HASIL DAN PEMBAHASAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "HASIL DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 15 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Pertumbuhan dan perkembangan stek pada awal penanaman sangat dipengaruhi oleh faktor luar seperti air, suhu, kelembaban dan tingkat pencahayaan di area penanaman stek. Curah hujan saat percobaan berkisar antara mm/bulan. Pada kondisi curah hujan seperti ini, perkembangan stek menunjukkan kondisi yang cukup baik. Menurut Febriana (2009) suplai air sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan stek. Abidin (1982) menyatakan bahwa kekurangan air dapat menyebabkan kematian sel dan jaringan akibat penurunan difusi CO 2 serta penurunan aktifitas fotosintesis. Namun, kelebihan air juga dapat menyebabkan bahan stek mengalami cekaman aerasi sehingga rentan terhadap serangan penyakit dan dapat menyebabkan kebusukan akibat kondisi anerobik. Kondisi stek akibat kekurangan dan kelebihan air dapat dilihat pada Gambar 6. (a) (b) Gambar 6. (a) Kerusakan stek akibat kekurangan air (b) Kerusakan stek akibat kelebihan air Suhu rata-rata selama percobaan sekitar 26 C. Menurut Saraswati (2006) suhu optimum untuk pertumbuhan Sansevieria yaitu o C, sedangkan Triharyanto dan Sutrisno (2007) menyatakan suhu optimum pertumbuhan Sansevieria adalah o C. Suhu dan pencahayaan yang tinggi dapat meningkatkan transpirasi pada stek, apabila tingkat transpirasi terlalu tinggi dapat menyebabkan kematian pada stek. Menurut Agrios (1996) umumnya tumbuhan lebih cepat rusak dan lebih cepat meluas kerusakannya apabila suhu lebih tinggi

2 16 dari suhu maksimum untuk pertumbuhannya dibandingkan apabila suhu lebih rendah dari suhu minimum. Percobaan ini menggunakan naungan paranet dengan intensitas cahaya yang masuk sebesar 65% dan hormon eksogen utama yang diberikan adalah NAA (Naphtalene Acetic Acid). Cahaya merupakan salah satu unsur iklim yang memegang peranan penting dalam menentukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Cahaya juga berperan sebagai sumber energi primer bagi tumbuhan dalam proses fotosintesis. Namun, cahaya juga mempengaruhi kerja hormon pertumbuhan, khususnya hormon yang menstimulasi pembentukan sistem perakaran. Rochiman dan Harjadi (1973) menyatakan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya degradasi hormon, baik hormon eksogen maupun hormon endogen, yaitu hormon pembentuk perakaran, seperti auksin endogen yang terdapat pada stek. Menurut Smith dan Yasman (1987), intensitas cahaya yang baik bagi stek adalah 50-70%. Stek yang diberi naungan akan berakar lebih banyak dibandingkan stek yang menerima cahaya matahari langsung. Perkembangan tanaman pada awal penanaman stek menunjukan kondisi yang cukup baik. Hal ini dikarenakan kondisi lahan yang mendukung, meskipun pada 6 MST terdapat serangan hama dan penyakit. Hama yang menyerang pada saat penyetekan adalah rayap tanah (Macrotermus gulvus). Rayap tanah hanya menyerang media serbuk kayu. Rayap menyerang pada bagian bawah media serbuk kayu (Gambar 7), sehingga media menjadi menyusut. Serangan rayap disebabkan oleh tingkat curah hujan yang tinggi, yang membuat rayap tanah naik ke permukaan. Serangan tersebut terjadi pada bulan pertama penanaman. Gambar 7. Rayap yang menyerang tanaman dengan media serbuk kayu

3 17 Serangan rayap ditanggulangi dengan memberikan lapisan plastik pada bagian bawah polibag yang berfungsi agar media dalam polibag tidak bersentuhan langsung dengan tanah. Penggunaan lapisan plastik sebagai alas agar polibag tidak bersentuhan langsung dengan tanah memberikan dampak positif dan cukup efektif. Hal tersebut terbukti dengan tidak ada lagi serangan rayap pada media sebuk kayu. Penyakit yang menyerang pada saat penyetekan yaitu cendawan dari family Moniliales (Gambar 8). Gejala serangan cendawan dapat dilihat pada stek yang terserang, yaitu banyak terdapat spora dan tubuh buah berwarna putih. Serangan cendawan kemungkinan disebabkan oleh banyaknya propagul yang terbawa bahan stek, kelembaban yang tinggi dan aerasi yang kurang pada media tanam. Serangan cendawan meliputi area di sekitar pangkal stek dan ujung stek yang menyebabkan kematian jaringan pada bagian yang diserang. Gambar 8. Stek yang mengalami kebusukan akibat serangan cendawan Serangan cendawan ini ditanggulangi dengan menyemprotkan fungisida dengan konsentrasi 10 g/l air. Penyemprotan dilakukan sekali pada area penanaman. Pengendalian penyakit selanjutnya dilakukan dengan mengontrol kelembaban dan aerasi media tanam. Upaya tersebut cukup efektif, hal itu dibuktikan dengan tidak muncul dan menyebarnya cendawan pada stek yang lainnya.

4 Pengaruh Media Tanam dan Panjang Stek Daun terhadap Inisiasi Tunas Muda Lidah Mertua Setelah dilakukan analisis ragam pada hasil pengamatan 12 MST (minggu setelah tanam) pada pengaruh media dan panjang stek terhadap inisiasi tunas muda lidah mertua, diperoleh bahwa tidak semua peubah yang diamati dipengaruhi oleh perlakuan. Hasil analisis ragam pengaruh media tanam dan panjang stek terhadap peubah yang diamati dapat dilihat pada Lampiran 4 sampai 10. Rekapitulasi hasil analisis ragam dicantumkan pada Tabel 1. Tabel 1. Rekapitulasi hasil analisis ragam pengaruh media tanam dan panjang stek daun terhadap inisiasi tunas muda lidah mertua Tolak Ukur Uji F Media Panjang Stek Media # Panjang Stek KK (%) Persentase stek hidup tn tn tn 2.13 Persentase stek berakar tn * tn Persentase stek bertunas ** ** tn 9.56^ Panjang akar (cm) ** ** tn Jumlah tunas ** ** tn 15.56^ Bobot basah tunas (g) ** ** * 28.87^ Bobot kering tunas (g) ** ** * 11.46^ Ket : tn=tidak nyata, *=nyata pada taraf 5 %, **=nyata pada taraf 1 %, KK = koefisien keragaman, ^ = hasil transformasi Berdasarkan analisis ragam pada Tabel 1, diketahui bahwa tolak ukur bobot basah tunas dan bobot kering tunas dipengaruhi oleh interaksi media tanam dan panjang stek. Panjang stek mempengaruhi persentase stek berakar, persentase stek bertunas, panjang akar, jumlah tunas, bobot basah tunas, dan bobot kering tunas. Media tanam berpengaruh terhadap persentase stek bertunas, panjang akar, jumlah tunas, bobot basah tunas, dan bobot kering tunas. Perlakuan media tanam dan panjang stek tidak berpengaruh terhadap persentase stek hidup karena Sansevieria mampu bertahan dalam kondisi ekstrim hingga beberapa tahun (Purwanto, 2006). Oleh karena itu, meskipun Sansevieria berada pada kondisi yang tidak cocok dengan habitat idealnya, Sansevieria mampu bertahan dan menunjukkan ciri-ciri hidup sampai akhir pengamatan. Tolak ukur stek hidup dilihat dari penampakan stek daun yang sehat atau ada bagian stek yang masih hijau dan memungkinkan terbentuknya perakaran. 18

5 19 Kondisi ini menunjukkan adanya proses metabolisme sel yang tetap berlangsung selama masa pengamatan. Hasil pengamatan pada 12 MST menunjukkan bahwa persentase stek hidup berkisar antara 96% sampai 100%. Persentase stek hidup terendah, yaitu 96% terdapat pada stek dengan panjang 5 cm yang ditanam pada media campuran tanah dan pupuk kandang kambing. Kematian stek tersebut terjadi karena kering, busuk akibat terlalu banyak air dan busuk karena serangan cendawan. Sedangkan perlakuan lainnya memiliki persentase stek hidup sebesar 100%. Nilai tengah persentase stek hidup pada perlakuan media campuran tanah dan pupuk kandang kambing lebih rendah dibandingkan media lain, yaitu sebesar 99%. Pada dasarnya, Sansevieria mampu bertahan pada kondisi ekstrim selama beberapa tahun (Purwanto 2006), sehingga kematian stek karena kekurangan nutrisi yang terkandung dalam media relatif tidak terjadi. Kematian stek yang terjadi pada media campuran tanah dan pupuk kandang kambing karena kebusukan stek yang diakibatkan oleh cendawan. Hal tersebut diduga karena media campuran tanah dan pupuk kandang kambing banyak membawa propagul penyakit tanaman. Selain itu, media campuran tanah dan pupuk kandang kambing memiliki porositas yang rendah dibandingkan media arang sekam dan media serbuk kayu, sehingga terjadi kondisi anaerobik akibat kelembaban tinggi yang memicu pertumbuhan cendawan dan menyebabkan kebusukan stek. Persentase stek hidup juga tidak dipengaruhi oleh perlakuan panjang stek. Namun, terjadi kematian pada stek dengan panjang 5 cm dengan persentase stek hidup sebesar 99%. Stek dengan panjang 5 cm memiliki persentase stek hidup lebih kecil dibandingkan panjang stek lainnya. Hal tersebut diduga karena cadangan makanan pada stek dengan panjang 5 cm lebih sedikit untuk menunjang keberlangsungan proses metabolisme stek dibandingkan cadangan makanan pada stek dengan panjang 10 cm maupun 15 cm, sehingga ancaman kematian stek dengan panjang 5 cm lebih besar. Perlakuan media tanam juga tidak berpengaruh terhadap stek berakar. Hal ini diduga karena seluruh media memenuhi syarat minimal untuk memicu perakaran, sehingga pertumbuhan akar pada semua perlakuan media tidak berbeda nyata.

6 Pengaruh Interaksi antara Media Tanam dan Panjang Stek terhadap Bobot Basah dan Bobot Kering Tunas Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa interaksi media tanam dan panjang stek nyata berpengaruh terhadap bobot basah dan bobot kering tunas (Tabel 1). Oleh karena itu dilakukan uji lanjut pada kedua peubah tersebut. Nilai tengah bobot basah dan kering tunas semua kombinasi perlakuan dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Pengaruh interaksi antara media tanam dan panjang stek terhadap bobot basah dan bobot kering tunas Media Panjang Stek 5 cm 10 cm 15 cm bobot basah tunas (g) Tanah dan pupuk kandang kambing 0.91c 13.01b 36.08a Arang sekam 0.00c 0.00c 1.02c Serbuk kayu 0.00c 0.45c 6.09b bobot kering tunas (g) Ttanah dan pupuk kandang kambing 0.08c 1.06b 2.47a Arang sekam 0.00c 0.00c 0.14c Serbuk kayu 0.00c 0.05c 0.63bc Ket : angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5 %. Interaksi perlakuan media tanam dan panjang stek nyata terhadap tolak ukur bobot basah dan bobot kering tunas. Perlakuan stek dengan panjang 15 cm yang ditanam pada media campuran tanah dan pupuk kandang kambing menghasilkan bobot basah dan kering tunas nyata lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya, yaitu bobot basah tunas sebesar g dan bobot kering tunas sebesar 2.47 g. Perlakuan media arang sekam dengan tiga macam panjang stek menghasilkan bobot basah dan kering tunas terendah dan tidak berbeda nyata diantara perlakuan tersebut. Bobot basah dan kering tunas dari stek dengan panjang 10 cm pada media campuran tanah dan pupuk kandang kambing dan stek dengan panjang 15 cm pada media serbuk kayu cukup tinggi dan tidak berbeda nyata antara kedua perlakuan tersebut. Media tanah dan pupuk kandang kambing merupakan media yang paling bagus diantara ketiga media yang digunakan, karena media tanah dan pupuk kandang kambing mengandung unsur nitrogen, fosfat dan kalium yang diperlukan 20

7 21 dalam proses pembentukan tunas. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Sulianti (1999) yang menunjukkan bahwa tanaman daun dewa yang dipupuk dengan pupuk kandang kambing memiliki ukuran daun terbesar, produktivitas tunas tertinggi dan jumlah daun terbanyak. Menurut Kusumawardana (2008) penggunaan media campuran tanah dan pupuk kandang kambing pada stek panili menghasilkan nilai yang tinggi pada panjang tunas, jumlah daun dan berpengaruh nyata terhadap bobot basah dan bobot kering tanaman. Panjang stek terbaik untuk menstimulasi pertumbuhan tunas muda Sansevieria adalah 15 cm dan 10 cm. Hal ini diduga berkaitan dengan ketersediaan cadangan makanan, air dan hormon dalam stek untuk memicu pertumbuhan tunas muda. Perlakuan yang baik untuk stimulasi tunas muda adalah media tanah dan pupuk kandang kambing dengan panjang stek 15 cm, media tanah dan pupuk kandang kambing dengan panjang stek 10 cm dan media serbuk kayu dengan panjang stek 15 cm. Media arang sekam pada tiga panjang stek yang berbeda memiliki bobot basah dan kering tunas terendah. Hal ini diduga karena sedikitnya kandungan hara serta tingkat drainase yang tinggi dalam media arang sekam, sehingga tidak mampu menginisiasi pembentukan tunas dengan optimal. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Husniati (2010) bahwa media arang sekam pada stek daun mahkota tanaman nenas memberikan nilai rataan terendah pada tolak ukur persentase stek hidup, persentase stek berakar, persentase stek bertunas, panjang akar, tinggi tunas, lebar daun, jumlan daun dan panjang akar. Pertumbuhan Akar Munculnya akar pada stek merupakan penentu tingkat keberhasilan pada proses penyetekan. Hal ini karena akar merupakan suatu organ tanaman yang memiliki fungsi yang sangat penting bagi kelangsungan hidup tanaman. Akar berfungsi sebagai penyerap air dan mineral terlarut, pengokoh batang, konduksi (penghubung jaringan dengan tanah) dan penyimpan cadangan makanan. Berdasarkan fisiologinya, pertumbuhan akar dipengaruhi oleh keseimbangan zat pengatur tumbuh yang terkandung dalam tanaman, yaitu auksin, sitokinin, giberelin, etilen dan zat penghambat. Faktor lain yang

8 22 berpengaruh pada pertumbuhan akar adalah kofaktor perakaran yang berasal dari daun dan tunas (Hartman dan Kester, 1983). Akar yang tumbuh pada proses penyetekan adalah akar yang terbentuk akibat aktivitas kalus yang terinduksi dari adanya hormon tanaman, baik hormon endogen yang terdapat pada bahan stek maupun hormon eksogen yang diberikan. Hormon eksogen yang mempengaruhi perakaran adalah hormon auksin. Menurut Gunawan (1992) auksin digunakan dalam kultur jaringan untuk merangsang pertumbuhan kalus, akar, suspensi sel dan organ. Contoh hormon kelompok auksin adalah 2,4 Dichloro Fenoxyacetic (2,4-D), Indol Acetic Acid (IAA) dan Naphtalene Acetic Acid (NAA), atau Indol Butyric Acid (IBA). Hormon yang digunakan pada penelitian ini adalah ZPT yang mengandung Naphtalene acetic acid (NAA) 0,067%, metil 1 Naphthalene acetamida (m-nad) %. Metil 1 Napthalene Acetic Acid (MNAA) 0.003%, Indol Butyric Acid (IBA) 0,057% dan thyram 4 %. Persentase Stek Berakar Akar merupakan syarat awal pertumbuhan stek sebagai tanaman baru. Menurut Meilawati (2008) Sansevieria dapat membentuk akar tanpa tergantung kepada tunas, perakaran pada stek Sansevieria akan tumbuh terlebih dahulu dibanding tunas. Persentase stek berakar diamati berdasarkan panjang akar yang tumbuh minimal 0.3 cm. Persentase perakaran dari semua kombinasi perlakuan dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Pengaruh media tanam dan panjang stek terhadap persentase stek berakar Media Panjang Stek Rata-rata 5 cm 10 cm 15 cm persentase stek berakar (%) Tanah dan pupuk kandang kambing Arang sekam Serbuk kayu Rata-rata 75b 83ab 92a Ket: angka rata-rata yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5 %.

9 23 Media tanam tidak berpengaruh pada persentase stek berakar. Tabel 3 menunjukkan bahwa persentase stek berakar pada ketiga media tanam tidak berbeda nyata, namun persentase stek berakar terbanyak cenderung terjadi pada media campuran tanah dan pupuk kandang kambing. Hal ini diduga karena seluruh media memenuhi syarat minimal untuk memicu perakaran. Namun, pada media campuran tanah dan pupuk kandang kambing memenuhi syarat optimum untuk memicu perakaran. Berdasarkan data Tabel 3, diketahui bahwa panjang stek memberikan pengaruh nyata terhadap persentase stek berakar pada taraf 5%. Persentase stek berakar pada stek 15 cm berbeda nyata terhadap panjang stek 5 cm, namun tidak berbeda nyata terhadap panjang stek 10 cm. Berdasarkan variasi panjang stek, panjang stek 15 cm memiliki persentase stek berakar paling besar, yaitu sebesar 92% dan panjang stek 5 cm memiliki persentase stek berakar paling rendah, yaitu sebesar 75%. Hal ini menunjukkan bahwa panjang stek 10 cm dan 15 cm merupakan panjang stek yang efektif dalam proses inisiasi akar. Panjang Akar Pertumbuhan akar diawali dengan pembentukan kalus yang terdiferesiasi. Akar memanjang bila kondisi tanaman membutuhkan air untuk metabolismenya. Pemanjangan akar dipengaruhi oleh kondisi media tanam, yaitu tingkat porositas dan tersedianya unsur hara dalam media tersebut. Nilai tengah panjang akar dari semua kombinasi perlakuan dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Pengaruh media tanam dan panjang stek terhadap panjang akar Media Panjang Stek Rata-rata 5 cm 10 cm 15 cm (cm) Ttanah dan pupuk kandang kambing a Arang sekam b Serbuk kayu a Rata-rata 3.98b 6.99a 8.08a Ket : angka rata-rata yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5 %. Berdasarkan Tabel 4, ditunjukkan bahwa panjang akar dari media arang sekam berbeda nyata lebih pendek dibandingkan dengan panjang akar media

10 24 campuran tanah dan pupuk kandang kambing dan media serbuk kayu. Akar terpanjang dihasilkan media serbuk kayu dengan panjang akar rata-rata adalah 7.59 cm dan tidak berbeda nyata dengan panjang akar dari media campuran tanah dan pupuk kandang kambing, yaitu 6.68 cm. Hal ini diduga karena kandungan hara dalam media campuran tanah dan pupuk kandang kambing dan media serbuk kayu memicu akar untuk terus tumbuh dan menyerap hara. Berbeda dengan persentase stek berakar, pertumbuhan atau pemanjangan akar tidak hanya dipengaruhi oleh hara, namun juga dipengaruhi oleh porositas media, air dan oksigen. Hartman dan Kester (1983) menyatakan bahwa aerasi air dan udara atau oksigen yang cukup dapat menghasilkan perakaran yang sangat baik. Serbuk kayu memiliki akar yang lebih panjang karena porositasnya yang lebih baik dibandingkan tanah, sehingga memudahkan akar baru untuk menembus media dan mendapatkan aerasi yang cukup. Akar terpendek dihasilkan oleh media arang sekam, yaitu 4.78 cm akibat sedikitnya kandungan hara dalam media tersebut. Tabel 4 menunjukkan bahwa stek dengan panjang 15 cm memiliki panjang akar dengan rataan terpanjang, yaitu sebesar 8.08 cm dan berbeda nyata terhadap stek dengan panjang 5 cm, namun tidak berbeda nyata dengan panjang stek 10 cm. Kecukupan cadangan makanan dalam stek diduga tidak hanya berpengaruh pada proses awal pembentukan akar saja, namun juga pada proses pemanjangan akar sebagai upaya tumbuhan untuk menyerap hara dari media tanam. Selain itu, pertumbuhan akar dipengaruhi oleh keseimbangan zat pengatur tumbuh yang terkandung dalam tanaman, yaitu auksin, sitokinin, giberelin, etilen dan zat penghambat. Faktor lain yang berpengaruh pada pertumbuhan akar adalah kofaktor perakaran yang berasal dari daun dan tunas (Hartman dan Kester, 1983). Hal ini menunjukkan bahwa stek dengan panjang 10 cm dan 15 cm merupakan panjang stek yang efektif dalam proses inisiasi akar, berkaitan dengan kecukupan cadangan makanan dan air yang mendukung untuk pembentukan sel-sel baru serta keseimbangan hormon dalam stek. Pertumbuhan Tunas Tunas terbentuk akibat adanya proses morfogenesis yang menyangkut interaksi pertumbuhan dan diferensiasi oleh beberapa sel yang memacu

11 25 terbentuknya organ. Tunas adalah ciri munculnya individu baru, terutama pada perbanyakan sansevieria yang banyak melalui perkembangbiakan vegetatif. Pembentukann tunas sangatlah penting sebagai tahap awal pembentukan primordial daun yang merupakan organ tanaman dengan jumlah klorofil terbesar sebagai tempat terjadinya prosess fotosintesis. Tunas pada stek Sansevieria muncul pada pangkal stek daun yang tertutup media tanam. Warna tunas yang baru tumbuh berwarna putih, seiring perkembangannya warna tunas menjadi hijau bergaris. Hal itu menggambarkan tingkat perkembang gan jaringan tanaman yang terdapat pada Gambar 9. Gambar 9. Tahapan perkembangan tunas muda Sansevieria Persentase Stek Bertunas Tumbuhan menghasilkan tunas sebagai proses regenerasi agar dapat mempertahankan jenisnya. Kecepatan stek dalam menghasilkan tunas tidak sama, sehingga dalam pengamatan pada 12 MST tidak semua stek berakar memiliki tunas baru. Stek dikatakan bertunas apabila saat pengamatan pertumbuhan tunas tumbuh lebih dari 0.5 cm. Persentase stek bertunas dari kombinasi perlakuan dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Pengaruh bertunas media tanam dan panjang stek terhadap persentase stek Media Panjang Stek Rata-rata 5 cm 10 cm 15 cm (%) Tanah dan pupuk kandang kambing Arang sekam Serbuk kayu Rata-rata b b a 52a 7b 18b Ket : angka rata-rata yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5 %.

12 26 Berdasarkan data Tabel 5, pengaruh media tanam terhadap stek bertunas menunjukan bahwa perlakuan media campuran tanah dan pupuk kandang kambing berbeda nyata terhadap media arang sekam dan media serbuk kayu dengan rata-rata stek bertunas sebesar 52%. Hal ini diduga karena media campuran tanah dan pupuk kandang kambing memiliki kandungan hara yang lebih baik dibandingkan media arang sekam dan media serbuk kayu. Media campuran tanah dan pupuk kandang kambing mengandung unsur nitrogen, fosfat dan kalium yang diperlukan dalam proses pembentukan tunas. Hasil percobaan yang dilakukan, rata-rata jumlah tunas yang muncul dari stek daun Sansevieria adalah 2-3 tunas. Panjang stek juga memberikan pengaruh nyata terhadap persentase stek bertunas. Pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa persentase stek bertunas dari stek dengan panjang 15 cm berbeda nyata dengan stek 5 cm dan 10 cm. Stek dengan panjang 15 cm memiliki persentase bertunas paling besar, yaitu sebesar 43%. Hartman dan Kester (1983) menyatakan bahwa stek yang lebih panjang memiliki cadangan makanan yang lebih banyak (karbohidrat dan nitrogen) untuk memacu pertumbuhan tunas. Oleh karena itu, stek dengan panjang 15 cm memiliki kecukupan nutrisi dalam memacu pertumbuhan tunas dibandingkan stek dengan panjang 10 cm dan 5 cm. Jumlah Tunas Jumlah tunas dari setiap stek bervariasi bergantung pada kecepatan diferensiasi kalus. Nilai tengah jumlah tunas dari semua kombinasi perlakuan dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Pengaruh media tanam dan panjang stek terhadap jumlah tunas Media Panjang Stek Rata-rata 5 cm 10 cm 15 cm (tunas) Tanah dan pupuk kandang kambing a Arang sekam b Serbuk kayu b Rata-rata 0.09b 0.039b 0.79a Ket : angka rata-rata yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata dengan uji DMRT pada taraf 5 %.

13 27 Media tanam berpengaruh terhadap jumlah tunas yang dihasilkan stek. Pada Tabel 6 ditunjukkan bahwa perlakuan media campuran tanah dan pupuk kandang kambing berbeda nyata terhadap media arang sekam dan media serbuk kayu dalam jumlah tunasyang dihasilkan. Media campuran tanah dan pupuk kandang kambing memiliki nilai tengan jumlah tunas terbanyak, yaitu sebesar 0.98 tunas. Hal ini disebabkan kecukupan unsur hara yang dimiliki oleh media campuran tanah dan pupuk kandang kambing, sehingga mendukung pertumbuhan tunas dalam jumlah banyak. Sedangkan media yang menghasilkan jumlah tunas paling sedikit adalah arang sekam, yaitu sebanyak 0.09 tunas. Disimpulkan bahwa dalam memicu pertumbuhan tunas muda Sansesieria dibutuhkan media yang kaya hara untuk mencukupi kebutuhan stek agar menghasilkan individu baru, dengan memperhatikan porositas media. Kecukupan cadangan makanan dalam stek juga berpengaruh pada jumlah tunas yang dihasilkan. Hal ini ditunjukkan pada Tabel 6 bahwa stek dengan panjang 15 cm mampu menghasilkan jumlah tunas terbanyak, yaitu Jumlah tunas ini berbeda nyata dengan jumlah tunas dari stek dengan panjang 5 cm dan 10 cm. Diduga, karena kecukupan cadangan makanannya untuk diferensiasi kalus membentuk tunas baru, panjang stek 15 cm merupakan panjang stek yang paling sesuai untuk inisiasi tunas muda Sansevieria.

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian berlangsung dari bulan Mei 2011 sampai bulan Juli 2011 di lahan Pembibitan Kebun Percobaan Cikabayan, IPB Darmaga. Penelitian diawali dengan pemilihan pohon

Lebih terperinci

PENGARUH MEDIA TANAM DAN PANJANG STEK DAUN TERHADAP INISIASI TUNAS MUDA LIDAH MERTUA

PENGARUH MEDIA TANAM DAN PANJANG STEK DAUN TERHADAP INISIASI TUNAS MUDA LIDAH MERTUA PENGARUH MEDIA TANAM DAN PANJANG STEK DAUN TERHADAP INISIASI TUNAS MUDA LIDAH MERTUA (Sansevieria trifasciata Lorentii ) AHMAD SOBARI A24060427 DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUTT

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat. diameter 12 cm dan panjang 28 cm, dan bahan-bahan lain yang mendukung

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat. diameter 12 cm dan panjang 28 cm, dan bahan-bahan lain yang mendukung BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat lebih kurang 25 meter di atas permukaan laut.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Kondisi lingkungan yang teramati selama aklimatisasi menunjukkan suhu rata-rata 30 o C dengan suhu minimum hingga 20 o C dan suhu maksimum mencapai 37 o C. Aklimatisasi

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi IBA (Indole Butyric Acid)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi IBA (Indole Butyric Acid) IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi IBA (Indole Butyric Acid) berpengaruh nyata pada jumlah akar primer bibit tanaman nanas, tetapi tidak

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini dilakukan dalam dua tahapan pelaksanaan, yaitu tahap kultur in vitro dan aklimatisasi. Tahap kultur in vitro dilakukan di dalam Laboratorium Kultur Jaringan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar 13 HASIL DAN PEMBAHASAN Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar Hasil Uji t antara Kontrol dengan Tingkat Kematangan Buah Uji t digunakan untuk membandingkan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Berdasarkan hasil analisis tanah di Laboratorium Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Institut Pertanian Bogor, tanah yang digunakan sebagai media tumbuh dikategorikan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Nanas (Ananas comosus [L.] Merr) merupakan komoditas andalan dalam perdagangan buah

I. PENDAHULUAN. Nanas (Ananas comosus [L.] Merr) merupakan komoditas andalan dalam perdagangan buah I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Nanas (Ananas comosus [L.] Merr) merupakan komoditas andalan dalam perdagangan buah tropika yang menempati urutan ke dua terbesar setelah pisang. Indonesia merupakan produsen

Lebih terperinci

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida,

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida, PEMBAHASAN PT National Sago Prima saat ini merupakan perusahaan satu-satunya yang bergerak dalam bidang pengusahaan perkebunan sagu di Indonesia. Pengusahaan sagu masih berada dibawah dinas kehutanan karena

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 15 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Keadaan Umum Penelitian Tanah yang digunakan pada penelitian ini bertekstur liat. Untuk mengurangi kelembaban tanah yang liat dan menjadikan tanah lebih remah, media tanam

Lebih terperinci

IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Air leri merupakan bahan organik dengan kandungan fosfor, magnesium

IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Air leri merupakan bahan organik dengan kandungan fosfor, magnesium IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN Air leri merupakan bahan organik dengan kandungan fosfor, magnesium dan vitamin B1 yang efektif bila dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pada proses perbanyakan tanaman

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Sansevieria

TINJAUAN PUSTAKA. Sansevieria 3 TINJAUAN PUSTAKA Sansevieria Morfologi Sansevieria berakar serabut, berwarna putih dan menampilkan perakaran yang banyak pada Sansevieria yang sehat. Akar tumbuh pada rhizome atau rimpang yang merupakan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Eksplorasi Eksplan Terubuk

HASIL DAN PEMBAHASAN Eksplorasi Eksplan Terubuk 22 HASIL DAN PEMBAHASAN Eksplorasi Eksplan Terubuk Bahan tanam awal (eksplan) merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan perbanyakan tanaman secara in vitro. Eksplan yang baik untuk digunakan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. karbohidrat sehingga dapat dijadikan alternatif makanan pokok. Selain

I. PENDAHULUAN. karbohidrat sehingga dapat dijadikan alternatif makanan pokok. Selain 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Ubi kayu merupakan tanaman pangan potensial masa depan karena mengandung karbohidrat sehingga dapat dijadikan alternatif makanan pokok. Selain mengandung

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Secara umumm planlet anggrek Dendrobium lasianthera tumbuh dengan baik dalam green house, walaupun terdapat planlet yang terserang hama kutu putih Pseudococcus spp pada

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 26 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan 3, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB selama sembilan minggu sejak Februari hingga

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Hasil analisis tanah sebelum perlakuan dilakukan di laboratorium Departemen Ilmu Tanah Sumberdaya Lahan IPB. Lahan penelitian tergolong masam dengan ph H O

Lebih terperinci

Repositori FMIPA UNISMA

Repositori FMIPA UNISMA Studi Pemberian NAA dan 2,4-D pada Stek Batang Pohon Terompet Kuning (Tabebuia aurea) Ahmad Syafi'i 1, Ari Hayati 2 2 Jurusan Biologi FMIPA Universitas Islam Malang Abstrak Stek batang lebih menguntungkan

Lebih terperinci

I. HASIL DAN PEMBAHASAN

I. HASIL DAN PEMBAHASAN digilib.uns.ac.id 21 I. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Perkecambahan Biji 1. Kecepatan Kecambah Viabilitas atau daya hidup biji biasanya dicerminkan oleh dua faktor yaitu daya kecambah dan kekuatan tumbuh. Hal

Lebih terperinci

PENGARUH KONSENTRASI DAN LAMA PERENDAMAN DENGAN ZAT PENGATUR TUMBUH (ZPT) INDOLEBUTYRIC ACID (IBA) TERHADAP PERTUMBUHAN STEK TANAMAN JERUK

PENGARUH KONSENTRASI DAN LAMA PERENDAMAN DENGAN ZAT PENGATUR TUMBUH (ZPT) INDOLEBUTYRIC ACID (IBA) TERHADAP PERTUMBUHAN STEK TANAMAN JERUK WAHANA INOVASI VOLUME 4 No.2 JULI-DES 2015 ISSN : 2089-8592 PENGARUH KONSENTRASI DAN LAMA PERENDAMAN DENGAN ZAT PENGATUR TUMBUH (ZPT) INDOLEBUTYRIC ACID (IBA) TERHADAP PERTUMBUHAN STEK TANAMAN JERUK Arta

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia mempunyai aneka ragam tanaman hias, baik tanaman hias daun maupun

I. PENDAHULUAN. Indonesia mempunyai aneka ragam tanaman hias, baik tanaman hias daun maupun I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Indonesia mempunyai aneka ragam tanaman hias, baik tanaman hias daun maupun tanaman hias bunga. Tanaman hias yaitu suatu tanaman yang bagian akar, batang,

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman Jeruk Besar (Pamelo)

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman Jeruk Besar (Pamelo) 4 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Jeruk Besar (Pamelo) Tanaman jeruk besar (Citrus grandis (L.) Osbeck) termasuk ke dalam famili Rutaceae. Famili Rutaceae memiliki sekitar 1 300 spesies yang dikelompokkan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Objek yang digunakan pada penelitian adalah tanaman bangun-bangun (Coleus amboinicus, Lour), tanaman ini biasa tumbuh di bawah pepohonan dengan intensitas cahaya yang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 21 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Berdasarkan data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah Dramaga, keadaan iklim secara umum selama penelitian (Maret Mei 2011) ditunjukkan dengan curah

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. di dalam setiap media tanam. Pertumbuhan tinggi caisim dengan sistem

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. di dalam setiap media tanam. Pertumbuhan tinggi caisim dengan sistem 14 4.1 Tinggi Tanaman Caisim BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil analisis sidik ragam pada lampiran 1a sampai dengan lampiran 1d perlakuan media tanam hidroponik berbeda nyata pada semua waktu

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Konidisi Umum Penelitian Berdasarkan hasil Laboratorium Balai Penelitian Tanah yang dilakukan sebelum aplikasi perlakuan didapatkan hasil bahwa ph H 2 O tanah termasuk masam

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian 18 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian Selama penelitian berlangsung suhu udara rata-rata berkisar antara 25.1-26.2 o C dengan suhu minimum berada pada bulan Februari, sedangkan suhu maksimumnya

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil pengatnatan terhadap parameter saat muncul tunas setelah dianalisis. Saat muncul tunas (hari)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil pengatnatan terhadap parameter saat muncul tunas setelah dianalisis. Saat muncul tunas (hari) IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.L Saat Muncul Tunas (hari) Hasil pengatnatan terhadap parameter saat muncul tunas setelah dianalisis secara statistik menunjukkan pengaruh nyata (Lampiran 5). Data hasil uji

Lebih terperinci

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian yang disajikan dalam bab ini adalah pengamatan selintas dan pengamatan utama. 1.1. Pengamatan Selintas Pengamatan selintas merupakan pengamatan yang hasilnya

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Manggis dengan nama latin Garcinia mangostana L. merupakan tanaman buah

II. TINJAUAN PUSTAKA. Manggis dengan nama latin Garcinia mangostana L. merupakan tanaman buah II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani Manggis dan Syarat Tumbuh Manggis dengan nama latin Garcinia mangostana L. merupakan tanaman buah berupa pohon yang banyak tumbuh secara alami pada hutan tropis di kawasan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman buah naga adalah sebagai berikut ; Divisi: Spermatophyta, Subdivisi : Angiospermae, Kelas : Dicotyledonae, Ordo:

TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman buah naga adalah sebagai berikut ; Divisi: Spermatophyta, Subdivisi : Angiospermae, Kelas : Dicotyledonae, Ordo: TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Klasifikasi tanaman buah naga adalah sebagai berikut ; Divisi: Spermatophyta, Subdivisi : Angiospermae, Kelas : Dicotyledonae, Ordo: Caryophyllales, Famili: Cactaceae, Genus:

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Bio-slurry dan tahap aplikasi Bio-slurry pada tanaman Caisim. Pada tahap

HASIL DAN PEMBAHASAN. Bio-slurry dan tahap aplikasi Bio-slurry pada tanaman Caisim. Pada tahap IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian yang dilakukan terbagi menjadi dua tahap yaitu pengambilan Bio-slurry dan tahap aplikasi Bio-slurry pada tanaman Caisim. Pada tahap pengambilan Bio-slurry dilakukan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Sifat Kimia Hasil analisis sifat kimia tanah sebelum diberi perlakuan dapat dilihat pada lampiran 2. Penilaian terhadap sifat kimia tanah yang mengacu pada kriteria Penilaian

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Ubikayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan salah satu tanaman pangan yang

I. PENDAHULUAN. Ubikayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan salah satu tanaman pangan yang 1 I. PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang dan Masalah Ubikayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan salah satu tanaman pangan yang asalnya bukan asli dari Indonesia tetapi menjadi sangat terkenal di Indonesia.

Lebih terperinci

Gambar 5. Pertumbuhan Paspalum notatum Fluegge Setelah Ditanam

Gambar 5. Pertumbuhan Paspalum notatum Fluegge Setelah Ditanam HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Suhu rumah kaca berkisar antara C hingga 37 C, kondisi yang cukup baik bagi pertumbuhan tanaman. Menurut Sarief (1985) kisaran maksimum pertumbuhan tanaman antara 15 C

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Ubi kayu merupakan salah satu sumber pangan penting di Indonesia dan di dunia,

I. PENDAHULUAN. Ubi kayu merupakan salah satu sumber pangan penting di Indonesia dan di dunia, I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ubi kayu merupakan salah satu sumber pangan penting di Indonesia dan di dunia, karena ubi kayu memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan pangan dunia. Di Indonesia,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Tinggi Tanaman Nilam 1 sampai 11 MST Hasil pengamatan tentang tinggi tanaman nilam pada umur 1 sampai dengan 11 MST dan sidik ragamnya disajikan pada Lampiran 2. Sidik ragam

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Berdasarkan data Badan Meteorologi dan Geofisika Darmaga, Bogor (Tabel Lampiran 1) curah hujan selama bulan Februari hingga Juni 2009 berfluktuasi. Curah hujan terendah

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca, Fakultas Pertanian, Universitas

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca, Fakultas Pertanian, Universitas 23 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, Kampus Gedung Meneng, Bandar Lampung pada bulan Desember 2013

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kebutuhan

I. PENDAHULUAN. pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kebutuhan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Prospek agribisnis nanas sangat cerah, baik di pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri. Permintaan pasar dalam negeri terhadap buah nanas cenderung meningkat sejalan

Lebih terperinci

PENGARUH JENIS AUKSIN DAN BOBOT SUCKER TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT SAGU DI PERSEMAIAN RAKIT

PENGARUH JENIS AUKSIN DAN BOBOT SUCKER TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT SAGU DI PERSEMAIAN RAKIT PENGARUH JENIS AUKSIN DAN BOBOT SUCKER TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT SAGU DI PERSEMAIAN RAKIT S. A M A R I L L I S, N. K H U M A I D A, M. H. B I N T O R O D J O E F R I E Departemen Agronomi dan Hortikultura,

Lebih terperinci

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1 Rekapitulasi hasil analisis sidik ragam pertumbuhan bibit saninten

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1 Rekapitulasi hasil analisis sidik ragam pertumbuhan bibit saninten BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa interaksi antara perlakuan pemberian pupuk akar NPK dan pupuk daun memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Lada (Piper nigrum Linn.) merupakan tanaman rempah-rempah yang memiliki

I. PENDAHULUAN. Lada (Piper nigrum Linn.) merupakan tanaman rempah-rempah yang memiliki I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Lada (Piper nigrum Linn.) merupakan tanaman rempah-rempah yang memiliki peran dalam meningkatkan perekonomian Indonesia. Budidaya lada di Indonesia dilakukan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Dracaena adalah tanaman yang tumbuh tegak dengan bentuk batang bulat dan

TINJAUAN PUSTAKA. Dracaena adalah tanaman yang tumbuh tegak dengan bentuk batang bulat dan II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Morfologi dan Taksonomi Tanaman Dracaena Dracaena adalah tanaman yang tumbuh tegak dengan bentuk batang bulat dan beruas-ruas. Daun dracaena berbentuk tunggal, tidak bertangkai,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1Tinggi Tanaman Tinggi tanaman caisin dilakukan dalam 5 kali pengamatan, yaitu (2 MST, 3 MST, 4 MST, 5 MST, dan 6 MST). Berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukkan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Upaya peningkatan produksi ubi kayu seringkali terhambat karena bibit bermutu kurang tersedia atau tingginya biaya pembelian bibit karena untuk suatu luasan lahan, bibit yang dibutuhkan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. dalam kelas Liliopsida yang merupakan salah satu tumbuhan berbunga lidah dari

TINJAUAN PUSTAKA. dalam kelas Liliopsida yang merupakan salah satu tumbuhan berbunga lidah dari TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Menurut Jones dan Luchsinger (1979), tumbuhan anggrek termasuk ke dalam kelas Liliopsida yang merupakan salah satu tumbuhan berbunga lidah dari sekian banyak tumbuhan berbunga

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Perlakuan kadar air media (KAM) dan aplikasi paclobutrazol dimulai pada saat tanaman berumur 4 bulan (Gambar 1a) hingga tanaman berumur 6 bulan. Penelitian yang dilakukan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Media Tanam dan Pemberian Konsentrasi Mikroorganisme Lokal (MOL) Bonggol Pisang Nangka Terhadap Penambahan Panjang Akar Semai Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) Analisis

Lebih terperinci

Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara yang dibutuhkan oleh

Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara yang dibutuhkan oleh 45 4.2 Pembahasan Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan memperhatikan syarat tumbuh tanaman dan melakukan pemupukan dengan baik. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. Hasil sidik ragam 5% terhadap tinggi tanaman menunjukkan bahwa

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. Hasil sidik ragam 5% terhadap tinggi tanaman menunjukkan bahwa 1. Tinggi tanaman IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Tanaman Hasil sidik ragam 5% terhadap tinggi tanaman menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan memberikan pengaruh yang berbeda nyata. Hasil Uji

Lebih terperinci

I. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. tinggi tanaman dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 1. Rerata Tinggi Tanaman dan Jumlah Daun

I. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. tinggi tanaman dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 1. Rerata Tinggi Tanaman dan Jumlah Daun 16 1. Tinggi Tanaman (cm) I. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Tanaman Hasil sidik ragam tinggi tanaman ( lampiran 6 ) menunjukkan perlakuan kombinasi limbah cair industri tempe dan urea memberikan pengaruh

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1. Data Iklim Lahan Penelitian, Kelembaban Udara (%)

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1. Data Iklim Lahan Penelitian, Kelembaban Udara (%) HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Hasil analisis kondisi iklim lahan penelitian menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika setempat menunjukkan bahwa kondisi curah hujan, tingkat kelembaban,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan pengamatan pada pemberian pupuk organik kotoran ayam

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan pengamatan pada pemberian pupuk organik kotoran ayam BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Berdasarkan pengamatan pada pemberian pupuk organik kotoran ayam terhadap pertumbuhan jagung masing-masing menunjukan perbedaan yang nyata terhadap tinggi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Benih Indigofera yang digunakan dalam penelitian ini cenderung berjamur ketika dikecambahkan. Hal ini disebabkan karena tanaman indukan sudah diserang cendawan sehingga

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Tinggi Tanaman. antara pengaruh pemangkasan dan pemberian ZPT paklobutrazol. Pada perlakuan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Tinggi Tanaman. antara pengaruh pemangkasan dan pemberian ZPT paklobutrazol. Pada perlakuan IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Tinggi Tanaman Dari (tabel 1) rerata tinggi tanaman menunjukkan tidak ada interaksi antara pengaruh pemangkasan dan pemberian ZPT paklobutrazol. Pada perlakuan pemangkasan menunjukan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lahan penelitian yang digunakan merupakan lahan yang selalu digunakan untuk pertanaman tanaman padi. Lahan penelitian dibagi menjadi tiga ulangan berdasarkan ketersediaan

Lebih terperinci

rv. HASIL DAN PEMBAHASAN

rv. HASIL DAN PEMBAHASAN 17 rv. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Tinggi Tanaman (cm) Hasil sidik ragam parameter tinggi tanaman (Lampiran 6 ) menunjukkan bahwa penggunaan pupuk kascing dengan berbagai sumber berbeda nyata terhadap tinggi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 17 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini berlangsung di kebun manggis daerah Cicantayan Kabupaten Sukabumi dengan ketinggian 500 700 meter di atas permukaan laut (m dpl). Area penanaman manggis

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Tinggi Tanaman IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengamatan yang telah diperoleh terhadap tinggi tanaman cabai setelah dilakukan analisis sidik ragam (lampiran 7.a) menunjukkan bahwa pemberian pupuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Pisang merupakan salah satu jenis tanaman asal Asia Tenggara yang kini sudah tersebar luas ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Tanaman pisang memiliki ciri spesifik

Lebih terperinci

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 16 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Pemberian Bahan Humat terhadap Pertumbuhan Tanaman Padi 4.1.1 Tinggi Tanaman Tinggi tanaman pada saat tanaman berumur 4 MST dan 8 MST masingmasing perlakuan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Konsentrasi Air Kelapa (Cocos nucifera) terhadap Viabilitas Rosella Merah (Hibiscus sabdariffa var. sabdariffa) Berdasarkan hasil analisis (ANAVA) pada lampiran

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 21 hari setelah tanam. Sedangkan analisis pengaruh konsentrasi dan lama perendaman

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 21 hari setelah tanam. Sedangkan analisis pengaruh konsentrasi dan lama perendaman BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Konsentrasi dan Lama Perendaman Ektrak Bawang Merah (Allium cepa L.) Terhadap Persentase Daya Berkecambah Benih Kakao (Theobroma cacao L.) Pengamatan persentase

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PENELITIAN. Disiapkan batang atas ubi karet dan batang bawah ubi kayu gajah yang. berumur 8 bulan dan dipotong sepanjang 25 cm.

PELAKSANAAN PENELITIAN. Disiapkan batang atas ubi karet dan batang bawah ubi kayu gajah yang. berumur 8 bulan dan dipotong sepanjang 25 cm. PELAKSANAAN PENELITIAN Persiapan Lahan Lahan yang akan digunakan dibersihkan dari gulma dengan cara manual. Setelah dibersihkan, lahan diukur dengan ukuran panjang x lebar : 12 m x 4 m. Persiapan Bibit

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Kondisi Umum Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Kondisi Umum Penelitian 2 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kondisi Umum Penelitian Pada saat penelitian berlangsung suhu dan RH di dalam Screen house cukup fluktiatif yaitu bersuhu 26-38 o C dan berrh 79 95% pada pagi hari pukul 7.

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Penelitian ini dimulai pada bulan

BAHAN DAN METODE. Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Penelitian ini dimulai pada bulan BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Fakultas Pertanian, Medan. Penelitian ini dimulai pada bulan Maret 2010 sampai dengan Juni 2010.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. eksplan hidup, persentase eksplan browning, persentase eksplan kontaminasi,

HASIL DAN PEMBAHASAN. eksplan hidup, persentase eksplan browning, persentase eksplan kontaminasi, IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengamatan terhadap proses induksi akar pada eksplan dilakukan selama 12 minggu. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan dan pengaruh pada setiap perlakuan yang diberikan.

Lebih terperinci

5. PEMBAHASAN 5.1. Pengaruh waktu pemberian GA3 terhadap pertumbuhan tanaman leek

5. PEMBAHASAN 5.1. Pengaruh waktu pemberian GA3 terhadap pertumbuhan tanaman leek 5. PEMBAHASAN Pembahasan mengenai pengaruh waktu pemberian Giberelin (GA 3 ) terhadap induksi pembungaan dan pertumbuhan tanaman leek (Allium ampeloprasum L.) meliputi umur berbunga, tinggi tanaman, jumlah

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pengamatan penelitian terdiri atas pengamatan selintas dan pengamatan utama. 4.1. Pengamatan Selintas Pengamatan selintas merupakan pengamatan yang dilakukan di luar

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pertumbuhan Tanaman Caisin Tinggi dan Jumlah Daun Hasil uji F menunjukkan bahwa perlakuan pupuk hayati tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun caisin (Lampiran

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. satu MSI (Minggu Setelah Inokulasi). Respon eksplan berbeda pada setiap

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. satu MSI (Minggu Setelah Inokulasi). Respon eksplan berbeda pada setiap BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kondisi Eksplan Secara Umum Pertumbuhan eksplan kentang (Solanum tuberosuml.) mulai terlihat pada satu MSI (Minggu Setelah Inokulasi). Respon eksplan berbeda pada setiap

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Mengembangkan dan membudidayakan tanaman tomat membutuhkan faktor yang mendukung seperti pemupukan, pengairan, pembumbunan tanah, dan lain-lain. Pemberian

Lebih terperinci

PENGARUH KONSENTRASI BAWANG MERAH (Alium cepa L.) TERHADAP PERTUMBUHAN SETEK GAHARU (Aquilaria malaccencis OKEN)

PENGARUH KONSENTRASI BAWANG MERAH (Alium cepa L.) TERHADAP PERTUMBUHAN SETEK GAHARU (Aquilaria malaccencis OKEN) Volume 16, Nomor 2, Hal. 63-68 Juli - Desember 211 ISSN:852-8349 PENGARUH KONSENTRASI BAWANG MERAH (Alium cepa L.) TERHADAP PERTUMBUHAN SETEK GAHARU (Aquilaria malaccencis OKEN) Muswita Fakultas Keguruan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara tropis yang mempunyai keanekaragaman tanaman hortikultura meliputi tanaman buah, tanaman sayuran dan tanaman hias. Menurut Wijaya (2006), Indonesia

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa media tanam yang digunakan berpengaruh terhadap berat spesifik daun (Lampiran 2) dan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 14 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Indikator pertumbuhan dan produksi bayam, antara lain: tinggi tanaman, jumlah daun, berat basah dan berat kering tanaman dapat dijelaskan sebagai berikut:

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Species: Allium ascalonicum L. (Rahayu dan Berlian, 1999). Bawang merah memiliki batang sejati atau disebut discus yang bentuknya

TINJAUAN PUSTAKA. Species: Allium ascalonicum L. (Rahayu dan Berlian, 1999). Bawang merah memiliki batang sejati atau disebut discus yang bentuknya Botani Tanaman TINJAUAN PUSTAKA Bawang merah diklasifikasikan sebagai berikut: Kingdom: Plantae, Divisio: Spermatophyta, Subdivisio: Angiospermae, Kelas: Monocotyledonae, Ordo: Liliales/ Liliflorae, Famili:

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pisang merupakan komoditas buah-buahan yang populer di masyarakat karena

I. PENDAHULUAN. Pisang merupakan komoditas buah-buahan yang populer di masyarakat karena 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Pisang merupakan komoditas buah-buahan yang populer di masyarakat karena harganya terjangkau dan sangat bermanfaat bagi kesehatan. Pisang adalah buah yang

Lebih terperinci

PENGARUH PEMBERIAN NITROGEN DAN KOMPOS TERHADAP KOMPONEN PERTUMBUHAN TANAMAN LIDAH BUAYA (Aloe vera)

PENGARUH PEMBERIAN NITROGEN DAN KOMPOS TERHADAP KOMPONEN PERTUMBUHAN TANAMAN LIDAH BUAYA (Aloe vera) PENGARUH PEMBERIAN NITROGEN DAN KOMPOS TERHADAP KOMPONEN PERTUMBUHAN TANAMAN LIDAH BUAYA (Aloe vera) ABSTRAK Noverita S.V. Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Sisingamangaraja-XII Medan Penelitian

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan 10 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan Babakan Sawah Baru, Darmaga Bogor pada bulan Januari 2009 hingga Mei 2009. Curah hujan rata-rata dari bulan Januari

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 47 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa respons pertumbuuhan tertinggi diperoleh pada eksplan biji panili yang ditanam dalam medium tomat. Pada perlakuan tersebut persentase rata-rata

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 13 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah diameter pangkal, diameter setinggi dada (dbh), tinggi total, tinggi bebas cabang, tinggi tajuk, panjang

Lebih terperinci

PENGARUH BAHAN STEK DAN KONSENTRASI ZAT PENGATUR TUMBUH HORMONIK TERHADAP KEBERHASILAN STEK Sansevieria trifasciata Tiger Stripe

PENGARUH BAHAN STEK DAN KONSENTRASI ZAT PENGATUR TUMBUH HORMONIK TERHADAP KEBERHASILAN STEK Sansevieria trifasciata Tiger Stripe Makalah Seminar Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor PENGARUH BAHAN STEK DAN KONSENTRASI ZAT PENGATUR TUMBUH HORMONIK TERHADAP KEBERHASILAN STEK Sansevieria

Lebih terperinci

PENGARUH KONSENTRASI BAWANG MERAH (Alium cepa L.) TERHADAP PERTUMBUHAN SETEK GAHARU (Aquilaria malaccencis OKEN)

PENGARUH KONSENTRASI BAWANG MERAH (Alium cepa L.) TERHADAP PERTUMBUHAN SETEK GAHARU (Aquilaria malaccencis OKEN) Volume 13, Nomor 1, Hal. 15-20 ISSN 0852-8349 Januari Juni 2011 PENGARUH KONSENTRASI BAWANG MERAH (Alium cepa L.) TERHADAP PERTUMBUHAN SETEK GAHARU (Aquilaria malaccencis OKEN) Muswita Program Studi Pendidikan

Lebih terperinci

RESPON PERTUMBUHAN MERISTEM KENTANG (Solanum tuberosuml) TERHADAP PENAMBAHAN NAA DAN EKSTRAK JAGUNG MUDA PADA MEDIUM MS

RESPON PERTUMBUHAN MERISTEM KENTANG (Solanum tuberosuml) TERHADAP PENAMBAHAN NAA DAN EKSTRAK JAGUNG MUDA PADA MEDIUM MS 1 RESPON PERTUMBUHAN MERISTEM KENTANG (Solanum tuberosuml) TERHADAP PENAMBAHAN NAA DAN EKSTRAK JAGUNG MUDA PADA MEDIUM MS Nurhafni Pembimbing : Dra. Yusmanidar Arifin, M. Si dan Milda Ernita, S. Si. MP

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Percobaan studi populasi tanaman terhadap produktivitas dilakukan pada dua kali musim tanam, karena keterbatasan lahan. Pada musim pertama dilakukan penanaman bayam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu komoditas perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja,

Lebih terperinci

Pertumbuhan Tunas Sansevieria trifaciata Prain Laurentii pada Beberapa Komposisi Media Tanam dan Konsentrasi GA3

Pertumbuhan Tunas Sansevieria trifaciata Prain Laurentii pada Beberapa Komposisi Media Tanam dan Konsentrasi GA3 Pertumbuhan Tunas Sansevieria trifaciata Prain Laurentii pada Beberapa Komposisi Media Tanam dan Konsentrasi GA3 Shoots Growth of Sansevieria trifaciata Prain Laurentii in some Growing Media Composition

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 14 4.1. Tinggi Tanaman BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Data hasil analisis ragam dan uji BNT 5% tinggi tanaman disajikan pada Tabel 1 dan Lampiran (5a 5e) pengamatan tinggi tanaman dilakukan dari 2 MST hingga

Lebih terperinci

SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 8. FOTOSINTESISLatihan Soal ph (derajat keasaman) apabila tidak sesuai kondisi akan mempengaruhi kerja...

SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 8. FOTOSINTESISLatihan Soal ph (derajat keasaman) apabila tidak sesuai kondisi akan mempengaruhi kerja... SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 8. FOTOSINTESISLatihan Soal 8.4 1. ph (derajat keasaman) apabila tidak sesuai kondisi akan mempengaruhi kerja... Klorofil Kloroplas Hormon Enzim Salah satu faktor yang mempengaruhi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1.1 Pengaruh Pembentukan Kalus Pada Media MS Kombinasi ZPT BAP dan 2,4-D.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1.1 Pengaruh Pembentukan Kalus Pada Media MS Kombinasi ZPT BAP dan 2,4-D. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1 Pengaruh Pembentukan Kalus Pada Media MS Kombinasi ZPT BAP dan 2,4-D. Selama masa inkubasi, kalus mulai terlihat tumbuh pada minggu ke-5. Data hari tumbuhnya kalus seluruh

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 2. Cendawan pada Stek (a), Batang Kecoklatan pada Stek (b) pada Perlakuan Silica gel

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 2. Cendawan pada Stek (a), Batang Kecoklatan pada Stek (b) pada Perlakuan Silica gel HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Stek Pengamatan keadaan umum stek bertujuan untuk mengetahui sifat fisik, kualitas dan daya tumbuh stek selama penyimpanan. Keadaan umum stek yang diamati meliputi warna,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. kompos limbah tembakau memberikan pengaruh nyata terhadap berat buah per

HASIL DAN PEMBAHASAN. kompos limbah tembakau memberikan pengaruh nyata terhadap berat buah per IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa kombinasi pupuk Urea dengan kompos limbah tembakau memberikan pengaruh nyata terhadap berat buah per tanaman, jumlah buah per tanaman dan diameter

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tingkat konsumsi sayuran rakyat Indonesia saat ini masih rendah, hanya 35

I. PENDAHULUAN. Tingkat konsumsi sayuran rakyat Indonesia saat ini masih rendah, hanya 35 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Tingkat konsumsi sayuran rakyat Indonesia saat ini masih rendah, hanya 35 kilogram sayuran per kapita per tahun. Angka itu jauh lebih rendah dari angka konsumsi

Lebih terperinci

Hasil dan pembahasan. A. Pertumbuhan tanaman. maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan

Hasil dan pembahasan. A. Pertumbuhan tanaman. maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan IV. Hasil dan pembahasan A. Pertumbuhan tanaman 1. Tinggi Tanaman (cm) Ukuran tanaman yang sering diamati baik sebagai indikator pertumbuhan maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Data penelitian yang diperoleh pada penelitian ini berasal dari beberapa parameter pertumbuhan anakan meranti merah yang diukur selama 3 bulan. Parameter yang diukur

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Tinggi Tanaman IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil sidik ragam pengamatan tinggi tanaman berpengaruh nyata (Lampiran 7), setelah dilakukan uji lanjut didapatkan hasil seperti Tabel 1. Tabel 1. Rerata tinggi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Kombinasi BAP dan IBA terhadap Waktu Munculnya Tunas Akasia (Acacia mangium Willd.)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Kombinasi BAP dan IBA terhadap Waktu Munculnya Tunas Akasia (Acacia mangium Willd.) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Kombinasi BAP dan IBA terhadap Waktu Munculnya Tunas Akasia (Acacia mangium Willd.) Kultur jaringan merupakan teknik budidaya untuk meningkatkan produktifitas tanaman.

Lebih terperinci