BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Save this PDF as:
Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Data penelitian yang diperoleh pada penelitian ini berasal dari beberapa parameter pertumbuhan anakan meranti merah yang diukur selama 3 bulan. Parameter yang diukur meliputi tinggi, diameter, jumlah daun, nisbah pucuk akar (NPA), bobot kering total (BKT), intensitas cahaya, suhu dan kelembaban relatif. intensitas cahaya, suhu dan kelembaban relatif pada berbagai naungan disajikan pada Tabel 1 dan Gambar 2, 3,4. Tabel 1 Rata-rata intensitas cahaya, suhu dan kelembaban relatif selama penelitian Parameter Tingkat Naungan 0% 20% 40% 60% Intesitas Cahaya (Lux 10 2 ) 246,55 187,19 146,47 119,34 Suhu ( C) 31,29 30,98 30,39 29,91 Kelembaban Relatif (%) 66,33 71,75 76,88 82,73 Gambar 1 Rataan intensitas cahaya per dasarian pada berbagai tingkat naungan

2 11 Gambar 2 Rataan suhu udara per dasarian pada berbagai tingkat naungan Gambar 3 Rataan kelembaban relatif per dasarian pada berbagai tingkat naungan Pada Tabel 1 dapat dilihat intensitas cahaya, suhu dan kelembaban pada berbagai tingkat naungan berbeda. Intensitas cahaya pada naungan 0% (intensitas cahaya 100%) memiliki persentase penerimaan cahaya yang masuk ke dalam naungan paling tinggi yaitu sebesar 246,55 lux (35,24%), sedangkan tingkat naungan 20% sebesar 187,19 lux (26,76%), 40% sebesar 146,47 lux (20,94%) dan 60% sebesar 119,34 lux (17,06%). Sedangkan nilai rataan suhu tertinggi pada tingkat naungan 0% yaitu 31,29 C, sementara pada tingkat naungan 20% sebesar 30,98 C, naungan 40% sebesar 30,39 C dan naungan 60% mempunyai rataan suhu sebesar 29,91 C. Nilai rataan kelembaban berbanding terbalik dengan nilai

3 12 rataan intensitas cahaya dan suhu, dimana nilai rataan tertinggi kelembaban pada tingkat naungan 60% sebesar 82,73%, sedangkan naungan 40% sebesar 76,88%, 20% dan 0% masing-masing sebesar 71,75% dan 66,33%. Intensitas cahaya, suhu dan kelembaban mempunyai nilai rataan per dasarian yang berfluktuatif. Nilai rataan intensitas cahaya tertinggi pada dasarian ke-5, ke-6 dan dasarian ke-3 ke-7, ke-8, ke-9 mempunyai nilai rataan per dasarian terendah (Gambar 1). Sedangkan nilai rataan suhu tertinggi pada dasarian ke-1, ke-5 dan ke-6, Sementara untuk dasarian ke-2, ke-3, ke-8 dan ke-9 adalah rataan dasarian suhu terendah (Gambar 2). Nilai rataan kelembaban relatif pada dasarian ke-7, ke-8 dan ke-9 dalah tertinggi, sedangkan terendah pada dasarian ke-1 dan ke-4 (Gambar 3) Pengaruh Intensitas Cahaya Terhadap Pertumbuhan Anakan Meranti Merah Pengaruh intensitas cahaya terhadap pertumbuhan pada masing-masing jenis diukur dengan parameter tinggi, diameter, jumlah daun, bobot kering total (BKT) dan nisbah pucuk akar (NPA). Berdasarkan analisis ragam (Tabel 2). Parameter yang diukur pada masing-masing jenis memberikan respon terhadap naungan dan interaksi yang berbeda-beda, pada pengamatan ke-1 sampai 9 pengaruh naungan dan jenis memberikan pengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman kecuali pada pengamatan ke-6 interaksi antara naungan dengan jenis tanaman tidak berpengaruh nyata. Parameter diameter batang terhadap pengaruh naungan memberikan pengaruh nyata kecuali pada pengamatan ke-1 dan 6 yang memberikan pengaruh tidak nyata pada parameter diameter batang sedangkan interaksi berpengaruh nyata kecuali pada pengamatan ke-1, 5 dan 7 yang berpengaruh tidak nyata. Pada hasil analisis ragam (Tabel 2) parameter jumlah daun, bobot kering total (BKT) dan nisbah pucuk akar (NPA) tidak berbeda dengan hasil parameter tinggi dan diameter. Naungan memberikan pengaruh nyata terhadap Parameter jumlah daun kecuali pada pengamatan ke 1, 2, 6 dan 8 sedangkan untuk interaksi 2 faktor pada pengamatan ke 2, 3, 4, 6 dan 7 adalah pengamatan yang berpengaruh tidak nyata terhadap parameter jumlah daun. Bobot kering total (BKT) dan nisbah pucuk akar (NPA) dilakukan pada akhir pengamatan,

4 13 berdasarkan analisis ragam naungan memberikan pengaruh nyata terhadap bobot kering total (BKT) dan nisbah pucuk akar (NPA). Tabel 2 Rekapitulasi analisis ragam pengaruh jenis dan tingkat naungan terhadap parameter pertumbuhan Parameter Naungan Jenis Interaksi T 1 0,0001** 0,0001** 0,0152* T 2 0,0001** 0,0001** 0,0236* T 3 0,0001** 0,0001** 0,0170* T 4 0,0001** 0,0427* 0,0335* T 5 0,0001** 0,0001** 0,0217* T 6 0,0451* 0,0001** 0,1814tn T 7 0,0001** 0,0001** 0,0473* T 8 0,0442* 0,0001** 0,0361* T 9 0,0249* 0,0001** 0,0293* TT 0,0001** 0,0001** 0,0431* D 1 0,2204tn 0,0001** 0,3182tn D 2 0,0001** 0,0256* 0,0114* D 3 0,0001** 0,0001** 0,0266* D 4 0,0001** 0,0001** 0,0130* D 5 0,0001** 0,0001** 0,2197tn D 6 0,6953tn 0,0001** 0,0358* D 7 0,0410* 0,0001** 0,5246tn D 8 0,0213* 0,0001** 0,0377* D 9 0,0001** 0,0001** 0,0150* DT 0,0001** 0,0001** 0,0221* J 1 0,0544tn 0,0001** 0,0171* J 2 0,7261tn 0,0001** 0,9034tn J 3 0,0441* 0,0001** 0,1571tn J 4 0,0125* 0,0001** 0,2207tn J 5 0,0214* 0,0001** 0,0247* J 6 0,3353tn 0,0001** 0,4210tn J 7 0,0266* 0,6792tn 0,7511tn J 8 0,1491tn 0,0001** 0,0220* J 9 0,0001** 0,0001** 0,0380* JT 0,0001** 0,0001** 0,0361* BKT 0,0001** 0,0001** 0,0001** NPA 0,0001** 0,0016* 0,4328tn Keterangan : T = Tinggi;D = Diameter;J = Jumlah daun;1-9 = Pengamatan ke-n;bkt = Bobot Kering Total;NPA = Nisbah Pucuk Akar;* = Berbeda nyata pada selang kepercayaan 95%;** = Berbeda sangat nyata pada selang kepercayaan 99%;tn = tidak nyata

5 Pengaruh intensitas cahaya terhadap tinggi tanaman Berdasarkan hasil uji lanjut Duncan dilakukan pada pertambahan nilai total dari rata-rata empat ulangan pada masing-masing perlakuan (Tabel 3) Faktor naungan memberikan pengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% terhadap pertambuhan tinggi tanaman pada ke-4 jenis tanaman meranti merah yaitu S. leprosula, S. mecistopteryx, S. ovalis dan S. selanica sedangkan pada masingmasing naungan memberikan pengaruh yang berbeda antara jenis S. leprosula, S. mecistopteryx, S. ovalis dan S. selanica. Tabel 3 Nilai rata-rata pertambahan tinggi tanaman (cm) Jenis Naungan 0% 20% 40% 60% S. leprosula 1,40 ef 2,04 b 2,34 a 2,39 a S. mecistopteryx 1,01 g 1,18 fg 1,69 bcd 1,84 bcd S. ovalis 1,38 ef 1,81 bcd 1,91 bc 2,26 a S. selanica 1,60 de 1,88 bcd 2,46 a 2,55 a Keterangan : Huruf yang tidak sama menyatakan berbeda nyata pada taraf uji 95% (Uji Duncan) Pertambahan tinggi tiap jenis tanaman pada tingkat naungan memiliki pertambahan yang berbeda, terlihat pada Tabel 3 bahwa rata-rata pertambahan tinggi tanaman berbeda pada tingkat naungan. Pertambahan rata-rata tinggi tanaman terbesar adalah pada S. selanica kemudian S. leprosula, S. ovalis dan S. mecistoteryx. Tingkat naungan yang berbeda memperlihatkan pengaruh yang berbeda pada pertambahan tinggi setiap perlakuan naungan. Pertambahan tinggi S. selanica terbesar pada naungan 60% (2,55 cm) namun tidak berbeda nyata terhadap naungan 40% (2,46 cm) dan naungan 0% (1,60 cm) terhadap naungan 20% (1,88 cm) berbeda nyata. S. ovalis pada naungan 60% (2,26 cm) terhadap naungan 0% (1,38 cm) berbeda nyata, sedangkan pada nanugan 40% (1,91 cm) berbeda nyata dari naungan 20% (1,81 cm). Pada S. leprosula pertambahan tinggi 60% (2,39 cm) dan 20% (2,04 cm) tidak berbeda nyata. Sedangkan pada naungan 40% (2,34 cm) dan 0% (1,40 cm) berbeda nyata, sementara S. mecistoteryx pada naungan 60% (1,84 cm) dan naungan 40% (1,69 cm) tidak berbeda nyata dan pada naungan 20% (1,18 cm) dan 0% (1,01 cm) berbeda nyata.

6 Pengaruh intensitas cahaya terhadap diameter batang Parameter diameter batang yang diukur memiliki hasil pengaruh berbeda terhadap masing-masing perlakuan naungan. Berdasarkan hasil uji lanjut Duncan diameter batang (Tabel 4) yang dilakukan pada pertambahan nilai total dari ratarata empat ulangan pada masing-masing perlakuan, faktor naungan memberikan pengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% terhadap pertambahan diameter ke- 4 jenis tanaman meranti merah yaitu S. leprosula, S. mecistopteryx, S. ovalis dan S. selanica sedangkan pada masing-masing naungan memberikan pengaruh yang berbeda antara jenis S. leprosula, S. mecistopteryx, S. ovalis dan S. selanica Tabel 4 Nilai rata-rata pertambahan diameter batang (mm) Jenis Naungan 0% 20% 40% 60% S. leprosula 0,64 f 0,88 def 0,93 def 1,22 bc S. mecistopteryx 0,65 ef 0,87 def 1,49 b 1,53 b S. ovalis 0,88 def 1,14 cd 1,48 b 1,87 a S. selanica 0,94 cde 1,16 dc 1,18 bcd 1,47 b Keterangan : Huruf yang tidak sama menyatakan berbeda nyata pada taraf uji 95% (Uji Duncan) Pengukuran parameter diameter batang diukur dengan pertambahan diameter batang tiap jenis tanaman memiliki hasil berbeda pada tingkat naungan. Hasil pengukuran yang kemudian dilakukan uji lanjut Duncan dapat dilihat pada Tabel 4 bahwa rata-rata pertambahan diameter batang berbeda pada berbagai tingkat naungan. Pertambahan rata-rata diameter batang terbesar adalah pada S. ovalis kemudian S. mecistoteryx, S. selanica dan S. leprosula. Hasil uji lanjut Duncan diameter batang tidak berbeda dengan hasil uji lanjut pada parameter sebelumnya bahwa tiap naungan memberikan pengaruh berbeda terhadap pertambahan diameter batang, pertambahan diameter batang S. ovalis adalah yang terbesar dari ketiga jenis lainnya. Rata-rata pertambahan diameter terbesar S. ovalis pada naungan 60% (1,87 mm) yang berbeda nyata terhadap ketiga naungan yaitu pada naungan 40% (1,48 mm), 0% (0,88 mm) dan 20% (1,14 mm). Pertambahan diameter batang terbesar kedua yaitu pada S. mecistopteryx pada naungan 60% (1,53 mm) dan naungan 40% (1,49 mm) tidak berbeda nyata, sedangkan pada naungan 20% (0,87 mm) berbeda nyata dari naungan 0% (0,65 mm). Kemudian pertambahan diameter batang pada S. selanica pada naungan 60 % (1,47 mm) berbeda nyata dari naungan 20% (1,16 mm),

7 16 naungan 40% (1,18 mm) dan 0% (0,94 mm). Pertambahan rata-rata total pertambahan diameter batang terendah pada S. leprosula pertambahan tinggi 60% (1,22 mm) berbeda nyata terhadap naungan 40% (0,93 mm), sementara antara naungan 20% (0,88 mm) dan 0% (0,64 mm) berbeda nyata Pengaruh intensitas cahaya terhadap jumlah daun Pengaruh naungan terhadap rata-rata total pertambahan jumlah daun berbeda antara setiap jenis tanaman (Tabel 5). Pertambahan jumlah daun tertinggi pada S. selanica pada naungan 60% (4,23 helai) berbeda nyata dari naungan 40% (3,50 helai), 20% ( 3,39 helai) dan pada naungan 0% (0,40 helai). Pertambahan jumlah daun pada S.ovalis yaitu pada naungan 60% (2,84 helai), naungan 40% (2,59 helai) tidak berbeda nyata dengan naungan 20% (2,32 helai), sedangkan naungan 0% (1,60 helai) berbeda nyata dari ketiga hasil perlakuan naungan lainnya. Pengaruh berbeda juga pada S. leprosula dimana hasil uji lanjut Duncan memberikan hasil tidak berbeda nyata terhadap pertambahan jumlah daun tiap naungan. Akan tetapi pada naungan 60% (1,76 helai) memiliki pertambahan jumlah daun lebih tinggi dari naungan 40% (1,71 helai), 20% (1,70 helai) dan 20% (1,68 helai). Pada S. mecistopteryx sedikit mengalami pertambahan jumlah daun. Pada naungan 60% (0,76 helai), 40% (-0,73 helai) dan 20% (-1,35 helai) tidak berbeda nyata tetapi pada naungan 0% (-4,15 helai) berbeda nyata. Tabel 5 Nilai rata-rata jumlah daun (helai) Jenis Naungan 0% 20% 40% 60% S. leprosula 1,68 bc 1,70 bc 1,71 bc 1,76 bc S. mecistopteryx -4,15 e -1,35 d -0,73 d 0,76 cd S. ovalis 1,60 cd 2,32 abc 2,59 abc 2,84 abc S. selanica 0,40 cd 3,39 ab 3,50 ab 4,23 a Keterangan : Huruf yang tidak sama menyatakan berbeda nyata pada taraf uji 95% (Uji Duncan) Pengaruh intensitas cahaya terhadap bobot kering total (BKT) Berdasarkan analisis ragam perlakuan naungan pada bobot kering total memberikan pengaruh nyata tetapi pada masing-masing perlakuan naungan memiliki bobot kering total berbeda (Tabel 6). Bobot kering total terbesar pada jenis tanaman S. selanica di naungan 60% (8,76 gram) berbeda nyata terhadap

8 17 hasil perlakuan naungan 40%, naungan 20% dan naungan 0%, rata-rata masingmasing sebesar 6,59 gram, 4,09 gram, dan 2,05 gram. Kemudian pada rata-rata bobot kering total jenis tanaman lainnya adalah pada S. ovalis memiliki bobot kering total tertinggi setelah S. selanica yaitu pada perlakuan naungan 60% (4,65 gram) berbeda nyata dari perlakuan naungan 40%, 20% dan 0% rata-rata bobot kering total masing-masing sebesar 3,32 gram, kemudian 2,71 gram dan 1,04 gram. Sedangkan bobot kering total S. leprosula pada masing-masing perlakuan naungan sebesar 3,56 gram pada naungan 60% sedangkan 3,54 gram dari hasil rata-rata perlakuan naungan 40% yang tidak berbeda nyata antara keduanya, sementara 2,82 gram pada perlakuan naungan 20% dan 2,70 gram pada perlakuan naungan 0%. Bobot kering total rata-rata terendah pada jenis tanaman S. mecistopteryx bobot kering total pada masing-masing perlakuan naungan yaitu 4,05 gram pada perlakuan naungan 60% berbeda nyata dari 2,38 gram perlakuan naungan 40% sedangkan 2,21 gram dan 0,81 gram pada perlakuan naungan 20% dan 0%. Tabel 6 Nilai Bobot kering total (gram) Jenis Naungan 0% 20% 40% 60% S. leprosula 2,70 efgh 2,82 efgh 3,54 def 3,56 de S. mecistopteryx 0,81 i 2,21 gh 2,38 fgh 4,05 dc S. ovalis 1,04 i 2,71 efgh 3,32 defg 4,65 c S. selanica 2,05 h 4,09 dc 6,59 b 8,76 a Keterangan : Huruf yang tidak sama menyatakan berbeda nyata pada taraf uji 95% (Uji Duncan) Pengaruh intensitas cahaya terhadap nisbah pucuk akar (NPA) Berdasarkan analisis ragam pada Tabel 2 menyatakan bahwa nisbah pucuk akar (NPA) berpengaruh nyata pada tingkat naungan terlihat bahwa rata-rata nilai nisbah pucuk akar sedikit berbeda setiap perlakuan naungan berdasarkan uji lanjut Duncan (Tabel 7). S. selanica memiliki rata-rata nisbah pucuk akar tertinggi pada taraf naungan 60% yaitu 2,10 yang tidak berbeda nyata dari perlakuan naungan 40% sebesar 1,98, namun berbeda nyata pada perlakuan naungan 20% sebesar 1,23 dan 0% sebesar 0,97 sedangkan pada S. mecistopteryx antara perlakuan naungan 60% (1,92) dan naungan 40% (1,12) berbeda nyata. Sementara perlakuan

9 18 naungan 20% (1,02) dan naungan 0% (0,65) tidak berbeda nyata. Sementara S. ovalis memiliki NPA tertinggi pada taraf naungan 60% sebesar 1,59 yang berbeda nyata pada perlakuan naungan 40% yaitu sebesar 1,10 dan rata-rata taraf naungan 20% (1,09) tidak berbeda nyata dari naungan 0% (0,71). Pada S. leprosula memiliki rata-rata nilai NPA sedikit lebih kecil dari pada jenis yang lain, pada perlakuan naungan 60% memiliki NPA 1,02 tidak berbeda nyata dari nilai NPA naungan 40% yaitu sebesar 0,92, naungan 20% sebesar 0,76 dan dari naungan 0% yaitu 0,69. Tabel 7 Nisbah pucuk akar Jenis Naungan 0% 20% 40% 60% S. leprosula 0,69 d 0,76 d 0,92 d 1,02 d S. mecistopteryx 0,65 d 1,02 d 1,12 dc 1,92 abc S. ovalis 0,71 d 1,09 cd 1,10 cd 1,59 a S. selanica 0,97 d 1,23 bcd 1,98 ab 2,10 a Keterangan : Huruf yang tidak sama menyatakan berbeda nyata pada taraf uji 95% (Uji Duncan) 4.2 Pembahasan Intensitas cahaya pada lokasi penelitian memiliki intensitas cahaya yang tinggi pada awal bulan penelitian (Agustus) sedangkan pada bulan September intensitas cahaya mengalami penurunan, penurunan intensitas cahaya pada bulan September disebabkan bulan September memasuki peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan sehingga penurunan dalam pengukuran intensitas cahaya. Sedangkan pada awal bulan Oktober intensitas cahaya mengalami peningkatan, akibat fluktuasi cuaca pada musim peralihan yang terkadang terjadi panas dan hujan akan tetapi pada akhir bulan Oktober memasuki musim penghujan sehingga intensitas cahaya mengalami penurunan sampai dengan akhir penelitian. Intensitas cahaya dipengaruhi oleh cuaca sekitar, dengan cuaca cerah maka intensitas cahaya akan tinggi. Tingkat intensitas cahaya berbading terbalik dengan tingkat keawanan jika pada hari pengukuran tingkat keawanan tinggi maka pengukuran intensitas cahaya akan rendah. Intensitas cahaya terendah pada sore hari sedangkan rata-rata intensitas cahaya pada siang hari merupakan intensitas cahaya tertinggi. Intensitas cahaya berpengaruh dengan parameter suhu udara, sedangkan suhu udara akan mempengaruhi tingkat kelembaban relatif.

10 19 Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan naungan (intensitas cahaya) berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan ke-4 anakan meranti merah yaitu S. leprosula, S. mecistopteryx, S. ovalis dan S. selanica yang diukur dengan parameter pertumbuhan tinggi, diameter, pertambahan jumlah daun, bobot kering total dan nisbah pucuk akar. Intensitas cahaya berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan melalui proses fotosintesis, mekanisme membuka dan menutup stomata, sintesis klorofil dan diferensiasi sel yang dinyatakan dengan pertambahan tinggi, diameter, ukuran daun, struktur daun dan batang (Kramer dan Kozlowski 1960). Intensitas cahaya berkaitan dengan suhu dan kelembaban, peningkatan intensitas cahaya akan meningkatkan suhu dan menurunkan kelembaban relatif sehingga peningkatan tersebut mempengaruhi tingkat evaporasi yang menyebabkan peningkatan kekeringan dan ketersediaan air tanah sehingga akan meningkatkan transpirasi tanaman (Safitri 2004). Perubahan suhu dan kelembaban berpengaruh dalam pertumbuhan tanaman dan proses fisiologi seperti fotosintesis, respirasi, aktivitas enzim. Jika suhu udara terlalu tinggi maka peningkatan laju respirasi dan rusaknya jaringan muda yang akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan tunas muda, sementara suhu udara terlalu rendah akan menghambat aktivitas enzim pertumbuhan. Sedangkan kelembaban optimal akan meningkatkan penyerapan air dan menurunkan laju transpirasi (Kozlowski et al. 1991). Intensitas cahaya berpengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan tinggi, batang, jumlah daun, bobot kering total dan nisbah pucuk akar pada S. leprosula, S. mecistopteryx, S. ovalis dan S. selanica. Sedangkan interaksi naungan dan jenis berpengaruh nyata kecuali pada nisbah pucuk akar (Tabel 2). Pertambahan tinggi terbesar setiap jenis adalah pada naungan 60% (intensitas cahaya 40%) tetapi tidak berbeda nyata dari naungan 40% (intensitas cahaya 60%) sedangkan terhadap naungan 20% (intensitas cahaya 80%) dan 0% (intensitas cahaya 100%) berbeda nyata. Perbedaan tersebut karena dari keempat jenis adalah termasuk jenis tanaman toleran sehingga semuanya memerlukan naungan saat perkembangan anakan sampai dengan anakan siap tanam di lapangan. Sedangkan kondisi pada kedaaan terbuka naungan 0% (intensitas

11 20 cahaya 100%) pertumbuhan keempat jenis terhambat dan mengalami gejala daun kekuningan. Menurut Soerianegara dan Lemmens (1993) jenis-jenis Shorea spp adalah jenis toleran yang sangat peka terhadap intensitas cahaya tinggi, penerimaan intensitas cahaya tinggi akan merubah warna daun, peningkatan suhu tanah dan tidak aktifnya mikoriza. Perubahan warna daun menjadi kekuningan akibat zat hijau daun beroksidasi dengan intensitas cahaya tinggi (Salissbury dan Ross 1995). Pengaruh intensitas cahaya pada S. leprosula, S. mecistopteryx, S. ovalis dan S. selanica berbeda-beda tetapi secara umum S. leprosula, S. mecistopteryx, S. ovalis dan S. selanica memiliki pertumbuhan lebih baik berdasarkan hasil pengukuran pertumbuhan dengan parameter tinggi, diameter, jumlah daun, bobot kering total dan nisbah pucuk akar pada naungan 60% atau pada intensitas cahaya 40% dengan lux intensitas cahaya yang diterima tanaman dengan suhu 29,91 C dan kelembaban 82,73%. Hal ini sesuai pendapat Soerianegara dan Lemmens (1993) bahwa pertumbuhan optimal Shorea spp pada naungan 55% 75% dan pada suhu C sedangkan menurut Bunning et al bahwa intensitas cahaya tidak langsung setara dengan lux, sementara pada intensitas cahaya penuh dibawah sinar matahari langsung setara dengan lux. Pemberian naungan (intensitas cahaya) tidak hanya mempengaruhi pertumbuhan tanaman tetapi mempunyai pengaruh terhadap iklim mikro seperti suhu dan kelembaban. Naungan 0% (intensitas cahaya 100%) meningkatkan suhu dan kelembaban menurun menjadi faktor penghambat pertumbuhan anakan Shorea spp yang merupakan jenis toleran naungan. Suhu meningkat dan kelembaban menurun menyebabkan meningkatnya laju evapotranspirasi sehingga jaringan tumbuhan mengalami kekurangan air. Menurut Gardner et al. (1991) air dalam jaringan tumbuhan merupakan penghasil karbohidrat (C 6 H ) dalam proses fotosintesis di daun dan medium transpor zat terlarut organik dan anorganik yang akan disalurkan ke seluruh bagian dalam tumbuhan. Berkurangnya air dalam jaringan tumbuhan mengakibatkan pembentukan karbohidrat, pembelahan sel meristem terhambat sehingga pertambahan tinggi, diameter terhambat dan daun menjadi kering dengan ukuran daun lebih kecil

12 21 sedangkan perakaran mengalami pemanjangan akibat potensial air dalam jaringan berkurang menyebabkan absorbsi terus-menerus dalam tanah oleh sistem akar untuk menyeimbangkan potensial air dalam jaringan. Interaksi antara intensitas cahaya dengan jenis tanaman memberikan pengaruh nyata terhadap parameter pertumbuhan yang diukur yaitu pertambahan tinggi, diameter dan jumlah daun tanaman, bobot kering total (Tabel 2). Berdasarkan analisis ragam pertambahan tinggi, diameter dan jumlah daun tanaman terbaik pada naungan 60% (intensitas cahaya 40%) dan 40% (intensitas cahaya 60%) akan tetapi tidak berbeda nyata antara keduanya sedangkan pada naungan 0% (intensitas cahaya 100%) dan 20% (intensitas cahaya 80%) tanaman tampak kerdil, gugur dan layu. Hal ini disebabkan pemberian intensitas cahaya di atas normal pada jenis-jenis toleran naungan akan menurunkan kapasitas fotosintesis, kejenuhan cahaya, laju asimilasi neto dan kandungan klorofil per satuan luas daun sehingga akan merusak sistem pigmen kemudian daun kekuningan dan gugur (Gardner et al. 1991). Hasil tersebut sesuai dengan penelitian Soerianegara (1991) yang meneliti tentang pengaruh intensitas cahaya dan pemupukan terhadap pertumbuhan anakan Hopea mengarawan. Sedangkan menurut Soerianegara (1991) intensitas cahaya yang kuat lebih merangsang pertumbuhan sistem akar. Pada intensitas cahaya kuat pada tanaman toleran naungan pertumbuhan batang rendah dan kecil, percabangan sedikit sehingga asimilat (hasil fotosintesis) yang diperlukan untuk pertumbuhan juga sedikit dan sisanya kemudian disalurkan ke akar sementara anakan yang tumbuh di bawah intensitas cahaya rendah, batang tumbuh lebih baik, permukaan luas batang lebih besar sehingga membutuhkan asimilat dalam jumlah lebih banyak dan akar mendapat bagian yang lebih sedikit. Pertumbuhan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor genetik dan lingkungan yang mempengaruhi kegiatan fisiologi. Kegiatan fisiologi mengendalikan mekanisme pertumbuhan sehingga tingkat respon fisiologi terhadap faktor-faktor luar ditentukan oleh derajat toleransi pohon yang bersifat genetik (Kramer dan Kozlowski 1960). Parameter pertumbuhan tanaman yang berhubungan dengan pengaruh lingkungan yaitu bobot kering total atau biomassa.

13 22 Biomassa adalah parameter penting yang dapat mewakili tanaman dikatakan tumbuh secara optimal sebab biomassa menggambarkan hasil fotosintesis yang dipengaruhi laju asimilasi bersih dan luas daun pertanaman yang dinyatakan dengan nilai bobot kering tanaman setelah dilakukan pengeringan sehingga pertumbuhan tanaman berbanding lurus dengan nilai biomasssa tanaman tersebut (Sitompul dan Guritno 1995). Berdasarkan analisis ragam bobot kering total pada keempat jenis meranti merah (Tabel 2) menunjukkan bahwa pengaturan naungan berpengaruh nyata terhadap bobot kering total. Bobot kering meningkat dengan meningkatnya persentase naungan (Tabel 6). Bobot kering tertinggi pada naungan 60% (intensitas cahaya 40%) pada naungan dengan persentase tinggi maka jumlah daun dan luas permukaan daun lebih tinggi dari pada naungan dengan persentase rendah. Dengan demikian bahwa pada naungan 60% (intensitas cahaya 40%). berlangsung metabolisme pertumbuhan dengan menyerap unsur hara dan proses fotosintesis berlansung secara lebih baik. Hal ini sesuai dengan penelitian Djamhuri dan Soekotjo (1986) yang menyatakan bahwa pada intensitas cahaya di atas atau di bawah optimal menyebabkan penurunan bobot kering total. Pengukuran parameter pertumbuhan juga dilakukan dengan mengukur nisbah pucuk akar (NPA). nisbah pucuk akar dapat menunjukkan kondisi fisiologi suatu tanaman, karena nilai tersebut tersusun atas nilai total produksi pertumbuhan yaitu berat kering pucuk dan perakarannya. Perkembangan pucuk dan akar yang seimbang akan memperkuat tanaman karena perkembangan akar mampu menompang perkembangan pucuk tanaman (Wibisono 2009) Berdasarkan hasil lanjut Duncan (Tabel 7) nilai rata-rata NPA tertinggi pada naungan 60% (intensitas cahaya 40%) sebesar 2,10 sedangkan terendah yaitu pada naungan 0% (intensitas cahaya 100%) sebesar 0,65 nilai tersebut menandakan bahwa pada naungan 60% (intensitas cahaya 40%) pertumbuhan bagian pucuk lebih tinggi dari pada akar sehingga pada naungan 60% (intensitas cahaya 40%) dapat dikatakan mengalami pertumbuhan lebih baik, sesuai dengan kualifikasi Duryea dan Brown (1984) yang menyatakan bahwa kemampuan hidup

14 23 semai terbaik pada umumnya terjadi pada nisbah pucuk 1 3. Sedangkan pada naungan 0% (intensitas cahaya 100%) pertumbuhan akar lebih tinggi dari pada pertumbuhan bagian pucuk. Hal ini sesuai dengan penelitian Soerianegara (1991) yang menyatakan bahwa dengan meningkatnya intensitas cahaya maka akan menurunkan ratio pucuk akar dan pada intensitas cahaya tinggi lebih merangsang pertumbuhan akar sedangkan daun mengalami fotooksidasi sehingga pertumbuhan daun rendah, sementara pada intensitas cahaya rendah akan merangsang pertumbuhan daun sehingga daun lebih banyak dan meningkatkan nilai NPA. Laju pertumbuhan dari anakan S. leprosula, S. mecistopteryx, S. ovalis dan S. selanica dari parameter pertumbuhan yang diukur yaitu tinggi, diameter, jumlah daun, bobot kering total dan nisbah pucuk akar S. selanica menunjukkan pertumbuhan terbaik sedangkan S. mecistopteryx menunjukkan performa pertumbuhan kurang baik terhadap perlakuan naungan (intensitas cahaya).

HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil

HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penetapan Kadar Air Media Perlakuan Laju penurunan kadar air media tumbuh tanaman dapat dilihat dari proses evapotranspirasi tanaman yang dihubungkan dengan penurunan bobot media

Lebih terperinci

Respon Pertumbuhan Anakan Shorea leprosula Miq, Shorea mecistopteryx Ridley, Shorea ovalis (Korth) Blume dan Shorea selanica

Respon Pertumbuhan Anakan Shorea leprosula Miq, Shorea mecistopteryx Ridley, Shorea ovalis (Korth) Blume dan Shorea selanica JURNAL SILVIKULTUR TROPIKA 22 Andi Sukendro et al. J. Silvikultur Tropika Vol. 03 No. 01 April 2012, Hal. 22 27 ISSN: 2086-8227 Respon Pertumbuhan Anakan Shorea leprosula Miq, Shorea mecistopteryx Ridley,

Lebih terperinci

RESPON PERTUMBUHAN ANAKAN

RESPON PERTUMBUHAN ANAKAN RESPON PERTUMBUHAN ANAKAN Shorea leprosula Miq, Shorea mecistopteryx Ridley, Shorea ovalis (Korth) Blume DAN Shorea selanica (DC) Blume TERHADAP TINGKAT INTENSITAS CAHAYA MATAHARI ERI SUGIARTO DEPARTEMEN

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN 17 V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Rekapitulasi Hasil Sidik Ragam Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah pertumbuhan tinggi, pertumbuhan diameter batang, panjang buku, jumlah buku, jumlah daun,

Lebih terperinci

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1 Rekapitulasi hasil analisis sidik ragam pertumbuhan bibit saninten

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1 Rekapitulasi hasil analisis sidik ragam pertumbuhan bibit saninten BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa interaksi antara perlakuan pemberian pupuk akar NPK dan pupuk daun memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar 13 HASIL DAN PEMBAHASAN Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar Hasil Uji t antara Kontrol dengan Tingkat Kematangan Buah Uji t digunakan untuk membandingkan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 15 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Parameter pertumbuhan yang diamati pada penelitian ini adalah tinggi, diameter, berat kering total (BKT) dan nisbah pucuk akar (NPA). Hasil penelitian menunjukkan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 16 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 HASIL Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah pertumbuhan tinggi, diameter, berat kering dan NPA dari semai jabon pada media tailing dengan penambahan arang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Perlakuan kadar air media (KAM) dan aplikasi paclobutrazol dimulai pada saat tanaman berumur 4 bulan (Gambar 1a) hingga tanaman berumur 6 bulan. Penelitian yang dilakukan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. Hasil sidik ragam 5% terhadap tinggi tanaman menunjukkan bahwa

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. Hasil sidik ragam 5% terhadap tinggi tanaman menunjukkan bahwa 1. Tinggi tanaman IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Tanaman Hasil sidik ragam 5% terhadap tinggi tanaman menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan memberikan pengaruh yang berbeda nyata. Hasil Uji

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan tinggi, pertumbuhan diameter, jumah bintil akar, berat kering total serta nisbah pucuk akar. Pengaruh pemberian bioorganik

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1Tinggi Tanaman Tinggi tanaman caisin dilakukan dalam 5 kali pengamatan, yaitu (2 MST, 3 MST, 4 MST, 5 MST, dan 6 MST). Berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukkan

Lebih terperinci

I. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. tinggi tanaman dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 1. Rerata Tinggi Tanaman dan Jumlah Daun

I. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. tinggi tanaman dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 1. Rerata Tinggi Tanaman dan Jumlah Daun 16 1. Tinggi Tanaman (cm) I. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Tanaman Hasil sidik ragam tinggi tanaman ( lampiran 6 ) menunjukkan perlakuan kombinasi limbah cair industri tempe dan urea memberikan pengaruh

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 10 bahan tanaman yang sudah dilakukan pemotongan akar (percobaan 2). Pemotongan akar dilakukan pada saat tanaman mencapai umur 10 bulan. Analisis Data Penelitian ini dilakukan menggunakan rancangan kelompok

Lebih terperinci

I. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Vegetatif. Hasil sidik ragam variabel pertumbuhan vegetatif tanaman yang meliputi tinggi

I. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Vegetatif. Hasil sidik ragam variabel pertumbuhan vegetatif tanaman yang meliputi tinggi I. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Vegetatif Hasil sidik ragam variabel pertumbuhan vegetatif tanaman yang meliputi tinggi tanaman dan jumlah anakan menunjukkan tidak ada beda nyata antar

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Pengaruh Mikoriza, Bakteri dan Kombinasinya terhadap parameter pertumbuhan semai jabon Hasil analisis sidik ragam terhadap parameter pertumbuhan semai jabon

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pertambahan Tinggi Bibit (cm) Hasil sidik ragam parameter tinggi tanaman menunjukkan bahwa interaksi pupuk kompos TKS dengan pupuk majemuk memberikan pengaruh yang tidak nyata

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Rekapitulasi Hasil Sidik Ragam BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah pertumbuhan tinggi, pertumbuhan diameter, berat basah akar, berat basah pucuk,

Lebih terperinci

Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara yang dibutuhkan oleh

Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara yang dibutuhkan oleh 45 4.2 Pembahasan Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan memperhatikan syarat tumbuh tanaman dan melakukan pemupukan dengan baik. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Pengamatan Umum Penelitian Pada penelitian ini semua jenis tanaman legum yang akan diamati (Desmodium sp, Indigofera sp, L. leucocephala dan S. scabra) ditanam dengan menggunakan anakan/pols

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pertambahan Tinggi Bibit Tanaman (cm) Hasil pengamatan terhadap pertambahan tinggi bibit kelapa sawit setelah dilakukan sidik ragam (lampiran 9) menunjukkan bahwa faktor petak

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Tinggi Tanaman IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengamatan yang telah diperoleh terhadap tinggi tanaman cabai setelah dilakukan analisis sidik ragam (lampiran 7.a) menunjukkan bahwa pemberian pupuk

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian 5.1.1 Pertumbuhan tanaman jabon pada lahan dengan kondisi drainase baik, kondisi drainase buruk, dan kondisi di bawah naungan Pertumbuhan jabon pada kondisi

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian Parameter pertumbuhan yang diamati pada penelitian ini adalah diameter batang setinggi dada ( DBH), tinggi total, tinggi bebas cabang (TBC), dan diameter tajuk.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 11 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian arang tempurung kelapa berpengaruh nyata terhadap semua parameter kecuali nisbah pucuk akar, serta pemberian bokashi pupuk kandang

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 14 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Indikator pertumbuhan dan produksi bayam, antara lain: tinggi tanaman, jumlah daun, berat basah dan berat kering tanaman dapat dijelaskan sebagai berikut:

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penanaman dilakukan pada bulan Februari 2011. Tanaman melon selama penelitian secara umum tumbuh dengan baik dan tidak ada mengalami kematian sampai dengan akhir penelitian

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman Jati. daun, luas daun, berat segar bibit, dan berat kering bibit dan disajikan pada tabel

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman Jati. daun, luas daun, berat segar bibit, dan berat kering bibit dan disajikan pada tabel 16 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Tanaman Jati Tanaman selama masa hidupnya menghasilkan biomassa yang digunakan untuk membentuk bagian-bagian tubuhnya. Perubahan akumulasi biomassa akan terjadi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Bio-slurry dan tahap aplikasi Bio-slurry pada tanaman Caisim. Pada tahap

HASIL DAN PEMBAHASAN. Bio-slurry dan tahap aplikasi Bio-slurry pada tanaman Caisim. Pada tahap IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian yang dilakukan terbagi menjadi dua tahap yaitu pengambilan Bio-slurry dan tahap aplikasi Bio-slurry pada tanaman Caisim. Pada tahap pengambilan Bio-slurry dilakukan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Upaya peningkatan produksi ubi kayu seringkali terhambat karena bibit bermutu kurang tersedia atau tingginya biaya pembelian bibit karena untuk suatu luasan lahan, bibit yang dibutuhkan

Lebih terperinci

SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 8. FOTOSINTESISLatihan Soal ph (derajat keasaman) apabila tidak sesuai kondisi akan mempengaruhi kerja...

SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 8. FOTOSINTESISLatihan Soal ph (derajat keasaman) apabila tidak sesuai kondisi akan mempengaruhi kerja... SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 8. FOTOSINTESISLatihan Soal 8.4 1. ph (derajat keasaman) apabila tidak sesuai kondisi akan mempengaruhi kerja... Klorofil Kloroplas Hormon Enzim Salah satu faktor yang mempengaruhi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Konidisi Umum Penelitian Berdasarkan hasil Laboratorium Balai Penelitian Tanah yang dilakukan sebelum aplikasi perlakuan didapatkan hasil bahwa ph H 2 O tanah termasuk masam

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Percobaan dilakukan di kebun milik PT. National Sago Prima, Selat Panjang, Riau yang dimulai dari bulan Februari sampai Juni 2012. Kegiatan persiapan yang dilakukan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Objek yang digunakan pada penelitian adalah tanaman bangun-bangun (Coleus amboinicus, Lour), tanaman ini biasa tumbuh di bawah pepohonan dengan intensitas cahaya yang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. kompos limbah tembakau memberikan pengaruh nyata terhadap berat buah per

HASIL DAN PEMBAHASAN. kompos limbah tembakau memberikan pengaruh nyata terhadap berat buah per IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa kombinasi pupuk Urea dengan kompos limbah tembakau memberikan pengaruh nyata terhadap berat buah per tanaman, jumlah buah per tanaman dan diameter

Lebih terperinci

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Peubah yang diamati dalam penelitian ini ialah: tinggi bibit, diameter batang, berat basah pucuk, berat basah akar, berat kering pucuk, berak kering akar, nisbah

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian berlangsung dari bulan Mei 2011 sampai bulan Juli 2011 di lahan Pembibitan Kebun Percobaan Cikabayan, IPB Darmaga. Penelitian diawali dengan pemilihan pohon

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Lewikopo, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Lahan penelitian terletak pada ketinggian

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Tinggi Tanaman. antara pengaruh pemangkasan dan pemberian ZPT paklobutrazol. Pada perlakuan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Tinggi Tanaman. antara pengaruh pemangkasan dan pemberian ZPT paklobutrazol. Pada perlakuan IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Tinggi Tanaman Dari (tabel 1) rerata tinggi tanaman menunjukkan tidak ada interaksi antara pengaruh pemangkasan dan pemberian ZPT paklobutrazol. Pada perlakuan pemangkasan menunjukan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Bulan Februari 230 Sumber : Balai Dinas Pertanian, Kota Salatiga, Prov. Jawa Tengah.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Bulan Februari 230 Sumber : Balai Dinas Pertanian, Kota Salatiga, Prov. Jawa Tengah. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian yang disajikan dalam bab ini adalah pengamatan selintas dan pengamatan utama. Pengamatan selintas adalah pengamatan yang digunakan untuk mendukung hasil pengamatan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 19 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Pada Percobaan 1, umbi yang diberi perlakuan pengasapan, sampai minggu ke 10 masih terlihat segar dan belum menunjukkan kering/keriput. Perlakuan pengasapan menunjukkan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Penelitian Hasil pengamatan bobot jenis media di Laboratorium Pascapanen Departemen Agronomi dan Hortikultura (Tabel 3), menunjukkan pen media berpengaruh sangat

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Lahan Pasca Tambang Semen Lahan pasca tambang semen PT. Indocement Tunggal Prakasa merupakan lahan marjinal, dimana ketersediaan unsur hara sudah terpakai sebagai bahan baku pembuatan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 21 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Berdasarkan data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah Dramaga, keadaan iklim secara umum selama penelitian (Maret Mei 2011) ditunjukkan dengan curah

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan pengamatan pada pemberian pupuk organik kotoran ayam

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan pengamatan pada pemberian pupuk organik kotoran ayam BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Berdasarkan pengamatan pada pemberian pupuk organik kotoran ayam terhadap pertumbuhan jagung masing-masing menunjukan perbedaan yang nyata terhadap tinggi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. lingkungan atau perlakuan. Berdasarkan hasil sidik ragam 5% (lampiran 3A)

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. lingkungan atau perlakuan. Berdasarkan hasil sidik ragam 5% (lampiran 3A) IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Tanaman 1. Tinggi tanaman Tinggi tanaman merupakan ukuran tanaman yang mudah untuk diamati dan sering digunakan sebagai parameter untuk mengukur pengaruh dari lingkungan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. MST dan perlakuan pupuk SP-36 berpengaruh nyata pada tinggi tanaman pada

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. MST dan perlakuan pupuk SP-36 berpengaruh nyata pada tinggi tanaman pada 21 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian a. Tinggi Tanaman Data pengamatan tinggi tanaman dan hasil analisis sidik ragam menunjukan bahwa perlakuan pupuk urea berpengaruh nyata pada tinggi tanaman

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 33 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil 1. Pertumbuhan tanaman buncis Setelah dilakukan penyiraman dengan volume penyiraman 121 ml (setengah kapasitas lapang), 242 ml (satu kapasitas lapang), dan 363 ml

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN.1. Jumlah Daun Tanaman Nilam (helai) pada umur -1. Berdasarkan hasil analisis terhadap jumlah daun (helai) didapatkan hasil seperti yang disajikan pada Tabel 1. di bawah ini

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pertumbuhan Tanaman Caisin Tinggi dan Jumlah Daun Hasil uji F menunjukkan bahwa perlakuan pupuk hayati tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun caisin (Lampiran

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Lahan Percobaan

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Lahan Percobaan HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Lahan Percobaan Penelitian ini dilaksanakan di perkebunan kelapa sawit PT. Sawit Asahan Indah, Grup Astra Agro Lestari, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau, yang memiliki

Lebih terperinci

TIGA PILAR UTAMA TUMBUHAN LINGKUNGAN TANAH

TIGA PILAR UTAMA TUMBUHAN LINGKUNGAN TANAH EKOFISIOLOGI TIGA PILAR UTAMA TUMBUHAN TANAH LINGKUNGAN Pengaruh salinitas pada pertumbuhan semai Eucalyptus sp. Gas-gas atmosfer, debu, CO2, H2O, polutan Suhu udara Intensitas cahaya, lama penyinaran

Lebih terperinci

Hasil dan pembahasan. A. Pertumbuhan tanaman. maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan

Hasil dan pembahasan. A. Pertumbuhan tanaman. maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan IV. Hasil dan pembahasan A. Pertumbuhan tanaman 1. Tinggi Tanaman (cm) Ukuran tanaman yang sering diamati baik sebagai indikator pertumbuhan maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Variabel Hama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya dengan berbagai

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Variabel Hama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya dengan berbagai IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Variabel Hama 1. Mortalitas Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya dengan berbagai fase dan konsentrasi tidak memberikan pengaruh nyata terhadap mortalitas hama

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Percobaan studi populasi tanaman terhadap produktivitas dilakukan pada dua kali musim tanam, karena keterbatasan lahan. Pada musim pertama dilakukan penanaman bayam

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Keadaan tanaman cabai selama di persemaian secara umum tergolong cukup baik. Serangan hama dan penyakit pada tanaman di semaian tidak terlalu banyak. Hanya ada beberapa

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 14 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tinggi Tanaman Tinggi tanaman jagung manis nyata dipengaruhi oleh jarak tanam. Berdasarkan hasil analisis sidik ragam pada Lampiran 2 sampai 8 dan rataan uji BNT 5% pada

Lebih terperinci

Lampiran 1. Analisis Rancangan Percobaan Tinggi (cm) Bibit R. Apiculata pada Berbagai Intenstias Naungan

Lampiran 1. Analisis Rancangan Percobaan Tinggi (cm) Bibit R. Apiculata pada Berbagai Intenstias Naungan Lampiran 1. Analisis Rancangan Percobaan Tinggi (cm) Bibit R. Apiculata pada Berbagai Intenstias Naungan Tabel 11. Pertambahan tinggi bibit R. apiculata pada berbagai intensitas naungan Ratarata Total

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1 Hasil Penelitian Berdasarkan pengamatan pada pemberian pupuk organik kotoan ayam terhadap pertumbuhan Tanaman Sawi masing-masing menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap

Lebih terperinci

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. yang dihasilkan dari proses-proses biosintesis di dalam sel yang bersifat

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. yang dihasilkan dari proses-proses biosintesis di dalam sel yang bersifat IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN Pertumbuhan adalah suatu penambahan sel yang disertai perbesaran sel yang di ikut oleh bertambahnya ukuran dan berat tanaman. Pertumbuhan berkaitan dengan proses pertambahan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Bibit sengon yang digunakan dalam penelitian ini dikembangkan dari benih dan kultur jaringan. Persentase keberhasilan kecambah benih sengon ialah 94,5%, sedangkan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. perlakuan dan pemberian berbagai macam pupuk hijau (azolla, gamal, dan

HASIL DAN PEMBAHASAN. perlakuan dan pemberian berbagai macam pupuk hijau (azolla, gamal, dan IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini terdiri dari dua kegiatan yaitu pengujian kadar lengas tanah regosol untuk mengetahui kapasitas lapang kemudian dilakukan penyiraman pada media tanam untuk mempertahankan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengelolaan Budidaya Tanaman Sagu

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengelolaan Budidaya Tanaman Sagu HASIL DAN PEMBAHASAN Pengelolaan Budidaya Tanaman Sagu Kegiatan budidaya tanaman merupakan serangkaian tahapan yang ditempuh untuk menghasilkan output yang maksimal. Rangkaian kegiatan budidaya tanaman

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Penanaman rumput B. humidicola dilakukan di lahan pasca tambang semen milik PT. Indocement Tunggal Prakasa, Citeurep, Bogor. Luas petak yang digunakan untuk

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Berdasarkan data Badan Meteorologi dan Geofisika Darmaga, Bogor (Tabel Lampiran 1) curah hujan selama bulan Februari hingga Juni 2009 berfluktuasi. Curah hujan terendah

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil

HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Berdasarkan hasil uji media tanam di Laboratorium Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan didapatkan hasil analisis media tanam kompos daun bambu yaitu sebagai

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 19 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Komposisi Hara pada Terak Baja Komposisi hara pada terak baja ditunjukkan pada Tabel Lampiran 1. Kandungan silikat pada terak baja sangat tinggi yaitu sebesar 14.6%. Hal

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Sifat dan Ciri Tanaman Cabai

TINJAUAN PUSTAKA Sifat dan Ciri Tanaman Cabai 3 TINJAUAN PUSTAKA Sifat dan Ciri Tanaman Cabai Tanaman cabai termasuk suku terung-terungan (Solanaceae), berbentuk perdu, dan tergolong tanaman semusim. Tanaman cabai hibrida varietas Serambi dapat ditanam

Lebih terperinci

Hasil dari tabel sidik ragam parameter tinggi tanaman menunjukkan beda. nyata berdasarkan DMRT pada taraf 5 % (lampiran 8) Hasil rerata tinggi tanaman

Hasil dari tabel sidik ragam parameter tinggi tanaman menunjukkan beda. nyata berdasarkan DMRT pada taraf 5 % (lampiran 8) Hasil rerata tinggi tanaman IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Variabel Vegetatif Parameter pertumbuhan tanaman terdiri atas tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, berat segar tanaman, berat kering tanaman. 1. Tinggi tanaman (cm) Hasil

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Tinggi Bibit (cm) Dari hasil sidik ragam (lampiran 4a) dapat dilihat bahwa pemberian berbagai perbandingan media tanam yang berbeda menunjukkan pengaruh nyata terhadap tinggi

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Tinggi Bibit (cm) Hasil pengamatan terhadap parameter tinggi bibit setelah dianalisis sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit memberikan

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 35 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Indeks Panen dan Produksi Tanaman Indeks panen menunjukkan distribusi bahan kering dalam tanaman yang menunjukkan perimbangan bobot bahan kering yang bernilai ekonomis dengan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Tinggi Jagung Manis

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Tinggi Jagung Manis IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Tinggi Jagung Manis Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa imbangan pupuk Nitrogen dari Urea dan alami dari darah maupun kotoran sapi memberikan

Lebih terperinci

I. HASIL DAN PEMBAHASAN

I. HASIL DAN PEMBAHASAN digilib.uns.ac.id 21 I. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Perkecambahan Biji 1. Kecepatan Kecambah Viabilitas atau daya hidup biji biasanya dicerminkan oleh dua faktor yaitu daya kecambah dan kekuatan tumbuh. Hal

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 13 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah diameter pangkal, diameter setinggi dada (dbh), tinggi total, tinggi bebas cabang, tinggi tajuk, panjang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini dilakukan dalam dua tahapan pelaksanaan, yaitu tahap kultur in vitro dan aklimatisasi. Tahap kultur in vitro dilakukan di dalam Laboratorium Kultur Jaringan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 19 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Agustus 2011 di nursery Gunung Batu, Bogor. Pembuatan larutan chitosan dilakukan di Laboratorium Pasca Panen,

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Tinggi tanaman (cm) Hasil pengamatan yang diperoleh terhadap tinggi tanaman jagung manis setelah dilakukan sidik ragam (Lampiran 9.a) menunjukkan bahwa pemberian kompos sampah

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Secara umumm planlet anggrek Dendrobium lasianthera tumbuh dengan baik dalam green house, walaupun terdapat planlet yang terserang hama kutu putih Pseudococcus spp pada

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. antara cm, membentuk rumpun dan termasuk tanaman semusim.

TINJAUAN PUSTAKA. antara cm, membentuk rumpun dan termasuk tanaman semusim. 19 TINJAUAN PUSTAKA Botani tanaman Bawang merah merupakan tanaman yang tumbuh tegak dengan tinggi antara 15-50 cm, membentuk rumpun dan termasuk tanaman semusim. Perakarannya berupa akar serabut yang tidak

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Hasil analisis tanah sebelum perlakuan dilakukan di laboratorium Departemen Ilmu Tanah Sumberdaya Lahan IPB. Lahan penelitian tergolong masam dengan ph H O

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Kondisi Umum Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Kondisi Umum Penelitian 2 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kondisi Umum Penelitian Pada saat penelitian berlangsung suhu dan RH di dalam Screen house cukup fluktiatif yaitu bersuhu 26-38 o C dan berrh 79 95% pada pagi hari pukul 7.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Lingkungan selama Proses Pengeringan Kondisi lingkungan merupakan aspek penting saat terjadinya proses pengeringan. Proses pengeringan dapat memberikan pengaruh terhadap sifat

Lebih terperinci

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Tinggi Tanaman. Hasil penelitian menunjukan berbagai kadar lengas tanah pada stadia

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Tinggi Tanaman. Hasil penelitian menunjukan berbagai kadar lengas tanah pada stadia IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Tinggi Tanaman Hasil penelitian menunjukan berbagai kadar lengas tanah pada stadia pertumbuhan yang berbeda memberikan pengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Hama Keong. memberikan pengaruh nyata terhadap tingkat tingkat mortalitas, efikasi, dan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Hama Keong. memberikan pengaruh nyata terhadap tingkat tingkat mortalitas, efikasi, dan IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hama Keong Hasil sidik ragam menunjukan bahwa konsentrasi larutan garam memberikan pengaruh nyata terhadap tingkat tingkat mortalitas, efikasi, dan kecepatan kematian hama keong

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Berdasarkan hasil analisis tanah di Laboratorium Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Institut Pertanian Bogor, tanah yang digunakan sebagai media tumbuh dikategorikan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tinggi Tanaman BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Waktu semai bibit tomat sampai tanaman dipindahkan di polybag adalah 3 minggu. Pengukuran tinggi tanaman tomat dimulai sejak 1 minggu setelah tanaman dipindahkan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Kacang tunggak merupakan salah satu kacang-kacangan alternatif yang mudah diusahakan dan tahan terhadap kekeringan. Hal ini dikarenakan kandungan gizi kacang tunggak yang cukup

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1.1 Hasil Hasil yang diamati dalam penelitian ini adalah tinggi tanaman, umur berbunga, jumlah buah, dan berat buah.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1.1 Hasil Hasil yang diamati dalam penelitian ini adalah tinggi tanaman, umur berbunga, jumlah buah, dan berat buah. 1 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1 Hasil Hasil yang diamati dalam penelitian ini adalah tinggi tanaman, umur berbunga, jumlah buah, dan berat buah. 1. Tinggi Tanaman Hasil pengamatan tinggi tanaman dan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Tinggi Tanaman Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh rata-rata tinggi tanaman jagung vareitas bisi-2 pada pengamatan minggu ke-1 sampai dengan minggu ke-8 disajikan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 22 HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian 48 Genotipe Padi Gogo di Rumah Kaca sebagai Uji Standar Pengujian genotipe padi gogo pada rumah kaca dalam pot permanen merupakan metode standar dalam menyeleksi padi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 24 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Propagul Rhizophora mucronata dikecambahkan selama 90 hari (3 bulan) dan diamati setiap 3 hari sekali. Hasil pengamatan setiap variabel pertumbuhan dari setiap

Lebih terperinci

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida,

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida, PEMBAHASAN PT National Sago Prima saat ini merupakan perusahaan satu-satunya yang bergerak dalam bidang pengusahaan perkebunan sagu di Indonesia. Pengusahaan sagu masih berada dibawah dinas kehutanan karena

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 24 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Persentase Hidup Eksplan Jumlah eksplan jelutung yang ditanam sebanyak 125 eksplan yang telah diinisiasi pada media kultur dan diamati selama 11 minggu setelah masa tanam

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Mengembangkan dan membudidayakan tanaman tomat membutuhkan faktor yang mendukung seperti pemupukan, pengairan, pembumbunan tanah, dan lain-lain. Pemberian

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Botani Tanaman Bayam Bayam (Amaranthus sp.) merupakan tanaman semusim dan tergolong sebagai tumbuhan C4 yang mampu mengikat gas CO 2 secara efisien sehingga memiliki daya adaptasi

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil dan pembahasan penelitian sampai dengan ditulisnya laporan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil dan pembahasan penelitian sampai dengan ditulisnya laporan 14 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dan pembahasan penelitian sampai dengan ditulisnya laporan kemajuan ini belum bias penulis selesaikan dengan sempurna. Adapun beberapa hasil dan pembahasan yang berhasil

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. A. Kacang Hijau

TINJAUAN PUSTAKA. A. Kacang Hijau 4 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kacang Hijau Kacang hijau termasuk dalam keluarga Leguminosae. Klasifikasi botani tanman kacang hijau sebagai berikut: Divisio : Spermatophyta Subdivisio : Angiospermae Classis

Lebih terperinci

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: pertumbuhan tanaman bayam cabut (Amaranthus

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: pertumbuhan tanaman bayam cabut (Amaranthus PERTUMBUHAN TANAMAN BAYAM CABUT (Amaranthus tricolor L.) DENGAN PEMBERIAN KOMPOS BERBAHAN DASAR DAUN KRINYU (Chromolaena odorata L.) Puja Kesuma, Zuchrotus Salamah ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk

Lebih terperinci

rv. HASIL DAN PEMBAHASAN

rv. HASIL DAN PEMBAHASAN 17 rv. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Tinggi Tanaman (cm) Hasil sidik ragam parameter tinggi tanaman (Lampiran 6 ) menunjukkan bahwa penggunaan pupuk kascing dengan berbagai sumber berbeda nyata terhadap tinggi

Lebih terperinci