HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum"

Transkripsi

1 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Keadaan tanaman cabai selama di persemaian secara umum tergolong cukup baik. Serangan hama dan penyakit pada tanaman di semaian tidak terlalu banyak. Hanya ada beberapa tanaman yang terkena hama kutu daun yaitu hibrida IPB C9 x IPB C2. Hama kutu daun ini dikendalikan dengan cara menyemprot insektisida Curacron dengan dosis 2 ml/l pada bagian-bagian tanaman yang terdapat kutu daun. Berdasarkan data dari stasiun klimatologi Darmaga, curah hujan selama percobaan dari bulan Desember Juni 2009 berkisar antara mm, suhu udara rata-rata berkisar antara C, dan kelembaban udara rata-rata berkisar antara C. Kegiatan transplanting atau pindah tanam bibit cabai ke lapangan dilakukan pada akhir bulan Januari. Keadaan tanaman pada saat proses transplanting dapat dikatakan baik. Hal ini disebabkan oleh proses transplanting dilakukan pada musim hujan sehingga udara tidak terlalu panas. Namun diperlukan pengendalian yang teratur untuk mencegah terjadinya serangan hama dan penyakit karena tingkat serangan penyakit dan hama tinggi pada musim hujan. Beberapa tanaman disulam karena adanya hama ulat tanah yang menyerang tanaman dengan cara memotong bagian tanaman tetapi jumlah tanaman yang terserang tidak terlalu banyak. Penyiraman tanaman cabai pada umur 1-2 MST tidak rutin dilakukan karena pada sore hari sering hujan. Hama yang menyerang awal pertanaman cabai antara lain bekicot dan belalang. Hama yang menyerang pada tanaman dewasa antara lain kutu daun, lalat buah, ulat grayak, dan belalang. Hama ulat grayak banyak menyerang daun IPB C2 pada semua ulangan dan yang paling banyak terdapat di ulangan pertama. Lalat buah biasanya menyerang buah cabai yang berwarna terang dibandingkan buah yang berwarna gelap contohnya adalah hibrida IPB C14 x IPB C2 dan IPB C9 x IPB C2. Kutu daun menyerang hampir semua genotipe baik tetua maupun hasil persilangan. Pengendalian serangga

2 17 seperti ulat dan belalang dilakukan dengan cara menyemprot insektisida Curacron, sedangkan kutu daun dikendalikan dengan cara menyemprot pestisida Kanon dengan dosis masing-masing insektisida 2 cc/l. Hama-hama yang menyerang tanaman cabai dapat dilihat pada gambar 1. Gambar 1. Hama-hama yang Menyerang Tanaman Cabai. A. Ulat Grayak, B. Kutu Daun, C. Bekicot, dan D. Belalang Penyakit yang banyak menyerang adalah layu bakteri dan antraknosa. Beberapa tanaman terkena rebah kecambah (damping off) yang disebabkan oleh Phythium spp atau Rhizoctonia solani misalnya hibrida IPB C10 x IPB C2. Gejala dari penyakit ini adalah batang muda yang masih lunak terserang di bagian pangkal, menjadi kebasah-basahan, mengerut sehingga roboh dan mati (Semangun, 1989). Penyakit layu bakteri hampir menyerang semua genotipe. Penyakit ini banyak menyerang IPB C10 terutama ulangan I. IPB C10 memiliki lebar tajuk yang sempit. Penyakit layu bakteri disebabkan oleh Pseudomonas solanacearum. Tanaman yang terkena penyakit ini akan mengalami gejala layu, menguning, daun rontok. Apabila batang dipotong melintang akan kelihatan penampang melintang berwarna cokelat dan akan keluar lendir berwarna putih kotor setelah dicelup ke dalam air. Bila keadaan memungkinkan, tanaman akan segera mati beberapa hari dan bila keadaan kurang baik bagi patogen maka tanaman akan layu perlahan atau malahan tidak layu tetapi pertumbuhan tanaman kerdil, menguning, dan daunnya kering (Pracaya, 1999). Penyakit layu bakteri dikendalikan dengan bakterisida Agrept dengan dosis 2 g/l. Penyakit antraknosa menyerang hampir seluruh genotipe termasuk IPB C15 yang memiliki keunggulan tahan antraknosa. Genotipe yang paling banyak

3 18 terserang penyakit antraknosa adalah IPB C2. Pengendalian penyakit antraknosa dilakukan dengan menyemprot fungisida Antracol dan Dithane dengan dosis 2 g/l secara bergiliran. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Colletotrichum sp. Jamur ini mula-mula membentuk bercak coklat kehitaman yang meluas menjadi busuk lunak. Pada tengah bercak terdapat kumpulan titik-titik hitam yang terdiri dari kelompok seta dan konidium jamur. Serangan yang berat dapat menyebabkan seluruh buah mengering dan mengerut (keriput) (Semangun, 1989). Gulma yang ada di area pertanaman antara lain rumput teki (Cyperus rotundus.), Mimosa pudica, Ageratum conyzoides, dan Imperata cylindrica. Gejala tanaman cabai yang terserang penyakit oleh Phythium spp atau Rhizoctonia solani, Pseudomonas solanacearum, dan Colletotrichum sp dapat dilihat pada Gambar 2. ss Gambar 2. Gejala Serangan Penyakit pada Tanaman Cabai. A. Rebah Kecambah, B. Layu Bakteri, dan C. Antraknosa Analisis Ragam Hasil analisis ragam menunjukkan adanya perbedaan di antara 21 genotipe yang diuji. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 3 semua peubah menunjukkan terdapat perbedaan yang sangat nyata kecuali peubah umur mulai berbunga dan diameter ujung buah yang menunjukkan perbedaan yang nyata. Berdasarkan analisis diperoleh pula nilai koefisien keragaman (kk) masing-masing peubah yang berada pada kisaran %. Nilai koefisien keragaman terendah dimiliki oleh peubah umur mulai panen sedangkan nilai koefisien tertinggi dimiliki oleh peubah bobot buah layak pasar. Rekapitulasi sidik ragam semua peubah dapat dilihat pada Tabel 3. Rekapitulasi ini disarikan dari Tabel Lampiran 2-35.

4 19 Tabel 3. Rekapitulasi Sidik Ragam Peubah Cabai No. Peubah F hitung Pr>F kk(%) 1 Tinggi tanaman (cm) 7.99** Tinggi dikotomus (cm) 13.62** Diameter batang (mm) 7.22** Lebar tajuk (cm) 6.03** Umur mulai berbunga (HST) 3.13* Umur mulai panen (HST) 3.86** Bobot buah per tanaman (g) 9.22** Jumlah buah per tanaman 3.81** Bobot buah layak pasar (g) 8.23** Jumlah buah layak pasar (g) 5.69** Bobot per buah (g) 19.34** Panjang buah (cm) 40.69** Diameter pangkal buah (mm) 25.86** Diameter tengah buah (mm) 11.18** Diameter ujung buah (mm) 3.15* Tebal kulit buah (mm) 4.36** Bobot brangkasan (g) 6.54** Keterangan : * berbeda nyata pada taraf 5%, ** berbeda sangat nyata pada taraf 1% Tinggi Tanaman Nilai tengah peubah tinggi tanaman yang disajikan pada Tabel 4 menunjukkan bahwa terdapat 7 hibrida yaitu IPB C10 x IPB C2, IPB C15 x IPB C9, IPB C14 x IPB C9, IPB C10 x IPB C9, IPB C15 x IPB C10, IPB C15 x IPB C14, dan IPB C14 x IPB C10 yang memiliki tinggi tanaman lebih tinggi daripada hibrida yang lainnya. Kisaran nilai tengah hibrida pada peubah ini berada antara cm. Tinggi Dikotomus Tinggi dikotomus dari 15 hibrida yang diuji memiliki nilai tengah berkisar antara cm. Tabel 4 menunjukkan terdapat 6 hibrida yang memiliki tinggi dikotomus lebih tinggi daripada hibrida yang lainnya. Hibrida yang memiliki tinggi dikotomus lebih tinggi daripada hibrida yang lainnya adalah hibrida IPB C10 x IPB C2, IPB C10 x IPB C9, IPB C9 x IPB C2, IPB C14 x IPB C9, IPB C14 x IPB C2, dan IPB C14 x IPB C10.

5 20 Diameter Batang Nilai tengah atau rataan peubah diameter batang dari hibrida yang diuji berada pada kisaran antara mm. Enam hibrida memiliki nilai rataan diameter batang lebih tinggi daripada hibrida yang lainnya, yaitu hibrida IPB C15 x IPB C9, IPB C15 x IPB C2, IPB C15 x IPB C14, IPB C15 x IPB C10, IPB C14 x IPB C9, dan IPB C20 x IPB C15 (Tabel 4). Tabel 4. Nilai Tengah Peubah Tinggi Tanaman, Tinggi Dikotomus, dan Diameter Batang dari Hibrida yang Diuji Hibrida Tinggi Tanaman Tinggi Dikotomus Diameter Batang (IPB C) (cm) (cm) (mm) 9 x bcde ab 9.00 c 10 x a a 8.88 c 10 x abc ab 9.56 bc 14 x cdef ab 9.61 bc 14 x abc ab 9.96 abc 14 x abcd ab 8.85 c 15 x defg ef ab 15 x ab de a 15 x abcd bc ab 15 x abc def ab 20 x defg cde 9.13 c 20 x g de 8.80 c 20 x fg bcd 9.12 c 20 x efg def 9.35 bc 20 x efg f 9.85 abc Keterangan : Nilai pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT 5% Lebar Tajuk Nilai rataan lebar tajuk hibrida yang diuji berkisar antara cm. Berdasarkan Tabel 5 terdapat 9 hibrida yang memiliki lebar tajuk lebih lebar daripada hibrida yang lainnya, yaitu hibrida IPB C15 x IPB C10, IPB C15 x IPB C2, IPB C15 x IPB C14, IPB C10 x IPB C2, IPB C15 x IPB C9, IPB C14 x IPB C9, IPB C20 x IPB C15, IPB C9 x IPB C2, dan IPB C14 x IPB C2.

6 21 Umur Mulai Berbunga Umur mulai berbunga 15 hibrida yang diuji berkisar antara HST. Tabel 5 menunjukkan hibrida IPB C15 x IPB C9 berbeda nyata dengan hibrida IPB C9 x IPB C2 dan IPB C14 x IPB C9. Umur Mulai Panen Nilai rataan peubah umur mulai panen berkisar antara HST. Umur berbunga yang cepat menyebabkan pembuahan lebih cepat berlangsung sehingga umur panen dapat berlangsung lebih cepat pula. Berdasarkan Tabel 5 terdapat 11 hibrida yaitu hibrida IPB C14 x IPB C2, IPB C20 x IPB C14, IPB C14 x IPB C9, IPB C10 x IPB C9, IPB C14 x IPB C10, IPB C20 x IPB C9, IPB C9 x IPB C2, IPB C10 x IPB C2, IPB C15 x IPB C10, IPB C20 x IPB C10, dan IPB C15 x IPB C14 yang memiliki umur panen lebih cepat daripada hibrida yang lainnya. Tabel 5. Nilai Tengah Peubah Lebar Tajuk, Umur Mulai berbunga, dan Umur Mulai Panen dari Hibrida yang Diuji Hibrida Lebar Tajuk Umur Mulai Berbunga Umur Mulai Panen (IPB C) (cm) (HST) (HST) 9 x abcd d cde 10 x abc abcd bcde 10 x de abcd de 14 x abcd cd e 14 x abc d de 14 x de abcd de 15 x ab abc abc 15 x abc a a 15 x a abcd bcde 15 x abc abcd abcde 20 x bcde abcd abcd 20 x e bcd de 20 x cde abcd bcde 20 x bcde bcd de 20 x abcd 3.33 ab ab Keterangan : Nilai pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT 5%

7 22 Bobot Buah per Tanaman Bobot buah per tanaman memiliki nilai rataan berkisar antara g (Tabel 6). Delapan hibrida yaitu hibrida IPB C15 x IPB C14, IPB C15 x IPB C2, IPB C14 x IPB C9, IPB C15 x IPB C9, IPB C14 x IPB C2, IPB C15 x IPB C10, IPB C9 x IPB C2, dan IPB C20 x IPB C15 memiliki nilai rataan bobot buah per tanaman lebih besar daripada hibrida yang lainnya. Tinggi rendahnya bobot buah per tanaman diduga dipengaruhi oleh jumlah buah per tanaman dan bobot per buah. Bobot buah per tanaman belum tentu tinggi apabila jumlah buah yang dipanen per tanaman banyak tetapi bobot per buah kecil. Tabel 6. Nilai Tengah Peubah Bobot Buah per Tanaman, Jumlah Buah per Tanaman, dan Bobot Buah Layak Pasar dari Hibrida yang Diuji Hibrida Bobot Buah Jumlah Buah Bobot Buah Layak (IPB C) per Tanaman (g) per Tanaman Pasar (g) 9 x abc e bcde 10 x de bcde efg 10 x e abcd fg 14 x ab cde bcde 14 x a abc abcd 14 x de abc efg 15 x a cde abc 15 x ab abc a 15 x abc a bcde 15 x a bcde ab 20 x cde de def 20 x de cde efg 20 x de ab g 20 x bcde bcde defg 20 x abcd abc cdef Keterangan : Nilai pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT 5% Jumlah Buah per Tanaman Nilai tengah peubah jumlah buah per tanaman dari hibrida yang diuji berkisar antara Tabel 6 menunjukkan terdapat 7 hibrida yang memiliki jumlah buah per tanaman lebih tinggi daripada hibrida yang lainnya. Hibrida-hibrida yang memiliki jumlah buah per tanaman lebih tinggi diantara hibrida yang diuji adalah hibrida IPB C15 x IPB C10, IPB C20 x IPB C10, IPB

8 23 C20 x IPB C15, IPB C14 x IPB C9, IPB C14 x IPB C10, IPB C15 x IPB C9, dan IPB C10 x IPB C9. Bobot Buah Layak Pasar Kisaran nilai tengah peubah bobot buah layak pasar dari hibrida yang diuji berkisar antara g (Tabel 6). Hibrida IPB C15 x IPB C9, IPB C15 x IPB C14, IPB C15 x IPB C2, dan IPB C14 x IPB C9 memiliki nilai rataan bobot buah layak pasar lebih besar daripada hibrida yang lainnya. Jumlah buah layak pasar yang tinggi dengan bobot per buah yang tinggi dapat menyebabkan bobot buah layak pasar tinggi. Tabel 7. Nilai Tengah Peubah Jumlah Buah Layak Pasar, Bobot per Buah, dan Panjang Buah dari Hibrida yang Diuji Hibrida Jumlah Buah Bobot per Panjang (IPB C) Layak Pasar Buah (g) Buah (cm) 9 x f 7.97 a bc 10 x bcde 3.45 fgh 7.63 d 10 x bcd 2.53 gh 5.62 ef 14 x ef 8.45 a b 14 x cdef 5.82 bc bc 14 x bcde 2.38 h 5.64 ef 15 x bcde 8.34 a a 15 x ab 6.38 b c 15 x a 3.81 efg 7.75 d 15 x bcdef 7.85 a b 20 x def 5.18 bcd 7.15 de 20 x cdef 3.97 def 5.17 fg 20 x bc 2.63 gh 3.97 g 20 x bcde 5.25 bcd 6.11 ef 20 x bc 4.82 cde 6.86 de Keterangan : Nilai pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT 5% Jumlah Buah Layak Pasar Berdasarkan Tabel 7 nilai rataan dari peubah jumlah buah layak pasar berkisar antara Hibrida IPB C15 x IPB C10 dan IPB C15 x IPB C9 memiliki jumlah buah layak pasar lebih besar daripada hibrida yang lainnya. Jumlah buah layak pasar dipengaruhi oleh banyaknya jumlah buah yang tidak

9 24 layak pasar atau rusak. Semakin banyak jumlah buah yang rusak, maka semakin sedikit jumlah buah yang layak pasar. Bobot per Buah Nilai rataan hibrida peubah bobot per buah yang dapat dilihat pada Tabel 7 berkisar antara g. Hibrida IPB C14 x IPB C2, IPB C15 x IPB C2, IPB C9 x IPB C2, dan IPB C15 x IPB C14 memiliki nilai rataan bobot per buah lebih besar daripada hibrida yang lainnya. Hibrida-hibrida yang memiliki bobot per buah besar merupakan cabai besar. Tabel 8. Nilai Tengah Peubah Diameter Pangkal Buah, Diameter Tengah Buah, dan Diameter Ujung Buah dari Hibrida yang Diuji Hibrida Diameter Pangkal Diameter Tengah Diameter Ujung (IPB C) Buah (mm) Buah (mm) Buah (mm) 9 x abc abc 6.18 ab 10 x def 8.52 e 4.54 de 10 x ef 8.02 e 5.10 bcde 14 x c ab 5.43 abcde 14 x de 9.07 de 4.07 e 14 x f 8.14 e 4.34 e 15 x ab bc x abc ab 5.88 abcd 15 x d 8.64 e 4.78 cde 15 x bc abc 5.11 bcde 20 x c abc 6.58 ab 20 x c ab 6.82 a 20 x d cd 6.00 abcd 20 x abc a 6.35 ab 20 x a bc 6.38 ab Keterangan : Nilai pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT 5% Panjang Buah Tabel 7 menunjukkan nilai tengah peubah panjang buah hibrida yang diuji berkisar antara cm. Hibrida IPB C15 x IPB C2 memiliki panjang buah terpanjang dibandingkan dengan hibrida lainnya yaitu sebesar cm. Hibrida-hibrida yang termasuk mutu I berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) yaitu hibrida IPB C15 x IPB C2, IPB C15 x IPB C14, dan IPB C14 x IPB C2. Hibrida yang termasuk mutu II berdasarkan SNI yaitu hibrida IPB C14 x IPB

10 25 C9, IPB C9 x IPB C2, dan IPB C 15 x IPB C9, sedangkan hibrida yang lainnya termasuk mutu III. Diameter Pangkal Buah Berdasarkan Tabel 8 peubah diameter pangkal buah memiliki nilai tengah berkisar antara mm. Lima hibrida memiliki nilai rataan diameter batang lebih besar daripada hibrida yang lainnya, yaitu hibrida IPB C20 x IPB C15, IPB C15 x IPB C2, IPB C15 x IPB C9, IPB C9 x IPB C2, dan IPB C20 x IPB C14. Diameter Tengah Buah Nilai tengah peubah diameter tengah buah berada antara mm. Tabel 8 menunjukkan bahwa terdapat 7 hibrida yaitu hibrida IPB C20 x IPB C14, IPB C14 x IPB C2, IPB C15 x IPB C9, IPB C20 x IPB C9, IPB C9 x IPB C2, IPB C20 x IPB C2, dan IPB C15 x IPB C14 yang memiliki nilai rataan diameter tengah buah lebih besar daripada hibrida yang lainnya. Diameter Ujung Buah Diameter ujung buah dari 15 hibrida yang diuji memiliki nilai tengah berkisar antara mm. Berdasarkan Tabel 8, terdapat 8 hibrida yang memiliki diameter ujung buah lebih besar daripada hibrida yang lainnya. Hibridahibrida yang memiliki diameter ujung buah lebih besar daripada hibrida yang lainnya adalah hibrida IPB C20 x IPB C9, IPB C20 x IPB C2, IPB C20 x IPB C14, IPB C20 x IPB C15, IPB C9 x IPB C2, IPB C20 x IPB C10, IPB C15 x IPB C9, dan IPB C14 x IPB C2. Tebal Kulit Buah Peubah tebal kulit buah memiliki nilai tengah berkisar antara mm. Tabel 9 menunjukkan hibrida IPB C20 x IPB C2 berbeda nyata dengan hibrida IPB C10 x IPB C2, IPB C10 x IPB C9, dan IPB C15 x IPB C10.

11 26 Bobot Brangkasan Kisaran nilai tengah dari peubah bobot brangkasan berada antara g. (Tabel 9). Enam hibrida memiliki nilai rataan bobot brangkasan lebih besar diantara hibrida yang diuji, yaitu hibrida IPB C15 x IPB C9, IPB C15 x IPB C2, IPB C15 x IPB C10, IPB C15 x IPB C14, IPB C20 x IPB C2, dan IPB C14 x IPB C9. Mulyana (2006) mengemukakan bahwa genotipe yang memiliki bobot brangkasan tinggi diduga karena mempunyai jumlah percabangan yang banyak sehingga bobot tajuk menjadi bertambah besar. Tabel 9. Nilai Tengah Peubah Tebal Kulit Buah dan Bobot Brangkasan dari Hibrida yang Diuji Hibrida Tebal Kulit Buah Bobot Brangkasan (IPB C) (mm) (g) 9 x ab cdef 10 x c def 10 x c f 14 x ab def 14 x bc abcde 14 x bc ef 15 x abc ab 15 x abc a 15 x c abc 15 x abc abcd 20 x a abcdef 20 x ab ef 20 x abc f 20 x ab bcdef 20 x abc bcdef Keterangan : Nilai pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT 5% Variabilitas Besarnya nilai variabilitas dipengaruhi oleh ragam genetik dan ragam fenotipik pada masing-masing karakter atau peubah. Menurut Falconer (1964), lingkungan tumbuh dan interaksi antara lingkungan dengan faktor genotipe mempengaruhi penampilan fenotipe individu tanaman. Variabilitas genetik dapat diartikan besaran atau tahap yang harus diketahui sebelum menetapkan metode seleksi yang dilakukan dan waktu pelaksanaan metode seleksi tersebut (Poespodarsono, 1988). Tujuan utama pemuliaan tanaman

12 27 adalah kemajuan atau perbaikan genetik untuk mendapatkan genotipe yang unggul secara genetik dapat berlangsung dengan salah satu syaratnya yaitu variabilitas genetik luas dari populasi yang diseleksi (Brewbaker, 1985). Nilai variabilitas genetik yang luas dalam suatu populasi dapat dikatakan tingkat keragaman genetik pada populasi tersebut luas sehingga akan memberikan keleluasaan dalam pemilihan genotipe unggul atau perbaikan sifat karakter. Peubah yang memiliki keragaman genetik yang luas dapat digunakan sebagai kriteria seleksi. Menurut Allard (1960), proses seleksi akan lebih efektif pada suatu populasi dengan keragaman genetik yang luas. Tabel 10. Nilai Variabilitas Fenotipik (σ σ 2 P ) Peubah yang Diamati Peubah σ 2 P 2 σ σ P 2 2 σ σ P Kriteria Tinggi tanaman (cm) Luas Tinggi dikotomus (cm) Luas Diameter batang (mm) Luas Lebar tajuk (cm) Luas Umur mulai berbunga (HST) Luas Umur mulai panen (HST) Luas Bobot buah per tanaman (g) Luas Jumlah buah per tanaman Luas Bobot buah layak pasar (g) Luas Jumlah buah layak pasar Luas Bobot per buah (g) Luas Panjang buah (cm) Luas Diameter pangkal buah (mm) Luas Diameter tengah buah (mm) Luas Diameter ujung buah (mm) Luas Tebal kulit buah (mm) Luas Bobot brangkasan (g) Luas Berdasarkan luas atau sempitnya variabilitas fenotipik yang disajikan pada Tabel 10 dari peubah yang diamati menunjukkan bahwa semua peubah memiliki variabilitas fenotipik yang luas. Variabilitas fenotipik dikatakan luas apabila memiliki nilai ragam fenotipik lebih besar dari dua kali nilai variabilitas fenotipik. Hasil pendugaan nilai variabilitas genetik yang dapat dilihat pada Tabel 11 menunjukkan bahwa semua peubah yang diamati memiliki nilai variabilitas genetik yang luas. Nilai variabilitas genetik peubah yang diamati berkisar antara Peubah tebal kulit buah memiliki nilai variabilitas genetik

13 28 terendah sedangkan peubah bobot buah layak pasar memiliki nilai variabilitas genetik tertinggi. Keragaman genetik yang luas ini dapat dilihat dari penampilan fenotipik buah cabai bervariasi dari kecil hingga besar. Tabel 11. Nilai Variabilitas Genetik (σ σ 2 G ) Peubah yang Diamati Peubah σ 2 G 2 σ σ G 2 2 σ σ G Kriteria Tinggi tanaman (cm) Luas Tinggi dikotomus (cm) Luas Diameter batang (mm) Luas Lebar tajuk (mm) Luas Umur mulai berbunga (HST) Luas Umur mulai panen (HST) Luas Bobot buah per tanaman (g) Luas Jumlah buah per tanaman Luas Bobot buah layak pasar (g) Luas Jumlah buah layak pasar Luas Bobot per buah (g) Luas Panjang buah (cm) Luas Diameter pangkal buah (mm) Luas Diameter tengah buah (mm) Luas Diameter ujung buah (mm) Luas Tebal kulit buah (mm) Luas Bobot brangkasan (g) Luas Heritabilitas Heritabilitas dapat digunakan sebagai salah satu parameter guna mengetahui tingkat keterwarisan sifat tetua kepada keturunannya dan efektivitas dari seleksi (Poehlman, 1979). Heritabilitas arti luas (h 2 bs) merupakan perbandingan atau rasio antara ragam genetik terhadap ragam fenotipe sedangkan heritabilitas arti sempit merupakan perbandingan atau ratio antara ragam aditif terhadap ragam fenotipe. Hasil pendugaan nilai heritabilitas arti luas menunjukkan semua peubah memiliki nilai heritabilitas yang tinggi tetapi tidak semua peubah memiliki kriteria tinggi untuk nilai heritabilitas arti sempit. Semua peubah baik tinggi tanaman hingga bobot brangkasan memiliki nilai heritabilitas arti luas yang termasuk ke dalam kriteria tinggi. Nilai heritabilitas arti luas pada peubah yang diamati berkisar antara %. Nilai heritabilitas arti luas ini dapat dilihat pada Tabel 12.

14 29 Suatu peubah yang memiliki nilai heritabilitas arti luas yang termasuk kriteria tinggi berarti faktor genetik memberikan pengaruh yang paling besar dibandingkan dengan faktor lingkungan sehingga dapat dilakukan seleksi berdasarkan peubah tersebut dan sifat-sifat genetik dari genotipe tersebut dapat diturunkan pada generasi selanjutnya. Tabel 12. Nilai Heritabilitas Arti Luas (h 2 bs) dan Sempit (h 2 ns) Peubah h 2 bs (%) Kriteria h 2 ns (%) Kriteria Tinggi tanaman (cm) Tinggi Sedang Tinggi dikotomus (cm) Tinggi Sedang Diameter batang (mm) Tinggi Sedang Lebar tajuk (cm) Tinggi 0.00 Rendah Umur berbunga (HST) Tinggi Rendah Umur panen (HST) Tinggi 9.06 Rendah Bobot buah per tanaman (g) Tinggi Tinggi Jumlah buah per tanaman Tinggi 8.16 Rendah Bobot buah layak pasar (g) Tinggi Sedang Jumlah buah layak pasar Tinggi 0.00 Rendah Bobot per buah (g) Tinggi Rendah Panjang buah (cm) Tinggi Sedang Diameter pangkal buah (mm) Tinggi 2.44 Rendah Diameter tengah buah (mm) Tinggi 0.00 Rendah Diameter ujung buah (mm) Tinggi 5.85 Rendah Tebal kulit buah (mm) Tinggi 0.00 Rendah Bobot brangkasan (mm) Tinggi Rendah Hasil pendugaan nilai heritabilitas arti sempit menunjukkan hanya peubah bobot buah per tanaman yang termasuk kriteria tinggi, sedangkan untuk peubah tinggi tanaman, tinggi dikotomus, diameter batang, bobot buah layak pasar termasuk ke dalam kriteria sedang. Peubah lebar tajuk, umur berbunga, umur panen, jumlah buah per tanaman, jumlah buah layak pasar, bobot per buah, diameter pangkal buah, diameter tengah buah, diameter ujung buah, tebal kulit buah, dan bobot brangkasan memiliki nilai heritabilitas arti sempit yang termasuk kriteria rendah. Nilai heritabilitas arti sempit pada peubah yang diamati yang dapat dilihat pada Tabel 12 berkisar antara %.

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum 17 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian dimulai bulan November 2009 sampai dengan bulan Mei 2010. Kondisi curah hujan selama penelitian berlangsung berada pada interval 42.9 mm sampai dengan 460.7

Lebih terperinci

Lampiran 1 Pengaruh perlakuan terhadap pertambahan tinggi tanaman kedelai dan nilai AUHPGC

Lampiran 1 Pengaruh perlakuan terhadap pertambahan tinggi tanaman kedelai dan nilai AUHPGC LAMPIRAN 38 38 Lampiran 1 Pengaruh perlakuan terhadap pertambahan tinggi tanaman kedelai dan nilai AUHPGC Perlakuan Laju pertambahan tinggi (cm) kedelai pada minggu ke- a 1 2 3 4 5 6 7 AUHPGC (cmhari)

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Lokasi penelitian terletak di Kebun Percobaan Leuwikopo. Lahan yang digunakan merupakan lahan yang biasa untuk penanaman cabai, sehingga sebelum dilakukan penanaman,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 13 HASIL DAN PEMBAHASAN Perkecambahan Benih Penanaman benih pepaya dilakukan pada tray semai dengan campuran media tanam yang berbeda sesuai dengan perlakuan. Kondisi kecambah pertama muncul tidak seragam,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 21 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Berdasarkan data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah Dramaga, keadaan iklim secara umum selama penelitian (Maret Mei 2011) ditunjukkan dengan curah

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 15 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Keadaan Umum Penelitian Tanah yang digunakan pada penelitian ini bertekstur liat. Untuk mengurangi kelembaban tanah yang liat dan menjadikan tanah lebih remah, media tanam

Lebih terperinci

BAHAN METODE PENELITIAN

BAHAN METODE PENELITIAN BAHAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di lahan penelitian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan, dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl, dilaksanakan pada

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Upaya peningkatan produksi ubi kayu seringkali terhambat karena bibit bermutu kurang tersedia atau tingginya biaya pembelian bibit karena untuk suatu luasan lahan, bibit yang dibutuhkan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Hasil analisis tanah sebelum perlakuan dilakukan di laboratorium Departemen Ilmu Tanah Sumberdaya Lahan IPB. Lahan penelitian tergolong masam dengan ph H O

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Galur Cabai Besar. Pembentukan Populasi F1, F1R, F2, BCP1 dan BCP2 (Hibridisasi / Persilangan Biparental) Analisis Data

BAHAN DAN METODE. Galur Cabai Besar. Pembentukan Populasi F1, F1R, F2, BCP1 dan BCP2 (Hibridisasi / Persilangan Biparental) Analisis Data 17 BAHAN DAN METODE Studi pewarisan ini terdiri dari dua penelitian yang menggunakan galur persilangan berbeda yaitu (1) studi pewarisan persilangan antara cabai besar dengan cabai rawit, (2) studi pewarisan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Percobaan ini dilakukan mulai bulan Oktober 2007 hingga Februari 2008. Selama berlangsungnya percobaan, curah hujan berkisar antara 236 mm sampai dengan 377 mm.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lahan penelitian yang digunakan merupakan lahan yang selalu digunakan untuk pertanaman tanaman padi. Lahan penelitian dibagi menjadi tiga ulangan berdasarkan ketersediaan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penanaman dilakukan pada bulan Februari 2011. Tanaman melon selama penelitian secara umum tumbuh dengan baik dan tidak ada mengalami kematian sampai dengan akhir penelitian

Lebih terperinci

Jumlah Hari Hujan Gerimis Gerimis-deras Total September. Rata-rata Suhu ( o C) Oktober '13 23,79 13,25 18, November

Jumlah Hari Hujan Gerimis Gerimis-deras Total September. Rata-rata Suhu ( o C) Oktober '13 23,79 13,25 18, November BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian yang disajikan dalam bab ini adalah pengamatan selintas dan utama. 4.1. Pengamatan Selintas Pengamatan selintas merupakan pengamatan yang hasilnya tidak diuji

Lebih terperinci

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida,

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida, PEMBAHASAN PT National Sago Prima saat ini merupakan perusahaan satu-satunya yang bergerak dalam bidang pengusahaan perkebunan sagu di Indonesia. Pengusahaan sagu masih berada dibawah dinas kehutanan karena

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 21 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Persentase daya berkecambah menunjukkan hasil yang baik, yaitu berada diatas 80 %. Penyakit yang menyerang bibit di persemaian adalah rebah kecambah (Pythium sp.) dan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 17 HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Kualitatif Karakter kualitatif yang diamati pada penelitian ini adalah warna petiol dan penampilan daun. Kedua karakter ini merupakan karakter yang secara kualitatif berbeda

Lebih terperinci

GENETIC VARIABILITY and HERITABILITY 20 GENOTYPE of HIGH YIELD CHILLI (Capsicum annuum L.) IPB COLLECTION

GENETIC VARIABILITY and HERITABILITY 20 GENOTYPE of HIGH YIELD CHILLI (Capsicum annuum L.) IPB COLLECTION GENETIC VARIABILITY and HERITABILITY 0 GENOTYPE of HIGH YIELD CHILLI (Capsicum annuum L.) IPB COLLECTION VARIABILITAS GENETIK dan HERITABILITAS 0 GENOTIPE TANAMAN CABAI (Capsicum annuum L.) UNGGUL KOLEKSI

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PENELITIAN

PELAKSANAAN PENELITIAN PELAKSANAAN PENELITIAN Persiapan Lahan Disiapkan lahan dengan panjang 21 m dan lebar 12 m yang kemudian dibersihkan dari gulma. Dalam persiapan lahan dilakukan pembuatan plot dengan 4 baris petakan dan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Desa Manjung, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Kecamatan Sawit memiliki ketinggian tempat 150 m dpl. Penelitian ini dilaksanakan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pertumbuhan Tanaman Caisin Tinggi dan Jumlah Daun Hasil uji F menunjukkan bahwa perlakuan pupuk hayati tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun caisin (Lampiran

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum 13 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Curah hujan harian di wilayah Kebun Percobaan PKBT IPB Tajur 1 dan 2 pada Februari sampai Juni 2009 berkisar 76-151 mm. Kelembaban udara harian rata-rata kebun tersebut

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2009 sampai Oktober 2009. Suhu rata-rata harian pada siang hari di rumah kaca selama penelitian 41.67 C, dengan kelembaban

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian dilakukan dari April Juli 2007 bertepatan dengan akhir musim hujan, yang merupakan salah satu puncak masa pembungaan (Hasnam, 2006c), sehingga waktu penelitian

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Perlakuan kadar air media (KAM) dan aplikasi paclobutrazol dimulai pada saat tanaman berumur 4 bulan (Gambar 1a) hingga tanaman berumur 6 bulan. Penelitian yang dilakukan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Percobaan studi populasi tanaman terhadap produktivitas dilakukan pada dua kali musim tanam, karena keterbatasan lahan. Pada musim pertama dilakukan penanaman bayam

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian yang ditampilkan pada bab ini terdiri dari hasil pengamatan selintas dan pengamatan utama. Pengamatan selintas terdiri dari curah hujan, suhu udara, serangan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Morfologi Tanaman Cabai

TINJAUAN PUSTAKA Morfologi Tanaman Cabai 3 TINJAUAN PUSTAKA Tanaman cabai (Capsicum annuum L.) termasuk ke dalam kingdom Plantae, divisi Spermatophyta, kelas Dicotyledoneae, ordo Solanes, famili Solanaceae, dan genus Capsicum. Tanaman ini berasal

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN. Hasil analisis statistika menunjukkan adaptasi galur harapan padi gogo

BAB V HASIL PENELITIAN. Hasil analisis statistika menunjukkan adaptasi galur harapan padi gogo 26 BAB V HASIL PENELITIAN 5.1 Adaptasi Galur Harapan Padi Gogo Hasil analisis statistika menunjukkan adaptasi galur harapan padi gogo berpengaruh nyata terhadap elevasi daun umur 60 hst, tinggi tanaman

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu 7 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penanaman di lapangan dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB Cikabayan Darmaga Bogor. Kebun percobaan memiliki topografi datar dengan curah hujan rata-rata sama dengan

Lebih terperinci

3. BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Bahan dan Alat 3.3 Metode Penelitian

3. BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Bahan dan Alat 3.3 Metode Penelitian 3. BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2009 sampai dengan Juli 2009 di Kebun Percobaan IPB Leuwikopo, Dramaga, Bogor yang terletak pada ketinggian 250 m dpl dengan

Lebih terperinci

4. HASIL PENELITIAN 4.1. Pengamatan Selintas Serangan Hama dan Penyakit Tanaman Keadaan Cuaca Selama Penelitian

4. HASIL PENELITIAN 4.1. Pengamatan Selintas Serangan Hama dan Penyakit Tanaman Keadaan Cuaca Selama Penelitian 4. HASIL PENELITIAN Hasil pengamatan yang disajikan dalam bab ini diperoleh dari dua sumber data pengamatan, yaitu pengamatan selintas dan pengamatan utama. 4.1. Pengamatan Selintas Pengamatan selintas

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat Metode Percobaan

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat Metode Percobaan 11 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juli 2012 di Dusun Bandungsari, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung. Analisis tanah dilakukan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian 10 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penanaman caisim dilaksanakan di lahan kebun percobaan IPB Pasir Sarongge, Cipanas dengan ketinggian tempat 1 124 m dpl, jenis tanah Andosol. Penelitian telah dilaksanakan

Lebih terperinci

HASIL. Pengaruh Seduhan Kompos terhadap Pertumbuhan Koloni S. rolfsii secara In Vitro A B C

HASIL. Pengaruh Seduhan Kompos terhadap Pertumbuhan Koloni S. rolfsii secara In Vitro A B C HASIL Pengaruh Seduhan Kompos terhadap Pertumbuhan Koloni S. rolfsii secara In Vitro Pertumbuhan Koloni S. rolfsii dengan Inokulum Sklerotia Pada 5 HSI diameter koloni cendawan pada semua perlakuan seduhan

Lebih terperinci

KACANG HIJAU. 16 Hasil Utama Penelitian Tahun 2013 PERBAIKAN GENETIK

KACANG HIJAU. 16 Hasil Utama Penelitian Tahun 2013 PERBAIKAN GENETIK KACANG HIJAU PERBAIKAN GENETIK Kacang hijau semakin menjadi pilihan untuk dibudi dayakan, karena secara teknis agronomis efisien terhadap air dibanding padi atau tanaman palawija lain. Masalah utama budi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Perbanyakan tanaman cabai secara in vitro dapat dilakukan melalui organogenesis ataupun embriogenesis. Perbanyakan in vitro melalui organogenesis dilakukan dalam media MS dengan penambahan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh PGPR terhadap Laju Pertambahan Tinggi Tanaman Kedelai

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh PGPR terhadap Laju Pertambahan Tinggi Tanaman Kedelai 23 HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh PGPR terhadap Laju Pertambahan Tinggi Tanaman Kedelai PGPR sebagai rizobakteria memberikan pengaruh tertentu terhadap pertumbuhan tanaman kedelai yang diujikan di rumah

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 20 HASIL DAN PEMBAHASAN Kepadatan Mikroba dalam Seduhan Kompos Hasil pengamatan kepadatan mikroba pada seduhan kompos dengan metode pencawanan pengenceran 10-6 pada media PDA menunjukkan bahwa antara seduhan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Biji Buru Hotong Gambar biji buru hotong yang diperoleh dengan menggunakan Mikroskop Sterio tipe Carton pada perbesaran 2 x 10 diatas kertas millimeter blok menunjukkan

Lebih terperinci

Pendugaan Parameter Genetik Populasi Cabai (Capsicum annuum L.) Melalui Pengujian F1 Hasil Persilangan Secara Diallel ABSTRACT

Pendugaan Parameter Genetik Populasi Cabai (Capsicum annuum L.) Melalui Pengujian F1 Hasil Persilangan Secara Diallel ABSTRACT Pendugaan Parameter Genetik Populasi Cabai (Capsicum annuum L.) Melalui Pengujian F1 Hasil Persilangan Secara Diallel Dedy alfian (*)1, Aslim Rasyad 1, Deviona 1 1) Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2012 Februari Penanaman

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2012 Februari Penanaman III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2012 Februari 2013. Penanaman dilakukan di Laboratorium Lapangan Terpadu Universitas Lampung. Pengamatan

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di kebun petani Desa Rimbo Panjang

MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di kebun petani Desa Rimbo Panjang III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di kebun petani Desa Rimbo Panjang Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar yang dimulai dari bulan November 2013 sampai April 2014.

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN

TATA CARA PENELITIAN III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Tamantirto, Kasihan, Kabupaten Bantul, D.I.Y.

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di kebun petani Desa Rimbo Panjang

MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di kebun petani Desa Rimbo Panjang III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di kebun petani Desa Rimbo Panjang Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar yang dimulai dari bulan November 2013 sampai April 2014.

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Pertanian Tanjung Selamat, Kecamatan Tuntungan, Kabupaten Deli Serdang

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Pertanian Tanjung Selamat, Kecamatan Tuntungan, Kabupaten Deli Serdang BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di UPT Balai Benih Induk (BBI) Palawija Dinas Pertanian Tanjung Selamat, Kecamatan Tuntungan, Kabupaten Deli Serdang Medan,

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE. Penelitian ini telah dilaksanakan di kebun petani Desa Rimbo Panjang

III. MATERI DAN METODE. Penelitian ini telah dilaksanakan di kebun petani Desa Rimbo Panjang III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini telah dilaksanakan di kebun petani Desa Rimbo Panjang Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar yang dimulai dari bulan November 2013 sampai April

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat 13 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2009 hingga Juni 2010. Penanaman di lapang dilakukan di Kebun Percobaan IPB, Leuwikopo, Darmaga. Lokasi penanaman berada

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian 18 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian Selama penelitian berlangsung suhu udara rata-rata berkisar antara 25.1-26.2 o C dengan suhu minimum berada pada bulan Februari, sedangkan suhu maksimumnya

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan 10 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan Babakan Sawah Baru, Darmaga Bogor pada bulan Januari 2009 hingga Mei 2009. Curah hujan rata-rata dari bulan Januari

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Stabilitas Galur Sidik ragam dilakukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap karakter pengamatan. Perlakuan galur pada percobaan ini memberikan hasil berbeda nyata pada taraf

Lebih terperinci

BAB III TATALAKSANA TUGAS AKHIR

BAB III TATALAKSANA TUGAS AKHIR 13 BAB III TATALAKSANA TUGAS AKHIR A. Tempat Pelaksanaan Pelaksanaan Tugas Akhir dilaksanakan di Dusun Kwojo Wetan, Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. B. Waktu Pelaksanaan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Data penelitian yang diperoleh pada penelitian ini berasal dari beberapa parameter pertumbuhan anakan meranti merah yang diukur selama 3 bulan. Parameter yang diukur

Lebih terperinci

Lampiran 1. Analisis Ragam Peubah Tinggi Tanaman Tebu Sumber Keragaman. db JK KT F Hitung Pr > F

Lampiran 1. Analisis Ragam Peubah Tinggi Tanaman Tebu Sumber Keragaman. db JK KT F Hitung Pr > F LAMPIRAN Lampiran 1. Analisis Ragam Peubah Tinggi Tanaman Tebu Asal Kebun 1 651.11 651.11 35.39** 0.0003 Ulangan 2 75.11 37.56 2.04 0.1922 Galat I 2 92.82 46.41 2.52 0.1415 Posisi Batang 2 444.79 222.39

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian 12 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Percobaan dilakukan di Desa Dukuh Asem, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka pada tanggal20 April sampai dengan 2 Juli 2012. Lokasi percobaan terletak

Lebih terperinci

III. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian dilakukan di Laboratorium dan Lahan Percobaan Fakultas

III. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian dilakukan di Laboratorium dan Lahan Percobaan Fakultas III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Laboratorium dan Lahan Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan dilaksanakan pada bulan Juli

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Lahan pertanian milik masyarakat Jl. Swadaya. Desa Sidodadi, Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatra

Lebih terperinci

Lampiran 1. Hasil analisis ragam dan analisis regressi metode deteriorasi alami dan metode pengusangan cepat metanol

Lampiran 1. Hasil analisis ragam dan analisis regressi metode deteriorasi alami dan metode pengusangan cepat metanol 80 Lampiran 1. Hasil analisis ragam dan analisis regressi metode deteriorasi alami dan metode pengusangan cepat metanol Perlakua Tolok Hasil Analisis Regresi Peluan Kode**/*/NS Nilai b Persamaan Anov Kode

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Aplikasi Insektisida terhadap Populasi WBC dan Musuh Alaminya di Lapangan Nilaparvata lugens Populasi wereng batang cokelat (WBC) selama penelitian dipengaruhi oleh interaksi antara

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat Metode Penelitian BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di dua tempat, yaitu pembibitan di Kebun Percobaan Leuwikopo Institut Pertanian Bogor, Darmaga, Bogor, dan penanaman dilakukan di

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Iklim sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman gandum. Fase pertumbuhan dan perkembangan tanaman gandum meliputi muncul daun ke permukaan (emergence),

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini dilaksanakan di lahan kering dengan kondisi lahan sebelum pertanaman adalah tidak ditanami tanaman selama beberapa bulan dengan gulma yang dominan sebelum

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 35 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Indeks Panen dan Produksi Tanaman Indeks panen menunjukkan distribusi bahan kering dalam tanaman yang menunjukkan perimbangan bobot bahan kering yang bernilai ekonomis dengan

Lebih terperinci

PENGARUH JARAK TANAM TERHADAP HASIL PADI VARIETAS UNGGUL

PENGARUH JARAK TANAM TERHADAP HASIL PADI VARIETAS UNGGUL 99 PENGARUH JARAK TANAM TERHADAP HASIL PADI VARIETAS UNGGUL Effect of Plant Spacing on Yield of Various Types of Rice Cultivars Abstrak Penelitian yang bertujuan mempelajari pengaruh jarak tanam terhadap

Lebih terperinci

TEKNIK BUDIDAYA TOMAT

TEKNIK BUDIDAYA TOMAT TEKNIK BUDIDAYA TOMAT 1. Syarat Tumbuh Budidaya tomat dapat dilakukan dari ketinggian 0 1.250 mdpl, dan tumbuh optimal di dataran tinggi >750 mdpl, sesuai dengan jenis/varietas yang diusahakan dg suhu

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Universitas Sumatera Utara, Medan, dengan ketinggian tempat

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Universitas Sumatera Utara, Medan, dengan ketinggian tempat Tempat dan Waktu Penelitian BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan dilahan Pertanian, Fakultas Pertanian, Medan, dengan ketinggian tempat 25 meter di atas permukaan laut, yang di mulai

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukabanjar Kecamatan Gedong Tataan

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukabanjar Kecamatan Gedong Tataan 15 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukabanjar Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran, dari bulan Oktober 2011 sampai dengan April 2012. 3.2

Lebih terperinci

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT SEMANGKA. Dr. M. SYUKUR, SP, MSi INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT SEMANGKA. Dr. M. SYUKUR, SP, MSi INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT SEMANGKA Dr. M. SYUKUR, SP, MSi INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 Hama Penting Semangka Hama penting pada semangka: 1. Thrips (Thrips parvispinus Karny) 2. Ulat perusak daun

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PENELITIAN. dan produksi kacang hijau, dan kedua produksi kecambah kacang hijau.

PELAKSANAAN PENELITIAN. dan produksi kacang hijau, dan kedua produksi kecambah kacang hijau. 21 PELAKSANAAN PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan dengan 2 (dua) tahap, pertama pertumbuhan dan produksi kacang hijau, dan kedua produksi kecambah kacang hijau. Tahap I. Pengujian Karakter Pertumbuhan

Lebih terperinci

PEMBAHASAN. Pengamatan Vegetatif di Kebun Uji Sei Dadap

PEMBAHASAN. Pengamatan Vegetatif di Kebun Uji Sei Dadap 44 PEMBAHASAN Pengamatan Vegetatif di Kebun Uji Sei Dadap Pengamatan pertumbuhan vegetatif di kebun uji Sei Dadap meliputi tinggi tanaman, lingkar batang, jumlah daun fronds (pelepah), panjang rachis,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Budidaya Cabai Keriting Hibrida TM 999 secara Konvensional dan PHT

HASIL DAN PEMBAHASAN Budidaya Cabai Keriting Hibrida TM 999 secara Konvensional dan PHT HASIL DAN PEMBAHASAN Budidaya Cabai Keriting Hibrida TM 999 secara Konvensional dan PHT Budidaya konvensional merupakan budidaya cabai yang menggunakan pestisida kimia secara intensif dalam mengendalikan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Klasifikasi dan Deskripsi Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescensl.)

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Klasifikasi dan Deskripsi Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescensl.) 8 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Klasifikasi dan Deskripsi Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescensl.) Menurut Cronquist (1981), klasifikasi tanaman cabai rawit adalah sebagai berikut : Kerajaan Divisi Kelas

Lebih terperinci

Lampiran 1. Deskripsi Varietas TM 999 F1. mulai panen 90 hari

Lampiran 1. Deskripsi Varietas TM 999 F1. mulai panen 90 hari Lampiran 1. Deskripsi Varietas TM 999 F1 Golongan Bentuk tanaman Tinggi tanaman Umur tanaman : hibrida : tegak : 110-140 cm : mulai berbunga 65 hari mulai panen 90 hari Bentuk kanopi : bulat Warna batang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pertumbuhan Vegetatif Dosis pupuk kandang berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman (Lampiran 5). Pada umur 2-9 MST, pemberian pupuk kandang menghasilkan nilai lebih

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat 8 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan di lahan petani di Dusun Pabuaran, Kelurahan Cilendek Timur, Kecamatan Cimanggu, Kotamadya Bogor. Adapun penimbangan bobot tongkol dan biji dilakukan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu, Fakultas Pertanian,

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu, Fakultas Pertanian, 17 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Pengamatan setelah panen dilanjutkan di Laboratorium

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Berdasarkan hasil analisis tanah di Laboratorium Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Institut Pertanian Bogor, tanah yang digunakan sebagai media tumbuh dikategorikan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate,

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate, III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar 13 HASIL DAN PEMBAHASAN Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar Hasil Uji t antara Kontrol dengan Tingkat Kematangan Buah Uji t digunakan untuk membandingkan

Lebih terperinci

Tata Cara penelitian

Tata Cara penelitian III. Tata Cara penelitian A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan di Lahan Percobaan, Labaratorium Penelitian dan Laboratorium Tanah Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Umum Penelitian dilakukan pada bulan April sampai dengan Juli 2013. Pada awal penanaman sudah memasuki musim penghujan sehingga mendukung pertumbuhan tanaman. Penyiraman

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian dan

MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian dan III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempatdan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, JalanH.R. Soebrantas No.155

Lebih terperinci

KARAKTER MORFOLOGI DAN AGRONOMI PADI VARIETAS UNGGUL

KARAKTER MORFOLOGI DAN AGRONOMI PADI VARIETAS UNGGUL 35 KARAKTER MORFOLOGI DAN AGRONOMI PADI VARIETAS UNGGUL Morphological and Agronomy Characters Of Various Types of Rice Cultivars Abstrak Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari karakter morfologi dan

Lebih terperinci

melakukan inokulasi langsung pada buah pepaya selanjutnya mengamati karakter yang berhubungan dengan ketahanan, diantaranya masa inkubasi, diameter

melakukan inokulasi langsung pada buah pepaya selanjutnya mengamati karakter yang berhubungan dengan ketahanan, diantaranya masa inkubasi, diameter PEMBAHASAN UMUM Pengembangan konsep pemuliaan pepaya tahan antraknosa adalah suatu kegiatam dalam upaya mendapatkan genotipe tahan. Salah satu metode pengendalian yang aman, murah dan ramah lingkungan

Lebih terperinci

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian yang disajikan dalam bab ini adalah pengamatan selintas dan pengamatan utama. 1.1. Pengamatan Selintas Pengamatan selintas merupakan pengamatan yang hasilnya

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode Penelitian BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2011 Maret 2012. Persemaian dilakukan di rumah kaca Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pertanaman Musim Pertama

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pertanaman Musim Pertama HASIL DAN PEMBAHASAN Per Musim Pertama Tinggi Tanaman Tinggi untuk musim pertama terbagi menjadi dua kategori berdasarkan kriteria Deptan (2007) yaitu tinggi (>68 86 cm) untuk Tanggamus, KH 71, Wilis,

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada di lahan sawah milik warga di Desa Candimas

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada di lahan sawah milik warga di Desa Candimas 16 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada di lahan sawah milik warga di Desa Candimas Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan. Penelitian ini dilakukan

Lebih terperinci

SELEKSI POTENSI HASIL BEBERAPA GALUR HARAPAN PADI GOGO DI DESA SIDOMULYO KABUPATEN KULON PROGO

SELEKSI POTENSI HASIL BEBERAPA GALUR HARAPAN PADI GOGO DI DESA SIDOMULYO KABUPATEN KULON PROGO SELEKSI POTENSI HASIL BEBERAPA GALUR HARAPAN PADI GOGO DI DESA SIDOMULYO KABUPATEN KULON PROGO Sutardi, Kristamtini dan Setyorini Widyayanti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta ABSTRAK Luas

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Berdasarkan data Badan Meteorologi dan Geofisika Darmaga, Bogor (Tabel Lampiran 1) curah hujan selama bulan Februari hingga Juni 2009 berfluktuasi. Curah hujan terendah

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Benih Indigofera yang digunakan dalam penelitian ini cenderung berjamur ketika dikecambahkan. Hal ini disebabkan karena tanaman indukan sudah diserang cendawan sehingga

Lebih terperinci

PENGARUH PERENDAMAN BENIH DALAM AIR PANAS TERHADAP DAYA KECAMBAH DAN PERTUMBUHAN BIBIT LAMTORO (Leucaena leucocephala)

PENGARUH PERENDAMAN BENIH DALAM AIR PANAS TERHADAP DAYA KECAMBAH DAN PERTUMBUHAN BIBIT LAMTORO (Leucaena leucocephala) ABSTRAK PENGARUH PERENDAMAN BENIH DALAM AIR PANAS TERHADAP DAYA KECAMBAH DAN PERTUMBUHAN BIBIT LAMTORO (Leucaena leucocephala) Nurma Ani Staf Pengajar Kopertis Wil. I dpk Universitas Al-Azhar Penelitian

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Suhu min. Suhu rata-rata

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Suhu min. Suhu rata-rata BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengamatan Selintas 4.1.1. Keadaan Cuaca Lingkungan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman sebagai faktor eksternal dan faktor internalnya yaitu genetika

Lebih terperinci

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Risiko Produksi Fluktuasi yang terjadi pada suatu usaha, baik fluktuasi hasil produksi, harga dan jumlah permintaan yang berada dibawah standar yang ditetapkan merupakan indikasi

Lebih terperinci

VARIABILITAS GENETIK HASIL PERSILANGAN TANAMAN TOMAT (Lycopersicumesculentum MILL.) DAN RESIPROKALNYA DI DATARAN RENDAH

VARIABILITAS GENETIK HASIL PERSILANGAN TANAMAN TOMAT (Lycopersicumesculentum MILL.) DAN RESIPROKALNYA DI DATARAN RENDAH VARIABILITAS GENETIK HASIL PERSILANGAN TANAMAN TOMAT (Lycopersicumesculentum MILL.) DAN RESIPROKALNYA DI DATARAN RENDAH GENETIC VARIABILITY OF TOMATO (Lycopersicumesculentum MILL.) PLANTS FROM CROSSES

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kondisi Umum 26 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikabayan, Institut Pertanian Bogor yang berada pada ketinggian 216 m di atas permukaan laut, 06.55 LS dan 106.72 BT pada

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. (turunan) dari persilangan intraspesifik RRIM 600 x PN 1546 di Balai Penelitian

METODE PENELITIAN. (turunan) dari persilangan intraspesifik RRIM 600 x PN 1546 di Balai Penelitian METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan tanaman F1 hasil okulasi (turunan) dari persilangan intraspesifik RRIM 600 x PN 1546 di Balai Penelitian Sungei Putih-Pusat

Lebih terperinci

PEMBUATAN BAHAN TANAM UNGGUL KAKAO HIBRIDA F1

PEMBUATAN BAHAN TANAM UNGGUL KAKAO HIBRIDA F1 PEMBUATAN BAHAN TANAM UNGGUL KAKAO HIBRIDA F1 Wahyu Asrining Cahyowati, A.Md (PBT Terampil Pelaksana) Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya I. Pendahuluan Tanaman kakao merupakan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. dengan ketinggian tempat ± 25 di atas permukaan laut, mulai bulan Desember

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. dengan ketinggian tempat ± 25 di atas permukaan laut, mulai bulan Desember BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan di desa Cengkeh Turi dengan ketinggian tempat ± 25 di atas permukaan laut, mulai bulan Desember sampai

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Bahan Alat Rancangan Percobaan Yijk ijk

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Bahan Alat Rancangan Percobaan Yijk ijk BAHAN DAN METODE 9 Waktu dan Tempat Percobaan ini dilaksanakan mulai bulan Februari 2007 sampai Juni 2007 di rumah kaca Balai Penelitian Biologi dan Genetika Cimanggu, Bogor, Jawa Barat. Rumah kaca berukuran

Lebih terperinci