HASIL DAN PEMBAHASAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "HASIL DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 15 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Selama percobaan berlangsung curah hujan rata-rata yaitu sebesar mm per bulan dengan jumlah hari hujan rata-rata 21 hari per bulan. Jumlah curah hujan tersebut lebih baik dari kebutuhan optimal tanaman teh. Dalimoenthe dan Johan (2008) menyatakan bahwa tanaman teh membutuhkan paling sedikit curah hujan 114 mm per bulan untuk tumbuh optimal. Jumlah curah hujan tersebut memiliki nilai yang sangat tinggi pada bulan pertama pengamatan sedangkan pada dua bulan terakhir pengamatan curah hujan cukup rendah. Suhu optimum untuk pertanaman teh berkisar antara 14 C - 25 C. Menurut Dalimoenthe dan Johan (2008) jika suhu udara lebih dari suhu optimum tetapi tidak melebihi 30 C maka tanaman masih dapat tumbuh walaupun tidak optimal, tetapi jika suhu pertanaman melebihi 30 C maka hasil fotosintesis akan berkurang karena banyak karbohidrat yang dirombak kembali pada proses respirasi sehingga fotosintat menurun. Suhu maksimum rata-rata per bulan pada lokasi percobaan adalah 27.5 ºC dan suhu minimum rata-rata sebesar 26.1 ºC sehingga pertanaman masih dapat tumbuh dengan baik walaupun suhu udara sedikit lebih tinggi dari suhu optimum (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Bogor, 2012) (Lampiran 2). Hasil pengamatan pendahuluan menunjukkan bahwa pertanaman teh memiliki keragaan yang relatif sama. Pengukuran tinggi tanaman pada tiap ulangan memberikan perbedaan tinggi yang tidak nyata. Jumlah daun tiap tanaman hampir sama pada tanaman yang memiliki tinggi yang sama, sehingga jumlah daun tidak berbeda nyata pada tiap ulangan. Pengukuran jumlah cabang primer dan jumlah cabang sekunder memberikan hasil yang tidak berbeda nyata sedangkan pengukuran diameter batang memberikan hasil yang nyata. Hal ini disebabkan oleh pengaruh lingkungan sehingga terdapat perbedaan pada pengukuran diameter (Lampiran 3).

2 16 Hasil analisis tanah menunjukkan bahwa nilai ph KCl dan H 2 O menunjukkan nilai yang sama pada tiap perlakuan yaitu 4.1 dan 4.8 yang termasuk dalam kategori sangat rendah pada kriteria penilaian sifat kimia tanah, tetapi masih dalam batas toleransi tanaman untuk tumbuh dengan baik karena nilai ph yang baik untuk pertanaman teh yaitu antara Nilai C-organik dan N-total terbaik terdapat pada perlakuan 180 kg N/ha, secara berturut yaitu 2.95 % dan 0.25 %. Nilai C-organik dan N-total pada tiap perlakuan termasuk dalam kategori sedang pada kriteria penilaian sifat kimia tanah. Walaupun terdapat perbedaan penambahan jumlah nitrogen terhadap tanah, tetapi penambahan tersebut tidak menyebabkan peningkatkan jumlah bahan organik dan nitrogen dalam tanah. Nilai C-organik dan N-total tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain yaitu pengelolaan tanah, tekstur tanah, iklim, posisi lanskap, dan tipe vegetasi (Bot dan Benites dalam Munawar, 2011). Nilai C/N pada perlakuan 180 kg N/ha mencapai % yang termasuk kategori sedang, padahal tanaman teh menghendaki nilai C/N yang termasuk kategori rendah karena baik untuk pertumbuhan vegetatif yaitu perlakuan 60 kg N/ha sebesar 9.09 %. Munawar (2011) menyatakan bahwa rasio C/N rendah berarti tanah banyak mengandung nitrogen dan mudah terdekomposisi, sehingga cepat memasok nitrogen pada tanaman (Lampiran 4). Unsur Ca pada tiap perlakuan berada pada kategori yang sama yaitu sangat rendah dengan nilai tertinggi terdapat pada perlakuan 60 kg N/ha yaitu sebesar 1.69 me/100 g. Nilai unsur Na tertinggi yaitu pada perlakuan 180 kg N/ha sebesar 0.67 me/100 g yang termasik dalam kategori sedang ketersediaannya di dalam tanah, sedangkan perlakuan lainnya berada pada kategori rendah. Unsur Mg menunjukkan nilai tertinggi pada perlakuan yang sama yaitu 60 kg N/ha dengan nilai sebesar 0.53 me/100 g dengan kategori rendah pada kriteria penilaian sifat kimia tanah. Kandungan Mg dalam tanah masih dalam kondisi yang sesuai karena menurut Havlin et al. dalam Munawar (2011) menyatakan bahwa pada umumnya tanah mengandung Mg berkisar 0.05 % di tanah (Lampiran 4). Nilai KTK (Kapasitas Tukar Kation) bergantung pada ketersediaan unsur K pada tanah karena pasokan K lebih efektif pada tanah yang memiliki nilai KTK tinggi. Nilai KTK pada tiap perlakuan pupuk termasuk dalam kategori rendah

3 17 pada kriteria penilaian sifat kimia tanah. Nilai KTK tertinggi terdapat pada perlakuan 120 kg N/ha yaitu sebesar % yang termasuk dalam kategori rendah tetapi kandungan K tertinggi terdapat pada perlakuan 180 kg N/ha yaitu sebesar 0.58 me/100 g yang termasuk kategori sedang. Hal tersebut menunjukkan bahwa dengan nilai KTK yang lebih tinggi efektifitas pasokan K terhadap tanaman berjalan baik sedangkan dengan tanah kandungan K yang tinggi belum tentu dapat memberikan pasokan K secara efektif pada tanah. Nilai kejenuhan basa (KB) dan kadar air tanah terbaik terdapat pada perlakuan 180 kg N/ha secara berurut % dan %. Nilai KB pada semua perlakuan berada pada kategori sangat rendah hingga rendah pada kriteria penilaian sifat kimia tanah sehingga tanah dikategorikan kurang subur, sedangkan kadar air tanah dalam kondisi cukup (Lampiran 4). Pada satu bulan setelah perlakuan (BSP) tanaman teh menunjukkan kondisi yang baik karena curah hujan yang masih tinggi. Tanaman terlihat segar dengan daun-daun yang berwarna hijau tua. Pada bulan pertama pengamatan pertanaman teh dibersihkan dari serasah daun agar memudahkan air meresap ke dalam tanah. Pada bulan keempat pengamatan, curah hujan sangat rendah sehingga serasah dibiarkan pada pertanaman agar tidak mempercepat laju penguapan air dari tanah. Perbedaan pertumbuhan tanaman terlihat sangat tinggi ketika dilakukan pengamatan setelah adanya hujan pada hari sebelumnya dan pengamatan tanpa ada hujan pada hari sebelumnya. Hasil pengukuran pada peubah-peubah pengamatan pada bulan awal percobaan menunjukkan hasil yang baik disebabkan curah hujan masih tinggi, berbeda dengan bulan akhir pengamatan yang sangat minim turunnya hujan menyebabkan daun-daun teh sangat kering sehingga perlu dilakukan penyiraman. Keadaan Kebun Percobaan Cikabayan Atas pada bulan pertama dan bulan keempat pengamatan menunjukkan pertumbuhan yang baik. Pertanaman teh ternaungi oleh tanaman karet sehingga penyinaran kurang optimal, namun tidak menurunkan potensi tumbuh tanaman yang terlihat dari pertambahan tinggi, jumlah daun, jumlah cabang serta pertambahan diameter batang yang cukup baik (Gambar 1).

4 18 A B Gambar 1. Kondisi Pertanaman Teh Saat 1 BSP (A) dan 4 BSP (B) Gangguan hama dan penyakit tidak memberikan pengaruh yang signifikan pada pertanaman teh. Penyakit yang menyerang pertanaman teh pada saat percobaan diantaranya cacar daun teh yang disebabkan oleh jamur Exobasidium vexans (Gambar 2). Menurut Departemen Pertanian (2002) penyakit ini dapat menurunkan produksi pucuk basah hingga 50 % karena menyerang daun serta ranting yang masih muda. Pada umumnya serangan penyakit ini terjadi pada pucuk peko, daun pertama, kedua dan ketiga. Selain itu pada pertanaman teh terdapat penyakit mati ujung (die back) atau juga biasa disebut tea gray blight (Gambar 2) yang disebabkan oleh jamur Pestalotia longiseta. Penyakit ini menyerang tanaman terutama melalui luka atau daun yang rusak hingga ranting serta tunas mengering dan dapat juga menyerang ranting yang masih hijau. Pencabutan tanaman atau membuang bagian tanaman yang terkena penyakit dilakukan untuk menghindarkan serangan penyakit yang lebih tinggi. Exobasidium vexans Tea Gray Blight Gambar 2. Penyakit yang Menyerang Pertanaman Teh

5 19 Hama yang menyerang pertanaman teh diantaranya adalah sejenis kutu putih Viburni pseudococcus (Gambar 3) berkoloni untuk menyerang daun dengan cara menyedot cairan pada daun. Selain itu terdapat ulat penggulung daun atau Homona coffearia. Menurut Departemen Pertanian (2002) cara yang dilakukan hama tersebut adalah dengan menyambungkan dua (atau lebih) daun bersamasama dengan sutra atau dengan menggulung satu daun lalu menyambungkan dengan yang lain. Ulat penggulung pucuk (Cydia leucostoma) atau short roller of tea dengan cara menggulung pucuk memakai benang-benang halus untuk mengikat daun pucuk sehingga tetap tergulung. Hama yang menyerang pertanaman diatasi dengan langsung membuang daun yang terdapat koloni hama atau dengan secara teknis diambil satu-persatu. Hal ini bertujuan untuk menghindarkan dari kehilangan data akibat serangan hama. Viburni pseudococcus Cydia leucostoma Homona coffearia Gambar 3. Hama yang Menyerang Pertanaman Teh

6 Rekapitulasi sidik ragam menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan dosis pupuk memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada minggu kedua, jumlah daun pada minggu delapan hingga minggu keenam belas, diameter batang pada minggu pertama hingga minggu ketiga serta pada pengukuran jumlah cabang sekunder. Pada peubah lainnya menunjukkan bahwa perbedaan dosis pupuk memberikan pengaruh yang tidak nyata pada pertanaman teh (Lampiran 5). Tinggi Tanaman Hasil uji analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian pupuk nitrogen berpengaruh nyata pada pengamatan tinggi tanaman di minggu kedua (Lampiran 6). Pada minggu kedua tersebut terlihat bahwa perlakuan 180 kg N/ha memiliki tinggi tanaman yang lebih baik bila dibandingkan dengan semua perlakuan. Berdasarkan data pada Tabel 1, perlakuan 180 kg N/ha berbeda nyata dengan perlakuan 60 kg N/ha dan 120 kg N/ ha tetapi tidak berbeda dengan perlakuan 240 kg N/ha. Tabel 1. Tinggi Tanaman Teh dengan Dosis Nitrogen yang Berbeda pada Pengamatan Minggu Kedua. Perlakuan (kg N/ha) Tinggi Tanaman (cm) b b a ab Ket: Angka pada kolom yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT 5% Pada Gambar 4, disajikan persentase tanaman teh yang telah mencapai tinggi lebih dari 70 cm. Persentase tanaman teh tersebut berasal dari banyaknya tanaman yang telah mencapai tinggi lebih dari 70 cm pada perlakuan yang sama. Tanaman-tanaman yang telah mencapai tinggi lebih dari 70 cm tersebut tidak diukur lagi tingginya pada pengamatan selanjutnya melainkan dilakukan bending pada batang utamanya. Tinggi tanaman harus mencapai lebih dari 70 cm agar memudahkan untuk melakukan bending. Bending tersebut dilakukan ke arah samping barisan tanaman sehingga jika tingginya kurang dari 70 cm khawatir tanaman akan patah, sedangkan jika terlampau tinggi dari 70 cm maka tanaman akan sulit dilakukan bending karena jarak antar perlakuan cukup rapat. 20

7 21 Pertanaman teh pada perlakuan 180 kg N/ha mencapai tinggi lebih dari 70 cm lebih cepat dibandingkan perlakuan lainnya. Padahal pada minggu kedua dan ketiga, perlakuan 240 kg N/ha memiliki persentase tanaman yang mencapai tinggi lebih dari 70 cm yang lebih baik daripada perlakuan 180 kg N/ha. Diawali pada minggu keempat, persentase perlakuan 180 kg N/ha selalu tertinggi hingga akhir pengamatan dan persentase akhirnya mencapai %. Persentase (%) Minggu Pengamatan ke- 60 kg N/ha 120 kg N/ha 180 kg N/ha 240 kg N/ha Gambar 4. Persentase Tanaman Teh yang Telah Mencapai Tinggi 70 cm pada Berbagai Dosis Pupuk Nitrogen Jumlah Daun Hubungan jumlah daun pada suatu tanaman dapat mempengaruhi besaran energi yang dapat dihasilkan oleh tanaman tersebut. Pemberian pupuk nitrogen memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah daun tanaman teh pada minggu kedelapan hingga minggu terakhir pengamatan, sesuai dengan hasil uji analisis ragam pada Lampiran 7. Pada minggu kedelapan hingga minggu keenam belas terlihat bahwa perlakuan 180 kg N/ha memiliki jumlah daun lebih banyak apabila dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Berdasarkan data pada Tabel 2, perlakuan 180 kg N/ha berbeda nyata dengan perlakuan 60 kg N/ha tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan 120 kg N/ha. Perlakuan 240 kg N/ha tidak berbeda nyata dengan perlakuan 180 kg N/ha hanya pada minggu ketiga belas, lainnya berbeda nyata.

8 22 Tabel 2. Jumlah Daun Tanaman Teh pada Minggu Kedelapan hingga Minggu Keenam Belas dengan Perbedaan Perlakuan Dosis Pupuk Nitrogen. Minggu Jumlah daun 60 kg N/ha 120 kg N/ha 180 kg N/ha 240 kg N/ha (helai) Minggu ke b 62.4 ab 69.7 a 59.0 b Minggu ke b 66.3 ab 75.7 a 64.2 b Minggu ke b 71.5 ab 82.4 a 68.3 b Minggu ke b 75.9 ab 86.4 a 71.8 b Minggu ke b 78.5 ab 89.1 a 75.1 b Minggu ke b 86.6 ab 95.7 a 83.7 bc Minggu ke b 90.5 ab 98.7 a 89.5 a Minggu ke b ab a 97.5 ab Minggu ke b ab a ab Ket: Angka pada baris yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT 5% Perkembangan jumlah daun pada pertanaman teh selama masa percobaan disajikan pada Gambar 5. Pada Gambar 5 tersebut terlihat bahwa jumlah daun pada perlakuan 180 kg N/ha selalu lebih tinggi daripada jumlah daun pada perlakuan lainnya hingga pengamatan minggu terakhir. Perbedaan jumlah daun terendah terdapat pada minggu kelima yaitu pada perlakuan 180 kg N/ha terdapat 57.1 helai daun sedangkan pada perlakuan 120 kg N/ha terdapat 55.3 helai daun. Perbedaan jumlah daun yang paling tinggi terdapat pada minggu kesepuluh yaitu perlakuan 180 kg N/ha dengan 82.4 helai daun dan perlakuan 120 kg N/ha dengan 71.5 helai daun. Rata-rata jumlah daun pada perlakuan 180 kg N/ha pada minggu terakhir pengamatan mencapai helai daun, sedangkan untuk perlakuan 120 kg N/ha dan 240 kg N/ha secara berturut dan helai daun.

9 23 Jumlah Daun Tanaman Teh (helai) Minggu Pengamatan ke- 60 kg N/ha 120 kg N/ha 180 kg N/ha 240 kg N/ha Gambar 5. Jumlah Daun Tanaman Teh pada Perlakuan Perbedaan Dosis Pupuk Nitrogen Diameter Batang Setelah melakukan uji analisis ragam, dihasilkan bahwa pengaruh pemberian pupuk nitrogen berpengaruh nyata pada diameter batang di minggu pertama hingga minggu ketiga pengamatan (Lampiran 8). Pada minggu pertama hingga ketiga tersebut terlihat bahwa perlakuan 180 kg N/ha memiliki diamater batang lebih baik bila dibandingkan dengan perlakuan yang lainnya. Berdasarkan Tabel 3 dari minggu pertama hingga ketiga pengamatan, perlakuan 180 kg N/ha berbeda nyata dengan perlakuan 60 kg N/ha dan 240 kg N/ha tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan 120 kg N/ha di minggu kedua. Tabel 3. Diameter Batang dengan Perbedaan Perlakuan Dosis Pupuk Nitrogen pada Minggu Pertama hingga Minggu Ketiga Pengamatan Minggu Diameter batang 60 kg N/ha 120 kg N/ha 180 kg N/ha 240 kg N/ha cm Minggu ke b 0.45 b 0.49 a 0.46 b Minggu ke b 0.46 ab 0.49 a 0.45 b Minggu ke b 0.45 b 0.49 a 0.44 b Ket: Angka pada baris yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT 5%

10 24 Pola perkembangan diameter batang pada tanaman teh selama masa percobaan disajikan pada Gambar 6. Pada Gambar 6 terlihat bahwa diameter batang perlakuan 180 kg N/ha memiliki nilai yang lebih tinggi daripada perlakuan lain dari minggu awal hingga minggu terakhir pengamatan, padahal pada minggu keempat nilainya hampir sama dengan perlakuan 120 kg N/ha. Pada minggu keempat tersebut perlakuan 180 kg N/ha memiliki nilai diameter 0.50 cm sedangkan perlakuan 120 kg N/ha dengan nilai diameter 0.49 cm. Tetapi pengamatan pada minggu-minggu selanjutnya hingga akhir pengamatan nilai diameter perlakuan 180 kg N/ha memiliki pertumbuhan yang lebih baik daripada pertumbuhan diameter perlakuan 120 kg N/ha sehingga nilai diameternya berada dibawah nilai diameter perlakuan 180 kg N/ha. Pada pengamatan terakhir diameter batang, perlakuan 180 kg N/ha memiliki nilai diameter yang paling baik dengan rata-rata 0.88 cm pada tiap tanaman. Diameter Batang Tanaman Teh (cm) Minggu Pengamatan ke- 60 kg N/ha 120 kg N/ha 180 kg N/ha 240 kg N/ha Gambar 6. Diameter Batang Tanaman Teh pada Berbagai Perlakuan Dosis Pupuk Nitrogen Jumlah Cabang Primer dan Jumlah Cabang Sekunder Hasil uji analisis ragam menunjukkan bahwa pengaruh pemberian pupuk nitrogen dengan dosis yang berbeda berpengaruh nyata pada jumlah cabang sekunder sedangkan pada jumlah cabang primer tidak berpengaruh nyata (Lampiran 9). Walaupun jumlah cabang primer tidak berbeda nyata antar perlakuan tetapi perlakuan 180 kg N/ha menunjukkan hasil yang baik dengan

11 25 memiliki rata-rata jumlah cabang paling baik diantara perlakuan lainnya. Berdasarkan Tabel 4, nilai rata-rata jumlah cabang primer pada perlakuan 180 kg N/ha adalah 7.14 cabang, jumlah tersebut lebih tinggi dari perlakuan lainnya yang memiliki nilai rata-rata jumlah cabang pada kisaran 6 cabang per tanaman. Jumlah cabang sekunder pada perlakuan 180 kg N/ha berbeda nyata dengan perlakuan 60 kg N/ha tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan 120 kg N/ha dan 240 kg N/ha. Jumlah cabang sekunder terbaik terdapat pada perlakuan 180 kg N/ha yaitu 3.25 buah cabang sekunder sedangkan yang terendah terdapat pada perlakuan 60 kg N/ha sebesar 1.42 buah cabang sekunder. Jumlah cabang sekunder tersebut sebagian didapatkan dari pengamatan tanaman awal dan sebagian lain didapatkan dari hasil perlakuan bending. Tabel 4. Jumlah Cabang Primer dan Cabang Sekunder Tanaman Teh dengan Perlakuan Perbedaan Dosis Pupuk Nitrogen Perlakuan Jumlah (kg N/ha) Cabang Primer Cabang Sekunder b ab a ab Ket: Angka pada kolom yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT 5% Waktu yang Dibutuhkan Tanaman Teh untuk Mencapai Tinggi 70 cm Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tinggi lebih dari 70 cm berbeda pada tiap tanaman. Hasil uji analisis ragam menunjukkan bahwa pengaruh pemberian pupuk nitrogen dengan dosis yang berbeda tidak berpengaruh nyata pada lama waktu tanaman teh untuk mencapai tinggi 70 cm sebagai syarat bending. Waktu yang dibutuhkan tanaman untuk mencapai tinggi 70 cm tidak berbeda nyata antar perlakuan (Lampiran 10). Berdasarkan Tabel 6, pertanaman teh yang lebih cepat mencapai tinggi 70 cm terdapat pada perlakuan 180 kg N/ha dengan waktu sekitar 8 minggu, selanjutnya perlakuan 240 kg N/ha dengan waktu 9 minggu sedangkan 60 kg N/ha dan 120 kg N/ha dengan waktu 10 minggu. Waktu tanaman mencapai tinggi 70 cm diukur untuk mengetahui efisiensi penggunaan pupuk nitrogen serta bending tanaman teh.

12 26 Tingkat Kehijauan Daun Hasil uji analisis ragam menunjukkan bahwa perbedaan dosis pupuk nitrogen yang diberikan tidak berpengaruh nyata pada tingkat kehijauan daun (Lampiran 11). Pengukuran tingkat kehijauan daun secara destruktif berkorelasi positif dengan kadar nitrogen daun. Berdasarkan Tabel 5, perlakuan pupuk 180 kg N/ha memiliki nilai rata-rata tertinggi yaitu sebesar 38.0 satuan unit sedangkan untuk perlakuan 240 kg N/ha rata-rata jumlah, 120 kg N/ha dan 60 kg N/ha secara berurut adalah 35.8 satuan unit, 34.7 satuan unit, dan 33.7 satuan unit. Tabel 5. Rataan Tingkat Kehijauan Daun serta Waktu yang Dibutuhkan untuk Mencapai Tinggi 70 cm pada Tanaman Teh dengan Pemberian Dosis Pupuk yang Berbeda Perlakuan (kg N/ha) Tingkat Kehijauan Daun (satuan unit) Lama Waktu Tanaman Mencapai Tinggi 70 cm (minggu) Ket: Angka pada kolom yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT 5% Pembahasan Aplikasi pupuk organik beberapa minggu sebelum pindah tanam dapat membantu penyediaan hara yang teratur dan seimbang dari tanah untuk tanaman. Hasil penelitian Hanafiah dalam Hanafiah (2005) menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik pada tanah dapat memperbaiki sifat kimiawi tanah. Penggunaan pupuk organik juga dapat mempengaruhi warna tanah menjadi coklat-hitam, merangsang granulasi, menurunkan plastisitas dan kohesi tanah, memperbaiki struktur tanah menjadi lebih remah dan meningkatkan daya tanah mengikat air (Hanafiah, 2005). Untuk mendapatkan bentuk bidang petik (frame) yang baik tanaman teh harus memiliki komponen pembentuk frame yang sesuai. Dalimoenthe dan Johan, 2008 menyatakan bahwa pemilihan cara pembentukan bidang petik dapat

13 27 mempercepat penutupan perdu sehingga masa tanaman belum menghasilkan (TBM) dapat dipersingkat. Pembentukan bidang petik dilakukan pada masa tanaman belum menghasilkan (TBM) yang didominasi pertumbuhan vegetatifnya sehingga kecukupan nitrogen dalam tanah perlu diperhatikan. Rachmiati (1988) menyebutkan bahwa nitrogen merupakan hara utama untuk pertumbuhan dan produksi tanaman teh, karena bagian yang dipanen adalah pucuk (tunas muda) yang merupakan bagian vegetatif tanaman. Syarief dalam Rachmiati et al. (2004) menambahkan bahwa pupuk nitrogen diperlukan tanaman untuk pembentukan atau pertumbuhan bagian-bagian vegetatif tanaman seperti daun, batang dan akar. Pembentukan bidang petik (frame) adalah perlakuan kultur teknis terhadap tanaman teh yang belum menghasilkan untuk membentuk perdu dengan kerangka percabangan yang ideal dan bidang petik yang luas, agar dapat menghasilkan pucuk yang banyak dalam waktu relatif cepat. Pemilihan bending untuk pembentukan frame pada percobaan ini agar bentuk perdu terancang lebih awal, frame lebih rendah, cepat menutup tanah, tidak ada pembuangan bagian tanaman, dan produksi awal akan lebih tinggi dibandingkan dengan centering. Mata tunas pada batang yang lebih tua memiliki sifat dormansi yang lebih kuat sehingga pertumbuhan mata tunas yang baru akan menjadi lebih lambat. Selain itu tanaman teh akan memasuki periode pangkas pada tiga tahun berikutnya agar terus pada fase vegetatif, akan lebih baik jika bidang petik (frame) telah terbentuk sebelum periode pangkas tersebut. Perlakuan pemberian pupuk nitrogen berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada minggu kedua pengamatan. Hal ini diduga tanaman memiliki kemampuan memanfaatkan nitrogen dalam tanah pada minggu-minggu awal pengamatan sehingga hasil tinggi pada tanaman berbeda dengan perlakuan lainnya. Ketersediaan nitrogen dalam tanah dipengaruhi antara lain oleh bahan organik tanah, kadar air tanah, suhu serta fiksasi nitrogen oleh baktreri tanah. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan 180 kg N/ha menghasilkan pertumbuhan yang lebih baik serta memiliki kemampuan untuk mencapai tinggi lebih dari 70 cm lebih cepat dibandingkan perlakuan lainnya. Pada perlakuan 180 kg N/ha, tanaman telah dapat dilakukan bending dalam waktu 8 minggu

14 28 setelah perlakuan, sedangkan perlakuan lainnya baru dapat dilakukan bending pada 10 minggu setelah perlakuan. Pertambahan tinggi tanaman tersebut sangat dipengaruhi oleh ketersedian nitrogen dalam tanah (Rusmana dan Salim, 2003), yang menyatakan bahwa peranan unsur nitrogen bagi tanaman adalah untuk merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan, khususnya batang, cabang dan daun. Ketersediaan nitrogen pada penelitian ini terdapat pada kategori sedang walaupun penambahan dosisnya berbeda tiap perlakuan sehingga pertumbuhannya berbeda pada minggu kedua pengamatan. Jumlah daun pada suatu tanaman sangat berperan penting bagi perkembangan tanaman karena daun sebagai media terjadinya proses fotosintesis yang menghasilkan energi bagi tanaman untuk tumbuh. Pemberian pupuk nitrogen berpengaruh nyata pada jumlah daun pada minggu kedelapan hingga minggu keenam belas. Hasil menunjukkan bahwa jumlah daun pada perlakuan 180 kg N/ha memiliki jumlah daun paling banyak dibandingkan dengan perlakuan lain, tetapi perlakuan 120 kg N/ha memiliki pertambahan jumlah daun yang lebih baik. Hal tersebut dapat menunjukkan bahwa perlakuan 120 kg N/ha lebih efektif untuk pertambahan jumlah daun tanaman teh. Menurut Hanafiah (2005) penggunaan pupuk nitrogen berperan menonjol terhadap bagian vegetatif tanaman (dedaunan dan pucuk). Penggunaan dosis yang tepat akan lebih mengoptimalkan hasil pucuk dari tanaman teh. Pada dua bulan terakhir pengamatan curah hujan sangat rendah sehingga kadar air tanah berkurang (Hall, 2007), menyatakan bahwa tanaman membutuhkan dosis pupuk nitrogen yang tepat bagi kecepatan tanaman untuk tumbuh, khususnya pada saat cuaca panas atau ketika tanah menunjukkan kekeringan. Hal tersebut menunjukkan bahwa tanaman membutuhkan nitrogen pada saat tanah kekurangan air, walaupun ketersediaan nitrogen dalam tanah tinggi tetapi tanaman belum membutuhkan maka tidak akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Pemberian pupuk nitrogen yang berbeda memberikan pengaruh yang nyata pada diameter batang tanaman teh pada pengamatan minggu pertama hingga minggu ketiga. Diameter batang pada perlakuan 180 kg N/ha telah memiliki nilai yang lebih tinggi pada awal pengamatan tetapi setelah dilakukan uji lanjut DMRT,

15 29 pada minggu tersebut perlakuan 180 kg N/ha memang lebih baik bila dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Diameter batang pada perlakuan 180 kg N/ha meningkat lebih cepat tiap minggunya sedangkan perlakuan lain peningkatannya stagnan. Hal tersebut didukung dengan ketersediaan air pada bulan pertama pengamatan dengan curah hujan yang cukup tinggi. Menurut Hanafiah (2005) air yang diserap tanaman selain sebagai komponen sel-selnya, juga berfungsi sebagai media reaksi pada hampir seluruh proses metabolismenya. Metabolisme nitrogen dalam tanaman merupakan faktor utama untuk pertumbuhan vegetatif, batang, dan daun tanaman sehingga terdapat pengaruhnya pada pertambahan diameter batang tanaman teh tersebut. Pada penghitungan jumlah cabang primer dan sekunder, dosis pupuk nitrogen berpengaruh nyata pada jumlah cabang sekunder sedangkan pada jumlah cabang primer tidak berpengaruh nyata. Hasil yang berbeda antara jumlah cabang primer dan cabang sekunder ini sangat berkaitan dengan genetik dari tanaman tersebut. Klon tanaman teh yang berbeda memungkinkan dapat mempengaruhi perbedaan antara jumlah cabang primer dan sekunder sehingga berbeda nyata hanya pada cabang sekunder. Lina et al. (2009) menemukan bahwa pemupukan nitrogen memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah anak daun sedangkan tidak berpengaruh nyata pada jumlah daun. Tiap tanaman memiliki genetik yang berbeda untuk pertambahan jumlah cabang primer dan cabang sekunder, sehingga masih sangat sulit untuk mengetahuinya. Menurut Barchia (2009) dalam suatu tanaman, nitrogen berfungsi sebagai penyusun penting dari klorofil, protoplasma, protein, peningkat pertumbuhan dan perkembangan semua jaringan. Kandungan klorofil pada daun dapat diketahui dengan mengukur tingkat kehijauan daun pada suatu tanaman. Hasil pengukuran kehijauan daun didapatkan bahwa antar perlakuan tidak berbeda nyata. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengaruh nitrogen sangat kecil terhadap tingkat kehijauan daun walaupun terdapat daun dengan tingkat kehijauan yang tinggi. Tingkat kehijauan daun menunjukkan bahwa tanaman memiliki kadar nitrogen yang cukup serta menunjukkan kondisi pertanaman yang sehat. Pengukuran tingkan kehijauan ini dilakukan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk nitrogen. Pengelolaan unsur hara serta aplikasi pupuk adalah faktor yang sangat

16 30 menentukan pencapaian serapan hara yang optimal bagi produksi tanaman yang tinggi. Penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan pupuk nitrogen dengan dosis 180 kg/ha dapat menghasilkan pertumbuhan tanaman yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan dosis pupuk yang lainnya, tetapi semakin tinggi dosis yang diberikan tidak berkorelasi positif terhadap tanaman teh. Hal tersebut mungkin terjadi akibat pencucian nitrogen dalam tanah sehingga pengaruh penambahan pupuk nitrogen tidak berpengaruh pada tanaman teh. Jika terdapat kelebihan jumlah nitrogen maka bergantung pada kapasitas tanaman menyerap nitrogen untuk digunakan sebagai pertumbuhan vegetatif tanaman teh.

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 21 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Berdasarkan data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah Dramaga, keadaan iklim secara umum selama penelitian (Maret Mei 2011) ditunjukkan dengan curah

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 15 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Keadaan Umum Penelitian Tanah yang digunakan pada penelitian ini bertekstur liat. Untuk mengurangi kelembaban tanah yang liat dan menjadikan tanah lebih remah, media tanam

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Konidisi Umum Penelitian Berdasarkan hasil Laboratorium Balai Penelitian Tanah yang dilakukan sebelum aplikasi perlakuan didapatkan hasil bahwa ph H 2 O tanah termasuk masam

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Penanaman rumput B. humidicola dilakukan di lahan pasca tambang semen milik PT. Indocement Tunggal Prakasa, Citeurep, Bogor. Luas petak yang digunakan untuk

Lebih terperinci

Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara yang dibutuhkan oleh

Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara yang dibutuhkan oleh 45 4.2 Pembahasan Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan memperhatikan syarat tumbuh tanaman dan melakukan pemupukan dengan baik. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara

Lebih terperinci

Pengaruh Pemupukan Nitrogen Terhadap Tinggi dan Percabangan Tanaman Teh (Camelia Sinensis (L.) O. Kuntze) untuk Pembentukan Bidang Petik

Pengaruh Pemupukan Nitrogen Terhadap Tinggi dan Percabangan Tanaman Teh (Camelia Sinensis (L.) O. Kuntze) untuk Pembentukan Bidang Petik Pengaruh Pemupukan Nitrogen Terhadap Tinggi dan Percabangan Tanaman Teh (Camelia Sinensis (L.) O. Kuntze) untuk Pembentukan Bidang Petik The Effect of Nitrogen Fertilization on High and Branching Tea Plant

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Ciri Kimia dan Fisik Tanah Sebelum Perlakuan Berdasarkan kriteria penilaian ciri kimia tanah pada Tabel Lampiran 5. (PPT, 1983), Podsolik Jasinga merupakan tanah sangat masam dengan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Teh

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Teh 4 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Teh Tanaman teh (Camelia sinensis (L.) O. Kuntze) merupakan salah satu spesies yang berasal dari famili Theaceae. Di seluruh dunia tersebar sekitar 1 500 jenis yang berasal

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Karakteristik Tanah di Lahan Percobaan Berdasarkan kriteria Staf Pusat Penelitian Tanah (1983), karakteristik Latosol Dramaga yang digunakan dalam percobaan disajikan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Berdasarkan data Badan Meteorologi dan Geofisika Darmaga, Bogor (Tabel Lampiran 1) curah hujan selama bulan Februari hingga Juni 2009 berfluktuasi. Curah hujan terendah

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Bio-slurry dan tahap aplikasi Bio-slurry pada tanaman Caisim. Pada tahap

HASIL DAN PEMBAHASAN. Bio-slurry dan tahap aplikasi Bio-slurry pada tanaman Caisim. Pada tahap IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian yang dilakukan terbagi menjadi dua tahap yaitu pengambilan Bio-slurry dan tahap aplikasi Bio-slurry pada tanaman Caisim. Pada tahap pengambilan Bio-slurry dilakukan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Analisis Sifat Fisik dan Kimia Tanah Inceptisol Indramayu Inceptisol Indramayu memiliki tekstur lempung liat berdebu dengan persentase pasir, debu, liat masing-masing 38%,

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 13 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Hasil 5.1.1. Sifat Kimia Tanah Variabel kimia tanah yang diamati adalah ph, C-organik, N Total, P Bray, Kalium, Kalsium, Magnesium, dan KTK. Hasil analisis sifat kimia

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini dilaksanakan di Unit Lapangan Pasir Sarongge, University Farm IPB yang memiliki ketinggian 1 200 m dpl. Berdasarkan data yang didapatkan dari Badan Meteorologi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Suhu min. Suhu rata-rata

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Suhu min. Suhu rata-rata BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengamatan Selintas 4.1.1. Keadaan Cuaca Lingkungan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman sebagai faktor eksternal dan faktor internalnya yaitu genetika

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Sifat Kimia Hasil analisis sifat kimia tanah sebelum diberi perlakuan dapat dilihat pada lampiran 2. Penilaian terhadap sifat kimia tanah yang mengacu pada kriteria Penilaian

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Berdasarkan hasil analisis tanah di Laboratorium Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Institut Pertanian Bogor, tanah yang digunakan sebagai media tumbuh dikategorikan

Lebih terperinci

PEMBAHASAN. Waktu Pangkas

PEMBAHASAN. Waktu Pangkas PEMBAHASAN Pemangkasan merupakan salah satu kegiatan pemeliharaan yang dilakukan di kebun teh yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dengan menurunkan tinggi tanaman sampai ketinggian tertentu.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. perlakuan Pupuk Konvensional dan kombinasi POC 3 l/ha dan Pupuk Konvensional

HASIL DAN PEMBAHASAN. perlakuan Pupuk Konvensional dan kombinasi POC 3 l/ha dan Pupuk Konvensional IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Analisis Tanah Awal Data hasil analisis tanah awal disajikan pada Tabel Lampiran 2. Berdasarkan Kriteria Penilaian Sifat Kimia dan Fisika Tanah PPT (1983) yang disajikan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Percobaan studi populasi tanaman terhadap produktivitas dilakukan pada dua kali musim tanam, karena keterbatasan lahan. Pada musim pertama dilakukan penanaman bayam

Lebih terperinci

PEMBAHASAN. Tipe Pangkasan

PEMBAHASAN. Tipe Pangkasan 8 PEMBAHASAN Tanaman teh dibudidayakan untuk mendapatkan hasil produksi dalam bentuk daun (vegetatif). Fase vegetatif harus dipertahankan selama mungkin untuk mendapatkan hasil produksi yang tinggi dan

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian Parameter pertumbuhan yang diamati pada penelitian ini adalah diameter batang setinggi dada ( DBH), tinggi total, tinggi bebas cabang (TBC), dan diameter tajuk.

Lebih terperinci

PENGARUH PEMBERIAN NITROGEN DAN KOMPOS TERHADAP KOMPONEN PERTUMBUHAN TANAMAN LIDAH BUAYA (Aloe vera)

PENGARUH PEMBERIAN NITROGEN DAN KOMPOS TERHADAP KOMPONEN PERTUMBUHAN TANAMAN LIDAH BUAYA (Aloe vera) PENGARUH PEMBERIAN NITROGEN DAN KOMPOS TERHADAP KOMPONEN PERTUMBUHAN TANAMAN LIDAH BUAYA (Aloe vera) ABSTRAK Noverita S.V. Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Sisingamangaraja-XII Medan Penelitian

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pertumbuhan Vegetatif Dosis pupuk kandang berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman (Lampiran 5). Pada umur 2-9 MST, pemberian pupuk kandang menghasilkan nilai lebih

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 14 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Perlakuan kadar air media (KAM) dan aplikasi paclobutrazol dimulai pada saat tanaman berumur 4 bulan (Gambar 1a) hingga tanaman berumur 6 bulan. Penelitian yang dilakukan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 13 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Tanah Awal Seperti umumnya tanah-tanah bertekstur pasir, lahan bekas tambang pasir besi memiliki tingkat kesuburan yang rendah. Hasil analisis kimia pada tahap

Lebih terperinci

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida,

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida, PEMBAHASAN PT National Sago Prima saat ini merupakan perusahaan satu-satunya yang bergerak dalam bidang pengusahaan perkebunan sagu di Indonesia. Pengusahaan sagu masih berada dibawah dinas kehutanan karena

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 11 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 2 lokasi penelitian yang digunakan yaitu Harapan dan Inalahi yang terbagi menjadi 4 plot pengamatan terdapat 4 jenis tanaman

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan pengamatan pada pemberian pupuk organik kotoran ayam

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan pengamatan pada pemberian pupuk organik kotoran ayam BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Berdasarkan pengamatan pada pemberian pupuk organik kotoran ayam terhadap pertumbuhan jagung masing-masing menunjukan perbedaan yang nyata terhadap tinggi

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil percobaan menujukkan bahwa pemberian sludge limbah tapioka dan pupuk

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil percobaan menujukkan bahwa pemberian sludge limbah tapioka dan pupuk 21 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Hasil percobaan menujukkan bahwa pemberian sludge limbah tapioka dan pupuk majemuk NPK berpengaruh terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun, bobot segar

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 17 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Pemberian Bahan Humat dengan Carrier Zeolit terhadap Jumlah Tandan Pemberian bahan humat dengan carrier zeolit tidak berpengaruh nyata meningkatkan jumlah tandan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Sifat Kimia dan Fisik Latosol sebelum Percobaan serta Komposisi Kimia Pupuk Organik

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Sifat Kimia dan Fisik Latosol sebelum Percobaan serta Komposisi Kimia Pupuk Organik 14 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Sifat Kimia dan Fisik Latosol sebelum Percobaan serta Komposisi Kimia Pupuk Organik Sifat kimia dan fisik Latosol Darmaga dan komposisi kimia pupuk organik yang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. kompos limbah tembakau memberikan pengaruh nyata terhadap berat buah per

HASIL DAN PEMBAHASAN. kompos limbah tembakau memberikan pengaruh nyata terhadap berat buah per IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa kombinasi pupuk Urea dengan kompos limbah tembakau memberikan pengaruh nyata terhadap berat buah per tanaman, jumlah buah per tanaman dan diameter

Lebih terperinci

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1 Rekapitulasi hasil analisis sidik ragam pertumbuhan bibit saninten

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1 Rekapitulasi hasil analisis sidik ragam pertumbuhan bibit saninten BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa interaksi antara perlakuan pemberian pupuk akar NPK dan pupuk daun memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil 15 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Sifat Kimia Latosol Darmaga Latosol (Inceptisol) merupakan salah satu macam tanah pada lahan kering yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar 13 HASIL DAN PEMBAHASAN Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar Hasil Uji t antara Kontrol dengan Tingkat Kematangan Buah Uji t digunakan untuk membandingkan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Tanah Hasil analisis contoh tanah pada lokasi percobaan dapat dilihat pada Tabel 2. Berdasarkan hasil analisis tanah pada lokasi percobaan, tingkat kemasaman tanah termasuk

Lebih terperinci

PEMBAHASAN Potensi Pucuk

PEMBAHASAN Potensi Pucuk 52 PEMBAHASAN Potensi Pucuk Hasil tanaman teh adalah kuncup dan daun muda yang biasa disebut pucuk. Pengambilan pucuk yang sudah memenuhi ketentuan dan berada pada bidang petik disebut pemetikan. Ketentuan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pertumbuhan Tanaman Caisin Tinggi dan Jumlah Daun Hasil uji F menunjukkan bahwa perlakuan pupuk hayati tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun caisin (Lampiran

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 16 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1.1 Analisis Tanah Awal Karakteristik Latosol Cimulang yang digunakan dalam percobaan disajikan pada Tabel 2 dengan kriteria ditentukan menurut acuan Pusat Peneltian Tanah

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. Hasil sidik ragam 5% terhadap tinggi tanaman menunjukkan bahwa

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. Hasil sidik ragam 5% terhadap tinggi tanaman menunjukkan bahwa 1. Tinggi tanaman IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Tanaman Hasil sidik ragam 5% terhadap tinggi tanaman menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan memberikan pengaruh yang berbeda nyata. Hasil Uji

Lebih terperinci

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO Sejumlah faktor iklim dan tanah menjadi kendala bagi pertumbuhan dan produksi tanaman kakao. Lingkungan alami tanaman cokelat adalah hutan tropis. Dengan demikian curah hujan,

Lebih terperinci

I. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. tinggi tanaman dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 1. Rerata Tinggi Tanaman dan Jumlah Daun

I. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. tinggi tanaman dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 1. Rerata Tinggi Tanaman dan Jumlah Daun 16 1. Tinggi Tanaman (cm) I. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Tanaman Hasil sidik ragam tinggi tanaman ( lampiran 6 ) menunjukkan perlakuan kombinasi limbah cair industri tempe dan urea memberikan pengaruh

Lebih terperinci

PEMBAHASAN Tinggi Bidang Petik

PEMBAHASAN Tinggi Bidang Petik PEMBAHASAN Tinggi Bidang Petik Tinggi bidang petik tanaman teh adalah salah satu hal yang penting dalam menunjang pelaksanaan kegiatan pemetikan. Kenaikan bidang petik setiap tahunnya berkisar antara 10-15

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pertambahan Tinggi Bibit (cm) Hasil sidik ragam parameter tinggi tanaman menunjukkan bahwa interaksi pupuk kompos TKS dengan pupuk majemuk memberikan pengaruh yang tidak nyata

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 14 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi Awal Lahan Bekas Tambang Lahan bekas tambang pasir besi berada di sepanjang pantai selatan desa Ketawangrejo, Kabupaten Purworejo. Timbunan-timbunan pasir yang

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Kondisi Umum Saat Ini Faktor Fisik Lingkungan Tanah, Air, dan Vegetasi di Kabupaten Kutai Kartanegara Kondisi umum saat ini pada kawasan pasca tambang batubara adalah terjadi

Lebih terperinci

BAHAN METODE PENELITIAN

BAHAN METODE PENELITIAN BAHAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di lahan penelitian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan, dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl, dilaksanakan pada

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 21 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Bahan Humat dengan Carrier Zeolit terhadap Sifat Kimia Tanah Sifat kimia tanah biasanya dijadikan sebagai penciri kesuburan tanah. Tanah yang subur mampu menyediakan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi Tanaman Teh Morfologi Tanaman Teh Syarat Tumbuh

TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi Tanaman Teh Morfologi Tanaman Teh Syarat Tumbuh 3 TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi Tanaman Teh Teh termasuk famili Transtromiceae dan terdiri atas dua tipe subspesies dari Camellia sinensis yaitu Camellia sinensis var. Assamica dan Camellia sinensis var.

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE III. BAHAN DAN METODE 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai Agustus 2010. Penelitian dilakukan di lahan percobaan NOSC (Nagrak Organic S.R.I. Center) Desa Cijujung,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Penelitian pembuatan pupuk organik cair ini dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Limbah Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Secara

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. A. Limbah Cair Industri Tempe. pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karna tidak

TINJAUAN PUSTAKA. A. Limbah Cair Industri Tempe. pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karna tidak II. TINJAUAN PUSTAKA A. Limbah Cair Industri Tempe Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses industri maupun domestik (rumah tangga), yang lebih di kenal sebagai sampah, yang kehadiranya

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 13 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah diameter pangkal, diameter setinggi dada (dbh), tinggi total, tinggi bebas cabang, tinggi tajuk, panjang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman okra adalah sebagai berikut: Tanaman okra merupakan tanaman terna tahunan dengan batang yang tegak.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman okra adalah sebagai berikut: Tanaman okra merupakan tanaman terna tahunan dengan batang yang tegak. 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tanaman Okra (Abelmoschus esculentus L.) Klasifikasi tanaman okra adalah sebagai berikut: Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Malvales Famili

Lebih terperinci

IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tajuk. bertambahnya tinggi tanaman, jumlah daun, berat segar tajuk, berat kering tajuk

IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tajuk. bertambahnya tinggi tanaman, jumlah daun, berat segar tajuk, berat kering tajuk IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Tajuk Indikator pertumbuhan tanaman dapat diketahui dengan bertambahnya volume dan juga berat suatu biomassa yang dihasilkan selama proses pertunbuhan tanaman.

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. 1. Kondisi Lahan 4. 1. 1. Sifat Kimia Tanah yang digunakan Tanah pada lahan penelitian termasuk jenis tanah Latosol pada sistem PPT sedangkan pada sistem Taksonomi, Tanah tersebut

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. dicotyledoneae. Sistem perakaran kailan adalah jenis akar tunggang dengan

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. dicotyledoneae. Sistem perakaran kailan adalah jenis akar tunggang dengan 18 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Tanaman kailan adalah salah satu jenis sayuran yang termasuk dalam kelas dicotyledoneae. Sistem perakaran kailan adalah jenis akar tunggang dengan cabang-cabang akar

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Jagung manis atau lebih dikenal dengan nama sweet corn (Zea mays

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Jagung manis atau lebih dikenal dengan nama sweet corn (Zea mays PENDAHULUAN Latar Belakang Jagung manis atau lebih dikenal dengan nama sweet corn (Zea mays saccharata Sturt) merupakan tanaman pangan yang memiliki masa produksi yang relatif lebih cepat, bernilai ekonomis

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Tinggi Bibit (cm) Hasil pengamatan terhadap parameter tinggi bibit setelah dianalisis sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit memberikan

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 13 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian 5.1.1 Sifat Kimia Tanah Data sekunder hasil analisis kimia tanah yang diamati yaitu ph tanah, C-Org, N Total, P Bray, kation basa (Ca, Mg, K, Na), kapasitas

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Tanah Tanah adalah kumpulan benda alam di permukaan bumi yang tersusun dalam horison-horison, terdiri dari campuran bahan mineral, bahan organik, air dan udara,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 14 4.1. Tinggi Tanaman BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Data hasil analisis ragam dan uji BNT 5% tinggi tanaman disajikan pada Tabel 1 dan Lampiran (5a 5e) pengamatan tinggi tanaman dilakukan dari 2 MST hingga

Lebih terperinci

4. HASIL PENELITIAN 4.1. Pengamatan Selintas Serangan Hama dan Penyakit Tanaman Keadaan Cuaca Selama Penelitian

4. HASIL PENELITIAN 4.1. Pengamatan Selintas Serangan Hama dan Penyakit Tanaman Keadaan Cuaca Selama Penelitian 4. HASIL PENELITIAN Hasil pengamatan yang disajikan dalam bab ini diperoleh dari dua sumber data pengamatan, yaitu pengamatan selintas dan pengamatan utama. 4.1. Pengamatan Selintas Pengamatan selintas

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pertambahan Tinggi Bibit Tanaman (cm) Hasil pengamatan terhadap pertambahan tinggi bibit kelapa sawit setelah dilakukan sidik ragam (lampiran 9) menunjukkan bahwa faktor petak

Lebih terperinci

IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Vegetatif. menunjukan hasil pertumbuhan pada fase vegetatif. Berdasarkan hasil sidik ragam

IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Vegetatif. menunjukan hasil pertumbuhan pada fase vegetatif. Berdasarkan hasil sidik ragam IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Vegetatif 1. Tinggi tanaman Tinggi tanaman merupakan salah satu parameter pertumbuhan yang menunjukan hasil pertumbuhan pada fase vegetatif. Berdasarkan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Limbah Cair Tahu pada Tinggi Tanaman

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Limbah Cair Tahu pada Tinggi Tanaman BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tinggi Tanaman 4.1.1 Pengaruh Limbah Cair Tahu pada Tinggi Tanaman Berdasarkan hasil Uji Duncan taraf 5%, menunjukkan bahwa limbah cair tahu memberikan pengaruh beda nyata

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Mengembangkan dan membudidayakan tanaman tomat membutuhkan faktor yang mendukung seperti pemupukan, pengairan, pembumbunan tanah, dan lain-lain. Pemberian

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. cruciferae yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Sawi memiliki nilai gizi yang

I. PENDAHULUAN. cruciferae yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Sawi memiliki nilai gizi yang 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Kesadaran manusia akan kesehatan menjadi salah satu faktor kebutuhan sayur dan buah semakin meningkat. Di Indonesia tanaman sawi merupakan jenis sayuran

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini dilaksanakan di lahan kering dengan kondisi lahan sebelum pertanaman adalah tidak ditanami tanaman selama beberapa bulan dengan gulma yang dominan sebelum

Lebih terperinci

BAB. V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB. V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB. V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian Hasil análisis data penelitian dari masing-masing parameter adalah sebagai berikut: a. Hasil Analisis Kandungan Tabel 1. Tandan Kosong Kelapa Sawit *) Parameter

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Pengaruh Media terhadap Pertambahan biomassa Cacing Tanah Eudrilus eugeniae.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Pengaruh Media terhadap Pertambahan biomassa Cacing Tanah Eudrilus eugeniae. Pertambahan bobot (gram) BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pengaruh Media terhadap Pertambahan biomassa Cacing Tanah Eudrilus eugeniae. Pengambilan data pertambahan biomassa cacing tanah dilakukan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa media tanam yang digunakan berpengaruh terhadap berat spesifik daun (Lampiran 2) dan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Pemupukan

TINJAUAN PUSTAKA Pemupukan TINJAUAN PUSTAKA Pemupukan Pupuk adalah penyubur tanaman yang ditambahkan ke tanah untuk menyediakan unsur-unsur yang diperlukan tanaman. Pemupukan merupakan suatu upaya untuk menyediakan unsur hara yang

Lebih terperinci

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Karakteristik Tanah Awal Podsolik Jasinga Hasil analisis kimia dan fisik Podsolik Jasinga disajikan pada Tabel 4. Berdasarkan kriteria PPT (1983), Podsolik Jasinga

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. 1. Pertumbuhan Tanaman 4. 1. 1. Tinggi Tanaman Pengaruh tiap perlakuan terhadap tinggi tanaman menghasilkan perbedaan yang nyata sejak 2 MST. Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. lingkungan atau perlakuan. Berdasarkan hasil sidik ragam 5% (lampiran 3A)

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. lingkungan atau perlakuan. Berdasarkan hasil sidik ragam 5% (lampiran 3A) IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Tanaman 1. Tinggi tanaman Tinggi tanaman merupakan ukuran tanaman yang mudah untuk diamati dan sering digunakan sebagai parameter untuk mengukur pengaruh dari lingkungan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Metode Percobaan

BAHAN DAN METODE Metode Percobaan 12 III. BAHAN DAN METODE 3.1. Waktu dan Tempat Percobaan ini dilaksanakan pada bulan Juni 2011 sampai dengan bulan September 2011 di rumah kaca kebun percobaan Cikabayan, IPB Darmaga Bogor. Analisis tanah

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Data penelitian yang diperoleh pada penelitian ini berasal dari beberapa parameter pertumbuhan anakan meranti merah yang diukur selama 3 bulan. Parameter yang diukur

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Upaya peningkatan produksi ubi kayu seringkali terhambat karena bibit bermutu kurang tersedia atau tingginya biaya pembelian bibit karena untuk suatu luasan lahan, bibit yang dibutuhkan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lahan penelitian yang digunakan merupakan lahan yang selalu digunakan untuk pertanaman tanaman padi. Lahan penelitian dibagi menjadi tiga ulangan berdasarkan ketersediaan

Lebih terperinci

VII. KEHARAAN DAN PEMUPUKAN

VII. KEHARAAN DAN PEMUPUKAN VII. KEHARAAN DAN PEMUPUKAN Ubi kayu menghasilkan biomas yang tinggi sehingga unsur hara yang diserap juga tinggi. Jumlah hara yang diserap untuk setiap ton umbi adalah 4,2 6,5 kg N, 1,6 4,1 kg 0 5 dan

Lebih terperinci

rv. HASIL DAN PEMBAHASAN

rv. HASIL DAN PEMBAHASAN 17 rv. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Tinggi Tanaman (cm) Hasil sidik ragam parameter tinggi tanaman (Lampiran 6 ) menunjukkan bahwa penggunaan pupuk kascing dengan berbagai sumber berbeda nyata terhadap tinggi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 21 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Intensitas Serangan Hama Penggerek Batang Padi (HPBP) Hasil penelitian tingkat kerusakan oleh serangan hama penggerek batang pada tanaman padi sawah varietas inpari 13

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. dengan ketinggian tempat ± 25 di atas permukaan laut, mulai bulan Desember

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. dengan ketinggian tempat ± 25 di atas permukaan laut, mulai bulan Desember BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan di desa Cengkeh Turi dengan ketinggian tempat ± 25 di atas permukaan laut, mulai bulan Desember sampai

Lebih terperinci

I. TINJAUAN PUSTAKA. dalam, akar dapat tumbuh hingga sekitar 1 m. Dengan adanya bakteri Rhizobium, bintil

I. TINJAUAN PUSTAKA. dalam, akar dapat tumbuh hingga sekitar 1 m. Dengan adanya bakteri Rhizobium, bintil I. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani Buncis Sistem perakaran berbagai jenis buncis tidak besar atau ekstensif, percabangan lateralnya dangkal. Akar tunggang yang terlihat jelas biasanya pendek, tetapi pada tanah

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Pertanaman

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Pertanaman HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Pertanaman Hasil analisis tanah awal menunjukkan bahwa tanah lokasi penelitian tergolong agak masam dengan ph 5.6. Menurut Sundara (1998) tanaman tebu masih dapat

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Kandungan nitrogen tanah bervariasi dari satu tempat ke tempat lainnya. Variasi kandungan nitrogen dalam tanah terjadi akibat perubahan topografi, di samping pengaruh iklim, jumlah

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Objek yang digunakan pada penelitian adalah tanaman bangun-bangun (Coleus amboinicus, Lour), tanaman ini biasa tumbuh di bawah pepohonan dengan intensitas cahaya yang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Pemberian Kotoran Kambing Terhadap Sifat Tanah. Tabel 4.1. Karakteristik Tanah Awal Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Pemberian Kotoran Kambing Terhadap Sifat Tanah. Tabel 4.1. Karakteristik Tanah Awal Penelitian IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Pemberian Kotoran Kambing Terhadap Sifat Tanah. Pemberian dosis kotoran kambing pada budidaya secara tumpang sari antara tanaman bawang daun dan wortel dapat memperbaiki

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 13 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Berdasarkan pengamatan pada pemberian pupuk phonska pada pertumbuhan dan produksi kacang hijau masing-masing memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakterisasi awal blotong dan sludge pada penelitian pendahuluan menghasilkan komponen yang dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Karakteristik blotong dan sludge yang digunakan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Analisis Fisika dan Kimia Tanah Berdasarkan hasil analisis fisik dan kimia tanah tempat pelaksanaan penelitian di Dutohe Kecamatan Kabila pada lapisan olah dengan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Botani, Klasifikasi, dan Syarat Tumbuh Tanaman Cabai

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Botani, Klasifikasi, dan Syarat Tumbuh Tanaman Cabai II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani, Klasifikasi, dan Syarat Tumbuh Tanaman Cabai Cabai merupakan tanaman perdu dari famili terung-terungan (Solanaceae). Keluarga ini memiliki sekitar 90 genus dan sekitar

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Sifat dan Ciri Tanah Ultisol. Ultisol di Indonesia merupakan bagian terluas dari lahan kering yang

TINJAUAN PUSTAKA. Sifat dan Ciri Tanah Ultisol. Ultisol di Indonesia merupakan bagian terluas dari lahan kering yang TINJAUAN PUSTAKA Sifat dan Ciri Tanah Ultisol Ultisol di Indonesia merupakan bagian terluas dari lahan kering yang tersebar luas di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya serta sebagian kecil di pulau

Lebih terperinci

PENDAHULUAN BAHAN DAN METODE

PENDAHULUAN BAHAN DAN METODE PENDAHULUAN Tebu ialah tanaman yang memerlukan hara dalam jumlah yang tinggi untuk dapat tumbuh secara optimum. Di dalam ton hasil panen tebu terdapat,95 kg N; 0,30 0,82 kg P 2 O 5 dan,7 6,0 kg K 2 O yang

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Tinggi Tanaman IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengamatan yang telah diperoleh terhadap tinggi tanaman cabai setelah dilakukan analisis sidik ragam (lampiran 7.a) menunjukkan bahwa pemberian pupuk

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Di Sumatra Utara areal pertanaman jagung sebagian besar di tanah Inceptisol yang tersebar luas dan berdasarkan data dari Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Sumatera Utara

Lebih terperinci

Hasil dan pembahasan. A. Pertumbuhan tanaman. maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan

Hasil dan pembahasan. A. Pertumbuhan tanaman. maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan IV. Hasil dan pembahasan A. Pertumbuhan tanaman 1. Tinggi Tanaman (cm) Ukuran tanaman yang sering diamati baik sebagai indikator pertumbuhan maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Awal Tanah Gambut

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Awal Tanah Gambut 20 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Karakteristik Awal Tanah Gambut Hasil analisis tanah gambut sebelum percobaan disajikan pada Tabel Lampiran 1. Hasil analisis didapatkan bahwa tanah gambut dalam dari Kumpeh

Lebih terperinci