SISTEM KETERSEDIAAN PANGAN DAERAH DENGAN ANALISA WILAYAH LUMBUNG PANGAN BERBASIS TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "SISTEM KETERSEDIAAN PANGAN DAERAH DENGAN ANALISA WILAYAH LUMBUNG PANGAN BERBASIS TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS"

Transkripsi

1 SISTEM KETERSEDIAAN PANGAN DAERAH DENGAN ANALISA WILAYAH LUMBUNG PANGAN BERBASIS TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Tri Yulistyawati Evelina dan Subari Prgram Studi Teknik Infrmatika Seklah Tinggi Infrmatika & Kmputer Indnesia Abstrak Penelitian bertujuan membangun sistem ketahanan pangan daerah dengan analisa wilayah lumbung pangan berbasis teknlgi sistem infrmasi gegrafis. Secara khusus penelitian bertujuan: (1) membangun database wilayah lumbung pangan; (2) membangun sistem infrmasi ketersediaan pangan daerah; (3) memberikan infrmasi pelaksanaan identifikasi, inventarisasi pemantauan permasalahan ketahanan pangan sehingga akan membantu menyusun kebijakan dalam rangka pembinaan, pengellaan, distribusi, ketersediaan dan cadangan pangan, (4) pelatihan pemanfaatan sistem ketahanan pangan daerah guna menujang kinerja lembaga pemerintah.instansi mitra dalam penelitian ini adalah Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan di bawah naungan Pemerintah Kabupaten Malang. Langkah-langkah penelitian diawali kajian literatur, perencanaan dan penyusunan mdel sistem, verifikasi mdel, ujicba lapangan, evaluasi dan pengembangan serta hasil implementasi. Target luaran yang akan dihasilkan: (1) diperleh data dasar ptensi pangan di wilayah lumbung pangan; (2) diperleh data pendukung kndisi Kab. Malang; (3) dibangun sistem ketahanan pangan daerah dengan analisa lumbung pangan berbasis teknlgi infrmasi gegrafis; (4) dapat diujicba dan dievaluasi aplikasi yang dibangun; (5) disusun mdul sistem ketahanan pangan daerah dengan analisa wilayah lumbung pangan berbasis teknlgi infrmasi gegrafis yang dapat digunakan bagi pelaksanaan lapangan yang membutuhkan pelatihan dan pendampingan. Kata kunci: Sistem Ketahanan Pangan Daerah dengan analisa Wilayah Lumbung Pangan berbasis Teknlgi Infrmasi Gegrafis 1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Ketersediaan pangan merupakan subsistem dari sistem ketahanan pangan. Ketersediaan Pangan adalah ketersediaan pangan secara fisik di suatu wilayah dari segala sumber, baik itu prduksi pangan dmestik, perdagangan pangan dan bantuan pangan. Ketersediaan pangan ditentukan leh prduksi pangan di wilayah tersebut, perdagangan pangan melalui mekanisme pasar di wilayah tersebut, stk yang dimiliki leh pedagang dan cadangan pemerintah, dan bantuan pangan dari pemerintah atau rganisasi lainnya. Prduksi pangan tergantung pada berbagai faktr seperti iklim, jenis tanah, curah hujan, irigasi, kmpnen prduksi pertanian yang digunakan, dan bahkan insentif bagi para petani untuk menghasilkan tanaman pangan. Kabupaten Malang merupakan salah satu Kabupaten di Jawa Timur yang menjadi salah satu fkus dalam daerah penyedia pangan. Dengan luas wilayah 3.534,86 Km2 atau Ha, prgram priritas dalam pembangunan MADEP MANTEP adalah peningkatan prduksi dan ketahanan pangan dalam rangka memacu pertumbuhan eknmi dan menjamin ketahanan pangan masyarakat. Prgram tersebut diimplementasikan dengan menjadikan Kabupaten Malang menjadi wilayah lumbung pangan. Terdapat 7 jenis pangan yang menjadi perhatian, yaitu: padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kedelai, kacang hijau, ikan, daging, susu dan telur. Lumbung Pangan adalah Lembaga Milik Masyarakat Desa yang bergerak di bidang Penyimpanan, Pendistribusian, Penglahan dan Perdagangan bahan pangan yang dibentuk dan dikella masyarakat. Lumbung pangan yang dibentuk dengan mengumpulkan sejumlah gabah dimasa panen dan kemudian disimpan di suatu bangunan lumbung sampai musim paceklik tiba. Peranan lumbung pangan yang dibentuk ini adalah berfungsi sebagai (a) Menampung surplus prduksi pangan pedesaan pada saat panen; (b) Melayani kebutuhan pangan pedesaan saat paceklik; (c) Melakukan simulasi pemupukan mdal melalui iuran dalam bentuk bahan; (d) pangan maupun bentuk tunai, (e) Membantu petani yang kesulitan mdal usaha dengan cara menyediakan; (f) alternatif kredit mikr bagi anggtanya sehingga terhindar dari praktek bank harian atau para pengijn; (g) Menghindarkan petani dari kerugian penjualan dini (tunda jual). Apabila dicermati lumbung pangan sangat penting peranannya bagi ketersediaan pangan dan bagi petani. Pemerintah melalui Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKP3) berusaha untuk melakukan identifikasi, inventarisasi dan pemantauan permasalahan ketahanan pangan. Perkiraan jumlah prduksi pada lumbung pangan umumnya masih dilakukan dengan cara knvensinal yaitu melalui survei lapangan. Cara knvensinal ini membutuhkan biaya tinggi dan waktu yang lama, apabila dibandingkan dengan menggunakan teknlgi sistem infrmasi gegrafis. Survei kndisi lahan dengan mempergunakan teknlgi infrmasi selain

2 waktu perlehan infrmasinya cepat dan murah, juga cakupan wilayah surveinya luas dan infrmasinya dapat diperleh lebih berkesinambungan. Namun mengingat kmpleksitas sistem distribusi pangan daerah, perlu dibangun kembali sistem kelembagaan lumbung pangan secara integral dan sinergitas. Sistem yang akan dikembangkan adalah berbasis kemitraan dan pemberdayaan yang berguna dalam menghimpun data ketersediaan, baik data spasial dan data atribut yang menggunakan sistem database secara kmputerisasi. Data Elektrnik ini perlu dikembangkan ke dalam Sistem Ketersediaan Pangan dengan analisa wilayah lumbung pangan dengan tujuan dapat membangun sistem infrmasi gegrafis yang menjangkau seluruh pusat prduksi pangan di wilayah kabupaten Malang dan membangun sistem infrmasi ketersediaan pangan yang bisa mengella dan menampilkan data spasial melalui internet dalam bentuk webgis Permasalahan Berdasarkan latar belakang diatas, maka dirumuskan masalah yaitu : a. Bagaimanakah membangun sistem database wilayah lumbung pangan yang menjangkau seluruh pusat prduksi pangan di wilayah Kabupaten Malang? b. Bagaimanakah membangun sistem infrmasi ketersediaan pangan daerah dengan analisa wilayah lumbung pangan berbasis teknlgi infrmasi gegrafis? c. Bagaimanakah pelaksanaan identifikasi, inventarisasi pemantauan permasalahan ketahanan pangan menggunakan sistem infrmasi ketersediaan pangan daerah dengan analisa wilayah lumbung pangan berbasis teknlgi infrmasi gegrafis guna membantu dalam menyusun kebijakan dalam rangka pembinaan, pengellaan, distribusi, ketersediaan dan cadangan pangan? d. Pelatihan pemanfaatan sistem ketahanan pangan daerah dengan analisa wilayah lumbung pangan berbasis teknlgi infrmasi gegrafis guna menunjang kinerja pelaksana kelembagaan pemerintah baik di BKP3 dan dinas Pertanian 1.3. Tujuan Khusus Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah: a. Identifikasi data-data yang dibutuhkan dalam membangun database wilayah lumbung pangan di Kabupaten Malang. b. Membangun sistem infrmasi ketersediaan pangan daerah dengan analisa wilayah lumbung pangan berbasis teknlgi infrmasi gegrafis c. Memberikan data infrmasi pelaksanaan identifikasi, inventarisasi pemantauan permasalahan ketahanan pangan menggunakan sistem infrmasi ketersediaan pangan daerah guna membantu dalam menyusun kebijakan dalam rangka pembinaan, pengellaan, distribusi, ketersediaan dan cadangan pangan d. Pelatihan pemanfaatan sistem ketahanan pangan daerah guna menunjang pelaksanaan kinerja kelembagaan pemerintah baik di BKP3 dan dinas Pertanian Urgensi Penelitian a. Sistem Ketersediaan Pangan Daerah dengan analisa wilayah lumbung pangan berbasis Teknlgi Infrmasi Gegrafis yang akan yang akan dibangun dan diujicbakan, sebagai upaya membangun database wilayah lumbung pangan di Kabupaten Malang. Harapannya, dengan sistem yang akan dibangun dan diujicbakan akan meringankan beban pemerintah khususnya BKP3 dibawah pemerintah kabupaten Malang untuk menghimpun infrmasi mengenai keberadaan lumbung pangan di daerah yang penting peranannya untuk penyimpanan, penglahan dan pendistribusian pangan manakala diperlukan di masa bukan panen. b. Melalui sistem ketahanan pangan daerah yang akan dibangun akan mengatasi permasalahan dalam pengellaan lumbung pangan, misalnya: Menghimpun data ketersediaan pangan pada wilayah lumbung pangan di seluruh pusat prduksi di kabupaten Malang Terbangunnya sistem kelembagaan lumbung pangan secara integral dan sinergitas, sehingga akan lebih memperkuat krdinasi diantara elemen- elemen rganisasi Pada umumnya lumbung pangan belum memiliki sistem rganisasi dan sistem adminitrasi yang kuat, sehingga dengan sistem yang terintegrasi akan lebih membantu kinerja para pengurus lumbung pangan Kemampuan pengurus untuk membuka kmunikasi dengan pihak luar masih terbatas, sehingga mengakibatkan terbatasnya akses infrmasi yang dibutuhkan Memberikan infrmasi kepada anggta melalui pengurus di wilayah lumbung pangan mengenai infrmasi prduksi pangan sehingga akan menghindarkan petani dari kerugian penjualan dini (tunda jual), melayani kebutuhan pangan pedesaan saat paceklik/bukan masa panen, simpan pinjam dan sebagainya. Dalam rangka pengaturan dan pembinaan anggta di wilayah Lumbung pangan di daerah, peran perangkat lainnya misalnya pengurus kelmpk tani, pengurus lumbung pangan menjadi lebih nampak atau lebih berperan. c. Dengan dibangunnya Sistem Ketahanan Pangan Daerah dengan analisa wilayah Lumbung Pangan ini akan dapat digunakan sebagai mdel percnthan bagi wilayah-wilayah lain di Indnesia yang mempunyai wilayah lumbung

3 pangan sebagai penyedia cadangan pangan daerah khususnya di masa bukan panen. d. Pemanfaatan lain dalam pengembangan lebih lanjut dari sistem Ketahanan Pangan Daerah ini tidak hanya dapat mengatasi masalah-masalah petani saja, namun juga dapat dikembangkan misalnya: Untuk mengatasi masalah wilayah rawan pangan Kecukupan Pangan Masalah bencana alam Masalah ssial lainnya e. Melalui sistem ketahanan pangan daerah yang akan dibangun dan diujicbakan memungkinkan meningkatnya peran lembaga-lembaga pemerintah yang lain, seperti Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan dan dinas pemerintah lainnya. f. Pihak perguruan tinggi sebagai lembaga ilmiah yang dituntut untuk menemukan aplikasi-aplikasi terbaru untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dengan penelitian ini dapat menjadi salah satu lapangan penelitian yang implementasinya untuk peningkatan mutu pelayanan pemerintah daerah khususnya dan para petani pada umumnya, dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah untuk dikembangkan lebih lanjut leh pemerintah lain yang mempunyai fkus wilayah yang sama. g. Adanya sistem ketahanan pangan daerah yang dibangun dan diujicbakan, para pengurus akan lebih terbuka dengan infrmasi yang ada, sehingga lebih prduktif dan mandiri, sesuai dengan harapannya. 1.3 Target Luaran Diperleh data dasar ptensi pangan di wilayah lumbung pangan yang berkaitan dengan kebutuhan penyusunan sistem ketahanan pangan daerah Dapat diperleh data pendukung mengenai kndisi Kabupaten Malang seperti iklim, jenis tanah, curah hujan, irigasi, kmpnen prduksi pertanian yang digunakan Dapat dibangun sistem ketahanan pangan daerah dengan analisa wilayah lumbung pangan berbasis teknlgi infrmasi gegrafis sehingga dapat diujicbakan dalam melakukan identifikasi, inventarisasi dan pemantauan mengenai permasalahan ketahanan pangan. Dapat dilakukan ujicba dan evaluasi mengenai aplikasi yang dibangun apakah telah sesuai dengan kebutuhan BKP3 Kabupaten Malang dalam rangka pengaturan dan pembinaan, pengellaan, distribusi, ketersediaan dan cadangan pangan. 1.4 Lingkup Penelitian Dalam penelitian ini akan dibatasi pada pembuatan perangkat lunak untuk tempat-tempat lumbung pangan berdasarkan ketersediaan data pada instansi terkait studi kasus di Kabupaten Malang. Penelitian tidak mengerjakan aspek perangkat keras, seperti prses knfigurasi server yang sesungguhnya pada layanan hsting, pemesanan dmain, sistem akan diimplementasikan pada server lkal (lcalhst). Untuk pengujian penelitian ini akan digunakan beberapa cnth kasus request user yang dikndisikan mendekati ideal sesuai dengan kenyataan data yang ada diamana data tersebut sudah dilah dalam perangkat lunak. Perangkat lunak berupa aplikasi GIS (Gegraphics Infrmatin System) ini menggunakan teknlgi WebGIS. 2. Tinjauan Pustaka 2.1 Pengertian WebGIS Web-based GIS (WebGIS) adalah Sistem Infrmasi Gegrafis (SIG) yang terdistribusi dalam suatu jaringan kmputer untuk mengintegrasikan dan menyebarluaskan infrmasi gegrafi secara visual pada Wrld Wide Web. WebGIS dibandingkan dengan GIS yang berbasis dekstp menawarkan beberapa keuntungan seperti efisiensi biaya, efisiensi beban kerja sumber daya manusia untuk instalasi, pemeliharaan dan dukungan teknis, pemangkasan kurva pembelajaran untuk pengguna akhir dan keunggulan dalam hal integrasi data spasial dan data nn spasial menggunakan DBMS (Databese Management System). Objek ge spasial terdiri dari infrmasi data spasial dan data nn spasial. Infrmasi spasial dapat divisualisasikan dengan mengknversi data nn spasial yang ditampilkan secara dinamis di halaman HTML. Gambaran prses request data yang standar pada WebGIS dapat dijelasakan sebagai berikut, database mengirimkan request data ke PHP, hasil respn dari request berupa frmat data dikirimkan kembali melalui brwser. Untuk menerima data spasial dan nn spasial dari DBMS dibutuhkan sebuah teknik yang mampu mengkmunikasikan antara client dan database pada server. Teknik seperti ini sudah tersedia di PHP, ASP, ASP.net, atau JSP. Pemilihan tekniknya disesuaikan dengan web server yang digunakan. Cnth pemanfaatan WebGIS ketika terjadi tsunami di Aceh bukti kehebatannya baru dapat kita analisa jika sudah ditampilkan kedalam bentuk peta. 2.3 Leaflet Leaflet adalah aplikasi pen-surce yang menggunakan JavaScript mdern untuk peta yang interaktif. Aplikasi ini dikembangkan leh Vladimir Agafnkin dari CludMade dengan tim kntributr khusus. Beratnya hanya sekitar 27 KB kde JS gzip.

4 Hal ini dibangun secara efisien dengan mengambil keuntungan dari HTML5 dan CSS3 pada brwser mdern. Fkusnya adalah pada kegunaan, kinerja, ukuran kecil dukungan, A-grade brwser dan API sederhana dengan knvensi di atas knfigurasi. Kde OOP berbasis perpustakaan ini dirancang untuk menjadi mdular, extensible dan sangat mudah dipahami. Fitur-fitur dari leaflet diantaranya adalah: a. layer peta mendukung untuk : Lapisan Vektr seperti : plylines dan plign. Lapisan GeJSON. b. Fitur Visual: Zm animasi. Tampilan Lebih Halus. Animasi Pup. c. Kntrl Peta: Zm Peta. Pemindah Layer. Skala Atribut. 2.4 Studi Pemantauan Daerah Rawan Pangan Berbasis Inderaja Satelit dan Sistem Infrmasi Gegrafis (SIG) Studi Pemantauan Daerah Rawan Pangan Berbasis Inderaja Satelit dan Sistem Infrmasi Gegrafis (SIG) pernah dilakukan leh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasinal (LAPAN) Pada kuartal pertama (Januari-April) tahun 2002 dengan menggunakan metde yang dikembangkan dari hasilhasil penelitian yang telah dilakukan selama beberapa tahun terakhir. Kajian difkuskan terhadap Pulau Jawa mengingat bahwa sampai saat ini Pulau Jawa masih menjadi salah satu sentra prduksi padi yang penting di Indnesia. Perkiraan Ptensi Daerah Rawan Pangan secara sederhana didasarkan pada Rasi Prduksi dan Kebutuhan beras di suatu daerah. Analisis dilakukan terhadap daerah di Pulau Jawa pada Kuartal pertama (Januari April) tahun Hasil kajian tersebut digunakan leh pemerintah di tingkat pusat maupun daerah untuk mengantisipasi keadaan rawan pangan sedini mungkin dan mengambil tindakan yang berkaitan dengan pengadaan pangan. Perkiraan prduksi padi umumnya masih dilakukan dengan cara knvensinal yaitu melalui survei lapangan. Cara knvensinal ini membutuhkan biaya tinggi dan waktu yang lama, apabila dibandingkan dengan teknlgi penginderaan jauh. Survei kndisi lahan dengan mempergunakan teknlgi satelit penginderaan jauh selain waktu perlehan infrmasinya cepat dan murah, juga cakupan wilayah surveinya luas dan infrmasinya dapat diperleh lebih berkesinambungan. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan, bahwa teknlgi penginderaan jauh dapat digunakan untuk memberikan infrmasi secara dini tentang perkiraan luas panen dan tingkat prduktifitas padi. Selanjutnya dengan menerapkan sistem infrmasi gegrafis (SIG), infrmasi tersebut dapat diintegrasikan ke dalam mdel deteksi rawan pangan. 2.5 Radmap Penelitian Salah satu indikatr terbangunnya ketahanan pangan adalah tidak adanya indikasi kerawanan dan kasus rawan pangan. Salah satu aspek penting dalam pencapaian tersebut adalah ketersediaan cadangan pangan masyarakat dan kemampuannya dalam mendayagunakan sumber pangan yang ada. Penelitian yang akan dilakukan adalah memetakan lumbung pangan yang ada di Kabupaten Malang. Sehingga bisa diketahui dengan cepat ketersediaan pangan di daerah abupatan Malang, sehingga bisa mencegah secara dini kerawanan pangan. 2.6 Keberlanjutan & Penerapan Hasil Kegiatan Adanya sistem Ketahanan Pangan Daerah yang dapat digunakan untuk memetakan secara detail lumbung pangan yang ada di Kabupaten Malang dan kndisi yang paling mutakhir dari lumbung tersebut. Mempercepat pengaksesan data lumbung pangan leh pihak-pihak yang berkepentingan (pemerintah, petani, masyarakat), khususnya dalam penanganan daerah rawan pangan. Salah satu bentuk layanan pemerintah terhadap masyarakat yang ingin mengetahui ketersediaan cadangan pangan masyarakat dan kemampuannya dalam mendayagunakan sumber pangan yang ada 3. Metde Penelitian 3.1 Kerangka Pemikiran Pada penelitian ini, sesuai dengan judul penelitian maka digunakan pendekatan research and develpment. Artinya, antara tujuan dengan metde yang digunakan ada garis kesesuaian, agar masalah yang sedang diselesaikan berjalan dengan baik sesuai aturan yang ada. Pendekatan pelaksanaan pekerjaan menggunakan metdlgi penelitian dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif dilaksanakan untuk merumuskan indikatr rawan pangan yang relevan dengan wilayah yang dikaji. Pendekatan kualitatif digunakan sebagai pembanding dan memperjelas data kuantitatif yang ada dengan memakai strategi studi kasus. Strategi studi kasus dipilih karena kekhasan masalah, selain

5 kemampuannya dalam menjelaskan fenmena ssial secara lebih mendalam (Cresswel, 1994; Babie 2004 dalam Sitrus,1999). Kerangka penelitian digambarkan sebagai berikut: membuat interplasi peta pada hasil pemetaan wilayah ketersediaan pangan daerah Kabupaten Malang. Siklus keempat, meliputi: (1) uji lapangan perasinal (peratinal field testing), uji validasi mdel pemetaan wilayah ketersediaan pangan daerah. (2) Memnitr kesesuaian hasil pemetaan dan nilai faktr-faktr yang mempengaruhi rati angka kerawanan pangan serta menanalisa hasil impelemntasi terhadap tujuan institusi pemerintah yang terkait dengan penelitian ini. Gambar 1 Siklus penelitian pengembangan mdel Sistem Ketersediaan Pangan Daerah Siklus pertama, studi pendahuluan sistem ketersediaan pangan daerah dengan analisa wilayah lumbung pangan berbasis teknlgi WebGIS terdiri dari: (1) penelitian dan pengumpulan infrmasi (research and infrmatin cllecting) teri, hasil studi dan infrmasi yang relevan dengan masalah pemetaan daerah rawan pangan. Mencakup assessment kebutuhan, kajian pustaka, studi penelitian berskala kecil, penyiapan lapran, pertimbangan nilai yang berlaku dilkasi penelitian pedesaan di Kabupaten Malang. (2) perencanaan (planning), tahap ini mencakup pendefinisian ketrampilan yang dipelajari, merumuskan dan mengurutkan tujuan, mengidentifikasi kegiatan pelatihan, ujia validasi berskala kecil, (3) mengembangakan analisa awal mencakup penyiapan mdel implementasi sistem pemetaan lumbung pangan untuk tiap wilayah beserta data spasial dan nn spasial yang dibutuhkan, serta yang mempengaruhi factr-faktr rawan pangan. Siklus kedua, pemetaan wilayah rawan pangan dilakukan dengan mendigitasi semua titik yang berkaitan dengan analisa dari faktr-faktr yang menyebabkan timbulnya rawan pangan. Menentukan titik utama untuk lkasi lumbung pangan masyarakat, pengumpulan dan analisa data individu, bservasi, dkumentasi dan pencitraan lkasi baik dari digitasi vektr tiap kecamatan dalam Kabupaten Malang maupun hasil remte sensing (citra satelit). Siklus ketiga, hasil dari pemetaan dan digitasi wilayah ketersediaan pangan daerah Kabupaten Malang sesuai uraian pada siklus kedua, maka dilakukan perencanaan sistem yang akan dibangun dengan menggunakan teknlgi WebGIS, mempersiapkan layer-layer pendukung faktr yang mempengaruhi rasi rawan pangan bagi suatu daerah. Membuat area penanda untuk klasifikasi rasi rawan pangan yang nilai rasi sudah didapatkan dan Gambar 2 Tahapan pelaksanaan penelitian pengembangan Mdel Sistem Ketersediaan Pangan Daerah 3.2 Teknik dan Instrument Penelitian Data yang dikumpulkan dari lapangan dikelmpkkan menjadi empat bagian, studi pendahuluan, pengembangan, ujicba terbatas, dan ujicba lapangan perasinal. Setiap tahapan penelitian yang dilakukan mempunyai teknik pengumpulan data yang sesuai dengan tujuan yang dibuat dalam penelitian. Tahap satu studi pendahuluan dilakukan persiapan, survey pendalaman, analisis kebutuhan. Untuk ini dipilih teknik wawancara, bservasi, studi dkumentasi dan kajian pustaka. Kerja perasinal; ketiga alat ukur tersebut digunakan secara fleksibel tergantung kndisi dilapangan. Sukmadinata (2006: 165) mengatakan, penelitian dan pengembangan diawali dengan adanya kebutuhan, permasalahan yang membutuhkan pemecahan dengan menggunakan suatu prduk tertentu. Tahap kedua menyusun perencanaan mdel sistem ketersediaan wilayah pangan daerah. Dengan mengacu pada hasil studi pendahuluan, maka dilakukan pembuatan rancangbangun (prttype) mdel Sistem Ketersediaan Pangan Daerah melalui pendekatan analisa wilayah lumbung pangan masyarakat. Analisa dalam perancangan ini meliputi faktr-faktr penentu dalam rasi rawan pangan antara lain: (1) Knsumsi pangan terhadap ketersediaan bersih per kapita per hari, (2) Penduduk hidup di bawah garis kemiskinan, (3) Akses terhadap jalan, (4) Akses terhadap listrik, (5) Angka harapan hidup, (6) berat badan balita, (7) Angka kematian bayi, (8) Akses ke air bersih, (9) akses ke puskesmas dan (10) Jumlah perempuan buta huruf.

6 Tahap ketiga ujicba dan implementasi mdel Sistem Ketersediaan Pangan Daerah secara perasinal. Ujicba ini dilakukan beberapa kali dan tergantung dari kesesuaian antara kajian teri dan kndisi lapangan. Pada tahap ujicba alat ukur diperluas, sering dilakukan dan digunakan serta dianalisis sesuai kebutuhan, dilakukan juga uji validasi dan reliabilitas alat ukur. Tahap keempat ujicba lapangan perasinal atau uji validasi mdel Sistem Ketersediaan Pangan Daerah, pada tahap ini digunakan alat ukur yang sama dengan tahap ujicba. Pada tahapan ini juga telah diterbitkan mdul-mdul hasil analisa dan penggunaan sistemketersediaan pangan daerah, serta pelatihan untuk staf-staf pada instansi terkait. 3.3 Subjek dan Lkasi Penelitian a. Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah (1) lkasi dan data penunjang untuk pemetaan lumbung pangan masyarakat yang berada disemua kecamatan dalam Kabupaten Malang, (2) faktr-faktr data penentu rasi nilai daerah rawan pangan, sesuai dengan penjelasan dari tahapan enelitian pada tahap kedua. (3) data-data penunjang lainnya, mulai dari kmditas pertanian, iklim, bentuk tanah, kepadatan penduduk, dan lainnya. b. Lkasi Penelitian Lkasi pelaksanaan pekerjaan adalah di semua kecamatan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Waktu pelaksanaan kegiatan dilaksanakan selama 1 tahun. 3.4 Ppulasi dan Sampel Penelitian Dilihat dari sumbernya, data dasar yang digunakan sebagai berikut : Data Sekunder Data ini merupakan data yang telah dikumpulkan dan sajikan leh pihak lain. Adapun data sekunder yang akan digunakan dalam studi ini adalah data time series lima tahun terakhir, yaitu: a. Data padi menurut kecamatan di seluruh kabupaten: 1. Intensitas tanam padi per tahun 2. Luas tanaman padi per tahun/per tanam 3. Luas tanaman padi yang rusak per tahun 4. Luas panen padi per tahun 5. Jumlah prduksi padi per tahun 6. Rata-rata harga gabah per tahun 7. Luas lahan pertanian yang menganggur/tidak digarap 2. Luas tanaman per tahun/per tanam 3. Luas tanaman yang rusak per tahun 4. Luas panen per tahun 5. Jumlah prduksi per tahun 6. Rata-rata harga per tahun 7. Jumlah ternak c. Data kesehatan/gizi penduduk menurut kecamatan di seluruh kabupaten: 1. Prevalensi balita kurang energi prtein 2. Angka kelahiran dan jumlah ibu 3. Angka kematian bayi waktu lahir (IMR) 4. Umur harapan hidup anak usia 1 tahun 5. Jumlah anak kurang gizi 6. Jumlah penduduk yang dapat mengakses air bersih 7. Jumlah penduduk menurut jarak tempat tinggal dengan puskesmas 8. Wanita yang buta huruf d. Data ssial eknmi penduduk menurut kecamatan di seluruh kabupaten: Jumlah penduduk/kepala keluarga miskin (keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera I) e. Data pendukung lainnya 1. Angka kejahatan (pencurian) 2. Pla knsumsi pangan (peralihan dari pangan pkk ke lainnya) 3. Mbilitas tenaga kerja lkal ke daerah lain 4. Frekuensi jual beli ternak Sumber Data Data-data sekunder yang disebutkan dimuka dikumpulkan dari berbagai sumber resmi, yaitu: BKP3, BPS, Bappeda, Dinas Pertanian, BKKBN, Dinas Kesehatan. Data Primer Data ini merupakan data yang diperleh langsung dari byek studi. Adapun data primer yang digunakan dalam studi ini diantaranya meliputi: kndisi visual lapangan, infrmasi masyarakat langsung, pendapat dan pandangan dari pemerintah daerah Kabupaten Malang. 4. Pembahasan Dalam penelitian ini pada langkah awal setelah data didapatkan maka dihasilkan rancangan dari sistem yang akan dibuat berdasarkan pada pla desain arsitektur sistem yang ditentukan, arsitektur ini memiliki beberapa blk prses yang dijelaskan sebagai berikut: b. Data palawija (nn padi) menurut kecamatan di seluruh kabupaten: 1. Intensitas tanam per tahun

7 4.1 Arsitektur Sistem Pada blk Web Server, hasil inputan diatas akan dimanajemen pada bagian ini untuk mengklasifikasikan antara data atribut dan data spasial. Beberapa prses yang dilakukan adalah: Menyimpan data atribut pada database termasuk dkumentasi dan detail lumbung pangan tiap wilayah. Mengklasifikasikan layer untuk tiap data atribut instansi yang berkaitan. Menyimpan semua data spasial mulai krdinat, zna wilayah tempat tempat lumbung pangan serta data pendukung didalamnya ke dalam database spasial sesuai layer untuk tiap masingmasing wilayah. Merelasikan data kmditas, lumbung dengan tiap-tiap wilayah yang ada. Pada blk filter didalam prses Leaflet, tiap data atribut dan spasial yang telah diprses pada blk sebelumnya akan diprses lebih lanjut untuk mendeteksi kesesuaian dengan penentuan psisi dan pembuatan map marker pada basemap yang aktif. Untuk blk ini terdapat tiga prses utama yang bisa dijabarkan sebagai berikut: Gambar 3 Arsitektur WebGIS Wilayah Lumbung Pangan Input sistem berupa pendataan atribut dan data spasial dari layer lumbung pangan. Beberapa kriteria berikut perlu diakmdasi supaya sistem berjalan ptimal: Super Administratr membuat data identifikasi user untuk Administratr dari masing-masing instansi atau tempat. Super Administratr memasukkan master data template untuk Identitas instansi, kecamatan sebagai pembagian zna wilayah, kmditas pertanian, master data lumnbung pangan, dan krdinat dimana instansi berada. Administratr yang memasukkan data knten berupa kelengkapan dari data-data pendukung lumbung pangan termasuk didalamnya kmditas yang selalu berubah-ubah baik nilai dan jenisnya. Administratr mampu memdifikasi data-data dari departemen terkait, termasuk memdifikasi data spasial jika secara gegrafis terjadi perubahan. Gambar 4 Blk Diagram Prses pada Leaflet Klasifikasi basemap layers dan bject layers berguna untuk menetapkan layer peta utama (basemap) yang harus diambil dari map server, dimana klasifikasi ini akan menentukan peta utama apa saja yang akan disediakan dalam layer basemap. Terdapat 7 pilihan layer peta induk antara lain (Ggle Radmap, Ggle Satellite, Ggle Hybrid, Mapnik yang akan mengaktifkan OpenStreetMap, MapQuest, Cludemade, dan bing map). Selanjutnya menentukan multiple chice bagi layer bjek yang ada. Aktivasi map server, map marker dan hyperlink marker berguna untuk mengambil peta utama yang terpilih dari map server kemudian menentukan perbesaran dan skala tampilan awal peta tersebut (zm), dan penempatan zna wilayah awal sesuai krdinat yang dibaca dari database spasial. Setelah

8 ditetapkan prperty dari peta utama (basemap), selanjutnya membaca filter layer bjek yang aktif, mengambil nama bjek dan ft bjek, serta menetapkan hyperlink bjek tersebut. Sedangkan pada database spasial bagian ini akan membaca krdinat psisi masing-masing instansi, selanjutnya mengklasifikasikan marker untuk layer bjek yang aktif untuk dikaitkan psisi bjeknya pada peta utama. Bagian ini juga yang akan membuat visualisasi layanan kesehatan apa saja yang akan ditampilkan ke peta utama sesuai dari user (client). Representasi data spasial pada basemap yang aktif berguna untuk menyiapkan pada frame leaflet peta utama terpilih beserta data marker hasil blk sebelumnya yang selanjutnya hasil set pada frame leaflet ini akan dikirimkan kembali pada web server untuk ditampilkan pada halaman web user yang merequest (client). Pada blk Client ini, melakukan request alamat web dari webgis layanan kesehatan ini, kemudian memilih jenis request pada halaman web berupa zna wilayah yang ingin ditampilkan (wilayah Kecamatan dan Kelurahan), pilihan peta utama (7 layer basemap), bjek lumbung pangan yang perlu ditampilkan. Output dari sistem adalah: Representasi data atribut dan data spasial untuk peta utama yang aktif dan layer bjek terpilih. Data identifikasi masing-masing tempat lumbung pangan beserta infrmasi apa saja yang terdapat didalamnya. Data keberadaan psisi bjek secara gegrafis dan inf pendukungnya yang berkaitan dengan wilayah dan kmditas pertanian. Data hasil pemilihan zna yang direpresentasikan dalam bentuk peta wilayah menurut Kecamatan dan Kelurahan. Data detail hasil pemilihan sub pelayanan kesehatan yang akan tmatis melakukan filter pilihan dari layer bjek yang memenuhi kndisi dari pilihan user. 4.2 Fitur-Fitur Perangkat Lunak Berikut akan dijabarkan lebih lanjut mengenai macam-macam fitur yang akan didukung leh perangkat lunak: User Interface yang user-friendly Halaman web didesain sedemikian rupa yang terlihat sangat mudah sekali untuk bisa dibaca dan interaksi user dipandu dengan navigasi yang sangat membantu untuk memilih atau melakukan request secara dinamis pada hasil halaman webgis. Pencarian POI (Pint f Interest) Fitur ini berguna untuk mencari pengelmpkkan jenis bjek tempat bjek, zna wilayah dalam lingkup Kecamatan dan Kelurahan. Hasil filter akan ditampilkan berdasarkan area didalam kecamatan dan kelurahan yang dicari. Pemilihan Layer Peta Utama (Basemap layers) Fitur ini berguna untuk menentukan peta utama yang akan diaktifkan, menvisualkan peta baik dalam bentuk vectr 2D maupun citra satellite (remte sensing). Masing-masing peta utama memeiliki kelebihan dan kekurangan dari sisi detail infrmasi gegrafis, dan ini menjadikan keleluasaan user untuk bisa menyesuaikan pilihan peta utama mana yang tepat dan mudah dibaca. Pemilihan Layer bjek (Object layers) Fitur ini untuk mengaktifkan dan mennaktifkan map marker dari masing-masing tempat. Navigasi dan Inf Peta Fitur ini untuk mengatur visualisasi peta dan infrmasi didalamnya. Beberapa navigasi dan infrmasi didalamnya antara lain adalah: Tile Layers, sebuah label yang menampilkan infrmasi layer peta utama yang aktif. Attributin, Infrmasi label masing-masing bjek dan beberapa bjek pendukung lain berupa label POI (pint f interest) disekitar bjek utama. Zm in/ut, untuk mengatur skala penampakan peta diperbesar atau diperkecil. Markers, icn penanda dari masing-masing bjek Ppups, menu interaktif yang terdapat pada masing-masing markers yang akan menampilkan dialg berupa ft dan nama bjek. Dalam fitur ini user bisa melihat detail bjek tersebut dengan cara mengklik hyperlink dari nama bjek yang ada. Layer switcher, pilihan kategri layer yang terdiri dari pemilihan layer peta utama (basemap layers) dan layer lumbung pangan (bject layers). Scale, infrmasi skala peta yang sedang ditampilkan. Halaman detail tempat layanan kesehatan Fitur ini untuk menampilkan detail infrmasi data atribut dan spesifikasi data spasial dari masing-masing bjek lumbung pangan. Halaman detail bjek

9 Fitur ini untuk menampilkan infrmasi dan dkumentasi dari bjek lumbung pangan. Gambaran dari Layut WebGIS Wilayah Lumbung Pangan di Kabupaten Malang, adalah sebagai berikut: Gambar 7 Tampilan Utama WebGIS Gambar 5 Halaman Utama pembuka web Gambar 8 Tampilan pemilihan layer sumber peta Gambar 6 Halaman Galeri Lumbung Pangan 5. Kesimpulan Dan Saran 5.1 Kesimpulan Dari pembahasan pada bab-bab sebelumnya dari penelitian ini, maka dapat diambil beberapa kesimpulan antara lain sebagai berikut ini : Dengan adanya sistem infrmasi gegrafis wilayah lumbung pangan di Kabupaten Malang bebasis webgis ini maka masyarakat lebih mudah mencari infrmasi tentang letak dan dan infrmasi sarana yang disediakan dari tempat pelayanan kesehatan tersebut.

10 Membantu pemerintahan Kabupaten Malang dalam memantau daerah rawan pengan dari area ketersediaan lumbung pangan dan kmditas yang ada. [8] Alamgir, M. and P. Arra Prviding Fd Security Fr All. New Yrk University Press fr the Internatinal Fund fr Agricultural Develpment (IFAD), Rme. Pihak Dinas terkait sendiri akan terbantukan dalam menginfrmasikan tentang letak dan keberadaan lumbung pangan yang ada. Sistem ini akan memberikan infrmasi tidak hanya data teks dan gambar, namun representasi bjek pada peta gegrafis sesuai keadaan sebenarnya sehingga sangat memungkinkan untuk mendapatkan data dengan tingkat kebenaran mendekati ideal. 5.2 Saran Adapun saran untuk pengembangan lebih lanjut dari sistem infrmasi gegrafis wilayah lumbung pangan di Kabupaten Malang berbasis webgis ini adalah penambahan fitur yang lebih dinamis melibatkan semua elemen dalam khususnya bidang pertanian, scial dan kemasyarakatan untuk bisa langsung terlibat dan ikut andil dalam memberikan perubahan data yang ada pada sistem ini. 6. Daftar Pustaka [1] Dewan Ketahanan Pangan Kebijakan Umum Ketahanan Pangan Jakarta [2] Rachman, H.P.S, dkk Manajemen Ketahanan Pangan Era Otnmi Daerah danperum Bulg. Lapran Hasil Penelitian. Puslitbang Ssek Pertanian, Badan Litbang Pertanian, Departemen Pertanian. [3] Rachman, H.P.S, A. Purwt, dan G.S. Hardn Kebijakan Pengellaan Cadangan Pangan Pada Era Otnmi Daerah Dan Perum Bulg. Frum Penelitian Agr Eknmi. Vlume 23 N. 2, Desember 2005 : [4] Pusat Pengembangan Pemanfaatan dan Teknlgi Penginderaan Jauh LAPAN, 2002, Pemantauan Daerah Rawan Pangan di Pulau Java untuk/dan Alarm Bencana Alam pada Kuartal Pertama (Januari-April) Tahun 2002, LAPAN [5] Simatupang, P Kerangka Dasar Kebijakan Ketahanan Pangan Nasinal. Makalah disajikan pada Kngres Ikatan Sarjana Eknmi Indnesia (ISEI), Manad Juni [6] Henny Pramedy, et. al., 2010, Indikatr dan Pemetaan Daerah Rawan Pangan di Kabupaten Pnrg, Universitas Brawijaya Malang [7] Jabal Tarik Ibrahim, et al, 2009, Analisis Ketahanan Pangan di Jawa Timur (The Fd Security Analysis in East Java), Disajikan Pada Wrkshp Ketahanan Pangan 2009

OTOMATISASI SISTEM REKOMENDASI LAYANAN KESEHATAN UNTUK BEROBAT BERBASIS WEBGIS

OTOMATISASI SISTEM REKOMENDASI LAYANAN KESEHATAN UNTUK BEROBAT BERBASIS WEBGIS OTOMATISASI SISTEM REKOMENDASI LAYANAN KESEHATAN UNTUK BEROBAT BERBASIS WEBGIS Subari dan G Frendi Gunawan Prgram Studi Teknik Infrmatika Seklah Tinggi Infrmatika & Kmputer Indnesia subari@stiki.ac.id,

Lebih terperinci

PENYUSUNAN DATABASE JARINGAN JALAN KOTA MAKASSAR BERBASIS GIS OPEN SOURCE

PENYUSUNAN DATABASE JARINGAN JALAN KOTA MAKASSAR BERBASIS GIS OPEN SOURCE PRO S ID IN G 20 11 HASIL PENELITIAN FAKULTAS TEKNIK Arsitektur Elektr Gelgi Mesin Perkapalan Sipil PENYUSUNAN DATABASE JARINGAN JALAN KOTA MAKASSAR BERBASIS GIS OPEN SOURCE Jurusan Teknik Sipil Fakultas

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM. Berdasarkan System Development Life Cycle (SDLC) metode waterfall yang

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM. Berdasarkan System Development Life Cycle (SDLC) metode waterfall yang BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM Berdasarkan System Develpment Life Cycle (SDLC) metde waterfall yang digunakan dalam pembuatan aplikasi penentuan harga jual, terdapat beberapa tahapan yang terdiri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Sebagai negara agraris, Indnesia memiliki kekayaan alam dan hayati yang sangat beragam yang jika dikella dengan tepat, kekayaan tersebut mampu diandalkan menjadi andalan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. perusahaan harus dapat meningkatkan kinerja dan perfomansinya agar dapat unggul

BAB 1 PENDAHULUAN. perusahaan harus dapat meningkatkan kinerja dan perfomansinya agar dapat unggul BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknlgi yang semakin maju dan semakin pesat membuat perusahaan harus dapat meningkatkan kinerja dan perfmansinya agar dapat unggul dalam persaingan sekarang

Lebih terperinci

BUKU INDIKASI KAWASAN HUTAN & LAHAN YANG PERLU DILAKUKAN REHABILITASI TAHUN 2003

BUKU INDIKASI KAWASAN HUTAN & LAHAN YANG PERLU DILAKUKAN REHABILITASI TAHUN 2003 BUKU INDIKASI KAWASAN HUTAN & LAHAN YANG PERLU DILAKUKAN REHABILITASI TAHUN 2003 A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Hutan merupakan salah satu sumberdaya alam yang memiliki nilai eknmi, eklgi dan ssial

Lebih terperinci

MEMBANGUN KAPASITAS DAERAH DAN NASIONAL DALAM PRAKIRAAN AWAL MUSIM HUJAN DAN MUSIM KEMARAU BERBASIS DATA SATELIT

MEMBANGUN KAPASITAS DAERAH DAN NASIONAL DALAM PRAKIRAAN AWAL MUSIM HUJAN DAN MUSIM KEMARAU BERBASIS DATA SATELIT H-1 MEMBANGUN KAPASITAS DAERAH DAN NASIONAL DALAM PRAKIRAAN AWAL MUSIM HUJAN DAN MUSIM KEMARAU BERBASIS DATA SATELIT Lely Qdrita Avia LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL (LAPAN) 2012 Kndisi yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. PLN, di ganti menjadi kwh meter digital yang dapat memberikan nilai lebih

BAB I PENDAHULUAN. PLN, di ganti menjadi kwh meter digital yang dapat memberikan nilai lebih BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan teknlgi selalu berkembang setiap saat, ada saja yang dilakukan manusia untuk memberikan kemudahan pada kehidupan sehari-hari. Salah satu cnth kemudahan

Lebih terperinci

PEMETAAN KONDISI FISIK JALAN DAN DRAINASE ZONA-2 KOTA MAKASSAR BERBASIS GIS OPEN SOURCE KOTA MAKASSAR, PROVINSI SULAWESI SELATAN

PEMETAAN KONDISI FISIK JALAN DAN DRAINASE ZONA-2 KOTA MAKASSAR BERBASIS GIS OPEN SOURCE KOTA MAKASSAR, PROVINSI SULAWESI SELATAN PEMETAAN KONDISI FISIK JALAN DAN DRAINASE ZONA-2 KOTA MAKASSAR BERBASIS GIS OPEN SOURCE KOTA MAKASSAR, PROVINSI SULAWESI SELATAN Syafruddin Rauf Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin

Lebih terperinci

LKPJ AKHIR MASA JABATAN BUPATI JOMBANG I BAB

LKPJ AKHIR MASA JABATAN BUPATI JOMBANG I BAB LKPJ AKHIR MASA JABATAN BUPATI JOMBANG 009-013 I BAB I LKPJ AKHIR MASA JABATAN BUPATI JOMBANG 009-013 A. VISI DAN MISI DAERAH V isi merupakan gambaran bersama mengenai masa depan, berupa kmitmen murni,

Lebih terperinci

PETUNJUK PELAKSANAAN PEMERIKSAAN KINERJA BPK 1. PENDAHULUAN

PETUNJUK PELAKSANAAN PEMERIKSAAN KINERJA BPK 1. PENDAHULUAN PETUNJUK PELAKSANAAN PEMERIKSAAN KINERJA BPK 1. PENDAHULUAN a) LATAR BELAKANG DAN DASAR HUKUM BPK mempunyai kewenangan untuk melakukan pemeriksaan keuangan,kinerja dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu

Lebih terperinci

NILAI-NILAI BERSAMA KEMITRAAN PLATFORM PANTAU GAMBUT

NILAI-NILAI BERSAMA KEMITRAAN PLATFORM PANTAU GAMBUT NILAI-NILAI BERSAMA KEMITRAAN PLATFORM PANTAU GAMBUT Dkumen ini mendefinisikan misi, tujuan, tata kella, dan prinsip-prinsip perasinal Pantau Gambut yang perlu disepakati bersama leh para rganisasi mitra.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. memarkirkan mobilnya di tempat-tempat perparkiran yang cukup sibuk seperti

BAB 1 PENDAHULUAN. memarkirkan mobilnya di tempat-tempat perparkiran yang cukup sibuk seperti BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dengan semakin banyaknya pemilik mbil di kta besar seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya akan menimbulkan masalah bagi pemilik mbil untuk memarkirkan mbilnya di tempat-tempat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi semakin pesat, banyak orang. mulai mencari berbagai produk yang dapat memudahkan

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi semakin pesat, banyak orang. mulai mencari berbagai produk yang dapat memudahkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi semakin pesat, banyak orang mulai mencari berbagai produk yang dapat memudahkan pekerjaan mereka. Tuntutan pekerjaan berbanding terbalik dengan

Lebih terperinci

Oleh Peserta PKL beranggotakan : Mokhammad Ali Imron Jamaal Wira Prasaja Candra Mukti Wijaya Ilham Mashudi. Dosen Pembimbing : Anita, S.

Oleh Peserta PKL beranggotakan : Mokhammad Ali Imron Jamaal Wira Prasaja Candra Mukti Wijaya Ilham Mashudi. Dosen Pembimbing : Anita, S. SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS FASILITAS KEBERSIHAN DI KOTA MALANG DENGAN MEMANFAATKAN FITUR PEMETAAN LEAFLET (Studi Kasus Pada Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kta Malang) Oleh Peserta PKL beranggtakan : Mkhammad

Lebih terperinci

SNATIKA Volume 02, Tahun Seminar Nasional Teknologi lnformasi, Komunikasi dan Aplikasinya. rssn TriY.

SNATIKA Volume 02, Tahun Seminar Nasional Teknologi lnformasi, Komunikasi dan Aplikasinya. rssn TriY. rssn 2089-1083 SNATIKA 2013 Seminar Nasinal Teknlgi lnfrmasi, Kmunikasi dan Aplikasinya Vlume 02, Tahun 2013 PROGRAM COMMITIEE Prf. Dr. R. Ek lndrajit, MSc, MBA (Perbanas Jakarta) Prf. Dr. ZainalA. Hasibuan

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1 DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA TERSTRUKTUR MODEL LIMA KEKUATAN PORTER

LAMPIRAN 1 DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA TERSTRUKTUR MODEL LIMA KEKUATAN PORTER L1 LAMPIRAN 1 DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA TERSTRUKTUR MODEL LIMA KEKUATAN PORTER Gambaran Umum Situasi Perusahaan dan Industri A. Gambaran Umum Situasi Perusahaan dan Industri 1. Pada lingkup industri

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Data dan Informasi. Sistem Informasi. Komponen sistem informasi. Basis data

PENDAHULUAN. Data dan Informasi. Sistem Informasi. Komponen sistem informasi. Basis data UNIVERSITAS UNIVERSAL BATAM 2016 PENDAHULUAN Data dan Infrmasi Data merupakan nilai (value) yang turut merepresentasikan deskripsi dari suatu bjek atau kejadian (event) Infrmasi merupakan hasil dari penglahan

Lebih terperinci

Hingga Juli 2012, telah digunakan anggaran insentif PKPP sebagai berikut: : Rp (74 % dari 250 juta

Hingga Juli 2012, telah digunakan anggaran insentif PKPP sebagai berikut: : Rp (74 % dari 250 juta FORM B.3 (Perkembangan Bulan 5-6) Judul: Pengembangan Prttip klaster peragaan hands-n interaktif bidang Antariksa untuk Science Center Pntianak,Kalimantan Barat Kde: SIDa.H.7 K/L: LEMBAGA PENERBANGAN DAN

Lebih terperinci

A. IDENTITAS B. DESKRIPSI MATAKULIAH C. TUJUAN MATAKULIAH

A. IDENTITAS B. DESKRIPSI MATAKULIAH C. TUJUAN MATAKULIAH A. IDENTITAS Nama Mata Kuliah : Sistem Infrmasi Akuntansi Kde Mata Kuliah : AKT 207 Tipe : Mata Kuliah Keahlian Berkarya (MKB) Bbt SKS : 3 SKS / 3 JP Prasyarat : Aplikasi Kmputer Pengantar B. DESKRIPSI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Perkembangan pada sektr industri di Semarang semakin meningkat seiring dengan perkembangan kta. Salah satunya di Kecamatan Pedurungan, Semarang. Di wilayah ini tingkat

Lebih terperinci

Software Requirement (Persyaratan PL)

Software Requirement (Persyaratan PL) Sftware Requirement ( PL) Arna Fariza 1 Rekayasa Perangkat Lunak Tujuan Memperkenalkan knsep persyaratan user dan sistem Menjelaskan persyaratan fungsinal dan nnfungsinal Menjelaskan bagaimana persyaratan

Lebih terperinci

RESPON PETERNAKAN AYAM RAS PEDAGING TERHADAP KONDISI KRISIS EKONOMI

RESPON PETERNAKAN AYAM RAS PEDAGING TERHADAP KONDISI KRISIS EKONOMI Seminar Nasinal Peternakan clan Vetermer 1000 RESPON PETERNAKAN AYAM RAS PEDAGING TERHADAP KONDISI KRISIS EKONOMI Kats kunch Respn, ayam ras pedaging, pendapatan ELAN MAssutAN', A. PRIYANTO, dan U. KusNAD12

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM Pada bab ini terlebih dahulu akan dibahas tentang identifikasi permasalahan, analisis permasalahan, slusi permasalahan dan perancangan sistem dalam rancang bangun

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Kabupaten Jombang merupakan salah satu Kabupaten yang terletak di

BAB 1 PENDAHULUAN. Kabupaten Jombang merupakan salah satu Kabupaten yang terletak di BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kabupaten Jombang merupakan salah satu Kabupaten yang terletak di bagian tengah Provinsi Jawa Timur dengan luas wilayah sebesar 1.159,50 km². Penggunaan lahan di Kabupaten

Lebih terperinci

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) Penyusunan Sistem Informasi/Data Base Jalan dan Jembatan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sukamara TAHUN ANGGARAN 2014

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) Penyusunan Sistem Informasi/Data Base Jalan dan Jembatan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sukamara TAHUN ANGGARAN 2014 KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) Penyusunan Sistem Infrmasi/Data Base Jalan dan Jembatan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sukamara TAHUN ANGGARAN 2014 A. LATAR BELAKANG Kebijakan pembinaan kebinamargaan sejalan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan pokok merupakan kebutuhan minimal manusia yang mutlak harus dipenuhi untuk menjamin kelangsungan hidup. Kebutuhan pokok manusia terdiri atas, kebutuhan pangan,

Lebih terperinci

Oleh : Yuli Nurmayanti 1, Dini Rochdiani 2, Cecep Pardani 3. Fakultas Pertanian Universitas Galuh 2. Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Oleh : Yuli Nurmayanti 1, Dini Rochdiani 2, Cecep Pardani 3. Fakultas Pertanian Universitas Galuh 2. Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran RESPO PETAI TERHADAP PEERAPA USAHATAI JAGUG HIBRIDA (Zea Mays spp.) POLA TUMPAGSARI (Studi Kasus di Desa Sagalaherang Kecamatan Panawangan Kabupaten Ciamis) Oleh : Yuli urmayanti, Dini Rchdiani, Cecep

Lebih terperinci

ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM SIDOARJO on HANDS (SOH) UNTUK MENDUKUNG PROMOSI POTENSI DAERAH KABUPATEN SIDOARJO

ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM SIDOARJO on HANDS (SOH) UNTUK MENDUKUNG PROMOSI POTENSI DAERAH KABUPATEN SIDOARJO Prsiding SNATIF Ke -4 Tahun 2017 ISBN: 978-602-1180-50-1 ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM SIDOARJO n HANDS (SOH) UNTUK MENDUKUNG PROMOSI POTENSI DAERAH KABUPATEN SIDOARJO Rani Purbaningtyas 1*, Arif Arizal

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Setiap usaha yang didirikan dengan orientasi laba (keuntungan) mempunyai

BAB 1 PENDAHULUAN. Setiap usaha yang didirikan dengan orientasi laba (keuntungan) mempunyai BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang. Setiap usaha yang didirikan dengan rientasi laba (keuntungan) mempunyai tujuan untuk mencapai laba (keuntungan) yang ptimal, sehingga kelangsungan hidup badan usaha

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (SIG) adalah salah satu sistem informasi yang dibahas dalam ilmu komputer, yang

BAB I PENDAHULUAN. (SIG) adalah salah satu sistem informasi yang dibahas dalam ilmu komputer, yang BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Pada Ilmu Komputer, Sistem Informasi merupakan hal yang sangat mendasar keterkaitannya dengan sistem secara global. Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah salah satu

Lebih terperinci

ANALISIS KELEMAHAN SISTEM LAMA Hanif Al Fatta M.Kom

ANALISIS KELEMAHAN SISTEM LAMA Hanif Al Fatta M.Kom ANALISIS KELEMAHAN SISTEM LAMA Hanif Al Fatta M.Km Abstraks Dalam teri rekayasa perangkat lunak ada 2 jenis prduk perangkat lunak. Prduk generik, yaitu prduk yang dibuat dan ditentukan fungsinalitasnya

Lebih terperinci

Bohal K. Simorangkir UTSU Agustus 2013

Bohal K. Simorangkir UTSU Agustus 2013 BASIS DATA I 1 Bhal K. Simrangkir UTSU Agustus 2013 PENDAHULUAN (1) Aplikasi basis data tradisinal merupakan infrmasi yang disimpan dan diakses melalui kumpulan data dalam bentuk data teks maupun numerik.

Lebih terperinci

1.1. Latar Belakang. Rencana Tindak Penataan Lingkungan Permukiman Isu-isu strategis

1.1. Latar Belakang. Rencana Tindak Penataan Lingkungan Permukiman Isu-isu strategis pada desain terpadu antara tata guna lahan, berbagai elemen rancang lingkungan serta sarana dan prasarana lingkungan. Oleh karena itu, melalui prgram Penataan Lingkungan Berbasis Kmunitas (PLP-BK) maka

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. saat ini, menunjukkan bahwa industri ini memiliki potensi yang menjanjikan. Hal ini dapat dilihat

BAB 1 PENDAHULUAN. saat ini, menunjukkan bahwa industri ini memiliki potensi yang menjanjikan. Hal ini dapat dilihat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Semakin berkembang pesat dan semakin kuat nya persaingan bisnis di bidang tmtif saat ini, menunjukkan bahwa industri ini memiliki ptensi yang menjanjikan. Hal ini dapat

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. dan keberlanjutan usaha pada usaha yang berhasil perlu dilakukan untuk

III. METODE PENELITIAN. dan keberlanjutan usaha pada usaha yang berhasil perlu dilakukan untuk III. METODE PENELITIAN A. Kerangka Pemikiran Knseptual Identifikasi variabel-variabel yang berpengaruh terhadap keuntungan dan keberlanjutan usaha pada usaha yang berhasil perlu dilakukan untuk dipahami

Lebih terperinci

BAB II PETUGAS HUMAS DAN WARTAWAN DI KABUPATEN BREBES. Tanpa komunikasi, masyarakat akan mengalami ketertinggalan informasi,

BAB II PETUGAS HUMAS DAN WARTAWAN DI KABUPATEN BREBES. Tanpa komunikasi, masyarakat akan mengalami ketertinggalan informasi, 1 BAB II PETUGAS HUMAS DAN WARTAWAN DI KABUPATEN BREBES 2.1 Petugas Humas Kmunikasi dan infrmasi telah menjadi salah satu kebutuhan dasar mausia. Tanpa kmunikasi, masyarakat akan mengalami ketertinggalan

Lebih terperinci

TERMINAL PENUMPANG KAPAL LAUT KALIWUNGU KENDAL TAHUN 2028 JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO

TERMINAL PENUMPANG KAPAL LAUT KALIWUNGU KENDAL TAHUN 2028 JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Issue yang sedang hangat menjadi pembicaraan adalah rencana pemindahan aktivitas pelabuhan laut khusus penumpang lintas Semarang - Kumai pada Pelabuhan Tanjung Emas.Tanjung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Setiap manusia selalu menginginkan kemudahan, kecepatan dan sistem

BAB I PENDAHULUAN. Setiap manusia selalu menginginkan kemudahan, kecepatan dan sistem BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Setiap manusia selalu menginginkan kemudahan, kecepatan dan sistem informasi yang relevan untuk memudahkan dalam segala aktivitasnya.tidak terkecuali dalam bidang

Lebih terperinci

Komentar dan Rekomendasi

Komentar dan Rekomendasi Lampiran 3. Frmat lapran evaluasi Visitasi PHK-PKPD (AIPKI) Kmentar dan Rekmendasi Nama Perguruan Tinggi : FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN Skema Reviewer : B : 1. Sri Asriyani 2. Hemma Yulfi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan pemanfaatan data spasial belakangan ini semakin meningkat sehubungan dengan kebutuhan masyarakat agar segalanya menjadi lebih mudah dan praktis terkait

Lebih terperinci

INDIKATOR DAN PEMETAAN DAERAH RAWAN PANGAN DALAM MENDETEKSI KERAWANAN PANGAN DI KECAMATAN TANJUNG BUMI KABUPATEN BANGKALAN

INDIKATOR DAN PEMETAAN DAERAH RAWAN PANGAN DALAM MENDETEKSI KERAWANAN PANGAN DI KECAMATAN TANJUNG BUMI KABUPATEN BANGKALAN EMBRYO VOL. 7 NO. 2 DESEMBER 2010 ISSN 0216-0188 INDIKATOR DAN PEMETAAN DAERAH RAWAN PANGAN DALAM MENDETEKSI KERAWANAN PANGAN DI KECAMATAN TANJUNG BUMI KABUPATEN BANGKALAN Suhartn Jurusan Agrekteknlgi

Lebih terperinci

by : Andika Putra Utami; Yunike Rahmi; Dewi Permata Sari; Bismatullah; Ismadi

by : Andika Putra Utami; Yunike Rahmi; Dewi Permata Sari; Bismatullah; Ismadi Manajemen Risik K3 di Perusahaan Pertambangan Psted n 21 Januari 2011 by Aria Gusti by : Andika Putra Utami; Yunike Rahmi; Dewi Permata Sari; Bismatullah; Ismadi Pendahuluan Pertambangan memiliki peran

Lebih terperinci

PENERAPAN SISTEM INFORMASI UNTUK MANAJEMEN DATA MINERAL

PENERAPAN SISTEM INFORMASI UNTUK MANAJEMEN DATA MINERAL PENERAPAN SISTEM UNTUK MANAJEMEN DATA MINERAL Teguh Prayg Peneliti Pusat Teknlgi Sumber Daya Mineral BPPT yg@webmail.bppt.g.id Abstract Mineral rmatin System (SIM) is an added value and integrated base

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM KOPERASI. dan tujuan KUK yang sebenarnya. Seringkali penyaluran KUK semata-mata didasarkan

BAB II GAMBARAN UMUM KOPERASI. dan tujuan KUK yang sebenarnya. Seringkali penyaluran KUK semata-mata didasarkan BAB II GAMBARAN UMUM KOPERASI A. Sejarah singkat Kperasi Kampar Mitra Mandiri Sejak bank-bank diwajibkan menyalurkan 22,5% dari prtepel kreditnya untuk Kredit Usaha Kecil (KUK), maka vlume kredit yang

Lebih terperinci

SILABUS TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

SILABUS TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI SILABUS TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Nama Seklah : Mata Pelajaran : Teknlgi Infrmasi dan Kmunikasi Kelas / Semester : XII/1 Standar Kmpetensi : 1. Menggunakan pembuat desain grafis Kmpetensi Dasar

Lebih terperinci

DESAI EVALU IMPLEM BAB I PENDAHULUAN

DESAI EVALU IMPLEM BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN Pertemuan ke : 1 Alkasi waktu : 0,5 Jam Kmpetensi dasar : 1. Mahasiswa mampu memahami pentingnya mempelajari perancangan antarmuka pengguna. Indikatr : 1. Menuliskan dan menjelaskan knsep

Lebih terperinci

BAB IV DESKRIPSI PEKERJAAN. Kerja praktik yang kami laksanakan di PT. Indoberka Investama pada

BAB IV DESKRIPSI PEKERJAAN. Kerja praktik yang kami laksanakan di PT. Indoberka Investama pada BAB IV DESKRIPSI PEKERJAAN Kerja praktik yang kami laksanakan di PT. Indberka Investama pada tanggal 11 Juli 2016 s.d 11 Agustus 2016. PT. Indberka Investama merupakan perusahaan nasinal yang bergerak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sangat membutuhkan alat pengukur kemiringan kendaraan terhadap media yang

BAB I PENDAHULUAN. sangat membutuhkan alat pengukur kemiringan kendaraan terhadap media yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kendaraan bermtr ataupun tak bermtr, khususnya kendaraan rda dua sangat membutuhkan alat pengukur kemiringan kendaraan terhadap media yang dilaluinya. Karena

Lebih terperinci

APLIKASI SOFTWARE PERPUSTAKAAN DIGITAL

APLIKASI SOFTWARE PERPUSTAKAAN DIGITAL APLIKASI SOFTWARE PERPUSTAKAAN DIGITAL Prpsal Sftware PERPUSTAKAAN DIGITAL Sistem Infrmasi Perpustakaan adalah sebuah sftware perpustakaan praktis yang telah teruji keandalannya serta telah digunakan leh

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. tahun meningkat di seluruh dunia khususnya Indonesia. Internet berfungsi

BAB 1 PENDAHULUAN. tahun meningkat di seluruh dunia khususnya Indonesia. Internet berfungsi BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan teknlgi infrmasi khususnya jaringan internet sudah banyak dikenal leh masyarakat secara luas. Penggunaan internet dari tahun ke tahun meningkat di seluruh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam arti yang lebih sempit, adalah sistem komputer yang memiliki kemampuan

BAB I PENDAHULUAN. dalam arti yang lebih sempit, adalah sistem komputer yang memiliki kemampuan BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Sistem Informasi Geografis adalah sistem informasi khusus yang mengelola data yang memiliki informasi spasial (bereferensi keruangan). Atau dalam arti yang lebih sempit,

Lebih terperinci

Bab 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

Bab 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Bab 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ASCII Art adalah salah satu bentuk penyajian gambar dengan menggunakan karakter-karakter ASCII tertentu yang disusun sehingga sedapat mungkin meghasilkan sebuah

Lebih terperinci

TEKNIK BUDIDAYA SAYURAN DI LAHAN PEKARANGAN

TEKNIK BUDIDAYA SAYURAN DI LAHAN PEKARANGAN TEKNIK BUDIDAYA SAYURAN DI LAHAN PEKARANGAN Bunaiyah Hnrita Balai Pengkajian Teknlgi Pertanian (BPTP) Bengkulu Jl. Irian Km. 6,5 Bengkulu 38119 PENDAHULUAN Pembanguanan ketahanan pangan mempunyai ciri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Pertanian memberikan kontribusi banyak terhadap keberlangsungan hidup masyarakat, terutama kontribusinya sebagai sumber pangan, sumber lapangan pekerjaan bagi sebagian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. Jakarta dengan luas 661,52 km 2 dan jumlah populasi jiwa serta kepadatan

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. Jakarta dengan luas 661,52 km 2 dan jumlah populasi jiwa serta kepadatan BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Jakarta dengan luas 661,52 km 2 dan jumlah ppulasi 8.389.443 jiwa serta kepadatan penduduk sebesar 12.682,1/ 2 km, diperkirakan akan terus bertambah. Pertumbuhan penduduk

Lebih terperinci

Modifikasi Motif Kain Tradisional Menggunakan Cellular Automata

Modifikasi Motif Kain Tradisional Menggunakan Cellular Automata Mdifikasi Mtif Kain Tradisinal Menggunakan Cellular Autmata Purba Daru Kusuma Prgram Studi Sistem Kmputer Universitas Telkm Bandung, Indnesia purbdaru@gmail.cm Abstrak Metde cellular autmata telah diimplementasikan

Lebih terperinci

Bab II LANDASAN TEORI

Bab II LANDASAN TEORI Bab II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Energi Energi yang bersifat abstrak yang sukar dibuktikan, tetapi dapat dirasakan adanya. Energi atau yang sering disebut tenaga, adalah suatu pengertian yang sering

Lebih terperinci

RANGKUMAN APLIKASI PENGOLAHAN DATABASE (Menggunakan Microsoft Access 2007)

RANGKUMAN APLIKASI PENGOLAHAN DATABASE (Menggunakan Microsoft Access 2007) RANGKUMAN APLIKASI PENGOLAHAN DATABASE (Menggunakan Micrsft Access 2007) A. PENGERTIAN DATABASE Kata Database berasal dari bahasa inggris, dalam bahasa Indnesia database diartikan dengan Pangkalan Data

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) resmi diberlakukan demikian pula dengan

BAB I PENDAHULUAN. JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) resmi diberlakukan demikian pula dengan BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Pada tanggal 1 Januari 2014 sistem jaminan sosial kesehatan terbaru atau JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) resmi diberlakukan demikian pula dengan BPJS (Badan Penyelenggara

Lebih terperinci

BAB IV KURIKULUM PROGRAM STUDI

BAB IV KURIKULUM PROGRAM STUDI BAB IV KURIKULUM PROGRAM STUDI 4.1 PRODI MATEMATIKA 4.1.1 Visi Prdi Matematika Menjadi pusat pengkajian dan pengembangan ilmu matematika terkemuka pada tahun 2025 yang mensinergikan ilmu pengetahuan dan

Lebih terperinci

SIG PEMETAAN JENIS HAK ATAS TANAH

SIG PEMETAAN JENIS HAK ATAS TANAH SIG PEMETAAN JENIS HAK ATAS TANAH Noventina Situmorang, Arif Basofi, Ira Prasetyaningrum Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Kampus ITS keputih Sukolilo

Lebih terperinci

BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM. Identifikasi permasalahan merupakan langkah awal yang harus dilakukan

BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM. Identifikasi permasalahan merupakan langkah awal yang harus dilakukan BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM 3.1 Identifikasi Permasalahan Identifikasi permasalahan merupakan langkah awal yang harus dilakukan dalam membuat suatu sistem yang baru. Langkah awal yang dilakukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan. Polusi maupun efek rumah kaca yang meningkat yang tidak disertai. lama semakin meninggi, sehingga hal tersebut merusak

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan. Polusi maupun efek rumah kaca yang meningkat yang tidak disertai. lama semakin meninggi, sehingga hal tersebut merusak BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Meningkatnya frekuensi curah hujan, khususnya yang terjadi di musimmusim penghujan dan bertambahnya populasi serta permukiman penduduk di daerah Kota Medan setiap

Lebih terperinci

- Perencanaan dan Penyusunan Program

- Perencanaan dan Penyusunan Program Manajemen Prgram Kegiatan manajemen pryek meliputi kegiatan untuk mendukung persiapan pelaksanaan pryek, penyediaan fasilitas dalam perasinal, krdinasi kegiatan pryek di pusat maupun daerah, dan pelaksanaan

Lebih terperinci

SISTEM MITIGASI BANJIR BENGAWAN SOLO BERBASIS J2ME

SISTEM MITIGASI BANJIR BENGAWAN SOLO BERBASIS J2ME SISTEM MITIGASI BANJIR BENGAWAN SOLO BERBASIS J2ME Atik khoiriyah 1, Ir. Wahjoe Tjatur S., M.T 2, Arna Fariza, S. Kom, M. Kom 2, Yuliana Setiowati, S.Kom, M.Kom 2 Mahasiswa Jurusan Teknik Informatika 1,

Lebih terperinci

BAB III TEORI PENUNJANG

BAB III TEORI PENUNJANG 8 BAB III TEORI PENUNJANG 3.1 Bimbingan dan Penyuluhan Prayitn dan Erman Amti (2004:99) mengemukakan bahwa bimbingan adalah prses pemberian bantuan yang dilakukan leh rang yang ahli kepada serang atau

Lebih terperinci

DATA & INFORMASI DALAM SISTEM INFORMASI BISNIS ASIH ROHMANI,M.KOM

DATA & INFORMASI DALAM SISTEM INFORMASI BISNIS ASIH ROHMANI,M.KOM DATA & INFORMASI DALAM SISTEM INFORMASI BISNIS ASIH ROHMANI,M.KOM PENGERTIAN DATA Data adalah kenyataan yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian dan kesatuan nyata. PENGERTIAN DATA Data adalah deskripsi

Lebih terperinci

Pencarian Lokasi Fasilitas Umum Terdekat Berdasarkan Jarak dan Rute Jalan Berbasis SIG

Pencarian Lokasi Fasilitas Umum Terdekat Berdasarkan Jarak dan Rute Jalan Berbasis SIG Pencarian Lokasi Fasilitas Umum Terdekat Berdasarkan Jarak dan Rute Jalan Berbasis SIG Pembimbing : Arif Basofi, S. Kom Arna Fariza, S.Kom, M. Kom Oleh : Yulius Hadi Nugraha 7406.030.060 Jurusan Teknologi

Lebih terperinci

Metodologi Pemeringkatan untuk Perusahaan Baja

Metodologi Pemeringkatan untuk Perusahaan Baja ICRA Indnesia Rating Feature May 2013 ICRA Indnesia Metdlgi Pemeringkatan untuk Perusahaan Baja Industri baja memainkan peran yang penting dalam pertumbuhan eknmi. Baja merupakan kmpnen umum pada beberapa

Lebih terperinci

SISTEM INFORMASI PENGOLAHAN BANK SAMPAH MALANG

SISTEM INFORMASI PENGOLAHAN BANK SAMPAH MALANG SISTEM INFORMASI PENGOLAHAN BANK SAMPAH MALANG Haryati Wattimena Danang Aditya Nugraha 1 Manajemen Infrmatika,Universitas Kanjuruhan Malang, haryati.watimena@gmail.cm 2 Teknik Infrmatika, Universitas Kanjuruhan

Lebih terperinci

SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PERTANIAN PADI DI KABUPATEN BANTUL, D.I. YOGYAKARTA

SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PERTANIAN PADI DI KABUPATEN BANTUL, D.I. YOGYAKARTA SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PERTANIAN PADI DI KABUPATEN BANTUL, D.I. YOGYAKARTA Agus Rudiyanto 1 1 Alumni Jurusan Teknik Informatika Univ. Islam Indonesia, Yogyakarta Email: a_rudiyanto@yahoo.com (korespondensi)

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PERINGATAN DINI PENANGGULANGAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PADI SAWAH DI KABUPATEN KARAWANG

PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PERINGATAN DINI PENANGGULANGAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PADI SAWAH DI KABUPATEN KARAWANG PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PERINGATAN DINI PENANGGULANGAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PADI SAWAH DI KABUPATEN KARAWANG Herry Wiriawan, Wawiko Supeno, Harisno, dan Bens Pardamean Laporan Teknis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat Indonesia. Salah satu informasi yang dibutuhkan masyarakat pada saat

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat Indonesia. Salah satu informasi yang dibutuhkan masyarakat pada saat BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Saat ini kebutuhan untuk memperoleh informasi secara cepat dan mudah telah menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat dunia, tidak terkecuali bagi masyarakat Indonesia.

Lebih terperinci

PEMETAAN DAERAH RAWAN PANGAN DI KABUPATEN BANGKALAN (Studi Kasus Kecamatan Tanah Merah)

PEMETAAN DAERAH RAWAN PANGAN DI KABUPATEN BANGKALAN (Studi Kasus Kecamatan Tanah Merah) EMBRYO VOL. 8 NO. 2 DESEMBER 2011 ISSN 0216-0188 PEMETAAN DAERAH RAWAN PANGAN DI KABUPATEN BANGKALAN (Studi Kasus Kecamatan Tanah Merah) Agus Rmadhn 1, Sucipt 2 1 Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER PROGRAM STUDI D3 KOMPUTERISASI AKUNTANSI FAKULTAS ILMU TERAPAN TELKOM UNIVERSITY

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER PROGRAM STUDI D3 KOMPUTERISASI AKUNTANSI FAKULTAS ILMU TERAPAN TELKOM UNIVERSITY RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER PROGRAM STUDI D3 KOMPUTERISASI AKUNTANSI FAKULTAS ILMU TERAPAN TELKOM UNIVERSITY MATA KULIAH KODE RUMPUN MK BOBOT (SKS) SEMESTER DIREVISI P = 1 Analisis dan Perancangan Sistem

Lebih terperinci

WEB-BASED SOFTWARE CONFIGURATION MANAGEMENT TOOL UNTUK PENGEMBANGAN SOFTWARE DALAM TIM

WEB-BASED SOFTWARE CONFIGURATION MANAGEMENT TOOL UNTUK PENGEMBANGAN SOFTWARE DALAM TIM ISSN 1858-4667 JURNAL LINK VOL 20/N. 1/Maret 2014 WEB-BASED SOFTWARE CONFIGURATION MANAGEMENT TOOL UNTUK PENGEMBANGAN SOFTWARE DALAM TIM Hartn Lieyant, Suhatati Tjandra Jurusan Teknik Infrmatika dan Kmputer,

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI. Dalam kerangka pikir ini digambarkan secara sistematis pola pikir dalam

BAB III METODOLOGI. Dalam kerangka pikir ini digambarkan secara sistematis pola pikir dalam BAB III METODOLOGI 3.1 Kerangka Pikir Dalam kerangka pikir ini digambarkan secara sistematis pola pikir dalam penyelesaian tesis, dimana dalam kerangka pikir ini dimulai dari mengidentifkasikan isu pokok

Lebih terperinci

APLIKASI GIS UNTUK PEMETAAN POLA ALIRAN AIR TANAH DI KAWASAN BOROBUDUR

APLIKASI GIS UNTUK PEMETAAN POLA ALIRAN AIR TANAH DI KAWASAN BOROBUDUR APLIKASI GIS UNTUK PEMETAAN POLA ALIRAN AIR TANAH DI KAWASAN BOROBUDUR Oleh Fr. Dian Ekarini, S.Si. Balai Knservasi Peninggalan Brbudur ABSTRAK Candi Brbudur merupakan warisan nenek myang yang harus dilestarikan

Lebih terperinci

Sistem Informasi Geografis (SIG) Pemetaan Lahan Pertanian di Wilayah Mojokerto

Sistem Informasi Geografis (SIG) Pemetaan Lahan Pertanian di Wilayah Mojokerto Sistem Informasi Geografis (SIG) Pemetaan Lahan Pertanian di Wilayah Mojokerto Retno Mufidah 1, Arif Basofi S.Kom., M.T., OCA 2, Arna Farizza S.Kom., M.Kom 3 Mahasiswa Jurusan Teknik Informatika 1, Dosen

Lebih terperinci

Jenis Informasi yang Terbuka dan Dikecualikan

Jenis Informasi yang Terbuka dan Dikecualikan Jenis Infrmasi yang Terbuka dan Dikecualikan Kelmpk Infrmasi Publik yang diatur dalam UU KIP mencakup Infrmasi Publik yang wajib disediakan dan diumumkan secara berkala; Infrmasi Publik yang wajib diumumkan

Lebih terperinci

PENYUSUNAN MATERI PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN SENI RUPA BERDASAR KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

PENYUSUNAN MATERI PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN SENI RUPA BERDASAR KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA PENYUSUNAN MATERI PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN SENI RUPA BERDASAR KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Oleh: Tri Hartiti Retnwati M.Pd Makalah disampaikan pada Wrkshp pelaksanaan Kurikulum

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memproduksi kapas seperti kapas kecantikan dengan merek Selection Cotton.

BAB I PENDAHULUAN. memproduksi kapas seperti kapas kecantikan dengan merek Selection Cotton. BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Sistem Informasi Geografis adalah sistem informasi khusus yang mengelola data yang memiliki informasi spasial (bereferensi keruangan). Atau dalam arti yang lebih sempit,

Lebih terperinci

SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2017 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN ALAT MESIN PERTANIAN

SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2017 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN ALAT MESIN PERTANIAN SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2017 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN ALAT MESIN PERTANIAN BAB IX PERENCANAAN, PENGELOLAAN, DAN EVALUASI USAHA JASA ALAT MESIN PERTANIAN Drs. Kadirman, MS. KEMENTERIAN PENDIDIKAN

Lebih terperinci

Lahan 3.1. Kondisi Peruntukan. Rencana Tindak Penataan Lingkungan Permukiman. Tabel 3.1. Kondisi Peruntukan Lahan Kawasan Prioritas Kelurahan Tenilo

Lahan 3.1. Kondisi Peruntukan. Rencana Tindak Penataan Lingkungan Permukiman. Tabel 3.1. Kondisi Peruntukan Lahan Kawasan Prioritas Kelurahan Tenilo Tabel 3.1. Kndisi Peruntukan Lahan Kawasan Priritas Kelurahan Tenil 3.1. Kndisi Peruntukan Lahan Peruntukan lahan di Kelurahan Tenil sebagian besar masih di dminasi leh semak/belukar yaitu sekitar 136,91

Lebih terperinci

EVALUASI TEKNIK OPERASIONAL PENGUMPULAN DAN PENGANGKUTAN SAMPAH DI KABUPATEN TANAH LAUT ( Studi Kasus : Kecamatan Pelaihari )

EVALUASI TEKNIK OPERASIONAL PENGUMPULAN DAN PENGANGKUTAN SAMPAH DI KABUPATEN TANAH LAUT ( Studi Kasus : Kecamatan Pelaihari ) Prsiding Seminar Nasinal Manajemen Teknlgi III Prgram Studi MMT-ITS, Surabaya 4 Pebruari 2006 EVALUASI TEKNIK OPERASIONAL PENGUMPULAN DAN PENGANGKUTAN SAMPAH DI KABUPATEN TANAH LAUT ( Studi Kasus : Kecamatan

Lebih terperinci

BAB II METODE PENELITIAN

BAB II METODE PENELITIAN BAB II METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam analisis tingkat kekritisan lahan kawasan budidaya pertanian yaitu dengan menggunakan metode analisis data sekunder yang dilengkapi dengan

Lebih terperinci

E-journal Teknik Informatika, Volume 5, No. 1 (2015), ISSN :

E-journal Teknik Informatika, Volume 5, No. 1 (2015), ISSN : E-jurnal Teknik Infrmatika, Vlume 5, N. 1 (2015), ISSN : 2301-8364 1 SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENERIMA BEASISWA DENGAN METODE TECHNIQUE FOR ORDER PREFERENCE BY SIMILARITY TO IDEAL SOLUTION DI UNIVERSITAS

Lebih terperinci

Dalam menentukan harga setiap usaha mungkin memiliki strategi yang berbeda-beda. Namun

Dalam menentukan harga setiap usaha mungkin memiliki strategi yang berbeda-beda. Namun CHAPTER V Harga menurut Philip Ktler (2001 : 439) ialah sebagai berikut, charged fr a prduct r service. Mre bradly, price is the sum f all the value that cnsumer exchange fr the benefits f having r using.

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN 49 III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Lkasi wilayah studi dalam penelitian ini secara fisik terletak dalam sistem DAS Law. Dalam penelitian ini batasan yang digunakan adalah batasan

Lebih terperinci

BAB IV DESKRIPSI KERJA PRAKTEK. Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak CV. Bintang Anggara Jaya

BAB IV DESKRIPSI KERJA PRAKTEK. Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak CV. Bintang Anggara Jaya BAB IV DESKRIPSI KERJA PRAKTEK 4.1 Identifikasi Masalah Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak CV. Bintang Anggara Jaya pada saat kerja praktek, maka dapat diketahui aplikasi pendukung yang dapat mengatasi

Lebih terperinci

Analisis Sensitivitas pada Pertumbuhan Penduduk Nanggroe Aceh Darussalam dengan Metode Life Table

Analisis Sensitivitas pada Pertumbuhan Penduduk Nanggroe Aceh Darussalam dengan Metode Life Table Vl. 6, N.1, 1-14, Juli 29 Analisis Sensitivitas pada Pertumbuhan Penduduk Nanggre Aceh Darussalam dengan Metde ife Table Miftahuddin Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan penduduk

Lebih terperinci

TUGAS ARTIKEL RENCANA WIRAUSAHA

TUGAS ARTIKEL RENCANA WIRAUSAHA TUGAS ARTIKEL RENCANA WIRAUSAHA Oleh : MOCH AFIF BAHTIYAR NIM : 04113029 PROGRAM STUDI SISTEM KOMPUTER FAKULTAS ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS NAROTAMA SURABAYA 1. ALASAN PENDIRIAN USAHA Mendirikan usaha sendiri

Lebih terperinci

The Use of Smartphone To Process Personal Medical Record By Using Geographical Information System Technology

The Use of Smartphone To Process Personal Medical Record By Using Geographical Information System Technology The Use of Smartphone To Process Personal Medical Record By Using Geographical Information System Technology Subari, Go Frendi Gunawan College of Informatics And Computer Engineering Indonesia(STIKI) subari@stiki.ac.id,

Lebih terperinci

RAY TRACER PENGUJIAN CAHAYA LED. B. M. Wibawa, I M. Joni, F. Faizal, V. Hutabalian, K. Heru dan C. Panatarani

RAY TRACER PENGUJIAN CAHAYA LED. B. M. Wibawa, I M. Joni, F. Faizal, V. Hutabalian, K. Heru dan C. Panatarani Prsiding Seminar Nasinal Sains dan Teknlgi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 Nvember 2008 RAY TRACER PENGUJIAN CAHAYA LED B. M. Wibawa, I M. Jni, F. Faizal, V. Hutabalian, K. Heru dan C. Panatarani Grup

Lebih terperinci

2. Android Google Maps Android API v2 3. Proses Bisnis Dinas Peternakan dan Kesehatan hewan kabupaten Malang

2. Android Google Maps Android API v2 3. Proses Bisnis Dinas Peternakan dan Kesehatan hewan kabupaten Malang PEMBUATAN APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS BERBASIS MOBILE ANDROID UNTUK PEMETAAN PERSEBARAN PENYAKIT SAPI(STUDI KASUS: DINAS PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN KABUPATEN MALANG) Mchammad Adji Firmansyah

Lebih terperinci

RANCANGAN AWAL RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) KOTA YOGYAKARTA TAHUN 2013

RANCANGAN AWAL RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) KOTA YOGYAKARTA TAHUN 2013 Lampiran 1 RANCANGAN AWAL RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) KOTA YOGYAKARTA TAHUN 2013 PENDAHULUAN Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) merupakan dkumen pembangunan yang disusun untuk kurun waktu

Lebih terperinci

permintaan. Sedangkan untuk faktor - faktor lain dianggap tetap (tidak diteliti). Penelitian

permintaan. Sedangkan untuk faktor - faktor lain dianggap tetap (tidak diteliti). Penelitian BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Materi Penelitian Pada penelitian ini akan membahas bagaimana menentukan atau memperkirakan vlume prduksi berdasarkan variabel bahan baku, jam kerja, biaya prduksi dan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN PENDAHULUAN. dampak bermunculannya banyak developer game di negara-negara tersebut.

BAB 1 PENDAHULUAN PENDAHULUAN. dampak bermunculannya banyak developer game di negara-negara tersebut. BAB 1 PENDAHULUAN PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini industri game telah menjadi salah satu sumber pemasukan terbesar bagi negara-negara maju di luar sana, yang dimana sebagian besar didminasi leh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. segala sesuatu dapat dilakukan dengan se-efisien mungkin. Sama halnya dengan

BAB I PENDAHULUAN. segala sesuatu dapat dilakukan dengan se-efisien mungkin. Sama halnya dengan BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan suatu faktor penunjang perkembangan zaman. Dengan adanya ilmu pengetahuan dan teknologi maka segala sesuatu dapat dilakukan

Lebih terperinci