IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "IV. HASIL DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 9 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Karakteristik Lokasi Penelitian Luas areal tanam padi adalah seluas 6 m 2 yang terletak di Desa Langgeng. Secara administrasi pemerintahan Desa Langgeng Sari termasuk dalam wilayah Kecamatan Lelea Kabupaten Inrdamayu Provinsi Jawa Barat. Desa Langgeng Sari berdekatan dengan Desa Taman Sari (di bagian utara), Desa Telaga Sari dibagian barat, Desa Unjungaris dan Bunder di bagian timur, dan di bagian selatan berdekatan dengan Desa Nunuk dan Malang Sari. Secara geografis Kabupaten Indramayu terletak diantara 2-6 Bujur Timur dan Lintang Selatan ([Provinsi Jawa Barat] 2). Kecamatan Lelea terletak pada ketinggian sekitar -6 meter di atas permukaan laut (Organisasi Pemerintah Daerah Kabupaten Indramayu 2). Desa Lelea terletak pada bagian utara Kabupaten Indramayu, dan dekat dengan pesisir pantai utara Pulau Jawa (Lampiran 2). Lokasi penelitian kurang lebih berjarak 2 Km dari pantai. 4.2 Cuaca di Lokasi Selama Periode Penelitian Penanaman padi dilakukan di areal persawahan Desa Langgeng Sari Kecamatan Lelea Kabupaten Indramayu Provinsi Jawa Barat. Selama penelitian dilakukan pengukuran suhu udara, suhu bola basah, intensitas radiasi, kecepatan angin, dan curah hujan. Dari hasil pengukuran suhu bola basah dan suhu bola kering dapat dihitung nilai kelembaban relatif lokasi penelitian. Grafik suhu udara, curah hujan, intensitas radiasi, kecepatan angin, dan kelembaban relatif harian di lokasi penelitian selama penelitian dapat dilihat pada Gambar. Suhu merupakan indikasi jumlah energi panas yang terdapat dalam suatu sistem atau massa (Bey 99). Nilai suhu udara juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Tinggi rendahnya suhu di sekitar tanaman ditentukan oleh radiasi matahari, kerapatan tanaman, dll. Gambar menunjukkan pola suhu udara ratarata harian di tempat penelitian. Suhu yang terukur pada awal penanaman pada tanam lebih tinggi dibandingkan setelahnya. Hal itu Int. Radiasi (MJ/m2) Curah Hujan (mm) Intensitas Radiasi Hari ke- Suhu Udara Hari ke- Kecepatan Angin (Km/Hari) Kelembaban Relatif (%) Kecepatan Angin Hari ke- Gambar Pola rata-rata harian unsur cuaca (Suhu, RH, Kecepatan Angin, Curah Hujan, dan Intensitas Radiasi) dari tanggal 2 Maret hingga Juli 2. Curah Hujan Kelembaban Relatif Hari ke

2 terjadi dikarenakan lingkungan sekitar tempat penelitian baru dilakukan panen, dan belum dilakukan pengolahan tanah untuk penanaman selanjutnya sehingga kondisi lingkungan lebih kering. Suhu udara rata-rata harian minimum yang terukur adalah,6 o C dan besar suhu udara rata-rata harian maksimum yang terukur sebesar 29, o C. Kelembaban relatif (RH) merupakan parameter yang biasa digunakan untuk menggambarkan kelembaban (moisture) di atmosfer. Besaran nilai RH dinyatakan dalam persen. RH tidak mengindikasikan jumlah aktual uap air di udara, melainkan menggambarkan seberapa dekat udara untuk menjadi jenuh. Kelembaban relatif merupakan rasio antara jumlah uap air di udara dan uap air jenuh pada suhu dan tekanan yang sama (Ahrens 29). Nilai kelembaban relatif minimum berdasarkan hasil perhitungan adalah 6% sedangkan RH maksimum yang terukur adalah 9%. Pada umumnya nilai RH berkebalikan dengan nilai suhu, dan akan bernilai minimum pada saat siang hari. Besar kecepatan angin yang terukur cukup besar dengan keadaan areal penanaman di areal persawahan yang cukup luas dan datar. Kecepatan angin diukur dengan menggunakan anemometer yang diletakkan di tengah areal sawah pada ketinggian 2 meter di atas permukaan tanah rata-rata. Hasil pengukuran yang dilakukan diperoleh hasil kecepatan angin minimum sebesar, km/hari dan kecepatan angin maksimum mencapai, km/hari. Kecepatan angin yang besar dapat dipengaruhi oleh kondisi lapangan yang datar dan luas dan juga karena areal penanaman dekat dengan daerah pantai. Kecepatan angin yang terukur pada saat penelitian menunjukkan bahwa kecepatan angin berkebalikan dengan suhu. Saat kecepatan angin tinggi, suhu udara rata-rata harian yang terukur di lokasi pengamatan kecil, dan saat kecepatan angin rendah suhu udara rata-rata harian yang terukur tinggi. Hal ini disebabkan pada saat angin bertiup kencang, massa udara panas sekitar lingkungan ikut terbawa oleh angin, sehingga menyebabkan suhu yang terukur rendah. Intensitas radiasi surya maksimum selama pertumbuhan tanaman padi yang terukur adalah,2 MJ/m 2 /hari atau 66,6 J/m 2 /s sedangkan besar intensitas radiasi minimum sebesar, MJ/ m 2 /hari atau,6 J/m 2 /s. Menurut Bey (99) intensitas radiasi surya akan tinggi pada saat musim kemarau, yaitu bulan April hingga September. Grafik yang ditunjukkan pada Gambar terlihat peningkatan intensitas radiasi memasuki bulan Juli. Hal ini dikarenakan memasuki bulan Juli jarang terjadi hujan di lokasi penelitian. Sejak bulan Maret hingga Juli, jumlah hari hujan yang terhitung sedikit, yaitu terjadi hari hujan dari hari yang diamati. Distribusi hujan yang terjadi selama penelitian dapat dilihat pada Gambar, dari Gambar tersebut dapat dilihat bahwa pada bulan Juli hanya terjadi satu hari hujan dan jumlah curah hujan harian maksimal yang terukur sebesar 6,2 mm. Grafik curah hujan pada Gambar juga menunjukkan memasuki hari ke 2 yaitu pada pertengahan bulan Mei, jumlah hari hujan yang terjadi semakin berkurang. Hal ini menunjukkan bahwa lokasi penelitian memasuki musim kemarau hingga penelitian selesai dilakukan. Besar curah hujan yang terukur selama penelitian tidak mendukung untuk pertumbuhan tanaman padi, oleh sebab itu untuk memenuhi kebutuhan air tanaman padi selama pertumbuhan dibantu dengan pengairan air irigasi teknis yang diberikan secara berselang dan kebutuhan air untuk pertumbuhan tanaman padi masih tercukupi hingga panen pada kedua waktu tanam. Lokasi penanaman merupakan daerah irigasi ujung. Berdasarkan hasil penelitian Suhartatik et al. (29), kondisi cuaca yang terjadi di areal penelitian termasuk kondisi yang memenuhi untuk pertumbuhan tanaman padi kecuali curah hujan. 4. Pertumbuhan Tanaman Padi Selama proses pembudidayaan, Chang (96) menyebutkan bahwa padi mengalami perubahan morfologik dan fisiologik, yaitu terjadinya perubahan ukuran, jumlah ataupun laju pertumbuhan. Pertumbuhan merupakan pertambahan panjang, bobot, jumlah, luas, dan volume organ tanaman (Nasir ). Pertumbuhan tanaman yang diukur secara bertahap pada penelitian ini adalah tinggi tanaman dan jumlah anakan tanaman padi. Pengukuran dilakukan pada tiga varietas padi, yaitu Inpari-, Inpari- dan Ciherang yang dilakukan pada 2 waktu tanam. Waktu tanam pertama dilakukan pada tanggal 6 April 2, sedangkan waktu tanam ke 2 dilakukan pada tanggal April 2. Persemaian padi dilakukan selama 2 hari, tetapi lama waktu semai berbeda 2 hari pada waktu tanam dan waktu tanam 2. Perbedaan waktu tanam ini dikarenakan kondisi lahan yang tidak memungkinkan untuk dilakukan penanaman pada awal waktu tanam karena lahan tergenang air cukup tinggi

3 dikarenakan curah hujan yang besar. Selain pertumbuhan tanaman dilakukan juga pengukuran terhadap hasil panen padi, diantaranya bobot butir padi, produktivitas perhektar dan jumlah gabah permalai. 4.. Tinggi Tanaman Pengukuran tinggi tanaman padi selama pengamatan dilakukan satu minggu sekali dengan menggunakan penggaris kayu, dimana tinggi tanaman diukur dari permukaan tanah hingga daun terpanjang. Hasil pengukuran menunjukkan perbedaan tinggi tanaman yang tidak jauh berbeda pada setiap perlakuan yang digambarkan oleh Gambar 6. Gambar 6 menunjukkan bahwa akumulasi tinggi tanaman pada saat tanam 2 lebih tinggi dibandingkan dengan akumulasi tinggi tanaman pada saat tanam pada semua varietas. Hal ini terjadi dikarenakan radiasi yang terukur selama tanam 2 lebih tinggi dibandingkan tanam selain itu kebutuhan air selama pertumbuhan tanaman juga tercukupi, sehingga penyerapan energi panas untuk proses fotosintesis serta respirasi tanaman lebih besar terjadi pada tanam 2 sehingga proses metabolisme tanaman dapat terjadi lebih optimal. Tinggi tanaman (cm) HST W V W V W2V2 W V2 W2V W2V Gambar 6 Pertumbuhan tinggi tanaman padi (Ket: V : Inpari-; V2 : Inpari-; V : Ciherang; W : Tanam ; dan W2 :) Pertambahan tinggi tanaman mulai menurun pada saat tanaman berumur HST. Pertambahan tinggi tanaman berhenti karena penambahan bobot tanaman untuk pemanjangan batang dan daun tanaman berhenti dan berpindah untuk pembentukan malai, pengisian biji serta pemasakan biji padi. Berdasarkan varietas yang ditanam, baik pada tanam ataupun tanam 2 menunjukkan bahwa varietas Inpari- memiliki tinggi tanaman yang lebih tinggi dibandingkan varietas Ciherang dan Inpari-. Tinggi maksimum tanaman dari tiga varietas pada tanam menunjukkan bahwa varietas Ciherang adalah varietas yang paling tinggi dibandingkan varietas lainnya yaitu mencapai 2,6 cm, sedangkan tinggi tanaman varietas Inpari- dan Inpari- adalah, cm dan 9, cm. Pada saat tanam 2 varietas Inpari- memiliki tinggi tanaman yang paling tinggi dibandingkan 2 varietas lainnya yaitu mencapai 2, cm dan tinggi varietas Inpari- dan Ciherang adalah, cm dan, cm. Tinggi tanaman padi varietas Inpari- pada tanam sesuai dengan tinggi tanaman padi yang dijelaskan dalam buku Deskripsi Padi oleh Suprihatno et al. (29) yaitu, cm, tetapi tidak pada tanam 2. Tinggi tanaman padi varietas Inpari- jauh lebih tinggi dibandingkan literatur yang didapatkan, hal ini diduga karena perbedaan kondisi lingkungan pertumbuhan, khususnya terhadap suhu dan radiasi Jumlah Anakan Pengukuran jumlah anakan sama seperti pengukuran tinggi tanaman. Jumlah anakan tanaman padi dihitung pada setiap rumpun tanaman padi. Hasil pengukuran perkembangan jumlah anakan padi pada tanam dan tanam 2 dapat dilihat pada Gambar. Jumlah anakan (Batang) 2 W V W V W2V HST W V2 W2V W2V Gambar Pertumbuhan jumlah anakan Tanaman Padi (Ket: V : Inpari-; V2 : Inpari-; V : Ciherang; W : Tanam ; dan W2 :) Gambar menunjukkan bahwa perkembangan jumlah anakan tanaman padi maksimum terjadi saat 4 HST pada tanam dan saat HST pada tanam 2. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi perbedaan panjang periode bagi tanaman padi untuk menghasilkan jumlah anakan maksimum. Perbedaan ini terjadi dikarenakan faktor

4 2 lingkungan, seperti cuaca. Radiasi matahari yang tinggi menyebabkan suhu lingkungan tanaman juga tinggi, sehingga proses fotosintesis netto tanaman dapat terjadi lebih optimal sehingga laju pertumbuhan jumlah anakan dapat terjadi lebih optimal. Salisbury dan Ross (992 dalam Humaerah ) juga mengatakan bahwa intensitas radiasi surya yang tinggi secara langsung meningkatkan laju fotosintesis karena merupakan sumber energi untuk berlangsungya proses tersebut. Akumulasi jumlah anakan yang ditunjukkan pada Gambar menggambarkan bahwa jumlah anakan maksimum varietas Inpari- lebih tinggi dibandingkan varietas lainnya, akan tetapi pada saat fase pematangan terjadi pengurangan jumlah anakan, baik karena diserang hama (tikus) ataupun mati. Perbedaan jumlah anakan ditunjukkan oleh varietasnya, dimana jumlah anakan varietas Inpari- lebih banyak dibandingkan dengan jumlah anakan Ciherang dan diikuti oleh varietas Inpari- baik pada tanam ataupun pada tanam 2. Dari tiga varietas dan 2 kali tanam, varietas yang menunjukkan jumlah anakan maksimum paling banyak adalah varietas Inpari-. Akan tetapi jumlah anakan produktif yang dihasilkan hanya mendekati setengah dari jumlah anakan maksimumnya. Varietas dengan selisih jumlah anakan maksimum dan anakan produktif paling sedikit adalah varietas Inpari-. Jumlah anakan produktif yang dihasilkan Inpari- juga tidak jauh berbeda dibandingkan 2 varietas lainnya. Itu berarti varietas Inpari- lebih efektif untuk meminimalkan penguapan yang terjadi. Tinggi tanaman varietas Inpari- yang diukur adalah yang paling tinggi dibandingkan dua varietas lainnya dan varietas Inpari- lebih pendek dibandingkan dengan varietas Ciherang, akan tetapi jumlah anakan varietas Inpari- pada saat 49 HST adalah yang paling banyak. Varietas Inpari- yang menunjukkan tinggi tanaman yang paling tinggi diantara yang lainnya merupakan varietas yang jumlah anakannya lebih sedikit. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan energi radiasi ataupun konsumsi air pada varietas Inpari- lebih banyak digunakan untuk pertumbuhan tinggi tanaman dan sedikit untuk perkembangan jumlah anakan, sebaliknya pada varietas Inpari-. Varietas dengan jumlah anakan maksimum paling banyak tidak menentukan bahwa varietas tersebut akan memberikan jumlah anakan produktif yang lebih banyak pula. Selain itu, jumlah anakan produktif juga tidak menentukan bahwa semua jumlah anakan produktif dapat hidup hingga panen. Perbandingan jumlah anakan tanaman padi ditunjukkan oleh Gambar dan perbandingan persentase jumlah anakan bermalai dan jumlah anakan berproduksi dari jumlah anakan maksimum ditunjukkan Gambar 9. Anakan Padi (Batang) Persentase jumlah anakan 2 WV WV2 WV W2V W2V2 W2V Perlakuan Anakan Maksimum Anakan Bermalai Anakan Berproduksi Gambar Jumlah anakan padi WV WV2 WV W2V W2V2 W2V Anakan Bermalai Perlakuan Anakan Berproduksi Gambar 9 Persentase jumlah anakan bermalai dan anakan berproduksi dari jumlah anakan maksimum (Ket : V : Inpari-; V2 : Inpari-; V : Ciherang; W : Tanam ; dan W2 : ) Gambar menunjukkan bahwa jumlah anakan maksimum varietas Inpari- adalah yang paling tinggi dibandingkan varietas lainnya baik pada tanam ataupun pada tanam 2, dan pada Gambar 9 menggambarkan bahwa persentase jumlah anakan yang berproduksi pada varietas Inpari- pada tanam dan tanam 2 lebih kecil dibandingkan varietas Inpari- dan Ciherang. Hasil yang berbeda ditunjukkan oleh varietas Inpari- pada tanam, dimana jumlah anakan bermalai adalah yang paling kecil dibandingkan lainnya dan pengurangan jumlah anakan yang bertahan mencapai setengah dari anakan maksimum. Hal ini terjadi karena varietas Inpari- adalah varietas yang berumur genjah dan memiliki masa vegetatif lebih cepat dari

5 Tabel 4 pengaruh perlakuan terhadap komponen hasil Perlakuan Produktivitas (ton/ha) Bobot Gabah Butir Persentase Gabah Isi VW,6b 29,a 9,4a V2W 4,2c,96c 2,b VW,b,c 9,a VW2 6,a 29,6a 92,2a V2W2 6,4a 2,b 9,9a VW2 6,94a,c 9,9a Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji % (uji Duncan), V : Inpari-; V2 : Inpari-; V : Ciherang; W : Tanam ; dan W2 : varietas lainnya. Masa vegetatif yang lebih cepat menyebabkan Inpari- diserang hama tikus lebih banyak karena tanamannya menjadi lebih wangi dibandingkan varietas lainnya. 4.. Komponen Hasil Rekapitulasi sidik ragam peubah komponen hasil dapat dilihat pada Tabel 4. Berdasarkan uji F menunjukkan perlakuan berpengaruh nyata terhadap produktivitas tanaman, bobot butir, dan persentase gabah isi. Rata-rata hasil dari setiap perlakuan (varietas dan waktu tanam) yang ditampilkan pada Tabel 4 menunjukkan bahwa produktivitas pada waktu tanam 2 memiliki hasil yang lebih baik dibandingkan waktu tanam, dan dari setiap varietas menunjukkan bahwa varietas Ciherang memberikan produktivitas yang paling banyak dari pada dua varietas lainnya pada kedua waktu tanam. Hal ini diduga karena faktor genetika varietas tanaman tersebut. Hasil penelitian Suprihatno et al. (29) juga menunjukkan hasil bahwa varietas Ciherang memiliki produktivitas yang lebih besar. Bila dilihat dari bobot gabah butir, bobot gabah butir varietas Inpari- menunjukkan angka yang lebih banyak dibandingkan varietas lainnya, hal yang sama juga ditunjukkan oleh persentase gabah isi, oleh sebab itu varietas Inpari- memiliki bobot butir yang paling tinggi dibandingkan kedua varietas lainnya. Hal ini diduga karena faktor genetik varietas Inpari- merupakan varietas yang tahan terhadap kekeringan sehingga memiliki hasil yang lebih baik. Yoshida (9 dalam Suhartatik et al. ) mengatakan semakin tinggi radiasi surya pada fase reproduktif dapat meningkatkan jumlah gabah. Radiasi surya menurut Best (962 dalam Bey 99) terhadap pertumbuhan tanaman sangat berpengaruh terhadap proses fotosintesis dan proses pembentukan tanaman, seperti batang, daun, dll. Suhu udara mempengaruhi proses fotosinetesis maupun respirasi tanaman. Ketidak-seimbangan antara kedua proses tersebut dapat mengurangi bobot gabah. Suhu udara tinggi pada stadia vegetatif diperlukan untuk merangsang pembentukan anakan, tetapi dari stadia pengisian gabah sampai panen diperlukan udara yang sejuk. Suhu yang tinggi mengakibatkan respirasi yang terjadi juga lebih cepat. Sutcliffe (99 dalam Polii 2) berpendapat bahwa perubahan suhu lingkungan dapat menyebabkan perubahan suhu tanaman sehingga dapat mempengaruhi aktifitas metabolisme tanaman. 4.4 Cuaca Dan Pertumbuhan Tanaman Pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, terutama cuaca. Unsur cuaca yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman adalah intensitas radiasi matahari, kelembaban relatif, dan suhu udara Intensitas Radiasi Radiasi surya merupakan sumber energi utama untuk pertumbuhan tanaman dan sangat mempengaruhi suhu dan evapotranspirasi (Gupta dan O toole 96). Akumulasi radiasi mingguan dengan laju pertumbuhan tanaman (setiap pengukuran) ditunjukkan pada Gambar 9. Pada umumnya laju pertumbuhan tanaman akan meningkat dengan makin tinggi intensitas radiasi surya dalam kisaran tertentu. Pada tanam akumulasi radiasi yang terukur lebih besar dibandingkan tanam 2 yang terlihat pada HST di atas 4. Intensitas radiasi pada tanam sebesar, MJ/m 2 /hari dan 9, MJ/m 2 /hari pada tanam 2, tetapi besar intensitas radiasi perminggu bervariasi yang ditunjukkan pada Gambar.

6 4 4 2 Tanam Inpari- Inpari- Ciherang Batas Fase Int. Radiasi Inpari- Inpari- Ciherang Batas Fase Int. Radiasi Int. Radiasi (MJ/m 2 ) Inpari- Inpari- Ciherang Batas Fase Suhu Gambar Hubungan intensitas radiasi dengan tinggi dan jumlah anakan tanaman pada dua waktu tanam Pertambahan Jumlah Anakan (Batang) Tanam Inpari- Inpari- Ciherang Batas Fase Int. Radiasi Int. Radiasi (MJ/m 2 ) Int. Radiasi (MJ/m 2 ) Perubahan penerimaan radiasi surya dari minggu ke minggu tidak memperlihatkan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman dari minggu ke minggu, tetapi perbedaan penerimaan radiasi antara masa tanam dan masa tanam 2 memperlihatkan pengaruh pada perbedaan akumulasi tinggi tanaman setelah minggu ke-. Intensitas radiasi yang terukur pada tanam dan tanam 2 tidak terlihat pengaruhnya terhadap pertambahan jumlah anakan padi. Kondisi pada saat penelitian belum cukup membuktikan bahwa intensitas radiasi mempengaruhi jumlah anakan tanaman yang lebih cepat Suhu Suhu berpengaruh pada laju proses-proses metabolisme. Pengaruh suhu juga terlihat pada perkembangan, pembentukan daun, inisiasi organ produktif, pematangan buah dan umur tanaman (Bey 99). Pengaruh suhu terhadap pertumbuhan tinggi dan jumlah anakan tanaman padi ditunjukkan pada Gambar. Gambar menggambarkan ratarata suhu udara selama selang waktu pengukuran yang diurutkan dari suhu terendah yang terukur pada setiap fase pertumbuhan. Peningkatan suhu akan mempercepat proses biokimia fotosintesa dan perkembangan tanaman dan juga mempercepat proses respirasi. Reddy et al. (999 dalam Esparza et al. 2) mengatakan bahwa suhu merupakan faktor pembatas dalam pertumbuhan tanaman serta menentukan panjang fase pertumbuhan dan akan dibahas selanjutnya dalam sub-bab Heat Unit. Suhu yang tinggi dapat menghambat pertumbuhan tanaman, karena laju respirasi yang terjadi menjadi lebih besar. Rata-rata suhu pada setiap minggu pengamatan tidak jauh berbeda. Suhu yang lebih besar mempengaruhi pertumbuhan tinggi tanaman menjadi lebih cepat. Hal ini karena suhu yang tinggi dapat mempercepat proses fotosintesis tanaman lebih dari respirasi tanaman, sehingga metabolisme tanaman padi dapat terjadi lebih cepat. Humaerah () juga mengatakan bahwa semua fungsi tanaman sangat tergantung pada proses fotosintesis, bila proses tersebut berlangsung optimal maka, proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman akan berlangsung optimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa besar suhu udara yang terukur selama tanam dan tanam 2 tidak menunjukkan adanya pengaruh nyata terhadap pertambahan tinggi tanaman dan jumlah anakan tanaman padi. Hal ini dikarenakan pada dua periode tanam suhu tidak berbeda nyata dan pengaruh terhadap kecepatan pertambahan tinggi tanaman tidak terlihat. Kecepatan pertumbuhan tinggi dan jumlah anakan tanaman padi lebih dipengaruhi oleh fase pertumbuhan tanaman tersebut.

7 4 2 Tanam Inpari- Inpari- Ciherang Batas Fase Suhu Pertambahan Jumlah Anakan (Batang) Tanam Inpari- Inpari- Ciherang Batas Fase Suhu Inpari- Inpari- Ciherang Batas Fase Suhu 2 Gambar hubungan suhu dengan tinggi dan jumlah anakan padi pada dua waktu tanam Pertambahan Jumlah Anakan (Batang) Inpari- Inpari- Ciherang Batas Fase Suhu 4.4. Kelembaban Relatif Kelembaban relatif (RH) tidak banyak berpengaruh pada pertumbuhan tanaman. Kelembaban relatif berpengaruh pada laju transpirasi. Las (92) mengatakan bahwa kelembaban udara juga dapat berpengaruh terhadap proses fotosintesis dan respirasi tanaman. Proses fotosintesis dapat berlangsung optimal pada kisaran kelembaban relatif -9%. Secara langsung kelembaban berperan dalam proses pembungaan, khususnya proses persarian. Kelembaban yang terlalu rendah dapat menyebabkan kekeringan pada tanaman akibat transpirasi yang tinggi, sedangkan apabila terlalu tinggi dapat mengganggu persarian akibat menggumpalnya tepung sari (Tanaka 96 dalam Suhartatik et al. ). Gambar 2 menunjukkan hubungan kelembaban relatif pada tinggi tanaman padi. Besar nilai RH berada pada kisaran RH optimum menurut Las (92) untuk proses fotosintesis dan respirasi tanaman. Nilai RH pada tanam 2 lebih tinggi dibandingkan tanam pada saat tanaman memasuki pembungaan hingga panen, yaitu di atas 49 HST. Bila dilihat dari hasil panen padi, hasil produksi padi lebih baik pada saat tanam 2. Hal ini menunjukkan bahwa produksi padi akan optimal dengan RH sekitar -% pada saat pembungaan. Tinggi Tanaman (cm) 4 2 Tanam Inpari- Inpari- Ciherang RH RH (%) Gambar 2 Hubungan kelembaban relatif dengan tinggi tanaman padi pada dua waktu tanam Tinggi Tanaman (cm) Inpari- Inpari- Ciherang RH RH (%)

8 6 Tabel. Konsumsi air tanaman padi pada setiap fase pertumbuhan pada 2 waktu tanam. Fase Pertumbuhan WV WV2 WV W2V W2V2 W2V Semai-tanam Tanam-Primordia Primordia Pembungaan Pembungaan Panen Jumlah Konsumsi Air Tanaman Padi Konsumsi air tanaman merupakan jumlah air yang digunakan tanaman pada saat pertumbuhan tanaman terjadi. Konsumsi air tanaman berbeda pada setiap fase pertumbuhan tanaman. Pendugaan besar konsumsi air tanaman pada setiap fase pertumbuhan tanaman padi diduga dengan menghitung nilai evapotranspirasi potensial (ETp) di lokasi penelitian, kemudian dihitung nilai Evapotranspirasi tanaman (ETc). Evapotranspirasi potensial (ETp) merupakan kehilangan air yang terjadi untuk memenuhi kebutuhan tanaman yang terjadi pada saat kondisi air tanah jenuh (Xu and Chen ). Besar nilai ETp pada penelitian ini diduga dengan menggunakan persamaan empiris Penman. Setelah didapatkan nilai ETp, nilai ETc tanaman pada umur tertentu dihitung dengan menggunakan nilai koefisien tanaman (Kc) berdasarkan ketentuan FAO. Akumulasi nilai ETc berdasarkan hasil perhitungan digambarkan pada Tabel. Tabel menunjukkan akumulasi evapotranspirasi tanaman pada setiap fase pertumbuhan tanaman. Dapat terlihat bahwa besarnya akumulasi evapotranspirasi potensial pada tanam dan tanam 2 tidak jauh berbeda. Jumlah konsumsi air tanaman dari semai hingga panen pada varietas yang digunakan lebih besar pada saat tanam 2 dibandingkan pada saat tanam (Tabel ). Hal ini terjadi karena pada saat tanam 2 selain intensitas radiasi yang lebih tinggi, kecepatan angin yang terjadi juga lebih besar. Semakin tinggi kecepatan angin maka besar evapotranspirasi yang terjadi juga semakin tinggi, begitu pula pada radiasi, semakin tinggi intensitas radiasi pada suatu lingkungan akan menyebabkan pemanasan massa udara yang lebih tinggi sehingga penguapan yang terjadi juga akan tinggi. Rata-rata konsumsi air tanaman saat semai hingga tanam pada varietas Inpari-, Inpari- dan Ciherang adalah sama yaitu 9 mm. Pada saat tanam hingga primordia konsumsi air tanaman varietas Ciherang ( mm) tidak berbeda nyata dengan varietas Inpari- (4 mm) dan varietas Inpari- adalah yang paling kecil yaitu sebesar mm. Konsumsi air tanaman saat primordia hingga masuk pembungaan pada varietas Ciherang lebih besar dibandingkan dua varietas lainnya yaitu 2 mm, sedangkan varietas Inpari- adalah yang paling kecil yaitu mm, pada varietas Inpari- sebesar mm. Berbeda dari fase pertumbuhan sebelumnya, konsumsi air tanaman Inpari- saat pembungaan sampai panen lebih besar dari varietas lainnya yaitu mm, sedangkan varietas Inpari- sebesar mm dan varietas Ciherang mm. Varietas Inpari- membutuhkan lebih banyak air saat pembungaan hingga panen, varietas Inpari- pada saat tanam hingga primordia dan pada varietas Ciherang lebih besar pada saat tanam hingga pembungaan. Rata-rata hasil produksi padi varietas Inpari-, Inpari- dan Ciherang masing-masing sebesar,9 ton/hektar,, ton/hektar dan 6, ton/hektar. Tabel 6. Akumulasi Heat Unit pada setiap fase pertumbuhan padi Fase Pertumbuhan WV WV2 WV W2V W2V2 W2V Fase Vegetatif a 6b a 6a b b Fase Generatif c 2d 2b 29c 9d 2a Fase Pemasakan 292a 29a c 6d 6b 6e Jumlah a 969d b 99c 92d b Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji % (uji Duncan), V : Inpari-; V2 : Inpari-; V : Ciherang; W : Tanam ; dan W2 :.

Tabel 1. Deskripsi tanaman padi varietas Inpari-10, Inpari-13 dan Ciherang (Suprihatno et al. 2009).

Tabel 1. Deskripsi tanaman padi varietas Inpari-10, Inpari-13 dan Ciherang (Suprihatno et al. 2009). 2 Tabel 1. Deskripsi tanaman padi varietas Inpari-10, Inpari-13 dan Ciherang (Suprihatno et al. 2009). Parameter Varietas Inpari-10 Inpari-13 Ciherang Asal persilangan S487b - 5/ OM606.IR18348 IR18349

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lahan penelitian yang digunakan merupakan lahan yang selalu digunakan untuk pertanaman tanaman padi. Lahan penelitian dibagi menjadi tiga ulangan berdasarkan ketersediaan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan 10 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan Babakan Sawah Baru, Darmaga Bogor pada bulan Januari 2009 hingga Mei 2009. Curah hujan rata-rata dari bulan Januari

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode Penelitian BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2011 Maret 2012. Persemaian dilakukan di rumah kaca Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian,

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian yang disajikan dalam bab ini antara lain pengamatan selintas dan pengamatan Utama 4.1. Pengamatan Selintas Pengamatan selintas merupakan pengamatan yang hasilnya

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. vegetasinya termasuk rumput-rumputan, berakar serabut, batang monokotil, daun

II. TINJAUAN PUSTAKA. vegetasinya termasuk rumput-rumputan, berakar serabut, batang monokotil, daun II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Padi Tanaman padi merupakan tanaman tropis, secara morfologi bentuk vegetasinya termasuk rumput-rumputan, berakar serabut, batang monokotil, daun berbentuk pita dan berbunga

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Percobaan ini dilakukan mulai bulan Oktober 2007 hingga Februari 2008. Selama berlangsungnya percobaan, curah hujan berkisar antara 236 mm sampai dengan 377 mm.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 12 HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Ragam Analisis ragam dilakukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap karakter-karakter yang diamati. Hasil rekapitulasi analisis ragam (Tabel 2), menunjukkan adanya

Lebih terperinci

Hasil dan pembahasan. A. Pertumbuhan tanaman. maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan

Hasil dan pembahasan. A. Pertumbuhan tanaman. maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan IV. Hasil dan pembahasan A. Pertumbuhan tanaman 1. Tinggi Tanaman (cm) Ukuran tanaman yang sering diamati baik sebagai indikator pertumbuhan maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh

Lebih terperinci

PENGARUH KONDISI CUACA PADA KERAGAAN TIGA VARIETAS PADI PADA MUSIM TANAM II DI INDRAMAYU NIKE ARYA SARI

PENGARUH KONDISI CUACA PADA KERAGAAN TIGA VARIETAS PADI PADA MUSIM TANAM II DI INDRAMAYU NIKE ARYA SARI PENGARUH KONDISI CUACA PADA KERAGAAN TIGA VARIETAS PADI PADA MUSIM TANAM II DI INDRAMAYU NIKE ARYA SARI DEPARTEMEN GEOFISIKA DAN METEOROLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 7 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi Geografis Kabupaten Karawang Wilayah Kabupaten Karawang secara geografis terletak antara 107 02-107 40 BT dan 5 56-6 34 LS, termasuk daerah yang relatif rendah

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 21 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Intensitas Serangan Hama Penggerek Batang Padi (HPBP) Hasil penelitian tingkat kerusakan oleh serangan hama penggerek batang pada tanaman padi sawah varietas inpari 13

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Perbandingan Evapotranspirasi Tanaman Acuan Persyaratan air tanaman bervariasi selama masa pertumbuhan tanaman, terutama variasi tanaman dan iklim yang terkait dalam metode

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Stabilitas Galur Sidik ragam dilakukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap karakter pengamatan. Perlakuan galur pada percobaan ini memberikan hasil berbeda nyata pada taraf

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Percobaan studi populasi tanaman terhadap produktivitas dilakukan pada dua kali musim tanam, karena keterbatasan lahan. Pada musim pertama dilakukan penanaman bayam

Lebih terperinci

Evapotranspirasi. 1. Batasan Evapotranspirasi 2. Konsep Evapotranspirasi Potensial 3. Perhitungan atau Pendugaan Evapotranspirasi

Evapotranspirasi. 1. Batasan Evapotranspirasi 2. Konsep Evapotranspirasi Potensial 3. Perhitungan atau Pendugaan Evapotranspirasi Evapotranspirasi 1. Batasan Evapotranspirasi 2. Konsep Evapotranspirasi Potensial 3. Perhitungan atau Pendugaan Evapotranspirasi Departemen Geofisika dan Meteotologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. B. Bahan dan Alat Penelitian

TATA CARA PENELITIN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. B. Bahan dan Alat Penelitian III. TATA CARA PENELITIN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilakukan di areal perkebunan kelapa sawit rakyat di Kecamatan Kualuh Hilir Kabupaten Labuhanbatu Utara, Provinsi Sumatera Utara.

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Morfologi dan Fisiologi Tanaman Padi

TINJAUAN PUSTAKA Morfologi dan Fisiologi Tanaman Padi 3 TINJAUAN PUSTAKA Morfologi dan Fisiologi Tanaman Padi Pertumbuhan tanaman padi dibagi kedalam tiga fase: (1) vegetatif (awal pertumbuhan sampai pembentukan bakal malai/primordial); (2) reproduktif (primordial

Lebih terperinci

Jumlah Hari Hujan Gerimis Gerimis-deras Total September. Rata-rata Suhu ( o C) Oktober '13 23,79 13,25 18, November

Jumlah Hari Hujan Gerimis Gerimis-deras Total September. Rata-rata Suhu ( o C) Oktober '13 23,79 13,25 18, November BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian yang disajikan dalam bab ini adalah pengamatan selintas dan utama. 4.1. Pengamatan Selintas Pengamatan selintas merupakan pengamatan yang hasilnya tidak diuji

Lebih terperinci

BAHAN AJAR : PERHITUNGAN KEBUTUHAN TANAMAN

BAHAN AJAR : PERHITUNGAN KEBUTUHAN TANAMAN BAHAN AJAR : PERHITUNGAN KEBUTUHAN TANAMAN Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mengikuti diklat ini peseta diharapkan mampu Menjelaskan tentang kebutuhan air tanaman A. Deskripsi Singkat Kebutuhan air tanaman

Lebih terperinci

Gambar 3 Sebaran curah hujan rata-rata tahunan Provinsi Jawa Barat.

Gambar 3 Sebaran curah hujan rata-rata tahunan Provinsi Jawa Barat. 11 yang akan datang, yang cenderung mengalami perubahan dilakukan dengan memanfaatkan keluaran model iklim. Hasil antara kondisi iklim saat ini dan yang akan datang dilakukan analisis dan kemudian dilakukan

Lebih terperinci

PEMBAHASAN UMUM Hubungan Karakter Morfologi dan Fisiologi dengan Hasil Padi Varietas Unggul

PEMBAHASAN UMUM Hubungan Karakter Morfologi dan Fisiologi dengan Hasil Padi Varietas Unggul 147 PEMBAHASAN UMUM Hubungan Karakter Morfologi dan Fisiologi dengan Hasil Padi Varietas Unggul Karakter morfologi tanaman pada varietas unggul dicirikan tipe tanaman yang baik. Hasil penelitian menunjukkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max [L.] Merr.) merupakan tanaman pangan terpenting ketiga

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max [L.] Merr.) merupakan tanaman pangan terpenting ketiga 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kedelai (Glycine max [L.] Merr.) merupakan tanaman pangan terpenting ketiga setelah padi dan jagung. Kebutuhan kedelai terus meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Tinggi Tanaman IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengamatan yang telah diperoleh terhadap tinggi tanaman cabai setelah dilakukan analisis sidik ragam (lampiran 7.a) menunjukkan bahwa pemberian pupuk

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Umum Penelitian dilakukan pada bulan April sampai dengan Juli 2013. Pada awal penanaman sudah memasuki musim penghujan sehingga mendukung pertumbuhan tanaman. Penyiraman

Lebih terperinci

PENGAMATAN PERCOBAAN BAHAN ORGANIK TERHADAP TANAMAN PADI DI RUMAH KACA

PENGAMATAN PERCOBAAN BAHAN ORGANIK TERHADAP TANAMAN PADI DI RUMAH KACA PENGAMATAN PERCOBAAN BAHAN ORGANIK TERHADAP TANAMAN PADI DI RUMAH KACA HUSIN KADERI Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Banjarbaru Jl. Kebun Karet, Loktabat Banjarbaru RINGKASAN Percobaan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Laju Dekomposisi Jerami Padi pada Plot dengan Jarak Pematang 4 meter dan 8 meter Laju dekomposisi jerami padi pada plot dengan jarak pematang 4 m dan 8 m disajikan pada Tabel

Lebih terperinci

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian yang disajikan dalam bab ini adalah pengamatan selintas dan pengamatan utama. 1.1. Pengamatan Selintas Pengamatan selintas merupakan pengamatan yang hasilnya

Lebih terperinci

HASIL. Gambar 4 Fluks CH 4 dari beberapa perlakuan selama satu musim tanam pada sawah lahan gambut

HASIL. Gambar 4 Fluks CH 4 dari beberapa perlakuan selama satu musim tanam pada sawah lahan gambut 4 perbedaan antar perlakuan digunakan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT). Analisis regresi digunakan untuk melihat hubungan antara parameter yang diamati dengan emisi CH 4. HASIL a. Fluks CH 4 selama

Lebih terperinci

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. cendawan MVA, sterilisasi tanah, penanaman tanaman kedelai varietas Detam-1.

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. cendawan MVA, sterilisasi tanah, penanaman tanaman kedelai varietas Detam-1. IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahapan, yakni perbanyakan inokulum cendawan MVA, sterilisasi tanah, penanaman tanaman kedelai varietas Detam-1. Perbanyakan inokulum

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil. Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil. Kondisi Umum 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Tanaman padi saat berumur 1-3 MST diserang oleh hama keong mas (Pomacea caanaliculata). Hama ini menyerang dengan memakan bagian batang dan daun tanaman yang

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian yang ditampilkan pada bab ini terdiri dari hasil pengamatan selintas dan pengamatan utama. Pengamatan selintas terdiri dari curah hujan, suhu udara, serangan

Lebih terperinci

Air dalam atmosfer hanya merupakan sebagian kecil air yang ada di bumi (0.001%) dari seluruh air.

Air dalam atmosfer hanya merupakan sebagian kecil air yang ada di bumi (0.001%) dari seluruh air. KELEMBABAN UDARA 1 Menyatakan Kandungan uap air di udara. Kelembapan adalah konsentrasi uap air di udara. Angka konsentasi ini dapat diekspresikan dalam kelembapan absolut, kelembapan spesifik atau kelembapan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. 1. Pertumbuhan Tanaman 4. 1. 1. Tinggi Tanaman Pengaruh tiap perlakuan terhadap tinggi tanaman menghasilkan perbedaan yang nyata sejak 2 MST. Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN 49 V. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi Iklim Mikro di Dalam Rumah Tanaman Kondisi suhu udara di dalam rumah tanaman selama penelitian berlangsung disajikan pada Gambar 12. 40 36 Suhu ( o C) 32 28 24 20

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1Tinggi Tanaman Tinggi tanaman caisin dilakukan dalam 5 kali pengamatan, yaitu (2 MST, 3 MST, 4 MST, 5 MST, dan 6 MST). Berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukkan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. kompos limbah tembakau memberikan pengaruh nyata terhadap berat buah per

HASIL DAN PEMBAHASAN. kompos limbah tembakau memberikan pengaruh nyata terhadap berat buah per IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa kombinasi pupuk Urea dengan kompos limbah tembakau memberikan pengaruh nyata terhadap berat buah per tanaman, jumlah buah per tanaman dan diameter

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 35 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Indeks Panen dan Produksi Tanaman Indeks panen menunjukkan distribusi bahan kering dalam tanaman yang menunjukkan perimbangan bobot bahan kering yang bernilai ekonomis dengan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Objek yang digunakan pada penelitian adalah tanaman bangun-bangun (Coleus amboinicus, Lour), tanaman ini biasa tumbuh di bawah pepohonan dengan intensitas cahaya yang

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Analisis Perubahan Rasio Hutan Sebelum membahas hasil simulasi model REMO, dilakukan analisis perubahan rasio hutan pada masing-masing simulasi yang dibuat. Dalam model

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. jagung adalah kedelai. Kedelai juga merupakan tanaman palawija yang memiliki

I. PENDAHULUAN. jagung adalah kedelai. Kedelai juga merupakan tanaman palawija yang memiliki I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Satu dari komoditas tanaman pangan yang penting di Indonesia selain padi dan jagung adalah kedelai. Kedelai juga merupakan tanaman palawija yang memiliki arti penting

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. terdiri dari 3 golongan ecogeographic yaitu Indica, Japonica, dan Javanica.

TINJAUAN PUSTAKA. terdiri dari 3 golongan ecogeographic yaitu Indica, Japonica, dan Javanica. 6 TINJAUAN PUSTAKA Padi Sawah Padi (Oryza sativa L.) berasal dari tumbuh-tumbuhan golongan rumput-rumputan (Gramineae) yang ditandai dengan batang yang tersusun dari beberapa ruas. Tumbuhan padi bersifat

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Analisis Kebutuhan Air Irigasi Kebutuhan Air untuk Pengolahan Tanah

TINJAUAN PUSTAKA Analisis Kebutuhan Air Irigasi Kebutuhan Air untuk Pengolahan Tanah II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Analisis Kebutuhan Air Irigasi Kebutuhan air tanaman adalah banyaknya air yang dibutuhkan tanaman untuk membentuk jaringan tanaman, diuapkan, perkolasi dan pengolahan tanah. Kebutuhan

Lebih terperinci

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 40 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN Letak Geografis dan Administrasi Lokasi penelitian berada di Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Sawangan, Kota Depok seluas 462 ha. Secara geografis daerah penelitian terletak

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Sejauh ini, budidaya gandum di Indonesia terbatasi oleh musim hujan karena tanaman tersebut tidak tahan terhadap genangan air (Simanjuntak, 2002). Untuk mengetahui genotip gandum

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Tinggi Tanaman (cm) ciherang pada minggu ke-10 menunjukkan bahwa umur kelapa sawit memberikan

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Tinggi Tanaman (cm) ciherang pada minggu ke-10 menunjukkan bahwa umur kelapa sawit memberikan IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Tinggi Tanaman (cm) Tinggi tanaman diamati dan diukur untuk mengetahui pertumbuhan vegetatif pada suatu tanaman. Hasil sidik ragam terhadap tinggi tanaman padi ciherang pada

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. ternyata dari tahun ke tahun kemampuannya tidak sama. Rata-rata

PENDAHULUAN. ternyata dari tahun ke tahun kemampuannya tidak sama. Rata-rata PENDAHULUAN Latar Belakang Tanaman kedelai merupakan tanaman hari pendek dan memerlukan intensitas cahaya yang tinggi. Penurunan radiasi matahari selama 5 hari atau pada stadium pertumbuhan akan mempengaruhi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1.1. Kondisi Wilayah Kabupaten Gorontalo Kabupaten Gorontalo terletak antara 0 0 30 0 0 54 Lintang Utara dan 122 0 07 123 0 44 Bujur Timur. Pada tahun 2010 kabupaten ini terbagi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar 13 HASIL DAN PEMBAHASAN Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar Hasil Uji t antara Kontrol dengan Tingkat Kematangan Buah Uji t digunakan untuk membandingkan

Lebih terperinci

INFORMASI IKLIM UNTUK PERTANIAN. Rommy Andhika Laksono

INFORMASI IKLIM UNTUK PERTANIAN. Rommy Andhika Laksono INFORMASI IKLIM UNTUK PERTANIAN Rommy Andhika Laksono Iklim merupakan komponen ekosistem dan faktor produksi yang sangat dinamis dan sulit dikendalikan. iklim dan cuaca sangat sulit dimodifikasi atau dikendalikan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Perlakuan kadar air media (KAM) dan aplikasi paclobutrazol dimulai pada saat tanaman berumur 4 bulan (Gambar 1a) hingga tanaman berumur 6 bulan. Penelitian yang dilakukan

Lebih terperinci

PETUNJUK LAPANGAN (PETLAP) PENGAIRAN DAN PEMELIHARAAN SALURAN PENGAIRAN

PETUNJUK LAPANGAN (PETLAP) PENGAIRAN DAN PEMELIHARAAN SALURAN PENGAIRAN PETUNJUK LAPANGAN (PETLAP) PENGAIRAN DAN PEMELIHARAAN SALURAN PENGAIRAN BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN PUSAT PELATIHAN PERTANIAN 2015 39 PETUNJUK LAPANGAN (PETLAP) PENGAIRAN DAN PEMELIHARAAN

Lebih terperinci

gabah bernas. Ketinggian tempat berkorelasi negatif dengan karakter jumlah gabah bernas. Karakter panjang daun bendera sangat dipengaruhi oleh

gabah bernas. Ketinggian tempat berkorelasi negatif dengan karakter jumlah gabah bernas. Karakter panjang daun bendera sangat dipengaruhi oleh 81 PEMBAHASAN UMUM Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan selama cekaman suhu rendah diantaranya; (a) faktor fisiologi, faktor lingkungan sebelum dan sesudah fase penting pertumbuhan dapat mempengaruhi

Lebih terperinci

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida,

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida, PEMBAHASAN PT National Sago Prima saat ini merupakan perusahaan satu-satunya yang bergerak dalam bidang pengusahaan perkebunan sagu di Indonesia. Pengusahaan sagu masih berada dibawah dinas kehutanan karena

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat 10 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan dilakukan di lahan sawah Desa Situgede, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor dengan jenis tanah latosol. Lokasi sawah berada pada ketinggian tempat 230 meter

Lebih terperinci

PENGAIRAN DAN PEMELIHARAAN SALURAN PENGAIRAN TANAMAN JAGUNG

PENGAIRAN DAN PEMELIHARAAN SALURAN PENGAIRAN TANAMAN JAGUNG A. DEFINISI PENGAIRAN DAN PEMELIHARAAN SALURAN PENGAIRAN TANAMAN JAGUNG Pengairan dilakukan untuk membuat keadaan kandungan air dalam tanah pada kapasitas lapang, yaitu tetap lembab tetapi tidak becek.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Suhu min. Suhu rata-rata

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Suhu min. Suhu rata-rata BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengamatan Selintas 4.1.1. Keadaan Cuaca Lingkungan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman sebagai faktor eksternal dan faktor internalnya yaitu genetika

Lebih terperinci

PENGARUH KETERSEDIAAN AIR PADA MUSIM TANAM II TERHADAP TANAMAN PADI VARIETAS CIHERANG, INPARI 10, DAN INPARI 13 KHOIRUL IWAN

PENGARUH KETERSEDIAAN AIR PADA MUSIM TANAM II TERHADAP TANAMAN PADI VARIETAS CIHERANG, INPARI 10, DAN INPARI 13 KHOIRUL IWAN PENGARUH KETERSEDIAAN AIR PADA MUSIM TANAM II TERHADAP TANAMAN PADI VARIETAS CIHERANG, INPARI 10, DAN INPARI 13 KHOIRUL IWAN DEPARTEMEN GEOFISIKA DAN METEOROLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN

Lebih terperinci

Ciparay Kabupaten Bandung. Ketinggian tempat ±600 m diatas permukaan laut. dengan jenis tanah Inceptisol (Lampiran 1) dan tipe curah hujan D 3 menurut

Ciparay Kabupaten Bandung. Ketinggian tempat ±600 m diatas permukaan laut. dengan jenis tanah Inceptisol (Lampiran 1) dan tipe curah hujan D 3 menurut III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Percobaan Penelitian dilaksanakan di lahan sawah Sanggar Penelitian Latihan dan Pengembangan Pertanian (SPLPP) Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran Unit

Lebih terperinci

PENGAIRAN TANAMAN JAGUNG

PENGAIRAN TANAMAN JAGUNG PELATIHAN TEKNIS BUDIDAYA JAGUNG BAGI PENYULUH PERTANIAN DAN BABINSA PENGAIRAN TANAMAN JAGUNG BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN PUSAT PELATIHAN PERTANIAN 2015 1 PENGAIRAN Tujuan peembelajaran

Lebih terperinci

1. Tekanan Udara 2. Radiasi Surya 3. Lama Penyinaran 4. Suhu Udara 5. Kelembaban Udara 6. Curah Hujan 7. Angin 8. Evapotranspirasi Potensial

1. Tekanan Udara 2. Radiasi Surya 3. Lama Penyinaran 4. Suhu Udara 5. Kelembaban Udara 6. Curah Hujan 7. Angin 8. Evapotranspirasi Potensial Unsur-unsur Iklim 1. Tekanan Udara 2. Radiasi Surya 3. Lama Penyinaran - 4. Suhu Udara 5. Kelembaban Udara 6. Curah Hujan 7. Angin 8. Evapotranspirasi Potensial Puncak Atmosfer ( 100 km ) Tekanan Udara

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Data penelitian yang diperoleh pada penelitian ini berasal dari beberapa parameter pertumbuhan anakan meranti merah yang diukur selama 3 bulan. Parameter yang diukur

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian 10 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Percobaan ini dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB Cikarawang, Dramaga, Bogor. Sejarah lahan sebelumnya digunakan untuk budidaya padi konvensional, dilanjutkan dua musim

Lebih terperinci

I. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian telah dilaksanakan dengan percobaan rumah kaca pada bulan

I. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian telah dilaksanakan dengan percobaan rumah kaca pada bulan I. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian telah dilaksanakan dengan percobaan rumah kaca pada bulan Februari-Juli 2016. Percobaan dilakukan di Rumah Kaca dan laboratorium Kimia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pertanian merupakan salah satu sektor penting dalam ekonomi Indonesia. Potensi

BAB I PENDAHULUAN. Pertanian merupakan salah satu sektor penting dalam ekonomi Indonesia. Potensi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertanian merupakan salah satu sektor penting dalam ekonomi Indonesia. Potensi pertanian tersebut sangat besar, namun masih diperlukan penanganan yang baik agar kebutuhan

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian dilakukan secara bertahap dan tahapan pelaksanaan selengkapnya disajikan pada rancangan penelitian (Gambar 1). A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 25 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Fauna Tanah 4.1.1. Populasi Total Fauna Tanah Secara umum populasi total fauna tanah yaitu mesofauna dan makrofauna tanah pada petak dengan jarak pematang sempit (4 m)

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai Desember 2009, yang merupakan bulan basah. Berdasarkan data iklim dari Badan Meteorologi dan Geofisika, Dramaga,

Lebih terperinci

JURUSAN TEKNIK & MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN

JURUSAN TEKNIK & MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN Kompetensi dasar Mahasiswa mampu melakukan analisis evapotranspirasi pengertian dan manfaat faktor 2 yang mempengaruhi evapotranspirasi pengukuran evapotranspirasi pendugaan evapotranspirasi JURUSAN TEKNIK

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Pertumbuhan tanaman padi dipengaruhi oleh kondisi lingkungan makro antaralain

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Pertumbuhan tanaman padi dipengaruhi oleh kondisi lingkungan makro antaralain IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kondisi Umum Pertanaman Pertumbuhan tanaman padi dipengaruhi oleh kondisi lingkungan makro antaralain : curah hujan, intensitas sinar matahari, suhu, dan kesuburan tanah. Curah

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat. Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat. Metode Penelitian BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilakukan di lahan sawah Desa Parakan, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor dan di Laboratorium Ekofisiologi Tanaman Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas

Lebih terperinci

PENGARUH JARAK TANAM TERHADAP HASIL PADI VARIETAS UNGGUL

PENGARUH JARAK TANAM TERHADAP HASIL PADI VARIETAS UNGGUL 99 PENGARUH JARAK TANAM TERHADAP HASIL PADI VARIETAS UNGGUL Effect of Plant Spacing on Yield of Various Types of Rice Cultivars Abstrak Penelitian yang bertujuan mempelajari pengaruh jarak tanam terhadap

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Kajian Teoritis 2.1.1. Sawah Tadah Hujan Lahan sawah tadah hujan merupakan lahan sawah yang dalam setahunnya minimal ditanami satu kali tanaman padi dengan pengairannya sangat

Lebih terperinci

I. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Vegetatif. Hasil sidik ragam variabel pertumbuhan vegetatif tanaman yang meliputi tinggi

I. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Vegetatif. Hasil sidik ragam variabel pertumbuhan vegetatif tanaman yang meliputi tinggi I. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Vegetatif Hasil sidik ragam variabel pertumbuhan vegetatif tanaman yang meliputi tinggi tanaman dan jumlah anakan menunjukkan tidak ada beda nyata antar

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. I. Uji Daya Hasil Galur-galur Padi Gogo Hasil Kultur Antera.

BAHAN DAN METODE. I. Uji Daya Hasil Galur-galur Padi Gogo Hasil Kultur Antera. 11 BAHAN DAN METODE I. Uji Daya Hasil Galur-galur Padi Gogo Hasil Kultur Antera. Waktu dan Tempat Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB Babakan, Kecamatan Darmaga, Bogor Jawa Barat. Kebun terletak

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Panjang Tongkol Berkelobot Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan umur panen memberikan pengaruh yang nyata terhadap panjang tongkol berkelobot. Berikut

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penanaman dilakukan pada bulan Februari 2011. Tanaman melon selama penelitian secara umum tumbuh dengan baik dan tidak ada mengalami kematian sampai dengan akhir penelitian

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL

BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL 4.1. Analisis Curah Hujan 4.1.1. Ketersediaan Data Curah Hujan Untuk mendapatkan hasil yang memiliki akurasi tinggi, dibutuhkan ketersediaan data yang secara kuantitas dan kualitas

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN VARIETAS UNGGUL BARU PADI DI LAHAN RAWA LEBAK

PENGEMBANGAN VARIETAS UNGGUL BARU PADI DI LAHAN RAWA LEBAK AgroinovasI PENGEMBANGAN VARIETAS UNGGUL BARU PADI DI LAHAN RAWA LEBAK Lahan rawa lebak merupakan salahsatu sumberdaya yang potensial untuk dikembangkan menjadi kawasan pertanian tanaman pangan di Provinsi

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE III. BAHAN DAN METODE 3. 1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Oktober 2009 sampai dengan Juli 2010. Penelitian terdiri dari percobaan lapangan dan analisis tanah dan tanaman

Lebih terperinci

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 16 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Pemberian Bahan Humat terhadap Pertumbuhan Tanaman Padi 4.1.1 Tinggi Tanaman Tinggi tanaman pada saat tanaman berumur 4 MST dan 8 MST masingmasing perlakuan

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN. Hasil analisis statistika menunjukkan adaptasi galur harapan padi gogo

BAB V HASIL PENELITIAN. Hasil analisis statistika menunjukkan adaptasi galur harapan padi gogo 26 BAB V HASIL PENELITIAN 5.1 Adaptasi Galur Harapan Padi Gogo Hasil analisis statistika menunjukkan adaptasi galur harapan padi gogo berpengaruh nyata terhadap elevasi daun umur 60 hst, tinggi tanaman

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN II. TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN II. TINJAUAN PUSTAKA I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ketersediaan pangan di Indonesia sangat memprihatinkan akibat dari pertumbuhan jumlah penduduk yang tidak diimbangi oleh peningkatan produktivitas pangan, kegagalan panen

Lebih terperinci

tunda satu bulan (lag 2) berarti faktor iklim mempengaruhi luas serangan pada WBC pada fase telur.

tunda satu bulan (lag 2) berarti faktor iklim mempengaruhi luas serangan pada WBC pada fase telur. 6 regresi linier berganda untuk semua faktor iklim yang dianalisis. Data faktor iklim digunakan sebagai peubah bebas dan data luas serangan WBC sebagai peubah respon. Persamaan regresi linier sederhana

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i. HALAMAN PENGESAHAN... ii. RIWAYAT HIDUP... iii. ABSTRAK... iv. KATA PENGANTAR... vi. DAFTAR ISI...

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i. HALAMAN PENGESAHAN... ii. RIWAYAT HIDUP... iii. ABSTRAK... iv. KATA PENGANTAR... vi. DAFTAR ISI... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii RIWAYAT HIDUP... iii ABSTRAK... iv KATA PENGANTAR... vi DAFTAR ISI... vii DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR LAMPIRAN... xii BAB I PENDAHULUAN...

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Padi merupakan pangan utama yang dikonsumsi oleh hampir setengah penduduk dunia. Kebutuhan pangan akan semakin meningkat dengan bertambahnya jumlah penduduk, namun

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Bahan yang digunakan adalah benih padi Varietas Ciherang, Urea, SP-36,

BAHAN DAN METODE. Bahan yang digunakan adalah benih padi Varietas Ciherang, Urea, SP-36, 18 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Percobaan dilaksanakan di lahan sawah irigasi Desa Sinar Agung, Kecamatan Pulau Pagung, Kabupaten Tanggamus dari bulan November 2014 sampai April

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. 1.2 RUMUSAN MASALAH Error Bookmark not defined. 2.1 UMUM Error Bookmark not defined.

DAFTAR ISI. 1.2 RUMUSAN MASALAH Error Bookmark not defined. 2.1 UMUM Error Bookmark not defined. HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN PERSEMBAHAN MOTTO KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR NOTASI ABSTRAK BAB IPENDAHULUAN DAFTAR ISI halaman i ii iii iv v vii

Lebih terperinci

Oleh : Koiman, SP, MMA (PP Madya BKPPP Bantul)

Oleh : Koiman, SP, MMA (PP Madya BKPPP Bantul) Oleh : Koiman, SP, MMA (PP Madya BKPPP Bantul) PENDAHULUAN Pengairan berselang atau disebut juga intermitten adalah pengaturan kondisi lahan dalam kondisi kering dan tergenang secara bergantian untuk:

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian dimulai dari April 2009 sampai Agustus 2009. Penelitian lapang dilakukan di lahan sawah Desa Tanjung Rasa, Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Bogor,

Lebih terperinci

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1 Rekapitulasi hasil analisis sidik ragam pertumbuhan bibit saninten

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1 Rekapitulasi hasil analisis sidik ragam pertumbuhan bibit saninten BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa interaksi antara perlakuan pemberian pupuk akar NPK dan pupuk daun memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan

Lebih terperinci

: Kasar pada sebelah bawah daun

: Kasar pada sebelah bawah daun Lampiran 1. Deskripsi Padi Varietas Ciherang Varietas : Ciherang Nomor Pedigree : S 3383-1d-Pn-41-3-1 Asal/Persilangan : IR 18349-53-1-3-1-3/IR Golongan : Cere Bentuk : Tegak Tinggi : 107 115 cm Anakan

Lebih terperinci

Gambar 1 Hubungan impedansi listrik (kω) dengan KAT(%) kalibrasi contoh tanah.

Gambar 1 Hubungan impedansi listrik (kω) dengan KAT(%) kalibrasi contoh tanah. 6 Gambar 1 Hubungan impedansi listrik (kω) dengan KAT(%) kalibrasi contoh tanah. Kehilangan Air Tanaman Kentang Data yang digunakan untuk menduga nilai kehilangan air tanaman kentang melalui perhitungan

Lebih terperinci

III. DATA DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2 Bahan dan Alat 2.11 Kapasitas Lapang dan Titik Layu Permanen

III. DATA DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2 Bahan dan Alat 2.11 Kapasitas Lapang dan Titik Layu Permanen 7 radiasi surya, suhu udara, kecepatan angin, dan kelembaban udara dalam penentuan evapotranspirasi. Sedangkan faktor tanah yang mempengaruhi seperti tekstur, kedalaman tanah, dan topografi. Kebutuhan

Lebih terperinci

PENGAIRAN KEDELAI PELATIHAN TEKNIS BUDIDAYA KEDELAI BAGI PENYULUH PERTANIAN DAN BABINSA PUSAT PELATIHAN PERTANIAN

PENGAIRAN KEDELAI PELATIHAN TEKNIS BUDIDAYA KEDELAI BAGI PENYULUH PERTANIAN DAN BABINSA PUSAT PELATIHAN PERTANIAN PELATIHAN TEKNIS BUDIDAYA KEDELAI BAGI PENYULUH PERTANIAN DAN BABINSA PENGAIRAN KEDELAI BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN PUSAT PELATIHAN PERTANIAN 2015 Sesi : PENGAIRAN KEDELAI Tujuan Berlatih

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 17 HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Kandungan Hara Tanah Analisis kandungan hara tanah pada awal percobaan maupun setelah percobaan dilakukan untuk mengetahui ph tanah, kandungan C-Organik, N total, kandungan

Lebih terperinci

Jurusan Geofisika dan Meteorologi, FMlPA IPB

Jurusan Geofisika dan Meteorologi, FMlPA IPB IKLlM INDONESIA HANDOKO Jurusan Geofisika dan Meteorologi, FMlPA IPB Secara umum, daerah tropika terletak di antara lintang 23,5O LU (tropika Cancer) sampai 23,5O LS (tropika Capricorn). Batasan ini berdasarkan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan penelusuran studi pustaka dan percobaan. Penelusuran studi pustaka dimulai bulan April 2010 sampai dengan Juni 2011. Percobaan

Lebih terperinci

4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Berikut ini disampaikan hasil penelitian yang terdiri dari pengamatan selintas dan pengamatan utama. Pengamatan selintas adalah pengamatan yang datanya tidak diuji secara

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. panennya menunjukkan bahwa ada perbedaan yang nyata (hasil analisis disajikan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. panennya menunjukkan bahwa ada perbedaan yang nyata (hasil analisis disajikan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kadar Air Berdasarkan analisis varian satu jalur terhadap variabel kadar air biji sorgum yang berasal dari posisi yang berbeda pada malai sorgum disetiap umur panennya menunjukkan

Lebih terperinci