden 4) Menjumlahkan Data Setelah estimasi nilai tengah WTP didapatkan, selanjutnya nilai total WTP diestimasi dengan menggunakan rumus: Keterangan: TWTP = Total WTP EWTP = Estimasi WTP P = Jumlah populasi 36

50 5. Nilai Sisa Nilai sisa merupakan pos penerimaan yang berasal dari sisa barang-barang investasi dan diperhitungkan pada akhir proyek UPS Mutu Elok. Komponen Arus Pengeluaran (Outflow) dihitung berdasarkan sejumlah biaya (Ct) yang dikeluarkan untuk UPS Mutu Elok yang terdiri dari: 1. Biaya Investasi Komponen biaya investasi terdiri dari: a) Biaya lahan. Pada kondisi sebenarnya, penggunaan lahan untuk UPS Mutu Elok tidak dipungut biaya karena menggunakan lahan bersama yang memang diperuntukkan untuk fasilitas umum. Namun dari sudut pandang ekonomi, penggunaan lahan ini merupakan bentuk pengalihan sumber yang dimiliki masyarakat ke dalam proyek sehingga menimbulkan biaya dalam perhitungannya; b) Biaya bangunan. Biaya ini meliputi seluruh biaya yang dikeluarkan untuk pendirian bangunan UPS Mutu Elok ; c) Biaya mesin. Biaya ini terdiri dari biaya pembelian mesin pencacah dan mesin pengayak. Pada analisis finansial, kedua mesin ini termasuk dalam komponen penerimaan karena merupakan sumbangan dari Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta. Akan tetapi, sumber dana sumbangan Dinas Kebersihan itu sendiri sebenarnya berasal dari masyarakat, sehingga sumbangan tersebut hanyalah biaya transfer dari masyarakat ke proyek; d) Biaya peralatan. Peralatan yang diperlukan untuk pembuatan kompos terdiri dari timbangan, garu, sekop, bakul anyam, ember plastik, terpal, 37

51 tong air, penyiram tanaman, gerobak sampah, sepatu boot, selang air, steples besar, dan becak untuk mengantarkan kompos ke konsumen; e) Biaya inventaris meja. Meja ini digunakan untuk memfasilitasi petugas UPS Mutu Elok. 2. Biaya Operasional Biaya operasional adalah biaya-biaya yang diperlukan untuk menjalankan UPS Mutu Elok dan menghasilkan kompos. Biaya operasional terdiri dari: a) Biaya bahan baku. Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan kompos antara lain: cairan EM4, dedak, pupuk kandang, dan gula. Meskipun selama ini pupuk kandang diperoleh dari Dinas Kebersihan secara gratis, tetapi dalam analisis ekonomi penggunaan pupuk kandang tetap dianggap sebagai biaya; b) Biaya pengemasan. Biaya ini terdiri dari biaya pembelian isi staples dan plastik kemasan serta biaya fotokopi untuk label kemasan; c) Biaya overhead. Biaya ini terdiri dari biaya pemakaian listrik dan air. Karena dalam analisis ekonomi subsidi tidak mengurangi biaya, maka biaya listrik tetap masuk dalam arus biaya meskipun faktanya biaya ini dibayarkan oleh pengurus RW dari pendapatan penyewaan lapangan tenis yang ada di Perumahan Cipinang Elok. Air yang digunakan oleh UPS Mutu Elok adalah air tanah. Dalam analisis finansial air tanah dianggap tidak menimbulkan biaya, tetapi dalam analisis ekonomi penggunaan air tanah dianggap sebagai pengalihan sumber dari masyarakat ke dalam proyek, sehingga menimbulkan biaya; 38

52 d) Biaya tenaga kerja. Biaya ini adalah biaya yang timbul karena penggunaan tenaga kerja dalam proyek; e) Ongkos kirim pupuk kandang. Setiap kali pupuk kandang dikirim ke UPS Mutu Elok, ketua RW setempat memberikan tip untuk supir. Oleh karena itu, tip ini masuk ke dalam komponen biaya. 3. Biaya Perawatan Biaya perawatan meliputi biaya perawatan gerobak dan becak yang dilakukan secara berkala. 4. Biaya Lain-Lain Biaya lain-lain terdiri dari biaya pengangkutan dan pembuangan sampah organik terolah yang tidak diolah oleh UPS. Biaya ini merupakan biaya eksternal yang timbul akibat UPS tidak dapat mengolah seluruh sampah, sehingga sebagian sampah masih harus dibuang dan diangkut ke TPST Bantargebang Kriteria Kelayakan Penilaian kelayakan ekonomi UPS Mutu Elok diperoleh dengan menggunakan kriteria kelayakan investasi yaitu, NPV, Net B/C, dan IRR. Nilai NPV, Net B/C, dan IRR diperoleh dari pengolahan komponen arus penerimaan dan pengeluaran dengan menggunakan Microsoft Office Excel. 1. NPV NPV adalah selisih antara total net present value dari manfaat dengan total net present value dari biaya. Secara matematis, NPV dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut (Gray, 2007): 39

53 Keterangan: NPV = Net Present Value Bt = Manfaat pada tahun ke t Ct = Biaya pada tahun ke t = Discount factor i = social discount rate t = 1, 2, 3,, n n = Umur proyek Proyek dikatakan layak jika NPV 0. Jika NPV = 0, berarti manfaat proyek dapat mengembalikan biaya yang dipergunakan persis sama besar. Jika NPV < 0, berarti proyek tidak dapat menghasilkan manfaat senilai dengan biaya yang dikeluarkan, sehingga tidak layak untuk dijalankan. 2. Net B/C Net B/C adalah indeks efisiensi proyek yang diperoleh dari perbandingan antara present value (PV) dari net benefit yang positif dengan present value dari net benefit yang negatif. Secara matematis, Net B/C dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut (Gray, 2007): Keterangan: = untuk, (PV positif) = untuk, (PV negatif) 40

54 Proyek dikatakan layak jika Net B/C 1. Net B/C =1 memiliki arti NPV = 0, sedangkan Net B/C < 1 memiliki arti NPV < 0 yang mengindikasikan proyek tidak layak untuk dijalankan. 3. IRR IRR adalah nilai social discount rate yang membuat NPV sama dengan nol. Secara matematis, IRR dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut (Gray, 2007): Keterangan: = social discount rate yang menghasilkan NPV positif = social discount rate yang menghasilkan NPV negatif = NPV positif = NPV negatif = selisih i Proyek layak untuk dijalankan jika IRR social discount rate. Jika IRR = social discount rate, maka NPV proyek tersebut = 0. Jika IRR < social discount rate, maka NPV < 0 dan proyek tidak layak untuk dijalankan Analisis Sensitivitas Sensitivity analysis is analysis on the effect on project profitability of possible changes in sales, costs, and so on (Brealey dan Myers, 2004). Analisis sensitivitas bertujuan untuk melihat bagaimana hasil proyek jika terjadi suatu kesalahan atau perubahan dalam dasar-dasar perhitungan manfaat dan biaya (Kadariah, 1978). 41

55 Menurut Djamin (1984), perubahan-perubahan yang dapat terjadi pada proyek antara lain sebagai berikut: (1) terdapat cost over run seperti kenaikan biaya konstruksi, (2) perubahan dalam harga hasil produksi, (3) mundurnya waktu implementasi, (4) kesalahan dalam memperkirakan produksi. Untuk melihat bagaimana dampak perubahan harga hasil produksi dan biaya terhadap hasil proyek, analisis sensitivitas dilakukan dengan menurunkan harga kompos dan meningkatkan harga gula. Harga kompos diturunkan hingga sama dengan harga eceran tertingginya, yaitu Rp per kg, sedangkan harga gula ditingkatkan hingga 100 persen. Peningkatan harga gula dipilih untuk analisis sensitivitas karena gula merupakan volatile foods yang harganya cenderung berubah dari waktu ke waktu. Gula merupakan barang tradable komoditas impor, sehingga dalam analisis ekonomi harganya ditentukan dari harga CIF atau harga yang berlaku di pasar dunia. Peningkatan harga gula sebesar 100 persen ditentukan berdasarkan histori peningkatan tertinggi harga gula dunia yang terjadi pada Agustus Proyek UPS Mutu Elok masih dianggap layak untuk dijalankan ketika NPV 0, Net B/C 1 dan IRR social discount rate. 42

56 BAB V GAMBARAN UMUM 5.1. Deskripsi Perumahan Cipinang Elok Perumahan Cipinang Elok terletak di Kelurahan Cipinang Muara, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. Perumahan ini memiliki dua pintu gerbang utama, yaitu Cipinang Elok I dan Cipinang Elok II yang menghadap ke Jalan Raya Cipinang Jaya. Secara administrasi yang lebih kecil, Perumahan Cipinang Elok termasuk ke dalam RW 10 Kelurahan Cipinang Muara dan terdiri dari lima belas RT. Perumahan dengan area seluas 33 hektar ini memiliki kurang lebih 571 unit rumah dengan jumlah penduduk sekitar jiwa atau 724 Kepala Keluarga (KK). Seluruh rumah sudah bersertifikat dengan luas bervariasi mulai dari Sebagian besar rumah dibangun vertikal dan telah mengalami perubahan tinggi dari permukaan tanah karena sering mengalami banjir dan genangan air. Penerangan jalan dan lingkungan di Perumahan Cipinang Elok berfungsi dengan baik. Kebutuhan air sudah dipasok seluruhnya oleh PAM Palyja. Air tanah masih digunakan oleh sebagian warga untuk keperluan tertentu, seperti MCK dan pengomposan di UPS Mutu Elok. Warga menjalankan fungsi kebersihan, keamanan, dan pemeliharaan lingkungan dengan mempekerjakan 25 orang petugas keamanan dan 28 orang petugas kebersihan yang terdiri dari lima belas petugas pengumpul sampah, empat petugas pembersih selokan, satu petugas perawat LRB, empat petugas pemelihara taman, dua petugas penyapu jalan utama, dan dua petugas UPS Mutu Elok. Tempat tinggal untuk petugas disediakan dalam bentuk mess yang terletak di sekitar UPS. Seluruh biaya operasional, gaji, dan honor petugas berasal dari 43

57 swadaya masyarakat berupa iuran bulanan, sumbangan dan hasil penjualan kompos. Terdapat tiga taman seluas di dalam area Perumahan Cipinang Elok. Jika memperhitungkan jalur hijau dan pekarangan warga, maka total Ruang Terbuka Hijau (RTH) diperkirakan seluas 2 hektar. Tanaman yang ditanam mencapai seratus jenis termasuk jenis tanaman obat keluarga. Tanaman obat ditanam oleh warga di pekarangan masing-masing dan di halaman Kantor RW. Daftar luas taman dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Luasan Taman Perumahan Cipinang Elok No. Lokasi 1. Blok S Luas ( Blok AV Blok AH 800 Jumlah ) Sumber: RW 10 Kelurahan Cipinang Muara dalam Kaisar (2011) Perumahan Cipinang Elok memiliki dataran yang relatif rendah dibandingkan daerah sekitarnya, sehingga sering tergenang air setiap kali hujan berlangsung lama atau deras. Genangan ini disebabkan oleh air larian (surface run off) yang timbul karena belum memadainya drainase wilayah lain di sekitar Perumahan Cipinang Elok. Pada tahun 2007, warga membuat lima ratus LRB untuk mengurangi genangan air. Kini, LRB sudah mencapai lubang dan menjadi percontohan untuk penyuluhan oleh Badan Pengendali Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI. Semenjak ada LRB, sebagian besar warga merasa air genangan menjadi lebih cepat surut. Bahkan di beberapa tempat, genangan air tidak lagi terjadi. Berdasarkan wawancara dengan empat puluh responden, 31 44

58 responden merasa air genangan lebih cepat surut dengan selisih waktu bervariasi mulai dari 10 menit hingga 165 menit Deskripsi UPS Mutu Elok UPS Mutu Elok pertama kali didirikan pada tahun 2005 atas inisiatif warga sebagai upaya mengurangi jumlah timbulan sampah yang diangkut ke TPST Bantargebang. Pengurus RW dan warga merasa perlu mengurangi jumlah timbulan sampah karena sampah yang dihasilkan sebelumnya seringkali melebihi kapasitas kontainer yang digunakan untuk menampung dan mengangkut sampah yang dihasilkan oleh warga Perumahan Cipinang Elok. UPS Mutu Elok mengurangi jumah timbulan sampah dengan cara mengolah sampah organik terolah menjadi kompos. Pendirian UPS Mutu Elok mendapatkan bantuan dari warga, Kelurahan Cipinang Muara, dan Suku Dinas Kebersihan Jakarta Timur. Warga membantu UPS Mutu Elok dengan mengalokasikan sebagian uang kas warga untuk biaya investasi dan operasional UPS. Bantuan dari Kelurahan Cipinang Muara diperoleh warga melalui dana Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (PPMK). Dana ini diperoleh setelah warga mengajukan mengajukan proposal pendirian UPS Mutu Elok ke keluarahan. Suku Dinas Kebersihan Jakarta Timur menyumbangkan mesin pencacah dan mesin pengayak untuk membantu proses pembuatan kompos Mutu Elok. Untuk keperluan operasional, UPS Mutu Elok juga menerima bantuan berupa subsidi untuk pembayaran listrik yang tagihannya dibayarkan oleh pengurus RW dari pendapatan penyewaan lapangan tenis yang ada di Perumahan Cipinang Elok. Dalam kesehariannya UPS Mutu Elok dijalankan dan dikelola 45

59 oleh pengurus RW dibawah pengawasan ketua RW setempat, Bapak Saksono Soehodo. Sejauh ini, kompos Mutu Elok hanya dipasarkan di sekitar daerah Jakarta Timur, khususnya kelurahan Cipinang Muara. Kompos disalurkan melalui toko yang dimiliki oleh salah satu pengelola UPS Mutu Elok. Kegiatan bazar yang rutin diadakan warga juga menjadi salah satu sarana untuk menjual kompos. Selain dijual, kompos Mutu Elok juga digunakan untuk menyuburkan taman dan jalur hijau. LRB juga diisi dengan kompos karena berdasarkan pengalaman warga, penyerapan air oleh LRB akan lebih efektif jika menggunakan kompos dibandingkan menggunakan sampah organik yang belum diolah. Penggunaan kompos untuk taman, jalur hijau, dan LRB tidak dikenakan biaya karena digunakan untuk kepentingan bersama warga Perumahan Cipinang Elok Karakteristik Responden Sebanyak empat puluh keluarga yang bertempat tinggal di Perumahan Cipinang Elok RW 010 dipilih sebagai responden. Responden pria berjumlah 21 orang atau sama dengan 52,5 persen dari populasi sampel dan wanita berjumlah sembilan belas orang atau sama dengan 47,5 persen dari populasi sampel Sebaran Tempat Tinggal Responden Sebagian besar responden dalam penelitian ini berasal dari RT 8, yaitu enam rumah tangga atau 15 persen dari total sampel. Responden terbesar kedua dan ketiga, berasal dari RT 10 dan RT 5 dengan jumlah masing-masing sebanyak lima rumah tangga dan empat rumah tangga atau 12,5 persen dan 10 persen dari total sampel. Tujuh koma lima persen responden atau sebanyak tiga rumah tangga masing-masing berasal dari RT 1, 2, 4, 12, dan 13. Lima persen responden atau 46

60 dua rumah tangga masing-masing berasal dari RT 6, 7, 14, 15, dan sebanyak 2,5 responden masing-masing berasal dari RT 9 dan RT 11. Karena tidak ada warga dari RT 3 yang bersedia untuk dijadikan responden, maka tidak ada responden yang berasal dari RT tersebut. Meskipun demikian, sebaran tempat tinggal responden ini menunjukkan bahwa pengambilan sampel sudah cukup mewakili populasi. Grafik sebaran tempat tinggal responden dapat dilihat pada Gambar 6. 7,5% 7,5% 12,5% 2,5% 5% 7,5% 7,5% 7% 7,5% RT 1 RT 2 RT 4 RT 5 RT 6 RT 7 2,5% 15% 5% 5% RT 8 RT 9 RT 10 RT 11 RT 12 RT 13 2% RT 14 RT 15 Sumber: Data Primer (2011) Gambar 6. Sebaran Tempat Tinggal Responden Tingkat Pendidikan Responden Tingkat pendidikan responden bervariasi, mulai dari jenjang SMP hingga perguruan tinggi. Sebanyak satu orang atau 2 persen dari total responden menempuh pendidikan hingga SMP, sembilan orang atau 23 persen dari total responden menempuh pendidikan hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Empat orang atau 10 persen dari responden menempuh pendidikan diploma atau akademi. Sisanya, sebanyak 26 orang atau 65 persen dari total responden menempuh pendidikan hingga pergurungan tinggi. Sebagian besar responden yang menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi menunjukkan bahwa umumnya warga Cipinang Elok berpendidikan tinggi. Tingkat pendidikan akan mempengaruhi penilaian responden terhadap UPS Mutu Elok, sehingga secara 47

61 tidak langsung juga mempengaruhi besaran nilai WTP yang akan diberikan. Perbandingan persentase tingkat pendidikan responden dapat dilihat pada Gambar 7. 2,5% 65% 22,5% 10% SMP SMA Akademi/Diploma Perguruan Tinggi Sumber: Data Primer (2011) Gambar 7. Sebaran Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tingkat Pendapatan Responden Pendapatan rumah tangga yang dimaksud adalah penerimaan yang diperoleh rumah tangga dalam kurun waktu 1 bulan. Penerimaan tersebut berasal dari seluruh anggota keluarga yang telah mempunyai penghasilan dan tinggal di dalam satu rumah. Pada Gambar 8, terlihat bahwa 60 persen dari total responden memiliki tingkat pendapatan diatas Rp per bulan. Sebanyak dua rumah tangga atau 5 persen dari total responden memiliki tingkat pendapatan Rp , sedangkan empat rumah tangga atau 10 persen dari total responden memiliki tingkat pendapatan masing-masing Rp dan Rp Selebihnya, enam rumah tangga atau 25 persen dari total responden memiliki tingkat pendapatan dibawah Rp per bulan. Berdasarkan data tersebut, dapat dilihat bahwa rata-rata warga Cipinang Elok memiliki tingkat pendapatan yang relatif tinggi, yaitu diatas Rp Meskipun demikian, jumlah responden yang memiliki tingkat pendapatan rendah 48

62 yaitu dibawah Rp juga cukup besar. Hal ini disebabkan banyak responden yang sudah pensiun, sehingga memiliki tingkat pendapatan yang relatif rendah. Tingkat pendapatan akan mempengaruhi besaran nilai WTP yang diberikan responden terhadap UPS Mutu Elok. Sebaran responden berdasarkan tingkat pendapatan rumah tangga dapat dilihat pada Gambar 8. 60% 15% 10% 10% <= > % Sumber: Data Primer (2011) Gambar 8. Sebaran Responden berdasarkan Tingkat Pendapatan Rumah Tangga 49

63 BAB VI PENGELOLAAN SAMPAH 3R BERBASIS MASYARAKAT DI PERUMAHAN CIPINANG ELOK 6.1. Pewadahan Sampah Pewadahan individual Perumahan Cipinang Elok pada umumnya dibagi menjadi tiga macam. Pertama, menggunakan plastik kemudian menggantungkannya di pagar rumah. Kedua, menggunakan kaleng-kaleng bekas atau barang bekas lainnya untuk kemudian dijadikan wadah sampah dan diletakkan di depan rumah. Ketiga, membangun wadah permanen yang tebuat dari semen di depan rumah. Selain wadah individual, warga Cipinang Elok juga memiliki wadah komunal dalam bentuk kontainer. Wadah ini menampung semua sampah yang berasal dari rumahan maupun fasilitas umum. Untuk memudahkan pengelolaan, wadah komunal diletakkan di depan bangunan UPS Mutu Elok. Pada tahap ini, beberapa warga telah melakukan pemilahan dengan membuat pembedaan wadah sampah. Sebanyak 72,5 persen dari empat puluh responden telah melakukan pembedaan wadah meskipun 52,5 persen dari responden masih membedakan sebatas sampah kering dan basah. Pembedaan wadah antara sampah organik dan anorganik telah dilakukan oleh 15 persen atau enam orang responden dan pembedaan antara sampah B3 dan non-b3 dilakukan oleh satu orang responden atau 2,5 persen dari total responden. Pemilahan sampah paling baik, yaitu antara organik, anorganik dan B3 dilakukan oleh satu orang atau 2,5 persen dari total responden. Proporsi jenis pembedaan wadah oleh responden dapat dilihat secara lengkap pada Gambar 9. 50

64 Himbauan untuk memisahkan sampah dari rumah telah intensif dilakukan sejak tahun Setelah dikeluarkan himbauan dalam bentuk surat edaran pada tahun 2007, hampir seluruh warga Perumahan Cipinang Elok kegiatan pemilahan di Perumahan Cipinang Elok sempat berjalan, namun hanya bertahan selama 3 bulan. Berdasarkan keterangan beberapa responden, tidak adanya pengawasan terhadap warga dan petugas pengumpul menjadi penyebab kegiatan pemilahan sampah tidak lagi berjalan optimal. Warga yang tadinya melakukan pemilahan sampah sering mendapati petugas pengumpul mencampurkan sampah yang telah mereka pilah, sehingga warga malas untuk memisahkan sampah lagi karena merasa upayanya akan sia-sia. 2,5% 2,5% 15% 52,5% 27,5% Tidak ada pembedaan Kering & basah Organik & anorganik Non B3 & B3 Organik, anorganik & B3 Sumber: Data Primer (2011) Gambar 9. Proporsi Pembedaan Wadah oleh Responden 6.2. Pengumpulan dan Pengangkutan Pengumpulan dan pengangkutan sampah dari setiap rumah dilakukan oleh lima belas petugas pengumpul dengan menggunakan 15 unit gerobak sampah. Setiap petugas dilengkapi satu unit gerobak sampah dan bertugas untuk melayani satu RT. Pengumpulan sampah dari rumah ke TPS dilakukan setiap hari dengan ritasi 12 sebanyak satu rit Banyaknya gerakan bolak-balik pengambilan sampah dari suatu sumber menuju TPS, TPST, atau TPA dan kembali lagi ke sumber 51

65 Sementara itu, pengumpulan sampah yang berasal dari taman dan jalur hijau dilakukan oleh satu orang petugas UPS Mutu Elok dengan menggunakan 1 unit gerobak khusus. Gerobak khusus dicat dengan warna hijau agar tampak berbeda dengan gerobak yang digunakan untuk mengangkut sampah dari rumah. Pengumpulan sampah dari taman dan jalur hijau ke UPS Mutu Elok dilakukan setiap hari dengan ritasi sebanyak 1 rit Pemindahan dan Pengolahan Seluruh sampah yang dikumpulkan dari rumahan dibawa ke TPS dan dipilah oleh tiga orang pemulung tetap. Sampah anorganik yang memiliki nilai jual akan diambil oleh pemulung untuk dijual ke penadah. Sementara, sampah yang tidak memiliki nilai jual akan dipindahkan ke dalam kontainer. Jika selama pemilahan pemulung menemukan sampah organik terolah, maka sampah tersebut dibawa ke UPS Mutu Elok untuk kemudian disortir dan diolah oleh petugas UPS. Sampah organik terolah biasanya berupa sampah tanaman dan sampah bekas sayuran yang belum dimasak. Sampah berupa bonggol kayu sengaja tidak diolah karena akan merusak mesin pencacah, sedangkan sampah berupa ranting harus di potong kecil-kecil dahulu agar dapat dicacah oleh mesin pencacah. Sampah bekas makanan yang telah dimasak juga tidak diolah di UPS Mutu Elok karena akan menimbulkan air lindi yang dapat mencemari lingkungan. Sebagian besar sampah yang dikumpulkan dari taman dan jalur hijau terdiri dari sampah organik, sehingga setelah pengumpulan, sampah langsung dibawa ke UPS Mutu Elok. Bonggol kayu dan sampah anorganik yang terbawa 13 Satuan ritasi alat pengangkut sampah 52

66 ke dalam UPS Mutu Elok dipisahkan dan dipindahkan ke dalam kontainer, sedangkan sampah organik terolah dikumpulkan untuk dijadikan kompos. Berdasarkan pengamatan selama penelitian, tahapan dalam pengomposan di UPS Mutu Elok adalah sebagai berikut: 1. Sampah organik terolah dikumpulkan oleh petugas UPS dan dihancurkan dengan mesin pencacah; 2. Secara terpisah, petugas UPS kemudian membuat larutan air yang terdiri dari 200 l air, 1 l EM4, dan 1 kg gula; 3. Selanjutnya, petugas UPS membuat adonan bokashi yang terdiri dari 30 l dedak, 10 l sekam atau gergaji kayu, dan 10 l larutan EM4 yang sudah dibuat sebelumnya. Bokashi lalu didiamkan selama 4-5 hari hingga menjadi ragi. Sekam dan gergaji kayu merupakan bahan baku kompos yang relatif sulit untuk didapatkan dan tidak bersifat harus digunakan, sehingga adonan bokashi seringkali hanya terdiri dari dedak dan larutan EM4 saja; 4. Sampah yang telah dicacah sebelumnya dicampur dengan larutan EM4 dengan kandungan larutan sebanyak 20 sampai 25 persen; 5. Kemudian, sampah yang telah tercampur dengan larutan EM4 dicampur lagi dengan dedak dan pupuk kandang masing-masing sebanyak 8-10 kg; 6. Setelah itu, adonan bokasi yang telah dibuat sebelumnya ditebar di atas tumpukan sampah organik yang telah tercampur dengan dedak dan pupuk kandang; 7. Tumpukan sampah kemudian dicetak dengan menggunakan cangkul dan garu hingga mencapai ukuran 80 x 150 x 80 cm. Sampah yang sudah dicetak kemudian ditutup dengan menggunakan terpal selama hari. Penutupan 53

67 tumpukan sampah dengan terpal bertujuan agar sampah dapat terfermentasi dengan baik dengan setiap bahan campurannya; 8. Setelah hari, sampah akan mulai matang dan mengeluarkan asap. Sampah yang telah mejadi kompos ini kemudian diayak agar menjadi lebih halus. Jika setelah diayak ada butiran-butiran kompos yang masih kasar, kompos dimasukkan ke mesin pencacah dan mengalami proses yang sama seperti yang tercantum pada poin dua sampai delapan; 9. Kompos yang telah halus lalu ditaruh di bak terbuka untuk diangin-anginkan agar mengandung uap air yang cukup; 10. Kompos dikemas dalam plastik atau karung sesuai dengan pemesanan. Pemesanan sebanyak 5 kg dikemas dengan plastik. Sementara pemesanan sebanyak 25 kg dikemas dengan menggunakan karung Pengangkutan dan Pembuangan Akhir Sampah yang terkumpul di kontainer diangkut ke TPST Bantargebang menggunakan truk armroll 14. Truk armroll ini datang ke TPS Cipinang Elok dengan membawa kontainer kosong. Kontainer kosong kemudian diletakkan di TPS untuk menggantikan kontainer yang telah penuh terisi sampah. Selanjutnya, kontainer yang telah penuh dibawa ke TPST Bantargebang untuk pengosongan. Karena keterbatasan truk armroll yang dimiliki oleh kecamatan, pengangkutan sampah dari TPS Cipinang Elok ke TPST Bantargebang memiliki ritasi sebanyak 1 rit. Jika timbulan sampah terlampau banyak hingga memerlukan pengangkutan lebih dari sekali, maka ritasi dapat mencapai 2 rit. Akan tetapi, hal tersebut tidak efisien dan menghabiskan biaya. 14 Truk yang dilengkapi pengungkit untuk mengangkat dan melepaskan kontainer 54

68 Pada TPST, sampah Perumahan Cipinang Elok dibuang ke dalam sebuah lubang dengan kedalaman tertentu bersama sampah dari daerah lainnya. Sampah kemudian dilapisi dengan tanah hingga mencapai ketinggian tertentu. Setelah itu sampah yang telah terlapisi oleh tanah ditimbun lagi oleh sampah yang baru, dan seterusnya. Setelah 40 hari, sampah yang ditimbun ini telah berubah menjadi kompos dan dapat diambil dengan cara pengurugan. Selama masa pengomposan, sampah yang ditimbun menghasilkan gas metan yang kemudian disalurkan ke Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSA). Air lindi yang dihasilkan dari proses pembusukan disalurkan ke Instalasi Pengolahan Air Sampah (IPAS) untuk dinetralkan dengan menggunakan teknologi activated sludge system sebelum dikembalikan ke lingkungan. Teknologi pengelolaan sampah yang diterapkan di TPST Bantargebang ini dinamakan sanitary landfill. Untuk lebih jelasnya mengenai teknologi ini, dapat dilihat pada Gambar 10. Sumber: Wahyono (2011) Gambar 10. Teknologi Sanitary Landfill Untuk sampah yang berasal dari pasar, sampah tidak dibawa ke tempat penimbunan tetapi langsung dibawa ke hanggar pengomposan. Hal ini dilakukan 55

69 dengan pertimbangan sampah yang dihasilkan oleh pasar umumnya berupa sampah organik. Pengomposan dilakukan secara aerobik dengan menggunakan 6 unit mesin pencacah, 3 unit mesin pengayak, dan 1 unit mesin granule untuk memadatkan kompos dari menjadi butiran. Hanggar juga dilengkapi dengan saluran air lindi yang dialirkan ke IPAS. Kompos yang dihasilkan oleh TPST Bantargebang dipasarkan ke masyarakat dan pengusaha pertanian. Pola pengelolaan sampah Perumahan Cipinang Elok dapat dilihat secara keseluruhan pada Gambar 11. SUMBER SAMPAH PEWADAHAN PENGUMPULAN PEMINDAHAN PENGANGKUTAN PEMBUANGAN AKHIR Kantong Plastik Sanitary Landfill Rumah Tong Sampah Gerobak Sampah Kontainer Truk Armroll TPST BANTARGEBANG PENGOMPOSAN Bak Sampah Taman & Jalur Hijau Sumber: Data Primer (2011) Gambar 11. Pola Pengelolaan Sampah Perumahan Cipinang Elok Mulai dari Pewadahan Hingga Pembuangan Akhir Berdasarkan gambar di atas, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat di Perumahan Cipinang Elok sudah berjalan dengan baik. Namun, kegiatan pengolahan belum berjalan optimal karena masih ada warga yang belum memilah sampah. UPS 56

70 BAB VII ANALISIS DAYA DUKUNG LINGKUNGAN UPS MUTU ELOK 7.1. Jumlah Timbulan Sampah dan Kapasitas Pengelolaan Sampah Total timbulan sampah yang diangkut dari Perumahan Cipinang Elok memiliki volume rata-rata 13,5 per hari. Sebanyak 10 dari sampah yang diangkut berasal dari rumahan dan sisanya sebanyak 3,5 berasal dari taman dan jalur hijau. Sebanyak 1,7 m3 sampah rumahan merupakan sampah organik dan sebanyak 8,3 merupakan sampah anorganik. Tidak semua sampah organik rumahan dapat terolah menjadi kompos, dari 1,7 dihasilkan, hanya 0,5 sebanyak 1,2 sampah rumahan yang yang merupakan sampah terolah dan selebihnya, merupakan sampah organik tidak terolah. Begitu juga halnya dengan sampah anorganik, dari 8,3 sampah yang dihasilkan, hanya 0,89 yang merupakan sampah terolah atau dapat diambil oleh pemulung untuk kemudian diolah menjadi produk daur ulang. Sisanya, sebanyak 7,41 sampah anorganik tidak terolah dipindahkan ke dalam kontainer. Sampah yang biasanya diambil oleh pemulung terdiri dari sampah kertas, kaca, besi, dan barang plastik (bukan plastik kemasan). Sampah-sampah tersebut dijual ke penadah untuk selanjutnya didaur ulang dan dijual kembali. Sampah yang diangkut dari taman dan jalur hijau umumnya berupa sampah organik terolah dengan volume 1,5. Selebihnya, sebanyak 2 merupakan sampah anorganik atau sampah organik tidak terolah. Sampah anorganik dari taman biasanya berupa bekas bungkus makanan atau puntung rokok. Sesuai dengan uraian diatas, maka dalam sehari, Perumahan Cipinang Elok menghasilkan 3,2 sampah organik yang berasal dari rumahan, taman, dan 57

71 jalur hijau. Namun dari total sampah organik tersebut, hanya 2 dijadikan bahan dasar kompos dengan komposisi 0,5 yang dapat sampah rumahan dan 1,5 sampah taman dan jalur hijau. Kapasitas pengelolaan sampah di Perumahan Cipinang Elok terdiri dari kapasitas penampungan dan pengolahan. Kegiatan pengolahan di perumahan ini meliputi daur ulang dan pengomposan. Meskipun tidak terlibat dalam proses mendaur-ulang secara langsung, pemulung memiliki kemampuan untuk membuat 0,89 sampah anorganik didaur-ulang setiap harinya. Oleh karena itu, kapasitas daur ulang didekati dari kemampuan pemulung dalam mengumpulkan sampah. Kapasitas pengomposan didekati dari kapasitas yang dimiliki UPS Mutu Elok dalam mengolah sampah menjadi kompos. Bangunan UPS Mutu Elok memiliki kapasitas sebesar 1,25 4 per hari, sedangkan mesin pencacah memiliki kapasitas per hari. Kapasitas penampungan didekati dari volume kontainer, yaitu 12 per hari. Total timbulan sampah tidak terolah dari Perumahan Cipinang Elok yang dibuang ke TPST Bantargebang mencapai 10,61 per hari. Timbulan sampah ini sama dengan 78,59 persen dari total sampah yang dihasilkan Perumahan Cipinang Elok setiap harinya. Berdasarkan keterangan dari pengurus RW, sebagian sampah yang dibuang ke TPST ini sebenarnya berpotensi untuk diolah, tetapi karena telah tercampur dengan sampah lainnya, maka sampah jadi rusak dan tidak dapat diolah. Rincian selengkapnya mengenai jumlah timbulan dan kapasitas pengelolaan sampah dapat dilihat pada Tabel 6, 7 dan 8. Untuk mempermudah pemahaman, dapat juga dilihat pohon pengelolaan sampah pada Gambar

72 Tabel 6. Jumlah Timbulan dan Komposisi Sampah yang Dihasilkan Perumahan Cipinang Elok Timbulan Terolah Jenis Sampah Teknik Pengolahan ( /hari) ( /hari) ( 1. Sampah rumahan: Organik 1,70 0,50 Pengomposan (UPS) Anorganik 8,30 0,89 Daur ulang (pemulung) Total sampah rumahan 10,00 1,39 2. Sampah tanaman & jalur hijau 3,50 1,50 Pengomposan (UPS) TOTAL TIMBULAN 13,50 2,89 Tidak Terolah Teknik Pengolahan /hari) 1,20 7,41 8,61 2,00 10,61 Dibawa ke TPA Dibawa ke TPA Dibawa ke TPA Sumber: Data Primer (2011) Tabel 7. Komposisi Sampah Anorganik Terolah di Perumahan Cipinang Elok Jenis Sampah Kertas Kaca Besi Barang plastik TOTAL Timbulan ( /hari) 0,06 0,04 0,04 0,75 0,89 (%) 6,74 4,49 4,49 84,27 100,00 Sumber: Data Primer (2011) Tabel 8. Macam dan Kapasitas Pengelolaan Sampah di Perumahan Cipinang Elok Pengelolaan Sampah Unit 1. Penampungan sementara Kontainer 2. Daur ulang Pemulung 3. Pengomposan a. Bangunan UPS b. Mesin pencacah Kapasitas 12,00 0,89 1,25 4,00 Sumber: Data Primer (2011) 59 59

73 Total Timbulan Sampah 13,5 /hari Taman & Jalur Hijau 3,5 /hari Rumahan 10 /hari Anorganik 8,3 /hari Tidak Terolah 7,41 /hari Terolah 0,89 /hari Kontainer TPST Total sampah organik 5,2 /hari Organik 1,7 /hari Tidak Terolah 1,2 /hari Terolah 0,5 /hari Organik 3,5 /hari Terolah 1,5 /hari Tidak Terolah 2,0 /hari Kontainer Total Sampah Organik Terolah 2 /hari Kontainer TPST UPS TPST Pemulung Langsung diolah 1,25 /hari Ditimbun 0,75 /hari Sumber: Data Primer (2011) Gambar 12. Pohon Pengelolaan Sampah 7.2. Daya Dukung Lingkungan UPS Mutu Elok Setiap hari, Perumahan Cipinang Elok menghasilkan 5,2 organik. Sebanyak 1,7 sampah dari sampah tersebut merupakan sampah yang berasal dari rumahan dan sebanyak 3,5 merupakan sampah yang berasal dari taman dan jalur hijau. Jumlah sampah organik terolah yang berasal rumahan adalah 0,5, sedangkan jumlah sampah organik terolah dari taman dan jalur hijau adalah 60

74 1,5. Dengan demikian, potensi sampah organik terolah yang dimiliki UPS Mutu Elok adalah 2 per hari. Seperti yang telah dijelaskan pada sub bab 7.1., mesin pencacah yang dimiliki UPS Mutu Elok mempunyai kapasitas 4 per hari. Namun dalam sehari, mesin ini hanya digunakan untuk mengolah sampah sebanyak 1,25 karena harus menyesuaikan dengan kapasitas bangunan. Berdasarkan hasil perhitungan, dapat disimpulkan bahwa UPS Mutu Elok memiliki tingkat daya dukung lingkungan yang rendah dengan indeks sebesar 0,63 untuk timbulan dan 0,31 untuk mesin. Keterbatasan luas bangunan UPS Mutu Elok menyebabkan potensi timbulan sampah organik terolah tidak diolah seluruhnya serta pengunaan mesin yang tidak optimal. Rincian perhitungan tingkat daya dukung lingkungan UPS Mutu Elok dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Tingkat Daya Dukung Lingkungan UPS Mutu Elok Timbulan ( /hari) Mesin ( /hari) Potensi 2,00 4,00 Termanfaatkan 1,25 1,25 Daya dukung lingkungan < < Indeks daya dukung 0,63 0,31 Sumber: Data Primer (2011) Daya dukung lingkungan UPS Mutu Elok juga dianalisis dengan cara membandingkan antara ketersediaan sarana dan prasarana yang dimiliki UPS Mutu Elok dengan jumlah kebutuhan. Jumlah kebutuhan UPS Mutu Elok didekati dari luas ideal bangunan UPS yang diperoleh dengan membagi antara total timbulan sampah terolah dari rumahan, taman, dan jalur hijau dengan volume cetakan satu bahan kompos. Total timbulan sampah organik terolah adalah 2. Setelah dibagi dengan volume cetakan satu tumpukan bahan kompos sebesar 0.96, diperoleh luas bangunan ideal UPS Mutu Elok sebesar 312,5 61

75 . Luas ideal ini > luas bangunan yang dimiliki UPS Mutu Elok, yaitu 60. Karena terdapat ketidaksesuaian antara luas bangunan dengan jumlah kebutuhan, maka dapat disimpulkan bahwa ada indikasi daya dukung lingkungan UPS Mutu Elok telah terlampaui Respon Warga terhadap UPS Mutu Elok Analisis terhadap respon warga dilakukan untuk melihat apakah terjadi pencemaran yang disebabkan oleh UPS Mutu Elok. Analisis ini dilakukan karena keterbatasan peneliti dalam mengkaji tingkat pencemaran yang terjadi secara teknis. Sebanyak 100 persen responden menyatakan tidak terganggu dengan adanya UPS Mutu Elok, baik itu berupa gangguan bau, bising, maupun hilangnya estetika. Sebagian besar responden tidak merasa UPS merusak pemandangan karena bangunan UPS didesain selaras dengan bangunan di sekitarnya. Disamping itu, bangunan dicat warna hijau kalem, sehingga terlihat menyatu dengan pohon-pohon yang berada disekitarnya. Letak UPS yang agak ke dalam menyebabkan suara mesin pencacah dan pengayak tidak terdengar dari jalan. Suara mesin juga tidak bising karena telah dimodifikasi agar mengeluarkan bunyi yang lebih halus. Berdasarkan hasil wawancara tidak diketemukan juga adanya keluhan pencemaran. Seratus persen responden tidak merasakan pencemaran dan tidak pernah mendengar keluhan pencemaran baik dari tetangga maupun anggota keluarganya. Hal ini dikarenakan UPS tidak mengolah sampah organik basah yang biasa menimbulkan air lindi yang dapat mencemari lingkungan. 62

76 7.4. Pengaruh UPS Mutu Elok terhadap Daya Dukung Lingkungan Perumahan Cipinang Elok Pengaruh UPS Mutu Elok terhadap daya dukung lingkungan Perumahan Cipinang Elok dianalisis dengan cara membandingkan kondisi daya dukung lingkungan Perumahan Cipinang Elok dengan dan tanpa UPS Mutu Elok. Pada kondisi terdapat UPS Mutu Elok, kemampuan lingkungan perumahan dalam menerima beban sampah didekati dari kapasitas pengelolaan sampah yang terdiri dari kapasitas penampungan sementara, kapasitas daur ulang, dan kapasitas pengomposan. Meskipun mesin pencacah memiliki kapasitas yang lebih besar dari bangunan UPS Mutu Elok, tetapi tetapi kapasitas pengomposan tidak didekati dari kapasitas mesin pencacah karena kegiatan pengomposan lebih dibatasi oleh ruang untuk proses pembusukan, sehingga kapasitas bangunan UPS lebih cocok digunakan. Seperti yang dijelaskan pada sub bab 7.1., jumlah timbulan sampah yang dihasilkan Perumahan Cipinang Elok setiap harinya adalah 13,5, jika dibandingkan dengan kapasitas pengelolaan, terdapat selisih sebesar 0,64 /hari yang merupakan kelebihan kapasitas dari pengelolaan. Sisa kapasitas ini mengindikasikan bahwa daya dukung lingkungan Perumahan Cipinang Elok belum terlampaui, karena jumlah sampah yang dihasilkan belum melebihi kemampuan lingkungan dalam menerima beban sampah. Perbandingan antara total timbulan sampah dengan total kapasitas pengelolaan dapat dilihat secara jelas pada Tabel

77 Tabel 10. Perbandingan antara Total Timbulan Sampah dengan Total Kapasitas Pengelolaan Dengan UPS Mutu Elok Variabel Total timbulan sampah Kapasitas pengelolaan: a. Penampungan sementara (KPS) b. Daur ulang (KDU) c. Pengomposan (KPO) Total kapasitas pengelolaan SELISIH Volume ( /hari) 13,50 Keterangan Berasal dari rumahan, taman, dan jalur hijau 12,00 0,89 1,25 14,14 0,64 Kapasitas kontainer Kapasitas pemulung Kapasitas bagunan UPS Sumber: Data Primer (2011) Pada kondisi tidak terdapat UPS Mutu Elok, pengelolaan sampah hanya terdiri dari kapasitas penampungan sementara dan kapasitas daur ulang saja. Akibatnya, kapasitas pengelolaan sampah turun sebesar 8,8 persen dari 14,14 menjadi 12,89. Jumlah timbulan sampah yang dihasilkan oleh Perumahan Cipinang Elok diasumsikan tetap, yaitu sebanyak 13,5. Dengan menggunakan perhitungan yang sama dengan sub bab 7.2., diperoleh selisih sebesar 0,61 yang merupakan limpahan timbulan sampah. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah timbulan sampah akan melampaui daya dukung lingkungan jika tidak dibantu pengolahan sampah oleh UPS Mutu Elok. Berdasarkan analisis tersebut maka dapat disimpulkan bahwa penambahan IPTEK berupa UPS Mutu Elok dapat meningkatkan daya dukung lingkungan Perumahan Cipinang Elok. Perhitungan selisih antara total timbulan sampah dengan total kapasitas pengelolaan sampah tanpa keberadaan UPS Mutu Elok dijabarkan pada Tabel 11. Tabel 11. Perbandingan antara Total Timbulan Sampah dengan Total Kapasitas Pengelolaan Tanpa UPS Mutu Elok Variabel Total timbulan sampah Kapasitas pengelolaan: a. Penampungan sementara (KPS) b. Daur ulang (KDU) Total kapasitas pengelolaan SELISIH Volume ( /hari) 13,50 12,00 0,89 12,89-0,61 Keterangan Berasal dari rumahan, taman, dan jalur hijau Kapasitas kontainer Kapasitas pemulung Sumber: Data Primer (2011) 64

78 BAB VIII ANALISIS KELAYAKAN EKONOMI UPS MUTU ELOK Proyek UPS Mutu Elok diawali pada tahun 2005 dan memulai produksi serta penjualan pada tahun Umur proyek UPS Mutu Elok diasumsikan 20 tahun yang ditentukan dari ketahanan bangunan UPS secara teknis. Dana UPS Mutu Elok seluruhnya berasal dari masyarakat. Untuk mendapatkan nilai ekonomi proyek UPS Mutu Elok pada saat ini, analisis kelayakan ekonomi dilakukan dengan menggunakan harga-harga yang berlaku pada tahun 2011 sebagai harga tahun dasar Identifikasi Penerimaan Komponen Arus Penerimaan (Inflow) dihitung dari jumlah manfaat yang diterima dari adanya UPS Mutu Elok. Penerimaan UPS Mutu Elok meliputi manfaat kompos, manfaat kenyamanan, dan nilai sisa. Manfaat kompos terdiri dari penjualan kompos, penggunaan kompos untuk LRB, dan kesuburan. Dalam analisis ekonomi, bantuan berupa kas warga dan dana PPMK tidak dianggap sebagai penerimaan karena bukan merupakan manfaat yang diterima dari adanya proyek. Berikut detail arus pemasukan UPS Mutu Elok : 1. Manfaat Kompos a) Penjualan Kompos Nilai penjualan kompos diperoleh dari hasil perkalian antara harga dengan volume penjualan. Kompos merupakan barang non-tradable yang tidak memiliki subtitusi, sehingga harga bayangannya didekati dari harga pasar. UPS Mutu Elok pertama kali melakukan penjualan pada tahun 2006 dengan volume penjualan sebanyak kg. Pada tahun 2007, 2008, 2009, dan 2010, volume penjualan turun menjadi sebanyak , 65

79 32.333, , dan kg karena sebagian kompos yang dihasilkan digunakan untuk mengisi LRB. Jumlah penggunaan kompos untuk LRB pada tahun diasumsikan tetap, sehingga volume penjualan pun diasumsikan tetap, yaitu sebanyak kg per tahun. Harga kompos adalah Rp kg, maka nilai penjualan kompos UPS Mutu Elok dari tahun secara berturut-turut Rp , , , , dan Nilai penjualan kompos dari taun tetap, yaitu sebesar Rp per tahun. b) Pengunaan Kompos Untuk LRB Satu LRB membutuhkan 20 kg kompos yang diganti setiap dua bulan sekali pada musim hujan dan 6-7 bulan sekali pada musim kering. Berdasarkan data dari World Weather and Climate Information (2009), dalam setahun Jakarta mengalami 6 bulan musim hujan dan 6 bulan musim kering, sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam setahun kompos diganti sebanyak empat kali. Pada tahun 2007, warga membuat lima ratus LRB untuk mengurangi genangan air dengan jumlah penggunaan kompos sebanyak 4000 kg. Pada tahun 2008, 2009, dan 2010, jumlah lubang biopori bertambah masing-masing menjadi 2500, 3500, dan 4200 lubang. Penambahan lubang ini meningkatkan jumlah kompos yang digunakan menjadi , , dan kg. Jumlah penggunaan kompos dari tahun 2011 hingga 2024 diasumsikan sama, karena penambahan jumlah LRB tidak dapat diprediksikan. Nilai penggunaan kompos untuk LRB diperoleh dengan mengalikan jumlah penggunaan 66

80 kompos dengan harga kompos sebesar Rp Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai penggunaan kompos untuk LRB dari tahun 2007 hingga tahun 2010 sebesar Rp , , dan Nilai pengunaan kompos untuk LRB dari tahun 2011 sampai 2024 diasumsikan tetap, yaitu Rp per tahun. Data curah hujan di Jakarta dapat dilihat pada Gambar 13. Sumber: World Weather and Climate Information (2009) Gambar 13. Grafik Curah Hujan Bulanan Selama Setahun di Jakarta c) Kesuburan Manfaat kesuburan muncul pada tahun pertama UPS Mutu Elok berproduksi, yaitu tahun Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Putri et al. (2009) pada objek penelitian yang sama, nilai kesuburan yang dihasilkan dari penggunaan kompos sebagai pupuk adalah Rp per tahun. Nilai ini diperoleh dari perkalian antara jumlah kompos yang digunakan sebagai pupuk untuk taman dan jalur hijau dengan harga kompos sebesar Rp Karena jumlah penggunaan kompos untuk taman dan jalur hijau tetap, maka nilai manfaat kesuburan dari tahun 2006 sampai 2024 tetap sebesar Rp per tahun. 2. Manfaat Kenyamanan Seperti yang telah dijelaskan pada sub bab , UPS Mutu Elok memberikan manfaat kenyamanan dengan mengurangi jumlah timbulan 67

81 sampah. UPS Mutu Elok menjaga agar seluruh sampah yang dihasilkan dapat tertampung dan terkelola, sehingga sampah tidak menimbulkan pencemaran yang dapat menganggu kenyamanan warga. Manfaat ini tidak memiliki nilai pasar, sehingga pengukuran nilai manfaatnya didekati dari nilai WTP atau kesediaan membayar warga untuk memperoleh manfaat tersebut. Berdasarkan hasil kuisioner, nilai WTP warga Cipinang Elok adalah Rp per KK dengan rentang nilai Rp 7500 hingga Rp Setelah dikalikan dengan jumlah KK, didapatkan nilai total WTP sebesar Rp per bulan atau Rp per tahun. Nilai ini muncul pada tahun 2006 ketika UPS Mutu Elok mulai beroperasi. 3. Nilai Sisa Nilai sisa adalah nilai yang diperoleh dari sisa penyusutan barang-barang investasi pada saat proyek berakhir. Besar nilai sisa proyek UPS Mutu Elok adalah Rp Identifikasi Pengeluaran Arus pengeluaran terdiri dari pengeluaran biaya investasi, biaya operasional, dan biaya perawatan. Berikut detail arus pengeluaran UPS Mutu Elok : 1. Biaya Investasi Biaya investasi terdiri dari biaya lahan, bangunan, mesin, peralatan, dan inventaris meja. a) Biaya Lahan Biaya lahan ditentukan dari biaya imbangan (opportunity cost) yang berasal dari penggunaan terbaik (best alternatives) lahan UPS. UPS 68

82 Mutu Elok didirikan di atas lahan milik pemerintah yang disediakan sebagai fasilitas umum untuk warga Cipinang Elok. Lahan ini tidak dapat digunakan untuk kegiatan pertanian ataupun fasilitas umum, sehingga alternatif terbaik penggunaan lahan ini adalah penyewaan. Harga sewa lahan di Perumahan Cipinang Elok adalah Rp per meter. Luas lahan yang digunakan untuk bangunan UPS Mutu Elok adalah 60. Perkalian antara luas lahan yang digunakan dengan harga sewa lahan menghasilkan biaya lahan sebesar Rp per tahun. b) Biaya Bangunan Warga Cipinang Elok menghabiskan biaya sebesar Rp untuk membangun UPS Mutu Elok. Biaya ini dikeluarkan hanya pada tahun c) Biaya Mesin Mesin pencacah dan mesin ayak masing-masing menghabiskan biaya sebesar Rp Kedua mesin ini memiliki umur teknis lima tahun sehingga harus dire-investasi pada tahun 2010, 2015, dan d) Biaya Peralatan Total biaya peralatan adalah Rp Masing-masing peralatan memiliki umur teknis yang berbeda dan harus dire-investasi pada periode yang berbeda pula. Jumlah unit, besar biaya, dan tahun re-investasi peralatan disajikan secara lengkap pada Tabel

83 Tabel 12. Biaya, Tahun Re-investasi, dan Nilai Penyusutan Peralatan UPS Mutu Elok Komponen Unit Biaya Tahun Re-investasi a. Timbangan , 12, 18 b. Garu , 10, 15, 20 c. Sekop , 10, 15, 20 d. Bakul ,2, 3,..., 20 e. Ember , 6, 9, 12, 15, 18, 20 f. Terpal , 10, 15, 20 g. Tong air , 16 h. Penyiram tanaman , 10, 15, 20 i. Gerobak sampah , 20 j. Sepatu boot , 6, 9, 12, 15, 18 k. Selang air , 8, 12, 16, 20 l. Steples , 8, 12, 16, 20 m Becak , 20 TOTAL Sumber: Data Primer (2011) e) Biaya Inventaris Meja Meja merupakan fasilitas yang disediakan untuk petugas yang berkerja di UPS Mutu Elok. Meja dibuat sendiri oleh petugas UPS pada tahun 2005 dan menghabiskan biaya sebesar Rp Nilai ekonomi meja ini habis pada tahun Karena fungsinya tidak terlalu krusial, maka tidak dilakukan re-investasi. 2. Biaya Operasional Biaya operasional terdiri dari biaya bahan baku, kemasan, overhead, dan tenaga kerja. a) Biaya Bahan Baku Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan kompos adalah cairan EM4, dedak, pupuk kandang, dan gula. Gula merupakan tradable input komoditas impor, sehingga harga ekonomi gula disesuaikan dengan menggunakan border price impor atau CIF. Harga CIF ini terlebih dahulu dikonversikan ke dalam nilai tukar rupiah dan selanjutnya 70

84 ditambah biaya transpor dan tata niaga. Pada Desember 2010, harga CIF gula mencapai US$ 770 per ton atau sama dengan Rp Bila dijabarkan kembali dengan memasukkan biaya susut, handling, dan sebagainya, harga gula impor yang sampai ke tangan pengecer di Indonesia adalah Rp per kg. Setelah dijumlah dengan biaya distribusi sebesar Rp 266 per kg, diperoleh harga bayangan gula sebesar Rp per kg. Pemakaian gula untuk kegiatan pengomposan selama setahun mencapai 24 kg, sehingga nilai total pemakaian gula adalah Rp Rincian biaya bahan baku dapat dilihat pada Tabel 13. b) Biaya Kemasan Bahan yang diperlukan untuk membuat kemasan kompos Mutu Elok adalah isi staples, plastik, dan label. Label diperbanyak dengan membuat fotokopinya. Harga ketiga bahan ini dapat dilihat pada Tabel 13. Tabel 13. Rincian Biaya Baku dan Kemasan UPS Mutu Elok No. Uraian Harga per Unit (Rp) Kebutuhan Unit per Tahun Total Biaya per Tahun (Rp) a. Em botol b. Dedak kg c. Pupuk kandang m d. Gula kg e. Biaya listrik bulan f. Plastik kemasan kantong g. Label kemasan kali h. Isi staples kardus Sumber: Data Primer (2011) c) Biaya Overhead Air merupakan barang yang penggunannya disubsidi oleh pemerintah, sehingga memiliki harga pasar yang lebih rendah dari nilai ekonominya. Untuk mendapatkan nilai ekonomi air, harga yang digunakan harus harga 71

85 air tanpa subsidi, yaitu Rp 6 per liter. UPS Mutu Elok menghabiskan air sebanyak liter per tahun, sehingga total biaya air per tahun adalah Rp Penggunaan listrik oleh UPS Mutu Elok menghabiskan biaya sebesar Rp setiap tahunnya. d) Biaya Tenaga Kerja Tenaga kerja yang digunakan merupakan tenaga kerja tidak terdidik. Alternatif pekerjaan terbaik dapat digeluti oleh tenaga kerja jenis ini adalah ojeg. Dalam seminggu, rata-rata tukang ojeg memperoleh pendapatan sebesar Rp per bulan atau Rp per tahun. UPS Mutu Elok menyerap tenaga kerja sebanyak dua orang, sehingga nilai ekonomi tenaga kerjanya sama dengan Rp per tahun. 3. Biaya Perawatan Biaya perawatan terdiri dari biaya perawatan gerobak dan becak dengan biaya masing-masing sebesar Rp per tahun dan Rp per tahun. 4. Biaya Lain-Lain Biaya lain-lain terdiri dari biaya pengangkutan dan pembuangan sampah organik terolah yang tidak diolah oleh UPS Mutu Elok. Biaya ini didekati dari besar tip yang diberikan kepada supir truk untuk mengangkut sampah dari UPS ke TPST Bantargebang. Besar biaya ini adalah Rp per tahun Penilaian Kelayakan Kelayakan ekonomi dinilai dengan menggunakan kriteria NPV, Net B/C, dan IRR. Social discount rate yang digunakan pada ketiga kriteria ini adalah 16 72

86 persen. Karena proyek sudah berjalan sebelum tahun 2011, maka total manfaat dan biaya yang diperoleh pada tahun akan dicompounding. Sementara, total manfaat dan biaya yang diperoleh pada tahun akan didiscounting. Selain dinilai pada kondisi riil, kelayakan ekonomi UPS Mutu Elok juga akan dinilai dengan menggunakan dua skenario. Pada skenario 1, kelayakan ekonomi dinilai seandainya kegiatan pengolahan mencapai 2 per hari, sesuai dengan potensi sampah organik terolah yang dihasilkan Perumahan Cipinang Elok, sedangkan pada skenario 2, penilaian kelayakan enonomi dinilai seandainya kegiatan pengolahan mencapai 4 per hari, sesuai dengan kapasitas mesin pencacah. Berdasarkan hasil perhitungan pada kondisi riil, diperoleh NPV sebesar Rp Nilai ini merupakan manfaat bersih total yang akan diterima oleh masyarakat khususnya warga Cipinang Elok dari adanya investasi proyek UPS Mutu Elok. Nilai Net B/C yang diperoleh sebesar 5,50 dan IRR sebesar 96,31 persen. Pada skenario 1, sampah organik terolah sebanyak 2 per hari yang dihasilkan Perumahan Cipinang Elok diasumsikan terolah seluruhnya. Kondisi ini meningkatkan produksi kompos hingga mencapai kg per tahun. Seiring dengan peningkatan produksi kompos, volume dan nilai penjualan kompos pada tahun 2006 meningkat menjadi kg dengan nilai penjualan sebesar Rp Volume penjualan tahun turun masing-masing menjadi ; ; ; dan kg dengan nilai penjualan sebesar Rp ; ; ; dan Penurunan terjadi karena sebagian kompos yang diproduksi digunakan untuk LRB yang jumlahnya 73

87 meningkat dari tahun 2007 sampai Setelah tahun 2011, jumlah LRB tidak lagi bertambah, sehingga jumlah penggunaan kompos untuk LRB pada tahun 2011 hingga 2024 diasumsikan tetap setiap tahunnya. Hal ini menyebabkan volume penjualan dari tahun juga disumsikan tetap sebanyak kg dengan nilai penjualan sebesar Rp Perubahan volume dan nilai penjualan UPS Mutu Elok berdasarkan skenario 1 dapat dilihat pada Tabel 14. Tabel 14. Perubahan Volume dan Nilai Penjualan UPS Mutu Elok Berdasarkan Skenario 1 Tahun Volume Penjualan (kg) Nilai Penjualan (Rp) per tahun per tahun Sumber: Data Primer 2011 Pada skenario 2, jumlah sampah organik terolah yang diolah oleh UPS Mutu Elok meningkat menjadi 4 per hari sesuai dengan kapasitas mesin pencacah. Peningkatan volume sampah yang diolah meningkatkan produksi kompos menjadi kg per tahun. Peningkatan produksi menyebabkan volume penjualan pada tahun 2006 meningkat menjadi kg dengan nilai penjualan sebesar Rp Penggunaan sebagian kompos untuk LRB yang dimulai dari tahun 2007 menurunkan volume penjualan tahun masing-masing menjadi 4.000, , , dan kg dengan nilai penjualan sebesar ; ; ; dan Setelah tahun 2011, jumlah LRB diasumsikan tidak bertambah, sehingga volume penjualan kompos dari tahun 2011 sampai 2024 diasumsikan tetap sebanyak kg dengan nilai penjualan sebesar Rp Perubahan volume 74

88 dan nilai penjualan UPS Mutu Elok berdasarkan skenario 2 dapat dilihat pada Tabel 15. Tabel 15. Perubahan Volume dan Nilai Penjualan UPS Mutu Elok Berdasarkan Skenario 2 Tahun Volume Penjualan (kg) Nilai Penjualan (Rp) per tahun per tahun Sumber: Data Primer 2011 Berdasarkan hasil perhitungan pada skenario 1, diperoleh NPV sebesar Rp ; Net B/C sebesar 9,02; dan IRR sebesar 156,80 persen. Sementara pada skenario 2, diperoleh NPV sebesar Rp ; Net B/C sebesar 9,02; dan IRR sebesar 156,80 persen. Kedua nilai ini masih memerlukan penyesuaian karena pada kedua skenario, komponen biaya diasumsikan tetap. Padahal faktanya, pengolahan sampah organik terolah sebanyak 2 per hari memerlukan tambahan biaya untuk memperluas bangunan, sebab luas bangunan yang dimiliki oleh UPS Mutu Elok hanya mampu mengakomodasi kegiatan pengolahan sebanyak 1,25 per hari. Peningkatan pengolahan sampah hingga 4 per hari juga memerlukan tambahan biaya pengangkutan sampah organik terolah dari luar Perumahan Cipinang Elok karena jumlah timbulan sampah organik terolah yang dihasilkan dari dalam Perumahan Cipinang Elok hanya mencapai 2 per hari. Suatu proyek dikatakan layak apabila NPV 0, Net B/C 1, dan IRR social discount rate. Sesuai dengan kriteria diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pada kondisi riil proyek UPS Mutu Elok layak secara ekonomi untuk dijalankan. NPV, Net B/C dan IRR yang diperoleh dari perhitungan cashflow juga 75

89 menunjukkan bahwa peningkatan pengolahan sampah organik terolah sebanyak 2 dan 4 per hari tetap layak untuk dijalankan. Hasil analisis kelayakan ekonomi UPS Mutu Elok disajikan secara lengkap pada Tabel 16, sedangkan rincian cashflow disajikan pada Lampiran 1, 2, dan 3. Tabel 16. Hasil Analisis Kelayakan Ekonomi UPS Mutu Elok Skenario Kriteria Kondisi Riil 1 2 NPV Rp Rp Rp Net B/C 5,50 9,02 18,42 IRR 96,31 % 156,80 % 317,02 % Sumber: Data Primer Analisis Sensitivitas Analisis sensitivitas dilakukan untuk melihat bagaimana hasil proyek jika terjadi suatu kesalahan atau perubahan dalam dasar-dasar perhitungan manfaat dan biaya. Dalam analisis ini, perubahan dilakukan dengan menurunkan harga kompos menjadi Rp per kg dan menaikkan harga gula sebesar 100 persen. Berdasarkan hasil perhitungan pada kondisi riil, jika harga kompos turun menjadi Rp per kg, proyek akan memberikan NPV sebesar Rp ; Net B/C sebesar 3,93; dan IRR sebesar 69,14 persen. Sementara jika harga gula meningkat 100 persen, proyek akan memberikan NPV sebesar Rp ; Net B/C sebesar 5,48; dan IRR sebesar 95,98 persen. Hasil perhitungan analisis sensitivitas pada kondisi riil dapat diihat pada Tabel 17, sedangkan rincian cashflow analisis sensitivitas terlampir pada Lampiran 4 dan 5. Tabel 17. Hasil Analisis Sensitivitas UPS Mutu Elok Pada Kondisi Riil Kriteria Harga Kompos Rp Harga Gula Naik 100 % NPV Rp Rp Net B/C 3,93 5,48 IRR 69,14 % 95,98 % Sumber: Data Primer

90 Hasil analisisis sensitivitas pada skenario 1 menunjukkan bahwa jika harga kompos turun menjadi Rp 1.100, akan diperoleh NPV sebesar Rp ; Net B/C sebesar 6,52; dan IRR sebesar 113,85 persen. Peningkatan harga gula sebesar 100 persen akan memberikan NPV sebesar Rp ; Net B/C sebesar 9,00; dan IRR sebesar 156,37 persen. Hasil perhitungan analisis sensitivitas disajikan pada Tabel 18, sedangkan rician cashflow analisis sensitivitas terlampir pada Lampiran 6 dan 7. Tabel 18. Hasil Analisis Sensitivitas UPS Mutu Elok Pada Skenario 1 Kriteria Harga Kompos Rp Harga Gula Naik 100 % NPV Rp Rp Net B/C 6,52 9,00 IRR 113,85 % 156,37 % Sumber: Data Primer 2011 Analisis sensitivitas pada skenario 2 menunjukkan bahwa jika harga kompos turun menjadi Rp 1.100, akan diperoleh NPV sebesar Rp ; Net B/C sebesar 13,41; dan IRR sebesar 231,65 persen. Sementara itu, peningkatan harga gula sebesar 100 persen akan menyebabkan perolehan NPV sebesar Rp ; Net B/C sebesar 9,00; dan IRR sebesar 156,37 persen. Hasil perhitungan analisis sensitivitas disajikan secara lengkap pada Tabel 19, sedangkan rician cashflow analisis sensitivitas disajikan pada Lampiran 8 dan 9. Tabel 19. Hasil Analisis Sensitivitas UPS Mutu Elok Pada Skenario 2 Kriteria Harga Kompos Rp Harga Gula Naik 100 % NPV Rp Rp Net B/C 13,41 18,38 IRR 231,65 % 316,32 % Sumber: Data Primer 2011 Berdasarkan hasil analisis sensitivitas, dapat disimpulkan bahwa proyek UPS Mutu Elok, baik pada kondisi riil maupun pada skenario, layak secara ekonomi untuk dijalankan. Hal ini karena proyek UPS Mutu Elok memenuhi kriteria kelayakan, yaitu NPV 0, Net B/C 1, dan IRR social discount rate. 77

91 BAB IX SIMPULAN DAN SARAN 9.1. Simpulan 1. Pengelolaan sampah Perumahan Cipinang Elok terdiri dari pewadahan, pengumpulan, pemindahan, pengangkutan dan pembuangan akhir. Pelaksanaan pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat di Perumahan Cipinang Elok sejauh ini sudah baik, tetapi belum optimal karena masih ada warga yang belum melakukan pemilahan sampah. 2. UPS Mutu Elok memiliki tingkat daya dukung lingkungan yang rendah dengan indeks sebesar 0,63 untuk timbulan dan 0,31 untuk mesin. Ketidaksesuaian antara luas bangunan yang dimiliki dengan luas bangunan yang dibutuhkan juga menyebabkan daya dukung UPS Mutu Elok terlampaui. Meskipun demikian, tidak ditemukan indikasi adanya gangguan ataupun pencemaran yang disebabkan oleh UPS. Penambahan IPTEK berupa UPS Mutu Elok meningkatkan daya dukung lingkungan Perumahan Cipinang Elok. 3. UPS Mutu Elok layak secara ekonomi untuk dijalankan pada tingkat social discount rate 16 persen dengan menggunakan kriteria NPV, Net B/C, dan IRR. Peningkatan pengolahan sampah dengan memaksimumkan pemanfaatan potensi sampah organik terolah dan mesin pencacah menyebabkan peningkatan NPV, Net B/C dan IRR, sehingga proyek UPS Mutu Elok semakin layak untuk dijalankan. Penurunan harga kompos hingga Rp per kg dan peningkatan harga gula sebesar 100 persen menurunkan perolehan NPV, Net B/C, dan IRR, tetapi proyek UPS Mutu Elok tetap layak untuk dijalankan. 78

92 9.2. Saran 1. Timbulan sampah organik terolah yang dihasilkan oleh Perumahan Cipinang Elok perlu dikurangi agar sampah organik terolah yang dihasilkan tidak lagi melampaui daya dukung lingkungan UPS Mutu Elok. Pengurangan timbulan sampah dapat dilakukan dengan cara pengomposan skala rumah tangga atau membuat LRB pada masing-masing rumah warga. 2. Kegiatan pemilahan sampah di rumah tangga perlu digiatkan dengan cara melakukan pengawasan terhadap warga dan petugas pengumpul. Petugas pengumpul sampah perlu didisiplinkan untuk tidak mencampurkan sampahsampah yang telah dipilah agar warga yang telah memisahkan sampah tidak merasa upayanya sia-sia. Cara ini akan menghindari rusaknya sampah yang berpotensi untuk diolah akibat tercampur dengan sampah lainnya, sehingga pengolahan dapat berjalan optimal dan jumlah timbulan sampah yang dibuang ke TPST Bantargebang berkurang. 3. UPS Mutu Elok perlu terus dipertahankan karena meningkatkan daya dukung lingkungan Perumahan Cipinang Elok dan layak secara ekonomi untuk dijalankan. 79

93 DAFTAR PUSTAKA Artiningsih Peran Serta Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga (Studi Kasus di Sampingan dan Jomblang, Kota Semarang). Program Magister Lingkungan Universitas Dionegoro. Semarang Badan Pusat Statistik Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi. Katalog BPS BPS. Jakarta Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta Banyaknya Penduduk Berdasarkan Hasil Registrasi Menurut Wilayah di Provinsi DKI Jakarta. zdwi9mdqmawq9mze= diakses pada tanggal 5 0ktober 2011 Badan Standar Nasional Standar Nasional Indonesia Nomor SNI Tentang Tata Cara Teknik Operasional Pengelolaan Sampah Perkotaan. BSN. Jakarta Badan Standar Nasional Standar Nasional Indonesia Nomor SNI Tentang Pengelolaan Sampah di Permukiman. BSN. Jakarta Bataviase Geber Program 3R, Siapkan Insentif untuk Warga. diakses pada tanggal 5 0ktober 2011 Brealey RA, Myers SC Principles of Corporate Finance, 7th Edition. MC Graw Hill. New York Cahyani GD Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Sampah dan Kelayakan Finansial Usaha Pengelolaan Sampah Rumah Tangga (Studi Kasus di Perumahan Cipinang Elok, Jakarta Timur). Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor. Bogor Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta Solid Waste Management for Jakarta: Master Plan Review and Program Development. TA-Package No. DKI Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta. Jakarta Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta Laporan Tahunan Kebersihan DKI Jakarta Tahun Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta. Jakarta Gelbert M, Prihanto D, Suprihatin A Panduan Pendidikan Lingkungan Hidup.PPPGT/VEDC. Malang Gray C, Simanjuntak P, Sabur LK, Maspaitella PFL, Varley RCG Pengantar Evaluasi Proyek Edisi Kedua. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta Hadiwiyoto S Penanganan dan Pemanfaatan Sampah. Yayasan Idayu. Jakarta 80

94 Hanley N, Spash CL Cost-Benefit Analysis and the Environment. Edward Elgar Publishing Ltd. Cheltenham Inkantriani BP Evaluasi Daya Dukug Lingkungan Zona Industri Genuk Semarang. Program Magister Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro. Semarang Isroi Pengomposan Limbah Padat Organik. diakses pada tanggal 12 Oktober 2011 Kadariah Evaluasi Proyek, Analisa Ekonomi. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta. Kaisar D Kajian Lingkungan Perumahan Cipinang Elok Jakarta Timur. Program Studi Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia. Depok Kementerian Pekerjaan Umum Buku Pedoman 3R Berbasis Masyarakat di Kawasan Permukiman. Kementerian PU. Jakarta Kementerian Lingkungan Hidup Pedoman Penggunaan Kriteria dan Standar untuk Aplikasi Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup dalam Pengendalian Perkembangan Kawasan. KLH. Jakarta Kurniawan N Analisis Kelayakan Usaha Pengolahan Sampah Kota Menjadi Produk yang Berguna di TPA Bantargebang. Universitas Gunadarma. Jakarta Lenny Pemprov DKI Siap Atasi Sampah Jakarta. diakses pada tanggal 5 Oktober 2011 Maturana J Biaya dan manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Indusri di Indonesia. CIFOR Working Paper Nomor 30 (i). Center for International Forestry Research. Jakarta Pemerintah Republik Indonesia Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Pemerintah RI. Jakarta Putri EIK, Bachtiar R, Istiqomah A. Shaffitri LR Internalisasi External Cost: Solusi Atasi Pencemaran Lingkungan (Studi Kasus Pada Industri Limbah Tahu dan Sampah). Orange Book. vol Simonson I, Drolet, A Anchoring Effects on Consumers Willingness to Pay and Willingness to Accept. Research Paper Series. Stanford Graduate School of Business. no

95 Soerjani M, Rofiq A, Rozy M Lingkungan: Sumber Daya Alam dan Kependudukan dalam Pembangunan. Universitas Indonesia Press. Jakarta Soetriono Analisis Finansial dan Ekonomi. diakses pada tanggal 9 Oktober 2011 Sulistyorini L Pengelolaan Sampah dengan Menjadikanya Kompos. journal.unair.ac.id/filerpdf/kesling pdf Tamin OZ Konsep Manajemen Kebutuhan Transportasi (MKT) Sebagai Alternatif Pemecahan Masalah Transportasi Perkotaan di DKI Jakarta. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota ITB. vol 10. No. 1: Wahyono S, Sahwan FL Pengelolaan Sampah Menuju Zero Waste. Pusat Teknologi Lingkungan. BPPT. Jakarta Wibowo A Evaluasi Kondisi Daya Dukung Lingkungan Hidup Kota Jakarta. Program Magister Kajian Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia. Depok World Weather and Climate Information. Average Weather in Jakarta, Indonesia. Sunshine,Jakarta,Indonesia diakses pada tanggal 5 Oktober 2011 Yones I Kajian Pengelolaan Sampah di Kota Ranai Ibu Kota Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau. Program Magister Lingkungan Universitas Dionegoro. Semarang Djamin Z Perencanaan dan Analisis Proyek. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta 82

96 LAMPIRAN 83

97 Lampiran 1 Cashflow UPS Mutu Elok Berdasarkan Kondisi Riil No. Komponen PENERIMAAN 1. Manfaat kompos a. Penjualan kompos b. Penggunaan LRB c. Manfaat kesuburan Manfaat kenyamanan Nilai sisa TOTAL PENERIMAAN PENGELUARAN 1. Biaya Investasi a. Lahan b. Bangunan c. Mesin pencacah d. Mesin pengayak e. Peralatan - Timbangan Garu Sekop Bakul Ember Terpal Tong air Penyiram tanaman Gerobak sampah Sepatu boot Selang air Steples Becak f. Meja Biaya operasional a. Em b. Dedak c. Pupuk kandang d. Gula e. Plastik kemasan f. Isi staples g. Label kemasan h. Listrik i. Air j. Tenaga kerja k. Ongkos kirim Biaya pemeliharaan a. Perbaikan gerobak b. Perbaikan becak Biaya Lain-lain Pengangkutan & pembuangan sampah tidak terolah TOTAL PENGELUARAN Net benefit Discount Factor 2, , , , ,3456 1,16 1 0, , , , , , , , , , , , , PV NPV Net B/C 5,50 IRR 96,31%

98 Lampiran 2 Cashflow UPS Mutu Elok Berdasarkan Skenario 1 No. Komponen PENERIMAAN 1. Manfaat kompos a. Penjualan kompos b. Penggunaan LRB c. Manfaat kesuburan Manfaat kenyamanan Nilai sisa TOTAL PENERIMAAN PENGELUARAN 1. Biaya Investasi a. Lahan b. Bangunan c. Mesin pencacah d. Mesin pengayak e. Peralatan - Timbangan Garu Sekop Bakul Ember Terpal Tong air Penyiram tanaman Gerobak sampah Sepatu boot Selang air Steples Becak f. Meja Biaya operasional a. Em b. Dedak c. Pupuk kandang d. Gula e. Plastik kemasan f. Isi staples g. Label kemasan h. Listrik i. Air j. Tenaga kerja k. Ongkos kirim Biaya pemeliharaan a. Perbaikan gerobak b. Perbaikan becak Biaya Lain-lain Pengangkutan & pembuangan sampah tidak terolah TOTAL PENGELUARAN Net benefit Discount Factor 2, , , , ,3456 1,16 1 0, , , , , , , , , , , , , PV NPV Net B/C 9,02 IRR 156,80%

99 Lampiran 3 Cashflow UPS Mutu Elok Berdasarkan Skenario 2 No. Komponen PENERIMAAN 1. Manfaat kompos a. Penjualan kompos b. Penggunaan LRB c. Manfaat kesuburan Manfaat kenyamanan Nilai sisa TOTAL PENERIMAAN PENGELUARAN 1. Biaya Investasi a. Lahan b. Bangunan c. Mesin pencacah d. Mesin pengayak e. Peralatan - Timbangan Garu Sekop Bakul Ember Terpal Tong air Penyiram tanaman Gerobak sampah Sepatu boot Selang air Steples Becak f. Meja Biaya operasional a. Em b. Dedak c. Pupuk kandang d. Gula e. Plastik kemasan f. Isi staples g. Label kemasan h. Listrik i. Air j. Tenaga kerja k. Ongkos kirim Biaya pemeliharaan a. Perbaikan gerobak b. Perbaikan becak Biaya Lain-lain Pengangkutan & pembuangan sampah tidak terolah TOTAL PENGELUARAN Net benefit Discount Factor 2, , , , ,3456 1,16 1 0, , , , , , , , , , , , , PV NPV Net B/C 18,42 IRR 317,02%

100 Lampiran 4 Cashflow UPS Mutu Elok Berdasarkan Kondisi Riil Saat Penurunan Harga Harga Kompos (Rp per kg) No. Komponen PENERIMAAN 1. Manfaat kompos a. Penjualan kompos b. Penggunaan LRB c. Manfaat kesuburan Manfaat kenyamanan Nilai sisa TOTAL PENERIMAAN PENGELUARAN 1. Biaya Investasi a. Lahan b. Bangunan c. Mesin pencacah d. Mesin pengayak e. Peralatan - Timbangan Garu Sekop Bakul Ember Terpal Tong air Penyiram tanaman Gerobak sampah Sepatu boot Selang air Steples Becak f. Meja Biaya operasional a. Em b. Dedak c. Pupuk kandang d. Gula e. Plastik kemasan f. Isi staples g. Label kemasan h. Listrik i. Air j. Tenaga kerja k. Ongkos kirim Biaya pemeliharaan a. Perbaikan gerobak b. Perbaikan becak Biaya Lain-lain Pengangkutan & pembuangan sampah tidak terolah TOTAL PENGELUARAN Net benefit Discount Factor 2, , , , ,3456 1,16 1 0, , , , , , , , , , , , , PV NPV Net B/C 3,93 IRR 69,14%

101 Lampiran 5 Cashflow UPS Mutu Elok Berdasarkan Kondisi Riil Saat Peningkatan Harga Gula (100 persen) No. Komponen PENERIMAAN 1. Manfaat kompos a. Penjualan kompos b. Penggunaan LRB c. Manfaat kesuburan Manfaat kenyamanan Nilai sisa TOTAL PENERIMAAN PENGELUARAN 1. Biaya Investasi a. Lahan b. Bangunan c. Mesin pencacah d. Mesin pengayak e. Peralatan - Timbangan Garu Sekop Bakul Ember Terpal Tong air Penyiram tanaman Gerobak sampah Sepatu boot Selang air Steples Becak f. Meja Biaya operasional a. Em b. Dedak c. Pupuk kandang d. Gula e. Plastik kemasan f. Isi staples g. Label kemasan h. Listrik i. Air j. Tenaga kerja k. Ongkos kirim Biaya pemeliharaan a. Perbaikan gerobak b. Perbaikan becak Biaya Lain-lain Pengangkutan & pembuangan sampah tidak terolah TOTAL PENGELUARAN Net benefit Discount Factor 2, , , , ,3456 1,16 1 0, , , , , , , , , , , , , PV NPV Net B/C 5,48 IRR 95,98% 88 88

102 Lampiran 6 Cashflow UPS Mutu Elok Berdasarkan Skenario 1 Saat Penurunan Harga Harga Kompos (Rp per kg) No. Komponen PENERIMAAN 1. Manfaat kompos a. Penjualan kompos b. Penggunaan LRB c. Manfaat kesuburan Manfaat kenyamanan Nilai sisa TOTAL PENERIMAAN PENGELUARAN 1. Biaya Investasi a. Lahan b. Bangunan c. Mesin pencacah d. Mesin pengayak e. Peralatan - Timbangan Garu Sekop Bakul Ember Terpal Tong air Penyiram tanaman Gerobak sampah Sepatu boot Selang air Steples Becak f. Meja Biaya operasional a. Em b. Dedak c. Pupuk kandang d. Gula e. Plastik kemasan f. Isi staples g. Label kemasan h. Listrik i. Air j. Tenaga kerja k. Ongkos kirim Biaya pemeliharaan a. Perbaikan gerobak b. Perbaikan becak Biaya Lain-lain Pengangkutan & pembuangan sampah tidak terolah TOTAL PENGELUARAN Net benefit Discount Factor 2, , , , ,3456 1,16 1 0, , , , , , , , , , , , , PV NPV Net B/C 6,52 IRR 113,85%

103 Lampiran 7 Cashflow UPS Mutu Elok Berdasarkan Skenario 1 Saat Peningkatan Harga Gula (100 persen) No. Komponen PENERIMAAN 1. Manfaat kompos a. Penjualan kompos b. Penggunaan LRB c. Manfaat kesuburan Manfaat kenyamanan Nilai sisa TOTAL PENERIMAAN PENGELUARAN 1. Biaya Investasi a. Lahan b. Bangunan c. Mesin pencacah d. Mesin pengayak e. Peralatan - Timbangan Garu Sekop Bakul Ember Terpal Tong air Penyiram tanaman Gerobak sampah Sepatu boot Selang air Steples Becak f. Meja Biaya operasional a. Em b. Dedak c. Pupuk kandang d. Gula e. Plastik kemasan f. Isi staples g. Label kemasan h. Listrik i. Air j. Tenaga kerja k. Ongkos kirim Biaya pemeliharaan a. Perbaikan gerobak b. Perbaikan becak Biaya Lain-lain Pengangkutan & pembuangan sampah tidak terolah TOTAL PENGELUARAN Net benefit Discount Factor 2, , , , ,3456 1,16 1 0, , , , , , , , , , , , , PV NPV Net B/C 9,00 IRR 156,37%

104 Lampiran 8 Cashflow UPS Mutu Elok Berdasarkan Skenario 2 Saat Penurunan Harga Harga Kompos (Rp per kg) No. Komponen PENERIMAAN 1. Manfaat kompos a. Penjualan kompos b. Penggunaan LRB c. Manfaat kesuburan Manfaat kenyamanan Nilai sisa TOTAL PENERIMAAN PENGELUARAN 1. Biaya Investasi a. Lahan b. Bangunan c. Mesin pencacah d. Mesin pengayak e. Peralatan - Timbangan Garu Sekop Bakul Ember Terpal Tong air Penyiram tanaman Gerobak sampah Sepatu boot Selang air Steples Becak f. Meja Biaya operasional a. Em b. Dedak c. Pupuk kandang d. Gula e. Plastik kemasan f. Isi staples g. Label kemasan h. Listrik i. Air j. Tenaga kerja k. Ongkos kirim Biaya pemeliharaan a. Perbaikan gerobak b. Perbaikan becak Biaya Lain-lain Pengangkutan & pembuangan sampah tidak terolah TOTAL PENGELUARAN Net benefit Discount Factor 2, , , , ,3456 1,16 1 0, , , , , , , , , , , , , PV NPV Net B/C 13,41 IRR 231,65%

105 Lampiran 9 Cashflow UPS Mutu Elok Berdasarkan Skenario 2 Saat Peningkatan Harga Gula (100 persen) No. Komponen PENERIMAAN 1. Manfaat kompos a. Penjualan kompos b. Penggunaan LRB c. Manfaat kesuburan Manfaat kenyamanan Nilai sisa TOTAL PENERIMAAN PENGELUARAN 1. Biaya Investasi a. Lahan b. Bangunan c. Mesin pencacah d. Mesin pengayak e. Peralatan - Timbangan Garu Sekop Bakul Ember Terpal Tong air Penyiram tanaman Gerobak sampah Sepatu boot Selang air Steples Becak f. Meja Biaya operasional a. Em b. Dedak c. Pupuk kandang d. Gula e. Plastik kemasan f. Isi staples g. Label kemasan h. Listrik i. Air j. Tenaga kerja k. Ongkos kirim Biaya pemeliharaan a. Perbaikan gerobak b. Perbaikan becak Biaya Lain-lain Pengangkutan & pembuangan sampah tidak terolah TOTAL PENGELUARAN Net benefit Discount Factor 2, , , , ,3456 1,16 1 0, , , , , , , , , , , , , PV NPV Net B/C 18,38 IRR 316,32%

106 Lampiran 10 KUISIONER PENELITIAN Kuesioner ini digunakan sebagai bahan SKRIPSI mengenai ANALISIS KELAYAKAN EKONOMI DAN DAYA DUKUNG LINGKUNGAN UNIT PENGOLAHAN SAMPAH (Kasus Kawasan Perumahan Cipinang Elok, Jakarta Timur) yang dilakukan oleh VIDYA KHARUNISA (H ). Mohon kesediaan Anda untuk mengisi kuisioner ini dengan jawaban yang sebenar-benarnya. Atas kesediaan Anda mengisi kuesioner ini, saya ucapkan terima kasih. Nomor Responden Tanggal Wawancara Nama Responden / KK Alamat A : : : : (diisi oleh peneliti) RT:... RW:... Karakteristik Responden Jenis Kelamin : L/P Status : menikah/belum menikah Lama tinggal di Cip. Elok :... Tipe rumah :... Luas tanah:... Luas bangunan:... Pendidikan Formal Terakhir: a. SD/Sederajat b. SLTP/Sederajat c. SLTA/Sederajat d. Akademi e. Perguruan Tinggi Pendapatan rata-rata rumah tangga per bulan: a. < Rp 2,0 juta b. Rp 2,1 juta - Rp 4,0 juta c. Rp 4,1 juta - Rp 6,0 juta d. Rp 6,1 juta - Rp 8,0 juta e. > Rp 8,0 (Sebutkan:...) Jumlah orang yang tinggal menetap di rumah Anda?... orang 93

107 B. Daya Dukung Lingkungan di Tingkat Perumahan 8. Apakah pada Senin-Jum at rumah tangga Anda mengkonsumsi makanan dari masakan rumah? a. Ya, selalu b. Terkadang c. Tidak sama sekali Alasan: 9. Bila jawaban Anda adalah Ya atau Terkadang, berapa kali kah rumah tangga Anda masak dalam satu hari? a. 1 kali b. 2 kali c. 3 kali d. > 3 kali 10. Apakah pada hari Sabtu dan Minggu rumah tangga Anda mengkonsumsi makanan dari luar rumah? a. Ya, selalu b. Terkadang c. Tidak sama sekali 11. Bila jawaban Anda adalah Ya atau Terkadang, terbuat dari apakah bungkus makanan yang Anda beli? a. Makanan terbungkus daun b. Makanan terbungkus kertas c. Makanan terbungkus styrofoam d. Makanan terbungkus plastik e. Lainnya: Seberapa sering Anda memesan makanan dari luar selama 1 minggu? a. Setiap hari b. 1-2 kali seminggu c. 3-4 kali seminggu d. > 4 kali 13. Apakah rumah tangga Anda berlangganan katering untuk konsumsi seharihari? a. Ya, selalu b. Terkadang c. Tidak sama sekali 14. Bila jawaban Anda adalah Ya atau Terkadang, dalam bentuk apakah bungkus katering yang dikirimkan ke rumah Anda? a. Makanan terbungkus daun b. Makanan terbungkus kertas c. Makanan terbungkus styrofoam d. Makanan terbungkus plastik e. Lainnya: Sebutkan sumber sampah yang dihasilkan di rumah Anda, selain sampah makanan: Apakah rumah tangga Anda melakukan pemilahan sampah? a. Ya, selalu b. Terkadang c. Tidak sama sekali 94

108 17. Pernahkah ada himbauan atau keharusan dari RT/RW/Kelurahan terkait dengan pemilahan sampah di masing-masing rumah? a. Pernah, sebutkan kapan? b. Tidak pernah, karena? Berapa banyak sampah yang dihasilkan dari rumah Anda? Sampah kering:... (liter/kantong) Sampah basah:... (liter/kantong) 19. Adakah pembedaan tempat pembuangan sampah di rumah Anda? a. Ada, dalam bentuk: 1. Kering dan basah 2. Organik dan anorganik 3. Organik, anorganik, dan B3 4. Lainnya... b. Tidak ada, karena... C. Respon Masyarakat Terhadap Unit Pengolah Sampah Mutu Elok Selain fasilitas yang lengkap dan infrastruktur yang memadai, lingkungan perumahan yang ideal juga memerlukan pengelolaan sampah yang baik. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan tinggal yang bersih dan sehat sehingga mampu memberikan kenyamanan bagi penghuninya. Unit Pengolahan Sampah (UPS) Mutu Elok merupakan bagian dari pengelolaan sampah yaitu, recycle (mengolah sampah menjadi sesuatu yang dapat digunakan kembali). 20. Sudah puaskah Anda dengan UPS yang ada di pemukiman Anda? a. Puas, alasannya? (misal: lingkungan jadi lebih bersih, pengelolaannya sudah sesuai standar) b. Tidak puas, karena? Merasa terganggukah Anda dengan keberadaan UPS di pemukiman Anda? a. Terganggu, alasannya? (misal: menimbulkan bau, polusi, gangguan kesehatan, tidak sedap dipandang mata)... b. Tidak terganggu, alasannya?

109 22. Pernahkah terjadi polusi/pencemaran yang disebabkan oleh UPS terjadi di pemukiman Anda? a. Pernah, bentuk pencemaran: dari tanggal :... hingga... b. Tidak pernah D. Willingness To Pay 24. Untuk dapat menjalankan fungsinya, UPS Mutu Elok membutuhkan sejumlah biaya. Oleh karena itu, berapakah kira-kira Anda bersedia membayar agar UPS Mutu Elok tetap berjalan? Kesediaan membayar tersebut merupakan iuran yang harus Anda keluarkan setiap bulannya. Namun, jika selama ini iuran UPS digabung dengan iuran kebersihan, keamanan, dan lainnya, dalam penelitian ini dibuat permisalan bahwa iuran untuk UPS dipisahkan dari iuran-iuran tersebut. a. Rp Rp b. Rp Rp c. Rp Rp d. Rp Rp e. Rp Rp f. Rp Rp g. Rp Rp h. Rp Rp i. Rp Rp j. Rp Rp k. Rp Rp l. Rp Rp m. Rp Rp n. Rp Rp o. Rp Rp p. Rp Rp q. Rp Rp r. Lainnya, sebutkan... E. Manfaat Biopori 25. Setelah adanya lubang biopori, dilaporkan bahwa genangan air (yang biasa menggenangi wilayah perumahan setiap kali terjadi hujan) menjadi lebih cepat surut. Apakah Anda juga merasakan hal tersebut? a. Ya b. Tidak 26. Jika jawaban pada no. 28 adalah Ya, maka berapakah selisih waktu genangan untuk surut sebelum dan setelah adanya lubang biopori? Sebelum:.... Sesudah: 96

110 Lampiran 11 Gambar Tahapan Pembuatan Kompos 1. Pengumpulan sampah organik terolah 5. Sampah yang telah terfermentasi menjadi kompos diayak dengan mesin pengayak 2. Pencacahan sampah dengan mesin pencacah 6. Pengemasan kompos Mutu Elok 3. Penambahan larutan EM4 dan bokashi 7. Kompos Mutu Elok yang telah dikemas dan siap dipasarkan 4. Sampah ditutup terpal untuk proses fermentasi 97

111 Lampiran 12 Dokumentasi Penelitian Gambar 6.1. Situasi lokasi TPS Cipinang Elok. Gambar yang diberi panah warna merah adalah UPS Mutu Elok. Sementara, gambar yang diberi panah warna kuning adalah kontainer Gambar 6.4. Sampah yang berasal dari taman dan jalur hijau Gambar 6.2. Aktivitas pengumpulan sampah dari rumah ke TPS oleh pemulung Gambar 6.5. Jalur hijau yang ada di Perumahan Cipinang Elok Gambar 6.3. Salah satu taman yang ada di Perumahan Cipinang Elok 98

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1. Jumlah Penduduk dan Timbulan Sampah di Provinsi DKI Jakarta Tahun

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1. Jumlah Penduduk dan Timbulan Sampah di Provinsi DKI Jakarta Tahun BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jumlah penduduk Jakarta cenderung meningkat setiap tahun. Peningkatan jumlah penduduk yang disertai perubahan pola konsumsi dan gaya hidup turut meningkatkan jumlah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. limbah padat. Sampah merupakan sisa-sisa bahan yang mengalami perlakuanperlakuan,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. limbah padat. Sampah merupakan sisa-sisa bahan yang mengalami perlakuanperlakuan, BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian dan Klasifikasi Sampah Sampah adalah istilah umum yang sering digunakan untuk menyatakan limbah padat. Sampah merupakan sisa-sisa bahan yang mengalami perlakuanperlakuan,

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. dilakukan secara sengaja (purposive) dengan alasan: (1) terdapat UPS pada lokasi

BAB IV METODE PENELITIAN. dilakukan secara sengaja (purposive) dengan alasan: (1) terdapat UPS pada lokasi 4.1. Lokasi dan Waktu BAB IV METODE PENELITIAN Daerah penelitian mencakup Perumahan Cipinang Elok RW 10, Kelurahan Cipinang Muara, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. Pemilihan lokasi dilakukan secara

Lebih terperinci

BAB VIII ANALISIS KELAYAKAN EKONOMI UPS MUTU ELOK. Proyek UPS Mutu Elok diawali pada tahun 2005 dan memulai produksi

BAB VIII ANALISIS KELAYAKAN EKONOMI UPS MUTU ELOK. Proyek UPS Mutu Elok diawali pada tahun 2005 dan memulai produksi BAB VIII ANALISIS KELAYAKAN EKONOMI UPS MUTU ELOK Proyek UPS Mutu Elok diawali pada tahun 2005 dan memulai produksi serta penjualan pada tahun 2006. Umur proyek UPS Mutu Elok diasumsikan 20 tahun yang

Lebih terperinci

BAB VII ANALISIS DAYA DUKUNG LINGKUNGAN UPS MUTU ELOK. Jumlah Timbulan Sampah dan Kapasitas Pengelolaan Sampah

BAB VII ANALISIS DAYA DUKUNG LINGKUNGAN UPS MUTU ELOK. Jumlah Timbulan Sampah dan Kapasitas Pengelolaan Sampah BAB VII ANALISIS DAYA DUKUNG LINGKUNGAN UPS MUTU ELOK 7.1. Jumlah Timbulan Sampah dan Kapasitas Pengelolaan Sampah Total timbulan sampah yang diangkut dari Perumahan Cipinang Elok memiliki volume rata-rata

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Manusia dalam menjalani aktivitas hidup sehari-hari tidak terlepas dari

I. PENDAHULUAN. Manusia dalam menjalani aktivitas hidup sehari-hari tidak terlepas dari I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia dalam menjalani aktivitas hidup sehari-hari tidak terlepas dari keterkaitannya terhadap lingkungan. Lingkungan memberikan berbagai sumberdaya kepada manusia dalam

Lebih terperinci

BAB VI PENGELOLAAN SAMPAH 3R BERBASIS MASYARAKAT DI PERUMAHAN CIPINANG ELOK. menjadi tiga macam. Pertama, menggunakan plastik kemudian

BAB VI PENGELOLAAN SAMPAH 3R BERBASIS MASYARAKAT DI PERUMAHAN CIPINANG ELOK. menjadi tiga macam. Pertama, menggunakan plastik kemudian BAB VI PENGELOLAAN SAMPAH 3R BERBASIS MASYARAKAT DI PERUMAHAN CIPINANG ELOK 6.1. Pewadahan Sampah Pewadahan individual Perumahan Cipinang Elok pada umumnya dibagi menjadi tiga macam. Pertama, menggunakan

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI SAMPAH DAN KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PENGELOLAAN SAMPAH RUMAHTANGGA

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI SAMPAH DAN KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PENGELOLAAN SAMPAH RUMAHTANGGA ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI SAMPAH DAN KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PENGELOLAAN SAMPAH RUMAHTANGGA (Studi Kasus di Perumahan Cipinang Elok, Jakarta Timur) GANIS DWI CAHYANI DEPARTEMEN

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN. (Purposive) dengan alasan daerah ini cukup representatif untuk penelitian yang

METODOLOGI PENELITIAN. (Purposive) dengan alasan daerah ini cukup representatif untuk penelitian yang IV. METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Tempat dan Waktu Penelitian Pengambilan data dilakukan pada bulan Februari sampai dengan bulan Maret 2011, bertempat di Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor,

Lebih terperinci

TUGAS PENGANTAR EKONOMI PRODUKSI ANALISIS USAHA JAHIT ARYAN TAILOR

TUGAS PENGANTAR EKONOMI PRODUKSI ANALISIS USAHA JAHIT ARYAN TAILOR TUGAS PENGANTAR EKONOMI PRODUKSI ANALISIS USAHA JAHIT ARYAN TAILOR Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Ekonomi Produksi Perikanan dan Kelautan Disusun Oleh: Ludfi Dwi 230110120120 Sofan

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Data dan Instrumentasi 4.3. Metode Pengumpulan Data

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Data dan Instrumentasi 4.3. Metode Pengumpulan Data IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian mengambil tempat di kantor administratif Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Jawa Barat yang berlokasi di Kompleks Pasar Baru Lembang

Lebih terperinci

B P L H D P R O V I N S I J A W A B A R A T PENGELOLAAN SAMPAH DI PERKANTORAN

B P L H D P R O V I N S I J A W A B A R A T PENGELOLAAN SAMPAH DI PERKANTORAN B P L H D P R O V I N S I J A W A B A R A T PENGELOLAAN SAMPAH DI PERKANTORAN 1 Sampah merupakan konsekuensi langsung dari kehidupan, sehingga dikatakan sampah timbul sejak adanya kehidupan manusia. Timbulnya

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata Kunci : Kabupaten Tabanan, Peran serta masyarakat, pengelolaan sampah, TPS 3R

ABSTRAK. Kata Kunci : Kabupaten Tabanan, Peran serta masyarakat, pengelolaan sampah, TPS 3R ABSTRAK Kabupaten Tabanan memiliki luas 839,33 km², (14,90% dari luas provinsi Bali). Pada tahun 2013 tercatat jumlah penduduk Kabupaten Tabanan mencapai 448.033 jiwa. Kepadatan penduduk di kabupaten ini

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di PT Mekar Unggul Sari, Kabupaten Bogor. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) dengan alasan

Lebih terperinci

PENGOLAHAN SAMPAH DENGAN SISTEM 3R (REDUCE, REUSE, RECYCLE)

PENGOLAHAN SAMPAH DENGAN SISTEM 3R (REDUCE, REUSE, RECYCLE) PENGOLAHAN SAMPAH DENGAN SISTEM 3R (REDUCE, REUSE, RECYCLE) Disampaikan oleh: DINAS CIPTA KARYA DAN TATA RUANG KABUPATEN KENDAL 2016 Dasar hukum Pengelolaan Sampah Undang undang no. 18 tahun 2008 ttg Pengelolaan

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Pulau Panggang, Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, DKI

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. Pengelolaan lingkungan hidup merupakan bagian yang tak terpisahkan

BAB I. PENDAHULUAN. Pengelolaan lingkungan hidup merupakan bagian yang tak terpisahkan BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengelolaan lingkungan hidup merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pembangunan kota. Angka pertumbuhan penduduk dan pembangunan kota yang semakin meningkat secara

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN. Pada bagian ini akan dijelaskan tentang konsep dan teori yang

KERANGKA PEMIKIRAN. Pada bagian ini akan dijelaskan tentang konsep dan teori yang III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Konseptual Pada bagian ini akan dijelaskan tentang konsep dan teori yang berhubungan dengan penelitian studi kelayakan usaha pupuk kompos pada Kelompok Tani

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Restoran Pastel and Pizza Rijsttafel yang terletak di Jalan Binamarga I/1 Bogor. Pemilihan tempat penelitian ini dilakukan

Lebih terperinci

ANALISIS KELAYAKAN USAHA PUPUK ORGANIK KELOMPOK TANI BHINEKA I, DESA BLENDUNG, KABUPATEN SUBANG

ANALISIS KELAYAKAN USAHA PUPUK ORGANIK KELOMPOK TANI BHINEKA I, DESA BLENDUNG, KABUPATEN SUBANG ANALISIS KELAYAKAN USAHA PUPUK ORGANIK KELOMPOK TANI BHINEKA I, DESA BLENDUNG, KABUPATEN SUBANG SKRIPSI SYAHRA ZULFAH H34050039 DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN A. WAKTU DAN LOKASI Penelitian dimulai pada bulan Oktober sampai Desember 2008, bertempat di beberapa TPS pasar di Kota Bogor, Jawa Barat yaitu pasar Merdeka, pasar Jl. Dewi

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengumpulan Data

METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengumpulan Data IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian dilakukan di Usaha Mi Ayam Bapak Sukimin yang terletak di Ciheuleut, Kelurahan Tegal Lega, Kota Bogor. Lokasi penelitian diambil secara sengaja (purposive)

Lebih terperinci

1. Pendahuluan ABSTRAK:

1. Pendahuluan ABSTRAK: OP-26 KAJIAN PENERAPAN KONSEP PENGOLAHAN SAMPAH TERPADU DI LINGKUNGAN KAMPUS UNIVERSITAS ANDALAS Yenni Ruslinda 1) Slamet Raharjo 2) Lusi Susanti 3) Jurusan Teknik Lingkungan, Universitas Andalas Kampus

Lebih terperinci

Lay out TPST. ke TPA. Pipa Lindi

Lay out TPST. ke TPA. Pipa Lindi Lay out TPST A A B ke TPA 1 2 3 B 14 10 11 12 13 4 Pipa Lindi 18 15 9 8 18 7 5 19 16 17 18 1) Area penerima 2) Area pemilahan 3) Area pemilahan plastik 4) Area pencacah s.basah 5) Area pengomposan 6) Area

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN Pesatnya pertambahan penduduk menyebabkan meningkatnya berbagai aktivitas sosial ekonomi masyarakat, pembangunan fasilitas kota seperti pusat bisnis, komersial dan industri,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Manusia dalam aktivitasnya tidak terlepas dari kebutuhan terhadap ruang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Manusia dalam aktivitasnya tidak terlepas dari kebutuhan terhadap ruang II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sampah Manusia dalam aktivitasnya tidak terlepas dari kebutuhan terhadap ruang untuk memanfaatkan sumberdaya alam dan lingkungan. Sadar atau tidak dalam proses pemanfaatan sumberdaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kota akan selalu berhubungan erat dengan perkembangan lahan baik dalam kota itu sendiri maupun pada daerah yang berbatasan atau daerah sekitarnya. Selain itu lahan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. KOMPOSISI DAN KARAKTERISTIK SAMPAH KOTA BOGOR 1. Sifat Fisik Sampah Sampah berbentuk padat dibagi menjadi sampah kota, sampah industri dan sampah pertanian. Komposisi dan jumlah

Lebih terperinci

PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN BUPATI KATINGAN NOMOR : 3 TAHUN 2016 TENTANG

PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN BUPATI KATINGAN NOMOR : 3 TAHUN 2016 TENTANG PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN BUPATI KATINGAN NOMOR : 3 TAHUN 2016 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. dan pengelolaan yang berkelanjutan air dan sanitasi untuk semua. Pada tahun 2030,

BAB 1 : PENDAHULUAN. dan pengelolaan yang berkelanjutan air dan sanitasi untuk semua. Pada tahun 2030, BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Upaya kesehatan lingkungan berdasarkan Sustainable Development Goals (SDGs) tahun 2030 pada sasaran ke enam ditujukan untuk mewujudkan ketersediaan dan pengelolaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia dan khususnya di provinsi Riau akan memberi dampak positif dan negatif. Salah satu dampak negatifnya yaitu dengan

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1.Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Kelayakan Proyek Menurut Husnan dan Suwarsono (2000), proyek pada dasarnya merupakan kegiatan yang menyangkut pengeluaran modal (capital

Lebih terperinci

KAJIAN PENGADAAN DAN PENERAPAN TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH TERPADU (TPST) DI TPA km.14 KOTA PALANGKA RAYA

KAJIAN PENGADAAN DAN PENERAPAN TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH TERPADU (TPST) DI TPA km.14 KOTA PALANGKA RAYA KAJIAN PENGADAAN DAN PENERAPAN TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH TERPADU (TPST) DI TPA km.14 KOTA PALANGKA RAYA Teguh Jaya Permana dan Yulinah Trihadiningrum Program Magister Teknik Prasarana Lingkungan Permukiman

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis mengemukakan teori-teori terkait penelitian. Teori-teori tersebut antara lain pengertian proyek, keterkaitan proyek dengan

Lebih terperinci

INVENTARISASI SARANA PENGELOLAAN SAMPAH KOTA PURWOKERTO. Oleh: Chrisna Pudyawardhana. Abstraksi

INVENTARISASI SARANA PENGELOLAAN SAMPAH KOTA PURWOKERTO. Oleh: Chrisna Pudyawardhana. Abstraksi INVENTARISASI SARANA PENGELOLAAN SAMPAH KOTA PURWOKERTO Oleh: Chrisna Pudyawardhana Abstraksi Pengelolaan sampah yang bertujuan untuk mewujudkan kebersihan dan kesehatan lingkungan serta menjaga keindahan

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian

IV. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Peternakan Maju Bersama, Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Dian Layer Farm yang terletak di Kampung Kahuripan, Desa Sukadamai, Kecamatan Darmaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pemilihan

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Kota depok yang memiliki 6 kecamatan sebagai sentra produksi Belimbing Dewa. Namun penelitian ini hanya dilakukan pada 3 kecamatan

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2 Jenis dan Sumber Data 4.3 Metode Penentuan Narasumber

IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2 Jenis dan Sumber Data 4.3 Metode Penentuan Narasumber IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di peternakan milik Bapak Sarno yang bertempat di Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa barat. Pemilihan lokasi

Lebih terperinci

IV METODOLOGI PENELITIAN

IV METODOLOGI PENELITIAN IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di sebuah lokasi yang berada Desa Kanreapia Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa, Propinsi Sulawesi Selatan. Pemilihan lokasi

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA, MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 54 TAHUN 2017 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH DAN ZAT KIMIA PENGOPERASIAN PESAWAT UDARA DAN BANDAR UDARA DENGAN

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikirian Teoritis Penelitian tentang analisis kelayakan yang akan dilakukan bertujuan melihat dapat tidaknya suatu usaha (biasanya merupakan proyek atau usaha investasi)

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoretis Kerangka pemikiran teoretis merupakan suatu penalaran peneliti yang didasarkan pada pengetahuan, teori, dalil, dan proposisi untuk menjawab suatu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sampah merupakan limbah yang dihasilkan dari adanya aktivitas manusia.

BAB I PENDAHULUAN. Sampah merupakan limbah yang dihasilkan dari adanya aktivitas manusia. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Sampah merupakan limbah yang dihasilkan dari adanya aktivitas manusia. Jumlah atau volume sampah sebanding dengan tingkat konsumsi manusia terhadap barang

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.188, 2012 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LINGKUNGAN HIDUP. Sampah. Rumah Tangga. Pengelolaan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5347) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN 16 III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Usaha pengembangan kerupuk Ichtiar merupakan suatu usaha yang didirikan dengan tujuan untuk memanfaatkan peluang yang ada. Melihat dari adanya peluang

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN. Kabupaten Cianjur. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja

IV. METODE PENELITIAN. Kabupaten Cianjur. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja IV. METODE PENELITIAN 4.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di TPA Pasir Sembung yang berada di Kabupaten Cianjur. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive)

Lebih terperinci

ANALISIS KELAYAKAN INSTALASI PENGELOLAAN SAMPAH MENJADI REFUSE DERIVED FUEL

ANALISIS KELAYAKAN INSTALASI PENGELOLAAN SAMPAH MENJADI REFUSE DERIVED FUEL ANALISIS KELAYAKAN INSTALASI PENGELOLAAN SAMPAH MENJADI REFUSE DERIVED FUEL (RDF) (Studi kasus : Unit Pelayanan Kebersihan (UPK) Kecamatan Citeureup PT Indocement) ANDITA HERLAMBANG DEPARTEMEN EKONOMI

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Peternakan Agrifarm, yang terletak di desa Cihideung Udik Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pemilihan lokasi

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

IV METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di peternakan kambing perah Prima Fit yang terletak di Desa Cibuntu, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Lebih terperinci

KAJIAN PELUANG BISNIS RUMAH TANGGA DALAM PENGELOLAAN SAMPAH

KAJIAN PELUANG BISNIS RUMAH TANGGA DALAM PENGELOLAAN SAMPAH ABSTRAK KAJIAN PELUANG BISNIS RUMAH TANGGA DALAM PENGELOLAAN SAMPAH Peningkatan populasi penduduk dan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kuantitas sampah kota. Timbunan sampah yang tidak terkendali terjadi

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA MADIUN NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PERSAMPAHAN/KEBERSIHAN

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA MADIUN NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PERSAMPAHAN/KEBERSIHAN PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA MADIUN NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PERSAMPAHAN/KEBERSIHAN I. UMUM Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah mengamanatkan perlunya

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di perusahaan peternakan sapi perah di CV. Cisarua Integrated Farming, yang berlokasi di Kampung Barusireum, Desa Cibeureum, Kecamatan

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Kelayakan Proyek Proyek adalah suatu keseluruhan aktivitas yang menggunakan sumber-sumber untuk mendapatkan kemanfaatan (benefit),

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikirian Teoritis 3.1.1 Studi Kelayakan Proyek Studi kelayakan proyek adalah penelitian tentang dapat tidaknya suatu proyek (biasanya merupakan proyek investasi)

Lebih terperinci

EVALUASI DAN OPTIMALISASI MASA PAKAI TPA SUNGAI ANDOK KOTA PADANG PANJANG

EVALUASI DAN OPTIMALISASI MASA PAKAI TPA SUNGAI ANDOK KOTA PADANG PANJANG EVALUASI DAN OPTIMALISASI MASA PAKAI TPA SUNGAI ANDOK KOTA PADANG PANJANG Delfianto dan Ellina S. Pandebesie Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh

Lebih terperinci

MAKALAH PROGRAM PPM. Pemilahan Sampah sebagai Upaya Pengelolaan Sampah Yang Baik

MAKALAH PROGRAM PPM. Pemilahan Sampah sebagai Upaya Pengelolaan Sampah Yang Baik MAKALAH PROGRAM PPM Pemilahan Sampah sebagai Upaya Pengelolaan Sampah Yang Baik Oleh: Kun Sri Budiasih, M.Si NIP.19720202 200501 2 001 Jurusan Pendidikan Kimia Fakultas MIPA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN. dengan membangun suatu tempat pengelolaan sampah, tetapi yang dapat

KERANGKA PEMIKIRAN. dengan membangun suatu tempat pengelolaan sampah, tetapi yang dapat III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Sampah adalah sesuatu yang tidak berguna lagi, dibuang oleh pemiliknya atau pemakai semula (Tandjung, 1982 dalam Suprihatin et al,1999). Dibutuhkan

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Peternakan Domba Tawakkal, yang terletak di Jalan Raya Sukabumi, Desa Cimande Hilir No.32, Kecamatan Caringin, Kabupaten

Lebih terperinci

EVALUASI SISTEM PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH DI KOTA TRENGGALEK

EVALUASI SISTEM PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH DI KOTA TRENGGALEK EVALUASI SISTEM PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH DI KOTA TRENGGALEK Joko Widodo dan Yulinah Trihadiningrum Program Pasca Sarjana Jurusan Teknik Lingkungan FTSP - ITS Surabaya ABSTRAK Pembuangan akhir sampah yang

Lebih terperinci

BUPATI LOMBOK BARAT PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

BUPATI LOMBOK BARAT PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT BUPATI LOMBOK BARAT PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT PERATURAN BUPATI LOMBOK BARAT NOMOR 6A TAHUN 2015 TENTANG PENGELOLAAN PERSAMPAHAN / KEBERSIHAN BUPATI LOMBOK BARAT, Menimbang : a. bahwa salah satu faktor

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian dilakukan di Kampung Budaya Sindangbarang, Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive

Lebih terperinci

PEMILIHAN DAN PENGOLAHAN SAMPAH ELI ROHAETI

PEMILIHAN DAN PENGOLAHAN SAMPAH ELI ROHAETI PEMILIHAN DAN PENGOLAHAN SAMPAH ELI ROHAETI Sampah?? semua material yang dibuang dari kegiatan rumah tangga, perdagangan, industri dan kegiatan pertanian. Sampah yang berasal dari kegiatan rumah tangga

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Masalah sampah memang tidak ada habisnya. Permasalahan sampah sudah

I. PENDAHULUAN. Masalah sampah memang tidak ada habisnya. Permasalahan sampah sudah I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah sampah memang tidak ada habisnya. Permasalahan sampah sudah menjadi persoalan serius terutama di kota-kota besar, tidak hanya di Indonesia saja, tapi di seluruh

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Metode Pengambilan Responden 4.3. Desain Penelitian

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Metode Pengambilan Responden 4.3. Desain Penelitian IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Desa Blendung, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi ini ditentukan secara sengaja (purposive)

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sumberdaya alam (SDA) dan lingkungan merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan dan merupakan tempat hidup mahluk hidup untuk aktivitas kehidupannya. Selain itu,

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Tanaman kehutanan adalah tanaman yang tumbuh di hutan yang berumur

III. METODE PENELITIAN. Tanaman kehutanan adalah tanaman yang tumbuh di hutan yang berumur 47 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Analisis Kelayakan Usaha Analisis Kelayakan Usaha atau disebut juga feasibility study adalah kegiatan untuk menilai sejauh mana manfaat

Lebih terperinci

BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH

BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH SALINAN BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI PATI NOMOR 15 TAHUN 2017 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 7 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

POTENSI PENERAPAN PRINSIP 3R DALAM PENGELOLAAN SAMPAH DI DESA NGENEP KECAMATAN KARANGPLOSO KABUPATEN MALANG

POTENSI PENERAPAN PRINSIP 3R DALAM PENGELOLAAN SAMPAH DI DESA NGENEP KECAMATAN KARANGPLOSO KABUPATEN MALANG Spectra Nomor 22 Volume XI Juli 2013: 24-31 POTENSI PENERAPAN PRINSIP 3R DALAM PENGELOLAAN SAMPAH DI DESA NGENEP KECAMATAN KARANGPLOSO KABUPATEN MALANG Puji Ariyanti Sudiro Program Studi Teknik Lingkungan

Lebih terperinci

- 2 - II. PASAL DEMI PASAL. Pasal 9. Cukup jelas. Pasal 2. Pasal 3. Cukup jelas. Pasal 4. Cukup jelas. Pasal 5. Cukup jelas. Pasal 6. Cukup jelas.

- 2 - II. PASAL DEMI PASAL. Pasal 9. Cukup jelas. Pasal 2. Pasal 3. Cukup jelas. Pasal 4. Cukup jelas. Pasal 5. Cukup jelas. Pasal 6. Cukup jelas. PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 0000 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA I. UMUM Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Konseptual Proyek adalah kegiatan-kegiatan yang direncanakan dan dilaksanakan dalam satu bentuk kesatuan dengan mempergunakan sumber-sumber untuk mendapatkan

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN FASILITAS PENGOLAHAN SAMPAH DI KECAMATAN KELAPA DUA KABUPATEN TANGERANG

PENGEMBANGAN FASILITAS PENGOLAHAN SAMPAH DI KECAMATAN KELAPA DUA KABUPATEN TANGERANG PRESENTASI TESIS 1 PENGEMBANGAN FASILITAS PENGOLAHAN SAMPAH DI KECAMATAN KELAPA DUA KABUPATEN TANGERANG M. AGUS RAMDHAN (3310202701) PROGRAM MAGISTER BIDANG KEAHLIAN TEKNIK PRASARANA LINGKUNGAN PERMUKIMAN

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian berada di UPR Citomi Desa Tanggulun Barat Kecamatan Kalijati Kabupaten Subang Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Pada bagian ini akan membahas mengenai kesimpulan dan rekomendasi yang didapat dari hasil analisis tata kelola persampahan berkelanjutan di Kawasan Perkotaan Sumedang yang

Lebih terperinci

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam kehidupannya sehari-hari, manusia tidak bisa dilepaskan dari suatu benda. Benda ini ada yang dapat digunakan seutuhnya, namun ada juga yang menghasilkan sisa

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Pemilihan lokasi secara sengaja (purposive) berdasarkan pertimbangan bahwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sampah menurut SNI 19-2454-2002 tentang Tata Cara Teknik Operasional Pengelolaan Sampah Perkotaan didefinisikan sebagai limbah yang bersifat padat terdiri atas bahan

Lebih terperinci

VII. PEMBAHASAN ASPEK FINANSIAL

VII. PEMBAHASAN ASPEK FINANSIAL VII. PEMBAHASAN ASPEK FINANSIAL 7.1. Proyeksi Arus Kas (Cashflow) Proyeksi arus kas merupakan laporan aliran kas yang memperlihatkan gambaran penerimaan (inflow) dan pengeluaran kas (outflow). Dalam penelitian

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA SERANG NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SERANG,

PERATURAN DAERAH KOTA SERANG NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SERANG, PERATURAN DAERAH KOTA SERANG NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SERANG, Menimbang: Mengingat: a. bahwa dalam rangka mewujudkan lingkungan yang baik

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Adapun bab ini berisi kesimpulan dan rekomendasi dari penelitian mengenai Kajian Pengelolaan Sampah yang Terintegrasi untuk Mendukung Pengelolaan Sampah yang Berkelanjutan.

Lebih terperinci

PENGELOLAAN SAMPAH PERMUKIMAN DI KAWASAN PERDESAAN KABUPATEN PONOROGO ( STUDI KASUS KECAMATAN BUNGKAL )

PENGELOLAAN SAMPAH PERMUKIMAN DI KAWASAN PERDESAAN KABUPATEN PONOROGO ( STUDI KASUS KECAMATAN BUNGKAL ) PRESENTASI TESIS PENGELOLAAN SAMPAH PERMUKIMAN DI KAWASAN PERDESAAN KABUPATEN PONOROGO ( STUDI KASUS KECAMATAN BUNGKAL ) DOSEN PEMBIMBING Prof. Dr. YULINAH TRIHADININGRUM, MApp.Sc OLEH : MALIK EFENDI (3310202708)

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DI KABUPATEN JEPARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEPARA.

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DI KABUPATEN JEPARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEPARA. PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DI KABUPATEN JEPARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEPARA., Menimbang : a. bahwa pertambahan penduduk dan perubahan

Lebih terperinci

BUPATI POLEWALI MANDAR

BUPATI POLEWALI MANDAR BUPATI POLEWALI MANDAR PERATURAN DAERAH KABUPATEN POLEWALI MANDAR NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN PERSAMPAHAN DAN KEBERSIHAN KOTA KABUPATEN POLEWALI MANDAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. PPK Sampoerna merupakan Pusat Pelatihan Kewirausahaan terpadu yang

BAB I PENDAHULUAN. PPK Sampoerna merupakan Pusat Pelatihan Kewirausahaan terpadu yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang PPK Sampoerna merupakan Pusat Pelatihan Kewirausahaan terpadu yang dibangun di atas lahan seluas 27 Ha di Dusun Betiting, Desa Gunting, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1429, 2013 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP. Dana Alokasi Khusus. Pemanfaatan. Petunjuk Teknis. PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 09 TAHUN 2013

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Konseptual III. METODE PENELITIAN Nilai tambah yang tinggi yang diperoleh melalui pengolahan cokelat menjadi berbagai produk cokelat, seperti cokelat batangan merupakan suatu peluang

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TANGERANG,

PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TANGERANG, PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TANGERANG, Menimbang : a. bahwa dengan adanya pertambahan penduduk dan pola konsumsi

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Perubahan lingkungan internal dan eksternal menuntut perusahaan untuk meningkatkan keunggulan kompetitif agar dapat bertahan dan berkembang. Disaat perusahaan

Lebih terperinci

KONSEP PENANGANAN SAMPAH TL 3104

KONSEP PENANGANAN SAMPAH TL 3104 KONSEP PENANGANAN SAMPAH TL 3104 Environmental Engineering ITB - 2010 KELOMPOK 2 Dian Christy Destiana 15308012 Vega Annisa H. 15308014 Ratri Endah Putri 15308018 M. Fajar Firdaus 15308020 Listra Endenta

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Penentuan Responden

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Penentuan Responden IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Elsari Brownies and Bakery yang terletak di Jl. Pondok Rumput Raya No. 18 Bogor. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara

Lebih terperinci

RINGKASAN ISVENTINA. DJONI HARTONO

RINGKASAN ISVENTINA. DJONI HARTONO RINGKASAN ISVENTINA. H14102124. Analisis Dampak Peningkatan Ekspor Karet Alam Terhadap Perekonomian Indonesia: Suatu Pendekatan Analisis Input-Output. Di bawah bimbingan DJONI HARTONO. Indonesia merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia mengalami proses pembangunan perkotaan yang pesat antara tahun 1990 dan 1999, dengan pertumbuhan wilayah perkotaan mencapai 4,4 persen per tahun. Pulau Jawa

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan 33 III. METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional dan Konsep Dasar Konsep dasar dan batasan operasional ini mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sampah pada dasarnya merupakan suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari suatu sumber hasil aktivitas manusia maupun proses-proses alam yang tidak mempunyai nilai

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DI KABUPATEN PASURUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DI KABUPATEN PASURUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DI KABUPATEN PASURUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PASURUAN, Menimbang Mengingat : a. bahwa pertambahan penduduk

Lebih terperinci

BAB III STUDI LITERATUR

BAB III STUDI LITERATUR BAB III STUDI LITERATUR 3.1 PENGERTIAN LIMBAH PADAT Limbah padat merupakan limbah yang bersifat padat terdiri dari zat organic dan zat anorganik yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kompleks. Selain karena pengelolaannya yang kurang baik, budaya masyarakat. Gambar 1.1 Tempat Penampungan Sampah

BAB I PENDAHULUAN. kompleks. Selain karena pengelolaannya yang kurang baik, budaya masyarakat. Gambar 1.1 Tempat Penampungan Sampah BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar belakang Masalah sampah di Indonesia merupakan salah satu permasalahan yang kompleks. Selain karena pengelolaannya yang kurang baik, budaya masyarakat Indonesia dalam membuang

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. ini yang dianalisis adalah biaya, benefit, serta kelayakan usahatani lada putih yang

METODE PENELITIAN. ini yang dianalisis adalah biaya, benefit, serta kelayakan usahatani lada putih yang III. METODE PENELITIAN A. Metode Dasar Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis, yang merupakan suatu metode penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan

Lebih terperinci