BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 4.1 Tinggi Tanaman BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Waktu semai bibit tomat sampai tanaman dipindahkan di polybag adalah 3 minggu. Pengukuran tinggi tanaman tomat dimulai sejak 1 minggu setelah tanaman dipindahkan di polybag. Sehingga, umur tanaman tomat ketika dilakukan pengukuran tinggi tanaman pertama adalah 4 minggu. Namun, peneliti mengambil patokan untuk umur tanam adalah umur tanam ketika tanaman tomat dipindahkan di polybag. Hasil pengamatan tinggi tanaman tomat pada umur 1 sampai dengan 7 MST (Minggu Setelah Tanam) dan analisis sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 1. Analisis ragam data tersebut menggunakan RAL (Rancangan Acak Lengkap) faktorial. Data tinggi rata-rata tanaman tomat pada umur 1 sampai dengan 7 minggu setelah tanam dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Rata-Rata Tinggi Tanaman Tomat ZPT (ml) Tinggi tanaman (cm) 1 MST 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST 6 MST 7 MST 0 6,90 tn 9,58 tn 12,95 tn 20,38 tn 31,55 tn 45,25 a 63,63 a 0,50 6,85 tn 9,50 tn 13,90 tn 23,25 tn 37,65 tn 50,58 ab 72,63 ab 1,00 6,78 tn 9,50 tn 13,88 tn 24,88 tn 41,70 tn 54,00 abc 80,75 bc 1,50 7,13 tn 10,20 tn 14,48 tn 28,83 tn 45,23 tn 62,50 bc 88,88 cd 5,00 6,88 tn 11,18 tn 16,68 tn 30,28 tn 52,75 tn 70,25 c 96,88 d BNT ,91 9,42 Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dan kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji BNT 5%. Melalui tabel 1, dapat diketahui rata-rata tinggi tanaman tomat pada umur 1 sampai dengan 7 MST. Pada semua perlakuan, P4 memiliki rata-rata yang tertinggi, sedangkan yang terendah pada P0. Hasil penggunaan Zat Perangsang Tumbuh (ZPT) dengan kadar konsentrasi tertentu terhadap tinggi rata-rata tanaman tomat diperoleh bahwa semakin banyak konsentrasi penggunaan Zat Perangsang Tumbuh (ZPT),

2 tanaman tomat semakin mengalami penambahan tinggi. Hasil pengamatan tinggi tanaman tomat pada minggu keenam dan minggu ketujuh diperoleh hasil yang berbeda nyata, sedangkan pada minggu pertama sampai minggu kelima tidak berbeda nyata. Hal ini disebabkan karena pemberian ZPT jenis atonik pada tanaman dilakukan pada minggu ketiga setelah tanaman dipindahkan di polybag. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan yaitu penggunaan ZPT pada tanaman tomat maka dilakukan analisis ragam hasil pengukuran tinggi tanaman tomat mulai dari minggu ke-1 sampai dengan minggu ke-7 setelah tanam. Berdasarkan hasil analisis ragam tersebut (Lampiran 1) dapat diketahui bahwa Penggunaan ZPT memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman tomat. Setelah analisis ragam, dilanjutkan dengan pengujian lanjutan. Pengujian lanjutan dilakukan apabila hasil analisis ragam diperoleh hasil yang berbeda nyata. Uji lanjutan yang digunakan yakni uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Adapun hasil uji tersebut dapat dilihat pada Lampiran 2. Perbedaan tinggi yang signifikan pada perlakuan disebabkan karena perbedaan jumlah konsentrasi hormon tumbuh yang terkandung dalam ZPT yang digunakan pada masing-masing perlakuan. Pemberian ZPT atonik pada tanaman tomat memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap pertumbuhan tanaman tomat. Suatu tanaman akan tumbuh dengan suburnya apabila segala elemen yang dibutuhkan selalu cukup tersedia seperti hormon tumbuh yang berfungsi sebagai perangsang dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Sutatar dan Sanjaya, 1996). Efektivitas zat pengatur tumbuh menurun pada intensitas cahaya rendah, oleh karena itu pemakaian zat pengatur tumbuh haruslah disertai dengan pengaturan lingkungan pertanaman yang optimal bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. 4.2 Jumlah Daun Pengamatan jumlah daun tanaman tomat dilakukan pada umur 1 sampai dengan 7 MST. Perhitungan jumlah daun tanaman tomat dilakukan bersamaan dengan pengukuran tinggi, yaitu dimulai sejak 1 minggu setelah tanaman

3 dipindahkan di polybag dengan umur tanaman yang sebenarnya adalah 4 minggu setelah penyemaian. Data hasil pengamatan dan analisis sidik ragam jumlah daun tanaman tomat dapat dilihat pada Lampiran 3. Analisis ragam data tersebut menggunakan RAL (Rancangan Acak Lengkap) faktorial. Data rata-rata jumlah daun tanaman tomat pada umur 1 sampai dengan 7 minggu setelah tanam dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Rata-Rata Jumlah Daun Tanaman Tomat ZPT Jumlah Daun (helai) (ml) 1 MST 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST 6 MST 7 MST 0 2,50 tn 8,75 tn 14,75 tn 25,75 tn 58,50 tn 88,75 a 150,75 a 0,50 2,50 tn 8,75 tn 16,00 tn 32,75 tn 74,00 tn 99,25 ab 166,00 ab 1,00 3,00 tn 8,75 tn 15,50 tn 33,50 tn 82,00 tn 111,00 ab 184,25 bc 1,50 3,50 tn 9,00 tn 18,00 tn 37,75 tn 88,25 tn 128,25 bc 208,25 cd 5,00 3,00 tn 10,00 tn 19,00 tn 43,00 tn 104,50 tn 143,25 c 234,00 d BNT ,30 33,12 Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dan kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji BNT 5%. Berdasarkan Tabel 2, dapat diketahui rata-rata jumlah daun tanaman tomat pada umur 1 sampai dengan 7 MST. Pada semua perlakuan yakni penggunaan ZPT dengan kosentrasi yang berbeda, perlakuan P4 memiliki jumlah daun rata-rata tertinggi dan yang terendah pada perlakuan P0. Pengaruh penggunaan ZPT dengan kadar konsentrasi tertentu terhadap tinggi rata-rata tanaman tomat diperoleh bahwa semakin banyak konsentrasi penggunaan Zat Perangsang Tumbuh (ZPT), jumlah daun pada tanaman tomat semakin banyak. Sebaliknya, semakin sedikit konsentrasi penggunaan ZPT, jumlah daun pada tanaman tomat semakin sedikit. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan yaitu penggunaan ZPT pada tanaman tomat maka dilakukan analisis ragam jumlah daun tanaman tomat mulai dari minggu ke-1 sampai dengan minggu ke-7 setelah tanam. Adapun hasil analisis ragam jumlah daun tanaman tomat dapat dilihat pada Lampiran 3. Berdasarkan hasil analisis ragam jumlah daun tanaman tomat, dapat diketahui bahwa Penggunaan ZPT memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap tinggi

4 tanaman tomat. Setelah analisis ragam, dilanjutkan dengan pengujian lanjutan dengan uji BNT. Pengujian ini dilakukan karena hasil analisis ragam jumlah daun diperoleh hasil yang berbeda nyata. Hasil pengamatan jumlah daun pada minggu keenam dan minggu ketujuh diperoleh hasil yang berbeda nyata, sedangkan pada minggu pertama sampai minggu kelima tidak berbeda nyata. Hal ini disebabkan karena pemberian ZPT jenis atonik pada tanaman dilakukan pada minggu ketiga setelah tanaman dipindahkan di polybag. Adapun hasil uji BNT jumlah daun tanaman tomat dapat dilihat pada Lampiran 4. Jumlah daun merupakan salah satu indikator pertumbuhan tanaman dan dapat digunakan sebagai data penunjang untuk menjelaskan proses pertumbuhan yang terjadi (Sitompul dan Guritno, 1995). Penggunaan ZPT atonik dapat mempengaruhi jumlah daun tanaman tomat. Atonik merupakan zat pemacu pertumbuhan sintetik yang berfungsi merangsang pertumbuhan akar, mengaktifkan penyerapan unsur hara, meningkatkan keluarnya kuncup dan meningkatkan kualitas hasil tanaman (Surachmat, K. 1984). Atonik ini berfungsi untuk merangsang pertumbuhan akar dan daun pada tanaman tomat. Sehingga semakin banyak kosentrasi zat atonik pada ZPT yang digunakan maka dapat mempengaruhi pertumbuhan daun tanaman tomat. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian pada perlakuan P4 dengan konsentrasi ZPT yang digunakan yaitu 5ml/liter air, jumlah daun tanaman tomat lebih banyak dibanding dengan jumlah daun pada perlakuan P3 (1,5 ml/liter air), P2 (1 ml/liter air) dan P1 (0,5 ml/liter air). Tetapi menurut Huik (2004) pemberian konsentrasi yang tinggi atau di atas normal, auksin dapat bersifat sebagai inhibitor karena enzim tidak bisa menangkap konsentrasi tersebut sehingga cenderung untuk menghambat pertumbuhan. Sehingga pemakaian suatu zat perangsang akar harus tepat konsentrasinya. Namun, penggunaan ZPT sebanyak 5ml/liter air masih dapat memacu pertumbuhan daun.

5 4.3 Umur Berbunga Pengamatan umur berbunga tanaman tomat dilakukan ketika tanaman mulai mengeluarkan bunga. Penentuan umur berbunga dihitung jumlah hari ketika tanaman tomat mulai ditanam sampai mengeluarkan bunga yakni jumlah hari setelah tanam (HST). Data hasil pengamatan dan analisis sidik ragam jumlah daun tanaman tomat dapat dilihat pada Lampiran 5. Analisis ragam data tersebut menggunakan RAL. Data rata-rata umur berbunga tanaman tomat dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Waktu Rata-Rata Umur Berbunga Tanaman Tomat ZPT (ml) Umur Berbunga (hari) 0 30,50 tn 0,50 30,50 tn 1,00 30,25 tn 1,50 30,00 tn 5,00 29,75 tn BNT - Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dan kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji BNT 5%. Pada Tabel 3, dapat diketahui waktu rata-rata umur berbunga tanaman tomat. Waktu rata-rata tercepat tanaman tomat mengeluarkan bunga adalah pada perlakuan P4 dan waktu rata-rata paling lama pada perlakuan P1 dan P0. Pengaruh penggunaan ZPT dengan kadar konsentrasi tertentu terhadap waktu rata-rata umur berbunga tanaman tomat diperoleh bahwa semakin banyak konsentrasi penggunaan ZPT, umur berbunga tanaman tomat menjadi lebih cepat. Sebaliknya, semakin sedikit konsentrasi penggunaan ZPT, jumlah daun pada tanaman tomat semakin sedikit. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan yaitu penggunaan ZPT pada tanaman tomat maka dilakukan analisis ragam umur berbunga tanaman tomat. Adapun hasil analisis ragam jumlah daun tanaman tomat dapat dilihat pada Lampiran 5. Berdasarkan hasil analisis ragam jumlah daun tanaman tomat, dapat diketahui bahwa perlakuan dengan menggunakan ZPT pada tanaman tomat, tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur berbunga tanaman tomat. Sesuai dengan hasil

6 analisis ragam umur berbunga tanaman tomat diperoleh hasil yang tidak berbeda nyata, maka pengujian lanjutan dengan uji BNT tidak perlu lagi dilanjutkan. Penggunaan zat pengatur tumbuh (ZPT) dapat menghasilkan bunga dan buah dengan jumlah yang signifikan (Arancon et al., 2006). Walaupun ZPT dapat merangsang pertumbuhan bunga tetapi tidak dapat memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap cepat lambatnya tanaman tomat mengeluarkan bunga. Hal ini berdasarkan hasil penelitian bahwa umur berbunga tanaman tomat pada setiap perlakuan (penggunaan konsentrasi ZPT yang berbeda) diperoleh hasil yang tidak berbeda nyata. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa penggunaan ZPT atonik pada tanaman tomat tidak berpengaruh terhadap percepatan umur berbunga. Kondisi iklim pada saat penelitian yaitu curah hujan dalam kategori sedang. 4.4 Jumlah Buah Perhitungan jumlah buah tanaman tomat dilakukan mulai dari jumlah buah saat panen pertama sampai dengan jumlah buah pada panen kelima. Sehingga, perhitungan jumlah buah untuk setiap perlakuan dihitung secara keseluruhan. Pelaksanaan panen dilakukan secara serempak dengan selang waktu 3 hari. Data hasil pengamatan dan analisis sidik ragam jumlah buah tanaman tomat dapat dilihat pada Lampiran 6. Analisis ragam data jumlah buah menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Data jumlah buah rata-rata tanaman tomat untuk setiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Rata-Rata Jumlah Buah Tanaman Tomat ZPT (ml) Jumlah Buah Per Tanaman (buah) 0 100,00 a 0,50 121,25 b 1,00 130,00 b 1,50 151,75 c 5,00 176,50 d BNT 9,16

7 Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dan kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji BNT 5%. Berdasarkan Tabel 4, dapat diketahui bahwa rata-rata jumlah buah tanaman tomat pada setiap perlakuan diperoleh hasil yang berbeda. Jumlah rata-rata buah terbanyak adalah pada perlakuan P4 dan yang terendah pada perlakuan P0. Pengaruh penggunaan ZPT dengan kadar konsentrasi berbeda terhadap jumlah buah rata-rata tanaman tomat diperoleh bahwa semakin banyak konsentrasi penggunaan Zat Perangsang Tumbuh (ZPT), jumlah buah yang dihasilkan oleh tanaman tomat semakin banyak. Sebaliknya, semakin sedikit konsentrasi penggunaan ZPT jumlah buah semakin sedikit. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan yaitu penggunaan ZPT pada tanaman tomat maka dilakukan analisis ragam jumlah buah tanaman tomat (Lampiran 6). Berdasarkan hasil analisis ragam tersebut, dapat diketahui bahwa penggunaan ZPT memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman tomat. Setelah analisis ragam, dilanjutkan dengan pengujian lanjutan dengan uji BNT. Pengujian ini dilakukan karena hasil analisis ragam jumlah buah diperoleh hasil yang berbeda nyata. Adapun hasil uji BNT jumlah buah tanaman tomat dapat dilihat pada Lampiran 7. Penggunaan zat pengatur tumbuh (ZPT) dapat menghasilkan bunga dan buah dengan jumlah yang signifikan (Arancon et al., 2006). Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan konsentrasi ZPT memberikan hasil yang berbeda. Semakin banyak jumlah konsentrasi ZPT yang diberikan pada tanaman tomat, jumlah buah juga semakin banyak. Jumlah buah terbanyak diperoleh pada konsentrasi ZPT sebanyak 5ml/liter air (P4). Pada konsentrasi 1,5ml/liter air (P3) jumlah buah lebih rendah ketimbang jumlah buah pada perlakuan P4. Begitu pula halnya pada konsentrasi ZPT sebanyak 1 ml/liter air (P2) jumlah buah lebih rendah ketimbang jumlah buah pada perlakuan P3. Perbedaan jumlah buah pada setiap perlakuan dipengaruhi oleh kadar atonik pada masing-masing perlakuan. Atonik merupakan zat pemacu pertumbuhan sintetik yang berfungsi merangsang pertumbuhan akar, mengaktifkan penyerapan unsur hara, meningkatkan keluarnya kuncup dan

8 meningkatkan kualitas hasil tanaman (Surachmat, K. 1984). Semakin baik penyerapan unsur-unsur hara meningkatkan hasil tanaman. 4.5 Produksi Produksi hasil panen tomat dihitung dengan menjumlahkan keseluruhan berat tomat masing-masing perlakuan yaitu hasil dari panen pertama sampai dengan panen kelima. Pelaksanaan panen ini dilakukan secara serempak dengan selang waktu panen adalah 3 hari. Perhitungan jumlah buah untuk setiap perlakuan dihitung secara keseluruhan. Data hasil pengamatan dan analisis sidik ragam produksi hasil panen tomat dapat dilihat pada Lampiran 8. Analisis ragam data jumlah buah menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Hasil produksi rata-rata tanaman tomat untuk setiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Hasil Produksi Rata-Rata Tanaman Tomat ZPT (ml) Produksi (kg/tanaman) 0 2,33 a 0,50 2,83 b 1,00 3,03 b 1,50 3,53 c 5,00 4,10 d BNT 0,22 Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dan kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji BNT 5%. Berdasarkan Tabel 5, dapat diketahui bahwa hasil produksi rata-rata tanaman tomat pada setiap perlakuan diperoleh hasil yang berbeda. Jumlah hasil produksi ratarata tanaman tomat terbanyak adalah pada perlakuan P4 dan yang terendah pada perlakuan P0. Pengaruh penggunaan ZPT dengan kadar konsentrasi berbeda terhadap hasil produksi rata-rata tanaman tomat diperoleh bahwa semakin banyak konsentrasi penggunaan Zat Perangsang Tumbuh (ZPT), hasil produksi rata-rata tanaman tomat

9 semakin banyak. Sebaliknya, semakin sedikit konsentrasi penggunaan ZPT hasil produksi rata-rata tanaman tomat semakin sedikit. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan yaitu penggunaan ZPT pada tanaman tomat maka dilakukan analisis ragam jumlah buah tanaman tomat (Lampiran 8). Berdasarkan hasil analisis ragam tersebut, dapat diketahui bahwa penggunaan ZPT memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap hasil produksi rata-rata tanaman tomat. Setelah analisis ragam, dilanjutkan dengan pengujian lanjutan dengan uji BNT. Uji lanjut BNT dilakukan karena hasil analisis ragam hasil produksi rata-rata tanaman tomat diperoleh hasil yang berbeda nyata. Adapun data uji BNT hasil produksi rata-rata tanaman tomat dapat dilihat pada Lampiran 9. Zat Perangsang Tumbuh (ZPT) mempunyai selain mempunyai peranan dalam memacu pertumbuhan dan memperbaiki mutu, juga dapat meningkatkan hasil tanaman (Winten, 2009). Penggunaan zat pengatur tumbuh (ZPT) dapat menghasilkan bunga dan buah dengan jumlah yang signifikan (Arancon et al., 2006). Semakin banyak jumlah buah tanaman tomat, maka semakin banyak pula produksi yang dihasilkan tanaman tomat. Semakin banyak jumlah konsentrasi ZPT yang diberikan pada tanaman tomat, jumlah produksi tanaman tomat juga semakin tinggi. Hasil produksi tertinggi diperoleh pada konsentrasi ZPT sebanyak 5ml/liter air (P4). Pada konsentrasi 1,5ml/liter air (P3) hasil produksi lebih rendah ketimbang hasil produksi pada perlakuan P4. Begitu pula halnya pada konsentrasi ZPT sebanyak 1 ml/liter air (P2) hasil produksi tanaman tomat lebih rendah ketimbang hasil produksi pada perlakuan P3. Perbedaan hasil produksi pada setiap perlakuan dipengaruhi oleh kadar atonik pada masing-masing perlakuan. Atonik merupakan salah satu zat pengatur tumbuh yang dapat meningkatkan produksi tanaman (Winten, 2009).

10

Rafika Leingo, Wawan Pembengo, Fauzan Zakaria ABSTRAK

Rafika Leingo, Wawan Pembengo, Fauzan Zakaria ABSTRAK 1 APLIKASI ZAT PENGATUR TUMBUH TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN TOMAT Rafika Leingo, Wawan Pembengo, Fauzan Zakaria ABSTRAK Rafika Leingo. 613408063. Aplikasi Zat Pengatur Tumbuh Terhadap Pertumbuhan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dengan dosis konsentrasi yang berbeda. perbedaan tersebut tertera pada tabel 1 di

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dengan dosis konsentrasi yang berbeda. perbedaan tersebut tertera pada tabel 1 di BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tinggi Tanaman (cm) Berdasarkan hasil analisis terhadap tinggi tanaman cabai pada umur 8,16,24,32,40,48,56,64,72,80 hari setelah tanam menunjukan pengaruh yang sangat nyata.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar 13 HASIL DAN PEMBAHASAN Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar Hasil Uji t antara Kontrol dengan Tingkat Kematangan Buah Uji t digunakan untuk membandingkan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan bulan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan bulan BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi Dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan bulan Oktober 2012 dilaksanakan di Kebun Kelompok Wanita Tani Ilomata Desa Huntu

Lebih terperinci

DAFTAR LAMPIRAN. Lampiran 2. Analisis rancangan percobaan pertambahan tinggi bibit tanaman Sukun. Data tinggi bibit tanaman sukun ( cm ) Minggu ke- 1

DAFTAR LAMPIRAN. Lampiran 2. Analisis rancangan percobaan pertambahan tinggi bibit tanaman Sukun. Data tinggi bibit tanaman sukun ( cm ) Minggu ke- 1 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Desain Pengacakan BLOK 1 BLOK 2 BLOK 3 BLOK 4 BLOK 5 K 0 U 1 K 4 U 2 K 0 U 4 K 8 U 2 K 8 U 4 K 6 U 4 K 10 U 4 K 4 U 4 K 4 U 3 K 4 U 1 K 4 U 5 K 0 U 3 K 6 U 2 K 10 U 5 K 2 U

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 12 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tinggi Tanaman Berdasarkan Tabel 2 di bawah parameter tinggi tanaman umumnya perlakuan jarak tanam berbeda nyata pada 2, 4 dan 6 MST.Variasi varietas tanaman jagung berbeda

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 14 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tinggi Tanaman Hasil pengamatan tinggi tanaman pada umur 2, 4, 6, 8 MST dan sidik ragam di sajikan pada Tabel Lampiran 2a sampai 2d. Sidik ragam menunjukan bahwa interval

Lebih terperinci

penghujan sehingga mendukung pertumbuhan tanaman. Penyiraman dilakukan digunakan 80%. Pada umur 1-2 MST dilakukan penyulaman pada benih-benih

penghujan sehingga mendukung pertumbuhan tanaman. Penyiraman dilakukan digunakan 80%. Pada umur 1-2 MST dilakukan penyulaman pada benih-benih 4.1 Keadaan Umum Lokasi BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian dilakukan pada bulan Mei sampai Juli 2013. Kondisi ril di Lapangan menunjukkan bahwa saat awal penanaman telah memasuki musim penghujan sehingga

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat. diameter 12 cm dan panjang 28 cm, dan bahan-bahan lain yang mendukung

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Bahan dan Alat. diameter 12 cm dan panjang 28 cm, dan bahan-bahan lain yang mendukung BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat lebih kurang 25 meter di atas permukaan laut.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 14 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Indikator pertumbuhan dan produksi bayam, antara lain: tinggi tanaman, jumlah daun, berat basah dan berat kering tanaman dapat dijelaskan sebagai berikut:

Lebih terperinci

STUDY TENTANG TIGA VARIETAS TERUNG DENGAN KOMPOSISI MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN

STUDY TENTANG TIGA VARIETAS TERUNG DENGAN KOMPOSISI MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN STUDY TENTANG TIGA VARIETAS TERUNG DENGAN KOMPOSISI MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN [STUDY ON THREE EGG PLANT VARIETIES GROWN ON DIFFERENT COMPOSITION OF PLANT MEDIA, ITS EFFECT ON GROWTH

Lebih terperinci

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida,

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida, PEMBAHASAN PT National Sago Prima saat ini merupakan perusahaan satu-satunya yang bergerak dalam bidang pengusahaan perkebunan sagu di Indonesia. Pengusahaan sagu masih berada dibawah dinas kehutanan karena

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 11 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tinggi Tanaman Berdasarkan analisis sidik ragam parameter tinggi tanaman pada lampiran 5a hingga 5h menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi pupuk daun, waktu aplikasi

Lebih terperinci

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK KOMPOS TERHADAP PRODUKTIVITAS TANAMAN CABAI MERAH

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK KOMPOS TERHADAP PRODUKTIVITAS TANAMAN CABAI MERAH PENGARUH PEMBERIAN PUPUK KOMPOS TERHADAP PRODUKTIVITAS TANAMAN CABAI MERAH (Capsicum annuum L.) Sofiana Imas 1, Damhuri 2, Asmawati Munir 2 1 Alumni Jurusan Pendidikan Biologi, 2 Dosen Jurusan Pendidikan

Lebih terperinci

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1 Rekapitulasi hasil analisis sidik ragam pertumbuhan bibit saninten

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1 Rekapitulasi hasil analisis sidik ragam pertumbuhan bibit saninten BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa interaksi antara perlakuan pemberian pupuk akar NPK dan pupuk daun memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini dilakukan dalam dua tahapan pelaksanaan, yaitu tahap kultur in vitro dan aklimatisasi. Tahap kultur in vitro dilakukan di dalam Laboratorium Kultur Jaringan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Bulan Februari 230 Sumber : Balai Dinas Pertanian, Kota Salatiga, Prov. Jawa Tengah.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Bulan Februari 230 Sumber : Balai Dinas Pertanian, Kota Salatiga, Prov. Jawa Tengah. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian yang disajikan dalam bab ini adalah pengamatan selintas dan pengamatan utama. Pengamatan selintas adalah pengamatan yang digunakan untuk mendukung hasil pengamatan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1Tinggi Tanaman Tinggi tanaman caisin dilakukan dalam 5 kali pengamatan, yaitu (2 MST, 3 MST, 4 MST, 5 MST, dan 6 MST). Berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukkan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1.1 Hasil Hasil yang diamati dalam penelitian ini adalah tinggi tanaman, umur berbunga, jumlah buah, dan berat buah.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1.1 Hasil Hasil yang diamati dalam penelitian ini adalah tinggi tanaman, umur berbunga, jumlah buah, dan berat buah. 1 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1 Hasil Hasil yang diamati dalam penelitian ini adalah tinggi tanaman, umur berbunga, jumlah buah, dan berat buah. 1. Tinggi Tanaman Hasil pengamatan tinggi tanaman dan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 14 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tinggi Tanaman Tinggi tanaman jagung manis nyata dipengaruhi oleh jarak tanam. Berdasarkan hasil analisis sidik ragam pada Lampiran 2 sampai 8 dan rataan uji BNT 5% pada

Lebih terperinci

RESPONS PERTUMBUHAN DAN HASIL MENTIMUN (CUCUMIS SATIVUS L.) AKIBAT PERLAKUAN VARIETAS DAN KONSENTRASI ZPT DEKAMON

RESPONS PERTUMBUHAN DAN HASIL MENTIMUN (CUCUMIS SATIVUS L.) AKIBAT PERLAKUAN VARIETAS DAN KONSENTRASI ZPT DEKAMON RESPONS PERTUMBUHAN DAN HASIL MENTIMUN (CUCUMIS SATIVUS L.) AKIBAT PERLAKUAN VARIETAS DAN KONSENTRASI ZPT DEKAMON 1) KETUT TURAINI INDRA WINTEN 2) ANAK AGUNG GEDE PUTRA 3) I PUTU WISARDJA Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Upaya peningkatan produksi ubi kayu seringkali terhambat karena bibit bermutu kurang tersedia atau tingginya biaya pembelian bibit karena untuk suatu luasan lahan, bibit yang dibutuhkan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Kondisi lingkungan yang teramati selama aklimatisasi menunjukkan suhu rata-rata 30 o C dengan suhu minimum hingga 20 o C dan suhu maksimum mencapai 37 o C. Aklimatisasi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 13 4.1 Tinggi Tanaman BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan analisa sidik ragam untuk parameter tinggi tanaman pada 1, 2, 3 dan 4 minggu setelah tanam (MST) yang disajikan pada Lampiran 3a, 3b, 3c dan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1.Hasil Penelitian A. Tinggi Tanaman Hasil Analisis sidik ragam pada tinggi tanaman terung menunjukan bahwa perlakuan pupuk NPK Pelagi berpengaruh nyata terhadap pertambahan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Mengembangkan dan membudidayakan tanaman tomat membutuhkan faktor yang mendukung seperti pemupukan, pengairan, pembumbunan tanah, dan lain-lain. Pemberian

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan tinggi, pertumbuhan diameter, jumah bintil akar, berat kering total serta nisbah pucuk akar. Pengaruh pemberian bioorganik

Lebih terperinci

Lampiran 1. Data persentase hidup (%) bibit A. marina dengan intensitas naungan pada pengamatan 1 sampai 13 Minggu Setelah Tanam (MST)

Lampiran 1. Data persentase hidup (%) bibit A. marina dengan intensitas naungan pada pengamatan 1 sampai 13 Minggu Setelah Tanam (MST) Lampiran 1. Data persentase hidup (%) bibit A. marina dengan intensitas naungan pada pengamatan 1 sampai 13 Minggu Setelah Tanam (MST) Perlakuan Persentase Hidup (%) 0% 100 25% 100 50% 100 75% 100 Total

Lebih terperinci

I. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Vegetatif. Hasil sidik ragam variabel pertumbuhan vegetatif tanaman yang meliputi tinggi

I. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Vegetatif. Hasil sidik ragam variabel pertumbuhan vegetatif tanaman yang meliputi tinggi I. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Vegetatif Hasil sidik ragam variabel pertumbuhan vegetatif tanaman yang meliputi tinggi tanaman dan jumlah anakan menunjukkan tidak ada beda nyata antar

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Tinggi Tanaman. antara pengaruh pemangkasan dan pemberian ZPT paklobutrazol. Pada perlakuan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Tinggi Tanaman. antara pengaruh pemangkasan dan pemberian ZPT paklobutrazol. Pada perlakuan IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Tinggi Tanaman Dari (tabel 1) rerata tinggi tanaman menunjukkan tidak ada interaksi antara pengaruh pemangkasan dan pemberian ZPT paklobutrazol. Pada perlakuan pemangkasan menunjukan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 10 bahan tanaman yang sudah dilakukan pemotongan akar (percobaan 2). Pemotongan akar dilakukan pada saat tanaman mencapai umur 10 bulan. Analisis Data Penelitian ini dilakukan menggunakan rancangan kelompok

Lebih terperinci

Jurnal Cendekia Vol 12 No 1 Januari 2014 ISSN

Jurnal Cendekia Vol 12 No 1 Januari 2014 ISSN PENGARUH DOSIS PUPUK AGROPHOS DAN JARAK TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN CABAI (Capsicum Annum L.) VARIETAS HORISON Pamuji Setyo Utomo Dosen Fakultas Pertanian Universitas Islam Kadiri (UNISKA)

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Konidisi Umum Penelitian Berdasarkan hasil Laboratorium Balai Penelitian Tanah yang dilakukan sebelum aplikasi perlakuan didapatkan hasil bahwa ph H 2 O tanah termasuk masam

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lahan penelitian yang digunakan merupakan lahan yang selalu digunakan untuk pertanaman tanaman padi. Lahan penelitian dibagi menjadi tiga ulangan berdasarkan ketersediaan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian dilakukan pada bulan Januari sampai dengan Juni 21 berlokasi di Kebun Percobaan Pasir Kuda, Bogor pada ketinggian 21 meter di atas permukaan laut. Kondisi curah

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam tinggi tanaman jagung hibrida

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam tinggi tanaman jagung hibrida 20 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1.Tinggi Tanaman Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam tinggi tanaman jagung hibrida pada umur 28 dan 45 HST (lampiran 1), bahwa F-hitung lebih besar

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 13 HASIL DAN PEMBAHASAN Perkecambahan Benih Penanaman benih pepaya dilakukan pada tray semai dengan campuran media tanam yang berbeda sesuai dengan perlakuan. Kondisi kecambah pertama muncul tidak seragam,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Hasil analisis tanah sebelum perlakuan dilakukan di laboratorium Departemen Ilmu Tanah Sumberdaya Lahan IPB. Lahan penelitian tergolong masam dengan ph H O

Lebih terperinci

Tipe perkecambahan epigeal

Tipe perkecambahan epigeal IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya ukuran dan jumlah sel tanaman sedangkan perkembangan tanaman merupakan suatu proses menuju kedewasaan. Parameter pertumbuhan meliputi

Lebih terperinci

Pengaruh Kombinasi Pupuk NPK Phonska dan Pupuk Kandang terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum Mill.

Pengaruh Kombinasi Pupuk NPK Phonska dan Pupuk Kandang terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum Mill. Pengaruh Kombinasi Pupuk NPK Phonska dan Pupuk Kandang terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) Nuraini 1, Yosefina Mangera 2, Amelia L Limbongan 1 Dinas Pertanian,

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi IBA (Indole Butyric Acid)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi IBA (Indole Butyric Acid) IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi IBA (Indole Butyric Acid) berpengaruh nyata pada jumlah akar primer bibit tanaman nanas, tetapi tidak

Lebih terperinci

4 HASIL. 4.1 Teknik Sterilisasi Eksplan Matoa

4 HASIL. 4.1 Teknik Sterilisasi Eksplan Matoa 17 4.1 Teknik Sterilisasi Eksplan Matoa 4 HASIL Hasil pengujian teknik sterilisasi yang dilakukan terhadap eksplan matoa yaitu berupa pucuk, daun, embrio dan endosperma disajikan pada Gambar 4, 5, 6, dan

Lebih terperinci

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK NPK PELANGI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN TERUNG (Solanum Melongena L)

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK NPK PELANGI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN TERUNG (Solanum Melongena L) 1 PENGARUH PEMBERIAN PUPUK NPK PELANGI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN TERUNG (Solanum Melongena L) Mantali Adrian. Azhar, Ikbal Bahua, Fitriah S. Jamin ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini telah dilaksanakan pada lahan di Fakultas Pertanian

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini telah dilaksanakan pada lahan di Fakultas Pertanian BAHAN DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan pada lahan di Fakultas Pertanian, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 meter diatas permukaan laut selama ± 4 bulan. Bahan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 19 4.1 Tinggi Tanaman BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Pada tabel di bawah dapat dilihat bahwa perlakuan mulsa dan jarak tanam tidak berbeda nyata terhadap tinggi tanaman. Adapun interaksi antar keduanya juga

Lebih terperinci

AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR EFEKTIVITAS PENGGUNAAN BAHAN PEREKAT AGRISTIK PADA KOMBINASI PEMBERIAN PUPUK DAUN GANDASIL-D DAN GROWMORE DENGAN IBA DAN TRIACONTANOL PADA FASE AKLIMATISASI SAGU NURUL HIDAYAH A24120195 Dosen pembimbing

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan pengamatan pada pemberian pupuk organik kotoran ayam

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan pengamatan pada pemberian pupuk organik kotoran ayam BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Berdasarkan pengamatan pada pemberian pupuk organik kotoran ayam terhadap pertumbuhan jagung masing-masing menunjukan perbedaan yang nyata terhadap tinggi

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian lapang telah dilaksanakan pada bulan April 2017 Juli 2017 di

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian lapang telah dilaksanakan pada bulan April 2017 Juli 2017 di 11 BAB III MATERI DAN METODE 3.1. Materi Penelitian Penelitian lapang telah dilaksanakan pada bulan April 2017 Juli 2017 di Lahan Warga Jl. Nirwanasari Raya, Tembalang, Semarang. Analisis tanah, dan hasil

Lebih terperinci

Lampiran 1. Analisis Rancangan Percobaan Tinggi (cm) Bibit R. Apiculata pada Berbagai Intenstias Naungan

Lampiran 1. Analisis Rancangan Percobaan Tinggi (cm) Bibit R. Apiculata pada Berbagai Intenstias Naungan Lampiran 1. Analisis Rancangan Percobaan Tinggi (cm) Bibit R. Apiculata pada Berbagai Intenstias Naungan Tabel 11. Pertambahan tinggi bibit R. apiculata pada berbagai intensitas naungan Ratarata Total

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. di dalam setiap media tanam. Pertumbuhan tinggi caisim dengan sistem

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. di dalam setiap media tanam. Pertumbuhan tinggi caisim dengan sistem 14 4.1 Tinggi Tanaman Caisim BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil analisis sidik ragam pada lampiran 1a sampai dengan lampiran 1d perlakuan media tanam hidroponik berbeda nyata pada semua waktu

Lebih terperinci

I. TATA CARA PENELITIAN. Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten

I. TATA CARA PENELITIAN. Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten I. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Green House Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Tinggi Tanaman Nilam 1 sampai 11 MST Hasil pengamatan tentang tinggi tanaman nilam pada umur 1 sampai dengan 11 MST dan sidik ragamnya disajikan pada Lampiran 2. Sidik ragam

Lebih terperinci

RESPONS TANAMAN CABAI BESAR (Capsicum annuum L.) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK ORGANIK HORMON TANAMAN UNGGUL

RESPONS TANAMAN CABAI BESAR (Capsicum annuum L.) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK ORGANIK HORMON TANAMAN UNGGUL Ralahalu dkk,. Respons Tanaman Cabe Merah RESPONS TANAMAN CABAI BESAR (Capsicum annuum L.) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK ORGANIK HORMON TANAMAN UNGGUL M. A. Ralahalu, M. L. Hehanussa, dan L. L. Oszaer Jurusan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Tinggi Tanaman Umur 35 Hari Setelah Tanam

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Tinggi Tanaman Umur 35 Hari Setelah Tanam 23 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Percobaan 4.1.1 Tinggi Tanaman Umur 35 Hari Setelah Tanam Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian pupuk daun berbeda konsentrasi berpengaruh nyata terhadap

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan laboratoriun lapangan terpadu

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan laboratoriun lapangan terpadu 13 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan laboratoriun lapangan terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung, yaitu penyemaian benih dan penanaman

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Data penelitian yang diperoleh pada penelitian ini berasal dari beberapa parameter pertumbuhan anakan meranti merah yang diukur selama 3 bulan. Parameter yang diukur

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Universitas Lampung. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai

III. BAHAN DAN METODE. Universitas Lampung. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Rumah Kaca Gedung Hortikultura, Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian berlangsung dari bulan Mei 2011 sampai bulan Juli 2011 di lahan Pembibitan Kebun Percobaan Cikabayan, IPB Darmaga. Penelitian diawali dengan pemilihan pohon

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Panjang Tongkol Berkelobot Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan umur panen memberikan pengaruh yang nyata terhadap panjang tongkol berkelobot. Berikut

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Kel. Gunung sulah, Kec.Way Halim, Kota Bandar

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Kel. Gunung sulah, Kec.Way Halim, Kota Bandar 21 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kel. Gunung sulah, Kec.Way Halim, Kota Bandar Lampung dengan kondisi iklim tropis, memiliki curah hujan 2000 mm/th dan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 21 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Intensitas Serangan Hama Penggerek Batang Padi (HPBP) Hasil penelitian tingkat kerusakan oleh serangan hama penggerek batang pada tanaman padi sawah varietas inpari 13

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1 Hasil Penelitian Berdasarkan pengamatan pada pemberian pupuk organik kotoan ayam terhadap pertumbuhan Tanaman Sawi masing-masing menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap

Lebih terperinci

RESPON PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN TOMAT (Lycopersicun esculentum Mill) BERDASARKAN APLIKASI VARIASI KONSENTRASI PUPUK DAUN

RESPON PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN TOMAT (Lycopersicun esculentum Mill) BERDASARKAN APLIKASI VARIASI KONSENTRASI PUPUK DAUN RESPON PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN TOMAT (Lycopersicun esculentum Mill) BERDASARKAN APLIKASI VARIASI KONSENTRASI PUPUK DAUN Trisnawati Umar (1), Wawan Pembengo (2) dan Nurdin (3) Jurusan Agroteknologi,

Lebih terperinci

Kartin Slamet Fauzan Zakaria dan Marleni Limonu. Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Negeri Gorontalo 1

Kartin Slamet Fauzan Zakaria dan Marleni Limonu. Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Negeri Gorontalo 1 Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Negeri Gorontalo 1 Pengaruh Air Kelapa Berdasarkan Tingkat Kematangan Buah dan Lama Perendaman Terhadap Perkecambahan Benih Kakao (Theobroma cacao L.)

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus-September 2014 di Laboratorium

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus-September 2014 di Laboratorium III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus-September 2014 di Laboratorium Lapang Terpadu dan Laboraturium Rekayasa Sumber Daya Air dan Lahan (RSDAL)

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian dilaksanakan di lokasi dengan ketinggian 11 m di atas permukaan laut. Suhu di dalam rumah kaca berkisar antara 12-37 C dengan kelembaban 39.5-96%. Perbedaan

Lebih terperinci

PENGARUH PEMBERIAN HORMON TUMBUH DAN DIAMETER STEK TERHADAP PERTUMBUHAN STEK JERUK NIPIS TANPA BIJI (Citrus aurantifolis S)

PENGARUH PEMBERIAN HORMON TUMBUH DAN DIAMETER STEK TERHADAP PERTUMBUHAN STEK JERUK NIPIS TANPA BIJI (Citrus aurantifolis S) VOLUME 3 NO.3 OKTOBER 2015 PENGARUH PEMBERIAN HORMON TUMBUH DAN DIAMETER STEK TERHADAP PERTUMBUHAN STEK JERUK NIPIS TANPA BIJI (Citrus aurantifolis S) ANDI HERWATI Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Yapim Maros

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Green House Fak. Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 15 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Keadaan Umum Penelitian Tanah yang digunakan pada penelitian ini bertekstur liat. Untuk mengurangi kelembaban tanah yang liat dan menjadikan tanah lebih remah, media tanam

Lebih terperinci

BAB 3. METODE PENELITIAN. 3.2 Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah polybag ukuran 20 x 20

BAB 3. METODE PENELITIAN. 3.2 Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah polybag ukuran 20 x 20 BAB 3. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari hingga Maret 2018 dan bertempat di Kebun Percobaan Universitas Muhammadiyah Malang, jalan Notojoyo,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Bio-slurry dan tahap aplikasi Bio-slurry pada tanaman Caisim. Pada tahap

HASIL DAN PEMBAHASAN. Bio-slurry dan tahap aplikasi Bio-slurry pada tanaman Caisim. Pada tahap IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian yang dilakukan terbagi menjadi dua tahap yaitu pengambilan Bio-slurry dan tahap aplikasi Bio-slurry pada tanaman Caisim. Pada tahap pengambilan Bio-slurry dilakukan

Lebih terperinci

IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Air leri merupakan bahan organik dengan kandungan fosfor, magnesium

IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Air leri merupakan bahan organik dengan kandungan fosfor, magnesium IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN Air leri merupakan bahan organik dengan kandungan fosfor, magnesium dan vitamin B1 yang efektif bila dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pada proses perbanyakan tanaman

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 26 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan 3, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB selama sembilan minggu sejak Februari hingga

Lebih terperinci

PENGARUH KONSENTRASI DAN LAMA PERENDAMAN DENGAN ZAT PENGATUR TUMBUH (ZPT) INDOLEBUTYRIC ACID (IBA) TERHADAP PERTUMBUHAN STEK TANAMAN JERUK

PENGARUH KONSENTRASI DAN LAMA PERENDAMAN DENGAN ZAT PENGATUR TUMBUH (ZPT) INDOLEBUTYRIC ACID (IBA) TERHADAP PERTUMBUHAN STEK TANAMAN JERUK WAHANA INOVASI VOLUME 4 No.2 JULI-DES 2015 ISSN : 2089-8592 PENGARUH KONSENTRASI DAN LAMA PERENDAMAN DENGAN ZAT PENGATUR TUMBUH (ZPT) INDOLEBUTYRIC ACID (IBA) TERHADAP PERTUMBUHAN STEK TANAMAN JERUK Arta

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Percobaan ini dilakukan mulai

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Percobaan ini dilakukan mulai BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Percobaan ini dilakukan di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian,, Medan. Percobaan ini dilakukan mulai dari bulan April 2016 hingga Mei

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN.1. Jumlah Daun Tanaman Nilam (helai) pada umur -1. Berdasarkan hasil analisis terhadap jumlah daun (helai) didapatkan hasil seperti yang disajikan pada Tabel 1. di bawah ini

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Lapangan Terpadu Kampus Gedung Meneng Fakultas

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Lapangan Terpadu Kampus Gedung Meneng Fakultas 19 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Lapangan Terpadu Kampus Gedung Meneng Fakultas Pertanian, Universitas Lampung Kampus Gedung Meneng, Bandar Lampung dan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1 Tinggi Tanaman kacang hijau pada umur 3 MST Hasil pengamatan tinggi tanaman pada umur 3 MST dan sidik ragamnya disajikan pada tabel lampiran 2. Hasil analisis

Lebih terperinci

Gambar 2. Regresi antara bahan organik eceng gondok (Eichornia crassipes) pada berbagai perlakuan (X) dengan kadar air pada pf 1 (Y)

Gambar 2. Regresi antara bahan organik eceng gondok (Eichornia crassipes) pada berbagai perlakuan (X) dengan kadar air pada pf 1 (Y) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil dan Pembahasan a. Kadar Air pada Tekanan pf 1 Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa terdapat salah satu perlakuan yang memberikan pengaruh nyata terhadap peningkatan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Aliran permukaan dan erosi selama musim tanam jagung dan padi gogo pada masing-masing perlakuan disajikan pada Tabel 2.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Aliran permukaan dan erosi selama musim tanam jagung dan padi gogo pada masing-masing perlakuan disajikan pada Tabel 2. 16 4.1 Aliran Permukaan dan Erosi IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Aliran permukaan dan erosi selama musim tanam jagung dan padi gogo pada masing-masing perlakuan disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Aliran Permukaan

Lebih terperinci

LAMPIRAN A. Layout Penelitian Blok 1 Blok 2 Blok 3 (P0.Z1) (P1.Z0) (P2.Z1) (P1.Z0) (P2.Z1) (P2.Z2) (P1.Z1) (P0.Z1) (P1.Z1) (P0.Z0)

LAMPIRAN A. Layout Penelitian Blok 1 Blok 2 Blok 3 (P0.Z1) (P1.Z0) (P2.Z1) (P1.Z0) (P2.Z1) (P2.Z2) (P1.Z1) (P0.Z1) (P1.Z1) (P0.Z0) LAMPIRAN A. Layout Penelitian Blok 1 Blok 2 Blok 3 (P0.Z2) (P0.Z1) (P2.Z2) (P2.Z1) (P1.Z0) (P0.Z0) (P0.Z1) (P2.Z1) (P1.Z0) (P1.Z1) (P2.Z2) (P1.Z2) (P2.Z0) (P1.Z1) (P0.Z1) (P0.Z0) (P2.Z0) (P2.Z1) (P1.Z2)

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Sifat Kimia Hasil analisis sifat kimia tanah sebelum diberi perlakuan dapat dilihat pada lampiran 2. Penilaian terhadap sifat kimia tanah yang mengacu pada kriteria Penilaian

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Variabel Hama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya dengan berbagai

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Variabel Hama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya dengan berbagai IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Variabel Hama 1. Mortalitas Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya dengan berbagai fase dan konsentrasi tidak memberikan pengaruh nyata terhadap mortalitas hama

Lebih terperinci

KAJIAN PENGGUNAAN LIMBAH MEDIA TANAM JAMUR TIRAM SEBAGAI PUPUK ORGANIK ALTERNATIF PADA BUDIDAYA BAWANG MERAH ABSTRAK

KAJIAN PENGGUNAAN LIMBAH MEDIA TANAM JAMUR TIRAM SEBAGAI PUPUK ORGANIK ALTERNATIF PADA BUDIDAYA BAWANG MERAH ABSTRAK 193 KAJIAN PENGGUNAAN LIMBAH MEDIA TANAM JAMUR TIRAM SEBAGAI PUPUK ORGANIK ALTERNATIF PADA BUDIDAYA BAWANG MERAH Agus Mulyadi Purnawanto dan Oetami Dwi Hajoeningtijas Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE

BAB III MATERI DAN METODE 9 BAB III MATERI DAN METODE 3.1. Waktu Pelaksanaan Penelitian Penelitian dilaksanakan pada Mei September 2017 di Kebun Operasional Dinas Pertanian Kota Semarang, Kecamatan Gunung Pati, Kota Semarang dan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Percobaan ini dilakukan mulai bulan Oktober 2007 hingga Februari 2008. Selama berlangsungnya percobaan, curah hujan berkisar antara 236 mm sampai dengan 377 mm.

Lebih terperinci

KAJIAN PEMBERIAN KOMPOS BATANG PISANG DAN PUPUK NPK PADA PEMBIBITAN TANAMAN JATI

KAJIAN PEMBERIAN KOMPOS BATANG PISANG DAN PUPUK NPK PADA PEMBIBITAN TANAMAN JATI 1 KAJIAN PEMBERIAN KOMPOS BATANG PISANG DAN PUPUK NPK PADA PEMBIBITAN TANAMAN JATI (Tectona grandis) Ferdi Asdriawan A.P (20110210016) Prodi Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta INTISARI Penelitian

Lebih terperinci

PENGARUH PEMBERIAN MULSA ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN TOMAT

PENGARUH PEMBERIAN MULSA ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN TOMAT Jurnal AgroPet Vol. 10 Nomor 1 Juni 2013 ISSN: 1693-9158 PENGARUH PEMBERIAN MULSA ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN TOMAT Oleh: Endang Sri Dewi.HS. 1) RINGKASAN Peningkatan kebutuhan tomat

Lebih terperinci

UJI EFEKTIVITAS PUPUK ORGANIK HAYATI (Bio organic fertilizer) UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KANGKUNG DARAT (Ipomea reptans Poir)

UJI EFEKTIVITAS PUPUK ORGANIK HAYATI (Bio organic fertilizer) UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KANGKUNG DARAT (Ipomea reptans Poir) UJI EFEKTIVITAS PUPUK ORGANIK HAYATI (Bio organic fertilizer) UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KANGKUNG DARAT (Ipomea reptans Poir) Gubali, H., M.I.Bahua, N.Musa Jurusan Agroteknologi Fakultas

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. dilaksanakan di lahan percobaan dan Laboratorium. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih pakcoy (deskripsi

MATERI DAN METODE. dilaksanakan di lahan percobaan dan Laboratorium. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih pakcoy (deskripsi III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan dan Laboratorium Agronomi Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 1.Tinggi Tanaman Adanya penambahan pupuk ke dalam tanah diperoleh pertumbuhan yang baik, salah satunya adalah tinggi tanaman. Rata-rata tinggi tanaman jagung

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang 12 I. PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi, salah satunya adalah anggrek. Diperkirakan sekitar 5000 jenis anggrek spesies tersebar di hutan wilayah

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kondisi Umum HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Lahan yang digunakan adalah lahan bekas penambangan semen PT Indocement. Lahan ini berada pada ketinggian 200 m dpl. Menurut Wahid (2006) ketinggian yang optimum bagi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Greenhouse Jurusan Bioloi Fakultas Sains dan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Greenhouse Jurusan Bioloi Fakultas Sains dan BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan di Greenhouse Jurusan Bioloi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, pada bulan Maret

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. menunjukkan bahwa penggunaan jenis mulsa dan jarak

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. menunjukkan bahwa penggunaan jenis mulsa dan jarak IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Tinggi Tanaman (cm ) Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penggunaan jenis mulsa dan jarak tanam yang berbeda serta interaksi antara kedua perlakuan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1.Neraca Air Lahan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Nilai evapotranspirasi dihitung berdasarkan persamaan (Penman 1948). Tabel 1. Hubungan antara rata-rata curah hujan efektif dengan evapotranspirasi Bulan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 17 HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Kualitatif Karakter kualitatif yang diamati pada penelitian ini adalah warna petiol dan penampilan daun. Kedua karakter ini merupakan karakter yang secara kualitatif berbeda

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil 15 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Sifat Kimia Latosol Darmaga Latosol (Inceptisol) merupakan salah satu macam tanah pada lahan kering yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian.

Lebih terperinci

1. Mahasiswa Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, UNG 2. Dosen Pengajar Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian UNG

1. Mahasiswa Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, UNG 2. Dosen Pengajar Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian UNG Pengaruh Interval dan Pemberian Cucian Air Beras Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L.) varietas Vima-1 SthefanyLatief(¹), Nurmi(²), dan Fauzan Zakaria(³) Jurusan Agroteknologi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Tinggi Tanaman dosis yang berbeda tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman jagung manis. Rata-rata pertumbuhan tinggi tanaman jagung manis dijelaskan pada Tabel

Lebih terperinci